Mengunjungi objek wisata memang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pengunjung dan menambah wawasan bagi Pengunjung, apalagi dapat menghilangkan kejenuhan dan kepenatan pekerjaan rutinitas sehari-hari. Jangan salah loh, mengunjungi tempat wisata menarik tak harus ke luar daerah yang membutuhkan banyak biaya. Masalahnya di Hulu Sungai Selatan terdapat beberapa objek wisata menarik dan mempesona, dijamin Anda dan keluarga bahagia menikmatinya. Salah satunya mengunjungi destinasi perbukitan batu Langara dan makam religi Habaib keluarga Assegaf ash-Shaafy Desa Lumpangi Kec.Loksado, yang menawarkan keindahan alam luar biasa bagi siapa pun yang berkunjung mungkin tak ada salahnya menyiapkan rencananya sejak saat ini.
I. Islamnya Orang-orang Dayak Hulu Banyu Kecamatan Loksado dipertengahan akhir abad ke-18 Masihi.
Kemudian untuk misi dakwah Islam lokasi pelusuk pedalaman hulu sungai atau hulu banyu diserahkan pada anak muda yakni Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Hingga akhirnya sambil membawa dagangannya, sampailah ia ke pelusuk pedalaman suku Dayak Langara Desa Lumpangi yang belum pernah tersentuh Islam pada awal abad ke-18 Masihi. Melalui Syekh Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy bin Abdurrahman bin Muhammad Assegaf yang mengislamkan sebagian suku Dayak Langara dengan nama Rumah Adatnya “Balai Ulin”
Sekilas Perkawinan Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dengan Siti Jamilah (Diang Aluh Milah) seorang Puteri Tetuha Adat Dayak Langara Desa Lumpangi, Melalui perkawinannya inilah yang sangat merekatkan hubungan suku Dayak Langara dengan Habib. Adanya ikatan perkawinan tersebut Islam tumbuh dan berkembang dengan cepat. Akhirnya mereka karena merasa berkelurga dengan Habib, merasa badangsanak dengan Habib, mereka tertarik dengan Islam dan menerima Islam dengan sukacita dan juga hasil perkawinan itu membuahkan keturunan salah satunya an. Habib Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) dan dzuriatnya yang bersambung dan nasabnya tercatat dengan baik sampai saat ini. Setelah dewasa Muhammad Jamiluddin dikawinkan dengan sepupunya sendiri atas nama Siti Sarah dan kedua suami-isteri ini punya anak diantaranya an. Ahmad Suhuf. Setelah dewasa Ahmad Suhuf menikah dengan wanita salihah dan punya anak dan Ia sangat mirif sekali dengan Datuknya Sayyid Abu Bakar bin Hasan, sehingga anak ini diberinama Sayyid Abu Bakar ast-Tsani yakni (Sayyid Abu Bakar yang kedua) Dan juga Sayyid Abu Bakar ast-Tsani. adalah buyut Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf.
Menurut sumber data & ceritra Datu-neni kami bahwa
sesudah Balai Adat Balai Ulin Desa Lumpangi bubar (kosong) dipertengahan abad ke-18 Masihi karena Penghuninya banyak yang masuk Islam maka beberapa tahun kemudian datanglah Dayak Ulang dan kedua anaknya dayak Bumbuyanin dan dayak Bayumbung ke Lumpangi. Bumbuyanin membawa ketiga anaknya atas nama Pang Ayuh, Pang
Bambang (Bambang Basiwara) dan Puteri Diang Gunung (Umi Salamah). Usia Ayuh dan Bambang jauh lebih
tua beberapa tahun dari Abu Bakar ast-Tsani dan usia Umi Salamah lebih muda 1-2
tahun dari Abu Bakar. Keduanya ayah dan kakeknya minta kepada Habib agar ketiga anaknya diajari tentang Islam
hingga tamat. Mereka pun (ke-3 anak ini) tinggal di kampung Balai Ulin Lumpangi
beberapa tahun lamanya mempelajari ilmu Islam kepada
Habaib Ds.Lumpangi bersama santri-santri lainnya. Kemudian siang dan malam mereka belajar ilmu Islam, dari
hari ke hari berganti minggu ke minggu, dan berubah dari bulan ke bulan berganti
tahun ke tahun, hingga akhirnya mereka benar-benar menguasai dan paham tentang Islam. Kemudian ketiga anak tersebut dikembalikan oleh Habib kepada orang tuanya.
Di dalam perjalanannya, mereka Putra-putra Dayak Bumbuyanin, masa kekuasaan Pang Ayuh dan Pang Bambang inilah
mana kala keduanya telah menjabat sebagai Kepala Suku besar Dayak Pegunungan
Maratus. Ada beberapa tradisi Suku Dayak Maanyan di Kalimantan Selatan yang
dulunya mendarah daging, kemudian dibatalkan /dihilangkan oleh Habaib Guru Mereka
karena dianggaf merugikan masyarakat Suku itu sendiri. Pembatalan tradisi Suku
Dayak tersebut, salah satunya “Tato” telah disetujui oleh Pang Ayuh dan Pang
Bambang kala itu.
- Tradisi Memuliakan Tamu Nginap
- Tradisi Kuping Panjang
- Tradisi Tato
- Tradisi Tiwah
- Tradisi Penguburan mayit
- Tradisi Ngayau
- Manajah antang
- Mantat Tu’Mate
Mereka (orang-orang
Dayak) juga bertanya : “Adakah pembatalan hukum adat tradisi budaya
bangsa Arab dimasa Islam datang ? Jawabnya : Ada, salah satunya pembatalan hukum tentang “Anak angkat” dimasa Arab
Jahiliyah statusnya sama dengan anak kandung.
Menurut adat tradisi budaya bangsa Arab
Jahiliyah zaman dahulu yang mendarah
daging saat itu,
anak angkat dianggap mulia dan statusnya sama
dengan anak kandung, ayah/ibu angkat tidak boleh mengawininya. ia sama
kedudukannya dengan anak kandungnya, ia dapat bagian waris yang sama dengan
anak kandung ayah/ibu angkatnya. Sebelum Islam datang ke tanah Arab, anak
angkat sama kedudukannya dengan anak kandung. Rasullah Saw mempuyai seorang
anak angkat yang bernama Zaid. Sehingga orang-orang Arab saat itu tidak aneh menyebutnya
“Zaid bin Muhammad”. “Zaid anak lelaki Muhammad”. Zaid kawin dengan Zainab
binti Jahsy.
Semuanya istri-istri
Rasulullah, dinikahkan oleh wali ayahnya, saudaranya, atau keluarganya kecuali Zainab binti
Jahsy. Zainab binti Jahsy dinikahkan
langsung oleh Allah Swt dari atas
langit ketujuh dan Malaikat Jibril salah satu saksinya.
Sebelum menikah dengan
Rasulullah Saw, Zainab telah menikah dengan Zaid bin Haritsah, maula Rasulullah Saw yang kemudian dijadikan anak angkat oleh
Rasulullah Saw. Dialah yang diceritakan Allah Swt.
Sebenarnya, untuk membatalkan
hukum adat tradisi budaya bangsa Arab
Jahiliyah “Status anak angkat” yang berlaku saat itu, salah satunya menikahi
mantan istri anak angkat. Hal ini Allah telah memberitahukan kepada Rasulullah
bahwa Zainab binti Jahsy akan menjadi salah satu dari istrinya. Namun,
Rasulullah terlalu malu
untuk mengungkapkannya kepada Zaid. Rasulullah pun khawatir akan cibiran orang-orang apabila menikahi mantan isteri anak angkatnya sendiri.
Diriwayatkan dari Anas
bin Malik, bahwa berkenaan ayat dalam surat Al-Ahzab ayat 37, “Sedang engkau
menyembunyikan di dalam hatimu apa yang dinyatakan oleh Allah.” Andai
Rasulullah menyembunyikan sesuatu, tentu (ayat) inilah yang disembunyikan.
Allah Swt dalam
firman-Nya :
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ
أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَااللهُ مُبْدِيهِ
وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا
وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ
أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً
“Dan (ingatlah), ketika
kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan
kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan
bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang
Allah akan menyatakannya, dan kamu takut
kepada manusia,
sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah
mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu
dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini)
isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah
menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu
pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37)
Kala itu, rumah tangga
Zaid dan Zainab seringkali menemui perselisihan. Rasulullah pun memerintahkan
Zaid agar mempertahankan Zainab dan bertakwa kepada Allah. Namun perceraian mereka tersebut tidak dapat
dihindari. Ketika masa iddah
Zainab berakhir
setelah bercerai dari Zaid.
Ketika Nabi Saw menikahi Zainab binti Jahsy maka orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!, Maka turunlah ayat Allah, yang berbunyi :
مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ
اللهِ
“Muhammad itu
sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia
adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Dan Allah berfirman,
ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu)
dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi
Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5)
Maka sejak saat itu Zaid
dipanggil dengan Zaid bin Haritsah yang dia sebelumnya biasa dipanggil dengna
Zaid bin Muhammad.
Seringkali Zainab
membanggakan diri di hadapan istri-istri Nabi. Ia berkata, “Kalian dinikahkan
oleh keluarga-keluarga kalian, namun Allah menikahkanku dari langit.”
a. Dayak Bambang Basiwara dan adik kandungnya Diang Gunung (Umi Salamah) menerima hidayah Islam.
- kampung Tar Laga.
- kampung Majulung,
- kampung Ni'ih
- Kampung Tar Mangkung,
- Kampung Tamiyng Malah (Muara Hatip)
- Kampung Hutap
- Kampung Tariban.
- kampung Lambuk
- kampung Tar Belimbing
- dan kampung sebahagian Kemawakan menjadi Muslim
Malalui perkawinan Habib Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad dengan Umi Salamah dengan Wali nikahnya kakaknya sendiri yakni Bambang Basiwara. Perkawinan ini terjadi Senin, 10 Al-Muharram 1213H atau bertepatan 25 Juni 1798 Masihi di akhir abad ke-18 Masihi dahulunya maka dengan Islamnya kedua kakak beradik tersebut telah diikuti oleh orang-orang suku dayak daerah Hulu Banyu Loksado, sebahagian mereka juga mendapat hidayah Islam.
Menurut ceritera Habib Muhammad Jamberi dan yang dikuatkan ceritera Habib Muhammad Burhanuddin bin Ahmad Baderi Assegaf yang saya temui dan saya wawancarai di kediamannya Desa Tabihi tentang Hasil perkawinan ini menurunkan nasab, tiga anak laki-laki an. : Ibrahim, Abdullathif dan Abdullah,
- Abu Tha'am Ibrahim, nama kehormatannya Abu Tha'am
- Abdullathif, nama kehormatannya Abu 'Alyadam
- Abdullah nama kehormatannya Abu Tayau.
Habib Abu Bakar ats-Tsani bin
Ahmad Suhuf Assegaf adalah melalui
perkawinannya dengan Umi Salamah (Diang Gunung) binti Dayak Bumbuyanin bin
Dayak Ulang maka ber -Islam -lah Orang-orang Dayak Hulu Banyu Kec. Loksado di
akhir abad ke-18 Masihi.
Dayak Ulang sudah mengenal
Islam dengan baik, dia adalah adik kandung Dayak Muhammad Langara yang belum
muslim/ belum menerima hidayah Islam. Kemudian namanya diabadikan oleh
masyarakat setempat / dzuriat anak cucunya menjadi nama kampung atau nama desa,
maka bernamalah lokasi tempat kediamannya menjadi desa Ulang. Dia adalah
seorang Dayak yang melahirkan suku Dayak Ulang di desa Ulang. Dan sebagian
desa-desa sekitarnya menjadi muslim seperti kampung Tariban dan kampung Hutap,
tetapi untuk desa Ulang sendiri tahun 1970 an sudah dimasuki Agama Kristen.
Habib Alwi bin Abdillah w.1842M bermakam di Martapura dan Habib Abubakar ats-Tsani w.1902M bin Ahmad Suhuf bermakam di Lumpangi, keduanya adalah buyut dari Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf (Abu Bakar alias Datu Habib Lumpangi w.1759M). Berarti kedua habib ini bersaudara sepupu Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Abu Bakar Assegaf dan Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Jamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.
II. Sekilas Keterangan asal Usul "Syarif atau Habib yang ber- FAM / Marga Assaqqaf"
Aal-ALSAQQAF آل السقاف (dibaca Assegaf/al Seggaf). Yang pertama kali digelari al-saqqaf ialah waliyullah al-Muqaddam al-Tsani al-Imam Abdurahman bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Gelar yang disandang karena beliau sebagai pengayom para wali pada zamannya agar terhindar dari perkara bid’ah. Para ulama ahli hakikat dan para wali yang bijaksana menamakan beliau ‘al-Saqqaf’, karena beliau menutup hal keadaannya dari penduduk di zamannya. Beliau sangat benci dengan kesohoran. Ketinggian derajat beliau dari para wali di zamannya bagaikan kedudukan atap bagi rumah. Beliau dilahirkan di kota Tarim, dikarunia 13 anak lelaki, dan 7 orang meneruskan keturunannya: Abu Bakar As-Sakran, Alwi, Ali, Aqil, Abdullah, Husain dan Ibrahim. Waliyullah Abdurahman Al-saqqaf wafat di Tarim tahun 819 H (Afandi 2008).
Adapun ke-7 orang anak laki-laki yang meneruskan keturunan Waliyullah Abdurahman Al-saqqaf adalah : Abu Bakar As-Sakran, Alwi, Ali, Aqil, Abdullah, Husain dan Ibrahim, mareka masing-masing mempunyai marga / fam :
1a.. Keturunan Abdullah bin Abu Bakar As-Sakran,
- Alaydrus :
- Al Husein
- Al Alwi
- Al Syaikh
1b.. Keturunan Ali bin Abu Bakar As-Sakran, mereka
- Al Wahath
- Al Musyayyakh
- Al Umar Faqih
- Al bin Ahsan (Banahsan)
- Al Masyhur
- Al Zahir
- Al Hadi
- Al Syahabuddin
1c..Keturunan Ahmad bin Abu Bakar As-Sakran, mereka
- Assegaf Ali bin Abdullah
- Al Musawwa
- Al Munawwar
- Al Quthban
2.Keturunan Alwi bin Abdurrahman Assegaf, mereka
- Assegaf Al Qaisiyah
- Assegaf Al Fargas
- Assegaf Al Tuainah
- Assegaf Al Bahaliqah
- Assegaf Al Muallim
- Assegaf Al Ahmad
3. Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf
Menurut Artikel Buku Saku Marga Alawiyyin bahwa Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf yang bermarga /fam
- Assegaf Al Thaha bin Umar
- Assegaf Al Usman
- Assegaf Ash-Shaafy
4. Keturunan Aqil bin Abdurrahman Assegaf,
- Assegaf Ba Aqil
5.Keturunan Abdullah bin Abdurrahman Assegaf,
- Al bin Ibrahim
- Al Fakhir
- Al bin Aqil
- Al bin Syaikhan Lisik
- Al Ubbad
- Al Salim Mahjub
- Bin Syaikh Abu Bakar bin Salim
- Alalatas
6.Keturunan Ibrahim bin Abdurrahman Assegaf,
- Al Baiti
- Assegaf bin Ibrahim
- Assegaf Al Ismail Karisah
7.Keturunan Husain bin Abdurrahman Assegaf,
- .... Al Husaini.....
Beliau waliyullah al-Faqih al-Muqaddam al-Tsani al-Imam Abdurahman bin Muhammad Maula Dawilah hidup dari tahun 1338-1416M / 739-819 H. Dari ke 13 anak lelaki ini dzuriat Rasulullah Saw yang bermarga As Seggaf telah menyebar ke pelusuk negeri , salah satunya ke negara Asia Tenggara yakni Indonesia, diantaranya ke pulau Jawa pada masa Kesultanan Demak untuk mengembangkan Syari’at Islam dari Datu Moyang mereka. Masa Kesultanan Banjar mengalami keemasan maka Gantung siwur dan Cicip moning yakni genarasi/ keturunan ke-7 dan ke-8 Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurahman Al-saqqaf adalah Habib Hasan bin Hasyim beserta adik kandungnya Habib Idrus Assegaf dan anaknya Habib Abu Bakar bin Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufi Asseggaf. Habaib inilah menurunkan Habaib yang ber MARGA atau FAM (Family-Keluarga) Assegaf ash-Shaafy masuk ke Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan dan menatap beberapa tahun. Dikota ini Habib Idrus dan Habib Abu Bakar menikahi wanita shalihah dari suku Banjar. Diperkirakan Habaib ini telah menyeberang dan masuk kedaerah Bandarmasih pada akhir abad ke-17M.
III. Sekilas Sejarah Kerajaan Dayak Maanyan "Nansarunai" di Kalimantan Selatan
Di daerah
selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi
lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan
Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit, yang
diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 Masihi. Kejadian tersebut
mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah
pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada
saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para
pedagang Melayu sekitar tahun 1520M (Suku Dayak).
Kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan tersebut yang berlokasi di Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai. Nansarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Akibat serangan Majapahit itu yang terjadi diakhir abad ke-14 Masihi suku Dayak Maanyan tersebut terdesak dan terpencar, sebagian masuk ke pedalaman-pedalaman hulu sungai.
Menurut Sejarah tradisi lisan suku Dayak bahwa Kerajaan Dayak Maanyan yang bernama Kerajaan Nan Sarunai, pernah berdiri di daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai. "Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Daerah itu berjarak sekira 190 kilometer dari Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sekarang" (Raditya 2018)
IV. Sekilas Sejarah berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" di Kecamatan Loksado
Kurang lebih 150 tahun atau satu setengah abad kemudian setelah kekalahan mereka dari serangan Majapahit di akhir abad ke-14 tahun 1389M sebagian rakyatnya ada yang menyingkir menyelamatkan diri masuk ke pedalaman-pedalaman. Perjalanan mereka satu tahun sekali melangkah atau satu tahun sekali mereka berpindah ketika mereka berladang atau berhuma dari lembah ke lembah atau dari gunung ke gunung atau dari pantai ke seberang sungai, hingga akhirnya sebahagian Generasi ke-4, ke-5 dan ke-6 mereka ada yang sampai berhijerah ke desa Lumpangi. Loksado. Nah di Desa Lumpangi inilah pernah berdiri diperkirakan tahun 1552 pertengahan abad ke-16 sebuah Balai Adat di tepi kali sungai Amandit.
Menurut Ahmad dan Ceritra datu nenek kami
bahwa “Amandit dan saudara sepupunya Kantawan adalah nama dua orang Punggawa Kerajaan Nansarunai dari Dayak
Maanyan yang ditugaskan menyelamatkan Dara Gangsa Tulen Ratu Nansarunai dan keluarganya dari kejaran-kejaran
tentara Majapahit. Punggawa Amandit membawa mereka lewat tanah kelahirannya hingga perjalanan sampai ke-
Desa Peramasan Atas Kab. Banjar. Nah di Desa inilah terdapat sebuah nama bukit
/gunung Panginangan Ratu dan makam Ratunya ada disana.”.
Menurut folklor ceritra datu nenek kami kalau dihitung dari runtuhnya kerajaan Nan Sarunai bahwa diperkirakan generasi ke-8, ke-9 dan ke-10 pancaran Suku Dayak Maanyan mereka sudah lama berdomisili di Desa Lumpangi Loksado, mereka membangun kembali Balai Adat yang perabut bangunan utamanya dari kayu Ulin. Kayu Ulin tersebut ditebang dan diolah (ditarah) dengan kapak Baliung atau Balayung. Peralatan lainnya seperti parang.Bungkul, Mandau untuk mengkayau /perang, tumbak dan Sumpit untuk berburu binatang liar. Kayu-kayu tersebut diambil dan dibawa dari Hulu Banyu Loksado dengan rakit bambu /lanting. Balai Adat itu dikenal oleh masyarkat desa Lumpangi dengan nama rumah adat "Balai Ulin".
Pada pertengahan abad ke-17 Masihi Balai Adat "Balai Ulin" Lumpangi Loksado direhap total oleh Regenerasi suku Dayak. Sekitar tahun 1700 Masihi akhir abad ke-17 Balai Adat tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Suku Dayak atau Tetuha atau Penghulu Adat bernama Langara, ia punya adik kandung bernama Ulang. Dayak Ulang ini punya anak bernama Bumbuyanin dan Bayumbung, sedangkan Datu Dayak Langara menurut sumber data punya 3 anak pertama bernama Talib (alias Datu Hamanau atau Utuh Langara) dan kedua bernama Anjah (alias Datu Panimpulungan Panglima Sanggara) dan ketiga bernama Aluh Milah.(alias Siti Jamilah) kedua kakaknya inilah yang menjadi saksi saat pernikahanya dengan Habib.
Dari tahun 1552 - 1705 M yaitu sekitar 150 tahun atau satu setengah abad usia keberadaan Balai Adat "Balai Ulin" Lumpangi dapat bertahan. Kemudian seiring waktu setelah Penghuni Balai Adat "Balai Ulin" banyak yang menerima hidayah Islam lewat Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf, Balai Adat Balai Ulin bubar awal abad ke-18 tahun 1722M maka Balai Ulin Desa Lumpangi mulai ditinggalkan oleh Suku Dayak yang belum menerima hidayah Islam, walaupun mereka sudah mengenal Islam dengan baik hingga bertahun-tahun. Kemudian Balai Adat tersebut dipindah dicabut-diangkut atau dibawa ke Pantai Dusin Hulu Banyu Loksado oleh Dayak Bumbuyanin bin Ulang ketika awal membuat permukiman dayak disana.
Adapun agama atau kepercayaan orang Dayak
Lumpangi yang
mereka anut saat itu adalah
"KAHARINGAN"
yakni kepercayaan terhadap kekuatan roh-roh nenek moyang mereka, oleh karenanya
dikenal dengan Dayak Kaharingan. Kepercayaan yang mereka anut
itu dikenal oleh masyarakat Hulu Sungai Selatan dengan sebutan Balian atau Babalian.
"Kaharingan dan suku
Dayak di Kalimantan adalah satu kesatuan yang tak dipisahkan. Menurut orang
Dayak, agama Kaharingan telah ada sejak awal penciptaan. Sejak Ranying Hatalla
Langit (Tuhan Yang Maha Esa) menciptakan alam semesta. Bagi mereka,
Kaharingan sudah ada beribu-ribu tahun sebelum masuknya Hindu, Budha, Islam dan
Kristen. Istilah Kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah
danum kaharingan (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan yang
hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di
Kalimantan"(Eko 2014)
V. Rakam Jejak Perjalanan Habib Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman Assegaf ke Nusantara (ia berkunjung ke Bandarmasih)
Sebelumnya sekitar tahun 1298 M akhir abad
ke-13M hingga tahun 1367M di abad ke-14M kita dapat mengenal sejarah Abdullah
bin Mas’ud al-Jawi, dari Nusntara yang menjadi Guru / Syaikh dari Imam Abu
Abdullah Muhammad bin As’ad al-Yafi’i (1298-1367M), seorang ulama sufi terkemuka
pada masanya sebagaimana ditulis sendiri
oleh sang faqih-sufi Syeikh
Yusuf bin Isma’il an-Nabhanî.
Seorang ulama besar yang hidup di abad ke-13 Maasihi di era keemasan Kerajaan Majapahit yang berlangsung sekitar 8 abad yang lalu. Saat itu, Kerajaan Islam Samudera Pasai yang berada di pantai utara Aceh mengalami pertumbuhannya yang sangat cepat-pesat, sehingga membuat seorang pelancong atau tamu dari Maghribi bernama Ibnu Bathuthah yang sedang dalam perjalanan menuju Cina sangat tertarik untuk singgah di kerajaan tersebut. Beliau menyebut Kerajaan Pasai, yang dikenal sebagai ”Kerajaan Jawa”, sebagai sebuah negara Islam yang aman dan makmur penduduknya.
Di abad ke-13 Masihi, di masa itu hiduplah seorang ulama besar dan sufi terkenal, tidak hanya di wilayah Nusantara, tetapi juga di kawasan Timur Tengah dan dunia Islam lain. Beliau bernama Abu Abdullah Mas’ud bin Abdullah al-Jawi, yang jelas menunjukkan bahwa beliau adalah seorang berkebangsaan Malayu Nusantara (Orang Melayu). Sayangnya, sumber sejarah tentang eksistensi tokoh ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab Melayu atau sumber sejarah lain, seperti berita dari Cina, prasasti, dan lain-lain.
Namun, sumber tentang adanya ulama besar ahli tasawuf tersebut
ditemukan dalam kitab”Jâmi’ Karâmatil Aulia” yang dikarang oleh seorang ulama
besar Palestina bernama Syeikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhanî pada tahun 1350 H.
Dalam kitab tersebut, Syeikh Yusuf menjelaskan tentang ulama besar bernama
Syeikh Abu’Abdullah Mas’ud al-Jawi yang hidup di Aden (Hadramaut), Arab
Selatan. Kata ”al-Jawi” menunjukkan bahwa dia adalah orang Jawa (Melayu)
seperti yang disebutkan oleh orang Arab terhadap orang Melayu yang tinggal di
Mekah. Mungkin ini berasal dari nama yang diberikan oleh Ibnu Bathuthah untuk
Nusantara,”Negeri Jawa”. Tempat asal Mas\’ud al-Jawi, apakah dari Jawa,
Sumatera, atau Malaya tidak diketahui. Tidak ada informasi tentang kelahiran
beliau, keluarganya, atau masa kecilnya. Meskipun demikian, dapat dipastikan
bahwa Mas’ud al-Jawi adalah seorang ulama Melayu yang berasal dari wilayah
Nusantara.
Menurut penelitian Syaikh Syamsul Afandi tentang nasab dzuriat Nabi Muhammad Saw dalam kitab biografi "Ulama Terkemuka Dunia dan Nasional" bahwa Habib Abdurahman al-Mualim adalah ayahnya waliyullah Umar al-Shafi. Aal AL-SHAAFI AL-SAQQAF Mereka adalah keturunan waliyullah Umar al-Shafi bin Abdurahman al-Mualim bin Muhammad bin Ali bin Abdurahman al-Saqqaf. Sedangkan yang punya marga/ fam/ nama al-Mualim “ …………al-Mualim” menurut Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin, mereka adalah Keturunan Alwi bin Abdurrahman Assegaf
Menurut Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh, terjemah
Dzija Shahab, Almaktab-Al Daimi bahwa “Orang Arab dikenal sebagai orang yang suka berpetualang menjelajahi sepanjang lautan sebelum dan sesudah berkembangnya Islam, kedatangan orang Arab di Indonesia makin jelas setelah agama
Islam lahir (abad VII M). Pada masa ini mereka sedang mengemban dua tugas yaitu
berniaga dan menyiarkan agama Islam. Jauh sebelum Belanda datang pertama kali ke Nusantara tahun (1596) Masihi, sudah ada orang Arab yang datang dari
Hadramaut ke
Jawa
termasuk ke Jakarta" (Sejarahahlulbait 2014)
Sejak awal abad ke-16M tersebut yakni mulai 24 September 1526M, Kerajaan Banjar berubah menjadi Kesultanan Banjar, Agama resmi kerajaan yang dulunya Agama Hindu berubah menjadi Agama Islam. Pengeran Samudera setelah masuk Islam menjadi atau bergelar Pengeran Suriansyah. Nama kotanya yang dulunya Bandarmasih menjadi Banjarmasin sekarang.
Sepuluh tahun kemudian di abad yang sama adalah Awal Perjalanan panjang Habib Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly Assegaf ke Nusantara masa Kesultanan Banjar dimasa pemerintahan Islam sultan Suriansyah, Menurut sumber data bahwa “Habib asal Hadramaut yang datang pertama kali berkunjung ke Bandarmasih tujuannya berdagang “Permadani, Hambal dan Sajadah” dan mencari rempah-rempah diperkirakan awal abad ke-16M yakni tahun 1536 Masihi, ia adalah orang tua Umar Ash-Shoufy yakni “Habib Abdurrahman” bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman Assegaf. Beliau sempat nginap di Sungai Mesa Bandarmasih dan ia tidak lama menetap di kota ini kemudian balik lagi ke Kesultanan Demak. Beliau berasal dari Seiyun Hadramaut (juga ditransliterasikan sebagai Saywun, Sayoun atau Say'un;
Beliau Datuknya dari (Datu Habib Lumpangi) adalah salah satu
dzuriat keturunan Syekh dan Imam Sayyid Abdurrahman bin Habib Muhammad Maula
Dawilah berasal dari Hadramaut Yaman, ia singgah menetap atau berdomisili yang
lama di Kesultanan Demak Jawa Tengah sehingga beliau bersikaf dengan adat Jawa,
lembut dan sopan dan juga sangat pasih berbahasa Malayu Indonesia. Fam/marga
beliau As-Saqqaf, akan tetapi orang-orang Arab menyubutkan kata as-Saqqaf
sulit/tidak bisa, maka disebutkan dengan lisan Arab adalah as-Seggaf. Orang
Indonesia menulisnya "Assegaf".
VI. Keluarga/ Aal-ALSAQQAF dari golongan habaib yang pertama kali datang dan menetap di Lumpangi Loksado
Menurut Sejarah
Perkembangan Islam di Timur Jauh, terjemah Dzija Shahab, Almaktab-AlDaimi bahwa
“Orang Arab dikenal sebagai orang yang suka berpetualang menjelajahi sepanjang
lautan sebelum dan sesudah berkembangnya Islam, kedatangan orang Arab di Indonesia
makin jelas setelah agama Islam lahir (abad VII M). Pada masa ini mereka sedang
mengemban dua tugas yaitu berniaga dan menyiarkan agama Islam. Jauh sebelum
Belanda datang pertama kali ke Nusantara tahun (1596) Masihi, sudah ada orang
Arab yang datang dari Hadramaut ke Jawa termasuk ke Jakarta" (Sejarahahlulbait 2014).
Menurut peneliti pakar sejarah
Koestoro bahwa “pada pertengahan abad ke-16 Masihi, telah muncul Jung Banjar, sebuah Perahu (layar
besar orisinal Nusantara dari Kesultanan Banjar yang popular) yang
digunakan untuk angkutan transportasi
sungai-laut antar pulau. Pada abad ke-16 Masihi
dari tahun 1501 sd. 1600 M, sekitar akhir abad ke-16 Masihi yakni tahun 1596 M
kapal “Jung Banjar”, jenis perahu ini pernah dicegat dan dirampas Cornelis de Houtman orang
Belanda ketika Perahu itu sedang beroperasi melintas diperairan luar Teluk
Banten, Jawa Tengah.
Sebelumnya ayahandanya Habib Umar Ash-Shufy bernama Habib Abdurrahman bin Muhammad Assegaf telah melakukan perjalanan panjang ke Nusantara di abad ke-16 tahun 1536 M. awal abad kerajaan Islam Banjar berdiri dengan Raja Pengiran Suriansyah, dan ketika berkunjung ke Bandarmasih, Beliau singgah beberapa wakku di Kampung Sungai Mesa. Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Aly Assegaf tersebut hidup antara pertengahan akhir abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-16 Masihi.
Menurut Artikel “Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi Sadah Aal Ba Alawy Aal Muhammad” ditulis oleh Al Habib Aidarus Almashoor bahwa Habib Aly bin Sayyid Abdurrahman Assegaf wafat 840H/1437M di Tarim Hadramaut. Beliau mempunyai 3 orang anak laki-laki an.
- Abdurrahman (keturunannya terputus)
- Ahmad
- Muhammad
Kemudian Muhammad mempunyai 2 orang anak/ keturunan an.
- Abdullah dan keturunannya di Mukalla Yaman
- Abdurrahman
Kemudian Abdurrahman mempunyai keturunan atau anak laki-laki atas nama :
- Aly dan Beliau ini kakeknya Keluarga As- Saqraan di Tarim dan Zili
- Umar ash-Shaafy atau Umar ash-Shoufy
Lalu Umar ash-Shaafy atau Umar ash-Shoufy tersebut Beliau punya anak /keturunan atas nama : Muhammad dan Toha. Lalu Keluarga Muhammad bin Umar ash Shafy Assegaf tersebut tersebar sekarang di Tarim, India, Siak, Kalimantan dan Jawa. Sedangkan menurut silsilah nasabnya bahwa "Muhammad bin Umar as-shufy Assegaf" punya anak an. Hasyim. Hasyim punya anak an. Hasan dan Idrus. Hasan punya anak Abu Bakar dan Abu Bakar punya 4-5 isteri dan punya 9 anak laki-laki,,
Menurut kitab biografi "Ulama Terkemuka Dunia dan Nasional" yang ditulis oleh Syamsul Afandi bahwa Aal AL-SHAAFI AL-SAQQAF. Mereka adalah keturunan waliyullah Umar al-Shaafi bin Abdurahman al-Mualim bin Muhammad bin Ali bin Abdurahman al-Saqqaf.
Pemberian gelar al-Shoufi karena beliau mempunyai kejernihan hati dan pikiran, kebersihan perasaan, kelembutan tabiat. Waliyullah Umar al-Shaafi wafat di kota Tarim
Pada awal
abad ke-18M yang pertama kali datang berkunjung dan menetap di Lumpangi Loksado dari golongan habib/ syarif adalah (keluarga) Aal-ALSAQQAF
آل السقاف (dibaca Assegaf/al Seggaf), yaitu Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim. “Yang pertama kali digelari al-saqqaf ialah
waliyullah al-Muqaddam al-Tsani al-Imam Abdurahman bin Muhammad Maula Dawilah
bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam (Afandi 2008).”
Menurut ceritra Datu-datu kami bahwa Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf sudah datang, dan berada di Lumpangi jauh sebelum Belanda datang ke Kesultanan Banjar. Islam masuk ke Taniran lewat Sayyid Hasan terus ke Lumpangi Loksado dibawa Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf masa Kesultanan Banjar, diakhir abad ke-17 Masihi yaitu masa Raja Banjar yang ke-10 Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Masihi. Tetapi Habib Abu Bakar Assegaf melakukan dakwah berada di Balai Ulin sezaman dengan masa pemerintahan Sultan Tahmidullah I hingga pertengan abad 18 M. Masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I yang berlokasi kota di Martapura (nama dulu "Kayu Tangi") Belanda belum menjajah Kesultanan Banjar yakni tahun 1734-1759M.
VII. Rakam Jejak Perjalanan Habib Hasyim bin Muhammad Assegaf dan Keluarganya
dari Seiyun Hadramaut Yordania ke Nusantara.
Kelurahan Randusari Kec. Semarang Selatan
Wilayah Randusari (yang kini
dikenal sebagai kelurahan di Semarang Selatan) pada masa Kesultanan Demak.
Sultan Demak pernah memerintahkan Sayyid Ki Ageng Pandanaran (ia sdr.kandung
Sunan Giri /Raden Ainul Yaqin), untuk membuka lahan dan menyebarkan ajaran
Islam di daerah pesisir yang saat itu bernama Pragota (cikal bakal wilayah
Bergota di Randusari, Semarang). Sayyid Ki Ageng Pandanaran diangkat menjadi
bupati atau pemimpin pertama di wilayah Semarang dan sekitarnya di bawah
naungan kekuasaan Kesultanan Demak.
Orang tua Sayyid Ki Ageng
Pandan Arang bernama : Sayyid
Maulana Ishaq (ayah) bin Jamaluddin al-Husaini bin Jalaluddin Khan, Siti Zainab
(Ibu) dan Istrinya Putri Adipati Pasuruan,
Keturunan : ~ Siti Umi Kamsum, ~ Kalkum Pekalongan, ~ Abdullah Kendal
dan ~ Abdurrahman Kaliwungu.
Sayyid Ki Ageng Pandan Arang
(disebut juga Pandanaran, Pandanaran I) adalah bupati pertama Semarang, yang
diangkat oleh Sultan Demak Bintara. Konon nama Semarang diberikan olehnya, karena
di tempat ia tinggal ditumbuhi oleh pohon asam yang jarang-jarang (bahasa Jawa:
asem arang). Ki Ageng Pandan Arang juga dikenal sebagai tokoh penyebaran Islam
di daerah tersebut. Meskipun sezaman dengan para Wali Sango, ia tidak termasuk
di dalamnya. Sayyid Ki Ageng Pandan Arang wafat, dimakamkan di Mugassari,
Semarang Selatan, Semarang.
Menurut Artikel yang saya
baca bahwa : “Kerajaan Demak mengusahakan kerja sama dengan penguasa
pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa yang telah menganut Islam. Pelabuhan
Gresik adalah salah satu pelabuhan dagang strategis di pesisir utara Jawa yang
berada di bawah pengaruh dan jaringan maritim Kesultanan Demak pada abad ke-15
hingga ke-16 M. Kerajaan Demak memiliki Darmaga-darmaga pelabuhan-pelabuhan
perahu/ kapal layar penting, seperti darmaga Jepara, darmaga Tuban, darmaga
Sedayu, dan darmaga Gresik.
Keberadaan Darmaga Pelauhan
Jepara Semarang
Menurut Makalah “Ekspansi
Jepara Abad XVI dan Potensinya sebagai Suplemen Materi Pembelajaran Sejarah, dijelaskan
pada bab Pendahuluannya bahwa Jepara, sebuah kota kecil di pesisir Pantai Utara
Jawa, pada masa Kerajaan Demak berperan sebagai Pelabuhan militer dan Pelabuhan
dagang. Oleh karena itu, Jepara dijadikan wilayah galangan kapal oleh para
pedagang dari luar, yang kemudian bermukim di Pesisir Pantai Jepara. Nama
"Jepara" berasal dari “Jung Para”, yang berarti tempat kapal besar
berlabuh atau singgahnya pedagang. Kala itu, Jepara menjadi pelabuhan besar
dengan lokasi yang aman, dikelilingi oleh beberapa wilayah dan pulau sekitarnya,
dan dianggap sebagai salah satu kota tertua di Jawa Tengah.
Sejarah menyebutkan bahwa “Salah satu keturunan Nabi Muhammad Saw yakni Habib Hasyim bersama keluarganya dilaporkan melalui perjalanan panjang mereka bertolak dari Seiyun Hadramaut menuju ke pelabuhan Turki terus menuju Asia Tenggara lewat Singapora menuju ke pelabuhan Palembang terus menuju ke pelabuhan Gresik hingga tiba dipasca Kesultanan Demak Jawa Tengah.
Islam mengalami puncak keemasan atau kejayaan di Nusantara di masa Kesultanan Demak di Abad ke-15 sd. abad ke-16 Masihi di Jawa Tengah. Habib Hasyim bersama keluarganya datang ke Nusantara diakhir Abad ke-17 Masihi dan menetap lama di Kel. Randusari, Kec. Semarang Selatan, Kota Semarang Prov. Jawa Tengah.
Adapun Habib Hasyim bin Muhammad Assegaf diperkirakan hidup abad ke-17 Masihi. Abad ke-17 dihitung dari tahun 1601-1700 Masihi. Ia dengan kedua anaknya (Hasan & Idrus kecil) dan cucunya Habib Abu Bakar mereka datang dari Seiyun Hadramaut, Negeri Yaman atau Yordania.
Sayyid Abu Bakar adalah nama yang diberikan orang tuanya, ia
lahir diperkirakan tahun 1068H/1658M di
Seiyun Hadramaut. Setelah dewasa ia menikah dengan perempuan shalihah di kota
kelahirannya, dan punya anak diberi nama “Shalih” (Ahmad Shalih). Kemudian sa’at
itu Sayyid Hasyim dan Sayyid Hasan anaknya pergi berpetualang ke Asia Tenggara,
Sayyid Abu Bakar ikut juga berpetualang berdagang dan mencari rempah-rempah
bersama ayahnya Sayyid Hasan dan kakeknya Sayyid Hasyim. Perjalanan panjang
mereka ke Asia hingga Asia Tenggara, mereka berangkat mulai kota tanah kelahirannya
Seiyun Hadramaut, ke Turki, terus melalui Singapore ke Aceh terus ke Pelembang,
hingga tiba ditempat tujuan pesisir
utara Jawa yakni Pelabuhan Gresik, Demak Jawa Tengah di diakhir abad ke-17 antara
tahun 1684 sd. 1690M.
Setelah singgah dan menetap atau
berdomisili yang lama di Darmaga Pelabuhan Gresik, mereka belajar ttg. Bahasa,
Adat-istiadat /budaya Malayu dan Jawa sehingga mereka bersikaf/ terbiasa dengan
adat Malayu dan Jawa, lembut dan sopan dan juga sangat pasih berbahasa Malayu
Indonesia, khususnya Sayyid Hasan dan Abu Bakar pasih berbahasa Melayu dan
Jawa, di provinsi kota inilah kakeknya Habib Hasyim wafat sekitaran tahun. (1686M/ Ramadhan.1097H)
dan bermakam, begitu juga kalek Habib Idrus Assegaf sa’at datang menziarahi
ayahnya sayyid Hasyim dikota ini, ia jatuh sakit, mungkin karena kelelahan,
badannya terus melemah hingga wafat dan makamnya berdampingan dengan ayahnya
dikota ini, tepatnya Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, kota Semarang
Jawa Tengah.
Kalau kita analisa antara Habib Idrus dan Abu Bakar keponakanya maka lebih tua Habib Abu Bakar, salah satu alasannya ketika mereka hijerah ke Nusantara, Abu Bakar sudah punya isteri dan anak an.Shalih atau (Ahmad Shalih) sedangkan Idrus (lhr.1674M) setelah dewasa ia menikah dengan wanita shalihah dan punya anak an.Aly ketika ia berada di Sungai Mesa Bardarmasih dan Keluarga Habib Hasyim ini, mereka berkhidmad dan menetap tinggal di kota Semarang ini pasca Kesultanan Demak.
Penulis belum menemukan keterangan Habaib lain atau Artikel-artikel yang ditulis ttg pernikahan Habib di kota ini, masa ia menetap pasca Kesultanan Demak di Jawa Tengah, Tetapi secara normal tidak menutup kemungkinan Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf menikah lagi dengan wanita salihah di kota itu, sebab dikatakan bahwa ia cukup lama tinggal menetap bersama kakeknya Habib Hasyim di Kel. Randusri Kec. Semarang Selatan di sekitar abad ke-17 Masihi.
Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih
adalah Buyut pertama dari Habib Abu
Bakar bin Hasan Asseggaf Lumpangi yang menyusul dan mengikuti jejaknya ke
Nusantara untuk meneruskan - menyempaikan Misi Dakwah Islam dari pendahulunya.
Sekitar pada Agustus 2023
Masihi Penulis baru menemukan Nasab silsilah Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih
bin Habib Abu Bakar Assegaf dan keturunannya yang bermula dicatat dari Habib
Abdul Qadir al Jailani :
الْحَبِيْب عَبْدُ القَدِيْر الْجَيْلَانِيِّ بِنْ عَلْوِىْ بِن زَيْنْ بِنْ عَلِيٍّ بِنْ عَلْوِىْ بِنْ عَبْدِاللهِ بِنْ صَالِح بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه
Salah satu pendatang Hadramaut yang disebut-sebut pernah bermukim
di wilayah ini adalah Habib Alwi
bin Abdillah
Assegaf (wafat tahun 1842-) (Artikel Kajian al Kahfi)
Menurut Artikel Sejarah Ahlul Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad
Saw di Indonesia menyebutkan bahwa “Seorang dari keluarga Assegaf bernama Alwi
(w.1842M) bin
Abdillah bin Saleh bin Abubakar dilaporkan melalui perjalanan panjang dari
Hadramaut-Turki-Palembang-Gresik sebelum menyinggahi Banjarmasin dan sempat
bermukim di Kampung
Sungai Mesa. Alwi kemudian
menetap di Martapura (Kampung Melayu) dan mendapat hadiah tanah dari Sultan
Adam di daerah Karang Putih. Kelak ia dan anak cucunya bermakam di tanah
pemberian sultan tersebut (makam Karang Putih Jl Menteri Empat Martapura) ”( Artikel
Fakhrul 04-2012M)
Dan hingga akhirnya Habib Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy dengan kedua anaknya Habib Hasan dan Idrus Assegaf berada di Kelurahan Randusari, di kota ini mereka mempelajari sungguh-sungguh Bahasa setempat hingga mereka paham dan pandai berbahasa loghat Malayu dan loghat Bahasa Jawa. Tujuan utamanya disamping berdagang dan untuk mempermudah menyampai Misi Dakwah Islam dari moyang mereka. Habib Hasyim dan Idrus anaknya ini keduanya wafat di kota ini Habib Hasyim wafat diperkirakan tahun 1686M/ 18 Ramadhan 1097H, dan sekarang keduanya bermakam berlokasi Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, Kota Semarang Jawa Tengah. Habib Hasyim ia adalah orang tuanya Habib Hasan, dan Habib Hasan yang wafat diperkirakan tahun 1720M dan makamnya berkubah di Taniran, Kec. Angkinang Kab. Hulu Sungai Selatan, Prov. Kalimantan Selatan.
Habib Hasan bersama keluarganya dan adiknya Habib Idrus berhijerah dari Randusari Semarang dan tiba di Bandarmasih dan mereka menetap lama dipelabuhan kapal Kampung Sungai Mesa Bandarmasih
Sejak awal abad ke-16M tersebut yakni mulai 24 September 1526M, Kerajaan Banjar berubah menjadi Kesultanan Banjar, Agama resmi kerajaan yang dulunya Hindu berubah menjadi Agama Islan. Pengeran Samudera setelah masuk Islam menjadi atau bergelar Pengeran Suriansyah. Nama kotanya yang dulunya Bandarmasih menjadi Banjarmasin sekarang.
Ada yang mengatakan bahwa Islam mulai masuk ke Kalimantan Selatan abad ke 15M sampai abad ke 18M. Pada Abad ke-17M sampai ke-18M adalah masa puncaknya perkembangan agama Islam di Kalimantan Selatan dan masa keemasan Kerajaan Banjar. Adapun puncak keemasan Kerajaan Banjar dan perkembangan Islam ditandai datangnya syekh-syekh / Habaib ke Banjar
Setelah Kerajaan Banjar memperoleh kemenangan melawan Kerajaan Daha. Inilah salah satu alasan Kesultanan Demak mengirim dan mengutus Para Habaib dan Syekh-syekh Islam secara resmi datang ke Kesultanan Banjar, dan diakhir abad ke-17 Masihi yaitu masa Raja Banjar yang ke-10 Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Masihi, diantaranya Habib Hasan dan anak kandungnya Habib Abu Bakar Assegaf menetap di kampung Sungai Mesa Bandarmasih. Sedangkan di awal Abad ke-18M.Sayyid Abdullah bin Abu Bakar al-Aydrus dengan isterinya Siti Aminah datang ke Kasultanan Banjar menuju Desa Lok Gabang Martapura (mereka orang tua Datu Kelampayan). Datu Kelampayan alias Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710M, di awal Abad ke-18M dan ia mempuyai 4 orang adik kadungnya yaitu ; ’Abidin, Zainal abidin, Nurmein, dan Nurul Amein.
Sungai Mesa merupakan sebuah kampung tua di Kota Banjarmasin (Bandarmasih dahulu). Kampung ini dibangun oleh seorang tokoh yang dikenal dengan nama Kiai Mesa Jaladri. Tidak diketahui persis, kapan Kiai Mesa membangun wilayah ini, yang jelas sejak itu Kampung Sungai Mesa menjadi wilayah tempat tinggal yang strategis. Letaknya yang persis di tepi sungai Martapura, membuat daerah ini menjadi semacam pelabuhan kecil tempat menaik-turunkan barang dagangan dari perahu. Di seberang Sungai Mesa adalah Jalan Pasar Lama Laut yang sekarang menjadi pusat perkantoran pemerintah Provinsi Kalsel” (Artikel Kajian al Kahfi)
Habib Hasan bersama keluarganya menetap di kampung pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih tak menutup kemungkinan Habib Abu Bakar bin Hasan menikah lagi dengan wanita salihah dan punya satu atau dua isteri dan punya satu atau dua anak khususnya di kampung pelabuhan Sungai Mesa tersebut, Orang-orang Banjar menyebut kampung tersebut dengan sebutan "Kampung Arab". Kemudian isteri dan anakya, ia tinggalkan berniaga, sebelum ia sampai ke Desa Lumpangi. tetapi Penulis belum menemukan orang yang ngaku dzuriatnya berdasarka silsilah nasabnya.
Setelah lama menetap di Bandarmasih Habib Hasan bersama keluarganya berhijerah dari kampung pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih diperkirakan dipertengahan akhir abad ke-17 Masihi mereka mudik menyisir tepi sungai Barito dengan perahu jukung, membawa dagangannya berupa kain sarung dan imitasi perhiasan wanita, setiap ada tumpukan rumah penduduk di tepi sungai yang mereka lalui mereka singgahi, menawarkan dagangan yang mereka bawa. berhari-hari bahkan berminggu-minggu mereka mengayuh jukung, bahkan berbulan-bulan mereka meliwati kampung-kampung, melewati Desa-desa dan kota-kota pelabuhan kapal. Seperti kota pelabuhan Sungai Pinang Nagara mereka singgahi.
VIII. Habib Hasan bersama keluarganya dan adiknya Habib Idrus berhijerah dari Randusari Semarang dan tiba di Bandarmasih dan mereka menetap lama dipelabuhan kapal Kampung Sungai Mesa Bandarmasih
Sejak awal abad
ke-16M tersebut
yakni mulai 24 September 1526M, Kerajaan Banjar
berubah menjadi Kesultanan
Banjar, Agama resmi
kerajaan yang dulunya Hindu berubah menjadi
Agama Islam. Pengeran
Samudera setelah
masuk Islam menjadi atau bergelar Pengeran Suriansyah.
Nama kotanya yang dulunya Bandarmasih
menjadi Banjarmasin
sekarang.
Ada yang mengatakan bahwa Islam mulai masuk ke Kalimantan Selatan abad ke 15M sampai abad ke 18M. Pada Abad ke-17M sampai ke-18M adalah masa puncaknya perkembangan agama Islam di Kalimantan Selatan dan masa keemasan Kerajaan Banjar. Adapun puncak keemasan Kerajaan Banjar dan perkembangan Islam ditandai datangnya syekh-syekh / Habaib ke Banjar.
Setelah Kerajaan Banjar memperoleh kemenangan melawan Kerajaan Daha. Inilah salah satu alasan Kesultanan Demak mengirim dan mengutus Para Habaib dan Syekh-syekh Islam secara resmi datang ke Kesultanan Banjar, dan diakhir abad ke-17 Masihi yaitu masa Raja Banjar yang ke-10 Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Masihi, diperkirakan diantaranya Habib Hasan dan anak kandungnya Habib Abu Bakar Assegaf sudah lama menetap di kampung Sungai Mesa Bandarmasih. Sedangkan Sayyid Abdullah bin Abu Bakar al-Aydrus dengan isterinya Siti Aminah menuju Desa Lok Gabang Martapura Kesultanan Banjar (mereka orang tua Datu Kelampayan). diperkirakan datang awal abad ke-18M..Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al Banjari mempuyai 4 orang adik-adik kadungnya yaitu ; ’Abidin, Zainal Abidin, Nurmein, dan Nurul Amein. Muhammad Arsyad (lahir di Lok Gabang, 17 Maret 1710 M /1122H di awal Abad ke-18M). Usia 27 tahun diperkirakan ia menikahi ma Puan Bajut, dan di tahun itu ia pergi menutut ilmu ke Mekkah dan Madinah selama 35 tahun.
Sungai Mesa merupakan sebuah kampung tua di Kota Banjarmasin (Bandarmasih dahulu). Kampung ini dibangun oleh seorang tokoh yang dikenal dengan nama Kiai Mesa Jaladri. Tidak diketahui persis, kapan Kiai Mesa membangun wilayah ini, yang jelas sejak itu Kampung Sungai Mesa menjadi wilayah tempat tinggal yang strategis. Letaknya yang persis di tepi sungai Martapura, membuat daerah ini menjadi semacam pelabuhan kecil tempat menaik-turunkan barang dagangan dari perahu (kapa)l. Di seberang Sungai Mesa adalah Jalan Pasar Lama Laut yang sekarang menjadi pusat perkantoran pemerintah Provinsi Kalsel” (Artikel Kajian al Kahfi)
Habib Hasan bersama keluarganya menetap di kampung pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih tak menutup kemungkinan Habib Abu Bakar bin Hasan menikah lagi dengan wanita salihah dan punya satu atau dua isteri dan punya satu atau dua anak khususnya di kampung pelabuhan Sungai Mesa tersebut, Orang-orang Banjar menyebut kampung tersebut dengan sebutan "Kampung Arab". Kemudian isteri dan anakya, ia tinggalkan berniaga, sebelum ia sampai ke Hulu Sungai Selatan Desa Lumpangi. tetapi Penulis belum menemukan orang yang ngaku dzuriatnya berdasarka silsilah nasabnya.
Pada
mulanya Habib Hasan
bin Hasyim Assegaf dan beserta anaknya Habib Abu Bakar Assegaf pergi berniaga berlayar menuju Kesultanan
Banjar. Ia berniaga meninggalkan Habib Hasyim ayahnya dan saudara bungsunya an.Habib
Idrus (w.1749M). Mereka sudah menetap lama di Kel. Randusari, Kec. Semarang Selatan, Kota
Semarang. Ia bersama putranya Habib Abu Bakar berangkat dari Bandar (Pelabuhan) Gresik
Kesultanan Demak menuju ke Kesultanan
Banjar dan hingga tiba di Bandar (Pelabuhan) Kampung Sungai
Mesa kota
Bandarmasih.
Dzuriat
Rasulullah SAW tersebut konon berasal dari Seiyun Hadramaut, dan menginjakkan kaki pertama di Bandarmasih (nama kota
lama Kota Banjarmasin) di Kesultanan Banjar. Setelah beberapa waktu menetap berbulan-bulan di
Pelabuhan Kampung Sungai Mesa sambil menghabiskan barang dagangan, dan merekapun
kembali lagi ke Demak menemui Habib Hasyim ayahnya yang tinggalkan bersama anak
bungsunya Habib Idrus.
Perjalanan
mereka yang kesekian kalinya, Habib Idrus (lhr.1674M) bin Hasyim Assegaf baru diikutsertakan bersama saudaranya
Habib Hasan bin Hasyim Assegaf dan Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf keponakannya, mereka
pergi berniaga berlayar dan tiba lagi di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa kota
Bandarmasih, pada kali ini mereka menetap lama dipelabuhan tersebut. Dan diperkirakan
abad ke-18 Masihi awal, Habib Idrus bin Hasyim Assegaf memperistri seorang wanita salehah dari warga Kampung Sungai Mesa yang berlokasi di bandar kota
tersebut, yang kemudian isterinya melahirkan seorang putra bernama Habib
Ali bin Idrus Assegaf. Habib Ali tumbuh besar hingga usia remaja di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa kota
Bandarmasih. Di usia remaja tersebut, Ia ikut bersama keluarganya berhijerah ke
Banua Enam kota Kandangan.
Abad
ke-18 Masihi dihitung dari tahun (1701 sd. 1800) Pada pertengahan abad ke-18
Masihi Habib Idrus bin Hasyim Assegaf bersama keluarganya sudah menetap lama di
Banua Enam dan berda’wah menyempaikan misi Islam di wilayah Kandangan, Sungai
Raya dan desa-desa sekitarnya.
Diperkirakan dzuriat Habib Idrus tersebut tinggal di desa Matang Gadung/Said Kuning dan Telaga
Bidadari Kec. Sungai Raya.
Putra
Habib Idrus yang bernama Habib
Ali Assegaf, ketika usianya sudah lanjut dan sering sakit-sakitan dan
hingga ia wafat diperkirakan awal abad ke-19 Masihi yakni pada tahun 1809M dan ia bermakam di tengah kota Kandangan atau persisnya
di alkah Alawiyah Ashhab Turban Anak Mas di Jalan H.M Rusli. Adapaun salah
seorang putra Habib Ali, yaitu Habib Husain
bin Ali bin Idrus Assegaf bermakam di tengah kantin pasar Kandangan.
Tiga alasan tahun wafatnya Habib Ali bin Iderus bin Hasyim
Assegaf :
Alasan pertama (1) Datu Taniran yakni Syekh H.Sa'duddin bin H.As'ad menetap di Desa Taniran, setelah ia pulang menuntut ilmu dari Mekkah sekitar tahun 1812M. yakni awal abad ke-19M. sedangkan Habib Hasan dan Habib Abu Bakar putranya datang
lebih dulu dan bermukim – menetap
di Desa Taniran
diawal abad ke-18M.
Abad ke-18 dapat dihutung dari tahun 1701 sd. tahun 1800 Masihi.
Alasan Kedua (2). Adanya silsilah nasab Habib Hasan Assegaf itu
sendiri yaitu kelahiran Habib Tanqirr Ghawa di pertengahan abad ke-19M yakni
tercatat Senin, 13 Oktober tahun 1862M/19 Rabi'ul Awwal 1279H di Desa Lumpangi, usia Beliau 126
tahun Hijeriah. Berarti setelah Syekh H.Sa'duddin
bin H.As'ad menetap
di Desa Taniran, 50
tahun berlalu baru Habib Tanqirr lahir. Habib Tanqirr, Beliau adalah keturunan
ke Tujuh dari Habib Hasan bin Hasyim
Assegaf. Jadi ada 7 generasi silsilah, baru sampai ke Habib Hasan Assegaf.
Kalau dirunut dari Habib Tanqirr Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin
Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi)
bin Habib Hasan Assegaf.
Alasan Ketiga (3) Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf tersebut berseberangan langgarnya “Miftahul Jannah” di Desa Taniran Rt.03 sempat hilang (tidak dikenali) baru ditemukan oleh masyarakat Taniran di abad ke-20 Masihi. Abad ke-20 dapat dihutung dari tahun 1901 sd. tahun 2000 Masihi. Karena sangat lamanya Habib Hasan wafat hingga Keluarganya dan masyarakat sekitarnya sudah banyak yang melupakannya.
Habib ini tinggal di Bandarmasih berada dilingkungan orang yang sudah Agamis, profisi berniaga dagang kain dan perhiasan wanita. Untuk menghidupi keluarganya sehar-hari ia berniaga menawarkan dan menjual dagangannya dengan misi Islamnya kesekitar penduduk yang berada ditepi sungai Barito, tepi sungai Alalak aliran sungai Gampa dan tepi sungai Marabhan dan.daerah sekitarnya. Tetapi di daerah kota ini tujuan utamanya misi berdakwahnya belum tersampaikan dengan maksimal.
Penulis belum dapatkan keterangan yang jelas ttg pernikahan Habib sebelum kedatangan Buyut pertamanya Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih ke Nusantara sekitar abad ke-19 Masihi. Tetapi sebelum itu tidak menutup kemungkinan Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf menikah lagi dengan wanita salihah di kampung Sungai Mesa. Sebab keberadaannya cukup lama tinggal menetap di Kampung Sungai Mesa Bandarmasih di sekitar akhir abad ke-17 Masihi.
Abad
ke-17 dihitung dari
tahun 1601 sd. tahun 1700. Sedangkan Abad ke-18 dihitung dari tahun 1701 sd. tahun 1800. Jadi Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf diperkirakan lahir antara tahun 1725-1740 Masihi atau Ahmad
diperkirakan lahir di paruh kedua pertengahan tahun 1800-an.
Menurut salah satu
Artikel yang pernah saya baca mengindikasikan Habib Abu
Bakar bin Hasan Assegaf memang menikah dan punya anak, dan keturunannya tersebut bahwa “Orang Pemukim
lama (tua) yang tinggal di Sungai Mesa Bandarmasih dari golongan sayyid-habib yang ber- Marga-Fam Assegaf adalah Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, dialah (Abdurrahman) keturunan (anak) Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
Menurut Artikel Kajian
al Kahfi bahwa “Pemukim
dari golongan sayyid yang terhitung orang lama (tua) di Sungai Mesa adalah
Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf. Ahmad diperkirakan lahir di paruh kedua
pertengahan tahun 1800-an. Ahmad
memiliki saudara bernama Umar,
Muhdor dan Muhammad. “Pekerjaan
Habib Ahmad berdagang kayu ulin, juga membawa tajau, belanga berdagang dengan
urang Dayak,” cerita Syarifah Nikmah.
Setelah lama menetap di Bandarmasih Habib Hasan bersama keluarganya berhijerah dari kampung pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih diperkirakan dipertengahan akhir abad ke-17 Masihi mereka mudik menyisir tepi sungai Barito dengan perahu jukung, membawa dagangannya berupa kain sarung dan imitasi perhiasan wanita, setiap ada tumpukan rumah penduduk di tepi sungai yang mereka lalui mereka singgahi, menawarkan dagangan yang mereka bawa. berhari-hari bahkan berminggu-minggu mereka mengayuh jukung menuju aliran Sungai Rutas, Sungai Tapin, Sungai Balimau, aliran Sungai Kalumpang, bahkan berbulan-bulan mereka meliwati kampung-kampung, melewati Desa-desa dan kota-kota pelabuhan kapal. Seperti kota pelabuhan Margasari dan pelabuhan Sungai Pinang Nagara mereka singgahi.
IX. Rakam
Jejak Habib Hasan bersama keluarganya
berhijerah ke Nagara dan menetap dipelabuhan kapal desa Sungai Pinang
Nagara
Habib Abu Bakar berhijerah & berdagang dengan membawa Misi Dakwah Islam dari pelabuhan kapal Sugai Mesa Bandarmasih Kalsel, tetapi ia tidak membawa dan mengikut sertakan anak dan isteri dalam hal mencari rezki berdagang di pelabuhan kapal desa Sungai Pinang Nagara dan sekitarnya.
Menurut ceritra datuk-neni kami bahari dan kisah orang-orang tua yang saya temui bahwa "Habib Abu Bakar bersama orang tuanya berhijerah & berdagang dengan membawa Misi Dakwah Islam dari pelabuhan kapal Sugai Mesa Bandarmasih Kalsel, mereka berlabuh dengan Perahu/jukung yang sangat sedarhana, ia mulai menyisir tepi aliran Sungai Barito dan tepi sungai Alalak, aliran sungai Gampa dan menuju aliran sungai Marabahan (penduduk aslinya suku Dayak Bakumpai) mereka singgah beberapa hari, terus dari sini mereka menuju aliran sungai Margasari (Kab. Tapin) hingga sampai di pelabuhan Margasari (kota Candi Laras-agma Hindu) ini mereka singgah /menetap lama dan berdakwah beberapa tahun. Sehingga Habib Abu Bakar bin Hasan konon tak menutup kemungkinan bahwa ia menikah lagi dengan wanita shalihah yang ada di tepi aliran Sungai Margasari dan punya anak keturunan. Wallahu Alam akhirnya dari Margasari ini mereka berlabuh lagi menuju Sungai Nagara hingga tiba di pelabuhan kapal Sungai Pinang Nagara.
Tetapi
Habib Abu Bakar tidak membawa dan tidak mengikut sertakan anak dan isteri dalam hal mencari rezki berdagang di
pelabuhan kapal desa Sungai Pinang Nagara, Margasari dan sekitarnya.
Diperkirakan dipertengahan akhir abad ke-17 Masihi antara tahun 1680-an sd. 1700-an ini, Habib Hasan bersama keluarganya sudah menetap Nagara. Seperti kota pelabuhan kapal desa Sungai Pinang Nagara. Tepatnya mereka singgahi.di pelabuhan kapal desa Sungai Pinang dekat pasar Nagara sekarang. Habib Abu Bakar bersama ayahnya Habib Hasan pergi berdagang dan membawa misi dakwah Islam meninggalan anak dan isteri berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan tidak pulang kerumah. Tetapi. mereka juga menetap lama di pelabuhan kapal desa Sungai Pinang ini. Sehingga Habib Abu Bakar bin Hasan bahwa ia menikah lagi dengan wanita shalihah yang ada di desa Sungai Pinang Nagara saat itu, dan dari pernikahannya ini ia punya anak satu atau dua orang laki-laki yang tersebar ditempat-tempat yang pernah disinggahinya dan salah satu keturunannya yang terkonvirmasi di kota ini an. Abdul Hamid”. Dan salah satu cucunya bernama Saqqaf (ditulis-dibaca Seggaf) yakni Alhabib Seggaf bin Abdul Hamid bin Abu Bakar Assegaf (Kramat Assegaf Sungai Pinang) Alamat; Samping Kantor Desa Sungai Pinang-Nagara, KM.37. Kecamatan Daha Selatan.Kab.Hulu Sungai Selatan Prov.Kalsel.
Diawal bulan Juni 2025 ada orang dari kota Palangkaraya minta konvirmasi ttg nasab keluarga Habib Abu Bakar Lumpangi, ia ingin mendaftarkan nasabnya ke Rabithah. Kalau nasabnya seprti ini, dan jumlah nasab antara 38-39 orang ke anaknya masih memenuhi syarat tahun ini :
Sebab menurut penelitian Pakar Nasab menyebutkan bahwa “ marga tertua atau fam tertua dari puluhan marga/fam Dzuriat Nabi Muhammad Saw yang ada di Indonesia ialah al saqqaf (Assegaf). Lalu Assegaf ini tinggi, Keturunan Nabi yang ada di Indonesia ini umumnya adalah generasi ke-38 atau ke-39 tahun 2022".bahkan kalau dilihat nasab Dzuriat Datu Habib Lumpangi di Kalimantan Selatan sampai generasi ke-40 dan generasi ke-41 di tahun yang sama.
Adapun silsilah Nasabnya menurut Habib H. Abdullah bin H,Hubbul Wathan Assegaf sebagai berikut :
- H.Abdullah
- bin H.Hubbul Wathan
- bin H.Muhammad
- bin M.Arsyad
- bin Jafri
- bin Abdul Hamid
- bin Abdurrahman Assegaf Ketapang Kec. Bakarangan Rantau
- bin Segaf Desa Sungai Pinang Nagara
- bin Abdul Hamid (orang tua Habib Segaf Desa Sungai Pinang Nagara)
- bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.
- bin Hasan w.1720M
- bin Hasyim w.1686M/Ramadhan 1097H
- bin Muhammad
- bin Umar ash-Shoufy
- bin Abdurrahman
X.
Sayyid Hasan Assegaf menetap lama di Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang awal Abad ke-18 Masihi tahun 1701 Masihi di Kec. Kandangan di Kab. Hulu Sungai
Selatan.
Habib Hasan bersama keluarganya hijerah lagi dari Pelabuhan Sungai Pinang kota Nagara diperkirakan diakhir abad ke-17 Masihi, Setelah lama mukim di Nagara mereka mudik dari Sungai Nagara menyisir tepi sungai melewati sungai desa Garis singgah, di desa Bangkau singgah, melewati desa Tawar singgah, di desa Sungai Kupang singgah kemudian menyisir sungai menuju aliran Sungai Hamandit dan tiba di Darmaga Pelabuhan Perahu pasar kampung Amawang (Kab. HSS).. Kala itu arus tranportasi yang digunakan masyarakat melalui jalan laut dan sungai.
.Mereka para sayyid ini apabila pergi berdagang ke tempat yang jauh, rote perjalanan Nagara ke Hulu Sungai dengan mengunjungi beberapa kampung membawa misi dakwah, mereka awalnya selalu naik taxi PP “Perahu Bagiwas” ke Hulu Sungai tersebut, satu dua pekan sekali. Hal ini dilakukan beberapa kali dalam sebulan hingga bertahun-tahun, transportasi jalur sungai yang melewati beberapa kampung seperti Garis, Bangkau, sungai Balimau, Sungai Kupang) menuju jalur aliran Sungai Hamandit, hingga tiba di Darmaga pelabuhan Perahu Amawang (Hamawang) di Hulu Sungai Selatan Kandangan. Pada awalnya saat berada di Hulu Sungai, sayyid Hasan dan anaknya selalu berniaga di sekitar pelabuhan Amawang, tempat parker taxi “Perahu Bagiwas” yang ditumpanginya di jalur aliran Sungai Hamandit.
Keberadaan mereka sudah
mendapatkan tempat tinggal/ membeli
rumah kosong dari penduduk setempat yang ditinggalkan,
letaknya dipinggiran Darmaga pelabuhan Parahu Amawang, rumah tersebut digunakan
untuk menginaf dan berdagang (berniaga) yang mereka kunjungi satu atau dua
pekan sekali, terutama hari Selasa hari pasar kota Kandangan.
Kekhadiran Sayyid Hasan dan
Abu Bakar anaknya di pasar Palabuhan Parahu Amawang sangat disenangi dan mereka
mulai dikenal oleh para Pedagang lainnya, masyarakat setempat dan para Pembeli
dagangannya, sejak awal kekhadiran mereka.
Dan setelah dewasa diperkirakan
(usia 25 tahun keatas) di abad ke-18 Masihi awal, Habib Idrus (lhr.1674M) bin
Hasyim Assegaf memperistri seorang wanita salihah dari warga Kampung Sungai
Mesa yang berlokasi di bandar kota tersebut, yang kemudian Habib Idrus diusianya
40 tahun keatas, baru isterinya bisa hamil dan melahirkan seorang putra bernama
Habib Ali. Habib Ali bin Idrus Assegaf tumbuh besar hingga usia remaja di Darmaga
Pelabuhan Perahu Amawang, Hulu Sungai Selatan. Di usia remaja tersebut, Ia
bersama keluarganya berada menetap di Banua Enam kota Kandangan.
Putra Habib Idrus yang
bernama Habib Ali Assegaf, diperkirakan
lahir sekitar tahun 1717 Masihi. Ia salah seorang yang diberi Allah Swt umur
pajang, ia berumur lebih kurang dari 82 tahun Masihi, ketika usianya sudah
sepuh atau lanjut dan ia sering sakit-sakitan dan hingga membawanya wafat
diperkirakan awal abad ke-19 Masihi yakni pada tahun 1809M dan ia bermakam di tengah kota Kandangan atau persisnya di alkah
Alawiyah Ashhab Turban Anak Mas di Jalan H.M Rusli. Adapaun salah seorang putra
Habib Ali, yaitu Habib Husain bin Ali bin Idrus Assegaf bermakam
di tengah kantin pasar Kandangan.
Sekitar tahun 1701 Masihi di
awal abad ke-18 sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar beserta keluarganya berhijrah
dari Pelabuhan Sungai Pinang, Nagara ke Hulu Sungai Selatan, naik taxi
tranportasi umum “Perahu Bagiwas” rote perjalanan dari Nagara ke Banua Anam Kandangan.
Dan akhirnya mereka tiba di tempat tujuan dan menetap di Desa Amawang (Darmaga
Pelabuhan Perahu Amawang) aliran Sungai Hamandit.
Keberadaan sayyid Hasan dan
sayyid Abu Bakar beserta keluarganya disambut gembira oleh masyarakat kampung
Hamawang sa’at itu, justru bersamaan dengan kekhadiran Pangeran Kecil atau Datu Hamawang yakni di Abad ke-18 Masihi, mereka sama-sama membangun
akhlak masyarakat menjadi akhlak agamis. Walaupun Kesultanan Banjar mengangkat
beliau menjadi kepala kampung hamawang dan diberi gelar Tumenggung Raksa Yuda, namun
masyarakat kampung lebih mengenal beliau dengan sebutan Datu Hamawang.
Seiring waktu berjalan dengan
cepat, komunitas masyarakat Islam di kampung ini terus bertambah, keberadaan Masjid di kampung Hamawang sangat
dibutuhkan. Tidak
seperti sekarang Masjid tidak perlu musti adanya sokongan. Menurut para Alim Ulama bahari bahwa keberadaan Masjid harus disokong didukung oleh
keberadaan Langgar–langgar
disekitarnya minimal tiga buah. Panitia Langgar inilah yang nantinya yang
bertanggung jawab penuh dalam mengisi Jama’ah Masjid setiap hari Jum’at. Begitu
juga Petugasnya misalnya membuat kotak Amal Masjid, menyediakan Tukang Adzan,
Khatib Jum’at, Imam Jum’at, secara bergantian, begitu juga menyediakan tempat parkir kendaraan Jukung atau Perahu.
Kemudian berselang waktu kurang lebih beberapa tahun berikutnya muncul lagi
"Mushalla " lainnya di kampung Hamawang. Mushalla ini berdiri ditepi
aliran Sungai Hamawang dibangun atas gotong royong dan dananya swadaya
masyarakat kampung Hamawang sa'at itu.
Seiring waktu berjalan
kemudian atas kesepakatan bersama masyarakat Hamawang kala itu yang diwakili
ke-3 Panitia Langgar. Langgar " Quba " yang berada ditengah-tengah kampung dialih fungsikan menjadi Masjid Amawang.
"Masjid Quba " Amawang kala itu
sambil direhab / dipugar sedikit demi sedikt, bahan dasarnya atasnya semua dari
kayu biasa, kemudian atapnya bucur diganti yang baru dan juga Panitia membuat
Mimbar untuk tempat berkhothbah para Khatib.
Kesultanan Banjar mengangkat beliau menjadi kepala kampung hamawang dan diberi gelar Tumenggung Raksa Yuda, namun masyarakat kampung hamawang lebih mengenal beliau dengan sebutan Datu Hamawang, beliau juga yang pertama kali membangun mesjid bersama tokoh agama dan masyarakat setempat di kampung Hamawang, mesjidnya bernama Masjid Qoba.
XI. Keterangan : Jalur transportasi Masyarakat Kandangan dahulu mereka pulang pergi ke Pasar Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang, Kab. Hulu Sungai Kandangan.
Adapun letaknya
sekarang pasar “Darmaga
pelabuhan Perahu Amawang” disekitaran tepi
aliran Sungai Hamandit mulai
Pandai Muka, terus Jembatan
3 Desemer sd. kampung Gitik Sungai Kalang, atau Desa Amawang Kiri.
Ditepi Sungai atau pinggiran aliran
Sungai Hamandit Desa Amawang, inilah Sayyid Hasan dan Abu Bakar anaknya beserta
Sayyid Idrus adikya dan keluarganya, awal mulanya mereka tinggal dan menetap lama dekat
Darmaga Pelabuhan Parahu
Amawang tersebut. Keberadaan Sayyid Hasan dan Keluarganya sudah mendapatkan
tempat tinggal yakni membeli
rumah dari penduduk setempat yang letaknya
dipinggiran Darmaga pelabuhan Parahu Amawang,
Jalur transportasi Masyarakat Kandangan dahulu mereka pulang pergi ke Pasar Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang, membawa dan menjual hasil pertanian, mereka menggunakan alat Jukung atau Perahu untuk bepergian hilir-mudik melalui aliran aliran anak Sungai Hamandit di Kandangan. Antara lain :
a. Bermuara di Pandai Muka
yakni :
Aliran anak sungai
Hamandit kandangan yang bermuara Pandai muka,
(belakang Beskop) yakni aliran anak Sungai terus ke simpang lima Kandangan terus hulunya menuju ke Musyawarah terus hulunya
menuju ke Durian Sumur (belakang rumah alm
H.Tohri), terus ke Jl. Al Falah melitasi Jalan Biluy terus hulunya menuju ke Kandangan Hulu dua dan bertemu /bersambung sungai Hamandit
disini.
b. Bermuara di Pandai Tengah yakni :
Aliran anak sungai Hamandit kandangan yang bermuara dekat jembatan tiga Desember (muka rumah alm.H.Huray) pandai tengah terus hulunya ke Karkup terus hulunya menuju ke Gambah luar (belakang Masjid Al-Abrar) terus hulunya ke Bakarung, menuju ke aliran Sungai Kudung kemudian aliran sungai membelah dua, menuju ke Taniran Selatan. Kalua terus hulunya menuju ke Tabihi terus hulunya menuju ke Karang Jawa dan bertemu /bersambung sungai Hamandit disini.
Setelah berdakwah di Darmaga ini dan kampung sekitarnya beberapa tahun, Kemudian setelah itu “Beranjak dari Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang Keluarga Fam Assaqqaf ini, mereka telah menyebar membawa misi dakwah Islam serta berniaga ke desa-desa dan ke kampung-kampung dan juga kepelusuk-pelusuk dusun yang belum pernah dijamah Islam dan belum mengenal Islam dengan baik”. Misalnya sayyid Hasan berhijrah membawa misi dakwah Islam dan berniaga beranjak dari Darmaga Pelabuhan Parahu Amawang terus menuju psr. Pelabuhan Perahu Sungai Kudung dan singgah disana, kemudian terus menuju ke kampung Taniran dan sekitarnya.
Menurut ceritera orang-orang tua Desa Taniran yang saya temui bahwa pada mulanya Langgar “Darul Lathif” yang berada ditepi sungai RT 01 Taniran Kubah, dengan bangunan yang sangat sedarhana yang telah dibangun oleh Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy dan anaknya Abu Bakar Assegaf bersama Masyarakat atau penduduk sekitarnya dengan gotong-royong. Diperkirakan bangunan Langgar tersebut berdiri tahun 1701 Masihi terdiri : Tiang ulin bulat, berlantai rieng, berdinding daun rumbia dan beratap daun rumbia. Diperkirakan Langgar Darul Lathif ini berdiri awal abad ke-18 Masihi semasa Raja Banjar yang ke-10 Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Mashi, ia bekuasa.
Langgar atau Surau kala itu adalah tempat masyarakat berkumpul,
bermusyawarah mufakat, tempat mengajar dan belajar menuntut ilmu Agama Islam,
utamanya tempat ibadah berjama'ah. Keberadaan Habib di Desa Taniran dengan
tujuan berdakwah, mengajar ilmu agama kepada masyarakat Desa Taniran dan
sekitarnya, bagi mereka yang masih menganut ajaran Animisme dan belum mengenal Islam.
Animisme (dari bahasa Latin asal kata : anima berarti "roh") yakni kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus dan roh-roh merupakan dasar kepercayaan sebuah agama yang mula-mula dianut di kalangan manusia purba. Kepercayaan animisme ini mereka sangat mempercayai bahwa setiap benda di dimuka bumi ini (seperti daerah tertentu, gua, pohon besar atau batu besar), mempunyai roh yang harus mereka hormati agar roh tersebut tidak mengganggu manusia.
Menurut Artikel
Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di
BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia telah
mengutif dari berbagai sumber, bahwa "Sebelum Datu Taniran, masyarakat
kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu
ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi di
Kecamatan Loksado, HSS."
Selanjutnya Artkel itu
menyebutkan bahwa "Sayyid Hasan berdomisili di kampung
Taniran sekitar pergantian abad ke-17 dan ke-18 Masihi, sedangkan sekitar
pergantian abad ke-18 dan 19 Masihi, bersamaan dengan datangnya Sayyid Abdullah bin Abu Bakar
al-Aydrus beserta isterinya Siti Aminah binti Husain ke Martapura”.
Pendapat atau perkiraan
pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi pada Artikel tersebut diatas adalah lemah atau belum mendekati kebenaran.
Namun Perkiraan yang benar, yang mendekati kebenaran adalah sekitar pergantian
abad ke-17 dan abad 18 Masihi, Habib Hasan bersama keluarganya lebih awal
datangnya dari Sayyid Abdullah bin Abu Bakar al-Aydrus beserta isterinya ke Lok
Gabang Martapura.
Sayyid Abdullah bin Tuan
Penghulu Abu Bakar Al Aydrus orang tua Datu Kalampaian diperkirakan datang ke-
Kasultanan Banjar di awal Abad ke-18M, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari lahir
di Lok Gabang, 17 Maret 1710M, yakni di awal Abad ke-18M dan ia mempuyai 4
orang adik kadungnya yaitu : ’Abidin,
Zainal abidin, Nurmein, dan Nurul Amein.
Menurut ceritera orang-orang
tua Desa Taniran yang saya temui bahwa pada mulanya Langgar “Darul Lathif” yang
berada ditepi sungai RT 01 Taniran Kubah, dengan bangunan yang sangat sedarhana
yang telah dibangun oleh Habib Hasan
bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy
dan anaknya Abu Bakar Assegaf bersama Masyarakat atau penduduk sekitarnya
dengan gotong-royong. Diperkirakan bangunan Langgar tersebut berdiri tahun 1701
Masihi terdiri : Tiang ulin bulat, berlantai rieng, berdinding daun rumbia dan
beratap daun rumbia. Diperkirakan Langgar Darul Lathif ini berdiri awal abad
ke-18 Masihi semasa Raja Banjar yang
ke-10 Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Mashi, ia bekuasa.
Penjelasannya dapat di baca, sebagai alasan penulis di bawah ini :
Menurut ceritera datu-datu
kami bahwa Habaib ini sudah datang jauh sebelum Belanda datang dan bercokol di
Bandarmasih yaitu masa Raja Banjar ke-10
Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Masihi, sampai dengan masa pemerintahan
Tamjidillah I tahun 1734-1759 yang berpusat pemerintahannya di Martapura.
Menurut catatan sejarah Belanda mulai
menduduki Kota Bandarmasih (Banjarmasin) sekitar tahun 1747M yakni pada
masa pemerintahan Tamjidillah II.
XIV. Habib Hasan bin Hasyim Assegaf Berpusara Di Desa Taniran RT.02 Kec. Angkinang
Menurut sumber data yang saya terima bahwa dan diceriterakan orang pula bahwa Habib Hasan adalah orang yang diberi Allah Swt umur panjang, usianya lebih kurang 93 tahun. Habib Hasan sudah usia sepuh tetapi kuat dan sehat, saat datang pertama kali di Taniran, Usia Habib Hasan waktu wafat kurang lebih sekitar 93 tahun. Habib Hasan keberadaannya di desa Taniran Kecamatan Angkinang sekitar dari 1700-1720 Masihi. Beliau wafat pada hari Selasa, 19 Sya'ban 1132H/1720 Masihi. Beliau barmakam atau berpusara di Desa Taniran Kubah RT. 02 / RW. 01,Kec. Angkinang, yakni sekitar 600 meter dari jalan besar atau jalan induk. Atau 500 meter dari makam Syaikh Muhammad Thaib (Datu Taniran). Pusara Beliau berseberangan dengan langgar Beliau langgar“Darul Miftahul Jannah”. Kubah beliau dikunjungi banyak orang.
- Habib Tanqr Gawa
- bin Muhammad (gelar Abuthair)
- bin Ibrahim (gelar Abu Tha'am)
- bin Abu Bakar as-Tsani
- bin Ahmad Suhuf
- bin Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi)
- bin Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi)
- bin Hasan Assegaf.
1. Sayyid Abu Bakar saudagar Kain Sarung dan Perhiasan Imitasi Wanita berdagang ke Pedalaman
Hulu Sungai
Dikhabarkan orang-orang bahwa berniaga ke Hulu Banyu sangat menggambirakan, semua barang yang
dibawa kesana selalu
habis. Apahlagi disaat “Aruh Ganal Adat Dayak” yang diselenggarakan.
Kemudian untuk tugas dan lokasi misi dakwah Islam ke pelusuk pedalaman hulu sungai/ hulu banyu diserahkan pada anak muda yakni Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf. .
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahari
menyebutkan bahwa “Mulai dahulu awal abad ke-18 Masihi orang-orang Banua
(Kandangan, Kayu Abang, Bamban) mereka sudah berdatangan berniaga ke Balai Ulin
desa Lumpangi. Apahlagi menjelang “Aruh Ganal Adat Dayak” yang diselenggarakan
oleh masyarakat Dayak sehabis Panen Raya.
Menurut ceritera Datuk-nenek kami bahari bahwa akibat musim Kemarau panjang melanda penduduk Hulu Sungai Selatan hingga masyarakat pegunungan khususnya sangat membutuhkan makanan pokok berupa : beras, iwak, uyah-asam dan bahan lainnya untuk dikosumsi. Hal ini membuat Para Pedagang Desa Kayu Abang, Bamban dan desa lainnya datang ke desa-desa dan masuk ke kampung-kampung lewat pasar Mu’uy Barabai berdagang menjual barang-barang yang dibutuhkan masyarakat setempat. Setelah musim Kemarau panjang beberapa bulan berlalu, hingga tanaman-tanaman padi diladang-ladang petani yang berada ditepi-tepi jalan yang dilintasi mereka terlihat mulai mengurai keluar, mungkin satu bulan kedepan musim panen tiba.
Nah dari keadaan tersebut musim panen tiba bahwa pada mulanya Sayyid Abu Bakar ikut bersama rombongan Pedagang dari Desa Kayu Abang pergi berdagang ke Pedalaman Hulu Sungai hingga akhirnya sambil membawa dagangannya sampai ia ke pelusuk suku Dayak Langara Desa Lumpangi yang belum pernah tersentuh Islam pada awal abad ke-18. Melalui Syekh Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy bin Abdurrahman bin Muhammad Assegaf yang meng-islam-kan suku Dayak Langara dengan nama Rumah Adatnya “Balai Ulin”. Menurut mitologi bahwa suku dayak Langara adalah bagian/ pencaran dari suku dayak Maanyan, ia (dayak Maanyan) suku dayak tertua yang hidup dan ada di Kalimantan Selatan.
Habib Abu Bakar saudagar Kain Sarung dan Perhiasan
Wanita (perhiasan imitasi) berdagang ke Pedalaman Hulu Sungai sambil membawa Misi Dakwah. Selanjutnya
diceritrakan oleh Datuk-nenek kami bahari bahwa pada awal mulanya Habib
datang membawa dagangannya kepadalaman
Hulu Sungai di Balai Ulin Lumpangi, dagangan Habib diserbu oleh Para wanita tua-muda
suku Dayak. Mereka sangat
tertarik dan tergoda dengan gaya dan bahasa yang santun, dan raut muka habib yang ceria, homoris dan murah senyum, pandai merayu
para pembelinya sehingga membuat
mereka tanpa rasa malu, bergerumbul mengelilingi jualan Habib
yang bertempat di tengah-tengah ruangan Balai kala itu, mereka melihat dan mereka mencoba mengenakan cincin dijari
tangan, mencoba mengenakan aguk/kalung
yang tergantung disela-sela dada
atau tergantung didahi mereka, mereka mencoba mengenakan gelang dipegelangan tangan mereka dan bunil
dan juga mereka mencoba menggunakan sisir/ surui gafit ke kepala, wanita tua tertarik dengan
sarung/tapih. . Dikala
itulah puteri Milah
mulai berkenalan
pada pertemuan pertama
dengan Habib hingga cahaya Matahari condung ke Barat waktu sore tiba dan
Habib tak mungkin balik-pulang ke Taniran
di waktu sore hari karena akan menemui malam dan iapun nginap pertama kali ditempat itu. Gadis itu sangat senang menjumpai dan menemani Habib diruangan Balai Adat saat itu.
Salah satu tradisi unik, budaya Dayak /adat Dayak Pegunungan Meratus ketika itu, bagi Tamu Nginap untuk kaum laki-laki lajang tidak diperbolehkan tidur sendiri kecuali ia tidur satu kamar/ satu kelambu bersama dengan puteri dari Tetuha Adat.
Bila tidak punya anak gadis maka isterinya yang menemani
tidur tamunya. sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu atau sahabat,
tak terkecuali
dengan Habib, beliau tidur ditemani oleh puteri
Milah, saat Habib
datang jualan pertama kali dan nginap (bamalam) di Balai Adat
Balai Ulin. Adat Dayak adalah suku yang
sangat meghormati
dan memuliakan
tamu,
Puteri Milah adalah seorang gadis berwajah ayu rupawan,
gadis remaja yang anggun, cantik parasnya, berwajah keibuan, rambut hitam, ikal berderai hingga punggungnya. Ia berdada bidang, bermata tajam, tinggi-sedang,
ia lemah lembut, ia seorang gadis berkulit saumatang bersih, ia
ramah dan homoris
dan sulit untuk dilupakan. tetapi
berpakaian setengah telanjang. Pakaiannya terbuat dari anyaman dadaunan, anyaman kulipak kayu dan kulit-kulit
binatang yang disamak, pantas saja pakaiannya hanya menutupi dada dan kemaluannya sesuai keadaan waktu itu.
Disinilah Habib mulai mengenal dengan adat istiadat suku Dayak Maratus Awal dan mengenal Tetuha Adat bernama “Langara”, begitu pula mengenal dengan baik puteri remajanya yang cantik jelita memikat hati bagi para lelaki muda yang memandangnya. Hingga sekarangpun hampir dipastikan bahwa setiap Balai Adat yang Ganal selalu ada muncul satu wanita muda tercantik di suku itu yang setiap Pemuda selalu terpikat olehnya. Salah satu tradisi Adat budaya Dayak mengawinkan anak usia muda antara usianya 9 tahun sd. 17 tahun.
Untuk memeriahkan acara Aruh Ganal Adat Dayak Lumpangi biasanya mereka selalu mengundang/basaruan kepada Para Pedagang yang berniaga di kampong mereka, termasuk Sayyid Abu Bakar yang diundang, acara Aruh diselenggarakan 2 bulan ke depan, pesan Tuan Puteri Milah, saat Sayyid mau pulang berniaga dari Lumpangi : “jangan datang terlambat kesini ya Kakanda (Abangku), nanti kau kena hukuman Adat”.
2. Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf di Tawan-ditahan oleh Suku Dayak
Salah satu Tradisi adat Dayak adalah Aruh Bawanang atau disebut juga aruh mahanyari banih adalah salah satu ritual adat yang dilaksanakn oleh suku dayak meratus setiap tahunnya pada saat pasca panen padi yang merupakan salah satu cara berterima kasih atau bentuk ucapan rasa syukur kepada Sang Pencipta Alam Semesta.
Dan tradisi adat itu
diteruskan juga oleh turunannya yaitu Dayak Maratus di Kabupaten Hulu Sungai
Selatan. "Aruh Bawanang atau yang sering
disebut Aruh Ganal adalah
salah satu upacara adat masyarakat Dayak Meratus di Loksado kabupaten Hulu
Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Digelar setiap tahun saat lepas masa panen
tiba, kegiatan ini juga sebagai bentuk wujud rasa syukur terhadap yang maha
kuasa dalam kepercayaan penduduk setempat. Bawanang adalah
Aruh Adat sebagai bentuk rasa syukur pada penguasaan semesta atas rejeki atau
keberhasilan baik itu panen padi, usaha atau keberhasilan-keberhasilan lainnya.
Aruh Bawanang disebut
juga Palas Payung, yaitu upacara pesta panen sebagai
ungkapan rasa syukur kepada Hyang Dewata Langit,
yang dilakukan setelah semua padi masuk ke
dalam lumbung. Setelah upacara
panen ini, padi baru boleh dimasak untuk dimakan. Persiapan
Aruh dimulai dengan hari Batarah yaitu sehari sebelum upacara
dimulai. Hari Batarah maksudnya adalah hari memulai pekerjaan, mempersiapkan
segala sesuatu, membuat perlengkapan upacara, dan menyiapkan sesaji. Pekerjaan
itu harus selesai dalam satu hari Kelengkapan Alat Upacara (Koran sulindo 2019)
Menurut penuturan Amat atau Ahmad (ia seorang Dayak asal desa Bayumbung yang sudah Muslim) yang saya wawancarai beberapa kali bahwa "Acara ritual sakral aruh Bawanang atau aruh Ganal Balai Adat kalau dihitung ada 7 hari, yakni pertama hari Batarah. kemudian aruh Bawanang atau aruh Ganal dilaksanakan selama 3 hari 3 malam dan Masa Pamali 3 hari 3 malam, nah dimasa Pamali inilah bila seseorang Dagang atau seseorang diluar Sukunya belum pernah datang berkunjung diacara 3 hari pertama Acara ritual sacral selain hari Batarah, kemudian ia datang sengaja ataupun tanpa sengaja masuk ke Balai Adat di Masa Pamali, maka Dia akan mendapat Hukuman Adat dan membayar denda" Kedatangan Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf kali yang kedua kepedalaman Hulu Banyu - Sungai pada masa Pamali atau Masa Tenang.
Sang puteri Milah terpesona melihat sang peria ganteng idaman hatinya benar-benar hadir didepan matanya kala itu, sehingga ia, tak bosan-bosan memandangnya. Syair lagu menyebutkan : Pesonamu wahai sang kumbang menyilaukan mata hatiku, Pesonamu menggambirakan hati bagi setiap orang yang memandangnya, harum wangi baumu, membangkitkan gairah hidupku, tak bosan mataku, tak bosan sungguh, mataku tak akan bosan, untuk memandangmu wahai peria idamanku, rasanya mataku ini enggan sekali berkedip disaat sedang memandangmu, ingin rasanya aku menyuntingmu hidup berdua denganmu, hidup berdua denganmu, akan kujadikan dirimu raja dalam istanaku, tak bosan mataku, tak bosan sungguh, mataku tak akan bosan,
Ketika Beliau datang ke Desa Lumpangi, menurut salah satu sumber informasi bahwa usia Beliau sekitar 43-45 tahunan kala itu, tetapi pisik dan muka Beliau kelihatan muda seperti usia 25-30 tahun. padahal Beliau sudah beberapa kali menikah dan punya anak, sebelum ia datang ke Lumpangi dan punya Buyut yang bernama Habib Alwi (w.1842M) bin Abdillah bin Shaleh bin Abu Bakar bin Hasan dari isteri pertamanya.
padahal saat itu acara sacral inti
Aruh Ganal atau Aruh Bawanang sudah selesai dilaksanakan selama 3 hari dan 3
malam. Kemudian disusul masa Pamali atau masa tenang selama 3 hari dan 3 malam.
Pada masa Pamali atau masa tenang itulah, tidak diperkenankan masyarakat umum/orang
dagang hadir atau datang ke Balai Adat. Bila ia belum pernah datang ke Balai Adat ditiga hari pertama, maka bila mereka datang akan dikenakan
hukuman adat dan membayar denda.
Andai Habib datang dihari pertama atau hari kedua atau hari ketiga diacara sacral Aruh Ganal kemudian ia pulang dan datang lagi dihari Pamali maka ia tidak mendapat hukuman adat dan denda. Habib tidak pernah datang di tiga hari pertama diacara sacral Aruh Ganal tetapi ia datang di hari Pamali. Oleh karenanya ia kena hukuman adat Dayak Langara, ia ditahan di Balai Adat "Balai Ulin" beberapa hari dan malam.
Menurut ceritera Habib Bahriansyah bin
Bahur yang saya temui dikediamaya bahwa Habib Abu Bakar ditahan selama 10 hari dan 10 malam di balai Adat Balai Ulin Lumpangi dan dikenakan bayar denda.
Selama dalam tahanan Adat ia ditemani, dibantu dan dilayani oleh Puteri Milah dengan senang hati, temannya Puteri bersua,, dan teman bercumbu dengan sang pujaan hati dengan riang gambira dikala siang dan malam. Semua penghuni Balai Adat tahu bahwa puteri Milah anak Tetuha Adat mereka, telah jatuh hati yang dalam, ia sangat menyukai pamuda yang ganteng dan tampan ini..
Diceriterakan orang bahwa saat berakhir masa tahanan Habib Abu Bakar selama 10 hari dan 10 malam, Puteri Milah jatuh sakit secara tiba-tiba, ia tak sadarkan diri, ia pingsan dalam waktu cukup lama, Puteri belum bisa sadar walaupun Tetuha Adat (Penghulu Adat) ayahnya sendiri berusaha keras mengobatinya dengan melakukan BALIAN BASAMBUI untuk menyembuhkan Puteri kesayangannya, Balian Basambui maksudnya Sang Puteri diobati secara kebatinan oleh orang Dayak, tetapi walaupun ia adalah seorang tokoh adat yang mempunyai kemampuan mempuni mengobati orang yang sakit, namun dikala itu pengobatannya tidak membawakan hasil apa-apa dan bahkan membuatnya dan penghuni Balai frustasi dan putus asa..
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa “Melihat keadaan yang sangat memprahatinkn tersebut Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf, ia seorang tahanan mereka, yang baru datang beberapa hari kewilayah itu. Ia mencoba menawarkan diri kepada mereka untuk mengobatinya sang Puteri. Akhirnya dengan perasaan was-was terlihat pada wajah mereka, namun mereka dengan berat hati akhirnya mempersilahkannya hingga Puteri sadar seketika dari pingsannya dan sembuh dari sakitnya..
Hal senada yang disebutkan lebih awal oleh Artikel "Islam Loksado dan Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf" yang diposting 20 Februari 2011 yang saya kutip menyebutkan ”Di kampung Lumpangi kala itu masih berupa kehidupan Balai, yaitu Balai Ulin; dan di sana terdapat tokoh yang disebut penghulu Balai yang terkenal dengan kemampuannya mengobati orang sakit. Ternyata, kemampuan medis habib yang baru datang ke wilayah itu lebih tinggi darinya, sehingga warga Balai sangat terkesima dan akhirnya mau menerima Islam. Bahkan, disebutkan bahwa di antara tokoh habib itu ada yang menikahi puteri penghulu Balai Ulin (Harisuddin 2011)
Habib mengawini Puteri Milah anak Penghulu /Tetuha Balai Adat sebagai ganti Hukuman Denda. Menurut Habib Baseraninoor yang saya wawancarai dikediamannya di Desa Malinau Loksado bahwa "Habib tidak mampu membayar Denda berupa Parang Bungkul Puting (yakni parang yang belum punya Hulu dan kumpangnya) sebanyak 2 bilah saat berakhir masa tahanan adat ". Perkawinan itu pun terjadi dengan punya syarat-syarat tersendiri yang harus dipenuhi oleh Habib masa kini dan akan datang.
Berkata sebagian para orang tua Ds. Taniran Kubah yang saya wawancarai bahwa “Habib Abu Bakar tapabini (kawin-menikah) dengan perempuan Dayak Lumpangi dan baanak (berketurunan) saat Beliau berdagang dan berdakhwah di sana.
Menurut ceritra Datu-datu kami bahwa berkata sebagian orang tua bahari dari Dayak Lumpangi bahwa “Habib dianggap bersalah sebab merusak jiwa (meracuni pikiran) Puteri Milah hingga Puteri jatuh hati yang dalam kepadanya dan jatuh sakit, oleh karenanya Habib harus mengawini Puteri anak Tetuha Balai, sebagai bentuk rasa tanggungjawabnya.
Berdakwah semacam ini dlakukan ketika ia tinggal dalam Balai Adat “Balaii Ulin” saat itu dengan materi khusus ttg penanaman “Aqidah Islam/tauhid” ia lakuni menerapkan hukum secara berangsur-angsur hingga usia anak pertamanya 7 tahun kemudian ia dan isterinya memisahkan diri atau pindah dari Balai Adat atau membuat rumah sendiri yang tak jauh dari Balai Adat.
4. Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf mempersunting dan Mengawini Putri Milah
Disebutkan orang bahwa keadaan fisik Datu Habib Lumpangi yakni Habib Abu Bakar bin Hasan adalah seorang saudagar muda berperawakan tinggi besar, dada bidang, berkulit putih kemerahan, sedikit homoris, berwajah arab, ceria, tampan (gentang) punya jabis dan kumis tipis dan juga berjanggut tipis kala beliau datang ke Lumpangi
Habib Abu Bakar Assegaf mempersunting-melamar dan mengawini Puteri yang anggun mempesona dan cantik parasnya, berwajah keibuan anak Tetuha/Penghulu Adat an.Milah. Perkawinan terjadi setelah ia bebas dari hukuman Adat Dayak Langara.
Berkata
Tanqir Ghawa kepada anak cucunya bahwa “Syukur alhamdu lillaah banar kita ine cucuai, jaka kada datang
habib membawa Islam dan nine kita bahari ada nang balaki lawan Habib lalu ia maislamakan datu nine bubuhan kita Dayak lumpamgi, maka jaka kada baislam kita rugi banar, kita akan dimasukakan
ke dalam api Naraka, nauudzu billaahi mindzaalik”
"Langara” adalah nama seorang Kepala Suku Dayak atau Tetuha/Penghulu Adat Dayak pertama yang mendiami ditengah-tengah antara ditepi sungai kali Amandit dan kaki Bukit Batu desa Lumpangi dan adik kandungnya bernama Ulang. Dengan nama Rumah Adatnya “BALAI ULIN”. Kemudian masyarakat setempat mengabadikan nama Kepala Suku atau Tetuha Adat Dayak tersebut pada bukit batu, maka disebutlah oleh masyarakat sesudahnya dengan nama “BUKIT BATU LANGARA”
Melalui perkawinan inilah yang
sangat merekatkan
hubungan suku Dayak
Langara dengan Habib.
Adanya ikatan perkawinan tersebut Islam berkembang dengan cepat. Akhirnya mereka karena merasa
berkelurga dengan Habib, merasa badangsanak dengan Habib, mereka tertarik dengan Islam dan
menerima Islam dengan sukacita dan juga hasil perkawinan itu membuahkan keturunan
salah satunya an. Habib
Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) dan dzuriatnya yang bersambung dan nasabnya tercatat
dengan baik sampai saat ini. Setelah dewasa ia dikawinkan dengan sepupunya.
Nasab berasal dari bahasa Arab al-nasb yang berartinya menghububungkan kekerabatan, keturunan atau menyebutkan keturunan. Bila al-nasb dibentuk menjadi kalimat tanaasub artinya ikatan, hubungan, kesamaan atau kesetaraan. Nasab dalam hukum Islam memiliki kualitas yang sangat penting karena dengan adanya nasab secara filosofi antara anggota keluarga yang memiliki keterkaitan dan keterikatan yang sangat kuat dan menjadi pondasi utama untuk terbentuknya suatu kelompok manusia yang kokoh, setiap anggota kelompok terkait dan terkait dengan anggota yang lainnya, seolah-olah membentuk jaringan laba-laba dalam kehidupan bersama dalam bermasyarakat dan bernegara (Astuti 2021).
Menurut catatan Sejarah Tahun 1747 Masihi Belanda menduduki Banjarmasin. Kemudian tahun 1761–1801 adalah masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II/Sunan Nata Alam. Dan tahun 1762 Saudara Sultan Nata yang bernama Pangeran Prabujaya dilantik sebagai mangkubumi oleh Dewan Mahkota Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar).
5. Karomah Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
Salah satu Karomah terbesar Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf adalah ia dapat menyembuhkan Puteri Milah yang sakit
keras dengan seketika dan berislamnya satu keluarga kepala suku Dayak Lumpangi
setelah peristiwa penyembuhan Puteri Milah
Diceriterakan bahwa saat berakhir masa tahanan Habib Abu
Bakar selama 10 hari dan 10 malam, Puteri Milah (Siti Jamilah) jatuh sakit,
mungkin ia kurang tidur dan sangat lelah menemani dan melayani tamu
istimewanya. Diang Milah jatuh sakit secara tiba-tiba, ia tak sadarkan diri, ia
pingsan dalam waktu cukup lama, Diang belum bisa sadar walaupun Tetuha Adat
(Penghulu Adat) ayahnya sendiri berusaha keras mengobatinya dengan melakukan Balian Basambui untuk menyembuhkan
Puteri kesayangannya. Balian Basambui maksudnya Puteri diobati secara kebatinan
orang Dayak, walaupun ia seorang tokoh adat yang mempunyai kemampuan mempuni dalam hal mengobati orang
yang sakit, namun dikala itu pengobatannya tidak membawa hasil apa-apa dan
bahkan membuatnya dan penghuni Balai prostasi dan putus asa.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa “Melihat keadaan tersebut Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf, ia seorang tahanan mereka, yang baru saja datang beberapa hari kewilayah itu. Ia mencoba menawarkan diri kepada mereka untuk mengobatinya sang Puteri. Akhirnya dengan perasaan was-was terlihat pada wajah mereka, namun mereka dengan berat hati akhirnya mempersilahkannya. Habib meminta Secawan air putih, kemudian pada air itu ia bacakan do’a hidzip dan shalawat dan juga ada yang ia bisikkan pada telinga sang puteri, kemudian air tersebut Habib semburkan melalui mulutnya kearah kepala & tubuh pasennya hingga seketika itu Puteri sadar dari pingsannya dan sembuh dari sakitnya.”
Beliau (Habib) melihat dengan kacamata kesufiannya dan juga merasakan ada kesedihan yang dalam yang dirasakan dan menimpa pada Puteri Milah. Puteri sangat kuatir tidak berjumpa lagi dengan Sang pujaan hatinya. Inilah yang membuat hatinya khawatir dan membawanya frustasi dan juga stres. memikirkan kalau, kalau Habib Sang Pujaan hatinya pulang tidak kembali lagi kepadanya.
Mengetahui hal keadan ini, setelah Puteri sembuh dari sakitnya.” segeranya Habib melamar dan menikahi gadis yang pernah melayaninya dan menemaninya siang dan malam, sewaktu menjalani hukuman adat. Habib menjelaskan lamaran dan perkawinan bisa terjadi dengannya bila Puteri Milah, Langara (wali nikah), dan 2 orang saudaranya yaitu Talib dan Anjah (2 orang saksinya) merima hidayah Islam. Akhirnya dengan adanya sedikit perjanjian dengan Habib, mereka menerima Islam dengan suka cita
6. Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf wafat
Sayyid Abu Bakar ayahnya Habib
Lumpangi adalah orang yang sangat setia dan menepati janjinya, ia benar-benar
melaksanakan Adat Dayak. ia tidak pernah meninggalkan isterinya. Dan Beliau
tinggal bersama isterinya Siti Jamilah dan anak-anaknya beserta cucu-cucunya dan keluarga isterinya di
rumah kampung Balai Ulin Desa Lumpangi hingga akhir hayatnya.
Menurut tradisi adat Dayak bahwa "Bila seseorang laki-laki lajang (perantau atau pendatang) menikahi perempuan suku Dayak maka ia harus ikut tinggal di tanah kelahiran isterinya, sebagai bentuk kesetian adat Dayak". Tetapi bila kangen dengan ayah-ibu atau sanak keluarga ia boleh menenguk mereka sendirian atau bersama isterinya, setelah selesai hajatnya ia harus kembali lagi kerumah isterinya. Suaminya hanya memiliki satu isteri maksudya tidak dimadu.
Beliau wafat di kampung Balai Ulin
Lumpangi hari Jum'at, tanggal 17 Dzul Hijjah 1172H, dipertengahan akhir abad
ke-18 Masih. Bertepatan dengan 10 Agustus tahun 1759 Masihi. Dan makam Beliau
berdampingan dengan makam isterinya Siti Jamilah binti Muhammad Langara dan Haulan
Beliau terebut dilaksanakan oleh Ahlul Bait setiap tanggal 17 Dulhijjah. Dan i Beliau
dimakamkan di kampung Balai Ulin Lumpangi.
XVII. Rakam Jejak Perjalanan Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf membatalkan beberapa Tradisi Suku Dayak Maratus yang dianggaf merugikan Sukunya.
1. Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf dilahirkan.
Perkawinan inilah yang sangat merekatkan hubungan suku Dayak Langara
dengan Habib.
Adanya ikatan tersebut Islam
berkembang
dengan cepat.
Di tambah lagi adanya hubungan darah
dengan lahirnya Muhammad Djamiluddin cucu pertama Tetuha Adat. Akhirnya mereka karena merasa berkelurga
dengan Habib, merasa
badangsanak
dengan Habib,
mereka tertarik dengan Islam dan menerima Islam dengan sukacita dan juga hasil
perkawinan itu membuahkan keturunan dan dzuriatnya yang bersambung dan nasabnya tercatat dengan baik sampai saat ini.
Menurut Folklor ceritra Datuk-datuk dan nenek kami bahari bahwa "Djamiluddin" adalah Putera pertama dari Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin
Umar as-Shufy dengan isterinya Siti Jamilah
binti Muhammad Lanagara. Namun versi lain menyebutkan bahwa anak itu bernama :
"Muhammad
Djamiluddin"
Ia lahir dimasa pemerintahan
raja banjar Sultan
Suria Alam alias Sultan Tahmidullah 1 bin Sultan
Tahirullah bin al-Maliku'llah adalah Raja Banjar yang memerintah tahun
1700-1717 Masihi. Ia dilahirkan
di Lumpangi, hari Senin,
13 Syawwal 1118H /1707Masihi dan
dibesarkan di Desa
Lumpangi, ia
lahir ditengah-tengah keluarga yang baru menemukan hidayah Islam. Ia adalah
orang yang shalih,
ia memperoleh
pengajaran agama Islam langsung
dari orang tuanya dan kedua Kakeknya Muhammad. Langara dan Sayyid Hasan ketika ia
berada di Desa Taniran dan juga paman Ayahnya Habib Idrus.
Kelahirannya “Djamiluddin" sangat
dinantikan
dan ditubggu oleh keluarga muslim dan keluarga Dayak. Ketika ia hadir
sanak keluarganya sangat bersukaria dengan menghadirkan jamuan hidangan dari seekor payau /menjangan. Ketiika ia berumur 7 tahun ayah dan ibunya memisahkan diri
atau pindah dari Balai Adat. Membuat rumah sendiri tak jauh dari Balai Adat. Ketika ia
berumur 14-15 tahun
Balai Adat mulai
bubar.
02. Nasab silsilah Habib Muhammad Djamiluddin (Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf.
Adapun Nasab silsilah Habib Muhammad Djamiluddin
(Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf adalah sebagai
berikut :
الْحَبِيْب مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله،
3. Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf Menerima Pengajaran Agama.
Sayyid Djamaluddin "Djamiluddin" Ia adalah anak sangat cerdas atau orang yang
shalih, sangat berbakti kepada kedua rang tuanya dan ia memperoleh pengajaran
agama Islam langsung dari orang tuanya dan kedua Kakeknya Muhammad Langara dan Sayyid Hasan ketika ia berada di
Desa Taniran dan juga paman Ayahnya Habib Idrus.
Ditahun usia muda menjelang remajanya Djamaluddin Balai
Adat "Balai Ulin" bubar sekitar tahun 1722M karena banyak dipihak
keluarga ibunya yang menerima
hidayah islam/ memeluk Islam, maka Balai
Ulin Desa Lumpangi mulai ditinggalkan oleh para keluarganya yang belum menerima
hidayah Islam, walaupun mereka sudah mengenal Islam
dengan baik hingga bertahun-tahun.
Menurut folklor ceritera datu
dan nenek kami bahwa “berkata sebahagian orang-orang Lumpangi masa itu bahwa
“Tidak ada Orang yang memilki keilmuan yang paling dalam dan luas
tentang Islam kecuali dimiliki oleh Muhammad Djamiluddin
bin Abu Bakar Assegaf". Ia memperoleh pengajaran dan bimbingan (suluk,
riiyadhah) ilmu Islam langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya.
Berkata Muhammad Baharudin
bin Marsal ( Beliau keturunan Syarifah asal Amawang) bahwa "Habib Djamaluddin adalah orang yang
paling berprngaruh, ia orang yang paling alim dan ia orang yang paling
berpengetahuan agama diantara semua penghuni pusara/ makam di Kampung Balai
Ulin ini, Ia memperoleh pengajaran langsung dari ayahnya, kakeknya dan
pamannya. hal ini kalau bisa disembunyikan."
Menurut sumber data bahwa sesudah Balai Adat "Balai Ulin" itu bubar maka beberapa tahun kemudian datanglah Dayak Ulang dan Dayak Bumbuyanin ke Lumpangi membawa ketiga anaknya agar diajari tentang Islam kepada Habib dan menemui kakaknya Muhammad Langara dan mohon agar Balai Adat Balai Ulin yang tidak berfungsi itu bisa dipindahkan ke Pantai Dusin Hulu Banyu.
Kemudian atas musyawarah dan kesepakatan bersama Balai Adat Balai Ulin Lumpangi dipindah ke Pantai Dusin Hulu Banyu, tetapi kakaknya minta agar 1 batang tiang dari bagian muka Balai Adat itu ditinggal atau dibiarkan tetap berdiri atau tidak dialih atau dipindah. Katanya "Tiang itu fungsinya dijadikan sebagai Simbol bahwa di Lumpangi pernah berdiri sebuah Balai Adat Dayak".
Menurut Ahmad atau Amat yang saya wawancarai, ia asal dayak Bayumbung yang sudah muslim ceritera dari datuk-neneknya bahwa " Bekas tiang-tiang ulin Balai Adat Balai Ulin itu telah diangkut atau dibawa ke Pantai Dusin Hulu Banyu".
Beberapa"sumber data menyebutkan bahwas salah satunya dari Datu nenek kami bahwa : "Semua ilmu Habib Abu
Bakar ayahnya, ilmu Habib Hasan kakeknya, ilmu Habib Idrus paman ayahnya dan ilmu Muhamamad
Langara kakeknya telah tertuang
dan tercurah pada
Habib Muhammad Djamaluddin (Habib
Lumpangi), Berkata ( Beliau keturunan Syarifah asal Amawang) Muhammad Bahrudin
bin Marsal salah seorang berilmu yang ikut berziarah ke makam Habaib Lumpangi bahwa "Habib Djamaluddin
adalah orang yang paling alim atau orang yang paling berpengetahuan diantara semua penghuni makam di Kampung Balai Ulin ini,
hal ini kalau bisa disembunyikan saja halnya."
04. Tetuha Adat Dayak Pang Ayuh bin Bumbuyaninin bin Ulang asal mula penguasa Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan
Berkata Muhammad Bahrudin
bin Marsal ( Beliau keturunan Syarifah asal Amawang) bahwa "Habib Djamaluddin adalah orang yang paling berprngaruh, ia orang
yang paling alim dan ia orang yang paling berpengetahuan agama
diantara semua penghuni makam di Kampung Balai Ulin ini, Ia memperoleh
pengajaran langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya. hal ini kalau bisa
disembunyikan."
Menurut folklor ceritera datu dan nenek kami bahwa berkata sebahagian orang Lumpangi masa itu bahwa “Tiada ada Orang yang memilki keilmuan yang paling dalam dan luas tentang Islam kecuali dimiliki oleh Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf".Ia memperoleh pengajaran dan bimbingan (suluk, riiyadhah) ilmu Islam langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya
Bumbuyanin
adalah nama Tetuha Adat Dayak yang mempunyai 3 anak, dua laki-laki dan satu
perempuan yakni Pang Ayuh, Bambang Basiwara dan Diang Gunung.
Menurut folklor ceritera datu dan nenek kami bahari bahwa “Dimasa kecilnya mereka bertiga pernah diutus atau dikirim orang tuanya ke Desa Lumpangi untuk menuntut Ilmu Islam kepada Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf, hingga masa mereka menuntut ilmu Islam bertahun-tahun, oleh karenanya mereka sangat mengenal Islam dengan baik dan mereka bisa baca Al Qur’an dan pandai baca tulis Arab Malayu”.. Dan juga Dimasa pendidikan (menuntut ilmu Islam) inilah Habib Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf mulai mengenal dan menyukai Umi Salamah (Diang Gunung) sepupunya sendiri.
Adapun anak Bumbuyanin yang pertama bernama Ayuh atau Datu Ayuh atau Dayuhan
atau Pang Ayuh, digambarkan orang
bahwa dia seorang lelaki yang berfisik kuat, gemar berkelahi atau berperang
tetapi kurang cerdas, mudah/gampang marah, sulit menerima hal-hal yang positif,
tetapi ia berhati baik dan dari dia menurunkan suku dayak Gunung
Meratus yang ada
sekarang ini.
Sedangkan anak yang ke-2. Bambang Swara atau Bambang Basiwara. digambarkan
orang bahwa dia berfisik agak lemah tetapi sangat homoris, punya otak berlian
dan cerdas dan menerima hal-hal yang positif. Ketiga anak sudah mengenal Islam
dengan baik tetapi Datu Ayuh belum berani berislam. Sebab takut kehilangan
kesaktian-kesaktin yang dia miliki turun-temurun.
Dan yang ke-3 adalah perempuan bernama Umi Salamah (Diang Gunung), dia
seorang puteri yang sangat cantik yang dinikahi oleh Habib Abu Bakar ast-Tsani
bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar Assegaf pada
pertengahan abad ke-18 Masihi. Melalui perkawinan ini Bambang Basiwara sebagai
wali dari adik perempuannya. Bambang Basiwara ini ia menjadi seorang muslim dan dia menurunkan
suku Banjar.
Versi lain ada yang punya berpendapat bahwa ceritera
ketiga anak ini dikenal oleh sebagian masyarakat Dayak Maratus yang pertama
bernama Ayuh atau Datu Ayuh atau Pang Ayuh, dia seorang lelaki yang berfisik
kuat, gemar berkelahi atau berperang tetapi kurang cerdas, sulit menerima
hal-hal yang positif, sosok ini di sebut
Dayuhan. Yang ke-2. Bambang Swara atau Bambang Basiwara. dia berfisik
agak lemah tetapi punya otak berlian dan cerdas dan menerima hal-hal yang
positif dan sangat homoris, sosok ini dikenal dengan nama "Paluy"
sedangkan yang ke-3 adalah perempuan bernama Diang Gunung, dia seorang puteri
yang sangat cantik rupawan, sosok ini disebut "Intingan".
05. Perkawinan Siti Sarah binti Abu
Thalib dengan
Habib Muhammad
Djamiluddin
bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin
Abdurrahman Assegaf
Akhirnya Abu Thalib beserta
isterinya dan Datu Muhammad Langara ayahnya membuat rumah baru dan pindah rumah
ke kampung Batu Tangah. Kemudian Abu
Thalib dikampung itu dikeruniai
anak perempuan an. Siti Sarah. Nantinya untuk
menambah kuatnya tali/hubungan darah/ kekeluargaan atau tali persaudaraan Habib
Abu Bakar Assegaf mengawinkan
Habib Muhammad
Djamiluddin
(Habib Lumpangi) anaknya setelah remaja dengan Siti Sarah binti Abu Thalib bin Datu Muhammad
Langara, ia seorang perempuan dari kampung Batu Tangah.
Setelah Muhammad Jamaluddin
tumbuh remaja hingga dewasa, Ia juga termasuk orang berpengaruh dan sangat dicintai dan disayangi
oleh Keluarga Dayak di Lumpangi setelah
ayahnya. Dan ia berada di desa yang sangat terisolasi dari keramaian kota, ia
tinggal diudik sungai Kali Amandit yang sangat jauh, kalau berpergian masa itu
selalu jalan kaki. Isterinya Siti Sarah seorang muslimah yang shalehah
keturunan asli Dayak Balai Ulin Lumpangi, begitu juga kedua orang tua muslim.
Siti Sarah binti Abu Thalib bin Muhammad Langara, ia seorang perempuan dari
kampung Batu Tangah Desa Lumpangi. Perkawinan sepupu tersebut membuahkan
keturunan anak laki-laki, ia lahir di Lumpangi, Ahad, 10 Jumadil Awwal 1149H/1736M
yang diberi nama Habib Ahmad
Suhuf yang panggilan
sehari-harinya Habib Ahmad.
Adapun adik kandung Muhammad
Djamiluddin antara lain : Sy. Ummi
Badar, Sy. Amas (Mastora) dan yang paling
bungsu bernama Ahmad
Djalaluddin, ia
dilahirkan 10 Sya’ban 1149H/1736M di Desa Lumpangi bersamaan tahun dengan
kelahiran Ahmad Suhuf dan kedua anak ini (Mamarina dan Kemanakan) tumbuh dan
dibesarkan dilingkungan orang-orang
muslim yang taat Agama islam di Desa Lumpangi, silsilah nasabnya
tercatat dengan baik.
06. KAROMAH HABIB LUMPANGI YANG BERLAKU HINGGA SAAT INI
Salah seorang Serjana Agama abad ke-21 Masihi keturunan Dayak Lumpangi Habib H.Hasan Baseri,S.Ag bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf Berkata bahwa "Andaikata Habib Djamiluddin bukan keturunan Dayak Lumpangi, walaupun ia adalah orang yang paling berprngaruh, ia orang yang paling alim dan juga ia orang yang paling berpengetahuan agama diantara semua penghuni Kampung Balai Ulin Lumpangi saat itu, hampir dipastikan ia tidak akan membatalkan beberapa tradisi suku Dayak yang berlaku di dalam Keluarganya. Akan tetapi karena beberapa tradisi suku Dayak di Keluarganya menyangkut untung dan rugi yakni dianggap merugikan sukunya maka ia membatalkan dan menghapusnya”.
Oleh karenanya Salah satu Karomah Habib Muhammaad Jamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf beserta anaknya yang terbesar adalah "Beliau dapat Membatalkan tradisi Suku Dayak Pegunungan Meratus dan mereka menerimanya dengan suka rela, tradisi dimaksud yakni "Tradisi Memuliakan Tamu Nginap, Tradisi Kuping Panjang, Tradisi Tato, Tradisi Tiwah, Tradisi Ngayau, dan Mantat Tu’Mate dan dapat mempersaudarakan orang-orang muslim dengan orang-orang Dayak".,
07. Ada beberapa Tradisi Suku Dayak Pegunungan Meratus dibatalkan oleh Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf
Dilansir dari berbagai sumber, bahwa suku Dayak memiliki berbagai tradisi unik, tetapi tradisi ini ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Muhammaad Jamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya kecuaali tradisi Tarian Gantar (batandik),. Beberapa tradisi yang ditinggalkan di antaranya meliputi:
1. Tradisi Memuliakan Tamu Nginap
Salah satu tradisi/adat Dayak ketika itu, bagi Tamu yang Nginap untuk kaum laki-laki lajang diperbolehkan tidur satu kamar/ satu kelambu dengan wanita lajang puteri dari Tetuha Adat. Bila tidak punya anak gadis maka isterinya yang menemani tidur tamunya. (kalua tamunya sudah beristeri maka ia tidur satu kamar dengan isteri sahabatnya) sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu atau sahabat, tak terkecuali dengan Habib, beliau tidur ditemani oleh Aluh Milah sepanjang malam, tetapi pagar ayu puteri Milah tetap terjaga dengan baik. Habib tidak mau mengganggu dan apalagi mempermainkan puteri Milah.
Adat Dayak adalah sangat meghormati dan memulikan tamu, Puteri Milah adalah seorang gadis Dayak yang lemah lembut, ia seorang gadis ramah dan homoris dan sulit untuk dilupakan.
Hal semacam ini dikuatkan oleh ceritera teman saya, dia seorang Serjana dibidang agama Islam. Dia berceritera kepada saya bahwa tamu laki-laki lajang yang nginap di rumah suku Dayak, ia diperbolehkan tidur satu kamar atau satu kelambu dengan wanita lajang anak Dayak sebagai bentuk penghormatan tuan rumah. Tradisi atau Adat Dayak tersebut masih berlaku hingga sekarang tahun 2020 disebagian suku Dayak Kalimantan.
Temannya berceritera bahwa ketika ia berada dipedalaman pulau Kalimantan tahun 2020, bekerja sebagai penebang pohon kayu jenis Meranti dan Ulin. Ia mulai bersahabat baik dan akrab dengan suku Dayak penduduk asli. Sahabatnya mengajaknya menginaf dirumahnya. Di rumah sahabatnya ini ia menginaf, makan, minum dan cuci pakaian. Ketika malam hari ia ingin tidur di salah satu ruangan, ia disuruh sahabat barunya tidur satu kelambu dengan anak perempuannya yang gadis lajang. Kemudian iapun tidur dengannya tetapi ia tidak berani mencumbu rayu, dan juga ia tidak mau merusak pagar ayu dan menggagahi anak perempuan sahabatnya.
Tradisi ini ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya.
2. Tradisi Kuping Panjang
Telingaan Aruu adalah tradisi adat Suku Dayak dengan cara memanjangan telinga. Untuk memanjangkan daun telinga, mereka menggunakan anting-anting berbentuk gelang yang terbuat dari tembaga. Anting-anting berukuran besar tersebut dalam bahasa kenyah disebut belaong.h
Di Kalimantan Timur, perempuan Dayak memiliki tradisi unik memanjangkan telinga mereka. Keyakinan di balik tradisi ini adalah bahwa telinga yang panjang membuat perempuan terlihat semakin cantik.
Selain untuk aspek kecantikan, memanjangkan telinga juga memiliki nilai simbolis dalam menunjukkan status kebangsawanan dan melatih kesabaran.
Proses memanjangkan telinga melibatkan penggunaan logam sebagai pemberat yang ditempatkan di bawah telinga atau digunakan untuk anting-anting.
Perempuan Dayak diperbolehkan memanjangkan telinga hingga dada, sementara laki-laki bisa memanjangkan telinga hingga bawah dagu.
Tradisi ini juga ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya.
3. Tradisi Tato
Tato atauo rajah adalah simbol kekuatan, hubungan dengan Tuhan, dan perjalanan kehidupan bagi suku Dayak. Tradisi tato ini masih dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan Dayak.
Proses pembuatan tato terkenal karena masih menggunakan peralatan sederhana, di mana orang yang akan ditato akan menggigit kain sebagai pereda sakit, dan tubuhnya akan dipahat menggunakan alat tradisional.
Setiap gambar tato memiliki makna khusus, misalnya tato bunga terong menandakan kedewasaan bagi laki-laki, sementara perempuan mendapatkan tato Tedak Kassa di kaki untuk menandakan kedewasaan mereka.
Dalam konteks sejarah, dikatakan bahwa suku Dayak Iban menggunakan tato ini selama peperangan untuk membedakan antara teman dan musuh.
Tradisi ini ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya.
4. Tradisi Tiwah
Kwangkey atau Kuangkay ialah upacara kematian yang dilakukan Suku Dayak Benuaq yang tinggal di pedalaman Kalimantan Timur. Tradisi ini berasal dari kata ke dan angkey, artinya adalah melakukan atau melaksanakan dan membuang bangkai.
Menurut istilah bahasa daerah setempat, Kwangkey mempunyai makna buang bangkai. Maknay yang ingin disampaikan adalah melepaskan diri dari kedukaan dan mengakhiri masa berkabung
Tiwah adalah upacara pemakaman masyarakat Dayak Ngaju yang melibatkan pembakaran tulang belulang kerabat yang telah meninggal.
Tradisi ini dilakukan sesuai dengan kepercayaan Kaharingan dan dipercaya membantu arwah orang yang meninggal untuk menuju dunia akhirat atau disebut juga dengan nama Lewu Tatau.
Selama pelaksanaan Tiwah, keluarga yang ditinggalkan akan menari dan bernyanyi sambil mengelilingi jenazah.
Proses pembakaran tulang belulang jenazah dilakukan secara simbolis, sehingga tidak semua tulang jenazah ikut dibakar dalam upacara Tiwah.
Tradisi suku Dayak ke-4 ialah Tiwah yang upacara pemakaman yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju. Dalam upacara ini, mereka akan membakar tulang belulang dari kerabat yang telah meninggal dunia. Menurut kepercayaan Kaharingan, tradisi Dayah Tiwah, dipercaya mampu mengantarkan arwah dari orang yang telah meninggal agar mudah menuju dunia akhirat atau disebut pula dengan nama Lewu Tatau. Ketika melaksanakan tradisi Tiwah, biasanya keluarga yang ditinggalkan akan menari dan bernyanyi sambil mengelilingi jenazah. Proses pembakaran tulang belulang jenazah hanya dilakukan secara simbolis sehingga tidak semua tulang jenazah akan ikut dibakar dalam upacara Tiwah.
Tradisi Penguburan
Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan:
1. penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat
2. penguburan di dalam peti batu (dolme
3. penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.
Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni:
1. dikubur dalam tanah
2. diletakkan di pohon besar
3. dikremasi dalam upacara tiwah
Prosesi penguburan sekunder
1. Tiwah adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan, sebagai simbol pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun atau beberapa tahun setelah penguburan pertama di dalam tanah.
2. jambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah.
3. Marabia
4. Mambatur (Dayak Maanyan)
Tradisi ini juga ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya. Terkecuali pengubur mayat dalam tanah
5. Tradisi Ngayau
Tradisi berburu kepala ini, yang pernah ada tetapi sekarang sudah dihentikan, melibatkan pemburuan kepala musuh oleh beberapa rumpun Dayak, seperti Ngaju, Iban, dan Kenyah.
Tradisi ini penuh dendam turun-temurun sebab anak akan memburu keluarga pembunuh ayah mereka dan membawa kepala musuh ke rumah. Ngayau juga menjadi syarat agar pemuda Dayak bisa menikahi gadis yang mereka pilih.
Pemuda Dayak diwajibkan untuk berpartisipasi dalam tradisi berburu kepala sebagai cara untuk membuktikan kemampuannya dalam memuliakan keluarganya dan meraih gelar Bujang Berani.
Larangan terhadap tradisi ini dihasilkan dari musyawarah Tumbang Anoi pada tahun 1874, yang bertujuan menghindari perselisihan di antara suku Dayak.
Ke-5 tradisi tersebut sudah ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya kecuaali tradisi Tarian Gantar
6. Manajah antang
Tradisi dari suku Dayak selanjutnya ialah manjah antang, tradisi ini merupakan suatu ritual untuk mencari di mana musuh berada ketika berperang. Menurut cerita masyarakat Dayak, ritual manajah antang merupakan ritual pemanggilan roh leluhur dengan burung Antang, di mana burung tersebut dipercaya mampu memberitahukan lokasi musuh. Selain dipakai ketika berperang, tradisi manajah antang pun dipakai untuk mencari petunjuk-petunjuk lainnya.
7. Mantat Tu’Mate
Seperti halnya Tiwah, tradisi mantat tu’mate merupakan tradisi untuk mengantarkan orang yang baru saja meninggal dunia. Namun mantat tu’mate berbeda dengan Tiwah. Sebab, mantat tu’mate dilakukan selama tujuh hari dengan konten acara iring-iringan musik serta tari tradisional. Setelah upacara selama tujuh hari selesai, barulah jenazah kemudian akan dimakamkan.
Ket. Referinsi No. 6-7 Artikel Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku Dayak
08. Tanggapan Pembatalan Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf terhadap Tradisi Adat.
Salah seorang Serjana Agama
abad ke-21 Masihi keturunan Dayak Lumpangi Sayyid H.Hasan Baseri,S.Ag bin
H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf Berkata bahwa "Andaikata Habib Djamaluddin
bukan keturunan Dayak Lumpangi, walaupun ia adalah
orang yang paling berprngaruh, ia orang yang paling alim dan juga ia orang yang
paling berpengetahuan agama diantara semua penghuni Kampung Balai Ulin Lumpangi
dan sekitarnya saat itu, hampir dipastikan ia tidak
akan membatalkan
beberapa tradisi suku Dayak yang berlaku di dalam Keluarganya. Akan tetapi
karena beberapa tradisi suku Dayak di Keluarganya menyangkut untung dan rugi
yakni dianggap merugikan
sukunya maka ia
membatalkan dan menghapusnya”.
Itupun disepakati oleh Datu Pang Ayuh dan Datu Bambang Basiwara dua orang tokoh
Pegunungan Dayak Maratus yang belajar ilmu Islam kepadanya selama
bertahun-tahun. Adapun Tradisi yang dibatalkan dimaksud adalah -Tradisi
Memuliakan Tamu Nginap, -Tradisi Kuping Panjang, -Tradisi Tato atau rajah
adalah simbol kekuatan, -Tradisi Tiwah atau Kuangkay ialah upacara kematian,
-Tradisi Penguburan Mayat tidak dalam tanah, -Tradisi Ngayau berburu kepala
musuh. Dan -Manajah antang, tradisi ini suatu ritual mencari di mana musuh
berada ketika berperang.
8. Tari Gantar
Tari Gantar adalah salah satu tarian khas Suku Dyak. Tarian ini adalah tari pergaulan muda-mudi Suku Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat.
Tarian Gantar mengekspresika kegembiraan serta keramahan dalam menyambut tamu, baik wisatawan atau tamu kehormatan. Tari ini juga berfungis untuk menyambut pahlawan dari medan perang. Ada tiga jenis tarian Gantar, yakni Gantar Rayat, Gantar Busai, dan Gantar Senak dan Kusa.
09.
Makam/ pusara Habib Muhammad Djamiluddin
(Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan
bin Hasyim Assegaf dengan Siti Sarah isterinya.
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami bahari dijelaskan bahwa “Habib Muhammad Djamiluddin (Djamaluddin)
bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf diperkirakan wafat
Jum'at, 10 Syawal 1195H atau 1781 Masihi”. Ia di makamkan berdampingan dengan
makam Siti Sarah isterinya, dengan usia
Habib sekitar 64 tahun dan ia berpusara di kampung Balai Ulin Lumpangi Kec.
Loksado. Kab. Hulu Sungai Selatan Adapun
Titik Koordinat makam/ pusara
Habib Muhammad Djamiluddin (Djamaluddin) dengan Siti Sarah
isterinya yakni lat 2,80908, long 115,41756,
143,5m, 281 derajat.
Berkata Habib Baseraninor bin H. Muhammad Barsih Assegaf “Waktu dahulu diareal Makam Habaib kampong Balai Ulin itu tumbuh sebatang pohon kembang kenanga yang besar. Pohon Kenanga itu tidak putus-putusnya terus-menerus berbunga (berkembang) sehingga Areal Pusara selalu bau harum. Tetapi tidaklah sembarang orang bisa mengambil kembang kenanga yang jatuh dari pohonnya diareal makam Habaib Lumpangi itu kecuali ada ikatan dzuriatnya sebab bila tidak ada ikatan dzuriatnya maka orang yang mengambilnya bunga kenanga itu, badannya kena sakit panas selama 3 hari 3 malam.
10. Anak-anak Datu Habib Lumpangi
Abu Bakar bin Hasan Assegaf
Adapun anak-anak Datu Habib Lumpangi
antara lain :
- Shalih (ibunya dari Seiyun Hadramaut)
- Abdurrahman Sungai Mesa Bandarmasih
- Abdul Hamid Sungai Pinang Nagara
- Muhammad Djamiluddin
- Sy. Ummi Badar,
- Sy. Amas (Mastora) dan
- Ahmad Djalaluddin, anak yang paling bungsu.
- Shalih (Seiyun Hadramaut)
- Abdurrahman (Sungai Mesa Bandarmasih)
- Abdul Hamid (Sungai Pinang Nagara)
- Muhammad Djamiluddin (Dayak Lumpangi)
- Ahmad Djalaluddin (Dayak Lumpangi)
Adapun anak laki-laki Datu Habib Lumpangi Abu Bakar bin Hasan Assegaf yang terkomvirmsi saat ini Juni tahun 2025 abad ke-21 Masihi dan silsilah nasabnya tercatat dengan baik antara lain ”
- Shalih
- Abdurrahman
- Abdul Hamid dan ia punya anak an.Saqqaf (dibaca Segaf - Nagara).
- Muhammad Djamiluddin
- Ahmad Djalaluddin
11. Saudara
kandung Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf
Adapun adik kandung Muhammad Djamiluddin antara lain : Sy. Ummi Badar, Sy. Amas (Mastora) dan yang paling bungsu bernama Ahmad Djalaluddin, ia dilahirkan 10 Sya’ban 1149H/1736M di Desa Lumpangi bersamaan tahun dengan kelahiran Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin yakni Ahad,10 Jumadil Awal 1149H/1736M di Desa Lumpangi, dan kedua anak ini tumbuh dan dibesarkan dilingkungan orang-orang muslim yang taat Agama islam di Desa Lumpangi, silsilah nasabnya tercatat dengan baik.
Menurut
catatan Habib Ahmad Ilham bin Janggi Ali Assegaf bahwa “Ahmad Djalaluddin salah
satu anak laki-laki Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf.” Hal ini
dapat dilihat catatan silsilah nasabnya yakni Ahmad Ilham bin Janggi Ali bin
Jambran bin Jama’in bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Husain bin Ahmad
Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf……..
`12. Balai Adat Balai Ulin yang besar kosong ditinggalkan Penghuninya dan dipindah ke Pantai Dusin Hulu Banyu
Setelah Balai Adat Desa Lumpangi yakni "Balai Ulin" bubar dimasa sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy Assegaf dan saat anaknya “Muhammad Djamiluddin” atau “Habib Lumpangi” masih kecil karena banyak penghuninya memeluk Islam, maka Balai Adat di Desa Lumpangi ini ditinggalkan oleh orang-orang Dayak yang tidak menerima Islam hingga berpuluh-puluh tahun. Ada yang menuju ke Hilir Banyu ke desa Harantan an. Bayumbung, kemudian dari Balai Adat Bayumbung, mereka menyebar, ada yang pindah ke Mariuh (Malinau) hingga ke Batung dan sekitarnya.
Mereka ada yang menuju ke Hulu Banyu yakni ke kampung Tamiang Malah Muara Hatip setelah beberapa tahun bermukim disini. Maka mereka hijerah dari Tamiang Malah Muara Hatip menuju Hulu Banyu kemudian mereka memindahkan dan mengangkut Balai Adat "Balai Ulin" yang berlokasi di Lumpangi ke Pantai Dusin Hulu Banyu Loksado.. Maka kala itu berdirilah sebuah Balai Adat di Pantai Dusin pindahan dari Balai Adat "Balai Ulin".
Tidaklah kala itu semua orang Dayak Tamiang Malah Muara Hatip ikut berpindah ke Pantai Dusin Hulu Banyu, akan tetapi ada sebagian kecil atau beberapa keluarga mereka yang bertahan. Nah mereka yang bertahan inilah beberapa generasi kemudian Balai Adat yang ada di Tamiang Malah ini dipimpin oleh Tetuha Adat atau Penghulu Adat atau Tutuha Balai. Menurut Habib Husni bin Mansyur bin Hasan bin Aliadam bin Abdullatif bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf yang pernah ia tanyakan langsung kepada orang Dayak bahwa "Salah satu Penghulu Adat atau Tetuha Adat Tamiang Malah bernama Pang Ijuh atau Julak Ijuh."
Masing-masing keluraga tersebut berpindah secara
bertahap, mula-mula mereka dari laki-lakinya membuka lahan bercucuk tanam,
bertani ladang yang dekat dengan Balai Ulin, kemudian setelah ladang panen
mereka menjemput satu persatu anak dan isterinya. Tahun demi tahun mereka
berladang berpindah-pindah hingga jauh dengan Desa Lumpangi tetapi hubungan
kekeluargaan tetap terjaga dengan baik. Padahal semua keluarga awal ini sudah
mengenal Islam dengan baik.
Menurut Folklor ceritera Datu-datu kami bahwa Perkawinan sepupu tersebut (Habib Muhammad Djamiluddin yang dipanggil sehari-hari "Muhammad" atau "Djamiluddin" atau "Habib Lumpangi" ia menikah dengan Siti Sarah binti Abu Thalib) menurunkan nasab anak laki-laki yang bernama Habib Ahmad Suhuf, yang dipanggil sehari-hari "Habib Ahmad".
Setelah dewasa anak ini dikawinkan dengan Diang Siti Aminah. Pernikahan ini membuahkan keturunan /nasab anak laki-laki. Anak laki-laki an. Habib Abu Bakar. Habib Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) bin Abu Bakar Assegaf yang panggilan sehari-harinya Habib Abu Bakar ast-Tsani. Setelah remaja - hingga dewasa ia dikawinkan dengan Umi Salamah (Diang Gunung) sepupunya desa Hulu Banyu (asal Dayak kampung Pantai Dusin).
Umi Salamah (Diang Gunung) beserta kedua saudara laki-lakinya pernah diutus oleh orang tuanya ke Desa Lumpangi untuk belajar ilmu Islam dimasa kecilnya kepada Habib Muhammad Djamiluddin, walaupun pada akhirnya salah satu dari mereka tidak menerima Islam. Dimasa pendidikan inilah Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf mengenal sepupunya an.Umi Salamah (Diang Gunung) asal Dayak kampung Pantai Dusin di Hulu Banyu Kecamatan Loksado.
XVIII. Rakam Jejak Perjalanan Habib Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf.
Habib Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin Assegaf, ia adalah seorang yang aliim sesudah ayahnya dan seorang yang shaleh, dan ia seorang yang ta’at yang memelihara iman dan islam, ia amat kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah dzahir dan bathin lainya.
01.
Kelahiran Habib
Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin
Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman
Assegaf.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Habib Ahmad Suhuf dilahirkan Ahad,10 Jumadil Awal 1149H/1736M di Desa Lumpangi, dan ia tumbuh dan dibesarkan dilingkungan orang-orang muslim yang taat Agama islam di Desa Lumpangi, ia berada di desa yang sangat terisolasi dari keramaian kota Kandangan, berada diudik sungai Kali Amandit yang jauh, kalau berpergian masa itu selalu jalan kaki. Isterinya Diang Galuh Aminah bin Abdullah bin Hamzah, ia adalah buyut Datu Muhammad Langara.
Sayyid Ahmad Suhuf adalah nama panjangnya, sedangkan Ahmad adalah nama panggilannya sehari-hari. Kedua orang tuanya memberinya nama Ahmad Suhuf. Nama ayahnya adalah Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) dan ibunya bernama Siti Sarah binti Abu Thalib bin Muhammad Langara. Ahmad adalah keturunan ke-3 atau cucu tersayang Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Kakek dan kedua orang tuanya menaruh harapan besar kepadanya.
02. Habib Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf Mendapatkan Pengajaran Ilmu Agama
Dimasa kecinya Habib Ahmad
Suhuf bin Djamaluddin bin Abu Bakar
Assegaf dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar Assegaf, keduanya berada di bawah
asuhan kedua orang tuanya di Desa Lumpangi, keduanya ingin mengembara kalau sudah
besar, ke Negeri orang, kata orang
tuanya bahwa “Kalau kau ingin merantau, ke Negeri orang, kau harus banyak
basango ilmu, supaya dimuliakan orang dan kembalinya kau selamat,” maka kedua
sepupu dan mamarina inipun telah membekali dirinya dengan giat belajar dan
berbagai ketarampilan dan juga bertanya tentang ilmu-ilmu agama kepada orang
tuanya, kepada kakeknya dan pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu
akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat.
Habib Ahmad Suhuf dan Ahmad
Djalaluddin keduanya Mendapatkan Pengajaran Ilmu Agama langsung dari :
-Muhammad Djamiluddin & Siti Raudah ayah-ibunya, -Abu Bakar kakeknya –Para
pamannya. Oleh karenanya mereka pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab
Malayu.
03.
Silsilah Nasab
Habib Ahmad Suhuf bin Muhammad
Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan
Assegaf
الْحَبِيْب اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله
04.
Habib Ahmad Suhuf bin Muhammad
Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan
Assegaf Menikah
dengan Siti Aminah
Menurut
sumber data bahwa Habib Ahmad Suhuf yang panggilan sehari-harinya Habib Ahmad telah menikah
masa remaja (usia muda) - hingga dewasa, tetapi tidak punya keturunan, maka untuk medapatkan anak keturunan
ia dikawinkan pula dengan Diang Galuh Aminah. Galuh Aminah adalah
salah satu keturunan buyut Muhammad Langara.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa di bawah usia 24 tahun Sayyid Ahmad Suhuf sudah menikah dan bekeluarga dan juga bertahun-tahun masa perkawinannya pasangan suami –isteri ini belum juga punya keturunan. Karena tidak punya anak, kemudian ia menikah lagi di usianya 43-45 tahunan dengan sepupunya Galuh Siti Aminah cucu Hamzah, asal desa Muara Lumpangi Kamis, 12 Jumadil Akhir 1191H /1777M. Kemudian hasil perkawinan tersebut di hari Senin, 10 Muharram 1213H atau bertepatan 25 Juni 1798 Masihi lahirlah seorang anak laki-aki yang diberi nama Sayyid Abu Bakar. ats-Tsani kemudian untuk membedakan nama anak ini dengan nama Kakeknya maka diujung namanya ditambah kalimat 'as-Tsani artinya yang ''kedua' maka namanya menjadi Sayyid Abu Bakar as-Tsani.
05. Dayak Bambang Basiwara dan adik kandungnya Diang Gunung Umi Salamah menerima hidayah Islam.
Malalui perkawinan Sayyid Abu
Bakar ats-Tsani bin
Ahmad dengan Umi Salamah dengan Wali nikahnya kakaknya sendiri yakni Bambang
Basiwara. Perkawinan ini terjadi Senin, 10 Muharram 1213H/ 25 Juni 1798M
diakhir abad ke-18 Masihi di masa dahulunya maka dengan Islamnya kedua kakak
beradik tersebut telah diikuti oleh orang-orang suku dayak daerah Hulu Banyu
Loksado, sebahagian mereka juga mendapat hidayah Islam. , .
Dengan berislamnya kedua kakak beradik an. Bambang Basiwara dan Diang Gunung (Umi Salamah) diikuti keluarga Dayak lainnya dan maka malalui perkawinan ini orang-orang suku dayak kampung Pantai Dusin Hulu Banyu di Kecamatan Loksado dulu, seperti :
- kampung Tarmangkung,
- kampung Tarlaga.
- kampung Lambuk
- kampung Tar Belimbing dan
- kampung sebahagian Kemawakan menjadi Muslim.
- kampung Majulung,
- kampung Ni'ih
- kampung Tanuhi
- kampung Hutap
- kampung Tariban menjadi Muslim.
Dayak Ulang dan kedua anaknya Bumbuyanin dan Bayumbung sudah mengenal Islam dengan baik, dia adalah adik kandung Muhammad Langara yang belum muslim. Kemudian namanya diabadikan oleh masyarakat setempat / dzuriat anak cucunya menjadi nama kampung atau nama desa, maka bernamalah lokasi tempat kediamannya menjadi desa Ulang. Dia adalah seorang Dayak yang melahirkan suku Dayak Ulang didesa Ulang. Dan sebagian desa-desa sekitarnya menjadi muslim seperti kampung Tariban dan kampung Hutap, tetapi untuk desa Ulang sendiri tahun 1970 an sudah dimasuki Agama Kristen.
06. Habib Ahmad Suhuf bersama Djamiluddin Assegaf Ayahnya Membatalkan beberapa Tradisi Suku Dayak Pegunungan Meratus.
Menurut
ceritera Datu-datu kami bahwa Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf kakeknya Habib
Ahmad Suhuf sudah datang, ia berada di Lumpangi tahun 1705M jauh sebelum
Belanda datang ke Kesultanan Banjar. Saat itu usia Habib Abu Bakar antara 40-45
tahunan, ia berniaga berjualan kain sarung dan perhiasan wanita, sambil
melakukan dakwah di Balai Ulin Lumpangi, Keberadaannya di desa tersebut semasa
dengan pemerintahan Sultan Tahmidullah, Raja Banjar ke-10 tahun 1700-1717 Masihi hingga Sultan
Tamjidillah I Raja Banjar ke-13 yang berpusat pemerintahan di
Martapura Kalsel Tahun 1734-1759M,
Kala itu Belanda belum menjajah Kesultanan Banjar.
Menurut
catatan Sejaarah Tahun 1747M,
Belanda menduduki Banjarmasin. Kemudian
tahun 1761–1801, masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II/Sunan Nata Alam. 1762,
Saudara Sultan Nata yang bernama Pangeran Prabujaya dilantik sebagai mangkubumi
oleh Dewan Mahkota Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar).
Menurut dari berbagai sumber atau data, bahwa suku Dayak memiliki berbagai unik, seperti : Tradisi memuliakan Tamu Nginap, - Tradisi Kuping Panjang, -Tradisi Tato /rajah adalah simbol kekuatan, - Tradisi Tiwah atau Kuangkay ialah upacara kematian/pembunuhan, - Tradisi Ngayau atau berburu kepala musuh, - Tradisi tempat Penguburan, - Tradisi Manajah antang, tetapi tradisi tersebut ditinggalkan oleh Dayak Pegunungan Maratus dan tradisi itu dibatalkan dan dihapus tgl. 10 Muharram 1174H /Kamis, 21 Agustus 1760 Masihi.dimasa keberadaan Habib Lumpangi yaitu Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf Sayyid Ahmad Djalaluddin dan Sayyid Ahmad Suhuf dan anak cucunya kecuaali tradisi Tarian Gantar (batandik),
07. Keberadaan Sayyid Muhammad Djamiluddin, Sayyid Ahmad Djalaluddin dan Ahmad Suhuf sa’at memanasnya suhu Politik masa Perebutan Kekuasaan Kesultanan Banjar sekitar tahun 1760 Masihi.
Kalau kita kaitkan Keberadaan
Sayyid Muhammad Djamiluddin, Sayyid Ahmad Djalaluddin dan Sayyid Ahmad Suhuf
Assegaf sa’at pembatalan dan penghapusan
beberapa Tradisi Adat Dayak Pegunugan Meratus, tgl.21 Agustus 1760 Masihi/1174H
di Lumpangi tidak terlepas dari ceritera atau bersamaan dengan masa perebutan
kekuasaan Sultan Banjar yakni Pangeran Amir dengan Pangeran Nata Alam. Ayah
Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir. Pangeran
Amir adalah anak Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang gagal naik tahta
Kesultanan Banjar pada tahun 1761 Masihi selaku ahli waris yang Sah. Walaupun
ia mendapat dukungan penuh dari seorang Ulama Besar Syaikh Sayyid Abdul Hamid
bin Sayyid Amir Musa (Datu Abulung) memiliki paham tasawuf Wahdatul Wujud yang
dipengaruhi aliran ittiihad Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj, Datu Abulung yang
masyhur dan Ulama berpegaruh di Kesultanan Banjar sa’at itu. Pangeran Amir, ia
diusir oleh walinya sendiri. Pada mulanya Pangeran Nata Alam, yang bekerja sama
penjajah dan dengan dukungan Belanda memaklumkan (mengokohkan) dirinya sebagai
Sultan Tahmidullah II. Adapun kekuasaan masa pemerintahan Sultan ini dari tahun
1761–1801 M. Ia adalah anak selir sehingga dianggap tidak layak mewarisi
takhta. Terlebih lagi, Pangeran Hidayatullah sebagai pewaris takhta yang sah
masih hidup. . Setelah Sultan Hidayatullah ditipu Belanda dengan terlebih
dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan kemudian ia
diasingkan ke Cianjur. Gesekan ini menimbulkan gerakan Muning, yang menjadi
pemicu Perang Banjar pada 1859..(Artikel "Raja-Raja Kesultanan Banjar").
Sultan Tahmidullah II,
(1761-1801M) dikenal juga sebagai Tamjidillah III, atau Sulaiman Saidullah I,
atau Sunan Nata Alam adalah Sultan Banjar yang memerintah pada tahun 1761
hingga 1801, menggantikan sepupunya, Muhammad dari Banjar. Pemerintahannya berhasil
mempertahankan kedaulatan dan pengaruh absolut sultan, yang menyebabkannya
diakui sebagai salah satu Sultan Banjar terbaik.
a.
Sekilas tentang Tasawuf Wahdatul Wujud yang dianut Syeikh Sayyid Abdul Hamid
(Datu Abulung).
Syeikh Sayyid Abdul Hamid
Abulung atau Datu Abulung memiliki paham tasawuf Wahdatul Wujud yang
dipengaruhi aliran ittiihad Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj yang masuk ke
Indonesia melalui Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumatrani, dan Syaikh Siti
Jenar. Dalam mengembangkan paham tersebut, dia mengenalkan ajaran "Ilmu
Sabuku", yaitu ilmu tasawuf yang menyatukan antara Tuhan dan hamba.
Menurut K.H. Irsayd Zein (Abu Daudi). inti Ilmu Sabuku dari Syaikh Abdul Hamid
Abulung sebagai berikut haqiqat hati dalam Tahlil dzikir pertama adalah (لَآإِلٰهَ إِلَّا اللهُ) La ilaaha illallah
(pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah).
Tiadalah maujud melainkan
hanya Dia,
Tiada wujud yang lainnya,
Tiada aku melainkan Dia,
Dialah-Aku, Aku adalah Dia.
Kemudian, ilmu ini diajarkan
kepada murid-muridnya yang berjumlah sepuluh orang, di mana mereka
mengembangkan ilmu tersebut meskipun Datu Abulung telah dihukum mati oleh
Sultan Tahmidullah II.
b. Hubungan Datu Abulung dengan Kesultanan Banjar dan Desas-desus politik Kesultanan.
Kesempatan Datu Abulung dalam
mengembangkan ajarannya mulai membuat hubungannya dengan Sultan Tahmidullah II
dan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari menjadi tidak harmonis. Hal ini berujung
pada perintah hukuman mati oleh sultan akibat tidak menaati perintah sultan
untuk menghentikan ajarannya. Dalam perintah hukuman mati tersebut, Sultan
Tahmidullah II meminta pendapat Datu Kalampayan terlebih dahulu. Menurut Datu
Kalampayan, sultan harus bernegosiasi dengan Datu Abulung dan jika dia tidak
menerima, maka keputusan diserahkan kepada sultan.
Perlawanan Syaikh Sayyid
Abdul Hamid bin Sayyid Amir Musa (Datu Abulung) terhadap Sultan Tahmidullah II
sangat mungkin berkaitan dengan memanasnya suhu politik kesultanan, khususnya
berkaitan dengan tuntutan Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah atas takhta
kesultanan. Dalam kasus ini, Datu Abulung kemungkinan mendukung pangeran
sehingga hanya dia yang berhak memanggil Datu Abulung ke istana karena menurut
Syaikh Sayyid Abdul Hamid bin Sayyid Amir Musa bin Sayyid Muhammad (Datu
Abulung), pangeran lebih berhak mewarisi takhta ketimbang sultan Tahmidullah II
yang berkuasa pada saat itu. Atas dukungan Syaikh Datu Abulung pada tahun
1760M, Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah menuntut haknya sebagai pewaris
takhta kesultanan dari Sultan Tamjidillah yang merupakan paman dan mertuanya
sendiri. Namun, pada tahun 1761, Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah meninggal
dan meninggalkan beberapa anak yang berhak menjadi sultan, yaitu Pangeran
Abdullah, Pangeran Rahmat, dan Pangeran Amir. Pangeran Abdullah dan Pangeran
Rahmat mati tercekik, sedangkan Pangeran Amir berpura-pura menunaikan haji ke
Makkah agar dia dapat bertemu pamannya, Arung Turawe dari Paser dan merebut
Martapura. Perebutan kekuasaan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Sultan
Tahmidullah II.
Sikap Sultan Tahmidullah II
dalam hal perebutan takhta kesultanan atas keturunan Sultan Hamidullah, rupanya
tidak disenangi oleh Syaikh Datu Abulung, sehingga kedudukannya (Sultan
Tahmidullah II) tidak didukung oleh Syaikh Datu Abulung. Hal ini dikarenakan Sultan
Hamidullah membiayai Datu Abulung dalam menuntut ilmu ke Haramain
(Mekkah-Madinah), sehingga Datu Abulung mendukung Pangeran Aliuddin Aminullah
bin Sultan Hamidullah untuk menjadi Sultan Banjar. Terlebih lagi, Sultan
Tamjidillah dinilai bersahabat dengan Belanda dan melakukan perjanjian kontrak
yang pada 18 Mei 1747 yang isinya bahwa Belanda berhak mendapat monopoli lada,
emas, dan intan. Mengingat perjanjian yang lebih menguntungkan Belanda dan elit
kesultanan ketimbang masyarakat Banjar, khususnya dari kalangan pedagang, Datu
Abulung bersikap lebih kritis terhadap elit kesultanan sehingga sering dianggap
para elit tersebut sebagai pembangkangan.
c.
Thariqat yang dianut oleh Syaikh Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung).
Syaikh Sayyid Abdul Hamid
(Datu Abulung) termasuk orang yang menganut aliran thariqat Naqsabandiyah, di
mana dia juga menyebarkan thariqat tersebut di sepanjang aliran Sungai
Martapura, mulai dari Sungai Tabuk, Abulung, Lok Buntar, Lok Baintan, Sungai Batang,
Sungai Rangas, dan sekitar aliran Sungai Riam Kiwa. Salah satu ajarannya yang
dikenal masyarakat yaitu dzikir "banasib dengan bapajah lampu",
dimana dalam praktiknya, memadamkan lampu sa’at dzikir sangat lazim dilakukan,
khususnya dzikir yang diiringi dengan nasyid, sehingga sering disebut
"dzikir dengan bapajah lampu". Sepeninggalan Datu Abulung, dzikir ini
disebarkan oleh murid-muridnya dan diteruskan dari generasi ke generasi.
d. Sanad thariqat Naqsabandiyah
Salah satu orang yang mengembangkan
thariqat dzikir ini di antaranya Abu Hasan Haji Abdullah Mu'ti yang belajar
kepada Haji Muhammad Nur dari Takisung (meninggal
pada tahun 1993). Lalu, Haji Muhammad Nur ini belajar ilmu ini kepada Haji
Ibrahim Hawranie. Lalu, Haji Muhammad Nur belajar ilmu ini kepada Haji Muhammad
Amin. Kemudian, Haji Muhammad Amin belajar ilmu ini kepada ke Haji Abdullah
Khatib. Lalu, Haji Abdullah Khatib belajar ilmu ini kepada Haji Abdul Hamim
yang belajar ilmu ini dengan Syaikh Abdul Hamid Abulung.
Pangeran Antasari, yang
merupakan keturunan dari Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah, yang tinggal di
Antasan Senor, disinyalir nerupakan pengikut thariqat ini, sekaligus pengikut thariqat Samaniyah yang
dikembangkan oleh Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
Marga Al-Maghribi Al-Hasani :
Keturunan dari Al-Quthub Syaikh Abdussalam bin Masyisy, Wali Agung dari Maroko Guru Murabbi Mursyid Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili Al-Hasani semoga Tuhan meridhoi mereka berdua.
إنه أبو محمد
سيدي عبد السلام بن مشيش- وقيل ابن بشيش- ابن أبي بكر بن علي ابن حرمة بن عيسى بن سلام
بن مزوار بن علي بن محمد بن مولانا إدريس دفين فاس، ابن مولانا إدريس دفين زرهون، وفاتح
المغرب، ابن مولانا عبد الله الكامل بن مولانا الحسن المثنى بن مولانا الحسن السبط
بن سيدنا علي ومولاتنا وسيدتنا فاطمة الزهراء بنت سيد العالمين، عليهم من ربهم جميعا
الصلاة والسلام*
Dia adalah Abu Muhammad Sayyidi Abd al-Salam ibn Masyisy—atau, seperti yang dikatakan sebagian orang, ibn Basyisy—ibn Abi Bakr ibn Ali ibn Hurmah ibn Isa ibn Salam ibn Mazwar ibn Ali ibn Muhammad ibn Mawlana Idris, dimakamkan di Fez (Fasi), ibn Mawlana Idris dimakamkan di Jarhun, Dan penakluk Maroko, putra dari tuan kita Abdullah al-Kamil ibn Maulana al-Hasan al-Musanna bin Maulana al Hasan al-Sibth ibn tuan kita Ali dan nyonya kita Fatima al-Zahra putri dari Pemimpin Alam Semesta, semoga shalawat dan salam Tuhan mereka tercurah kepada mereka semua.
كان مولاي عبد السلام ولد سنة (559ھ/1198م) بالحصين،[ إذ ينحدر من قبيلة بني عروس، كان معروفا بذله لله تعالى، وبتواضعه بين الخلق، كان إقباله على الله وإدباره عن الخلق سمة من سماته، عاش في بيئة سليمة، وترعرع بين أحضان أسرة كريمة من آل البيت التزمت بدين الله وشرعه.
Maulay Abd al-Salam ibn Masyisy, Dia lahir pada tahun 559 H/1198 M di al-Hushayni, karena dia berasal dari Kailah suku Banu Arus. Dia dikenal karena ketaatannya kepada Allah Yang Maha Kuasa dan kerendahan hatinya di antara manusia. Salah satu ciri khasnya adalah sikapnya yang berpaling kepada Allah dan menjauhkan diri dari manusia. Ia hidup dalam lingkungan yang baik dan dibesarkan di tengah keluarga bangsawan dari keluarga Nabi yang taat pada agama dan hukum Allah. Idris, dimakamkan di Zerhoun, dan penakluk Maroko, ibn Mawlana Abdullah al-Kamil ibn Mawlana al-Hasan al-Mutsanna ibn Mawlana al-Hasan.
e.
Silsilah nasab Syaikh Abdul Hamid Al-Maghribi Datu Abulung.
Kalaw kita lihat urutan Silsilah Nasab ke-Sayyidan-nya Sayyid Djamaluddin urutan ke-30 dan Sayyid Ahmad Suhuf urutan ke-31 diurut dari Rasulullah Saw, Fatimah az-Zahra, terus Hasan-Husain terus Hasan Al-Mutsanna - ‘Ali Zainal ‘Abidin terus ke bawah sd. Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung) juga menjadi urutan nasab ke-31.
Adapun Silsilah nasab Syaikh Sayyid Abdul Hamid Al-Maghribi atau yang lebih dikenal dengan Datu Abulung adalah :
- Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
- binti Fatimah Az-Zahra dan Ali Karamallahu Wajhah
- bin Hasan Al-Mujtaba
- bin Hasan Al-Mutsanna
- bin Abdullah Al-Kamil
- bin Maulay Idris Al-Akbar
- bin Maulay Idris Al-Ashgar
- bin Muhammad
- bin Ali Al-Haidarah (‘Ali)
- bin Mizwar (Mazwar)
- bin Sulaiman As-Salam (Salam)
- bin 'Isa
- bin Muhammad Al-Harmah (Hurmah)
- bin Ali
- bin Sayyidi Syarif Abu Bakar
- bin Masyisy atau (Basyisy)
- bin Quthubul Sayyidi Maulay Abdussalam Al-Maghribi (Maroko)
- bin Sayyidi Ahmad
- bin Syaikh Mahzub Qasim
- bin Yusuf
- bin Sayyidi Ahmad
- bin Syaikh Abul Hasan Ali
- bin Ahmad Al-Hakari
- bin Hasan
- bin Ali
- bin Muhammad
- bin Qasim
- bin Alamuddin Abul Rabi Sulaiman
- bin Sayyidi Muhammad
- bin Amir Musa
- Syaikh Abdul Hamid Al-Maghribi (Datu Abulung)
انه الشيخ عبد الحميد
المغرب ( داتوابولوغ) ابن عامر موسى ابن سيدي مُحَمَّدٌ ابن
علام الدين ابوالربّ سُلَيْمن ابن قاسم ابن مُحَمَّدٌ ابن علي ابن حسن ابن احمد
هنكارى ابن الشيخ ابو الحسن علي ابن احمد ابن يوسف ابن الشيخ محجوب قاسم ابن سيدي
احمد ابن أبو محمد سيدي عبد السلام بن مشيش*
f. Tentang Hukuman mati Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung)
Berdasarkan data pernikahan, kelahiran dan wafat dari anak, cucu dan dzuriat Syaikh : bahwa kepulangan tercatat dalam Biografinya Muhammad Arsyad al Banjari tiba sekitar pada Bulan Ramadhan 1165 H/ Juli 1752 M, Syaikh sudah
berada di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu. Mungkin sekitar
tahun 1761 Masihi yang sebelumnya Syaikh Muhammad Arsyad menjabat Mufti Kecil dinaikkan /
diangkat menjadi Mufti
Besar oleh Sultan
Tahmidullah II di Kesultanan Banjar pada sa’at itu.
Menurut Artikel yang pernah aku baca bahwa Micheal Laffan juga
mengungkap fakta sejarah bahwa salah satu momen penting dalam sejarah hidup Syaikh Muhammad Arsyad ialah kampanyenya melawan
shahabatnya sendiri yakni Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung,
seorang Ulama yang sangat berpegaruh di Kesultanan Banjar saat itu, ia
pendukung utama Muhammad Aliuddin Aminullah Putra Mahkota yang syah menuntut
untuk naik tahta Raja sa’at itu, dan ia juga seorang penganut ajaran Wujudiyah,
yang dianggap menyimpang oleh para ulama Sunni saat itu. Wujudiyah adalah ajaran yang
menekankan pada penyatuan eksistensi antara manusia dengan Tuhan.
Datu Abulung mengajarkan ilmu
yang didapatnya kepada masyarakat sekitarnya sudah lama seperti ilmu Tasawuf.
Namun ilmu Tasawuf yang beliau ajarkan kepada orang awam ini sangat berlainan
dengan pelajaran Tasawuf yang selama ini dikenal masyarakat, karena beliau
langsung mengajarkan inti dari ilmu Ma'rifat. Datu Sayyid Abulung mengajarkan bahwa
: "Tiada yang maujud hanya Dia dan Tiada maujud lain-nya, Tiada aku
melainkan Dia dan Dia adalah aku dan Aku adalah Dia". Dalam pelajaran Datu
Sayyid Abulung juga diajarkan bahwa Syariat yang diajarkan selama ini adalah
kulit, belum sampai kepada isi (Hakikat). Sedangkan pelajaran yang selama ini
diyakini masyarakat umum adalah "Tiada yang berhak dan patut disembah
selain Allah, Allah adalah khalik dan selainnya adalah makhluk, tiada sekutu
bagi-Nya."
Ajaran Datu Sayyid Abulung
ini kurang lebih seperti ajaran Abu Yazid al-Bustami, Husein bin Mansyur
al-Hallaj yang kemudian masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan
Syamsuddin di Sumatera dan Syaikh Siti Jenar di Jawa.
Mendengar fatwa Datu Sayyid
Abulung yang berbeda dari kebanyakan paham masyarakat pada waktu itu, maka
gemparlah masyarakat yang menerima ajaran tersebut, bahkan ajaran yang beliau
sampaikan menjadi pembicaraan masyarakat umum yang mana akhirnya sampai ke
telinga Sultan. Sebelum Datu Abulung dipanggil, Sultan terlebih dahulu minta
pendapat Syaikh Muhammad
Arsyad al-Banjari tentang ajaran Datu Abulung tersebut. Setelah menelaah
beberapa kitab dan kemudian disimpulkan bahwa ajaran yang dibawa Datu Sayyid
Abulung dapat menyesatkan masyarakat dan bisa merusak kehidupan beragama.
Berdasarkan keputusan
tersebut maka dipanggillah Datu Sayyid Abulung, salah seorang prajurit kerajaan
disuruh untuk mendatanginya. Sesampai di tempat Datu Abulung lalu dipanggillah
beliau.
Satu riwayat menceritakan
bahwa pemanggilan tersebut, prajurit itu berkata : "Wahai Syaikh Abdul
Hamid, anda dipanggil oleh baginda Sultan," kemudian dijawab oleh Datu
Abulung, "Syaikh Abdul Hamid tidak ada, yang ada hanya Allah. "
Mendengar hal tersebut, prajurit pulang dan mengadukannya kepada Sultan.
Kemudian Sultan menyuruh kembali dan memanggil "Allah" tersebut.
Setelah sampai, prajurit itu berkata "Wahai Allah, anda dipanggil baginda
Sultan," kemudian dijawab kembali oleh Datu Abulung "Allah tidak ada,
yang ada hanya Nur Muhammad." Mendengar hal tersebut, prajurit kembali
lagi dan mengadukannya ke Sultan. Kemudian Sultan berkata "Panggil
ketiganya, Syaikh Abdul Hamid Abulung, Allah, dan Nur Muhammad". Setelah
prajurit tersebut memanggil seperti yang diperintahkan Sultan, barulah Datu
Abulung memenuhi panggilan Sultan pergi menuju istana. Datu Abulung ditangkap
oleh pihak/petugas kesultanan karena menyebarkan ajaran Wahdatul Wujud.
Di tengah perjalanan menuju
istana dipasangkan perangkap yang apabila diinjak maka melesatlah sebilah
tombak tajam yang akan menghujam ke tubuh orang yang menginjaknya. Saat itu
terbukti kebenaran ajaran Datu Abulung, ketika beliau menginjak perangkap
tersebut tombak tajam itu memang melesat dengan cepatnya ke udara dan berhenti
tepat di belakang Datu Abulung dan jatuh ke tanah tanpa beliau mengetahuinya.
Setelah beliau sampai di
istana dan terjadilah tanya jawab, perdebatan yang dihadiri Pembesar Istana dan
tokoh Agama, Sultan ingin
bukti kebenaran ajaran Datu
Sayyid Abulung, kemudian Datu Sayyid Abulung berucap "Asyhadu allaa ilaha
illallah" tiba-tiba tubuh
beliau menghilang
dari kasat mata, kemudian beberapa sa’at kemudian terdengar suara "Wa
asyhadu anna muhammadarrasulullah" timbullah kembali badan beliau. Semua orang terpesoa dan kagum
melihat hal tersebut, tetapi para tokoh Agama salah satunya Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari sa’at itu musyawarah
mupakat dengan menimbang untuk keselamatan orang awam yang lebih banyak maka
dihukumlah Datu Sayyid Abulung.
Dalam riwayat Hukuman Pertama
g. Di Hukum ditenggelamkan ke
Dasar Sungai Lok Buntar
Datu Abulung di Hukum dengan dimasukkan ke dalam kerangkeng besi yang ukurannya hanya muat tubuh beliau dan hanya cukup untuk berdiri. Dengan kurungan seperti itu akhirnya beliau ditenggelamkan di sungai Lok Buntar, maka akhirnya tenggelamlah sampai ke dasar sungai.
Tanpa diketahui oleh semua
orang suatu kejadian aneh terjadi, apabila tiba waktu sholat fardhu maka
kerangkeng tersebut akan muncul ke permukaan dan beliau kemudian keluar dari
kerangkeng tersebut untuk melakukan sholat. Selesai sholat, secara perlahan
kerangkeng tersebut tenggelam kembali ke dasar sungai. Ada suatu riwayat yang
mengatakan bahwa sewaktu dia ingin melaksanakan salat Shubuh, tiba-tiba
kurungan besinya terangkat sampai di permukaan air sungai, sehingga dia salat
di atas permukaan air. Ketika dia selesai menunaikan salat, dia masuk ke
kurungannya dan kurungannya tersebut tenggelam kembali. Hal ini terjadi
berulang kali atau terus menerus ketika waktu salat lima waktu telah tiba dan
pernah disaksikan oleh beberapa orang, termasuk sepuluh orang pencari ikan yang
kelak menjadi muridnya.
Pada suatu malam menjelang
subuh, sepuluh orang pencari ikan melakukan aktivitasnya di sekitar
tenggelamnya Datu Abulung. Lamat-lamat mereka mendengar suara adzan,
perlahan-lahan mereka dekati sumber suara adzan tersebut, dari kejauhan mereka
melihat dan mengamati keganjilan dan keanehan Datu Abulung tersebut. Sejak saat
itu mereka mengangkat beliau menjadi guru mereka, dari beliau mereka belajar
berbagai ilmu agama islam. Karena jumlah mereka sepuluh maka dinamakanlah Orang
Sepuluh atau sekarang orang menyebutnya Datu Sepuluh. Setelah belajar, datu
sepuluh ini menjadi pegawai kerajaan.
h. Tragedy Hukuman mati akibat konflik Politik salah Dukungan di Kesultanan Banjar
Melihat kejadian tersebut, sultan memanggil Datu Sayyid Abulung untuk mengubah hukumannya menjadi hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya. Menurut suatu riwayat, Datu Sayyid Abulung berkata bahwa dia tidak dapat dibinasakan (dibunuh) dengan alat apapun dan jika sultan ingin membinasakannya (membunuhnya), dia harus menggunakan senjata yang ada di dinding rumahnya dan menancapkannya di pergelangan tangannya. Oleh karena itu, sultan memerintahkan ajudannya untuk mengambil senjata tersebut dan menggunakannya untuk menghukum Datu Abulung.
Ketika Datu Abulung hendak dieksekusi, dia meminta izin
kepada sultan untuk melaksanakan salat dua rakaat dan saat sujud salat
rakaat kedua itulah, eksekusi dilakukan dengan menusukkan senjata di
pergelangan tangannya oleh petugas kesultanan. Ketika sultan menengok ruang
eksekusi, dia melihat ceceran darah dari urat nadi pergelangan Datu Sayyid
Abulung yang membentuk tulisan "Laa Ilaaha Illallah, Muhammadur
Rasulullah" (Tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan
Allah). Selain itu, sultan melihat tubuh Datu Sayyid Abulung dalam keadaan
tidak bernyawa dengan posisi sujud. Cerita eksekusi Datu Abulung ini memiliki
kemiripan dengan cerita kematian Syaikh Siti Jenar dari Jawa dan Al-Hallaj dari
Irak.
Menurut Artikel yang pernah aku baca
bahwa Micheal
Laffan juga mengungkap fakta sejarah bahwa salah satu momen penting dalam sejarah
hidup Syaikh Muhammad Arsyad
al-Banjari, (beranjak dari jabatan Mufti Kecil) hingga ketika ia baru diangkat sebagai Mufti
Besar oleh Sultan
Tahmidullah II ialah kampanyenya
melawan pengaruh Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung, seorang Ulama yang berpengaruh di Kesultanan Banjar saat
itu, dan ia pendukung Putra Mahkota Muhammad Aliuddin Aminullah untuk naik
tahta raja yang syah di Kesultanan Banjar, Putra Mahkota memerintah setelah
melakukan kudeta (pemberontakan) terhadap mertuanya, Tamjidillah I, yang
merupakan ahli waris takhta sementara sa’at itu. Salah satu politik Sultan
Tamjidillah II (1761-1801M) yang berkuasa
saat itu, meyingkirkan pendukung utamanya dulu yaitu Datu Sayyid Abulung
seorang penganut ajaran Wujudiyah, yang dianggap menyimpang oleh para ulama
Sunni saat itu. Wujudiyah
adalah ajaran yang menekankan pada penyatuan eksistensi antara manusia dengan
Tuhan.
Syaikh Sayyid Abdul Hamid
Abulung, haulnya diperingati setiap tanggal 12 Dzul Hijjah. Dia wafat diperkirakan tanggal: Rabu, 15 Juli 1761 Masehi dan tanggal hijriyah: 12 Dzulhijjah 1174 Hijriyah, dimakamkan di Kampung
Abulung, yaitu kini berada di Kecamatan Sungai Batang, Martapura Barat,
Kabupaten Banjar.
Referensi :
- Artikel “Abdul Hamid Abulung al-Banjari” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas./ https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Hamid_Abulung_al-Banjari
- Artikel “Pengubah Tanggal Masehi dari/ke Hijriyah” //https://www.al-habib.info/kalender-islam/pengubah-tanggal-lahir-kalender-hijriyah.htm
- Artikel “Hamidullah dari Banjar” https://en.wikipedia.org/wiki/Hamidullah_of_Banjar
- Artikel “Mengenal Thariqat Samaniyah: Pendiri, Ajaran, dan Adabnya” //Sumber: https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/mengenal-thariqat-samaniyah-pendiri-ajaran-dan-adabnya-HTLUX
- Artikel “TEROKAI SUFI, HAKIKAT DAN MAKRIFAT” // http://delisufi.blogspot.com/2012/08/thariqat-khalwatiyyah-bahagian-1.html
- Artikel “Manaqib Syekh Abdul Hamid Abulung al-Banjari// http://nursakunti.blogspot.com/2017/11/manaqib-syekh-abdul-hamid-abulung-al.htmlManaqib Syekh Abdul Hamid Abulung al-Banjari
06. Wafatnya Habib Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Habib Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin Assegaf atau dipanggil sehari-harinya "Ahmad" Ia wafat Ahad,13 Jumadil Awal 1211H/ 1796M di usia 60 tahun dan dimakamkan berdampingan dengan isterinya Diang Galuh Siti Aminah di kampung Balai Ulin Desa Lumpangi Loksado.
Makam Habib Ahmad Suhuf bin M.Jamiluddin dan Galuh Aminah
Sayyid Ahmad Suhuf telah mengabdikan seluruh hidupnya, telah
mewakafkan dirinya, dan sejak keberadaannya di tanah kelahirannya desa Lumpangi
dan sekitarnya ini, selama berpuluh-puluh-tahun dalam mengenalkan Islam dengan
baik kepada keluarganya suku Dayak Pegunungan Meratus dan mengembangkan Islam,
mengajar dan membina masyarakat Islam menjadi masyarakat yang berakhlak mulia
dan yang Agamis di desanya hingga masa akhir hayatnya.
Sayyid Ahmad Suhuf dimakamkan
berdampingan dengan isterinya Diang Galuh Siti Aminah di kampung Balai Ulin Desa
Lumpangi Loksado. Adapun Titik Koordinat, pusara makam Sayyid Ahmad Suhuf dan
Galuh Siti Aminah isterinya adalah lat 2,80926, long 115,41769, 144,7m, 134 derajat.
Keberadaan Syekh H. Ahmad bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Balimau di Abad ke-19 Masihi mulai tahun 1805 Masihi.
Syaikh Haji Ahmad (Balimau Kandangan) Lahir
di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1189H /1775M, dari penikahan
Sayyid Utsman bin Muhammad bin Ismail dengan Syarifah binti Syaikh Muhammad
Arsyad Al Banjari. Ia adalah cicit pertama dari ulama besar Kalimantan yaitu
Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan.
Dikisahkan bahwa Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari menikah
dengan ma Puan Bajut, & mempunyai
dua orang anak perempuan bernama Syarifah (lhr.1735M) dan Aisyah (lhr.
1753M). Syarifah kemudian menikah dengan Sayyid Utsman dan melahirkan seorang anak
laki-laki bernama Mufti H. Muhammad As'ad. Mufti H. Muhammad As'ad setelah
dewasa ia menikah dengan wanita salihah bernama
Hamidah di Desa Balimau Kec.
Kalumpang Kab. HSS dan pasangan ini dikaruniai 12 orang keturunan /anak, salah
satunya adalah Syaikh Haji Ahmad Balimau.
Syaikh Haji Ahmad Balimau
Usia 20 tahun, sekitar 1209H/ 1795H, ia naik haji ke Mekkah al-Mukarramah dan
sekaligus menuntut ilmu Agama di Haramain selama kurang lebih 10 tahun. Sekitar
tahun 1219 Hijeriah / 1805 Masihi dari menuntut ilmu Agama di Haramain kemudian
ia pulang ke kampung Dalam Pagar, Martapura. Di tahun kepulangannya Syaikh H.
Ahmad, setelah dianggap oleh ayahnya dirinya sudah sanggup untuk mengemban
amanah Allah untuk melanjutkan misi Rasululullah SAW, iapun dikawinkan terlebih
dahulu di Martapura kepada seorang perempuan yang salehah puteri dari seorang
alim, yaitu yang bernama Aisyah puteri Qadhi H Mahmud bin Asiah binti Syaikh
Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Menurut Artikel yang saya baca bahwa “Semua itu berpangkal diawali pada tahun 1806M/1220H, dimana Syaikh H. Ahmad (yang dulunya lahir dan menetap di kampung Dalam Pagar, Martapura) dikirim ke Balimau, kampung halaman ibundanya (an.Hamidah binti Abdullah, bamakam di Kubah Datu Taniran) untuk menyebarkan ilmu agama. Ia juga dikenal sebagai seorang mufti di Kesultanan Banjar, melanjutkan peran yang sebelumnya diemban oleh ayahnya. Syaikh H. Ahmad memiliki 11 anak yang keturunannya kini tersebar luas di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.
Setelah kawin di Martapura ia
mendapatkan tugas dari ayahnya untuk menyebarkan ajaran agama Islam di daerah
Balimau. Dengan ilmu yang ia miliki dari hasil belajar dengan datu dan ayahnya
yang berpengetahuan luas, dapatlah ia melakukan misinya sehari-hari, dengan
meyakinkan masyarakat untuk hidup beragama dan mengamalkannya. Ia selalu disambut
dengan sambutan positif dan selalu diikuti oleh para muridnya, khususnya
masyarakat daerah Balimau.
Dari hasil perkawinannya
dengan seorang perempuan salehah puteri seorang qadhi dari Martapura ia
dianugerahi oleh Allah enam orang anak, empat orang putera dan dua orang
puteri, diantaranya :
- H Muhammad, Balimau, seorang alim yang menjadi qadhi.
- Khadijah (bergelar dengan Dayang Rambai)
- H Khalil
- Ruqaiyah
- Abu Bakar
- Nur’ain
Kemudian ia kawin lagi dengan seorang perempuan salehah yang bernama Hamidah yang berasal dari Amuntai dan ia dianugerahi oleh Allah SWT tiga orang anak, dua orang puteri dan seorang putera, diantaranya :
- Khadijah
- Muhammad Ali
- Nurjanah
Isterinya yang ketiga adalah seorang perempuan salehah yang berasal dari Desa Balimau, Kandangan dan darinya dianugerahi oleh Allah SWT lima orang anak, dua orang puteri dan tiga orang putera, diantaranya :
- Sa’diyyah
- Husain
- Hasan
- Abdullah Faqih
- Mahabbah
Wafatnya Syaikh H.Ahmad bin Mufti Haji Muhammad As’ad
Ahmad bin Mufti Haji Muhammad
As’ad berkiprah sebagai penerus ayah dan datunya. Dengan penuh semangat dalam
membangun masyrakat untuk meningkatkan keyakinan beragama dan memantapkan
pelaksanaan ajaran aganma Islam, dengan tidak mengenal lelah dan tanpa pamrih
hingga akhir hayatnya.
Haji Ahmad mejelang usianya kurang lebih 68 tahun, sudah sering sakit-sakitan dan pada akhirnya ia Wafat hari Rabu, 21 Rabi’ul Awwal 1257H/ Rabu, 12 Mei 1841M dan dimakamkan di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang. Makamnya terkenal dengan nama Kubah Balimau. Sering dikunjungi para penziarah yang datang dari berbagai daerah.
Referensi :
Artikel “Manakib H Ahmad Balimau dan Silsilahnya,” https://id.scribd.com/document/870575636/Manakib-Datu-Ahmad-Balimau-PDF
Artikel “Riwayat Singkat 5 Bersaudara Dzuriyat Datu
Kalampayan Yang Menjadi Ulama Besa,” https://www.beritabanjarmasin.com/2022/04/riwayat-singkat-5-bersaudara-dzuriyat.html
Artikel
“Datu Ahmad Balimau Kandangan.” http://aladamyarrantawie.blogspot.com/2012/07/datu-ahmad-balimau-kandangan.html
XIX. Rakam Jejak Sayyid Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf
01. Lahirnya Sayyid Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Habib Abu Bakar ast-Tsani adalah anak pertama dari pasangan suami isteri Habib bin Ahmad Suhuf Assegaf dengan Diang Galuh Aminah, asal desa Muara Lumpangi, pasangan suami isteri ini menikah Senin, 10 Muharam 1190H atau 1776M. Kemudian Abu Bakar ast -Tsani lahir hari Rabu 15 Dzulhijjah 1191H/ 1778 Masihi di Lumpangi. Dan Abu Bakar ast-Tsani adalah keturunan ke-3 atau cucu tersayang Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar (Habib Lumpangi) Ia adalah buyut dari Habib Abu Bakar Bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.
Sedangkan nama Abu Bakar adalah nama pemberian dari kedua orang tuanya. Dan ia menjadi nama panggilannya sehari-hari, as-Tsani artinya yang kedua, yang disisipkan dibelakang namanya. Hal ini diberikan adalah sebagai nama pembeda dengan Datuknya Sayyid Abu Bakar. Oleh karenanya ia juga berwajah-serupa dan postur tubuhnya dan prilakunya persis sama dengan Datuknya Sayyid Abu Bakar Assegaf. Maka orang-orang sekelilingnya dan sahabatnya menyebutnyai "Abu Bakar as-Tsani" yakni " Abu Bakar yang kedua".
02. Sayyid Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin Assegaf Menerima Ilmu Agama
Sayyid Abu Bakar ast-Tsani adalah seorang anak cerdas dan shalih yang membanggakan orang tuanya, ia memperoleh pengajaran ttg Islam langsung dari ayah-ibunya dan kakeknya dan juga dari Paman-pamannya.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Abu Bakar ast-Tsani Assegaf mendapatkan pengajaran Agama langsung dari : - Diang Galuh Aminah ibunya, - Ahmad Suhuf ayahnya, - Muhammad Djamiluddin dan Ahmad Jalaluddin kakeknya. Dan guru-guru agama disekitarnya. Sejak kecil iapun telah membekali dirinya dengan giat belajar ilmu-ilmu agama kepada orang yang lebih tua dari nya, juga kepada orang lain tentang ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat. Oleh karenanya ia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu.
Menurut sumber data bahwa sesudah Balai Adat Balai Ulin bubar maka beberapa tahun kemudian datanglah Dayak Ulang dan Bumbuyanin dan Bayumbung kedua anaknya ke Lumpangi. Bumbuyanin membawa ketiga anaknya an. Pang Ayuh, Bambang Basiwara dan Diang Gunung (Umi Salamah). Usia Bambang lebih tua dari Abu Bakar as-Tsani dan usia Umi Salamah lebih muda 2 tahun darinya. Keduanya ayah dan kakeknya minta kepada Habib agar ketiga anaknya diajari tentang Islam. Mereka nanti akan tinggal di kampung Balai Ulin beberapa tahun mempelajari ilmu Islam. Saat itu Dayak Ulang dan Bumbuyanin menemui kakaknya Muhammad Langara dan keduanya memohon agar Balai Adat Balai Ulin yang tidak berfungsi itu bisa dipindahkan ke Pantai Dusin Hulu Banyu dan disetujui.
03. Silsilah Nasab Sayyid Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf
الْحَبِيْب اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله
04. Perkawinan Habib Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf dengan Umi Salamah (Diang Gunung).
Disebutkan orang bahwa keadaan fisik Datu Habib Lumpangi yakni Habib Abu Bakar bin Hasan adalah seorang saudagar muda berperawakan tinggi besar, dada bidang, berkulit putih kemerahan, berwajah arab tampan (gentang) punya jabis dan kumis tipis dan juga berjanggut tipis kala beliau datang ke Lumpangi.
Menurut beberapa informasi yang saya dapat bahwa salah seorang turunan ke-3/buyut Habib Abu Bakar bin Hasan yang bernama Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf dikala mudanya, ia berwajah tampan dan gentang punya jabis dan kumis tipis dan juga berjanggut tipis, wajahnya mirip sekali dengan Datuknya Sayyid Abu Bakar.bin Hasan Assegaf. Baik Postur bentuk tubuhnya maupun tingkah lakunya persis seperti Datuknya. Maka oleh karenanya orang-orang sekellingnya memanggil namanya yakni "Abu Bakar as-Tsani".
05. KAROMAH HABIB ABU BAKAR AS-TSANI BIN AHMAD SUHUF ASSEGAF
Salah satu karomah terbesar Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf adalah melalui perkawinannya dengan Umi Salamah (Diang Gunung) binti Dayak Bumbuyanin bin Dayak Ulang maka berIslamlah Orang-orang Hulu Banyu Kec. Loksado di akhir abad ke-18 Masihi.
Malalui perkawinan Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad dengan Umi Salamah dengan Wali nikahnya kakaknya sendiri yakni Bambang Basiwara. Perkawinan ini tterjadi Senin, 10 Muharram 1213H atau 25 Juni 1798 Masihi diakhir abad ke-18 Masihi dahulunya maka dengan Islamnya kedua kakak beradik tersebut telah diikuti oleh orang-orang suku dayak daerah Hulu Banyu Loksado, sebahagian mereka juga mendapat hidayah Islam. , seperti
- kampung Tar Laga.
- kampung Majulung,
- kampung Ni'ih
- kampung Tanuhi,
- Kampung Tamiyng Malah (Muara Hatip)
- Kampung Hutap
- Kampung Tariban.
- Kampung Tar Mangkung,
- kampung Lambuk
- kampung Tar Belimbing
- dan kampung sebahagian Kemawakan menjadi Muslim.
Menurut ceritera Habib Muhammad Jamberi, dan yang dikuatkan ceritera Habib Muhammad Burhanuddin ar-Rabbani bin Ahmad Baderi Assegaf yang saya temui berkali-kali dan saya wawancarai di kediamannya Desa Tabihi tentang asal sebahagian orang-orang Hulu Banyu menerima hidayah Islam. Dan beliau berceritera ceritera dari sepupunya Habib Muhammad Djamberi bin Ahmad Darani bin Abdul Hamid bin Habib Aliadam Assegaf dan tercatat nasabnya dengan rinci bahwa “tertulis Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf adalah cucu Habib Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) bin Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) bin Hasan Assegaf kawin dengan Umi Salamah (nama asal dayak : Diang Gunung) binti Bumbuyanin bin Ulang. orang dari Hulu Banyu kampung Pantai Dusin yang mau menerima Islam (puteri ini adalah sepupu Habib sendiri). Hasil perkawinan ini menurunkan nasab, tiga anak laki-laki” an.
- Ibrahim
(gelar Abu Tha'am),
- Abdul Lathif
(gelar Abu 'Aly)
- 'Abdullah dan nama gelar Beliau "Abu Ali" ( Abu Tayau).
Adapun keturunan ke-3 dari
Habib Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin M.Jamiluddin Assegaf yakni Habib Abdullah, nama kehormatannya Abu Ali / Abu Tayau adalah keturunannya
yang ada di Lumpangi mereka belum ada yang tervalidasi hingga saat ini.
Menurut Al-Habib Burhan Noor bin Ahmad Baderi Assegaf dikediamannya Desa Tabihi Kec.
Padang Batung, beliau bercerita kepada saya bahwa Ahmad Baderi ayah dan
kakeknya Habib Tanqir Ghawa, bercerita kepadanya bahwa "Abdullah", nama kehormatannya Abu
Tayau, ia menikah 7 kali dengan wanita yang
berbeda untuk mendapatkan keturunan (anak), pernikahannya yang pertama hingga
ke-4, isteri dicerai lentaran tidak punya anak. Adapun pernikahannya ke-5 punya
anak 3 orang, kemudian isterinya wafat. Kemudian pernikahannya yang ke-6 punya
anak 1 orang, kemudian isterinya wafat. dan pernikahannya yang ke-7 punya anak /keturunan 5 orang, ia seorang pengembara hingga Pulau
Emas.
06. Habib Abu Bakar ats-Tsani , Beliau wafat dengan usianya yang panjang lanjut
Habib Abu Bakar as-Tsani lahir hari Rabu, tgl. 15 Dzulhijjah 1203H/ 05-09-1789 Masihi di Lumpangi, Beliau wafat dengan usianya 1 abad bahkan lebih, tetapi ada yang menyebutkan bahwa Beliau wafat yakni Jum'at, 14 Januari 1875M atau bertepatan 17 Dzulhijjah 1292H. Sumber lain juga ada yang menyebutkan bahwa Beliau diberi Allah Swt umur panjang dan ia sudah punya buyut an. Habib Tanqir Ghawa bahkan ada menyeutkan Beliau sudah punya pipit (intah) saat hidupnya, Beliau menutup mata meninggalkan anak cucunya Kamis 27 Maret tahun 1902M/1319H dengan usia Beliau 113 tahun Masihi ketika wafat. Beliau dimakamkan kampung Balai Ulin Lumpangi Loksado.Haulan Beliau tersebut dilaksaaanakan oleh Ahlul Bait setiap tanggal 17 Dulhijjah.
Keberadaan
Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad
dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Taniran di Abad
ke-19 Masihi mulai tahun 1812 Masihi.
Keberadaan Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf sebagai Ulama dan Guru / Utstad membangun (mengislamkan) dan membina masyarakat Agamis di kampung Taniran sa'at itu. Ia dan Abu Bakar anaknya penyebar Islam lebih awal atau lebih dulu yakni pada awal abad ke-18 Masihi sekitar tahun 1702M. Kemudian dilanjutkan oleh Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad pengembangan dan penyebaran Islam di awal abad ke-19M.
Menurut Artikel Biografi Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari bahwa : Kepulangan pertamanya menuntut ilmu Agama dari Mekkah al Mukarramah, Syekh
beserta rombongan tiba di kampung halaman, sekitar pada Bulan Ramadhan 1165
H bertepatan Juli 1752 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung
halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar
pada masa itu, usia Muhammad As’ad kala itu sekitar satu bulan.
Kemudian setelah ia dewasa Mufti. H.Muhammad As'ad bin Sayyid
Utsman menikah dengan Hamidah binti Abdullah orang Desa Balimau punya 12
putra-putri tetapi 5 orang putera menjadi ulama besar, yaitu :
1. Haji Abu Thalhah, lahir
di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1771 M 1185 H dan Wafat dan dimakamkan di Tenggarong,
Kutai, Kalimantan Timur
2. Haji Abu Hamid,
lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1773 M1187 H dan wafat 10 Rabi’ul Awwal 1270 Hijeriah, Ahad, 11 Desember 1853 dan dimakamkan di ujung Pandaran, Sampit, Kalteng
3. Haji Ahmad Balimau, lahir di kampung
Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1775 M/1189 H dan Wafat Rabu, 21 Rabi’ul Awwal 1257H/12 Mei 1841M dan dimakamkan di Balimau,
4. Mufti Haji Muhammad Arsyad lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1777 M/1191 H Wafat Sabtu, 23 Rabiul Awwal 1275 H dii masa pemerintahan Sultan Abdur
Rahman bin Sultan Adam, usia sekitar 84 tahun dan dimakamkan di Pagatan,
Kalsel.
5. Haji Sa'adud-din, lahir di kampung Dalam Pagar,
Martapura, sekitar tahun 1779
M/1193 H dan wafat Senin, 05
Shafar 1278 H atau 12 Agustus 1861 Masihi yang dimakamkan (Desa Taniran Kubah Kab.HSS).
Syekh H. Sa'duddin berada di
Taniran sekitar tahun 1812M. H Muhammad Thaib atau Syekh H.Sa’duddin lahir
tahun 1779M/1193H di Kampung Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten
Banjar, Usia 25 tahun, ia pergi ke Tanah Suci Makkah selama kurang lebih 10
tahun untuk menimba ilmu.
Diperkirakan sekitar tahun
1812M setibanya, ia dari Makkah, dua tahun setelah kedatangannya menuntut ilmu
Agama di tanah Haramain (Mekkah-Madinah) kemudian datanglah tokoh masyarakat
(Tetuha kampung Taniran salah satunya
Abah Saleh) kepada Mufti H.Muhammad As’ad ayahnya, meminta agar mengirim
seorang guru ke Taniran untuk memberikan pendidikan agama, dan bersedia menetap
tinggal di Taniran. Permintaan itupun dipenuhi, seiring waktu berjalan kemudian
ia bersama masyarakat Taniran merehap "Masjid Darul Lathif" yang
bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian dipugar Masjid tersebut
meggunakan kayu Ulin semuanya beratap sirap, yang dibeli dan dibawa dengan
perahu jukung dari Kota Nagara kala itu.
Untuk menyatakan rasa
syukurnya, masyarakat kampung Taniran menghibahkan sebidang tanah perkebunan
kelapa kepada Haji Sa'adud-din seluas kurang lebih sepuluh borongan (28,900 m).
Tanah tersebut dipergunakannya untuk komplek pengajian dan perumahan. Di awal
Abad ke-20 Masihi di atas tanah Hibah itulah sekarang berdiri seuah Masjid
As-Sa’adah, yang didirikan pada tahun 1923 M, beserta rumah tempat tinggal
beberapa dzuriatnya. Kemudian pada tahun itu juga Masjid Darul Lathif yang
terletak di Rt.02 Taniran dialih fugsikan mejadi Langgar Darul Lathif, setelah “Masjid
As-Sa'adah” Kampung Taniran Rt.01 difungsikan.
Haji Sa'adud-din (Muhammad Thaib), lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1193H/1779 M dan Syaikh Muhammad Thaib, Beliau tutup usia atau wafat Senin, 05 Shafar 1278 H atau bersamaan tanggal 12 Agustus 1861 Masihi yang dimakamkan (Desa Taniran Kubah Kec. Angkinang Kab.Hulu Sungai Selatan).
Referensi :
- Artikel “Riwayat Singkat 5 Bersaudara Dzuriyat Datu Kalampayan Yang Menjadi Ulama Besa,” https://www.beritabanjarmasin.com/2022/04/riwayat-singkat-5-bersaudara-dzuriyat.html
- Artikel “Datu Taniran” Rabu, 26 Maret 2014// http://sketsahss212.blogspot.com/2014/03/datu-taniran.html
- Artikel “Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) menggali masa lalu, pada masa kini, untuk masa depan yang cerah” Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi.
- Artikel “Manakib H Ahmad Balimau dan Silsilahnya,” https://id.scribd.com/document/870575636/Manakib-Datu-Ahmad-Balimau-PDF
- Artikel “Syekh Sa'dudin, Ulama Martapura yang Masyhur di Taniran Kandangan”/ https://www.beritabanjarmasin.com/2022/02/syekh-sadudin-ulama-martapura-yang.html
- Artikel “Manaqib Datu Taniran, Cicit Datu Kalampayan Yang Berdakwah di Kandangan”//https://albanjari.com/2022/09/03/manaqib-datu-taniran-cicit-datu-kalampayan-yang-berdakwah-di-kandangan/
- Artikel “Datu Taniran di Kandangan”//http://lisan-alfaqir.blogspot.com/2015/03/datu-taniran-di-kandangan.html
XX. Biografi Sejarah Singkat Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin Assegaf
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Abu Tha'am Ibrahin, Ia adalah seorang yang shaleh, dan ia seorang yang ta’at yang memelihara iman dan islam, ia amat kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah bathin lainya.
01. Lahirnya Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Habib Abu Tha’am Ibrahim adalah anak pertama dari pasangan suami isteri Habib Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf dengan Umi Salamah (Namanya Diang Gunung seorang perempuan Dayak Pegunungan Maratus asal Pantai Dusin Hulu Banyu Loksado)”. Ibrahim lahir di Desa Lumpangi hari Senin tanggal 9 Rajab tahun 1213 Hijeriah/ 17 Desember tahun 1798 Masihi. Ia adalah intah dari Habib Abu Bakar Bin Hasan Assegaf.
Ia adalah salah seorang dzuriat yang ke-12 dari al Faqih al Muqaddam al Tsani. yakni Habib Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy bin Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Sayyid Abdurrahman Assegaf bergelar al Faqih al Muqaddam al Tsani. ia termasuk dzuriat Nabi Saw yang hidup di abad ke-19 Masihi.
Namanya adalah “Ibrahim” nama lengkapnya adalah Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf. “Abu Tha'am" adalah Kuniyah atau Gelar nama kehormatan yang disimatkan pada awal namanya ia adalah orang yang senang sekali makan makanan. Cumilan hingga setiap ia pergi berteman atau pergi kemana saja, ia selalu membawa makanan. Ibrahim adalah nama asli yang diberikan kedua orang tuanya. Namun orang-orang disekelilingnya, dan teman-temannya memberinya gelar kehormatan “Abu Tha’am”. Hal ini terjadi berkenaan dengan kegemaran masa muda dan hobynya selalu memikirkan makan melulu dan suka makan-makan (berupa Nasi ataupun Cimilan), hingga ia menjadi orang yang gemuk, mereka memberinya nama “Bapa yang suka makan” yakni “Abu Tha’am”.
02. Silsilah Nasab Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw
الْحَبِيْب اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله
03. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Menerima (Menimba) Ilmu Agama
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Abu Tha'am Ibrahin Assegaf mendapatkan pengajaran Agama langsung dari : -Umi Salamah ibunya, - Abu Bakar ats-Tsani ayahnya, - Ahmad Suhuf kakeknya. Dan guru-guru agama disekitarnya. Sejak kecil iapun telah membekali dirinya dengan giat belajar ilmu-ilmu agama kepada orang yang lebih tua dari nya, kepada pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat. Oleh karenanya ia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu.
Habib Abu Tha’am Ibrahim tumbuh dan besar di desa Lumpangi. Ia adalah seorang anak cerdas dan shalih yang membanggakan orang tuanya, ia memperoleh pengajaran ttg Islam langsung dari ayah dan kakeknya..
04. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Menikah dengan Diang Tangang
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa setelah selesai panen raya sekitar tahun 1828 Masihi Habib rihlah (bajalanan) ke Bamban bersama rombongan pedagang untuk melihat peralatan menangkap ikan dan salajur mencari tantaran unjun paring kala'i. Sesampainya disana, maksudnya dirumah Acil Penjual iwak di Bamban, ia bertemu dan berkenalan dengan seorang dara muda yang bernama Siti Rahmah (Diang Tangang) sedang menumbuk padi dilasung di muka rumahnya anak Acil Penjual iwak. dan Habib langsung jatuh hati kepadanya.
Acil Penjual iwak menjelaskan kepada Habib bahwa “Siti Rahmah anaknya, Dia seorang janda muda yang sudah beranak ditinggalkan mati suaminya dua tahun yang lalu”. Ia banyak punya saudara dan kelurga, ia seorang yang cantik rupawan memikat dan menyejukkan hati kalau dipandang, dipasca musim panen inilah awal perkenalannya dengan Habib, kemudian Diang Tangang dipersunting dan dikawini Habib Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani.
Adapun Abu Tha'am Ibrahim menikah dengan Diang Tangang (Siti Rahmah), ia seorang perempuan janda yang sudah beranak, asal kampung Tangang Bamban Kec. Angkinang. Pernikanan Habib dengan Diang Tangang tersebut menurunkan nasab / anak laki-laki tunggal an. Muhammad w.1942 (bergelar kehormatannya "Abu Thair atau Ambutheir).
05. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf Assegaf Wafat.
Makam Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf Assegaf
Sebahagian orang ada berkata bahwa Sayyid Abu Tha'am Ibrahin Assegaf, ia mulai sakit-sakitan yang sangat serius diusia muda sekitar 45 tahun dan akhirnya ia wafat Jum'at, 5 Rajab 1252 H bertepatan 7 November 1834M. Ia dimakamkan di kampung Balai Ulin Desa Lumpangi.
XXI. Rakam Jejak Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf
Habib Abu Thair Muhammad, ia seorang yang shaleh, dan ia seorang yang ta’at beragama yang sangat memelihara iman dan islam, ia amat dekat dan kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah dzahir dan amaliah-amaliah bathin lainya.
01. Lahirnya Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf
Menurut ceritera Datu-datu dan Nenek kami bahwa Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf di Desa Lumpangi kelahirannya awal abad ke-19M tahun 1829 Masihi dan wafatnya tahun 1942 Masihi Sumber data lain ada yang menyebutkan bahwa Habib Abu Thair Muhammad Assegaf lahir di Desa Lumpangi hari Jum'at, tanggal 14 Ramadhan tahun 1252 H/1829 Masihi.
Nama ayahnya adalah Habib Abu Tha’am Ibrahim Assegaf sedangkan nama ibunya Siti Rahmah (Diang Tangang), yang aslinya orang Tangang Bamban Kec. Angkinang. Sebelumnya ibunya bekerja sebagai Pedagang atau penjual Iwak yang ia bawa sendiri dengan lanjung dari Tangang Bamban ke pasar “Jum'at Lumpangi” setiap minggunya.
02. Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf Menerima Pengajaran ilmu Agama
Sejak kecil Habib Abu Thair Muhammad Assegaf, ia bercita-cita ingin merantau ke Negeri orang, kata orang tuanya hai Habib Abu Thair Muhammad bahwa “Kalau kau ingin merantau, kau harus banyak basango ilmu, supaya kembalinya kau selamat,” maka iapun telah membekali dirinya dengan giat belajar ilmu-ilmu agama kepada orang tuanya, kepada kakeknya dan pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat.
Dimasa kecil (lahir)nya Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf berada di bawah asuhan kedua orang tuanya bersembunyi di Desa Lumpangi, dimasa penjajahan Belanda datang ke Kalimantan.
Ia Mendapatkan Pengajaran Agama langsung dari : -Abu Tha’am Ibrahim/ Siti Rahmah ayah-ibunya, -Abu Bakar ats-Tsani kakeknya -Abdullatif pamannya. Dan -Abu Ali pamannya. Oleh karenanya Dia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu”.
03. Silsilah Nasab Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf
الْحَبِيْب اَبًوْ طَيْرٍمُحَمَّدْ بِنْ اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله
04. Nama Kuniyah Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf.
Nama aslinya Muhammad, sedangkan nama kehormatannya Abu Thair atau Ambuthair itu sendiri adalah nama pemberian orang-orang dan teman-teman disekelilingnya. Mereka memanggilnya dengan gelar “Abuthair" maknanya "Bapa yang punya Burung" tetapi ada juga orang memanggilnya "Ambutheir” artinya Anak yang pertama atau anak tunggal (nama panggilan untuk anak pertama).
Gelar “Abuthair" (َاَبُوْ طَيْرٍ) nama Abu Thair yang disimatkan pada awal namanya adalah "Hal ini berkaitan dengan profisi kegemarannya" sejak masa anak-anak hingga remaja, membuat rumah-rumahan (popundokan) dari bambu disamping rumah Ayanya. Dan ia juga gemar sekali memelihara dan memberi makan anak burung, yang diambilnya dari atas pohon kemudian dipeliharanya. Khususnya burung jenis Tiung dan Sarindit. Ia gemar menjebak, mamasang perangkap untuk mendapatkan burung-burung yang hinggap di atas pepohonan antara lain : “Memulutinya”. Bila burung itu hinggap dekat pulut, kemudian mengibas-ngibaskan sayapnya, maka bulunya kena getah yang ada pada pulut tersebut. Burung itu pasti jatuh ke tanah karena tidak bisa mengembangkan sayapnya. Oleh karenanya ia suka panjat-panjat pohon untuk pasang pulut dan cari sarang dan anak burungnya. Sehingga orang-orang disekitarnya menyimatkan pada namanya “Abuthair atau Ambutir” dengan maknanya “Bapak penyayang burung”
05. Pernikahan Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu
Bakar ats-Tsani Assegaf dengan ibunda Siti Tiadah (Siti Siyadah/Qiyadah)
Berkata Habib
Husni bin Manshur bin Hasan bin Aliadam bin Abdul Latif bin Abu
Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf bahwa “Habib Aliadam punya 2 orang saudara laki-laki yaitu Habib Abdul Karim dan Habib Abdullah. Habib Abdul
Karim pernah tinggal lama di Amuntai.”
Menurut ceritera Datu-datu dan Nenek kami bahari bahwa ketika
Sayyid Abu Thair Muhammad muda
berprofisi Arsetiktor
Bangunan (Tukang) sekitar tahun 1860 Masihi ia berwisata lewat
Nagara menuju ke kota Raja Amuntai dan Candi Agung di Hulu Sungai Utara
Amuntai, ia menjumpai sepupunya yang juga berprofisi Arsetiktor Bangunan
(Tukang) dan Dagang yaitu Habib
Abdul Karim bin Abdul Latif bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf yang sudah
lama di tinggal desa Candi Agung Amuntai Tengah. Ketika ia berada di Amuntai,
ia bekerja beserta sepupunya membangun Proyek Balai Rung Permaisuri Raja, di
Kota Raja Amutai, saat bekerja itulah ia berjumpa, berkenalan dan jatuh hati
dengan seorag Dayang Permaisuri Raja, seorang gadis dara
bernama "Siti
Siadah/Tiadah
atau Siti Qiadah" ia adalah gadis asli orang Candi Agung
Amuntai Tengah, gadis itu berprofisi
asal Dayang Pemayungan Permaisuri Raja Kuripan
Amuntai. Ia berhenti bekerja di masa mudanya karena ia dipersunting dan dikawini oleh Sayyid Abu Thair
Muhammad di
tahun 1860
M.
Konon diceritakan tahun itu bahwa setelah ia mempersunting dan mempersteri atau mengawini an. Siti Siadah atau Tiadah, sebagai Isterinya, sekitar
tahun 1861 Masihi
saat itu. Ditahun itu Sayyid Abu Thair
Muhammad memboyong isterinya ke Lumpangi. ia ajak isterinya yang hamil muda
keladang (pahumaan) di Mantata’i. saat itu tanaman banih/ padi telah tinggi dan
berbuah hijaunya sudah ada yang
keluar, orang menyebutnya tanaman itu “rangkum
kupak”, Saat isterinya berdiri ladang di atas pondok tinggi tersebut, isterinya
melihat seekor anak Rosa atau Kijang berkulit indah memikat hatinya,
sedang makan buah bilaran di tepi ladangnya. Ketika sudah pulang, berada dirumah,
isterinya ingin sekali memakan hati (ghawa dalam bahasa arab) seekor Rosa
yang pernah dilihatnya. Mungkin karena
belum kesampaian hajatnya. Maka setelah anaknya lahir Senin. 12
Rabi'ul Awal 1279 Hijeriyah berjenis
kelamin laki-laki, maka anaknya diberikan nama “ Tanqir Ghawa” artinya “Hati sedikit tergoda.”
Pasangan suami-isteri ini hanya punya satu anak semata wayang mereka yang
diberinama "Tanqir Ghawa."
06. Merehab Masjid "Baiturrahim" (Jannatul Anwar namanya sekarang) Desa Lumpangi
Sebelum terjadinya banjir besar Masjid Baiturrahim Desa Lumpangi sudah beberapa kali diperbaiki oleh Masyarakat sekitarnya.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Setelah aliran sungai jauh dari Masjid Baiturrahim, maka Masid itu direhap total dan dibangun kembali tiang, atap dan dinding menggunakan kayu ulin, kubah bundar atap siraf dan diatasnya dilengkapi dengan aksisoris, lantainya tihal yang dibeli oleh Habib Tanqir Ghawa dari Surabaya dan selesai diawal abad ke-20 Masihi sekitar tahun 1902 Masihi. Menurut ceritera datu nenek kami bahwa ada beberapa tokoh orang Lumpangi yang berperan ikut andil membangun Masjid Jannatul Anwar (Masjid Baiturrahim nama dulunya) Lumpangi kala itu antara lain : Habib Abu Thair Muhammad sebagai ketua Pembangunan, Habib Tanqir Ghawa, H. Bustani, H.Mastur, H.Ahmad, Ali dan tokoh masyarakat lainnya sebagai anggota.
Atas kesepakatan bersama masyarakat Lumpangi, Masjid Jannatul Anwar direhap total, semua bahan bangunannya dari kayu Ulin, beratap dan kubahnya sirap.
Menurut ceritera penuturan Habib Bahriansyah Assegaf.yang saya temui dirumahnya bahwa “Aksisoris kobah Masjid Jannatul Anwar Lumpangi dari terbuat almanium dan lantainya tihal yang dibeli oleh Habib Tanqir Ghawa dari Surabaya. Keterangan ini adalah menurut ceritera atau penuturan Habib Bahriansyah bin Bahur bin Habib Tanqir Ghawa Assegaf."
Adapun tiang-tiang Masjid, atap dan dinding menggunakan kayu ulin yang sudah modern, ada seni pahatan dan ukirannya khususnya pada lis-lis dinding atap juga atap kubah sirap yang diberi petaka dan aksesoris diatas kubahnya dan lis-lis kubah, jendela kaca dan aksesoris didalamnya (bawah kubah) berupa lampu-lampu lilin digantung dengan rantai besi. Proses renovasi itu dengan mendatangkan Tukang-tukang seni pahat dari kota Kandangan dan masjid tersebut selesai direnovasi bangunannya diawal abad ke-20 Masihi sekitar tahun 1902 Masihi.
Menurut sumber data yang kami dapatkan bahwa ".Sebagai akibat banjir besar tersebut sisa satu batang tiang bekas Balai Adat itu untuk simbol bahwa di Lumpangi pernah berdiri sebuah Balai Adat Dayak, tiang itu condong dan bergesir hingga rebah ke dasar sungai, dari belahan sungai yang baru terbentuk akibat kuatnya terjangan banjir "..
Berkata Habib H.Hasan Basri Assegaf “Andaikata Muhammad Langara (mantan Tetuha Adat Dayak) ia lupa berniat/ ia tidak berkeinginan menjadikan tiang Masjid Lumpangi dari sisa satu batang tiang bekas Balai Adat tersebut sebagai simbol, maka dapat dipastikan bahwa “satu batang tiang itu pastilah hanyut ditelan air ba’ah yang ganas itu.”
Kemudian dimasa Habib Abu Bakar as-Tsani masih hidup, dan cucunya Abu Thair dan Tanqir Ghawa buyutnya bahwa "1 batang tiang Balai Adat yang terandam didasar sungai itu diangkat dan dijadikan tiang utama atau tiang suku Guru masjid dan diletakkan ditengah-tengah sebagai Simbol atau penyangga atau pananggak kubah saat renovasi pembangunan masjid"Jannatul Anwar" Desa Lumpangi.
07. Karomah Siti Tiyadah (Siti Siyadah/ Siti Qiyadah) Ibunda Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf.
Salah satu Karomah Siti Tiadah Ibunda Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf adalah Menurut ceritera Kayi Sepuh Lumpangi kelahiran 1935M (Husni bin Ahmad Karji) konon diceriterakan bahwa ketika Datung Siti Tiadah atau Datung Qiadah, mandengar anaknya Sayyid Tanqir Ghawa saat merantau di Kampung orang, ia berkalahi (dituduh berbuat onar) dan mendapat masalah di negeri orang, maka Datung Tiadah datang menjemput (maambili) anaknya Sayyid Tanqir ke Pulau Laut (Batulicin). Kata orang bahwa Ibu Sayyid Tanqir Gawa, ia hanya balarut mengayuh jukung yang sangat sedarhana, konon ia bisa dengan mudah dan cepat sampai ke sana, dengan bantuan sahabatnya para tentara Buaya. Beliau orang sakti atau harat, menurut penglihatan orang-orang ketika itu, ia bisa barjalan di atas permukaan air (banyu.) dengan cepat.
08. Wafatnya Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf
Sebagian orang berkata bahwa "Saat Muhammad Barsih buyutnya berumur kurang lebih 5 tahun Habib Abu Thair Muhammad telah wafat." Masmurah isteri Habib Ahmad Baderi cucunya telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberinama “Muhammad Barsih”. tahun 1937 M.
Habib Muhammad Burhan Rabbani bermimpi datuknya Habib Abuthair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf Tanggal 14 April tahun 2022M telah terjadi wangsit lagi, setelah beberapa kali ia mendapati buyutnya lewat sebuah mimpi, ia memberi isyarat bahwa “Ia pulang hari ini, 16 Ramadhan”. Kemudian Buyutnya Habib Muhammad Burhan Rabbani bermusyawarah dikeluarganya. Kemudian hasilnya ia mengumpulkan orang-orang untuk mengadakan jamuan makan dan di iringi do’a - do’a pada haulnya setiap tanggal 16 Ramadhan, khususnya di tahun tersebut.
Sebagian orang ada yang menyebutkan bahwa Habib Abuthair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf berusia cukup lanjut, kurang lebih usianya sekitar 113 tahun, dan ia wafat di Desa Lumpangi, Ahad, 16 Ramadhan 1361H/ bertepatan 27 September 1942 Masihi. Dia dimakamkan di Kuburan Muslimin, di samping kanan Masjid Baiturraahim (dulu nama masjid) atau bawah jalan bahari sekitar lingkungan Masjid Jannatul Anwar Lumpangi sekarang.
Makam Abu Thair Muhammad Assegaf
Adapun nama Isteri Abu Thair Muhammad yang terakhir adalah "Siti Aisyah" asal orang Tangang Desa Bambam Kecamatan Angkinang, Siti Aisyah juga orang yang diberi umur panjang. Berdasarkan beberapa sumber : ia wafat diakhir tahun 1960-an di makamkan di Kandangan Hulu.
Menurut Habib
Basraninor bin H.M.Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf berceritera kepada
saya bahwa diwaktu ia masa kanak-kanak dahulu, tinggal di Lumpangi sekitar
tahun 1970-1987 rumah kami tidak jauh dengan masjid Baiturrahim. Kami sering
shalat Magrib-Isya di Masjid tersebut dan Kami sering melihat seberkas cahaya Mutiara dimalam-malam
tertentu yang memancar
dari samping Mesjid (Baiturrahim Lumpangi) cahaya itu memancar terang ke langit. Ia
berasal dari salah satu kuburan di tempat itu. Saat itu kami belum mengerti
makna dan arti pencaran cahaya Mutiara itu. ternyata diketahui sekarang di
samping Mesjid itu bahwa ada kuburan Habaib dzuriat Rasulullah Saw yang takwa
dan yang pernah hidup
dan menatap di Lumpangi.
XXII. Rakam Jejak Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf
Ia adalah seorang yang shaleh, dan ia seorang yang ta’at yang memelihara iman dan islam, ia amat kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah bathin lainya.
Kemudian Abuthair Muhammad menikah dengan Siti Siadah asal orang Candi Agung Amuntai, ia berprofisi dayang pemayungan Permaisuri Raja Kuripan Amuntai.Ia berhenti bekerja di masa mudanya karena ia dipersunting dan dikawini oleh Sayyid Abu Thair Muhammad tahun 1860 M. dan punya anak laki-laki tunggal an Tanqir Ghawa, hidup (1862-1985M),
Sejak kecil Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf, ia bercita-cita ingin mengembara, merantau ke Negeri orang, kata orang tuanya bahwa “Kalau kau ingin merantau, kau harus banyak basango ilmu, supaya kembalinya kau selamat,” maka iapun telah membekali dirinya dengan giat belajar ilmu-ilmu agama kepada orang tuanya, kepada kakeknya dan pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat.
01. Lahirnya Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf
Berdasarkan informasi beberapa sumber catatan bahwa “Sayyid Tanqir Ghawa lahir di Lumpangi, ia lahir pertengahan abad ke-19M ditengah-tengah keluarganya yang sangat sedarhana, hari Senin, 19 Rabi'ul Awwal 1279 H bertepatan dengan tanggal 13 Oktober 1862 Masihi. Dia seorang dzuriat Nabi Saw yang diberi umur panjang 126 tahun Hijeriyah atau 123 tahun Masihi.
Desa Lumpangi. dulu wilayah Kec. Padang Batung, sekarang menjadi wilayah Kec. Loksado, Ia dipangil sehari-hari dengan nama Tanqir. Namun orang-orang dari anak cucunya memberinya gelar “Kayi Pancau”
Menurut sumber data bahwa “Dua hari sesudah wafatnya Pangeran Antasari bin Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir. Seorang Pahlawan Nasional yang berjuang melawan Belanda di tanah Banjar, ia wafat yaitu 11 Oktober 1862 Masihi di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 53 tahun. Menjelang wafatnya, dia terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya. Wafatnya Pangeran Antasari hampir bersamaan dengan kelahirannya Tanqir Ghawa bin Muhammad Assegaf.
Nama panjangnya : Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddn bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy bin Abdurrahman bin Muhammad bin 'Aly bin al Imam al-Quthby Sayyid Abdurrahman Assegaf yang bergelar : al Faqih al Muqaddam Al Tsani. Sedangkan nama ibunya adalah "Siti Siadah/Tiadah atau Siti Qiadah" ia adalah asli orang Kota Raja Amuntai, ia berprofisi asal Pemayungan Permaisuri Raja Kuripan Amuntai. Ia berhenti bekerja di masa mudanya karena ia dipersunting dan dikawini oleh Sayyid Abu Thair Muhammad tahun 1860 M. Pasangan suami-isteri ini hanya punya satu anak semata wayang mereka yang diberinama "Tanqir Ghawa.
02. Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am IbrahimnAssegaf Mendapatkan Pengajaran Ilmu Agama
Dimasa kecilnya Tanqir berada di Desa Lumpangi, kemudian dibawa orang tuanya ke Kandangan, dimasa Belanda datang ke Kalimantan, ia dibawa lagi ke Desa Lumpangi untuk bersembunyi.
Ia Mendapatkan Pengajaran Agama langsung dari : -Abu Thair Muhammad ayahnya, -Abu Tha’am Ibrahim kakeknya -Abdullatif paman ayahnya. Dan Aliadam pamannya. Oleh karenanya Dia pandai baca tulis arab Malayu”.
Keberadaannya Habib Tanqir Ghawa ditengah-tengah keluarga sangat sedarhana dan ia disukai dan disayangi oleh keluarga dan masyarakat sekitarnya di kala itu. Dimasanya orang-orang masih sangat mamamerkan dan membanggakan “Kekuatan pisik, kesaktian, kejagauan (jago), banyak bandet dan begal, orang sering marah tanpa sebab, iri dengki yang berlebihan dan suka menindas yang lemah.”
03. Silsilah Nasab Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf
الْحَبِيْب تَنْقِرُ الْغَوَى بِنْ اَبًوْ طَيْرٍمُحَمَّدْ بِنْ اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله
04. Masa-masa Remaja Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf
Konon ketika usia Tanqirr Ghawa. 18 tahun, ia dikawinkan oleh orang tuanya. Kemudian ayahnya pergi merantau ke Pulau Laut (Kotabaru) meninggalkannya & ibunya cukup lama, hingga ibunya mendengar khabar berita bahwa suaminya kawin lagi diperantauan yang berakibat dari khabar tersebut ibunya tidak terima pada akhirnya ayah-ibunya bercerai.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Tanqir Ghawa" ia dijodohkan (dikawinkan) oleh orang tuanya diusia muda sekiar 17-18 tahun dengan seorang perempuan yang masih ada ikatan tali kekeluargaan. Perkawinkan itu bukan atas kemauannya, untuk tidak mengeciwakan hati orang tuanya, ia pun menikahinya. sekitar 1-2 tahun suami-isteri (bertahan), mungkin ada masalah dengan orang pihak ke-3 mertuanya hingga ia menceraikan isterinya, kemudian ia meninggalkannya merantau ke Pulau Laut.
05. Sayyid Tanqirr Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf Merantau ke Negeri Orang
a. Merantau ke Pulau Laut
Menurut ceritera Habib Muhammad
Burhanuddin Rabbani, cucu beliau yang saya temui dan wawancarai di kediamannya
di Desa Tabihi bahwa Sayyid Tanqir Ghawa dimasa muda-remajanya di usia 20
tahun. Sekitar 1882 M
ia merantau beberapa
tahun meninggalkan kampung
halamannya desa Lumpangi (kota Kandangan), ia mencari keluarganya dan sepupunya yang berada
di Pulau Laut (Kotabaru-Batulicin sekarang) misalnya ke Cantung Kec. Kelumpang.
Ia datang menjumpai pamannya Habib Aliadam bin Abdul Lathif Assegaf disana.
b. Merantau ke Pulau Sulawisi
Sebelum ia merantau ke Pulau Sulawisi Sayyid Tanqirr Ghawa pulang lebih dulu ke kampung halamannya desa Lumpangi (kota Kandangan), ia minta izin kepada kedua orang tua & keluarganya. Ketika izin merantau didapat, Ia merantau beberapa tahun ke Negeri orang. Awalnya ia dari Pulau Laut, ia menyeberang ke Pulau Sulawisi dengan tujuan mengadu nasib disana dan ia juga mengawini perempuan disana. Selama bererapa tahun tinggal dan bekerja dipenggembaraanya, dan kemudian ia merasa bosan di Pulau Sulawisi, menurutnya tidak membawa kekehidupannya kearah yang lebih baik, sehingga ia pulang kembali ke Pulau Laut. Dipulau laut inipun, setelah pulang dari Sulawisi ia juga tergoda lagi dengan seorang wanita muda yang akhirnya dinikahinya.
3. Merantau ke Pulau Emas
Sesudah beberapa tahun ia di
Pulau Laut dengan isterinya, ia berniat ingin mengadu nasib lagi ke Pulau Emas (Pulau Sumatera)
tujuannya mencari dan mendatangi keluarga (padatuan) an. Habib Abu 'Aly
Abdullah atau Datu Tayau. Kata orang bahwa : Setiap kali Datu Tanqir Ghawa
ingin/akan pergi keperantauan, ia termasuk orang yang bertanggungjawab, ia
selalu menyiapkan bekal/ongkos
untuk isteri yang ditinggalkannya
cukup untuk 3 bulan. ia selalu pesan kepada isteri dan keluarga isterinya,
bila dalam waktu 3 sd. 6 bulan, ia tidak pulang kembali ke rumah dari perantauan, maka isterinya ini, statusnya tercerai/
tertalak. Begitulah sikapnya setiap ia ingin berpergian atau pengembaraan jauh.
Sebelum ia merantau ke Pulau
Emas Sayyid Tanqirr Ghawa juga pulang dulu ke desa Lumpangi (kota Kandangan),
ia minta izin/ do’a restu kepada orang
tua & restu keluarganya. Kemudian izin dan do’a restu merantau didapat, Ia pergi
merantau beberapa tahun ke Negeri orang
Kemudian ia berangkat dari
Pulau Laut (sekarang Kotabaru) menyebarangi laut ke Surabaya, lewat dari Surabaya menuju Pulau Sumatera.
Sampai disana yakni : Sumatera, ia menuju Gunung Kerinci, sekarang kota Kerinci
adalah menjadi sebuah Kabupaten Kerinci, dengan Provensinya Jambi, dengan
sungai yang luas dan besar, terkenal nama sungai Batanghari. Konon ada daerah/
lokasi diantara Kab. Kerinci dengan Kab. Gadang dulunya, ada lokasi pendulangan Emas,
lokasi itu dijaga oleh sekelumpuk Harimau. Di lokasi disinilah ia berjumpa dengan saudara
kakeknya yang sudah tua, tetapi masih kuat kerja. Kala itu saudara
kakeknya menjadi orang yang berhasil dalam usaha penghidupannya dan berpengaruh
serta terpandang atau dihormati di lingkungan desa tersebut. Konon di desa ini
ia juga tergoda dengan seorang wanita dan wanita itu dinikahinya. Entah apa sebabnya,
Tidaklah begitu lama ia sudah bosan tinggal bersama kedua saudara kakeknya dan
paman-pamannya, kurang
dari tiga tahun, iapun
pulang kembali dari
pengembaraannya ke pulau Laut
Menurut Burhanuddin bin Ahmad Baderi
Assegaf dikediamannya Desa Tabihi Kec. Padang Batung, beliau bercerita kepada
saya bahwa kakeknya Habib Tanqir Ghawa, bercerita
kepadanya bahwa Ali
Abdullah, nama kehormatannya Abu Tayau, ia seorang pengembara dan menikah 7 kali dengan wanita yang berbeda,
pernikahannya yang ke-5 punya anak 3 orang, pernikahannya yang ke-6 punya anak
1 orang, dan pernikahannya yang ke-7 punya anak 5 orang
Sayyid Tanqirr Ghawa, ia termasuk seorang peria yang mudah tergoda dengan wanita muda cantik dan beristeri lebih dari 1 tetapi tidak ada yang dimadu sehingga setiap kota/kampong tempat tinggal mertau ia punya 1 orang isteri. Ada 2-4 orang isteri ketika dalam pengembaraan yang diceraikannya ketika ia ingin berpindah dari kota/kampong itu, tetapi isterinya selama di Perantauan tidak ada yang punya keturunan.
06. Karomah Siti Tiadah Ibunda Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf.
Dimasa keberadan
Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair
Muhammad Assegaf diperantauaan diceriterakan bahwa “Orang-orang masih sangat
mamamerkan dan membanggakan “Kekuatan pisik, kesaktian, kejagauan (jago), banyak bandet dan
begal, orang sering marah tanpa sebab, iri dengki yang berlebihan dan suka
memeras, suka merampas hak orang, suka menindas orang yang lemah.”
Salah satu Karomah Ibunda
Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf adalah Menurut ceritera Kayi Sepuh Lumpangi ( Husni bin Ahmad
Karji konon diceriterakan bahwa "Diawal abad ke-20 tahun 1901 Masihi ketika
Datung Siti Tiadah atau Datung
Qiadah, mandengar khabar
berita anaknya Sayyid
Tanqir Ghawa saat merantau di Kampung orang, ia berkalahi terluka berat dan meninggal dunia (ia dituduh
berbuat onar atau bakali) dan mendapat masalah di negeri orang, maka Datung Tiadah datang menjemput (maambili)
anaknya Sayyid Tanqir ke Pulau
Laut (Kotabaru-Batulicin).
Kata orang bahwa Ibu Sayyid Tanqir
Gawa, ia hanya balarut (berpacu dilaut) mengayuh jukung yang sangat sedarhana,
konon ia bisa dengan mudah dan cepat sampai ke sana, diantar dengan bantuan
sahabatnya para tentara
Buaya. Beliau orang sakti atau orang harat, menurut
penglihatan orang-orang ketika itu, ia bisa barjalan di atas permukaan air (banyu.) dengan
cepat.
07. Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf Pulang dari Pengembaraan Panjang.
Orang tua dan keluarganya sangat gembira atas kepulangannya dari pengembaraan. Salah satu inisiatif akal dan pendapat keluarganya : “Supaya anaknya tidak berjalan jauh lagi, atau merantau lagi ke Negeri orang, dan ada rasa tanggungjawab dengan keluarga, Sayyid Tanqir Ghawa harus segera dikawinkan.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Tanqir Ghawa" ia mau dijodohkan (dikawinkan) oleh orang tuanya sekitar 1902M (usianya sekitar 40 tahun) dengan seorang perempuan janda beranak satu dan perempuan tersebut yang masih ada ikatan kekeluargaan dengannya. Karena ia kasihan dengan anak yatim & ia merasa beberapa kali kawin diperantauan tetapi ia tidak punya anak maka perjodohan dengannya itupun diterimanya dengan lapang hati hingga perkawinan dengan perempuan janda asal Amawang itupun terjadi dengannya.
Setelah ia menikahi perempuan janda tersebut dan beberapa tahun kemudian isterinya hamil, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama ”Karjah" Adapun Karjah ia adalah adik seibu Karji, dan ia tidak punya keturunan.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa “Sekitar 13-14 tahun suami-isteri tersebut hidup rukun berumah tangga (bertahan) tinggal di desa Lumpangi. Pada tahun ke-14 dari pernikahan Sayyid Tanqir Ghawa, isterinya (an.Khalimah) sering sakit-sakitan hingga meninggal dunia (wafat). Menurut Folklor ceritra bahwa “Selisih usia tahun kelahiran antara Karji dan Karjah dengan Ahmad Baderi, Karji dan Karjah adalah lebin tua 15 tahun dan 13 tahun dari Ahmad Baderi.”
08. Ayah dan ibu Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf menikah lagi
A. Ibunda Sayyid Tanqir Ghawa menikah
Setelah cerai dengan suaminya Sayyid Abu Thair Muhammad, Ibunya Siti Siadah/Tiadah menikah pada kali keduanya beberapa tahun kemudian ia cerai lagi. Kemudian Siti Siadah menikah lagi dengan orang yang lebih muda darinya, beberapa tahun kemudian ia punya dua anak laki-laki dan perempuan an. Juhri dan Fatmah. Oleh karenanya :
a. Selisih tahun kelahirannya 5-7 tahun lebih tua Karjah bin Tanqir Ghawa antara dengan kayi Juhri dan Fatmah adik seibunya Tanqir Ghawa.
b. Muhammad Barsih Cucu Sayyid Tanqir Ghawa selisih usia tahun kelahiran tidak jauh beda dengan anak-anak Kayi Juhri dan Neng Fatmah.
Tanqir Ghawa merupakan anak sulung dari tiga bersaudara seibu atas nama Tanqir Ghawa, Juhri dan Fatmah dari Ibunya yang bernama Siti Siadah/Tiadah.
B. Ayahanda Sayyid Tanqir Ghawa menikah
Ketika Sayyid Abu Thair Muhammad ayahnya Tanqir pulang merantau dari Pulau Laut, atas saran keluarga dari pihak ibunya di Desa Tangang, agar ia segera beristeri, kemudian ia menikah dengan Siti Aisyah orang Tangang Bamban Kec. Angkinang. Dan pasangan suami-isteri ini, tidak punya keturunan, keduanya tinggal di dekat Masjid Desa Lumpangi, sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama dan juga berprofisi Dagang di muka rumahnya.
09. Keturunan (dzurriat) Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf
a. Keturunan atau anak isteri pertama
Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim
bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf Pulang dari Pengembaraan Panjang. Sebagaimana
kami jelaskan terdahulu bahwa Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf merantau, mengembara berada cukup lama di Negeri orang, Atas restu orang tuanya ia
berangkat dari Desa Lumpangi Kab. Hulu Sungai Selatan menuju ke
Pulau Laut (Kotabaru), dan tinggal bersama keluarga yang sudah lama tinggal
disana. Dari Pulau Laut ini nantinya ia menyeberang ke Surabaya lewat Surabaya
ia merantau ke Sulawisi,
beberapa tahun disana dan ia pulang ke Pulau Laut. Ditahun tahun berikutnya
dari Pulau Laut ia menyeberang ke Surabaya lewat Surabaya ia merantau Pulau Emas (Pulau Sumatera) Prov. Jambi mejumpai kakeknya an. Ali alias Abu
Tayau yang sudah lama tinggal disana dan beberapa tahun merantau
disana, ia pulang kembali ke Pulau Laut. Kurang lebih 18-19 tahun lamanya.
Dalam pengembaraannya tersebut entah 3 hingga 4 orang jumlah isterinya yang
dicerai, ia tinggalkan bagitu saja diwaktu pengembaraannya.
Pertama kali ia merantau ke Pulau Laut diakhir abad
ke-19 Masihi sekitar 1882M. Tahun 1901M adalah awal abad ke-20 dihitung dari tahun 1901 sd.
2000 Masihi. Diawal tahun 1901 Masihi Sayyid
Tanqir Ghawa pulang dari Pulau Laut, menjenguk kedua orang tuanya di
Desa Lumpangi Kandangan.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan
bahwa Sayyid Tanqir Ghawa, ia bersedia dikawinkan dengan seorang perempuan janda oleh kedua orang tuanya. Tahun 1902M
(usianya Sayyid Tanqir sekitar 40 tahun) dan perempuan tersebut yang masih ada
ikatan kekeluargaan dengannya. Karena ia
kasihan dengan anak yatim (an.Karji)
& ia merasa beberapa kali kawin diperantauan tetapi isteri-isteri yang pernah ia
nikahi, tidak ada yang punya anak maka
perjodohan dengannya itupun diterimanya dengan lapang dada hingga
perkawinan dengan perempuan janda asal Amawang itupun terjadi dengannya.
Setelah ia menikahi perempuan janda tersebut dan beberapa tahun kemudian
isterinya hamil, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama ”Karjah" Adapun Karjah ia
adalah adik seibu Karji,
dan ia tidak punya keturunan.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa “suami-isteri tersebut hidup rukun
berumah tangga sekitar 13-14 tahun tinggal di desa Lumpangi. Pada tahun ke-14
dari pernikahan Sayyid Tanqir Ghawa, isterinya (an.Khalimah) sering sakit-sakitan hingga meninggal dunia (wafat). Menurut Folklor ceritra bahwa “Selisih usia
tahun kelahiran antara Karji dan Karjah dengan Ahmad Baderi, Karji dan Karjah
adalah lebin tua 15 tahun dan 13 tahun dari Ahmad Baderi.”
Menurut keterangan Habib Bahriansyah (Utuh
undul,72 thn) bin Bahur Assegaf yang saya wawancarai saat aqiqah buyut
pertamanya Kandangan Hulu ! dikediamannya, bahwa ia dari keterangan
kakeknya & juga kisah neneknya bahwa Kayi Tanqir Ghawa dimasa mudanya dikawinkan oleh
orang tuanya sebelum ia pergi kembali
(babulik) mengembara ke Pulau Laut, (sekarang Kab Kotabaru) ia
telah menikahi seorang
perempuan dan punya anak. atas nama Ahmad Karji adalah anak kandung Kayi
Tanqir Ghawa dengan isteri pertamanya orang Amawang, dan isterinya tersebut bekeluarga dekat dengan Siti Nurah (adik kandung Atha’illah) isteri
Ahmad Darani bin Abdul Hamid bin Aliadam Assegaf
Menurut keterangan Habib Muhammad Ibnu Mubarak bin
Hasan Basri Assegaf bahwa ia dari keterangan Drs.Habib Tajuddinnor,MM bin Ahmad Baderi
Assegaf paman ayahnya yang ia wawancarai dikediamannya
di Barabai bahwa Kayi Karji adalah anak kandung Kayi Tanqir Ghawa dari isteri pertamanya.
Menurut Habib Muhammad Burhannor
bin Ahmad Baderi Assegaf yang saya wawancarai dikediamannya, bahwa mereka anak-anak Kayi Karji antara lain
(Husni) dan cucu-cucunya mengakui dan meyakini bahwa ayah mereka adalah keturunan/ anak Kayi Tanqir Ghawa bin
Muhammad bin Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad
Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf
Menurut ibu saya Hj. Masitah binti Salamat (umur 83 thn),
yang saya wawancarai dirumah Beliau di jalan Alfalah Kandangan
mengatakan, ia dari ucapan Umbuy Uja isteri terakhir Kayi Karji bahwa Kayi
Tanqir ayah tiri Nanang Karji.
Menurut Habib Burhannor, ia dari ucapan Ahmad Baderi ayahnya bahwa
Kayi Karji bukan saudara kandung kami
tetapi ia saudara seketirian kami. Ia memperisteri mamanya Karji
ketika anaknya dalam susuan dan kurang lebih 13-14 tahun hidup berumah
tangga dengan isterinya tetapi tidak puya anak; dan tangga ia wafat;
Kemudin Sayyid Tanqir Ghawa menikah lagi dengan Siti Khadijah seorang janda muda
ditinggal mati suami
Adapun Ahmad Karji adalah anak pertama dari Tanqir Ghawa bin
Muhammad bin Ibrahim bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin
Abu Bakar Asseaf, setelah dewasa ia menikah Maimunah punya anak :
1.
Husni (Utuh Gunung)
2.
Ahma
3.
Unan
4.
Misran (Imis) bin Maisyarah isteri kedua setelah isteri pertama
wafat.
Kemudian Habib Ahmad Karji (Julak Nanang Karji)
bin Tanqir Ghawa
Assegaf setelah isterinya wafat,
ia menikah lagi dengan Maisyarah perempuan asal Desa Tilahan Kec. Hantakan
Barabai punya anak tunggal bernama Misran (Imis).
Sedangkan Habib Husni bin Ahmad Karji bin Tanqir Ghawa Assegaf menikah dan punya anak : Habib H.Bastami
dan Sy. Nur Aida. Adapun Habib H.Bastami bin
Husni bin Ahmad Karji bin Tanqir
Ghawa Assegaf menurunkan anak
bernama Toni Jemain dan Beny.
Adapun status Nasab Toni Jemain bin H.Bastami bin Husni bin Ahmad Karji bin Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf adalah Maqbuulun Nasabun (nasab yg diterima).
b.Keturunan atau anak isteri Kedua
Sayyid Tanqir Ghawa menikahi Siti Khadijah seorang janda muda. Versi lain juga menyebutkan bahwa sekitar tahun 1915 Masihi ia menikah dengan perempuan janda yang ditinggal mati suaminya janda itu bernama Siti Khadijah asal orang Kandangan Hulu yang berdomisili di Lumpangi keluarga ini karena takut dengan kesewenangan Penjajah Belanda mereka berhijrah ke hulu banyu..”Maka dipihak keluarga memutuskan bahwa Tanqir Ghawa harus segera dikawinkan.. Akhirnya ia menikah dengan Siti Khadijah seorang janda muda ditinggal mati suaminya. Dan beberapa tahun kemudian dari hasil perkawinannya dengan janda itu kemudian ia punya keturunan 6 anak an.
- Habib Ahmad Baderi (1918-1993M)
- Habib Bahar
- Sy Badariah
- Habib Bahur
- Sy Maswati/ Taluh
- Sy Salmiati
10. Seorang Ulama yang diberi Ilmu Pengenalan atau tau dihadapannya adalah seorang dzurriat Nabi Saw tanpa melihat silsilahnya.
Ketika saya bertemu dengan Habib Raihan (irai) bin Bahriansyah bin Bahur Assegaf, ia juga pernah berceritera kepada saya bahwa ia pernah bertanya kepada kakeknya Habib Bahur bin Tanqir Ghawa Assegaf, kata kakeknya bahwa “kita ini cucuai adalah dzuriat nasab Habib Abu Bakar, sebab nine kita bahari balaki lawan Habib, sa’at Habib datang ke kampung Balai Ulin Lumpangi”.
Ketika Habib Muhammad Ariatim/ Arya Norhadi bersilaturrahmi kepada saya, dia berceritera kepada saya bahwa “ketika tahun 1996 terjadi perkenalan siswa baru dengan guru KH. Marzuki menantu KH. Abu Hurairah di sekolah Takhasus Darul Ulum Kandangan kelas 1 Aliyah. Atim Arya Norhadi, kata guru KH. Marzuki ; kau siapa nama. jawab saya Aryanorhadi asal Kandangan Hulu 2, lalu beliau melihat sepintas ke wajah saya, lalu guru berkata : kau habibkah jawab ulun kada tahu, Guruai, abah ulun asal - asli orang Lumpangi. Ketika jam pulang beliau berpesan lagi, katanya “kayina cari'i silsilah nasabmu.“ Setelah itu hampir 26 tahun baru ingat pesan gurunya KH. Marzuki, ternyata silsilahnya ketemu dan ada. jadi ilmu pengenalan dzuriat nabi saw ini memang ada dan ada do'anya walaupun dzuriat itu mastur..
11. Karomah Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim
Assegaf
Menurut ceritera Habib Muhammad Burhanuddin Rabbani, beliau cucu Sayyid Tanqir Ghawa yang saya temui dan wawancarai di kediamannya di Desa Tabihi bahwa Sayyid Tanqir Ghawa dimasa tua rentanya (ia masih kuat berjalan, penciuman & pendengarannya masih kuat) ia sehari-hari ditemani isterinya dan sekitar tahun 1982. Ketika isterinya yang melayaninya jatuh sakit, maka ia dijemput & dibawa oleh anaknya Sayyid Ahmad Baderi dari rumahnya di Kandangan Hulu 1 ke kampong Rasau Barabai. Beberapa hari kemudian disana, dipagi hari ia berjalan-jalan di depan rumah tergupuh-gupuh bersama cucunya, matanya sudah kabur. Ada salah satu masyarakat kampong melihat keberadaan Tanqir Ghawa yang tua-renta. Orang tersebut membuli kepada orang yang tua-renta itu (membuli adalah tindakan agresif dan negatif yang dilakukan secara berulang-ulang terhadap seseorang atau sekelompok orang, dengan tujuan menyakiti, mengintimidasi, atau merendahkan) Sayyid Tanqir Ghawa dan anak cucunya, katanya bahwa “Buat apa membawa orang tua semacam itu ke rumah, menyanyasaki rumah, mahaharani beras, he he he sambil tertawa berkata kepada orang-orang hingga didengar oleh cucunya. Anak itu mengadukan halnya kepada ayahnya. Kata ayahnya Ahmad Baderi “Jangan ditanggafi nakai, biarkan saja ucapan orang itu. Kayina apa ampih haja”. Tidak sampai seminggu orang yang membuli Sayyid Tanqir Ghawa tersebut, ia sakit panas dan batuk-batuk yang belum sembuh dengan obat, yang akhirnya ia datang ke rumah Ahmad Baderi minta maaf kesalahan telah membulinya, dan ia diberi maaf dan di Sambur serta diberi Banyu Tawar untuk diminum dan seketika orang tersebut sembuh dari sakitnya setelah minum Banyu Tawar.
12.Habib Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf Wafat
Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad lahir di Lumpangi, ia lahir pertengahan abad ke-19M ditengah-tengah keluarganya yang sangat sedarhana, hari Senin, 19 Rabi'ul Awwal 1279 H bertepatan dengan tanggal 13 Oktober 1862 Masihi.
Habib Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf wafat hari Ahad, tanggal 13 Januari 1985 Masihi, atau 21 Rabi'ul Awwal 1405H dirumah anaknya Habib Ahmad Baderi Assegaf di Rasau Kec. Pandawan Barabai, dimakamkan di Pakuburan Muslimin Desa Matang Ginalon Barabai. Dengan usia 126 tahun Hijeriah lebih atau kalau dihitung tahun masihi berumur 123 tahun Masihi. Keterangan Tanqir Ghawa diambil dari bahasa Arab maknanya Sedikit Tergoda.
XXIII. Rakam Jejak Sayyid Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf
Sayyid Ahmad Baderi ia anak pertma dari pasangan suami isteri Tanqir Ghawa dengan Siti Khadijah ia seorang anak yang shaleh, dan ia seorang yang ta’at beragama yang sangat memelihara iman dan islam, ia amat dekat dan kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah dzahir dan amaliah-amaliah bathin lainya.
Sayyid Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf Lahir
Ahmad Baderi lahir hari Jum'at, tanggal 8 November 1918 Masihi atau bertepatan dengan 4 Shafar 1337 Hijeriyah di kota Kandangan, Kab. Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Ketika ia menamat SR inilah nama & tanggal lahirnya ada perobahan karenanya SK. Kepangkatan PNS nya berbeda dan tertulis, bahwa bernama "Baderiy" tempat lahir Kandangan, hari Sabtu, tanggal 25 Agustus 1928 Masihi. Ia adalah orang yang berpendidikan cukup tinggi dimasanya dibandingkan dengan adik-adiknya.
Konon nama “Ahmad” adalah nama yang diberikan oleh anak cucunya dan Bidan Kampung saat memutus (memotong) tali pusatnya waktu ia lahir. Ketika kedua orang tuanya mengadakan tasmiahan (pemberian nama pada anak) sesudah tujuh hari kelahirannya, maka ia diberi nama “Adjun Baderit Sasaran Kembang” oleh orang tuanya, saat itu nama ini dianggap keren. Tetapi orang-orang sekelilingnya dari masa anak-anak hingga dewasa memanggilnya "Baderi" atau "Utuh Ibat" nama itu maknanya “Bulan” maksud tafa'ulnya : Agar kehidupannya bersinar terang seperti rembulan menerangi gelap gulita di malam hari.
Nasab Silsilah Habib Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw
a adalah salah seorang dzuriat yang ke-15 dari al Faqih al Muqaddam al Tsani. yakni Habib Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy bin Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Sayyid Abdurrahman Assegaf bergelar al Faqih al Muqaddam al Tsani, ia termasuk dzuriat Nabi Saw yang hidup di abad ke-19 Masihi.
سِلْسِلَة نَسب الحبيب اَحْمَدْ بَدْريْ
الْحَبِيْبُ اَحْمَدْ بَدْريْ [وفات ١٩٩٣م] بِنْ تَنْقِرُ الْغَوَى [وفات ١٩٨٥م] بِنْ اَبًوْ طَيْرٍمُحَمَّدْ [وفات١٣٦١هج] بِنْ اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ [وفت١٢٥٢هج] بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني [وفات ١٩٠٢م] بِنْ اَحْمَدْ صُحُفٍ [وفات ١٧٩٦م] بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن [وفات ١١٩٥هج] بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ [وفات ١١٧٢هج] بِنْ حَسَنٍ [وَفات ١١٣٣هج] بِنْ هَاشِمٍ [وفات ١٠٧٧ هج] بِنْ مًحَمَّد [وفات ١٠٢٣ هج] بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [اى عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ [وَفات ٨٤٠ هج] بِنْ سَيِّدِنَا اَلْاِمَامً الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ عَبْدُ الرَّحْمن السَّقَّافُ ٧٣٩-٨١٩هج/ 1١٣٣٨-١٤١٦م] بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ [وفات ٧٦٥ هج] بِنْ سَيِّدِنَا اَلْاِمَامً عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ [وفات ٧٠٩ هج/١٢٩٨ بِنْ سَيِّدِنَا اَلْاِمَامً الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد [٥٧٤-٦٥٣هج/١٢٣٢م] بِنْ سَيِّدِنَا اَلْاِمَامً عَلِيٌّ الوَالِدُ االْفَقِيْهُ [وفات ٥٩٣هج] بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ الصّاحِبُ الْمِرْبَاطُ [وفات ٥٥٦ هج /١١٦١م] بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيٌّ خَالِعُ قسْمٍ [وفات ٥٧٢ هج/١١٣٣م] بن سيدنا اَلْاِمَامً عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ[وفات ٥١٢ هج/١١١٨م] بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ [وفات ٤٤٦ هج/١٠٥٤م] بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُ الصَّاحِبُ السٌّمَل عَلَوِيّيْن[وفات ٤٠٠ هج] بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [اَىْ عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ [٢٩٥-٣٨٥هج/٩٩٣م] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ [٨٢٠-٩٢٤م/٣٤٥هج] بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ [وفات ٢٧٠ هج/٨٨٣م] بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ ل[وفات ٢٥٠هج] بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ [٧٦٥-٨١٨ م] بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق [٧٠٢-٧٦٥م] بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر [٦٧٦-٧٣٢ م] بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين[٦٥٨-٧١٣ م] بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ [٦٢٥-٦٨٠ مة] بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ [وفات١١ هج] بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [وفات١١ هج] بِنْ عَبْدُ الله،
Versi lain juga menyebutkan bahwa sekitar tahun 1909 ia menikah dengan perempuan janda yang ditinggal mati suaminya janda itu bernama Siti Khadijah asal orang Kandangan Hulu yang berdomisili di Lumpangi karena takut dengan kesewenangan Penjajah Belanda dan hasil perkawinan dengan janda punya anak tersebut dan kemudian ia punya keturunan 6 anak an.
- Habib Ahmad Baderi (1918-1993M)
- Habib Bahar
- Sy Badariah
- Habib Bahur
- Sy Maswati /Taluh
- Sy Salmiati
Setelah dewasa Ahmad Baderi (usia 18 Tahun) awal tahun 1936 ia menikah dengan Masmurah binti H. Bustani orang Kandangan Hulu 2, dan punya anak tunggal an. H.Muhammad Barsih hidup sekitar tahun 1937-1978M,
Perkawinan ayah-ibunya tidak lama bertahan /bercerai/ bubar. Kemudian ayahnya menempuh pendidikan kejenjang lebih tinggi keluar daerah, setelah pulang dari pelatihan di Jawa Ahmad Baderi bekerja di instansi Pemerintahan ditempatkan di Kec. Padang Batung, kemudian ia dimutasi ke Nagara Kab. HSS. Tahun 1953 ia menikah lagi dengan perempuan an.Maslianoor w.1997M asal Nagara Tumbukan Bayu dan punya anak 7 orang yakni :
- Habib Muhammad Burhan Noor (l.13 Juli 1955M)
- Sy Rumaynoor
- Habib Drs.H.Tajuddin Noor,MM
- Habib Syahruddin Noor L.1963
- Sy Nurlianti (Nunur)
- Sy Nor Jatunnisa
- Nur Izzati Rahmi, S.H.I (Untung)
Kemudian tahun 1960 Masihi H. Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa Assegaf menikah dengan Hj. Masitah asal orang Kayu Abang Kec. Angkinang punya anak 9 orang an. :
- Basuni (wafat saat kecil)
- Basrani Noor
- H. Hasan Basri, S. Ag
- M.Nurdin Effendi w.10 Sya'ban 1433H
- Taniah wafat Jum'at, 8 Dzulhijjah 1443M
- Maimunah (wafat saat kecil)
- Nursinah, S.Pd wafat.4-3-2014M/ Selasa, 3 Jumadil awal 1435H
- Dzukifli Lubis
- M.Ariatim/Aryanurhadi,S.Pd
Adapun anak Hj. Masitah binti Salamat yang kedua dari 9 orang bersaudara bernama Basrani Noor bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf. Ia menikah dengan Ainah binti Kasran asal orang Malinau dan punya anak 4 orang, 2 laki-laki dan 2 perempuan an.
- Farida Hayati dan
- Syahril Majid,
- Ali Marzuki,
- Eva.
Adapun Syahril
Majid bin Basrani Noor bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi
Assegaf menikah dengan Diana
binti Ayau asal orang Lumpangi dan punya anak 1
orang laki-laki an. Ajril.
Sedangakan adiknya Ali
Marzuki menikah dengan Saidah Hasanah asal orang Simpur dan punya anak 1 orang laki-laki an.Muhammad Angga Saputra.(sehari-hari dipnggil "Muhammad").
Kemudian salah satu dari ke-9 orang anak itu, anak yang ke-3 bernama H.Hasan Basri bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf. Pada tanggal 3 Maret tahun 1991 ia menikah dengan Hj. Masliana binti H.Yusuf bin H.Syukur asal kota Raden Amuntai dan punya anak 3 orang laki-laki an.
- Muhammad Ibnu Mubarak, S.Pd
- Ibnu Salam M.Pd dan
- Muhammad Ibni Athaillah, ST
Adapun Muhammad Ibnu Mubarak bin H.Hasan Basri bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf, ia mondok Pesantrin Ibnu Mas'ut Putra Kandangan selama 6 tahun. Kemudian kuliah di UNLM Banjarmasin. Tahun 2019 menikah dengan Lina Hafizah binti Hamberani (w.Ahad malam, 24 Agustus 2025) bin Amberin asal Desa Pamintangan Kab. Hulu Sungai Utara Amuntai dan punya dua anak bernama "Ahmad Fadhil Mubarak Assegaf" dan Sayyid Ahmad Qurtubi Assegaf (lhr. 31 Agust 2024/26 Shafar 1446H)
Salah satu dari 7 anak Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa bin Muhammad Assegaf dengan perempuan Maslianoor bernama “Muhammad Burhan Noor” anak pertama ia lahir di Kandangan 13 Juli 1955M. Sa’at dewasa ia menikah dengan perempuan bernama “Mastinah” binti Muhammad Yusuf dan punya 4 keturunan /anak an. :
- Hendri Yusliani Noor,
- Aulia Ismatullah Halim,
- Muhammad Subhan dan
- Muhammad Ainurahman.
Sedangkan anak ketiga bernama Drs.H.Tajuddin Noor,MM. Setelah dewasa ia menikah dengan perempuan bernama “Hj.Norliani” dan punya 3 keturunan /anak an. :
- Hikmatu Diniah,
- M.Firdaus Fansuri dan
- Hafijatun Nadia.
Adapun M.Firdaus Fansuri menikah dengan perempuan an. Ina punya 1 anak an. Adilla Risa, kemudian ia menikah dengan perempuan an. Ana isteri keduanya dan punya 1 anak an. M.Aiman Firdaus.
B.Dzuriat Habib Abdul Lathif bin Abu Bakar As-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf
Sedangkan dzuriat nasab dari Habib Abdul Lathif bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin Assegaf menikah dengan Diang Putih (Mutmainnah) menurunkan anak salah satunya an. Habib Aliadam. Beliau ini (Habib Aliadam menikah dengan Nilantih/ Nurhasanah) menurunkan 5 orang anak antara lain :
- Habib Hasan,
- Habib Umpat,
- Abdul Hamid,
- Abdullah dan
- Syarifah Masrah.
Menurut Habib Husni bin Mansyur bin Hasan Assegaf yang saya wawancarai dikediamannya bahwa "Datu Habib Aliadam punya saudara bernama Abdullah dan Abdul Karim. Abdul karim tersebut Beliau pernah tinggal di Sei Malang Amuntai."
Adapun anak Datu Habib
Aliadam yang pertama adalah bernama Habib Hasan. Menurut Habib Husni bin Mansur
bahwa Habib Hasan punya 3 orang anak :
- Syarifah Basriah
- Habib Mansyur
- Syarifah Masniah
Sedangkan Habib Mansyur bin
Hasan bin Aliadam bin Abdullatif bin Abu Bakar As-Tsani Assegaf punya anak 5
orang anak antara lain :
- Habib Husni
- Habib Jailani
- Habib Mugni
- Sy. Isnawati
- Habib Muhaimin
Menurut Habib Husni bin Mansyur Assegaf bahwa Habib Hasan bin Aliadam Assegaf dan Habib Mansyur bin Hasan bin Aliadam bermakan dekat langgar Darul Muttaqin di Tibung Raya Kec. Kandangan.
Adapun Habib Husni tercatat
di KTP Beliau lahir di Hulu Sungai Selatan tanggal 27 Februari 1959 pekerjaan
Polisi Kehutanan Beliau menikah dengan perempuan yang bernama Rasuna dan mereka punya 4 orang anak
antara lain :
- Sy. Elly Maranti
- Sy. Erliyantisti
- Sy. Erini
- Habib Anhari Anshar (lhr 2003)
Habib Jailani menikah punya
anak 1 orang yang bernama "Amin" sedangkan Habib Mugni menikah dengan
Masniah punya 3 orang anak yaitu :
- Sy. Linda (kelahiran 2002//20 th)
- Sy. Fina (kelahiran 2013/9 th)
- Habib Azka (kelahiran 2015/7 th)
Kemudian dari anak yang ketiga bernama Habib Abdul Hamid bin Aliadam bin Abdullatif bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf Assegaf menikah dengan Diang Kacil/Mardiah dan punya anak tunggal bernama Ahmad Darani. Dan Ahmad Darani menikah dengan Siti Nurah punya 7 anak an.
- Habib Ismail Jumberi.
- Habib Muhammad Jamberi,
- Sy. Salabiah,
- Sy. Aisyah,
- Habib Fakhrurrazi,
- Sy. Armaniah dan
- Sy. Tarmiah.
Muhammad Jamberi bin Ahmad Darani bin Abdul Hamid Assegaf menikah dengan Siti Aisyah punya anak an. Wardah dan Budi. Kemudian ia menikah lagi dengan Rusdiana isteri keduanya dan punya anak an. Muhammad Mahyudi. Sedangkan Habib Aliadam adalah Datunya Habib Muhammad Jamberi Assegaf. Jadi Habib Aliadam tersebut, ia telah merantau ke daerah Cantung dan ia wafat dan bamakam di Cantung Kec. Kelumpang Hulu Kab. Kotabaru.
Menurut ceritera bahwa Abdul Lathif. Beliau pernah dimasa mudanya bersama bersama adiknya Abu Tayau telah mengembara ke Pulau Emas yaitu disebut juga pulau Sumatera. Yaitu Provinsi Jambi. Kabupaten Karinci, tepatnya diperbatasan antara prov. Jambi dengan Sumatera Barat, di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat, dengan ketinggian 3.805 mdpl. Gunung ini juga menjadi batas antara wilayah Suku Kerinci dengan Etnis Minangkabau yang dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat, merupakan habitat harimau sumatra dan badak sumatera. Diwilayah Suku Kerinci konon mereka mengadu nasib dengan bekerja mendulang emas.
Kemudian untuk menambah kuatnya hubungan darah dan tali kekeluargaan, juga dilakukan oleh Habib Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Habib Abu Bakar Assegaf mengkawinkan anaknya (Habib Abu Bakar as-Tsani) dengan anak sepupunya Tetuha Adat Dayak Bumbuyanin kampung Pantai Dusin, maka setelah dewasa Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Assegaf dinikahkan dengan Umi Salamah (nama asal : Diang Gunung) 14 Sya'ban 1202H/1788M. Walinya kakaknya sendiri yakni Bambang Basiwara. Maka melalui perkawinan ini, masuk Islamnya kedua kakak beradik ini, sebagai panutan suku Dayak Maratus, maka diikuti oleh orang-orang suku Dayak kampung Pantai Dusin Hulu Banyu dan sekitarnya di Kecamatan Loksado tempo dulu, seperti kampung Datar Mangkung, kampung Datar Laga. kampung Lambuk dan kampung Datar Belimbing dan kampung sebahagian Kemawakan menjadi Muslim. Dan juga diseberang Sungainya atau dihilir sungai seperti kampung Majulung, kampung Ni'ih dan kampung Tanuhi menjadi Muslim.
Menurut ceritera Habib Besrani Noor bin H.Muhammad Bersih Assegaf (Usia 57 tahun) yang saya wawancarai bahwa Balai Adat Pertama di Hulu Banyu Loksado kala itu terletak di kampung Pantai Dusin dihulu kampung Oling, berseberangan kampung Tar Laga dan kampung Tar Mangkung. Di kampung Pantai Dusin Hulu Banyu inilah Bumbuyanin sebagai Tetuha Adat pertama membangun Balai Adat terletak ditepi tiga muara sungai Kali Amandit.
Selanjutnya menurut Beliau bahwa diperkirakan keberadaan Balai Adat kampung Pantai Dusin yang di bangun oleh Bumbuyanin dan diturunkan kepada anak tertuanya Datu Ayuh atau nama lainnya sang Dayuhan, tidak sampai dari satu abad, Balai Adat dan penghuninya ini kena musibah, semuanya telah hanyut diterjang banjir besar, kecuali orang-orang yang selamat adalah orang-orang yang masih tinggal ( badim dipahumaan) ladang padi.
Ulang sudah mengenal Islam, dia adalah adik kandung Muhammad Langara yang belum muslim. Kemudian namanya diabadikan oleh masyarakat setempat / dzuriat anak cucunya menjadi nama kampung atau nama desa, maka bernamalah lokasi tempat kediamannya menjadi desa Ulang. Dia adalah seorang Dayak yang melahirkan suku Dayak Ulang didesa Ulang. Dan sebagian desa-desa sekitarnya menjadi muslim seperti kampung Tariban dan kampung Hutap, tetapi untuk desa Ulang sendiri tahun 1970 an sudah dimasuki Agama Kristen.
Dan suku Dayak Bumbuyanin juga keturunan Ulang yang pertama dan anaknya yang kedua bernama Bayumbung. Untuk mengenang Datunya maka dzuriat anak cucunya nama “Bumbuyanin” menjadi nama pada Balai Adat Dayak. Dinamakanlah Balai Adat dimaksud dengan nama “Bumbuyanin”. Balai Adat tersebut sekarang yang beralamat /berlokasi di desa Kemawakan. Demikian pula Balai Adat Bayumbung menjadi Balai Adat tertua di pegunungan Maratus.
Bumbuyanin adalah nama Tetuha Adat Dayak yang mempunyai 3 anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Dimasa kecilnya mereka bertiga pernah diutus atau dikirim orang tuanya ke Desa Lumpangi untuk menuntut Ilmu Islam kepada Habib oleh karenanya mereka sangat mengenal Islam dengan baik. Dimasa pendidikan inilah Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad mulai mengenal dan menyukai Umi Salamah sepupunya.
Adapun anak Bumbuyanin yang pertama bernama Ayuh atau Datu Ayuh atau Dayuhan atau Sang Dayuhan, digambarkan orang bahwa dia seorang lelaki yang berfisik kuat, gemar berkelahi atau berperang tetapi kurang cerdas, mudah/gampang marah, sulit menerima hal-hal yang positif dan dia menurunkan suku dayak Gunung Meratus.
Sedangkan anak yang ke-2. Bambang Swara atau Bambang Basiwara. digambarkan orang bahwa dia berfisik agak lemah tetapi sangat homoris, punya otak berlian dan cerdas dan menerima hal-hal yang positif. Ketiga anak sudah mengenal Islam dengan baik tetapi Datu Ayuh belum berani berislam. Sebab takut kehilangan kesaktian-kesaktin yang dia miliki turun-temurun.
Diantara kesaktian yang mereka miliki adalah “Dapat mengobati orang sakit, Parang Maya, Balah Saribu, Pulasit dan cara Mengobatinya, Pambaci pada Seseorang atau Pembanci Dagangan, Penglaris Dagangan, Panglit, Minyak Kuyang, Minyak Bintang, Minyak Buluh Parindu, Minyak Karuang Bulik, Minyak Jalawat Cancang, Minyak Bangkui Gila, baisian Rantai Babi, Minyak Landuk-landuk dan Minyak Paluncur Baranak.”
Dan yang ke-3 adalah perempuan bernama Umi Salamah (Diang Gunung), dia seorang puteri yang sangat cantik yang dinikahi oleh Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad bin Muhammad Djamiluddin bin Habib Abu Bakar Assegaf pada akhir pertengahan abad ke-18Masihi.Melalui perkawinan ini Bambang Basiwara sebagai wali dari adik perempuannya. Bambang Basiwara ini ia menjadi seorang muslim dan dia menurunkan suku Banjar.
Versi lain ada yang punya berpendapat bahwa ceritera ketiga anak ini dikenal oleh sebagian masyarakat Dayak Maratus yang pertama bernama Ayuh atau Datu Ayuh atau Sang Dayuhan, dia seorang lelaki yang berfisik kuat, gemar berkelahi atau berperang tetapi kurang cerdas, sulit menerima hal-hal yang positif, sosok ini di sebut Dayuhan. Yang ke-2. Bambang Swara atau Bambang Basiwara. dia berfisik agak lemah tetapi punya otak berlian dan cerdas dan menerima hal-hal yang positif dan sangat homoris, sosok ini dikenal dengan nama "Paluy" sedangkan yang ke-3 adalah perempuan bernama Diang Gunung, dia seorang puteri yang sangat cantik rupawan, sosok ini disebut "Intingan".
Balai Adat Bumbuyanin dulu/pertama diperkirakan berdiri ditepi Sungai disekitar Kampung Uling Kampung Tar Laga dan Tar Mangkung tepatnya kampung Pantai Dusin. Adapun orang-orang yang tiada mau menerima Islam, mereka pindah atau menjauh dari Kaum Mulimin. Dengan adanya sebab akibat dan bergesirnya waktu tempu dulu maka Balai Adat Bumbuyanin pindah lokasi / tempat, sekarang Balat Adat tersebut beralamat di desa Kemawakan Kec. Loksado.
B. Perkawinan Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf dengan Wanita lain asal kampung Batu Tangah
Menurut sumber bahwa isteri Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf yang bernama Umi Salamah binti Bumbuyanin ketika berusia 44 tahunan ia sudah sering sakit-sakitan hingga membawa maut dan ia punya 2 orang cucu an. Muhammad bin Ibrahim dan Aliadam bin Abdullatif.
Namun disisi lain Habib Abu Bakar bahwa setelah isterinya (Umi Salamah binti Bumbuyanin) wafat diperkirakan usianya 45 tahun maka ada kemungkinan dan diduga kuat Habib Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamaluddin Assegaf ini, Beliau menikah lagi dengan wanita muda lain disisa usianya sehingga pernikahan itu punya anak atau keturunan yang baru, selain keturunan yang telah kami sebutkan diatas yang belum kami gali dan belum kami ketahui kejelasannya. Akan tetapi apabila ditelusuri artikel yang ditulis Saadilah Mursyid maka diduga kuat bahwa anak dari isteri barunya asal kampung Batu Tangah dimaksud itu bernama Habib Husin dan Habib Ahmad dan menurut artikel dimaksud dzuriatnya masih ada dan tersebar hingga sa'at ini.
Kami belum mendengar tetapi yang lain ada yang tahu ceritera (keterangan) ini bahwa setelah isterinya (Umi Salamah binti Bumbuyanin) wafat diperkirakan usianya 45 tahun maka Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf ini, Beliau menikah lagi dengan wanita lain sehingga pernikahan itu punya anak atau keturunan yang lain (yang baru), selain tiga keturunan yang telah kami sebutkan yakni Ibrahim, Abdullatif dan "Aly dan keterangan tersebut belum kami gali dan belum kami ketahui kejelasannya. Akan tetapi kami hanya menelusuri artikel yang ditulis Saadilah Mursyid maka diduga kuat bahwa anak tersebut bernama Habib Husein dan Habib Ahmad dan menurut artikel dimaksud dzuriatnya masih ada dan tersebar hingga sa'at ini.
Tetapi diduga kuat menurut versi lain yang pernah saya dengar dari kisah salah seorang Habib dan lebih masuk akal bahwa keduanya Habib Husein dan Habib Ahmad tersebut adalah keturunan dari Habib Ali bin Idrus bin Hasyim bin Muhammad Assegaf yang berada/ bamakam dalam Kantin Los Batu Pasar Kandangan sedangkan Habib Iderus (adik kandung Habib Hasan) bin Hasyim bin Muhammad Assegaf.
“Diantara nama-nama keturunan beliau yang sampai sekarang masih hidup adalah
Habib Aziz (Muara Banta), Habib Yahya (Telaga Bidadari), Habib Yadi (Muara Hatip)” (Mursyid 2017)
C. Silsilah Nasab Dzuriat Habib Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) bin Hasan bin Hasyim Assegaf
Diperkirakan tahun 1705
Masihi terjadi perkawinan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dengan Aluh
Milah anak Tetuha Adat Langara di Balai Ulin Lumpangi, pernikahan ini membuahkan keturunan dan Nasabnya tercatat dengan baik.
Ada tiga sumber data catatan silsilah nasab yang Penyusun terima yaitu :
1. Tanqir Ghawa bin Muhammad bin Ibrahim Assegaf
Adapun catatan silsilah nasab yang saya terima dari Habib Tanqir Ghawa adalah tercatat bahwa :
"تَنْقِرُ الْغَوَى بِنْ اَبًوْ طَيْرٍ مُحَمَّدْ بِنْ اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ بِنْ اَحْمَدْ صُحُفٍ بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍالسقاف"
2. Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa Assegaf,
Hal yang sama juga dikatakan Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa kepada anak cucunya bahwa “Syukur alhamdu lillaah kita ucapkan kepada Allah Swt,
andaikata Habib tiada datang membawa Islam dan nenek kita saat itu ada yang kawin dengan habib lalu ia mengislamkan
datuk nenek keluarga kita Dayak lumpamgi, andai belum Islam, maka kita semua rugi, kita akan dimasukkan ke dalam api Naraka, nauudzu billaahi mindzaalik” Menurut
Beliau bahwa “Ucapan ini telah diucapan pula oleh datuk neneknya baharai sebelumnya kepada anak
cucunya”.
Adapun catatan silsilah nasab yang saya terima dari Habib Ahmad Baderi adalah “Tercatat Adjun baderit sasaran kembang (Ahmad Baderi) bin Tanqir Ghawa bin Abu Thair (Muhammad) bin Abu Tha’am (Ibrahim) bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assyggaf.”
3. Muhammad Jamberi bin Ahmad Darani bin Abdul Hamid Assegaf
Catatan nasab Habib Muhammad Jamberi bin Ahmad Darani Assegaf dan dengan rinci bahwa “tertulis Habib Abu Bakar bin Ahmad adalah cucu Habib Muhammad Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf kawin dengan Umi Salamah (nama asal dayak : Diang Gunung) binti Bumbuyanin bin Ulang dari Hulu Banyu. Dan menurunkan tiga anak laki-laki” an. -Ibrahim (gelar Abu Tha'am), -Abdul Lathif (gelar Abu 'Aly) 'Aly (gelar Abu Tayau). Adapun Abdul Lathif punya anak Aliadam. Aliadam punya anak : Hasan, Umpat, Abdul Hamid, Abdullah dan Masrah. Abdul Hamid punya anak : Ahmad Darani. Ahmad Darani punya 7 anak : Ismail Jumberi, Muhammad Jamberi dstnya.
Ada tiga bukti kuat
hubungan nasab dengan Habib Lumpangi yaitu
:
a. Adanya perkawinan Aluh
Milah (puteri asal Dayak) dengan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf
b. Adanya silsilah Nasab yang
bersambung dari Dzuriat Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dengan Aluh Milah
(asal Dayak)
c. Historis penguasaan tanah makam dan sekitarnya sebelum tahun 1970 an
Adapun Nasab Dzuriat Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf yang ke-11 ada 4 orang. Keturunan beliau yang tertua adalah perempuan kelahiran 2004 an. Ati binti Farida Hayati binti Habib Basrani Noor bin H. Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf. Kedua kelahiran 2017 an. Habib Ajril bin Syahril Majid bin Habib Baseraninor bin H. Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf. Ketiga kelahiran 2020M an. Habib Ahmad Fadhil Mubarak bin Muhammad Ibnu Mubarak Assegaf. Kalau dirunut dari dzuriat Nasab Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf (Habib Lumpangi) yang paling muda kelahiran 13 Januari 2020M dan adiknya Sayyid Ahmad Qurtubi Assegaf (lhr. 31 Agustus 2024M / 26 Shafar 1446H) FAM atau Marga Assegaf ash-Shaafy adalah sebagai berikut ;
- Habib Ahmad Fadhil Mubarak Assegaf
- bin Muhammad Ibnu Mubarak, S.Pd
- bin H. Hasan Basri, S.Ag
- bin H. Muhammad Barsih (1937-1978M)
- bin Ahmad Baderi (1918-1993M)
- bin Tanqirr Ghawa w.1862-1985M/1279-1405H=(123 tahun M)
- bin Abu Thair Muhammad, w.1361H/1942M “Abu Thair/Ambuthair” Pada nama awalnya adalah nama gelar kehormatannya.
- bin Abu Tha'am Ibrahim. “Abu Tha’am/Ambutha'am”pada nama awalnya adalah nama gelar kehormatannya.
- bin Abu Bakar as-Tsani, Nama as-Tsani adalah nama yang diberikan untuk membedakan dengan Datuknya. w.1902M/1319H
- bin Ahmad Suhuf w.1211H/ 1796M
- bin Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) w.1195H atau 1781 Masihi
- bin Habib Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) w.1172H/1759M
- bin Hasan. w.1132H
- bin Hasyim w.1077H
- bin Muhammad w.1023H
- bin Umar ash-Shoufy / ash-Shaafy
- bin Abdurrahman
- bin Muhammad
- bin Aly .w.840H
- bin Sayyidina Syekh al Imam al-Quthb Abdurrahman Assaqqaf /Assegaf (1338-1416M) Beliau diberi gelai "Al Faqih al-Muqaddam Tsani Assaqaf."
- Syekh Muhammad (Maula ad-Dawilah) w.765H.
- bin Syekh 'Aly (Shahibut Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
- bin Sayyidina al Imam Alwi al-Guyur w.669H
- bin Sayyidina al-Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad (574-653H/1232M)
- bin Sayyidina 'Aly Walidul Faqih
- bin al Imam Muhammad Shahib Mirbath w.556H/1161M
- bin Sayyidina 'Aly (Al Iman Khaly al Qasam) w.527H/1133M
- bin Sayyidina Alwi Ba 'Alawi w.512H/1118M
- bin Sayyidina al-Imam Muhammad (Shahib as-Shaouma'ah) w.446H/1054M
- bin Sayyidina al-Imam Alwi al Mubtakir (Shahib Saml) Alawiyyin
- bin Sayyidina al-Imam Abdullah (Ubaidillah-Shahibul Aradh 295-383H/993M
- bin Sayyidina al-Imam Ahmad al-Abah al-Muhajir 820-924M
- bin Sayyidina al-Imam 'Isa ar-Rumi w.270H/883M
- bin Sayyidina al-Imam Muhammad An-Naqaib
- bin Sayyidina al-Imam 'Aly al-Uraidhi 765-818M
- bin Sayyidina al-Imam Ja'far as-Shadiq (702-765M)
- bin Sayyidina al-Imam Muhammad Al-Baqir (676-732M)
- bin Sayyidina al-Imam 'Aly Zainal Abidin (658-713M)
- bin Al-Imam as-Syahid Syahab Ahlil Jannah Sayyidina Husain (625-680M)
- bin Sayyidia 'Aly bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra (11H/632)
- binti Muhammad ibnu Abdullah Rasulullah Saw (570-632M)
D.Ligalitas Silsilah Nasab
dzuriat Datu Habib Tanqir Ghawa
Puji Syukur Alhamdulillaah kami ucapkan bahwa Nasab dan Silsilah kami yang tertulis tersebut dinyatakan “SHAHIH” Atau “BENAR” oleh salah satu Lembaga Peneliti dan Pentashih Nasab Dzuriat Nabi Saw. yang berkedudukan di Jakarta. Yaitu Lembaga Baitul Ansab Lil Asyraf Azmatkhan Wa Ahlul bayt Al Alamy.
(نَقَبَةُ بَيْتِ الْاَنْسَابِ لِلْاَشْرَافِ الْعَظَمَتْ خَانْ وَ اَهْلُ الْبَيْتِ الْعَالَمِيِّ)
Ligality =أِSK.Kemenkumham RI Nomor : AHU-0013814.AH.01.04 TAHUN 2020
Secara resmi Lembaga Nasab Asyraf Internasional, yaitu Baitul Ansab Lil Asyraf Al-Azhmatkhan Wa Ahlulbayt Al- Alamy, mendata dan Mentashih 3.110 Qabilah Dzuriat Rasulullah Saw, 1.555 Qabilah jalur al-Imam al Hasani dan 1.555 Qabilah jalur al-Imam al Husaini, Di seluruh Dunia, 7 Benua, anggota 195 Negara.
Alhamdulillaah, Melalui Penelitian dan Pentashihan uji sampal atau pemeriksaan melalui photo wajah, photo kedua talpak tangan an. H.Hasan Basri dan data Silsilah Nasab Kehabiban hingga Nabi Saw yang dikrim dan diperiksa oleh Syekh Imam an-Naqib Sayyid Hafiz Prof. Dr. R. Shohibul Faroji al-Azmatkhan S.Ag MA PhD Ba'alawi, dari Lembaga Peneliti dan Pentashih Nasab Qabilah Ahlul Bayt (Qabilah al Hasani dan al Husaini) sedunia. Beliau (kelahiran di Banyuwangi, 13 Juni 1977) yaitu tokoh sufi dan alawiyyin yang bersumber dari Indonesia. Beliau juga Doktor Spisialis tentang Nasab dzuriat Nabi Saw.
Bulan Januari 2023 kami
daftarkan Silsilah Nasab kami dimaksud ke Lembaga ASYRAF INTERNASIONAL
perwakilan Pengurus Wilayah Prov. Kalsel yang ada di Banjarbaru dengan
menyertakan :
- Surat Permohonan (pernyataan Kehabiban) yang ditandatangani 2 orang saksi
- Photo Copy KTP
- Photo Copy KK
- Photo Copy Akta Lahir
- Data Silsilah Nasab hingga Rasulullah Saw
- Pas photo ukuran 4x6 = 4 lembar latar merah (Fam Assegaf) dan pakai selendang hijau dibahu
- Biaya Registrasi, tulis Buku Pasport dan Sertifikat dan biaya pengirimannya
- Nomor HP dan WA yang bisa dihubungi
Alhamdulillah silsilah
nasab kami sudah dicatat di salah satu Lembaga atau Rabithah yang berlaku di
Indonesia - Dunia yang berlindung dibawah
Ligality = SK.Kemenkumham RI Nomor : AHU-0013814.AH.01.04 TAHUN 2020
Nasab Diagram, Sertifkat
Nasab, Buku Pasport Nasab dan Kartu Habib yakni Beliau tanda tangani di Jakarta
tanggal 13 Januari 2023M/ 19 Jumadil Akhir 1444H. Senin. Tanggal 27 Februari 2023M
Pasport Nasab, Diagram Nasab dan Sertifikat Nasab an. H. Hasan Basri, Muhammad Ibnu Mubarak dan
Basrani Noor sudah datang lewat Lembaga ASYRAF INTERNASIONAL perwakilan
Pengurus Wilayah Prov. Kalsel yang ada di Banjarbaru. Kami ada pada Kloter 5
yakni ada 9 Habaib yang menerima Buku Pasport Nasab diantaranya : 1. Syahrani
Azmatkhan (Martapura), 2. Sumarni Assegaf 3.H. Hasan Basri, 4.Muhammad Ibnu
Mubarak dan 5.Basrani Noor Assegaf dllnya.
E. Sejarah Lembaga Baitul Ansab Lil Asyraf Azmatkhan Wa Ahlul bayt Al Alamy.
(نَقَبَةُ بَيْتِ الْاَنْسَابِ لِلْاَشْرَافِ الْعَظَمَتْ خَانْ وَ اَهْلُ الْبَيْتِ الْعَالَمِيِّ)
Secara resmi Lembaga Nasab Asyraf Internasional, yaitu Baitul Ansab Lil Asyraf Al-Azhmatkhan Wa Ahlulbayt Al- Alamy, dengan Ligality =أِSK.Kemenkumham RI Nomor : AHU-0013814.AH.01.04 TAHUN 2020 Lembaga ini mendata dan Mentashih 3.110 Qabilah Dzuriat Rasulullah Saw, 1.555 Qabilah jalur al-Imam al Hasani dan 1.555 Qabilah jalur al-Imam al Husaini, Di seluruh Dunia, terdiri dari 7 Benua, anggota 195 Negara.
Lembaga Peneliti dan Pentashih Nasab Dzuriat Nabi Saw. yang berkedudukan di Jakarta. Yaitu Lembaga Baitul Ansab Lil Asyraf Azmatkhan Wa Ahlul bayt Al Alamy.. Sekarang lembaga ini dipimpin oleh Syekh Imam an-Naqib Sayyid Mufassir Hafiz Prof. Dr. R. Shohibul Faroji al-Azmatkhan S.Ag MA PhD Ba'alawi, dari Lembaga Peneliti dan Pentashih Nasab Qabilah Ahlul Bayt (Qabilah al Hasani dan al Husaini) sedunia
Sayyid Abdul Malik lahir di kota Qasam, Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena dia hijrah dari Hadhramaut ke Gujarat untuk berdakwah sebagaimana kakeknya, Sayyid Ahmad al-Muhajir yang hijrah dari Irak ke Hadhramaut untuk berdakwah.
Menurut Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini, guru besar dari Tarim, Yaman, keluarga Azmatkhan (yang merupakan leluhur Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi asal Hadramaut dari gelombang pertama yang masuk di nusantara dalam rangka penyebaran Islam.
Sementara itu, apa yang disebut oleh Maktab Daimi Rabitah Alawiyah, yakni Asyraf Azmatkhan Ahlulbait Internasional, maksudnya adalah merujuk pada lembaga pencatatan nasab keturunan Nabi Muhammad SAW yang didirikan di Hyderabad (India) pada tanggal 19 September 1869 M oleh Sultan Sayyid Mir Mahbub Alikhan Azmatkhan bin Mir Muhammad Quthbuddin Azmatkhan di Kesultanan Hyderabad Azmatkhan, dengan nama resmi lembaga Baitul Ansab Lil Asyraf Azmatkhan Wa Ahlulbayt Al Alamy.
Adapn tujuan dari didirikannya Asyraf Azmatkhan Ahlulbait Internasional tersebut adalah untuk mencatat seluruh keturunan Nabi Muhammad SAW, baik yang berasal dari qabilah-qabilah Hasani (Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Al Zahra binti Nabi Muhammad SAW) maupun dari qabilah-qabilah Husaini (keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Al Zahra binti Nabi Muhammad SAW).
Sejarah pendirian lembaga Asyraf Azmatkhan Ahlulbait Internasional di Hyderabad (India) itu sendiri pada dasarnya lebih tua dari Maktab Daimi Rabitah Alawiyah di Jakarta (Indonesia), hanya saja reputasi dan pengaruh lembaga Asyraf Azmatkhan Ahlulbait Internasional tersebut baru terasa menguat baru-baru ini di Indonesia seiring dengan tumbuhnya kesadaran baru mengenai betapa pentingnya tradisi pencatatan kembali garis silsilah yang berasal dari keturunan para penyebar Islam awal, Wali Songo, dan sultan-sultan yang pernah berkuasa di seluruh Indonesia yang pada dasarnya berasal dari Ahlul Bait (keturunan Nabi Muhammad SAW).
Animo terhadap Asyraf Azmatkhan Ahlulbait Internasional semakin mendapatkan tempat di hati sebagian masyarakat Indonesia yang membutuhkan tradisi penmcatatan dan pengisbatan dari lembaga otoritatif, hanya saja tidak mendapatkan ruang pengakuan dari Maktab Daimi Rabitah Alawiyah yang berdasarkan suatu pertimbangan standar dan metode tidak dapat mengakomodasi harapannya.
Padahal dasarnya, keturunan dari penyebar Islam, Walisongo, dan sultan-sultan di Indonesia tersebut berpangkal pada tokoh:
Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali Qasam bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al Muhajir bin Isa al Rumi bin Muhammad al Naqib bin Ali al Uraidi bin Jafar al Shodiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain, yang mana Husain itu sendiri adalah putra pasangan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Al Zahra binti Nabi Muhammad SAW.
Sehingga pada prinsipnya, Abdul Malik bin bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali Qasam adalah keturunan dari Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al Muhajir bin Isa al Rumi bin Muhammad al Naqib bin Ali al Uraidi bin Jafar al Shodiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain, yang mana Husain itu sendiri adalah putra pasangan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Al Zahra binti Nabi Muhammad SAW.
Maka dengan demikian, keturunan dari Abdul Malik bin bin Alwi bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali Qasam, pada prinsipnya sama-sama bagian dari kalangan Alwi, Alawiyin, Ba’Alawi, Bani Alwi, atau Saadah Bani Alwi.
Abdul Malik yang merupakan Sayid kelahiran Qasam Hadral Maut (Yaman) inilah, yang kemudian melakukan migrasi ke Nashirabad (India) pada tahun 1178 M. Di Nashirabad (India) tersebut, Sayid Abdul Malik adalah orang yang kemudian menikah dengan putri sultan Nashirabad, yang membuatnya diberikan gelar bangsawan kehormatan Nashirabad sebagai Khan.
Azmatkhan marga yang dimaksud, (bahasa Arab: عظمات خان; Transliterasi: Aẓamāt Khān) al-Husaini, juga dieja Azmat Khan, al-Azhamatkhan atau al-Azhamat Chan (bahasa Urdu: عظمت خان) adalah salah satu marga komunitas Hadramaut yang banyak tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara
Para habib belum tentu azmatkhan, tapi para azmatkhan pasti habib. Karena arti habib sendiri adalah yang dicintai atau dikasihi, sebagaimana nabi Muhammad diberi gelar kekasih Allah.
Sekarang Lembaga Baitul Ansab Lil Asyraf Azmatkhan Wa Ahlulbayt Al Alamy tersebut yaitu Lembaga Peneliti dan Pentashih Nasab Dzuriat Nabi Saw. yang berkedudukan di Jakarta, Indonesia. Yang diketuai oleh Syekh Imam an-Naqib Sayyid Mufassir Hafiz Prof. Dr. R. Shohibul Faroji al-Azmatkhan S.Ag MA PhD Ba'alawi. . Beliau (kelahiran di Banyuwangi, 13 Juni 1977) yaitu tokoh sufi dan alawiyyin yang bersumber dari Indonesia. Beliau juga Doktor Spisialis tentang Nasab dzuriat Nabi Saw. Negara Indonesia ditunjuk oleh keanggotaan 195 Negara sebgai pusat dari Lembaga Peneliti dan Pentashih Nasab Qabilah Ahlul Bayt (Qabilah al Hasani dan al Husaini) sedunia.
Arikel”Hukum Mengaku Sayyid?” Diulis Abdkadir Alhamid December 12, 2022 nasab https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com/2022/12/hukum-mengaku-sayyid.html
الْحَبِيْبُ عَلْوِيْ بِنْ سَقَّافُ [وفات ١١٩٥هج/١٧٨١م] بِنْ مُحَمَّدْ بِنْ
عُمَرُ[وفات ١٠٥٢ هج] بِنْ طه [وفات ١٠٠٧ هج] بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [اى عُمَرُ الصَّافِيّ]
Sedangan dzuriat nasab Habib Abubakar bin Hasan dari isteri Beliau pertama yang berasal
dari Seiyun adalah Habib Shaleh, dan ia punya anak yang bernama Abdillah, dan ia punya anak
yang bernama Alwi.
Seiyun (juga ditransliterasikan sebagai Saywun, Sayoun atau Say'un; Arab:
pengucapan Hadhrami: adalah sebuah kota di wilayah dan Kegubernuran Hadhramaut
di Yaman. Terletak di tengah Lembah Hadhramaut, sekitar 360 km (220 mi) dari
Mukalla, ibu kota Distrik Mukalla dan kota terbesar di wilayah tersebut,
melalui jalur barat.
Menurut
Artikel Sejarah Ahlul Bait …. menyebutkan bahwa “Seorang dari keluarga Assegaf bernama Habib Alwi (w.1842) bin Abdillah bin Shaleh bin Abubakar bin Hasan dilaporkan melalui perjalanan panjang
dari Hadramaut-Turki-Palembang-Gresik ketika menyinggahi
Banjarmasin. Dan ia sempat berdomisili di Kampung Sungai Mesa. Alwi kemudian
menetap di Martapura (Kampung Melayu). Disebutkan lagi bahwa “Suatu ketika Ali bin Alwi
Assegaf
dari Kampung Melayu Martapura mampir ke rumah keluarga Alklatiri tersebut. Saat
bersamaan, di rumah keluarga Arab itu, Ratubah tengah mencucuki
marjan. Dari
perjumpaan menyaksikan seorang perempuan campuran Bugis-Banjar di rumah
keluarga Arab itu, Ali
akhirnya tinggal di
Kampung Bugis karena menikah dengan Ratubah. Untuk tempat
tinggalnya Ali membeli sebuah rumah kecil di Kampung Bugis (Jalan Sulawesi),
membangunnya kembali, dan menyulapnya menjadi rumah Baanjung (rumah adat
Banjar).Putra Ali dengan Ratubah adalah Zen. Zen kawin dengan Syarifah dari keluarga
Bahasyim berputra Alwi
[seorang pedagang asam kamal yang berjualan dari Kuin Utara ke Aluh-aluh,
Kabupaten Banjar dan merupakan ayah dari Ibu Galuh (Syarifah Fatimah) di Kampung
Melayu dan Abdul Kadir Jailani di Sungai Mesa] Perkawinan Zen dengan perempuan
dari bangsa Banakmah
berputra Ali, Sy Zainab,
Sy Fetum (ibu Segaf bin Abubakar AlHabsyi), Sy Noor dan Sy Fedlon (masih
hidup tinggal di Kampung Bugis )”. ket : Sy =Syarifah
الْحَبِيْبُ عَبْدُ الْقَادِر الْجَيْلانِ بِنْ عَلْوِيْ بِنْ زِيْنْ بِنْ عَلِيُّ بِنْ عَلْوِيْ [وفات ١٨٤٢هج] بِنْ عَبْدِ للهِ بِنْ صَالِحْ بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ [وفات ١١٧٢هج] بِنْ حَسَنٍ
[وَفات ١١٣٣هج] بِنْ هَاشِمٍ [وفات ١٠٧٧ هج] بِنْ مًحَمَّد [وفات ١٠٢٣ هج] بِنْ عًمَرَ
الصُّوْفِيِّ [اى عُمَرُ الصَّافِيّ]
الْحَبِيْبُ الْحَبِيْب
مًحَمَّدْ اِبْنُ مُبارَكْ بِنْ الحاج حَسَنْ بصْرِىْ بِنْ الحاج مًحَمَّدْ بَرْسِيْه [وفات ١٩٧٨م] بِنْ اَحْمَدْ
بَدْريْ [وفات ١٩٩٣م] بِنْ تَنْقِرُ الْغَوَى
[وفات ١٩٨٥م] بِنْ اَبًوْ طَيْرٍمُحَمَّدْ [وفات١٣٦١هج] بِنْ اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ
[وفت١٢٥٢هج] بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني [وفات ١٩٠٢م] بِنْ اَحْمَدْ صُحُفٍ [وفات ١٧٩٦م] بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن [وفات ١١٩٥هج] بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ [وفات ١١٧٢حَمَّد [وفات ١٠٢٣ هج] بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [اى عُمَرُ
الصَّافِيّ]
الْحَبِيْب اَحْمَدْ اِلْهَامْ بِنْ جنغِيْ
عَلِيٍّ بِنْ جَمْبارَان بِنْ جَمَاعِيْن بِنْ اَحْمَدْ بِنْ عَلِيٍّ بِنْ عَبْدُاللهِ بِنْ حُسَيْنُ بِنْ اَحْمَدْ جَلَالُ الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ
بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصَّافِيّ بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن
بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه
الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ.
Tidaklah banyak yang Penulis ketahui tentang kehidupan Tokoh-tokoh ini, sejak Mereka lahir, masa kanak-kanak, masa remajanya, masa tuanya sampai wafatnya. Begitu pula tidaklah banyak Penulis ketahui tentang anak-anak Habib Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf dari isterinya yang baru (isteri keduanya) setelah Umi Salamah wafat.
Penulis hanya berharap dan mendo’akan semoga Allah Swt mema’afkan dan mengampuni kesalahan kita, kesalahan – kesalahan orang tua kita, kesalahan datuk-nenek kita, dan juga kesalahan – kesalahan orang-orang yang pernah dekat dengan kita dan kesalahan – kesalahan dzuriat-dzurat kita hingga akhir zaman, begitu juga semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa mereka, dosa-dosa orang tua mereka, dan dosa-dosa orang-orang muslimin dan muslimat semuanya. Aamiin Aamiin yaa rabbal aalamiin
الْحَبِيْبُ عَلِيُّ بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ اَخْمَدُ بِنْ عبْدُ الْقَادِرِ بِنْ عَلِيُّ بِنْ عُمَرُ بِنْ سَقَّافُ بِنْ مُحَمَّدْ القاضى بِنْ عُمَرُ بِنْ طه القاضى بِنْ عُمَرُ[وفات ١٠٥٢ هج] بِنْ طه [وفات ١٠٠٧ هج] بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [اى عُمَرُ الصَّافِيّ]
G. Tragedi Runtuhnya Balai Adat "Balai Ulin" Lumpangi
1. Balai Adat Balai Ulin pernah Simpan Biji Padi Sebesar Kelapa
Diceritakan
bahwa dahulu kala Balai Adat Balai Ulin sewaktu dipimpin
oleh seorang Kepala Suku Dayak atau Kepala Balai atau Penghulu Adat yang bernama Langara,
mereka pernah
memiliki dan menyimpan peninggalan benda prasejarah, berupa tiga buah biji banih seukuran kelapa
yang dinamakan “Banih
kelapa atau Banih Nyiur”.yang diletakan
ditengah-tengah Kindai Banih dirungan tengah Balai.yang dijadikan sebagai “Ajimat
pipikat sakti”. Banih
Nyiur itulah yang
memanggil ruh-ruh kawannya /membawai nyawa kawannya sehingga Kindai Banih tidak
pernah kosong atau habis. Dengan ikhtiar Pemiliknya bahuma yang luas dan
hasilnya selalu melimpah. Konon masa itu benda-benda banyak yang berukuran
jumbo.
Orang-orang dahulu
kalau ingin memasak nasi dari banih kelapa itu, maka banih itu dipipiki satu persatu dari
tangkainya dan ditaruh dalam lasung kayu baru ditumbuk dengan Halu hingga lanik
dan ditampi dengan nyiru dahulu baru beras itu dimasak.
Dan dari ketiga buah biji padi tersebut atas permintaan
Dayak Ulang kepada kakaknya Langara, bahwa ia dan keluarganya saja yang
memeliharanya, maka buah biji Banih itu masing-masing dibawa Dayak Ulang satu biji
padi ke desa Ulang, dan dibawa Dayak Bumbuyanin ke Pantai Dusin
Hulu Banyu satu biji padi
dan juga satu biji padi dibawa Dayak
Bayumbung ke Harantan Hilir
Banyu saat Balai
Adat bubar. Namun masyarakat sekarang tetap percaya bahwa
beras yang kecil saat ini, dahulunya adalah beras besar tersebut. Walaupun
sudah tidak ada lagi bukti – fakta sejarah tersebut sampai saat ini, namun
masih banyak masyarakat yang mempercayainya Walaupun benda yang tinggal tiga
biji tersebut sudah musnah, akibat musibah banjir dan kebakaran balai
Adat.
2. Balai Adat di Renovasi
Balai itu berdiri sekitar tahun 1552 Masihi di Lumpangi tidaklah
sampai 1 setengah abad Balai Adat Balai Ulin ini berdiri karena adanya pengaruh
islm kemudian balai adat ini ditinggalkan
orang atau bubar.
Pada pertengahan abad ke-17 Masihi Balai Adat
"Balai Ulin" Lumpangi Loksado direhap total oleh Regenerasi suku
Dayak. Sekitar tahun 1700 Masihi akhir abad ke-17 Balai Adat tersebut dipimpin
oleh seorang Kepala Suku Dayak atau Tetuha atau Penghulu Adat bernama Langara,
ia punya adik kandung bernama Ulang. Dayak Ulang ini punya anak bernama
Bumbuyanin dan Bayumbung, sedangkan
Dayak Langara menurut sumber data punya 3 anak pertama bernama Talib dan kedua
bernama Anjah dan ketiga bernama Aluh Milah.
Versi lain menyebutkan, menurut sumber data bahwa
sesudah Balai Adat Balai Ulin bubar maka beberapa tahun kemudian datanglah
Dayak Ulang dan Bumbuyanin ke Lumpangi membawa ketiga anaknya agar diajari
tentang Islam kepada Habib dan menemui kakaknya Muhammad Langara dan mohon agar
Balai Adat Balai Ulin yang tidak berfungsi itu bisa dipindahkan ke Pantai Dusin
Hulu Banyu.
3. Tradisi Dayak dalam membangun rumah/balai adat
Salah satu yang menjadi tradisi adat Dayak dalam
membangun rumah/balai adat bahwa "muka rumah/ balai adat selalu menghadap
kearah matahari terbit, tak terkecuali Balai Adat "Balai Ulin" itu
mukanya juga mengadap kearah matahari terbit, dan balai itu dihuni oleh 7-10
kepala keluarga. Orang Dayak menjunjung tinggi semangat rasa kebersamaan dan
mereka memiliki dapur masing-masing. Balai Adat berbentuk panggung dengan
ukuran panjangnya diperkirakan 35-50 meter dan lebar 10-12 meter dan tinggi
lantai dari permukaan tanah 2 setengah hingga 3 meter dan 7 anak tangga kecil
untuk menolak Hantu kepala terbang. Tangga itu hanya dilewati 1 orang lebar
kurang lebih 50cm.
4. Balai Adat Balai Ulin di pindah ke Pantai Dusin Hulu
Bayu
Diceriterakan orang bahwa di awal pertengahan abad ke-18
Masihi sekitar tahun 1730-an Masihi Bumbuyanin bin Ulang memindah rumah Balai Adat Balai Ulin ke
pemukiman baru di Pantai Dusin Desa Hulu
Banyu Kecamatan Loksado. Setelah mereka pindah lokasi pemukiman dari Tamiang Malah Muara Hatip menuju lokasi
baru yakni Pantai Dusin. Tetuha Adat Dayak pertama bernama Bumbuyanin, ia
mempunyai 3 anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Adapun anak yang pertama
bernama Ayuh atau Datu Ayuh atau Sang Dayuhan, anak yang ke-2. Bambang Swara
atau Bambang Basiwara dan anak yang ke-3 adalah perempuan bernama Umi Salamah
(Diang Gunung), dia seorang puteri yang sangat cantik jelita.
Kemudian atas musyawarah dan kesepakatan bersama Balai
Adat Balai Ulin Lumpangi dipindah ke Pantai Dusin Hulu Banyu, tetapi kakaknya
minta agar 1 batang tiang dari bagian muka Balai Adat itu ditinggal atau
dibiarkan tetap berdiri atau tidak dialih atau dipindah. Katanya "Tiang
itu fungsinya dijadikan sebagai Simbol Balai bahwa di Lumpangi pernah berdiri
sebuah Balai Adat Dayak".
Menurut Ahmad atau Amat yang saya wawancarai, ia asal
dayak Bayumbung yang sudah muslim ceritera dari datuk-neneknya bahwa "
Bekas tiang-tiang ulin Balai Adat Balai Ulin itu telah diangkut atau dibawa ke
Pantai Dusin Hulu Banyu".
Mereka (warga Dayak) mengangkut tiang-tiang ulin bolat sebatangan Balai Adat Balai Ulin tersebut lewat sungai dengan rakit bambu, mereka Tarik satu persatu hingga sampai di Pantai Dusin Hulu Banyu
Sungai Kali Amandit kala itu masih banyak teluknya (airnya dalam dan tidak deras) jadi mudah membawa tiang-tiang ulin bolat sebatangan tersebut dengan rakit bambu. Tidak seperti sekarang batu-batu sungi sudah banyak diambil untuk membuat jalan raya hingga akibatnya air sungai dangkal dan deras.
Pada pertengahan abad ke-18 Masihi ketika masa kecilnya
mereka bertiga pernah diutus atau dikirim orang tuanya ke Desa Lumpangi untuk
menuntut Ilmu Islam beserta sepupu-sepupunya an. Habib Abu Bakar as-Tsani bin
Ahmad Assegaf dan anak-anak lainnya kepada Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu
bakar Assegaf oleh karenanya mereka ini mengenal Islam dengan baik.
6. Tragedy Balai Adat Hulu Banyu pecehan Balai Ulin
Lumpangi Loksado
Selanjutnya di ceriterakan orang
bahwa pada zaman dahulu, setelah
pecah dan bubarnya Balai Adat di Balai
Ulin Lumpangi, kemudian berdiri Balai
Adat yang kedua di kampung Pantai Dusin Hulu Banyu, balai Adat tersebut
dibangun di tepi sungai,
berdekatan dengan kampung Datar Laga dan
kampung Datar Mangkung. Tetuha Adat
pertama bernama Bumbuyanin,
dia adalah anak sulung Tetuha Adat
Ulang. Pada masa cucunya, Balai Adat
ini mengalami tragedy mencekam.
Ketika itu Balai beserta penghuninya
hanyut (larut) di bawa air bah (ba'ah) besar, mungkin 6-7 keluarga
penghuninya tidak dapat menyelamat diri.
Sebagian orang ada yang berkata bahwa Tragedy Balai Adat
Hulu Banyu pecehan Balai Ulin Lumpangi Loksado terjadinya 7 Rajab 1247H/1831
Masihi. Dengan adanya sebab akibat dan
bergesirnya waktu tempu dulu maka Balai
Adat Bumbuyanin pindah lokasi / tempat, sekarang Balai Adat tersebut beralamat
di desa Kemawakan Kec. Loksado.
6. Letak geografis Balai Adat Pantai Dusin
Menurut ceritera Habib Basrani Noor bin H.Muhammad
Barsih Assegaf (Usia 57 tahun) yang saya wawancarai bahwa Balai Adat Pertama di
Hulu Banyu Loksado terletak di Pantai Dusin. Pantai ini dihulu kampung
Majulung, ia berseberangan dan dekat
kampung Datar Laga dan kampung Datar Mangkung. Di Pantai Dusin inilah
Bumbuyanin sebagai Tetuha Adat membangun Balai Adat yang terletak ditepi udik tiga
muara sungai Amandit.
Menurut Ahmad atau Amat yang saya wawancarai, ia asal
dayak Bayumbung yang sudah muslim bahwa "Letak Balai Adat Pantai Dusin
itu, kalau kita berada dari kampung Lambuk menuju hulu sungai ke Datar Mangkung
terus ke kampung Datar Laga terus ke kampung Uling terus kehulu lagi hingga
Pantai Dusin, dan dihulu Pantai Dusin itu sekarang Balai Adat Tanginau".
7. Kisah sebelum terjadinya Banjir besar.
Konon di ceriterakan bahwa ada seorang istri Tetuha Balai muda Pantai Dusin dan menentunya sedang hamil muda (ngidam) secara bersamaan.keduanya sering pusing-pusing dan tidak mau makan bahkan berhari-hari, membuat suaminya pusing kepala. Kedua istri yang ngidam ini pingin sekali memakan iwak hidup yang (dipalan) dimasak dalam seruas batang buluh.
Akhirnya untuk memenuhi hasrat isteri dan menentunya,
suami an.Dusin dan anak lelakinya an.Uling pergi ke sungai dengan membawa
sebuah jala (lunta) mencari iwak hidup. Kepergian keduanya diikuti oleh seekor
anjing setianya bernama si “Balang”
Konon bahwa Penghuni Balai Adat ini memakan anak orang (dalam bentuk seekor iwak sili-sili sebesar buah Bunglay berkepala seperti anak Naga atau ikan berkepala yang aneh). Yang mereka peroleh dengan menjala (melonta) di sungai. Di ceriterakan bahwa Penjala ikan “Tidak seperti biasanya, setelah berkali-kali ia melepas jaring jalanya ke sungai dan menariknya pelan-pelan, tetapi ia tidak merasakan dan menemukan adanya ikan yang tersangkut dijaring jalanya, kecuali seekor ikan tilan/ sili-sili sebesar buah bunglay yang berbentuk aneh (berkepala seperti anak Naga). Ikan itu dilepas kembali ke sungai, mereka semakin jauh berjalan menuju hilir sungai. Sehingga menghabiskan waktu berjam-jam, menjala ikan, tapi tak seekorpun ikan yang dicari didapat hingga perut mereka merasakan lapar. . Bahasa orang Banjar “Ujar anaknya, parut ulun sudah lapar, amun kaya ini bahay, kita kada kulihan iwak.saikung-ikung baik kita bulikan haja kerumah, bahay. Ujar nang abah, hadangi dahulu nakay, aku masih panasaran, sakali laginah aku menimbai lonta. Lalu Lonta itu ditimbai ketengah sungai dan ditarik pelan-pelan, ternyata ikan Aneh itu lagi yang terjaring. Ujar nang abah jangan dibawa! nakkai iwak itu” tetapi ujar nang anak, "Napa kita lauk makan, bini ulun kada mau makan saharian".
Kita bawa haja ke rumah, Ulun berkeyakinan bahay bahwa jenis
iwak nang kaya ini banyak terdapat di sungai ini sebab lain-lain warnanya iwak nang
kena di jaring kita walaupun iwak itu sama ganalnya, yang pertama iwak nang
kena jaring kita warna kehitam-hitaman, kemudian iwak itu kita lapas, yang kedua
iwak nang kena jaring kita warnanya hitam campur putih, yang ketiga yang kena jaring kita warnanya hitam
campur ungu, dan warna lainnya. Sedangkan terakir nang kena jaring kita warnanya
keemasan, ulun lihat lebih dari 5 warna nang kena jaring kita seperti lagenda warna
naga dalam warna pelangi, jadi rasanya kada mungkin bahay iwak jalmaan.
Kemudian.
iwak hidup itu dibawa pulang oleh ayahnya, sedangkan Uling singgah dipahumaan dan
sesampainya ke Balai, Dusin disambut istrinya riang gembira. Iwak hidup disiangi,
dipotong-potong dan (dipalan) dimasak dalam seruas batang buluh muda, tak lama
setelah itu tercium dengan bau aromanya yang lezat dan siap dimakan bersama-sama
hingga habis, dan lupa menyisakan untuk Uling anaknya.
Sejurus kemudian datanglah seorang laki-laki tua bungkuk pakaian serba putih dan bertongkat,dari hilir sungai, berjalan tergopuh-gopuh dengan tongkatnya sedang mencari anaknya yang hilang, dan ia bertanya-tanya kepada orang-orang yang ditemuinya tetapi jawaban orang selalu tidak pernah melihatnya. Kemudian ia masuk ke teras balai dan bertanya kepada Penghuni Balai Adat Bumbuyanin kala itu di pantai dusin. Kakek tua itu menjelaskan kepada mereka bahwa “ia orang tarlaga (tar-laga artinya rumah naga) dan ciri-ciri anaknya an.Mangkung "Berkepala Naga dan berbadan ikan sili-sili, akibat dari kena kutukan.
Ia pernah berkata kepada anaknya" Hai Mangkung anakku kamu akan selamanya jadi iwak sili-sili berkepala naga terkecuali jika kau besar nanti ditemukan orang dan kau dimakan oleh dua perempuan sedang hamil muda (ngidam) baru kau dapat beringkarnasi / menetis/menjelma hidup normal kembali lewat kedua Rahim perempuan hingga kamu dilahirkan dari perempuan tersebut. Baru kutukan terhadapmu akan berakhir.Karena merasa malu dan bersalah dengan orang tua itu mereka menyembunyiannya terhadap apa mereka perbuat, Kata Penghuni Balai “kami tiada melihat anak sampian”, kata orang tua itu "Kau bohong, Kalian semua berbohong "
Disini terjadi perdabatan sengit, yang akhirnya kata orang tua itu "Iwak yang kalian makan itu adalah anakku, tetapi adakah lagi sisanya atau tulang-tulangnya ? "Aku mohon aku pinta kembalikan kepadaku" kata orang tua itu. Kata Penghuni Balai “habis tiada tertinggal sedikitpun”, padahal tulang-tulangnya masih ada. kata orang tua itu, ‘Sebagai gantinya anakmu dan cucumu” yang masih dalam kandungan itu akan aku bawa, nanti keduanya akan aku jadikan Pengiran dan Ratu dikerajaanku " tetapi Kalian masih berbohong" tetapi jika benar bahwa kalian tidak berbohong, maka Tongkatku ini tidak akan bisa mengeluarkan air.
Pak Tua itupun memajamkan matanya lalu bibirnya kumat-kamit membaca mantera dan mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi disambut sembaran kilat dan patir menggalagar, lalu orang tua itu menghunjamkan tongkatnya ke tanah, maka keluarlah mata air yang melimpah disertai angin dan hujan dengan lebatnya selama 3 hari dan tiga malam tidak henti-hentinya.
Kemudian orang tua itu merubah bentuk menjadi seekor Naga sebesar pohon Enau, dan panjang sepanjang pohon kelapa tua, lalu ia merobohkan bangunan Balai dengan mengikat tiang-tiangnya dengan ekornnya dan menghilang ditelan air. dan terjadilah air ba’ah yang besar, sunami yang besar secara tiba-tiba, hingga Balai Adat dan Penghuninya hanyut ditelan air ba'ah yang dahsyat.
Selamat dan beruntunglah Uling dari musibah air ba’ah yang besar, tapi ia bersedih kehilangan anak dan isteri dan juga keluarganya Ketika tanaman padi sudah setinggi dada (banih rangkumkupak) ia pulang dari melonta bersama Dusin ayahnya, hari menjelang senja Uling dan seekor anjing setianya si “Balang”singgah menjenguk pahumaannya dan ketika sesampainya disana, ia menghidupkan parapian (balaman api) sambil membakar ubikayu untuk mengganjal perutnya hingga ia tertidur pulas hingga pagi dipondok humanya. Di hari itu turun hujan sangatlah deras selama 3 hari dan tiga malam tidak henti-hentinya dan disertai angin kencang, ia lihat air sungai pun yang melimpah dan membuatnya tidak bisa pulang ke Balai beberapa hari
Selanjutnya menurut Habib Basrani Noor bin H.Muhammad
Barsih Assegaf bahwa diperkirakan keberadaan Balai Adat kampung Pantai Dusin
yang di bangun oleh Bumbuyanin dan diturunkan kepada anak tertuanya Datu Ayuh
atau nama lainnya sang Dayuhan, tidak sampai dari satu abad, Balai Adat dan
penghuninya ini kena musibah, semuanya telah hanyut diterjang banjir besar,
kecuali orang-orang yang selamat adalah orang-orang yang masih tinggal ( badim
dipahumaan).
8. Tanah Bekas lokasi bangunan Balai Ulin menjadi
badan sungai
Adanya peristiwa air ba’ah yang besar menghayutkan Balai
Adat dan Penghuninya tersebut, air bah itu
telah melewati desa Lumpangi, kemudian arus air sungai membelah dua, yakni
: Tanah bekas lokasi bangunan Balai Ulin dulu berubah menjadi badan sungai baru
pada bagian kiri dan lebih deras airnya dari badan sungai lama pada bagian kanan,
hingga timbul murung (pulau) ditengah-tengah belahan sungai tersebut. Sekarang
ini, kalau kita menyebaragi kali Amandit lewat jembatan gantung menuju Kubah
Datu Lumpangi, dan kalau kita berdiri di tengah-tengah jembatan itu memandang
kehilir sungai. Maka kita akan melihat sungai itu membalah dua dan dihilir
murung (pulau), air sungai itu menyatu
kembali
Sebagian ada yang berkata menurut Datu-Nenek kami bahari
bahwa "Warna air ba'ah itu putih seperti susu kehitam-hitaman dan sangat
kalat rasanya, seperti bercampur
belirang atau bau batu bara sehingga mata iwak-iwak atau ikan -ikan kabur, maka
banyak ikan-ikan yang naik ke tepi sungai untuk menyelamatkan diri dan akhirnya
mati terkapar, akibat matanya tidak dapat melihat lagi dalam air karena
pengaruh kalatnya air ba'ah itu. Hal ini sangat menggembirakan dan
menguntungkan masyarakat Lumpangi mereka panen ikan sa'at itu".
Akibat air ba'ah itu terjadilah Erosi. Fostur tanah
tempat berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" dan sekelilingnya
menjadi rendah atau talabuh atau tanahnya terkikis sebagai akibat air ba’ah
itu.
Sebagian erosi
dilakukan oleh air, angin, dalam bentuk gletser adalah sebuah bongkahan atau
endapan tanah yang besar dan tebal yang terbentuk di atas permukaan tanah.
Selain itu, erosi juga dipengaruhi oleh letak astronomis.
Maka menjadi keuntungan bagi masyarakat Desa
lumpangi. Sebab disaat itu desa Lumpangi
ini sudah lama berdiri sebuah Mesjid tua bernama Jannatul Anwar. Dulu masjid
ini dibangun ditepi sungai Amandit,
kemudian akibat air ba’ah yang besar
(ba’ah/banjir), maka sungai kali Amandit pindah mendekati bukit batu Langara,
dan arus sungai dekat pasar dan sebagai akibat erosi tanah, arus sungai di
bawah-halaman Masjid menjadi pantai. Yaitu sebuah bongkahan atau endapan tanah
yang besar dan tebal yang terbentuk di atas permukaan tanah. Sehingga arus sungai sekarang ini jauh dari
Masjid. Sedangkan bukti sungai itu pindah sendiri bahwa bukti masih
ada. Dan terlihat jurang tanah bekas dinding sungai dibelakang/samping WC
Masjid tersebut. Ini adalah salah satu karamah masjid yang dibangun mula-mula
oleh Datu Habib Lumpangi dan anak cucunya ,bersama masyarakat di sekitarnya
9. Merihab Masjid Jannatul Anwar Desa
Lumpangi
Sebelum terjadinya banjir besar Masjid Jannatul Anwar
Desa Lumpangi sudah beberapa kali diperbaiki oleh Masyarakat sekitarnya. Tetapi
beberapa tahun setelah terjadinya air ba'ah besar itu maka Masjid Jannatul
Anwar Desa Lumpangi dipugar kembali atau di Rehap total dan dibangun kembali oleh
Habib Abu Thair dan Masyarakat sekitarnya dengan Arsitik yang bagus.
Menurut ceritera penuturan Habib
Bahriansyah Assegaf.yang saya temui dirumahnya bahwa “Aksisoris petaka kubah
atau manara kubah Masjid Jannatul Anwar
Lumpangi dari terbuat almanium hitam berbentuk buah-buah teruntai dan lantainya
dari tihal yang didatangkan atau dibeli oleh Habib Tanqir Ghawa dari Surabaya.”
Adapun tiang-tiang Masjid, atap dan dinding menggunakan
kayu ulin yang sudah modern, ada seni pahatan dan ukirannya khususnya pada
lis-lis dinding atap juga atap kubah sirap yang diberi petaka dan aksesoris
diatas kubahnya dan lis-lis kubah, jendela kaca dan aksesoris didalamnya (bawah
kubah) berupa lampu-lampu lilin digantung dengan rantai besi. Proses renovasi
itu dengan mendatangkan Tukang-tukang seni pahat dari kota Kandangan dan masjid
tersebut selesai direnovasi bangunannya diawal abad ke-20 Masihi sekitar tahun 1902 Masihi.
Menurut sumber data bahwa ada beberapa tokoh orang
Lumpangi yang berperan aktif ikut andil membangun merihab total Masjid Jannatul
Anwar Lumpangi kala itu antara lain : Habib Abu Thair sebagai ketua rehap
pembangunan masjid, H.Ahmad sebagai sekretaris, dan H.Mastur sebagai bendahara,
Habib Tanqir Ghawa, anggota, H. Bustani (menjabat Penghulu dan pengembangan
dakwah) merangkap anggota, Kayi Sarman anggota
dan tokoh masyarakat lainnya sebagai anggota
Menurut sumber
data yang kami dapatkan bahwa ".Sebagai akibat banjir besar
tersebut sisa satu batang tiang bekas Balai Adat itu untuk simbol bahwa di Lumpangi pernah
berdiri sebuah Balai Adat Dayak, tiang itu condong dan bergesir hingga rebah ke dasar sungai, dari belahan
sungai yang baru terbentuk akibat kuatnya terjangan banjir "..
Berkata Habib H.Hasan Basri Assegaf “Andaikata Muhammad
Langara (mantan Tetuha Adat Dayak) ia lupa berniat/ ia tidak berkeinginan menjadikan tiang Masjid Lumpangi dari sisa satu batang
tiang bekas Balai Adat tersebut sebagai
simbol, maka dapat dipastikan bahwa “satu batang tiang itu pastilah hanyut
ditelan air ba’ah yang ganas itu.”
Kemudian dimasa Habib Abu Bakar as-Tsani masih hidup, dan cucunya Abu Thair dan Tanqir Ghawa buyutnya bahwa "1 batang tiang Balai Adat yang terandam didasar sungai itu diangkat dan dijadikan tiang utama atau tiang suku Guru masjid dan diletakkan ditengah-tengah sebagai Simbol atau penyangga atau pananggak kubah saat renovasi pembangunan masjid"Jannatul Anwar" Desa Lumpangi.
a.Ekspedisi militer Pertama Kerajaan Majapahit
Dilansir dari Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit” bahwa Pada saat itu, Kerajaan Majapahit sangat berambisi untuk menguasai nusantara termasuk tanah Borneo, Kalimantan. Hal itu terjadi karena Maha Patih Gajah Mada sudah bersumpah untuk menguasai dan menyatukan nusantara. Menurut mata-mata Majapahit ada yang mengatakan bahwa kedua kerajaan di Borneo tersebut adalah rakyatnya sangat makmur karena istananya berlapiskan emas. Mendengar hal itu, Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit begitu berambisi untuk menguasai kedua buah kerajaan tersebut
Menurut Sri Naida, pemerhati sejarah mengatakan bahwa "walau Kerajaan Nansarunai itu dianggap lenyap, toh eksistensi Dayak Maanyan itu tetap ada. Terbukti, dengan adanya 7 uria (petinggi Kerajaan Nansarunai) dan 40 patih yang akhirnya membentuk suku-suku yang ada di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah"
Diceritrakan bahwa Kerajaan Majapahit mengirim ekspedisi militer pertama ke wilayah Borneo. Yang mula-mula diserang adalah Kerajaan Nan Sarunai. Sekitar 5.000 pasukan Majapahit datang dengan kapal-kapal laut melewati Sungai Barito yang dipimpin oleh Senopati Arya Manggala. Dengan membawa pasukan yang sangat banyak tersebut, lalu pasukan Kerajaan Nan Sarunai dengan gagah berani menyambut kedatangan serangan mereka dengan pasukan yang sudah matang dipersiapkan sebelumnya. Lalu terjadilah peperangan sengit antara dua kobo kerajaan ini.
Setelah dua hari bertempur dimedan laga menghadapi pasukan Nansarunai yang tangguh dan kuat, akhirnya pasukan Majapahit mampu dipukul mundur oleh pasukan Nan Sarunai yang dipimpin Datu Panglima Angkin tarkanal sakti (anak Datu Dayuhan), bahkan pemimpin pasukan Majapahit ketika itu yaitu Senopati Arya Manggala roboh bersimbah darah dengan liher putus akibat terkena sebitan Mandaunya senjata asli Suku Dayak. Mengetahui pemimpin pasukannya tewas lalu sisa-sisa pasukan Majapahit lari terbirit-birit tunggang langgang menuju kapal untuk menyelamatkan diri dari gempuran dan kejaran pasukan Nan Sarunai dan akhirnya mereka pulang ke tanah Jawa. Kerajaan Majapahit gagal dalam ekspedisi pertama ini, untuk menaklukan Kerajaan Nan Sarunai (Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit” diterbitkan SINDOnews.com pada Jum'at, 03 Juli 2015)
b.Ekspedisi militer Kedua Kerajaan Majapahit
Setelah gagal dalam ekspedisi pertama, Majapahit kembali mengirim ekpedisi militer kedua. Ekspedisi kedua kali ini dipimpin langsung Laksamana Nala yang diikuti isterinya dengan membawa dua kali lipat pasukan dari ekspedisi pertama. Dalam rombongan pasukan besar ini terdapat juga pasukan khusus Majapahit yang terkenal yaitu pasukan Bhayangkara. Pada ekspedisi kedua ini pasukan Majapahit belum berhasil menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai
Diceritrakan pula bahwa dimasa awal Raden Anyan memimpin kerajaan Dayak Nansarunai menggantian ayahnya Raden Neno. menurut Hikayat Datu Banua Lima ada seorang panglima kerajaan berasal dari suku Dayak Alai yang terkenal dengan sebutan Panglima Alai. Bersama lima panglima lainnya yaitu Panglima Tabalong, Panglima Balangan, Panglima Hamandit dan Panglima Tapin dengan membawa 1000 orang pasukan mereka sukses menghalau serangan kerajaan Majapahit pada tahun 1356M. . Laksamana Nala pulang ke tanah Jawa dengan sengaja ia meninggalkan isterinya Damayanti (Samoni Batu nama samaranya) di wilayah /tempat kekuasaan musuhnya tujuannya untuk mengetahui kelemahan musuhnya dengan alasan kapal tidak dapat merapat kepantai karena terjadi musim kemarau saat itu. Beberapa tahun kemudian musim kemarau telah berakhir menyamar sebagai saudagar Pedagabg kaya berlabuh di sungai Barito Laksamana Nala menjemput isterinya yang sedang menggendung seorang anak. Disinilah awal bermula timbul rasa .dendam Laksamana Nala dengan Raja Nansarunai karena ia menikahi & menghamili Samoni Batu yang sudah bersuami dan lewat keterangan isterinya tersebut ia mengetahui sumur gua tempat persembunyiannya dan rahasia kelemahan musuhnya.
c. Ekspedisi militer Ketiga Kerajaan Majapahit
Pada 1389 M. Majapahit kembali mengirim ekpedisi militer ketiga Ekspedisi ini dipimpin langsung Laksamana Empu Jatmika dan diikuti Laksamana Nala. Pada ekspedisi ketiga ini pasukan Majapahit melakukan siasat perang yakni penyusupan-penyusupan dari dalam yang tidak disadari lawannya, berupa memasukan kapal yang datang ke darmaga pelabuhan secara bertahap, di wilayah Kerajaan Nan Sarunai, hingga tak dicurigai lawan, mereka menyamar sebagai saudagar pedagang kaya yang banyak pelayannya untuk mengetahui kelemahan lawan, penyamaran ini dilakukan dalam waktu yang lama hingga kelemahan lawan ditemukan. Kemudian baru mengadakan serangan secara tiba-tiba hingga berhasil menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai, bahkan serangan ketiga tersebut Raja Nan Sarunai yang bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas yang terkenal konon sakti mandarguna tetapi ia diduga gugur dalam konvirasi peperangan. Peristiwa runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai yang oleh orang-orang dayak Maanyan dikenal dengan istilah “Nan Sarunai Usak Jawa”. Konon atas petunjuk isterinya, diduga Raja Nan Sarunai terbunuh dengan sebuah tombak sakti miliknya sendiri yang dilakukan oleh Laksamana Nala di dalam sebuah sumur gua tempat persembunyiannya. Versi lain menyebutkan bahwa yang ditangkap dan dibunuh dengan sebuah tombak sakti itu adalah Raksa Gangsa pengawal setia Raden Ayan (adik kandung istrinya) sedangkan Raden Ayan sendiri selamat dari konvirasi penangkapan dan pembunuhan saat itu ia melarikan diri menuju Banua Lawas Amuntai dan bersembunyi disana hingga akhir hayatnya. Sedangkan Ratu Kerajaan Nan Sarunai yang bergelar Dara Gangsa Tulen dan sebagian keluarganya lari menyelamatkan diri menuju pedalaman dibantu dua orang Punggawanya.
Akibat serangan Kerajaan Majapahit tersebut, maka Kerajaan Nan Sarunai yang dipimpin oleh Raden Anyan yang menyandang gelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas disebut-sebut sebagai raja terakhir Nan Sarunai saat itu telah dihancurkan dan ditaklukan Maka suku Dayak Maanyan tersebut terdesak dan terpencar atau tercerai berai atau lari ke pedalaman. Sebagian mereka masuk ke pedalaman hulu sungai.
Daftar bacaan : Referensi :
Artiel Sekilas mengenal profil Ulama terkemuka yang popular dengan Al Faqih Al Muqaddam Ats Tsani yang di juluki Al Seggaf. https://pecintahabibana.wordpress.com/2013/03/10/sekilas-biografi-al-imam-syekh-abdul-rahman-al-seggaf/
Artikel Buku Saku Marga Alawiyyin Maktab Daimi Rabithah Alawiyyah /https://www.scribd.com/document/537983716/Buku-Saku-Marga-Alayawiyin-Maktab-Daimi-Rabithah-Alawiyah
https://kbr.id/nusantara/02-2014/agama_kaharingan__penciptaan_alam__tuhan_dan_suku_dayak/60612.html
Nasab adalah Keturunan, Berikut Pengertian dan Hukumnya dalm Islam, Selasa 12 Januari 2021 20.00 Reporter : Novi Fuji Astuti https://www.merdeka.com/jabar/nasab-adalah-keturunan-berikut-berikut-pengertian-dan-hukumnya-dalm-islam-kln html
Artikel “Sejarah Ahlul bait (keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesa” dan http://fakhrur94.blogspot.com/2012/04/sejarah-ahlul-baitketurunan-sayyidina.html
Artikel tentang “Suku Dayak”yang di tulis oleh Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Suku Dayak - Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (diakses pada 19 Oktober 2021).
Artikel tentang “Sejarah Kalimantan Selatan” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kalimantan_Selatan diakses 20-10-2021 :07.45 wita
Kitab Biografi Ulama-ulama Terkemuka Dunia dan Nasional” yang ditulis oleh “Syekh Samsul Afandi The source: hadhramaut.info/indo – 01/5/2008
Folklor adalah Ceritera/kisah yang penyebaran dan pewarisannya cenderung dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut dari datu-datu dan nenek-nenek kami.
Artikel "Islam Loksado dan Sayyid Abu Bakr bin Hasan Assegaf" oleh : Ahmad Harisuddin yang diposting 20 Februari 2011M
YouTube Jajak Truz “Sejarah Asal Usul
Suku Banjar, Nenek Moyang Suku Banjar”
https://www.youtube.com/watch?v=kGZnuctHOCo&t=354s
Hasil-hasil Wawancara dengan Habaib Fam/Marga Assegaf Desa Lumpangi yang masih hidup sebelum ditahun 2021Masihi, Kayi Tanqir, kayi Ahmad Baderi, kayi Ahmad Karji, M. Djamberi dan Ahmad Bayumbung misalnya Habib Muhammad Burhan atau Muhammad Burhanuddin bin Ahmad Baderi Assegaf , Kayi Husni bin Karji, Kayi Usman bin Juhri . Dan lainnya
Dan beberapa catatan ttg silsilah Nasab Dzuriat Lumpangi. Catatan Habib Muhammad Jamberi bin Ahmad Darani Assegaf dan penuturan dari Habib Tanqir Assegaf yang dicatat anak cucunya.
Artikel “Sejarah
Ahlul bait (keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesa” dan http://fakhrur94.blogspot.com/2012/04/sejarah-ahlul-baitketurunan-sayyidina.html
Artikel “Biografi Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf: Ini Nasab Beliau sampai Nabi Muhammad” Eries Adlin - Jumat, 15 Januari 2021 | 20:51 WIB. https://www.ayobogor.com/nasional/pr-31874179/Biografi-Habib-Ali-bin-Abdurrahman-Assegaf-Ini-Nasab-Beliau-sampai-Nabi-Muhammad
Tahun1761–1801, masa pemerintahan Sultan Tahmidullah Kesultanan Banjar, https://www.google.com/search?q=kapan+belanda+menjajah+kalimantan+selatan&sxsrf=AOaemvKZjxAG7Lq7Y7jOA1IDVSAUmB7O2Q%3A1634772915876&ei=s6dwYeD6NISbmge2zIvICw&oq=kapan+belanda+menjajah+kalimantan+selatan&gs_lcp=Cgdnd3Mtd2l6EAEYATIHCCEQChCgATIHCCEQChCgAToHCAAQRxCwAzoHCAAQsAMQQzoECCMQJzoFCAAQgAQ6BggAEBYQHjoFCCEQoAFKBAhBGABQudYHWKGYCGCDrwhoAXACeACAAYcBiAGdBJIBAzIuM5gBAKABAcgBCsABAQ&sclient=gws-wiz diakses 20-10-2021, 09.41
Artikel "Riwayat
Singkat Habib Lumpangi - Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf” yang ditulis
pada 3 Agustus 2017 oleh Saadillah Mursyid, ...................................................... http://saadillahmursyid.blogspot.com/2017/08/riwayat-singkat-habib-lumpangi-abu.html











.jpeg)


.jpeg)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar