Oleh H.Hasan Basri,S.Ag bin H.M.Barsih Assegaf
NASAB AHLU ALBAIT NABI BESAR MUHAMMAD SAW IBN ABDULLAH IBN ABDUL MUTHALIB DARI KELUARGA ALAWIYIN
Salah satu Nasab Ahlu al-Bait Nabi Besar Muhammad Saw dari Keluarga Alawiyin Fam
Assegaf
1. MUHAMMAD RASULULLAH SAW Tahun 569 s/d 632 Masehi
3= سيد المرسلين إمام الأنبياء والأتقباء سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم
وهو محمد ابن
عبدالله وامه ستي امنة معيشته عليه الصلاة والسلام من والده شيئا بل ولد يتيما
عائلا فاسترضع في ني سعد. ولما بلغ مبلغا
يمكنه أن يعمل عملا كان يرعى الغنم مع أخوته
من الرضاع في البادية, وكذلما رجع إلى مكة كان يرها لاهلهاعلى قراريط كما
ذكره البخري في صحيحه, ووجود الأنبياء فى حال التجردعن الدنيا ومشاغلها أمر لابد
منه لاتهم لو وجدوا أغنياء لالهتهم الدنيا
وشغلوا بها عن السعادة الأبدية. وذلك ترى جميع الشرائع الا لهية متفقة على استحسان
الزهد فيها والتباعد عنها. وحال الأنبياء السالفين أعظم شاهد على ذالك. فكان عيسى
عليه السلام أزهد الناس في الدنيا, وكذالك كان موسى وإبراهيم , وكانت حالتهم في
صغرهم ليست سعة بل كلهم سواء تلك الحكمة البالغة أظهرها الله على أنبيائه ليكونوت
عوذجا لمتبعيهم في الإمتناع عن التكالب على الدنيا والتهافت عليها وذالك.سبب البلايا والمحن. وكذالك رعاية الغنم,
فما من نبي الا دعاها كما أخبر عن ذالك الصادق في حديث للبخارى, وهذه أيضا من بالغ
الحكم فإن الإنسان إذا استرعى الغنم وهي أضعف البهائم. سكن قبله الرأف واللطفة
تعطفا, فإذا انتقل من ذالك إلى رعاية الخلق كان لما هذب أولا من الحدة الطبعية والظلم الغريري,
فيكون فى اعدل الاحوال, ولما شب عليه السلام كان يتجر. وكان شريكه السائب بن أبي السائب, وذهب بالتجارة لخديجة
رضي الله عنها ال الشام على جعل يأخذه, ولما شرفت خديجة بزواجه, وكانت ذات يسار
عمل فى مالها وكان يأكل من نتيجة عمله, وحقق الله ما أمتن عليه به فى سورة الضحى
بقوله جل ذكره : ألم يجدك يتيما فأوى ووجدك ضالا فهدى. ووجدك
عائلا فأغنى. بالايواء والأغناء قبل النبوة والهداية بالنبوة, هداه للكتاب
والإيمان ودين إبراهيم عليه السلام ولم يكن يدرى ذلك قبل, ٌقال تعال فى سورة الشورى : وكذلك أوحينا إليك
روحا من أمرن ماكنت تدرى ما الكتاب ولا الإيمان ولكن جعلناه نورا نهدى به من نشاء
من عبادنا.-1
واعلم أن النبي صلى الله عليه وسلم لما بلغ من العمر أربعين
سنة نبأ الله تعالى فى يوم الإثنين فى شهر
ربيع الاول, وأرسله لكافة الناس بشيرا ونذيرا, ولما بلغ من العمر أحدى خمسين سنة
ونصفا أسرى بجسده وروحه يقظة من مكة إلى بيت المقدس ثم عرج منه إلى السموات السبع
إلى سدرة المنتهى إلى مستوى سمع فيه صريف
الاقلام, إلى العرش الى مكان الخطاب مع ربه, وفرض فذلك الوقت عليه صلى الله عليه
وسلم وعلى أمته خمس صلوات.
Tahun 569 s/d 632
Masehi
سَيِّدُ الْمُرْسَلِيْنَ إِمَامُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَتْقِيَاءِ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Muhammad Saw lahir di kota Mekkah al Mukarramah, hari
Senin, tanggal 12 Rabi;ul Awwal Tahun Gajah atau bertepatan dengan tanggal 20
April tahun 569 Masehi. Muhammad Saw pembawa risalah Allah yang terakhir dari
kerasulan dan kenabian, dan juga penyempurna agama Islam. Maka dari itulah dia
adalah Nabi dan Rasul terakhir.
لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ La nabiya ba,dahu ” tidak ada Nabi dan Rasul sesudahnya”
Tercatat dan terkenal dalam sejarah bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah
yang telah menempuh dan menjalani hidup, kehidupan dan penghidupan secara manusiawi dan secara Sufi.Dia pernah
sebagai pengembala kambing pada usia 6 tahun. Dimasa remajanya pernah ikut
berperang dengan paman-pamannya, walaupun dia sebagai pengumpul anak panah
untuk diberika kepada mereka (paman-pamannya). Nabi Muhammad juga pernah
sebagai pedagang, jual menjual barang dagangan Siti Khadijah. Beliau seorang
yang cerdas dan bijaksana dalam berkata dan berbuat. Rasul Saw mendapat julukan
: “MUHAMMAD AL AMIIN” Maksudnya orang yang terpercaya dan dapat dijadikan
kepercayaan, karena sifat pribadinya yang indah menawan, dan keagungan
akhlaknya, tidak ada bandingannya di dunia ini. Dia selalu dipuja dan dipuji
oleh penduduk Muslimin di muka bumi dan juga dipuja oleh penduduk langit.
Wajiblah kita katakan :
يَا مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ حَقًّا
Maksudnya : “Ya
Muhammad, Engkaulah utusan yang benar.”
Tidaklah begitu mengherankan bila kehidupan tasawuf tumbuh dan berkembang
bersamaan dengan tumbuhnya dan berkembangnya Agama Islam. Dimulai dari sebelum
Beliau diangkat secara resmi menjadi Rasul, Beliau sudah menempuh jalan
tasawuf.
Rasul Saw berhijrah ke Madinah tahun 622 Masehi, setelah 10 tahun di Madinah mengembangkan Agama Islam dan Beliau wafat sekitar tanggal 8 juni tahun 632 Masehi.
Kehidupan Muhammad adalah mencerminkan ciri-ciri prilaku kehidupan Sufi,
dimana saja bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari Beliau yang sangat
sedarhana dan menderita, disamping menghabiskan waktunya dalam beribadah dan bertaqarruf
pada Tuhannya.Seperti sudah sama-sama kita maklumi bahwa sebelum Beliau
diangkat menjadi Nabi dan Rasul dan juga
belum menerima wahhyu pertama kali. Beliau sudah sering kali melakukan
kegiatan Sufi, Dengan melakukan Uzlah ke Gunung Jabal Nur didalam Gua Hera
selama berbulan-bulan lamanya hingga Beliau menerima Wahyu pertama saat
diangkat oleh Allah Swt sebagai Rasul terakhir tanggal 17 Ramadhan tahun
pertama Kenabian, usia Rasul Saw 40
tahun sekitar tahun 609 Masehi.
Setelah nabi Muhammad resmi diangkat sebagai Nabi dan Rasul, diusia 40
tahun. Keadaan dan cara hidup Beliau masih ditandai oleh jiwa dan suasana
kerakyatan, meskipun Nabi berada dalamlingkaran keadaan hidup serba dapat
terpenuhi semua keinginan terkendali.Lentaran Kekuasaannya sebagai nabi dan
rasul Allah yang menjadi kekasih Tuhannya. Pada waktu malam sedikit sekali
tidurnya, waktunya dihabiskan untuk takarruf – tawajjuh kepada Allah dengan
memperbayak ibadah dan dzikir kepadaNya.
Tempat tidur Nabi terdiri dari Balai Kayu biasa dengan alas tikar dari
anyaman daun kurma, tidak pernah memakai pakaian dari Wool apalagi dari Sutra,
meskipun Beliau mampu untuk membelinya,
Beliau lebih suka hidup
sedarhana.Begitulah salah satu contoh tauladan oleh seorang MANUSIA SEMPURNA, MANUSIA YANG
TERMULIA DAN PEMIMPIN TERTINGGI, untuk membuka mata Shahabat-shahabatnya dan
juga para Pengikutnya hingga akhir zaman, yang diperlihatkan kepada mereka.,
untuk apa manusia itu hidup. Firman Allah tentang contoh tauladan yang harus
diteladani oleh Kaum Muslimin dan Muslimat belahan dunia ini adalah Muhammad
Rasulullah Saw.
لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة -التبوة
128
Artinya “Sungguh pada diri Rasulullah itu itu terdapat
suri tauladan yang baik untukmu (Kaum Muslimin dan Muslimat)”
1a. Isteri-isteri Nabi Muhammad Saw ibn Abdullah ibn Abdul Muthalib
Nabi Muhammad Saw adalah seorang Raja Arab yang disegani Kawan dan Lawan, seorang Kepala Negara yang Bijak, Ia seorang Nabi Pemimpin Agama dan Umat,
Secara tradisional, dua zaman menggambarkan kehidupan dan karier Muhammad: pra-Hijrah antara tahun 570 dan 622 di Makkah; dan pasca-Hijrah antara tahun 622 dan wafatnya pada tahun 632 di Madinah. "Hijrah" mengacu pada migrasi Muhammad, bersamaan dengan Muslim awal, dari Makkah ke Madinah karena penganiayaan yang dilakukan oleh penduduk Makkah terhadap umat Islam awal. Kecuali pernikahannya dengan Khadijah dan Saudah, hampir seluruh pernikahan Muhammad dilangsungkan setelah migrasi. Nabi Muhammad Saw seorang Penguasa dan juga ia mempunyai 13 orang isteri yaitu : :
01. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (25 th) dengan Sayyidah Siti Khadijah (40 th) binti Khuwailid ibn As’ad mulai tahun (595–620M).
Kehidupan Khadijah sebelum bersama Rasulullah Khadijah binti Khuwailid lahir pada sekitar tahun 556M di Mekkah, Arab Saudi. Khuwailid saudagar kaya di Mekkah. Ia adalah putri dari Khuwailid bin Asad dan Ibunya Fatimah binti Zaidah.
Seperti sang ayah, Khadijah berprofesi sebagai pedagang. Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan agung, serta memiliki pendirian yang teguh dan perangainya luhur. Sebelum bertemu Rasulullah, Khadijah pernah dua kali menikah.
Suami pertamanya Siti Khadijah adalah Abu Halah Al-Nabbasi ibn Zurarah al-Tamimi dan ia punya 2 orang anak putra-putri an.Halah dan Hindun. Setelah Abu Halal meninggal, Khadijah dinikahi Atiq bin Abdul Makhzumi. Khadijah kembali menjanda setelah Atiq bin Abdul Makhzumi meninggal.
Sebagai janda kaya yang berperangai luhur, tidak sedikit pemuka kaum Quraisy yang kaya raya ingin memperistrinya. Namun, pada akhirnya, pilihan Khadijah justru jatuh pada Muhammad, pria sederhana yang jauh lebih muda darinya.
Sebelum menjadi istri Nabi Muhammad, Siti Khadijah sudah mendapat Gelar dan julukan yang diberikan orang-orang kepadanya “Ratu Mekkah, Ratu Quraisy, ath-thaahirah, wanita suci”
Kehidupan Khadijah sebelum bersama Rasulullah Khadijah binti Khuwailid lahir pada sekitar tahun 555M di Mekkah, Arab Saudi. Ia adalah putri dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Zaidah. Seperti sang ayah, Khadijah berprofesi sebagai pedagang. Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan agung, serta memiliki pendirian yang teguh dan perangainya luhur. Sebelum bertemu Rasulullah, Khadijah pernah dua kali menikah.
Suami pertamanya Siti Khadijah adalah Abu Halah Al-Nabbasi ibn Zurarah al-Tamimi dan ia punya 2 orang anak putra-putri an.Halah dan Hindun. Setelah Abu Halal meninggal, Khadijah dinikahi Atiq bin Abdul Makhzumi. Khadijah kembali menjanda setelah Atiq bin Abdul Makhzumi meninggal.
Sebagai janda kaya yang berperangai luhur, tidak sedikit pemuka kaum Quraisy yang kaya raya ingin memperistrinya. Namun, pada akhirnya, pilihan Khadijah justru jatuh pada Muhammad, pria sederhana yang jauh lebih muda darinya.
Sebelum menjadi istri Nabi Muhammad, Siti Khadijah sudah mendapat Gelar dan julukan yang diberikan orang-orang kepadanya “Ratu Mekkah, Ratu Quraisy, ath-thaahirah.”
Siti Khadijah yang merupakan istri pertama Nabi Muhammad yang memiliki banyak keistimewaan. Siti Khadijah mendapat julukan "Ath-Thaariah", yang berarti bersih dan suci. Sebagai istri Nabi Muhammad, ia mendapat gelar Ummul Mukminin (ibu dari orang mukmin) dan Sayyidatu Nisa'il 'alamin (penghulu para wanita di dunia pada zamannya). Siti Khadijah adalah istri yang sangat dicintai Rasulullah. Bahkan, selama 25 tahun pernikahan mereka, Nabi Muhammad tidak pernah menikah dengan perempuan lain
Perkawinan Nabi Saw dengannya Khadijah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniai putra 6 anak, 2 laki-laki dan 4 perempuan, yaitu :
- Qasim, (pemberi Imbalan) wafat saat kecil
- Zainab, (indah dan Wangi) wafat usia 29 tahun
- Ruqaiyah, wafat saat perang Badar (ia isteri Usman bin Affan)
- Ummu Kultsum, dan
- Fathimah Azzahra.
- Abdullah wafat saat kecil
Realita ini menuai tanda tanya, di usia berapakah Khadijah menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Keterangan yang banyak tersebar di buku-buku sirah, usia Khadijah ketika menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 40 tahun. Dan beliau meninggal di usia 65 tahun.
Keterangan ini berdasarkan riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Sa’d dalam At-Thabaqat Al-Kubra, dari Al-Waqidi. Dalam riwayat itu dinyatakan:
تَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَدِيجَةَ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ وَهُوَ ابْنُ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ سَنَةً، وَكَانَتْ هِيَ يَوْمَئِذٍ ابْنَةَ أَرْبَعِينَ سَنَةً
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya (Khadijah) ketika beliau berusia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun.” (Thabaqat Ibn Sa’d, 1/132)
Sementara itu, dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir mengatakan
وهكذا نقل البيهقي عن الحاكم أنه كان عمر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حين تزوج خديجة خمسًا وعشرين سنة، وكان عمرها إذ ذاك خمسًا وثلاثين، وقيل خمسًا وعشرين سنة
“…demikianlah dinukil oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim bahwa usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikah dengan Khadijah adalah 25 tahun, sedangkan usia Khadijah ketika itu adalah 35 tahun, ada juga yang mengatakan, 25 tahun…” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2/295)
Kemudian, ketika Ibnu Katsir membahas tentang pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau membawakan dua riwayat,
وعن حكيم بن حزام قال: كان عمرها أربعين سنة. وعن ابن عباس: كان عمرها ثمانيًا وعشرين سنة. رواهما ابن عساكر
Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikahi Khadijah adalah 25 tahun. Sedangkan usia Khadijah 40 tahun.” Sementara dari Ibnu Abbas, bahwa usia Khadijah 28 tahun. Keduanya diriwayatkan Ibnu Asakir. (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 5/293).
Menjadi istri pertama Nabi Muhammad Dalam mengurus bisnisnya, Siti Khadijah dikenal sebagai perempuan yang andal, pintar, dan cekatan. Suatu hari, hatinya tertambat pada Muhammad, seorang pria sederhana yang tepercaya, jujur, dan memiliki akhlak mulai. Saat itu, Muhammad belum diangkat oleh Allah menjadi Nabi umat Islam. Siti Khadijah dinikahi oleh Rasulullah ketika telah dua kali menjanda dan usianya menyentuh 40 tahun. Sementara Rasulullah baru berusia 25 tahun. Dalam riwayat disebut bahwa Khadijah adalah pedagang kaya yang memiliki rombongan dagang yang besar. Untuk itu, ia sering mengupah seseorang untuk menyertai dagangan dalam rombongan kafilahnya ke berbagai daerah.
Suatu ketika, Abu Thalib, paman Nabi Muhammad, mendengar bahwa Khadijah sedang mempersiapkan rombongan dagang ke negeri Syam. Nabi Muhammad Sebelum Diangkat Menjadi Rasul, Pamannya Abu Thalib kemudian mendatangi Siti Khadijah dan menawarkan agar Muhammad dipercaya untuk menyertai dagangan tersebut. Setelah disetujui, Muhammad membawa dagangan ke Syam dengan didampingi oleh Maisarah, budak Siti Khadijah. Berkat keterampilan dan kejujuran Muhammad, dagangan yang mereka bawa menghasilkan keuntungan besar. Sekembalinya ke Mekkah, Maisarah menceritakan tentang kejujuran, amanah, dan kemuliaan akhlak Muhammad kepada Khadijah. Cerita itu membuat Khadijah jatuh cinta, lalu meminta sahabatnya, Nufaisa binti Muniya, untuk menjajaki kemungkinan Muhammad menjadi suaminya. Dari situlah, berlangsung pernikahan antara Siti Khadijah dan Muhammad, yang belum diangkat sebagai rasul. Muhammad sendiri memperistri Khadijah bukan karena kekayaan atau status sosialnya, melainkan karena pribadi dan akhlaknya yang mulia.
Mendampingi awal kenabian Rasulullah Perbedaan usia yang mencolok tidak menjadi penghalang dalam rumah tangga Khadijah dan Muhammad. Kematangan Siti Khadijah pada usia 40 tahun membuat Muhammad merasa nyaman. Ketika pernikahan mereka berjalan 15 tahun, Muhammad diangkat menjadi nabi. Siti Khadijah menjadi sosok yang menenangkan hati Muhammad saat pertama kali menerima wahyu sebagai utusan Allah. Pasalnya, ketika itu, Rasulullah benar-benar dilanda kecemasan luar biasa. Siti Khadijah pun menjadi orang pertama yang menerima dan memeluk Islam, sebelum Rasulullah berdakwah di kalangan para sahabat. Pada masa awal kenabian, Siti Khadijah mencurahkan harta, pikiran, dan tenaganya untuk mendukung Nabi Muhammad dalam menegakkan agama Islam.
Siti Khadijah sangat berjasa bagi perkembangan dan penyiaran Islam pada awal kenabian hingga wafatnya pada sekitar tahun 619. Diperkirakan, Siti Khadijah meninggal pada usia 65 tahun, bertepatan dengan tahun kesepuluh kenabian Rasulullah. Selama 25 tahun membina rumah tangga dengan Nabi Muhammad, Siti Khadijah tidak pernah dimadu. Nabi Muhammad baru menikah lagi setelah ia meninggal. Hal itu menjadi salah satu keistimewaan Siti Khadijah. Beberapa keistimewaan Siti Khadijah lainnya adalah, ia menjadi orang pertama yang masuk Islam dan menjadi salah satu perempuan yang dinantikan surga.
Referensi :
Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
Artikel “Usia Khadijah ketika Menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. https://muslimah.or.id/3170-usia-khadijah-ketika-menikah-dengan-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html
Artikel “Siti Khadijah,istri yang dinantikan di Surga oleh Nabi Muhammad SAW,” https://lksaalfalahleces.net/utama/siti-khadijahistri-yang-dinantikan-di-surga-oleh-nabi-muhammad-saw
02. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw mulai tahun (620–632M) dengan Sayyidah Saudah (+57 th) binti Zam’ah al-Amiriyah ibn Qais,
Uang mahar yang diberikan Nabi Muhammad Saw 500 dirham koin emas. Saudah seorang janda dari Sakran ibn Amar punya 1 anak an.Abdurrahman.
Saudah binti Zam'ah bin Qais (bahasa Arab: سودة بنت زمعة بن قيس) adalah salah satu istri Nabi Muhammad. Nasab lengkapnya Saudah binti Zum'ah bin Qais bin Abdi Wadd bin Nashr bin Malik bin Hasal bin Amir bin Lu'ai AI-Qurasyiah. Ibunya bernama Syumus binti Qais bin Amr bin Zaid.
Awalnya Saudah menikah dengan sepupunya Sakran bin Amr saudara Suhail bin Amr, kemudian mereka bersama hijrah ke Habasyah (Ethiopia) lalu kembali lagi ke Mekah, namun suaminya wafat. Sebelumnya Saudah bermimpi, dan suaminya berkata, bahwa ia akan wafat, dan Saudah akan dinikahi Muhammad.
Setelah 25 tahun ber-monogami dengan Khadijah, istri beliau yang merupakan saudagar kaya raya, Nabi Muhammad pun mulai ber-poligami dengan pertama-tama menikahi Saudah pada bulan yang sama setelah Khadijah wafat, yaitu pada bulan Ramadhan, tahun ke-10 pasca kenabian, 3 tahun sebelum Hijrah. Sebelumnya, Nabi Muhammad melakukan akad nikah dengan Aisyah, tetapi baru menggaulinya 4 tahun kemudian di Madinah. Saudah ditawarkan (lamarkan) menikah oleh Khaulah binti Hakim, istri Utsman bin Madz'un.
Tidak ada riwayat yang pasti mengenai pada saat umur berapa Saudah dinikahi Rasulullah, setelah umur 57 tahun, tapi ayahnya dicatatkan masih hidup ketika Rasulullah menikahinya,ia perempuan yang lebih tua dari Rasulullah. Keduanya lalu menikah pada Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian. Saudah merupakan putri dari Zam'ah bin Qais dari Suku Quraisy. Saudah berasal dari keturunan Luiy, salah satu nenek moyang dari Rasulullah. dan Saudah setelah 57 tahun dirinya menikah dengan Rasul, yaitu pada bulan Ramadhan tahun ke-54 Hijriyah. Setelah Pertempuran Badar, seorang ibu bernama Afra kehilangan kedua anaknya, Auf dan Muawidz dalam pertempuran itu, Saudah hidup bersama Afra untuk meringankan beban hidupnya.
Saudah dikenal sebagai perempuan bijak dan penyayang. Tubuhnya gemuk. Ketika ia mulai tua, ia rela memberikan hari-hari gilirannya untuk bersama Rasulullah kepada Aisyah yang merupakan istri favorit Sang Nabi, demi menyenangkan beliau dan supaya dirinya tidak jadi diceraikan oleh beliau sehingga turunya Quran surat an-Nisa ayat 128.
Saudah adalah istri Rasulullah yang terlibat langsung dalam peristiwa sebab turunnya ayat hijab. Sebelum datangnya perintah dari Allah untuk berhijab, istri-istri Nabi tidaklah berhijab, dan tidak pula beliau memerintahkan mereka berhijab. Namun Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang mempunyai karakter keras, mendatangi Nabi, menyarankan beliau agar menghijabi istri-istri beliau. Akan tetapi Sang Nabi tidak mengindahkan usulannya. Di zaman Nabi Muhammad, jika istri-istri beliau ingin buang air besar, mereka keluar pada waktu malam menuju tempat buang hajat yang berupa tanah lapang dan terbuka bernama “Al-Manasi”. Lalu pada suatu malam waktu Isya` Saudah keluar untuk buang hajat, karena Saudah adalah seorang wanita yang berpostur tinggi, lalu diketahui oleh Umar kemudian berseru kepadanya,"Sungguh kami telah mengenalmu wahai Saudah!". Takut akan hal itu terulang, Saudah pun melaporkan hal tersebut kepada Nabi. Dan tidak lama berselang ayat hijab pun diturunkan. Dan istri-istri Nabi kembali diizinkan untuk buang air besar.
Saudah yang merasa sudah berumur, memberikan jatah harinya kepada Aisyah. Nabi Muhammad tetap mempertahankan Saudah hingga wafatnya. Semasa Umar bin Khathab ia memberikan sekantong Dirham pada Saudah, lalu Saudah membagi-bagikan pada yang membutuhkan.
Aisyah bercerita tentang sifat kemanusiaannya Muhammad,"Suatu hari, Saudah mengunjungi kami. Maka Rasulullah duduk di antara aku dan Saudah, salah satu kakinya di pangkuanku dan kaki yang lainnya di pangkuan Saudah. Lalu aku membuatkan harirah (sejenis makanan berkuah) untuk nya. Kemudian aku berkata kepadanya (Saudah), 'Makanlah.' Ternyata dia menolak untuk makan. Aku berkata, 'Kamu makan, atau (kalau tidak) aku akan lumuri wajahmu.' Ternyata dia tetap menolak, maka aku ambil sedikit makanan di piring dan aku lumuri wajahnya. Rasulullah tertawa. Lalu beliau mengangkat kakinya yang berada di pangkuan Saudah agar dia dapat membalasnya, seraya berkata, 'Lumuri wajahnya.' Maka Saudah mengambil sedikit makanan yang ada di piring, kemudian dia melumuri wajahku dengannya, sementara Rasulullah tertawa."
Makam Saudah di Baqi Madinah.
Saudah wafat di akhir masa Khalifah Umar bin Khathab dan dimakamkan di Baqi Madinah.
Referensi :
Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
Artikel “Saudah binti Zam'ah”, Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Saudah_binti_Zam%27ah
03. Rakam jejak Pernikahan Nabi Muhammad Saw dimulai tahun (620–632M) dengan Sayyidah Siti Aisyah (6 th) binti Abu Bakar as-Shiddiq.
Ibunya bernama Ummu Ruman, Uang mahar yang diberikan 500 dirham koin emas dan ia dikawini atau digauli oleh Nabi Muhammad Saw usia 9 tahun. Aisyah binti Abi Bakar (sekitar 613/614 – Juli 678 Masehi) adalah seorang komandan, politikus, ahli hadis dan istri ketiga juga termuda dari Nabi Muhammad.
Aisyah memiliki peran penting dalam sejarah Islam awal, baik selama hidup Muhammad maupun setelah kematiannya. Dalam tradisi Sunni, Aisyah digambarkan sebagai seorang yang terpelajar, cerdas, dan ingin tahu. Ia berkontribusi dalam penyebaran pesan Muhammad dan mengabdi kepada masyarakat Muslim selama 44 tahun setelah kematian Muhammad.
Aisyah meriwayatkan 2.210 hadis sepanjang hidupnya, tidak hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi Muhammad, tetapi juga pada topik-topik seperti hukum waris, haji, fiqih shalat, dan eskatologi. Kecerdasan dan pengetahuannya dalam berbagai subjek, termasuk puisi dan kedokteran, sangat dipuji oleh para ulama dan tokoh terkemuka awal seperti al-Zuhri dan muridnya Urwah bin az-Zubair.
Kehidupan Awal dan Silsilah
Aisyah lahir di Mekkah sekitar tahun 613-614M. Aisyah adalah putri dari Abu Bakar dan Ummi Ruman, dua orang dari sahabat Nabi yang paling terpecaya. Tidak ada sumber yang memberi informasi lebih banyak terkait masa kecilnya. Beberapa sumber klasik menyatakan bahwa Aisyah berusia enam atau tujuh tahun pada saat pernikahannya, dan dikawinkan saat berusia sembilan tahun. Namun, umur tepat Aisyah saat pernikahannya masih menjadi sumber perdebatan oleh beberapa tokoh.
Pernikahan dan Perkawinan
Sebelum pertunangannya dengan Muhammad, Aisyah (yang saat itu berusia lima tahun) bertunangan dengan putra Mut'im ibnu 'Adi, yaitu Jubair ibnu Mut'im; mengikuti kebiasaan pernikahan dini di Arab pada abad keenam. Pertunangan itu gagal karena kekhawatiran dari keluarga Aisyah.
Bedanya antara Pernikahan dan Perkawinan, menurut kaedah fiqih Islam, kata “Nikah berarti aqad yaitu ijab dari walinya dan qabul manten perianya, saat berhadapan keduanya didepan dua saksi” sedangkan kata “Kawin berarti jima’ (bercampur, berhubungan badan) manten peria-wanitanya.
Menurut buku Shahih Bukhari, setahun kemudian Aisyah kemudian bertunangan dengan Muhammad pada usia enam tahun. Beberapa sumber Islam dari era klasik mencantumkan usia Aisyah sebagai enam tahun pada saat pernikahan dan sembilan atau sepuluh tahun pada saat perkawinannya; Namun, beberapa ulama lain tidak setuju dengan ini karena ketidakkonsistenan dalam narasi tentang masa mudanya.
Sebelum pertunangannya dengan Muhammad, Aisyah (yang saat itu berusia lima tahun) bertunangan dengan putra Mut'im ibnu 'Adi, yaitu Jubair ibnu Mut'im; mengikuti kebiasaan pernikahan dini di Arab pada abad keenam. Pertunangan itu gagal karena kekhawatiran dari keluarga Aisyah.[12] Menurut buku Shahih Bukhari, setahun kemudian Aisyah kemudian bertunangan dengan Muhammad pada usia enam tahun. Beberapa sumber Islam dari era klasik mencantumkan usia Aisyah sebagai enam tahun pada saat pernikahan dan sembilan atau sepuluh tahun pada saat perkawinannya; Namun, beberapa ulama lain tidak setuju dengan ini karena ketidakkonsistenan dalam narasi tentang masa mudanya. Meskipun demikian, secara keilmuan hadis, narasi awal merupakan posisi yang lebih kuat.
Nabi Muhammad dua kali bermimpi bahwa ia melihat Aisyah di mimpinya, dibawakan oleh Malaikat untuk menjadi istrinya. Menganggap itu adalah ketentuan dari Allah yang harus dijalankan, ia pun meminta kepada ayahnya Aisyah, yaitu Abu Bakar, untuk memberikan putrinya untuk dijadikan istri. Awalnya, Abu Bakar ragu untuk menikahkan putrinya kepada Muhammad, karena ia menganggap Muhammad dan dirinya adalah bersaudara. Namun setelah diyakinkan bahwa dirinya dan Muhammad hanya saudara dalam agama, dan Aisyah adalah halal untuk Muhammad nikahi, rasa ragu di dalam hati Abu Bakar pun terangkat. Pertunangan Aisyah dengan Jubair ibnu Mut'im pun kemudian dibatalkan.
William Montgomery Watt, seorang orientalis Barat, berpendapat bahwa Muhammad berharap untuk memperkuat hubungannya dengan Abu Bakar; penguatan ikatan umumnya berfungsi sebagai dasar pernikahan dalam budaya Arab.
Biografi Ibnu Sa'ad menyatakan usia Aisyah pada saat menikah antara enam dan tujuh tahun, dan dikawinkan saat berusia sembilan tahun. Sementara itu, biografi Ibnu Hisyam tentang Muhammad menunjukkan bahwa Aisyah mungkin berusia sepuluh tahun saat dikawinkan. Al-Tabari mencatat Aisyah tinggal bersama orang tuanya setelah pernikahan dan dikawinkan pada usia sembilan tahun karena dia masih muda dan belum matang secara fisik pada saat menikah; Namun, di tempat lain, Tabari tampaknya menganggap bahwa Aisyah lahir di tahun Jahiliyyah (sebelum 610M), yang berarti usia sekitar dua belas tahun atau lebih saat menikah.
Semua hadis yang ada sepakat bahwa Aisyah menikah dengan Muhammad di Mekkah, tetapi pernikahan tersebut baru disempurnakan pada bulan Syawal setelah hijrah Muhammad ke Madinah (April 623M).Beberapa sumber klasik menunjukkan bahwa Aisyah mengatakan bahwasanya pernikahan tersebut dilaksanakan di Madinah sendiri tanpa ada penundaan.
Dalam tradisi literatur Islam, usia muda pernikahannya tidak memantik wacana yang signifikan; Meskipun demikian, dua orang Peneliti Muslim yaitu Spellberg dan Ali (peneliti Islam asal Amerika Serikat) meneliti tentang alasan penulis biografi Muslim awal menyebut usianya secara eksplisit, karena itu bukan pendekatan yang biasa. Kemudian, mereka berhipotesis bahwa umur aisyah mungkin disebut sebagai konotasi terhadap kemurniannya.[catatan 2] Usianya juga tidak menarik minat para ulama khalaf, dan tidak dikomentari bahkan oleh para polemik agama abad pertengahan dan modern-awal.
Kritik terhadap usia Aisyah, yang merupakan usia umum untuk pernikahan di Arab pada abad keenam,[26] telah mendorong banyak cendekiawan Muslim modern untuk meng-kontekstual-isasikan usia Aisyah yang diterima secara tradisional dengan menekankan relativisme budaya, anakronisme, dimensi politik dari pernikahan, perbedaan laju pertumbuhan fisik antar zaman, dan lain-lainnya.
Kehidupan Pribadi, Hubungan dengan Nabi Muhammad Saw
Dalam sebagian besar tradisi Timur Tengah Arab Muslim, Khadijah binti Khuwailid digambarkan sebagai istri Nabi Besar Muhammad Saw yang paling dicintai dan difavoritkan; tradisi Sunni menempatkan Aisyah sebagai istri kedua setelah Khadijah. Ada beberapa hadis, atau cerita atau ucapan Muhammad, yang mendukung posisi ini. Salah satunya menceritakan bahwa ketika seorang sahabat bertanya kepada Muhammad, "siapa orang yang paling kamu cintai di dunia ini?" dia menjawab, "Aisyah."Cerita lain mengatakan bahwa Muhammad membangun rumah Aisyah sedemikian rupa sehingga pintunya terbuka langsung ke masjid, dan disebutkan bahwa ayat-ayat Qur'an tidak datang kepada Muhammad di tempat tidur manapun selain miliknya Aisyah.
Berbagai tradisi mengungkapkan kasih sayang timbal balik antara Muhammad dan Aisyah. Muhammad sering kali hanya duduk dan menonton Aisyah dan teman-temannya bermain dengan boneka, dan kadang-kadang, dia bahkan bergabung dengan mereka. Selain itu, Muhammad dan Aisyah memiliki hubungan intelektual yang kuat. Muhammad menghargai daya ingat dan kecerdasannya yang tajam sehingga dia memerintahkan para sahabatnya untuk meniru beberapa praktik keagamaan dari Aisyah.
Perlakuan spesial di antara istri-istri Nabi Muhammad Saw
Para istri Rasul terbagi menjadi dua kubu. Yang satu terdiri dari Aisyah, Hafshah, Shafiyah dan Saudah; sedangkan kubu satunya lagi terdiri dari Ummu Salamah dan istri-istri beliau yang lain. Umat muslim pada saat itu sadar kalau Aisyah adalah istri favorit Nabi, maka bila mereka ingin memberikan hadiah kepada Nabi, mereka menunggu hingga Nabi mengunjungi rumah Aisyah untuk gilirannya. Kubunya Ummu Salamah mendiskusikan masalah ini bersama, dan berkeputusan bahwa Ummu Salamah mesti meminta kepada Muhammad supaya menyuruh umatnya untuk mengirim hadiah mereka ketika Muhammad juga berada di rumah istri-istrinya yang lain. Ketika saat gilirannya bersama Muhammad, Ummu Salamah pun membicarakan hal tersebut dengannya, tetapi Muhammad tidak memberikan jawaban.
Setelah gilirannya bersama Nabi usai, Ummu Salamah pun ditanyakan oleh istri-istri Nabi yang ada di kubunya, ia memberi tahu mereka bahwa Rasul tidak memberikan jawaban. Maka mereka memintanya untuk mencoba lagi. Pada hari gilirannya yang berikutnya, Ummu Salamah mencoba kembali membicarakan hal tersebut kepada Rasul, akan tetapi ia tetap tidak memberikan jawaban. Setelah gilirannya usai, istri-istri Rasul yang ada pada grupnya kembali bertanya ke Ummu Salamah, dia pun menceritakan kalau Rasul lagi-lagi tidak memberikan jawaban. Maka mereka berkata kepadanya, "Bicarakan dengan beliau sampai ia memberikanmu jawaban." Maka ketika waktu gilirannya, Ummu Salamah mencoba membicarakan hal tersebut lagi dengan Nabi, dan akhirnya beliau pun memberikan jawaban, ia berkata, "Jangan sakiti aku mengenai Aisyah, sebab firman-firman Allah tidak datang kepadaku di tempat tidur manapun selain tempat tidurnya Aisyah." Ummu Salamah pun berkata, "Aku memohon ampun kepada Allah karena telah menyakitimu."
Kubu Ummu Salamah lalu memanggil Fatimah, anaknya sang Muhammad. Mereka meminta agar Fatimah memohon kepada beliau supaya memperlakukan mereka setara dengan Aisyah binti Abu Bakar. Fatimah lalu pergi membicarakan hal tersebut ke Muhammad, dan ia menjawab, "Wahai putriku! Tidakkah kau mencintai apa yang aku cintai?" Fatimah pun menjawab iya. Dia lalu pergi melaporkan hal tersebut ke istri-istri Nabi dari kubu Ummu Salamah. Tidak puas, mereka meminta supaya Fatimah untuk kembali memohon hal tersebut kepadanya, tetapi Fatimah menolak. Mereka pun kemudian menyuruh Zainab binti Jahsy yang merupakan salah satu istri Nabi dan sepupunya, untuk pergi memohon kepada beliau. Ketika bertemu dengan Nabi, dengan menggunakan kata-kata yang kasar Zainab berkata, "Istri-istrimu meminta dirimu untuk memperlakukan mereka dan putrinya Ibnu Abu Quhafah (Aisyah) secara setara." Zainab menaikkan suaranya lalu mengumpati Aisyah di mukanya, yang saking kerasnya, Muhammad pun melihat ke hadapan Aisyah menunggu apakah dia akan membalasnya atau tidak. Maka Aisyah pun membalas Zainab sampai membuat Zainab terdiam. Yang mana ini membuat Nabi tersenyum dan berkata, "Dia memang benar-benar putri Abu Bakar."
Pada peristiwa terpisah, Nabi Muhammad pernah ingin menceraikan salah satu istrinya yaitu Saudah karena Saudah telah mulai tua. Saudah lalu memohon agar sang Nabi mempertahankannya dengan memberikan jatah gilirannyanya kepada Aisyah. Maka Nabi pun menerima usulan tersebut dan tetap mempertahankannya.
Tuduhan berzina (Peristiwa Ifk)
Aisyah pernah dituduh telah berzina dengan salah seorang pasukan Nabi yang mengantarnya pulang ketika dirinya tertinggal dari rombongan sang Rasul. Berzina bagi perempuan yang mempunyai suami adalah sebuah pelanggaran serius dalam Islam yang hukumannya adalah dirajam sampai mati.
Setiap kali Muhammad akan melakukan serangan ghazwah ke pemukiman atau kafilah dagang milik orang-orang kafir, ia biasa mengundi istri-istrinya untuk memilih salah satu dari mereka yang akan menemaninya. Aisyah menjadi orang yang beruntung pada saat itu. Ia pun dibawa di dalam sebuah rengga tertutup di atas seekor unta. Dalam perjalanan pulang seusai serangan, rombongan Nabi berhenti sejenak untuk istirahat, dan Aisyah pun turun untuk buang air. Sekembalinya dirinya ke rengga, ia menyadari bahwa kalungnya hilang, maka Aisyah kembali ke tempat ia buang air untuk mencarinya. Setelah berhasil menemukannya, rupanya rombongan Nabi telah pergi, mengira Aisyah berada dalam rengga-nya. Maka Aisyah pun menunggu di tempat itu berharap rombongan Nabi akan sadar bahwa dirinya tertinggal.
Menunggu lama, Aisyah mengantuk dan tertidur. Pada pagi harinya, Safwan bin Mu'attal, salah seorang pasukan Nabi yang tertinggal karena alasan tertentu, menemuinya dan mengantarnya pulang. Setibanya di Madinah, timbullah rumor (isu-isu) bahwa Aisyah telah berzina dengan Safwan. Hal ini diperburuk dengan fakta bahwa Aisyah terbaring sakit selama sebulan semenjak dirinya pulang, yang mengakibatkan rumor tersebut semakin besar dan tidak terkendali.
Selama sakitnya, Aisyah telah menduga ada yang aneh, sebab Nabi tidak lagi berlaku hangat kepadanya, dan cenderung menghindari berkomunikasi langsung dengannya. Ia pun mengetahui kalau ada tuduhan dirinya telah berzina setelah diceritakan oleh Umm Mistah. Aisyah pun merasa sedih dan meminta kepada sang Rasul supaya dirinya diizinkan untuk kembali ke rumah ibunya untuk menenangkan diri.
Setibanya di rumahnya, Aisyah menanyakan kepada ibunya tentang apa yang terjadi, dan ibunya berkata: "Wahai putriku! Jangan terlalu mencemaskan masalah ini. Demi Allah, tidak pernah ada wanita menawan yang dicintai suaminya yang memiliki istri-istri lain, selain di mana istri-istri yang lain dari suaminya itu akan membuat-buat berita bohong tentang dirinya." Aisyah pun pergi ke kamarnya dan menangis.
Di pagi harinya, Nabi Muhammad yang belum juga mendapatkan petunjuk dari Allah mengenai masalah ini, memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid, untuk menanyakan pendapat mereka. Usamah mengatakan, 'Wahai Rasulullah (ﷺ)! Tetap pertahankan istrimu, karena, demi Allah, kami tidak tahu apa-apa tentang dirinya kecuali kebaikan." Sedangkan Ali berkata, "Wahai Rasulullah (ﷺ)! Allah tidak membatasi dirimu, ada banyak perempuan selain dirinya, tetapi engkau dapat bertanya kepada si pelayan wanita yang akan mengatakan hal yang sebenarnya."
Muhammad pun memanggil Barirah, pelayannya Aisyah, menanyakannya apakah ada gerak-gerik Aisyah yang membangkitkan rasa kecurigaan dirinya. Yang mana Barirah berkata: "Tidak, demi Allah yang telah mengirimkanmu kebenaran, saya tidak pernah melihat sesuatu yang salah darinya kecuali diakibatkan dirinya yang masih kecil, ia terkadang tertidur dan meninggalkan adonan keluarganya dimakan kambing."
Maka setelah saat itu Nabi pun naik ke atas mimbar mengajak para pengikutnya untuk menghukum Abdullah bin Ubai bin Salul yang telah memfitnah keluarganya. Sa'ad bin Muadz pun berdiri dan berkata "Wahai Rasulullah (ﷺ)! Demi Allah, Aku akan membebaskanmu dari dirinya. Jika orang itu dari Bani Aus, aku akan penggal kepalanya, dan jika dia berasal dari saudara-saudara kami, Bani Khazraj, maka perintahkanlah kami, dan kami akan memenuhi perintah anda." Pimpinan Bani Khazraj, Sa'ad bin Ubadah pun berdiri dan berkata "Demi Allah! Kau telah berbohong, kau tidak boleh membunuhnya dan kau tidak akan bisa membunuhnya." Usaid bin Hudhair lalu ikut berdiri dan berkata (ke Sa'ad bin Ubadah), "Kau yang berbohong! Demi Allah kami akan membunuhnya, dan kau adalah seorang munafik, yang membela teman munafiknya." Cekcok pun semakin memanas antara Bani Aus dan Khazraj. Sebelum timbul konflik antara kedua belah pengikutnya tersebut, Nabi pun mendiamkan mereka.
Aisyah telah menangis tanpa henti dua malam satu hari. Saat itu ia ditemani orang tuanya dan seorang perempuan Anshar memasuki kamarnya dan ikut menagis dengannya. Tidak lama setelahnya, Muhammad pun datang mengunjunginya. Selama satu bulan lebih firman dari Allah tidak turun-turun kepada beliau mengenai kasus ini. Setelah duduk, Nabi mengucap Tasyahud dan berkata:
"Wahai Aisyah! Aku telah diinformasikan hal ini dan itu mengenai dirimu; dan jika kamu tidak bersalah, Allah akan menunjukkan ketidak bersalahanmu, sedangkan jika kamu telah melakukan dosa, maka mintalah ampunan kepada Allah, dan bertobat kepadanya, karena ketika seorang hamba mengakui dosanya dan bertobat kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya."
Ketika Muhammad selesai dengan perkataannya, Aisyah telah berhenti menangis. Ia pun meminta kepada orang tuanya untuk menyampaikan apa yang ingin ia katakan kepada Muhammad, tetapi mereka menolak dengan mengatakan, bahwa mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada sang Rasul.
Aisyah pun berbicara langsung kepada sang Rasul:
"Demi Allah, aku tahu kalau engkau telah mendengar cerita ini (mengenai Ifk) sampai-sampai hal itu tertanam di pikiranmu dan membuatmu memercayai hal itu. Jadi sekarang, kalaupun aku mengatakan bila aku tidak bersalah, dan Allah tahu aku tidak bersalah, engkau pasti tidak akan memercayaiku; dan bila aku mengatakan aku melakukan hal itu, dan Allah tahu kalau aku tidak melakukannya, engkau pasti akan memercayaiku. Demi Allah aku tidak mendapatkan perbandingan lain dari situasi diriku saat ini denganmu selain dengan situasi yang pernah dialami ayahnya Yusuf yang berkata: 'Maka (bagiku) kesabaran adalah yang paling cocok untuk menghadapi hal yang engkau nyatakan dan hanya Allah lah satu-satunya yang bisa dipinta pertolongan.'"
Aisyah lalu berbalik, dan berbaring di tempat tidurnya. Maka seketika itu wahyu datang kepada Nabi Muhammad, dan beliau berkata, "Aisyah, Allah telah menyatakan ketidak-bersalahanmu." Ibu Aisyah pun berkata kepada Aisyah, "Berdirilah dan hampiri beliau." Namun Aisyah berkata, "Demi Allah, aku tidak akan menghampiri dirinya dan aku tidak akan berterima kasih kepada siapapun selain kepada Allah." Muhammad lalu menyampaikan ayat-ayat yang telah diturunkan Allah kepadanya (QS. An-Nur 11-20). Adapun beberapa orang yang menyebarkan fitnah seperti Hassan bin Tsabit, Hamnah binti Jahsy (saudari Zainab binti Jahsy), dan Mistah bin Utsatsah dihukum cambuk 80 kali.
Menjelang wafatnya Baginda Nabi Muhammad Saw
Di saat hari-hari terakhir Muhammad di mana sakitnya semakin serius, beliau meminta supaya dirinya dirawat di rumahnya Aisyah. Beliau pun dipandu ke sana oleh Al Abbas dan Ali bin Abi Thalib, dengan kaki beliau terseret-seret di tanah.
Di dalam Shahih Bukhari, yang merupakan kitab koleksi hadits yang dianggap paling shahih dan salah satu dari shahihain, diriwayatkan bahwa Aisyah melaporkan:
هَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ ".
Sang Nabi (ﷺ) pada saat sakitnya yang berujung kematian sering berkata, "Wahai Aisyah! Aku masih merasakan sakit yang diakibatkan oleh makanan yang aku makan di Khaibar, dan pada saat ini, aku merasa pembuluh jantungku seperti sedang dipotong oleh racun itu."
Referensi :
- Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
- Artikel “Aisyah.” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Aisyah
04. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Hafshah (21 th) binti Umar ibn Khatthab mulai tahun (625–632 Masihi).
Ibunya bernama Zainab binti Madaun, mahar 400 koin emas, Sayyidah Hafshah seorang janda Khunais ibn Hudhafah al Sahmiy.
Hafsah
binti Umar (wafat 45 H) adalah salah satu istri Nabi Muhammad SAW (Ummul
Mukminin) dan putri dari Khalifah Umar bin Khattab. Dikenal sebagai sosok yang
cerdas, shalihah, dan ahli ibadah, beliau adalah wanita jarang yang pandai
membaca serta menulis. Ia dipercaya menyimpan mushaf asli Al-Qur'an pertama.
Profil
dan Kisah Hafsah binti Umar:
Putri
Umar: Hafsah adalah putri dari Umar bin Khattab dan Zainab binti Mazh'un.
Pernikahan:
Beliau dinikahi Nabi Muhammad SAW setelah suaminya sebelumnya, bernama Khunais bin Hudzafah, ikut perang
Badar dan gugur dalam perang tersebut.
Penjaga
Al-Qur'an: Hafsah dikenal sebagai sahabat perempuan yang mampu membaca dan menulis.
Mushaf Al-Qur'an yang dikumpulkan pada masa Abu Bakar disimpan olehnya,
sehingga ia dijuluki sebagai penjaga Al-Qur'an.
Ibadah:
Ia dikenal tekun berpuasa dan salat malam.
Karakter:
Dikenal tegas dan memiliki watak yang mirip dengan ayahnya, Umar bin Khattab.
Hafsah
binti Umar meninggal dunia pada tahun 45H dan dimakamkan di pemakaman Baqi'.
Hafshah
binti Umar (bahasa Arab: حفصة بنت عمر
) adalah salah seorang istri Nabi Muhammad. Ia berusia sekitar 19 tahun ketika
dinikahi sang Nabi Saw.
Nama
lengkap Hafshah adalah Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin
Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku
Arab Adawiyah. Ibunya adalah Zaynab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin
Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un.
Hafsah
binti Umar Sang Penjaga Kitab Allah
Hafsah
adalah salah satu putri dari sahabat Rasulullah, yakni khalifah Umar bin
Khattab. Dia juga merupakan salah satu ibu dari orang-orang yang beriman (Ummul
Mukminin) karena dia menikah dengan Nabi SAW. Dalam bahasa Arab, hafs adalah salah satu
nama yang diberikan
untuk singa. Rasulullah SAW sering
menyebut Umar
sebagai Abu Hafs (ayah dari Hafs,
yaitu Hafsah).
Sebelum
menikah dengan Nabi, Hafsah menikah dengan seorang pria bernama Khunais bin Hudhafah. Dia ikut perang
Badar dan kemudian jatuh sakit di Madinah dan wafat. Dia meninggalkan Hafsah
sebagai janda. Pada masa
itu, bukanlah sesuatu yang aib, atau dianggap rendah untuk menawarkan
putri atau adik/kakak perempuan untuk dinikahi kepada seorang pria yang diizinkan oleh walinya. Orang-orang
Arab suka menikahkan
putri mereka pada usia dini, dan jika mereka
menjadi janda, mereka akan segera menikahkannya kembali. Itulah sebabnya ketika Hafsah menjadi janda, Umar khawatir dan bingung. Suatu hari, dia pergi ke rumah Abu Bakar dan menawarkan putrinya untuk dinikahi Abu Bakar. Abu Bakar
tetap diam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Umar meninggalkan rumah Abu
Bakar dengan perasaan bingung.
Kemudian
dia pergi ke Utsman dan mengira bahwa karena putri Nabi, Ruqayyah, yang merupakan istri Utsman, telah meninggal, Utsman mungkin
akan merespons dengan baik. Namun, Utsman menjawab, “Aku tidak ingin menikah
hari ini.” Hal ini karena Utsman masih belum pulih dari kematian istri
tercintanya. Umar, jelas kesal, pergi dan itulah saat Rasul Allah melihatnya
dan bertanya mengapa dia terlihat begitu khawatir. Umar memberitahunya tentang
apa yang terjadi dan Nabi SAW berkata, “Hafsah akan menikahi seseorang yang lebih baik dari Utsman,
dan Utsman akan menikahi
seseorang yang lebih baik dari Hafsah.”
Umar
meninggalkan pertemuan dengan Nabi dalam hati yang lega, tetapi bingung tentang
apa yang dimaksud oleh Nabi. Ketika Umar bertemu dengan Abu Bakar, dia
menceritakan kepadanya tentang apa yang dikatakan oleh Nabi. Abu Bakar
tersenyum dan berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah SAW menyebutkan Hafsah.
Tapi aku tidak ingin membuka rahasianya. Jika beliau tidak menunjukkan minatnya
untuk menikahinya, aku akan menikahinya. Jadi jangan simpan dendam
terhadapku."
Utsman datang kepada Rasulullah SAW dengan
sikap sedih dan bingung atas kematian istrinya. Dia berkata kepada Nabi SAW,
“Hubungan pernikahanku denganmu telah berakhir dengan meninggalnya Ruqayyah, Wahai Rasul Allah!" Rasul yang
mulia merasa simpati kepadanya dan kemudian berkata, “Aku telah memberikanmu
saudaranya, Ummu Kultsum dalam pernikahan.
Jika aku memiliki sepuluh putri, aku akan memberikan mereka kepadamu untuk
dinikahi (satu per satu).”
Akhirnya
Rasulullah SAW menikahi Hafsah
dan Utsman menikahi
Ummu Kultsum. Hafsah sekarang
beruntung mendapatkan gelar bergengsi sebagai 'Ibu dari Orang yang Beriman'
(Ummul Mukminin). Hafsah adalah seorang yang tekun beribadah. Dia sangat taat,
berpuasa di siang hari, dan beribadah di malam hari. Dia paling dekat dengan
Aisyah di antara istri-istri Nabi. Bahkan, seolah-olah keduanya adalah saudara
kandung. Ini karena mereka selalu setuju dalam banyak hal dan tidak pernah
berselisih.
Namun,
kepribadian Hafsah memiliki sedikit nuansa sesuai dengan arti namanya, karena
dia memiliki kepribadian yang kuat dan tegas. Mungkin dia mengambil sifat ayahnya,
Umar al-Faruq. Karena itu, Rasulullah SAW pernah menceraikannya sekali dan
kemudian (merujuknya)
menerimanya kembali. Ibn Sa'd mencatat bahwa Rasulullah SAW menceraikan Hafsah
sekali dan kemudian menerimanya kembali karena Malaikat Jibril berkata
kepadanya, “Ambillah kembali Hafsah, karena dia sering berpuasa dan shalat di
malam hari, dan dia adalah istri-mu di surga.”
Humaid
bin Anas meriwayatkan bahwa, “Rasulullah SAW menceraikan Hafsah, dan kemudian
dia diperintahkan untuk menerimanya(merujuknya) kembali, dan
dia melakukannya.” Uqbah bin Amir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menceraikan
Hafsah, putri Umar. Ketika Umar mendengar hal ini, dia menyebarkan pasir di
atas kepalanya dan berkata, “Allah tidak akan lagi memperhatikan Umar dan
putrinya setelah dia diceraikan Rasulullah SAW.”
Maka
Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW keesokan harinya dan
memberitahunya, “Allah memerintahkanmu untuk menerima (merujuknya) kembali Hafsah sebagai cara untuk menunjukkan
belas kasihan kepada Umar (ayahnya)." Abu Salil, dalam versinya dari riwayat
tersebut, mengatakan, “Umar masuk ke tempat Hafsah sambil menangis dan bertanya
apakah Rasulullah SAW telah menceraikannya. Dia berkata padanya, “Dia
menceraikanmu sekali dan menerimamu (merujuknya) kembali hanya karena diriku. Jika dia menceraikanmu
lagi, aku tidak akan pernah berbicara padamu lagi." Setelah itu, Hafsah
berusaha keras untuk tidak mengganggu Rasulullah SAW lagi sampai beliau
meninggal.
Kita
perlu mencatat aspek-aspek kepribadian Hafsah yang menjadikannya menjadi
teladan yang hebat bagi umat Islam. Malaikat Jibril menggambarkan Hafsah kepada
Rasulullah SAW sebagai seseorang yang sering melaksanakan puasa sunnah dan
shalat malam, dan bahwa dia akan menjadi salah satu istri beliau di surga.
Berbeda dengan kebanyakan orang pada saat itu, baik pria maupun wanita, Hafsah
bisa membaca dan menulis, sebuah kualitas yang sangat langka di kalangan wanita
pada masa itu, bahkan di kalangan pria.
Selain
itu, di rumahnyalah lembaran-lembaran kurma, lempengan-lempengan batu, dan
bahan-bahan lain di mana Al-Qur`an disimpan. Dia diberi amanah untuk menjaga
hal paling mulia dan terbesar yang dapat dimiliki dunia ini, yaitu firman
Allah. Tugas ini diberikan padanya karena dia dianggap pantas dan dihormati
oleh para Sahabat. Dia diamanahi dengan tugas ini sejak zaman Nabi SAW hingga
zaman Utsman. Ketika Utsman memutuskan untuk menyusun Al-Qur`an menjadi satu
kitab, ayat-ayat yang diamanahi kepada Hafsah dianggap sebagai sumber utama
yang dapat diandalkan dalam menjalankan tugas besar dan besar ini.
Hafsah
dikenal sebagai penjaga Kitab Allah. Dia menyimpan Al-Qur`an di hatinya dan
juga di rumahnya. Setiap kali kita membuka salinan Al-Qur'an dan sebelum kita
mulai membacanya, seharusnya kita mengingat malaikat yang dipercayakan
menurunkan wahyu (Jibril), suara bergema yang dihasilkannya, dampak ayat-ayat
tersebut pada hati Rasulullah, dan penulis-penulis wahyu, seperti Ali, Zaid,
dan yang lainnya. Kita harus mengingat Abu Bakar dan Umar dalam penyusunan
Al-Qur`an, dan keteguhan hati, kepercayaan, dan rasa tanggung jawab Utsman. Di
antara semua nama ini, nama Hafsah, Ummul Mukminin, dan pemeliharaan Kitab
Allah ini tidak dapat dilupakan dan harus disebutkan.
Pada
awal tahun 44 H, Ummul Mukminin Hafsah meninggal dunia ini dan bergabung dengan
orang-orang yang paling dia cintai, suaminya dan Rasulullah SAW serta para
Sahabatnya
Referensi
:
Artikel “Hafsah binti Umar Sang Penjaga Kitab Allah”,
https://suaramuhammadiyah.id/read/hafsah-binti-umar-sang-penjaga-kitab-allah
Artikel “Hafshah binti Umar” Wikipedia bahasa Indonesia, Redaksi
30 Juli 2023. https://www.google.com/search?q=siti+hafsah&oq=siti+Haf&aqs=chrome.1.69i57j0i512l8j0i390i512i650.23189j0j15&sourceid=chrome&ie=UTF-8
Artikel “Hafshah binti Umar," Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
bebas
https://id.wikipedia.org/wiki/Hafshah_binti_Umar
05. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Siti Zainab binti Khuzaimah al Hilaliyah, mulai tahun (626–627 Masihi).
Sayyidah Zainab seorang janda dari Ubaidah bin Harits, suaminya yang kedua, tetapi dia terbunuh pada Perang Badar. Ia seorang puteri keluarga Bangsawan Bani Hilal, ia dijuluki “Ummul Masakin”. Dengan mahar 400 koin emas, namun setelah menikah dengan Nabi Saw 3 bulan kemudian Sayyidah Zainab wafat.
Zainab binti Khuzaimah (sekitar 28 S.H/596 M-2 H/ 626 Masehi) adalah istri Rasulullah Saw. yang dikenal dengan kebaikan, kedermawanan, dan sifat santunnya terhadap orang miskin. Dia adalah istri Rasulullah saw kedua yang Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah dari Bani Hilal. Ibunya bernama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah. Berdasarkan asal-usul keturunannya, dia termasuk keluarga yang dihormati dan disegani. Tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi ada riwayat yang rnenyebutkan bahwa dia lahir sebelum tahun ketiga belas kenabian. Sebelum memeluk Islam dia sudah dikenal dengan gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin) sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Thabaqat ibnu Saad bahwa Zainab binti Khuzaymah adalah Ummul Masakin. Gelar tersebut disandangnya sejak masa jahiliah.
Ath-Thabary, dalam kitab As-Samthus-Samin fi Manaqibi Ummahatil Mu’minin pun menerangkan bahwa Rasulullah saw. menikahinya pada bulan Ramadhan, 2 tahun setelah menikahi Hafshah dan sebelum dia menikah dengan Maimunah binti al-Harits (r.a), dan ketika itu dia sudah dikenal dengan sebutan Ummul-Masakin sejak zaman jahiliah. Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa Zainab binti Khuzaimah terkenal dengan sifat murah hatinya, kedermawanannya, dan sifat santunnya terhadap orang-orang miskin yang dia utamakan daripada kepada dirinya sendiri. Sifat tersebut sudah tertanam dalam dirinya sejak memeluk Islam walaupun pada saat itu dia belum mengetahui bahwa orang-orang yang baik, penyantun, dan penderma akan memperoleh pahala di sisi Allah.
Zainab binti Khuzaimah r.a. termasuk kelompok orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam adalah akal dan pikirannya yang baik, menolak syirik dan penyembahan berhala, dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahiliah. Para perawi berbeda pendapat tentang nama-nama suami pertama dan kedua sebelum dia menikah dengan Rasulullah. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami pertama Zainab adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib, yang kemudian menceraikannya. Dia menikah lagi dengan Ubaidah bin Harits, tetapi dia terbunuh pada Perang Badar atau Perang Uhud. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami keduanya adalah Abdullah bin Jahsy. Sebenarnya masih banyak perawi yang mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Akan tetapi, dari berbagai pendapat itu, pendapat yang paling kuat adalah riwayat yang mengatakan bahwa suami pertamanya adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib. Karena Zainab tidak dapat melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya ketika mereka hijrah ke Madinah.
Untuk memuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara laki-laki Thufail) menikahi Zainab. Sebagaimana kita ketahui, Ubaidah bin Harits adalah salah seorang prajurit penunggang kuda yang paling perkasa setelah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga ikut melawan orang-orang Quraisy dalam Perang Badar, dan akhirnya Ubaidah mati syahid dalam perang tersebut. Setelah Ubaidah wafat, tidak ada riwayat yang menjelaskan tentang kehidupannya hingga Rasulullah saw. Menikahi Zainab mantan istrinya. Rasulullah menikahi Zainab karena dia ingin melindungi dan meringankan beban kehidupan yang dialaminya. Hati dia menjadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, sementara sejak kecil dia sudah dikenal lemah lembut terhadap orang- orang miskin. Sebagai Rasul yang membawa rahmat bagi alam semesta, dia rela mendahulukan kepentingan kaum muslimin, termasuk kepentingan Zainab. Dia senantiasa memohon kepada Allah agar hidup miskin dan mati dalam keadaan miskin dan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama orang-orang miskin.
Meskipun Nabi saw. mengingkari beberapa nama atau julukan yang dikenal pada zaman jahiliah, tetapi beliau tidak mengingkari julukan “ummul masakin” yang disandang oleh Zainab binti Khuzaimah. Selain dikenal sebagai wanita yang belas kasih, Zainab juga dikenal sebagai istri Rasulullah saw. yang senang meringankan beban saudara-saudaranya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Atha bin Yasir yang mengisahkan, bahwa Zainab mempunyai seorang budak hitam dari Habasyah. Ia sangat menyayangi budak itu, hingga budak dari Habasyah itu tidak diperlakukan layaknya seorang budak, Zainab malah memperlakukan layaknya seorang kerabat dekat.
Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw. pernah menyatakan pujian kepada Ummul Mukminin Zainab binti Khuzaimah r.a. dengan sabdanya, Ia benar-benar menjadi ibunda bagi orang-orang miskin, karena selalu memberikan makan dan bersedekah kepada mereka.Tidak diketahui dengan pasti masuknya Zainab binti Khuzaimah kedalam rumah tangga Nabi saw, apakah sebelum Perang Uhud atau sesudahnya. Yang jelas, Rasulullah saw. menikahinya karena kasih sayang terhadap umatnya walaupun wajah Zainab tidak begitu cantik dan tidak seorang pun dari kalangan sahabat yang bersedia menikahinya. Tentang lamanya Zainab berada dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah pun banyak terdapat perbedaan. Salah satu pendapat mengatakan bahwa Zainab memasuki rumah tangga Rasulullah selama tiga bulan, dan pendapat lain delapan bulan. Akan tetapi, yang pasti, prosesnya sangat singkat karena Zainab meninggal semasa Rasulullah hidup. Di dalam kitab sirah pun tidak dijelaskan penyebab kematiannya. Zainab meninggal pada usia relatif muda, kurang dari 30 tahun, dan Rasulullah yang menshalatinya pada Rabiul Awal 4H. Untuk memuliakan dan mengagungkannya, Rasulullah mengurus mayat Zainab dengan tangan dia sendiri.
Referensi :
- Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
- Artikel “Zainab binti Khuzaimah." Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Zainab_binti_Khuzaimah
06. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umayyah) mulai tahun (627–632M)
Sayyidah Ummu Salamah seorang janda. (menikah dengan Nabi Saw tahun 625 M–632 M), Kelahiran: 596 M dan meninggal/wafat tahun 680 M, di Al Baqi Madinah,
Hindun binti Abi Umayyah
adalah istri dari Nabi Muhammad yang juga dikenal Ummu Salamah, dan termasuk
dari Ibu Para Mukminin. Nasab lengkapnya Hindun binti Abu Umayyah bin
al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah
al-Makhzumiyah. Dan pihak ibunya : Hindun binti 'Atikah bint 'Amer bin Rabi'ah dari
Bani Firas bin Ghanam.
Hindun binti Abi Umayyah
(bahasa Arab: هند بنت أبي أمية) (c. 596 - 680)
adalah istri dari Nabi Muhammad yang juga dikenal Ummu Salamah, dan termasuk
dari Ibu Para Mukminin. Nasab lengkapnya Hindun binti Abu Umayyah bin
al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah al-Makhzumiyah.
Ia anak paman/sepupu Khalid bin Walid dan anak paman Abu Jahal.
Ummu Salamah adalah anak dari
Abu Umayyah bin Mughirah dari Bani Makhzum
yang dipanggil Zad
ar-Rakib karena
kebaikannya kepada (setiap rombongan) kabilah yang lewat (di Kampungnya). Nama
aslinya adalah Hindun
dan ia termasuk dari orang yang diincar dan dianiaya
oleh kaum Quraisy ketika masuk Islam.
Ummu Salamah menjadi
sebab turunnya 2 ayat al-Quran yaitu surat an-Nisa ayat 32 dan surat Ali Imron
ayat 195. Ia juga menjadi terkenal kecerdasannya dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, di mana saat Nabi meminta sampai 3
kali agar sahabat berkurban memotong (hewan dan memotong) rambut tahallul
walaupun gagal Umroh saat itu, yang membuat para sahabat kecewa dan enggan ikut
bertahalul, Nabi lalu masuk kemahnya dan mendapat saran dari Ummu Salamah untuk
lakukan saja sebagai contoh teladan tanpa berbicara, dan setelah Nabi melakukan
tahalulnya, para
sahabat serentak mengikutinya.
Menjelang Fathu Mekah,
Abu Sofyan awalnya ditolak Nabi, namun setelah dibantu Ummu Salamah yang
berbicara pada Nabi agar memaafkan, maka Abu Sofyan pun bisa menjumpai Nabi
untuk berislam.
Masa Nabi Muhammad
Ummu Salamah dan
suaminya, Abd-Allah ibn Abd-al-Asad (saudara sesusuan Nabi) atau Abu Salamah,
termasuk dari Pemeluk Islam pertama atau As-Sabiqun al-Awwalun. Ummu Salamah
sempat ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bahkan menyaksikan saat Amru bin Ash
menghadap Raja Najasy Habasyah untuk mengizinkannya membawa pulang kaum
muslimin ke Mekah tetapi ditolak oleh Raja Najasy.
Saat hendak hijrah ke
Madinah mereka berdua ditahan kaumnya, namun suaminya dilepaskan pergi kecuali
Ummu Salamah tetap ditahan selama setahun oleh kaumnya. Ia kemudian sering
bersedih menunggu di pinggir kota Mekah hingga akhirnya kaumnya merelakan kepergiannya
ke Madinah bertemu kembali suaminya bersama anaknya.
Hindun termasuk golongan
Muhajirin pertama. Setelah kematian suaminya Abdullah ibn Abdul Asad (Abu
Salamah bin Abdul Asad al Makhzumi) di Perang Uhud. Ia termasuk wanita yang
cantik dan mulia nasabnya, serta termasuk ahli fikih wanita di masanya.
Suaminya syahid
(terbunuh) pada 8 Jumadil Akhir beberapa bulan setelah luka terkena serangan
yang ia terima ketika Perang Uhud kambuh. Suaminya mempersilahkan Ummu Salamah menikah lagi
dengan mendoakannya
agar mendapatkan pengganti
yang lebih baik. Ia memiliki empat orang anak dari Abdullah sebelum menikah
dengan Muhammad.
Salamah bin Abdullah
Umar bin Abdullah
Zainab binti Abdullah
Durrah binti Abdullah
Ummu Salamah termasuk
salah satu dari 14 wanita yang ikut perang Uhud sebagai asisten sahabat dan
pejuang Nabi. Wanita yang ikut membantu Nabi di perang Uhud ialah Aisyah binti
Abu Bakar, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, Asma binti Abu Bakar, Fathimah
az-Zahra binti Muhammad SAW, Nusaibah binti Ka'ab al-Anshariyyah, Khaulah binti
Azwar as-Sulaimiyah, Suhailah binti Milhan al-Anshariyyah, Atikah binti Abdul
Muthalib, Arwa binti Abdul Muthalib, Umamah binti Abdul Muthalib, Zainab binti
Muhammad saw, Ummu Hakim binti Abdul Muthalib dan Rumaisah binti Milhan an-Najjariyah.
Setelah kematian Abdullah bin Abdul Asad suaminya pada perang
Uhud, Ummu Salamah yang juga dikenal sebagai Ayyin al-Arab, ia tidak memiliki
saudara dan keluarga di Madinah kecuali anak-anaknya, tetapi ia ditolong oleh
Muhajirin dan Anshar. Setelah ia menyelesaikan masa 'Iddah-nya (Masa menunggu
bagi wanita yang baik dicerai atau meninggal, untuk kembali menikah) empat
bulan dan 10 hari, Lalu Abu Baka melamarnya, tetapi ditolak oleh Ummu Salamah.
Lalu 'Umar mencoba untuk melamarnya juga ditolak oleh Ummu Salamah. Kemudian Muhammad
Saw melamarnya juga, dan diterimanya. Ummu Salamah menikah dengan Muhammad
ketika berusia 29 tahun pada bulan Syawal tahun 4H.
Diceritakan pada Kitab
Siyar A'lam an-Nubala proses melamarnya Nabi :
“Wahai Rasulullah, Aku
seorang wanita yang pencemburu. Dan aku adalah wanita yang sudah berumur dan
memiliki anak-anak.” Nabi menanggapi, “Yang engkau sebut berupa kecemburuan,
Allah akan menghilangkannya. Tentang umurmu, aku pun lebih berumur dari engkau.
Dan tentang anak-anakmu, maka ia juga anak-anakku.”
Ummu Salamah menjawab,
“Aku terima lamaran Anda, ya Rasulullah.”
Ummu Salamah berkata,
"Aku haid saat tidur bersama Nabi dalam satu selimut. Aku lalu menyelinap
keluar, mengambil pakaian haid lalu aku kenakan. Beliau bertanya kepadaku, 'Kau
haid?' "Ya,' jawabku. Beliau lalu memanggilku dan memasukkanku bersama
beliau dalam satu selimut.' Zainab binti Abu Salamah berkata, 'Ia (Ummu
Salamah) bercerita kepadaku bahwa Nabi menciumnya saat beliau sedang berpuasa.
Masa Khulafaur Rasyidin
Di masa khalifah
Rasyidin, Ummu Salamah mendampingi anak dan cucunya. Putranya yang memiliki
kelebihan ilmu Fiqih ialah Umar bin Abi Salamah. Sedangkan putrinya yang ahli
fiqih ialah Zainab binti Abi Salamah. Dua Cucunya yang dikenal ahlul fiqh yaitu
Muhammad bin Umar bin Abu Salamah dan Abu Ubaidah bin Zainab binti Abu Salamah.
Ummu Salamah sebagai
wanita juga turut bersedih atas terbunuhnya Umar bin Khattab di tangan Abu
Lu'lu'ah. Utsman yang juga seorang yang dulu sempat dididik Ummu Salamah, wafat
di tangan Khulaimin bin Tsabbab, seorang pemberontak. Ia juga sedih kembali
saat masa Ali berkonflik dengan Mu'awiyah dan Aisyah. Ia sedih juga saat Ali
wafat ditangan Abdurrohman bin Muljam.
Masa Hasan, Mu'awiyah
dan Husain
Ketika mendengar
kejadian Karbala Ummu Salamah sempat bersedih dan menjerit hingga pingsan. Ummu
Salamah bertanya kepada penduduk Kufah yang bersedih: "Untuk apa kalian
sedih? Ini adalah akibat perbuatan kalian yang tidak bertanggung jawab kepada
Ahlulbait Rasul ! Semoga Allah melaknat pemimpin kalian!". Hal ini
disebabkan Husein ke Kufah karena undangan penduduk Kufah, tetapi saat sudah
dekat, penduduk Kufah tidak menolong Husein.
Saat di Kufah, Zainab
binti Ali tegar membela keluarga Nabi saat di hadapan gubernur yang lalim dan
tidak bertanggung jawab, Ubaidillah bin Ziyad. Rombongan ini kemudian dipenjara
selama 2 hari dan dibebaskan. Yazid menawarkan mereka tinggal di Mekah dan
Madinah atau di Kufah. Mereka memilih tinggal di Madinah.
Referensi :
1. Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
2. Artikel “Ummu Salamah” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Ummu_Salamah.
.
07. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (… th) dengan Sayyidah Zainab binti Jahsy (wanita cantik-bernasab mulia).
Sayyidah Zainab binti Jahsy wanita cantik seorang janda. Ia wafat diusia 53 tahun dan di makamkan di kota Madinah.
Nama dan Nasab Zainab
Dia adalah Ummul Mu’minin Zainab bintu Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabirah bin Murrah Al-Asadiyyah. Ibunya adalah Umaimah bintu Abdul Muthallib bin Hasyim bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ayahnya
Sifat-sifatnya
Dia adalah seorang wanita yang cantik parasnya, merupakan penghulu para wanita dalam hal agamanya, wara’nya, kezuhudannya, kedermawanannya, dan kebaikannya
Diantara istri-istri Rasulullah, semuanya dinikahkan oleh ayahnya, saudaranya, atau keluarganya kecuali Zainab binti Jahsy. Zainab binti Jahsy dinikahkan langsung oleh Allah dari atas langit ketujuh.
Sebenarnya, Allah telah memberitahukan kepada Rasulullah bahwa Zainab binti Jahsy akan menjadi salah satu dari istrinya. Namun, Rasulullah terlalu malu untuk mengungkapkannya kepada Zaid. Rasulullah pun khawatir akan cibiran orang-orang apabila menikahi mantan isteri anak angkatnya sendiri.
Menurut adat budaya bangsa Arab Jahiliyah yang mendarah daging saat itu, anak angkat dianggap mulia dan ayah angkat tidak boleh mengawininya walaupun dicerai suaminya dan ia sama kedudukannya dengan anak sendiri, ia dapat bagian waris yang sama dengan anak kandung.
Ketika Nabi Saw menikahi Zainab binti Jahsy maka orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!,
Kala itu, rumah tangga Zaid dan Zainab seringkali menemui perselisihan. Rasulullah pun memerintahkan Zaid agar mempertahankan Zainab dan bertakwa kepada Allah.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa berkenaan ayat dalam surat Al-Ahzab ayat 37, “Sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang dinyatakan oleh Allah.” Andai Rasulullah menyembunyika sesuatu, tentu (ayat) inilah yang disembunyikan.
Ketika masa iddah Zainab berakhir setelah bercerai dari Zaid. Rasulullah memerintahkan Zaid (mantan suaminya) untuk meminangkan Zainab untuknya. Zaid pun datang meminang Zainab untuk Nabi Saw. Zainab berkata bahwa ia tidak akan melakukan apa pun sebelum meminta izin kepada Allah. Zainab pun pergi ke tempat shalatnya, lalu ayat Al Quran turun. Rasulullah pun datang kemudian masuk menemui Zainab tanpa izin karena Allah telah menikahkan keduanya dari atas langit.
Dalam Al-Hilyah Abu Nu’aim meriwayatkan dari Zainab bahwa ketika masa iddahnya selesai, tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam rumah Zainab kecuali Rasulullah. Ketika itu rambutnya terbuka (belum turun perintah berhijab bagi para wanita) dan ia mengetahui bahwa hal tersebut merupakan perintah Allah. Ia pun bertanya, “Wahai Rasulullah, tanpa ada pinangan dan saksi kah?” Rasulullah menjawab, “Allah yang menikahkanku (denganmu) dan Jibril yang menjadi saksi.”
Selain itu, keistimewaan lain juga hadir di tengan pernikahan Rasulullah dan Zainab binti Jahsy. Diantaranya adalah turunnya ayat berkenaan dengan hijab serta walimah yang mewah hingga orang-orang kenyang dengan roti dan daging. Mengetahui Zainab menikah dengan Rasulullah, Ummu Sulaim, Ibu Zainab, memasakkan hais dan memerintahkan Anas bin Malik untuk mengantarkannya kepada Rasulullah. Rasulullah pun memerintahkan Anas untuk mengundang beberapa orang yang disebutkan Rasulullah dan orang-orang yang ia temui. Jumlah mereka yang hadir kurang lebih tiga ratus orang.
Tamu-tamu yang diundang Rasulullah masuk secara bergantian, setelah selesai makan mereka berpamitan pulang namun ada beberapa yang tetap tinggal dan mengobrol di sana. Rasulullah dan Zainab pun masuk ke dalam rumah kemudian keluar lagi, namun orang-orang tersebut masih betah di tempatnya. Hingga kali ketiga, orang-orang tersebut merasa tidak enak dan berpamitan pulang. Kemudian turunlah ayat mengenai hijab dalam surat Al-Ahzab ayat 53.
Zainab binti Jahsy menempati posisi agung di hati Rasulullah karena sifat-sifat mulia yang Allah karuniakan kepadanya. Zainab pun mempelajari banyak akhlak Rasulullah, terutama sikap zuhud dan wara’. Seringkali Zainab membanggakan diri di hadapan istri-istri Nabi. Ia berkata, “Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian, namun Allah menikahkanku dari langit.”
Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab telah menikah dengan Zaid bin Haritsah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kemudian dijadikan anak angkat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah yang diceritakan Allah dalam firman-Nya,
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَااللهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37)
Maka Allah nikahkan Zainab dengan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nash Kitab-Nya tanpa wali dan tanpa saksi. Dan Zainab bisa membanggakan hal itu di hadapan Ummahatul Mukminin (istr-istri Nabi) yang lain, dengan mengatakan, “Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian, sementara aku dinikahkan oleh Allah dari atas ‘Arsy-Nya.” (Diriwayatkan oleh Zubair bin Bakar dalam Al-Muntakhob min Kitab Azwajin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1:48 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra, 8:104-105 dengan sanad yang shahih).
Di saat pernikahan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi keajaiban yang merupakan mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Zainab, ibuku berkata kepadaku, ‘Wahai Anas sesungguhnya hari ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi pengantin dalam keadaan tidak punya hidangan siang, maka ambilkan wadah itu kepadaku!’ Maka aku berikan kepadanya wadah dengan satu mud kurma, kemudian dia membuat hais dalam wadah itu, (hais adalah resep tradisional muslim di Arab Bagdad, Hais disajikan sebagai makanan penutup atau makanan pembuka) kemudian ibuku berkata, ‘Wahai Anas berikan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istrinya!’ Kemudian datanglah aku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa hais tersebut dalam sebuah bejana kecil yang terbuat dari batu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Anas letakkan dia di sisi rumah dan undanglah Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan beberapa orang lain!’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, ‘Undang juga penghuni masjid dan siapa saja yang engkau temui di jalan!’ Aku berkata, ‘Aku merasa heran dengan banyaknya orang yang diundang padahal makanan yang ada sedikit sekali, tetapi aku tidak suka membantah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku undanglah orang-orang itu sampai penuhlah rumah dan kamar dengan para undangan.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku seraya berkata, ‘Wahai Anas apakah engkau melihat orang yang melihat kita?’ Aku berkata, ‘Tidak wahai Nabiyullah’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bawa kemari bejana itu!’ Aku ambil bejana yang berisi hais itu dan aku letakkan di depannya. Kemudian Rasulullah membenamkan ketiga jarinya ke dalam bejana dan jadilah kurma dalam bejana itu menjadi banyak sampai makanlah semua undangan dan keluar dari rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kenyang.” (Diriwayatkan oleh Firyabi dalam Dalail Nubuwwah, 1:40-41 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra 8:104-105).
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!, maka turunlah ayat Allah,
مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Dan Allah berfirman,
ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5)
Maka sejak saat itu Zaid dipanggil dengan Zaid bin Haritsah yang dia sebelumnya biasa dipanggil dengna Zaid bin Muhammad (Al-Isti’ab, 4:1849-1850)
Referensi :
1. Artikel “Zainab binti Jahsy, Allah yang Menikahkan Jibril Menjadi Saksi.” https://suaramuslim.net/zainab-binti-jahsy-allah-yang-menikahkan-jibril-menjadi-saksi/
2. Artikel ”Zainab, Wanita yang Dinikahkan Langsung oleh Allah.” https://kisahmuslim.com/2360-zainab-wanita-yang-dinikahkan-langsung-oleh-allah.html
.
08. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (…th) dengan Sayyidah Mariatul Qibtiyah (18 th) binti Syama’un dan Ibunya seorang berkebangsaan Romawi.
Nama dalam bahasa asli: (مارية القبطية)
Hingga pada suatu ketika, Rasulullah SAW mengirim surat kepada Raja Muqauqis melalui Hatib bin Balta'ah yang isi suratnya menyeru kepada Raja Muqauqis agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima utusan Rasulullah SAW dengan hangat, namun dengan halus ia menolak ajakan Rasulullah SAW untuk memeluk Islam.
Sebagai tanda persahabatan ia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Mabura, serta hadiah-hadiah lain hasil kerajinan Kerajaan Mesir kepada Rasulullah SAW. Ternyata hal tersebut membuat Mariyah sedih karena harus meninggalkan kampung halamannya menuju Madinah.
Mariyah binti Syam'un atau Mariyah orang Koptik, dan saudara kandung Sirin binti Syam'un, kelahiran Mesir, keduanya adalah budak Kristen Koptik yang dikirimkan oleh Muqawqis, penguasa Mesir bawahan Kerajaan Bizantium, sebagai hadiah kepada raja Arab, yakni Nabi Muhammad Saw pada tahun 628M.
Mengenai kecantikan, dalam beberapa buku disebutkan bahwa Mariyah memiliki kulit putih dan berparas cantik. Mariyah ibtiyah seorang hamba sahaya Mesir yang sengsara, rambutnya kriting kecoklatan yang indah, dimasa itu menjadi perempuan cantik adalah dianggaf kutukan dan beban orang tuanya, Mariatul Qibtiyah, ia yang dimerdekakan Nabi Saw. Pernikahan Nabi Saw dengan Mariatul Qibtiyah dikaruniai 1 orang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim, ia wafat saat kecil (usia 18 bulan).
Di samping itu, Mariyah memiliki kepribadian yang menawan dan memiliki kesetiaan luar biasa kepada Rasulullah SAW.
Mariyah juga dikenal sebagai seorang yang suka mengalah. Meskipun sering dicibir, hal itu tidak membuat Mariyah lantas marah
Ayahnya berasal dari suku Qibti, oleh karena itu ia dikenal dengan Mariyah al-Qibtiyah. Ketika remaja ia dipekerjakan kepada penguasa Mesir bernama Raja Muqauqis. Ia bekerja di sana bersama saudara perempuannya Sirin.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah hidup menyendiri dan mengabdikan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah SAW. Sayyidah Mariyah wafat 5 tahun setelah sepeninggalan Rasulullah SAW pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Ia meninggal: 16 Februari 637 M, di Madinah, Arab Saudi
Sayyidah Mariyah dikebumikan di Baqi' bersama Ummul Mukminin lainnya. Tempat pemakaman: Jannatul Baqi, Ia merupakan salah seorang perempuan teladan sepanjang masa.
Referensi :
1. Artikel “Mariatul Qibtiyah/ Mariyah binti Syam'un” https://www.google.com/search?gs_ssp=eJzj4tTP1TcwMc5JyTZg9BLMTSzKTCwpzVEozEwqyaxMzAAAjXAKFw&q=mariatul+qibtiyah&oq=mariatul&aqs=chrome.2.69i57j0i51
2. Artikel detikhikmah, "Mariyah al-Qibtiyah, Istri Nabi Muhammad SAW dari Kalangan Budak" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/muslimah/d-7140774/mariyah-al-qibtiyah-istri-nabi-muhammad-saw-dari-kalangan-budak.
09. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (58 th) dengan Sayyidah Ummu Habibah (Ramlah 39 th) binti Sufyan ibn Harb.
Pasangan : Muhammad Saw dengan Ummu Habibah hidup antara tahun (m. 628 M–632 M). Ibunya bernama Shafiyah binti Abil Ash. mahar 400 koin emas, Ia seorang janda dari Ubaidillah bin Jahsy dan keduanya punya anak perempuan bernama “Habibah”. Pada mulanya mereka berhijerah ke negeri Habsyah, di negeri itu suaminya Ubaidillah bin Jahsy murtad, pindah keyakinan mengikuti agama Nasrani.
Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan al-Umawiyyah al-Qurasyiyah al-Kinaniyyah atau lebih dikenal dengan Ummu Habibah, Ramlah binti Abu Sufyan atau Ramlah binti Abi Sufyan adalah istri dari Nabi Muhammad, sehingga termasuk dari Ibu Para Mukminin. Ia sekaligus sepupu Muhammad.
Kelahiran : 589 M, Mekkah, Saudara kandung: Yazid bin Abi Sufyan, Muawiyah bin Abu Sufyan, Utbah bin Abu Sufyan, Ummul Hakam binti Abu Sufyan. Orang tuanya bernama Abu Sufyan, dan ibunya bernama Shafiyyah binti Abi al-Ash
Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan al-Umawiyyah al-Qurasyiyah al-Kinaniyyah (bahasa Arab: أم حبيبة رملة بنت أبي سفيان الأموية القرشية الكنانية) atau lebih dikenal dengan Ummu Habibah, Ramlah binti Abu Sufyan atau Ramlah binti Abi Sufyan (lahir pada tahun 35 Sebelum H/589M, wafat di Madinah pada tahun 44 H/664M) versi lain menyebutkan meninggal tahun 666M. Ia adalah istri dari Nabi Muhammad, sehingga termasuk dari Ibu Para Mukminin. Ia sekaligus sepupu Muhammad.
Ayahnya: Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar (Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
Ibunya: Safiyyah binti Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar (Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. Safiyyah adalah bibi dari Khalifah Utsman bin Affan.
Bibinya: Ummu Jamil, yang disebutkan di al-Qur'an sebagai perempuan pembawa kayu bakar
Saudaranya: Mu'awiyah bin Abu Sufyan, Yazid bin Abi Sufyan.
Kehidupan & Pernikahan
Ramlah adalah anak dari Abu Sufyan, yang merupakan salah seorang pemimpin dan pedagang dari suku Quraisy. Abu Sufyan kerap kali memimpin kafilah-kafilah dagang besar dari Mekah menuju Syam dan daerah lainnya. Berbeda dengan ayahnya, Ramlah telah menemukan hidayah dari islam sejak awal kerasulan. Pada tahun 615 M, ia bersama suaminya, Ubaidillah bin Jahsy berhijrah dengan beberapa umat muslim lainnya ke sebuah kerajaan kristen di Habasyah (Ethiopia) di gelombang kedua. Ia lalu memimpikan hal yang buruk (bermimpi) tentang suaminya. Suaminya kemudian masuk kristen lalu mereka bercerai dan meninggal ketika di sana.
Setelah masa iddah-nya usai, Ramlah yang saat itu masih di Habasyah menerima surat lamaran dari Rasulullah yang dikirim melalui utusan Amru bin Umayyah. Begitu gembiranya, dia memberikan hadiah perhiasannya berupa gelang dan cincin perak miliknya kepada Abrahah, budak yang memberinya kabar gembira lamaran Muhammad kepadanya.
Raja Najasyi yang beragama kristen pun turut memberikannya selamat dan hadiah berupa uang 400 dinar (koin emas, sekitar 1,2 miliar rupiah) serta parfum-parfum terbaik pada 7 Hijriah di hadapan publik bersama wakilnya (sepupunya) Khalid bin Said bin al-Ash. Pernikahannya diikuti turunnya Quran surat al-Mumtahanah ayat 7.
Sepulangnya ke Hijaz dan pasca hijrah ke Madinah dengan diantar Syurahbil bin Hasanah, setiba di Madinah langsung diantar Bilal bin Rabah ke rumah Muhammad. Ketika tiba disana, Ummu Habibah berkata kepada budaknya,"Kalau suka, kamu cukup menyiapkan air minum, sedangkan aku menyapu." Kemudian Ummu Habibah mulai menyapu rumah tersebut, lalu menggelar alas rumah. Tak lupa Ummu Habibah mengenakan wewangian pemberian isteri-isteri Raja Najasyi yang sangat harum. Tampak bahwa ia terampil mengatur urusan rumah tangga dan pandai berpenampilan menarik di hadapan suaminya. Maka ketika Muhammad datang dan mencium aroma yang sangat wangi, dia berkata, "Sungguh dia memang wanita asli Quraisy, wanita kota, bukan penduduk badui."
Ramlah yang berusia 30 tahun, menceritakan apa-apa saja yang dialaminya di Habasyah ke Rasulullah, termasuk bagaimana ia mengagumi keindahan gereja-gereja yang dihiasi dengan gambar-gambar di sana. Rasulullah pun mengangkat kepala beliau dan bersabda, "Mereka adalah orang-orang, yang ketika seorang yang alim di antara mereka meninggal, mereka mendirikan tempat peribadatan di makamnya dan mereka membuat gambar-gambar di dalamnya. Mereka adalah makhluk-makhluk terburuk di mata Allah.
Ketika Muhammad merencanakan Pembukaan kota Makah, Abu Sufyan segera ke Madinah untuk melobi Muhammad dengan terlebih dulu singgah ke rumah putrinya Ummu Habibah.
Ummu Habibah meriwayatkan hadis solat malam 12 rakaat dan sejak itu ia tidak pernah meninggalkan ibadah tersebut.
Kematian
Ia wafat di Madinah pada tahun 44H/664M) versi lain menyebutkan meninggal tahun 666M, pada masa kekhalifahan saudaranya, Muawiyah, (setahun sebelum wafatnya Muawiyah) dan dimakamkan di Jannatul Baqi.
Referensi :.
- Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
- Artikel “Ummu Habibah.” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Ummu_Habibah
A
10. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Juwairiyah (20 th) binti al-Harits ibn Abi al-Dhirar al-Huza’i, mulai tahun (628–632M).
Bangsa Arab dimasa itu perempuan
cantik / janda adalah beban dan kutukan, ia seorang wanita janda, puteri Kepala
Suku Bani Musthaliq yang kalah perang dengan Nabi, Sayyidah Juwairiyah yang
dinikahi Nabi Saw untuk memuliakan suku Bani Musthaliq dan menghapus rasa
permusuhan terhadap suku tersebut.
Juwairiyah binti al-Harits al-Mushthaliqiyyah al-Khuza'iyyah
(bahasa Arab: جويرية بنت الحارث المصطلقية الخزاعية)
atau lebih dikenal dengan Juwairiyah binti al-Harits (lahir pada tahun 15
Sebelum H/608, wafat di Madinah pada tahun 56 H/676) adalah istri dari Nabi
Muhammad, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin.
Ayahnya: adalah Pembesar
Bani al-Mushthaliq, namanya
al-Harits bin Dharar bin Habib bin 'A`idz bin Malik bin al-Mushthaliq bin Sa'id
bin 'Amru bin Rabi'ah bin Haritsah bin Khuza'ah. Harits bin Dharar, Ia seorang penyembah berhala yang belum
menrima islam.
Pada tahun ke-6 Hijriah, setelah pertempuran Khandaq, kaum Bani Mustahliq dengan pimpinan
Harits bin Dhirar hendak
menyerang kaum
Muslimin di Madinah,
maka Nabi Muhammad mempersiapkan pasukan dan lebih dulu menyerang Bani
Musthaliq.
Juwairiyah ditangkap
pada hari Al-Muraisi'
(Pertempuran Bani Al-Mustaliq) oleh Tsabit bin Qais, lalu ia menghadap pada Muhammad meminta
dibebaskan, lalu Muhammad memerdekakannya sekaligus melamarnya di usianya ke 20 tahun. Atas
pernikahannya, maka 100
tawanan ikut dibebaskan. Sebelumnya ia
menikah dengan sepupunya Musafa'
bin Safwan bin Abi
Al-Shafar, yang terbunuh dalam pertempuran ini sementara Harits melarikan diri.
Juwairiyah adalah seorang wanita cantik dan datang kepada Rasulullah meminta bantuannya untuk
membebaskannya. Sayyidah Aisyah menggambarkan penampakan Juwairiyah di hadapan
Rasulullah hari itu, dengan mengatakan:
Demi Allah, saat aku melihatnya di pintu kamar, aku merasa tidak
suka padanya. Aku tahu, Nabi akan memandang kecantikannya
seperti yang aku lihat. Aku tidak mengetahui wanita yang paling banyak
berkahnya pada kaumnya kecuali dirinya
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan 'Amru An
Naqid dan Ibnu Abu 'Umar -dan lafaz ini milik Ibnu Abu 'Umar- mereka berkata;
telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin ‘Abdurrahman -budak-
keluarga Thalhah dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas dari Juwairiyah bahwasanya Nabi ﷺ keluar dari rumah
Juwairiyah pada pagi hari usai salat subuh dan dia tetap di tempat salatnya.
Tak lama kemudian Rasulullah ﷺ
kembali setelah terbit fajar (pada waktu dhuha), sedangkan Juwairiyah masih
duduk di tempat salatnya. Setelah itu, Rasulullah menyapanya: Ya Juwairiyah,
kamu masih belum beranjak dari tempat salatmu Juwairiyah menjawab; Ya, Saya
masih di sini, di tempat semula ya Rasulullah. Kemudian Rasulullah ﷺ berkata: Setelah keluar
tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata -sebanyak tiga kali- yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang
kamu baca seharian tentu akan sebanding, yaitu Subhaanallahi Wabihamdihi 'Adada Khalqihi wa
Ridha Nafsihi wa Zinata 'Arsyihi wa Midada Kalimatihi yang artinya Maha Suci Allah dengan segala puji
bagi-Nya sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridlaan-Nya, menurut
arasy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu
Kuraib dan Ishaq dari Muhammad bin Bisyr dari Mis'ar dari Muhammad bin
'Abdurrahman dari Abu Risydin dari Ibnu 'Abbas dari Juwairiyah dia berkata;
bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ
melewatiku ketika dia usai salat shubuh. -lalu dia menyebutkan redaksi yang
serupa. Namun dia dengan menggunakan kalimat; Subhaanallah Wabihamdihi
Subhaanallah 'Adada Khalqihi Subhaanallah Ridha Nafsihi Subhaanallah Zinata
'Arsyihi Subhaanallah Midaada Kalimaatihi. Yang artinya: Maha suci Allah
sebanyak hitungan makhluk-Nya. Maha Suci Allah menurut keridhaan-Nya. Maha Suci
Allah menurut kebesaran arasy-Nya. Maha Suci Allah sebanyak paparan
kelimat-Nya.
Keilmuan
Juwairiyah menghafal beberapa hadis, termasuk dua hadis yang
terdapat di dalam Sahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, selain itu juga terdapat
di Sunan Abi Daud, Jami at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa'i dan Sunan Ibnu Majah. Ia
meriwayatkan hadis kepada Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ubaid bin as-Sabbaq, Mujahid.
Makam Juwairiyah di Baqi Madinah.
Ia hidup pada masa kekhalifahan Muawiyah, dan wafat di Madinah
pada bulan Rabi'ul Awwal 53H/676M di usianya ke 65 tahun, dan disalatkan oleh Marwan bin Hakam, Gubernur Madinah
dan dimakamkan di Jannatul Baqi.
Referensi :
Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
Artikel Juwairiyah binti al-Harits, Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Juwairiyah_binti_al-Harits.
11. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Shafiyah (17thn) binti Huyay ibn Akhtab, mulai tahun (628–632M).
Ibunya bernama Barah binti Samuel berasal dari kaum Yahudi Bani Quraisy. Ia seorang wanita muda dan cantik berasal dari keturunan mulia dari Suku Lewi keturunan Harun bin Imran dari kaum Yahudi. Ketika orang-orang Yahudi Bani Nadir di Madinah yang berkhianat dengan Nabi, kaum Muslimin mengepung benteng kaum Yahudi hingga takluk, Ia seorang wanita janda cerai dari Salam bin Miskam al-Quraisy. Kemudian ia menikah lagi dengan Kinanah bin Abi al-Huqaik salah seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir yang diusir Nabi saw. Kinanah (suaminya) terbunuh pada saat perang Khaibar bln Muharram tahun 7 Hijeriah. Sebelun dinikahi Nabi Saw, Shafiyah bernama “Habibah binti Huyay ibn Akhtab” kemudian nama Habibahnya diganti oleh Nabi Saw dengan nama Shafiyah berarti “kawan yang tulus’. Sayyidah Shafiyah yang dinikahi Nabi Saw, dengan mahar kemerdekan dirinya sendiri dan untuk memuliakan suku tersebut dan menghapus rasa dendam terhadap suku Yahudi Bani Nadhir. Dimasa itu perempuan cantik dan janda yang belum ada pasangannya adalah dianggaf beban dan kutukan bagi kedua orang tuanya. .
Datar bacaan :
1. Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
2. Artikel
Youtube Kisah Malam Pertama Shafiyyah Binty Huyay Istri Nabi Keturunan Yahudi.
https://www.youtube.com/watch?v=16mFCaAUpYI
12. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Maimunah binti Harits, mulai tahun (629–632M)
Sayyidah Maimunah (ia lahir 6th sebeelum masa kenabian). Ia seorang wanita janda cerai dari Mas’ud bin Amru, ia menikah lagi dengan Abu Roham bin Abdul al-Uzza dan suaminya meninggal dunia.
Biografi
Nama dalam bahasa asli (ar) مَيْمُونَة بِنْت ٱلَحَارِث ٱلْهِلَالِيَّة
Kelahiran tahun 592M di Makkah (Usia 79/80 tahun) dan Wafat Januari 672 Masehi, Tempat pemakaman Makkah. Ibunya brnama Hindun binti 'Auf
Saudara Salma binti Umais, Asma' binti Umais, Lubabah binti al-Harits, Zainab binti Khuzaimah dan Lubabah as-Sughra
Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah al-'Amiriyyah (bahasa Arab: ميمونة بنت الحارث الهلالية العامرية) (lahir pada tahun 594, wafat pada tahun 51 H/673M) adalah istri terakhir dari Nabi Muhammad, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin.
Kehidupan & Pernikahannya
Maimunah memiliki nama asli Barrah, namun Nabi Muhammad mengubahnya menjadi Maimunah yang berarti "berita baik". Maimunah berasal dari klan borjuis Banu Hilal. Ayahnya bernama Harits bin Hazm, ibunya bernama Hindun binti Auf. Saudara perempuannya, Lubabah atau Ummu al-Fadhal yang kedua masuk Islam setelah Khadijah, menikah dengan Abbas bin Abdul-Mutthalib yang merupakan salah satu orang terkaya dari Bani Hasyim, yang mana kemudian Abbas menjadi wali-nya Maimunah. Maimunah dinikahi oleh Rasulullah ketika beliau sedang melaksanakan umrah, tetapi baru digauli setelah beliau selesai menjalankannya.
Saudara perempuan seibunya Zainab binti Khuzaimah (istri Muhammad Saw), Asma' binti Umais (istri Jafar bin Abu Thalib) dan Salma binti Umais (istri Hamzah bin Abdul Mutholib). Adapun saudara laki-laki seibunya adalah Khalid bin Walid.
Awalnya Barrah, ia menikah dengan Mas'ud bin Amr Suatu hari ia mendengar cerita kemenangan muslim dari pertempuran Khaibar, ia pun ikut begembira, sementara Mas'ud suaminya bersedih, lalu mereka bertengkar dan suaminya menceraikannya. Kemudian ia menikah lagi dengan Abu Roham bin Abdul al-Uzza dan suaminyapun meninggal dunia. Barrah pun tinggal di rumah Ummu al-Fadhal, kakaknya. lalu ia belajar dan mengenal Islam di rumah Ummu al-Fadhal.
Setelah perjanjian Hudaibiyah pada 6H, setahun kemudian Muhammad beserta sahabat umrah ke Mekah, lalu Abbas walinya melamarkan Maimunah kepada Muhammad dengan mahar 400 dirham emas (sekitar 16 juta rupiah), lalu diadakan pernikahan di Lembah Saraf / Sarif, 30 km di utara kota Mekah. Awalnya Muhammad menawarkan acara pernikahan di Mekah dengan memberi jamuan kepada penduduk Mekah, tetapi mereka (Quraisy Mekah) menolak.
Maimunah dikenal sebagai perempuan yang baik hati. Ia pernah memiliki seorang budak perempuan yang kemudian ia bebaskan tanpa izin sang Nabi. Di saat waktu gilirannya bersama Nabi, ia pun menceritakan apa yang telah dilakukannya. Nabi pun berkata kepada Maimunah, bahwa ketimbang membebaskannya, Maimunah akan mendapatkan pahala yang lebih besar bilamana ia memberikan budak itu kepada salah satu paman dari pihak ibunya.
Muhammad memasuki rumah Maimunah binti Al Haris, ternyata di dalamnya ada beberapa biawak dengan telurnya. Ia saat itu bersama Abdullah bin Abbas dan Khalid bin Walid. Ia bertanya: "Dari mana ini?" Maimunah menjawab, "Saudariku, Hudzailah binti Al Harits menghadiahkannya kepadaku." Ia berkata kepada Abdullah bin Abbas dan Khalid bin Walid: "Kalian berdua, makanlah." Mereka bertanya; "Kenapa anda tidak memakannya, Wahai Rasulullah?' Ia menjawab: "Sesungguhnya telah hadir hidangan dari Allah." Maimunah bertanya; "Apakah anda mau kami hidangkan susu?" Ia menjawab: "Ya." Dan ketika ia akan meminum susu tersebut ia bertanya: "Dari mana ini?" Maimunah menjawab; "Saudariku, Hudzailah menghadiahkan kepadaku." Muhammad berkata: 'Apa pendapatmu tentang budak wanitamu yang engkau pernah minta agar aku membebaskannya? Berikan (kembalikan) kepada saudarimu dan sambunglah silaturrahim agar dia yang merawatnya karena itu lebih baik untukmu."
Maimunah pernah memiliki anak anjing yang ia simpan di bawah tempat tidurnya. Pada suatu hari ia melihat suasana hati Sang Nabi sedang buruk. Rupanya itu dikarenakan Malaikat Jibril tidak menepati janjinya menemui beliau di malam sebelumnya. Sang Nabi pun teringat dengan anak anjing di bawah tempat tidur Maimunah. Beliau pun memerintahkannya untuk dikeluarkan. Dan menyiramkan air di tempat tersebut. Ketika malam tiba, Malaikat Jibril pun datang dan menginformasikan beliau bahwa dirinya tidak memasuki rumah yang ada anjing ataupun gambar di dalamnya. Lalu pada pagi hari, Sang Nabi pun memerintahkan agar tiap-tiap anjing supaya dibunuh, termasuk yang masih kecil. Namun membiarkan anjing yang ditugaskan untuk menjaga perkebunan besar.
Sayyidah Aisyah berkata, "Sesungguhnya Maimunah adalah orang yang paling bertakwa dan paling menyambung silaturahim di antara kami.”
Nasabnya
Ayahnya: al-Harits bin Huzn bin Bujair bin Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin 'Amir bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin 'Ikrimah bin Khafshah bin Qais bin 'Ailan bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
Ibunya: Hindun binti 'Auf bin Zuhair bin Huthamah bin Jarasy bin Aslam bin Zaid bin Sahl bin 'Amru bin Qais bin Muawiyah bin Jasyam bin Abdu Syams bin Wa`il bin al-Ghauts bin Quthn bin 'Uraib bin Zuhair bin al-Ghauts bin Aiman bin al-Hamyasa' bin Humair bin Saba bin Yasyjub bin Ya'rib bin Qahthan.
Anak-anak Hindun binti 'Auf :
1. Maimunah binti al-Harits
2. Ummu al-Fadhl Lubbabah al-Kubra binti al-Harits al-Hilaliyyah, istri Abbas bin Abdul-Muththalib
3. Lubbabah ash-Shugra binti al-Harits al-Hilaliyyah, ibu dari Khalid bin Walid
4. Asma binti 'Amis al-Khatsa'miyyah, yang menikah dengan Ja'far bin Abi Thalib, kemudian menikah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian menikah dengan Ali bin Abi Thalib
5. Urwa binti 'Amis al-Khatsa'miyyah, istri dari Hamzah bin Abdul-Muththalib
Kematian
Saat pergi menunaikan haji bersama Abdullah bin Abbas di masa Khalifah Muawiyah, Maimunah jatuh sakit lalu mewasiatkan agar dimakamkan di tempat pernikahannya, lalu rumahnya di Madinah dijadikan tempat majlis ilmu. Maimunah wafat di Sarif, dekat Tan'im (di pinggir jalan tol Mekah-Madinah), tempat ia menikah dengan Muhammad, pada 61H di usia 80 tahun, jenazahnya disolatkan oleh Abdullah bin Abbas.
Daftar bacaan :
1. Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
2. Artikel “Maimunah binti al-Harits.” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Maimunah_binti_al-Harits
13. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Raihanah binti Zaid,
Raihanah binti Zaid (bahasa Arab: ريحانة بنت زيد) adalah seorang wanita Yahudi dari suku Banu Nadhir, yang dianggap oleh beberapa umat muslim sebagai istri dari Nabi Muhammad.
Dalam “buku 150 Perempuan Shalihah” karya Abu Malik Muhammad bin Hamid dikisahkan, dalam Perang Bani Quraizah, Raihanah menjadi tawanan Rasulullah. Ia seorang perempuan Yahudi pernah menolak lamaran dan ajakan Rasulullah SAW untuk memeluk Islam. Namanya Raihanah binti Yazid bin Amru bin Khanaqah. Sebagian pendapat mengatakan ia berasal dari Bani Quraizah.
Ia adalah perempuan yang sangat cantik. Suaminya yang bernama Hakam sangat mencintai dan menghormatinya. Sayang, ia tak berumur panjang. Sepeninggal suaminya, Raihanah berjanji tidak akan menikah lagi.
Biografi
Raihanah berasal dari suku Yahudi, Bani Nadhir yang kemudian menjadi bagian dari Bani Quraizhah melalui pernikahan. Nabi Muhammad pernah menyatakan niatan beliau untuk mengusir seluruh Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab, dan tidak meninggalkan siapapun di dalamnya kecuali orang-orang Muslim. Seusai perang Khandaq, Malaikat Jibril dengan kepalanya tertutup debu datang kepada sang Nabi, dan berkata: "Kau sudah meletakkan senjatamu! Demi Allah, aku belum meletakkan senjataku." Maka Nabi pun bertanya, "Kemana setelah ini?" Malaikat Jibril pun berkata "ke arah sini," dengan menunjuk ke arah pemukiman Bani Quraizhah. Setelah berhasil mengalahkan suku tersebut, beliau memerintahkan agar tiap-tiap pria dari Bani Qurayzhah dieksekusi. Sedangkan harta, serta perempuan-perempuan dan anak-anak mereka beliau bagi-bagikan kepada umat muslim, dan sebagian dari tawanan perempuan beliau kirimkan ke Najd untuk ditukar dengan kuda-kuda dan senjata. Nabi Muhammad mengambil seperlima dari harta rampasan sebagaimana yang ditetapkan di dalam Al-Quran dan mengambil Raihanah untuk diri beliau.
Nabi Muhammad pernah menawarkan kepada Raihanah supaya dirinya dinikahi oleh beliau dan mengenakan hijab. Namun Raihanah menolak dengan mengatakan, "Biarlah aku tetap di bawah kekuasaanmu, karena itu adalah lebih mudah untuk diriku dan untukmu." Maka Nabi pun meninggalkannya. Semenjak menjadi tawanan umat Islam, Raihanah telah menunjukkan kebenciannya terhadap Islam, dan tetap berpegang pada Yahudi / Judaisme. Ketika Nabi sedang bersama sahabat-sahabat beliau, beliau mendengar suara sendal tiba dari belakang, dan beliau berkata: "Ini pasti Thalaba bin Sa'ya yang datang membawakan berita baik kalau Raihanah telah memeluk islam." Dan benar apa kata beliau, yang mana itu membuat beliau begitu senang. Agamanya Yudaisme dan Islam.
Rasulullah memanggil Ibnu Sa'yah dan menceritakan perihal penolakan Raihanah. Ibnu Sa'yah bertekad membantu Rasulullah mengajak Raihanah kepada ajaran Islam. Ia pergi menemui Raihanah dan mengatakan, "Jangan ikuti kaummu. Sesungguhnya mereka jatuh dalam perangkap Huyay bin Akhtab. Masuklah kamu ke dalam agama Islam. Rasulullah memilihmu untuk dirinya.
Ibnu Sa'yah pun menjelaskan tentang Islam kepada Raihanah hingga ia setuju masuk Islam. Ibnu Sa'yah kembali ke tempat Rasulullah SAW berada. Pada saat sedang bersama para sahabatnya, Rasulullah mendengar suara sandal. Beliau berkata, "Itu suara Ibnu Sa'yah yang datang untuk mengabarkan keislaman Raihanah." "Ya Rasulullah, Raihanah telah masuk Islam." kata Ibnu Sa'yah.
Rasulullah sangat senang mendengar berita tersebut. Beliau menyuruhnya membawa Raihanah ke rumah Ummul Mundzir binti Qais. Raihanah tinggal di sana sampai dia suci dari haidnya. Rasulullah mendatanginya di rumah Um mul Mundzir. Ia menawarkan dua pilihan kepada perempuan itu, yaitu untuk dimerdekakan dan dinikahi atau dijadikan pembantu.
Dalam riwayat lain disebutkan, Raihanah berkata, "Rasulullah masuk untuk menemuiku. Aku menjauh darinya karena merasa malu. Rasululllah menundukkanku di hadapannya dan berkata, "Jika kamu memilih Allah dan Rasul-Nya, Rasulullah akan memilihmu untuknya."
Aku berkata, 'Aku memilih Allah dan Rasul-Nya'. Ketika aku masuk Islam, Rasulullah memerdekakanku dan menikahiku dengan mahar dua belas dinar dan dua puluh dirham. Aku diberi mahar seperti istri-istri Rasulullah yang lainnya. Rasulullah menghabiskan malam pengantin bersamaku di rumah Ummul Mundzir. Aku diberi bagian hari seperti istri-istri yang lain. Dan ia menyuruhku untuk memakai hijab."
Dari az-Zuhri, dia berkata, "Raihanah adalah seorang pembantu perempuan Rasulullah yang dimerdekakan dan dinikahi oleh Rasulullah. Dia selalu memakai hijab di keluarganya. Raihanah berkata, "Tidak ada seorang pun yang melihat wajahku, kecuali Rasulullah SAW."
Dalam riwayat yang lain lagi dikisahkan bahwa Rasulullah sangat mencintai Raihanah. Beliau selalu memenuhi segala permintaannya. Sampai-sampai, Raihanah pernah berkata, "Jika aku meminta Rasulullah untuk memerdekakan Bani Quraizah, pasti Rasul akan melakukannya."
Raihanah dikenal sangat pencemburu. Rasulullah pernah menalaknya dengan talak satu karena sifatnya itu. Dia terusmenerus menangis. Ketika Rasulullah masuk menemuinya, ia masih menangis. Kemudian, Rasulullah merujuknya.
Raihanah tetap menjadi istri Rasulullah sampai meninggal sepulang haji pada 10 Hijriah. Rasulullah menikah dengannya pada bulan Muharram 6 Hijriah. Jenazahnya dimakamkan di Baqi.
Kematian tahun 631Masehi, usia (31/41 tahun) Tempat pemakamannya Jannatul Baqi Madinah
Referensi :
Artikel “Raihanah binti Yazid Mulia Hidup Bersama Rasulullah." https://republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/16/06/03/o86zwa6-raihanah-binti-yazid-mulia-hidup-bersama-rasulullah.
Artikel “Raihanah binti Zaid”, Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Raihanah_binti_Zaid.
a. Keturunan Nabi Muhammad Saw
Siapakah yang dinamai sebagai keturunan Muhammad Saw? Muhammad Saw dikaruniai 7 anak 3 laki-laki dan 4 perempuan, yaitu :
- Qasim, (pemberi Imbalan) wafat saat kecil
- Zainab, (indah dan Wangi) wafat usia 29 tahun
- Ruqaiyah, wafat saat perang Badar (ia isteri Usman bin Affan)
- Ummu Kultsum, dan
- Fathimah Azzahra.
- Abdullah wafat saat kecil
- Ibrahim wafat saat kecil
Sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad Saw telah dikaruniai 7 orang anak, 4 perempuan dan 3 laki-laki.seluruh anak Nabi berasal dari hasil pernikahannya dengan Sayyidah Khadijah, kecuali Ibrahim yang dilahirkan oleh Sayyidah Mariyah al-Qitbhiyah
Setiap keturunan atau anak berasal dari ayahnya, namun khusus untuk keturunan Sayyidatuna Fathimah bersambung kepada Rasulullah merekalah keturunan Muhammad Saw.
Sebagaimana dalam hadits telah disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Setiap anak yang dilahirkan ibunya bernasab kepada ayahnya, kecuali anak-anak dari Fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka”, (HR Imam Ahmad).
Datar bacaan
Bahjatull Abid
1- نور اليقين فى سيرة المرسلين -15
2- الكتاب الفقية نهاية الزين -12
2. Sayyidah Fathimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib
Perkawinan Syyidatuna Fathimah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dikarunia 3 orang putra yaitu Hasan, Husain dan Muhsin, dari kedua cucu Nabi Hasan & Husain inilah telah lahir para anak cucu-dzuriat Nabi Saw yang hingga kini kita kenali dengan sebutan syarif, syarifah, sayyid, dan habib.
Menurut Artikel “Kekhususan Fatimah Azzahra yang menurunkan Nasab Rasulullah” Ahlul Bait diposting tgl 12/12/2013 menyatakan bahwa " Siti Fathimah ra mempunyai tiga orang putra dan dua orang putri :
- Hasan
- Husain
- Muhsin
- Ummu Kalsum dan
- Zainab.
Kemudian Ummu Kalsum ra kawin dengan Sayyidina Umar Ibnul Khattab ra dan Zainab ra kawin dengan Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib ra. Sedang Muhsin wafat pada usia masih kecil (kanak-kanak). Adapun Hasan ra dan Husain ra, maka dalam buku-buku sejarah dikenal sebagai tokoh-tokoh Ahlul Bait yang meneruskan keturunan Rasulullah Saw.
Diantara keistimewaan atau fadhelat Ikhtishas yang didapat oleh Siti Fathimah ra adalah, bahwa keturunannya atau Durriyyatnya itu disebut sebagai Dzurriyyah Rasulillah Saw atau Dzurriyyaturrasul.
Fathimah lahir satu tahun sebelum kenabian dan meninggal dunia enam bulan sesudah ayahnya Rasulullah SAW meninggal, yaitu pada malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah
Nama Fathimah berasal dari kata Fathman yang artinya sama dengan qath'an atau man'an, yang berarti 'memotong, memutuskan atau mencegah'. Ia dinamakan Fathimah karena Allah SWT mencegah dirinya dari api neraka, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda: 'Sesungguhnya Fathimah adalah orang yang suci farajnya, maka Allah haramkan atas dia dan keturunannya akan api neraka.'
Al-Nasa’i meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya putriku Fathimah ini adalah seorang manusia-bidadari. Dia tidak haid dan tidak pula mengeluarkan kotoran. Karena itulah ia dinamakan al-Zahra atau 'yang suci', sebab ia tidak pernah mengeluarkan darah, baik dalam haid maupun sesudah melahirkan (nifas). Pada saat melahirkan, ia mandi dan kemudian shalat sehingga ia tidak pernah luput dari melaksanakan shalat.
Adapun sebutan al-Batul baginya itu adalah karena ia merupakan wanita yang paling menonjol di masanya dalam hal keutamaan, agama dan keturunan.
Dikemukakan pula oleh al-Thabrani, bahwa Rasulullah SAW bersabda: " Tiap anak itu bernisbat kepada keturunan bapaknya, kecuali putra Fathimah, akulah wali mereka dan akulah ashabah mereka". Dalam riwayat lain yang sahih disebutkan: "Setiap anak itu mengikuti garis keturunan bapaknya kecuali anak-anak Fathimah , sebab akulah ayah mereka dan ashabah mereka".
Hadis Riwayat lain menyatakan:
وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ :" لِكُلِّ بَنِىٍّ اَبٌ عُصْبَةٌ إلا ابني فاطمة فأنا و ليهما و عصبتهما *
Artinya: "Setiap anak laki-laki seorang ayah memiliki ashabah (penerima bagian ashabah), kecuali dua putera Fatimah, karena akulah wali keduanya dan ashabah mereka berdua." (HR Al-Hakim)
Hal mana sesuai dengan pengakuan Rasulullah saw,sendiri bahwa anak-anak Fathimah ra yakni Al Hasan dan Al Husain itu bernasab kepada beliau saw. Sehingga berbeda dengan orang-orang lain yang bernasab kepada ayahnya
Rasulullah Saw bersabda:
وَعَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : كُلُّ بَنِى اُنْثَى فَاِنَّ عُصْبَتَهُمْ لِاَبِيْهِمْ مَاخَلَاوَكَ فَاطِمَةُ فَاِنّيْ اَنَا عُصْبَتُهُمْ وَ اَنَااَبُوْهُمْ (رَوَاهُ الطَّبْرَنى)
Artinya “Semua bani Untsa (manusia) mempunyai ikatan keturunan ke ayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka kepadakulah bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.” (HR. At Tabrani)
Dalam hadis dari Umar bin Khattab juga diterangkan:
عن النبي صلى الله عليه و سلم كل نسب و صهر ينقطع يوم القيامة إلا نسبى وصهرى (رواه اِبْنُ عَسَاكِيْرٍ)
Artinya: "Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap nasab dan hubungan keluarga melalui perkawinan di hari Kiamat nanti akan putus, kecuali nasabku dan hubungan kekeluargaan melalui perkawinan denganku." (Riwayat Ibnu Asakir)
Menurut sejarah Islam ketika Muhammad saw diangkat menjadi Nabi dan rasul pada usia 40 tahun sekitar tahun 609 Masehi, Usia “Ali bin Abi Thalib sudah 8 tahun. Jadi “Ali bin Abi Thalib lahir tahun 601 Masehi. Dan dia menjabat Khalifah yang ke empat dari tahun 656 Masehi s.d tahun 661 Masehi. Ketika itu usia “Ali sekitar 55 tahun, Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib wafat tahun 661 Masehi atau tahun ke 40 Hijeriah dengan usia 60 tahun.
Dalam Kitab Tanwirul Qulub dikatakan bahwa Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifatur Rasyidin ke Empat :
ويليه علي ابن أبي طالب كرم الله وجهه ومكث فى الخلافة أربلع سنين وتسعة أشهر وسبعة أيام
Maksudnya : “Kekuasaan atau wilayah Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib Karramallah al Wajhah sebagai pemangku jabatan Khalifah yang ke Empat yakni Empat tahun, Sembilan bulan dan Tujuh hari dari tahun 656 Masehi sampai dengan tahun 661 Masehi.
Pada usia 6 tahun “Ali Bin Abi Thalib atau Haidarah diangkat anak oleh Rasulullah Saw, Sebenarnya isteri Abu Thalib yang bernama Fatimah memberi nama anaknya setelah lahir adalah dengan nama “HAIDARAH,( حيدارة) akan tetapi Abu Thalib ayahnya memberi nama “ALI”.
Setelah Sayyidina Ali Bin Abi Thalib atau Haidarah dewasa, ia dikawinkan dengan puteri Rasulullah Saw yang bernama Siti Fatimah. Dari perkawinan inilah Rasul Saw punya zurriyat keturunan. Maksud perkawinan inilah antara Sayyidina Ali dengan Siti Fatimah, maka mereka punya anak yaitu : Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein.
- Hasan
- Husein Ibunya Siti Fathimah binti Rasul saw.
- Muhsin (meninggal waktu kecil)
- Muhammad al-Hanafiah (Menurut satu pendapat keluarga Ba Qasyir di Hadramaut adalah keturunannya)
- Abbas
- Usman Syahid bersama saudaranya Husein
- Abdullah Ibunya ummu Banin binti Hazam al-Kilabiyah
- Ja'far
- Abdullah
- Abu Bakar
- Yahya
- Aun
- Umar al-Akbar (Ibunya ummu Habibah al-Taghlibiyah)
- Muhammad al-Ausath (Ibunya Amamah binti Abi Ash)
- Muhammad al-Asghor
- Hasan,
- Husain,
- Muhammad al-Hanafiyah,
- Abbas al-Kilabiyah dan
- Umar al-Tsa'labiyah.
- Zainab,
- Ummu Kulsum,
- Ruqoyah,
- Ummu Hasan
- Ramlah al-Kubra,
- Ummu Hanni,
- Ramlah al-Sughro,
- Ummu Kulsum al-Sughro,
- Fathimah,
- Amamah,
- Khadijah,
- Ummu Khair,
- Ummu Salmah,
- Ummu Ja'far,
- Jamanah
- الطبقات الكبرى الجزء الأول
-19
2 - الطبقات الكبرى الجزء الأول
-21
3. Husain bin Fatimah az-Zahra bini Muhammad Rasulullah Saw .
(الحسين بن علي بن أﺑﻲ طالب)
a. Sayyidina Al-Husain bin ‘Alī Lahir
Al-Husain bin ‘Alī bin Abī Thālib adalah putra Ali bin Abi Thalib
dan Fatimah az-Zahra dan cucu Nabi. Dia dianggap oleh Syiah sebagai Imam ketiga
Syiah dan ayah dari dinasti Imam Syiah dari Dua Belas Imam dari Ali bin Husain
hingga Mahdi.
Husain dilahirkan 10
Januari 626 atau (3 Sya'ban 4 H) di Madinah, Hijaz, Arabia.
b. Sayyidina Al-Husain bin ‘Alī menikah
Pasangan isterinya bernma :
Shahrbanu Ummu Rubab Ummu Layla Ummu Ishaq
Pasangan suami-isteri Husain bin Ali dengan Shahrbanu Ummu Rubab,
Ummu Layla, dan Ummu Ishaq (isteri-isteri) tersebut menurunkn 12 orang Anak
Adapun Putra-Putri Sayyidina Husein bin Fatimah Az-Zahra atau
Buyut-buyut Muhammad Rasulullah SAW.
- Ali Al-Akbar
- Ali Zainal Abidin
- Abdullah Al-Ashgar
- Sukainah
- Fatimah
- Ja'far
- Muhammad
- Muhsin
- Zainab
- Ruqayyah
- Shafiyyah
- Khawlah.
Sayyidina Husein (Abu Abdillah) adalah cucu dan buah hati
Rasulullah. Ia lahir pada hari kelima dari bulan Sya'ban tahun keempat
hijriyah.
Al-Hakim mengemukakan sebuah hadits dalam kitab sahihnya, yang
bersumber dari sahabat Yahya al-'Amiri, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "
Husein dariku dan aku dari Husein. Ya Allah cintailah orang yang mencintai
Husein. Husein adalah salah seorang asbath."
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Ibnu Sa'ad, Abu Ya'la serta Ibnu
Asakir dari Jabir bin Abdullah: "Saya telah mendengar Rasulullah bersabda:
'Barangsiapa suka melihat seorang pemimpin para pemuda ahli surga, maka
hendaklah ia melihat kepada Husein bin Ali.'"
c. Sayyidina Al-Husain bin ‘Alī Wafat
Ia juga dikenal dengan nama panggilannya, Aba Abdullah. Husain
terbunuh pada hari Asyura dalam pertempuran Karbala, dan karena alasan ini kaum
Syiah juga memanggilnya Sayyidus Syuhadaa (penguasa para syuhada).
Meninggal/wafat 10 Oktober 680 (umur 54) (10 Muharram 61 H)
Menurut mereka, Husain bukanlah pemberontak sembarangan yang mengorbankan
hidupnya dan keluarganya untuk keuntungan pribadi. Dia berdiri melawan
penindasan. Dia tidak melanggar perjanjian damai dengan Muawiyah, tetapi
menolak untuk berjanji setia kepada Yazid. Seperti ayahnya, dia percaya bahwa
Tuhan telah memilih Ahlul Bait untuk memimpin umat Muhammad, dan dia merasa
berkewajiban untuk memimpin dengan datangnya surat-surat kaum Kufi. Namun, dia
sengaja tidak mencari kesyahidan
Peperangan Karbala, Kekhalifahan Umayyah, Sebab meninggal Dipancung saat Pertempuran Karbala
Sayyidina Husein gugur sebagai syahid, pada hari Jum'at, hari
kesepuluh (Asyura) dari bulan Muharram, tahun enam puluh satu Hijriyah di
padang Karbala –suatu tempat di Iraq yang terletak antara Hulla dan Kuffah.
Ibnu Hajar memberitahukan sebuah hadits dari suatu sumber yang
diriwayatkan dari Ali, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda " Pembunuh
Husein kelak akan disiksa dalam peti api, yang beratnya sama dengan siksaan
separuh penduduk dunia."
Abu Na'im meriwayatkan bahwa pada hari terbunuhnya Sayyidina Husein,
terdengar Jin meratap dan pada hari itu juga terjadi gerhana matahari hingga
tampak bintang-bintang di tengah hari bolong. Langit di bagian ufuk menjadi
kemerah-merahan selama enam bulan, tampak seperti warna darah.
Sayyidina Husein sungguh telah memasuki suatu pertempuran
menentang orang yang bathil dan mendapatkan syahidnya di sana. Menurut
al-Amiri, Sayidina Husein dikarunia 6 anak laki-laki dan 3 anak perempuan. Dan
dari keturunan Sayyidina Husein yang meneruskan keturunannya hanya Ali al-Ausath
yang diberi gelar 'Zainal Abidin'. Sedangkan Muhammad, Ja'far, Ali al-Akbar,
Ali al-Ashgor , Abdullah, tidak mempunyai keturunan (ketiga nama terakhir gugur
bersama ayahnya sebagai syahid di karbala). Sedangkan anak perempuannya adalah:
Zainab, Sakinah dan Fathimah.
Julukan Husain yang terkenal adalah "Sarullah",
"Safin al-Najah" (kapal penyelamat), "Aba Abdullah",
"Sayyid Syabab dari ahlul janah" (penguasa pemuda surga), "yang
tertindas" dan "Sayyid syahada "(penguasa para martir).
Bacaan
Artikel “Nasab AHLU-BAIT Nabi dari Keluarga Alawiyin ’
https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com/2012/09/nasab-ahlu-bait-nabi-dari-keluarga.html
Artikel “Husain bin Ali” Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
Sayyidus Syuhadaa
https://id.wikipedia.org/wiki/Husain_bin_Ali
4. Imam Ali bin Husain bin Fatimah az-Zahra binti Muhammad Saw
Biografi
Ali bin Husain bin Ali
bin Abi Thalib as yang masyhur dengan Imam Sajjad as atau Imam Ali Zainal
Abidin as adalah Imam Keempat Syiah dan putra dari Imam Husain as. Berdasarkan
pendapat yang masyhur ia lahir pada tahun 38 H. Namun berdasarkan
riwayat-riwayat lain, kelahiran imam ke-4 Syiah diyakini terjadi sekitar tahun
36 atau 37 H atau 48 H. Oleh karena itu, ia mengalami sebagian masa kehidupan
Imam Ali as dan juga periode keimamahan Imam Hasan Mujtaba as dan Imam Husain
as. Terkait hari lahirnya Imam Sajjad as terjadi perbedaan pendapat. Sebagian
peneliti menyebutkan hari Kamis 15 Jumadil Akhir sebagai hari lahirnya. Irbili
meyakini hari lahir beliau tanggal 5 Syakban. Ada juga yang meyebutkan tanggal
9 Syakban.
Nama dan nasab ibunya termasuk dari masalah-masalah yang kontroversial. Syekh al-Mufid menyebutkan nama ibu Imam Sajjad as adalah Syahzanan putri Yazdger, putra Syahriyar bin Kisri dan Syekh al-Shaduq meyakini bahwa ia adalah putri Yazdgerd, putra seorang raja Iran, yang meninggal dunia saat melahirkan.
Julukan dan Gelar
Julukan-julukan yang
diberikan kepala Ali bin Husain as adalah Abu al-Hasan, Abu al-Husain, Abu
Muhammad dan Abu Abdillah.Sementara gelar-gelarnya adalah Zainal Abidin, Sayid
al-Sajidin, Sajjad, Hasyimi, 'Alawi, Madani, Qurasyi dan Ali Akbar. Gelar lain
yang diberikan kepadanya adalah Dzu al-Tsafinat, karena ia memiliki tanda di
bagian tubuhnya yang sering dipakai sujud, hingga lututnya seperti lutut unta
yang keras dan tebal sebagai akibat dari bekas ibadah dan salatnya yang
banyak.Imam Sajjad as pada zamannya terkenal dengan sebutan Ali al-Khair, Ali
al-Ashgar dan Ali al-'Abid.
Syahadah
Tanggal kesyahidan Imam
Sajjad as tidak diketahui secara detail. Sebagian peneliti meyakini terjadi
pada tahun 94 H dan yang lain menyakinya tahun 95 H. Mengenai hari
kesyahidannya pun terjadi perselisihan pendapat; misalnya hari Sabtu 12
Muharram dan 25 Muharram. Laporan-lopran lain juga terlihat dalam beberapa
sumber seperti tanggal 18, 19 dan 22 Muharram.
Imam Sajjad ra syahid diracuni
atas perintah Walid bin Abd al-Malik. Ia dikuburkan di Pemakaman Baqi' di
samping makam Imam Hasan al-Mujtaba ra, Imam Muhammad al-Baqir ra dan Imam
Ja'far al-Shadiq ra.
Imamah
Keimamahan Imam Sajjad
as bermula dengan kesyahidan Imam Husain as pada peristiwa Asyura tahun 61
H/681 dan berlanjut hingga masa kesyahidannya, yakni tahun 94 atau 95 H.
Dikatakan masa keimamahannya 34 tahun.
Berdasarkan
riwayat-riwayat yang tegas dalam sumber-sumber hadis Syiah, Imam Sajjad as
merupakan pengganti dan washi Husain bin Ali ra. Dalam hadis-hadis yang dinukil
dari Rasulullah saw tentang nama-nama para Imam Syiah, nama Imam Sajjad as juga
disebutkan diantara nama-nama tersebut. Para teolog Syiah seperti Syekh
al-Mufid menyakini bahwa keutamaan ilmu Imam Sajjad as atas orang lain setelah
ayahnya merupakan dalil pertama atas keimamahannya.
Para penguasa pada masa
Imam Sajjad ra antara lain adalah: Yazid bin Muawiyah (61-64 H/681-684),
Abdullah bin Zubair (61-73 H/681-694), yang menjadi penguasa Mekah secara mandiri,
Muawiyah bin Yazid (berkuasa hanya beberapa bulan pada tahun 64 H/684),Marwan
bin Hakam (berkuasa sembilan bulan pada tahun 65 H/685), Abdul Malik bin Marwan
(65-86 H/685-705), dan Walid bin Abdul Malik (86-96 H/705-715).
Peristiwa Karbala dan
Penawanan
Ketika terjadi peristiwa
Karbala dan pada hari ketika Imam Husain as dan para sahabatnya syahid, Imam
Ali bin Husain as sedang sakit parah. Sehingga ketika para musuh hendak
membunuhnya, sebagian dari mereka berkata, "Cukuplah baginya dengan sakit
yang dideritanya ini."
Kufah
Setelah Tragedi Karbala,
seluruh keluarga Imam Husain ra ditawan dan dibawa ke Kufah dan Syam. Ketika
tawanan dibawa dari Karbala ke Kufah, leher Imam Sajjad as diberi belenggu
dengan Jamah, yaitu semacam belenggu atau borgol yang mengunci dan mengikat
tangan serta leher secara bersamaan. Karena sakit dan tidak bisa menjaga
dirinya di atas punggung unta, kedua kaki Imam Sajjad ra diikatkan ke perut
unta.
Sebagian sejarawan
mengatakan Imam Sajjad ra. membacakan sebuah khutbah di Kufah. Namun, karena
keadaan Kufah dan pengekangan serta ketidakramahan para prajurit pemerintah
yang berkuasa, juga rasa takut penduduk Kufah terhadap mereka dan sikap tidak
bersahabat, maka khutbah yang penuh informasi itu sulit diterima. Selain itu, disebutkan
bahwa isi khutbah yang disampaikannya sama dengan khutbahnya di masjid
Damaskus. Oleh karena itu, dengan bergulirnya masa ada kemungkinan para
periwayat mencampuradukkan kejadian-kajadian tersebut.
Ibnu Ziyad memenjarakan
Imam Sajjad ra dan para tawanan Karbala. Dia mengirim surat ke Syam dan meminta
perintah Yazid selanjutnya. Yazid membalas suratnya supaya para tawanan dan
kepala para syuhada Karbala dibawa ke Syam. Ibnu Ziyad merantai Imam Sajjad ra
dan memasang belenggu di lehernya. Para tawanan Karbala pun dibawa ke Syam
dengan pengawalan Muhaffar bin Tsa'labah.
Syam
Imam Sajjad ra
memberikan khutbah di masjid Syam. Ia memperkenalkan dirinya, ayahnya dan
kakeknya kepada masyarakat Syam. Ia juga mengatakan bahwa apa yang dikatakan
oleh Yazid dan orang-orangnya adalah tidak benar. Ayahnya bukanlah orang asing,
dan ia tidak hendak menyerang orang Islam serta menyebarkan fitnah di negeri
Islam. Ia bangkit untuk kebenaran dan atas undangan umat dengan menghilangkan
bid'ah-bid'ah dalam agama, sehingga kesucian masa Rasulullah saw pun bisa
disampaikan.
Kembali ke Madinah
Menurut catatan Syekh
al-Mufid, akhirnya keluarga Imam Husain as pada hari Arbain bergerak dari Syam
menuju Madinah. Imam Sajjad ra. hidup selama 34 tahun setelah Peristiwa Karbala.
Selama itu pula ia berusaha terus menghidupkan dan menjaga ingatan terhadap
para syuhada Karbala. Setiap minum air ia selalu mengingat ayahnya, dan
senantiasa menangisi musibah yang menimpa Imam Husain ra.
Diriwayatkan dari Imam
al-Shadiq ra, "Imam Zainal Abidin as menangis untuk ayahnya selama 40
tahun. Ia setiap hari berpuasa dan setiap malamnya melakukan salat. Ketika
berbuka puasa, pembantunya membawakan air dan makanan untuknya dan berkata,
"Silakan Tuan!" Imam Zainal Abidin ra berkata, "Putra Rasulullah
saw terbunuh dalam keadaan lapar! Putra Rasulullah terbunuh dalam kondisi
kehausan!" Kalimat ini diulang-ulangnya dan ia menangis sedemikian rupa
sehingga air matanya bercampur dengan air minum dan makanannya. Hal ini terus
menimpanya hingga ia meninggal dunia.”
Sayyidina Ali Zainal
Abidin ialah seorang yang kekhusyu'annya dalam wudhu', shalat dan ibadah
sangatlah menakjubkan. Dalam sehari semalam ia shalat (sunnah) seribu raka'at,
yang ia kerjakan sampai akhir hayatnya. Ia sangat takut kepada Allah,
sampai-sampai bila ia berwudhu' maka menjadi pucat dan gemetarlah seluruh
anggota badannya. Ketika ditanya, kenapa tuan menjadi demikian? Ia menjawab:
Tahukah kalian di hadapan siapakah aku akan berdiri?
Ia juga dikenal dengan
sebutan al-Sajjad (yang banyak sujud).
Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah az-Zahra binti Muhammad Saw
(علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب)
Imam Ali Zainal Abidin
ra. lahir Kamis, tanggal 5 Sya'ban 38 H/658, Ia lahir kota Madinah al
Munawwaraah yaitu pada masa pemerintahan kakeknya Khaliah Ali bin Abi Thalib.
Ayahnya bernama Imam Husain bin Fatimah az-Zahra binti
Muhammad Saw.sedangkan Ibunya bernama
Syahr Banu binti Yazdgerd
Berdasarkan pendapat
yang masyhur ia lahir pada tahun 38 H. Namun berdasarkan riwayat-riwayat lain,
kelahiran imam ke-4 Syiah diyakini terjadi sekitar tahun 36 atau 37 H atau 48
H. Sebagian peneliti menyebutkan hari Kamis 15 Jumadil Akhir sebagai hari
lahirnya. Irbili meyakini hari lahir beliau tanggal 5 Syakban. Ada juga yang
meyebutkan tanggal 9 Syakban.
Saudara kandung Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah
az-Zahra binti Muhammad Saw berjumlah 5 orang yang bernama : Ali Akbar as • Ali Asghar • Ja'far dan Sukainah
• Fatimah
Imam Ali Zainal Abidin menikahi sepupunya sendiri an. Fatimah binti Hasan bin Ali , Pasangan atau isterinya bernama : Fatimah binti Hasan bin Fatimah az-Zahra binti Muhammad Saw.
Kedua Pasangan suami-isteri
ini punya keturunan Putra : Muhammad al
Baqir
Disebutkan bahwa anak Ali
Zainal Abidin (Imam Sajjad as) berjumlah 15 orang (11 laki-laki dan 4
perempuan) antara lain :
- Muhammad al Baqir dan
- Abdullah,
- Hasan
- Husain Akbar
- Zaid (Sohibul Mazhab Syi'ah Zaidiyah, dan ia mempunyai anak Isa dan Yahya)
- Umar al-Asyrof
- Husain al Ashgar (Ibunya bernama Sa'adah) ia mempunyai anak
- Abdurahman
- Sulaiman
- Ali Ibunya bernama Zajlan
- Muhammad Ashgar dan Putri
- Khadijah •
- Fathimah •
- 'Illiyah •
- Ummu Kultsum
Anak dan Istri
Imam setelahnya (Imam Ali bin Husain) adalah Imam Muhammad al-Baqir bin Imam Ali
bin Husain bin Fatimah az-Zahra binti
Muhammad Saw
Dalam sumber data sejarah
disebutkan anak Imam Sajjad as berjumlah 15 orang (11 laki-laki dan 4
perempuan). Adapun nama-nama istri dan anak Imam Ali Zainal Abidin menurut
Syekh Mufidistrin dan Syekh Thabarsi dan lainnya sebagai berikut :
Isteri Nasab Anak
a.Ummu Abdillah putri Imam Hasan ra punya 1 anak
an. 1. Imam Muhammad al-Baqir as
b.Ummu Abdillah ia Seorang Pembantu rumah tangga punya 3 anak an.
1.Abdullah, 2.Hasan dan 3.Husain Akbar
c. Ummu Jida ia Seorang Pembantu rumah tangga punya 2 anak an. 1. Zaid
dan 2.Umar al-Asyrof
d. Ummu Sa'adah. Ia
Seorang Pembnatu rumah tangga punya 3 anak an. 1.Husain Asghar, 2.Abdurrahman dan 3.Sulaiman
e. Ummu Zajlan ia
Seorang Pembantu rumah tangga punya
2 anak an. 1.Ali dan 2.Khadijah
f. ………………..
ia Seorang Pembantu rumah tangga punya 1 anak an. 1.Muhammad Asghar
Lakab Zainal Abidin •
Sayid al-Sajidin • Dzu al-Tsafanat • Al-Sajjad
Imam-Imam Syiah
Ali, al-Hasan,
al-Husain, al-Sajjad, al-Baqir, al-Shadiq, al-Kazhim, al-Ridha, al-Jawad,
al-Hadi, al-Askari, al-Mahdi
Menurut penjelasan
Artikel “Imam Ali Zainal Abidin as” https://id.wikishia. net/view/Imam_Ali_Zainal_Abidin_as
bahwa dikatakan :
Imam Ali Zainal Abidin
ra. lahir Kamis, tanggal 5 Sya'ban 38 H/658, Ia lahir Madinah yaitu pada masa
pemerintahan kakeknya Ali Bin Abi Thalib.
Ali bin Husain bin Ali
bin Abi Thalib as yang terkenal dengan
sebutan Imam Sajjad dan Zainal Abidin adalah Imam Keempat Syiah (38-94
H/658-714). Ia menjadi imam selama 35 tahun. Ia hadir pada Peristiwa Karbala,
akan tetapi ia tidak turut berperang karena sakit. Pasukan Umar bin Saad paska
kesyahdian Imam Husain as membawanya ke Kufah dan Syam bersama rombongan
tawanan Karbala. Pidato Imam Sajjad as di Syam menyebabkan masyarakat paham
tentang kedudukan Ahlulbait.
Peristiwa Harrah,
Kebangkitan Thawwabin (orang-orang yang taubat) dan Kebangkitan Mukhtar terjadi
pada masa Imam Sajjad as. Kumpulan doa-doa dan munajat-munajatnya terbukukan
dalam kitab Shahifah Sajjadiyah. Risalah al-Huquq yang merupakan panduan buku
kecil mengenai tugas-tugas (takalif) para hamba di hadapan Tuhan dan makhluk
adalah karyanya.
Sayyidina Ali Zainal
Abidin wafat
Sayyidina Ali Zainal
Abidin wafat pada tahun 94 Hijriyah, dalam usia 58 tahun dan Ia wafat syahid 20
Muharam 95 H/714 dimakamkan di
Pemakaman Baqi.
Menurut riwayat-riwayat
Syiah, Imam Sajjad as mati syahid karena racun yang diberikan kepadanya atas
perintah Walid bin Abdul Malik. Ia dimakamkan di komplek pekuburan Baqi di
samping kubur Imam Hasan al-Mujtaba as, Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam
Ja'far al-Shadiq as.
Imam Sajjad as memiliki
banyak keutamaan. Misalnya ibadah dan bantuannya kepada orang-orang fakir
banyak dilaporkan. Di sisi Ahlusunah, beliau juga memiliki kedudukan tinggi dan
mereka menyanjung keilmuan, ibadah dan wara'nya.
Jannatul Baqi Sebelum
Penghacuran oleh Rezim Saudi
Sumber Data :
Artikel “Imam Ali Zainal
Abidin as” https://id.wikishia.net/view/Imam_Ali_Zainal_Abidin_as
Artikel “Nasab AHLU-BAIT Nabi dari Keluarga Alawiyin ’
https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com/2012/09/nasab-ahlu-bait-nabi-dari-keluarga.html
5. Imam Muhammad
al-Baqir.
( محمد ألباقر إبن علي)
a.Muhammad al-Baqir lahir
Dia lahir pada tanggal 1
Rajab 57 Hijriyah, di Madinah. Riwayat lain menyebutkan bahwa Beliau dilahirkan
pada tahun 59 Hijriyah. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin dan ibunya adalah
Fatimah binti Hasan bin Ali. Dia mendapatkan penghormatan yang tinggi di
kalangan Sunni karena pengetahuan agamanya
Muhammad al-Baqir bin Ali
bin Husain (676–743), adalah Ahlul Bait Nabi, cicit Imam Ali, cucu Husain, dan
imam ke-5 dalam tradisi Syi'ah Imamiyah, sedangkan menurut Ismailiyah, ia
merupakan imam ke-4.
Imam Muhammad al-Baqir
adalah seorang 'arif billah yang sangat luas ilmunya. Ia mendapatkan gelar
'al-Baqir' karena ia telah baqqara (membelah) ilmu, sehingga ia dapat
mengetahui asal dan rahasia ilmu. Masa kehidupannya penuh dengan
pekerjaan-pekerjaan besar, di antaranya dibukanya lembaga-lembaga keilmuan,
pembahasan ilmiah dan sastra.
Berdasarkan ijma' Bukhari
dan Muslim putera Muhammad al-Baqir,tiga orang yang punya keturunan yaitu:
- Ja'far al-Shadiq
- Abdullah meninggal di waktu kecil
- Ibrahim meninggal di waktu kecil
- Zaid ( tidak mempunyai keturunan)
- Ali
- Abdullah
Keturunan Muhammad al-Baqir
hanya melalui Ja'far al-Shadiq. Maka orang yang mengaku bernasab kepada
Muhammad al-Baqir tanpa melalui Ja'far al-Shadiq adalah seorang pendusta.
b.Istri dan Anak Muhammad al-Baqir
Sumber riwayat menyebutkan bahwa istri dan anak Imam Baqir as. Antara lain :
- Ummu Farwah binti Qasim bin Muhmmad sebagai istri Imam Baqir as. Ia adalah ibu dari Imam Ja’far Shadiq as. Dan Abdullah as
- Ummu Hakim putri Usaid Tsaqafi juga disebut sebagai istri Imam Muhammad Baqir as yang kemudian melahirkan dua putra Imam Baqir as. Yaitu : Iberahim dan Ubaidillah
- Ummu ……. Imam juga memiliki istri lainnya dari pembantu rumah tangga yang melahirkan dua orang anak an. Ali dan Zainah
- Ummu ……. istri keempat dari Imam Muhammad Baqir as seorang pembantu rumah tangga, yang melahirkan 1 orang anak an. Ummu Salamah.
c.Keturunan
Imam Baqir as
Keturunan
Imam Baqir as berjumlah tujuh orang, yaitu lima laki-laki dan dua perempuan.
dan mereka itu adalah:
- Ja'far al-Shadiq
- Abdullah, Ummu Farwah binti Qasim bin Muhammad adalah ibu bagi kedua putra Imam diatas.
- Ibrahim
- Ubaidillah, Ummu Hakim binti Usaid Tsaqafi adalah ibu dari kedua putra Imam diatas dan dari kedua putranya tidak memiliki keturunan.
- Ali
- Zainab, ibu keduanya adalah seorang wanita sahaya.
- Ummu Salamah, ibunya juga adalah seorang wanita sahaya.
d.Muhammad al-Baqir
wafat
Imam Muhammad al-Baqir
bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah az-Zahra binti Muhammad Saw, ia
hidup antara tahun (676–743) Masihim usia 67 tahun. Ia Meninggal
tanggal 7 Zulhijjah 114 H ≈ 743 Masehi, Dikuburkan dipemakaman Jannatul
Baqi, Madinah
Daftar Bacaan :
- Artikel “Nasab AHLU-BAIT Nabi dari Keluarga Alawiyin https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com/2012/09/nasab-ahlu-bait-nabi-dari-keluarga.html
- Artikel "Muhammad al-Baqir" Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_al-Baqir
- Artikel "Imam Muhammad al-Baqir as" dari Wikisia https://id.wikishia.net/view/Imam_Muhammad_al-Baqir_as
- Artikel "Sejarah dan Nasab Ahlul Bait Nabi Saw dari Keluarga Datu Habib Lumpangi Alawiyiin” https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/5246194748983253569
J6. Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah az-Zahra binti Muhammad Saw
a. Ja'far ash-Shadiq Lahir
Ja'far ash-Shadiq lahir di Madinah pada tanggal 17 Rabiul
Awwal 83 Hijriyah / 20 April 702 Masehi
Ia merupakan anak sulung dari sepasang suami-isteri
Muhammad al-Baqir dengan Fatimah atau Ummu Farwah (beberapa riwayat menyatakan bahwa
Ummu Farwah) binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar. Melalui garis ibu, ia
dua kali merupakan keturunan Abu Bakar, karena al-Qasim menikahi putri
pamannya, Abdurahman bin Abu Bakar.
b. Kehidupan awal Ja'far ash-Shadiq
Sejak kecil hingga berusia sembilan belas tahun, ia
dididik langsung oleh ayahnya. Setelah kepergian ayahnya yang syahid pada tahun
114 H, ia menggantikan posisi ayahnya sebagai Imam bagi kalangan Muslim Syi'ah.
Pada masa remajanya, Ja'far ash-Shadiq, turut menyaksikan
kejahatan dinasti Bani Umayyah seperti Al-Walid I (86-89 H) dan Sulaiman (96-99
H). Kedua-dua bersaudara inilah yang terlibat dalam konspirasi untuk meracuni
Ali Zainal Abidin, pada tahun 95 Hijriyah. Saat itu Ja'far ash-Shadiq baru
berusia kira-kira 12 tahun. Ia juga dapat menyaksikan keadilan Umar II (99-101
H). Pada masa remajanya Ja'far ash-Shadiq menyaksikan puncak kekuasaan dan
kejatuhan dari Bani Umayyah.
c. Julukan Ja'far ash-Shadiq
Ja'far ash-Shadiq (Bahasa Arab: جعفر الصادق),
nama lengkapnya adalah Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu
Thalib, adalah Imam ke-6 dalam tradisi Syi'ah maupun sunni. Ja'far yang juga
dikenal dengan julukan Abu Abdillah Ia merupakan ahli ilmu agama dan ahli hukum
Islam (fiqih).
Aturan-aturan yang dikeluarkannya menjadi dasar utama
bagi mazhab Ja'fari atau Dua Belas Imam; ia pun dihormati dan menjadi guru bagi
kalangan Sunni karena riwayat yang menyatakan bahwa ia menjadi guru bagi Abu
Hanifah (pendiri Mazhab Hanafi) dan Malik bin Anas (pendiri Mazhab Maliki).
Perbedaan tentang siapa yang menjadi Imam setelahnya menjadikan mazhab
Ismailiyah berbeda pandangan dengan mazhab Dua Belas Imam.
Keturunan Musa
al-Kadzim (pengganti Imamiyah)
Isma'il bin Ja'far (pengganti Ismailiyah) Saudaranya
Isma’ll adalah
Abdullah al-Aftah, Ishaq, Ali (gelarnya al-Uraidhi), al-Abbas,
Muhammad, Fatimah, Ummu Farwah, Asmaa
d.Ja'far ash-Shadiq Wafat
Ja'far ash-Shadiq meninggal pada tanggal 25 Syawal 148
Hijriyah / 13 Desember 765 M. dimakamkan di Pemakaman Baqi', Madinah. Ia
dimakamkan berdekatan dengan Hasan bin Ali, Ali Zainal Abidin, dan ayahnya
Muhammad al-Baqir.
Karena meninggalnya Ja'far ash-Shadiq menurut riwayat dari
kalangan Syi'ah, dengan diracun atas perintah Khalifah Mansur al-Dawaliki dari
Bani Abbasiyah.
Mendengar berita meninggalnya Ja'far ash-Shadiq,
Al-Mansur menulis surat kepada gubernur Madinah, memerintahkannya untuk pergi
ke rumah Imam dengan dalih menyatakan belasungkawa kepada keluarganya, meminta
pesan-pesan Imam dan wasiatnya serta membacanya. Siapapun yang dipilih oleh
Imam sebagai pewaris dan penerus harus dipenggal kepalanya seketika. Tentunya
tujuan Al-Mansur adalah untuk mengakhiri seluruh masalah keimaman dan aspirasi
kaum Syi'ah. Ketika gubernur Madinah melaksanakan perintah tersebut dan
membacakan pesan terakhir dan wasiatnya, ia mengetahui bahwa Imam telah memilih
empat orang dan bukan satu orang untuk melaksanakan amanat dan wasiatnya yang
terakhir; yaitu khalifah sendiri, gubernur Madinah, Abdullah Aftah putranya
yang sulung, dan Musa al-Kadzim putranya yang bungsu. Dengan demikian rencana
Al-Mansur menjadi gagal.
Keluarga
Ia memiliki saudara seibu yang bernama Abdullah bin
Muhammad. Sedangkan saudara lainnya yang berlainan ibu adalah Ibrahim dan
Ubaydullah yang beribukan Umm Hakim binti Asid bin al-Mughirah. Ali dan Zaynab
beribukan wanita hamba sahaya, dan Umm Salamah juga beribukan wanita hamba
sahaya.
Keturunan Ja'far ash-Shadiq
Anak laki-laki
Memiliki keturunan selanjutnya:
1. Isma'il
al-Aaraj (Imam ke-7 menurut Ismailiyah)
1. Muhammad
al-Maktum
1. Isma'il
ats-Tsani
2. Ja'far
al-Akbar
2. 'Ali
1. Muhammad
2. Musa
al-Kadzim (Imam ke-7 menurut Dua Belas Imam)
1. 'Ali
al-Ridha
2. Ibrahim
al-Mujtaba
3. al-'Abbas
4. al-Qasim
5. Isma'il
6. Ja'far
7. Harun
8. 'Ala'uddin
Husain, ia syahid di Syiraz, Iran.
9. Ahmad
bin Musa, dikenal pula dengan julukan Syah Chiragh. Ia syahid di Syiraz, Iran.
10. Muhammad
al-'Abid
11. Hamzah
12. 'Abdullah
13. Ishak
14. 'Ubaidillah
15. Zaid
16. Hasan
17. al-Fadhl
18. Sulaiman
3. Ishaq
al-Mu'taman
1. Muhammad
2. Hasan
3. Husain
4. Muhammad
al-Dibaj,
Muhammad al-Dibaj, yang mendeklarasikan dirinya sebagai
Amirul Mukminin setelah Salat Jumat pada tanggal 6 Rabiul akhir 200 Hijriyah,
dan kemudian berperang melawan Khalifah Abbasiyah pada saat itu, al-Ma'mun,
tetapi dengan cepat ia tertangkap dan dibawa ke Khurasan.
Asy-Syarif Ahmad bin Muhammad Sholih al-Baradighi
mengatakan bahwa nasab para sayyid/ syarif di Hadramaut berpangkal pada nasab
Imam Ja'far al-Shadiq melalui Muhammad bin Ali Uraidhi. Ia diberi gelar gelar
'al-Shadiq' karena kebenarannya dalam kata-katanya. Ia juga diberi nama '
Amudusy-Syaraf ' (tiang kemuliaan).
Ibundanya ialah Furwah binti Qasim bin Muhammad bin Abu
Bakar al-Shiddiq. Sedangkan ibunda Furwah ialah Asma binti Abdurahman bin Abu
Bakar al-Shiddiq. Ia pernah berkata: Aku dilahirkan al-Shiddiq dua kali!. Imam
Ja'far al-Shaddiq mempunyai keturunan anak:
Versi lain menyebutkan bahwa Keturunan Ja'far ash-Shadiq
bin Muhammad Baqir as adalah
- Qasim
- Abdullah
- Abbas
- Yahya
- Muhsin Tidak mempunyai keturunan
- Ja'far
- Hasan
- Muhammad al-Ashgor Sedangkan yang memberi keturunan
- Ismail al-Aaraj Imam ke-7 (Sohibul Mazhab Syi'ah Ismailiyah)
- Muhammad al-Akbar (gelarnya al-Dibaj)
- Ishaq (gelarnya al-Mu'taman)
- Musa al-Kadzim
- Ali (gelarnya al-Uraidhi Ali al-Uraidhi, adalah putra bungsu Imam Shadiq as. Dia menukil riwayat dari saudaranya, Imam Musa bin Ja'far as dan Imam Ridha as.Ali bin Ja'far adalah salah satu anak Imam Shadiq as, nama ibunya adalah Ummu Walad. Dikatakan bahwa dia berusia 2 tahun ketika Imam Shadiq as menemui kesyahidan (W. 148 H),[ menetap di desa Uraidh dekat Madinah.
- Fatimah binti Ja'far
- Asma binti Ja'far
- Ummu Farwah binti Ja'far
Masa keimaman
Situasi politik pada
zaman itu sangat menguntungkannya, sebab di saat itu terjadi pergolakan politik
di antara dua kelompok yaitu Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang saling
berebut kekuasaan. Dalam situasi politik yang labil inilah Ja'far ash-Shadiq
mampu menyebarkan dakwah Islam dengan lebih leluasa. Dakwah yang dilakukannya
meluas ke segenap penjuru, sehingga digambarkan muridnya berjumlah empat ribu
orang, yang terdiri dari para ulama, para ahli hukum dan bidang lainnya
seperti, Abu Musa Jabir Ibn Hayyan, di Eropa dikenal dengan nama Geber, seorang
ahli matematika dan kimia, Hisyam bin al-Hakam, Mu'min Thaq seorang ulama yang
disegani, serta berbagai ulama Sunni seperti Sofyan asauri, Abu Hanifah
(pendiri Mazhab Hanafi), al-Qodi As-Sukuni, Malik bin Anas (pendiri Mazhab
Maliki) dan lain-lain.
Di zaman Imam Ja'far,
terjadi pergolakan politik dimana rakyat sudah jenuh berada di bawah kekuasaan
Bani Umayyah dan muak melihat kekejaman dan penindasan yang mereka lakukan
selama ini. Situasi yang kacau dan pemerintahan yang mulai goyah dimanfaatkan
oleh Bani Abbasiyah yang juga berambisi kepada kekuasaan. Kemudian mereka
berkampanye dengan berkedok sebagai "para penuntut balas dari Bani
Hasyim".
Bani Umayyah akhirnya
tumbang dan Bani Abbasiyah mulai membuka kedoknya serta merebut kekuasaan dari
Bani Umayyah. Kejatuhan Bani Umayyah serta munculnya Bani Abbasiyah membawa
babak baru dalam sejarah. Selang beberapa waktu, ternyata Bani Abbasiyah
memusuhi Ahlul Bait dan membunuh pengikutnya. Imam Ja'far juga tidak luput dari
sasaran pembunuhan. Pada 25 Syawal 148 H, Al-Mansur membuat Imam syahid dengan
meracunnya.
"Imam Ja'far bin
Muhammad, putra Imam kelima, lahir pada tahun 83 H/702 M. Dia wafat pada tahun
148 H/757 M, dan menurut riwayat kalangan Syi'ah diracun dan dibunuh karena
intrik Al-Mansur, khalifah Bani Abbasiyah. Setelah ayahnya wafat dia menjadi
Imam keenam atas titah Illahi dan fatwa para pendahulunya."
Masa hidup Sebelum Imamah: 31 tahun (83-114 H)
Imamah: 34 tahun
(114-148 H)
Perkembangan Mazhab Dua
Belas Imam
Perkembangan pesat
Mazhab Dua Belas Imam
Selama masa keimaman
Ja'far ash-Shadiq inilah, mazhab Syi'ah Dua Belas Imam atau dikenal juga
Imamiah mengalami kesempatan yang lebih besar dan iklim yang menguntungkan
baginya untuk mengembangkan ajaran-ajaran agama. Ini dimungkinkan akibat
pergolakan di berbagai negeri Islam, terutama bangkitnya kaum Muswaddah untuk
menggulingkan kekhalifahan Bani Umayyah, dan perang berdarah yang akhirnya
membawa keruntuhan dan kemusnahan Bani Umayyah. Kesempatan yang lebih besar
bagi ajaran Syi'ah juga merupakan hasil dari landasan yang menguntungkan, yang
diciptakan Imam ke-5 selama 20 tahun masa keimamannya melalui pengembangan
ajaran Islam yang benar dan pengetahuan Ahlul Bait. Sampai sekarang pun mazhab
Syi'ah Imamiah juga dikenal dengan mazhab Ja'fari.
Murid-murid Ja'far
ash-Shadiq
Imam telah memanfaatkan
kesempatan ini untuk mengembangkan berbagai pengetahuan keagamaan sampai saat
terakhir dari keimamannya yang bersamaan dengan akhir Bani Umayyah dan awal
dari kekhalifahan Bani Abbasiyah. Ia mendidik banyak sarjana dalam berbagai
lapangan ilmu pengetahuan aqliah (intelektual) dan naqliah (agama) seperti:
• Zararah,
• Muhammad bin Muslim,
• Mukmin Thaq,
• Hisyam bin Hakam,
• Aban bin Taghlib,
• Hisyam bin Salim,
• Huraiz,
• Hisyam Kaibi Nassabah, dan
• Abu Musa Jabir Ibn Hayyan, ahli kimia. (di Eropa dikenal dengan
nama Geber)
Bahkan beberapa sarjana
terkemuka Sunni seperti:
• Sufyan ats-Tsauri,
• Abu Hanifah (pendiri Madzhab Hanafi),
• Qadhi Sukuni,
• Qodhi Abu Bakhtari,
• Malik bin Anas (pendiri Madzhab Maliki)
Mereka beroleh
kehormatan menjadi murid-muridnya. Disebutkan bahwa kelas-kelas dan
majelis-majelis pengajaranya menghasilkan empat ribu sarjana hadist dan ilmu
pengetahuan lain. Jumlah hadist yang terkumpul dari Imam ke-5 dan ke-6, lebih
banyak dari seluruh hadits yang pernah dicatat dari Imam lainnya.
Sasaran dari khalifah
yang berkuasa
Tetapi menjelang akhir
hayatnya, ia menjadi sasaran pembatasan-pembatasan yang dibuat atas dirinya
oleh Al-Mansur, khalifah Bani Abbasiyah, yang memerintahkan penyiksaan dan
pembunuhan yang kejam terhadap keturunan Nabi, yang merupakan kaum Syi'ah,
hingga tindakan-tindakannya bahkan melampaui kekejaman Bani Umayyah. Atas
perintahnya mereka ditangkap dalam kelompok-kelompok, beberapa dan mereka
dibuang dalam penjara yang gelap dan disiksa sampai mati, sedangkan yang lain
dipancung atau dikubur hidup-hidup atau ditempatkan di bawah atau di antara
dinding-dinding yang dibangun di atas mereka.
Penangkapannya
Hisyam, khalifah Bani
Umayyah, telah memerintahkan untuk menangkap Imam ke-6 dan dibawa ke Damaskus.
Belakangan, Imam ditangkap oleh As-Saffah, khalifah Bani Abbasiyah dan dibawa
ke Iraq. Akhirnya Al-Mansur menangkapnya lagi dan dibawa ke Samarra, Iraq untuk
diawasi dan dengan segala cara mereka melakukan tindakan lalim dan kurang
hormat dan berkali-kali merencanakan untuk membunuhnya. Kemudian Imam diizinkan
kembali ke Madinah, di mana dia menghabiskan sisa hidupnya di Madinah, sampai
dia diracun dan dibunuh melalui upaya rahasia Al-Mansur.
Riwayat mengenai Ja'far
ash-Shadiq
Dari Malik bin Anas
Imam Malik menceritakan
pribadi Imam Ja'far ash-Shadiq dalam kitab Tahdhib al-Tahdhib, Jilid 2, hlm.
104:
"Aku sering
mengunjungi ash-Shadiq. Aku tidak pernah menemui dia kecuali dalam salah satu
daripada keadaan-keadaan ini:
1. dia sedang salat,
2. dia sedang berpuasa,
3. dia sedang membaca kitab suci al-Qur'an.
Aku tidak pernah melihat
dia meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi SAW tanpa taharah. Ia seorang yang
paling bertaqwa, warak, dan amat terpelajar selepas zaman Nabi Muhammad SAW.
Tidak ada mata yang pernah, tidak ada telinga yang pernah mendengar dan hati
ini tidak pernah terlintas akan seseorang yang lebih utama (afdhal) melebihi
Ja'far bin Muhammad dalam ibadah, kewarakan dan ilmu pengetahuannya."
Dari Abu Hanifah
Pada suatu ketika
khalifah Al-Mansur dari Bani Abbasiyah ingin mengadakan perdebatan antara Abu
Hanifah dengan Imam Ja'far ash-Shadiq. Khalifah bertujuan untuk menunjukkan
kepada Abu Hanifah bahwa banyak orang sangat tertarik kepada Imam Ja'far bin
Muhammad karena ilmu pengetahuannya yang luas itu. Khalifah Al-Mansur meminta
Abu Hanifah menyediakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk diajukan kepada
Imam Ja'far bin Muhammad di dalam perdebatan itu nanti. Sebenarnya Al-Mansur
telah merencanakan untuk mengalahkan Imam Ja'far bin Muhammad, dengan cara itu
dan membuktikan kepada orang banyak bahwa Ja'far bin Muhammad tidaklah luas
ilmunya.
Menurut Abu Hanifah,
"Al-Mansur meminta
aku datang ke istananya ketika aku tidak berada di Hirah. Ketika aku masuk ke
istananya, aku melihat Ja'far bin Muhammad duduk di sisi Al-Mansur. Ketika aku
memandang Ja'far bin Muhammad, jantungku bergoncang kuat, rasa gentar dan takut
menyelubungi diriku terhadap Ja'far bin Muhammad lebih daripada Al-Mansur.
Setelah memberikan salam, Al-Mansur memintaku duduk dan dia memperkenalkanku
kepada Ja'far bin Muhammad. Kemudian Al-Mansur memintaku mengemukakan pertanyaan-pertanyaan
kepada Ja'far bin Muhammad. Aku pun mengemukakan pertanyaan demi pertanyaan dan
dia menjawabnya satu persatu, mengeluarkan bukan saja pendapat ahli-ahli fiqih
Iraq dan Madinah tetapi juga mengemukakan pandangannya sendiri, baik dia menerima
atau menolak pendapat-pendapat orang lain itu sehingga dia selesai menjawab
semua empat puluh pertanyaan sulit yang telah aku sediakan untuknya."
Abu Hanifah berkata
lagi,
"Tidakkah telah aku
katakan bahwa dalam soal keilmuan, orang yang paling alim dan mengetahui adalah
orang yang mengetahui pendapat-pendapat orang lain?"
Lantaran pengalaman itu,
Abu Hanifah berkata,
"Aku tidak pernah
melihat seorang ahli fiqih yang paling alim selain Ja'far bin Muhammad."
[6]
Imam Ja'far ash-Shadiq
sering berkata
"Hadits-hadits yang
aku keluarkan adalah hadits-hadits dari bapakku. Hadits-hadits dari bapakku
adalah dari kakekku. Hadits-hadits dari kakekku adalah dari Ali bin Abi Thalib,
Amirul Mu'minin. Hadits-hadits dari Amirul Mu'minin Ali bin Abi Thalib adalah
hadits-hadits dari Rasulullah SAW dan hadits-hadits dari Rasulullah SAW adalah
wahyu Allah Azza Wa Jalla."
Bacaan
- https://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_ash-ShadiqJa'far ash-Shadiq Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
- Artikel “Ja'far ash-Shadiq” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia beba https://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_ash-Shadiq
- Artikel “Nasab AHLU-BAIT Nabi dari Keluarga Alawiyin https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com/2012/09/nasab-ahlu-bait-nabi-dari-keluarga.html
- Muqarnas: An Annual on Islamic Art and Architecture Halaman 43
- "Biography Sayyid al-Dibaji".
1. Kahuripan/Tanjungpuri adalah kerajaan yang sama dengan Kerajaan Nan Sarunai
Menurut mitologi suku Maanyan (suku tertua di Kalimantan
Selatan), kerajaan pertama di Borneo Selatan adalah Kerajaan Nan Sarunai yang
diperkirakan wilayah kekuasaannya terbentang luas mulai dari daerah Tabalong
hingga ke daerah Pasir.
Keberadaan mitologi
Maanyan yang menceritakan tentang masa-masa keemasan Kerajaan Nan Sarunai
sebuah kerajaan purba yang dulunya mempersatukan etnis Maanyan di daerah ini
dan telah melakukan hubungan dengan pulau Madagaskar. Kerajaan ini mendapat
serangan dari Majapahit. Sehingga sebagian rakyatnya menyingkir ke pedalaman
(wilayah suku Lawangan). Salah satu
peninggalan arkeologis yang berasal dari zaman ini adalah Candi Agung yang
terletak di kota Amuntai. Pada tahun 1996, telah dilakukan pengujian C-14
terhadap sampel arang Candi Agung yang menghasilkan angka tahun dengan kisaran
242-226 SM (Kusmartono dan Widianto, 1998:19-20). Menilik dari angka tahun
dimaksud maka Kerajaan Nan Sarunai/Kerajaan Tabalong/Kerajaan Tanjungpuri
usianya lebih tua 600 tahun dibandingkan dengan Kerajaan Kutai Martapura di
Kalimantan Timur (Sahriansyah 2015).
Sementara itu menurut sumber kuat
(arkeologis ) menyebutkan bahwa Kerajaan Tanjung Puri adalah kerajaan yang sama
dengan Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan.
Kerajaan Nan Sarunai adalah sebuah
kerajaan purba, pada masa keemasannya berdatanganlah Para imigran Melayu
keturunan Sriwijaya ke tanah Borneo ini, mereka datang ke Tanjungpuri sekitar
abad ke-4 M, mereka memiliki budaya lebih maju dari pada penduduk lokal atau
suku Dayak pada saat itu, mereka yang menempati pemukiman yang berlokasi di
daerah pesisir Sungai Tabalong
Semakin lama perkampungan yang
mereka tempati semakin ramai dan kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan
kecil bernama Tanjung Puri di bawah kekuasaan Kerajaan Nan Sarunai,
Pada suatu saat, kota Tanjungpuri
mulai berkembang pesat dan menjadi daerah perdagangan yang ramai, serta
rakyatnya hidup dalam kemakmuran dan sejahtera.
Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan purba di Kalimantan Selatan yang diyakini berdiri tahun 242 SM-1389M. Ia sebuah Kerajaan yang mempersatukan etnis Suku Dayak dan etnis Malayu di Kalimantan saat itu tetapi tidaklah banyak terixspots nama raja-rajanya yang berkuasa sebelumnya. Seperti menurut ceritra orang-orang Dayak pahuluan bahari bahwa Japatra Batu, Gupitra Dewa, Sarawin, Mandauwin dan Sumpit Arang adalah nama raja Nan Sarunai
Sedangkan Kerajaan Tanjungpuri diyakini bawahan Nan Sarunai, kedua Kerajaan ini sangat rukun, berkelurga dan bersaudara dekat, bahkan tidak pernah ada permusuhan diantara kedua kerajaan tersebut. Walaupun kedua kerajaan tersebut berbeda keyakinan, tetapi tetap saling menghormati, menjaga, dan saling membantu. (Artikel (KERAJAAN TANJUNGPURI DI TANJUNG TABALONG
2. Sekelompok suku Melayu Tua di pulau
Kalimantan
Nama Dayak mulanya adalah sebutan untuk penduduk asli di
Pulau Kalimantan. Suku Dayak, memiliki 405 sub-sub suku yang setiap sub sukunya
memiliki adat, tradisi serta budaya yang hampir sama. Suku Dayak, merupakan
suku yang berasal dari Kalimantan akan tetapi suku Dayak juga tersebar hingga
ke Sabah dan Sarawak, Malaysia (Artikel Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku
Dayak).
Menurut pemerhati sejarah Mudjahidin. S (2010) Dari
kisah orang dahulu hiduplah sekelompok suku Melayu Tua di pulau Kalimantan yang
terdiri dari lima kelompok suku,ke-5 suku itu dipimpin masing-masing lima orang
bersaudara, ke-5 suku tersebut sudah mempunyai sistem kepemimpinan bahwa yang
muda taat pada yang tua. Kelima bersaudara tersebut bernama :
- Abal,
- Anyan,
- Aban,
- Anum,
- Aju,
Mereka ini sangat berilmu dan sakti,
bijak dan berwibawa. Negeri yang mereka bangun tersebut diberinama Nan
Marunai/dikenal kerajaan Nan Sarunai, yang artinya
Marunai = memanggil dengan suara
nyaring (keras belagu)
Sarunai = menyaru dengan suara
seperti suling.
Dahulu dinegeri ini jika memanggil
orang (mengumpulkan orang) dengan berteriak (bahalulung : Banjar) keras
suaranya berirama sesuai maksud panggilannya.
Nama Sarunai itu sendiri
dimaknai dengan arti “sangat termasyhur”.Penamaan ini bisa jadi mengacu pada
kemasyhuran Suku Dayak Maanyan pada masa silam, di mana mereka terkenal sebagai
kaum pelaut yang tangguh, bahkan mampu berlayar hingga ke Madagaskar di Afrika.
Dari cerita suku Dayak Tua, bahwa
kelima saudara ini titisan dari dewa Batara Babariang Langit, ia kawin dengan.
Putri Mahuntup Bulang anak dari Batari Maluja Bulan dan melahirkan laki-laki
an.Maanyamai, dan Maanyamai beristri putri Galuh dan istrinya melahirkan anak
bernama Andung Prasap. Konon ia sangat sakti. Dan ia membangun Negeri Nan
Marunai (Nan Sarunai) kemudian Andung Prasap beristri anak Raja menggaling
Langit dan melahirkan kelima saudara tersebut di atas. Dari kelima saudara
tersebut inilah cikal bakal suku-suku Dayak dari pulau Borneo atau Kalimantan Timur, Tengah, Utara dan
Selatan. Orang tua mereka menyuruh mereka berpencar mengembara, konon Abal ke
daerah Timur, menjadi suku Aba, Anum ke daerah utara melahirkan suku Otdanum,
Aju menetap ketengah benua, jadi suku Ngaju, sedangkan Anyan keselataan
melahirkan suku Maanyan. Dan mereka tersebut diberi pitua :” Tabu/ dilarang
bacakut papadaan apalagi bermusuhan, karena mereka satu daerah satu nyawa,
menurut pitua Nenek Moyang mereka mengatakan (pitua) Terkutuk apabila Bakalahi
sata manggungan.
3.Dayuhan dan Intingan Datunya Orang Banua Lima
Konon dipulau Borneo di daerah pesisir sungai Barito pada sekitar awal abad ke-13 Masihi hiduplah dua orang Pangeran bersaudara yang terpelajar dan berilmu dan dua orang pengiran ini bernama Datu Dayuhan dan Datu Intingan nama aslinya (Bambang Basiwara), keduanya masih keluarga dekat, sepupu sekali Raden Japutra Layar Raja Dayak Nan Sarunai.
Menurut ceritra orang-orang Dayak pahuluan bahwa ayah kedua orang bersaudara ini bernama Raden Gupitra Bajawara (Datu Paluy) adik kandung Raden Gupitra Dewa salah satu Raja Nan Sarunai. Dimasa mudanya Dayuhan dan Intingan adalah menjabat Patih dari 40 patih kerajaan Nan Sarunai, dan Dayuhan menikah dengan Dyang Nilam Baiduri anak pembesar Kerajaan Tanjungpuri/kahuripan menurunkan 5 orang anak :
- Datu Panglima Angkin,
- Datu Panglima Angara,
- Datu Panglima Kumbang,
- Nini Dara Kambang dan
- Datu Panglima Kantawan,
kelima anaknya setelah dewasa menjadi orang terpelajar dan berilmu mereka mengabdi pada Raja Nan Sarunai. Bambang Basiwara dan anak-anaknya mengabdi di Kerajaan Tanjungpuri dan Dayuhan dan anak-anaknya mengabdi di Kerajaan Nan Sarunai. Sedangkan Datu Intingan dimasa mudanya menikah dengan Dyang Intan Baiduri (salah seorang Putri Imigran Melayu keturunan Sriwijaya). Hasil pernikahan keduanya menurunkan lima orang anak laki-laki
- Datu Panglima Alai
- Datu Panglima Tabalong
- Datu Panglima Balangan
- Datu Panglima Hamandit
- Datu Panglima Tapin
kelima bersaudara ini, mempunyai profisi dan keahlian berbeda sehingga tak mudah ditaklukkan lawannya.
Dilansir dari Artikel “Datu Banua
Lima, Panglima yang ditakuti Prajurit Majapahit” bahwa Nama Datu Banua Lima
cukup dikenal warga Banjar di Kalimantan Selatan. Datu Banua Lima merupakan
gelar bagi lima panglima Kerajaan Tanjungpuri yang terkenal sakti dan ditakuti
kerajaan lain termasuk prajurit Majapahit pada awal abad ke 14 masehi.
Berdasarkan hikayat Datu Banua Lima, kelima Panglima tersebut yang pertama
bergelar Panglima Alai, merupakan ahli politik dan strategi perang. Kedua,
Panglima Tabalong, yang terkenal gagah, kuat, pemberani, dan berjiwa ksatria.
Ketiga, Panglima Balangan yang berwajah tampan, pintar, dan suka menuntut ilmu
kanuragan. Sedangkan yang keempat dan kelima adalah si kembar yang bergelar
Panglima Hamandit dan Panglima Tapin. Mereka berdua ini terkenal keras dan suka
berkelahi. Kala itu Kerajaan Tanjungpuri berhubungan baik dengan Kerajaan Nan
Serunai tetangganya. Walau berbeda keyakinan Kerajaan Tanjungpuri yang
mayoritas pengikutnya beragama Buddha sedangkan Kerajaan Nan Sarunai pengikut
ajaran Kaharingan. Datu Dayuhan menjadi Kepala Suku Dayak pegunungan Maratus
setelah Kerajaan Dayak Nan Sarunai dan bawahannya runtuh. (Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang
Ditakuti Prajurit Majapahit”
4. Dua Patih Menumpas Raja Penyamun Datu Simali'ing
Konon dimasa kekuasaan Raden Japatra Batu anak dari Raden
Gupitra Dewa Raja Dayak Nan Sarunai, di kaki Pegunungan Meratus pernah hidup Sekelompok
orang gerombulan penyamun yang takuti dipimpin seorang datu yang bernama Datu Sumali’ing
dan Keenam saudaranya (Sumaling.Mali’ing. Uli’ing, Uma’ing Ali’ing dan
Sali’ing). Profisi mereka sebagai penyamun. Pembegal, perampok pebuat onar dan
resah masyarakat sekitarnya. Mereka sering merampok membegal rumah-rumah
penduduk dan mengambil harta benda mereka dan taksegan-segan memperkosa
isteri orang dan anak gadis dan membunuh
mereka bila melawan kemauan mereka. Saat itu Masyarakat yang tinggal di kaki Pegunungan
Meratus sangatlah berduka cita, sedih, takut berniaga, takut bertani, takut berkebun,
takut mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak isteri mereka dengan adanya
prilaku Datu Sumali’ing ini. Konon
Datu Sumali’ing ini memiliki kesaktian yang sangat sukar
dikalahkan. Beliau ini sangat sakti, kebal terhadap senjata, kebal terhadap
peluru, konon Datu Sumali’ing ini memiliki aji sirep merubah sukma menjadi
batu, bila ritual aji sirep dibacanya maka terlihat yang paling hebat dari
beliau adalah kulit siapa saja yang terkena semburan air liur (ludah)-nya
langsung berubah menjadi batu bila beliau menghendakinya. Banyak sudah anggota Masyarakat
yang menjadi korban beliau, sampai-sampai binatang juga banyak yang berubah
menjadi batu. Salah sedikit, datu ini langsung marah dan meludahi, “Cuuuuuh….”,
tetapi kulit yang mengandung darah seperti manusia atau binatang yang kena akan
berubah menjadi batu.
Karena beliau merasa sakti dan tidak ada lawan yang
menandingi, lalu beliau sesumber mulut, berucap
akulah penguasa Pegunungan Meratus. Akhirnya tersiar kabar bahwa ttg
keganasan dan kebejatan beliau dan ke-6 saudaranya menguasai Pegunungan
Meratus, dan sampailah kabar berita tersebut ke telinga Raden Japatra Batu
Raja Nansrunai saat itu. Lalu ia memanggil dua Patihnya Datu Ayuh dan Datu
Intingan. untuk merundingkannya ttg cara menangkap dan menghukum para Penyamun
ganas yang sering meresahkan masyarakat.
Kemudian Raja mengutus dua orang Patihnya Datu Ayuh dan
Datu Intingan untuk menumpas perampok pembuat
onar dan resah masyarakat sekitarnya.
Kemudian mereka berdua mengatur strategi, setelah
dikira-kira matang strategi tersebut, keduanya berangkat dengan membawa 27
orang prajurit bersenjata lengkap dengan perisainya menuju tempat persembunyian para penyamun Datu
Sumali’ing dan Keenam saudaranya.
Ketika dekat tempat persembunyian mereka, Dari kejauhan diseberang gunung Datu
Ayuh dan Datu Intingan melihat Datu Sumali’ing dan Keenam saudaranya berjalan
pulang sambil memikul 6 ekor payau (rusa, menjangan). Mereka menuju pemukimannya.
Rupanya Datu Sumali’ing ini baru saja berburu dan mendapat 6 ekor payau.
Kemudian atas perintah Datu Patih Dayuhan Parajurit
mengapung pemukiman para penyamun tersebut, terjadilah perlawanan Datu
Sumali’ing dan Keenam saudaranya, Datu Dayuhan bertempur melawan Datu
Sumali’ing dan datu Intingan dan sebagian Parajuritnya bertempur melawan Keenam
saudara Datu Sumali’ing dan sebagian Parajuritnya melepaskan anak gadis yang
menjadi tawanan Datu Sumali’ing.
2jam kemudian Datu Iningan berhasil melumpuhkan Keenam
saudara Datu Sumali’ing, tapi sayang berbagi tali pengikat selalu terputus dengan
mudahnya ketika bersentuhan dengan tangan mereka, kecuali tali imbaran yang
mampu meruntuhkan kesaktian mereka. maka tali pengikat tangan dan kaki mereka
diganti dengan tali Imbaran yang biasa digunakan tali lanjung atau tali
kandutan, masing-msing diikat dipohon kayu yang berbeda.
6 jam berlalu Datu Dayuhan bertempur melawan Datu
Sumali’ing berbagai kesaktian sudah dikeluarkan, berbagai senjata sudah ditikamkan
tetapi tak ada yang kalah dan terluka dalam pertempuran itu.
Kemudian Datu Sumali’ing duduk bersila disebuah batu,
tanpa menghiraukan serangan senjata musuh yang mengenai tubuhnya, kedua matanya
terpejam, kedua tangan diletakan kadanya, kedua bibirnya kumat kamit membaca
mantera ritual aji sirep merubah sukma menjadi batu, ia ingin cepat mengalahkan
lawan dengan aji pemungkasnya karena kelelahan ritualnya terganggu dengan
sering mengkuap maka mulutnya terbuka lebar. Sementara kedua lawannya sedang
bersiap-siap hendak menyumpit Datu Sumali’ing yang ingin mengeluarkan aji
pemungkasnya.
Pada saat ingin meniup sumpit, tiba-tiba keduanya
terkejut lantaran ada suara gaib yang membisikkan di kedua telinga mereka. Kata
suara gaib tersebut, “Kalau kalian ingin mengalahkan Sumali’ing maka sumpitlah
di kerongkongannya.” Setelah suara gaib tadi hilang, cepat-cepat keduanya
bersiap-siap untuk menyumpit. Kebetulan waktu itu Datu Sumali’ing menguap panjang
karena ngantuk. Langsung saja keduanya meniup sumpitnya ke arah kerongkongan
Datu Sumali’ing. Pphuuuuuuu…pphuuuuuuuu..!!! Anak sumpit kedua datu ini dari
seberang gunung bergerak sangat cepat. Kkhaaapp..kkhaappp..!! Dua buku anak
sumpit tertancap tepat di dalam kerongkongannya, Datu Sumali’ing tersungur dari
tempat duduknya, ia dapat dilumpuhkan, kemudian kaki & tangannya
diikat dengan seutai tali lanjung. Untuk
dibawa kehadapan Raja Japatra Batu penguasa
kerajaan Nan Sarunai saat itu.
Tidak lama setelah itu terdengar bunyi petir yang sangat
keras dan langit tiba-tiba berubah menjadi gelap. Terdengar suara gaib di kedua
telinga mereka yang ada disitu. Kata suara gaib tersebut,
“Hai Sumali’ing, karena kau dan ke-6 saudaramu sering
berbuat jahat, salah jalan menggunakan ilmu yang kami berikan, maka hari kalian
kami benam dalam sebuah bukit untuk pelajaran orang-orang sesudah kalian”. Tidak
lama setelah itu, tiba-tiba cuaca langit berubah terang kembali. Datu Ayuh dan
Datu Intingan yang masih berada tidak jauh dari tempat itu sangat terkejut
melihat Datu Sumali’ing dan Keenam saudaranya tadi berubah menjadi 7 buah
gundukan bukit. Akhirnya 7 buah gundukan bukit tersebut oleh masyarakat
setempat diberi nama “Gunung Kapala Pitu”, yaitu satu kepala Datu Sumali’ing
dan 6-nya lagi kepala saudaranya.
5.Kerajaan Dayak Maanyan Nan Sarunai
Menurut Sejarah tradisi lisan suku Dayak bahwa Kerajaan Dayak Maanyan yang bernama
Kerajaan Nan Sarunai, pernah berdiri di daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara
Amuntai. "Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di
pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di
Laut Jawa. Daerah itu berjarak sekira 190 kilometer dari Banjarmasin, ibukota
Provinsi Kalimantan Selatan sekarang" (Raditya 2018)
6. Ekspedisi militer Pertama Kerajaan
Majapahit
Sejarah menyebutkan bahwa Kerajaan Dayak Maanyan yang bernama Kerajaan Nan Sarunai, berdiri dan bertahan berabad-abad di Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai. "Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Nan Sarunai adalah kerajaan Dayak yang kuat dan hebat dan rakyatnya makmur. Buktinya dua kali pasukan Majapahit menyerang kerajaan Nan Sarunai tetapi selalu dapat dipatahkan.
Menurut hikayat Datu Banua Lima bahwaTahun 1309 M Kerajaan Dayak Nan Sarunai dipimpin raja bernama Raden Japutra Layar.
Menurut ceritra orang-orang Dayak pahuluan bahari bahwa Raden Japutra Layar, ia anak Raden Japatra Batu dan ia anak Raden Gupitra Dewa konon Gupitra Dewa punya adik kandung bernama Raden Gupitra Bajawara (Datu Paluy anak dari Datu Sarawin) kakeknya Dayuhan. Seorang Raja yang dalam waktu satu genarasi masa memimpin kerajaannya antara 35-40 tahun yang bertakhta di Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan saat itu. Kemudian penerus Kerajaan Dayak Nan Sarunai dipimpin oleh Raden Neno antara 1339-1341.yaitu anak Raden Japutra Layar.
Menurut Sri Naida, pemerhati sejarah mengatakan bahwa "walau Kerajaan Nansarunai itu dianggap lenyap, toh eksistensi Dayak Maanyan itu tetap ada. Terbukti, dengan adanya 7 uria (petinggi Kerajaan Nansarunai) dan 40 patih yang akhirnya membentuk suku-suku yang ada di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah"
Diceritrakan bahwa Kerajaan
Majapahit mengirim ekspedisi militer pertama ke wilayah Borneo. Yang mula-mula
diserang adalah Kerajaan Nan Sarunai. Sekitar 5.000 pasukan Majapahit datang
dengan kapal-kapal laut melewati Sungai Barito yang dipimpin oleh Senopati Arya
Manggala. Dengan membawa pasukan yang sangat banyak tersebut, lalu pasukan
Kerajaan Nan Sarunai dengan gagah berani menyambut kedatangan serangan mereka
dengan pasukan yang sudah matang dipersiapkan sebelumnya. Lalu terjadilah
peperangan sengit antara dua kobo kerajaan ini.
Setelah dua hari bertempur dimedan
laga menghadapi pasukan Nansarunai yang tangguh dan kuat, akhirnya pasukan
Majapahit mampu dipukul mundur oleh pasukan Nan Sarunai yang dipimpin Datu
Panglima Angkin tarkanal sakti (anak Datu Dayuhan), bahkan pemimpin pasukan
Majapahit ketika itu yaitu Seopati Arya Manggala roboh bersimbah darah dengan
liher putus akibat terkena sebitan Mandaunya senjata asli Suku Dayak.
Mengetahui pemimpin pasukannya
tewas lalu sisa-sisa pasukan Majapahit lari terbirit-birit tunggang langgang
menuju kapal untuk menyelamatkan diri dari gempuran dan kejaran pasukan Nan
Sarunai dan akhirnya mereka pulang ke
tanah Jawa. Kerajaan Majapahit gagal dalam ekspedisi pertama ini, untuk
menaklukan Kerajaan Nan Sarunai (Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang
Ditakuti Prajurit Majapahit” diterbitkan SINDOnews.com pada Jum'at, 03 Juli
2015)
Dilansir dari Artikel “Datu Banua
Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit” bahwa Pada saat itu, Kerajaan
Majapahit sangat berambisi untuk menguasai nusantara termasuk tanah Borneo,
Kalimantan. Hal itu terjadi karena Maha Patih Gajah Mada sudah bersumpah untuk
menguasai dan menyatukan nusantara. Menurut mata-mata Majapahit ada yang
mengatakan bahwa kedua kerajaan di Borneo tersebut adalah rakyatnya sangat makmur
karena istananya berlapiskan emas. Mendengar hal itu, Prabu Hayam Wuruk, Raja
Majapahit begitu berambisi untuk menguasai kedua buah kerajaan tersebut,
7.Ekspedisi militer Kedua Kerajaan Majapahit
Setelah gagal dalam ekspedisi
pertama, Majapahit kembali mengirim ekpedisi militer kedua. Ekspedisi kedua
kali ini dipimpin langsung Laksamana Nala yang diikuti isterinya dengan membawa
dua kali lipat pasukan dari ekspedisi pertama. Dalam rombongan pasukan besar
ini terdapat juga pasukan khusus Majapahit yang terkenal yaitu pasukan
Bhayangkara. Pada ekspedisi kedua ini pasukan Majapahit belum berhasil
menaklukkan Kerajaan Nan Saruna
Diceritrakan pula bahwa dimasa awal Raden Anyan memimpin kerajaan Dayak Nansarunai menggantian ayahnya Raden Neno. menurut Hikayat Datu Banua Lima ada seorang panglima kerajaan berasal dari suku Dayak Alai yang terkenal dengan sebutan Panglima Alai. Bersama lima panglima lainnya yaitu Panglima Tabalong, Panglima Balangan, Panglima Hamandit dan Panglima Tapin dengan membawa 1000 orang pasukan mereka sukses menghalau serangan kerajaan Majapahit pada tahun 1356M.
Laksamana Nala pulang ke tanah Jawa dengan sengaja ia meninggalkan isterinya Damayanti (Samoni Batu nama samaranya) di wilayah /tempat kekuasaan musuhnya tujuannya untuk mengetahui kelemahan musuhnya dengan alasan kapal tidak dapat merapat kepantai karena terjadi musim kemarau saat itu. Beberapa tahun kemudian musim kemarau telah berakhir menyamar sebagai saudagar Pedagabg kaya berlabuh di sungai Barito Laksamana Nala menjemput isterinya yang sedang menggendung seorang anak. Disinilah awal bermula timbul rasa .dendam Laksamana Nala dengan Raja Nansarunai karena ia menikahi & menghamili Samoni Batu yang sudah bersuami dan lewat keterangan isterinya tersebut ia mengetahui sumur gua tempat persembunyiannya dan rahasia kelemahan musuhnya.
8. Ekspedisi militer Ketiga Kerajaan Majapahit
Pada 1389 M. Majapahit kembali
mengirim ekpedisi militer ketiga Ekspedisi ini dipimpin langsung Laksamana Empu
Jatmika dan diikuti Laksamana Nala. Pada ekspedisi ketiga ini pasukan Majapahit
melakukan siasat perang yakni penyusupan-penyusupan dari dalam yang tidak
disadari lawannya, berupa memasukan kapal yang datang ke darmaga pelabuhan
secara bertahap, di wilayah Kerajaan Nan Sarunai, hingga tak dicurigai lawan,
mereka menyamar sebagai saudagar pedagang kaya yang banyak pelayannya untuk
mengetahui kelemahan lawan, penyamaran ini dilakukan dalam waktu yang lama
hingga kelemahan lawan ditemukan.
Kemudian baru mengadakan serangan
secara tiba-tiba hingga berhasil menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai, bahkan
serangan ketiga tersebut Raja Nan Sarunai yang bergelar Datu Tatuyan Wulau
Miharaja Papangkat Amas yang terkenal konon sakti mandarguna tetapi ia diduga
gugur dalam konvirasi peperangan. Peristiwa runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai yang
oleh orang-orang dayak Maanyan dikenal dengan istilah “Nan Sarunai Usak Jawa”.
Konon atas petunjuk isterinya,
diduga Raja Nan Sarunai terbunuh dengan sebuah tombak sakti miliknya sendiri
yang dilakukan oleh Laksamana Nala di dalam sebuah sumur gua tempat persembunyiannya.
Versi lain menyebutkan bahwa yang ditangkap dan dibunuh dengan sebuah tombak
sakti itu adalah Raksa Gangsa pengawal setia Raden Ayan (adik kandung isterinya).
Raden Ayan sendiri selamat dari
konvirasi penangkapan dan pembunuhan saat itu ia melarikan diri menuju Banua
Lawas Amuntai dan bersembunyi disana hingga akhir hayatnya. Sedangkan Ratu
Kerajaan Nan Sarunai yang bergelar Dara Gangsa Tulen dan sebagian keluarganya
lari menyelamatkan diri menuju pedalaman dibantu dua orang Punggawanya.
Akibat serangan Kerajaan Majapahit
tersebut, maka Kerajaan Nan Sarunai yang dipimpin oleh Raden Anyan yang
menyandang gelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas disebut-sebut
sebagai raja terakhir Nan Sarunai saat itu telah dihancurkan dan ditaklukan Maka suku
Dayak Maanyan tersebut terdesak dan terpencar atau tercerai berai
atau lari ke pedalaman. Sebagian mereka masuk ke pedalaman hulu sungai.
Ada tiga ekspedisi militer dilakoni
Kerajaan Majapahit dalam misi menaklukkan Kerajaan Nansarunai. Hingga, penetrasi atau penyerangan III
terjadi pada 1350-1389, di masa Raja IV Majapahit bernama Sri Hayam Wuruk atau
Rajasanagara yang berkuasa pada 1350-1389, dengan Maha Patih Gajah Mada (yang
wafat pada 1362), terbilang sukses.
Atas perintah Hayam Wuruk, pasukan
Majapahit pimpinan Empu Jatmika menyerang Nan Sarunai hingga takluk. Kemudian, Empu Jatmika membangun kerajaan
baru bernama Negara Dipa yang bernaung di bawah kekuasaan Majapahit dan
menganut agama Hindu.
9. Dua orang Punggawa Penyelamat Ratu Dayak Nansaruni
Menurut Ahmad atau Amat yang saya
wawancarai, ia asal dayak Bayumbung yang sudah muslim ceritera dari
datuk-neneknya bahwa "Saat penyerangan tentara Maja Pahit yang ke-3 ke
Kalimantan Selatan tahun 1389M Dara Gangsa Tolen Ratu Raja Dayak Nansarunai
juga ikut lari/mengungsi bersama sebagian rakyatnya menyelamatkan diri ke daerah
pedalaman dibantu Pengawal setianya yang bernama Raksajiwa, adik kandungnya sendiri hingga perjalanan
mereka tiba di Paramasan dan bersembunyi di sana. Beliau telah wafat dan
bermakam di Pramasan Atas Kecamatan Paramasan dan makamnya masih ada malah
diberi lelangit kain kuning oleh Masyarakat Dayak disana".
Menurut Asmaji Kades Paramasan
Bawah yang saya wawancarai saat pernikahan sepupunya an. Yusran di Desa Bamban
bahwa "Kuburan Dara Gangsa Tulen Ratu Nansarunai terletak di Desa
Paramasan Atas dan Kuburannya itu sudah dibina oleh Pemerintah Kab.
Banjar."
Menurut Ahmad dan Ceritra datu
nenek kami bahwa “Amandit dan saudaranya Kantawan adalah nama dua orang
Punggawa Kerajaan Nan Sarunai dari Dayak Maanyan yang ditugaskan menyelamatkan
Dara Gangsa Tulen Ratu Nan Sarunai dan keluarganya dari kejaran-kejaran tentara
Majapahit. Punggawa Amandit membawa mereka lewat tanah kelahirannya hingga
perjalanan sampai ke- Desa Peramasan Atas Kab. Banjar. Nah di Desa inilah
terdapat sebuah nama bukit /gunung Panginangan Ratu dan makam Ratunya ada disana.”
Menurut ceritra masyarakat setempat
bahwa Pada masa menyelamatkan Dara Gangsa Tulen Ratu Nan Sarunai dan keluarganya perjalanan yang dipandu Dua
orang Punggawa Kerajaan Nan Sarunai yakni Amandit dan Kantawan, mereka singgah
di Kandangan beberapa waktu untuk bersembunyi dan beristirahat melepaskan lelah
di dalam sebuah “Gua” maka Gua tempat beristirahat Ratu Nan Sarunai tersebut
diberi nama oleh masyarakat setempat dengan nama “Gua Peranginan Ratu” gua
tersebut menjadi Objekwisata terletak digunung Parandakan sekarang menjadi
wilayah Kec. Lokpaikat.
Referensi :
1. Ceritera Artikel Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit (Bagian-1)
https://daerah.sindonews.com/berita/1019516/29/datu-banua-lima-panglima-yang-ditakuti-prajurit-majapahit-bagian-1 neni
masyarakat Dayak Pegunungan Maratus
2. Artikel “Datu Dayuhan dan Datu Intingan vs Datu Simali'ing (Asal-Usul Gunung Kapala Pitu, Rabu, 13 Mei 2015 http://www.pendidikandasar.net/2015/05/datu-dayuhan-dan-datu-intingan-vs-datu.html
(Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit” diterbitkan SINDOnews.com pada Jum'at, 03 Juli 2015)
Referensi Artikel (KERAJAAN TANJUNGPURI DI TANJUNG TABALONG) Yuli Saputera Email: yulisaputera03@gmail.com Program Studi Pendidikan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin