Minggu, 26 Desember 2021

Mengungkap Historis Datu Habib Lumpangi Abu Bakar Kec. Loksado

Mengungkap Historis Datu Habib Lumpangi Abu Bakar Kec. Loksado

Oleh H.Hasan Basri bin M.Barsih Assegaf



Daftar Isi  Bab. I

01. Historis Desa Lumpangi masa tahun 1970-1980 Masihi.

02. Lelohor Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf ash-Shaafy (Datu Habib Lumpangi) Keturunan Ba ‘Alawi.

03. Sekilas Keterangan asal Usul "Syarif atau Habib yang ber- FAM / Marga Assaqqaf.

04. Melacak  Silsilah nasab dzuriat Nabi Besar Muhammad Saw melalui Marga/ Fam Lelohor Sayyid dan Habib.


BAB. I

MENGUNGKAP HISTORIS DATU HABIB LUMPANGI SAYYID ABU BAKAR BIN HASAN BIN HASYIM ASSAQQAF KECAMATAN LOKSADO.


01. Historis Desa Lumpangi masa tahun 1970-1980 Masihi.

Destinasi objek wisata Loksado memiliki pesona dan keunikannya tersendiri yang merupakan bagian kawasan Pegunungan Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan  memiliki banyak pesona alam yang luar biasa indah dan objek wisata. selain itu juga anda dapat menikmati bening dan sejuknya air pegunungan yang mengalir ke Sungai  Amandit serta riak-riak arus dari jeram atau riam  kecil yang cukup menarik hati.

“Destinasi” adalah area geografis sebagai lokasi yang dapat menarik wisatawan untuk tinggal secara sementara yang terdiri dari berbagai produk periwisata, sehingga membutuhkan berbagai prasarat untuk merealisasikannya.

Masing-masing destinasi itu memiliki pesona dan keunikannya masing-masing. Bila Anda belum sempat mengunjungi destinasi perbukitan batu Langara dan makam religi Habaib keluarga Assegaf Lumpangi Loksado, yang menawarkan keindahan alam luar biasa bagi siapa pun yang berkunjung mungkin tak ada salahnya menyiapkan rencananya sejak saat ini

Sementara destinasi objek wisata lain alam Loksado, berupa air Terjun Haratai berjarak sekitar sepuluh kilometer dari ibukota kecamatan dengan menyisir bukit ke arah pedalaman.

Ooh Lumpangi! Kau adalah desaku, kau desa tempat lahirku, kau tempat lahir  nenek dan kakekku, desa tempat tinggalku masa kanak-kanak hingga remaja. Lumpangi adalah sebuah desa yang ramah lingkungan, ia desa yang terisolasi, udaranya yang sejuk. air sungainya yang bening, ia jauh dari pusat keramaian kota kandangan, dulu jaraknya sangat jauh dari kota Kandangan, bisa ditempuh 6-7 jam  jalan kaki. dan belum bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat. Tetapi sekarang desa Lumpangi bisa ditempuh anatara 20-25 menit dengan kendaraan roda dua atau roda empat dari kota Kandangan.

Ada sebagian  Keluarga Habib yang dulunya masih bertempat tinggal dekat areal makam di kampung  Balai Ulin. Keluarga itu adalah keturunan Habib Iberahim Abu Tha’am bin Abu Bakar ats-Tsani bin  Ahmad Suhuf. Ia punya anak 3 orang yaitu an.Muhammad Abu Thair, Siti Khadijah dan Daud. Abu Thair Muhammad tinggal dekat Masjid, sedangkan kedua adiknya tinggal di kampung Balai Ulin. Kemudian anak Siti Khadijah an. Ahmad I’ing dan Hambali yang dulunya bertempat tinggal (rumah) dekat makam, dan karena merasa susah PP ke Lumpangi, harus menyeberangi aliran sungai Kali Amandit, arus sungainya yang deras sedalam lebih dari 1 meter, menyeberangi dengan jalan kaki, atau menyeberangi dengan rakit  bambu  untuk samapai ke masjid dan ke pasar  dan juga di pasar ini untuk mencari keperluan hidup lainnya seperti  uyah, asam, acan dan timbaku.

Maka setelah dibuatnya jembatan gantung penghubung antara desa Lumpangi dengan kampung muara Ahan. Maka kedua saudara ini Ismail (Julak I’ing) dan Hambali pindah rumah dari kampung Balai Ulin ke kampung Muara Ahan. Maka kampung Balai Ulin kosong dari perumahan penduduk. Kekosongan itu terjadi sebelum Indonesi merdeka. Kemudian  Ismail (Julak I’ing) dan Hambali (pa. Uut)  mendirikan sebuah rumah di tepi sungai Ahan. Rumah itu juga berada di tepi jalan Kandangan ke  Loksado. Dulu orang-orang yang dari Kandangan, apabila sampai dihulu kampung Datar Tandui, mereka menyeberang sungai Kali Amandit yang dangkal  dekat muara ahan, mereka  berjalan  meliwati halaman rumah Ismail (Julak I’ing) dan Hambali, tetapi bila air sungai dalam dan arusnya  deras mereka menyeberang lewat jembatan penghubung antara Lumpangi dengan muara Ahan. Dan mereka juga meliwati halaman rumah Ismail (Julak I’ing) bin H.Mastur dan Hambali bin H.Mastur ini.

 Sejak kedua kakak beradik inilah pindah rumah, maka kampung Balai Ulin menjadi mati tak dihuni lagi oleh penduduk setempat, dan pusara / makam Habaib mulai tidak terawat lagi dengan baik. Dikampung Muara Ahan tahun 1974an sudah ada tempat pendidikan masyarakat yang dikenal “SR” yaitu Sekolah Rakyat. Bangunan SR dibangun dengan swadaya masyarakat dan honor Gurunya atas swadaya masyarakat.  Pasar lumpangi dulu berada dihulu masjid, sebagian para Pedagang  berjualan dihalaman rumah kami.

Konon keberadaan  pasar ini cukup lama  sebelum  keberadaan  dibangunnya masjid Baiturrahim.  Kemudian ada bantuan Pemerintah tahun 1974 untuk membangun pasar, untuk pembuatan tempat khusus jualan maka pasar pindah ke pantai dihalaman rumah Uus (Pa.Mawan) dan.dekat dengan Jembatan gantung. Jembatan gantung sedarhana dengan tali kawat baja yang diikatkan pada kaki batu langara, dan diseberangnya di beri dua tiang ulin dan ujun kawat baja diikatkan pada kayu ulin yang dibenam di dasar tanah pantai. Ujung tali itu ditutupi batu kali sebesar kepala setinggi 1 meter lebih. Lantai paring batangan, banyaknya antara 7-10 batang yang disirat (diikat) dengan tali haduk, paikat tali atau tali sumawi tempo dulu.

Dahulu sebelum terjadi pemekaran desa dan kecamatan bahwa Desa Lumpangi menjadi wilayah Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Untuk sampai ke desa Lumpangi seseorang harus jalan kaki dari Taxian mobil Pagat Batu (Batu Bini). Waktu itu jenis mobi taxi yang sampai  ke Batu Bini ini adalah mobil jenis Jep dan mobil Puar. Kedua jenis mobil inilah yang taxi pulang-pergi (PP) Kandangan – Pagat. Batu.  Nah dari Pagat  Batu inilah jalan kaki menuju desa Lumpangi kurang lebih 6 jam memakan waktu lama kalau berjalan normal melewati tepi sungai Kali Amandit.

Ada beberapa desa yang dilewati (sebagai terminal pejalan kaki untuk istirahat  minum  dan makan di warung pada desa-desa tersebut) antara lain desa-desa yang dilalui desa Batu Bini atau Batu Tambun terus desa Bulanang,  desa Muara Hariang (Periangan), desa Halunuk, desa Basawar, desa Muara Bayumbung, desa Harantan (Panggungan) desa Marikit dan kampung  Datar Tandui terus sampai Desa Lumpangi. Tetapi sekitar tahun 1991-1995 jalan tembus Kandangan ke Batulicin baru dibuat, dengan adanya  akses jalan tersebut maka sepeda motor dan mobil bisa masuk dengan mudah ke desa Lumpangi.. Jalan tembus ini sangat berpengaruh banyak terhadap perekonomian masyarakat desa Lumpangi khususnya. Kemudian terjalilah pemekaran desa dan kecamatan, maka Desa Lumpangi menjadi Kecamatan Loksado.


02. Lelohor Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf ash-Shaafy (Datu Habib Lumpangi) Keturunan Ba ‘Alawi

Leluhur Ba ‘Alawi yakni Imam Ahmad al-Muhajir pada mulanya tinggal di Basrah, Irak. Namun di negeri ini masa itu terjadi konplik, huru hara, fitnah dan tidak aman. Imam Ahmad al-Muhajir adalah Naqib atau kepala keluarga dari keluarga al-Uraidhi. Mereka hijrah ke Hadramaut, untuk menyelamatkan keluarganya dari konplik tersebut.

Nama ketiga putra Abdullah (Ubaidillah) bin Ahmad al-Muhajir, yakni  : Basri (Ismail), Jadid dan Alwi. Nama putra Abdullah yang bernama 'Alwi inilah yang menurunkan Bani Alawi

Putra Abdullah (Ubaidillah) bin Imam Ahmad yang bernama 'Alwi, merupakan orang pertama yang dilahirkan di Hadramaut. Oleh karena itu, anak-cucu 'Alwi digelari dengan sebutan Ba 'Alawi, yang bermakna keturunan Alawi (Bani 'Alawi). Panggilan Ba 'Alawi juga bertujuan menandai dan membedakan kumpulan keluarga ini dari cabang-cabang keluarga lain dari keturunan Nabi Muhammad Saw.

Awal terbentuknya kelompok keluarga ialah dari Imam Ahmad bin 'Isa al-Muhajir, yang berangkat meninggalkan Basrah di Irak bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadramaut di Yaman Selatan.

Seseorang keturunan Ba 'Alawi oleh masyarakat lokal  Indonesia sering kali dipanggil dengan sebutan-gelar Sayyid/Habib untuk laki-laki, dan "Syarifah/Habibah" untuk perempuan.

Ba 'Alawi yang bermula di Hadhramaut ini telah memiliki banyak keturunan dan pada saat ini banyak di antara mereka menetap di segenap pelosok Nusantara, India, dan Afrika.

Kalau kita baca silsilah Nasab para Habaib  Desa Lumpangi Kec. Loksado dari Habib Abu Bakar maka akan bersmbung ke Sayyidina Al-Imam Alwi Alawiyyin yang Keturunanya disebut “Ba ‘Alawy”

Silsilah Nasab Habib Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M. bin Hasan w.1720M bin Hasyim w.1666M/1077H bin Muhammad bin Umar ash-Shoufi bin Abdurrahman bin Muhammad bin Ali w.840H bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assegaf (1338-1416M) bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H)) bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289 bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H) bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M) bin Sayyidina Ali Walidul Faqih bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath (w. 556H/1161M) bin Sayyidina Ali (Al-Imam Kholi Qasam  w.527 H/1133 M) bin Sayyidina Alwi   Ba ‘Alawy (w.512H) bin Sayyidina Al-Imam Muhammad (Shahib As-Shouma’ah w.446H) bin Sayyidina Al-Imam Alwi Alawiyyin (Shahib Saml) bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah (Shahibul Aradh  w.383H)


03. Sekilas Keterangan asal Usul "Syarif atau Habib yang ber- FAM / Marga Assaqqaf" 

Aal-ALSAQQAF آل السقاف    (dibaca Assegaf/al Seggaf).  Yang pertama kali digelari al-saqqaf ialah waliyullah al-Muqaddam al-Tsani al-Imam Abdurahman bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Gelar yang disandang karena beliau sebagai pengayom para wali pada zamannya agar terhindar dari perkara bid’ah. Para ulama ahli hakikat dan para wali yang bijaksana menamakan beliau ‘al-Saqqaf’, karena beliau menutup hal keadaannya dari penduduk di zamannya. Beliau sangat benci dengan kesohoran. Ketinggian derajat beliau dari para wali di zamannya bagaikan kedudukan atap bagi rumah.  Beliau dilahirkan di kota Tarim, dikarunia 13 anak lelaki, dan 7 orang meneruskan keturunannya: Abu Bakar As-Sakran, Alwi, Ali, Aqil, Abdullah, Husain dan Ibrahim.  Waliyullah Abdurahman Al-saqqaf wafat di Tarim tahun 819 H (Afandi 2008).

Adapun ke-7 orang anak laki-laki yang meneruskan keturunan Waliyullah Abdurahman Al-saqqaf adalah : 

  1. Abu Bakar As-Sakran,
  2. Alwi, 
  3. Ali, 
  4. Aqil, 
  5. Abdullah, 
  6. Husain dan 
  7. Ibrahim, 

Adapun anak-anak keturunan Waliyullah Abdurahman Al-saqqaf adalah   mareka masing-masing mempunyai marga / fam :

Sayyid Abu Bakar As-Sakran, punya tiga orang anak yang bernama : Abdullah, Ali dan Ahmad.

1a.. Keturunan Abdullah bin Abu Bakar As-Sakran,  mereka yang bermarga / fam :

  1. Alaydrus  :
  2. Al Husein
  3. Al Alwi
  4. Al Syaikh 

1b.. Keturunan Ali bin Abu Bakar As-Sakran,  mereka yang bermarga / fam :

  1. Al Wahath
  2. Al Musyayyakh
  3. Al Umar Faqih
  4. Al bin Ahsan (Banahsan)
  5. Al Masyhur
  6. Al Zahir
  7. Al Hadi
  8. Al Syahabuddin 

1c..Keturunan Ahmad bin Abu Bakar As-Sakran,  mereka yang bermarga /fam :

  1. Assegaf Ali bin Abdullah
  2. Al Musawwa
  3. Al Munawwar
  4. Al Quthban 

2.Keturunan Alwi bin Abdurrahman Assegaf, mereka yang bermarga / fam :

  1. Assegaf Al Qaisiyah
  2. Assegaf Al Fargas
  3. Assegaf Al Tuainah
  4. Assegaf Al Bahaliqah
  5. AssegaAl Muallim
  6. Assegaf Al Ahmad


3. Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf

Menurut  Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin bahwa Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf yang bermarga /fam

  1. Assegaf Al Thaha bin Umar
  2. Assegaf Al Usman
  3. Assegaf Ash-Shaafy

Menurut penelitian Syaikh Syamsul Afandi tentang nasab dzuriat Nabi Muhammad Saw dalam kitab biografi "Ulama Terkemuka Dunia dan Nasional" bahwa Habib  Abdurahman al-Mualim adalah ayahnya waliyullah Umar al-Shaafi. Aal AL-SHAAFY AL-SAQQAF Mereka adalah keturunan waliyullah Umar al-Shafi bin Abdurahman al-Mualim bin Muhammad bin Ali bin Abdurahman al-Saqqaf. Sedangkan yang punya marga/ fam/ nama al-Mualim" …………al-Mualim” Kadalah Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf.


4. Keturunan Aqil bin Abdurrahman Assegaf,  mereka yang bermarga / fam :

  1. Assegaf Ba Aqil

 

5.Keturunan Abdullah bin Abdurrahman Assegaf,  mereka yang bermarga / fam :

  1. Al bin Ibrahim
  2. Al Fakhir
  3. Al bin Aqil
  4. Al bin Syaikhan Lisik
  5. Al Ubbad
  6. Al Salim Mahjub
  7. Bin Syaikh Abu Bakar bin Salim
  8. Alalatas

6.Keturunan Ibrahim bin Abdurrahman Assegaf,  mereka yang bermarga/fam :

  1. Al Baiti
  2. Assegaf bin Ibrahim
  3. Assegaf Al Ismail Karisah

7.Keturunan Husain bin Abdurrahman Assegaf,  mereka yang bermarga/fam :

  1. .... Al Husaini.....

Beliau waliyullah al-Faqih al-Muqaddam al-Tsani al-Imam Abdurahman bin Muhammad Maula Dawilah hidup dari  tahun 1338-1416M / 739-819 H. Dari ke 13 anak lelaki ini dzuriat Rasulullah Saw yang bermarga  As Seggaf telah  menyebar ke pelusuk negeri , salah satunya ke negara Asia Tenggara yakni Indonesia, diantaranya  ke pulau Jawa pada masa Kesultanan Demak untuk mengembangkan Syari’at Islam dari Datu Moyang mereka. Masa Kesultanan Banjar mengalami keemasan maka Gantung siwur dan Cicip moning yakni genarasi/ keturunan ke-7 dan ke-8 Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurahman Al-saqqaf adalah Habib Hasan bin Hasyim beserta adik kandungnya Habib Idrus Assegaf dan anaknya Habib Abu Bakar bin Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufi Asseggaf. Habaib inilah menurunkan Habaib yang ber MARGA atau FAM (Family-Keluarga) Assegaf ash-Shaafy masuk ke Kesultanan Banjar  Kalimantan Selatan dan menatap beberapa tahun. Dikota ini Habib Idrus dan Habib Abu Bakar menikahi wanita shalihah dari suku Banjar. Diperkirakan Habaib ini telah menyeberang dan masuk kedaerah Bandarmasih pada akhir abad ke-17M.


04. Melacak  Silsilah nasab dzuriat Nabi Besar Muhammad Saw melalui Marga/ Fam Lelohor Sayyid dan Habib 


a. Marga atau Fam Azmatkhan

Marga atau Fam Azmatkhan merupakan keturunan dari Al-Habib As-Sayyid Abdul Malik Al-Azhamatkhan bin As-Sayyid Alawi ‘Amm Al-Faqih bin As-Sayyid Muhammad Shahib Al-Mirbath, beliau merupakan keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Marga Al-Azhmatkhan merupakan keturunan dari Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath, ia diduga merupakan keturunan Husain bin Ali. Abdul Malik bin Alwi berhijrah dari Hadramaut ke India pada abad ke-14 Masehi, lebih awal dari para imigran lain dari Hadramaut

Menurut Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini, guru besar dari Tarim, Yaman, keluarga Azmatkhan (yang merupakan leluhur Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi asal Hadramaut dari gelombang pertama yang masuk di nusantara dalam rangka penyebaran Islam.

Maulana As-Sayyid / As-Syarif Abdul Malik bin Alwi kemudian menikahi putri bangsawan Haidarabad India dan mendapatkan gelar "Al-Azhmatkhan". Gelar "Khan" diberikan oleh Bangsawan Haidarabad agar ia dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain.[1] Selain itu, mereka menyematkan gelar "Azhamat" yang berarti "Mulia" karena Abdul Malik bin Alwi diduga berasal dari garis keturunan "Sayyid" Keturunan Nabi Muhammad SAW. Sebagian keturunannya tetap mempertahankan nama ini sebagai Patronimik sampai hari ini, Di Indonesia keturunan bermarga Azmatkhan ini umumnya di kenal melalui Garis Keturunan Walisongo, seperti contoh Raja / Sultan Nusantara terdahulu Nasabnya tersambung ke Walisongo hingga ke Maulana Sayyid / Syarif Abdul Malik bin Alwi keturunannya saat ini yang ada di Nusantara menyandang identitas Bangsawanannya nama depannya diawali : Raden, Raden Mas, Tubagus, Elang, Kemas, Tengku.

Asimilasi karena sejarah panjang perkawinan silang yang ekstensif, terutama dengan bangsawan lokal, kebanyakan dari keturunan Azmatkhan secara fisik dan budaya tidak dapat dibedakan dari penduduk setempat. Di Indonesia, tidak jarang anggota keluarga Azmatkhan memiliki gelar kerajaan turun temurun seperti Raden, Tubagus, Masagus, Masayu, Kemas, atau Nyimas.

b. Melacak  Silsilah nasab dzuriat Nabi Muhammad Saw melalui Marga/ Fam Lelohor Sayyid dan Habib berikut ini   :

  1. Abdurrahman bin Alwi Ammul Faqih,
  2. Ahmd bin al Faqih al Muqaddam
  3. Ali bin al Faqih al Muqaddam
  4. Abdulah Ba ‘Alawi
  5. Ali bin Muhammad Mauladdawilah
  6. Alwi bin Muhammad Mauladdawilah
  7. Ali bin Abdurrahman Assegaf
  8. Alwi bin Abdurrahman Assegaf
  9. Aqil bin Abdurrahman Assegaf
  10. Ibrahim bin Abdurrahman Assegaf
  11. Abdullah bin Abdurrahman Assegaf
  12. Syaikh Abu Bakar bin Salim
  13. Abdullah bin Abu Bakar As-Sakran
  14. Ali bin Abu Bakar As-Sakran
  15. Ahmad bin Abu Bakar As-Sakran

Menurut Artikel Buku Saku Marga Alawiyin Maktab Daimi RabithahA lawiyah /https://www.scribd.com/document/537983716/Buku-Saku-Marga-Alayawiyin-Maktab-Daimi-Rabithah-Alawiyah bahwa Fam/Marga/Keluarga (Aal Alawiyin adalah : 

1.Keturunan Abdurrahman bin Alwi  Ammul Faqih, mereka berm Alaarga /Fam  

  1. Bahasyim
  2. Bin Smith
  3. Bin Thaaher
  4. Ba’bud Maghfun
  5. Bafarj
  6. Al Haddad
  7. Basurrah
  8. Aided
  9. Bafaqih
  10. Baiti Auhaj
  11. Basakutah
  12. Annadhir

2..Keturunan Ahmd bin al Faqih  al Muqaddam mereka bermarga /Fam

  1. Ba Umar
  2. Albar
  3. Khaneyman
  4. Ba Ali
  5. Bilfaqih
  6. Al Beidh
  7. Balghaits
  8. Al Jufri
  9. Al Kaf
  10. Al Bahar
  11. Al Shafi

3..Keturunan Ali bin al Faqih al Muqaddam  yang bermarga / fam :

  1. Al Junaid
  2. Al Sirri
  3. Baharun
  4. Bahasan
  5. Bin Sahil
  6. Jamalullail
  7. Basyaiban
  8. Al Syathiri
  9. Al Habsyi
  10. Al Qadri

4. Keturunan Abdullah Ba ‘Alawi yang bermarga / fam :

  1. Madihij
  2. Fad’aq
  3. Al Muthahharah
  4. Al Mudhir
  5. Abu Numai
  6. Al Marzaq
  7. Al Masyhur Marzaq
  8. Al Hamid Munaffar
  9. Ba’bud Dubjan
  10. Baraqbah
  11. Al Khirid
  12. Al Barum

5..Keturunan Ali bin Muhammad Mauladdawilah yang bermarga / fam :

  1. Al Hinduan
  2. Ba’bud Kharbasyan
  3. Ba’bud Syeikhan

6.Keturunan Alwi bin Muhammad Mauladdawilah yang bermarga / fam :

  1. Bin Yahya
  2. Maula Khailah 
  3. Bin Sahil  Maula Khailah 
  4. Muqaibil
  5. Mauladdawilah


12.. Keturunan Syaikh Abu Bakar bin Salim,  mereka yang bermarga / fam :

  1. Al Hamid
  2. Al Khiyyed
  3. Al Haddar
  4. Al Bufutheim
  5. Al Aqil Muthahharar
  6. Al Khamur
  7. Al bin Jindan
  8. Al Muhdhar

Daftar Isi  

BAB. II 

SEKILAS SEJARAH KERAJAAN DAYAK MAANYAN “KERAJAAN NAN SARUNAN” DI KALIMANTAN SELATAN

A. Sejarah Kerajaan Dayak Maanyan " Kerajaan Nan Sarunai" di Kalimantan Selatan

  1. Kerajaan Dayak Maanyan Kalimantan Selatan
  2. Kerajaan Nan Sarunai meliputi Kahuripan dan Tanjung Puri adalah kerajaan yang sama.
  3. Kerajaan Nan Sarunai adalah Pemerintahan yang pertama kali menjadi cikal-bakal Kesultanan Banjar.
  4. Bukti-bukti Keberadaan Kerajaan Suku Dayak Nan Sarunai di Amuntai Kalimatan Selatan.
  5. Dayuhan dan Intingan Datunya Orang Banua Lima.
  6. Asal Usul Suku Dayak Pulau Kalimantan.
  7. Kelompok Etnis Suku Dayak  Pulau Kalimantan.

B. Latar Belakang Runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan. 

  1. Ekspedisi militer Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Dayak Maanyan Nan Sarunai.
  2. Ekspedisi militer Pertama Kerajaan Majapahit.
  3. Ekspedisi militer Kedua Kerajaan Majapahit.
  4. Ekspedisi militer Ketiga Kerajaan Majapahit.
  5. Dua orang Punggawa penyelamat Ratu Nansarunai dan keluarganya.

C. Sejarah Berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" di Pegunungan Meratus Kecamatan Loksado.

  1. Sekilas Sejarah berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" Kecamatan Loksado.
  2. Tradisi-tradisi Adat Suku Dayak Pegunungan Meratus.
  3. Tradisi-tradisi Budaya bangsa Arab Jahiliyah yang dibatalkan setelah Keberadaan Islam.
  4. Balai Adat Dayak Balai Ulin pernah Simpan Biji Padi Sebesar Kelapa pipikat Keramat.
  5. Kesaktian yang dimiliki Orang Dayak Pegunungan Maratus yang secara turun temurun.
  6. Adanya upaya Sekelumpok Orang Mengkaburkan /Menghilangan  Fakta Sejarah Balai Adat Balai Ulin Lumpangi.
  7. Cikal Bakal Berdirinya  Kerajaan Banjar atau Kesultanan Banjar.
  8. Orang Arab suka berpetualang menjelajahi  lautan sebelum dan sesudah berkembangnya Islam.
  9. Penyebaran Islam dan Proses masuknya agama Islam di Kalimantan Selatan.

BAB. II 

Sekilas Sejarah Kerajaan Dayak Maanyan " Kerajaan Nan Sarunai" di Kalimantan Selatan

1. Kerajaan Dayak Maanyan Kalimantan Selatan

Menurut sejarah Kerajaan Nan Sarunai adalah sebuah kerajaan purba, di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit di Abad ke-14M, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 Masihi. Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu sekitar tahun 1520M (Suku Dayak).

Menurut Lindblad, bahwa  kata Dayak berasal dari kata “daya” dari bahasa Kenyah, yang berarti hulu sungai atau pedalaman. Suku Dayak adalah suku bangsa atau kelompok etnik yang mendiami pedalaman pulau Kalimantan.

Menurut pemerhati sejarah Mudjahidin. S (2010) Dari kisah orang dahulu hiduplah sekelompok suku Melayu Tua di pulau Kalimantan yang terdiri dari lima kelompok suku,ke-5 suku itu dipimpin masing-masing lima orang bersaudara, ke-5 suku tersebut sudah mempunyai sistem kepemimpinan bahwa yang muda taat pada yang tua. Kelima bersaudara tersebut bernama :

  1. Abal,
  2. Anyan,
  3. Aban,
  4. Anum,
  5. Aju,

Mereka ini sangat berilmu dan sakti, bijak dan berwibawa. Negeri yang mereka bangun tersebut diberinama Nan Marunai/dikenal kerajaan Nan Sarunai, yang artinya

  1. Marunai = memanggil dengan suara nyaring (keras belagu)
  2. Sarunai = menyaru dengan suara seperti suling.

Dahulu dinegeri ini jika memanggil orang (mengumpulkan orang) dengan berteriak (bahalulung : Banjar) keras suaranya berirama sesuai maksud panggilannya.

Nama Sarunai itu sendiri dimaknai dengan arti “sangat termasyhur”.Penamaan ini bisa jadi mengacu pada kemasyhuran Suku Dayak Maanyan pada masa silam, di mana mereka terkenal sebagai kaum pelaut yang tangguh, bahkan mampu berlayar hingga ke Madagaskar di Afrika.

Dari cerita suku Dayak Tua, bahwa kelima saudara ini titisan dari dewa Batara Babariang Langit, ia kawin dengan. Putri Mahuntup Bulang anak dari Batari Maluja Bulan dan melahirkan laki-laki an.Maanyamai, dan Maanyamai beristri putri Galuh dan istrinya melahirkan anak bernama Andung Prasap. Konon ia sangat sakti. Dan ia membangun Negeri Nan Marunai (Nan Sarunai) kemudian Andung Prasap beristri anak Raja menggaling Langit dan melahirkan kelima saudara tersebut di atas. Dari kelima saudara tersebut inilah cikal bakal suku-suku Dayak dari pulau Borneo  atau Kalimantan Timur, Tengah, Utara dan Selatan. Orang tua mereka menyuruh mereka berpencar mengembara, konon Abal ke daerah Timur, menjadi suku Aba, Anum ke daerah utara melahirkan suku Otdanum, Aju menetap ketengah benua, jadi suku Ngaju, sedangkan Anyan keselataan melahirkan suku Maanyan. Dan mereka tersebut diberi pitua :” Tabu/ dilarang bacakut papadaan apalagi bermusuhan, karena mereka satu daerah satu nyawa, menurut pitua Nenek Moyang mereka mengatakan (pitua) Terkutuk apabila Bakalahi sata manggungan.

Menurut Artikel "Sejarah persaudaraan dayak dan banjar" bahwa dari cerita silsilah keturunan dayak tersebut adalah suku Weddoid yang sudah eksis berabad-abad mendiami pulau Kalimantan.Adapun anak tertua yang ke-2 bernama Anyan bin Andung Prasap melahirkan suku Dayak Ma-Anyan. Ia punya 10 anak keturunan :

  1. Luwa,
  2. Pahi,
  3. Alai,
  4. Wangi,
  5. Sari,
  6.  Aju,
  7. Burai,
  8. Buun,
  9. Kutip,
  10. Asih

Dari kesepuluh anak ini orang suku Dayak menyebutkan cucu urang 10, kesepuluh cucu tersebut mereka membuka pemukiman /kampung di tempat yang berbeda sehingga ada warga Luwa di sepanjang Kalua sampai kemuara Uya, Ahe menjadi warga Ma-ahe Mahi, Alai di Birayang, wangi menjadi warga Mawangi di Padang Batung HSS, Sari menjadi warga/ Marga Sari di Tapin, Aju menjadi suku Biaju sampai ke Riam Kanan dan Riam Kiwa, Burai menjadi warga, Maburai, Buun menjadi warga Mabuun dan kampung di Warikin, Kutip menjadi warga-Makutip sedangkan Asih menjadi suku Ma-asih ke muara pulau (ujung panti) dan Sungai Baulak (sekarang sebelah Alalak)


2. Kerajaan Nan Sarunai meliputi Kahuripan dan Tanjung Puri adalah kerajaan yang sama 

Menurut Sejarah tradisi lisan suku Dayak  bahwa Kerajaan Dayak Maanyan yang bernama Kerajaan Nan Sarunai, pernah berdiri di daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai. "Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Daerah itu berjarak sekira 190 kilometer dari Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sekarang" (Raditya 2018)

Nama Dayak mulanya adalah sebutan untuk penduduk asli di Pulau Kalimantan. Suku Dayak, memiliki 405 sub-sub suku yang setiap sub sukunya memiliki adat, tradisi serta budaya yang hampir sama. Suku Dayak, merupakan suku yang berasal dari Kalimantan akan tetapi suku Dayak juga tersebar hingga ke Sabah dan Sarawak, Malaysia (Artikel Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku Dayak).

Menurut mitologi suku Maanyan (suku tertua di Kalimantan Selatan), kerajaan pertama di Borneo Selatan adalah Kerajaan Nan Sarunai yang diperkirakan wilayah kekuasaannya terbentang luas mulai dari daerah Tabalong hingga ke daerah Pasir.

Keberadaan mitologi Maanyan yang menceritakan tentang masa-masa keemasan Kerajaan Nan Sarunai sebuah kerajaan purba yang dulunya mempersatukan etnis Maanyan di daerah ini dan telah melakukan hubungan dengan pulau Madagaskar. Kerajaan ini mendapat serangan dari Majapahit. Sehingga sebagian rakyatnya menyingkir ke pedalaman (wilayah suku  Lawangan). Salah satu peninggalan arkeologis yang berasal dari zaman ini adalah Candi Agung yang terletak di kota Amuntai. Pada tahun 1996, telah dilakukan pengujian C-14 terhadap sampel arang Candi Agung yang menghasilkan angka tahun dengan kisaran 242-226 SM (Kusmartono dan Widianto, 1998:19-20). Menilik dari angka tahun dimaksud maka Kerajaan Nan Sarunai/Kerajaan Tabalong/Kerajaan Tanjungpuri usianya lebih tua 600 tahun dibandingkan dengan Kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan Timur (Sahriansyah 2015).

Sementara itu menurut sumber kuat (arkeologis ) menyebutkan bahwa Kerajaan Tanjung Puri adalah kerajaan yang sama dengan Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan.

Kerajaan Nan Sarunai adalah sebuah kerajaan purba, pada masa keemasannya berdatanganlah Para imigran Melayu keturunan Sriwijaya ke tanah Borneo ini, mereka datang ke Tanjungpuri sekitar abad ke-4 M, mereka memiliki budaya lebih maju dari pada penduduk lokal atau suku Dayak pada saat itu, mereka yang menempati pemukiman yang berlokasi di daerah pesisir Sungai Tabalong

Semakin lama perkampungan yang mereka tempati semakin ramai dan kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan kecil bernama Tanjung Puri di bawah kekuasaan Kerajaan Nan Sarunai, 

Pada suatu saat, kota Tanjungpuri mulai berkembang pesat dan menjadi daerah perdagangan yang ramai, serta rakyatnya hidup dalam kemakmuran dan sejahtera.

Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan purba di Kalimantan Selatan yang diyakini berdiri tahun 242 SM- sd. tahun 1389M yakni akhir Abad ke-14 Masihi.. Ia sebuah Kerajaan yang mempersatukan etnis Suku Dayak dan etnis Malayu di Kalimantan saat itu tetapi tidaklah banyak terixspots nama raja-rajanya yang berkuasa sebelumnya.

Sedangkan Kerajaan Tanjungpuri diyakini bawahan Nan Sarunai, kedua Kerajaan ini sangat rukun, berkelurga dan bersaudara dekat, bahkan tidak pernah ada permusuhan diantara kedua kerajaan tersebut. Walaupun kedua kerajaan tersebut berbeda keyakinan, tetapi tetap saling menghormati, menjaga, dan saling membantu. 


03. Kerajaan Nan Sarunai adalah Pemerintahan yang pertama kali menjadi cikal-bakal Kesultanan Banjar.

 

Mengutip Artikel “Nan Sarunai” menyetakan bahwa “Pemerintahan yang pertama kali menjadi cikal-bakal Kesultanan Banjar adalah Kerajaan Nan Sarunai. Kerajaan purba yang dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan ini disebutkan dengan nama yang berbeda-beda. Selain Kerajaan Nan Sarunai, nama-nama lain yang juga diyakini sebagai nama kerajaan ini adalah Kerajaan Kuripan, Kerajaan Tanjungpuri, dan Kerajaan Tabalong. Nama Kerajaan Tabalong disertakan karena kerajaan ini terletak di tepi Sungai Tabalong. Sungai Tabalong adalah anak sungai Bahan, sedangkan Sungai Bahan adalah anak Sungai Barito yang bermuara ke Laut Jawa”.

Selain itu, muncul pendapat berbeda yang menyatakan bahwa Kerajaan Tanjungpuri berbeda dengan Nan Sarunai. Pendapat ini meyakini bahwa Kerajaan Tanjungpuri bukan pemerintahan yang dikelola oleh Suku Dayak Maanyan, melainkan oleh orang-orang Melayu Palembang yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya. Versi yang satu ini juga menyebutkan bahwa Nan Sarunai dan Kerajaan Tanjungpuri berada dalam lingkup ruang dan waktu yang sama.

Pemimpin Nan Sarunai mengendalikan pemerintahan dari sebuah rumah panjang bertipe rumah panggung yang dikenal sebagai Rumah Betang atau Rumah Lamin. Rumah Betang ini tidak lain merupakan istana bagi Raja Nan Sarunai. Rumah Betang mempunyai ciri khusus untuk membedakannya dari rumah-rumah biasa, yakni Rumah Betang tersebut berbentuk tanda plus. Kehidupan orang-orang Suku Dayak Manyaan di Nan Sarunai berlangsung hingga berabad-abad lamanya. Selama kurun waktu ribuan tahun itu, sistem pemerintahan yang berlaku di Nan Sarunai masih dijalankan secara sederhana.


04. Bukti-bukti Keberadaan Kerajaan Suku Dayak Nan Sarunai di Amuntai Kalimatan Selatan.

Mengutip Artikel “Nan Sarunai” menyetakan bahwa “Sejauh ini belum banyak referensi yang bersifat ilmiah dan secara proporsional menjelaskan tentang riwayat Kerajaan Nan Sarunai mengingat usia kerajaan ini yang sudah sangat tua. Sumber-sumber yang digunakan selama ini adalah cerita tutur yang termaktub dalam Hikayat Banjar. Sejarah Indonesia pada umumnya dalam menjelaskan suatu negara tradisional sangat bertumpu pada historiografi tradisional, seperti babad, hikayat, atau cerita rakyat. Historiografi tradisional mempunyai ciri-ciri yang menonjol dan saling berkaitan, yaitu etnosentrisme, rajasentrisme, dan antroposentrisme (Sartono Kartodirdjo, 1993:7). Informasi yang diperoleh dari Hikayat Banjar ditandai oleh sifat-sifat mistis, legendaris, dan tidak ada unsur waktu dalam urutan ceritanya. Hikayat Banjar ditulis sepanjang 4.787 baris atau 120 halaman. Namun, sebagian besar isi dari hikayat ini lebih banyak menceritakan tentang kerajaan-kerajaan setelah era Nan Sarunai, yakni Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Negara Daha, dan Kesultanan Banjar. Riwayat Nan Sarunai sangat sedikit disinggung, terutama menjelang keruntuhannya. Kisah tentang Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar lebih menyerupai tradisi lisan, yakni nyanyian Suku Dayak Maanyan (wadian) yang kemudian ditransformasikan secara turun temurun. Tradisi lisan orang Dayak Maanyan mengisahkan bahwa mereka sudah memiliki negara suku bernama Nan Sarunai. Nyanyian wadian menceritakan peristiwa tragis tentang runtuhnya Nan Sarunai akibat serangan dari Kerajaan Majapahit pada sekitar abad ke-13. Dihitung tahun 1201 sd. tahun 1300 Masihi. Sementara itu di abad ke-14 di Kalsel, pada tahun 1309 M, terdapat seorang raja yang memimpin Nan Sarunai kerajaan Dayak Suku Maanyan, bernama Raden Japutra Layar yang memerintah pada kurun 1309-1329 M. Gelar raden yang disandang sang raja berasal dari Kerajaan Majapahit, karena Japutra Layar sebelum menjadi Raja Nan Sarunai, ia adalah anak kepala suku besar Dayak Maanyan dan ia seorang pedagang yang sering bergaul dengan para bangsawan dari Majapahit.

Raden Japutra Layar adalah raja pertama Nan Sarunai yang tercatat secara historis. Didasarkan pada pola, sistem, dan struktur pemerintahan Nan Sarunai yang sudah menjadi jauh lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya. 

Hikayat Banjar terbagi menjadi dua versi, versi pertama merupakan versi yang telah diubah dan disusun pada masa Kesultanan Banjar yang secara definitif telah memeluk agama Islam, sedangkan versi kedua dianggap sebagai versi yang berasal dari Negara Dipa yang memeluk agama Hindu. Dari analisis Ras ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penjelasan mengenai sejarah Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar memang hanya mendapat porsi yang sedikit karena, Negara Dipa, yang banyak dibahas dalam Hikayat Banjar versi kedua, baru muncul setelah era Nan Sarunai berakhir.

Raden Japutra Layar adalah raja pertama Nan Sarunai yang tercatat secara historis. Didasarkan pada pola, sistem, dan struktur pemerintahan Nan Sarunai yang sudah menjadi jauh lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya. Seperti diketahui, Nan Sarunai adalah pemerintahan yang dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan dan diduga sudah eksis pada kisaran waktu antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi sehingga diperkirakan sistem pemerintahannya, termasuk dalam hal kepemimpinan, belum terorganisasi dengan baik. Dalam hal ini, Raden Japutra Layar bisa saja bukan merupakan raja pertama, melainkan hanya raja yang tercatat setelah sentralisasi Nan Sarunai. Penerus Raden Japutra Layar sebagai pemimpin Kerajaan Nan Sarunai adalah Raden Neno (m. 1329–1349) dan kemudian Raden Anyan (m. 1349–1355). Raden Anyan, bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas, adalah raja terakhir Nan Sarunai sebelum riwayat kerajaan ini tamat akibat serangan dari Kerajaan Majapahit.

Referensi  :

Artikel “Nan Sarunai” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas/ https://id.wikipedia.org/wiki/Nan_Sarunai

Artikel (KERAJAAN TANJUNGPURI DI TANJUNG TABALONG) Yuli Saputera 



05. Dayuhan dan Intingan Datunya Orang Banua Lima

Konon dipulau Borneo di daerah pesisir sungai Barito pada sekitar awal abad ke-13M (th.1200-1300M) hiduplah dua orang Pangeran bersaudara yang terpelajar dan berilmu dan dua orang pengiran ini bernama Datu Dayuhan dan Datu Intingan nama aslinya (Bambang Basiwara), keduanya masih keluarga dekat, sepupu sekali Raden Japutra Layar Raja Dayak Nan Sarunai. 

Menurut ceritra orang-orang Dayak pahuluan bahari bahwa Japutra Layar anak Raden Japatra Batu dan ia anak Raden Gupitra Dewa konon ia punya adik kandung bernama Raden Gupitra Bajawara (alias Datu Paluy) Datu Paluy ini anak dari Datu Sarawin. Dimasa mudanya Dayuhan dan Intingan adalah menjabat Patih dari 40 patih kerajaan Nan Sarunai. Bambang Basiwara dan anak-anaknya mengabdi di Kerajaan Tanjungpuri dan Dayuhan dan anak-anaknya mengabdi di Kerajaan Nan Sarunai. Dayuhan dimasa mudanya menikah dengan Dyang Nilam Baiduri anak pembesar Kerajaan Tanjungpuri menurunkan anak : Datu Angkin, Datu Angara, Datu Kumbang, Dara Kambang dan Datu Kantawan, kelima anaknya setelah dewasa menjadi orang terpelajar dan berilmu mereka mengabdi pada Raja Nan Sarunai. Sedangkan Datu Intingan dimasa mudanya menikah dengan Dyang Intan Baiduri (salah seorang Putri Imigran Melayu keturunan Sriwijaya). Hasil pernikahan keduanya menurunkan lima orang anak laki-laki : 

Datu Alai

Datu Tabalong

Datu Balangan

Datu Amandid

Datu Tapin

kelima bersaudara ini, mempunyai profisi dan keahlian berbeda sehingga tak mudah ditaklukkan lawannya. 

Dilansir dari Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang ditakuti Prajurit Majapahit” bahwa Nama Datu Banua Lima cukup dikenal warga Banjar di Kalimantan Selatan. Datu Banua Lima merupakan gelar bagi lima panglima Kerajaan Tanjungpuri yang terkenal sakti dan ditakuti kerajaan lain termasuk prajurit Majapahit pada awal abad ke 14 masehi. Berdasarkan hikayat Datu Banua Lima, kelima Panglima tersebut yang pertama bergelar Panglima Alai, merupakan ahli politik dan strategi perang. Kedua, Panglima Tabalong, yang terkenal gagah, kuat, pemberani, dan berjiwa ksatria. Ketiga, Panglima Balangan yang berwajah tampan, pintar, dan suka menuntut ilmu kanuragan. Sedangkan yang keempat dan kelima adalah si kembar yang bergelar Panglima Hamandit dan Panglima Tapin. Mereka berdua ini terkenal keras dan suka berkelahi. Kala itu Kerajaan Tanjungpuri berhubungan baik dengan Kerajaan Nan Serunai tetangganya. Walau berbeda keyakinan Kerajaan Tanjungpuri yang mayoritas pengikutnya beragama Buddha sedangkan Kerajaan Nan Sarunai pengikut ajaran Kaharingan. (Datu Dayuhan menjadi Kepala Suku Dayak pegunungan Maratus setelah Kerajaan Dayak Nan Sarunai dan bawahannya runtuh).  (Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit”) 

 (Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit” diterbitkan SINDOnews.com pada Jum'at, 03 Juli 2015)


06. Asal Usul Suku Dayak Pulau Kalimantan 

Nama Dayak mulanya adalah sebutan untuk penduduk asli di Pulau Kalimantan. Suku Dayak, memiliki 405 sub-sub suku yang setiap sub sukunya memiliki adat, tradisi serta budaya yang hampir sama. Suku Dayak, merupakan suku yang berasal dari Kalimantan akan tetapi suku Dayak juga tersebar hingga ke Sabah dan Sarawak, Malaysia (Artikel Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku Dayak).

Menurut Artikel “Suku Dayak Berasal dari Kalimantan, Berikut Asal-usul dan Tradisinya” disebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, bahasa, adat, dan suku. Dari 300 kelompok etnik di Indonesia, Suku Dayak menjadi salah satu suku yang paling terkenal di Indonesia.Suku Dayak adalah kelompok penduduk asli di pulau Kalimantan, Indonesia. Mereka tersebar di lima provinsi Kalimantan, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Dilansir dari laman Kemendikbud, Suku Dayak memiliki asal-usul keturunan dari imigran yang berasal dari Yunnan di China Selatan, tepatnya di Sungai Yang Tse Kiang, Sungai Mekong, dan Sungai Menan. Pada awalnya, kelompok ini bermigrasi menuju Semenanjung Malaysia, dan kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke bagian utara Pulau Kalimantan.

Asal usul nama suku Dayak adalah penjajah Belanda yang melakukan ekspansi di Kalimantan atau Borneo saat itu. Suku Dayak tinggal di daerah sungai di dalam hutan dan mereka mencari nafkah sebagai nelayan di hulu sungai.

6. Kelompok Etnis Suku Dayak  Pulau Kalimantan 

Suku Dayak yang berasal dari Kalimantan ini terdiri dari lebih dari 200 sub kelompok etnis yang sebagian besar tinggal di daerah aliran sungai atau pegunungan di bagian selatan dan tengah pulau Kalimantan.

Suku Dayak terbagi menjadi enam rumpun etnis utama, termasuk Rumpun Kl
emantan, Rumpun Murut, Rumpun Iban, Rumpun Apokayan, Rumpun Ot Danum-Ngaju, dan Rumpun Punan.

Rumpun Dayak Punan dianggap sebagai yang paling lama mendiami Kalimantan. Dari keenam rumpun ini, ada 405 sub-etnis suku Dayak yang memiliki karakteristik dan ciri khas yang berbeda-beda.

Latar Belakang Runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan.

Kerajaan Nan Sarunai adalah Kerajaan Dayak Maanyan yang pernah berdiri di Kalimantan Selatan, Kerajaan yang aman dan rakyatnya hidup makmur. Salah satu yang melatar belakangi runtuhnya Kerajaan Dayak Maanyan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan.

Raja tetap memiliki kekuasaan tertinggi sebagai kepala suku maupun kepala pemerintahan. Otoritas tradisional yang berlaku di lingkungan Nan Sarunai adalah patrikalisme yang pengawasannya berada di tangan seorang individu tertentu yang memiliki kewenangan warisan. Pemimpin Nan Sarunai mengendalikan pemerintahan dari sebuah rumah panjang bertipe rumah panggung yang dikenal sebagai Rumah Betang atau Rumah Lamin. Rumah Betang ini tidak lain merupakan istana bagi Raja Nan Sarunai. Rumah Betang mempunyai ciri khusus untuk membedakannya dari rumah-rumah biasa, yakni Rumah Betang tersebut berbentuk tanda plus.

Kehidupan orang-orang Suku Dayak Manyaan di Nan Sarunai berlangsung hingga berabad-abad lamanya. Selama kurun waktu ribuan tahun itu, sistem pemerintahan yang berlaku di Nan Sarunai masih dijalankan secara sederhana. Baru pada tahun pada tahun 1309 M, Nan Sarunai dianggap sudah memiliki sistem pemerintahan yang lebih baik ketika dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Japutra Layar. Pada masa ini, sistem pemerintahan, termasuk dalam hal pemberian gelar kehormatan, di dalam Nan Sarunai sudah terpengaruh tradisi dari Kerajaan Majapahit. Gelar raden diberikan secara khusus hanya untuk seorang raja, sedangkan para bangsawan lainnya memakai gelar patih, uria, damong, pating'i, datu, dan sebagainya.


1. Ekspedisi militer Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Dayak Maanyan Nan Sarunai

Menurut Sejarah tradisi lisan suku Dayak  bahwa Kerajaan Dayak Maanyan yang bernama Kerajaan Nan Sarunai, pernah berdiri di daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai. "Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Daerah itu berjarak sekira 190 kilometer dari Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan sekarang" (Raditya 2018)

Mengutip Artikel “Nan Sarunai” menyetakan bahwa "Nama Sarunai sendiri dimaknai dengan arti “sangat termasyhur”. Penamaan ini bisa jadi mengacu pada kemasyhuran Suku Dayak Maanyan pada masa silam. ada pendapat lain yang mengatakan bahwa nama Sarunai berasal dari kata “Sarunai” yakni alat musik sejenis seruling yang mempunyai tujuh buah lubang. Alat musik ini sering dimainkan orang-orang Suku Dayak Maanyan untuk mengiringi tari-tarian dan nyanyi-nyanyian. Konon, Raja dan rakyat Nan Sarunai sangat gemar menari dan menyanyi. Dengan demikian, nama "Nan Sarunai" berarti sebuah kerajaan di mana raja dan rakyatnya gemar bermain musik".

Periodesasi pemerintahan yang muncul dan berkembang di Asia Tenggara pada umumnya terjadi dalam tiga fase, yaitu negara suku, negara awal, dan negara kerajaan. Nan Sarunai memainkan peranan penting pada fase negara suku dalam konteks sejarah Banjar. Negara suku atau negara etnik mengandaikan bahwa rakyat di pemerintahan itu hanya terdiri dari satu etnik dan tatanannya diatur oleh tradisi yang ditransformasikan dari nenek moyang ke generasi berikutnya.

2.Ekspedisi militer Pertama Kerajaan Majapahit

Sejarah menyebutkan bahwa Kerajaan Dayak Maanyan yang bernama Kerajaan Nan Sarunai, berdiri dan bertahan berabad-abad di Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai. "Nan Sarunai diyakini berada di Amuntai, terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Nan Sarunai adalah kerajaan Dayak yang kuat dan hebat dan rakyatnya makmur. Buktinya dua kali pasukan Majapahit menyerang kerajaan Nan Sarunai tetapi selalu dapat dipatahkan.

Menurut hikayat Datu Banua Lima bahwa Tahun 1309 M Kerajaan Dayak Nan Sarunai dipimpin raja bernama Raden Japutra Layar, Menurut ceritra orang-orang Dayak pahuluan bahari bahwa Japutra Layar anak Raden Japatra Batu dan ia anak Raden Gupitra Dewa konon ia punya adik kandung bernama Raden Gupitra Bajawara (alias Datu Paluy anak dari Datu Sarawin. Datu Sarawin diperkirakan hidup akhir abad ke-12 Masihi) ia seorang raja Nan Sarunai dan ia kakeknya Datu Dayuhan. 

Seorang Raja yang dalam waktu satu genarasi masa memimpin kerajaannya berkisar antara 35-40 tahun baru digantikan oleh penerusnya kerajaan ini yang bertakhta  di Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan saat itu. Kemudian penerus Kerajaan Dayak Nan Sarunai dipimpin oleh Raden Neno antara 1339-1341.yaitu anak Raden Japutra Layar.

Menurut Sri Naida, pemerhati sejarah mengatakan bahwa "walau Kerajaan Nansarunai itu dianggap lenyap, toh eksistensi Dayak Maanyan itu tetap ada. Terbukti, dengan adanya 7 uria (petinggi Kerajaan Nansarunai) dan 40 patih yang akhirnya membentuk suku-suku yang ada di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah"

Diceritrakan bahwa Kerajaan Majapahit mengirim ekspedisi militer pertama ke wilayah Borneo. Yang mula-mula diserang adalah Kerajaan Nan Sarunai. Sekitar 5.000 pasukan Majapahit datang dengan kapal-kapal laut melewati Sungai Barito yang dipimpin oleh Senopati Arya Manggala. Dengan membawa pasukan yang sangat banyak tersebut, lalu pasukan Kerajaan Nan Sarunai dengan gagah berani menyambut kedatangan serangan mereka dengan pasukan yang sudah matang dipersiapkan sebelumnya. Lalu terjadilah peperangan sengit antara dua kobo kerajaan ini.

Setelah dua hari bertempur dimedan laga menghadapi pasukan Nansarunai yang tangguh dan kuat, akhirnya pasukan Majapahit mampu dipukul mundur oleh pasukan Nan Sarunai yang dipimpin Datu Panglima Angkin tarkanal sakti (anak Datu Dayuhan), bahkan pemimpin pasukan Majapahit ketika itu yaitu Senopati Arya Manggala roboh bersimbah darah dengan liher putus akibat terkena sebitan Mandaunya senjata asli Suku Dayak. Mengetahui pemimpin pasukannya tewas lalu sisa-sisa pasukan Majapahit lari terbirit-birit tunggang langgang menuju kapal untuk menyelamatkan diri dari gempuran dan kejaran pasukan Nan Sarunai dan akhirnya  mereka pulang ke tanah Jawa. Kerajaan Majapahit gagal dalam ekspedisi pertama ini, untuk menaklukan Kerajaan Nan Sarunai.

Referensi (Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit” diterbitkan SINDOnews.com pada Jum'at, 03 Juli 2015)

Diceritrakan pula bahwa dimasa kerajaan Dayak Nansarunai ini pula menurut Hikayat Datu Banua Lima ada seorang panglima kerajaan berasal dari suku Dayak Alai yang terkenal dengan sebutan Panglima Alai. Bersama lima panglima lainnya yaitu Panglima Tabalong, Panglima Balangan, Panglima Hamandit dan Panglima Tapin sukses menghalau serangan kerajaan Majapahit pada tahun 1356M.

Dilansir dari Artikel “Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit” bahwa Pada saat itu, Kerajaan Majapahit sangat berambisi untuk menguasai nusantara termasuk tanah Borneo, Kalimantan. Hal itu terjadi karena Maha Patih Gajah Mada sudah bersumpah untuk menguasai dan menyatukan nusantara. Menurut mata-mata Majapahit ada yang mengatakan bahwa kedua kerajaan di Borneo tersebut adalah rakyatnya sangat makmur karena istananya berlapiskan emas. Mendengar hal itu, Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit begitu berambisi untuk menguasai kedua buah kerajaan tersebut,


3. Ekspedisi militer Kedua Kerajaan Majapahit

Setelah gagal dalam ekspedisi pertama, Majapahit kembali mengirim ekpedisi militer kedua. Ekspedisi kedua kali ini dipimpin langsung Laksamana Nala yang diikuti isterinya dengan membawa dua kali lipat pasukan dari ekspedisi pertama. Dalam rombongan pasukan besar ini terdapat juga pasukan khusus Majapahit yang terkenal yaitu pasukan Bhayangkara. Pada ekspedisi kedua ini pasukan Majapahit belum berhasil menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai

Diceritrakan pula bahwa dimasa awal Raden Anyan memimpin kerajaan Dayak Nansarunai menggantian ayahnya Raden Neno. menurut Hikayat Datu Banua Lima ada seorang panglima kerajaan berasal dari suku Dayak Alai yang terkenal dengan sebutan Panglima Alai. Bersama lima panglima lainnya yaitu Panglima Tabalong, Panglima Balangan, Panglima Hamandit dan Panglima Tapin dengan membawa 1000 orang pasukan mereka sukses menghalau serangan kerajaan Majapahit pada tahun 1356M. . Laksamana Nala pulang ke tanah Jawa dengan sengaja ia meninggalkan isterinya Damayanti (Samoni Batu nama samaranya) di wilayah /tempat kekuasaan musuhnya tujuannya untuk mengetahui kelemahan musuhnya dengan alasan kapal tidak dapat merapat kepantai karena terjadi musim kemarau saat itu. Beberapa tahun kemudian musim kemarau telah berakhir menyamar  sebagai  saudagar Pedagabg kaya berlabuh di sungai Barito Laksamana Nala menjemput isterinya yang sedang menggendung seorang anak. Disinilah awal bermula timbul rasa .dendam Laksamana Nala dengan Raja Nansarunai karena ia menikahi & menghamili Samoni Batu yang sudah bersuami dan lewat keterangan isterinya tersebut ia mengetahui sumur gua tempat persembunyiannya dan rahasia kelemahan musuhnya.

Di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 Masihi. Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu sekitar tahun 1520M (Suku Dayak)

Kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan tersebut yang berlokasi di Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai. Nansarunai diyakini berada di Amuntai, daerah yang terletak di pertemuan Sungai Negara, Sungai Tabalong, dan Sungai Balangan yang bemuara di Laut Jawa. Akibat serangan Majapahit  itu yang terjadi diakhir abad ke-14 Masihi suku Dayak Maanyan tersebut terdesak dan terpencar, sebagian masuk ke pedalaman-pedalaman hulu sungai.


4.Ekspedisi militer Ketiga Kerajaan Majapahit

Pada 1389 M. Majapahit kembali mengirim ekpedisi militer ketiga Ekspedisi ini dipimpin langsung Laksamana Empu Jatmika dan diikuti Laksamana Nala. Pada ekspedisi ketiga ini pasukan Majapahit melakukan siasat perang yakni penyusupan-penyusupan dari dalam yang tidak disadari lawannya, berupa memasukan kapal yang datang ke darmaga pelabuhan secara bertahap, di wilayah Kerajaan Nan Sarunai, hingga tak dicurigai lawan, mereka menyamar sebagai saudagar pedagang kaya yang banyak pelayannya untuk mengetahui kelemahan lawan, penyamaran ini dilakukan dalam waktu yang lama hingga kelemahan lawan ditemukan. Kemudian baru mengadakan serangan secara tiba-tiba hingga berhasil menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai, bahkan serangan ketiga tersebut Raja Nan Sarunai yang bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas yang terkenal konon sakti mandarguna tetapi ia diduga gugur dalam konvirasi peperangan. Peristiwa runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai yang oleh orang-orang dayak Maanyan dikenal dengan istilah “Nan Sarunai Usak Jawa”. Konon atas petunjuk isterinya, diduga Raja Nan Sarunai terbunuh dengan sebuah tombak sakti miliknya sendiri yang dilakukan oleh Laksamana Nala di dalam sebuah sumur gua tempat persembunyiannya. Versi lain menyebutkan bahwa yang ditangkap dan dibunuh dengan sebuah tombak sakti itu adalah Raksa Gangsa pengawal setia Raden Ayan (adik kandung istrinya) sedangkan Raden Ayan sendiri selamat dari konvirasi penangkapan dan pembunuhan saat itu ia melarikan diri menuju Banua Lawas Amuntai dan bersembunyi disana hingga akhir hayatnya. Sedangkan Ratu Kerajaan Nan Sarunai yang bergelar Dara Gangsa Tulen dan sebagian keluarganya lari menyelamatkan diri menuju pedalaman dibantu dua orang Punggawany

Akibat serangan Kerajaan Majapahit tersebut, maka Kerajaan Nan Sarunai yang dipimpin oleh Raden Anyan yang menyandang gelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas disebut-sebut sebagai raja terakhir Nan Sarunai saat itu telah dihancurkan dan ditaklukan  Maka suku  Dayak Maanyan  tersebut  terdesak dan terpencar atau tercerai berai atau lari ke pedalaman. Sebagian mereka masuk ke pedalaman hulu sungai

Ada tiga ekspedisi militer dilakoni Kerajaan Majapahit dalam misi menaklukkan Kerajaan Nansarunai.  Hingga terlebih menyusufkan tentara-tentaranya sebagai buruh kapal perdagangan dalam masa berbulan-bulan hingga bertahun tahun untuk mengetahui kelemahan Nansarunai. Penetrasi atau penyerangan III terjadi pada tahun-1389, di masa Raja IV Majapahit bernama Sri Hayam Wuruk atau Rajasanagara yang berkuasa pada 1350-1389, dengan Maha Patih Gajah Mada (yang wafat pada 1362), serangan yang ke-3 inilah terbilang sukses.

Atas perintah Hayam Wuruk, pasukan Majapahit pimpinan Empu Jatmika menyerang Nan Sarunai hingga takluk.  Kemudian, Empu Jatmika membangun kerajaan baru bernama Negara Dipa yang bernaung di bawah kekuasaan Majapahit dan menganut agama Hindu. 


5. Dua orang Punggawa Pendamping dan penyelamat Ratu Nansarunai dan keluarganya

Menurut Ahmad dan Ceritra datu nenek kami bahwa “Amandit dan saudara sepupunya Kantawan adalah nama dua orang Punggawa Kerajaan Nansarunai yang sakti dari Dayak Maanyan yang ditugaskan menyelamatkan Dara Gangsa Tolen Ratu Nansarunai  Dara Gangsa Tulen dan keluarganya dari kejaran-kejaran tentara Majapahit. Punggawa Amandit membawa mereka lewat tanah kelahirannya lumpangi hingga perjalanan sampai ke- Desa Peramasan Atas Kab. Banjar. Nah di Desa inilah terdapat sebuah nama bukit /gunung bernma Panginangan Ratu dan makam Ratunya ada disana.”..

Menurut Ahmad atau Amat yang saya wawancarai, ia asal dayak Bayumbung yang sudah muslim ceritera dari datuk-neneknya bahwa "Saat penyerangan tentara Maja Pahit yang ke-3 ke Kalimantan Selatan tahun 1389M Ratu Dayak Nansarunai juga ikut lari/mengungsi bersama sebagian rakyatnya menyelamatkan diri ke daerah pedalaman dibantu Pengawal setianya yang bernama Raksajiwa,adik kandungnya sendiri hingga perjalanan mereka tiba di Paramasan dan bersembunyi di sana. Beliau telah wafat dan bermakam di Pramasan Atas Kecamatan Paramasan dan makamnya Ratu Dara Gangsa Tulen masih ada malah diberi lelangit kain kuning oleh Masyarakat Dayak disana".

Menurut ceritra masyarakat setempat bahwa Pada masa menyelamatkan Dara Gangsa Tolen  Ratu Nansarunai  dan keluarganya perjalanan yang dipandu Dua orang Punggawa Kerajaan Nansarunai yakni Amandit dan Kantawan, mereka singgah di Kandangan beberapa waktu untuk bersembunyi dan beristirahat melepaskan lelah di dalam sebuah “Gua ” maka Gua tempat beristirahat Ratu Nansarunai tersebut diberi nama oleh masyarakat setempat dengan nama “Gua Peranginan Ratu” gua tersebut menjadi Objekwisata terletak digunung Parandakan sekarang menjadi wilayah Kec. Lokpaikat.

Menurut Asmaji Kades Paramasan Bawah yang saya wawancarai saat pernikahan sepupunya an. Yusran di Desa Bamban bahwa "Kuburan Ratu Nansarunai terletak di Desa Paramasan Atas dan Kuburannya itu sudah dibina oleh Pemerintah Kab. Banjar."

BAB. III 

Sejarah Berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" di Pegunungan Meratus Kecamatan Loksado

A. Sekilas Sejarah berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" Kecamatan Loksado.


01. Sejarah berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" Kecamatan Loksado.

Menurut perkiraan Datu-nenek kami bahari berdirinya atau awal dibangun Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" adalah awal balai Adat di pegunungan Meratus di  Kecamatan Loksado bahwa Perjalanan mereka prang Dayak semakin jauh, walaupun satu tahun sekali melangkah atau satu tahun sekali mereka berpindah-pindah ketika mereka berladang atau berhuma, maka ladang (atau pehumaan) yang lama mereka tinggalkan. Mereka berladang dari lembah ke lembah yang lain atau dari gunung ke pegunungan yang lain atau dari pantai ke pantai seberang sungai yang lain.

Kurang lebih 150 tahun atau satu setengah abad kemudian setelah kekalahan generasi pertama Penduduk kerajaan Nan Saruna dari serangan Majapahit hingga generasi ke-4, ke-5 dan ke-6 dalam perjalanan atau hijerah sebahagianya ada yang sampai ke desa Lumpangi. Loksado. Nah di Desa Lumpangi inilah pernah berdiri diperkirakan tahun 1552 pertengahan abad ke-16 sebuah Balai Adat.

Menurut folklor ceritra datu nenek kami kalau dihitung dari runtuhnya kerajaan Nan Sarunai bahwa diperkirakan generasi ke-8, ke-9 dan ke-10 pancaran Suku Dayak Maanyan mereka sudah lama berdomisili  di Desa Lumpangi Loksado, mereka membangun kembali Balai Adat yang perabut bangunan utamanya dari kayu Ulin. Kayu Ulin tersebut ditebang dan diolah (ditarah) dengan kapak Baliung atau Balayung. Peralatan lainnya seperti parang.Bungkul, Mandau untuk mengkayau /perang, tumbak dan Sumpit untuk berburu binatang liar. Kayu-kayu tersebut diambil dan dibawa dari Hulu Banyu Loksado dengan  rakit bambu /lanting.

Salah satu yang menjadi tradisi adat Dayak dalam membangun rumah/balai adat bahwa "muka rumah/ balai adat selalu menghadap kearah matahari terbit, tak terkecuali Balai Adat "Balai Ulin" itu mukanya juga mengadap kearah matahari terbit, dan balai itu dihuni oleh 7-10 kepala keluarga. Orang Dayak menjunjung tinggi semangat rasa kebersamaan dan mereka memiliki dapur masing-masing. Balai Adat berbentuk panggung dengan ukuran panjangnya diperkirakan 35-50 meter dan lebar 10-12 meter dan tinggi lantai dari permukaan tanah 2 setengah hingga 3 meter dan 7 anak tangga kecil untuk menolak Hantu kepala terbang. Tangga itu hanya dilewati 1 orang lebar kurang lebih 50cm.

Pada pertengahan abad ke-17 Masihi Balai Adat "Balai Ulin" Lumpangi Loksado direhap total oleh Regenerasi suku Dayak. Sekitar tahun 1700 Masihi akhir abad ke-17 Balai Adat tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Suku Dayak atau Tetuha atau Penghulu Adat bernama Langara, ia punya adik kandung bernama Ulang. Dayak Ulang ini punya anak bernama Bumbuyanin dan Bayumbung,  sedangkan Datu Dayak Langara  menurut sumber data punya 3 anak pertama bernama Talib (alias Datu Hamanau atau Utuh Langara) dan kedua bernama Anjah (alias Datu Panimpulungan Panglima Sanggara) dan ketiga bernama Aluh Milah.(alias Siti Jamilah) tidaklah sampai 1 setengah abad Balai Adat Balai Ulin ini berdiri kemudian balai adat ini ditinggalkan  orang Dayak atau bubar

Mengungkap sebahagian tradisi atau adat atau keberadaan suku dayak Langara (pancaran suku dayak Maanyan) dengan Balai Adatnya menurut tradisi lisan orang-orang Lumpangi bernama "Balai Ulin" waktu bahari (tempo dulu), Balai Adat Dayak tersebut telah berdiri diperkirakan tahun 1552 M di Desa Lumpangi. Mereka Para penghuninya dan masyarakat sekitarnya menemukan hidayah Islam pada masa Sultan Banjar yang ke-10 yaitu Raja Tahmidullah I tahun 1700-1717 Masihi. Peristiwa itu teradi di tiga abad yang silam.di awal abad ke-18 Masihi. Islam sudah masuk ke Lumpangi sejak tahun 1705-1759M, lewat perdagangan dan perkawnan Khadratu Syekh al Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf.

Berkata Kayi Sepuh Lumpangi Sayyid Husni bin Nanang Kardji Assegaf : "Rumah Adat atau Balai Adat yang bernama  Balai Ulin itu dibuat oleh Datu Nenek kami dari kayu Ulin, oleh karenanya dinamai Balai Ulin, begitu juga kampungnya dinamai juga kampung Balai Ulin".  Menurur Habib Bahriansyah bin Bahur Assegaf "Balai Adat Balai Ulin itu tiang-tiangnya kayu ulin sebatangan".

Orang-orang Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara menyebut nama istilah Balai adalah Surau atau Langgar, milik orang-orang muslim, akan tetapi di Hulu Sungai Selatan istilah Balai adalah Rumah Adat khusus milik orang Dayak

Hal senada yang dikemukakan oleh Kayi Usman bin Kayi Juhri  usia 76 tahun ketika kami temuai dan wawancarai dikediamannya di Desa Lumpangi bahwa" Sejak dahulu tempat lokasi makam Habaib itu dinamai kampung Balai Ulin karena disana Datu Nenek kita pernah tinggal".


02. Tradisi-tradisi Adat Suku Dayak Pegunungan Meratus

Dilansir dari berbagai sumber, bahwa suku Dayak memiliki berbagai tradisi unik, tetapi tradisi ini ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya kecuaali tradisi Tarian Gantar (batandik),. Beberapa tradisi yang ditinggalkan di antaranya meliputi:

1.  aTradisi memuliakan Tamu Nginap

Salah satu tradisi/adat Dayak ketika itu, bagi Tamu Nginap untuk kaum laki-laki lajang diperbolehkan tidur satu kamar/ satu kelambu dengan wanita lajang puteri dari Tetuha Adat. Bila tidak punya anak gadis maka isterinya yang menemani tidur tamunya. (kalua tamunya sudah beristeri maka ia tidur satu kamar dengan isteri sahabatnya) sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu atau sahabat, tak terkecuali dengan Habib, beliau tidur ditemani oleh Aluh Milah sepanjang malam, tetapi pagar ayu puteri Milah tetap terjaga dengan baik. Habib tidak mau mengganggu dan apalagi mempermainkan puteri Milah.

Adat Dayak adalah sangat meghormati dan memulikan tamu, Puteri Milah adalah seorang gadis Dayak yang lemah lembut, ia seorang gadis ramah dan homoris dan sulit untuk dilupakan.

Hal semacam ini dikuatkan oleh ceritera teman saya, dia seorang Serjana dibidang agama Islam. Dia berceritera kepada saya bahwa tamu laki-laki lajang yang nginap di rumah suku Dayak, ia diperbolehkan tidur satu kamar atau satu kelambu dengan wanita lajang anak Dayak sebagai bentuk penghormatan tuan rumah. Tradisi atau Adat Dayak tersebut masih berlaku hingga sekarang tahun 2020 disebagian suku Dayak Kalimantan.

Temannya berceritera bahwa ketika ia berada dipedalaman pulau Kalimantan tahun 2020, bekerja sebagai penebang pohon kayu jenis Meranti dan Ulin. Ia mulai bersahabat baik dan akrab dengan suku Dayak penduduk asli. Sahabatnya mengajaknya menginaf dirumahnya. Di rumah sahabatnya ini ia menginaf, makan, minum dan cuci pakaian. Ketika malam hari ia ingin tidur di salah satu ruangan, ia disuruh sahabat barunya tidur satu kelambu dengan anak perempuannya yang gadis lajang. Kemudian iapun tidur dengannya tetapi ia tidak berani mencumbu rayu, dan juga ia tidak mau merusak pagar ayu dan menggagahi anak perempuan sahabatnya.

b. Tradisi Kuping Panjang

Telingaan Aruu adalah tradisi adat Suku Dayak dengan cara memanjangan telinga. Untuk memanjangkan daun telinga, mereka menggunakan anting-anting berbentuk gelang yang terbuat dari tembaga. Anting-anting berukuran besar tersebut dalam bahasa kenyah disebut belaong.h

Di Kalimantan Timur, perempuan Dayak memiliki tradisi unik memanjangkan telinga mereka. Keyakinan di balik tradisi ini adalah bahwa telinga yang panjang membuat perempuan terlihat semakin cantik.

Selain untuk aspek kecantikan, memanjangkan telinga juga memiliki nilai simbolis dalam menunjukkan status kebangsawanan dan melatih kesabaran.

Proses memanjangkan telinga melibatkan penggunaan logam sebagai pemberat yang ditempatkan di bawah telinga atau digunakan untuk anting-anting.

Perempuan Dayak diperbolehkan memanjangkan telinga hingga dada, sementara laki-laki bisa memanjangkan telinga hingga bawah dagu. 

c. Tradisi Tato

Tato atau rajah adalah simbol kekuatan, hubungan dengan Tuhan, dan perjalanan kehidupan bagi suku Dayak. Tradisi tato ini masih dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan Dayak.

Proses pembuatan tato terkenal karena masih menggunakan peralatan sederhana, di mana orang yang akan ditato akan menggigit kain sebagai pereda sakit, dan tubuhnya akan dipahat menggunakan alat tradisional.

Setiap gambar tato memiliki makna khusus, misalnya tato bunga terong menandakan kedewasaan bagi laki-laki, sementara perempuan mendapatkan tato Tedak Kassa di kaki untuk menandakan kedewasaan mereka.

Dalam konteks sejarah, dikatakan bahwa suku Dayak Iban menggunakan tato ini selama peperangan untuk membedakan antara teman dan musuh. 

d. Tradisi Tiwah

Kwangkey atau Kuangkay ialah upacara kematian yang dilakukan Suku Dyaka Benuaq yang tingga di pedalaman Kalimantan Timur. Tradisi ini berasal dari kata ke dan angkey, artinya adalah melakukan atau melaksanakan dan bangkai.

Menurut istilah bahasa daerah setempat, Kwangkey mempunyai makna buang bangkai. Maknay yang ingin disampaikan adalah melepaskan diri dari kedukaan dan mengakhiri masa berkabung

Tiwah adalah upacara pemakaman masyarakat Dayak Ngaju yang melibatkan pembakaran tulang belulang kerabat yang telah meninggal.

Tradisi ini dilakukan sesuai dengan kepercayaan Kaharingan dan dipercaya membantu arwah orang yang meninggal untuk menuju dunia akhirat atau disebut juga dengan nama Lewu Tatau.

Selama pelaksanaan Tiwah, keluarga yang ditinggalkan akan menari dan bernyanyi sambil mengelilingi jenazah.

Proses pembakaran tulang belulang jenazah dilakukan secara simbolis, sehingga tidak semua tulang jenazah ikut dibakar dalam upacara Tiwah.

Tradisi suku Dayak ke-4 ialah Tiwah yang upacara pemakaman yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju. Dalam upacara ini,  mereka akan membakar tulang belulang dari kerabat yang telah meninggal dunia. Menurut kepercayaan Kaharingan, tradisi Dayah Tiwah, dipercaya mampu mengantarkan arwah dari orang yang telah meninggal agar mudah menuju dunia akhirat atau disebut pula dengan nama Lewu Tatau. Ketika melaksanakan tradisi Tiwah, biasanya keluarga yang ditinggalkan akan menari dan bernyanyi sambil mengelilingi jenazah. Proses pembakaran tulang belulang jenazah hanya dilakukan secara simbolis sehingga tidak semua tulang jenazah akan ikut dibakar dalam upacara Tiwah.

e. Tradisi Penguburan

Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan:

  1. penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat 
  2. penguburan di dalam peti batu (dolme
  3. penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.

Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni:

  1. dikubur dalam tanah
  2. diletakkan di pohon besar
  3. dikremasi dalam upacara tiwah

Prosesi penguburan sekunder

1Tiwah adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan, sebagai simbol pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun atau beberapa tahun setelah penguburan pertama di dalam tanah.

  1. Jambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah.
  2. Marabia
  3. Mambatur (Dayak Maanyan)

f. Tradisi Ngayau

Tradisi berburu kepala ini, yang pernah ada tetapi sekarang sudah dihentikan, melibatkan pemburuan kepala musuh oleh beberapa rumpun Dayak, seperti Ngaju, Iban, dan Kenyah.

Tradisi ini penuh dendam turun-temurun sebab anak akan memburu keluarga pembunuh ayah mereka dan membawa kepala musuh ke rumah. Ngayau juga menjadi syarat agar pemuda Dayak bisa menikahi gadis yang mereka pilih.

Pemuda Dayak diwajibkan untuk berpartisipasi dalam tradisi berburu kepala sebagai cara untuk membuktikan kemampuannya dalam memuliakan keluarganya dan meraih gelar Bujang Berani.

Larangan terhadap tradisi ini dihasilkan dari musyawarah Tumbang Anoi pada tahun 1874, yang bertujuan menghindari perselisihan di antara suku Dayak.

Ke-5 tradisi tersebut sudah ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya kecuaali tradisi Tarian Gantar

g. Manajah antang

Tradisi dari suku Dayak selanjutnya ialah manjah antang, tradisi ini merupakan suatu ritual untuk mencari di mana musuh berada ketika berperang. Menurut cerita masyarakat Dayak, ritual manajah antang merupakan ritual pemanggilan roh leluhur dengan burung Antang, di mana burung tersebut dipercaya mampu memberitahukan lokasi musuh. Selain dipakai ketika berperang, tradisi manajah antang pun dipakai untuk mencari petunjuk-petunjuk lainnya.

h. Mantat Tu’Mate

Seperti halnya Tiwah, tradisi mantat tu’mate merupakan tradisi untuk mengantarkan orang yang baru saja meninggal dunia. Namun mantat tu’mate berbeda dengan Tiwah. Sebab, mantat tu’mate dilakukan selama tujuh hari dengan konten acara iring-iringan musik serta tari tradisional. Setelah upacara selama tujuh hari selesai, barulah jenazah kemudian akan dimakamkan

Ket. Referinsi No. 6-7 Artikel Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku Dayak

i. Tari Gantar

Tari Gantar adalah salah satu tarian khas Suku Dyak. Tarian ini adalah tari pergaulan muda-mudi Suku Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat.

Tarian Gantar mengekspresika kegembiraan serta keramahan dalam menyambut tamu, baik wisatawan atau tamu kehormatan. Tari ini juga berfungis untuk menyambut pahlawan dari medan perang. Ada tiga jenis tarian Gantar, yakni Gantar Rayat, Gantar Busai, dan Gantar Senak dan Kusa.


03. Tradisi-tradisi Budaya bangsa Arab Jahiliyah yang dibatalkan setelah Keberadaan Islam.

Adapun Adat tradisi budaya bangsa Arab Jahiliyah yang dibatalkan setelah datangnya Islam di tanah Arab. Mereka (orang-orang Dayak) juga bertanya, Wahai Abah Habib kami  : “Adakah pembatalan hukum adat tradisi budaya bangsa Arab dimasa Islam datang ? Jawab Abah Habib, Wahai anak-anakku : Ada, salah satunya pembatalan hukum tentang “Anak angkat” dimasa Arab Jahiliyah statusnya sama dengan anak kandung.

Menurut adat tradisi budaya bangsa Arab Jahiliyah zaman dahulu yang mendarah daging saat itu, anak angkat dianggap mulia dan statusnya sama dengan anak kandung, oleh karenanya ayah/ibu angkat tidak boleh mengawininya. ia sama kedudukannya dengan anak kandungnya, ia mendapat bagian harta waris yang sama dengan anak kandung ayah/ibu angkatnya. Sebelum Islam datang ke tanah Arab, anak angkat sama kedudukannya dengan anak kandung. Rasullah Saw mempuyai seorang anak angkat yang bernama Zaid. Sehingga orang-orang Arab saat itu tidak aneh menyebutnya “Zaid bin Muhammad”. “Zaid anak lelaki Muhammad”. Zaid kawin dengan Zainab binti Jahsy.

Semuanya istri-istri Rasulullah, dinikahkan oleh wali ayahnya, saudaranya, atau keluarganya kecuali Zainab binti Jahsy. Zainab binti Jahsy dinikahkan langsung oleh Allah Swt dari atas langit ketujuh dan Malaikat Jibril salah satu saksinya.

Sebelum menikah dengan Rasulullah Saw, Zainab telah menikah dengan Zaid bin Haritsah, maula pembantu Rasulullah Saw yang kemudian dijadikan anak angkat oleh Rasulullah Saw. Dialah yang diceritakan Allah Swt.

Sebenarnya, untuk membatalkan hukum adat tradisi budaya bangsa Arab Jahiliyah “Status anak angkat” yang berlaku saat itu, salah satunya menikahi mantan istri anak angkat. Hal ini Allah telah memberitahukan kepada Rasulullah bahwa Zainab binti Jahsy akan menjadi salah satu dari istrinya. Namun, Rasulullah terlalu malu untuk mengungkapkannya kepada Zaid anak angkatnya. Rasulullah pun khawatir akan cibiran orang-orang apabila menikahi mantan isteri anak angkatnya sendiri.  

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa berkenaan ayat dalam surat Al-Ahzab ayat 37, “Sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang dinyatakan oleh Allah.” Andai Rasulullah menyembunyikan sesuatu, tentu (ayat) inilah yang disembunyikan.

Allah Swt dalam firman-Nya :

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَااللهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37)

Kala itu, rumah tangga Zaid dan Zainab seringkali menemui perselisihan. Rasulullah pun memerintahkan Zaid agar mempertahankan Zainab dan bertakwa kepada Allah.  Namun perceraian mereka tersebut tidak dapat dihindari. Ketika masa iddah Zainab berakhir setelah bercerai dari Zaid.

Ketika Nabi Saw menikahi Zainab binti Jahsy maka orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!, Maka turunlah ayat Allah, yang berbunyi :

مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Dan Allah berfirman,

ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ

 “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5)

Maka sejak saat itu Zaid dipanggil dengan Zaid bin Haritsah yang dia sebelumnya biasa dipanggil dengna Zaid bin Muhammad.

Seringkali Zainab membanggakan diri di hadapan istri-istri Nabi. Ia berkata, “Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian, namun Allah menikahkanku dari langit.”


04. Balai Adat Dayak Balai Ulin pernah Simpan Biji Padi Sebesar Kelapa pipikat Keramat.

Diceritakan bahwa dahulu kala Balai Adat Balai Ulin sewaktu dipimpin oleh seorang Kepala Suku Dayak atau Kepala Balai atau Penghulu Adat yang bernama Langara, mereka pernah memiliki dan menyimpan peninggalan benda prasejarah, berupa tiga buah biji banih seukuran kelapa yang dinamakan “Banih kelapa atau Banih Nyiur”.yang diletakan ditengah-tengah Kindai Banih dirungan tengah Balai.yang dijadikan sebagai “Ajimat pipikat sakti”.menurut kepercayaan orang Dayak bahwa Banih Nyiur itulah yang memanggil ruh-ruh kawannya /membawai nyawa kawannya sehingga Kindai Banih tidak pernah kosong atau habis. Dengan ikhtiar Pemiliknya bahuma yang luas dan hasilnya selalu melimpah. Konon masa itu benda-benda banyak yang berukuran jumbo.

Orang-orang dahulu kalau ingin memasak nasi dari banih kelapa itu,  maka banih itu dipipiki satu persatu dari tangkainya dan ditaruh dalam lasung kayu baru ditumbuk dengan Halu hingga lanik dan ditampi dengan nyiru dahulu baru beras itu dimasak.

Dan dari ketiga buah biji padi tersebut atas permintaan Dayak Ulang kepada kakaknya Langara, bahwa ia dan keluarganya saja yang memeliharanya, maka buah biji Banih itu masing-masing dibawa Dayak Pang Ulang satu biji padi ke desa Ulang, dan dibawa Dayak Bumbuyanin (Pang Yanin) ke kampong Pantai Dusin Hulu Banyu satu biji padi dan juga satu biji padi dibawa Dayak Bayumbung (Pang Yumbung) ke kampong Harantan Hilir Banyu saat Balai Adat bubar.  Namun masyarakat sekarang tetap percaya bahwa beras yang kecil saat ini, dahulunya adalah beras besar tersebut. Walaupun sudah tidak ada lagi bukti – fakta sejarah tersebut sampai saat ini, namun masih banyak masyarakat yang mempercayainya Walaupun benda yang tinggal tiga biji tersebut sudah musnah, akibat musibah banjir dan kebakaran balai Adat.


05. Tradisi Dayak Pegunungan Meratus dalam membangun rumah /Balai Adat di Kec. Loksado.

Salah satu yang menjadi tradisi adat Dayak Pegunungan Meratus dalam membangun rumah/balai adat bahwa "muka rumah/ balai adat selalu menghadap kearah matahari terbit, tak terkecuali Balai Adat "Balai Ulin" itu mukanya juga mengadap kearah matahari terbit, dan balai itu dihuni oleh 7-10 kepala keluarga. Orang Dayak menjunjung tinggi semangat rasa kebersamaan dan mereka memiliki dapur masing-masing. Balai Adat berbentuk panggung dengan ukuran panjangnya diperkirakan 35-50 meter dan lebar 10-12 meter dan tinggi lantai dari permukaan tanah 2 setengah hingga 3 meter dan 7 anak tangga kecil untuk menolak Hantu kepala terbang. Tangga itu hanya dilewati 1 orang lebar kurang lebih 50cm..

 

06. Aliran Kepercayaan atau Agama yang dianut Suku Dayak Pegunungan Meratus Desa Lumpangi.

Animisme dan dinamisme kepercayaan yang meyakini bahwa setiap benda di sekitar kita memiliki roh atau kekuatan gaib? Kepercayaan semacam ini dikenal dengan istilah animisme dan dinamisme. Keduanya merupakan bentuk kepercayaan kuno yang sudah ada sejak zaman nenek moyang dan masih bisa ditemukan di beberapa budaya hingga sekarang.

Animisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda, baik yang hidup maupun tak hidup, memiliki roh atau jiwa. Kepercayaan ini berasal dari keyakinan bahwa roh dapat mempengaruhi kehidupan manusia, baik secara positif maupun negatif. Dalam masyarakat penganut animisme, roh nenek moyang, pohon besar, gunung, sungai, hingga batu dipercaya memiliki kekuatan dan harus dihormati. Oleh karena itu, mereka sering melakukan ritual atau upacara tertentu untuk menjaga hubungan baik dengan roh-roh tersebut.

Sementara itu, dinamisme adalah kepercayaan bahwa benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib atau energi supranatural yang bisa membawa manfaat atau bahaya. Berbeda dengan animisme yang lebih berfokus pada keberadaan roh, dinamisme lebih menekankan pada kekuatan yang terkandung dalam benda itu sendiri. Misalnya, keris dianggap memiliki energi mistis yang bisa memberikan perlindungan, atau air dari mata air suci dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan.

Adapun agama atau kepercayaan yang mereka anut saat itu adalah "KAHARINGAN" yakni kepercayaan terhadap kekuatan roh-roh nenek moyang mereka, oleh karenanya dikenal dengan Dayak Kaharingan. Kepercayaan yang mereka anut itu dikenal oleh masyarakat Hulu Sungai Selatan dengan sebutan Babalian atau Balian.

Kaharingan adalah agama asli suku Dayak di Pulau Kalimantan. Agama Kaharingan sudah ada sejak lama di Kalimantan bahkan sebelum agama-agama lainnya memasuki Kalimantan. Saat ini Kaharingan menjadi salah satu agama leluhur di Indonesia yang masih bertahan dan masih dianut oleh sebagian suku Dayak, khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.(Kaharingan ensiklopedia bebas).

Orang-orang Dayak ini adalah salah satu penduduk asli yang terbesar dan tertua yang mendiami pedalaman pulau Kalimantan. Mereka membawa kayu Ulin dengan  rakit bambu /lanting. Rumah  Adat Dayak itu berbentuk Panggung, rumah panjang dan tinggi dikenal oleh masyarkat desa Lumpangi dengan nama Balai Ulin dan dipimpin oleh Kepala Suku /Tetuha /Penghulu Adatnya yang bernama Langara.

Kaharingan dan suku Dayak di Kalimantan adalah satu kesatuan yang tak dipisahkan. Menurut orang Dayak, agama Kaharingan telah ada sejak awal penciptaan. Sejak Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa) menciptakan alam semesta. Bagi mereka, Kaharingan sudah ada beribu-ribu tahun sebelum masuknya Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Istilah Kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah danum kaharingan (air kehidupan), maksudnya agama suku atau kepercayaan yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan ( Eko 2014).

Tetuha Adat Dayak Langara punya adik kandung yang bernama Ulang. Kedua beradik Dayak inilah yang membangun Balai Adat dengan nama Balai Ulin di Desa Lumpangi. Ulang adalah seorang Dayak yang punya anak yang bernama Bumbuyanin dan Bayumbung. Nama ini nantinya dijadikan nama Balai Adat tertua di Hulu Banyu Loksado dan kemudian Balai Adat Bayumbung di desa Halunuk.  Dikatakan orang bahwa Tetuha Adat Langara juga punya 3 anak an. Talib (alias Datu Hamanau atau Utuh Langara) dan kedua bernama Anjah (alias Datu Panimpulungan Panglima Sanggara) dan ketiga bernama Aluh Milah (alias Siti Jamilah).

Menurut Ahmad/Amat, usia 55 tahun, ia seorang muslim asal dayak orang Bayumbung yang saya wawancarai bahwa "Bayumbung itu adalah nama orang atau nama Tetuha Adat pertama di Desa Bayumbung, Bayumbung badangsanak atau adik dan kakak dengan yang benama Bumbuyanin".


07. Kesaktian yang dimiliki Orang Dayak Pegunungan Maratus yang secara turun temurun.

Namun kala itu ada sebagian kecil keluarga Tetuha Adat Dayak Langara di Balai Ulin yang belum menerima Islam karena mereka takut  kehilangan kesaktian-kesaktian yang mereka miliki turun temurun. Diantara kesaktian yang mereka miliki adalah “Dapat mengobati orang sakit, Parang Maya, Balah Saribu, Pulasit dan cara Mengobatinya, Pambaci pada Seseorang atau Pambaci Dagangan, Panglaris Dagangan,  Panglit, Minyak Kuyang, Minyak Buluh Parindu, Minyak Karuang Bulik, Minyak Jalawat Cancang, Minyak Bankui Gila, baisian Rantai Babi, Minyak Landuk-landuk dan Minyak Paluncur Baranak.

Mereka sudah mempelajari Islam dengan Habib, tetapi Mereka beranggapan bahwa apabila masuk Islam maka kesaktian-kesaktian itu hilang  dan dibuang. Inilah salah satu alasan sehingga mereka enggan menerima Islam, mereka menjauhi keluarga Habib Abu Bakar dan mengasingkan diri dengan keluarganya  menuju ke Pegunungan Meratus. Lama kelamaan keturunan keluarga yang belum menerima Islam ini menjadi banyak. Terus membesar berkelumpok-kelumpok dan mereka tinggal menempati kaki-kaki  Pegunungan Meratus dan mereka masing-masing kelumpok itu membangun sebuah Balai Adat yang banyak menjamur di kaki-kaki  Pegunungan Meratus. Masing-masing Balai Adat dengan nama suku Dayak Meratus. Balai Adat - Balai Adat ini masih berdiri kukoh hingga pada sekarang ditahun 2021M..


08. Balai Adat Balai Ulin Desa Lumpangi pernah di Renovasi.


Balai Adat Balai Ulin Desa Lumpangi itu berdiri sekitar tahun 1552 Masihi di desa Lumpangi Kec. Loksado tidaklah sampai 1 setengah abad Balai Adat Balai Ulin ini berdiri karena adanya pengaruh Islamisasi terhadap kelompok Penghuninya kemudian balai adat ini ditinggalkan orang atau bubar.

Pada pertengahan abad ke-17 Masihi Balai Adat "Balai Ulin" Desa Lumpangi Loksado direnovsi total oleh Regenerasi suku Dayak. Sekitar tahun 1700 Masihi akhir abad ke-17 Balai Adat tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Suku Dayak atau Tetuha atau Penghulu Adat bernama Dayak Langara, ia punya adik kandung bernama Ulang. Dayak Ulang ini punya anak bernama Bumbuyanin dan Bayumbung,  sedangkan Dayak Langara menurut sumber data punya 3 anak pertama bernama Talib alias “Datu Hamanau” atau (dikenal dengan “Utuh Langara”) dan kedua bernama Anjah alias “Datu Panimpulungan Panglima Sanggara”) dan ke-3 berama Aluh Milah alias “Siti Jamilah” seorang Puteri yang anggun cantik rupawan, anak Tetuha Adat Dayak Langara.

Tetuha Adat Dayak pertama kampung Pantai Dusin Hulu Banyu bernama Bumbuyanin, ia mempunyai 3 anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Adapun anak yang pertama bernama Pang Ayuh atau Datu Ayuh atau Sang Dayuhan, anak yang ke-2. Bambang Swara atau Bambang Basiwara dan anak yang ke-3 adalah perempuan bernama Umi Salamah (Diang Gunung), dia seorang puteri yang sangat cantik jelita.

Pada pertengahan abad ke-18 Masihi ketika masa kecilnya mereka bertiga pernah diutus atau dikirim orang tuanya ke Desa Lumpangi untuk menimba atau menuntut Ilmu Islam beserta sepupu-sepupunya an. Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Assegaf dan anak-anak lainnya kepada Habib Djamaluddin atau Muhammad Djamiluddin bin Abu bakar Assegaf oleh karenanya mereka ini mengenal Islam dengan baik.

Versi lain menyebutkan, menurut sumber data bahwa sesudah Balai Adat Balai Ulin bubar maka beberapa tahun kemudian datanglah Dayak Ulang dan Bumbuyanin ke Lumpangi membawa ketiga anaknya agar diajari tentang Islam kepada Habib dan menemui kakaknya Muhammad Langara dan mohon agar Balai Adat Balai Ulin yang tidak berfungsi itu bisa dipindahkan ke kampung Pantai Dusin Hulu Banyu.


09. Adanya upaya Sekelumpok Orang Mengkaburkan /Menghilangan  Fakta Sejarah Balai Adat Balai Ulin Lumpangi

Adanya upaya Mengkaburkan /Menghilangan  Fakta Sejarah  Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" Kecamatan Loksado yang dilakukan oleh orang yang berkepentingan dan  sebagian anggota Rabitah Alawiyah Kab. Hulu Sungai Selatan. antara lain  :

  1. Penguasaan makam dipegang oleh orang yang bukan ahli warisnya
  2. Menghalang-halangi ahli warisnya yang sah untuk membina makam datu neneknya tanpa ada dasarnya
  3. Mengajak masyarakat untuk membenci atau tidak mengakui makam datu nenek mereka yang dibina ahli warisnya. 
  4. Misalnya bunyi Artikel  yang saya kutip beritikut  :

Habib Abu Bakar bin Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf atau yang lebih di kenal dengan nama Habib Lumpangi adalah salah satu ulama berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Hulu Sungai Selatan. Nama Habib Lumpangi diperoleh karena beliau mensyi’arkan, menyebarkan, dan mengajarkan agama Islam atau berdakwah di Lumpangi, tepatnya di KM.21 kampung Pantai Ulin (dulu Balai Ulin), desa Lumpangi, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Mursyid 2017).

Artikel ini ditulis adanya upaya mengkaburkan /Menghilangan  Fakta Sejarah nama lokasi Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" Kecamatan Loksado sehingga anak-anak muda  sekarng mereka tidak mengenal sejarah Balai Adat Dayak "Balai Ulin” yang pernah berdiri di desa Lumpangi

Sekitar bulan September 2021 Penulis diberitahu lewat grof WA tentang sebuah artikel Biografi Sayyid Abu Bakar bin Sayyid Hasan Assegaf yang ditulis tahun 2017 oleh Saadil Mursyid. Sebuah Artikel yang sangat berharga dan bagus dan belum ada ditemukan orang yang menulis sebelumnya. Terima kasih sang Penulis namun Kami Keluarga Besar Datu Tanqir salah satu Ahli Waris Makam Habaib sangat kecewa tentang penulisan Pantai Ulin (dulu Balai Ulin) dan tahun wafatnya Syekh. Tulisan kampung Pantai Ulin ini akan menghilangkan fakta sejarah Makam itu sendiri. 

Saya menulis bebarapa Artikel tujuannya untuk menjelaskan kepada sebagian   masyarakat tentang peristiwa yang dialami Datu dan Datung kami dimasa lalu atau bahari di Desa Lumpangi Loksado. Salah satu Artikel dimaksud mengungkap tentang "Sebahagian tradisi keberadaan suku Dayak Langara pancaran suku Dayak Maanyan dengan nama Balai Adatnya  "BALAI ULIN" di desa Lumpangi tempu dulu pertengahan abad ke-17 Balai itu berdiri. Mereka menemukan hidayah Islam tiga abad yang silam melalui perdagangan dan perkawinan Syekh Habib Abu Bakar Assegaf.

Orang-orang sesudah masa kita, tentu akan beranggapan bahwa lokasi pantai pemakaman Habaib datu kita ini dan tanah sekitarnya dulunya banyak tumbuh kayu Ulin. Argumen itu tidaklah benar. Faktanya sekitar lokasi pantai pemakaman Habaib datu kami ini dan tanah sekitarnya belum ditemukan kayu Ulin atau anak kayu Ulin yang hidup tahun 1970 an hingga tahun 1980 an. Sekarangpun belum ada masyarakat yang menemukan punggur-punggur Ulin atau batang Ulin yang terpendam dalam tanah untuk dijadikan tungkat atau kursen. Oleh karenanya rasanya belum tepat kalau lokasi pantai pemakaman Habaib datu kami ini dan tanah sekitarnya dinamakan kampung Pantai Ulin. Nama tersebut akan menghilangkan fakta sejarah kampung Balai Ulin Desa Lompangi itu sendiri.

Daftar Isi yang Bab ke-II.

II. Rakam Jejak Perjalanan Sayyid atau Habib Fam-Marga As-Saqqaf para Dzurriat Nabi Besar Muhammad  Saw ke Nusantara.

1. Cikal Bakal Berdirinya  Kerajaan Banjar atau Kesultanan Banjar.

2. Orang Arab suka berpetualang menjelajahi  lautan sebelum dan sesudah berkembangnya Islam.

3. Keberadaan Syarif atau Habib Dzuriat Rasulullah Saw yang ber- FAM / Marga Assaqqaf di Nusantara.

4. Penyebaran Islam dan Proses masuknya agama Islam di Kalimantan Selatan.

5. Rakam Jejak Perjalanan Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman As-Saqqaf para Dzurriat Nabi Besar Muhammad Saw ke Nusantara (ia berkunjung ke Bandarmasih)

6. Rakam Jejak Perjalanan Sayyid Hasyim bin Muhammad Assegaf dan Keluarganya dari Seiyun Hadramaut mengikuti pendahulunya ke Nusantara.

a. Kelurahan Randusari Kec. Semarang Selatan masa Kesultanan Demak

b. Empat Darmaga Pelabuhan Kapal masa Kesultanan Demak.

c. Keberadaan Darmaga Pelauhan Jepara Semarang masa Kesultanan Demak.

d. Keberadaan Darmaga Pelauhan Gresik masa Kesultanan Demak.

7. Keberadaan Sayyid Hasyim bin Muhammad dan keluarganya di Nusantara pernah menetap di Darmaga Pelabuhan Gresik dan Darmaga Pelabuhan Jepara Semarang.

08. Sayyid Hasan bin Hasyim bersama keluarganya dan adiknya Habib Idrus berhijerah dari Randusari Semarang dan tiba di Bandarmasih dan mereka  menetap dipelabuhan kapal Kampung  Sungai Mesa Bandarmasih.

a. Penjelasan : ttg. Perahu Kapal Layar Jung Banjar

b. Keterangan : Sungai Keramat dan Sungai Sigaling

c. Penjelasan : ttg. Jukung Bakapih

d. Silsilah Sayyid Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Abu Bakar.

e. Keterangan : Jukung atau Parahu Tambangan

09.Sayyid Hasan dan Sayyid  Idrus berniat  silaturrahmi menjenguk keluarga yang masih ada menetap dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan.

10. Sayyid Hasan bersama keluarganya dan Habib Abu Bakar anaknya berhijerah dari Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih dan tiba di Margasari dan menetap di Darmaga Pelabuhan Perahu Kapal Margasari. 

11. Sayyid Hasan bersama keluarganya dan Habib Abu Bakar anaknya berhijerah dari Darmaga Pelabuhan Perahu Kapal Margasari dan tiba di Sungai Pinang dan menetap di Darmaga Pelabuhan Perahu Sungai Pinang, Nagara.

12. Rekam Jejak Perjalanan Sayyid Hasan bin Hasyim bersama Puteranya Sayyid Abu Bakar Assegaf ke Hulu Sungai Selatan  awal Abad ke-18 Masihi tahun 1701 – 1720M.

a. Habib Abu Bakar beserta ayahnya Berhijerah ke Hulu Sungai Selatan.

b. Habib Abu Bakar beserta ayahnya Berhijerah ke kampung Taniran Kab. Hulu Sungai Selatan.

13. Sayyid Hasan, Sayyid Abu Bakar dan Sayyid Idrus adiknya berziarah ke makam Ayahandanya Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy di Randusari Kec. Semarang Selatan.

14. Wafatnya Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf Desa Taniran Kubah Kec. Angkinang Kab. Hulu Sungai Selatan.


II. Rakam Jejak Perjalanan Sayyid atau Habib Fam-Marga As-Saqqaf para Dzurriat Nabi Besar Muhammad  Saw ke Nusantara.


1. Cikal Bakal Berdirinya  Kerajaan Banjar atau Kesultanan Banjar.

Terlebih dahulu kita kembali kesejarah asal muasal agama Islam tersebut muncul di kota Banjarmasin yang dulunya bernama kota Bandarmasih yang erat sekali kaitannya dengan Pangeran Raden Samudera bin Raden Manteri Jaya bin Raden Bagawan di Kerajaan Hindu Nagara Daha.

Maharaja Sukarama, Raja Negara Daha telah berwasiat agar penggantinya adalah cucunya Pangeran Samudera, anak dari putrinya Puteri Galuh Intan Sari. Ayah dari Raden Samudera adalah Raden Manteri Jaya, putra dari Raden Begawan, saudara kandung Maharaja Sukarama. Wasiat tersebut menyebabkan Raden Samudera terancam keselamatannya karena para putra Maharaja Sukarama juga berambisi sebagai raja yaitu Pangeran Bagalung, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung. Dibantu oleh Arya Taranggana, Pangeran Samudra melarikan diri dengan sampan ke hilir sungai Barito. Sepeninggal Sukarama, Pangeran Mangkubumi menjadi Raja Negara Daha, selanjutnya digantikan Pangeran Tumenggung yang juga putra Sukarama. Pangeran Samudra yang menyamar menjadi nelayan di daerah Balandean dan Kuin, ditampung oleh Patih Masih di rumahnya. Oleh Patih Masih bersama Patih Muhur, Patih Balitung, ia diangkat menjadi raja yang berkedudukan di Bandarmasih. Pangeran Tumenggung melakukan penyerangan ke Bandarmasih. Pangeran Samudra dibantu Kerajaan Demak dengan kekuatan 40.000 prajurit dengan armada sebanyak 1.000 perahu yang masing-masing memuat 400 prajurit mampu menahan serangan tersebut. Akhirnya Pangeran Tumenggung bersedia menyerahkan kekuasaan Kerajaan Negara Daha kepada Pangeran Samudra. Kerajaan Negara Daha kemudian dilebur menjadi Kesultanan Banjar yang beristana di Bandarmasih. Sedangkan Pangeran Tumenggung diberi wilayah di Batang Alai. Pangeran Samudra menjadi raja pertama Kerajaan banjar dengan gelar Sultan Suriansyah. Ia pun menjadi raja pertama yang masuk islam dibimbing oleh Khatib Dayan (Alamnirvana 2011).

2. Orang-orang Arab suka berpetualang menjelajahi  lautan sebelum dan sesudah berkembangnya Islam.

Orang Arab dikenal sebagai orang yang suka berpetualang menjelajahi sepanjang lautan sebelum dan sesudah berkembangnya Islam. Salah satunya Perjalanan ayahandanya Umar Ash-Shoufy yakni Habib Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly  Assegaf.ke Bandarmasih

Menurut Artikel “Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi Sadah Aal Ba Alawy Aal Muhammad” ditulis oleh  Al Habib Aidarus Almashoor bahwa Habib Aly bin Sayyid Abdurrahman Assegaf wafat 840H/1437M di Tarim Hadramaut. Beliau mempunyai 3 orang anak laki-laki an.

  1. Abdurrahman (keturunannya terputus)
  2. Ahmad
  3. Muhammad

Kemudian Muhammad mempunyai 2 orang anak/ keturunan an. 

  1. Abdullah dan keturunannya di Mukalla Yaman
  2. Abdurrahman

Kemudian  Abdurrahman mempunyai keturunan atau anak laki-laki atas nama  :

  1. Aly dan Beliau ini kakeknya Keluarga As- Saqraan di Tarim dan Zili
  2. Umar ash-Shaafy atau Umar ash-Shoufy

Pada awal abad ke-16 tahun 1536 Masihi masa pemerintahan Sultan Suriansyah Raja Banjar pertama, menurut salah satu sumber bahwa Pedagang 'Arab tersebut yakni Habib asal Hadramaut yang datang pertama kali berkunjung ke Bandarmasih tujuannya berdagang dan mencari rempah-rempah dan misi penting lainya berdakwah, ia adalah orangtua Umar ash-Shoufy yakni Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly Assegaf. Beliau adalah Buyutnya al Faqih Muqaddam as-Tsani. Beliau tidak lama menetap di kota ini kemudian balik lagi. Beliau berasal dari  Seiyun (juga ditransliterasikan sebagai Saywun, Sayoun atau Say'un; Arab: pengucapan Hadhrami: [seːˈwuːn], Sastra Arab: [sæjˈʔuːn]; Arab Selatan Kuno: S¹yʾn) adalah sebuah kota di wilayah dan Kegubernuran Hadhramaut di Yaman. Terletak di tengah Lembah Hadhramaut, sekitar 360 km (220 mi) dari Mukalla, ibu kota Distrik Mukalla dan kota terbesar di wilayah tersebut, melalui jalur barat. Juga berjarak 12 km (7,5 mil) dari Shibam dan 35 km (22 mil) dari Tarim, kota-kota besar lainnya di lembah. Menurut sumber informasi lain bahwa Habib Umar Ash-Shufy bin Abdurrahman punya anak diantaranya : Muhammad, Thaha, Segaf dan .......

Menurut silsilah nasabnya bahwa "Muhammad bin Umar as-Shoufy" tersebut punya anak an. Hasyim. Dari Hasyim punya anak an. Hasan dan Idrus. Hasan punya anak Abu Bakar (Ayahnya Habib Lumpangi) dan Abu Bakar punya anak an..Shaleh (ibunya dari Seiyun Tarim) dan Muhammad Djamaluddin (Habib Lumpangi) dan (ibunya dari suku Dayak Langara Lumpangi Loksado), yang dipanggil sehari “Muhammad” atau "Djamiluddin" kemudian Muhammad Djamiluddin punya anak an.Ahmad Suhuf yang dipanggil sehari ”Ahmad”. Kemdian Ahmad punya anak an. Abu Bakar yang dipanggil sehari “Abubakar as-Tsani’ sedangkan Thaha punya anak an. Umar, dari Umar punya anak an. Thaha al Qadhi dan Thaha al Qadhi punya anak an. Umar. dari Umar punya anak an. Muhammad al Qadhi

Konon Sungai Mesa merupakan sebuah kampung tua di Kota Banjarmasin (Bandarmasih nama dulunya). Kampung ini dibangun oleh seorang tokoh yang dikenal dengan nama Kiai Mesa Jaladri. Tidak diketahui persis, kapan Kiai Mesa membangun wilayah ini, yang jelas sejak itu Kampung Sungai Mesa menjadi wilayah tempat tinggal yang strategis. Letaknya yang persis di tepi sungai Martapura, membuat daerah ini menjadi semacam pelabuhan kecil tempat menaik-turunkan barang dagangan dari perahu. Di seberang Sungai Mesa adalah Jalan Pasar Lama Laut yang sekarang menjadi pusat perkantoran pemerintah Provinsi Kalsel (Artikel Kajian al Kahfi).

Menurt Artikel Sejarah Ahlul Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesia menyebutkan bahwa “Seorang dari keluarga Assegaf bernama Alwi (w.1842M) bin Abdillah bin Shaleh bin Abubakar dilaporkan melalui perjalanan panjang dari Hadramaut-Turki-Palembang-Gresik sebelum menyinggahi Banjarmasin dan sempat bermukim di Kampung Sungai Mesa. Alwi kemudian menetap di Martapura (Kampung Melayu) dan mendapat hadiah tanah dari Sultan Adam di daerah Karang Putih. Kelak ia dan anak cucunya bermakam di tanah pemberian sultan tersebut (makam Karang Putih Jl Menteri Empat Martapura) ”(Fakhrul 04-2012M).

Pemukim dari golongan sayyid yang terhitung orang lama (tua) di Sungai Mesa adalah Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf. Ahmad diperkirakan lahir di paruh kedua pertengahan tahun 1800-an. Ahmad memiliki saudara bernama Umar, Muhdor dan Muhammad. “Pekerjaan Habib Ahmad berdagang kayu ulin, juga membawa tajau, belanga berdagang dengan urang Dayak,” cerita Syarifah Nikmah.(Artikel Kajian al Kahfi)

Maksud paruh kedua pertengahan tahun 1800-an adalah Habib Ahmad lahir kampung Sungai Mesa Bandarmasih tahun 1852 Masihi.

3. Keberadaan Syarif atau Habib Dzuriat Rasulullah Saw yang ber- FAM / Marga Assaqqaf di Nusantara.

Aal-ALSAQQAF آل السقاف    (dibaca Assegaf/al Seggaf).  Yang pertama kali digelari al-saqqaf ialah waliyullah al-Muqaddam al-Tsani al-Imam Abdurahman bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Gelar yang disandang karena beliau sebagai pengayom para wali pada zamannya agar terhindar dari perkara bid’ah. Para ulama ahli hakikat dan para wali yang bijaksana menamakan beliau ‘al-Saqqaf’, karena beliau menutup hal keadaannya dari penduduk di zamannya. Beliau sangat benci dengan kesohoran. Ketinggian derajat beliau dari para wali di zamannya bagaikan kedudukan atap bagi rumah.  Beliau dilahirkan di kota Tarim, dikarunia 13 anak lelaki, dan 7 orang meneruskan keturunannya: Abu Bakar As-Sakran, Alwi, Ali, Aqil, Abdullah, Husein dan Ibrahim.  Waliyullah Abdurahman Al-saqqaf wafat di Tarim tahun 819 H (Afandi 2008).

Beliau hidup dari  tahun 1338-1416M / 739-819 H. Dari ke 13 anak lelaki ini dzuriat Rasulullah Saw yang bermarga  As Seggaf telah  menyebar ke pelusuk negeri , salah satunya ke negara Asia Tenggara yakni Indonesia, diantaranya  ke pulau Jawa pada masa Kesultanan Demak untuk mengembangkan Syari’at Islam dari Datu Moyang mereka. Masa Kesultanan Banjar mengalami keemasan maka Gantung siwur dan Cicip moning yakni genarasi/ keturunan ke-7 dan ke-8 Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurahman Al-saqqaf adalah Habib Hasan bin Hasyim beserta adik kandungnya Habib Idrus Assegaf dan anaknya Habib Abu Bakar bin Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufi Asseggaf. Habaib inilah menurunkan Habaib yang ber MARGA atau FAM (Family-Keluarga) Assegaf masuk ke Kesultanan Banjar  Kalimantan Selatan dan menatap beberapa tahun. Dikota ini Habib Idrus dan Habib Abu Bakar menikahi wanita shalihah dari suku Banjar. Diperkirakan Habaib ini telah menyeberang dan masuk kedaerah Bandarmasih pada akhir abad ke-17M.


4. Penyebaran Islam dan Proses masuknya agama Islam di Kalimantan Selatan.

Penyebaran Islam di Kalimantan Selatan.  Proses masuknya agama Islam di Kalimantan Selatan disebutkan mulai sekitar abad 14 Masihi, sebelum Kerajaan Banjar berdiri. Sosok yang berandil dalam penyebarannya adalah pewaris sah kerajaan Negara Daha yang bernama Raden Samudera. Proses penyebaran Islam di Kalimantan Selatan secara terang-terangan dimulai dengan kontak antara Pangeran Samudera dengan Kerajaan Demak. Pangeran Samudera meminta bantuan pasukan ke Demak untuk berperang melawan pamannya, Pangeran Tumenggung dalam merebut takhta kekuasaan Negara Daha. Atas kemenangannya melawan Kerajaan Daha, ia berhasil mengislamkan raja dan pejabat kerajaan, hingga akhirnya agama Islam berkembang semakin pesat berabad-abad kemudian (CNN Indonesia 2021)

Beberapa catatan tahun Sejarah Kesultanan Banjar yang ada bahwa   :

a.  1520, penobatan Raden Samudera oleh Patih Masih sebagai raja di Muara Kuin dengan gelar Pangeran Samudera.

b.  6 September 1526, pertempuran antara Kerajaan Banjar dipimpin Pangeran Samudera dengan Kerajaan Negara Daha dipimpin Pangeran Tumenggung di Jingah Besar, Pangeran Samudra dibantu Kesultanan Demak.

c. hari Jum’at, taggal, 24 September 1526 Masihi, bertepatan 7 Dzulhijjah 932 Hijeriyah , adalah hari kemenangan Pangeran Samudra dan pembentukan Kesultanan Banjar, dengan memasukkan Kerajaan Nagara Daha, selanjutnya Pangeran Tumenggung menetap ke hulu pada Batang Alai dengan 1000 penduduk  (Sejarah Kalimantan Selatan).

Ada yang mengatakan bahwa Islam mulai masuk ke Kalimantan Selatan abad ke 15M sampai abad ke 17M. Pada Abad ke-17M sampai ke-18M adalah masa  puncaknya perkembangan agama Islam di Kalimantan Selatan dan masa keemasan Kerajaan Banjar. Adapun puncak keemasan Kerajaan Banjar dan perkembangan Islam ditandai datangnya syekh-syekh / Habaib  ke Banjar  bersamaan  muculnya ulama ulama Banjar  salah satu yang terkenal dengan hasil karya tulis Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yaitu Kitab Sabilal Muhtadin. Kitab ini dijadikan sebagai bahan bacaan dan rujukan negara-negara di Asia Tenggara. 

Kemudian ulama  atau  Habib asal Tarim Hadramaut tersebut, bahwa keluarganya yang dulunya sudah lama  tinggal dipasca Kesultanan Demak (Jawa Tengah) telah menyeberang menuju ke Kesultanan Banjar yang membawa misi dakwah. Yakni  Habib Abu Bakar dan ayahnya Habib Hasan beserta adiknya Habib Idrus pertengahan Aabad ke-17 M. Disusul oleh yang lain diawal Abad ke-18 M: Habib Abdullah dengan isterinya Siti Aminah binti Husaini (orang tua Datu Kelampyan) datang dari  India. Di kota Bandarmasih ini mereka berbeda tempat tujuan lokasi yang dituju. Habib Abdullah bin Abu Bakar al-Hindi bin (Abdurrasyid Mindanau bin ) Ahmad Ash-Shalabiyah bin Husain bin Abdullah bin Syekh bin Abdullah al  Aydarus Al-Akbar bin Abu Bakar as-Sakran bin Sayyid Abdurraman Assegaf  al Aydrus, mereka naik perahu menuju ke desa Lok Gabang Martapura.

Sedangkan Habib Abu Bakar dan ayahnya Habib Hasan beserta adiknya Habib Idrus Assegaf menetap di Bandarmasih konon tepatnya di kampung Sungai Mesa. Habib Idrus setelah dewasa mengawini wanita salihah dari suku Banjar dan ia punya anak an. Habib Ali  Assegaf. Tetapi tidaklah menutup kemunginan juga bahwa Habib Abu Bakar Assegaf sebelum berpetualang ke negeri asia, ia telah mengawini perempuan salihah dari tanah kelahirannya Tarim, Hadramaut  dan punya keturunan buyut  yang berama Sayyid Alwi bin Abdillah bin Shaleh bin Abu Bakar Assegaf.

Keluarga Assegaf yang ada di Taniran dan Habaib yang ada di Lumpangi ini mayoritasnya  berasal dari rumpun marga Assegaf ash-Shoufy. Yang pertama kali menyandang marga ini adalah Habib Umar ash-Shoufy yakni turunan nasab Nabi Saw yang ke-26.

05. Rakam Jejak Perjalanan Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman As-Saqqaf para Dzurriat Nabi Besar Muhammad Saw ke Nusantara (ia berkunjung ke Bandarmasih)


Menurut penelitian Syaikh Syamsul Afandi tentang nasab dzuriat Nabi Muhammad Saw dalam kitab biografi "Ulama Terkemuka Dunia dan Nasional" bahwa Habib  Abdurahman al-Mualim adalah ayahnya waliyullah Umar al-Shafi. Aal AL-SHAAFY AL-SAQQAF Mereka adalah keturunan waliyullah Umar al-Shafi bin Abdurahman al-Mualim bin Muhammad bin Ali bin Abdurahman al-Saqqaf. Sedangkan yang punya marga/ fam/ nama al-Mualim"………al-Mualim” menurut  Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin, mereka adalah tKeturunan Alwi bin Abdurrahman Assegaf.

Kalau dilacak diteliti Silsilah nasab dzuriat Nabi Muhammad Saw melalui Marga/ Fam Lelohor Sayyid dan Habib berikut ini Ali bin Abdurrahman Assegaf dan Alwi bin Abdurrahman Assegaf

1. Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf

Menurut Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin, mereka adalah Keturunan Ali bin Abdurrahman Assegaf yang bermarga /fam

  1. Assegaf Al Thaha bin Umar
  2. Assegaf Al Usman
  3. Assegaf Al Shaafi

2.Keturunan Alwi bin Abdurrahman Assegaf, mereka yang bermarga / fam :

  1. Assegaf Al Qaisiyah
  2. Assegaf Al Fargas
  3. Assegaf Al Tuainah
  4. Assegaf Al Bahaliqah
  5. Assegaf Al-Mualim
  6. Assegaf Al Ahmad

Perahu “Jung Banjar” adalah jenis kapal layar besar orisinal Nusantara dari Kesultanan Banjar yang populer pada abad ke-16 hingga ke-17. Kapal ini berukuran raksasa, tangguh, serta berfungsi utama sebagai sarana angkutan laut dan perdagangan antarpulau maupun internasional.

Menurut peneliti pakar sejarah Koestoro bahwa “pada pertengahan abad ke-16 Masihi, telah muncul Jung Banjar, sebuah Perahu yang digunakan untuk angkutan transportasi sungai-laut antar pulau. Pada abad ke-16 Masihi dari tahun 1501 sd. 1600 M, sekitar akhir abad ke-16 Masihi yakni tahun 1596 M kapal “Jung Banjar”, jenis perahu ini pernah dicegat dan dirampas Cornelis de Houtman orang Belanda ketika Perahu itu sedang beroperasi melintas diperairan luar Teluk Banten, Jawa Tengah.

Sebelumnya sekitar tahun 1298 M akhir abad ke-13M hingga tahun 1367M di abad ke-14M kita dapat mengenal sejarah Abdullah bin Mas’ud al-Jawi, dari Nusntara yang menjadi Guru / Syaikh dari Imam Abu Abdullah Muhammad bin As’ad al-Yafi’i (1298-1367M), seorang ulama sufi terkemuka pada masanya  sebagaimana ditulis sendiri oleh sang faqih-sufi Syeikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhanî.

Seorang ulama besar yang hidup di abad ke-13 Maasihi di era keemasan Kerajaan Majapahit yang berlangsung sekitar 8 abad yang lalu. Saat itu, Kerajaan Islam Samudera Pasai yang berada di pantai utara Aceh mengalami pertumbuhannya yang sangat cepat-pesat, sehingga membuat seorang pelancong atau tamu dari Maghribi bernama Ibnu Bathuthah yang sedang dalam perjalanan menuju Cina sangat tertarik untuk singgah di kerajaan tersebut. Beliau menyebut Kerajaan Pasai, yang dikenal sebagai ”Kerajaan Jawa”, sebagai sebuah negara Islam yang aman dan makmur penduduknya.

Di abad ke-13 Masihi, di masa itu hiduplah seorang ulama besar dan sufi terkenal, tidak hanya di wilayah Nusantara, tetapi juga di kawasan Timur Tengah dan dunia Islam lain. Beliau bernama Abu Abdullah Mas’ud bin Abdullah al-Jawi, yang jelas menunjukkan bahwa beliau adalah seorang berkebangsaan Malayu Nusantara (Orang Melayu). Sayangnya, sumber sejarah tentang eksistensi tokoh ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab Melayu atau sumber sejarah lain, seperti berita dari Cina, prasasti, dan lain-lain.

Namun, sumber tentang adanya ulama besar ahli tasawuf tersebut ditemukan dalam kitab”Jâmi’ Karâmatil Aulia” yang dikarang oleh seorang ulama besar Palestina bernama Syeikh Yusuf bin Isma’il an-Nabhanî pada tahun 1350 H. Dalam kitab tersebut, Syeikh Yusuf menjelaskan tentang ulama besar bernama Syeikh Abu’Abdullah Mas’ud al-Jawi yang hidup di Aden (Hadramaut), Arab Selatan. Kata ”al-Jawi” menunjukkan bahwa dia adalah orang Jawa (Melayu) seperti yang disebutkan oleh orang Arab terhadap orang Melayu yang tinggal di Mekah. Mungkin ini berasal dari nama yang diberikan oleh Ibnu Bathuthah untuk Nusantara,”Negeri Jawa”. Tempat asal Mas\’ud al-Jawi, apakah dari Jawa, Sumatera, atau Malaya tidak diketahui. Tidak ada informasi tentang kelahiran beliau, keluarganya, atau masa kecilnya. Meskipun demikian, dapat dipastikan bahwa Mas’ud al-Jawi adalah seorang ulama Melayu yang berasal dari wilayah Nusantara.

Sejak awal abad ke-16 Masihi tersebut yakni  mulai hari Jum’at, taggal, 24 September 1526 Masihi, bertepatan 7 Dzulhijjah 932 Hijeriyah Kerajaan Banjar berubah menjadi Kesultanan Banjar, Agama resmi kerajaan yang dulunya Agama Hindu berubah menjadi  Agama Islam. Pengeran Samudera setelah masuk Islam menjadi atau bergelar Pengeran Suriansyah. Nama kotanya yang dulunya Bandarmasih menjadi Banjarmasin sekarang.

Sepuluh tahun kemudian  di abad yang sama adalah Awal Perjalanan panjang Habib Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly  Assegaf ke Nusantara, Ia orang pertama dari Habib-Sayyid yang  berkunjung dan menyeberang dari Kesultanan Demak menuju ke Kesultanan Banjar dimasa  pemerintahan Islam Sultan Suriansyah, Menurut sumber data bahwa “Habib asal Hadramaut yang datang pertama kali berkunjung ke Bandarmasih tujuannya berdagang “Permadani, Hambal dan Sajadah” dan mencari rempah-rempah diperkirakan awal abad ke-16M yakni tahun 1536 Masihi, ia adalah orang tua Umar Ash-Shoufy yakni “Habib Abdurrahman” bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman Assegaf. Beliau sempat nginap di Sungai Mesa Bandarmasih dan ia tidak lama menetap di kota ini kemudian balik lagi ke Kesultanan Demak. Beliau berasal dari  Seiyun Hadramaut (juga ditransliterasikan sebagai Saywun, Sayoun atau Say'un;

Menurut Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh, terjemah Dzija Shahab, Almaktab-Al-Daimi bahwa “Orang Arab dikenal sebagai orang yang suka berpetualang menjelajahi sepanjang lautan sebelum dan sesudah berkembangnya Islam, kedatangan orang Arab di Indonesia makin jelas setelah agama Islam lahir (abad VII M). Pada masa ini mereka sedang mengemban dua tugas yaitu berniaga dan menyiarkan agama Islam. Jauh sebelum Belanda datang pertama kali ke Nusantara tahun (1596) Masihi, sudah ada orang Arab yang datang dari Hadramaut ke Jawa termasuk ke Jakarta" (Sejarahahlulbait 2014).

Sayyid Abdurrahman, Beliau adalah Datuknya dari (Datu Habib Lumpangi) adalah salah satu dzuriat keturunan Syekh dan Imam Sayyid Abdurrahman bin Habib Muhammad Maula Dawilah berasal dari Hadramaut Yaman, ia singgah menetap atau berdomisili yang lama di Kesultanan Demak Jawa Tengah sehingga beliau bersikaf dengan adat Jawa, lembut dan sopan dan juga sangat pasih berbahasa Malayu Indonesia. Fam/marga beliau As-Saqqaf, akan tetapi orang-orang Arab menyubutkan kata as-Saqqaf sulit/tidak bisa, maka disebutkan dengan lisan Arab adalah as-Seggaf. Orang Indonesia menulisnya "Assegaf".

Marga tertua atau fam tertua dari puluhan marga/fam Dzuriat Nabi Muhammad Saw yang ada di Indonesia ialah al saqqaf (Assegaf). Lalu Assegaf ini tinggi, Keturunan Nabi yang ada di Indonesia ini umumnya adalah generasi ke-38 atau ke-39 tahun 2022".bahkan kalau dilihat nasab Dzuriat Datu Habib Lumpangi di Kalimantan Selatan sampai generasi ke-40 dan generasi ke-41 di tahun yang sama.

06. Rakam Jejak Perjalanan Sayyid Hasyim bin Muhammad Assegaf dan Keluarganya dari Seiyun Hadramaut mengikuti pendahulunya ke Nusantara.

a. Kelurahan Randusari Kec. Semarang Selatan masa Kesultanan Demak

Wilayah Randusari (yang kini dikenal sebagai kelurahan di Semarang Selatan) pada masa Kesultanan Demak. Sultan Demak pernah memerintahkan Sayyid Ki Ageng Pandan Arang (ia sdr.kandung Sunan Giri /Raden Ainul Yaqin), untuk membuka lahan dan menyebarkan ajaran Islam di daerah pesisir yang saat itu bernama Pragota (cikal bakal wilayah Bergota di Randusari, Semarang). Sayyid Ki Ageng Pandanaran diangkat menjadi bupati atau pemimpin pertama di wilayah Semarang dan sekitarnya di bawah naungan kekuasaan Kesultanan Demak.

Orang tua Sayyid Ki Ageng Pandan Arang bernama        : Sayyid Maulana Ishaq (ayah) bin Jamaluddin al-Husaini bin Jalaluddin Khan, Siti Zainab (Ibu) dan Istrinya Putri Adipati Pasuruan,  Keturunan : ~ Siti Umi Kamsum, ~ Kalkum Pekalongan, ~ Abdullah Kendal dan ~ Abdurrahman Kaliwungu.

Sayyid Ki Ageng Pandan Arang (disebut juga Pandanaran, Pandanaran I) adalah bupati pertama Semarang, yang diangkat oleh Sultan Demak Bintara. Konon nama Semarang diberikan olehnya, karena di tempat ia tinggal ditumbuhi oleh pohon asam yang jarang-jarang (bahasa Jawa: asem arang). Ki Ageng Pandan Arang juga dikenal sebagai tokoh penyebaran Islam di daerah tersebut. Meskipun sezaman dengan para Wali Sango, ia tidak termasuk di dalamnya. Sayyid Ki Ageng Pandan Arang wafat, dimakamkan di Mugassari, Semarang Selatan, Semarang.

b. Empat Darmaga Pelabuhan Kapal masa Kesultanan Demak

Menurut Artikel yang saya baca bahwa : “Kerajaan Demak mengusahakan kerja sama dengan penguasa pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa yang telah menganut Islam. Pelabuhan Gresik adalah salah satu pelabuhan dagang strategis di pesisir utara Jawa yang berada di bawah pengaruh dan jaringan maritim Kesultanan Demak pada abad ke-15 hingga ke-16 M. Kerajaan Demak memiliki Darmaga-darmaga pelabuhan-pelabuhan perahu/ kapal layar penting, seperti darmaga Jepara, darmaga Tuban, darmaga Sedayu, dan darmaga Gresik.

c. Keberadaan Darmaga Pelauhan Jepara Semarang masa Kesultanan Demak

Menurut Makalah “Ekspansi Jepara Abad XVI dan Potensinya sebagai Suplemen Materi Pembelajaran Sejarah, dijelaskan pada bab Pendahuluannya bahwa Jepara, sebuah kota kecil di pesisir Pantai Utara Jawa, pada masa Kerajaan Demak berperan sebagai Pelabuhan militer dan Pelabuhan dagang. Oleh karena itu, Jepara dijadikan wilayah galangan kapal oleh para pedagang dari luar, yang kemudian bermukim di Pesisir Pantai Jepara. Nama "Jepara" berasal dari “Jung Para”, yang berarti tempat kapal besar berlabuh atau singgahnya pedagang. Kala itu, Jepara menjadi pelabuhan besar dengan lokasi yang aman, dikelilingi oleh beberapa wilayah dan pulau sekitarnya, dan dianggap sebagai salah satu kota tertua di Jawa Tengah. 

d. Keberadaan Darmaga Pelauhan Gresik masa Kesultanan Demak

Dermaga Pelabuhan Gresik pada masa kejayaan Kesultanan Demak (abad ke-15 hingga awal abad ke-16) merupakan salah satu bandar dagang internasional terbesar dan terbaik di Pulau Jawa.

Dikutif dari sebuah Artikel ttg "Pelabuhan Gresik", dimasa yang lalu bahwa “Salah satu tokoh yang berpengaruh pada perkembangan perdagangan di Kota Gresik adalah Nyai Ageng Pinatih. Beliau seorang saudagar kaya dan syahbandar di Pelabuhan Gresik. Beliau mulai mendirikan pelabuhan ini pada pertengahan abad XIV, sejalan dengan proses islamisasi di tanah Jawa. Pada masa itu Gresik menjadi bandar perdagangan yang ramai. Kini Pelabuhan Gresik lebih berfungsi sebagai pelabuhan penumpang dan barang. Abad XVI, Pelabuhan Gresik dapat menggeser peran Pelabuhan Tuban sebagai pelabuhan besar dan utama di antara pelabuhan-pelabuhan lain disekitarnya. Namun kebesaran Pelabuhan Gresik pada awal abad XVII tidak seperti sebelumnya, karena politik ekspansi Sultan Agung sudah mengarah ke Gresik dibantu Pangeran Pekik dari Surabaya”.

Pelabuhan Gresik melayani penyeberangan Gresik - Bawean dengan keberangkatan rutin sekali setiap hari. Jadwal keberangkatan kapal secara rutin selalu dirilis operator dan otoritas setempat secara berkala melalui berbagai media terkait. Pelayaran umumnya ditempuh dengan durasi sekitar 4 jam melintasi Laut Jawa, bergantung situasi dan kondisi terkini. Berikut adalah daftar operator penyedia layanan penyeberangan kapal motor penumpang (KMP) di Pelabuhan Gresik.

07. Keberadaan Sayyid Hasyim bin Muhammad dan keluarganya di Nusantara pernah menetap di Darmaga Pelabuhan Gresik dan Darmaga Pelabuhan Jepara Semarang.

Sejarah menyebutkan bahwa “Salah satu keturunan Nabi Muhammad Saw yakni Habib Hasyim bersama keluarganya dilaporkan melalui perjalanan panjang mereka bertolak dari Seiyun Hadramaut menuju ke pelabuhan Turki terus menuju Asia Tenggara lewat Singapora menuju ke pelabuhan Palembang terus menuju ke pelabuhan Gresik hingga tiba di Demak Jawa Tengah pasca Kesultanan Demak. 

Sayyid Hasyim diperkirakan lahir tahun 1613M di Hadramaut, diusia 21 tahun ia menikah dengan wanita tanah kelahirannya dan punya anak salah satunya Sayyid Hasan. Setelah isteri meninggalkannya atau wafat kemudian diperkirakan diusianya ke-58 tahun ia kawin lagi dengan wanita tanah kelahirannya dan punya anak salah satunya Sayyid Idrus, kemudian ia berpetualang ke Asia Tenggara, Nusantara, mengikuti jejak pendahulunya yakni Sayyid Abdurrahman ayah Umar ash-Shaafy, yang diikuti oleh kedua anaknya dan cucunya. Dan Sayyid Hasan diusia muda 30 tahun ia menikah dengan wanita salihah ditanah kelahirannya Seiyun Hadramaut, dan puya anak yang bernama : Sayyid Abu Bakar.

Keberadaan dan kedatangan Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy Assegaf dan keluarganya di Asia Tenggara dan berdomisili lama di Nusantara pasca Kesultanan Demak,  pertama menetap di Darmaga Pelabuhan Gresik kemudian pindah ke Pelabuhan Jepara dan menetap disini. Kemudian berpindah ke Randusari tepatnya.di Kelurahan Randusari, Kec.Semarang Selatan, kota Semarang, Jawa Tengah.

Sayyid Hasyim bin Muhammad Assegaf diperkirakan hidup abad ke-17 Masihi. Abad ke-17 dihitung dari tahun 1601-1700 Masihi. Ia dengan kedua anaknya (Hasan & Idrus kecil 11 sd.13 thn) dan cucunya Sayyid Abu Bakar mereka berasal dari Seiyun  Hadramaut, Negeri Yaman atau Yordania.

Sayyid Abu Bakar adalah nama yang diberikan orang tuanya, ia lahir diperkirakan tahun 1068H/1658M  di Seiyun Hadramaut. Setelah dewasa ia menikah dengan perempuan shalihah di kota kelahirannya, dan punya anak diberi nama “Shalih” (Ahmad Shalih). Kemudian sa’at itu Sayyid Hasyim dan Sayyid Hasan anaknya ingin pergi berpetualang ke Asia Tenggara, Sayyid Abu Bakar ikut juga berpetualang berdagang dan mencari rempah-rempah bersama ayahnya Sayyid Hasan dan kakeknya Sayyid Hasyim yang sudah sepuh. Perjalanan panjang mereka ke Asia hingga Asia Tenggara, mereka berangkat mulai kota tanah kelahirannya Seiyun Hadramaut, ke Turki, terus melalui Singapore ke Aceh terus ke Pelembang,  hingga tiba ditempat tujuan pesisir utara Jawa yakni Darmaga Pelabuhan Gresik, Demak Jawa Tengah di diakhir abad ke-17 antara tahun 1684 sd. 1690M.

Setelah singgah dan menetap atau berdomisili yang lama di Darmaga Pelabuhan Gresik, mereka belajar ttg. Bahasa, Adat-istiadat /budaya Malayu dan Jawa sehingga mereka bersikaf/ terbiasa dengan adat Malayu dan Jawa, lembut dan sopan dan juga sangat pasih berbahasa Malayu Indonesia, khususnya Sayyid Hasan dan Abu Bakar pasih berbahasa Melayu dan Jawa, kemudian mereka pindah ke Darmaga Pelabuhan Jepara dan menetap disekitarannya. Di provinsi kota inilah akhir Abad ke-11H kakeknya Habib Hasyim wafat sekitar thn. (1686M/Rmdhan.1097H) dan bermakam, begitu juga kalek Habib Idrus (w.1749M) Assegaf sa’at datang menziarahi ayahnya sayyid Hasyim dikota ini, ia jatuh sakit, mungkin karena kelelahan, badannya terus melemah hingga wafat dan makamnya berdampingan dengan ayahnya dikota ini, tepatnya Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, kota Semarang Jawa Tengah.

Pada abad ke-17 Masihi kesultanan Banjar mengalami kejayaan. Bandarmasih (Banjarmasin) sudah menjadi pelabuhan bebas sejak pertengahan abad ke-17, baik antar pulau maupun antar benua. Karena adanya pergeseran peranan pelabuhan di pesisir Jawa Timur ke daerah ini. Menurut Barra seorang peneliti sejarah, bahwa banyak jung Melayu, Inggeris, Portugis, dan lain-lainnya berlabuh di Bandarmasih (Banjarmasin). Hingga akhir abad ke-17M, lada sebagai primadona komoditi, dan emas semakin meningkat produksinya. Menurut Schrieke seorang peneliti sejarah, bahwa “pelabuhan Bandarmasih (Banjarmasin) telah menggantikan kedudukan pelabuhan Gresik. Perahu-perahu layar samudera pada abad ke 16-17 M sudah banyak dibuat oleh “pandai kapal” di Sungai Pandai Banjarmasin untuk dijual ke Jawa dan negeri lainnya.


08. Sayyid Hasan bin Hasyim bersama keluarganya dan adiknya Habib Idrus berhijerah dari Randusari Semarang dan tiba di Bandarmasih dan mereka  menetap dipelabuhan kapal Kampung  Sungai Mesa Bandarmasih.

Pada mulanya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan beserta anaknya Sayyid Abu Bakar Assegaf mereka pergi berniaga meninggalkan Habib Hasyim ayahya yang (sudah sepuh) dan Idrus adik bungsunya (yang masih kecil 11-13 thn) mereka berniaga di Darmaga Pelabuhan Gresik dan sekitarannya selama bertahun-tahun lebih, kemudian mereka sekeluarga pindah ke Darmaga Pelabuhan Jepara kota Semarang. Mereka berniaga di Darmaga Pelabuhan Jepara dan sekitarannya lebih dari bertahun-tahun lamanya, tetapi Mereka menetap di Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan. Namun dari kota ini, mereka ingin mengembangkan dan meningkatkan (bisnis) hasil perniagaan mereka, seiring waktu terus berjalan, dua haul sudah wafatnya ayahanda Sayyid Hasyim telah berlalu, akhirnya mereka bertolak berlayar dari Pelabuhan Jepara Semarang pasca Kesultanan Demak berlabuh menyeberangi laut Jawa-laut Bornio untuk (yang kesekian kalinya) menuju  Kesultanan Banjar.

Menurut ceritra datuk-neni kami bahari dan kisah  orang-orang tua yang saya temui bahwa “di Abad ke-16 Masihi masa Kesultanan Demak dan untuk (memenuhi janji Sultan Banjar sabubuhan rakyatnya musti masuk Islam), mengetahui prihal tersebut Sayyid Abu Bakar bersama orang tuanya Sayyid Hasan yang sudah bertahun-tahun menetap di Darmaga Pelabuhan Kapal Gresik, Jawa Tengah. (sebelum mereka menetap di Kelurahan Randusari Semarang), mereka marasa terpanggil, tergerak hati mereka /ada rasa tanggug jawab hingga mereka datang ke Kasultanan Banjar, tujuan utamanya mengislamkan orang-orang Banjar, disamping berniaga (Hambal, Permadani, Sajadah, Kain Sarung dan berbagai jenis Perhiasan Wanita), mereka juga mencari madu dan rempah-rempah untuk dijual kembali, mereka menyeberangi laut Jawa-Bornio pertama kali naik Perahu layarJung Banjar” sebelum wafat ayah mereka dan tiba di tempat tujuan yakni sebelum mereka  menetap lama dipelabuhan kapal Kampung Sungai Mesa Bandarmasih (Banjarmasin, Kalsel)”. 

Di Darmaga Pelabuhan kota ini mereka mulai mempelajari Bahasa Banjar kepada orang-orang Banjar yang ada disekitarnya dan mengenali adat istiadat budaya mereka. Hal itu dilakukan sebagai bentuk upaya untuk memenuhi penyampaian misi dakwah Islam kepada masyarakat Banjar. Sehingga tatkala mereka berinteraksi dengan orang-orang Banjarmasih lainnya tidak mengalami hambatan, tiada mengalami kesulitan dan selalu berjalan dengan baik.

Dzuriat Rasulullah SAW tersebut konon berasal dari Seiyun Hadramaut, dan menginjakkan kaki pertama di pelabuhan kapal Bandarmasih (nama kota lama Kota Banjarmasin) di Kesultanan Banjar. Setelah beberapa waktu menetap berbulan-bulan di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa sambil menghabiskan barang dagangan, dan mereka membeli madu dan rempah-rempah merekapun kembali lagi pulang ke Demak menemui Habib Hasyim ayahnya yang ditinggalkan bersama anak bungsunya Habib Idrus.

Adapun Jenis Perahu /Jukung yang ditumpangi Sayyid Hasan beserta anaknya sayyid Abu Bakar ketika menyeberang laut Jawa-Kalsel adalah perahu layar “Jung Banjar”

a. Penjelasan : ttg. Perahu Kapal Layar Jung Banjar

Perahu “Jung Banjar” adalah jenis kapal layar besar orisinal Nusantara dari Kesultanan Banjar yang populer pada abad ke-16 hingga ke-17. Kapal ini berukuran raksasa, tangguh, serta berfungsi utama sebagai sarana angkutan laut dan perdagangan antarpulau maupun internasional.

Menurut peneliti pakar sejarah Koestoro bahwa “pada pertengahan abad ke-16 Masihi, telah muncul Jung Banjar, sebuah Perahu yang digunakan untuk angkutan transportasi sungai-laut antar pulau. Pada abad ke-16 Masihi dari tahun 1501 sd. 1600 M, sekitar akhir abad ke-16 Masihi yakni tahun 1596 M kapal “Jung Banjar”, jenis perahu ini pernah dicegat dan dirampas Cornelis de Houtman orang Belanda ketika Perahu itu sedang beroperasi melintas diperairan luar Teluk Banten, Jawa Tengah.

Namun perjalanan mereka yang kesekian kalinya, mereka menyeberangi laut Jawa-laut Kalsel dan menuju ke Kasultanan Banjar, (busu) Habib Idrus bin Hasyim Assegaf baru diikutsertakan bersama saudaranya Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf dan Sayyid Abu Bakar Assegaf keponakannya, mereka membawa misi dakwah pergi berniaga berlayar dan tiba lagi di Pelabuhan Kampung Sungai Mesa kota Bandarmasih, pada kali ini mereka menetap lama/ berdomisili lama dipelabuhan tersebut, diakhir abad ke-17 Masihi dan dipekirakan mulai menetap tahun 1689 Masihi di akhir abad ke-11 Hijeriah.

Sungai Mesa merupakan sebuah kampung tua di Kota Banjarmasin (Bandarmasih dahulu). Kampung ini dibangun oleh seorang tokoh yang dikenal dengan nama Kiai Mesa Jaladri. Tidak diketahui persis, kapan Kiai Mesa membangun wilayah ini, yang jelas sejak itu Kampung Sungai Mesa menjadi wilayah tempat tinggal yang strategis. Letaknya yang persis di tepi sungai Martapura, membuat daerah ini menjadi semacam pelabuhan kecil tempat menaik-turunkan barang dagangan dari perahu (kapal). Di seberang Sungai Mesa adalah Jalan Pasar Lama Laut yang sekarang menjadi pusat perkantoran pemerintah Provinsi Kalsel” (Artikel Kajian al Kahfi).

Salah satu pasar yang sering dikunjungi Sayyid Hasan dan Sayyid Abu Bakar anaknya ketika menetap di Kampung Sugai Mesa Bandarmasih yakni berniaga lewat transportasi air menggunakan “Jukung Bakapih” adalah pasar terapung dan sekitarnya. Pasar terapung adalah yang awalnya terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling.

Menurut penelitian H. Achmad Mawardi seorang pakar Pemerhati budaya dan lingkungan bahwa “Berdasarkan kenyataan arkeologis dan historis, jukung-jukung orang Banjar masih banyak terdapat dan digunakan di perairan Kalimantan Selatan. Bahkan pasar terapung di daerah ini, diketahui sudah ada sejak 400 tahun yang lalu. Diperkirakan pasar terapung dan juga di tebing sungai sudah ada pada tahun 1530 Masehi pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera) yang terletak pada pertemuan Sungai Karamat dan Sungai Sigaling. Kemudian bergeser ke tepi sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin menjelang akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17 Masehi. Pasar terapung di sungai Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar, mungkin sudah ada pada abad ke-16 tetapi bisa juga baru menjadi umum ketika perpindahan keraton Banjar ke kawasan Kayu Tangi Martapura sejak awal abad ke-17 Masihi tahun 1612M.


b. Keterangan : Sungai Keramat dan Sungai Sigaling

Sungai Keramat adalah sungai yang mengalir di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia. Sungai ini mengalir di kelurahan Sungai Bilu, kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin dan bermuara ke Sungai Martapura. Sungai Keramat memiliki panjang 846,353 meter dengan lebar 50 meter.

Sungai Sigaling adalah sebuah anak sungai yang mengalir dan terletak di Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang memiliki panjang sekitar 1.087 meter dengan lebar 30 meter dan bermuara langsung ke Sungai Barito.

Adapun Jenis Jukung yang digunakan Sayyid Hasan beserta anaknya sayyid Abu Bakar ketika membawa misi dakwah sambil berniaga di wilayah dekat Bandarmasih misalnya   tepi sungai Barito di daerah muara Sungai Kuin, tepi aliran Sungai Karamat dan tepi aliran Sungai Sigaling adalah menggunakan perahu “jukung Bakapih” yang mereka beli dari masyarakat setempat.


c. Penjelasan : ttg. Jukung Bakapih.

(Jukung Bakapih). Jukung Sudur (the real dugout canoe) yang dianggap bentuk awal jukung sejak kala Neolitik, tenyata pada zaman logam (metal age), masih dibuat dan dipertahankan hingga masa kini, seperti di kawasan perairan lahan basah Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Bentuk Jukung Sudur bisa dibuat dari ukuran kecil hingga besar. Untuk memperbesar muatannya, bisa ditambah kepingan papan di kedua sisi dinding jukung, yang disebut Jukung Bakapih dari Jukung Sudur. Berdasarkan temuan “Jukung Sudur” di Sungai Terasi, desa Kaludan, terbukti tipe Jukung Bakapih sebenarnya sudah dibuat dan dikenal di daerah Kalimantan Selatan sejak abad ke- 15 atau ke-16 Masehi.

Sayyid Hasan adalah saudagar kaya ayah sayyid Abu Bakar bersama keluarganya sebelum berhijerah ke Sungai Pinang Negara, mereka lama menetap di Sungai Mesa Bandarmasih, diperkirakan mulai tahun 1689 Masihi pertengahan dan akhir abad ke-17 Masihi, Abad ke-17 dihitung dari tahun 1601 sd. tahun 1700 M.   Sayyid Abu Bakar sempat menikah dengan perempuan salihah di kampong ini dan punya keturunan an. Sayyid Abdurrahman sa’at menetap di kampong ini. Penulis belum dapatkan keterangan yang jelas ttg tahun pernikahan Sayyid dan dzuriat Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang masih hidup sa’at ini, namun prihal itu terjadi sebelum kedatangan Buyut pertamanya sayyid Abu Bakar yakni Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Habib Abu Bakar Assegaf ke Nusantara sekitar abad ke-19 Masihi. Dimasa Kesultanan Banjar dipegang oleh Sultan Adam.

Menurut Artikel Sejarah Ahlul Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesia menyebutkan bahwa “Seorang dari keluarga Assegaf bernama Alwi (w.1842M) bin Abdillah bin Shalih bin Abubakar dilaporkan melalui perjalanan panjang dari Hadramaut-ke Pelabuhan Turki-ke Pelabuhan Palembang- ke Pelabuhan Gresik, sebelumnya ia menyinggahi Banjarmasin dan sempat bermukim di Kampung Sungai Mesa. Alwi kemudian menetap di Martapura (Kampung Melayu) dan mendapat hadiah tanah dari Sultan Adam di daerah Karang Putih. Kemudian ia dan anak cucunya bermakam di tanah pemberian Sultan tersebut (makam Karang Putih Jl Menteri Empat Martapura) ”(Fakhrul 04-2012M).


d. Silsilah Sayyid Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Abu Bakar

Sekitar pada Agustus 2023 Masihi Penulis baru menemukan Nasab silsilah Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih bin Habib Abu Bakar Assegaf dan keturunannya yang bermula dicatat dari Habib Abdul Qadir al Jailani :

الْحَبِيْب عَبْدُ القَدِيْر الْجَيْلَانِيِّ بِنْ عَلْوِىْ بِن زَيْنْ بِنْ عَلِيٍّ بِنْ عَلْوِىْ بِنْ عَبْدِاللهِ بِنْ صَالِح بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ  بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه

  1. Habib Abdul Qadir al-Jailani
  2. bin Alwi
  3. bin Jain
  4. bin ‘Ali
  5. bin Alwi
  6. bin Abdillah
  7. bin Shalih
  8. bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.
  9. bin Hasan w.1720M
  10. bin Hasyim w.1686M/18Rmdhn.1097M
  11. bin Muhammad
  12. bin Umar ash-Shoufy
  13. bin Abdurrahman
  14. bin Muhammad
  15. bin Ali w.840H
  16. bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)
  17. bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H))
  18. bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
  19. bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H)
  20. bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)
  21. bin Sayyidina Ali Walidul Faqih

…………………………………………

Menurut salah satu Artikel yang pernah saya baca menyebutkan bahwa “Pemukim dari golongan sayyid yang terhitung orang lama (tua) di Sungai Mesa adalah Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf, ia diperkirakan lahir di Sungai Mesa Bandarmasih antara tahun 1720-1725 Masihi, awal abad ke-18 M. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf mempunyai 3 orang saudara kandung bernama Umar, Muhdor dan Muhammad. “Pekerjaan Habib Ahmad berdagang kayu ulin, juga membawa tajau, belanga berdagang dengan urang Dayak,” cerita Syarifah Nikmah.(Artikel Kajian al Kahfi).

Dikisahkan pula bahwa “Sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar, keduanya adalah seorang Guru atau Ustadz (Mubaligh), Profisi keduanya dan keluarganya sehari-hari adalah berdagang dan berdakwah.” Apabila   mereka berniaga ke tempat yang jauh, mereka selalu naik taxi PP “Perahu Tambangan” ditempuh melalui trasnportasi sungai hingga sampai ke tempat-tempat berniaga yang dituju, tempat tujuan terakhir yaitu wilayah pusat bekas kerajaan Daha, Nagara (pelabuhan sungai Pinang). 

Pada awalnya mereka berniaga ke areal pasar terapung dan sekitarnya menggunakan perahu sendiri yakni (Jukung Bakapih), kemudian juga ada keinginan mereka berdagang ke tempat yang jauh seperti (psr. Alalak, psr. Sungai Gampa, psr. Barito Kuala, psr. Margasari dan psr. Nagara) mereka berdagang meniti Pasar yang mereka tempuh dalam waktu satu-dua pekan atau satu bulan, mereka naik taxi PP “Perahu Tambangan” baru mereka kembali lagi pulang ke Pelabuhan Sungai Mesa. Para pedagang dahulu, mereka selalu datang membawa barang yang akan dijual, ke pasar yang dituju disore hari, atau menjelang malam pasar dan mereka menginaf (bamalam) di pasar atau nginaf (rumah penduduk yang dekat pasar). Diwaktu menginaf (bamalam) inilah Sayyid Hasan dan anaknya banyak waktu menyampaikan misi dakwah Islam (bakisah ttg Islam, dilengkapi pantun, syair-syair, dan yang dibumbui sedikt homor) kepada masyarakat setempat.


e. Keterangan : Jukung atau Parahu Tambangan

Jenis Perahu /Jukung yang digunakan Sayyid Hasan berniaga Jukung/ Perahu Tambangan terbuat dari kayu ulin (kayu besi Kalimantan). Ada ukiran daun jaruju melayap di dekat garis air. jukung tambangan memiliki panjang 12,40 meter, lebar 1,34 meter, dan kedalaman 59 cm.

Fungsi jukung tambangan adalah untuk transportasi sungai, sebelumnya hanya digunakan oleh para pedagang, para bangsawan, dan orang-orang kaya. Namun Fungsi “Perahu Tambangan” secara luas telah mereka gunakan oleh orang-orang biasa untuk transportasi taxi para penumpang, reuni keluarga, acara pemakaman, pernikahan, dan banyak lagi.  

Jukung Tambangan lebih umum dikenal. Jukung Pandan Liris disebut demikian karena hanya dibuat dan digunakan di Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, dan di kawasan sungai dan rawa Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan disebut Jukung Bagiwas. Pada sampung muka dan belakang tipe Jukung Bagiwas ini terdapat ukiran sulur daun, warna coklat. Karenanya tipe jukung ini dianggap prototipe Jukung Tambangan menurut Triatno et al. (1998). misalnya tipe Jukung Pandan Liris (prototipe Jukung Muara Tapus) atau Perahu Bagiwas (prototipe Jukung Tambangan).Atau berbentuk “U” yang disebut “jukung”. Keduanya prototipe jukung orang Banjar masa kini, yang digunakan sesuai dengan fungsi/kegunaannya. Tipe yang disebut “jukung” (bisa juga berdasarkan nama tempat) kebanyakan dari kayu ulin di kawasan Nagara, Sungai Hamandit dan Sungai Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan beberapa kabupaten lainnya seperti di Barito Kuala, Banjar, dan sebagainya.

 

09. Sayyid Hasan dan Sayyid  Idrus berniat silaturrahmi menjenguk keluarga yang masih ada menetap dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan.

Dikisahkan pula bahwa “Sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar, keduanya adalah seorang Guru Agama atau Ustadz (Mubaligh), Profisi keduanya dan keluarganya sehari-hari adalah berdagang dan berdakwah.”

Dikisahakan juga oleh Datu-neni bahari wallaahu‘a’lam bahwa : Setelah wafatnya Sayyid Hasan beberapa tahun ayahandanya kampung Taniran, timbulah keinginan untuk berziarah menjenguk kakeknya Sayyid Hasyim di Pulau Jawa.  Di pertengahan Abad ke-18 Masihi sekitaran antara tahun 1748 sd. 1750 Masihi, Sayyid Abu Bakar beserta ke-3 orang anak tertuanya : Sayyid Abdul Rahman, Sayyid Abdul Hamid, Sayyid Jamaluddin dan Pamannya Sayyid Idrus beserta anak tuanya Sayyid ‘Aly, mereka datang ke kota ini dengan niat untuk menjenguk keluarga yang masih ada menetap (silatur rahmi) dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy ayahandanya di Randusari, Semarang Selatan kota Semarag Jawa Tengah, yang mereka jadwalkan keberangkatannya setiap 12 bulan atau 2 tahun sekali..

Perjalanan bisnis kali ini, dengan bermodalkan mengucap “Bismillaahir rahmaanir rahiim” mereka berangkat dari rumah naik taxi angkot “Perahu Bagiwas” mereka banyak membawa barang dagangan yang dianggap cepat laku dijual di Pulau Jawa seperti madu, damar, kayu manis, lada, rotan dan lainnya. Mereka pergi menuju Darmaga Pelabuhan Bandarmasih, mereka menyeberangi laut Bornio dan laut Jawa, adapun Jenis Perahu /Jukung yang ditumpangi mereka sa’at itu adalah “Perahu Pinisi”. 

Keluarga ini berangkat dari Darmaga Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih naik menumpangi “Perahu Pinisi” menyeberangi laut Kalsel-laut Jawa dan tiba di Darmaga Pelabuhan Jepara, kemudian menawarkan barang yang mereka bawa ke para Pembeli, hingga barang tersebut laris habis terjual  syukur alhamdulillah mereka ucapkan, dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan naik taxi angkot berupa dukar kuda, terus menuju Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan.

Namun  Sayyid Idrus Assegaf (lhr.1674M) (dan ia Wafat 1162H/1749M) sa’at berkunjung dengan niat silatur rahmi untuk menjenguk keluarga yang masih ada menetap disana dan sekaligus menziarahi makam ayahandanya sayyid Hasyim dikota Semarang ini, tetapi setelah selesai pada kunjungannya kali ini, nasibnya malang tertimpa musibah, ajalnya tiba, ia jatuh sakit, mungkin karena kelelahan selama dalam perjalanan, hingga penyakit lamanya kembuh, ketika itu anggota badannya terus melemah hingga ia wafat dengan usia sekitar 75-76 tahun dan janazahnya dikebumikan berdampingan dengan makam Sayyid Hasyim ayahnya dikota ini, dan Alamat lengkapnya di Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.

Keterangan  ttg. Perahu Pinisi adalah Perahu yang ditumpangi Sayyid Abu Bakar beserta Sayyid Idrus adik kandung seayahnya saat pulang ke Jawa menjenguk makam Sayyid Hasyim di Kel. Randusari, Semarang.

Kapal Pinisi / Perahu Pinisi berasal dari Sulawesi Selatan. Kapal legendaris dengan dua tiang dan tujuh layar ini merupakan mahakarya maritim suku Bugis dan Makassar, yang sebagian besar pembuatnya berasal dari Kabupaten Bulukumba, terutama daerah Ara, Bira, dan Tanah Lemo. Suku Bugis sejak dulu memang dikenal sebagai suku yang memiliki kepiawaian dalam mengarungi lautan. Maka tidak heran jika masyarakat Suku Bugis punya keahlian dalam dunia pelayaran.

Perahu tradisional ini berasal dari suku Bugis, Sulawesi Selatan. Konon, perahu ini tak hanya menjelajahi lautan Nusantara saja, melainkan merambah hingga Austria, Filipina, dan Madagaskar. Pinisi memiliki tujuh layar yang mengandung makna bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh lautan atau samudra besar di dunia.

Pinisi memiliki dua tiang utama yang terpasang di depan dan belakang kapal serta layar sebanyak 7-8 buah. Perahu ini merupakan warisan nenek moyang yang sudah ada sejak tahun 1500-an yakni akhir Abad ke-15M. Sedangkan menurut peneliti Masrury pakar sejarah bahwa Perahu Pinisi baru muncul sekitar abad ke-17 Masihi. Dulunya pinisi digunakan oleh pelaut Konjo, Bugis, dan Mandar, Sulawesi Selatan untuk mengangkut barang.


10. Sayyid Hasan bersama keluarganya dan Habib Abu Bakar anaknya berhijerah dari Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih dan tiba di Margasari dan menetap di Darmaga Pelabuhan Perahu Kapal Margasari. 

Namun seiring waktu, lebih dari tiga-empat tahun berlalu tanpa mereka rasakan, sa’at menetap di kampung Sungai Mesa Bandarmasih. Kemudian Sayyid Hasan bersama keluarganya ingin hijerah (berpindah) dari kampung Sungai Mesa tersebut ke Pelabuhan sungai Pinang Negara diperkirakan diakhir abad ke-17 Masihi. Yang sebelum berpindah ke Sungai Pinang Nagara, mereka lebih dahulu mampir di kota Candi Laras Pelabuhan Kapal Margasari dan akhirnya menetap. Dari Pelabuhan ini mereka lebih dekat berdakwah dan berniaga ke pelusuk-pelusuk kampung penduduk yang tinggal dipinggiran / tepi aliran Sungai Balimau, dan Sungai Rutas, aliran Sungai Tapin dan Nagara.

Diceritrakan awal mulanya bahwa “Setelah mengetahui dan mengerti seluk beluk arah jalan transportasi yang akan dituju, Mereka pun mulai mudik dari Bandarmasih menyisir tepi sungai Barito dengan perahu/ jukung Bakapih yang sangat sedarhana, membawa dagangannya berupa kain sarung dan perhiasan wanita, menuju aliran sungai Alalak, aliran sungai Gampa dan aliran sungai Barito Kuala (penduduk aslinya suku Dayak Bakumpai)  setiap ada tumpukan rumah penduduk di tepi aliran sungai yang mereka lalui mereka singgahi, bahkan menginaf (bamalam) ditempat itu, menawarkan barang dagangan yang mereka bawa”.

Diceritrakan pula bahwa “Terus dari situ (Barito Kuala) mereka menuju aliran sungai Margasari (Kab. Tapin) tiba di pelabuhan Margasari. Ia pusat (kota Candi Laras-Agama Hindu) kemudian di Margasari ini mereka singgah /menetap lama. Mereka berniaga dan berdakwah di Margasari dan sekitarnya hingga hulu sungai Tapin selama bertahun-tahun. Sehingga Sayyid Abu Bakar bin Hasan tak menutup kemungkinan ketika berada di wilayah ini bahwa ia menikah lagi dengan wanita shalihah yang ada di tepi aliran  Sungai Margasari  dan punya anak. Wallahu A’lam. 


11. Sayyid Hasan bersama keluarganya dan Habib Abu Bakar anaknya berhijerah dari Darmaga Pelabuhan Perahu Kapal Margasari dan tiba di Sungai Pinang dan menetap di Darmaga Pelabuhan Perahu Sungai Pinang, Nagara.

Selanjudnya setelah mereka menetap lama di Margasari, mereka mencari lahan baru untuk berdakwah, tetapi mereka tidak melupakan lahan yang lama. Maka merekapun berpindah ke Nagara, Daha. Perjalanan ini mereka tempuh tanpa naik taxi Perahu Tambangan yang besar, tetapi menggunakan Perahu sendiri, berhari-hari, satu atau dua pekan mereka mengayuh perahu/  jukung, bahkan perjalanan berbulan-bulan, mereka meliwati kampung-kampung, melalui desa-desa hingga tiba di tempat tujuan yakni Pelabuhan sungai Pinang Negara yang sering mereka kunjungi setiap pekan, sa’at naik taxi Perahu Tambangan yang besar”.

Menurut ceritra datuk-neni kami bahari dan kisah  orang-orang tua yang saya temui bahwa Sayyid Hasan bersama keluarganya menetap di Pelabuhan Sungai Pinang Negara. Sebelumnya mereka menetap sekitar satu-dua tahun di kota candi laras Margasari. Kemudian  Saudagar kain ini bersama keluarganya berhijerah dari kota candi laras Margasari Tapin pindah ke Pelabuhan sungai Pinang, Nagara, mereka menetap lama di Pelabuhan ini, diperkirakan tahun 1695-1700 Masihi hingga akhir abad ke-17 Masihi. 

Sayyid Abu Bakar sempat menikah dengan wanita salihah Putri Inang (anak Dayang bekas pegasuh Putri  raja Daha) dan punya anak /keturunan salah satunya yang terungkap dan terverifikasi an. Sayyid Abdul Hamid bin sayyid Abu Bakar Assegaf sa’at menetap di Sungai Pinang ini, hingga ada dzuriat nasab Habib yang ber-Fam Assegaf, yakni Alhabib Seggaf bin Abdul Hamid Assegaf (Kramat Assegaf Sungai Pinang) Alamat; Samping Kantor Desa Sungai Pinang-Nagara, KM.37. Kecamatan Daha Selatan. Kab. HSS Kalsel. Mereka berniaga ke pasar Negara, pasar Margasari hingga mudik sungai Tapin, Saudagar Kain ini selalu menginaf (bamalam) di pasar /nginaf (rumah penduduk) dimalam awal pasar tersebut.

Diawal bulan Juni 2025 ada orang yang ngaku  nasabnya sampai hingga Habib Abu Bakar dan ia dari kota Palangkaraya minta konvirmasi ttg nasab keluarga Habib Abu Bakar Lumpangi, ia ingin mendaftarkan  nasabnya ke Rabithah. Kalau nasabnya seperti ini, dan jumlah nasab generasinya  antara 38-39 orang ke anaknya masih memenuhi syarat tahun ini :

Sebab menurut penelitian Pakar Nasab menyebutkan bahwa “ marga tertua atau fam tertua dari puluhan marga/fam Dzuriat Nabi Muhammad Saw yang ada di Indonesia ialah al saqqaf (Assegaf). Lalu Assegaf ini tinggi, Keturunan Nabi yang ada di Indonesia ini umumnya adalah generasi ke-38 atau ke-39 tahun 2022".bahkan kalau dilihat nasab Dzuriat Datu Habib Lumpangi di Kalimantan Selatan sampai generasi ke-40 dan generasi ke-41 di tahun yang sama.

Adapun silsilah Nasabnya menurut Habib  H. Abdullah bin H,Hubbul Wathan Assegaf sebagai berikut    :

  1. H.Abdullah
  2. bin H.Hubbul Wathan
  3. bin H.Muhammad
  4. bin Muhammad.Arsyad
  5. bin Jafri
  6. bin Abdul Hamid
  7. bin Abdurrahman Assegaf Ketapang Kec. Bakarangan Rantau
  8. bin Segaf  Desa Sungai Pinang Nagara
  9. bin Abdul Hamid (orang tua Habib Segaf  Desa Sungai Pinang Nagara)
  10. bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.
  11. bin Hasan w.1720M
  12. bin Hasyim w.1686M/1097H
  13. bin Muhammad
  14. bin Umar ash-Shoufy
  15. bin Abdurrahman
  16. bin Muhammad
  17. bin Ali w.840H
  18. bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)
  19. bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H))
  20. bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
  21. bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H)
  22. bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)
  23. bin Sayyidina Ali Walidul Faqih
  24. bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Mirbath (w. 556H/1161M)
  25. bin Sayyidina Ali (Al-Imam Kholi Qasam  w.527 H/1133 M) 
  26. bin Sayyidina Alwi (w.512H)
  27. bin Sayyidina Al-Imam Muhammad (Shahib As-Shouma’ah w.446H)
  28. bin Sayyidina Al-Imam Alwi Alawiyyin (Shahib Saml)
  29. bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah (Shahibul Aradh  w.383H)
  30. bin Sayyidina Al-Imam Al-Muhajir Ahmad (820-924M)
  31. bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi (w.270H)
  32. bin Sayyidina Al-Imam Muhammad An-Naqib
  33. bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraidhi (765-818M)
  34. bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq (702-765M)
  35. bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir (676-732M) 
  36. bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin (658-713M)
  37. bin Al-Imam As-Syahid Syabab Ahlil Jannah Sayyidina Al-Husein (626-680M) 
  38. bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra ( w.11H)
  39. binti Rasulullah Muhammad SAW ibni Abdullah ( 570-632M)

Habib Hasan bersama keluarganya hijerah lagi dari Pelabuhan Sungai Pinang kota Nagara diperkirakan diakhir abad ke-17 Masihi, Setelah lama mukim di Nagara mereka mudik menyisir tepi sungai melewati sungai desa Garis singgah, di desa Bangkau singgah, melewati desa Tawar singgah, di desa Sungai Kupang singgah kemudian menyisir sungai kecil menuju buntut Sungai Taniran, hingga tiba tepatnya di Rt.01 Desa Taniran. Kala itu arus tranportasi yang digunakan masyarakat melalui jalan laut dan sungai

 

12. Rekam  Jejak Perjalanan Sayyid Hasan bin Hasyim bersama Puteranya Habib Abu Bakar Assegaf ke Hulu Sungai Selatan  awal Abad ke-18 Masihi  tahun 1701 – 1720M.

a. Habib Abu Bakar beserta ayahnya Berhijerah ke Hulu Sungai Selatan

Mereka para sayyid ini apabila pergi berdagang ke tempat yang jauh, rote perjalanan Nagara ke Hulu Sungai dengan mengunjungi beberapa kampung membawa misi dakwah, mereka awalnya selalu naik taxi PP “Perahu Bagiwas” ke Hulu Sungai tersebut, satu dua pekan sekali. Hal ini dilakukan beberapa kali dalam sebulan hingga bertahun-tahun, transportasi jalur sungai yang melewati beberapa kampung seperti Garis, Bangkau, sungai Balimau, Sungai Kupang) menuju jalur aliran Sungai Hamandit, hingga tiba di Darmaga pelabuhan  Perahu Amawang (Hamawang) di Hulu Sungai Selatan Kandangan. Pada awalnya saat berada di Hulu Sungai, sayyid Hasan dan anaknya selalu berniaga di sekitar pelabuhan Amawang, tempat parker taxi “Perahu Bagiwas” yang ditumpanginya di jalur aliran Sungai Hamandit. 

Keberadaan mereka di Hulu Sungai sudah mendapatkan tempat tinggal untuk menetap/ membeli rumah kosong dari penduduk setempat yang ditinggalkan, letaknya dipinggiran Darmaga pelabuhan Parahu Amawang, rumah tersebut digunakan untuk menginaf dan berdagang (berniaga) yang mereka kunjungi satu atau dua pekan sekali, terutama hari Selasa hari pasar kota Kandangan.

Kekhadiran Sayyid Hasan dan Abu Bakar anaknya di pasar Palabuhan Parahu Amawang sangat disenangi dan mereka mulai dikenal oleh para Pedagang lainnya, masyarakat setempat dan para Pembeli dagangannya, sejak awal kekhadiran mereka.

 

b. Habib Abu Bakar beserta ayahandanya Berhijerah ke kampung Taniran Kab. Hulu Sungai Selatan

Menurut Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia telah mengutif dari berbagai sumber, bahwa "sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS."

Menurut ceritera orang-orang tua Desa Taniran yang saya temui bahwa pada mulanya Langgar Darul Lathif yang berada di RT 01 Taniran, dengan bangunan yang sangat sedarhana yang telah dibangun oleh Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy dan anaknya Sayyid Abu Bakar Assegaf bersama Masyarakat atau penduduk sekitarnya dengan gotong-royong dan dana swadaya masyarakat. Diperkirakan bangunan Langgar tersebut berdiri awal abad ke-18 Masihi  tahun 1703 Masihi terdiri : Tiang ulin bulat, berlantai rieng, berdinding daun rumbia dan beratap daun rumbia. Diperkirakan Langgar ini berdiri semasa Raja Banjar yang ke-10 Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Masihi yang bekuasa.

Kedatangan Habib dan keluarganya disambut oleh masyarakat Taniran dengan suka cita dan ditampung oleh salah satu warga. Sebagian warga ada yang memberinya beras, ada mengantari ikan kering dan ada yang sayuran dllnnya. Habib dan keluarganya sangat ramah, murah senyum, suka menenguk warga yang sakit, membantu-bantu warga yang ditempatinya memanen padi disawah. disaat itulah mulai ditanamkan nilai-nilai ke-Islam-an  dan warga mulai tertarik dengan Islam. Apalagi saat itu Desa Taniran mengalami masa panen padi yang melimpah.

Namanya Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufy Assegaf. Nama ayahnya adalah Habib Hasyim Assegaf diperkirakan lahir 1613M di Seiyun Hadramaut dan menikah diusia 21 tahun ditanah kelahirannya dan Ia diperkirakan wafat Ramadhan 1097H/ 1686 Masihi, ada yang berkata bahwa Hasyim sudah sepuh ketika menetap lama kel. Randusari. Ia tinggal disana hingga wafat di pasca Kesultanan Demak, yakni Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, Semarang, Jawa Tengah. Hasan lahir di Seiyun Hadramaut, diperkirakan tahun 1044H/1634M. Versi yang lain dan kuat menyebutkan bahwa, ia lahir di Tarim Hadramaut. Sebagian orang ada yang berkata bahwa : Usia Sayyid Hasan ketika ia datang ke Desa Taniran, sudah usia sepuh, yakni antara 68-70 tahunan begitu juga usia anaknya Sayyid Abu Bakar sekitar 35-40 tahunan.

Rasanya tidaklah jauh berbeda (kecuali umurnya) keadaan fisik Sayyid Hasan Assegaf dengan anaknya Datu Sayyid Lumpangi. Disebutkan orang bahwa ketika sepuh keadaan fisik Datu Sayyid Lumpangi adalah berperawakan tinggi besar, berkulit putih bersih kemerahan, beliau  mempunyai janggut putih hingga dadanya, bermuka ceria, murah senyum, tutur kata lemah lembut (melekat adat jawanya) keduanya pasih berbahasa Banjar dan juga Bahasa Malayu - Indonesia.

Langgar atau Surau kala itu adalah tempat masyarakat berkumpul, bermusyawarah mufakat, tempat mengajar dan belajar menuntut ilmu Agama Islam, utamanya tempat ibadah shalat berjama'ah. Keberadaan Habib di Desa Taniran dan kampung sekitarnya dengan tujuan berdakwah, mengajar ilmu agama kepada masyarakat Desa Taniran dan sekitarnya, bagi mereka yang masih menganut ajaran Animisme dan belum mengenal Islam.

Keluarga ini disambut oleh warga Desa Taniran dengan suka cita dan keluarga ini ditampung oleh salah satu warga Rt.01. Saat itu musim panen padi, maka keluarga Habib ini ikut membantu warga memanen padi dan menerima upah dari warga setempat. Diwaktu istirahat memanen, sambil duduk istirahat melepas lelah  dan makan bersama buruh lainnya disaat itulah Habib mulai berdakwah yakni "Bakisah-kisah tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timur Jauh (Timur Tengah)" kisah itu misal ttg aturan-aturan berumah tangga, tentang aturan anak  dengan orang tua, kisah lukmanul hakim dllnya yang dibumbui dengan membaca sya'ir-sya'ir dan sedikit  homor hingga disukai tua dan muda.

Sebagian orang ada yang berkata bahwa : Usia Habib Hasan sudah sepuh ketika ia datang ke Desa Taniran sekitar 60-70 tahunan, tetapi kelihatan pisiknya sehat dan kuat, ia menikahi seorang janda yang sudah punya anak-anak, kemudian ia berdomisili di RT.02 Taniran. Dan  begitu juga usia anaknya Habib Abu Bakar sekitar 40 tahunan.  Di Desa ini ia membantu ayahnya menyebarkan Islam sambil berniaga-berdagang.

Konon untuk menghidupi keluarganya sehar-hari Habib dengan profisinya adalah berniaga menawarkan dan menjual dagang kain  dagang kain dan perhiasan imitasi wanita yang mereka jajakan kepada penduduk yang mereka lewati dengan PerahuJukung yang sedarhana dari tepi sungai Barito hingga Nagara dan sekitarnya hingga Hulu Sungai Selatan.

Tujuan utamanya mereka untuk mengislamkan orang-orang Banjar dan orang-orang di Hulu Sungai Selatan diantaranya Masyarakat Desa Taniran dan sekitarnya yang masih  menganut Animisme.

Animisme (dari bahasa Latin asal kata : anima berarti "roh") yakni kepercayaan kepada makhluk-makhluk halus dan roh-roh merupakan dasar kepercayaan sebuah agama yang mula-mula dianut di kalangan manusia purba. Kepercayaan animisme ini mereka sangat mempercayai bahwa setiap benda di dimuka bumi ini (seperti daerah tertentu, gua, pohon besar atau batu besar), mempunyai roh yang harus mereka hormati agar roh tersebut tidak mengganggu manusia.

Diceriterakan bahwa Habib Abu Bakar masih pulang-pergi menjenguk anak dan isteri yang ditinggalkan mencari nafkah, sebulan sd. tiga bulan sekali ia datang ke Sungai Pinang Nagara dan Sungai Mesa Bandarmasih.

Setelah beberapa waktu berada di Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang (Hulu Sungai Selatan) ini, maka terjadi pembagian tugas dan lokasi misi dakwah. Habib Hasan, karena sudah berumur sering sakit-sakitan maka Habib Hasan bin Hasyim Assegaf  berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah dan tidak terlalu banyak jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung  khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat simpati  dan banyak berharap kepadanya sebagai Guru Agama. Tak berapa lama di Desa Taniran ia bersama masyarakat bisa membangun sebuah tempat ibadah berupa langgar yang berfungsi untuk tempat mengajar, belajar, mengaji, menuntut ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya.

Setelah beberapa waktu berada di Hulu Sungai Selatan ini, maka terjadi pembagian tugas dan lokasi misi dakwah Islam. Habib Hasan, karena sudah berumur sering sakit-sakitan maka Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufi bin Muhammad Assegaf  berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah dan tidak terlalu banyak jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung  khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat antusias & simpati  dan banyak berharap kepadanya sebagai Guru Agama. Tak berapa lama di Desa Taniran RT.01 ia bersama masyarakat bisa membangun sebuah tempat ibadah berupa langgar dinamai“Darul Lathif”. Langgar yang berfungsi untuk tempat mengajar, belajar, mengaji, menuntut ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya.

Berselang beberapa tahun kemudian Sayyid bersama masyarakat Taniran RT.02  bisa membangun sebuah tempat ibadah lagi berupa langgar dinamai“ Darul Miftahul Jannah” yang terletak ditepi sungai yang berdekatan dengan rumahnya. Di tahun yang sama ia bersama masyarakat Muara Tawia juga  bisa membangun  mendirikan sebuah tempat ibadah berupa langgar. Tahun ke tahun Jama’ah ke-3 langgar tersebut semakin banyak hingga langgar “Darul Lathif”, yang berada ditegah-tengah Desa Taniran dijadikan “Masjid Darul Lathif”.

Seiring waktu berjalan dengan cepat, komunitas masyarakat Islam di kampong ini terus bertambah, keberadaan Masjid di kampong Taniran sangat dibutuhkan. Tidak seperti sekarang Masjid tidak perlu musti adanya sokongan. Menurut Alim Ulama bahari bahwa keberadaan Masjid harus disokong oleh keberadaan Langgar sekitarnya minimal tiga buah. Panitia Langgar inilah yang nantinya yang bertanggung jawab penuh dalam mengisi Jama’ah Masjid setiap hari Jum’at. Begitu juga Petugasnya misalnya membuat kotak Amal Masjid, menyediakan Tukang Adzan, Khatib Jum’at, Imam Jum’at, secara bergantian, begitu juga menyediakan tempat parkir kendaraan Jukung atau Perahu. Kemudian berselang waktu kurang lebih dua tahun berikutnya muncul lagi "Mushalla Al-Hidayah" di kampong Muara Tawia. Mushalla ini berdiri ditepi aliran Sugai Tawia (dekat Jematan Kembar sekarang) dibangun atas gotong royong dan dananya swadaya masyarakat kampong Muara Tawia sa'at itu.

Seiring waktu berjalan kemudian atas kesepakatan bersama masyarakat Taniran kala itu yang diwakili ke-3 Panitia Langgar. Langgar " Darul Lathif" yang berada ditengah-tengah kampong dialih fungsikan menjadi Masjid Taniran. "Masjid Darul Lathif" Taniran kala itu sambil direhab / dipugar sedikit demi sedikt, bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian atapnya bucur diganti daun rumbiya yang baru dan juga Panitia membuat Mimbar untuk tempat berkhothbah para Khatib.

Sejak masyarakat Kec. Angkinang memeluk Islam dan mengenal  Islam dengan baik khususnya dan masyarakat Hulu Sungai Selatan pada umumnya, maka teruslah bermunculan (seperti Jamur) tempat-tempat ibadah lainnya seperti langgar atau Mushalla-mushalla yang berdiri di tepi-tepi Sungai. Aliran Sungai sebagai tempat transportasi mereka hilir-mudik atau lalu lalang dengan Perahu atau Jukung sa’at itu. Kemudian Panitia Mushalla-mushalla yang itu bergabung /berembuk untuk mendirikan masjid, maka berdiri Masjid Kayu Abang, Masjid Angkinang, Masjid Bamban di tepi Sungai di akhir Abad ke-18 Masihi masa Sayyid Hasan, Sayyid Abu Bakar dan anak cucunya.

Baru nanti di awal Abad ke-19 Masihi tahun 1812M “Masjid Darul Lathif” ini dirombak atau dipugar semuanya bahannya dari Kayu Ulin saat keberadaan Syaikh Muhammad Thaib bin Mufti Muhammad As’ad bin Sayyid Utsman di kampung Taniran.

Sekarang berada di Abad ke-21 Kecamatan Angkinang tahun 2021 tercatat memiliki 11 Desa, dan memilik 10 buah Masjid, dan memiliki 54 buah Langgar dan 3 buah Mushalla.

Nama-nama                       :      Masjid              : Langgar              : Mushalla

  1. Telaga Sili-sili             :            1                :       4                     :        -
  2. Bakarung                   :            1                :        8                     :        1
  3. Taniran Selatan          :            -                 :       3                     :         -
  4. Tawia                          :            2                :       6                     :         -
  5. Angkinang                  :            1                :       6                     :         2
  6. Kayu Abang                :            2                :       6                     :         -
  7. Bamban Selatan         :            1                :       3                     :         -
  8. Bamban Utara             :            -                :       3                     :         -
  9. Angkinang Selatan      :            -                :       3                     :         -
  10. Bamban                       :            1                :       4                     :         -
  11. Taniran Kubah             :            1                :       8                     :         -

Jumlah                                 :          10                :     54                     :         3

 

13. Sayyid Hasan, Sayyid Abu Bakar dan Sayyid Idrus adiknya berziarah ke makam Ayahandanya Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy di Randusari Kec. Semarang Selatan.

Ziarah kubur orang tua adalah amalan sunnah untuk mendoakan almarhum, mengenang jasa mereka, dan mengingat kematian. Rangkaian tata cara dimulai dari berwudu, mengucapkan salam kepada ahli kubur, membaca surat pendek seperti Al-Fatihah, tahlil, dan memanjatkan doa khusus bagi orang tua.

Ada banyak ragam doa ziarah kubur berdasarkan tujuannya, seperti mendoakan orang tua, anak atau saudara yang telah tiada.

Ada dikisahakan Datu-neni bahari wallaahu‘a’lam bahwa : Sayyid Hasan dan Sayyid Idrus adiknya dan juga Abu Bakar beserta ke-2 orang anak tertuanya : Sayyid Abdul Rahman, Sayyid Abdul Hamid. Di awal Abad ke-18 Masihi sekitaran antara tahun 1715 sd. 1717 Masihi, mereka datang berkunjung untuk menjenguk keluarga (silatur rahmi) yang masih ada menetap di kota ini dan sekaligus menziarahi makam Sayyid Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy ayahanda mereka di Randusari, Semarang Selatan kota Semarag Jawa Tengah, yang mereka jadwalkan keberangkatannya. Kali ini mereka pergi membawa barang dagangan yang mudah dijual seperti madu, damar, kayu manis, lada, rotan dan lainnya. Mereka berangkat dari rumah naik taxi menumpangi Perahu Bagiwas menuju Darmaga Pelabuhan Kapal Bandarmasih (Pelabuhan Kapal Tri Sakti Banjarmasin sekarang). Lewat Darmaga Pelabuhan ini mereka menyeberangi laut Bornio dan laut Jawa, adapun Jenis Perahu yang ditumpangi mereka sa’at itu adalah “Perahu Jung Banjar”. Keluarga Sayyid Hasan ini berangkat dari Darmaga Pelabuhan Sungai Mesa Bandarmasih, mereka naik menumpangi “Perahu angkot Jung Banjar” menyeberangi laut Kalsel dan laut Jawa dan tiba di Darmaga Pelabuhan Jepara, kemudian menawarkan barang yang mereka bawa, hingga barang tersebut laris habis terjual dan setelah itu mereka melanjutkan perjalanan naik taxi angkot berupa dukar/delman kuda, terus menuju Kel. Randusari, Semarang.

Ziarah kubur orang tua adalah amalan sunnah untuk mendoakan almarhum, mengenang jasa mereka, dan mengingat kematian. Rangkaian tata cara dimulai dari berwudu, mengucapkan salam kepada ahli kubur, membaca surat pendek seperti Al-Fatihah, tahlil, dan memanjatkan doa khusus bagi orang tua.

Ada banyak ragam doa ziarah kubur berdasarkan tujuannya, seperti mendoakan orang tua, anak atau saudara yang telah tiada. Berikut adalah bacaan ziarah kubur yang diajarkan Rasulullah. Mengucapkan Salam kepada mereka

السَّلامُ عَلَى أهْلِ الدّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُكُمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنْكُمْ وَمِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ 

Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr minal mu’minîna wal muslimîn yarhamukumuLlâhul-mustaqdimîn minkum wa minnâ wal musta’khirîn, wa wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn  

Artinya: Assalamu’alaikum, hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian dan [yang telah mendahului dan akan menyusul] kami.  Sesungguhnya kami insyaallah akan menyusul kalian.

Adapun untuk mendoakan orang tua yang telah tiada, maka Sahabat bisa menambahkan dengan membaca lafal berikut ini. 

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

 Artinya: Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil.

Doa untuk Ahli Kubur

Setelah mengucapkan salam dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an sesuai kemampuan, peziarah dapat memanjatkan doa untuk jenazah. 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ

Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'aafihi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' mudkhalahu, waghsilhu bil-ma'i wats-tsalji wal-baradi, wa naqqihi minal-khataya kama yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danas.

Artinya: "Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, lapangkanlah kuburnya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah dia dari segala dosa sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran."


14. Wafatnya Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf Desa Taniran Kubah Kec. Angkinang Kab. Hulu Sungai Selatan.

Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assaqqaf dan keluarganya telah mewakafkan dirinya, dan mengabdikan seluruh hidupnya, sejak keberadaannya di kampung Taniran ini, selama bertahun-tahun dalam mengenalkan Islam dengan baik dan mengembangkan Islam, mengajar dan membina masyarakat Islam kampung Taniran menjadi masyarakat yang Agamis di kampung ini.

Dan diceriterakan orang pula bahwa Sayyid Hasan adalah orang yang diberi Allah Swt umur panjang, sewaktu wafat usianya lebih kurang 86 tahun. Ia  berdomisili lama hingga ia wafat di desa Taniran Kubah dan ia pernah memperisteri seorang janda asal orang Taniran dan Ia dalam menyebarkan Islam dibantu anaknya selama kurang lebih 18-20 tahun ia berhidmat di desa Taniran Kec. Angkinang.


Menurut sumber data yang saya terima bahwa “Diceriterakan orang pula bahwa Habib Hasan adalah orang yang diberi Allah Swt umur panjang, usianya lebih kurang 86 tahun. Habib Hasan sudah usia sepuh tetapi kuat dan sehat, saat datang pertama kali di Taniran, Usia Habib Hasan waktu wafat kurang lebih  sekitar 86 tahun. Habib Hasan keberadaannya di desa Taniran Kecamatan Angkinang sekitar dari 1700-1720 Masihi. Beliau  wafat pada hari Selasa, 19 Sya'ban 1132H/1720 Masihi. Beliau barmakam atau berpusara di Desa Taniran Kubah RT. 02 / RW. 01,Kec. Angkinang, yakni  sekitar 600 meter dari jalan besar atau jalan induk. Atau 500 meter dari makam Syaikh Muhammad Thaib (Datu Taniran). Pusara Beliau berseberangan dengan langgar Beliau langgar“Darul Miftahul Jannah”. Kubah  beliau dikunjungi banyak orang.


Daftar Isi yang Bab ke-III.

III. Rekam Jejak Perjalaan Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assaqqaf bersama keluarganya berdomisi atau menetap di kampung Balai Ulin Lumpagi Kec. Loksado Kab. Hulu Sungai Selatan.

1. Keadaan fisik Datu Habib Lumpangi (Sayyid Abu Bakar bin Hasan) adalah berperawakan tinggi besar. 

2. Riwayat Singkat Habib Idrus Assegaf di Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang  awal Abad ke-18 Masihi  tahun 1701 Masihi  di Kec. Kandangan di Kab. Hulu Sungai Selatan.

3. Keterangan : Jalur transportasi Masyarakat Kandangan dahulu mereka pulang pergi ke Pasar Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang.

4. Para Sayyid mereka telah menyebar ke Kampong-kampong, ke pelusuk-pelusuk dusun membawa misi dakwah Islam.

5. Sayyid Abu Bakar saudagar Kain Sarung dan Perhiasan Wanita berdagang ke Pedalaman Hulu Sungai.

6. Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf Ditawan Kena hukuman Adat Suku Dayak Lumpangi.

7. Putri Milah sakit keras secara tiba-tiba Membuat Orang seisi Balai Ulin Pusing.

8. Mediasi dan Basa basi penyerahan Aluh Milah anak Tetuha Adat.

9. Sayyid Abu Bakar mempersunting dan mengawini Puteri Milah (Siti Jamilah).

10. Sayyid Abu Bakar berdakwah bilhal selama 7-14 tahun di ruang Balai Adat kemudian ia mendirikan tempat ibadah (Langgar) dibelakang Balai Adat.

11. Balai Adat Balai Ulin Lumpangi di pindah ke Pantai Dusin Hulu Bayu Kec. Loksado.

12. Penyebab Penghuni Balai Adat Balai Ulin Lumpagi bubar /pindah dari Balai Ulin.

13. Karomah Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf.

14.Wafatnya Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf tahun 1172H/1759 Masihi.


III. Rekam Jejak Perjalaan Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assaqqaf bersama keluarganya berdomisi atau menetap di kampung Balai Ulin Lumpagi Kec. Loksado Kab. Hulu Sungai Selatan.

1. Keadaan fisik Datu Habib Lumpangi (Sayyid Abu Bakar bin Hasan) adalah berperawakan tinggi besar. 

Pedagang-pedagang Arab pada abad 16 hingga 17 Masihi sejak kesultanan Banjar dipimpin oleh seorang muslim, berdatanganlah para pendatang ke wilayah ini disamping untuk berdagang mencari rempah-rempah misi penting lain juga tidak terlewatkan untuk berdakwah (Gafur 2009).

Keluarga Assegaf yang ada di Taniran dan Habaib yang ada di Lumpangi ini mayoritasnya  berasal dari satu rumpun marga Assegaf ash-Shoufy (ash-Shaafy). Yang pertama kali menyandang marga ini adalah waliyullah Habib Umar ash-Shaafy yakni turunan nasab Nabi Saw yang ke-26.

Disebutkan orang bahwa keadaan fisik ayahnya Datu Habib Lumpangi masa mudanya yakni Habib Abu Bakar bin Hasan adalah seorang saudagar muda berperawakan tinggi besar, dada bidang, berkulit putih kemerahan yang merupakan sebaik-baiknya warna kulit, sebagaimana perkataan Imam Ali ra. bahwa "warna kulit Rasulullah adalah putih kemerah-merahan". Bibirnya merah, senyumannya menawan Rambutnya terurai hitam dan bergelombang Orangnya ramah tamah, berbudi Bahasa …. Tiap yang melihat pasti memujinya dan berkata tiada lagi duanya. Menurut ceritera Datu-neni bahari bahwa ayahnya Habib Datu Lumpangi adalah Habib Abu Bakar, Beliau pandai merayu hingga pembelinya terutama para wanita tidak malu-malu, merasa senang-gambira. Ia juga "sedikit homoris, berwajah arab, ceria, tampan (gentang) punya jabis dan kumis tipis dan juga berjanggut tipis, berbau wangi kala beliau  datang berdagang ke Balai Ulin Lumpangi."

Menurut ceritera datu neni kami bahari bahwa “Kedatangan pertama Sayyid Abu Bakar di Desa Lumpangi  pada tahun 1705 Masihi”. Ketika Beliau datang ke Desa Lumpangi, menurut salah satu sumber informasi bahwa usia Beliau sekitar 43-45 tahunan kala itu, tetapi pisik dan muka Beliau kelihatan muda seperti usia 25-30 tahun, padahal  Beliau sudah beberapa kali menikah dan punya anak, sebelum ia datang ke Lumpangi dan punya cucu berama Sayyid Abdillah. Dan Buyut yang bernama Sayyid Alwi (w.1842M) bin Abdillah bin Shaleh bin Abu Bakar bin Hasan dari isteri pertamanya. Sedangkan menurut ceritera Habaib yang pernah saya dengar bahwa Sayyid Abu Bakar punya 9 orang putra dari beberapa kali pernikahannya,


2. Riwayat Singkat Habib Idrus Assegaf di Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang  awal Abad ke-18 Masihi  tahun 1701 Masihi  di Kec. Kandangan di Kab. Hulu Sungai Selatan.

Dan setelah dewasa diperkirakan (usia 25 tahun keatas) di abad ke-18 Masihi awal, Habib Idrus (lhr.1674M) bin Hasyim Assegaf memperistri seorang wanita salihah dari warga Kampung Sungai Mesa yang berlokasi di bandar kota tersebut, yang kemudian Habib Idrus diusianya 40 tahun keatas, baru isterinya bisa hamil dan melahirkan seorang putra bernama Habib Ali. Habib Ali bin Idrus Assegaf tumbuh besar hingga usia remaja di Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang, Hulu Sungai Selatan. Di usia remaja tersebut, Ia bersama keluarganya berada menetap di Banua Enam kota Kandangan.

Putra Habib Idrus yang bernama Habib Ali Assegaf, diperkirakan lahir sekitar tahun 1140H/1727 Masihi. Ia salah seorang yang diberi Allah Swt umur pajang, ia berumur lebih kurang dari 82 tahun Masihi, ketika usianya sudah sepuh atau lanjut dan ia sering sakit-sakitan dan hingga membawanya wafat diperkirakan awal abad ke-19 Masihi yakni pada tahun 1224H/ 1809M dan ia bermakam di tengah kota Kandangan atau persisnya di alkah Alawiyah Ashhab Turban Anak Mas di Jalan H.M Rusli. Adapaun salah seorang putra Habib Ali, yaitu Habib Husain bin Ali bin Idrus Assegaf bermakam di tengah kantin pasar Kandangan.

Sekitar tahun 1701 Masihi di awal abad ke-18 sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar beserta keluarganya berhijrah dari Pelabuhan Sungai Pinang, Nagara ke Hulu Sungai Selatan, naik taxi tranportasi umum “Perahu Bagiwas” rote perjalanan dari Nagara ke Banua Anam Kandangan. Dan akhirnya mereka tiba di tempat tujuan dan menetap di Desa Amawang (Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang) aliran Sungai Hamandit.

Keberadaan sayyid Hasan dan sayyid Abu Bakar beserta keluarganya disambut gembira oleh masyarakat kampung Hamawang sa’at itu, justru bersamaan dengan kekhadiran Pangeran Kecil atau Datu Hamawang yakni di Abad ke-18 Masihi, mereka sama-sama membangun akhlak masyarakat menjadi akhlak agamis. Walaupun Kesultanan Banjar mengangkat beliau menjadi kepala kampung hamawang dan diberi gelar Tumenggung Raksa Yuda, namun masyarakat kampung lebih mengenal beliau dengan sebutan Datu Hamawang. 

3. Keterangan : Jalur transportasi Masyarakat Kandangan dahulu mereka pulang pergi ke Pasar Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang.

Adapun letaknya sekarang pasar “Darmaga pelabuhan  Perahu Amawang” disekitaran tepi aliran Sungai Hamandit mulai Pandai Muka, Jembatan 3 Desemer sd. kampong Gitik Sungai Kalang, atau Desa Amawang Kiri.

Ditepi Sungai atau pinggiran aliran Sungai Hamandit Desa Amawang, Sayyid Hasan dan Abu Bakar anaknya beserta Sayyid Idrus adik Sayyid Hasan dan keluarganya, awal mulanya mereka tinggal /menetap dekat Darmaga Pelabuhan Parahu Amawang. 

Keterangan : Jalur transportasi Masyarakat Kandangan dahulu mereka pulang pergi ke Pasar Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang, membawa dan menjual hasil pertanian, mereka menggunakan alat Jukung Perahu untuk hilir-mudik melalui aliran aliran anak Sungai Hamandit di Kandangan, diantaranya :

a. Anak aliran sungai Hamandit kandangan yang bermuara “Pandai Muka”, (belakang Beskop atau Asrama Brimop) yakni anak aliran Sungai terus ke simpang lima Kandangan terus hulunya menuju ke Musyawarah terus hulunya menuju ke Durian Sumur (belakang rumah alm H.Tohri), terus ke Jl. Al Falah melitasi Jalan Biluy terus hulunya menuju ke Kandangan Hulu dua dan bertemu /bersambung sungai Hamandit disini.

b. Anak aliran sungai Hamandit kandangan yang bermuara dekat jembatan tiga Desember (muka rumah alm.H.Huray) pandai tengah terus hulunya ke Karkup terus hulunya menuju ke Gambah luar terus hulunya ke Bakarung, menuju ke aliran Sungai Kudung kemudian aliran sungai membelah dua, ke Taniran Selatan. Kalaw terus hulunya menuju ke Tabihi terus hulunya menuju ke Karang Jawa dan bertemu /bersambung sungai Hamandit disini.

4. Para Sayyid mereka telah menyebar ke Kampong-kampong, ke pelusuk-pelusuk dusun membawa misi dakwah Islam

Menurut ceritra datu-datu dan neni kami bahari dan kisah  orang-orang tua yang saya temui bahwa “Sayyid Hasan dan keluarganya, Mereka pun berdakwah di kampong Amawang, Kandangan ini dan sekitarnya selama bertahun-tahun” salah satu metode dakwah yang sangat digemari dan diminati masyarakat sa’at itu adalah dakwah Islam (BAKISAH misalnya ttg cinta Rabiatul dengan Hasan al Basri, dilengkapi pantunsyair-syairshalawat, kata-kata mutiara, kata filusufi dan yang dibumbui berikteng, sedikt homor, rayuan gumbal) disampaikan kepada masyarakat setempat. hingga masyarakatnya benar-benar gembira menerima suka rela dan mengenal Islam dengan baik.

Kemudian setelah itu “Beranjak dari Darmaga Pelabuhan Perahu Amawang Keluarga Fam Assaqqaf ini, mereka telah menyebar membawa misi dakwah Islam serta berniaga ke desa-desa dan ke kampung-kampung dan juga kepelusuk-pelusuk dusun yang belum pernah dijamah Islam dan belum mengenal Islam dengan baik”. Misalnya sayyid Hasan berhijrah membawa misi dakwah Islam dan berniaga beranjak dari Darmaga Pelabuhan Parahu Amawang terus menuju psr. Pelabuhan Perahu Sungai Kudung dan singgah disana, kemudian terus menuju ke kampung Taniran dan sekitarnya. Sayyid Ali bin Idrus membawa misi dakwah Islam dan berniaga kampung Amawang, Kandangan dan sekitarnya, Sayyid Idrus membawa misi dakwah Islam dan berniaga ke Sungai Raya, desa Matang Gadung atau Said Kuning, Telaga Bidadari dan sekitarnya. Sayyid Abu Bakar pergi membawa misi dakwah Islam dan berniaga ke Hulu Banyu desa Lumpangi dan sekitarnya.

Kedatangan Habib dan keluarganya disambut oleh masyarakat Taniran dengan suka cita dan ditampung oleh salah satu warga. Sebagian warga ada yang memberinya beras, ada mengantari ikan kering dan ada yang sayuran dllnnya. Habib dan keluarganya sangat ramah, murah senyum, suka menenguk warga yang sakit, membantu-bantu warga yang ditempatinya memanen padi disawah. disaat itulah mulai ditanamkan nilai-nilai ke-Islam-an  dan warga mulai tertarik dengan Islam. Apalagi saat itu Desa Taniran mengalami masa panen padi yang melimpah.

Setelah beberapa waktu satu dua tahun berada di Darmaga Pelabuhan Amawang dan sekitarnya, Kab. Hulu Sungai Selatan ini meyampaikan misi Islam, maka terjadi pembagian tugas dan lokasi misi dakwah. Sayyid Hasan, karena sudah sepuh (berumur lanjut) sering sakit-sakitan maka Sayyid Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy bin Abdurrahman bin Muhammad Assegaf  berdakwah yang dekat-dekat saja dengan rumah dan tidak terlalu banyak jalan kaki tetapi menjalaninya dengan jukung  khusus diwilayah Kecamatan Angkinang. Masyarakat sangat simpati  dan banyak berharap kepadanya sebagai Guru Agama. 

Tak berapa lama keberadaan Sayyid Hasan dan Sayyid Abu akar sebagai Guru Agama atau Utstadz di Desa Taniran ini, ia bersama masyarakat sudah bisa membangun sebuah tempat ibadah berupa langgar atau "Mushalla Darul Lathif". Mushalla ini dibangun di tepi aliran Sungai, diatas tanah Hibah dari seorang warga Taniran yang bernama Abdul Lathif. Mushalla tersebut bahan dasar bangunannya semua dari kayu biasa kecuali tiang dan tongkatnya dari kayu ulin. Mushalla berfungsi untuk tempat mengajar, belajar, mengaji, menuntut ilmu agama, musyawarah mufakat dan lainnya bagi masyarakat Rt.02 Taniran. Kemudian kurang lebih dua tahun berikutnya muncul lagi "Mushalla Darul Miftahul Jannah" di Rt.03 kampong Taniran. Mushalla ini juga dibangun di tepi aliran Sungai, atas gotong royong dan dananya swadaya masyarakat Rt.03 kampong Taniran sa'at itu, tempatnya berdekatan dengan rumah Sayyid Hasan.

Seiring waktu berjalan dengan cepat, komunitas masyarakat Islam di kampong ini terus bertambah, keberadaan Masjid di kampong Taniran sangat dibutuhkan. Tidak seperti sekarang Masjid tidak perlu musti adanya sokongan. Menurut Alim Ulama bahari bahwa keberadaan Masjid harus disokong oleh keberadaan Langgar sekitarnya minimal tiga buah. Panitia Langgar inilah yang nantinya yang bertanggung jawab penuh dalam mengisi Jama’ah Masjid setiap hari Jum’at. Begitu juga Petugasnya misalnya membuat kotak Amal Masjid, menyediakan Tukang Adzan, Khatib Jum’at, Imam Jum’at, secara bergantian, begitu juga menyediakan tempat parkir kendaraan Jukung atau Perahu. Kemudian berselang waktu kurang lebih dua tahun berikutnya muncul lagi "Mushalla Al-Hidayah" di kampong Muara Tawia. Mushalla ini berdiri ditepi aliran Sugai Tawia (dekat Jematan Kembar sekarang) dibangun atas gotong royong dan dananya swadaya masyarakat kampong Muara Tawia sa'at itu.

Seiring waktu berjalan kemudian atas kesepakatan bersama masyarakat Taniran kala itu yang diwakili ke-3 Panitia Langgar. Langgar " Darul Lathif" yang berada ditengah-tengah kampong dialih fungsikan menjadi Masjid Taniran. "Masjid Darul Lathif" Taniran kala itu sambil direhab / dipugar sedikit demi sedikt, bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian atapnya bucur diganti daun rumbiya yang baru dan juga Panitia membuat Mimbar untuk tempat berkhothbah para Khatib.

Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf

Akhirnya Beliau (Habib Hasan) wafat diperkirakan pada awal abad ke-18, masa Raja Banjar ke-10 Sultan Tamidullah I tahun 1700-1717 Masihi. Saya beberapa kali datang kesana dan bertanya kepada orang-orang yang tua penduduk asli Desa Taniran Kubah RT.02/RW.01 yang dekat dengan makam Habib Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufi Assegaf, diperkirakan mereka mengetahui tentang beliau datang dan wafat namun mereka berkata menurut tradisi lisan tetuha bahari bahwa diperkirakan usia Beliau saat datang di Taniran sekitar 68 tahunan dan ia menikahi wanita janda yang beranak warga desa Taniran.

5. Sayyid Abu Bakar saudagar Kain Sarung dan Perhiasan Wanita berdagang ke Pedalaman Hulu Sungai 

Dikhabarkan orang-orang bahwa berniaga ke Hulu Banyu sangat menggambirakan, semua barang yang dibawa kesana selalu habis. Apahlagi disaat “Aruh Ganal Adat Dayak” yang diselenggarakan.

Kemudian untuk tugas dan lokasi pelusuk pedalaman dan hulu sungai diserahkan pada anak muda yakni Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Hingga akhirnya Sayyid Abu Bakar setelah beberapa tahun berdakwah menyebarkan Islam di desa Taniran dan sekitarnya membatu ayahnya. Sayyid Abu Bakar Assegaf berniaga membawa dagangannya sampai ke pelusuk pedalaman suku Dayak Langara Desa Lumpangi yang belum pernah tersentuh Islam pada awal abad ke-18 tahun 1705M.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahari menyebutkan bahwa “Mulai dahulu awal abad ke-18 Masihi orang-orang Banua (Kandangan, Kayu Abang, Bamban) mereka sudah berdatangan berniaga ke Balai Ulin desa Lumpangi. Apahlagi menjelang “Aruh Ganal Adat Dayak” yang diselenggarakan oleh masyarakat Dayak sehabis Panen Raya.

Barter adalah merupakan sistem perdagangan yang di dalamnya terdapat kegiatan tukar-menukar barang tanpa melibatkan uang sebagai alat transaksi. saat itu orang dayak belum punya uang keping atau uang kertas.

 Habib Abu Bakar saudagar Kain Sarung dan Perhiasan Wanita (perhiasan imitasi) berdagang ke Pedalaman Hulu Sungai. Selanjutnya diceritrakan oleh Datuk-nenek kami bahari bahwa pada awal mulanya Habib datang  membawa dagangannya kepadalaman Hulu Sungai di Balai Ulin Lumpangi, dagangan Habib diserbu oleh Para wanita tua-muda suku Dayak. Mereka sangat tertarik dan tergoda dengan gaya dan bahasa yang santun, dan raut muka habib yang ceria, homoris dan murah senyum, pandai merayu para pembelinya sehingga membuat mereka tanpa rasa malu, bergerumbul mengelilingi jualan Habib yang bertempat di tengah-tengah ruangan Balai kala itu, mereka melihat dan mereka mencoba mengenakan cincin dijari tangan, mencoba mengenakan aguk/kalung yang tergantung disela-sela dada mereka atau tergantung didahi mereka, mereka mencoba mengenakan gelang dipegelangan tangan dan kaki-kaki mereka, gelang kaki berbunyi saat menari dan bunil dan juga mereka mencoba menggunakan sisir/ surui gafit ke kepala, wanita tua tertarik dengan sarung/tapih. . Dikala itulah puteri Milah mulai berkenalan pada pertemuan pertama dengan Habib hingga cahaya Matahari condung ke Barat waktu sore tiba dan Habib tak mungkin balik-pulang ke Taniran di waktu sore hari karena akan menemui malam dan iapun  menginap ditempat itu. Gadis itu sangat senang menjumpai Habib diruangan Balai Adat saat itu/Salah satu tradisi unik /adat Dayak Pegunungan Meratus ketika itu, bagi Tamu Nginap untuk kaum laki-laki lajang tidak diperbolehkan tidur sendiri kecuali ia tidur satu kamar/ satu kelambu bersama dengan puteri dari Tetuha Adat. Bila tidak punya anak gadis maka isterinya yang menemani tidur tamunya. sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu atau sahabat, tak terkecuali dengan Habib, beliau tidur ditemani oleh puteri Milah, saat Habib datang jualan pertama kali dan nginap (bamalam) di Balai Adat Balai Ulin. Adat Dayak adalah sangat meghormati dan memulikan tamu.

Puteri Milah adalah seorang gadis berwajah ayu rupawan,  remaja yang anggun, cantik parasnya, berwajah keibuan, rambut ikal berderai hingga punggungnya. Ia berdada bidang, tinggi-sedang, ia lemah lembut, ia seorang gadis berkulit putih bersih, ia ramah dan homoris dan sulit untuk dilupakan. tetapi berpakaian setengah telanjang. Pakaiannya terbuat dari anyaman dadaunan, anyaman kulipak kayu dan kulit-kulit binatang yang disamak,   pantas saja pakaiannya hanya menutupi dada dan kemaluannya sesuai keadaan waktu itu.

Disinilah Habib mulai kenal dngan suku Dayak Langara. Begitu pula dengan salah satu puteri remaja suku dayak langara yang cantik jelita memikat hati bagi orang yang memandangnya. Hingga sekarangpun hampir dipastikan bahwa setiap Balai Adat yang Ganal selalu ada muncul satu wanita muda tercantik di suku itu yang setiap Pemuda selalu terpikat olehnya. Salah satu tradisi Adat budaya Dayak mengawinkan anak usia muda antara usianya 9 tahun sd. 17 tahun.

Untuk memeriahkan acara Aruh Ganal Adat Dayak Lumpangi biasanya mereka selalu mengundang/basaruan kepada Para Pedagang yang berniaga di kampong mereka, termasuk Sayyid Abu Bakar yang diundang, acara Aruh diselenggarakan 2 bulan ke depan, pesan Tuan Puteri Milah, saat Sayyid mau pulang berniaga dari Lumpangi : “jangan datang terlambat kesini ya Kakanda, nanti kalau datang terlambat kau kena hukuman Adat”.

Kedatangannya kali yang kedua Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf membawa dagangannya kepedalaman Hulu Sungai. entah kenapa ia melakukannya seperti dua bulan yang lalu,  ia sampai berada diempiran Balai. Baliaw disambut oleh Aluh Milah, padahal saat itu acara sacral atau acara inti Aruh Ganal atau Aruh Bawanang masih berlangsung, yang diperbolehkan berhadir khusus untuk pemuka adat, penghulu adat dan orang-orang yang mendiami Balai dimaksud, dan pada acara sacral tersebut tidak  diperkenankan ikut hadir masyarakat umum atau orang-orang dagang.

Dikatakan orang bahwa ada orang memperkirakan usia Sayyid Abu Bakar saat datang di lumpangi sekitar 45 tahunan, oleh karena itulah Beliau mampu meredam imosi ketika menghadapi masalah ttg penjatuhan hukuman Adat kepadanya. Begitu pula ia mempu memelihara kesucian dirinya dan Aluh Milah saat tidur di dekatnya selama menjalani hukuman adat.

Melalui Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf  yang mengislamkan suku Dayak Langara dengan nama Rumah Adatnya “Balai Ulin”. Menurut mitologi bahwa  suku dayak  Langara adalah bagian/ pencaran dari dari suku dayak Maanyan suku dayak tertua di Kalimantan Selatan. 



Makam Sayyid Alwi bin Abdillah Assegaf /Makam Karang Putih Martapura


6. Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf Ditawan Kena hukuman Adat Suku Dayak Lumpangi

Menurut penuturan Amat atau Ahmad (ia seorang Dayak asal desa Bayumbung yang sudah Muslim) yang saya wawancarai beberapa kali bahwa "Acara ritual sakral aruh Bawanang atau aruh Ganal Balai Adat kalua dihitung ada 7 hari, yakni pertama hari Batarah. kemudian aruh Bawanang atau aruh Ganal dilaksanakan selama 3 hari 3 malam dan Masa Pamali 3 hari 3 malam, nah dimasa Pamali inilah bila seseorang Dagang atau seseorang diluar Sukunya belum pernah datang berkunjung diacara 3 hari pertama Acara ritual sacral selain hari Batarah, kemudian ia datang sengaja ataupun tanpa sengaja masuk ke Balai Adat di Masa Pamali, maka Dia akan mendapat Hukuman Adat dan membayar denda"

Allah Swt berkehendak lain dengan Hamba-Nya beriman. Kedatangannya  bersamaan dengan Masa Pamali atau Masa Tenang. Masa Pamali berlaku selama 3 hari dan 3 malam  pada acara inti aruh ganal ini tamu tidak diperkenankan datang ke Balai Adat. Dan Habib belum tahu hukum adat istiadat yang berlaku saat itu. Dan ia belum mendapat undangan maka kehadiran Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dikenakan hukuman Adat. Hukumannya adalah tidak dibolehkan ia keluar dari Balai itu selama   9 hari dan 9 malam.  Jenis hukuman itu dan juga dikenakan membayar denda. Pendapat yang kuat Aruh Ganal adalah hukuman itu 10 hari 10 malam dan dikenakan membayar denda.

Maka hukuman itu diterima dan dijalani dengan senang hati, tetapi ia minta bebas menjalankan apa yang diperintahkan Tuhannya. Disinilah gerak gerik Habib Abu Bakar mulai wudlu hingga melaksanakan shalat lima waktu selalu diintai diintip oleh penghuni Balai saat itu dan maka mulai saat itu pula penghuni Balai Ulin diperkenalkan gerakan-gerakan shalat.

Menurut versi lain diceriterakan saat berakhir masa tahanan 10 hari dan 10 malam Habib tidak bisa membayar denda yang dianggaf susah dan sulit saat itu untuk mendapatkanya berupa parang bungkul puting sebanyak dua bilah. Maka sebagai jalan terakhir, ia disuruh memilih dari dua pilihan hukuman : Bayar Denda atau  mengawini Puteri Aluh  Milah. Habib dianggap bersalah merusak jiwa Puteri Milah yakni Puteri jatuh hati yang dalam kepada Habib. Ia memilih  mengawini Puteri Tetuha Adat sebagai ganti Hukuman Denda karena Habib tidak mampu membayar Denda saat berakhir masa tahanan. Perkawinan itu pun terjadi dengan punya syarat-syarat tersendiri yang harus dipenuhi oleh Habib masa kini dan akan datang.

Sebenarnya mereka tertarik, ingin tau dan menyimpan berbagai macam pertanyaan ttg gerakan-gerakan shalat Habib. Dikala itu pula ia mulai berkenalan pada pertemuan kedua dengan aluh Milah. Seorang gadis remaja yang anggun, cantik parasnya, berwajah keibuan, berambut ikal mayang panjang hingga punggungnya tetapi berpakaian setengah telanjang. Pakaiannya terbuat dari dadaunan dan kulipak kayu,  pantas saja pakaiannya hanya menutupi dada dan kemaluannya sesuai keadaan waktu itu. Gadis itu sangat senang menjumpai Habib dan suka sekali melayaninya  dengan baik seperti mengambil air ke sungai dengan tempaian untuk wudlu, memberi Habib makan dan minum hingga Habib dibebaskan dari hukuman adat.


7.Putri Diang Milah sakit keras secara tiba-tiba Membuat Orang seisi Balai Ulin Pusing.

Selama dalam tahanan Adat ia ditemani, dibantu dan dilayani oleh Puteri Milah siang dan malam dengan senang hati dan riang gambira.bercumbu tanpa malu dengan Habib.  Milah adalah seorang Puteri yang pandai menari (batandik) walaupun ia sedikit tidur dan belum merasakan lelah pada dirinya dalam melayani tamu istemiwanya. Semua penghuni Balai Adat tahu bahwa puteri Milah  anak Tetuha Adat mereka, telah jatuh hati yang dalam, ia sangat menyukai pamuda yang ganteng dan tampan ini..

Diceriterakan orang bahwa saat berakhir masa tahanan Habib Abu Bakar selama 10 hari dan 10 malam,karena merasa lelah dan kurang tidur, Puteri Milah jatuh sakit secara tiba-tiba, ia tak sadarkan diri/pingsan dalam waktu cukup lama, Puteri belum bisa sadar walaupun Tetuha Adat (Penghulu Adat) berusaha keras melakukan BALIAN untuk menyembuhkan Puterinya, walaupun ia adalah seorang tokoh adat yang mempunyai kemampuan mempuni mengobati orang yang sakit, namun dikala itu tidak membawa hasil apa-apa dan membuatnya putus asa.

Melihat keadaan yang sangat memperahantinkan, tak terkecuali Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf, seorang tahanan mereka, yang baru datang beberapa hari kewilayah itu. Ia mencoba menawarkan diri kepada mereka untuk mengobatinya sang Puteri. Akhirnya dengan perasaan was-was terlihat pada wajah mereka, namun mereka dengan berat hati mempersilahkannya hingga Puteri sadar dari pingsannya dan sembuh dari sakitnya.

Kemudian pada saat hukuman Adat akan berakhir, Beliau melihat dan merasakan ada kesedihan yang mendalam yang menimpa dan dialami oleh Puteri Milah. Habib sadar bahwa puteri Milah sangat mencintainya. Inilah yang membuatnya khawatir frustasi/ stres  kalau, kalau Habib pulang tidak kembali lagi. Sesegeranya Habib melamar gadis yang pernah melayaninya sewaktu menjalani hukuman adat. Habib memberi tahu bahwa pernikahan dalam Islam ada seorang wali dan 2 orang saksi yang beragama Islam.

Ringkasnya  pada saat pelaksanaan akad nikah terjadi permasalahan siapa yang menjadi wali dan saksinya maka Habib setelah selesai berbuka puasa sunnat Senin - Khamis, ia adzan dan shalat magrib. setelah itu ia mohon penghuni Balai untuk duduk mengelilinginya. Kemudian ia menjelaskan kepada para hadirin maksud kedatangannya dan apa itu Islam dan keuntungan beragama Islam? Dan juga ia menjelaskan apa syarat dan rukun nikah menurut Islam? Kemudian ia mengislamkan Puteri (calon isterinya), wali (calon mertuanya) dan dua orang saksi akad nikahnya untuk keabsahan pernikahannya.

Berkata sebagian orang tua bahari dari Dayak Lumpangi bahwa “Habib dianggap bersalah sebab merusak jiwa (meracuni pikiran) Puteri Milah hingga Puteri jatuh hati yang dalam kepadanya dan jatuh sakit, oleh karenanya Habib harus mengawini Puteri anak Tetuha Balai. sebagai bentuk rasa tanggungjawabnya.”

Berkata sebagian orang tua Ds. Taniran Kubah bahwa “Habib Abu Bakar tapabini (kawin-menikah) dengan perempuan Dayak Lumpangi dan baanak (berketurunan) saat Beliau berdagang dan berdakhwah di sana.


8. Mediasi dan Basa basi penyerahan Aluh Milah anak Tetuha Adat

Terjadlah  mediasi proses perundingan   tawar menawar antara Habiib Abu Bakar  dengan  Langara sebagai Tetuha Adat. Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan.

Ujar Penghulu Adat, Nah..... sekarang Aluh Milah ini, sudah sembuh kembali dari sakitnya, inya aku serahkan lawan ikam (kepadamu), inya cinta banar lawan ikam, inya sayang banar lawan ikam nakkay. kawini inya dan bawa ke rumah ikam agar abah dan mama ikam tahu dan jangan ikam kecewakan inya. Inya ini menjadi milik ikam. Agar abah disini merasa nyaman melihat ikam badua, dan abah marasa tanang dan nyaman mendengar ikam badua.

Ujar abu bakar Kada kaya itu caranya bahay, dikira orang ulun ini nanti membawa lari anak sampian secara sembunyi-sembunyi, bila ulun kawin di Taniran diwadah abah ulun. ulun kada handak nang kaya itu.

Ulun ini handak menikah secara agama islam, maka ada lamaran ulun dengan Milah, inya menerima garang atau kada menerima lamaran ulun, namaun inya menerima lamaran ulun maka ada wali nikahnya harus beragama Islam, jadi sampianlah wali nikah aluh Milah ini dan nikah itu dihadiri dan disaksikan  2 orang saksi yang muslim maka Talib dan Anjah sebagai saksinya, ada mahar dan ada ijab dan qabul dari rangkaian peristiwa itu terjadilah perkawinan ulun dengan Milah. Akhirnya tanpa pikir panjang terjadilah kesepakatan bersama, mereka menerima hidayah islam

Catin wanita : “Karena begitu dalam cintanya dengan Habib Abu Bakar, padahal baru saja Sembilan hari sembilan malam ia mengenalnya, tetapi terasa sudah lama mencintainya. Ia bersedia tanpa ragu melepaskan agama yang dianaut nenek moyangnya.

Wali Catin wanita an. Datu Langara “Karena begitu sayang dengan Siti Jamilah anaknya, ia menerima Islam dengan suka rela untuk membahagiakan anak yang sangat dicintainya.”

Saksi-saksi nikah : “Begitu pula dengan kedua saudara laki-lakinya an.Abu Thalib dan Hamzah, sayang dan kasih dengan adik perempuannya. Keduanya rela melepaskan agama yang sedang dianutnya. Berkorban untuk kebahagian adiknya yang kedua bertindak sebagai saksi pernikahan adiknya saat itu.”

Mahar perkawinan : “Sebingkai cincin emas yang telah dipakaikan/dikenakan pada jari manis catin wanita kala  itu.”

Ijab nikah : “Dilakukan oleh walinya sendiri dan diterimakan oleh Habib Abu Bakar As-Segaf, yang sebelumnya didahului pembacaan khotbah nikah oleh Habib saat itu.”Resmilah Siti Jamilah dengan Habib Abu Bakar sebagai suami isteri dimalam Jum’at itu, seisi Balai bergembira, diiringi canda dan tawa menyambut kehadiran keluarga baru dan menyambut kehadiran dangsanak baru. Setelah  Tetuha Adat Suku Dayak dan kedua anak laki-lakinya menjadi seorang muslim maka secara pelan-pelan namun pasti diikuti oleh keluarganya yang lain hingga akhirnya seisi Balai Ulin  dan sekitarnya menjadi muslim.


9. Sayyid Abu Bakar mempersunting dan mengawini Puteri Milah (Siti Jamilah).

Habib dianggap bersalah merusak jiwa Puteri Milah yakni Puteri jatuh hati yang dalam kepada HabibIa memilih  mengawini Puteri Tetuha Adat sebagai ganti Hukuman Denda karena Habib tidak mampu membayar Denda saat berakhir masa tahanan. Perkawinan itu pun terjadi dengan punya syarat-syarat tersendiri yang harus dipenuhi oleh Habib masa kini dan akan datang.

Perkawinan inilah yang sangat merekatkan hubungan suku  Dayak Langara dengan Habib. Adanya ikatan perkawinan tersebut Islam berkembang dengan cepat. Akhirnya mereka karena merasa berkelurga dengan Habib, merasa badangsanak dengan Habib, mereka tertarik dengan Islam dan menerima Islam dengan sukacita dan juga hasil perkawinan itu membuahkan keturunan/ anak an. "Muhammad". Namun versi lain menyebutkan bahwa anak itu bernama : "Muhammad Djamiluddin" dan dzuriatnya yang bersambung dan nasabnya tercatat dengan baik sampai saat ini.


10. Sayyid Abu Bakar berdakwah bilhal selama 7-14 tahun di ruang Balai Adat kemudian ia mendirikan tempat ibadah (Langgar) dibelakang Balai Adat.

Seperti pada malam-malam ketika menjalani hukuman adat, Habib menjalankan misi Dakwahnya di Balai Adat Balai Ulin, beliau membaur dengan masyarakat setempat dan setiap ada kesempatan beliau mulai Bakisah (berceritera) dalam Bahasa Banjar, ada syairnya /ada kata-kata mutiaranya dan pantunnya yang dibumbui sedikit homor dalam dakwahnya menyempaikan ttg Kehidupan Rasulullah Saw sebagai suri tauladan yang harus diikuti dan Peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Timur Tengah. misalnya Bakisah ttg Cinta Rabi'atul Adawiah dengan Hasan al Basri, dan lain-lainnya. Orang-orang penghuni Balai mulai datang, mendekat, duduk menghadap Habib dan mereka mulai senang, tertawa dan terhibur mendengarkan dengan kisah-kisah dan sedikit homoris dari  Habib hingga waktu larut malam.

Berdakwah bilhal semacam ini dlakukan ketika ia tinggal bersama isterinya dalam Balai Adat “Balaii Ulin” saat itu dengan materi khusus ttg “Penanaman Aqidah Islam/tauhid” kepada Penghuni Balai. Dakwah tersebut ia lakuni hingga usia anak pertamanya  berumur 7 tahun, namun versi lain menyebutkan bahwa usia anak pertamanya berumur 14 tahun  kemudian ia dan isterinya memisahkan diri atau pindah dari Balai Adat yakni membuat rumah sendiri dan Mushalla “Baiturrahman” yang tak jauh dari Balai Adat.

Selanjutnya menurut  folklor  tutuha kami sebelumnya bahwa keberadaan Balai Adat Dayak, mereka.yang belum  mendapat hidayah Islam, yang berada dikaki-kaki Pegunungan Meratus itu, adalah sebahagian turunan dan dzuriat  dari Balai Adat Dayak  Balai Ulin, dengan nama sukunya  “Dayak Langgara”yang mendiami di tepi sungai Kali Amandit desa Lumpangi.

Adapun agama/aliran kepercayaan yang mereka /orang-orang Dayak anut adalah Kaharingan. Kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang mereka dan kepercayaan mereka tersebut disebut dengan sebutan "BALIAN atau BABALIAN".

Kita lihat dan kita amati bahwa sampai sekarang pun keberadaan Balai Adat yang ada dikaki kaki Pegunungan Meratus itu dikenal dengan nama sukunya “Dayak Maratus”, bahwa 1 buah Balai Adat dibangun terdiri dari beberapa kamar, 1 buah kamar dihuni oleh 1 keluarga dan ditengah-tengahnya dijadikan tempat untuk berunding, musyawarah, acara perkawinan,  aruh ganal (batandik) dilaksanakan 9 hari, 9 malam, aruh Baharin dan menyambut acara kelahiran anak, mamulai manugal banih dan aruh Bawanang (panen raya), begitu juga keadaan suku Dayak Langara di Balai Ulin Lumpangi tempu  dahulu dan sekitarnya sebelum datangnya Islam.

Kemudian Habib mendirikan tempat ibadah (Langgar) dibelakang Balai Adat, tempat untuk belajar dan mengajar tentang Islam. Setelah beberapa lama bersama Habib menantunya tinggal di Balai Ulin, kemudian Datu Muhammad Langara ayah mertuanya sudah punya cucu pertama laki-laki yang sehat dan ganteng an. Muhammad Djamiluddin.

Kelahirannya sangat  dinanti dan ditubggu oleh keluarga muslim dan keluarga Dayak. Ketika ia hadir (ia lahir) sanak keluarganya tertawa sangat bersukaria dengan menghadirkan jamuan hidangan dari seekor payau /menjangan. Ketiika ia berumur 7-14 tahun ayah dan ibunya memisahkan diri atau pindah dari Balai Adat. Membuat rumah sendiri dan Mushalla “Baiturrahman” yang tak jauh dari Balai Adat. Ketika ia berumur 14-15 tahun Balai Adat mulai bubar


11. Balai Adat Balai Ulin Lumpangi di pindah ke Pantai Dusin Hulu Bayu Kec. Loksado.

Diceriterakan orang bahwa di awal pertengahan abad ke-18 Masihi Bumbuyanin bin Ulang memindah rumah Balai Adat Balai Ulin ke pemukiman  baru di Pantai Dusin Desa Hulu Banyu Kecamatan Loksado. Setelah mereka pindah lokasi pemukiman  dari Tamiang Malah Muara Hatip menuju lokasi baru yakni Pantai Dusin. 

Setelah Balai Adat Balai Ulin bubar awal abad ke-18 tahun 1722M karena banyak penghuni Balai Ulin yang memeluk Islam, maka Balai Ulin Desa Lumpangi mulai ditinggalkan oleh Suku Dayak yang belum menerima hidayah Islam, walaupun mereka sudah mengenal Islam dengan baik hingga bertahun-tahun.

Menurut sumber data bahwa sesudah Balai Adat Balai Ulin bubar maka beberapa tahun kemudian datanglah Dayak Ulang dan Bumbuyanin ke Lumpangi membawa ketiga anaknya agar diajari tentang Islam kepada Habib dan menemui kakaknya Muhammad Langara dan mohon agar Balai Adat Balai Ulin yang tidak berfungsi itu bisa dipindahkan ke Pantai Dusin Hulu Banyu.

Kemudian atas musyawarah dan kesepakatan bersama Balai Adat Balai Ulin Lumpangi dipindah ke Pantai Dusin Hulu Banyu, tetapi kakaknya minta agar 1 batang tiang dari bagian muka Balai Adat itu ditinggal atau dibiarkan tetap berdiri atau tidak dialih atau dipindah. Katanya "Tiang itu fungsinya dijadikan sebagai Simbol bahwa di Lumpangi pernah berdiri sebuah Balai Adat Dayak".

Menurut Ahmad atau Amat yang saya wawancarai, ia asal dayak Bayumbung yang sudah muslim ceritera dari datuk-neneknya bahwa " Bekas tiang-tiang ulin Balai Adat Balai Ulin itu telah diangkut atau dibawa ke Pantai Dusin Hulu Banyu".

Mereka (warga Dayak) mengangkut tiang-tiang ulin bolat sebatangan Balai Adat Balai Ulin tersebut lewat sungai dengan rakit bambu, mereka Tarik satu persatu hingga sampai di Pantai Dusin Hulu Banyu

Sungai Kali Amandit kala itu masih banyak teluknya (airnya dalam dan tidak deras) jadi mudah membawa tiang-tiang ulin bolat sebatangan tersebut dengan rakit bambu. Tidak seperti sekarang batu-batu sungi sudah banyak diambil untuk membuat jalan raya hingga akibatnya air sungai dangkal dan deras.


12. Penyebab Penghuni Balai Adat Dayak Balai Ulin Lumpangi bubar /pindah dari Balai Ulin.

Menurut kaul yang lain bahwa Keluarga isteri Habib yang belum menerima Islam atau Non Muslim tersebut,  manakala mereka mendapatkan hasil binatang buruan, mereka memasaknya dan memakannya. Tetapi sampah dan tulang belulang binatang buruan itu, tidak dibersihkan dan belum dibuang sehingga bermasalah dan menimbulkan bau yang tak sedap. hingga mengganggu kesehatan muslim yang ada.

Menurut Abah Ati asal orang Lumpangi umur 71 tahun yang saya wawancarai bahwa "penyebab Balai adat  Balai Ulin Lumpangi bubar, mereka saling menyalahkan antara teman-teman sendiri mengapa sampah binatang buruan itu dibiarkan saja dimuka Balai, ia tidak dibersihkan dan dibuang dan berbau taksedap sehingga mengganggu kesehatan"

Sedangkan menurut sumber yang lain bahwa Keluarga isteri Habib yang belum menerima hidayah Islam saat itu, ada yang memperoleh ikan atau iwak sungai, mereka menyiangnya (membersihkan-membuang perut ikan), memasaknya dan memakannya. Tetapi sampah perut ikan dan tulang belulang binatang buruan itu, tidak dibersihkan dan belum dibuang sehingga bermasalah dan menimbulkan bau yang tak sedap.

Sebagai akibat sampah buruan atau sampah perut ikan tidak dibersihkan,  menimbulkan bau yang tak sedap dan mendatangkan lalat-lalat atau baranga hingga ada yang sakit. Kemudian orang yang Muslim yang sama berada di Balai Ulin itu ada yang komen atau Komplin. Kenapa sampah dan tulang belulang binatang buruan itu, tidak dibersihkan dan dibiarkan saja, apakah kalian tidak malu dengan Guru kita? Mendengar ucapan itu hingga mereka merasa malu dengan Habib, dan mereka mulai menjauhinya.


13. Karomah Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf.


Salah satu Karomah terbesar Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf adalah ia  dapat menyembuhkan Puteri Milah yang sakit keras dengan seketika dan berislamnya satu keluarga kepala suku Dayak Lumpangi setelah peristiwa penyembuhan Puteri Milah

Diceriterakan bahwa saat berakhir masa tahanan Habib Abu Bakar selama 10 hari dan 10 malam, Puteri Milah (Siti Jamilah) jatuh sakit, mungkin ia kurang tidur dan sangat lelah menemani dan melayani tamu istimewanya. Diang Milah jatuh sakit secara tiba-tiba, ia tak sadarkan diri, ia pingsan dalam waktu cukup lama, Diang belum bisa sadar walaupun Tetuha Adat (Penghulu Adat) ayahnya sendiri berusaha keras mengobatinya dengan  melakukan Balian Basambui untuk menyembuhkan Puteri kesayangannya. Balian Basambui maksudnya Puteri diobati secara kebatinan orang Dayak, walaupun ia seorang tokoh adat yang mempunyai  kemampuan mempuni dalam hal mengobati orang yang sakit, namun dikala itu pengobatannya tidak membawa hasil apa-apa dan bahkan membuatnya dan penghuni Balai prostasi dan putus asa.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa “Melihat keadaan tersebut Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf, ia seorang tahanan mereka, yang baru saja datang beberapa hari kewilayah itu. Ia mencoba menawarkan diri kepada mereka untuk mengobatinya sang Puteri. Akhirnya dengan perasaan was-was terlihat pada wajah mereka, namun mereka dengan berat hati akhirnya mempersilahkannya. Habib meminta Secawan air putih, kemudian pada air itu ia bacakan do’a hidzib dan shalawat dan juga ada yang ia bisikkan pada telinga sang puteri, kemudian air tersebut Habib semburkan melalui mulutnya kearah kepala & tubuh pasennya hingga seketika itu Puteri sadar dari pingsannya dan sembuh dari sakitnya.”

Peristiwa pengobatan Puteri tersebut  tertuang dalam Artikel "Habib Abu Bakr Assegaf - Cerita para wali dan datu' yang diposting Jum'at, 01 Maret 2013M yang saya kutip menyatakan bahwa "Di kampung Lumpangi kala itu masih berupa kehidupan Balai, yaitu "Balai Ulin; dan di sana terdapat tokoh yang disebut penghulu Balai yang terkenal dengan kemampuannya mengobati orang sakit. Ternyata, kemampuan medis habib yang baru datang ke wilayah itu lebih tinggi darinya, sehingga warga Balai sangat terkesima dan akhirnya mau menerima Islam. Bahkan, disebutkan bahwa di antara tokoh habib itu ada yang menikahi puteri penghulu Balai Ulin.

Beliau (Habib) melihat dengan kacamata kesufiannya dan merasakan ada kesedihan yang dalam yang dirasakan dan menimpa pada Puteri Milah. Puteri sangat kuatir tidak berjumpa lagi dengan Sang pujaan hatinya. Inilah yang membuat hatinya khawatir dan membawanya frustasi dan juga stres. memikirkan kalau, kalau Habib Sang Pujaan hatinya pulang tidak kembali lagi kepadanya. Mengetahui hal ini, setelah sembuh dari sakitnya.” segeranya Habib melamar gadis yang pernah melayaninya dan menemaninya siang dan malam, sewaktu menjalani hukuman adat. Habib menjelaskan lamaran dan perkawinan bisa terjadi dengannya bila Puteri Milah, Langara (wali nikah), dan Talib dan Anjah (2 orang saksinya) merima hidayah Islam. Akhirnya dengan adanya sedikit perjanjian  dengan Habib, mereka menerima Islam dengan suka cita.

Berkata Guru Muhammad Baharudin bin Marsal ( Beliau keturunan Syarifah asal Amawang) bahwa "Habib Djamaluddin adalah orang yang paling berprngaruh, Sayyid Djamaluddin, ia adalah orang yang paling alim dan ia orang yang paling berpengetahuan ilmu agama dan paling berpengaruh diantara semua penghuni makam di Kampung Balai Ulin ini, Ia memperoleh pengajaran langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya, hal ini kalau bisa disembunyikan."

Menurut folklor ceritera datu dan nenek kami bahwa “Berkata sebahagian orang Lumpangi masa itu bahwa Tiada ada Orang yang memilki keilmuan yang paling dalam dan luas tentang Islam kecuali dimiliki oleh Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf". Ia memperoleh pengajaran dan bimbingan (suluk, riiyadhah) ilmu Islam langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya.


14. Wafatnya Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf tahun 1759M/ 1172H.

Menurut tradisi adat Dayak Lumpangi bahwa "Bila seseorang laki-laki lajang (perantau atau pendatang) menikahi perempuan suku Dayak maka ia harus ikut tinggal di tanah kelahiran isterinya, sebagai bentuk kesetian adat Dayak". Tetapi bila kangen dengan ayah-ibu atau sanak keluarga ia boleh menenguk mereka sendirian atau bersama isterinya, setelah selesai hajatnya ia harus kembali lagi kerumah isterinya. Suaminya hanya memiliki satu isteri maksudya tidak dimadu. Beliau benar-benar setia menjalani hukum adat Dayak yang ia sepakati, saat ia ingin mengislamkan Tetuha Adat, Puteri dan kedua saudara puteri yakni tidak akan meninggalkan mereka hingga ajal menjemputnya.

Sayyid Abu Bakar ayahnya Habib Lumpangi adalah orang yang sangat setia dan menepati janjinya, ia benar-benar melaksanakan Adat Dayak. ia tidak pernah meninggalkan isterinya. Dan Beliau tinggal bersama isterinya Siti Jamilah dan anak-anaknya  beserta cucu-cucunya dan keluarga isterinya di rumah Balai Ulin hingga akhir hayatnya.

Sayyid Abu Bakar telah mewakafkan dirinya, dan mengabdikan seluruh hidupnya, sejak keberadaannya di desa Lumpangi dan sekitarnya ini, selama berpuluh-puluh-tahun dalam mengenalkan Islam kepada masyarakat desa Lumpangi dengan baik dan mengembangkan Islam, mengajar dan membina masyarakat Islam menjadi masyarakat yang berakhlak mulia dan yang Agamis di desa ini hingga masa akhir hayatnya.

Habib Abu Bakar sangat setia menjalani hukum adat Dayak yang ia sepakati, sa’at ia ingin mengislamkan Tetuha Adat, Puteri dan kedua saudara puteri yakni Hamzah dan Thalib dan Habib berjanji bahwa ia tidak akan meninggalkan mereka hingga ajal menjemputnya.

Habib Abu Bakar, Beliau salah seorang Sayyid yang diberi umur panjang atau berusia lanjut, lebih dari 1 abad yakni sekitar 101 tahun. Habib Abu Bakar lahir Hadramaut, Yaman Yordania diperkirakan Kamis, tnggal 11 Dzul Hijjah 1068H/1658M. Habib Lumpangi Assegaf tinggal bersama isterinya Siti Jamilah dan anak-anaknya antara lain an. Muhammad Djamaluddin, Syarifah Umi Badar, Syarifah Amas.Ahmad Djalaluddin, beserta  cucu-cucunya  antara lain  Ahmad,  Husein, Alwy,  dan  juga sebahagian keluarga isterinya yang lain di rumah kampung Balai Ulin. Habib Lumpangi adalah salah seorang yang diberi Allah Swt umur panjang, lebih dari satu Abad, ia berumur 101 tahun Masihi. Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf  akhirnya wafat dipangkuan anaknya Jum'at, 17 Dzul Hijjah 1172H/1759M.

Bertepatan dengan hari Jum’at, tanggal 17 Dzulhijjah 1172H atau bertepatan dengan tgl. 10 Agustus tahun 1759 Masihi. Dan makam Beliau berdampingan dengan makam isterinya Siti Jamilah binti Muhammad Langara dan Haulan Beliau terebut dilaksanakan oleh Ahlul Bait setiap tanggal 17 Dulhijjah. Dan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dimakamkan berdampingan dengan Siti Jamilah isterinya di kampung Balai Ulin Lumpangi.

Adapun Titik Koordinat makam Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf dengan Siti Jamilah isterinya yaitu lat 2,80928, long 115,41767,  146,7m, 8 derajat.


Catatan  dan daftar bacaan

Abad ke-16 Masihi dihitung dari tahun 1501M sd. tahun 1600 M, Abad ke-17 Masihi dihitung dari tahun 1601M sd. tahun 1700 M., Abad ke-18 Masihi dihitung dari tahun 1701M sd. tahun 1800 M., Abad ke-19 Masihi dihitung dari tahun 1801M sd. tahun 1900 M.,Abad ke-20 Masihi dihitung dari tahun 1901M sd. tahun 2000 M.dan Abad ke-21 Masihi dihitung dari tahun 2001M sd. tahun 2100 M.

Artikel tentang “Suku Dayak”yang di tulis oleh Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Suku Dayak - Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (diakses pada 19 Oktober 2021).

Hasil-hasil Wawancara dengan Habaib Fam/Marga Assegaf Desa Lumpangi yang masih hidup ditahun 2021Masihi, dan Ahmad Bayumbung misalnya Habib Muhammad Burhan atau Muhammad Burhanuddin Assegaf , Bapak Adi  Kayi Husni bin Karji, Yadi bin Juhri . Dan lain-lainnya

Folklor  adalah Ceritera/kisah yang penyebaran dan pewarisannya cenderung dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut dari datu-datu dan nenek-nenek kami.

Artikel tentang “Sejarah Kalimantan Selatan” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kalimantan_Selatan diakses 20-10-2021 :07.45 wita.

Posted by Kajian Al-Kahf Email This BlogThis  Protect and Secure Your WiFi : https://bit.ly/vpn_secure   http://kajianal-kahf.blogspot.com/2012/05/riwayat-assegaf-di-sungai-mesa.html

Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/03/17/kalselpedia-datu-taniran-dan-sejarah-penyebaran-islam-di-banua-anam?page=all. Penulis: Hanani | Editor: Didik Triomarsidi

Hasil-hasil pengamatan kami dari tahun 1970-1980 terhadap pepohonan yang tumbuh besar di lokasi makam dan sekitarnya dan perbandingan batur-batur ulin Habaib yang ada di Lumpangi dengan batur ulin yang ada di Marabahan anak cucu Datu Kalempayan. ternyata batur Habaib Lumpangi lebih tua dari pada batur yang ada di Marabahan


Daftar Isi Bab ke-IV.

IV. Bantahan ttg “perkiraan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi kepada “Artikel”  yang tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam.

 

1. Kedatangan Habib Hasan bin Hasyim Assegaf di Taniran awal abad ke-18M dan Syekh H. Sa'duddin bin H. As'ad (Datu Taniran) di abad ke-19 Masihi.

2. Anak-anak Datu Habib  Lumpangi Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.

3. Saudara kandung Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasa bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.

4. Kelahiran Habib Muhammad Djamiluddin (Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.

05. Silsilah Nasab Sayyid Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.

06. Habib Lumpangi atau Muhammad Djamiluddin Assaqqaf Menikah dengan Siti Sarah Binti Abu Thalib.

07. Karomah Habib Lumpangi Muhammad Djamiluddin Assaqqaf Yang Berlaku hingga sa’at ini.

08. Beberapa tradisi Adat Dayak Pegunungan Maratus yang ditinggalkan Suku Dayak.

09. Tradisi-tradisi suku Dayak Langara Lumpangi yang dilestarikan.

10. Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf wafat tahun 1195H/ 1781M.


IV. Bantahan ttg “perkiraan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi kepada “Artikel”  yang tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam.

Adapun Bantahan yang benar adalah “perkiraan pergantian abad ke-17 dan ke-18 Masihi bukan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi menurut “Artikel”  yang tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam.

Menurut Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia telah mengutif dari berbagai sumber, bahwa "Sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS."

Selanjutnya Artkel itu menyebutkan bahwa "Sayyid Hasan  berdomisili di kampung Taniran sekitar pergantian abad ke-18 dan ke 19 Masihi, (yang mendekati kebenaran adalah pergantian abad ke-17 dan ke abad 18 Masihi) ”.

Pendapat (yang mendekati kebenaran adalah pergantian abad ke-17 ke abad 18 Masihi)  atau tetapi bukan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi pada Artikel tersebut diatas  adalah lemah atau belum mendekati kebenaran. Namun Perkiraan yang benar, yang mendekati kebenaran adalah sekitar pergantian abad ke-17 dan ke abad 18 Masihi, Habib Hasan bersama keluarganya lebih awal datangnya dari Sayyid Abdullah bin Abu Bakar al-Aydrus beserta isterinya ke Lok Gabang Martapura.

Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, dikatakan bahwa ;perkiraan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi pada Artikel tersebut diatas, menurut Penulis  bahwa perkiraan itu adalah lemah atau belum mendekati kebenaran. Namun Perkiraan yang benar, yang mendekati kebenaran adalah sekitar pergantian abad ke-17 dan masuk abad ke-18 Masihi.

Alasan Pertama (1). Adanya silsilah nasab Habib Hasan Assegaf itu sendiri yaitu kelahiran Habib Tanqir Ghawa genarasi ke-7 di pertengahan abad ke-19M yakni tercatat Senin, 13 Oktober tahun 1862M/19 Rabi'ul Awwal 1279H di Desa Lumpangi, usia Beliau 126 tahun Hijeriah. Beliau adalah keturunan ke Tujuh  dari Habib Hasan bin Hasyim Assegaf. Jadi ada 7 generasi silsilah baru sampai ke Habib Hasan Assegaf. Kalau dirunut dari Habib Tanqirr Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) bin Habib Hasan Assegaf.

Alasan kedua (2) Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf tersebut ditemukan kembali di awal abad ke-20 Masihi oleh masyarakat Taniran.dekat langgar Darul Miftahul Jannah” yang berdekatan dengan rumahnya Karena sangat lamanya Beliau wafat hingga Keluarganya dan masyarakat sekitarnya sudah banyak yang melupakannya.

Alasan ketiga (3) bahwa Buyut Habib Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) yang bernama Habib Alwi bin Abdillah bin Shalih tahun wafatnya tahun 1842 Masihi, awal abad ke-19M. sedangkan Datu Taniran Syekh Sa'duddin awal berada di Taniran mulai tahun 1812 Masihi juga awal abad ke-19M. Pada tahun tersebut datanglah tetuha masyarakat atau tokoh masyarakat Desa Taniran menemui orang tua Datu Taniran yaitu H Mufti Muhammad As’ad dengan maksud agar berkenan mengirim seorang guru ke Taniran guna memberikan pendidikan agama. 

Alasan keempat (4) tentang keberadaan makam atau pusara anak dan dzuriat Beliau di Desa Lumpangi. Berdasarkan hasil pengamatan kami selama 10 tahun disana. Keadaan Pusara Makam Habaib Datu Lumpangi  anak Habib Hasan Assegaf dari tahun 1970-1980M adalah sebagai berikut  :

 a). Keadaan makam sudah sangat tua, nisan-nisannya raif, 1 buah batur Ulin Tarahan 6x5 meter untuk 1 Kepala Keluarga, sering terbakar dimasa kemarau panjang, dinding batur sudah jatuh ketanah, kampug Balai Ulin sudah lama ditinggalkan orang, kampong itu sudah lama tidak dihuni penduduk dan keadaan tanaman atau pohon kayu banyak ditemukan pepohonan langsat, Ramania, Manggis yang hidup disekitar itu banyak dan lebih besar dari ember plastic isi 16 liter bahkan ada yang lebih besar lagi. rumpun-rumpun paring tali dan pohon-pohon Kelapa sangat tinggi dan tak berbuah lagi, pohon Durian ada yang lebih besar dari Kindai Padi lebih dari 2 depa orang tua.

b).Kepemilikan lahan tanah makam dan sekitarnya waktu itu tidak dimiliki masyarakat umum. Tetapi dikuasai oleh cucu-cicit-canggah dan wareng keturunan  Habib Abu Bakar as-Tsani Ahmad Suhuf Assegaf atas nama Habib Abu Tha’am Ibrahim dan adik kandungnya Abdul Lathif bin Ahmad (Habib Ahmad Suhuf) bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar  bin Hasan Assegaf.

c).Waktu tahun 1970-1975 an Nisan-nisan pusara pada makam Habaib Balai Ulin sudah raif karena sering terbakar api dimasa kemarau panjang tetapi sebagian berupa batu sungai, belum ada catatan atau tulisan yang kami temukan kala itu. Andaikata ada orang lain mengkliam menemukan catatan tulisan yang tertera di Nisan makam Habaib Lumpangi setelah tahun 1980 an itu adalah suatu hal yang dibuat-buat secara sengaja untuk mencocokkan /mensenkronkan dengan kepentingan mereka

d).Kalau dibandingkan Batur-batur yang ada di Balai Ulin dengan Batur batur yang ada  pada  pusara anak-anak Datu Bakumpai, di kota Marabahan keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Batur batur pusara anak Datu Bakumpai satu persatu atau orang perorang, dan sudah ada seni ukiran (pengamatan  tahun 2016 & 2020M).  Usia batur-batur makam Datu Lumpangi lebih tua, belum ada seni ukiran-ukiran pahat-pahatan, dari usia batur-batur makam anak-anak Datu Bakumpai sudah ada seni pahatannya.

Tetapi sangat disayangkan Batur-batur ukuran tebal 3 jari itu, sebagai bukti peninggalan sejarah semuanya raif ditelan masa, nilai-nilai sejarahnya hilang begitu saja sehingga generasi-generasi selanjutnya sulit mengadakan penelitian ilmiah untuk menentukan keberadaan masa hidup penghuni pusara Habaib dimaksud. 

Jadi, kalau Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dimaksud wafatnya ditulis diawal abad ke-20 Masihi maka catatan atau tulisan itu tidaklah palid atau tulisan itu belum tepat. Kalau dimaksud Habib Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin M.Jamiluddin bin Habib Abu Bakar bin Hasan,  Okey, mungin saja, jawab “Ya”.


1. Kedatangan Habib Hasan bin Hasyim Assegaf di Taniran awal abad ke-18M dan Syekh H. Sa'duddin bin H. As'ad (Datu Taniran) di abad ke-19 Masihi.

Keberadaan atau kedatangan Habib Hasan bin Hasyim Assegaf di Taniran lebih awal (awal abad ke-18M tahun 1702-1720 Masihi) dari pada Syekh H. Sa'duddin bin H. As'ad (Datu Taniran) awal abad ke-19M, ia pulang menuntut ilmu dari Mekkah sekitar tahun 1812M dan merehap Masjid Darul Lathif bersama masyarakat Taniran yang bahan dasarnya semua dari kayu Ulin beratap sirap. 

Adapun sebagai dasar penulis  mengatakan bahwa Habib Hasan bin Hasyim Assegaf lebih awal berada di Desa Taniran dari pada H.Sa'duddin (Datu Taniran) ada empat alasan yang kuat  :

Alasan yang Pertama (1). Adanya silsilah (kelahiran) Habib Tanqirr Ghawa di pertengahan abad ke-19 M yakni tercatat tahun 1862M/1279H di Desa Lumpangi, usia Beliau 126 tahun Hijeriah. Beliau adalah keturunan ke Tujuh  dari Habib Hasan bin Hasyim Assegaf. Jadi ada 7 generasi silsilah baru sampai ke Habib Hasan Assegaf. Kalau dirunut dari     :

  1. Habib Tanqirr Ghawa 
  2. bin Abu Thair Muhammad 
  3. bin Abu Tha'am Ibrahim 
  4. bin Abu Bakar as-Tsani 
  5. bin Ahmad Suhuf 
  6. bin Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) 
  7. bin  Abu Bakar 
  8. bin Habib Hasan Assegaf. 

Alasan kedua (2) Artkel Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, menyatakan bahwa ia mengutif dari berbagai sumber, sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS.

Alasan ketiga (3) Makam Habib Hasan bin Hasyim Assegaf sempat hilang, makam tersebut baru ditemukan di abad ke-20 Masihi. Karena sangat lamanya Beliau wafat hingga Keluarganya dan masyarakat sekitarnya sudah banyak yang melupakannya.

Alasan keempat (4) hasil pengamatan kami tahun 1970-1980 terhadap Makam  anak-cucu Beliau di Lumpangi Loksado sebagai berikut :

a). Makam dan sekitarnya sudah lama ditinggalkan orang, keadaan Nisan-nisan pada Pusara Datu Habaib Lumpangi sudah raifusia makam sudah sangat tua, makam tidak terpelihara dengan baik, keadaan tanaman atau pohon kayu, rumput yang hidup di sekitarnya tumbuh sangat subur.

b).Ppepohonan Langsat, Ramania, Manggis yang hidup disekitar itu lebih besar dari ember plastic isi 16 liter bahkan ada yang lebih besar lagi. dan pohon-pohon Kelapa sanagt tinggi sekali dan tidak berbuah lagi, pohon Durian ada yang sangat besar sekali, sebesar kindai padi (kalau diragaf lebih dari dua depa orang tua)

c). Waktu itu Nisan-nisan ditengah pusara sudah raif dan sebagian berupa batu sungaibelum ada catatan atau tulisan yang kami temukan dan dapatkan kala itu.

d). Semua dinding-dinding Ulin Baturnya sudah tanggal ke tanah, Batur-batur ulinnya tidak ada seni ukirannya atau seni pahatannya, tidak seperti Batur-baturnya anak cucu Datu Kelampayan di kota Marabahan sudah ada seni ukirannya atau seni pahatannya.


2. Anak-anak Datu Habib  Lumpangi Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.

Anak-anak Datu Habib  Lumpangi antara lain  :

  1. Shalih (ibunya dari Seiyun Hadramaut)
  2. Abdurrahman (Sungai Mesa Banjarmasin)
  3. Abdul Hamid dan salah satu anakya an.Saqqaf (dibaca Segaf - Nagara
  4. Muhammad Djamiluddin
  5. Sy. Ummi Badar,
  6. Sy. Amas (Mastora) dan
  7. Ahmad Djalaluddin, anak yang paling  bungsu

Adapun anak laki-laki Habib Datu Lumpangi Abu Bakar bin Hasan Assegaf yang terkomvirmsi saat ini akhir tahun 2023 abad ke-21 Masihi dan silsilah nasabnya tercatat dengan baik antara lain ”

  1.  Shalih
  2. Abdurrahman
  3. Abdul Hamid 
  4. Muhammad Djamiluddin
  5. Ahmad Djalaluddin

Pernah aku dengar dari ceritra sebahagian Habaib bahwa Habib Datu Lumpangi beristeri  antara 4-5 orang  dan punya anak berjumlah 9 orang dan isteri terakhir Beliau seorang perempuan dari suku Dayak.

Jadi sesudah isteri pertama wafat, ia ikut serta rombongan kakeknya  Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shafi berhijrah - berdagang permadani, kain dan jenis perhiasan ke Asia Tenggara sambil mencari rempah-rempah dengan membawa misi dakwah dari kakek moyang mereka yakni Rasulullah Saw, dimasa Kesultanan Demak di Jawa Tengah, mereka menetap di Kelurahan Randusari Kec. Semarang Selatan. Nah dari sini hingga menetap di Desa Taniran ada 4 sd. 6 orang anak Habib Datu Lumpangi keturunan dari isterinya yang ke-2, ke-3 dan  ke-4  yang belum terkonvirmasi hingga saat ini


3. Saudara kandung Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.

Adapun adik kandung Muhammad Djamiluddin antara lain  : Sy. Ummi Badar, Sy. Amas (Mastora) dan yang paling  bungsu bernama Ahmad Djalaluddin, ia dilahirkan bersamaan tahun dengan kelahiran Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin yakni 10 Sya’ban 1149H/1736M di Desa Lumpangi, dan kedua anak ini tumbuh dan dibesarkan dilingkungan orang-orang  muslim yang taat Agama islam di Desa Lumpangi, silsilah nasabnya tercatat dengan baik.

Menurut catatan Habib Ahmad Ilham bin Janggi Ali Assegaf bahwa “Ahmad Djalaluddin salah satu anak laki-laki Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf.” Hal ini dapat dilihat catatan silsilah nasabnya yakni Ahmad Ilham bin Janggi Ali bin Jambran bin Jama’in bin Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Husain bin Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad Assegaf……..

الْحَبِيْب عَبْدُ القَدِيْر الْجَيْلَانِيِّ بِنْ عَلْوِىْ بِن زَيْنْ بِنْ عَلِيٍّ بِنْ عَلْوِىْ بِنْ عَبْدِاللهِ بِنْ صَالِح بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ


الْحَبِيْب حَسَنْ بصْرِىْ  بِنْ مًحَمَّدْ بَرْسِيْه بِنْ اَحْمَدْ بَدْريْ بِنْ  تَنْقِرُ الْغَوَى بِنْ اَبًوْ طَيْرٍ مُحَمَّدْ بِنْ اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّي  بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ


الْحَبِيْب اَحْمَدْ اِلْحَامْ بِنْ جنغِيْ عَلِيٍّ بِنْ جَمْبارَان  بِنْ  جَمَاعِيْن بِنْ اَحْمَدْ  بِنْ عَلِيٍّ بِنْ عَبْدُاللهِ  بِنْ حُسَيْنُ بِنْ اَحْمَدْ جَلَالُ الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ


4. Kelahiran Habib Muhammad Djamiluddin (Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.

Nama panjangnya adalah Muhammad Djamaluddin, memang kedua orang tuanya memberinya nama Muhammad Djamaluddin, mengambil separu nama dari nama ibunya yakni "Jamilah" artinya "Cantik Rupawan", ia seorang anak yang rupawan dan ganteng. Orang-orang disekellingnya dan sahabatnya memanggilnya  sehari-hari dengan nama “ Djamiluddin /Djamaluddin”. Tetapi kedua orang tuanya dan orang-orang dekatnya  lebih banyak memanggilnya “Muhammad”.  Ia anak/ keturunan pertama  dan anak tersayang Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Kakeknya Muhammad Langara sangat menyayanginya, dan  begitu pula kedua Pamannya yang bernama Talib (alias Datu Hamanau atau Utuh Langara) dan kedua bernama Anjah (alias Datu Panimpulungan Panglima Sanggara) sangat menaruh harapan besar kepadanya, agar menjadi anak yang saleh dan berguna bagi masyarakatnya.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa  "Djamaluddin"  adalah Putera pertama dari Habib Abu Bakar bin Hasan dengan isterinya Siti Jamilah binti Muhammad Lanagara. Namun versi lain menyebutkan bahwa anak itu bernama : "Muhammad Djamiluddin" ia lebih dahulu dan lebih tua 3 tahun dari Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari (lhr.1710M), Ia lahir dimasa pemerintahan raja banjar Sultan Suria Alam alias Sultan Tahmidullah I bin Sultan Tahirullah bin al-Maliku'llah adalah Raja Banjar yang memerintah tahun 1700-1717 Masihi. Djamaluddin dilahirkan di Lumpangi, hari Senin, 13 Syawal 1118H /1707 Masihi dan dibesarkan di Desa Lumpangi, ia lahir ditengah-tengah keluarga yang baru menemukan hidayah Islam. Ia adalah orang yang shalih, ia memperoleh pengajaran agama Islam langsung dari orang tuanya dan kedua Kakeknya M. Langara dan Sayyid Hasan ketika ia berada di Desa Taniran dan juga paman Ayahnya Habib Idrus.

Kelahirannya sangat  dinanti dan ditubggu oleh keluarga muslim dan keluarga Dayak. Ketika ia hadir sanak keluarganya sangat bersukaria dengan menghadirkan jamuan hidangan dari seekor payau /menjangan. Ketiika ia berumur 7 tahun ayah dan ibunya memisahkan diri atau pindah dari Balai Adat. Membuat rumah sendiri tak jauh dari Balai Adat. Ketika ia berumur 14-15 tahun Balai Adat mulai bubar.

Ditahun usia  muda menjelang remajanya Balai Adat "Balai Ulin" bubar tahun 1722M karena banyak dipihak keluarga ibunya yang menerima hidayah islam/ memeluk Islam, maka Balai Ulin Desa Lumpangi mulai ditinggalkan oleh para keluarganya yang belum menerima hidayah Islam, walaupun mereka sudah mengenal Islam dengan baik hingga bertahun-tahun.


05. Silsilah Nasab Sayyid Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.

Adapun Silsilah Nasab Sayyid (Djamaluddin) Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad  Assegaf sebagai berikut :

الْحَبِيْب مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ  بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله


06. Habib Lumpangi atau Muhammad Djamiluddin Assaqqaf Menikah dengan Siti Sarah Binti Abu Thalib.


Setelah Muhammad Jamaluddin atau Djamaluddin dewasa, Ia juga termasuk orang berpengaruh di Lumpangi setelah ayahnya. Dan ia berada di desa yang sangat terisolasi dari keramaian kota, ia tinggal diudik sungai Kali Amandit yang sangat jauh, kalau berpergian masa itu selalu jalan kaki. Isterinya Siti Sarah seorang muslimah yang shalehah keturunan asli Dayak Balai Ulin Lumpangi, begitu juga kedua orang tua muslim. Siti Sarah binti Abu Thalib bin Muhammad Langara, ia seorang perempuan dari kampung Batu Tangah Desa Lumpangi. Perkawinan sepupu tersebut membuahkan keturunan anak laki-laki, ia lahir di Lumpangi, hari Ahad, tgl. 10 Jumadil Awwal 1149H/1736M.yang diberi nama. Habib Ahmad Suhuf yang panggilan sehari-harinya Habib Ahmad. 

Akhirnya Abu Thalib beserta isterinya dan Datu Muhammad Langara ayahnya membuat rumah baru dan pindah rumah dari Balai Ulin ke kampung Batu Tangah. Kemudian Abu Thalib dikampung itu dikeruniai anak perempuan an. Siti Sarah. Nantinya untuk menambah kuatnya tali/hubungan darah/ kekeluargaan atau tali persaudaraan Habib Abu Bakar Assegaf mengawinkan Habib Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) anaknya setelah remaja dengan Siti Sarah binti Abu Thalib bin Datu Muhammad Langara, ia seorang perempuan dari kampung Batu Tangah.

Adapun adik kandung Muhammad Djamiluddin antara lain  : Sy. Ummi Badar, Sy. Amas (Mastora) dan yang paling  bungsu bernama Ahmad Djalaluddin, ia dilahirkan 10 Sya’ban 1149H/1736M di Desa Lumpangi bersamaan tahun dengan kelahiran Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin yakni  Ahad,10 Jumadil Awal 1149H/1736M dan kedua anak ini (Mamarina dan Kemanakan) tumbuh dan dibesarkan dilingkungan orang-orang  muslim yang taat Agama islam di Desa Lumpangi, silsilah nasabnya tercatat dengan baik. 

Setelah remaja - hingga dewasa ia (Ahmad Suhuf) dikawinkan dengan Diang Galuh Aminah sepupunya asal desa Muara Lumpangi cucu Hamzah.Perkawinan Habib Ahmad tersebut punya anak, yang salah satunya an. Abu Bakar as-Tsani.

Balai Adat Bumbuyanin dulu/pertama diperkirakan berdiri ditepi Sungai disekitar Kampung Datar Laga dan Datar Mangkung tepatnya kampung Pantai Dusin. Adapun orang-orang yang tiada mau menerima Islam, mereka pindah atau menjauh dari Kaum Mulimin. Dengan adanya sebab akibat dan bergesirnya waktu  tempu dulu maka Balai Adat Bumbuyanin pindah lokasi / tempat, sekarang Balat Adat tersebut beralamat di desa Kemawakan Kec. Loksado.

07. Karomah Habib Lumpangi Muhammad Djamiluddin Assaqqaf Yang Berlaku hingga sa’at ini.

Oleh karenanya salah satu Karomah  Habib Muhammaad Jamiluddin (Djamaluddin) bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf yang terbesar adalah "Beliau dapat membatalkan beberapa tradisi Suku Dayak Pegunungan Meratus yang berlaku berabad-abad.”

Ia (Habib Muhammaad Jamiluddin) juga tampil sebagai tokoh muda yang sangat dihormati disukai dan dicintai dari kalangan keluarga Muslim dan dari kalangan keluarga Dayak sehingga apa yang ia ucapkan selalu diikuti-disetujui oleh banyak orang. Ia dengan mudahnya Membatalkan tradisi Suku Dayak Pegunungan Meratus berlaku berabad-abad yang dianggap merugikan banyak pihak dan Para keluarga suku Dayak, mereka menerimanya dengan suka rela mereka meninggalkannya, tradisi dimaksud yakni "Tradisi Memuliakan Tamu Nginap, Tradisi Kuping Panjang, Tradisi Tato,  Tradisi Tiwah, Tradisi Ngayau, dan Mantat Tu’Mate dan dapat mempersaudarakan orang-orang muslim dengan orang-orang Dayak".,

Dilansir dari berbagai sumber, bahwa suku Dayak memiliki berbagai tradisi unik, tetapi tradisi ini ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Muhammaad Jamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya kecuali tradisi Tarian Gantar (batandik),.


08. Beberapa tradisi Adat Dayak Pegunungan Maratus yang ditinggalkan Suku Dayak.

Adapun Beberapa tradisi Adat Dayak Pegunungan Maratus yang ditinggalkan Suku Dayak di antaranya meliputi :

01. Tradisi Memuliakan Tamu Nginap
Salah satu tradisi/adat Dayak ketika itu, bagi Tamu yang Nginap untuk kaum laki-laki lajang diperbolehkan tidur satu kamar/ satu kelambu dengan wanita lajang puteri dari Tetuha Adat. Bila tidak punya anak gadis maka isterinya yang menemani tidur tamunya. (kalua tamunya sudah beristeri maka ia tidur satu kamar dengan isteri sahabatnya) sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu atau sahabat, tak terkecuali dengan Habib, beliau tidur ditemani oleh Aluh Milah sepanjang malam, tetapi pagar ayu puteri Milah tetap terjaga dengan baik. Habib tidak mau mengganggu dan apalagi mempermainkan puteri Milah.
Adat Dayak adalah sangat meghormati dan memulikan tamu, Puteri Milah adalah seorang gadis Dayak yang lemah lembut, ia seorang gadis ramah dan homoris dan sulit untuk dilupakan.
Hal semacam ini dikuatkan oleh ceritera teman saya, dia seorang Serjana dibidang agama Islam. Dia berceritera kepada saya bahwa tamu laki-laki lajang yang nginap di rumah suku Dayak, ia diperbolehkan tidur satu kamar atau satu kelambu dengan wanita lajang anak Dayak sebagai bentuk penghormatan tuan rumah. Tradisi atau Adat Dayak tersebut masih berlaku hingga sekarang tahun 2020 disebagian suku Dayak Kalimantan.
Temannya berceritera bahwa ketika ia berada dipedalaman pulau Kalimantan tahun 2020, bekerja sebagai penebang pohon kayu jenis Meranti dan Ulin. Ia mulai bersahabat baik dan akrab dengan suku Dayak penduduk asli. Sahabatnya mengajaknya menginaf dirumahnya. Di rumah sahabatnya ini ia menginaf, makan, minum dan cuci pakaian. Ketika malam hari ia ingin tidur di salah satu ruangan, ia disuruh sahabat barunya tidur satu kelambu dengan anak perempuannya yang gadis lajang. Kemudian iapun tidur dengannya tetapi ia tidak berani mencumbu rayu, dan juga ia tidak mau merusak pagar ayu dan menggagahi anak perempuan sahabatnya.
Tradisi ini ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya.

2. Tradisi Kuping Panjang
Telingaan Aruu adalah tradisi adat Suku Dayak dengan cara memanjangan telinga. Untuk memanjangkan daun telinga, mereka menggunakan anting-anting berbentuk gelang yang terbuat dari tembaga. Anting-anting berukuran besar tersebut dalam bahasa kenyah disebut belaong.h
Di Kalimantan Timur, perempuan Dayak memiliki tradisi unik memanjangkan telinga mereka. Keyakinan di balik tradisi ini adalah bahwa telinga yang panjang membuat perempuan terlihat semakin cantik.
Selain untuk aspek kecantikan, memanjangkan telinga juga memiliki nilai simbolis dalam menunjukkan status kebangsawanan dan melatih kesabaran.
Proses memanjangkan telinga melibatkan penggunaan logam sebagai pemberat yang ditempatkan di bawah telinga atau digunakan untuk anting-anting.
Perempuan Dayak diperbolehkan memanjangkan telinga hingga dada, sementara laki-laki bisa memanjangkan telinga hingga bawah dagu.
Tradisi ini juga ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya.
 
3. Tradisi Tato
Tato atau rajah adalah simbol kekuatan, hubungan dengan Tuhan, dan perjalanan kehidupan bagi suku Dayak. Tradisi tato ini masih dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan Dayak.
Proses pembuatan tato terkenal karena masih menggunakan peralatan sederhana, di mana orang yang akan ditato akan menggigit kain sebagai pereda sakit, dan tubuhnya akan dipahat menggunakan alat tradisional.
Setiap gambar tato memiliki makna khusus, misalnya tato bunga terong menandakan kedewasaan bagi laki-laki, sementara perempuan mendapatkan tato Tedak Kassa di kaki untuk menandakan kedewasaan mereka.
Dalam konteks sejarah, dikatakan bahwa suku Dayak Iban menggunakan tato ini selama peperangan untuk membedakan antara teman dan musuh.
Tradisi ini ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya.

4. Tradisi Tiwah
Kwangkey atau Kuangkay ialah upacara kematian yang dilakukan Suku Dyaka Benuaq yang tingga di pedalaman Kalimantan Timur. Tradisi ini berasal dari kata ke dan angkey, artinya adalah melakukan atau melaksanakan dan bangkai.
Menurut istilah bahasa daerah setempat, Kwangkey mempunyai makna buang bangkai. Maknay yang ingin disampaikan adalah melepaskan diri dari kedukaan dan mengakhiri masa berkabung
Tiwah adalah upacara pemakaman masyarakat Dayak Ngaju yang melibatkan pembakaran tulang belulang kerabat yang telah meninggal.
Tradisi ini dilakukan sesuai dengan kepercayaan Kaharingan dan dipercaya membantu arwah orang yang meninggal untuk menuju dunia akhirat atau disebut juga dengan nama Lewu Tatau.
Selama pelaksanaan Tiwah, keluarga yang ditinggalkan akan menari dan bernyanyi sambil mengelilingi jenazah.
Proses pembakaran tulang belulang jenazah dilakukan secara simbolis, sehingga tidak semua tulang jenazah ikut dibakar dalam upacara Tiwah.
Tradisi suku Dayak ke-4 ialah Tiwah yang upacara pemakaman yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Ngaju. Dalam upacara ini,  mereka akan membakar tulang belulang dari kerabat yang telah meninggal dunia. Menurut kepercayaan Kaharingan, tradisi Dayah Tiwah, dipercaya mampu mengantarkan arwah dari orang yang telah meninggal agar mudah menuju dunia akhirat atau disebut pula dengan nama Lewu Tatau. Ketika melaksanakan tradisi Tiwah, biasanya keluarga yang ditinggalkan akan menari dan bernyanyi sambil mengelilingi jenazah. Proses pembakaran tulang belulang jenazah hanya dilakukan secara simbolis sehingga tidak semua tulang jenazah akan ikut dibakar dalam upacara Tiwah.
Tradisi Penguburan
Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan:
  1. penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat 
  2. penguburan di dalam peti batu (dolme
  3. penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.
Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni:
  1. dikubur dalam tanah
  2. diletakkan di pohon besar
  3. dikremasi dalam upacara tiwah
Prosesi penguburan sekunder
  1. Tiwah adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan, sebagai simbol pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun atau beberapa tahun setelah penguburan pertama 
  2. Jambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah.
  3. Marabia
  4. Mambatur (Dayak Maanyan)
Tradisi ini juga ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya. Terkecuali pengubur mayat dalam tanah

5. Tradisi Ngayau
Tradisi berburu kepala ini, yang pernah ada tetapi sekarang sudah dihentikan, melibatkan pemburuan kepala musuh oleh beberapa rumpun Dayak, seperti Ngaju, Iban, dan Kenyah.
Tradisi ini penuh dendam turun-temurun sebab anak akan memburu keluarga pembunuh ayah mereka dan membawa kepala musuh ke rumah. Ngayau juga menjadi syarat agar pemuda Dayak bisa menikahi gadis yang mereka pilih.
Pemuda Dayak diwajibkan untuk berpartisipasi dalam tradisi berburu kepala sebagai cara untuk membuktikan kemampuannya dalam memuliakan keluarganya dan meraih gelar Bujang Berani.
Larangan terhadap tradisi ini dihasilkan dari musyawarah Tumbang Anoi pada tahun 1874, yang bertujuan menghindari perselisihan di antara suku Dayak.
Ke-5 tradisi tersebut sudah ditinggalkan oleh Dayak Maratus dan dibatalkan dimasa keberadaan Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf dan anak cucunya kecuaali tradisi Tarian Gantar

6. Manajah antang
Tradisi dari suku Dayak selanjutnya ialah manjah antang, tradisi ini merupakan suatu ritual untuk mencari di mana musuh berada ketika berperang. Menurut cerita masyarakat Dayak, ritual manajah antang merupakan ritual pemanggilan roh leluhur dengan burung Antang, di mana burung tersebut dipercaya mampu memberitahukan lokasi musuh. Selain dipakai ketika berperang, tradisi manajah antang pun dipakai untuk mencari petunjuk-petunjuk lainnya.
 
7. Mantat Tu’Mate
Seperti halnya Tiwah, tradisi mantat tu’mate merupakan tradisi untuk mengantarkan orang yang baru saja meninggal dunia. Namun mantat tu’mate berbeda dengan Tiwah. Sebab, mantat tu’mate dilakukan selama tujuh hari dengan konten acara iring-iringan musik serta tari tradisional. Setelah upacara selama tujuh hari selesai, barulah jenazah kemudian akan dimakamkan
Ket. Referinsi No. 6-7 Artikel Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku Dayak

09. Tradisi-tradisi suku Dayak Langara Lumpangi yang dilestarikan

Salah satu tradisi adat suku Dayak Langara Lumpangi adalah  Aruh Bawanang atau disebut juga  aruh mahanyari banih adalah salah satu ritual adat yang dilaksanakn oleh suku dayak Langara setiap tahunnya pada saat pasca panen raya padi yang merupakan salah acara ucapan rasa syukur kepada Sang Pencipta Alam Semesta.

Aruh Bawanang adalah sebuah ritual adat yang dilaksanakan oleh suku Dayak Meratus setiap tahunnya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan. Ritual adat ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang melimpah, serta permohonan doa agar mereka selalu diberi rejeki, kesehatan dan kesejahteraan.


8. Tari Gantar
Tari Gantar adalah salah satu tarian khas Suku Dyak. Tarian ini adalah tari pergaulan muda-mudi Suku Dayak Benuaq dan Dayak Tunjung di Kabupaten Kutai Barat.
Tarian Gantar mengekspresika kegembiraan serta keramahan dalam menyambut tamu, baik wisatawan atau tamu kehormatan. Tari ini juga berfungis untuk menyambut pahlawan dari medan perang. Ada tiga jenis tarian Gantar, yakni Gantar Rayat, Gantar Busai, dan Gantar Senak dan Kusa.


10. Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf wafat tahun 1195H/ 1781M.

 

Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar Assegaf telah mewakafkan dirinya, dan sudah mengabdikan seluruh hidupnya, untuk dakwah Islam sejak kehadirannya di kampung Balai Ulin Desa Lumpangi ini, selama bertahun-tahun dalam mengenalkan Islam dengan baik kepada saudara-saudaranya Suku Dayak Maratus dan meng-Islam-kan mereka, mengajar, membagun dan membina masyarakat kampung Lumpangi menjadi masyarakat Islam yang berakhlak mulia dan menjadi masyarakat Agamis di kampung ini.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa Dimasanya di sebagian Sayyid Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf diperkirakan wafat Jum'at, 10 Syawal 1195H atau 1781 Masihi. Ia di makamkan berdampingan dengan makam Siti Sarah isterinya dengan usianya sekitar 64 tahun dan ia dimakamkan kampung Balai Ulin Lumpangi Kec. Loksado.  Titik Koordinat makam  2,80908, 115,41756,  143,5m, 281 derajat

Berkata Sayyid Baseraninor bin H. Muhammad Barsih Assegaf “Waktu  dahulu diareal Makam Sayyid itu tumbuh sebatang pohon kembang kenanga yang besar. Pohon itu tidak putus-putusnya berkembang. Tetapi tidaklah sembarang orang bisa mengambil kembang kenanga yang jatuh dari pohonnya diareal makam Habaib Lumpangi itu kecuali ada dzuriatnya sebab bila  mengambilnya orang yang bukan dzuriatnya maka orang itu, badannya kena sakit panas selama 3 hari 3 malam.

Menurut versi lain bahwa " Sebatang pohon kembang kenanga yang besar. Pohon itu tidak putus-putusnya berkembang. Orang yang bukan dzuriatnya dan tidak pamit (bapadah) mengambil (menjatu) kembang kenanga yang jatuh dari pohonnya diareal makam Habaib Lumpangi itu bisa muntah darah atau orang itu, badannya kena sakit panas selama 3 hari 3 malam.


Daftar Isi Bab ke-V.

V. Rakam Jejak Perjalaan Sayyid Ahmad Suhuf bersama Muhammad Djamiluddin Assegaf Ayahnya dan Sayyid Ahmad Djalaluddin pamannya sa’at membatalkan dan menghapus sebagian Tradisi Suku Dayak Pegunungan Maratus.

  1. Kelahiran Sayyid Ahmad Suhuf dan Ahmad Djalaluddin  bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.
  2. Sayyid Ahmad Suhuf dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar Assegaf Menerima Pengajaran Ilmu Agama.
  3. Silsilah Nasab Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf.
  4. Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf, ia menikah dengan Diang Galuh Siti Aminah.
  5. Masa Muda Sayyid Ahmad Suhuf bin Djamaluddin dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf terjadi Pembatalan beberapa Tradisi Suku Dayak Pegunungan Meratus yang dianggaf merugikan Suku itu sendiri.
  6. a. Keberdaan Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf di desa Lumpangi
  7. b. Tradisi Unik Suku Dayak Pegunungan Meratus yang sudah lama Membudaya sebelum keberadaan Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.
  8. Dimasa Keberadaan Sayyid Muhammad Djamiluddin, Ahmad Djalaluddin dan Ahmad Suhuf sa’at memanasnya suhu Politik masa Perebutan Kekuasaan Kesultanan Banjar sekitar tahun 1760 Masihi.
  9. a. Dukungan Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung Kepada Putra Mahkota Muhammad Aliuddin Aminullah.
  10. b. Sekilas tentang Tasawuf Wahdatul Wujud yang dianut Syeikh Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung).
  11. c. Hubungan Datu Abulung dengan Kesultanan Banjar dan Desas-desus politik Kesultanan.
  12. d. Thariqat yang dianut oleh Syaikh Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung).
  13. e. Silsilah nasab ke-Sayyidan Syaikh Abdul Hamid Al-Maghribi.
  14. f. Tentang Hukuman mati Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung).
  15. g. Hukuman Pertama Ditenggalamkan ke Dasar Sungai Lok Buntar.
  16. h. Tragedy Hukuman mati akibat konflik Politik salah Dukungan di Kesultanan Banjar.
  17. 07. Wafatnya Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.

V. Rakam Jejak Perjalaan Sayyid Ahmad Suhuf bersama Muhammad Djamiluddin Assegaf Ayahnya dan Sayyid Ahmad Djalaluddin sa’at membatalkan dan menghapus sebagian Tradisi Suku Dayak Pegunungan Maratus.

 

Sejarah singkat Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin (Sayyid Lumpangi Loksado) dan Sayyid Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf. Mereka adalah orang-orang yang aliim berpengetahuan luas dibidang Agama Islam, Mereka adalah orang-orang yang shaleh,  dan Mereka adalah orang-orang yang ta’at yang memelihara iman dan islam, Mereka adalah orang-orang amat kenal dengan Tuhannya, Mereka adalah orang-orang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah dzahir dan bathin lainya.

 

1. Kelahiran Sayyid Ahmad Suhuf dan Ahmad Djalaluddin  bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Ahmad Suhuf dilahirkan Ahad, 10 Jumadil Awal 1149H/1736M dan Ahmad Djalaluddin dilahirkan 10 Sya’ban1149H/1736M keduanya lahir di Desa Lumpangi, dan keduanya tumbuh dan dibesarkan dilingkungan orang-orang  muslim yang taat Agama islam di Desa Lumpangi, keduanya berada di desa yang sangat terisolasi dari keramaian kota Amawang Kandangan, berada diudik sungai Kali Amandit yang jauh, kalau berpergian masa itu selalu jalan kaki. Isterinya Diang Galuh Aminah bin Abdullah bin Hamzah, ia adalah buyut Datu Muhammad Langara. 

Sayyid Ahmad Suhuf adalah nama panjangnya, sedangkan Ahmad adalah nama panggilannya sehari-hari. Kedua orang tuanya memberinya nama Ahmad Suhuf. Nama ayahnya adalah Muhammad Djamiluddin (Sayyid Lumpangi) dan ibunya bernama Siti Sarah binti Abu Thalib bin Muhammad Langara. Ahmad adalah keturunan ke-3  atau cucu tersayang Sayyid Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Kakek dan kedua orang tuanya menaruh harapan besar kepadanya.

 

2. Sayyid Ahmad Suhuf dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar Assegaf Menerima Pengajaran Ilmu Agama.

Dimasa kecinya Sayyid Ahmad Suhuf dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar Assegaf berada di bawah asuhan orang tuanya di Desa Lumpangi,

keduanya bercita-cita ingin mengembara bila besar nanti,  ke Negeri orang, kata orang tuanya bahwa “Kalau kau ingin merantau, ke Negeri orang,  kau harus banyak basango ilmu, supaya tidak dibodohi orang, dan baisi keterampilan seperti pertukangan dan kembalinya kau selamat,” maka keduanyapun telah membekali dirinya dengan giat belajar dan bertanya tentang ilmu-ilmu agama kepada orang tuanya, kepada kakeknya dan pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat.

Sayyid Ahmad Suhuf dan Ahmad Djalaluddin mendapatkan Pengajaran Ilmu Agama langsung dari : -Muhammad Djamiluddin & Siti Raudah ayah-ibunya, -Abu Bakar kakeknya –Para pamannya. Oleh karenanya Dia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu.

 

03. Silsilah Nasab Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf

 Adapun Silsilah Nasab Sayyid Ahmad Suhuf bin (Djamaluddin) Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad  Assegaf sebagai berikut :

الْحَبِيْب اَحْمَدْ صُحُف  بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ  بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله.

04. Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf, ia menikah dengan Diang Galuh Siti Aminah. 

Menurut sumber data bahwa Sayyid Ahmad Suhuf yang panggilan sehari-harinya Sayyid Ahmad telah menikah masa remaja (usia muda) - hingga dewasa, tetapi tidak punya keturunan, maka untuk medapatkan anak keturunan ia dikawinkan pula dengan Diang Galuh Aminah. Galuh Aminah adalah salah satu keturunan buyut Muhammad Langara.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Di bawah usia 20-24 tahun Sayyid Ahmad Suhuf sudah menikah dan bekeluarga  dan juga bertahun-tahun masa perkawinannya pasangan suami–isteri ini belum juga punya anak keturunan. Karena tidak punya anak, kemudian ia menikah lagi di usianya 43-45 tahunan dengan sepupunya Galuh Siti Aminah cucu Hamzah, asal desa Muara Lumpangi, Kamis, 12 Jumadil Akhir 1191H atau 1777M. Kemudian dari hasil perkawinannya tersebut lahirlah Jum’at, 13 Djulhijjah 1192M/ 01-01-1779M seorang anak laki-aki yang diberi nama Sayyid Abu Bakar. kemudian untuk membedakan nama anak ini dengan nama Kakeknya maka diujung namanya ditambah kalimat 'ats-Tsani artinya yang ''kedua' maka namanya menjadi Sayyid Abu Bakar ats-Tsani.


05. Masa Muda Sayyid Ahmad Suhuf bin Djamaluddin dan Ahmad Djalaluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf terjadi Pembatalan beberapa Tradisi Suku Dayak Pegunungan Meratus yang dianggaf merugikan Suku itu sendiri.

a. Keberdaan Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf di desa Lumpangi

Menurut ceritera Datu-datu kami bahwa Belanda menduduki kota Banjarmasin sekitar tahun 1747M, kala itu Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf sudah lahir dan berada di Lumpangi tahun 1707M jauh sebelum Belanda datang ke Kesultanan Banjar. Saat itu usia Sayyid Abu Bakar kakeknya Ahmad Suhuf antara 40-45 tahunan, Beliau berniaga berjualan kain sarung dan perhiasan wanita, sambil melakukan dakwah di Balai Ulin Lumpangi, Keberadaannya di desa tersebut semasa dengan pemerintahan Sultan Tahmidullah, Raja Banjar ke-10 tahun 1700-1717 Masihi hingga Sultan Tamjidillah I Raja Banjar ke-13 yang berpusat pemerintahan di Martapura Kalsel Tahun 1734-1759M, Kala itu Belanda belum menjajah Kesultanan Banjar.

Menurut catatan Sejaarah Tahun 1747M, Belanda menduduki Banjarmasin. Kemudian tahun 1761–1801, masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II /Sunan Nata Alam. Tahun 1762, Saudara Sultan Nata yang bernama Pangeran Prabujaya dilantik sebagai mangkubumi oleh Dewan Mahkota Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar).

b. Tradisi Unik Suku Dayak Pegunungan Meratus yang sudah lama Membudaya sebelum keberadaan Sayyid Djamaluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.

Berkata Guru Muhammad Baharudin bin Marsal ( Beliau keturunan Syarifah asal Amawang) bahwa "Habib Djamaluddin adalah orang yang paling berprngaruh, Sayyid Djamaluddin, ia adalah orang yang paling alim dan ia orang yang paling berpengetahuan ilmu agama dan paling berpengaruh diantara semua penghuni makam di Kampung Balai Ulin ini, Ia memperoleh pengajaran langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya, hal ini kalau bisa disembunyikan."

Menurut folklor ceritera datu dan nenek kami bahwa “Berkata sebahagian orang Lumpangi masa itu bahwa Tiada ada Orang yang memilki keilmuan yang paling dalam dan luas tentang Islam kecuali dimiliki oleh Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf". Ia memperoleh pengajaran dan bimbingan (suluk, riiyadhah) ilmu Islam langsung dari ayahnya, kakeknya dan pamannya.

Dilansir dari berbagai sumber atau data, bahwa suku Dayak memiliki berbagai tradisi unik, tetapi tradisi tersebut ditinggalkan oleh Dayak Pegunungan Maratus dan sebab Tradisi-tradisi Adat itu telah dibatalkan dan dihapuskan Kamis, tanggal 21 Agustus 1760 Masihi atau bertepatan dengan 10 Muharram 1174H dimasa keberadaan dan kebersamaan Sayyid Lumpangi (Sayyid Djamaluddin), Ahmad Djalaluddin dan Sayyid Ahmad Suhuf anaknya, pembatalan dan penghapusan tersebut disetujui oleh Pang Ayuh, Bambang Basiwara dan Diang Aluh Gunung selaku Ahli Warisnya. Adapun tradisi dimaksud yaitu :

  1. Tradisi memuliakan Tamu Nginap,
  2. Tradisi Kuping Panjang,
  3. Tradisi Tato (rajah adalah simbol kekuatan),
  4. Tradisi Tiwah (ialah upacara kematian) atau membuang bangkai,
  5. Tradisi Ngayau adalah Tradisi berburu kepala manusia.
  6. Tradisi Penguburan :penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat, penguburan di dalam peti batu (dolmen), penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang. Yang dilastarikan dikubur dalam tanah,  
      


a. Dukungan Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung Kepada Putra Mahkota Muhammad Aliuddin Aminullah.

Kalau kita kaitkan Keberadaan Sayyid Muhammad Djamiluddin, Sayyid Ahmad Djalaluddin dan Sayyid Ahmad Suhuf Assegaf sa’at pembatalan dan penghapusan beberapa Tradisi Adat Dayak Pegunugan Meratus, tgl.21 Agustus 1760 Masihi/1174H di Lumpangi tidak terlepas dari ceritera atau bersamaan dengan masa perebutan kekuasaan Sultan Banjar yakni Pangeran Amir dengan Pangeran Nata Alam. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir. Pangeran Amir adalah anak Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang gagal naik tahta Kesultanan Banjar pada tahun 1761 Masihi selaku ahli waris yang Sah. Walaupun ia mendapat dukungan penuh dari seorang Ulama Besar Syaikh Sayyid Abdul Hamid bin Sayyid Amir Musa (Datu Abulung) memiliki paham tasawuf Wahdatul Wujud yang dipengaruhi aliran ittiihad Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj, Datu Abulung yang masyhur dan Ulama berpegaruh di Kesultanan Banjar sa’at itu. Pangeran Amir, ia diusir oleh walinya sendiri. Pada mulanya Pangeran Nata Alam, yang bekerja sama penjajah dan dengan dukungan Belanda memaklumkan (mengokohkan) dirinya sebagai Sultan Tahmidullah III. Adapun kekuasaan masa pemerintahan Sultan ini dari tahun 1761–1801 M. Ia adalah anak selir sehingga dianggap tidak layak mewarisi takhta. Terlebih lagi, Pangeran Hidayatullah sebagai pewaris takhta yang sah masih hidup. Setelah Sultan Hidayatullah ditipu Belanda dengan terlebih dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan kemudian ia diasingkan ke Cianjur. Gesekan ini menimbulkan gerakan Muning, yang menjadi pemicu Perang Banjar pada 1859..(Artikel "Raja-Raja Kesultanan Banjar").

Sultan Tahmidullah II, (1761-1801M) dikenal juga sebagai Tamjidillah III, atau Sulaiman Saidullah I, atau Sunan Nata Alam adalah Sultan Banjar yang memerintah pada tahun 1761 hingga 1801 Masihi, menggantikan sepupunya, Muhammad Aliuddin Aminullah yang gagal naik tahta Kesultanan Banjar pada tahun 1761 Masihi selaku ahli waris yang Sah. Pemerintahannya berhasil mempertahankan kedaulatan dan pengaruh absolut sultan, yang menyebabkannya diakui sebagai salah satu Sultan Banjar terbaik.

 


b. Sekilas tentang Tasawuf Wahdatul Wujud yang dianut Syeikh Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung).

Syeikh Sayyid Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung memiliki paham tasawuf Wahdatul Wujud yang dipengaruhi aliran ittiihad Abu Yazid Al-Busthami dan Al-Hallaj yang masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al-Sumatrani, dan Syaikh Siti Jenar. Dalam mengembangkan paham tersebut, dia mengenalkan ajaran "Ilmu Sabuku", yaitu ilmu tasawuf yang menyatukan antara Tuhan dan hamba. Menurut K.H. Irsayd Zein (Abu Daudi). inti Ilmu Sabuku dari Syaikh Abdul Hamid Abulung sebagai berikut haqiqat hati dalam Tahlil dzikir pertama adalah (لَآإِلٰهَ إِلَّا اللهُ) La ilaaha illallah (pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah).

Tiadalah maujud melainkan hanya Dia,

Tiada wujud yang lainnya,

Tiada aku melainkan Dia,

Dialah-Aku, Aku adalah Dia.

Kemudian, ilmu ini diajarkan kepada murid-muridnya yang berjumlah sepuluh orang, di mana mereka mengembangkan ilmu tersebut meskipun Datu Abulung telah dihukum mati oleh Sultan Tahmidullah II.

 

c. Hubungan Datu Abulung dengan Kesultanan Banjar dan Desas-desus politik Kesultanan.

Kesempatan Datu Abulung dalam mengembangkan ajarannya mulai membuat hubungannya dengan Sultan Tahmidullah II dan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari menjadi tidak harmonis. Hal ini berujung pada perintah hukuman mati oleh sultan akibat tidak menaati perintah sultan untuk menghentikan ajarannya. Dalam perintah hukuman mati tersebut, Sultan Tahmidullah II meminta pendapat Datu Kalampayan terlebih dahulu. Menurut Datu Kalampayan, sultan harus bernegosiasi dengan Datu Abulung dan jika dia tidak menerima, maka keputusan diserahkan kepada sultan.

Perlawanan Syaikh Sayyid Abdul Hamid bin Sayyid Amir Musa (Datu Abulung) terhadap Sultan Tahmidullah II sangat mungkin berkaitan dengan memanasnya suhu politik kesultanan, khususnya berkaitan dengan tuntutan Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah atas takhta kesultanan. Dalam kasus ini, Datu Abulung kemungkinan mendukung pangeran sehingga hanya dia yang berhak memanggil Datu Abulung ke istana karena menurut Syaikh Sayyid Abdul Hamid bin Sayyid Amir Musa bin Sayyid Muhammad (Datu Abulung), pangeran lebih berhak mewarisi takhta ketimbang sultan Tahmidullah II yang berkuasa pada saat itu. Atas dukungan Syaikh Datu Abulung pada tahun 1760M, Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah menuntut haknya sebagai pewaris takhta kesultanan dari Sultan Tamjidillah yang merupakan paman dan mertuanya sendiri. Namun, pada tahun 1761, Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah meninggal dan meninggalkan beberapa anak yang berhak menjadi sultan, yaitu Pangeran Abdullah, Pangeran Rahmat, dan Pangeran Amir. Pangeran Abdullah dan Pangeran Rahmat mati tercekik, sedangkan Pangeran Amir berpura-pura menunaikan haji ke Makkah agar dia dapat bertemu pamannya, Arung Turawe dari Paser dan merebut Martapura. Perebutan kekuasaan tersebut akhirnya dimenangkan oleh Sultan Tahmidullah II.

Sikap Sultan Tahmidullah II dalam hal perebutan takhta kesultanan atas keturunan Sultan Hamidullah, rupanya tidak disenangi oleh Syaikh Datu Abulung, sehingga kedudukannya (Sultan Tahmidullah II) tidak didukung oleh Syaikh Datu Abulung. Hal ini dikarenakan Sultan Hamidullah membiayai Datu Abulung dalam menuntut ilmu ke Haramain (Mekkah-Madinah), sehingga Datu Abulung mendukung Pangeran Aliuddin Aminullah bin Sultan Hamidullah untuk menjadi Sultan Banjar. Terlebih lagi, Sultan Tamjidillah dinilai bersahabat dengan Belanda dan melakukan perjanjian kontrak yang pada 18 Mei 1747 yang isinya bahwa Belanda berhak mendapat monopoli lada, emas, dan intan. Mengingat perjanjian yang lebih menguntungkan Belanda dan elit kesultanan ketimbang masyarakat Banjar, khususnya dari kalangan pedagang, Datu Abulung bersikap lebih kritis terhadap elit kesultanan sehingga sering dianggap para elit tersebut sebagai pembangkangan.


d. Thariqat yang dianut oleh Syaikh Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung).

Syaikh Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung) termasuk orang yang menganut aliran thariqat Naqsabandiyah, di mana dia juga menyebarkan thariqat tersebut di sepanjang aliran Sungai Martapura, mulai dari Sungai Tabuk, Abulung, Lok Buntar, Lok Baintan, Sungai Batang, Sungai Rangas, dan sekitar aliran Sungai Riam Kiwa. Salah satu ajarannya yang dikenal masyarakat yaitu dzikir "banasib dengan bapajah lampu", dimana dalam praktiknya, memadamkan lampu sa’at dzikir sangat lazim dilakukan, khususnya dzikir yang diiringi dengan nasyid, sehingga sering disebut "dzikir dengan bapajah lampu". Sepeninggalan Datu Abulung, dzikir ini disebarkan oleh murid-muridnya dan diteruskan dari generasi ke generasi.

e. Sanad Silsilah ath-Thariqat an-Naqsabandiyah Datu Abulung.

Salah satu orang yang mengembangkan thariqat dzikir ini di antaranya Abu Hasan Haji Abdullah Mu'ti yang belajar kepada Haji Muhammad Nur dari Takisung (meninggal pada tahun 1993). Lalu, Haji Muhammad Nur ini belajar ilmu ini kepada Haji Ibrahim Hawranie. Lalu, Haji Muhammad Nur belajar ilmu ini kepada Haji Muhammad Amin. Kemudian, Haji Muhammad Amin belajar ilmu ini kepada ke Haji Abdullah Khatib. Lalu, Haji Abdullah Khatib belajar ilmu ini kepada Haji Abdul Hamim yang belajar ilmu ini dengan Syaikh Abdul Hamid Abulung.

Pangeran Antasari, yang merupakan keturunan dari Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah, yang tinggal di Antasan Senor, disinyalir nerupakan pengikut thariqat ini, sekaligus pengikut thariqat Samaniyah yang dikembangkan oleh Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.


f. Silsilah nasab ke-Sayyidan Syaikh Abdul Hamid Al-Maghribi

Marga Al-Maghribi Al-Hasani :

Keturunan dari Al-Quthub Syaikh Abdussalam bin Masyisy, Wali Agung dari Maroko Guru Murabbi Mursyid Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili Al-Hasani semoga Tuhan meridhoi mereka berdua.

إنه أبو محمد سيدي عبد السلام بن مشيش- وقيل ابن بشيش- ابن أبي بكر بن علي ابن حرمة بن عيسى بن سلام بن مزوار بن علي بن محمد بن مولانا إدريس دفين فاس، ابن مولانا إدريس دفين زرهون، وفاتح المغرب، ابن مولانا عبد الله الكامل بن مولانا الحسن المثنى بن مولانا الحسن السبط بن سيدنا علي ومولاتنا وسيدتنا فاطمة الزهراء بنت سيد العالمين، عليهم من ربهم جميعا الصلاة والسلام*

Dia adalah Abu Muhammad Sayyidi Abd al-Salam ibn Masyisy—atau, seperti yang dikatakan sebagian orang, ibn Basyisy—ibn Abi Bakr ibn Ali ibn Hurmah ibn Isa ibn Salam ibn Mazwar ibn Ali ibn Muhammad ibn Mawlana Idris, dimakamkan di Fez (Fasi), ibn Mawlana Idris dimakamkan di Jarhun, Dan penakluk Maroko, putra dari tuan kita Abdullah al-Kamil ibn Maulana al-Hasan al-Musanna bin Maulana al Hasan al-Sibth ibn tuan kita Ali dan nyonya kita Fatima al-Zahra putri dari Pemimpin Alam Semesta, semoga shalawat dan salam Tuhan mereka tercurah kepada mereka semua.

كان مولاي عبد السلام ولد سنة (559ھ/1198م) بالحصين،[ إذ ينحدر من قبيلة بني عروس، كان معروفا بذله لله تعالى، وبتواضعه بين الخلق، كان إقباله على الله وإدباره عن الخلق سمة من سماته، عاش في بيئة سليمة، وترعرع بين أحضان أسرة كريمة من آل البيت التزمت بدين الله وشرعه.

Maulay Abd al-Salam ibn Masyisy, Dia lahir pada tahun 559 H/1198 M di al-Hushayni, karena dia berasal dari Kailah suku Banu Arus. Dia dikenal karena ketaatannya kepada Allah Yang Maha Kuasa dan kerendahan hatinya di antara manusia. Salah satu ciri khasnya adalah sikapnya yang berpaling kepada Allah dan menjauhkan diri dari manusia. Ia hidup dalam lingkungan yang baik dan dibesarkan di tengah keluarga bangsawan dari keluarga Nabi yang taat pada agama dan hukum Allah. Idris, dimakamkan di Zerhoun, dan penakluk Maroko, ibn Mawlana Abdullah al-Kamil ibn Mawlana al-Hasan al-Mutsanna ibn Mawlana al-Hasan,.

Kalaw kita lihat urutan Silsilah Nasab ke-Sayyidan-nya Sayyid Djamaluddin urutan ke-30 dan Sayyid Ahmad Suhuf urutan ke-31 diurut dari Rasulullah Saw, Fatimah az-Zahra, terus Hasan-Husain terus Hasan Al-Mutsanna - ‘Ali Zainal ‘Abidin terus ke bawah sd. Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung) juga menjadi urutan nasab ke-31.

Adapun Silsilah nasab ke-Sayyidan Syaikh Abdul Hamid Al-Maghribi (Datu Abulung) :

  1. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam
  2. binti Fatimah Az-Zahra dan Ali Karamallahu Wajhah
  3. bin Hasan Al-Mujtaba
  4. bin Hasan Al-Mutsanna
  5. bin Abdullah Al-Kamil
  6. bin Maulay Idris Al-Akbar
  7. bin Maulay Idris Al-Ashgar
  8. bin Muhammad
  9. bin Ali Al-Haidarah (‘Ali)
  10. bin Mizwar (Mazwar)
  11. bin Sulaiman As-Salam (Salam)
  12. bin 'Isa
  13. bin Muhammad Al-Harmah (Hurmah)
  14. bin Ali
  15. bin Sayyidi Syarif Abu Bakar
  16. bin Masyisy atau (Basyisy)
  17. bin Quthubul Sayyidi Maulay Abdussalam Al-Maghribi (Maroko)
  18. bin Sayyidi Ahmad
  19. bin Syaikh Mahzub Qasim
  20. bin Yusuf
  21. bin Sayyidi Ahmad
  22. bin Syaikh Abul Hasan Ali
  23. bin Ahmad Al-Hakari
  24. bin Hasan
  25. bin Ali
  26. bin Muhammad
  27. bin Qasim
  28. bin Alamuddin Abul Rabi Sulaiman
  29. bin Sayyidi Muhammad
  30. bin Amir Musa
  31. Syaikh Abdul Hamid Al-Maghribi (Datu Abulung)

انه الشيخ عبد الحميد المغرب ( داتوابولوغ) ابن عامر موسى ابن سيدي مُحَمَّدٌ ابن علام الدين ابوالربّ سُلَيْمن ابن قاسم ابن مُحَمَّدٌ ابن علي ابن حسن ابن احمد هنكارى ابن الشيخ ابو الحسن علي ابن احمد ابن يوسف ابن الشيخ محجوب قاسم ابن سيدي احمد ابن أبو محمد سيدي عبد السلام بن مشيش*

g. Tentang Hukuman mati Sayyid Abdul Hamid (Datu Abulung)

Berdasarkan data pernikahan,  kelahiran dan wafat dari anak, cucu dan dzuriat Syaikh : bahwa kepulangan tercatat dalam Biografinya Muhammad Arsyad al Banjari tiba sekitar pada Bulan Ramadhan 1165 H/ Juli 1752 M, Syaikh sudah berada di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu. Mungkin sekitar tahun 1761 Masihi yang sebelumnya Syaikh Muhammad Arsyad  menjabat Mufti Kecil dinaikkan / diangkat menjadi Mufti Besar oleh Sultan Tahmidullah II di Kesultanan Banjar pada sa’at itu.

Menurut Artikel yang pernah seorang Ulama yang sangat berpegaruh di Kesultanan Banjar saat itu, ia pendukung utama Muhammad Aliuddin Aminullah Putra Mahkota yang syah menuntut untuk naik tahta Raja sa’at itu, dan ia juga seorang penganut ajaran Wujudiyah, yang dianggap menyimpang oleh para ulama Sunni saat itu. Wujudiyah adalah ajaran yang menekankan pada aku baca bahwa Micheal Laffan juga mengungkap fakta sejarah bahwa salah satu momen penting dalam sejarah hidup Syaikh Muhammad Arsyad ialah kampanyenya melawan shahabatnya sendiri yakni Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung, penyatuan eksistensi antara manusia dengan Tuhan.

Datu Abulung mengajarkan ilmu yang didapatnya kepada masyarakat sekitarnya sudah lama seperti ilmu Tasawuf. Namun ilmu Tasawuf yang beliau ajarkan kepada orang awam ini sangat berlainan dengan pelajaran Tasawuf yang selama ini dikenal masyarakat, karena beliau langsung mengajarkan inti dari ilmu Ma'rifat. Datu Sayyid Abulung mengajarkan bahwa : "Tiada yang maujud hanya Dia dan Tiada maujud lain-nya, Tiada aku melainkan Dia dan Dia adalah aku dan Aku adalah Dia". Dalam pelajaran Datu Sayyid Abulung juga diajarkan bahwa Syariat yang diajarkan selama ini adalah kulit, belum sampai kepada isi (Hakikat). Sedangkan pelajaran yang selama ini diyakini masyarakat umum adalah "Tiada yang berhak dan patut disembah selain Allah, Allah adalah khalik dan selainnya adalah makhluk, tiada sekutu bagi-Nya."

Ajaran Datu Sayyid Abulung ini kurang lebih seperti ajaran Abu Yazid al-Bustami, Husein bin Mansyur al-Hallaj yang kemudian masuk ke Indonesia melalui Hamzah Fansuri dan Syamsuddin di Sumatera dan Syaikh Siti Jenar di Jawa.

Mendengar fatwa Datu Sayyid Abulung yang berbeda dari kebanyakan paham masyarakat pada waktu itu, maka gemparlah masyarakat yang menerima ajaran tersebut, bahkan ajaran yang beliau sampaikan menjadi pembicaraan masyarakat umum yang mana akhirnya sampai ke telinga Sultan. Sebelum Datu Abulung dipanggil, Sultan terlebih dahulu minta pendapat Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari tentang ajaran Datu Abulung tersebut. Setelah menelaah beberapa kitab dan kemudian disimpulkan bahwa ajaran yang dibawa Datu Sayyid Abulung dapat menyesatkan masyarakat dan bisa merusak kehidupan beragama.

Berdasarkan keputusan tersebut maka dipanggillah Datu Sayyid Abulung, salah seorang prajurit kerajaan disuruh untuk mendatanginya. Sesampai di tempat Datu Abulung lalu dipanggillah beliau.

Satu riwayat menceritakan bahwa pemanggilan tersebut, prajurit itu berkata : "Wahai Syaikh Abdul Hamid, anda dipanggil oleh baginda Sultan," kemudian dijawab oleh Datu Abulung, "Syaikh Abdul Hamid tidak ada, yang ada hanya Allah. " Mendengar hal tersebut, prajurit pulang dan mengadukannya kepada Sultan. Kemudian Sultan menyuruh kembali dan memanggil "Allah" tersebut. Setelah sampai, prajurit itu berkata "Wahai Allah, anda dipanggil baginda Sultan," kemudian dijawab kembali oleh Datu Abulung "Allah tidak ada, yang ada hanya Nur Muhammad." Mendengar hal tersebut, prajurit kembali lagi dan mengadukannya ke Sultan. Kemudian Sultan berkata "Panggil ketiganya, Syaikh Abdul Hamid Abulung, Allah, dan Nur Muhammad". Setelah prajurit tersebut memanggil seperti yang diperintahkan Sultan, barulah Datu Abulung memenuhi panggilan Sultan pergi menuju istana. Datu Abulung ditangkap oleh pihak/petugas kesultanan karena menyebarkan ajaran Wahdatul Wujud.

Di tengah perjalanan menuju istana dipasangkan perangkap yang apabila diinjak maka melesatlah sebilah tombak tajam yang akan menghujam ke tubuh orang yang menginjaknya. Saat itu terbukti kebenaran ajaran Datu Abulung, ketika beliau menginjak perangkap tersebut tombak tajam itu memang melesat dengan cepatnya ke udara dan berhenti tepat di belakang Datu Abulung dan jatuh ke tanah tanpa beliau mengetahuinya.

Setelah beliau sampai di istana dan terjadilah tanya jawab, perdebatan yang dihadiri Pembesar Istana dan tokoh Agama, Sultan ingin bukti kebenaran ajaran Datu Sayyid Abulung, kemudian Datu Sayyid Abulung berucap "Asyhadu allaa ilaha illallah" tiba-tiba tubuh beliau menghilang dari kasat mata, kemudian beberapa sa’at kemudian terdengar suara "Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah" timbullah kembali badan beliau. Semua orang terpesoa dan kagum melihat hal tersebut, tetapi para tokoh Agama salah satunya  Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari sa’at itu musyawarah mupakat dengan menimbang untuk keselamatan orang awam yang lebih banyak maka dihukumlah Datu Sayyid Abulung.

Dalam riwayat Hukuman Pertama

h. Hukuman Pertama Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung ditenggelamkan ke Dasar Sungai Lok Buntar.

Datu Abulung dengan dimasukkan ke dalam kerangkeng besi yang ukurannya hanya muat tubuh beliau dan hanya cukup untuk berdiri. Dengan kurungan seperti itu akhirnya beliau ditenggelamkan di sungai Lok Buntar, maka akhirnya tenggelamlah sampai ke dasar sungai.

Tanpa diketahui oleh semua orang suatu kejadian aneh terjadi, apabila tiba waktu sholat fardhu maka kerangkeng tersebut akan muncul ke permukaan dan beliau kemudian keluar dari kerangkeng tersebut untuk melakukan sholat. Selesai sholat, secara perlahan kerangkeng tersebut tenggelam kembali ke dasar sungai. Ada suatu riwayat yang mengatakan bahwa sewaktu dia ingin melaksanakan salat Shubuh, tiba-tiba kurungan besinya terangkat sampai di permukaan air sungai, sehingga dia salat di atas permukaan air. Ketika dia selesai menunaikan salat, dia masuk ke kurungannya dan kurungannya tersebut tenggelam kembali. Hal ini terjadi berulang kali atau terus menerus ketika waktu salat lima waktu telah tiba dan pernah disaksikan oleh beberapa orang, termasuk sepuluh orang pencari ikan yang kelak menjadi muridnya.

Pada suatu malam menjelang subuh, sepuluh orang pencari ikan melakukan aktivitasnya di sekitar tenggelamnya Datu Abulung. Lamat-lamat mereka mendengar suara adzan, perlahan-lahan mereka dekati sumber suara adzan tersebut, dari kejauhan mereka melihat dan mengamati keganjilan dan keanehan Datu Abulung tersebut. Sejak saat itu mereka mengangkat beliau menjadi guru mereka, dari beliau mereka belajar berbagai ilmu agama islam. Karena jumlah mereka sepuluh maka dinamakanlah Orang Sepuluh atau sekarang orang menyebutnya Datu Sepuluh. Setelah belajar, datu sepuluh ini menjadi pegawai kerajaan.

i. Tragedy Hukuman mati akibat konflik Politik salah Dukungan di Kesultanan Banjar

Melihat kejadian tersebut, sultan memanggil Datu Sayyid Abulung untuk mengubah hukumannya menjadi hukuman mati dengan cara dipenggal kepalanya. Menurut suatu riwayat, Datu Sayyid Abulung berkata bahwa dia tidak dapat dibinasakan (dibunuh) dengan alat apapun dan jika sultan ingin membinasakannya (membunuhnya), dia harus menggunakan senjata yang ada di dinding rumahnya dan menancapkannya di pergelangan tangannya. Oleh karena itu, sultan memerintahkan ajudannya untuk mengambil senjata tersebut dan menggunakannya untuk menghukum Datu Abulung. Ketika Datu Abulung hendak dieksekusi, dia meminta izin kepada sultan untuk melaksanakan salat dua rakaat dan saat sujud salat rakaat kedua itulah, eksekusi dilakukan dengan menusukkan senjata di pergelangan tangannya oleh petugas kesultanan. Ketika sultan menengok ruang eksekusi, dia melihat ceceran darah dari urat nadi pergelangan Datu Sayyid Abulung yang membentuk tulisan "Laa Ilaaha Illallah, Muhammadur Rasulullah" (Tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah). Selain itu, sultan melihat tubuh Datu Sayyid Abulung dalam keadaan tidak bernyawa dengan posisi sujud. Cerita eksekusi Datu Abulung ini memiliki kemiripan dengan cerita kematian Syaikh Siti Jenar dari Jawa dan Al-Hallaj dari Irak.

Menurut Artikel yang pernah aku baca bahwa Micheal Laffan juga mengungkap fakta sejarah bahwa salah satu momen penting dalam sejarah hidup Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, (beranjak dari jabatan Mufti Kecil) hingga ketika ia baru diangkat sebagai Mufti Besar oleh Sultan Tahmidullah II ialah kampanyenya melawan pengaruh Syaikh Sayyid  Abdul Hamid Abulung, seorang Ulama yang berpengaruh di Kesultanan Banjar saat itu, dan ia pendukung Putra Mahkota Muhammad Aliuddin Aminullah untuk naik tahta raja yang syah di Kesultanan Banjar, Putra Mahkota memerintah setelah melakukan kudeta (pemberontakan) terhadap mertuanya, Tamjidillah I, yang merupakan ahli waris takhta sementara sa’at itu. Salah satu politik Sultan Tamjidillah II (1761-1801M)  yang berkuasa saat itu, meyingkirkan pendukung utamanya dulu yaitu Datu Sayyid Abulung seorang penganut ajaran Wujudiyah, yang dianggap menyimpang oleh para ulama Sunni saat itu. Wujudiyah adalah ajaran yang menekankan pada penyatuan eksistensi antara manusia dengan Tuhan.

Syaikh Sayyid Abdul Hamid Abulung, haulnya diperingati setiap tanggal 12 Dzul Hijjah. Dia wafat diperkirakan anggal: Rabu, 15 Juli 1761 Masehi dan tanggal hijriyah: 12 Dzulhijjah 1174 Hijriyah, dimakamkan di Kampung Abulung, yaitu kini berada di Kecamatan Sungai Batang, Martapura Barat, Kabupaten Banjar.

Referensi :

  1. Artikel “Abdul Hamid Abulung al-Banjari” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas./ https://id.wikipedia.org/wiki/Abdul_Hamid_Abulung_al-Banjari
  2. Artikel “Pengubah Tanggal Masehi dari/ke Hijriyah” //https://www.al-habib.info/kalender-islam/pengubah-tanggal-lahir-kalender-hijriyah.htm
  3. Artikel “Hamidullah dari Banjar” https://en.wikipedia.org/wiki/Hamidullah_of_Banjar
  4. Artikel “Mengenal Thariqat Samaniyah: Pendiri, Ajaran, dan Adabnya” //Sumber: https://islam.nu.or.id/tasawuf-akhlak/mengenal-thariqat-samaniyah-pendiri-ajaran-dan-adabnya-HTLUX
  5. Artikel “Terokai Sufi, Hakikat dan Makrifat” // http://delisufi.blogspot.com/2012/08/thariqat-khalwatiyyah-bahagian-1.html
  6.   Artikel “Manaqib Syekh Abdul Hamid Abulung al-Banjari”// http://nursakunti.blogspot.com/2017/11/manaqib-syekh-abdul-hamid-abulung-al.htmlManaqib Syekh Abdul Hamid Abulung al-Banjari


07.  Wafatnya Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shaafy bin Abdurrahman Assegaf.

Dilansir dari berbagai sumber atau data, bahwa suku Dayak memiliki tradisi adat yang unik, seperti  Tradisi memuliakan Tamu Nginap, Tradisi Kuping Panjang, Tradisi Tato (tradisi Batato), Tradisi Tiwah (tradisi Batiwah), Tradisi Ngayau, dan  Sebagian tradisi Penguburan Mayat tetapi ke-6 tradisi tersebut ditinggalkan oleh Dayak Pegunungan Maratus dan tradisi itu telah dibatalkan dan dihapuskan sekitar 21 Agustus tahun 1760 Masihi atau 10 Muharram 1174H oleh Sayyid Djamaluddin, Ahmad Djalaluddin, Ahmad Suhuf disetujui oleh Ahli Warisnya yakni Pang Ayuh, Bambag Swara dan Diang Aluh Gunug sebagai Perwakilan Dayak Pegunungan Maratus s’at itu.

 

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin Assegaf atau dipanggil sehari-harinya "Ahmad" Ia wafat Ahad,13 Jumadil Awal 1211H/ 1796M di usia 60 tahun dan dimakamkan berdampingan dengan isterinya Diang Galuh Siti Aminah di kampung Balai Ulin Desa Lumpangi Loksado. Titik Koordinat, makam lat 2,80926, long 115,41769,  144,7m, 134 derajat.. 

Penulis hanya berharap dan mendo’akan semoga Allah Swt mema’afkan dan mengampuni kesalahannya, kesalahan – kesalahan orang tuanya, kesalahan datuk-neneknya, dan kesalahan – kesalahan orang-orang yang pernah dekat dengannya dan kesalahan – kesalahan dzuriat-dzuratnya hingga akhir zaman, begitu juga semoga Allah Swt mengampuni dosa-dosa kita dan dosa-dosa orang-orang muslimin dan muslimat semuanya. Aamiin Aamiin yaa rabbal .aalamiin.


Daftar Isi Bab ke-VI.

VI. Biografi Sejarah Singkat Rekam Jejak Sayyid Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.

01. Kelahiran Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.

02. Menerima (Menimba) Ilmu Agama Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.

03. Silsilah Nasab Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw.

04. Perkawinan Habib Abu Bakar ats-Tsani  Assegaf dengan Umi Salamah (Dayak Diang Gunung).

05. Dayak Bambang Basiwara dan adik kandungnya Diang Gunung menerima hidayah Islam.

06. Perkawinan Habib Abu Bakar as-Tsani  dengan Wanita lain asal kampung Batu Tangah.

07. Keberadaan Syekh H. Ahmad bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Balimau di Abad ke-19 Masihi mulai tahun 1805 Masihi.

08. Buyut Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf yang Terkonvermasi dan Tercatat.

09. Sebelum Keberadaan Syekh H. Sa'duddin masyarakat kampung Taniran sudah dididik dan dibina Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Datu Habib Lumpangi di Kec. Loksado Kab. HSS.

10. Keberadaan Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Taniran di Abad ke-19 Masihi mulai tahun 1812 Masihi. 

11. Habib Abu Bakar ats-Tsani , Beliau Tutup Usia wafat dengan usianya yang panjang lanjut.


VI. Biografi Sejarah Singkat Rekam Jejak Sayyid Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.


Mengunjungi objek wisata memang menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pengunjung dan menambah wawasan bagi Pengunjung, apalagi dapat menghilangkan kejenuhan dan kepenatan pekerjaan rutinitas sehari-hari. Jangan salah loh, mengunjungi tempat wisata menarik tak harus ke luar daerah yang membutuhkan banyak biaya. Masalahnya di Hulu Sungai Selatan terdapat beberapa objek wisata menarik dan mempesona, dijamin Anda dan keluarga bahagia menikmatinya. Salah satunya mengunjungi destinasi perbukitan batu Langara dan makam religi Habaib keluarga Assegaf Lumpangi Loksado, yang menawarkan keindahan alam luar biasa bagi siapa pun yang berkunjung mungkin tak ada salahnya menyiapkan rencananya sejak saat ini.

Keberadaan dan kebersamaan khususnya Usia Sayyid Abu Bakar ats-Tsani (lhr.1779 M) tidaklah jauh berbeda dengan usia Syaikh Datu Ahmad Balimau (lhr.1775 M) dan usia Syaikh Muhammad Thaib (Sa’aduddin Datu Taniran, lhr.1779 M), mereka sama-sama mengabdikan dan mewakafkan diri mereka untuk pengembangan dan kemajuan agama Islam khususnya di Desa tempat tinggal mereka masing-masing dan umumya diwilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan. 


01. Kelahiran Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad01 Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.

 

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Habib Abu Bakar ast-Tsani adalah anak pertama dari pasangan suami isteri Habib bin Ahmad Suhuf Assegaf dengan Diang Galuh Aminah, asal desa Muara Lumpangi, pasangan suami isteri ini menikah Kamis, 12 Jumadil Akhir 1191H / 1777M. kemudian setahun  dari pernikahan itu lahir hari Senin, tgl. 6 Jumadil Akhir 1193H / 21 Juni 1779M yang diberinama Sayyid Abu Bakar ats-Tsani.

Namun versi lain juga menyebutkan Sayyid Abu Bakar ast-Tsani lahir hari Jum’at, 13 Dzulhijjah 1192H/ 01 Januari 1779 Masihi di Lumpangi. Dan Abu Bakar ast-Tsani  adalah keturunan ke-3  atau cucu tersayang Habib Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar (Habib Lumpangi) Ia adalah buyut dari Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shaafy Assegaf.

Sedangkan nama Abu Bakar adalah  nama pemberian dari kedua  orang tuanya. Dan ia menjadi nama panggilannya sehari-hari, ats-Tsani artinya yang kedua, yang disisipkan dibelakang namanya. Hal ini diberikan adalah sebagai nama pembeda dengan Datuknya Sayyid Abu Bakar. Oleh karenanya ia juga berwajah-serupa dan postur tubuhnya dan prilakunya persis sama dengan Datuknya Sayyid Abu Bakar Assegaf. Maka orang-orang sekelilingnya dan sahabatnya menyebutnyai "Abu Bakar as-Tsani" yakni " Abu Bakar yang kedua".


02. Menerima (Menimba) Ilmu Agama Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf.

Sayyid Abu Bakar ast-Tsani  adalah seorang anak cerdas dan  shalih yang membanggakan orang tuanya, ia memperoleh pengajaran ttg Islam langsung dari ayah dan kakeknya.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Abu Bakar ast-Tsani  Assegaf mendapatkan pengajaran Agama langsung dari : - Diang Galuh Aminah ibunya, - Ahmad Suhuf ayahnya, - Muhammad Djamiluddin dan Ahmad Jalaluddin  kakeknya. Dan guru-guru agama disekitarnya. Sejak kecil iapun telah membekali dirinya dengan giat belajar ilmu-ilmu agama kepada orang yang lebih tua dari nya, juga kepada orang lain tentang ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat. Oleh karenanya ia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Ia adalah seorang yang shaleh,  dan ia seorang yang ta’at yang memelihara iman dan islam, ia amat kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah bathin lainya.


03. Silsilah Nasab Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw.

Adapun Silsilah Nasab Sayyid Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin (Djamaluddin) Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar ash-Shoufy Assegaf sebagai berikut :

الْحَبِيْب اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف  بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ  بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله


04. Perkawinan Habib Abu Bakar ats-Tsani  Assegaf dengan Umi Salamah (Dayak Diang Gunung)

Menurut ceritera Habib Muhammad Jamberi dan yang dikuatkan ceritera Habib Muhammad Burhanuddin bin Ahmad Baderi Assegaf yang saya temui dan saya wawancarai di kediamannya Desa Tabihi tentang asal sebahagian orang-orang Hulu Banyu menerima hidayah Islam. Dan beliau berceritera ceritera dari sepupunya Habib Muhammad Djamberi bin Ahmad Darani Assegaf bahwa Habib Abu Bakar as-Tsani adalah buyut Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf kawin dengan Umi Salamah (nama asal dayak : Diang Gunung) binti Bumbuyanin bin Ulang dari Hulu Banyu kampung Pantai Dusin yang telah menerima Islam (puteri ini adalah sepupu Habib). Hasil perkawinan ini menurunkan nasab, tiga anak laki-laki an. :

  1. Ibrahim (gelar Abu Tha'am),
  2. Abdul Lathif (gelar Abu Aly)
  3. Abdullah" (gelar Abu Tayau).

Adapun Abu Tha'am ibrahim menikah dengan Diang Tangang (Siti Rahmah) ia seorang wanita janda muda yang sudah punya anak ditinggal mati suaminya. ia cantik memikat hati Habib, ia bersal desa Tangang Bamban Kec. Angkinang, dari pernikahan tersebut Habib punya anak tunggal an. Muhammad (gelarnya Abuthair atau Ambutheir). setelah dewasa Abuthair Muhammad menikah dengan Siti Siadah atau Tiadah asal desa Amuntai dan Habib punya anak tunggal an. Tanqir Ghawa. Kemudian dari Abdul Lathif menurunkan anak an. Habib Aliadam adalah Datunya Habib Muhammad Djamberi Assegaf.

Kemudian untuk menambah kuatnya hubungan darah dan tali kekeluargaan, juga dilakukan oleh Habib Muhammad Djamiluddin Assegaf (Habib Lumpangi) diperkirakan w.1781 Masihi  mengawinkan cucunya Senin tgl. 10 Muharram 1213H atau bertepatan 25 Juni 1798 Masihi an. Habib Abu Bakar as-Tsani dengan anak sepupunya Tetuha Adat Dayak Bumbuyanin kampung Pantai Dusin, maka setelah dewasa Habib Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf dinikahkan dengan Umi Salamah (nama asal : Diang Gunung) binti Bumbuyanin bin Ulang. 


05. Dayak Bambang Basiwara dan adik kandungnya Diang Gunung menerima hidayah Islam

Malalui perkawinan Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad dengan Umi Salamah dengan Wali nikahnya kakaknya sendiri yakni Bambang Basiwara. Perkawinan ini terjadi Senin, tanggal 10 Muharram 1213 H / 25 Juni 1798 Masihi diakhir abad ke-18 Masihi dahulunya maka dengan Islamnya kedua kakak beradik tersebut telah diikuti oleh orang-orang suku dayak daerah Hulu Banyu Loksado, sebahagian mereka juga mendapat hidayah Islam. , .

Dengan berislamnya kedua kakak beradik an. Bambang Basiwara dan Diang Gunung (Umi Salamah) diikuti keluarga Dayak lainnya dan maka malalui perkawinan ini orang-orang suku dayak kampung Pantai Dusin Hulu Banyu di Kecamatan Loksado dulu, seperti 

  1. kampung Tar Mangkung, 
  2. kampung Tar Laga. 
  3. kampung Lambuk 
  4. kampung Tar Belimbing dan 
  5. kampung sebahagian Kemawakan menjadi Muslim. Dan juga diseberang Sungainya seperti 
  6. kampung Majulung, 
  7. kampung Ni'ih 
  8. dan kampung Tanuhi 
  9. kampung Hutap 
  10. kampung Tariban menjadi Muslim.  

Ulang sudah mengenal Islam dengan baik, dia adalah adik kandung Muhammad Langara yang belum muslim. Kemudian namanya diabadikan oleh masyarakat setempat / dzuriat anak cucunya menjadi nama kampung atau nama desa, maka bernamalah lokasi tempat kediamannya menjadi desa Ulang. Dia adalah seorang Dayak yang melahirkan suku Dayak Ulang didesa Ulang. Dan sebagian desa-desa sekitarnya menjadi muslim seperti kampung Tariban dan kampung Hutap, tetapi untuk desa Olang sendiri tahun 1970 an sudah dimasuki Agama Kristen.

Dan suku Dayak Bumbuyanin dan Bayumbung juga keturunan Ulang. Untuk mengenang Datunya maka dzuriat anak cucunya nama “Bumbuyanin” menjadi nama pada Balai Adat Dayak. Dinamakanlah Balai Adat dimaksud  dengan nama “Bumbuyanin”. Balai Adat tersebut sekarang yang beralamat /berlokasi di desa Kemawakan. Begitu juga nama Balai Adat Bayumbung yang berlokasi di Desa Halunuk.

Bumbuyanin adalah nama Tetuha Adat Dayak yang mempunyai 3 anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Dimasa kecilnya mereka bertiga pernah diutus atau dikirim orang tuanya ke Desa Lumpangi untuk menuntut Ilmu Islam kepada Habib Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf oleh karenanya mereka sangat mengenal Islam dengan baik. Dimasa pendidikan inilah Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf mulai mengenal dan menyukai Umi Salamah sepupunya.

Adapun anak Bumbuyanin yang pertama bernama Ayuh atau Datu Ayuh atau Dayuhan atau Sang Dayuhan, digambarkan orang bahwa dia seorang lelaki yang berfisik kuat, gemar berkelahi atau berperang tetapi kurang cerdas, mudah/gampang marah, sulit menerima hal-hal yang positif dan dia menurunkan suku dayak Gunung Meratus.

Sedangkan anak yang ke-2. Bambang Swara atau Bambang Basiwara. digambarkan orang bahwa dia berfisik agak lemah tetapi sangat homoris, punya otak berlian dan cerdas dan menerima hal-hal yang positif. Ketiga anak sudah mengenal Islam dengan baik tetapi Datu Ayuh belum berani berislam. Sebab takut kehilangan kesaktian-kesaktin yang dia miliki turun-temurun.

Dan yang ke-3 adalah perempuan bernama Umi Salamah (Diang Gunung), dia seorang puteri yang sangat cantik yang dinikahi oleh Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamaluddin bin Habib Abu Bakar Assegaf pada pertengahan abad ke-18 Masihi. Melalui perkawinan ini Bambang Basiwara sebagai wali dari adik perempuannya. Bambang Basiwara ini  ia menjadi seorang muslim dan dia menurunkan suku Banjar.

Versi lain ada yang punya berpendapat bahwa ceritera ketiga anak ini dikenal oleh sebagian masyarakat Dayak Maratus yang pertama bernama Ayuh atau Datu Ayuh atau Sang Dayuhan, dia seorang lelaki yang berfisik kuat, gemar berkelahi atau berperang tetapi kurang cerdas, sulit menerima hal-hal yang positif, sosok ini di sebut  Dayuhan. Yang ke-2. Bambang Swara atau Bambang Basiwara. dia berfisik agak lemah tetapi punya otak berlian dan cerdas dan menerima hal-hal yang positif dan sangat homoris, sosok ini dikenal dengan nama "Paluy" sedangkan yang ke-3 adalah perempuan bernama Diang Gunung, dia seorang puteri yang sangat cantik rupawan, sosok ini disebut "Intingan".

 

06. Perkawinan Habib Abu Bakar as-Tsani  dengan Wanita lain asal kampung Batu Tangah

Menurut sumber bahwa isteri Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf yang bernama Umi Salamah binti Bumbuyanin ketika berusia 44-60 tahun ia sudah sering sakit-sakitan hingga membawa maut dan ia punya 4 orang cucu an. Muhammad bin Ibrahim dan Aliadam, Abdul Karim dan Abdullah bin Abdullatif.

Namun disisi lain Habib Abu Bakar as-Tsani bahwa setelah isterinya (Umi Salamah binti Bumbuyanin) wafat diperkirakan usianya 60 tahun lebih maka ada kemungkinan dan diduga kuat Habib Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamaluddin Assegaf ini, Beliau menikah lagi dengan wanita  muda lain disisa usianya yang panjang sehingga pernikahan itu punya anak atau keturunan yang baru, selain keturunan yang telah kami sebutkan diatas yang belum kami gali dan belum kami ketahui kejelasannya dan juga nasab silsilahnya. Akan tetapi apabila ditelusuri artikel yang ditulis Saadilah Mursyid maka diduga kuat bahwa anak dari isteri barunya  asal kampung Batu Tangah dimaksud itu bernama Habib Husin dan Habib Ahmad dan menurut artikel dimaksud dzuriatnya masih ada dan tersebar hingga sa'at ini.

Kami belum mendengar tetapi yang lain ada yang tahu ceritera (keterangan) ini bahwa setelah isterinya (Umi Salamah binti Bumbuyanin) wafat diperkirakan usianya 60 tahun lebih maka Habib Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf ini, Beliau menikah lagi dengan wanita lain sehingga pernikahan itu punya anak atau keturunan yang lain (yang baru), selain tiga keturunan yang telah kami sebutkan yakni Ibrahim, Abdullatif dan "Aly dan keterangan tersebut belum kami gali dan belum kami ketahui kejelasannya. Akan tetapi kami hanya menelusuri artikel yang ditulis Saadilah Mursyid maka diduga kuat bahwa anak tersebut bernama Habib Husin dan Habib Ahmad dan menurut artikel dimaksud dzuriatnya masih ada dan tersebar hingga sa'at ini.

Adapun keturunan ke-3 dari Habib Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin M.Jamiluddin Assegaf yakni Habib Abdullah, nama kehormatannya Abu Ali / Abu Tayau adalah keturunannya yang ada di Lumpangi mereka belum ada yang tervalidasi hingga saat ini.

Menurut Al-Habib Burhan Noor bin Ahmad Baderi Assegaf dikediamannya Desa Tabihi Kec. Padang Batung, beliau bercerita kepada saya bahwa Ahmad Baderi ayah dan kakeknya Habib Tanqir  Ghawa, bercerita kepadanya bahwa "Abdullah" nama kehormatannya Abu Tayau, ia menikah 7 kali dengan wanita yang berbeda untuk mendapatkan keturunan (anak), pernikahannya yang pertama hingga ke-4, isteri dicerai lentaran tidak punya anak. Adapun pernikahannya ke-5 punya anak 3 orang, kemudian isterinya wafat. Kemudian pernikahannya yang ke-6 punya anak 1 orang, kemudian isterinya wafat. dan pernikahannya yang ke-7 punya anak /keturunan 5 orang, ia seorang pengembara hingga Pulau Emas.

 

07. Keberadaan Syekh H. Ahmad bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Balimau di Abad ke-19 Masihi mulai tahun 1805 Masihi.

Syaikh Haji Ahmad Lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1189H /1775M, dari penikahan Sayyid Utsman bin Muhammad bin Ismail dengan Syarifah binti Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari. Ia adalah cicit pertama dari ulama besar Kalimantan yaitu Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan.

Dikisahkan bahwa  Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari menikah dengan ma Puan Bajut, & mempunyai  dua orang anak perempuan bernama Syarifah (lhr.1735M) dan Aisyah (lhr. 1753M). Syarifah kemudian menikah dengan Sayyid Utsman dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Mufti H. Muhammad As'ad. Mufti H. Muhammad As'ad setelah dewasa ia menikah dengan wanita salihah bernama  Hamidah di Desa Balimau  Kec. Kalumpang Kab. HSS dan pasangan ini dikaruniai 12 orang keturunan /anak, salah satunya adalah Syaikh Haji Ahmad Balimau.

Syaikh Haji Ahmad Balimau Usia 20 tahun, sekitar 1209H/ 1795H, ia naik haji ke Mekkah al-Mukarramah dan sekaligus menuntut ilmu Agama di Haramain selama kurang lebih 10 tahun. Sekitar tahun 1219 Hijeriah / 1805 Masihi dari menuntut ilmu Agama di Haramain kemudian ia pulang ke kampung Dalam Pagar, Martapura. Di tahun kepulangannya Syaikh H. Ahmad, setelah dianggap oleh ayahnya dirinya sudah sanggup untuk mengemban amanah Allah untuk melanjutkan misi Rasululullah SAW, iapun dikawinkan terlebih dahulu di Martapura kepada seorang perempuan yang salehah puteri dari seorang alim, yaitu yang bernama Aisyah puteri Qadhi H Mahmud bin Asiah binti Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Menurut Artikel yang saya baca bahwa “Semua itu berpangkal diawali pada tahun 1806M/1220H, dimana Syaikh H. Ahmad (yang dulunya lahir dan menetap di kampung Dalam Pagar, Martapura) dikirim ke Balimau, kampung halaman ibundanya (an.Hamidah binti Abdullah, bamakam di Kubah Datu Taniran) untuk menyebarkan ilmu agama. Ia juga dikenal sebagai seorang mufti di Kesultanan Banjar, melanjutkan peran yang sebelumnya diemban oleh ayahnya. Syaikh H. Ahmad memiliki 11 anak yang keturunannya kini tersebar luas di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. 

Setelah kawin di Martapura ia mendapatkan tugas dari ayahnya untuk menyebarkan ajaran agama Islam di daerah Balimau. Dengan ilmu yang ia miliki dari hasil belajar dengan datu dan ayahnya yang berpengetahuan luas, dapatlah ia melakukan misinya sehari-hari, dengan meyakinkan masyarakat untuk hidup beragama dan mengamalkannya. Ia selalu disambut dengan sambutan positif dan selalu diikuti oleh para muridnya, khususnya masyarakat daerah Balimau.

Dari hasil perkawinannya dengan seorang perempuan salehah puteri seorang qadhi dari Martapura ia dianugerahi oleh Allah enam orang anak, empat orang putera dan dua orang puteri, diantaranya :

  1. H Muhammad, Balimau, seorang alim yang menjadi qadhi.
  2. Khadijah (bergelar dengan Dayang Rambai)
  3. H Khalil
  4. Ruqaiyah
  5. Abu Bakar
  6. Nur’ain

Kemudian ia kawin lagi dengan seorang perempuan salehah yang bernama Hamidah yang berasal dari Amuntai dan ia dianugerahi oleh Allah SWT tiga orang anak, dua orang puteri dan seorang putera, diantaranya :

  1. Khadijah
  2. Muhammad Ali
  3. Nurjanah

Isterinya yang ketiga adalah seorang perempuan salehah yang berasal dari Desa Balimau, Kandangan dan darinya dianugerahi oleh Allah SWT lima orang anak, dua orang puteri dan tiga orang putera, diantaranya :

  1. Sa’diyyah
  2. Husain
  3. Hasan
  4. Abdullah Faqih
  5. Mahabbah

Wafatnya Syaikh H.Ahmad bin Mufti Haji Muhammad As’ad

Ahmad bin Mufti Haji Muhammad As’ad berkiprah sebagai penerus ayah dan datunya. Dengan penuh semangat dalam membangun masyrakat untuk meningkatkan keyakinan beragama dan memantapkan pelaksanaan ajaran aganma Islam, dengan tidak mengenal lelah dan tanpa pamrih hingga akhir hayatnya.

Haji Ahmad mejelang usianya kurang lebih 68 tahun, sudah sering sakit-sakitan dan pada akhirnya ia Wafat hari Rabu,  21 Rabi’ul Awwal 1257H/ Rabu, 12 Mei 1841M dan dimakamkan di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang. Makamnya terkenal dengan nama Kubah Balimau. Sering dikunjungi para penziarah yang datang dari berbagai daerah..


08. Buyut Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf yang Terkonvermasi dan Tercatat.

Adapun Buyut Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf yang terkonvermasi antara lain  :

Alwi (w.1842M) bin Abdillah bin Shalih bin Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf makam di Martapura.

Sayyid Abdul Qadir al-Jailani

bin Alwi

bin Jain

bin ‘Ali

bin Alwi

bin Abdillah

bin Shalih

bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.

bin Hasan w.1720M

bin Hasyim w.1687M/18Rmdhn.1097M

bin Muhammad

bin Umar ash-Shoufy

bin Abdurrahman

bin Muhammad

bin Ali w.840H

bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)

bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H))

bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M

bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H)

bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)

bin Sayyidina Ali Walidul Faqih

…………………………………………

Abu Bakar ats-Tsani (w.1902M) bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Jamiluddin bin Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf makam di Kampung Balai Ulin Lumpngi
Abdullan (w.1872M) bin Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf Assegaf makam di Kampung Balai Ulin Lumpngi.
Abdurrahman bin Segaf bin Abdul Hamid bin Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf Assegaf makam di Kampung Balai Ulin Lumpngi.

c. Sayyid Segaf bin Abdul Hamid bin Abu Bakar Assegaf

Diawal bulan Juni 2025 ada orang yang ngaku  nasabnya sampai hingga Sayyid Abu Bakar dan ia dari kota Palangkaraya minta konvirmasi ttg nasab keluarga Sayyid Abu Bakar Lumpangi, ia ingin mendaftarkan  nasabnya ke Rabithah. Kalau nasabnya seperti ini, dan jumlah nasab generasinya  antara 38-39 orang ke anaknya masih memenuhi syarat tahun ini :

Sebab menurut penelitian Pakar Nasab menyebutkan bahwa “ marga tertua atau fam tertua dari puluhan marga/fam Dzuriat Nabi Muhammad Saw yang ada di Indonesia ialah al saqqaf (Assegaf). Lalu Assegaf ini tinggi, Keturunan Nabi yang ada di Indonesia ini umumnya adalah generasi ke-38 atau ke-39 tahun 2022".bahkan kalau dilihat nasab Dzuriat Datu Sayyid Lumpangi di Kalimantan Selatan sampai generasi ke-40 dan generasi ke-41 di tahun yang sama.

Adapun silsilah Nasabnya menurut Sayyid  H. Abdullah bin H,Hubbul Wathan Assegaf sebagai berikut    :

Sayyid H.Abdullah

bin H.Hubbul Wathan

bin H.Muhammad

bin Muhammad Arsyad

bin Jafri

bin Abdul Hamid

bin Abdurrahman Assegaf Ketapang Kec. Bakarangan Rantau

bin Segaf  (Desa Sungai Pinang, Nagara)

bin Abdul Hamid (orang tua Sayyid Segaf  Desa Sungai Pinang Nagara)

bin Sayyid Abu Bakar (سَيِّدِ أَبُوْبَكَرْ) w.1759M.

bin Hasan w.1720M

bin Hasyim w.1686M/18 Ramadhan 1097H

bin Muhammad

bin Umar ash-Shoufy

bin Abdurrahman

bin Muhammad

bin Ali w.840H

bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman Assygaf (1338-1416M)

bin Syekh Muhammad (Maula Ad-Dawilah wafat 665 H))

bin Syekh Ali (Shahibud Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M

bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur (w.669 H)

bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad (574-653H(1232M)

bin Sayyidina Ali Walidul Faqih.



09. Sebelum Keberadaan Syekh H. Sa'duddin masyarakat kampung Taniran sudah dididik dan dibina Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Datu Habib Lumpangi di Kec. Loksado Kab. HSS.

Menurut Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia telah mengutif dari berbagai sumber, bahwa "Sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS."

Kalau kita baca beberapa Artikel ttg Penyebaran Islam di Banua Anam salah satunya  yakni Artikel Banjarmasinpost.co.id, Kandangan, Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul KalselPedia - Datu Taniran dan Sejarah Penyebaran Islam di Banua Anam, Minggu, 17 Maret 2019 11:12, Dia telah mengutif dari berbagai sumber, bahwa "Sebelum Datu Taniran, masyarakat kampung Taniran sudah dididik oleh Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf, yaitu ayahnya Sayyid Abu Bakar yang dikenal sebagai (kakeknya) Habib Lumpangi di Kecamatan Loksado, HSS."

Selanjutnya Artkel itu menyebutkan bahwa "Sayyid Hasan  berdomisili di kampung Taniran sekitar pergantian abad ke-18 dan 19 Masihi, bersamaan dengan datangnya Sayyid Abdullah bin Abu Bakar al-Aydrus beserta isterinya ke Martapura”. 

Pendapat atau perkiraan pergantian abad ke-18 dan ke-19 Masihi pada Artikel tersebut diatas  adalah lemah atau belum mendekati kebenaran. Namun Perkiraan yang benar, yang mendekati kebenaran adalah sekitar pergantian abad ke-17 dan abad ke-18 Masihi, Habib Hasan bersama keluarganya lebih awal datangnya dari Sayyid Abdullah bin Abu Bakar al-Aydrus beserta isterinya ke Lok Gabang Martapura.

Adapun Penjelasannya dapat dibaca, sebagai alasan penulis di bawah ini : Menurut ceritera datu-datu kami bahwa Habaib ini sudah datang jauh sebelum Belanda datang dan bercokol di Bandarmasih yaitu  masa Raja Banjar ke-10 Sultan Tahmidullah I tahun 1700-1717 Masihi. sampai dengan masa pemerintahan Tamjidillah I tahun 1734-1759 yang berpusat pemerintahannya di Martapura. Menurut catatan sejarah Belanda mulai  menduduki Kota Bandarmasih (Banjarmasin) sekitar tahun 1747M yakni pada masa pemerintahan Tamjidillah II..

Keberadaan Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf sebagai Ulama dan Guru / Utstad membangun (mengislamkan) dan membina masyarakat Agamis di kampong Taniran sa'at itu. Ia dan Abu Bakar anaknya penyebar Islam lebih awal atau lebih dulu yakni pada awal abad ke-18 Masihi sekitar tahun 1702M. Kemudian dilanjutkan oleh Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad pengembangan dan penyebaran Islam di awal abad ke-19M. Syekh H. Sa'duddin berada di Taniran sekitar tahun 1812M. H Muhammad Thaib atau Syekh H.Sa’duddin lahir tahun 1779M/1193H di Kampung Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Usia 25 tahun, ia pergi ke Tanah Suci Makkah selama kurang lebih 10 tahun untuk menimba ilmu. 

Diperkirakan sekitar tahun 1812M setibanya, ia dari Makkah, dua tahun setelah kedatangannya menuntut ilmu Agama di tanah Haramain (Mekkah-Madinah) kemudian datanglah tokoh masyarakat (Tetuha kampung  Taniran salah satunya Abah Saleh) kepada Mufti H.Muhammad As’ad ayahnya, meminta agar mengirim seorang guru ke Taniran untuk memberikan pendidikan agama, dan bersedia menetap tinggal di Taniran. Permintaan itupun dipenuhi, seiring waktu berjalan kemudian ia bersama masyarakat Taniran merehap "Masjid Darul Lathif" yang bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian dipugar Masjid tersebut meggunakan kayu Ulin semuanya beratap sirap, yang dibeli dan dibawa dengan perahu jukung dari Kota Nagara kala itu.

Untuk menyatakan rasa syukurnya, masyarakat kampung Taniran menghibahkan sebidang tanah perkebunan kelapa kepada Haji Sa'adud-din seluas kurang lebih sepuluh borongan (28,900 m). Tanah tersebut dipergunakannya untuk komplek pengajian dan perumahan. Di awal Abad ke-20 Masihi di atas tanah Hibah itulah sekarang berdiri seuah Masjid As-Sa’adah, yang didirikan pada tahun 1923 M, beserta rumah tempat tinggal beberapa dzuriatnya. Kemudian pada tahun itu juga Masjid Darul Lathif yang terletak di Rt.02 Taniran dialih fugsikan mejadi Langgar Darul Lathif, setelah “Masjid As-Sa'adah” Kampung Taniran Rt.01 difungsikan.


10. Keberadaan Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad sebagai Ulama dan Guru / Utstad dalam pengembangan dan pembinaan masyarakat Agamis di kampung Taniran di Abad ke-19 Masihi mulai tahun 1812 Masihi. 

Keberadaan Sayyid Hasan bin Hasyim Assegaf sebagai Ulama dan Guru / Utstad membangun (mengislamkan) dan membina masyarakat Agamis di kampung Taniran sa'at itu. Ia dan Abu Bakar anaknya penyebar Islam lebih awal atau lebih dulu yakni pada awal abad ke-18 Masihi sekitar tahun 1702M. Kemudian dilanjutkan oleh Syekh H. Sa'duddin bin Mufti H.Muhammad As'ad pengembangan dan penyebaran Islam di awal abad ke-19M.

Menurut Artikel Biografi Syaikh Muhammad Arsyad al Banjari  bahwa Kepulangan pertamanya menuntut ilmu Agama dari Mekkah al Mukarramah, Syekh beserta rombongan tiba di kampung halaman, sekitar pada Bulan Ramadhan 1165 H bertepatan Juli 1752 M, sampailah Muhammad Arsyad di kampung halamannya, Martapura, pusat Kesultanan Banjar pada masa itu, usia Muhammad As’ad kala itu sekitar satu bulan.

Kemudian setelah ia dewasa Mufti H.Muhammad As'ad bin Sayyid Utsman menikah dengan Hamidah binti Abdullah orang Desa Balimau punya 12 putra-putri tetapi 5 orang putera menjadi ulama besar, yaitu :

1. Haji Abu Thalhah, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1771 M 1185 H dan Wafat dan dimakamkan di Tenggarong, Kutai, Kalimantan Timur

2. Haji Abu Hamid, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1773 M1187 H dan Wafat tgl. 10 Rabi’ul Awwal 1270 H, Ahad, 11 Desember 1853 dan dimakamkan di ujung Pandaran, Sampit, Kalteng

3. Haji Ahmad Balimau, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1775 M/1189 H dan Wafat Rabu,  21 Rabi’ul Awwal 1257H/12 Mei 1841M dan dimakamkan di Balimau,

4. Mufti Haji Muhammad  Arsyad lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1777 M/1191 H Wafat Sabtu, 23 Rabiul Awwal 1275 H dii masa pemerintahan Sultan Abdur Rahman bin Sultan Adam, usia sekitar 84 tahun dan dimakamkan di Pagatan, Kalsel.

5. Haji Sa'adud-din, lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1779 M/1193 H dan wafat Senin, 05 Shafar 1278 H atau bertepatan tgl. 12 Agustus 1861 Masihi yang dimakamkan (Desa Taniran Kubah Kab.HSS).

Syekh H. Sa'duddin berada di Taniran sekitar tahun 1812M. H Muhammad Thaib atau Syekh H.Sa’duddin lahir tahun 1779M/1193H di Kampung Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Usia 25 tahun, ia pergi ke Tanah Suci Makkah selama kurang lebih 10 tahun untuk menimba ilmu.

Diperkirakan sekitar tahun 1812M setibanya, ia dari Makkah, dua tahun setelah kedatangannya menuntut ilmu Agama di tanah Haramain (Mekkah-Madinah) kemudian datanglah tokoh masyarakat (Tetuha kampung  Taniran salah satunya Abah Saleh) kepada Mufti H.Muhammad As’ad ayahnya, meminta agar mengirim seorang guru ke Taniran untuk memberikan pendidikan agama, dan bersedia menetap tinggal di Taniran. Permintaan itupun dipenuhi, seiring waktu berjalan kemudian ia bersama masyarakat Taniran merehap "Masjid Darul Lathif" yang bahan dasarnya atasnya semua dari kayu biasa, kemudian dipugar Masjid tersebut meggunakan kayu Ulin semuanya beratap sirap, yang dibeli dan dibawa dengan perahu jukung dari Kota Nagara kala itu.

Untuk menyatakan rasa syukurnya, masyarakat kampung Taniran menghibahkan sebidang tanah perkebunan kelapa kepada Haji Sa'adud-din seluas kurang lebih sepuluh borongan (28,900 m). Tanah tersebut dipergunakannya untuk komplek pengajian dan perumahan.

Haji Sa'adud-din (Muhammad Thaib), lahir di kampung Dalam Pagar, Martapura, sekitar tahun 1193H/1779 M dan Syaikh Muhammad Thaib, Beliau tutup usia atau wafat Senin, 05 Shafar 1278 H atau bersamaan tanggal 12 Agustus 1861 Masihi yang dimakamkan (Desa Taniran Kubah Kec. Angkinang Kab.Hulu Sungai Selatan).

Di awal Abad ke-20 Masihi di atas tanah Hibah itulah sekarang berdiri seuah Masjid As-Sa’adah, yang didirikan pada tahun 1923 M, beserta rumah tempat tinggal beberapa dzuriatnya. Kemudian pada tahun itu juga Masjid Darul Lathif yang terletak di Rt.02 Taniran dialih fugsikan mejadi Langgar Darul Lathif, setelah “Masjid As-Sa'adah” Kampung Taniran Rt.01 difungsikan.


11. Habib Abu Bakar ats-Tsani , Beliau Tutup Usia wafat dengan usianya yang panjang lanjut.

Habib Abu Bakar as-Tsani lahir hari Jum'at, 13 Dzulhijjah 1192H/ atau 01 Januari 1779 Masihi di Lumpangi, Beliau hidup dengan usianya 1 abad bahkan lebih, tetapi sumber lain ada yang menyebutkan bahwa “Habib Abu Bakar as-Tsani wafat Jum'at, 14 Januari 1875M atau bertepatan 17 Dzulhijjah 1292H”.

Sumber lain juga ada yang menyebutkan bahwa Beliau diberi Allah Swt umur panjang dan  ia sudah punya buyut an. Habib Tanqir Ghawa bahkan ada menyebutkan Beliau sudah punya pipit (intah) saat hidupnya, Beliau menutup mata meninggalkan anak cucunya Kamis 27 Maret tahun 1902M/1319H dengan usia Beliau 96-123 tahun Masihi ketika wafat. Beliau dimakamkan kampung Balai Ulin Lumpangi Loksado.Haulan Habib tersebut dilaksaaanakan oleh Ahlul Bait setiap tanggal 17 Dulhijjah.

Sayyid Abu Bakar ats-Tsani Assegaf telah mewakafkan dirinya, dan sudah mengabdikan seluruh hidupnya, untuk kemajuan dakwah Islam sejak kehadirannya di kampung Balai Ulin Desa Lumpangi ini, selama bertahun-tahun dalam mengenalkan Islam dengan baik kepada saudara-saudaranya Suku Dayak Maratus dan meng-Islam-kan mereka, mengajar, membagun dan membina masyarakat kampung Lumpangi menjadi masyarakat Islam yang berakhlak mulia dan menjadi masyarakat Agamis di kampung ini.


Daftar Isi  Bab VII

VII. Tragedy runtuhnya Balai Adat Hulu Banyu Loksado yang ada di Pantai Dusin dari pecehan Balai Adat Balai Ulin Lumpangi abad ke-19 Masihi sekitar tahun 1831 Masihi.

01. Bulan Desember - Puncak Musim Hujan di Indonesia

02. Tragedy runtuhnya Balai Adat Hulu Banyu pecehan Balai Ulin.

03. Letak Geografis Balai Adat Bumbuyanin.

04. Kisah Keadaan Balai Adat sebelum terjadinya Banjir besar.

05. Warna air ba'ah itu putih seperti susu kehitam-hitaman.

06. Tanah Bekas lokasi bangunan Balai Ulin Lumpangi menjadi badan sungai.

07. Merihab atau Memugar Masjid Baitur Rahim (Jannatul Anwar) Desa Lumpangi.

08. Historis Keadaan Pusara/Makam Habaib Lumpangi dan perkiraan Usia Makam pengamatan tahun 1970-1980M.

09. Bukti kepemilikan lahan tanah makam dan sekitarnya waktu itu tidak dimiliki masyarakat umum.

 

VII. Tragedy runtuhnya Balai Adat Hulu Banyu Loksado yang ada di Pantai Dusin dari pecehan Balai Adat Balai Ulin Lumpangi abad ke-19 Masihi sekitar tahun 1831 Masihi.

01. Bulan Desember = Puncak Musim Hujan di Indonesia

Bulan Desember sering membawa kejutan cuaca—mulai dari hujan yang turun hampir tanpa henti, angin kencang, banjir, hingga potensi longsor di berbagai wilayah Indonesia. Meskipun fenomena ini tampak seolah datang tiba-tiba, ternyata ada penjelasan ilmiah yang sangat kuat di baliknya.

Secara klimatologis, Indonesia memasuki periode monsun Asia pada akhir tahun. Angin dari arah Asia yang kaya uap air bertiup menuju Australia yang lebih kering. Akibatnya, suplai uap air ke Indonesia meningkat sangat tinggi, awan-awan konvektif tumbuh lebih cepat, hujan turun lebih lebat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Ini sebabnya Desember menjadi bulan paling basah dalam setahun.Khususnya di daerah Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan sekitar tahun itu telah terjadi Banjir Besar.. 

Siang hari di wilayah tropis menyebabkan permukaan bumi cepat memanas. Pada Desember, jumlah uap air yang tersedia jauh lebih banyak, sehingga udara hangat naik sangat cepat, kemudian bertemu udara dingin di atas, dan terbentuk cumulonimbus—awan badai yang menghasilkan hujan deras, petir, guntur, dan angin kencang. Inilah penyebab hujan tiba-tiba, angin puting beliung, dan petir yang intens.  


02. Tragedy runtuhnya Balai Adat Hulu Banyu pecehan Balai Ulin.

Selanjutnya di ceriterakan  orang  bahwa pada  zaman dahulu, setelah pecah dan bubarnya  Balai Adat di Balai Ulin Lumpangi, kemudian berdiri Balai  Adat yang  kedua  di kampung Pantai Dusin  Hulu Banyu, balai Adat  tersebut  dibangun  di tepi sungai, berdekatan dengan kampung  Datar Laga dan kampung Datar Mangkung. Tetuha  Adat pertama  bernama  Bumbuyanin,  dia  adalah anak sulung  Tetuha Adat  Ulang. Pada masa cucunya, Balai Adat  ini  mengalami tragedy mencekam. Ketika itu Balai beserta  penghuninya hanyut (larut) di bawa  air  bah (ba'ah) besar, mungkin 6-7 kepala keluarga penghuninya  tidak dapat  menyelamat diri.

Sebagian orang ada yang berkata bahwa Tragedy Balai Adat Hulu Banyu pecehan Balai Ulin Lumpangi Loksado terjadinya 7 Rajab 1247H/ atau bertepatan dengan hari Senin, tgl. 12 Desember 1831 Masihi.  Dengan adanya sebab akibat dan bergesirnya waktu  tempu dulu maka penghuni Balai Adat Bumbuyanin pecah terbagi dua kelompok. ada penghuninya yang bertahan dan memindah Balai Adat tidak jauh lokasi Pantai Dusin yakni (Balai Adat Tanginau) dan kelompok kedua memindah jauh dari lokasi awal, sekarang Balai Adat tersebut beralamat di desa Kemawakan Kec. Loksado.


03. Letak Geografis Balai Adat Bumbuyanin

Menurut ceritera Habib Basrani Noor bin H.Muhammad Barsih Assegaf (Usia 57 tahun) yang saya wawancarai bahwa Balai Adat Pertama sesudah  Balai Ulin Lumpangi di Hulu Banyu Loksado adalah Balai Adat Bumbuyanin yang terletak di Pantai Dusin. Pantai ini terletak dihulu kampung Uling  setelah kampung Majulung, ia berseberangan dan dekat  kampung Tar Laga dan kampung Tar Mangkung. Di kampung Pantai Dusin inilah Bumbuyanin sebagai Tetuha Adat membangun Balai Adat yang terletak ditepi udik tiga muara sungai Amandit.

Menurut Ahmad atau Amat yang saya wawancarai, ia asal dayak Bayumbung yang sudah muslim bahwa "Letak Balai Adat Pantai Dusin itu, kalau kita berada dari kampung Lambuk menuju hulu sungai ke Tar Mangkung terus ke kampung ar Laga terus ke kampung Uling terus kehulu lagi hingga Pantai Dusin, dan dihulu Pantai Dusin itu sekarang Balai Adat Tanginau".


04. Kisah Keadaan Balai Adat sebelum terjadinya Banjir besar.

Konon di ceriterakan bahwa  ada seorang istri Tetuha Balai muda Pantai Dusin dan menentunya sedang hamil muda (ngidam) secara bersamaan.keduanya sering pusing-pusing dan tidak mau makan bahkan berhari-hari, membuat suaminya pusing kepala. Kedua istri yang ngidam ini pingin sekali memakan iwak hidup yang (dipalan) dimasak dalam seruas batang buluh. 

Akhirnya untuk memenuhi hasrat isteri dan menentunya yang hamil muda, maka suami an.Dusin (Pang Dusin) dan anak lelakinya an.Uling (Pang Uling). Dipagi hari yang cerah mereka pergi ke sungai dengan membawa sebuah jala (lunta) mencari iwak hidup. Kepergian keduanya diikuti oleh seekor anjing setianya bernama si “Balang”

Konon  bahwa  Penghuni Balai Adat ini  memakan anak orang (dalam bentuk  seekor  iwak sili-sili sebesar buah Bunglay berkepala seperti anak Naga atau ikan berkepala yang aneh). Yang mereka  peroleh  dengan  menjala (melonta) di sungai. Di ceriterakan bahwa Penjala ikan “Tidak seperti biasanya, setelah berkali-kali ia melepas jaring jalanya ke sungai dan menariknya pelan-pelan, tetapi ia tidak merasakan dan menemukan adanya ikan yang tersangkut dijaring jalanya, kecuali seekor ikan tilan/ sili-sili sebesar buah bunglay yang berbentuk aneh (berkepala seperti anak Naga). Ikan itu dilepas kembali ke sungai, mereka semakin jauh berjalan menuju hulu sungai. Sehingga menghabiskan waktu berjam-jam, menjala ikan,  tapi tak seekorpun  ikan yang dicari didapat.hingga perut mereka merasakan lapar. 

Bahasa orang Banjar “Ujar anaknya, parut ulun sudah lapar, amun kaya ini bahay, kita kada kulihan iwak.saikung-ikung baik kita bulikan haja kerumah, bahay. Ujar nang abah, hadangi dahulu nakay, aku masih panasaran, sakali  laginah aku menimbai lonta. Lalu Lonta itu ditimbai ketengah sungai dan ditarik pelan-pelan, ternyata  ikan Aneh itu lagi yang terjaring. Ujar nang abah jangan dibawa! nakkai iwak itu” tetapi ujar nang anak, "Napa kita lauk makan, bini ulun kada mau makan saharian".

Kita bawa haja ke rumah, Ulun berkeyakinan bahay bahwa jenis iwak nang kaya ini banyak terdapat di sungai ini sebab lain-lain warnanya iwak nang kena di jaring kita walaupun iwak itu sama ganalnya, yang pertama iwak nang kena jaring kita warna kehitam-hitaman, kemudian iwak itu kita lapas, yang kedua iwak nang kena jaring kita warnanya hitam campur putih,  yang ketiga yang kena jaring kita warnanya hitam campur ungu, dan warna lainnya. Sedangkan terakir nang kena jaring kita warnanya keemasan, ulun lihat lebih dari 5 warna nang kena jaring kita seperti lagenda warna naga dalam warna pelangi, jadi rasanya kada mungkin bahay iwak jalmaan.

Kemudian .iwak hidup itu dibawa pulang oleh ayahnya, sedangkan Uling singgah dipahumaan dan sesampainya ke Balai, Dusin disambut istrinya riang gembira. Iwak hidup disiangi, dipotong-potong dan (dipalan) dimasak dalam seruas batang buluh muda, tak lama setelah itu tercium dengan bau aromanya yang lezat dan siap dimakan bersama-sama hingga habis, dan lupa menyisakan untuk Uling anaknya

Sejurus kemudian datanglah seorang laki-laki tua bungkuk berpakaian serba putih dan bertongkat, dari arah hilir sungai, ia berjalan tergopuh-gopuh dengan tongkatnya sedang mencari anaknya yang hilang, dan ia bertanya-tanya kepada orang-orang yang ditemuinya tetapi jawaban orang selalu tidak kenal dan tidak pernah melihatnya. Kemudian ia masuk ke teras balai dan bertanya kepada Penghuni Balai Adat Bumbuyanin kala itu yang berlokasi di pantai dusin. Kakek tua itu menjelaskan kepada mereka bahwa “ia orang tarlaga (tar-laga = tar artinya rumah/liang/lobng, laga artinya naga) dan ciri-ciri anaknya an.Mangkung "Berkepala Naga dan berbadan ikan sili-sili sebesar buah Bunglay, akibat dari kena kutukannya.

Ia pernah berkata kepada anaknya" Hai Mangkung anakku, kamu akan selamanya jadi iwak sili-sili berkepala naga terkecuali jika kau besar nanti ditemukan orang dan kau dimakan oleh dua perempuan sedang hamil muda (ngidam) baru kau dapat beringkarnasi /menetis/menjelma hidup normal kembali lewat kedua Rahim perempuan hingga kamu dilahirkan dari perempuan tersebut. Baru kutukan terhadapmu akan berakhir.

Karena merasa malu dan bersalah dengan orang tua itu mereka menyembunyiannya terhadap apa mereka perbuat, Kata Penghuni Balai “kami tiada melihat anak sampian”, kata orang tua itu "Kau bohong, Kalian semua berdusta " 

Disini terjadi perdabatan sengit, yang akhirnya kata orang tua itu "Iwak yang kalian makan itu adalah anakku, tetapi adakah lagi sisanya atau tulang-tulangnya ? "Aku mohon aku pinta kembalikan kepadaku" kata orang tua itu. Kata Penghuni Balai “habis tiada tertinggal sedikitpun”, padahal tulang-tulangnya masih ada. kata orang tua itu, ‘Sebagai gantinya anakmu dan cucumu” yang masih dalam kandungan itu akan aku bawa, nanti keduanya akan aku jadikan Pengiran dan Ratu dikerajaanku " tetapi Kalian masih berbohong" tetapi jika benar bahwa kalian tidak berbohong, maka Tongkatku ini tidak akan bisa mengeluarkan air. 

Pak Tua itupun turun dari Balai menuju halaman, ia memajamkan matanya lalu bibirnya kumat-kamit membaca mantera dan mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi disambut sembaran kilat dan patir menggalagar, lalu orang tua itu menghunjamkan tongkatnya ke tanah, maka keluarlah mata air yang melimpah disertai angin dan hujan dengan derasnya selama 3 hari dan tiga malam tidak henti-hentinya dan orang tua itu merubah bentuk menjadi seekor Naga sebesar pohon Ena, dan panjang sepanjang pohon kelapa tua, lalu ia merobohkan bangunan Balai dengan mengikat tiang-tiangnya dengan ekornnya dan menghilang ditelan air. Kemudian terjadilah air ba’ah yang besar, sunami yang besar secara tiba-tiba, hingga  Balai Adat kampung Pantai Dusin dan Penghuninya  hanyut ditelan air ba'ah yang dahsyat. 

Selamat dan beruntunglah Uling dari musibah air ba’ah yang besar, tapi ia bersedih kehilangan anak dan isteri dan juga keluarganya. Ketika itu tanaman padi sudah setinggi dada (banih sudah rangkumkupak) ia pulang dari melonta bersama Dusin ayahnya, hari menjelang senja Uling dan seekor anjing setianya si “Balang”singgah menjenguk pahumaannya, dan ketika sesampainya disana, ia menghidupkan parapian (balaman api) sambil membakar ubikayu untuk mengganjal perutnya hingga ia tertidur pulas hingga pagi dipondok humanya. Di hari itu turun hujan sangatlah deras selama 3 hari dan tiga malam tidak henti-hentinya dan disertai angin kencang, ia lihat air sungai pun yang melimpah dan membuatnya tidak bisa pulang ke Balai beberapa hari

Selanjutnya menurut Baliau bahwa diperkirakan keberadaan Balai Adat kampung Pantai Dusin yang di bangun oleh Bumbuyanin dan diturunkan kepada anak tertuanya Datu Ayuh atau nama lainnya sang Dayuhan, tidak sampai dari satu abad, Balai Adat dan penghuninya ini kena musibah, semuanya telah hanyut diterjang banjir besar, kecuali orang-orang yang selamat adalah orang-orang yang masih tinggal ( badim dipahumaan).


05. Warna air ba'ah itu putih seperti susu kehitam-hitaman.

Sebagian ada yang berkata menurut Datu-Nenek kami bahari bahwa "Warna air ba'ah itu putih seperti susu kehitam-hitaman dan sangat kalat  rasanya, seperti bercampur belirang atau bau batu bara sehingga mata iwak-iwak atau ikan -ikan kabur, maka banyak ikan-ikan yang naik ke tepi sungai untuk menyelamatkan diri dan akhirnya mati terkapar, akibat matanya tidak dapat melihat lagi dalam air karena pengaruh kalatnya air ba'ah itu. Hal ini sangat menggembirakan dan menguntungkan masyarakat Lumpangi mereka panen ikan sa'at itu".


06. Tanah Bekas lokasi bangunan Balai Ulin Lumpangi menjadi badan sungai

Adanya peristiwa air ba’ah yang besar menghayutkan Balai Adat dan Penghuninya tersebut, air bah itu  telah melewati desa Lumpangi, kemudian arus air sungai membelah dua, yakni : Tanah bekas lokasi bangunan Balai Ulin dulu berubah menjadi badan sungai baru pada bagian kiri dan lebih deras airnya dari badan sungai lama pada bagian kanan, hingga timbul murung (pulau) ditengah-tengah belahan sungai tersebut. Sekarang ini, kalau kita menyebaragi kali Amandit lewat jembatan gantung menuju Kubah Datu Lumpangi, dan kalau kita berdiri di tengah-tengah jembatan itu memandang kehilir sungai. Maka kita akan melihat sungai itu membalah dua dan dihilir murung (pulau),  air sungai itu menyatu kembali

Sebagian ada yang berkata menurut Datu-Nenek kami bahari bahwa "Warna air ba'ah itu putih seperti susu kehitam-hitaman dan sangat kalat  rasanya, seperti bercampur belirang atau bau batu bara sehingga mata iwak-iwak atau ikan -ikan kabur, maka banyak ikan-ikan yang naik ke tepi sungai untuk menyelamatkan diri dan akhirnya mati terkapar, akibat matanya tidak dapat melihat lagi dalam air karena pengaruh kalatnya air ba'ah itu. Hal ini sangat menggembirakan dan menguntungkan masyarakat Lumpangi mereka panen ikan sa'at itu".

Akibat terjadinya Erosi. Fostur tanah tempat berdirinya Balai Adat "Balai Ulin Lumpangi" dan sekelilingnya menjadi rendah atau talabuh atau tanahnya terkikis sebagai akibat air ba’ah itu.

Sebagian erosi dilakukan oleh air, angin, dalam bentuk gletser adalah sebuah bongkahan atau endapan tanah yang besar dan tebal yang terbentuk di atas permukaan tanah. Selain itu, erosi juga dipengaruhi oleh letak astronomis.

Maka menjadi keuntungan bagi masyarakat Desa lumpangi.  Sebab disaat itu desa Lumpangi ini sudah lama berdiri sebuah Mesjid tua bernama Jannatul Anwar. Dulu masjid ini dibangun  ditepi sungai Amandit, kemudian akibat  air ba’ah yang besar (ba’ah/banjir), maka sungai kali Amandit pindah mendekati bukit batu Langara, dan arus sungai dekat pasar dan sebagai akibat erosi tanah, arus sungai di bawah-halaman Masjid menjadi pantai. Yaitu sebuah bongkahan atau endapan tanah yang besar dan tebal yang terbentuk di atas permukaan tanah.  Sehingga arus sungai sekarang ini jauh dari Masjid. Sedangkan  bukti  sungai itu pindah sendiri bahwa bukti masih ada. Dan terlihat jurang tanah bekas dinding sungai dibelakang/samping WC Masjid tersebut. Ini adalah salah satu karamah masjid yang dibangun mula-mula oleh Datu Habib Lumpangi dan anak cucunya ,bersama masyarakat di sekitarnya

 

07. Merihab Masjid Baitur Rahim (Jannatul Anwar) Desa Lumpangi

Di desa Lumpangi ini dulu berdiri sebuah Mesjid Tua bernama Jannatul Anwar. Dulu masjid ini dibangun oleh Datu Lumpangi dan anak cucunya ,bersama masyarakat di sekitarnya.  Ada kemungkinan bahwa masjid perdana ini dibangun sangatlah sedarhana, dengan tiang-tiangnya ulin, turus tawingnya kayu sungkai, pertama atap rangkup, terus diganti dengan atap daun Rumbia, berdindingkan (tawing) palupuh paring, berlantai tanah. Sebagai buktinya atap dan dinding (tawing) masjid terbuat dari Bambu bahwa masih banyak ditemukan rumpun-rumpun  Bambu disekitar Masjid. Dalam ruangan masjid memuat tidak kurang dari 4 shap, bahkan samapai 5 shap. setiap 1 shap bisa diisi antara 10  dan 11 orang. Mazhab Imam Syafi’i bahwa shalat Jum’at baru dapat dilaksanakan kalau  jama’ah laki-lakinya tidak boleh kurang dari 40 orang mukallaf. .

Sekitar tahun 1970-1975 an masjid ini sudah mengalami perumbakan atau rehab, pembuatan kolam semen dikiri masjid (sekarang menjadi halaman masjid), lantai dan teras masjid yang asalnya lantai dan terasnya ulin diganti dengan semen tetapi tanpa keramik. Masyarakat waktu itu suka rela bergotong royong mengambil pasir dan batu ditepi sungai.Perumbakan atau rehab ini, tidak merubah struktur kontruksi  bangunan dan bentuk masjid sehingga nilai-nilai sejarahnya masjid ini masih ada dan tetap terjaga. Siapa saja masyarakat yang ikut shalat jum’at dimasjid Jannatul Anwar Lumpangi ? Tentu saja masyarakat yang mengikuti shalat jum’at dimasjid Jannatul Anwar itu dari lingkungan Masjid itu sendiri, dan masyarakat yang ada di kampung Muara Lumpangi, masyarakat yang ada di kampung Batu Tanggah,  masyarakat yang ada di kampung datar Tandui, masyarakat yang ada di kampung muara Ahan, masyarakat yang ada di kampung Muara Kitar, masyarakat yang ada kampung Lok Bungur dan masyarakat yang ada di kampung Mintatayi. Sesudah tahun yang disebutkan penulis diatas, penulis tidak  mengetahui lagi tentang lanjutan rehab Masjid ini.

Sebelum terjadinya banjir besar Masjid Jannatul Anwar Desa Lumpangi sudah beberapa kali diperbaiki oleh Masyarakat sekitarnya. Tetapi beberapa tahun setelah terjadinya air ba'ah besar itu maka Masjid Jannatul Anwar Desa Lumpangi dipugar kembali atau di Rehap total dan dibangun kembali oleh Habib Abu Thair dan Masyarakat sekitarnya dengan Arsitik yang bagus.

Menurut ceritera penuturan Habib Bahriansyah Assegaf.yang saya temui dirumahnya bahwa “Aksisoris petaka kubah atau manara kubah Masjid  Jannatul Anwar Lumpangi dari terbuat almanium hitam berbentuk buah-buah teruntai dan lantainya dari tihal yang didatangkan atau dibeli oleh Habib Tanqir Ghawa dari Surabaya.”

Adapun tiang-tiang Masjid, atap dan dinding menggunakan kayu ulin yang sudah modern, ada seni pahatan dan ukirannya khususnya pada lis-lis dinding atap juga atap kubah sirap yang diberi petaka dan aksesoris diatas kubahnya dan lis-lis kubah, jendela kaca dan aksesoris didalamnya (bawah kubah) berupa lampu-lampu lilin digantung dengan rantai besi. Proses renovasi itu dengan mendatangkan Tukang-tukang seni pahat dari kota Kandangan dan masjid tersebut selesai direnovasi bangunannya diawal abad ke-20 Masihi sekitar tahun 1902 Masihi.

Menurut sumber data bahwa ada beberapa tokoh orang Lumpangi yang berperan aktif ikut andil membangun merihab total Masjid Jannatul Anwar Lumpangi kala itu antara lain : Habib Abu Thair sebagai ketua rehap pembangunan masjid, H.Ahmad sebagai sekretaris, dan H.Mastur sebagai bendahara, Habib Tanqir Ghawa, anggota, H. Bustani (menjabat Penghulu dan pengembangan dakwah) merangkap anggota, Kayi Sarman anggota  dan tokoh masyarakat lainnya sebagai anggota

Menurut sumber  data yang kami dapatkan bahwa ".Sebagai akibat banjir besar tersebut sisa satu batang tiang bekas Balai Adat  itu untuk simbol bahwa di Lumpangi pernah berdiri sebuah Balai Adat Dayak, tiang itu condong dan bergesir  hingga rebah ke dasar sungai, dari belahan sungai yang baru terbentuk akibat kuatnya terjangan banjir "..

Berkata Habib H.Hasan Basri Assegaf “Andaikata Muhammad Langara (mantan Tetuha Adat Dayak) ia lupa berniat/ ia tidak berkeinginan menjadikan  tiang Masjid Lumpangi dari sisa satu batang tiang bekas Balai Adat  tersebut sebagai simbol, maka dapat dipastikan bahwa “satu batang tiang itu pastilah hanyut ditelan air ba’ah yang ganas itu.”

Kemudian dimasa Habib Abu Bakar as-Tsani masih hidup, dan cucunya Abu Thair dan Tanqir Ghawa buyutnya bahwa "1 batang tiang Balai Adat yang terandam didasar sungai itu diangkat dan dijadikan tiang utama atau tiang suku Guru masjid dan diletakkan ditengah-tengah sebagai Simbol atau penyangga atau pananggak kubah saat renovasi pembangunan masjid"Jannatul Anwar" Desa Lumpangi.

 

08 Historis Keadaan Pusara/Makam Habaib Lumpangi dan perkiraan Usia Makam pengamatan tahun 1970-1980M'


Makam Sayyid Abu Bakar dan Datung Milah isterinya

Langara” adalah nama seorang Kepala Suku Dayak atau Tetuha Adat Dayak pertama yang mendiami ditengah-tengah antara ditepi aliran sungai kali Amandit dan kaki Bukit Batu desa Lumpangi. Dengan nama Rumah Adatnya “BALAI ULIN”. Kemudian masyarakat setempat mengabadikan nama Kepala Suku atau Tetuha Adat Dayak Lumpangi tersebut pada bukit batu, maka disebutlah oleh masyarakat sesudahnya dengan nama “BUKIT BATU LANGARA”

Berdasarkan hasil pengamatan kami tahun 1970-1980 keadaan makam sudah sangat tua, dan keadaan tanaman atau pohon kayu, rumput yang hidup di sekitarnya. Buktinya banyak ditemukan pepohonan langsat, Ramania, Manggis, kapul, Tarap yang hidup disekitar itu banyak dan lebih besar dari ember plastic isi 16 liter bahkan ada yang lebih besar lagi. Dan juga  rumpun-rumpun paring tali dan pohon-pohon Kelapa, Durian tetapi kami tidak menemukan sama sekali pohon kayu Ulin atau anak kayu Ulin dan juga kami belum menemukan punggur-punggur/tungul-tunggul Ulin diareal makam dan sekitarnya.  Langara dalam bahasa Dayak berarti “benteng kuat atau tinggi, juga berarti Tegar dan kukoh. masyarakat setempat menamakan Langara dengan nama “Bukit Batu atau Gunung Batu”.

Makam Habib M. Djamiluddin & Datung Siti Sarah isterinya


09. Bukti kepemilikan lahan tanah makam dan sekitarnya waktu itu tidak dimiliki masyarakat umum.

Berdasarkan hasil pengamatan atau observasi kami 50 tahun yang lalu  Balai Ulin  berada dikaki bukit batu Langara bahwa makam dan sekitarnya sudah lama ditinggalkan orang, sudah lama tidak dihuni penduduk (tidak ditemukan rumah penduduk disekitar areal makam) antara lain ada beberapa bukti yang kami dapatkan :

1. Buktinya kala itu banyak ditemukan pepohonan langsat, Ramania, Manggis yang hidup disekitar itu banyak dan lebih besar dari ember plastic isi 16 liter bahkan ada yang lebih besar lagi. Dan juga  rumpun-rumpun paring tali dan pohon-pohon Kelapa, Durian tetapi kami tidak menemukan sama sekali pohon kayu Ulin atau anak kayu Ulin dan juga kami belum menemukan punggur-punggur/tungul-tunggul Ulin diareal makam dan sekitarnya.  

2. Bukti kedua kepemilikan lahan tanah makam dan sekitarnya waktu itu tidak dimiliki masyarakat umum, tetapi dimiliki oleh Djurriat Sayyid Abu Bakar ats-Tsani dan keluarganya.

3.Bukti ketiga bahwa kepemilikan lahan tanah makam dan sekitarnya hanya dikuasai oleh cucu-cicit-canggah dan wareng keturunan  Habib Abu Bakar Assegaf atas nama Habib Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad (Habib Ahmad Suhuf) bin Muhammad Djamaluddin (Habib Lumpangi) bin Habib Abu Bakar  bin Hasan Assegaf.


Makam Habib Ahmad Suhuf & Datung  Aminah isterinya

4. 4. Orang-orang dari Hulu Banyu balarut banyu (balabuh) dengan rakit bambunya singgah/istirahat di warung Kampung Balai Ulin, tetapi kalau pulang dari kota Kandangan, mereka tidak melewati lagi kampung Balai Ulin, sejak ditemukannya jalan baru lewat diantara dua batu sempit di ujung kampung Muarakitar, mereka berjalan terus menuju tepi sungai ke Hulu Sungai Ahan hingga sampai ke Desa Datar Balimbing. Pada masa Habib Abu Tha’am Ibrahim dan Habib Ali Adam anak kemenakannya, ia  ikut bersamanya di desa Lumpangi, kemudian kampung Balai Ulin tanahnya dibagi menjadi 4 bagian. Masing-masing mereka diberikan 1 bagian tanah dari ke-3 anaknya dan anak kemenakannya satu bagian dari kebun bambu pada bagian lering bukit arah batu.

     Dafar bacaan  :

  1. Artikel “Historis & Nasab Dzuriat Datu Habib Lumpangi Kec. Loksado” Oleh H.Hasan Basri bin H.M.Barsih Assegaf https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/39942448802547207
  2. Artikell “Islamnya Orang-orang Hulu Banyu Kec. Loksado di akhir abad ke-18 Masihi”  oleh H.asaan Bari, S.Ag bin Muhammad Barsih Assegaf https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/7986183751908153577
  3. Arikel “Adam dari Banjar”  https://p2k.unkris.ac.id/id3/1-3065-2962/Sultan-Adam_40214_p2k-unkris.html
  4. Artikel Sejarah Ahlul Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesia oleh ”(Fakhrul 04-2012M)
  5. https://naib-h-hasan-al-baseri.blogspot.com/2022/05/historis-tragedy-balai-adat-hulu-banyu.html
.

DENAH LOKASI PASAR & MAKAM HABAIB DESA LUMPANGI

TAHUN 1970 - 1980 MASIHI


Di Lingkungan Masjid Baiturrahim (Jannatul Anwar) Desa Lumpangi tahun 1970 sd. 1980 Masihi itu dihuni oleh 17 buah  rumah penduduk asli antara lain :

1. Rumah Neng Manang, 2.Rumah Ijai, 3.Rumah Pa. Huhus, 4.Rumah Mahran, 5. Rumah Galuh Qamar, 6.Rumah Maseri, 7.Rumah Habib Bahur, 8.Rumah Minin, 9. Rumah Dulah, 10.Rumah Habib M.Barsih, 11.Rumah Angah, 12.Rumah Jamal, 13.Rumah Pangulu Irus, 14. Rumah Unan, 15.Rumah Utuh Kokoh, di pantai 16.Rumah Uus dan 17. Rumah Uya

Sekarang ini kurang lebih ada 45 prosen penduduk Desa Lumpangi adalah dzuriat Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf. Adapun yang menjadi tokoh dilingkungan Mesjid Jannatul Anwar Desa Lumpangi Kecamatan Padang Batung pada tahun1970-1980 Masihi saat itu adalah Habib Bahur dan Bahar bin Tanqir Gawa bin Abu Thair Muhammad  bin Abu Tha'am Ibrahim  Assegaf.

Kami temukan juga bahwa  ”Batur-batur pada pusara - makam Habaib di Balai Ulin kala itu,  tak kurang dari empat buah, panjang dan lebarnya  lebih kurang 6x4 meter perbuahnya dan tiada punya atap. Batur Ulin dengan tebel antara 3 - 4 cm dan salah satunya  ada pohon kembang kenanga sebesar drum kurang-lebih. ketika kami masa kanak-kanak sering kesana, mengambil kembang yang jatuh dari pohon itu, dan juga mancari humbut risi diareal makam  dan sekitarnya untuk dijadikan sayuran. Posisi letak rumah kami (penduduk asli) tidak jauh dari areal makam, hanya dihalat sungai kali Amandit. Waktu itu Tahun 1970 -1978 Nisan-nisan pusara sudah raif dan sebagian berupa batu sungai, belum ada catatan atau tulisan yang kami temukan dan dapatkan kala itu.

Pada tahun 1975  bahwa pusara atau makam para Habib belum terawat  dengan baik. Pernah diadakan gotong royong tahun itu untuk membersihkan makam para Habaib tersebut. Sa’at itu diareal  pusara/ makam dan sekitarnya banyak tumbuh rumpun Paring Tali (Bambu).Batang Paring Tali itu ada banyak yang  sebesar  botol  Aqua Tanggung dan batur-batur ulinnya pun sudah dimakan usia, kering dimakan rayaf, hanya yang tinggal /berdiri tiang-tiang batur. Itupun sudah condong dan pecah-pecah dan dinding-dindingnya jatuh ke tanah dan ada yang tiada terlihat/ hilang.. Inilah yang menunjukkan bahwa usia makam Habaib itu sangat tua.diperkirakan berumur 200 tahun lebih. Sebagaimana kami ketahui bahwa 1 buah batur dengan ukuran panjang dan lebar  kurang lebih 6x4 meter persegi panjang. Pusara itu dihuni/diisi oleh satu keluarga (beberapa orang) bukan dihuni oleh satu orang pada 1 buah Batur tetapi diisi oleh beberapa orang. Kalau dibandingkan Batur-batur yang ada di Balai Ulin dengan Batur batur yang ada  pada  pusara anak-anak Datu Bakumpai, di kota Marabahan keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Batur batur pusara anak Datu Bakumpai sudah ada seni ukiran (pengamatan  tahun 2016 & 2020M).  Usia batur-batur makam Datu Lumpangi di Balai Ulin dengan usia batur-batur makam anak-anak Datu Bakumpai.


Photo Ziarah Kubah Habib Abu Bakar Ats-Tsani Assegaf

Balai Adat Balai Ulin Lmpangi Tahun 2014M.

Maka usia batur Ulin pusara Habaib Lumpangi lebih tua, belum ada seni ukiran-ukiran pahat-pahatan tetapi sangat disayangkan Batur-batur itu sebagai bukti peninggalan sejarah semuanya raif ditelan masa, nilai-nilai sejarahnya hilang sehingga generasi-generasi selanjutnya sulit mengadakan penelitian ilmiah untuk menentukan keberadaan masa hidup penghuni pusara Habaib dimaksud.Jadi semua keterangan yang saya kemukan diatas, kalau Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf dimaksud ditulis diawal abad ke-20 Masihi maka catatan atau tulisan itu tidaklah palid atau tulisan itu belum tepat.

Abad ke-20 dihitung mulai dari tahun 1901 sd. 2000 Masihi. Tahun 1970-an hingga tahun 1980-an  itu tiang-tiang batur ulin sudah bayak yang hilang dan sisanya dimakan usia, pecah-pecah dan kering dimakan rayaf. Nisan-nisan tidak terlihat/ raif. Salama pengamatan kami tidak menemukan atau tulisan kala itu, hanya yang masih berdiri sedikit sekali dari  tiang-tiang batur sahaja, dinding-dindingnya pun sudah hilang, dan jatuh dari tiangnya. Inilah yang menunjukkan usia makam Habaib sangat tua.

Menurut ceritra Datu-datu kami bahwa Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf sudah datang, berada di Lumpangi jauh sebelum Belanda datang ke Kesultanan Banjar. Tetapi sebagian orang berkata bahwa usia Habib Abu Bakar  sekitar 40 tahunan saat ia melakukan dakwah di kampung Balai Ulin mulai tahun 1705-1759 M pada masa pemerintahan Raja Banjar ke-10 Tahmidullah I tahun 1700-1717 Masihi  hingga Sultan Tamjidillah I sekitarnya awal abad ke 18 hingga  pertengan abad 18. Tahun 1734-1759M, masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I .di Martapura. Belanda belum menjajah Kesultanan Banjar.

Menurut catatan Sejaarah Tahun 1747, Belanda menduduki Banjarmasin. 1761–1801, masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II/Sunan Nata Alam. 1762, Saudara Sultan Nata yang bernama Pangeran Prabujaya dilantik sebagai mangkubumi oleh Dewan Mahkota Kesultanan Banjar (Kesultanan Banjar).

     

            Jembatan Penghubung Kubah Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf

“Diantara nama-nama keturunan beliau yang sampai sekarang masih hidup adalah Habib Aziz (Muara Banta), Habib Yahya (Telaga Bidadari), Habib Yadi (Muara Hatip)” (Mursyid 2017).


Daftar Isi Bab. Ke-VIII

VIIIa. Biografi Singkat Rekam Jejak Sayyid Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Jamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan  Assegaf.

01. Silsilah Nasab Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw.

02. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Lahir.

03. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Menerima (Menimba) Ilmu Agama.

04. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Menikah dengan Diang Tangang.

05. Dzurriat Keturunan Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf.

06. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf Assegaf Wafat.

VIIIb. Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani  bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin Assegaf.

01. Nasab Sayyid Abuthair Muhammad bin Abutha'am Ibrahim Assegaf.

02. Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf Lahir.

03. Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf Menerima Pengajaran ilmu Agama.

04. Masa muda Remaja Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf.

05. Pernikahan Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf dengan ibunda Siti Tiadah (Siti Siyadah /Qiyadah).

06. Masa Sayyid Abu Thair Muhammad Assegaf terjadi Banjir besar pada Sungai Kali Amandit.

07. Sayyid Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf Wafat.

VIIIc. Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasyim bin Muhammad Assegaf.

01. Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf Lahir.

02. Keadaan fisik postur tubuhnya Sayyid Tanqir Ghawa

03. Sayyid Tanqir Ghawa  Assegaf Mendapatkan Pengajaran Ilmu Agama.

04. Masa-masa Muda Remaja Sayyid Tanqirr Ghawa Assegaf.

05. Karomah  Siti Tiadah Ibunda Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf.

06. Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf  Pulang dari Pengembaraan Panjang.

07. Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf wafat.

08. Keturunan Sayyid Tanqir Ghawa bin Muhammad bin Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf.

Bab. VIII

VIII. Biografi Singkat Rekam Jejak Habib Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Jamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan  Assegaf. 

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Ia adalah seorang yang shaleh,  dan ia seorang yang ta’at yang memelihara iman dan islam, ia amat kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah bathin lainya.


01. Silsilah Nasab Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw

الْحَبِيْب اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف  بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ  بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله

02. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Lahir.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Habib Abu Tha’am Ibrahim adalah anak pertama dari pasangan suami isteri Habib Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf dengan Umi Salamah (Namanya Diang Gunung seorang perempuan Dayak Pegunungan Maratus asal Pantai Dusin Hulu Banyu Loksado), Ibrahim lahir di Desa Lumpangi hari Senin tanggal 9 Rajab tahun 1213 Hijeriah/ 17 Desember tahun 1798 Masihi. Ia adalah buyut dari Habib Abu Bakar Bin Hasan Assegaf.

Ia adalah salah seorang dzuriat yang ke-12 dari  al Faqih al Muqaddam al Tsani, yakni Habib Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shoufy bin Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Sayyid Abdurrahman Assegaf bergelar al Faqih al Muqaddam al Tsani. ia termasuk dzuriat Nabi Saw yang  hidup di abad ke-19 Masihi.


03. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Menerima (Menimba) Ilmu Agama.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Abu Tha'am Ibrahin Assegaf mendapatkan pengajaran Agama langsung dari : -Umi Salamah ibunya, - Abu Bakar ast-Tsani ayahnya, - Ahmad Suhuf kakeknya. Dan guru-guru agama disekitarnya. Sejak kecil iapun telah membekali dirinya dengan giat belajar ilmu-ilmu agama kepada orang yang lebih tua dari nya, kepada pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat. Oleh karenanya ia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu.

Habib Abu Tha’am Ibrahim tumbuh dan besar di desa Lumpangi. Ia adalah seorang anak cerdas dan  shalih yang membanggakan orang tuanya, ia memperoleh pengajaran ttg Islam langsung dari ayah dan kakeknya.


04. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Menikah dengan Diang Tangang.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa “Setelah selesai panen raya sekitar tahun 1836 Masihi Habib rihlah (bajalanan) ke Bamban bersama rombongan pedagang  untuk melihat peralatan menangkap ikan dan salajur mencari tantaran unjun paring kala'i. Sesampainya disana, maksudnya dirumah Acil Penjual iwak di Bamban, ia bertemu dan berkenalan dengan seorang dara muda yang bernama Siti Rahmah (Diang Tangang) sedang menumbuk padi dilasung di muka rumahnya anak Acil Penjual iwak. dan Habib langsung jatuh hati kepadanya”.

Acil Penjual iwak menjelaskan kepada Habib bahwa “Siti Rahmah anaknya, Dia seorang janda muda yang sudah beranak satu ditinggalkan mati suaminya dua tahun yang lalu”. Ia banyak punya saudara dan kelurga, ia seorang yang cantik rupawan memikat dan menyejukkan hati kalau dipandang, dipasca musim panen inilah awal perkenalannya dengan Habib, kemudian Diang Tangang dipersunting dan dikawini Habib Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani.

Diceritakan bahwa "Ketika menginjak dewasa Habib Abu Tha’am Ibrahim menikah dengan seorang wanita shalihah an. Siti Rahmah (Diang Tangang) tahun 1828M atau Ahad, 14 Jumadil Awal 1228H. Dan Perkawinan itu punya anak / keturunan tunggal an. Muhammad (Abu Thair Muhammad) dan ia lahir tahun 1836 Masihi, kemudian ia ditinggal mati oleh isterinya. Versi lain menyebutkan bahwa "Abu Thair.Muhammad lahir di Desa Lumpangi hari Jum'at, tanggal 14 Ramadhan tahun 1252 Hijeriyah / 23 Desember 1836 Masihi".


05. Dzurriat Keturunan Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf.

Konon diceriterakan bahwa Habib ini menikah lagi dengan dengan Diang Bulan wanita shalihah, dan berkat usaha dan ikhtiar mereka untuk punya anak, akhirnya Penikahan ini membuahkan beberapa orang anak keturunan yang sangat lama dinantikannya.

Anak pertama mereka lahir an. Syarifah Khadijah. Penikahan Habib membuahkan keturunan  anak yang shalih dan shalihah antara lain :

Habib Abu Tha’am Muhammad beranak an.Tanqir Ghawa

Habib .Usup (Supiyan) beranak Pa Jala,  beranak                              

an.Jalaluddin muara lumpangi

2.Datu Pandai Besi, beranak                   

 Muhammad

Habib   H.Mastur punya anak antara lain  :

1.Ismail (Julak Iing) dan

2.Hambali beranak an.Mas’ud (Uut)   

Ketika  "Abdullathif" atau Abu 'Alyadam) berada di Negeri orang, Aliadam anaknya ikut bersama kakak tertuanya yakni Sayyid Abu Tha'am Ibrahim. Dimasanya anak kemenakannya an.Habib Ali Adam ikut berbersamanya tinggal di desa Lumpangi, kemudian Ia membagi kampung Balai Ulin menjadi 4 bagian. Masing-masing menerima 1 bagian tanah dari ke-3 anaknya dan anak kemenakannya satu bagian.


06. Sayyid Abu Tha'am Ibrahin bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf Assegaf Wafat

Sebahagian orang ada berkata bahwa Sayyid Abu Tha'am Ibrahin Assegaf, ia mulai sakit-sakitan  yang sangat serius diusia 45 tahun dan akhirnya ia wafat Jum'at, 5 Rajab 1252 H bertepatan 7 November 1834M. Ia dikebumikan di kampong Balai Ulin Desa Lumpangi.

Tidaklah banyak yang Penulis ketahui tentang tokoh Sayyid Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin  bin Abu Bakar bin Hasan Assegaf ini, waku Beliau masa kanak-kanak, masa remajanya, masa tuanya sampai ajalnya.

Penulis hanya berharap dan mendo’akan semoga Allah Swt mema’afkan dan mengampuni kesalahannya, kesalahan – kesalahan orang tuanya, kesalahan datuk-neneknya, dan kesalahan – kesalahan orang-orang yang pernah dekat dengannya dan kesalahan-kesalahan dzuriat-dzuratnya hingga akhir zaman, begitu juga semoga Allah Swt mengampuni dan mema'afkan kesalahan-kesalahan/ dosa-dosa kita dan dosa-dosa orang-orang muslimin dan muslimat semuanya. Aamiin Aamiin yaa rabbal aalamiin Allahumma Aamiin aamiin ya rabbal aalamiin.



VIIIb. Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani  bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin Assegaf

Ia seorang yang shaleh,  dan ia seorang yang ta’at beragama yang sangat memelihara iman dan islam, ia amat dekat dan kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah dzahir dan amaliah-amaliah bathin lainya.


01. Nasab Sayyid Abuthair Muhammad bin Abutha'am Ibrahim Assegaf

الْحَبِيْب اَبًوْ طَيْرٍمُحَمَّدْ بِنْ اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف  بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ  بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله


02. Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf Lahir.

Menurut ceritera Datu-datu dan Nenek kami bahwa Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf di Desa Lumpangi  kelahirannya awal abad ke-19M tahun  1829 Masihi dan wafatnya tahun 1942 Masihi

Sumber data lain ada yang menyebutkan bahwa Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim Assegaf lahir di Desa Lumpangi hari Jum'at, tanggal 14 Ramadhan tahun 1252 H/23 Desember 1836 Masihi.

Nama ayahnya adalah Habib Abu Tha’am Ibrahim Assegaf sedangkan nama ibunya Siti Rahmah (Diang Tangang), yang aslinya orang Tangang Bamban Kec. Angkinang. Sebelumnya ibunya bekerja sebagai Pedagang atau penjual Iwak yang ia bawa sendiri dengan lanjung dari Tangang Bamban ke pasar Jum'at Lumpangi” setiap minggunya.


03. Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf Menerima Pengajaran ilmu Agama.

Sejak kecil Habib Abu Thair Muhammad Assegaf, ia bercita-cita ingin merantau ke Negeri orang, kata orang tuanya hai Habib Abu Thair Muhammad bahwa “Kalau kau ingin merantau, kau harus banyak basango ilmu, supaya kembalinya kau selamat,” maka iapun telah membekali dirinya dengan giat belajar ilmu-ilmu agama kepada orang tuanya, kepada kakeknya dan pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat.

Dimasa kecil (lahir)nya Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf berada di bawah asuhan kedua orang tuanya bersembunyi di Desa Lumpangi, dimasa penjajahan Belanda datang ke Kalimantan.

Ia Mendapatkan Pengajaran Agama langsung dari : -Abu Tha’am Ibrahim/ Siti Rahmah ayah-ibunya, -Abu Bakar as-Tsani kakeknya -Abdullatif pamannya. Dan -Abu Ali pamannya. Oleh karenanya Dia pandai baca Al-Qur’an dan baca tulis arab Malayu”.

 

d. Masa muda Remaja Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf.

Masa muda Habib Abu Thair Muhammad bin Abuthair Ibrahim Assegaf di pertengahan abad ke-19 Masihi sekitar tahun 1852, "Beliau hidup dimasa penjajahan Belanda dan menemui awal Jepang menjajah Indonesia."

Sebahagian orang tua desa Lumpangi ada yang berkata "Keadaan fisik postur  tubuh Abu Thair Muhammad dimasa mudanya : Tingginya tidak jauh berbeda  dengan anaknya Tanqir Ghawa, dan bertubuh besar, kekar, berdada bidang,  ganteng, bermuka ceria, berkulit putih sawu matang, rambut sedikit ikal dan berumbak dan sedikit homoris."

Menurut salah satu sumber, ada yang mengatakan bahwa  Abu Thair Muhammad, ia berumur tidak kurang dari 110 tahun Hijeriah bahkan lebih. Yang pastinya tentu saja, lebih tua 25-26 tahun usianya dari kelahiran anaknya Tanqir Ghawa 1862M.

Menurut ceritera Datu-datu dan Nenek kami Desa Lumpangi "Ketika warga desa Amawang Kandangan banyak yang menghindar dari kesewenangan Penjajah Belanda dan mereka memilih menetap menjadi orang pegunungan di Desa Lumpangi.

Habib Abu Thair Muhammad adalah duriat Habib Lumpangi yang ke-5 yang diberikan umur yang panjang, ia berusia lebih dari satu abad. Ada yang mengatakan/ berpendapat bahwa keberadaan Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf di Desa Lumpangi 

Berkata Abuthair Muhammad kepada anak cucunya bahwa “Syukur alhamdu lillaah banar kita ine cucuai, jaka kada datang habib membawa Islam dan nine kita ada yang balaki habib lalu maislamakan datu nine bubuhan  kita Dayak lumpamgi, jaka kada baislam maka kita rugi banar akan dimasukakan ke dalam Naraka, nauudzu billaahi mindzaalik” ucapannya ine telah d   iucapan pula oleh datu nine kita bahari sebelumnya kepada anak cucunya.


04. Pernikahan Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf dengan ibunda Siti Tiadah (Siti Siyadah /Qiyadah).

Berkata Habib Husni bin Manshur bin Hasan bin Aliadam bin Abdul Latif bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf bahwa “Habib Aliadam punya 2 orang saudara laki-laki yaitu Habib Abdul Karim dan Habib Abdullah. Habib Abdul Karim pernah tinggal lama di Amuntai.”

Menurut ceritera Datu-datu dan Nenek kami bahari bahwa ketika Sayyid  Abu Thair Muhammad muda berprofisi Arsetiktor Bangunan (Tukang) sekitar tahun 1860 Masihii ia berwisata lewat Nagara menuju ke kota Raja Amuntai dan Candi Agung di Hulu Sungai Utara Amuntai, ia menjumpai sepupunya yang juga berprofisi Arsetiktor Bangunan (Tukang) dan Dagang yaitu Habib Abdul Karim bin Abdul Latif Assegaf yang tinggal sudah lama di desa Candi Agung Amuntai Tengah. Ketika ia berada di Amuntai, ia bekerja beserta sepupunya membangun Proyek Balai Rung Permaisuri Raja, saat bekerja itulah ia berjumpa, berkenalan dan jatuh hati dengan seorag Dayang Permaisuri Raja, seorang gadis dara bernama "Siti Siadah/Tiadah atau Siti Qiadah" ia adalah gadis asli orang Candi Agung Amuntai Tengah,  ia berprofisi asal Dayang Pemayungan Permaisuri Raja Kuripan Amuntai. Ia berhenti bekerja di masa mudanya karena ia dipersunting dan dikawini oleh Sayyid  Abu Thair Muhammad di tahun 1860 M.

Konon diceritakan tahun itu bahwa setelah ia mempersunting dan mempersteri atau mengawini an. Siti Siadah atau Tiadah, sebagai Isterinya, sekitar tahun 1861 Masihi saat itu, tanaman banih/ padi telah tinggi dan buah hijaunya sudah  ada yang keluar,  orang menyebutnya tanaman itu“rangkum kupak”, ia ajak isterinya yang hamil muda keladang (pahumaan) di Mantata’i. Saat isterinya berdiri ladang di atas pondok tinggi tersebut, isterinya melihat seekor Rosa atau Kijang berkulit indah memikat hatinya, sedang makan buah bilaran di tepi ladangnya. Ketika sudah pulang, berada dirumah, isterinya ingin sekali memakan hati (ghawa dalam bahasa arab) seekor Rosa yang  pernah dilihatnya. Mungkin karena belum kesampaian hajatnya. Maka setelah anaknya lahir  Senin. 12 Rabi'ul Awal 1279 Hijeriyah berjenis kelamin laki-laki, maka anaknya diberikan nama “ Tanqir Ghawa” artinya “Hati sedikit tergoda.” Pasangan suami-isteri ini hanya punya satu anak semata wayang mereka yang diberinama "Tanqir Ghawa."

05. Masa Habib Abu Thair Muhammad Assegaf terjadi Banjir besar pada Sungai Kali Amandit.

Dimasanya Sayyid Abu Bakar as-Tsani, Abu Tha'am Ibrahim dan Abu Thair Muhammad telah terjadi Banjir besar, air sunami yang sangat mencekam, dan banyak menelan korban. Balai Pantai Dusin Hulu Banyu bekas tinggal ibunya dan sebagian keluarganya telah hanyut dibawa air bah.  Tragedy Balai Adat Hulu Banyu pecehan Balai Ulin Lumpangi Loksado diperkirakan terjadinya  1247H/1831 Masihi.

Menurut beberapa sumber yang kami himpun bahwa Akibat air sunami tersebt, di Lumpangi khususnya  sebahagian petanahan pedatuan H. Bustani yang dulunya menyatu dengan tanah Balai Ulin telah terkikis menjadi belahan sungai baru akibat air bah (banyu ba'ah) atau banjir besar itu. Sisa satu batang tiang Bekas Balai Adat yang dijadikan sebagai simbol Balai Ulin yang berdiri ditepi sungai belahan sungai yang baru itu  tiangnya bergesir atau kena air bah itu hingga condong dan rebah kedasar sungai. Dan fostur tanah tempat berdirinya bekas Balai Adat Balai Ulin dan sekelilingnya menjadi rendah atau talabuh atau terkikis sebagai akibat ganasnya air bah itu. Kemudian tiang balai yang terandam didasar sungai itu diambil dan dijadikan tiang suku guru atau tiang utama masjid Jannatul Anwar dan diletakkan ditengah-tengah sebagai penyangga atau pananggak kubah saat perihapan masjid

Air bah itu, mampu membelah dua arus, hingga terjadi Erosi (Erosi merupakan proses terkikisnya lapisan permukaan tanah yang disebabkan oleh pergerakan air, angin, es, dan gravitasi serta berlangsung secara alamiah). Erosi membuat sungai baru. Sehingga adanya peristiwa itu halaman Masjid yang dulunya sungai,  telah berubah menjadi pantai. 

Setelah sungai jauh dari Masjid, maka Masid itu direhap total dan dibangun kembali tiang, atap dan dinding menggunakan kayu ulin, kubah bundar atap siraf dan diatasnya dilengkapi dengan aksisoris, lantainya tihal yang dibeli oleh Habib Tanqir Ghawa dari Surabaya dan selesai diawal abad ke-20 Masihi sekitar tahun 1902 Masihi. Menurut ceritera datu nenek kami bahwa ada beberapa tokoh orang Lumpangi yang berperan ikut andil membangun Masjid Jannatul Anwar Lumpangi kala itu antara lain : Habib Abu Thair Muhammad sebagai ketua Pembangunan, Habib Tanqir Ghawa, H. Bustani, H.Mastur, H.Ahmad dan tokoh masyarakat lainnya sebagai anggota.

Setelah peristiwa banjir besar tersebut maka timbullah inisiatif untuk memugar atau merombak Masjid. Peristiwa pemogaran dan perombakan Masjid Pertama Lumpangi terjadi di masa Habib Abu Thair Muhammad dan Tanqir Ghawa anaknya akhir abad ke-19 sekitar tahun 1895-1902 Masihi atas kesepakatan bersama masyarakat Lumpangi, Masjid  Jannatul Anwar direhap total, semua bahan bangunannya dari kayu Ulin, beratap dan kubahnya sirap.

Aksisoris kobah Masjid  Jannatul Anwar Lumpangi dari terbuat almanium dan lantainya tihal yang dibeli oleh Habib Tanqir Ghawa dari Surabaya. Ini adalah menurut ceritera atau penuturan Habib Bahriansyah Assegaf.


06. Habib Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf Wafat.

Sebagian orang berkata bahwa "Saat Muhammad Basih buyutnya berumur kurang lebih 5 tahun Habib Abu Thair Muhammad telah wafat." Masmurah isteri cucunya telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberinama “Muhammad Barsih”. tahun 1937 M. 

Habib Muhammad Burhan Rabbani bermimpi datuknya Habib Abuthair Muhammad bin  Abu Tha'am  Ibrahim Assegaf Tanggal 14 April tahun 2022M telah terjadi wangsit lagi, setelah beberapa kali ia mendapati buyutnya lewat sebuah mimpi, ia memberi isyarat bahwa “Ia pulang hari ini, 16 Ramadhan”. Kemudian Buyutnya Habib Muhammad Burhan Rabbani bermusyawarah dikeluarganya. Kemudian hasilnya ia mengumpulkan orang-orang untuk mengadakan jamuan makan dan di iringi do’a - do’a pada haulnya setiap tanggal 16 Ramadhan, khususnya di tahun tersebut.

Sebagian orang ada yang menyebutkan bahwa Habib Abuthair Muhammad bin  Abu Tha'am  Ibrahim Assegaf berusia cukup lanjut, kurang lebih usianya sekitar 113 tahun, dan ia wafat di Desa Lumpangi,  16 Ramadhan 1361H/ Ahad, 27 September 1942 Masihi. Dimakamkan di Kuburan Muslimin, di kanan Masjid atau bawah jalan bahari sekitar lingkungan Masjid Jannatul Anwar Lumpangi.

Adapun nama Isteri Abu Thair Muhammad yang terakhir adalah "Siti Aisyah" asal orang Tangang Desa Bambam Kecamatan Angkinang, ia juga orang yang diberi umur panjang. Berdasarkan beberapa sumber : ia wafat diakhir tahun 1960-an di makamkan di Kandangan Hulu.

Bacaan  :

  1. Artikel  “Habib Abu Tha'am Ibrahim  bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf Assegaf Desa Lumpangi Loksado”  Oleh H.Hasan Basri bin H.M.Brsih,  https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/3577321678027002228
  2. Artikell “Islamnya Orang-orang Hulu Banyu Kec. Loksado di akhir abad ke-18 Masihi”  oleh H.asaan Bari, S.Ag bin Muhammad Barsih Assegaf https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/7986183751908153577
  3. https://naib-h-hasan-al-baseri.blogspot.com/2022/05/historis-tragedy-balai-adat-hulu-banyu.html

VIIIc. Habib Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ast-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar bin Hasyim bin Muhammad Assegaf.

Ia adalah seorang yang shaleh,  dan ia seorang yang ta’at yang memelihara iman dan islam, ia amat kenal dengan Tuhannya, ia seorang yang bertanggungjawab kepada keluarganya dan ia selalu berusaha menjalankan syari’at yang diperintahkan Tuhannya secara ketat selama hidupnya, seperti shalat, puasa, zakat dan amaliah-amaliah bathin lainya.

01. Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf Lahir.

Tanqir Ghawa lahir di Lumpangi, Senin, 19 Rabi'ul Awwal 1279 Hijeriyah Berdasarkan informasi beberapa sumber catatan bahwa Sayyid Tanqir Ghawa lahir di Lumpangi ditengah-tengah keluarga yang sangat sedarhana, hari  Senin, 19 Rabi'ul Awwal 1279 H bertepatan dengan tanggal  13 Oktober 1862 Masihi. Dia seorang duriat Nabi Saw yang diberi umur panjang 126 tahun Hijeriyah atau 123 tahun Masihi. 

Desa Lumpangi. dulu wilayah Kec. Padang Batung, sekarang menjadi wilayah Kec. Loksado,  Ia dipangil sehari-hari dengan nama Tanqir. Namun orang-orang dari anak cucunya memberinya gelar “Kayi Pancau”

Dua hari sesudah wafatnya  Pangeran Antasari bin Pangeran Masohut (Mas'ud) bin Pangeran Amir. Seorang Pahlawan Nasional yang berjuang melawan Belanda di tanah Banjar, ia wafat yaitu 11 Oktober 1862 Masihi di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 53 tahun. Menjelang wafatnya, dia terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya. Wafatnya Pangeran Antasari hampir bersamaan dengan kelahirannya Tanqir Ghawa bin Muhammad Assegaf

Nama panjangnya : Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddn bin Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy bin Abdurrahman bin Muhammad bin 'Aly bin al Imam  al-Quthby Sayyid Abdurrahman Assegaf  yang bergelar : al Faqih al Muqaddam Al Tsani. Sedangkan nama ibunya adalah "Siti Siadah/Tiadah atau Siti Qiadah" ia adalah asli orang Amuntai,  ia berprofisi asal Pemayungan Permaisuri Raja Kuripan Amuntai. Ia berhenti bekerja di masa mudanya karena ia dipersunting dan dikawini oleh Sayyid  Abu Thair Muhammad tahun 1860 M. Pasangan suami-isteri ini hanya punya satu anak semata wayang mereka yang diberinama "Tanqirr Ghawa."


02. Silsilah Nasab Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf bersambung ke Rasulullah Saw.

Adapun Silsilah Nasab Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf sebagai berikut :

الْحَبِيْب تَنْقِرُ الْغَوَى بِنْ اَبًوْ طَيْرٍمُحَمَّدْ بِنْ اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني بِنْ اَحْمَدْ صُحُف  بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ بِنْ حَسَنٍ بِنْ هَاشِمٍ بِنْ مًحَمَّد بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ بِنْ اَلْاِمَامً عَبْدُ الرَّحْمن اى وَلِيُّ الله الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ السَّقَّافُ بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ بِنْ سَيِّدِنَا عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ بِنْ سَيِّدِنَا الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد بِنْ سَيِّدِنَا علي الوالد االفقيه بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ صاحب مرباط بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ علي خالع قسم بن سيدنا عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ  بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُعَلَوِيّيْن بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ زَينُ الـعـابدين بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنْ عَبْدُ الله

03. Keadaan fisik postur tubuhnya Habib Tanqir Ghawa

 

Sejak kecil Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf, ia bercita-cita ingin mengembara, merantau ke Negeri orang, kata orang tuanya bahwa “Kalau kau ingin merantau, kau harus banyak basango ilmu, supaya kembalinya kau selamat,” maka iapun telah membekali dirinya dengan giat belajar ilmu-ilmu agama kepada orang tuanya, kepada kakeknya dan pamannya dan juga kepada orang lain tentang ilmu akhlak, ilmu tauhid dan ilmu hakekat.

Orang-orang ada yang berkata bahwa “Keadaan fisik postur tubuhnya masa mudanya : Tinggi hampir 2 meter dan bertubuh besar, dada bidang, kekar, ganteng, bermuka ceria, berkulit putih sawu matang, rambut sedikit ikal dan berumbak, sedikit homoris. Dia sangat memuliakan tamu, khususnya tamu dari anak cucunya, ia tidak membolehkan pulang anak cucunya pulang sebelum makan dan minum ditempatnya.

 

04. Habib Tanqir Ghawa  Assegaf Mendapatkan Pengajaran Ilmu Agama.

 

Dimasa kecilnya Sayyid Tanqir berada di Desa Lumpangi, kemudian dibawa orang tuanya ke Kandangan, dimasa Belanda datang ke Kalimantan, ia dibawa lagi ke Desa Lumpangi untuk bersembunyi.

Ia Mendapatkan Pengajaran Agama langsung dari : -Abu Thair Muhammad ayahnya, -Abu Tha’am Ibrahim kakeknya -Abdullatif paman ayahnya. Dan Aliadam pamannya. Oleh karenanya Dia pandai baca tulis arab Malayu”.

Keberadaannya Sayyid Tanqir Ghawa ditengah-tengah keluarga sangat sedarhana dan ia disukai dan disayangi oleh keluarga dan masyarakat sekitarnya di kala itu. Dimasanya orang-orang masih sangat mamamerkan dan  membanggakan “Kekuatan pisik, kesaktian, kejagauan (jago), banyak bandet dan begal, orang sering marah tanpa sebab, iri dengki yang berlebihan dan suka menindas yang lemah.”


05. Masa-masa Muda Remaja Sayyid Tanqirr Ghawa Assegaf.

Konon ketika usia Tanqirr Ghawa. 18 tahun, ia  dikawinkan oleh orang tuanya. Kemudian ayahnya pergi merantau ke Pulau Laut (Kotabaru) meninggalkannya & ibunya cukup lama, yang berakibat pada akhirnya ayah-ibunya bercerai.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Habib Tanqir Ghawa" ia dijodohkan (dikawinkan) oleh orang tuanya diusia muda tahun 1881 sekiar 18 tahun dengan seorang perempuan lebih muda darinya yang bukan kemauannya & bukan wanita pujaan hatinya, untuk tidak mengeciwakan hati orang tuanya, ia pun menikahinya dan punya anak " sekitar 5-7 tahun suami-isteri tersebut hidup rukun berumah tangga (bertahan), mungkin ada masalah dengan orang pihak ke-3 mertuanya, kemudian ia meninggalkan anak & dan isteri pertamanya asal orang Amawang.

06.  Karomah  Siti Tiadah Ibunda Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf.

Dimasa keberadan Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf diperantauaan diceriterakan bahwa “Orang-orang masih sangat mamamerkan dan  membanggakan “Kekuatan pisik, kesaktian, kejagauan (jago), banyak bandet dan begal, orang sering marah tanpa sebab, iri dengki yang berlebihan dan suka memeras, suka merampas hak orang, suka menindas orang yang lemah.”

Salah satu Karomah  Ibunda Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf adalah Menurut ceritera Kayi Sepuh Lumpangi ( Husni bin Ahmad Karji konon diceriterakan bahwa "Diawal abad ke-20 tahun 1901 Masihi ketika Datung Siti Tiadah atau Datung Qiadah, mandengar khabar berita anaknya  Sayyid  Tanqir Ghawa saat merantau di Kampung orang, ia berkalahi terluka berat dan meninggal dunia (ia dituduh berbuat onar atau bakali) dan mendapat masalah di negeri orang, maka Datung Tiadah datang menjemput (maambili) anaknya Sayyid Tanqir ke Pulau Laut (Kotabaru-Batulicin). Kata orang bahwa Ibu Sayyid Tanqir Gawa, ia hanya balarut (berpacu dilaut) mengayuh jukung yang sangat sedarhana, konon ia bisa dengan mudah dan cepat sampai ke sana, diantar dengan bantuan sahabatnya para tentara Buaya. Beliau orang sakti atau orang harat, menurut penglihatan orang-orang ketika itu, ia bisa barjalan di atas permukaan air (banyu.) dengan cepat. Setelah didapatinya Sayyid Tanqir Gawa disana, ternyata anaknya (sigar-bugar) selamat tak kurang suatu apa dan ia bukan pelakunya.

 

07. Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf  Pulang dari Pengembaraan Panjang. 

Kurang lebih 15-20 tahun lamanya,  ia merantau, mengembara berada di Negeri orang, entah 3 hingga 4 orang jumlah isterinya yang dicerai, dan ia tinggalkan bagitu saja diwaktu pengembaraannya. ia merantau ke Pulau Laut dan diakhir abad ke-19 Masihi sekitar 1882-1901M bahwa sekitar tahun 1901 Masihi ia pulang ke Hulu Sungai Selatan, Kandangan menemui kedua orang tuanya. Orang tua dan keluarganya sangat gembira atas kepulangannya dari pengembaraan. Salah satu akal dan pendapat keluarganya : “Supaya anaknya tidak berjalan jauh lagi, atau merantau lagi ke Negeri orang, dan ada rasa tanggungjawab dengan keluarga.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Tanqir Ghawa, ia bersedia dikawinkan dengan seorang perempuan janda beranak satu oleh kedua orang tuanya. Tahun  1902M (usianya Sayyid Tanqir sekitar 40 tahun) dan perempuan tersebut yang masih ada ikatan kekeluargaan dengannya. Karena ia kasihan dengan anak yatim ia merasa beberapa kali kawin disa’at perantauan tetapi isteri-isteri yang pernah ia nikahi, tidak ada yang punya anak maka perjodohan dengannya itupun diterimanya dengan lapang dada  hingga perkawinan dengan perempuan janda asal Amawang itupun terjadi dengannya. Setelah ia menikahi perempuan janda tersebut dan beberapa tahun kemudian isterinya hamil, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama ”Karjah" Adapun Karjah adalah ia tidak punya keturunan.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa “Suami-isteri tersebut hidup rukun berumah tangga sekitar 13-14 tahun tinggal di desa Lumpangi. Pada tahun ke-14 dari pernikahan Sayyid Tanqir Ghawa, isterinya (an.Khalimah) sering sakit-sakitan hingga meninggal dunia (wafat). Menurut Folklor ceritra bahwa “Selisih usia tahun kelahiran antara Karjah dengan Ahmad Baderi, Karji dan Karjah adalah lebin tua 15 tahun dan 13 tahun dari Ahmad Baderi.”


08. Habib Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad Assegaf wafat

Habib Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim Assegaf wafat hari Ahad, tanggal 13 Januari  1985 Masihi, atau 21 Rabi'ul Awwal 1405H dirumah anaknya Habib Ahmad Baderi Assegaf  di Rasau Kec. Pandawan Barabai, dimakamkan di Pakuburan Muslimin Desa Matang Ginalon Barabai. Dengan usia 126 tahun Hijeriah  lebih atau kalau dihitung tahun masihi berumur 123 tahun Masihi

acaan  :

  1. Artikel ”Biografi Habib Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim Assegaf”  Oleh  H.Hasan Baseri  bin H. Muhammad Barsih. https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/1013731233961871700
  2. Artikell “Islamnya Orang-orang Hulu Banyu Kec. Loksado di akhir abad ke-18 Masihi”  oleh H.asaan Bari, S.Ag bin Muhammad Barsih Assegaf https://draft.blogger.com/blog/post/edit/1776103061266680536/7986183751908153577

      

 Adapun kedua Syarifah puteri Habib Abu Bakar bin Habib Hasan Assegaf diperisteri oleh orang biasa orang kampung. Syarifah Pertama ini menurunkan anak. Adapun dzuriat ke-6, ada tiga bersaudara an. H.Bustani, Sarman dan mama Masni, Sarman punya anak an. Suli dan julak Tunjul, Tunjul kawin dengan Nadal  punya anak an. Ambi dan Kurniah. mereka ini punya tanah dekat dengan kampung Balai Ulin. Demikian juga Syarifah Galuh dan Aluh kacil menurunkan dzuriat ke-6 an.H.Ahmad bin Utuh Merah dan ia punya atau dzuriat an. Utuh Ramli, Jamal dan Bini Pangulu Irus, dan mereka ini juga punya tanah dekat dengan kampung Balai Ulin. Begitu juga H. Mastur Abdullah juga dzuriat Habib Abu Bakar bin Hasan, ia kawin degan syarifah Khadijah melahirkan Ismail (Ahmad I'ing) dan Hambali (pa U'ut).

        Beliau bermakam di Alkah Balai Ulin Desa Lumpangi Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan (masuk gang samping masjid Jannatul Anwar sekitar 300m)..... Haul Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim Assegaf biasa dilaksanakan oleh ahlul bait beliau pada tanggal 17 Dzulhijjah di kubah beliau (Murysid 2017)

Beliau  adalah sepupu sekali dengan Habib Ali bin Idrus Assegaf dan Habib Ali jauh lebih muda dari Habib Abu Bakar, oleh sebab itu saat pembagian tugas atau misi dakwah di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dulu, Beliau tidak diikutsertakan. Habib Ali bin Idrus bin Hasyim Assegaf telah menikah dengan wanita sholehah, berasal dari Suku Banjar kelahiran Nagara dan punya anak an. Habib Husein. Jadi Habib Husein Assegaf yang pertama lahir di Kota Kandangan adalah putra sulung dari Habib Ali. Beliiau meninggal diperkirakan tahun 1793M pada diusia remaja/muda dan belum menikah. Makam  Habib Husein bin Ali bin Idrus bin Hasyim bin Muhammad Assegaf berada dalam Kantin Los Batu Pasar Kandangan. Haul Beliau dilaksanakan setiap tanggal : 12 Rabiul Awal bersamaan dengan acara mauled Nabi Muhammad Saw..Kami saat ini belum mengetahui anak dan cucu dan juga cicit Habib Ali  selanjutnya.tetapi Habib Ali bin Idrus Assegaf barmakam dipemakaman  Ashhab Turbah Alawiyyin Anak Mas Jln.M.Rusli (Jln. Mardeka Kandangan) Kelurahan Kandangan Kota, Kecamatan Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Saadillah Mursyid ini sewaktu mengadakan penelitiannya. Beliau belum menemukan atau belum menyebutkan silsilah keturunan Lumpangi ini secara utuh atau secara lengkap. Tetapi Kami punya catatan pendahulu kami tentang silsilah nasab (keturunan) Habib Abu Bakar bin Hasan yaitu keturunan Beliau yang bernama. Habib Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) dengan perempun yang dinikahinya dari puteri Tetuha Adat Dayak Langara  Lumpangi yang belum terungkap atau belum ada  disebutkan dalam Artikel dimaksud, catatan  silsilah nasab dimaksud adalah  ::

  1. Habib H.Muhammad Barsih
  2. bin Ahmad Baderi 
  3. bin Tanqir Ghawa 
  4. bin Abu Thair Muhammad 
  5. bin Abu Tha'am Ibrahim  
  6. bin Abu Bakar as-Tsani 
  7. bin Ahmad Suhuf 
  8. bin Muhammad Djamiluddin 
  9. bin Habib  Abu Bakar bin Hasan Assegaf. 

Habib Tanqir Ghawa 

09. Keturunan Habib Tanqir Ghawa bin Muhammad bin Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf

1.Kontroversi  Keturunan atau anak isteri pertama 

Sayyid Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha'am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani Assegaf Pulang dari Pengembaraan Panjang. Sebagaimana kami jelaskan terdahulu bahwa Sayyid Tanqir Ghawa Assegaf merantau, mengembara berada cukup lama di Negeri orang, Atas restu orang tuanya ia berangkat  dari Desa Lumpangi Kab. Hulu Sungai Selatan menuju ke Pulau Laut (Kotabaru), dan tinggal bersama keluarga yang sudah lama tinggal disana. Dari Pulau Laut ini nantinya ia menyeberang ke Surabaya lewat Surabaya ia merantau ke Sulawisi, beberapa tahun disana dan ia pulang ke Pulau Laut. Ditahun tahun berikutnya dari Pulau Laut ia menyeberang ke Surabaya lewat Surabaya ia merantau Pulau Emas (Pulau Sumatera) Prov. Jambi mejumpai kakeknya an. Ali alias Abu Tayau yang sudalama tinggal disana dan beberapa tahun merantau disana, ia pulang kembali ke Pulau Laut. Kurang lebih 18-19 tahun lamanya. Dalam pengembaraannya tersebut entah 3 hingga 4 orang jumlah isterinya yang dicerai, ia tinggalkan bagitu saja diwaktu pengembaraannya. 

Pertama kali  ia merantau ke Pulau Laut diakhir abad ke-19 Masihi sekitar 1882M. Tahun 1901M adalah awal abad ke-20 dihitung dari tahun 1901 sd. 2000 Masihi. Diawal tahun 1901 Masihi Sayyid Tanqir Ghawa pulang dari Pulau Laut, menjenguk kedua orang tuanya di Desa Lumpangi Kandangan.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami menyebutkan bahwa Sayyid Tanqir Ghawa, ia bersedia dikawinkan dengan seorang perempuan janda oleh kedua orang tuanya. Tahun  1902M (usianya Sayyid Tanqir sekitar 40 tahun) dan perempuan tersebut yang masih ada ikatan kekeluargaan dengannya. Karena ia kasihan dengan anak yatim (an.Karji) & ia merasa beberapa kali kawin diperantauan tetapi isteri-isteri yang pernah ia nikahi, tidak ada yang punya anak maka perjodohan dengannya itupun diterimanya dengan lapang dada  hingga perkawinan dengan perempuan janda asal Amawang itupun terjadi dengannya. Setelah ia menikahi perempuan janda tersebut dan beberapa tahun kemudian isterinya hamil, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama ”Karjah" Adapun Karjah  ia adalah adik seibu Karji, dan ia tidak punya keturunan.

Menurut Folklor ceritra Datu-datu dan nenek kami bahwa “suami-isteri tersebut hidup rukun berumah tangga sekitar 13-14 tahun tinggal di desa Lumpangi. Pada tahun ke-14 dari pernikahan Sayyid Tanqir Ghawa, isterinya (an.Khalimah) sering sakit-sakitan hingga meninggal dunia (wafat). Menurut Folklor ceritra bahwa “Selisih usia tahun kelahiran antara Karji dan Karjah dengan Ahmad Baderi, Karji dan Karjah adalah lebin tua 15 tahun dan 13 tahun dari Ahmad Baderi.”

Menurut keterangan Habib Bahriansyah (Utuh undul,72 thn) bin Bahur Assegaf yang saya wawancarai saat aqiqah buyut pertamanya Kandangan Hulu ! dikediamannya, bahwa ia dari keterangan kakeknya & juga kisah neneknya bahwa Kayi Tanqir Ghawa dimasa mudanya dikawinkan oleh orang tuanya sebelum ia pergi  kembali (babulik) mengembara ke Pulau Laut, (sekarang Kab Kotabaru) ia telah menikahi seorang perempuan dan punya anak. atas nama Ahmad Karji adalah anak kandung Kayi Tanqir Ghawa dengan isteri pertamanya orang Amawang, dan isterinya tersebut bekeluarga dekat dengan Siti Nurah (adik kandung Atha’illah) isteri Ahmad Darani bin Abdul Hamid bin Aliadam Assegaf 

Menurut keterangan Habib Muhammad Ibnu Mubarak bin Hasan Basri Assegaf bahwa ia dari keterangan Drs.Habib Tajuddinnor,MM bin Ahmad Baderi Assegaf paman ayahnya yang ia wawancarai dikediamannya di Barabai bahwa Kayi Karji adalah anak kandung Kayi Tanqir Ghawa dari isteri pertamanya.

Menurut Habib Muhammad Burhannor bin Ahmad Baderi Assegaf yang saya wawancarai dikediamannya, bahwa mereka anak-anak Kayi Karji antara lain (Husni) dan cucu-cucunya mengakui dan meyakini bahwa ayah mereka adalah keturunan/ anak Kayi Tanqir Ghawa bin Muhammad bin Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf

Menurut ibu saya Hj. Masitah binti Salamat (umur 83 thn),  yang saya wawancarai dirumah Beliau di jalan  Alfalah Kandangan mengatakan, ia dari ucapan Umbuy Uja isteri terakhir Kayi Karji bahwa Kayi Tanqir ayah tiri Nanang Karji.

Menurut Habib Burhannor, ia dari ucapan Ahmad Baderi ayahnya bahwa Kayi Karji bukan saudara kandung kami  tetapi ia saudara seketirian  kami. Ia memperisteri mamanya Karji ketika anaknya dalam susuan dan kurang lebih 13-14 tahun hidup berumah tangga dengan isterinya tetapi tidak puya anak; dan tangga ia wafat; Kemudin Sayyid Tanqir Ghawa menikah lagi dengan Siti Khadijah seorang janda muda ditinggal mati suami

Adapun Ahmad Karji adalah anak pertama dari Tanqir Ghawa bin Muhammad bin Ibrahim bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Asseaf, setelah dewasa ia menikah Maimunah punya anak :

1.     Husni (Utuh Gunung)

2.      Ahmad

3.      Unan

4.     Misran (Imis) bin Maisyarah isteri kedua setelah isteri pertama wafat.

Kemudian Habib Ahmad Karji (Julak Nanang Karji) bin Tanqir Ghawa Assegaf setelah isterinya wafat, ia menikah lagi dengan Maisyarah perempuan asal Desa Tilahan Kec. Hantakan Barabai punya anak tunggal bernama Misran (Imis). Sedangkan Habib Husni bin Ahmad Karji  bin Tanqir Ghawa Assegaf menikah dan punya anak : Habib H.Bastami dan Sy. Nur Aida. Adapun Habib H.Bastami bin Husni bin Ahmad Karji bin Tanqir Ghawa Assegaf menurunkan anak bernama Toni Jemain dan Beny.

Adapun status Nasab Toni Jemain bin H.Bastami bin Husni bin Ahmad Karji bin Tanqir Ghawa bin Abu Thair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf adalah Maqbuulun Nasabun (nasab yg diterima).

Kontroversi adalah sebuah keadaan perdebatan atau pertentangan pendapat yang umum dan sering kali berlangsung lama. Kontroversi biasanya melibatkan perbedaan sudut pandang atau opini yang saling bertentangan

Keturunan Habib Tanqir Ghawa bin Muhammad bin Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani Assegaf 

2. Keturunan atau anak isteri Kedua

Sayyid Tanqir Ghawa menikahi Siti Khadijah seorang janda muda. Versi lain juga menyebutkan bahwa sekitar tahun 1909 ia menikah dengan perempuan janda yang ditinggal mati suaminya janda itu bernama Siti Khadijah asal orang Kandangan Hulu yang berdomisili di Lumpangi keluarga ini karena takut dengan kesewenangan Penjajah Belanda mereka berhijrah ke hulu banyu..”Maka dipihak keluarga memutuskan bahwa Tanqir Ghawa harus segera dikawinkan.. Akhirnya ia menikah dengan Siti Khadijah seorang janda beranak satu an. Ahmad Karjah. Dan  dari hasil perkawinannya  dengan janda itu kemudian ia punya keturunan 6 anak an.

  1. Ahmad Baderi,
  2.   Bahar,
  3. Badariah,
  4.   Bahur,
  5. Maswati /Taluh dan 
  6.  Salmiati

Hal senada sebagaimana yang diebutkan oleh Habib Muhammad Burhan Rabbani Assegaf dan Beliau ceritera dari ayahnya bahwa "Siti Khadijah adalah seorang janda kembang, muda dan cantik, beranak satu yang ditinggalkan mati oleh suaminya kemudian ia dikawinkan dengan Sayyid Tanqir Ghawa, kemudian dari Perkawinan itu mempunyai anak 6 orang. Salah satu dari yang 6 tersebut bernama Habib Ahmad Baderi. 

Habib Ahmad Baderi 

Habib H.Muhammad Barsih


Salah satunya lahir 4 Shafar 1337H yang bernama Ahmad Baderi. Pada Januari 1936  Ahmad Baderi menikah dengan Masmurah binti H.Bustani (Penghulu Kandangan Hulu) dan ia beranak tunggal an. Muhammad Barsih, tgl 30-7-1937. Kemudan cerai hidup. H.Muhammad Barsih menikah dengan Hj. Masitah binti Salamat asal orang Kayu Abang Angkinang dan ia punya 9 orang anak, salah satunya yang bernama Habib H.Muhammad Barsih  dan  ia punya 9 orang anak
  1. Basuni (wafat saat kecil)
  2. Basrani Noor
  3. H.Hasan Basri, S.Ag
  4. H.Muhammad Nurdin Effendi w.2014M
  5. Taniah (Nia Kurnia) w.2022
  6. Maimunah (wafat saat kecil)
  7. Dzulkipli Lubis
  8. Hj. Nursinah, S.Pd w.2018M
  9. Arya Nurhadi S.Pd (Muhammad Ariatim)
Adapun anak Hj. Masitah binti Salamat yang kedua dari 9 orang bersaudara bernama Basrani Noor bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf. Ia menikah dengan Ainah binti Kasran asal orang Malinau dan punya anak 4 orang, 2 laki-laki  dan 2 perempuan an. 
  1. Sy Farida Hayati
  2. Habib Syahril Majid, 
  3. Habib Ali Marzuki,  dan 
  4. Sy Eva. 
Adapun Syahril Majid bin Basrani Noor bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf  menikah dengan Diana binti Ayau asal orang Lumpangi dan punya anak 1 orang laki-laki an. Ajril Majid. Sedangakan adiknya Ali Marzuki menikah dengan Saidah Hasanah dan punya anak 1 orang laki-laki an. Angga Saputra.

Salah satunya dari anak yang 9 bernama Habib H.Hasan Basri. ia menikah dengan Hj. Masliana binti H.Muhammad Yusuf asall Alabio-Amuntai  dan  keduanya punya 6 orang anak. Tiga orang wanita wafat saat melahirkan dan Tiga orang lelaki yang hidup, diantaranya yang bernama Habib
  1. Muhammad Ibnu Mubarak. S.Pd
  2. Ibnu Salam, M.Pd
  3. Muhammad Ibni Athaillah, ST
Kemudian Muhammad Ibnu Mubarak menikah dengan Lina Hafizah binti Hamberani (w.Ahad Malam, 24 Agustus 2025) bin Amberin  asal desa Pemintangan Amuntai dan punya anak laki-laki an. Ahmad Fadhil Mubarak Assegaf dan Sayyid Ahnad  Qurtuby

Habib Ahmad Baderi menikah dengan Nerandah asal desa Tabihi, Kec. Padang Batung, ia tidak punya keturunan dan cerai. Kemudian Habib Ahmad Baderi menikah dengan Masliannoor asal orang Desa Tumbukan Banyu Nagara akhir tahun 1953 dan keduanya punya anak 7 orang :
  1. Muhammad Burhan Noor13 Juli 1955
  2. Rumaynur
  3. Drs.H.Tajuddin Noor, MM
  4. Syahruddin Noor
  5. Nurlianti (Nunur)
  6. Nurjatunnisa (Jatun)
  7. Nurijati Rahmi, S.Pd.I (Untung)
Inilah catatan  silsilah nasab yang kami maksud silsilah nasab (keturunan) Habib Lumpangi yang kami punya.:

Habib .Muhammad Burhan noor 

Salah satu dari 7 anak Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa bin Muhammad Assegaf dengan Maslianoor bernama “Muhammad Burhan Noor” anak pertamanya ia lahir di Kandangan 13 Juli 1955M. Sa’at dewasa ia menikah dengan perempuan bernama “Mastinah” binti Muhammad Yusuf dan punya 4 keturunan /anak  an. : 
  1. Sy Hendri Yusliani Noor, 
  2. Habib Ismatullah Halim, 
  3. Habib Muhammad Subhan dan 
  4. Habib Muhammad Ainurahman. 
Sedangkan anak ketiga bernama Drs.H.Tajuddin Noor,MM. Setelah dewasa ia menikah dengan perempuan bernama “Hj.Norliani” dan punya 3 keturunan /anak  an. : 
  1. Sy Hikmatu Diniah, 
  2. Habib M.Firdaus Fansuri dan 
  3. Sy Hafijatun Nadia. 
Adapun M.Firdaus Fansuri menikah dengan perempuan an. Ina punya 1 anak an. Adilla Risa, kemudian ia menikah dengan perempuan an. Ana isteri keduanya dan punya 1 anak an.  M.Aiman Firdaus.

Adapun Habib Syahruddin Noor bin Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa Assegaf menikah perempuan Siti Nikmah punya anak  :
  1. Habib Muhammad Taufik Abdillah
  2. Habib Faqih Maulana

Habib Bahur poto thn 1975  

Keturunan Habib Abu Bakar Assegaf anaknya yang bernama Habib Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) 

Dari Habib ini punya keturunan (anak) yang bernama Habib Ahmad (Ahmad Suhuf) dan ia menikah dengan Diang Galuh Aminah binti Abdullah bin Hamzah bin Datu Muhammad Langara, dan  ia punya anak Habib Abu Bakar as-Tsani dan ia punya 3 anak yang bernama Habib Ibrahim (Abu Tha’am), Abdul Lathif (Abu Aly) dan 'Aly versi lain namanya Abdullah (Abu Tayau).


Dzuriat Habib Abdul Lathif bin Abu Bakar As-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Abu Bakar Assegaf

Habib Abdul Lathif (gelar Abu Aly) sebelum merantau ke Pulau Emas, ia sudah menikah dengan Diang Putih (Muthma'innah) dan ia punya anak salah satunya yang bernama Habib Aliadam.

Menurut Habib Husni bin Mansyur Assegaf bahwa "Datunya Aliadammempunyai saudara kandung yang bernama "Abdullah dan Abdul Karim". Dahulu Abdul Karim tersebut pernah tinggal di Sungai Malang Amuntai". 

Datu Habib Aliadam wafat dan bamakam di Cantung Kec. Kelumpang Hulu Kotabaru. Dan Aliadam menikah dengan Nurhasanah (Nelantih), keduanya punya 5 anak  orang antara Lain :

  1. Haib Hasan
  2. Habib Umpat
  3. Habib Abdul Hamid
  4. Habib Abdullah dan
  5. Sy Masrah 

Adapun anak Datu Habib Aliadam yang pertama adalah bernama Habib Hasan. Menurut Habib Husni bin Mansur bahwa Habib Hasan punya 3 orang anak  :

  1. Sy Basriah
  2. Habib Mansyur
  3. Sy Masniah

Sedangkan Habib Mansyur bin Hasan bin Aliadam bin Abdullatif bin Abu Bakar As-Tsani Assegaf punya anak 5 orang anak antara lain    :

  1. Habib Husni
  2. Habib Jailani
  3. Habib Mugni
  4. Sy Isnawati
  5. Habib Muhaimin

Menurut Habib Husni bin Mansyur Assegaf bahwa Habib Hasan bin  Aliadam Assegaf dan Habib Mansyur bin Hasan bin Aliadam bermakan dekat langgar Darul Muttaqin di Tibung Raya Kec. Kandangan.

Adapun Habib Husni tercatat di KTP Beliau lahir di Hulu Sungai Selatan tanggal 27 Februari 1959 pekerjaan Polisi Kehutanan  Beliau menikah dengan Rasuna dan mereka  punya 4 orang anak antara lain  :

  1. Sy. Elly Maranti
  2. Sy. Erliyantisti
  3. Sy. Erini
  4. Habib Anhari Anshar (lhr 2003)

Habib Jailani menikah punya anak 1 orang yang bernama "Amin" sedangkan Habib Mugni menikah dengan Masniah punya 3 orang anak yaitu  :

  1. Sy. Linda (kelahiran 2002//20 th)
  2. Sy. Fina  (kelahiran 2013/9 th)
  3. Habib Azka (kelahiran 2015/7 th)

Habib Abdul Hamid  menikah dengan Diang Kacil (Mardiah) dan ia punya anak tunggal  an. Habib Ahmad Darani. Habib Ahmad Darani kawin dengan Siti Nurah dan ia punya 7 anak :

  1. Habib Ismail Jumberi
  2. Habib Muhammad Djamberi
  3. Sy Salabah
  4. Sy Asyah
  5. Habib Fakhrurrazi
  6. Sy Armaniah
  7. Sy Tarmiah

Habib Muhammad Djamberi bin Ahmad Darani Assegaf menikah dengan Sit Aisyah isteri pertamanya dan ia punya 2 anak  :

  1. Wardah
  2. Budi

Kemudan Habib Muhammad Djamberi bin Ahmad Darani Assegaf menikah lagi dengan Rusdiana isteri keduanya dan ia punya 1 anak an. Habib Muhammad Mahyudi Assegaf.

Dan Habib Abu Tha’am Ibrahim menikah dengan Siti Rahmah (Diang Tangang). Ia seorang janda sudah beranak dan pernikahan ini punya anak an. Muhammad. ketika isterinya wafat Habib menikah lagi dengan Diang Bulan, Habib Ibrahim juga diberi gelar "Ambatha'an atau Ambutha'an maksudnya "Bapa yang lambat beranak atau bapa yang menanti seorang anak". walaupun usianya hampir setengah abad, akhirnya dengan usaha dan ikhtiarnya ia punya 2 anak. Anak yang pertamanya bernama an. Khadijah: Habib punya 3 anak  :

  1. Muhammad (gelar Abu Thair lahir 19 Ramadhan 1244H) 
  2. Khadijah dan 
  3. Daud (Datu Pandai atau Datu Titik)

Habib Muhammad Abu Thair tahun 1860M menikah dengan seorang Puteri Siti Siadah atau Tiadah  berprofisi asal Pamayungan Permaisuri Raja Kuripan Amuntai. Ia berhenti bekerja membantu Permaisuri Raja karena disunting dan dikawini Sayyid Muhammad, dan Ia punya 1 anak tunggal yang lahir 19 Rabi'ul Awal 1279H an. Habib Tanqir Gawa. kemudian Sayyid Muhammad cerai dengan Siti Siadah atau Tiadah. 

Siti Siadah menikah lagi dengan lelaki lain, perkawinan ini tidak punya anak. Kemudian Siti Siadah menikah lagi dengan laki-laki lebih muda darinya dan dari perkawinannya tersebut, ia punya anak dua orang an. Juhri dan Fatmah. Jadi Habib Tanqir punya adik seibu an. Juhri dan Fatmah. Kemudian setelah Siadah wafat.

Kemudian ayahnya Fatmah, ia menikah lagi dengan perempuan muda dan punya anak an. (Ubuy Ani atau bini Kayi Ibas Palantingan). Setelah dewasa  Fatmah ini (Ning Aib Palantingan) menikah dengan Habib Muhammad Mohdar bin Abdullah Assegaf asal Desa Kapuh Taminung, melalui pernikahan ini menurunkan an. Aib Salim dan Habib-habib yang ada di Pelantingan. 

Adik perempuan Habib Muhammad Abu Thair yang bernama H.Mastur Abdullah  menikah dengan Syarifah Khadijah beranak 2 orang :

  1. Ismail (Ahmad I'ing)
  2. Hambali (Bapa U'ut)
  3. Datu Pandai makannya di depan paimaman Masjid Lumpngi mamarina Tanqir
  4. Muhammd bin Datu Pandai sepupu Tanqir
  5. Pa Jala Muara Lumpangi sepupu Tanqir
  6. Pa Usuf sepupu Tanqir

Mamanya Ahmad Iing dan Hambali/Pa.Uut yang memelihara dan menjaga makam terakhir,  dia bertempat tinggal dekat makam di Balai Ulin tempu dulu..Sedangkan Habib Tanqirr Gawai ini ia punya 6 orang anak


 3. Nasab Dzuriat Habib Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy Assegaf.

Ada tiga bukti kuat hubungan nasab dengan Habib Lumpangi yaitu  :

  1. Adanya perkawinan Datung Milah dengan Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf
  2. Adanya silsilah Nasab Dzuriat Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf
  3. Historis penguasaan tanah makam dan sekitarnya sebelum tahun 1970 an:

Kalau dirunut dari dzuriat Nasab Habib Muhammad Djamaluddin (Habib Lumpangi) bin Abu Bakar bin Hasan  Assegaf  yang paling muda kelahiran tahun 2020M  Marga Assegaf adalah sebagai berikut  ;r”

  1. Habib Ahmad Fadhil Mubarak Assegaf
  2. bin Muhammad Ibnu Mubarak, S.Pd
  3. bin H.Hasan Basri, S.Ag
  4. bin H.Muhammad Barsih (1937-1978M)
  5. bin Ahmad Baderi (1918-1993M)
  6. bin Tanqirr Ghawa w.1862-1985M/1279-1405H=(123 tahun M)
  7. bin Abu Thair Muhammad, 1252-1361H/1942M  “Abu Thair/Ambuthair” Pada nama awalnya adalah nama gelar kehormatannya.
  8. bin Abu Tha'am Ibrahim.(1213-1252H) “Abu Tha’am/Ambutha'am”pada nama awalnya adalah nama gelar kehormatannya.
  9. bin Abu Bakar ast-Tsani, (1191-1319H/1778-1902M).  Nama as-Tsani adalah nama yang diberikan untuk membedakan dengan Datuknya.
  10. bin Ahmad Suhuf (Tahun1736-1796M)
  11. bin Muhammad Djamiluddin (Habib Lumpangi) 1118-1195H
  12. bin Habib Abu Bakar (Datu Habib Lumpangi) 1068-1172H//1658-1759M
  13. bin Hasan. w.1720M
  14. bin Hasyim
  15. bin Muhammad
  16. bin Umar as-Shoufy
  17. bin Abdurrahman
  18. bin Muhammad
  19. bin Aly w.840H di Tarim
  20. bin Sayyidina Syekh al Imam al-Quthb Abdurrahman Assaqqaf /Assegaf (739-819H atau1338-1416M)  Beliau diberi gelai "Al Faqi al-Muqaddam Tsani Assaqaf."
  21. bin Syekh Muhammad (Maula ad-Dawilah) w.765H.
  22. bin Syekh 'Aly (Shahibut Dark) w. Rabu 17 Rajab 709H /1289M
  23. bin Sayyidina al Imam Alwi al-Guyur w.669H
  24. bin Sayyidina al-Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad (574-653H/1232M)
  25. bin Sayyidina 'Aly Walidul Faqih w.593H
  26. bin al Imam Muhammad Shahib Mirbath w.556H/1161M
  27. bin Sayyidina 'Aly (Al Iman Khaly al Qasam) w.527H/1133M
  28. bin Sayyidina Alwi  Ba' Alawi w.512H/1118M
  29. bin Sayyidina al-Imam Muhammad ( Maula Shahib as-Shaouma'ah) w.446H/1054M
  30. bin Sayyidina al-Imam Alwi  al Mubtakir (Shahib Saml) Alawiyyin w.400H
  31. bin Sayyidina al-Imam Abdullah (Ubaidillah Shahibul Aradh 295-383H/993M
  32. bin Sayyidina al-Imam Al-Muhajir Ahmad al-Abah 820-924M/345H
  33. bin Sayyidina al-Imam 'Isa ar-Rumi w.270H/883M
  34. bin Sayyidina al-Imam Muhammad An-Naqaib w.250H
  35. bin Sayyidina al-Imam 'Aly al-Uraidhi 765-818M/210H
  36. bin Sayyidina al-Imam Ja'far as-Shadiq (702-765M/148H)
  37. bin Sayyidina al-Imam Muhammad Al-Baqir (676-732M/114H)
  38. bin Sayyidina al-Imam 'Aly Zainal Abidin (658-713M/97H)
  39. bin Al-Imam as-Syahid Syahab Ahlil Jannah Sayyidina Husain (625-680M)
  40. bin Sayyidah Fatimah Az-Zahra (11H/632)
  41. binti Muhammad ibnu Abdullah Rasulullah Saw (570-632M)


4. Historis penguasaan tanah makam dan sekitarnya sebelum tahun 1970 an.

    Kalau kita telusuri historis penguasaan tanah makam Habaib dan sekitarnya yang ada Desa Lumpangi, ternyata semuanya milik keluarga Habib Abu Tha'am Iberahim  yang diturunkan kepada ke-3 anaknya yang bernama :

  1. Muhammad (Abu Thair,)
  2. Siti Khadijah, dan
  3. Daud 
  4. Aliadam (anak kemanakan Ibrahim) untuk pembagian tanah lihat Denah diatas.
Dulu sebelum sampai ke pusara Habib Abu Bakar bin Hasan Assegaf, harus menyeberangi sungai Kali Amandit baru melewati jalan bawah pohon tarap bingkuang (lugong) yang tumbuh di tepi sungai Kali Amandit, terus meliwati jalan samping pepohonan ada pohon manggis, pohon ramania, pohon rambai, pohon langsat , pohon gitaan, pohon ramania, pohon kelapa pohon durian semua pohon-pohon itu lebih besar dari embir dan tinggi. 
Tanah lireng bukit batu Langara belakang kiblat makam berupa Rumpun Bambu dimiliki oleh Habib Aliadam
Tanah dan kebun buah-buahan ini terletak Sebelah Barat diluar areal makam dikuasai Julak Ahmad Iing dan Hambali (Pa. Uut) sepupu /keluarga Habib Tanqirr Gawa. Kemudian dihulu kebun ini  arah Kiblad luar areal pusara ada tanah  dan kebun langsat dan pohon pohon durian,  ada yang sebesar drum aspal. Tanah dan kebun ini terletak Sebelah Barat-Utara dikuasai oleh keturunan Habib Abu Thair Muhammad. 
Sedangkan Timut- Utara Tanah dan kebun ini dikuasai oleh keturunan Habib Abu Thair Muhammad. Timur-Selatan  Bukit Batu Langara dan Barat-Selatan ada Tanah yang ditumbuhi Rumpun-rumpun Bambu (pulau Paring) tanah ini juga dikuasai oleh keturunan Habib Abu Thair Muhammad. Sedangkan seberang sungai dari makam namanya tanah  Patawakan adalah kebun karet dulu dikuasai Kayi Sarman (datuknya Julak Tunjul, ia = mamanya Ambi Nadal) sepupu jauh Habib Tanqirr Gawa


6. Historis Desa Lumpangi.

Ada sebagian  Keluarga Habib yang dulunya masih bertempat tinggal dekat areal makam di kampung  Balai Ulin. Keluarga itu adalah keturunan Habib Iberahim (Abu Tha’am) yaitu adik perempuan kandungnya Habib Muhammad Abu Thair yakni  ibunya kuitan ismail atau Ahmad I’ing dan Hambali. Ia dulunya bertempat tinggal dekat makam, dan karena merasa susah PP ke Lumpangi, harus menyeberangi sungai Kali Amandit, arus sungainya yang deras sedalam lebih dari 1 meter, menyeberangi dengan jalan kaki, atau menyeberangi dengan rakit  bambu  untuk samapai ke masjid dan ke pasar  dan juga di pasar ini untuk mencari keperluan hidup lainnya seperti  uyah, asam, acan dan timbaku. Maka setelah dibuatnya jembatan gantung penghubung antara desa Lumpangi dengan kampung muara Ahan. Maka kedua saudara ini Julak Ahmad I’ing dan Hambali pindah rumah dari kampung Balai Ulin ke kampung Muara Ahan. Maka kampung Balai Ulin kosong dari perumahan penduduk. Kekosongan itu terjadi sebelum Indonesi merdeka. Kemudian  Julak Ahmad I’ing dan Hambali (pa. Uut)  mendirikan sebuah rumah di tepi sungai Ahan. Rumah itu juga berada di tepi jalan Kandangan ke  Loksado. Dulu orang-orang yang dari Kandangan, apabila sampai dihulu kampung Datar Tandui, mereka menyeberang sungai Kali Amandit yang dangkal  dekat muara ahan, mereka  berjalan  meliwati halaman rumah Ahmad I’ing dan Hambali, tetapi bila air sungai dalam dan arusnya  deras mereka menyeberang lewat jembatan penghubung antara Lumpangi dengan muara Ahan. Dan mereka juga meliwati halaman rumah Julak I’ing dan Hambali ini.

    Sejak kedua kakak beradik inilah pindah rumah, maka kampung Balai Ulin menjadi mati tak dihuni lagi oleh penduduk setempat, dan pusara / makam Habaib mulai tidak terawat lagi dengan baik. Dikampung Muara Ahan tahun 1974an sudah ada tempat pendidikan masyarakat yang dikenal “SR” yaitu Sekolah Rakyat. Bangunan SR dibangun dengan swadaya masyarakat dan honor Gurunya atas swadaya masyarakat.  

    Pasar lumpangi dulu berada dihulu masjid, sebagian para Pedagang  berjualan dihalaman rumah kami, konon keberadaan  pasar ini cukup lama  seiring  keberadaan  dibangunnya masjid.  Kemudian ada bantuan Pemerintah tahun 1974 untuk membangun pasar, untuk pembuatan tempat khusus jualan maka pasar pindah ke pantai dihalaman rumah Uus(Pa.Mawan) dan.dekat dengan Jembatan gantung. Jembatan gantung sedarhana dengan tali kawat baja yang diikatkan pada kaki batu langara, dan diseberangnya di beri dua tiang ulin dan ujun kawat baja diikatkan pada kayu ulin yang dibenam di dasar tanah pantai. Ujung tali itu ditutupi batu kali sebesar kepala setinggi 1 meter lebih. Lantai paring batangan, banyaknya antara 5-7 batang yang diikat dengan  tali haduk,paikat tali atau tali sumawi tempo dulu.

    Dahulu sebelum terjadi pemekaran desa dan kecamatan bahwa Desa Lumpangi menjadi wilayah Kecamatan Padang Batung Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Untuk sampai ke desa Lumpangi seseorang harus jalan kaki dari Taxian mobil Pagat Batu (Batu Bini). Waktu itu jenis mobi taxi yang sampai  ke Batu Bini ini adalah mobil jenis Jep dan mobil Puar. Kedua jenis mobil inilah yang taxi pulang-pergi (PP) Kandangan – Pagat. Batu.  Nah dari Pagat  Batu inilah jalan kaki menuju desa Lumpangi kurang lebih 6 jam memakan waktu lama kalau berjalan normal melewati tepi sungai Kali Amandit. Ada beberapa desa yang dilewati (sebagai terminal pejalan kaki untuk istirahat  minum  dan makan di warung pada desa-desa tersebut) antara lain desa-desa yang dilalui desa Bulanang,  desa Muara Hariang (Periangan), desa Halunuk, desa Basawar, desa Muara Bayumbung, desa Harantan (Panggungan) desa Marikit dan kampung  Datar Tandui terus sampai Desa Lumpangi. Tetapi sekitar tahun 1991-1995 jalan tembus Kandangan ke Batulicin baru dibuat, dengan adanya  akses jalan tersebut maka sepeda motor dan mobil bisa masuk dengan mudah ke desa Lumpangi.. Jalan tembus ini sangat berpengaruh banyak terhadap perekonomian masyarakat desa Lumpangi khususnya. Kemudian terjalilah pemekaran desa dan kecamatan, maka Desa Lumpangi menjadi Kecamatan Loksado.



DAFTAR PUSTAKA

 

Referensi   :

  1. Artiel Sekilas mengenal profil Ulama terkemuka yang popular dengan Al Faqih Al Muqaddam Ats Tsani yang di juluki Al Seggaf. https://pecintahabibana.wordpress.com/2013/03/10/sekilas-biografi-al-imam-syekh-abdul-rahman-al-seggaf/ 
  2. Artikel Mengenal Sejarah Alawiyin Masuk Nusantara/. http://www.suarabamega25.com/2023/01/mengenal-sejarah-alawiyin-masuk.htm
  3. Artiel Sekilas mengenal profil Ulama terkemuka yang popular dengan Al Faqih Al Muqaddam Ats Tsani yang di juluki Al Seggaf. https://pecintahabibana.wordpress.com/2013/03/10/sekilas-biografi-al-imam-syekh-abdul-rahman-al-seggaf/ 
  4. Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin Maktab Daimi-Rabithah Alawiyah /https://www.scribd.com/document/537983716/Buku-Saku-Marga-Alayawiyin-Maktab-Daimi-Rabithah-Alawiyah 
  5. Artikel & Opini WargaHeadlineIslam/ Sejarah Alawiyyin Marga / Fam Azmatkhan/ Redaksi 30 Juli 2020 5 min read // https://suarakalimantan.com/2020/07/30/sejarah-alawiyyin-marga-fam-azmatkhan/

  6. Artikel "Asal usul Marga Al-Azhmatkhan” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. / https://id.wikipedia.org/wiki/Azmatkhan

  7. Artikel “Azmatkhan” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas// 

  8. Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin Maktab Daimi-Rabithah Alawiyah /https://www.scribd.com/document/537983716/Buku-Saku-Marga-Alayawiyin-Maktab-Daimi-Rabithah-Alawiyah

  9. Artikel Mengenal Sejarah Alawiyin Masuk Nusantara/. http://www.suarabamega25.com/2023/01/mengenal-sejarah-alawiyin-masuk.html
  10. Artikel “Seiyun” From Wikipedia, the free encyclopedia This page was last edited on 12 February 2022, at 02:00 (UTC). https://en.wikipedia.org/wiki/Seiyun
  11. Artikel “Menelusuri Silsilah Suci Bani Alawi Sadah Aal Ba Alawy Aal Muhammad” ditulis oleh  Al Habib Aidarus Almashoor/http://as-sadah.blogspot.com/2011/12/menelusuri-silsilah-suci-bani-alawi.htm
  12. kitab biografi "Ulama Terkemuka Dunia dan Nasional" oleh Syamsul Afandi
  13. Artikel Buku Saku Marga Alayawiyin Maktab Daimi-Rabithah Alawiyah /https://www.scribd.com/document/537983716/Buku-Saku-Marga-Alayawiyin-Maktab-Daimi-Rabithah-Alawiyah
  14. Artikel Biografi Abu Abdullah Mas\’ud bin Abdullah al-Jawi/https://www.tokohwanita.co.id/2023/02/02/biografi-abu-abdullah-masud-bin-abdullah-al-jawi/

Artikel Biografi Habib Abu Bakar Assegaf yang ditulis pada tahun 2017 oleh  Saadillah Mursyid

 

Kitab Biografi Ulama-ulama Terkemuka Dunia dan Nasional” yang ditulis oleh “Syekh Samsul Afandi The source: hadhramaut.info/indo – 01/5/2008

 

Artikel tentang “Suku Dayak”yang di tulis oleh Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Suku Dayak - Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (diakses pada 19 Oktober 2021).

Artikel tentang “Sejarah Kalimantan Selatan” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kalimantan_Selatan diakses 20-10-2021 :07.45 wita


Artikel tentang “Kesultanan Banjar “ yang diterbitkan oleh Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas 2011-03-27 13:26 Alamnirvana.


 Artikel Sejarah dan Perkembangan Kerajaan Islam di Kalimantan"  yang ditulis oleh Tim, CNN Indonesia | Rabu, 30/06/2021 13:03

 

Artikel tentang Islam di Kesultanan Banjar pada abad ke 19M dan Peran Muhammad Arsyad Al Banjari ditulis oleh: Abd. Gafur tahun 2009

 

Tahun1761–1801, masa pemerintahan Sultan Tahmidullah Kesultanan Banjar, https://www.google.com/search?q=kapan+belanda+menjajah+kalimantan+selatan&sxsrf=AOaemvKZjxAG7Lq7Y7jOA1IDVSAUmB7O2Q%3A1634772915876&ei=s6dwYeD6NISbmge2zIvICw&oq=kapan+belanda+menjajah+kalimantan+selatan&gs_lcp=Cgdnd3Mtd2l6EAEYATIHCCEQChCgATIHCCEQChCgAToHCAAQRxCwAzoHCAAQsAMQQzoECCMQJzoFCAAQgAQ6BggAEBYQHjoFCCEQoAFKBAhBGABQudYHWKGYCGCDrwhoAXACeACAAYcBiAGdBJIBAzIuM5gBAKABAcgBCsABAQ&sclient=gws-wiz diakses 20-10-2021, 09.41


 Waktu tahun 1975 ( kami pernah sekolah SD Kristen di Desa Loksado kurang lebih 2 tahun setengah kemudian pindah ke Lumpangi) ketempat tinggal asal di Desa Lumpangi. An. H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih, bin Ahmad Baderi bin Tanqirr Gawa bin Muhammad Ambatit bin Muhammad Ambatha’an bin Ahmad Suhuf bin Djamiluddin bin Sayyid Abu Bakar Assegaf (Datu Lumpangi)

 Artikel Datu Bakumpai bernama Syekh Abdusshamad bin Mufti Syekh Djamaluddin adalah orang yang mengislamkan suku Dayak Bakumpai di wilayah Barito Kuala kota Marabahan

Folklor  adalah Ceritera/kisah yang penyebaran dan pewarisannya cenderung dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut.

 Barter merupakan sistem perdagangan yang di dalamnya terdapat kegiatan tukar-menukar barang tanpa melibatkan uang sebagai alat transaksi. Para wanita tua muda tertarik bergerumbul mengelilingi jualan Habib, mereka melihat dan mencoba mengenakan cincin, aguk/kalung, gelang dan bunil dan juga surui gafit. wanita tua tertarik dengan sarung/tapih. Disinilah Habib mulai tergoda dengan salah satu wanita suku dayak langara dan akhirnya mengawininya. Setiap Balai Adat biasanya selalu ada muncul satu wanita tercantik di suku itu yang setiap Pemuda selalu terpikat olehnya.

 

konstruksi adalah sebuah susunan atau model dari sebuah sarana dan prasarana yang dibuat sebelum melakukan pembangunan

 

Artikel Biografi Habib Abu Bakar As-Segaf yang ditulis pada tahun 2017 oleh  Saadillah Mursyid

 

Menurut Mitologi Kisah-kesah Tetuha bahari


 

Keterangan bahwa Nama Islamnya Putri Tetuha Adat Dayak Balai Ulin yang dzuriat sesudahnya menyebutnya aluh/galuh Jamilah atau Siti Jamilah. Abu Thalib dan Hamzah adalah kakak kandung Siti Jamilah.

 

Daftar makam Ulama Aulia Habaib HSS, Dakwah sepanjang hayat Teladan sepanjang jaman, Sabtu, 17 November 2018, di tulis oleh Abu Salim (Bin Alkaff HSS) Dikutip bersumber dari Manaqib Alhabib Ali bin Idroes Assegaf Turbah Alawiyyin Anak Mas Kandangan.

 

Abad ke-18 adalah dihitung mulai dari tahun 1701M sampai dengan tahun 1800M. Sedang pertengan abad ke-18 berarti dihitung mulai dari tahun 1751M.aan tanah makam dan sekitarnya sebelum tahun 1970 an.

Aruh Baharin  /Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas : https://id.wikipedia.org/wiki/Aruh_Baharin

Artikel Sejarah Ahlul Bait (Keturunan) Sayyidina Muhammad Saw di Indonesia, http://fakhrur94.blogspot.com/2012/04/sejarah-ahlul-baitketurunan-sayyidina.html

 Suku Dayak Berasal dari Kalimantan, Berikut Asal-usul dan Tradisiny

Fida Afra – detikSulsel, Rabu, 27 Sep 2023 19:30 WIB

https://www.detik.com/sulsel/budaya/d-6953919/suku-dayak-berasal-dari-kalimantan-berikut-asal-usul-

Artikel  Suku  Dayak” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak dan-tradisinya#:~:text=Suku%20Dayak%20adalah%20kelompok%2

 Ket. Referinsi No. 6-7 Artikel Tradisi Suku Dayak & Asal-Usul Suku Dayak   https://www.gramedia.com/best-seller/tradisi-suku-dayak/

Artikel Datu Banua Lima, Panglima yang Ditakuti Prajurit Majapahit (Bagian-1)

https://daerah.sindonews.com/berita/1019516/29/datu-banua-lima-panglima-yang-ditakuti-prajurit-majapahit-bagian-1

Artikel “Nan Sarunai” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas/ https://id.wikipedia.org/wiki/Nan_Sarunai



2 komentar:

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...