BAB. IV
BIOGRAFI SADATINA SILSILAH THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYAH
DAFTAR ISI : BAB. IV
A.
Silsilah Nasab Kehabiban Penyusun kitab al-Risalah Bahjatul “Abiid Lil Jama’ah
al Thariqah al Junaidiyah (Thariqat al-Qaum)
B.
Sanad Silsilah Talqin Dzikir pada Thariqat al Junaidiyah (Thariqat al Qaum)
C.
SANAD KE-08 SYEKH IMAM AL JUNAID ALBAGDADI DAN FAHAM AJARANNYA
1.Kelangkaan
Referinsi Kitab Imam al Junaid Itu Memang Disengaja
2.
Profisi Orang Tua dan Usaha Imam Al Junaid Al Bagdadi sehari-hari
3.
Imam Al Junaid Ingin Melihat Iblis Lanatullah
4.
Imam Al Junaid selalu Riyadhah /Suluk mengucapkan dzikir dzikir kepada Allah
Swt
5.
Murid memisahkan diri dari Gurunya
6.
Imam Al Junaid Pernah diuji Allah Swt Menghadapi seorang Gadis Cantik
7.
Kemasyhutan Imam Al Junaid setelah lulus dari ujian Allah Swt
8.
Kisah Mimpi Buruk Imam Junaid al-Baghdadi karena menggunjing Pengemis dalam
hati soal etos kerja.
D. AJARAN DOKTERIN THARIQAT
AL QAUM AL JUNAIDIYAH
1. Kajian Terhadap Kitab
Rasail al-Junaid Tasawuf al-Junaid al-Baghdadi
a. Tentang al-Junaid
al-Baghdadi: Biografi Sosial-Intelektual
b. Tentang Buku Rasail Imam
al-Junaid
c. Pemikiran Tasawuf Imam
Al-Junaid
d. Dalam risalah tauhidnya
Imam Al Junaid berkata:
2. Apresiasi atas Pemikiran
Tasawuf Imam al-Junaid
3. Imam al-Junaid Menguji
Para Muridnya Tentang Muraqabah Kepada Allah
4. Keikhlasan dan Ketulusan
Hati Seseorang Muslim
5. Al-Junaid Belajar Ilmu
Tauhid dari Tukang Cukur Rambut.
6. IMAN JUNAID AL BAGDADI MENINGGAL DUNIA
E.
SANAD KE-09. QADLI RUWAYM W.303H
F.
SANAD KE-10 SYEKH MUHAMMAD IBNU KHAFIIF AL SHIRAZI
G.
SANAD KE-11. SYEKH ABDULLAH IBNU KHAFIIF ASSYRAZI.
H.
SANAD KE-12. SYEKH ABU ABBAS NAHAWANDI
I.
SANAD KE-13 .SYEKH FARRAJ AZ ZANJANI
J.
SANAD KE-14 SYEKH QADLI WAJIIHUDDIN
K.
SANAD KE-15.SYEKH ABU NAJIB AS SYUHRAWARDI
L.
SANAD KE-16 SYEKH SYIHABBUDDIN AS SYUHRAWARDI
M.
SANAD KE-17 SYEKH NAJIBUDDIN BURGHUSY SYIRAZI
N.
SANAD KE-18 SYEKH ABDUS SHAMAD AN
NATHTARI (AN NAHRANI)
O.
SANAD KE-19 SYEKH BADARUDDIN HASAN SYAMSURI\SYAMSYIR
P.
SANAD KE-20 SYEKH NAJMUDDIN AL ASHFIHANI
R.
SANAD KE-21 SYEKH AN NAJMU MAHMUD AL ASHFIHANI
S.
SANAD KE-22 SYEKH YUSUF AL 'AJAMI ALKAURANI (W.1366M/767H)
T.
SANAD KE-23 SYEKH HASAN AL TUSTARI (W.797 H / 1395 M)
U.
SANAD KE-24 SYEKH WAL IMAM AHMAD BIN SULAIMAN AL ZAHIDI
V.
SANAD KE-25. SYEKH MADYAN AL ASMUNI
Q.
SANAD KE-26 SYEKH SAYYID MUHAMMAD IBN
MADYAN AL ASMUNI
(W.881H/1477M)
X.
SANAD KE-27 SYEKH MUHAMMAD ASSURAWI
Y.
SANAD KE-28 SYEKH ‘ALI NURUDDIN AL MURSHIFI
W.
SANAD KE-29 IMAM ABDUL WAHHAB AS SYA’RANI W.973H/1565M
BAB.
IV
BAHASAN
TENGTANG BIOGRAFI
SADATINA
SILSILAH SANAD THARIQAT AL JUNAIDIYAH
(THARIQAT
AL QAUM)
A. Silsilah
Nasab Kehabian Penyusun kitab al-Risalah Bahjatul “Abiid Lil Jama’ah al
Thariqah al Junaidiyah (Thariqat al-Qaum)
Silsilah Nasab Kehabiban Habib H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih Assegaf Penyusun kitab al-Risalah Bahjatul “Abiid Lil Jama’ah al Thariqah al Junaidiyah (Thariqat al-Qaum) Beteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah
Adapun Silsilah Nasab Kehabiban Penulis an. Habib H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih Assaqqaf (Asseegaf) adalah : :
- Sayyid H.Hasan Baseri bin
- H.Muhammad Barsih bin
- Ahmad Baderi bin
- Tanqir Gawa bin
- Abuthair Muhammad bin
- Abu Tha’am Ibrahim bin
- Abu Bakar as-Tsani bin
- Ahmad Suhuf bin
- Muhammad Djamiluddin bin
- Abu Bakar bin
- Hasan bin
- Hasyim bin
- Muhammad bin
- Umar as Shoufy bin
- Abdurrahman bin
- Muhammad bin
- Ali bin
- Sayyid al-Imam al-Qutbi Abdurrahman Assaqqaf (Asseegaf) bin
- Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah) bin
- Syekh Ali (Shahibud Dark) bin
- Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin
- Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin
- Sayyidina Ali Walidul Walid bin
- Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath bin
- Sayyidina Ali (Al-Imam Kholi Qasam) bin
- Sayyidina Alwi Ba 'Alawi bin
- Sayyidina Al-Imam Muhammad (Shahib As-Shouma’ah) bin
- Sayyidina Al-Imam Alwi Alawiyyin (Shahib Saml) bin
- Sayyidina Al-Imam Ubaidillah (Shahibul Aradh) bin
- Sayyidina Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin
- Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin
- Sayyidina Al-Imam Muhammad An-Naqib bin
- Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin
- Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin
- Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin
- Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin
- Al-Imam Sayyidina Al-Husain bin
- Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra binti
- Rasulullah Muhammad SAW ibni Abdullah
B. Sanad Silsilah Talqin Dzikir pada Thariqat al Junaidiyah (Thariqat al Qaum)
Adapun sanad silsilah talqin dzikir pada thariqat al Junaidiyah (thariqat al Qaum) dimaksud adalah
- Sayyid H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assaqqaf /Assegaf dan ia (H.Hasan Baseri) mengambil dari
- KH. Jumberi bin H.Ma'shum bin H. Abu Bakar Bihara w.1427H, dan ia dari
- Khalifah thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurtubi bin Khalid bin Thahir Kalimantan w.1423H, dan ia dari
- KH. Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh w.1394H, dan ia dari
- Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi al Hadrami al Magribi W.1354H/1936M, ia dari
- Syekh Abdullah Ba'alawi al Magribi, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Alawi Ba Alawi, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Abdurrahman al-Muallim Assaqqaf Ba Alawi w.1124H/1712M, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Abdurrahim, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Ba Junaidi yakni (Imam Al Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham W.1032H/1623M), dan ia dari
- Syekh Imam Alwi al Ridla bin (W.1002H/1594M), dan ia dari
- Syekh Imam Abdul Wahhab As Sya’rani 898-973H dan ia dari
- Syekh “Ali Murshafaa dan ia dari
- Syekh Muhammad As-Surawi w.932H, dan ia dari
- Syekh Sayyid Muhammad Ibn Madyan al Asmuni (W.862H/1458M) dan ia dari
- Syekh Sayyid Madyan al Asmuni (W.862H/1458M dan ia dari
- Syekh Imam Ahmad az Zahidi w.820H, dan ia mengambil dari
- Syekh Hasan al Sustari w.797H, dan ia mengambil dari
- Syekh Yusuf al Ajemi w.767H, dan ia mengambil dari
- Syekh Muhammad al Ashfihani, dan ia mengambil dari
- Syekh Najmu Mahmud al Ashfihani, dan ia dari
- Syekh Hasan Syamsuri, dan ia mengambil dari
- Syekh Abdus Shamad an Nahrani, dan ia dari
- Syekh Ibnu Bunghusy Syirazi, dan ia mengambil dari
- Syekh Najibuddin Bunghusy Syirazi, dan ia dari
- Syekh Syihabuddin as Syuhrawardi(L.539-632H), dan ia dari
- Syekh Qadli Wajihuddin dan ia mengambil dari
- Syekh Faraj Az Zanjani, dan ia mengambil dari
- Syekh Abul Abbas Nahawanda dan ia mengambil dari
- Syekh Ibnu Khiif as Syirazi dan ia dari
- Syekh Muhammad Khafiif as Syirazi, dan ia dari
- Syehk al-Qadli Ruwaim, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam al Junaid al Bagdadi w.297H, dan Imam al Junaid ini mengambil dari
- Syekh as Sirri al Saqathi w.253H, dan ia dari
- Syekh Imam al Ma'ruf al Karkhi w.200H, dan ia dari
- Syekh Daud at Tha'i w.165H, dan ia dari
- Syekh Habib al Ajemi w.125H, dan ia dari
- Syekh al-Imam Hasan al Basri w.110H, dan ia dari
- Imam 'Ali bin Abi Thalib w.41H, dan ia dari
- Nabi Muhammad Rasulullah Saw w.632M, dan ia dari
- Sayyidina Jibril 'alaihis salam, dan ia dari
- Allah azza wa jalla.:
Dan Silsilah Nasab tersebut disebutkan dalam riwayat lain bahwa :
Habib H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih Assaqqaf dan ia mengambil dari
KH. Jumberi Ma'shum bin H. Abu Bakar Bihara w.1427H, dan ia dari Khalifah
thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurtubi bin Khalid bin Thahir Kalimantan
w.1423H, dan ia dari KH. Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh w.1394H, ia
dari Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi al Hadrami al Magribi
W.1354H/1936M, ia dari Syekh Abdullah Ba'alawi al Magribi, dan ia mengambil
dari Syekh Imam Alawi Ba'alawi, dan ia mengambil dari Imam Abdurrahman al-Muallim Assaqqaf Ba'alawi w.1124H,
dan ia dari Syekh Imam Abdurrahim,
dan ia mengambil dari Syekh Imam Al
Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham, dikenal nama “Imam
Ba Junaidi” (W.1032H/1623M), dan ia dari
Syekh Sayyid Alwi Dan ia dikenal nama ”Sayyid Alwi ar Ridha”
(W.1002H/1594M), dan ia dari Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi (W.936H/1529M) dan ia dengan bai’at sirriyah dari Syekh Imam al Qusyairi w.465H dan ia
dari Syekh Imam Abu 'Ali ad Daqaq
w.405H, dan ia dari Syekh Imam an Nashra Abadzi w.369H dan ia dari Syekh Imam al Syibli w.334, dan ia dari
Imam al Junaid al Bagdadi.
C. SANAD
KE-08 SYEKH IMAM AL JUNAID ALBAGDADI DAN FAHAM AJARANNYA
33.
Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang Ke Delapan an.
08. SYEKH IMAM AL JUNAID ALBAGDADI DAN FAHAM AJARANNYA
Syekh Imamal Junaid al Bagdadi
Nama panjangnya Abul Qasim al Junaid Ibnu Muhammad Ibn al Junaid al Bagdady, dia lahir di kota Bagdad tahun 214H atau tahun 830M menurut versi kedua. Sedangkan Versi mengatakan bahwa dia lahir di kota Bagdad tahun 210H atau tahun 825M. Beliau menurut catatan Artikel yang pernah saya baca dia wafat hari Jum’at, ada juga menulis bahwa Beliau lahir di Nahawandi tahun 215H dan wafat hari Rabu, 28 Rajab 297 Hijeriyah di Bagdad Irak, atau 11 April 910 Masehi usia Beliau 82 sd. 87H tahun.
Dia disetujui baik oleh kalangan Syari’at maupun kalangan Sufi. Dia sempurna dalam semua cabang Ilmu Pengetahuan. Dia berbicara dalam otoritas kalam, fiqih dan etika. Dia adalah pengikut As Sirri. Ungkapan-ungkapannya sangat agung dan keadaan batennya sempurna, sehingga semua ahli Sufi dengan suara bulat mengakui kepemimpinannya “SAYYIDUT THAIFAH.” سيد الطائفة "” Ibunya adalah saudara kandung Syekh Sirri as Saqathy dan berarti Sirri as Saqathy ini adalah pamannya al Junaid dan juga menjadi gurunya.
Sejak kecil al Junaid terkenal sebagai sebagai seorang anak yang sangat cerdas, sehingga sangat mudah dan cepat belajar ilmu-ilmu agama dari pamannya yang bernama Syekh Sirri al Saqathi. Karena kecerdasannya itu, ketika berumur tujuh tahun, al Junaid telah diuji oleh gurunya dengan sebuah pertanyaan tentang makna Syukur. Dengan tenang dan tangkas, ia menjawab pertanyaan tersebut, “Jangan sampai Anda berbuat maksiat dengan nikmat yang telah diberikan Allah Swt.” Itulah jawaban yang singkat dari al Junaid kecil.(Enseklopedi Tasawuf).
Keluarga al-Junaid berasal dari Nahawand, namun beliau dilahirkan dan
tumbuh di Irak. Al-Junaid adalah salah seorang shûfi terkemuka di samping
seorang ahli fikih dan hadist.
Dalam fikih, beliau bermazhab kepada Imâm Abû Tsaur. Al-Junaid belum berani memberikan fatwa-fatwa hukum selama ada gurunya walaupun orang memintanya. Beliau lama bergaul dan belajar kepada pamannya sendiri, yaitu Imam Sarri as-Saqthi, lalu kepada al-Harits al-Muhasibi, Muhammad ibn al-Qashshab al-Baghdâdi yang termasuk teman pamannya, dan sufi terkemuka lainnya.
1. Kelangkaan Referinsi Kitab Imam al Junaid Itu Memang Disengaja
Menurut Azyumardi Azra (editor), buku Ensiklopedi Tasawuf yang aku kutip pada sebuah “Artikel tanpa Nama” menyatakan bahwa : Pengamatan terhadap kitab-kitab tasawuf yang bermunculan sejak zamannya menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu selalu saja banyak para penulis tasawuf yang menukilkan riwayat tentang pernyataan-pernyataan Imam al Junayd dalam kitab-kitab mereka. Mengenai kelangkaan karya khusus yang memuat ajaran tasawufnya ini, memang disengaja oleh al Junayd sendiri.
Hal ini dapat dilihat dari pernyataan sejarawan bahwa: al Junayd al-Baghdādī, yang telah meriwayatkan bahwa: Ketika al Junayd sakit-sakitan dan akan meninggal dunia, ia berpesan kepada sahabat, murid dan pengikutnya yang waktu itu sedang menungguinya untuk menguburkan semua kitab, kertas dan tulisan yang berisi ajarannya. Ketika ditanya mengapa hal itu harus dilakukan, Junayd menjelaskan bahwa dia tidak suka jika gara-gara menekuni ajaran-ajaran tasawufnya orang malah melupakan ajaran Nabi Muhammad Saw., atau bahkan mensejajarkannya dengan ajaran beliau. Bagi Junayd, tiada pelajaran yang lebih berhak untuk dipelajari secara serius oleh setiap orang selain dari ajaran Nabi Muhammad Saw.
2. Profisi Orang Tua dan Usaha Imam Al Junaid Al Bagdadi
sehari-hari
Kehidupan al Junaid al Bagdadi disamping sebagai seorang
Sufi yang senantiasa mengajarkan ilmunya
kepada murid-muridnya, ia juga berprofisi dan Usaha Imam Al Junaid Al
Bagdadi sehari-hari sebagai pedagang yang meneruskan usaha ayahnya, yaitu sebagai pedagang barang-barang
pecah belah di pasar tradisional kota Bagdad. Selesai berdagang beliau pula ng
ke rumah dan mampu mengerjakan shalat sunnat dalam waktu sehari semalam
sebanyak empat puluh raka’at. Riwayat lain mengatakan empat ratus raka’at.
Photo terbaru
Imam al Junaid al Bagdadi
3. Imam Al Junaid Ingin Melihat Iblis Lanatullah
Riwayat lain mengatakan bahwa Imam Al Junaid ingin melihat sosuk Iblis Lanatullah. Kata Al Junaid :”Saya ingin melihat sosuk Iblis, suatu hari ketika saya sedang berdiri di dalam Mesjid, seorang laki-laki tua masuk lewat salah satu pintu Masjid dan memalingkan muka kearah saya. Bulu roma saya berdiri, ketakutan menyelimuti hati saya. Ketika dia mendekat, saya berkata kepadanya. Siapa kamu ? Karena saya tidak kuasa melihat atau memikirkan engkau. Al Junaid berteriak keras : Iblis terkutuk !!! Apa yang menghalangi engkau bersujud kepada Adam ? Dia menjawab : “Wahai, Al Junaid, bagaimana mungkin kamu bisa berfikir bahwa saya kepada apapun tidak sujud selain kepada Allah ! Kata . Al Junaid : “Saya sangat ta’ajub demi dia mengatakan demikian, tetapi suara ghaib berbisik, Katakan kepadanya : “Engkau bohong, apakah engkau seorang Hamba yang ta’at sehingga engkau tidak melampauwi batas perintah-Nya.” Iblis mendengar suara dalam hati saya ! Dia berteriak dan berkata. Demi Allah, Engkau telah membakar saya ! Lalu Iblis lanatullah itu lenyap..Ceritera ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah Swt selalu melindungi wali-Nya, dalam semua keadaan dari tipu daya Iblis dan Syaithan.
4. Imam Al Junaid selalu Riyadhah /Suluk mengucapkan dzikir dzikir kepada Allah Swt
Ada
riwayat yang menyebutkan bahwa Selama empat puluh tahun Imam al Junaid menekuni kehidupan mistiknya.
Dan Tiga puluh tahun utamanya, setiap selesai shalat Isa ia berdiri dan
mengucapkan dzikir Ismu Dzat “Allah, Allah” terus menerus hingga fajar, dan
melakukan shalat Shubuh tanpa perlu berwudhu’ lagi.
“Setelah
empat puluh tahun berlalu, Imam al Junaid berceritera, “Timbullah kesombongan di dalam hatiku, aku mengira bahwa tujuanku telah tercapai. Segeralah terdengar olehku suara
dari langit yang menyeru kepadaku: ’Junaid, telah tiba saatnya bagi-Ku untuk
menunjukkan kepadamu sabuk pinggang Majusimu. Mendengar seruan itu aku
mengeluh: ’Ya Allah, dosa apakah yang telah dilakukan Junaid?’ Suara itu
menjawab: ’Apakah engkau hidup untuk melakukan dosa yang lebih besar daripada
itu?”
Al
Junaid mengeluh menundukkan kepalanya.
“Apabila
manusia belum patuh untuk menemui Tuhannya”, bisik junaid, “Maka segala amal
baiknya adalah dosa semata”.
5. Murid memisahkan diri dari Gurunya
Dikisahkan salah seorang murid Syekh Imam Junaid memisahkan diri dari Gurunya, ia beranggapan bahwa spritualnya akan lebih tinggi, cepat wushul dengan Allah bila dilakukan khalwat ditempat yang sunyi dari orang-orang ramai. Pada akhirya ia membangun Gubuk (bilik tempat khalwat) ditepi hutan yang jauh dari keramaian.
Dengan membawa perbekalan seadanya, Tanpa bimbingan seorang Guru Mursyid, dan sesuai petunjuk yang ia pelajari tentang khalwat, baik cara dan bacaan dalam Suluk. Ia pun melakukan Riyadhah/ Suluk atau Khalwat seorang diri di Gubuk yang berada di tepi hutan tersebut.
Beberapa hari kemudian disenja hari, datanglah dua orang Penunggang Kuda dan kuda membawa makanan, mahkota dan pakaian kebesaran dari Sorga. Keduanya mengaku diutus seseorang untuk menjemputnya “Sebagai Upah jerih payahnya selama ini”. Ia pun menerima undangan tersebut. “Undangan untuk Pangeran”, Setelah makan, berpakaian dan mengenakan Mahkota dikepalanya, mereka pun berangkat menuju Sorga.
Dalam perjalanannya bersama kedua utusan itu, ia melihat disamping kira dan kanannya tempat yang dilewatinya pemandangan yang indah-indah. Ia lihat Para penduduknya yang laki-laki ganteng-ganteng dan wanitanya elok-elok (cantik-cantik) dan bersikap ramah-tamah.
Akhirnya sampailah ketempat yang dituju, sebuah gedung bangunan besar dan indah lengkap dengan Penjaganya, pengawalnya dan para Pelayannya. Orang-orang disekitar itu ada yang berseru “Pangeran Datang”. Ia pun turun dari kudanya, disambut oleh para Pengawal dan para Pelayan wanita elok serta dibawa kesebuah ruangan khusus yang ada kamar tidurnya.
Di dalam ruangan itu, angin selalu bertiup sepoi-sepoi, udaranya sejuk dan nyaman membuat semua orang yang berada di dalamnya tidak gerah & betah atau nyaman. Berbagai macam aneka makanan dan minuman anggur telah disodorkan kepadanya, Pengeran itu ditemani seorang Puteri cantik dan dilayani para Pelayan wanita cantik (Puteri berkata : “kau jangan ragu-ragu Pangeran bahwa kami, Puteri dan para Pelayan ini adalah upah jerih payahmu salama ini)”. Pada akhirnya pada malam pertama itu, mereka bersanda gurau, bercumbu dan merayu laksana Pengaten baru, (tidak ada rasa cemburu antara Pelayan satu dengan lainnya) dan mereka bersenang-senang sambil makan dan minum hingga larut malam, ketika nafsu birahi naik Pangeran membawa Sang Puteri masuk kamar Penganten, dan mandi kemudian tidur hingga pagi hari (itupun dijaga dan diawasi oleh para Pelayan wanita cantik).
Ketika pagi hari, Tanpa sadar, ia pun terbangun dari tidurnya dan didapatinya tubuhnya tidur dimuka Gubuknya /di depan teras Biliknya sendiri, dan kejadian terus berulang tertidur di depan teras Biliknya, tapi ia sangat senang dan bangga sekali atas kejadian yang dialaminya. Peristiwa dan kejadian tentang Upah jerih payah Khalwatnya ini terus berulang-ulang kepada dirinya hingga ia merasa hebat dan mulia, ia tak sangguf menyembunyikan kegambiraanya dan menghabarkannya kepada teman-temannya.
Peristiwa dan kejadian yang dialami Murid al Junaid yang memisahkan diri tersebut pada akhirnya sampai ketelinga Syekh al Junaid al Bagdadi. Membuat Syekh al Junaid al Bagdadi rasa penasaran dan akhirnya Sowan kepada Murid yang memisahkan diri darinya dan tinggal di Gubuk yang berada di tepi hutan tersebut.
Dalam pertemuan itu Syekh al Junaid al Bagdadi mengonfermasi kebenaran ceritra ttg. Peristiwa dan kejadian terhadap Upah jerih payah Khalwat yang di alami oleh Muridnya tersebut, apakah benar peristiwa tersebut terjadi atau tidak terjadi ?.
Kemudian Sang Pangeran (Murid Syekh al Junaid) menjelaskan kepada Gurunya semua Peristiwa atau kejadian yang dialaminya terseut adalah benar. Hingga membuat Syekh al Junaid al Bagdadi terheran-heran terhadap Peristiwa dan kejadian yang dialaminya tersebut. Syekh al Junaid dimalam nanti …….. setelah kau bersenang-senang dengan para Pelayan wanita cantik, kemudian kau mandi dan ingin tidur bacalah kalimat Hauqalah ini (: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ) sebanyak tiga kali.
Aku baca sebuah “Artikel” bahwa Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim (Hauqalah) adalah kalimat dzikir yang mengakui kelemahan manusia dan memohon pertolongan Allah. Kalimat ini Arabnya: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ yang artinya "Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung", sering dibaca untuk memohon perlindungan, kekuatan, dan sebagai pembuka pintu rezki.
Sejurus waktu berjalan Syekh al Junaid al Bagdadi telah pulang kembali ke tempatnya, tinggalah Murid berkhalwat, berdzikir di Gubuk tempat pengasingan seorang diri, kemudian saat senja pun tiba. Seperti biasa datanglah dua orang Penunggang Kuda dan kuda pembawa makanan dan pakaian serta mahkota kebesaran dari Sorga. Keduanya mengaku diutus seseorang untuk menjemputnya “Pangeran Mahkota”, Setelah mandi, makan, berpakaian dan mengenakan Mahkota dikepalanya, mereka pun berangkat dari Gubuk itu menuju Sorga.
Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan jauh, akhirnya sampailah mereka ketempat yang dituju, sebuah gedung besar bercahaya terang gemerlapan dan indah dipandang mata, gedung itu lengkap dengan para Penjaganya, para pengawalnya dan para Pelayannya dan juga Panggung hiburan yang sedang dipenuhi oleh masyarakat sekitarnya. Salah seorang Penjaganya disekitar itu berseru “Pangeran Datang”. Semua orang memberikan jalan kepadanya, Ia pun turun dari kudanya, disambut oleh para Pengawal dan para Pelayan wanita elok serta dibawa kesebuah ruangan khusus yang lengkap kamar tidurnya.
Aneka macam makanan dan minuman anggur disodorkan kepada Pengeran, sambal nonton Panggug Hiburan, Pengeran itu ditemani Puteri cantik dan dilayani para Pelayan wanita cantik (Puteri berkata : “kau jangan ragu Pangeran ! kami ini, Puteri dan para Pelayan disekitarmu, hasil jerih payahmu sendiri)”. Akhirnya pada malam itu, tanpa rasa malu, mereka bersanda gurau dan bercumbu rayu laksana Penganten baru, (tidak ada rasa cemburu antara Pelayan satu dengan lainnya) dan mereka bersenang-senang sambil makan dan minum hingga larut malam, ketika nafsu birahi naik Pangeran menggindung Sang Puteri masuk kamar Peradun, dan mandi kemudian ingin tidur.
Kemudian Pengeran teringat akan pesan Guruya Syekh Al Junaid sebelum tidur agar membaca kalimat Hauqalah tiga kali. Tetapi saat itu ia ragu-ragu untuk membacanya, dibaca atau tidak kalimat Hauqalah tersebut hingga ia mencoba-coba membacanya tiga kali berturut : “Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim” Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim” Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim”. Tiba-tiba terdengar suara teriakan hesteris dari para Pelayan wanita dan Puteri, dan hingga para Pelayan wanita cantic itupun lenyap dari pandangan matanya, dan iapun tertidur ditempat itu hingga pagi hari (Didapatinya ia berada ditumpukan tulang-belulang sampah hewan) yang berada di pinggiran kota.
Sebaliknya apabila si Murid tidak punya teman atau sahabat atau tidak punya imam untuk berjalan (berkhalwat /Suluk) menuju Allah Swt maka yang menjadi guru/syekhnya adalah Syaithan, seperti kata Ahli Sufiah berikut ini :
فَمَنْ لَاشَيْخَ لَهُ مُرْشِدٌ فَمُرْشِدُ الشَّيْطَانِ. كذاقول اهل الصوفية
Maksudnya : “Siapa yang tidak ada Syekhnya atau siapa yang tidak ada Gurunya yang akan menunjukinya maka yang akan menunjukinya adalah Syaithan.”
Setelah mengalami berbagai macam peristiwa dan kejadian yang dialaminya, ia sadar dan mengerti akan jalan spritualnya, akhirnya Ia pun bertaubat dan kembali ke Gurunya dan mengikuti majelis syekh al Junaid al Bagdadi.
6. Imam Al Junaid Pernah diuji Allah Swt
Menghadapi seorang Gadis Cantik
Junaid
lalu terus berdiam
di dalam kamarnya (riyadhah) dan terus menerus mengucapkan dzikir Ismu Dzat
“Allah, Allah” sepanjang malam. Tetapi lidah fitnah menyerang
dirinya dan tingkah lakunya ini dilaporkan orang kepada Khalifah.
“Kita tidak dapat berbuat apa-apa kepada Junaid (untuk menghukumnya) bila kita tak mempunyai bukti” jawab Khalifah.
Kebetulan
sekali-khalifah mempunyai seorang hamba perempuan berwajah sangat cantik. Gadis
ini telah dibelinya seharga tiga ribu dinar dan sangat disayanginya. Khalifah
memerintahkan agar hamba perempuannya itu dipakaikan dengan pakaian yang
gemerlapan dan didandani dengan batu-batu permata yang mahal.
“Pergilah
ke tempat Junaid”, khalifah memerintahkan hamba perempuannya, “Berdirilah di
depannya, buka cadar dan perlihatkan wajahmu, permainkan batu-batu permata dan
pakaianmu untuknya. Setelah itu katakanlah kepada Junaid: ’Aku kaya raya tetapi
aku sudah jemu dengan urusan-urusan dunia. ’Aku datang kemari agar engkau mau
melamar diriku, sehingga bersamamu aku dapat mengabdikan diri untuk berbakti
kepada Allah. Hatiku tidak berkenan kepada siapa pun kecuali kepadamu! Kemudian
perlihatkan tubuhmu kepadanya. Bukalah pakaianmu dan godalah ia dengan segenap
daya upayamu”.
Ditemani
seorang pelayan ia
diantar ke tempat Junaid. Si gadis menemui Junaid dan melakukan segala daya
upaya yang bahkan melebihi dari apa yang diperintahkan kepadanya. Tanpa
disengaja ia terpandang oleh Junaid. Junaid membisu dan tak
memberi jawaban. Si gadis mengulangi daya upayanya dan Junaid yang selama itu tertunduk lalu mengangkat kepalanya.
“Ah!”, serunya sambil meniupkan nafasnya ke arah si gadis. Riayat lain mengatakan bahwa “Saat itu al Junaid mengucapkan dzikir khafi dan akhfa menahan dalam satu nafas, kemudian ia hembuskan nafas yang tiada tertahan lagi itu kearah si Gadis, kalimat “Allah” maka Si gadis terkejut dan terjatuh ke lantai dan seketika itu juga menemui ajalnya.
“Seseorang
yang memperlakukan orang lain seperti yang tak sepatutnya akan menyaksikan hal
yang tak patut untuk disaksikannya”, khalifah berkata.
Khalifah
bangkit dan berangkatlah ia untuk mengunjungi Imam al Junaid, “Manusia seperti
Junaid tidak dapat dipanggil untuk menghadapinya”,
ia berkata. Setelah bertemu dengan Junaid, khalifah pun bertanya :
“Wahai guru, bagaimanakah
engkau sampai hati membinasakan tubuh gadis yang sedemikian eloknya?” “Hai guru Junaid, bagaimana mungkin
engkau bisa menghilangkan nyawa seorang gadis yang sedemikian polosnya?”
“Wahai pangeran kaum Muslimin”, Junaid menjawab, “belas kasihmu kepada orang-orang yang mentaatimu sedemikian besarnya, sehingga engkau sampai hati untuk menginginkan jerih payahku selama empat puluh tahun mendisiplinkan diri, bertirakat (berthariqat}, menyangkal diri, musnah diterbangkan angin. Tetapi apakah artinya diriku di dalam semua itu? janganlah engkau lakukan sesuatu hal kepada orang lain apabila engkau sendiri tidak menginginkannya!”
Al Junaid berkata kepadanya, “Bukankah kamu tahu bahwa Wali Allah memiliki kekuatan Supral Natural ? Kamu tidak akan bisa menahan pukulannya.” Dia memasukkan nafas kepada Murid tersebut, yang dengan seketika menghilangkan tujuan semula dan berhenti mengeritik Syekh.
7. Kemasyhutan Imam Al Junaid setelah lulus dari ujian Allah Swt
Setelah
peristiwa itu nama Junaid menjadi harum. Kemasyhuran terdengar ke seluruh penjuru dunia.
Betapa pun besarnya fitnah yang dilontarkan kepada dirinya, reputasinya
berlipat ganda seribu kali. Junaid mulai memberikan khotbah-khotbah. Ia pernah
menindaskan: “Aku tidak berkhotbah di depan umum sebelum tiga puluh manusia
suci menunjukkan kepadaku bahwa telah tiba saatnya aku menyeru ummat manusia
kepada Allah”.
“Selama
tiga puluh tahun aku mengawasi bathinku”, Junaid mengatakan, “Setelah itu
selama sepuluh tahun bathinku mengawasi diriku. Pada saat ini telah dua puluh
tahun lamanya aku tidak mengetahui sesuatu pun mengenai bathinku dan bathinku
tidak mengetahui sesuatu pun mengenai diriku”,
“Selama tiga tahun”, Junaid melanjutkan, “Allah telah berkata-kata dengan Junaid melalui lidah Junaid sendiri, sedang Junaid tidak ada dan orang-orang lain tidak menyadari hal itu”.
7. Kisah Mimpi Buruk Imam Junaid al-Baghdadi karena menggunjing Pengemis dalam hati soal etos kerja.
Dalam mimpi itu Imam Junaid didesak untuk meminta maaf atas perbuatannya tersebut. Sejak saat itu Imam Junaid berusaha keras mencari si fakir ke semua penjuru. Berulang kali ia gagal menjumpainya, hingga suatu ketika Imam Junaid melihatnya sedang memunguti dedaunan di atas sungai untuk dimakan. Dedaunan itu adalah sisa sayuran yang jatuh saat dicuci.
D. AJARAN DOKTERIN THARIQAT AL
QAUM AL JUNAIDIYAH
Menurut Syekh Al Hujwiri pada kitabnya Kasyf al Mahjub menyebutkan dokterin (ajaran) Thariqat Sufi al Junaidiyah bahwa dokterinnya adalah muraqabah bil bathin مراقبة بالباطن . Dan juga Al Junaid dan Pengikutnya lebih menyukai ketenangan (نجوا ) dari pada kemabukan (سكرا ). Mabuk bukanlah sifat orang yang tenang dan seseorang tidak diperbolehkan terserit sedemikian itu kepada dirinya sendiri. Orang yang mabuk menjadi terpesona dan tidak memiliki perhatian sama sekali kepada makluk, sehingga dia harus merealisasikan sesuatu kualitas yang memerlukan upaya sadar. Kemabukan dan kegairahan adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan CINTA YANG BEGITU BERGAIRAH terhadap Allah SWT. Semantara istilah Ketenangan menyatakan sesuatu pencapaian apa yang diinginkan. Ketenangan menyebabkan istiqamah dan keseimbangan sifat manusia.
Menurut Penyusun Umdatul Hasanah .... bahwa dokterin (ajaran) Thariqat Sufi al Junaidiyah “muraqabah bil bathin “ itu adalah مراقبة بالباطن اى بتوجه مطلق دائما (muraqabah bil bathin yakni tawajjuh muthlaq secara terus-menerus ( Maksudnya Pengamal Thariqat Sufi al Junaidiyah (Salik) mengawasi batang tubuh (gerak-diam)nya, mengintai Hatinya dan Rohnya secara muthlaq pengakuannya milik Allah semata hal keadaan sirr i’tikatnya secara terus-menerus.
Ulama Sufi telah menegaskan bahwa :
صلاح القلب يكون بملازمة المراقبة
لله سبحانه وتعالى فى جميع الحركات والسكنات واللحظرات والخطرات.
Maksudnya Tawajjuh Muthlaq
disini yaitu menghiasi hati dengan melajimi muraqabah kepada Allah Swt dalam
semua gerak dan diam, lintasan-lintasan dan khataran- khataran hati si
Salik.
Berikut Kutipan “Artikel Tasawuf al-Junaid al-Baghdadi Kajian Terhadap Kita Rasail al-Junaid yang ditulis oleh Ali Thaufan DS” menjelaskan bahwa ada 4 point utama yaitu :
a. Tentang al-Junaid al-Baghdadi: Biografi Sosial-Intelektual
Al-Junaid memiliki nama lengkap Abu al-Qasim al-Junaid ibn Muhammad al-Khazzaz al-Qawariri al-Baghdadi.
Al-Junaid lahir di Nahawad, pada tahun 210 H. Ia tumbuh dewasa dan menghabiskan
hidupnya di kota Baghdad,
wafat pada 297 H.
Beberapa riwayat menyebut wafat pada hari Sabtu. Sebagian menyebut pada hari Jumat, dan baru
dimakamkan pada hari Sabtu.
Al-Khazzaz dan juga
al-Baghdadi yang disematkan pada namanya tak lain merupakan sebuah gelar. “Al-Khazzaz” berarti saudagar sutera yang kaya raya. Pun demikian dengan
ayahnya yang bergelar “Al-Qawarir”
yang berarti saudagar
kaca. Sedangkan
“Al-Baghdadi” adalah menunjukkan tempat hidupnya. Namun demikian,kekayaan yang
dipunyai tidak membuatnya sibuk dengan urusan duniawi. Al-Junaid justru semakin
dekat dengan Sang Maha Kuasa.
Sepeninggal ayahnya,
al-Junaid di asuh oleh pamannya, Siri al-Saqati (w. 254 H) yang juga dikenal
sebagai tokoh sufi terkemuka di Irak dan ahli berbagai keilmuan. Di bawah
asuhannya ini, al-Junaid mulai menempuh pencarian wawasan keilmuan. Al-Junaid
mulai belajar fikih dan hadis. Ia berguru kepada ahli fikih saat itu, Abû Tsaur
Ibrahim ibn Khalid al-Kalabi al-Baghdadi (w. 240 H). Selain itu, ia juga
berteman baik dengan salah satu ahli fikih yakni Ibn Syurayj.
Makam Imam al Junaid al Bagdadi dan Sirri as Saqathi
- Abû Abd Allah al-Harits ibn Hasad al-Muhasibi,
- Abû Ja’far Muhammad Ibn ‘Ali al-Qassab (w. 275 H),
- Abu Ja’far al-Karabi al- Baghdadi,
- Abû Bakr Muhammad Ibn Muslim Abd al-Rahman al-Qantari (w. 260 H),
- Abû Ya’qûb al-Zayyat, Muhammad al-Samin, dan
- Hasan al-Bazzaz.
- Abû Hafs ‘Amr Ibn Salama al-Haddâd al-Nisyafuri (w. 260H),
- Abû Ja’far Yahya Ibn Muaz Ibn Ja’far al-Razî (w. 258 H), dan
- Abû Ya’qûb Yusuf Ibn Husain Ibn ‘Ali al-Razî (w.304 H).
Meski pada masa al-Junaid telah banyak ditemui para sufi di Baghdad, tetapi sebagaian orang kurang bisa menerima ajaran tasawuf dan kalangan sufi. Sebagian orang bahkan menolak tasawuf. Al-Junaid yang bergelut di bidang tasawuf bahkan dianggap sebagai atheis dan zindik. Hal ini yang barangkali membuat al-Junaid tidak terang-terangan dalam mengajarkan tasawuf.
Dr. Ali Hasan yang menjadi editor buku Rasail al-Junaid
mengemukakan bahwa al-Junaid tidak mengajarkan tasawuf secara terbuka karena:
pertama, pelajaran al-Junaid dianggap menyimpang. Kedua, ajaran tawasuf belum
mendapat respon dari masyarakat luas. Ketiga, ungkapan-ungkapan al-Junaid
sangat sulit dipahami oleh kebanyak orang, bahkan Ibn Arabi pun termasuk
didalamnya.
Jika ditinjau dari aspek historis, al-Junaid hidup pada masa keemasan Pemerintahan Abbasiyah. Pada tahun pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid (w. 193 H) dan Khalifah al-Makmun (w. 218 H) Daulat Abbasiyah membangun pusat ilmu pengetahuan “Bait al-Hikmah”. Tahun-tahun tersebut menjadi tahun berkembangannya filsafat Islam sebagimana ditandai munculnya filosof besar al-Kindi (w. 252 H) dan al-Farabi (w. 339 H). Dapat dipastikan pada tahun tersebut, segala macam pemikiran berkembang pesat.
Ditengah perkembangan pemikiran yang luar biasa, al-Junaid muncul dengan gagasan tasawufnya. Menurut Taftazani, tasawuf al-Junaid bukan termasuk tasawuf yang “ekstrem”. Tasawuf yang lakukan al-Junaid termasuk apa yang dikatakan Taftazani sebagai tasawuf “moderat”. Ajaran tasawufnya dia dasarkan pada al-Qur’an dan Sunnah. Ia adalah seorang fuqaha yang sufi.
Uraian di atas mengantarkan
pada sebuah pemahaman bahwa al-Junaid muncul sebagai tokoh sufi ditengah
perkembangan ilmu pengetahuan yang demikian pesat. Al-Junaid memberikan corak
tasawuf ditengah berkembangannya filsafat dengan hadirnya tokoh semisal
al-Kindi dan al-Farabi. Bangunan intelektual al-Junaid terkombinasi dari
pamannya al-Saqati dan masanya sebagai masa keemasan Islam.
Sebagai seorang sufi yang masyhur, al-Junaid sebetulnya tidak memiliki karya yang secara khusus mengulas tasawuf. Buku yang sampai saat ini, Rasail al-Junaid adalah kumpulan beberapa surat menyurat antara al-Junaid dan para sahabatnya. Selain itu ada beberapa tema pokok yang dibahasnya, yakni tentang al-Ulûhiyah, Tauhid, Mitsak dan lain-lain. Beberapa penulis tasawuf meyakini bahwa al-Junaid sangat mendalam dalam membahas tauhid.
Buku Rasail al-Junaid
terdiri dari beberapa judul yaitu: 1) Surat al-Junaid kepada sebagian
sahabatnya (tidak disebut secara pasti nama sahabatnya); 2) Surat al-Junaid
kepada sahabatnya Yahyâ ibn Ma’âdz al-Râzî; 3). Surat al-Junaid kepada sebagian
sahabatnya (tidak disebut secara pasti nama sahabatnya); 4). Surat dan nasehat al-Junaid
kepada ‘Amrû ibn Utsman al-Makkî[11]; 5). Surat dan nasehat al-Junaid kepada
Abî Ya’qûb Yûsuf ibn Husain al-Râzî; 6). Pembahasan al-Junaid tentang fana’;
7). Pembahasan al-Junaid tentang persaksian (mitsâq); 8). Pembahasan tentang
al-Ulûhiyah; 9). Perbedaan antara keyakinan dan keikhlasan; 10). Pembahasan
tentang tauhid; 11). Pembahasan tentang adab orang fakir kepada Allah 12).
Pembahasan tentang obat dari kelalaian.
Surat menyurat antara al-Junaid dengan sahabatnya tidak diketahui secara pasti waktunya karena al-Junaid sendiri tidak mencamtumkannya (tanggal atau tahun). Kumpulan surat-surat dan beberapa gagasannya disatukan menjadi sebuah buku yang di-tahqiq oleh Dr. Ali Hasan Abdu al-Kadir.
Sebagai seorang sufi masyhur, al-Junaid
sebetulnya tidak memiliki karya yang secara khusus mengulas pemikiran tasawuf. Namun
al-Kalabadzi menulis bahwa tasawuf menurut al-Junaid tasawuf adalah
membersihkan hati dari pengaruh duniawi, menjauhkan diri dari sifat-sifat yang
tercela, menghindari godaan hawa nafsu, menghiasi diri dengan sifat-sifat
ruhaniah melalui ilmu hakikat, lebih bersandar kepada sesuatu yang bersifat
abadi, menyeru kepada kebaikan yakni dengan mengikuti Rasulullah dan apa yang
telah disyariatkan.
Untuk menyelami pemikiran
tasawuf al-Junaid, para pengkaji mendapatkan pada buku Rasail al-Junaid. Buku
tersebut adalah kumpulan beberapa surat-surat al-Junaid kepada para sahabatnya
–sufi yang sezaman dengannya. Selain itu ada beberapa tema pokok yang
dibahasnya, yakni tentang uluhiyah, tauhid, mitsaq, fana’ dan lain-lain.
Beberapa penulis tasawuf meyakini bahwa al-Junaid sangat mendalam dalam
membahas tauhid.
d. Dalam risalah tauhidnya Imam Al Junaid berkata:
Ketahuilah sesungguhnya
awal ibadah kepada Allah adalah makrifat kepadaNya. Pokok dari makrifat kepada
Allah adalah mentauhidkanNya. Prinsip mentauhidkan Allah adalah menafikan sifat
dariNya. Allah adalah dalil atas wujudNya. Sarana untuk mecapai dalil atas
wujud Allah hanyalah taufik dariNya. Hanya dengan taufik dari Allah seseorang
mampu mentauhidkanNya. Setelah tauhid, orang tersebut akan mencapai tasdik
(pengakuan). Dari tasdik menuju tahkik (penetapan) sesudah tahkik maka terjadi
makrifat kepada Allah. Dari makrifat kepada Allah akan muncul ketaatan
kepadaNya. Dari ketaatan akan meningkat naik kepada Allah. Dari tangga naik
akan terjadi ketersambungan kepada Allah. Dari ketersambungan terjadilah
transparan. Dari transparan terjadi kebingungan. Setelah bingung, hilang
transparasi. Akibat kehilangan transparasi maka tidak mampu melukiskan Allah.
Setelah itu dia akan mencapai hakikat wujudNya. Lalu masuk kepada hakikat
syuhud dengan hilang wujudnya. Dengan kehilangan wujudnya maka wujudnya menjadi
murni. Dengan kemurnian wujud, hilang sifatNya. Dari hilangnya tersebut, ia
hadir secara total. Dia antara ada dan tiada, antara tiada dan ada. Ia ada tapi
disisi lain tiada, ia tiada tapi disisi lain ada. Kemudian dia menjadi ada
setelah tiada. Lalu dia pun akan menjadi dia setelah tiada. Setelah dia tiada,
maka dia menjadi ada dan ada, setelah ada dan tiada.
Kalimat (ومن الترقي اليه وقع الإتصال به) atau yang berarti
“Dari tangga naik akan terjadi ketersambungan kepada Allah” menarik untuk dicermati.
Ungkapan penuh makna tersebut dapat dipahami memiliki kemiripan dengan konsep
menyatunya hamba dengan Allah. Sangat besar kemungkinan para sufi sesudah
al-Junaid – seperti al-Hallaj dan juga Ibn Arabi- mengadopsi kalimat di atas
sebagai landasan pemikiran kebersatuan hamba dengan Tuhan.
Ungkapan al-Junaid di atas
menggambarkan bagaimana tingkatan menuju ketauhidan yang “hakiki”. Cukup sulit
mencerna ungkapan al-Junaid yang mempunyai nilai bahasa sufi yang tinggi.
Tetapi penulis menggarisbawahi kalimat “Hanya dengan taufik dari Allah
seseorang mampu mentauhidkanNya”, yang dapat diartikan bahwa sebesar apapun
usaha hamba mencapai ketauhidan tidak akan berarti tanpa taufik Allah. Artinya,
hidayah Allah sangat dibutuhkan untuk mendekat kepada Allah.
Pandangan al-Junaid tentang tauhid juga diutarakan
oleh al-Qusyairi. Ketika al-Junaid ditanya tentang tauhid, ia menjelaskan bahwa
tauhid adalah mengesakan Allah dengan sebenar-benarnya dan sesempurna mungkin.
Allah adalah maha esa, tidak beranak dan diperanakkan. Allah tidak dapat
diserupakan, diurakan dan digambarkan. Al-Junaid lalu menukil sebuah ayat
قَالَ
تَعَالَى : لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Allah Swt berfirman“...Tidak
ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan
Melihat.”
Dalam risalah tauhidnya,
al-Junaid juga membagi tauhid sang makhluk menjadi empat, pertama tauhid
orang-orang awam, kedua tauhid orang-orang alim dan berilmu, serta ketiga dan
keempat adalah tauhidnya orang-orang yang telah mencapai tingkat ma’rifah. Tauhid
bagi orang awam adalah pengakuan atas keesaan Allah serta tidak mengakui adanya
tuhan selain Dia. Tauhid bagi orang-orang alim dan berilmu adalah pengakuan
atas keesaan Allah, tidak mengakui adanya tuhan selain Dia serta menjalankan
segala perintahnya dan menjauhi larangannya.
Sedangkan tauhid orang yang mencapai tingkat ma’rifah ada dua. Pertama, pengakuan atas keesaan Allah, tidak mengakui adanya tuhan selain Dia serta menjalankan segala perintahnya dan menjauhi larangannya. Tidak takut dan tidak senang melainkan karena Allah. Selalu melihat Allah dan taat kepadaNya. Kedua, seperti bayangan yang berada dihadapan Allah tanpa ada yang ketiga. Berlaku semua kehendak Allah , di dalam ombak dan lautan tauhid. Dengan fana yang ada pada dirinya dan dakwah. Ia kembali menjadi seperti tiada. Di akhir penjelasannya al-Junaid mengutip surah al-A’raf ayat 172, ayat yang terkenal dengan mitsaq (perjanjian primordial).
قَالَ
تَعَالَى : وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ
تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ الاعراف
172
Allah Swt berfirman “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka
menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami).
4. Keikhlasan dan Ketulusan Hati
Seseorang Muslim
Anekdot Imam Junaid.
Aku baca dalam sebuah Artikel dicerirakan bahwa “Aku (Al Junaid) telah mendapat
pelajaran mengenai keyakinan yang tulus dari seorang tukang cukur”, Junaid
merenungi dan setelah itu ia pun berkisah sebagai berikut;
Suatu
ketika sewaktu aku berada di kota Mekkah al Mukarramah, kulihat seorang tukang
cukur sedang menggunting rambut seseorang (barbarshop alias tempat cukur cowok). Aku berkata
kepadanya: “Jika karena Allah, bersediakah engkau mencukur rambutku?” “Aku
bersedia”, jawab si tukang cukur. Ia segera menghentikan pekerjaanya dan
berkata kepada langganannya itu: “Berdirilah, apabila nama Allah diucapkan,
hal-hal yang lain harus ditunda”.
Ia
menyuruhku duduk. Diciumnya kepalaku dan dicukurnya rambutku. Setelah selesai
ia memberikan kepadaku segumpal kertas yang berisi beberapa keping mata
uang.“Gunakanlah uang ini untuk keperluanmu”, katanya kepadaku.
Aku
pun lalu bertekad bahwa hadiah yang pertama sekali kuperoleh sejak saat itu
akan kuserahkan kepada si tukang cukur tersebut.Tak lama kemudian aku menerima
sekantong uang emas dari Bashrah. Uang ini kuberikan kepada tukang cukur itu.
“Apakah
ini?” ia bertanya kepadaku. “Aku telah bertekad”, aku menjelaskan. “Hadiah yang
pertama sekali kuperoleh akan kuberikan kepadamu. Uang itu baru saja kuterima”.
Tetapi si cukang cukur menjawab:
“Tidakkah
engkau malu kepada Allah? Engkau telah mengatakan kepadaku: ’Demi Allah
cukurlah rambutku’, tetapi kemudian engkau memberi hadiah kepadaku. Pernahkah
engkau menjumpai seseorang yang melakukan sesuatu perbuatan demi Allah dan
meminta bayaran?”.
Perkataan tukang cukur
tersebut membuat al-Junaid terdiam tanpa kata.
5. Al-Junaid Belajar Ilmu Tauhid dari Tukang Cukur Rambut.
Dikisahkan oleh Wawan Susetya, bukunya “Kisah-Kisah Para Sufi Legendaris Sepanjang Masa”, dikutip oleh Ali Thaufan DS, Diriwayatkan dalam sebuah Cerita lain bahwa Imam al-Junaid yang patut dicontoh adalah tatkala ia belajar tauhid dari seorang tukang cukur rambut. Pada suatu ketika, al-Junaid melakukan perjalanan ke Makkah. Ia melihat tukang cukur rambut yang sedang mencukur rambut seseorang, lalu kemudian al-Junaid menghampirinya dan berkata “Jika karena Allah, bisakah kau mencukur rambutku”. Seketika pula, si pencukur rambut menghentikan mencukur rambut seseorang tadi dan menyilahkan al-Junaid untuk dicukur. Begitu selesai mencukur rambut al-Junaid, si tukang cukur justru memberikan kepingan uang untuk al-Junaid. Hal ini membuatnya keheranan. Sambil pergi, al-Junaid berjanji ia mendapat rezeki (uang) akan memberikan kepada tukang cukur rambut tersebut.
Pada kemudian hari,
al-Junaid mendapat hadiah sekantong uang dari sahabatnya. Ia pun memenuhi
janjinya jika mendapat uang akan memberikan kepada tukang cukur. Al-Junaid pun
pergi kepada tukang cukur dan memberikan uang tersebut. Tukang cukur menolak
pemberian al-Junaid tersebut dan berkata:
“Tidakkah engkau malu kepada Allah. Engkau telah mengatakan kepadaku ‘Demi Allah cukurlah rambutku’, tetapi kemudian engkau memberi hadiah kepadaku. Pernahkah engkau menjumpai seseorang yang melakukan sesuatu perbuatan demi Allah dan meminta bayaran?”. Perkataan tukang cukur tersebut membuat al-Junaid terdiam tanpa kata.
6. IMAN JUNAID AL BAGDADI MENINGGAL DUNIA
Syekh Abul Qasim al Junaid al Bagdadi, Menurut versi pertama Beliau lahir di kota Bagdad 210H atau 825M dan. Beliau wafat Jum’at tahun w.297H/910M di sisi muridnya Imam Syibli, dan ia dimakamkan hari Sabtu.. Menurut versi kedua Beliau lahir di kota Nahawandi tahun 215H dan Beliau wafat hari Sabtu, di kota Bagdad, Rabu,28 Rajab 297H/11 April 910M dengan usia 82 tahun. Ada juga mengatakan bahwa usia al Junaid 87 tahun.
Salah seorang murid Junayd yang sedangkan mendapatkan kedudukan terhormat adalah Abū Muḥammad Aḥmad bin al-Ḥusayn al-Jurayrī. Diriwayatkan: Ketika al-Jurayrī mengunjungi Junayd, gurunya itu berkata: “Ajarilah murid-muridku, disiplinkan dan latihlah mereka.”
Sejak saat itu al- Jurayrī sering menggantikan Junayd untuk mengajarkan murid-murid yang lain. Bahkan ketika Junayd sedang sakit parah menjelang ajalnya, sempat ditanya oleh Abū Muhammad al-Dabilī, salah seorang yang mengunjunginya,“Kepada siapakah kami harus duduk (belajar) dalam masalah ini setelah engkau wafat?”Junayd
ونقلتُ قوله الامام الشعراني فى كتابه الطَّبَقَاتُ الْكُبْرَي : وَلَمَّا حَضَرًتْهُ الْوَفَاةُ دَخَلَ عَلَيْهِ اَبُوْ مُحَمَّدٍ (اَحْمَدُ بِنْ حُسَيْنِ) الْجُرَيْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَقَالَ أَلِكَ حَاجَةً ؟ قَالَ نَعَمْ اِذَا مُتُّ فَغَسِّلْنِيْ وَكَفِّنِّيْ وَصَلِ عَلَيَّ فَبَكَى اَحْمَدُ الْجُرَيْرِي وَبَكَى النَّاسُ مَعَهُ ثُمَّ قَالَ لَهُ الْجُنَيْدُ وَ حَاجَةً اُخْرَى فَقَالَ وَمَاهِيَ فَقَالَ تَتَّخِذُ لِاَصْحَابِنَا طَعَامَ الْوَلِيْمَةِ فَاِذَا انْصَرَفُوْا مِنَ الْجَنَازَةِ رَجَعُوْا اَلَى ذَلِكَ حَتَّى لَايَقَعُ لَهُمْ تَشْتيت فَبَكَى الْجُرَيْرِي ثم قال والله لئن فقدنا هاتين العبنين مااجتمع منا اثنان ابدا. وكذا فِى كِتَابِ الطَّبَقَاتُ الْكُبْرَي ص 86
Aku baca dalam sebuah Artikel diceritrakan bahwa ketika ajalnya sudah dekat, Syekh Junaid Ibn Muhammad menyuruh sahabat-sahabatnya untuk membentangkan meja dan mempersiapkan makanan. “Aku ingin menghembuskan nafasku yang terakhir ketika sahabat-sahabatku sedang menyantap seporsi sop”, Junaid berkata. Kesakitan pertama menyerang dirinya. “Berilah aku air untuk bersuci”, ia meminta kepada sahabat-sahabatnya.
Tanpa disengaja mereka lupa membersihkan sela-sela jari tangannya. Atas permintaan Junaid sendiri kekhilafan ini mereka perbaiki. Kemudian Junaid bersujud sambil menangis.
“Wahai ketua kami”, murid-muridnya menegurnya, “dengan semua pengabdian dan kepatuhanmu kepada Allah seperti yang telah engkau lakukan, mengapakah engkau bersujud pada saat-saat seperti ini?” . “Tidak pernah aku merasa lebih perlu bersujud dari pada saat-saat ini”, jawab Junaid. Kemudian Junaid membaca ayat-ayat al-Qur‘an tanpa henti-hentinya. “Dan engkau pun membaca al-Qur‘an?”, salah seorang muridnya bertanya.
“Siapakah yang lebih berhak daripadaku membaca al-Qur‘an, karena aku tahu bahwa sebentar lagi catatan kehidupanku akan digulung dan akan kulihat pengabdian dan
Beliau terus berulang-ulang melakukan shalat, hingga ruh dari kakinya mulai terangkat. Ketika kakinya sudah tidak bisa lagi digerakkan, Abû Muhammad al-Jariri berkata kepadanya: Wahai Abu al-Qasim sebaiknya engkau berbaring!. Kemudian al-Junaid mengucapkan takbir dan membaca tujuh puluh ayat dari surat al-Baqarah namun sebelumnya beliau telah mangkhatamkan al-Qur’an karim. Ketika kesakitan kedua menyerang Junaid. “Sebutlah nama Allah”, sahabat-sahabatnya membisikkan.
“Aku tidak lupa”, jawab Junaid. Tangannya meraih tasbih dan keempat jarinya kaku mencengkeram tasbih itu, sehingga salah seorang muridnya harus melepaskannya.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, Junaid berseru, kemudian menutup matanya dan sampailah ajalnya.
Al-Junaid wafat hari Jum’at, dan baru dimakamkan pada hari Sabtu. riwayat yang lain hari wafat Sabtu tahun 297 H. atau 910 M. Abu Bakar al-‘Aththar berkata: “Menjelang al-Junaid wafat kami dengan beberapa orang sahabat berada di sisinya. Beliau dalam keadaan melaksanakan shalat dengan posisi duduk. Setiap kali hendak sujud ia menekuk kedua kakinya.
Ketika jenasah Junaid diusung, seekor burung berbulu putih hinggap di sudut peti matinya. Percuma saja para sahabat mencoba mengusir burung itu, karena ia tak mau pergi. Akhirnya burung itu berkata :
“Janganlah kalian menyusahkan diri kalian sendiri. dan menyusahkan aku. Cakar-cakarku telah tertancap di sudut peti mati ini oleh paku cinta. Itulah sebabnya aku hinggap di sini. Janganlah kalian bersusah-payah. Sejak saat ini Jasadnya dirawat oleh para malaikat. Jika bukan karena kegaduhan yang kalian buat, niscaya jasad Junaid telah terbang ke angkasa sebagai seeekor elang putih bersama-sama dengan kami”.
E.
SANAD KE-09. QADLI RUWAYM W.303H
32.
Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang Ke Sembilan an.
09. QADLI RUWAYM W.303H
Qadli Ruwaym w.
303H dimakamkan di Syunaiziah, Nama panjangnya adalah Syekh Abu Muhammad Ruwaym
Ibn Ahmad.Dia adalah teman dekat Imam al Junaid al Bagdady dan juga menjadi
muridnya Al Junaid. Dalam hal fiqih dia mengikuti fiqih Daud al Asfahani
dan dia sangat menguasai pelbagai disiplin pengatahuan yang berkaitan dengan
tapsir dan seni bacaan Al Qur’an. Dia terkenal karena banyaknya HAl (Keadaan) dan kagungan Maqamnya, dan karena perjalanan rohaninya dalam keterlepasan (tadrid) dari dunia, dan karena kekerasan jalan hidupnya. Menjelang
akhir hayatnya dia menyembunyikan diri diantara orang-orang kaya dan mendapat
kepercayaan khalifah (Sebagai Qadli Bagdad) tetapi itu merupakan kesempurnaan
tingkatan spiritualnya, sehingga dia tidak terhijab dari Allah Swt.
Maka dari itu Imam Al Junaid Rahimahullah berkata :”Kita adalah orang-orang
shalih yang sibuk (dengan dunia), tetapi tekun beribadah (kepada Allah).” Dia
menulis sejumlah karya
ihwal tasawuf
yang salah satu diantaranya layak
disebutkan berjudul “Galat
al Wajidin.”
Dikisahkan bahwa Suatu hari dia Qadli Ruwaym
ditanya orang : “Bagaimana keadaanmu ? Dia menjawab :”Bagaimana keadaan orang
yang agamanya adalah nafsunya dan pikirannya (terfokus pada) masalah
duniawinya, keadaan yang bukan orang salih yang takut kepada Allah, yang bukan
juga seorang arif dan salah seorang pilihan Allah ?. Ini merujuk pada
sifat-sifat buruk jiwa yang menjadi persoalan nafsu dan menganggap nafsu
sebagai agamanya. Manusia ragawi menganggap siapapun sebagai orang salih yakni
orang yang memperturutkan kecendrungan-kecendrungnnya dan meskipun dia seorang
zindiq, dan menganggap sipapun yang tidak beragama sebagai orang yang
merintangi hasrat mreka, meskipun dia sejatinya orang yang salih. Ini merupakan
penyakit yang menyebar luas pada saat ini. Semoga Allah menyelamatkan kita dari
pergaulan dengan orang semacam ini. Dengan tanpa ragu- ragu meberikan jawaban
ini dengan referensi kepada keadaan batin penanya, yang benar-benar dia kenali,
atau juga mungkin Allah memperkenankannya untuk sementara waktu berada dalam
kondisi seperti itu, dan bahwa dia
menggambarkan dirinya sendiri seperti dia kemudian berada dalam realitas.
F. SANAD KE-10 SYEKH MUHAMMAD IBNU KHAFIIF AL SHIRAZI
31. Silsilah Thariqat al
Junaidiyah yang Ke Sepuluh an.
10. SYEKH MUHAMMAD IBNU KHAFIIF AL SHIRAZI
(Abul Abdillah Ibnu Khafīf al-Syīrāzī)
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibnu Khafif ibn Asfakshad, Abul 'Abd Allah al-Shirazi al-Dhabbi al-Syafi`i al-Sufi. Sedangkan nama panjangnya adalah Abu Abdillah Muhammad Ibnu Khafiif al Syirazi. Beliau adalah seorang tokoh suci dan sufi dari Persia, dan Beliau berasal dari keluarga bangsawan kaya. Setidak-tidaknya Beliau dimasa muda telah enam kali ia menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan diriwayatkan pula bahwa ia pernah berkunjung ke Mesir dan Asia Kecil.
Kelahiran Tokoh Sufi
Abul ‘Abdullah bin Khafifi bin Isfaksyad, Beliau lahir di kota Syiraz negeri Iran.
Shiraz adalah kota bersejarah yang terletak di barat daya negeri Iran, tepatnya
di provinsi Fars, di kaki Pegunungan Zagros. Kota ini terkenal sebagai pusat
budaya, puisi, sastra, dan taman-taman indah di negeri Iran. Penulis belum
menemukan catatan tentang hari, bulan dan tanggal kelahiran Syekh Muhammad Ibnu
Khafiif al Syirazi, namun diperkirakan Beliau lahir dipertengahan abad ke-3
Hijeriah. Sedangkan Abad ke-3 Hijeriah dapat dihitung dari tahun 816 Masihi sd.
tahun 913 Masihi.
Setelah mendapat pemekalan pengetahuan yang cukup diusia
mudanya dari kotanya, Muhammad Ibnu Khafiif muda berangkat ke Baghdad, di kota
ini Beliau bertemu dengan tokoh sufi al-Hallaj beserta tokoh-tokoh sufi lainnya.
Beliau Wafat di abad ke-4 Hijeriah. Sedangkan Abad ke-4 Hijeriah dapat dihitung dari tahun 913 Masihi sd. tahun 1010 Masihi. Ia termasuk orang yang berusia lanjut ia tinggal di kota kelahirannya, dan diperkirakan ia meninggal dunia/ wafat pada tahun 329H/942M, di kota Shiraz yang terletak di barat daya negeri Iran, Persia.
Nama Gelar Tokoh kehormatan Sufi
Syekh Muhammad Ibnu Khafif ibn Asfakshad dan nama
gelar kehormatannya adalah “Abul Abdillah”. Beliau
bermazhab al Syafi’i. Beliau juga syekh dari syekh-syekh ahli Sufi. Beliau Guru
para aulia arif billah. Dia juga salah seorang imam Ilmu atau Pemuka Ilmu
Pengetahuan Agama, baik ilmu zahir atau ilmu batin saat berada di kota Bagdad
Negeri Irak. Syekh Abul
Abdillah, Beliau juga menjadi sanad
silsilah thariqatul qaum yakni thariqat al Junaidiyah.
Abu 'Abd al-Rahman al-Sullami
(wafat 412H/1021M)
berkata tentangnya: "Kaum Sufi (al-Qawm) tidak memiliki seorang pun yang
lebih tua darinya atau lebih sempurna dalam keadaan dan hakikatnya saat
ini." Beliau
pernah berkata:
"Jika kalian mendengar seruan azan dan tidak melihatku di barisan pertama,
carilah aku di pemakaman.
" Beliau mengambil
kalam dari Imam
Abu al-Hasan al-Asy'ari, fiqh dari Ibn Surayj, dan juga Beliau
mengambil tasawuf
dari Qadli Ruwaym w.303H/916M, Abu Muhammad al-Jariri (wafat 311H/923-24M),
dan Abu al-'Abbas ibn 'Ata' (wafat
309H/922M
atau 311H/924M)
dan Imam Shibly ke-4
Syekh tersebut adalah Sahabat
dan menjadi murid dari Imam Al Junaid al Baghdadi.
Syekh Abu 'Abd Allah Muhammad
Ibnu al-Khafif yang dikenal sebagai al-Shaykh al-Kabir atau Shaykh al-Shirazi
adalah seorang mistikus dan sufi Persia dari Iran. Ia dianggap membawa Sufisme
(tasawwuf) ke Shiraz.
Syekh Al-Dhahabi berkata
tentangnya: "Beliau sekaligus merupakan salah satu syekh yang paling
berilmu dalam ilmu ilmu lahiriah ('ulum al-zahir)." Syekh Ibnu Taymiyyah
menyebutnya sebagai salah
satu tokoh Sufi terkemuka
yang mewakili Sunnah.
Muhammad Ibnu Khafif berkata, "Pada
awalnya saya biasa membaca Al-Ikhlas [surah Al-Quran 112] sebanyak sepuluh ribu
kali dalam satu rakaat salat, atau membaca seluruh Al-Quran dalam satu rakaat
salat."
Syekh Abu
'Abd al-Rahman Al-Sullami berkata, "Abul 'Abd
Allah [ibnu Khafif] berasal dari keluarga bangsawan, tetapi ia menjalankan
kehidupan asketis (zuhud) hingga ia berkata, 'Aku mengumpulkan kain-kain bekas
dari tumpukan sampah, mencucinya, dan menambal apa pun yang bisa kupakai
sebagai pakaian, dan aku menghabiskan 14 bulan berbuka puasa di malam hari
hanya dengan segenggam kacang.'"
Ibn Khafif meriwayatkan dari
gurunya Ibn Surayj bahwa bukti bahwa mencintai Allah adalah kewajiban mutlak
(fard) terdapat dalam ayat-ayat: "Katakanlah: Jika bapak-bapakmu,
anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaummu, harta yang kamu peroleh,
barang dagangan yang kamu khawatirkan tidak akan laku, dan tempat tinggal yang
kamu inginkan lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah melaksanakan perintah-Nya. Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang berbuat zalim." (9:24) Karena
azab tidak diancam kecuali karena kewajiban mutlak.
Suatu ketika Syekh Abu 'Abd Allah
berkata kepada para pengikut Ibnu Maktum: "Sibukkan diri kalian dengan
memperoleh ilmu, dan jangan biarkan perkataan para Sufi [yang bertentangan]
membodohi kalian. Dahulu saya sendiri biasa menyembunyikan tempat tinta dan
pena saya di dalam pakaian saya, dan pergi secara diam-diam mengunjungi para
ulama. Jika mereka [para Sufi] mengetahuinya, mereka akan memerangi saya dan
berkata: Kamu tidak akan berhasil. Kemudian mereka mendapati diri mereka
membutuhkan saya."
Ketika Ibnu Khafiif terlalu
lemah untuk berdiri dalam shalat sunnahnya yang biasa, beliau shalat dua kali
lipat jumlahnya sambil duduk, mengingat riwayat Nabi yang mengatakan
"Shalat orang duduk adalah setengah dari shalat orang berdiri."
Ibnu Bakuyah meriwayatkan dari
Ibnu Khafi bahwa beliau berkata: "Pada awalnya, saya biasa membaca dalam
satu rakaat "Qul huwa Allahu ahad" [Surah Ikhlas:112] sepuluh ribu
kali, atau membaca seluruh Al-Qur'an dalam satu rakaat." "Selama 40
tahun, saya tidak pernah diwajibkan membayar zakat fitrah di akhir Ramadhan."
Syekh
Abul Abdillah Ia dimakamkan di
kota Shiraz, negeri Iran, Persia. Makamnya kini menjadi perpustakaan umum.
Ibnu Khafif, Isteri dan Anaknya disaat Hari Berbangkit
Pada suatu malam Ibnu Khafif
memanggil pelayannya. “Carikanlah seorang wanita untukku,”katanya kepada si
pelayan. “Kemanakah hendak kucari seorang wanita tengah malam seperti ini?.”
Jawab si pelayan. “Tetapi aku mempunyai seorang puteri jika tuan mengizinkan
aku akan pergi menjemputnya.” Pergilah dan bawa puterimu itu kemari,” kata Ibnu
Khafif.
Si pelayan membawa puterinya dan di saat itu juga Ibnu Khafif menikahinya. Sesudah memenuhi syarat dan rukun nikahnya. Tujuh bulan kemudian lahirlah seorang bayi, tetapi tidak lama kemudian bayi itu meninggal dunia.
“Suruhlah puterimu itu meminta
cerai dariku.” Kata Ibnu Khafif kepada pelayannya. “Atau kalau dia suka, dia
boleh tetap tinggal bersamaku.” “Tuan, apakah rahasia di balik semua ini?.” Si pelayan
bertanya.
“Di malam pernikahan itu,” Ibnu Khafif menjelaskan.” Aku bermimpi hari berbangkit telah tiba. Banyak orang yang berdiri kebingungan, sedang keringat mereka melimpah sampai ke leher. Tiba-tiba muncul seorang anak meraih tangan ayah & bundanya dan dengan cepat bagaikan angin, dibimbingnyalah mereka keduanya melalui jembatan Sirathal Mustaqim yang tergantung di antara surga dan neraka. Oleh karena itulah aku ingin mempunyai seorang anak. Ketika anakku lahir dan kemudian mati, maka tercapailah sudah keinginanku itu.”
Anekdot-Anekdot
Mengenai Diri Pribadi Ibnu Khafiif
Ada dua orang murid Ibnu Khafif, yang seorang bernama Ahmad Tua dan yang seorang lagi, Ahmad Muda. Di antara kedua muridnya ini Ibnu Khafif lebih menyayangi Ahmad Muda. Murid-murid lain tidak setuju terhadap sikap Ibnu Khafif ini. Mereka berdalih : Bukankah Ahmad Tua telah menjalankan lebih banyak perintah dan disiplin diri?.” Setelah mengetahui perihal ini, Ibnu Khafif ingin membuktikan kepada mereka, bahwa Ahmad Muda lebih unggul dari Ahmad Tua. Pada saat itu ada seekor unta yang sedang tidur didepan pintu.
Anekdot
Mengenai Diri Pribadi Ibnu Khafiif
Dikisahkan bahwa ada Seorang pengelana mengunjungi Ibnu Khafif. Ia
mengenakan jubah hitam, syal hitam, celana hitam dan baju hitam. Di dalam
batinnya, syeikh Ibnu Khafif merasa cemburu. Ketika si pengelana melakukan
shalat sunnat dua raka’at dan mengucapkan salam, Ibnu Khafif bertanya
kepadanya, “Mengapa engkau berpakaian serba hitam?. “Karena Tuhan-Tuhanku telah
mati (Yang dimaksudnya adalah hawa nafsunya). “Pernahkah engkau menyaksikan
seseorang yang mempertuhankan hawa nafsunya?.” “Usir orang itu keluar.” Ibnu
Khafif memberi perintah kepada murid-muridnya. Dengan kasar si pengelana diusir
ke luar. Kemudian Ibnu Khafif
memerintahkan pula, “Bawa di masuk.” Orang itu pun dibawa masuk. Perlakuan yang
seperti itu berulang-ulang sampai empatpuluh kali. Akhirnya Ibnu Khafif bangkit
dari tempat duduknya, mencium kepala si
pengelana dan memohon maaf.“Engkau memang berhak berpakaian serba hitam,” kata
Ibnu Khafif. “Setelah empat puluh kali murid-muridku menyakiti hatimu tetapi
engkau tetap tabah.”
Dikisahkan
bahwa : Pada suatu hari Sowan
dua orang sufi dari negeri yang jauh, untuk berkunjung kepada Ibnu Khafif.
Karenatidak menemukan syeikh ditempatnya, maka bertanya-tanyalah mereka, di manakah
kiranya Ibnu Khafif berada pada saat itu. “Di istana Azud ad-Daula,” seseorang
memberikan keterangan.
“Apakah
urusan syeikh Ibnu Khafif di istana? Kedua Orang Sufi Miskin itu
bertanya-tanya. “Selama ini kita mengira bahwa ia adalah orang yang mulia! ”
Kemudian mereka berkata, “Lebih baik kita melihat-lihat kota ini. ” Maka
pergilah mereka ke pasar. Kemudian mereka menuju ke tempat tukang jahit untuk menambalkan
jubah mereka yang robek di sebelah depannya. Tetapi ketika itu si penjahit lagi
kehilangan guntingnya. “Kalian mencari gunting,” orang banyak menuduh mereka
berdua mencurinya dan menyerahkan mereka kepada polisi. Kedua Orang Sufi Miskin
itu digiring ke istana untuk diadili.
“Potonglah
tangan mereka,” Azud ad-Daula (Jaksa Penuntut Umum) memberikan perintah“ Kata
Hakim ”Tunggu dulu!.” Ibnu Khafif yang ketika itu berada di istana berseru. “Mereka
ini bukan pencuri.” Tetapi teman saya. Maka kedua Orang Sufi Miskin itu pun
dibebaskan. Kemudian Ibnu Khafif berkata kepada mereka. “Persangkaan buruk
kalian terhadap diriku memang wajar. Tetapi urusanku yang sebenarnya di istana
adalah untuk tujuan-tujuan seperti membebaskan kalian tadi.” Sejak itu keduanya
menjadi murid Ibnu Khafif.
Keteragan
:
Sowan adalah bahasa Jawa yang berarti berkunjung, menghadap, atau datang menemui orang yang dihormati, seperti kyai, guru, orang tua, atau atasan. Istilah ini lebih halus daripada sekadar berkunjung, karena mengandung nuansa adab, sopan santun, silaturahmi, dan penghormatan.
Ibnu
Khafif Meriwayatkan
Kisah seperti berikut ini :
Setahun
lamanya aku berdiam di Bizantium. Pada suatu hari aku berjalan-jalan ke padang
pasir. Di sana kulihat orang banyak sedang menggotong mayat seorang rahib yang
kurus kering. Kemudian mereka membakarnya dan abunya itu mereka sapukan ke mata
orang-orang yang buta.
Sungguh
ajaib, karena kekuasaan Allah, orang-orang buta itu dapat melihat kembali.
Kemudian orang-orang yang menderita penyakit, menelan abu itu pula dan sesaat
itu juga mereka menjadi sehat kembali. Aku terheran-heran, bagaimanakah itu
mungkin terjadi karena mereka sesungguhnya menganut agama yang salah.
Pada
malam itu aku bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. “Ya Rasulullah, apakah
yang sedang engkau lakukan?.” Aku bertanya. “Aku telah datang demi engkau,”
jawab Nabi. “Ya Rasulullah, bagaimanakah keajaiban tadi bisa terjadi?.” Aku
bertanya. “Itulah hasil kesungguhan hati dan disiplin diri di dalam kesesatan,
“jawab Nabi,” Coba bayangkan, apabila hal itu dilakukan di dalam kebenaran.”
Ibnu Khafif Meriwayatkan Kisah seperti berikut ini :
Pada
suatu hari aku mendengar berita bahwa di negeri Mesir ada seorang tua dan
seorang pemuda yang secara terus menerus mengadakan meditasi. Maka berangkatlah
aku ke Mesir dan di negeri itu kutemukan dua orang yang dengan kepala tertunduk
menghadap ka arah kota Mekkah. Tetapi setelah tiga kali kuucapkan salam, mereka
tetap membungkam.
Walaupun tadi aku merasa lapar dan dahaga, tetapi kini lapar dan dahaga itu tidak terasa lagi. Aku benar-benar kagum terhadap mereka. Aku tidak beranjak dari tempat itu. Shalat Zhuhur dan ‘Ashar aku lakukan bersama mereka.
Kemudian aku memohon kepada mereka. “Berilah aku sebuah petuah.” “Ibnu Khafif, jawab si pemuda. “Kami berdua adalah manusia-manusia yang berduka. Kami tidak mempunyai lidah untuk memberikan nasehat. Orang lainlah yang harus memberikan nasehat kepada orang-orang yang berduka.”
Aku terus bertahan di tempat itu selama tiga hari tiga malam dan selama itu pula aku tidak makan dan tidak tidur. “Apakah yang harus kukatakan agar mereka mau memberikan petuah kepadaku?.” Aku berkata dalam hati. Si Pemuda mengangkat kepalanya dan berkata, “Temuilah seseorang yang apabila memandangnya engkau teringat kepada Allah, dan karena terpesona kepadanya hatimu akan terjaga, yaitu seorang yang akan memberi nasehat melalui perbuatan, bukan melalui kata-kata.”
G. SANAD KE-11. SYEKH ABDULLAH IBNU KHAFIIF ASSYRAZI.
32.
Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang Ke Sebelas an.
11. SYEKH ABDULLAH IBNU KHAFIIF ASSYRAZI
TAHUN (882-982M/268-371H)
Nama lengkapnya adalah Syekh Abdullah ibn Muhammad Ibnu Khafiif ibn Asfakshad, Abu 'Abd Allah al-Shirazi adh-Dhabbi al-Syafi`i al-Sufi. Sedangkan nama panjangnya adalah Abdullah ibn Muhammad bin Khafiif Khafifi bin Isfaksyad al Shirazi.
Beliau
adalah seorang tokoh sufi berasal dari Persia, dan berasal dari keluarga
bangsawan kaya raya. Syekh Abdullah ibn Muhammad Ibnu Khafif, Beliaulahir di kota Syiraz
negeri Iran tahun 268H/882M. Shiraz
adalah kota bersejarah yang terletak di barat daya negeri Iran, tepatnya di provinsi Fars, di kaki
Pegunungan Zagros. Kota ini terkenal sebagai pusat budaya, puisi, sastra, dan
taman-taman indah di negeri Iran, Parsia. Ia meninggal dunia di kota Syiraz negeri Iran diusianya
yang lajut pada tanggal 3 bulan Ramadhan tahun 371 Hijriyah atau Kamis, 7 Maret
982M.
Syekh Abdullah Ibnu Khafif dimakamkan di Shiraz, Iran. Makamnya kini
menjadi perpustakaan umum.
Beliau
berdomisili di kota Syairus salah satu kota di negara Iran. Ibunya dari kota
Naisabur dan dari jalur ibunya ia masih keturunan bangsawan.
Nama kehormatan
Beliau yang dikenal sebagai al-Shaykh al-Kabir atau Shaykh al-Shirazi adalah
seorang mistikus dan sufi Persia dari Iran. Ia dianggap membawa Sufisme
(tasawwuf) ke Shiraz.
Adapun nama lengkapnya adalah Syekh Abdullah ibn Muhammad Ibn Khafif ibn Asfakshad adh-Dhabbi al Syairazi, al-Syafi`i. Sedangkan nama gelar kehormatannya atau nama paggilannya adalah “Ibnu Khafiif al Syirazi.”.Syekh Abdullah ibn Muhammad Khafiif, Beliau adalah Gurunya dari Syekh Abu Abbas al Nahawandi pada sanad silsilah thariqatul qaum yakni thariqat al Junaidiyah. Beliau anak kandung Syekh Muhammad Ibnu Khafiif al Syairazi dan juga ayahnya menjadi Gurunya. Oleh karenanya wajar saja kalau Beliau juga mewarisi sifat-sifat ayah kandungnya yakni seorang syekh sufi menguasai ilmu zahir dan batin. Syekh Abdullah Muhammad Ibn Khafiif al Syirazi wafat tahun 371H. Dikutip pada sebuah Artikel bahwa Kitab al-Luma‘ Kitab ini adalah karya Abū Naṣr ‘Abd Allāh bin ‘Alī bin Muḥammad bin Yaḥya al- Sarrāj al-Ṭūsī (w. 378H). Beliau dilahirkan dan dibesarkan di kota Nisyapur, tahun kelahiran penulis kitab manual klasik tasawuf ini tidak diketahui sampai sekarang. Tetapi yang jelas beliau pernah menjadi pengikut Muhammad Ibn Khafīf al-Syīrāzī..
Syekh Abdullah ibn Muhammad ibn Khafif ibn Asfakshad dan gelar nama kehormatannya adalah “Abu Abdillah”. Beliau bermazhab al Syafi’i. Beliau juga syekh dari syekh-syekh ahli Sufi. Beliau Guru para aulia arif billah. Dia juga salah seorang imam Ilmu atau Pemuka Ilmu Pengetahuan Agama, baik ilmu zahir atau ilmu batin saat berada di kota Bagdad Negeri Irak. Beliau juga menjadi sanad silsilah thariqatul qaum yakni thariqat al Junaidiyah
قال الشيخ يوسف بن إسمائل النبهانى فى جامع كرامات الأولياء
: هو أبو عبد الله محمد بن خفيف الشيرازى الشافعى شيخ مشايخ الصوفية وأستاذ الأولياء
العارفين وأحد أئمة الأعلام بعلمى الظاهر والباطن ومن كراماته أنه دخل ببغداد
فأقام فيها أربعين يوما لايأكل ولا يشرب ثم خرج فوجد ظبيا على رأس بئر فى البرية وهو يشرب وكان عطشانا. فدنا من البئر فولى
الظبني. فإذا بالماء أسفل البئر. فقال : يا سيدى مالى عندك محل هذا الظبي ؟ فسمع
قائلا : جربنا فلم تصبر. وإن الظبي جاء بلا ركوة ولا حبل وأنت وأنت جئت بهما. فرجع
فأذا بالبئر ملآن. فشرب وتطهر وملأ ركوته وحج ورجع. فلم ينفد ماؤها. فدخل على
الجنيد. فلما وقع بصره عليه قال : لو صبرت ساعة لنبع الماء من تحت قدميك وجرى خلفك.
وناظر يوما بعض البراهمة فقال : البراهمى : إن كان دنيك حقا
فتعال أصبر أنا وأنت على الطعام أربعين يوما ففعلا. فأكملها الشيخ عجز البرهمى.
ودعاه برهمى آخر الى المكث تحت الماء مدة. فمات البرهمى قبل
تمامها وأتمها هو مات سنة371 هجرية.
Disamping
kesibukannya sebagai penulis, Syekh Muhammad bin Khafif As-Syairazi ayahnya
juga aktif dipemerintahan, ia sering dimintai gagasannya atau masukannya oleh
para raja, ia banyak ikut andil dalam menentukan kebijakan raja.
Syekh Fariduddin Attar, dalam karyanya
Tadzkiratul Auliya’, menyajikan kisah-kisah tentang para wali dan sufi agung
yang menunjukkan teladan spiritual, kebijakan, dan keikhlasan yang tinggi dalam
menjalankan perintah Allah SWT. Salah satu kisah yang diceritakan adalah
tentang Syekh Muhammad bin Khafif Asy-Syairazi ayahnya, seorang sufi terkemuka
yang dikenal dengan kebijaksanaannya dalam menghadapi berbagai ujian, termasuk
ketika harus membela orang yang dituduh mencuri.
Kisah
ini tidak hanya mengungkapkan kebijaksanaan Syekh Muhammad bin Khafif
Asy-Syairazi ayahnya dalam menegakkan keadilan, tetapi juga menunjukkan
bagaimana ia menghadapi celaan dari sesama ulama sufi yang mengira kedekatannya
dengan raja adalah sebuah kekurangan.Suatu hari, Dua orang Ulama Sufi
Miskin hendak
berkujung ke rumah Syekh Muhammad bin Khafiif Asy-Syairazi untuk bersilaturahmi
dan berdiskusi dengan Syekh.
Ketika mereka tiba di kediamannya, mereka tidak mendapatinya bahwa Syekh
Muhammad bin Khafif Asy-Syairazi tidak berada di rumah. Seorang tetangganya
kemudian memberi tahu mereka bahwa Syekh Muhammad bin Khafif Asy-Syairazi
sedang dipanggil
oleh Raja Penguasa.
Mendengar hal ini, kedua ulama Sufi tersebut merasa kecewa dan mulai mempertanyakan kemuliaan serta keikhlasan Syekh
Muhammad bin Khafif Asy-Syairazi. Mereka berasumsi bahwa kedekatannya dengan
para raja menunjukkan ketidakmurnian spiritualnya dan keterlibatan dalam urusan
duniawi yang seharusnya dihindari oleh seorang sufi sejati.
Namun, setelah mengetahui alasan
sebenarnya mengapa Syekh Muhammad bin Khafif Asy-Syairazi dipanggil ke istana,
pandangan mereka berubah total. Ternyata, Syekh Muhammad bin Khafif
Asy-Syairazi dipanggil bukan untuk urusan pribadi atau demi keuntungan duniawi,
tetapi untuk membela
seorang fakir yang
dituduh mencuri.
Fakir tersebut adalah seseorang yang
lemah dan tidak berdaya, tanpa pengaruh atau dukungan dari siapa pun, dan hanya
Syekh Muhammad bin Khafif Asy-Syairazi yang berdiri di sisinya sebagai pembela.
Dalam situasi itu, sang sufi dengan penuh keberanian menolak tuduhan yang
diarahkan kepada fakir tersebut, meskipun harus menghadapi tekanan dari
penguasa.
Ketika dua ulama sufi tersebut menyadari
alasan kedekatan Syekh Muhammad bin Khafif Asy-Syairazi dengan raja, mereka pun
terhenyak dan malu atas prasangka buruk mereka. Kedekatan Syekh Muhammad bin
Khafif Asy-Syairazi dengan raja bukanlah untuk mencari keuntungan pribadi,
melainkan demi menegakkan keadilan dan melindungi mereka yang tidak berdaya.
Keberadaan Syekh di tengah-tengah para penguasa bukan berarti ia terjerumus
dalam duniawi, tetapi sebaliknya, ia hadir sebagai cahaya yang membawa nilai-nilai spiritual di tengah kekuasaan yang sering kali
gelap dan penuh ketidakadilan.
Mereka memutuskan untuk pulang, sebelum
pulang mereka mampir
dulu ke pasar untuk
membeli oleh-oleh. Mereka masuk ke
toko baju, salah satu dari mereka memegang baju
yang mahal
tujuannya hanya sekedar menawar
saja, tiba-tiba si penjual baju berteriak, “maling maling’ maling”. Sontak
pasar menjadi gaduh, mereka berdua ditetapkan sebagai tersangka, dengan dalih /
alasan karena di pasar itu sering kehilangan.
Akhirnya Petugas Satpam pasar membawa
mereka ke hadapan raja untuk diadili, mereka tidak bisa mengelak atau membela,
dengan segera raja memutuskan untuk memotong tangan mereka. Pada saat raja
memutuskan untuk memotong tangan mereka, datanglah Syekh Muhammad bin Khafif
Asy-Syairazi, dan ia meminta kepada raja untuk menundanya, bahkan Syekh
Muhammad bin Khafif Asy-Syairazi membelanya. Ia berkata, “Saya melihat ada
kebaikan yang terpancar di raut wajah mereka, dan ada bekas kejernihan hati
dalam hati mereka”.
Mendengar pernyataan Syekh Muhammad bin
Khafif Asy-Syirazi, hati si raja merasa kasihan, akhirnya raja mengampuninya.
Setelah itu Syekh Muhammad bin Khafif Asy-Syirazi menyalami mereka, dan
berkata, “Wahai saudaraku! Semoga Allah merahmatimu, prasangkamu kepadaku itu
keliru, aku dekat dengan para raja untuk menyelesaikan berbagai perkara atau
masalah seperti yang kalian hadapi”.
Mendengar pernyataan Syekh Muhammad bin
Khafif Asy-Syirazi dua ulama sufi itu menyesal dan mereka bertaubat di tangan
Syekh Muhammad bin Khafif Asy-Syairazi, bahkan mereka menjadi muridnya.
Syekh 'Abd Allah Muhammad ibn al-Khafif hidup di tahun (882-982M/268-371H) yang dikenal sebagai al-Shaykh al-Kabir atau Shaykh al-Shirazi adalah seorang mistikus dan sufi Persia dari Iran. Ia dianggap membawa Sufisme (tasawwuf) ke Shiraz.
Riwayat Mengenai Abdullah Ibnu Khafiif
Ibnu Khafif dari Parsia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya. Ia dijuluki demikian karena ia memikul beban yang ringan, memiliki jiwa yang lapang, dan akan menghadapi masa perhitungan yang mudah.
Saat Riyadhah Dalam Kamar Ibnu Khafif memecat Pelayannya
Setiap awal malam Ibnu Khafif memakan tidak lebih dari
tujuh buah kismis sebagai pembuka puasanya. Pada suatu awal malam (saat berbuka
puasa) pelayannya menyajikan delapan buah kismis kepadanya. Ibnu Khafif tidak
menyadari hal ini dan ia menghabiskannya. Tetapi karena ia tidak mendapatkan
kepuasan di dalam ibadahnya kepada Allah dan tidak seperti yang dialaminya
setiap malam, sesudahnya maka dipanggilnyalah si pelayan untuk meminta
keterangannya. Diawal malam (saat berbuka puasa) tersebut “Aku telah memberikan
delapan buah kismis kepadamu,” si pelayan mengaku. “Mengapa?”, tanya Ibnu Khafif.
“Kulihat engkau sangat lemah dan aku merasa kasihan,”
jawab si pelayan, “Aku ingin agar engkau memperoleh kekuatan.”
“Dengan berbuat demikian engkau bukanlah sahabatku tetapi musuhku,” hardik Ibnu Khafif. “Jika engkau memang bersahabat denganku, niscaya engkau akan memberikan enam buah kismis kepadaku, bukan delapan buah.” Pelayan itu dipecatnya dan digantinya dengan Pelayan yang baru.
Syekh Abdullah ibn Muhammad Ibnu Khafif Meriwayatkan Kisah seperti berikut ini.
Ketika masih muda, aku ingin sekali pergi ke tanah suci
untuk menunaikan ibadah haji. Ketika aku sampai ke kota Baghdad, kepalaku penuh
dengan kecongkakan sehingga aku tidak mau menemui Junaid. Aku meneruskan
perjalanan dengan membawa seutas tali dan sebuah timba. Ketika telah berada
jauh di tengah padang pasir, aku merasa sangat dahaga. Dari jauh terlihatlah
olehku sebuah telaga dan seekor rusa yang sedang minum. Begitu aku sampai di
tepi telaga itu ternyata airnya telah habis terserap bumi. Aku minta dan berseru
kepada Allah Swt
“Ya Allah, seruku, “apakah Abdullah lebih hina dari seekor rusa?.”
“Rusa itu tidak membawa tali dan timba,”
kudengar sebuah jawaban,” ia berpasrah diri kepada Kami.”
Dengan hati gembira tali dan timba itu kubuang, kemudian
kulanjutkan perjalananku.
“Abdullah” kudengar sebuah panggilan, “Kami
hanya mengujimu, ternyata engkau tabah, oleh karena itu kembalilah dan minumlah
air telga itu.”
Aku pun balik dan kudapati air telaga itu telah penuh
kembali,. Aku bersuci dan meminum air telaga tersebut. Setelah itu aku
berangkat dan di sepanjang perjalanan ke Madinah aku tidak pernah membutuhkan
air karena telah bersuci di telaga tadi.
Pada hari Jum’at ketika aku berada kembali di Baghdad, aku
pergi ke masjid. Junaid melihatku dan berkata kepadaku,
“Seandainya dulu engkau benar-benar
bersabar, niscaya air akan menyembur dari bawah kakimu.”
Ketika aku masih remaja (Ibnu Khafif meriwayatkan) seorang
guru sufi datang mengunjungiku. Setelah melihat betapa aku sangat lapar, ia
mengajakku ke rumahnya. Ketika sampai, ternyata di dapur sedang dimasak daging
dan baunya memenuhi seluruh ruangan. Aku merasa mual dan tidak sanggup
memakannya. Sang guru sufi yang melihat keenggananku itu menjadi sangat malu.
Aku sendiri pun menjadi sangat bingung, lalu aku tinggalkan santapan itu.
Kemudain aku dan beberapa orang sahabat melanjutkan perjalanan.
Di Qadisiyah kami tersesat, sedang bekal kami telah habis.
Beberapa hari kami masih dapat bertahan, tetapi akhirnya tiada berdaya.
Penderitaan kami sedemikian beratnya sehingga kami membeli seekor anjing dengan
harga yang mahal. Kemudian kami memanggang anjing itu. Sebagai bagianku
kuterimalah sekerat. Ketika aku hendak memakannya teringatlah aku peristiwa di
rumah guru sufi dan makanan yang disuguhkannya kepadaku.
“Inilah hukumanku karena telah membuat malu
sang guru sufi.” Aku berkata dalam hati.
Aku memohon ampun kepada Allah, dan Allah menunjukkan
jalan kepada kami. Ketika sampai di rumah aku pergi meminta maaf kepada si guru
sufi.
H. SANAD KE-12. SYEKH ABU ABBAS NAHAWANDI
29.Silsilah Thariqat
al Junaidiyah yang Ke Dua Belas
an.
12. SYEKH ABU ABBAS NAHAWANDI
Nama
kehormatannya adalah Abu
Abbas al Nahawandi, tidaklah di
ketahui nama aslinya. Beliau adalah salah seorang Syekh Sufi kota Nahawanda Negeri Persia Irak yang mengamalkan
ilmunya dan menghidupkan thariqatul qaum yakni thariqat al Junaidiyah. Dia
adalah murid dari Syekh
Ibnu Khafiif al Syirazi. Dia tercatat
sebagai Sanad Silsilah thariqatul qaum yakni thariqat al Junaidiyah. Dia juga
Syekh Guru spritual dari Farraj
an Zanjani al Qudhistani. Abu Abbas
lahir di kota Nahawand Negeri Persia dan besar di kota ini, sebuah kota yang
indah selaras dengan lagu al Qur’an atau kira’at Nahawnd Negeri Irak. Belum ada
ditemukan orang atau catatan yang mengetahui tentang hari, bulan dan tanggal
kelahiran dan wafatnya. Pernah aku baca pada Artel Sufi , Kedua Sufi ini lahir
di Negeri Irak tetapi masa yang berbeda :”Anakku sebelum aku menerima sedekah
ini, aku telah lebih dahulu menerimamu.” Kata Syekh Sirri as Saqati. Syekh Abu
al Abbas mengataka : “Kami orang-orang Sufi mengkaji dan mendalami bersama
Ulama Fiqih bidang Spesialisasi mereka tetapi mereka tidak pernah masuk dalam
bidang........
Abu al-Abbas al-Nahawandi ( Orang
Persia : ابوالعباس نهاوندی meninggal 1010), nama lengkap Ahmad ibn
Muhammad ibn Fadl al-Nahawandi, adalah seorang mistikus sufi Muslim yang hidup
di abad ke-10H yang tinggal di Nahavand , Iran. Abad ke-10H dapat dihitung dari
tahun 1495 sd. tahun 1592M.
Qutb al-Ariffin Abu
al-Abbas al-Nahawandi ( Orang Persia : ابوالعباس نهاوندی nama lengkap Ahmad ibn Muhammad ibn Fadl al-Nahawandi, adalah
seorang mistikus sufi Muslim abad ke-10 yang tinggal di Nahavand , Iran . Ia
dikenal di kalangan pengikut tasawuf sebagai sahabat spiritual yang dapat
dipercaya dan sesepuh berpengalaman dalam mistisisme Islam. Nahawandi adalah
sahabat Baba Kuhi dari Shiraz .
Diperkirakan Syekh Abu al-Abbas al-Nahawandi lahir pada
pertengahan abad ke-10H di Nahavand. Tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi
dikatakan terjadi pada paruh akhir abad ke-10. Ia hidup sezaman dengan penguasa
Buyid , 'Adud al-Dawla . Nahawandi kemudian pindah ke Baghdad untuk sementara
waktu untuk menyelesaikan perjalanan spiritualnya.
Nahawandi juga menjadi murid Syekh Ja'far Khalidi, yang
pada gilirannya adalah murid Junayd dari Baghdad . Nahawandi juga merupakan
sahabat baik Baba Kuhi, dan mereka banyak berbincang bersama. Ia menghabiskan
dua belas tahun hidupnya dalam kehidupan pertapaan. Perbuatan dan mukjizat
Nahawandi disebutkan oleh para mistikus Sufi kemudian, seperti Abdullah Ansari
, Attar dari Nishapur dan Abd al-Rahman Jami' dalam karya biografi mereka.
Abu al-Abbas al-Nahawandi meninggal pada
awal abad ke-11H. Abad ke-11H dapat dihitung dari tahun 1592.
sd. tahun 1689M
Tanggal kematiannya tidak diketahui secara pasti, namun
beberapa ulama menyatakan bahwa ia meninggal /wafat pada tahun 1010H/ 1602M.Ia dimakamkan di lingkungan Darb Shaykh
di Nahavand, negeri Iran.
Pada masa Dinasti Qajar , sebuah mausoleum dibangun di
atas makam Nahawandi. Bangunan ini berbentuk segi empat dengan luas 39 meter
persegi dan tinggi 3,5 meter. Bangunan ini pernah menjadi tempat ziarah, namun
belakangan ini menjadi rusak dan terbengkalai. Bangunan ini kemudian ditutup,
hingga tahun 2015 ketika pekerjaan restorasi dilakukan. Setelah restorasi,
mausoleum dibuka kembali dan pengunjung diperbolehkan masuk. Saat ini merupakan
monumen warisan nasional Iran.
I. SANAD KE-13 .SYEKH FARRAJ AZ ZANJANI
28. Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang Ke Tiga Belas an.
13. AL 'ARIF BILLAH SYEKH FARRAJ AZ ZANJANI
(الشيخ الفرح الزنجانى او الفرج الزنجانى)
Al 'Arif billah Syekh al-Farah/Farraj an Zanjani al Qudhistani adalah seorang Sufi yang memiliki
penjelasan yang indah dan ajaran yang dihormati. Dia adalah seorang santo
Muslim Sufi yang populer. Dia dianggap sebagai salah satu nenek moyang dari
Tariqah Sufi, yang membentuk rantai tak terputus dari nabi Islam Muhammad.
Dia dikenal sebagai seorang Quthb, yang
dalam tasawuf adalah manusia sempurna, atau dikenal sebagai al-insān al-kāmil,
"Manusia Semesta" di puncak hierarki suci.[sumber tidak dapat diandalkan?]
pada masanya dikenal karena melakukan keajaiban. Dia dikatakan memiliki tingkat
tawakkul dan sabr yang begitu kuat sehingga hal-hal duniawi tidak menjadi
perhatiannya.
Qudhistan adalah sebuah negeri yang berada di Timur Tengah. Ia hidup semasa dengan Ibnu Usman al Hujwiri. Dan Syekh Farraj menjadi salah satu sanad thariqat al- Junaidiyah atau silsilah thariqat al-Qaum yang ke tiga belas dari jalur sanad Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib. Zanjan adalah sebuah kota di pinggiran bukit Provensi Jibal, sebelah Tenggara Persia.
هو العارف بالله تعالى الشيخ الفرج الزنجانى
ولما أراد ابن ابي
الفرج تربيع جنينته حكم التربيع على جعل زاوية الشيخ فيها فقال للخادم انقل الشيخ
الى موضع آجر وانا ابنيه لك قعزم الخادم ذلك فجاء إليه فى المنام وقال له قل لا بن
الفرج لاتنقلنا نقلك. فأخبره الخادم بذلك فقال هذه أصغاث أحلام فشرع فى نقله فلحقه
شيئ فى جنيه فطلعت روحه فى الحال.
J. SANAD KE-14 SYEKH QADLI
WAJIIHUDDIN
27.
Silsilah Thariqat
al Junaidiyah yang ke Empat Belas
14. AL 'ARIF BILLAH QADLI WAJIIHUDDIN
( القاضى وجيه الدين )
هو العارف بالله تعالى القاضى وجيه الدين بن محمد
Al 'Arif billah Syekh Qadli Wajiihuddin bin Muhammad. Ia adalah pamannya dan sekaligus
menjadi guru dari Syekh Abu
Najib as Suhrawardi. Ayahnya bernama
Muhammad yang lebih dikenal dengan nama
kebesaran nya Amawaih. Dan juga ia
menjadi salah satu sanad silsilah
thariqat al Junaidiyah (thariqat al-Qaum yang ke empat belas dari jalur sanad Sayyidina 'Ali bin Abi
Thalib.
Dalam sebuah artekel yang pernah saya baca, dikatakan bahwa Wajihuddin. Salah seorang wali besar yang sangat dihormati berasal dari Gujarat, Dia seorang penulis buku yang produktif dan pendiri madrasah yang berusia lama. Sampai saat ini, tarekat yang disebarkan telah memiliki pengaruh yang luas di India, hingga terus menyebar ke Mekkah, Madinah, dan bahkan sampai ke Indonesia.
Tradisi tarekat yang bernafas India ini dibawa ke Tanah Suci oleh seorang tokoh sufi terkemuka, Sibghatullah bin Ruhullah dari salah seorang muridnya.
K. SANAD KE-15.SYEKH ABU
NAJIB AS SYUHRAWARDI
26. Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang ke Lima Belas
15. SYEKH ABU NAJIB AS SYUHRAWARDI
(الشيخ ضياء الدين أبو نجيب السهروردى)
Tahun 490-1097-563H/1168M
Al 'Arif billah
Syekh Dhiya'ud Diin Abu Najib Abdul Qadir bin Abdullah al
Suhrawardi radliyallahu anhu wafat pada hari Jum;at, 17 Jumadil Akhir 563H\29
Maret 1168M a’at tengah melaksanakan salat malam dan dimakamkan di ribatnya di
Bagdad. Dia bernama lengkap Dhiya
al Din Abu Najib Abdul Qadir Ibn Abdullah al Suhrawardi. Ia adalah bapak
dari Syekh Najibuddin Burghusy Syirazi dan Syekh Syihabbuddin as Suhrawardi adalah muridnya. Syekh Abu Najib lahir
sekitar 490H atau 1097M di kota Suhraward, Provensi Jibal dipinggiran Zanjan,
sebelah Tenggara Persia. Dan juga ia
menjadi salah satu sanad silsilah
thariqat Qaum al Junaidiyah yang ke Lima belas dari jalur sanad
Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.Syekh ini adalah keturunan dari Khalifah Abu
Bakar al Siddiq.
Abu Najib Abdul menerima pendidikan awalnya tentang al Qur’an dan Hadis ditempat kelahirannya kota Suhraward. Selanjutnya diusia yang masih belasan tahun, ia pergi belajar ke Isfahan adalah sebuah kota besar di Provensi Jibal yang merupakan pusat pendidikan sa’at itu.
Syekh Abu Najib
Abdul Qadir al Suhrawardi radliyallahu
anhu, adalah berlomba mengenakan gaun ilmuwan (Jubah kebesaran Ulama) dia
datang mengedarai seekor Bigal dan memegang berita besar (surat kelulusan)
ditangannya. dan
Dia bertempat
tinggal di kota Baghdad
sampai ia meninggal dunia (wafat) pada tahun 563 Hijeriyah \ 1168 Masehi dan dimakamkan
didekat sekolahnya di tepi sungai Tigris dan makamnya dikunjungi oleh banyak
orang. Ini adalah berkah jelas dari Allah.
هو
العارف بالله تعالى الشيخ أبو نجيب عبد القادر السهروردى رضي الله عنه, يلقب بضياء
الدين ونجيب الدين. نسبه ينتهى إلى أبي بكر الصديق رصي الله عنه.
وكان
رضي الله عنه يتطياس ويلبس لباس العلماء
ويركب البغلة وترفع الغاشية بين يديه, انعقد عليه إجماع المشايخ والعلماء
بالاحترام وأوقع الله عز وجل له القبول التام فى الصدور والمهابة الوافرة فى
القلوب وتخرج بصحبته جماعة من الأكابر مثل الشيخ شهاب الدين السهروردى والشيخ عبد
الله ابن مسعود الروم وغيرهما, واشتهر ذكره فى الآفاق وقصد من كل قطر. سكن بغداد
الى أن مات بها سنة 563 هجرية \1168 ملادية ودفن بمدرسته على شاطئ دجلة وقبره بها
ظاهر يزار رضي الله.
25. Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang ke Enam Belas
16. SYEKH SYIHABBUDDIN AS SYUHRAWARDI
الشيخ شهاب الدين السهروردى
L.539-632H/1140-1234M
هو العارف بالله تعالى الشيخ شهاب الدين أبو حفيظ عمر بن
محمد بن عبد الله بن محمد بن عمويه السهروردى صاحب عوارب المعارب 539 -632 حجرية \1140-1234ملادية توفى فى الفرسي
Dia
adalah sebagai sanad silsilah thariqat al Junaidiyah atau thariqat al-Qaum yang
ke Enam
Belas, Dia
murid Syekh Abu Najib as Suhrawardi. Ia banyak mengajarkan tasawuf kepada
murid-muridnya secara teoritis dan membimbing pengamalan thariqat secara
praktis, khususnya kepada mereka yang ingin memasuki jalan thariqat ini. Oleh
karenanya thariqat yang dibangunnya ada kemiripan\kesamaan atau tidak jauh berbeda
dengan ajaran thariqat Abul Qasim al Junaid al Bagdadi.
Thariqat Suhrawardiyah ini berkembang
sangat pesat di Negeri Persia, karena kegigihan tokoh-tokohnya dan
popularitasnya dan juga adanya dukungan para penguasa dan masyarakatnya.
Dukungan penguasa tersebut
datang dari khalifah An Nasir yang membangunkan kampus khusus
thariqat
Suhrawardiyah dengan sarana yang lengkap, ada Asrama santri dan rumah Guru, ada
Aula, Kamar tempat Riyadhah, ada Masjid dan Madrasahnya. Kampus tersebut
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh Abu Hafs Umar bin Abdullah al
Suhrawardi.
Ajaran-ajaran\dokterin Thariqat
Suhrawardiyah tersebut banyak dituangkannya
pada kitab "Awarif al Ma'arif" karya Abu Hafs Umar bin Abdullah al
Suhrawardi.
M. SANAD KE-17 SYEKH NAJIBUDDIN
BURGHUSY SYIRAZI
24. Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang ke Tujuh Belas
17. SYEKH NAJIBUDDIN BURGHUSY SYIRAZI
هو العارف بالله
تعالى الشيخ نجيب الدين بورغوس الشيرازى
Al 'Arif billah
Syekh Najibuddin Burghusy Syirazi. Ia
adalah kemenakan dan murid Syekh Syihabbuddin
al Suhrawardi dan
ia menjadi salah satu sanad
silsilah thariqat Qaum al Junaidiyah yang ke Tujuh belas dari jalur
sanad Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.
Ia pernah
mengemukakan tentang pentingnya seorang murid harus memiliki seorang Mursyid.
Guruku pernah berkata " Seorang murid bagaikan sebutir telor,
yang suatu ketika akan menetas.
Kalau telor itu diarami oleh seekor burung dewasa, yang dapat memberikan
perlindungan, mampu terbang jauh dan mempunyai kekuatan, maka ia akan
menurunkan kekuatan kehidupan spritual kepada telor yang diaraminya tersebut.
Dengan kekuatan dan keoletannya sendiri mengarami, telor itu akan menetas dan
dapat mewarisi burung yang mengaraminya, sampai ia meraih kesempurnaan."
"Sebaliknya
jika telor itu diarami oleh seekor burung yang masih muda, belum dewasa, ia
sendiri belum mampu terbang, maka telor yang diaraminya itu menjadi rusak, dan
tidak mampu terbang."
Demikian pula
kalau seorang murid yang dibimbing oleh
seorang mursyid yang tidak memiliki
kapasitas sebagai mursyid yang mampu memberikan bimbingan kepada
murid-muridnya. Yang pada akhirnya mursyid itu akan merusak anak yang
dibimbingnya.
Mursyid yang pintar dibutuhkan bimbingannya oleh seorang murid yang menuju
jalanTuhan, karena seorang murid yang disebut juga muqtadi ( pengikut ) bagaikan seorang
musafir mengarungi gurun sahara dan berbagai tempat berbahaya dan dengan bimbingan
seorang Guru, seorang murid akan mendapat pertolongan Tuhan. Ia dapat melewati
berbagai maqam dan ia tiba dialam penyingkapan (kasyaf) dan panyaksian
(musyahadah) kepada Allah azza wajala.
N. SANAD KE-18 SYEKH
ABDUS SHAMAD AN NATHTARI (AN NAHRANI)
23. Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang ke Delapan Belas
18. SYEKH ABDUS SHAMAD
AN NATHTARI (AN NAHRANI)
هو العارف بالله تعالى الشيخ عبد الصمد النطاري (النهرانى)
Menurut Artikel yang pernah saya baca bahwa Syekh Najmuddin Ali bin Burgundy Syirazi, yang juga dikenal dengan nama Syekh Muhammad Najmuddin Ali Mubin, adalah seorang ulama yang memiliki peran penting sebagai guru dari para Walisongo di tanah Jawa.Ia juga guru dari Syekh Abdus Shamad an Nathtari (Nahrani)
Al 'Arif billah Syekh Abdus Shamad an Nathtari (Nahrani) adalah namanya. Ia adalah murid Syekh Najibuddin Ali bin Burghusy Syirazi dan ia menjadi salah satu sanad silsilah thariqat al Junaidiyah (thariqat al-Qaum) yang ke Delapan belas dari jalur sanad Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.
O. SANAD KE-19 SYEKH
BADARUDDIN HASAN SYAMSURI\SYAMSYIR
22. Silsilah Thariqat
al Junaidiyah yang ke Sembilan
Belas
19. SYEKH BADARUDDIN HASAN SYAMSURI\SYAMSYIRI
(الشيخ بدر الدين الشمشورى)
Al 'Arif billah Ta’ala Syekh Badaruddin Hasan al Syamsyuri adalah namanya,
Dia salah seorang yang terkemuka dari aliran tarekat
sufi ini, dan amalan-amalannya
yang baik melimpah. dan dia mengambil bai;at talqin dzikir thariqat al
Junaidiyah (thariqat al-Qaum) dari Syekh Najemuddin gurunya. Sa’at dia
mengambil bai;at, dia mengenakan kain Sorban Syekh Najemuddin Mahmud al-Isfahani, dan dari Syekh Badaruddin Hasan al Syamsyiri (Syamsyury)
tersebut, maka dia dilimpahkan ijazah dzikir kalimat : “Laa ilaha illallah”
yang artinya “Tiada ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah,” (talqin dzikir thariqat al-Qaum al Junaidiyah)
“Moga-moga atas
kedua mereka, Allah Ta;ala meredhainya.”
Dari keduanya Syekh (Badaruddin dan Najemuddin) menjadi sebagai sanad silsilah thariqat al
Junaidiyah (thariqat al-Qaum). Syekh Junaid al Bagdady “Semoga
Allah Ta’ala memberkatinya, Manakala dia ingin
melimpahkan kepadanaya akan warid yang
Haq
untuk bepergian dari tanah Persia (ajam) ke Negeri Mesir, dia tidak
memperhatikan kepadanya
Forud
ke dua dan juga dia tidak memperhatikan
dia Forud
Ketiga.
هو العارف بالله تعالى الشيخ بدر الدين حسن الشمشورى وأخذ العهد ولبس الخرقة الشيخ نجم الدين محمود الإصفهانى وعن الشيخ بدر الدين حسن الشمشيرى (الشمسورى) وتلقن الذكر وهو لاإله إلا الله عليهما رضي الله تعالى عنهما وهى سلسلة الشيخ الجنيد رضى الله عنه, ولما ورد عليه وارد الحق بالسفر من ارض العجم إلى مصر, فلم يلتفت اليه فورد ثانيا فلم يلتفت اليه فورد ثالثا
P. SANAD KE-20 SYEKH NAJMUDDIN AL ASHFIHANI
21. Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang ke Dua Puluh
20. SYEKH NAJMUDDIN AL ASHFIHANI
(الشيخ نجم الدين
الأصفهانى)
Al 'Arif billah
Syekh Najmuddin al Ashfihani rahimahullahu Ta'ala adalah namanya. Ia adalah ayah dari Syekh an Najmu Mahmud al
Ashfihani rahimahullahu Ta'ala dan ia
menjadi salah satu sanad silsilah thariqat al Junaidiyah (thariqat al-Qaum)
yang ke Dua Puluh dari jalur sanad Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib. Isfahan atau
Asfahan adalah sebuah kota besar di Provensi Jibal yang merupakan pusat
pendidikan sa’at itu di sebelah Tenggara Persia.
Ia mengambil
tarekat tasawuf dari Syekh Hasan al
Syamsyiry dan Syekh Hasan al Syamsyiry mengambil tarekat tasawuf dari Syekh Syihabuddin as Suhrawardi dan ia
dari Syekh Madyan dan Syekh Abu Najib
Abdul Qadir al Suhrawardi, maka dari
sini bercabanglah dari keduanya sanad silsilah yang berhubungan dengan thariqat
al Junaidiyah (thariqat al-Qaum) Syekh
Abu Qasim al Junaid “Semoga Allah Ta’ala memberkatinya,
هو
العارف بالله تعالى الشيخ نجم الدين
النقليسىالإصفهانى
وهوأبوه
وشيخه اى النجم محمود الإصفهانى رحمه الله تعالى. أخذ التصوف عن حسن الشمشيرى وعنه
شهاب الدين السهروردى وعنه مدين وتفرعت عنهما السلسلة المتعلقة بطريقة أبي القاسم
الجنيد رضي الله عنه.
R. SANAD KE-21 SYEKH AN NAJMU MAHMUD AL ASHFIHANI
20. Silsilah Thariqat
al Junaidiyah yang ke Dua Puluh
Satu
21. SYEKH AN NAJMU MAHMUD AL ASHFIHANI
(الشيخ النجيم محمود
الإصفهانى)
هو العارف بالله تعالى الشيخ النجيم محمود الإصفهانى.
هو من ذرية أبي الحسن على بن سهل الإصفهانى رحمه الله تعالى.
وسئل رضي الله عنه عن الحقيقة التوحيد ؟ فقال : قريب من الطرائق بعيد غن الحقائق.
Al 'Arif Billahi Ta'ala Syekh an Najmu Mahmud al
Ashfihani adalah namanya. Dia adalah termasuk dzurri'at Syekh Abu Hasan Ali bin
Sahal al Ashfihani radiyahu anhu.
Dan ia menjadi
salah satu sanad silsilah thariqat al
Junaidiyah (thariqat al-Qaum) yang ke Dua Puluh Satu dari jalur sanad silsilah
Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib radiyahu
anhu. Dia mengambil ilmu Tasawuf dari Syekh Najmuddin al Ashfihani. Dia pernah ditanya tentang hakekat Tauhid ? DIA MENJAWAB
:”JALAN YANG SANGAT DEKAT DAN JAUH DARI SEMUA MAKHLUK.”
S. SANAD KE-22 SYEKH YUSUF AL 'AJAMI ALKAURANI
19. Silsilah Thariqat al Junaidiyah
yang ke Dua Puluh Dua
22. SYEKH YUSUF AL 'AJAMI ALKAURANI
(الشيخ يوسف العجمى الكوراني)
Nama panjangnya
adalah Syekh Yusuf bin Abdullah bin Umar al Ajemy Jamaluddin Abul Hasan al
‘Arif al Kabir al Wali al Syahir. Dia mengambil thariqat al Junaidiyah (thariqat
al-Qaum) ini dari Syekh An Najemu Mahmud al Ashfihani dan dia juga memperdalam
ilmu batennya pada Syekh Badar al Syasytary. Maksudnya “Dia riyadlah atau
khalwat di bawah bimbingan Syekh Badar, walaupun bai’atnya dengan Syekh An
Najemu.
Syekh Yusuf al
Ajemy ini bukan orang Arab, dia berasal dari Negeri al Kaurany yang safari ke
Negeri Mesir untuk menuntut dan menimba Ilmu Pengetahuan disana. Yang pada
akhirnya dia bermukim di Negeri Mesir ini.
Dia mengambil
talqin dzikir thariqat Qaum al Junaidiyah dari Syekh Najemuddin Mahmud al
Asfihany dan Dia dari Syekh Badar al Syasytari. Kedua Syekh tersebut menjadi
sanad silsilah thariqat al Junaidiyah (thariqat al-Qaum).
Dia adalah Syekh
yang pertama menghidup-hidupkan thariqat Qaum al Junaidiyah yaitu thariqat
Syekh al Junaid di Negeri Mesir sesudah mempelajarinya.
(الشيخ يوسف العجمى الكوراني)
هو العارف
بالله تعالى الشيخ يوسف بن عبد الله بن
عمرالعجمى جمال الدين أبو المحاسن العارف
الكبير والولى الشهير. أخذ الطريقة عن نجم الدين محمود والبدر الششترى وغيرهما اي مدين المغربى و..... وهو أول من أحيا طريقة
الشيخ الجنيد رضى الله عنه بمصر بعد اتدراسها.
وكان ذا طريقة عجيبة فى الانقطاع والتسليك. وله التلامذة
الكثيرة وعدة زوايا, توفى الشيخ فى زوايته بالقرافة الصغرى فى يوم الأحد نصف جماد
الأولى سنة ثمان ستين وسبعمائة\768هجرية\1367ملادية. صلى عليه خلق لايحصون وأخذ العهد ولبس الخرقة الشيخ نجم
الدين محمود الأصفهانى وعن الشيخ بدر الدين حسن الشمشيرى (الشمشورى) وتلقن الذكر
وهو لاإله إلا الله عليهما رضي الله تعالى عنهما وهى سلسلة الشيخ الجنيد رضى الله
عنه, ولما ورد عليه وارد الحق بالسفر من ارض العجم إلى مصر, فلم يلتفت اليه فورد
ثانيا فلم يلتفت اليه فورد ثالثا.
8. Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang ke Duaua Puluh Tiga
23. SYEKH HASAN AL TUSTARI
(الشيخ حسن التستي بن أبي الحسن التستي)
Syekh Hasan al Tustary (Syasytari) Dia adalah teman dan shahabat karib Syekh Yusuf al Ajemy dan dia menjadi Muridnya. Dia seagung-agung Syekh dimasanya.Telah sampai kepadanya pimpinan (Ketua) thariqat Negeri Mesir sesudah Gurunya Syekh Yusuf al Ajemy wafat. Dia menjadi guru Syekh Iman Ahmad az Zahidi dan dia juga bershahabat baik dengan Syekh Husain al Adamy. dan Syekh Hasan at-Tustari yang dimakamkan di dekat jembatan al-Muski Mesir al-Mahrusah.
هو العارف بالله
تعالى الشيخ حسن التستي بن أبي الحسن التستي رضي الله عنهما. توفى الشيخ سنة
797 هجرية \ 1395 ملادية ودفن
بزاوية فى قنطارة الموسكى على الخليج الحاكم بمصر المحروسة.
Beliau adalah seorang Al ‘Arif billaah, Syekh Hassan al-Tusti ibn Abi al-Hassan al-Tusti, semoga Allah meridai mereka berdua. Syekh wafat pada tahun 797 H / 1395 M dan dimakamkan di sebuah zawiya di Qantara al-Muski di kanal al-Hakim di Kairo.
التسترى : نسبة إلى تستر وهي أعظم مدينة بعربستان وهي تعريب (شوشتر) سميت بذلك لان رجلا من بنى عجل يقال له تستر بن نون افتتحها فسميت باسمه, فتحها البراء بن مالك فى خلافة عمر ابن الخطاب, ثم غزاها تيمورلنك فى القرن الخامس عشر الميلادى وهي مركز تجلرى هام. 2)
وقال الشيخ أبو الحسن الششترى رضي الله عنه : زلا بد ان يتحكم لمن يأمره وينهاه ويبصره, فإن الطريق عويض قليل خطاره كثير قطاعه وقد يظن السالك أنه على جادته وهو قد ولي ظهره لموضع توجهه منه فإنه إذا خرج منه إنملة فقد خرج وإنقطع وانصرف سيره على اشعه تلك الا نملة فإنه طريق دقيق ونفس متصرفة فى البدن وهي الراحلة عنه وعادة مألوفه وشيطان هذا الطريق فقيه بمقامات ونوازله. 3)
Dan Syekh Abu al-Hasan
al-Shushtari, semoga Allah meridainya, berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa ia
harus dikendalikan oleh orang yang memerintahkannya, melarangnya, dan
membimbingnya, karena jalan itu sulit, bahayanya sedikit, dan rintangannya
banyak. Seorang musafir mungkin mengira bahwa ia berada di jalan yang benar,
padahal ia telah membelakangi tempat yang ditujunya. Jika ia menyimpang darinya
bahkan sehelai rambut pun, maka ia telah menyimpang dan perjalanannya telah
terputus, dan perjalanannya telah berbalik arah karena sehelai rambut itu.
Karena itu adalah jalan yang halus, dan jiwa mengendalikan tubuh, dan jiwalah
yang meninggalkannya dan terbiasa dengannya. Dan setan di jalan ini mengetahui
tingkatan dan malapetakanya.” (3).
كان رفيق الشيخ يوسف العجمى وتلميذه كان عظيم الشأن وانتهت إليه رئاسة الطاريق فى مصر بعد العجمى وله كرامات منها : أن العسكر أقبل عليه وانقاد إليه حتى قدم طاعته علي طاعة السلطان, فاضطرب السلطان وأمر بنفيه,وكان قدرجرج بفقرائه إلي المطرية, فنزل الوزير ليقبض عليه فلم يجده, فبنى باب زاويته فرجع فوجده مسدودا فقال : نحن نشد منا فذ بدنه,فانسد مخرجه وعمى وخرس واحتبس بوله ونفسه ومات فورا فنزل السلطان وترضاه.
Sahabat dan murid Syekh Yusuf
al-Ajami sangat penting, dan kepemimpinan tarekat Sufi di Mesir berakhir
padanya setelah al-Ajami. Ia memiliki mukjizat, termasuk: bahwa tentara datang
kepadanya dan tunduk kepadanya hingga mereka mendahulukan ketaatannya daripada
ketaatan Sultan. Sultan merasa terganggu dan memerintahkan pengasingannya. Ia
telah membawa orang-orang miskinnya ke al-Matariya, sehingga menteri turun
untuk menangkapnya tetapi tidak menemukannya. Ia membangun pintu zawiyanya,
tetapi kembali dan mendapati pintu itu terkunci. Ia berkata: Kita akan
memperketatnya dari dalam, sehingga tubuhnya terkunci. Jalan keluarnya
terhalang, dan ia menjadi buta dan bisu, serta air kencing dan napasnya
tertahan, dan ia meninggal seketika. Maka Sultan turun dan menenangkannya.
وجائه مرة نصراني صائغ فقال : إن السلطان أرسل لي فصا من العادن الغالية أصيغة له فى خاتم خاتون,فطرقته فانكسر نصفين وأنا خائف من القتل, وكان خاطرى بوزن ثمنه ولو كان بعشرة آلاف دينار, وما أعرف يا سيدى رد السلطان عنى إلا منك, فدخل الشيخ رضي الله عنه الخلوة, فحول باطن السلطان ألى أن صار. هو يطلب قصم الفص نصفين, وذلك أن سريته المحظية طلبت هذا الفص.فبذل لها جملة فصوص فلم ترض, فسأل أن يكون الفص بينهما نصفين, فأرسل السلطان قاصده إلى الصائغ بذالك,فأخبره الجيران بما وقع للصائغ وقالوا : إنه عند الشيخ, فذهب القاصد إلى الشيخ فأخبر بذالك الصائغ, فأسلم ودفن فى زاوية الشيخ.
Suatu ketika, seorang tukang emas Kristen datang kepadanya dan berkata: Sultan mengirimiku sebuah batu logam mulia untuk dipasang di cincin bagi Khatun. Aku telah menempanya dan batu itu patah menjadi dua, dan aku takut dibunuh. Aku memikirkan harganya, bahkan jika itu sepuluh ribu dinar. Aku tidak tahu, Tuanku, bagaimana cara menjauhkan Sultan dariku kecuali melalui Anda. Maka Syekh, semoga Allah meridainya, mengasingkan diri, dan beliau mengubah keadaan batin Sultan hingga menjadi... Ia meminta agar permata itu dipotong menjadi dua, karena selirnya telah meminta permata ini. Maka ia menawarkan sejumlah permata kepadanya, tetapi selir itu tidak puas. Maka ia meminta agar permata itu dibagi dua di antara mereka. Sultan mengirim utusannya kepada tukang emas dengan permintaan itu, dan para tetangga menceritakan apa yang telah terjadi pada tukang emas itu dan berkata: Ia bersama Syekh. Maka utusan itu pergi kepada Syekh dan menceritakan hal itu kepada tukang emas, sehingga ia masuk Islam dan dimakamkan di sudut makam Syekh.
U. SANAD KE-24 IMAM AHMAD BIN SULAIMAN AL ZAHIDI
17. Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang ke Dua Puluh Empat
24. SYEKH WAL IMAM AHMAD BIN SULAIMAN AL ZAHIDI
(SYEKH AHMAD AL ZAHIDI, W.820H/1417M)
(الشيخ الإمام أحمد الزاهد)
Syekh wal Imam
Ahmad az Zahidi. Dia adalah salah satu silsilah sanad thariqat al Junaidiyah (thariqat
al-Qaum) dan thariqat-thariqat yang lainya.
Nama panjangnya
adalah Syekh wal Imam Ahmad bin Sulaiman az Zahidi. Dia seorang Syekh wal Imam
yang agung dimasanya. Dia seorang yang alim, lagi bersangatan
alimnya, Aulia Allah yang berpangkat
rabbany. Dia seorang syekh Syariat dan Hakekat dan amat sangat faqih pada kedua
ilmu ini. Sehingga tidak lah aneh kalau dia dijuluki Ornamen dalam tharqat
(Mistik) diantaranya thariqat al
Junaidiyah (thariqat al-Qaum), dan thariqat lainnya.
Banyak orang yang
berguru kepadanya dan mengikuti jejaknya, karena dia berpaling dari dunia
dengan kezuhudannya.Syekh Ahmad az Zahidy
ini tercatat sebagai murid Syekh Yusuf al Ajemy al Kaurainy dan Syekh
Husain al Adamy.
Diantara akhlak-akhlak orang
Sufi, mereka banyak bertafwid berserah diri kepada Allah Ta’ala akan semua
urusan diri mereka. Mereka menyerahkan hantaran hati, goresan hati kepada Allah
semata. Begitu juga terhadap apa saja yang dilakukan oleh anak-anak, isteri
mereka dan juga shahabat-shahabat mereka. Tafwidh adalah penyerahan khantaran
hati, gerak hati, goresan hati si hamba kepada Allah semata.
Sesungguhnya
keadaan yang demikian itu telah diperbuat oleh Sadatina sanad silsilah al
Junaidiyah yakni Syekh Imam Ahmad
az Zahidi
rahimahullah. Ketika dia menjaga khalwat (riyadhah) anaknya atau muridnya
berkhalawat selama 40 hari di suatu tempat yaitu kamar riyadhah.Dia tidak akan
membuka (pintu kamar riyadhah anaknya) sebelum dia berkata : “Wahai anakku
sayang, andaikata sesuatu perkara, berada ditangan ayah, tidaklah ayah berikan
(datangkan perkara dimaksud) akan seseorang kecuali terlebih dahulu atas engkau
jalan untuk mengenal - mengetahui thariqat ini .....(yakni thariqat kaum al
Junaidiyah).
( الشيخ الإمام أحمد الزاهد )
هو العارف بالله تعالى الشيخ الإمام أحمد بن سليمان الزاهد, هو الإمام العالم العامل
الرباني شيخ الطريقة فقيهها ومحييها بعد اندراسها(1
وهو ربي الرجال وأحيا
طريق القوم بعد اندراسها وكان يقال هو طريق القوم طريقة أبي القاسم الجنيد وكان
يتستر بالفقه لا تكاد تسمع منه كلمة واحدة من دقائق القوم وصنف عدة رسائل فى امور
الدين(2
كان يقول : بين انا ذاهب
الى المكتب وانا صبي عارضنى شخص من أولياء الله اشعب اغبر. فطلب منى غذائ فأعطيته
له. وعزمت على الجوع فأخذه منى وقال لى : يا أحمد تبنى لك جامعا فى خظ المقسم
ونلقب بالزاهد. ويعارضك يديك رجال. فكان الأمر كما قال ولم اجتمع بذلك الرجال بعد
ذلك اليوم.- كذا فى جامع كرمات الاولياء الجزء الأول
قال المناوى : كان شيخه فى الطريقة الشيخ حسن الششترى (التسترى) وعنه أخذ
الشيخ الغمرى والشيخ مدين الشمونى. ومن كرامته أنه سافر إلى دمياط فاستسحب له منها
علبة حلاوة هدية. فقوى الريح فاختطفها حبل الراجع فألقاها فى البحر فلما سلم عليه
قال يا محمد أين هديتك ؟ قال فى البحر قال : لنقيبه ادخلوه الخلوة فوجدها فيهاتقطر
ماء. مات
الشيخ الإمام أحمد الزاهد 820 هجرية ودفن بجامعه فى مصر. كذا فى جامع كرمات
الاولياء
من أخلاقهم اى أهل
الصوفيين كثرة تفويضهم إلى الله فى أمر نفوسهم وأولادهم وأصحابهم. وقد كان سيدي
الشيخ أحمد الزاهد رحمه الله يجلى ولده على كل خلوة أربعين يوما فلا يفتح عليه
فيقول : يا ولدى لو كان الأمر بيدي م قدمت أحدا عليك فى معرفة الطريق انتهى
......كذا فى تنبيه المغترين
من اجل اصحاب الشيخ الإمام أحمد الزاهد هو عبد الرحمن بن بكتمر. وكان العبد
الصالح الورع الزاهد كان أولا من أهل الدنيا وكان جاره الشيخ الزاهد فاتفق أته
أرسل يوما إلى بيت الشيخ وهم يضحكم فقال مالكم ؟ فأخبروه فدعا له ان يكون من جماعه
فمضى الا اسبوع حتى جاء بهمة كأمثال الجبال يطلب الطريق فلقنه وشغله بكلمة التوحيد
... كذا فى جامع كرمات الاولياء الجزء الثانى
16. Silsilah Thariqat
al Junaidiyah yang ke Dua Puluh
Lima
25. SYEKH MADYAN AL ASMUNI
الشيخ مدين بن أحمد
الاشمونى
(W.862H/1458M)
Al 'Arif Billahi
Ta'ala Syekh Madyan bin Ahmad al Asmuni dia adalah salah satu Pembesar Arif billah. (orang yang sangat
dengan Tuhannya), Dia bersahabat dengan Sayyid Syekh Imam Ahmad az Zahidi dan
Sayyid Syekh Muhammad Hanafi, dan
mengakhiri pimpinan thariqat sufi dan Pendidik para muridin di jalan pemuliaan umat kota Masir, seorang keturunan Syekh Madyan
al Magrib (Maroko) yang terkenal.
Dan dia membaca dan bercabang rantai sanad silsilah
yang sangat berhubungan dengan thariqat
Abu Kasin al Junaidy ra, dia berkata: Dia
adalah saudara sesusu Syeikh Imam Ahmad az Zahid. Dia Syekh Madyan bin Ahmad al Asmuni meninggal dunia tahun 862 Hejeriyah \ 1458
Miladiah di kota Mesir.
Adapun shahabat Madyan bin Ahmad al Asmuni yakni : Syeikh Imam Ahmad az Zahid, ra dan Syekh Muhammad Hanafi dan
Sidi Muhammad Sidi Ghamry dan Saidi
Madyan bin Ahmad al Aysmuni Sidi Abdur Rahman bin Bactamir. Moga-moga Tuhan memberkati mereka, amiin.
هو العارف بالله تعالى الشيخ مدين بن أحمد الاشمونى أحد, كان أحد
أكابر العارفين من أصحاب سيدي الشيخ الإمام أحمد الزاهد وسيدى محمد الحنفى وانتهت
إليه رياسة الطريقة وتربية المريدين فى القطر المصرى وهو من ذرية مدين المغربى
الشهير.
وقرأها وتفرعت عنه السلسة المتعلقة بطريقة أبي القاسم الجنيد رضي الله عنه, قالوا : وكان
رضاعه يد سيدي الشيخ الإمام أحمد الزاهد. وتوفى مدين بن الاشمونى سنة
862هجرية\1458ملادية فى المصرى.
من أصحاب سيدى الشيخ الإمام أحمد الزاهد رضي الله عنه هم سيدي محمد
الحنفى و سيدي محمد الغمرى سيدي مدين بن أحمد الاشمونى سيدي عبد الرحمن بن بكتمر رضي
الله عنهم.
الإمام الشعرنى فى الطبقات الكبرى الجزء الثاني رقم 101
Q. SANAD KE-26 SAYYID
MUHAMMAD IBN MADYAN AL ASMUNI
15. Silsilah Thariqat
al Junaidiyah yang ke Dua Puluh
Enam
26. SYEKH SAYYID MUHAMMAD IBN MADYAN AL ASMUNI
(W.881H/1477M)
Al 'Arif Billahi
Ta'ala Syekh Muhammad Ibn Madyan al Asmuni
adalah namanya.Dia putra dari Syekh
Madyan al Asmuni. Dia bermazhab Maliki
pada fiqihnya dan wafat tahun 881H/1477M. Dia seorang anak dari Syekh Madyan
Ulama Sufi, Ulama Besar, dan Wali Allah Ta’ala yang sangat terkenal.
Syekh Muhammad Ibn Madyan al Asmuni
mengambil tarekat ini dari ayahnya yang bernama Madyan al Asmuni dan dia
mengambil tarekat ini dari pamannya dan
pamannya. Dan telah mengambil bai’at tarekat ini darinya oleh Syekh ‘Ali
al Murshafa dan juga mengambil oleh Ibn Abi al Hama’il. Dan keduanya juga
mengambil dari Syekh-syekh besar selainnya.
هو العارف بالله تعالى الشيخ محمد بن مدين الاشمونى المالكى وهو ابن الشيخ مدين الصوفى الكبير والولى الشهير. أخذ مدين الاشمونى عن أبيه وأخذ عن خاله, وأخذ عنه على المرصفى وابن أبي الحمائل وغيرهما من الأكابر. مات سنة 881 هجرية\ 1477 ملادية.
X. SANAD KE-27 SYEKH MUHAMMAD ASSURAWI
14. Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang ke Dua Puluh Tujuh
27. SYEKH MUHAMMAD ASSURAWI
Syekh Muhammad As-Surawi adalah ia murid Syekh Ibn Madyan al Asmuni. Dan
Ibn Madyan al Asmuni mengambil tarekat ini dari ayahnya yang bernama Muhammad Madyan
al Asmuni dan dia mengambil tarekat ini dari pamannya. Telah mengambil darinya
(Syekh Muhammad As-Surawi) oleh Syekh
‘Ali al Murshafa. Syekh ‘Ali ini adalah Guru Imam Abdul Wahhab As Sya’rani.
الشيخ الإمام عبد الوهاب الشعرانى فى
الطبقات الكبرى يقول : منهم الشيخ محمد السروى رحمه الله تعالى آمين : المشهور
بأبي الحمائل أحد الرجال المشهورة فى الهمة العبادة وكان يغلب عليه الحال فيتكلم
بالـألسن العبرانية السريانية والعجمية
وتارة يزغرت فى الأفراح والأعراس كما تزغرت النساء وكان إذا قال قولا ينفذه الله
له وشكا له أهل بلده من الفأر وكثرت فى المقنأة البطيخ. فقال لصاحب المقثأة رح
وناد فى الغيط حسب ما رسم محمد أبو الحمائل إنكم ترحاون أجمعون فنادى الرجل لهم
كما قال الشيخ فلم ير بعد ذلك اليوم منهم ولا فأرا واحدة فسمعت البلاد بذلك.
قال الشيخ يوسف بن إسمائل
النبهانى فى جامع كرامات الأولياء : هو الشيخ محد
السروى المشهور بابن أبى الحمائل.أستاذ العارفين وإمام الأولياء المقربين,
أخذ عنه الثناوى وغيره.
قال الشعرنى : سمعته يحكى
قال : بينما أنا ذات يوم فى منارة جامع فارسكور إذ مر على جماعة طيارة, فدعونى إلى
مكة فطرت معهم,فحصل عندى عجب بحالى, فسقطت فى بحر دمياط, فلولا كنت قريبا من البر
وإلا كنت غرقت وساروا وتركونى.
وكان يطير فى الهواء ويجعل زير الماء, ويمشى على الماء جهارا حتى يغيب عن العيون, ثم يعود ويداه مخضوبتات بالدم وقول : توجهنا لشخص أسر فى البحر الملح فخلصناه بعد قتلنا جمعا من الكفار. مات فى مصر سنة 932 هجرية ودفن فى زاويته بين السورين.
Y. SANAD KE-28 SYEKH
‘ALI NURUDDIN AL MURSHIFI
13. Silsilah Thariqat
al Junaidiyah yang ke Dua Puluh
Delapan
28. SYEKH ‘ALI NURUDDIN AL MURSHIFI
Syekh ‘Ali al
Murshifi adalah menjadi salah satu sanad silsilah thariqat al Quam al
Junaidiyah, ia adalah Guru Imam al-Sya’rani. Nama panjangnya “Ali Nuruddin al
Murshifi “ Semoga Allah Swt merahmatinya dan meridhainya. Beliau Imam
orang-orang rasyikh dalam bidang ilmu.
Pernah aku baca pada Artikel bahwa “Syekh Sayyid ‘Ali al Murshifi menyatakan bahwa banyak Guru Thariqat yang merasa tidak mampu merawat hati para muridnya hingga bersih. Mereka belum menemukan obat yang lebih baik untuk itu, kecuali dengan cara terus-menerus melakukan dzikir, maka dalam soal pembersih hati ini, dzikir bisa diumpamakan sebagai alat gosok khusus yang dapat secara cepat membersihkan karak tembaga. Sedangkan ibadah-ibadah lainnya sebagai alat gosok biasa yang sama sekali bisa digunakan untuk membersihkan kotoran tembaga.
الشيخ الإمام عبد
الوهاب الشعرانى فى الطبقات الكبرى يقول :
منهم الشيخ
على نور الدين المرصفى رحمه الله تعالى ورضي
الله عنه آمين . وكان من الأإمة الراسخين فى العلم وله المؤلفات النافعة فى الطريق
واختصر رسالة القشيري رضي الله عنه وتكلم على مشكلاتها وقرأتها عليه بعد قراتها
على الشيخ زكريا رحمه الله تعالى فكنت أعرض عليه ماسمعت من شرح الشيخ لها فيقره
يمدحه ويقول كان زكريا من العارفين ولكنه تستر بالفقه وتلقنت عليه الذكر ثلاث مرات متفرقات أول مرة وأنا شاب أمرد دخلت
عليه بعد العصرفقات له يا سيدى لقنى الذكر
بحال قوى. فقال بسم الله الرحمن الرحيم يا ولدى أطرق فى ساعة وقال قل لاإله
إلا الله.
قال الشيخ يوسف بن
إسمائل النبهانى فى جامع كرامات الأولياء : هو الشيخ على المرصفى. قال الشعرانى فى
الطبقات : ذكر لى سيدى أبو العباس الحريثى أنه قرأ بين المغرب والعشاء خمس ختمات,
فذكرت ذلك للشيخ على المرصفى فقال الشيخ الفقير :
وقع له أنه قرأ فى يوم وليلة ثلاثمائة وستين ألف خمسة كل
درجة ألف ختمة انتهت عبارة الشعرانى. ذكر الإمام الشعرانى لنفسه كرامة من هذا
القبيل. ذكرتها فى ترجمة أبي العباس الحريثى واسمه يوسف.
SANAD KE-29 IMAM ABDUL WAHHAB AS SYA’RANI W.973H/1565M
12. Silsilah
Thariqat al Junaidiyah yang ke Dua Puluh Sembilan
29. IMAM ABDUL
WAHHAB AS SYA’RANI
Syaikh Asy-Sya’rani sejak kecil sangat cinta akan ilmu dan gemar sekali menuntut ilmu khususnya ilmu-ilmu dunia dan sufistik. Karena kemuliannya, jika dia sedang berjalan banyak orang menghampirinya dan berebut tangan untuk menyalami dan mencium tangannya hanya sekadar untuk memperoleh berkah dari sang wali. Banyak dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bertaubat dan akhirnya berbaiat masuk islam dan menjalani amalan sufi yang dibimbing langsung oleh Syaikh Asy-Sya’rani. Demikian pula banyak para penjahat dan pelaku maksiat yang akhirnya sadar dan bertaubat dari perbuatan buruknya setelah mendengar pengajian pengajian yang disampaikan oleh Syaikh Asy-Sya’rani (orang makrifat). Dia dilahirkan di desa Qalqasandah – Mesir pada tanggal 27 Ramadhan 989 H. / 12 Juli 1493 M. Nama Asy-Sya’rani adalah panggilan yang diberikan kepadanya yang diambil dari nama sebuah desa tempat tinggalnya “Sya’rani”. (Syadzily 2013M)
Al-Imam Abi al-Mawahib Abdul Wahhab bin Ahmad asy-Sya’rani,
yang lebih kita kenal dengan Imam Sya’rani lahir pada tanggal 27 Ramadhan tahun
989 H di salah satu desa di Mesir. Beliau hidup dalam keadaan yatim, sebab
ayahnya wafat saat berumur 10 tahun.
Al-Imam Sya’rani dikenal oleh
kalangan santri sebagai sufi yang berguru kepada Sayyid Ali al-Khawwas.
Kitab-kitab beliau yang sering dibaca dan juga tersebar adalah buku-buku
tasawuf. Namun sebelum mengenal dunia sufi, beliau terlebih dahulu mendalami ilmu
zhahir dengan sangat dalam.
Menjelaskan
kepadaku pada sebuah Artikel “Short URL” bahwa (2) “Pada usia yang
masih sangat belia, al-Sya’rani telah ditinggal mati oleh ayahnya. Setelah itu Sya’rani kecil dirawat oleh
seorang paman yang shalih dan ahli ibadah.
Sang paman yang shalih selalu membimbing kemenakannya untuk selalu hidup dalam keshalihan dan ketaatan kepada Tuhan. Dari hasil didikan seorang paman yang taat ini, bukan sesuatu yang mengherankan jika Imam Sya’rani semenjak kecilnya, merupakan seorang anak yang terkenal akan ibadah dan pengabdianya kepada Allah . Semenjak usia delapan tahun, dia telah terbiasa melakukan shalat malam, dengan menenggelamkan diri dalam dzikir-dzikir yang mengagumkan. Keyatiman yang ia alami, tidak menjadikan dirinya berkembang sebagai anak yang hidup dalam keputus- asaan dengan tanpa harapan. Semenjak kecil, ia telah menyakini dalam hatinya yang paling dalam, bahwa Allah telah menjaganya dari sifat keberagamaan yang lemah, sebagaimana Allah selalu menjaga dirinya dari perbuatan yang tercela dan hina. Bahkan dalam hatinya, dia juga percaya bahwa Allah telah memberikan kepada dirinya kecerdasan yang bisa dijadikan pisau dalam memahami semua keilmuan dengan benar, yang sekaligus mampu memahami semua kerumitan- kerumitan yang ada..
Menjelaskan kepadaku pada sebuah Artikel “Short URL” bahwa “Dalam sejarah hidupnya, kecintaan Imam Sya’rani terhadap ilmu-ilmu agama, telah menjadikan dirinya melakukan perjalananan dari desa asalnya menuju Kairo. Ketika berada di Kairo, dia yang semenjak kecil dididik dengan keshalihan dan ketaatan, selalu menghabiskan waktu-waktu yang ia miliki dengan beribadah dan menelaah semua keilmuan. Dia telah menjadi semakin alim dan bertakwa. Waktu-waktunya hanya ia habiskan untuk beribadah dan belajar, di dalam sebuah masjid. Semenjak berada di Kairo, dia telah berhasil bertemu dengan para ulama-ulama besar; seperti Jalaluddin al-Syuyuthi, Zakaria al-Anshori, Nashirudin al-Laqoni dan al-Romli , yang guru-gurunya ini selalu ia kenang dalam beberapa tulisan kitabnya. Di Kairo, Imam agung ini mempelajari semua keilmuan yang ada pada zamanya. Dia selalu mempelajari semua keilmuan dengan semangat belajar yang luar biasa (Short URL)
Dia merupakan simbol dari seorang murid yang teladan dan rajin pada zamanya. Dia selalu mencari sebuah kebenaran di manapun ia berada. Dalam pandangannya, semua imam adalah contoh yang telah mendapatkan sebuah petunjuk dari Allah . Dia tidak melakukan sikap fanatisme yang berlebihan terhadap salah satu mazhab, dan tidak tergesa-gesa dalam menilai sebuah ijtihad dari salah satu mazhab tertentu, kecuali setelah melakukan pengkajian yang matang dan mendetail. Dan, setelah ia menguasai beberapa disiplin ilmu yang ada pada zamanya, dia tidak berubah menjadi seorang yang sombong dan angkuh, tapi tetap menjadi seorang yang tawadhu’ dan rendah hati. As-Sya’rani sebagaimana ahli sufi lainnya, selalu menghindari perdebatan yang tidak ada gunanya di saat menuntut ilmu. Dia memahami betul bahwa berdebat hanya akan menjauhkan dirinya dari cahaya Tuhan.”
Imam Abdul Wahhab Asy- Sya’rani dan Gurunya Syekh ‘Ali Al-Khawwas
Menjelaskan kepadaku pada sebuah Artikel “ Short URL” bahwa “Pertemuan antara al-Sya’rani dan al Khowwas, merupakan salah satu bukti betapa pentingnya seorang Syeikh dalam dunia para sufi. Al-Khawwas adalah seorang laki-laki yang telah diberikan Allah sebuah mauhibah dan keistimewaan, dalam menjalani badai kehidupan. Dia merupakan salah satu anugerah, yang pernah diberikan Allah kepada umat manusia dalam menuju sebuah hakikat. Al-Khawwas merupakan simbol kebenaran atas keberadaan ilmu Laduni dalam dunia sufi. Semenjak kecil Dia adalah seorang yang ummi (buta huruf), yang dalam setiap perkataannya selalu diwarnai dengan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits. Dia mampu mengambil sebuah istimbat dari dalil-dalil tersebut, dengan sangat menakjubkan dan mengherankan. Pertemuannya dengan al-Sya’rani , merupakan sebuah bukti dari keistimewaan seorang wali dengan ilmu laduninya, dengan seorang ‘alim yang belum mencapai derajat tersebut. Al-Khawwas adalah seorang ummi, sedang al-Sya’rani adalah seorang yang ‘alim. Tapi, itu semua hanya dalam penampakan lahir belaka (Short URL).
Salah Satu Guru Pembimbing Imam Asy-Sya'rani :
Pada hakikatnya Al-Khawwas adalah seorang ‘alim sedang al-Sya’rani adalah seorang ummi. Ilmu Al-Khawwas adalah ilmu mauhibah yang langsung diterima dari Allah , sedang ilmu al-Sya’rani adalah ilmu yang bersumber dari kitab-kitab bacaan yang hakikat ilmu tersebut menurut orang sufi bukan merupakan ilmu yang dimiliki secara hakiki, melainkan ilmu yang didapat melalui bacaan terhadap kitab. Al-Khawwas adalah seorang yang telah mengantarkan al-Sya’rani menuju dunia sufi yang sesunggungya. Dia telah mengantarkan al-Sya’rani mencapai derajat kewalian, dan mengajarkan tata cara mencapai sebuah ilmu laduni. Dalam beberapa kesempatan Al-Sya’rani mengisahkan bagaimana Al-Khawwas telah memberikan pengajaran kepada dirinya dalam mencapai derajat tersebut. Yang pertama ia lakukan adalah menjual semua kitab yang ia miliki, dan menghabiskan semua hasil penjualan kepada fakir miskin. Pada awalnya, al-Sya’rani merasa berat menjalankan perintah sang guru, bahkan setelah melakukan semua perintah tersebut, al-Sya’rani merasa tidak enak hati dan terus memikirkan kitab-kitab yang telah ia jual. Ia merasa telah kehilangan semua ilmu yang selama ini ia tekuni. Tetapi, ketika Al-Khawwas mengetahui hal tersebut, beliau memerintahkan kepada al-Sya’rani untuk memperbanyak dzikir kepada Allah . Setelah mampu menanggulangi cobaan pertama ini, Al-Khawwas menyuruhnya menghindari keramaian manusia (uzlah), hingga pada akhirnya al-Sya’rani merasa dirinya paling baik dibandingkan dengan yang lainya. Al-Khawwas kemudian menganjurkan kepada al-Sya’rani untuk terus melakukan mujahadah hingga ia akan merasakan bahwa dirinya lebih hina dari pada orang yang paling hina sekalipun. Setelah masa-masa tersebut, al-Khawwas menyuruh al-Sya’rani untuk berbaur kembali dengan masyarakat ramai, dengan bersabar atas apa yang mereka lakukan terhadap dirinya. Al-Sya’rani ketika menjalankan hal tersebut merasakan bahwa dirinya merupakan orang yang paling tinggai derajatnya jika dibandingkan dengan orang lainya. Tetapi, seperti biasanya, Al-Khawwas kemudian memerintahkan kepada dirinya untuk menghilangkan perasaan-perasaan tersebut. Al-Khawwas menyuruh al- Sya’rani untuk memperbanyak dzikir kepada Allah dalam semua waktu- waktunya. Ia tidak boleh memikirkan hal lain selain sang pencipta. Sehingga ia harus menjalani masa-masa itu selama berbulan-bulan. Dan bukan hanya itu saja, al- Khowwas kemudian menyuruh dirinya untuk menghindar dari nafsu makan. Makan hanya dilakukan untuk menjaga kelangsungan hidup belaka, sehingga al-Sya’rani ketika itu merasakan dirinya telah terbang ke atas. Mujahadah yang telah diajarkan Al-Khawwas kepada al-Sya’rani telah menjadikan dirinya memiliki keilmuan yang tidak ia duga sebelumnya. Ia merasakan, bahwa ilmu yang telah ia miliki, mendapatkan pesaing dari ilmu mauhibah yang baru ia dapat. Ilmu yang baru ia dapat telah memberi penyempurnaan terhadap ilmu yang selama ini ia miliki. Hati al- Sya’rani telah dibuka oleh Allah , dan diberikan pengetahuan-pengetahuan yang hanya dimiliki oleh seorang sufi saja. Tetapi, walaupun al-Sya’rani telah mendapatkan ilmu laduni dari Allah , Al-Khawwas yang dalam hal ini berperanan sebagai guru al-Sya’rani , membimbing kepada dirinya untuk terus melakukan berbagai macam mujahadah dalam rangka membersihkan hatinya dari belenggu duniawi. Sehingga pada akhirnya al-Sya’rani mampu mendapatkan berbagai macam ilham dan karomah yang telah diberikan langsung oleh Allah kepada dirinya.”
Karomah Syeikh Imam Abdu al-Wahhab asy-Sya’rani
Menjelaskan kepadaku pada sebuah Artikel “Short URL” bahwa Suatu ketika antara Syeikh Abd al-Wahhab ( dengan Syekh Nasiruddin al-Laqqani (, terjadi kesalah kefahaman karena ada aduan dari sebagian orang yang hasud pada Syeikh Abdu al-Wahhab (. Dia mengadu pada Syeikh Nasir ( bahwa Syeikh Sya’rani ( dalam majlis pengajiannya mencampur santri laki-laki dengan santri perempuan. Ketika Syeikh Sya’rani ( mengetahui bahwa Syeikh Nasir ( terkena tipuan orang ini, maka beliau sowan ke Syeikh Nasir ( untuk meminjam kitab “Al-Mudawwanah”. Syeikh Nasir ( dalam kesempatan itu mengatakan : “Aku harap engkau tidak melakukan pelanggaran lagi, dan engkau kembali pada Syariat yang benar ! “. Syeikh Sya’rani menjawab : “Insya-Allah itu akan terjadi”. Setelah itu, Syeikh Nasir menyuruh pembantunya untuk mengeluarkan kitab “Al-Mudawwanah” dari almari, dan menyuruhnya mengantarkannya ke rumah Syekh Sya’rani (Short URL).
Keringkasan Kitab Al-Mudawwamah oleh Imam Asy-Sya'rani
Beberapa saat setelah sampai di rumah Syeikh Sya’rani , pembantu itu mohon diri untuk pulang. Namun Syeikh
Sya’rani menahan dan meminta agar ia mahu menginap barang satu malam. Keduanya mengisi malam itu dengan
bercengkerama sampai larut malam. Ketika malam telah melampaui sepertiganya,
Syeikh Sya’rani masuk ke kamar kholwatnya. Kira-kira seperempat jam, beliau
keluar untuk membangunkan pembantu itu agar sholat tahajjud. Lalu dia bangun,
berwudlu dan sholat bersama Syeikh Sya’rani sampai menjelang subuh. Selesai
solat Subuh mereka berdua membaca Al-Qur’an bersama, lalu mengamalkan wirid
masing masing sampai matahari terbit. Menginjak matahari setinggi tombak Syeikh
Sya’rani mengajaknya untuk ke kamar dan makan pagi bersama. “Tolong kembalikan
kitab al-Mudawwanah ini pada Syeikh Nasir dan sampaikan rasa terima kasih saya”
ucap Syekh Sya’rani setelah acara makan pagi selesai. Khodim Syeikh Nasir ini
hairan dan bertanya-tanya dalam hatinya : “Apa maksud Syeikh Sya’rani ini,
meminjam kitab hanya satu malam saja? Apa yang telah dilakukannya dengan kitab
ini? “. Ketika dia sampai pada gurunya dan mengembalikan kitab tersebut Syeikh
Nasir tambah marah pada Syekh Sya’rani . Di tengah rasa marah ini Syeikh Nasir
ditanya tentang suatu masalah yang mengharuskannya untuk membaca kitab
Al-Mudawwanah. Ketika membukanya ia kaget karena di situ ada catatan-catatan tangan Syeikh
Sya’rani . Demikian lembar demi lembar selalu ada catatan tangan Syeikh
Sya’rani . Karena hairan dengan kenyataan ini Syeikh Nasir bertanya pada muridnya tadi : “Apa yang dilakukan
Syeikh Sya’rani dengan kitab ini?”. Diapun menjawab: ” Demi Allah… dia tidak
berpisah dariku kecuali hanya dua puluh minit, beliau tidak meninggalkan
wiridan dan tahajjudnya “. Demi mendengar keterang muridnya ini, Syeikh Nasir
lalu pergi menghadap Syeikh Sya’rani dengan tanpa memakai alas kaki dan tutup kepala. Ketika sampai di hadapan
Syeikh Sya’rani Syeikh Nasir berkata : “Sekarang aku bertaubat. Aku tidak akan
berani lancang pada golongan ahli Tasawwuf”. Syeikh Sya’rani lalu berkata :
“Mahukah tuan aku tunjukkan kitab ringkasan kitab Al-Mudawwanah, yang aku
lakukan malam itu ? kalau memang ada yang menerimanya itu semata-mata anugerah Allah
, dan barokah Izin Nabi Muhammad Saw. Kalau tidak ada yang menerimanya maka aku
akan menghapusnya dengan air”. Lalu Syeikh Nasir memberikan kata pengantar, dan
memuji kitab Syeikh Sya’rani ini.
Keramah Imam ASy-Sya'rani Mengetahui Wali Tidak Sedang Berada Dalam Kuburnya
Di antara karomah Imam Sya’rani adalah suatu ketika ia tidur di rumah kawannya di sebuah ruang terpencil yang banyak jinnya. Pada petang harinya kawannya ini menyalakan lampu di ruangan itu, menutup pintu lalu meninggalkan Syeikh Sya’rani sendirian. Lalu datanglah sekelompok jin. Mereka mematikan lampu dan mengitari Syeikh kita ini hendak mengganggunya. Tahu akan apa yang terjadi Syeikh Sya’rani berkata : ” Demi keagungan Allah…. Kalau saja aku mahu menangkap salah satu di antara mereka, nescaya tidak akan ada satupun yang mampu melepaskannya”. Lalu Imam Sya’rani tertidur dengan tenang seperti tidak ada apa- apa.
Di antara karomahnya adalah, suatu ketika Imam Sya’rani
berkata : “Aku diberi anugerah oleh Allah berupa pengetahuan apakah seorang
wali sedang berada dalam kuburnya atau tidak. Karena memang para wali dalam
kuburnya mempunyai aktifitas tersendiri. Mereka selalu datang dan pergi.
Keistimewaan ini juga di miliki oleh Syeikh ‘Ali Al-Khawwas guru Syeikh
Sya’rani . Sang guru ini kalau melihat seseorang mahu ziaroh ke makam seorang
wali kadang-kadang mengatakan : “Cepatlah pergi kesana, karena sebentar lagi
sang wali mahu pergi untuk keperluan! “.
Suatu ketika Syeikh Sya’rani ziarah ke makam Syeikh Umar Ibn al-Faridl , tapi
tidak menjumpainya dalam kuburannya. Setelah itu, Syeikh Umar datang kepadanya,
sambil berkata :” “Maafkan saya, karena tadi aku ada keperluan”
Pengalaman ruhani, akhlak dan pemikiran-pemikiran yang dilontarkan Imam al-Sya’rani
Menurut Ensiklopedi Tasawuf bahwa pengalaman ruhani, akhlak dan pemikiran- pemikiran yang dilontarkan Imam al-Sya’rani itu, tentu tidak semuanya ditanggapi oleh Para Pengamat tentang dirinya. Arberry, ketika mengamati karya otobiografis Imam al-Sya’rani, Lata’if al-Minan melihat, bahwa dicelah-celah pengungkapan karunia Ilahi yang diterima Imam al-Sya’rani berupa keistimewaan-keistimewaan terbersit rasa keangkuhan, seakan akan dalam karya tersebut terekpresi pameran keistimewaan diri. Arberry mensinyalir adanya ratusan keistimewaan diri yang diungkapkan Imam al-Sya’rani sebagai rasa syukurnya kepada Allah.
Empatpuluh diantaranya diungkapkan Arberry secara terbuka. Diantara keistimewaan itu adala : 1). Ketika menjamu tamu-tamunya sering makanan yang dihidangkannya tiba-tiba menjadi berlipat ganda. 2). Sejak menempuh kehidupan sufi semua Jin telah patuh kepadanya. 3). Ia dipercaya banyak Jin, orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. 4). Secara menakjubkan ia mampu mendengar binatang-binatang dan benda-benda mati bertasbih memuji Allah. 5). Dalam tidurnya ia sering bergaul dengan orang-orang yang telah meninggal dunia dan menanyakan kepada mereka tentang suasana dialam kubur. 6). Ia melihat arwah para wli dan mereka menyambutnya dengan ramah. 7). Banyak Gubernur yang bermimpi tentang dirinya, sehingga menambah besar kepercayaan mereka terhadap dirinya. 8). Ia belum pernah mengungkapkan godaan-godaan batin yang telah membuatnya menderita kepada seseorangpun, sehingga sering keluar asap dari mulut, telinga dan hidungnya. 9) Ia memiliki kemampuan melihat dari jarak jauh, dari kejauhan itulah ia memberikan keteladanan - keteladanan. 10). Ia selalu menolak memakan sesuatu yang telah disedekahkannya.
Menurut KH. Thobary Syadzily yang ia posted September 2013M bahwa Nama Asy-Sya’rani adalah panggilan yang diberikan kepadanya yg diambil dari nama sebuah desa tempat tinggalnya di mana dia dibesarkan, yaitu Sya’rah, sebuah desa di wilayah Mesir. Syaikh Asy-Sya’rani sejak kecil sangat cinta akan ilmu dan gemar sekali menuntut ilmu khususnya ilmu-ilmu dunia dan sufistik. Karena kemuliannya, jika dia sedang berjalan banyak orang menghampirinya dan berebut tangan untuk menyalami dan mencium tangannya hanya sekadar untuk memperoleh berkah dari sang wali. Banyak dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bertaubat dan akhirnya berbaiat masuk islam dan menjalani amalan sufi yang dibimbing langsung oleh Syaikh Asy-Sya’rani. Demikian pula banyak para penjahat dan pelaku maksiat yang akhirnya sadar dan bertaubat dari perbuatan buruknya setelah mendengar pengajian-pengajian yang disampaikan oleh Syaikh Asy-Sya’rani.
Selain itu, dia seorang Syaikhul Islam, faqih, Ushuli, Muhaddits
(pakar hadits), dan Shufi. Dia dikenal sebagai ulama yang arif dalam khazanah
keilmuan Islam. la menulis lebih dari 60 buah kitab, kebanyakan bercorak
tasawuf. Di antara karyanya yang paling menarik adalah yang berupa otobiografi,
al-Lathaiful Minan. Dalam kitab al-Lathaiful Minan itu diterangkan tentang
perjalanan hidup seorang sufi yang penuh dengan keteladanan. Dan yang patut
menjadi contoh suri tauladan dalam awal kehidupannya adalah, ia hafal Al-Qur’an
pada usia delapan tahun.
Karamahnya sudah terlihat sejak masa kanak-kanak. Dia tidak pernah takut dengan makhlauk apapun, seperti ular, kalajengking, buaya, pencuri, jin dan sebagainya (lihat di kitab “Jami’u Karamatil Aulia jilid 2 halaman 277, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon). Pada suatu hari ketika dia tenggelam di Sungai Nil, dengan sangat menakjubkan, dia diselamatkan oleh seekor buaya, yang disangkanya sebongkah batu.
Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshari (w. 916 H/1511 M) memberi izin kepadanya untuk mengajarkan fiqih. Sejak kecil ia sudah bergaul dengan para ‘arifin. Semua gurunya mengajarkan syariat dan tasawuf, dan meninggal dalam keadaan ridha terhadap dirinya. Dia dikenal sebagai ulama yang tidak fanatik buta dalam menganut kepercayaan tertentu.
Akhlaqnya sangat mulia, baik sebagai sufi, maupun sebagai orang shalih. Ia menolak memakan sesuatu yang telah disedekahkannya. Dia sangat berlapang dada dalam segala urusannya dengan sesama muslim, bahkan dengan musuh yang paling membecinya sekalipun. Da tidak pernah berlama-lama dalam mengunjungi sahabat. Dan sepanjang hidupnya, ia terpelihara dari keinginan meminta-minta. Bahkan, ia belum pernah mengungkapkan godaan-godaan batin yang telah membuatnya menderita kepada seorang manusia pun, sehingga kerap keluar asap dari mulut, telinga, dan hidungnya. Asap yang keluar itu dikenali muridnya sebagai bentuk nafsu buruk yang dapat dikendalikan, sehingga keluar sebagai semacam kotoran dari tubuhnya. la tidak pernah mengejar kedudukan tinggi dan derajat duniawi.
Dia sadar akan zaman yang melahirkannya, dan tak pernah mencoba
hidup menurut masa lalu atau masa mendatang. Bila menghadapi kesulitan, ia
selalu berserah diri kepada Allah, tidak kepada manusia. Sepanjang hidupnya, ia
menghabiskan seluruh waktunya di lingkungan kefakiran dan kezuhudan.
Syaikh Asy-Sya’rani dikenal memiliki kemampuan yang luar biasa. Dia
dapat melihat jauh ke depan, dalam arti waktu. Dan dari sinilah ia memberikan
keteladanan-keteladanan. Namun di hadapan umum, ia tidak pernah memperlihatkan
kemampuan yang dimilikinya kepada orang lain. Meskipun begitu, orang sering
mengenali karamahnya. Seperti ketika dia menjamu tamu-tamunya, sering
makanannya tiba tiba berlipat ganda. Secara menakjubkan ia juga mampu
mendengar binatang-binatang atau benda-benda mati bertasbih memuji Allah swt.
Imam Asy-Sya'rani seorang Alim dan Sangat Wawa'
Syaikh Imam Asy-Sya’rani dikenal seorang yang alim dan wara’. Dia tidak pernah melupakan kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allah. Ia selalu menghindari buang angin di dalam masjid, baik di masjidnya maupun di masjid lain. Dia selalu menghadap Allah, juga ketika berbaring dengan istrinya sebagaimana kala bersembahyang. Terhadap para muridnya, dia senantiasa berbuat adil. Dia juga merasa enggan dicium tangannya. Dalam tidurnya, ia sering bergaul dengan orang-orang yang telah mati dan bertanya kepada mereka tentang keadaan di alam kubur. Dia dapat melihat arwah para wali dan disambut ramah oleh mereka..
Berikut beberapa mimpi Syaikh Asy-Sya’rani, sebagaimana dituliskan dalam otobiografinya itu: “Dulu aku mempunyai seorang tetangga yang suka menghina sesamanya. Allah melaknatnya dengan penyakit asma dan lumpuh. Selama kira-kira sepuluh tahun, ia tidak dapat berbaring, dagunya bertumpu di atas lutut, otot-ototnya kian melemah. Kemudian ia mati, dan dikuburkan. Aku bertemu dengannya setelah kematiannya, dan bertanya, “Apakah kau masih lumpuh?” “Ya, dan kelak aku akan dibangkitkan seperti ini pula. Semua ini lantaran kau dan Syaikh Syu’aib si ‘tukang khutbah’ itu,” jawabnya. Tatkala hal ini kusampaikan kepada Syaikh Syu’aib, ia berkata, “Ya, hal itu memang benar. Bila aku lewat di depannya, ia selalu membuang ingus dan melemparkan dahaknya ke wajahku karena benci.” Demikian pula dengan diriku, setiap kali lewat di hadapannya, ia mengumpatku dengan kata-kata yang tak patut ditunjukkan kepada kawanan sapi pun. Semoga Allah mengampuni dan mengasihinya.
Wafat
Imam Sya’rani wafat pada Jumadil Awwal tahun 973 H 1565 M.
Daftar Kepustakaan :
1.Terjemahan Kasyf al Mahjub Ali ibn Usman al Hujwiri
2.Ensiklopedi Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah
3.Kitab Tabaqatul Kubra Imam Abdul Wahab As Sya’rani
4.Kitab Jami’atul karamatul aulia
5.Kitab Aiqadzul Himam
6.Artekel-artekel pada twiter/facebooks
7.Biografi Syaikh Al-Islam Asy-Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani Posted on September 17, 2013 by KH. Thobary Syadzily https://santri.net/sejarah/biografi-ulama/biografi-syaikh-al-islam-asy-syaikh-abdul-wahab-asy-syarani/
KAMIS MALAM, 17-12-2021M JAM 11.27 WITA.
8.Nama kitab: Tanbihul Mughtarrin (Peringatan Bagi Orang-orang Yang Tertipu), Masalah: Ilmu tasawuf, Karya: Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’rani
9.(1).Artikel “Short URL http://www.at-taujieh.com/?p=208
(2).Artikel “Short URL http://www.at-taujieh.com/?p=208
(5).Artikel “Short URL http://www.at-taujieh.com/?p=20
Artikel "Meneladani Imam Sya’rani, Belajar Dulu Sebelum Bertarekat"/ https://sanadmedia.com/tokoh/meneladani-imam-syarani-belajar-dulu-sebelum-bertarekat/
Artikel "Abu al-Abbas al-Nahawandi" Dari
Wikipedia, ensiklopedia bebas /
https://en.wikipedia.org/wiki/Abu_al-Abbas_al-Nahawandi
Artikel " Ibnu Khafif | Kisah Teladan" Ditulis oleh Wakid Yusuf/ 4 Apr 2017/ https://wakidyusuf.wordpress.com/2017/04/04/tokoh-sufi-21-%E2%80%8Bibnu-khafif/
Artikel "Ibn Khafif" From Wikipedia, the free encyclopedia/ https://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Khafif
Artikel “Biografi Syekh Muhammad bin Khafif As-Syairazi, Sufi yang Dekat dengan Pemerintah”. Penulis Hosiyanto Ilyas tgl. 3 Oktober 2024. https://bincangsyariah.com/khazanah/profil-tokoh/biografi-syekh-muhammad-bin-khafif-as-syairazi-sufi-yang-dekat-dengan-pemerintah/
Artikel " Ibnu Khafif | Kisah Teladan" Ditulis oleh Wakid Yusuf,
4 Apr 2017/ https://wakidyusuf.wordpress.com/2017/04/04/tokoh-sufi-21-%E2%80%8Bibnu-khafif/