Minggu, 03 Mei 2026

Bab. I “Menteladani Sifat Shiddiq Nabi Saw” al-Risalah Mutaba’atul Hasanah

 MUKADIMAH

بِِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّ عَلَى اَلِه وَاَصْحَابِه اَجْمَعِيْنَ

اَمَّا بَعْدُ

Penyusun KItab al-Risalah Mutaba’atul Hasanah lil Jama'ah fii Thariqaqh al Junaidiyah (Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah)  pada bagian pembahasan pokok Kitab yang ketiga ini akan dijelaskan Delapan materi Sifat Rasulullah Saw yang harus diadopsi oleh Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ), adopsi disini maksudnya diikuti, dijalani atau dipraktikkan, diterapkan pada diri pribadi Salik PTJ, isteri dan anak-anaknya. Hal ini dilakukan dalam menyikapi Firman Allah Swt surat al Tahrim ayat 6  yang berbunyi :

ياآيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا  (التحريم :6)

Artinya : "Hai orang-orang  yang  beriman,  peliharalah  dirimu  dan  keluargamu dari siksaan api Neraka".

Adapun Delapan macam materi Sifat Rasulullah Saw  yang mesti harus dijalani oleh Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) al Bagdadiyah atau Pengamal  Thariqatu Qaum di maksud adalah :

1. Sifat  Shidiq (صفة الصدق)  

2. Sifat  Amanah  (صفة الأمانة)

3. Sifat Tabligh  (صفة التبليغ)

4. Sifat Syiddatul Fathanah  (صفة شدة الفطانة)

5. Sifat Insan   (صفة إنسان)

6. Siaft Rijal  (صفة رجال)

7. Sifat Hurriyah   (صفة حرية)

8. Sifat Syujja'ah  (صفة شجاعة)   

Penyusun Kitab  al-Risalah Mutaba’atul Hasanah (مُتَابَعَةُالْحَسَنَةِ) bersama dengan Sayyid Muhammad Ariatim adik kandung Penyusun telah memulai mempelajari dan mentala'ahi 8 sifat Rasulullah Saw dari KH. Jumberi  adalah Guru di Desa Bihara, pada hari Sabtu, 14 Maret 2004/22 Muharram 1425H. Sebelumnya Penyusun dan Sayyid Muhammad Ariatim sudah mempelajari 8 macam yang menyertai Syahadat Tauhid bagi Pengamal Thariqat al Junaidiyah, dari awal mengambil thariqat ini yaitu Ahad, 26 Oktober 2003M atau Sya'ban 1424H dari KH. Jumberi Ma'shum Bihara. Sejak itu Penyusun mulai mempelajari 8 materi pokok Syahadat Rasul dari Sifat  Shidiq (صفة الصدق)  , Sifat  Amanah  (صفة الأمانة), Sifat Tabligh  (صفة التبليغ), Sifat Syiddatul Fathanah  (صفة شدة الفطانة), Sifat Insan   (صفة إنسان), Sifat Hurriyah   (صفة حرية), Siaft Rijal  (صفة رجال), Sifat Syujja'ah  (صفة شجاعة)   

Dan dari sinilah mulai dikumpulkan catatan-catatan tentang 8 materi pokok Syahadat Rasul tersebut dan juga menjadikannya sebuah Kitab yang Penyusun namai “al-Risalah Muta’ba’atul Hasanah Lil Jama’ah fii Thariqat al Junaidiyah” sedangkan maksud “Muta’ba’atul Hasanah adalah orang yang suka mengikuti Kebaikan.”

Empat sifat Rasul Allah yang disebutkan oleh Pengarang Kitab Aqidatun Najin yaitu Syekh Zainal Abidin Bin Muhammad al Fathany rahimahullahu ta'ala adalah :

وأما الرسل عليهم الصلاة والسلام فيجب فى حقهم الصدق والأمانة والتبليغ ماامروا بتبليغه للخلق و شدة الفطانة. ويستحيل فى حقهم عليهم الصلاة والسلام أضداد هذا ماالصفات وهي الكذب الخيانة بفعل شيئ مما نهوا عنه نهى تحريم اوكراهة وكتمان شيئ مما امروا بتبليغه للخق والبلادة.

Artinya : Adapun para Rasul, semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka, mereka harus memiliki kejujuran, kepercayaan, dan kemampuan untuk menyampaikan apa yang diperintahkan kepada mereka untuk disampaikan kepada umat manusia, beserta kecerdasan yang tajam. Mustahil bagi mereka, semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka, untuk memiliki sifat-sifat sebaliknya, yaitu berbohong, berkhianat, melakukan sesuatu yang dilarang (baik karena larangan atau kecaman), menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan kepada mereka untuk disampaikan kepada umat manusia, dan kebodohan.

Mustahil atas mereka itu melanggarnya yaitu bersifat Kidzib, Khianat dengan sesuatu perbuatan dari apa saja yang dilarang pada mereka para Rasul itu, larangan mengerjakan yang haram,makruh atau menyembunyikan sesuatu dari apa-apa yang disuruh untuk menyampaikannya kepada makhluk dan mustahil para Rasul itu bodoh.

Jadi sifat-sifat terpuji ini yaitu Sifat  Shidiq, Sifat  Amanah, Sifat Tabligh, Sifat Syiddatul Fathanah, Sifat Insan, Sifat Hurriyah, Sifat Rijal, dan Sifat Syujja'ah dengan jumlah 8 sifat Rasulullah Saw yang harus diikuti oleh PTJ al Bagdadiyah untuk memperoleh pridikat Ummat Muhammad Saw yang sempurna.

Modah-modahan dengan mengamalkan sifat terpuji ini kita mendapatkan pridikat Ummat Muhammad Saw yang sempurna yang diakui oleh Muhammad Rasulullah Saw diakhirat kelak. Amin-amin ya rabbal 'alamin.


الفصل الأول فى بيان الصدق

PASAL PERTAMA PENJELASAN SIFAT SHIDIQ


A. PASAL PERTAMA PENJELASAN SIFAT SHIDIQ

1. Pengertian Shidiq

As Shidiq yang berarti "Benar" 

Shidiq adala isim masdar dari kata benda yang terbit atau dibuat dari kata kerjanya SHADAQA yang berarti " Telah berlaku benar ia ". 

Sedangkan menurut istilah syara' As Shidiq itu adalah satu sifat Rasulullah Saw yang terpuji yang mesti diikuti oleh Ummat Muhammad Saw yaitu selalu benar dalam segala keadaan.

Sekali lagi ditegaskan bahwa sifat shidiq ini adalah sifat wajib bagi semua Rasul Allah, tak terkecuali berlaku juga pada Ummatnya. Sifat ini wajib diadopsi, dijalani dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya oleh PTJ al Bagdadiyah. Misalnya, kalau shalat, apakah benar kita shalat ? Apakah benar shalat kita menurut syari'at ? Apakah benar shalat kita menurut Hakekat ? Semuanya tidaklah terlepas dari wajan atau ukuran sifat shidiq ini.

Kata Shiddiq menurut Ringkasan Al adalah : 

Shiddiq (صديق) adalah kata bahasa Arab yang berarti jujur, benar, atau dapat dipercaya. Dalam Islam, shiddiq merupakan sifat terpuji yang mencakup konsistensi antara perkataan, perbuatan, dan hati yang sesuai dengan ajaran Allah. Ini adalah salah satu dari empat sifat wajib bagi nabi (bersama amanah, tabligh, fathonah) dan gelar khusus untuk sahabat Abu Bakar. 

2. Makna dan Implementasi Shiddiq

Jujur dalam Segala Hal: Shiddiq berarti jujur dalam perkataan, perbuatan, dan keadaan. Orang yang shiddiq konsisten antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan.

Sangat Jujur: Kata ini sering kali dimaknai sebagai "sangat jujur" atau orang yang tidak pernah berdusta, sebagaimana disebutkan dalam.

Sifat Wajib Nabi: Sifat ini meneladani Nabi Muhammad SAW yang selalu jujur dalam berdagang, termasuk tidak pernah mengurangi takaran atau timbangan.

3. Penerima Sifat Shidiq

Kalau kita berbuat sesuatu, apa benar kita yang merasa berbuat ? Atau apakah benar semua perbuatan kita itu sifatnya khayali atau waham-waham saja atau sangka-sangka kita saja ? Apakah kita sudah berlaku benar terhadap diri kita sendiri, atau berlaku benar terhadap isteri dan anak-anak kita. Semua itu tidak terlepas dari pertanyaan- pertanyaan Shidiq itu sendiri.

Jelasnya Pelaksana sifat Shidiq dalam konteks disini yang pertama ditujukan kepada Diri pribadi sendiri, bukan kepada orang lain. Hanya Diri pribadi sendiri lah yang lebih tahu apakah ia berlaku benar menurut ukuran Syari'at ataupun Hakekat. Begitu pula kita disuruh berteman dan bertetangga dengan orang yang berlaku benar yaitu hati kita sendiri.

irman Allah pada Surat at Taubah ayat 120 berbunyi :

ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله وكونوا مع الصادقين (التوبة : 120)

Artinya : "Hai, orang-orang beriman, takutlah kamu kepada Allah, jadikan dirimu beserta orang-orang yang berlaku benar."

Rasulullah Saw telah bersabda :

وقال النبي عليه الصلاة والسلام : لايزال العبد يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا, ويزال أن يكذب حتى يكتب عند الله كذابا,.

Artinya :

Dan telah bersabda oleh Nabi Saw : "Seorang hamba yang selalu berbuat benar dan ia pelihara kebenaran itu hingga ia dicatat oleh para Malaikat pada sisih Allah sebagai orang yang benar,atau seorang hamba yang selalu pendusta dan ia terus menerus berdosta, hingga ia dicatat oleh para Malaikat pada sisih Allah sebagai orang pendusta."

وقال النبي عليه الصلاة والسلام : دع مايريبك إلى ما لا يريبك,فإن الصدق طمأنينة والكذب ريبة,

Artinya :

Sabda Nabi Saw : "Ajaklah olehmu kepada yang tidak meragukanmu, sampai benar-benar sesuatu itu tidak meragukan, karena as Shidiq itu memberikan ketenangan. Dan sesungguhnya kebohongan itu mendatangkan keraguan."

وقال إن الصدق يهدى إلى البر, وإن البر يهدى إلى الجنة, وإن الكذب يهدى إلى الفجور, وإن الفجور يهدى إلى النار

Artinya :

Sabda Nabi Saw : " as Shidiq itu menunjuki kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu, akan membawa ke sorga. Dan kebohongan itu, akan membawa kepada keraguan, dan sesungguhnya keraguan itu akan membawa kepada azab neraka."

As Shidiq "selalu berbuat benar" adalah satu sifat yang wajib bagi semua Rasul Allah tak terkecuali bagi Ummatnya :

وأما برهان وجوب صدقهم عليهم الصلاة و السلام فلأنهم لولم يصدقوا للزم الكذب فى خبره تعالى لتصديقه تعالى لهم بالمعجزة النازلة منزلة قوله تعالى : صدق عبدى يبلغ عنى.

Artinya : Adapun keterangan wajibnya berbuat shidiq bagi para Rasul alaihimus salam itu, maka bahwasanya andaikata tidak berbuat benar mereka itu maka lajimlah mereka  berdosta pada khabar Allah Ta'ala. Untuk kebenaran Allah Ta'ala itu mereka diberikan mu'jijat yang turun kepada mereka, firman-Nya "Benar hamba-Ku menyempaikan dari-Ku".


4. Arti Shiddiq Dalam konteks Modern

Integritas: Dalam konteks modern, shiddiq sering disamakan dengan integritas yang menjadi dasar dalam etika bisnis Islam.

Abu Bakar Ash-Shiddiq:

Gelar Ash-Shiddiq diberikan kepada Abu Bakar, sahabat terdekat Rasulullah, karena ia adalah orang yang paling cepat dan tanpa ragu membenarkan peristiwa Isra Mi'raj serta segala ajaran yang disampaikan Nabi SAW.

Sifat shiddiq adalah fondasi karakter yang diwajibkan bagi setiap Muslim untuk mewujudkan kehidupan yang jujur dan berintegrita.

SHIDDIQ artinya apa?

Allah menggabungkan antara sifat shiddiq dan nubuwwah (jujur dan seorang nabi) ketika menyanjung Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

وَقَوْلُهُ تَعَالَى : إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

Artinya“Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi.” (QS. Maryam: 41)

Syaikh As-Sa’di menerangkan makna Shiddiq adalah,

كملوا مراتب الإيمان والعمل الصالح، والعلم النافع، واليقين الصادق

Artinya“Mereka yang menyempurnakan iman, amalan shalat dan ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat), juga punya rasa yakin yang tulus dan sempurna.” (Tafsir As-Sa’di, hlm. 890)

Syaikh As-Sa’di menerangkan pula makna Shiddiq adalah orang yang jujur dalam perkataan, perbuatan, keadaan, membenarkan semua perintah Allah, sehingga ilmu yang dimiliki meresap dan berperngaruh ke dalam hati, ilmunya pun memberikan rasa yakin yang besar dan menghasilkan amalan shalih yang sempurna. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 519).


B. MEMAHAMI SIFAT SHIDDIQ NABI SAW PERSPIKTIF BISNIS SYARI’AH

Adapun kalau kita memahami sifat Shiddiq dari Nabi Muhammad Saw dalam Perspektif bisnis Syariah, dikisahkan bahwa penduduk Madinah sebelum Islam datang suka berbuat curang dalam berbisnis.

Al-Qur'an sangat memperhatikan etika dalam bisnis. Penduduk Madinah adalah orang-orang yang sering berbuat curang dalam menimbang dan mengukur, sehingga Allah Swt menurunkan surat Al-Mutaffifin sebagai ancaman bagi mereka yang berbuat curang dalam bisnis. Siddiq sangat erat kaitannya dengan etika bisnis. Siddiq dalam etika bisnis modern sering dipahami dengan kata "integritas". Integritas adalah prinsip penting dalam bisnis. Integritas itu sendiri merupakan cara untuk menjunjung tinggi nilai-nilai dan etika bisnis. Nilai-nilai dan etika dalam berbisnis jelas memiliki kontribusi besar dalam menjalankan bisnis. Integritas dalam bisnis saja harus ditanamkan pada seseorang yang ingin menjalankan bisnis atau sedang menjalankan bisnis. Para pelaku bisnis harus menjadikan integritas ini sebagai prinsip dasar dalam bisnis mereka. Siddiq (integritas, kejujuran) didefinisikan sebagai dasar ucapan, keyakinan, dan tindakan berdasarkan ajaran Islam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hakikat Siddiq masih sangat relevan dengan etika bisnis modern, atau dengan kata lain hakikat Siddiq adalah etika bisnis universal yang artinya tidak mengabaikan nilai-nilai dasar yang mendasari etika tersebut.

1. Shiddiq Artinya Jujur, Tercatat dalam Banyak Ayat Al-Qur'an

Shiddiq secara bahasa artinya adalah jujur atau benar. Kata Shiddiq berlawanan dengan kata kidzb yang artinya bohong atau dusta. Ada beberapa orang yang wajib memiliki sifat shiddiq yakni para rasul Allah.

Sebenarnya setiap orang dituntut untuk memiliki sifat jujur. Namun hakikatnya manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, ada saja hal yang menjadikannya lalai.

Mengutip buku Mungkinkah Kita Jujur oleh Shafwat Abdul Fattah, secara morfologi, akar kata shidq adalah shadaqa, yashduqu, shadqun, shidqun. Ungkapan shaddaqahu mengandung arti 'pembicaraan yang diterima.' Ungkapan shaddaqalu al-hadits mengandung arti anba 'ahu bi al-shidq 'ia menyampaikan berita dengan benar atau jujur'. Ini Pentingnya Taubat ketika Menyadari Perbuatan Dosa yang Telah Dilakukan.

 

2. Ada Empat Dalil Al-Qur'an tentang Makna Shiddiq

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman tentang Shiddiq dalam beberapa ayat.

a.. Surat Al-Ahzab Ayat 8

لِّيَسْـَٔلَ ٱلصَّٰدِقِينَ عَن صِدْقِهِمْ ۚ وَأَعَدَّ لِلْكَٰفِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا

Artinya: Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.

Tafsiran ayat di atas antara lain bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban kepada orang-orang yang menyampaikan risalah-Nya dari golongan para rasul mengenai kejujuran mereka dalam bertablig. Arti meminta pertanggungjawaban mereka mengenai hal itu bertujuan untuk menyampaikan teguran atau kecaman kepada orang-orang yang menolak tablig mereka, karena sesungguhnya Allah mengetahui bahwa para rasul itu merupakan orang-orang yang sangatjujur (shiddiqin).

b..Surat Al-Ma'idah Ayat 75

مَّا ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ وَأُمُّهُۥ صِدِّيقَةٌ ۖ كَانَا يَأْكُلَانِ ٱلطَّعَامَ ۗ ٱنظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ ٱلْءَايَٰتِ ثُمَّ ٱنظُرْ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Artinya: Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).

Kata shiddiqah mengandung arti bahwa Maryam, ibu dari Nabi Isa adalah wanita yang sangat jujur dan membenarkan nasab (keturunan)-nya. Dia adalah wanita yang memiliki kesaksian.

c..Surat Az-Zumar Ayat 33

وَٱلَّذِى جَآءَ بِٱلصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِۦٓ ۙ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ

Artinya: Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Ali bin Abi Thalib berkata bahwa yang dimaksud dengan kalimat, "Orang yang datang membawa kebenaran" adalah Muhammad SAW, sedangkan yang dimaksud

dengan kalimat, "Dan yang membenarkannya" ialah Abu Bakar. Namun ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah Jibril a.s. dan Muhammad Saw.

Pendapat lain mengatakan bahwa yang datang membawa kebenaran adalah Muhammad, sedangkan orang yang membenarkannya adalah orang-orang mukmin.

Imam al-Laits mengatakan, "Setiap orang yang membenarkan semua perintah Allah dengan tidak disertai sedikit pun keraguan dan ia membenarkan Nabi Muhammad SAW, maka ia termasuk orang shiddiq 'orang yang sangat membenarkan'

d..Surat Al-Hadid Ayat 19

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦٓ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصِّدِّيقُونَ ۖ وَٱلشُّهَدَآءُ عِندَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَآ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَحِيمِ

Arab-Latin: Wallażīna āmanụ billāhi wa rusulihī ulā`ika humuṣ-ṣiddīqụna wasy-syuhadā`u 'inda rabbihim, lahum ajruhum wa nụruhum, wallażīna kafarụ wa każżabụ bi`āyātinā ulā`ika aṣ-ḥābul-jaḥīm

Artinya: Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka.

Ibnu Mandzur dalam kamusnya Lisanul Arab mengartikan kata shiddiq dengan al-mubaligh fi ash-shidq 'orang yang sangat jujur atau sangat benar'.

Demikian makna shiddiq yang tercantum dalam ayat Al-Qur'an. Sebagai umat yang beriman, hendaknya kita juga selalu berusaha untuk menjadi orang yang memiliki sifat jujur.


C. PEMBAHASAN TENTANG KIDJIB (DUSTA)

1. Pengertian Kidzib (الْكِذْبُ)  bahasa Arab

  (الْكِذْبُ)Kidzib (kidzib/kadzib) dalam bahasa Indonesia menurut KBBI berarti dusta, bohong, atau palsu. Dalam konteks Islam, ini adalah sifat mustahil bagi rasul, yang berarti tidak mungkin seorang rasul berbohong. Padanan katanya meliputi dusta, bohong, palsu, khianat, dan culas.

KBBI singkatan (Kamus Besar Bahasa Indoesia) Contoh Penggunaan: Fajar Kizib: Fajar palsu, yaitu cahaya putih yang memanjang ke atas di ufuk timur sebelum waktu subuh dan tidak menandakan masuknya waktu shalat subuh.

Sifat Mustahil Rasul: "Seorang rasul mustahil memiliki sifat kizib (bohong) dalam menyampaikan wahyu".  Sinonim: Dusta, Bohong, Palsu, Culas (konteks khianat) Kidzib merupakan lawan kata dari Shiddiq (jujur/benar).

Kizib artinya mendefinisikan tentang sifat yang buruk. Istilah kizib adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab memiliki arti bohong atau dusta. Dalam agama Islam, kizib artinya sifat mustahil yang melekat pada nabi dan rasul. Mustahil rasul bersifat kizib artinya tidak mungkin rasul itu bersifat berdusta dalam ucapan dan perbuatan.

2. Penjelasan Kidzib artinya Lawan kata dari as-Shidqu yang berarti Benar atau Nyata.

Mengutip dari salah satu Artikel menyatakan bahwa Majelis Ulama Indonesia atau MUI menjelaskan kizib artinya lawan kata dari as-shidqu yang berarti benar atau nyata. Pustaka Digital Indonesia pun menjelaskannya demikian. Kizib adalah berupa kata sifat. Kizib artinya dusta, bohong, atau palsu.

Sebagai utusan Allah, nabi dan rasul memiliki tugas untuk menyampaikan ajaran-ajaran-Nya kepada umat manusia dengan jujur dan adil. Oleh karena itu, sifat kizib artinya sifat mustahil nabi dan rasul karena akan merusak kepercayaan umat dan kebenaran ajaran yang disampaikan.

Al-Qur’an Surat al-Ahzab ayat 21:

قَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ۝٢١.

Artinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS. al-Ahzab ayat 21)

Dalam Al-Quran surat an-Najm ayat 1-4, Allah mengingatkan manusia untuk tidak menyebutkan dusta terhadap Nabi Muhammad SAW karena ia adalah utusan Allah yang dijamin kebenarannya. Oleh karena itu, sebagai umat muslim, sudah seharusnya menjaga dan memuliakan sifat-sifat mustahil yang melekat pada nabi dan rasul, termasuk kizib.

Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 1-4

وَالنَّجْمِ اِذَا هَوٰىۙ ۝١

Artinya “Demi bintang ketika terbenam,

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوٰىۚ ۝٢

Artinya “kawanmu (Nabi Muhammad) tidak sesat, tidak keliru,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ۝٣

Artinya “dan tidak pula berucap (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya).

اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙ ۝٤

Artinya “Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya). (QS. an-Najm ayat 1-4)

Lawan dari Sifat Mustahil Nabi dan Rasul Kizib adalah Siddiq, Dalam riwayat-riwayat hadis, nabi dan rasul selalu menunjukkan keteladanan dan kejujuran dalam setiap ucapan dan perbuatan mereka. Mereka senantiasa berpegang pada kebenaran dan tidak pernah mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Allah.

Dari Ibnu Mas'ud RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

"Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seorang hamba itu berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta." (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Timidzi)

Menurut pandangan Islam, sifat mustahil kizib pada nabi dan rasul adalah salah satu bentuk keistimewaan mereka sebagai utusan Allah. Dalam buku berjudul Pendidikan Agama Islam oleh Rosidin, lawan dari kizib adalah siddiq yang artinya jujur, ini dijelaskan sebagai salah satu sifat wajib nabi dan rasul.

 

3. Kejujuran Nabi Muhammad Saw Bukan hanya Dikenal di kalangan sahabat, tetapi juga Dikenal Para musuhnya.

Mengutip dari salah satu Artikel menyatakan bahwa Dicontohkan kejujuran Nabi Muhammad SAW tak hanya terkenal di kalangan sahabat, tetapi para musuh. Hal ini ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan Ali RA bahwa Abu Jahal pernah berkata kepada Rasulullah Saw :

"Kami tidak menganggap engkau dusta, tapi menganggap dusta ajaran yang engkau bawa."

Kemudian dicontohkan pada kisah nabi Ibrahim AS. Ibrahim mengatakan kepada ayahnya bahwa apa yang disembah ayahnya itu tidak memberi manfaat sama sekali.

Peristiwa ini diabadikan dalam firman Allah Swt :

وَاذۡكُرۡ فِى الۡكِتٰبِ اِبۡرٰهِيۡمَ ۚ اِنَّهٗ كَانَ صِدِّيۡقًا نَّبِيًّا

Artinya: "Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur'an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan, seorang Nabi." (QS. Maryam ayat 41)

Tidak hanya siddiq yang menjadi sifat wajib nabi dan rasul. Rosidin menjelaskan bahwa sifat wajib yang dimaksudkan adalah ada amanah. Di mana nabi dan rasul pasti dapat dipercaya dalam menyampaikan kebenaran. Itu artinya mustahil bagi nabi dan rasul memiliki sifat khiyanah atau curang. Kemudian, ada sifat wajib nabi dan rasul tabligh. Di mana nabi dan rasul pasti akan menyampaikan segala yang diwahyukan kepadanya dan mustahil baginya kitman atau menyembunyikan/tidak menyampaikan.

Terakhir, sifat wajib nabi dan rasul fathonah. Di mana nabi dan rasul pasti memiliki kecerdasan yang sangat tinggi atau cerdas. Itu artinya, sangat mustahil bagi nabi dan rasul memiliki sifay baladah atau bodoh.

4. Al Kidzib Artinya Dusta atau Bohong, Ini Sifat Mustahil Nabi dan Rasul

Mengutip dari salah satu Artikel menyatakan bahwa Kizib artinya sifat mustahil nabi dan rasul. Kizib adalah salah satu sifat mustahil nabi dan rasul. Sifat kizib artinya dusta atau bohong, dan dalam Islam sifat ini tidak mungkin dimiliki oleh nabi dan rasul. Mereka para nabi dan rasul selalu berbicara dengan jujur, tulus, dan tidak pernah mengatakan hal-hal yang tidak benar.

Sebaliknya, lawan dari sifat mustahil nabi dan rasul kizib adalah siddiq atau kejujuran. Siddiq adalah sifat di mana seseorang senantiasa berbicara jujur dan tidak pernah berdusta. Sifat siddiq merupakan sifat yang sangat penting bagi nabi dan rasul karena mereka harus selalu membawa kebenaran dan jalan yang benar.

Nabi dan rasul sebagai utusan Allah, memiliki kewajiban untuk menyampaikan ajaran-ajaran yang benar dan jujur tanpa ada yang dipalsukan. Dalam setiap perbuatan dan ucapan, mereka senantiasa berpegang pada kebenaran dan menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Oleh karena itu, sifat kizib artinya sifat mustahil nabi dan rasul.


D. PENGAMALAN SIFAT SHIDDIQ BAGI SALIK PTJ 

Adapun penerapan Pengamalan Sifat Shiddiq bagi Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah adalah dimulai dari diri sediri, anak dan isteri dan juga keluarga dan tetangga disekitar kita.

As Shidiq adalah sifat terpuji yang harus diamalkan oleh PTJ al Bagdadiyah dalam kehidupan sehari-hari. PTJ al Bagdadiyah yang Shidiq adalah maksudnya "ia selalu benar pada setiap keadaan baik pada keadaan zahir ataupun keadaan batin".

Perlu kita ketahui bahwa lafazd sifat shidiq itu diamalkan pada enam keadaan tempat, yaitu :

1.( الصدق فى القول)    Shidiq pada perkataan, maksudnya PTJ al Bagdadiyah "selalu benar pada perkataannya di semua tempat, waktu dan keadaan". Dalam hal ucapan, perkataan, tutur bahasa ini, harus dijaga, dipelihara dalam pergaulan antara sesama. Setiap ucapan, perkataan yang keluar dari mulut harus dipertimbangkan benar atau tidaknya yang akan dikeluarkan. Dipandang dari hakekat maksud as Shidiqu fil qauli maksudnya adalah setiap ucapan, perkataan, tutur bahasa yang keluar dari mulut harus bermakna dzikrullah.

2.( الصدق فى النية)     Shidiq pada Niat, maksudnya PTJ al Bagdadiyah "selalu benar pada niatnya di semua tempat, waktu dan keadaan". Dalam kontiks ini PTJ al Bagdadiyah yaitu niat dan perkataannya itu harus membawa kebaikan- kebaikan.

Apabila niatnya itu bercampur dengan yang lain, niscaya namun pasti akan hilanglah niatnya yang baik dan benar itu, berarti ia akan memutuskan amal-amal kebaikannya sendiri karena mencampur niat yang baik dengan yang kotor. Rasulullah Saw telah bersabda yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang berbunyi :

وقوله النبي عليه الصلاة والسلام : إنما الأعمال بالنية

Artinya : Rasulullah Saw telah bersabda :"Bahwasanya semua  amal itu bergantung dengan niatnya. HR. Bukhari-Muslim.

3. (الصدق فى العزم) Shidiq pada Ajam atau Cita-cita. Maksudnya PTJ al Bagdadi- yah  "selalu benar pada cita-citanya di semua tempat, waktu dan keadaan". Maka barangsiapa mencita-cita supaya dapat memberi sedekah misalnya, atau menjadi pejabat agar ia dapat berbuat adil dengan masyarakatnya atau bawahannya, maka ia pegang teguh pada cita-citanya, atau tidak merobahnya dinamakan orang itu as Shidqu fl 'Ajam. Dan jika ia merobah cita-citanya berarti as Shidqu fil 'Ajamnya tsb tidak benar atau berobah.

4. (الصدق فى الوفاء بالعزم)    As Shidqu fil Wafa'i bil'Ajami. Maksudnya PTJ al Bagdadi- yah  "selalu benar menyempunakan pada cita-citanya di semua tempat, waktu dan keadaan" Pada konteks ini PTJ al Bagdadiyah tidak pernah dan tidak akan pernah ....

melanggar, menyalahi terhadap cita-citanya. Ia selalu menjaga dan memelihara cita-citanya agar tidak menyimpang dari kebenaran tersebut.

Firman Allah Swt pada surat Al Ahjab ayat 23 berbunyi :

وقوله تعالى :  رجال صدقوا ما عاهدوا الله عليه ......

Artinya : "Laki-laki (berpangkat rijal disisih Allah itu) mereka selalu benar, mereka itu menyempurnakan sesuatu akan Allah atas janjinya......

5. (الصدق فى العمل) As Shidqu fil 'Amal. Maksudnya PTJ selalu benar pada semua amal perbuatan, sidiq pada zahirnya sesuai hukum syar'i dan juga shidiq pada batinnya. Seperti semua perbuatan anggota zahirnya bersamaan cucuk dengan batinnya. Jika tidak bersamaan, tidak bersesuaian antara perbuatan zahir dengan perbuatan batinnya tsb maka dinamai riya.

6. (الصدق فى تحقيق مقامان الدين)  As Shidqu fii tahqiiq maqamat addin. Maksudnya PTJ al Bagdadiyah "selalu benar mantap pada semua kedudukan tingkatan agama di semua tempat, waktu dan keadaan". Dimaksud tahqiqul muqamat addin adalah semua amal-amal batin atau amal-amal hati, misalnya dzikir qlbi, rasa khauf, ridha, tawakkal, tafwidh, taslim dan lainnya selalu mantap atau tahqiq.

As Shidiq menurut logat dan istilah pada Ahli Haqiqah :

الصدق فى اللغة هو مقابل الكذب, وفى اصطلاح اهل الحقيقة : هو قول الحق فى مواطن الهلاك أوهو اسقاط ما سوى الله.

Maksudnya : As shidiq menurut bahasa berhadapan dengan kizib (lawan dari dosta). As Shidiq menurut istilah pada Ahli Haqiqah :"Perkataan yang haq atau benar walaupun pada tempat celaka, Dan ia menggugurkan sesuatu selain Allah".

E. SHIDDIQ ADALAH DASAR UNTUK WUSHUL DENGAN  ALLAH SWT

Aadapun sifat as-Shiddiq adalah dasar bagi Salik untuk wushul dengan Allah Swt. Sadatina Al Junaidiyah menjadikan Sifat Shidiq satu Dasar dalam Thariqat Al Junaidiyah, sebagaimana disebutkan di dalam Kitab Al Fatuhatul Ilahiyah disebutkan bahwa sifat Shidiq salah satu dasar untuk wusul dengan  Allah Swt.................

وأما الصدق فالمراد به هنا التصديق بسر الخصوصية عند من يصحبه وهو أساس الطريقة (....أى الطريقة الجنيدية) فمن لاصدق له لاسيرله ولو بقى فى حوز الشيخ ألف عام. فالصدق هو معرفة السرفكل واحد يعرف من سرالشيخ على قدر صدقه فيه وهو أيضا الثمن الذى ينفق به الفقير على روحه قله وسره فمن لاصدق له فى الشيخ لا ينفق من سره شيئا وإليه أشار الشيخ الشرقى رضي الله عنه بقوله : من لا صدق ما عند باش ينفق, من لا حقق ما جاب امارا يابابا.

Maksudnya : Adapun as Shidiq berarti selalu benar, maka yang dimaksudkan as Shidiq disini yaitu membenarkan dengan sir yang khususiah terhadap orang yang menjadi shahabatnya (yakni Allah Swt), Dan juga as Shidiq adalah dasar Thariqat (yaitu Khususnya Thariqat al Junaidiyah). Barangsiapa yang tiada ada sifat as Shidiq dihatinya, baginya tiada ada jalan (wushul kepada Allah). Walaupun ia tinggal bersama dalam pengawasan Gurunya selama 100 tahun. Maka as Shidiq itu, ia adalah jalan untuk mengenal rahasia sir. Maka setiap satu kejujuran atau kebenaran (as Shidiq) adalah mema'rifahi mengenal keadaan rahasia-sir Guru atas ukuran kejujurannya pada Gurunya. Dan kejujuran, harganya mahal, sebagai alat beli yang sanggup membiayai seorang fakir atau ruhnya, atau atas kekurangannya dan juga atas rahasinya. Barangsiapa yang tidak memiliki dihatinya sifat shidiq kejujuran pada Gurunya, maka tidak ada nafakah, tidak ada bekal, tidak ada ongkos-sangu pada sirr dalam perjalanan menuju Allah Swt. Memandang kepada yang demikian itu, memberikan isyarat oleh Syekh As Syarqi radiyallahu anhu dengan ucapannya :"

من لا صدق ما عند باش ينفق, من لا حقق ما جاب امارا يابابا.

Maksudnya :

1. Barangsiapa yang tidak memiliki sifat kejujuran, kebenaran maka tiada ada sesuatu gelar atau kepalanya yang ia berikan (ia tidak dapat apa-apa manfa'atnya).

2. Barangsiapa yang tidak memiliki sifat kejujuran, kebenaran (dihatinya) maka tiada ada sesuatu baginya pintu masuk atau wilayah yang dilewatinya untuk (wushul kepada Allah.


F. ORANG  YANG  SHIDIQ MENGIRINGI DAN MENYERUPAI SIFAT KENABIAN

Berkata Sadatina al Junaidiyah Syekh Abu 'Ali ad Daqaq, ia Guru dari Imam al Qusyairi Rahima humallah Ta'ala tentang as Shidiq :

قال الشيخ أبو علي الدقاق رحمه الله تعالى : الصدق هو أن تكون كما ترى من نفسك أو ترى من نفسك كما تكون,وقيل : الصادق من لايجب إطلاع الناس على علمه ولا يكره ذلك.

Maksudnya : Telah berkata Syekh Abu 'Ali ad Daqaq, semoga Allah memberikan rahmat kepadanya, bahwa " As Shidiq itu adalah ia keadaan engkau seperti barang yang telah engkau lihat pada dirimu, atau engkau lihat pada dirimu seperti barang keadaan (sekarang), Dikatakan juga bahwa As Shidiq itu adalah orang yang tiada wajib (membibirkan) mengangkat manusia atas ilmunya. Dan tiada wajib pula ia membencinya atas kebenaran itu.

Shidiq adalah sifat yang wajib bagi semua Rasul Allah, begitu juga bagi Muhammad Rasulullah Saw dan tak terkecuali bagi Ummatnya. Orang yang selalu Shidiq, ia selalu berlaku benar dan jujur pada semua tempat, waktu. Berkata Sadatina Imam al Junaid al Bagdadi radiyallahu anhu tentang shidiq ini 

قال الإمام الجنيد البغدادى رحمه الله تعالى : الصدق أن تصدق فى موضع لاينجيك منه إلا الكذب.

Artinya : Inti Shidiq itu adalah bahwa engkau selalu berlaku benar/berkata jujur diwilayah yang apabila seseorang selalu berlaku benar /berkata jujur tidak akan selamat, terkecuali ia  berdosta. Shidiq adalah atribut utama para Nabi dan merupakan penyangga islam dan al Qur,an sepanjang masa. Sifat Shidiq itu hal keadaannya mengiringi derajat dan menyerupai sifat kenabian.

Rasulullah Saw telah bersabda yang meriwayatkan oleh Abu Daud dan At Thabrani   :

قال النبي صلى الله عليه وسلم : من تشبه بقوم فهو منهم ...

Artinya : Telah bersabda oleh Nabi Saw : "Barangsiapa  menyerupai suatu  kaum,  maka  orang itu digolongkan seperti kaum itu sendiri." HR. Abu Daud dan At Thabrani

Firman Allah pada surat an Nisa ayat 69 yang berbunyi :

فأولآئك مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصدقين والشهداء والصالحين

Artinya : ........ Maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dan Orang-orang yang menetapi kejujuran, para Syuhada dan  Orang-orang saleh.

Berkata  Sadatina Shufiah Syekh Akbar Ubaidillah rahimahullah :

قال الشيخ الأكبر مولانا عبيد الله رحمه الله تعالى المشهور بخواجه أحرار: أن الكينونة مع الصادقين المأمور بها فى كلام رب العالمين على قسمين كون بحسب الصورة وهو مجالستهم حتى تنطبع فيه صفاتهم كون بحسب المعنى ثم فسر الكينونة معنى بالرابطة.

Maksudnya adalah : Telah berkata oleh Syekh Akbar Maulana Ubaidillah rahimahullah yang masyhur dengan gelar Khawajah atau Syekh Ahrar : "Sesungguhnya berperngai mengikuti meniru dengan orang jujur / orang berlaku benar itu (maksudnya Guru kita) diperintahkan syara. Perintah tersebut ada pada kalam Tuhan rabbil 'alamin itu ada dua macam :

1.Keadaan si murid dengan bertatap muka (dengan Syekhnya) yaitu menghadiri mejelis mereka hingga si Murid bertabiat seperti sifat gurunya.

2.Keadaan si murid dengan memperhatikan penjelasan-penjelasan (makna) gurunya tentang perangainya orang yang jujur atau penjelasan orang yang selalu bersamanya, Inilah makna rabithah.

G. SHIDIQ MENURUT AHLI  HUDUR

Shidiq tidak akan tegak kecuali dengan suatu prinsip, yaitu bersesuaian rida Allah dengan amal seseorang hamba, keadaannya, waktunya, keyakinan dan niatnya. Orang yang telah mencapai tingkat shidiq adalah orang yang telah mencapai tingkat tertinggi dalam pencapaian spritual. Ia telah melaupaui semuanya dan tidak lagi memerlukan maqamat dan ahwal. Ia telah mencapai ketenangan yang permanen, dimana dia seslalu mendengar suara Tuhan sepanjang waktu. Ia telah berada dalam kondisi tamkin. Dalam kondisi ini, semua keinginan pribadi hilang dan yang tinggal adalah keinginan-keinginan rohani. Jasmaninya bersama makhluk sedang batinnya selalu sahabat terbesar Allah. "Manakala mereka terlihat Allah pun selalu diingat". Mereka adalah cermin mengkilap tempat Allah merenungkan kesempunaan yang berasal dari nama-Nya sendiri. As Shiddiqin adalah  manusia-manusia paripurna. 1

H. KEJUJURAN MEMBAWA KEBAHAGIAAN HUBUNGAN SUAMI ISTERI

Tidak ada hubungan, apalagi hubungan dengan Allah yang dapat bertahan hidup lama tanpa adanya kejujuran atau sidiq. Ada sebuah kisah / lagenda parabel terkenal tentang Nabi Sulaiman dan Ratu Bulqis isterinya, seorang Ratu Saba. Hubungan mereka dilambangkan oleh seorang anak lumpuh.

"Katakan kepadaku, kasihku Sulaiman," kata Bulqis, "kita berdua kuat dan sehat, mengapa anak hubungan kita tidak sehat ? Apakah tidak ada obat  untuk penyakit ini ? Marilah kita cari, jika Malaikat Jibril mendatangimu lagi, mintalah dia untuk membacakan dan memberitahu kamu tentang apa yang dituliskan tentang rahasia ini dalam meja takdir ilahi. Mungkin ada kesempatan anak kita bisa sembuh – siapa tahu ?"

Sulaiman setuju dan saat sang Malaikat muncul, ia menceritakan keinginannya. Jibril pergi lalu segera kembali dengan salam bagi Sulaiman dari Sang Pencipta.Katanya, "Ketahuilah bahwa dua hal diperlukan agar anakmu memperoleh kembali kesehatannya dan keduanya sangat bahagia dan langka di dunia ini, bahwa suami harus berkata jujur kepada isterinya dan isteri jujur kepada suaminya......

Saat Bulqis mendengar hal ini, ia sangat gembira dan berkata : "Tanyailah aku, Hai Kanda Sulaiman, supaya aku dapat menjawab sesuai yang dikehendaki Allah."

Nabi Sulaiman berfikir sejenak, lalu ia bertanya, "Kecantikanmu hai isteriku tercinta, merupakan incaran semua mata,  tetapi kamu sendiri, apakah kamu menginginkan orang lain selain aku ?"

"Modah modahan bala menjauh darimu" sahut Bulqis "Bagiku, kamu lebih berkilau dari pada matahari dan lebih baik dari pada semua orang dalam segala hal tak hanya ketampananmu, kebaikanmu dan kelembutanmu ! Kamu menawarkan sorga di atas bumi kepada tamumu dan kamu sendiri adalah penjaga sorga ini. Apa pun yang ada disini, tampak atau tidak adalah milikmu, karena kunci kekuatanmua sebagai Nabi adalah melastarikan dunia ini.... tetapi meskipun kau tampan, memiliki kerajaan dan kemuliaan, ternyata saat aku melihat pemuda lain, aku tetap tak bebas dari hasrat......"

Begitu Bulqis mengucapkan pengakuan ini dibibirnya, anak disampingnya, sungguh ajaib mengangkat tangannya yang lemah, menjulurkannya kepada  Bulqis, dan berkata "Lihat, Mama, Lihat ! Tanganku bisa bergerak."

Dengan kegembiraan mendalam, Bulqis berpaling kepada Sulaiman dan berkata "Tuanku, baik dan bijak, penguasa setan dan peri, demi anak mereka, kamu harus menjawab pertanyaanku, jika tidak mengganggumu supaya kakinya bisa sembuh melalui jawabanmu padaku, sebagaimana tangannya sembuh melalui jawabanku kepadamu. Katakanlah meskipun kamu kaya, apakah kamu iri terhadap milik tetanggamu ?"

Sulaiman pun menjawab, "Kamu benar, tak ada orang yang memiliki kekuatan, kekayaan di antara langit dan bumi lebih banyak daripadaku, tetapi, harus kuakui bahwa aku tetap menginginkan dan sering diam-diam memandang tangan orang-orang yang datang kepadaku, bertanya-tanya berapa banyak upeti yang dibawanya....

Segera setelah perkataannya Sulaiman baru terucap, sungai kehidupan pun mengalir ke dalam kaki si kecil, yang dengan gembira mulai menendang dan merangkak. Melalui rahmat Allah, ia telah disembuhkan karena orang tuanya tidak menyembunyikan dari pasangannya kebenaran mengenai dirinya. Hubungan, seperti anak dalam kisah ini, akan lumpuh, tanpa gerak, tanpa tumbuh, tanpa cinta dalam kegelapan dusta dan tipu. Tanpa kejujuran (Sidiq) di antara dua orang, tak akan ada rasa percaya. Tanpa rasa percaya, tak akan ada hubungan sejati.


Referensi  :

(1).Kitab Aqidatun Najin yaitu Syekh Zainal Abidin Bin Muhammad al Fathany rahimahullahu ta'ala

(2).Kitab Jami'ul Ushul fi Auliya ……………….. Hal.308

(3).Kitab Aqidatun Najin …………………….. Hal.73

(4).Artikel “Apa itu Shiddiq?” // https://rumaysho.com/15519-apa-itu- shiddiq.html

(5).Artikel “Memahami Sifat Shiddiq Nabi Muhammad SAW Perspektif Bisnis Syariah” Nafiuddin Nafiuddin.// https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/Bisnis/article/view/4895

(6).Artikel “Shiddiq Artinya Jujur, Tercatat dalam Banyak Ayat Al-Qur'an”

Oleh Devi Setya detikHikmah, // https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6562987/shiddiq-artinya-jujur-tercatat-dalam-banyak-ayat-al-quran

(7).Artikel “Ringkasan Al” https://www.google.com/search?q=kizib&sca_esv=74e8f3377864fd67&rlz

Artikel “Sifat Mustahil Nabi dan Rasul yang Artinya Dusta atau Bohong” // https://www.liputan6.com/hot/read/5234795/kizib-artinya-dusta-atau-bohong-ini-sifat-mustahil-nabi-dan-rasul

(7). KItab Hidayatus Salikin  oleh Abdul Shamad Fathany …………Hal 92

(8).Kitab Ensiklopedi TASAWUF oleh Tim Penyusun UIN Syarif Hidayatullah   Hal ....1134


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...