Kamis, 14 Mei 2026

Bab. VII “Menteladani Sifat Hurriyah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

 


BAB. VII

PASAL KE 7 PENJELASAN SIFAT HURRIYAH

الفصل السابِعُ فِى بَيَانِ الْحُرِّيَّةِ


PASAL KE 7 PENJELASAN SIFAT HURRIYAH

Daftar Isi Bab. VII “Menteladani Sifat Hurriyah Nabi Saw” Kitab al-Risalah Mutaba’atul Hasanah 

A. PENJELASAN TENTANG SIFAT HURRIYAH

1. Pengertian Hurriyah

2. Pengertian Hurriyah Menurut Istilah

3. Sifat-sifat Qalbu Yang Merdeka (Hurriyah)

4. Ukuran Kebebasan dan Kebenaran Manusia

5. Pendapat Ulama Sufi Tentang Hurriyah



BAB. VII

PASAL KE 7 PENJELASAN SIFAT HURRIYAH

الفصل السابِعُ فِى بَيَانِ الْحُرِّيَّةِ


A. PENJELASAN TENTANG HURRIYAH

1. Pengertian Hurriyah

Kata Hurriyah berasal dari bahasa Arab, ia adalah masdar atau terbitan dari kata kerja HARRA – YAHURRU Fahuwa HURRIYATAN.

(حر يحر فهو حرية بمئنى اى استقلال)

Hurriyah bermakna bebas ia, tidak terikat oleh yang lain, atau merdeka ia.

Menurut Artikel “Ringkasan AI Google” menyatakan bahwa Hurriyah (kebebasan/kemerdekaan) dalam konteks sifat qalbu (karakter hati) dalam Islam sering dikaitkan dengan konsep penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan kebebasan batin dari perhambaan selain kepada Allah Swt. Qalbu yang merdeka adalah qalbu yang sehat (qalbun salim) dan tidak terpenjara oleh hawa nafsu atau kecintaan duniawi.

Yang dikehendaki Hurriyah dalam pembahasan disini adalah Suatu keadaan yang dirasakan oleh seorang Salik,  ia telah bebas, tidak terikat oleh yang lain, atau merdeka dirinya dari pengaruh akwan dan agyar (gangguan- gangguan perasaan batinnya) dalam menuju Allah Swt. Salik pada saat ibadah, tawajjuh, muraqabah, musyahadah ataupun saat berdzikir, saat lapang, saat sempit atau saat kerja, saat berhubungan dengan masyarakat dan lain-lainnya. Pada saat itu Salik dapat menafikan, meleburkan, melenyapkan akan dirinya termasuk gerak dan diamnya adalah merasa milik Allah semata. Saat itu Salik merasakan benar-benar kebebasan dan kemerdekaan, ketidak terikatan rohaniyahnya.

2. Pengertian Hurriyah Menurut Istilah

Adapun Hurriyah menurut istilah Ahli Hakekat ada;ah keluarnya dari perbudakan kainat, yang dikehendaki disini pemutusan semua hubungan.

وأما الحرية فهو فى اصتلاح أهل الحقيقة : الخروج عن رق الكائنات والمرادتها وقطع جميع العلائق.

Hurriyah menurut istilah adalah bebasnya jiwa, hati dari ikatan segala sesuatu dengan pemutusan semua hubungan kecuali hanya kepada Allah Swt semata. Hurriyah adalah seorang Hamba tidak memperhambakan dirinya, atau tidak memperbudakan dirinya kepada semua makhluk lain selain kepada Allah Swt semata. Dirinya benar-benar merdeka dari semua akwan, Dirinya benar-benar bebas dari ikatan agyar dan kainat.

Dikatakan bahwa tujuan utama dari pada sesuatu  dan berhadap si Hamba kepada orang yang mempunyai sesuatu adalah termasuk Hurriyah. Dikatakan bahwa si Hamba tidaklah termasuk Hurriyah bila kau terima sesuatu selain Allah. Kesemuanya adalah pendekatan diri si Hamba kepada Allah adalah termasuk keharusan dan ia dituntut. Fiman Allah pada Surat al Hasyar ayat 9 :

...ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ... الحشر9

Artinya :"Mereka (al Muhajirin) mengutamakan/melebihkan dari pada mereka sendiri meskipun pada sesuatu yang mereka berhajat kepadanya........"QS. Hasyar ayat 9

3. Sifat-sifat Qalbu Yang Merdeka (Hurriyah)

Mengutip sebuah Artikel “Ringkasan AI Google” menyatakan bahwa berikut adalah sifat-sifat qalbu yang merdeka (hurriyah) menurut kajian tasawuf dan psikologi Islam:

a.. Hakikat Qalbu yang Merdeka (Hurriyah)Merdeka dari Hawa Nafsu: Qalbu tidak didikte oleh keinginan rendah (nafs ammarah), melainkan tunduk pada bimbingan akal sehat dan wahyu. Merdeka dari Makhluk: Hati hanya bersandar, berharap, dan takut kepada Allah, bukan kepada manusia atau materi.Memiliki Sifat Rabbani: Qalbu yang bersih mencerminkan sifat-sifat kebaikan (kasih sayang, kebenaran, kemaafan) karena menjadi pusat kehendak yang dididik oleh nilai-nilai ketuhanan.

b.. Sifat-Sifat Qalbu yang Sehat (Merdeka)Qalbun Salim (Hati yang Selamat): Hati yang suci dari syirik, penyakit hati, dan keraguan.Taqallub (Fleksibel dalam Kebaikan): Qalbu bersifat yataqallabu (mudah berbolak-balik). Dalam konteks positif, hati yang merdeka bergejolak untuk terus mendekat kepada Allah (kembali ke fitrah).Memiliki Nur (Cahaya): Mampu membedakan yang hak dan yang batil (kebijaksanaan).

c. Penghalang Hurriyah Qalbu (Penyakit Hati)Qalbu menjadi terpenjara ketika mengidap al-amradh al-qalbiyyah (penyakit hati), antara lain:Qaswah al-Qalb (Keras Hati): Hati yang kaku dan sulit menerima kebenaran.Ghaflah (Lalai): Lupa diri dan lupa kepada Allah.Hubbud Dunya: Cinta dunia secara berlebihan yang menjadikan hati terikat (tidak merdeka) pada materi.

d.. Cara Mencapai Hurriyah QalbuTazkiyatun Nafs: Menyucikan hati melalui taubat, zikir, dan muhasabah.Manajemen Qalbu: Mengenal potensi dan kelemahan hati agar bisa dikelola menjadi raja yang bijak dalam diri manusia, tidak didikte oleh syahwat.Dalam pandangan Sufi, ketika qalbu mencapai derajat merdeka (hurriyah), ia akan merasakan kedamaian sejati karena kembali ke jati diri aslinya, yaitu mengenal Allah (ma'rifatullah).

إنما آثروا على أنفسهم لتجردهم عما خرجوا منه وآثروا به.

Bahwasanya mereka melebihkan atas diri mereka sendiri untuk bersungguh-sungguh terhadap sesuatu yang mereka telah keluarkan dari padanya, mereka lebih mengutamakan al Muhajirin.

قال عليه  الصلاة والسلام :عزفت اى زهدت نفسى عن الدنيا فاستوى عندى حجرها وذهبها فالحر يؤثر الخلق بجميع الكائنات من الدارين, ولا يكون له سؤال ولا قصد ولا أرب ولاخط, ومقام الحرية عزيز, ومعظم الحرية فى خدمة الفقراء. وقيل أوحى الله تعالى إلى موسى عليه السلام إذا رأيت لى طالبا فكن له خادما.

Diktakan bahwa Allah Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Musa Alaihis Salam "Apabila keadaan engkau ingin  melihat kepada-Ku maka jadilah baginya sebagai pelayan."

إنما يكفى أحدكم ما قنعت به نفسه وإنما يصير إلى أربعة اذرع وشبرة و إنما يرجع الأمر إلى الأخرة.

Bahwasanya sesuatu yang mencukupkan oleh salah seorang dari mereka maka sesuatu itu telah diterima dengannya oleh  diri mereka sendiri. Bahwasanya sesuatu itu akan menjadi 4 langkah atau depa (meluas kuburnya). Sesungguhnya akan dipulangkan perkara tsb hingga ke akhirat.

Berkata Ustaz dan Syekh bahwa " Sesungguhnya hurriyah adalah memberi pengenalan dari pada bahwa tidak ada bagi si Hamba dibawah penghambaan makhluk". Dan tidak berlaku atasnya oleh Sultan yang diadakan.

Adapun ciri alamat benarnya hurriyah adalah gugur pikiran dari dalam hatinya antara segala sesuatu, maka samalah dari padanya lintasan - lintasan hati (garat) misalnya kemulaan, kehormatan, perangai yang terpuji.

Haris berkata kepada Rasul Saw : "Dirinya telah juhud dari dunia, maka sama bencinya dari saya akan batu dan emasnya."

Imam Qusyairi berkata, ia dengar gurunya Abu 'Ali ad Daqaq berkata : " Barangsiapa keluar hatinya atau lupa hatinya dari dunia, maka ia telah bebas atau merdeka dari dunia." Telah berpindah oleh hatinya ke negeri akhirat maka telah merdeka dari dunia.

Syekh Abdurrahman al Shiddiq di dalam Kitab  Fii 'Aqaidul Iman menyebutkan perkataan orang yang bersyair tentang Hurriyah yaitu : "Perkataan Syair "

سَأَلْتُ النِّدَى عَنْ خُلٍ وَفِى فَقَالُوْا مَا إِلَى هَذَا سَبِيْلٌ

تَمْسِكْ إِنْ ظَفِرْتَ بِنَبْلِ حُرٍّ فَإِنَّ الْحُرَّ فِى الدُّنْيَا قَلِيْلٌ

Telah aku tanyakan kepada manusia dari pada teman yang sempurna, Maka kata mereka itu kepada ku tiada ada jalan kepada mendapat ini teman.

 Berpeganglah engkau jika kau mendapat dengan tepi kain orang yang merdeka atau orang yang tiada terikat di alam dunia itu sedikit.

Berbuat baik meski tak dipuji tidak menjadi “Ikut-Ikutan” Relevansi Hurriyah di Era Media Sosial sekarang menuju Kemerdekaan Spiritual hidup lebih tenang dengan ikhlas Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah menasihati putranya, Sayyidina Hasan: Hai anakku Hasan “Janganlah Engkau menjadi hamba bagi orang lain. Karena Allah telah menjadikanmu merdeka.”

Pesan singkat ini mengisyaratkan makna mendalam: kebebasan sejati bukan sekadar bebas bergerak, melainkan bebas dari kebutuhan untuk diakui oleh manusia.

Di tengah budaya sosial yang penuh penilaian, banyak orang hidup bukan untuk kebenaran, tetapi untuk memuaskan pandangan manusia. Semangat berbuat baik naik turun tergantung pada pujian, komentar, atau penghargaan yang diterima. Padahal, menurut ajaran tasawuf, kondisi ini menunjukkan seseorang belum benar-benar merdeka (hurriyah) secara spiritual.

Berkata Imam Syafi'i rahimahullah tentang Hurriyah :

" الحر من راعى وداد لحظة  وانتمى لمن أفاده لفظة "

Maksudnya yaitu "Orang yang merdeka itu orang yang memelihara berkasih-kasihan satu lahzah dan membangsakan dirinya bagi pasangan memberi faidah akan dia satu ucapan."

Imam Qusyairi berkata, ia dengar gurunya Abu 'Ali ad Daqaq berkata : " Allah telah mewahyukan kepada Nabi Daud Alaihis Salam,  bilamana kau telah melihat kepada seseorang penuntut ilmu, maka bagi penuntut ilmu itu menjadi pelayan Gurunya, Kata Rasulullah Saw :

سيد القوم خادمهم

"Pimpinan atau Pembesar Kaum itu adalah menjadi pelayan dari pada Kaumnya."

Berkata Yahya bin Mu'az  :

Dibina kehidupan dunia ini sebagai pelayanannya si Hamba dan Pengibadat. Dan dibangun akhirat itu khadamnya oleh orang yang bebas dan orang yang berbuat baik.

Berkata seorang Syekh Sufi Ibrahim bin Adham : "Sesungguhnya Hurriyah itu adalah kebebasan, kemerdekaan ketidak terikatan jiwa yang mulya itu terlebih dahulu dari dunia pana ini,  sebelum jiwanya benar-benar keluar dari dunia ini. Dan katanya lagi :"Janganlah engkau bersahabat (dengan jiwa terikat dunia) kecuali bersahabat dengan orang yang hurriyah / yang bebas, merdeka dan lagi mulya, ia mendengar dan tidak banyak kata."

4. Ukuran Kebebasan dan Kebenaran Manusia

Dalam Islam, Kebebasan dan kebenaran tidak ditentukan oleh banyak bicara public atau komentar-komentar publik, melainkan oleh ridha Allah Swt. Oleh sebab itu, seseorang tidak boleh menunda kebaikan hanya karena tidak diapresiasi.

Rasulullah SAW mengingatkan:

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ، مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي ثَلْجٍ الْبَغْدَادِيُّ صَاحِبُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَفْصٍ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاطِبٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ لاَ تُكْثِرُوا الْكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي ‏"‏ ‏.‏ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي النَّضْرِ، حَدَّثَنِي أَبُو النَّضْرِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاطِبٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم نَحْوَهُ بِمَعْنَاهُ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاطِبٍ ‏.‏

Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, Muhammad bin Abi Thalj Al-Baghdadi, sahabat Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Ali bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abdulllah bin Haatib, dari Abdulllah bin Dinar, dari Ibn Umar, ia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: 'Janganlah kalian banyak berbicara tanpa mengingat Allah, karena sesungguhnya banyak berbicara tanpa mengingat Allah mengeraskan hati. Dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.' Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi An-Nadhr, telah menceritakan kepadaku Abu An-Nadhr, dari Ibrahim bin Abdulllah bin Haatib, dari Abdulllah bin Dinar, dari Ibn Umar, dari Nabi صلى الله عليه وسلم dengan makna yang sama.

Menurut penjelasan ulama, orang seperti ini justru akan makin tersakiti oleh manusia, karena ia menggantungkan kebahagiaannya pada makhluk yang sifatnya berubah-ubah.

Tidak semua yang merasa berjasa akan dikenang orang, dan tidak semua kebaikan mendapat balasan serupa. Mereka yang berbuat demikian dilihat manusia akan mengalami kekecewaan berulang, sebab manusia memiliki sifat lupa, berubah-ubah, dan terkadang suka menzalimi sesama. Sebaliknya, Allah Swt tidak menyia-nyiakan sekecil apa pun kebaikan manusia yang dilakukan dengan ikhlas.

5. Pendapat Ulama Sufi Tentang Hurriyah

الحرية هى أن لايكون العبد تحت عبودية المخلوقات. ويقال : الأعراض عن الكل والإقبال على من له الكل. ويقال أن لا يدخل قبلك سوى الله تعالى. وكلها متقاربة وهى ممدوحة ومطلوبة.

Kebebasan berarti tidak diperbudak oleh makhluk ciptaan. Dikatakan juga bahwa kebebasan berarti berpaling dari segala sesuatu dan berpaling kepada Yang Maha Memiliki segala sesuatu. Dan dikatakan pula bahwa kebebasan berarti tidak membiarkan apa pun masuk ke dalam hati kecuali Allah Yang Maha Kuasa. Semua definisi ini serupa, terpuji, dan diinginkan.

قال الله عز وجل : ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ... الحشر9, قال : إنما آثروا على أنفسهم لتجردهم عما خرجوا منه وآثروا به

Allah Yang Maha Kuasa berfirman: “Dan mereka mendahulukan orang lain daripada diri mereka sendiri, padahal mereka sangat membutuhkan…” (Al-Hashr 9). Dia berfirman: Mereka hanya mendahulukan orang lain daripada diri mereka sendiri karena mereka bebas dari apa yang telah mereka tinggalkan dan lebih memilihnya daripada diri mereka sendiri.

عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنما يكفى أحدكم ما قنعت به نفسه وإنما يصير إلى أربعة اذرع وشبرة و إنما يرجع الأمر إلى الأخرة

Dari Ibnu Abbas, yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Apa yang memuaskan jiwa seseorang sudah cukup bagi setiap orang di antara kalian, dan perkara itu pada akhirnya akan dipersempit menjadi empat hasta dan satu jengkal, dan penghakiman terakhir ada di akhirat.”

قال الاستاذ الشيخ : أن الحرية تتحدد فى ان لا يكون العبد تحت رق المخلوقات. ولا يجرى عليه سلطان المكونات. وعلامة صحته سقوط التمييز عن قلبه بين الأشياء (اى أمور الدنيا والأخرة.فلا يسترقه عاجل دنياه ولا آجل عقباه) فتتساوى عنده اخطارالأعراض.

Ulama terhormat itu berkata: “Kebebasan didefinisikan oleh kenyataan bahwa seseorang tidak diperbudak oleh makhluk ciptaan, dan tidak tunduk pada kekuasaan makhluk ciptaan. Tanda kebebasan yang sejati adalah tidak adanya perbedaan dalam hati seseorang antara hal-hal (yaitu, urusan dunia dan akhirat, sehingga kenikmatan sesaat di dunia ini maupun akibat akhirat tidak dapat memperbudak seseorang), dan dengan demikian semua bahaya menjadi sama di mata seseorang.”

قال حارث رضى الله عنه لرسول الله صلى الله عليه  وسلم : عزفت اى زهدت نفسى عن الدنيا فاستوى عندى حجرها وذهبها.

Harith (semoga Allah meridainya) berkata kepada Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya): “Aku telah berpaling dari dunia, sehingga batu dan emas di mataku sama nilainya.”

قال  الإمام القشيرى سمعت الأستاذ أبا علي الدقاق رحمهما الله تعالى يقول : من دخل الدنيا وهو عنها حر, ارتحل الآخرة وهو عنها حر. وقال أيضا : من كان فى الدنيا حرا منها كان فى الدنيا حرا منها.

Imam al-Qushayri berkata: Aku mendengar guru Abu Ali al-Daqqaq (semoga Allah merahmati keduanya) berkata: “Siapa pun yang memasuki dunia ini tanpa terikat olehnya, akan meninggalkan akhirat tanpa terikat olehnya.” Beliau juga berkata: “Siapa pun yang terbebas darinya di dunia ini akan tetap terbebas darinya di dunia ini.”

قال الأستاذ الشيخ : واعلم أن حقيقة الحرية فى كمال العبودية. فإذا صدقت لله تعالى عبوديته خلصت عن رق الأغيار حريته. فاما من توهم أن العبد يسلم له أن يخلع وقتا عذار العبودية ويحيد بلحظة عن حد المر والنهى. وهو مميز فى التكليف فذالك انسلاخ من ادين.

Syekh itu berkata: Ketahuilah bahwa kebebasan sejati terletak pada pengabdian yang sempurna. Jika pengabdian seseorang tulus kepada Allah Yang Maha Kuasa, maka kebebasannya terbebas dari belenggu orang lain. Adapun orang yang mengira bahwa seorang hamba dapat untuk sementara waktu melepaskan belenggu pengabdian dan menyimpang sesaat dari batas-batas yang diperintahkan dan dilarang, sementara ia masih terikat pada kewajiban agama, maka itu adalah penyimpangan dari agama.

قال الله سبحانه لنبيه صلى الله عليه وسلم : واعبد ربك حتى يأتي اليقين (سورة الحج 99) يعنى الأجل اجمع المفسرون. وان لالذى أشار إليه القوم من الحرية هو ان لا يكون العبد بقلبه تحت رق شيئ من المخلوقات. لا من اعراض الدنيا و لا من اعراض الخرة, فيكون فرد الفرد, لم يسترقه عاجل دنيا. ولا حاصل هوى ولا آجل منى, ولا سؤال ولا قصد ولا هدف ولا حط.

Hadis Qudsi bahwa Allah Yang Maha Kuasa berfirman kepada Nabi-Nya, صلى الله عليه وسلم: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepastian” (Surah Al-Hajj 99). Ini merujuk pada waktu yang telah ditentukan, sebagaimana disepakati oleh semua penafsir. Dan apa yang dimaksud para ulama sebagai kebebasan adalah bahwa hati seorang hamba tidak boleh diperbudak oleh apa pun yang diciptakan, baik oleh keinginan duniawi maupun keinginan akhirat. Dengan demikian, ia harus benar-benar bebas, tidak tersentuh oleh kesenangan duniawi yang sementara, pengejaran hawa nafsu, harapan jangka panjang, pertanyaan, niat, tujuan, atau keinginan akhirat.

وسئل دلف الشبلى : الا نعلم أنه رحمن ؟ فقال بلى ولكن منذ عرفت رحمته ما سألته  أن يرحمنى ومقام الحرية عزيز. وكان ابو العباس السيارى يقول : لو صحت صلاة بغير قرآن لصحت بهذا البيت : اتمنى على الزمان محالا ان ترى مقاتاي طلعة حر. واما أقاويل المشايخ فى الحرية. فقال الحسين بن منصور : من أراد الحرية فليصل للعبودية.

Delf al-Shibli ditanya: "Tidakkah kita tahu bahwa Dia Maha Penyayang?" Beliau menjawab: "Ya, tetapi sejak aku mengetahui rahmat-Nya, aku tidak meminta rahmat-Nya kepadaku, karena kedudukan kebebasan itu sangat berharga." Abu al-Abbas al-Sayyari biasa berkata: "Jika sebuah doa sah tanpa Al-Quran, maka doa itu akan sah dengan ayat ini: 'Aku berharap kepada waktu hal yang mustahil, agar kamu dapat melihat medan perangku dihiasi dengan wajah orang yang merdeka.'" Adapun perkataan para syekh tentang kebebasan, al-Husayn ibn Mansur berkata: "Siapa pun yang menginginkan kebebasan hendaknya berusaha untuk menjadi hamba."

سئل الجنيد عمن لم يبق عليه من الدنيا إلا مقدار مص ثواه بقال الكاتب عبدما بقي عليه درهم. ويقول الجنيد أيضا :إنك لاتصل الى صريح الحرية وعليك من حقيقية عبودية فيطهر السريرة وبين الله تعالى.

Al-Junayd ditanya tentang seseorang yang hanya memiliki sisa harta duniawi untuk hidup, dan juru tulis itu menjawab, "Dia adalah seorang budak yang hanya memiliki satu dirham." Al-Junayd juga berkata, "Kamu tidak dapat mencapai kebebasan sejati selama kamu berada dalam keadaan perbudakan sejati, maka sucikanlah batinmu dan hubunganmu dengan Allah Yang Maha Kuasa."

قال الحسين بن منصور : إذا استوفى العبد مقامات العبودية كلها يصير حرا من تعب العبودية, فيترسم بالعبودية بلا عناء...

Al-Husayn ibn Mansur berkata: Ketika seorang hamba telah memenuhi semua tingkatan perbudakan, ia menjadi bebas dari kerja keras perbudakan, dan ia mewujudkan perbudakan tanpa kesulitan...

....ولا كلفة.

وذلك مقام الأنبياء والصديقين, يعنى يصير محمولا لايلحقه, بقلبه مشقه, وإن كان متحليا بها شرعا.

...atau beban.

Itulah tingkatan para nabi dan orang-orang saleh, artinya ia menjadi begitu bebas sehingga tidak ada kesulitan yang menimpanya, bahkan jika ia secara hukum diwajibkan untuk melakukannya.

انشدنا منصور الفقيه لنفسه :

ما بقي فى الإنسان حر   لاولا فى الجن حر

قد مضى حر الفر بقيد    ن فحلو العيش مر

واعلم : أن معظم الحرية فى خدمة الفقراء

Mansur sang ahli hukum membacakan kepada kami, menyusun baris-baris ini:

Tidak ada kebebasan yang tersisa pada manusia, maupun pada jin.

Kebebasan seorang hamba telah berlalu, terikat oleh rantai, sehingga manisnya hidup menjadi pahit.

Ketahuilah bahwa kebebasan terbesar terletak pada melayani kaum miskin.

قال الإمام القشيرى سمعت الشيخ أبا علي الدقاق رحمهما الله تعالى يقول : أوحى الله تعالى إلى داود عليه السلام : إذا رأيت لى طالبا فكن له خادما, قال صلى الله عليه  وسلم : سيد القوم خادمهم.

Imam al-Qushayri berkata: Aku mendengar Syekh Abu Ali al-Daqqaq, semoga Allah merahmati mereka berdua, berkata: Allah Yang Maha Kuasa mewahyukan kepada Daud, semoga kedamaian menyertainya: “Jika kamu melihat seseorang yang mencari karunia-Ku, jadilah hambanya.” Nabi, semoga kedamaian dan berkah Allah menyertainya, bersabda: “Pemimpin suatu kaum adalah hambanya.”

يقول يحيى بن معاذ : ابناء الدنيا تخدمهم الإماء والعبيد و ابناء الآخرة يخدمهم الاحرار, وقال إبراهيم بن أدهم  : إن الحر الكريم يخرج من الدنيا قبل أن يخرج منها وقال أيضا : لاتصحب إلا حرا كريما يسمع ولا يتكلم.

Yahya ibn Mu’adh berkata: “Penduduk dunia dilayani oleh budak dan hamba, sedangkan penduduk akhirat dilayani oleh orang-orang merdeka.” Ibrahim ibn Adham berkata: “Orang merdeka yang mulia meninggalkan dunia ini sebelum ia meninggalkannya.” Beliau juga berkata: “Janganlah bergaul kecuali dengan orang merdeka yang mulia yang mendengarkan tetapi tidak berbicara.”

 

 Referensi  :

Google translate Indonesia https://www.google.com/search?q=translate+indonesia&rlz=1C1CHBD_idID1040ID1040&oq=&aqs=chrome.0.35i39i362j46i39i362j35i39i362l6.41287672j0j15&sourceid=chrome&ie=

Artikel “Ringkasan AI Google” https://www.google.com/search?q=Hurriyah+SIFAT+QALBU&sca_esv=3b6d4900261f3af2&rlz=1C1CHBD_idID1040ID1040&sxsrf=ANbL-n7HprpZV9ss1x1gArDb1_aA12RiMw%3A

Kitab  Fii 'Aqaidul Iman Oleh Syekh Abdurrahman al Shiddiq

Ar Risalah Qusyairiyah oleh Imam al Qusyari

Artikel “Merdeka dari Validasi Manusia: Rahasia Hurriyah dalam Tasawuf yang Sering Dilupakan”

https://nujateng.com/2025/11/merdeka-dari-validasi-manusia-rahasia-hurriyah-dalam-tasawuf-yang-sering-dilupakan/

Hadits Jami' At-Tirmidzi No. 2414 - Buku Zuhud dari Rasulullah // https://www.hadits.id/hadits/tirmidzi/2414





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...