Oleh : H.Hasan Baseri bin H Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi
A. Sayyid Hasyim
bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy Assegaf dan keluarganya berdomisili
lama di Kelurahan Randusari Kec.Semarang Selatan, kota Semarang, Jawa Tengah di
pasca Kesultanan Demak.
Pedagang-pedagang Arab pada abad 16 hingga 17 M sejak kesultanan Banjar dipimpin oleh seorang muslim, berdatanganlah para pendatang ke wilayah ini disamping untuk berdagang mencari rempah-rempah misi penting lain juga tidak terlewatkan untuk berdakwah (Gafur 2009).
Sejak awal abad ke-16 Masihi kemenangan Pengeran Samudera tersebut yakni mulai 24 September 1526M, Kerajaan Banjar berubah menjadi Kesultanan Banjar, Agama resmi kerajaan yang dulunya Hindu berubah menjadi Agama Islan. Pengeran Samudera (Pengeran Raga Buana) setelah masuk Islam menjadi atau bergelar Pengeran Suriansyah. Nama kotanya yang dulunya Bandarmasih menjadi Banjarmasin sekarang.
Pada abad ke-17 Masihi kesultanan Banjar mengalami kejayaan. Bandarmasih (Banjarmasin) sudah menjadi pelabuhan bebas sejak pertengahan abad ke-17, baik antar pulau maupun antar benua. Karena adanya pergeseran peranan pelabuhan di pesisir Jawa Timur ke daerah ini. Menurut Barra seorang peneliti sejarah, bahwa banyak jung Melayu, Inggeris, Portugis, dan lain-lainnya berlabuh di Bandarmasih (Banjarmasin). Hingga akhir abad ke-17M, lada sebagai primadona komoditi, dan emas semakin meningkat produksinya. Menurut Schrieke seorang peneliti sejarah, bahwa “pelabuhan Bandarmasih (Banjarmasin) telah menggantikan kedudukan pelabuhan Gresik. Perahu-perahu layar samudera pada abad ke 16-17 M sudah banyak dibuat oleh “pandai kapal” di Sungai Pandai Banjarmasin untuk dijual ke Jawa dan negeri lainnya.
1. Kelurahan Randusari Kec. Semarang Selatan
masa Kesultanan Demak
Wilayah Randusari
(yang kini dikenal sebagai kelurahan di Semarang Selatan) pada masa Kesultanan Demak. Sultan Demak pernah memerintahkan Sayyid Ki Ageng Pandan Arang (ia sdr.kandung Sunan Giri /Raden Ainul Yaqin), untuk membuka lahan
dan menyebarkan ajaran Islam di daerah pesisir yang saat itu bernama Pragota
(cikal bakal wilayah Bergota di Randusari, Semarang). Sayyid Ki Ageng
Pandanaran diangkat menjadi bupati atau pemimpin pertama di wilayah Semarang
dan sekitarnya di bawah naungan kekuasaan Kesultanan Demak.
Orang tua
Sayyid Ki Ageng Pandan Arang bernama :
Sayyid Maulana Ishaq (ayah) bin Jamaluddin al-Husaini bin Jalaluddin Khan, Siti Zainab (Ibu) dan
Istrinya Putri Adipati Pasuruan,
Keturunan : ~ Siti Umi Kamsum, ~ Kalkum Pekalongan, ~ Abdullah Kendal
dan ~ Abdurrahman Kaliwungu.
Sayyid Ki Ageng Pandan Arang
(disebut juga Pandanaran, Pandanaran I) adalah bupati pertama Semarang, yang
diangkat oleh Sultan Demak Bintara. Konon nama Semarang diberikan olehnya,
karena di tempat ia tinggal ditumbuhi oleh pohon asam yang jarang-jarang
(bahasa Jawa: asem arang). Ki Ageng Pandan Arang juga dikenal sebagai tokoh
penyebaran Islam di daerah tersebut. Meskipun sezaman dengan para Wali Sango,
ia tidak termasuk di dalamnya. Sayyid Ki Ageng Pandan Arang wafat, dimakamkan
di Mugassari, Semarang Selatan, Semarang.
2. Empat Darmaga Pelabuhan Kapal
masa Kesultanan Demak
Menurut Artikel yang saya
baca bahwa : “Kerajaan Demak mengusahakan kerja sama dengan penguasa
pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa yang telah menganut Islam. Darmaga Pelabuhan Gresik adalah salah satu
pelabuhan dagang strategis di pesisir utara Jawa yang berada di bawah pengaruh
dan jaringan maritim Kesultanan Demak pada abad ke-15 hingga ke-16 M. Kerajaan
Demak memiliki Darmaga-darmaga pelabuhan-pelabuhan perahu/ kapal layar penting,
seperti darmaga Jepara, darmaga Tuban, darmaga Sedayu, dan darmaga Gresik.
3. Keberadaan Darmaga Pelauhan Gresik masa Kesultanan Demak
Dermaga Pelabuhan Gresik pada
masa kejayaan Kesultanan Demak (abad ke-15 hingga awal abad ke-16) merupakan
salah satu bandar dagang internasional terbesar dan terbaik di Pulau Jawa.
Dikutif dari sebuah Artikel ttg "Pelabuhan Gresik", dimasa yang lalu bahwa "Salah satu tokoh yang
berpengaruh pada perkembangan perdagangan di Kota Gresik adalah Nyai Ageng
Pinatih. Beliau seorang saudagar kaya dan syahbandar di Pelabuhan Gresik.
Beliau mulai mendirikan pelabuhan ini pada pertengahan abad XIV, sejalan dengan
proses islamisasi di tanah Jawa. Pada masa itu Gresik menjadi bandar
perdagangan yang ramai. Kini Pelabuhan Gresik lebih berfungsi sebagai pelabuhan
penumpang dan barang. Abad XVI, Pelabuhan Gresik dapat menggeser peran
Pelabuhan Tuban sebagai pelabuhan besar dan utama di antara pelabuhan-pelabuhan
lain disekitarnya. Namun kebesaran Pelabuhan Gresik pada awal abad XVII tidak
seperti sebelumnya, karena politik ekspansi Sultan Agung sudah mengarah ke
Gresik dibantu Pangeran Pekik dari Surabaya".
Pelabuhan Gresik melayani
penyeberangan Gresik - Bawean dengan keberangkatan rutin sekali setiap hari.
Jadwal keberangkatan kapal secara rutin selalu dirilis operator dan otoritas
setempat secara berkala melalui berbagai media terkait. Pelayaran umumnya
ditempuh dengan durasi sekitar 4 jam melintasi Laut Jawa, bergantung situasi
dan kondisi terkini. Berikut adalah daftar operator penyedia layanan
penyeberangan kapal motor penumpang (KMP) di Pelabuhan Gresik.
4. Keberadaan Darmaga Pelauhan
Jepara masa Kesultanan Demak
Menurut Makalah “Ekspansi
Jepara Abad XVI dan Potensinya sebagai Suplemen Materi Pembelajaran Sejarah, dijelaskan
pada bab Pendahuluannya bahwa Jepara, sebuah kota kecil di pesisir Pantai Utara
Jawa, pada masa Kerajaan Demak berperan sebagai Pelabuhan militer dan Pelabuhan
dagang. Oleh karena itu, Jepara
dijadikan wilayah galangan kapal
oleh para pedagang dari luar, yang kemudian bermukim di Pesisir Pantai Jepara.
Nama "Jepara" berasal dari “Jung Para”, yang berarti tempat kapal
besar berlabuh atau singgahnya pedagang. Kala itu, Jepara menjadi pelabuhan
besar dengan lokasi yang aman, dikelilingi oleh beberapa wilayah dan pulau
sekitarnya, dan dianggap sebagai salah satu kota tertua di Jawa Tengah.
5. Keberadaan Sayyid Hasyim bin Muhammad dan keluarganya di Nusantara.
Sejarah menyebutkan bahwa
“Salah satu keturunan Nabi Muhammad Saw yakni Habib Hasyim (lhr.1613M) bersama keluarganya
dilaporkan melalui perjalanan panjang mereka bertolak dari Seiyun Hadramaut
menuju ke pelabuhan Turki terus menuju Asia Tenggara lewat Singapora menuju ke
pelabuhan Palembang terus menuju ke pelabuhan Gresik hingga tiba di Demak Jawa
Tengah pasca Kesultanan Demak.
Keberadaan dan kedatangan Sayyid
Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy Assegaf
dan
keluarganya di Asia Tenggara dan berdomisili lama di Nusantara pasca Kesultanan
Demak, tepatnya di Kelurahan Randusari, Kec.Semarang Selatan, kota Semarang,
Jawa Tengah.
Sayyid Hasyim bin Muhammad
Assegaf diperkirakan hidup abad ke-17 Masihi. Abad ke-17 dihitung dari tahun
1601-1700 Masihi. Ia dengan kedua anaknya (Hasan & Idrus kecil 11 sd.13 thn)
dan cucunya Sayyid Abu Bakar mereka berasal dari Seiyun Hadramaut, Negeri Yaman atau Yordania.
Sayyid Abu Bakar adalah nama yang diberikan orang tuanya, ia
lahir diperkirakan tahun 1079H/1668M di Seiyun Hadramaut. Setelah dewasa ia
menikah dengan perempuan shalihah di kota kelahirannya, dan punya anak diberi
nama “Shalih” (Ahmad Shalih). Kemudian sa’at itu Sayyid Hasyim dan Sayyid Hasan
anaknya ingin pergi berpetualang ke Asia Tenggara, Sayyid Abu Bakar ikut juga berpetualang
berdagang dan mencari rempah-rempah bersama ayahnya Sayyid Hasan dan kakeknya
Sayyid Hasyim yang sudah sepuh. Pertualangan mereka tersebut mengikuti pertualangan Sayyid Abdurrahman al Muallim bin Muhammad
bin ‘Aly Assegaf (dia orang tua Sayyid Umar ash-Shaafy)
diabad ke-16 Masihi masa Kesultanan Banjar dipimpin oleh Sultan Suriansyah. Perjalanan panjang mereka ke Asia hingga
Asia Tenggara dan tiba di Nusantara, mereka berangkat mulai kota tanah kelahirannya
Seiyun Hadramaut, ke Turki, terus melalui Singapore ke Aceh terus ke Pelembang,
hingga tiba ditempat tujuan pesisir
utara Jawa yakni Darmaga Pelabuhan Gresik, Demak Jawa Tengah di diakhir abad
ke-17 antara tahun 1684 sd. 1690M.
Setelah singgah dan menetap atau
berdomisili yang lama di Darmaga Pelabuhan Gresik, mereka belajar ttg. Bahasa,
Adat-istiadat /budaya Malayu
dan Jawa sehingga mereka
bersikaf/ terbiasa dengan adat Malayu dan Jawa, lembut dan sopan dan juga
sangat pasih berbahasa Malayu Indonesia, khususnya Sayyid Hasan dan Abu Bakar pasih
berbahasa Melayu dan Jawa, kemudian mereka pindah ke Darmaga Pelabuhan Jepara
dan menetap disekitarannya. Di provinsi kota inilah akhir Abad ke-11H (dihitung
dari tahun 1592 sd. 1689M) kakeknya Habib
Hasyim wafat sekitar tahun (1686M/Rmdhan.1097H) dan bermakam, begitu juga kalek
Habib Idrus Assegaf sa’at datang menziarahi ayahnya sayyid Hasyim dikota ini,
ia jatuh sakit, mungkin karena kelelahan, badannya terus melemah hingga wafat dan
makamnya berdampingan dengan ayahnya dikota ini, tepatnya Kelurahan Randusari,
Kec. Semarang Selatan, kota Semarang Jawa Tengah.
6. Sayyid
Hasyim dan keluarganya pernah menetap di Darmaga Pelabuhan Gresik dan Darmaga
Pelabuhan Jepara Semarang.
Pada mulanya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan
beserta anaknya Sayyid Abu Bakar Assegaf mereka pergi berniaga meninggalkan
Habib Hasyim ayahya yang (sudah sepuh) dan Idrus adik bungsunya (yang masih
kecil 11-13 thn) mereka berniaga
di Darmaga Pelabuhan Gresik dan sekitarannya
selama bertahun-tahun lebih, kemudian mereka sekeluarga pindah ke Darmaga Pelabuhan Jepara kota Semarang. Mereka berniaga di Darmaga Pelabuhan Jepara
dan sekitarannya lebih dari bertahun-tahun lamanya, tetapi Mereka menetap di
Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan. Namun dari kota ini, mereka ingin
mengembangkan dan meningkatkan (bisnis) hasil perniagaan mereka, seiring waktu
terus berjalan, dua haul sudah wafatnya ayahanda Sayyid Hasyim telah
berlalu, akhirnya mereka bertolak berlayar dari Pelabuhan Jepara Semarang pasca
Kesultanan Demak berlabuh menyeberangi laut Jawa-laut Bornio untuk (yang kesekian kalinya) menuju
Kesultanan Banjar.
Menurut ceritra datuk-neni kami bahari dan kisah orang-orang tua yang saya temui bahwa “di Abad ke-16 Masihi masa kejayaan Kesultanan Demak dan untuk (memenuhi janji Sultan Banjar sabubuhan rakyatnya musti masuk Islam), mengetahui prihal tersebut Sayyid Abu Bakar bersama orang tuanya Sayyid Hasan yang sudah bertahun-tahun menetap di Darmaga Pelabuhan Kapal Gresik, Jawa Tengah. (sebelum mereka menetap di Kelurahan Randusari Semarang), mereka marasa terpanggil, tergerak hati mereka /ada rasa tanggug jawab hingga mereka datang ke Kasultanan Banjar, tujuan utamanya mengislamkan orang-orang Banjar, disamping berniaga (Hambal, Permadani, Sajadah, Kain Sarung dan berbagai jenis Perhiasan Wanita), mereka juga mencari madu dan rempah-rempah untuk dijual kembali, mereka menyeberangi laut Jawa-Bornio pertama kali naik Perahu layar “Jung Banjar” sebelum wafat ayah mereka dan tiba di tempat tujuan yakni sebelum mereka menetap lama dipelabuhan kapal Kampung Sungai Mesa Bandarmasih (Banjarmasin, Kalsel)”.
Di
Darmaga Pelabuhan kota ini mereka mulai mempelajari Bahasa Banjar
kepada orang-orang Banjar yang ada disekitarnya dan mengenali adat istiadat budaya
mereka. Hal itu dilakukan sebagai bentuk upaya untuk memenuhi penyampaian misi
dakwah Islam kepada masyarakat Banjar. Sehingga tatkala mereka berinteraksi
dengan orang-orang Banjarmasih lainnya tidak mengalami hambatan, tiada
mengalami kesulitan dan selalu berjalan dengan baik.
Sayyid Hasan diperkirakan (w. Sel.19 Sya'ban 1132H/1720M di Desa Taniran Kubah) dan keluarganya, Dzuriat Rasulullah SAW
tersebut konon berasal dari Seiyun Hadramaut, dan menginjakkan kaki pertama di
pelabuhan kapal Bandarmasih (nama kota lama Kota Banjarmasin) di Kesultanan
Banjar. Setelah beberapa waktu menetap berbulan-bulan di Pelabuhan Kampung
Sungai Mesa sambil menghabiskan barang dagangan, dan mereka membeli madu dan
rempah-rempah merekapun kembali lagi pulang ke Demak menemui Habib Hasyim
ayahnya yang ditinggalkan bersama anak bungsunya Habib Idrus.
Adapun Jenis Perahu /Jukung
yang ditumpangi Sayyid Hasan beserta anaknya sayyid Abu Bakar ketika menyeberang
laut Jawa-Kalsel adalah perahu layar “Jung Banjar”
Namanya Hasan bin Hasyim bin
Muhammad bin Umar as-Shoufy Assegaf. Nama ayahnya adalah Habib Hasyim Assegaf
diperkirakan wafat Ramadhan 1097H/ 1686 Masihi, ada yang berkata bahwa Hasyim
sudah sepuh ketika menetap lama kel. Randusari. Ia tinggal disana hingga wafat
di pasca Kesultanan Demak, yakni Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan,
Semarang, Jawa Tengah. Hasan lahir di Seiyun Hadramaut, diperkirakan tahun
1044H/1634M. Versi yang lain dan kuat menyebutkan bahwa, ia lahir di Tarim Hadramaut.
Sebagian orang ada yang berkata bahwa : Usia Sayyid Hasan ketika ia datang ke
Desa Taniran, sudah usia sepuh, yakni antara 68-70 tahunan begitu juga usia anaknya
Sayyid Abu Bakar sekitar 35-40 tahunan.
Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf Desa Taniran w.1720M
B. Sayyid
Hasan dan Sayyid Abu Bakar beserta keluarganya singgah menetap lama di Darmaga
Pelabuhan Perahu Sungai Mesa Bandarmasih.
Namun perjalanan mereka yang kesekian kalinya, mereka menyeberangi laut Jawa-laut Kalsel dan menuju ke Kasultanan Banjar, (busu) Habib Idrus bin Hasyim Assegaf baru diikutsertakan bersama saudaranya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan Sayyid Abu Bakar Assegaf keponakannya, mereka membawa misi dakwah pergi berniaga berlayar dan tiba lagi di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa kota Bandarmasih, pada kali ini mereka menetap lama/ berdomisili lama dipelabuhan tersebut, diakhir abad ke-17 Masihi dan dipekirakan mulai menetap tahun 1689 Masihi di akhir abad ke-11 Hijeriah.
Namun perjalanan mereka yang kesekian kalinya, mereka menyeberangi laut Jawa-laut Kalsel dan menuju ke Kasultanan Banjar, (busu) Habib Idrus bin Hasyim Assegaf baru diikutsertakan bersama saudaranya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan Sayyid Abu Bakar Assegaf keponakannya, mereka membawa misi dakwah pergi berniaga berlayar dan tiba lagi di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa kota Bandarmasih, pada kali ini mereka menetap lama/ berdomisili lama dipelabuhan tersebut, diakhir abad ke-17 Masihi dan dipekirakan mulai menetap tahun 1689 Masihi di akhir abad ke-11 Hijeriah.
Sungai Mesa
merupakan sebuah kampung
tua di Kota Banjarmasin
(Bandarmasih dahulu). Kampung ini dibangun oleh seorang tokoh yang dikenal
dengan nama Kiai Mesa Jaladri. Tidak diketahui persis, kapan Kiai Mesa
membangun wilayah ini, yang jelas sejak itu Kampung Sungai Mesa menjadi wilayah
tempat tinggal yang strategis. Letaknya yang persis di tepi sungai Martapura,
membuat daerah ini menjadi semacam pelabuhan kecil tempat menaik-turunkan
barang dagangan dari perahu (kapal). Di seberang Sungai Mesa adalah Jalan Pasar
Lama Laut yang sekarang menjadi
pusat perkantoran pemerintah Provinsi Kalsel” (Artikel Kajian al Kahfi).
Salah satu pasar yang sering
dikunjungi Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar anaknya ketika menetap di Kampung
Sugai Mesa Bandarmasih yakni berniaga lewat transportasi air menggunakan “Jukung Bakapih” adalah pasar terapung dan sekitarnya. Pasar
terapung adalah yang awalnya terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling.
Menurut
penelitian H. Achmad Mawardi seorang pakar Pemerhati budaya dan lingkungan
bahwa “Berdasarkan kenyataan arkeologis dan historis, jukung-jukung orang
Banjar masih banyak terdapat dan digunakan di perairan Kalimantan Selatan.
Bahkan pasar terapung di daerah ini, diketahui sudah ada sejak 400 tahun yang
lalu. Diperkirakan pasar
terapung dan juga di
tebing sungai sudah ada pada tahun 1530 Masehi pada masa pemerintahan Sultan
Suriansyah (Pangeran Samudera) yang terletak pada pertemuan
Sungai Karamat dan
Sungai Sigaling.
Kemudian bergeser ke
tepi sungai Barito di daerah muara Sungai
Kuin menjelang akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Masehi. Pasar terapung di
sungai Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, mungkin sudah ada pada abad ke-16
tetapi bisa juga baru menjadi umum ketika perpindahan keraton Banjar ke kawasan
Kayu Tangi Martapura sejak awal abad ke-17 Masihi tahun 1612M.
Adapun Jenis Jukung yang digunakan
Sayyid Hasan beserta anaknya sayyid Abu Bakar ketika membawa misi dakwah sambil
berniaga di wilayah dekat Bandarmasih misalnya tepi sungai
Barito di daerah muara
Sungai Kuin, tepi aliran Sungai Karamat dan tepi aliran Sungai Sigaling adalah menggunakan perahu “jukung
Bakapih” yang mereka beli dari masyarakat setempat.
Sayyid Hasan adalah saudagar kaya ayah sayyid Abu Bakar bersama keluarganya sebelum berhijerah ke Sungai Pinang Negara, mereka lama menetap di Sungai Mesa Bandarmasih, diperkirakan mulai tahun 1689 Masihi pertengahan dan akhir abad ke-17 Masihi, Abad ke-17 dihitung dari tahun 1601 sd. tahun 1700 M. Sayyid Abu Bakar sempat menikah dengan perempuan salihah di kampong ini dan punya keturunan an. Sayyid Abdurrahman sa’at menetap di kampong ini. Penulis belum dapatkan keterangan yang jelas ttg tahun pernikahan Sayyid dan dzuriat Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang masih hidup sa’at ini.
Menurut salah satu Artikel yang pernah saya baca menyebutkan bahwa “Pemukim dari golongan sayyid yang terhitung orang lama (tua) di Sungai Mesa adalah Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, ia diperkirakan lahir di Sungai Mesa Bandarmasih antara tahun 1720-1725 Masihi, awal abad ke-18 M. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf mempunyai 3 orang saudara kandung bernama Umar, Muhdor dan Muhammad. “Pekerjaan Habib Ahmad berdagang kayu ulin, juga membawa tajau, belanga berdagang dengan urang Dayak,” cerita Syarifah Nikmah.(Artikel Kajian al Kahfi).
C. Nasab silsilah Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Abu Bakar bin Hasan bin Habib Hasyim Assegaf..
Diceriterakan bahwa Sayyid Alwi yang melalui perjalanan
panjang dari Negeri Hadramaut menuju ke negeri Turki terus menuju negeri Asia
Tenggara Singapore - Indonesia ke
Pelembang terus ke Darmaga Pelabuhan Gresik yang terletak di Provinsi Jawa
Timur, Wilayah ini berada di kawasan pesisir utara Pulau Jawa, tepat di sebelah
barat laut Kota Surabaya. Ia terus berlayar menuju ke
Bandarmasih, tiba di Sungai Mesa mencari datuknya
Sayyid Abu Bakar. Ia adalah Buyut
Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
Namun prihal itu maksudnya (pernikahan Sayyid Abu Bakar dengan wanita Sungai Mesa) terjadi sebelum kedatangan Buyut pertamanya sayyid Abu Bakar yakni Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Habib Abu Bakar Assegaf ke Nusantara sekitar abad ke-19 Masihi. Dimasa Kesultanan Banjar dipegang oleh Sultan Adam.
Sekitar pada Agustus 2023
Masihi Penulis baru menemukan Nasab silsilah Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih
bin Habib Abu Bakar Assegaf dan keturunannya yang bermula dicatat dari Habib
Abdul Qadir al Jailani :
الْحَبِيْب عَبْدُ القَدِيْر الْجَيْلَانِيِّ
بِنْ عَلْوِىْ بِن زَيْنْ بِنْ عَلِيٍّ بِنْ عَلْوِىْ بِنْ عَبْدِاللهِ بِنْ صَالِح
بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ
[عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً
عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ
سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ
بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد
بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه
Habib
Abdul Qadir al-Jailani
bin
Alwi
bin
Jain
bin
‘Ali
bin
Alwi
bin
Abdillah
bin
Shalih
bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.
bin Hasan w.1720M
bin Hasyim w.1687M/18Rmdhn.1097M
bin Muhammad
bin Umar ash-Shoufy
bin Abdurrahman
bin Muhammad
bin Ali w.840H
bin Sayyidina Syekh Al-Imam
Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)
bin Syekh Muhammad (Maula
Ad-Dawilah wafat 665 H))
bin Syekh Ali (Shahibud Dark)
w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
bin Sayyidina Al-Imam Alwi
Al-Ghuyur (w.669 H)
bin Sayyidina Al-Imam
Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)
bin Sayyidina Ali Walidul
Faqih
…………………………………………
Menurut Artikel Sejarah Ahlul
Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesia menyebutkan bahwa “Seorang
dari keluarga Assegaf bernama Sayyid Alwi (w.1842M) bin Abdillah bin Shalih bin
Abu Bakar bin Hasan Assegaf dilaporkan melalui perjalanan panjang dari Hadramaut-ke Pelabuhan Turki-ke
Pelabuhan Palembang- ke Pelabuhan Gresik, sebelumnya ia menyinggahi Banjarmasin
dan sempat bermukim di Kampung Sungai Mesa. Alwi kemudian menetap di Martapura
(Kampung Melayu) dan mendapat hadiah tanah dari Sultan Adam di daerah Karang
Putih. Kemudian ia dan anak cucunya bermakam di tanah pemberian Sultan tersebut
(makam Karang Putih Jl Menteri Empat Martapura) ”(Fakhrul 04-2012M).
D. Sayyid Hasan dan Habib Abu Bakar bersama keluarganya berhijerah dari Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih dan tiba di Margasari dan menetap di Darmaga Pelabuhan Perahu Kapal Margasari.
Ada yang mengatakan bahwa Islam mulai masuk ke Kalimantan Selatan abad ke 15M sampai abad ke 18M. Pada Abad ke-17M sampai ke-18M adalah masa puncaknya perkembangan agama Islam di Kalimantan Selatan dan masa keemasan Kerajaan Banjar. Adapun puncak keemasan Kerajaan Banjar dan perkembangan Islam ditandai datangnya syekh-syekh Islam/ para Habaib ke Banjar.
Namun seiring waktu, lebih dari tiga-empat tahun berlalu tanpa mereka rasakan, sa’at menetap di kampung Sungai Mesa Bandarmasih. Kemudian Sayyid Hasan bersama keluarganya ingin hijerah (berpindah) dari kampung Sungai Mesa tersebut ke Pelabuhan sungai Pinang Negara diperkirakan diakhir abad ke-17 Masihi. Yang sebelum berpindah ke Sungai Pinang Nagara, mereka lebih dahulu mampir di kota Candi Laras Pelabuhan Kapal Margasari dan akhirnya menetap. Dari Pelabuhan ini mereka lebih dekat berdakwah dan berniaga ke pelusuk-pelusuk kampung penduduk yang tinggal dipinggiran / tepi aliran Sungai Balimau, dan Sungai Rutas, aliran Sungai Tapin dan Nagara.
Diceritrakan pula bahwa “Terus dari situ (Barito Kuala) mereka menuju aliran sungai Margasari (Kab. Tapin) tiba di pelabuhan Margasari. Ia pusat (kota Candi Laras-Agama Hindu) kemudian di Margasari ini mereka singgah /menetap lama. Mereka berniaga dan berdakwah di Margasari dan sekitarnya hingga hulu sungai Tapin selama bertahun-tahun. Sehingga Sayyid Abu Bakar bin Hasan tak menutup kemungkinan ketika berada di wilayah ini bahwa ia menikah lagi dengan wanita shalihah yang ada di tepi aliran Sungai Margasari dan punya anak. Wallaahu A’lam.
Diceritrakan awal mulanya bahwa “Setelah mengetahui dan mengerti seluk beluk arah jalan transportasi yang akan dituju, Mereka pun mulai mudik dari Bandarmasih menyisir tepi sungai Barito dengan perahu/ jukung Bakapih yang sangat sedarhana, membawa dagangannya berupa kain sarung dan perhiasan wanita, menuju aliran sungai Alalak, aliran sungai Gampa dan aliran sungai Barito Kuala (penduduk aslinya suku Dayak Bakumpai) setiap ada tumpukan rumah penduduk di tepi aliran sungai yang mereka lalui mereka singgahi, bahkan menginaf (bamalam) ditempat itu, menawarkan barang dagangan yang mereka bawa”.
D.Sayyid Hasan bersama keluarganya dan Sayyid Abu Bakar anaknya berpindah domisi dari Darmaga Pelabuhan Kapal Margasari dan tiba di Darmaga Pelabuhan Sungai Pinang dan menetap di sana.
Pada awalnya mereka berniaga ke areal pasar terapung dan sekitarnya menggunakan perahu sendiri yakni (Jukung Bakapih), kemudian juga ada keinginan mereka berdagang ke tempat yang jauh seperti (psr. Alalak, psr. Sungai Gampa, psr. Barito Kuala, psr. Margasari dan psr. Nagara) mereka berdagang meniti Pasar yang mereka tempuh dalam waktu satu-dua pekan atau satu bulan, mereka naik taxi PP “Perahu Tambangan” baru mereka kembali lagi pulang ke Pelabuhan Sungai Mesa.
Kebiasan orang-orang yang jarang dilakukan pedagang sekarang adalah Para pedagang dahulu, mereka selalu datang membawa barang yang akan dijual ke pasar yang dituju, mereka datang disore hari, atau menjelang malam pasar mereka datang dan juga mereka lebih dulu menginaf (bamalam) di pasar atau nginaf (rumah penduduk yang dekat pasar). Diwaktu menginaf (bamalam) inilah Sayyid Hasan dan anaknya banyak waktu menyampaikan misi dakwah Islam (bakisah ttg Islam, dilengkapi pantun, syair-syair, dan yang dibumbui sedikt homor) kepada masyarakat setempat.
Selanjudnya setelah mereka
menetap lama di Margasari, mereka mencari lahan baru untuk berdakwah, tetapi
mereka tidak melupakan lahan yang lama. Maka merekapun berpindah ke Nagara,
Daha. Perjalanan ini mereka tempuh tanpa naik taxi Perahu Tambangan yang besar,
tetapi menggunakan Perahu sendiri, berhari-hari, satu atau dua pekan mereka
mengayuh perahu/ jukung, bahkan perjalanan
berbulan-bulan, mereka meliwati kampung-kampung, melalui desa-desa hingga tiba di tempat tujuan yakni Pelabuhan sungai
Pinang Negara yang sering mereka kunjungi setiap pekan,
sa’at naik taxi Perahu Tambangan yang besar”.
Menurut ceritra datuk-neni kami bahari dan kisah orang-orang tua yang saya temui bahwa Sayyid Hasan bersama keluarganya menetap di Pelabuhan Sungai Pinang Negara. Sebelumnya mereka menetap sekitar satu-dua tahun di kota candi laras Margasari. Kemudian Saudagar kain ini bersama keluarganya berhijerah dari kota candi laras Margasari Tapin pindah ke Pelabuhan sungai Pinang, Nagara, mereka menetap lama di Pelabuhan ini, diperkirakan tahun 1695-1700 Masihi hingga akhir abad ke-17 Masihi.
Sayyid Abu Bakar sempat menikah dengan wanita salihah Putri Inang (anak Dayang bekas pegasuh Putri raja Daha) dan punya anak /keturunan salah satunya yang terungkap dan terverifikasi an. Sayyid Abdul Hamid bin sayyid Abu Bakar Assegaf sa’at menetap di Sungai Pinang ini, hingga ada dzuriat nasab Habib yang ber-Fam Assegaf, yakni Alhabib Seggaf bin Abdul Hamid Assegaf (Kramat Assegaf Sungai Pinang) Alamat; Samping Kantor Desa Sungai Pinang-Nagara, KM.37. Kecamatan Daha Selatan. Kab. HSS Kalsel.
Mereka berniaga ke pasar Negara, pasar
Margasari hingga mudik sungai
Tapin, sampai ke Sungai Balimau. Saudagar Kain ini selalu menginaf (bamalam) di pasar /menginaf
(rumah penduduk) dimalam awal pasar yang dikunjuginya tersebut.
1. Keturunan Nabi marga/fam al saqqaf (Assegaf) yang ada di Indonesia ini umumnya adalah generasi ke-38 atau ke-39 tahun 2022.
Diawal bulan Juni 2025 ada
orang yang ngaku nasabnya sampai hingga
Habib Abu Bakar dan ia dari kota Palangkaraya minta konvirmasi ttg nasab
keluarga Habib Abu Bakar Lumpangi, ia ingin mendaftarkan nasabnya ke Rabithah. Kalau nasabnya seperti
ini, dan jumlah nasab generasinya antara
38-39 orang ke anaknya masih memenuhi syarat tahun ini :
Sebab menurut penelitian
Pakar Nasab menyebutkan bahwa “ marga tertua atau fam tertua dari puluhan
marga/fam Dzuriat Nabi Muhammad Saw yang ada di Indonesia ialah al saqqaf
(Assegaf). Lalu Assegaf ini tinggi, Keturunan Nabi yang ada di Indonesia ini
umumnya adalah generasi ke-38 atau ke-39 tahun 2022".bahkan kalau dilihat
nasab Dzuriat Datu Habib Lumpangi di Kalimantan Selatan sampai generasi ke-40
dan generasi ke-41 di tahun yang sama.
Adapun silsilah Nasabnya
menurut Habib H. Abdullah bin H,Hubbul
Wathan Assegaf sebagai berikut :
Habib H.Abdullah
bin H.Hubbul Wathan
bin H.Muhammad
bin Muhammad Arsyad
bin Jafri
bin Abdul Hamid
bin Abdurrahman Assegaf
Ketapang Kec. Bakarangan Rantau
bin Segaf (Desa Sungai Pinang, Nagara)
bin Abdul Hamid (orang tua
Habib Segaf Desa Sungai Pinang Nagara)
bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.
bin Hasan w.1720M
bin Hasyim w.1686M/18
Ramadhan 1097H
bin Muhammad
bin Umar ash-Shoufy
bin Abdurrahman
bin Muhammad
bin Ali w.840H
bin Sayyidina Syekh Al-Imam
Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)
bin Syekh Muhammad (Maula
Ad-Dawilah wafat 665 H))
bin Syekh Ali (Shahibud Dark)
w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
bin Sayyidina Al-Imam Alwi
Al-Ghuyur (w.669 H)
bin Sayyidina Al-Imam
Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)
bin Sayyidina Ali Walidul
Faqih
2. Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar anaknya berdakwah ke kampong- kampong dan ke pelusuk-pelusuk dusun di Hulu Sungai Selatan.
Namun seiring waktu berjalan, setelah mengetahui dan mengerti
seluk beluk arah jalan transportasi menuju Hulu Sungai, pada akhirnya dari
Pelabuhan Sungai Pinang tempat menetap, Saudagar Sayyid Hasan dan Sayyid Abu
Bakar naik jukung/perahu sendiri membawa misi dakwah sambil berniaga melewati kampung-kampung
atau desa-desa dan bahkan Saudagar Kain ini sering kali menginaf (bermalam) di
kampung-kampung atau desa-desa yang disinggahinya, kampung atau desa Garis
singgah, di desa Bangkau singgah, melewati desa Tawar singgah, kemudian menuju
ke Sungai Balimau, di desa Sungai Kupang singgah kemudian menuju jalur aliran
Sungai Hamandit, hingga tiba di Darmaga pelabuhan Perahu Amawang (Hamawang) di Hulu Sungai
Selatan Kandangan.
Adapun letaknya sekarang pasar “Darmaga pelabuhan Perahu Amawang” disekitaran tepi aliran
Sungai Hamandit mulai Pandai
Muka, Jembatan 3 Desemer sd. kampong Gitik Sungai Kalang, atau Desa Amawang Kiri.
Ditepi Sungai atau pinggiran aliran Sungai Hamandit Desa Amawang, Sayyid Hasan dan Abu Bakar anaknya beserta Sayyid Idrus adik Sayyid Hasan dan keluarganya, awal mulanya mereka tinggal /menetap dekat Darmaga Pelabuhan Parahu Amawang.
E. Jalur transportasi Masyarakat dahulu mereka menggunakan alat Jukung Perahu untuk hilir-mudik melalui aliran anak Sungai Hamandit di Kandangan.
1. Aliran anak sungai Hamandit kandangan yang bermuara Pandai muka, yakni aliran anak Sungai
simpang lima Kandangan alirannya terus hulunya menuju ke Musyawah terus hulunya menuju
ke Durian Sumur (belakang rumah Kayi suntik alm
H.Tohri), terus ke Jl. Al Falah, terus melintasi Jl. Biluy terus hulunya menuju ke Kandangan Hulu
dua dan bertemu /bersambung
sungai Hamandit di Kandangan Hulu II.
2. Aliran anak sungai Hamandit Kandangan yang bermuara
dekat jembatan tiga Desember (muka rumah alm.H.Huray) pandai tengah terus hulunya ke Karkup terus hulunya menuju ke
Gambah luar (belakang Masjid Al-Abrar) terus
hulunya ke Bakarung, menuju
ke aliran Sungai Kudung kemudian aliran sungai
membelah dua, ke Taniran.Selatan. Kalua terus hulunya
menuju ke Tabihi terus
hulunya menuju ke Karang
Jawa dan bertemu /bersambung
sungai Hamandit disini.
F. Para Sayyid mereka telah menyebar ke Kampong-kampong, ke pelusuk-pelusuk dusun membawa misi dakwah Islam
Menurut ceritra datu-datu dan neni kami bahari dan kisah orang-orang tua yang saya temui bahwa “Sayyid Hasan dan keluarganya, Mereka pun berdakwah di kampong Amawang, Kandangan ini dan sekitarnya selama bertahun-tahun” salah satu metode dakwah yang sangat digemari dan diminati masyarakat sa’at itu adalah dakwah Islam (BAKISAH misalnya ttg cinta Rabiatul dengan Hasan al Basri, dilengkapi pantun, syair-syair, shalawat, kata-kata mutiara, kata filusufi dan yang dibumbui berikteng, sedikt homor, rayuan gumbal) disampaikan kepada masyarakat setempat. hingga masyarakatnya benar-benar gembira menerima suka rela dan mengenal Islam dengan baik.
Kemudian setelah itu “Beranjak dari Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang Keluarga Fam Assaqqaf ini, mereka telah menyebar membawa misi dakwah Islam serta berniaga ke desa-desa dan ke kampung-kampung dan juga kepelusuk-pelusuk dusun yang belum pernah dijamah Islam dan belum mengenal Islam dengan baik”. Misalnya sayyid Hasan beranjak dari Darmaga Pelabuhan Parahu Amawang membawa misi dakwah Islam dan berniaga terus menuju psr. Pelabuhan Perahu Sungai Kudung dan singgah disana, kemudian terus berhijrah menuju ke kampung Taniran dan sekitarnya. Setelah membantu ayahnya berdakwah di kampung Taniran ini bertahun-tahun, kemudian Sayyid Abu Bakar pergi membawa misi dakwah Islam dan berniaga ke Hulu Banyu desa Lumpangi dan sekitarnya.
Setelah beberapa waktu berada
di Darmaga Pelabuhan Amawang, Kab. Hulu Sungai Selatan ini, maka terjadi
pembagian tugas dan lokasi misi dakwah. Sayyid Hasan, karena sudah sepuh (berumur
lanjut) sering sakit-sakitan maka Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar
ash-Shoufy bin Abdurrahman bin Muhammad Assegaf
berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah dan tidak terlalu banyak
jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung
khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat simpati dan banyak berharap kepadanya sebagai Guru
Agama. Tak berapa lama di Desa Taniran ia bersama masyarakat bisa membangun
sebuah tempat ibadah berupa langgar yang berfungsi untuk tempat mengajar,
belajar, mengaji, menuntut ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya.
G. Sayyid Hasan dan Sayyid
Idrus adiknya berziarah ke makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy ayahanda mereka.
Ziarah kubur orang tua adalah amalan sunnah untuk mendoakan almarhum, mengenang jasa mereka, dan mengingat kematian. Rangkaian tata cara dimulai dari berwudu, mengucapkan salam kepada ahli kubur, membaca surat pendek seperti Al-Fatihah, tahlil, dan memanjatkan doa khusus bagi orang tua. Ada banyak ragam doa ziarah kubur berdasarkan tujuannya, seperti mendoakan orang tua, anak atau saudara yang telah tiada.
Ada dikisahakan Datu-neni bahari wallaahu‘a’lam bahwa : Sayyid Hasan dan Sayyid Idrus adiknya dan juga Abu Bakar beserta ke-2 orang anak tertuanya : Sayyid Abdul Rahman, Sayyid Abdul Hamid. Di awal Abad ke-18 Masihi sekitaran antara tahun 1715 sd. 1717 Masihi, mereka datang berkunjung untuk menjenguk keluarga (silatur rahmi) yang masih ada menetap di kota ini dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy ayahanda mereka di Randusari, Semarang Selatan kota Semarag Jawa Tengah, yang mereka jadwalkan keberangkatannya. Kali ini mereka pergi membawa barang dagangan yang mudah dijual seperti madu, damar, kayu manis, lada, rotan dan lainnya. Mereka berangkat dari rumah naik taxi menumpangi Perahu Bagiwas menuju Darmaga Pelabuhan Kapal Bandarmasih (Pelabuhan Kapal Tri Sakti Banjarmasin sekarang). Lewat Darmaga Pelabuhan ini mereka menyeberangi laut Bornio dan laut Jawa, adapun Jenis Perahu yang ditumpangi mereka sa’at itu adalah “Perahu Jung Banjar”. Keluarga Sayyid Hasan ini berangkat dari Darmaga Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih, mereka naik menumpangi “Perahu angkot Jung Banjar” menyeberangi laut Kalsel dan laut Jawa dan tiba di Darmaga Pelabuhan Jepara, kemudian menawarkan barang yang mereka bawa, hingga barang tersebut laris habis terjual dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan naik taxi angkot berupa dukar/delman kuda, terus menuju Kel. Randusari, Semarang.
Dikisahkan pula bahwa “Sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar, keduanya adalah seorang Guru atau Ustadz (Mubaligh), Profisi keduanya dan keluarganya sehari-hari adalah berdagang dan berdakwah.” Apabila mereka berniaga ke tempat yang jauh, mereka selalu naik taxi PP “Perahu Tambangan” ditempuh melalui trasnportasi sungai hingga sampai ke tempat-tempat berniaga yang dituju, tempat tujuan terakhir yaitu wilayah pusat bekas kerajaan Daha, Nagara (pelabuhan sungai Pinang).
Ketika Habib berhijerah mencari lokasi dakwah, sambil membawa dagangannya dari Bandarmasih menuju Banua Anam yaitu kota Kandangan. Akhirnya mereka mudik menyisir tepi sungai Barito dengan kendaraan perahu jukung yang sangat sedarhana, membawa dagangannya berupa kain sarung dan perhiasan wanita. Mereka berhari-hari dan berminggu-minggu mengayuh jukung bahkan berbulan-bulan, memasak makanan, minum dalam jukung, setiap ada tumpukan rumah penduduk, selalu mereka singgahi, meliwati daerah kota, desa atau kampung seperti Marabahan, Margasari hingga Nagara,
Kedatangan Habib dan keluarganya disambut oleh masyarakat Taniran dengan suka cita dan ditampung oleh salah satu warga. Sebagian warga ada yang memberinya beras, ada mengantari ikan kering dan ada yang sayuran dllnnya. Habib dan keluarganya sangat ramah, murah senyum, suka menenguk warga yang sakit, membantu-bantu warga yang ditempatinya memanen padi disawah. disaat itulah mulai ditanamkan nilai-nilai ke-Islam-an dan warga mulai tertarik dengan Islam. Apalagi saat itu Desa Taniran mengalami masa panen padi yang melimpah.
Setelah beberapa waktu berada di Hulu Sungai Selatan ini, maka terjadi pembagian tugas dan lokasi misi dakwah. Sayyid Hasan, karena sudah berumur sering sakit-sakitan maka Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufi bin Muhammad Assegaf berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah dan tidak terlalu banyak jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat simpati dan banyak berharap kepadanya sebagai Guru Agama. Tak berapa lama di Desa Taniran ia bersama masyarakat bisa membangun sebuah tempat ibadah berupa langgar atau "Mushalla Darul Lathif" yang bahan dasar bangunannya semua dari kayu biasa kecuali tiang dan tongkatnya dari kayu ulin. Mushalla berfungsi untuk tempat mengajar, belajar, mengaji, menuntut ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya bagi masyarakat Rt.02 Taniran. Kemudian kurang lebih dua tahun berikutnya muncul lagi "Mushalla Darul Miftahul Jannah" di Rt.03 kampong Taniran. Mushalla ini dibangun atas gotong royong dan dananya swadaya masyarakat Rt.03 kampong Taniran sa'at itu, tempatnya berdekatan dengan rumah Sayyid Hasan.
Seiring waktu berjalan dengan cepat, komunitas masyarakat Islam di kampong ini terus bertambah, keberadaan Masjid di kampong Taniran sangat dibutuhkan. Tidak seperti sekarang Masjid tidak perlu musti adanya sokongan. Menurut Alim Ulama bahari bahwa keberadaan Masjid harus disokong oleh keberadaan Langgar sekitarnya minimal tiga buah. Panitia Langgar inilah yang nantinya yang bertanggug jawab penuh mengisi Jama’ah Masjid setiap hari Jum’at. Begitu juga Petugasnya misalnya membuat kotak Amal Masjid, menyediakan Tukang Adzan, Khatib Jum’at, Imam Jum’at, secara bergantian. Kemudian berselang waktu kurang lebih dua tahun berikutnya muncul lagi "Mushalla Al-Hidayah" di kampong Muara Tawia. Mushalla ini berdiri ditepi aliran Sugai Tawia (dekat Jematan Kembar sekarang) dibangun atas gotong royong dan dananya swadaya masyarakat kampong Muara Tawia sa'at itu.
Dan diceriterakan orang pula bahwa Sayyid Hasan adalah orang yang diberi Allah Swt umur panjang, sewaktu wafat usianya lebih kurang 86 tahun. Ia berdomisili lama hingga ia wafat di desa Taniran dan ia perah memperisteri seorang janda asal orang Taniran dan Ia dalam menyebarkan Islam dibantu anaknya selama kurang lebih 18-20 tahun ia berhidmat di desa Taniran Kec. Angkinang..
Menurut Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia telah mengutif dari berbagai sumber, bahwa "sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS."
Kalau dilhat dari kelahiran Habib Tanqir Gawa tahun 1862M/1279H di pertengahan abad ke19M, ia dzuriat ketujuh dari Habib Hasan. Maka tujuh generasi dimaksud
- Habib Tanqr Gawa
- bin Muhammad (gelar Abuthair)
- bin Ibrahim (gelar Abu Tha'am)
- bin Abu Bakar as-Tsani
- bin Ahmad Suhuf
- bin Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi)
- bin Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi)
- bin Habib Hasan bin Hasyim Assegaf.
Jadi diperkirakan dan hampir dipastikan Habib Hasan berdomisili di kampung Taniran sekitar pergantian abad ke-17 dan 18 M. Atau seiring masa kelahiran dan kehidupan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan)." Dan juga masa Raja Banjar ke-10 yakni Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Mashi.
H. Keberadaan Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Taniran di Abad ke-19 Masihi.
Menurut Artikel Biografi Syaikh Muhammad Arsyad al
Banjari bahwa : Kepulangan pertamanya menuntut ilmu Agama dari Mekkah al Mukarramah, Syekh
beserta rombongan tiba di kampung halaman, sekitar pada Bulan Ramadhan 1165
H bertepatan Juli 1752 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung
halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar
pada masa itu, usia Muhammad As’ad kala itu sekitar satu bulan.
Kemudian setelah ia dewasa Mufti H.Muhammad As'ad bin Sayyid
Utsman menikah dengan Hamidah binti Abdullah orang Desa Balimau punya 12
putra-putri tetapi 5 orang putera menjadi ulama besar, yaitu :
- Haji Abu Thalhah, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1771 M 1185 H dan Wafat dan dimakamkan di Tenggarong, Kutai, Kalimantan Timur
- Haji Abu Hamid, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1773 M1187 H dan Wafat 10 Rabi’ul Awwal 1270 H, Ahad, 11 Desember 1853 dan dimakamkan di ujung Pandaran, Sampit, Kalteng
- Haji Ahmad Balimau, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1775 M/1189 H dan Wafat Rabu, 21 Rabi’ul Awwal 1257H/12 Mei 1841M dan dimakamkan di Balimau,
- Mufti Haji Muhammad Arsyad lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1777 M/1191 H Wafat Sabtu, 23 Rabiul Awwal 1275 H dii masa pemerintahan Sultan Abdur
Rahman bin Sultan Adam, usia sekitar 84 tahun dan dimakamkan di Pagatan,
Kalsel.
- Haji Sa'adud-din, lahir di kampung Dalam Pagar,
Martapura, sekitar tahun 1779
M/1193 H dan wafat Senin, 05
Shafar 1278 H atau 12 Agustus 1861 M yang dimakamkan (Desa Taniran Kubah Kab.HSS).
Keberadaan Sayyid Hasan bin
Hasyim Assegaf sebagai Ulama dan Guru / Utstad membangun (mengislamkan) dan membina masyarakat Agamis di kampong Taniran sa'at itu. Ia dan Abu Bakar anaknya
penyebar Islam lebih awal atau lebih dulu yakni pada awal abad ke-18 Masihi sekitar tahun 1702M dari pada Syekh H.
Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad awal abad ke-19M, Syekh H. Sa'duddin
berada di Taniran sekitar tahun 1812M. H Muhammad Thaib atau Syekh H.Sa’duddin
lahir tahun 1779M/1193H di Kampung Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur,
Kabupaten Banjar, Usia 25 tahun, ia pergi ke Tanah Suci Makkah selama kurang
lebih 10 tahun untuk menimba ilmu.
Diperkirakan sekitar tahun
1812M setibanya, ia dari Makkah, dua tahun setelah kedatangannya menuntut ilmu
Agama di tanah Haramain (Mekkah-Madinah) kemudian datanglah tokoh masyarakat
(Tetuha kampung Taniran salah satunya
Abah Saleh) kepada Mufti H.Muhammad As’ad ayahnya, meminta agar mengirim
seorang guru ke Taniran untuk memberikan pendidikan agama, dan bersedia menetap
tinggal di Taniran. Permintaan itupun dipenuhi, seiring waktu berjalan kemudian
ia bersama masyarakat Taniran merehap "Masjid Darul Lathif" yang bahan dasarnya atasnya
semua dari kayu biasa, kemudian dipugar Masjid tersebut meggunakan kayu Ulin
semuanya beratap sirap, yang dibeli dan dibawa dengan perahu jukung dari Kota
Nagara kala itu.
Untuk menyatakan rasa syukurnya, masyarakat
kampung Taniran menghibahkan tanah perkebunan kelapa kepada Haji Sa'adud-din seluas kurang lebih sepuluh borongan (28,900
m). Tanah tersebut dipergunakannya untuk komplek pengajian dan perumahan. Di awal Abad ke-20 Masihi ditanah Hibah itulah sekarang berdiri masjid
As-Sa’adah, yang
didirikan pada tahun 1923 M, beserta rumah tempat tinggal beberapa dzuriatnya. Kemudian pada tahun itu Masjid Darul Lathif yang terletak di Rt.02 Taniran dialih fugsikan mejadi Langgar Darul Lathif, setelah berfungsi Masjid As-Sa'adah.
Adapun sebagai dasar penulis menulis dan mengatakan bahwa Habib Hasan bin Hasyim Assegaf lebih awal berada di Desa Taniran dari pada Syekh H.Sa'duddin bin H.Muhammad As'ad, minimal ada tiga alasan yang kuat, antara lain :
Alasan Pertama (1). Adanya silsilah nasab Habib Hasan Assegaf itu sendiri yaitu kelahiran Habib Tanqirr Ghawa di pertengahan abad ke-19M yakni tercatat Senin, 13 Oktober tahun 1862M/19 Rabi'ul Awwal 1279H di Desa Lumpangi, usia Beliau 126 tahun Hijeriah. Beliau adalah keturunan ke Tujuh dari Habib Hasan bin Hasyim Assegaf. Jadi ada 7 generasi silsilah baru sampai ke Habib Hasan Assegaf. Kalau dirunut dari Habib Tanqirr Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) bin Habib Hasan Assegaf.
Alasan kedua (2) Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf tersebut baru ditemukan di abad ke-20 Masihi oleh masyarakat Taniran. Karena sangat lamanya Beliau wafat hingga Keluarganya dan masyarakat sekitarnya sudah banyak yang melupakannya.
Alasan ketiga (3) bahwa Buyut Sayyid Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) yang bernama Sayyid Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Abu Bakar bin Hasan tahun wafatnya 1842 Masihi. sedangkan Datu Taniran Syekh Sa'duddin awal berada di Taniran mulai tahun 1812 Masihi. Pada tahun tersebut datanglah tetuha masyarakat atau tokoh masyarakat Desa Taniran menemui orang tua Datu Taniran yaitu H Mufti Muhammad As’ad dengan maksud agar berkenan mengirim seorang guru ke Taniran guna memberikan pendidikan agama.
Keterangan artikel ahlul bait di indonesia bahwa; Sayyid Alwi punya anak an. Muzenah dan Aly, Aly menikah dengan Ratubah punya anak an. Zen. Zen menikah dengan Syarifah punya anak an. Alwi, Kemudian Zen menikah lagi perempuan dari bangsa Banakmah berputra Ali, Syarifah Zainab, Syarifah Fetum (ibu Segaf bin Abubakar AlHabsyi), Syarifah Noor dan Syarifah Fedlon (masih hidup tinggal di Kampung Bugis ). kemudian Alwi menikah wanita salehah dari suku banjar dan punya anak Galuh (Syarifah Fatimah) di Kampung Melayu dan Abdul Kadir Jailani di Sungai Mesa]
Alasan keempat (4) tentang keberadaan makam atau pusara anak dan dzuriat Beliau di Desa Lumpangi. Berdasarkan hasil pengamatan kami selama 10 tahun disana. Keadaan Pusara Makam Habaib Datu Lumpangi anak Habib Hasan Assegaf dari tahun 1970-1980M adalah sebagai berikut :
a). Keadaan
makam sudah sangat tua, nisan-nisannya raif sering terbakar dimasa kemarau panjang, dinding batur sudah jatuh ketanah, sudah lama ditinggalkan orang, sudah lama tidak dihuni
penduduk dan keadaan tanaman atau pohon kayu banyak ditemukan pepohonan
langsat, Ramania, Manggis yang hidup disekitar itu banyak dan lebih besar dari
ember plastic isi 16 liter bahkan ada yang lebih besar lagi. rumpun-rumpun
paring tali dan pohon-pohon Kelapa sangat tinggi dan tak berbuah lagi, pohon Durian
ada yang lebih besar dari Kindai Padi lebih dari 2 depa orang tua.
b).Kepemilikan
lahan tanah makam dan sekitarnya waktu itu tidak dimiliki masyarakat umum. Tetapi
dikuasai oleh cucu-cicit-canggah dan wareng keturunan Habib Abu Bakar as-Tsani Ahmad Suhuf Assegaf atas nama Habib Abu Tha’am Ibrahim dan adik kandungnya Abdul Lathif bin Ahmad (Habib Ahmad
Suhuf) bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
c).Waktu
tahun 1970-1975 an Nisan-nisan pusara pada makam Habaib Balai Ulin sudah raif
karena sering terbakar api dimasa kemarau panjang tetapi sebagian berupa batu
sungai, belum ada catatan atau tulisan yang kami temukan kala itu. Andaikata
ada orang lain mengkliam menemukan catatan tulisan yang tertera di Nisan makam
Habaib Lumpangi setelah tahun 1980 an itu adalah suatu hal yang dibuat-buat
secara sengaja untuk mencocokkan /mensenkronkan dengan kepentingan mereka
d).Kalau
dibandingkan Batur-batur yang ada di Balai Ulin dengan Batur batur yang
ada pada
pusara anak-anak Datu Bakumpai, di kota Marabahan keturunan Syekh
Muhammad Arsyad Al Banjari. Batur batur pusara anak Datu Bakumpai sudah ada
seni ukiran (pengamatan tahun 2016 &
2020M). Usia batur-batur makam Datu
Lumpangi lebih tua, belum ada seni ukiran-ukiran pahat-pahatan, dari usia
batur-batur makam anak-anak Datu Bakumpai sudah ada seni pahatannya.
Tetapi
sangat disayangkan Batur-batur itu sebagai bukti peninggalan sejarah semuanya
raif ditelan masa, nilai-nilai sejarahnya hilang begitu saja sehingga
generasi-generasi selanjutnya sulit mengadakan penelitian ilmiah untuk menentukan
keberadaan masa hidup penghuni pusara Habaib dimaksud.Jadi, kalau Habib Abu
Bakar bin Hasan Assegaf dimaksud wafatnya ditulis diawal abad ke-20 Masihi maka
catatan atau tulisan itu tidaklah palid atau tulisan itu belum tepat.
I. Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufy bin Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman Assegaf Wafat
Namanya Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufy Assegaf. Nama ayahnya adalah Habib Hasyim Assegaf diperkirakan wafat Ramadhan 1097H/ 1686 Masihi, ada yang berkata bahwa Hasyim sudah sepuh ketika menetap lama kel. Randusari. Ia tinggal disana hingga wafat di pasca Kesultanan Demak, yakni Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, Semarang, Jawa Tengah. Hasan lahir di Seiyun Hadramaut, diperkirakan tahun 1044H/1634M. Versi yang lain dan kuat menyebutkan bahwa, ia lahir di Tarim Hadramaut. Sebagian orang ada yang berkata bahwa : Usia Sayyid Hasan ketika ia datang ke Desa Taniran, sudah usia sepuh, yakni antara 68-70 tahunan begitu juga usia anaknya Sayyid Abu Bakar sekitar 35-40 tahunan.
Akhirnya Beliau wafat diperkirakan Selasa, 19 Sya'ban 1132H/1720M atau pada awal abad ke-18. Saya beberapa kali datang kesana dan bertanya kepada orang-orang yang tua penduduk asli Desa Taniran Kubah RT.002/RW.001 yang dekat dengan makam Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufi Assegaf, diperkirakan mereka mengetahui tentang kapan beliau datang - wafat namun jawabannya tak seorang pun yang tahu dengan pasti tetapi diperkirakan Beliau datang hingga wafat pada awal abad ke-18 Masihi (antara tahun 1701 - 1720M). Belanda mulai menduduki Kota Banjarmasin sekitar tahun 1747M. Beliau barmakam atau berpussara di Desa Taniran Kubah RT.002/RW.001, sekitar 600 meter dari jalan besar atau jalan induk. Atau 500 meter dari makam Syaikh Datu Taniran. Berseberangan dengan langgar Darul Miftahul Jannah. Kubah beliau dikunjungi orang.
Kemudian untuk tugas membawa misi Dakwah Islam ke lokasi pelusuk pedalaman dan
hulu sungai/ banyu diserahkan pada anak muda yakni Sayyid Abu Bakar bin Hasan
Assegaf. Hingga akhirnya sambil membawa dagangannya sampai ia ke pelusuk suku
Dayak Langara Desa Lumpangi yang belum pernah tersentuh Islam pada awal abad
ke-18. Melalui Syekh Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin
Umar ash-Shoufy bin Abdurrahman bin
Muhammad Assegaf yang mengislamkan suku
Dayak Langara dengan nama Rumah Adatnya “Balai Ulin”. Menurut mitologi
bahwa suku dayak Langara adalah bagian/ pencaran dari dari
suku dayak Maanyan suku dayak tertua di Kalimantan Selatan.
J. Sayyid Idrus berniat silaturrahmi menjenguk keluarga yang masih ada menetap dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan.
Dikisahakan juga oleh Datu-neni bahari wallaahu‘a’lam bahwa : Setelah wafatnya Sayyid Hasan beberapa tahun ayahandanya kampung Taniran, timbulah keinginan untuk berziarah menjenguk kakeknya Sayyid Hasyim di Pulau Jawa. Di pertengahan awal Abad ke-18 Masihi sekitaran antara tahun 1748 sd. 1750 Masihi, Sayyid Abu Bakar beserta ke-3 orang anak tertuanya : Sayyid Abdul Rahman, Sayyid Abdul Hamid, Sayyid Jamaluddin dan Pamannya Sayyid Idrus (lhr.1674M) beserta anak tuanya Sayyid ‘Aly.
Mereka datang ke kota Randusari ini dengan niat untuk menjenguk keluarga yang masih ada menetap (silatur rahmi) dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan kota Semarag Jawa Tengah, yang telah mereka jadwalkan keberangkatannya setiap 12 bulan atau 2 tahun sekali. Perjalanan bisnis kali ini, mereka membawa perbekalan makanan dan air minum yang dianggap cukup ketika dalam perjalanan, dengan bermodalkan mengucap “Bismillaahirrahmaanirrahiim” mereka berangkat dari rumah naik taxi angkot “Perahu Bagiwas” mereka banyak membawa barang dagangan yang dianggap cepat laku dijual di Pulau Jawa seperti madu, damar, kayu manis, lada, rotan dan lainnya.
Mereka pergi menuju Darmaga Pelabuhan Bandarmasih, mereka menyeberangi laut Bornio
dan laut Jawa, adapun Jenis Perahu
/Jukung yang ditumpangi
mereka sa’at itu adalah “Perahu Pinisi”. Keluarga ini berangkat dari Darmaga Pelabuhan Sungai
Mesa Bandarmasih naik menumpangi “Perahu Pinisi” menyeberangi laut Kalsel-laut Jawa
dan tiba di Darmaga Pelabuhan Jepara, kemudian menawarkan barang yang mereka
bawa ke para Pembeli, hingga barang tersebut laris habis terjual syukur alhamdulillah mereka ucapkan, dan setelah
itu mereka melanjutkan perjalanan naik taxi angkot berupa dukar/delman kuda,
terus menuju Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan.
Namun Sayyid Idrus
Assegaf sa’at berkunjung dengan niat silatur rahmi untuk menjenguk keluarga yang masih ada menetap disana dan sekaligus menziarahi makam ayahandanya sayyid Hasyim
dikota Semarang ini, tetapi setelah selesai pada kunjungannya kali ini, nasibnya malang tertimpa musibah, waktu ajalnya tiba, ia jatuh
sakit, mungkin karena kelelahan selama dalam perjalanan, hingga penyakit
lamanya kembuh, ketika itu anggota badannya terus melemah hingga ia wafat dengan
usia sekitar 75-76 tahun dan janazahnya dikebumikan berdampingan
dengan makam Sayyid Hasyim ayahnya dikota ini, dan Alamat lengkapnya di Kelurahan
Randusari, Kec. Semarang Selatan, kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
Catatan
Referensi /dan daftar bacaan :
Artikel “Pelabuhan
Gresik” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas/
https://id.wikipedia.org/wiki/Pelabuhan_Gresik
Makalah
“EKSPANSI JEPARA ABAD XVI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUPLEMEN” Materi Pembelajaran
Sejarah, Istoria : Jurnal Pendidikan dan Sejarah, Volume 20, No 1, Maret 2024
Artikel
"Ki Ageng Pandan Arang" Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Ageng_Pandan_Arang, Tersedia Online:
https://journal.uny.ac.id/index.php/istori
Artikel
“Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) menggali masa lalu, pada masa kini,
untuk masa depan yang cerah” Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan
Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek
Pariwisata Berbasis Arkeologi.
Artikel
“Sungai Keramat” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas//
https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Keramat
Artikel
“Tujuan Kerajaan Demak Membangun Pelabuhan di Pesisir Utara Jawa” Kompas.com
Stori /
https://www.kompas.com/stori/read/2024/12/16/230000679/tujuan-kerajaan-demak-membangun-pelabuhan-di-pesisir-utara-jawa.
Artikel
“Sungai Sigaling” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Sigaling
Artikel detikjogja, "10 Jenis Perahu Tradisional di
Indonesia, Salah Satunya Kapal Pinisi" selengkapnya https://www.detik.com/jogja/budaya/d-7077410/10-jenis-perahu-tradisional-di-indonesia-salah-satunya-kapal-pinisi
Artikel
“Mengenal Kapal Pinisi: Sejarah, Karakteristik, hingga Proses Pembuatannya.”
https://www.detik.com/sulsel/budaya/d-6581846/mengenal-kapal-pinisi-sejarah-karakteristik-hingga-proses- pembuatannya
Artikel
“Jukung tambangan” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas //
https://id.wikipedia.org/wiki/Jukung_tambangan#Referensi
Abad ke-16 Masihi dihitung dari tahun 1501M sd. tahun 1600 M, Abad ke-17 Masihi dihitung dari tahun 1601M sd. tahun 1700 M., Abad ke-18 Masihi dihitung dari tahun 1701M sd. tahun 1800 M., Abad ke-19 Masihi dihitung dari tahun 1801M sd. tahun 1900 M.,Abad ke-20 Masihi dihitung dari tahun 1901M sd. tahun 2000 M.dan Abad ke-21 Masihi dihitung dari tahun 2001M sd. tahun 2100 M.
Artikel “Daftar makam Ulama Aulia Habaib HSS” Rihlah Religi Assa’adah Burdah Community Kandaangan, Dakwah sepanjang hayat Teladan sepanjang jaman http://daftarziarahhss.blogspot.com/2019/07/ Diposting oleh Al-Hajrain di 05.23, Rabu, 03 Juli 2019
Artikel tentang “Suku Dayak”yang di tulis oleh Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Suku Dayak - Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (diakses pada 19 Oktober 2021).
Hasil-hasil Wawancara dengan Habaib Fam/Marga Assegaf Desa Lumpangi yang masih hidup ditahun 2021Masihi, dan Ahmad Bayumbung misalnya Habib Muhammad Burhan atau Muhammad Burhanuddin Assegaf , Bapak Adi Kayi Husni bin Karji, Yadi bin Juhri . Dan lain-lainnya
Artikel “Sejarah Ahlul bait (keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesa” dan http://fakhrur94.blogspot.com/2012/04/sejarah-ahlul-baitketurunan-sayyidina.html
Folklor adalah Ceritera/kisah yang penyebaran dan pewarisannya cenderung dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut dari datu-datu dan nenek-nenek kami.
Artikel tentang “Sejarah Kalimantan Selatan” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kalimantan_Selatan diakses 20-10-2021 :07.45 wita.
Posted by Kajian Al-Kahf Email This BlogThis Protect and Secure Your WiFi : https://bit.ly/vpn_secure http://kajianal-kahf.blogspot.com/2012/05/riwayat-assegaf-di-sungai-mesa.html
Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/03/17/kalselpedia-datu-taniran-dan-sejarah-penyebaran-islam-di-banua-anam?page=all. Penulis: Hanani | Editor: Didik Triomarsidi
Hasil-hasil pengamatan kami dari tahun 1970-1980 terhadap pepohonan yang tumbuh besar di lokasi makam dan sekitarnya dan perbandingan batur-batur ulin Habaib yang ada di Lumpangi dengan batur ulin yang ada di Marabahan anak cucu Datu Kalempayan. ternyata batur Habaib Lumpangi lebih tua dari pada batur yang ada di Marabahan





Tidak ada komentar:
Posting Komentar