BAB. VIII
PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH
اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى
بَيَانِ الشَّجَاعَةِ
FASAL YANG KE 8 PENJELASAN
SYAJA'AH
Daftar Isi Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja’ah Nabi Saw” Kitab al-Risalah Mutaba’atul Hasanah
A. PENJELASAN SIFAT SYAJA'AH
1. Pengertian al Syaja'ah
2. Seseorang yang Memiliki sifat Keberanian (Syaja'ah)
3. Macam-macam Bentuk Sifat Syaja'ah
B. KEJANTANAN RASULULLAH SAW DI MEDAN PERTEMPURAN
1. Syaja’ah Mengokohkan Izzah
2. Keberanian Semangat (al himmah al Syujja'ah atau Ruh al Syujja'ah)
3. Syaja’ah dan Istiqamah
C. KEBERANIA BUDI AL-SYAJA’AH FIL AMRI WAL MA’RUF
D. KEBERANIAN YANG TAK TERTANDINGI DIBERIKAN KEPADA PARA NABI DAN PARA RASUL
E. HUKUM BAI’AT DZIKIR MELALUI MIMPI
BAB. VIII
PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH
اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ
A. PENJELASAN SIFAT SYAJA'AH
1. Pengertian al Syaja'ah
Salah satu sifat yang harus
diadopsi oleh Pengamal Tarekat al Junaidiyah (PTJ) adalah sifat al Syaja'ah
yaitu sifat pemberani, tiada takut, merasa benar dalam hal tindakan dengan
berjalan di atas syari'at dan ahwal hati yang selalu bersama Allah disaat gerak
dan diamnya. Semua tindakannya tidak pernah keluar dari syari;at yang telah
diajarkan oleh Rasulullah Saw, segala ahwal hatinya tidak lepas dari bimbingan
Allah Swt.
Kata Syaja'ah diambil dari
bahasa Arab, dalam bahasa Arab al Syaja'ah berarti sifat berani atau tidak
takut atau pemberani. Kata Syaja'ah
atau Syaja'a dari fi'il atau kata kerjanya yaitu :
شجع – يشجع – فهو مصدره اى شجاع - شجاعة
Syaja'ah atau Syaja'a bermakna pemberani ia atau
tidak takut ia.
Menurut
“Ringkasan AI Google” menyatakan bahwa Syaja’ah adalah sifat berani dalam Islam
yang berlandaskan kebenaran dan keteguhan hati, bukan didasari hawa nafsu atau
kekuatan fisik semata. Sifat ini mencakup keberanian membela kebenaran
(syaja’ah nafsiyah) dan keberanian melawan kemungkaran (syaja’ah harbiyah),
serta kemampuan mengendalikan diri. Sifat ini berakar dari iman dan istiqomah.
2. Seseorang yang Memiliki
sifat Keberanian (Syaja'ah)
Salah satu contoh seseorang
yang memiliki sifat keberanian (Syaja'ah) adalah telah terjadi kebakaran, maka
terdengarlah pekik seorang anak kecil yang terkurong dalam sebuah kamar.
Tiba-tiba tampillah seorang penonton yang menyaksikan kecelakaan itu. Dia
menyerbu kedalam api besar, lupa bahaya yang akan menimpa dirinya karena mau
menolong anak itu. Maka orang ini diberi gelar, orang yang berani yaitu ia yang
tiada merasa gentar menghadapi bahaya karena menghindarkan bahaya yang lebih
besar. Maju kemuka kesulitan, karena yakin bahwa dibalik kesulitan itu akan
tercapai suatu kebahagiaan jiwa, tiada undur walaupun ada bahaya yang ada
dihadapi.
Begitulah sifat Pengamal
Tarekat al Junaidiyah (PTJ) dalam menjalani kehidupan rohaniyah, tahap demi
tahap untuk menuju Allah Swt dengan berpegang kepada firman Allah ajjawajalla
pada surat an Nasyrah ayat 5-6. :
فإن مع العسر يسرا. إن مع العسر يسرا
Artinya "Maka
sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguh pada kesukaran
itu tersimpan kebahagiaan."QS al Nasyrah ayat 5-6.
بيان شجاعته صلى الله عليه وسلم. عن إبن
عمر يقول : مارأيت انجل ولاأجود ولااشجع ولا أرمى من رسول الله صلى الله عليه وسلم.
Maksudnya
: Sebuah pernyataan tentang keberaniannya, semoga Allah memberinya berkah dan
keselamatan. Ibnu Umar berkata: “Aku belum pernah melihat siapa pun yang lebih
dermawan, lebih berani, atau lebih mahir memanah daripada Rasulullah, semoga
Allah memberinya berkah dan keselamatan.”
قال
على رضى الله عنه : لقد رأيتنى يوم بدر ونحن نلوذ بالنبي صلى الله عليه وسلم وهو
أقربنا إلى العدو وكان من أشد الناس يومئذ بأسا. قال على رضى الله عنه أيضا : كنا
إذا احمرالبأس ولقى القوم القوم اتقينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فما يكون أحد
أقرب إلى العدو منه (رواه مسلم). من حديث البراء : كان الشجاع هو الذى يقرب منه فى
الحرب لقربه من العدو.(رواه مسلم).
Artinya
: Sayyidina Ali, semoga Allah meridainya, berkata: “Aku melihat diriku sendiri
pada hari Perang Badar, dan kami berlindung kepada Nabi, semoga Allah
memberinya berkah dan keselamatan, dan beliau adalah orang yang paling dekat
dengan musuh di antara kami, dan beliau adalah orang yang paling garang pada
hari itu.” Ali, semoga Allah meridainya, juga berkata: “Ketika pertempuran
semakin sengit dan kedua pasukan saling bentrok, kami akan berlindung kepada
Rasulullah, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, dan tidak ada
seorang pun yang lebih dekat dengan musuh daripada beliau.” (Diriwayatkan oleh
Muslim). Dari hadits al-Bara’: “Orang yang paling berani adalah orang yang
mendekat kepadanya dalam pertempuran karena kedekatannya dengan musuh.”
(Diriwayatkan oleh Muslim).
3. Macam-macam
Bentuk Sifat Syaja'ah:
Menurut
“Ringkasan AI Google” menyatakan bahwa macam-macam Bentuk Sifat Syaja'ah adalah
:
1. Syaja’ah
Harbiyah: Keberanian yang tampak, seperti berjuang di jalan Allah.
2. Syaja’ah
Nafsiyah: Keberanian jiwa, seperti menegakkan kebenaran, . melawan hawa nafsu,
dan bersabar.
Contoh
Penerapan (Perilaku Syaja'ah): Daya tahan dan kesabaran tinggi dalam menghadapi
kesulitan atau penderitaan. Berani berterus terang menyampaikan kebenaran, mampu
memegang rahasia/amanah, berani mengakui kesalahan diri sendiri, mampu
mengendalikan diri saat marah.
Sifat
Syaja'ah: Membentuk kepribadian yang tangguh, jujur, dan tidak mudah menyerah. Menghindari
sikap penakut dan lemah pendirian. Mendatangkan sifat mulia seperti pemaaf,
cepat, dan tanggap. Lawan dari sifat
syaja’ah adalah jaban (penakut), yang merupakan sifat tercela dalam Islam
B. KEJANTANAN RASULULLAH SAW DI MEDAN
PERTEMPURAN
Dari Ibnu
Umar RA. berkata :"Tidak pernah aku lihat orang yang lebih penolong dan
lebih pemurah dan juga lebih pemberani, dan lebih bidik memanah (melontar)
selain Rasulullah Saw".
Dari
Saidina Ali RA. berkata : "Sesungguhnya telah aku saksikan sendiri pada
waktu perang Badar ( musuh dengan tiba-tiba menyerang kami ) dan kami
berlindung dengan Nabi Saw dan Nabi lebih dekat kepada musuh-musuhnya dari pada
kami. Dan Nabi Saw adalah manusia yang paling berani saat perang Badar
itu".
Dari
Saidina Ali RA. berkata pula : "Kami (lihat juga) apabila telah memerah
(wajah Rasulullah Saw) keberaniannya (memuncak) maka Rasul Saw (maju) menemui
musuh-musuhnya, Kami pun terpelihara dengan (keberanian) Rasulullah Saw. Tidak
ada seorangpun yang lebih dekat kepada musuh kecuali Rasulullah Saw
(HR.Muslim).
Hadis
dari al Bara'i : "Adalah kejantanan Rasulullah Saw, dia mendekati
musuh-musuhnya dalam pertempuran, ia lebih dekat dari musuh-musuhnya".
الشجاعة تنقسم نوعين أحدهما الهمة الشجاعة او روح الشجاعة والأخر الشجاعة فى الأمر والمروف.
Syaja'ah terbagi kepada dua bahagian : -Keberanian Semangat (al himmah al
Syujja'ah atau Ruh al Syujja'ah) dan Keberanian Budi (al Syujja'ah fil amri wal
ma'ruf).
2. Syaja’ah
Mengokohkan Izzah
Mengutip
salah satu Artikel “Asy-Syaja’ah
(Keberanian)” menyatakan bahwa Antonim dari as-syaja’ah adalah al-jubn (pengecut). Sikap
seperti itu adalah sikap tercela sebagaimana ditegaskan di dalam hadits,
عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مَرْوَانَ قَالَ
سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ
Dari Abdul ‘Aziz bin Marwan, ia berkata; saya mendengar Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut” (HR. Abu Dawud)[2]
Sifat pengecut yang berbahaya
terutama adalah pengecut dalam berkomitmen terhadap kebenaran, karena takut
celaan manusia; takut kehilangan harta dunia; atau takut terhadap berbagai
resiko perjuangan. Jika ini yang terjadi, maka bersiaplah menerima kehinaan!
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
يُوْشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُم الأُمَمُ
كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا” اَوَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ يَا
رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: “بَلْ اِنَّكُمْ يَوْمَئِذٍكَثِيْرُوْنَ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ
كَغُثَاءِ السَيْلِ، وَقَدْ نَزَلَ بِكُمُ الْوَهْنُ” قِيْلَ: وَمَا الْوَهْنُ يَارَسُوْلَ
اللّهِ ؟ قَالَ: “حُبُّ الدُنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Kamu akan diperebutkan oleh
bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkok.” Para
sahabat bertanya: “Apakah saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulullah?” Beliau
menjawab: “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti
buih air bah dan kalian ditimpa penyakit wahn.” Mereka bertanya lagi: “Apakah
penyakit wahn itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Terlalu cinta dunia dan
takut kepada mati” (HR. Abu Daud).
Tercabutnya sifat syaja’ah
dalam diri umat ini akan menyebabkan mereka kehilangan izzah (wibawa,
kehormatan, dan kemuliaan). Maka mereka harus selalu berani bersikap dan
menghindari sifat imma’ah (ikut-ikutan), apalagi jika didasari rasa takut di
dalam menegakkan kebenaran.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
« لاَ تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا
ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا
وَإِنْ أَسَاءُوا فَلاَ تَظْلِمُوا ».
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan,
yang berkata: ‘Bila orang melakukan kebaikan maka aku pun melakukannya. Namun
bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut melakukannya juga.’ Akan
tetapi tempatkanlah diri kalian! Jika orang melakukan kebaikan maka kamu pun
melakukannya. Namun jika orang melakukan keburukan maka (tinggalkan sikap buruk
mereka) jangan kamu berbuat zalim.” (HR. Tirmidzi).
Maka peganglah kebenaran itu
dengan penuh keberanian.
D. Keberanian Semangat (al himmah al Syujja'ah atau Ruh al Syujja'ah)
Al himmah al Syujja'ah adalah keberanian Salik Pengamal
Tarekat al Junaidiyah menghadapi musuh-musuhnya di medan kehidupan. Walaupun
bagaimana hebatnya bujukan rayuan manis dan godaan yang ada, dihadapinya dengan
tenang, pasrah dan tawakkal kepada Allah. Dia maju pantang menyerah, tidak mau
melihat dirinya sendiri dijajah olah musuh-musuhnya.
كل واحد منها يعوقه عما قصد من العبادة بضرب من العوائق :
وتأمل فإذا هى أربعة : الدنيا والحلق والشيطان والنفس.
Artinya :Setiap satu dari musuh-musuhnya yang merintangi
dari suatu yang telah mengkasad dari ibadah dengan satu macam yang menolak dan
menyibukkan. Maka yang merintangi dari ibadah itu ada empat macam yaitu :
Dunia, Makhluk, Syaithan dan Nafsu.
الدنيا لأنها قطعت الطريق على عباد الله. ولذلك لم ينظر
إليها منذ خلقها. والخلق فإن أكثرهم يشغلون عن عبادة الله. والشيطان فإنه يدعو إلى
المعصية وفعل المحرمات. قال بعضهم : الشيطان كل جن كافر, سمي شيطانا لأنه شطن اي
بعد عن رحمة الله. وقيل لأنه شاط بأعماله اي احترق بسببها. قال الجاحظ : الجن إذا
كفر وظلم وتعدى وأفسد فهو شيطان.
Artinya
: Dunia, karena ia menghalangi jalan
bagi hamba-hamba Allah. Oleh karena itu, Dia tidak memperhatikannya sejak
penciptaannya. Dan sebagian besar ciptaan disibukkan dengan hal-hal selain
penyembahan kepada Allah. Dan Setan, karena ia menyeru kepada kedurhakaan dan
melakukan perbuatan-perbuatan terlarang. Sebagian orang berkata: Setan adalah
setiap jin kafir, disebut Setan karena ia telah tersesat, artinya ia telah
menjauhkan diri dari rahmat Allah. Ada juga yang mengatakan bahwa ia disebut
Setan karena perbuatannya, artinya ia hancur oleh perbuatannya. Al-Jahiz
berkata: Jin yang kafir, zalim, melanggar, dan merusak adalah Setan.
Dunia adalah salah satu musuh yang harus diwaspadai
(dihadapi) dengan semangat keberanian oleh PTJ. Karena sesungguhnya kesibukan
dunia, anak-anak, isteri dan keluarga, syaithan dan nafsu pribadi. Dia yang
akan merintangi memutuskan jalan untuk beribadah kepada Allah. Yang demikian
itu dapat dilihat kepadanya sejak ia diciptakan.
Dengan keberanian semangat PTJ sangup menghadapi
musuh-musuhnya ini dengan jihad. Zuhud ini secara zahir dan batin. Paling minim
zuhud qalbinya. Hatinya selalu dzikir, selalu ingat dengan Allah, selalu
bersama Allah dimanapun dan kapanpun. Walaupun ia berada ditengah-tengah ke 4
musuh-musuhnya tersebut.
o
الخلق فإنه أكثرهم يشغلون عن عبادة الله.
o
فيحتاج إلى قطعه فهو
التفرد عن الخلق اى زوجة أوزوج وأولاد.
Yang dimaksud makhluk disini adalah anak-anak, isteri,
keluarga dan teman-teman karena dari merekalah sesungguhnya lebih banyak
kesibukan- kesibukan dan mereka disibukan sehingga melalaikan beribadah kepada
Allah. Manusia itu berhajad memutuskan (kesibukan- kesibukan yang melengahkan
itu) dengan semangat keberaniannya yaitu dengan memisahkan (menyandiri) dari
kesibukan- kesibukan tsb. Karena pengaruh dari keluarga, suami, isteri dan
anak-anak, mereka inilah yang sering menyibukkan kita, yang sering mengganggu
kita dalam beribadah sehingga kita sering melalaikan ibadah kepada Allah Swt.
Pengamal Tarekat Junaidiyah (PTJ) yang kuat himmatus
Syaja'ahnya kuat semangat keberaniannya untuk menjalankan syari'at Rasulnya,
PTJ yang kuat Ruh al Syujja'ahnya dengan tolong Allah Swt sanggup mengamalkan
amalan yang dianjurkan Gurunya sebagai petunjuk jalan menuju Allah Swt,
hasilnya terasa tidak ada jarak antara hamba dengan Tuhannya dan hati selalu
dzikir, ihwalnya selalu bersama Allah
Swt.
Semua rintangan, semua ujian, semua cobaan yang datang
silih berganti, dan hadir dari arah keluarga, suami, isteri dan anak-anak, dan
juga teman-temannya, tidaklah membuatnya terlena, tidak membuatnya loyo, tidak
membuatnya lemah semangat dalam menegakkan kalimatullah khususnya pada dirinya
sendiri dan keluarganya. Karena Allah Swt sudah memperingatkan dalam surat At
Taghabun ayat 14 yang berbunyi :
o يا أيها الذين آمنوا إن من أزواجكم وأولادكم عدوا لكم فاحذروهم. التغابون 14
Aryinya
: "Hai orang-orang orang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu
dan anak-anakmu ada yang
menjadi musuh (penghalang, merintangi) bagi kamu (hingga melalaikanmu
beribadah) maka hati-hatilah kamu terhadap mereka." QS. At Taghabun 14
Pernah
Rasulullah Saw bersama-sama para Shahabatnya pulang dari midan peperangan
dengan membawa kemenangan. Rasulullah Saw bersabda :
o
رجعنا إلى جهاد الأصغر وإلى جهاد الأكبر. قالوا يا رسول
الله ؟......
Aryinya
: Kita pulang dari pertempuran yang kecil menuju peperangan yang lebih besar,
para Shahabatnya pun heran ketika itu, dan memberanikan diri untuk bertanya
kepada Rasulullah Saw. Ya Rasulullah adakah peperangan yang lebih besar lagi
sesudah perang Badar ini ? Jawab Rasul :"Ada yaitu jihadin nafsi yakni
memerangi hawa nafsu."
3. Syaja’ah
dan Istiqamah
Mengutip salah satu
Artikel “Asy-Syaja’ah (Keberanian)” menyatakan bahwa maka
hakikatnya, syaja’ah (keberanian) adalah salah satu pembuktian dari sikap
istiqomah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya kepada setiap
hamba-hamba-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ
وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير
“Maka tetaplah kamu pada
jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) kepada orang
yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya
Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud, 11: 112)
Dari Abu Amr, -ada juga yang
mengatakan- Abu ‘Amrah, Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqofi radhiallahu anhu dia
berkata,
قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ
قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ
اسْتَقِمْ
Artinya : “Saya bertanya (kepada
Rasulullah), ‘Wahai Rasulullah katakan kepada saya tentang Islam sebuah
perkataan yang tidak saya tanyakan kepada seorangpun selainmu’. Beliau
menjawab, ‘Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian beristiqomah-lah’”.
(HR. Muslim)
Contoh nyata syaja’ah
ditunjukkan oleh orang-orang beriman sebagaimana diceritakan di dalam surat
Al-Buruuj yang dimasukkan ke dalam parit dan dibakar oleh as-habul ukhdud hanya
karena mereka menyatakan keimanannya. Begitu pula Asiah, istri Firaun dan Masyitah,
pelayan Firaun, kedua-duanya harus menebus keimanan mereka kepada Allah dengan
nyawa mereka. Asiah di tiang penyiksaannya dan Masyitah di kuali panas mendidih
beserta seluruh keluarganya karena mereka berdua tak sudi menuhankan Fir’aun.
C. KEBERANIA BUDI AL-SYAJA’AH FIL AMRI WAL
MA’RUF
Keberanian
Budi adalah keberanian menyatakan suatu perkara yang diyakini sendiri akan
kebenarannya. Walaupun akan dibenci orang, dalam agama islam disebut al amri
bil Ma'ruf wan Nahyu anil Munkar.
(لأمر
بالمعروف والنهى عن المنكر)
(Menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat munlar).
Sesuatu keharusan bagi Pengamal Tarekat Junaidiyah (PTJ) memerintahkan dirinya
sediri untuk berbuat baik terlebih dahulu melaksanakan amal syari'at dan
menjaga ihwalnya, serta menjaga dirinya agar tidak berbuat munkar.
Di dalam masyarakat perlu adanya orang-orang yang berani
atau syujja'ah menyakan perkara perkara yang dipandangnya benar. Baik dengan sikap menyerang. Misalnya
menyatakan kesalahan perkara perkara yang telah terbisa dipakai orang, telah teradat, padahal tidak cocok lagi
dengan zaman.
Tidak ada suatu bangsa akan tegak, dan suatu faham dapat
berdiri, kalau di dalam bangsa itu sendiri tidak ada orang yang berani
menyatakan kebenaran. Kalau suatu ummat
berkehendak hidup supaya tidak dihapus namanya dalam daftar riwayat, haruslah
ada orang yang berani menyatakan kebenaran, sebab tiap-tiap bangsa amat segan
mengubah yang lama, padahal tidak cocok lagi dengan zamannya. Kalau ada suara baru, mengeritik yang lama,
tentu akan mendapat sambutan yang sangit dari si cap lama, orang akan ribut.
Kalau menjatuhkan suatu benteng yang kuat, orang yang
berada di barisan pertama harus kena pelor dan terkadang jatuh mati. Tetapi
kelak serdadu barisan belakang (para pendukungnya dibelakang) akan berjalan
terus maju di atas bangkai orang-orang barisan muka tadi. Maju terus, menyerang
terus, hingga pelor musuh itu habislah. Maka kemenangan didapat dan perjuangan
membawa hasil yang menyenangkan.
Begitulah PTJ di dalam mengamalkan ajaran yang
diyakininya benar, teradang orang-orang
yang belum mengerti menuduhnya ajaran yang sesat, terkadang
kekhadirannya tidak diterima untuk menyampaikan suatu yang diyakini. Tetapi
kita harus sadar itulah tentangan, itulah cobaan, begitulah rintangan yang
harus dihadapi dengan bijak. Kita harus yakin dan berani menyatakan bahwa suatu
ajaran Tarekat al Junaidiyah yang kita pegangan saat ini, pasti akan diterima
dan disenangi oleh masyarakat disekitar kita bahkan lebih jauh lagi. Sebab
sejak kita di lahirkan adalah pembila dan penegak kebenaran yang
tolen dengan keberanian yang tidak bercampur sedikit juga dengan keraguan.
Setiap PTJ wajib sanggup menyuruh berbuat baik terhadap dirinya sendiri, isteri
dan anak-anak, bahkan orang disekitarnya dan sanggup mencegah kemungkaran.
Adapun orang yang enggan menyatakan keyakinannya karena
takut akan kritik, segan menyatakan
pendirian karena takut akan dibenci adalah orang yang pengecut.
Ketika Sayyidina Umar bin Khattab, Khalifah yang masyhur
itu telah menitahkan kepada Sa'at bin Abil Waqas supaya menegakkan Negeri
Kuffah, maka dua perkara yang disuruhnya tegakkan lebih dahulu, pertama
mendirikan Masjid tempat ibadah, Kedua menyediakan tanah lapang yang luas tempat
belajar para pemuda naik kuda. Maksudnya adalah pada Masjid dan Tanah Lapang
lah manusia tempat berkumpul. Dimulai dari sanalah menyatakan keyakinannya,
menyatakan pendiriannya, menyuruh orang berbuat baik. Masjid juga merupakan
tempat orang mencari ilmu agama, dengan ilmu agama orang dapat mengatasi dan
melemahkan musuh-musuhnya, di antaranya Syaitan yang selalu mengajak kejalan
maksiat dan perbuatan yang diharamkan Allah Swt.
Berkata
sebagian Ulama : "Syaithan adalah setiap jin yang kafir, dinamai syaithan,
karena mereka jauh dari rahmat Allah Swt. Dikatakan Syaithanlah yang telah
membakar amal-amal kebaikan anak cucu Adam. Oleh sebab itu haruslah kita
waspadai akan musuh yang satu ini.
D. KEBERANIAN YANG TAK TERTANDINGI DIBERIKAN KEPADA PARA NABI DAN PARA RASUL
Penyusun Kitab Mutaba'atul Hasanah......... telah menukil riwayat tentang syaithan pada kitab
Sirajut Thalibin sbb :
فروى عن طاوس ومجاهد عن إبن عباس انه
كان من الملائكة وكان عزازيل
بالشريانية. وبالعربية الحارث, فلما عصى الله لعنه الله وجعله شيطان مريدا وسماه
إبليس.
Diriwayatkan dari Tawus
dan Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa dia adalah seorang malaikat, dan namanya
adalah Azazil dalam
dialek Syurianiyah. Dalam bahasa Arab, namanya adalah Harith. Ketika dia durhaka
kepada Allah, Allah mengutuknya dan menjadikannya setan yang durhaka, dan
menamakannya Iblis.
Ia seorang malaikat namanya Azazil dalam bahasa Syurianiyah, dalam bahasa Arab namanya "HAARITS" Ketika ia durhaka, Allah mengutuknya menjadinya Syaithan yang durhaka dan menamakannya "IBLIS"
قال كعب الأحبار : إن إبليس كان خازن الجنة أربعين ألف سنة, ومع الملائكة ثمانين ألف سنة, ووعظ الملائكة عشرين ألف سنة, وسيد الكروبين ثلاثين ألف سنة, وسيد الروحانيين ألف سنة, وطاف حول العرش أربعة عشر ألف سنة, وكان اسماه فى سماء الدنيا العابد, وفى السماء الثانية الزاهد, وفى السماء الثالثة الْعَارِفُ, وفى الرابعة الولي, وفى الخامسة التقى, وفى السادسة الخازن, وفى السابعة عزازيل, وفى لوح المحفوظ إبليس. وهو غافل عاقبة امره. كذا نقله سراج الطالبين.
NAMA-NAMA GELAR IBLIS
- AL'ABID (الْعَابِد) ketika berada di langit pertama
- ALZAHID (الزَّهِدُ) ketika berada di langit kedua
- AL'ARIF (الْعَارِفُ) ketika berada di langit ketiga
- ALWALI (الْوَلِى) ketika berada di langit keempat
- ALTAQA (الْتُقَى) ketika berada di langit kelima
- ALKHAZIN (الْخَزِنُ) ketika berada di langit keenam
- AZAZIL (عَزَازِيْلُ اَوْ الْحَارِثُ) ketika berada di langit ketujuh
- IBLIS (اِبْلِيْسُ) ketika berada di DUNIA
Artinya : Ka'b al-Ahbar berkata: Iblis adalah penjaga Surga
selama empat puluh ribu tahun, dan bersama para malaikat selama delapan puluh
ribu tahun. Ia berdakwah kepada para malaikat selama dua puluh ribu tahun,
menjadi pemimpin para kerub selama tiga puluh ribu tahun, dan pemimpin makhluk
spiritual selama seribu tahun. Ia mengelilingi Arasy selama empat belas ribu
tahun. Namanya di surga pertama adalah 'sang penyembah,(العابد)' di surga kedua 'sang pertapa,' di surga ketiga 'sang yang mengetahui,' di surga keempat
'sang wali,' di
surga kelima 'sang yang saleh,'
di surga keenam 'sang penjaga,'
dan di surga ketujuh 'Azazil.'
Dalam Lauh Mahfuz, ia dikenal sebagai Iblis. Ia tidak menyadari akibat dari
perbuatannya. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Siraj al-Talibin.
كمال شجاعته صلى الله عليه وسلم
ولقد خص ربنا سبحانه وتعالى أنبيائه
عليهم الصلاة والسلام بالحظ الأوفر من هذه الشجاعة كما إختصهم من جميع الأخلاق
الفاضلة بأعظم نصيب.
وإنما إختصهم بذلك القدر الذى لايسامى
من الشجاعة جريا عادته الحكيمة,
Kesempurnaan keberaniannya, semoga kedamaian dan berkah Allah tercurah kepadanya.
Tuhan kita Yang Maha Tinggi menganugerahkan kepada para nabi-Nya, semoga kedamaian Allah tercurah kepada mereka, bagian terbesar dari keberanian ini, sebagaimana Dia menganugerahkan kepada mereka bagian terbesar dari semua sifat-sifat kebajikan.
Dia memilih mereka untuk tingkat
keberanian yang tak tertandingi ini sesuai dengan kebiasaan-Nya yang bijaksana.
انه إذا أراد أن يقيم مخلوقا فى عمل
هيأه وأعده لهذا العمل وأتاه من القوة ما به يستطيع أن يقوم به, وعمل الأنبياء
الذى أقامهم تعالى فيه هو دعوة الخلق إلى الحق وهذه الدعوة لاتكون إلا بمواجهة
النبي وأمته بماجاء به وطلبه منهم ان يخضعوا له وينبذوا ماهم عليه نبذا لا رجوع
معه إليه أبدا.
Jika Allah berkehendak
untuk menempatkan seorang makhluk pada suatu pekerjaan, Dia mempersiapkan dan
melengkapi makhluk itu untuk pekerjaan tersebut dan memberinya kekuatan yang
memungkinkannya untuk melakukannya. Pekerjaan para nabi yang telah ditetapkan
Allah Swt bagi mereka adalah menyeru makhluk kepada kebenaran, dan seruan ini
hanya dapat dilakukan dengan memperhadapkan nabi dan umatnya dengan apa yang
dibawanya dan meminta mereka untuk tunduk kepadanya dan menolak apa yang mereka
lakukan dengan penolakan yang tidak akan pernah bisa diterima kembali.
وقد كان عليه الصلاة والسلام من الشجاعة والأقدام والثبات إما الأهل فى أشدها بالمكانة العليا التى لايدانيه فيها أحد ولايعلم مقدا سموها الا
من وهبها جلت كلمته. ولهذا حضر النبي صلى الله عليه وسلم ما حضر من الغزوات فى كل
حياته الجهاديه وما حفظ عنه مرة أنه هم بالتأخر عن مقامه قدما او أصبعا الأمر الذى
جعله بين أصحابه ملء العيون والصدور قائدا مطاعا يبتدر الصغير منهم والكبير اشارته
Nabi Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam memiliki
keberanian, ketegasan,
dan ketabahan yang tak tertandingi, memimpin umatnya dalam keadaan yang paling
sulit. Beliau memegang kedudukan otoritas tertinggi, tak tertandingi oleh siapa
pun, dan hanya Dia yang menganugerahkan kedudukan tinggi tersebut kepadanya,
semoga firman-Nya dimuliakan, yang benar-benar memahami makna mendalamnya.
Karena alasan inilah, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ikut serta
dalam setiap pertempuran sepanjang hidupnya dalam jihad, dan tidak pernah
tercatat bahwa beliau pernah mempertimbangkan untuk mundur dari posisinya,
bahkan selangkah atau sejengkal pun. Hal ini menjadikan beliau, di antara para
sahabatnya, pemimpin yang paling dihormati dan disegani, yang setiap
perintahnya ditaati oleh tua maupun muda.
لالأنه رسول
الله صلى الله عليه وسلم فقد بل ولما كانوا يرون منه من الشجاعة التى كانوا يرون
أنفسهم بالنسبة لها عدما صرفا وفيهم الأبطال الذين كانت تضرب شجاعتهم الامثال, وها
هو ذا سيدنا علي بن أبى طالب كرم الله وجهه يعترف بهذه الحقيقة فى صراحة تامة إذ
يقول : إنا كنا إذا اشتد البأس واحمرت الحدق اتقينا برسول الله صلى الله عليه وسلم
وهو أقربنا إلى العدو.
Bukan karena beliau
adalah Rasulullah, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, tetapi
karena keberanian yang
mereka lihat pada dirinya, yang dibandingkan dengannya mereka menganggap diri
mereka sangat tidak berarti, dan di antara mereka terdapat para pahlawan yang keberaniannya sudah
melegenda. Dan di sinilah guru kita Ali bin Abi Talib, semoga Allah memuliakan
wajahnya, mengakui fakta ini dengan kejujuran sepenuhnya.
Beliau berkata: “Ketika
pertempuran semakin sengit dan mata menjadi merah, kami akan berlindung kepada
Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, karena beliau adalah orang yang
paling dekat dengan musuh di antara kami.”
فمن ذلك ما يحكيه سيدنا جابر رضي الله عنه أذ يقول : كفا مع النبي صلى الله
عليه وسلم بذات الرقاع فلما اتينا على شجرة ظليلة تركناها للنبي صلى الله عليه
وسلم.....
Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh guru kami Jabir, semoga Allah meridainya: “Kami bersama Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam di Dhat al-Riqa’. Ketika kami sampai di sebuah pohon rindang, kami meninggalkannya untuk Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam…”
Aku kutip pada “Artikel Sabilus Salikin “ (187-Tamat): Hukum
Perempuan Menjadi Mursyid dalam Thariqat yang ditulis Sabtu, 20 Juni 2020
Menyatakan
bahwa : “ Dalam dunia Thariqat, yang menjadi mursyid atau khalifah semuanya
adalah dari kalangan pria. Hal ini disebabkan karena syarat seorang mursyid
adalah laki-laki. Oleh karena itu, jika ada seorang perempuan menjadi mursyid
atau khalifah, maka hal ini tidak sesuai dengan apa yang telah diputuskan oleh
ulama ahli kasyaf bahwa syarat mursyid atau khalifah adalah seorang laki-laki.
وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ الْكَشْفِ عَلَى اشْتِرَاطِ الذُّكُوْرَةِ فِيْ كُلِّ دَاعٍ إِلَى اللهِ وَلَمْ يَبْلُغْنَا أَنَّ أَحَدًا مِنْ نِسَاءِ السَّلَفِ الصَّالِحِ تَصَدَّرَتْ لِتَرْبِيَّةِ الْمُرِيْدِيْنَ أَبَدًا لِنَقْصِ النِّسَاءِ فِى الدَّرَجَةِ وَإِنْ وَرَدَ الْكَمَالُ فِيْ بَعْضِهِنَّ كَمَرْيَمَ ابْنَةِ عِمْرَانَ وَآسِيَةَ امْرَأِةِ فِرْعَوْنَ فَذَلِكَ كَمَالٌ بِالنِّسْبَةِ لِلتَّقْوَى وَالدِّيْنِ لاَ بِالنِّسْبَةِ لِلْحُكْمِ بَيْنَ النَّاسِ وَتَسْلِيْكِهِمْ فِيْ مَقَامَاتِ الْوِلاَيَةِ وَغَايَةُ أَمْرِ الْمَرْأَةِ أَنْ تَكُوْنَ عَابِدَةً زَاهِدَةً كَرَابِعَةِ الْعَدَوِيَّةِ وَبِالْجُمْلَةِ فَلاَ يُعْلَمُ بَعْدَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا مُجْتَهِدَةٌ مِنْ جَمِيْعِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ كَامِلَةٌ تُلْحَقُ بِالرِّجَالِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. (الميزان الكبرى، ج 2، ص 189
Artinya
: Mereka yang memiliki wawasan
spiritual sepakat bahwa berjenis kelamin laki-laki adalah prasyarat bagi setiap
penyeru kepada Tuhan. Kita belum pernah mendengar ada perempuan dari para
pendahulu yang saleh yang mengambil peran sebagai pembimbing murid, karena
dianggap kurangnya perempuan dalam kedudukan spiritual. Sekalipun beberapa
perempuan mencapai kesempurnaan, seperti Maryam, putri Imran, dan Asiya, istri
Firaun, kesempurnaan itu berkaitan dengan kesalehan dan pengabdian agama, bukan
pada ranah spiritual. Mengenai menghakimi orang dan membimbing mereka dalam
kedudukan berwenang, tujuan utama seorang perempuan adalah menjadi perempuan
yang saleh dan asketis seperti Rabia al-Adawiyya. Singkatnya, hal itu tidak
diketahui.
Setelah Aisyah, semoga Allah meridainya, tidak ada wanita lain di antara para Ibu Kaum Beriman yang merupakan seorang mujtahid (orang yang menjalankan penilaian independen dalam hukum Islam) atau yang cukup sempurna untuk dianggap setara dengan laki-laki. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Mizan al-Kubra, Vol. 2, hlm. 189)
Menurut
kesepakatan ahli kasyaf
(orang-orang yang terbuka hatinya), syarat menjadi
khalifah harus seorang laki-laki, dan belum pernah
sama sekali ditemukan dari perempuan salaf dan salih yang mendidik
murid-muridnya selamanya. Hal ini karena kurangnya seorang perempuan dalam segi
derajat, walaupun ditemukan kesempurnaan terhadap perempuan seperti Maryam
anaknya Imron dan Asiyah istri Fir’aun.
Kesempurnaan
itu dinisbatkan terhadap takwa dan agama, bukan dinisbatkan dalam memberikan
hukum di antara manusia dan menguasai tempat-tempat kekuasaan. Puncak dari
seorang perempuan adalah ahli ibadah dan zuhud, seperti Rabiah al Adawiyah
Secara
umumnya tidak ada perempuan yang ahli ijtihad dari semua ummahatul mu’minin dan
tidak ada kesempurnaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki, (al-Mizan
al-Kubra, juz 2, halaman: 189).
E. HUKUM BAI’AT DZIKIR MELALUI MIMPI
Diantara
syarat wajib untuk talqin atau bai’at Thariqat bagi seorang salik adalah talqin
yang dilakukan oleh seorang mursyid Thariqat Mu’tabarah yang sanad atau
silsilahnya bersambung kepada Rasulullah saw, serta mursyid tersebut diberi
izin untuk mengajarkan Thariqat tersebut kepada para murid
Dengan
demikian, jika ada seorang yang menyatakan telah dibai’at atau ditalqin sebuah
Dzikir Thariqat dalam mimpi, maka hal ini tidak sesuai dengan syarat talqin
tersebut. Sebagaimana hal ini dikuatkan oleh para ulama yang telah menetapkan
bahwa syarat wajib talqin yaitu murid harus ditalqin sendiri oleh seorang
mursyid Thariqat Mu’tabarah yang bersambung sanadnya kepada Rasulullah dan
memiliki wewenang untuk mentalqin murid Thariqat.
وَأَّمَّا التَّلْقِيْنُ
وَسَنَدُهُ) فَلَمَّا كَانَتْ الصُّحْبَةُ مِنْ لَوَازِمِهِ وَشُرُوْطِهِ وَكَانَ اْلاِنْتِسَابُ
إِلَى شَيْخٍ إِنَّمَا يَحْصُلُ بِالتَّلْقِيْنِ وَالتَّعْلِيْمِ مِنْ شَيْخٍ مَأْذُوْنٍ
إِجَازَتُهُ صَحِيْحَةٌ مُسْتَنِدَّةٌ إِلَى شَيْخٍ صَاحِبِ طَرِيْقٍ وَهُوَ إِلَى
النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَكَانَ الذِّكْرُ لاَيُفِيْدُ فَائِدَةً تَامَّةً
إِلاَّ بِالتَّلْقِيْنِ وَاْلإِذْنِ بَلْ الأَكْثَرُ
شَرْطًا. (جامع الأصول فى الأولياء، ص 31
Artinya : Ketika
kebersamaan itu merupakan suatu keharusan dan syarat dan intisab kepada seorang
guru, yang hanya bisa dicapai dengan cara talqin dan pembelajaran dari guru
yang diberi izin memberikan ijazah yang diperbolehkan mensanadkan kepada guru
yang memiliki Thariqat yaitu Nabi, maka Dzikir itu tidak memberikan manfaat
yang sempurna kecuali dengan cara mentalqin dan izin, bahkan ini dijadikan
syarat pada umumnya, (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 31).
Tanya:
Lantas, jika perempuan tidak diperbolehkan untuk menjadi mursyid atau khalifah.
Bagaimanakah hukum mewakilkan bai’at Thariqat kepada seorang perempuan?
Tentang
hal ini, sama dengan apa yang menjadi syarat seorang mursyid atau khalifah,
yaitu tidak boleh seorang mewakili seorang murid untuk berbai’at Thariqat.
وَشُرِطَ فِى الْوَكِيْلِ صِحَّةُ مُبَاشَرَتِهِ مَا وُكِّلَ فِيْهِ كَالْمُوَكِّلِ لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يَقْدِرْ عَلَى التَّصَرُّفِ فِيْهِ لِنَفْسِهِ فَلِغَيْرِهِ أَوْلَى. (إعانة الطالبين، ج 3، ص 100
Artinya : Syarat
wakil adalah kebolehannya melakukan sesuatu sebagaimana diperbolehkannya
terhadap sesuatu yang diwakili seperti orang yang mewakilkan karena apabila
wakil itu tidak mampu melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri maka untuk orang
lain lebih tidak boleh, (I’anah at-Thalibin, juz 3, halaman: 100).
Tanya:
Bagaimanakah pandangan para ulama tentang seseorang yang berhakikat tapi tidak
bersyariat?
Dalam
kitab Kifâyah al-Atqiyâ’, hlm. 12 disebutkan bahwa seorang mukmin yang tinggi
maqamnya, hingga mencapai derajat kewalian sekalipun, dia masih memiliki
kewajiban untuk menjalankan syariat yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan
Hadis.
Bahkan,
jika seseorang mengaku telah mencapai derajat kewalian dan telah memahami
hakikat, dia beranggapan bahwa taklif syariat telah gugur dari dirinya, maka
orang tersebut adalah telah menyimpang dari ajaran agama.
Nabi
sekalipun yang memiliki derajat yang lebih mulia dibandingkan para auliya’,
mereka masih terkena taklif ibadah. Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah saw.
melaksanakan shalat hingga telapak kakinya bengkak. Padahal Allah Swt. telah
mengampuni seluruh dosanya. Semua itu dilakukan oleh beliau semata-mata
merupakan bentuk syukur seorang hamba kepada Allah Swt. (Kifâyah al-Atqiyâ’,
halaman: 12).
الْمُؤْمِنُ وَإِنْ عَالَتْ
دَرَجَتُهُ وَارْتَفَعَتْ مَنْزِلَتُهُ وَصَارَ مِنْ جُمْلَةِ اْلأَوْلِيَاءِ لاَ تَسْقُطُ
عَنْهُ الْعِبَادَةُ الْمَفْرُوْضَةُ فِى الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ
مَنْ صَارَ وَلِيًّا وَوَصَلَ إِلَى الْحَقِيْقَةِ سَقَطَتْ عَنْهُ الشَّرِيْعَةُ فَهُوَ
ضَالٌّ مُضِلٌّ مُلْحِدٌ وَلَمْ تَسْقُطْ الْعِبَادَاتُ عَنِ اْلأَنْبِيَاءِ فَضْلاً
عَنِ اْلأَوْلِيَاءِ، فَلَقَدْ صَحَّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَانَ يُصَلِّي حَتَّى تَتَوَرَّمَ قَدَمَاهُ، فَقِيْلَ لَهُ مَرَّةً أَلَمْ يَغْفِرِ
اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ أَفَلَا أَكُوْنَ
عَبْدًا شَكُوْرًا (كفاية الاتقياء، ص 12.
Artinya
: Sekalipun kedudukan seorang mukmin tinggi, statusnya meningkat, dan ia
menjadi salah satu orang suci, ibadah wajib yang ditetapkan dalam Al-Quran dan
Sunnah tidak ditiadakan baginya. Siapa pun yang mengklaim bahwa siapa pun yang
menjadi orang suci dan mencapai kebenaran dibebaskan dari syariat adalah sesat,
penyesat, dan ateis. Ibadah tidak ditiadakan untuk para nabi, apalagi para
orang suci. Diriwayatkan secara sahih bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa
sallam biasa shalat hingga kakinya bengkak. Suatu ketika beliau ditanya,
"Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu di masa lalu dan masa
depan?" Beliau menjawab, "Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang
bersyukur?" (Kifayat al-Atqiya, hlm. 12)
Dengan
berakhirnya bab tanya jawab ini, berakhir pula pemuatan bersambung kitab
Sabilus Salikin, karya Pondok Pesantren Ngalah, Pasuruan, Jawa Timur. Terima
kasih kepada pengasuh Ponpes Ngalah, KH Sholeh Bahruddin dan semua penyusun
kitab yang telah menebarkan pengetahuan mengenai Thariqat dan tasawuf dengan
detail kepada publik. Semoga Allah Swt. membalas semua kebaikan kiai dan para
santri.”
Referensi :
Kitab I’anah
at-Thalibin, juz 3, halaman: 100.
Kitab Sirajut Thalibiin
Artikel Asy-Syaja’ah (Keberanian) https://risalah.id/asy-syajaah-keberanian/
Artikel Ringkasan AI Google” // https://www.google.com/search?q=SIFAT+SUJJA%27AH&rlz=1C1CHBD_idID1040ID1040&oq=SIFAT+SUJJA%27AH&aqs=chrome..69i57j0i13i512l3j0i13i30l6.34686j1j15&sourceid=ch