Sabtu, 16 April 2022

Habib Hasan bin Hasyim Assegaf lebih awal di Taniran dari Syekh H. Sa'duddin bin H. Muhammad As'ad

 Oleh : H.Hasan Baseri bin H Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi

A. Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy Assegaf dan keluarganya berdomisili lama di Kelurahan Randusari Kec.Semarang Selatan, kota Semarang, Jawa Tengah di pasca Kesultanan Demak.

Pedagang-pedagang Arab pada abad 16 hingga 17 M sejak kesultanan Banjar dipimpin oleh seorang muslim, berdatanganlah para pendatang ke wilayah ini disamping untuk berdagang mencari rempah-rempah misi penting lain juga tidak terlewatkan untuk berdakwah (Gafur 2009).

Sejak awal abad ke-16 Masihi kemenangan Pengeran Samudera tersebut yakni  mulai 24 September 1526MKerajaan Banjar berubah menjadi Kesultanan Banjar, Agama resmi kerajaan yang dulunya Hindu berubah menjadi  Agama Islan. Pengeran Samudera (Pengeran Raga Buana) setelah masuk Islam menjadi atau bergelar Pengeran Suriansyah. Nama kotanya yang dulunya Bandarmasih menjadi Banjarmasin sekarang.

Pada abad ke-17 Masihi kesultanan Banjar mengalami kejayaan. Bandarmasih (Banjarmasin) sudah menjadi pelabuhan bebas sejak pertengahan abad ke-17, baik antar pulau maupun antar benua. Karena adanya pergeseran peranan pelabuhan di pesisir Jawa Timur ke daerah ini. Menurut Barra seorang peneliti sejarah, bahwa banyak jung Melayu, Inggeris, Portugis, dan lain-lainnya berlabuh di Bandarmasih (Banjarmasin). Hingga akhir abad ke-17M, lada sebagai primadona komoditi, dan emas semakin meningkat produksinya. Menurut Schrieke seorang peneliti sejarah, bahwa “pelabuhan Bandarmasih (Banjarmasin) telah menggantikan kedudukan pelabuhan Gresik. Perahu-perahu layar samudera pada abad ke 16-17 M sudah banyak dibuat oleh “pandai kapal” di Sungai Pandai Banjarmasin untuk dijual ke Jawa dan negeri lainnya. 

1. Kelurahan Randusari Kec. Semarang Selatan masa Kesultanan Demak

Wilayah Randusari (yang kini dikenal sebagai kelurahan di Semarang Selatan) pada masa Kesultanan Demak. Sultan Demak pernah memerintahkan Sayyid Ki Ageng Pandan Arang (ia sdr.kandung Sunan Giri /Raden Ainul Yaqin), untuk membuka lahan dan menyebarkan ajaran Islam di daerah pesisir yang saat itu bernama Pragota (cikal bakal wilayah Bergota di Randusari, Semarang). Sayyid Ki Ageng Pandanaran diangkat menjadi bupati atau pemimpin pertama di wilayah Semarang dan sekitarnya di bawah naungan kekuasaan Kesultanan Demak.

Orang tua Sayyid Ki Ageng Pandan Arang bernama        : Sayyid Maulana Ishaq (ayah) bin Jamaluddin al-Husaini bin Jalaluddin Khan, Siti Zainab (Ibu) dan Istrinya Putri Adipati Pasuruan,  Keturunan : ~ Siti Umi Kamsum, ~ Kalkum Pekalongan, ~ Abdullah Kendal dan ~ Abdurrahman Kaliwungu.

Sayyid Ki Ageng Pandan Arang (disebut juga Pandanaran, Pandanaran I) adalah bupati pertama Semarang, yang diangkat oleh Sultan Demak Bintara. Konon nama Semarang diberikan olehnya, karena di tempat ia tinggal ditumbuhi oleh pohon asam yang jarang-jarang (bahasa Jawa: asem arang). Ki Ageng Pandan Arang juga dikenal sebagai tokoh penyebaran Islam di daerah tersebut. Meskipun sezaman dengan para Wali Sango, ia tidak termasuk di dalamnya. Sayyid Ki Ageng Pandan Arang wafat, dimakamkan di Mugassari, Semarang Selatan, Semarang.

2. Empat Darmaga Pelabuhan Kapal masa Kesultanan Demak

Menurut Artikel yang saya baca bahwa : “Kerajaan Demak mengusahakan kerja sama dengan penguasa pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa yang telah menganut Islam. Darmaga Pelabuhan Gresik adalah salah satu pelabuhan dagang strategis di pesisir utara Jawa yang berada di bawah pengaruh dan jaringan maritim Kesultanan Demak pada abad ke-15 hingga ke-16 M. Kerajaan Demak memiliki Darmaga-darmaga pelabuhan-pelabuhan perahu/ kapal layar penting, seperti darmaga Jepara, darmaga Tuban, darmaga Sedayu, dan darmaga Gresik.

3. Keberadaan Darmaga Pelauhan Gresik masa Kesultanan Demak

Dermaga Pelabuhan Gresik pada masa kejayaan Kesultanan Demak (abad ke-15 hingga awal abad ke-16) merupakan salah satu bandar dagang internasional terbesar dan terbaik di Pulau Jawa.

Dikutif dari sebuah Artikel ttg "Pelabuhan Gresik", dimasa yang lalu bahwa "Salah satu tokoh yang berpengaruh pada perkembangan perdagangan di Kota Gresik adalah Nyai Ageng Pinatih. Beliau seorang saudagar kaya dan syahbandar di Pelabuhan Gresik. Beliau mulai mendirikan pelabuhan ini pada pertengahan abad XIV, sejalan dengan proses islamisasi di tanah Jawa. Pada masa itu Gresik menjadi bandar perdagangan yang ramai. Kini Pelabuhan Gresik lebih berfungsi sebagai pelabuhan penumpang dan barang. Abad XVI, Pelabuhan Gresik dapat menggeser peran Pelabuhan Tuban sebagai pelabuhan besar dan utama di antara pelabuhan-pelabuhan lain disekitarnya. Namun kebesaran Pelabuhan Gresik pada awal abad XVII tidak seperti sebelumnya, karena politik ekspansi Sultan Agung sudah mengarah ke Gresik dibantu Pangeran Pekik dari Surabaya".

Pelabuhan Gresik melayani penyeberangan Gresik - Bawean dengan keberangkatan rutin sekali setiap hari. Jadwal keberangkatan kapal secara rutin selalu dirilis operator dan otoritas setempat secara berkala melalui berbagai media terkait. Pelayaran umumnya ditempuh dengan durasi sekitar 4 jam melintasi Laut Jawa, bergantung situasi dan kondisi terkini. Berikut adalah daftar operator penyedia layanan penyeberangan kapal motor penumpang (KMP) di Pelabuhan Gresik.

4. Keberadaan Darmaga Pelauhan Jepara masa Kesultanan Demak

Menurut Makalah “Ekspansi Jepara Abad XVI dan Potensinya sebagai Suplemen Materi Pembelajaran Sejarah, dijelaskan pada bab Pendahuluannya bahwa Jepara, sebuah kota kecil di pesisir Pantai Utara Jawa, pada masa Kerajaan Demak berperan sebagai Pelabuhan militer dan Pelabuhan dagang. Oleh karena itu, Jepara dijadikan wilayah galangan kapal oleh para pedagang dari luar, yang kemudian bermukim di Pesisir Pantai Jepara. Nama "Jepara" berasal dari “Jung Para”, yang berarti tempat kapal besar berlabuh atau singgahnya pedagang. Kala itu, Jepara menjadi pelabuhan besar dengan lokasi yang aman, dikelilingi oleh beberapa wilayah dan pulau sekitarnya, dan dianggap sebagai salah satu kota tertua di Jawa Tengah. 


5. Keberadaan Sayyid Hasyim bin Muhammad dan keluarganya di Nusantara.

Sejarah menyebutkan bahwa “Salah satu keturunan Nabi Muhammad Saw yakni Habib Hasyim (lhr.1613M) bersama keluarganya dilaporkan melalui perjalanan panjang mereka bertolak dari Seiyun Hadramaut menuju ke pelabuhan Turki terus menuju Asia Tenggara lewat Singapora menuju ke pelabuhan Palembang terus menuju ke pelabuhan Gresik hingga tiba di Demak Jawa Tengah pasca Kesultanan Demak.

Keberadaan dan kedatangan Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy Assegaf dan keluarganya di Asia Tenggara dan berdomisili lama di Nusantara pasca Kesultanan Demak, tepatnya di Kelurahan Randusari, Kec.Semarang Selatan, kota Semarang, Jawa Tengah.

Sayyid Hasyim bin Muhammad Assegaf diperkirakan hidup abad ke-17 Masihi. Abad ke-17 dihitung dari tahun 1601-1700 Masihi. Ia dengan kedua anaknya (Hasan & Idrus kecil 11 sd.13 thn) dan cucunya Sayyid Abu Bakar mereka berasal dari Seiyun  Hadramaut, Negeri Yaman atau Yordania.

Sayyid Abu Bakar adalah nama yang diberikan orang tuanya, ia lahir diperkirakan tahun 1079H/1668M  di Seiyun Hadramaut. Setelah dewasa ia menikah dengan perempuan shalihah di kota kelahirannya, dan punya anak diberi nama “Shalih” (Ahmad Shalih). Kemudian sa’at itu Sayyid Hasyim dan Sayyid Hasan anaknya ingin pergi berpetualang ke Asia Tenggara, Sayyid Abu Bakar ikut juga berpetualang berdagang dan mencari rempah-rempah bersama ayahnya Sayyid Hasan dan kakeknya Sayyid Hasyim yang sudah sepuh. Pertualangan mereka tersebut mengikuti pertualangan Sayyid Abdurrahman al Muallim bin Muhammad bin ‘Aly Assegaf (dia orang tua Sayyid Umar ash-Shaafy) diabad ke-16 Masihi masa Kesultanan Banjar dipimpin oleh Sultan Suriansyah. Perjalanan panjang mereka ke Asia hingga Asia Tenggara dan tiba di Nusantara, mereka berangkat mulai kota tanah kelahirannya Seiyun Hadramaut, ke Turki, terus melalui Singapore ke Aceh terus ke Pelembang,  hingga tiba ditempat tujuan pesisir utara Jawa yakni Darmaga Pelabuhan Gresik, Demak Jawa Tengah di diakhir abad ke-17 antara tahun 1684 sd. 1690M.

Setelah singgah dan menetap atau berdomisili yang lama di Darmaga Pelabuhan Gresik, mereka belajar ttg. Bahasa, Adat-istiadat /budaya Malayu dan Jawa sehingga mereka bersikaf/ terbiasa dengan adat Malayu dan Jawa, lembut dan sopan dan juga sangat pasih berbahasa Malayu Indonesia, khususnya Sayyid Hasan dan Abu Bakar pasih berbahasa Melayu dan Jawa, kemudian mereka pindah ke Darmaga Pelabuhan Jepara dan menetap disekitarannya. Di provinsi kota inilah akhir Abad ke-11H (dihitung dari tahun  1592 sd. 1689M) kakeknya Habib Hasyim wafat sekitar tahun (1686M/Rmdhan.1097H) dan bermakam, begitu juga kalek Habib Idrus Assegaf sa’at datang menziarahi ayahnya sayyid Hasyim dikota ini, ia jatuh sakit, mungkin karena kelelahan, badannya terus melemah hingga wafat dan makamnya berdampingan dengan ayahnya dikota ini, tepatnya Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, kota Semarang Jawa Tengah.


6. Sayyid Hasyim dan keluarganya pernah menetap di Darmaga Pelabuhan Gresik dan Darmaga Pelabuhan Jepara Semarang. 

Pada mulanya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan beserta anaknya Sayyid Abu Bakar Assegaf mereka pergi berniaga meninggalkan Habib Hasyim ayahya yang (sudah sepuh) dan Idrus adik bungsunya (yang masih kecil 11-13 thn) mereka berniaga di Darmaga Pelabuhan Gresik dan sekitarannya selama bertahun-tahun lebih, kemudian mereka sekeluarga pindah ke Darmaga Pelabuhan Jepara kota Semarang. Mereka berniaga di Darmaga Pelabuhan Jepara dan sekitarannya lebih dari bertahun-tahun lamanya, tetapi Mereka menetap di Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan. Namun dari kota ini, mereka ingin mengembangkan dan meningkatkan (bisnis) hasil perniagaan mereka, seiring waktu terus berjalan, dua haul sudah wafatnya ayahanda Sayyid Hasyim telah berlalu, akhirnya mereka bertolak berlayar dari Pelabuhan Jepara Semarang pasca Kesultanan Demak berlabuh menyeberangi laut Jawa-laut Bornio untuk (yang kesekian kalinya) menuju  Kesultanan Banjar.

Menurut ceritra datuk-neni kami bahari dan kisah  orang-orang tua yang saya temui bahwa “di Abad ke-16 Masihi masa kejayaan Kesultanan Demak dan untuk (memenuhi janji Sultan Banjar sabubuhan rakyatnya musti masuk Islam), mengetahui prihal tersebut Sayyid Abu Bakar bersama orang tuanya Sayyid Hasan yang sudah bertahun-tahun menetap di Darmaga Pelabuhan Kapal Gresik, Jawa Tengah. (sebelum mereka menetap di Kelurahan Randusari Semarang), mereka marasa terpanggil, tergerak hati mereka /ada rasa tanggug jawab hingga mereka datang ke Kasultanan Banjar, tujuan utamanya mengislamkan orang-orang Banjar, disamping berniaga (Hambal, Permadani, Sajadah, Kain Sarung dan berbagai jenis Perhiasan Wanita), mereka juga mencari madu dan rempah-rempah untuk dijual kembali, mereka menyeberangi laut Jawa-Bornio pertama kali naik Perahu layarJung Banjar” sebelum wafat ayah mereka dan tiba di tempat tujuan yakni sebelum mereka  menetap lama dipelabuhan kapal Kampung Sungai Mesa Bandarmasih (Banjarmasin, Kalsel)”. 

Di Darmaga Pelabuhan kota ini mereka mulai mempelajari Bahasa Banjar kepada orang-orang Banjar yang ada disekitarnya dan mengenali adat istiadat budaya mereka. Hal itu dilakukan sebagai bentuk upaya untuk memenuhi penyampaian misi dakwah Islam kepada masyarakat Banjar. Sehingga tatkala mereka berinteraksi dengan orang-orang Banjarmasih lainnya tidak mengalami hambatan, tiada mengalami kesulitan dan selalu berjalan dengan baik.

Sayyid Hasan diperkirakan (w. Sel.19 Sya'ban 1132H/1720M di Desa Taniran Kubah) dan keluarganya,  Dzuriat Rasulullah SAW tersebut konon berasal dari Seiyun Hadramaut, dan menginjakkan kaki pertama di pelabuhan kapal Bandarmasih (nama kota lama Kota Banjarmasin) di Kesultanan Banjar. Setelah beberapa waktu menetap berbulan-bulan di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa sambil menghabiskan barang dagangan, dan mereka membeli madu dan rempah-rempah merekapun kembali lagi pulang ke Demak menemui Habib Hasyim ayahnya yang ditinggalkan bersama anak bungsunya Habib Idrus.

Adapun Jenis Perahu /Jukung yang ditumpangi Sayyid Hasan beserta anaknya sayyid Abu Bakar ketika menyeberang laut Jawa-Kalsel adalah perahu layar “Jung Banjar”

Namanya Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufy Assegaf. Nama ayahnya adalah Habib Hasyim Assegaf diperkirakan wafat Ramadhan 1097H/ 1686 Masihi, ada yang berkata bahwa Hasyim sudah sepuh ketika menetap lama kel. Randusari. Ia tinggal disana hingga wafat di pasca Kesultanan Demak, yakni Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, Semarang, Jawa Tengah. Hasan lahir di Seiyun Hadramaut, diperkirakan tahun 1044H/1634M. Versi yang lain dan kuat menyebutkan bahwa, ia lahir di Tarim Hadramaut. Sebagian orang ada yang berkata bahwa : Usia Sayyid Hasan ketika ia datang ke Desa Taniran, sudah usia sepuh, yakni antara 68-70 tahunan begitu juga usia anaknya Sayyid Abu Bakar sekitar 35-40 tahunan.

   Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf Desa Taniran w.1720M

B. Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar beserta keluarganya singgah menetap lama di Darmaga Pelabuhan Perahu Sungai Mesa Bandarmasih. 

Namun perjalanan mereka yang kesekian kalinya, mereka menyeberangi laut Jawa-laut Kalsel dan menuju ke Kasultanan Banjar, (busu) Habib Idrus bin Hasyim Assegaf baru diikutsertakan bersama saudaranya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan Sayyid Abu Bakar Assegaf keponakannya, mereka membawa misi dakwah pergi berniaga berlayar dan tiba lagi di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa kota Bandarmasih, pada kali ini mereka menetap lama/ berdomisili lama dipelabuhan tersebut, diakhir abad ke-17 Masihi dan dipekirakan mulai menetap tahun 1689 Masihi di akhir abad ke-11 Hijeriah. 

Namun perjalanan mereka yang kesekian kalinya, mereka menyeberangi laut Jawa-laut Kalsel dan menuju ke Kasultanan Banjar, (busu) Habib Idrus bin Hasyim Assegaf baru diikutsertakan bersama saudaranya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan Sayyid Abu Bakar Assegaf keponakannya, mereka membawa misi dakwah pergi berniaga berlayar dan tiba lagi di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa kota Bandarmasih, pada kali ini mereka menetap lama/ berdomisili lama dipelabuhan tersebut, diakhir abad ke-17 Masihi dan dipekirakan mulai menetap tahun 1689 Masihi di akhir abad ke-11 Hijeriah.

Sungai Mesa merupakan sebuah kampung tua di Kota Banjarmasin (Bandarmasih dahulu). Kampung ini dibangun oleh seorang tokoh yang dikenal dengan nama Kiai Mesa Jaladri. Tidak diketahui persis, kapan Kiai Mesa membangun wilayah ini, yang jelas sejak itu Kampung Sungai Mesa menjadi wilayah tempat tinggal yang strategis. Letaknya yang persis di tepi sungai Martapura, membuat daerah ini menjadi semacam pelabuhan kecil tempat menaik-turunkan barang dagangan dari perahu (kapal). Di seberang Sungai Mesa adalah Jalan Pasar Lama Laut yang sekarang menjadi pusat perkantoran pemerintah Provinsi Kalsel” (Artikel Kajian al Kahfi).

Salah satu pasar yang sering dikunjungi Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar anaknya ketika menetap di Kampung Sugai Mesa Bandarmasih yakni berniaga lewat transportasi air menggunakan “Jukung Bakapih” adalah pasar terapung dan sekitarnya. Pasar terapung adalah yang awalnya terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling.

Menurut penelitian H. Achmad Mawardi seorang pakar Pemerhati budaya dan lingkungan bahwa “Berdasarkan kenyataan arkeologis dan historis, jukung-jukung orang Banjar masih banyak terdapat dan digunakan di perairan Kalimantan Selatan. Bahkan pasar terapung di daerah ini, diketahui sudah ada sejak 400 tahun yang lalu. Diperkirakan pasar terapung dan juga di tebing sungai sudah ada pada tahun 1530 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera) yang terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling. Kemudian bergeser ke tepi sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin menjelang akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Masehi. Pasar terapung di sungai Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, mungkin sudah ada pada abad ke-16 tetapi bisa juga baru menjadi umum ketika perpindahan keraton Banjar ke kawasan Kayu Tangi Martapura sejak awal abad ke-17 Masihi tahun 1612M.

Adapun Jenis Jukung yang digunakan Sayyid Hasan beserta anaknya sayyid Abu Bakar ketika membawa misi dakwah sambil berniaga di wilayah dekat Bandarmasih misalnya tepi sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin, tepi aliran Sungai Karamat dan tepi aliran Sungai Sigaling adalah menggunakan perahu “jukung Bakapih” yang mereka beli dari masyarakat setempat. 

Sayyid Hasan adalah saudagar kaya ayah sayyid Abu Bakar bersama keluarganya sebelum berhijerah ke Sungai Pinang Negara, mereka lama menetap di Sungai Mesa Bandarmasih, diperkirakan mulai tahun 1689 Masihi pertengahan dan akhir abad ke-17 Masihi, Abad ke-17 dihitung dari tahun 1601 sd. tahun 1700 M.   Sayyid Abu Bakar sempat menikah dengan perempuan salihah di kampong ini dan punya keturunan an. Sayyid Abdurrahman sa’at menetap di kampong ini. Penulis belum dapatkan keterangan yang jelas ttg tahun pernikahan Sayyid dan dzuriat Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang masih hidup sa’at ini.

Menurut salah satu Artikel yang pernah saya baca menyebutkan bahwa “Pemukim dari golongan sayyid yang terhitung orang lama (tua) di Sungai Mesa adalah Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, ia diperkirakan lahir di Sungai Mesa Bandarmasih antara tahun 1720-1725 Masihi, awal abad ke-18 M. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf mempunyai 3 orang saudara kandung bernama Umar, Muhdor dan Muhammad. “Pekerjaan Habib Ahmad berdagang kayu ulin, juga membawa tajau, belanga berdagang dengan urang Dayak,” cerita Syarifah Nikmah.(Artikel Kajian al Kahfi).


C. Nasab silsilah Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Abu Bakar bin Hasan bin Habib Hasyim Assegaf..

Diceriterakan bahwa Sayyid Alwi yang melalui perjalanan panjang dari Negeri Hadramaut menuju ke negeri Turki terus menuju negeri Asia Tenggara  Singapore - Indonesia ke Pelembang terus ke Darmaga Pelabuhan Gresik yang terletak di Provinsi Jawa Timur, Wilayah ini berada di kawasan pesisir utara Pulau Jawa, tepat di sebelah barat laut Kota Surabaya. Ia  terus berlayar menuju ke Bandarmasih, tiba di Sungai Mesa mencari datuknya Sayyid Abu Bakar. Ia adalah Buyut Sayyid  Abu Bakar bin Hasan Assegaf. 

Namun prihal itu maksudnya (pernikahan Sayyid Abu Bakar dengan wanita Sungai Mesa) terjadi sebelum kedatangan Buyut pertamanya sayyid Abu Bakar yakni Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Habib Abu Bakar Assegaf ke Nusantara sekitar abad ke-19 Masihi. Dimasa Kesultanan Banjar dipegang oleh Sultan Adam. 

Sekitar pada Agustus 2023 Masihi Penulis baru menemukan Nasab silsilah Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Habib Abu Bakar Assegaf dan keturunannya yang bermula dicatat dari Habib Abdul Qadir al Jailani :

الْحَبِيْب عَبْدُ القَدِيْر الْجَيْلَانِيِّ بِنْ عَلْوِىْ بِن زَيْنْ بِنْ عَلِيٍّ بِنْ عَلْوِىْ بِنْ عَبْدِاللهِ بِنْ صَالِح بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ  بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه

Habib Abdul Qadir al-Jailani

bin Alwi

bin Jain

bin ‘Ali

bin Alwi

bin Abdillah

bin Shalih

bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.

bin Hasan w.1720M

bin Hasyim w.1687M/18Rmdhn.1097M

bin Muhammad

bin Umar ash-Shoufy

bin Abdurrahman

bin Muhammad

bin Ali w.840H

bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)

bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H))

bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M

bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H)

bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)

bin Sayyidina Ali Walidul Faqih

…………………………………………

Makam Habib Alwi bin Abdillah Assegaf martapura

Menurut Artikel Sejarah Ahlul Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesia menyebutkan bahwa “Seorang dari keluarga Assegaf bernama Sayyid Alwi (w.1842M) bin Abdillah bin Shalih bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf dilaporkan melalui perjalanan panjang dari Hadramaut-ke Pelabuhan Turki-ke Pelabuhan Palembang- ke Pelabuhan Gresik, sebelumnya ia menyinggahi Banjarmasin dan sempat bermukim di Kampung Sungai Mesa. Alwi kemudian menetap di Martapura (Kampung Melayu) dan mendapat hadiah tanah dari Sultan Adam di daerah Karang Putih. Kemudian ia dan anak cucunya bermakam di tanah pemberian Sultan tersebut (makam Karang Putih Jl Menteri Empat Martapura) ”(Fakhrul 04-2012M).


D. Sayyid Hasan dan Habib Abu Bakar bersama keluarganya berhijerah dari Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih dan tiba di Margasari dan menetap di Darmaga Pelabuhan Perahu Kapal Margasari. 

Ada yang mengatakan bahwa Islam mulai masuk ke Kalimantan Selatan abad ke 15M sampai abad ke 18M. Pada Abad ke-17M sampai ke-18M adalah masa  puncaknya perkembangan agama Islam di Kalimantan Selatan dan masa keemasan Kerajaan Banjar. Adapun puncak keemasan Kerajaan Banjar dan perkembangan Islam ditandai datangnya syekh-syekh Islam/ para Habaib  ke Banjar.

Namun seiring waktu, lebih dari tiga-empat tahun berlalu tanpa mereka rasakan, sa’at menetap di kampung Sungai Mesa Bandarmasih. Kemudian Sayyid Hasan bersama keluarganya ingin hijerah (berpindah) dari kampung Sungai Mesa tersebut ke Pelabuhan sungai Pinang Negara diperkirakan diakhir abad ke-17 Masihi. Yang sebelum berpindah ke Sungai Pinang Nagara, mereka lebih dahulu mampir di kota Candi Laras Pelabuhan Kapal Margasari dan akhirnya menetap. Dari Pelabuhan ini mereka lebih dekat berdakwah dan berniaga ke pelusuk-pelusuk kampung penduduk yang tinggal dipinggiran / tepi aliran Sungai Balimau, dan Sungai Rutas, aliran Sungai Tapin dan Nagara.

Diceritrakan pula bahwa “Terus dari situ (Barito Kuala) mereka menuju aliran sungai Margasari (Kab. Tapin) tiba di pelabuhan Margasari. Ia pusat (kota Candi Laras-Agama Hindu) kemudian di Margasari ini mereka singgah /menetap lama. Mereka berniaga dan berdakwah di Margasari dan sekitarnya hingga hulu sungai Tapin selama bertahun-tahun. Sehingga Sayyid Abu Bakar bin Hasan tak menutup kemungkinan ketika berada di wilayah ini bahwa ia menikah lagi dengan wanita shalihah yang ada di tepi aliran  Sungai Margasari  dan punya anak. Wallaahu A’lam

Diceritrakan awal mulanya bahwa “Setelah mengetahui dan mengerti seluk beluk arah jalan transportasi yang akan dituju, Mereka pun mulai mudik dari Bandarmasih menyisir tepi sungai Barito dengan perahu/ jukung Bakapih yang sangat sedarhana, membawa dagangannya berupa kain sarung dan perhiasan wanita, menuju aliran sungai Alalak, aliran sungai Gampa dan aliran sungai Barito Kuala (penduduk aslinya suku Dayak Bakumpai)  setiap ada tumpukan rumah penduduk di tepi aliran sungai yang mereka lalui mereka singgahi, bahkan menginaf (bamalam) ditempat itu, menawarkan barang dagangan yang mereka bawa”.


D.Sayyid Hasan bersama keluarganya dan Sayyid Abu Bakar anaknya berpindah domisi dari Darmaga Pelabuhan Kapal Margasari dan tiba di Darmaga Pelabuhan Sungai Pinang dan menetap di sana.

Pada awalnya mereka berniaga ke areal pasar terapung dan sekitarnya menggunakan perahu sendiri yakni (Jukung Bakapih), kemudian juga ada keinginan mereka berdagang ke tempat yang jauh seperti (psr. Alalak, psr. Sungai Gampa, psr. Barito Kuala, psr. Margasari dan psr. Nagara) mereka berdagang meniti Pasar yang mereka tempuh dalam waktu satu-dua pekan atau satu bulan, mereka naik taxi PP “Perahu Tambangan” baru mereka kembali lagi pulang ke Pelabuhan Sungai Mesa. 

Kebiasan orang-orang yang jarang dilakukan pedagang sekarang adalah Para pedagang dahulu, mereka selalu datanmembawa barang yang akan dijual ke pasar yang dituju, mereka datang disore hari, atau menjelang malam pasar mereka datang dan juga mereka lebih dulu menginaf (bamalam) di pasar atau nginaf (rumapenduduk yang dekat pasar). Diwaktu menginaf (bamalam) inilah Sayyid Hasan dan anaknya banyak waktu menyampaikan misi dakwah Islam (bakisah ttg Islam, dilengkapi pantun, syair-syair, dan yang dibumbui sedikt homor) kepada masyarakat setempat.

Selanjudnya setelah mereka menetap lama di Margasari, mereka mencari lahan baru untuk berdakwah, tetapi mereka tidak melupakan lahan yang lama. Maka merekapun berpindah ke Nagara, Daha. Perjalanan ini mereka tempuh tanpa naik taxi Perahu Tambangan yang besar, tetapi menggunakan Perahu sendiri, berhari-hari, satu atau dua pekan mereka mengayuh perahu/  jukung, bahkan perjalanan berbulan-bulan, mereka meliwati kampung-kampung, melalui desa-desa hingga tiba di tempat tujuan yakni Pelabuhan sungai Pinang Negara yang sering mereka kunjungi setiap pekan, sa’at naik taxi Perahu Tambangan yang besar”.

Menurut ceritra datuk-neni kami bahari dan kisah  orang-orang tua yang saya temui bahwa Sayyid Hasan bersama keluarganya menetap di Pelabuhan Sungai Pinang Negara. Sebelumnya mereka menetap sekitar satu-dua tahun di kota candi laras Margasari. Kemudian  Saudagar kain ini bersama keluarganya berhijerah dari kota candi laras Margasari Tapin pindah ke Pelabuhan sungai Pinang, Nagara, mereka menetap lama di Pelabuhan ini, diperkirakan tahun 1695-1700 Masihi hingga akhir abad ke-17 Masihi. 

Sayyid Abu Bakar sempat menikah dengan wanita salihah Putri Inang (anak Dayang bekas pegasuh Putri  raja Daha) dan punya anak /keturunan salah satunya yang terungkap dan terverifikasi an. Sayyid Abdul Hamid bin sayyid Abu Bakar Assegaf sa’at menetap di Sungai Pinang ini, hingga ada dzuriat nasab Habib yang ber-Fam Assegaf, yakni Alhabib Seggaf bin Abdul Hamid Assegaf (Kramat Assegaf Sungai Pinang) Alamat; Samping Kantor Desa Sungai Pinang-Nagara, KM.37. Kecamatan Daha Selatan. Kab. HSS Kalsel. 

Mereka berniaga ke pasar Negara, pasar Margasari hingga mudik sungai Tapin, sampai ke Sungai Balimau. Saudagar Kain ini selalu menginaf (bamalam) di pasar /menginaf (rumah penduduk) dimalam awal pasar yang dikunjuginya tersebut.

1. Keturunan Nabi marga/fam al saqqaf (Assegaf) yang ada di Indonesia ini umumnya adalah generasi ke-38 atau ke-39 tahun 2022.

Diawal bulan Juni 2025 ada orang yang ngaku  nasabnya sampai hingga Habib Abu Bakar dan ia dari kota Palangkaraya minta konvirmasi ttg nasab keluarga Habib Abu Bakar Lumpangi, ia ingin mendaftarkan  nasabnya ke Rabithah. Kalau nasabnya seperti ini, dan jumlah nasab generasinya  antara 38-39 orang ke anaknya masih memenuhi syarat tahun ini :

Sebab menurut penelitian Pakar Nasab menyebutkan bahwa “ marga tertua atau fam tertua dari puluhan marga/fam Dzuriat Nabi Muhammad Saw yang ada di Indonesia ialah al saqqaf (Assegaf). Lalu Assegaf ini tinggi, Keturunan Nabi yang ada di Indonesia ini umumnya adalah generasi ke-38 atau ke-39 tahun 2022".bahkan kalau dilihat nasab Dzuriat Datu Habib Lumpangi di Kalimantan Selatan sampai generasi ke-40 dan generasi ke-41 di tahun yang sama.

Adapun silsilah Nasabnya menurut Habib  H. Abdullah bin H,Hubbul Wathan Assegaf sebagai berikut    :

Habib H.Abdullah

bin H.Hubbul Wathan

bin H.Muhammad

bin Muhammad Arsyad

bin Jafri

bin Abdul Hamid

bin Abdurrahman Assegaf Ketapang Kec. Bakarangan Rantau

bin Segaf  (Desa Sungai Pinang, Nagara)

bin Abdul Hamid (orang tua Habib Segaf  Desa Sungai Pinang Nagara)

bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.

bin Hasan w.1720M

bin Hasyim w.1686M/18 Ramadhan 1097H

bin Muhammad

bin Umar ash-Shoufy

bin Abdurrahman

bin Muhammad

bin Ali w.840H

bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)

bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H))

bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M

bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H)

bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)

bin Sayyidina Ali Walidul Faqih


2. Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar anaknya berdakwah ke kampong- kampong dan ke pelusuk-pelusuk dusun di Hulu Sungai Selatan.

Namun seiring waktu berjalan, setelah mengetahui dan mengerti seluk beluk arah jalan transportasi menuju Hulu Sungai, pada akhirnya dari Pelabuhan Sungai Pinang tempat menetap, Saudagar Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar naik jukung/perahu sendiri membawa misi dakwah sambil berniaga melewati kampung-kampung atau desa-desa dan bahkan Saudagar Kain ini sering kali menginaf (bermalam) di kampung-kampung atau desa-desa yang disinggahinya, kampung atau desa Garis singgah, di desa Bangkau singgah, melewati desa Tawar singgah, kemudian menuju ke Sungai Balimau, di desa Sungai Kupang singgah kemudian menuju jalur aliran Sungai Hamandit, hingga tiba di Darmaga pelabuhan  Perahu Amawang (Hamawang) di Hulu Sungai Selatan Kandangan.

Adapun letaknya sekarang pasar “Darmaga pelabuhan  Perahu Amawang” disekitaran tepi aliran Sungai Hamandit mulai Pandai Muka, Jembatan 3 Desemer sd. kampong Gitik Sungai Kalang, atau Desa Amawang Kiri.

Ditepi Sungai atau pinggiran aliran Sungai Hamandit Desa Amawang, Sayyid Hasan dan Abu Bakar anaknya beserta Sayyid Idrus adik Sayyid Hasan dan keluarganya, awal mulanya mereka tinggal /menetap dekat Darmaga Pelabuhan Parahu Amawang.

E. Jalur transportasi Masyarakat dahulu mereka menggunakan alat Jukung Perahu untuk hilir-mudik melalui aliran anak Sungai Hamandit di Kandangan. 

1. Aliran anak sungai Hamandit kandangan yang bermuara Pandai muka, yakni aliran anak Sungai simpang lima Kandangan alirannya terus hulunya menuju ke Musyawah terus hulunya menuju ke Durian Sumur (belakang rumah Kayi suntik alm H.Tohri), terus ke Jl. Al Falah, terus melintasi Jl. Biluy terus hulunya menuju ke Kandangan Hulu dua dan bertemu /bersambung sungai Hamandit di Kandangan Hulu II.

2. Aliran anak sungai Hamandit Kandangan yang bermuara dekat jembatan tiga Desember (muka rumah alm.H.Huray) pandai tengah terus hulunya ke Karkup terus hulunya menuju ke Gambah luar (belakang Masjid Al-Abrar) terus hulunya ke Bakarung, menuju ke aliran Sungai Kudung kemudian aliran sungai membelah dua, ke Taniran.Selatan. Kalua terus hulunya menuju ke Tabihi terus hulunya menuju ke Karang Jawa dan bertemu /bersambung sungai Hamandit disini.

F. Para Sayyid mereka telah menyebar ke Kampong-kampong, ke pelusuk-pelusuk dusun membawa misi dakwah Islam

Menurut ceritra datu-datu dan neni kami bahari dan kisah  orang-orang tua yang saya temui bahwa “Sayyid Hasan dan keluarganya, Mereka pun berdakwah di kampong Amawang, Kandangan ini dan sekitarnya selama bertahun-tahun” salah satu metode dakwah yang sangat digemari dan diminati masyarakat sa’at itu adalah dakwah Islam (BAKISAH misalnya ttg cinta Rabiatul dengan Hasan al Basri, dilengkapi pantun, syair-syair, shalawat, kata-kata mutiara, kata filusufi dan yang dibumbui berikteng, sedikt homor, rayuan gumbal) disampaikan kepada masyarakat setempat. hingga masyarakatnya benar-benar gembira menerima suka rela dan mengenal Islam dengan baik.

Kemudian setelah itu “Beranjak dari Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang Keluarga Fam Assaqqaf ini, mereka telah menyebar membawa misi dakwah Islam serta berniaga ke desa-desa dan ke kampung-kampung dan juga kepelusuk-pelusuk dusun yang belum pernah dijamah Islam dan belum mengenal Islam dengan baik”. Misalnya sayyid Hasan beranjak dari Darmaga Pelabuhan Parahu Amawang membawa misi dakwah Islam dan berniaga  terus menuju psr. Pelabuhan Perahu Sungai Kudung dan singgah disana, kemudian terus  berhijrah menuju ke kampung Taniran dan sekitarnya. Setelah membantu ayahnya berdakwah di kampung Taniran ini bertahun-tahun, kemudian Sayyid Abu Bakar pergi membawa misi dakwah Islam dan berniaga ke Hulu Banyu desa Lumpangi dan sekitarnya.

Setelah beberapa waktu berada di Darmaga Pelabuhan Amawang, Kab. Hulu Sungai Selatan ini, maka terjadi pembagian tugas dan lokasi misi dakwah. Sayyid Hasan, karena sudah sepuh (berumur lanjut) sering sakit-sakitan maka Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy bin Abdurrahman bin Muhammad Assegaf  berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah dan tidak terlalu banyak jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung  khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat simpati  dan banyak berharap kepadanya sebagai Guru Agama. Tak berapa lama di Desa Taniran ia bersama masyarakat bisa membangun sebuah tempat ibadah berupa langgar yang berfungsi untuk tempat mengajar, belajar, mengaji, menuntut ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya.

G. Sayyid Hasan dan Sayyid Idrus adiknya berziarah ke makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy ayahanda mereka.

Ziarah kubur orang tua adalah amalan sunnah untuk mendoakan almarhum, mengenang jasa mereka, dan mengingat kematian. Rangkaian tata cara dimulai dari berwudu, mengucapkan salam kepada ahli kubur, membaca surat pendek seperti Al-Fatihah, tahlil, dan memanjatkan doa khusus bagi orang tua. Ada banyak ragam doa ziarah kubur berdasarkan tujuannya, seperti mendoakan orang tua, anak atau saudara yang telah tiada.

Ada dikisahakan Datu-neni bahari wallaahu‘a’lam bahwa : Sayyid Hasan dan Sayyid Idrus adiknya dan juga Abu Bakar beserta ke-2 orang anak tertuanya : Sayyid Abdul Rahman, Sayyid Abdul Hamid. Di awal Abad ke-18 Masihi sekitaran antara tahun 1715 sd. 1717 Masihi, mereka datang berkunjung untuk menjenguk keluarga (silatur rahmi) yang masih ada menetap di kota ini dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy ayahanda mereka di Randusari, Semarang Selatan kota Semarag Jawa Tengah, yang mereka jadwalkan keberangkatannya. Kali ini mereka pergi membawa barang dagangan yang mudah dijual seperti madu, damar, kayu manis, lada, rotan dan lainnya. Mereka berangkat dari rumah naik taxi menumpangi Perahu Bagiwas menuju Darmaga Pelabuhan Kapal Bandarmasih (Pelabuhan Kapal Tri Sakti Banjarmasin sekarang). Lewat Darmaga Pelabuhan ini mereka menyeberangi laut Bornio dan laut Jawa, adapun Jenis Perahu yang ditumpangi mereka sa’at itu adalah “Perahu Jung Banjar”. Keluarga Sayyid Hasan ini berangkat dari Darmaga Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih, mereka naik menumpangi “Perahu angkot Jung Banjar” menyeberangi laut Kalsel dan laut Jawa dan tiba di Darmaga Pelabuhan Jepara, kemudian menawarkan barang yang mereka bawa, hingga barang tersebut laris habis terjual dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan naik taxi angkot berupa dukar/delman kuda, terus menuju Kel. Randusari, Semarang.

Dikisahkan pula bahwa “Sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar, keduanya adalah seorang Guru atau Ustadz (Mubaligh), Profisi keduanya dan keluarganya sehari-hari adalah berdagang dan berdakwah.” Apabila   mereka berniaga ke tempat yang jauh, mereka selalu naik taxi PP “Perahu Tambangan” ditempuh melalui trasnportasi sungai hingga sampai ke tempat-tempat berniaga yang dituju, tempat tujuan terakhir yaitu wilayah pusat bekas kerajaan Daha, Nagara (pelabuhan sungai Pinang).

Ketika Habib berhijerah mencari lokasi dakwah, sambil membawa dagangannya dari Bandarmasih menuju Banua Anam yaitu kota Kandangan. Akhirnya mereka mudik menyisir tepi sungai Barito dengan kendaraan perahu jukung yang sangat sedarhana, membawa dagangannya berupa kain sarung dan perhiasan wanita. Mereka berhari-hari dan berminggu-minggu mengayuh jukung bahkan berbulan-bulan, memasak makanan, minum dalam jukung, setiap ada tumpukan rumah penduduk, selalu mereka singgahi, meliwati daerah kota, desa atau kampung seperti Marabahan, Margasari hingga Nagara,



Makam Habib Alwi bin Abdillah Assegaf martapura
 

Kedatangan Habib dan keluarganya disambut oleh masyarakat Taniran dengan suka cita dan ditampung oleh salah satu warga. Sebagian warga ada yang memberinya beras, ada mengantari ikan kering dan ada yang sayuran dllnnya. Habib dan keluarganya sangat ramah, murah senyum, suka menenguk warga yang sakit, membantu-bantu warga yang ditempatinya memanen padi disawah. disaat itulah mulai ditanamkan nilai-nilai ke-Islam-an  dan warga mulai tertarik dengan Islam. Apalagi saat itu Desa Taniran mengalami masa panen padi yang melimpah.

Setelah beberapa waktu berada di Hulu Sungai Selatan ini, maka terjadi pembagian tugas dan lokasi misi dakwah. Sayyid Hasan, karena sudah berumur sering sakit-sakitan maka Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufi bin Muhammad Assegaf  berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah dan tidak terlalu banyak jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung  khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat simpati  dan banyak berharap kepadanya sebagai Guru Agama. Tak berapa lama di Desa Taniran ia bersama masyarakat bisa membangun sebuah tempat ibadah berupa langgar atau "Mushalla Darul Lathif" yang bahan dasar bangunannya semua dari kayu biasa kecuali tiang dan tongkatnya dari kayu ulin. Mushalla berfungsi untuk tempat mengajar, belajar, mengaji, menuntut ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya bagi masyarakat Rt.02 Taniran. Kemudian kurang lebih dua tahun berikutnya muncul lagi "Mushalla Darul Miftahul Jannah" di Rt.03 kampong Taniran. Mushalla ini dibangun atas gotong royong dan dananya swadaya masyarakat Rt.03 kampong Taniran sa'at itu, tempatnya berdekatan dengan rumah Sayyid Hasan.

Seiring waktu berjalan dengan cepat, komunitas masyarakat Islam di kampong ini terus bertambah, keberadaan Masjid di kampong Taniran sangat dibutuhkan. Tidak seperti sekarang Masjid tidak perlu musti adanya sokongan. Menurut Alim Ulama bahari bahwa keberadaan Masjid harus disokong oleh keberadaan Langgar sekitarnya minimal tiga buah. Panitia Langgar inilah yang nantinya yang bertanggug jawab penuh mengisi Jama’ah Masjid setiap hari Jum’at. Begitu juga Petugasnya misalnya membuat kotak Amal Masjid, menyediakan Tukang Adzan, Khatib Jum’at, Imam Jum’at, secara bergantian. Kemudian berselang waktu kurang lebih dua tahun berikutnya muncul lagi "Mushalla Al-Hidayah" di kampong Muara Tawia. Mushalla ini berdiri ditepi aliran Sugai Tawia (dekat Jematan Kembar sekarang) dibangun atas gotong royong dan dananya swadaya masyarakat kampong Muara Tawia sa'at itu. 

Seiring waktu berjalan kemudian atas kesepakatan bersama masyarakat Taniran kala itu yang diwakili ke-3 Panitia Langgar. Langgar " Darul Lathif" yang berada ditengah-tengah kampong dialih fungsikan menjadi Masjid Taniran. "Masjid Darul Lathif" Taniran kala itu sambil direhab / dipugar sedikit demi sedikt, bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian atapnya bucur diganti daun rumbiya yang baru dan juga Panitia membuat Mimbar untuk tempat berkhothbah.

Dan diceriterakan orang pula bahwa Sayyid Hasan adalah orang yang diberi Allah Swt umur panjang, sewaktu wafat usianya lebih kurang 86 tahun. Ia  berdomisili lama hingga ia wafat di desa Taniran dan ia perah memperisteri seorang janda asal orang Taniran dan Ia dalam menyebarkan Islam dibantu anaknya selama kurang lebih 18-20 tahun ia berhidmat di desa Taniran Kec. Angkinang.. 

Menurut Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia telah mengutif dari berbagai sumber, bahwa "sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS."

Kalau dilhat dari kelahiran Habib Tanqir Gawa tahun 1862M/1279H di pertengahan abad ke19M, ia dzuriat ketujuh dari Habib Hasan. Maka tujuh generasi dimaksud 

  1. Habib Tanqr Gawa 
  2. bin Muhammad (gelar Abuthair) 
  3. bin Ibrahim (gelar Abu Tha'am)
  4. bin Abu Bakar as-Tsani
  5. bin Ahmad Suhuf 
  6. bin Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) 
  7. bin Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi)
  8. bin Habib Hasan bin Hasyim Assegaf.

Jadi diperkirakan dan hampir dipastikan Habib Hasan berdomisili di kampung Taniran sekitar pergantian abad ke-17 dan 18 M. Atau seiring masa kelahiran dan kehidupan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan)." Dan juga masa Raja Banjar ke-10 yakni Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Mashi.


H. Keberadaan Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Taniran di Abad ke-19 Masihi.

Menurut Artikel Biografi Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari  bahwa : Kepulangan pertamanya menuntut ilmu Agama dari Mekkah al Mukarramah, Syekh beserta rombongan tiba di kampung halaman, sekitar pada Bulan Ramadhan 1165 H bertepatan Juli 1752 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu, usia Muhammad As’ad kala itu sekitar satu bulan

Kemudian setelah ia dewasa Mufti H.Muhammad As'ad bin Sayyid Utsman menikah dengan Hamidah binti Abdullah orang Desa Balimau punya 12 putra-putri tetapi 5 orang putera menjadi ulama besar, yaitu :

  1. Haji Abu Thalhah, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1771 M 1185 H dan Wafat dan dimakamkan di Tenggarong, Kutai, Kalimantan Timur
  2. Haji Abu Hamid, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1773 M1187 H dan Wafat 10 Rabi’ul Awwal 1270 H, Ahad, 11 Desember 1853  dan dimakamkan di ujung Pandaran, Sampit, Kalteng
  3. Haji Ahmad Balimau, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1775 M/1189 H dan Wafat Rabu,  21 Rabi’ul Awwal 1257H/12 Mei 1841M dan dimakamkan di Balimau,
  4. Mufti Haji Muhammad  Arsyad lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1777 M/1191 H Wafat Sabtu, 23 Rabiul Awwal 1275 H dii masa pemerintahan Sultan Abdur Rahman bin Sultan Adam, usia sekitar 84 tahun dan dimakamkan di Pagatan, Kalsel.
  5. Haji Sa'adud-din, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1779 M/1193 H dan wafat Senin, 05 Shafar 1278 H atau 12 Agustus 1861 M yang dimakamkan (Desa Taniran Kubah Kab.HSS).

Keberadaan Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf sebagai Ulama dan Guru / Utstad membangun (mengislamkan) dan membina masyarakat Agamis di kampong Taniran sa'at itu. Ia dan Abu Bakar anaknya penyebar Islam lebih awal atau lebih dulu yakni pada awal abad ke-18 Masihi sekitar tahun 1702M dari pada Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad awal abad ke-19M, Syekh H. Sa'duddin berada di Taniran sekitar tahun 1812M. H Muhammad Thaib atau Syekh H.Sa’duddin lahir tahun 1779M/1193H di Kampung Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Usia 25 tahun, ia pergi ke Tanah Suci Makkah selama kurang lebih 10 tahun untuk menimba ilmu.

Diperkirakan sekitar tahun 1812M setibanya, ia dari Makkah, dua tahun setelah kedatangannya menuntut ilmu Agama di tanah Haramain (Mekkah-Madinah) kemudian datanglah tokoh masyarakat (Tetuha kampung  Taniran salah satunya Abah Saleh) kepada Mufti H.Muhammad As’ad ayahnya, meminta agar mengirim seorang guru ke Taniran untuk memberikan pendidikan agama, dan bersedia menetap tinggal di Taniran. Permintaan itupun dipenuhi, seiring waktu berjalan kemudian ia bersama masyarakat Taniran merehap "Masjid Darul Lathif" yang bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian dipugar Masjid tersebut meggunakan kayu Ulin semuanya beratap sirap, yang dibeli dan dibawa dengan perahu jukung dari Kota Nagara kala itu.

Untuk menyatakan rasa syukurnya, masyarakat kampung Taniran menghibahkan tanah perkebunan kelapa kepada Haji Sa'adud-din seluas kurang lebih sepuluh borongan (28,900 m). Tanah tersebut dipergunakannya untuk komplek pengajian dan perumahan. Di awal Abad ke-20 Masihi ditanah Hibah itulah sekarang berdiri masjid As-Sa’adah, yang didirikan pada tahun 1923 M, beserta rumah tempat tinggal beberapa dzuriatnya. Kemudian pada tahun itu Masjid Darul Lathif yang terletak di Rt.02 Taniran dialih fugsikan mejadi Langgar Darul Lathif, setelah berfungsi Masjid As-Sa'adah.


        Adapun sebagai dasar penulis menulis dan mengatakan bahwa Habib Hasan bin Hasyim Assegaf lebih awal berada di Desa Taniran dari pada Syekh H.Sa'duddin bin H.Muhammad As'ad, minimal ada tiga alasan yang kuat, antara lain :

Alasan Pertama (1). Adanya silsilah nasab Habib Hasan Assegaf itu sendiri yaitu kelahiran Habib Tanqirr Ghawa di pertengahan abad ke-19M yakni tercatat Senin, 13 Oktober tahun 1862M/19 Rabi'ul Awwal 1279H di Desa Lumpangi, usia Beliau 126 tahun Hijeriah. Beliau adalah keturunan ke Tujuh  dari Habib Hasan bin Hasyim Assegaf. Jadi ada 7 generasi silsilah baru sampai ke Habib Hasan Assegaf. Kalau dirunut dari Habib Tanqirr Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) bin Habib Hasan Assegaf. 

Alasan kedua (2) Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf tersebut baru ditemukan di abad ke-20 Masihi oleh masyarakat Taniran. Karena sangat lamanya Beliau wafat hingga Keluarganya dan masyarakat sekitarnya sudah banyak yang melupakannya. 

Alasan ketiga (3) bahwa Buyut Sayyid Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) yang bernama Sayyid Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Abu Bakar bin Hasan tahun wafatnya 1842 Masihi. sedangkan Datu Taniran Syekh Sa'duddin awal berada di Taniran mulai tahun 1812 Masihi. Pada tahun tersebut datanglah tetuha masyarakat atau tokoh masyarakat Desa Taniran menemui orang tua Datu Taniran yaitu H Mufti Muhammad As’ad dengan maksud agar berkenan mengirim seorang guru ke Taniran guna memberikan pendidikan agama.

Keterangan artikel ahlul bait di indonesia bahwa; Sayyid Alwi punya anak an. Muzenah dan Aly,  Aly menikah dengan  Ratubah punya anak an. Zen. Zen menikah dengan Syarifah punya anak an. Alwi, Kemudian Zen menikah lagi perempuan dari bangsa Banakmah berputra Ali, Syarifah Zainab, Syarifah Fetum (ibu Segaf bin Abubakar AlHabsyi), Syarifah Noor dan Syarifah Fedlon (masih hidup tinggal di Kampung Bugis ). kemudian Alwi menikah wanita salehah dari suku banjar dan punya anak Galuh (Syarifah Fatimah) di Kampung Melayu dan Abdul Kadir Jailani di Sungai Mesa]

Alasan keempat (4) tentang keberadaan makam atau pusara anak dan dzuriat Beliau di Desa Lumpangi. Berdasarkan hasil pengamatan kami selama 10 tahun disana. Keadaan Pusara Makam Habaib Datu Lumpangi  anak Habib Hasan Assegaf dari tahun 1970-1980M adalah sebagai berikut  :

a). Keadaan makam sudah sangat tua, nisan-nisannya raif sering terbakar dimasa kemarau panjang, dinding batur sudah jatuh ketanah, sudah lama ditinggalkan orang, sudah lama tidak dihuni penduduk dan keadaan tanaman atau pohon kayu banyak ditemukan pepohonan langsat, Ramania, Manggis yang hidup disekitar itu banyak dan lebih besar dari ember plastic isi 16 liter bahkan ada yang lebih besar lagi. rumpun-rumpun paring tali dan pohon-pohon Kelapa sangat tinggi dan tak berbuah lagi, pohon Durian ada yang lebih besar dari Kindai Padi lebih dari 2 depa orang tua.

b).Kepemilikan lahan tanah makam dan sekitarnya waktu itu tidak dimiliki masyarakat umum. Tetapi dikuasai oleh cucu-cicit-canggah dan wareng keturunan  Habib Abu Bakar as-Tsani Ahmad Suhuf Assegaf atas nama Habib Abu Tha’am Ibrahim dan adik kandungnya Abdul Lathif bin Ahmad (Habib Ahmad Suhuf) bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar  bin Hasan Assegaf.

c).Waktu tahun 1970-1975 an Nisan-nisan pusara pada makam Habaib Balai Ulin sudah raif karena sering terbakar api dimasa kemarau panjang tetapi sebagian berupa batu sungai, belum ada catatan atau tulisan yang kami temukan kala itu. Andaikata ada orang lain mengkliam menemukan catatan tulisan yang tertera di Nisan makam Habaib Lumpangi setelah tahun 1980 an itu adalah suatu hal yang dibuat-buat secara sengaja untuk mencocokkan /mensenkronkan dengan kepentingan mereka

d).Kalau dibandingkan Batur-batur yang ada di Balai Ulin dengan Batur batur yang ada  pada  pusara anak-anak Datu Bakumpai, di kota Marabahan keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Batur batur pusara anak Datu Bakumpai sudah ada seni ukiran (pengamatan  tahun 2016 & 2020M).  Usia batur-batur makam Datu Lumpangi lebih tua, belum ada seni ukiran-ukiran pahat-pahatan, dari usia batur-batur makam anak-anak Datu Bakumpai sudah ada seni pahatannya.

Tetapi sangat disayangkan Batur-batur itu sebagai bukti peninggalan sejarah semuanya raif ditelan masa, nilai-nilai sejarahnya hilang begitu saja sehingga generasi-generasi selanjutnya sulit mengadakan penelitian ilmiah untuk menentukan keberadaan masa hidup penghuni pusara Habaib dimaksud.Jadi, kalau Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dimaksud wafatnya ditulis diawal abad ke-20 Masihi maka catatan atau tulisan itu tidaklah palid atau tulisan itu belum tepat.

I. Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufy bin Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman Assegaf Wafat

Namanya Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufy Assegaf. Nama ayahnya adalah Habib Hasyim Assegaf diperkirakan wafat Ramadhan 1097H/ 1686 Masihi, ada yang berkata bahwa Hasyim sudah sepuh ketika menetap lama kel. Randusari. Ia tinggal disana hingga wafat di pasca Kesultanan Demak, yakni Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, Semarang, Jawa Tengah. Hasan lahir di Seiyun Hadramaut, diperkirakan tahun 1044H/1634M. Versi yang lain dan kuat menyebutkan bahwa, ia lahir di Tarim Hadramaut. Sebagian orang ada yang berkata bahwa : Usia Sayyid Hasan ketika ia datang ke Desa Taniran, sudah usia sepuh, yakni antara 68-70 tahunan begitu juga usia anaknya Sayyid Abu Bakar sekitar 35-40 tahunan.


Akhirnya Beliau wafat diperkirakan Selasa19 Sya'ban 1132H/1720M atau pada awal abad ke-18. Saya beberapa kali datang kesana dan bertanya kepada orang-orang yang tua penduduk asli Desa Taniran Kubah RT.002/RW.001 yang dekat dengan makam Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufi Assegaf, diperkirakan mereka mengetahui tentang kapan beliau datang - wafat namun jawabannya tak seorang pun yang tahu dengan pasti tetapi  diperkirakan Beliau datang hingga wafat pada awal abad ke-18 Masihi (antara tahun 1701 - 1720M). Belanda mulai  menduduki Kota Banjarmasin sekitar tahun 1747M. Beliau barmakam  atau berpussara di Desa Taniran Kubah RT.002/RW.001,  sekitar 600 meter dari jalan besar atau jalan induk. Atau 500 meter dari makam Syaikh Datu Taniran. Berseberangan dengan langgar Darul Miftahul Jannah. Kubah  beliau dikunjungi orang.

Kemudian untuk tugas membawa misi Dakwah Islam ke lokasi pelusuk pedalaman dan hulu sungai/ banyu diserahkan pada anak muda yakni Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Hingga akhirnya sambil membawa dagangannya sampai ia ke pelusuk suku Dayak Langara Desa Lumpangi yang belum pernah tersentuh Islam pada awal abad ke-18. Melalui Syekh Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy bin Abdurrahman  bin Muhammad Assegaf  yang mengislamkan suku Dayak Langara dengan nama Rumah Adatnya “Balai Ulin”. Menurut mitologi bahwa  suku dayak  Langara adalah bagian/ pencaran dari dari suku dayak Maanyan suku dayak tertua di Kalimantan Selatan.


J. Sayyid Idrus berniat silaturrahmi menjenguk keluarga yang masih ada menetap dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan.

Dikisahakan juga oleh Datu-neni bahari wallaahu‘a’lam bahwa : Setelah wafatnya Sayyid Hasan beberapa tahun ayahandanya kampung Taniran, timbulah keinginan untuk berziarah menjenguk kakeknya Sayyid Hasyim di Pulau Jawa. Di pertengahan awal Abad ke-18 Masihi sekitaran antara tahun 1748 sd. 1750 Masihi, Sayyid Abu Bakar beserta ke-3 orang anak tertuanya : Sayyid Abdul Rahman, Sayyid Abdul Hamid, Sayyid Jamaluddin dan Pamannya Sayyid Idrus (lhr.1674M) beserta anak tuanya Sayyid ‘Aly. 

Mereka datang ke kota Randusari ini dengan niat untuk menjenguk keluarga yang masih ada menetap (silatur rahmi) dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan kota Semarag Jawa Tengah, yang telah mereka jadwalkan keberangkatannya setiap 12 bulan atau 2 tahun sekali. Perjalanan bisnis kali ini, mereka membawa perbekalan makanan dan air minum yang dianggap cukup ketika dalam perjalanan, dengan bermodalkan mengucap “Bismillaahirrahmaanirrahiim” mereka berangkat dari rumah naik taxi angkot “Perahu Bagiwas” mereka banyak membawa barang dagangan yang dianggap cepat laku dijual di Pulau Jawa seperti madu, damar, kayu manis, lada, rotan dan lainnya. 

Mereka pergi menuju Darmaga Pelabuhan Bandarmasih, mereka menyeberangi laut Bornio dan laut Jawa, adapun Jenis Perahu /Jukung yang ditumpangi mereka sa’at itu adalah “Perahu Pinisi”. Keluarga ini berangkat dari Darmaga Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih naik menumpangi “Perahu Pinisi” menyeberangi laut Kalsel-laut Jawa dan tiba di Darmaga Pelabuhan Jepara, kemudian menawarkan barang yang mereka bawa ke para Pembeli, hingga barang tersebut laris habis terjual  syukur alhamdulillah mereka ucapkan, dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan naik taxi angkot berupa dukar/delman kuda, terus menuju Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan.

Namun  Sayyid Idrus Assegaf sa’at berkunjung dengan niat silatur rahmi untuk menjenguk keluarga yang masih ada menetap disana dan sekaligus menziarahi makam ayahandanya sayyid Hasyim dikota Semarang ini, tetapi setelah selesai pada kunjungannya kali ini, nasibnya malang tertimpa musibah, waktu ajalnya tiba, ia jatuh sakit, mungkin karena kelelahan selama dalam perjalanan, hingga penyakit lamanya kembuh, ketika itu anggota badannya terus melemah hingga ia wafat dengan usia sekitar 75-76 tahun dan janazahnya dikebumikan berdampingan dengan makam Sayyid Hasyim ayahnya dikota ini, dan Alamat lengkapnya di Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.


Catatan  

Referensi /dan daftar bacaan  :

Artikel “Pelabuhan Gresik” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas/ https://id.wikipedia.org/wiki/Pelabuhan_Gresik

Makalah “EKSPANSI JEPARA ABAD XVI DAN POTENSINYA SEBAGAI SUPLEMEN” Materi Pembelajaran Sejarah, Istoria : Jurnal Pendidikan dan Sejarah, Volume 20, No 1, Maret 2024

Artikel "Ki Ageng Pandan Arang" Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Ageng_Pandan_Arang, Tersedia Online: https://journal.uny.ac.id/index.php/istori

Artikel “Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) menggali masa lalu, pada masa kini, untuk masa depan yang cerah” Tinggalan Arkeologi Jukung di Kalimantan Selatan Bukti Prototipe Jukung Banjar Masa Kini, dan Pasar Terapung Sebagai Objek Pariwisata Berbasis Arkeologi.

Artikel “Sungai Keramat” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas// https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Keramat

Artikel “Tujuan Kerajaan Demak Membangun Pelabuhan di Pesisir Utara Jawa” Kompas.com Stori / https://www.kompas.com/stori/read/2024/12/16/230000679/tujuan-kerajaan-demak-membangun-pelabuhan-di-pesisir-utara-jawa.

Artikel “Sungai Sigaling” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Sigaling

Artikel detikjogja, "10 Jenis Perahu Tradisional di Indonesia, Salah Satunya Kapal Pinisi" selengkapnya https://www.detik.com/jogja/budaya/d-7077410/10-jenis-perahu-tradisional-di-indonesia-salah-satunya-kapal-pinisi

Artikel “Mengenal Kapal Pinisi: Sejarah, Karakteristik, hingga Proses Pembuatannya.”

https://www.detik.com/sulsel/budaya/d-6581846/mengenal-kapal-pinisi-sejarah-karakteristik-hingga-proses-       pembuatannya

Artikel “Jukung tambangan” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas // https://id.wikipedia.org/wiki/Jukung_tambangan#Referensi

Abad ke-16 Masihi dihitung dari tahun 1501M sd. tahun 1600 M, Abad ke-17 Masihi dihitung dari tahun 1601M sd. tahun 1700 M., Abad ke-18 Masihi dihitung dari tahun 1701M sd. tahun 1800 M., Abad ke-19 Masihi dihitung dari tahun 1801M sd. tahun 1900 M.,Abad ke-20 Masihi dihitung dari tahun 1901M sd. tahun 2000 M.dan Abad ke-21 Masihi dihitung dari tahun 2001M sd. tahun 2100 M.

Artikel “Daftar makam Ulama  Aulia Habaib HSS”   Rihlah Religi Assa’adah Burdah Community Kandaangan, Dakwah sepanjang hayat Teladan sepanjang jaman   http://daftarziarahhss.blogspot.com/2019/07/ Diposting oleh Al-Hajrain di 05.23, Rabu, 03 Juli 2019

Artikel tentang “Suku Dayak”yang di tulis oleh Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Suku Dayak - Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (diakses pada 19 Oktober 2021).

Hasil-hasil Wawancara dengan Habaib Fam/Marga Assegaf Desa Lumpangi yang masih hidup ditahun 2021Masihi, dan Ahmad Bayumbung misalnya Habib Muhammad Burhan atau Muhammad Burhanuddin Assegaf , Bapak Adi  Kayi Husni bin Karji, Yadi bin Juhri . Dan lain-lainnya

Artikel “Sejarah Ahlul bait (keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesa” dan http://fakhrur94.blogspot.com/2012/04/sejarah-ahlul-baitketurunan-sayyidina.html

Folklor  adalah Ceritera/kisah yang penyebaran dan pewarisannya cenderung dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut dari datu-datu dan nenek-nenek kami.

Artikel tentang “Sejarah Kalimantan Selatan” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kalimantan_Selatan diakses 20-10-2021 :07.45 wita.

Posted by Kajian Al-Kahf Email This BlogThis  Protect and Secure Your WiFi : https://bit.ly/vpn_secure   http://kajianal-kahf.blogspot.com/2012/05/riwayat-assegaf-di-sungai-mesa.html

Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/03/17/kalselpedia-datu-taniran-dan-sejarah-penyebaran-islam-di-banua-anam?page=all. Penulis: Hanani | Editor: Didik Triomarsidi

Hasil-hasil pengamatan kami dari tahun 1970-1980 terhadap pepohonan yang tumbuh besar di lokasi makam dan sekitarnya dan perbandingan batur-batur ulin Habaib yang ada di Lumpangi dengan batur ulin yang ada di Marabahan anak cucu Datu Kalempayan. ternyata batur Habaib Lumpangi lebih tua dari pada batur yang ada di Marabahan







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...