Minggu, 10 Mei 2026

Bab. V “Keberadaan Insan/ Manusia di Bumi” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

 


BAB. V

PASAL KE 4 PENJELASAN INSAN (MANUSIA)

الفصل  الخامس فى بيان الإنسان

Daftar Isi Bab. V “Menteladani Sifat Insan Nabi Saw” Kitab al-Risalah Mutaba’atul Hasanah 

A. KETERANGAN KEBERADAAN INSAN DI MUKA BUMI

1. Pengertian Insan

2. Penjabaran Sifat Insan Secara Lebih Rinci

B. MANUSIA DAN KEBERADAANNYA DI MUKA BUMI

1. Wujud Manusia yang berasal dari Tanah

2. Manusia Dituntut Tazkiyatun Nafsi 

3. Perlu Adanya Tazkiyatun Nafsi bagi Manusia

C. KEBERADAAN MANUSIA DI ALAM RAHIM  SANG IBU

1. Pertama Berada di Alam Rahim

2. Dzikir-dzikir si Cabang Bayi

3. Keberadaan INSAN di Bumi Rahasia Allah Swt

D. BAYANUL INSAAN


BAB. V

PASAL KE 4 PENJELASAN INSAN (MANUSIA)

الفصل  الخامس فى بيان الإنسان

A. KETERANGAN KEBERADAAN INSAN DI MUKA BUMI

1. Pengertian Insan

Kata insan berasal dari kata kerjanya atau fi'il madlinya : "ANSAA – YUNSII – INSAN dari wajan atau timbangan AF'ALA – YUF'ILU - IF'ALAN.

أَنْسَى يُنْسِى إِنْسَانًا فِى وَزْنٍ أَفْعَلَ – يُفْعِلُ إِفْعَالًا

Insan adalah isim masdar yang berarti :"LUPA IA  atau lalai ia atau bersalah ia"

Mengutip Artikel “Ringkasan AI Google” menyatakan bahwa Sifat insan (manusia) dalam pandangan umum dan agama mencakup kombinasi potensi mulia (khilafah, amanah, jujur) dan kelemahan bawaan (lalai, kikir, suka mengeluh, lemah). Insan berkualitas ditandai dengan zuhud terhadap dunia, amanah, dan kesungguhan ibadah, sementara dari sisi psikologis, manusia bersifat dinamis, ekspresif, dan kompetitif.

Insan adalah tempat berbuat kesalahan, ia melupakan akan dirinya. Seperti sabda Nabi Saw  :

وَقَوْلُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : اَلْإِنْسَانُ مَحَلُّ خَطَاءٍ وَنِسْيَانٍ .الحدث.

Artinya : Dan Sabda Nabi Saw :"Manusia itu tempatnya berbuat salah pelupa."

2. Penjabaran Sifat Insan Secara Lebih Rinci

Adapun penjabaran sifat insan secara lebih rinci adalah seagai berikut :

a. Sifat Mulia (Potensi Positif) :

1. Amanah/Terpercaya: Mampu memikul tanggung jawab (khalifah di bumi).

2. Zuhud/Sederhana: Tidak diperbudak harta dan duniawi.

Jujur & Sungguh-sungguh: Berakhlak mulia dan serius dalam beribadah.

3. Penyabar & Bersyukur: Teguh dalam iman dan menyadari nikmat.

b. Sifat Dasar/Kelemahan (Dalam Al-Quran) :

1. Pelupa & Lalai: Sering melupakan Tuhan saat mendapat nikmat.

2. Kikir & Tamak: Cenderung menyukai harta secara berlebihan.

3. Lemah & Keluh Kesah: Mudah bersedih, takut, dan mengeluh.

4. Suka Membantah & Sombong: Egois dan menolak kebenaran.

Sifat Psikologis/Karakter:

5. Sosial: Mudah bergaul dan ekspresif.

6. Aktif & Kompetitif: Memiliki dorongan tinggi untuk mencapai tujuan. Humoris & Impulsif: Spontan dan santai.

 Secara Terminologi, Insan adalah sifat dan sikap pribadi yang pelupa, lalai, selalu bersalah dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya berupa tugas dan kewajiban.

Memang sifat manusia sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh intensitas dan efektivitas usahanya dalam melakukan tadzkiyatun nafs (pensucian jiwa). Mengapa dilakukan? Karena tidak dapat dipungkiri bahwa manusia diciptakan dengan membawa dua potensi yang berseberangan. Allah telah mengilhamkan ke dalam jiwanya fujur /dosa dan ketakwaan.


B. MANUSIA DAN KEBERADAANNYA DI MUKA BUMI

Ketika Allah Swt telah berfirman kepada para Malaikat bahwa Ia akan menjadikan Khalifah sebagai pemimpin dan penguasa  dimuka Bumi dan untuk memakmurkan bumi. Sebagaimana firman Allah Swt pada surat al Baqarah ayat 30 yang berbunyi  

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٣٠

Artinya : Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat "Aku hendak menjadikan Khalifah di bumi. Mereka berkata : "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana. Sedangkan kami bertasbih memuji Mu dan mensucikan Mu." Dan Dia berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." QS. Al Baqrh 30.

Mengutip dalam Risalahnya THARQUL HAYAT oleh Gr. Muhammad Syukri,HS telah menyebutkan tentang Manusia dan keberadaannya di muka bumi, yaitu dilihat dari wujudnya manusia itu terdiri jam'y dan kully, sehingga penampilannya dilihat dari segi zahir dan batin merupakan ujud kamaliah. Atau dengan istilah lain bahwa diri manusia itu globalistik yang struktural sehingga mampu berpenampilan dalam mengarungi kehidupan di alam material dan immaterial. Hanya manusia paripurna atau insan kamil yang dapat hidup di dua alam, alam zahir dan alam batin, alam musyahadah dan alam gaibiyah, alam material dan alam non material.

Zat Insaniyah terdiri dari tiga unsur yaitu :-Unsur Turabiyah (berasal dari tanah),  Unsur Ruhaniyah, -Unsur Nuraniyah Zat Insaniyah terdiri dari tiga unsur yaitu :-Unsur Turabiyah (berasal dari tanah),  Unsur Ruhaniyah, -Unsur Nuraniyah. Dan terakhir  adalah yang ke-4 yakni  Unsur Rabbaniyah.

1.Wujud Manusia yang berasal dari Tanah

Dengan Turabiyah terbentuklah jasad atau raga insaniyah, selaku penghuni bumi abadi. Dengan rohaniyah terbentuklah jiwa atau roh yang memberikan sifat hidup dan sifat lainnya pada jasad, sehingga jasad dapat berakitvitas aktif. Wujud Manusia yang berasal dari Tanah

Dengan Turabiyah terbentuklah jasad atau raga insaniyah, selaku penghuni bumi abadi. Dengan rohaniyah terbentuklah jiwa atau roh yang memberikan sifat hidup dan sifat lainnya pada jasad, sehingga jasad dapat berakitvitas aktif.

 

2. Manusia Dituntut Tazkiyatun Nafsi 

Mengutip salah satu Artikel “E.5 Sifat Manusia” menyebutkan bahwa Manusia yang beruntung adalah manusia yang melakukan tazkiyah nafsi(pensucian jiwa). Termasuk dalam pengertian tadzkiyah adalah pembelajaran, pelatihan, dan tarbiyah. Tazkiyatun nafs akan membentuk seseorang berkepribadian sebagai ‘ibadurrahman [hamba Sang Mahapenyayang]. Allah sangat mencintainya. Sifat-sifat mereka antara lain:

– Syakur [banyak bersyukur]

– Shabur [banyak bersabar]

– Ra’uf [penyantun]

– Rahim [penyayang]

– Halim [arif]

– Tawwab [banyak bertobat]

– Awwab [lemah lembut]

– Shaduq [sangat jujur]

– Amin [amanah]

Orang yang senantiasa mensyukuri nikmat akan mendorong jiwanya untuk memahami bahwa potensi baik yang sudah Allah tanamkan dalam jiwanya harus dipelihara, disirami, dipupuk, disiangi dan dihindari dari polusi, virus, hama dan penyakit. Dengan begitu ia akan tumbuh subur, berbunga, dan memberikan buanya setiap musim. Dialah yang [sukses] di dunia dan akhirat.

Rasulullah Saw bersabda :

 77 – الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ لِنَفْسِهِ وَ عَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

Artinya : Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati.

191 – أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ حُلَيْمٍ الْمَرْوَزِيُّ، ثَنَا أَبُو الْمُوَجَّهِ، ثَنَا عَبْدَانُ، ثَنَا عَبْدُ اللهِ، أَنْبَأَ أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِيْ مَرْيَمَ الْغَسَّانِيُّ، عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيْبٍ، عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ سَلَّمَ – : “الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَ عَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَ الْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَ تَمَنَّى عَلَى اللهِ.”

[ ص: 231 ] هذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ وَ لَمْ يُخْرِجَاهُ.

191. Abul-‘Abbās ‘Abdullāh bin al-Ḥusain al-Qādhī mengabarkan kepada kami di Marwa, Ḥārits bin Abī Usāmah menceritakan kepada kami, Abul-Muwajjih menceritakan kepada kami, ‘Abdān menceritakan kepada kami, ‘Abdullāh menceritakan kepada kami, Abū Bakar bin Abī Maryam al-Ghassānī menberitakan (kepada kami), Dhamrah bin Ḥabīb, dari Syaddād bin Aus, dia berkata: Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa-nafsunya dan berharap-harap kepada Allah (agar mengampuninya).” HR Muslim (2521)

Dalam kitab hadits lain juga disebutkan tentang ORANG CERDAS misalnya kitab hadits Imam Tirmidzi  :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : "الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ"

Artinya : "Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah." (HR. Tirmidzi, no. 2459; Ibnu Majah, no. 4260) 

Sedang keberadaannya pada jasad hanya sementara bilangan nafas dikandung badan karena ia bukan wujud material. Ia berasal dari Ruhul Ilahiyah yang Maha Ghaib, wujud Rohaniyah ini selalu terikat pada asalnya yang Maha Ghaib.

Wujud Insaniyah yang berasal dari turabiyah (asal tanah ) misalnya sarifati makanan berasal dari bumi. Contohnya kepala, badan, perut dan anggota, ada mata, telinga, dagu, mulut, dahi, otak, syaraf, hati, jantung, empedu, ginjal, usus, paru-paru   dan lain-lain. Kumpulan semua itu dinamakan raga atau jasad kita. Penghulu Raga/Jasad manusia adalah Nabi Adam AS. Ujud jasad atau raga ini memiliki watak, memiliki tabiat antara lain : kasar, keras, kaku, beku, dingin, gelap dan pekat.


3. Perlu Adanya Tazkiyatun Nafsi bagi Manusia

Mengutip salah satu Artikel “E.5 Sifat Manusia” menyebutkan bahwa Jiwa yang dibiarkan tanpa tadzkiyah akan berkarat dan akhirnya jadi kotor. Apabila sengaja dikotori. Akibat pengotoran itu muncullah sifat-sifat buruk padanya sehingga ia menjadi manusia yang merugi. Sifat-sifat mereka adalah:

– ‘Ajulan (عًجُوْلًا)[suka tergesa-gesa]

– Halu’an (هَلُوْعًا)[banyak berkeluh kesah]

– Ghafilan (غَفِيْلًا)[lalai]

– Thaghiyan [melampaui batas]

– Qaturan [pelit]

– Kafuran (كُفُوْرًا)[kufur/ingkar]

– Aktsara jadalan (جِدَالًا)  [banyak mendebat]

– Kanudan (الْكَنُوْدُ)[banyak membantah] yang tiada syukur akan ni’mat, bakhil

– Zhaluman (ظَلُوْمًا)  [sangat dhalim]

– Jahulan  (جَهُوْلًا)[sangat bodoh]

Sangat disayangkan bahwa kesadaran untuk melakukan tazkiyatun nafs seringkali hilang akibat berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal. Tantangan internal adalah nafsunya sendiri yang cenderung pragmatis. Ia lebih suka segera [tergesa-gesa] menikmati meskipun hanya sebentar kemudian hilang, daripada harus bersusah payah dengan kenikmatan jangka panjang yang lebih kekal. Sebenar-benar kerugian adalah apabila manusia lebih memilih kenikmatan sesaat dengan mengorbankan kenikmatan sesaat dengan mengorbankan kenikmatan yang abadi. Itulah orang yang tidak mendapat hidayah. Semoga Allah menghindarkan kita dari sifat-sifat yang demikian.


C. KEBERADAAN MANUSIA DI ALAM RAHIM  SANG IBU

Nabi Besar Muhammad Saw telah bersabda :

قال النبي عليه الصلاة والسلام : أنا أبوالأرواح وأدم أبو البشر.

Artinya :"Aku adalah bapaknya semua roh dan Adam adalah Bapaknya semua jasad".

1. Pertama Berada di Alam Rahim

Allah Swt berfirman pada Surat al Mu,min tentang asal usul kejadian anak cucu Adam As. : 

Allah Swt berfirman pada Surat al Mu,min tentang asal usul kejadian anak cucu Adam As. :

ولقد خلقنا الإنسان من سلالة من طين ثم جعلناه نطفة فى قرار مكين ثم خلقنا النطفة علقة فخلقنا العلقة مضغة فخلقنا المضغة عظاما فكسونا العظام لحما ثم أنشأناه خلقا آخر فتبارك الله أحسن الخالقين. = المؤمون 12-13

Artinya : "Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari sari pati (berasal) dari tanah.Kemudian kami jadikan dari sari pati itu air mani (yang tersimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim wanita). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging, kemudian kami jadikan ia mahluk yang berbentuk lain. Maha suci Allah Pencipta yang paling baik." QS. Al Mu'min 12-13

Alam rahim adalah alam dimulainya proses kejadian manusia, yaitu manusia dijadikan oleh Allah Swt dari pada saripati berasal dari tanah, dan dari saripati itu Allah menjadikan air mani yang tersimpan dalam rahim (tempat yang kokoh). Kemudian dari air mani itu Allah ciptakan segumpal darah, lalu dari segumpal darah itu, Allah jadikan segumpal daging, tulang belulang yang dibungkus dengan daging.

Berkata Ahli Tahkik bahwa : "Dari NUR MUHAMMAD SAW dijadikanlah air, tanah, angin dan api". Keempat macam inilah asal kejadian lembaga atau jasad Manusia, Allah menjadikan bentuk wujud manusia ini. Jadi pada tahab pertama ini, manusia telah mengalami kehidupan di alam rahim seorang ibu.  Sebagaimana firman Allah pada surat  Ali Imran yang berbunyi :

هو الذى يصوركم فى الأرحام كيف يشاء (أل عمران : 5)

Artinya :"Dialah yang akan membentuk/menempa kamu di alam kandungan sang ibu sebagaimana yang ia kehendaki". QS. Ali Imran 5.

Apabila manusia yang berada dalam Rahim kandungan seorang ibu selama kurang lebih 120 hari -160 hari maka Allah menyuruh Malaikat untuk meniupkan ROH ke dalam tubuh janin dalam kandungan sang ibu. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis yang berbunyi :

إن أحدكم يجمع خلقه فى بطن أمه أربعين يوما ثم يكون فى ذلك علقة مثل ذلك ثم يكون فى ذلك مضغة مثل ذلك ثم يرسل الملك فينفخ فيه الروح ويؤمر بأربع كلمات,بكتب رزقه وأجله وعمله وشقي أوسعيد ... رواه مسلم

Artinya : "Bahwasanya seorang dari kamu itu dikumpulkan kejadiannya dalam kandungan ibu 40 hari dalm ujud air mani. Lalu jadilah segumpal darah selama 40 hari. Lalu jadilah segumpal daging selama 40 hari juga. Kemudian Allah mengutus Malaikat, lalu meniupkan ROHnya kedalam jasadnya dan diperintahkan dengan empat perkara yaitu :1. Menulis ........ ketetapan rejekinya, 2. Menulis ketetapan ajalnya, 3. Menulis ketetapan amalnya,  4.Menulis ketetapan menjadi orang celaka atau orang bahagia.HR. Muslim.

(Berupa Titik Noktah) atau Cikal bekal Insan sebelum berada dirahim sang ibu, ia berada dalam rahim Bapak selama 40 hari, dari Mada, Madi, Mani, Manikam, pusat, jantung, watsulbi Muntaraib, otak. Dalam otak ada lemak, dalam lemak ada minyak, Dalam minyak ada Nur. Dalam Nur ada Nur Akal, Dalam Nur Akal ada Hizabbunnur, Dalam Hizabbunnur ada hidayamul amanah Allah Swt.

 

2. Dzikir-dzikir si Cabang Bayi

Susunan dalam Rahim Bapak :

- Di Otak ......................................:   7 hari

- Di Tulang Belulang ....................  : 7 hari

- Di Tsulbi Muntara'it ..................    : 7 hari

- Di Tulang Dada .........................   : 7 hari

- Di Pusat ....................................   : 7 hari

- Di Kalam .............................  ...... : 7 hari

Dalam Rahim Ibu ada yang 7 bulan + 7 hari,  ada yang 9 bulan, + 9 hari. Cabang Bayi dalam kandungan itu berdzikir terus menerus kepada Allah dengan dzikir berikut :

1. Satu hari .........................   = HU, HU, HU (هُوْ هُوْ هُوْ)

2. Tiga hari ..................  = ALLAH, ALLAH, ALLAH ( (ألله ألله ألله

3. Tujuh hari ..... = ILLALLAH, ILLALLAH, ILLALLAH,   (إلا ألله إلا ألله)

4. Empat Bulan+4 hari = THURAABUN NUUR   ( (طراب النور

5. Tujuh Bulan+7 hari .........   = SUBHAANALLAH   ( (سبحان الله

6. Delapan Bulan+8 hari ....... = ALHAMDULILLAH   ( (الحمد لله

7. Sembilan Bulan+9 hari = INNA, ANNAA AAMANNAA=

(إن أنا آمنا اَوْ اِنَّنَا آَمَنَّا)

Kemudian selama bayi tsb berada dalam kandungan sang ibunya, ada yang 7 bulan lebih, lahir ke alam Insan atau alam dunia sebagai bayi primatur. Ada yang 9 bulan lebih lama berada dalam kandungan sang ibunya, maka lahirlah ia ke alam dunia. Berwujud bayi yang masih kecil, lemah, tak berdaya dan kekuatan. Inilah asal kejadian INSAN. Janin yang berada dalam kandungan sang ibunya itu ada punya kawan atau teman sebagaimana syair seorang Ulama Kalimantan yang hidup sezaman dengan Syekh Muhammad Arsyad al Banjari yaitu bernama Datu Sanggul , :

Manusia lahir ke alam Insan

Di alam ajsam empat berkawan

Si Tubaniyah dan Tambuniyah

Uriyah lawan si Camariyah

3. Keberadaan INSAN di Bumi Rahasia Allah Swt

Berkata Guruku KH. Jumberi Bihara bahwa Insan  itu adalah rahasia. Dalam bahasa Arab insan itu adalah sebuah singkatan dari kata "IN – S –IN      maksud :

أنا سر أنا

Syekh Dr. KH. Jalaluddin dalam Bukunya "SERIBU SATU WASIAT" menjelaskan tentang INSAN pada firman Allah surat at Tiin :

لقد خلقنا الإنسان فى أحسان تقويم... التين 4

Artinya : "Sungguh telah kami jadikan INSAN itu sebaik-baik rupa atau bentuk."

Bagaimana baiknya rupa Insan itu ? Tidaklah dapat dipandang, dilihat dengan mata kepala dan tidak dapat dirasa oleh anggota.  tubuh yang zahir belum sempurna baik, karena tubuh.

yang zahir telah tersusun dari darah dan daging dan akan binasa atau rusak, lagi mengandung najis di dalam perut.

Lalu bagaimana dengan rupa yang batin itu ? Allah telah menerangkan dalam hadis qudsi :

وقوله عليه الصلاة والسلام : قال تعالى : خلق الإنسان على صورة الرحمن اى إسم الرحمن

Sabda Nabi Saw Allah berfirman :"Dia jadikan Insan itu atas rupa Rahman yaitu nama Rahman"

Siapakah yang dimaksud nama Rahman dalam hadis ini ? Jawabnya adalah kalimah Allah, Allah, Allah pada Tarekat Naqsyabandi. Kalimah Hu ........Allah, Hu ........Allah, pada Tarekat al Junaidiyah, dan 'Ainiyah. Daut penulisnya NUR MUHAMMAD Kalimah Allah, Allah, Allah, dimaksud adalah NUR MUHAMMAD. Kalimah Allah, Allah, Allah, telah bercahaya cahaya pada sekalian tubuh. Kalimah Allah, Allah, Allah itu membaca sendiri, dzikir sendiri, bergerak sendiri secara terus menerus berkepanjangan. Manakala Nur Muhammad bercahaya cahaya pada sekalian tubuh yang zahir dan tubuh yang batin maka dinamakanlah manusia saat itu JAGA atau Tidak tidur. Kalau Nur Muhammad bercahaya cahaya pada sekalian tubuh yang batin saja maka dikatakanlah manusia saat itu tidur. Jikalau Nur Muhammad bercahaya cahaya tidak diluar tubuh dan tidak pula didalam tubuh maka dinamakanlah manusia waktu itu meninggal dunia. Adalah Nur Muhammad atau Kalimah Allah, Allah, Allah, atau Rahasia Allah itu seolah-olah Nyawa kita.

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman :

وقوله عليه الصلاة والسلام : قال تعالى : الإنسان سرى وأنا سره

Sabda Nabi Saw Allah berfirman :"Insan itu adalah rahasia Ku dan Aku rahasianya."

Insan itu adalah rahasia Ku maksudnya tempat menaruh rahasia Allah yaitu ilmu agama dan ilmu ma'rifat. Akupun rahasianya maksudnya Aku pandangan hatinya, aku pendangaran dan penglihatannya dari pada ku.


D. BAYANUL INSAAN

الإنسان

اعلم الإنسان فى أصل فطرته وتركيبه قد اجتمع فيه أربعة شوائب, فمنها الصفات السبعية والبهيمة والشيطانية والربانية. فهو من حيث سلط عليه الغضب يتعاطى أفعال السباع, ومن حيث سلط عليه الشهوات يتعاطى فعل البهائم,ولتركب هاتين الصفتين فيه, وتولد حب الشر فيه والقهر والغلبة والمكر والخديعة غلبت عليه الشيطانية.

1.Ketahuilah bahwa manusia, dalam sifat dan konstitusi aslinya, memiliki empat kenajisan: sifat predator, sifat kebinatangan, sifat setan, dan sifat ilahi. Ketika amarah mengendalikannya, ia berperilaku seperti binatang buas; ketika keinginan mengendalikannya, ia berperilaku seperti hewan. Karena kedua sifat ini tergabung dalam dirinya, dan karena kecintaan pada kejahatan, penindasan, dominasi, tipu daya, dan penipuan, sifat setanlah yang berkuasa.

ومن حيث أنه فى نفسه أمر ربانى كما قال تعالى : قل الروح من أمر ربى سورة الأسراء 85  فانه يدعى لنفسه الربوبية والإستعلاء وترك الانقياد ويفرح بما يناسب هذا الأمر من المعرفة والوصف بها. ويحزن بما يناقضه من الجهل والوصف به,فإذا عرفت هذا فاعلم أن الإستغال بالعبادات والمواظبة عليها القصد منه تحصيل الغرض من قهرمالاينبغى وابقاء ما ينبغى فى باب رياضه النفس ذلك إن شاء الله تعالى.

Karena pada dasarnya ini adalah perkara ilahi, sebagaimana firman Allah Yang Maha Kuasa: “Katakanlah, ‘Ruh itu adalah perintah Tuhanku’” (Surah Al-Isra 85), maka ia mengklaim keilahian dan keunggulan, menolak ketundukan dan bergembira atas apa yang sesuai dengan perkara ini dalam hal pengetahuan dan digambarkan sebagai demikian. Ia berduka atas apa yang bertentangan dengannya dalam hal ketidaktahuan dan digambarkan sebagai demikian. Setelah memahami hal ini, ketahuilah bahwa melakukan ibadah dan tekun dalam ibadah tersebut dimaksudkan untuk mencapai tujuan mengatasi apa yang tidak diinginkan dan memelihara apa yang sesuai dalam ranah pendisiplinan jiwa. Ini adalah kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

و اعلم ان العلم الصالح الحاصل فى القلب إن كان بطريق التعلم وتقديم المقدمات فهو طريق العلماء وماورائه فهو طريق الصوفية وهو بكشف ومشاهدة وذلك قسمان.

Dan ketahuilah bahwa ilmu yang baik yang diperoleh di dalam hati, jika diperoleh melalui pembelajaran dan penyampaian pendahuluan, maka itu adalah jalan para ulama, dan apa yang melampauinya adalah jalan para Sufi, dan itu melalui pengungkapan dan kesaksian, dan itu ada dua macam.

Menurut Tuan Guru KH. Ahmad Syarbaini Banjarmasin Kalimantan Selatan bahwa Insan atau Manusia itu terdiri dari 4 unsur yaknia :

1.Jasmani

2.Rohani

3.Nurani

4.Rabbani

Pengendali Jasmani atau batang tubuh adalah Rohani, pengendali Rohani adalah Nurani atau Nur Muhammad, sedang pengendali Nur Muhammad adalah Rabbani yakni Allah SWT.

أحدها : مثل وقوع الالهام فى النفس وهو النفث فى الروع وإليه والإشارة بقوله صلى الله عليه وسلم : إن روح القدس نفث فى الروعى.. احبب من شئت فإنك مقارقه واعمل ما شئت فإنك مجزى به وعش ما شئت فإنك ميت.

Artinya : Salah satunya adalah: seperti terjadinya inspirasi dalam jiwa, yaitu hembusan napas ke dalam hati dan kepadanya, dan merujuk pada apa yang dikatakan Nabi, صلى الله عليه وسلم: “Roh Kudus menghembuskan napas ke dalam hati… Cintailah siapa pun yang kamu kehendaki, karena kamu akan terpisah darinya, dan lakukanlah apa pun yang kamu kehendaki, karena kamu akan diberi pahala untuk itu, dan hiduplah sesuai keinginanmu, karena kamu akan mati.”

وقسم آخر: هو من جنس الإلهام وذلك ان يكشف له حقائق الأشياء ويرى الملك الموكل بها الذى منه يستفيد.

Jenis lainnya adalah ilham, di mana hakikat sejati segala sesuatu diungkapkan kepadanya, dan ia melihat malaikat yang ditunjuk atas segala sesuatu, dari siapa ia mendapat manfaat.

و اعلم ان القلب إذا كان كالمرأة الصقيلة المجلوة. وقد علمت قبل ذالك أن حقائق الأشياء منقوشة فى اللوح المحفوظ فمنهما ارتفع الحجاب,وكان المرأة فى محاذة اللوح المحفوظ, انكشف فيه حقائق العلوم و ارتفع الحجاب, تارة بهبوب رياح الا لطاف من غير سبب من جهة العبد او استعداد. فيلمع فى القلب من وراء ستر الغيب شيئ من غرائب العلوم وتمام هذا الكشف بالموت فيه ارتفع الحجاب بالكلية وإليه والإشارة بقوله صلى الله عليه وسلم :"الناس نيام فإذا ماتوا إنتبهوا". ويقرب من الميت تصفية الصفوفية, فلذلك لا يشتغلون بدراسة العلم بل يشتغلون بتصفية القلب وقطع العلائق, ليكون ذلك سببا فى الإقبال على الله تعالى بالكلية

Artinya : Ketahuilah bahwa hati itu seperti cermin yang dipoles dan berkilauan. Dan engkau telah mengetahui bahwa hakikat sejati segala sesuatu tertulis di Loh Batu yang Terpelihara. Dari situ, tabir diangkat, dan cermin disejajarkan dengan Loh Batu yang Terpelihara, mengungkapkan kebenaran pengetahuan, dan tabir pun diangkat.

Terkadang, angin sepoi-sepoi bertiup tanpa sebab atau persiapan dari sang hamba. Kemudian, sebagian dari keajaiban ilmu pengetahuan terlintas di hati dari balik tabir yang tak terlihat. Pengungkapan ini disempurnakan dengan kematian, ketika tabir itu sepenuhnya terangkat. Hal ini disinggung dalam sabda Nabi, صلى الله عليه وسلم, "Manusia tertidur, dan ketika mereka mati, mereka bangun." Penyucian hati membawa seseorang lebih dekat kepada kematian, sehingga mereka tidak menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu pengetahuan, tetapi lebih kepada menyucikan hati dan memutuskan keterikatan, sehingga hal ini dapat menjadi alasan untuk sepenuhnya berpaling kepada Allah Yang Maha Kuasa.

 

Referensi :

Artikel “E.5. Sifat Manusia” Materi Tarbiyah // .https://rasmulbayantarbiyah.wordpress.com/2014/04/18/e-5-sifat-manusia/

Artikel “Ringkasan AI Google” https://www.google.com/search?q=SIFAT+INSAN&rlz=1C1CHBD_idID1040ID1040&oq=SIFAT+INSAN&aqs=chrome..46i512j69i57j0i22i30l8.16598j0j15&sourceid=chrome&ie=UTF-8

Artikel “Orang Yang Cerdas” https://www.threads.com/@dnh_hamdani/post/DH9qNPqBO-r/orang-cerdas%D8%B9%D9%8E%D9%86%D9%92

Kitab Hadits Sahih Muslim Nomor 2521

Memahami sifat-sifat ini bertujuan agar manusia dapat melakukan tazkiyah (penyucian diri) untuk menonjolkan potensi positif dan mengurangi sifat-sifat tercela

Sabtu, 09 Mei 2026

Bab. IV “Menteladani Sifat Fathanah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

 

BAB. IV

PASAL KE 4 PENJELASAN SIFAT SYIDDATUL FATHANAH

الفصل الرابع فى بيان شدة الفطانة

Daftar Isi Bab. IV “Menteladani Sifat Fathanah Nabi Saw” Kitab al-Risalah Mutaba’atul Hasanah 

A. PENJELASAN SYIDDATUL FATHANAH

1. Pengertian al Fathanah

2. Poin Penting Mengenai Sifat Fathanah 

B. TA’RIF SYIDDATUL FATHANAH

1. Arti Fathanah, Salah Satu Sifat Wajib Nabi dan Rasul

2. Pengembangan Sifat al Fathanah pada Pribadi Muslim

3. Al Fathanah yang Dimiliki Orang-orang  Besar

C. PENGERTIAN BALADAH ADALAH BODOH SIFAT MUSTAHIL BAGI RASUL

BAB. IV

PASAL KE 4 PENJELASAN SIFAT SYIDDATUL FATHANAH

الفصل الرابع فى بيان شدة الفطانة

A. PENJELASAN SYIDDATUL FATHANAH

1. Pengertian al Fathanah

al Fathanah berasal dari bahasa Arab. al Fathanah adalah isim masdar atau kata benda yang asal kata kerjanya : FATHANA – YAFTHUNU – FATHANAH

الْفَطَانَةُ هُوَ اِسْمٌ مِنْ فِعْلِهِ : فَطَنَ – يَفْطِنُ – فَطَانَةً

al Fathanah  yang berarti : "Cerdas, cerdik akalnya atau Jennius otaknya atau cepat cara berpikirannya." (شِدَّةُ الْفَطَانَةِ)  artinya “amat cerdas atau amat Jennius otaknya atau amat cepat cara berpikirannya."

Secara Terminologi, syiddah al Fathanah adalah sifat dan sikap pribadi seseorang yang sangat cerdas, cerdik akalnya atau Jennius otaknya atau cepat cara berpikirannya menghadapi permasalahan dunia, agama dan akhirat dan penyelesaiannya.

Mengutif dari artikel “Ringkasan AI google” menyetakan bahwa Sifat fathanah adalah sifat wajib bagi rasul yang berarti cerdas, pandai, dan bijaksana dalam berpikir maupun bertindak. Fathanah mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual untuk menyampaikan risalah, memimpin umat, serta memberikan solusi atas permasalahan.

Sifat (فَطَنَةْ) ini berlawanan dengan (بَلَادَةْ) baladah (bodoh).

 

2. Poin Penting Mengenai Sifat Fathanah

Adapun poin-poin penting mengenai Sifat Fathanah adalah  :

1.Fathanah bukan sekadar sifat pintar secara akademik, melainkan kebijaksanaan dalam menempatkan logika dan tindakan secara benar.

2.Strategis dalam Dakwah: Rasul menggunakan fathanah untuk berkomunikasi dengan baik dan menyampaikan ajaran Allah Swt dengan metode yang tepat.

3.Contoh Penerapan: Nabi Muhammad Saw menunjukkan fathanah saat meletakkan Hajar Aswad (penyelesaian konflik antar suku) dan mengatur strategi perang.

4.Implementasi bagi Umat: Umat Muslim dituntut meneladani fathanah dengan giat belajar, berwawasan luas, dan bijak dalam menyikapi kehidupan.

5.Fathanah memungkinkan rasul mengungguli tantangan tugas berat dengan hikmah dan logika kenabian.

Fathanah merupakan salah satu sifat Rasulullah Saw yang patut diteladani dan suatu sikap mengerti, memahami, dan menghayati secara mendalam yang berkenaan dengan segala hal.

Fathanah merupakan kecerdasan intelektual emosional dan terutama pada hal spiritual. Termasuk kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak. Dalam definisi sederhana, fathanah artinya cerdas. Seperti yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim yang dikenal akan kecerdasan serta ketepatannya dan kemampuannya dalam menyampaikan suatu risalah kepada kaumnya, bahkan juga memahami strategis dalam menyampaikan ajaran dari Allah Swt.

B. TA’RIF SYIDDATUL FATHANAH

Kitab Aqa'idul Iman dikatakan bahwa al Fathanah bermakna cerdik sekalian pesuruh Allah Ta'ala pada pekerjaan masalah dunia, agama dan akhirat. Mustahil bagi sekalian pesuruh Allah Ta'ala itu mereka bersifat baladah bermakna bodoh (kurang cerdas akalnya), pada membantah, mengalahkan lawan-lawannya.

Adapun ta'rif al Fathanah  :

تَعْرِيْفُ الْفَطَانَةِ فَهِىَ الْقُدْرَةُ عَلَى إِقَامَةِ الْحُجَّةِ الْخَصْمِ

Artinya : ta'rif al Fathanah  yaitu mereka mampu, kuasa membuat hujjah sanggahan atas bantahan yang dibuat musuh-musuhnya.

Firman Allah pada surat al An'am berbunyi :

وتلك حجتنا أتيناها إبراهيم.   الأنعام  83

Artinya : "Dan yang   demikian   itu  hujjah  kami yang  telah kami datangkan   akan  dia kepada Nabi Ibrahim alaihis salam".   QS. Al An,am 83.Firman Allah pada surat al Nahal berbunyi :

وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِىْ هِىَ أَحْسَنُ. النحل 125

Artinya : "Bantahlah  mereka itu dengan cara yang baik mkasudnya dengan cara yang terbaik." QS. al Nahal 125.

 

1.Arti Fathanah, Salah Satu Sifat Wajib Nabi dan Rasul

Fathanah merupakan salah satu sifat Rasulullah SAW yang patut diteladani dan suatu sikap dimengerti, dipahami, dan dihayati secara mendalam yang berkenaan dengan segala hal. Fathanah juga merupakan kecerdasan intelektual emosional dan terutama pada hal spiritual. Termasuk kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak. Dalam definisi sederhana, fathanah artinya cerdas. Seperti yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim yang dikenal akan kecerdasan serta ketepatannya dan kemampuannya dalam menyampaikan suatu risalah kepada kaumnya, bahkan juga memahami strategis dalam menyampaikan ajaran dari Allah Swt.

        

2. Pengembangan Sifat al Fathanah pada Pribadi Muslim

Muhammad Saw yang ke empat yang harus diadopsi oleh Ummatnya khususnya Pengamal Tarekat al Junaidiyah harus memiliki sifat ini dalam jiwanya. Mereka sangat pandai memilih-memilah dan menempatkan diri agar selamat, bahagia di dunia dan akhirat. Syiddah al Fathanah adalah sifat dan sikap seseorang yang sangat cerdas dalam urusan dunia dan akhirat, harus memiliki sifat ini oleh Pribadi Muslim, Isteri, anak dan keluarga disekitarnya. Al Fathanah yang dimiliki Orang-orang  Besar.

3. Al Fathanah yang Dimiliki Orang-orang  Besar

Al Fathanah juga berarti cerdik dan dapat berfikir, tidak bermenung-menung saja, kerenyut kening dalam – dalam sehingga orang harus menunggu lama-lama.

Banyak orang yang pintar dan banyak persediaan pikirannya, tetapi tidak cepat menangkap pikiran dan mengetahui tujuan orang lain, tidak lekas mengerti. Orang yang demikian bukan orang cerdik, walaupun banyak pengetahuannya, penampilannya tidak menarik membosankan.

Orang perempuan demikian pula, banyak perempuan yang cantik, pandai melagak, tetapi tidak menarik perhatian.

Ada juga perempuan yang hanya sedarhana sifatnya tetapi menawan hati karena dalam perangainya itu tampak kecerdikan dan kecerdasan. Perempuam yang tidak mempunyai kecerdikan dan tidak dapat mengetahui maksud orang adalah seumpama sebuah Figura bagus bingkainya, tetapi lukisannya tidak hidup tidak berseni.

Cerdas dan cerdik amat besar pengaruhnya, akan menimbulkan pribadi Salik Pengamal Tarekat al Junaidiyah. Itulah yang lebih banyak mengutamakan orang dalam pergaulan hidup. Orang bodoh, tolol, domben, lambat mengerti, menyebabkan pribadi Salik tidak mendapat penghargaan baik dari Tuhannya ataupun dari penghargaan dari sesamanya. Itu pula kadang-kadang yang menyebabkan mudah berbuat kejahatan. Pribadi orang yang cerdas nyata pada pada cara mengeluarkan kata-kata mempergunakan pikiran dan perasaan, berpikir tersusun dan bermantik. Imam Al Gazali berkata  bahwa :"Siapa yang berfikir tidak bermantik, ilmunya tidak dapat dipercaya".

Suatu jawaban pertanyaan yang tegas jitu, ketika orang menanyakan suatu perkara yang sulit, lama sekali akan hilang dari ingatan orang. Orang bertanya kepada Abdullah bin Abbas paman Nabi Muhammad Saw " Mana Tuan yang besar dengan Nabi Muhammad Saw ? Beliau menjawab : "Dia lebih besar dari pada saya, tetapi saya lebih dulu lahir dari pada dia."

Ada juga orang yang bertanya kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib : "Berapa lama Tuan perjalanan dari Masyrik ke Magrib ? Jawab beliau dengan cepat: "Sehari perjalanan bagi Matahari ". Orang itu bertanya lagi : Berapa ribu tahun perjalanan dari Bumi ke Langit, pulang pergi ? Beliau jawab :"Hanya satu detik bagi do'a orang yang mustajab."

Al Marhum KH. Agussalim terkenal kecepatannya dalam berfikir. Pada suatu hari dizaman penjajahan Belanda. Dia bercakap-cakap dengan seorang bangsa Belanda tentang Bahasa Indonesia.

Orang Belanda itu mengatakan bahwa Bahasa Indonesia hanya bahasa jongos-jongos, bahasa itu tidak akan sanggup dipakai untuk ilmu pengetahuan. "Bisa! Mengapa tidak ? Tukas KH. Agussalim. Kata orang belanda "Kata-kata POLITIK" Apa Bahasa Indonesianya? Beliau menjawab dengan cepat sekali : "Terjemahkan dulu kata itu, Tuan ! ke dalam Bahasa Belanda, nanti akan saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia secepat itu pula" Orang Belanda terdiam.

Demikian pengertian Al Fathanah yakni cerdas, jenius, cerdik dancepat berfikir yang harus dimiliki khususnya Pengamal Tarekat al Junaidiyah untuk menjatuhkan musuh-musuhnya yang menguasai dirinya atau mengalahkan kejahatan nafsu-nafsunya.

 

C. PENGERTIAN BALADAH ADALAH BODOH SIFAT MUSTAHIL BAGI RASUL

Menurut Artikel “Ringkasan AI google” menyatakan bahwa Sifat baladah (bodoh/dungu) mustahil ada pada Rasul karena bertentangan dengan sifat wajib fatanah (cerdas). Antonim atau lawan kata yang merupakan sifat wajib bagi rasul adalah Fatanah (cerdas/pintar). Rasul wajib cerdas untuk menjelaskan wahyu, berdiplomasi, dan membimbing umat.

Definisi Baladah adalah sifat bodoh, dungu, atau tidak cerdas. Konteksnya Mustahil  Allah memilih Rasul sebagai pemimpin yang paripurna, sehingga tidak mungkin memiliki sifat bodoh yang menghambat penyampaian risalah. Sifat Wajib Fatanah (cerdas), yang berarti Rasul memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang tinggi. Sebagai contohnya, jika seorang rasul memiliki sifat baladah, ia tidak akan mampu menyampaikan argumen yang kuat kepada umatnya yang menentang ajaran agama yang dibawanya.

Setiap rasul memiliki sifat mustahil baladah. Mengutip Arti Baladah, Sifat Mustahil bagi Rasul menyatakan bahwa “baladah artinya bodoh.” Dan penjelasan lebih lanjut, seorang rasul mempunyai tugas yang berat dan sangat tidak mungkin ia memiliki sifat yang bodoh. Jika seorang rasul memiliki sifat yang bodoh, maka ia tidak akan dapat mengemban amanat dari Allah Swt. Sifat baladah ini termasuk ke dalam sifat mustahil yang dimiliki oleh para rasul. Seperti firman Allah Swt dalam surah Al-A'raf ayat 199 yang berbunyi :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ ١٩٩

Artinya: "Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh."

 

 

Referensi  :

Kitab Aqa'idul Iman

Artikel “Ringkasan AI google” menyatakan Sifat baladah (bodoh/dungu)

https://www.google.com/search?q=sifat+baladah+bagi+para+rasul+adalah+mustahil+adanya+dan+antonimnya+dari+sifat+tersebut+adalah&rlz=1C1CHBD_idID1040ID1040&oq=s

Artikel detikhikmah, "Arti Baladah, Sifat Mustahil bagi Rasul" https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6617194/arti-baladah-sifat-mustahil-bagi-rasul.

Artikel “Ringkasan AI” google //                    https://www.google.com/search?q=sifat+fathanah&rlz=1C1CHBD_idID1040ID1040&oq=sifat+fathanah&aqs=chrome..69i57j0i10i11i512l4j0i512l2j0i10i11i512l3.19564j0j15&sou

Artikel detikhikmah, "Arti Fathanah, Salah Satu Sifat Wajib Nabi dan Rasul" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6600481/arti-fathanah-salah-satu-sifat-wajib-nabi-dan-rasul.

 

 

 

 

 

 

 

 


Bab. VI “Menteladani Sifat Rijal Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

 

BAB. VI

PASAL KE 6 PENJELASAN SIFAT RIJAL

الفصل السادس فى بيان الرجال


Daftar Isi Bab. VI “Menteladani Sifat Rijal Nabi Saw” Kitab al-Risalah Mutaba’atul Hasanah

A. PENJELASAN TENTANG SIFAT RIJAL

1. Pengertian Rijal

2. Pengertian Rijal Meurut Suku Kata 

3. Pengertian dan Asal Usul Nama Rijal

B. MAKNA RIJAL DALAM AL QUR’AN

1. Al Rijal selalu Menyalahi Sifat Nafsunya

2. Sifat Yang Harus ada pada Pengamal Tarekat al Junaidiyah

3. Contoh Sifat Rijal Rusulullah Saw

C.RIJAL SELALU MEDAPAT BIMBINGAN DAN PETUNJUK ALLAH 


BAB. VI

PASAL KE 6 PENJELASAN SIFAT RIJAL

الفصل السادس فى بيان الرجال

FASAL YANG KE 6 PENJELASAN TENTANG SIFAT RIJAL

A. PENJELASAN TENTANG SIFAT RIJAL

1. Pengertian Rijal

Mengutif Artikel ”Ringkasan AI google” menyatakan bahwa Sifat rijal (laki-laki sejati) dalam Islam merujuk pada karakter mulia yang melampaui sekadar jenis kelamin, mencakup kejantanan, tanggung jawab, keteguhan iman, dan kepahlawanan. Rijal adalah mereka yang tidak dilalaikan oleh dunia, teguh dalam ketaatan, serta mampu memimpin dan melindungi, sebagaimana diuraikan dalam.Berikut adalah sifat-sifat utama Rijal berdasarkan rujukan:

Salah satu ayat yang menyebutkan kata rijāl adalah dalam QS An-Nur ayat 37 yang berbunyi:

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءِ الزَّكٰوةِۙ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُۙ ۝٣٧

Artinya : orang-orang Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiama)t.

Tidak Dilalaikan oleh Dunia: Perniagaan dan jual beli tidak membuat mereka lupa dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat (QS. An-Nur: 37).Keteguhan Iman dan Takwa: Memiliki iman yang kokoh, berani, gagah, dan memiliki kekuatan mental serta spiritual.Tanggung Jawab dan Kepemimpinan: Menunjukkan kedewasaan dalam bersikap, menjadi pelindung, dan penanggung jawab (Qowwam).Bergegas dalam Kebaikan: Memiliki sifat fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan segera menolong sesama.Pemberani dan Berkarakter: Memiliki jiwa ksatria (kepahlawanan) dalam menghadapi kesulitan.Konsep rijal dalam Al-Qur'an sering dikontraskan dengan kondisi lemah, menekankan pada kedewasaan spiritual dan moral, bukan hanya kekuatan fisik

2. Pengertian Rijal Meurut Suku Kata

Rijal adalah isim jamak dan dari Mufratnya Rajul dan asal kata kerjanya RAJULA. Rijal kata benda atau isim jamak dari bahasa Arab yang berarti "LAKI-LAKI." Kata al Rajul adalah isim mufrat yang bersal dari kata kerjanya RAJULA –YARJULU – RAJULAN atau RIJAL yang berarti " Lelaki itu berjalan kaki ia." Dan bentuk fi'il mutta'adinya RAJJALAHU yang bermakna : "Lelaki itu menguatkan nya."

رَجُلَ – يرجُل – رَجُلا هو رجلا

Kata istilah Rijal disini dipakai dan diambil Pembesar Tarekat al Junaidiyah dalam suatu bahasan pokok, tujuannya adalah untuk menguatkan jiwa seorang PTJ dalam mengamalkan ajaran tarekat baik pada amal zahir dan amal batin. Al Rijal adalah laki-laki yang tegar dalam menjalani ajaran amal Tarekat. Al Rijal adalah laki-laki yang kuat jiwa raganya berjalan tahap demi tahap terhadap suatu yang diyakininya benar dalam menuju Allah. Al Rijal adalah laki-laki yang selalu menegakkan kalimatullah.

3. Pengertian dan Asal Usul Nama Rijal

Arti nama Rijal secara harfiah berasal dari kata Arab "rijāl" (رجال) yang merupakan bentuk jamak dari kata "rajul" (رجل) yang berarti laki-laki atau pria. Dalam konteks yang lebih luas, nama ini mengandung makna prajurit, kesatria, atau orang yang memiliki sifat kepemimpinan dan tanggung jawab.

Kata "rijāl" dalam bahasa Arab tidak hanya menunjukkan jenis kelamin, tetapi juga mengimplikasikan kualitas-kualitas tertentu seperti keberanian, ketegasan, dan kejantanan.

Menurut Kamus Al-Munawwir, kata manaqib yang berkaitan dengan rijal dicontohkan dengan "faakhrojahu bilmanaqib" yang diartikan berlomba-lomba dalam kebaikan. Hal ini menunjukkan bahwa nama Rijal memiliki konotasi positif yang berkaitan dengan kebaikan dan prestasi.

Dalam tradisi penamaan Islam, nama Rijal sering dipilih karena mengandung harapan agar sang anak kelak menjadi sosok yang kuat, bertanggung jawab, dan memiliki integritas tinggi. Nama ini juga mencerminkan keinginan orang tua agar anaknya menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana dalam kehidupannya.


B. MAKNA RIJAL DALAM AL QUR’AN

Dalam Al-Quran, kata "rijāl" disebutkan dalam berbagai konteks yang semuanya menunjukkan makna positif dan mulia. Penggunaan kata ini dalam kitab suci umat Islam memberikan dimensi spiritual yang mendalam bagi nama Rijal.

Salah satu ayat yang menyebutkan kata rijāl adalah dalam QS An-Nur ayat 37 yang berbunyi:

رِجَالٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِقَامِ الصَّلٰوةِ وَاِيْتَاۤءِ الزَّكٰوةِۙ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَالْاَبْصَارُۙ ۝٣٧

Artinya : orang-orang Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat.

Ayat ini menggambarkan karakteristik ideal dari seorang rijāl yang tidak terlena oleh urusan duniawi.

kata "ar-rijāl" dalam Al-Quran memiliki makna yang identik dengan kebaikan, seperti orang yang menghidupkan masjid, beramal untuk akhirat, teguh berpegang pada prinsip, dan menjadi penanggung jawab dalam keluarga. Konteks ini memberikan gambaran bahwa nama Rijal mengandung harapan spiritual yang tinggi.

Dalam konteks dakwah, makna terbaik dari kata "rijāl" adalah kader atau orang yang memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai kebenaran. Karakteristik ini mencakup tidak mudah terlena oleh urusan dunia, selalu siap memberikan pertolongan, dan senantiasa menepati janji serta sabar dalam perjuangan.


1.Al Rijal selalu Menyalahi Sifat Nafsunya

Al Rijal adalah seorang laki-laki yang sanggup menyalahi keinginan Nafsunya dan menolak kehendak-kehendak nafsu bejatnya. Menolak kehendak-kehendak nafsunya dihukumkan fardu 'ain, dan tergolong jihad yang besar.

Allah Swt telah berfirman dalam al Qur,an  pada surat an Najiat :

وأما من خاف مقام ربه ونهى النفس عن الهوى فإن الجنة هى المأوى.    النازعات 40

Artinya : "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan manahan  diri dari (keinginan) hawa nafsunya". QS. An Naziat 40.

قال عليه الصلاة والسلام : أخوف ماأخاف على أمتى اتباع الهوى وطول الأمل [اتباع الهوى اى فيصدك عن الحق وأما طول الأمل اى فينسى الآخرة]

Artinya : Nabi Saw bersabda  "Aku takut akan sesuatu yang telah aku takutkan atas umatku, yakni mengikuti hawa nafsunya dan panjang cita-cita (melupakan akhirat)".

Berkata Sadatina Junaidiyah yang bernama Syekh Sirri as Saqati  radliyallahu anhu :

طَالِبَتِىْ نَفْسِىْ ثَلَاثِيْنَ سَنَةً اَوْ أَرْبَعِيْنَ أَنْ أَغْمِسَ جَوْزَةً فِى دَنَسٍ فِمَا أَطْعَتُهَا.

Ketahuilah  bahwa : Aku mencari nafsuku tiga puluh hingga empat puluh tahun lamanya yang aku benam pada lubang kotoran maka tiada aku mengangkat atau memetuhinya.

Ketahuilah  bahwa :

Nafsu Ammarah dengan kejahatannya adalah senjatanya syaithan yang punya tujuh kepala atau rupa yaitu  : Syahwat, Pemarah, Sombung, Dengki, Kikir, Luba dan Riya.

رأس الشهواة -Rupa Syahawat dapat dilumpuhkan dengan riadah dan sedikit berserikat dengan binatang suka makan dan ninum.

رأس الغضب  -Rupa Ghadaf dapat dilumpuhkan dengan kelembutan/Helm.

رأس الكبر  -Rupa Sombung dapat dilumpuhkan dengan sifat tawaddu (Rendah hati).

رأس الحسد  -Rupa Hasad dapat dipotong atau dipangkas dengan i'tikat semua yang ada dimiliki seseorang adalah kepunyaan Allah semata. Allah memberi kepada orang-orang yang dikehendakinya.

رأس البخيل والحرص  -Rupa Bakhil dan Loba dapat dipotong dengan kebesaran qana'ah dan dengan pandangan yang benar bahwa batil dan loba itu akan menjumpainya atas dirinya pada perkara yang buruk.

رأس الرياء -Rupa Riya dapat dipotong dan dipangkas dengan sifat ikhlas yang membuahkan bermacam-macam kebaikan dan barakah didunia dan akhirat.


2. Sifat Yang Harus ada pada Pengamal Tarekat al Junaidiyah

Rintangan demi rintangan telah dilalui, telah dilewati, cobaan dan ujian hidup selama di dunia terhadap dirinya, anak, isteri dan keluarganya dihadapi dengan sabar, dihadapi dengan tawakkal dan ridha. Namun kesemuanya itu, rintangan, cobaan, dan ujian itu membuat diri dan jiwanya tegar dan semakin kuat. Dia laksana – bagaikan sebatang pohon yang besar, akarnya terhunjam ke dasar bumi yang dalam, dahan dan rantingnya menjalar panjang kesemua arah. Dia dapat melindungi dan menaungi apa saja yang berada dibawahnya dengan aman, tenang.

Walaupun sewaktu-waktu datng terpaan angin yang begitu kuat dan dahsyat, namun dia tetap tegar, tak tergoyahkan. Dia tahan uji, sangup menderita dilihat  dari lahiriahnya, namun bahagia jiwanya. Inilah salah satu contoh bagi Pengamal Tarekat al Junaidiyah, dia harus bersifat laki-laki, dia harus bersifat rijal, dia harus tegar, dia harus kuat dan tahan uji,, tidak loyo, dalam mengamalkan syari'at dengan ketat dan tarekat yang dijalaninya.

Semua rintangan, semua cobaan dilihatnya suatu yang hal lumrah, dan semua ujian dilihatnya suatu hal biasa yang pasti dialami oleh semua orang. Sifat Rijalnya mengikuti  sifat Rusulullah Saw.

3. Contoh Sifat Rijal Rusulullah Saw

Pada waktu Rasulullah masih hidup, masih berada ditengah-tengah para Shahabatnya dan berdakwah kepada Ummatnya. Rusulullah Saw banyak mendapatkan tekanan, tentangan dan cobaan dari orang-orang yang tidak menyukai Beliau. Tapi Beliau tidak undur, dia selalu tegar dalam menghadapi musuh-musuhnya, bahkan yang menentang Rusulullah Saw dari pihak Keluarganya sendiri, dintaranya Abu Lahab pamannya sendiri. Namun semua tekanan dan cobaan yang ditimpakan kepada Rusulullah Saw tidak memberi bekas atau kandas begitu saja.

Pernah pada suatu hari Kaum Kafir Quraisy mengadakan sidang, rapat akbar, membahas tentang bagaimana cara menghentikan dakwahnya Nabi Saw. Akhirnya dalam rapat itu diambil suatu kesimpulan dengan menawarkan tiga macam kesenangan kepada Rusulullah Muhammad Saw.

Datanglah utusan kafir Quraisy ke rumah Abu Thalib, mereka menyampaikan hasil musyawarah kepada kemenakannya Abu Thalib yang bernama Muhammad. Di hadapan Abu Thalib dan Muhammad, berkatalah salah satu utusan itu : "Ya Muhammad, kami akan memberikan kepadamu pangkat, jabatan yang tinggi ! Kalau engkau ingin menjadi Raja atau Penguasa di tanah Arab ini, kami bisa mengangkatmu menjadi raja, tetapi dengan satu syarat engkau menghentikan dakwahmu yang khonyol itu.

Ya Muhammad, kami akan memberikan kamu harta kekayaan yang melimpah, tujuh turunan tak akan habis. Kalau kau ingin menjadi seorang hartawan, orang yang terkaya di tanah Arab ini, akan kami berikan separuh, setengah dari kekayaan kota Mekkah ini. Kami hanya minta satu permintaan saja, Kau harus bersedia menghentikan dakwahmu itu ! Kau harus menghentikan ajaran barumu itu ! Tawaran yang ketiga, Ya Muhammad, andaikata Engkau mau, bersedia dan suka wanita-wanita cantik rupawan yang ada di tanah Arab ini, akan kami sediakan, tapi hanya satu permohonan dari kami, Kamu berhenti mengajarkan ajaran baru mu itu ! Apa jawaban Nabi Saw di saat itu dihadapan Paman Tercintanya Abu Thalib dan Utusan kafir tersebut  :

والله يا عم لو وضعوا الشمس فى يمينى والقمر فى يسارى على أن أترك هذا اللأمر[اى نشر الإسلام] ما تركته حتى يظهر او أهلك دونه.

Artinya : "Demi Allah ! Wahai Paman,  Andaikata mereka telah (mampu) meletakkan matahari di tangan Kananku   dan  meletakkan  rembulan   diatas   tangan   kiriku,  mestinya  bahwa sanyanya supaya aku meninggalkan  dakwah ini,  maka perkara ini tidak akan aku tinggalkan atau   telah celaka aku   karenanya (hai paman) hingga Allah mensuseskan atau memproklamirkannya.

Disini Rasulullah benar-benar bersifat Rizal, Nabi benar-benar bersifat Syujja'ah, Rasulullah benar-benar bersipat tegar dan jantan dalam mendakwahkan ajaran Islam. Begitu juga Pengamal Tarekat al Junaidiyah harus bersipat tegar dan jantan dalam menjalankan ajaran thariqat Junaidiyah dikehidupan dunia ini, bujukan, rayuan dan cobaan tidak membuat diri dan jiwanya kerdil. Tetapi menjadikannya laksana pupuk untuk menumbuh dan menyuburkan, obat penawar dan pencerahan jiwa dan raga, air siraman qalbu dalam menuju arah kesuburan dan akan menghasilkan cekal bekal buah yang dapat dinikmati disaat ini dan juga di waktu akan datang. Di saat ini hati tenang bersama Allah, saat mendatang dalam sorga bertetangga dengan Rasulullah.

Kalau dilihat dari lahiriahnya, bujukan, rintangan, dan cobaan datang silih berganti dari arah keluarga, anak dan isteri bahkan dari diri sendiri. Diantaranya rintangan, dan cobaan yang datang dari diri sendiri yang menyebabkan  seseorang tidak sampai menuju kepada Allah Swt antara lain : -malas, -bimbang, pemborosan bahkan ada sifat riya, merasa hebat dan beramal untuk mendapat pujian orang lain.

Kesemuanya itu adalah musuh yang terbit dari dalam jiwanya harus disingkirkan dan dilenyapkan dengan ketegaran dan kejantanan melaksanakan syari'at Allah, tidak undur walau sejengkal, terus maju menuju Allah sedekat-dekatnya. Sedangkan kalau dilihat dari bathiniahnya kesemua yang ada pada diri kita bukanlah kemauan si Hamda, sebab hamba tidak memiliki  apa-apa.

لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ

C.RIJAL SELALU MEDAPAT BIMBINGAN DAN PETUNJUK ALLAH 

Rizal adalah laki-laki yang kuat dan tegar dalam menghadapi ujian dan cobaan.

 Mereka selalu dzikrullah disaat senang dan gembira dan dikala mendapat ujian dan cobaan. Mereka selalu mendapat petunjuk dan ilham dari Allah Swt.  Allah berfirman pada surat Yusuf ayat 109 yang berbunyi :

وماأرسلنا من قبلك إلا رجالا نوحى إليهم من أهل القرى أفلم يسيروا فى الأرض فينظروا كيف كان عاقبة الذين من قبلهم ولدار الآخرة للذين اتقوا أفلا  تعقلون.  يوسف 109

Artinya : "Dan Kami tiada mengutus sebelummu  (Ya Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya  diantara  penduduk negeri. Tidaklah mereka bepergian  di  bumi  selalu  melihat  bagaimana  kesudahan  orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul). Dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang yang takwa. Tidakkah kamu mengerti ?    QS. Yusuf ayat 109.

Rizal dalam ayat ini adalah laki-laki yang selalu mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari Allah Swt berupa  wahyu kalau ia seorang Nabi dan Rasul, dan  mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari Allah Swt berupa ilham  kalau ia bukan seorang Nabi dan Rasul, sehingga mereka dapat melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang dahulu yang selalu tiada lalai mengingat Allah Swt. Dan mereka itu mendapatkan pridikat atau jempol dan gelar disisih Allah Swt yaitu sifat RIZAL.

Allah Swt berfirman :

رجال لا تلهيهم تجارة ولا بيع عن ذكر الله.  النور 37

Artinya : "Rijal adalah Kaum laki-laki  yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah." QS. An Nur  Ayat 37.

Maksudnya : Rizal pada ayat ini, yakni Kaum Laki-laki yang tidak melalaikan atau tidak gaflah, tidak lupa mengingat Allah walaupun dalam keadaan perniagaan jual beli. Dalam sebuah hadis Rasul Saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ada disebutkan bahwa ada 7 golongan yang memperoleh kenaungan Allah, padahal pada saat itu tidak ada kenaungan lain selain kenaungan Allah. Diantara ke 7 golongan itu ialah seorang laki-laki yang dzikrullah.

Tujuh Golongan Yang Dinaungi Allâh Azza Wa Jalla Pada Hari Kiamat

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.”

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh: (Al-Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana bunyi hadis dibawah ini :

        ،…. وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ.........

Artinya : "Seorang laki-laki yang dzikrullah, mengingat  Allah dikala ia bersendiri (khalawat) lalu mengalirlah kedua air matanya diwaktu dzikrullah".

Maksudnya tidaklah mudah mencari sosok manusia yang bersifat Rijal pada sisi Allah Swt. Sosok Kaum Laki-laki yang kuat himmahnya, kuat iman dan amal kebaikannya dalam menjalani menuju Allah Swt, dan juga tegar dan jantan dalam menghadapi ujian-ujian dan cobaan- cobaan di alam kehidupan ini.

Tegasnya Rizal adalah laki-laki yang kuat, tegar, jantan, tahan uji dan cobaan, oleh karena itu mereka sanggup untuk memimpin dirinya, dapat untuk membina pribadi dirinya untuk kembali menuju Allah Swt. Bahkan juga mereka sanggup untuk memimpin anak dan isterinya, dan dapat membina keluarganya untuk mencapai mardlatillah Swt.

Firman Allah Swt   :

.... الرجال قوامون على النساء.  النساء 34

Artinya : " Kaum laki-laki  itu adalah pengayum (pemimpin, pembina atas kaum wanita). QS An Nisa ayat 34.       

Pernah Rasulullah Saw dengan sifat Rijalnya berdakwah ke Kota Thaib, dengan harapan penduduknya menyambut dan menerima ajakan Rasul dengan baik. Tetapi antara harapan dan kenyataan berbeda, penduduknya marah terhadap Nabi Saw, Nabi dilempari batu, ada sebagian yang mengatakan bahwa gigi Nabi patah kena batu, sementara badan berlumuran darah, seraya Beliau berdo'a  :

قال عليه الصلاة والسلام َللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِىْ فَإِنَّهُمْ لَايَعْلَمُوْنَ

Artinya : " Ya Allah, Ya Tuhanku tunjuki kaumku, karena bahwanya mereka itu tidak mengetahui atau tidak mengerti."

Pada saat itu, menurut riwayat Saiyidina Jiberil As turun menjumpai Nabi Saw dan menawarkan jasa, untuk menghukum penduduk Thaib dengan membinasakan mereka seperti Kaum Luth. Tetapi tawaran itu ditolak oleh Nabi Saw. Beliau hanya berdo'a seperti do'anya di atas.

Disinilah telah tampak dan jelas sifat Syujja'ah dan sifat Rijalnya Rasulullah Saw, Beliau berani menyatakan dan menyampaikan suatu yang diyakininya benar dan dalam keadaan kuat  dan tegar ketika menerima ujian- ujian dalam hidup ini.

Dalam kasus lain, Rasulullah Saw sebagai seorang Panglima Perang yang telah berhasil menduduki Kota Mekkah dan menawan tentara Kafir Quraisy, musuh yang sangat kejam terhadap kaum muslimin dan tak segan-segan mereka menghambur-hamburkan harta dan kekayaan dalam membiayai konfrinsi untuk menumpas agama Islam. Tetapi semua itu dibalas Nabi Saw tatkala mereka kalah pada waktu Fathul Mekkah, dengan senyuman Beliau bersabda kepada mereka :

قال عليه الصلاة والسلام : إذهبوا فأنتم الطلقاء

Artinya : "Pulanglah kalian semua ke rumah masing-masing, kalian semua telah bebas."

Menyaksikan kejadian ini, Shahabat Nabi  Ali bin Abi Thalib dengan memberanikan diri bertanya : "Ya Rasulullah, siapakah yang memberimu saran untuk berlaku begitu ? Rasulullah Saw menjawab : "Allah .........! Bukankah Allah Swt telah berfirman dalam al Qur'an pada Surat As Syura Ayat 40.

وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَاۚ فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ ۝٤٠

Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.

Rizal adalah Kaum Laki-laki yang selalu berbuat benar dan berakhlak yang benar dan tidak pernah menyalahi peraturan hukum Allah Swt atau hukum syari'at.

Firman Allah pada surat al Ahzab yang berbunyi  :

 ..... رجال صدقوا ماعاهدوا الله عليه. الأحزاب 23

Artinya : " (Diantara orang-orang mukmin itu ada)  orang-orang  yang   menepati  apa    yang telah  mereka dijanjikan kepada Allah......" QS. Al Ahzab ayat 23.

Di dalam kitab Aiqazul Himam dijelaskan tentang Rijal yakni "Beberapa Kaum Laki-laki."  Ada tujuh golongan laki-laki yang sangat berlainan sifat dan pengetahuannya. Hal itu terjadi memang menghendaki begitu oleh Allah Swt, sebagaimana sebagian Ulama Shufi berkata bahwa :

وقال بعضهم اى العلماء الصوفية : لله رجال لا يعرفهم الا الخاصة, ولله رجال يعرفهم الخاصة والعامة,

ولله رجال أظهرهم فى البداية وسترهم فى النهاية, ولله رجال سترهم فى البداية و أظهرهم فى النهاية, ولله رجال لا يعرفهم سواه ولايطلع على ما بينه وبينهم إلا الحفظة الكرام الذين وكانوا بحفظ السرائر. ولله رجال اختص الله بمعرفتهم لايطهر حقيقة ما بينه وبينهم إلى الحفظة. أيقاظ الهمم ح236

Berkata oleh sebahgian Ulama Sufi tentang Rijal, bahwa Allah Swt itu (mempunyai Wali yang berpangkat) Rijal yakni beberapa orang laki-laki.  Allah tidak memperkenalkan mereka kecuali yang  dikhususkan. Dan Allah punya beberapa orang rijal, mereka diperkenalkan yang khusus dan yang umum. Dan juga Allah Swt mempunyai beberapa orang laki-laki yang tidak diperkenalkan kepada mereka yang husus dan yang umum. Dan ada juga Allah Swt beberapa orang laki-laki yang dinampakkan terhadap mereka pada bidayah yaitu yang lahir dan menutup terhadap mereka yang batin. Dan juaga sebaliknya ada beberapa orang laki-laki yang diditup terhadap mereka yang lahir dan dinampakkan kepada mereka yang batin (Nihayah). Dan ada juga Allah memiliki beberapa orang laki-laki yang tiada diperkenalkan kepada mereka kecuali kepadanya.Dan tidaklah mengetahui rahasia atas sesuatu antaraNya dan antara mereka kecuali memelihara  yang mulia Allah Swt. Hal keadaan mereka dalam pemeliharaan rahasia Allah. Dan bagi Allah itu ada beberapa orang laki-laki yang khusus mengenal-Nya tiada menampakkan hakekat sesuatu antara-Nya dan antara mereka yang dalam pemeliharaan.

 

Referensi :

Artikel”Arti Nama Rijal: Makna, Asal Usul, dan Karakteristik Lengkap” https://www.kapanlagi.com/feeds/arti-nama-rijal-makna-asal-usul-dan-karakteristik-lengkap-e34f6a155b.html

Artikel ”Ringkasan AI google” https://www.google.com/search?q=SIFAT+RIJAL&rlz=1C1CHBD_idID1040ID1040&oq=SIFAT+RIJAL&aqs=chrome..69i57j0i751l3j0i512i546.17061j0j15&sourceid=chrome&ie=U

QS. As Syura Ayat 40. // https://quran.nu.or.id/asy-syura/40

Artikel “Tujuh Golongan Yang Dinaungi Allâh Azza Wa Jalla Pada Hari Kiamat”, https://pesantrenmaqi.net/hadits/tujuh-golongan-yang-dinaungi-allah-azza-wa-jalla-pada-hari-kiamat/

 




Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...