Mengungkap Historis Datu Habib Lumpangi Abu Bakar Kec. Loksado
Oleh H.Hasan Basri bin M.Barsih Assegaf
Daftar Isi Bab. I
01. Historis Desa Lumpangi masa tahun 1970-1980 Masihi.
02. Lelohor Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf
ash-Shaafy (Datu Habib Lumpangi) Keturunan Ba ‘Alawi.
03. Sekilas Keterangan asal Usul "Syarif atau Habib
yang ber- FAM / Marga Assaqqaf.
04. Melacak
Silsilah nasab dzuriat Nabi Besar Muhammad Saw melalui Marga/ Fam
Lelohor Sayyid dan Habib.
MENGUNGKAP
HISTORIS DATU HABIB LUMPANGI SAYYID ABU BAKAR BIN HASAN BIN HASYIM ASSAQQAF KECAMATAN
LOKSADO.
01. Historis Desa Lumpangi masa tahun 1970-1980 Masihi.
Destinasi objek wisata
Loksado memiliki pesona dan keunikannya tersendiri yang merupakan bagian
kawasan Pegunungan Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan
Selatan memiliki banyak pesona alam yang
luar biasa indah dan objek wisata. selain itu juga anda dapat menikmati bening
dan sejuknya air pegunungan yang mengalir ke Sungai Amandit serta riak-riak arus dari jeram atau
riam kecil yang cukup menarik hati.
“Destinasi” adalah area
geografis sebagai lokasi yang dapat menarik wisatawan untuk tinggal secara
sementara yang terdiri dari berbagai produk periwisata, sehingga membutuhkan
berbagai prasarat untuk merealisasikannya.
Masing-masing destinasi itu
memiliki pesona dan keunikannya masing-masing. Bila Anda belum sempat
mengunjungi destinasi perbukitan batu Langara dan makam religi Habaib keluarga
Assegaf Lumpangi Loksado, yang menawarkan keindahan alam luar biasa bagi siapa
pun yang berkunjung mungkin tak ada salahnya menyiapkan rencananya sejak saat
ini
Sementara destinasi objek wisata lain alam Loksado, berupa air Terjun Haratai berjarak sekitar sepuluh kilometer dari ibukota kecamatan dengan menyisir bukit ke arah pedalaman.
Ooh Lumpangi! Kau adalah
desaku, kau desa tempat lahirku, kau tempat lahir nenek dan kakekku, desa tempat tinggalku masa
kanak-kanak hingga remaja. Lumpangi adalah sebuah desa yang ramah lingkungan,
ia desa yang terisolasi, udaranya yang sejuk. air sungainya yang bening, ia
jauh dari pusat keramaian kota kandangan, dulu jaraknya sangat jauh dari kota
Kandangan, bisa ditempuh 6-7 jam jalan
kaki. dan belum bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat. Tetapi
sekarang desa Lumpangi bisa ditempuh anatara 20-25 menit dengan kendaraan roda
dua atau roda empat dari kota Kandangan.
Ada sebagian Keluarga Habib yang dulunya masih bertempat
tinggal dekat areal makam di kampung
Balai Ulin. Keluarga itu adalah keturunan Habib Iberahim Abu Tha’am bin
Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf. Ia
punya anak 3 orang yaitu an.Muhammad Abu Thair, Siti Khadijah dan Daud. Abu
Thair Muhammad tinggal dekat Masjid, sedangkan kedua adiknya tinggal di kampung
Balai Ulin. Kemudian anak Siti Khadijah an. Ahmad I’ing dan Hambali yang
dulunya bertempat tinggal (rumah) dekat makam, dan karena merasa susah PP ke
Lumpangi, harus menyeberangi aliran sungai Kali Amandit, arus sungainya yang
deras sedalam lebih dari 1 meter, menyeberangi dengan jalan kaki, atau
menyeberangi dengan rakit bambu untuk samapai ke masjid dan ke pasar dan juga di pasar ini untuk mencari keperluan
hidup lainnya seperti uyah, asam, acan
dan timbaku.
Maka
setelah dibuatnya jembatan gantung penghubung antara desa Lumpangi dengan
kampung muara Ahan. Maka kedua saudara ini Ismail (Julak I’ing) dan Hambali
pindah rumah dari kampung Balai Ulin ke kampung Muara Ahan. Maka kampung Balai
Ulin kosong dari perumahan penduduk. Kekosongan itu terjadi sebelum Indonesi
merdeka. Kemudian Ismail (Julak I’ing)
dan Hambali (pa. Uut) mendirikan sebuah
rumah di tepi sungai Ahan. Rumah itu juga berada di tepi jalan Kandangan
ke Loksado. Dulu orang-orang yang dari
Kandangan, apabila sampai dihulu kampung Datar Tandui, mereka menyeberang
sungai Kali Amandit yang dangkal dekat
muara ahan, mereka berjalan meliwati halaman rumah Ismail (Julak I’ing)
dan Hambali, tetapi bila air sungai dalam dan arusnya deras mereka menyeberang lewat jembatan
penghubung antara Lumpangi dengan muara Ahan. Dan mereka juga meliwati halaman
rumah Ismail (Julak I’ing) bin H.Mastur dan Hambali bin H.Mastur ini.
Konon keberadaan pasar ini cukup lama sebelum
keberadaan dibangunnya masjid
Baiturrahim. Kemudian ada bantuan
Pemerintah tahun 1974 untuk membangun pasar, untuk pembuatan tempat khusus
jualan maka pasar pindah ke pantai dihalaman rumah Uus (Pa.Mawan) dan.dekat
dengan Jembatan gantung. Jembatan gantung sedarhana dengan tali kawat baja yang
diikatkan pada kaki batu langara, dan diseberangnya di beri dua tiang ulin dan
ujun kawat baja diikatkan pada kayu ulin yang dibenam di dasar tanah pantai.
Ujung tali itu ditutupi batu kali sebesar kepala setinggi 1 meter lebih. Lantai
paring batangan, banyaknya antara 7-10 batang yang disirat (diikat) dengan tali
haduk, paikat tali atau tali sumawi tempo dulu.
Dahulu sebelum terjadi
pemekaran desa dan kecamatan bahwa Desa Lumpangi menjadi wilayah Kecamatan
Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Untuk sampai ke desa Lumpangi
seseorang harus jalan kaki dari Taxian mobil Pagat Batu (Batu Bini). Waktu itu
jenis mobi taxi yang sampai ke Batu Bini
ini adalah mobil jenis Jep dan mobil Puar. Kedua jenis mobil inilah yang taxi
pulang-pergi (PP) Kandangan – Pagat. Batu.
Nah dari Pagat Batu inilah jalan
kaki menuju desa Lumpangi kurang lebih 6 jam memakan waktu lama kalau berjalan
normal melewati tepi sungai Kali Amandit.
Ada beberapa desa yang dilewati (sebagai terminal pejalan kaki untuk istirahat minum dan makan di warung pada desa-desa tersebut) antara lain desa-desa yang dilalui desa Batu Bini atau Batu Tambun terus desa Bulanang, desa Muara Hariang (Periangan), desa Halunuk, desa Basawar, desa Muara Bayumbung, desa Harantan (Panggungan) desa Marikit dan kampung Datar Tandui terus sampai Desa Lumpangi. Tetapi sekitar tahun 1991-1995 jalan tembus Kandangan ke Batulicin baru dibuat, dengan adanya akses jalan tersebut maka sepeda motor dan mobil bisa masuk dengan mudah ke desa Lumpangi.. Jalan tembus ini sangat berpengaruh banyak terhadap perekonomian masyarakat desa Lumpangi khususnya. Kemudian terjalilah pemekaran desa dan kecamatan, maka Desa Lumpangi menjadi Kecamatan Loksado.
02. Lelohor Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf ash-Shaafy (Datu Habib Lumpangi) Keturunan Ba ‘Alawi
Leluhur Ba ‘Alawi yakni Imam Ahmad al-Muhajir pada mulanya tinggal di Basrah, Irak. Namun di negeri ini masa itu terjadi konplik, huru hara, fitnah dan tidak aman. Imam Ahmad al-Muhajir adalah Naqib atau kepala keluarga dari keluarga al-Uraidhi. Mereka hijrah ke Hadramaut, untuk menyelamatkan keluarganya dari konplik tersebut.
Nama ketiga putra Abdullah (Ubaidillah) bin Ahmad al-Muhajir, yakni : Basri (Ismail), Jadid dan Alwi. Nama putra Abdullah yang bernama 'Alwi inilah yang menurunkan Bani Alawi
Putra Abdullah (Ubaidillah) bin Imam Ahmad yang bernama 'Alwi, merupakan orang pertama yang dilahirkan di Hadramaut. Oleh karena itu, anak-cucu 'Alwi digelari dengan sebutan Ba 'Alawi, yang bermakna keturunan Alawi (Bani 'Alawi). Panggilan Ba 'Alawi juga bertujuan menandai dan membedakan kumpulan keluarga ini dari cabang-cabang keluarga lain dari keturunan Nabi Muhammad Saw.
Awal terbentuknya kelompok keluarga ialah dari Imam Ahmad bin 'Isa al-Muhajir, yang berangkat meninggalkan Basrah di Irak bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadramaut di Yaman Selatan.
Seseorang keturunan Ba 'Alawi oleh masyarakat lokal Indonesia sering kali dipanggil dengan sebutan-gelar Sayyid/Habib untuk laki-laki, dan "Syarifah/Habibah" untuk perempuan.
Ba 'Alawi yang bermula di Hadhramaut ini telah memiliki banyak keturunan dan pada saat ini banyak di antara mereka menetap di segenap pelosok Nusantara, India, dan Afrika.
Kalau kita baca silsilah Nasab para
Habaib Desa Lumpangi Kec. Loksado dari Habib
Abu Bakar maka akan bersmbung ke Sayyidina Al-Imam Alwi Alawiyyin yang Keturunanya
disebut “Ba ‘Alawy”
Silsilah Nasab Habib Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M. bin Hasan w.1720M bin Hasyim w.1666M/1077H bin Muhammad bin Umar ash-Shoufi bin Abdurrahman bin Muhammad bin Ali w.840H bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assegaf (1338-1416M) bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H)) bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289 bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H) bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M) bin Sayyidina Ali Walidul Faqih bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath (w. 556H/1161M) bin Sayyidina Ali (Al-Imam Kholi Qasam w.527 H/1133 M) bin Sayyidina Alwi Ba ‘Alawy (w.512H) bin Sayyidina Al-Imam Muhammad (Shahib As-Shouma’ah w.446H) bin Sayyidina Al-Imam Alwi Alawiyyin (Shahib Saml) bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah (Shahibul Aradh w.383H)
03. Sekilas Keterangan asal Usul "Syarif atau Habib yang ber- FAM / Marga Assaqqaf"
Aal-ALSAQQAF آل السقاف (dibaca Assegaf/al Seggaf). Yang pertama kali digelari al-saqqaf ialah waliyullah al-Muqaddam al-Tsani al-Imam Abdurahman bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Gelar yang disandang karena beliau sebagai pengayom para wali pada zamannya agar terhindar dari perkara bid’ah. Para ulama ahli hakikat dan para wali yang bijaksana menamakan beliau ‘al-Saqqaf’, karena beliau menutup hal keadaannya dari penduduk di zamannya. Beliau sangat benci dengan kesohoran. Ketinggian derajat beliau dari para wali di zamannya bagaikan kedudukan atap bagi rumah. Beliau dilahirkan di kota Tarim, dikarunia 13 anak lelaki, dan 7 orang meneruskan keturunannya: Abu Bakar As-Sakran, Alwi, Ali, Aqil, Abdullah, Husain dan Ibrahim. Waliyullah Abdurahman Al-saqqaf wafat di Tarim tahun 819 H (Afandi 2008).
Adapun ke-7 orang anak laki-laki yang meneruskan keturunan Waliyullah Abdurahman Al-saqqaf adalah :
- Abu Bakar As-Sakran,
- Alwi,
- Ali,
- Aqil,
- Abdullah,
- Husain dan
- Ibrahim,
Adapun anak-anak keturunan Waliyullah Abdurahman Al-saqqaf adalah mareka masing-masing mempunyai marga / fam :
Sayyid Abu Bakar As-Sakran, punya tiga orang anak yang
bernama : Abdullah, Ali dan Ahmad.
1a.. Keturunan Abdullah bin Abu Bakar As-Sakran,
- Alaydrus :
- Al Husein
- Al Alwi
- Al Syaikh
1b.. Keturunan Ali bin Abu Bakar As-Sakran, mereka
- Al Wahath
- Al Musyayyakh
- Al Umar Faqih
- Al bin Ahsan (Banahsan)
- Al Masyhur
- Al Zahir
- Al Hadi
- Al Syahabuddin
1c..Keturunan Ahmad bin Abu Bakar As-Sakran, mereka
- Assegaf Ali bin Abdullah
- Al Musawwa
- Al Munawwar
- Al Quthban
2.Keturunan Alwi bin Abdurrahman Assegaf, mereka
- Assegaf Al Qaisiyah
- Assegaf Al Fargas
- Assegaf Al Tuainah
- Assegaf Al Bahaliqah
- Assegaf Al Muallim
- Assegaf Al Ahmad
3. Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf
Menurut Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin bahwa Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf yang bermarga /fam
- Assegaf Al Thaha bin Umar
- Assegaf Al Usman
- Assegaf Ash-Shaafy
Menurut penelitian Syaikh Syamsul Afandi tentang nasab dzuriat Nabi Muhammad Saw dalam kitab biografi "Ulama Terkemuka Dunia dan Nasional" bahwa Habib Abdurahman al-Mualim adalah ayahnya waliyullah Umar al-Shaafi. Aal AL-SHAAFY AL-SAQQAF Mereka adalah keturunan waliyullah Umar al-Shafi bin Abdurahman al-Mualim bin Muhammad bin Ali bin Abdurahman al-Saqqaf. Sedangkan yang punya marga/ fam/ nama al-Mualim" …………al-Mualim” Kadalah Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf.
4. Keturunan Aqil bin Abdurrahman Assegaf,
- Assegaf Ba Aqil
5.Keturunan Abdullah bin Abdurrahman Assegaf,
- Al bin Ibrahim
- Al Fakhir
- Al bin Aqil
- Al bin Syaikhan Lisik
- Al Ubbad
- Al Salim Mahjub
- Bin Syaikh Abu Bakar bin Salim
- Alalatas
6.Keturunan Ibrahim bin Abdurrahman Assegaf,
- Al Baiti
- Assegaf bin Ibrahim
- Assegaf Al Ismail Karisah
7.Keturunan Husain bin Abdurrahman Assegaf,
- .... Al Husaini.....
Beliau waliyullah al-Faqih al-Muqaddam al-Tsani al-Imam Abdurahman bin Muhammad Maula Dawilah hidup dari tahun 1338-1416M / 739-819 H. Dari ke 13 anak lelaki ini dzuriat Rasulullah Saw yang bermarga As Seggaf telah menyebar ke pelusuk negeri , salah satunya ke negara Asia Tenggara yakni Indonesia, diantaranya ke pulau Jawa pada masa Kesultanan Demak untuk mengembangkan Syari’at Islam dari Datu Moyang mereka. Masa Kesultanan Banjar mengalami keemasan maka Gantung siwur dan Cicip moning yakni genarasi/ keturunan ke-7 dan ke-8 Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurahman Al-saqqaf adalah Habib Hasan bin Hasyim beserta adik kandungnya Habib Idrus Assegaf dan anaknya Habib Abu Bakar bin Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufi Asseggaf. Habaib inilah menurunkan Habaib yang ber MARGA atau FAM (Family-Keluarga) Assegaf ash-Shaafy masuk ke Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan dan menatap beberapa tahun. Dikota ini Habib Idrus dan Habib Abu Bakar menikahi wanita shalihah dari suku Banjar. Diperkirakan Habaib ini telah menyeberang dan masuk kedaerah Bandarmasih pada akhir abad ke-17M.
04. Melacak Silsilah nasab dzuriat Nabi Besar Muhammad Saw melalui Marga/ Fam Lelohor Sayyid dan Habib
a. Marga atau Fam Azmatkhan
Marga atau Fam Azmatkhan merupakan keturunan
dari Al-Habib As-Sayyid Abdul Malik Al-Azhamatkhan bin As-Sayyid Alawi ‘Amm
Al-Faqih bin As-Sayyid Muhammad Shahib Al-Mirbath, beliau merupakan keturunan
Husain bin Ali bin Abi Thalib.
Marga Al-Azhmatkhan merupakan keturunan dari
Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath, ia diduga merupakan keturunan
Husain bin Ali. Abdul Malik bin Alwi berhijrah dari Hadramaut ke India pada
abad ke-14 Masehi, lebih awal dari para imigran lain dari Hadramaut
Menurut Sayyid Salim bin Abdullah
Asy-Syathiri Al-Husaini, guru besar dari Tarim, Yaman, keluarga Azmatkhan (yang
merupakan leluhur Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi asal Hadramaut dari
gelombang pertama yang masuk di nusantara dalam rangka penyebaran Islam.
Maulana As-Sayyid /
As-Syarif Abdul Malik bin Alwi kemudian menikahi putri bangsawan Haidarabad
India dan mendapatkan gelar "Al-Azhmatkhan". Gelar "Khan"
diberikan oleh Bangsawan Haidarabad agar ia dianggap sebagai bangsawan setempat
sebagaimana keluarga yang lain.[1] Selain itu, mereka menyematkan gelar
"Azhamat" yang berarti "Mulia" karena Abdul Malik bin Alwi
diduga berasal dari garis keturunan "Sayyid" Keturunan Nabi Muhammad
SAW. Sebagian keturunannya tetap mempertahankan nama ini sebagai Patronimik
sampai hari ini, Di Indonesia keturunan bermarga Azmatkhan ini umumnya di kenal
melalui Garis Keturunan Walisongo, seperti contoh Raja / Sultan Nusantara
terdahulu Nasabnya tersambung ke Walisongo hingga ke Maulana Sayyid / Syarif
Abdul Malik bin Alwi keturunannya saat ini yang ada di Nusantara menyandang
identitas Bangsawanannya nama depannya diawali : Raden, Raden Mas, Tubagus, Elang, Kemas, Tengku.
Asimilasi karena sejarah panjang perkawinan silang yang ekstensif, terutama dengan bangsawan lokal, kebanyakan dari keturunan Azmatkhan secara fisik dan budaya tidak dapat dibedakan dari penduduk setempat. Di Indonesia, tidak jarang anggota keluarga Azmatkhan memiliki gelar kerajaan turun temurun seperti Raden, Tubagus, Masagus, Masayu, Kemas, atau Nyimas.
b. Melacak Silsilah nasab dzuriat Nabi Muhammad Saw melalui Marga/ Fam Lelohor Sayyid dan Habib berikut ini :
- Abdurrahman bin Alwi Ammul Faqih,
- Ahmd bin al Faqih al Muqaddam
- Ali bin al Faqih al Muqaddam
- Abdulah Ba ‘Alawi
- Ali bin Muhammad Mauladdawilah
- Alwi bin Muhammad Mauladdawilah
- Ali bin Abdurrahman Assegaf
- Alwi bin Abdurrahman Assegaf
- Aqil bin Abdurrahman Assegaf
- Ibrahim bin Abdurrahman Assegaf
- Abdullah bin Abdurrahman Assegaf
- Syaikh Abu Bakar bin Salim
- Abdullah bin Abu Bakar As-Sakran
- Ali bin Abu Bakar As-Sakran
- Ahmad bin Abu Bakar As-Sakran
Menurut Artikel Buku Saku Marga Alawiyin Maktab Daimi RabithahA lawiyah /https://www.scribd.com/document/537983716/Buku-Saku-Marga-Alayawiyin-Maktab-Daimi-Rabithah-Alawiyah bahwa Fam/Marga/Keluarga (Aal Alawiyin adalah :
1.Keturunan Abdurrahman bin Alwi Ammul Faqih, mereka berm Alaarga /Fam
- Bahasyim
- Bin Smith
- Bin Thaaher
- Ba’bud Maghfun
- Bafarj
- Al Haddad
- Basurrah
- Aided
- Bafaqih
- Baiti Auhaj
- Basakutah
- Annadhir
2..Keturunan Ahmd bin al Faqih al Muqaddam mereka bermarga /Fam
- Ba Umar
- Albar
- Khaneyman
- Ba Ali
- Bilfaqih
- Al Beidh
- Balghaits
- Al Jufri
- Al Kaf
- Al Bahar
- Al Shafi
3..Keturunan Ali bin al Faqih al Muqaddam yang bermarga / fam :
- Al Junaid
- Al Sirri
- Baharun
- Bahasan
- Bin Sahil
- Jamalullail
- Basyaiban
- Al Syathiri
- Al Habsyi
- Al Qadri
4. Keturunan Abdullah Ba ‘Alawi yang bermarga / fam :
- Madihij
- Fad’aq
- Al Muthahharah
- Al Mudhir
- Abu Numai
- Al Marzaq
- Al Masyhur Marzaq
- Al Hamid Munaffar
- Ba’bud Dubjan
- Baraqbah
- Al Khirid
- Al Barum
5..Keturunan Ali bin Muhammad Mauladdawilah yang bermarga / fam :
- Al Hinduan
- Ba’bud Kharbasyan
- Ba’bud Syeikhan
6.Keturunan Alwi bin Muhammad Mauladdawilah yang bermarga / fam :
- Bin Yahya
- Maula Khailah
- Bin Sahil Maula Khailah
- Muqaibil
- Mauladdawilah
12.. Keturunan Syaikh Abu Bakar bin Salim,
- Al Hamid
- Al Khiyyed
- Al Haddar
- Al Bufutheim
- Al Aqil Muthahharar
- Al Khamur
- Al bin Jindan
- Al Muhdhar
Daftar Isi
BAB. II
SEKILAS
SEJARAH KERAJAAN DAYAK MAANYAN “KERAJAAN NAN SARUNAN” DI KALIMANTAN SELATAN
A.
Sejarah Kerajaan Dayak Maanyan " Kerajaan Nan Sarunai" di
Kalimantan Selatan
- Kerajaan Dayak Maanyan Kalimantan Selatan
- Kerajaan Nan Sarunai meliputi Kahuripan dan Tanjung Puri adalah kerajaan yang sama.
- Kerajaan Nan Sarunai adalah Pemerintahan yang pertama kali menjadi cikal-bakal Kesultanan Banjar.
- Bukti-bukti Keberadaan Kerajaan Suku Dayak Nan Sarunai di Amuntai Kalimatan Selatan.
- Dayuhan dan Intingan Datunya Orang Banua Lima.
- Asal Usul Suku Dayak Pulau Kalimantan.
- Kelompok Etnis Suku Dayak Pulau Kalimantan.
B.
Latar Belakang Runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan.
- Ekspedisi militer Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Dayak Maanyan Nan Sarunai.
- Ekspedisi militer Pertama Kerajaan Majapahit.
- Ekspedisi militer Kedua Kerajaan Majapahit.
- Ekspedisi militer Ketiga Kerajaan Majapahit.
- Dua orang Punggawa penyelamat Ratu Nansarunai dan keluarganya.
C.
Sejarah Berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" di Pegunungan
Meratus Kecamatan Loksado.
- Sekilas Sejarah berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" Kecamatan Loksado.
- Tradisi-tradisi Adat Suku Dayak Pegunungan Meratus.
- Tradisi-tradisi Budaya bangsa Arab Jahiliyah yang dibatalkan setelah Keberadaan Islam.
- Balai Adat Dayak Balai Ulin pernah Simpan Biji Padi Sebesar Kelapa pipikat Keramat.
- Kesaktian yang dimiliki Orang Dayak Pegunungan Maratus yang secara turun temurun.
- Adanya upaya Sekelumpok Orang Mengkaburkan /Menghilangan Fakta Sejarah Balai Adat Balai Ulin Lumpangi.
- Cikal Bakal Berdirinya Kerajaan Banjar atau Kesultanan Banjar.
- Orang Arab suka berpetualang menjelajahi lautan sebelum dan sesudah berkembangnya Islam.
- Penyebaran Islam dan Proses masuknya agama Islam di Kalimantan Selatan.
BAB. II
Sekilas Sejarah Kerajaan Dayak Maanyan " Kerajaan Nan Sarunai" di Kalimantan Selatan
Menurut sejarah Kerajaan Nan Sarunai adalah sebuah kerajaan purba, di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit di Abad ke-14M, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 Masihi. Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu sekitar tahun 1520M (Suku Dayak).
Menurut Lindblad,
bahwa kata Dayak berasal dari kata
“daya” dari bahasa Kenyah, yang berarti hulu sungai atau pedalaman. Suku Dayak
adalah suku bangsa atau kelompok etnik yang mendiami pedalaman pulau
Kalimantan.
Menurut pemerhati sejarah
Mudjahidin. S (2010) Dari kisah orang dahulu hiduplah sekelompok suku Melayu
Tua di pulau Kalimantan yang terdiri dari lima kelompok suku,ke-5 suku itu
dipimpin masing-masing lima orang bersaudara, ke-5 suku tersebut sudah
mempunyai sistem kepemimpinan bahwa yang muda taat pada yang tua. Kelima
bersaudara tersebut bernama :
- Abal,
- Anyan,
- Aban,
- Anum,
- Aju,
Mereka ini sangat berilmu dan sakti, bijak dan berwibawa. Negeri yang mereka bangun tersebut diberinama Nan Marunai/dikenal kerajaan Nan Sarunai, yang artinya
- Marunai = memanggil dengan suara nyaring (keras belagu)
- Sarunai = menyaru dengan suara seperti suling.
Dahulu dinegeri ini jika memanggil orang (mengumpulkan orang) dengan berteriak (bahalulung : Banjar) keras suaranya berirama sesuai maksud panggilannya.
Nama Sarunai itu sendiri
dimaknai dengan arti “sangat termasyhur”.Penamaan ini bisa jadi mengacu pada
kemasyhuran Suku Dayak Maanyan pada masa silam, di mana mereka terkenal sebagai
kaum pelaut yang tangguh, bahkan mampu berlayar hingga ke Madagaskar di Afrika.
Dari cerita suku Dayak Tua, bahwa kelima saudara ini titisan dari dewa Batara Babariang Langit, ia kawin dengan. Putri Mahuntup Bulang anak dari Batari Maluja Bulan dan melahirkan laki-laki an.Maanyamai, dan Maanyamai beristri putri Galuh dan istrinya melahirkan anak bernama Andung Prasap. Konon ia sangat sakti. Dan ia membangun Negeri Nan Marunai (Nan Sarunai) kemudian Andung Prasap beristri anak Raja menggaling Langit dan melahirkan kelima saudara tersebut di atas. Dari kelima saudara tersebut inilah cikal bakal suku-suku Dayak dari pulau Borneo atau Kalimantan Timur, Tengah, Utara dan Selatan. Orang tua mereka menyuruh mereka berpencar mengembara, konon Abal ke daerah Timur, menjadi suku Aba, Anum ke daerah utara melahirkan suku Otdanum, Aju menetap ketengah benua, jadi suku Ngaju, sedangkan Anyan keselataan melahirkan suku Maanyan. Dan mereka tersebut diberi pitua :” Tabu/ dilarang bacakut papadaan apalagi bermusuhan, karena mereka satu daerah satu nyawa, menurut pitua Nenek Moyang mereka mengatakan (pitua) Terkutuk apabila Bakalahi sata manggungan.
Menurut Artikel "Sejarah persaudaraan dayak dan banjar" bahwa dari cerita silsilah keturunan dayak tersebut adalah suku Weddoid yang sudah eksis berabad-abad mendiami pulau Kalimantan.Adapun anak tertua yang ke-2 bernama Anyan bin Andung Prasap melahirkan suku Dayak Ma-Anyan. Ia punya 10 anak keturunan :
- Luwa,
- Pahi,
- Alai,
- Wangi,
- Sari,
- Aju,
- Burai,
- Buun,
- Kutip,
- Asih
Dari kesepuluh anak ini orang suku Dayak menyebutkan cucu urang 10, kesepuluh cucu tersebut mereka membuka pemukiman /kampung di tempat yang berbeda sehingga ada warga Luwa di sepanjang Kalua sampai kemuara Uya, Ahe menjadi warga Ma-ahe Mahi, Alai di Birayang, wangi menjadi warga Mawangi di Padang Batung HSS, Sari menjadi warga/ Marga Sari di Tapin, Aju menjadi suku Biaju sampai ke Riam Kanan dan Riam Kiwa, Burai menjadi warga, Maburai, Buun menjadi warga Mabuun dan kampung di Warikin, Kutip menjadi warga-Makutip sedangkan Asih menjadi suku Ma-asih ke muara pulau (ujung panti) dan Sungai Baulak (sekarang sebelah Alalak)
2. Kerajaan Nan Sarunai meliputi Kahuripan dan Tanjung Puri adalah kerajaan yang sama
Menurut Sejarah tradisi lisan suku Dayak bahwa Kerajaan Dayak Maanyan yang bernama Kerajaan Nan Sarunai, pernah berdiri di daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai. "Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Daerah itu berjarak sekira 190 kilometer dari Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sekarang" (Raditya 2018)
Nama Dayak mulanya adalah sebutan untuk penduduk asli di Pulau Kalimantan. Suku Dayak, memiliki 405 sub-sub suku yang setiap sub sukunya memiliki adat, tradisi serta budaya yang hampir sama. Suku Dayak, merupakan suku yang berasal dari Kalimantan akan tetapi suku Dayak juga tersebar hingga ke Sabah dan Sarawak, Malaysia (Artikel Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku Dayak).
Menurut mitologi suku Maanyan (suku tertua di Kalimantan Selatan), kerajaan pertama di Borneo Selatan adalah Kerajaan Nan Sarunai yang diperkirakan wilayah kekuasaannya terbentang luas mulai dari daerah Tabalong hingga ke daerah Pasir.
Keberadaan mitologi Maanyan yang menceritakan tentang masa-masa keemasan Kerajaan Nan Sarunai sebuah kerajaan purba yang dulunya mempersatukan etnis Maanyan di daerah ini dan telah melakukan hubungan dengan pulau Madagaskar. Kerajaan ini mendapat serangan dari Majapahit. Sehingga sebagian rakyatnya menyingkir ke pedalaman (wilayah suku Lawangan). Salah satu peninggalan arkeologis yang berasal dari zaman ini adalah Candi Agung yang terletak di kota Amuntai. Pada tahun 1996, telah dilakukan pengujian C-14 terhadap sampel arang Candi Agung yang menghasilkan angka tahun dengan kisaran 242-226 SM (Kusmartono dan Widianto, 1998:19-20). Menilik dari angka tahun dimaksud maka Kerajaan Nan Sarunai/Kerajaan Tabalong/Kerajaan Tanjungpuri usianya lebih tua 600 tahun dibandingkan dengan Kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan Timur (Sahriansyah 2015).
Sementara itu menurut sumber kuat (arkeologis ) menyebutkan bahwa Kerajaan Tanjung Puri adalah kerajaan yang sama dengan Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan.
Kerajaan Nan Sarunai adalah sebuah kerajaan purba, pada masa keemasannya berdatanganlah Para imigran Melayu keturunan Sriwijaya ke tanah Borneo ini, mereka datang ke Tanjungpuri sekitar abad ke-4 M, mereka memiliki budaya lebih maju dari pada penduduk lokal atau suku Dayak pada saat itu, mereka yang menempati pemukiman yang berlokasi di daerah pesisir Sungai Tabalong
Semakin lama perkampungan yang mereka tempati semakin ramai dan kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan kecil bernama Tanjung Puri di bawah kekuasaan Kerajaan Nan Sarunai,
Pada suatu saat, kota Tanjungpuri mulai berkembang pesat dan menjadi daerah perdagangan yang ramai, serta rakyatnya hidup dalam kemakmuran dan sejahtera.
Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan purba di Kalimantan Selatan yang diyakini berdiri tahun 242 SM- sd. tahun 1389M yakni akhir Abad ke-14 Masihi.. Ia sebuah Kerajaan yang mempersatukan etnis Suku Dayak dan etnis Malayu di Kalimantan saat itu tetapi tidaklah banyak terixspots nama raja-rajanya yang berkuasa sebelumnya.
Sedangkan Kerajaan Tanjungpuri diyakini bawahan Nan Sarunai, kedua Kerajaan ini sangat rukun, berkelurga dan bersaudara dekat, bahkan tidak pernah ada permusuhan diantara kedua kerajaan tersebut. Walaupun kedua kerajaan tersebut berbeda keyakinan, tetapi tetap saling menghormati, menjaga, dan saling membantu.
03. Kerajaan
Nan Sarunai adalah Pemerintahan yang pertama kali menjadi cikal-bakal
Kesultanan Banjar.
Mengutip Artikel “Nan Sarunai”
menyetakan bahwa “Pemerintahan yang pertama kali menjadi cikal-bakal Kesultanan
Banjar adalah Kerajaan Nan Sarunai. Kerajaan purba yang dikelola oleh
orang-orang Suku Dayak Maanyan ini disebutkan dengan nama yang berbeda-beda.
Selain Kerajaan Nan Sarunai, nama-nama lain yang juga diyakini sebagai nama
kerajaan ini adalah Kerajaan Kuripan, Kerajaan Tanjungpuri, dan Kerajaan
Tabalong. Nama Kerajaan Tabalong disertakan karena kerajaan ini terletak di
tepi Sungai Tabalong. Sungai Tabalong adalah anak sungai Bahan, sedangkan Sungai
Bahan adalah anak Sungai Barito yang bermuara ke Laut Jawa”.
Selain itu, muncul pendapat
berbeda yang menyatakan bahwa Kerajaan Tanjungpuri berbeda dengan Nan Sarunai. Pendapat ini
meyakini bahwa Kerajaan Tanjungpuri bukan pemerintahan yang dikelola oleh Suku
Dayak Maanyan, melainkan oleh orang-orang Melayu Palembang yang merupakan
pelarian dari Kerajaan Sriwijaya. Versi yang satu ini juga menyebutkan bahwa
Nan Sarunai dan Kerajaan Tanjungpuri berada dalam lingkup ruang dan waktu yang
sama.
Pemimpin Nan Sarunai
mengendalikan pemerintahan dari sebuah rumah panjang
bertipe rumah panggung
yang dikenal sebagai Rumah
Betang atau Rumah Lamin. Rumah Betang ini tidak lain merupakan istana bagi Raja Nan Sarunai. Rumah
Betang mempunyai ciri khusus untuk membedakannya dari rumah-rumah biasa, yakni
Rumah Betang tersebut berbentuk tanda plus.
04. Bukti-bukti Keberadaan Kerajaan Suku Dayak Nan Sarunai di Amuntai Kalimatan Selatan.
Mengutip Artikel “Nan Sarunai” menyetakan bahwa “Sejauh ini belum banyak referensi yang bersifat ilmiah dan secara proporsional menjelaskan tentang riwayat Kerajaan Nan Sarunai mengingat usia kerajaan ini yang sudah sangat tua. Sumber-sumber yang digunakan selama ini adalah cerita tutur yang termaktub dalam Hikayat Banjar. Sejarah Indonesia pada umumnya dalam menjelaskan suatu negara tradisional sangat bertumpu pada historiografi tradisional, seperti babad, hikayat, atau cerita rakyat. Historiografi tradisional mempunyai ciri-ciri yang menonjol dan saling berkaitan, yaitu etnosentrisme, rajasentrisme, dan antroposentrisme (Sartono Kartodirdjo, 1993:7). Informasi yang diperoleh dari Hikayat Banjar ditandai oleh sifat-sifat mistis, legendaris, dan tidak ada unsur waktu dalam urutan ceritanya. Hikayat Banjar ditulis sepanjang 4.787 baris atau 120 halaman. Namun, sebagian besar isi dari hikayat ini lebih banyak menceritakan tentang kerajaan-kerajaan setelah era Nan Sarunai, yakni Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Negara Daha, dan Kesultanan Banjar. Riwayat Nan Sarunai sangat sedikit disinggung, terutama menjelang keruntuhannya. Kisah tentang Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar lebih menyerupai tradisi lisan, yakni nyanyian Suku Dayak Maanyan (wadian) yang kemudian ditransformasikan secara turun temurun. Tradisi lisan orang Dayak Maanyan mengisahkan bahwa mereka sudah memiliki negara suku bernama Nan Sarunai. Nyanyian wadian menceritakan peristiwa tragis tentang runtuhnya Nan Sarunai akibat serangan dari Kerajaan Majapahit pada sekitar abad ke-13. Dihitung tahun 1201 sd. tahun 1300 Masihi. Sementara itu di abad ke-14 di Kalsel, pada tahun 1309 M, terdapat seorang raja yang memimpin Nan Sarunai kerajaan Dayak Suku Maanyan, bernama Raden Japutra Layar yang memerintah pada kurun 1309-1329 M. Gelar raden yang disandang sang raja berasal dari Kerajaan Majapahit, karena Japutra Layar sebelum menjadi Raja Nan Sarunai, ia adalah anak kepala suku besar Dayak Maanyan dan ia seorang pedagang yang sering bergaul dengan para bangsawan dari Majapahit.
Raden Japutra Layar adalah raja pertama Nan Sarunai yang tercatat secara historis. Didasarkan pada pola, sistem, dan struktur pemerintahan Nan Sarunai yang sudah menjadi jauh lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Hikayat Banjar terbagi
menjadi dua versi, versi pertama merupakan versi yang telah diubah dan disusun
pada masa Kesultanan Banjar yang secara definitif telah memeluk agama Islam,
sedangkan versi kedua dianggap sebagai versi yang berasal dari Negara Dipa yang
memeluk agama Hindu. Dari analisis Ras ini dapat ditarik kesimpulan bahwa
penjelasan mengenai sejarah Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar memang hanya
mendapat porsi yang sedikit karena, Negara Dipa, yang banyak dibahas dalam
Hikayat Banjar versi kedua, baru muncul setelah era Nan Sarunai berakhir.
Raden Japutra Layar adalah raja pertama Nan Sarunai yang tercatat secara historis. Didasarkan pada pola, sistem, dan struktur pemerintahan Nan Sarunai yang sudah menjadi jauh lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya. Seperti diketahui, Nan Sarunai adalah pemerintahan yang dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan dan diduga sudah eksis pada kisaran waktu antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi sehingga diperkirakan sistem pemerintahannya, termasuk dalam hal kepemimpinan, belum terorganisasi dengan baik. Dalam hal ini, Raden Japutra Layar bisa saja bukan merupakan raja pertama, melainkan hanya raja yang tercatat setelah sentralisasi Nan Sarunai. Penerus Raden Japutra Layar sebagai pemimpin Kerajaan Nan Sarunai adalah Raden Neno (m. 1329–1349) dan kemudian Raden Anyan (m. 1349–1355). Raden Anyan, bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas, adalah raja terakhir Nan Sarunai sebelum riwayat kerajaan ini tamat akibat serangan dari Kerajaan Majapahit.
Referensi :
Artikel “Nan Sarunai” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas/ https://id.wikipedia.org/wiki/Nan_Sarunai
Artikel (KERAJAAN TANJUNGPURI DI TANJUNG TABALONG) Yuli Saputera
05. Dayuhan dan Intingan Datunya Orang Banua Lima
Konon dipulau Borneo di daerah pesisir sungai Barito pada sekitar awal abad ke-13M (th.1200-1300M) hiduplah dua orang Pangeran bersaudara yang terpelajar dan berilmu dan dua orang pengiran ini bernama Datu Dayuhan dan Datu Intingan nama aslinya (Bambang Basiwara), keduanya masih keluarga dekat, sepupu sekali Raden Japutra Layar Raja Dayak Nan Sarunai.
Menurut ceritra orang-orang Dayak pahuluan bahari bahwa Japutra Layar anak Raden Japatra Batu dan ia anak Raden Gupitra Dewa konon ia punya adik kandung bernama Raden Gupitra Bajawara (alias Datu Paluy) Datu Paluy ini anak dari Datu Sarawin. Dimasa mudanya Dayuhan dan Intingan adalah menjabat Patih dari 40 patih kerajaan Nan Sarunai. Bambang Basiwara dan anak-anaknya mengabdi di Kerajaan Tanjungpuri dan Dayuhan dan anak-anaknya mengabdi di Kerajaan Nan Sarunai. Dayuhan dimasa mudanya menikah dengan Dyang Nilam Baiduri anak pembesar Kerajaan Tanjungpuri menurunkan anak : Datu Angkin, Datu Angara, Datu Kumbang, Dara Kambang dan Datu Kantawan, kelima anaknya setelah dewasa menjadi orang terpelajar dan berilmu mereka mengabdi pada Raja Nan Sarunai. Sedangkan Datu Intingan dimasa mudanya menikah dengan Dyang Intan Baiduri (salah seorang Putri Imigran Melayu keturunan Sriwijaya). Hasil pernikahan keduanya menurunkan lima orang anak laki-laki :
Datu Alai
Datu Tabalong
Datu Balangan
Datu Amandid
Datu Tapin
kelima bersaudara ini, mempunyai profisi dan keahlian berbeda sehingga tak mudah ditaklukkan lawannya.
Dilansir dari Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang ditakuti Prajurit Majapahit” bahwa Nama Datu Banua Lima cukup dikenal warga Banjar di Kalimantan Selatan. Datu Banua Lima merupakan gelar bagi lima panglima Kerajaan Tanjungpuri yang terkenal sakti dan ditakuti kerajaan lain termasuk prajurit Majapahit pada awal abad ke 14 masehi. Berdasarkan hikayat Datu Banua Lima, kelima Panglima tersebut yang pertama bergelar Panglima Alai, merupakan ahli politik dan strategi perang. Kedua, Panglima Tabalong, yang terkenal gagah, kuat, pemberani, dan berjiwa ksatria. Ketiga, Panglima Balangan yang berwajah tampan, pintar, dan suka menuntut ilmu kanuragan. Sedangkan yang keempat dan kelima adalah si kembar yang bergelar Panglima Hamandit dan Panglima Tapin. Mereka berdua ini terkenal keras dan suka berkelahi. Kala itu Kerajaan Tanjungpuri berhubungan baik dengan Kerajaan Nan Serunai tetangganya. Walau berbeda keyakinan Kerajaan Tanjungpuri yang mayoritas pengikutnya beragama Buddha sedangkan Kerajaan Nan Sarunai pengikut ajaran Kaharingan. (Datu Dayuhan menjadi Kepala Suku Dayak pegunungan Maratus setelah Kerajaan Dayak Nan Sarunai dan bawahannya runtuh). (Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit”)
(Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit” diterbitkan SINDOnews.com pada Jum'at, 03 Juli 2015)
Nama Dayak mulanya adalah sebutan untuk penduduk asli di Pulau Kalimantan. Suku Dayak, memiliki 405 sub-sub suku yang setiap sub sukunya memiliki adat, tradisi serta budaya yang hampir sama. Suku Dayak, merupakan suku yang berasal dari Kalimantan akan tetapi suku Dayak juga tersebar hingga ke Sabah dan Sarawak, Malaysia (Artikel Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku Dayak).
Latar Belakang Runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan
Selatan.
Kerajaan Nan Sarunai adalah Kerajaan Dayak Maanyan yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan, Kerajaan yang aman dan rakyatnya hidup makmur. Salah satu yang melatar belakangi runtuhnya Kerajaan Dayak Maanyan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan.
Raja tetap memiliki kekuasaan
tertinggi sebagai kepala suku maupun kepala pemerintahan. Otoritas tradisional
yang berlaku di lingkungan Nan Sarunai adalah patrikalisme yang pengawasannya
berada di tangan seorang individu tertentu yang memiliki kewenangan warisan.
Pemimpin Nan Sarunai mengendalikan pemerintahan dari sebuah rumah panjang bertipe rumah panggung yang dikenal sebagai Rumah Betang atau Rumah Lamin. Rumah Betang ini tidak lain merupakan istana bagi Raja Nan Sarunai. Rumah
Betang mempunyai ciri khusus untuk membedakannya dari rumah-rumah biasa, yakni
Rumah Betang tersebut berbentuk tanda plus.
Kehidupan orang-orang Suku
Dayak Manyaan di Nan Sarunai berlangsung hingga berabad-abad lamanya. Selama
kurun waktu ribuan tahun itu, sistem pemerintahan yang berlaku di Nan Sarunai
masih dijalankan secara sederhana. Baru pada tahun pada tahun 1309 M, Nan Sarunai dianggap
sudah memiliki sistem pemerintahan yang lebih baik ketika dipimpin oleh seorang
raja yang bernama Raden
Japutra Layar. Pada
masa ini, sistem pemerintahan, termasuk dalam hal pemberian gelar kehormatan,
di dalam Nan Sarunai sudah terpengaruh tradisi dari Kerajaan Majapahit. Gelar
raden diberikan secara khusus hanya untuk seorang raja, sedangkan para
bangsawan lainnya memakai gelar patih, uria, damong, pating'i, datu, dan
sebagainya.
1. Ekspedisi militer Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Dayak Maanyan Nan Sarunai
Menurut Sejarah tradisi lisan suku Dayak bahwa Kerajaan Dayak Maanyan yang bernama Kerajaan Nan Sarunai, pernah berdiri di daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai. "Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Daerah itu berjarak sekira 190 kilometer dari Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sekarang" (Raditya 2018)
Mengutip Artikel “Nan Sarunai” menyetakan bahwa "Nama Sarunai sendiri dimaknai dengan arti “sangat termasyhur”. Penamaan ini bisa jadi mengacu pada kemasyhuran Suku Dayak Maanyan pada masa silam. ada pendapat lain yang mengatakan bahwa nama Sarunai berasal dari kata “Sarunai” yakni alat musik sejenis seruling yang mempunyai tujuh buah lubang. Alat musik ini sering dimainkan orang-orang Suku Dayak Maanyan untuk mengiringi tari-tarian dan nyanyi-nyanyian. Konon, Raja dan rakyat Nan Sarunai sangat gemar menari dan menyanyi. Dengan demikian, nama "Nan Sarunai" berarti sebuah kerajaan di mana raja dan rakyatnya gemar bermain musik".
Periodesasi pemerintahan yang
muncul dan berkembang di Asia Tenggara pada umumnya terjadi dalam tiga fase,
yaitu negara suku,
negara awal, dan
negara kerajaan. Nan
Sarunai memainkan peranan penting pada fase negara suku dalam konteks sejarah
Banjar. Negara suku atau negara etnik mengandaikan bahwa rakyat di pemerintahan
itu hanya terdiri dari satu etnik dan tatanannya diatur oleh tradisi yang
ditransformasikan dari nenek moyang ke generasi berikutnya.
2.Ekspedisi militer Pertama Kerajaan Majapahit
Sejarah menyebutkan bahwa Kerajaan Dayak Maanyan yang bernama Kerajaan Nan Sarunai, berdiri dan bertahan berabad-abad di Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai. "Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Nan Sarunai adalah kerajaan Dayak yang kuat dan hebat dan rakyatnya makmur. Buktinya dua kali pasukan Majapahit menyerang kerajaan Nan Sarunai tetapi selalu dapat dipatahkan.
Menurut hikayat Datu Banua Lima bahwa Tahun 1309 M Kerajaan Dayak Nan Sarunai dipimpin raja bernama Raden Japutra Layar, Menurut ceritra orang-orang Dayak pahuluan bahari bahwa Japutra Layar anak Raden Japatra Batu dan ia anak Raden Gupitra Dewa konon ia punya adik kandung bernama Raden Gupitra Bajawara (alias Datu Paluy anak dari Datu Sarawin. Datu Sarawin diperkirakan hidup akhir abad ke-12 Masihi) ia seorang raja Nan Sarunai dan ia kakeknya Datu Dayuhan.
Seorang Raja yang dalam waktu satu genarasi masa memimpin kerajaannya berkisar antara 35-40 tahun baru digantikan oleh penerusnya kerajaan ini yang bertakhta di Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan saat itu. Kemudian penerus Kerajaan Dayak Nan Sarunai dipimpin oleh Raden Neno antara 1339-1341.yaitu anak Raden Japutra Layar.
Menurut Sri Naida, pemerhati sejarah mengatakan bahwa "walau Kerajaan Nansarunai itu dianggap lenyap, toh eksistensi Dayak Maanyan itu tetap ada. Terbukti, dengan adanya 7 uria (petinggi Kerajaan Nansarunai) dan 40 patih yang akhirnya membentuk suku-suku yang ada di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah"
Diceritrakan bahwa Kerajaan Majapahit mengirim ekspedisi militer pertama ke wilayah Borneo. Yang mula-mula diserang adalah Kerajaan Nan Sarunai. Sekitar 5.000 pasukan Majapahit datang dengan kapal-kapal laut melewati Sungai Barito yang dipimpin oleh Senopati Arya Manggala. Dengan membawa pasukan yang sangat banyak tersebut, lalu pasukan Kerajaan Nan Sarunai dengan gagah berani menyambut kedatangan serangan mereka dengan pasukan yang sudah matang dipersiapkan sebelumnya. Lalu terjadilah peperangan sengit antara dua kobo kerajaan ini.
Setelah dua hari bertempur dimedan laga menghadapi pasukan Nansarunai yang tangguh dan kuat, akhirnya pasukan Majapahit mampu dipukul mundur oleh pasukan Nan Sarunai yang dipimpin Datu Panglima Angkin tarkanal sakti (anak Datu Dayuhan), bahkan pemimpin pasukan Majapahit ketika itu yaitu Senopati Arya Manggala roboh bersimbah darah dengan liher putus akibat terkena sebitan Mandaunya senjata asli Suku Dayak. Mengetahui pemimpin pasukannya tewas lalu sisa-sisa pasukan Majapahit lari terbirit-birit tunggang langgang menuju kapal untuk menyelamatkan diri dari gempuran dan kejaran pasukan Nan Sarunai dan akhirnya mereka pulang ke tanah Jawa. Kerajaan Majapahit gagal dalam ekspedisi pertama ini, untuk menaklukan Kerajaan Nan Sarunai.
Referensi (Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit” diterbitkan SINDOnews.com pada Jum'at, 03 Juli 2015)
Diceritrakan pula bahwa dimasa kerajaan Dayak Nansarunai ini pula menurut Hikayat Datu Banua Lima ada seorang panglima kerajaan berasal dari suku Dayak Alai yang terkenal dengan sebutan Panglima Alai. Bersama lima panglima lainnya yaitu Panglima Tabalong, Panglima Balangan, Panglima Hamandit dan Panglima Tapin sukses menghalau serangan kerajaan Majapahit pada tahun 1356M.
Dilansir dari Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit” bahwa Pada saat itu, Kerajaan Majapahit sangat berambisi untuk menguasai nusantara termasuk tanah Borneo, Kalimantan. Hal itu terjadi karena Maha Patih Gajah Mada sudah bersumpah untuk menguasai dan menyatukan nusantara. Menurut mata-mata Majapahit ada yang mengatakan bahwa kedua kerajaan di Borneo tersebut adalah rakyatnya sangat makmur karena istananya berlapiskan emas. Mendengar hal itu, Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit begitu berambisi untuk menguasai kedua buah kerajaan tersebut,
3. Ekspedisi militer Kedua Kerajaan Majapahit
Setelah gagal dalam ekspedisi pertama, Majapahit kembali mengirim ekpedisi militer kedua. Ekspedisi kedua kali ini dipimpin langsung Laksamana Nala yang diikuti isterinya dengan membawa dua kali lipat pasukan dari ekspedisi pertama. Dalam rombongan pasukan besar ini terdapat juga pasukan khusus Majapahit yang terkenal yaitu pasukan Bhayangkara. Pada ekspedisi kedua ini pasukan Majapahit belum berhasil menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai
Diceritrakan pula bahwa dimasa awal Raden Anyan memimpin kerajaan Dayak Nansarunai menggantian ayahnya Raden Neno. menurut Hikayat Datu Banua Lima ada seorang panglima kerajaan berasal dari suku Dayak Alai yang terkenal dengan sebutan Panglima Alai. Bersama lima panglima lainnya yaitu Panglima Tabalong, Panglima Balangan, Panglima Hamandit dan Panglima Tapin dengan membawa 1000 orang pasukan mereka sukses menghalau serangan kerajaan Majapahit pada tahun 1356M. . Laksamana Nala pulang ke tanah Jawa dengan sengaja ia meninggalkan isterinya Damayanti (Samoni Batu nama samaranya) di wilayah /tempat kekuasaan musuhnya tujuannya untuk mengetahui kelemahan musuhnya dengan alasan kapal tidak dapat merapat kepantai karena terjadi musim kemarau saat itu. Beberapa tahun kemudian musim kemarau telah berakhir menyamar sebagai saudagar Pedagabg kaya berlabuh di sungai Barito Laksamana Nala menjemput isterinya yang sedang menggendung seorang anak. Disinilah awal bermula timbul rasa .dendam Laksamana Nala dengan Raja Nansarunai karena ia menikahi & menghamili Samoni Batu yang sudah bersuami dan lewat keterangan isterinya tersebut ia mengetahui sumur gua tempat persembunyiannya dan rahasia kelemahan musuhnya.
Di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 Masihi. Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu sekitar tahun 1520M (Suku Dayak)
Kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan tersebut yang berlokasi di Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai. Nansarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Akibat serangan Majapahit itu yang terjadi diakhir abad ke-14 Masihi suku Dayak Maanyan tersebut terdesak dan terpencar, sebagian masuk ke pedalaman-pedalaman hulu sungai.
4.Ekspedisi militer Ketiga Kerajaan Majapahit
Pada 1389 M. Majapahit kembali mengirim ekpedisi militer ketiga Ekspedisi ini dipimpin langsung Laksamana Empu Jatmika dan diikuti Laksamana Nala. Pada ekspedisi ketiga ini pasukan Majapahit melakukan siasat perang yakni penyusupan-penyusupan dari dalam yang tidak disadari lawannya, berupa memasukan kapal yang datang ke darmaga pelabuhan secara bertahap, di wilayah Kerajaan Nan Sarunai, hingga tak dicurigai lawan, mereka menyamar sebagai saudagar pedagang kaya yang banyak pelayannya untuk mengetahui kelemahan lawan, penyamaran ini dilakukan dalam waktu yang lama hingga kelemahan lawan ditemukan. Kemudian baru mengadakan serangan secara tiba-tiba hingga berhasil menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai, bahkan serangan ketiga tersebut Raja Nan Sarunai yang bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas yang terkenal konon sakti mandarguna tetapi ia diduga gugur dalam konvirasi peperangan. Peristiwa runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai yang oleh orang-orang dayak Maanyan dikenal dengan istilah “Nan Sarunai Usak Jawa”. Konon atas petunjuk isterinya, diduga Raja Nan Sarunai terbunuh dengan sebuah tombak sakti miliknya sendiri yang dilakukan oleh Laksamana Nala di dalam sebuah sumur gua tempat persembunyiannya. Versi lain menyebutkan bahwa yang ditangkap dan dibunuh dengan sebuah tombak sakti itu adalah Raksa Gangsa pengawal setia Raden Ayan (adik kandung istrinya) sedangkan Raden Ayan sendiri selamat dari konvirasi penangkapan dan pembunuhan saat itu ia melarikan diri menuju Banua Lawas Amuntai dan bersembunyi disana hingga akhir hayatnya. Sedangkan Ratu Kerajaan Nan Sarunai yang bergelar Dara Gangsa Tulen dan sebagian keluarganya lari menyelamatkan diri menuju pedalaman dibantu dua orang Punggawany
Akibat serangan Kerajaan Majapahit tersebut, maka Kerajaan Nan Sarunai yang dipimpin oleh Raden Anyan yang menyandang gelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas disebut-sebut sebagai raja terakhir Nan Sarunai saat itu telah dihancurkan dan ditaklukan Maka suku Dayak Maanyan tersebut terdesak dan terpencar atau tercerai berai atau lari ke pedalaman. Sebagian mereka masuk ke pedalaman hulu sungai
Ada tiga ekspedisi militer dilakoni Kerajaan Majapahit dalam misi menaklukkan Kerajaan Nansarunai. Hingga terlebih menyusufkan tentara-tentaranya sebagai buruh kapal perdagangan dalam masa berbulan-bulan hingga bertahun tahun untuk mengetahui kelemahan Nansarunai. Penetrasi atau penyerangan III terjadi pada tahun-1389, di masa Raja IV Majapahit bernama Sri Hayam Wuruk atau Rajasanagara yang berkuasa pada 1350-1389, dengan Maha Patih Gajah Mada (yang wafat pada 1362), serangan yang ke-3 inilah terbilang sukses.
Atas perintah Hayam Wuruk, pasukan Majapahit pimpinan Empu Jatmika menyerang Nan Sarunai hingga takluk. Kemudian, Empu Jatmika membangun kerajaan baru bernama Negara Dipa yang bernaung di bawah kekuasaan Majapahit dan menganut agama Hindu.
5. Dua orang Punggawa Pendamping dan penyelamat
Ratu Nansarunai dan keluarganya
Menurut Ahmad dan Ceritra
datu nenek kami bahwa “Amandit dan saudara sepupunya Kantawan adalah nama dua orang
Punggawa Kerajaan Nansarunai yang sakti dari Dayak Maanyan yang ditugaskan
menyelamatkan Dara Gangsa Tolen Ratu Nansarunai Dara Gangsa Tulen dan keluarganya dari kejaran-kejaran tentara
Majapahit. Punggawa Amandit membawa mereka lewat tanah kelahirannya lumpangi hingga
perjalanan sampai ke- Desa Peramasan Atas Kab. Banjar. Nah di Desa inilah
terdapat sebuah nama bukit /gunung bernma Panginangan Ratu dan makam Ratunya
ada disana.”..
Menurut Ahmad atau Amat
yang saya wawancarai, ia asal dayak Bayumbung yang sudah muslim ceritera dari
datuk-neneknya bahwa "Saat penyerangan tentara Maja Pahit yang ke-3 ke Kalimantan
Selatan tahun 1389M Ratu Dayak Nansarunai juga ikut lari/mengungsi bersama
sebagian rakyatnya menyelamatkan diri ke daerah pedalaman dibantu Pengawal
setianya yang bernama Raksajiwa,adik kandungnya sendiri hingga perjalanan mereka tiba di Paramasan dan
bersembunyi di sana. Beliau telah wafat dan bermakam di Pramasan Atas Kecamatan
Paramasan dan makamnya Ratu Dara Gangsa Tulen masih ada malah diberi lelangit kain kuning oleh
Masyarakat Dayak disana".
Menurut ceritra masyarakat setempat
bahwa Pada masa menyelamatkan Dara Gangsa Tolen Ratu Nansarunai
dan keluarganya perjalanan yang dipandu Dua orang Punggawa Kerajaan
Nansarunai yakni Amandit dan Kantawan, mereka singgah di Kandangan beberapa
waktu untuk bersembunyi dan beristirahat melepaskan lelah di dalam sebuah “Gua ” maka Gua tempat beristirahat Ratu Nansarunai tersebut diberi nama
oleh masyarakat setempat dengan nama “Gua Peranginan Ratu” gua tersebut menjadi
Objekwisata terletak digunung Parandakan sekarang menjadi wilayah Kec.
Lokpaikat.
Menurut Asmaji Kades
Paramasan Bawah yang saya wawancarai saat pernikahan sepupunya an. Yusran di
Desa Bamban bahwa "Kuburan Ratu Nansarunai terletak di Desa Paramasan Atas
dan Kuburannya itu sudah dibina oleh Pemerintah Kab. Banjar."
BAB. III
Sejarah Berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" di Pegunungan Meratus Kecamatan Loksado
A. Sekilas Sejarah berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" Kecamatan Loksado.
01. Sejarah berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" Kecamatan Loksado.
Menurut perkiraan Datu-nenek kami bahari berdirinya atau awal dibangun Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" adalah awal balai Adat di pegunungan Meratus di Kecamatan Loksado bahwa Perjalanan mereka prang Dayak semakin jauh, walaupun satu tahun sekali melangkah atau satu tahun sekali mereka berpindah-pindah ketika mereka berladang atau berhuma, maka ladang (atau pehumaan) yang lama mereka tinggalkan. Mereka berladang dari lembah ke lembah yang lain atau dari gunung ke pegunungan yang lain atau dari pantai ke pantai seberang sungai yang lain.
Kurang lebih 150 tahun atau satu setengah abad kemudian setelah kekalahan generasi pertama Penduduk kerajaan Nan Saruna dari serangan Majapahit hingga generasi ke-4, ke-5 dan ke-6 dalam perjalanan atau hijerah sebahagianya ada yang sampai ke desa Lumpangi. Loksado. Nah di Desa Lumpangi inilah pernah berdiri diperkirakan tahun 1552 pertengahan abad ke-16 sebuah Balai Adat.
Menurut folklor ceritra datu nenek kami kalau dihitung dari runtuhnya kerajaan Nan Sarunai bahwa diperkirakan generasi ke-8, ke-9 dan ke-10 pancaran Suku Dayak Maanyan mereka sudah lama berdomisili di Desa Lumpangi Loksado, mereka membangun kembali Balai Adat yang perabut bangunan utamanya dari kayu Ulin. Kayu Ulin tersebut ditebang dan diolah (ditarah) dengan kapak Baliung atau Balayung. Peralatan lainnya seperti parang.Bungkul, Mandau untuk mengkayau /perang, tumbak dan Sumpit untuk berburu binatang liar. Kayu-kayu tersebut diambil dan dibawa dari Hulu Banyu Loksado dengan rakit bambu /lanting.
Salah satu yang menjadi tradisi adat Dayak dalam membangun rumah/balai adat bahwa "muka rumah/ balai adat selalu menghadap kearah matahari terbit, tak terkecuali Balai Adat "Balai Ulin" itu mukanya juga mengadap kearah matahari terbit, dan balai itu dihuni oleh 7-10 kepala keluarga. Orang Dayak menjunjung tinggi semangat rasa kebersamaan dan mereka memiliki dapur masing-masing. Balai Adat berbentuk panggung dengan ukuran panjangnya diperkirakan 35-50 meter dan lebar 10-12 meter dan tinggi lantai dari permukaan tanah 2 setengah hingga 3 meter dan 7 anak tangga kecil untuk menolak Hantu kepala terbang. Tangga itu hanya dilewati 1 orang lebar kurang lebih 50cm.
Pada pertengahan abad ke-17 Masihi Balai Adat "Balai Ulin" Lumpangi Loksado direhap total oleh Regenerasi suku Dayak. Sekitar tahun 1700 Masihi akhir abad ke-17 Balai Adat tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Suku Dayak atau Tetuha atau Penghulu Adat bernama Langara, ia punya adik kandung bernama Ulang. Dayak Ulang ini punya anak bernama Bumbuyanin dan Bayumbung, sedangkan Datu Dayak Langara menurut sumber data punya 3 anak pertama bernama Talib (alias Datu Hamanau atau Utuh Langara) dan kedua bernama Anjah (alias Datu Panimpulungan Panglima Sanggara) dan ketiga bernama Aluh Milah.(alias Siti Jamilah) tidaklah sampai 1 setengah abad Balai Adat Balai Ulin ini berdiri kemudian balai adat ini ditinggalkan orang Dayak atau bubar
Mengungkap sebahagian tradisi atau adat atau keberadaan suku dayak Langara (pancaran suku dayak Maanyan) dengan Balai Adatnya menurut tradisi lisan orang-orang Lumpangi bernama "Balai Ulin" waktu bahari (tempo dulu), Balai Adat Dayak tersebut telah berdiri diperkirakan tahun 1552 M di Desa Lumpangi. Mereka Para penghuninya dan masyarakat sekitarnya menemukan hidayah Islam pada masa Sultan Banjar yang ke-10 yaitu Raja Tahmidullah I tahun 1700-1717 Masihi. Peristiwa itu teradi di tiga abad yang silam.di awal abad ke-18 Masihi. Islam sudah masuk ke Lumpangi sejak tahun 1705-1759M, lewat perdagangan dan perkawnan Khadratu Syekh al Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
Berkata Kayi Sepuh Lumpangi Sayyid Husni bin Nanang Kardji Assegaf : "Rumah Adat atau Balai Adat yang bernama Balai Ulin itu dibuat oleh Datu Nenek kami dari kayu Ulin, oleh karenanya dinamai Balai Ulin, begitu juga kampungnya dinamai juga kampung Balai Ulin". Menurur Habib Bahriansyah bin Bahur Assegaf "Balai Adat Balai Ulin itu tiang-tiangnya kayu ulin sebatangan".
Orang-orang Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara menyebut nama istilah Balai adalah Surau atau Langgar, milik orang-orang muslim, akan tetapi di Hulu Sungai Selatan istilah Balai adalah Rumah Adat khusus milik orang Dayak.
Hal senada yang dikemukakan oleh Kayi Usman bin Kayi Juhri usia 76 tahun ketika kami temuai dan wawancarai dikediamannya di Desa Lumpangi bahwa" Sejak dahulu tempat lokasi makam Habaib itu dinamai kampung Balai Ulin karena disana Datu Nenek kita pernah tinggal".
02. Tradisi-tradisi Adat Suku Dayak Pegunungan Meratus
Dilansir dari berbagai sumber, bahwa
suku Dayak memiliki berbagai tradisi unik, tetapi tradisi ini ditinggalkan oleh
Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin
Hasyim Assegaf dan anak cucunya kecuaali tradisi Tarian Gantar (batandik),.
Beberapa tradisi yang ditinggalkan di antaranya meliputi:
1. a. Tradisi memuliakan Tamu Nginap
Salah satu tradisi/adat Dayak
ketika itu, bagi Tamu Nginap untuk kaum laki-laki lajang diperbolehkan
tidur satu kamar/ satu kelambu dengan wanita lajang puteri dari Tetuha Adat.
Bila tidak punya anak gadis maka isterinya yang menemani tidur tamunya. (kalua
tamunya sudah beristeri maka ia tidur satu kamar dengan isteri sahabatnya) sebagai
bentuk penghormatan terhadap tamu atau sahabat, tak terkecuali dengan Habib,
beliau tidur ditemani oleh Aluh Milah sepanjang malam, tetapi pagar ayu puteri
Milah tetap terjaga dengan baik. Habib tidak mau mengganggu dan apalagi
mempermainkan puteri Milah.
Adat Dayak adalah sangat meghormati
dan memulikan tamu, Puteri Milah adalah seorang gadis Dayak yang lemah lembut,
ia seorang gadis ramah dan homoris dan sulit untuk dilupakan.
Hal semacam ini dikuatkan oleh
ceritera teman saya, dia seorang Serjana dibidang agama Islam. Dia berceritera
kepada saya bahwa tamu laki-laki lajang yang nginap di rumah suku Dayak, ia
diperbolehkan tidur satu kamar atau satu kelambu dengan wanita lajang anak
Dayak sebagai bentuk penghormatan tuan rumah. Tradisi atau Adat Dayak tersebut
masih berlaku hingga sekarang tahun 2020 disebagian suku Dayak Kalimantan.
Temannya berceritera bahwa ketika ia berada dipedalaman pulau Kalimantan tahun 2020, bekerja sebagai penebang pohon kayu jenis Meranti dan Ulin. Ia mulai bersahabat baik dan akrab dengan suku Dayak penduduk asli. Sahabatnya mengajaknya menginaf dirumahnya. Di rumah sahabatnya ini ia menginaf, makan, minum dan cuci pakaian. Ketika malam hari ia ingin tidur di salah satu ruangan, ia disuruh sahabat barunya tidur satu kelambu dengan anak perempuannya yang gadis lajang. Kemudian iapun tidur dengannya tetapi ia tidak berani mencumbu rayu, dan juga ia tidak mau merusak pagar ayu dan menggagahi anak perempuan sahabatnya.
b. Tradisi Kuping Panjang
Telingaan Aruu adalah tradisi adat
Suku Dayak dengan cara memanjangan telinga. Untuk memanjangkan daun telinga,
mereka menggunakan anting-anting berbentuk gelang yang terbuat dari tembaga.
Anting-anting berukuran besar tersebut dalam bahasa kenyah disebut belaong.h
Di Kalimantan Timur, perempuan
Dayak memiliki tradisi unik memanjangkan telinga mereka. Keyakinan di balik
tradisi ini adalah bahwa telinga yang panjang membuat perempuan terlihat
semakin cantik.
Selain untuk aspek kecantikan,
memanjangkan telinga juga memiliki nilai simbolis dalam menunjukkan status
kebangsawanan dan melatih kesabaran.
Proses memanjangkan telinga
melibatkan penggunaan logam sebagai pemberat yang ditempatkan di bawah telinga
atau digunakan untuk anting-anting.
Perempuan Dayak diperbolehkan memanjangkan telinga hingga dada, sementara laki-laki bisa memanjangkan telinga hingga bawah dagu.
c. Tradisi Tato
Tato atau rajah adalah simbol
kekuatan, hubungan dengan Tuhan, dan perjalanan kehidupan bagi suku Dayak.
Tradisi tato ini masih dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan Dayak.
Proses pembuatan tato terkenal
karena masih menggunakan peralatan sederhana, di mana orang yang akan ditato
akan menggigit kain sebagai pereda sakit, dan tubuhnya akan dipahat menggunakan
alat tradisional.
Setiap gambar tato memiliki makna
khusus, misalnya tato bunga terong menandakan kedewasaan bagi laki-laki,
sementara perempuan mendapatkan tato Tedak Kassa di kaki untuk menandakan
kedewasaan mereka.
Dalam konteks sejarah, dikatakan bahwa suku Dayak Iban menggunakan tato ini selama peperangan untuk membedakan antara teman dan musuh.
d. Tradisi Tiwah
Kwangkey atau Kuangkay ialah
upacara kematian yang dilakukan Suku Dyaka Benuaq yang tingga di pedalaman
Kalimantan Timur. Tradisi ini berasal dari kata ke dan angkey, artinya adalah
melakukan atau melaksanakan dan bangkai.
Menurut istilah bahasa daerah
setempat, Kwangkey mempunyai makna buang bangkai. Maknay yang ingin disampaikan
adalah melepaskan diri dari kedukaan dan mengakhiri masa berkabung
Tiwah adalah upacara pemakaman
masyarakat Dayak Ngaju yang melibatkan pembakaran tulang belulang kerabat yang
telah meninggal.
Tradisi ini dilakukan sesuai dengan
kepercayaan Kaharingan dan dipercaya membantu arwah orang yang meninggal untuk
menuju dunia akhirat atau disebut juga dengan nama Lewu Tatau.
Selama pelaksanaan Tiwah, keluarga
yang ditinggalkan akan menari dan bernyanyi sambil mengelilingi jenazah.
Proses pembakaran tulang belulang
jenazah dilakukan secara simbolis, sehingga tidak semua tulang jenazah ikut
dibakar dalam upacara Tiwah.
Tradisi suku Dayak ke-4 ialah Tiwah yang upacara pemakaman yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju. Dalam upacara ini, mereka akan membakar tulang belulang dari kerabat yang telah meninggal dunia. Menurut kepercayaan Kaharingan, tradisi Dayah Tiwah, dipercaya mampu mengantarkan arwah dari orang yang telah meninggal agar mudah menuju dunia akhirat atau disebut pula dengan nama Lewu Tatau. Ketika melaksanakan tradisi Tiwah, biasanya keluarga yang ditinggalkan akan menari dan bernyanyi sambil mengelilingi jenazah. Proses pembakaran tulang belulang jenazah hanya dilakukan secara simbolis sehingga tidak semua tulang jenazah akan ikut dibakar dalam upacara Tiwah.
e. Tradisi Penguburan
Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan:
- penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat
- penguburan di dalam peti batu (dolme
- penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.
Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni:
- dikubur dalam tanah
- diletakkan di pohon besar
- dikremasi dalam upacara tiwah
Prosesi penguburan sekunder
1Tiwah
adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan, sebagai simbol
pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun
atau beberapa tahun setelah penguburan pertama di dalam tanah.
- Jambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah.
- Marabia
- Mambatur (Dayak Maanyan)
f. Tradisi Ngayau
Tradisi berburu kepala ini, yang
pernah ada tetapi sekarang sudah dihentikan, melibatkan pemburuan kepala musuh
oleh beberapa rumpun Dayak, seperti Ngaju, Iban, dan Kenyah.
Tradisi ini penuh dendam
turun-temurun sebab anak akan memburu keluarga pembunuh ayah mereka dan membawa
kepala musuh ke rumah. Ngayau juga menjadi syarat agar pemuda Dayak bisa
menikahi gadis yang mereka pilih.
Pemuda Dayak diwajibkan untuk
berpartisipasi dalam tradisi berburu kepala sebagai cara untuk membuktikan
kemampuannya dalam memuliakan keluarganya dan meraih gelar Bujang Berani.
Larangan terhadap tradisi ini
dihasilkan dari musyawarah Tumbang Anoi pada tahun 1874, yang bertujuan
menghindari perselisihan di antara suku Dayak.
Ke-5 tradisi tersebut sudah
ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu
Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya kecuaali tradisi Tarian Gantar
g. Manajah antang
Tradisi dari suku Dayak selanjutnya ialah manjah antang, tradisi ini merupakan suatu ritual untuk mencari di mana musuh berada ketika berperang. Menurut cerita masyarakat Dayak, ritual manajah antang merupakan ritual pemanggilan roh leluhur dengan burung Antang, di mana burung tersebut dipercaya mampu memberitahukan lokasi musuh. Selain dipakai ketika berperang, tradisi manajah antang pun dipakai untuk mencari petunjuk-petunjuk lainnya.
h. Mantat Tu’Mate
Seperti halnya Tiwah, tradisi mantat tu’mate
merupakan tradisi untuk mengantarkan orang yang baru saja meninggal dunia.
Namun mantat tu’mate berbeda dengan Tiwah. Sebab, mantat tu’mate dilakukan
selama tujuh hari dengan konten acara iring-iringan musik serta tari
tradisional. Setelah upacara selama tujuh hari selesai, barulah jenazah
kemudian akan dimakamkan
Ket. Referinsi No. 6-7 Artikel Tradisi Suku
Dayak & Asal-Usul Suku Dayak
i. Tari Gantar
Tari Gantar adalah salah satu
tarian khas Suku Dyak. Tarian ini adalah tari pergaulan muda-mudi Suku Dayak
Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat.
Tarian Gantar mengekspresika
kegembiraan serta keramahan dalam menyambut tamu, baik wisatawan atau tamu
kehormatan. Tari ini juga berfungis untuk menyambut pahlawan dari medan perang.
Ada tiga jenis tarian Gantar, yakni Gantar Rayat, Gantar Busai, dan Gantar
Senak dan Kusa.
03. Tradisi-tradisi Budaya bangsa Arab Jahiliyah yang dibatalkan setelah Keberadaan Islam.
Adapun Adat tradisi budaya bangsa Arab Jahiliyah yang dibatalkan setelah datangnya Islam di tanah Arab. Mereka (orang-orang Dayak) juga bertanya, Wahai Abah Habib kami : “Adakah pembatalan hukum adat tradisi budaya bangsa Arab dimasa Islam datang ? Jawab Abah Habib, Wahai anak-anakku : Ada, salah satunya pembatalan hukum tentang “Anak angkat” dimasa Arab Jahiliyah statusnya sama dengan anak kandung.
Menurut adat tradisi budaya bangsa Arab
Jahiliyah zaman dahulu yang mendarah
daging saat itu,
anak angkat dianggap mulia dan statusnya sama
dengan anak kandung, oleh karenanya ayah/ibu angkat tidak boleh mengawininya.
ia sama kedudukannya dengan anak kandungnya, ia mendapat bagian harta waris
yang sama dengan anak kandung ayah/ibu angkatnya. Sebelum Islam datang ke tanah
Arab, anak angkat sama kedudukannya dengan anak kandung. Rasullah Saw mempuyai
seorang anak angkat yang bernama Zaid. Sehingga orang-orang Arab saat itu tidak
aneh menyebutnya “Zaid bin Muhammad”. “Zaid anak lelaki Muhammad”. Zaid kawin
dengan Zainab binti Jahsy.
Semuanya istri-istri
Rasulullah, dinikahkan oleh wali ayahnya, saudaranya, atau keluarganya kecuali Zainab binti
Jahsy. Zainab binti Jahsy dinikahkan
langsung oleh Allah Swt dari atas
langit ketujuh dan Malaikat Jibril salah satu saksinya.
Sebelum menikah dengan
Rasulullah Saw, Zainab telah menikah dengan Zaid bin Haritsah, maula pembantu Rasulullah Saw yang kemudian
dijadikan anak angkat
oleh Rasulullah Saw. Dialah yang diceritakan Allah Swt.
Sebenarnya, untuk
membatalkan hukum adat
tradisi budaya bangsa Arab
Jahiliyah “Status anak angkat” yang berlaku saat itu, salah satunya menikahi
mantan istri anak angkat. Hal ini Allah telah memberitahukan kepada Rasulullah
bahwa Zainab binti Jahsy akan menjadi salah satu dari istrinya. Namun,
Rasulullah terlalu malu
untuk mengungkapkannya kepada Zaid anak angkatnya. Rasulullah pun khawatir akan cibiran orang-orang
apabila menikahi mantan isteri anak angkatnya sendiri.
Diriwayatkan dari Anas
bin Malik, bahwa berkenaan ayat dalam surat Al-Ahzab ayat 37, “Sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang dinyatakan oleh Allah.” Andai Rasulullah
menyembunyikan sesuatu, tentu (ayat) inilah yang disembunyikan.
Allah Swt dalam
firman-Nya :
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ
أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَااللهُ مُبْدِيهِ
وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا
وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ
أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً
“Dan (ingatlah), ketika
kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan
kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah
kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan
menyatakannya, dan kamu
takut kepada manusia, sedang Allah-lah
yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri
keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia
supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan
keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”
(QS. Al-Ahzab: 37)
Kala itu, rumah tangga
Zaid dan Zainab seringkali menemui perselisihan. Rasulullah pun memerintahkan
Zaid agar mempertahankan Zainab dan bertakwa kepada Allah. Namun perceraian mereka tersebut tidak dapat
dihindari. Ketika masa iddah
Zainab berakhir
setelah bercerai dari Zaid.
Ketika Nabi Saw menikahi
Zainab binti Jahsy maka orang-orang
munafiq menggunjingnya dengan
mengatakan: ‘Muhammad telah mengharamkan
menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!,
Maka turunlah ayat Allah, yang berbunyi :
مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ
اللهِ
“Muhammad itu sekali-kali
bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah
Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Dan Allah berfirman,
ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan
(memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 5)
Maka sejak saat itu Zaid
dipanggil dengan Zaid bin Haritsah yang dia sebelumnya biasa dipanggil dengna
Zaid bin Muhammad.
Seringkali Zainab
membanggakan diri di hadapan istri-istri Nabi. Ia berkata, “Kalian dinikahkan
oleh keluarga-keluarga kalian, namun Allah menikahkanku dari langit.”
04. Balai Adat Dayak Balai Ulin pernah Simpan Biji Padi Sebesar Kelapa pipikat Keramat.
Diceritakan
bahwa dahulu kala Balai Adat Balai Ulin sewaktu dipimpin
oleh seorang Kepala Suku Dayak atau Kepala Balai atau Penghulu Adat yang bernama Langara,
mereka pernah
memiliki dan menyimpan peninggalan benda prasejarah, berupa tiga buah biji banih seukuran kelapa
yang dinamakan “Banih
kelapa atau Banih Nyiur”.yang diletakan
ditengah-tengah Kindai Banih dirungan tengah Balai.yang dijadikan sebagai “Ajimat
pipikat sakti”.menurut kepercayaan orang Dayak bahwa Banih Nyiur itulah yang memanggil ruh-ruh kawannya /membawai
nyawa kawannya sehingga Kindai Banih tidak pernah kosong atau habis. Dengan ikhtiar
Pemiliknya bahuma yang luas dan hasilnya selalu melimpah. Konon masa itu benda-benda
banyak yang berukuran jumbo.
Orang-orang
dahulu kalau ingin memasak nasi dari banih kelapa itu, maka banih itu dipipiki satu persatu dari
tangkainya dan ditaruh dalam lasung kayu baru ditumbuk dengan Halu hingga lanik
dan ditampi dengan nyiru dahulu baru beras itu dimasak.
Dan dari ketiga buah biji padi tersebut atas permintaan
Dayak Ulang kepada kakaknya Langara, bahwa ia dan keluarganya saja yang
memeliharanya, maka buah biji Banih itu masing-masing dibawa Dayak Pang Ulang
satu biji padi ke desa Ulang, dan dibawa Dayak Bumbuyanin (Pang Yanin) ke kampong Pantai
Dusin Hulu Banyu satu
biji padi dan
juga satu biji padi dibawa Dayak Bayumbung (Pang Yumbung) ke kampong Harantan Hilir
Banyu saat Balai
Adat bubar. Namun masyarakat sekarang tetap percaya bahwa
beras yang kecil saat ini, dahulunya adalah beras besar tersebut. Walaupun
sudah tidak ada lagi bukti – fakta sejarah tersebut sampai saat ini, namun
masih banyak masyarakat yang mempercayainya Walaupun benda yang tinggal tiga
biji tersebut sudah musnah, akibat musibah banjir dan kebakaran balai
Adat.
05.
Tradisi Dayak Pegunungan Meratus dalam membangun rumah /Balai Adat di Kec.
Loksado.
Salah satu yang menjadi tradisi adat Dayak Pegunungan Meratus dalam membangun rumah/balai adat bahwa "muka rumah/ balai adat selalu menghadap kearah matahari terbit, tak terkecuali Balai Adat "Balai Ulin" itu mukanya juga mengadap kearah matahari terbit, dan balai itu dihuni oleh 7-10 kepala keluarga. Orang Dayak menjunjung tinggi semangat rasa kebersamaan dan mereka memiliki dapur masing-masing. Balai Adat berbentuk panggung dengan ukuran panjangnya diperkirakan 35-50 meter dan lebar 10-12 meter dan tinggi lantai dari permukaan tanah 2 setengah hingga 3 meter dan 7 anak tangga kecil untuk menolak Hantu kepala terbang. Tangga itu hanya dilewati 1 orang lebar kurang lebih 50cm..
06.
Aliran Kepercayaan atau Agama yang dianut Suku Dayak Pegunungan Meratus Desa
Lumpangi.
Animisme dan dinamisme kepercayaan yang meyakini bahwa setiap benda di sekitar kita memiliki roh atau kekuatan gaib? Kepercayaan semacam ini dikenal dengan istilah animisme dan dinamisme. Keduanya merupakan bentuk kepercayaan kuno yang sudah ada sejak zaman nenek moyang dan masih bisa ditemukan di beberapa budaya hingga sekarang.
Animisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda, baik
yang hidup maupun tak hidup, memiliki roh atau jiwa. Kepercayaan ini berasal
dari keyakinan bahwa roh dapat mempengaruhi kehidupan manusia, baik secara
positif maupun negatif. Dalam masyarakat penganut animisme, roh nenek moyang,
pohon besar, gunung, sungai, hingga batu dipercaya memiliki kekuatan dan harus
dihormati. Oleh karena itu, mereka sering melakukan ritual atau upacara
tertentu untuk menjaga hubungan baik dengan roh-roh tersebut.
Sementara itu, dinamisme adalah kepercayaan bahwa benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib atau energi supranatural yang bisa membawa manfaat atau bahaya. Berbeda dengan animisme yang lebih berfokus pada keberadaan roh, dinamisme lebih menekankan pada kekuatan yang terkandung dalam benda itu sendiri. Misalnya, keris dianggap memiliki energi mistis yang bisa memberikan perlindungan, atau air dari mata air suci dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan.
Adapun agama atau kepercayaan
yang mereka anut saat itu adalah "KAHARINGAN" yakni kepercayaan
terhadap kekuatan roh-roh nenek moyang mereka, oleh karenanya dikenal dengan
Dayak Kaharingan. Kepercayaan yang mereka anut itu dikenal oleh masyarakat Hulu
Sungai Selatan dengan sebutan Babalian atau Balian.
Kaharingan adalah agama asli
suku Dayak di Pulau Kalimantan. Agama Kaharingan sudah ada sejak lama di
Kalimantan bahkan sebelum agama-agama lainnya memasuki Kalimantan. Saat ini
Kaharingan menjadi salah satu agama leluhur di Indonesia yang masih bertahan
dan masih dianut oleh sebagian suku Dayak, khususnya di Kalimantan Tengah dan
Kalimantan Selatan.(Kaharingan ensiklopedia bebas).
Orang-orang Dayak ini adalah
salah satu penduduk asli yang terbesar dan tertua yang mendiami pedalaman pulau
Kalimantan. Mereka membawa kayu Ulin dengan
rakit bambu /lanting. Rumah Adat
Dayak itu berbentuk Panggung, rumah panjang dan tinggi dikenal oleh masyarkat
desa Lumpangi dengan nama Balai Ulin dan dipimpin oleh Kepala Suku /Tetuha
/Penghulu Adatnya yang bernama Langara.
Kaharingan dan suku Dayak di
Kalimantan adalah satu kesatuan yang tak dipisahkan. Menurut orang Dayak, agama
Kaharingan telah ada sejak awal penciptaan. Sejak Ranying Hatalla Langit (Tuhan
Yang Maha Esa) menciptakan alam semesta. Bagi mereka, Kaharingan sudah ada
beribu-ribu tahun sebelum masuknya Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Istilah
Kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan
(air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan yang hidup dan tumbuh
secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan ( Eko
2014).
Tetuha Adat Dayak Langara
punya adik kandung yang bernama Ulang. Kedua beradik Dayak inilah yang
membangun Balai Adat dengan nama Balai Ulin di Desa Lumpangi. Ulang adalah
seorang Dayak yang punya anak yang bernama Bumbuyanin dan Bayumbung. Nama ini
nantinya dijadikan nama Balai Adat tertua di Hulu Banyu Loksado dan kemudian
Balai Adat Bayumbung di desa Halunuk.
Dikatakan orang bahwa Tetuha Adat Langara juga punya 3 anak an. Talib
(alias Datu Hamanau atau Utuh Langara) dan kedua bernama Anjah (alias Datu
Panimpulungan Panglima Sanggara) dan ketiga bernama Aluh Milah (alias Siti
Jamilah).
Menurut Ahmad/Amat, usia 55
tahun, ia seorang muslim asal dayak orang Bayumbung yang saya wawancarai bahwa
"Bayumbung itu adalah nama orang atau nama Tetuha Adat pertama di Desa
Bayumbung, Bayumbung badangsanak atau adik dan kakak dengan yang benama
Bumbuyanin".
07.
Kesaktian yang dimiliki Orang Dayak Pegunungan Maratus yang secara turun temurun.
Namun kala itu ada sebagian kecil keluarga Tetuha Adat Dayak Langara di Balai Ulin yang belum menerima Islam karena mereka takut kehilangan kesaktian-kesaktian yang mereka miliki turun temurun. Diantara kesaktian yang mereka miliki adalah “Dapat mengobati orang sakit, Parang Maya, Balah Saribu, Pulasit dan cara Mengobatinya, Pambaci pada Seseorang atau Pambaci Dagangan, Panglaris Dagangan, Panglit, Minyak Kuyang, Minyak Buluh Parindu, Minyak Karuang Bulik, Minyak Jalawat Cancang, Minyak Bankui Gila, baisian Rantai Babi, Minyak Landuk-landuk dan Minyak Paluncur Baranak.
Mereka sudah mempelajari Islam dengan Habib, tetapi Mereka beranggapan bahwa apabila masuk Islam maka kesaktian-kesaktian itu hilang dan dibuang. Inilah salah satu alasan sehingga mereka enggan menerima Islam, mereka menjauhi keluarga Habib Abu Bakar dan mengasingkan diri dengan keluarganya menuju ke Pegunungan Meratus. Lama kelamaan keturunan keluarga yang belum menerima Islam ini menjadi banyak. Terus membesar berkelumpok-kelumpok dan mereka tinggal menempati kaki-kaki Pegunungan Meratus dan mereka masing-masing kelumpok itu membangun sebuah Balai Adat yang banyak menjamur di kaki-kaki Pegunungan Meratus. Masing-masing Balai Adat dengan nama suku Dayak Meratus. Balai Adat - Balai Adat ini masih berdiri kukoh hingga pada sekarang ditahun 2021M..
08.
Balai Adat Balai Ulin Desa Lumpangi pernah di Renovasi.
Balai Adat Balai Ulin Desa
Lumpangi itu berdiri sekitar tahun 1552 Masihi di desa Lumpangi Kec. Loksado tidaklah
sampai 1 setengah abad Balai Adat Balai Ulin ini berdiri karena adanya pengaruh
Islamisasi terhadap kelompok Penghuninya kemudian balai adat ini ditinggalkan
orang atau bubar.
Pada pertengahan abad ke-17 Masihi Balai Adat "Balai Ulin" Desa Lumpangi Loksado direnovsi total oleh Regenerasi suku Dayak. Sekitar tahun 1700 Masihi akhir abad ke-17 Balai Adat tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Suku Dayak atau Tetuha atau Penghulu Adat bernama Dayak Langara, ia punya adik kandung bernama Ulang. Dayak Ulang ini punya anak bernama Bumbuyanin dan Bayumbung, sedangkan Dayak Langara menurut sumber data punya 3 anak pertama bernama Talib alias “Datu Hamanau” atau (dikenal dengan “Utuh Langara”) dan kedua bernama Anjah alias “Datu Panimpulungan Panglima Sanggara”) dan ke-3 berama Aluh Milah alias “Siti Jamilah” seorang Puteri yang anggun cantik rupawan, anak Tetuha Adat Dayak Langara.
Tetuha Adat Dayak pertama
kampung Pantai Dusin Hulu Banyu bernama Bumbuyanin, ia mempunyai 3 anak, dua
laki-laki dan satu perempuan. Adapun anak yang pertama bernama Pang Ayuh atau Datu Ayuh atau Sang Dayuhan, anak
yang ke-2. Bambang Swara atau Bambang
Basiwara dan anak yang
ke-3 adalah perempuan bernama Umi Salamah (Diang Gunung), dia seorang puteri yang sangat cantik jelita.
Pada pertengahan abad ke-18
Masihi ketika masa kecilnya mereka bertiga pernah diutus atau dikirim orang
tuanya ke Desa Lumpangi untuk menimba atau menuntut Ilmu Islam beserta
sepupu-sepupunya an. Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Assegaf dan anak-anak
lainnya kepada Habib Djamaluddin atau Muhammad Djamiluddin bin Abu bakar
Assegaf oleh karenanya mereka ini mengenal Islam dengan baik.
Versi lain menyebutkan,
menurut sumber data bahwa sesudah Balai Adat Balai Ulin bubar maka beberapa
tahun kemudian datanglah Dayak Ulang dan Bumbuyanin ke Lumpangi membawa ketiga
anaknya agar diajari tentang Islam kepada Habib dan menemui kakaknya Muhammad
Langara dan mohon agar Balai Adat Balai Ulin yang tidak berfungsi itu bisa
dipindahkan ke kampung Pantai Dusin Hulu Banyu.
09. Adanya upaya Sekelumpok Orang Mengkaburkan /Menghilangan Fakta Sejarah Balai Adat Balai Ulin Lumpangi
Adanya upaya Mengkaburkan /Menghilangan Fakta Sejarah Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" Kecamatan Loksado yang dilakukan oleh orang yang berkepentingan dan sebagian anggota Rabitah Alawiyah Kab. Hulu Sungai Selatan. antara lain :
- Penguasaan makam dipegang oleh orang yang bukan ahli warisnya
- Menghalang-halangi ahli warisnya yang sah untuk membina makam datu neneknya tanpa ada dasarnya
- Mengajak masyarakat untuk membenci atau tidak mengakui makam datu nenek mereka yang dibina ahli warisnya.
- Misalnya bunyi Artikel yang saya kutip beritikut :
Habib Abu Bakar bin Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf atau yang lebih di kenal dengan nama Habib Lumpangi adalah salah satu ulama berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Hulu Sungai Selatan. Nama Habib Lumpangi diperoleh karena beliau mensyi’arkan, menyebarkan, dan mengajarkan agama Islam atau berdakwah di Lumpangi, tepatnya di KM.21 kampung Pantai Ulin (dulu Balai Ulin), desa Lumpangi, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Mursyid 2017).
Artikel ini ditulis adanya
upaya mengkaburkan /Menghilangan Fakta
Sejarah nama lokasi Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" Kecamatan
Loksado sehingga anak-anak muda sekarng mereka
tidak mengenal sejarah Balai Adat Dayak "Balai Ulin” yang pernah berdiri
di desa Lumpangi
Sekitar bulan September 2021 Penulis diberitahu lewat grof WA tentang sebuah artikel Biografi Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Hasan Assegaf yang ditulis tahun 2017 oleh Saadil Mursyid. Sebuah Artikel yang sangat berharga dan bagus dan belum ada ditemukan orang yang menulis sebelumnya. Terima kasih sang Penulis namun Kami Keluarga Besar Datu Tanqir salah satu Ahli Waris Makam Habaib sangat kecewa tentang penulisan Pantai Ulin (dulu Balai Ulin) dan tahun wafatnya Syekh. Tulisan kampung Pantai Ulin ini akan menghilangkan fakta sejarah Makam itu sendiri.
Saya menulis bebarapa Artikel tujuannya untuk menjelaskan kepada sebagian masyarakat tentang peristiwa yang dialami Datu dan Datung kami dimasa lalu atau bahari di Desa Lumpangi Loksado. Salah satu Artikel dimaksud mengungkap tentang "Sebahagian tradisi keberadaan suku Dayak Langara pancaran suku Dayak Maanyan dengan nama Balai Adatnya "BALAI ULIN" di desa Lumpangi tempu dulu pertengahan abad ke-17 Balai itu berdiri. Mereka menemukan hidayah Islam tiga abad yang silam melalui perdagangan dan perkawinan Syekh Habib Abu Bakar Assegaf.
Orang-orang sesudah masa kita, tentu akan beranggapan bahwa lokasi pantai pemakaman Habaib datu kita ini dan tanah sekitarnya dulunya banyak tumbuh kayu Ulin. Argumen itu tidaklah benar. Faktanya sekitar lokasi pantai pemakaman Habaib datu kami ini dan tanah sekitarnya belum ditemukan kayu Ulin atau anak kayu Ulin yang hidup tahun 1970 an hingga tahun 1980 an. Sekarangpun belum ada masyarakat yang menemukan punggur-punggur Ulin atau batang Ulin yang terpendam dalam tanah untuk dijadikan tungkat atau kursen. Oleh karenanya rasanya belum tepat kalau lokasi pantai pemakaman Habaib datu kami ini dan tanah sekitarnya dinamakan kampung Pantai Ulin. Nama tersebut akan menghilangkan fakta sejarah kampung Balai Ulin Desa Lompangi itu sendiri.
Daftar
Isi yang Bab ke-II.
II.
Rakam Jejak Perjalanan Sayyid atau Habib Fam-Marga As-Saqqaf para Dzurriat Nabi
Besar Muhammad Saw ke Nusantara.
1.
Cikal Bakal Berdirinya Kerajaan Banjar atau Kesultanan Banjar.
2.
Orang Arab suka berpetualang menjelajahi lautan sebelum dan sesudah
berkembangnya Islam.
3.
Keberadaan Syarif atau Habib Dzuriat Rasulullah Saw yang ber- FAM / Marga
Assaqqaf di Nusantara.
4.
Penyebaran Islam dan Proses masuknya agama Islam di Kalimantan Selatan.
5.
Rakam Jejak Perjalanan Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman
As-Saqqaf para Dzurriat Nabi Besar Muhammad Saw ke Nusantara (ia berkunjung ke
Bandarmasih)
6.
Rakam Jejak Perjalanan Sayyid Hasyim bin Muhammad Assegaf dan Keluarganya dari
Seiyun Hadramaut mengikuti pendahulunya ke Nusantara.
a.
Kelurahan Randusari Kec. Semarang Selatan masa Kesultanan Demak
b.
Empat Darmaga Pelabuhan Kapal masa Kesultanan Demak.
c.
Keberadaan Darmaga Pelauhan Jepara Semarang masa Kesultanan Demak.
d.
Keberadaan Darmaga Pelauhan Gresik masa Kesultanan Demak.
7.
Keberadaan Sayyid Hasyim bin Muhammad dan keluarganya di Nusantara pernah
menetap di Darmaga Pelabuhan Gresik dan Darmaga Pelabuhan Jepara Semarang.
08.
Sayyid Hasan bin Hasyim bersama keluarganya dan adiknya Habib Idrus berhijerah
dari Randusari Semarang dan tiba di Bandarmasih dan mereka menetap
dipelabuhan kapal Kampung Sungai Mesa Bandarmasih.
a. Penjelasan : ttg. Perahu Kapal Layar Jung Banjar
b. Keterangan : Sungai Keramat dan Sungai Sigaling
c. Penjelasan : ttg. Jukung Bakapih
d. Silsilah Sayyid Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Abu Bakar.
e. Keterangan : Jukung atau Parahu Tambangan
09.Sayyid Hasan dan Sayyid Idrus berniat silaturrahmi menjenguk keluarga yang masih ada menetap dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan.
10. Sayyid Hasan bersama keluarganya dan Habib Abu Bakar anaknya berhijerah
dari Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih dan tiba di Margasari dan menetap di
Darmaga Pelabuhan Perahu Kapal Margasari.
11.
Sayyid Hasan bersama keluarganya dan Habib Abu Bakar anaknya berhijerah dari
Darmaga Pelabuhan Perahu Kapal Margasari dan tiba di Sungai Pinang dan menetap
di Darmaga Pelabuhan Perahu Sungai Pinang, Nagara.
12.
Rekam Jejak Perjalanan Sayyid Hasan bin Hasyim bersama Puteranya Sayyid Abu
Bakar Assegaf ke Hulu Sungai Selatan awal Abad ke-18 Masihi tahun
1701 – 1720M.
a. Habib Abu Bakar beserta ayahnya Berhijerah ke Hulu
Sungai Selatan.
b. Habib Abu Bakar beserta ayahnya Berhijerah ke kampung Taniran
Kab. Hulu Sungai Selatan.
13.
Sayyid Hasan, Sayyid Abu Bakar dan Sayyid Idrus adiknya berziarah ke makam
Ayahandanya Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy di Randusari Kec.
Semarang Selatan.
14.
Wafatnya Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf
Desa Taniran Kubah Kec. Angkinang Kab. Hulu Sungai Selatan.
II.
Rakam Jejak Perjalanan Sayyid atau Habib Fam-Marga As-Saqqaf para Dzurriat Nabi
Besar Muhammad Saw ke Nusantara.
1. Cikal Bakal Berdirinya Kerajaan Banjar atau Kesultanan Banjar.
Terlebih dahulu kita kembali kesejarah asal muasal agama Islam tersebut muncul di kota Banjarmasin yang dulunya bernama kota Bandarmasih yang erat sekali kaitannya dengan Pangeran Raden Samudera bin Raden Manteri Jaya bin Raden Bagawan di Kerajaan Hindu Nagara Daha.
Maharaja Sukarama, Raja Negara Daha telah berwasiat agar penggantinya adalah cucunya Pangeran Samudera, anak dari putrinya Puteri Galuh Intan Sari. Ayah dari Raden Samudera adalah Raden Manteri Jaya, putra dari Raden Begawan, saudara kandung Maharaja Sukarama. Wasiat tersebut menyebabkan Raden Samudera terancam keselamatannya karena para putra Maharaja Sukarama juga berambisi sebagai raja yaitu Pangeran Bagalung, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung. Dibantu oleh Arya Taranggana, Pangeran Samudra melarikan diri dengan sampan ke hilir sungai Barito. Sepeninggal Sukarama, Pangeran Mangkubumi menjadi Raja Negara Daha, selanjutnya digantikan Pangeran Tumenggung yang juga putra Sukarama. Pangeran Samudra yang menyamar menjadi nelayan di daerah Balandean dan Kuin, ditampung oleh Patih Masih di rumahnya. Oleh Patih Masih bersama Patih Muhur, Patih Balitung, ia diangkat menjadi raja yang berkedudukan di Bandarmasih. Pangeran Tumenggung melakukan penyerangan ke Bandarmasih. Pangeran Samudra dibantu Kerajaan Demak dengan kekuatan 40.000 prajurit dengan armada sebanyak 1.000 perahu yang masing-masing memuat 400 prajurit mampu menahan serangan tersebut. Akhirnya Pangeran Tumenggung bersedia menyerahkan kekuasaan Kerajaan Negara Daha kepada Pangeran Samudra. Kerajaan Negara Daha kemudian dilebur menjadi Kesultanan Banjar yang beristana di Bandarmasih. Sedangkan Pangeran Tumenggung diberi wilayah di Batang Alai. Pangeran Samudra menjadi raja pertama Kerajaan banjar dengan gelar Sultan Suriansyah. Ia pun menjadi raja pertama yang masuk islam dibimbing oleh Khatib Dayan (Alamnirvana 2011).
2. Orang-orang Arab suka berpetualang menjelajahi lautan sebelum dan sesudah berkembangnya Islam.
Orang Arab dikenal sebagai orang yang suka berpetualang menjelajahi sepanjang lautan sebelum dan sesudah berkembangnya Islam. Salah satunya Perjalanan ayahandanya Umar Ash-Shoufy yakni Habib Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly Assegaf.ke Bandarmasih
Menurut Artikel “Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi Sadah Aal Ba Alawy Aal Muhammad” ditulis oleh Al Habib Aidarus Almashoor bahwa Habib Aly bin Sayyid Abdurrahman Assegaf wafat 840H/1437M di Tarim Hadramaut. Beliau mempunyai 3 orang anak laki-laki an.
- Abdurrahman (keturunannya terputus)
- Ahmad
- Muhammad
Kemudian Muhammad mempunyai 2 orang anak/ keturunan an.
- Abdullah dan keturunannya di Mukalla Yaman
- Abdurrahman
Kemudian Abdurrahman mempunyai keturunan atau anak laki-laki atas nama :
- Aly dan Beliau ini kakeknya Keluarga As- Saqraan di Tarim dan Zili
- Umar ash-Shaafy atau Umar ash-Shoufy
Pada awal abad ke-16 tahun 1536 Masihi masa pemerintahan Sultan Suriansyah Raja Banjar pertama, menurut salah satu sumber bahwa Pedagang 'Arab tersebut yakni Habib asal Hadramaut yang datang pertama kali berkunjung ke Bandarmasih tujuannya berdagang dan mencari rempah-rempah dan misi penting lainya berdakwah, ia adalah orangtua Umar ash-Shoufy yakni Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly Assegaf. Beliau adalah Buyutnya al Faqih Muqaddam as-Tsani. Beliau tidak lama menetap di kota ini kemudian balik lagi. Beliau berasal dari Seiyun (juga ditransliterasikan sebagai Saywun, Sayoun atau Say'un; Arab: pengucapan Hadhrami: [seːˈwuːn], Sastra Arab: [sæjˈʔuːn]; Arab Selatan Kuno: S¹yʾn) adalah sebuah kota di wilayah dan Kegubernuran Hadhramaut di Yaman. Terletak di tengah Lembah Hadhramaut, sekitar 360 km (220 mi) dari Mukalla, ibu kota Distrik Mukalla dan kota terbesar di wilayah tersebut, melalui jalur barat. Juga berjarak 12 km (7,5 mil) dari Shibam dan 35 km (22 mil) dari Tarim, kota-kota besar lainnya di lembah. Menurut sumber informasi lain bahwa Habib Umar Ash-Shufy bin Abdurrahman punya anak diantaranya : Muhammad, Thaha, Segaf dan .......
Menurut silsilah nasabnya bahwa "Muhammad bin Umar as-Shoufy" tersebut punya anak an. Hasyim. Dari Hasyim punya anak an. Hasan dan Idrus. Hasan punya anak Abu Bakar (Ayahnya Habib Lumpangi) dan Abu Bakar punya anak an..Shaleh (ibunya dari Seiyun Tarim) dan Muhammad Djamaluddin (Habib Lumpangi) dan (ibunya dari suku Dayak Langara Lumpangi Loksado), yang dipanggil sehari “Muhammad” atau "Djamiluddin" kemudian Muhammad Djamiluddin punya anak an.Ahmad Suhuf yang dipanggil sehari ”Ahmad”. Kemdian Ahmad punya anak an. Abu Bakar yang dipanggil sehari “Abubakar as-Tsani’ sedangkan Thaha punya anak an. Umar, dari Umar punya anak an. Thaha al Qadhi dan Thaha al Qadhi punya anak an. Umar. dari Umar punya anak an. Muhammad al Qadhi
Konon Sungai Mesa merupakan sebuah kampung tua di Kota Banjarmasin (Bandarmasih nama dulunya). Kampung ini dibangun oleh seorang tokoh yang dikenal dengan nama Kiai Mesa Jaladri. Tidak diketahui persis, kapan Kiai Mesa membangun wilayah ini, yang jelas sejak itu Kampung Sungai Mesa menjadi wilayah tempat tinggal yang strategis. Letaknya yang persis di tepi sungai Martapura, membuat daerah ini menjadi semacam pelabuhan kecil tempat menaik-turunkan barang dagangan dari perahu. Di seberang Sungai Mesa adalah Jalan Pasar Lama Laut yang sekarang menjadi pusat perkantoran pemerintah Provinsi Kalsel (Artikel Kajian al Kahfi).
Menurt Artikel Sejarah Ahlul Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesia menyebutkan bahwa “Seorang dari keluarga Assegaf bernama Alwi (w.1842M) bin Abdillah bin Shaleh bin Abubakar dilaporkan melalui perjalanan panjang dari Hadramaut-Turki-Palembang-Gresik sebelum menyinggahi Banjarmasin dan sempat bermukim di Kampung Sungai Mesa. Alwi kemudian menetap di Martapura (Kampung Melayu) dan mendapat hadiah tanah dari Sultan Adam di daerah Karang Putih. Kelak ia dan anak cucunya bermakam di tanah pemberian sultan tersebut (makam Karang Putih Jl Menteri Empat Martapura) ”(Fakhrul 04-2012M).
Pemukim dari golongan sayyid yang terhitung orang lama (tua) di Sungai Mesa adalah Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf. Ahmad diperkirakan lahir di paruh kedua pertengahan tahun 1800-an. Ahmad memiliki saudara bernama Umar, Muhdor dan Muhammad. “Pekerjaan Habib Ahmad berdagang kayu ulin, juga membawa tajau, belanga berdagang dengan urang Dayak,” cerita Syarifah Nikmah.(Artikel Kajian al Kahfi)
Maksud paruh kedua pertengahan tahun 1800-an adalah Habib Ahmad lahir kampung Sungai Mesa Bandarmasih tahun 1852 Masihi.
3. Keberadaan Syarif atau Habib Dzuriat Rasulullah Saw yang ber- FAM / Marga Assaqqaf di Nusantara.
Aal-ALSAQQAF آل السقاف (dibaca Assegaf/al Seggaf). Yang pertama kali digelari al-saqqaf ialah waliyullah al-Muqaddam al-Tsani al-Imam Abdurahman bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Gelar yang disandang karena beliau sebagai pengayom para wali pada zamannya agar terhindar dari perkara bid’ah. Para ulama ahli hakikat dan para wali yang bijaksana menamakan beliau ‘al-Saqqaf’, karena beliau menutup hal keadaannya dari penduduk di zamannya. Beliau sangat benci dengan kesohoran. Ketinggian derajat beliau dari para wali di zamannya bagaikan kedudukan atap bagi rumah. Beliau dilahirkan di kota Tarim, dikarunia 13 anak lelaki, dan 7 orang meneruskan keturunannya: Abu Bakar As-Sakran, Alwi, Ali, Aqil, Abdullah, Husein dan Ibrahim. Waliyullah Abdurahman Al-saqqaf wafat di Tarim tahun 819 H (Afandi 2008).
Beliau hidup dari tahun 1338-1416M / 739-819 H. Dari ke 13 anak lelaki ini dzuriat Rasulullah Saw yang bermarga As Seggaf telah menyebar ke pelusuk negeri , salah satunya ke negara Asia Tenggara yakni Indonesia, diantaranya ke pulau Jawa pada masa Kesultanan Demak untuk mengembangkan Syari’at Islam dari Datu Moyang mereka. Masa Kesultanan Banjar mengalami keemasan maka Gantung siwur dan Cicip moning yakni genarasi/ keturunan ke-7 dan ke-8 Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurahman Al-saqqaf adalah Habib Hasan bin Hasyim beserta adik kandungnya Habib Idrus Assegaf dan anaknya Habib Abu Bakar bin Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufi Asseggaf. Habaib inilah menurunkan Habaib yang ber MARGA atau FAM (Family-Keluarga) Assegaf masuk ke Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan dan menatap beberapa tahun. Dikota ini Habib Idrus dan Habib Abu Bakar menikahi wanita shalihah dari suku Banjar. Diperkirakan Habaib ini telah menyeberang dan masuk kedaerah Bandarmasih pada akhir abad ke-17M.
4. Penyebaran Islam dan Proses masuknya agama Islam di Kalimantan Selatan.
Penyebaran Islam di Kalimantan Selatan. Proses masuknya agama Islam di Kalimantan Selatan disebutkan mulai sekitar abad 14 Masihi, sebelum Kerajaan Banjar berdiri. Sosok yang berandil dalam penyebarannya adalah pewaris sah kerajaan Negara Daha yang bernama Raden Samudera. Proses penyebaran Islam di Kalimantan Selatan secara terang-terangan dimulai dengan kontak antara Pangeran Samudera dengan Kerajaan Demak. Pangeran Samudera meminta bantuan pasukan ke Demak untuk berperang melawan pamannya, Pangeran Tumenggung dalam merebut takhta kekuasaan Negara Daha. Atas kemenangannya melawan Kerajaan Daha, ia berhasil mengislamkan raja dan pejabat kerajaan, hingga akhirnya agama Islam berkembang semakin pesat berabad-abad kemudian (CNN Indonesia 2021)
Beberapa catatan tahun Sejarah Kesultanan Banjar yang ada bahwa :
a. 1520, penobatan Raden Samudera oleh Patih Masih sebagai raja di Muara Kuin dengan gelar Pangeran Samudera.
b. 6 September 1526, pertempuran antara Kerajaan Banjar dipimpin Pangeran Samudera dengan Kerajaan Negara Daha dipimpin Pangeran Tumenggung di Jingah Besar, Pangeran Samudra dibantu Kesultanan Demak.
c. hari Jum’at, taggal, 24 September 1526 Masihi, bertepatan 7 Dzulhijjah 932 Hijeriyah , adalah hari kemenangan Pangeran Samudra dan pembentukan Kesultanan Banjar, dengan memasukkan Kerajaan Nagara Daha, selanjutnya Pangeran Tumenggung menetap ke hulu pada Batang Alai dengan 1000 penduduk (Sejarah Kalimantan Selatan).
Ada yang mengatakan bahwa Islam mulai masuk ke Kalimantan Selatan abad ke 15M sampai abad ke 17M. Pada Abad ke-17M sampai ke-18M adalah masa puncaknya perkembangan agama Islam di Kalimantan Selatan dan masa keemasan Kerajaan Banjar. Adapun puncak keemasan Kerajaan Banjar dan perkembangan Islam ditandai datangnya syekh-syekh / Habaib ke Banjar bersamaan muculnya ulama ulama Banjar salah satu yang terkenal dengan hasil karya tulis Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yaitu Kitab Sabilal Muhtadin. Kitab ini dijadikan sebagai bahan bacaan dan rujukan negara-negara di Asia Tenggara.
Kemudian ulama atau Habib asal Tarim Hadramaut tersebut, bahwa keluarganya yang dulunya sudah lama tinggal dipasca Kesultanan Demak (Jawa Tengah) telah menyeberang menuju ke Kesultanan Banjar yang membawa misi dakwah. Yakni Habib Abu Bakar dan ayahnya Habib Hasan beserta adiknya Habib Idrus pertengahan Aabad ke-17 M. Disusul oleh yang lain diawal Abad ke-18 M: Habib Abdullah dengan isterinya Siti Aminah binti Husaini (orang tua Datu Kelampyan) datang dari India. Di kota Bandarmasih ini mereka berbeda tempat tujuan lokasi yang dituju. Habib Abdullah bin Abu Bakar al-Hindi bin (Abdurrasyid Mindanau bin ) Ahmad Ash-Shalabiyah bin Husain bin Abdullah bin Syekh bin Abdullah al Aydarus Al-Akbar bin Abu Bakar as-Sakran bin Sayyid Abdurraman Assegaf al Aydrus, mereka naik perahu menuju ke desa Lok Gabang Martapura.
Sedangkan Habib Abu Bakar dan ayahnya Habib Hasan beserta adiknya Habib Idrus Assegaf menetap di Bandarmasih konon tepatnya di kampung Sungai Mesa. Habib Idrus setelah dewasa mengawini wanita salihah dari suku Banjar dan ia punya anak an. Habib Ali Assegaf. Tetapi tidaklah menutup kemunginan juga bahwa Habib Abu Bakar Assegaf sebelum berpetualang ke negeri asia, ia telah mengawini perempuan salihah dari tanah kelahirannya Tarim, Hadramaut dan punya keturunan buyut yang berama Sayyid Alwi bin Abdillah bin Shaleh bin Abu Bakar Assegaf.
Keluarga Assegaf yang ada di Taniran dan Habaib yang ada di Lumpangi ini mayoritasnya berasal dari rumpun marga Assegaf ash-Shoufy. Yang pertama kali menyandang marga ini adalah Habib Umar ash-Shoufy yakni turunan nasab Nabi Saw yang ke-26.
05.
Rakam Jejak Perjalanan Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman
As-Saqqaf para Dzurriat Nabi Besar Muhammad Saw ke Nusantara (ia berkunjung ke
Bandarmasih)
Menurut penelitian Syaikh Syamsul Afandi tentang nasab dzuriat Nabi Muhammad Saw dalam kitab biografi "Ulama Terkemuka Dunia dan Nasional" bahwa Habib Abdurahman al-Mualim adalah ayahnya waliyullah Umar al-Shafi. Aal AL-SHAAFY AL-SAQQAF Mereka adalah keturunan waliyullah Umar al-Shafi bin Abdurahman al-Mualim bin Muhammad bin Ali bin Abdurahman al-Saqqaf. Sedangkan yang punya marga/ fam/ nama al-Mualim"………al-Mualim” menurut Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin, mereka adalah tKeturunan Alwi bin Abdurrahman Assegaf.
Kalau dilacak diteliti Silsilah nasab dzuriat Nabi Muhammad Saw melalui Marga/ Fam Lelohor Sayyid dan Habib berikut ini Ali bin Abdurrahman Assegaf dan Alwi bin Abdurrahman Assegaf
1. Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf
Menurut Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin, mereka adalah Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf yang bermarga /fam
- Assegaf Al Thaha bin Umar
- Assegaf Al Usman
- Assegaf Al Shaafi
2.Keturunan Alwi bin Abdurrahman Assegaf, mereka
- Assegaf Al Qaisiyah
- Assegaf Al Fargas
- Assegaf Al Tuainah
- Assegaf Al Bahaliqah
- Assegaf Al-Mualim
- Assegaf Al Ahmad
Perahu “Jung Banjar” adalah jenis
kapal layar besar orisinal Nusantara dari Kesultanan Banjar yang populer
pada abad ke-16 hingga ke-17. Kapal ini berukuran raksasa, tangguh, serta
berfungsi utama sebagai sarana angkutan laut dan perdagangan antarpulau maupun
internasional.
Menurut peneliti pakar sejarah Koestoro bahwa “pada pertengahan abad ke-16 Masihi, telah muncul Jung Banjar, sebuah Perahu yang digunakan untuk angkutan transportasi sungai-laut antar pulau. Pada abad ke-16 Masihi dari tahun 1501 sd. 1600 M, sekitar akhir abad ke-16 Masihi yakni tahun 1596 M kapal “Jung Banjar”, jenis perahu ini pernah dicegat dan dirampas Cornelis de Houtman orang Belanda ketika Perahu itu sedang beroperasi melintas diperairan luar Teluk Banten, Jawa Tengah.
Sebelumnya sekitar tahun 1298
M akhir abad ke-13M hingga tahun 1367M di abad ke-14M kita dapat mengenal
sejarah Abdullah
bin Mas’ud al-Jawi,
dari Nusntara yang menjadi Guru / Syaikh dari Imam Abu Abdullah Muhammad bin
As’ad al-Yafi’i (1298-1367M), seorang ulama sufi terkemuka pada masanya sebagaimana ditulis sendiri oleh sang
faqih-sufi Syeikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhanî.
Seorang ulama besar yang
hidup di abad ke-13
Maasihi di era
keemasan Kerajaan Majapahit yang berlangsung sekitar 8 abad yang lalu. Saat
itu, Kerajaan Islam Samudera Pasai yang berada di pantai utara Aceh mengalami
pertumbuhannya yang sangat cepat-pesat, sehingga membuat seorang pelancong atau
tamu dari Maghribi bernama Ibnu Bathuthah yang sedang dalam perjalanan menuju
Cina sangat tertarik untuk singgah di kerajaan tersebut. Beliau menyebut
Kerajaan Pasai, yang dikenal sebagai ”Kerajaan Jawa”, sebagai sebuah negara
Islam yang aman dan makmur penduduknya.
Di abad ke-13 Masihi, di masa
itu hiduplah seorang ulama besar dan sufi terkenal, tidak hanya di wilayah
Nusantara, tetapi juga di kawasan Timur Tengah dan dunia Islam lain. Beliau
bernama Abu Abdullah Mas’ud bin Abdullah
al-Jawi, yang jelas menunjukkan bahwa beliau adalah seorang berkebangsaan
Malayu Nusantara (Orang Melayu). Sayangnya, sumber sejarah tentang eksistensi
tokoh ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab Melayu atau sumber sejarah lain,
seperti berita dari Cina, prasasti, dan lain-lain.
Namun, sumber tentang adanya
ulama besar ahli tasawuf tersebut ditemukan dalam kitab”Jâmi’ Karâmatil Aulia”
yang dikarang oleh seorang ulama besar Palestina bernama Syeikh Yusuf bin
Isma’il an-Nabhanî pada tahun 1350 H. Dalam kitab tersebut, Syeikh Yusuf
menjelaskan tentang ulama besar bernama Syeikh Abu’Abdullah Mas’ud al-Jawi yang
hidup di Aden (Hadramaut), Arab Selatan. Kata ”al-Jawi” menunjukkan bahwa dia
adalah orang Jawa (Melayu) seperti yang disebutkan oleh orang Arab terhadap
orang Melayu yang tinggal di Mekah. Mungkin ini berasal dari nama yang
diberikan oleh Ibnu Bathuthah untuk Nusantara,”Negeri Jawa”. Tempat asal
Mas\’ud al-Jawi, apakah dari Jawa, Sumatera, atau Malaya tidak diketahui. Tidak
ada informasi tentang kelahiran beliau, keluarganya, atau masa kecilnya.
Meskipun demikian, dapat dipastikan bahwa Mas’ud al-Jawi adalah seorang ulama
Melayu yang berasal dari wilayah Nusantara.
Sejak awal abad ke-16 Masihi
tersebut yakni mulai hari Jum’at, taggal,
24 September 1526 Masihi, bertepatan 7 Dzulhijjah 932 Hijeriyah Kerajaan Banjar
berubah menjadi Kesultanan Banjar, Agama resmi kerajaan yang dulunya Agama
Hindu berubah menjadi Agama Islam.
Pengeran Samudera setelah masuk Islam menjadi atau bergelar Pengeran
Suriansyah. Nama kotanya yang dulunya Bandarmasih menjadi Banjarmasin sekarang.
Sepuluh tahun kemudian di abad yang sama adalah Awal Perjalanan
panjang Habib Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly
Assegaf ke Nusantara, Ia orang pertama dari Habib-Sayyid yang berkunjung dan menyeberang dari Kesultanan
Demak menuju ke Kesultanan Banjar dimasa
pemerintahan Islam Sultan Suriansyah, Menurut sumber data bahwa “Habib
asal Hadramaut yang datang pertama kali berkunjung ke Bandarmasih tujuannya
berdagang “Permadani, Hambal dan Sajadah” dan mencari rempah-rempah
diperkirakan awal abad ke-16M yakni tahun 1536 Masihi, ia adalah orang tua Umar Ash-Shoufy yakni
“Habib Abdurrahman” bin
Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman Assegaf. Beliau sempat nginap di Sungai Mesa
Bandarmasih dan ia tidak lama menetap di kota ini kemudian balik lagi ke
Kesultanan Demak. Beliau berasal dari
Seiyun Hadramaut (juga ditransliterasikan sebagai Saywun, Sayoun atau
Say'un;
Menurut Sejarah Perkembangan
Islam di Timur Jauh, terjemah Dzija Shahab, Almaktab-Al-Daimi bahwa “Orang Arab
dikenal sebagai orang yang suka berpetualang menjelajahi sepanjang lautan
sebelum dan sesudah berkembangnya Islam, kedatangan orang Arab di Indonesia
makin jelas setelah agama Islam lahir (abad VII M). Pada masa ini mereka sedang
mengemban dua tugas yaitu berniaga dan menyiarkan agama Islam. Jauh sebelum
Belanda datang pertama kali ke Nusantara tahun (1596) Masihi, sudah ada orang
Arab yang datang dari Hadramaut ke Jawa termasuk ke Jakarta"
(Sejarahahlulbait 2014).
Sayyid Abdurrahman, Beliau adalah
Datuknya dari (Datu Habib Lumpangi) adalah salah satu dzuriat keturunan Syekh
dan Imam Sayyid Abdurrahman bin Habib Muhammad Maula Dawilah berasal dari
Hadramaut Yaman, ia singgah menetap atau berdomisili yang lama di Kesultanan
Demak Jawa Tengah sehingga beliau bersikaf dengan adat Jawa, lembut dan sopan
dan juga sangat pasih berbahasa Malayu Indonesia. Fam/marga beliau As-Saqqaf,
akan tetapi orang-orang Arab menyubutkan kata as-Saqqaf sulit/tidak bisa, maka
disebutkan dengan lisan Arab adalah as-Seggaf. Orang Indonesia menulisnya
"Assegaf".
Marga tertua atau fam tertua dari puluhan marga/fam Dzuriat Nabi Muhammad Saw yang ada di Indonesia ialah al saqqaf (Assegaf). Lalu Assegaf ini tinggi, Keturunan Nabi yang ada di Indonesia ini umumnya adalah generasi ke-38 atau ke-39 tahun 2022".bahkan kalau dilihat nasab Dzuriat Datu Habib Lumpangi di Kalimantan Selatan sampai generasi ke-40 dan generasi ke-41 di tahun yang sama.
06.
Rakam Jejak Perjalanan Sayyid Hasyim bin Muhammad Assegaf dan Keluarganya dari
Seiyun Hadramaut mengikuti pendahulunya ke Nusantara.
a. Kelurahan Randusari Kec. Semarang Selatan
Wilayah Randusari
(yang kini dikenal sebagai kelurahan di Semarang Selatan) pada masa Kesultanan Demak. Sultan Demak pernah memerintahkan Sayyid Ki Ageng Pandan Arang (ia sdr.kandung Sunan Giri /Raden Ainul Yaqin), untuk membuka lahan
dan menyebarkan ajaran Islam di daerah pesisir yang saat itu bernama Pragota
(cikal bakal wilayah Bergota di Randusari, Semarang). Sayyid Ki Ageng
Pandanaran diangkat menjadi bupati atau pemimpin pertama di wilayah Semarang
dan sekitarnya di bawah naungan kekuasaan Kesultanan Demak.
Orang tua
Sayyid Ki Ageng Pandan Arang bernama :
Sayyid Maulana Ishaq (ayah) bin Jamaluddin al-Husaini bin Jalaluddin Khan, Siti Zainab (Ibu) dan
Istrinya Putri Adipati Pasuruan,
Keturunan : ~ Siti Umi Kamsum, ~ Kalkum Pekalongan, ~ Abdullah Kendal
dan ~ Abdurrahman Kaliwungu.
Sayyid Ki Ageng Pandan Arang
(disebut juga Pandanaran, Pandanaran I) adalah bupati pertama Semarang, yang
diangkat oleh Sultan Demak Bintara. Konon nama Semarang diberikan olehnya, karena
di tempat ia tinggal ditumbuhi oleh pohon asam yang jarang-jarang (bahasa Jawa:
asem arang). Ki Ageng Pandan Arang juga dikenal sebagai tokoh penyebaran Islam
di daerah tersebut. Meskipun sezaman dengan para Wali Sango, ia tidak termasuk
di dalamnya. Sayyid Ki Ageng Pandan Arang wafat, dimakamkan di Mugassari,
Semarang Selatan, Semarang.
b. Empat Darmaga Pelabuhan Kapal
masa Kesultanan Demak
Menurut Artikel yang saya
baca bahwa : “Kerajaan Demak mengusahakan kerja sama dengan penguasa
pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa yang telah menganut Islam. Pelabuhan Gresik adalah salah satu
pelabuhan dagang strategis di pesisir utara Jawa yang berada di bawah pengaruh
dan jaringan maritim Kesultanan Demak pada abad ke-15 hingga ke-16 M. Kerajaan
Demak memiliki Darmaga-darmaga pelabuhan-pelabuhan perahu/ kapal layar penting,
seperti darmaga Jepara, darmaga Tuban, darmaga Sedayu, dan darmaga Gresik.
c. Keberadaan Darmaga Pelauhan
Jepara Semarang
Menurut Makalah “Ekspansi
Jepara Abad XVI dan Potensinya sebagai Suplemen Materi Pembelajaran Sejarah, dijelaskan
pada bab Pendahuluannya bahwa Jepara, sebuah kota kecil di pesisir Pantai Utara
Jawa, pada masa Kerajaan Demak berperan sebagai Pelabuhan militer dan Pelabuhan
dagang. Oleh karena itu, Jepara
dijadikan wilayah galangan kapal
oleh para pedagang dari luar, yang kemudian bermukim di Pesisir Pantai Jepara.
Nama "Jepara" berasal dari “Jung Para”, yang berarti tempat kapal
besar berlabuh atau singgahnya pedagang. Kala itu, Jepara menjadi pelabuhan
besar dengan lokasi yang aman, dikelilingi oleh beberapa wilayah dan pulau
sekitarnya, dan dianggap sebagai salah satu kota tertua di Jawa Tengah.
d. Keberadaan
Darmaga Pelauhan Gresik masa Kesultanan Demak
Dermaga Pelabuhan Gresik pada
masa kejayaan Kesultanan Demak (abad ke-15 hingga awal abad ke-16) merupakan
salah satu bandar dagang internasional terbesar dan terbaik di Pulau Jawa.
Dikutif dari
sebuah Artikel ttg "Pelabuhan Gresik", dimasa yang lalu bahwa “Salah
satu tokoh yang berpengaruh pada perkembangan perdagangan di Kota Gresik adalah
Nyai Ageng Pinatih. Beliau seorang saudagar kaya dan syahbandar di Pelabuhan
Gresik. Beliau mulai mendirikan pelabuhan ini pada pertengahan abad XIV,
sejalan dengan proses islamisasi di tanah Jawa. Pada masa itu Gresik menjadi
bandar perdagangan yang ramai. Kini Pelabuhan Gresik lebih berfungsi sebagai
pelabuhan penumpang dan barang. Abad XVI, Pelabuhan Gresik dapat menggeser
peran Pelabuhan Tuban sebagai pelabuhan besar dan utama di antara
pelabuhan-pelabuhan lain disekitarnya. Namun kebesaran Pelabuhan Gresik pada
awal abad XVII tidak seperti sebelumnya, karena politik ekspansi Sultan Agung
sudah mengarah ke Gresik dibantu Pangeran Pekik dari Surabaya”.
Pelabuhan Gresik melayani
penyeberangan Gresik - Bawean dengan keberangkatan rutin sekali setiap hari.
Jadwal keberangkatan kapal secara rutin selalu dirilis operator dan otoritas
setempat secara berkala melalui berbagai media terkait. Pelayaran umumnya
ditempuh dengan durasi sekitar 4 jam melintasi Laut Jawa, bergantung situasi
dan kondisi terkini. Berikut adalah daftar operator penyedia layanan
penyeberangan kapal motor penumpang (KMP) di Pelabuhan Gresik.
07. Keberadaan Sayyid Hasyim bin Muhammad dan keluarganya di Nusantara pernah menetap di Darmaga Pelabuhan Gresik dan Darmaga Pelabuhan Jepara Semarang.
Sejarah menyebutkan bahwa “Salah satu keturunan Nabi Muhammad Saw yakni Habib Hasyim bersama keluarganya dilaporkan melalui perjalanan panjang mereka bertolak dari Seiyun Hadramaut menuju ke pelabuhan Turki terus menuju Asia Tenggara lewat Singapora menuju ke pelabuhan Palembang terus menuju ke pelabuhan Gresik hingga tiba di Demak Jawa Tengah pasca Kesultanan Demak.
Keberadaan dan kedatangan Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy Assegaf dan keluarganya di Asia Tenggara dan berdomisili lama di Nusantara pasca Kesultanan Demak, pertama menetap di Darmaga Pelabuhan Gresik kemudian pindah ke Pelabuhan Jepara dan menetap disini. Kemudian berpindah ke Randusari tepatnya.di Kelurahan Randusari, Kec.Semarang Selatan, kota Semarang, Jawa Tengah.
Sayyid Hasyim bin Muhammad
Assegaf diperkirakan hidup abad ke-17 Masihi. Abad ke-17 dihitung dari tahun
1601-1700 Masihi. Ia dengan kedua anaknya (Hasan & Idrus kecil 11 sd.13 thn)
dan cucunya Sayyid Abu Bakar mereka berasal dari Seiyun Hadramaut, Negeri Yaman atau Yordania.
Sayyid Abu Bakar adalah nama yang diberikan orang tuanya, ia
lahir diperkirakan tahun 1068H/1658M di
Seiyun Hadramaut. Setelah dewasa ia menikah dengan perempuan shalihah di kota
kelahirannya, dan punya anak diberi nama “Shalih” (Ahmad Shalih). Kemudian sa’at
itu Sayyid Hasyim dan Sayyid Hasan anaknya ingin pergi berpetualang ke Asia
Tenggara, Sayyid Abu Bakar ikut juga berpetualang berdagang dan mencari
rempah-rempah bersama ayahnya Sayyid Hasan dan kakeknya Sayyid Hasyim yang
sudah sepuh. Perjalanan panjang mereka ke Asia hingga Asia Tenggara, mereka
berangkat mulai kota tanah kelahirannya Seiyun Hadramaut, ke Turki, terus
melalui Singapore ke Aceh terus ke Pelembang, hingga tiba ditempat tujuan pesisir utara Jawa
yakni Darmaga Pelabuhan Gresik, Demak Jawa Tengah di diakhir abad ke-17 antara tahun
1684 sd. 1690M.
Setelah singgah dan menetap atau
berdomisili yang lama di Darmaga Pelabuhan Gresik, mereka belajar ttg. Bahasa,
Adat-istiadat /budaya Malayu
dan Jawa sehingga mereka
bersikaf/ terbiasa dengan adat Malayu dan Jawa, lembut dan sopan dan juga
sangat pasih berbahasa Malayu Indonesia, khususnya Sayyid Hasan dan Abu Bakar pasih
berbahasa Melayu dan Jawa, kemudian mereka pindah ke Darmaga Pelabuhan Jepara
dan menetap disekitarannya. Di provinsi kota inilah akhir Abad ke-11H kakeknya Habib
Hasyim wafat sekitar thn. (1686M/Rmdhan.1097H) dan bermakam, begitu juga kalek
Habib Idrus (w.1749M) Assegaf sa’at datang menziarahi ayahnya sayyid Hasyim dikota ini,
ia jatuh sakit, mungkin karena kelelahan, badannya terus melemah hingga wafat dan
makamnya berdampingan dengan ayahnya dikota ini, tepatnya Kelurahan Randusari,
Kec. Semarang Selatan, kota Semarang Jawa Tengah.
Pada abad ke-17 Masihi kesultanan Banjar mengalami kejayaan. Bandarmasih (Banjarmasin) sudah menjadi pelabuhan bebas sejak pertengahan abad ke-17, baik antar pulau maupun antar benua. Karena adanya pergeseran peranan pelabuhan di pesisir Jawa Timur ke daerah ini. Menurut Barra seorang peneliti sejarah, bahwa banyak jung Melayu, Inggeris, Portugis, dan lain-lainnya berlabuh di Bandarmasih (Banjarmasin). Hingga akhir abad ke-17M, lada sebagai primadona komoditi, dan emas semakin meningkat produksinya. Menurut Schrieke seorang peneliti sejarah, bahwa “pelabuhan Bandarmasih (Banjarmasin) telah menggantikan kedudukan pelabuhan Gresik. Perahu-perahu layar samudera pada abad ke 16-17 M sudah banyak dibuat oleh “pandai kapal” di Sungai Pandai Banjarmasin untuk dijual ke Jawa dan negeri lainnya.
08. Sayyid Hasan bin Hasyim bersama keluarganya dan adiknya Habib Idrus berhijerah dari Randusari Semarang dan tiba di Bandarmasih dan mereka menetap dipelabuhan kapal Kampung Sungai Mesa Bandarmasih.
Pada mulanya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan
beserta anaknya Sayyid Abu Bakar Assegaf mereka pergi berniaga meninggalkan
Habib Hasyim ayahya yang (sudah sepuh) dan Idrus adik bungsunya (yang masih
kecil 11-13 thn) mereka berniaga
di Darmaga Pelabuhan Gresik dan sekitarannya
selama bertahun-tahun lebih, kemudian mereka sekeluarga pindah ke Darmaga Pelabuhan Jepara kota Semarang. Mereka berniaga di Darmaga Pelabuhan Jepara
dan sekitarannya lebih dari bertahun-tahun lamanya, tetapi Mereka menetap di
Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan. Namun dari kota ini, mereka ingin
mengembangkan dan meningkatkan (bisnis) hasil perniagaan mereka, seiring waktu
terus berjalan, dua haul sudah wafatnya ayahanda Sayyid Hasyim telah
berlalu, akhirnya mereka bertolak berlayar dari Pelabuhan Jepara Semarang pasca
Kesultanan Demak berlabuh menyeberangi laut Jawa-laut Bornio untuk (yang kesekian kalinya) menuju
Kesultanan Banjar.
Menurut ceritra datuk-neni kami bahari dan kisah orang-orang tua yang saya temui bahwa “di Abad ke-16 Masihi masa Kesultanan Demak dan untuk (memenuhi janji Sultan Banjar sabubuhan rakyatnya musti masuk Islam), mengetahui prihal tersebut Sayyid Abu Bakar bersama orang tuanya Sayyid Hasan yang sudah bertahun-tahun menetap di Darmaga Pelabuhan Kapal Gresik, Jawa Tengah. (sebelum mereka menetap di Kelurahan Randusari Semarang), mereka marasa terpanggil, tergerak hati mereka /ada rasa tanggug jawab hingga mereka datang ke Kasultanan Banjar, tujuan utamanya mengislamkan orang-orang Banjar, disamping berniaga (Hambal, Permadani, Sajadah, Kain Sarung dan berbagai jenis Perhiasan Wanita), mereka juga mencari madu dan rempah-rempah untuk dijual kembali, mereka menyeberangi laut Jawa-Bornio pertama kali naik Perahu layar “Jung Banjar” sebelum wafat ayah mereka dan tiba di tempat tujuan yakni sebelum mereka menetap lama dipelabuhan kapal Kampung Sungai Mesa Bandarmasih (Banjarmasin, Kalsel)”.
Di
Darmaga Pelabuhan kota ini mereka mulai mempelajari Bahasa Banjar
kepada orang-orang Banjar yang ada disekitarnya dan mengenali adat istiadat budaya
mereka. Hal itu dilakukan sebagai bentuk upaya untuk memenuhi penyampaian misi
dakwah Islam kepada masyarakat Banjar. Sehingga tatkala mereka berinteraksi
dengan orang-orang Banjarmasih lainnya tidak mengalami hambatan, tiada
mengalami kesulitan dan selalu berjalan dengan baik.
Dzuriat Rasulullah SAW tersebut
konon berasal dari Seiyun Hadramaut, dan menginjakkan kaki pertama di pelabuhan
kapal Bandarmasih (nama kota lama Kota Banjarmasin) di Kesultanan Banjar.
Setelah beberapa waktu menetap berbulan-bulan di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa
sambil menghabiskan barang dagangan, dan mereka membeli madu dan rempah-rempah
merekapun kembali lagi pulang ke Demak menemui Habib Hasyim ayahnya yang ditinggalkan
bersama anak bungsunya Habib Idrus.
Adapun Jenis Perahu /Jukung
yang ditumpangi Sayyid Hasan beserta anaknya sayyid Abu Bakar ketika menyeberang
laut Jawa-Kalsel adalah perahu layar “Jung Banjar”
a.
Perahu “Jung Banjar” adalah jenis
kapal layar besar orisinal Nusantara dari Kesultanan Banjar yang populer
pada abad ke-16 hingga ke-17. Kapal ini berukuran raksasa, tangguh, serta
berfungsi utama sebagai sarana angkutan laut dan perdagangan antarpulau maupun
internasional.
Menurut peneliti pakar sejarah
Koestoro bahwa “pada pertengahan abad ke-16 Masihi, telah muncul Jung Banjar, sebuah Perahu
yang digunakan untuk angkutan transportasi
sungai-laut antar pulau. Pada abad ke-16 Masihi
dari tahun 1501 sd. 1600 M, sekitar akhir abad ke-16 Masihi yakni tahun 1596 M
kapal “Jung Banjar”, jenis perahu ini pernah dicegat dan dirampas Cornelis de Houtman orang
Belanda ketika Perahu itu sedang beroperasi melintas diperairan luar Teluk
Banten, Jawa Tengah.
Namun perjalanan mereka yang
kesekian kalinya, mereka menyeberangi laut Jawa-laut Kalsel dan menuju ke
Kasultanan Banjar, (busu) Habib Idrus bin Hasyim Assegaf baru diikutsertakan
bersama saudaranya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan Sayyid Abu Bakar Assegaf
keponakannya, mereka membawa misi dakwah pergi berniaga berlayar dan tiba lagi
di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa kota Bandarmasih, pada kali ini mereka menetap
lama/ berdomisili lama dipelabuhan tersebut, diakhir abad ke-17 Masihi dan dipekirakan
mulai menetap tahun 1689 Masihi di akhir abad ke-11 Hijeriah.
Sungai Mesa merupakan sebuah kampung tua di Kota Banjarmasin (Bandarmasih dahulu). Kampung ini dibangun oleh seorang tokoh yang dikenal dengan nama Kiai Mesa Jaladri. Tidak diketahui persis, kapan Kiai Mesa membangun wilayah ini, yang jelas sejak itu Kampung Sungai Mesa menjadi wilayah tempat tinggal yang strategis. Letaknya yang persis di tepi sungai Martapura, membuat daerah ini menjadi semacam pelabuhan kecil tempat menaik-turunkan barang dagangan dari perahu (kapal). Di seberang Sungai Mesa adalah Jalan Pasar Lama Laut yang sekarang menjadi pusat perkantoran pemerintah Provinsi Kalsel” (Artikel Kajian al Kahfi).
Salah satu pasar yang sering dikunjungi
Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar anaknya ketika menetap di Kampung Sugai Mesa
Bandarmasih yakni berniaga lewat transportasi air menggunakan “Jukung Bakapih”
adalah pasar terapung dan sekitarnya. Pasar terapung adalah yang awalnya
terletak pada pertemuan Sungai Karamat
dan Sungai Sigaling.
Menurut penelitian H. Achmad Mawardi seorang pakar Pemerhati budaya dan lingkungan bahwa “Berdasarkan kenyataan arkeologis dan historis, jukung-jukung orang Banjar masih banyak terdapat dan digunakan di perairan Kalimantan Selatan. Bahkan pasar terapung di daerah ini, diketahui sudah ada sejak 400 tahun yang lalu. Diperkirakan pasar terapung dan juga di tebing sungai sudah ada pada tahun 1530 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera) yang terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling. Kemudian bergeser ke tepi sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin menjelang akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Masehi. Pasar terapung di sungai Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, mungkin sudah ada pada abad ke-16 tetapi bisa juga baru menjadi umum ketika perpindahan keraton Banjar ke kawasan Kayu Tangi Martapura sejak awal abad ke-17 Masihi tahun 1612M.
b. Keterangan : Sungai Keramat
dan Sungai Sigaling
Sungai Keramat
adalah sungai yang mengalir di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia.
Sungai ini mengalir di kelurahan Sungai Bilu, kecamatan Banjarmasin Tengah,
Kota Banjarmasin dan bermuara ke Sungai Martapura. Sungai Keramat memiliki
panjang 846,353 meter dengan lebar 50 meter.
Sungai Sigaling
adalah sebuah anak sungai yang mengalir dan terletak di Kecamatan Banjarmasin
Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang memiliki panjang sekitar
1.087 meter dengan lebar 30 meter dan bermuara langsung ke Sungai Barito.
Adapun Jenis Jukung yang digunakan
Sayyid Hasan beserta anaknya sayyid Abu Bakar ketika membawa misi dakwah sambil
berniaga di wilayah dekat Bandarmasih misalnya tepi sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin, tepi aliran Sungai Karamat dan tepi aliran Sungai Sigaling adalah menggunakan perahu “jukung Bakapih”
yang mereka beli dari masyarakat setempat.
c. Penjelasan : ttg. Jukung
Bakapih.
(Jukung Bakapih). Jukung Sudur (the real dugout
canoe) yang dianggap bentuk awal jukung sejak kala Neolitik, tenyata pada zaman
logam (metal age), masih dibuat dan dipertahankan hingga masa kini, seperti di
kawasan perairan lahan basah Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Bentuk
Jukung Sudur bisa dibuat dari ukuran kecil hingga besar. Untuk memperbesar
muatannya, bisa ditambah kepingan papan di kedua sisi dinding jukung, yang
disebut Jukung Bakapih dari Jukung Sudur. Berdasarkan temuan “Jukung Sudur” di
Sungai Terasi, desa Kaludan, terbukti tipe Jukung Bakapih sebenarnya sudah
dibuat dan dikenal di daerah Kalimantan Selatan sejak abad ke- 15 atau ke-16
Masehi.
Sayyid Hasan adalah saudagar kaya ayah sayyid Abu
Bakar bersama keluarganya sebelum berhijerah ke Sungai Pinang Negara, mereka
lama menetap di Sungai Mesa Bandarmasih, diperkirakan mulai tahun 1689 Masihi
pertengahan dan akhir abad ke-17 Masihi, Abad ke-17 dihitung dari tahun 1601
sd. tahun 1700 M. Sayyid Abu Bakar sempat menikah dengan
perempuan salihah di kampong ini dan punya keturunan an. Sayyid Abdurrahman
sa’at menetap di kampong ini. Penulis belum dapatkan keterangan yang jelas ttg
tahun pernikahan Sayyid dan dzuriat Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang
masih hidup sa’at ini, namun prihal itu terjadi sebelum kedatangan Buyut
pertamanya sayyid Abu Bakar yakni Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Habib
Abu Bakar Assegaf ke Nusantara sekitar abad ke-19 Masihi. Dimasa Kesultanan
Banjar dipegang oleh Sultan Adam.
Menurut Artikel Sejarah Ahlul
Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesia menyebutkan bahwa “Seorang
dari keluarga Assegaf bernama Alwi (w.1842M) bin Abdillah bin Shalih bin
Abubakar dilaporkan melalui perjalanan panjang dari Hadramaut-ke Pelabuhan Turki-ke
Pelabuhan Palembang- ke Pelabuhan Gresik, sebelumnya ia menyinggahi Banjarmasin
dan sempat bermukim di Kampung Sungai Mesa. Alwi kemudian menetap di Martapura
(Kampung Melayu) dan mendapat hadiah tanah dari Sultan Adam di daerah Karang
Putih. Kemudian ia dan anak cucunya bermakam di tanah pemberian Sultan tersebut
(makam Karang Putih Jl Menteri Empat Martapura) ”(Fakhrul 04-2012M).
d. Silsilah Sayyid Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Abu Bakar
Sekitar pada Agustus 2023
Masihi Penulis baru menemukan Nasab silsilah Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih
bin Habib Abu Bakar Assegaf dan keturunannya yang bermula dicatat dari Habib
Abdul Qadir al Jailani :
الْحَبِيْب عَبْدُ القَدِيْر الْجَيْلَانِيِّ
بِنْ عَلْوِىْ بِن زَيْنْ بِنْ عَلِيٍّ بِنْ عَلْوِىْ بِنْ عَبْدِاللهِ بِنْ صَالِح
بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ
[عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً
عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ
سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ
بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد
بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه
- Habib Abdul Qadir al-Jailani
- bin Alwi
- bin Jain
- bin ‘Ali
- bin Alwi
- bin Abdillah
- bin Shalih
- bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.
- bin Hasan w.1720M
- bin Hasyim w.1686M/18Rmdhn.1097M
- bin Muhammad
- bin Umar ash-Shoufy
- bin Abdurrahman
- bin Muhammad
- bin Ali w.840H
- bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)
- bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H))
- bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
- bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H)
- bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)
- bin Sayyidina Ali Walidul Faqih
…………………………………………
Menurut salah satu Artikel
yang pernah saya baca menyebutkan bahwa “Pemukim dari golongan sayyid yang
terhitung orang lama (tua) di Sungai Mesa adalah Habib Ahmad bin Abdurrahman
Assegaf, ia diperkirakan lahir di Sungai Mesa Bandarmasih antara tahun
1720-1725 Masihi, awal abad ke-18 M. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf mempunyai
3 orang saudara kandung bernama Umar, Muhdor dan Muhammad. “Pekerjaan Habib
Ahmad berdagang kayu ulin, juga membawa tajau, belanga berdagang dengan urang
Dayak,” cerita Syarifah Nikmah.(Artikel Kajian al Kahfi).
Dikisahkan pula bahwa “Sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar, keduanya adalah seorang Guru atau Ustadz (Mubaligh), Profisi keduanya dan keluarganya sehari-hari adalah berdagang dan berdakwah.” Apabila mereka berniaga ke tempat yang jauh, mereka selalu naik taxi PP “Perahu Tambangan” ditempuh melalui trasnportasi sungai hingga sampai ke tempat-tempat berniaga yang dituju, tempat tujuan terakhir yaitu wilayah pusat bekas kerajaan Daha, Nagara (pelabuhan sungai Pinang).
Pada awalnya mereka berniaga ke areal pasar terapung dan sekitarnya menggunakan perahu sendiri
yakni (Jukung Bakapih), kemudian juga ada keinginan mereka berdagang ke tempat
yang jauh seperti (psr. Alalak, psr. Sungai Gampa, psr. Barito Kuala, psr. Margasari
dan psr. Nagara) mereka berdagang meniti Pasar yang mereka tempuh dalam waktu
satu-dua pekan atau satu bulan, mereka naik taxi PP “Perahu Tambangan” baru mereka kembali lagi pulang ke Pelabuhan Sungai
Mesa. Para pedagang dahulu, mereka
selalu datang membawa barang yang akan dijual, ke pasar yang
dituju disore hari, atau menjelang malam pasar dan mereka menginaf (bamalam) di pasar atau nginaf (rumah
penduduk yang dekat pasar). Diwaktu menginaf (bamalam) inilah
Sayyid Hasan dan anaknya banyak waktu menyampaikan misi dakwah Islam (bakisah
ttg Islam, dilengkapi pantun, syair-syair, dan yang dibumbui sedikt homor)
kepada masyarakat setempat.
e. Keterangan :
Jenis Perahu /Jukung yang digunakan Sayyid Hasan berniaga Jukung/ Perahu Tambangan terbuat dari kayu ulin (kayu besi Kalimantan). Ada ukiran daun jaruju melayap di dekat garis air. jukung tambangan memiliki panjang 12,40 meter, lebar 1,34 meter, dan kedalaman 59 cm.
Fungsi jukung tambangan adalah untuk transportasi sungai, sebelumnya hanya digunakan oleh para pedagang, para bangsawan, dan orang-orang kaya. Namun Fungsi “Perahu Tambangan” secara luas telah mereka gunakan oleh orang-orang biasa untuk transportasi taxi para penumpang, reuni keluarga, acara pemakaman, pernikahan, dan banyak lagi.
Jukung Tambangan lebih umum dikenal. Jukung Pandan Liris disebut demikian karena hanya dibuat dan digunakan di Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan di kawasan sungai dan rawa Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan disebut Jukung Bagiwas. Pada sampung muka dan belakang tipe Jukung Bagiwas ini terdapat ukiran sulur daun, warna coklat. Karenanya tipe jukung ini dianggap prototipe Jukung Tambangan menurut Triatno et al. (1998). misalnya tipe Jukung Pandan Liris (prototipe Jukung Muara Tapus) atau Perahu Bagiwas (prototipe Jukung Tambangan).Atau berbentuk “U” yang disebut “jukung”. Keduanya prototipe jukung orang Banjar masa kini, yang digunakan sesuai dengan fungsi/kegunaannya. Tipe yang disebut “jukung” (bisa juga berdasarkan nama tempat) kebanyakan dari kayu ulin di kawasan Nagara, Sungai Hamandit dan Sungai Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan beberapa kabupaten lainnya seperti di Barito Kuala, Banjar, dan sebagainya.
09. Sayyid Hasan dan Sayyid Idrus berniat silaturrahmi menjenguk keluarga yang masih ada menetap dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan.
Dikisahkan pula bahwa “Sayyid Hasan dan sayyid Abu
Bakar, keduanya adalah seorang Guru Agama atau Ustadz (Mubaligh), Profisi
keduanya dan keluarganya sehari-hari adalah berdagang dan berdakwah.”
Dikisahakan juga oleh Datu-neni bahari wallaahu‘a’lam bahwa : Setelah wafatnya Sayyid Hasan beberapa tahun ayahandanya kampung Taniran, timbulah keinginan untuk berziarah menjenguk kakeknya Sayyid Hasyim di Pulau Jawa. Di pertengahan Abad ke-18 Masihi sekitaran antara tahun 1748 sd. 1750 Masihi, Sayyid Abu Bakar beserta ke-3 orang anak tertuanya : Sayyid Abdul Rahman, Sayyid Abdul Hamid, Sayyid Jamaluddin dan Pamannya Sayyid Idrus beserta anak tuanya Sayyid ‘Aly, mereka datang ke kota ini dengan niat untuk menjenguk keluarga yang masih ada menetap (silatur rahmi) dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan kota Semarag Jawa Tengah, yang mereka jadwalkan keberangkatannya setiap 12 bulan atau 2 tahun sekali..
Perjalanan bisnis kali ini, dengan bermodalkan mengucap “Bismillaahir rahmaanir rahiim” mereka berangkat dari rumah naik taxi angkot “Perahu Bagiwas” mereka banyak membawa barang dagangan yang dianggap cepat laku dijual di Pulau Jawa seperti madu, damar, kayu manis, lada, rotan dan lainnya. Mereka pergi menuju Darmaga Pelabuhan Bandarmasih, mereka menyeberangi laut Bornio dan laut Jawa, adapun Jenis Perahu /Jukung yang ditumpangi mereka sa’at itu adalah “Perahu Pinisi”.
Keluarga ini
berangkat dari Darmaga Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih naik menumpangi
“Perahu Pinisi” menyeberangi laut Kalsel-laut Jawa dan tiba di Darmaga
Pelabuhan Jepara, kemudian menawarkan barang yang mereka bawa ke para Pembeli,
hingga barang tersebut laris habis terjual syukur alhamdulillah mereka ucapkan, dan setelah
itu mereka melanjutkan perjalanan naik taxi angkot berupa dukar kuda, terus
menuju Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan.
Namun Sayyid Idrus Assegaf (lhr.1674M) (dan ia
Wafat 1162H/1749M) sa’at berkunjung dengan niat silatur rahmi untuk menjenguk
keluarga yang masih ada menetap disana dan sekaligus menziarahi makam
ayahandanya sayyid Hasyim dikota Semarang ini, tetapi setelah selesai pada
kunjungannya kali ini, nasibnya malang tertimpa musibah, ajalnya tiba, ia jatuh
sakit, mungkin karena kelelahan selama dalam perjalanan, hingga penyakit
lamanya kembuh, ketika itu anggota badannya terus melemah hingga ia wafat
dengan usia sekitar 75-76 tahun dan janazahnya dikebumikan berdampingan dengan
makam Sayyid Hasyim ayahnya dikota ini, dan Alamat lengkapnya di Kelurahan
Randusari, Kec. Semarang Selatan, kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
Keterangan ttg.
Perahu Pinisi adalah Perahu yang ditumpangi Sayyid Abu Bakar beserta Sayyid
Idrus adik kandung seayahnya saat pulang ke Jawa menjenguk makam Sayyid Hasyim
di Kel. Randusari, Semarang.
Perahu tradisional ini berasal dari suku Bugis, Sulawesi Selatan. Konon, perahu ini tak hanya menjelajahi lautan Nusantara saja, melainkan merambah hingga Austria, Filipina, dan Madagaskar. Pinisi memiliki tujuh layar yang mengandung makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh lautan atau samudra besar di dunia.
10. Sayyid Hasan bersama keluarganya dan Habib Abu Bakar anaknya berhijerah dari Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih dan tiba di Margasari dan menetap di Darmaga Pelabuhan Perahu Kapal Margasari.
Namun seiring waktu, lebih
dari tiga-empat tahun berlalu tanpa mereka rasakan, sa’at menetap di kampung
Sungai Mesa Bandarmasih. Kemudian Sayyid Hasan bersama keluarganya ingin
hijerah (berpindah) dari kampung Sungai Mesa tersebut ke Pelabuhan sungai
Pinang Negara diperkirakan diakhir abad ke-17 Masihi. Yang sebelum berpindah ke
Sungai Pinang Nagara, mereka lebih dahulu mampir di kota Candi Laras Pelabuhan
Kapal Margasari dan akhirnya menetap. Dari Pelabuhan ini mereka lebih dekat
berdakwah dan berniaga ke pelusuk-pelusuk kampung penduduk yang tinggal
dipinggiran / tepi aliran Sungai Balimau, dan Sungai Rutas, aliran Sungai Tapin
dan Nagara.
Diceritrakan awal mulanya
bahwa “Setelah mengetahui dan mengerti seluk beluk arah jalan transportasi yang
akan dituju, Mereka pun
mulai mudik dari Bandarmasih menyisir tepi sungai Barito dengan perahu/ jukung
Bakapih yang sangat sedarhana, membawa dagangannya berupa kain sarung dan
perhiasan wanita, menuju
aliran sungai Alalak, aliran sungai Gampa dan aliran sungai Barito Kuala
(penduduk aslinya suku Dayak Bakumpai) setiap ada tumpukan rumah penduduk di tepi aliran
sungai yang mereka lalui mereka singgahi, bahkan menginaf (bamalam) ditempat
itu, menawarkan barang dagangan yang mereka bawa”.
Diceritrakan pula bahwa “Terus dari situ (Barito Kuala) mereka menuju aliran sungai Margasari (Kab. Tapin) tiba di pelabuhan Margasari. Ia pusat (kota Candi Laras-Agama Hindu) kemudian di Margasari ini mereka singgah /menetap lama. Mereka berniaga dan berdakwah di Margasari dan sekitarnya hingga hulu sungai Tapin selama bertahun-tahun. Sehingga Sayyid Abu Bakar bin Hasan tak menutup kemungkinan ketika berada di wilayah ini bahwa ia menikah lagi dengan wanita shalihah yang ada di tepi aliran Sungai Margasari dan punya anak. Wallahu A’lam.
11. Sayyid Hasan bersama
keluarganya dan Habib Abu Bakar anaknya berhijerah dari Darmaga Pelabuhan Perahu
Kapal Margasari dan tiba di Sungai Pinang dan menetap di Darmaga Pelabuhan Perahu
Sungai Pinang, Nagara.
Selanjudnya
setelah mereka menetap lama di Margasari, mereka mencari lahan baru untuk
berdakwah, tetapi mereka tidak melupakan lahan yang lama. Maka merekapun
berpindah ke Nagara, Daha. Perjalanan ini mereka tempuh tanpa naik taxi Perahu
Tambangan yang besar, tetapi menggunakan Perahu sendiri, berhari-hari, satu
atau dua pekan mereka mengayuh perahu/
jukung, bahkan perjalanan berbulan-bulan, mereka meliwati
kampung-kampung, melalui desa-desa hingga tiba di tempat tujuan
yakni Pelabuhan sungai Pinang Negara yang sering mereka kunjungi setiap pekan, sa’at naik taxi Perahu Tambangan
yang besar”.
Menurut ceritra datuk-neni kami bahari dan kisah orang-orang tua yang saya temui bahwa Sayyid Hasan bersama keluarganya menetap di Pelabuhan Sungai Pinang Negara. Sebelumnya mereka menetap sekitar satu-dua tahun di kota candi laras Margasari. Kemudian Saudagar kain ini bersama keluarganya berhijerah dari kota candi laras Margasari Tapin pindah ke Pelabuhan sungai Pinang, Nagara, mereka menetap lama di Pelabuhan ini, diperkirakan tahun 1695-1700 Masihi hingga akhir abad ke-17 Masihi.
Sayyid Abu Bakar sempat
menikah dengan wanita
salihah Putri Inang (anak Dayang bekas pegasuh
Putri raja Daha) dan punya anak /keturunan salah satunya yang terungkap dan
terverifikasi an.
Sayyid Abdul Hamid bin sayyid Abu Bakar
Assegaf sa’at menetap di Sungai Pinang ini, hingga ada dzuriat nasab Habib yang
ber-Fam Assegaf, yakni Alhabib Seggaf bin Abdul Hamid Assegaf (Kramat Assegaf
Sungai Pinang) Alamat; Samping Kantor Desa Sungai Pinang-Nagara, KM.37.
Kecamatan Daha Selatan. Kab. HSS Kalsel. Mereka berniaga ke pasar Negara, pasar
Margasari hingga mudik sungai
Tapin, Saudagar Kain ini selalu menginaf (bamalam) di pasar /nginaf
(rumah penduduk) dimalam awal pasar tersebut.
Diawal bulan Juni 2025 ada
orang yang ngaku nasabnya sampai hingga
Habib Abu Bakar dan ia dari kota Palangkaraya minta konvirmasi ttg nasab
keluarga Habib Abu Bakar Lumpangi, ia ingin mendaftarkan nasabnya ke Rabithah. Kalau nasabnya seperti
ini, dan jumlah nasab generasinya antara
38-39 orang ke anaknya masih memenuhi syarat tahun ini :
Sebab menurut penelitian Pakar Nasab menyebutkan bahwa “ marga tertua atau fam tertua dari puluhan marga/fam Dzuriat Nabi Muhammad Saw yang ada di Indonesia ialah al saqqaf (Assegaf). Lalu Assegaf ini tinggi, Keturunan Nabi yang ada di Indonesia ini umumnya adalah generasi ke-38 atau ke-39 tahun 2022".bahkan kalau dilihat nasab Dzuriat Datu Habib Lumpangi di Kalimantan Selatan sampai generasi ke-40 dan generasi ke-41 di tahun yang sama.
Adapun silsilah Nasabnya menurut Habib H. Abdullah bin H,Hubbul Wathan Assegaf sebagai berikut :
- H.Abdullah
- bin H.Hubbul Wathan
- bin H.Muhammad
- bin Muhammad.Arsyad
- bin Jafri
- bin Abdul Hamid
- bin Abdurrahman Assegaf Ketapang Kec. Bakarangan Rantau
- bin Segaf Desa Sungai Pinang Nagara
- bin Abdul Hamid (orang tua Habib Segaf Desa Sungai Pinang Nagara)
- bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.
- bin Hasan w.1720M
- bin Hasyim w.1686M/1097H
- bin Muhammad
- bin Umar ash-Shoufy
- bin Abdurrahman
- bin Muhammad
- bin Ali w.840H
- bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)
- bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H))
- bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
- bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H)
- bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)
- bin Sayyidina Ali Walidul Faqih
- bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath (w. 556H/1161M)
- bin Sayyidina Ali (Al-Imam Kholi Qasam w.527 H/1133 M)
- bin Sayyidina Alwi (w.512H)
- bin Sayyidina Al-Imam Muhammad (Shahib As-Shouma’ah w.446H)
- bin Sayyidina Al-Imam Alwi Alawiyyin (Shahib Saml)
- bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah (Shahibul Aradh w.383H)
- bin Sayyidina Al-Imam Al-Muhajir Ahmad (820-924M)
- bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi (w.270H)
- bin Sayyidina Al-Imam Muhammad An-Naqib
- bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraidhi (765-818M)
- bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq (702-765M)
- bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir (676-732M)
- bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin (658-713M)
- bin Al-Imam As-Syahid Syabab Ahlil Jannah Sayyidina Al-Husein (626-680M)
- bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra ( w.11H)
- binti Rasulullah Muhammad SAW ibni Abdullah ( 570-632M)
Habib Hasan bersama keluarganya hijerah lagi dari Pelabuhan Sungai Pinang kota Nagara diperkirakan diakhir abad ke-17 Masihi, Setelah lama mukim di Nagara mereka mudik menyisir tepi sungai melewati sungai desa Garis singgah, di desa Bangkau singgah, melewati desa Tawar singgah, di desa Sungai Kupang singgah kemudian menyisir sungai kecil menuju buntut Sungai Taniran, hingga tiba tepatnya di Rt.01 Desa Taniran. Kala itu arus tranportasi yang digunakan masyarakat melalui jalan laut dan sungai
12. Rekam Jejak Perjalanan Sayyid Hasan bin Hasyim bersama Puteranya Habib Abu Bakar Assegaf ke Hulu Sungai Selatan awal Abad ke-18 Masihi tahun 1701 – 1720M.
a. Habib Abu Bakar beserta ayahnya Berhijerah ke Hulu Sungai
Mereka para sayyid ini apabila pergi berdagang ke tempat yang jauh, rote perjalanan Nagara ke Hulu Sungai dengan mengunjungi beberapa kampung membawa misi dakwah, mereka awalnya selalu naik taxi PP “Perahu Bagiwas” ke Hulu Sungai tersebut, satu dua pekan sekali. Hal ini dilakukan beberapa kali dalam sebulan hingga bertahun-tahun, transportasi jalur sungai yang melewati beberapa kampung seperti Garis, Bangkau, sungai Balimau, Sungai Kupang) menuju jalur aliran Sungai Hamandit, hingga tiba di Darmaga pelabuhan Perahu Amawang (Hamawang) di Hulu Sungai Selatan Kandangan. Pada awalnya saat berada di Hulu Sungai, sayyid Hasan dan anaknya selalu berniaga di sekitar pelabuhan Amawang, tempat parker taxi “Perahu Bagiwas” yang ditumpanginya di jalur aliran Sungai Hamandit.
Keberadaan mereka di Hulu Sungai sudah mendapatkan tempat tinggal untuk menetap/ membeli rumah kosong dari penduduk setempat yang ditinggalkan, letaknya dipinggiran Darmaga pelabuhan Parahu Amawang, rumah tersebut digunakan untuk menginaf dan berdagang (berniaga) yang mereka kunjungi satu atau dua pekan sekali, terutama hari Selasa hari pasar kota Kandangan.
Kekhadiran Sayyid Hasan dan
Abu Bakar anaknya di pasar Palabuhan Parahu Amawang sangat disenangi dan mereka
mulai dikenal oleh para Pedagang lainnya, masyarakat setempat dan para Pembeli
dagangannya, sejak awal kekhadiran mereka.
b. Habib Abu Bakar beserta ayahandanya Berhijerah ke kampung Taniran Kab. Hulu Sungai
Menurut Artikel
Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id
dengan judul KalselPedia - Datu
Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret
2019 11:12, Dia telah mengutif dari berbagai sumber, bahwa "sebelum Datu
Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid
Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal
sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS."
Menurut ceritera orang-orang
tua Desa Taniran yang saya temui bahwa pada mulanya Langgar Darul Lathif yang
berada di RT 01 Taniran, dengan bangunan yang sangat sedarhana yang telah
dibangun oleh Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy dan
anaknya Sayyid Abu Bakar Assegaf bersama Masyarakat atau penduduk sekitarnya
dengan gotong-royong dan dana swadaya masyarakat. Diperkirakan bangunan Langgar
tersebut berdiri awal abad ke-18 Masihi
tahun 1703 Masihi terdiri : Tiang ulin bulat, berlantai rieng,
berdinding daun rumbia dan beratap daun rumbia. Diperkirakan Langgar ini
berdiri semasa Raja Banjar yang ke-10 Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717
Masihi yang bekuasa.
Kedatangan Habib dan
keluarganya disambut oleh masyarakat Taniran dengan suka cita dan ditampung
oleh salah satu warga. Sebagian warga ada yang memberinya beras, ada mengantari
ikan kering dan ada yang sayuran dllnnya. Habib dan keluarganya sangat ramah,
murah senyum, suka menenguk warga yang sakit, membantu-bantu warga yang
ditempatinya memanen padi disawah. disaat itulah mulai ditanamkan nilai-nilai
ke-Islam-an dan warga mulai tertarik
dengan Islam. Apalagi saat itu Desa Taniran mengalami masa panen padi yang
melimpah.
Namanya Hasan bin Hasyim bin
Muhammad bin Umar as-Shoufy Assegaf. Nama ayahnya adalah Habib Hasyim Assegaf
diperkirakan lahir 1613M di Seiyun Hadramaut dan menikah diusia 21 tahun
ditanah kelahirannya dan Ia diperkirakan wafat Ramadhan 1097H/ 1686 Masihi, ada
yang berkata bahwa Hasyim sudah sepuh ketika menetap lama kel. Randusari. Ia
tinggal disana hingga wafat di pasca Kesultanan Demak, yakni Kelurahan
Randusari, Kec. Semarang Selatan, Semarang, Jawa Tengah. Hasan lahir di Seiyun
Hadramaut, diperkirakan tahun 1044H/1634M. Versi yang lain dan kuat menyebutkan
bahwa, ia lahir di Tarim Hadramaut. Sebagian orang ada yang berkata bahwa :
Usia Sayyid Hasan ketika ia datang ke Desa Taniran, sudah usia sepuh, yakni
antara 68-70 tahunan begitu juga usia anaknya Sayyid Abu Bakar sekitar 35-40
tahunan.
Rasanya tidaklah jauh berbeda
(kecuali umurnya) keadaan fisik Sayyid Hasan Assegaf dengan anaknya Datu Sayyid
Lumpangi. Disebutkan orang bahwa ketika sepuh keadaan fisik Datu Sayyid Lumpangi
adalah berperawakan tinggi besar, berkulit putih bersih kemerahan, beliau mempunyai janggut putih hingga dadanya,
bermuka ceria, murah senyum, tutur kata lemah lembut (melekat adat jawanya)
keduanya pasih berbahasa Banjar dan juga Bahasa Malayu - Indonesia.
Langgar atau Surau kala itu adalah tempat masyarakat berkumpul, bermusyawarah mufakat, tempat mengajar dan belajar menuntut ilmu Agama Islam, utamanya tempat ibadah shalat berjama'ah. Keberadaan Habib di Desa Taniran dan kampung sekitarnya dengan tujuan berdakwah, mengajar ilmu agama kepada masyarakat Desa Taniran dan sekitarnya, bagi mereka yang masih menganut ajaran Animisme dan belum mengenal Islam.
Keluarga ini disambut
oleh warga Desa Taniran dengan suka cita dan keluarga ini ditampung oleh salah
satu warga Rt.01. Saat itu musim panen padi, maka keluarga Habib ini ikut
membantu warga memanen padi dan menerima upah dari warga setempat. Diwaktu
istirahat memanen, sambil duduk istirahat melepas lelah dan makan bersama buruh lainnya disaat itulah
Habib mulai berdakwah yakni "Bakisah-kisah tentang
peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timur Jauh (Timur Tengah)" kisah itu
misal ttg aturan-aturan berumah tangga, tentang aturan anak dengan orang
tua, kisah lukmanul
hakim dllnya yang dibumbui dengan membaca sya'ir-sya'ir dan sedikit homor hingga disukai tua dan
muda.
Sebagian orang ada yang
berkata bahwa : Usia
Habib Hasan sudah sepuh
ketika ia datang ke Desa Taniran sekitar 60-70
tahunan, tetapi
kelihatan pisiknya sehat dan kuat, ia menikahi seorang janda yang sudah punya anak-anak, kemudian ia berdomisili di RT.02
Taniran. Dan begitu juga usia anaknya
Habib Abu Bakar sekitar 40
tahunan. Di Desa ini ia membantu ayahnya menyebarkan
Islam sambil berniaga-berdagang.
Konon untuk menghidupi keluarganya sehar-hari Habib dengan profisinya adalah berniaga menawarkan dan menjual dagang kain dagang kain dan perhiasan imitasi wanita yang mereka jajakan kepada penduduk yang mereka lewati dengan Perahu – Jukung yang sedarhana dari tepi sungai Barito hingga Nagara dan sekitarnya hingga Hulu Sungai Selatan.
Tujuan utamanya mereka
untuk mengislamkan orang-orang Banjar dan orang-orang di Hulu Sungai Selatan
diantaranya Masyarakat Desa Taniran dan sekitarnya yang masih menganut Animisme.
Animisme (dari bahasa Latin asal kata : anima berarti
"roh") yakni kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus dan roh-roh
merupakan dasar kepercayaan sebuah agama yang mula-mula dianut di kalangan
manusia purba. Kepercayaan animisme ini mereka sangat mempercayai bahwa setiap
benda di dimuka bumi ini (seperti daerah tertentu, gua, pohon besar atau batu
besar), mempunyai roh yang harus mereka hormati agar roh tersebut tidak
mengganggu manusia.
Diceriterakan bahwa Habib
Abu Bakar masih pulang-pergi menjenguk anak dan isteri
yang ditinggalkan mencari nafkah, sebulan sd. tiga bulan sekali ia datang ke Sungai
Pinang Nagara dan Sungai Mesa Bandarmasih.
Setelah beberapa waktu berada di Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang (Hulu Sungai Selatan) ini, maka terjadi pembagian tugas dan lokasi misi dakwah. Habib Hasan, karena sudah berumur sering sakit-sakitan maka Habib Hasan bin Hasyim Assegaf berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah dan tidak terlalu banyak jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat simpati dan banyak berharap kepadanya sebagai Guru Agama. Tak berapa lama di Desa Taniran ia bersama masyarakat bisa membangun sebuah tempat ibadah berupa langgar yang berfungsi untuk tempat mengajar, belajar, mengaji, menuntut ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya.
Setelah beberapa waktu
berada di Hulu Sungai Selatan ini, maka terjadi pembagian tugas dan lokasi misi
dakwah Islam. Habib Hasan, karena sudah berumur sering sakit-sakitan maka Habib
Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufi bin Muhammad Assegaf berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah
dan tidak terlalu banyak jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat antusias & simpati dan banyak berharap
kepadanya sebagai Guru Agama. Tak berapa lama di
Desa Taniran RT.01 ia bersama masyarakat bisa membangun sebuah tempat ibadah berupa langgar
dinamai“Darul
Lathif”. Langgar yang berfungsi untuk tempat mengajar, belajar, mengaji, menuntut
ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya.
Berselang beberapa tahun
kemudian Sayyid
bersama masyarakat Taniran RT.02 bisa
membangun sebuah tempat ibadah lagi berupa langgar dinamai“ Darul Miftahul Jannah” yang terletak
ditepi sungai yang berdekatan dengan rumahnya. Di tahun yang sama ia bersama
masyarakat Muara Tawia juga bisa
membangun mendirikan sebuah tempat
ibadah berupa langgar. Tahun ke tahun Jama’ah ke-3 langgar tersebut semakin
banyak hingga langgar “Darul Lathif”, yang berada ditegah-tengah Desa Taniran
dijadikan “Masjid Darul Lathif”.
Seiring waktu berjalan dengan
cepat, komunitas masyarakat Islam di kampong ini terus bertambah, keberadaan Masjid di kampong Taniran
sangat dibutuhkan.
Tidak seperti sekarang Masjid tidak perlu musti adanya sokongan. Menurut Alim
Ulama bahari bahwa keberadaan
Masjid harus disokong oleh keberadaan Langgar sekitarnya minimal
tiga buah. Panitia Langgar inilah yang nantinya yang bertanggung jawab penuh dalam
mengisi Jama’ah Masjid setiap hari Jum’at. Begitu juga Petugasnya misalnya
membuat kotak Amal Masjid, menyediakan Tukang Adzan, Khatib Jum’at, Imam Jum’at,
secara bergantian, begitu juga menyediakan tempat parkir kendaraan Jukung atau Perahu. Kemudian berselang waktu kurang
lebih dua tahun berikutnya muncul lagi "Mushalla Al-Hidayah" di
kampong Muara Tawia. Mushalla ini berdiri ditepi aliran Sugai Tawia (dekat
Jematan Kembar sekarang) dibangun atas gotong royong dan dananya swadaya
masyarakat kampong Muara Tawia sa'at itu.
Seiring waktu berjalan kemudian atas kesepakatan bersama masyarakat Taniran kala itu yang diwakili ke-3 Panitia Langgar. Langgar " Darul Lathif" yang berada ditengah-tengah kampong dialih fungsikan menjadi Masjid Taniran. "Masjid Darul Lathif" Taniran kala itu sambil direhab / dipugar sedikit demi sedikt, bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian atapnya bucur diganti daun rumbiya yang baru dan juga Panitia membuat Mimbar untuk tempat berkhothbah para Khatib.
Sejak masyarakat Kec. Angkinang memeluk Islam dan mengenal Islam dengan baik khususnya dan masyarakat
Hulu Sungai Selatan pada umumnya, maka teruslah bermunculan (seperti Jamur)
tempat-tempat ibadah lainnya seperti langgar atau Mushalla-mushalla yang
berdiri di tepi-tepi Sungai. Aliran Sungai sebagai tempat transportasi mereka
hilir-mudik atau lalu lalang dengan Perahu atau Jukung sa’at itu. Kemudian
Panitia Mushalla-mushalla yang itu bergabung /berembuk untuk mendirikan masjid,
maka berdiri Masjid Kayu Abang, Masjid Angkinang, Masjid Bamban di tepi Sungai
di akhir Abad ke-18 Masihi masa Sayyid Hasan, Sayyid Abu Bakar dan anak
cucunya.
Baru nanti di awal Abad ke-19 Masihi tahun 1812M “Masjid Darul Lathif” ini dirombak atau dipugar semuanya bahannya dari Kayu Ulin saat keberadaan Syaikh Muhammad Thaib bin Mufti Muhammad As’ad bin Sayyid Utsman di kampung Taniran.
Sekarang berada di Abad ke-21 Kecamatan Angkinang tahun 2021
tercatat memiliki 11 Desa, dan memilik 10 buah Masjid, dan memiliki 54 buah
Langgar dan 3 buah Mushalla.
Nama-nama : Masjid :
Langgar : Mushalla
- Telaga Sili-sili : 1 : 4 : -
- Bakarung : 1 : 8 : 1
- Taniran Selatan :
- : 3 :
-
- Tawia : 2 : 6 : -
- Angkinang : 1 : 6 : 2
- Kayu Abang : 2 : 6 : -
- Bamban Selatan : 1 : 3 : -
- Bamban Utara : - : 3 : -
- Angkinang Selatan : - : 3 : -
- Bamban : 1 : 4 : -
- Taniran Kubah : 1 : 8 : -
Jumlah : 10 :
54 :
3
13. Sayyid Hasan, Sayyid Abu Bakar dan Sayyid Idrus adiknya berziarah ke makam Ayahandanya Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy di Randusari Kec. Semarang Selatan.
Ziarah kubur orang tua adalah
amalan sunnah untuk mendoakan almarhum, mengenang jasa mereka, dan mengingat
kematian. Rangkaian tata cara dimulai dari berwudu, mengucapkan salam kepada
ahli kubur, membaca surat pendek seperti Al-Fatihah, tahlil, dan memanjatkan
doa khusus bagi orang tua.
Ada banyak ragam doa ziarah
kubur berdasarkan tujuannya, seperti mendoakan orang tua, anak atau saudara
yang telah tiada.
Ada dikisahakan
Datu-neni bahari wallaahu‘a’lam bahwa : Sayyid Hasan dan Sayyid Idrus adiknya
dan juga Abu Bakar beserta ke-2 orang anak tertuanya : Sayyid Abdul Rahman,
Sayyid Abdul Hamid. Di awal Abad ke-18 Masihi sekitaran antara tahun 1715 sd.
1717 Masihi, mereka datang
berkunjung untuk menjenguk
keluarga (silatur
rahmi) yang masih ada menetap
di kota ini dan sekaligus menziarahi
makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin
Umar ash-Shaafy ayahanda mereka di Randusari, Semarang Selatan kota Semarag
Jawa Tengah, yang mereka
jadwalkan
keberangkatannya. Kali ini mereka pergi membawa barang dagangan yang mudah dijual seperti madu,
damar, kayu manis, lada, rotan dan lainnya. Mereka berangkat dari rumah naik
taxi menumpangi Perahu Bagiwas menuju Darmaga Pelabuhan Kapal Bandarmasih
(Pelabuhan Kapal Tri Sakti Banjarmasin sekarang). Lewat Darmaga Pelabuhan ini
mereka menyeberangi
laut Bornio dan laut Jawa, adapun Jenis Perahu yang ditumpangi mereka sa’at itu adalah “Perahu Jung Banjar”. Keluarga Sayyid
Hasan ini berangkat dari Darmaga Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih, mereka naik
menumpangi “Perahu angkot Jung
Banjar”
menyeberangi laut Kalsel dan laut Jawa dan tiba di Darmaga Pelabuhan Jepara,
kemudian menawarkan barang yang mereka bawa, hingga barang tersebut laris habis
terjual dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan naik taxi angkot berupa
dukar/delman kuda, terus menuju Kel. Randusari, Semarang.
Ziarah kubur orang tua adalah amalan sunnah untuk mendoakan almarhum, mengenang jasa mereka, dan mengingat kematian. Rangkaian tata cara dimulai dari berwudu, mengucapkan salam kepada ahli kubur, membaca surat pendek seperti Al-Fatihah, tahlil, dan memanjatkan doa khusus bagi orang tua.
Ada banyak ragam doa ziarah kubur berdasarkan tujuannya, seperti mendoakan orang tua, anak atau saudara yang telah tiada. Berikut adalah bacaan ziarah kubur yang diajarkan Rasulullah. Mengucapkan Salam kepada mereka
السَّلامُ عَلَى أهْلِ الدّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُكُمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنْكُمْ وَمِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ
Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr minal mu’minîna wal muslimîn yarhamukumuLlâhul-mustaqdimîn minkum wa minnâ wal musta’khirîn, wa wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn
Artinya: Assalamu’alaikum, hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian dan [yang telah mendahului dan akan menyusul] kami. Sesungguhnya kami insyaallah akan menyusul kalian.
Adapun untuk mendoakan orang tua yang telah tiada, maka Sahabat bisa menambahkan dengan membaca lafal berikut ini.
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا
Artinya: Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil.
Doa untuk Ahli Kubur
Setelah mengucapkan salam dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an sesuai kemampuan, peziarah dapat memanjatkan doa untuk jenazah.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ
Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' mudkhalahu, waghsilhu bil-ma'i wats-tsalji wal-baradi, wa naqqihi minal-khataya kama yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas.
Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, lapangkanlah kuburnya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah dia dari segala dosa sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran."
14. Wafatnya Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf Desa Taniran Kubah Kec. Angkinang Kab. Hulu Sungai Selatan.
Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assaqqaf dan keluarganya telah mewakafkan dirinya, dan mengabdikan seluruh hidupnya, sejak keberadaannya di kampung Taniran ini, selama bertahun-tahun dalam mengenalkan Islam dengan baik dan mengembangkan Islam, mengajar dan membina masyarakat Islam kampung Taniran menjadi masyarakat yang Agamis di kampung ini.
Dan diceriterakan orang pula
bahwa Sayyid Hasan adalah orang yang diberi Allah Swt umur panjang, sewaktu
wafat usianya lebih kurang 86 tahun. Ia
berdomisili lama hingga ia wafat di desa Taniran Kubah dan ia pernah memperisteri seorang
janda asal orang Taniran dan Ia dalam menyebarkan Islam dibantu anaknya selama
kurang lebih 18-20 tahun ia berhidmat
di desa Taniran Kec. Angkinang.
Menurut sumber data yang saya terima bahwa “Diceriterakan orang pula bahwa Habib Hasan adalah orang yang diberi Allah Swt umur panjang, usianya lebih kurang 86 tahun. Habib Hasan sudah usia sepuh tetapi kuat dan sehat, saat datang pertama kali di Taniran, Usia Habib Hasan waktu wafat kurang lebih sekitar 86 tahun. Habib Hasan keberadaannya di desa Taniran Kecamatan Angkinang sekitar dari 1700-1720 Masihi. Beliau wafat pada hari Selasa, 19 Sya'ban 1132H/1720 Masihi. Beliau barmakam atau berpusara di Desa Taniran Kubah RT. 02 / RW. 01,Kec. Angkinang, yakni sekitar 600 meter dari jalan besar atau jalan induk. Atau 500 meter dari makam Syaikh Muhammad Thaib (Datu Taniran). Pusara Beliau berseberangan dengan langgar Beliau langgar“Darul Miftahul Jannah”. Kubah beliau dikunjungi banyak orang.
Daftar
Isi yang Bab ke-III.
III.
Rekam Jejak Perjalaan Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assaqqaf bersama keluarganya berdomisi
atau menetap di kampung Balai Ulin Lumpagi Kec. Loksado Kab. Hulu Sungai
Selatan.
1.
Keadaan fisik Datu Habib Lumpangi (Sayyid Abu Bakar bin Hasan) adalah
berperawakan tinggi besar.
2. Riwayat Singkat Habib Idrus Assegaf di Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang awal Abad ke-18 Masihi tahun 1701 Masihi di Kec. Kandangan di Kab. Hulu Sungai Selatan.
3.
Keterangan : Jalur transportasi Masyarakat Kandangan dahulu mereka pulang pergi
ke Pasar Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang.
4.
Para Sayyid mereka telah menyebar ke Kampong-kampong, ke pelusuk-pelusuk dusun
membawa misi dakwah Islam.
5.
Sayyid Abu Bakar saudagar Kain Sarung dan Perhiasan Wanita berdagang ke
Pedalaman Hulu Sungai.
6.
Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf Ditawan Kena hukuman Adat Suku Dayak
Lumpangi.
7. Putri Milah sakit keras secara tiba-tiba Membuat Orang seisi Balai Ulin Pusing.
8.
Mediasi dan Basa basi penyerahan Aluh Milah anak Tetuha Adat.
9. Sayyid Abu Bakar mempersunting dan mengawini Puteri Milah (Siti
Jamilah).
10.
Sayyid Abu Bakar berdakwah bilhal selama 7-14 tahun di ruang Balai Adat
kemudian ia mendirikan tempat ibadah (Langgar) dibelakang Balai Adat.
11.
Balai Adat Balai Ulin Lumpangi di pindah ke Pantai Dusin Hulu Bayu Kec. Loksado.
12. Penyebab Penghuni Balai Adat Balai Ulin Lumpagi bubar /pindah dari Balai Ulin.
13.
Karomah Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf.
14.Wafatnya Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf tahun 1172H/1759 Masihi.
III. Rekam
Jejak Perjalaan Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assaqqaf bersama keluarganya berdomisi
atau menetap di kampung Balai Ulin Lumpagi Kec. Loksado Kab. Hulu Sungai
Selatan.
1. Keadaan fisik Datu Habib Lumpangi (Sayyid Abu Bakar bin Hasan) adalah berperawakan tinggi besar.
Pedagang-pedagang Arab pada
abad 16 hingga 17 Masihi sejak kesultanan Banjar dipimpin oleh seorang muslim,
berdatanganlah para pendatang ke wilayah ini disamping untuk berdagang mencari
rempah-rempah misi penting lain juga tidak terlewatkan untuk berdakwah (Gafur
2009).
Keluarga Assegaf yang ada di
Taniran dan Habaib yang ada di Lumpangi ini mayoritasnya berasal dari satu rumpun marga Assegaf ash-Shoufy
(ash-Shaafy). Yang pertama kali menyandang marga ini adalah waliyullah Habib
Umar ash-Shaafy yakni turunan nasab Nabi Saw yang ke-26.
Disebutkan orang bahwa
keadaan fisik ayahnya Datu Habib Lumpangi masa mudanya yakni Habib Abu Bakar
bin Hasan adalah seorang saudagar muda berperawakan tinggi besar, dada bidang,
berkulit putih kemerahan yang merupakan sebaik-baiknya warna kulit, sebagaimana
perkataan Imam Ali ra. bahwa "warna kulit Rasulullah adalah putih
kemerah-merahan". Bibirnya merah, senyumannya menawan Rambutnya terurai
hitam dan bergelombang Orangnya ramah tamah, berbudi Bahasa …. Tiap yang melihat
pasti memujinya dan berkata tiada lagi duanya. Menurut ceritera Datu-neni
bahari bahwa ayahnya Habib Datu Lumpangi adalah Habib Abu Bakar, Beliau pandai
merayu hingga pembelinya terutama para wanita tidak malu-malu, merasa
senang-gambira. Ia juga "sedikit homoris, berwajah arab, ceria, tampan
(gentang) punya jabis dan kumis tipis dan juga berjanggut tipis, berbau wangi
kala beliau datang berdagang ke Balai
Ulin Lumpangi."
Menurut ceritera datu neni
kami bahari bahwa “Kedatangan
pertama Sayyid Abu Bakar di Desa Lumpangi
pada tahun 1705
Masihi”. Ketika Beliau datang ke Desa Lumpangi, menurut salah satu sumber
informasi bahwa usia Beliau sekitar 43-45 tahunan kala itu, tetapi pisik dan
muka Beliau kelihatan muda seperti usia 25-30 tahun, padahal Beliau sudah beberapa kali menikah dan punya
anak, sebelum ia datang ke Lumpangi dan punya cucu berama Sayyid Abdillah. Dan Buyut yang
bernama Sayyid Alwi (w.1842M) bin Abdillah bin Shaleh bin Abu Bakar bin Hasan
dari isteri pertamanya. Sedangkan menurut ceritera Habaib yang pernah saya
dengar bahwa Sayyid Abu Bakar punya 9 orang putra dari beberapa kali
pernikahannya,
2. Riwayat Singkat Habib Idrus Assegaf di Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang awal Abad ke-18 Masihi tahun 1701 Masihi di Kec. Kandangan di Kab. Hulu Sungai Selatan.
Dan setelah dewasa diperkirakan (usia 25 tahun keatas) di abad ke-18 Masihi awal, Habib Idrus (lhr.1674M) bin Hasyim Assegaf memperistri seorang wanita salihah dari warga Kampung Sungai Mesa yang berlokasi di bandar kota tersebut, yang kemudian Habib Idrus diusianya 40 tahun keatas, baru isterinya bisa hamil dan melahirkan seorang putra bernama Habib Ali. Habib Ali bin Idrus Assegaf tumbuh besar hingga usia remaja di Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang, Hulu Sungai Selatan. Di usia remaja tersebut, Ia bersama keluarganya berada menetap di Banua Enam kota Kandangan.
Putra Habib Idrus yang bernama Habib Ali Assegaf, diperkirakan lahir sekitar tahun 1140H/1727 Masihi. Ia salah seorang yang diberi Allah Swt umur pajang, ia berumur lebih kurang dari 82 tahun Masihi, ketika usianya sudah sepuh atau lanjut dan ia sering sakit-sakitan dan hingga membawanya wafat diperkirakan awal abad ke-19 Masihi yakni pada tahun 1224H/ 1809M dan ia bermakam di tengah kota Kandangan atau persisnya di alkah Alawiyah Ashhab Turban Anak Mas di Jalan H.M Rusli. Adapaun salah seorang putra Habib Ali, yaitu Habib Husain bin Ali bin Idrus Assegaf bermakam di tengah kantin pasar Kandangan.
Sekitar tahun 1701 Masihi di awal abad ke-18 sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar beserta keluarganya berhijrah dari Pelabuhan Sungai Pinang, Nagara ke Hulu Sungai Selatan, naik taxi tranportasi umum “Perahu Bagiwas” rote perjalanan dari Nagara ke Banua Anam Kandangan. Dan akhirnya mereka tiba di tempat tujuan dan menetap di Desa Amawang (Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang) aliran Sungai Hamandit.
Keberadaan sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar beserta keluarganya disambut gembira oleh masyarakat kampung Hamawang sa’at itu, justru bersamaan dengan kekhadiran Pangeran Kecil atau Datu Hamawang yakni di Abad ke-18 Masihi, mereka sama-sama membangun akhlak masyarakat menjadi akhlak agamis. Walaupun Kesultanan Banjar mengangkat beliau menjadi kepala kampung hamawang dan diberi gelar Tumenggung Raksa Yuda, namun masyarakat kampung lebih mengenal beliau dengan sebutan Datu Hamawang.
3. Keterangan : Jalur transportasi Masyarakat Kandangan dahulu mereka pulang pergi ke Pasar Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang.
Adapun letaknya sekarang pasar “Darmaga pelabuhan Perahu Amawang” disekitaran tepi aliran Sungai Hamandit mulai Pandai Muka, Jembatan 3 Desemer sd. kampong Gitik Sungai Kalang, atau Desa Amawang Kiri.
Ditepi Sungai atau pinggiran aliran Sungai Hamandit Desa Amawang, Sayyid Hasan dan Abu Bakar anaknya beserta Sayyid Idrus adik Sayyid Hasan dan keluarganya, awal mulanya mereka tinggal /menetap dekat Darmaga Pelabuhan Parahu Amawang.
Keterangan : Jalur transportasi Masyarakat Kandangan dahulu mereka pulang pergi ke Pasar Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang, membawa dan menjual hasil pertanian, mereka menggunakan alat Jukung Perahu untuk hilir-mudik melalui aliran aliran anak Sungai Hamandit di Kandangan, diantaranya :
a. Anak aliran sungai Hamandit
kandangan yang bermuara “Pandai Muka”, (belakang Beskop atau Asrama Brimop)
yakni anak aliran Sungai terus ke simpang lima Kandangan terus hulunya menuju
ke Musyawarah terus hulunya menuju ke Durian Sumur (belakang rumah alm
H.Tohri), terus ke Jl. Al Falah melitasi Jalan Biluy terus hulunya menuju ke
Kandangan Hulu dua dan bertemu /bersambung sungai Hamandit disini.
b. Anak aliran sungai Hamandit kandangan yang bermuara dekat jembatan tiga Desember (muka rumah alm.H.Huray) pandai tengah terus hulunya ke Karkup terus hulunya menuju ke Gambah luar terus hulunya ke Bakarung, menuju ke aliran Sungai Kudung kemudian aliran sungai membelah dua, ke Taniran Selatan. Kalaw terus hulunya menuju ke Tabihi terus hulunya menuju ke Karang Jawa dan bertemu /bersambung sungai Hamandit disini.
4. Para Sayyid mereka telah menyebar ke Kampong-kampong, ke pelusuk-pelusuk dusun membawa misi dakwah Islam
Menurut ceritra datu-datu dan neni kami bahari dan kisah orang-orang tua yang saya temui bahwa “Sayyid Hasan dan keluarganya, Mereka pun berdakwah di kampong Amawang, Kandangan ini dan sekitarnya selama bertahun-tahun” salah satu metode dakwah yang sangat digemari dan diminati masyarakat sa’at itu adalah dakwah Islam (BAKISAH misalnya ttg cinta Rabiatul dengan Hasan al Basri, dilengkapi pantun, syair-syair, shalawat, kata-kata mutiara, kata filusufi dan yang dibumbui berikteng, sedikt homor, rayuan gumbal) disampaikan kepada masyarakat setempat. hingga masyarakatnya benar-benar gembira menerima suka rela dan mengenal Islam dengan baik.
Kemudian setelah itu “Beranjak dari Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang Keluarga Fam Assaqqaf ini, mereka telah menyebar membawa misi dakwah Islam serta berniaga ke desa-desa dan ke kampung-kampung dan juga kepelusuk-pelusuk dusun yang belum pernah dijamah Islam dan belum mengenal Islam dengan baik”. Misalnya sayyid Hasan berhijrah membawa misi dakwah Islam dan berniaga beranjak dari Darmaga Pelabuhan Parahu Amawang terus menuju psr. Pelabuhan Perahu Sungai Kudung dan singgah disana, kemudian terus menuju ke kampung Taniran dan sekitarnya. Sayyid Ali bin Idrus membawa misi dakwah Islam dan berniaga kampung Amawang, Kandangan dan sekitarnya, Sayyid Idrus membawa misi dakwah Islam dan berniaga ke Sungai Raya, desa Matang Gadung atau Said Kuning, Telaga Bidadari dan sekitarnya. Sayyid Abu Bakar pergi membawa misi dakwah Islam dan berniaga ke Hulu Banyu desa Lumpangi dan sekitarnya.
Kedatangan Habib dan keluarganya disambut oleh masyarakat Taniran dengan suka cita dan ditampung oleh salah satu warga. Sebagian warga ada yang memberinya beras, ada mengantari ikan kering dan ada yang sayuran dllnnya. Habib dan keluarganya sangat ramah, murah senyum, suka menenguk warga yang sakit, membantu-bantu warga yang ditempatinya memanen padi disawah. disaat itulah mulai ditanamkan nilai-nilai ke-Islam-an dan warga mulai tertarik dengan Islam. Apalagi saat itu Desa Taniran mengalami masa panen padi yang melimpah.
Setelah beberapa waktu satu dua tahun berada di Darmaga Pelabuhan Amawang dan sekitarnya, Kab. Hulu Sungai Selatan ini meyampaikan misi Islam, maka terjadi pembagian tugas dan lokasi misi dakwah. Sayyid Hasan, karena sudah sepuh (berumur lanjut) sering sakit-sakitan maka Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy bin Abdurrahman bin Muhammad Assegaf berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah dan tidak terlalu banyak jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat simpati dan banyak berharap kepadanya sebagai Guru Agama.
Tak berapa lama keberadaan Sayyid Hasan dan Sayyid Abu akar sebagai Guru Agama atau Utstadz di Desa Taniran ini, ia bersama masyarakat sudah bisa membangun sebuah tempat ibadah berupa langgar atau "Mushalla Darul Lathif". Mushalla ini dibangun di tepi aliran Sungai, diatas tanah Hibah dari seorang warga Taniran yang bernama Abdul Lathif. Mushalla tersebut bahan dasar bangunannya semua dari kayu biasa kecuali tiang dan tongkatnya dari kayu ulin. Mushalla berfungsi untuk tempat mengajar, belajar, mengaji, menuntut ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya bagi masyarakat Rt.02 Taniran. Kemudian kurang lebih dua tahun berikutnya muncul lagi "Mushalla Darul Miftahul Jannah" di Rt.03 kampong Taniran. Mushalla ini juga dibangun di tepi aliran Sungai, atas gotong royong dan dananya swadaya masyarakat Rt.03 kampong Taniran sa'at itu, tempatnya berdekatan dengan rumah Sayyid Hasan.
Seiring waktu berjalan dengan cepat, komunitas masyarakat Islam di kampong ini terus bertambah, keberadaan Masjid di kampong Taniran sangat dibutuhkan. Tidak seperti sekarang Masjid tidak perlu musti adanya sokongan. Menurut Alim Ulama bahari bahwa keberadaan Masjid harus disokong oleh keberadaan Langgar sekitarnya minimal tiga buah. Panitia Langgar inilah yang nantinya yang bertanggung jawab penuh dalam mengisi Jama’ah Masjid setiap hari Jum’at. Begitu juga Petugasnya misalnya membuat kotak Amal Masjid, menyediakan Tukang Adzan, Khatib Jum’at, Imam Jum’at, secara bergantian, begitu juga menyediakan tempat parkir kendaraan Jukung atau Perahu. Kemudian berselang waktu kurang lebih dua tahun berikutnya muncul lagi "Mushalla Al-Hidayah" di kampong Muara Tawia. Mushalla ini berdiri ditepi aliran Sugai Tawia (dekat Jematan Kembar sekarang) dibangun atas gotong royong dan dananya swadaya masyarakat kampong Muara Tawia sa'at itu.
Seiring waktu berjalan kemudian atas kesepakatan bersama masyarakat Taniran kala itu yang diwakili ke-3 Panitia Langgar. Langgar " Darul Lathif" yang berada ditengah-tengah kampong dialih fungsikan menjadi Masjid Taniran. "Masjid Darul Lathif" Taniran kala itu sambil direhab / dipugar sedikit demi sedikt, bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian atapnya bucur diganti daun rumbiya yang baru dan juga Panitia membuat Mimbar untuk tempat berkhothbah para Khatib.
Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf
Akhirnya Beliau (Habib Hasan) wafat diperkirakan pada awal abad ke-18, masa Raja Banjar ke-10 Sultan Tamidullah I tahun 1700-1717 Masihi. Saya beberapa kali datang kesana dan bertanya kepada orang-orang yang tua penduduk asli Desa Taniran Kubah RT.02/RW.01 yang dekat dengan makam Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufi Assegaf, diperkirakan mereka mengetahui tentang beliau datang dan wafat namun mereka berkata menurut tradisi lisan tetuha bahari bahwa diperkirakan usia Beliau saat datang di Taniran sekitar 68 tahunan dan ia menikahi wanita janda yang beranak warga desa Taniran.
5. Sayyid Abu Bakar saudagar Kain Sarung dan Perhiasan Wanita berdagang ke Pedalaman Hulu Sungai
Dikhabarkan orang-orang bahwa berniaga ke Hulu Banyu sangat menggambirakan, semua barang yang dibawa kesana selalu habis. Apahlagi disaat “Aruh Ganal Adat Dayak” yang diselenggarakan.
Kemudian untuk tugas dan lokasi pelusuk pedalaman dan hulu sungai diserahkan pada anak muda yakni Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Hingga akhirnya Sayyid Abu Bakar setelah beberapa tahun berdakwah menyebarkan Islam di desa Taniran dan sekitarnya membatu ayahnya. Sayyid Abu Bakar Assegaf berniaga membawa dagangannya sampai ke pelusuk pedalaman suku Dayak Langara Desa Lumpangi yang belum pernah tersentuh Islam pada awal abad ke-18 tahun 1705M.
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami bahari menyebutkan bahwa “Mulai dahulu awal abad ke-18
Masihi orang-orang Banua (Kandangan, Kayu Abang, Bamban) mereka sudah
berdatangan berniaga ke Balai Ulin desa Lumpangi. Apahlagi menjelang “Aruh
Ganal Adat Dayak” yang diselenggarakan oleh masyarakat Dayak sehabis Panen
Raya.
Barter adalah merupakan
sistem perdagangan yang di dalamnya terdapat kegiatan tukar-menukar barang
tanpa melibatkan uang sebagai alat transaksi. saat itu orang dayak belum punya
uang keping atau uang kertas.
Habib Abu Bakar saudagar Kain Sarung dan Perhiasan Wanita (perhiasan imitasi) berdagang ke Pedalaman Hulu Sungai. Selanjutnya diceritrakan oleh Datuk-nenek kami bahari bahwa pada awal mulanya Habib datang membawa dagangannya kepadalaman Hulu Sungai di Balai Ulin Lumpangi, dagangan Habib diserbu oleh Para wanita tua-muda suku Dayak. Mereka sangat tertarik dan tergoda dengan gaya dan bahasa yang santun, dan raut muka habib yang ceria, homoris dan murah senyum, pandai merayu para pembelinya sehingga membuat mereka tanpa rasa malu, bergerumbul mengelilingi jualan Habib yang bertempat di tengah-tengah ruangan Balai kala itu, mereka melihat dan mereka mencoba mengenakan cincin dijari tangan, mencoba mengenakan aguk/kalung yang tergantung disela-sela dada mereka atau tergantung didahi mereka, mereka mencoba mengenakan gelang dipegelangan tangan dan kaki-kaki mereka, gelang kaki berbunyi saat menari dan bunil dan juga mereka mencoba menggunakan sisir/ surui gafit ke kepala, wanita tua tertarik dengan sarung/tapih. . Dikala itulah puteri Milah mulai berkenalan pada pertemuan pertama dengan Habib hingga cahaya Matahari condung ke Barat waktu sore tiba dan Habib tak mungkin balik-pulang ke Taniran di waktu sore hari karena akan menemui malam dan iapun menginap ditempat itu. Gadis itu sangat senang menjumpai Habib diruangan Balai Adat saat itu/Salah satu tradisi unik /adat Dayak Pegunungan Meratus ketika itu, bagi Tamu Nginap untuk kaum laki-laki lajang tidak diperbolehkan tidur sendiri kecuali ia tidur satu kamar/ satu kelambu bersama dengan puteri dari Tetuha Adat. Bila tidak punya anak gadis maka isterinya yang menemani tidur tamunya. sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu atau sahabat, tak terkecuali dengan Habib, beliau tidur ditemani oleh puteri Milah, saat Habib datang jualan pertama kali dan nginap (bamalam) di Balai Adat Balai Ulin. Adat Dayak adalah sangat meghormati dan memulikan tamu.
Puteri Milah adalah seorang
gadis berwajah ayu rupawan, remaja yang
anggun, cantik parasnya, berwajah keibuan, rambut ikal berderai hingga
punggungnya. Ia berdada bidang, tinggi-sedang, ia lemah lembut, ia seorang
gadis berkulit putih bersih, ia ramah dan homoris dan sulit untuk dilupakan.
tetapi berpakaian setengah telanjang. Pakaiannya terbuat dari anyaman dadaunan,
anyaman kulipak kayu dan kulit-kulit binatang yang disamak, pantas saja pakaiannya hanya menutupi dada
dan kemaluannya sesuai keadaan waktu itu.
Disinilah Habib mulai kenal
dngan suku Dayak Langara. Begitu pula dengan salah satu puteri remaja suku
dayak langara yang cantik jelita memikat hati bagi orang yang memandangnya.
Hingga sekarangpun hampir dipastikan bahwa setiap Balai Adat yang Ganal selalu
ada muncul satu wanita muda tercantik di suku itu yang setiap Pemuda selalu
terpikat olehnya. Salah satu tradisi Adat budaya Dayak mengawinkan anak usia
muda antara usianya 9 tahun sd. 17 tahun.
Untuk memeriahkan acara Aruh
Ganal Adat Dayak Lumpangi biasanya mereka selalu mengundang/basaruan kepada
Para Pedagang yang berniaga di kampong mereka, termasuk Sayyid Abu Bakar yang
diundang, acara Aruh diselenggarakan 2 bulan ke depan, pesan Tuan Puteri Milah,
saat Sayyid mau pulang berniaga dari Lumpangi : “jangan datang terlambat kesini
ya Kakanda, nanti kalau datang terlambat kau kena hukuman Adat”.
Kedatangannya kali yang kedua
Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf membawa dagangannya kepedalaman Hulu Sungai.
entah kenapa ia melakukannya seperti dua bulan yang lalu, ia sampai berada diempiran Balai. Baliaw disambut
oleh Aluh Milah, padahal saat itu acara sacral atau acara inti Aruh Ganal atau
Aruh Bawanang masih berlangsung, yang diperbolehkan berhadir khusus untuk
pemuka adat, penghulu adat dan orang-orang yang mendiami Balai dimaksud, dan
pada acara sacral tersebut tidak
diperkenankan ikut hadir masyarakat umum atau orang-orang dagang.
Dikatakan orang bahwa ada
orang memperkirakan usia Sayyid Abu Bakar saat datang di lumpangi sekitar 45
tahunan, oleh karena itulah Beliau mampu meredam imosi ketika menghadapi
masalah ttg penjatuhan hukuman Adat kepadanya. Begitu pula ia mempu memelihara
kesucian dirinya dan Aluh Milah saat tidur di dekatnya selama menjalani hukuman
adat.
Melalui Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf yang mengislamkan suku Dayak Langara dengan nama Rumah Adatnya “Balai Ulin”. Menurut mitologi bahwa suku dayak Langara adalah bagian/ pencaran dari dari suku dayak Maanyan suku dayak tertua di Kalimantan Selatan.
6. Sayyid Abu Bakar bin Hasan
Assegaf Ditawan Kena hukuman Adat Suku Dayak Lumpangi
Menurut penuturan Amat atau Ahmad (ia seorang Dayak asal desa Bayumbung yang sudah Muslim) yang saya wawancarai beberapa kali bahwa "Acara ritual sakral aruh Bawanang atau aruh Ganal Balai Adat kalua dihitung ada 7 hari, yakni pertama hari Batarah. kemudian aruh Bawanang atau aruh Ganal dilaksanakan selama 3 hari 3 malam dan Masa Pamali 3 hari 3 malam, nah dimasa Pamali inilah bila seseorang Dagang atau seseorang diluar Sukunya belum pernah datang berkunjung diacara 3 hari pertama Acara ritual sacral selain hari Batarah, kemudian ia datang sengaja ataupun tanpa sengaja masuk ke Balai Adat di Masa Pamali, maka Dia akan mendapat Hukuman Adat dan membayar denda"
Allah Swt berkehendak lain
dengan Hamba-Nya beriman. Kedatangannya
bersamaan dengan Masa Pamali atau Masa Tenang. Masa Pamali berlaku
selama 3 hari dan 3 malam pada acara
inti aruh ganal ini tamu tidak diperkenankan datang ke Balai Adat. Dan Habib
belum tahu hukum adat istiadat yang berlaku saat itu. Dan ia belum mendapat
undangan maka kehadiran Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dikenakan hukuman
Adat. Hukumannya adalah tidak dibolehkan ia keluar dari Balai itu selama 9 hari dan 9 malam. Jenis hukuman itu dan juga dikenakan membayar
denda. Pendapat yang kuat Aruh Ganal adalah hukuman itu 10 hari 10 malam dan
dikenakan membayar denda.
Maka hukuman itu diterima
dan dijalani dengan senang hati, tetapi ia minta bebas menjalankan apa yang
diperintahkan Tuhannya. Disinilah gerak gerik Habib Abu Bakar mulai wudlu
hingga melaksanakan shalat lima waktu selalu diintai diintip oleh penghuni
Balai saat itu dan maka mulai saat itu pula penghuni Balai Ulin diperkenalkan
gerakan-gerakan shalat.
Menurut versi lain
diceriterakan saat berakhir masa tahanan 10 hari dan 10 malam Habib tidak bisa
membayar denda yang dianggaf susah dan sulit saat itu untuk mendapatkanya
berupa parang bungkul puting sebanyak dua bilah. Maka sebagai jalan terakhir,
ia disuruh memilih dari dua pilihan hukuman : Bayar Denda atau mengawini Puteri Aluh Milah. Habib dianggap bersalah merusak jiwa
Puteri Milah yakni Puteri jatuh hati yang dalam kepada Habib. Ia memilih mengawini Puteri Tetuha Adat sebagai ganti
Hukuman Denda karena Habib tidak mampu membayar Denda saat berakhir masa
tahanan. Perkawinan itu pun terjadi dengan punya syarat-syarat tersendiri yang
harus dipenuhi oleh Habib masa kini dan akan datang.
Sebenarnya mereka tertarik,
ingin tau dan menyimpan berbagai macam pertanyaan ttg gerakan-gerakan shalat
Habib. Dikala itu pula ia mulai berkenalan pada pertemuan kedua dengan aluh
Milah. Seorang gadis remaja yang anggun, cantik parasnya, berwajah keibuan,
berambut ikal mayang panjang hingga punggungnya tetapi berpakaian setengah telanjang.
Pakaiannya terbuat dari dadaunan dan kulipak kayu, pantas saja pakaiannya hanya menutupi dada
dan kemaluannya sesuai keadaan waktu itu. Gadis itu sangat senang menjumpai
Habib dan suka sekali melayaninya dengan
baik seperti mengambil air ke sungai dengan tempaian untuk wudlu, memberi Habib
makan dan minum hingga Habib dibebaskan dari hukuman adat.
7.Putri Diang Milah sakit keras secara tiba-tiba Membuat Orang seisi Balai Ulin Pusing.
Selama dalam tahanan Adat
ia ditemani, dibantu dan dilayani oleh Puteri Milah siang dan malam dengan
senang hati dan riang gambira.bercumbu tanpa malu dengan Habib. Milah adalah
seorang Puteri yang pandai menari (batandik) walaupun ia sedikit tidur dan belum merasakan
lelah pada dirinya dalam melayani tamu istemiwanya. Semua penghuni Balai Adat
tahu bahwa puteri Milah anak Tetuha Adat
mereka, telah jatuh hati yang dalam, ia sangat menyukai pamuda yang ganteng dan
tampan ini..
Diceriterakan orang bahwa
saat berakhir masa tahanan Habib Abu Bakar selama 10 hari dan 10 malam,karena merasa
lelah dan kurang tidur, Puteri Milah jatuh sakit secara tiba-tiba, ia tak
sadarkan diri/pingsan dalam waktu cukup lama, Puteri belum bisa sadar walaupun
Tetuha Adat (Penghulu Adat) berusaha keras melakukan BALIAN untuk menyembuhkan
Puterinya, walaupun ia adalah seorang tokoh adat yang mempunyai kemampuan
mempuni mengobati orang yang sakit, namun dikala itu tidak membawa hasil
apa-apa dan membuatnya putus asa.
Melihat keadaan yang sangat
memperahantinkan, tak terkecuali Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf, seorang
tahanan mereka, yang baru datang beberapa hari kewilayah itu. Ia mencoba
menawarkan diri kepada mereka untuk mengobatinya sang Puteri. Akhirnya dengan
perasaan was-was terlihat pada wajah mereka, namun mereka dengan berat hati
mempersilahkannya hingga Puteri sadar dari pingsannya dan sembuh dari sakitnya.
Kemudian pada saat hukuman Adat akan berakhir, Beliau melihat dan merasakan ada
kesedihan yang mendalam yang menimpa dan dialami oleh Puteri Milah. Habib sadar
bahwa puteri Milah sangat mencintainya. Inilah yang membuatnya khawatir
frustasi/ stres kalau, kalau Habib
pulang tidak kembali lagi. Sesegeranya Habib melamar gadis yang pernah
melayaninya sewaktu menjalani hukuman adat. Habib memberi tahu bahwa pernikahan
dalam Islam ada seorang wali dan 2 orang saksi yang beragama Islam.
Ringkasnya pada saat pelaksanaan akad nikah terjadi
permasalahan siapa yang menjadi wali dan saksinya maka Habib setelah selesai
berbuka puasa sunnat Senin - Khamis, ia adzan dan shalat magrib. setelah itu ia
mohon penghuni Balai untuk duduk mengelilinginya. Kemudian ia menjelaskan
kepada para hadirin maksud kedatangannya dan apa itu Islam dan keuntungan beragama
Islam? Dan juga ia menjelaskan apa syarat dan rukun nikah menurut Islam?
Kemudian ia mengislamkan Puteri (calon isterinya), wali (calon mertuanya) dan
dua orang saksi akad nikahnya untuk keabsahan pernikahannya.
Berkata sebagian orang tua bahari dari Dayak Lumpangi bahwa “Habib dianggap bersalah sebab merusak jiwa (meracuni pikiran) Puteri Milah hingga Puteri jatuh hati yang dalam kepadanya dan jatuh sakit, oleh karenanya Habib harus mengawini Puteri anak Tetuha Balai. sebagai bentuk rasa tanggungjawabnya.”
Berkata sebagian orang tua Ds. Taniran Kubah bahwa “Habib Abu Bakar tapabini (kawin-menikah) dengan perempuan Dayak Lumpangi dan baanak (berketurunan) saat Beliau berdagang dan berdakhwah di sana.
8. Mediasi dan Basa basi penyerahan Aluh Milah anak Tetuha Adat
Terjadlah mediasi proses perundingan tawar menawar antara Habiib Abu Bakar dengan Langara sebagai Tetuha Adat. Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan.
Ujar Penghulu Adat,
Nah..... sekarang Aluh Milah ini, sudah sembuh kembali dari sakitnya, inya aku
serahkan lawan ikam (kepadamu), inya cinta banar lawan ikam, inya sayang banar
lawan ikam nakkay. kawini inya dan bawa ke rumah ikam agar abah dan mama ikam
tahu dan jangan ikam kecewakan inya. Inya ini menjadi milik ikam. Agar abah
disini merasa nyaman melihat ikam badua, dan abah marasa tanang dan nyaman
mendengar ikam badua.
Ujar abu bakar Kada kaya
itu caranya bahay, dikira orang ulun ini nanti membawa lari anak sampian secara
sembunyi-sembunyi, bila ulun kawin di Taniran diwadah abah ulun. ulun kada
handak nang kaya itu.
Ulun ini handak menikah
secara agama islam, maka ada lamaran ulun dengan Milah, inya menerima garang
atau kada menerima lamaran ulun, namaun inya menerima lamaran ulun maka ada
wali nikahnya harus beragama Islam, jadi sampianlah wali nikah aluh Milah ini
dan nikah itu dihadiri dan disaksikan 2
orang saksi yang muslim maka Talib dan Anjah sebagai saksinya, ada mahar dan
ada ijab dan qabul dari rangkaian peristiwa itu terjadilah perkawinan ulun
dengan Milah. Akhirnya tanpa pikir panjang terjadilah kesepakatan bersama,
mereka menerima hidayah islam
Catin wanita : “Karena
begitu dalam cintanya dengan Habib Abu Bakar, padahal baru saja Sembilan hari
sembilan malam ia mengenalnya, tetapi terasa sudah lama mencintainya. Ia
bersedia tanpa ragu melepaskan agama yang dianaut nenek moyangnya.
Wali Catin wanita an. Datu
Langara “Karena begitu sayang dengan Siti Jamilah anaknya, ia menerima Islam
dengan suka rela untuk membahagiakan anak yang sangat dicintainya.”
Saksi-saksi nikah : “Begitu
pula dengan kedua saudara laki-lakinya an.Abu Thalib dan Hamzah, sayang dan
kasih dengan adik perempuannya. Keduanya rela melepaskan agama yang sedang
dianutnya. Berkorban untuk kebahagian adiknya yang kedua bertindak sebagai
saksi pernikahan adiknya saat itu.”
Mahar perkawinan :
“Sebingkai cincin emas yang telah dipakaikan/dikenakan pada jari manis catin
wanita kala itu.”
Ijab nikah : “Dilakukan oleh walinya sendiri dan diterimakan oleh Habib Abu Bakar As-Segaf, yang sebelumnya didahului pembacaan khotbah nikah oleh Habib saat itu.”Resmilah Siti Jamilah dengan Habib Abu Bakar sebagai suami isteri dimalam Jum’at itu, seisi Balai bergembira, diiringi canda dan tawa menyambut kehadiran keluarga baru dan menyambut kehadiran dangsanak baru. Setelah Tetuha Adat Suku Dayak dan kedua anak laki-lakinya menjadi seorang muslim maka secara pelan-pelan namun pasti diikuti oleh keluarganya yang lain hingga akhirnya seisi Balai Ulin dan sekitarnya menjadi muslim.
9. Sayyid Abu Bakar mempersunting dan mengawini Puteri Milah (Siti
Jamilah).
Habib dianggap bersalah merusak jiwa Puteri Milah yakni Puteri jatuh hati yang dalam kepada Habib. Ia memilih mengawini Puteri Tetuha Adat sebagai ganti Hukuman Denda karena Habib tidak mampu membayar Denda saat berakhir masa tahanan. Perkawinan itu pun terjadi dengan punya syarat-syarat tersendiri yang harus dipenuhi oleh Habib masa kini dan akan datang.
Perkawinan inilah yang sangat merekatkan hubungan suku Dayak Langara dengan Habib. Adanya ikatan perkawinan tersebut Islam berkembang dengan cepat. Akhirnya mereka karena merasa berkelurga dengan Habib, merasa badangsanak dengan Habib, mereka tertarik dengan Islam dan menerima Islam dengan sukacita dan juga hasil perkawinan itu membuahkan keturunan/ anak an. "Muhammad". Namun versi lain menyebutkan bahwa anak itu bernama : "Muhammad Djamiluddin" dan dzuriatnya yang bersambung dan nasabnya tercatat dengan baik sampai saat ini.
10.
Sayyid Abu Bakar berdakwah bilhal selama 7-14 tahun di ruang Balai Adat
kemudian ia mendirikan tempat ibadah (Langgar) dibelakang Balai Adat.
Seperti pada malam-malam ketika menjalani hukuman adat, Habib menjalankan misi Dakwahnya di Balai Adat Balai Ulin, beliau membaur dengan masyarakat setempat dan setiap ada kesempatan beliau mulai Bakisah (berceritera) dalam Bahasa Banjar, ada syairnya /ada kata-kata mutiaranya dan pantunnya yang dibumbui sedikit homor dalam dakwahnya menyempaikan ttg Kehidupan Rasulullah Saw sebagai suri tauladan yang harus diikuti dan Peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Timur Tengah. misalnya Bakisah ttg Cinta Rabi'atul Adawiah dengan Hasan al Basri, dan lain-lainnya. Orang-orang penghuni Balai mulai datang, mendekat, duduk menghadap Habib dan mereka mulai senang, tertawa dan terhibur mendengarkan dengan kisah-kisah dan sedikit homoris dari Habib hingga waktu larut malam.
Berdakwah bilhal semacam ini dlakukan ketika ia tinggal bersama isterinya dalam Balai Adat “Balaii Ulin” saat itu dengan materi khusus ttg “Penanaman Aqidah Islam/tauhid” kepada Penghuni Balai. Dakwah tersebut ia lakuni hingga usia anak pertamanya berumur 7 tahun, namun versi lain menyebutkan bahwa usia anak pertamanya berumur 14 tahun kemudian ia dan isterinya memisahkan diri atau pindah dari Balai Adat yakni membuat rumah sendiri dan Mushalla “Baiturrahman” yang tak jauh dari Balai Adat.
Selanjutnya menurut folklor
tutuha kami sebelumnya bahwa keberadaan Balai Adat Dayak, mereka.yang
belum mendapat hidayah Islam, yang
berada dikaki-kaki Pegunungan Meratus itu, adalah sebahagian turunan dan
dzuriat dari Balai Adat Dayak Balai Ulin, dengan nama sukunya “Dayak Langgara”yang mendiami di tepi sungai
Kali Amandit desa Lumpangi.
Adapun agama/aliran
kepercayaan yang mereka /orang-orang Dayak anut adalah Kaharingan. Kepercayaan
terhadap roh-roh nenek moyang mereka dan kepercayaan mereka tersebut disebut dengan
sebutan "BALIAN atau BABALIAN".
Kita lihat dan kita amati
bahwa sampai sekarang pun keberadaan Balai Adat yang ada dikaki kaki Pegunungan
Meratus itu dikenal dengan nama sukunya “Dayak Maratus”, bahwa 1 buah Balai
Adat dibangun terdiri dari beberapa kamar, 1 buah kamar dihuni oleh 1 keluarga
dan ditengah-tengahnya dijadikan tempat untuk berunding, musyawarah, acara
perkawinan, aruh ganal (batandik)
dilaksanakan 9 hari, 9 malam, aruh Baharin dan menyambut acara kelahiran anak,
mamulai manugal banih dan aruh Bawanang (panen raya), begitu juga keadaan suku
Dayak Langara di Balai Ulin Lumpangi tempu
dahulu dan sekitarnya sebelum datangnya Islam.
Kemudian Habib mendirikan
tempat ibadah (Langgar) dibelakang Balai Adat, tempat untuk belajar dan
mengajar tentang Islam. Setelah beberapa lama bersama Habib menantunya tinggal
di Balai Ulin, kemudian Datu Muhammad Langara ayah mertuanya sudah punya cucu
pertama laki-laki yang sehat dan ganteng an. Muhammad Djamiluddin.
Kelahirannya sangat dinanti dan ditubggu oleh keluarga muslim dan keluarga Dayak. Ketika ia hadir (ia lahir) sanak keluarganya tertawa sangat bersukaria dengan menghadirkan jamuan hidangan dari seekor payau /menjangan. Ketiika ia berumur 7-14 tahun ayah dan ibunya memisahkan diri atau pindah dari Balai Adat. Membuat rumah sendiri dan Mushalla “Baiturrahman” yang tak jauh dari Balai Adat. Ketika ia berumur 14-15 tahun Balai Adat mulai bubar
11.
Balai Adat Balai Ulin Lumpangi di pindah ke Pantai Dusin Hulu Bayu Kec. Loksado.
Diceriterakan orang bahwa di awal pertengahan abad ke-18
Masihi Bumbuyanin bin Ulang memindah rumah Balai Adat Balai Ulin ke
pemukiman baru di Pantai Dusin Desa Hulu
Banyu Kecamatan Loksado. Setelah mereka pindah lokasi pemukiman dari Tamiang Malah Muara Hatip menuju lokasi
baru yakni Pantai Dusin.
Setelah Balai Adat Balai Ulin bubar awal abad ke-18 tahun 1722M karena banyak penghuni Balai Ulin yang memeluk Islam, maka Balai Ulin Desa Lumpangi mulai ditinggalkan oleh Suku Dayak yang belum menerima hidayah Islam, walaupun mereka sudah mengenal Islam dengan baik hingga bertahun-tahun.
Menurut sumber data bahwa sesudah Balai Adat Balai Ulin bubar maka beberapa tahun kemudian datanglah Dayak Ulang dan Bumbuyanin ke Lumpangi membawa ketiga anaknya agar diajari tentang Islam kepada Habib dan menemui kakaknya Muhammad Langara dan mohon agar Balai Adat Balai Ulin yang tidak berfungsi itu bisa dipindahkan ke Pantai Dusin Hulu Banyu.
Kemudian atas musyawarah dan kesepakatan bersama Balai Adat Balai Ulin Lumpangi dipindah ke Pantai Dusin Hulu Banyu, tetapi kakaknya minta agar 1 batang tiang dari bagian muka Balai Adat itu ditinggal atau dibiarkan tetap berdiri atau tidak dialih atau dipindah. Katanya "Tiang itu fungsinya dijadikan sebagai Simbol bahwa di Lumpangi pernah berdiri sebuah Balai Adat Dayak".
Menurut Ahmad atau Amat yang saya wawancarai, ia asal dayak Bayumbung yang sudah muslim ceritera dari datuk-neneknya bahwa " Bekas tiang-tiang ulin Balai Adat Balai Ulin itu telah diangkut atau dibawa ke Pantai Dusin Hulu Banyu".
Mereka (warga Dayak) mengangkut tiang-tiang ulin bolat sebatangan Balai Adat Balai Ulin tersebut lewat sungai dengan rakit bambu, mereka Tarik satu persatu hingga sampai di Pantai Dusin Hulu Banyu
Sungai Kali Amandit kala itu masih banyak teluknya (airnya dalam dan tidak deras) jadi mudah membawa tiang-tiang ulin bolat sebatangan tersebut dengan rakit bambu. Tidak seperti sekarang batu-batu sungi sudah banyak diambil untuk membuat jalan raya hingga akibatnya air sungai dangkal dan deras.
12. Penyebab Penghuni Balai Adat Dayak Balai Ulin Lumpangi bubar /pindah dari Balai Ulin.
Menurut kaul yang lain bahwa Keluarga isteri Habib yang belum menerima Islam atau Non Muslim tersebut, manakala mereka mendapatkan hasil binatang buruan, mereka memasaknya dan memakannya. Tetapi sampah dan tulang belulang binatang buruan itu, tidak dibersihkan dan belum dibuang sehingga bermasalah dan menimbulkan bau yang tak sedap. hingga mengganggu kesehatan muslim yang ada.
Menurut Abah Ati asal orang Lumpangi umur 71 tahun yang saya wawancarai bahwa "penyebab Balai adat Balai Ulin Lumpangi bubar, mereka saling menyalahkan antara teman-teman sendiri mengapa sampah binatang buruan itu dibiarkan saja dimuka Balai, ia tidak dibersihkan dan dibuang dan berbau taksedap sehingga mengganggu kesehatan"
Sedangkan menurut sumber yang lain bahwa Keluarga isteri Habib yang belum menerima hidayah Islam saat itu, ada yang memperoleh ikan atau iwak sungai, mereka menyiangnya (membersihkan-membuang perut ikan), memasaknya dan memakannya. Tetapi sampah perut ikan dan tulang belulang binatang buruan itu, tidak dibersihkan dan belum dibuang sehingga bermasalah dan menimbulkan bau yang tak sedap.
Sebagai akibat sampah buruan atau sampah perut ikan tidak dibersihkan, menimbulkan bau yang tak sedap dan mendatangkan lalat-lalat atau baranga hingga ada yang sakit. Kemudian orang yang Muslim yang sama berada di Balai Ulin itu ada yang komen atau Komplin. Kenapa sampah dan tulang belulang binatang buruan itu, tidak dibersihkan dan dibiarkan saja, apakah kalian tidak malu dengan Guru kita? Mendengar ucapan itu hingga mereka merasa malu dengan Habib, dan mereka mulai menjauhinya.
13. Karomah Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf.
Salah satu Karomah terbesar Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf adalah ia dapat menyembuhkan Puteri Milah yang sakit
keras dengan seketika dan berislamnya satu keluarga kepala suku Dayak Lumpangi
setelah peristiwa penyembuhan Puteri Milah
Diceriterakan bahwa saat berakhir masa tahanan Habib Abu
Bakar selama 10 hari dan 10 malam, Puteri Milah (Siti Jamilah) jatuh sakit,
mungkin ia kurang tidur dan sangat lelah menemani dan melayani tamu
istimewanya. Diang Milah jatuh sakit secara tiba-tiba, ia tak sadarkan diri, ia
pingsan dalam waktu cukup lama, Diang belum bisa sadar walaupun Tetuha Adat
(Penghulu Adat) ayahnya sendiri berusaha keras mengobatinya dengan melakukan Balian Basambui untuk menyembuhkan
Puteri kesayangannya. Balian Basambui maksudnya Puteri diobati secara kebatinan
orang Dayak, walaupun ia seorang tokoh adat yang mempunyai kemampuan mempuni dalam hal mengobati orang
yang sakit, namun dikala itu pengobatannya tidak membawa hasil apa-apa dan
bahkan membuatnya dan penghuni Balai prostasi dan putus asa.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa
“Melihat keadaan tersebut Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf, ia seorang tahanan
mereka, yang baru saja datang beberapa hari kewilayah itu. Ia mencoba
menawarkan diri kepada mereka untuk mengobatinya sang Puteri. Akhirnya dengan
perasaan was-was terlihat pada wajah mereka, namun mereka dengan berat hati
akhirnya mempersilahkannya. Habib meminta Secawan air putih, kemudian pada air itu ia
bacakan do’a hidzib dan shalawat dan
juga ada yang ia bisikkan pada telinga sang puteri, kemudian air tersebut Habib
semburkan melalui mulutnya kearah kepala & tubuh pasennya hingga seketika
itu Puteri sadar dari pingsannya dan sembuh dari sakitnya.”
Peristiwa pengobatan Puteri tersebut tertuang dalam Artikel "Habib Abu Bakr Assegaf -
Cerita para wali dan datu' yang diposting Jum'at, 01 Maret 2013M yang
saya kutip menyatakan bahwa "Di kampung Lumpangi kala itu masih berupa
kehidupan Balai, yaitu "Balai Ulin; dan di sana terdapat tokoh yang
disebut penghulu Balai yang terkenal dengan kemampuannya mengobati orang sakit.
Ternyata, kemampuan medis habib yang baru datang ke wilayah itu lebih tinggi
darinya, sehingga warga Balai sangat terkesima dan akhirnya mau menerima Islam.
Bahkan, disebutkan bahwa di antara tokoh habib itu ada yang menikahi puteri
penghulu Balai Ulin.
Beliau (Habib) melihat dengan kacamata kesufiannya dan merasakan ada kesedihan yang dalam yang dirasakan dan menimpa pada Puteri Milah. Puteri sangat kuatir tidak berjumpa lagi dengan Sang pujaan hatinya. Inilah yang membuat hatinya khawatir dan membawanya frustasi dan juga stres. memikirkan kalau, kalau Habib Sang Pujaan hatinya pulang tidak kembali lagi kepadanya. Mengetahui hal ini, setelah sembuh dari sakitnya.” segeranya Habib melamar gadis yang pernah melayaninya dan menemaninya siang dan malam, sewaktu menjalani hukuman adat. Habib menjelaskan lamaran dan perkawinan bisa terjadi dengannya bila Puteri Milah, Langara (wali nikah), dan Talib dan Anjah (2 orang saksinya) merima hidayah Islam. Akhirnya dengan adanya sedikit perjanjian dengan Habib, mereka menerima Islam dengan suka cita.
Berkata Guru Muhammad Baharudin bin Marsal ( Beliau keturunan Syarifah asal Amawang) bahwa "Habib Djamaluddin adalah orang yang paling berprngaruh, Sayyid Djamaluddin, ia adalah orang yang paling alim dan ia orang yang paling berpengetahuan ilmu agama dan paling berpengaruh diantara semua penghuni makam di Kampung Balai Ulin ini, Ia memperoleh pengajaran langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya, hal ini kalau bisa disembunyikan."
Menurut folklor ceritera datu dan nenek kami bahwa “Berkata sebahagian orang Lumpangi masa itu bahwa Tiada ada Orang yang memilki keilmuan yang paling dalam dan luas tentang Islam kecuali dimiliki oleh Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf". Ia memperoleh pengajaran dan bimbingan (suluk, riiyadhah) ilmu Islam langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya.
14. Wafatnya Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf tahun 1759M/ 1172H.
Menurut tradisi adat Dayak Lumpangi
bahwa "Bila seseorang laki-laki lajang (perantau atau pendatang) menikahi
perempuan suku Dayak maka ia harus ikut tinggal di tanah kelahiran isterinya,
sebagai bentuk kesetian adat Dayak". Tetapi bila kangen dengan ayah-ibu
atau sanak keluarga ia boleh menenguk mereka sendirian atau bersama isterinya,
setelah selesai hajatnya ia harus kembali lagi kerumah isterinya. Suaminya
hanya memiliki satu isteri maksudya tidak dimadu.
Beliau benar-benar setia menjalani hukum adat Dayak yang ia sepakati, saat ia
ingin mengislamkan Tetuha Adat, Puteri dan kedua saudara puteri yakni tidak
akan meninggalkan mereka hingga ajal menjemputnya.
Sayyid Abu Bakar ayahnya Habib Lumpangi adalah orang yang sangat setia dan menepati janjinya, ia benar-benar melaksanakan Adat Dayak. ia tidak pernah meninggalkan isterinya. Dan Beliau tinggal bersama isterinya Siti Jamilah dan anak-anaknya beserta cucu-cucunya dan keluarga isterinya di rumah Balai Ulin hingga akhir hayatnya.
Sayyid Abu Bakar telah
mewakafkan dirinya, dan mengabdikan seluruh hidupnya, sejak keberadaannya di
desa Lumpangi dan sekitarnya ini, selama berpuluh-puluh-tahun dalam mengenalkan
Islam kepada masyarakat desa Lumpangi dengan baik dan mengembangkan Islam,
mengajar dan membina masyarakat Islam menjadi masyarakat yang berakhlak mulia
dan yang Agamis di desa ini hingga masa akhir hayatnya.
Habib Abu Bakar sangat setia menjalani hukum adat Dayak yang ia sepakati, sa’at ia ingin mengislamkan Tetuha Adat, Puteri dan kedua saudara puteri yakni Hamzah dan Thalib dan Habib berjanji bahwa ia tidak akan meninggalkan mereka hingga ajal menjemputnya.
Habib Abu Bakar, Beliau salah seorang Sayyid yang diberi umur panjang atau berusia lanjut, lebih dari 1 abad yakni sekitar 101 tahun. Habib Abu Bakar lahir Hadramaut, Yaman Yordania diperkirakan Kamis, tnggal 11 Dzul Hijjah 1068H/1658M. Habib Lumpangi Assegaf tinggal bersama isterinya Siti Jamilah dan anak-anaknya antara lain an. Muhammad Djamaluddin, Syarifah Umi Badar, Syarifah Amas.Ahmad Djalaluddin, beserta cucu-cucunya antara lain Ahmad, Husein, Alwy, dan juga sebahagian keluarga isterinya yang lain di rumah kampung Balai Ulin. Habib Lumpangi adalah salah seorang yang diberi Allah Swt umur panjang, lebih dari satu Abad, ia berumur 101 tahun Masihi. Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf akhirnya wafat dipangkuan anaknya Jum'at, 17 Dzul Hijjah 1172H/1759M.
Bertepatan dengan hari Jum’at,
tanggal 17 Dzulhijjah 1172H atau
bertepatan dengan tgl. 10 Agustus tahun 1759 Masihi. Dan makam Beliau berdampingan dengan
makam isterinya Siti Jamilah binti Muhammad Langara dan Haulan Beliau terebut
dilaksanakan oleh Ahlul Bait setiap tanggal 17 Dulhijjah. Dan Habib Abu Bakar
bin Hasan bin Hasyim Assegaf dimakamkan berdampingan dengan Siti Jamilah
isterinya di kampung Balai Ulin Lumpangi.
Adapun Titik Koordinat makam
Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf
dengan Siti Jamilah isterinya yaitu lat 2,80928, long 115,41767, 146,7m, 8 derajat.
Artikel tentang “Suku Dayak”yang di tulis oleh Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Suku Dayak - Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (diakses pada 19 Oktober 2021).
Folklor adalah Ceritera/kisah yang penyebaran dan pewarisannya cenderung dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut dari datu-datu dan nenek-nenek kami.
Artikel tentang “Sejarah Kalimantan Selatan” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kalimantan_Selatan diakses 20-10-2021 :07.45 wita.
Posted by Kajian Al-Kahf Email This BlogThis Protect and Secure Your WiFi : https://bit.ly/vpn_secure http://kajianal-kahf.blogspot.com/2012/05/riwayat-assegaf-di-sungai-mesa.html
Daftar Isi Bab ke-IV.
IV. Bantahan ttg “perkiraan
pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi kepada “Artikel” yang tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan
judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam.
1. Kedatangan Habib Hasan bin
Hasyim Assegaf di Taniran awal abad ke-18M dan Syekh H. Sa'duddin bin H. As'ad
(Datu Taniran) di abad ke-19 Masihi.
2. Anak-anak Datu Habib Lumpangi Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin
Muhammad bin Umar ash-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.
3. Saudara kandung Muhammad
Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasa bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy
bin Abdurrahman Assegaf.
4. Kelahiran Habib Muhammad
Djamiluddin (Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin
Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.
05. Silsilah Nasab Sayyid
Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar
ash-Shaafy Assegaf.
06. Habib Lumpangi atau
Muhammad Djamiluddin Assaqqaf Menikah dengan Siti Sarah Binti Abu Thalib.
07. Karomah Habib Lumpangi
Muhammad Djamiluddin Assaqqaf Yang Berlaku hingga sa’at ini.
08. Beberapa tradisi Adat
Dayak Pegunungan Maratus yang ditinggalkan Suku Dayak.
09. Tradisi-tradisi suku
Dayak Langara Lumpangi yang dilestarikan.
10. Sayyid Djamaluddin bin
Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy bin Abdurrahman
Assegaf wafat tahun 1195H/ 1781M.
IV. Bantahan ttg “perkiraan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi kepada “Artikel” yang tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam.
Adapun Bantahan yang benar adalah “perkiraan pergantian abad ke-17 dan ke-18 Masihi bukan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi menurut “Artikel” yang tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam.
Menurut Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia telah mengutif dari berbagai sumber, bahwa "Sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS."
Selanjutnya Artkel itu menyebutkan bahwa "Sayyid Hasan berdomisili di kampung Taniran sekitar pergantian abad ke-18 dan ke 19 Masihi, (yang mendekati kebenaran adalah pergantian abad ke-17 dan ke abad 18 Masihi) ”.
Pendapat (yang mendekati kebenaran adalah pergantian abad ke-17 ke abad 18 Masihi) atau tetapi bukan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi pada Artikel tersebut diatas adalah lemah atau belum mendekati kebenaran. Namun Perkiraan yang benar, yang mendekati kebenaran adalah sekitar pergantian abad ke-17 dan ke abad 18 Masihi, Habib Hasan bersama keluarganya lebih awal datangnya dari Sayyid Abdullah bin Abu Bakar al-Aydrus beserta isterinya ke Lok Gabang Martapura.
Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, dikatakan bahwa ;perkiraan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi pada Artikel tersebut diatas, menurut Penulis bahwa perkiraan itu adalah lemah atau belum mendekati kebenaran. Namun Perkiraan yang benar, yang mendekati kebenaran adalah sekitar pergantian abad ke-17 dan masuk abad ke-18 Masihi.
Alasan Pertama (1). Adanya silsilah nasab Habib Hasan Assegaf itu sendiri yaitu kelahiran Habib Tanqir Ghawa genarasi ke-7 di pertengahan abad ke-19M yakni tercatat Senin, 13 Oktober tahun 1862M/19 Rabi'ul Awwal 1279H di Desa Lumpangi, usia Beliau 126 tahun Hijeriah. Beliau adalah keturunan ke Tujuh dari Habib Hasan bin Hasyim Assegaf. Jadi ada 7 generasi silsilah baru sampai ke Habib Hasan Assegaf. Kalau dirunut dari Habib Tanqirr Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) bin Habib Hasan Assegaf.
Alasan kedua (2) Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf tersebut ditemukan kembali di awal abad ke-20 Masihi oleh masyarakat Taniran.dekat langgar Darul Miftahul Jannah” yang berdekatan dengan rumahnya Karena sangat lamanya Beliau wafat hingga Keluarganya dan masyarakat sekitarnya sudah banyak yang melupakannya.
Alasan ketiga (3) bahwa Buyut Habib Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) yang bernama Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih tahun wafatnya tahun 1842 Masihi, awal abad ke-19M. sedangkan Datu Taniran Syekh Sa'duddin awal berada di Taniran mulai tahun 1812 Masihi juga awal abad ke-19M. Pada tahun tersebut datanglah tetuha masyarakat atau tokoh masyarakat Desa Taniran menemui orang tua Datu Taniran yaitu H Mufti Muhammad As’ad dengan maksud agar berkenan mengirim seorang guru ke Taniran guna memberikan pendidikan agama.
Alasan keempat (4) tentang keberadaan makam atau pusara anak dan dzuriat Beliau di Desa Lumpangi. Berdasarkan hasil pengamatan kami selama 10 tahun disana. Keadaan Pusara Makam Habaib Datu Lumpangi anak Habib Hasan Assegaf dari tahun 1970-1980M adalah sebagai berikut :
a). Keadaan makam sudah sangat tua, nisan-nisannya raif, 1 buah batur Ulin Tarahan 6x5 meter untuk 1 Kepala Keluarga, sering terbakar dimasa kemarau panjang, dinding batur sudah jatuh ketanah, kampug Balai Ulin sudah lama ditinggalkan orang, kampong itu sudah lama tidak dihuni penduduk dan keadaan tanaman atau pohon kayu banyak ditemukan pepohonan langsat, Ramania, Manggis yang hidup disekitar itu banyak dan lebih besar dari ember plastic isi 16 liter bahkan ada yang lebih besar lagi. rumpun-rumpun paring tali dan pohon-pohon Kelapa sangat tinggi dan tak berbuah lagi, pohon Durian ada yang lebih besar dari Kindai Padi lebih dari 2 depa orang tua.
b).Kepemilikan lahan tanah makam dan sekitarnya waktu itu tidak dimiliki masyarakat umum. Tetapi dikuasai oleh cucu-cicit-canggah dan wareng keturunan Habib Abu Bakar as-Tsani Ahmad Suhuf Assegaf atas nama Habib Abu Tha’am Ibrahim dan adik kandungnya Abdul Lathif bin Ahmad (Habib Ahmad Suhuf) bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
c).Waktu tahun 1970-1975 an Nisan-nisan pusara pada makam Habaib Balai Ulin sudah raif karena sering terbakar api dimasa kemarau panjang tetapi sebagian berupa batu sungai, belum ada catatan atau tulisan yang kami temukan kala itu. Andaikata ada orang lain mengkliam menemukan catatan tulisan yang tertera di Nisan makam Habaib Lumpangi setelah tahun 1980 an itu adalah suatu hal yang dibuat-buat secara sengaja untuk mencocokkan /mensenkronkan dengan kepentingan mereka
d).Kalau dibandingkan Batur-batur yang ada di Balai Ulin dengan Batur batur yang ada pada pusara anak-anak Datu Bakumpai, di kota Marabahan keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Batur batur pusara anak Datu Bakumpai satu persatu atau orang perorang, dan sudah ada seni ukiran (pengamatan tahun 2016 & 2020M). Usia batur-batur makam Datu Lumpangi lebih tua, belum ada seni ukiran-ukiran pahat-pahatan, dari usia batur-batur makam anak-anak Datu Bakumpai sudah ada seni pahatannya.
Tetapi sangat disayangkan Batur-batur ukuran tebal 3 jari itu, sebagai bukti peninggalan sejarah semuanya raif ditelan masa, nilai-nilai sejarahnya hilang begitu saja sehingga generasi-generasi selanjutnya sulit mengadakan penelitian ilmiah untuk menentukan keberadaan masa hidup penghuni pusara Habaib dimaksud.
Jadi, kalau Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dimaksud wafatnya ditulis diawal abad ke-20 Masihi maka catatan atau tulisan itu tidaklah palid atau tulisan itu belum tepat. Kalau dimaksud Habib Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin M.Jamiluddin bin Habib Abu Bakar bin Hasan, Okey, mungin saja, jawab “Ya”.
1. Kedatangan Habib Hasan bin Hasyim Assegaf di Taniran awal abad ke-18M dan Syekh H. Sa'duddin bin H. As'ad (Datu Taniran) di abad ke-19 Masihi.
Keberadaan atau kedatangan Habib Hasan bin Hasyim Assegaf di Taniran lebih awal (awal abad ke-18M tahun 1702-1720 Masihi) dari pada Syekh H. Sa'duddin bin H. As'ad (Datu Taniran) awal abad ke-19M, ia pulang menuntut ilmu dari Mekkah sekitar tahun 1812M dan merehap Masjid Darul Lathif bersama masyarakat Taniran yang bahan dasarnya semua dari kayu Ulin beratap sirap.
Adapun sebagai dasar penulis mengatakan bahwa Habib Hasan bin Hasyim Assegaf lebih awal berada di Desa Taniran dari pada H.Sa'duddin (Datu Taniran) ada empat alasan yang kuat :
Alasan yang Pertama (1). Adanya silsilah (kelahiran) Habib Tanqirr Ghawa di pertengahan abad ke-19 M yakni tercatat tahun 1862M/1279H di Desa Lumpangi, usia Beliau 126 tahun Hijeriah. Beliau adalah keturunan ke Tujuh dari Habib Hasan bin Hasyim Assegaf. Jadi ada 7 generasi silsilah baru sampai ke Habib Hasan Assegaf. Kalau dirunut dari :
- Habib Tanqirr Ghawa
- bin Abu Thair Muhammad
- bin Abu Tha'am Ibrahim
- bin Abu Bakar as-Tsani
- bin Ahmad Suhuf
- bin Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi)
- bin Abu Bakar
- bin Habib Hasan Assegaf.
Alasan kedua (2) Artkel Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, menyatakan bahwa ia mengutif dari berbagai sumber, sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS.
Alasan ketiga (3) Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf sempat hilang, makam tersebut baru ditemukan di abad ke-20 Masihi. Karena sangat lamanya Beliau wafat hingga Keluarganya dan masyarakat sekitarnya sudah banyak yang melupakannya.
Alasan keempat (4) hasil pengamatan kami tahun 1970-1980 terhadap Makam anak-cucu Beliau di Lumpangi Loksado sebagai berikut :
a). Makam dan sekitarnya sudah lama ditinggalkan orang, keadaan Nisan-nisan pada Pusara Datu Habaib Lumpangi sudah raif, usia makam sudah sangat tua, makam tidak terpelihara dengan baik, keadaan tanaman atau pohon kayu, rumput yang hidup di sekitarnya tumbuh sangat subur.
b).Ppepohonan Langsat, Ramania, Manggis yang hidup disekitar itu lebih besar dari ember plastic isi 16 liter bahkan ada yang lebih besar lagi. dan pohon-pohon Kelapa sanagt tinggi sekali dan tidak berbuah lagi, pohon Durian ada yang sangat besar sekali, sebesar kindai padi (kalau diragaf lebih dari dua depa orang tua)
c). Waktu itu Nisan-nisan ditengah pusara sudah raif dan sebagian berupa batu sungai, belum ada catatan atau tulisan yang kami temukan dan dapatkan kala itu.
d). Semua dinding-dinding Ulin Baturnya sudah tanggal ke tanah, Batur-batur ulinnya tidak ada seni ukirannya atau seni pahatannya, tidak seperti Batur-baturnya anak cucu Datu Kelampayan di kota Marabahan sudah ada seni ukirannya atau seni pahatannya.
Anak-anak Datu Habib Lumpangi
antara lain :
- Shalih (ibunya dari Seiyun Hadramaut)
- Abdurrahman (Sungai Mesa Banjarmasin)
- Abdul Hamid dan salah satu anakya an.Saqqaf (dibaca Segaf - Nagara
- Muhammad Djamiluddin
- Sy. Ummi Badar,
- Sy. Amas (Mastora) dan
- Ahmad Djalaluddin, anak yang paling bungsu
Adapun anak laki-laki Habib
Datu Lumpangi Abu Bakar bin Hasan Assegaf yang terkomvirmsi saat ini akhir tahun
2023 abad ke-21 Masihi dan silsilah nasabnya tercatat dengan baik antara lain ”
- Shalih
- Abdurrahman
- Abdul Hamid
- Muhammad Djamiluddin
- Ahmad Djalaluddin
Pernah aku dengar dari ceritra sebahagian Habaib bahwa Habib Datu Lumpangi beristeri antara 4-5 orang dan punya anak berjumlah 9 orang dan isteri terakhir Beliau seorang perempuan dari suku Dayak.
Jadi sesudah isteri pertama wafat, ia ikut serta rombongan kakeknya Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shafi berhijrah - berdagang permadani, kain dan jenis perhiasan ke Asia Tenggara sambil mencari rempah-rempah dengan membawa misi dakwah dari kakek moyang mereka yakni Rasulullah Saw, dimasa Kesultanan Demak di Jawa Tengah, mereka menetap di Kelurahan Randusari Kec. Semarang Selatan. Nah dari sini hingga menetap di Desa Taniran ada 4 sd. 6 orang anak Habib Datu Lumpangi keturunan dari isterinya yang ke-2, ke-3 dan ke-4 yang belum terkonvirmasi hingga saat ini
3. Saudara kandung Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.
Adapun
adik kandung Muhammad Djamiluddin antara lain
: Sy. Ummi Badar, Sy. Amas (Mastora) dan yang paling bungsu bernama Ahmad Djalaluddin, ia
dilahirkan bersamaan tahun dengan kelahiran Ahmad Suhuf bin Muhammad
Djamiluddin yakni 10 Sya’ban 1149H/1736M di Desa Lumpangi, dan kedua anak ini
tumbuh dan dibesarkan dilingkungan orang-orang
muslim yang taat Agama islam di Desa Lumpangi, silsilah nasabnya
tercatat dengan baik.
Menurut
catatan Habib Ahmad Ilham bin Janggi Ali Assegaf bahwa “Ahmad Djalaluddin salah
satu anak laki-laki Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf.” Hal ini
dapat dilihat catatan silsilah nasabnya yakni Ahmad Ilham bin Janggi Ali bin
Jambran bin Jama’in bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Husain bin Ahmad
Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf……..
الْحَبِيْب عَبْدُ القَدِيْر الْجَيْلَانِيِّ بِنْ عَلْوِىْ بِن زَيْنْ بِنْ عَلِيٍّ بِنْ عَلْوِىْ بِنْ عَبْدِاللهِ بِنْ صَالِح بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ
الْحَبِيْب حَسَنْ بصْرِىْ بِنْ مًحَمَّدْ بَرْسِيْه بِنْ اَحْمَدْ بَدْريْ بِنْ تَنْقِرُ الْغَوَى بِنْ اَبًوْ طَيْرٍ مُحَمَّدْ بِنْ اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّي بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ
الْحَبِيْب اَحْمَدْ اِلْحَامْ بِنْ جنغِيْ عَلِيٍّ بِنْ جَمْبارَان بِنْ جَمَاعِيْن بِنْ اَحْمَدْ بِنْ عَلِيٍّ بِنْ عَبْدُاللهِ بِنْ حُسَيْنُ بِنْ اَحْمَدْ جَلَالُ الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ
4. Kelahiran Habib Muhammad Djamiluddin (Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.
Nama panjangnya adalah Muhammad Djamaluddin, memang kedua orang tuanya memberinya nama Muhammad Djamaluddin, mengambil separu nama dari nama ibunya yakni "Jamilah" artinya "Cantik Rupawan", ia seorang anak yang rupawan dan ganteng. Orang-orang disekellingnya dan sahabatnya memanggilnya sehari-hari dengan nama “ Djamiluddin /Djamaluddin”. Tetapi kedua orang tuanya dan orang-orang dekatnya lebih banyak memanggilnya “Muhammad”. Ia anak/ keturunan pertama dan anak tersayang Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Kakeknya Muhammad Langara sangat menyayanginya, dan begitu pula kedua Pamannya yang bernama Talib (alias Datu Hamanau atau Utuh Langara) dan kedua bernama Anjah (alias Datu Panimpulungan Panglima Sanggara) sangat menaruh harapan besar kepadanya, agar menjadi anak yang saleh dan berguna bagi masyarakatnya.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa "Djamaluddin" adalah Putera pertama dari Habib Abu Bakar bin Hasan dengan isterinya Siti Jamilah binti Muhammad Lanagara. Namun versi lain menyebutkan bahwa anak itu bernama : "Muhammad Djamiluddin" ia lebih dahulu dan lebih tua 3 tahun dari Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (lhr.1710M), Ia lahir dimasa pemerintahan raja banjar Sultan Suria Alam alias Sultan Tahmidullah I bin Sultan Tahirullah bin al-Maliku'llah adalah Raja Banjar yang memerintah tahun 1700-1717 Masihi. Djamaluddin dilahirkan di Lumpangi, hari Senin, 13 Syawal 1118H /1707 Masihi dan dibesarkan di Desa Lumpangi, ia lahir ditengah-tengah keluarga yang baru menemukan hidayah Islam. Ia adalah orang yang shalih, ia memperoleh pengajaran agama Islam langsung dari orang tuanya dan kedua Kakeknya M. Langara dan Sayyid Hasan ketika ia berada di Desa Taniran dan juga paman Ayahnya Habib Idrus.
Kelahirannya sangat dinanti dan ditubggu oleh keluarga muslim dan
keluarga Dayak. Ketika ia hadir sanak keluarganya sangat bersukaria dengan
menghadirkan jamuan hidangan dari seekor payau /menjangan. Ketiika ia berumur 7
tahun ayah dan ibunya memisahkan diri atau pindah dari Balai Adat. Membuat
rumah sendiri tak jauh dari Balai Adat. Ketika ia berumur 14-15 tahun Balai
Adat mulai bubar.
Ditahun usia muda menjelang remajanya Balai Adat
"Balai Ulin" bubar tahun 1722M karena banyak dipihak keluarga ibunya
yang menerima hidayah islam/ memeluk Islam, maka Balai Ulin Desa Lumpangi mulai
ditinggalkan oleh para keluarganya yang belum menerima hidayah Islam, walaupun
mereka sudah mengenal Islam dengan baik hingga bertahun-tahun.
05. Silsilah Nasab Sayyid Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.
Adapun Silsilah Nasab Sayyid
(Djamaluddin) Muhammad Djamiluddin bin
Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad
Assegaf sebagai berikut :
الْحَبِيْب مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله
06. Habib Lumpangi atau Muhammad Djamiluddin Assaqqaf Menikah dengan Siti Sarah Binti Abu Thalib.
Setelah Muhammad Jamaluddin atau Djamaluddin dewasa, Ia juga termasuk orang berpengaruh di Lumpangi setelah ayahnya. Dan ia berada di desa yang sangat terisolasi dari keramaian kota, ia tinggal diudik sungai Kali Amandit yang sangat jauh, kalau berpergian masa itu selalu jalan kaki. Isterinya Siti Sarah seorang muslimah yang shalehah keturunan asli Dayak Balai Ulin Lumpangi, begitu juga kedua orang tua muslim. Siti Sarah binti Abu Thalib bin Muhammad Langara, ia seorang perempuan dari kampung Batu Tangah Desa Lumpangi. Perkawinan sepupu tersebut membuahkan keturunan anak laki-laki, ia lahir di Lumpangi, hari Ahad, tgl. 10 Jumadil Awwal 1149H/1736M.yang diberi nama. Habib Ahmad Suhuf yang panggilan sehari-harinya Habib Ahmad.
Akhirnya Abu Thalib beserta isterinya dan Datu Muhammad Langara ayahnya membuat rumah baru dan pindah rumah dari Balai Ulin ke kampung Batu Tangah. Kemudian Abu Thalib dikampung itu dikeruniai anak perempuan an. Siti Sarah. Nantinya untuk menambah kuatnya tali/hubungan darah/ kekeluargaan atau tali persaudaraan Habib Abu Bakar Assegaf mengawinkan Habib Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) anaknya setelah remaja dengan Siti Sarah binti Abu Thalib bin Datu Muhammad Langara, ia seorang perempuan dari kampung Batu Tangah.
Adapun adik kandung Muhammad Djamiluddin antara lain : Sy. Ummi Badar, Sy. Amas (Mastora) dan yang paling bungsu bernama Ahmad Djalaluddin, ia dilahirkan 10 Sya’ban 1149H/1736M di Desa Lumpangi bersamaan tahun dengan kelahiran Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin yakni Ahad,10 Jumadil Awal 1149H/1736M dan kedua anak ini (Mamarina dan Kemanakan) tumbuh dan dibesarkan dilingkungan orang-orang muslim yang taat Agama islam di Desa Lumpangi, silsilah nasabnya tercatat dengan baik.
Setelah remaja - hingga dewasa ia (Ahmad Suhuf) dikawinkan dengan Diang Galuh Aminah sepupunya asal desa Muara Lumpangi cucu Hamzah.Perkawinan Habib Ahmad tersebut punya anak, yang salah satunya an. Abu Bakar as-Tsani.
Balai Adat Bumbuyanin dulu/pertama diperkirakan berdiri ditepi Sungai disekitar Kampung Datar Laga dan Datar Mangkung tepatnya kampung Pantai Dusin. Adapun orang-orang yang tiada mau menerima Islam, mereka pindah atau menjauh dari Kaum Mulimin. Dengan adanya sebab akibat dan bergesirnya waktu tempu dulu maka Balai Adat Bumbuyanin pindah lokasi / tempat, sekarang Balat Adat tersebut beralamat di desa Kemawakan Kec. Loksado.
07.
Karomah Habib Lumpangi Muhammad Djamiluddin Assaqqaf Yang Berlaku hingga sa’at
ini.
Oleh karenanya salah satu Karomah Habib Muhammaad Jamiluddin (Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf yang terbesar adalah "Beliau dapat membatalkan beberapa tradisi Suku Dayak Pegunungan Meratus yang berlaku berabad-abad.”
Ia (Habib Muhammaad
Jamiluddin) juga tampil sebagai tokoh muda yang sangat dihormati disukai dan
dicintai dari kalangan keluarga Muslim dan dari kalangan keluarga Dayak
sehingga apa yang ia ucapkan selalu diikuti-disetujui oleh banyak orang. Ia
dengan mudahnya Membatalkan tradisi Suku Dayak Pegunungan Meratus berlaku
berabad-abad yang dianggap merugikan banyak pihak dan Para keluarga suku Dayak,
mereka menerimanya dengan suka rela mereka meninggalkannya, tradisi dimaksud
yakni "Tradisi Memuliakan Tamu Nginap, Tradisi Kuping Panjang, Tradisi
Tato, Tradisi Tiwah, Tradisi Ngayau, dan
Mantat Tu’Mate dan dapat mempersaudarakan orang-orang muslim dengan orang-orang
Dayak".,
Dilansir dari berbagai sumber, bahwa suku Dayak memiliki berbagai tradisi unik, tetapi tradisi ini ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Muhammaad Jamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya kecuali tradisi Tarian Gantar (batandik),.
08. Beberapa tradisi Adat Dayak Pegunungan Maratus yang ditinggalkan Suku Dayak.
Adapun Beberapa tradisi Adat Dayak Pegunungan Maratus yang ditinggalkan Suku Dayak di antaranya meliputi :
- penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat
- penguburan di dalam peti batu (dolme
- penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.
- dikubur dalam tanah
- diletakkan di pohon besar
- dikremasi dalam upacara tiwah
- Tiwah adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan, sebagai simbol pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun atau beberapa tahun setelah penguburan pertama
- Jambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah.
- Marabia
- Mambatur (Dayak Maanyan)
09. Tradisi-tradisi suku Dayak Langara Lumpangi yang dilestarikan
Salah satu tradisi adat suku Dayak Langara Lumpangi adalah Aruh Bawanang atau disebut juga aruh mahanyari banih adalah salah satu ritual adat yang dilaksanakn oleh suku dayak Langara setiap tahunnya pada saat pasca panen raya padi yang merupakan salah acara ucapan rasa syukur kepada Sang Pencipta Alam Semesta.
Aruh Bawanang adalah sebuah ritual adat yang dilaksanakan oleh suku Dayak Meratus setiap tahunnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan. Ritual adat ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang melimpah, serta permohonan doa agar mereka selalu diberi rejeki, kesehatan dan kesejahteraan.
10.
Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar
ash-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf wafat tahun 1195H/ 1781M.
Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar Assegaf telah mewakafkan dirinya, dan sudah mengabdikan seluruh hidupnya, untuk dakwah Islam sejak kehadirannya di kampung Balai Ulin Desa Lumpangi ini, selama bertahun-tahun dalam mengenalkan Islam dengan baik kepada saudara-saudaranya Suku Dayak Maratus dan meng-Islam-kan mereka, mengajar, membagun dan membina masyarakat kampung Lumpangi menjadi masyarakat Islam yang berakhlak mulia dan menjadi masyarakat Agamis di kampung ini.
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami bahwa Dimasanya di sebagian Sayyid Muhammad
Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan
Assegaf diperkirakan wafat Jum'at, 10 Syawal 1195H atau 1781 Masihi. Ia di
makamkan berdampingan dengan makam Siti Sarah isterinya dengan usianya sekitar
64 tahun dan ia dimakamkan kampung Balai Ulin Lumpangi Kec. Loksado. Titik Koordinat makam 2,80908, 115,41756, 143,5m, 281 derajat
Berkata Sayyid Baseraninor
bin H. Muhammad Barsih Assegaf “Waktu
dahulu diareal Makam Sayyid itu tumbuh sebatang pohon kembang kenanga
yang besar. Pohon itu tidak putus-putusnya berkembang. Tetapi tidaklah
sembarang orang bisa mengambil kembang kenanga yang jatuh dari pohonnya diareal
makam Habaib Lumpangi itu kecuali ada dzuriatnya sebab bila mengambilnya orang yang bukan dzuriatnya maka
orang itu, badannya kena sakit panas selama 3 hari 3 malam.
Menurut versi lain bahwa " Sebatang pohon kembang kenanga yang besar. Pohon itu tidak putus-putusnya berkembang. Orang yang bukan dzuriatnya dan tidak pamit (bapadah) mengambil (menjatu) kembang kenanga yang jatuh dari pohonnya diareal makam Habaib Lumpangi itu bisa muntah darah atau orang itu, badannya kena sakit panas selama 3 hari 3 malam.
Daftar Isi Bab ke-V.
V. Rakam Jejak Perjalaan
Sayyid Ahmad Suhuf bersama Muhammad Djamiluddin Assegaf Ayahnya dan Sayyid
Ahmad Djalaluddin pamannya sa’at membatalkan dan menghapus sebagian Tradisi
Suku Dayak Pegunungan Maratus.
- Kelahiran Sayyid Ahmad Suhuf dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.
- Sayyid Ahmad Suhuf dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar Assegaf Menerima Pengajaran Ilmu Agama.
- Silsilah Nasab Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
- Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf, ia menikah dengan Diang Galuh Siti Aminah.
- Masa Muda Sayyid Ahmad Suhuf bin Djamaluddin dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf terjadi Pembatalan beberapa Tradisi Suku Dayak Pegunungan Meratus yang dianggaf merugikan Suku itu sendiri.
- a. Keberdaan Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf di desa Lumpangi
- b. Tradisi Unik Suku Dayak Pegunungan Meratus yang sudah lama Membudaya sebelum keberadaan Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.
- Dimasa Keberadaan Sayyid Muhammad Djamiluddin, Ahmad Djalaluddin dan Ahmad Suhuf sa’at memanasnya suhu Politik masa Perebutan Kekuasaan Kesultanan Banjar sekitar tahun 1760 Masihi.
- a. Dukungan Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung Kepada Putra Mahkota Muhammad Aliuddin Aminullah.
- b. Sekilas tentang Tasawuf Wahdatul Wujud yang dianut Syeikh Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung).
- c. Hubungan Datu Abulung dengan Kesultanan Banjar dan Desas-desus politik Kesultanan.
- d. Thariqat yang dianut oleh Syaikh Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung).
- e. Silsilah nasab ke-Sayyidan Syaikh Abdul Hamid Al-Maghribi.
- f. Tentang Hukuman mati Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung).
- g. Hukuman Pertama Ditenggalamkan ke Dasar Sungai Lok Buntar.
- h. Tragedy Hukuman mati akibat konflik Politik salah Dukungan di Kesultanan Banjar.
- 07. Wafatnya Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.
V.
Rakam Jejak Perjalaan Sayyid Ahmad Suhuf bersama Muhammad Djamiluddin Assegaf
Ayahnya dan Sayyid Ahmad Djalaluddin sa’at membatalkan dan menghapus sebagian
Tradisi Suku Dayak Pegunungan Maratus.
Sejarah singkat Sayyid Ahmad
Suhuf bin Muhammad Djamiluddin (Sayyid Lumpangi Loksado) dan Sayyid Ahmad
Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf. Mereka adalah
orang-orang yang aliim berpengetahuan luas dibidang Agama Islam, Mereka adalah
orang-orang yang shaleh, dan Mereka adalah
orang-orang yang ta’at yang memelihara iman dan islam, Mereka adalah
orang-orang amat kenal dengan Tuhannya, Mereka adalah orang-orang yang
bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at
yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat,
puasa, zakat dan amaliah-amaliah dzahir dan bathin lainya.
1. Kelahiran Sayyid Ahmad Suhuf dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Ahmad Suhuf dilahirkan Ahad, 10 Jumadil Awal 1149H/1736M dan Ahmad Djalaluddin dilahirkan 10 Sya’ban1149H/1736M keduanya lahir di Desa Lumpangi, dan keduanya tumbuh dan dibesarkan dilingkungan orang-orang muslim yang taat Agama islam di Desa Lumpangi, keduanya berada di desa yang sangat terisolasi dari keramaian kota Amawang Kandangan, berada diudik sungai Kali Amandit yang jauh, kalau berpergian masa itu selalu jalan kaki. Isterinya Diang Galuh Aminah bin Abdullah bin Hamzah, ia adalah buyut Datu Muhammad Langara.
Sayyid Ahmad Suhuf adalah
nama panjangnya, sedangkan Ahmad adalah nama panggilannya sehari-hari. Kedua
orang tuanya memberinya nama Ahmad Suhuf. Nama ayahnya adalah Muhammad
Djamiluddin (Sayyid Lumpangi) dan ibunya bernama Siti Sarah binti Abu Thalib
bin Muhammad Langara. Ahmad adalah keturunan ke-3 atau cucu tersayang Sayyid Abu Bakar bin
Hasan Assegaf. Kakek dan kedua orang tuanya menaruh harapan besar kepadanya.
2. Sayyid Ahmad Suhuf dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar Assegaf Menerima Pengajaran Ilmu Agama.
Dimasa kecinya Sayyid Ahmad
Suhuf dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar Assegaf berada di bawah asuhan orang
tuanya di Desa Lumpangi,
keduanya bercita-cita ingin
mengembara bila besar nanti, ke Negeri
orang, kata orang tuanya bahwa “Kalau kau ingin merantau, ke Negeri orang, kau harus banyak basango ilmu, supaya tidak
dibodohi orang, dan baisi keterampilan seperti pertukangan dan kembalinya kau
selamat,” maka keduanyapun telah membekali dirinya dengan giat belajar dan
bertanya tentang ilmu-ilmu agama kepada orang tuanya, kepada kakeknya dan
pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu
hakekat.
Sayyid Ahmad Suhuf dan Ahmad
Djalaluddin mendapatkan Pengajaran Ilmu Agama langsung dari : -Muhammad
Djamiluddin & Siti Raudah ayah-ibunya, -Abu Bakar kakeknya –Para pamannya.
Oleh karenanya Dia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu.
03.
Silsilah Nasab Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf
Adapun Silsilah Nasab Sayyid Ahmad Suhuf bin (Djamaluddin) Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf sebagai berikut :
الْحَبِيْب اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله.
04.
Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin
bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf, ia menikah dengan Diang
Galuh Siti Aminah.
Menurut sumber data bahwa
Sayyid Ahmad Suhuf yang panggilan sehari-harinya Sayyid Ahmad telah menikah
masa remaja (usia muda) - hingga dewasa, tetapi tidak punya keturunan, maka
untuk medapatkan anak keturunan ia dikawinkan pula dengan Diang Galuh Aminah.
Galuh Aminah adalah salah satu keturunan buyut Muhammad Langara.
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Di bawah usia 20-24 tahun Sayyid
Ahmad Suhuf sudah menikah dan bekeluarga
dan juga bertahun-tahun masa perkawinannya pasangan suami–isteri ini
belum juga punya anak keturunan. Karena tidak punya anak, kemudian ia menikah
lagi di usianya 43-45 tahunan dengan sepupunya Galuh Siti Aminah cucu Hamzah,
asal desa Muara Lumpangi, Kamis, 12 Jumadil Akhir 1191H atau 1777M. Kemudian
dari hasil perkawinannya tersebut lahirlah Jum’at, 13 Djulhijjah 1192M/
01-01-1779M seorang anak laki-aki yang diberi nama Sayyid Abu Bakar. kemudian
untuk membedakan nama anak ini dengan nama Kakeknya maka diujung namanya
ditambah kalimat 'ats-Tsani artinya yang ''kedua' maka namanya menjadi Sayyid
Abu Bakar ats-Tsani.
05.
Masa Muda Sayyid Ahmad Suhuf bin Djamaluddin dan Ahmad Djalaluddin bin Abu
Bakar bin Hasan Assegaf terjadi Pembatalan beberapa Tradisi Suku Dayak
Pegunungan Meratus yang dianggaf merugikan Suku itu sendiri.
a. Keberdaan Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf di desa Lumpangi
Menurut ceritera Datu-datu
kami bahwa Belanda menduduki kota Banjarmasin sekitar tahun 1747M, kala itu
Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf sudah lahir dan berada di Lumpangi
tahun 1707M jauh sebelum Belanda datang ke Kesultanan Banjar. Saat itu usia
Sayyid Abu Bakar kakeknya Ahmad Suhuf antara 40-45 tahunan, Beliau berniaga
berjualan kain sarung dan perhiasan wanita, sambil melakukan dakwah di Balai
Ulin Lumpangi, Keberadaannya di desa tersebut semasa dengan pemerintahan Sultan
Tahmidullah, Raja Banjar ke-10 tahun 1700-1717 Masihi hingga Sultan Tamjidillah
I Raja Banjar ke-13 yang berpusat pemerintahan di Martapura Kalsel Tahun
1734-1759M, Kala itu Belanda belum menjajah Kesultanan Banjar.
Menurut catatan Sejaarah
Tahun 1747M, Belanda menduduki Banjarmasin. Kemudian tahun 1761–1801, masa
pemerintahan Sultan Tahmidullah II /Sunan Nata Alam. Tahun 1762, Saudara Sultan
Nata yang bernama Pangeran Prabujaya dilantik sebagai mangkubumi oleh Dewan
Mahkota Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar).
b. Tradisi Unik Suku Dayak Pegunungan Meratus yang sudah lama Membudaya sebelum keberadaan Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.
Berkata Guru Muhammad Baharudin
bin Marsal ( Beliau keturunan Syarifah asal Amawang) bahwa "Habib
Djamaluddin adalah orang yang paling berprngaruh, Sayyid Djamaluddin, ia adalah
orang yang paling alim dan ia orang yang paling berpengetahuan ilmu agama dan
paling berpengaruh diantara semua penghuni makam di Kampung Balai Ulin ini, Ia
memperoleh pengajaran langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya, hal ini
kalau bisa disembunyikan."
Menurut folklor ceritera datu dan nenek kami bahwa “Berkata sebahagian orang Lumpangi masa itu bahwa Tiada ada Orang yang memilki keilmuan yang paling dalam dan luas tentang Islam kecuali dimiliki oleh Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf". Ia memperoleh pengajaran dan bimbingan (suluk, riiyadhah) ilmu Islam langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya.
Dilansir dari berbagai sumber atau data, bahwa suku Dayak memiliki berbagai tradisi unik, tetapi tradisi tersebut ditinggalkan oleh Dayak Pegunungan Maratus dan sebab Tradisi-tradisi Adat itu telah dibatalkan dan dihapuskan Kamis, tanggal 21 Agustus 1760 Masihi atau bertepatan dengan 10 Muharram 1174H dimasa keberadaan dan kebersamaan Sayyid Lumpangi (Sayyid Djamaluddin), Ahmad Djalaluddin dan Sayyid Ahmad Suhuf anaknya, pembatalan dan penghapusan tersebut disetujui oleh Pang Ayuh, Bambang Basiwara dan Diang Aluh Gunung selaku Ahli Warisnya. Adapun tradisi dimaksud yaitu :
- Tradisi memuliakan Tamu Nginap,
- Tradisi Kuping Panjang,
- Tradisi Tato (rajah adalah simbol kekuatan),
- Tradisi Tiwah (ialah upacara kematian) atau membuang bangkai,
- Tradisi Ngayau adalah Tradisi berburu kepala manusia.
- Tradisi Penguburan :penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat, penguburan di dalam peti batu (dolmen), penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang. Yang dilastarikan dikubur dalam tanah,
a. Dukungan Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung Kepada Putra Mahkota Muhammad Aliuddin Aminullah.
Kalau kita kaitkan Keberadaan Sayyid Muhammad Djamiluddin,
Sayyid Ahmad Djalaluddin dan Sayyid Ahmad Suhuf Assegaf sa’at pembatalan dan
penghapusan beberapa Tradisi Adat Dayak Pegunugan Meratus, tgl.21 Agustus 1760
Masihi/1174H di Lumpangi tidak terlepas dari ceritera atau bersamaan dengan
masa perebutan kekuasaan Sultan Banjar yakni Pangeran Amir dengan Pangeran Nata
Alam. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran
Amir. Pangeran Amir adalah anak Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang gagal
naik tahta Kesultanan Banjar pada tahun 1761 Masihi selaku ahli waris yang Sah.
Walaupun ia mendapat dukungan penuh dari seorang Ulama Besar Syaikh Sayyid
Abdul Hamid bin Sayyid Amir Musa (Datu Abulung) memiliki paham tasawuf Wahdatul
Wujud yang dipengaruhi aliran ittiihad Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj,
Datu Abulung yang masyhur dan Ulama berpegaruh di Kesultanan Banjar sa’at itu.
Pangeran Amir, ia diusir oleh walinya sendiri. Pada mulanya Pangeran Nata Alam,
yang bekerja sama penjajah dan dengan dukungan Belanda memaklumkan (mengokohkan)
dirinya sebagai Sultan Tahmidullah III. Adapun kekuasaan masa pemerintahan
Sultan ini dari tahun 1761–1801 M. Ia adalah anak selir sehingga dianggap tidak
layak mewarisi takhta. Terlebih lagi, Pangeran Hidayatullah sebagai pewaris
takhta yang sah masih hidup. Setelah Sultan Hidayatullah ditipu Belanda dengan
terlebih dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan
kemudian ia diasingkan ke Cianjur. Gesekan ini menimbulkan gerakan Muning, yang
menjadi pemicu Perang Banjar pada 1859..(Artikel "Raja-Raja Kesultanan
Banjar").
Sultan Tahmidullah II,
(1761-1801M) dikenal juga sebagai Tamjidillah III, atau Sulaiman Saidullah I,
atau Sunan Nata Alam adalah Sultan Banjar yang memerintah pada tahun 1761
hingga 1801 Masihi, menggantikan sepupunya, Muhammad Aliuddin Aminullah yang
gagal naik tahta Kesultanan Banjar pada tahun 1761 Masihi selaku ahli waris
yang Sah. Pemerintahannya berhasil mempertahankan kedaulatan dan pengaruh
absolut sultan, yang menyebabkannya diakui sebagai salah satu Sultan Banjar terbaik.
b. Sekilas tentang Tasawuf Wahdatul Wujud yang dianut Syeikh Sayyid Abdul Hamid
(Datu Abulung).
Syeikh Sayyid Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung memiliki paham tasawuf Wahdatul Wujud yang dipengaruhi aliran ittiihad Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj yang masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumatrani, dan Syaikh Siti Jenar. Dalam mengembangkan paham tersebut, dia mengenalkan ajaran "Ilmu Sabuku", yaitu ilmu tasawuf yang menyatukan antara Tuhan dan hamba. Menurut K.H. Irsayd Zein (Abu Daudi). inti Ilmu Sabuku dari Syaikh Abdul Hamid Abulung sebagai berikut haqiqat hati dalam Tahlil dzikir pertama adalah (لَآإِلٰهَ إِلَّا اللهُ) La ilaaha illallah (pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah).
Tiadalah maujud melainkan
hanya Dia,
Tiada wujud yang lainnya,
Tiada aku melainkan Dia,
Dialah-Aku, Aku adalah Dia.
Kemudian, ilmu ini diajarkan
kepada murid-muridnya yang berjumlah sepuluh orang, di mana mereka
mengembangkan ilmu tersebut meskipun Datu Abulung telah dihukum mati oleh
Sultan Tahmidullah II.
c. Hubungan Datu Abulung dengan Kesultanan Banjar dan Desas-desus politik Kesultanan.
Kesempatan Datu Abulung dalam
mengembangkan ajarannya mulai membuat hubungannya dengan Sultan Tahmidullah II
dan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari menjadi tidak harmonis. Hal ini berujung
pada perintah hukuman mati oleh sultan akibat tidak menaati perintah sultan
untuk menghentikan ajarannya. Dalam perintah hukuman mati tersebut, Sultan
Tahmidullah II meminta pendapat Datu Kalampayan terlebih dahulu. Menurut Datu
Kalampayan, sultan harus bernegosiasi dengan Datu Abulung dan jika dia tidak
menerima, maka keputusan diserahkan kepada sultan.
Perlawanan Syaikh Sayyid
Abdul Hamid bin Sayyid Amir Musa (Datu Abulung) terhadap Sultan Tahmidullah II
sangat mungkin berkaitan dengan memanasnya suhu politik kesultanan, khususnya
berkaitan dengan tuntutan Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah atas takhta
kesultanan. Dalam kasus ini, Datu Abulung kemungkinan mendukung pangeran
sehingga hanya dia yang berhak memanggil Datu Abulung ke istana karena menurut
Syaikh Sayyid Abdul Hamid bin Sayyid Amir Musa bin Sayyid Muhammad (Datu
Abulung), pangeran lebih berhak mewarisi takhta ketimbang sultan Tahmidullah II
yang berkuasa pada saat itu. Atas dukungan Syaikh Datu Abulung pada tahun
1760M, Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah menuntut haknya sebagai pewaris
takhta kesultanan dari Sultan Tamjidillah yang merupakan paman dan mertuanya
sendiri. Namun, pada tahun 1761, Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah meninggal
dan meninggalkan beberapa anak yang berhak menjadi sultan, yaitu Pangeran
Abdullah, Pangeran Rahmat, dan Pangeran Amir. Pangeran Abdullah dan Pangeran
Rahmat mati tercekik, sedangkan Pangeran Amir berpura-pura menunaikan haji ke
Makkah agar dia dapat bertemu pamannya, Arung Turawe dari Paser dan merebut
Martapura. Perebutan kekuasaan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Sultan
Tahmidullah II.
Sikap Sultan Tahmidullah II
dalam hal perebutan takhta kesultanan atas keturunan Sultan Hamidullah, rupanya
tidak disenangi oleh Syaikh Datu Abulung, sehingga kedudukannya (Sultan
Tahmidullah II) tidak didukung oleh Syaikh Datu Abulung. Hal ini dikarenakan
Sultan Hamidullah membiayai Datu Abulung dalam menuntut ilmu ke Haramain
(Mekkah-Madinah), sehingga Datu Abulung mendukung Pangeran Aliuddin Aminullah
bin Sultan Hamidullah untuk menjadi Sultan Banjar. Terlebih lagi, Sultan
Tamjidillah dinilai bersahabat dengan Belanda dan melakukan perjanjian kontrak
yang pada 18 Mei 1747 yang isinya bahwa Belanda berhak mendapat monopoli lada,
emas, dan intan. Mengingat perjanjian yang lebih menguntungkan Belanda dan elit
kesultanan ketimbang masyarakat Banjar, khususnya dari kalangan pedagang, Datu
Abulung bersikap lebih kritis terhadap elit kesultanan sehingga sering dianggap
para elit tersebut sebagai pembangkangan.
d. Thariqat yang dianut oleh Syaikh Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung).
Syaikh Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung)
termasuk orang yang menganut aliran thariqat Naqsabandiyah, di mana dia juga
menyebarkan thariqat tersebut di sepanjang aliran Sungai Martapura, mulai dari
Sungai Tabuk, Abulung, Lok Buntar, Lok Baintan, Sungai Batang, Sungai Rangas,
dan sekitar aliran Sungai Riam Kiwa. Salah satu ajarannya yang dikenal
masyarakat yaitu dzikir "banasib dengan bapajah lampu", dimana dalam
praktiknya, memadamkan lampu sa’at dzikir sangat lazim dilakukan, khususnya
dzikir yang diiringi dengan nasyid, sehingga sering disebut "dzikir dengan
bapajah lampu". Sepeninggalan Datu Abulung, dzikir ini disebarkan oleh
murid-muridnya dan diteruskan dari generasi ke generasi.
e. Sanad
Silsilah ath-Thariqat an-Naqsabandiyah Datu Abulung.
Salah satu orang yang
mengembangkan thariqat dzikir ini di antaranya Abu Hasan Haji Abdullah Mu'ti
yang belajar kepada Haji Muhammad
Nur dari Takisung
(meninggal pada tahun 1993). Lalu, Haji Muhammad Nur ini belajar ilmu ini kepada
Haji Ibrahim Hawranie. Lalu, Haji Muhammad Nur belajar ilmu ini kepada Haji
Muhammad Amin. Kemudian, Haji Muhammad Amin belajar ilmu ini kepada ke Haji
Abdullah Khatib. Lalu, Haji Abdullah Khatib belajar ilmu ini kepada Haji Abdul
Hamim yang belajar ilmu ini dengan Syaikh Abdul Hamid Abulung.
Pangeran Antasari, yang
merupakan keturunan dari Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah, yang tinggal di
Antasan Senor, disinyalir nerupakan pengikut thariqat ini, sekaligus pengikut thariqat Samaniyah yang dikembangkan
oleh Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.
f. Silsilah nasab ke-Sayyidan Syaikh Abdul Hamid Al-Maghribi
Marga Al-Maghribi Al-Hasani :
Keturunan dari Al-Quthub Syaikh Abdussalam bin Masyisy, Wali Agung dari Maroko Guru Murabbi Mursyid Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili Al-Hasani semoga Tuhan meridhoi mereka berdua.
إنه أبو محمد
سيدي عبد السلام بن مشيش- وقيل ابن بشيش- ابن أبي بكر بن علي ابن حرمة بن عيسى بن سلام
بن مزوار بن علي بن محمد بن مولانا إدريس دفين فاس، ابن مولانا إدريس دفين زرهون، وفاتح
المغرب، ابن مولانا عبد الله الكامل بن مولانا الحسن المثنى بن مولانا الحسن السبط
بن سيدنا علي ومولاتنا وسيدتنا فاطمة الزهراء بنت سيد العالمين، عليهم من ربهم جميعا
الصلاة والسلام*
Dia adalah Abu Muhammad
Sayyidi Abd al-Salam ibn Masyisy—atau, seperti yang dikatakan sebagian orang,
ibn Basyisy—ibn Abi Bakr ibn Ali ibn Hurmah ibn Isa ibn Salam ibn Mazwar ibn
Ali ibn Muhammad ibn Mawlana Idris, dimakamkan di Fez (Fasi), ibn Mawlana Idris
dimakamkan di Jarhun, Dan penakluk Maroko, putra dari tuan kita Abdullah
al-Kamil ibn Maulana al-Hasan al-Musanna bin Maulana al Hasan al-Sibth ibn tuan
kita Ali dan nyonya kita Fatima al-Zahra putri dari Pemimpin Alam Semesta,
semoga shalawat dan salam Tuhan mereka tercurah kepada mereka semua.
كان مولاي
عبد السلام ولد سنة (559ھ/1198م) بالحصين،[ إذ ينحدر من قبيلة بني عروس، كان معروفا
بذله لله تعالى، وبتواضعه بين الخلق، كان إقباله على الله وإدباره عن الخلق سمة من
سماته، عاش في بيئة سليمة، وترعرع بين أحضان أسرة كريمة من آل البيت التزمت بدين الله
وشرعه.
Maulay Abd al-Salam ibn Masyisy, Dia lahir
pada tahun 559 H/1198 M di al-Hushayni, karena dia berasal dari Kailah suku
Banu Arus. Dia dikenal karena ketaatannya kepada Allah Yang Maha Kuasa dan
kerendahan hatinya di antara manusia. Salah satu ciri khasnya adalah sikapnya
yang berpaling kepada Allah dan menjauhkan diri dari manusia. Ia hidup dalam
lingkungan yang baik dan dibesarkan di tengah keluarga bangsawan dari keluarga
Nabi yang taat pada agama dan hukum Allah. Idris, dimakamkan di Zerhoun, dan
penakluk Maroko, ibn Mawlana Abdullah al-Kamil ibn Mawlana al-Hasan al-Mutsanna
ibn Mawlana al-Hasan,.
Kalaw kita lihat urutan Silsilah Nasab ke-Sayyidan-nya Sayyid Djamaluddin urutan ke-30 dan Sayyid Ahmad Suhuf urutan ke-31 diurut dari Rasulullah Saw, Fatimah az-Zahra, terus Hasan-Husain terus Hasan Al-Mutsanna - ‘Ali Zainal ‘Abidin terus ke bawah sd. Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung) juga menjadi urutan nasab ke-31.
Adapun Silsilah nasab ke-Sayyidan Syaikh Abdul Hamid Al-Maghribi (Datu Abulung) :
- Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
- binti Fatimah Az-Zahra dan Ali Karamallahu Wajhah
- bin Hasan Al-Mujtaba
- bin Hasan Al-Mutsanna
- bin Abdullah Al-Kamil
- bin Maulay Idris Al-Akbar
- bin Maulay Idris Al-Ashgar
- bin Muhammad
- bin Ali Al-Haidarah (‘Ali)
- bin Mizwar (Mazwar)
- bin Sulaiman As-Salam (Salam)
- bin 'Isa
- bin Muhammad Al-Harmah (Hurmah)
- bin Ali
- bin Sayyidi Syarif Abu Bakar
- bin Masyisy atau (Basyisy)
- bin Quthubul Sayyidi Maulay Abdussalam Al-Maghribi (Maroko)
- bin Sayyidi Ahmad
- bin Syaikh Mahzub Qasim
- bin Yusuf
- bin Sayyidi Ahmad
- bin Syaikh Abul Hasan Ali
- bin Ahmad Al-Hakari
- bin Hasan
- bin Ali
- bin Muhammad
- bin Qasim
- bin Alamuddin Abul Rabi Sulaiman
- bin Sayyidi Muhammad
- bin Amir Musa
- Syaikh Abdul Hamid Al-Maghribi (Datu Abulung)
انه الشيخ عبد الحميد المغرب ( داتوابولوغ) ابن عامر موسى ابن سيدي مُحَمَّدٌ ابن علام الدين ابوالربّ سُلَيْمن ابن قاسم ابن مُحَمَّدٌ ابن علي ابن حسن ابن احمد هنكارى ابن الشيخ ابو الحسن علي ابن احمد ابن يوسف ابن الشيخ محجوب قاسم ابن سيدي احمد ابن أبو محمد سيدي عبد السلام بن مشيش*
g. Tentang Hukuman mati Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung)
Berdasarkan data pernikahan, kelahiran dan wafat dari anak, cucu dan dzuriat Syaikh : bahwa kepulangan tercatat dalam Biografinya Muhammad Arsyad al Banjari tiba sekitar pada Bulan Ramadhan 1165 H/ Juli 1752 M, Syaikh sudah
berada di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu. Mungkin sekitar
tahun 1761 Masihi yang sebelumnya Syaikh Muhammad Arsyad menjabat Mufti Kecil dinaikkan /
diangkat menjadi Mufti
Besar oleh Sultan
Tahmidullah II di Kesultanan Banjar pada sa’at itu.
Menurut Artikel yang pernah seorang Ulama yang sangat berpegaruh di Kesultanan Banjar saat itu, ia pendukung utama Muhammad Aliuddin Aminullah Putra Mahkota yang syah menuntut untuk naik tahta Raja sa’at itu, dan ia juga seorang penganut ajaran Wujudiyah, yang dianggap menyimpang oleh para ulama Sunni saat itu. Wujudiyah adalah ajaran yang menekankan pada aku baca bahwa Micheal Laffan juga mengungkap fakta sejarah bahwa salah satu momen penting dalam sejarah hidup Syaikh Muhammad Arsyad ialah kampanyenya melawan shahabatnya sendiri yakni Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung, penyatuan eksistensi antara manusia dengan Tuhan.
Datu Abulung mengajarkan ilmu
yang didapatnya kepada masyarakat sekitarnya sudah lama seperti ilmu Tasawuf.
Namun ilmu Tasawuf yang beliau ajarkan kepada orang awam ini sangat berlainan
dengan pelajaran Tasawuf yang selama ini dikenal masyarakat, karena beliau
langsung mengajarkan inti dari ilmu Ma'rifat. Datu Sayyid Abulung mengajarkan bahwa
: "Tiada yang maujud hanya Dia dan Tiada maujud lain-nya, Tiada aku
melainkan Dia dan Dia adalah aku dan Aku adalah Dia". Dalam pelajaran Datu
Sayyid Abulung juga diajarkan bahwa Syariat yang diajarkan selama ini adalah
kulit, belum sampai kepada isi (Hakikat). Sedangkan pelajaran yang selama ini
diyakini masyarakat umum adalah "Tiada yang berhak dan patut disembah
selain Allah, Allah adalah khalik dan selainnya adalah makhluk, tiada sekutu
bagi-Nya."
Ajaran Datu Sayyid Abulung
ini kurang lebih seperti ajaran Abu Yazid al-Bustami, Husein bin Mansyur
al-Hallaj yang kemudian masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan
Syamsuddin di Sumatera dan Syaikh Siti Jenar di Jawa.
Mendengar fatwa Datu Sayyid
Abulung yang berbeda dari kebanyakan paham masyarakat pada waktu itu, maka
gemparlah masyarakat yang menerima ajaran tersebut, bahkan ajaran yang beliau
sampaikan menjadi pembicaraan masyarakat umum yang mana akhirnya sampai ke
telinga Sultan. Sebelum Datu Abulung dipanggil, Sultan terlebih dahulu minta
pendapat Syaikh Muhammad
Arsyad al-Banjari tentang ajaran Datu Abulung tersebut. Setelah menelaah
beberapa kitab dan kemudian disimpulkan bahwa ajaran yang dibawa Datu Sayyid
Abulung dapat menyesatkan masyarakat dan bisa merusak kehidupan beragama.
Berdasarkan keputusan
tersebut maka dipanggillah Datu Sayyid Abulung, salah seorang prajurit kerajaan
disuruh untuk mendatanginya. Sesampai di tempat Datu Abulung lalu dipanggillah
beliau.
Satu riwayat menceritakan
bahwa pemanggilan tersebut, prajurit itu berkata : "Wahai Syaikh Abdul
Hamid, anda dipanggil oleh baginda Sultan," kemudian dijawab oleh Datu
Abulung, "Syaikh Abdul Hamid tidak ada, yang ada hanya Allah. "
Mendengar hal tersebut, prajurit pulang dan mengadukannya kepada Sultan.
Kemudian Sultan menyuruh kembali dan memanggil "Allah" tersebut.
Setelah sampai, prajurit itu berkata "Wahai Allah, anda dipanggil baginda
Sultan," kemudian dijawab kembali oleh Datu Abulung "Allah tidak ada,
yang ada hanya Nur Muhammad." Mendengar hal tersebut, prajurit kembali
lagi dan mengadukannya ke Sultan. Kemudian Sultan berkata "Panggil
ketiganya, Syaikh Abdul Hamid Abulung, Allah, dan Nur Muhammad". Setelah
prajurit tersebut memanggil seperti yang diperintahkan Sultan, barulah Datu
Abulung memenuhi panggilan Sultan pergi menuju istana. Datu Abulung ditangkap
oleh pihak/petugas kesultanan karena menyebarkan ajaran Wahdatul Wujud.
Di tengah perjalanan menuju
istana dipasangkan perangkap yang apabila diinjak maka melesatlah sebilah
tombak tajam yang akan menghujam ke tubuh orang yang menginjaknya. Saat itu
terbukti kebenaran ajaran Datu Abulung, ketika beliau menginjak perangkap
tersebut tombak tajam itu memang melesat dengan cepatnya ke udara dan berhenti
tepat di belakang Datu Abulung dan jatuh ke tanah tanpa beliau mengetahuinya.
Setelah beliau sampai di
istana dan terjadilah tanya jawab, perdebatan yang dihadiri Pembesar Istana dan
tokoh Agama, Sultan ingin
bukti kebenaran ajaran Datu
Sayyid Abulung, kemudian Datu Sayyid Abulung berucap "Asyhadu allaa ilaha
illallah" tiba-tiba tubuh
beliau menghilang
dari kasat mata, kemudian beberapa sa’at kemudian terdengar suara "Wa
asyhadu anna muhammadarrasulullah" timbullah kembali badan beliau. Semua orang terpesoa dan kagum
melihat hal tersebut, tetapi para tokoh Agama salah satunya Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari sa’at itu musyawarah
mupakat dengan menimbang untuk keselamatan orang awam yang lebih banyak maka
dihukumlah Datu Sayyid Abulung.
Dalam riwayat Hukuman Pertama
h. Hukuman Pertama Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung ditenggelamkan ke Dasar Sungai Lok Buntar.
Datu
Abulung
dengan dimasukkan ke dalam kerangkeng besi yang ukurannya hanya muat tubuh
beliau dan hanya cukup untuk berdiri. Dengan kurungan seperti itu akhirnya
beliau ditenggelamkan di sungai Lok Buntar, maka akhirnya tenggelamlah sampai
ke dasar sungai.
Tanpa diketahui oleh semua
orang suatu kejadian aneh terjadi, apabila tiba waktu sholat fardhu maka
kerangkeng tersebut akan muncul ke permukaan dan beliau kemudian keluar dari
kerangkeng tersebut untuk melakukan sholat. Selesai sholat, secara perlahan
kerangkeng tersebut tenggelam kembali ke dasar sungai. Ada suatu riwayat yang
mengatakan bahwa sewaktu dia ingin melaksanakan salat Shubuh, tiba-tiba
kurungan besinya terangkat sampai di permukaan air sungai, sehingga dia salat
di atas permukaan air. Ketika dia selesai menunaikan salat, dia masuk ke
kurungannya dan kurungannya tersebut tenggelam kembali. Hal ini terjadi
berulang kali atau terus menerus ketika waktu salat lima waktu telah tiba dan
pernah disaksikan oleh beberapa orang, termasuk sepuluh orang pencari ikan yang
kelak menjadi muridnya.
Pada suatu malam menjelang
subuh, sepuluh orang pencari ikan melakukan aktivitasnya di sekitar
tenggelamnya Datu Abulung. Lamat-lamat mereka mendengar suara adzan,
perlahan-lahan mereka dekati sumber suara adzan tersebut, dari kejauhan mereka
melihat dan mengamati keganjilan dan keanehan Datu Abulung tersebut. Sejak saat
itu mereka mengangkat beliau menjadi guru mereka, dari beliau mereka belajar
berbagai ilmu agama islam. Karena jumlah mereka sepuluh maka dinamakanlah Orang
Sepuluh atau sekarang orang menyebutnya Datu Sepuluh. Setelah belajar, datu
sepuluh ini menjadi pegawai kerajaan.
i. Tragedy Hukuman mati akibat konflik Politik salah Dukungan di Kesultanan Banjar
Melihat kejadian tersebut,
sultan memanggil Datu Sayyid Abulung untuk mengubah hukumannya menjadi hukuman
mati dengan cara dipenggal kepalanya. Menurut suatu riwayat, Datu Sayyid
Abulung berkata bahwa dia tidak dapat dibinasakan (dibunuh) dengan alat
apapun dan jika sultan ingin membinasakannya (membunuhnya), dia harus menggunakan senjata yang ada di dinding
rumahnya dan menancapkannya di pergelangan tangannya. Oleh karena itu, sultan memerintahkan ajudannya untuk
mengambil senjata tersebut dan
menggunakannya untuk menghukum Datu Abulung. Ketika Datu Abulung hendak dieksekusi, dia meminta izin
kepada sultan untuk melaksanakan salat dua rakaat dan saat sujud salat
rakaat kedua itulah, eksekusi dilakukan dengan menusukkan senjata di
pergelangan tangannya oleh petugas kesultanan. Ketika sultan menengok ruang
eksekusi, dia melihat ceceran darah dari urat nadi pergelangan Datu Sayyid
Abulung yang membentuk tulisan "Laa Ilaaha Illallah, Muhammadur
Rasulullah" (Tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan
Allah). Selain itu, sultan melihat tubuh Datu Sayyid Abulung dalam keadaan
tidak bernyawa dengan posisi sujud. Cerita eksekusi Datu Abulung ini memiliki
kemiripan dengan cerita kematian Syaikh Siti Jenar dari Jawa dan Al-Hallaj dari
Irak.
Menurut Artikel yang pernah aku baca
bahwa Micheal
Laffan juga mengungkap fakta sejarah bahwa salah satu momen penting dalam sejarah
hidup Syaikh Muhammad Arsyad
al-Banjari, (beranjak dari jabatan Mufti Kecil) hingga ketika ia baru diangkat sebagai Mufti
Besar oleh Sultan
Tahmidullah II ialah kampanyenya
melawan pengaruh Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung, seorang Ulama yang berpengaruh di Kesultanan Banjar saat
itu, dan ia pendukung Putra Mahkota Muhammad Aliuddin Aminullah untuk naik
tahta raja yang syah di Kesultanan Banjar, Putra Mahkota memerintah setelah
melakukan kudeta (pemberontakan) terhadap mertuanya, Tamjidillah I, yang
merupakan ahli waris takhta sementara sa’at itu. Salah satu politik Sultan
Tamjidillah II (1761-1801M) yang
berkuasa saat itu, meyingkirkan pendukung utamanya dulu yaitu Datu Sayyid
Abulung seorang penganut ajaran Wujudiyah, yang dianggap menyimpang oleh para
ulama Sunni saat itu. Wujudiyah
adalah ajaran yang menekankan pada penyatuan eksistensi antara manusia dengan
Tuhan.
Syaikh Sayyid Abdul Hamid
Abulung, haulnya diperingati setiap tanggal 12 Dzul Hijjah. Dia wafat diperkirakan anggal: Rabu, 15 Juli 1761 Masehi dan tanggal hijriyah: 12 Dzulhijjah 1174 Hijriyah, dimakamkan di Kampung
Abulung, yaitu kini berada di Kecamatan Sungai Batang, Martapura Barat,
Kabupaten Banjar.
Referensi :
- Artikel “Abdul Hamid Abulung al-Banjari” dari Wikipedia
bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas./
https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Hamid_Abulung_al-Banjari
- Artikel “Pengubah Tanggal Masehi dari/ke
Hijriyah” //https://www.al-habib.info/kalender-islam/pengubah-tanggal-lahir-kalender-hijriyah.htm
- Artikel
“Hamidullah dari Banjar” https://en.wikipedia.org/wiki/Hamidullah_of_Banjar
- Artikel “Mengenal Thariqat Samaniyah: Pendiri, Ajaran,
dan Adabnya” //Sumber:
https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/mengenal-thariqat-samaniyah-pendiri-ajaran-dan-adabnya-HTLUX
- Artikel “Terokai Sufi, Hakikat dan Makrifat” //
http://delisufi.blogspot.com/2012/08/thariqat-khalwatiyyah-bahagian-1.html
- Artikel “Manaqib Syekh Abdul Hamid Abulung al-Banjari”// http://nursakunti.blogspot.com/2017/11/manaqib-syekh-abdul-hamid-abulung-al.htmlManaqib Syekh Abdul Hamid Abulung al-Banjari
07. Wafatnya Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.
Dilansir dari berbagai sumber atau data, bahwa suku Dayak memiliki tradisi adat yang unik, seperti Tradisi memuliakan Tamu Nginap, Tradisi Kuping Panjang, Tradisi Tato (tradisi Batato), Tradisi Tiwah (tradisi Batiwah), Tradisi Ngayau, dan Sebagian tradisi Penguburan Mayat tetapi ke-6 tradisi tersebut ditinggalkan oleh Dayak Pegunungan Maratus dan tradisi itu telah dibatalkan dan dihapuskan sekitar 21 Agustus tahun 1760 Masihi atau 10 Muharram 1174H oleh Sayyid Djamaluddin, Ahmad Djalaluddin, Ahmad Suhuf disetujui oleh Ahli Warisnya yakni Pang Ayuh, Bambag Swara dan Diang Aluh Gunug sebagai Perwakilan Dayak Pegunungan Maratus s’at itu.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin Assegaf atau dipanggil sehari-harinya "Ahmad" Ia wafat Ahad,13 Jumadil Awal 1211H/ 1796M di usia 60 tahun dan dimakamkan berdampingan dengan isterinya Diang Galuh Siti Aminah di kampung Balai Ulin Desa Lumpangi Loksado. Titik Koordinat, makam lat 2,80926, long 115,41769, 144,7m, 134 derajat..
Penulis hanya berharap dan
mendo’akan semoga Allah Swt mema’afkan dan mengampuni kesalahannya, kesalahan –
kesalahan orang tuanya, kesalahan datuk-neneknya, dan kesalahan – kesalahan
orang-orang yang pernah dekat dengannya dan kesalahan – kesalahan
dzuriat-dzuratnya hingga akhir zaman, begitu juga semoga Allah Swt mengampuni
dosa-dosa kita dan dosa-dosa orang-orang muslimin dan muslimat semuanya. Aamiin
Aamiin yaa rabbal .aalamiin.
Daftar Isi Bab ke-VI.
VI. Biografi Sejarah Singkat Rekam Jejak Sayyid Abu Bakar
ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.
01. Kelahiran Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin
Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.
02. Menerima (Menimba) Ilmu Agama Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin
Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.
03. Silsilah Nasab Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin
Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw.
04. Perkawinan Habib Abu Bakar ats-Tsani Assegaf dengan Umi
Salamah (Dayak Diang Gunung).
05. Dayak Bambang Basiwara dan adik kandungnya Diang Gunung
menerima hidayah Islam.
06.
Perkawinan Habib Abu Bakar as-Tsani dengan Wanita lain asal kampung Batu
Tangah.
07.
Keberadaan Syekh H. Ahmad bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru /
Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Balimau di
Abad ke-19 Masihi mulai tahun 1805 Masihi.
08. Buyut Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf yang
Terkonvermasi dan Tercatat.
09. Sebelum Keberadaan Syekh H. Sa'duddin masyarakat kampung
Taniran sudah dididik dan dibina Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya
Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Datu Habib Lumpangi di
Kec. Loksado Kab. HSS.
10. Keberadaan Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad
sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat
Agamis di kampung Taniran di Abad ke-19 Masihi mulai tahun 1812 Masihi.
11. Habib Abu Bakar ats-Tsani , Beliau Tutup Usia wafat dengan usianya yang panjang lanjut.
VI. Biografi Sejarah Singkat Rekam Jejak Sayyid Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.
Mengunjungi objek wisata memang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pengunjung dan menambah wawasan bagi Pengunjung, apalagi dapat menghilangkan kejenuhan dan kepenatan pekerjaan rutinitas sehari-hari. Jangan salah loh, mengunjungi tempat wisata menarik tak harus ke luar daerah yang membutuhkan banyak biaya. Masalahnya di Hulu Sungai Selatan terdapat beberapa objek wisata menarik dan mempesona, dijamin Anda dan keluarga bahagia menikmatinya. Salah satunya mengunjungi destinasi perbukitan batu Langara dan makam religi Habaib keluarga Assegaf Lumpangi Loksado, yang menawarkan keindahan alam luar biasa bagi siapa pun yang berkunjung mungkin tak ada salahnya menyiapkan rencananya sejak saat ini.
Keberadaan dan kebersamaan khususnya Usia Sayyid Abu Bakar ats-Tsani (lhr.1779 M) tidaklah jauh berbeda dengan usia Syaikh Datu Ahmad Balimau (lhr.1775 M) dan usia Syaikh Muhammad Thaib (Sa’aduddin Datu Taniran, lhr.1779 M), mereka sama-sama mengabdikan dan mewakafkan diri mereka untuk pengembangan dan kemajuan agama Islam khususnya di Desa tempat tinggal mereka masing-masing dan umumya diwilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
01. Kelahiran Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad01 Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Habib Abu Bakar ast-Tsani adalah anak pertama dari pasangan suami isteri Habib bin Ahmad Suhuf Assegaf dengan Diang Galuh Aminah, asal desa Muara Lumpangi, pasangan suami isteri ini menikah Kamis, 12 Jumadil Akhir 1191H / 1777M. kemudian setahun dari pernikahan itu lahir hari Senin, tgl. 6 Jumadil Akhir 1193H / 21 Juni 1779M yang diberinama Sayyid Abu Bakar ats-Tsani.
Namun versi lain juga menyebutkan Sayyid Abu Bakar ast-Tsani lahir hari Jum’at, 13 Dzulhijjah 1192H/ 01 Januari 1779 Masihi di Lumpangi. Dan Abu Bakar ast-Tsani adalah keturunan ke-3 atau cucu tersayang Habib Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar (Habib Lumpangi) Ia adalah buyut dari Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.
Sedangkan nama Abu Bakar adalah nama pemberian dari kedua orang tuanya. Dan ia menjadi nama panggilannya sehari-hari, ats-Tsani artinya yang kedua, yang disisipkan dibelakang namanya. Hal ini diberikan adalah sebagai nama pembeda dengan Datuknya Sayyid Abu Bakar. Oleh karenanya ia juga berwajah-serupa dan postur tubuhnya dan prilakunya persis sama dengan Datuknya Sayyid Abu Bakar Assegaf. Maka orang-orang sekelilingnya dan sahabatnya menyebutnyai "Abu Bakar as-Tsani" yakni " Abu Bakar yang kedua".
02. Menerima (Menimba) Ilmu Agama Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.
Sayyid Abu Bakar ast-Tsani adalah seorang anak cerdas dan shalih yang membanggakan orang tuanya, ia memperoleh pengajaran ttg Islam langsung dari ayah dan kakeknya.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Abu Bakar ast-Tsani Assegaf mendapatkan pengajaran Agama langsung dari : - Diang Galuh Aminah ibunya, - Ahmad Suhuf ayahnya, - Muhammad Djamiluddin dan Ahmad Jalaluddin kakeknya. Dan guru-guru agama disekitarnya. Sejak kecil iapun telah membekali dirinya dengan giat belajar ilmu-ilmu agama kepada orang yang lebih tua dari nya, juga kepada orang lain tentang ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat. Oleh karenanya ia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Ia adalah seorang yang shaleh, dan ia seorang yang ta’at yang memelihara iman dan islam, ia amat kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah bathin lainya.
03. Silsilah Nasab Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw.
Adapun Silsilah Nasab Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin (Djamaluddin) Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy Assegaf sebagai berikut :
الْحَبِيْب اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله
04. Perkawinan Habib Abu Bakar ats-Tsani Assegaf dengan Umi Salamah (Dayak Diang Gunung)
Menurut ceritera Habib Muhammad Jamberi dan yang dikuatkan ceritera Habib Muhammad Burhanuddin bin Ahmad Baderi Assegaf yang saya temui dan saya wawancarai di kediamannya Desa Tabihi tentang asal sebahagian orang-orang Hulu Banyu menerima hidayah Islam. Dan beliau berceritera ceritera dari sepupunya Habib Muhammad Djamberi bin Ahmad Darani Assegaf bahwa Habib Abu Bakar as-Tsani adalah buyut Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf kawin dengan Umi Salamah (nama asal dayak : Diang Gunung) binti Bumbuyanin bin Ulang dari Hulu Banyu kampung Pantai Dusin yang telah menerima Islam (puteri ini adalah sepupu Habib). Hasil perkawinan ini menurunkan nasab, tiga anak laki-laki an. :
- Ibrahim (gelar Abu Tha'am),
- Abdul Lathif (gelar Abu Aly)
- Abdullah" (gelar Abu Tayau).
Adapun Abu Tha'am ibrahim menikah dengan Diang Tangang (Siti Rahmah) ia seorang wanita janda muda yang sudah punya anak ditinggal mati suaminya. ia cantik memikat hati Habib, ia bersal desa Tangang Bamban Kec. Angkinang, dari pernikahan tersebut Habib punya anak tunggal an. Muhammad (gelarnya Abuthair atau Ambutheir). setelah dewasa Abuthair Muhammad menikah dengan Siti Siadah atau Tiadah asal desa Amuntai dan Habib punya anak tunggal an. Tanqir Ghawa. Kemudian dari Abdul Lathif menurunkan anak an. Habib Aliadam adalah Datunya Habib Muhammad Djamberi Assegaf.
Kemudian untuk menambah kuatnya hubungan darah dan tali kekeluargaan, juga dilakukan oleh Habib Muhammad Djamiluddin Assegaf (Habib Lumpangi) diperkirakan w.1781 Masihi mengawinkan cucunya Senin tgl. 10 Muharram 1213H atau bertepatan 25 Juni 1798 Masihi an. Habib Abu Bakar as-Tsani dengan anak sepupunya Tetuha Adat Dayak Bumbuyanin kampung Pantai Dusin, maka setelah dewasa Habib Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf dinikahkan dengan Umi Salamah (nama asal : Diang Gunung) binti Bumbuyanin bin Ulang.
05. Dayak Bambang Basiwara dan adik kandungnya Diang Gunung menerima hidayah Islam
Malalui perkawinan Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad dengan Umi Salamah dengan Wali nikahnya kakaknya sendiri yakni Bambang Basiwara. Perkawinan ini terjadi Senin, tanggal 10 Muharram 1213 H / 25 Juni 1798 Masihi diakhir abad ke-18 Masihi dahulunya maka dengan Islamnya kedua kakak beradik tersebut telah diikuti oleh orang-orang suku dayak daerah Hulu Banyu Loksado, sebahagian mereka juga mendapat hidayah Islam. , .
Dengan berislamnya kedua kakak beradik an. Bambang Basiwara dan Diang Gunung (Umi Salamah) diikuti keluarga Dayak lainnya dan maka malalui perkawinan ini orang-orang suku dayak kampung Pantai Dusin Hulu Banyu di Kecamatan Loksado dulu, seperti
- kampung Tar Mangkung,
- kampung Tar Laga.
- kampung Lambuk
- kampung Tar Belimbing dan
- kampung sebahagian Kemawakan menjadi Muslim. Dan juga diseberang Sungainya seperti
- kampung Majulung,
- kampung Ni'ih
- dan kampung Tanuhi
- kampung Hutap
- kampung Tariban menjadi Muslim.
Ulang sudah mengenal Islam dengan baik, dia adalah adik kandung Muhammad Langara yang belum muslim. Kemudian namanya diabadikan oleh masyarakat setempat / dzuriat anak cucunya menjadi nama kampung atau nama desa, maka bernamalah lokasi tempat kediamannya menjadi desa Ulang. Dia adalah seorang Dayak yang melahirkan suku Dayak Ulang didesa Ulang. Dan sebagian desa-desa sekitarnya menjadi muslim seperti kampung Tariban dan kampung Hutap, tetapi untuk desa Olang sendiri tahun 1970 an sudah dimasuki Agama Kristen.
Dan suku Dayak Bumbuyanin dan Bayumbung juga keturunan Ulang. Untuk mengenang Datunya maka dzuriat anak cucunya nama “Bumbuyanin” menjadi nama pada Balai Adat Dayak. Dinamakanlah Balai Adat dimaksud dengan nama “Bumbuyanin”. Balai Adat tersebut sekarang yang beralamat /berlokasi di desa Kemawakan. Begitu juga nama Balai Adat Bayumbung yang berlokasi di Desa Halunuk.
Bumbuyanin adalah nama Tetuha Adat Dayak yang mempunyai 3 anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Dimasa kecilnya mereka bertiga pernah diutus atau dikirim orang tuanya ke Desa Lumpangi untuk menuntut Ilmu Islam kepada Habib Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf oleh karenanya mereka sangat mengenal Islam dengan baik. Dimasa pendidikan inilah Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf mulai mengenal dan menyukai Umi Salamah sepupunya.
Adapun anak Bumbuyanin yang pertama bernama Ayuh atau Datu Ayuh atau Dayuhan atau Sang Dayuhan, digambarkan orang bahwa dia seorang lelaki yang berfisik kuat, gemar berkelahi atau berperang tetapi kurang cerdas, mudah/gampang marah, sulit menerima hal-hal yang positif dan dia menurunkan suku dayak Gunung Meratus.
Sedangkan anak yang ke-2. Bambang Swara atau Bambang Basiwara. digambarkan orang bahwa dia berfisik agak lemah tetapi sangat homoris, punya otak berlian dan cerdas dan menerima hal-hal yang positif. Ketiga anak sudah mengenal Islam dengan baik tetapi Datu Ayuh belum berani berislam. Sebab takut kehilangan kesaktian-kesaktin yang dia miliki turun-temurun.
Dan yang ke-3 adalah perempuan bernama Umi Salamah (Diang Gunung), dia seorang puteri yang sangat cantik yang dinikahi oleh Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar Assegaf pada pertengahan abad ke-18 Masihi. Melalui perkawinan ini Bambang Basiwara sebagai wali dari adik perempuannya. Bambang Basiwara ini ia menjadi seorang muslim dan dia menurunkan suku Banjar.
Versi lain ada yang punya berpendapat bahwa ceritera ketiga anak ini dikenal oleh sebagian masyarakat Dayak Maratus yang pertama bernama Ayuh atau Datu Ayuh atau Sang Dayuhan, dia seorang lelaki yang berfisik kuat, gemar berkelahi atau berperang tetapi kurang cerdas, sulit menerima hal-hal yang positif, sosok ini di sebut Dayuhan. Yang ke-2. Bambang Swara atau Bambang Basiwara. dia berfisik agak lemah tetapi punya otak berlian dan cerdas dan menerima hal-hal yang positif dan sangat homoris, sosok ini dikenal dengan nama "Paluy" sedangkan yang ke-3 adalah perempuan bernama Diang Gunung, dia seorang puteri yang sangat cantik rupawan, sosok ini disebut "Intingan".
06. Perkawinan Habib Abu Bakar as-Tsani dengan Wanita lain asal kampung Batu Tangah
Menurut sumber bahwa isteri Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf yang bernama Umi Salamah binti Bumbuyanin ketika berusia 44-60 tahun ia sudah sering sakit-sakitan hingga membawa maut dan ia punya 4 orang cucu an. Muhammad bin Ibrahim dan Aliadam, Abdul Karim dan Abdullah bin Abdullatif.
Namun disisi lain Habib Abu Bakar as-Tsani bahwa setelah isterinya (Umi Salamah binti Bumbuyanin) wafat diperkirakan usianya 60 tahun lebih maka ada kemungkinan dan diduga kuat Habib Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamaluddin Assegaf ini, Beliau menikah lagi dengan wanita muda lain disisa usianya yang panjang sehingga pernikahan itu punya anak atau keturunan yang baru, selain keturunan yang telah kami sebutkan diatas yang belum kami gali dan belum kami ketahui kejelasannya dan juga nasab silsilahnya. Akan tetapi apabila ditelusuri artikel yang ditulis Saadilah Mursyid maka diduga kuat bahwa anak dari isteri barunya asal kampung Batu Tangah dimaksud itu bernama Habib Husin dan Habib Ahmad dan menurut artikel dimaksud dzuriatnya masih ada dan tersebar hingga sa'at ini.
Kami belum mendengar tetapi yang lain ada yang tahu ceritera (keterangan) ini bahwa setelah isterinya (Umi Salamah binti Bumbuyanin) wafat diperkirakan usianya 60 tahun lebih maka Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf ini, Beliau menikah lagi dengan wanita lain sehingga pernikahan itu punya anak atau keturunan yang lain (yang baru), selain tiga keturunan yang telah kami sebutkan yakni Ibrahim, Abdullatif dan "Aly dan keterangan tersebut belum kami gali dan belum kami ketahui kejelasannya. Akan tetapi kami hanya menelusuri artikel yang ditulis Saadilah Mursyid maka diduga kuat bahwa anak tersebut bernama Habib Husin dan Habib Ahmad dan menurut artikel dimaksud dzuriatnya masih ada dan tersebar hingga sa'at ini.
Adapun keturunan ke-3 dari Habib Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin M.Jamiluddin Assegaf yakni Habib Abdullah, nama kehormatannya Abu Ali / Abu Tayau adalah keturunannya yang ada di Lumpangi mereka belum ada yang tervalidasi hingga saat ini.
Menurut Al-Habib Burhan Noor bin Ahmad Baderi Assegaf dikediamannya Desa Tabihi Kec. Padang Batung, beliau bercerita kepada saya bahwa Ahmad Baderi ayah dan kakeknya Habib Tanqir Ghawa, bercerita kepadanya bahwa "Abdullah" nama kehormatannya Abu Tayau, ia menikah 7 kali dengan wanita yang berbeda untuk mendapatkan keturunan (anak), pernikahannya yang pertama hingga ke-4, isteri dicerai lentaran tidak punya anak. Adapun pernikahannya ke-5 punya anak 3 orang, kemudian isterinya wafat. Kemudian pernikahannya yang ke-6 punya anak 1 orang, kemudian isterinya wafat. dan pernikahannya yang ke-7 punya anak /keturunan 5 orang, ia seorang pengembara hingga Pulau Emas.
07. Keberadaan Syekh H. Ahmad bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Balimau di Abad ke-19 Masihi mulai tahun 1805 Masihi.
Syaikh Haji Ahmad Lahir di
kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1189H /1775M, dari penikahan
Sayyid Utsman bin Muhammad bin Ismail dengan Syarifah binti Syaikh Muhammad
Arsyad Al Banjari. Ia adalah cicit pertama dari ulama besar Kalimantan yaitu
Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan.
Dikisahkan bahwa Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari menikah dengan ma Puan Bajut, & mempunyai dua orang anak perempuan bernama Syarifah (lhr.1735M) dan Aisyah (lhr. 1753M). Syarifah kemudian menikah dengan Sayyid Utsman dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Mufti H. Muhammad As'ad. Mufti H. Muhammad As'ad setelah dewasa ia menikah dengan wanita salihah bernama Hamidah di Desa Balimau Kec. Kalumpang Kab. HSS dan pasangan ini dikaruniai 12 orang keturunan /anak, salah satunya adalah Syaikh Haji Ahmad Balimau.
Syaikh Haji Ahmad Balimau
Usia 20 tahun, sekitar 1209H/ 1795H, ia naik haji ke Mekkah al-Mukarramah dan
sekaligus menuntut ilmu Agama di Haramain selama kurang lebih 10 tahun. Sekitar
tahun 1219 Hijeriah / 1805 Masihi dari menuntut ilmu Agama di Haramain kemudian
ia pulang ke kampung Dalam Pagar, Martapura. Di tahun kepulangannya Syaikh H.
Ahmad, setelah dianggap oleh ayahnya dirinya sudah sanggup untuk mengemban
amanah Allah untuk melanjutkan misi Rasululullah SAW, iapun dikawinkan terlebih
dahulu di Martapura kepada seorang perempuan yang salehah puteri dari seorang
alim, yaitu yang bernama Aisyah puteri Qadhi H Mahmud bin Asiah binti Syaikh
Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Menurut Artikel yang saya baca bahwa “Semua itu berpangkal diawali pada tahun 1806M/1220H, dimana Syaikh H. Ahmad (yang dulunya lahir dan menetap di kampung Dalam Pagar, Martapura) dikirim ke Balimau, kampung halaman ibundanya (an.Hamidah binti Abdullah, bamakam di Kubah Datu Taniran) untuk menyebarkan ilmu agama. Ia juga dikenal sebagai seorang mufti di Kesultanan Banjar, melanjutkan peran yang sebelumnya diemban oleh ayahnya. Syaikh H. Ahmad memiliki 11 anak yang keturunannya kini tersebar luas di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.
Setelah kawin di Martapura ia
mendapatkan tugas dari ayahnya untuk menyebarkan ajaran agama Islam di daerah
Balimau. Dengan ilmu yang ia miliki dari hasil belajar dengan datu dan ayahnya
yang berpengetahuan luas, dapatlah ia melakukan misinya sehari-hari, dengan
meyakinkan masyarakat untuk hidup beragama dan mengamalkannya. Ia selalu disambut
dengan sambutan positif dan selalu diikuti oleh para muridnya, khususnya
masyarakat daerah Balimau.
Dari hasil perkawinannya
dengan seorang perempuan salehah puteri seorang qadhi dari Martapura ia
dianugerahi oleh Allah enam orang anak, empat orang putera dan dua orang
puteri, diantaranya :
- H Muhammad, Balimau, seorang alim yang menjadi qadhi.
- Khadijah (bergelar dengan Dayang Rambai)
- H Khalil
- Ruqaiyah
- Abu Bakar
- Nur’ain
Kemudian ia kawin lagi dengan
seorang perempuan salehah yang bernama Hamidah yang berasal dari Amuntai dan ia
dianugerahi oleh Allah SWT tiga orang anak, dua orang puteri dan seorang
putera, diantaranya :
- Khadijah
- Muhammad Ali
- Nurjanah
Isterinya yang ketiga adalah
seorang perempuan salehah yang berasal dari Desa Balimau, Kandangan dan darinya
dianugerahi oleh Allah SWT lima orang anak, dua orang puteri dan tiga orang
putera, diantaranya :
- Sa’diyyah
- Husain
- Hasan
- Abdullah Faqih
- Mahabbah
Wafatnya Syaikh H.Ahmad bin
Mufti Haji Muhammad As’ad
Ahmad bin Mufti Haji Muhammad
As’ad berkiprah sebagai penerus ayah dan datunya. Dengan penuh semangat dalam
membangun masyrakat untuk meningkatkan keyakinan beragama dan memantapkan
pelaksanaan ajaran aganma Islam, dengan tidak mengenal lelah dan tanpa pamrih
hingga akhir hayatnya.
Haji Ahmad mejelang usianya
kurang lebih 68 tahun, sudah sering sakit-sakitan dan pada akhirnya ia Wafat
hari Rabu, 21 Rabi’ul Awwal 1257H/ Rabu,
12 Mei 1841M dan dimakamkan di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang. Makamnya
terkenal dengan nama Kubah Balimau. Sering dikunjungi para penziarah yang
datang dari berbagai daerah..
08. Buyut Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf yang Terkonvermasi dan Tercatat.
Adapun Buyut Habib Abu
Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf yang terkonvermasi antara lain :
Sayyid Abdul Qadir al-Jailani
bin Alwi
bin Jain
bin ‘Ali
bin Alwi
bin Abdillah
bin Shalih
bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.
bin Hasan w.1720M
bin Hasyim w.1687M/18Rmdhn.1097M
bin Muhammad
bin Umar ash-Shoufy
bin Abdurrahman
bin Muhammad
bin Ali w.840H
bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)
bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H))
bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H)
bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)
bin Sayyidina Ali Walidul Faqih
c. Sayyid Segaf bin Abdul Hamid bin Abu Bakar Assegaf
Diawal bulan Juni 2025 ada orang yang ngaku nasabnya sampai hingga Sayyid Abu Bakar dan ia dari kota Palangkaraya minta konvirmasi ttg nasab keluarga Sayyid Abu Bakar Lumpangi, ia ingin mendaftarkan nasabnya ke Rabithah. Kalau nasabnya seperti ini, dan jumlah nasab generasinya antara 38-39 orang ke anaknya masih memenuhi syarat tahun ini :
Sebab menurut penelitian Pakar Nasab menyebutkan bahwa “ marga tertua atau fam tertua dari puluhan marga/fam Dzuriat Nabi Muhammad Saw yang ada di Indonesia ialah al saqqaf (Assegaf). Lalu Assegaf ini tinggi, Keturunan Nabi yang ada di Indonesia ini umumnya adalah generasi ke-38 atau ke-39 tahun 2022".bahkan kalau dilihat nasab Dzuriat Datu Sayyid Lumpangi di Kalimantan Selatan sampai generasi ke-40 dan generasi ke-41 di tahun yang sama.
Adapun silsilah Nasabnya menurut Sayyid H. Abdullah bin H,Hubbul Wathan Assegaf sebagai berikut :
Sayyid H.Abdullah
bin H.Hubbul Wathan
bin H.Muhammad
bin Muhammad Arsyad
bin Jafri
bin Abdul Hamid
bin Abdurrahman Assegaf Ketapang Kec. Bakarangan Rantau
bin Segaf (Desa Sungai Pinang, Nagara)
bin Abdul Hamid (orang tua Sayyid Segaf Desa Sungai Pinang Nagara)
bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.
bin Hasan w.1720M
bin Hasyim w.1686M/18 Ramadhan 1097H
bin Muhammad
bin Umar ash-Shoufy
bin Abdurrahman
bin Muhammad
bin Ali w.840H
bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)
bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H))
bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H)
bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)
bin Sayyidina Ali Walidul Faqih.
09. Sebelum Keberadaan Syekh H. Sa'duddin masyarakat kampung
Taniran sudah dididik dan dibina Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya
Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Datu Habib Lumpangi
di Kec. Loksado Kab. HSS.
Menurut Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia telah mengutif dari berbagai sumber, bahwa "Sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS."
Kalau kita baca beberapa Artikel ttg Penyebaran Islam di Banua Anam salah satunya yakni Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia telah mengutif dari berbagai sumber, bahwa "Sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS."
Selanjutnya Artkel itu menyebutkan bahwa "Sayyid Hasan berdomisili di kampung Taniran sekitar pergantian abad ke-18 dan 19 Masihi, bersamaan dengan datangnya Sayyid Abdullah bin Abu Bakar al-Aydrus beserta isterinya ke Martapura”.
Pendapat atau perkiraan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi pada Artikel tersebut diatas adalah lemah atau belum mendekati kebenaran. Namun Perkiraan yang benar, yang mendekati kebenaran adalah sekitar pergantian abad ke-17 dan abad ke-18 Masihi, Habib Hasan bersama keluarganya lebih awal datangnya dari Sayyid Abdullah bin Abu Bakar al-Aydrus beserta isterinya ke Lok Gabang Martapura.
Adapun Penjelasannya dapat dibaca, sebagai alasan penulis di bawah ini : Menurut ceritera datu-datu kami bahwa Habaib ini sudah datang jauh sebelum Belanda datang dan bercokol di Bandarmasih yaitu masa Raja Banjar ke-10 Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Masihi. sampai dengan masa pemerintahan Tamjidillah I tahun 1734-1759 yang berpusat pemerintahannya di Martapura. Menurut catatan sejarah Belanda mulai menduduki Kota Bandarmasih (Banjarmasin) sekitar tahun 1747M yakni pada masa pemerintahan Tamjidillah II..
Keberadaan Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf sebagai Ulama dan Guru / Utstad membangun (mengislamkan) dan membina masyarakat Agamis di kampong Taniran sa'at itu. Ia dan Abu Bakar anaknya penyebar Islam lebih awal atau lebih dulu yakni pada awal abad ke-18 Masihi sekitar tahun 1702M. Kemudian dilanjutkan oleh Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad pengembangan dan penyebaran Islam di awal abad ke-19M. Syekh H. Sa'duddin berada di Taniran sekitar tahun 1812M. H Muhammad Thaib atau Syekh H.Sa’duddin lahir tahun 1779M/1193H di Kampung Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Usia 25 tahun, ia pergi ke Tanah Suci Makkah selama kurang lebih 10 tahun untuk menimba ilmu.
Diperkirakan sekitar tahun 1812M setibanya, ia dari Makkah, dua tahun setelah kedatangannya menuntut ilmu Agama di tanah Haramain (Mekkah-Madinah) kemudian datanglah tokoh masyarakat (Tetuha kampung Taniran salah satunya Abah Saleh) kepada Mufti H.Muhammad As’ad ayahnya, meminta agar mengirim seorang guru ke Taniran untuk memberikan pendidikan agama, dan bersedia menetap tinggal di Taniran. Permintaan itupun dipenuhi, seiring waktu berjalan kemudian ia bersama masyarakat Taniran merehap "Masjid Darul Lathif" yang bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian dipugar Masjid tersebut meggunakan kayu Ulin semuanya beratap sirap, yang dibeli dan dibawa dengan perahu jukung dari Kota Nagara kala itu.
Untuk menyatakan rasa syukurnya, masyarakat kampung Taniran menghibahkan sebidang tanah perkebunan kelapa kepada Haji Sa'adud-din seluas kurang lebih sepuluh borongan (28,900 m). Tanah tersebut dipergunakannya untuk komplek pengajian dan perumahan. Di awal Abad ke-20 Masihi di atas tanah Hibah itulah sekarang berdiri seuah Masjid As-Sa’adah, yang didirikan pada tahun 1923 M, beserta rumah tempat tinggal beberapa dzuriatnya. Kemudian pada tahun itu juga Masjid Darul Lathif yang terletak di Rt.02 Taniran dialih fugsikan mejadi Langgar Darul Lathif, setelah “Masjid As-Sa'adah” Kampung Taniran Rt.01 difungsikan.
10. Keberadaan Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Taniran di Abad ke-19 Masihi mulai tahun 1812 Masihi.
Keberadaan Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf sebagai Ulama dan Guru / Utstad membangun (mengislamkan) dan membina masyarakat Agamis di kampung Taniran sa'at itu. Ia dan Abu Bakar anaknya penyebar Islam lebih awal atau lebih dulu yakni pada awal abad ke-18 Masihi sekitar tahun 1702M. Kemudian dilanjutkan oleh Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad pengembangan dan penyebaran Islam di awal abad ke-19M.
Menurut Artikel Biografi Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari bahwa Kepulangan pertamanya menuntut ilmu Agama dari Mekkah al Mukarramah, Syekh beserta rombongan tiba di kampung halaman, sekitar pada Bulan Ramadhan 1165 H bertepatan Juli 1752 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu, usia Muhammad As’ad kala itu sekitar satu bulan.
Kemudian setelah ia dewasa Mufti H.Muhammad As'ad bin Sayyid Utsman menikah dengan Hamidah binti Abdullah orang Desa Balimau punya 12 putra-putri tetapi 5 orang putera menjadi ulama besar, yaitu :
1. Haji Abu Thalhah, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1771 M 1185 H dan Wafat dan dimakamkan di Tenggarong, Kutai, Kalimantan Timur
2. Haji Abu Hamid, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1773 M1187 H dan Wafat tgl. 10 Rabi’ul Awwal 1270 H, Ahad, 11 Desember 1853 dan dimakamkan di ujung Pandaran, Sampit, Kalteng
3. Haji Ahmad Balimau, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1775 M/1189 H dan Wafat Rabu, 21 Rabi’ul Awwal 1257H/12 Mei 1841M dan dimakamkan di Balimau,
4. Mufti Haji Muhammad Arsyad lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1777 M/1191 H Wafat Sabtu, 23 Rabiul Awwal 1275 H dii masa pemerintahan Sultan Abdur Rahman bin Sultan Adam, usia sekitar 84 tahun dan dimakamkan di Pagatan, Kalsel.
5. Haji Sa'adud-din, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1779 M/1193 H dan wafat Senin, 05 Shafar 1278 H atau bertepatan tgl. 12 Agustus 1861 Masihi yang dimakamkan (Desa Taniran Kubah Kab.HSS).
Syekh H. Sa'duddin berada di Taniran sekitar tahun 1812M. H Muhammad Thaib atau Syekh H.Sa’duddin lahir tahun 1779M/1193H di Kampung Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Usia 25 tahun, ia pergi ke Tanah Suci Makkah selama kurang lebih 10 tahun untuk menimba ilmu.
Diperkirakan sekitar tahun 1812M setibanya, ia dari Makkah, dua tahun setelah kedatangannya menuntut ilmu Agama di tanah Haramain (Mekkah-Madinah) kemudian datanglah tokoh masyarakat (Tetuha kampung Taniran salah satunya Abah Saleh) kepada Mufti H.Muhammad As’ad ayahnya, meminta agar mengirim seorang guru ke Taniran untuk memberikan pendidikan agama, dan bersedia menetap tinggal di Taniran. Permintaan itupun dipenuhi, seiring waktu berjalan kemudian ia bersama masyarakat Taniran merehap "Masjid Darul Lathif" yang bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian dipugar Masjid tersebut meggunakan kayu Ulin semuanya beratap sirap, yang dibeli dan dibawa dengan perahu jukung dari Kota Nagara kala itu.
Untuk menyatakan rasa syukurnya, masyarakat kampung Taniran menghibahkan sebidang tanah perkebunan kelapa kepada Haji Sa'adud-din seluas kurang lebih sepuluh borongan (28,900 m). Tanah tersebut dipergunakannya untuk komplek pengajian dan perumahan.
Haji Sa'adud-din (Muhammad Thaib), lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1193H/1779 M dan Syaikh Muhammad Thaib, Beliau tutup usia atau wafat Senin, 05 Shafar 1278 H atau bersamaan tanggal 12 Agustus 1861 Masihi yang dimakamkan (Desa Taniran Kubah Kec. Angkinang Kab.Hulu Sungai Selatan).
Di awal Abad ke-20 Masihi di atas tanah Hibah itulah sekarang berdiri seuah Masjid As-Sa’adah, yang didirikan pada tahun 1923 M, beserta rumah tempat tinggal beberapa dzuriatnya. Kemudian pada tahun itu juga Masjid Darul Lathif yang terletak di Rt.02 Taniran dialih fugsikan mejadi Langgar Darul Lathif, setelah “Masjid As-Sa'adah” Kampung Taniran Rt.01 difungsikan.
11. Habib Abu Bakar ats-Tsani , Beliau Tutup Usia wafat dengan usianya yang panjang lanjut.
Habib Abu Bakar as-Tsani
lahir hari Jum'at, 13 Dzulhijjah 1192H/ atau 01 Januari 1779 Masihi di
Lumpangi, Beliau hidup dengan usianya 1 abad bahkan lebih, tetapi sumber lain
ada yang menyebutkan bahwa “Habib Abu Bakar as-Tsani wafat Jum'at, 14 Januari
1875M atau bertepatan 17 Dzulhijjah 1292H”.
Sumber lain juga ada yang
menyebutkan bahwa Beliau diberi Allah Swt umur panjang dan ia sudah punya buyut an. Habib Tanqir Ghawa
bahkan ada menyebutkan Beliau sudah punya pipit (intah) saat hidupnya, Beliau
menutup mata meninggalkan anak cucunya Kamis 27 Maret tahun 1902M/1319H dengan
usia Beliau 96-123 tahun Masihi ketika wafat. Beliau dimakamkan kampung Balai
Ulin Lumpangi Loksado.Haulan Habib tersebut dilaksaaanakan oleh Ahlul Bait
setiap tanggal 17 Dulhijjah.
Sayyid Abu Bakar ats-Tsani Assegaf
telah mewakafkan dirinya, dan sudah mengabdikan seluruh hidupnya, untuk kemajuan dakwah Islam sejak
kehadirannya di kampung Balai Ulin Desa Lumpangi ini, selama bertahun-tahun
dalam mengenalkan Islam dengan baik kepada saudara-saudaranya Suku Dayak
Maratus dan meng-Islam-kan mereka, mengajar, membagun dan membina masyarakat
kampung Lumpangi menjadi masyarakat Islam yang berakhlak mulia dan menjadi
masyarakat Agamis di kampung ini.
Daftar Isi Bab VII
VII. Tragedy runtuhnya Balai Adat Hulu Banyu Loksado yang ada di Pantai Dusin dari pecehan Balai Adat Balai Ulin Lumpangi abad ke-19 Masihi sekitar tahun 1831 Masihi.
01. Bulan Desember - Puncak
Musim Hujan di Indonesia
02. Tragedy runtuhnya Balai Adat
Hulu Banyu pecehan Balai Ulin.
03. Letak Geografis Balai
Adat Bumbuyanin.
04. Kisah Keadaan Balai Adat
sebelum terjadinya Banjir besar.
05. Warna air ba'ah itu putih
seperti susu kehitam-hitaman.
06. Tanah Bekas lokasi
bangunan Balai Ulin Lumpangi menjadi badan sungai.
07. Merihab atau Memugar
Masjid Baitur Rahim (Jannatul Anwar) Desa Lumpangi.
08. Historis Keadaan
Pusara/Makam Habaib Lumpangi dan perkiraan Usia Makam pengamatan tahun
1970-1980M.
09. Bukti kepemilikan lahan
tanah makam dan sekitarnya waktu itu tidak dimiliki masyarakat umum.
VII. Tragedy runtuhnya Balai Adat Hulu Banyu Loksado yang ada di Pantai Dusin dari pecehan Balai Adat Balai Ulin Lumpangi abad ke-19 Masihi sekitar tahun 1831 Masihi.
01. Bulan Desember = Puncak Musim Hujan di Indonesia
Bulan Desember sering membawa kejutan cuaca—mulai dari hujan yang turun hampir tanpa henti, angin kencang, banjir, hingga potensi longsor di berbagai wilayah Indonesia. Meskipun fenomena ini tampak seolah datang tiba-tiba, ternyata ada penjelasan ilmiah yang sangat kuat di baliknya.
Secara klimatologis, Indonesia memasuki periode monsun Asia pada akhir tahun. Angin dari arah Asia yang kaya uap air bertiup menuju Australia yang lebih kering. Akibatnya, suplai uap air ke Indonesia meningkat sangat tinggi, awan-awan konvektif tumbuh lebih cepat, hujan turun lebih lebat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Ini sebabnya Desember menjadi bulan paling basah dalam setahun.
Siang hari di wilayah tropis menyebabkan permukaan bumi cepat memanas. Pada Desember, jumlah uap air yang tersedia jauh lebih banyak, sehingga udara hangat naik sangat cepat, kemudian bertemu udara dingin di atas, dan terbentuk cumulonimbus—awan badai yang menghasilkan hujan deras, petir, guntur, dan angin kencang. Inilah penyebab hujan tiba-tiba, angin puting beliung, dan petir yang intens.
02.
Tragedy runtuhnya Balai Adat Hulu Banyu pecehan Balai Ulin.
Selanjutnya di ceriterakan orang bahwa pada zaman dahulu, setelah pecah dan bubarnya Balai Adat di Balai Ulin Lumpangi, kemudian berdiri Balai Adat yang kedua di kampung Pantai Dusin Hulu Banyu, balai Adat tersebut dibangun di tepi sungai, berdekatan dengan kampung Datar Laga dan kampung Datar Mangkung. Tetuha Adat pertama bernama Bumbuyanin, dia adalah anak sulung Tetuha Adat Ulang. Pada masa cucunya, Balai Adat ini mengalami tragedy mencekam. Ketika itu Balai beserta penghuninya hanyut (larut) di bawa air bah (ba'ah) besar, mungkin 6-7 kepala keluarga penghuninya tidak dapat menyelamat diri.
Sebagian orang ada yang
berkata bahwa Tragedy
Balai Adat Hulu Banyu pecehan Balai Ulin Lumpangi Loksado terjadinya 7 Rajab
1247H/ atau bertepatan dengan hari Senin, tgl. 12 Desember 1831 Masihi. Dengan adanya sebab akibat dan bergesirnya
waktu tempu dulu maka penghuni Balai
Adat Bumbuyanin pecah terbagi dua kelompok. ada penghuninya yang bertahan dan
memindah Balai Adat tidak jauh lokasi Pantai Dusin
yakni (Balai Adat Tanginau) dan kelompok kedua memindah jauh dari lokasi awal,
sekarang Balai Adat tersebut beralamat di desa Kemawakan Kec. Loksado.
03. Letak Geografis Balai
Adat Bumbuyanin
Menurut ceritera Habib
Basrani Noor bin H.Muhammad Barsih Assegaf (Usia 57 tahun) yang saya wawancarai
bahwa Balai Adat Pertama sesudah Balai
Ulin Lumpangi di Hulu Banyu Loksado adalah Balai Adat Bumbuyanin yang terletak
di Pantai Dusin. Pantai ini terletak dihulu kampung Uling setelah kampung Majulung, ia berseberangan dan
dekat kampung Tar Laga dan kampung Tar Mangkung. Di kampung Pantai Dusin inilah Bumbuyanin sebagai Tetuha Adat
membangun Balai Adat yang terletak ditepi udik tiga muara sungai Amandit.
Menurut Ahmad atau Amat
yang saya wawancarai, ia asal dayak Bayumbung yang sudah muslim bahwa
"Letak Balai Adat Pantai Dusin itu, kalau kita berada dari kampung Lambuk
menuju hulu sungai ke Tar Mangkung terus ke kampung ar Laga terus ke
kampung Uling terus kehulu lagi hingga Pantai Dusin, dan dihulu Pantai Dusin
itu sekarang Balai Adat Tanginau".
04. Kisah Keadaan Balai Adat sebelum terjadinya
Banjir besar.
Konon di ceriterakan bahwa ada seorang istri Tetuha Balai muda Pantai Dusin dan menentunya sedang hamil muda (ngidam) secara bersamaan.keduanya sering pusing-pusing dan tidak mau makan bahkan berhari-hari, membuat suaminya pusing kepala. Kedua istri yang ngidam ini pingin sekali memakan iwak hidup yang (dipalan) dimasak dalam seruas batang buluh.
Akhirnya untuk memenuhi hasrat isteri dan menentunya yang
hamil muda, maka suami an.Dusin (Pang Dusin) dan anak lelakinya an.Uling (Pang Uling).
Dipagi hari yang cerah mereka pergi ke sungai dengan membawa sebuah jala (lunta)
mencari iwak hidup. Kepergian keduanya diikuti oleh seekor anjing setianya
bernama si “Balang”
Konon bahwa Penghuni Balai Adat ini memakan anak orang (dalam bentuk seekor iwak sili-sili sebesar buah Bunglay berkepala seperti anak Naga atau ikan berkepala yang aneh). Yang mereka peroleh dengan menjala (melonta) di sungai. Di ceriterakan bahwa Penjala ikan “Tidak seperti biasanya, setelah berkali-kali ia melepas jaring jalanya ke sungai dan menariknya pelan-pelan, tetapi ia tidak merasakan dan menemukan adanya ikan yang tersangkut dijaring jalanya, kecuali seekor ikan tilan/ sili-sili sebesar buah bunglay yang berbentuk aneh (berkepala seperti anak Naga). Ikan itu dilepas kembali ke sungai, mereka semakin jauh berjalan menuju hulu sungai. Sehingga menghabiskan waktu berjam-jam, menjala ikan, tapi tak seekorpun ikan yang dicari didapat.hingga perut mereka merasakan lapar.
Bahasa orang Banjar “Ujar anaknya, parut ulun sudah lapar, amun kaya ini bahay, kita kada kulihan iwak.saikung-ikung baik kita bulikan haja kerumah, bahay. Ujar nang abah, hadangi dahulu nakay, aku masih panasaran, sakali laginah aku menimbai lonta. Lalu Lonta itu ditimbai ketengah sungai dan ditarik pelan-pelan, ternyata ikan Aneh itu lagi yang terjaring. Ujar nang abah jangan dibawa! nakkai iwak itu” tetapi ujar nang anak, "Napa kita lauk makan, bini ulun kada mau makan saharian".
Kita bawa haja ke rumah, Ulun berkeyakinan bahay bahwa
jenis iwak nang kaya ini banyak terdapat di sungai ini sebab lain-lain warnanya
iwak nang kena di jaring kita walaupun iwak itu sama ganalnya, yang pertama
iwak nang kena jaring kita warna kehitam-hitaman, kemudian iwak itu kita lapas,
yang kedua iwak nang kena jaring kita warnanya hitam campur putih, yang ketiga yang kena jaring kita warnanya
hitam campur ungu, dan warna lainnya. Sedangkan terakir nang kena jaring kita warnanya
keemasan, ulun lihat lebih dari 5 warna nang kena jaring kita seperti lagenda warna
naga dalam warna pelangi, jadi rasanya kada mungkin bahay iwak jalmaan.
Kemudian .iwak hidup itu dibawa pulang oleh ayahnya, sedangkan Uling singgah dipahumaan dan sesampainya ke Balai, Dusin disambut istrinya riang gembira. Iwak hidup disiangi, dipotong-potong dan (dipalan) dimasak dalam seruas batang buluh muda, tak lama setelah itu tercium dengan bau aromanya yang lezat dan siap dimakan bersama-sama hingga habis, dan lupa menyisakan untuk Uling anaknya
Sejurus kemudian datanglah seorang laki-laki tua bungkuk
berpakaian serba putih dan bertongkat, dari arah hilir sungai, ia berjalan tergopuh-gopuh dengan
tongkatnya sedang mencari anaknya yang hilang, dan ia bertanya-tanya kepada
orang-orang yang ditemuinya tetapi jawaban orang selalu tidak kenal dan tidak
pernah melihatnya. Kemudian ia masuk ke teras balai dan bertanya kepada Penghuni Balai Adat Bumbuyanin kala itu yang
berlokasi di pantai dusin. Kakek tua itu menjelaskan kepada mereka bahwa “ia orang tarlaga (tar-laga = tar artinya rumah/liang/lobng, laga artinya naga) dan ciri-ciri anaknya an.Mangkung "Berkepala Naga dan berbadan ikan
sili-sili sebesar buah Bunglay, akibat dari kena kutukannya.
Ia pernah berkata
kepada anaknya" Hai Mangkung anakku, kamu akan selamanya jadi
iwak sili-sili berkepala naga terkecuali jika kau besar nanti ditemukan orang
dan kau dimakan oleh dua perempuan sedang hamil muda (ngidam) baru kau dapat beringkarnasi
/menetis/menjelma hidup normal kembali lewat kedua Rahim perempuan hingga kamu
dilahirkan dari perempuan tersebut. Baru kutukan terhadapmu akan berakhir.
Karena merasa malu dan bersalah dengan orang tua itu mereka
menyembunyiannya terhadap apa mereka perbuat, Kata Penghuni Balai “kami tiada
melihat anak sampian”, kata orang tua itu "Kau bohong, Kalian semua berdusta
"
Disini terjadi perdabatan sengit, yang akhirnya kata orang tua itu "Iwak yang kalian makan itu adalah anakku, tetapi adakah lagi sisanya atau tulang-tulangnya ? "Aku mohon aku pinta kembalikan kepadaku" kata orang tua itu. Kata Penghuni Balai “habis tiada tertinggal sedikitpun”, padahal tulang-tulangnya masih ada. kata orang tua itu, ‘Sebagai gantinya anakmu dan cucumu” yang masih dalam kandungan itu akan aku bawa, nanti keduanya akan aku jadikan Pengiran dan Ratu dikerajaanku " tetapi Kalian masih berbohong" tetapi jika benar bahwa kalian tidak berbohong, maka Tongkatku ini tidak akan bisa mengeluarkan air.
Pak Tua itupun turun dari Balai menuju halaman, ia memajamkan
matanya lalu bibirnya kumat-kamit membaca mantera dan mengangkat tongkatnya
tinggi-tinggi disambut sembaran kilat dan patir menggalagar, lalu orang tua itu
menghunjamkan tongkatnya ke tanah, maka keluarlah mata air yang melimpah disertai
angin dan hujan dengan derasnya selama 3 hari dan tiga malam tidak
henti-hentinya dan orang tua itu merubah bentuk menjadi seekor Naga sebesar
pohon Ena, dan panjang sepanjang pohon kelapa tua, lalu ia merobohkan bangunan Balai
dengan mengikat tiang-tiangnya dengan ekornnya dan menghilang ditelan air. Kemudian
terjadilah air ba’ah yang besar, sunami yang besar secara tiba-tiba,
hingga Balai Adat kampung Pantai Dusin dan
Penghuninya hanyut ditelan air ba'ah
yang dahsyat.
Selamat dan beruntunglah Uling dari musibah air ba’ah yang besar, tapi ia bersedih kehilangan anak dan isteri dan juga keluarganya. Ketika itu tanaman padi sudah setinggi dada (banih sudah rangkumkupak) ia pulang dari melonta bersama Dusin ayahnya, hari menjelang senja Uling dan seekor anjing setianya si “Balang”singgah menjenguk pahumaannya, dan ketika sesampainya disana, ia menghidupkan parapian (balaman api) sambil membakar ubikayu untuk mengganjal perutnya hingga ia tertidur pulas hingga pagi dipondok humanya. Di hari itu turun hujan sangatlah deras selama 3 hari dan tiga malam tidak henti-hentinya dan disertai angin kencang, ia lihat air sungai pun yang melimpah dan membuatnya tidak bisa pulang ke Balai beberapa hari
Selanjutnya menurut Baliau
bahwa diperkirakan keberadaan Balai Adat kampung Pantai Dusin yang di bangun
oleh Bumbuyanin dan diturunkan kepada anak tertuanya Datu Ayuh atau nama
lainnya sang Dayuhan, tidak sampai dari satu abad, Balai Adat dan penghuninya
ini kena musibah, semuanya telah hanyut diterjang banjir besar, kecuali
orang-orang yang selamat adalah orang-orang yang masih tinggal ( badim
dipahumaan).
05. Warna air ba'ah itu putih seperti susu kehitam-hitaman.
Sebagian ada yang berkata
menurut Datu-Nenek kami bahari bahwa "Warna air ba'ah itu putih seperti
susu kehitam-hitaman dan sangat kalat
rasanya, seperti bercampur belirang atau bau batu bara sehingga mata
iwak-iwak atau ikan -ikan kabur, maka banyak ikan-ikan yang naik ke tepi sungai
untuk menyelamatkan diri dan akhirnya mati terkapar, akibat matanya tidak dapat
melihat lagi dalam air karena pengaruh kalatnya air ba'ah itu. Hal ini sangat
menggembirakan dan menguntungkan masyarakat Lumpangi mereka panen ikan sa'at
itu".
06. Tanah Bekas lokasi bangunan
Balai Ulin Lumpangi menjadi badan sungai
Adanya peristiwa air ba’ah
yang besar menghayutkan Balai Adat dan Penghuninya tersebut, air bah itu telah melewati desa Lumpangi, kemudian arus air
sungai membelah dua, yakni : Tanah bekas lokasi bangunan Balai Ulin dulu
berubah menjadi badan sungai baru pada bagian kiri dan lebih deras airnya dari
badan sungai lama pada bagian kanan, hingga timbul murung (pulau)
ditengah-tengah belahan sungai tersebut. Sekarang ini, kalau kita menyebaragi
kali Amandit lewat jembatan gantung menuju Kubah Datu Lumpangi, dan kalau kita
berdiri di tengah-tengah jembatan itu memandang kehilir sungai. Maka kita akan
melihat sungai itu membalah dua dan dihilir murung (pulau), air sungai itu menyatu kembali
Sebagian ada yang berkata
menurut Datu-Nenek kami bahari bahwa "Warna air ba'ah itu putih seperti
susu kehitam-hitaman dan sangat kalat
rasanya, seperti bercampur belirang atau bau batu bara sehingga mata
iwak-iwak atau ikan -ikan kabur, maka banyak ikan-ikan yang naik ke tepi sungai
untuk menyelamatkan diri dan akhirnya mati terkapar, akibat matanya tidak dapat
melihat lagi dalam air karena pengaruh kalatnya air ba'ah itu. Hal ini sangat
menggembirakan dan menguntungkan masyarakat Lumpangi mereka panen ikan sa'at
itu".
Akibat terjadinya Erosi. Fostur
tanah tempat berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" dan
sekelilingnya menjadi rendah atau talabuh atau tanahnya terkikis sebagai akibat
air ba’ah itu.
Sebagian erosi dilakukan oleh air, angin,
dalam bentuk gletser adalah sebuah bongkahan atau endapan tanah yang besar dan
tebal yang terbentuk di atas permukaan tanah. Selain itu, erosi juga
dipengaruhi oleh letak astronomis.
Maka menjadi keuntungan bagi masyarakat Desa lumpangi. Sebab disaat itu desa Lumpangi ini sudah lama berdiri sebuah Mesjid tua bernama Jannatul Anwar. Dulu masjid ini dibangun ditepi sungai Amandit, kemudian akibat air ba’ah yang besar (ba’ah/banjir), maka sungai kali Amandit pindah mendekati bukit batu Langara, dan arus sungai dekat pasar dan sebagai akibat erosi tanah, arus sungai di bawah-halaman Masjid menjadi pantai. Yaitu sebuah bongkahan atau endapan tanah yang besar dan tebal yang terbentuk di atas permukaan tanah. Sehingga arus sungai sekarang ini jauh dari Masjid. Sedangkan bukti sungai itu pindah sendiri bahwa bukti masih ada. Dan terlihat jurang tanah bekas dinding sungai dibelakang/samping WC Masjid tersebut. Ini adalah salah satu karamah masjid yang dibangun mula-mula oleh Datu Habib Lumpangi dan anak cucunya ,bersama masyarakat di sekitarnya
07. Merihab Masjid Baitur Rahim (Jannatul Anwar) Desa Lumpangi
Di desa Lumpangi ini dulu berdiri sebuah Mesjid Tua bernama Jannatul Anwar. Dulu masjid ini dibangun oleh Datu Lumpangi dan anak cucunya ,bersama masyarakat di sekitarnya. Ada kemungkinan bahwa masjid perdana ini dibangun sangatlah sedarhana, dengan tiang-tiangnya ulin, turus tawingnya kayu sungkai, pertama atap rangkup, terus diganti dengan atap daun Rumbia, berdindingkan (tawing) palupuh paring, berlantai tanah. Sebagai buktinya atap dan dinding (tawing) masjid terbuat dari Bambu bahwa masih banyak ditemukan rumpun-rumpun Bambu disekitar Masjid. Dalam ruangan masjid memuat tidak kurang dari 4 shap, bahkan samapai 5 shap. setiap 1 shap bisa diisi antara 10 dan 11 orang. Mazhab Imam Syafi’i bahwa shalat Jum’at baru dapat dilaksanakan kalau jama’ah laki-lakinya tidak boleh kurang dari 40 orang mukallaf. .
Sekitar tahun 1970-1975 an masjid ini sudah
mengalami perumbakan atau rehab, pembuatan kolam semen dikiri masjid (sekarang
menjadi halaman masjid), lantai dan teras masjid yang asalnya lantai dan
terasnya ulin diganti dengan semen tetapi tanpa keramik. Masyarakat waktu itu
suka rela bergotong royong mengambil pasir dan batu ditepi sungai.Perumbakan
atau rehab ini, tidak merubah struktur kontruksi bangunan dan bentuk masjid sehingga nilai-nilai
sejarahnya masjid ini masih ada dan tetap terjaga. Siapa saja masyarakat yang
ikut shalat jum’at dimasjid Jannatul Anwar Lumpangi ? Tentu saja masyarakat
yang mengikuti shalat jum’at dimasjid Jannatul Anwar itu dari lingkungan Masjid
itu sendiri, dan masyarakat yang ada di kampung Muara Lumpangi, masyarakat yang
ada di kampung Batu Tanggah, masyarakat
yang ada di kampung datar Tandui, masyarakat yang ada di kampung muara Ahan,
masyarakat yang ada di kampung Muara Kitar, masyarakat yang ada kampung Lok
Bungur dan masyarakat yang ada di kampung Mintatayi. Sesudah tahun yang
disebutkan penulis diatas, penulis tidak
mengetahui lagi tentang lanjutan rehab Masjid ini.
Sebelum terjadinya banjir besar Masjid Jannatul Anwar
Desa Lumpangi sudah beberapa kali diperbaiki oleh Masyarakat sekitarnya. Tetapi
beberapa tahun setelah terjadinya air ba'ah besar itu maka Masjid Jannatul
Anwar Desa Lumpangi dipugar kembali atau di Rehap total dan dibangun kembali oleh
Habib Abu Thair dan Masyarakat sekitarnya dengan Arsitik yang bagus.
Menurut ceritera penuturan Habib
Bahriansyah Assegaf.yang saya temui dirumahnya bahwa “Aksisoris petaka kubah
atau manara kubah Masjid Jannatul Anwar
Lumpangi dari terbuat almanium hitam berbentuk buah-buah teruntai dan lantainya
dari tihal yang didatangkan atau dibeli oleh Habib Tanqir Ghawa dari Surabaya.”
Adapun tiang-tiang Masjid, atap dan dinding menggunakan
kayu ulin yang sudah modern, ada seni pahatan dan ukirannya khususnya pada
lis-lis dinding atap juga atap kubah sirap yang diberi petaka dan aksesoris
diatas kubahnya dan lis-lis kubah, jendela kaca dan aksesoris didalamnya (bawah
kubah) berupa lampu-lampu lilin digantung dengan rantai besi. Proses renovasi
itu dengan mendatangkan Tukang-tukang seni pahat dari kota Kandangan dan masjid
tersebut selesai direnovasi bangunannya diawal abad ke-20 Masihi sekitar tahun
1902 Masihi.
Menurut sumber data bahwa ada beberapa tokoh orang
Lumpangi yang berperan aktif ikut andil membangun merihab total Masjid Jannatul
Anwar Lumpangi kala itu antara lain : Habib Abu Thair sebagai ketua rehap
pembangunan masjid, H.Ahmad sebagai sekretaris, dan H.Mastur sebagai bendahara,
Habib Tanqir Ghawa, anggota, H. Bustani (menjabat Penghulu dan pengembangan
dakwah) merangkap anggota, Kayi Sarman anggota
dan tokoh masyarakat lainnya sebagai anggota
Menurut sumber
data yang kami dapatkan bahwa ".Sebagai akibat banjir besar
tersebut sisa satu batang tiang bekas Balai Adat itu untuk simbol bahwa di Lumpangi pernah
berdiri sebuah Balai Adat Dayak, tiang itu condong dan bergesir hingga rebah ke dasar sungai, dari belahan
sungai yang baru terbentuk akibat kuatnya terjangan banjir "..
Berkata Habib H.Hasan Basri Assegaf “Andaikata Muhammad
Langara (mantan Tetuha Adat Dayak) ia lupa berniat/ ia tidak berkeinginan menjadikan tiang Masjid Lumpangi dari sisa satu batang
tiang bekas Balai Adat tersebut sebagai
simbol, maka dapat dipastikan bahwa “satu batang tiang itu pastilah hanyut
ditelan air ba’ah yang ganas itu.”
Kemudian dimasa Habib Abu Bakar as-Tsani masih hidup,
dan cucunya Abu Thair dan Tanqir Ghawa buyutnya bahwa "1 batang tiang
Balai Adat yang terandam didasar sungai itu diangkat dan dijadikan tiang utama
atau tiang suku Guru masjid dan diletakkan ditengah-tengah sebagai Simbol atau
penyangga atau pananggak kubah saat renovasi pembangunan masjid"Jannatul
Anwar" Desa Lumpangi.
08 Historis Keadaan Pusara/Makam Habaib Lumpangi dan perkiraan Usia Makam pengamatan tahun 1970-1980M'
Langara” adalah nama seorang Kepala Suku Dayak atau Tetuha Adat
Dayak pertama yang mendiami ditengah-tengah antara ditepi aliran sungai kali
Amandit dan kaki Bukit Batu desa Lumpangi. Dengan nama Rumah Adatnya “BALAI ULIN”. Kemudian masyarakat setempat mengabadikan
nama Kepala Suku atau Tetuha Adat Dayak Lumpangi tersebut pada bukit batu, maka
disebutlah oleh masyarakat sesudahnya dengan nama “BUKIT BATU LANGARA”
Berdasarkan hasil pengamatan kami tahun 1970-1980 keadaan makam sudah sangat tua, dan keadaan tanaman atau pohon kayu, rumput yang hidup di sekitarnya. Buktinya banyak ditemukan pepohonan langsat, Ramania, Manggis, kapul, Tarap yang hidup disekitar itu banyak dan lebih besar dari ember plastic isi 16 liter bahkan ada yang lebih besar lagi. Dan juga rumpun-rumpun paring tali dan pohon-pohon Kelapa, Durian tetapi kami tidak menemukan sama sekali pohon kayu Ulin atau anak kayu Ulin dan juga kami belum menemukan punggur-punggur/tungul-tunggul Ulin diareal makam dan sekitarnya. Langara dalam bahasa Dayak berarti “benteng kuat atau tinggi, juga berarti Tegar dan kukoh. masyarakat setempat menamakan Langara dengan nama “Bukit Batu atau Gunung Batu”.
Makam Habib M. Djamiluddin & Datung Siti Sarah isterinya
09. Bukti kepemilikan lahan tanah makam dan sekitarnya waktu itu tidak dimiliki masyarakat umum.
Berdasarkan hasil pengamatan atau observasi kami 50 tahun yang
lalu Balai Ulin berada dikaki bukit batu Langara bahwa makam
dan sekitarnya sudah lama ditinggalkan orang, sudah lama tidak dihuni penduduk
(tidak ditemukan rumah penduduk disekitar areal makam) antara lain ada beberapa
bukti yang kami dapatkan :
1. Buktinya kala itu banyak
ditemukan pepohonan langsat, Ramania, Manggis yang hidup disekitar itu banyak
dan lebih besar dari ember plastic isi 16 liter bahkan ada yang lebih besar
lagi. Dan juga rumpun-rumpun paring tali
dan pohon-pohon Kelapa, Durian tetapi kami tidak menemukan sama sekali pohon
kayu Ulin atau anak kayu Ulin dan juga kami belum menemukan
punggur-punggur/tungul-tunggul Ulin diareal makam dan sekitarnya.
2. Bukti kedua kepemilikan lahan
tanah makam dan
sekitarnya waktu itu tidak dimiliki masyarakat umum, tetapi
dimiliki oleh Djurriat Sayyid Abu Bakar ats-Tsani dan keluarganya.
3.Bukti ketiga bahwa kepemilikan lahan tanah
makam dan sekitarnya hanya dikuasai oleh cucu-cicit-canggah dan wareng keturunan Habib Abu Bakar Assegaf atas nama Habib Abu
Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad (Habib Ahmad Suhuf) bin
Muhammad Djamaluddin (Habib Lumpangi) bin Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
4. 4. Orang-orang dari Hulu
Banyu balarut banyu (balabuh)
dengan rakit bambunya singgah/istirahat di warung Kampung Balai Ulin, tetapi
kalau pulang dari kota Kandangan, mereka tidak melewati lagi kampung Balai
Ulin, sejak ditemukannya jalan baru lewat diantara dua batu sempit di ujung
kampung Muarakitar, mereka berjalan terus menuju tepi sungai ke Hulu Sungai
Ahan hingga sampai ke Desa Datar Balimbing.
Dafar bacaan :
- Artikel “Historis & Nasab Dzuriat Datu Habib Lumpangi Kec. Loksado” Oleh H.Hasan Basri bin H.M.Barsih Assegaf https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/39942448802547207
- Artikell “Islamnya Orang-orang Hulu Banyu Kec. Loksado di akhir abad ke-18 Masihi” oleh H.asaan Bari, S.Ag bin Muhammad Barsih Assegaf https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/7986183751908153577
- Arikel “Adam dari Banjar” https://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3065-2962/Sultan-Adam_40214_p2k-unkris.html
- Artikel Sejarah Ahlul Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesia oleh ”(Fakhrul 04-2012M)
- https://naib-h-hasan-al-baseri.blogspot.com/2022/05/historis-tragedy-balai-adat-hulu-banyu.html
DENAH LOKASI PASAR & MAKAM HABAIB DESA LUMPANGI
TAHUN 1970 - 1980 MASIHI
Di Lingkungan Masjid Baiturrahim (Jannatul Anwar)
Desa Lumpangi tahun 1970 sd. 1980 Masihi itu dihuni oleh 17 buah rumah penduduk asli antara lain :
1. Rumah Neng Manang, 2.Rumah
Ijai, 3.Rumah Pa. Huhus, 4.Rumah Mahran, 5. Rumah Galuh Qamar, 6.Rumah Maseri,
7.Rumah Habib Bahur, 8.Rumah Minin, 9. Rumah Dulah, 10.Rumah Habib M.Barsih,
11.Rumah Angah, 12.Rumah Jamal, 13.Rumah Pangulu Irus, 14. Rumah Unan, 15.Rumah
Utuh Kokoh, di pantai 16.Rumah Uus dan 17. Rumah Uya
Sekarang ini kurang lebih ada
45 prosen penduduk Desa Lumpangi adalah dzuriat Habib Abu Bakar bin Hasan
Assegaf. Adapun yang menjadi tokoh dilingkungan Mesjid Jannatul Anwar Desa
Lumpangi Kecamatan Padang Batung pada tahun1970-1980 Masihi saat itu adalah
Habib Bahur dan Bahar bin Tanqir Gawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf.
Kami temukan juga bahwa ”Batur-batur pada pusara - makam Habaib di Balai Ulin kala itu, tak kurang dari empat buah, panjang dan lebarnya lebih kurang 6x4 meter perbuahnya dan tiada punya atap. Batur Ulin dengan tebel antara 3 - 4 cm dan salah satunya ada pohon kembang kenanga sebesar drum kurang-lebih. ketika kami masa kanak-kanak sering kesana, mengambil kembang yang jatuh dari pohon itu, dan juga mancari humbut risi diareal makam dan sekitarnya untuk dijadikan sayuran. Posisi letak rumah kami (penduduk asli) tidak jauh dari areal makam, hanya dihalat sungai kali Amandit. Waktu itu Tahun 1970 -1978 Nisan-nisan pusara sudah raif dan sebagian berupa batu sungai, belum ada catatan atau tulisan yang kami temukan dan dapatkan kala itu.
Pada tahun 1975 bahwa pusara atau makam para Habib belum
terawat dengan baik. Pernah diadakan
gotong royong tahun itu untuk membersihkan makam para Habaib tersebut. Sa’at
itu diareal pusara/ makam dan sekitarnya
banyak tumbuh rumpun Paring Tali (Bambu).Batang Paring Tali itu ada banyak
yang sebesar botol
Aqua Tanggung dan batur-batur ulinnya pun sudah dimakan usia, kering
dimakan rayaf, hanya yang tinggal /berdiri tiang-tiang batur. Itupun sudah
condong dan pecah-pecah dan dinding-dindingnya jatuh ke tanah dan ada yang
tiada terlihat/ hilang.. Inilah yang menunjukkan bahwa usia makam Habaib itu
sangat tua.diperkirakan berumur 200 tahun lebih. Sebagaimana kami ketahui bahwa
1 buah batur dengan ukuran panjang dan lebar
kurang lebih 6x4 meter persegi panjang. Pusara itu dihuni/diisi oleh
satu keluarga (beberapa orang) bukan dihuni oleh satu orang pada 1 buah Batur
tetapi diisi oleh beberapa orang. Kalau dibandingkan Batur-batur yang ada di
Balai Ulin dengan Batur batur yang ada
pada pusara anak-anak Datu
Bakumpai, di kota Marabahan keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Batur
batur pusara anak Datu Bakumpai sudah ada seni ukiran (pengamatan tahun 2016 & 2020M). Usia batur-batur makam Datu Lumpangi di Balai
Ulin dengan usia batur-batur makam anak-anak Datu Bakumpai.
Photo
Ziarah Kubah Habib Abu Bakar Ats-Tsani Assegaf
Balai
Adat Balai Ulin Lmpangi Tahun 2014M.
Maka usia batur Ulin pusara Habaib Lumpangi lebih tua, belum ada seni ukiran-ukiran pahat-pahatan tetapi sangat
disayangkan Batur-batur itu sebagai bukti peninggalan sejarah semuanya raif
ditelan masa, nilai-nilai sejarahnya hilang sehingga generasi-generasi
selanjutnya sulit mengadakan penelitian ilmiah untuk menentukan keberadaan masa
hidup penghuni pusara Habaib dimaksud.Jadi semua keterangan yang saya kemukan
diatas, kalau Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dimaksud ditulis diawal abad
ke-20 Masihi maka catatan atau tulisan itu tidaklah palid atau tulisan itu
belum tepat.
Abad ke-20 dihitung mulai
dari tahun 1901 sd. 2000 Masihi. Tahun 1970-an hingga tahun 1980-an itu tiang-tiang batur ulin sudah bayak yang
hilang dan sisanya dimakan usia, pecah-pecah dan kering dimakan rayaf.
Nisan-nisan tidak terlihat/ raif. Salama pengamatan kami tidak menemukan atau
tulisan kala itu, hanya yang masih berdiri sedikit sekali dari tiang-tiang batur sahaja, dinding-dindingnya
pun sudah hilang, dan jatuh dari tiangnya. Inilah yang menunjukkan usia makam
Habaib sangat tua.
Menurut ceritra Datu-datu kami
bahwa Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf sudah datang, berada di Lumpangi jauh
sebelum Belanda datang ke Kesultanan Banjar. Tetapi sebagian orang berkata
bahwa usia Habib Abu Bakar sekitar 40
tahunan saat ia melakukan dakwah di kampung Balai Ulin mulai tahun 1705-1759 M
pada masa pemerintahan Raja Banjar ke-10 Tahmidullah I tahun 1700-1717
Masihi hingga Sultan Tamjidillah I
sekitarnya awal abad ke 18 hingga
pertengan abad 18. Tahun 1734-1759M, masa pemerintahan Sultan
Tamjidillah I .di Martapura. Belanda belum menjajah Kesultanan Banjar.
Menurut catatan Sejaarah Tahun 1747, Belanda menduduki Banjarmasin. 1761–1801, masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II/Sunan Nata Alam. 1762, Saudara Sultan Nata yang bernama Pangeran Prabujaya dilantik sebagai mangkubumi oleh Dewan Mahkota Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar).
“Diantara
nama-nama keturunan beliau yang sampai sekarang masih hidup adalah Habib Aziz
(Muara Banta), Habib Yahya (Telaga Bidadari), Habib Yadi (Muara Hatip)”
(Mursyid 2017).
Daftar Isi Bab. Ke-VIII
VIIIa. Biografi Singkat Rekam Jejak Sayyid Abu Tha'am Ibrahim bin
Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Jamiluddin bin Abu Bakar bin
Hasan Assegaf.
01. Silsilah Nasab Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar
ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw.
02. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad
Suhuf Assegaf Lahir.
03. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad
Suhuf Assegaf Menerima (Menimba) Ilmu Agama.
04. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad
Suhuf Assegaf Menikah dengan Diang Tangang.
05. Dzurriat Keturunan Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar
ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf.
06. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf
Assegaf Wafat.
VIIIb. Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu
Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin
Muhammad Djamiluddin Assegaf.
01. Nasab Sayyid Abuthair Muhammad bin Abutha'am Ibrahim Assegaf.
02. Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar
as-Tsani Assegaf Lahir.
03. Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar
ats-Tsani Assegaf Menerima Pengajaran ilmu Agama.
04. Masa muda Remaja Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am
Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf.
05. Pernikahan Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim
bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf dengan ibunda Siti Tiadah (Siti Siyadah /Qiyadah).
06. Masa Sayyid Abu Thair Muhammad Assegaf terjadi Banjir besar
pada Sungai Kali Amandit.
07. Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar
ats-Tsani Assegaf Wafat.
VIIIc. Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am
Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin
Abu Bakar bin Hasyim bin Muhammad Assegaf.
01. Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu
Thair Muhammad Assegaf Lahir.
02. Keadaan fisik postur tubuhnya Sayyid Tanqir
Ghawa
03. Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf Mendapatkan Pengajaran Ilmu Agama.
04. Masa-masa Muda Remaja Sayyid Tanqirr Ghawa
Assegaf.
05. Karomah
Siti Tiadah Ibunda Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf.
06. Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf Pulang dari Pengembaraan Panjang.
07. Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad
Assegaf wafat.
08.
Keturunan Sayyid Tanqir Ghawa bin Muhammad bin Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani
Assegaf.
Bab.
VIII
VIII. Biografi Singkat Rekam Jejak Habib Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Jamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Ia adalah seorang yang shaleh, dan ia seorang yang ta’at yang memelihara iman dan islam, ia amat kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah bathin lainya.
01. Silsilah Nasab Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw
الْحَبِيْب اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله
02. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Lahir.
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Habib Abu Tha’am
Ibrahim adalah anak pertama dari pasangan suami isteri Habib Abu Bakar
ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf dengan Umi Salamah (Namanya Diang Gunung
seorang perempuan Dayak Pegunungan Maratus asal Pantai Dusin Hulu Banyu
Loksado), Ibrahim lahir di Desa Lumpangi hari Senin tanggal 9 Rajab tahun 1213
Hijeriah/ 17 Desember tahun 1798 Masihi. Ia adalah buyut dari Habib Abu Bakar
Bin Hasan Assegaf.
Ia adalah salah seorang
dzuriat yang ke-12 dari al Faqih al
Muqaddam al Tsani, yakni Habib Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani bin
Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin
Muhammad bin Umar as-Shoufy bin Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Sayyid
Abdurrahman Assegaf bergelar al Faqih al Muqaddam al Tsani. ia termasuk dzuriat
Nabi Saw yang hidup di abad ke-19
Masihi.
03. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Menerima (Menimba) Ilmu Agama.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Abu Tha'am Ibrahin Assegaf mendapatkan pengajaran Agama langsung dari : -Umi Salamah ibunya, - Abu Bakar ast-Tsani ayahnya, - Ahmad Suhuf kakeknya. Dan guru-guru agama disekitarnya. Sejak kecil iapun telah membekali dirinya dengan giat belajar ilmu-ilmu agama kepada orang yang lebih tua dari nya, kepada pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat. Oleh karenanya ia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu.
Habib Abu Tha’am Ibrahim tumbuh dan besar di desa Lumpangi. Ia adalah seorang anak cerdas dan shalih yang membanggakan orang tuanya, ia memperoleh pengajaran ttg Islam langsung dari ayah dan kakeknya.
04. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Menikah dengan Diang Tangang.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan
nenek kami menyebutkan bahwa “Setelah selesai panen raya sekitar tahun 1836 Masihi Habib rihlah
(bajalanan) ke Bamban bersama rombongan pedagang untuk melihat peralatan menangkap ikan dan
salajur mencari tantaran unjun paring kala'i. Sesampainya disana, maksudnya
dirumah Acil Penjual iwak di Bamban, ia bertemu dan berkenalan dengan seorang
dara muda yang bernama Siti Rahmah (Diang Tangang) sedang menumbuk padi
dilasung di muka rumahnya anak Acil Penjual iwak. dan Habib langsung jatuh hati
kepadanya”.
Acil Penjual iwak menjelaskan
kepada Habib bahwa “Siti Rahmah anaknya, Dia seorang janda muda yang sudah
beranak satu ditinggalkan mati suaminya dua tahun yang lalu”. Ia banyak punya
saudara dan kelurga, ia seorang yang cantik rupawan memikat dan menyejukkan
hati kalau dipandang, dipasca musim panen inilah awal perkenalannya dengan
Habib, kemudian Diang Tangang dipersunting dan dikawini Habib Ibrahim bin Abu
Bakar ast-Tsani.
Diceritakan bahwa "Ketika menginjak dewasa Habib Abu Tha’am Ibrahim menikah dengan seorang wanita shalihah an. Siti Rahmah (Diang Tangang) tahun 1828M atau Ahad, 14 Jumadil Awal 1228H. Dan Perkawinan itu punya anak / keturunan tunggal an. Muhammad (Abu Thair Muhammad) dan ia lahir tahun 1836 Masihi, kemudian ia ditinggal mati oleh isterinya. Versi lain menyebutkan bahwa "Abu Thair.Muhammad lahir di Desa Lumpangi hari Jum'at, tanggal 14 Ramadhan tahun 1252 Hijeriyah / 23 Desember 1836 Masihi".
05. Dzurriat Keturunan Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf.
Konon diceriterakan bahwa Habib ini menikah lagi dengan dengan
Diang Bulan wanita shalihah, dan berkat usaha dan ikhtiar mereka untuk punya
anak, akhirnya Penikahan ini membuahkan beberapa orang anak keturunan yang
sangat lama dinantikannya.
Anak pertama mereka lahir an.
Syarifah Khadijah. Penikahan Habib membuahkan keturunan anak yang shalih dan shalihah antara lain :
Habib Abu Tha’am Muhammad beranak an.Tanqir Ghawa
Habib .Usup (Supiyan) beranak Pa Jala, beranak
an.Jalaluddin muara lumpangi
2.Datu Pandai Besi, beranak
Muhammad
Habib H.Mastur punya anak antara lain :
1.Ismail (Julak Iing) dan
2.Hambali beranak an.Mas’ud (Uut)
Ketika "Abdullathif" atau Abu 'Alyadam) berada di
Negeri orang, Aliadam anaknya ikut bersama kakak tertuanya yakni Sayyid Abu
Tha'am Ibrahim. Dimasanya anak kemenakannya an.Habib Ali Adam ikut
berbersamanya tinggal di desa Lumpangi, kemudian Ia membagi kampung Balai Ulin
menjadi 4 bagian. Masing-masing menerima 1 bagian tanah dari ke-3 anaknya dan
anak kemenakannya satu bagian.
06. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf Assegaf Wafat
Sebahagian orang ada berkata bahwa Sayyid Abu Tha'am Ibrahin Assegaf, ia mulai sakit-sakitan yang sangat serius diusia 45 tahun dan akhirnya ia wafat Jum'at, 5 Rajab 1252 H bertepatan 7 November 1834M. Ia dikebumikan di kampong Balai Ulin Desa Lumpangi.
Tidaklah banyak yang Penulis ketahui tentang tokoh Sayyid Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf ini, waku Beliau masa kanak-kanak, masa remajanya, masa tuanya sampai ajalnya.
Penulis hanya berharap dan mendo’akan semoga Allah Swt mema’afkan dan mengampuni kesalahannya, kesalahan – kesalahan orang tuanya, kesalahan datuk-neneknya, dan kesalahan – kesalahan orang-orang yang pernah dekat dengannya dan kesalahan-kesalahan dzuriat-dzuratnya hingga akhir zaman, begitu juga semoga Allah Swt mengampuni dan mema'afkan kesalahan-kesalahan/ dosa-dosa kita dan dosa-dosa orang-orang muslimin dan muslimat semuanya. Aamiin Aamiin yaa rabbal aalamiin Allahumma Aamiin aamiin ya rabbal aalamiin.
VIIIb. Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin Assegaf
Ia seorang yang shaleh, dan ia seorang yang ta’at beragama yang sangat memelihara iman dan islam, ia amat dekat dan kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah dzahir dan amaliah-amaliah bathin lainya.
01. Nasab Sayyid Abuthair Muhammad bin Abutha'am Ibrahim Assegaf
الْحَبِيْب اَبًوْ طَيْرٍمُحَمَّدْ بِنْ اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله
02. Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf Lahir.
Menurut ceritera Datu-datu dan Nenek kami bahwa Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf di Desa Lumpangi kelahirannya awal abad ke-19M tahun 1829 Masihi dan wafatnya tahun 1942 Masihi
Sumber data lain ada yang menyebutkan bahwa Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim Assegaf lahir di Desa Lumpangi hari Jum'at, tanggal 14 Ramadhan tahun 1252 H/23 Desember 1836 Masihi.
Nama ayahnya adalah Habib Abu Tha’am Ibrahim Assegaf sedangkan nama ibunya Siti Rahmah (Diang Tangang), yang aslinya orang Tangang Bamban Kec. Angkinang. Sebelumnya ibunya bekerja sebagai Pedagang atau penjual Iwak yang ia bawa sendiri dengan lanjung dari Tangang Bamban ke pasar “Jum'at Lumpangi” setiap minggunya.
03. Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf Menerima Pengajaran ilmu Agama.
Sejak kecil Habib Abu Thair Muhammad Assegaf, ia bercita-cita ingin merantau ke Negeri orang, kata orang tuanya hai Habib Abu Thair Muhammad bahwa “Kalau kau ingin merantau, kau harus banyak basango ilmu, supaya kembalinya kau selamat,” maka iapun telah membekali dirinya dengan giat belajar ilmu-ilmu agama kepada orang tuanya, kepada kakeknya dan pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat.
Dimasa kecil (lahir)nya Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf berada di bawah asuhan kedua orang tuanya bersembunyi di Desa Lumpangi, dimasa penjajahan Belanda datang ke Kalimantan.
Ia Mendapatkan Pengajaran Agama langsung dari : -Abu Tha’am Ibrahim/ Siti Rahmah ayah-ibunya, -Abu Bakar as-Tsani kakeknya -Abdullatif pamannya. Dan -Abu Ali pamannya. Oleh karenanya Dia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu”.
d. Masa muda Remaja Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf.
Masa muda Habib Abu Thair Muhammad bin Abuthair Ibrahim Assegaf di pertengahan abad ke-19 Masihi sekitar tahun 1852, "Beliau hidup dimasa penjajahan Belanda dan menemui awal Jepang menjajah Indonesia."
Sebahagian orang tua desa Lumpangi ada yang berkata "Keadaan fisik postur tubuh Abu Thair Muhammad dimasa mudanya : Tingginya tidak jauh berbeda dengan anaknya Tanqir Ghawa, dan bertubuh besar, kekar, berdada bidang, ganteng, bermuka ceria, berkulit putih sawu matang, rambut sedikit ikal dan berumbak dan sedikit homoris."
Menurut salah satu sumber, ada yang mengatakan bahwa Abu Thair Muhammad, ia berumur tidak kurang dari 110 tahun Hijeriah bahkan lebih. Yang pastinya tentu saja, lebih tua 25-26 tahun usianya dari kelahiran anaknya Tanqir Ghawa 1862M.
Menurut ceritera Datu-datu dan Nenek kami Desa Lumpangi "Ketika warga desa Amawang Kandangan banyak yang menghindar dari kesewenangan Penjajah Belanda dan mereka memilih menetap menjadi orang pegunungan di Desa Lumpangi.
Habib Abu Thair Muhammad adalah duriat Habib Lumpangi yang ke-5 yang diberikan umur yang panjang, ia berusia lebih dari satu abad. Ada yang mengatakan/ berpendapat bahwa keberadaan Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf di Desa Lumpangi
Berkata Abuthair Muhammad kepada anak cucunya bahwa “Syukur alhamdu lillaah banar kita ine cucuai, jaka kada datang habib membawa Islam dan nine kita ada yang balaki habib lalu maislamakan datu nine bubuhan kita Dayak lumpamgi, jaka kada baislam maka kita rugi banar akan dimasukakan ke dalam Naraka, nauudzu billaahi mindzaalik” ucapannya ine telah d iucapan pula oleh datu nine kita bahari sebelumnya kepada anak cucunya.
04. Pernikahan Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf dengan ibunda Siti Tiadah (Siti Siyadah /Qiyadah).
Berkata Habib Husni bin Manshur bin Hasan bin Aliadam bin Abdul Latif bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf bahwa “Habib Aliadam punya 2 orang saudara laki-laki yaitu Habib Abdul Karim dan Habib Abdullah. Habib Abdul Karim pernah tinggal lama di Amuntai.”
Menurut ceritera Datu-datu dan Nenek kami bahari bahwa ketika Sayyid Abu Thair Muhammad muda berprofisi Arsetiktor Bangunan (Tukang) sekitar tahun 1860 Masihii ia berwisata lewat Nagara menuju ke kota Raja Amuntai dan Candi Agung di Hulu Sungai Utara Amuntai, ia menjumpai sepupunya yang juga berprofisi Arsetiktor Bangunan (Tukang) dan Dagang yaitu Habib Abdul Karim bin Abdul Latif Assegaf yang tinggal sudah lama di desa Candi Agung Amuntai Tengah. Ketika ia berada di Amuntai, ia bekerja beserta sepupunya membangun Proyek Balai Rung Permaisuri Raja, saat bekerja itulah ia berjumpa, berkenalan dan jatuh hati dengan seorag Dayang Permaisuri Raja, seorang gadis dara bernama "Siti Siadah/Tiadah atau Siti Qiadah" ia adalah gadis asli orang Candi Agung Amuntai Tengah, ia berprofisi asal Dayang Pemayungan Permaisuri Raja Kuripan Amuntai. Ia berhenti bekerja di masa mudanya karena ia dipersunting dan dikawini oleh Sayyid Abu Thair Muhammad di tahun 1860 M.
Konon diceritakan tahun itu bahwa setelah ia mempersunting dan mempersteri atau mengawini an. Siti Siadah atau Tiadah, sebagai Isterinya, sekitar tahun 1861 Masihi saat itu, tanaman banih/ padi telah tinggi dan buah hijaunya sudah ada yang keluar, orang menyebutnya tanaman itu“rangkum kupak”, ia ajak isterinya yang hamil muda keladang (pahumaan) di Mantata’i. Saat isterinya berdiri ladang di atas pondok tinggi tersebut, isterinya melihat seekor Rosa atau Kijang berkulit indah memikat hatinya, sedang makan buah bilaran di tepi ladangnya. Ketika sudah pulang, berada dirumah, isterinya ingin sekali memakan hati (ghawa dalam bahasa arab) seekor Rosa yang pernah dilihatnya. Mungkin karena belum kesampaian hajatnya. Maka setelah anaknya lahir Senin. 12 Rabi'ul Awal 1279 Hijeriyah berjenis kelamin laki-laki, maka anaknya diberikan nama “ Tanqir Ghawa” artinya “Hati sedikit tergoda.” Pasangan suami-isteri ini hanya punya satu anak semata wayang mereka yang diberinama "Tanqir Ghawa."
05. Masa Habib Abu Thair Muhammad Assegaf terjadi Banjir besar pada Sungai Kali Amandit.
Dimasanya Sayyid Abu Bakar as-Tsani, Abu Tha'am Ibrahim dan Abu Thair Muhammad telah terjadi Banjir besar, air sunami yang sangat mencekam, dan banyak menelan korban. Balai Pantai Dusin Hulu Banyu bekas tinggal ibunya dan sebagian keluarganya telah hanyut dibawa air bah. Tragedy Balai Adat Hulu Banyu pecehan Balai Ulin Lumpangi Loksado diperkirakan terjadinya 1247H/1831 Masihi.
Menurut beberapa sumber yang kami himpun bahwa Akibat air sunami tersebt, di Lumpangi khususnya sebahagian petanahan pedatuan H. Bustani yang dulunya menyatu dengan tanah Balai Ulin telah terkikis menjadi belahan sungai baru akibat air bah (banyu ba'ah) atau banjir besar itu. Sisa satu batang tiang Bekas Balai Adat yang dijadikan sebagai simbol Balai Ulin yang berdiri ditepi sungai belahan sungai yang baru itu tiangnya bergesir atau kena air bah itu hingga condong dan rebah kedasar sungai. Dan fostur tanah tempat berdirinya bekas Balai Adat Balai Ulin dan sekelilingnya menjadi rendah atau talabuh atau terkikis sebagai akibat ganasnya air bah itu. Kemudian tiang balai yang terandam didasar sungai itu diambil dan dijadikan tiang suku guru atau tiang utama masjid Jannatul Anwar dan diletakkan ditengah-tengah sebagai penyangga atau pananggak kubah saat perihapan masjid
Air bah itu, mampu membelah dua arus, hingga terjadi Erosi (Erosi merupakan proses terkikisnya lapisan permukaan tanah yang disebabkan oleh pergerakan air, angin, es, dan gravitasi serta berlangsung secara alamiah). Erosi membuat sungai baru. Sehingga adanya peristiwa itu halaman Masjid yang dulunya sungai, telah berubah menjadi pantai.
Setelah sungai jauh dari Masjid, maka Masid itu direhap total dan dibangun kembali tiang, atap dan dinding menggunakan kayu ulin, kubah bundar atap siraf dan diatasnya dilengkapi dengan aksisoris, lantainya tihal yang dibeli oleh Habib Tanqir Ghawa dari Surabaya dan selesai diawal abad ke-20 Masihi sekitar tahun 1902 Masihi. Menurut ceritera datu nenek kami bahwa ada beberapa tokoh orang Lumpangi yang berperan ikut andil membangun Masjid Jannatul Anwar Lumpangi kala itu antara lain : Habib Abu Thair Muhammad sebagai ketua Pembangunan, Habib Tanqir Ghawa, H. Bustani, H.Mastur, H.Ahmad dan tokoh masyarakat lainnya sebagai anggota.
Setelah peristiwa banjir besar tersebut maka timbullah inisiatif untuk memugar atau merombak Masjid. Peristiwa pemogaran dan perombakan Masjid Pertama Lumpangi terjadi di masa Habib Abu Thair Muhammad dan Tanqir Ghawa anaknya akhir abad ke-19 sekitar tahun 1895-1902 Masihi atas kesepakatan bersama masyarakat Lumpangi, Masjid Jannatul Anwar direhap total, semua bahan bangunannya dari kayu Ulin, beratap dan kubahnya sirap.
Aksisoris kobah Masjid Jannatul Anwar Lumpangi dari terbuat almanium dan lantainya tihal yang dibeli oleh Habib Tanqir Ghawa dari Surabaya. Ini adalah menurut ceritera atau penuturan Habib Bahriansyah Assegaf.
06. Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf Wafat.
Sebagian orang berkata bahwa "Saat Muhammad Basih buyutnya berumur kurang lebih 5 tahun Habib Abu Thair Muhammad telah wafat." Masmurah isteri cucunya telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberinama “Muhammad Barsih”. tahun 1937 M.
Habib Muhammad Burhan Rabbani bermimpi datuknya Habib Abuthair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf Tanggal 14 April tahun 2022M telah terjadi wangsit lagi, setelah beberapa kali ia mendapati buyutnya lewat sebuah mimpi, ia memberi isyarat bahwa “Ia pulang hari ini, 16 Ramadhan”. Kemudian Buyutnya Habib Muhammad Burhan Rabbani bermusyawarah dikeluarganya. Kemudian hasilnya ia mengumpulkan orang-orang untuk mengadakan jamuan makan dan di iringi do’a - do’a pada haulnya setiap tanggal 16 Ramadhan, khususnya di tahun tersebut.
Sebagian orang ada yang menyebutkan bahwa Habib Abuthair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf berusia cukup lanjut, kurang lebih usianya sekitar 113 tahun, dan ia wafat di Desa Lumpangi, 16 Ramadhan 1361H/ Ahad, 27 September 1942 Masihi. Dimakamkan di Kuburan Muslimin, di kanan Masjid atau bawah jalan bahari sekitar lingkungan Masjid Jannatul Anwar Lumpangi.
Adapun nama Isteri Abu Thair Muhammad yang terakhir adalah "Siti Aisyah" asal orang Tangang Desa Bambam Kecamatan Angkinang, ia juga orang yang diberi umur panjang. Berdasarkan beberapa sumber : ia wafat diakhir tahun 1960-an di makamkan di Kandangan Hulu.
- Artikel “Habib Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Desa Lumpangi Loksado” Oleh H.Hasan Basri bin H.M.Brsih, https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/3577321678027002228
- Artikell “Islamnya Orang-orang Hulu Banyu Kec. Loksado di akhir abad ke-18 Masihi” oleh H.asaan Bari, S.Ag bin Muhammad Barsih Assegaf https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/7986183751908153577
- https://naib-h-hasan-al-baseri.blogspot.com/2022/05/historis-tragedy-balai-adat-hulu-banyu.html
VIIIc. Habib Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasyim bin Muhammad Assegaf.
Ia adalah seorang yang shaleh, dan ia seorang yang ta’at yang memelihara iman dan islam, ia amat kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah bathin lainya.
01. Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu
Thair Muhammad Assegaf Lahir.
Tanqir Ghawa lahir di Lumpangi, Senin, 19 Rabi'ul Awwal 1279 Hijeriyah Berdasarkan informasi beberapa sumber catatan bahwa Sayyid Tanqir Ghawa lahir di Lumpangi ditengah-tengah keluarga yang sangat sedarhana, hari Senin, 19 Rabi'ul Awwal 1279 H bertepatan dengan tanggal 13 Oktober 1862 Masihi. Dia seorang duriat Nabi Saw yang diberi umur panjang 126 tahun Hijeriyah atau 123 tahun Masihi.
Desa Lumpangi. dulu wilayah Kec. Padang Batung, sekarang menjadi wilayah Kec. Loksado, Ia dipangil sehari-hari dengan nama Tanqir. Namun orang-orang dari anak cucunya memberinya gelar “Kayi Pancau”
Dua hari sesudah wafatnya Pangeran Antasari bin Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir. Seorang Pahlawan Nasional yang berjuang melawan Belanda di tanah Banjar, ia wafat yaitu 11 Oktober 1862 Masihi di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 53 tahun. Menjelang wafatnya, dia terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya. Wafatnya Pangeran Antasari hampir bersamaan dengan kelahirannya Tanqir Ghawa bin Muhammad Assegaf
Nama panjangnya : Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddn bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy bin Abdurrahman bin Muhammad bin 'Aly bin al Imam al-Quthby Sayyid Abdurrahman Assegaf yang bergelar : al Faqih al Muqaddam Al Tsani. Sedangkan nama ibunya adalah "Siti Siadah/Tiadah atau Siti Qiadah" ia adalah asli orang Amuntai, ia berprofisi asal Pemayungan Permaisuri Raja Kuripan Amuntai. Ia berhenti bekerja di masa mudanya karena ia dipersunting dan dikawini oleh Sayyid Abu Thair Muhammad tahun 1860 M. Pasangan suami-isteri ini hanya punya satu anak semata wayang mereka yang diberinama "Tanqirr Ghawa."
02. Silsilah Nasab Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw.
Adapun Silsilah Nasab Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf sebagai berikut :
03. Keadaan fisik postur
tubuhnya Habib Tanqir Ghawa
Sejak kecil Sayyid Tanqir
Ghawa Assegaf, ia bercita-cita ingin mengembara, merantau ke Negeri orang, kata
orang tuanya bahwa “Kalau kau ingin merantau, kau harus banyak basango ilmu,
supaya kembalinya kau selamat,” maka iapun telah membekali dirinya dengan giat
belajar ilmu-ilmu agama kepada orang tuanya, kepada kakeknya dan pamannya dan
juga kepada orang lain tentang ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat.
Orang-orang ada yang berkata
bahwa “Keadaan fisik postur tubuhnya masa mudanya : Tinggi hampir 2 meter dan
bertubuh besar, dada bidang, kekar, ganteng, bermuka ceria, berkulit putih sawu
matang, rambut sedikit ikal dan berumbak, sedikit homoris. Dia sangat
memuliakan tamu, khususnya tamu dari anak cucunya, ia tidak membolehkan pulang
anak cucunya pulang sebelum makan dan minum ditempatnya.
04. Habib Tanqir Ghawa Assegaf Mendapatkan Pengajaran Ilmu Agama.
Dimasa kecilnya Sayyid Tanqir
berada di Desa Lumpangi, kemudian dibawa orang tuanya ke Kandangan, dimasa
Belanda datang ke Kalimantan, ia dibawa lagi ke Desa Lumpangi untuk
bersembunyi.
Ia Mendapatkan Pengajaran
Agama langsung dari : -Abu Thair Muhammad ayahnya, -Abu Tha’am Ibrahim kakeknya
-Abdullatif paman ayahnya. Dan Aliadam pamannya. Oleh karenanya Dia pandai baca
tulis arab Malayu”.
Keberadaannya Sayyid Tanqir
Ghawa ditengah-tengah keluarga sangat sedarhana dan ia disukai dan disayangi
oleh keluarga dan masyarakat sekitarnya di kala itu. Dimasanya orang-orang
masih sangat mamamerkan dan membanggakan
“Kekuatan pisik, kesaktian, kejagauan (jago), banyak bandet dan begal, orang
sering marah tanpa sebab, iri dengki yang berlebihan dan suka menindas yang
lemah.”
05. Masa-masa Muda Remaja Sayyid Tanqirr Ghawa
Assegaf.
Konon ketika usia Tanqirr
Ghawa. 18 tahun, ia dikawinkan oleh
orang tuanya. Kemudian ayahnya pergi merantau ke Pulau Laut (Kotabaru)
meninggalkannya & ibunya cukup lama, yang berakibat pada akhirnya
ayah-ibunya bercerai.
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Habib Tanqir Ghawa" ia
dijodohkan (dikawinkan) oleh orang tuanya diusia muda tahun 1881 sekiar 18
tahun dengan seorang perempuan lebih muda darinya yang bukan kemauannya &
bukan wanita pujaan hatinya, untuk tidak mengeciwakan hati orang tuanya, ia pun
menikahinya dan punya anak " sekitar 5-7 tahun suami-isteri tersebut hidup
rukun berumah tangga (bertahan), mungkin ada masalah dengan orang pihak ke-3
mertuanya, kemudian ia meninggalkan anak & dan isteri pertamanya asal orang
Amawang.
06. Karomah Siti Tiadah Ibunda Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf.
Dimasa keberadan Sayyid
Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf diperantauaan diceriterakan bahwa
“Orang-orang masih sangat mamamerkan dan
membanggakan “Kekuatan pisik, kesaktian, kejagauan (jago), banyak bandet
dan begal, orang sering marah tanpa sebab, iri dengki yang berlebihan dan suka
memeras, suka merampas hak orang, suka menindas orang yang lemah.”
Salah satu Karomah Ibunda Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf adalah
Menurut ceritera Kayi Sepuh Lumpangi ( Husni bin Ahmad Karji konon
diceriterakan bahwa "Diawal abad ke-20 tahun 1901 Masihi ketika Datung
Siti Tiadah atau Datung Qiadah, mandengar khabar berita anaknya Sayyid Tanqir Ghawa saat merantau di Kampung orang,
ia berkalahi terluka berat dan meninggal dunia (ia dituduh berbuat onar atau
bakali) dan mendapat masalah di negeri orang, maka Datung Tiadah datang
menjemput (maambili) anaknya Sayyid Tanqir ke Pulau Laut (Kotabaru-Batulicin).
Kata orang bahwa Ibu Sayyid Tanqir Gawa, ia hanya balarut (berpacu dilaut)
mengayuh jukung yang sangat sedarhana, konon ia bisa dengan mudah dan cepat
sampai ke sana, diantar dengan bantuan sahabatnya para tentara Buaya. Beliau
orang sakti atau orang harat, menurut penglihatan orang-orang ketika itu, ia
bisa barjalan di atas permukaan air (banyu.) dengan cepat. Setelah didapatinya
Sayyid Tanqir Gawa disana, ternyata anaknya (sigar-bugar) selamat tak kurang
suatu apa dan ia bukan pelakunya.
07.
Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf Pulang dari
Pengembaraan Panjang.
Kurang lebih 15-20 tahun
lamanya, ia merantau, mengembara berada
di Negeri orang, entah 3 hingga 4 orang jumlah isterinya yang dicerai, dan ia
tinggalkan bagitu saja diwaktu pengembaraannya. ia merantau ke Pulau Laut dan
diakhir abad ke-19 Masihi sekitar 1882-1901M bahwa sekitar tahun 1901 Masihi ia
pulang ke Hulu Sungai Selatan, Kandangan menemui kedua orang tuanya. Orang tua
dan keluarganya sangat gembira atas kepulangannya dari pengembaraan. Salah satu
akal dan pendapat keluarganya : “Supaya anaknya tidak berjalan jauh lagi, atau
merantau lagi ke Negeri orang, dan ada rasa tanggungjawab dengan keluarga.
Menurut Folklor ceritra
Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Tanqir Ghawa, ia bersedia
dikawinkan dengan seorang perempuan janda beranak satu oleh kedua orang tuanya.
Tahun 1902M (usianya Sayyid Tanqir
sekitar 40 tahun) dan perempuan tersebut yang masih ada ikatan kekeluargaan
dengannya. Karena ia kasihan dengan anak yatim ia merasa beberapa kali kawin disa’at
perantauan tetapi isteri-isteri yang pernah ia nikahi, tidak ada yang punya
anak maka perjodohan dengannya itupun diterimanya dengan lapang dada hingga perkawinan dengan perempuan janda asal
Amawang itupun terjadi dengannya. Setelah ia menikahi perempuan janda tersebut
dan beberapa tahun kemudian isterinya hamil, dan ia melahirkan seorang anak
laki-laki yang diberi nama ”Karjah" Adapun Karjah adalah ia tidak punya
keturunan.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu
dan nenek kami bahwa “Suami-isteri tersebut hidup rukun berumah tangga sekitar
13-14 tahun tinggal di desa Lumpangi. Pada tahun ke-14 dari pernikahan Sayyid
Tanqir Ghawa, isterinya (an.Khalimah) sering sakit-sakitan hingga meninggal
dunia (wafat). Menurut Folklor ceritra bahwa “Selisih usia tahun kelahiran
antara Karjah dengan Ahmad Baderi, Karji dan Karjah adalah lebin tua 15 tahun
dan 13 tahun dari Ahmad Baderi.”
08. Habib Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf wafat
Habib Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim Assegaf wafat hari Ahad, tanggal 13 Januari 1985 Masihi, atau 21 Rabi'ul Awwal 1405H dirumah anaknya Habib Ahmad Baderi Assegaf di Rasau Kec. Pandawan Barabai, dimakamkan di Pakuburan Muslimin Desa Matang Ginalon Barabai. Dengan usia 126 tahun Hijeriah lebih atau kalau dihitung tahun masihi berumur 123 tahun Masihi
acaan :
- Artikel ”Biografi Habib Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf” Oleh H.Hasan Baseri bin H. Muhammad Barsih. https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/1013731233961871700
- Artikell “Islamnya Orang-orang Hulu Banyu Kec. Loksado di akhir abad ke-18 Masihi” oleh H.asaan Bari, S.Ag bin Muhammad Barsih Assegaf https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/7986183751908153577
Adapun kedua Syarifah puteri Habib Abu Bakar bin Habib Hasan Assegaf diperisteri oleh orang biasa orang kampung. Syarifah Pertama ini menurunkan anak. Adapun dzuriat ke-6, ada tiga bersaudara an. H.Bustani, Sarman dan mama Masni, Sarman punya anak an. Suli dan julak Tunjul, Tunjul kawin dengan Nadal punya anak an. Ambi dan Kurniah. mereka ini punya tanah dekat dengan kampung Balai Ulin. Demikian juga Syarifah Galuh dan Aluh kacil menurunkan dzuriat ke-6 an.H.Ahmad bin Utuh Merah dan ia punya atau dzuriat an. Utuh Ramli, Jamal dan Bini Pangulu Irus, dan mereka ini juga punya tanah dekat dengan kampung Balai Ulin. Begitu juga H. Mastur Abdullah juga dzuriat Habib Abu Bakar bin Hasan, ia kawin degan syarifah Khadijah melahirkan Ismail (Ahmad I'ing) dan Hambali (pa U'ut).
Beliau bermakam di Alkah Balai Ulin Desa Lumpangi Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan (masuk gang samping masjid Jannatul Anwar sekitar 300m)..... Haul Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf biasa dilaksanakan oleh ahlul bait beliau pada tanggal 17 Dzulhijjah di kubah beliau (Murysid 2017)
Beliau adalah sepupu sekali dengan Habib Ali bin
Idrus Assegaf dan Habib Ali jauh lebih muda dari Habib Abu Bakar, oleh sebab
itu saat pembagian tugas atau misi dakwah di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dulu,
Beliau tidak diikutsertakan. Habib Ali bin Idrus bin Hasyim Assegaf telah
menikah dengan wanita sholehah, berasal dari Suku Banjar kelahiran Nagara dan
punya anak an. Habib Husein. Jadi Habib Husein Assegaf yang pertama lahir di
Kota Kandangan adalah putra sulung dari Habib Ali. Beliiau meninggal
diperkirakan tahun 1793M pada diusia remaja/muda dan belum menikah. Makam Habib Husein bin Ali bin Idrus bin Hasyim bin
Muhammad Assegaf berada dalam Kantin Los Batu Pasar Kandangan. Haul Beliau
dilaksanakan setiap tanggal : 12 Rabiul Awal bersamaan dengan acara mauled Nabi
Muhammad Saw..Kami saat ini belum mengetahui anak dan cucu dan juga cicit Habib
Ali selanjutnya.tetapi Habib Ali bin
Idrus Assegaf barmakam dipemakaman
Ashhab Turbah Alawiyyin Anak Mas Jln.M.Rusli (Jln. Mardeka Kandangan)
Kelurahan Kandangan Kota, Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Saadillah Mursyid ini sewaktu mengadakan penelitiannya. Beliau belum menemukan atau belum menyebutkan silsilah keturunan Lumpangi ini secara utuh atau secara lengkap. Tetapi Kami punya catatan pendahulu kami tentang silsilah nasab (keturunan) Habib Abu Bakar bin Hasan yaitu keturunan Beliau yang bernama. Habib Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) dengan perempun yang dinikahinya dari puteri Tetuha Adat Dayak Langara Lumpangi yang belum terungkap atau belum ada disebutkan dalam Artikel dimaksud, catatan silsilah nasab dimaksud adalah ::
- Habib H.Muhammad Barsih
- bin Ahmad Baderi
- bin Tanqir Ghawa
- bin Abu Thair Muhammad
- bin Abu Tha'am Ibrahim
- bin Abu Bakar as-Tsani
- bin Ahmad Suhuf
- bin Muhammad Djamiluddin
- bin Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
1.Kontroversi Keturunan atau anak isteri pertama
Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim
bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf Pulang dari Pengembaraan Panjang. Sebagaimana
kami jelaskan terdahulu bahwa Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf merantau, mengembara berada cukup lama di Negeri orang, Atas restu orang tuanya ia
berangkat dari Desa Lumpangi Kab. Hulu Sungai Selatan menuju ke
Pulau Laut (Kotabaru), dan tinggal bersama keluarga yang sudah lama tinggal
disana. Dari Pulau Laut ini nantinya ia menyeberang ke Surabaya lewat Surabaya
ia merantau ke Sulawisi,
beberapa tahun disana dan ia pulang ke Pulau Laut. Ditahun tahun berikutnya
dari Pulau Laut ia menyeberang ke Surabaya lewat Surabaya ia merantau Pulau Emas (Pulau Sumatera) Prov. Jambi mejumpai kakeknya an. Ali alias Abu
Tayau yang sudah lama tinggal disana dan beberapa tahun merantau
disana, ia pulang kembali ke Pulau Laut. Kurang lebih 18-19 tahun lamanya.
Dalam pengembaraannya tersebut entah 3 hingga 4 orang jumlah isterinya yang
dicerai, ia tinggalkan bagitu saja diwaktu pengembaraannya.
Pertama kali ia merantau ke Pulau Laut diakhir abad
ke-19 Masihi sekitar 1882M. Tahun 1901M adalah awal abad ke-20 dihitung dari tahun 1901 sd.
2000 Masihi. Diawal tahun 1901 Masihi Sayyid
Tanqir Ghawa pulang dari Pulau Laut, menjenguk kedua orang tuanya di
Desa Lumpangi Kandangan.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan
bahwa Sayyid Tanqir Ghawa, ia bersedia dikawinkan dengan seorang perempuan janda oleh kedua orang tuanya. Tahun 1902M
(usianya Sayyid Tanqir sekitar 40 tahun) dan perempuan tersebut yang masih ada
ikatan kekeluargaan dengannya. Karena ia
kasihan dengan anak yatim (an.Karji)
& ia merasa beberapa kali kawin diperantauan tetapi isteri-isteri yang pernah ia
nikahi, tidak ada yang punya anak maka
perjodohan dengannya itupun diterimanya dengan lapang dada hingga
perkawinan dengan perempuan janda asal Amawang itupun terjadi dengannya.
Setelah ia menikahi perempuan janda tersebut dan beberapa tahun kemudian
isterinya hamil, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama ”Karjah" Adapun Karjah ia
adalah adik seibu Karji,
dan ia tidak punya keturunan.
Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa “suami-isteri tersebut hidup rukun
berumah tangga sekitar 13-14 tahun tinggal di desa Lumpangi. Pada tahun ke-14
dari pernikahan Sayyid Tanqir Ghawa, isterinya (an.Khalimah) sering sakit-sakitan hingga meninggal dunia (wafat). Menurut Folklor ceritra bahwa “Selisih usia
tahun kelahiran antara Karji dan Karjah dengan Ahmad Baderi, Karji dan Karjah
adalah lebin tua 15 tahun dan 13 tahun dari Ahmad Baderi.”
Menurut keterangan Habib Bahriansyah (Utuh
undul,72 thn) bin Bahur Assegaf yang saya wawancarai saat aqiqah buyut
pertamanya Kandangan Hulu ! dikediamannya, bahwa ia dari keterangan
kakeknya & juga kisah neneknya bahwa Kayi Tanqir Ghawa dimasa mudanya dikawinkan oleh
orang tuanya sebelum ia pergi kembali
(babulik) mengembara ke Pulau Laut, (sekarang Kab Kotabaru) ia
telah menikahi seorang
perempuan dan punya anak. atas nama Ahmad Karji adalah anak kandung Kayi
Tanqir Ghawa dengan isteri pertamanya orang Amawang, dan isterinya tersebut bekeluarga dekat dengan Siti Nurah (adik kandung Atha’illah) isteri
Ahmad Darani bin Abdul Hamid bin Aliadam Assegaf
Menurut keterangan Habib Muhammad Ibnu Mubarak bin
Hasan Basri Assegaf bahwa ia dari keterangan Drs.Habib Tajuddinnor,MM bin Ahmad Baderi
Assegaf paman ayahnya yang ia wawancarai dikediamannya
di Barabai bahwa Kayi Karji adalah anak kandung Kayi Tanqir Ghawa dari isteri pertamanya.
Menurut Habib Muhammad Burhannor
bin Ahmad Baderi Assegaf yang saya wawancarai dikediamannya, bahwa mereka anak-anak Kayi Karji antara lain
(Husni) dan cucu-cucunya mengakui dan meyakini bahwa ayah mereka adalah keturunan/ anak Kayi Tanqir Ghawa bin
Muhammad bin Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad
Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf
Menurut ibu saya Hj. Masitah binti Salamat (umur 83 thn),
yang saya wawancarai dirumah Beliau di jalan Alfalah Kandangan
mengatakan, ia dari ucapan Umbuy Uja isteri terakhir Kayi Karji bahwa Kayi
Tanqir ayah tiri Nanang Karji.
Menurut Habib Burhannor, ia dari ucapan Ahmad Baderi ayahnya bahwa
Kayi Karji bukan saudara kandung kami
tetapi ia saudara seketirian kami. Ia memperisteri mamanya Karji
ketika anaknya dalam susuan dan kurang lebih 13-14 tahun hidup berumah
tangga dengan isterinya tetapi tidak puya anak; dan tangga ia wafat;
Kemudin Sayyid Tanqir Ghawa menikah lagi dengan Siti Khadijah seorang janda muda
ditinggal mati suami
Adapun Ahmad Karji adalah anak pertama dari Tanqir Ghawa bin
Muhammad bin Ibrahim bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin
Abu Bakar Asseaf, setelah dewasa ia menikah Maimunah punya anak :
1.
Husni (Utuh Gunung)
2.
Ahmad
3.
Unan
4.
Misran (Imis) bin Maisyarah isteri kedua setelah isteri pertama
wafat.
Kemudian Habib Ahmad Karji (Julak Nanang Karji)
bin Tanqir Ghawa
Assegaf setelah isterinya wafat,
ia menikah lagi dengan Maisyarah perempuan asal Desa Tilahan Kec. Hantakan
Barabai punya anak tunggal bernama Misran (Imis).
Sedangkan Habib Husni bin Ahmad Karji bin Tanqir Ghawa Assegaf menikah dan punya anak : Habib H.Bastami
dan Sy. Nur Aida. Adapun Habib H.Bastami bin
Husni bin Ahmad Karji bin Tanqir
Ghawa Assegaf menurunkan anak
bernama Toni Jemain dan Beny.
Adapun status Nasab Toni Jemain bin H.Bastami bin Husni bin Ahmad Karji
bin Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar
bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf adalah Maqbuulun
Nasabun (nasab yg diterima).
Kontroversi adalah sebuah keadaan perdebatan atau pertentangan
pendapat yang umum dan sering kali berlangsung lama. Kontroversi biasanya
melibatkan perbedaan sudut pandang atau opini yang saling bertentangan
2. Keturunan atau anak isteri Kedua
Sayyid Tanqir Ghawa menikahi Siti Khadijah seorang janda muda. Versi lain juga menyebutkan bahwa sekitar tahun 1909 ia menikah dengan perempuan janda yang ditinggal mati suaminya janda itu bernama Siti Khadijah asal orang Kandangan Hulu yang berdomisili di Lumpangi keluarga ini karena takut dengan kesewenangan Penjajah Belanda mereka berhijrah ke hulu banyu..”Maka dipihak keluarga memutuskan bahwa Tanqir Ghawa harus segera dikawinkan.. Akhirnya ia menikah dengan Siti Khadijah seorang janda beranak satu an. Ahmad Karjah. Dan dari hasil perkawinannya dengan janda itu kemudian ia punya keturunan 6 anak an.
- Ahmad Baderi,
- Bahar,
- Badariah,
- Bahur,
- Maswati /Taluh dan
- Salmiati
Hal senada sebagaimana yang diebutkan oleh Habib Muhammad Burhan Rabbani Assegaf dan Beliau ceritera dari ayahnya bahwa "Siti Khadijah adalah seorang janda kembang, muda dan cantik, beranak satu yang ditinggalkan mati oleh suaminya kemudian ia dikawinkan dengan Sayyid Tanqir Ghawa, kemudian dari Perkawinan itu mempunyai anak 6 orang. Salah satu dari yang 6 tersebut bernama Habib Ahmad Baderi.
- Basuni (wafat saat kecil)
- Basrani Noor
- H.Hasan Basri, S.Ag
- H.Muhammad Nurdin Effendi w.2014M
- Taniah (Nia Kurnia) w.2022
- Maimunah (wafat saat kecil)
- Dzulkipli Lubis
- Hj. Nursinah, S.Pd w.2018M
- Arya Nurhadi S.Pd (Muhammad Ariatim)
- Sy Farida Hayati
- Habib Syahril Majid,
- Habib Ali Marzuki, dan
- Sy Eva.
- Muhammad Ibnu Mubarak. S.Pd
- Ibnu Salam, M.Pd
- Muhammad Ibni Athaillah, ST
- Muhammad Burhan Noor13 Juli 1955
- Rumaynur
- Drs.H.Tajuddin Noor, MM
- Syahruddin Noor
- Nurlianti (Nunur)
- Nurjatunnisa (Jatun)
- Nurijati Rahmi, S.Pd.I (Untung)
- Sy Hendri Yusliani Noor,
- Habib Ismatullah Halim,
- Habib Muhammad Subhan dan
- Habib Muhammad Ainurahman.
- Sy Hikmatu Diniah,
- Habib M.Firdaus Fansuri dan
- Sy Hafijatun Nadia.
- Habib Muhammad Taufik Abdillah
- Habib Faqih Maulana
Keturunan Habib Abu Bakar Assegaf anaknya yang bernama Habib Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi)
Dari Habib ini punya keturunan (anak) yang bernama Habib Ahmad
(Ahmad Suhuf) dan ia menikah dengan Diang Galuh Aminah binti Abdullah bin Hamzah bin Datu Muhammad Langara, dan ia punya anak Habib Abu Bakar as-Tsani dan ia punya 3 anak yang
bernama Habib Ibrahim (Abu Tha’am), Abdul Lathif (Abu Aly) dan 'Aly versi lain namanya Abdullah (Abu Tayau).
Dzuriat Habib Abdul Lathif
bin Abu Bakar As-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar
Assegaf
Habib Abdul Lathif (gelar Abu Aly) sebelum merantau ke Pulau Emas, ia sudah menikah dengan Diang Putih (Muthma'innah) dan ia punya anak salah satunya yang bernama Habib Aliadam.
Menurut Habib Husni bin Mansyur Assegaf bahwa "Datunya Aliadammempunyai saudara kandung yang bernama "Abdullah dan Abdul Karim". Dahulu Abdul Karim tersebut pernah tinggal di Sungai Malang Amuntai".
Datu Habib Aliadam wafat dan bamakam di Cantung Kec. Kelumpang Hulu Kotabaru. Dan Aliadam menikah dengan Nurhasanah (Nelantih), keduanya punya 5 anak orang antara Lain :
- Haib Hasan
- Habib Umpat
- Habib Abdul Hamid
- Habib Abdullah dan
- Sy Masrah
Adapun anak Datu Habib
Aliadam yang pertama adalah bernama Habib Hasan. Menurut Habib Husni bin Mansur
bahwa Habib Hasan punya 3 orang anak :
- Sy Basriah
- Habib Mansyur
- Sy Masniah
Sedangkan Habib Mansyur bin
Hasan bin Aliadam bin Abdullatif bin Abu Bakar As-Tsani Assegaf punya anak 5
orang anak antara lain :
- Habib Husni
- Habib Jailani
- Habib Mugni
- Sy Isnawati
- Habib Muhaimin
Menurut Habib Husni bin
Mansyur Assegaf bahwa Habib Hasan bin
Aliadam Assegaf dan Habib Mansyur bin Hasan bin Aliadam bermakan dekat
langgar Darul Muttaqin di Tibung Raya Kec. Kandangan.
Adapun Habib Husni tercatat
di KTP Beliau lahir di Hulu Sungai Selatan tanggal 27 Februari 1959 pekerjaan
Polisi Kehutanan Beliau menikah dengan
Rasuna dan mereka punya 4 orang anak
antara lain :
- Sy. Elly Maranti
- Sy. Erliyantisti
- Sy. Erini
- Habib Anhari Anshar (lhr 2003)
Habib Jailani menikah punya
anak 1 orang yang bernama "Amin" sedangkan Habib Mugni menikah dengan
Masniah punya 3 orang anak yaitu :
- Sy. Linda (kelahiran 2002//20 th)
- Sy. Fina (kelahiran 2013/9 th)
- Habib Azka (kelahiran 2015/7 th)
Habib Abdul Hamid menikah dengan Diang Kacil (Mardiah) dan ia punya anak tunggal an. Habib Ahmad Darani. Habib Ahmad Darani kawin dengan Siti Nurah dan ia punya 7 anak :
- Habib Ismail Jumberi
- Habib Muhammad Djamberi
- Sy Salabah
- Sy Asyah
- Habib Fakhrurrazi
- Sy Armaniah
- Sy Tarmiah
Habib Muhammad Djamberi bin Ahmad Darani Assegaf menikah dengan Sit Aisyah isteri pertamanya dan ia punya 2 anak :
- Wardah
- Budi
Kemudan Habib Muhammad Djamberi bin Ahmad Darani Assegaf menikah lagi dengan Rusdiana isteri keduanya dan ia punya 1 anak an. Habib Muhammad Mahyudi Assegaf.
Dan Habib Abu Tha’am Ibrahim menikah dengan Siti Rahmah (Diang Tangang). Ia seorang janda sudah beranak dan pernikahan ini punya anak an. Muhammad. ketika isterinya wafat Habib menikah lagi dengan Diang Bulan, Habib Ibrahim juga diberi gelar "Ambatha'an atau Ambutha'an maksudnya "Bapa yang lambat beranak atau bapa yang menanti seorang anak". walaupun usianya hampir setengah abad, akhirnya dengan usaha dan ikhtiarnya ia punya 2 anak. Anak yang pertamanya bernama an. Khadijah: Habib punya 3 anak :
- Muhammad (gelar Abu Thair lahir 19 Ramadhan 1244H)
- Khadijah dan
- Daud (Datu Pandai atau Datu Titik),
Habib Muhammad Abu Thair tahun 1860M menikah dengan seorang Puteri Siti Siadah atau Tiadah berprofisi asal Pamayungan Permaisuri Raja Kuripan Amuntai. Ia berhenti bekerja membantu Permaisuri Raja karena disunting dan dikawini Sayyid Muhammad, dan Ia punya 1 anak tunggal yang lahir 19 Rabi'ul Awal 1279H an. Habib Tanqir Gawa. kemudian Sayyid Muhammad cerai dengan Siti Siadah atau Tiadah.
Siti Siadah menikah lagi dengan lelaki lain, perkawinan ini tidak punya anak. Kemudian Siti Siadah menikah lagi dengan laki-laki lebih muda darinya dan dari perkawinannya tersebut, ia punya anak dua orang an. Juhri dan Fatmah. Jadi Habib Tanqir punya adik seibu an. Juhri dan Fatmah. Kemudian setelah Siadah wafat.
Kemudian ayahnya Fatmah, ia menikah lagi dengan perempuan muda dan punya anak an. (Ubuy Ani atau bini Kayi Ibas Palantingan). Setelah dewasa Fatmah ini (Ning Aib Palantingan) menikah dengan Habib Muhammad Mohdar bin Abdullah Assegaf asal Desa Kapuh Taminung, melalui pernikahan ini menurunkan an. Aib Salim dan Habib-habib yang ada di Pelantingan.
Adik perempuan Habib Muhammad Abu Thair yang bernama H.Mastur Abdullah menikah dengan Syarifah Khadijah beranak 2 orang :
- Ismail (Ahmad I'ing)
- Hambali (Bapa U'ut)
- Datu Pandai makannya di depan paimaman Masjid Lumpngi mamarina Tanqir
- Muhammd bin Datu Pandai sepupu Tanqir
- Pa Jala Muara Lumpangi sepupu Tanqir
- Pa Usuf sepupu Tanqir
Mamanya Ahmad Iing dan Hambali/Pa.Uut yang memelihara dan menjaga makam terakhir, dia bertempat tinggal dekat makam di Balai Ulin tempu dulu..Sedangkan Habib Tanqirr Gawai ini ia punya 6 orang anak
3. Nasab Dzuriat Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy Assegaf.
Ada tiga bukti kuat hubungan nasab dengan Habib Lumpangi yaitu :
- Adanya perkawinan Datung Milah dengan Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf
- Adanya silsilah Nasab Dzuriat Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf
- Historis penguasaan tanah makam dan sekitarnya sebelum tahun 1970 an:
Kalau dirunut dari dzuriat Nasab Habib Muhammad Djamaluddin (Habib Lumpangi) bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf yang paling muda kelahiran tahun 2020M Marga Assegaf adalah sebagai berikut ;r”
- Habib Ahmad Fadhil Mubarak Assegaf
- bin Muhammad Ibnu Mubarak, S.Pd
- bin H.Hasan Basri, S.Ag
- bin H.Muhammad Barsih (1937-1978M)
- bin Ahmad Baderi (1918-1993M)
- bin Tanqirr Ghawa w.1862-1985M/1279-1405H=(123 tahun M)
- bin Abu Thair Muhammad, 1252-1361H/1942M “Abu Thair/Ambuthair” Pada nama awalnya adalah nama gelar kehormatannya.
- bin Abu Tha'am Ibrahim.(1213-1252H) “Abu Tha’am/Ambutha'am”pada nama awalnya adalah nama gelar kehormatannya.
- bin Abu Bakar ast-Tsani, (1191-1319H/1778-1902M). Nama as-Tsani adalah nama yang diberikan untuk membedakan dengan Datuknya.
- bin Ahmad Suhuf (Tahun1736-1796M)
- bin Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) 1118-1195H
- bin Habib Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) 1068-1172H//1658-1759M
- bin Hasan. w.1720M
- bin Hasyim
- bin Muhammad
- bin Umar as-Shoufy
- bin Abdurrahman
- bin Muhammad
- bin Aly w.840H di Tarim
- bin Sayyidina Syekh al Imam al-Quthb Abdurrahman Assaqqaf /Assegaf (739-819H atau1338-1416M) Beliau diberi gelai "Al Faqi al-Muqaddam Tsani Assaqaf."
- bin Syekh Muhammad (Maula ad-Dawilah) w.765H.
- bin Syekh 'Aly (Shahibut Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
- bin Sayyidina al Imam Alwi al-Guyur w.669H
- bin Sayyidina al-Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad (574-653H/1232M)
- bin Sayyidina 'Aly Walidul Faqih w.593H
- bin al Imam Muhammad Shahib Mirbath w.556H/1161M
- bin Sayyidina 'Aly (Al Iman Khaly al Qasam) w.527H/1133M
- bin Sayyidina Alwi Ba' Alawi w.512H/1118M
- bin Sayyidina al-Imam Muhammad ( Maula Shahib as-Shaouma'ah) w.446H/1054M
- bin Sayyidina al-Imam Alwi al Mubtakir (Shahib Saml) Alawiyyin w.400H
- bin Sayyidina al-Imam Abdullah (Ubaidillah Shahibul Aradh 295-383H/993M
- bin Sayyidina al-Imam Al-Muhajir Ahmad al-Abah 820-924M/345H
- bin Sayyidina al-Imam 'Isa ar-Rumi w.270H/883M
- bin Sayyidina al-Imam Muhammad An-Naqaib w.250H
- bin Sayyidina al-Imam 'Aly al-Uraidhi 765-818M/210H
- bin Sayyidina al-Imam Ja'far as-Shadiq (702-765M/148H)
- bin Sayyidina al-Imam Muhammad Al-Baqir (676-732M/114H)
- bin Sayyidina al-Imam 'Aly Zainal Abidin (658-713M/97H)
- bin Al-Imam as-Syahid Syahab Ahlil Jannah Sayyidina Husain (625-680M)
- bin Sayyidah Fatimah Az-Zahra (11H/632)
- binti Muhammad ibnu Abdullah Rasulullah Saw (570-632M)
4. Historis penguasaan tanah makam dan sekitarnya sebelum tahun 1970 an.
Kalau kita telusuri historis penguasaan tanah makam Habaib dan sekitarnya yang ada Desa Lumpangi, ternyata semuanya milik keluarga Habib Abu Tha'am Iberahim yang diturunkan kepada ke-3 anaknya yang bernama :
- Muhammad (Abu Thair,)
- Siti Khadijah, dan
- Daud
- Aliadam (anak kemanakan Ibrahim) untuk pembagian tanah lihat Denah diatas.
6. Historis Desa Lumpangi.
Ada sebagian Keluarga Habib yang dulunya masih bertempat tinggal dekat areal makam di kampung Balai Ulin. Keluarga itu adalah keturunan Habib Iberahim (Abu Tha’am) yaitu adik perempuan kandungnya Habib Muhammad Abu Thair yakni ibunya kuitan ismail atau Ahmad I’ing dan Hambali. Ia dulunya bertempat tinggal dekat makam, dan karena merasa susah PP ke Lumpangi, harus menyeberangi sungai Kali Amandit, arus sungainya yang deras sedalam lebih dari 1 meter, menyeberangi dengan jalan kaki, atau menyeberangi dengan rakit bambu untuk samapai ke masjid dan ke pasar dan juga di pasar ini untuk mencari keperluan hidup lainnya seperti uyah, asam, acan dan timbaku. Maka setelah dibuatnya jembatan gantung penghubung antara desa Lumpangi dengan kampung muara Ahan. Maka kedua saudara ini Julak Ahmad I’ing dan Hambali pindah rumah dari kampung Balai Ulin ke kampung Muara Ahan. Maka kampung Balai Ulin kosong dari perumahan penduduk. Kekosongan itu terjadi sebelum Indonesi merdeka. Kemudian Julak Ahmad I’ing dan Hambali (pa. Uut) mendirikan sebuah rumah di tepi sungai Ahan. Rumah itu juga berada di tepi jalan Kandangan ke Loksado. Dulu orang-orang yang dari Kandangan, apabila sampai dihulu kampung Datar Tandui, mereka menyeberang sungai Kali Amandit yang dangkal dekat muara ahan, mereka berjalan meliwati halaman rumah Ahmad I’ing dan Hambali, tetapi bila air sungai dalam dan arusnya deras mereka menyeberang lewat jembatan penghubung antara Lumpangi dengan muara Ahan. Dan mereka juga meliwati halaman rumah Julak I’ing dan Hambali ini.
Sejak kedua kakak beradik inilah pindah rumah, maka kampung Balai Ulin menjadi mati tak dihuni lagi oleh penduduk setempat, dan pusara / makam Habaib mulai tidak terawat lagi dengan baik. Dikampung Muara Ahan tahun 1974an sudah ada tempat pendidikan masyarakat yang dikenal “SR” yaitu Sekolah Rakyat. Bangunan SR dibangun dengan swadaya masyarakat dan honor Gurunya atas swadaya masyarakat.
Pasar lumpangi dulu berada dihulu masjid, sebagian para Pedagang berjualan dihalaman rumah kami, konon keberadaan pasar ini cukup lama seiring keberadaan dibangunnya masjid. Kemudian ada bantuan Pemerintah tahun 1974 untuk membangun pasar, untuk pembuatan tempat khusus jualan maka pasar pindah ke pantai dihalaman rumah Uus(Pa.Mawan) dan.dekat dengan Jembatan gantung. Jembatan gantung sedarhana dengan tali kawat baja yang diikatkan pada kaki batu langara, dan diseberangnya di beri dua tiang ulin dan ujun kawat baja diikatkan pada kayu ulin yang dibenam di dasar tanah pantai. Ujung tali itu ditutupi batu kali sebesar kepala setinggi 1 meter lebih. Lantai paring batangan, banyaknya antara 5-7 batang yang diikat dengan tali haduk,paikat tali atau tali sumawi tempo dulu.
Dahulu sebelum terjadi pemekaran desa dan kecamatan bahwa Desa Lumpangi menjadi wilayah Kecamatan Padang Batung Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Untuk sampai ke desa Lumpangi seseorang harus jalan kaki dari Taxian mobil Pagat Batu (Batu Bini). Waktu itu jenis mobi taxi yang sampai ke Batu Bini ini adalah mobil jenis Jep dan mobil Puar. Kedua jenis mobil inilah yang taxi pulang-pergi (PP) Kandangan – Pagat. Batu. Nah dari Pagat Batu inilah jalan kaki menuju desa Lumpangi kurang lebih 6 jam memakan waktu lama kalau berjalan normal melewati tepi sungai Kali Amandit. Ada beberapa desa yang dilewati (sebagai terminal pejalan kaki untuk istirahat minum dan makan di warung pada desa-desa tersebut) antara lain desa-desa yang dilalui desa Bulanang, desa Muara Hariang (Periangan), desa Halunuk, desa Basawar, desa Muara Bayumbung, desa Harantan (Panggungan) desa Marikit dan kampung Datar Tandui terus sampai Desa Lumpangi. Tetapi sekitar tahun 1991-1995 jalan tembus Kandangan ke Batulicin baru dibuat, dengan adanya akses jalan tersebut maka sepeda motor dan mobil bisa masuk dengan mudah ke desa Lumpangi.. Jalan tembus ini sangat berpengaruh banyak terhadap perekonomian masyarakat desa Lumpangi khususnya. Kemudian terjalilah pemekaran desa dan kecamatan, maka Desa Lumpangi menjadi Kecamatan Loksado.
DAFTAR PUSTAKA
Referensi :
- Artiel Sekilas mengenal profil Ulama terkemuka yang popular dengan Al Faqih Al Muqaddam Ats Tsani yang di juluki Al Seggaf. https://pecintahabibana.wordpress.com/2013/03/10/sekilas-biografi-al-imam-syekh-abdul-rahman-al-seggaf/
- Artikel Mengenal Sejarah Alawiyin Masuk Nusantara/. http://www.suarabamega25.com/2023/01/mengenal-sejarah-alawiyin-masuk.htm
- Artiel Sekilas mengenal profil Ulama terkemuka yang popular dengan Al Faqih Al Muqaddam Ats Tsani yang di juluki Al Seggaf. https://pecintahabibana.wordpress.com/2013/03/10/sekilas-biografi-al-imam-syekh-abdul-rahman-al-seggaf/
- Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin Maktab Daimi-Rabithah Alawiyah /https://www.scribd.com/document/537983716/Buku-Saku-Marga-Alayawiyin-Maktab-Daimi-Rabithah-Alawiyah
Artikel & Opini WargaHeadlineIslam/ Sejarah Alawiyyin Marga / Fam Azmatkhan/ Redaksi 30 Juli 2020 5 min read // https://suarakalimantan.com/2020/07/30/sejarah-alawiyyin-marga-fam-azmatkhan/
Artikel "Asal usul Marga Al-Azhmatkhan” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. / https://id.wikipedia.org/wiki/Azmatkhan
Artikel “Azmatkhan” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas//
Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin Maktab Daimi-Rabithah Alawiyah /https://www.scribd.com/document/537983716/Buku-Saku-Marga-Alayawiyin-Maktab-Daimi-Rabithah-Alawiyah
- Artikel Mengenal Sejarah Alawiyin Masuk Nusantara/. http://www.suarabamega25.com/2023/01/mengenal-sejarah-alawiyin-masuk.html
- Artikel “Seiyun” From Wikipedia, the free encyclopedia This page was last edited on 12 February 2022, at 02:00 (UTC). https://en.wikipedia.org/wiki/Seiyun
- Artikel “Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi Sadah Aal Ba Alawy Aal Muhammad” ditulis oleh Al Habib Aidarus Almashoor/http://as-sadah.blogspot.com/2011/12/menelusuri-silsilah-suci-bani-alawi.htm
- kitab biografi "Ulama Terkemuka Dunia dan Nasional" oleh Syamsul Afandi
- Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin Maktab Daimi-Rabithah Alawiyah /https://www.scribd.com/document/537983716/Buku-Saku-Marga-Alayawiyin-Maktab-Daimi-Rabithah-Alawiyah
- Artikel Biografi Abu Abdullah Mas\’ud bin Abdullah al-Jawi/https://www.tokohwanita.co.id/2023/02/02/biografi-abu-abdullah-masud-bin-abdullah-al-jawi/
Artikel Biografi Habib Abu Bakar Assegaf yang
ditulis pada tahun 2017 oleh Saadillah Mursyid
Kitab Biografi Ulama-ulama Terkemuka
Dunia dan Nasional” yang ditulis oleh “Syekh Samsul Afandi The
source: hadhramaut.info/indo – 01/5/2008
Artikel tentang “Suku Dayak”yang di tulis oleh Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Suku Dayak - Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (diakses pada 19 Oktober 2021).
Artikel tentang “Sejarah Kalimantan Selatan” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kalimantan_Selatan diakses 20-10-2021 :07.45 wita
Artikel tentang “Kesultanan Banjar “ yang diterbitkan oleh Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas 2011-03-27 13:26 Alamnirvana.
Artikel Sejarah dan Perkembangan
Kerajaan Islam di Kalimantan" yang ditulis oleh Tim, CNN Indonesia |
Rabu, 30/06/2021 13:03
Artikel tentang Islam di Kesultanan
Banjar pada abad ke 19M dan Peran Muhammad Arsyad Al Banjari ditulis oleh:
Abd. Gafur tahun 2009
Tahun1761–1801, masa pemerintahan Sultan
Tahmidullah Kesultanan
Banjar, https://www.google.com/search?q=kapan+belanda+menjajah+kalimantan+selatan&sxsrf=AOaemvKZjxAG7Lq7Y7jOA1IDVSAUmB7O2Q%3A1634772915876&ei=s6dwYeD6NISbmge2zIvICw&oq=kapan+belanda+menjajah+kalimantan+selatan&gs_lcp=Cgdnd3Mtd2l6EAEYATIHCCEQChCgATIHCCEQChCgAToHCAAQRxCwAzoHCAAQsAMQQzoECCMQJzoFCAAQgAQ6BggAEBYQHjoFCCEQoAFKBAhBGABQudYHWKGYCGCDrwhoAXACeACAAYcBiAGdBJIBAzIuM5gBAKABAcgBCsABAQ&sclient=gws-wiz
diakses 20-10-2021, 09.41
Folklor adalah Ceritera/kisah yang
penyebaran dan pewarisannya cenderung dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan
melalui tutur kata dari mulut ke mulut.
konstruksi adalah sebuah susunan atau model
dari sebuah sarana dan prasarana yang dibuat sebelum melakukan pembangunan
Artikel Biografi Habib Abu Bakar As-Segaf yang
ditulis pada tahun 2017 oleh Saadillah Mursyid
Menurut Mitologi Kisah-kesah Tetuha bahari
Keterangan bahwa Nama Islamnya Putri Tetuha
Adat Dayak Balai Ulin yang dzuriat sesudahnya menyebutnya aluh/galuh Jamilah
atau Siti Jamilah. Abu Thalib dan Hamzah adalah kakak kandung Siti Jamilah.
Daftar makam Ulama Aulia Habaib HSS, Dakwah
sepanjang hayat Teladan sepanjang jaman, Sabtu, 17 November 2018, di tulis oleh
Abu Salim (Bin Alkaff HSS) Dikutip bersumber dari Manaqib Alhabib Ali bin
Idroes Assegaf Turbah Alawiyyin Anak Mas Kandangan.
Abad ke-18 adalah dihitung mulai dari tahun 1701M sampai dengan tahun 1800M. Sedang pertengan abad ke-18 berarti dihitung mulai dari tahun 1751M.aan tanah makam dan sekitarnya sebelum tahun 1970 an.
Aruh Baharin /Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas : https://id.wikipedia.org/wiki/Aruh_Baharin
Artikel Sejarah Ahlul Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesia, http://fakhrur94.blogspot.com/2012/04/sejarah-ahlul-baitketurunan-sayyidina.html
Suku Dayak Berasal dari Kalimantan, Berikut Asal-usul dan Tradisiny
Fida Afra – detikSulsel, Rabu, 27 Sep 2023 19:30 WIB
https://www.detik.com/sulsel/budaya/d-6953919/suku-dayak-berasal-dari-kalimantan-berikut-asal-usul-
Artikel Suku Dayak” Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak dan-tradisinya#:~:text=Suku%20Dayak%20adalah%20kelompok%2
Ket. Referinsi No.
6-7 Artikel Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku Dayak
https://www.gramedia.com/best-seller/tradisi-suku-dayak/
Artikel Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit (Bagian-1)
https://daerah.sindonews.com/berita/1019516/29/datu-banua-lima-panglima-yang-ditakuti-prajurit-majapahit-bagian-1
Artikel “Nan Sarunai” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas/ https://id.wikipedia.org/wiki/Nan_Sarunai








.jpeg)








Terimakasih ilmunya...
BalasHapusya sama-sama
BalasHapus