Rabu, 06 Mei 2026

Bab. II “Menteladani Sifat Amanah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba’atul Hasanah

 

KATA PENGANTAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّ عَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ

اَمَّا بَعْدُ

Kami panjatkan puja dan Puji syukur kehadirat Allah Swt, Yang Maha Esa atas anugerah dan pertolongan-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan buku yang berjudul :

"اَلرِّسَالَةُ مُتَابَعَةُ الْحَسَنَةِ لِلْجَمَاعَةِ فِى الطَّرِيْقَةِ الْجُنَيْدِيَّةِ"

al-Risalah Mutaba’atul Hasanah lil Jama'ah fii Thariqaqh al Junaidiyah (Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah).”

Tak lupa penyusun menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya untuk Bapak Khalifah al Thariqah al Junaidiyah selaku pemimpin Thariqat Sufi al Junaidiyah yang telah memberikan arahan dan bantuan selama menulis menyelesaikan buku ini. Penyusun juga menghaturkan terima kasih untuk Guru-guru Mursyid Thariqah al Junaidiyah dan teman-teman yang meluangkan waktu untuk berdiskusi serta memotivasi penyusun agar buku ini dapat selesai lebih cepat.

Penyusun Kitab al-Risalah Mutaba’atul Hasanah lil Jama'ah fii Thariqaqh al Junaidiyah (Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah)  pada bagian pembahasan pokok Kitab yang ketiga ini akan dijelaskan Delapan materi Sifat Rasulullah Saw yang harus diadopsi oleh Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ), adopsi disini maksudnya diikuti, dijalani atau dipraktikkan, diterapkan pada diri pribadi Salik PTJ, isteri dan anak-anaknya. Hal ini dilakukan dalam menyikapi Firman Allah Swt surat al Tahrim ayat 6  yang berbunyi :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا (التحريم 6)

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksaan api Neraka".

Adapun Delapan macam materi Sifat Rasulullah Saw  yang mesti harus dijalani oleh Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) al Bagdadiyah atau Pengamal  Thariqatu Qaum di maksud adalah :

  1. Sifat  Shidiq (صفة الصدق) 
  2. Sifat  Amanah  (صفة الأمانة)
  3. Sifat Tabligh  (صفة التبليغ)
  4. Sifat Syiddatul Fathanah  (صفة شدة الفطانة)
  5. Sifat Insan   (صفة إنسان)
  6. Sifat Hurriyah   (صفة حرية)
  7. Siaft Rijal  (صفة رجال)
  8. Sifat Syujja'ah  صفة شجاعة)  )

Penyusun Kitab  al-Risalah Mutaba’atul Hasanah (مُتَابَعَةُالْحَسَنَةِ) bersama dengan Sayyid Muhammad Ariatim adik kandung Penyusun telah memulai mempelajari dan mentala'ahi 8 sifat Rasulullah Saw dari abah KH. Jumberi  adalah Guru di Desa Bihara, pada hari Sabtu, 14 Maret 2004/22 Muharram 1425H. Sebelumnya Penyusun dan Sayyid Muhammad Ariatim sudah mempelajari 8 macam yang menyertai Syahadat Tauhid bagi Pengamal Thariqat al Junaidiyah, dari awal mengambil thariqat ini yaitu Ahad, 26 Oktober 2003M atau Sya'ban 1424H dari KH. Jumberi Ma'shum Bihara. Sejak itu Penyusun mulai mempelajari 8 materi pokok Syahadat Rasul dari Sifat  Shidiq (صفة الصدق)  , Sifat  Amanah  (صفة الأمانة), Sifat Tabligh  (صفة التبليغ), Sifat Syiddatul Fathanah  (صفة شدة الفطانة), Sifat Insan   (صفة إنسان), Sifat Hurriyah   (صفة حرية), Siaft Rijal  (صفة رجال), Sifat Syujja'ah  (صفة شجاعة)  

Dan dari sinilah mulai dikumpulkan catatan-catatan dan data-data tentang 8 materi pokok Syahadat Rasul tersebut dan juga menjadikannya sebuah Kitab yang Penyusun namai “al-Risalah Muta’ba’atul Hasanah Lil Jama’ah fii Thariqat al Junaidiyah” sedangkan maksud “Muta’ba’atul Hasanah” adalah orang yang suka mengikuti Amal Kebaikan.”

(Bagian Penutup)

Penyusun berharap semoga buku ini dapat bermanfaat bagi Jama’ah Thariqat al Junaidiyah dan orang-orang yang suka mengikuti Amal Kebaikan. Namun, penulis sangat menyadari bahwa buku ini tak semporna, tak lepas dari kekurangan. Oleh karena itu, penulis menyampaikan permohonan maaf serta terbuka untuk kritik membangun dan saran demi perbaikan tulisan ini di masa mendatang.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

                    

                   Kandangan ,  Mei 2026

                   Penyusun

 

 H.Hasan Baseri,S.Ag Assaqqaf


 

BAB. II

PASAL KE 2 PENJELASAN SIFAT AMANAH

اَلْفَصْلُ الثَّانِى فِى بَيَانِ الْأَمَانَةِ

Daftar Isi Bab. II “Menteladani Sifat Amanah Nabi Saw” Kitab Mutaba’atul Hasanah

A. PENJELASAN SIFAT AMANAH

1. Pengertian Amanah

2. Pengertian Amanah menurut Istilah

3. Pengertian Amanah Menurut Para Ahli

B. PENGERTIAN AMANAH MENURUT TIRMINOLOGI

1. Al Amanah al Ilahiyah

2. Beberapa Contoh Amanah Ilahiyah

C. DALIL-DALIL SIFAT AMANAH MENURUT AL-QUR’AN DAN HADITS

D. MANUSIA DIPERCAYA MEMIKUL AMANAH

1. Amanah Insaniyah

2. Akibat Amanah Yang Belum  Sempai Ditunaikan

E. SIFAT AMANAH DIKLASIFIKASIKAN MEJADI TIGA MACAM

1. Amanah Kepada Allah Sang Pencipta

2. Amanah Kepada Sesama Manusia

3. Amanah Kepada Diri Sendiri

F. KETERANGAN TENTAG KHIYANAT MANUSIA

1. Pengertian khianat

2. Macam-Macam Bentuk Khianat Manusia

3. Cara Menyikapi Orang yang Berkhianat


BAB. II

PASAL KE 2 PENJELASAN SIFAT AMANAH

اَلْفَصْلُ الثَّانِى فِى بَيَانِ الْأَمَانَةِ

Bab. II “Penjelasan Sifat Amanah” Kitab al-Risalah Mutaba’atul Hasaah fii Thariqat al Junaidiyah

PENJELASAN SIFAT AMANAH

1.Pengertian Amanah

Kata Amanah adalah berasal dari kata kerjanya : “AMUNA,  YA’MUNU FAHUWA AMANATAN

أمن  - يأمن - فهو أمانة او  اَمْنًا

Secara bahasa kata amanah adalah bentuk mashdar dari kata kerja amina-ya`manu fahuwa amnan-atau amanatan.

Masdar dari kata AMUNA adalah AMANAH yang berarti : “Tidak menipu ia. Amanah juga berarti “Setia, kebaktian, ketulusan hati, jujur,  kepercayaan atau bakti pada barang yang diperdukan oleh Tuhan atas hambanya.”

Yang mempunyai makna aman, tenang dan tentram. Dan dalam kamus al-munawwir disebutkan bahwa makna amanah adalah segala perintah Allah terhadap hamba-hambanya. Menurut istilah kata amanah memiliki artian yang beragam dan sangat luas. Seperti sebuah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan jujur ataupun titipan yang harus diserahkan kembali kepada pemiliknya.

Adapun pengertian amanah menurut Al-Kafumi adalah semua perintah yang diserahkan Allah kepada hambanya, seperti sholat, puasa, zakat dan tanggung jawab kewajiban yang lain.

2. Pengertian Amanah menurut Istilah

Pengertian Amanah – Istilah amanah adalah salah satu istilah yang cukup familiar di kalangan umat muslim. Pasalnya memiliki sifat amanah adalah kewajiban bagi seorang muslim. Seseorang yang memiliki sifat amanah adalah sosok yang dapat dipercaya serta memiliki tanggung jawab pada setiap tugas maupun kepercayaan yang diberikan kepada dirinya. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut untuk memiliki sifat amanah.

Amanah  adalah  salah satu sifat yang sangat terpuji yang dimiliki oleh semua Nabi dan Rasul Allah.  Sifat  Amanah miliknya Rasulullah Saw, begitu juga wajib dimiliki oleh Ummat Muhammad Saw khususnya Pengamal Tarekat al Junaidiyah (PTJ) al Bagdadiyah, mereka wajib mengadospsi sifat amanah yang dimiliki Muhammad Rasulullah Saw. Mereka harus mengamalkan – mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa terkecuali. Dan juga Sifat Amanah adalah menjadi Bahasan Pokok Ketiga pada aliran Tarekat al Junaidiyah dari delapan sifat Rasulullah Saw yang wajib diikuti oleh PTJ untuk mendapatkan pridikat Ummat Muhammad yang sempurna.

3. Pengertian Amanah Menurut Para Ahli

Aku kutip pada sebuah Artikel “ Pengertian Amanah … “ menyebutkan bahwa selain pengertian amanah secara harfiah, bahasa dan istilah, beberapa ahli juga turut mengemukakan pendapatnya tentang pengertian amanah. Dikutip dari laman nasehatquran, berikut penjelasannya.

1. Syekh Abdurrahman As-Sa’idi

Menurut Syekh Abdurrahman As-Saidi, arti Amanah adalah segala sesuatu yang dipercayakan pada seseorang serta diperintahkan untuk menunaikan hal tersebut.

2. Syekh Abul Baqa’ Al-Kaffawi

Dijelaskan bahwa kata amanah memiliki pengertian yaitu segala sesuatu yang diwajibkan pada setiap hamba yang muslim. Contohnya seperti menunaikan zakat, mengerjakan shalat, puasa, menjaga titipan seseorang, membayar hutang dan menjaga rahasia.

3. Mufassir Prof. Quraish Shihab

Menurut Quraish Shihab, amanah dapat diartikan sebagai kepercayaan yang diberikan pada seseorang untuk dijalankan dengan baik serta dipelihara sebaik mungkin. Dalam proses menjaga amanah, orang-orang yang mendapatkan amanah juga harus menghindari segala kemungkinan bahwa suatu saat ia akan menyia-nyiakan amanah tersebut, baik secara disengaja ataupun tidak disengaja.

Dari beberapa pengertian amanah yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat disimpukan bahwa amanah merupakan sifat seseorang yang mampu menjaga dengan cara sebaik mungkin kepercayaan yang telah diberikan oleh orang lain pada orang tersebut, sehingga orang yang diberikan amanah pun dapat dipercayai oleh orang lain dan komunitas yang ada di sekitarnya.

B. PENGERTIAN AMANAH MENURUT TIRMINOLOGI

Secara Terminologi, amanah adalah sifat dan sikap pribadi yang setia, tulus hati, jujur, terpercaya dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya berupa harta benda, rahasia maupun tugas dan kewajiban.

Amanah juga berarti “Kepercayaan, berdasarkan Sabda Nabi Saw :

وقوله النبي صلى الله عليه وسلم : إنى لكم رسول أمين

Artinya : ”Sesungguhnya aku  ini seorang Rasul yang terpercaya bagimu.”

1.Al Amanah al Ilahiyah

Amanah Ilahiyah adalah segala sesuatu yang melekat dan dapat dirasakan serta dinikmati oleh manusia, tanpa terkecuali sesungguhnya adalah anugrah Allah yang diamanahkan kepadanya. Menunaikan amanah ilahiyah berarti sesuatu penegasan orientasi  ketuhanan  terhadap pemanfaatan maksimal dari  apa yang dianugrahkan-Nya  kepada manusia. Sebuah prinsip dariNya, denganNya, keapadaNya dan untukNya. Sebagaimana ditegaskan dengan firman Allah dalam al Qur’an pada surat al Baqarah ayat 156

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Artinya : Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah dan kepadaNya lah kami akan kembali.”

Bisa di katakana bahwa bersifat amanah berarti semua aktivitas kita manusia harus beroreintasi pengapdian kepada Allah. Tidak ada  aktivitas yang lain kecuali sebagai persembahan kepada Allah Swt.

لأن الله تعالى أعطى الإنسان أمانة وهي الأمر بالطاعات والعبادات فمن أداها فقد أدى الأمانة ومن تركها فقد خان الأمانة.

Artinya : “Sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan amanah kepada manusia, yaitu amanah perintah ta’at dan amanah beribadah, maka barang siapa menunaikannya, maka sungguh ia melaksanakan amanah, dan barang siapa meninggalkannya maka sungguh ia menghianati amanah.

Amanah Ilahiyah hanya dapat diwujudkan jiwa-jiwa insan yang pandai bersyukur sambil memelihara kelangsungan alam agar selalu bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Kalau Amanah Ilhiyah bersifat makro, cakupannya sangat luas bahkan tidak terbatas cakupannya dan lahir dari perjanjian primodial antara manusia dengan Tuhannya.


2. Beberapa  Contoh Amanah Ilahiyah

Sebagaimana sebahagian Ulama berpandapat yang dimaksud pada amanah menurut istilah disini adalah :

المراد من الأمانة : الأهل والأولاد  كما قال تعالى:  ياأيهاالذين أمنوا قوا أنفسكم وأهلكم نارا ....تحريم 6  فيلزم عليك أن تأمرهم بالصلاة كما قال تعالى وأمر أهلك بالصلاة. وقال عليه الصلاة والسلام : مروا أولادكم بالصلاة إذا بلغوا سبعا واضربوهم عليها إذا بلغوا عشرا. فيلزم عليك أن تحفظهم من المحارم واللعب لأنك مسؤل عنهم.كما قال النبي صلى الله عليه الصلاة والسلام : كلكم راع وكلكم مسؤل عن رعيته.

Yang maksudnya : “Amanah adalah Keluarga dan Anak-anak, sebagaimana fiman Allah : “Hai orang-orang  yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. QS. At Tahrim ayat 6. Maka lajimi atas kamu menyuruh mereka (keluarga) dengan mengerjakan (memelihara) salat. Sebagaimana firman Allah “ Suruhlah keluargamu  menunaikan shalat”. Bersabda Nabi Saw : “Perintahkan anak-anakmu menunaikan  ibadah shalat apabila umur mereka tujuh tahun, pukullah mereka bila enggan melaksanakan shalat apabila berumur sepuluh tahun. Maka lajimi atasmu dari pada memelihara merekadari yang haram dan berbuat yang sia-sia karena bahwasanya kamu akan ditanyai tentang mereka. Sebagai mana Sabda Rasul Saw “Semua kamu adalah pemimpin, dan kamu semua akan ditanyai tentang orang yang dipimpinnya.”

Begitu pula dengan Kalbu kita adalah pemimpin tubuh kita. Ia raja yang sangat berkuasa dalam kerajaan tubuh kita. Ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap pekerjaan anggota-anggotanya dari mata, kaki, hidung, telinga tangan dan perut  lain-lainnya.

C. DALIL-DALIL SIFAT AMANAH MENURUT AL-QUR’AN DAN HADITS 

Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa sifat amanah harus dimiliki oleh setiap muslim. Menurut Syaikh Abdurrahman As-Sa’idi mengatakan bahwa amanah merupakan setiap hal yang dipercaya pada seseorang serta diperintahkan untuk segera ditunaikan.

Allah memberikan perintah kepada hamba-Nya untuk menunaikan amanah dengan sempurna serta penuh, tak dikurangi, tak ditunda serta tidak dicurangi. Dalam firman Allah surat An-Nisa ayat 58, dijelaskan pula bahwa amanah merupakan kekuasaan, rahasia, harta dan delegasi atau rahasia yang tak diketahui kecuali oleh Allah Swt.

Sesungguhnya para ahli fiqih bahkan telah menyebutkan bahwa siapa saja yang diberikan suatu amanah, maka orang tersebut memiliki kewajiban untuk menjaga amanah tersebut dalam tempat yang kokoh.

Para ahli fiqih juga mengungkapkan bahwa amanah tidak mungkin dapat ditunaikan apabila tidak dijaga, sehingga menjaga amanah adalah hal yang wajib.

Amanah tidak boleh ditunaikan selain oleh ahlinya atau orang yang berhak menerima amanah tersebut dan wakil dari orang tersebut yang ada pada posisinya. Sehingga jika orang tersebut menyerahkan amanah selain dari orang yang berhak menerima, maka ia tidak dikatakan telah menunaikan amanah.

Ada beberapa dalil yang menjelaskan tentang amanah, di antaranya adalah berikut ini.

1. Q.S Al-Baqarah ayat 238

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ ۝٢٣٨

Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk.

Apabila kamu berada dalam perjalanan dan bermua’malah tidak secara tunai, sedang dirimu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaknya ada barang tanggungan yang dipegang oleh yang memiliki hutang.

Akan tetapi apabila sebagian dari dirimu mempercayai sebagian dari yang lainnya, maka hendaknya yang (orang) yang dipercayai tersebut menunaikan amanah (hutang) serta hendaklah ia bertakwa pada Allah, Tuhannya dan janganlah diri mu (para saksi) menyembunyikan kesaksiannya.

Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah seseorang yang berdosa hatinya serta Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

2. QS. Al-Ahzab ayat 72

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ ۝٧٢

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.”

Dalam firman Allah surat Al-Ahzab tersebut, Allah berfirman tentang amanah pada Makhluk-Nya. Allah telah memberikan amanah pada mukallaf yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-Nya serta bersedia menjauhi segala larangan Allah baik ketika ia sendirian ataupun ketika berada di depan umum.

Allah SWT telah memberikan penawaran amanah pada makhluk yang besar seperti bumi, langit hingga gunung dengan sukarela serta tidak dipaksa. Namun makhluk Allah, langit, bumi dan gunung menolak memikul amanah tersebut.

Sebab mereka merasa khawatir apabila tidak mampu melaksanakan amanah tersebut. Mereka semua menolak tawaran tersebut bukannya karena membangkang pada Allah bukan karena mereka tidak menginginkan pahala yang menjadi ganjarannya.

Maka Allah menawarkan amanah tersebut pada manusia, dengan syarat seperti yang telah dijelaskan pada langit, bumi dan gunung. Lalu manusia pun menerima tawaran amanah tersebut, meskipun manusia zalim serta bodoh dan manusia pun memikul beban yangs angat berat.

Meskipun bentuk badan manusia lebih kecil apabila dibandingkan dengan tiga makhluk Allah yang lainnya, tetapi manusia berani menerima amanah karena manusia memiliki potensi.

Tetapi karena pada diri seorang manusia ada ambisi serta syahwat yang sering membuat manusia terkelabui dan menutup pandangan mata harinya, Allah memberikan sifat dengan amat zalim serta bodoh dikarenakan kurang memikirkan akibat dari menerima penawaran amanah tersebut.

3. QS. Al-Mu’minun Ayat 8

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَۙ ۝٨

 (Sungguh beruntung pula) orang-orang yang memelihara amanat dan janji mereka

Maksud dari firman Allah surat Al-Mu’minun ayat 8 adalah mereka memperhatikan, menjaga serta berusaha untuk melaksanakan serta menunaikan amanahnya. Dan ayat satu ini mencakup seluruh amanah, baik itu amanah di antara seorang hamba dengan Tuhannya, contohnya seperti ibadah tersembunyi yang tidak diketahui kecuali pada Allah dan amanah di antara seorang hamba dengan makhluk contohnya seperti masalah harta titipan serta hal-hal yang rahasia.

4. HR. Abu Dawud nomor hadits 3535

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي أَفْلَحَ الْهَمْدَانِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زُرَيْرٍ يَعْنِي الْغَافِقِيَّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ إِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي

Artinya : Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] berkata, telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Yazid bin Abu Habib] dari [Abu Aflah Al Hamdani] dari [Abdullah bin Zurair] -yaitu Al Aghafiqi- Bahwasanya ia mendengar [Ali bin Abu Thalib radliallahu 'anhu] berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mangambil sutera lalu meletakkannya pada sisi kanannya, dan mengambil emas lalu meletakkannya pada sisi kirinya. Kemudian beliau bersabda: "Sesugguhnya dua barang ini haram bagi umatku yang laki-laki.

Hadist satu ini adalah hadist yang berisi untuk menunaikan amanah dan tidak berkhianat. Berikut bunyi haditsnya.

Pengertian Amanah Artinya: Tunaikanlah amanah pada orang-orang yang mempercayaimu dan janganlah dirimu berkhianat pada orang-orang yang mengkhianati dirimu.

5. HR. Bukhari: 33

Hadist selanjutnya adalah hadist yang menjelaskan tentang sikap berkhianat adalah salah satu dari ciri kemunafikan. Berikut bunyi hadistnya.

Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya pada Kitab Al-Iman bab tanda-tanda orang munafik,

حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ بْنُ عُقْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ » . تَابَعَهُ شُعْبَةُ عَنِ الأَعْمَشِ

Qabishah bin Uqbah telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Sufyan telah menceritakan kepada kami, dari Al-A’masy, dari Abdullah bin Murrah, dari Masruq, dari Abdullah bin Amr bahwa Nabi saw. bersabda, “Empat hal yang apabila ada pada diri seseorang, maka ia adalah seorang munafik tulen, dan siapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut, maka pada dirinya terdapat sifat kemunafikan hingga ia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat ia khianat, jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari, dan jika berseteru curang.” Hadis ini diriwayatkan pula oleh Syu’bah dari Al-A’masy.

Pengertian Amanah Artinya: ciri-ciri dari orang munafik ada tiga di antaranya adalah ketika bercerita maka ia akan berdusta, ketika ia berjanji maka ia akan ingkar, ketika ia dipercayai maka ia akan berkhianat.

6. HR. Bukhari nomor hadits 59

Hadist selanjutnya adalah hadist yang menjelaskan bahwa diangkatnya amanah menjadi salah satu tanda-tanda kiamat. Berikut bunyi hadistnya ke-59 tersebut adalah :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ قَالَ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ ح و حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ حَدَّثَنِي هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan berkata, telah menceritakan kepada kami Fulaih. Dan telah diriwayatkan pula hadits serupa dari jalan lain, yaitu Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Al-Mundzir berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fulaih berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku berkata, telah menceritakan kepadaku Hilal bin Ali dari Atho’ bin Yasar dari Abu Hurairah berkata:

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam suatu majelis membicarakan suatu kaum, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui lalu bertanya: “Kapan datangnya hari kiamat?” Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap melanjutkan pembicaraannya. Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata; “beliau mendengar perkataannya akan tetapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya itu, ” dan ada pula sebagian yang mengatakan; “bahwa beliau tidak mendengar perkataannya.” Hingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan pembicaraannya, seraya berkata:

“Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?” Orang itu berkata: “saya wahai Rasulullah!”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat”. Orang itu bertanya: “Bagaimana hilangnya amanat itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat”.”

Itulah penjelasan tentang pengertian amanah dan ciri serta dalil-dalilnya. Semoga semua pembahasan di atas bermanfaat dan juga menambah wawasan kamu. Grameds bisa mempelajari tentang sifat-sifat yang diwajibkan dimiliki oleh umat muslim dan dalilnya.

D. MANUSIA DIPERCAYA MEMIKUL AMANAH

Allah Swt menawarkan amanah kepada semua makhluknya yang besar-besar, yaitu kepada langit,  bumi dan gunung-gunung,  tetapi semua mereka menolak, tidak bersedia memikul amanah yang akan diberikan oleh Allah Swt, akan tetapi manusia yang lemah tak berdaya bersedia memikulnya.

Sebagaimana ayat al Qur’an al Ahzab yang berbunyi :

إنا عرضنا الأمانة على السموات والأرض والجبال فأبين أن يحملنها واشفقن منها وحملها الإنسان إنه ظلوما جهولا .. الأحزاب 72

لما عرضت الأمانة على أدم عليه الصلاة والسلام قال يارب إن السموات والأرض والجبال مع عظمها وسعتها لم يطقن حملها وأبين. فكيف أحمل مع ضعفى ؟ فقال تعالى الحمل منك والقدر منى فحملها.

Artinya :"Sesungguhnya kami tawarkan amanah kepada langit dan bumi, dan gunung-gunung, maka mereka enggan memikul amanah itu, dan mereka khawatir akan menghianatinya dan memikullah amanah itu oleh manusia.  Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh”. QS, Al Ahzab 72.

Artinya :"Tatkala  amanah itu ditawarkan kepada Nabi Adam Alaihis Salam, ia berkata : “Ya Tuhanku, bahwasanya langit dan bumi, gunung-gunung beserta kebesaran mereka, dan keluasan mereka, tidak sanggup memikulnya dan menolaknya.  Bagaimana mungkin dengan kelemahanku ini (bisa memikul amanah itu) lalu Allah berfirman “ Hai Adam , Engkau yang memikul, aku yang memberikakuatan, maka Adam pun memikulnya”.

المراد من الأمانة : فهي الصلوات الخمس كما قال تعالى حافظوا على الصلوات و الصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين. وقال عليه الصلاة والسلام : الصلاة عماد الدين فمن أقامها فقد أقام الدين ومن تركها فقد هدم الدين.

Artinya : Kata Sebagian Ulama  yang maksudnya : “Amanah adalah salat lima waktu. Sebagaimana firman Allah Ta'ala :"Peliharalah ibadah salat kamu dan salat yang ditengah dan berdirilah untuk beribadah karena Allah." QS al Baqarah 238.

Artinya : Sebagaimana Sabda Nabi Saw : " Salat itu tiang agama, maka barang siapa menegakkannya maka sesungguhnya ia menegakkan agamanya dan barang siapa meninggalkannya sungguh ia meruntuhkan agamanya.

المراد من الأمانة : فهي الأعضاء الانسانية, فالعين أمانة يلزم كفها عن الحرام. كما قال تعالى قل للمؤمنين يغضوا من ابصارهم. والبطن أمانة يلزم كفها عن ادخال الحرام كما قال تعالى ولاتأكل الربا.

Artinya : Kata Sebagian Ulama  yang maksudnya : “Amanah adalah semua anggota tubuh manusia, kedua mata adalah amanah yang mesti dipelihara dari melihat yang haram. Sebagaimana firman Allah Ta'ala : "Katakanlah kepada orang-orang mukmin yang beriman hendaklah menutup pandangan mereka yang haram." Perut adalah amanah yang harus dipelihara dari makanan yang haram. Firman Allah : "Janganlah kamu memakan makanan dengan jalan riba."

قال بعضهم المراد من الأمانة : القران. يلزم عليك أن تلازم لقرائته وتعلمه وتعظيمه.

Kata Sebagian Ulama  yang maksudnya : “Amanah adalah Al Qur'an. Lazimkan olehmu, secara kontinyu untuk membacanya, mempelajarinya dan mengagungkannya."

قال بعضهم المراد من الأمانة : الصوم والزكاة والحج فهي ركن الإسلام فمن أقامها فقد أقام الدين ومن تركها فقد هدم الدين.

Kata Sebagian Ulama  yang maksudnya : “Amanah adalah Puasa Ramadhan, Zakat dan Hajji yaitu rukun islam. Maka barang siapa menegakkannya maka sesungguhnya menegakkan agamanya dan barang siapa meninggalkannya sungguh ia meruntuhkan agamanya.

قال بعضهم المراد من الأمانة : سائر الأمانات. كما قال تعالى إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها  -النساء 57

وقال عليه الصلاة والسلام : لاإيمان لمن لاأمانة له.

Kata Sebagian Ulama  yang maksudnya : “Amanah adalah "Semua Amanah". Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk menunaikan amanah kepada ahlinya." Sebagai mana Sabda Nabi Saw : " Tidak sempurna Iman seseorang bagi orang tidak melaksanakan amanah baginya."

1. Amanah Insaniyah

Amanah  Insaniyah adalah segala sesuatu yang lahir dari proses hubungan individu-indivudu manusia, dan amanah  insaniyah ini bersfat sangat terbatas.

Kalau amanah ilahiyah mengikat semua jenis atau aktivitas manusia tanpa terkecuali, amanah insaniyah mempunyai ikatan  yang terbatas pada seseorang atau sekelompok orang yang terlibat didalam perjanjian atau kesepakatan tersebut. Segala sesuatu yang melibatkan perjanjian atau kesepakatan termasuk berada pada leval amanah insaniyah oleh karenanya bersifat mengikat dan mengharuskan pemenuhan. Termasuk dari bagian amanah insaniyah adalah jual beli, utang-piutang, gadai  menggadai, perjanjian-perjanjian komunal seperti organisasi, partai, kelembagaan bahkan Bangsa yang didalamnya ada aturan-aturan kesepakatan yang wajib dipenuhi.

Untuk memenuhi amanah insaniyah ini seseorang atau kelompok orang harus menjalankan kesepakatan yang telah dibuat bersama. Bukanlah termasuk orang yang amanah jika ia suka melanggar janji.

2. Akibat Amanah Yang Belum  Sempai Ditunaikan

Dikisahkan bahwa seseorag yang belum menunaikan amanah semasa hidupnya sehigga Akibat Amanah Yang Belum  Sempai Ditunaikan tersebut membuatnya susah

روي عن ملك بن صفوان أنه قال : مات أخى فرأيته فى المنام فقلت يا أخي ما فعل الله بك ؟ فقال غفر لي ربى فرأيته به نقطة سوداء فى وجهه فسألته عنها فقال عندى ليهودى كذا وكاذ دراهم بالأمانة ولم أؤدها إليه فهذا لنقطة لأجلها. فاسألك يا أخى أن تأخذ الأمانة من الموضع الفلان وتردها إلى اليهودى فلما أصبحت فعلت ماقاله.

Maksudnya  : Diriwayatkan dari Malik bin Shafwan, bahwa "Sesungguhnya ia telah berkata : " Seorang saudaraku telah meninggal dunia, maka telah menjumpai aku dalam sebuah mimpi diwaktu malam. Maka aku Tanya dia : "Apa yang telah Allah perbuat dengan engkau ? Dia menjawab : Telah mengampuni oleh Tuhanku bagi diriku." Telah aku lihat satu titik hitam pada wajahnya. Maka aku Tanya tentang titik hitam tersebut. Dia menjawab : "Aku berada/tinggal berdekatan dengan orang Yahudi, ada masalah beberapa dirham yang berkenaan dengan amanah begini begitu dengannya. Amanah tsb belum aku laksanakan dengannya, maka titik hitam ini karenanya. Maka aku mohon kepadamu wahai saudaraku supaya engkau mengambil amanah itu ditempat seorang si Fulan dan menyerahkan kepada Yahudi tsb. Kata Malik manakala pagi-pagi aku kerjakan sesuatu barang yang dikatakannya.

Kita sebagai Ummat Muhammad Saw, terlebih khusus bagi Pengamal Tarekat al Junaidiyah (PTJ) harus sedapat mungkin melaksanakan amanah yang telah dibebankan kepada diri kita.

Hikmah Manusia Memikul Amanah

فإن قيل ما الحكمة فى أنها تقبل الأمانة مع عظم شأنها وجرمها. وحملها الإنسان مع ضعفه ؟ قلنا لأنها لم تكن ذاقت لذة الجنة. والإنسان كان قد ذاق لذتها فحملها ليبلغ إليها.

Artinya : Jika ditanyakan apa kandungan hikmah amanah dipikul oleh manusia,serta kebesarannya dan yang ditawarkan oleh Tuhan. Manusia maumemikulnya dengan kelemahannya. Maka jawabnya adalah bumi, langit dan gunung-gunung itu tidak dapat merasakan lezatnya sorga. Maka manusia memikulnya untuk menyampaikan kesorga.

E. SIFAT AMANAH DIKLASIFIKASIKAN MEJADI TIGA MACAM

Secara umum, sifat amanah dapat diklasifikasikan menjadi tiga di antaranya adalah amanah pada Allah, sang pencipta, amanah pada sesama umat manusia, amanah pada dirinya sendiri. Berikut penjelasannya.

1. Amanah Kepada Allah Sang Pencipta

Jenis amanah yang pertama adalah amanah kepada sang pencipta yaitu Allah Swt. Dikarenakan manusia adalah suatu makhluk yang diciptakan oleh penciptanya. Bentuk amanah yang dimiliki oleh manusia pada Allah atau sang pencipta adalah menjalankan seluruh hal yang diperintahkan oleh Allah serta meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.

Perintah ini juga dijelaskan dalam firman Allah pada QS. Al-Anfal ayat 27, berikut bunyi ayat dan artinya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝٢٧

Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.

Tafsir Wajiz/Tafsir Tahlili

Bersyukur adalah sebuah keharusan, sebab aneka nikmat tersebut bersumber dari Allah. Tidak bersyukur berarti mengkhianati nikmat tersebut dari Pemberinya, karena itu Allah menyatakan, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati, yakni mengurangi sedikit pun hak Allah sehingga mengkufurinya atau tidak mensyukurinya, dan juga jangan mengkhianati Rasul, yakni Nabi Muhammad, tetapi penuhilah seruannya, dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu oleh siapa pun, baik amanat itu adalah amanat orang lain maupun keluarga; seperti istri dan anak, muslim atau non-muslim, sedang kamu mengetahui bahwa itu adalah amanat yang harus dijaga dan dipelihara.” Segala sesuatu yang berada dalam genggaman manusia adalah amanat Allah yang harus dijaga dan dipelihara.

Dari ayat tersebut, maka seorang muslim mengetahui bahwa konsekuensi dari perbuatan mencari kekuatan pada makhluk lain selain Allah atau dikenal dengan syirik adalah ganjaran yang paling berat. Sehingga umat muslim dilarang untuk berbuat syirik serta mengingkari atau menyalahgunakan amanah yang diberikan.

2. Amanah Kepada Sesama Manusia

Jenis amanah kedua ialah amanah pada sesama manusia atau individu lainnya sebagai sesama makhluk. Jenis amanah kedua ini adalah jenis amanah yang terjadi cukup sering.

Bentuk amanah pada sesama manusia dapat berupa hak atau kewajiban yang dimiliki oleh setiap manusia. Contohnya adalah tidak mengatakan pada orang lain ketika diberitahu sebuah rahasi. Selain itu, ada pula contoh lain seperti menyampaikan suatu hal sesuai dengan kebenaran asli dan tidak mengada-ada, mengurangi maupun menambahinya.

An-Nisa' · Ayat 58

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا ۝٥٨

Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Tafsir Wajiz/Tafsir Tahlili

Dua ayat terakhir dijelaskan kesudahan dari dua kelompok mukmin dan kafir, yakni tentang kenikmatan dan siksaan, maka sekarang AlQur’an mengajarkan suatu tuntunan hidup yakni tentang amanah. Sungguh, Allah Yang Mahaagung menyuruhmu menyampaikan amanat secara sempurna dan tepat waktu kepada yang berhak menerimanya, dan Allah juga menyuruh apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia yang berselisih hendaknya kamu menetapkannya dengan keputusan yang adil. Sungguh, Allah yang telah memerintahkan agar memegang teguh amanah serta menyuruh berlaku adil adalah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah adalah Tuhan Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.

Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam QS. An Nisa ayat 58, berikut bunyinya.

Pengertian Amanah Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu sekalian untuk menyampaikan amanah pada yang berhak menerimanya serta menyuruh kamu jika menetapkan hukum di antara manusia agar kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya pada dirimu. Sesungguhnya Allah ialah Maha Mendengar dan juga Maha Melihat.

Biasa saja suatu nilai ucapat maupun perbuatan yang diamanahkan atau tidak diamanahkan dapat bernilai atau tidak sama sekali bagi orang yang diberi amanah tersebut.

Akan tetapi, sangat mungkin pula bahwa tindakan maupun ucapan sederhana memiliki suatu dampak yang sangat signifikan bagi penerima amanah tersebut. Oleh karena itulah, Allah memberikan perintah pada umat manusia melalui firman-Nya agar setiap umat muslim menyampaikan amanah pada pihak yang seharusnya menerima amanah tersebut.

3. Amanah Kepada Diri Sendiri

Jenis amanah yang terakhir adalah amanah pada diri sendiri. Jenis amanah satu ini adalah jenis amanah yang sebenarnya jarang disadari oleh banyak orang.

Dalam Islam, setiap manusia adalah seorang pemimpin, sehingga amanah kepada diri sendiri pun harus dilaksanakan dengan baik. Contoh dari amanah kepada diri sendiri ialah menjaga kesehatan badan maupun pikiran, tidak membiarkan diri sendiri kesakitan atau terluka karena hal apapun dalam berbagai aspek. Sebab, segala sesuatu yang ada di muka bumi ini hanyalah titipan dari Allah semata saja.

F. KETERANGAN TENTAG KHIYANAT MANUSIA

1. Pengertian khianat

(خِيَانَةُ) Khianat adalah salah satu perbuatan buruk yang harus dijauhi oleh umat Islam. Secara istilah, khianat adalah perbuatan tidak jujur yang dilakukan dengan melanggar janji atau sumpah.

Menurut Mohammad Ridwan dalam buku Wawasan Keislaman: Penguatan Dikursus Keislaman Kontemporer, khianat artinya tidak menepati amanah. Ungkapan ini juga digunakan kepada orang yang suka mengambil hak orang lain. Firman Allah Swt Al Qur’an al Anfal ayat 28

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya: Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Firman Allah Swt Al Qur’an Al Qur’an al Anfal ayat 29

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ

Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Allah Swt sangat membenci orang yang berkhianat. Hal ini pun telah ditegaskan dalam Alquran surat Al Anfal ayat 28-29.

Dalam hadits lain juga disebutkan jika seseorang berbuat khianat, ia termasuk ke dalam golongan orang munafik. Rasulullah SAW bersabda: "Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, sekalipun dia puasa, shalat, dan mengaku sebagai muslim: jika berbicara bohong, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khianat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Khianat ternyata ada banyak jenisnya, apa saja dan bagaimana umat Islam harus menyikapi orang yang berkhianat?

2. Macam-Macam Bentuk Khianat Manusia

Menghimpun buku Ilmu Tasawuf: Penguatan Mental-Spiritual dan Akhlaq oleh Dr. H. Imam Kanafi, khianat terbagi menjadi tiga, yaitu:

Berkhianat kepada Allah: Orang yang mengaku beriman kepada Allah, tetapi tidak mengerjakan ibadah dan sering melanggar hukum Allah;

Berkhianat kepada Nabi Muhammad SAW: Orang yang mengaku telah beriman kepada Nabi Muhammad, tetapi perilakunya tidak sesuai dengan ajaran sunnah beliau;

Berkhianat kepada orang lain: Orang yang melanggar atau tidak menepati janjinya kepada orang lain.

Ketiga jenis pengkhiantan ini dapat menyebabkan rusaknya dunia. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah berikut:

اَلَآ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلٰكِنْ لَّا يَشْعُرُوْنَ وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” (QS. Al Baqarah: 11-12).

3. Cara Menyikapi Orang yang Berkhianat

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tindakan yang sebaiknya diambil dalam menyikapi orang yang berkhianat adalah dengan mencabut atau membatalkan perjanjian yang telah disepakati. Katakan dengan  jujur kepada mereka alasan pembatalan perjanjian tersebut.

Disebutkan dalam buku Pendidikan Karakter: Mengembangkan Karakter Anak yang Islami oleh Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri bahwa, cara menyikapi orang yang berkhianat adalah dengan bersikap tegas dan berlaku jujur. Allah SWT berfirman:

وَاِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْۢبِذْ اِلَيْهِمْ عَلٰى سَوَاۤءٍۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْخَاۤىِٕنِيْنَ

Artinya: “Dan jika engkau (Muhammad) khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berkhianat.” (QS. Al Anfal: 58).


Referensi  :

(1).Kitab Aqidatun Najin yaitu Syekh Zainal Abidin Bin Muhammad al Fathany rahimahullahu ta'ala

(2).Kitab Jami'ul Ushul fi Auliya ……………….. Hal.308

(3).Kitab Aqidatun Najin …………………….. Hal.73

(4).Artikel “Sifat Mustahil Nabi dan Rasul yang Artinya Dusta atau Bohong” // https://www.liputan6.com/hot/read/5234795/kizib-artinya-dusta-atau-bohong-ini-sifat-mustahil-nabi-dan-rasul

(5). KItab Hidayatus Salikin  oleh Abdul Shamad Fathany …………Hal 92

(6).Kitab Ensiklopedi TASAWUF oleh Tim Penyusun UIN Syarif Hidayatullah   Hal ....1134

(7).Artikel “Pengertian Amanah: Ciri-Ciri, Jenis hingga Berbagai Dalilnya” // https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-amanah/

(8).Artikel Pengertian Khianat, Macam, dan Cara Menyikapinya

https://kumparan.com/berita-hari-ini/pengertian-khianat-macam-dan-cara-menyikapinya-1wu4y7psdUX/full.

(9).Referensi: https://tafsirweb.com/2895-surat-al-anfal-ayat-29.html

(10).Referensi: https://tafsirweb.com/2894-surat-al-anfal-ayat-28.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...