Selasa, 19 Mei 2026

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

 

BAB. VIII

PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH

اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ


FASAL YANG KE 8  PENJELASAN  SYAJA'AH

Daftar Isi Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja’ah Nabi Saw” Kitab al-Risalah Mutaba’atul Hasanah 

A. PENJELASAN SIFAT SYAJA'AH

1. Pengertian al Syaja'ah

2. Seseorang yang Memiliki sifat Keberanian (Syaja'ah)  

3. Macam-macam Bentuk Sifat Syaja'ah

B. KEJANTANAN RASULULLAH SAW DI MEDAN PERTEMPURAN

1. Syaja’ah Mengokohkan Izzah

2. Keberanian Semangat (al himmah al Syujja'ah atau Ruh al Syujja'ah)

3. Syaja’ah dan Istiqamah

C. KEBERANIA BUDI AL-SYAJA’AH FIL AMRI WAL MA’RUF 

D. KEBERANIAN YANG TAK TERTANDINGI DIBERIKAN KEPADA PARA NABI DAN PARA RASUL

E. HUKUM BAI’AT DZIKIR MELALUI MIMPI


BAB. VIII

PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH

اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ

A. PENJELASAN SIFAT SYAJA'AH

1. Pengertian al Syaja'ah

Salah satu sifat yang harus diadopsi oleh Pengamal Tarekat al Junaidiyah (PTJ) adalah sifat al Syaja'ah yaitu sifat pemberani, tiada takut, merasa benar dalam hal tindakan dengan berjalan di atas syari'at dan ahwal hati yang selalu bersama Allah disaat gerak dan diamnya. Semua tindakannya tidak pernah keluar dari syari;at yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw, segala ahwal hatinya tidak lepas dari bimbingan Allah Swt.

Kata Syaja'ah diambil dari bahasa Arab, dalam bahasa Arab al Syaja'ah berarti sifat berani atau tidak takut atau pemberani. Kata  Syaja'ah atau Syaja'a dari fi'il atau kata kerjanya yaitu  :

شجع – يشجع – فهو مصدره اى شجاع - شجاعة

Syaja'ah  atau Syaja'a bermakna pemberani ia atau tidak takut ia.

Menurut “Ringkasan AI Google” menyatakan bahwa Syaja’ah adalah sifat berani dalam Islam yang berlandaskan kebenaran dan keteguhan hati, bukan didasari hawa nafsu atau kekuatan fisik semata. Sifat ini mencakup keberanian membela kebenaran (syaja’ah nafsiyah) dan keberanian melawan kemungkaran (syaja’ah harbiyah), serta kemampuan mengendalikan diri. Sifat ini berakar dari iman dan istiqomah.

2. Seseorang yang Memiliki sifat Keberanian (Syaja'ah)  

Salah satu contoh seseorang yang memiliki sifat keberanian (Syaja'ah) adalah telah terjadi kebakaran, maka terdengarlah pekik seorang anak kecil yang terkurong dalam sebuah kamar. Tiba-tiba tampillah seorang penonton yang menyaksikan kecelakaan itu. Dia menyerbu kedalam api besar, lupa bahaya yang akan menimpa dirinya karena mau menolong anak itu. Maka orang ini diberi gelar, orang yang berani yaitu ia yang tiada merasa gentar menghadapi bahaya karena menghindarkan bahaya yang lebih besar. Maju kemuka kesulitan, karena yakin bahwa dibalik kesulitan itu akan tercapai suatu kebahagiaan jiwa, tiada undur walaupun ada bahaya yang ada dihadapi.

Begitulah sifat Pengamal Tarekat al Junaidiyah (PTJ) dalam menjalani kehidupan rohaniyah, tahap demi tahap untuk menuju Allah Swt dengan berpegang kepada firman Allah ajjawajalla pada surat an Nasyrah ayat 5-6. :

فإن مع العسر يسرا. إن مع العسر يسرا

Artinya "Maka sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguh pada kesukaran itu tersimpan kebahagiaan."QS al Nasyrah ayat 5-6.

بيان شجاعته صلى الله عليه وسلم. عن إبن عمر يقول : مارأيت انجل ولاأجود ولااشجع ولا أرمى من رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Maksudnya : Sebuah pernyataan tentang keberaniannya, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan. Ibnu Umar berkata: “Aku belum pernah melihat siapa pun yang lebih dermawan, lebih berani, atau lebih mahir memanah daripada Rasulullah, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan.”

قال على رضى الله عنه : لقد رأيتنى يوم بدر ونحن نلوذ بالنبي صلى الله عليه وسلم وهو أقربنا إلى العدو وكان من أشد الناس يومئذ بأسا. قال على رضى الله عنه أيضا : كنا إذا احمرالبأس ولقى القوم القوم اتقينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فما يكون أحد أقرب إلى العدو منه (رواه مسلم). من حديث البراء : كان الشجاع هو الذى يقرب منه فى الحرب لقربه من العدو.(رواه مسلم).

Artinya : Sayyidina Ali, semoga Allah meridainya, berkata: “Aku melihat diriku sendiri pada hari Perang Badar, dan kami berlindung kepada Nabi, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, dan beliau adalah orang yang paling dekat dengan musuh di antara kami, dan beliau adalah orang yang paling garang pada hari itu.” Ali, semoga Allah meridainya, juga berkata: “Ketika pertempuran semakin sengit dan kedua pasukan saling bentrok, kami akan berlindung kepada Rasulullah, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, dan tidak ada seorang pun yang lebih dekat dengan musuh daripada beliau.” (Diriwayatkan oleh Muslim). Dari hadits al-Bara’: “Orang yang paling berani adalah orang yang mendekat kepadanya dalam pertempuran karena kedekatannya dengan musuh.” (Diriwayatkan oleh Muslim).

3. Macam-macam Bentuk Sifat Syaja'ah:

Menurut “Ringkasan AI Google” menyatakan bahwa macam-macam Bentuk Sifat Syaja'ah adalah :

1. Syaja’ah Harbiyah: Keberanian yang tampak, seperti berjuang di jalan Allah.

2. Syaja’ah Nafsiyah: Keberanian jiwa, seperti menegakkan kebenaran, . melawan hawa nafsu, dan bersabar.

Contoh Penerapan (Perilaku Syaja'ah): Daya tahan dan kesabaran tinggi dalam menghadapi kesulitan atau penderitaan. Berani berterus terang menyampaikan kebenaran, mampu memegang rahasia/amanah, berani mengakui kesalahan diri sendiri, mampu mengendalikan diri saat marah.

Sifat Syaja'ah: Membentuk kepribadian yang tangguh, jujur, dan tidak mudah menyerah. Menghindari sikap penakut dan lemah pendirian. Mendatangkan sifat mulia seperti pemaaf, cepat, dan tanggap.  Lawan dari sifat syaja’ah adalah jaban (penakut), yang merupakan sifat tercela dalam Islam

 

B. KEJANTANAN RASULULLAH SAW DI MEDAN PERTEMPURAN

Dari Ibnu Umar RA. berkata :"Tidak pernah aku lihat orang yang lebih penolong dan lebih pemurah dan juga lebih pemberani, dan lebih bidik memanah (melontar) selain Rasulullah Saw".

Dari Saidina Ali RA. berkata : "Sesungguhnya telah aku saksikan sendiri pada waktu perang Badar ( musuh dengan tiba-tiba menyerang kami ) dan kami berlindung dengan Nabi Saw dan Nabi lebih dekat kepada musuh-musuhnya dari pada kami. Dan Nabi Saw adalah manusia yang paling berani saat perang Badar itu".

Dari Saidina Ali RA. berkata pula : "Kami (lihat juga) apabila telah memerah (wajah Rasulullah Saw) keberaniannya (memuncak) maka Rasul Saw (maju) menemui musuh-musuhnya, Kami pun terpelihara dengan (keberanian) Rasulullah Saw. Tidak ada seorangpun yang lebih dekat kepada musuh kecuali Rasulullah Saw (HR.Muslim).

Hadis dari al Bara'i : "Adalah kejantanan Rasulullah Saw, dia mendekati musuh-musuhnya dalam pertempuran, ia lebih dekat dari musuh-musuhnya".

الشجاعة تنقسم نوعين أحدهما الهمة الشجاعة او روح الشجاعة  والأخر الشجاعة فى الأمر والمروف.

Syaja'ah terbagi kepada dua bahagian  : -Keberanian Semangat (al himmah al Syujja'ah atau Ruh al Syujja'ah) dan Keberanian Budi (al Syujja'ah fil amri wal ma'ruf).

2. Syaja’ah Mengokohkan Izzah

Mengutip salah satu Artikel “Asy-Syaja’ah (Keberanian)” menyatakan bahwa Antonim dari as-syaja’ah adalah al-jubn (pengecut). Sikap seperti itu adalah sikap tercela sebagaimana ditegaskan di dalam hadits,

عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مَرْوَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ

Dari Abdul ‘Aziz bin Marwan, ia berkata; saya mendengar Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang sangat pengecut” (HR. Abu Dawud)[2]

Sifat pengecut yang berbahaya terutama adalah pengecut dalam berkomitmen terhadap kebenaran, karena takut celaan manusia; takut kehilangan harta dunia; atau takut terhadap berbagai resiko perjuangan. Jika ini yang terjadi, maka bersiaplah menerima kehinaan!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُوْشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُم الأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا” اَوَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: “بَلْ اِنَّكُمْ يَوْمَئِذٍكَثِيْرُوْنَ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَيْلِ، وَقَدْ نَزَلَ بِكُمُ الْوَهْنُ” قِيْلَ: وَمَا الْوَهْنُ يَارَسُوْلَ اللّهِ ؟ قَالَ: “حُبُّ الدُنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkok.” Para sahabat bertanya: “Apakah saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah dan kalian ditimpa penyakit wahn.” Mereka bertanya lagi: “Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Terlalu cinta dunia dan takut kepada mati” (HR. Abu Daud).

Tercabutnya sifat syaja’ah dalam diri umat ini akan menyebabkan mereka kehilangan izzah (wibawa, kehormatan, dan kemuliaan). Maka mereka harus selalu berani bersikap dan menghindari sifat imma’ah (ikut-ikutan), apalagi jika didasari rasa takut di dalam menegakkan kebenaran.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا وَإِنْ أَسَاءُوا فَلاَ تَظْلِمُوا ».

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan, yang berkata: ‘Bila orang melakukan kebaikan maka aku pun melakukannya. Namun bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut melakukannya juga.’ Akan tetapi tempatkanlah diri kalian! Jika orang melakukan kebaikan maka kamu pun melakukannya. Namun jika orang melakukan keburukan maka (tinggalkan sikap buruk mereka) jangan kamu berbuat zalim.” (HR. Tirmidzi).

Maka peganglah kebenaran itu dengan penuh keberanian.

 D. Keberanian Semangat (al himmah al Syujja'ah atau Ruh al Syujja'ah)

Al himmah al Syujja'ah adalah keberanian Salik Pengamal Tarekat al Junaidiyah menghadapi musuh-musuhnya di medan kehidupan. Walaupun bagaimana hebatnya bujukan rayuan manis dan godaan yang ada, dihadapinya dengan tenang, pasrah dan tawakkal kepada Allah. Dia maju pantang menyerah, tidak mau melihat dirinya sendiri dijajah olah musuh-musuhnya.

كل واحد منها يعوقه عما قصد من العبادة بضرب من العوائق : وتأمل فإذا هى أربعة : الدنيا والحلق والشيطان والنفس.

Artinya :Setiap satu dari musuh-musuhnya yang merintangi dari suatu yang telah mengkasad dari ibadah dengan satu macam yang menolak dan menyibukkan. Maka yang merintangi dari ibadah itu ada empat macam yaitu : Dunia, Makhluk, Syaithan dan Nafsu.

الدنيا لأنها قطعت الطريق على عباد الله. ولذلك لم ينظر إليها منذ خلقها. والخلق فإن أكثرهم يشغلون عن عبادة الله. والشيطان فإنه يدعو إلى المعصية وفعل المحرمات. قال بعضهم : الشيطان كل جن كافر, سمي شيطانا لأنه شطن اي بعد عن رحمة الله. وقيل لأنه شاط بأعماله اي احترق بسببها. قال الجاحظ : الجن إذا كفر وظلم وتعدى وأفسد فهو شيطان.

Artinya : Dunia, karena ia menghalangi jalan bagi hamba-hamba Allah. Oleh karena itu, Dia tidak memperhatikannya sejak penciptaannya. Dan sebagian besar ciptaan disibukkan dengan hal-hal selain penyembahan kepada Allah. Dan Setan, karena ia menyeru kepada kedurhakaan dan melakukan perbuatan-perbuatan terlarang. Sebagian orang berkata: Setan adalah setiap jin kafir, disebut Setan karena ia telah tersesat, artinya ia telah menjauhkan diri dari rahmat Allah. Ada juga yang mengatakan bahwa ia disebut Setan karena perbuatannya, artinya ia hancur oleh perbuatannya. Al-Jahiz berkata: Jin yang kafir, zalim, melanggar, dan merusak adalah Setan.

Dunia adalah salah satu musuh yang harus diwaspadai (dihadapi) dengan semangat keberanian oleh PTJ. Karena sesungguhnya kesibukan dunia, anak-anak, isteri dan keluarga, syaithan dan nafsu pribadi. Dia yang akan merintangi memutuskan jalan untuk beribadah kepada Allah. Yang demikian itu dapat dilihat kepadanya sejak ia diciptakan.

Dengan keberanian semangat PTJ sangup menghadapi musuh-musuhnya ini dengan jihad. Zuhud ini secara zahir dan batin. Paling minim zuhud qalbinya. Hatinya selalu dzikir, selalu ingat dengan Allah, selalu bersama Allah dimanapun dan kapanpun. Walaupun ia berada ditengah-tengah ke 4 musuh-musuhnya tersebut.

o       الخلق فإنه أكثرهم يشغلون عن عبادة الله.

o        فيحتاج إلى قطعه فهو التفرد عن الخلق اى زوجة أوزوج وأولاد.

Yang dimaksud makhluk disini adalah anak-anak, isteri, keluarga dan teman-teman karena dari merekalah sesungguhnya lebih banyak kesibukan- kesibukan dan mereka disibukan sehingga melalaikan beribadah kepada Allah. Manusia itu berhajad memutuskan (kesibukan- kesibukan yang melengahkan itu) dengan semangat keberaniannya yaitu dengan memisahkan (menyandiri) dari kesibukan- kesibukan tsb. Karena pengaruh dari keluarga, suami, isteri dan anak-anak, mereka inilah yang sering menyibukkan kita, yang sering mengganggu kita dalam beribadah sehingga kita sering melalaikan ibadah kepada Allah Swt.

Pengamal Tarekat Junaidiyah (PTJ) yang kuat himmatus Syaja'ahnya kuat semangat keberaniannya untuk menjalankan syari'at Rasulnya, PTJ yang kuat Ruh al Syujja'ahnya dengan tolong Allah Swt sanggup mengamalkan amalan yang dianjurkan Gurunya sebagai petunjuk jalan menuju Allah Swt, hasilnya terasa tidak ada jarak antara hamba dengan Tuhannya dan hati selalu dzikir, ihwalnya selalu bersama  Allah Swt.

Semua rintangan, semua ujian, semua cobaan yang datang silih berganti, dan hadir dari arah keluarga, suami, isteri dan anak-anak, dan juga teman-temannya, tidaklah membuatnya terlena, tidak membuatnya loyo, tidak membuatnya lemah semangat dalam menegakkan kalimatullah khususnya pada dirinya sendiri dan keluarganya. Karena Allah Swt sudah memperingatkan dalam surat At Taghabun ayat 14 yang berbunyi :

o       يا أيها الذين آمنوا إن من أزواجكم وأولادكم عدوا لكم فاحذروهم.  التغابون 14

Aryinya : "Hai orang-orang orang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan  anak-anakmu ada yang menjadi musuh (penghalang, merintangi) bagi kamu (hingga melalaikanmu beribadah) maka hati-hatilah kamu terhadap mereka." QS. At Taghabun 14

Pernah Rasulullah Saw bersama-sama para Shahabatnya pulang dari midan peperangan dengan membawa kemenangan. Rasulullah Saw bersabda :

o       رجعنا إلى جهاد الأصغر وإلى جهاد الأكبر. قالوا يا رسول الله ؟......

Aryinya : Kita pulang dari pertempuran yang kecil menuju peperangan yang lebih besar, para Shahabatnya pun heran ketika itu, dan memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah Saw. Ya Rasulullah adakah peperangan yang lebih besar lagi sesudah perang Badar ini ? Jawab Rasul :"Ada yaitu jihadin nafsi yakni memerangi hawa nafsu."

3. Syaja’ah dan Istiqamah

Mengutip salah satu Artikel “Asy-Syaja’ah (Keberanian)” menyatakan bahwa maka hakikatnya, syaja’ah (keberanian) adalah salah satu pembuktian dari sikap istiqomah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan rasul-Nya kepada setiap hamba-hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) kepada orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud, 11: 112)

Dari Abu Amr, -ada juga yang mengatakan- Abu ‘Amrah, Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqofi radhiallahu anhu dia berkata,

قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

Artinya : “Saya bertanya (kepada Rasulullah), ‘Wahai Rasulullah katakan kepada saya tentang Islam sebuah perkataan yang tidak saya tanyakan kepada seorangpun selainmu’. Beliau menjawab, ‘Katakanlah, saya beriman kepada Allah, kemudian beristiqomah-lah’”. (HR. Muslim)

Contoh nyata syaja’ah ditunjukkan oleh orang-orang beriman sebagaimana diceritakan di dalam surat Al-Buruuj yang dimasukkan ke dalam parit dan dibakar oleh as-habul ukhdud hanya karena mereka menyatakan keimanannya. Begitu pula Asiah, istri Firaun dan Masyitah, pelayan Firaun, kedua-duanya harus menebus keimanan mereka kepada Allah dengan nyawa mereka. Asiah di tiang penyiksaannya dan Masyitah di kuali panas mendidih beserta seluruh keluarganya karena mereka berdua tak sudi menuhankan Fir’aun.

 

C. KEBERANIA BUDI AL-SYAJA’AH FIL AMRI WAL MA’RUF 

Keberanian Budi adalah keberanian menyatakan suatu perkara yang diyakini sendiri akan kebenarannya. Walaupun akan dibenci orang, dalam agama islam disebut al amri bil Ma'ruf wan Nahyu anil Munkar.

(لأمر بالمعروف والنهى عن المنكر)

(Menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat munlar). Sesuatu keharusan bagi Pengamal Tarekat Junaidiyah (PTJ) memerintahkan dirinya sediri untuk berbuat baik terlebih dahulu melaksanakan amal syari'at dan menjaga ihwalnya, serta menjaga dirinya agar tidak berbuat munkar.

Di dalam masyarakat perlu adanya orang-orang yang berani atau syujja'ah menyakan perkara perkara yang dipandangnya benar.  Baik dengan sikap menyerang. Misalnya menyatakan kesalahan perkara perkara yang telah terbisa dipakai orang,  telah teradat, padahal tidak cocok lagi dengan zaman.

Tidak ada suatu bangsa akan tegak, dan suatu faham dapat berdiri, kalau di dalam bangsa itu sendiri tidak ada orang yang berani menyatakan kebenaran.  Kalau suatu ummat berkehendak hidup supaya tidak dihapus namanya dalam daftar riwayat, haruslah ada orang yang berani menyatakan kebenaran, sebab tiap-tiap bangsa amat segan mengubah yang lama, padahal tidak cocok lagi dengan zamannya.  Kalau ada suara baru, mengeritik yang lama, tentu akan mendapat sambutan yang sangit dari si cap lama, orang akan ribut.

Kalau menjatuhkan suatu benteng yang kuat, orang yang berada di barisan pertama harus kena pelor dan terkadang jatuh mati. Tetapi kelak serdadu barisan belakang (para pendukungnya dibelakang) akan berjalan terus maju di atas bangkai orang-orang barisan muka tadi. Maju terus, menyerang terus, hingga pelor musuh itu habislah. Maka kemenangan didapat dan perjuangan membawa hasil yang menyenangkan.

Begitulah PTJ di dalam mengamalkan ajaran yang diyakininya benar, teradang orang-orang  yang belum mengerti menuduhnya ajaran yang sesat, terkadang kekhadirannya tidak diterima untuk menyampaikan suatu yang diyakini. Tetapi kita harus sadar itulah tentangan, itulah cobaan, begitulah rintangan yang harus dihadapi dengan bijak. Kita harus yakin dan berani menyatakan bahwa suatu ajaran Tarekat al Junaidiyah yang kita pegangan saat ini, pasti akan diterima dan disenangi oleh masyarakat disekitar kita bahkan lebih jauh lagi. Sebab sejak kita di lahirkan adalah pembila dan penegak kebenaran yang tolen dengan keberanian yang tidak bercampur sedikit juga dengan keraguan. Setiap PTJ wajib sanggup menyuruh berbuat baik terhadap dirinya sendiri, isteri dan anak-anak, bahkan orang disekitarnya dan sanggup mencegah kemungkaran.

Adapun orang yang enggan menyatakan keyakinannya karena takut akan kritik,  segan menyatakan pendirian karena takut akan dibenci adalah orang yang pengecut.

Ketika Sayyidina Umar bin Khattab, Khalifah yang masyhur itu telah menitahkan kepada Sa'at bin Abil Waqas supaya menegakkan Negeri Kuffah, maka dua perkara yang disuruhnya tegakkan lebih dahulu, pertama mendirikan Masjid tempat ibadah, Kedua menyediakan tanah lapang yang luas tempat belajar para pemuda naik kuda. Maksudnya adalah pada Masjid dan Tanah Lapang lah manusia tempat berkumpul. Dimulai dari sanalah menyatakan keyakinannya, menyatakan pendiriannya, menyuruh orang berbuat baik. Masjid juga merupakan tempat orang mencari ilmu agama, dengan ilmu agama orang dapat mengatasi dan melemahkan musuh-musuhnya, di antaranya Syaitan yang selalu mengajak kejalan maksiat dan perbuatan yang diharamkan Allah Swt.

Berkata sebagian Ulama : "Syaithan adalah setiap jin yang kafir, dinamai syaithan, karena mereka jauh dari rahmat Allah Swt. Dikatakan Syaithanlah yang telah membakar amal-amal kebaikan anak cucu Adam. Oleh sebab itu haruslah kita waspadai akan musuh yang satu ini.


D. KEBERANIAN YANG TAK TERTANDINGI DIBERIKAN KEPADA PARA NABI DAN PARA RASUL

Penyusun Kitab Mutaba'atul Hasanah......... telah menukil riwayat tentang syaithan pada kitab Sirajut Thalibin  sbb :

فروى عن طاوس ومجاهد عن إبن عباس انه كان من الملائكة وكان عزازيل بالشريانية. وبالعربية الحارث, فلما عصى الله لعنه الله وجعله شيطان مريدا وسماه إبليس.

Diriwayatkan dari Tawus dan Mujahid, dari Ibnu Abbas, bahwa dia adalah seorang malaikat, dan namanya adalah Azazil dalam dialek Syurianiyah. Dalam bahasa Arab, namanya adalah Harith. Ketika dia durhaka kepada Allah, Allah mengutuknya dan menjadikannya setan yang durhaka, dan menamakannya Iblis.

Ia seorang malaikat namanya Azazil  dalam bahasa Syurianiyah, dalam bahasa Arab namanya "HAARITS" Ketika ia durhaka, Allah mengutuknya menjadinya Syaithan yang durhaka dan menamakannya "IBLIS"

قال كعب الأحبار : إن إبليس كان خازن الجنة أربعين ألف سنة, ومع الملائكة ثمانين ألف سنة, ووعظ الملائكة عشرين ألف سنة, وسيد الكروبين ثلاثين ألف سنة, وسيد الروحانيين ألف سنة, وطاف حول العرش أربعة عشر ألف سنة, وكان اسماه فى سماء الدنيا العابد, وفى السماء الثانية الزاهد, وفى السماء الثالثة الْعَارِفُ, وفى الرابعة الولي, وفى الخامسة التقى, وفى السادسة الخازن, وفى السابعة عزازيل, وفى لوح المحفوظ إبليس. وهو غافل عاقبة امره. كذا نقله سراج الطالبين.

NAMA-NAMA GELAR IBLIS

  1. AL'ABID (الْعَابِد)    ketika berada di langit pertama
  2. ALZAHID (الزَّهِدُ)  ketika berada di langit kedua
  3. AL'ARIF (الْعَارِفُ)  ketika berada di langit ketiga
  4. ALWALI (الْوَلِى)     ketika berada di langit keempat
  5. ALTAQA (الْتُقَى)     ketika berada di langit kelima
  6. ALKHAZIN (الْخَزِنُketika berada di langit keenam
  7. AZAZIL (عَزَازِيْلُ اَوْ الْحَارِثُketika berada di langit ketujuh
  8. IBLIS  (اِبْلِيْسُ)          ketika berada di DUNIA

Artinya : Ka'b al-Ahbar berkata: Iblis adalah penjaga Surga selama empat puluh ribu tahun, dan bersama para malaikat selama delapan puluh ribu tahun. Ia berdakwah kepada para malaikat selama dua puluh ribu tahun, menjadi pemimpin para kerub selama tiga puluh ribu tahun, dan pemimpin makhluk spiritual selama seribu tahun. Ia mengelilingi Arasy selama empat belas ribu tahun. Namanya di surga pertama adalah 'sang penyembah,(العابد)' di surga kedua 'sang pertapa,' di surga ketiga 'sang yang mengetahui,' di surga keempat 'sang wali,' di surga kelima 'sang yang saleh,' di surga keenam 'sang penjaga,' dan di surga ketujuh 'Azazil.' Dalam Lauh Mahfuz, ia dikenal sebagai Iblis. Ia tidak menyadari akibat dari perbuatannya. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Siraj al-Talibin.

كمال شجاعته صلى الله عليه وسلم

ولقد خص ربنا سبحانه وتعالى أنبيائه عليهم الصلاة والسلام بالحظ الأوفر من هذه الشجاعة كما إختصهم من جميع الأخلاق الفاضلة بأعظم نصيب.

وإنما إختصهم بذلك القدر الذى لايسامى من الشجاعة جريا عادته الحكيمة,

Kesempurnaan keberaniannya, semoga kedamaian dan berkah Allah tercurah kepadanya.

Tuhan kita Yang Maha Tinggi menganugerahkan kepada para nabi-Nya, semoga kedamaian Allah tercurah kepada mereka, bagian terbesar dari keberanian ini, sebagaimana Dia menganugerahkan kepada mereka bagian terbesar dari semua sifat-sifat kebajikan.

Dia memilih mereka untuk tingkat keberanian yang tak tertandingi ini sesuai dengan kebiasaan-Nya yang bijaksana.

انه إذا أراد أن يقيم مخلوقا فى عمل هيأه وأعده لهذا العمل وأتاه من القوة ما به يستطيع أن يقوم به, وعمل الأنبياء الذى أقامهم تعالى فيه هو دعوة الخلق إلى الحق وهذه الدعوة لاتكون إلا بمواجهة النبي وأمته بماجاء به وطلبه منهم ان يخضعوا له وينبذوا ماهم عليه نبذا لا رجوع معه إليه أبدا.

Jika Allah berkehendak untuk menempatkan seorang makhluk pada suatu pekerjaan, Dia mempersiapkan dan melengkapi makhluk itu untuk pekerjaan tersebut dan memberinya kekuatan yang memungkinkannya untuk melakukannya. Pekerjaan para nabi yang telah ditetapkan Allah Swt bagi mereka adalah menyeru makhluk kepada kebenaran, dan seruan ini hanya dapat dilakukan dengan memperhadapkan nabi dan umatnya dengan apa yang dibawanya dan meminta mereka untuk tunduk kepadanya dan menolak apa yang mereka lakukan dengan penolakan yang tidak akan pernah bisa diterima kembali.

وقد كان عليه الصلاة والسلام من الشجاعة والأقدام والثبات إما الأهل فى أشدها بالمكانة العليا التى لايدانيه فيها أحد ولايعلم مقدا سموها الا من وهبها جلت كلمته. ولهذا حضر النبي صلى الله عليه وسلم ما حضر من الغزوات فى كل حياته الجهاديه وما حفظ عنه مرة أنه هم بالتأخر عن مقامه قدما او أصبعا الأمر الذى جعله بين أصحابه ملء العيون والصدور قائدا مطاعا يبتدر الصغير منهم والكبير اشارته

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memiliki keberanian, ketegasan, dan ketabahan yang tak tertandingi, memimpin umatnya dalam keadaan yang paling sulit. Beliau memegang kedudukan otoritas tertinggi, tak tertandingi oleh siapa pun, dan hanya Dia yang menganugerahkan kedudukan tinggi tersebut kepadanya, semoga firman-Nya dimuliakan, yang benar-benar memahami makna mendalamnya. Karena alasan inilah, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ikut serta dalam setiap pertempuran sepanjang hidupnya dalam jihad, dan tidak pernah tercatat bahwa beliau pernah mempertimbangkan untuk mundur dari posisinya, bahkan selangkah atau sejengkal pun. Hal ini menjadikan beliau, di antara para sahabatnya, pemimpin yang paling dihormati dan disegani, yang setiap perintahnya ditaati oleh tua maupun muda.

لالأنه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقد بل ولما كانوا يرون منه من الشجاعة التى كانوا يرون أنفسهم بالنسبة لها عدما صرفا وفيهم الأبطال الذين كانت تضرب شجاعتهم الامثال, وها هو ذا سيدنا علي بن أبى طالب كرم الله وجهه يعترف بهذه الحقيقة فى صراحة تامة إذ يقول : إنا كنا إذا اشتد البأس واحمرت الحدق اتقينا برسول الله صلى الله عليه وسلم وهو أقربنا إلى العدو.

Bukan karena beliau adalah Rasulullah, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, tetapi karena keberanian yang mereka lihat pada dirinya, yang dibandingkan dengannya mereka menganggap diri mereka sangat tidak berarti, dan di antara mereka terdapat para pahlawan yang keberaniannya sudah melegenda. Dan di sinilah guru kita Ali bin Abi Talib, semoga Allah memuliakan wajahnya, mengakui fakta ini dengan kejujuran sepenuhnya.

Beliau berkata: “Ketika pertempuran semakin sengit dan mata menjadi merah, kami akan berlindung kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, karena beliau adalah orang yang paling dekat dengan musuh di antara kami.”

فمن ذلك ما يحكيه سيدنا جابر  رضي الله عنه أذ يقول : كفا مع النبي صلى الله عليه وسلم بذات الرقاع فلما اتينا على شجرة ظليلة تركناها للنبي صلى الله عليه وسلم.....

Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh guru kami Jabir, semoga Allah meridainya: “Kami bersama Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam di Dhat al-Riqa’. Ketika kami sampai di sebuah pohon rindang, kami meninggalkannya untuk Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam…”

Aku kutip pada “Artikel Sabilus Salikin “ (187-Tamat): Hukum Perempuan Menjadi Mursyid dalam Thariqat yang ditulis Sabtu, 20 Juni 2020

Menyatakan bahwa : “ Dalam dunia Thariqat, yang menjadi mursyid atau khalifah semuanya adalah dari kalangan pria. Hal ini disebabkan karena syarat seorang mursyid adalah laki-laki. Oleh karena itu, jika ada seorang perempuan menjadi mursyid atau khalifah, maka hal ini tidak sesuai dengan apa yang telah diputuskan oleh ulama ahli kasyaf bahwa syarat mursyid atau khalifah adalah seorang laki-laki.

وَقَدْ أَجْمَعَ أَهْلُ الْكَشْفِ عَلَى اشْتِرَاطِ الذُّكُوْرَةِ فِيْ كُلِّ دَاعٍ إِلَى اللهِ وَلَمْ يَبْلُغْنَا أَنَّ أَحَدًا مِنْ نِسَاءِ السَّلَفِ الصَّالِحِ تَصَدَّرَتْ لِتَرْبِيَّةِ الْمُرِيْدِيْنَ أَبَدًا لِنَقْصِ النِّسَاءِ فِى الدَّرَجَةِ وَإِنْ وَرَدَ الْكَمَالُ فِيْ بَعْضِهِنَّ كَمَرْيَمَ ابْنَةِ عِمْرَانَ وَآسِيَةَ امْرَأِةِ فِرْعَوْنَ فَذَلِكَ كَمَالٌ بِالنِّسْبَةِ لِلتَّقْوَى وَالدِّيْنِ لاَ بِالنِّسْبَةِ لِلْحُكْمِ بَيْنَ النَّاسِ وَتَسْلِيْكِهِمْ فِيْ مَقَامَاتِ الْوِلاَيَةِ وَغَايَةُ أَمْرِ الْمَرْأَةِ أَنْ تَكُوْنَ عَابِدَةً زَاهِدَةً كَرَابِعَةِ الْعَدَوِيَّةِ وَبِالْجُمْلَةِ فَلاَ يُعْلَمُ بَعْدَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا مُجْتَهِدَةٌ مِنْ جَمِيْعِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ كَامِلَةٌ تُلْحَقُ بِالرِّجَالِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. (الميزان الكبرى، ج 2، ص 189

Artinya : Mereka yang memiliki wawasan spiritual sepakat bahwa berjenis kelamin laki-laki adalah prasyarat bagi setiap penyeru kepada Tuhan. Kita belum pernah mendengar ada perempuan dari para pendahulu yang saleh yang mengambil peran sebagai pembimbing murid, karena dianggap kurangnya perempuan dalam kedudukan spiritual. Sekalipun beberapa perempuan mencapai kesempurnaan, seperti Maryam, putri Imran, dan Asiya, istri Firaun, kesempurnaan itu berkaitan dengan kesalehan dan pengabdian agama, bukan pada ranah spiritual. Mengenai menghakimi orang dan membimbing mereka dalam kedudukan berwenang, tujuan utama seorang perempuan adalah menjadi perempuan yang saleh dan asketis seperti Rabia al-Adawiyya. Singkatnya, hal itu tidak diketahui.

Setelah Aisyah, semoga Allah meridainya, tidak ada wanita lain di antara para Ibu Kaum Beriman yang merupakan seorang mujtahid (orang yang menjalankan penilaian independen dalam hukum Islam) atau yang cukup sempurna untuk dianggap setara dengan laki-laki. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Mizan al-Kubra, Vol. 2, hlm. 189)

Menurut kesepakatan ahli kasyaf (orang-orang yang terbuka hatinya), syarat menjadi khalifah harus seorang laki-laki, dan belum pernah sama sekali ditemukan dari perempuan salaf dan salih yang mendidik murid-muridnya selamanya. Hal ini karena kurangnya seorang perempuan dalam segi derajat, walaupun ditemukan kesempurnaan terhadap perempuan seperti Maryam anaknya Imron dan Asiyah istri Fir’aun.

Kesempurnaan itu dinisbatkan terhadap takwa dan agama, bukan dinisbatkan dalam memberikan hukum di antara manusia dan menguasai tempat-tempat kekuasaan. Puncak dari seorang perempuan adalah ahli ibadah dan zuhud, seperti Rabiah al Adawiyah

Secara umumnya tidak ada perempuan yang ahli ijtihad dari semua ummahatul mu’minin dan tidak ada kesempurnaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki, (al-Mizan al-Kubra, juz 2, halaman: 189).

E. HUKUM BAI’AT DZIKIR MELALUI MIMPI

Diantara syarat wajib untuk talqin atau bai’at Thariqat bagi seorang salik adalah talqin yang dilakukan oleh seorang mursyid Thariqat Mu’tabarah yang sanad atau silsilahnya bersambung kepada Rasulullah saw, serta mursyid tersebut diberi izin untuk mengajarkan Thariqat tersebut kepada para murid

Dengan demikian, jika ada seorang yang menyatakan telah dibai’at atau ditalqin sebuah Dzikir Thariqat dalam mimpi, maka hal ini tidak sesuai dengan syarat talqin tersebut. Sebagaimana hal ini dikuatkan oleh para ulama yang telah menetapkan bahwa syarat wajib talqin yaitu murid harus ditalqin sendiri oleh seorang mursyid Thariqat Mu’tabarah yang bersambung sanadnya kepada Rasulullah dan memiliki wewenang untuk mentalqin murid Thariqat.

وَأَّمَّا التَّلْقِيْنُ وَسَنَدُهُ) فَلَمَّا كَانَتْ الصُّحْبَةُ مِنْ لَوَازِمِهِ وَشُرُوْطِهِ وَكَانَ اْلاِنْتِسَابُ إِلَى شَيْخٍ إِنَّمَا يَحْصُلُ بِالتَّلْقِيْنِ وَالتَّعْلِيْمِ مِنْ شَيْخٍ مَأْذُوْنٍ إِجَازَتُهُ صَحِيْحَةٌ مُسْتَنِدَّةٌ إِلَى شَيْخٍ صَاحِبِ طَرِيْقٍ وَهُوَ إِلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَكَانَ الذِّكْرُ لاَيُفِيْدُ فَائِدَةً تَامَّةً إِلاَّ بِالتَّلْقِيْنِ وَاْلإِذْنِ  بَلْ الأَكْثَرُ شَرْطًا. (جامع الأصول فى الأولياء، ص 31

Artinya : Ketika kebersamaan itu merupakan suatu keharusan dan syarat dan intisab kepada seorang guru, yang hanya bisa dicapai dengan cara talqin dan pembelajaran dari guru yang diberi izin memberikan ijazah yang diperbolehkan mensanadkan kepada guru yang memiliki Thariqat yaitu Nabi, maka Dzikir itu tidak memberikan manfaat yang sempurna kecuali dengan cara mentalqin dan izin, bahkan ini dijadikan syarat pada umumnya, (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 31).

Tanya: Lantas, jika perempuan tidak diperbolehkan untuk menjadi mursyid atau khalifah. Bagaimanakah hukum mewakilkan bai’at Thariqat kepada seorang perempuan?

Tentang hal ini, sama dengan apa yang menjadi syarat seorang mursyid atau khalifah, yaitu tidak boleh seorang mewakili seorang murid untuk berbai’at Thariqat.

وَشُرِطَ فِى الْوَكِيْلِ صِحَّةُ مُبَاشَرَتِهِ مَا وُكِّلَ فِيْهِ كَالْمُوَكِّلِ لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يَقْدِرْ عَلَى التَّصَرُّفِ فِيْهِ لِنَفْسِهِ فَلِغَيْرِهِ أَوْلَى. (إعانة الطالبين، ج 3، ص 100

Artinya : Syarat wakil adalah kebolehannya melakukan sesuatu sebagaimana diperbolehkannya terhadap sesuatu yang diwakili seperti orang yang mewakilkan karena apabila wakil itu tidak mampu melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri maka untuk orang lain lebih tidak boleh, (I’anah at-Thalibin, juz 3, halaman: 100).

Tanya: Bagaimanakah pandangan para ulama tentang seseorang yang berhakikat tapi tidak bersyariat?

Dalam kitab Kifâyah al-Atqiyâ’, hlm. 12 disebutkan bahwa seorang mukmin yang tinggi maqamnya, hingga mencapai derajat kewalian sekalipun, dia masih memiliki kewajiban untuk menjalankan syariat yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Bahkan, jika seseorang mengaku telah mencapai derajat kewalian dan telah memahami hakikat, dia beranggapan bahwa taklif syariat telah gugur dari dirinya, maka orang tersebut adalah telah menyimpang dari ajaran agama.

Nabi sekalipun yang memiliki derajat yang lebih mulia dibandingkan para auliya’, mereka masih terkena taklif ibadah. Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah saw. melaksanakan shalat hingga telapak kakinya bengkak. Padahal Allah Swt. telah mengampuni seluruh dosanya. Semua itu dilakukan oleh beliau semata-mata merupakan bentuk syukur seorang hamba kepada Allah Swt. (Kifâyah al-Atqiyâ’, halaman: 12).

الْمُؤْمِنُ وَإِنْ عَالَتْ دَرَجَتُهُ وَارْتَفَعَتْ مَنْزِلَتُهُ وَصَارَ مِنْ جُمْلَةِ اْلأَوْلِيَاءِ لاَ تَسْقُطُ عَنْهُ الْعِبَادَةُ الْمَفْرُوْضَةُ فِى الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ مَنْ صَارَ وَلِيًّا وَوَصَلَ إِلَى الْحَقِيْقَةِ سَقَطَتْ عَنْهُ الشَّرِيْعَةُ فَهُوَ ضَالٌّ مُضِلٌّ مُلْحِدٌ وَلَمْ تَسْقُطْ الْعِبَادَاتُ عَنِ اْلأَنْبِيَاءِ فَضْلاً عَنِ اْلأَوْلِيَاءِ، فَلَقَدْ صَحَّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي حَتَّى تَتَوَرَّمَ قَدَمَاهُ، فَقِيْلَ لَهُ مَرَّةً أَلَمْ يَغْفِرِ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ أَفَلَا أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا (كفاية الاتقياء، ص 12.

Artinya : Sekalipun kedudukan seorang mukmin tinggi, statusnya meningkat, dan ia menjadi salah satu orang suci, ibadah wajib yang ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah tidak ditiadakan baginya. Siapa pun yang mengklaim bahwa siapa pun yang menjadi orang suci dan mencapai kebenaran dibebaskan dari syariat adalah sesat, penyesat, dan ateis. Ibadah tidak ditiadakan untuk para nabi, apalagi para orang suci. Diriwayatkan secara sahih bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam biasa shalat hingga kakinya bengkak. Suatu ketika beliau ditanya, "Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu di masa lalu dan masa depan?" Beliau menjawab, "Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang bersyukur?" (Kifayat al-Atqiya, hlm. 12)

Dengan berakhirnya bab tanya jawab ini, berakhir pula pemuatan bersambung kitab Sabilus Salikin, karya Pondok Pesantren Ngalah, Pasuruan, Jawa Timur. Terima kasih kepada pengasuh Ponpes Ngalah, KH Sholeh Bahruddin dan semua penyusun kitab yang telah menebarkan pengetahuan mengenai Thariqat dan tasawuf dengan detail kepada publik. Semoga Allah Swt. membalas semua kebaikan kiai dan para santri.”

 

 

Referensi :

Kitab I’anah at-Thalibin, juz 3, halaman: 100.

Kitab Sirajut Thalibiin 

Artikel Asy-Syaja’ah (Keberanian)  https://risalah.id/asy-syajaah-keberanian/

Artikel Ringkasan AI Google”  // https://www.google.com/search?q=SIFAT+SUJJA%27AH&rlz=1C1CHBD_idID1040ID1040&oq=SIFAT+SUJJA%27AH&aqs=chrome..69i57j0i13i512l3j0i13i30l6.34686j1j15&sourceid=ch



Kamis, 14 Mei 2026

Bab. VII “Menteladani Sifat Hurriyah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

 


BAB. VII

PASAL KE 7 PENJELASAN SIFAT HURRIYAH

الفصل السابِعُ فِى بَيَانِ الْحُرِّيَّةِ


PASAL KE 7 PENJELASAN SIFAT HURRIYAH

Daftar Isi Bab. VII “Menteladani Sifat Hurriyah Nabi Saw” Kitab al-Risalah Mutaba’atul Hasanah 

A. PENJELASAN TENTANG SIFAT HURRIYAH

1. Pengertian Hurriyah

2. Pengertian Hurriyah Menurut Istilah

3. Sifat-sifat Qalbu Yang Merdeka (Hurriyah)

4. Ukuran Kebebasan dan Kebenaran Manusia

5. Pendapat Ulama Sufi Tentang Hurriyah



BAB. VII

PASAL KE 7 PENJELASAN SIFAT HURRIYAH

الفصل السابِعُ فِى بَيَانِ الْحُرِّيَّةِ


A. PENJELASAN TENTANG HURRIYAH

1. Pengertian Hurriyah

Kata Hurriyah berasal dari bahasa Arab, ia adalah masdar atau terbitan dari kata kerja HARRA – YAHURRU Fahuwa HURRIYATAN.

(حر يحر فهو حرية بمئنى اى استقلال)

Hurriyah bermakna bebas ia, tidak terikat oleh yang lain, atau merdeka ia.

Menurut Artikel “Ringkasan AI Google” menyatakan bahwa Hurriyah (kebebasan/kemerdekaan) dalam konteks sifat qalbu (karakter hati) dalam Islam sering dikaitkan dengan konsep penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan kebebasan batin dari perhambaan selain kepada Allah Swt. Qalbu yang merdeka adalah qalbu yang sehat (qalbun salim) dan tidak terpenjara oleh hawa nafsu atau kecintaan duniawi.

Yang dikehendaki Hurriyah dalam pembahasan disini adalah Suatu keadaan yang dirasakan oleh seorang Salik,  ia telah bebas, tidak terikat oleh yang lain, atau merdeka dirinya dari pengaruh akwan dan agyar (gangguan- gangguan perasaan batinnya) dalam menuju Allah Swt. Salik pada saat ibadah, tawajjuh, muraqabah, musyahadah ataupun saat berdzikir, saat lapang, saat sempit atau saat kerja, saat berhubungan dengan masyarakat dan lain-lainnya. Pada saat itu Salik dapat menafikan, meleburkan, melenyapkan akan dirinya termasuk gerak dan diamnya adalah merasa milik Allah semata. Saat itu Salik merasakan benar-benar kebebasan dan kemerdekaan, ketidak terikatan rohaniyahnya.

2. Pengertian Hurriyah Menurut Istilah

Adapun Hurriyah menurut istilah Ahli Hakekat ada;ah keluarnya dari perbudakan kainat, yang dikehendaki disini pemutusan semua hubungan.

وأما الحرية فهو فى اصتلاح أهل الحقيقة : الخروج عن رق الكائنات والمرادتها وقطع جميع العلائق.

Hurriyah menurut istilah adalah bebasnya jiwa, hati dari ikatan segala sesuatu dengan pemutusan semua hubungan kecuali hanya kepada Allah Swt semata. Hurriyah adalah seorang Hamba tidak memperhambakan dirinya, atau tidak memperbudakan dirinya kepada semua makhluk lain selain kepada Allah Swt semata. Dirinya benar-benar merdeka dari semua akwan, Dirinya benar-benar bebas dari ikatan agyar dan kainat.

Dikatakan bahwa tujuan utama dari pada sesuatu  dan berhadap si Hamba kepada orang yang mempunyai sesuatu adalah termasuk Hurriyah. Dikatakan bahwa si Hamba tidaklah termasuk Hurriyah bila kau terima sesuatu selain Allah. Kesemuanya adalah pendekatan diri si Hamba kepada Allah adalah termasuk keharusan dan ia dituntut. Fiman Allah pada Surat al Hasyar ayat 9 :

...ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ... الحشر9

Artinya :"Mereka (al Muhajirin) mengutamakan/melebihkan dari pada mereka sendiri meskipun pada sesuatu yang mereka berhajat kepadanya........"QS. Hasyar ayat 9

3. Sifat-sifat Qalbu Yang Merdeka (Hurriyah)

Mengutip sebuah Artikel “Ringkasan AI Google” menyatakan bahwa berikut adalah sifat-sifat qalbu yang merdeka (hurriyah) menurut kajian tasawuf dan psikologi Islam:

a.. Hakikat Qalbu yang Merdeka (Hurriyah)Merdeka dari Hawa Nafsu: Qalbu tidak didikte oleh keinginan rendah (nafs ammarah), melainkan tunduk pada bimbingan akal sehat dan wahyu. Merdeka dari Makhluk: Hati hanya bersandar, berharap, dan takut kepada Allah, bukan kepada manusia atau materi.Memiliki Sifat Rabbani: Qalbu yang bersih mencerminkan sifat-sifat kebaikan (kasih sayang, kebenaran, kemaafan) karena menjadi pusat kehendak yang dididik oleh nilai-nilai ketuhanan.

b.. Sifat-Sifat Qalbu yang Sehat (Merdeka)Qalbun Salim (Hati yang Selamat): Hati yang suci dari syirik, penyakit hati, dan keraguan.Taqallub (Fleksibel dalam Kebaikan): Qalbu bersifat yataqallabu (mudah berbolak-balik). Dalam konteks positif, hati yang merdeka bergejolak untuk terus mendekat kepada Allah (kembali ke fitrah).Memiliki Nur (Cahaya): Mampu membedakan yang hak dan yang batil (kebijaksanaan).

c. Penghalang Hurriyah Qalbu (Penyakit Hati)Qalbu menjadi terpenjara ketika mengidap al-amradh al-qalbiyyah (penyakit hati), antara lain:Qaswah al-Qalb (Keras Hati): Hati yang kaku dan sulit menerima kebenaran.Ghaflah (Lalai): Lupa diri dan lupa kepada Allah.Hubbud Dunya: Cinta dunia secara berlebihan yang menjadikan hati terikat (tidak merdeka) pada materi.

d.. Cara Mencapai Hurriyah QalbuTazkiyatun Nafs: Menyucikan hati melalui taubat, zikir, dan muhasabah.Manajemen Qalbu: Mengenal potensi dan kelemahan hati agar bisa dikelola menjadi raja yang bijak dalam diri manusia, tidak didikte oleh syahwat.Dalam pandangan Sufi, ketika qalbu mencapai derajat merdeka (hurriyah), ia akan merasakan kedamaian sejati karena kembali ke jati diri aslinya, yaitu mengenal Allah (ma'rifatullah).

إنما آثروا على أنفسهم لتجردهم عما خرجوا منه وآثروا به.

Bahwasanya mereka melebihkan atas diri mereka sendiri untuk bersungguh-sungguh terhadap sesuatu yang mereka telah keluarkan dari padanya, mereka lebih mengutamakan al Muhajirin.

قال عليه  الصلاة والسلام :عزفت اى زهدت نفسى عن الدنيا فاستوى عندى حجرها وذهبها فالحر يؤثر الخلق بجميع الكائنات من الدارين, ولا يكون له سؤال ولا قصد ولا أرب ولاخط, ومقام الحرية عزيز, ومعظم الحرية فى خدمة الفقراء. وقيل أوحى الله تعالى إلى موسى عليه السلام إذا رأيت لى طالبا فكن له خادما.

Diktakan bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Musa Alaihis Salam "Apabila keadaan engkau ingin  melihat kepada-Ku maka jadilah baginya sebagai pelayan."

إنما يكفى أحدكم ما قنعت به نفسه وإنما يصير إلى أربعة اذرع وشبرة و إنما يرجع الأمر إلى الأخرة.

Bahwasanya sesuatu yang mencukupkan oleh salah seorang dari mereka maka sesuatu itu telah diterima dengannya oleh  diri mereka sendiri. Bahwasanya sesuatu itu akan menjadi 4 langkah atau depa (meluas kuburnya). Sesungguhnya akan dipulangkan perkara tsb hingga ke akhirat.

Berkata Ustaz dan Syekh bahwa " Sesungguhnya hurriyah adalah memberi pengenalan dari pada bahwa tidak ada bagi si Hamba dibawah penghambaan makhluk". Dan tidak berlaku atasnya oleh Sultan yang diadakan.

Adapun ciri alamat benarnya hurriyah adalah gugur pikiran dari dalam hatinya antara segala sesuatu, maka samalah dari padanya lintasan - lintasan hati (garat) misalnya kemulaan, kehormatan, perangai yang terpuji.

Haris berkata kepada Rasul Saw : "Dirinya telah juhud dari dunia, maka sama bencinya dari saya akan batu dan emasnya."

Imam Qusyairi berkata, ia dengar gurunya Abu 'Ali ad Daqaq berkata : " Barangsiapa keluar hatinya atau lupa hatinya dari dunia, maka ia telah bebas atau merdeka dari dunia." Telah berpindah oleh hatinya ke negeri akhirat maka telah merdeka dari dunia.

Syekh Abdurrahman al Shiddiq di dalam Kitab  Fii 'Aqaidul Iman menyebutkan perkataan orang yang bersyair tentang Hurriyah yaitu : "Perkataan Syair "

سَأَلْتُ النِّدَى عَنْ خُلٍ وَفِى فَقَالُوْا مَا إِلَى هَذَا سَبِيْلٌ

تَمْسِكْ إِنْ ظَفِرْتَ بِنَبْلِ حُرٍّ فَإِنَّ الْحُرَّ فِى الدُّنْيَا قَلِيْلٌ

Telah aku tanyakan kepada manusia dari pada teman yang sempurna, Maka kata mereka itu kepada ku tiada ada jalan kepada mendapat ini teman.

 Berpeganglah engkau jika kau mendapat dengan tepi kain orang yang merdeka atau orang yang tiada terikat di alam dunia itu sedikit.

Berbuat baik meski tak dipuji tidak menjadi “Ikut-Ikutan” Relevansi Hurriyah di Era Media Sosial sekarang menuju Kemerdekaan Spiritual hidup lebih tenang dengan ikhlas Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah menasihati putranya, Sayyidina Hasan: Hai anakku Hasan “Janganlah Engkau menjadi hamba bagi orang lain. Karena Allah telah menjadikanmu merdeka.”

Pesan singkat ini mengisyaratkan makna mendalam: kebebasan sejati bukan sekadar bebas bergerak, melainkan bebas dari kebutuhan untuk diakui oleh manusia.

Di tengah budaya sosial yang penuh penilaian, banyak orang hidup bukan untuk kebenaran, tetapi untuk memuaskan pandangan manusia. Semangat berbuat baik naik turun tergantung pada pujian, komentar, atau penghargaan yang diterima. Padahal, menurut ajaran tasawuf, kondisi ini menunjukkan seseorang belum benar-benar merdeka (hurriyah) secara spiritual.

Berkata Imam Syafi'i rahimahullah tentang Hurriyah :

" الحر من راعى وداد لحظة  وانتمى لمن أفاده لفظة "

Maksudnya yaitu "Orang yang merdeka itu orang yang memelihara berkasih-kasihan satu lahzah dan membangsakan dirinya bagi pasangan memberi faidah akan dia satu ucapan."

Imam Qusyairi berkata, ia dengar gurunya Abu 'Ali ad Daqaq berkata : " Allah telah mewahyukan kepada Nabi Daud Alaihis Salam,  bilamana kau telah melihat kepada seseorang penuntut ilmu, maka bagi penuntut ilmu itu menjadi pelayan Gurunya, Kata Rasulullah Saw :

سيد القوم خادمهم

"Pimpinan atau Pembesar Kaum itu adalah menjadi pelayan dari pada Kaumnya."

Berkata Yahya bin Mu'az  :

Dibina kehidupan dunia ini sebagai pelayanannya si Hamba dan Pengibadat. Dan dibangun akhirat itu khadamnya oleh orang yang bebas dan orang yang berbuat baik.

Berkata seorang Syekh Sufi Ibrahim bin Adham : "Sesungguhnya Hurriyah itu adalah kebebasan, kemerdekaan ketidak terikatan jiwa yang mulya itu terlebih dahulu dari dunia pana ini,  sebelum jiwanya benar-benar keluar dari dunia ini. Dan katanya lagi :"Janganlah engkau bersahabat (dengan jiwa terikat dunia) kecuali bersahabat dengan orang yang hurriyah / yang bebas, merdeka dan lagi mulya, ia mendengar dan tidak banyak kata."

4. Ukuran Kebebasan dan Kebenaran Manusia

Dalam Islam, Kebebasan dan kebenaran tidak ditentukan oleh banyak bicara public atau komentar-komentar publik, melainkan oleh ridha Allah Swt. Oleh sebab itu, seseorang tidak boleh menunda kebaikan hanya karena tidak diapresiasi.

Rasulullah SAW mengingatkan:

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ، مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي ثَلْجٍ الْبَغْدَادِيُّ صَاحِبُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاطِبٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ لاَ تُكْثِرُوا الْكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي ‏"‏ ‏.‏ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي النَّضْرِ، حَدَّثَنِي أَبُو النَّضْرِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاطِبٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم نَحْوَهُ بِمَعْنَاهُ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاطِبٍ ‏.‏

Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, Muhammad bin Abi Thalj Al-Baghdadi, sahabat Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abdulllah bin Haatib, dari Abdulllah bin Dinar, dari Ibn Umar, ia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: 'Janganlah kalian banyak berbicara tanpa mengingat Allah, karena sesungguhnya banyak berbicara tanpa mengingat Allah mengeraskan hati. Dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.' Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi An-Nadhr, telah menceritakan kepadaku Abu An-Nadhr, dari Ibrahim bin Abdulllah bin Haatib, dari Abdulllah bin Dinar, dari Ibn Umar, dari Nabi صلى الله عليه وسلم dengan makna yang sama.

Menurut penjelasan ulama, orang seperti ini justru akan makin tersakiti oleh manusia, karena ia menggantungkan kebahagiaannya pada makhluk yang sifatnya berubah-ubah.

Tidak semua yang merasa berjasa akan dikenang orang, dan tidak semua kebaikan mendapat balasan serupa. Mereka yang berbuat demikian dilihat manusia akan mengalami kekecewaan berulang, sebab manusia memiliki sifat lupa, berubah-ubah, dan terkadang suka menzalimi sesama. Sebaliknya, Allah Swt tidak menyia-nyiakan sekecil apa pun kebaikan manusia yang dilakukan dengan ikhlas.

5. Pendapat Ulama Sufi Tentang Hurriyah

الحرية هى أن لايكون العبد تحت عبودية المخلوقات. ويقال : الأعراض عن الكل والإقبال على من له الكل. ويقال أن لا يدخل قبلك سوى الله تعالى. وكلها متقاربة وهى ممدوحة ومطلوبة.

Kebebasan berarti tidak diperbudak oleh makhluk ciptaan. Dikatakan juga bahwa kebebasan berarti berpaling dari segala sesuatu dan berpaling kepada Yang Maha Memiliki segala sesuatu. Dan dikatakan pula bahwa kebebasan berarti tidak membiarkan apa pun masuk ke dalam hati kecuali Allah Yang Maha Kuasa. Semua definisi ini serupa, terpuji, dan diinginkan.

قال الله عز وجل : ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ... الحشر9, قال : إنما آثروا على أنفسهم لتجردهم عما خرجوا منه وآثروا به

Allah Yang Maha Kuasa berfirman: “Dan mereka mendahulukan orang lain daripada diri mereka sendiri, padahal mereka sangat membutuhkan…” (Al-Hashr 9). Dia berfirman: Mereka hanya mendahulukan orang lain daripada diri mereka sendiri karena mereka bebas dari apa yang telah mereka tinggalkan dan lebih memilihnya daripada diri mereka sendiri.

عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنما يكفى أحدكم ما قنعت به نفسه وإنما يصير إلى أربعة اذرع وشبرة و إنما يرجع الأمر إلى الأخرة

Dari Ibnu Abbas, yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Apa yang memuaskan jiwa seseorang sudah cukup bagi setiap orang di antara kalian, dan perkara itu pada akhirnya akan dipersempit menjadi empat hasta dan satu jengkal, dan penghakiman terakhir ada di akhirat.”

قال الاستاذ الشيخ : أن الحرية تتحدد فى ان لا يكون العبد تحت رق المخلوقات. ولا يجرى عليه سلطان المكونات. وعلامة صحته سقوط التمييز عن قلبه بين الأشياء (اى أمور الدنيا والأخرة.فلا يسترقه عاجل دنياه ولا آجل عقباه) فتتساوى عنده اخطارالأعراض.

Ulama terhormat itu berkata: “Kebebasan didefinisikan oleh kenyataan bahwa seseorang tidak diperbudak oleh makhluk ciptaan, dan tidak tunduk pada kekuasaan makhluk ciptaan. Tanda kebebasan yang sejati adalah tidak adanya perbedaan dalam hati seseorang antara hal-hal (yaitu, urusan dunia dan akhirat, sehingga kenikmatan sesaat di dunia ini maupun akibat akhirat tidak dapat memperbudak seseorang), dan dengan demikian semua bahaya menjadi sama di mata seseorang.”

قال حارث رضى الله عنه لرسول الله صلى الله عليه  وسلم : عزفت اى زهدت نفسى عن الدنيا فاستوى عندى حجرها وذهبها.

Harith (semoga Allah meridainya) berkata kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya): “Aku telah berpaling dari dunia, sehingga batu dan emas di mataku sama nilainya.”

قال  الإمام القشيرى سمعت الأستاذ أبا علي الدقاق رحمهما الله تعالى يقول : من دخل الدنيا وهو عنها حر, ارتحل الآخرة وهو عنها حر. وقال أيضا : من كان فى الدنيا حرا منها كان فى الدنيا حرا منها.

Imam al-Qushayri berkata: Aku mendengar guru Abu Ali al-Daqqaq (semoga Allah merahmati keduanya) berkata: “Siapa pun yang memasuki dunia ini tanpa terikat olehnya, akan meninggalkan akhirat tanpa terikat olehnya.” Beliau juga berkata: “Siapa pun yang terbebas darinya di dunia ini akan tetap terbebas darinya di dunia ini.”

قال الأستاذ الشيخ : واعلم أن حقيقة الحرية فى كمال العبودية. فإذا صدقت لله تعالى عبوديته خلصت عن رق الأغيار حريته. فاما من توهم أن العبد يسلم له أن يخلع وقتا عذار العبودية ويحيد بلحظة عن حد المر والنهى. وهو مميز فى التكليف فذالك انسلاخ من ادين.

Syekh itu berkata: Ketahuilah bahwa kebebasan sejati terletak pada pengabdian yang sempurna. Jika pengabdian seseorang tulus kepada Allah Yang Maha Kuasa, maka kebebasannya terbebas dari belenggu orang lain. Adapun orang yang mengira bahwa seorang hamba dapat untuk sementara waktu melepaskan belenggu pengabdian dan menyimpang sesaat dari batas-batas yang diperintahkan dan dilarang, sementara ia masih terikat pada kewajiban agama, maka itu adalah penyimpangan dari agama.

قال الله سبحانه لنبيه صلى الله عليه وسلم : واعبد ربك حتى يأتي اليقين (سورة الحج 99) يعنى الأجل اجمع المفسرون. وان لالذى أشار إليه القوم من الحرية هو ان لا يكون العبد بقلبه تحت رق شيئ من المخلوقات. لا من اعراض الدنيا و لا من اعراض الخرة, فيكون فرد الفرد, لم يسترقه عاجل دنيا. ولا حاصل هوى ولا آجل منى, ولا سؤال ولا قصد ولا هدف ولا حط.

Hadis Qudsi bahwa Allah Yang Maha Kuasa berfirman kepada Nabi-Nya, صلى الله عليه وسلم: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepastian” (Surah Al-Hajj 99). Ini merujuk pada waktu yang telah ditentukan, sebagaimana disepakati oleh semua penafsir. Dan apa yang dimaksud para ulama sebagai kebebasan adalah bahwa hati seorang hamba tidak boleh diperbudak oleh apa pun yang diciptakan, baik oleh keinginan duniawi maupun keinginan akhirat. Dengan demikian, ia harus benar-benar bebas, tidak tersentuh oleh kesenangan duniawi yang sementara, pengejaran hawa nafsu, harapan jangka panjang, pertanyaan, niat, tujuan, atau keinginan akhirat.

وسئل دلف الشبلى : الا نعلم أنه رحمن ؟ فقال بلى ولكن منذ عرفت رحمته ما سألته  أن يرحمنى ومقام الحرية عزيز. وكان ابو العباس السيارى يقول : لو صحت صلاة بغير قرآن لصحت بهذا البيت : اتمنى على الزمان محالا ان ترى مقاتاي طلعة حر. واما أقاويل المشايخ فى الحرية. فقال الحسين بن منصور : من أراد الحرية فليصل للعبودية.

Delf al-Shibli ditanya: "Tidakkah kita tahu bahwa Dia Maha Penyayang?" Beliau menjawab: "Ya, tetapi sejak aku mengetahui rahmat-Nya, aku tidak meminta rahmat-Nya kepadaku, karena kedudukan kebebasan itu sangat berharga." Abu al-Abbas al-Sayyari biasa berkata: "Jika sebuah doa sah tanpa Al-Quran, maka doa itu akan sah dengan ayat ini: 'Aku berharap kepada waktu hal yang mustahil, agar kamu dapat melihat medan perangku dihiasi dengan wajah orang yang merdeka.'" Adapun perkataan para syekh tentang kebebasan, al-Husayn ibn Mansur berkata: "Siapa pun yang menginginkan kebebasan hendaknya berusaha untuk menjadi hamba."

سئل الجنيد عمن لم يبق عليه من الدنيا إلا مقدار مص ثواه بقال الكاتب عبدما بقي عليه درهم. ويقول الجنيد أيضا :إنك لاتصل الى صريح الحرية وعليك من حقيقية عبودية فيطهر السريرة وبين الله تعالى.

Al-Junayd ditanya tentang seseorang yang hanya memiliki sisa harta duniawi untuk hidup, dan juru tulis itu menjawab, "Dia adalah seorang budak yang hanya memiliki satu dirham." Al-Junayd juga berkata, "Kamu tidak dapat mencapai kebebasan sejati selama kamu berada dalam keadaan perbudakan sejati, maka sucikanlah batinmu dan hubunganmu dengan Allah Yang Maha Kuasa."

قال الحسين بن منصور : إذا استوفى العبد مقامات العبودية كلها يصير حرا من تعب العبودية, فيترسم بالعبودية بلا عناء...

Al-Husayn ibn Mansur berkata: Ketika seorang hamba telah memenuhi semua tingkatan perbudakan, ia menjadi bebas dari kerja keras perbudakan, dan ia mewujudkan perbudakan tanpa kesulitan...

....ولا كلفة.

وذلك مقام الأنبياء والصديقين, يعنى يصير محمولا لايلحقه, بقلبه مشقه, وإن كان متحليا بها شرعا.

...atau beban.

Itulah tingkatan para nabi dan orang-orang saleh, artinya ia menjadi begitu bebas sehingga tidak ada kesulitan yang menimpanya, bahkan jika ia secara hukum diwajibkan untuk melakukannya.

انشدنا منصور الفقيه لنفسه :

ما بقي فى الإنسان حر   لاولا فى الجن حر

قد مضى حر الفر بقيد    ن فحلو العيش مر

واعلم : أن معظم الحرية فى خدمة الفقراء

Mansur sang ahli hukum membacakan kepada kami, menyusun baris-baris ini:

Tidak ada kebebasan yang tersisa pada manusia, maupun pada jin.

Kebebasan seorang hamba telah berlalu, terikat oleh rantai, sehingga manisnya hidup menjadi pahit.

Ketahuilah bahwa kebebasan terbesar terletak pada melayani kaum miskin.

قال الإمام القشيرى سمعت الشيخ أبا علي الدقاق رحمهما الله تعالى يقول : أوحى الله تعالى إلى داود عليه السلام : إذا رأيت لى طالبا فكن له خادما, قال صلى الله عليه  وسلم : سيد القوم خادمهم.

Imam al-Qushayri berkata: Aku mendengar Syekh Abu Ali al-Daqqaq, semoga Allah merahmati mereka berdua, berkata: Allah Yang Maha Kuasa mewahyukan kepada Daud, semoga kedamaian menyertainya: “Jika kamu melihat seseorang yang mencari karunia-Ku, jadilah hambanya.” Nabi, semoga kedamaian dan berkah Allah menyertainya, bersabda: “Pemimpin suatu kaum adalah hambanya.”

يقول يحيى بن معاذ : ابناء الدنيا تخدمهم الإماء والعبيد و ابناء الآخرة يخدمهم الاحرار, وقال إبراهيم بن أدهم  : إن الحر الكريم يخرج من الدنيا قبل أن يخرج منها وقال أيضا : لاتصحب إلا حرا كريما يسمع ولا يتكلم.

Yahya ibn Mu’adh berkata: “Penduduk dunia dilayani oleh budak dan hamba, sedangkan penduduk akhirat dilayani oleh orang-orang merdeka.” Ibrahim ibn Adham berkata: “Orang merdeka yang mulia meninggalkan dunia ini sebelum ia meninggalkannya.” Beliau juga berkata: “Janganlah bergaul kecuali dengan orang merdeka yang mulia yang mendengarkan tetapi tidak berbicara.”

 

 Referensi  :

Google translate Indonesia https://www.google.com/search?q=translate+indonesia&rlz=1C1CHBD_idID1040ID1040&oq=&aqs=chrome.0.35i39i362j46i39i362j35i39i362l6.41287672j0j15&sourceid=chrome&ie=

Artikel “Ringkasan AI Google” https://www.google.com/search?q=Hurriyah+SIFAT+QALBU&sca_esv=3b6d4900261f3af2&rlz=1C1CHBD_idID1040ID1040&sxsrf=ANbL-n7HprpZV9ss1x1gArDb1_aA12RiMw%3A

Kitab  Fii 'Aqaidul Iman Oleh Syekh Abdurrahman al Shiddiq

Ar Risalah Qusyairiyah oleh Imam al Qusyari

Artikel “Merdeka dari Validasi Manusia: Rahasia Hurriyah dalam Tasawuf yang Sering Dilupakan”

https://nujateng.com/2025/11/merdeka-dari-validasi-manusia-rahasia-hurriyah-dalam-tasawuf-yang-sering-dilupakan/

Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 2414 - Buku Zuhud dari Rasulullah // https://www.hadits.id/hadits/tirmidzi/2414





Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...