Oleh H.Hasan Basri bin H.M.Barsih bin Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa bin Muhammad bin Ibrahim bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy bin Abdurrahman bin Muhammad bin 'Aly bin Abdurrahman Assegaf
Loksado yang merupakan bagian kawasan Pegunungan Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan memiliki banyak pesona alam yang luar biasa indah dan objek wisata.seperti bukit batu langara dan dikakinya bersemayam makam habaib Abu Bakar, Muhammad Djamiluddin (Djamaluddin) dan Ahmad Suhuf, selain itu juga anda dapat menikmati bening dan sejuknya air pegunungan yang mengalir ke Sungai Amandit serta riak-riak arus air mengalir dari jeram atau riam kecil yang cukup menarik hati.
Satu persatu destinasi itu memiliki pesona dan keunikannya masing-masing. Bila Anda belum sempat mengunjungi destinasi perbukitan batu Langara dan wisata religi makam Habaib keluarga Assegaf Lumpangi Loksado, yang menawarkan keindahan alam luar biasa bagi siapa pun yang berkunjung, mungkin tak ada salahnya menyiapkan rencananya sejak saat ini. Anda hanya dapat menempuh perjalanan dengan kendaraan roda dua atau roda empat (mobil) dari pusat kota Kandangan sekitar 20 - 25 menit.
Sementara destinasi objek
wisata lain alam Loksado, berupa air Terjun Haratai berjarak sekitar sepuluh
kilometer dari ibukota kecamatan dengan menyisir bukit ke arah pedalaman.
“Destinasi” adalah area
geografis sebagai lokasi yang dapat menarik wisatawan untuk tinggal secara
sementara yang terdiri dari berbagai produk periwisata, sehingga membutuhkan
berbagai prasarat untuk merealisasikannya.
2. Biografi Habib Muhammad Djamiluddin (Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf
Menurut Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh, terjemah Dzija Shahab, Almaktab-AlDaimi bahwa “Orang Arab dikenal sebagai orang yang suka berpetualang menjelajahi sepanjang lautan sebelum dan sesudah berkembangnya Islam, kedatangan orang Arab di Indonesia makin jelas setelah agama Islam lahir (abad VII M). Pada masa ini mereka sedang mengemban dua tugas yaitu berniaga dan menyiarkan agama Islam. Jauh sebelum Belanda datang pertama kali ke Nusantara tahun (1596) Masihi, sudah ada orang Arab yang datang dari Hadramaut ke Jawa termasuk ke Jakarta" (Sejarahahlulbait 2014)
“Yang pertama kali digelari al-saqqaf ialah waliyullah al-Muqaddam al-Tsani al-Imam Abdurahman bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam” (Afandi 2008).
Habib
Abu Bakar dan Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufi Assegaf
ayahnya bersama Habib Idrus saudara kandungnya.
Sebenarnya mereka sudah lama bermukim atau tinggal di Kelurahan Randusari, Kec.
Semarang Selatan, Semarang, Jawa Tengah masa pasca Kesultanan Demak. Masa kejayaan Kesultanan
Banjar mereka menyeberang menuju Kesultanan Banjar diakhir abad ke-17 Masihi,
masa raja banjar Sultan Suria Alam alias Sultan Tahmidullah 1 bin Sultan
Tahirullah bin al-Maliku'llah adalah Raja Banjar (Kayu Tangi) yang memerintah
tahun 1700-1717 Masihi.
Syekh Habib Abu Bakar datang ke Balai Ulin pada awal abad ke-18 Masihi. Islam masuk di bawa ke Desa Lumpangi tahun 1705-1759M oleh Sayyid Abu Bakar, ia mengislamkan suku Dayak Langara, Balai Adatnya saat itu bernama "Balai Ulin". suku dayak ini adalah bagian dari pancaran dari suku dayak Maanyan, suku dayak tertua yang hidup di pulau Kalimantan Selatan.
Sebelum Islam datang memasuki Suku Dayak Langara, sebagian mereka masih bertelanjang, pakaian mereka yang mereka pakai berupa dedaunan dan kulipak pohon kayu yang menutupi tubuh dan kemaluan mereka. Kemudian setelah Habib yang bermarga Assegaf datang membawa syari’at Islam, melalui jalur perdagangan dan perkawinan (jual kain Sarung dan perhiasan wanita) secara barter. Saat Habib kena hukuman Adat Dayak suku Dayak Langara, di Balai Ulin pada waktu itu, kemudian setelah hukuman berakhir, ia mengawini puteri yang anggun dan cantik parasnya anak Tetuha Balai /Penghulu Adat an.Milah akhir tahun 1705M Yang dzuriat sesudahnya menyebutnya aluh Jamilah atau Siti Jamilah.
Perkawinan inilah yang sangat merekatkan hubungan suku Dayak Langara dengan Habib. Adanya ikatan tersebut Islam berkembang dengan cepat. Di tambah lagi adanya hubungan darah dengan lahirnya Muhammad Djamiluddin cucu pertama Tetuha Adat. Akhirnya mereka karena merasa berkelurga dengan Habib, merasa badangsanak dengan Habib, mereka tertarik dengan Islam dan menerima Islam dengan sukacita dan juga hasil perkawinan itu membuahkan keturunan dan dzuriatnya yang bersambung dan nasabnya tercatat dengan baik sampai saat ini.
3. Habib Muhammad Djamiluddin (Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf Lahir
Nama panjangnya adalah Muhammad Djamaluddin, memang kedua orang tuanya memberinya nama Muhammad Djamaluddin, mengambil separu nama dari nama ibunya yakni "Jamilah" artinya "Cantik Rupawan", ia seorang anak yang rupawan dan ganteng. Orang-orang disekellingnya dan sahabatnya memanggilnya sehari-hari dengan nama “ Djamiluddin”. Tetapi kedua orang tuanya dan orang-orang dekatnya lebih banyak memanggilnya “Muhammad”. Ia anak/ keturunan pertama dan anak tersayang Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Kakeknya Muhammad Langara sangat menyayanginya, dan begitu pula kedua Pamannya yang bernama Talib (alias Datu Hamanau atau Utuh Langara) dan kedua bernama Anjah (alias Datu Panimpulungan Panglima Sanggara) sangat menaruh harapan besar kepadanya, agar menjadi anak yang saleh dan berguna bagi masyarakatnya.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa "Djamiluddin"
adalah Putera pertama dari Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin
Muhammad bin Umar as-Shufy dengan isterinya Siti Jamilah binti Muhammad
Lanagara. Namun versi lain menyebutkan bahwa anak itu bernama : "Muhammad
Djamiluddin" Ia lahir dimasa pemerintahan raja banjar Sultan Suria Alam
alias Sultan Tahmidullah 1 bin Sultan Tahirullah bin al-Maliku'llah adalah Raja
Banjar yang memerintah tahun 1700-1717 Masihi. Ia dilahirkan di Lumpangi, hari Senin, 13 Syawwal 1118H /1707Masihi
dan dibesarkan di Desa Lumpangi, ia lahir ditengah-tengah keluarga yang baru
menemukan hidayah Islam. Ia adalah orang yang shalih, ia memperoleh pengajaran agama
Islam langsung dari orang tuanya dan kedua Kakeknya M. Langara dan Sayyid Hasan
ketika ia berada di Desa Taniran dan juga paman Ayahnya Habib Idrus.
Kelahirannya sangat dinanti dan ditubggu oleh keluarga muslim dan keluarga Dayak. Ketika ia hadir sanak keluarganya sangat bersukaria dengan menghadirkan jamuan hidangan dari seekor payau /menjangan. Ketiika ia berumur 7 tahun ayah dan ibunya memisahkan diri atau pindah dari Balai Adat. Membuat rumah sendiri tak jauh dari Balai Adat. Ketika ia berumur 14-15 tahun Balai Adat mulai bubar.
Ditahun usia muda menjelang remajanya Balai Adat "Balai Ulin" bubar tahun 1722M karena banyak dipihak keluarga ibunya yang menerima hidayah islam/ memeluk Islam, maka Balai Ulin Desa Lumpangi mulai ditinggalkan oleh para keluarganya yang belum menerima hidayah Islam, walaupun mereka sudah mengenal Islam dengan baik hingga bertahun-tahun.
Menurut sumber data bahwa sesudah Balai Adat "Balai Ulin" itu bubar maka beberapa tahun kemudian datanglah Dayak Ulang dan Dayak Bumbuyanin ke Lumpangi membawa ketiga anaknya agar diajari tentang Islam kepada Habib dan menemui kakaknya Muhammad Langara dan mohon agar Balai Adat Balai Ulin yang tidak berfungsi itu bisa dipindahkan ke Pantai Dusin Hulu Banyu.
Kemudian atas musyawarah dan kesepakatan bersama Balai Adat Balai Ulin Lumpangi dipindah ke Pantai Dusin Hulu Banyu, tetapi kakaknya minta agar 1 batang tiang dari bagian muka Balai Adat itu ditinggal atau dibiarkan tetap berdiri atau tidak dialih atau dipindah. Katanya "Tiang itu fungsinya dijadikan sebagai Simbol bahwa di Lumpangi pernah berdiri sebuah Balai Adat Dayak".
Menurut folklor ceritera datu dan nenek kami bahwa berkata sebahagian orang Lumpangi masa itu bahwa “Tiada ada Orang yang memilki keilmuan yang paling dalam dan luas tentang Islam kecuali dimiliki oleh Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf".Ia memperoleh pengajaran dan bimbingan (suluk, riiyadhah) ilmu Islam langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya.
Berkata Muhammad Bahrudin bin Marsal ( Beliau keturunan Syarifah asal Amawang) bahwa "Habib Djamaluddin adalah orang yang paling berprngaruh, ia orang yang paling alim dan ia orang yang paling berpengetahuan agama diantara semua penghuni makam di Kampung Balai Ulin ini, Ia memperoleh pengajaran langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya. hal ini kalau bisa disembunyikan."
Salah seorang Serjana Agama abad ke-21 Masihi keturunan Dayak Lumpangi Habib H.Hasan Baseri,S.Ag bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf Berkata bahwa "Andaikata Habib Djamiluddin bukan keturunan Dayak Lumpangi, walaupun ia adalah orang yang paling berpengaruh, ia orang yang paling alim dan juga ia orang yang paling berpengetahuan agama diantara semua penghuni Kampung Balai Ulin Lumpangi saat itu, hampir dipastikan ia tidak akan membatalkan beberapa tradisi suku Dayak yang berlaku di dalam Keluarganya. Akan tetapi karena beberapa tradisi suku Dayak di Keluarganya menyangkut untung dan rugi yakni dianggap merugikan sukunya maka ia membatalkan dan menghapusnya”.
Berkata Ahmad atau Amat yang saya wawancarai, ia asal dayak Bayumbung yang sudah muslim ceritera dari datuk-neneknya bahwa " Bekas tiang-tiang ulin Balai Adat Balai Ulin itu telah diangkut atau dibawa ke Pantai Dusin Hulu Banyu".
4. Silsilah Nasab Habib Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin (Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf Sampai ke Rasulullah Muhammad Saw.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa pada awal abad ke-18 M yang pertama kali datang berkunjung dan menetap di Lumpangi Loksado dari golongan habib/ syarif adalah (keluarga) Aal-ALSAQQAF آل السقاف (dibaca Assegaf/al Seggaf), yaitu Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim. Dan Ia yang menikahi suku Dayak puteri penghulu Balai Adat “Balai Ulin” dari pernikahannya itu punya anak laki-laki yang bernama Muhammad Djamiluddin atau dipanggil sehari-harinya Djamiluddin (Habib Lumpangi) dan nasabnya yang bersambung hingga saat ini yaitu :
اَلْحَبِيْب مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ سيدنا الشيخ اَلْاِمَامً القطب عَبْدُ الرَّحْمن وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ الشيخ مًحَمَّد مَوْلَى الدَّوِيْلَه بِنْ الشيخ عَلِيُّ الصَّاحِبً الدَّرْك بِنْ سيدنا الامام عَلْوِىْ الْغًيًوْر بِنْ سيدنا اَلْاِمَامً القطب وَلِيًّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله.
Dalam kitab Tuhfatuthalib Bima’rifati man Yantasibu Ila Abdillah wa Abi Thalib, karya Sayyid Muhammad bin al-Husain as-Samarqandi (w. 996) disebutkan seperti beriku
واما احمد بن عيسى بن محمد بن العريضي فقال ابن عنبة ابو محمد
الحسن الدلال بن محمد بن علي بن محمد بن احمد بن عيسى الرومي من ولده وسكت عن غيره.
قلت رايت في بعض التعاليق ما صورته قال المحققون بهذا الفن من اهل اليمن وحضرموت كالامام
ابن سمرة والامام الجندي والامام الفتوحي صاحب كتاب التلخيص والامام حسين بن عبد الرحمن
الاهدل والامام ابي الحب البرعي والامام فضل بن محمد البرعي والامام محمد بن ابي بكر
بن عباد الشامي والشيخ فضل الله بن عبد الله الشجري والامام عبد الرحمن بن حسان: خرج
السيد الشريف بن عيسى ومعه ولده عبد الله في جمع من الاولاد والقرابات والاصحاب والخدم
من البصرة والعراق الى حضرموت واستقر مسكن ذريته واستطال فيهم بتريم بحضرموت بعد التنقل
في البلدان والتغرب عن الاوطان حكمة الملك المنان. فأولد عبد الله علويا وعلوي اولد
محمدا ومحمد اولد علويا وعلوي اولد عليا خالع قسم وعلي خالع قسم اولد محمد صاحب مرباط
واولد محمد صاحب مرباط علويا وعليا فاما علوي فله اربعة اولاد احمد وله عقب وعبد الله
ولا عقب له وعبد المالك وعقبه في الهند وعبد الرحمن وله عقب. واما علي فله الفقيه المقدم
محمد وله عقب كثير (تحفة الطالب بمعرفة من ينتسب الى عبدالله وابي طالب، السيد محمد
بن الحسين السمرقندي المدني، ص. 76-77)
“Adapaun Ahmad bin Isa bin Muhammad bin (Ali) al Uraidi
maka Ibnu Anbah berkata: Abu Muhammad al-Hasan al-Dallal bin Muhammad bin Ali
bin Muhammad bin Ahmad bin Isa ar-Rumi adalah dari keturunan Ahmad bin Isa, ia
(Ibnu Anbah) diam tentang selain Abu Muhammad. Aku berkata (penulis kitab
Tuhafatutalib): Aku melihat dalam sebagian ta’liq (catatan pinggir sebuah kitab
ditulis oleh santri dipinggir kitab ketika mendengar keterangan guru) tulisan
yang bunyinya “Telah berkata al-muhaqqiqun dari cabang ilmu ini (nasab) dari
ahli Yaman dan Hadramaut, seperti Imam Ibnu Samrah, al-Imam al-Jundi, al-Imam
al-Futuhi yang mempunyai kitab at-Talkhis, al-Imam Husain bin Abdurrahman al-Ahdal,
al-Imam Abil Hubbi al-Bur’i, al-Imam Fadhal bin Muhammad al-Bur’I, al-Imam
Muhammad bin Abi Bakar bin Ibad as-syami, Syekh Fadlullah bin Abdullah
as-Syajari, dan al-Imam Abdurrahman bin Hisan bahwa Sayyid Syarif Ahmad bin Isa
pergi bersama anaknya, Abdullah, dalam rombongan para anak, kerabat, teman-teman,
para pembantu dari Bashrah dan Iraq menuju Hadramaut setelah berpindah dari
berbagai daerah dan bersembunyi dari berbagai Negara, sebagai hikmah Tuhan raja
yang maha memberikan anugrah. Maka kemudian Abdullah mempunyai anak bernama
Alwi, dan Alwi mempunyai anak bernama Muhammad, Muhammad mempunyai anak Alwi
(lagi), Alwi mempunyai anak Ali Khali’ Qosam, Ali Kholi’ Qosam mempunyai anak
bernama Muhammad Shohib Mirbath, dan Muhammad Shohib Mirbath mempunyai anak
bernama Alwi dan Ali. Maka adapun Alwi maka mempunyai empat anak: Ahmad dan ia
berketurunan, Abdullah ia tidak berketurunan, Abdul Malik keturunannya di
India, dan Abdurrahman dan ia berketurunan. Dan adapun Ali maka ia mempunyai
anak al-Faqih al-Muqoddam Muhammad dan ia mempunyai banyak keturunan. (Tuhfatuttolib,
Sayid Muhammad bin al-Husain, h. 76-77).
5. Perkawinan Habib Muhammad Djamiluddin (Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf dengan Siti Sarah
Akhirnya Abu Thalib beserta isterinya dan Datu Muhammad Langara ayahnya membuat rumah baru dan pindah rumah ke kampung Batu Tangah. Kemudian Abu Thalib dikampung itu dikeruniai anak perempuan an. Siti Sarah. Nantinya untuk menambah kuatnya tali/hubungan darah/ kekeluargaan atau tali persaudaraan Habib Abu Bakar Assegaf mengawinkan Habib Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) anaknya setelah remaja dengan Siti Sarah binti Abu Thalib bin Datu Muhammad Langara, ia seorang perempuan dari kampung Batu Tangah.
Perkawinan sepupu tersebut membuahkan keturunan /nasab anak laki-laki salah satunya adalah an. Habib Ahmad Suhuf yang panggilan sehari-harinya Habib Ahmad.
Adapun adik kandung Muhammad Djamiluddin antara lain : Sy. Ummi Badar, Sy. Amas (Mastora) dan yang paling bungsu bernama Ahmad Djalaluddin, ia dilahirkan 10 Sya’ban 1149H/1736M di Desa Lumpangi bersamaan tahun dengan kelahiran Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin yakni Ahad,10 Jumadil Awal 1149H/1736M dan kedua anak ini (Mamarina dan Kemanakan) tumbuh dan dibesarkan dilingkungan orang-orang muslim yang taat Agama islam di Desa Lumpangi, silsilah nasabnya tercatat dengan baik.
Menurut sumber data bahwa semua ilmu Habib Abu Bakar ayahnya, Habib Hasan kakeknya, Habib Idrus paman ayahnya dan ilmu Muhamamad Langara kakeknya telah tertuang dan tercurah pada Habib Muhammad Djamaluddin (Habib Lumpangi), berkata ( Beliau keturunan Syarifah asal Amawang) Muhammad Bahrudin bin Marsal salah seorang yang ikut berziarah ke Makam Habib Jamiluddin bahwa "Habib Djamaluddin adalah orang yang paling alim dan orang yang paling berpengetahuan agama diantara semua penghuni makam di Kampung Balai Ulin ini, hal ini kalau bisa disembunyikan."
Menurut Ahmad Khairudin asal Kapuas bahwa yang memilki keilmuan Islam yang paling dalam tentang Islam adalah "Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf".Ia memperoleh pengajaran langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya.
Menurut silsilah nasabnya bahwa "Muhammad bin Umar as-shufy Assegaf" punya anak an. Hasyim. Hasyim punya anak an. Hasan dan Idrus. Hasan punya anak Abu Bakar dan Abu Bakar punya anak pertama an..Shaleh yang ibunya dari Seiyun Tarim Hadramaut. Dan Abu Bakar juga punya an. Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) yang ibunya dari suku Dayak Langara Lumpangi Loksado, yang dipanggil sehari “Djamiluddin” atau "Muhammad" dan kemudian Djamaluddin juga punya anak an.Ahmad Suhuf yang dipanggil sehari ”Ahmad”. Kemudian Ahmad Suhuf punya anak an. Abu Bakar yang dipanggil sehari “Abubakar as-Tsani’.
6. Metode dakwah “Bakisah dan sedikit Homor dalam Dakwah”
Adapun metode dakwah sama dengan ayahnya Habib Abu Bakar yakni Ia berdakwah secara lisan, dalam ruangan Langgar yang beliau kunjungi, ia mulai "Bakisah" (berceritera) dalam Bahasa Banjar & Dayak dibumbui sedikit homor dan berakting ucapan dalam dakwahnya ttg Pendalaman materi Aqidah dan Peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Timur Tengah. misalnya Bakisah ttg Cinta Rabi'atul Adawiah dengan Hasan al Basri, dan lain-lainnya. Orang-orang duduk menghadap Habib dan mereka mulai senang dan terhibur mendengarkan penjelasan dari kisah-kisah dengan sedikit homoris dari Habib hingga acara berakhir.
Metode dakwak Bakisah yang dibumbui Akting dan Homor dalam Dakwah, Inilah yang menjadi Adalan Dakwah Habib yang dulunya sangat diminati dan disukai tua dan muda oleh masyarakat Hulu Sungai Selatan.
Berdakwah seperti yang dilakukan Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dan anak cucunya ini diteruskan oleh para Da'i tahun 1960 an hingga tahun 2000 an seperti Pendakwak yang kita kenal yang sangat masyhur dan menghibur sekali dengan kata-kata mutiara dan kata-kata filusufi mereka yang mempuni antara lain Bapak Artum Ali (Muhammad Ramli bin Anang Ketutut w.24-07-1982M) Tabudarat, Ibu Mustika Murni (Ds.Mandampa),
- kampung Batu Tangah,
- kampung Tahibasi
- kampung Muara Lumpangi,
- kampung Balai Ulin,
- desa Lumpangi,
- kampung Lokbungur.
- kampung Mentata'i,
- kampung Muara Kitar,
- kampung Muara Ahan,
- kampung Tartandui dan
- kampung Harantan,
- kampung Bayumbung
10. DATU HABIB LUMPANGI MUHAMMAD JAMILUDDIN ASSEGAF MENIKAH DENGAN SITI SARAH BINTI ABU THALIB
Setelah Muhammad Jamaluddin dewasa, Ia juga termasuk orang berpengaruh di Lumpangi setelah ayahnya. Dan ia berada di desa yang sangat terisolasi dari keramaian kota, ia tinggal diudik sungai Kali Amandit yang sangat jauh, kalau berpergian masa itu selalu jalan kaki. Isterinya Siti Sarah seorang muslimah yang shalehah keturunan asli Dayak Balai Ulin Lumpangi, begitu juga kedua orang tua muslim. Siti Sarah binti Abu Thalib bin Muhammad Langara, ia seorang perempuan dari kampung Batu Tangah Desa Lumpangi. Perkawinan sepupu tersebut membuahkan keturunan anak laki-laki, ia lahir di Lumpangi, hari Ahad, tgl. 10 Jumadil Awwal 1149H/1736M.yang diberi nama. Habib Ahmad Suhuf yang panggilan sehari-harinya Habib Ahmad.
11. Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf Wafat
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa Dimasanya di sebagian Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf diperkirakan wafat Jum'at, 10 Syawal 1195H atau 1781 Masihi. Ia di makamkan berdampingan dengan makam Siti Sarah isterinya dengan usianya sekitar 74 tahun dan ia dimakamkan kampung Balai Ulin Lumpangi Kec. Loksado. Adapun Titik Koordinat makam Sayyid Djamaluddin 2,80908, 115,41756, 143,5m, 281 derajat
Berkata Habib Baseraninor bin H. Muhammad Barsih Assegaf “Waktu dahulu diareal
Makam Habib itu tumbuh sebatang pohon kembang kenanga yang besar. Pohon itu
tidak putus-putusnya berkembang. Tetapi tidaklah sembarang orang bisa mengambil
kembang kenanga yang jatuh dari pohonnya diareal makam Habaib Lumpangi itu kecuali
ada dzuriatnya sebab bila mengambilnya
orang yang bukan dzuriatnya maka orang itu, badannya kena sakit panas selama 3
hari 3 malam.
Menurut versi lain bahwa " Sebatang pohon kembang kenanga yang besar. Pohon itu tidak putus-putusnya berkembang. Orang yang bukan dzuriatnya dan tidak pamit (bapadah) mengambil (menjatu) kembang kenanga yang jatuh dari pohonnya diareal makam Habaib Lumpangi itu bisa muntah darah atau orang itu, badannya kena sakit panas selama 3 hari 3 malam
Ketika saya bertemu dengan Habib Raihan (irai) bin Bahriansyah Assegaf, ia juga pernah berceritera kepada saya bahwa ia pernah bertanya langsung kepada kakeknya Habib Bahur bin Tanqir Ghawa Assegaf, kata kakeknya “ kita ini adalah dzuriat Habib Abu Bakar di Balai Ulin Lumpangi”.
Tidaklah banyak yang Penulis gali dan ketahui tentang Tokoh yang satu ini. Beliau hidup di awal abad ke-18 Masihi sampai akhir abad ke-18 Masihi, tidak diketahui secara pasti rekam jejak Beliau saat lahir, masa kanak-kanak, masa remajanya, masa tuanya sampai wafatnya, tetapi hanya ceritera turun temurun yang kami dapatkan dari datuk-nenek moyang kami..
Penulis hanya berharap dan berdo’a semoga Allah Swt selalu mema’afkan dan mengampuni semua kesalahan kekhilapan kita, dan kesalahan – kesalahan orang tua kita, dan juga kesalahan datuk-nenek kita, dan kesalahan – kesalahan orang-orang yang pernah dekat dengan kita dan kesalahan – kesalahan dzuriat-dzurat kita hingga akhir zaman, begitu juga semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa orang-orang muslimin dan muslimat semuanya. Aamiin Aamiin yaa rabbal aalamiin.
Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy Assegaf dan keluarganya berdomisili lama di Kelurahan Randusari Kec.Semarang Selatan, kota Semarang, Jawa Tengah di pasca Kesultanan Demak.
01. Kelurahan Randusari Kec. Semarang Selatan
masa Kesultanan Demak
Wilayah Randusari
(yang kini dikenal sebagai kelurahan di Semarang Selatan) pada masa Kesultanan Demak. Sultan Demak pernah memerintahkan Sayyid Ki Ageng Pandan Arang (ia sdr.kandung Sunan Giri /Raden Ainul Yaqin), untuk membuka lahan
dan menyebarkan ajaran Islam di daerah pesisir yang saat itu bernama Pragota
(cikal bakal wilayah Bergota di Randusari, Semarang). Sayyid Ki Ageng
Pandanaran diangkat menjadi bupati atau pemimpin pertama di wilayah Semarang
dan sekitarnya di bawah naungan kekuasaan Kesultanan Demak.
Orang tua
Sayyid Ki Ageng Pandan Arang bernama :
Sayyid Maulana Ishaq (ayah) bin Jamaluddin al-Husaini bin Jalaluddin Khan, Siti Zainab (Ibu) dan
Istrinya Putri Adipati Pasuruan,
Keturunan : ~ Siti Umi Kamsum, ~ Kalkum Pekalongan, ~ Abdullah Kendal
dan ~ Abdurrahman Kaliwungu.
Sayyid Ki Ageng Pandan Arang
(disebut juga Pandanaran, Pandanaran I) adalah bupati pertama Semarang, yang
diangkat oleh Sultan Demak Bintara. Konon nama Semarang diberikan olehnya,
karena di tempat ia tinggal ditumbuhi oleh pohon asam yang jarang-jarang
(bahasa Jawa: asem arang). Ki Ageng Pandan Arang juga dikenal sebagai tokoh
penyebaran Islam di daerah tersebut. Meskipun sezaman dengan para Wali Sango, ia
tidak termasuk di dalamnya. Sayyid Ki Ageng Pandan Arang wafat, dimakamkan di
Mugassari, Semarang Selatan, Semarang.
02. Empat Darmaga Pelabuhan Kapal
masa Kesultanan Demak
Menurut Artikel yang saya
baca bahwa : “Kerajaan Demak mengusahakan kerja sama dengan penguasa
pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa yang telah menganut Islam. Darmaga Pelabuhan Gresik adalah salah satu
pelabuhan dagang strategis di pesisir utara Jawa yang berada di bawah pengaruh
dan jaringan maritim Kesultanan Demak pada abad ke-15 hingga ke-16 M. Kerajaan
Demak memiliki Darmaga-darmaga pelabuhan-pelabuhan perahu/ kapal layar penting,
seperti darmaga Jepara, darmaga Tuban, darmaga Sedayu, dan darmaga Gresik.
03. Keberadaan
Darmaga Pelauhan Gresik masa Kesultanan Demak
Dermaga Pelabuhan Gresik pada
masa kejayaan Kesultanan Demak (abad ke-15 hingga awal abad ke-16) merupakan
salah satu bandar dagang internasional terbesar dan terbaik di Pulau Jawa.
Dikutif dari
sebuah Artikel ttg "Pelabuhan Gresik", dimasa yang lalu bahwa “Salah
satu tokoh yang berpengaruh pada perkembangan perdagangan di Kota Gresik adalah
Nyai Ageng Pinatih. Beliau seorang saudagar kaya dan syahbandar di Pelabuhan
Gresik. Beliau mulai mendirikan pelabuhan ini pada pertengahan abad XIV,
sejalan dengan proses islamisasi di tanah Jawa. Pada masa itu Gresik menjadi
bandar perdagangan yang ramai. Kini Pelabuhan Gresik lebih berfungsi sebagai
pelabuhan penumpang dan barang. Abad XVI, Pelabuhan Gresik dapat menggeser
peran Pelabuhan Tuban sebagai pelabuhan besar dan utama di antara
pelabuhan-pelabuhan lain disekitarnya. Namun kebesaran Pelabuhan Gresik pada
awal abad XVII tidak seperti sebelumnya, karena politik ekspansi Sultan Agung
sudah mengarah ke Gresik dibantu Pangeran Pekik dari Surabaya”.
Pelabuhan Gresik melayani
penyeberangan Gresik - Bawean dengan keberangkatan rutin sekali setiap hari.
Jadwal keberangkatan kapal secara rutin selalu dirilis operator dan otoritas
setempat secara berkala melalui berbagai media terkait. Pelayaran umumnya
ditempuh dengan durasi sekitar 4 jam melintasi Laut Jawa, bergantung situasi
dan kondisi terkini. Berikut adalah daftar operator penyedia layanan
penyeberangan kapal motor penumpang (KMP) di Pelabuhan Gresik.
Keberadaan Sayyid Hasyim bin Muhammad, Sayyid Hasan dan keluarganya di Asia Tenggara atau Nusantara.
Sayyid Hasyim diperkirakan lahir tahun 1613M di Hadramaut, sebelum
ia berpetualang ke Asia Tenggara, Nusantara, mengikuti jejak pendahulunya yakni
Sayyid Abdurrahman ayah Umar ash-Shaafy, dan diusia muda 20 tahun ia menikah
dengan wanita salihah ditanah kelahirannya Seiyun Hadramaut. Dan ia punya anak
salah satunya Sayyid Hasan dan Sayyid Idrus (lhr.1085H/1674M) yang mengikutinya berpetualang ke
Nusantara.
Sejarah menyebutkan bahwa
“Salah satu keturunan Nabi Muhammad Saw yakni Habib Hasyim bersama keluarganya
dilaporkan melalui perjalanan panjang mereka bertolak dari Seiyun Hadramaut
menuju ke pelabuhan Turki terus menuju Asia Tenggara lewat Singapora menuju ke
pelabuhan Palembang terus menuju ke pelabuhan Gresik hingga tiba di Demak Jawa
Tengah pasca Kesultanan Demak.
Keberadaan dan kedatangan Sayyid
Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy Assegaf
dan
keluarganya di Asia Tenggara dan berdomisili lama di Nusantara pasca Kesultanan
Demak, tepatnya di Kelurahan Randusari, Kec.Semarang Selatan, kota Semarang,
Jawa Tengah.
Sayyid Hasyim bin Muhammad
Assegaf diperkirakan hidup abad ke-17 Masihi. Abad ke-17 dihitung dari tahun
1601-1700 Masihi. Ia dengan kedua anaknya (Hasan & Idrus kecil 11 sd.13 thn)
dan cucunya Sayyid Abu Bakar mereka berasal dari Seiyun Hadramaut, Negeri Yaman atau Yordania.
Sayyid Abu Bakar adalah nama yang diberikan orang tuanya, ia
lahir diperkirakan tahun 1068H/1658M di Seiyun Hadramaut. Setelah dewasa ia
menikah dengan perempuan shalihah di kota kelahirannya, dan punya anak diberi
nama “Shalih” (Ahmad Shalih). Kemudian sa’at itu Sayyid Hasyim dan Sayyid Hasan
anaknya ingin pergi berpetualang ke Asia Tenggara, Sayyid Abu Bakar ikut juga berpetualang
berdagang dan mencari rempah-rempah bersama ayahnya Sayyid Hasan dan kakeknya
Sayyid Hasyim yang sudah sepuh. Pertualangan mereka tersebut mengikuti pertualangan Sayyid Abdurrahman al Muallim bin
Muhammad bin ‘Aly Assegaf (dia orang tua Sayyid Umar ash-Shaafy) diabad ke-16 Masihi masa Kesultanan Banjar dipimpin oleh Sultan Suriansyah. Perjalanan
panjang mereka ke Asia hingga Asia Tenggara dan tiba di Nusantara, mereka
berangkat mulai kota tanah kelahirannya Seiyun Hadramaut, ke Turki, terus
melalui Singapore ke Aceh terus ke Pelembang, hingga tiba ditempat tujuan pesisir utara Jawa
yakni Darmaga Pelabuhan Gresik, Demak Jawa Tengah di diakhir abad ke-17 antara tahun
1684 sd. 1690M.
Setelah singgah dan menetap atau
berdomisili yang lama di Darmaga Pelabuhan Gresik, mereka belajar ttg. Bahasa,
Adat-istiadat /budaya Malayu
dan Jawa sehingga mereka
bersikaf/ terbiasa dengan adat Malayu dan Jawa, lembut dan sopan dan juga
sangat pasih berbahasa Malayu Indonesia, khususnya Sayyid Hasan dan Abu Bakar pasih
berbahasa Melayu dan Jawa, kemudian mereka pindah ke Darmaga Pelabuhan Jepara
dan menetap disekitarannya. Di provinsi kota inilah akhir Abad ke-11H (dihitung
dari tahun 1592 sd. 1689M) kakeknya Sayyid
Hasyim diperkirakan
wafat sekitar tahun (1686M/ Rmdhan.1097H) dan bermakam, begitu
juga kalek Habib Idrus Assegaf sa’at datang menziarahi ayahnya sayyid Hasyim
dikota ini, ia jatuh sakit, mungkin karena kelelahan, badannya terus melemah
hingga wafat dan makamnya berdampingan dengan ayahnya dikota ini, tepatnya
Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, kota Semarang Jawa Tengah.
Pada abad ke-17 Masihi kesultanan Banjar mengalami kejayaan. Bandarmasih (Banjarmasin) sudah menjadi pelabuhan bebas sejak pertengahan abad ke-17, baik antar pulau maupun antar benua. Karena adanya pergeseran peranan pelabuhan di pesisir Jawa Timur ke daerah ini. Menurut Barra seorang peneliti sejarah, bahwa banyak jung Melayu, Inggeris, Portugis, dan lain-lainnya berlabuh di Bandarmasih (Banjarmasin). Hingga akhir abad ke-17M, lada sebagai primadona komoditi, dan emas semakin meningkat produksinya. Menurut Schrieke seorang peneliti sejarah, bahwa “pelabuhan Bandarmasih (Banjarmasin) telah menggantikan kedudukan pelabuhan Gresik. Perahu-perahu layar samudera pada abad ke 16-17 M sudah banyak dibuat oleh “pandai kapal” di Sungai Pandai Banjarmasin untuk dijual ke Jawa dan negeri lainnya.
Sayyid Hasyim bin Muhammad dan keluarganya pernah menetap di Darmaga Pelabuhan Gresik dan Darmaga Pelabuhan Jepara Semarang.
Pada mulanya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan
beserta anaknya Sayyid Abu Bakar Assegaf mereka pergi berniaga meninggalkan
Habib Hasyim ayahya yang (sudah sepuh) dan Idrus adik bungsunya (yang masih
kecil 11-13 thn) mereka berniaga
di Darmaga Pelabuhan Gresik dan sekitarannya
selama bertahun-tahun lebih, kemudian mereka sekeluarga pindah ke Darmaga Pelabuhan Jepara kota Semarang. Mereka berniaga di Darmaga Pelabuhan Jepara
dan sekitarannya lebih dari bertahun-tahun lamanya, tetapi Mereka menetap lama
di Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan. Namun dari kota ini, mereka
ingin mengembangkan dan meningkatkan (bisnis) hasil perniagaan mereka, seiring
waktu terus berjalan, dua haul sudah wafatnya ayahanda Sayyid Hasyim
telah berlalu, akhirnya mereka bertolak berlayar dari Pelabuhan Jepara Semarang
pasca Kesultanan Demak berlabuh menyeberangi laut Jawa-laut Bornio untuk (yang kesekian kalinya) menuju
Kesultanan Banjar.
Menurut ceritra datuk-neni kami bahari dan kisah orang-orang tua yang saya temui bahwa “di Abad ke-16 Masihi masa Kesultanan Demak dan untuk (memenuhi janji Sultan Banjar sabubuhan rakyatnya musti masuk Islam), mengetahui prihal tersebut Sayyid Abu Bakar bersama orang tuanya Sayyid Hasan yang sudah bertahun-tahun menetap di Darmaga Pelabuhan Kapal Gresik, Jawa Tengah. (sebelum mereka menetap di Kelurahan Randusari Semarang), mereka marasa terpanggil, tergerak hati mereka /ada rasa tanggug jawab hingga mereka datang ke Kasultanan Banjar, tujuan utamanya mengislamkan orang-orang Banjar, disamping berniaga (Hambal, Permadani, Sajadah, Kain Sarung dan berbagai jenis Perhiasan Wanita), mereka juga mencari madu dan rempah-rempah untuk dijual kembali, mereka menyeberangi laut Jawa-Bornio pertama kali naik Perahu layar “Jung Banjar” sebelum wafat ayah mereka dan tiba di tempat tujuan yakni sebelum mereka menetap lama .dipelabuhan kapal Kampung Sungai Mesa Bandarmasih (Banjarmasin, Kalsel)”.
Di
Darmaga Pelabuhan kota ini mereka mulai mempelajari Bahasa Banjar
kepada orang-orang Banjar yang ada disekitarnya dan mengenali adat istiadat budaya
mereka. Hal itu dilakukan sebagai bentuk upaya untuk memenuhi penyampaian misi
dakwah Islam kepada masyarakat Banjar. Sehingga tatkala mereka berinteraksi
dengan orang-orang Banjarmasih lainnya tidak mengalami hambatan, tiada
mengalami kesulitan dan selalu berjalan dengan baik.
Sayyid Hasan diperkirakan
(lhr. 1634M) dan keluarganya, Dzuriat Rasulullah
SAW tersebut konon berasal dari Seiyun Hadramaut, dan menginjakkan kaki pertama
di pelabuhan kapal Bandarmasih (nama kota lama Kota Banjarmasin) di Kesultanan
Banjar. Setelah beberapa waktu menetap berbulan-bulan di Pelabuhan Kampung
Sungai Mesa sambil menghabiskan barang dagangan, dan mereka membeli madu dan
rempah-rempah merekapun kembali lagi pulang ke Demak menemui Habib Hasyim
ayahnya yang ditinggalkan bersama anak bungsunya Habib Idrus..
Adapun Jenis Perahu /Jukung
yang ditumpangi Sayyid Hasan beserta anaknya sayyid Abu Bakar ketika menyeberang
laut Jawa-Kalsel adalah perahu layar “Jung Banjar”
Penjelasan : ttg. Perahu
Kapal Layar Jung Banjar
Perahu “Jung Banjar” adalah jenis
kapal layar besar orisinal Nusantara dari Kesultanan Banjar yang populer
pada abad ke-16 hingga ke-17. Kapal ini berukuran raksasa, tangguh, serta
berfungsi utama sebagai sarana angkutan laut dan perdagangan antarpulau maupun
internasional.
Menurut peneliti pakar sejarah
Koestoro bahwa “pada pertengahan abad ke-16 Masihi, telah muncul Jung Banjar, sebuah Perahu
yang digunakan untuk angkutan transportasi
sungai-laut antar pulau. Pada abad ke-16 Masihi
dari tahun 1501 sd. 1600 M, sekitar akhir abad ke-16 Masihi yakni tahun 1596 M
kapal “Jung Banjar”, jenis perahu ini pernah dicegat dan dirampas Cornelis de Houtman orang
Belanda ketika Perahu itu sedang beroperasi melintas diperairan luar Teluk
Banten, Jawa Tengah.
Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar beserta keluarganya singgah menetap lama di Darmaga Pelabuhan Perahu Sungai Mesa Bandarmasih.
Namun perjalanan mereka yang
kesekian kalinya, mereka menyeberangi laut Jawa-laut Bornio dan menuju ke
Kasultanan Banjar, (busu) Habib Idrus (lhr.1674M) bin Hasyim Assegaf baru
diikutsertakan bersama saudaranya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan Sayyid
Abu Bakar Assegaf keponakannya, mereka membawa misi dakwah pergi berniaga
berlayar dan tiba lagi di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa kota Bandarmasih, pada
kali ini mereka menetap lama/ berdomisili lama dipelabuhan tersebut, diakhir
abad ke-17 Masihi dan dipekirakan mulai menetap tahun 1689 Masihi di akhir abad
ke-11 Hijeriah.
Sungai Mesa
merupakan sebuah kampung
tua di Kota Banjarmasin
(Bandarmasih dahulu). Kampung ini dibangun oleh seorang tokoh yang dikenal
dengan nama Kiai Mesa Jaladri. Tidak diketahui persis, kapan Kiai Mesa
membangun wilayah ini, yang jelas sejak itu Kampung Sungai Mesa menjadi wilayah
tempat tinggal yang strategis. Letaknya yang persis di tepi sungai Martapura,
membuat daerah ini menjadi semacam pelabuhan kecil tempat menaik-turunkan
barang dagangan dari perahu (kapal). Di seberang Sungai Mesa adalah Jalan Pasar
Lama Laut yang sekarang menjadi
pusat perkantoran pemerintah Provinsi Kalsel” (Artikel Kajian al Kahfi).
Salah satu pasar yang sering
dikunjungi Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar anaknya ketika menetap di Kampung
Sugai Mesa Bandarmasih yakni berniaga lewat transportasi air menggunakan “Jukung Bakapih” adalah pasar terapung dan sekitarnya. Pasar
terapung adalah yang awalnya terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling.
Menurut
penelitian H. Achmad Mawardi seorang pakar Pemerhati budaya dan lingkungan
bahwa “Berdasarkan kenyataan arkeologis dan historis, jukung-jukung orang
Banjar masih banyak terdapat dan digunakan di perairan Kalimantan Selatan.
Bahkan pasar terapung di daerah ini, diketahui sudah ada sejak 400 tahun yang
lalu. Diperkirakan pasar
terapung dan juga di
tebing sungai sudah ada pada tahun 1530 Masehi pada masa pemerintahan Sultan
Suriansyah (Pangeran Samudera) yang terletak pada pertemuan
Sungai Karamat dan
Sungai Sigaling.
Kemudian bergeser ke
tepi sungai Barito di daerah muara Sungai
Kuin menjelang akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Masehi. Pasar terapung di
sungai Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, mungkin sudah ada pada abad ke-16
tetapi bisa juga baru menjadi umum ketika perpindahan keraton Banjar ke kawasan
Kayu Tangi Martapura sejak awal abad ke-17 Masihi tahun 1612M.
Keterangan : Sungai Keramat
dan Sungai Sigaling
Sungai Keramat
adalah sungai yang mengalir di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia.
Sungai ini mengalir di kelurahan Sungai Bilu, kecamatan Banjarmasin Tengah,
Kota Banjarmasin dan bermuara ke Sungai Martapura. Sungai Keramat memiliki
panjang 846,353 meter dengan lebar 50 meter.
Sungai Sigaling
adalah sebuah anak sungai yang mengalir dan terletak di Kecamatan Banjarmasin
Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang memiliki panjang sekitar
1.087 meter dengan lebar 30 meter dan bermuara langsung ke Sungai Barito.
Adapun Jenis Jukung yang digunakan
Sayyid Hasan beserta anaknya sayyid Abu Bakar ketika membawa misi dakwah sambil
berniaga di wilayah dekat Bandarmasih misalnya tepi sungai
Barito di daerah muara
Sungai Kuin, tepi aliran Sungai Karamat dan tepi aliran Sungai Sigaling adalah menggunakan perahu “jukung
Bakapih” yang mereka beli dari masyarakat setempat.
Penjelasan : ttg.Jukung
Bakapih
(Jukung Bakapih). Jukung Sudur (the real dugout canoe)
yang dianggap bentuk awal jukung sejak kala
Neolitik, tenyata pada zaman logam (metal age), masih dibuat dan dipertahankan
hingga masa kini, seperti di kawasan
perairan lahan basah Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Bentuk Jukung Sudur
bisa dibuat dari ukuran kecil hingga besar. Untuk memperbesar muatannya, bisa
ditambah kepingan papan di kedua sisi dinding jukung, yang disebut Jukung Bakapih dari
Jukung Sudur. Berdasarkan temuan “Jukung Sudur” di Sungai Terasi, desa
Kaludan, terbukti tipe Jukung
Bakapih sebenarnya
sudah dibuat dan dikenal di daerah Kalimantan Selatan sejak abad ke- 15 atau
ke-16 Masehi.
Silsilah Nasab Sayyid Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Sayyid Muhammad Assegaf.
Diceriterakan bahwa Sayyid Alwi yang melalui perjalanan
panjang dari Negeri Hadramaut menuju ke negeri Turki terus menuju negeri Asia
Tenggara Singapore - Indonesia ke
Pelembang terus ke Darmaga Pelabuhan Gresik yang terletak di Provinsi Jawa
Timur, Wilayah ini berada di kawasan pesisir utara Pulau Jawa, tepat di sebelah
barat laut Kota Surabaya. Ia terus
berlayar menuju ke Bandarmasih, tiba di Sungai Mesa mencari datuknya Sayyid Abu Bakar.
Ia adalah Buyut Sayyid Abu Bakar bin
Hasan Assegaf. Sayyid Abu Bakar sempat menikah dengan perempuan salihah di kampung
ini dan punya keturunan an. Sayyid Abdurrahman sa’at menetap di kampung ini. Penulis
belum dapatkan keterangan yang jelas ttg tahun pernikahan Sayyid dan dzuriat Habib
Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang masih hidup sa’at ini,
Namun prihal
itu maksudnya (pernikahan Sayyid Abu Bakar dengan wanita Sungai Mesa) terjadi
sebelum kedatangan Buyut pertamanya sayyid Abu Bakar yakni Habib Alwi bin
Abdillah bin Shalih bin Habib Abu Bakar Assegaf ke Nusantara sekitar abad ke-19
Masihi. Dimasa Kesultanan Banjar dipegang oleh Sultan Adam.
Sekitar pada Agustus 2023
Masihi Penulis baru menemukan Nasab silsilah Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih
bin Habib Abu Bakar Assegaf dan keturunannya yang bermula dicatat dari Habib
Abdul Qadir al Jailani :
الْحَبِيْب عَبْدُ القَدِيْر الْجَيْلَانِيِّ
بِنْ عَلْوِىْ بِن زَيْنْ بِنْ عَلِيٍّ بِنْ عَلْوِىْ بِنْ عَبْدِاللهِ بِنْ صَالِح
بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ
[عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً
عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ
سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ
بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد
بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه
Habib
Abdul Qadir al-Jailani
bin
Alwi
bin
Jain
bin
‘Ali
bin
Alwi
bin
Abdillah
bin
Shalih
bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.
bin Hasan w.1720M
bin Hasyim w.1686M/18Rmdhn.1097M
bin Muhammad
bin Umar ash-Shoufy
bin Abdurrahman
bin Muhammad
bin Ali w.840H
bin Sayyidina Syekh Al-Imam
Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)
bin Syekh Muhammad (Maula
Ad-Dawilah wafat 665 H))
bin Syekh Ali (Shahibud Dark)
w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
bin Sayyidina Al-Imam Alwi
Al-Ghuyur (w.669 H)
bin Sayyidina Al-Imam
Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)
bin Sayyidina Ali Walidul
Faqih
…………………………………………
Menurut salah satu Artikel
yang pernah saya baca menyebutkan bahwa “Pemukim dari golongan sayyid yang terhitung
orang lama (tua) di Sungai Mesa adalah Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, ia diperkirakan
lahir di Sungai Mesa Bandarmasih antara tahun 1720-1725 Masihi, awal abad ke-18
M. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf mempunyai 3 orang saudara kandung bernama
Umar, Muhdor dan Muhammad. “Pekerjaan Habib Ahmad berdagang kayu ulin, juga
membawa tajau, belanga berdagang dengan urang Dayak,” cerita Syarifah
Nikmah.(Artikel Kajian al Kahfi).
a. Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar Assegaf Menetap Lama di Pasar Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang awal Abad ke-18 Masihi tahun 1701 Masihi di Kec. Kandangan di Kab. Hulu Sungai Selatan.
Mereka para sayyid ini
apabila pergi berdagang ke tempat yang jauh, rote perjalanan dari aliran Sungai Nagara ke Hulu Sungai
dengan mengunjungi beberapa kampung membawa misi dakwah, mereka awalnya selalu
naik taxi PP “Perahu Bagiwas” ke Hulu Sungai
tersebut, satu dua pekan sekali. Hal ini dilakukan beberapa kali dalam sebulan
hingga bertahun-tahun, transportasi jalur sungai yang melewati beberapa kampung seperti Garis,
Bangkau, sungai Balimau, Sungai Kupang) menuju jalur aliran Sungai Hamandit,
hingga tiba di Darmaga pelabuhan Perahu
Amawang (Hamawang) Hulu Sungai Selatan Kandangan. Pada awalnya saat berada di
Hulu Sungai, sayyid Hasan dan anaknya selalu berniaga di sekitar Psr. pelabuhan
Amawang, tempat parker taxi “Perahu
Bagiwas” yang ditumpanginya di jalur
aliran Sungai Hamandit.
“Perahu Bagiwas”
(Perahu Tambangan) terbuat dari kayu ulin
(kayu besi Kalimantan). Ada ukiran daun jaruju melayap di dekat garis air.
jukung tambangan memiliki panjang
12,40 meter, lebar 1,34 meter, dan kedalaman 59 cm.
Fungsi jukung tambangan adalah untuk transportasi sungai, sebelumnya hanya digunakan oleh para pedagang, para bangsawan, dan orang-orang kaya. Namun Fungsi “Perahu Tambangan” secara luas telah mereka gunakan oleh orang-orang biasa untuk transportasi taxi para penumpang, reuni keluarga, acara pemakaman, pernikahan, dan banyak lagi.
Keberadaan sayyid Hasan dan
sayyid Abu Bakar beserta keluarganya disambut gembira oleh masyarakat kampung
Hamawang sa’at itu, justru bersamaan dengan kekhadiran Pangeran Kecil atau Datu Hamawang yakni di Abad ke-18 Masihi, mereka sama-sama membangun
akhlak masyarakat Amawang menjadi akhlak agamis. Walaupun Kesultanan Banjar
mengangkat beliau menjadi kepala kampung hamawang dan diberi gelar Tumenggung
Raksa Yuda, namun masyarakat kampung lebih mengenal beliau dengan sebutan Datu
Hamawang.
Desa Amawang adalah sebuah
desa yang sudah tua namun dahulu namanya bukan amawang kanan melainkan bagian
dari kampung hamawang, hamawang ini bermula pada saat awal abad ke-18 M seorang
keturunan raja Nagara Daha Raden Sukarama (Maharaja Sukarama) pergi dari
kemegahan istana karena ingin menghindari kekalutan dari perebutanan
singgasana, kemudian beliau pergi ke kampung hamawang dan bermukim disana,
beliau juga dikenal sebagai Datu Hamawang, Datu Bungkul atau Pangeran Kecil. Beliau
juga yang pertama kali membangun mesjid bersama tokoh agama dan masyarakat
setempat di kampung hamawang, mesjidnya bernama Masjid Qoba.
Di Darmaga ini mereka membeli rumah kosong dari penduduk setempat yang ditinggalkan, jadi
Keberadaan mereka sudah mendapatkan tempat tinggal untuk menetap lama yang
letaknya dipinggiran Psr. Darmaga pelabuhan Parahu Amawang, rumah tersebut
digunakan untuk menginaf dan berdagang (berniaga) yang mereka kunjungi satu
atau dua pekan sekali, terutama hari Selasa hari pasar Amawang, kota Kandangan.
Kekhadiran Sayyid Hasan dan
Abu Bakar anaknya di pasar Palabuhan Parahu Amawang sangat sukai dan disenangi
dan juga mereka mulai dikenal oleh para Pedagang lainnya, masyarakat setempat
dan para Pembeli dagangannya, sejak awal kekhadiran mereka.
Menurut ceritra datu-datu dan neni kami bahari dan kisah orang-orang tua yang saya temui bahwa “Sayyid Hasan dan keluarganya, Mereka pun berdakwah di kampung Amawang, Kandangan ini dan sekitarnya selama bertahun-tahun” salah satu metode dakwah yang sangat digemari dan diminati masyarakat sa’at itu adalah dakwah Islam (BAKISAH misalnya ttg cinta Rabiatul dengan Hasan al Basri, dilengkapi pantun, syair-syair, shalawat, puisi, kata-kata mutiara, kata filusufi dan yang dibumbui berikteng, sedikt homor, rayuan gumbal) disampaikan kepada masyarakat setempat. hingga masyarakatnya benar-benar gembira menerima suka rela dan mengenal Islam dengan baik.
b. Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar anaknya beserta Sayyid Idrus adiknya berdakwah ke kampung-kampung dan ke pelusuk-pelusuk dusun di Hulu Sungai Selatan.
Namun seiring waktu berjalan, setelah mengetahui dan mengerti
seluk beluk arah jalan transportasi dari aliran Sungai
Nagara menuju Hulu
Sungai, pada akhirnya dari Pelabuhan Sungai Pinang tempat menetap, Saudagar
Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar naik jukung/perahu sendiri membawa misi
dakwah sambil berniaga melewati kampung-kampung atau desa-desa dan bahkan
Saudagar Kain ini sering kali menginaf (bermalam) di kampung-kampung atau desa-desa
yang disinggahinya, kampung atau desa Garis singgah, di desa Bangkau singgah,
melewati desa Tawar singgah, kemudian menuju sungai Kalumpang, ke Sungai
Balimau, di desa Sungai Kupang singgah kemudian menuju jalur aliran Sungai
Hamandit, hingga tiba di Darmaga pelabuhan
Perahu Amawang (Hamawang) di Hulu Sungai Selatan Kandangan.
Adapun letaknya sekarang pasar “Darmaga pelabuhan Perahu Amawang” disekitaran tepi aliran
Sungai Hamandit mulai
Pandai Muka, Jembatan 3
Desemer sd. kampung Gitik Sungai Kalang, atau Desa Amawang Kiri.
Ditepi Sungai atau pinggiran
aliran Sungai Hamandit Desa Amawang, inilah Sayyid Hasan dan Abu Bakar anaknya
beserta Sayyid Idrus adik Sayyid Hasan dan keluarganya, awal mulanya mereka tinggal /menetap dekat Darmaga Pelabuhan Parahu Amawang.
Kemudian setelah itu “Beranjak dari psr. Darmaga
Pelabuhan Perahu Amawang
Keluarga Fam Assaqqaf ini, mereka telah menyebar membawa misi dakwah Islam
serta berniaga ke desa-desa dan ke kampung-kampung dan juga kepelusuk-pelusuk
dusun yang belum pernah dijamah Islam dan belum mengenal Islam dengan baik”.
Misalnya sayyid Hasan berhijrah membawa misi dakwah Islam dan berniaga beranjak
dari Darmaga Pelabuhan Parahu Amawang terus menuju psr. Pelabuhan Perahu Sungai
Kudung dan singgah disana, kemudian terus menuju ke kampung Taniran dan
sekitarnya. Sayyid Ali bin Idrus membawa misi dakwah Islam dan berniaga kampung
Amawang, Kandangan dan sekitarnya, Sayyid Idrus membawa misi dakwah Islam dan
berniaga ke Sungai Raya, desa Matang Gadung atau Said Kuning, Telaga Bidadari dan
sekitarnya. Sayyid Abu Bakar disamping membantu ayahnya di kampung Taniran ia juga
pergi membawa misi dakwah Islam dan berniaga ke Hulu Banyu desa Lumpangi dan
sekitarnya.
C. Keterangan Jalur transportasi Masyarakat Kandangan dahulu mereka pulang pergi ke Pasar Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang, Kab. Hulu Sungai Kandangan.
Jalur transportasi Masyarakat Kandangan dahulu
mereka pulang pergi ke Pasar Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang, membawa dan
menjual hasil pertanian, mereka menggunakan alat Jukung atau Perahu untuk
bepergian hilir-mudik melalui aliran aliran anak Sungai Hamandit di Kandangan.
Antara lain :
1. Aliran Sungai yang bermuara di Pasar yakni di Pandai
Muka yakni :
Aliran anak sungai
Hamandit kandangan yang bermuara Pandai muka,
(belakang Beskop) yakni aliran anak Sungai terus ke simpang lima Kandangan terus hulunya menuju ke Musyawarah terus hulunya
menuju ke Durian Sumur (belakang rumah alm
H.Tohri), terus ke Jl. Al Falah melitasi Jalan Biluy terus hulunya menuju ke Kandangan Hulu dua dan bertemu /bersambung sungai Hamandit
disini.
2. Aliran Sungai yang Bermuara
di Pasar yakni Pandai Tengah yakni :
Aliran anak sungai Hamandit
kandangan yang bermuara
dekat jembatan tiga Desember (muka rumah alm.H.Huray) pandai tengah
terus hulunya ke Karkup
terus hulunya menuju ke Gambah
luar (belakang Masjid Al-Abrar) terus hulunya ke Bakarung, menuju ke aliran Sungai Kudung kemudian aliran sungai membelah dua, menuju ke Taniran
Selatan. Kalua terus hulunya menuju ke Tabihi terus hulunya menuju ke Karang Jawa dan bertemu /bersambung sungai Hamandit disini.
D. Riwayat Singkat Habib Ali bin Idrus Assegaf di Kec. Kandangan Kab. Hulu Sungai Selatan awal Abad ke-18 Masihi tahun 1701 Masihi.
Dan setelah dewasa diperkirakan
(usia 25 tahun keatas) di abad ke-18 Masihi awal, Habib Idrus (lhr.1674M) bin
Hasyim Assegaf memperistri seorang wanita salihah dari warga Kampung Sungai
Mesa yang berlokasi di Bandarmasih kota tersebut, yang kemudian Habib Idrus diusianya
40 tahun keatas, baru isterinya bisa hamil dan melahirkan seorang putra bernama
Habib Ali. Habib Ali bin Idrus Assegaf tumbuh besar hingga usia remaja di psr. Darmaga
Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih kala itu. Di usia remaja tersebut, Ia bersama
keluarganya berada menetap di Banua Enam kota Kandangan.
Putra Habib Idrus yang
bernama Habib Ali Assegaf,
diperkirakan lahir sekitar tahun 1140H/1727 Masihi. Ia salah seorang yang diberi Allah
Swt umur pajang, ia berumur lebih kurang dari 82 tahun Masihi, ketika usianya
sudah sepuh atau lanjut dan ia sering sakit-sakitan dan hingga membawanya wafat
diperkirakan awal abad ke-19 Masihi yakni pada tahun 1224H/ 1809M dan ia bermakam di tengah kota Kandangan atau persisnya di alkah
Alawiyah Ashhab Turban Anak Mas di Jalan H.M Rusli. Adapaun salah seorang putra
Habib Ali, yaitu Habib Husain bin Ali bin Idrus Assegaf bermakam
di tengah kantin pasar Kandangan.
Sekitar tahun 1701 Masihi di
awal abad ke-18 sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar beserta keluarganya berhijrah
dari Pelabuhan Sungai Pinang, Nagara ke Hulu Sungai Selatan, naik taxi
tranportasi umum “Perahu Bagiwas” rote perjalanan dari aliran sungai Nagara ke aliran sungai Hamandit tiba di Banua Anam
Kandangan. Dan akhirnya mereka tiba di tempat tujuan dan menetap di Desa
Amawang (Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang) aliran Sungai Hamandit.
Sayyid Hasan adalah saudagar kaya ayah sayyid Abu
Bakar bersama keluarganya sebelum berhijerah ke Sungai Pinang Negara, mereka
lama menetap di Sungai Mesa Bandarmasih, diperkirakan mulai tahun 1689 Masihi
pertengahan dan akhir abad ke-17 Masihi, Abad ke-17 dihitung dari tahun 1601
sd. tahun 1700 M. Sayyid Abu Bakar sempat menikah dengan
perempuan salihah di kampung ini dan punya keturunan an. Sayyid Abdurrahman
sa’at menetap di kampung ini. Penulis belum dapatkan keterangan yang jelas ttg
tahun pernikahan Sayyid dan dzuriat Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang
masih hidup sa’at ini, namun prihal itu terjadi sebelum kedatangan Buyut
pertamanya sayyid Abu Bakar yakni Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Habib
Abu Bakar Assegaf ke Nusantara sekitar abad ke-19 Masihi. Dimasa Kesultanan
Banjar dipegang oleh Sultan Adam.
Menurut Artikel Sejarah Ahlul
Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesia menyebutkan bahwa “Seorang
dari keluarga Assegaf bernama Alwi (w.1842M) bin Abdillah bin Shalih bin
Abubakar dilaporkan melalui perjalanan panjang dari Hadramaut-ke Pelabuhan Turki-ke
Pelabuhan Palembang- ke Pelabuhan Gresik, sebelumnya ia menyinggahi Banjarmasin
dan sempat bermukim di Kampung Sungai Mesa. Alwi kemudian menetap di Martapura
(Kampung Melayu) dan mendapat hadiah tanah dari Sultan Adam di daerah Karang
Putih. Kemudian ia dan anak cucunya bermakam di tanah pemberian Sultan tersebut
(makam Karang Putih Jl Menteri Empat Martapura) ”(Fakhrul 04-2012M).
E. Para Sayyid mereka telah menyebar
ke Kampung-kampung, ke pelusuk-pelusuk dusun membawa misi dakwah Islam.
Menurut ceritra datu-datu dan neni kami bahari dan kisah orang-orang tua yang saya temui bahwa “Sayyid
Hasan dan keluarganya, Mereka pun berdakwah di kampung Amawang, Kandangan ini dan sekitarnya selama bertahun-tahun”
salah satu metode dakwah yang sangat digemari dan diminati masyarakat sa’at itu adalah dakwah Islam (BAKISAH misalnya ttg cinta Rabiatul dengan
Hasan al Basri, dilengkapi pantun,
syair-syair, shalawat, kata-kata mutiara,
kata filusufi dan yang dibumbui berikteng, sedikt homor, rayuan gumbal) disampaikan
kepada masyarakat setempat. hingga masyarakatnya benar-benar gembira menerima
suka rela dan mengenal Islam dengan baik.
Setelah berdakwah di Darmaga
ini dan kampung sekitarnya beberapa tahun, Kemudian setelah itu “Beranjak dari Darmaga
Pelabuhan Perahu Amawang
Keluarga Fam Assaqqaf ini, mereka telah menyebar membawa misi dakwah Islam serta
berniaga ke desa-desa dan ke kampung-kampung dan juga kepelusuk-pelusuk dusun
yang belum pernah dijamah Islam dan belum mengenal Islam dengan baik”. Misalnya
sayyid Hasan berhijrah membawa misi dakwah Islam dan berniaga beranjak dari Darmaga
Pelabuhan Parahu Amawang terus menuju psr. Pelabuhan Perahu Sungai Kudung dan
singgah disana, kemudian terus menuju ke kampung Taniran dan sekitarnya.
Sayyid Ali bin Idrus membawa
misi dakwah Islam dan berniaga kampung Amawang, Kandangan dan sekitarnya,
Sayyid Idrus membawa misi dakwah Islam dan berniaga ke Sungai Raya, desa Matang
Gadung atau Said Kuning, Telaga Bidadari dan sekitarnya. Sayyid Abu Bakar pergi
membawa misi dakwah Islam dan berniaga ke Hulu Banyu desa Lumpangi dan
sekitarnya.
F. Sayyid Hasan, Sayyid Abu Bakar dan Sayyid Idrus adiknya berziarah ke makam Ayahandanya Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy
Ziarah kubur orang tua adalah
amalan sunnah untuk mendoakan almarhum, mengenang jasa mereka, dan mengingat
kematian. Rangkaian tata cara dimulai dari berwudu, mengucapkan salam kepada
ahli kubur, membaca surat pendek seperti Al-Fatihah, tahlil, dan memanjatkan
doa khusus bagi orang tua.
Ada banyak ragam doa ziarah
kubur berdasarkan tujuannya, seperti mendoakan orang tua, anak atau saudara
yang telah tiada.
السَّلامُ عَلَى أهْلِ الدّيَارِ
مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُكُمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ
مِنْكُمْ وَمِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ
Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr minal mu’minîna wal muslimîn yarhamukumuLlâhul-mustaqdimîn minkum wa minnâ wal musta’khirîn, wa wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn
Artinya: Assalamu’alaikum,
hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan
rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian dan
[yang telah mendahului dan akan menyusul] kami.
Sesungguhnya kami insyaallah akan menyusul kalian.
Adapun untuk mendoakan orang tua yang telah tiada, maka Sahabat bisa menambahkan dengan membaca lafal berikut ini.
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا
Artinya: Tuhanku, ampunilah
dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya
menyayangiku di waktu aku kecil.
Doa untuk Ahli Kubur
Setelah mengucapkan salam dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an sesuai kemampuan, peziarah dapat memanjatkan doa untuk jenazah.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ
Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' mudkhalahu, waghsilhu bil-ma'i wats-tsalji wal-baradi, wa naqqihi minal-khataya kama yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas.
Artinya:
"Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, lapangkanlah kuburnya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah dia dari segala dosa sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran."
Ada dikisahakan Datu-neni bahari wallaahu‘a’lam bahwa : Sayyid Hasan dan Sayyid Idrus adiknya dan juga Abu Bakar beserta ke-2 orang anak tertuanya : Sayyid Abdul Rahman, Sayyid Abdul Hamid. Di awal Abad ke-18 Masihi sekitaran antara tahun 1715 sd. 1717 Masihi, mereka datang berkunjung untuk menjenguk keluarga (silatur rahmi) yang masih ada menetap di kota ini dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy ayahanda mereka di Randusari, Semarang Selatan kota Semarag Jawa Tengah, yang mereka jadwalkan keberangkatannya. Kali ini mereka pergi membawa barang dagangan yang mudah dijual seperti madu, damar, kayu manis, lada, rotan dan lainnya. Mereka berangkat dari rumah naik taxi menumpangi Perahu Bagiwas menuju Darmaga Pelabuhan Kapal Bandarmasih (Pelabuhan Kapal Tri Sakti Banjarmasin sekarang). Lewat Darmaga Pelabuhan ini mereka menyeberangi laut Bornio dan laut Jawa, adapun Jenis Perahu yang ditumpangi mereka sa’at itu adalah “Perahu Jung Banjar”. Keluarga Sayyid Hasan ini berangkat dari Darmaga Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih, mereka naik menumpangi “Perahu angkot Jung Banjar” menyeberangi laut Kalsel dan laut Jawa dan tiba di Darmaga Pelabuhan Jepara, kemudian menawarkan barang yang mereka bawa, hingga barang tersebut laris habis terjual dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan naik taxi angkot berupa dukar/delman kuda, terus menuju Kel. Randusari, Semarang.
Setelah beberapa waktu satu
dua tahun berada di Darmaga Pelabuhan Amawang dan sekitarnya, Kab. Hulu
Sungai Selatan ini meyampaikan misi Islam, maka terjadi pembagian tugas dan
lokasi misi dakwah. Sayyid Hasan, karena sudah sepuh (berumur lanjut) sering
sakit-sakitan maka Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy bin
Abdurrahman bin Muhammad Assegaf
berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah dan tidak terlalu banyak
jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung
khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat simpati dan banyak berharap kepadanya sebagai Guru
Agama. Tak berapa lama di Desa Taniran ia bersama masyarakat bisa membangun
sebuah tempat ibadah berupa langgar yang berfungsi untuk tempat mengajar,
belajar, mengaji, menuntut ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya.
G. Sayyid Idrus berniat silaturrahmi menjenguk keluarga yang masih ada menetap dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan.
Dikisahakan juga oleh Datu-neni bahari wallaahu‘a’lam bahwa
: Setelah wafatnya Sayyid Hasan beberapa tahun ayahandanya kampung Taniran,
timbulah keinginan untuk berziarah
menjenguk kakeknya Sayyid Hasyim di Pulau Jawa. Di pertengahan awal Abad ke-18
Masihi sekitaran antara tahun 1748 sd. 1750 Masihi, Sayyid Abu Bakar beserta
ke-3 orang anak tertuanya : Sayyid Abdul Rahman, Sayyid Abdul Hamid, Sayyid
Jamaluddin dan Pamannya Sayyid Idrus (lhr.1674M) beserta anak tuanya Sayyid
‘Aly, mereka datang ke
kota Randusari ini dengan niat
untuk menjenguk keluarga yang masih ada menetap (silatur rahmi) dan sekaligus
menziarahi makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin
Umar ash-Shaafy ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan kota Semarag Jawa
Tengah, yang telah mereka
jadwalkan
keberangkatannya setiap 12 bulan atau 2 tahun sekali. Perjalanan bisnis kali
ini, mereka membawa perbekalan makanan dan air minum yang dianggap cukup ketika
dalam perjalanan, dengan bermodalkan mengucap “Bismillaahirrahmaanirrahiim”
mereka berangkat dari rumah naik taxi angkot “Perahu Bagiwas” mereka banyak membawa
barang dagangan yang dianggap cepat laku dijual di Pulau Jawa seperti madu,
damar, kayu manis, lada, rotan dan lainnya. Mereka pergi menuju Darmaga Pelabuhan Bandarmasih,
mereka menyeberangi
laut Bornio dan laut Jawa, adapun Jenis Perahu /Jukung yang ditumpangi mereka sa’at itu adalah “Perahu Pinisi”. Keluarga ini
berangkat dari Darmaga Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih naik menumpangi
“Perahu Pinisi” menyeberangi laut Kalsel-laut Jawa dan tiba di Darmaga
Pelabuhan Jepara, kemudian menawarkan barang yang mereka bawa ke para Pembeli,
hingga barang tersebut laris habis terjual
syukur alhamdulillah mereka ucapkan, dan setelah itu mereka melanjutkan
perjalanan naik taxi angkot berupa dukar/delman kuda, terus menuju Kelurahan Randusari,
Kec. Semarang Selatan.
Namun Sayyid Idrus Assegaf sa’at berkunjung dengan niat silatur rahmi untuk menjenguk keluarga yang masih ada menetap disana dan sekaligus menziarahi makam ayahandanya sayyid Hasyim dikota Semarang ini, tetapi setelah selesai pada kunjungannya kali ini, nasibnya malang tertimpa musibah, waktu ajalnya tiba, ia jatuh sakit, mungkin karena kelelahan selama dalam perjalanan, hingga penyakit lamanya kembuh, ketika itu anggota badannya terus melemah hingga ia wafat dengan usia sekitar 75-76 tahun dan janazahnya dikebumikan berdampingan dengan makam Sayyid Hasyim ayahnya dikota ini, dan Alamat lengkapnya di Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
1. Keterangan ttg. Perahu Pinisi
Perahu Pinisi adalah Perahu yang ditumpangi PP (Pulang-Pergi) Sayyid Abu Bakar
beserta Sayyid Idrus adik kandung seayahnya saat pulang ke Jawa menjenguk makam
Sayyid Hasyim di Kel. Randusari, Semarang dan kemabali ke Bandarmasih.
H. Sejarah Penyebaran
Agama Islam di Banua Anam, Keberadaan Sayyid Hasan, Sayyid Abu Bakar dan
Keluarganya di Kampung Taniran.
Menurut Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini
telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran
dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia
telah mengutif dari berbagai sumber, bahwa "Sebelum Datu Taniran,
masyarakat kampung Taniran sudah
dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf,
yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi
di Kecamatan Loksado, HSS."
Kalau kita baca beberapa
Artikel ttg Penyebaran Islam di Banua Anam salah satunya yakni Artikel Banjarmasinpost.co.id,
Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul
KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah
Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia telah
mengutif dari berbagai sumber, bahwa "Sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang
dikenal sebagai (kakeknya) Sayyid Jamaluddin Habib Lumpangi di Kecamatan
Loksado, Hulu Sungai Selatan."
Selanjutnya Artkel itu menyebutkan bahwa "Sayyid Hasan berdomisili di kampung Taniran abad ke-18 Masihi. yang mendekati kebenaran adalah pergantian abad ke-17 dan ke abad 18 Masihi adalah Sayyid Hasan bersama Keluarganya berdomisili di kampung
Taniran.”
Pendapat atau perkiraan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi
pada Artikel tersebut diatas kalau yang datang itu adalah Sayyid Abdullah bin
Abu Bakar al-Aydrus beserta isterinya ke Lok Gabang Martapura”. adalah benar.
Namun Pendapat atau perkiraan pergantian abad, yang mendekati
kebenaran adalah sekitar pergantian abad ke-17 dan ke abad 18 Masihi, Habib
Hasan bersama keluarganya lebih awal datangnya ke kampung Taniran, dari pada Sayyid
Abdullah bin Abu Bakar al-Aydrus beserta isterinya ke Lok Gabang Martapura.
Kalau dilihat dari kelahiran Habib Tanqir Gawa tahun 1862M/1279H
di pertengahan Abad ke-19M, ia dzuriat ketujuh dari Habib Hasan. Maka tujuh
generasi dimaksud
- Habib Tanqir Gawa
- bin Muhammad (gelar Abuthair)
- bin Ibrahim (gelar Abu Tha'am)
- bin Abu Bakar as-Tsani
- bin Ahmad Suhuf
- bin Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi)
- bin Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi)
- bin Habib Hasan bin Hasyim Assegaf.
Jadi diperkirakan dan hampir dipastikan Habib Hasan berdomisili di
kampung Taniran sekitar pergantian abad ke-17 ke abad ke-18 M. Atau seiring
masa kelahiran dan kehidupan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan)
di Lok Gabang, 17 Maret 1710 Masihi (16 Muharam 1122 H )." Dan juga masa
Raja Banjar ke-10 yakni Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Mashi diawal Abad
ke-18M.
Ada beberapa alasan yang dapat kami tampilkan :
Alasan Pertama (1). Adanya silsilah nasab Habib Hasan Assegaf itu
sendiri yaitu kelahiran
Habib Tanqir Ghawa genarasi ke-7 di pertengahan abad ke-19M yakni tercatat
Senin, 13 Oktober tahun 1862M/19
Rabi'ul Awwal 1279H di
Desa Lumpangi, usia Beliau 126 tahun Hijeriah. Beliau adalah
keturunan ke Tujuh dari Habib Hasan bin
Hasyim Assegaf. Jadi ada 7 generasi silsilah baru sampai ke Habib Hasan
Assegaf. Sebagaimana yang kami dirunut diatas dari Habib Tanqirr Ghawa sd. Habib
Hasan Assegaf.
Alasan kedua (2) Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf tersebut
ditemukan kembali di awal abad ke-20 Masihi oleh masyarakat Taniran dekat
langgar Darul Miftahul Jannah” yang berdekatan dengan rumahnya Karena sangat
lamanya Beliau wafat hingga Keluarganya dan masyarakat sekitarnya sudah banyak
yang melupakannya.
Alasan ketiga (3) bahwa Buyut Habib Abu Bakar (Datu Habib
Lumpangi) yang bernama Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih tahun wafatnya tahun
1842 Masihi, awal abad ke-19M. sedangkan Datu Taniran Syekh Sa'duddin awal
berada di Taniran mulai tahun 1812 Masihi juga awal abad ke-19M. Pada tahun
tersebut datanglah tetuha masyarakat atau tokoh masyarakat Desa Taniran menemui
orang tua Datu Taniran yaitu H Mufti Muhammad As’ad dengan maksud agar berkenan
mengirim seorang guru ke Taniran guna memberikan pendidikan agama.
Alasan keempat (4) tentang keberadaan makam atau pusara anak dan
dzuriat Beliau di Desa Lumpangi. Berdasarkan hasil pengamatan kami selama 10
tahun disana. Keadaan Pusara Makam Habaib Datu Lumpangi anak Habib Hasan Assegaf dari tahun
1970-1980M adalah sebagai berikut :
a). Keadaan makam sudah sangat tua, nisan-nisannya raif, 1 buah
batur Ulin Tarahan 6x5 meter untuk 1 Kepala Keluarga, sering terbakar dimasa
kemarau panjang, dinding batur sudah jatuh ketanah, kampug Balai Ulin sudah
lama ditinggalkan orang, kampong itu sudah lama tidak dihuni penduduk dan
keadaan tanaman atau pohon kayu banyak ditemukan pepohonan langsat, Ramania,
Manggis yang hidup disekitar itu banyak dan lebih besar dari ember plastic isi
16 liter bahkan ada yang lebih besar lagi. rumpun-rumpun paring tali dan
pohon-pohon Kelapa sangat tinggi dan tak berbuah lagi, pohon Durian ada yang
lebih besar dari Kindai Padi lebih dari 2 depa orang tua.
b).Kepemilikan lahan tanah makam dan sekitarnya waktu itu tidak
dimiliki masyarakat umum. Tetapi dikuasai oleh cucu-cicit-canggah dan wareng
keturunan Habib Abu Bakar as-Tsani Ahmad
Suhuf Assegaf atas nama Habib Abu Tha’am Ibrahim dan adik kandungnya Abdul
Lathif bin Ahmad (Habib Ahmad Suhuf) bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu
Bakar bin Hasan Assegaf.
c).Waktu tahun 1970-1975 an Nisan-nisan pusara pada makam Habaib
Balai Ulin sudah raif karena sering terbakar api dimasa kemarau panjang tetapi
sebagian berupa batu sungai, belum ada catatan atau tulisan yang kami temukan
kala itu. Andaikata ada orang lain mengkliam menemukan catatan tulisan yang
tertera di Nisan makam Habaib Lumpangi setelah tahun 1980 an itu adalah suatu
hal yang dibuat-buat secara sengaja untuk mencocokkan /mensenkronkan dengan
kepentingan mereka
d).Kalau dibandingkan Batur-batur yang ada di Balai Ulin dengan
Batur batur yang ada pada pusara anak-anak Datu Bakumpai, di kota
Marabahan keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Batur batur pusara anak
Datu Bakumpai satu persatu atau orang perorang, dan sudah ada seni ukiran
(pengamatan tahun 2016 &
2020M). Usia batur-batur makam Datu
Lumpangi lebih tua, belum ada seni ukiran-ukiran pahat-pahatan, dari usia
batur-batur makam anak-anak Datu Bakumpai sudah ada seni pahatannya.
Tetapi sangat disayangkan Batur-batur ukuran tebal 3 jari itu,
sebagai bukti peninggalan sejarah semuanya raif ditelan masa, nilai-nilai
sejarahnya hilang begitu saja sehingga generasi-generasi selanjutnya sulit
mengadakan penelitian ilmiah untuk menentukan keberadaan masa hidup penghuni
pusara Habaib dimaksud.
Jadi, kalau Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dimaksud wafatnya
ditulis diawal abad ke-20 Masihi maka catatan atau tulisan itu tidaklah palid
atau tulisan itu belum tepat. Kalau dimaksud Habib Abu Bakar ast-Tsani bin
Ahmad Suhuf bin M.Jamiluddin bin Habib Abu Bakar bin Hasan, Okey, mungin saja, jawab “Ya”.
I. Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar bersama keluarganya domisi atau menetap di kampung Taniran Kab. Hulu Sungai Selatan.
Keluarga ini
disambut oleh warga Taniran dengan suka cita dan keluarga ini ditampung oleh
salah satu warga Rt.01. Saat itu musim panen padi, maka keluarga Habib ini ikut
membantu warga memanen padi dan menerima upah dari warga. Diwaktu istirahat
memanen, sambil duduk dan makan bersama buruh lainnya disaat itulah Habib mulai
berdakwah yakni "Bakisah-kisah tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di
Timur Tengah" kisah itu misal ttg aturan-aturan berumah tangga, tentang
aturan anak dengan orang tua, kisah
lukmanul hakim dllnya yang dibumbui dengan membaca puisi-puisi, sya'ir-sya'ir
dan sedikit homor hingga disukai tua dan
muda.
Kedatangan
Habib dan keluarganya disambut oleh masyarakat Taniran dengan suka cita dan
ditampung oleh salah satu warga. Sebagian warga ada yang memberinya beras, ada
mengantari ikan kering dan ada yang sayuran dllnnya. Habib dan keluarganya
sangat ramah, murah senyum, suka menenguk warga yang sakit, membantu-bantu
warga yang ditempatinya memanen padi disawah. disaat itulah mulai ditanamkan
nilai-nilai ke-Islam-an dan warga mulai
tertarik dengan Islam. Apalagi saat itu Desa Taniran mengalami masa panen padi
yang melimpah.
Setelah
beberapa waktu berada di Darmaga Pelabuhan Amawang, Kab. Hulu Sungai Selatan
ini, maka terjadi pembagian tugas dan lokasi misi dakwah Islam. Habib Hasan,
karena sudah berumur sering sakit-sakitan maka Habib Hasan bin Hasyim bin
Muhammad bin Umar as-Shufi bin Muhammad Assegaf
berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah dan tidak terlalu banyak
jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung
khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat simpati dan banyak berharap kepadanya sebagai Guru
Agama. Tak berapa lama di Desa Taniran ia bersama masyarakat bisa membangun
sebuah tempat ibadah berupa langgar yang berfungsi untuk tempat mengajar,
belajar, mengaji, menuntut ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya.
Tak berapa
lama keberadaan Sayyid Hasan dan Sayyid Abu akar sebagai Guru Agama atau
Utstadz di Desa Taniran ini, ia bersama masyarakat sudah bisa membangun sebuah
tempat ibadah berupa langgar atau "Mushalla Darul Lathif". Mushalla
ini dibangun di tepi aliran Sungai Taniran, diatas tanah Hibah dari seorang
warga Taniran yang bernama Abdul Lathif. Mushalla tersebut bahan dasar
bangunannya semua dari kayu biasa kecuali tiang dan tongkatnya dari kayu ulin.
Mushalla berfungsi untuk tempat mengajar, belajar, mengaji, menuntut ilmu
agama, musyawarah mufakat dan lainnya bagi masyarakat Rt.02 Taniran. Kemudian
kurang lebih dua tahun berikutnya muncul lagi "Mushalla Darul Miftahul
Jannah" di Rt.03 kampung Taniran. Mushalla ini juga dibangun di tepi
aliran Sungai, atas gotong royong dan dananya swadaya masyarakat Rt.03 kampung
Taniran sa'at itu, tempatnya berdekatan dengan rumah Sayyid Hasan.
Seiring
waktu berjalan dengan cepat, komunitas masyarakat Islam di kampung ini terus
bertambah, keberadaan Masjid di kampung Taniran sangat dibutuhkan. Tidak
seperti sekarang Masjid tidak perlu musti adanya sokongan. Menurut Alim Ulama bahari bahwa
keberadaan Masjid harus disokong oleh keberadaan Langgar sekitarnya minimal
tiga buah. Panitia Langgar inilah yang nantinya yang bertanggung jawab penuh
dalam mengisi Jama’ah Masjid setiap hari Jum’at. Begitu juga Petugasnya
misalnya membuat kotak Amal Masjid, menyediakan Tukang Adzan, Khatib Jum’at,
Imam Jum’at, secara bergantian, begitu juga menyediakan tempat parkir kendaraan
Jukung atau Perahu. Kemudian berselang waktu kurang lebih dua tahun berikutnya
muncul lagi "Mushalla Al-Hidayah" di kampung Muara Tawia. Mushalla
ini berdiri ditepi aliran Sungai Tawia (dekat Jematan Kembar sekarang) dibangun
atas gotong royong dan dananya swadaya masyarakat kampung Muara Tawia sa'at
itu.
Seiring
waktu berjalan kemudian atas kesepakatan bersama masyarakat Taniran kala itu
yang diwakili ke-3 Panitia Langgar. Langgar " Darul Lathif" yang
berada ditengah-tengah kampong dialih fungsikan
menjadi Masjid
Taniran. "Masjid Darul Lathif" Taniran kala itu sambil direhab /
dipugar sedikit demi sedikt, bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa,
kemudian atapnya bucur diganti daun rumbiya yang baru dan juga Panitia membuat
Mimbar untuk tempat berkhothbah para Khatib.
Sejak masyarakat Kec.
Angkinang memeluk Islam dan mengenal
Islam dengan baik khususnya dan masyarakat Hulu Sungai Selatan umumnya,
maka teruslah bermunculan (seperti Jamur) tempat-tempat ibadah lainnya seperti langgar atau Mushalla-mushalla yang
berdiri di tepi-tepi
Sungai di Kabupaten
Hulu Sungai Selatan pada umumnya. Aliran Sungai sebagai tempat transportasi
mereka hilir-mudik atau lalu lalang dengan
Perahu atau Jukung sa’at itu. Kemudian Panitia Mushalla-mushalla yang itu
bergabung /berembuk untuk mendirikan masjid, maka berdiri Masjid Kayu Abang,
Masjid Angkinang, Masjid Bamban di tepi Sungai di akhir Abad ke-18 Masihi masa
Sayyid Hasan, Sayyid Abu Bakar dan anak cucunya.
Sebagian
orang ada yang berkata bahwa : Usia Habib Hasan sudah mengalami sepuh ketika ia
datang ke Desa Taniran, usianya sekitar 68 sd. 70 tahunan, tetapi kelihatan
pisiknya sehat dan kuat, begitu juga usia anaknya Habib Abu Bakar ketika ia
berada di desa Taniran sekitar 36 sd. 40 tahunan.
Keberadaan Sayyid
Abu Bakar di desa ini, Ia membantu ayahnya menyebarkan Islam di Desa Taniran
sambil berniaga berupa kain sarung dan perhiasan wanita. Usia Habib Hasan waktu
wafat kurang lebih sekitar 86 tahun.
Habib Hasan berada di desa Taniran Kecamatan Angkinang dari 1703-1720 Masihi.
Tujuan
utamanya mereka untuk mengislamkan orang-orang Banjar dan orang-orang di Hulu
Sungai Selatan diantaranya Masyarakat Desa Taniran dan sekitarnya yang
masih menganut ajaran Animisme.
Animisme (dari bahasa Latin anima atau "roh") adalah kepercayaan kepada makhluk halus dan roh merupakan asas kepercayaan agama yang mula-mula muncul di kalangan manusia purba. Kepercayaan animisme memercayai bahwa setiap benda di Bumi ini (seperti kawasan tertentu, gua, pohon atau batu besar), mempunyai jiwa yang mesti dihormati agar roh tersebut tidak mengganggu manusia.
Selain daripada jiwa dan roh yang mendiami di tempat-tempat yang dinyatakan di atas,
kepercayaan animisme juga memercayai bahwa roh orang yang telah mati bisa masuk
ke dalam tubuh hewan. Roh-roh orang yang telah mati juga bisa memasuki tubuh
babi atau harimau dan dipercayai akan membalas dendam orang yang menjadi musuh
bebuyutan pada masa hidupnya. Bahkan hal tersebut dipercayai sampai turun
temurun.
J. Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufy
bin Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman Assegaf Wafat
Namanya Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar
as-Shoufy Assegaf. Sayyid Hasan lahir di Seiyun Hadramaut, diperkirakan tahun
1044H/1634M diusia 30 tahun ia menikah dengan wanita salihah ditanah
kelahirannya dan punya anak atas nama Sayyid Abu Bakar. Kemudian ia
berpetualang bersama anaknya ke Asia Tenggara atau Nusantara. Tepatnya diawal
Abad ke-18 Masihi ia sudah berada di Hulu Sungai Selatan, sekitar tahun 1703
mereka berada di kampung Taniran. Sebagian orang ada yang berkata bahwa : Usia
Sayyid Hasan ketika ia datang ke Desa Taniran, sudah usia sepuh, yakni antara
68-70 tahunan begitu juga usia anaknya Sayyid Abu Bakar sekitar 35-40 tahunan.
Sayyid Hasan dan keluarganya telah mewakafkan dirinya, dan sudah mengabdikan
seluruh hidupnya, untuk dakwah Islam sejak keberadaannya di kampung Taniran
ini, selama bertahun-tahun dalam mengenalkan Islam dengan baik dan
mengembangkan Islam, mengajar dan membina masyarakat Islam
kampung Taniran menjadi masyarakat yang berakhlak mulia dan Agamis di kampung
ini.
Akhirnya Beliau wafat diperkirakan 19 Sya'ban
1132H/1720M atau pada awal abad ke-18. Saya beberapa kali datang kesana dan
bertanya kepada orang-orang yang tua penduduk asli Desa Taniran Kubah RT.002/RW.001
yang dekat dengan makam Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufi
Assegaf, diperkirakan mereka mengetahui tentang kapan beliau datang - wafat
namun jawabannya tak seorang pun yang tahu dengan pasti tetapi diperkirakan Beliau datang hingga wafat pada
awal abad ke-18 Masihi (antara tahun 1701 - 1720M). Belanda mulai menduduki Kota Banjarmasin sekitar tahun
1747M. Beliau barmakam atau berpussara
di Desa Taniran Kubah RT.002/RW.001,
sekitar 600 meter dari jalan besar atau jalan induk. Atau 500 meter dari
makam Syaikh Datu Taniran. Berseberangan dengan langgar Darul Miftahul Jannah. Kubah
beliau dikunjungi orang.
Rasanya
tidaklah jauh berbeda (kecuali umurnya) keadaan fisik Habib Hasan Assegaf
dengan anaknya Datu Lumpangi. Disebutkan orang bahwa keadaan fisik Datu
Lumpangi adalah berperawakan tinggi besar, berkulit putih bersih kemerahan,
beliau mempunyai janggut putih hingga
dadanya, bermuka ceria, murah senyum, tutur kata lemah lembut (melekat adat
jawanya) pasih berbahasa Malayu, bahasa Banjar - Indonesia.
10. Rekam Jejak Perjalanan Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf pertama kali Menetap Lama di Desa Lumpagi Kec. Loksado, Kab. Hulu Sungai Selatan.
a. Biografi
Sejarah Singkat Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar
ash-Shaafy Assegaf
Sayyid Abu Bakar adalah nama yang diberikan orang tuanya sa’at lahir, ia lahir di Seiyun Hadramaut, Yordania diperkirakan sekitar tahun 1068H /1658M. ia tumbuh besar dan belajar ilmu agama dikota kelahiranya. Hingga ia menjadi seorang utstadz atau mubaligh. Setelah dewasa ia menikah dengan perempuan shalihah di tanah kelahirannya. Dan ia punya anak keturunan pertamanya an. Shalih. Kemudian ia ikut kakeknya dan ayahnya berpetualang sambil berniaga (Hambal, Tikar dan sajadah dll).
Dikisahkan pula bahwa “Sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar, keduanya
adalah seorang Guru atau Ustadz (Mubaligh), Profisi keduanya dan keluarganya
sehari-hari adalah berdagang dan berdakwah.”
Sayyid Abu Bakar mulai berdakwah menyebarkan Islam sebagai misi utama pertualangannya dari Hadramaut terus menuju ke Turki, terus ke Singaport, terus ke Asia Tenggara yakni Nusantara. Tiba di Pelabuhan Palimbang terus berlayar ke Pelabuhan Gresik, terus ke Palabuhan Jepara dan menetap lama di Randusari Semarang. Kemudian terus menyeberang ke Palabuhan Sungai Mesa Bandarmasih dan menatap lama disini, terus mudik ke Palabuhan Parahu Margasari dan menatap lama disini. Kemudian terus menuju aliran Sungai Nagara dan tiba di Palabuhan Sugai Pinang Nagara dan menatap lama disini. Kemudian terus mudik menuju aliran sungai Hamandit dan tiba di Darmaga Palabuhan Parahu Amawang (Kandangan) dan menatap lama disini. dan kemudian berpindah dan menatap lama di Desa Taniran.
Kemudian untuk tugas
dan lokasi misi dakwah Islam ke pelusuk
pedalaman hulu sungai atau hulu banyu diserahkan pada anak muda yakni Sayyid
Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Hingga akhirnya Sayyid Abu Bakar setelah beberapa
tahun berdakwah menyebarkan Islam. Beliau berniaga membawa dagangannya sampai
ke pelusuk pedalaman suku Dayak
Langara Desa Lumpangi yang belum pernah
tersentuh Islam pada awal abad ke-18 tahun 1705M.
Dikhabarkan orang-orang Kampung
Taniran, Amawang dan Angkiang masa itu bahwa berniaga atau badagang ke Hulu Banyu
sangat memuaskan dan menggambirakan,
semua barang yang dibawa kesana selalu laris habis. Apahlagi disa’at menjelang “Aruh
Ganal Adat Dayak” Lumpangi yang diselenggarakan setiap tahunnya.
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami bahari menyebutkan bahwa “Mulai dahulu awal abad ke-18
Masihi orang-orang Banua (Kandangan, Kayu Abang, Bamban) mereka sudah
berdatangan berniaga ke Balai Ulin desa Lumpangi. Apahlagi menjelang “Aruh
Ganal Adat Dayak” yang diselenggarakan oleh masyarakat Dayak sehabis Panen
Raya.
Adapun dagangan mereka berupa
beras, uyah, asam kamal, timbakau, korek api, pakaian, sarung, ikan, iwak
kering, iwak pakasam, iwak samu dan lainnya. Mereka para pedagang tersbut
berjalan kaki berombongan membawa dagangan mereka dan melewati jalan setapak
dari desa ke desa, dari kampong ke kampong hingga Mu’ui barabai terus menuju ke
pasar “Balai Ulin Lumpangi”.
Adapun dagangan mereka berupa
beras, uyah, asam kamal, timbakau, korek api, pakaian, sarung, ikan, iwak
kering, iwak pakasam, iwak samu dan lainnya. Mereka para pedagang tersbut
berjalan kaki berombongan membawa dagangan mereka dan melewati jalan setapak
dari desa ke desa, dari kampong ke kampong hingga Mu’ui barabai terus menuju ke
pasar “Balai Ulin Lumpangi”.
Selanjutnya diceritrakan oleh
Datuk-nenek kami bahari bahwa pada awal mulanya Sayyid datang membawa dagangannya kepadalaman Hulu Sungai
di Balai Ulin Lumpangi, dagangan Sayyid diserbu oleh Para wanita tua-muda suku
Dayak. Mereka sangat tertarik dan tergoda dengan gaya dan bahasa yang santun, dan raut muka Sayyid
yang ceria, homoris dan murah senyum, pandai merayu
para pembelinya
sehingga membuat mereka tanpa rasa malu, bergerumbul mengelilingi jualan Sayyid
yang bertempat di tengah-tengah ruangan Balai kala itu, mereka melihat dan
mereka mencoba mengenakan cincin dijari tangan, mencoba mengenakan aguk/kalung yang tergantung disela-sela dada atau tergantung didahi mereka, mereka mencoba mengenakan gelang dipegelangan tangan dan kaki-kaki mereka dan mengenakan anting-anting,
giwang atau bunil dikedua daun telinga mereka dan juga mereka mencoba
menggunakan sisir/ surui gafit ke kepala, wanita tua tertarik dengan
sarung/tapih. . Dikala itulah puteri Milah mulai berkenalan pada pertemuan
pertama dengan Sayyid hingga tak terasa waktu berjalan cepat, cahaya Matahari
condung ke Barat, waktu sore tiba dan Sayyid
tak mungkin balik-pulang ke desa Taniran di waktu sore hari karena akan
menemui malam dan iapun menginap pertama kali ditempat itu. Gadis itu
sangat gembira dan senang menjumpai dan menemani Sayyid diruangan Balai Adat
saat itu.
Untuk memeriahkan acara Aruh
Ganal Adat Dayak Lumpangi biasanya mereka selalu mengundang/basaruan kepada
Para Pedagang yang berniaga di kampung mereka, termasuk Sayyid Abu Bakar yang
diundang, acara Aruh diselenggarakan 2 bulan ke depan, pesan Tuan Puteri Milah,
sa’at Sayyid mau pulang berniaga dari Lumpangi : 2 bulan ke depan, kau “jangan
datang terlambat kesini ya Kakanda, nanti kalau datang terlambat kau kena
hukuman Adat”. Isya Allah ! Jawab “Sayyid Abu
Bakar, kala itu.”
b.Silsilah Nasab Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf
Adapun Silsilah Nasab Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.
الْحَبِيْب اَبًوْ بَكْرٍ[وفات ١٧٥٩مٍ] بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله،
c. Habib Abu Bakar kena hukuman adat / Ditawan Suku Dayak Langara Desa Lumpangi
Menurut penuturan Amat atau Ahmad (ia seorang Dayak asal
desa Bayumbung yang sudah Muslim) yang saya wawancarai beberapa kali bahwa
"Acara ritual sakral aruh Bawanang atau aruh Ganal Balai Adat kalau dihitung ada 7 hari, yakni pertama hari Batarah. kemudian aruh
Bawanang atau aruh Ganal dilaksanakan selama 3 hari 3 malam dan Masa Pamali 3
hari 3 malam, nah dimasa Pamali inilah bila seseorang Dagang atau seseorang
diluar Sukunya belum pernah datang berkunjung diacara 3 hari pertama Acara
ritual sacral selain hari Batarah, kemudian ia datang sengaja ataupun tanpa
sengaja masuk ke Balai Adat di Masa Pamali, maka Dia akan mendapat Hukuman Adat
dan membayar denda"
Allah Swt berkehendak lain
dengan Hamba-Nya yang beriman. Maka kedatangannya Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf kali yang kedua kepedalaman Hulu Sungai bersamaan dengan Masa Pamali atau Hari Tenang. Masa Pamali berlaku
selama 3 hari dan 3 malam pada acara
inti aruh ganal ini tamu tidak diperkenankan datang ke Balai Adat. Dan Habib
belum tahu hukum adat istiadat yang berlaku saat itu. Dan ia belum mendapat
undangan maka kehadiran Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dikenakan hukuman
Adat. Hukumannya adalah tidak dibolehkan ia keluar dari Balai itu selama 9 hari dan 9 malam. Jenis hukuman itu dan juga dikenakan membayar
denda. Pendapat yang kuat Aruh Ganal adalah hukuman itu 10 hari 10 malam dan
dikenakan membayar denda.
Maka hukuman itu diterima dan dijalani dengan senang hati, tetapi ia minta bebas menjalankan apa yang diperintahkan Tuhannya. Disinilah gerak gerik Habib Abu Bakar mulai wudlu hingga melaksanakan shalat lima waktu selalu diintai diintip oleh penghuni Balai saat itu dan maka mulai saat itu pula penghuni Balai Ulin diperkenalkan gerakan-gerakan shalat.
Menurut versi lain diceriterakan saat berakhir masa tahanan 10 hari dan 10 malam Habib tidak bisa membayar denda yang dianggaf susah dan sulit saat itu untuk mendapatkanya berupa parang bungkul puting sebanyak dua bilah. Maka sebagai jalan terakhir, ia disuruh memilih dari dua pilihan hukuman : Bayar Denda atau mengawini Puteri Aluh Milah. Habib dianggap bersalah merusak jiwa Puteri Milah yakni Puteri jatuh hati yang dalam kepada Habib. Ia memilih mengawini Puteri Tetuha Adat sebagai ganti Hukuman Denda karena Habib tidak mampu membayar Denda saat berakhir masa tahanan. Perkawinan itu pun terjadi dengan punya syarat-syarat tersendiri yang harus dipenuhi oleh Habib masa kini dan akan datang.
19. Putri Milah sakit keras secara tiba-tiba seisi Balai Pusing
Selama dalam tahanan Adat ia ditemani, dibantu dan dilayani oleh Puteri Milah siang dan malam dengan senang hati dan riang gambira.bercumbu tanpa malu dengan Habib. Milah adalah seorang Puteri yang pandai menari (batandik) walaupun ia sedikit tidur dan belum merasakan lelah pada dirinya dalam melayani tamu istemiwanya. Semua penghuni Balai Adat tahu bahwa puteri Milah anak Tetuha Adat mereka, telah jatuh hati yang dalam, ia sangat menyukai pamuda yang ganteng dan tampan ini..
Diceriterakan orang bahwa saat berakhir masa tahanan Habib Abu Bakar selama 10 hari dan 10 malam,karena merasa lelah dan kurang tidur, Puteri Milah jatuh sakit secara tiba-tiba, ia tak sadarkan diri/pingsan dalam waktu cukup lama, Puteri belum bisa sadar walaupun Tetuha Adat (Penghulu Adat) berusaha keras melakukan BALIAN untuk menyembuhkan Puterinya, walaupun ia adalah seorang tokoh adat yang mempunyai kemampuan mempuni mengobati orang yang sakit, namun dikala itu tidak membawa hasil apa-apa dan membuatnya putus asa.
Melihat keadaan yang sangat memperahantinkan, tak terkecuali Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf, seorang tahanan mereka, yang baru datang beberapa hari kewilayah itu. Ia mencoba menawarkan diri kepada mereka untuk mengobatinya sang Puteri. Akhirnya dengan perasaan was-was terlihat pada wajah mereka, namun mereka dengan berat hati mempersilahkannya hingga Puteri sadar dari pingsannya dan sembuh dari sakitnya.
Kemudian pada saat hukuman Adat akan berakhir, Beliau melihat dan merasakan ada kesedihan yang mendalam yang menimpa dan dialami oleh Puteri Milah. Habib sadar bahwa puteri Milah sangat mencintainya. Inilah yang membuatnya khawatir frustasi/ stres kalau, kalau Habib pulang tidak kembali lagi. Sesegeranya Habib melamar gadis yang pernah melayaninya sewaktu menjalani hukuman adat. Habib memberi tahu bahwa pernikahan dalam Islam ada seorang wali dan 2 orang saksi yang beragama Islam.
Ringkasnya pada saat pelaksanaan akad nikah terjadi permasalahan siapa yang menjadi wali dan saksinya maka Habib setelah selesai berbuka puasa sunnat Senin - Khamis, ia adzan dan shalat magrib. setelah itu ia mohon penghuni Balai untuk duduk mengelilinginya. Kemudian ia menjelaskan kepada para hadirin maksud kedatangannya dan apa itu Islam dan keuntungan beragama Islam? Dan juga ia menjelaskan apa syarat dan rukun nikah menurut Islam? Kemudian ia mengislamkan Puteri (calon isterinya), wali (calon mertuanya) dan dua orang saksi akad nikahnya untuk keabsahan pernikahannya.
Berkata sebagian orang tua bahari dari Dayak Lumpangi bahwa “Habib dianggap bersalah sebab merusak jiwa (meracuni pikiran) Puteri Milah hingga Puteri jatuh hati yang dalam kepadanya dan jatuh sakit, oleh karenanya Habib harus mengawini Puteri anak Tetuha Balai. sebagai bentuk rasa tanggungjawabnya.”
Berkata sebagian orang tua Ds. Taniran Kubah bahwa “Habib Abu Bakar tapabini (kawin-menikah) dengan perempuan Dayak Lumpangi dan baanak (berketurunan) saat Beliau berdagang dan berdakhwah di sana.
20. Mediasi dan Basa basi penyerahan Aluh Milah anak Tetuha Adat
Terjadlah mediasi proses perundingan tawar menawar antara Habiib Abu Bakar dengan Langara sebagai Tetuha Adat. Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan.
Ujar Penghulu Adat, Nah..... sekarang Aluh Milah ini, sudah sembuh kembali dari sakitnya, inya aku serahkan lawan ikam (kepadamu), inya cinta banar lawan ikam, inya sayang banar lawan ikam nakkay. kawini inya dan bawa ke rumah ikam agar abah dan mama ikam tahu dan jangan ikam kecewakan inya. Inya ini menjadi milik ikam. Agar abah disini merasa nyaman melihat ikam badua, dan abah marasa tanang dan nyaman mendengar ikam badua.
Ujar abu bakar Kada kaya itu caranya bahay, dikira orang ulun ini nanti membawa lari anak sampian secara sembunyi-sembunyi, bila ulun kawin di Taniran diwadah abah ulun. ulun kada handak nang kaya itu.
Ulun ini handak menikah secara agama islam, maka ada lamaran ulun dengan Milah, inya menerima garang atau kada menerima lamaran ulun, namaun inya menerima lamaran ulun maka ada wali nikahnya harus beragama Islam, jadi sampianlah wali nikah aluh Milah ini dan nikah itu dihadiri dan disaksikan 2 orang saksi yang muslim maka Talib dan Anjah sebagai saksinya, ada mahar dan ada ijab dan qabul dari rangkaian peristiwa itu terjadilah perkawinan ulun dengan Milah. Akhirnya tanpa pikir panjang terjadilah kesepakatan bersama, mereka menerima hidayah islam
Catin wanita : “Karena begitu dalam cintanya dengan Habib Abu Bakar, padahal baru saja Sembilan hari sembilan malam ia mengenalnya, tetapi terasa sudah lama mencintainya. Ia bersedia tanpa ragu melepaskan agama yang dianaut nenek moyangnya.
Wali Catin wanita an. Datu Langara “Karena begitu sayang dengan Siti Jamilah anaknya, ia menerima Islam dengan suka rela untuk membahagiakan anak yang sangat dicintainya.”
Saksi-saksi nikah : “Begitu pula dengan kedua saudara laki-lakinya an.Abu Thalib dan Hamzah, sayang dan kasih dengan adik perempuannya. Keduanya rela melepaskan agama yang sedang dianutnya. Berkorban untuk kebahagian adiknya yang kedua bertindak sebagai saksi pernikahan adiknya saat itu.”
Mahar perkawinan : “Sebingkai cincin emas yang telah dipakaikan/dikenakan pada jari manis catin wanita kala itu.”
Ijab nikah : “Dilakukan oleh walinya sendiri dan diterimakan oleh Habib Abu Bakar As-Segaf, yang sebelumnya didahului pembacaan khotbah nikah oleh Habib saat itu.”Resmilah Siti Jamilah dengan Habib Abu Bakar sebagai suami isteri dimalam Jum’at itu, seisi Balai bergembira, diiringi canda dan tawa menyambut kehadiran keluarga baru dan menyambut kehadiran dangsanak baru. Setelah Tetuha Adat Suku Dayak dan kedua anak laki-lakinya menjadi seorang muslim maka secara pelan-pelan namun pasti diikuti oleh keluarganya yang lain hingga akhirnya seisi Balai Ulin dan sekitarnya menjadi muslim.
Karomah Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
Salah satu Karomah terbesar Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf adalah ia dapat menyembuhkan Puteri Milah yang sakit keras dengan seketika dan berislamnya satu keluarga kepala suku Dayak Lumpangi setelah peristiwa penyembuhan Puteri Milah
Diceriterakan bahwa saat berakhir masa tahanan Habib Abu Bakar selama 10 hari dan 10 malam, Puteri Milah (Siti Jamilah) jatuh sakit, mungkin ia kurang tidur dan sangat lelah menemani dan melayani tamu istimewanya. Diang Milah jatuh sakit secara tiba-tiba, ia tak sadarkan diri, ia pingsan dalam waktu cukup lama, Diang belum bisa sadar walaupun Tetuha Adat (Penghulu Adat) ayahnya sendiri berusaha keras mengobatinya dengan melakukan Balian Basambui untuk menyembuhkan Puteri kesayangannya. Balian Basambui maksudnya Puteri diobati secara kebatinan orang Dayak, walaupun ia seorang tokoh adat yang mempunyai kemampuan mempuni dalam hal mengobati orang yang sakit, namun dikala itu pengobatannya tidak membawa hasil apa-apa dan bahkan membuatnya dan penghuni Balai prostasi dan putus asa.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa “Melihat keadaan tersebut Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf, ia seorang tahanan mereka, yang baru saja datang beberapa hari kewilayah itu. Ia mencoba menawarkan diri kepada mereka untuk mengobatinya sang Puteri. Akhirnya dengan perasaan was-was terlihat pada wajah mereka, namun mereka dengan berat hati akhirnya mempersilahkannya. Habib meminta Secawan air putih, kemudian pada air itu ia bacakan do’a hidzib dan shalawat dan juga ada yang ia bisikkan pada telinga sang puteri, kemudian air tersebut Habib semburkan melalui mulutnya kearah kepala & tubuh pasennya hingga seketika itu Puteri sadar dari pingsannya dan sembuh dari sakitnya.”
Peristiwa pengobatan Puteri tersebut tertuang dalam Artikel "Habib Abu Bakr Assegaf - Cerita para wali dan datu' yang diposting Jum'at, 01 Maret 2013M yang saya kutip menyatakan bahwa "Di kampung Lumpangi kala itu masih berupa kehidupan Balai, yaitu "Balai Ulin; dan di sana terdapat tokoh yang disebut penghulu Balai yang terkenal dengan kemampuannya mengobati orang sakit. Ternyata, kemampuan medis habib yang baru datang ke wilayah itu lebih tinggi darinya, sehingga warga Balai sangat terkesima dan akhirnya mau menerima Islam. Bahkan, disebutkan bahwa di antara tokoh habib itu ada yang menikahi puteri penghulu Balai Ulin.
Beliau (Habib) melihat dengan kacamata kesufiannya dan merasakan ada kesedihan yang dalam yang dirasakan dan menimpa pada Puteri Milah. Puteri sangat kuatir tidak berjumpa lagi dengan Sang pujaan hatinya. Inilah yang membuat hatinya khawatir dan membawanya frustasi dan juga stres. memikirkan kalau, kalau Habib Sang Pujaan hatinya pulang tidak kembali lagi kepadanya. Mengetahui hal ini, setelah sembuh dari sakitnya.” segeranya Habib melamar gadis yang pernah melayaninya dan menemaninya siang dan malam, sewaktu menjalani hukuman adat. Habib menjelaskan lamaran dan perkawinan bisa terjadi dengannya bila Puteri Milah, Langara (wali nikah), dan Talib dan Anjah (2 orang saksinya) merima hidayah Islam. Akhirnya dengan adanya sedikit perjanjian dengan Habib, mereka menerima Islam dengan suka cita.
25. Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf wafat tahun 1759M/ 1172H
Menurut tradisi adat Dayak bahwa "Bila seseorang laki-laki lajang (perantau atau pendatang) menikahi perempuan suku Dayak maka ia harus ikut tinggal di tanah kelahiran isterinya, sebagai bentuk kesetian adat Dayak". Tetapi bila kangen dengan ayah-ibu atau sanak keluarga ia boleh menenguk mereka sendirian atau bersama isterinya, setelah selesai hajatnya ia harus kembali lagi kerumah isterinya. Suaminya hanya memiliki satu isteri maksudya tidak dimadu. Beliau benar-benar setia menjalani hukum adat Dayak yang ia sepakati, saat ia ingin mengislamkan Tetuha Adat, Puteri dan kedua saudara puteri yakni tidak akan meninggalkan mereka hingga ajal menjemputnya.
Sayyid Abu Bakar ayahnya Habib Lumpangi adalah orang yang sangat setia dan menepati janjinya, ia benar-benar melaksanakan Adat Dayak. ia tidak pernah meninggalkan isterinya. Dan Beliau tinggal bersama isterinya Siti Jamilah dan anak-anaknya beserta cucu-cucunya dan keluarga isterinya di rumah Balai Ulin hingga akhir hayatnya.
Sayyid Abu Bakar telah mewakafkan dirinya, dan mengabdikan seluruh hidupnya, sejak keberadaannya di desa Lumpangi dan sekitarnya ini, selama berpuluh-puluh-tahun dalam mengenalkan Islam kepada masyarakat desa Lumpangi dengan baik dan mengembangkan Islam, mengajar dan membina masyarakat Islam menjadi masyarakat yang berakhlak mulia dan yang Agamis di desa ini hingga masa akhir hayatnya.
Habib Abu Bakar sangat setia menjalani hukum adat Dayak yang ia sepakati, sa’at ia ingin mengislamkan Tetuha Adat, Puteri dan kedua saudara puteri yakni Hamzah dan Thalib dan Habib berjanji bahwa ia tidak akan meninggalkan mereka hingga ajal menjemputnya.
Habib Lumpangi Assegaf tinggal bersama isterinya Siti Jamilah dan anak-anaknya antara lain an. Muhammad Djamaluddin, Syarifah Umi Badar, Syarifah Amas.Ahmad Djalaluddin, beserta cucu-cucunya antara lain Ahmad, Husein, Alwy, dan juga sebahagian keluarga isterinya yang lain di rumah kampung Balai Ulin. Habib Lumpangi adalah salah seorang yang diberi Allah Swt umur panjang, lebih dari satu Abad, ia berumur 101 tahun Masihi. Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf akhirnya wafat dipangkuan anaknya Jum'at, 17 Dzul Hijjah 1172H/1759M.
Bertepatan dengan 10 Agustus tahun 1759 Masihi. Dan makam Beliau berdampingan dengan makam isterinya Siti Jamilah binti Muhammad Langara dan Haulan Beliau terebut dilaksanakan oleh Ahlul Bait setiap tanggal 17 Dulhijjah. Dan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dimakamkan berdampingan dengan Siti Jamilah isterinya di kampung Balai Ulin Lumpangi.
Adapun Titik Koordinat makam Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim b Muhammad Assegaf dengan Siti Jamilah isterinya yaitu lat 2,80928, long 115,41767, 146,7m, 8 derajat.
Biografi Riwayat Singkat Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.
Sejarah singkat “Sayyid Ahmad Suhuf “bin Djamaluddin (Habib Lumpangi) Sayyid Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim
Assegaf Lumpangi Loksado. Kedunya adalah seorang yang berpengetahuan agama luas
(aliim) sesudah ayahnya dan kedunya juga seorang yang shalih, dan kedunya seorang yang ta’at yang
memelihara iman dan islam, kedunya amat kenal dengan Tuhannya, kedunya seorang
yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan kedunya selalu berusaha
menjalankan syari’at yang diperintahkan
Tuhannya secara
ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah dzahir
dan bathin lainya.
a.
Sayyid Ahmad Suhuf bin Djamaluddin bin
Abu Bakar bin Hasan Assegaf Lahir.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Sayyid Ahmad Suhuf dilahirkan Ahad,10 Jumadil Awal 1149H/1736M dan Sayyid Ahmad Djalaluddin lahir 10 Syawal 1149H/1736M keduanya lahir di Desa Lumpangi.” Dan keduanya tumbuh dan dibesarkan dilingkungan orang-orang muslim yang taat Agama islam di Desa Lumpangi, keduanya berada di desa yang sangat terisolasi dari keramaian pasar Hamawang (kota Kandangan), keduanya berada diudik aliran sungai Amandit yang jauh, kalau berpergian masa itu selalu jalan kaki. Isterinya Sayyid Ahmad Suhuf bernama Diang Galuh Aminah bin Abdullah bin Hamzah, ia adalah buyut Datu Muhammad Langara.
Sayyid Ahmad Suhuf adalah nama panjangnya, sedangkan Ahmad
adalah nama panggilannya sehari-hari. Kedua orang tuanya memberinya nama Ahmad
Suhuf. Nama ayahnya adalah Djamaluddin
(Habib Lumpangi) dan ibunya bernama Siti Sarah
binti Abu Thalib bin Muhammad Langara.
Ahmad adalah keturunan ke-3 atau cucu
tersayang Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Kakek dan kedua orang tuanya
menaruh harapan besar kepadanya.
b. Sayyid Ahmad Suhuf bin Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf Mendapatkan Pengajaran Ilmu Agama.
Dimasa kecinya Sayyid Ahmad Suhuf (kecil) bin Muhammad Djamiluddin dan
Sayyid Ahmad Djalaluddin (kecil) bin Abu
Bakar Assegaf berada di bawah asuhan kedua orang tuanya di Desa Lumpangi, keduanya
ingin mengembara, bila sudah besar nanti ke Negeri orang, kata kedua orang
tuanya bahwa “Kalau kau ingin merantau, kau harus banyak basango ilmu, banyak
baisi keterampilan supaya mudah mencari kerja dan kembalinya kau selamat,” maka
keduanya pun telah membekali dirinya masing-masing dengan keterampilan dan giat
belajar dan bertanya tentang ilmu-ilmu agama kepada orang tuanya, kepada
kakeknya dan pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu akhlak, ilmu
tauhid dan ilmu hakekat.
Sayyid Ahmad Suhuf dan Sayyid Ahmad Djalaluddin keduanya mendapatkan Pengajaran Ilmu Agama langsung
dari : -Muhammad Djamiluddin / Siti Raudah ayah-ibunya, -Abu Bakar kakeknya –Para
pamannya. Oleh karenanya Dia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu.
c.
Silsilah Nasab Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin
Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf sampai ke Rasulullah
Muhammad Saw.
الْحَبِيْب اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ
بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ
الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً
عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ
بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ
الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه
الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام
مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با
عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ
مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ
الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله
الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ
الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا
الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ
الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا
اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ
الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ
الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله.
d. Sayyid Ahmad Suhuf bin Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf, ia Menikah dengan Diang Galuh Aminah binti Abdullah bin Hamzah.
Menurut sumber data bahwa “Sayyid
Ahmad Suhuf yang panggilan sehari-harinya Sayyid Ahmad telah menikah masa
remaja - hingga dewasa, untuk medapatkan anak keturunan ia dikawinkan pula dengan
Diang Galuh Aminah (Siti Aminah) adalah buyut Muhammad Langara”.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Sayyid Ahmad Suhuf diusia muda 20-24 tahun sudah menikah dan bekeluarga” tetapi Beliau dan juga selama bertahun-tahun masa perkawinannya pasangan suami-isteri ini belum juga punya anak keturunan”. Karena marasa tidak punya anak keturunan, atas saran orang disekitarnya, kemudian ia menikah lagi di usianya 43-45 tahunan dengan sepupunya Galuh Siti Aminah cucu Hamzah, asal desa Muara Lumpangi, Kamis, 12 Jumadil Akhir 1191H/ 1777M Kemudian hasil perkawinan tersebut lahirlah seorang anak laki-aki yang diberi nama Sayyid Abu Bakar. kemudian untuk membedakan nama anak ini dengan nama Kakeknya maka diujung namanya ditambah kalimat 'ats-Tsani artinya yang ''kedua' maka namanya menjadi Sayyid Abu Bakar ats-Tsani.
Kemudian Sayyid Abu Bakar ast-Tsani lahir hari Senin, tgl. 6 Jumadil Akhir
1193H / 21 Juni 1779 Masihi di Lumpangi. Dan
Abu Bakar ast-Tsani adalah keturunan
ke-3 atau cucu tersayang Habib Muhammad
Djamiluddin bin Abu Bakar (Habib Lumpangi)
Ia adalah buyut dari Habib Abu Bakar Bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar
ash-Shaafy Assegaf.
Kamudian Sayyid Abu Bakar ats-Tsani Usia 19 tahun (Senin, 10 Muharram 1213H/ 25 Juni 1798M) ia menikah dengan wanita shalihah yang berama “Umi Salamah” Dayak asal Pantai Dusin Loksado.
e. Masa Muda Sayyid Ahmad Suhuf bin Djamaluddin dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf terjadi Pembatalan beberapa Tradisi Suku Dayak Pegunungan Meratus yang dianggaf merugikan Suku itu sendiri.
1. Keberdaan Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf di desa Lumpangi
Menurut ceritera Datu-datu
kami bahwa Belanda menduduki kota Banjarmasin sekitar tahun 1747M, kala itu Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar
bin Hasan Assegaf sudah lahir dan berada di Lumpangi tahun 1707M jauh sebelum
Belanda datang ke Kesultanan Banjar. Saat itu usia Sayyid Abu Bakar kakeknya
Ahmad Suhuf antara 40-45 tahunan, Beliau berniaga berjualan kain sarung dan
perhiasan wanita, sambil melakukan dakwah di Balai Ulin Lumpangi, Keberadaannya
di desa tersebut semasa dengan pemerintahan Sultan Tahmidullah, Raja Banjar
ke-10 tahun 1700-1717 Masihi hingga Sultan Tamjidillah I Raja Banjar ke-13 yang
berpusat pemerintahan di Martapura Kalsel Tahun 1734-1759M, Kala itu Belanda
belum menjajah Kesultanan Banjar.
Menurut catatan Sejaarah Tahun 1747M, Belanda menduduki Banjarmasin. Kemudian tahun 1761–1801, masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II /Sunan Nata Alam. Tahun 1762, Saudara Sultan Nata yang bernama Pangeran Prabujaya dilantik sebagai mangkubumi oleh Dewan Mahkota Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar).
2.
Tradisi Unik Suku Dayak Pegunungan Meratus yang sudah lama Membudaya sebelum keberadaan
Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy
Assegaf.
Dilansir dari berbagai sumber atau data, bahwa suku Dayak memiliki berbagai tradisi unik, tetapi tradisi tersebut ditinggalkan oleh Dayak Pegunungan Maratus dan tradisi itu telah dibatalkan dan dihapuskan Kamis, 21 Agustus 1760 Masihi atau bertepatan dengan 10 Al Muharram 1174H dimasa keberadaan Sayyid Lumpangi, Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar Assegaf dan Sayyid Ahmad Suhuf anaknya, pembatalan dan penghapusan disetujui oleh Pang Ayuh, Bambang Basiwara dan Diang Aluh Gunung selaku Ahli Warisnya. Adapun tradisi dimaksud yaitu :
- Tradisi memuliakan Tamu Nginap,
- Tradisi Kuping Panjang,
- Tradisi Tato (rajah adalah simbol kekuatan),
- Tradisi Tiwah (ialah upacara kematian) atau membuang bangkai,
- Tradisi Penguburan :penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat, penguburan di dalam peti batu (dolmen), penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang. Yang dilastarikan dikubur dalam tanah,
- Tradisi Ngayau adalah Tradisi berburu kepala manusia.
3.
Dimasa Keberadaan Sayyid Muhammad Djamiluddin, Ahmad Djalaluddin dan Ahmad
Suhuf memanasnya suhu Politik masa Perebutan Kekuasaan Kesultanan Banjar sekitar
tahun 1760 Masihi.
Kalau kita kaitkan Keberadaan Sayyid Muhammad Djamiluddin, Sayyid Ahmad Djalaluddin dan Ahmad Suhuf Assegaf pembatalan dan penghapusan Tradisi Adat Dayak Pegunugan Meratus, tgl.21 Agustus 1760 Masihi/1174H di Lumpangi tidak terlepas dari ceritera atau bersamaan dengan masa perebutan kekuasaan Sultan Banjar yakni Pangeran Amir dengan Pangeran Nata Alam. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir. Pangeran Amir adalah anak Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang gagal naik tahta pada tahun 1761. Walaupun ia mendapat dukungan penuh dari seorang Ulama Syaikh Sayyid Abdul Hamid bin Sayyid Amir Musa (Datu Abulung) memiliki paham tasawuf Wahdatul Wujud yang dipengaruhi aliran ittiihad Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj, Datu Abulung yang masyhur dan berpegaruh di Kesultanan Banjar sa’at itu. Pangeran Amir, ia diusir oleh walinya sendiri. Pada mulanya Pangeran Nata Alam, yang bekerja sama penjajah dan dengan dukungan Belanda memaklumkan (mengokohkan) dirinya sebagai Sultan Tahmidullah II. Adapun kekuasaan masa pemerintahan Sultan ini dari tahun 1761–1801 M. Ia adalah anak selir sehingga dianggap tidak layak mewarisi takhta. Terlebih lagi, Pangeran Hidayatullah sebagai pewaris takhta yang sah masih hidup. . Setelah Sultan Hidayatullah ditipu Belanda dengan terlebih dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan kemudian ia diasingkan ke Cianjur. Gesekan ini menimbulkan gerakan Muning, yang menjadi pemicu Perang Banjar pada 1859..(Artikel "Raja-Raja Kesultanan Banjar").
Sekilas tentang Tasawuf Wahdatul Wujud
Syeikh Sayyid Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung memiliki paham tasawuf Wahdatul Wujud yang dipengaruhi aliran ittiihad Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj yang masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumatrani, dan Syaikh Siti Jenar. Dalam mengembangkan paham tersebut, dia mengenalkan ajaran "Ilmu Sabuku", yaitu ilmu tasawuf yang menyatukan antara Tuhan dan hamba. Menurut K.H. Irsayd Zein (Abu Daudi). inti Ilmu Sabuku dari Syaikh Abdul Hamid Abulung sebagai berikut haqiqat hati dalam Tahlil dzikir pertama adalah (لَآإِلٰهَ إِلَّا اللهُ) La ilaaha illallah (pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah).
Tiadalah maujud melainkan hanya Dia,
Tiada wujud yang lainnya,
Tiada aku melainkan Dia,
Dialah-Aku, Aku adalah Dia.
Kemudian, ilmu ini diajarkan kepada murid-muridnya yang berjumlah sepuluh orang, di mana mereka mengembangkan ilmu tersebut meskipun Datu Abulung telah dihukum mati oleh Sultan Tahmidullah II.
Hubungan dengan Kesultanan Banjar dan Desas-desus politik Kesultanan
Kesempatan Datu Abulung dalam mengembangkan ajarannya mulai membuat hubungannya dengan Sultan Tahmidullah II dan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari menjadi tidak harmonis. Hal ini berujung pada perintah hukuman mati oleh sultan akibat tidak menaati perintah sultan untuk menghentikan ajarannya. Dalam perintah hukuman mati tersebut, Sultan Tahmidullah II meminta pendapat Datu Kalampayan terlebih dahulu. Menurut Datu Kalampayan, sultan harus bernegosiasi dengan Datu Abulung dan jika dia tidak menerima, maka keputusan diserahkan kepada sultan.
Perlawanan Syaikh Sayyid Abdul Hamid bin Sayyid Amir Musa (Datu Abulung) terhadap Sultan Tahmidullah II sangat mungkin berkaitan dengan memanasnya suhu politik kesultanan, khususnya berkaitan dengan tuntutan Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah atas takhta kesultanan. Dalam kasus ini, Datu Abulung kemungkinan mendukung pangeran sehingga hanya dia yang berhak memanggil Datu Abulung ke istana karena menurut Syaikh Sayyid Abdul Hamid bin Sayyid Amir Musa bin Sayyid Muhammad (Datu Abulung), pangeran lebih berhak mewarisi takhta ketimbang sultan Tahmidullah II yang berkuasa pada saat itu. Atas dukungan Syaikh Datu Abulung pada tahun 1760M, Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah menuntut haknya sebagai pewaris takhta kesultanan dari Sultan Tamjidillah yang merupakan paman dan mertuanya sendiri. Namun, pada tahun 1761,
Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah meninggal dan meninggalkan beberapa anak yang berhak menjadi sultan, yaitu Pangeran Abdullah, Pangeran Rahmat, dan Pangeran Amir. Pangeran Abdullah dan Pangeran Rahmat mati tercekik, sedangkan Pangeran Amir berpura-pura menunaikan haji ke Makkah agar dia dapat bertemu pamannya, Arung Turawe dari Paser dan merebut Martapura. Perebutan kekuasaan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Sultan Tahmidullah II.
Sikap Sultan Tahmidullah II dalam hal perebutan takhta kesultanan atas keturunan Sultan Hamidullah, rupanya tidak disenangi oleh Syaikh Datu Abulung sehingga kedudukannya tidak didukung oleh Syaikh Datu Abulung. Hal ini dikarenakan Sultan Hamidullah membiayai Datu Abulung dalam menuntut ilmu ke Haramain (Mekkah-Madinah), sehingga Datu Abulung mendukung Pangeran Aliuddin Aminullah bin Sultan Hamidullah untuk menjadi Sultan Banjar. Terlebih lagi, Sultan Tamjidillah dinilai bersahabat dengan Belanda dan melakukan perjanjian kontrak yang pada 18 Mei 1747 yang isinya bahwa Belanda berhak mendapat monopoli lada, emas, dan intan. Mengingat perjanjian yang lebih menguntungkan Belanda dan elit kesultanan ketimbang masyarakat Banjar, khususnya dari kalangan pedagang, Datu Abulung bersikap lebih kritis terhadap elit kesultanan sehingga sering dianggap para elit tersebut sebagai pembangkangan.
Thariqat
Syaikh Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung) termasuk orang yang menganut aliran thariqat Naqsabandiyah, di mana dia juga menyebarkan thariqat tersebut di sepanjang aliran Sungai Martapura, mulai dari Sungai Tabuk, Abulung, Lok Buntar, Lok Baintan, Sungai Batang, Sungai Rangas, dan sekitar aliran Sungai Riam Kiwa. Salah satu ajarannya yang dikenal masyarakat yaitu dzikir "banasib dengan bapajah lampu", dimana dalam praktiknya, memadamkan lampu saat dzikir sangat lazim dilakukan, khususnya dzikir yang diiringi dengan nasyid, sehingga sering disebut "dzikir dengan bapajah lampu". Sepeninggalan Datu Abulung, dzikir ini disebarkan oleh murid-muridnya dan diteruskan dari generasi ke generasi.
Sanad thariqat Naqsabandiyah
Salah satu orang yang mengembangkan
thariqat dzikir ini di antaranya Abu Hasan Haji Abdullah Mu'ti yang belajar
kepada Haji Muhammad Nur dari Takisung (meninggal
pada tahun 1993). Lalu, Haji Muhammad Nur ini belajar ilmu ini kepada Haji
Ibrahim Hawranie. Lalu, Haji Muhammad Nur belajar ilmu ini kepada Haji Muhammad
Amin. Kemudian, Haji Muhammad Amin belajar ilmu ini kepada ke Haji Abdullah
Khatib. Lalu, Haji Abdullah Khatib belajar ilmu ini kepada Haji Abdul Hamim
yang belajar ilmu ini dengan Syaikh Abdul Hamid Abulung.
Pangeran Antasari, yang
merupakan keturunan dari Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah, yang tinggal di
Antasan Senor, disinyalir nerupakan pengikut thariqat ini, sekaligus pengikut thariqat Samaniyah yang
dikembangkan oleh Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Marga Al-Maghribi Al-Hasani :
Keturunan dari Al-Quthub
Syaikh Abdussalam
bin Masyisy, Wali
Agung dari Maroko Guru Murabbi Mursyid Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili Al-Hasani
semoga Tuhan meridhoi mereka berdua.
إنه أبو محمد سيدي عبد السلام بن مشيش- وقيل ابن بشيش- ابن أبي بكر بن علي ابن حرمة بن عيسى بن سلام بن مزوار بن علي بن محمد بن مولانا إدريس دفين فاس، ابن مولانا إدريس دفين زرهون، وفاتح المغرب، ابن مولانا عبد الله الكامل بن مولانا الحسن المثنى بن مولانا الحسن السبط بن سيدنا علي ومولاتنا وسيدتنا فاطمة الزهراء بنت سيد العالمين، عليهم من ربهم جميعا الصلاة والسلام*
Dia adalah Abu Muhammad Sayyidi Abd al-Salam ibn Masyisy—atau, seperti yang dikatakan sebagian orang, ibn Basyisy—ibn Abi Bakr ibn Ali ibn Hurmah ibn Isa ibn Salam ibn Mazwar ibn Ali ibn Muhammad ibn Mawlana Idris, dimakamkan di Fez (Fasi), ibn Mawlana Idris dimakamkan di Jarhun, Dan penakluk Maroko, putra dari tuan kita Abdullah al-Kamil ibn Maulana al-Hasan al-Musanna bin Maulana al Hasan al-Sibth ibn tuan kita Ali dan nyonya kita Fatima al-Zahra putri dari Pemimpin Alam Semesta, semoga shalawat dan salam Tuhan mereka tercurah kepada mereka semua.
كان مولاي عبد السلام ولد سنة (559ھ/1198م) بالحصين،[ إذ ينحدر من قبيلة بني عروس، كان معروفا بذله لله تعالى، وبتواضعه بين الخلق، كان إقباله على الله وإدباره عن الخلق سمة من سماته، عاش في بيئة سليمة، وترعرع بين أحضان أسرة كريمة من آل البيت التزمت بدين الله وشرعه.
Maulay Abd al-Salam ibn Masyisy, Dia lahir pada tahun 559 H/1198 M di al-Hushayni, karena dia berasal dari Kailah suku Banu Arus. Dia dikenal karena ketaatannya kepada Allah Yang Maha Kuasa dan kerendahan hatinya di antara manusia. Salah satu ciri khasnya adalah sikapnya yang berpaling kepada Allah dan menjauhkan diri dari manusia. Ia hidup dalam lingkungan yang baik dan dibesarkan di tengah keluarga bangsawan dari keluarga Nabi yang taat pada agama dan hukum Allah. Idris, dimakamkan di Zerhoun, dan penakluk Maroko, ibn Mawlana Abdullah al-Kamil ibn Mawlana al-Hasan al-Mutsanna ibn Mawlana al-Hasan,.
Silsilah nasab Syaikh Abdul
Hamid Al-Maghribi Datu Abulung :
1. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi
Wasallam
2.
binti Fatimah Az-Zahra dan Ali Karamallahu Wajhah
3.
bin Hasan Al-Mujtaba
4.
bin Hasan Al-Mutsanna
5.
bin Abdullah Al-Kamil
6.
bin Maulay Idris Al-Akbar
7.
bin Maulay Idris Al-Ashgar
8.
bin Muhammad
9.
bin Ali Al-Haidarah (‘Ali)
10. bin Mizwar (Mazwar)
11. bin Sulaiman As-Salam (Salam)
12. bin 'Isa
13. bin Muhammad Al-Harmah (Hurmah)
14. bin Ali
15. bin Sayyidi Syarif Abu Bakar
16. bin Masyisy atau (Basyisy)
17. bin Quthubul Sayyidi Maulay Abdussalam Al-Maghribi
(Maroko)
18. bin Sayyidi Ahmad
19. bin Syaikh Mahzub Qasim
20. bin Yusuf
21. bin Sayyidi Ahmad
22. bin Syaikh Abul Hasan Ali
23. bin Ahmad Al-Hakari
24. bin Hasan
25. bin Ali
26. bin Muhammad
27. bin Qasim
28. bin Alamuddin Abul Rabi Sulaiman
29. bin Sayyidi Muhammad
30. bin Amir Musa
31. Syaikh Abdul Hamid Al-Maghribi (Datu Abulung)
انه الشيخ عبد الحميد المغرب ( داتوابولوغ) ابن عامر موسى ابن سيدي مُحَمَّدٌ ابن علام الدين ابوالربّ سُلَيْمن ابن قاسم ابن مُحَمَّدٌ ابن علي ابن حسن ابن احمد هنكارى ابن الشيخ ابو الحسن علي ابن احمد ابن يوسف ابن الشيخ محجوب قاسم ابن سيدي احمد ابن أبو محمد سيدي عبد السلام بن مشيش*
Hukuman mati
Berdasarkan data pernikahan, kelahiran dan wafat dari anak, cucu dan dzuriat Syaikh : bahwa kepulangan tercatat dalam Biografinya Muhammad Arsyad al Banjari tiba sekitar pada Bulan Ramadhan 1165 H/ Juli 1752 M, Syaikh sudah
berada di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu. Mungkin sekitar
tahun 1761 Masihi yang sebelumnya Syaikh Muhammad Arsyad menjabat Mufti Kecil dinaikkan /
diangkat menjadi Mufti
Besar oleh Sultan
Tahmidullah II di Kesultanan Banjar pada sa’at itu.
Menurut Artikel yang pernah aku baca bahwa Micheal Laffan juga
mengungkap fakta sejarah bahwa salah satu momen penting dalam sejarah hidup Syaikh Muhammad Arsyad ialah kampanyenya melawan
shahabatnya sendiri yakni Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung,
seorang Ulama yang sangat berpegaruh di Kesultanan Banjar saat itu, ia
pendukung utama Muhammad Aliuddin Aminullah Putra Mahkota yang syah menuntut
untuk naik tahta Raja sa’at itu, dan ia juga seorang penganut ajaran Wujudiyah,
yang dianggap menyimpang oleh para ulama Sunni saat itu. Wujudiyah adalah ajaran yang
menekankan pada penyatuan eksistensi antara manusia dengan Tuhan.
Datu Abulung mengajarkan ilmu
yang didapatnya kepada masyarakat sekitarnya sudah lama seperti ilmu Tasawuf.
Namun ilmu Tasawuf yang beliau ajarkan kepada orang awam ini sangat berlainan
dengan pelajaran Tasawuf yang selama ini dikenal masyarakat, karena beliau
langsung mengajarkan inti dari ilmu Ma'rifat. Datu Sayyid Abulung mengajarkan bahwa
: "Tiada yang maujud hanya Dia dan Tiada maujud lain-nya, Tiada aku
melainkan Dia dan Dia adalah aku dan Aku adalah Dia". Dalam pelajaran Datu
Sayyid Abulung juga diajarkan bahwa Syariat yang diajarkan selama ini adalah
kulit, belum sampai kepada isi (Hakikat). Sedangkan pelajaran yang selama ini
diyakini masyarakat umum adalah "Tiada yang berhak dan patut disembah
selain Allah, Allah adalah khalik dan selainnya adalah makhluk, tiada sekutu
bagi-Nya."
Ajaran Datu Sayyid Abulung
ini kurang lebih seperti ajaran Abu Yazid al-Bustami, Husein bin Mansyur
al-Hallaj yang kemudian masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan
Syamsuddin di Sumatera dan Syaikh Siti Jenar di Jawa.
Mendengar fatwa Datu Sayyid
Abulung yang berbeda dari kebanyakan paham masyarakat pada waktu itu, maka
gemparlah masyarakat yang menerima ajaran tersebut, bahkan ajaran yang beliau
sampaikan menjadi pembicaraan masyarakat umum yang mana akhirnya sampai ke
telinga Sultan. Sebelum Datu Abulung dipanggil, Sultan terlebih dahulu minta
pendapat Syaikh Muhammad
Arsyad al-Banjari tentang ajaran Datu Abulung tersebut. Setelah menelaah
beberapa kitab dan kemudian disimpulkan bahwa ajaran yang dibawa Datu Sayyid
Abulung dapat menyesatkan masyarakat dan bisa merusak kehidupan beragama.
Berdasarkan keputusan
tersebut maka dipanggillah Datu Sayyid Abulung, salah seorang prajurit kerajaan
disuruh untuk mendatanginya. Sesampai di tempat Datu Abulung lalu dipanggillah
beliau.
Satu riwayat menceritakan
bahwa pemanggilan tersebut, prajurit itu berkata : "Wahai Syaikh Abdul
Hamid, anda dipanggil oleh baginda Sultan," kemudian dijawab oleh Datu
Abulung, "Syaikh Abdul Hamid tidak ada, yang ada hanya Allah. "
Mendengar hal tersebut, prajurit pulang dan mengadukannya kepada Sultan.
Kemudian Sultan menyuruh kembali dan memanggil "Allah" tersebut.
Setelah sampai, prajurit itu berkata "Wahai Allah, anda dipanggil baginda
Sultan," kemudian dijawab kembali oleh Datu Abulung "Allah tidak ada,
yang ada hanya Nur Muhammad." Mendengar hal tersebut, prajurit kembali
lagi dan mengadukannya ke Sultan. Kemudian Sultan berkata "Panggil
ketiganya, Syaikh Abdul Hamid Abulung, Allah, dan Nur Muhammad". Setelah
prajurit tersebut memanggil seperti yang diperintahkan Sultan, barulah Datu
Abulung memenuhi panggilan Sultan pergi menuju istana. Datu Abulung ditangkap
oleh pihak/petugas kesultanan karena menyebarkan ajaran Wahdatul Wujud.
Di tengah perjalanan menuju
istana dipasangkan perangkap yang apabila diinjak maka melesatlah sebilah
tombak tajam yang akan menghujam ke tubuh orang yang menginjaknya. Saat itu
terbukti kebenaran ajaran Datu Abulung, ketika beliau menginjak perangkap
tersebut tombak tajam itu memang melesat dengan cepatnya ke udara dan berhenti
tepat di belakang Datu Abulung dan jatuh ke tanah tanpa beliau mengetahuinya.
Setelah beliau sampai di
istana dan terjadilah tanya jawab, perdebatan yang dihadiri Pembesar Istana dan
tokoh Agama, Sultan ingin
bukti kebenaran ajaran Datu
Sayyid Abulung, kemudian Datu Sayyid Abulung berucap "Asyhadu allaa ilaha
illallah" tiba-tiba tubuh
beliau menghilang
dari kasat mata, kemudian beberapa sa’at kemudian terdengar suara "Wa
asyhadu anna muhammadarrasulullah" timbullah kembali badan beliau. Semua orang terpesoa dan kagum
melihat hal tersebut, tetapi para tokoh Agama salah satunya Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari sa’at itu musyawarah
mupakat dengan menimbang untuk keselamatan orang awam yang lebih banyak maka
dihukumlah Datu Sayyid Abulung.
Dalam riwayat Hukuman Pertama
Ditenggelamkan ke Dasar Sungai Lok Buntar
Datu
Abulung
dengan dimasukkan ke dalam kerangkeng besi yang ukurannya hanya muat tubuh
beliau dan hanya cukup untuk berdiri. Dengan kurungan seperti itu akhirnya
beliau ditenggelamkan di sungai Lok Buntar, maka akhirnya tenggelamlah sampai
ke dasar sungai.
Tanpa diketahui oleh semua
orang suatu kejadian aneh terjadi, apabila tiba waktu sholat fardhu maka
kerangkeng tersebut akan muncul ke permukaan dan beliau kemudian keluar dari
kerangkeng tersebut untuk melakukan sholat. Selesai sholat, secara perlahan
kerangkeng tersebut tenggelam kembali ke dasar sungai. Ada suatu riwayat yang
mengatakan bahwa sewaktu dia ingin melaksanakan salat Shubuh, tiba-tiba
kurungan besinya terangkat sampai di permukaan air sungai, sehingga dia salat
di atas permukaan air. Ketika dia selesai menunaikan salat, dia masuk ke
kurungannya dan kurungannya tersebut tenggelam kembali. Hal ini terjadi
berulang kali atau terus menerus ketika waktu salat lima waktu telah tiba dan
pernah disaksikan oleh beberapa orang, termasuk sepuluh orang pencari ikan yang
kelak menjadi muridnya.
Pada suatu malam menjelang
subuh, sepuluh orang pencari ikan melakukan aktivitasnya di sekitar
tenggelamnya Datu Abulung. Lamat-lamat mereka mendengar suara adzan,
perlahan-lahan mereka dekati sumber suara adzan tersebut, dari kejauhan mereka
melihat dan mengamati keganjilan dan keanehan Datu Abulung tersebut. Sejak saat
itu mereka mengangkat beliau menjadi guru mereka, dari beliau mereka belajar
berbagai ilmu agama islam. Karena jumlah mereka sepuluh maka dinamakanlah Orang
Sepuluh atau sekarang orang menyebutnya Datu Sepuluh. Setelah belajar, datu
sepuluh ini menjadi pegawai kerajaan.
Hukuman mati akibat konflik Politik
Melihat kejadian tersebut, sultan memanggil Datu Sayyid Abulung untuk mengubah hukumannya menjadi hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya. Menurut suatu riwayat, Datu Sayyid Abulung berkata bahwa dia tidak dapat dibinasakan (dibunuh) dengan alat apapun dan jika sultan ingin membinasakannya (membunuhnya), dia harus menggunakan senjata yang ada di dinding rumahnya dan menancapkannya di pergelangan tangannya. Oleh karena itu, sultan memerintahkan ajudannya untuk mengambil senjata tersebut dan menggunakannya untuk menghukum Datu Abulung.
Ketika Datu Abulung hendak dieksekusi, dia meminta izin
kepada sultan untuk melaksanakan salat dua rakaat dan saat sujud salat
rakaat kedua itulah, eksekusi dilakukan dengan menusukkan senjata di
pergelangan tangannya oleh petugas kesultanan. Ketika sultan menengok ruang
eksekusi, dia melihat ceceran darah dari urat nadi pergelangan Datu Sayyid
Abulung yang membentuk tulisan "Laa Ilaaha Illallah, Muhammadur
Rasulullah" (Tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan
Allah). Selain itu, sultan melihat tubuh Datu Sayyid Abulung dalam keadaan
tidak bernyawa dengan posisi sujud. Cerita eksekusi Datu Abulung ini memiliki
kemiripan dengan cerita kematian Syaikh Siti Jenar dari Jawa dan Al-Hallaj dari
Irak.
Menurut Artikel yang pernah aku baca
bahwa Micheal
Laffan juga mengungkap fakta sejarah bahwa salah satu momen penting dalam sejarah
hidup Syaikh Muhammad Arsyad
al-Banjari, (beranjak dari jabatan Mufti Kecil) hingga ketika ia baru diangkat sebagai Mufti
Besar oleh Sultan
Tahmidullah II ialah kampanyenya
melawan pengaruh Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung, seorang Ulama yang berpengaruh di Kesultanan Banjar saat
itu, dan ia pendukung Putra Mahkota Muhammad Aliuddin Aminullah untuk naik
tahta raja yang syah di Kesultanan Banjar, Putra Mahkota memerintah setelah
melakukan kudeta (pemberontakan) terhadap mertuanya, Tamjidillah I, yang
merupakan ahli waris takhta sementara sa’at itu. Salah satu politik Sultan
Tamjidillah II (1761-1801M) yang berkuasa
saat itu, meyingkirkan pendukung utamanya dulu yaitu Datu Sayyid Abulung
seorang penganut ajaran Wujudiyah, yang dianggap menyimpang oleh para ulama
Sunni saat itu. Wujudiyah
adalah ajaran yang menekankan pada penyatuan eksistensi antara manusia dengan
Tuhan.
Syaikh Sayyid Abdul Hamid
Abulung, haulnya diperingati setiap tanggal 12 Dzul Hijjah. Dia wafat diperkirakan tanggal: Rabu, 15 Juli 1761 Masehi dan tanggal
hijriyah: 12
Dzulhijjah 1174 Hijriyah, dimakamkan di Kampung
Abulung, yaitu kini berada di Kecamatan Sungai Batang, Martapura Barat,
Kabupaten Banjar.
Referensi :
Artikel
“Abdul Hamid Abulung al-Banjari” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
bebas./ https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Hamid_Abulung_al-Banjari
Artikel “Pengubah Tanggal
Masehi dari/ke Hijriyah”
https://www.al-habib.info/kalender-islam/pengubah-tanggal-lahir-kalender-hijriyah.htm
Artikel “Hamidullah dari Banjar” https://en.wikipedia.org/wiki/Hamidullah_of_Banjar
f. Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf Wafat.
Kami jelaskan sekali lagi
bahwa dilansir dari berbagai sumber data, bahwa “Suku Dayak memiliki tradisi
adat yang unik dan merugikan suku itu sendiri dan tidak bisa dipertahan dimasa
sekarang”, Seperti Tradisi memuliakan
Tamu Nginap yang berlebihan, Tradisi Kuping Panjang, Tradisi Tato (tradisi
Batato), Tradisi Tiwah (tradisi Batiwah), Tradisi Ngayau, Tradisi Penguburan
Mayat, tetapi ke-6 tradisi tersebut ditinggalkan oleh Dayak Pegunungan Maratus
dan tradisi itu telah dibatalkan
sekitar tahun 1760 Masihi/ 10 Muharram 1174H oleh Sayyid Djamaluddin, Sayyid Ahmad
Djalaluddin bin Abu Bakar Assegaf dan anaknya Sayyid Ahmad Suhuf.
Makam Habib Ahmad Suhuf bin M. Djamiluddin Assegaf
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad
Djamiluddin Assegaf atau dipanggil sehari-harinya "Ahmad" Beliau
tutup usia atau wafat Ahad,13 Jumadil Awal 1211H/ 1796M di usia 60 tahun dan
dimakamkan berdampingan dengan isterinya Diang Galuh Siti Aminah di kampung
Balai Ulin Desa Lumpangi Loksado. Adapun Titik Koordinat, makam Baliau Sayyid
Ahmad Suhuf lat
2,80926, long
115,41769, 144,7m, 134 derajat.
Penulis hanya berharap dan mendo’akan semoga Allah Swt mema’afkan dan mengampuni kesalahannya, kesalahan – kesalahan orang tuanya, kesalahan datuk-neneknya, dan kesalahan – kesalahan orang-orang yang pernah dekat dengannya dan kesalahan – kesalahan dzuriat-dzuratnya hingga akhir zaman, begitu juga semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa kita dan dosa-dosa orang-orang muslimin dan muslimat semuanya. Aamiin Aamiin yaa rabbal aalamiin.
Bacaan :
1. Ket. Referinsi No. 6-7 Artikel Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku Dayak //https://www.gramedia.com/best-seller/tradisi-suku-dayak/
2.Artikel “Historis & Nasab Dzuriat Datu Sayyid Lumpangi Kec.
Loksado” oleh H.Hasan Basri bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi
Assegaf,
https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/399424488025472071
3.Artikell “Islamnya Orang-orang Hulu Banyu Kec. Loksado di akhir abad ke-18 Masihi” oleh H.asaan Bari, S.Ag bin Muhammad Barsih Assegaf https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/7986183751908153577
Artikel “Abdul Hamid Abulung al-Banjari” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas./ https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Hamid_Abulung_al-Banjari
Artikel “Pengubah Tanggal Masehi dari/ke Hijriyah”
https://www.al-habib.info/kalender-islam/pengubah-tanggal-lahir-kalender-hijriyah.htm
Artikel “Hamidullah dari Banjar” https://en.wikipedia.org/wiki/Hamidullah_of_Banjar
Keberadaan Syekh H. Ahmad bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Balimau di Abad ke-19 Masihi mulai tahun 1805 Masihi.
Syaikh Haji Ahmad Lahir di kampung Dalam Pagar,
Martapura, sekitar tahun 1189H /1775M, dari penikahan Sayyid Utsman bin Muhammad bin Ismail dengan Syarifah binti Syaikh
Muhammad Arsyad Al Banjari. Ia adalah cicit pertama dari ulama besar Kalimantan
yaitu Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan.
Dikisahkan bahwa Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari menikah
dengan ma Puan Bajut, & mempunyai
dua orang anak perempuan bernama Syarifah (lhr.1735M) dan Aisyah (lhr. 1753M). Syarifah kemudian menikah
dengan Sayyid Utsman dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Mufti H.
Muhammad As'ad. Mufti H. Muhammad As'ad setelah dewasa ia menikah dengan wanita
salihah bernama Hamidah di Desa Balimau Kec. Kalumpang Kab. HSS dan pasangan ini
dikaruniai 12 orang keturunan /anak, salah satunya adalah Syaikh Haji Ahmad
Balimau.
Syaikh Haji Ahmad Balimau Usia 20 tahun,
sekitar 1209H/ 1795H, ia naik haji ke Mekkah al-Mukarramah dan sekaligus
menuntut ilmu Agama di Haramain selama kurang lebih 10 tahun. Sekitar tahun
1219 Hijeriah / 1805 Masihi dari menuntut ilmu Agama di Haramain kemudian ia
pulang ke kampung Dalam Pagar, Martapura. Di tahun kepulangannya Syaikh H.
Ahmad, setelah dianggap oleh ayahnya dirinya sudah sanggup untuk mengemban amanah
Allah untuk melanjutkan misi Rasululullah SAW, iapun dikawinkan terlebih dahulu
di Martapura kepada seorang perempuan yang salehah puteri dari seorang alim,
yaitu yang bernama Aisyah
puteri Qadhi H Mahmud
bin Asiah binti Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Menurut Artikel yang saya baca bahwa “Semua itu
berpangkal diawali pada tahun 1806M/1220H, dimana Syaikh H. Ahmad
(yang dulunya lahir dan menetap di kampung Dalam Pagar, Martapura) dikirim ke
Balimau, kampung halaman ibundanya (an.Hamidah binti Abdullah, bamakam di Kubah
Datu Taniran) untuk menyebarkan ilmu agama. Ia juga dikenal sebagai seorang
mufti di Kesultanan Banjar, melanjutkan peran yang sebelumnya diemban oleh
ayahnya. Syaikh H. Ahmad memiliki 11 anak yang keturunannya kini tersebar luas
di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.
Setelah kawin di Martapura ia mendapatkan tugas
dari ayahnya untuk menyebarkan ajaran agama Islam di daerah Balimau. Dengan
ilmu yang ia miliki dari hasil belajar dengan datu dan ayahnya yang
berpengetahuan luas, dapatlah ia melakukan misinya sehari-hari, dengan
meyakinkan masyarakat untuk hidup beragama dan mengamalkannya. Ia selalu
disambut dengan sambutan positif dan selalu diikuti oleh para muridnya,
khususnya masyarakat daerah Balimau.
Dari hasil perkawinannya dengan seorang
perempuan salehah puteri seorang qadhi dari Martapura ia dianugerahi oleh Allah
enam orang anak, empat orang putera dan dua orang puteri, diantaranya :
1. H
Muhammad, Balimau, seorang alim yang menjadi qadhi.
2. Khadijah
(bergelar dengan Dayang Rambai)
3. H
Khalil
4. Ruqaiyah
5. Abu
Bakar
6. Nur’ain
Kemudian ia kawin lagi dengan seorang perempuan
salehah yang bernama Hamidah yang berasal dari Amuntai dan ia dianugerahi oleh
Allah SWT tiga orang anak, dua orang puteri dan seorang putera, diantaranya :
1. Khadijah
2. Muhammad
Ali
3. Nurjanah
Isterinya yang ketiga adalah seorang perempuan
salehah yang berasal dari Desa Balimau, Kandangan dan darinya dianugerahi oleh
Allah SWT lima orang anak, dua orang puteri dan tiga orang putera, diantaranya
:
1. Sa’diyyah
2. Husain
3. Hasan
4. Abdullah
Faqih
5. Mahabbah
Wafatnya Syaikh H.Ahmad bin Mufti Haji Muhammad
As’ad
Ahmad bin Mufti Haji Muhammad As’ad berkiprah
sebagai penerus ayah dan datunya. Dengan penuh semangat dalam membangun
masyrakat untuk meningkatkan keyakinan beragama dan memantapkan pelaksanaan
ajaran aganma Islam, dengan tidak mengenal lelah dan tanpa pamrih hingga akhir
hayatnya.
Haji Ahmad mejelang usianya kurang lebih 68
tahun, sudah sering sakit-sakitan dan pada akhirnya ia Wafat hari Rabu, 21 Rabi’ul Awwal 1257H/ Rabu, 12 Mei 1841M
dan dimakamkan di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang. Makamnya terkenal dengan
nama Kubah Balimau. Sering dikunjungi para penziarah yang datang dari berbagai
daerah.
Referensi :
Artikel “Manakib H Ahmad Balimau dan Silsilahnya,”
https://id.scribd.com/document/870575636/Manakib-Datu-Ahmad-Balimau-PDF
Artikel “Riwayat Singkat 5 Bersaudara Dzuriyat
Datu Kalampayan Yang Menjadi Ulama Besa,”
https://www.beritabanjarmasin.com/2022/04/riwayat-singkat-5-bersaudara-dzuriyat.html
Artikel
“Datu Ahmad Balimau Kandangan.”
http://aladamyarrantawie.blogspot.com/2012/07/datu-ahmad-balimau-kandangan.html
Keberadaan Sayyid Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf di Desa Lumpangi di Akhir Abad ke-18 sd. abad ke-19 Masihi.
a. Biografi Sejarah Singkat Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf.
Mengunjungi objek wisata
memang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pengunjung dan menambah wawasan bagi
Pengunjung, apalagi dapat menghilangkan kejenuhan dan kepenatan pekerjaan
rutinitas sehari-hari. Jangan salah loh, mengunjungi tempat wisata menarik tak
harus ke luar daerah yang membutuhkan banyak biaya. Masalahnya di Hulu Sungai
Selatan terdapat beberapa objek wisata menarik dan mempesona, dijamin Anda dan
keluarga bahagia menikmatinya. Salah satunya mengunjungi destinasi perbukitan
batu Langara dan makam religi Habaib keluarga Assegaf Lumpangi Loksado, yang
menawarkan keindahan alam luar biasa bagi siapa pun yang berkunjung mungkin tak
ada salahnya menyiapkan rencananya sejak saat ini.
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Keberadaan Sayyid Abu Bakar
ats-Tsani di Desa Lumpangi di Akhir Abad ke-18 sd. abad ke-19 Masihi yakni
sekitar tahun 1789 sd. 1902 Masihi, sebagai Ulama dan Guru / Utstad membangun (mengislamkan suku Dayak) dan membina
masyarakat Agamis di kampung Lumpangi dan sekitarnya sa'at itu”. Sayyid Abu
Bakar ats-Tsani adalah seorang yang shaleh, dan ia seorang yang ta’at yang memelihara
iman dan islam, ia amat kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab
kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang
diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa,
zakat dan amaliah-amaliah bathin lainya.
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Sayyid Abu Bakar ats-Tsani adalah
anak pertama dari pasangan suami isteri Sayyid Ahmad Suhuf Assegaf dengan Diang Galuh Aminah, asal desa Muara Lumpangi, pasangan suami isteri ini
menikah Senin, 10 Muharam 1200H
atau 1785M. Kemudian
keduanya punya keturunan yang diberi nama Sayyid Abu Bakar ats-Tsani, Beliau
lahir hari Jum’at, 15 Dzulhijjah 1203H/ 1789 Masihi di Lumpangi. Dan Abu Bakar ast-Tsani adalah keturunan ke-3 atau cucu tersayang Sayyid Muhammad
Djamiluddin bin Abu Bakar (Sayyid
Lumpangi) Ia adalah buyut dari Sayyid Abu Bakar Bin Hasan bin Hasyim bin
Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.
b.
Silsilah Nasab Sayyid Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad
Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw.
Adapun Silsilah Nasab Sayyid Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf :
الْحَبِيْب اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ
اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن
بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ
[عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً
عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ
سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ
بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد
بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا
اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ
الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا
اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ
أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ
بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ
الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ
مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا
اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله
c.
Kelahiran Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin
bin Abu Bakar Assegaf di Lumpangi.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Sayyid Abu Bakar ast-Tsani adalah anak pertama dari pasangan suami isteri Sayyid Ahmad Suhuf Assegaf dengan Diang Galuh Siti Aminah, asal desa Muara Lumpangi, sebagaimana kami jelaskan diatas. Menurut kisah Datu-nenek kami bahari menyebutkan bahwa pasangan suami isteri ini menikah hari Senin, 10 Muharam 1200H atau 1785M. Kemudian Sayyid Abu Bakar ats-Tsani lahir hari Kamis, 15 Dzulhijjah 1203H/ atau bertepatan tgl. 05 September 1789 Masihi di Lumpangi. Dan Abu Bakar ast-Tsani adalah keturunan ke-3 atau cucu tersayang Sayyid Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar (Sayyid Lumpangi) Ia adalah buyut dari Sayyid Abu Bakar Bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.
Sedangkan nama Abu Bakar adalah nama pemberian dari kedua orang tuanya. Dan ia menjadi nama panggilannya sehari-hari, ats-Tsani artinya yang kedua, yang disisipkan dibelakang namanya. Hal ini diberikan adalah sebagai nama pembeda dengan Datuknya Sayyid Abu Bakar. Oleh karenanya ia juga berwajah-serupa dan postur tubuhnya dan prilakunya persis sama dengan Datuknya Sayyid Abu Bakar Assegaf. Maka orang-orang sekelilingnya dan sahabatnya menyebutnyai "Abu Bakar ats-Tsani" yakni " Abu Bakar yang kedua".
d. Sayyid
Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar
Assegaf Menerima (Menimba) Ilmu Agama.
Sayyid Abu Bakar ats-Tsani adalah seorang anak cerdas dan shalih yang membanggakan orang tuanya, ia memperoleh pengajaran ttg Islam langsung dari ayah dan kakeknya.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Abu Bakar ast-Tsani Assegaf mendapatkan pengajaran Agama langsung dari :
- Diang Galuh Aminah ibunya,
- Ahmad Suhuf ayahnya,
- Muhammad Djamiluddin dan Ahmad Jalaluddin kakeknya.
- Dan guru-guru agama disekitarnya.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Kisahakan ketiga anak ini dikenal oleh sebagian masyarakat Dayak Maratus yang pertama bernama “Pang Ayuh atau Datu Ayuh atau Sang Dayuhan, dia seorang lelaki yang berfisik kuat, berilmu, sejak kecil gemar berkelahi atau berperang tetapi kurang cerdas, mudah emosi, sulit menerima hal-hal yang positif, sosok ini di sebut Dayuhan. Yang ke-2. Bambang Swara atau Bambang Basiwara. Berilmu, dia berfisik agak lemah tetapi punya otak berlian dan cerdas dan menerima hal-hal yang positif dan sangat homoris, mampu mengendalikan emosi, sosok ini dikenal dengan nama "Paluy" sedangkan yang ke-3 adalah perempuan bernama Diang Gunung, punya otak berlian dan cerdas, dia seorang puteri yang sangat cantik rupawan, berwajah keibuan, lembut, penyabar, sosok ini disebut "Intingan". Ia tidak terpisah dari kakaknya, selalu bersama kakaknya Bambang Swara”.
Perkawinan Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf dengan Umi Salamah binti Bumbuyanin bin Olang.
Perkawinan Umi Salamah (asal Dayak, nama asal Diang Gunung) binti Bumbuyanin bin Olang dengan Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf terjadi diawal abad ke-19 M. Malalui perkawinan Sayyid Abu Bakar ats-Tsani dengan Umi Salamah dengan Wali nikahnya kakaknya sendiri yakni Bambang Basiwara. Perkawinan ini terjadi Rabu, tanggal 10 Sya'ban 1224 H / 1809 Masihi diawal abad ke-19 Masihi sa’at itu maka dengan Islamnya kedua kakak beradik tersebut telah diikuti oleh orang-orang suku dayak daerah Hulu Banyu Loksado, al-Hamdulillah sebahagian mereka suku Dayak mendapat hidayah Islam, seperti
- kampung Tarlaga.
- kampung Majulung,
- kampung Ni'ih
- kampung Tanuhi,
- Kampung Tamiyng Malah (Muara Haip)
- Kampung Hutap
- Kampung Tariban.
- Kampung Tarmangkung,
- kampung Lambuk
- dan kampung Datar Belimbing
- dan kampung sebahagian Kemawakan menjadi Muslim.
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami bahwa Abu Bakar bin Ahmad Suhuf menikah dengan Umi
Salamah menurunkan 3 orang anak laki-laki yang bernama : Abu Thair (Ibrahim),
Abdullatif dan Abdullah (Abu Tayau).
Menurut ceritera Sayyid Muhammad Jamberi, dan yang dikuatkan ceritera Muhammad Burhanudddin Rabbani Assegaf
yang sering saya temui dan saya wawancarai di kediamannya Desa Tabihi tentang
asal usul sebahagian orang-orang Hulu Banyu Loksado yang menerima hidayah
Islam. Dan beliau berceritera kepada saya, yaitu ceritera dari sepupunya Habib
Muhammad Jamberi bin Ahmad Darani bin Abdul Hamid bin Aliadam bin
Abdullatif Assegaf dan nasabnya
tercatat dengan rinci bahwa "Tertulis Sayyid Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf adalah cucu Muhammad Djamiluddin bin
Habib Abu Bakar Assegaf, ia dimasa mudanya dikawinkan dengan Umi Salamah (nama asal dayak : Diang Gunung) binti
Bumbuyanin bin Ulang dari Hulu Banyu kampung Balai Pantai Dusin. Karena yang
menjadi panutan mereka (Suku Dayak), kedua kakak beradik ini an. Bambang Basiwara dan Umi Salamah telah menerima hidayah Islam, maka
hidayah Islam diikuti oleh Keluarga suku Dayak Hulu Banyu yang lain. Hasil
perkawinan Puteri tersebut menurunkan anak laki-laki diantaranya an.
- Abu Tha’am Iberahim
- Abdul Lathif
- Abdullah bergelar Abu Tayau.
Menurut beberapa sumber
informasi yang saya dapatkan bahwa “ Dayak kampung Pantai Dusin kalau
sekarang pantainya masih ada, ia
terletak ditepi dua muara aliran sungai, dan ia berada diantara kampung Datar
Laga dan kampung Datar Mangkung. Kampung
Pantai Dusin kalau sekarang tidak dihuni lagi oleh penduduk, sejak Balai Adat
dan Penghuninya larut ditelan Banjir besar dimasa lalu, dan tak seorangpun
selamat kecuali Dayak yang masih tinggal bermalam di ladang-ladang.
Perkawinan Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf yang ke-2 dengan Diang Galuh Kampung Batu Tangah.
Diceritakan bahwa setelah Umi
Salamah isteri tercinta pertamanya meninggal dunia akibat sakit, atas saran
keluarga dekatnya dan juga saran ke-3 anak laki-lakinya, bahwa Ayahanda Habib
Abu Bakar harus menikah lagi dengan perempuan lain sebagai pengganti Umi
Salamah orang tua mereka.untuk melayani keperluan sehari-hari Ayahanda mereka.
Kami mendengar tetapi yang
lain ada yang lebih tahu ceritera (keterangan) tentang Habib Abu Bakar di masa
hidupnya bahwa setelah isterinya (Umi Salamah binti Bumbuyanin) wafat
diperkirakan usianya 60 tahun lebih maka Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad
Suhuf ini, Beliau menikah lagi dengan wanita lain sehingga pernikahan itu punya
anak atau keturunan yang lain (yang baru), selain tiga keturunan/ anak yang
telah kami sebutkan yakni “Ibrahim, Abdullatif dan Abdullah” dan keterangan
tersebut belum kami gali dan belum kami ketahui kejelasannya. Akan tetapi kami
hanya menelusuri artikel yang ditulis Saadilah Mursyid maka diduga kuat bahwa
anak tersebut bernama Habib
Husain dan Habib Ahmad
dan menurut artikel dimaksud dzuriatnya masih ada dan tersebar hingga sa'at
ini.
Malalui perkawinan Habib Abu
Bakar as-Tsani bin Ahmad dengan Diang Galuh orang kampung Batu Tangah inilah
habib memperoleh dua orang keturunan lagi. Apalagi seorang wanita muda Diang
Galuh adalah masih kerabat dekat Habib sendiri
“Diantara nama-nama keturunan beliau yang sampai sekarang masih hidup adalah Habib Aziz (Muara Banta), Habib Yahya (Telaga Bidadari), Habib Yadi (Muara Hatip)” (Saadilah Mursyid 2017).
Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf Wafat
Sumber lain ada yang menyebutkan bahwa Habib Abu Bakar ast-Tsani dengan usianya lanjut, tua renta lebih dari 1 abad, tetapi ada yang menyebutkan bahwa Beliau wafat yakni Jum'at, 14 Januari 1875M atau bertepatan 17 Dzulhijjah 1292H.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Abu Bakar ast-Tsani diberikan Allah Swt umur panjang hingga ia tua renta dan ia sudah punya buyut an.Habib Tanqir Ghawa bahkan ada menyebutkan bahwa Beliau sudah punya pipit (intah) an.Habib Ahmad Karji saat tua rentanya, Beliau menutup matanya meninggalkan anak cucu, buyut, intahnya hari Kamis, tanggal 27 Maret tahun 1902M/1319H dengan usia Beliau 124 tahun Masihi ketika wafat. Beliau dimakamkan kampung Balai Ulin Lumpangi Loksado. Haulan Beliau tersebut dilaksaaanakan oleh Ahlul Bait setiap tanggal 17 Dulhijjah.
Tidaklah banyak yang Penulis ketahui tentang tokoh Sayyid Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf ini, waktu Beliau masa kanak-kanak, masa remajanya, masa tuanya sampai ajalnya.
Keberadaan Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Taniran di Abad ke-19 Masihi mulai tahun 1812 Masihi.
Keberadaan Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf sebagai Ulama
dan Guru / Utstad membangun (mengislamkan) dan membina masyarakat Agamis di kampung
Taniran sa'at itu. Ia dan Abu Bakar anaknya penyebar Islam lebih awal atau
lebih dulu yakni pada awal abad ke-18 Masihi sekitar tahun 1702M. Kemudian
dilanjutkan oleh Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad pengembangan dan
penyebaran Islam di awal abad ke-19M.
Menurut Artikel Biografi Syaikh Muhammad Arsyad al
Banjari bahwa "Kepulangan pertamanya menuntut ilmu Agama dari Mekkah al Mukarramah, Syekh
beserta rombongan tiba di kampung halaman, sekitar pada Bulan Ramadhan 1165
H bertepatan Juli 1752 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung
halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar
pada masa itu, usia Muhammad As’ad kala itu sekitar satu bulan."
Kemudian setelah ia dewasa Mufti H.Muhammad As'ad bin Sayyid
Utsman menikah dengan Hamidah binti Abdullah orang Desa Balimau punya 12
putra-putri tetapi 5 orang putera menjadi ulama besar, yaitu :
1. Haji Abu Thalhah, lahir
di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1771 M 1185 H dan Wafat dan dimakamkan di Tenggarong,
Kutai, Kalimantan Timur
2. Haji Abu Hamid,
lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1773 M1187 H dan Wafat 10 Rabi’ul Awwal 1270 H, Ahad, 11
Desember 1853 dan dimakamkan di ujung Pandaran, Sampit, Kalteng
3. Haji Ahmad Balimau, lahir di kampung
Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1775 M/1189 H dan Wafat Rabu, 21 Rabi’ul Awwal 1257H/12 Mei 1841M dan dimakamkan di Balimau,
4. Mufti Haji Muhammad Arsyad lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1777 M/1191 H Wafat Sabtu, 23 Rabiul Awwal 1275 H dii masa pemerintahan Sultan Abdur
Rahman bin Sultan Adam, usia sekitar 84 tahun dan dimakamkan di Pagatan,
Kalsel.
5. Haji Sa'adud-din, lahir di kampung Dalam Pagar,
Martapura, sekitar tahun 1779
M/1193 H dan wafat Senin, 05
Shafar 1278 H atau 12 Agustus 1861 M yang dimakamkan (Desa Taniran Kubah Kab.HSS).
Syekh H. Sa'duddin berada di
Taniran sekitar tahun 1812M. H Muhammad Thaib atau Syekh H.Sa’duddin lahir
tahun 1779M/1193H di Kampung Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten
Banjar, Usia 25 tahun, ia pergi ke Tanah Suci Makkah selama kurang lebih 10
tahun untuk menimba ilmu.
Diperkirakan sekitar tahun
1812M setibanya, ia dari Makkah, dua tahun setelah kedatangannya menuntut ilmu
Agama di tanah Haramain (Mekkah-Madinah) kemudian datanglah tokoh masyarakat
(Tetuha kampung Taniran salah satunya
Abah Saleh) kepada Mufti H.Muhammad As’ad ayahnya, meminta agar mengirim
seorang guru ke Taniran untuk memberikan pendidikan agama, dan bersedia menetap
tinggal di Taniran. Permintaan itupun dipenuhi, seiring waktu berjalan kemudian
ia bersama masyarakat Taniran merehap "Masjid Darul Lathif" yang
bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian dipugar Masjid tersebut
meggunakan kayu Ulin semuanya beratap sirap, yang dibeli dan dibawa dengan
perahu jukung dari Kota Nagara kala itu.
Untuk menyatakan rasa
syukurnya, masyarakat kampung Taniran menghibahkan sebidang tanah perkebunan
kelapa kepada Haji Sa'adud-din seluas kurang lebih sepuluh borongan (28,900 m).
Tanah tersebut dipergunakannya untuk komplek pengajian dan perumahan. Di awal
Abad ke-20 Masihi di atas tanah Hibah itulah sekarang berdiri seuah Masjid
As-Sa’adah, yang didirikan pada tahun 1923 M, beserta rumah tempat tinggal
beberapa dzuriatnya. Kemudian pada tahun itu juga Masjid Darul Lathif yang
terletak di Rt.02 Taniran dialih fugsikan mejadi Langgar Darul Lathif, setelah “Masjid
As-Sa'adah” Kampung Taniran Rt.01 difungsikan.
Haji Sa'adud-din (Muhammad
Thaib), lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1193H/1779 M dan Syaikh
Muhammad Thaib, Beliau tutup usia atau wafat Senin, 05 Shafar 1278 H
atau bersamaan tanggal 12 Agustus 1861 Masihi yang dimakamkan (Desa Taniran Kubah Kec. Angkinang Kab.Hulu
Sungai Selatan).
Referensi :
- Artikel “Manakib H Ahmad Balimau dan Silsilahnya,” https://id.scribd.com/document/870575636/Manakib-Datu-Ahmad-Balimau-PDF
- Artikel “Riwayat Singkat 5 Bersaudara Dzuriyat Datu Kalampayan Yang Menjadi Ulama Besa,” https://www.beritabanjarmasin.com/2022/04/riwayat-singkat-5-bersaudara-dzuriyat.html
- Artikel “Syekh Sa'dudin, Ulama Martapura yang Masyhur di Taniran Kandangan”/ https://www.beritabanjarmasin.com/2022/02/syekh-sadudin-ulama-martapura-yang.html
- Artikel “Datu Taniran” Rabu, 26 Maret 2014// http://sketsahss212.blogspot.com/2014/03/datu-taniran.html
- Artikel “Manaqib Datu Taniran, Cicit Datu Kalampayan Yang Berdakwah di Kandangan”// https://albanjari.com/2022/09/03/manaqib-datu-taniran-cicit-datu-kalampayan-yang-berdakwah-di-kandangan/
- Artikel “Datu Taniran di Kandangan”// http://lisan-alfaqir.blogspot.com/2015/03/datu-taniran-di-kandangan.html
- Artikel “Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) menggali masa lalu, pada masa kini, untuk masa depan yang cerah” Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi.
Daftar bacaan :
Artikel “Seiyun” From Wikipedia, the free encyclopedia This page was last edited on 12 February 2022, at 02:00 (UTC). https://en.wikipedia.org/wiki/Seiyun
Artikel Destinasi Adalah: Beginilah Pandangan Menurut Para Ahli BLOG·12/10/2019 ....................................................................................................... https://pemasaranpariwisata.com/2019/10/12/destinasi-adalah/
Artikel “Sejarah
Ahlul bait (keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesa” dan .................................................................... http://fakhrur94.blogspot.com/2012/04/sejarah-ahlul-baitketurunan-sayyidina.html
Artikel
ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Raja-Raja Kesultanan
Banjar", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/11/141137979/raja-raja-kesultanan-banjar?page=all. Penulis : Widya
Lestari Ningsih Editor : Nibras Nada Nailufar
Kitab Biografi Ulama-ulama Terkemuka Dunia dan Nasional” yang ditulis oleh “Syekh Samsul Afandi The source: hadhramaut.info/indo – 01/5/2008
Artikel “Sejarah Ahlul bait (keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesa” dan April 2012. http://fakhrur94.blogspot.com/2012/04/sejarah-ahlul-baitketurunan-sayyidina.html
Artikel "Sejarah Perjalanan ayahnya Habib Umar Ash-Shufy bin Abdurrahman bin Muhammad Assegaf ke Nusantara" oleh H.Hasan Baseri bin H. Muhammad Barsih................................................................................................................ https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/1797188491972678497
Hasil-hasil Wawancara dengan Habaib Fam/Marga Assegaf Desa Lumpangi yang masih hidup sebelum tahun 2021Masihi, dan misalnya Habib Tanqir Ghawa, kayi Ahmad Baderi, kayi Ahmad Karji, Muhammad Djamberi, Muhammad Burhan Assegaf, Ahmad atau Amat Bukuanin, Arya Norhadi, Raihan, Basraninoor. Dan lain-lainnya
Artikel “Biografi Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf: Ini Nasab Beliau sampai Nabi Muhammad” Eries Adlin - Jumat, 15 Januari 2021 | 20:51 WIB. https://www.ayobogor.com/nasional/pr-31874179/Biografi-Habib-Ali-bin-Abdurrahman-Assegaf-Ini-Nasab-Beliau-sampai-Nabi-Muhammad
Artikel “Pelabuhan
Gresik” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas/
https://id.wikipedia.org/wiki/Pelabuhan_Gresik
Makalah
“EKSPANSI JEPARA ABAD XVI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUPLEMEN” Materi Pembelajaran
Sejarah, Istoria : Jurnal Pendidikan dan Sejarah, Volume 20, No 1, Maret 2024
Artikel
"Ki Ageng Pandan Arang" Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Ageng_Pandan_Arang, Tersedia Online:
https://journal.uny.ac.id/index.php/istori
Artikel
“Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) menggali masa lalu, pada masa kini,
untuk masa depan yang cerah” Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan
Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek
Pariwisata Berbasis Arkeologi.
Artikel
“Sungai Keramat” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas//
https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Keramat
Artikel
“Tujuan Kerajaan Demak Membangun Pelabuhan di Pesisir Utara Jawa” Kompas.com
Stori /
https://www.kompas.com/stori/read/2024/12/16/230000679/tujuan-kerajaan-demak-membangun-pelabuhan-di-pesisir-utara-jawa.
Artikel
“Sungai Sigaling” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Sigaling
Artikel detikjogja, "10 Jenis Perahu Tradisional di
Indonesia, Salah Satunya Kapal Pinisi" selengkapnya https://www.detik.com/jogja/budaya/d-7077410/10-jenis-perahu-tradisional-di-indonesia-salah-satunya-kapal-pinisi
Artikel
“Mengenal Kapal Pinisi: Sejarah, Karakteristik, hingga Proses Pembuatannya.”
https://www.detik.com/sulsel/budaya/d-6581846/mengenal-kapal-pinisi-sejarah-karakteristik-hingga-proses- pembuatannya
Artikel
“Jukung tambangan” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas //
https://id.wikipedia.org/wiki/Jukung_tambangan#Referensi
Artikel “Animisme” / Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas/ https://id.wikipedia.org/wiki/Animisme
Ket. Referinsi No. 6-7 Artikel Tradisi Suku Dayak &
Asal-Usul Suku Dayak
https://www.gramedia.com/best-seller/tradisi-suku-dayak/

.jpeg)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar