BAB. III
AL BAI’AH DAN BAI’ATUL SIRRIYAH
(البيعة وبيعة السرية)
DAFTAR ISI BAB. III KITAB AL-RISALAH BAHJATUL ‘ABIID
A. PEMBAHASAN TENTANG BAI’AT
1. Pengertian Bai’at
2. Makna Bai’at
3. Dalilnya Bai'at
4. Bai’at Rohaniyah was Sirriyah
5. Bai’at di Masa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam
B. SANAD KE-08 BIOGRAFI SYEKH IMAM AL JUNAID ALBAGDADI
C. SANAD KE-09 BIOGRAFI SYEKH WAL IMAM SYIBELI
D. SANAD KE-10 BIOGRAFI IMAM IBRAHIM ANNASHRA ABADZI
E. SANAD KE-11 BIOGRAFI SYEKH ABU ‘ALI ADDAQAQ
F. SANAD KE-12 BIOGRAFI SYEKH WAL IMAM ABU QASIM AL QUSYAIRI
G. SANAD KE-13 BIOGRAFI SYEKH MUHAMMAD AZ ZAHIDI AL QADLI AL
SAMARQANDI
BAB. II
AL BAI’AH DAN BAI’ATUL SIRRIYAH
(البيعة وبيعة السرية)
A. PEMBAHASAN TENTANG BAI’AT
1. Pengertian Bai’at.
Secara bahasa (etimologi)
Bai’at berati “Menjual diri,” Ia adalah
Isim mashdar dari baa-ya’a-yubaayi’u-bay’atan [بايع – يبايع - بيعة]. Bai’at
dapat diartikan juga “janji setia dan ta’at,”kepada Guru, atau “Menjual dirinya
kepada Guru Mursyidnya.” Bai’ah asalnya sama dengan baayi’un, atau
bertransaksi, karena dalam pelaksanaannya selalu melibatkan dua pihak secara
sukarela. Bai’at juga berarti “berjabat tangan untuk bersedia menjawab akad
transaksi barang atau hak dan kewajiban.” Bai’at adalah merupakan pernyataan
komitmen spiritual secara formal di depan mursyid untuk menjalani hidup yang
benar dan lurus. Bai’at juga merupakan pernyataan komitmen berjanji setia di
depan Guru mursyid untuk menerima yang diajarkannya tentang “Ajaran Thariqat.”
Istilah Bai’at disebut juga dengan
talqin. Talqin dipakai oleh para Ahli Thariqat mendiktekan Ajaran thariqat
kepada muridnya.
Menurut Istilah, Bai’at adalah “ungkapan
perjanjian antara dua pihak yang seakan-akan satu pihak menjual apa yang
dimilikinya, menyerahkan dirinya dan kesetiaannya kepada pihak kedua secara
ikhlas dalam urusannya”. Demikian yang dikemukakan Ibnu Munzir (630-711H,ia seorang ahli fikih),
Bai’at juga berarti adalah pelantikan, peresmian, penobatan (tahbis) seorang yang memiliki keseriusan dalam menempuh jalan pengetahuan (makrifat) Allah melalui seorang Mursyid yang diyakini memiliki hubungan khusus secara jasmani dan ruhani kepada Rasulullah Saw. Bai’at, talqin, pemberian ijazah atau inisiasi spiritual dikaitkan dengan peristiwa Bai’atur Ridwan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat. Ketika itu para sahabat menyatakan janji setia dalam kondisi apapun untuk mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya.
لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ﴿الفتح:١٨
Artinya : “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).
Makna bai’at itu sendiri
adalah sumpah setia dengan suatu kepemimpinan. Sehingga ada jalinan hubungan
yang kuat antara yang memimpin dan yang dipimpin. Dengan prosesi bai’at
terjalinlah ikatan hukum berupa hak dan kewajiban serta tanggung jawab kedua
belah pihak secara adil dan proporsional. Adanya, hak dan kewajiban ini
merupakan hasil dari bai’at.
Al Bai’at dapat menjadi
terapi kaget (shock theraphy) menuju untuk hijrah kepada suasana batin yang
baru dan memberikan motivasi berkomitmen dalam kehidupan yang benar. Al Bai’at
di dunia thariqat bisa diperbaharui seandainya seseorang memerlukan pengisian
kembali (recharging ) energi spiritual dari mursyid. Namun perlu ditegaskan
sekali lagi, bahwa mursyid bukan santo atau lembaga pastoral yang dapat atas
nama Tuhan memberikan pengampunan dosa terhadap jamaah. Fungsi mursyid
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya hanya berfungsi sebagai motivator dan
tutor yang dipercayai salik.
Al Bai’at disebut juga dengan Ijazah. Ijazah mengandung arti memberikan suatu amalan atau wirid (kepada murid). Dalam kebijakan thariqat kita, Al Junaidiyah bahwa ketiga istilah ini yakni antara (Bai’at – Talqin dan Ijazah) dipadukan dalam satu kesatuan. Bai’at mengandung kesepakatan terhadap kepemimpinan yang di dalamnya mengandung pendidikan atau pengajaran sekaligus adanya pemberian amalan (wirid).
Apabila seorang Mursyid dengan tanggungjawabnya senantiasa memperhatikan keselamatan dan kebahagiaan murid-muridnya di dunia dan akhirat, dan Allah memberikan kekuatan berupa Nur Ilahi-Nya, kemudian muridnya melakukan mujahadah dalam awrad ijazahnya maka akan tersambunglah hubungan tersebut.(1).
Firman Allah Swt yang berbuyi :
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ
إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا
يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا ﴿الفتح: ١٠﴾
Artinya : “Bahwasanya orang-orang yang bersumpah setia kepada kamu sesungguhnya mereka bersumpah setia kepada Allah. Kekuasaan Allah di atas kekuasaan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”QS al Fath 10.
4. Bai’at Rohaniyah was Sirriyah
Pada Silsilah thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah (thariqat
al Qaum), ada disebutkan istilah Bai’at Rohaniyah was Sirriyah khususnya
susunan atau urutan sanad silsilah jalur pertama ini pada nomor urut ke 12 sesudah Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi adalah
Imam al Qusyairi silsilah nomor urut ke 29. Pertanyaannya adalah, mengapa Guru-guru thariqat al
Junaidiyah menyusun atau memberi nomor
urut silsilah sesudah Imam al
Qusyairi adalah Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi?
Dan diberi garis penghubung, dan tertulis bai’at Sirriyyah. Padahal antara keduanya tidak sezaman
hingga ada beberapa silsilah al Junaidiyah yang dianggap Mahjub atau Mastur.
Jawabnya adalah Imam al Qusyairi menjadi guru dari Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi dengan bai'at Sirriyah.
Penyusun Risalah Umdatul Hasanah ...... berpendapat bahwa Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi, aulia Allah yang berpangkat Rabbany atau wali kutub telah berguru البيعة السرية (berbai'at sirriyah) kepada Imam al Qusyairi yang juga berpangkat Rabbany ata Mastur dan Mahjub wali kutub. Jarak tahun antara kedua wali ini kurang – lebih lima abad atau 500 tahun. Disini mungkin ada 16 generasi silsilah thariqat al Junaidiyah yang dilewati atau yang Mastur (المستور) atau yang Mahjub.( المحجوب).
Kalau dipandang secara zahiriyah kedua Imam ini tidak sezaman, tetapi dilihat Bai'at Rohaniyah atau Sirriyah keduanya menjadi Guru dan Murid yang bagi kalangan
ahli Shufi dan ahli thariqah sesuatu hal yang lumrah adanya.
Maksud Bai'at
Rohaniyah
disini, adalah pelimpahan talqin dzikir kepada seorang Murid yang dilakukan
secara sirriyah oleh seorang Guru Mursyid. Bai'at Sirriyah disini, adalah janji setia dan
ta’at seorang murid selalu mengamalkan
talqin dzikir yang disampaikan secara rohaniyah oleh Gurunya. Guru Mursyid yang
berpangkat aulia Allah, walaupun
raga-badan Mursyidnya berada di alam lain. Dengan izin Allah dapat mengangkat
muridnya di alam zahir yakni alam dunia ini. Wali Allah tersebut sudah lama
wafat, tetapi secara rohaniyah ia dapat berhubungan bathiniyah, berkonsultasi
dan berdialogh dengan muridnya. Sang
Guru Mursyid mampu meberikan amalan-amalan dan dzikir-dzikir kepada sang murid. Sang Muridpun juga mampu menangkap
madad gurunya atau rahasia yang diajarkannya.
Baik sang murid dalam keadaan terjaga, tafakkur atau keadaan tidur
(mimpi), inilah muraqabah awal yang terjadi pada roh Sadatina al Junaidiyah,
yang dikenal pada salah satu pembahasan
pokok thariqat al Junaidiyah yakni "MURAQABAH" yang dinamai dengan
MURAQABAH KASYFUL ARWAH " (المراقبة بالكشف الارواح)
Rabithah Sirriyah dalam silsilah thariqat al Junaidiyah adalah keterikatan, keterpautan dan keterkaitan hati antara satu dengan hati yang lain dari rijal silsilahnya hingga Rasulullah Saw.
Syekh Muhammad az Zahidi
radhiyallahuanhu tersebut dapat berhubungan berdialogh sirriyah kepada Imam al
Kusyairi radhiyallahuanhu setiap sa;at dan waktu, Keadaan ini tidaklah aneh
bagi oarang Ahli Tarekah, tetapi sangatlah aneh bagi orang Ahli Syari’at. Imam al Ghazali sebelum menulis hadis-hadis Nabi Saw dalam Ihya Ulumuddin Kitabnya “ Selalu berkonsultasi dahulu
dengan Rohaniyah Nabi Saw” baru ia menulis
hadis. Syekh Ahmad
at Tijani kontak langsung batennya dengan Rasulullah Saw, atau bisa juga “Ia bermimpi berjumpa Rasulullah Saw dan Rasul membai’at dan mengajarkannya talqin
dzikir, yang pada akhirnya mendirikan Thariqat Tijaniyah.
Syekh Dr. KH. Jalaluddin dalam “Sinar Keemasan”
bukunya cetakan Tahun 1960 bahwa : Muhammad Ali
Hanafiah Nasution (MAHN) kepada
gurunya Syekh Dr. KH. Jalaluddin, “
..........mungkin orang lain pergi ke Madinah hanya menziarahi Kuburan Nabi
Muhammad Saw, tetapi
aku dengan rahmat Allah dapat menziarahi rohaniyah Nabi Muhammad Saw, aku yakin
dan percaya bahwa Nabi Muhammad Saw tidak mati, hanya Nabi Saw itu diwafatkan. Kalau hati kita sudah bersih dari sifat mazmumah –sifat jahat, insya Allah mudah saja untuk bertemu dengan rohaniyah Nabi Muhammad Saw. Nabi
Muhammad Saw pokoknya kalau kita ikhlas mengerjakan 17 macam mata pelajaran
dalam Thariqat Naqsyabandiyah. Kalau aku dengar ada orang yang bermimpi bertemu
dengan Nabi Muhammad Saw maka aku sungguh percaya kepada orang itu. Jika ada
orang yang mengatakan telah bersalaman berjabat tangan dengan Nabi Muhammad Saw
maka aku turut mempercayainya, sebab aku sendiri telah pula merasai yang demikian
itu. ..........
Ini berpendapat Penyusun Risalah Umdatul Hasanah ...... bahwa
Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi pada
nomor ke-12 pada
sanad dibawah ini selisteng
(sezaman) dengan Imam
asy-Sya’rani lahir tahun 898-973H. Syekh Muhammad
az Zahidi aulia Allah yang berpangkat Rabbany atau wali kutub telah berguru
(berbai'at sirriyah) kepada Imam al Qusyairi pada nomor ke-29 pada sanad dibawah ini yang ia juga
berpangkat Rabbany atau Mastur dan Mahjub
wali kutub. Begitu juga ia selisteng dengan Syekh Abu Abbas Nahawandi,
juga ia selisteng dengan Syekh
Ibnu Usman al Hujwiri pengarang Kitab “
Kasyp al Mahjub”. Jarak tahun antara kedua wali ini kurang – lebih lima abad
atau 500 tahun. Disini ada beberapa generasi silsilah thariqat yang dilewati
atau yang Mastur atau yang Mahjub. Kalau dipandang secara zahiriyah kedua Imam
ini tidak sezaman, tetapi dilihat Bai'ah Rohaniyah atau Sirriyah keduanya
menjadi Guru dan Murid yang bagi kalangan ahli Shufi dan ahli thariqah sesuatu
hal yang lumrah adanya.
5. Bai’at di Masa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam
Pada masa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, terjadi
beberapa kali bai’at:
a. Bai’at Aqabah pertama
Bai’at Aqabah pertama (tahun ke-11 Kenabian/ 620M), merupakan
kontrak (perjanjian) sosial dan janji setia untuk berperilaku Islami. Di
dalamnya juga terdapat rambu-rambu bagi masyarakat Islam.
b. Bai’at Aqabah Kedua
Bai’at Aqabah Kedua (tahun ke-13 kenabian/ Juni 622)
merupakan kontrak politik antara umat Islam dan pemimpin. Dua bai’at ini
merupakan proto sosial politik untuk hijrah ke Madinah dan dasar dalam
pembinaan negara Islam yang pertama di negeri itu.
c. Bai’at al Ridwan
Bai’at al Ridwan adalah sebuah janji setia para sahabat untuk
taat kepada Rasulullah Saw dalam keadaan apapun. Aku kutip Artekel Keislaman
Al-Idrisiyyah”ttg Baiat dalam Pandangan Al-Quran dan As-Sunnah” menyatakan tentang Peristiwa Bai’atur Ridwan
yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw kepada para sahabatnya. Ketika itu
para sahabat menyatakan janji setia dalam kondisi apapun untuk mengabdi kepada
Allah dan Rasul-Nya.
Bai’atur Ridhwan, yaitu kaum Muslimin sebanyak 1500 orang
yang menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan ke Makkah
untuk Umrah tahun 6 Hijriyah, mereka berbai’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam di bawah pohon Samurah. Para sahabat
waktu itu berjanji kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka
tidak akan lari dari medan pertempuran serta akan bertempur sampai titik darah
yang penghabisan memerangi orang-orang musyrik Makkah, seandainya khabar yang
disampaikan kepada mereka bahwa Utsman bin Affan yang diutus Rasulullah ke
Makkah adalah benar telah mati dibunuh orang musyrik Makkah.
Peristiwa ini dilukiskan dalam Al-Quran:
لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ﴿الفتح:١٨
Artinya : “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap
orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka
Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas
mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat
(waktunya).”
Pada bulan Dzulhijjah tahun 6 H, Nabi saw beserta pengikutnya
hendak mengunjungi Makkah untuk melakukan Umrah, dan melihat keluarga-keluarga mereka yang
telah lama ditinggalkan.
Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Usman bin Affan lebih
dahulu ke Makkah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kaum muslimin.
Nabi dan para sahabat menanti-nanti kembalinya Usman, tetapi tidak juga kunjung
datang karena Usman ditahan oleh kaum musyrikin, kemudian tersiar lagi berita
bahwa Usman telah dibunuh. Karena itu Nabi saw menganjurkan kaum muslimin
melakukan bai’at (janji setia) kepada beliau. Merekapun mengadakan janji setia
kepada beliau dan mereka akan memerangi kaum Quraisy bersama Nabi saw sampai kemenangan tercapai1)
Dari akar kata tersebut diketahui bahwa kata bai’at pada mulanya dimaksudkan sebagai
pertanda kesepakatan atas suatu transaksi jual beli antara dua pihak.
Kesepakatan itu biasanya dilakukan dengan berjabatan tangan. Istilah ini
kemudian berkembang sebagai ungkapan bagi kesepakatan terhadap suatu perjanjian antara dua pihak secara umum.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Qatadah, ia berkata kepada
Said bin Musayyab, “Berapa jumlahnya orang yang ikut Bai’atur Ridhwan?” Said
menjawab, “Seribu lima ratus orang”. Ada pula yang berpendapat jumlahnya 1400
orang.
Formula dzikir yang diberikan saat menerima Ijazah, bai’at atau talqin bisa berubah (mengalami inovasi) sesuai kondisi zamannya. Perubahan tersebut adalah bagian dari kebijakan Allah yang dinamis. Allah senantiasa melakukan Perbuatan-Nya (Fa’-’aalul limaa yuriid). Sebagai murid mesti memanfaatkan waktu dalam mewujudkan penghambaan diri kepada-Nya. Waktu menurut filsafat ibarat air mengalir yang tidak pernah berhenti. Waktu terus bergulir seiring pergerakan matahari dan bulan. Waktu tidak akan berhenti apalagi mundur. Di zaman Rasulullah Saw, bai’at diberlakukan terhadap mereka yang hendak masuk agama Islam serta bagi yang berkeinginan menunaikan pekerjaan-pekerjaan (perintah) agama. Di antara bai’at yang ada waktu itu adalah bai’at untuk taat dan patuh kepada Rasulullah Saw. Berbai’at untuk berlaku taat merupakan perintah syar’i dan Sunnah Rasulullah Saw meskipun telah beriman terlebih dahulu. Karena bai’at merupakan pembaharu janji setia serta penguat jalinan kepercayaan beragama. Ada yang memiliki persepsi keliru bahwa bai’at hanya dilakukan di saat peperangan sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah Saw dan para sahabatnya ketika menghadapi kaum kafir Mekah.2).
Padahal asbabun nuzul (sebab turunnya) kedua ayat tersebut
menunjukkan disyari’atkannya bai’at dan tidak ada penjelasan bahwa bai’at hanya
dilakukan pada saat peperangan saja. Kebijakan syari’at bai’at dilakukan pada
setiap zaman untuk membangun kepemimpinan.
Sehingga ada jalinan hubungan yang kuat antara yang memimpin
dan yang dipimpin. Dengan prosesi bai’at terjalinlah ikatan hukum berupa hak
dan kewajiban serta tanggung jawab kedua belah pihak secara adil dan
proporsional. Adanya hak dan kewajiban ini merupakan hasil dari bai’at.
Bai’at lebih merupakan pernyataan komitmen spiritual secara formal
di depan mursyid untuk menjalani hidup yang benar dan lurus. Bai’at dapat
menjadi terapi kaget (shock theraphy) menuju untuk hijrah kepada susasana batin
yang baru dan memberikan motivasi berkomitmen dalam kehidupan yang benar.
Bai’at di dunia thariqat bisa diperbarui
seandainya seseorang memerlukan pengisian kembali (recharging ) energi
spiritual dari mursyid. Namun perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa mursyid bukan
santo atau lembaga pastoral yang dapat atas nama Tuhan memberikan pengampunan
dosa terhadap jamaah. Fungsi
mursyid sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya hanya berfungsi sebagai motivator dan tutor yang
dipercayai salik.
B. SANAD KE-08 BIOGRAFI SYEKH IMAM AL JUNAID
ALBAGDADI
3. Silsilah TJ yang Ke Delapan an.
08. SYEKH IMAM AL JUNAID ALBAGDADI
Dia disetujui baik oleh kalangan Syari’at maupun kalangan Sufi. Dia sempurna dalam semua cabang Ilmu Pengetahuan. Dia berbicara dalam otoritas kalam, fiqih dan etika. Dia adalah pengikut As Sirri. Ungkapan-ungkapannya sangat agung dan keadaan batennya sempurna, sehingga semua ahli Sufi dengan suara bulat mengakui kepemimpinannya “SAYYIDUT THAIFAH.” سيد الطائفة "” Ibunya adalah saudara kandung Syekh Sirri as Saqathy dan berarti Sirri as Saqathy ini adalah pamannya al Junaid dan juga menjadi gurunya.
Al Junaid memiliki
kecermalangan di bidang keilmuan
Anekdot Imam Junaid bahwa Imam Junaid al Bagdadi memiliki kecermalangan
dalam bidang keilmuan. Beliau semporna semua
cabang ilmu, ilmu Tauhid, ilmu Fiqih, ilmu Tasawuf, Hadist, Tafsir dan
lainya. Beliau memiliki gaya Bahasa sastera yang indah dalam menguraikan ilmu yang diajarkannya sehingga
orang-orang yang mendengarkan khotbah dan ceramahnya tidak merasa jenuh dan
terkagum-kagum, kalamnya mudah dimengerti dan diingat. Salah satu pembicaraan
utama dari Syekh Junaid adalah terfokus tentang Tauhid (mengesakan Allah Swt)
yang definisinya sampai saat ini tetap menjadi rujukan utama. Yaitu bahwa
tauhid merealisasikan keesaan Allah secara semporna. Meyakini bahwa Dia Maha
Esa, tidak beranak dan diperanakkan, tidak teruraikan, tidak digambar dan tak
dibuat contoh-Nya. Dzat yang Maha Semporna, Dia Maha Mendengar dan Maha
Melihat. Guru al Junaid antara lain :
Haris al Muhasabi, Muhammad Ibn al Qashshab, Abu Ishaq An Nuri dan lainya. Kedudukan al Junaid
diantara para Sufi sangatlah terhormat, bahkan pamannya sendiri sempat
mengakuinya.
Dalam riwayat
dinyatakan bahwa ketika seseorang bertanya kepada Imam Sarri as Saqathi,
“Apakah seseorang murid dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari Gurunya
dalam Tasawuf ? “Tentu saja bisa.” Jawab Sarri as Saqathi karena ada banyak
bukti yang menunjukkan hal tersebut.” Ketahuilah bahwa tingkat tasawuf Al
Junaid itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang pernah aku capai.” Dia
katakan karena kerendahan hati Sarri. Mengenai hal ini Syekh Al Junaid
berpendapat bahwa sebagaimanapun atau seperti apapun tingginya tingkatan yang
telah dicapai seseorang Sufi harus tetap meyakini keesaan Allah Swt, kaesaan
Allah Swt dan bertaqwa kepada-Nya dengan menjalankan perintah-Nya serta
menjauhi larangann-Nya berdasarkan Al Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad Saw. Dalan ajaran thariqatnya Syekh
al Junaid mengatakan kepada setiap muridnya bahwa seseorang murid yang ingin
berthariqat tidak menjalankan tasawuf dengan hanya memperbanyak bicara.saja,
kelezatan dunia dan melepaskan segala hal-hal yang menyenangkan dunia karena
pada hakekatnya dunia adalah hina dan merugi bagi siapa saja yang mengejarnya.
Syekh Al Junaid juga
mengatakan kepada setiap muridnya bahwa
sebagai seorang yang ingin menuju Allah Swt,
seseorang harus memiliki delapan sifat Nabi dan Rasul yang harus
diterafkan dalam jiwa dan hati
seseorang, Delapan sifat tersebut adalah
:
1.Sifat Murah Hati
seperti sifat Nami Ibrahim Alaihis Salam
2.Sifat Ridha
(Penerimaan yang tak tersisa sedikitpun) Seperti Nabi Ismail AS
3.Sifat Sabar (Kesabaran), sebagaimana dimiliki Nabi Ya’kub AS
4.Kemampuan
berkomunikasi dengan bahasa Isyarat, seperti Nabi Zakaria AS
5.Sifat Uzlah
(Pemisahan dari para Makhluk), sebagaimana Nabi Yahya AS
6.Sifat Sedarhana
(Mengenakan Pakaian Jubah wol, seperti mantel gembala) Nabi Musa AS padahal beliau anak angkat Raja Fir’aun
7.Pengembaraan (studi
koperatif), seperti perjalanan Nabi Isa AS
8.Tawadhu (kerendahan
hati) seperti kerendahan hati Nabi Muhammad Saw.
Kalimat ucapan al Juniad tentang Seorang Sufi harus Memiliki Delapan Sifat Nabi dan Rasul dimaksud dibawah ini terekam pada Kitab Ath-Thabaqatul Kubra halaman 85 seperti dikutip Penyusun bahwa :
ونقلتُ
قوله
الامام
الشعراني
فى
كتابه
الطَّبَقَاتُ
الْكُبْرَي
: وكان
يقول
مَبْنِيُّ
التَّصَوُّفِ
عَلَى
اَخْلَاقٍ
ثَمَانِيَةَ
منَ
الْاَنْبِيَاءِ
علَيْهِمُ
الصَّلَاةُ
والسلام
: السَّخاءُ
وَهُوَ
لِاِبْرَاهِيْمَ
والرضى
وَهُوَ
لِاٍسْمَائِيْلَ
والصبر
وَهُوَ
لِاَيُّوْبَ
والْاِشَارَةُ
وَهِيَ
لِزَكَرِيَا
والغربة
وَهِيَ
لِبَحْيَ
وَلَبِسَ
الصُّوْفَ
وَهُوَ
لِمُوْسَى
والسَّيَاحَةُ
وَهِيَ
لِعِيْسَى وَالْفَقِيْرُ
وَهُوَ
لِمُحَمَّدٍ
صلى
الله
عليه
وسلم
وَعَلَيْهِمْ
اَجْمَعِيْنَ.
وكذا
فى
كتاب
الطَّبَقَاتُ
الْكُبْرَي
ص
85
Jauzî Sakatûlin dan Ahmad Hasan Anwar, bukunya al-Tajaliyât al-Ruhiya Fi al-Islâm, yang dikutip Ali Thaufan DS menyatakan bahwa “Kebesaran al-Junaid sebagai seorang sufi membuatnya mendapat beberapa sebutan seperti “Sayyid al-Thâifah”, “Syehk Masyayîkh”, “Tâj al-Arifîn” (mahkota orang-orang arif) hingga “al-Junaidiyah” bagi orang-orang yang belajar bersamanya.”
ونقلتُ قوله الامام الشعراني هو عبد الوهاب بن اَحْمَدَ بن عَلِيّ الانصاري فى كتابه الطَّبَقَاتُ الْكُبْرَي قال : سَيِّدُ الطَّائِفَةِ ابو القاسم الجنيدُ بنُ مُحَمَّدٍ الزُّجَاجُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: كان ابوه بَيْعَ الزُّجَاجِ فَلِذَالِكَ يُقَالَ لَهُ الْقَوَارِيْرِى. اَصْلُهُ مِنْ نَهَاوَنْدَ مَوْلِدِهِ وَمَنْشَئِهِ بِالْعِرَاقِ وَكَان فَقِيْهًا يُفْتَى النَّاسَ عَلَى مَذْهَبِ اَبِيْ ثُوْرٍ صَاحِبِ الْاِمَامِ الشَّافِعِى وراوى مَذْهَبُهُ الْقَدِيْمُ. صحب خله السريّ السقطى والحارث المحاسبي ومحمد بن عليّ القصاب وكان من كبار أئمة القوم وسادتهم وكلامه مقبول على جميع الالسنة, مات رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يوم السبت سنة سبع وتسعين ومائتين وقبره ببغداد ظاهر يزوره الخاص والعام. وكذا فى كتاب الطَّبَقَاتُ الْكُبْرَي ص 84
Menurut Ali Thaufan DS bahwa Abi Abdu Rahman al-Sulami, pada bukunya “Thabaqât Shufia”, bahwa kata “Al-Khazzaz dan juga al-Baghdadi yang disematkan pada namanya tak lain merupakan sebuah gelar. “Al-Khazzaz” berarti saudagar sutera yang kaya raya. Pun demikian dengan ayahnya yang bergelar “Al-Qawarir” yang berarti saudagar kaca. Sedangkan “Al-Baghdadi” adalah menunjukkan tempat hidupnya. Namun demikian,kekayaan yang dipunyai tidak membuatnya sibuk dengan urusan duniawi. Al-Junaid justru semakin dekat dengan Sang Maha Kuasa.
Kalimat ucapan al Juniad kecil
tentang al-syukur
dimaksud dibawah ini tertulis pada Kitab Risalah al-Qusairiyah halaman 175 seperti dikutip
Penyusun bahwa :
يَقُوْل الْجُنَيْدُ : كُنْتُ بَيْنَ
يَدَيَّ السَّرِّي اَلْعَبُ وَاَنَا اِبْنٌ سَبْعُ سِنِيْنٍ وَبَيْنَ يَدَيْهِ جَمَاعَةٌ
يَتَكَلَمُوْنَ فِي الشُّكْرِ فَقَالَ لِيْ : يَا غُلَامُ مَا الشُّكْرُ ؟ فَقُلْتُ
اَنْ لَا تَعْصِيَ اللهَ بِنِعْمَتِهِ. فَقَالَ : يَوْشِكُ اَنْ يَكُوْنَ حِظَّكَ مِنَ اللهِ تَعَالَى لِسَانَكَ. قَالَ الْجُنَيْدُ
: فَلَا اَزَالُ اَبْكِي عَلَى هذِهِ الْكَلِمَةِ الَّتِيْ قَالَهَا السَّرِّيُ.
Dalam kitab Risalah
al-Qusairiyah seperti dikutip Muhsin Ruslan, dan kemudian dikutip Ali Thaufan
Ds dipaparkan bahwa al-Junaid pernah
berkata: “Sewaktu aku berusia tujuh tahun dan sedang bermain-main di hadapan
al- Sirri Saqati, dan al Sirri
Saqati ketika itu
sedang melakukan pembicaraan
tentang al-syukr,
lalu bapak saudaraku itu bertanya kepadaku, “Anakku, syukr itu apa?” Aku
menjawab kepadanya bahwa syukr itu ialah bahwa seseorang itu tidak melakukan
maksiat terhadap Tuhan dengan menggunakan nikmat yang diberikan Tuhan
kepadanya. Bapak saudaraku berkata, “Nikmat Tuhan yang diberikan kepada engkau
itu tentulah (termasuk) lidahmu.” Al-Junaid seterusnya berkata, “Mataku
senantiasa berlinang apabila aku teringat apa yang telah diucapkan oleh al-Sirri
Saqati, Pamanku tersebut.”
Sejak kecil al Junaid terkenal sebagai sebagai seorang anak yang sangat cerdas, sehingga sangat mudah dan cepat belajar ilmu-ilmu agama dari pamannya yang bernama Syekh Sirri al Saqathi. Karena kecerdasannya itu, ketika berumur tujuh tahun, al Junaid telah diuji oleh gurunya dengan sebuah pertanyaan tentang makna Syukur. Dengan tenang dan tangkas, ia menjawab pertanyaan tersebut, “Jangan sampai Anda berbuat maksiat dengan nikmat yang telah diberikan Allah Swt.” Itulah jawaban yang singkat dari al Junaid kecil.(Enseklopedi Tasawuf).
Selanjutnya Ali Thaufan DS
pada pembahasan Tasawuf al-Junaid al-Baghdadi : Kajian Terhadap Kitab
Rasail al-Junaid menjelaskan bahwa “Sepeninggal ayahnya, al-Junaid diasuh oleh pamannya, Syekh Siri al-Saqati (w.254H)
yang juga dikenal sebagai tokoh sufi terkemuka di negeri Bagdad Irak dan ahli
berbagai keilmuan. Di bawah asuhannya ini, al-Junaid mulai menempuh pencarian
wawasan keilmuan. Al-Junaid mulai belajar fikih dan hadis. Ia berguru kepada
ahli fikih saat itu, Syekh Abû
Tsaur Ibrahim ibn Khalid
al-Kalabi al-Baghdadi (w.240H). Selain itu, ia juga berteman baik dengan salah
satu ahli fikih yakni Syekh Ibnu
Syurayj. Setelah
dengan tekun mempelajari ilmu fikih, al-Junaid tumbuh menjadi seorang fuqaha.
Pada usia yang relatif muda, 20 tahun, ia sering diminta memberikan fatwa dalam
masalah fikih. Hal ini tentu tidak terlepas dari peran gurunya, Syekh Abu
Tsaur. Pada perkembangan selanjutnya, setelah cukup mumpuni dibidang ilmu fikih
dan hadis, barulah al-Junaid beralih ke bidang tasawuf. Menurut Muhsin Ruslan,
Al-Junaid mendapat pelajaran tasawuf dari kalangan sufi yang berada di Baghdad
dan beberapa sufi yang berkunjung ke Baghdad. Kalangan sufi dari Baghdad
sendiri diwaliki oleh Siri al-Saqati.
Aku kutip dari sebuah “Artikel “ Yang
menjelaskan bahwa “Suatu ketika al-Junaid ditanya tentang kemegahan dunia.
Jawabnya, “Keberhasilan atas segala kebutuhan dunia adalah dengan
meninggalkannya”.
Diriwayatkan dari Ja’far ibn
Muhammad, ia salah seorang muridnya al-Junaid bahwa ia berkata kepadanya: “Jika
Engkau sanggup untuk tidak memiliki peralatan apapun di rumahmu kecuali sehelai
tikar maka lakukanlah tashawwuf…!”. Ja’far ibn Muhammad berkata: “Dan memang
yang ada di rumah al-Junaid hanyalah sehelai tikar”.
Diriwayatkan dalam kitab (Rijâl
al-Syarh al-Anfâs al-Rauhâniyah, halaman: 8) dari al-Khuldy bahwa al-Junaid
al-Baghdadi selama dua puluh tahun tidak pernah makan kecuali satu kali dalam
seminggu. Dalam setiap malam beliau melaksanakan shalat sebanyak 300 raka’at, Sementara
di siang hari, al-Junaid menghabiskan waktunya untuk shalat sebanyak 300
raka’at dan 30.000 kali bacaan tasbîh.
Muhsin Ruslan, pada bukunya
“Ilmu Tasawuf dan Manfaatnya: Menelusuri Pandangan al-Junaid al-Baghdadi dan
Pedoman Tasawuf Masa Kini”, seperti dikutip Ali Thaufan Ds dipaparkan bahwa
Kalangan sufi Baghdad yang menjadi guru dari al-Junaid selain al-Sirri
Saqati adalah Abû Abd Allah al-Harits ibn Hasad al-Muhasibi, Abû Ja’far Muhammad
Ibn ‘Ali al-Qassab (w.275H), Abu Ja’far al-Karabi al- Baghdadi, Abû Bakr
Muhammad Ibn Muslim Abd al-Rahman al-Qantari (w.260H), Abû Ya’qûb al-Zayyat,
Muhammad al-Samin, dan Hasan al-Bazzaz. Sedangkan tokoh sufi yang mengunjungi
Baghdad lalu dijadikan guru oleh al-Junaid antara lain adalah Abû Hafs ‘Amr Ibn
Salama al-Haddâd al-Nisyafuri (w.260H), Abû Ja’far Yahya Ibn Muaz Ibn Ja’far
al-Razî (w.258H), dan Abû Ya’qûb Yusuf Ibn Husain Ibn ‘Ali al-Razî (w.304H).
Derajat Guru Mursyid lebih
Tinggi dari Murid
Dikisahkan bahwa : Suatu hari
As Sarri as Saqathi ditanya orang,
“Apakah tingkat murid itu bisa lebih tinggi dari pada Mursyidnya ? Dia menjawab
: “Ya, terdapat bukti yang nyata untuk itu, tingkat al Junaid berada di atas
saya.” Karena kerendahan
hati dan wawasan as Sarri as Saqathy lah yang menyebabkan mengatakan demikian,
Seperti banyak diketahui, Al Junaid menolak memberikan Ceramah kepada
murid-murid selama Gurunya As Sarri as Saqathi masih hidup.
Hingga suatu malam Al Junaid
bermimpi bahwa Rasul Saw datang menemuinya dan bersabda kepadanya : “Wahai Al Junaid, temui dan berkhotbahlah kamu
kepada masyarakat, karena Allah menjadikan
kata-katamu, sebagai alat berkhotbah,
sejak itu juga dia sadar (merasa) bahwa derajatnya lebih tinggi dari pada As
Sarri as Saqathy gurunya.”
Menjelang pagi Syekh As Sarri as Saqathy mengirim – mengutus seorang murid menghadap kepada Al Junaid dengan pesan sebagai berikut :
“Engkau tidak akan berceramah kepada
murid-muridmu ketika mereka mendesak Engkau untuk melakukannya,
Engkau menolak campur tangan
Syekh Bagdad dan permintaan pribadi saya. Sekarang bahwa Rasul Saw telah
memerintahkan Engkau, maka patuhilah perintahnya.”
Al Junaid mengunjungi gurunya
Syekh As Sarri as Saqathy dan meminta ma’af dan ridla kepadanya. Dan dia
bertanya : “Bagamanakah Guru tahu kalau diri saya bermimpi bertemu Rasul ?
Syekh As Sarri as Saqathy menjawab :”Saya bermimpi bertemu Allah yang mengatakan
kepada saya, bahwa Allah mengirim Rasul untuk meminta engkau berkhotbah.”
Kalimat ucapan al Sirri Saqathi tentang Perintah Berkhotbah kepada al Juniad dari Rasul untuk masyarakat, dimaksud dibawah ini tertulis pada Kitab Risalah Jami'u Karamatul Auliya, Juz ke-2 halaman 12 seperti dikutip Penyusun bahwa :
ونقلتُ قوله الامام يوسف بن اسماعيل النبهانى فى كتابه جامع كرامات الاولياء عن قوله الامام اليافعي فى كتابه روض الرياحين : عن ابي القاسم الجنيد قال : كان السريّ يقول لي : تكلم على الناس وكان فى قلبي حشمة من الكلام على الناس, وكنت انهم نفسي فى استحقاق ذلك حياء, فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم فى المنام ليلة جمعةو فقال لي تكلم على الناس تكلم على الناس فانتبهت واتيت باب السريّ, قبل ان أصبح, فدققت عليه الباب, فقال لم تصدقنا حتى قيل لك ذلك فقعد للناس فى الجامع بالغداة. وكذا فى كتاب جامع كرامات الاولياء جزء 2 رقم 12
Ceritera hikayat ini mengandung indikasi yang jelas bahwa seorang Mursyid dalam keadaan apapun mengetahui pengalaman Baten murid-muridnya. Sebaliknya seorang Murid tidak dapat mengetahui pengalaman baten Gurunya.
SYEKH JUNAID AL BAGDADI BELAJAR ILMU HAKEKAT DENGAN SYEKH BAHLUL (WALI ALLAH YANG MAJJUB)
Anekdot Imam Junaid. Syeikh Junaidi Al Baghdadi pergi
untuk jalan-jalan keluar Baghdad. Murid-murid mengikutinya. Syeikh bertanya
bagaimana kabar bahlul yang gila ? Mereka menjawab, “Dia adalah orang gila, apa
yang anda perlukan dari dia?” “Bawalah aku ke dia, karena aku ada perlu dengan
nya.”
Para murid mencari
Bahlul dan menemukannya di padang pasir. Mereke membawa Syeikh Junaidi Al
Baghdadi kepadanya Ketika Syeikh Junaidi
Al Baghdadi pergi mendekati Bahlul, Beliau melihat Bahlul dalam keadaan gelisah
dengan batu bata ada dibawah kepalanya (posisi kepala dibawah ?) Syeikh mengucapkan salam. Bahlul menjawab dan
bertanya, “Siapakah Anda? ” ” Saya Junaidi Baghdadi.” Bahlul bertanya, “Apakah
Anda Abul Qasim?” “Ya, betul !” jawab Syeikh
Bahlul bertanya lagi ” Apakah Anda Syeikh Baghdadi yang memberikan
orang-orang Petunjuk spiritual? ” “Ya!”
kemudian Bahlul bertanya ” Tahukah Anda bagaimana cara makan?”
“Ya!” Saya mengucapkan Bismillah (Dengan mengucap nama Allah SWT). Saya makan yang paling dekat dengan saya, Saya mengambil gigitan kecil, meletakkannya di sisi kanan dari mulut saya, dan mengunyah pelan-pelan. Saya tidak nampak ke gigitan yan lain. Saya mengingat Allah SWT saat makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, Saya mengucap Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah SWT). Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.” Bahlul berdiri, meggerakkan pakaiannya pada Syeikh, dan berkata, ” Anda ingin menjadi pemimpin spiritual dunia tapi Anda pun tidak mengetahui bagaimana cara makan.” setelah mengucapkannya, dia langsung pergi. Para Murid Syeikh berkata, “O Syeikh! Dia orang yang gila.
”
Ketika Bahlul mencapai bangunan yang berdebu, dia duduk. Syeikh mendekatinya. Bahlul bertanya, “Siapakah Anda?” ” Syeikh Baghdadi yang pun tidak mengetahui bagaimana cara makan.” ” Anda tidak mengetahui bagaiamana makan, tapi apakah Anda tahu bagaimana berbicara?” “Ya”” Bagaimana anda berbicara ?” “Ya!” Saya mengucapkan Bismillah (Dengan mengucap nama Allah SWT). Saya makan yang paling dekat dengan saya, Saya mengambil gigitan kecil, meletakkannya di sisi kanan dari mulut saya, dan mengunyah pelan-pelan. Saya tidak nampak ke gigitan yan lain. Saya mengingat Allah SWT saat makan. Untuk sebutir apapun yang saya makan, Saya mengucap Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah SWT). Saya mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.” Bahlul berdiri, meggerakkan pakaiannya pada Syeikh, dan berkata, ” Anda ingin menjadi pemimpin spiritual dunia tapi Anda pun tidak mengetahui bagaimana cara makan.” setelah mengucapkannya, dia langsung pergi. Para Murid Syeikh berkata, “O Syeikh! Dia orang yang gila. ”
Para murid berkata, “O Syeikh! Anda lihatkan, dia orang yang gila. Apa yang Anda harapkan dari orang yang gila!” Syeikh berkata, ” Saya ada perlu dengan dia. Kalian tidak tahu.”
Sekali lagi Beliau pergi
setelah Bahlul sampai Beliau menjumpainya. Bahlul bertanya, “Apa yang Anda
inginkan dari saya? Anda yang tidak mengetahui Adab makan dan bicara, apakah
Anda mengetahui bagaimana cara untuk tidur?”
” Ya, saya tahu.” ” Bagaimana
cara tidur?” Bahlul bertanya ” Ketika
saya selesai sholat Isya’ dan membacakan permohonan, saya pakai baju tidur
saya.” Kemudian beliau menggambarkan adab-adab tidur yang sudah diterima oleh
beliau dari Orang-orang yang telah belajar agama. Bahlul kemudian berkata : ” Saya mengerti
bahwa Anda pun tidak mengetahui juga bagaimana untuk tidur.”
Dia ingin berdiri, tapi Junayd menangkap memegang pakaiannya dan berkata, O Bahlul! Saya tidak mengetahuinya; Demi kecintaan kepada Allah SWT ajari saya. Bahlul berkata ” Anda mengklaim pengetahuan dan berkata bahwa anda tahu sehingga Saya mencegah Anda. sekarang Anda mengakui ketiadaan pengetahuan Anda, Saya akan mengajari Anda.” “Tahu apapun yang Anda utarakan itu adalah tidak penting.” ” Kebenaran dibalik memakan makanan yang Anda makan menurut hukum adalah sepotong demi sepotong. Jika Anda makan makanan yang dilarang juga, dengan seratus adab, hal itu tidak akan menguntungkan Anda, tapi bisa menjadi alasan untuk menghitamkan hati.” ” Semoga Allah memberkati Anda pahala yang sangat besar.” ucap Syeikh.
“Apapun yang Anda ucapkan
tentang tidur juga tidak penting. Kebenarannya adalah bahwa hati Anda
seharusnya bebas dari permusuhan, cemburu, dan kebencian. Hati Anda seharusnya
TIDAK rakus untuk dunia ini atau kekayaanya, dan ingatlah Allah SWT ketika akan
tidur.. Syeikh Junaidi kemudian mencium tangan Bahlul dan berdoa untuk nya.
Para murid yang menyaksikan kejadian ini, dan yang telah berfikir bahwa Bahlul
gila, melupakan tindakannya dan memulai hidup baru.
MENGUTAMAKAN JALAN MENUJU
ALLAH (MA’RIFAH)
Anekdot Imam Junaid. Diceritrakan dalam sebuah
Artikel bahwa ada seorang sayyid atau habib (keturunan Nabi Saw) dari kota
Ghilan. bernama Nasiri,ia sedang
melakukan perjalanan ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Rukun Islam
yang kelima. Ketika sampai di Baghdad ia
pun pergi mengunjungi Syekh Junaid.
Iapun berjumpa dengannya, sambil mengucapkan Salam, maka Syekh bertanya : “Dari manakah engkau
datang, sayyid?”, Junaid bertanya setelah menjawab salam..“Aku datang dari
Ghilan,ingin menunaikan ibadah haji.”
jawab sang sayyid. .Syekh Juniad bertanya lagi “Keturunan siapakah
engkau?”, tanya junaid. “Aku adalah keturunan ’Ali, pangeran kaum Muslimin,
semoga Allah memberkatinya”, jawabnya.
“Ya, Nenek moyangmu itu
bersenjatakan dua bilah pedang”, ujar Junaid. “Yang satu untuk melawan
orang-orang kafir dan yang lainnya untuk melawan dirinya sendiri. Pada saat
ini, sebagai puteranya, pedang manakah yang engkau gunakan?” Iapun tidak
menjawab, Sang sayyid menangis sedih mendengarkan’ kata-kata ini. Kemudian
direbahkannya dirinya di depan Syekh Junaid dan berkatalah ia: “Wahai Guru, di
sinilah ibadah hajiku Tunjukkanlah kepadaku jalan menuju Allah”. Syekh Junaid
menjawab :“Dadamu adalah tempat bernaung
Allah. Usahakanlah sedaya upayamu agar tidak ada yang cemar memasuki tempat
bernaung-Nya itu”. “Hanya itulah yang ingin kuketahui”, si sayyid berkata.
Terdapat riwayat bahwa Al Junaid berkata :”Ucapan Nabi memberikan kabar ihwal kehadiran, sementara ucapan wali menyinggung soal Musyahadah.” Informasi yang sesungguhnya berasal dari pandangan dan tidak lah mungkin memberikan informasi yang sesungguhnya mengenai apapun sehingga seseorang tidak benar-benar menyaksikan, sementara isyarat sendirian membutuhkan referinsi pada hal lain. Oleh karena itu kesempurnaan dan tujuan tertinggi wali adalah permulaan keadaan Nabi ‘Alaihis Salam. Perbedaan antara Nabi dan Wali dan keunggulan Nabi atas wali adalah sedarhana. Meskipun dua aliran ziendik mengatakan bahwa wali lebih unggul dari Nabi.1).
Aku kutip dari Kitabnya Kasyf
al Mahjub karya Imam al Hujwiri dalam meriwayatkan bahwa dikisahkan : “Suatu
ketika Syekh Junaid Al-Baghdadi mendapat kunjungan dari seseorang Tamu yang baru
saja pulang menunaikan haji. Meskipun ritual haji telah ia jalani, orang ini belum menunjukkan perubahan perilaku apa-apa dalam
hidupnya.
“Dari mana Anda?” tanya Syekh
Junaid.
”Saya baru saja pulang dari
ibadah haji ke Baitullah?” orang itu menimpali.
”Jadi, Anda benar-benar telah
melaksanakan ibadah haji?”
”Tentu, Syekh. Saya telah
menunaikan haji.”
”Apakah Anda sudah janji akan
meninggalkan dosa-dosa Anda saat meninggalkan rumah untuk pergi haji?”
“Tidak, Syekh. Saya tidak
pernah memikirkan hal itu.”
“Anda sejatinya tak pernah
melangkahkan kaki untuk haji,” tegas Syekh Junaid.
“Saat Anda berada dalam
perjalanan suci dan berhenti di suatu tempat semalaman, apakah Anda memikirkan
tentang usaha mencapai kedekatan dengan Allah?”
“Itu semua tak terlintas di
benak saya.”
“Berarti Anda tidak pergi
menuju Ka’bah, tidak pula pernah mengunjunginya.”
“Saat Anda mengenakan pakaian
Ihram dan melepas semua pakaian yang biasa Anda kenakan, apakah Anda sudah
berketetapan untuk membuang semua cara dan perilaku buruk Anda, menjadi pribadi
lebih baik?” tanya Syekh Junaid lagi.
“Tidak, Syekh. Saya juga tak
pernah berpikir demikian.”
”Tidak. Saya tak mendapat
pengalaman (spiritual) apa-apa.”
Syekh Junaid sedikit kaget,
”Baiklah, saat Anda datang ke Muzdalifah, apakah Anda berjanji akan menyerahkan
nafsu jasmaniah?”
“ Syekh, saya pun tak
memikirkan hal itu.”
“Berarti Anda sama sekali tak
mengunjungi Muzdalifah.”
Lantas Syekh Junaid bertanya,
“O, kalau begitu, ceritakan kepadaku keindahan Ilahiah apa yang Anda tangkap
sekilas saat thawaf, mengitari Kakbah.”
“Tidak ada, Syekh. Sekilas pun
saya tak melihat.”
“Sama artinya Anda tidak
mengelilingi Kakbah sama sekali.” Lalu, “Ketika sa’i, lari-lari kecil antara
Bukit Shafa dan Marwa, apakah Anda menyadari tentang hikmah, nilai, dan tujuan
jerih payah Anda?”
“Tidak.”
“Berarti Anda tidak melakukan
sa’i.”
“Saat Anda menyembelih hewan
di lokasi pengurbanan, apakah Anda juga mengurbankan nafsu keegoisan untuk
menapaki jalan Allah?”
“Tidak. Saya gagal
memperhatikan hal semacam itu, Syekh.”
“Artinya, secara faktual Anda
tidak mengusahakan pengurbanan apa-apa.”
“Lalu, ketika Anda melempar
jumrah, apakah Anda bertekad membuang jauh kawan dan nafsu busukmu?”
“Tidak juga, Syekh.”
“Berarti Anda sama sekali
tidak melempar Jumrah.”
Dengan nada menyesal, Syekh
Junaid menyergah, “Ulangi, tahun depan tunaikan haji lagi. Pikirkan dan
perhatikan seluruh kewajiban yang ada hingga haji Anda mirip dengan ibadah haji
yang dilakukan Nabi Ibrahim.”
Imam Al Junaid selalu Riyadhah mengucapkan dzikir dzikir kepada Allah Swt
Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Selama empat puluh tahun Imam al Junaid menekuni kehidupan mistiknya. Dan Tiga puluh tahun utamanya, setiap selesai shalat Isa ia berdiri dan mengucapkan dzikir Ismu Dzat “Allah, Allah” terus menerus hingga fajar, dan melakukan shalat Shubuh tanpa perlu berwudhu’ lagi.
“Setelah empat puluh tahun berlalu, Imam al Junaid berceritera, “Timbullah kesombongan di dalam hatiku, aku mengira bahwa tujuanku telah tercapai. Segeralah terdengar olehku suara dari langit yang menyeru kepadaku: ’Junaid, telah tiba saatnya bagi-Ku untuk menunjukkan kepadamu sabuk pinggang Majusimu. Mendengar seruan itu aku mengeluh: ’Ya Allah, dosa apakah yang telah dilakukan Junaid?’ Suara itu menjawab: ’Apakah engkau hidup untuk melakukan dosa yang lebih besar daripada itu?”
Al Junaid mengeluh menundukkan kepalanya. “Apabila manusia belum patuh untuk menemui Tuhannya”, bisik junaid, “Maka segala amal baiknya adalah dosa semata”
Murid memisahkan diri dari Gurunya
Dikisahkan salah seorang murid
Syekh Imam Junaid memisahkan diri dari Gurunya, ia beranggapan bahwa
spritualnya akan lebih tinggi, cepat wushul dengan Allah bila dilakukan khalwat
ditempat yang sunyi dari orang-orang ramai. Pada akhirya ia membangun Gubuk
(bilik tempat khalwat) ditepi hutan yang jauh dari keramaian.
Dengan membawa perbekalan seadanya,
Tanpa bimbingan seorang Guru Mursyid, dan sesuai petunjuk yang ia pelajari
tentang khalwat, baik cara dan bacaan dalam Suluk. Ia pun melakukan Riyadhah/
Suluk atau Khalwat seorang diri di Gubuk yang berada di tepi hutan tersebut.
Beberapa hari kemudian disenja
hari, datanglah dua orang Penunggang Kuda dan kuda membawa makanan, mahkota dan
pakaian kebesaran dari Sorga. Keduanya mengaku diutus seseorang untuk
menjemputnya “Sebagai Upah jerih payahnya selama ini”. Ia pun menerima undangan
tersebut. “Undangan untuk Pangeran”, Setelah makan, berpakaian dan mengenakan
Mahkota dikepalanya, mereka pun berangkat menuju Sorga.
Dalam perjalanannya bersama kedua
utusan itu, ia melihat disamping kira dan kanannya tempat yang dilewatinya pemandangan
yang indah-indah. Ia lihat Para penduduknya yang laki-laki ganteng-ganteng dan
wanitanya elok-elok (cantik-cantik) dan bersikap ramah-tamah.
Akhirnya sampailah ketempat yang
dituju, sebuah gedung bangunan besar dan indah lengkap dengan Penjaganya,
pengawalnya dan para Pelayannya. Orang-orang disekitar itu ada yang berseru “Pangeran
Datang”. Ia pun turun dari kudanya, disambut oleh para Pengawal dan para Pelayan
wanita elok serta dibawa kesebuah ruangan khusus yang ada kamar tidurnya.
Di dalam ruangan itu, angin selalu bertiup
sepoi-sepoi, udaranya sejuk dan nyaman membuat semua orang yang berada di dalamnya
tidak gerah & betah atau nyaman. Berbagai macam aneka makanan dan minuman
anggur telah disodorkan kepadanya, Pengeran itu ditemani seorang Puteri cantik dan
dilayani para Pelayan wanita cantik (Puteri berkata : “kau jangan ragu-ragu Pangeran
bahwa kami, Puteri dan para Pelayan ini adalah upah jerih payahmu salama ini)”.
Pada akhirnya pada malam pertama itu, mereka bersanda gurau, bercumbu dan
merayu laksana Pengaten baru, (tidak ada rasa cemburu antara Pelayan satu
dengan lainnya) dan mereka bersenang-senang sambil makan dan minum hingga larut
malam, ketika nafsu birahi naik Pangeran membawa Sang Puteri masuk kamar
Penganten, dan mandi kemudian tidur hingga pagi hari (itupun dijaga dan diawasi
oleh para Pelayan wanita cantik).
Ketika pagi hari, Tanpa sadar, ia
pun terbangun dari tidurnya dan didapatinya tubuhnya tidur dimuka Gubuknya /di
depan teras Biliknya sendiri, dan kejadian terus berulang tertidur di depan teras
Biliknya, tapi ia sangat senang dan bangga sekali atas kejadian yang
dialaminya. Peristiwa dan kejadian tentang Upah
jerih payah Khalwatnya ini terus berulang-ulang kepada dirinya hingga ia
merasa hebat dan mulia, ia tak sangguf menyembunyikan kegambiraanya dan menghabarkannya
kepada teman-temannya.
Peristiwa dan kejadian yang dialami
Murid al Junaid yang memisahkan diri tersebut pada akhirnya sampai ketelinga
Syekh al Junaid al Bagdadi. Membuat Syekh al Junaid al Bagdadi rasa penasaran
dan akhirnya Sowan kepada Murid yang memisahkan diri darinya dan tinggal di
Gubuk yang berada di tepi hutan tersebut.
Dalam pertemuan itu Syekh al Junaid
al Bagdadi mengonfermasi kebenaran ceritra ttg. Peristiwa dan kejadian terhadap
Upah jerih payah Khalwat yang di alami
oleh Muridnya tersebut, apakah benar peristiwa tersebut terjadi atau tidak
terjadi ?.
Kemudian Sang Pangeran (Murid Syekh
al Junaid) menjelaskan kepada Gurunya semua
Peristiwa atau kejadian yang dialaminya terseut adalah benar. Hingga membuat Syekh al Junaid al
Bagdadi terheran-heran terhadap Peristiwa dan kejadian yang dialaminya tersebut.
Syekh al Junaid dimalam nanti …….. setelah
kau bersenang-senang dengan para Pelayan wanita cantik, kemudian kau mandi dan ingin
tidur bacalah kalimat Hauqalah ini (: لَا
حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا
بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ) sebanyak tiga kali.
Aku baca sebuah “Artikel” bahwa Lahaula
wala quwata illa billahil aliyil adzim (Hauqalah) adalah kalimat dzikir yang
mengakui kelemahan manusia dan memohon pertolongan Allah. Kalimat ini Arabnya: لَا حَوْلَ وَلَا
قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ
العَظِيْمِ yang artinya
"Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi
lagi Maha Agung", sering dibaca untuk memohon perlindungan, kekuatan, dan
sebagai pembuka pintu rezki.
Sejurus waktu berjalan Syekh al
Junaid al Bagdadi telah pulang kembali ke tempatnya, tinggalah Murid berkhalwat,
berdzikir di Gubuk tempat pengasingan seorang diri, kemudian saat senja pun
tiba. Seperti biasa datanglah dua orang Penunggang Kuda dan kuda pembawa makanan
dan pakaian serta mahkota kebesaran dari Sorga. Keduanya mengaku diutus seseorang
untuk menjemputnya “Pangeran Mahkota”, Setelah mandi, makan, berpakaian dan
mengenakan Mahkota dikepalanya, mereka pun berangkat dari Gubuk itu menuju
Sorga.
Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan
jauh, akhirnya sampailah mereka ketempat yang dituju, sebuah gedung besar bercahaya
terang gemerlapan dan indah dipandang mata, gedung itu lengkap dengan para Penjaganya,
para pengawalnya dan para Pelayannya dan juga Panggung hiburan yang sedang dipenuhi
oleh masyarakat sekitarnya. Salah seorang Penjaganya disekitar itu berseru “Pangeran
Datang”. Semua orang memberikan jalan kepadanya, Ia pun turun dari kudanya,
disambut oleh para Pengawal dan para Pelayan wanita elok serta dibawa kesebuah
ruangan khusus yang lengkap kamar tidurnya.
Aneka macam makanan dan minuman
anggur disodorkan kepada Pengeran, sambal nonton Panggug Hiburan, Pengeran itu
ditemani Puteri cantik dan dilayani para Pelayan wanita cantik (Puteri berkata
: “kau jangan ragu Pangeran ! kami ini, Puteri dan para Pelayan disekitarmu,
hasil jerih payahmu sendiri)”. Akhirnya pada malam itu, tanpa rasa malu, mereka
bersanda gurau dan bercumbu rayu laksana Penganten baru, (tidak ada rasa
cemburu antara Pelayan satu dengan lainnya) dan mereka bersenang-senang sambil makan
dan minum hingga larut malam, ketika nafsu birahi naik Pangeran menggindung
Sang Puteri masuk kamar Peradun, dan mandi kemudian ingin tidur.
Kemudian Pengeran teringat akan pesan
Guruya Syekh Al Junaid sebelum tidur agar membaca kalimat Hauqalah tiga kali.
Tetapi saat itu ia ragu-ragu untuk membacanya, dibaca atau tidak kalimat Hauqalah
tersebut hingga ia mencoba-coba membacanya tiga kali berturut : “Lahaula wala
quwata illa billahil aliyil adzim” Lahaula wala quwata illa billahil aliyil
adzim” Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim”. Tiba-tiba terdengar
suara teriakan hesteris dari para Pelayan wanita dan Puteri, dan hingga para
Pelayan wanita cantic itupun lenyap dari pandangan matanya, dan iapun tertidur ditempat
itu hingga pagi hari (Didapatinya ia berada ditumpukan tulang-belulang sampah
hewan) yang berada di pinggiran kota.
Semestinya sebelum si Murid berjalan (berkhalwat atau suluk),
hendaklah murid itu lebih dahulu, ia mencari Kawan (Shahabat) yang membimbing dalam melakukan
perjalanan, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Saw
:
عَنِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ : الرَّفِيْقُ ثُمَّ
الطَّرِيْقُ
Maksudnya :”Mencari Teman (Bersahabat dahulu) baru kemudian berjalan.”
Sebaliknya apabila si Murid tidak punya teman atau sahabat atau tidak punya imam untuk berjalan (berkhalwat /Suluk) menuju Allah Swt maka yang menjadi guru/syekhnya adalah Syaithan, seperti kata Ahli Sufiah berikut ini :
فَمَنْ لَاشَيْخَ لَهُ مُرْشِدٌ فَمُرْشِدُ الشَّيْطَانِ. كذاقول اهل الصوفية
Maksudnya : “Siapa yang tidak ada Syekhnya atau siapa yang tidak ada Gurunya yang akan menunjukinya maka yang akan menunjukinya adalah Syaithan.”
Setelah mengalami berbagai macam peristiwa dan kejadian yang dialaminya, ia sadar dan mengerti akan jalan
spritualnya, akhirnya Ia pun bertaubat dan kembali ke Gurunya dan mengikuti
majelis syekh al Junaid al Bagdadi.
MELANGGAR ATURAN
SYEKH
Anekdot Imam Junaid. Aku baca dalam sebuah Artikel
dicerirakan bahwa pada Suatu hari, ada salah seorang murid Syekh Junaid telah
melakukan satu kesalahan kecil. Karena malu ia melarikan diri dan tidak mau
pulang. Beberapa hari kemudian, ketika berjalan-jalan dengan sahabat-sahabat di
dalam pasar, tiba-tiba terlihatlah oleh Syekh
Junaid muridnya itu. Si murid lari karena malu. “Seekor burung kita
terlepas dari sangkar”, Syekh Junaid
berseru kepada sahabat-sahabatnya dan mengejar si murid.
Ketika
menoleh ke belakang, si murid melihat bahwa syeikh membuntutinya. Maka ia pun
mempercepat larinya.’Akhirnya ia bertemu jalan buntu, karena malu ia tetap
menghadapkan mukanya ke tembok. Tak lama kemudian si syeikh telah berada di
tempat itu.
“Hendak
kemanakah engkau guru?”, si murid bertanya kepada Syekh Junaid. “Apabila
seseorang membentur dinding, seorang syeikh dapat memberikan bantuannya”, jawab
Syekh Junaid
Murid
itu dibawanya pulang ke Tekkia. Sesampainya di sana si murid menjatuhkan
dirinya di depan kaki sang guru dan memohon ampun kepada Allah. Semua yang
menyaksikan pemandangan ini tergugah hatinya, banyak di antara mereka yang ikut
bertaubat.
MENGIKHLASKAN PAKAIAN
YANG DICURI ORANG
Anekdot Imam Junaid. Aku baca dalam sebuah Artikel
dicerirakan bahwa Pada suatu malam seorang pencuri menyusup masuk ke rumah dan
masuk ke kamar Syekh Junaid. Tak
berselang lama Pencuri itu beraksi karena tak satu pun barang berharga yang
ditemukannya kecuali sehelai pakaian. Pakaian itu diambilnya, setelah itu ia
pergi meninggalkan rumah Syekh Junaid. Keesokan harinya ketika Syekh Junaid
sedang berjalan-jalan di dalam pasar, dilihatnya pakaiannya itu di tangan
seorang pedagang perantara yang sedang menawarkannya kepada seorang pembeli.
Calon pembeli itu
berkata, ”Sebelum kubeli pakaian ini aku meminta seseorang yang sanggup memberi
kesaksian bahwa pakaian itu memang kepunyaanmu”. ketika itu Syekh Junaid
berseru :“Akulah yang akan memberi kesaksian bahwa pakaian itu adalah
miliknya”. Syekh Junaid berkata sambil menghampiri mereka. Maka pakaian itu pun
terjuallah.
LARANGAN BERPIKIRAN JAHAT ATAU BURUK (SU’UDZAN)
Anekdot Imam Junaid. Aku baca dalam sebuah Artikel
dicerirakan bahwa ada salah seorang murid Syekh Junaid menyendiri di sebuah
tempat yang terpencil di kota Bashrah. Pada Suatu malam, sebuah pikiran buruk
terlintas di dalam hatinya. Tatkala ia melintasi sebuah cermin didalam
rumahnya, ia memandang ke dalam cermin tersebut, maka terlihatlah olehnya
betapa wajahnya telah berubah hitam. Ia sangat terperanjat.kala itu. Dengan
segala daya upaya ai dilakukan untuk membersihkan wajahnya, tetapi
sia-sia.saja. Karena sedemikian rasa malunya, sehingga dia tidak berani
menunjukkan mukanya kepada siapa pun diluar rumah. Setelah tiga hari berlalu,
barulah kehitaman wajahnya berangsur-angsur kembali normal sedikit demi
sedikit.
Tiba-tiba seseorang
mengetuk pintu kamarnya. Sambil mengucap salam. Sambil menjawab salam ia
bertanya. ”Siapakah itu”, ·
“Aku datang untuk
mengantar surat dari Syekh Junaid”, sebuah sahutan dari luar. Si murid yang
berwajah buruk itu membukakan pintu rumahnya.
Kemudian memintanya dan membaca
surat Syekh Junaid. Gurunya. “Mengapa tidak engkau jaga tingkah lakumu di
hadapan Yang Maha Besar. Telah tiga hari tiga malam aku bekerja sebagai seorang
tukang celup untuk memutihkan kembali wajahmu yang hitam itu”.
ALLAH MENCINTAI
IBU YANG PENYABAR
Anekdot Imam Junaid. Aku baca dan kutif dalam sebuah
Artikel dicerirakan bahwa ada seorang perempuan tua datang menghadap Syekh
Junaid dan bermohon,menjelaskan “Puteraku pergi entah ke mana Doakanlah agar ia
kembali”. “Bersabarlah ibu”, Junaid
menasehati perempuan tua itu.
Dengan sabar perempuan
tua itu menanti anaknya beberapa hari
lamanya. Kemudian ia kembali kepada Syekh Junaid.bermohon “Puteraku belum
pulang, Doakanlah agar ia kembali”. “Bersabarlah ibu”, Syekh Junaid mengulangi
nasehatnya.
Kejadian seperti ini
telah beberapa kali berulang, Akhirnya wanita tua itu datang dan berkata
lantang, “Aku sudah tak dapat bersabar lebih lama lagi. Doakanlah kepada
Allah!”
Syekh Junaid menjawab:
“Jika engkau berkata dengan sebenarnya, puteramu tentu telah kembali. Allah berkata:
Dia-lah yang akan menjawab orang yang berduka apabila orang itu menyeru
kepada-Nya”.
Setelah itu Syekh
Junaid berdo’a kepada Allah. Ketika perempuan itu sampai di rumahnya ternyata
anaknya telah berada di sana.
Sejarah Imam Junaid Memuliakan Anak Cucu Nabi
Anekdot Imam Junaid bahwa pernah Aku baca dalam sebuah Artikel yang ditulis Ulin Nuha Karim bahwa yang mengawali pertanyaan : “Bagaimanakah sejarah kewalian Imam Junaid al Bagdadi hingga ia begitu masyhur, terkenal sebagai kekasih Allah? Ternyata, pada masa muda ia sebenarnya merupakan seorang yang berprofisi olahraga Gulat. Ia seorang penggulat tangguh yang tak terkalahkan pada masanya. Ia juga sangat ditakuti oleh para lawannya. Hingga suatu ketika, sang raja pada masa itu mengadakan sayembara bahwa siapa saja yang dapat mengalahkan Abul Qasim dalam perlombaan itu, akan mendapatkan hadiah yang begitu banyak.
Berita sayembara tersebut akhirnya terdengar juga oleh seorang lelaki paruh baya di
salah satu sudut Kota Baghdad. Ia adalah seorang keturunan Rasululla Muhammad
sallallahu 'alaihi wasalam yang hidupnya begitu memprihatinkan. Sudah beberapa
hari terakhir, keluarganya tak mendapatkan makanan. Usianya juga sudah cukup
tua, kira-kira 65 tahun. Namun, hal itu tak menciutkan nyalinya untuk mengikuti
sayembara gulat yang diadakan oleh Penguasa, untuk melawan Abul Qasim. Ia berani ikut, karena ia memiliki jurus-jurus
dan cara tersendiri untuk menaklukkan sang Juara Bertahan.
Ketika
hari pertarungan Gulat itupun telah tiba,
tetapi hingga hari pertarungan saat itu, anehnya tidak ada seorang pun
yang berani mendaftarkan diri untuk untuk ikut seyambara, menentang dan melawan
Abul Qasim. Sang juara bertahan tersebut. Hal itu sudah dapat dimaklumi, bahwa
seluruh penduduk kota sudah mengetahui tentang kehebatan Abul Qasim dalam
Olahraga Gulat. Mereka sangat berpikir logis bahwa lebih baik memilih jiwa-raga mereka aman dan
selamat dari pada harus kalah, mati konyol demi mengimpikan hadiah-hadiah
sayembara dari sang penguasa.
Tetapi berbeda dengan lelaki dzurriyah rasul itu, ia tak gentar sama sekali. Demi keluarga yang sudah beberapa hari tak makan, ia rela mengorbankan nyawanya. Saat ia mulai beradu pandang dengan Abul Qasim, saat melakukan penghormatan mengucapkan salam sebelum bertarung ia berbisik kepada Abul Qasim: "Wahai Abul Qasim, aku tahu bahwa engkau adalah pegulat terhebat di kota Bagdad ini. dan aku pun yakin bahwa aku tak akan mampu mengalahkanmu. Namun, tahukah engkau mengapa aku berani bertarung denganmu. Aku adalah cucu Rasulullah, namun kelurgaku sedang tertimpa kesusahan.
Sudah beberapa hari terakhir aku dan kelurgaku tak mampu membeli makanan untuk dimakan. Maka dari itu, aku memohon kepadamu agar engkau bersedia berlagak kalah bergulat denganku, hingga akhirnya hadiah sayembara itu aku dapat dan kelurgaku dapat membeli makanan.” Mendengar pengakuan seterunya itu, Abul Qasim begitu prihatin. Ia bergumam dalam hatinya “Ternyata ada juga keturunan Rasulullah yang seperti itu”. Akhirnya, dengan niatan memuliakan anak-cucu Rasulullah, ia turuti permohonan lelaki itu. Dan benar, lelaki tersebut sukses memenangkan sayembara tersebut dan kemudian membawa pulang hadiahnya untuk keluarganya.
Sedang Abul Qasim harus menanggung malu dimata pengemar (pens)nya bahwa pegulat terhebat di kota itu dapat dikalahkan hanya dengan beberapa pukulan lelaki tua saja. Tapi cemu’uhan pensnya itu tak membuat hati Abul Qasim kecewa sedikit pun. Ia justru bersyukur dengan cara begitu, ia sudah dapat berbuat baik membantu anak cucu Nabi. Meskipun orang-orang yang ada dalam kota itu, justru menghujatnya, karena memang mereka tidak tahu akar masalahnya dan Abul Qasim pun merasa hal ini tidak perlu diberitahukan kehalayak ramai.
Peristwa
olahraga adu gulat itupun telah berlalu, hingga tiba suatu malam yang
indah, Abul Qasim bermimpi ditemui oleh seorang lelaki yang
ketampanannya tak dapat tergambarkan oleh kata-kata. Yang begitu penuh dengan cahaya.. Namun, tampak
keteduhan diwajahnya dan kewibawaannya tak membuat mata silau melihat pancaran
cahaya dari pada manusia terpilih dan terbaik sepanjang masa.
Ya, ternyata ia
adalah Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaih wasallam. Dalam mimpinya itu,
sang rasul berkata pada Abul Qasim bahwa mulai malam itu ia diangkat oleh Allah
derajatnya menjadi waliyullah, kekasih Allah. Bukan karena kekuatannya, melainkan
karena ia telah rela menolong dzurriyah rasul, anak-cucu keturunan sang utusan
terkasih Allah, Muhammad sallallahu 'alaihi wasalam.
Subhanallah, lewat kisah tersebut dipetik hikmah bahwa memuliakan keturunan Rasulullah saja dapat mengangkat derajat seseorang manusia yang awalnya hanyalah seorang berprofisi pegulat menjadi wali Allah yang terkenal atau masyhur kalangan umat Islam. Tak ada salahnya jika kita mau untuk membaca shalawat di bulan ini dalam rangka memuliakan Rasulullah.
Tentu, andaikata hal itu ditampakkan, betapa manfaatnya
tak dapat terkias oleh kata. Kisah ini
juga memberikan pesan bahwa menolong orang yang terdesak oleh / sangat
memerlukan kebutuhan pokok merupakan sebuah kemuliaan. Imam Junaid al-Baghdadi
memberi contoh tentang pentingnya memprioritaskan kepentingan orang lain daripada
diri sendiri. Ia ikhlas mengorbankan gengsi dan popularitas prestasinya demi
membantu orang lain memenuhi kebutuhan dasar (pokok)nya.
Imam Al Junaid Ingin Melihat Iblis Lanatullah
Riwayat lain mengatakan bahwa Imam Al Junaid ingin melihat sosuk Iblis Lanatullah. Kata Al Junaid :”Saya ingin melihat sosuk Iblis, suatu hari ketika saya sedang berdiri di dalam Mesjid, seorang laki-laki tua masuk lewat salah satu pintu Masjid dan memalingkan muka kearah saya. Bulu roma saya berdiri, ketakutan menyelimuti hati saya. Ketika dia mendekat, saya berkata kepadanya. Siapa kamu ? Karena saya tidak kuasa melihat atau memikirkan engkau. Al Junaid berteriak keras : Iblis terkutuk !!! Apa yang menghalangi engkau bersujud kepada Adam ? Dia menjawab : “Wahai, Al Junaid, bagaimana mungkin kamu bisa berfikir bahwa saya kepada apapun tidak sujud selain kepada Allah ! Kata . Al Junaid : “Saya sangat ta’ajub demi dia mengatakan demikian, tetapi suara ghaib berbisik, Katakan kepadanya : “Engkau bohong, apakah engkau seorang Hamba yang ta’at sehingga engkau tidak melampauwi batas perintah-Nya.” Iblis mendengar suara dalam hati saya ! Dia berteriak dan berkata. Demi Allah, Engkau telah membakar saya ! Lalu Iblis lanatullah itu lenyap. Ceritera ini menunjukkan kepada kita bahwa Allah Swt selalu melindungi wali-Nya, dalam semua keadaan dari tipu daya Iblis dan Syaithan.
Mimpi Buruk dan Menggunjing Pengemis Soal Etos Kerja
Anekdot Imam Al Junaid
Kisah Imam al Junaid tentang Mimpi Buruk dan Menggunjing Soal Etos Kerja Pengemis Muda, dimaksud dibawah ini terakam pada Kitab Jami'u Karamatul Auliya, Juz ke-2 halaman 13 seperti dikutip Penyusun bahwa :
قال الجنيد : كنت واقفا فى مسجد الشونيزي انتظر جنازة اصلي عليها وهناك جمع كثير ينتظرون الجنازة فرايت فقيرا عليه اثر النسك يسأل الناس شيئا فقلت فى نفسي : لَوْ عَمِلَ هذَا عَمَلًا يصون بِهِ نَفْسه كان اجمل فلما, انصرفت الى منزلي وكان لي اوْراد من الليل فلم اقدر عَلَى شَيْئٍ مِنْهَا, فسهرت قاعدا افكر فى سبب ذالك فغلبتني عيناي فنمت : فرأيت ذالك الفقير على خوان ممدود وَقَلُوا لِيْ كُلْ لَحْمَهُ فَاِنَّكَ قَدْ اغتبته, فكشف لي عن الحال, فقلت الى ما اغتبته والى قلت شيئا فى نفسي, فقالوا هذه غيبته وانا لا نرضى منك بهذا, اذهب فاستحل منه, فلما اصبحت قصدت ذلك الموضع مرارا حتي رأيته بلتقط من جانب النهر أوراقا من البقل الذي يسقط, فسلمت عليه فردّ عليّ السلام وقال لي : يا ابا القاسم تعود؟ فقلت لا أعود. فقال غفر الله لنا ولك. وكذا فى كتاب جامع كرامات الاولياء الجزء 2 تأليف يوسف بن اسماعيل النبهانى رقم 13
Dalam mimpi itu Imam Junaid didesak untuk meminta maaf atas perbuatannya tersebut. Sejak saat itu Imam Junaid berusaha keras mencari si fakir ke semua penjuru. Berulang kali ia gagal menjumpainya, hingga suatu ketika Imam Junaid melihatnya sedang memunguti dedaunan di atas sungai untuk dimakan. Dedaunan itu adalah sisa sayuran yang jatuh saat dicuci.
Al Junaid diuji Allah Menghadapi seorang Gadis Cantik
Junaid lalu terus berdiam di dalam kamarnya (riyadhah) dan terus menerus mengucapkan dzikir Ismu Dzat “Allah, Allah” sepanjang malam. Tetapi lidah fitnah menyerang dirinya dan tingkah lakunya ini dilaporkan orang kepada Khalifah.
“Kita tidak dapat berbuat apa-apa kepada Junaid (untuk menghukumnya) bila kita tak mempunyai bukti” jawab Khalifah.
Kebetulan sekali-khalifah mempunyai seorang hamba perempuan berwajah sangat cantik. Gadis ini telah dibelinya seharga tiga ribu dinar dan sangat disayanginya. Khalifah memerintahkan agar hamba perempuannya itu dipakaikan dengan pakaian yang gemerlapan dan didandani dengan batu-batu permata yang mahal.
“Pergilah ke tempat Junaid”, khalifah memerintahkan hamba perempuannya, “Berdirilah di depannya, buka cadar dan perlihatkan wajahmu, permainkan batu-batu permata dan pakaianmu untuknya. Setelah itu katakanlah kepada Junaid: ’Aku kaya raya tetapi aku sudah jemu dengan urusan-urusan dunia. ’Aku datang kemari agar engkau mau melamar diriku, sehingga bersamamu aku dapat mengabdikan diri untuk berbakti kepada Allah. Hatiku tidak berkenan kepada siapa pun kecuali kepadamu! Kemudian perlihatkan tubuhmu kepadanya. Bukalah pakaianmu dan godalah ia dengan segenap daya upayamu”.
Ditemani seorang pelayan ia diantar ke tempat Junaid. Si gadis menemui Junaid dan melakukan segala daya upaya yang bahkan melebihi dari apa yang diperintahkan kepadanya. Tanpa disengaja ia terpandang oleh Junaid. Junaid membisu dan tak memberi jawaban. Si gadis mengulangi daya upayanya dan Junaid yang selama itu tertunduk lalu mengangkat kepalanya.
“Ah!”, serunya sambil meniupkan nafasnya ke arah si gadis. Riayat lain mengatakan bahwa “Saat itu al Junaid mengucapkan dzikir khafi dan akhfa menahan dalam satu nafas, kemudian ia hembuskan nafas yang tiada tertahan lagi itu kearah si Gadis, kalimat “Allah” maka Si gadis terkejut dan terjatuh ke lantai dan seketika itu juga menemui ajalnya.
“Seseorang yang memperlakukan orang lain seperti yang tak sepatutnya akan menyaksikan hal yang tak patut untuk disaksikannya”, khalifah berkata.
Khalifah bangkit dan berangkatlah ia untuk mengunjungi Imam al Junaid, “Manusia seperti Junaid tidak dapat dipanggil untuk menghadapinya”, ia berkata. Setelah bertemu dengan Junaid, khalifah pun bertanya :
“Wahai guru, bagaimanakah engkau sampai hati membinasakan tubuh gadis yang sedemikian eloknya?” “Hai guru Junaid, bagaimana mungkin engkau bisa menghilangkan nyawa seorang gadis yang sedemikian polosnya?”
“Wahai pangeran kaum Muslimin”, Junaid menjawab, “belas kasihmu kepada orang-orang yang mentaatimu sedemikian besarnya, sehingga engkau sampai hati untuk menginginkan jerih payahku selama empat puluh tahun mendisiplinkan diri, bertirakat (berthariqat}, menyangkal diri, musnah diterbangkan angin. Tetapi apakah artinya diriku di dalam semua itu? janganlah engkau lakukan sesuatu hal kepada orang lain apabila engkau sendiri tidak menginginkannya!”
Al Junaid berkata kepadanya, “Bukankah kamu tahu bahwa Wali Allah memiliki kekuatan Supral Natural ? Kamu tidak akan bisa menahan pukulannya.” Dia memasukkan nafas kepada Murid tersebut, yang dengan seketika menghilangkan tujuan semula dan berhenti mengeritik Syekh.
Anekdot-Anekdot Imam Al Junaid
Anekdot merujuk pada informasi,
bukti, atau laporan yang didasarkan pada pengalaman pribadi, cerita mulut ke
mulut, atau pengamatan insidental, bukan pada data statistik, penelitian
ilmiah, atau fakta sistematis. Seringkali bersifat subjektif dan tidak dapat
diandalkan untuk mengambil kesimpulan umum.
Anekdot merupakan. Cerita singkat
yang lucu dan menghibur yang mungkin merupakan... a.kehidupan pribadi
b.pengalaman seseorang c.manusia dan realitanya d.kisah manusia dan
kehidupannya e..manusia yang menjengkelkan.
Banyak sekali Anekdot dan karâmah
yang dianugerahkan oleh Allâh Swt. kepada al-Junaid sebagai bukti kebenaran
keyakinan dan jalan yang ditempuhnya.
Anekdot Imam Junaid, Seorang Menerima Hidayah Islam
Dikisahkan bahwa suatu ketika
datang kepadanya seorang Nashrani kafir
seraya bertanya: “Wahai Abu al-Qasim, apakah pengertian dari hadits Nabi
Saw :
اِتَّقُوْا
فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ
اللهِ
Takutilah pada firasat seorang
mu’min, karena ia melihat dengan cahaya dari Allâh Swt”. (Artinya penglihatan
seorang mu’min yang saleh itu memiliki kekuatan).
Mendengar pertanyaan spontan dari
orang Nashrani itu, al-Junaid sejenak menundukkan kepala. Tiba-tiba al-Junaid
berkata: “Wahai orang Nashrani perkataanmu benar, dan firasatku menyuruh untuk
melepaskan simbol kekafiranmu, masuk Islâmlah engkau karena telah datang waktu
bagimu untuk masuk agama Islâm”.
Mendapat jawaban demikian, orang
Nashrani tersebut mendapatkan hidayah dari Allah Swt hingga ia langsung bersyahadat masuk Islâm, dihadapan
Imam Al Junaid.
Kalimat ucapan al Junaid tentang Maksud Hadis Nabi Takut Pirasat Orang Mu'min, dimaksud dibawah ini terakam pada Kitab Jami'u Karamatul Auliya, Juz ke-2 halaman 12 seperti dikutip Penyusun bahwa :
ونقلتُ
قوله الامام يوسف بن
اسماعيل النبهانى فى كتابه
جامع كرامات الاولياء عن
قوله الامام اليافعي فى
كتابه روض الرياحين : عن
ابي القاسم الجنيد
... فانتشر فى الناس
ان الجنيد قعد
يتكلم على الناس, فوقع
عليه غلام نصراني متنكر
وقال : ايها الشيخ مامعنى
قول رسول صلى
الله عليه وسلم : اِتَّقُوْا
فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَاِنَّهُ يُنْظَرُ بِنُوْر
اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى, فأطرق
الجنيد برأسه ثم رفعه
فقال أسلم فقدحان وقت
اسلامك, فأسلم الغلام وقع
الزنار.. وكذا فى كتاب
جامع كرامات الاولياء جزء
2 رقم 12
SEDEKAH
DAN PENGEMIS DI PASAR.
Anekdot Imam Junaid bahwa ada seorang Syekh jadi
pengemis di pasar, ada riwayat ceritra dari Syekh Imam Junaid al Bagdadi ttg
mengemis di pasar.
Di
dalam kitab Salalim al Fudhala yang merupakan syarah dari Kifayatul Atqiya
dijelaskan bahwa “Orang Faqir terbagi
menjadi tiga macam.
Pertama
: “Orang Faqir yang tiada meminta-minta dan tidak mau menerima pemberian orang
lain. Di Akhirat kelak atau nanti, Orang Faqir pertama akan masuk golongan /
kelompok Ruhaniyyin.
Kedua
Orang Faqir yang tidak meminta-minta tetapi jika diberi orang lain dia akan
menerimanya. Di Akhirat kelak atau nanti, Orang Faqir kedua masuk bersama-sama
Muqarrabin.
Terakhit
yang ketiga : Orang Faqir yang meminta
pemberian orang lain.” Di Akhirat
kelak atau nanti, dan Orang Faqir ketiga masuk bersama Asshiddiqiin..
Dikisahkan –
diceritrakan ada seorang wali besar sekaligus menjadi Guru Syekh Imam Junaid al
Bagdadi, ia adalah bernama Syekh Imam Abu Ishaq an Nuri. Suatu hari Santri atau
Murid .Syekh Imam Junaid al Bagdadi memargoki /mendapati Syekh Imam Abu Ishaq
an Nuri sedang meminta-minta atau
mengemis di pasar. Melihat hal demikian itu, mereka merasa kecewa dan malu, dan
dengan cepat/ segera melaporkannya kejadian tersebut kepada Syekh Imam Junaid
al Bagdadi. “Wahai Syekh, kami merasa malu sebab melihat Guru Engkau yakni
Syekh Imam Abu Ishaq an Nuri sedang
mengemis atau meminta di pasar, keluh sang Murid itu. Ketika Syekh Imam Junaid
al Bagdadi.mendapatkan aduan dari muridnya tersebut, ia tidak kaget. Sebab ia
berkayakinan bahwa apa yang dilakukan oleh Gurunya itu mempunyai alasan dan
merupakan bentuk upaya agar orang-orang yang bersedekah kepadanya bisa
mendapatkan pertolongan dari Allah Swt sehingga mereka bisa selamat di dunia dan di akhirat, karena terhindar
dari sifat kikir dan bakhil.
Sekarang saya mau
bersedekah kepada Syekh Imam Abu Ishaq an Nuri, saksikanlah oleh kalian apa
yang akan terjadi nanti,”Jawab Syekh Junaid. Ia mengambil hartanya, tak
berselang lama kemudian ia menimbang emas sebanyak 100 dinar dan dilebihi satu
genggam. Setelah itu ia menyuruh santrinya membawa uang koin emas itu pergi ke
pasar, untuk menemui Syekh Abu Ishaq an Nuri dan memberikannya timbangan uang
emas tersebut.
Assalamu’alaikum wahai syekh, kami mau bersedekah, silahkan ambil ini, ucap
santri sambil menghantarkan koin emas dari Syekh Junaid. Wa alaikum salam sahut syekh, dan sedekah
tersebut langsung diterima oleh Syekh
Abu Ishaq an Nuri. Namun kemudian ia menyuruh santri tersebut agar mencari
timbangan untuk menimbang sedekah yang diberikan. Setelah ditimbang dan
diketahui jumlah sedekahnya berjumlah 100 dinar dan lebih satu genggam. Syekh
Abu Ishaq an Nuri mengambil satu genggam
saja dan mengembalikan sisanya berjumlah 100 dinar uang koin emas.
Santri itupun pulang
kembali dan melaporkan kejadian tersebut serta mengembalikannya uang koin emas
100 dinar ke Syekhnya. Syekh sangat
terharu dan menangis setelah mengethui
peristiwa itu dan berkata kepada para Santrinya : “Itulah Ahli Hikmah,
ia hanya mengambil hak Allah dan mengembalikan hak manusia.”
Seorang Murid Mendendam Kepada Gurunya
Ada satu riwayat menceriterakan
bahwa “Salah seorang murid Al Junaid
mendendam kepadanya. Dan setelah lama dia meninggalkannya, dia kemabali lagi
berguru kepada Al Junaid. Di suatu hari dia dengan niat menguji gurunya. . Al
Junaid sadar akan hal ini dan berkata : “Sambil menjawab pertanyaannya, kamu
ingin jawaban syari’at atau jawaban spritual ? Murid itu menjawab : “Saya ingin
jawaban keduanya.” Al Junaid berkata : “jawaban syari’atnya adalah jika kamu
menguji diri kamu sendiri, maka kamu tidak perlu menguji saya, dan jawaban
spritualnya adalah bahwa saya memberhentikan kamu dari kewalian.”
Muka murid tersebut segera berubah
menjadi legam. Dia menangis, “Kesenangan akan kepastian dan yakin telah hilang
dari hati sanobari saya sang murid,” Dan dengan sungguh-sungguh memohon ampun, dan
membuang kecongkakan pada dirinya.
Al Junaid berkata kepadanya,
“Bukankah kamu tahu bahwa Wali Allah memiliki kekuatan Supral Natural ? Kamu
tidak akan bisa menahan pukulannya.” Dia memasukkan nafas kepada Murid
tersebut, yang dengan seketika menghilangkan tujuan semula dan berhenti
mengeritik Syekh.
Keikhlasan dan Ketulusan Hati Seseorang Muslim
Anekdot Imam Junaid. Aku baca dalam sebuah Artikel dicerirakan bahwa “Aku (Al Junaid) telah mendapat pelajaran mengenai keyakinan yang tulus dari seorang tukang cukur”, Junaid merenungi dan setelah itu ia pun berkisah sebagai berikut;
Suatu ketika sewaktu aku berada di kota Mekkah al Mukarramah, kulihat seorang tukang cukur sedang menggunting rambut seseorang (barbarshop alias tempat cukur cowok). Aku berkata kepadanya: “Jika karena Allah, bersediakah engkau mencukur rambutku?” “Aku bersedia”, jawab si tukang cukur. Ia segera menghentikan pekerjaanya dan berkata kepada langganannya itu: “Berdirilah, apabila nama Allah diucapkan, hal-hal yang lain harus ditunda”.
Ia menyuruhku duduk. Diciumnya kepalaku dan dicukurnya rambutku. Setelah selesai ia memberikan kepadaku segumpal kertas yang berisi beberapa keping mata uang.“Gunakanlah uang ini untuk keperluanmu”, katanya kepadaku.
Aku pun lalu bertekad bahwa hadiah yang pertama sekali kuperoleh sejak saat itu akan kuserahkan kepada si tukang cukur tersebut.Tak lama kemudian aku menerima sekantong uang emas dari Bashrah. Uang ini kuberikan kepada tukang cukur itu.
“Apakah ini?” ia bertanya kepadaku. “Aku telah bertekad”, aku menjelaskan. “Hadiah yang pertama sekali kuperoleh akan kuberikan kepadamu. Uang itu baru saja kuterima”. Tetapi si cukang cukur menjawab:
“Tidakkah engkau malu kepada Allah? Engkau telah mengatakan kepadaku: ’Demi Allah cukurlah rambutku’, tetapi kemudian engkau memberi hadiah kepadaku. Pernahkah engkau menjumpai seseorang yang melakukan sesuatu perbuatan demi Allah dan meminta bayaran?”.
Perkataan tukang cukur tersebut membuat al-Junaid terdiam tanpa kata.
Junaid Belajar Ilmu Tauhid dari Pencukur Rambut.
Dikisahkan oleh Wawan Susetya, bukunya “Kisah-Kisah Para Sufi Legendaris Sepanjang Masa”, dikutip oleh Ali Thaufan DS, Diriwayatkan dalam sebuah Cerita lain bahwa Imam al-Junaid yang patut dicontoh adalah tatkala ia belajar tauhid dari seorang tukang cukur rambut. Pada suatu ketika, al-Junaid melakukan perjalanan ke Makkah. Ia melihat tukang cukur rambut yang sedang mencukur rambut seseorang, lalu kemudian al-Junaid menghampirinya dan berkata “Jika karena Allah, bisakah kau mencukur rambutku”. Seketika pula, si pencukur rambut menghentikan mencukur rambut seseorang tadi dan menyilahkan al-Junaid untuk dicukur. Begitu selesai mencukur rambut al-Junaid, si tukang cukur justru memberikan kepingan uang untuk al-Junaid. Hal ini membuatnya keheranan. Sambil pergi, al-Junaid berjanji ia mendapat rezeki (uang) akan memberikan kepada tukang cukur rambut tersebut.
Pada kemudian hari, al-Junaid mendapat hadiah sekantong uang dari sahabatnya. Ia pun memenuhi janjinya jika mendapat uang akan memberikan kepada tukang cukur. Al-Junaid pun pergi kepada tukang cukur dan memberikan uang tersebut. Tukang cukur menolak pemberian al-Junaid tersebut dan berkata:
“Tidakkah engkau malu kepada Allah. Engkau telah mengatakan kepadaku ‘Demi Allah cukurlah rambutku’, tetapi kemudian engkau memberi hadiah kepadaku. Pernahkah engkau menjumpai seseorang yang melakukan sesuatu perbuatan demi Allah dan meminta bayaran?”. Perkataan tukang cukur tersebut membuat al-Junaid terdiam tanpa kata.
Anekdot Imam Al Junaid Sedang Sakit Mata
Dikisahkan bahwa Suatu hari, Hadhrat Maulana Syaikh Junaid al-Baghdadi menderita sakit mata. Beliau pun memanggil seorang tabib. Tabib itu berkata: “Jika matamu terasa berdenyut denyut, jangan biarkan matamu itu terkena air.
Namun ketika tiba waktu shalat, Syaikh Junaid malah berwudhu’, shalat, kemudian tidur. Ketika ia bangun, matanya telah sembuh. Ia mendengar sebuah suara berkata: “Junaid mengabaikan matanya demi memilih keridha-an kami. Jika, demi tujuan yang sama, ia memohon ampunan bagi para penghuni neraka, niscaya permohonannya akan kami kabulkan’.”
Keesokan harinya, sang tabib kembali mendatangi Syaikh Junaid dan melihat bahwa mata Junaid telah sembuh. “Apa yang telah engkau lakukan?” tanya sang tabib keheranan. ”Aku berwudhu’ untuk shalat,” jawab Syaikh Junaid.
Seketika itu pula sang tabib, yang beragama Kristen, mengucapkan dua kalimat syahadat. ”Ini adalah penyembuhan Sang Pencipta, bukan penyembuhan makhluk,” komentar tabib tersebut. “Wahai Syaikh junaid, yang sakit bukan matamu. Engkaulah tabib yang sebenarnya, bukan aku.” Sahut tabib.(Artikel Redaksi Alif.ID).
Sedekah Wajib Imam Al Junaid.
Anekdot Imam Al Junaid dikisahkan bahwa “Sedekah adalah pemberian seorang [Muslim] kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu”. Sedekah Wajib berarti :Menunaikan Zakat sedangkan Sedekah Sunnat berarti ber- infak. Karena sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal, atau perbuatan baik. Dalam sebuah Hadist digambarkan, Memberikan senyuman kepada saudaramu adalah sedekah.
Intuisi adalah istilah kemampuan seseorang untuk memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Intuisi adalah kemampuan manusia untuk memperoleh pengetahuan langsung atau wawasan langsung tanpa melalui observasi atau penalaran terlebih dulu.
Diceriterakan bahwa sejak kecil Junaid bin Muhammad, sudah mulai merasakan kegelisahan spritualnya, ia adalah seorang pencari Allah yang tekun, penuh disiplin, bijaksana, cerdas dan mempunyai intuisi yang tajam.
Pada suatu hari ketika pulang kembali dari sekolah Al Junaid mendapati ayahnya an. Muhammad sedang menangis sedih. “Apa yang terjadi dengan kau, ayah.? Tanya al Junaid kepada ayahnya. “Aku ingin memberi sedekah kepada Pamanmu, Sarri as Saqathi, tetapi ia menolak, tidak mau menerimanya.” Sambil ayahnya menjelaskan. “Aku menangis sedih, karena seumur hidupku, baru sekarang inilah aku dapat mengumpulkan uang lima Dirham koin emas (zakatnya), tetapi ternyata pemberianku tidak pantas diterima oleh salah seorang sahabat Allah.” “Berikanlah uang itu kepadaku, ayah ! Biar aku yang akan memberikannya kepada Paman Sarri as Saqathi, insya Allah mungkin dengan cara ini, tentu ia mau menerimanya.” Kata al Junaid. Uang lima Dirham itupun diserahkan ayahnya.
Dan berangkatlah al Junaid menuju rumah pamannya. Dan sesampainya di tempat tujuan iapun mengucapkan salam serta mengetuk pintu rumah pamannya. “Wa alaikum salam, siapakah itu ? terdengar sahutan dari dalam rumah. “ Saya, Junaid” jawabnya. “Bukalah pintu dan terimalah sedekah yang menjadi hakmu ini, paman”, “Aku tak mau menerimanya” sahut Sarri as Saqathi. “Demi Allah, yang sedemikian baiknya kepadamu dan sedemikian adilnya kepada ayahku, aku mengharap – meminta kepadamu, terimalah sedekah ini.
”Junaid berseru.“Hai Junaid, bagaimanakah . Allah, yang sedemikian baiknya kepadaku dan sedemikian adilnya kepada ayahmu ? Sarri as Saqathi bertanya. “Allah berbuat baik kepadamu, jawab Junaid, karena Dia memberikan kemiskinan kepadamu. dan Allah berbuat adil kepada ayahku karena telah membuatnya sibuk dengan urusan dunia.
Sekarang Engkau bebas menerima atau menolak sedekah, tapi ayahku baik secara suka rela ataupun tidak, harus mengantarkan sebahagian harta kekayaannya kepada yang berhak menerimanya. Kemudian Sarri as Saqathi sangat senang mendengar Jawaban itu. “Nak, sebelum menerima sedekah itu, aku telah menerima dirimu.” Sambil berkata demikian Sarri as Saqathi membukakan pintu rumahnya dan menerima sedekah itu. Junaid pun merasa senang-gembira. Untuk al Junaid disediakannya tempat khusus di dalam lubuk hatinya.
Kisah
Perjalanan Ibadah Haji
Aku kutip pada sebuah Artikel menyatakan bahwa diceritakan oleh Imam Abul Qasim Al-Junaid al Bagdadi bahwa :
Perah aku temui
satu kali peristiwa ketika aku pergi naik haji ke Baitullah Al-Haram, dan juga
untuk menziarahi maqam Nabi Saw, sedang aku dalam perjalanan menuju kesana,
tiba tiba terdengar oleh telinga ku suatu suara rintihan yang sangat menyayat
hati, yang pada anggapan ku tentulah suara itu datangnya dari hati seorang yang
remuk redam.
Aku pun mencari cari dari mana datangnya sumber suara itu, dan ternyata bahwa rintihan itu keluar dari mulut seorang pemuda yang sangat kurus, lemah, namun wajahnya bercahaya terang seperti bulan. Saya mendekatinya, ia membuka matanya dan langsung mengucapkan ..Assalamu’alaikum, ya Abul Qasim!!.
Wahai
Abul Qasim ! Saya telah mengenali bapak sejak dialam Roh. Dan Allah lah yang
memberikan nama bapak kepada ku. Demi Allah, wahai Abul Qasim, kalau aku sudah mati,
maka mandikan dan bungkuslah aku dengan baju yang aku pakai ini, dan naiklah ke
bukit itu, lalu panggillah orang orang untuk menyalati ku, lalu tanamlah aku
ditempat ini pula ! Hanya Allah lah yang akan membalas segala kebaikan bapak.
Berkata
Abul Qasim Al-Junaid lagi menyambung ceritanya : Kemudian aku lihat anak muda tadi penuh
berkeringat dahinya sehingga membasahi seluruh wajahnya, suaranya semakin
menekan, barang kali, kerana kesakitan….Dalam pada itu ia sempat berpesan lagi,
katanya:
Wahai
Abul Qasim! Setelah anda selesai menunaikan haji mu, dan sudah mau kembali ke
negeri mu, hendaklah anda menuju dulu ke Bagdad, dan tanyakan lah orang orang
disana tentang kampung Darb Za’faran. Setelah tiba dikampung itu, tanyakan pula
tentang ibu ku dan putra ku serta sampaikanlah salam kepada mereka!…. Baiklah,
jawab ku.
Anak muda itu kemudian merintih makin lama makin lemah, dan tak lama sesudah itu pulanglah ia ke rahmatullah dengan tenangnya, sedangkan wajahnya tampak semakin bercahaya. Saya pun memandikannya, kemudian mengafankannya dengan bajunya. Sesudah itu saya naik keatas bukit dan berseru dengan suara keras sekali: wahai orang orang sekalian ! marilah kita bersama sama menyalati mayat asing ini!.
Setelah selesai ibadat haji, saya segera pergi ke Bagdad, dan terus menuju ke kampung Darb Za’faran. setelah menemukannya tampak dilorong lorong kecil kampung itu ada anak anak sedang bermain main. Tiba tiba seorang dari antara mereka memandang tajam kepadaku, seraya mendekati ku dan berkata mengucap salam : Assalamu’alaikum, ya Abul Qasim! Mungkin kedatangan tuan untuk untuk memberitahu tentang kematian ayah ku, agaknya ?
Hati
ku terkejut mendengar pertanyaan anak kecil itu. Ah, alangkah tepatnya apa yang
dikatakan, padahal ia masih demikian kecil. Ia kemudian menuntun ku ke sebuah
rumah, lalu mengetuk pintunya. Seorang wanita tua membuka pintu, dan alangkah
terangnya wajah wanita tua itu, dan alangkah salihah ia tampaknya. Saya
mengucapkan salam kepadanya . Ia pun segera membalasnya, lalu menangis terisak
isak. kemudian ia bertanya: Wahai Abul Qasim !
Dimanakah tempat kematian anak ku, dan cahaya mataku. Moga moga ia mati di Arafah? Jawabku, tidak!…..apakah di Mina?…… jawabku, tidak!…. di Muzdalifah? …. jawabku tidak…..Habis dimana? Tanya ibu itu, Di padang pasir, dibawah pohon ghailan? jawab : Ya,
Mendengar berita itu ia
menjerit keras seraya berkata: oh anak ku! Oh anak ku! Suaranya bercampur
tangisan yang sungguh menyayat hati semua orang yang disitu. Oh! Anak ku ! Oh
anak ku! Mengapa tidak disampaikannya ke rumah Nya (Baitullah), atau
dibiarkanNya saja ia dengan kami? Ibu itu terus sesak dadanya, dan ketika
itulah ia menghembuskan nyawanya meninggalkan dunia yang fana ini, kembali ke
rahmatullah, moga moga Allah mencucuri rahmat atas rohnya. Berkata Al-Junaid seterusnya : Melihat
neneknya telah meninggal dunia, anak kecil itu pun
mendekati mayatnya sambil menangis terisak isak. Kemudian menengadah kearah
langit seraya berdoa :
Ya Allah, ya Tuhan ku
Mengapa Engkau tidak ambil aku bersama sama nenek ku ! Ya Allah, lebih baik
Engkau ambil aku untuk pergi bersama sama mereka berdua!… Dengan tiba tiba saja
sesaklah dada anak kecil itu, dan ia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir,
moga moga Allah merahmati mereka sekalian. Saya benar benar tercengang
menyaksikan segala peristiwa yang baru berlaku tadi itu, dan saya kira alangkah
bahagianya keluarga itu. Saya merawati jenazah itu bersama dengan tetangga
mayat itu dangan sempurna dan baik.
Setelah kami
menguburkan jenazah jenazah itu, maka dengan hati yang penuh sedih dan iba,
saya meninggalkan kubur kubur mereka!.
الشيخ
و
الإمام
الجنيد
بن
محمد
وهو
الشيخ
و
الإمام
أبو
القاسم الجنيد
بن
محمد
بن
الجنيد
البغدادى
توفى
297 هجرية
أو
910 ملادية,
وهو
سيد
هذه
الطائفة
وإمامهم.
أصله
من
نهاوند.
ولد
ونشأ
فى
العراق.
كان
ابوه
يبيع
الزجاح.
ولذلك
يقال
له
: القواريرى.
وكان
فقيها
على
مذهب
أبي
ثور.
وكان
يفتى
فى
حلقته
وهو
ابن
عشرين
سنة
صحب
خاله
السرى
السقطى
والحارث
المحاسبى
ومحمد
بن
علي
القصاب.
وقال
الجنيد
: ما
أخذنا
التصوف
عن
القيل
والقال
لكن
عن
الجوع
وترك
الدنيا
وقكع
المألوفات
والمستحسنات.
-1
وقال
الشيخ
و
الإمام
أبو
القاسم الجنيد
البغدادى
: مذهبنا
هذا
مقيد
بأصول
الكتاب
والسنة.
ويقول
أيضا
من
لم
يحفظ
القرأن
والحديث
لايقتدى
به
فى
هذا
الأمر
لان
هذا
مقيد
الكتاب
والسنة.
وقد
كان
سيد
الطائفة
الشيخ
و
الإمام
أبو
القاسم الجنيد
رضي
الله
عنه
يقول
: كتابنا
هذا
يعنى
القرأن
سيد
الكتب
,واجمعها
شريعتنا
واوضح
الشرائع
وادقها
وطريقتنا
يعنى
طريق
اهل
التصوف
مشيدة
بالكتاب
والسنة.
فمن
لم
يقرأ
القرأن
ويحفظ
السنة
ويفهم
معانيهما
لايصح
الإقتداء
به. -2
يقول
أبو
على
الروبارى
: سمعت
الجنيد
يقول
لردل
درحة
المعرفة
وقال أهل
المعرفة
بالله
يصلون
إلى
ترك
الحركات
من
باب
البر
والتقوى
إلى
الله
عز
وجل.
فقال
الجنيد
إن
هذا
قول
قوم
تكلموا
باسقاط
الأعمال
وهو
عندى
عظيم.
والذى
يسرق
ويزنى
أحسن
حالا
من
الذى
يقول
هذا
(لأن
الزانى
زالسارق
يعرفان
معصيتهما
فيرجوان
التوبة
بخلاف
هذا
لأنه
يعتقد
أنه
فى
ارفع
المقامات
وأحسن
الأحوال
فلا
يرجع
عنه)
فأنه
العارفين
بالله تعالى أخذوا
الأعمال
عن
الله
تعالى
وإليه
رجعوا
فيها.
ولو
بقيت
ألف
عام
لم انقص
من
أعمال
البرذرة
الا يحال
بي
دونها.
وقال
: الطرق
كلها
مسدورة
على
الخلق
إلا
على
من
اقتفى
أثر
الرسول
عليه
الصلاة
زالسلام.
وقال
: لو
أقبل
صادق
على
الله
تعالى
الف
الف
سنة
ثم
اعرض
عنه
لحظة
كان
ما
فاته
اكثر
مماناله.
وقيل
للجنيد
من
اين
استفدت
هذا
العالم
؟
فقال
من
جلوسي
بين
يدي
الله
تعالى
ثلاثين
سنة
تحت
تلك
الدرجة
وأوما
إلى
درجة
فى
داره.
سمعت
الأستاذ
أبا
على
الدقاق
يقول
: كان
الجنيد يدخل
حانوته
كل
يوم
يسبل
الستر
ويصلى
أربع
مائة
ركعة
ثم
يعدد
إلى
بيته
وقال
أبو
بكر
العطوى
: كنت
عند
الجنيد
حين
مات. ختم
القرأن
الكريم
ثم
ابتدأ
من
بقرة
وقرأ سبعين
أية
ثم
مات
رحمه
الله.
1- الرسالة
القشيرية 430
2- التنبيه المغترين 6
Aku kutip dalam kitab Jamiul Karamat al Aulia Juz 2 halaman 11 dan 12 menyatakan bahwa
(ابو القاسم الجُنَيْدُ) شيخ الصوفية على الاطلاق وامامهم بالاتفاق. قال القشيرى : سمعت عبد الله الشيرازى يقول : سمعت ابا احمد الكبير يقول : سمعت ابا عبد الله بن خفيف يقول : سمعت ابا عمرو الزجاجي يقول : دخلت على الجُنَيْدِ وكنت اريد ان اخرج الى الحجِّ فاعطاني درهما صحيحا
KELANGKAAN REFERENSI KITAB IMAM JUNAID ITU DISENGHAJA
Menurut Azyumardi Azra (editor), buku Ensiklopedi Tasawuf yang aku kutip pada sebuah “Artikel tanpa Nama” menyatakan bahwa : Pengamatan terhadap kitab-kitab tasawuf yang bermunculan sejak zamannya menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu selalu saja banyak para penulis tasawuf yang menukilkan riwayat tentang pernyataan-pernyataan Imam al Junayd dalam kitab-kitab mereka. Mengenai kelangkaan karya khusus yang memuat ajaran tasawufnya ini, memang disengaja oleh al Junayd sendiri.
Hal ini dapat dilihat
dari pernyataan sejarawan bahwa: al Junayd al-Baghdādī, yang
telah meriwayatkan
bahwa: Ketika al Junayd
sakit-sakitan dan akan meninggal
dunia, ia berpesan kepada sahabat,
murid dan pengikutnya yang waktu itu sedang
menungguinya untuk menguburkan semua kitab,
kertas dan tulisan
yang berisi ajarannya.
Ketika ditanya mengapa hal itu harus dilakukan, Junayd menjelaskan bahwa dia tidak suka jika gara-gara menekuni ajaran-ajaran tasawufnya orang malah melupakan ajaran Nabi Muhammad Saw., atau bahkan mensejajarkannya
dengan ajaran beliau. Bagi Junayd, tiada
pelajaran yang lebih berhak untuk dipelajari secara serius oleh setiap orang
selain dari ajaran Nabi Muhammad Saw.
IMAN JUNAID AL BAGDADI MENINGGAL DUNIA
Syekh Abul Qasim al Junaid al
Bagdadi, Menurut versi pertama Beliau lahir di kota Bagdad 210H atau 825M dan.
Beliau wafat Jum’at tahun w.297H/910M di
sisi muridnya Imam Syibli, dan ia dimakamkan hari Sabtu.. Menurut versi kedua
Beliau lahir di kota Nahawandi tahun 215H dan Beliau wafat hari Sabtu, di kota
Bagdad, Rabu,28 Rajab 297H/11 April 910M dengan usia 82 tahun. Ada juga
mengatakan bahwa usia al Junaid 87 tahun.
Salah seorang murid Junayd yang sedangkan mendapatkan kedudukan terhormat
adalah Abū Muḥammad Aḥmad bin al-Ḥusayn al-Jurayrī. Diriwayatkan: Ketika
al-Jurayrī mengunjungi Junayd, gurunya itu berkata: “Ajarilah murid-muridku,
disiplinkan dan latihlah mereka.”
Sejak saat itu al- Jurayrī sering
menggantikan Junayd untuk mengajarkan murid-murid yang lain. Bahkan ketika Junayd sedang sakit
parah menjelang ajalnya, sempat ditanya oleh Abū Muhammad al-Dabilī, salah
seorang yang mengunjunginya,“Kepada siapakah kami harus duduk (belajar) dalam masalah ini setelah engkau wafat?”Junayd
ونقلتُ
قوله الامام الشعراني فى
كتابه الطَّبَقَاتُ الْكُبْرَي : وَلَمَّا حَضَرًتْهُ الْوَفَاةُ
دَخَلَ عَلَيْهِ اَبُوْ مُحَمَّدٍ
(اَحْمَدُ بِنْ حُسَيْنِ) الْجُرَيْرِي
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَقَالَ أَلِكَ
حَاجَةً ؟ قَالَ
نَعَمْ اِذَا مُتُّ فَغَسِّلْنِيْ
وَكَفِّنِّيْ وَصَلِ عَلَيَّ فَبَكَى
اَحْمَدُ الْجُرَيْرِي وَبَكَى النَّاسُ مَعَهُ
ثُمَّ قَالَ لَهُ الْجُنَيْدُ
وَ حَاجَةً اُخْرَى
فَقَالَ وَمَاهِيَ فَقَالَ تَتَّخِذُ
لِاَصْحَابِنَا طَعَامَ الْوَلِيْمَةِ فَاِذَا
انْصَرَفُوْا مِنَ الْجَنَازَةِ رَجَعُوْا
اَلَى ذَلِكَ حَتَّى لَايَقَعُ
لَهُمْ تَشْتيت فَبَكَى الْجُرَيْرِي ثم
قال والله لئن
فقدنا هاتين العبنين مااجتمع
منا اثنان ابدا.
وكذا فِى كِتَابِ الطَّبَقَاتُ
الْكُبْرَي ص 86
Aku baca dalam sebuah Artikel diceritrakan bahwa ketika ajalnya sudah dekat, Syekh Junaid Ibn Muhammad menyuruh sahabat-sahabatnya untuk membentangkan meja dan mempersiapkan makanan. “Aku ingin menghembuskan nafasku yang terakhir ketika sahabat-sahabatku sedang menyantap seporsi sop”, Junaid berkata. Kesakitan pertama menyerang dirinya. “Berilah aku air untuk bersuci”, ia meminta kepada sahabat-sahabatnya.
Tanpa disengaja mereka lupa membersihkan sela-sela jari tangannya. Atas
permintaan Junaid sendiri kekhilafan ini mereka perbaiki. Kemudian Junaid
bersujud sambil menangis.
“Wahai ketua kami”, murid-muridnya menegurnya, “dengan semua pengabdian dan
kepatuhanmu kepada Allah seperti yang telah engkau lakukan, mengapakah engkau
bersujud pada saat-saat seperti ini?” . “Tidak pernah aku merasa lebih perlu
bersujud dari pada saat-saat ini”, jawab
Junaid. Kemudian Junaid membaca ayat-ayat al-Qur‘an tanpa henti-hentinya. “Dan
engkau pun membaca al-Qur‘an?”, salah seorang muridnya bertanya.
“Siapakah yang lebih berhak daripadaku membaca al-Qur‘an, karena aku tahu
bahwa sebentar lagi catatan kehidupanku akan digulung dan akan kulihat
pengabdian dan
Beliau terus berulang-ulang melakukan shalat, hingga ruh dari kakinya mulai
terangkat. Ketika kakinya sudah tidak bisa lagi digerakkan, Abû Muhammad
al-Jariri berkata kepadanya: Wahai Abu al-Qasim sebaiknya engkau berbaring!.
Kemudian al-Junaid mengucapkan takbir dan membaca tujuh puluh ayat dari surat
al-Baqarah namun sebelumnya beliau telah mangkhatamkan al-Qur’an karim. Ketika
kesakitan kedua menyerang Junaid. “Sebutlah nama Allah”, sahabat-sahabatnya membisikkan.
“Aku tidak lupa”, jawab Junaid. Tangannya meraih tasbih dan keempat jarinya
kaku mencengkeram tasbih itu, sehingga salah seorang muridnya harus
melepaskannya.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, Junaid berseru,
kemudian menutup matanya dan sampailah ajalnya.
Al-Junaid wafat hari Jum’at, dan baru dimakamkan pada hari Sabtu. riwayat yang lain hari wafat Sabtu tahun 297 H. atau 910 M. Abu Bakar al-‘Aththar berkata: “Menjelang al-Junaid wafat kami dengan beberapa orang sahabat berada di sisinya. Beliau dalam keadaan melaksanakan shalat dengan posisi duduk. Setiap kali hendak sujud ia menekuk kedua kakinya.
Ketika jenasah Junaid diusung, seekor burung berbulu putih hinggap di sudut
peti matinya. Percuma saja para sahabat mencoba mengusir burung itu, karena ia
tak mau pergi. Akhirnya burung itu berkata :
“Janganlah kalian menyusahkan diri kalian sendiri. dan menyusahkan aku.
Cakar-cakarku telah tertancap di sudut peti mati ini oleh paku cinta. Itulah
sebabnya aku hinggap di sini. Janganlah kalian bersusah-payah. Sejak saat ini
Jasadnya dirawat oleh para malaikat. Jika bukan karena kegaduhan yang kalian
buat, niscaya jasad Junaid telah terbang ke angkasa sebagai seeekor elang putih
bersama-sama dengan kami”.
C. SANAD KE-09 BIOGRAFI SYEKH WAL IMAM SYIBELI
Silsilah TJ yang ke Sembilan
09. SYEKH WAL IMAM SYBELI
( الشيخ
والإمام الشبلى)
Wafat 247-334 Hijeriyah/861-946 Masehi.
Nama aslinya adalah Abu Bakar bin
Dulaf ibnu Juhdar Asy-Syibly. Nama Asy-Syibli dinisbatkan kepadanya karena ia
dibesarkan di Kota Syibli di wilayah Khurasan, Persia. Ia dilahirkan pada 247 H
di Baghdad atau Samarra dari keluarga yang cukup terhormat. Mendapat pendidikan
di lingkungan yang taat beragama dan berkecukupan harta, ia berkembang menjadi
seorang yang cerdas. Nama Abu Bakar Asy-Syibli banyak menghiasi berbagai kitab
tentang sufi. Ulama besar ini tidak hanya dikenal dengan konsepnya tentang
bagaimana menempuh jalan kerohanian, tapi juga terkenal karena kehidupannya
yang unik. Harta berlimpah dan jabatan tinggi ditinggalkannya, demi memburu
hakikat hidup dalam ritus sufisme yang mendalam. Tak pelak kehidupannya yang
unik memberikan inspirasi para peminat tasawuf bagi generasi-generasi
berikutnya.
Di Baghdad ia bergabung dengan kelompok al Junaid. Ia menjadi sosok terkemuka dalam sejarah Al-Hallaj yang menghebohkan. Ia dikenal karena perilakunya yang eksentrik, yang menyebabkan akhirnya menyeret dia ke rumah sakit jiwa. Ia meninggal dunia pada 334 H / 846 M dalam usia 87 tahun. Mula-mula ia menempuh pendidikan agama dengan belajar fikih Mazhab Maliki dan ilmu hadits selama hampir 12 tahunKecerdasan dan keluasannya dalam ilmu agama membawanya masuk dalam lingkungan kekuasaan, sehingga sempat menyandang berbagai jabatan. Karirnya melesat, ia menduduki beberapa jabatan penting selama bertahun-tahun. Ia, antara lain, menjabat sebagai Gubernur di Provinsi Dermavend.
“Bersama dengan seorang pejabat
baru, Abu Bakar Asy-Syibli dilantik oleh Khalifah dan secara resmi dikenakan
seperangkat jubah pada dirinya. Setelah pulang meuju kediamannya, di tengah
jalan pejabat baru itu bersin dan batuk-batuk seraya mengusapkan jubah baru itu
ke hidung dan mulutnya. Perbuatan pejabat baru tersebut dilaporkan kepada
Khalifah. Dan Khalifah pun memecat serta menghukumnya.”Asy-Syibli pun terheran-heran,
mengapa hanya karena jubah seseorang bisa diberhentikan dari jabatannya dan
dihukum. Tak ayal, peristiwa ini membuatnya merenung selama berhari-hari. Ia
kemudian menghadap Khalifah dan berkata :
“Wahai Khalifah, engkau sebagai
manusia tidak suka bila jubah jabatan diperlakukan secara tidak wajar. Semua
orang mengetahui betapa tinggi nilai jubah itu. Sang Maharaja alam semesta
telah menganugerahkan jubah kepadaku di samping cinta dan pengetahuan.
Bagaimana dia akan suka kepadaku jika aku menggunakannya sebagai sapu tangan
dalam pengabdianku pada manusia? 2)
Memang mulanya dia seorang
Bendaharawan Khalifah, tetapi dia pindah keruang pertemuan (Majelis) Khairan
Nasaj dan menjadi murid al Junaid. Dia berkenalan dengan banyak Syekh, Terdapat
riwayat bahwa dia pernah menjelaskan ayat surat An Nur :
قُلْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا
فُرُوْجَهُمْقلي ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْقلي
اِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا
يَصْنَعُوْنَ... النور 30)
Maksudnya : “Katakanlah kepada
laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya” dan hendaklah
mereka memelihara kemaluan-kemaluan meraka, itulah pembersih hati mereka.
Maksudnya sebagai berikut : “Wahai
Muhammad, katakan kepada orang-orang
yang beriman agar memalingkan mata lahir mereka dari apa yang tidak halal, dan
memalingkan mata hati mereka dari segala sesuatu selain Allah. Maksudnya tidak melihat kepada nafsu dan
tidak memimkirkan selain penglihatan
Allah.
وَمَنْ
كَانَ فِى هذِهِ أَعْمَى
فَهُوَ فِى الْأخِرَةِ أَعْمَى
وَأَضَلُّ سَبِيْلًا -الإسراء
72
Artinya : “Dan barang siapa yang buta ( hatinya)
didunia ini, niscaya diakhirat nanti dia akan lebih buta lagi dan lebih
tersesat dari jalan yang benar.”
Sebenarnya hingga Allah
membersihkan hawa nafsu dari hati
seseorang., mata lahir tak pernah lepas dari bahaya tersembunyinya, dan hingga Tuhan menetapkan hasratnya sendiri
dalam hati seseorang. Maka mata hati tersebut tak bisa lebas dari melihat yang
selain Allah Ajja wajala.
Terdapat dalam riwayat bahwa suatu
hari ketika Asy Syibli, datang ke pasar, orang-orang berkata kepadanya “INI SI GILA” Dia hanya menjawab :”Kamu pikir saya
gila dan saya pikir kamu kamu ini waras.” Moga-moga saja Allah menambah
kegilaan saya, dan kegilaan saya adalah karena cinta yang mendalam kepada
Allah. Sementara kewarasan adalah akibat
dari kelalaian yang amat sangat,
Semoga Allah menambah kegilaan
saya agar saya menjadi semakin lama
semakin dekat kepada-Nya. Dan semoga Allah juga menambahkan kewarasan
kamu agar kamu semakin lama semakin jauh dari-Nya. Inilah kata dia, berasal dari kecemburuan ( Gayyah). Siapapun
harus berada disamping dirinya sendiri agar
cinta Ilahi, dan kegilaan tidak terpisah
dengan kewarasan di dunia ini.
Dia pernah berkata tentang Ma’rifah
dengan Allah Swt :
وقال
أبو بكر الشبلي
رحمه الله تعالى : الله
هو الواحد المعروف قبل
الحروف وسبحان الله لاحد
لذاته ولا حرزف لكلامه.
Maksudnya : Berkata Imam Asy-Syibeli rahimahullah : “Allah adalah dzat yang tunggal, Ia dikenal sebelum adanya batas dan huruf, Maka maha suci Allah tiada had bagi Dzat-Nya dan tiada huruf bagi kalam-Nya.” 3),
Nama Abu Bakar Asy-Syibli banyak menghiasi berbagai kitab tentang sufi. Ulama besar ini tidak hanya dikenal dengan konsepnya tentang bagaimana menempuh jalan kerohanian, tapi juga terkenal karena kehidupannya yang unik. Harta berlimpah dan jabatan tinggi ditinggalkannya, demi memburu hakikat hidup dalam ritus sufisme yang mendalam. Tak pelak kehidupannya yang unik memberikan inspirasi para peminat tasawuf bagi generasi-generasi berikutnya.
Nama aslinya adalah Abu Bakar bin Dulaf ibnu Juhdar Asy-Syibly. Nama Asy-Syibli dinisbatkan kepadanya karena ia dibesarkan di Kota Syibli di wilayah Khurasan, Persia. Ia dilahirkan di Baghdad atau Samarra berasal dari keluarga yang cukup terhormat. Mendapat pendidikan di lingkungan yang taat beragama dan berkecukupan harta, ia berkembang menjadi seorang yang cerdas.
Di Baghdad ia bergabung dengan kelompok Junaid. Ia menjadi sosok terkemuka dalam sejarah Al-Hallaj yang menghebohkan. Ia dikenal karena perilakunya yang eksentrik, yang menyebabkan akhirnya menyeret dia ke rumah sakit jiwa.
Mula-mula ia menempuh pendidikan agama dengan belajar fikih Mazhab Maliki dan ilmu hadits selama hampir 12 tahun. Kecerdasan dan keluasannya dalam ilmu agama membawanya masuk dalam lingkungan kekuasaan, sehingga sempat menyandang berbagai jabatan. Karirnya melesat, ia menduduki beberapa jabatan penting selama bertahun-tahun. Ia, antara lain, menjabat sebagai Gubernur di Provinsi Dermavend.
Dikisahkan bahwa saat frosisi pelantikan Pejabat :
“Bersama dengan seorang Pejabat Baru, Abu Bakar Asy-Syibli, ia dilantik oleh Khalifah dan secara resmi dikenakan juga seperangkat pakaian Jubah kebesaran pada dirinya. Setelah pulang, Pejabat itu bersin dan batuk-batuk seraya tanpa disadari mengusapkan Jubah baru itu ke hidung dan mulutnya. Perbuatan Pejabat tersebut dilaporkan kepada Khalifah dan Khalifah pun memecat serta menghukumnya.”
Asy-Syibli pun terheran-heran, mengapa hanya karena jubah seseorang bisa diberhentikan dari jabatannya dan dihukum. Tak ayal, peristiwa ini membuatnya merenung selama berhari-hari. Ia kemudian menghadap Khalifah dan berkata :
“Wahai Khalifah, Engkau sebagai manusia tidak suka bila Jubah
Jabatan diperlakukan secara tidak wajar. Semua orang mengetahui betepa tinggiya
nilai Jubah itu dimatamu, apatah lagi Sang Maharaja alam semesta telah
menganugrahkan Jubah itu kepadaku dan jika aku menggunakannya sebagai sapu
tangan dalam pengabdianku kepada manusia?”
Sejak itu ia meninggalkan karir dan jabatanya, dan ingin
bertobat. Kisah pertobatannya menyentuh kalbu. Asy-Syibli mulai mengarungi
dunia tasawuf. Ia berguru kepada sejumlah ulama sebagai pembimbing spritualnya.
Antara lain ia juga masuk ke dalam kelompok spritual Khairal Nassaj. Belakangan
ia juga berguru kepada beberapa sufi terkenal, seperti Junaid Al-Baghdadi –
yang sangat mempengaruhi perkembangan kerohaniannya. Sufi masyhur yang
cemerlang dalam berbagai gagasan tasawuf ini memang punya banyak pengikut.
Pertemuannya dengan Junaid Al-Baghdadi digambarkan oleh Fariduddin Aththar dalam kitabTadzkirul Awliya. Abu Bakar As Syibli kemudian berguru kepada Imam Junaidi Al Baghdadi. Ia berniat membeli mutiara dari Sang imam. Kemudian Imam al Junaidi berkata, “Tidak mungkin engkau dapat membelinya dengan uang yang kau punya, engkau tahu betapa bernilainya mutiara ini
“Engkau dikatakan sebagai penjual mutiara, maka berilah aku satu atau juallah kepadaku sebutir,” kata Asy-Syibli kepada al Junaid.
Dua tahun berlalu, Abu Bakar As Syibli kembali menemui Imam Al Junaidi. Menurut sang imam, dia harus kembali menjadi gelandangan selama satu tahun lagi sebab masih ada secuil kesombongan pada diri Abu Bakar As Syibli (artinya Abu Bakar As Syibli malah berbangga menjadi gelandangan).
Lalu kata
Asy-Syibli, ”Jadi apakah yang harus kulakukan sekarang?” Jawab Junaid,
“Hendaklah engkau berjualan belerang selama setahun.”
Maka Asy-Syibli berjualan belerang selama setahun. Lorong-lorong Kota Baghdad
dilaluinya tanpa seorangpun yang mengenalnya. Setelah setahun lewat, ia kembali
kepada Junaid. Maka ujar Junaid :
“Sekarang
sadarilah nilaimu ! Kamu tidak ada artinya dalam pandangan orang lain.
Janganlah engkau membenci mereka dan janganlah engkau segan. Untuk beberapa
lamanya engkau pernah menjadi bendahara, dan untuk beberapa lamanya engkau
pernah menjadi Gubernur. Sekarang kembalilah ke tempat asalmu dan berilah
imbalan kepada orang-orang yang pernah engkau rugikan.”
Maka ia pun
kembali ke Kota Demavend. Rumah demi
rumah disinggahinya untuk menyampaikan imbalan kepada orang-orang yang pernah
dirugikannya. Akhirnya masih tersisa satu orang, tapi ia tidak tahu kemana dia
pergi. Ia lalu berkata, “Aku telah membagi-bagikan 1000 dirham, tapi batinku
tetap tidak menemukan kedamaian.” Setelah empat tahun berlalu, ia pun kembali
menemui Junaid. Perintah Junaid, “Masih ada sisa-sisa keangkuhan dalam dirimu.
Mengemislah selama setahun!”
Setahun kemudian Junaid berkata, “Kini
kuterima engkau sebagai sahabatku, tapi dengan satu syarat, engkau terus jadi
pelayan sahabat-sahabatku.”
Setelah ia
melaksanakan perintah sang guru, Junaid berkata lagi, “Hai Abu Bakar, bagaimanakah
pandanganmu sekarang terhadap dirimu sendiri?” Jawab Asy-Syibli, “Aku memandang
diriku sendiri sebagai orang
yang terhina di
antara semua makhluk
Allah.”
Junaid menimpalinya, “Sekarang sadarilah nilai dirimu, engkau tidak ada nilainya di mata sesamamu. Jangan pautkan hatimu pada mereka, dan janganlah sibuk dirimu dengan mereka.” Junaid pun tersenyum, sembari berkata, “Kini sempurnalah keyakinanmu.”
Dalam dunia tasawuf, dikenal seorang yang bernama Syibli. Lengkapnya: Abu Bakar Dalf bin Jahdar as-Syibli. Orang menyebutnya majnun, alias gila, sinting, nyeleneh. Dia pernah memakai celak mata yang dicampur dengan garam, supaya ia tidak tertidur di waktu malam. Dengan begitu, ia bisa menghidupkan malam dengan shalat-shalat sunnat. Jika datang bulan Ramadhan, maka ia makin giat beribadah melebihi orang-orang di masanya. Mungkin inilah sebagian dari ke-nyeleneh-an Beliau.
Imam Abu Bakar
Dalf bin Jahdar as- Syibli, Beliau memang punya karamah.....Dalam kitab Syarh Ratib al-Haddad, diceritakan
bahwa Beliau mendatangi majelis Syekh Abu Bakar bin Mujahid. Melihat asy-
Syibli yang dating ke Majelisnya, Syekh Abu Bakar bangun dari tempat duduknya,
menyambutnya, memeluknya, dan mencium keningnya.
Setelah kejadian
itu, Syekh Abu Bakar ditanya oleh salah satu muridnya: ‘"Duhai
Guruku...!!, Engkau melakukan yang demikian kepada Abu Bakar Dalf bin Jahdar
as- Syibli..??
Padahal, engkau
dan semua penduduk Baghdad menganggapnya sinting..??’.
Syekh Abu Bakar
bin Mujahid menjawab: "Apa yang aku lakukan kepadanya adalah karena
mencontoh yang dilakukan Rasulullah kepadanya...... Aku pernah bermimpi melihat
Dia datang kepada Rasulullah Saw....Lalu Rasulullah bangun dari duduknya dan
mencium kening dia.Lalu dengan heran aku bertanya kepada Rasulullah:
"‘Duhai Rasulullah...!, engkau berbuat demikian kepada Abu Bakar Dalf bin
Jahdar as- Syibli..??’'.
Rasululullah
menjawab: "Ya begitulah....Itu karena orang ini (Imam Syibli) sehabis
shalat senantiasa membaca dua ayat QS at-Taubah: 128-129 :"Sungguh telah
datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu...Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu..Amat
belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang
mukmin................................ (at-Taubah: 128).Lalu ia melanjutkannya
dengan membaca shalawat kepadaku sebanyak 3 kali.
Banyak hikmah dan karomah di sekitar sufi besar ini. Dalam kitab
Tadzkirul Awliya diceritakan, selama beberapa hari Syibli menari-nari di bawah
sebatang pohon sambil berteriak-teriak, mulutnya berdzikir (هُوْ... هُوْ... هُو...ْ) “Hu, Hu, Hu!”
Para sahabatnya bertanya-tanya, “Apakah arti semua ini?”
beberapa hari kemudian Syibli menjawab, “Merpati hutan di pohon itu meneriakkan
“Ku, Ku”, maka aku pun mengirinya dengan “Hu, Hu”, burung itu tidak berhenti
bernyanyi sebelum aku berhenti meneriakkan berdzikir (هُوْ... هُو...ْ) Hu, Hu,” begitulah!”
Seorang Sufi Membakar Surga
Di lain hari orang menyaksikan Syibli berlari-lari sambil
membawa obor. “Hendak kemanakah engkau?” tanya orang-orang itu. “Aku hendak
membakar Ka’bah, sehingga orang-orang hanya mengabdi kepada yang memiliki
Ka’bah,” jawab Syibli.
Di lain waktu, tampak Syibli membawa sepotong kayu yang
terbakar di kedua ujungnya, “Aku hendak membakar neraka dengan api di satu
ujung kayu ini dan membakar surga dengan api di ujung lainnya, sehingga manusia hanya mengabdi karena Allah.
Setelah mengalami kemajuan spiritual sampai pada suatu
titik di mana ia dapat memenuhi
sakunya dengan gula-gula, dan pada
setiap bocah yang ia temui, ia akan berkata, “Katakanlah, Allah!” lalu ia akan
memberikan gula-gula. Setelah itu ia akan memenuhi saku bajunya dengan uang
dirham dan dinar. Ika berkata, “Siapa saja yang berkata Allah sekali saja, aku
akan penuhi mulutnya dengan emas.”
Setelah itu semangat kecemburuan berkobar dalam dirinya,
dengan menghunus pedang, sambil berkata, “Siapa saja yang menyebut nama Allah,
akan ku tebas kepalanya dengan pedang ini,” pekiknya.
Orang-orang berkata, “Sebelumnya engkau biasa memberikan
gula-gula dan emas, namun mengapa sekarang engkau mengancam mereka dengan
pedang?”
Ia menjelaskan, “Sebelum ini aku kira mereka menyebut
nama-Nya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan hakiki. Kini aku sadar bahwa
mereka melakukannya tanpa perhatian dan hanya sekedar kebiasaan. Aku tidak
dapat membiarkan lidah-lidah kotor menyebut nama-Nya.”
Setelah itu di setiap tempat yang ia temui, ia menuliskan
nama Allah. Tiba-tiba sebuah suara berkata padanya: “Sampai kapan engkau akan
terus berkutat dengan nama itu? Jika engkau merupakan seorang pencari sejati,
carilah pemiliknya!”
Kata-kata ini begitu menyentak As-Syibli. Tak ada lagi
ketenangan dan kedamaian yang ia rasakan. Betapa kuatnya cinta menguasainya,
begitu sempurnanya ia diliputi oleh gonjang-ganjing mistis, sampai-sampai ia
menceburkan diri ke Sungai Tigris.
Gelombang sungai membawanya kembali ke tepi. Kemudian ia menghempaskan dirinya ke dalam kobaran api, namun api itu kehilangan daya untuk membakarnya. Ia mencari tempat di mana sekelompok singa berkumpul lalu berdiam diri di sana, namun singa-singa itu malah melarikan diri menghindarinya. Ia terjun bebas dari puncak gunung, namun angin mencengkram dan menurunkannya ke tanah dengan selamat. Kegelisahannya semakin memuncak beribu-ribu kali lipat.
Kemudian orang-orang
membelenggunya dan membawanya ke rumah sakit jiwa. Mereka berkata,
“Orang ini sudah gila.”
Ia menjawab, “Di mata kalian aku ini gila dan kalian
waras. Semoga Allah menambah kegilaanku dan kewarasan
kalian. Kalian dihempaskan semakin jauh dan jauh lagi!”
Khalifah lalu menyuruh seseorang untuk merawatnya. Orang itu datang dan menjejalkan obat
secara paksa ke mulut As-Syibli. “Jangan
persulit dirimu,” pekik As-Syibli. “Penyakit ini bukanlah jenis penyakit yang
dapat disembuhkan dengan obat-obatan seperti itu.”
Saat As-Syibli tengah dikurung dan di belenggu di rumah
sakit jiwa, beberapa orang sahabatnya datang menjenguk. “Siapa kalian?”
pekiknya. “Sahabat-sahabatmu,” jawab mereka. Tiba-tiba ia mulai melempari
mereka dengan batu, dan mereka lari menghindar.
Ia berteriak, “Dasar pembohong! Apakah seorang sahabat lari dari sahabatnya hanya karena beberapa bongkah batu? Ini membuktikan bahwa kalian sebenarnya adalah sahabat bagi diri kalian sendiri, bukan sahabatku!”
As-Syibli Mempraktikkan Penyangkalan Diri
DIRIWAYATKAN bahwa ketika As-Syibli mulai mempraktikkan penyangkalan diri, selama bertahun-tahun ia biasa mengurapi matanya dengan garam agar ia tetap terjaga. Ia telah menghabiskan 260 kilogram untuk itu. Ia kerap berujar, “Allah Yang Maha Kuasa selalu memperhatikanku.”“Orang yang tidur itu lalai, dan orang lalai itu terhijabi,” tambahnya.
Suatu hari Junaid mengunjungi As-Syibli dan melihat sedang menahan kelopak matanya dengan jepitan. “Mengapa engkau melakukan ini?” tanya Junaid.
“Kebenaran telah menjadi nyata, namun aku tak tahan melihatnya,” jawab As-Syibli. “Aku menjepit kelopak mataku karena siapa tahu Dia berkenan menganugerahkanku satu pandangan saja.”
As-Syibli biasa pergi ke sebuah gua dengan membawa seikat tongkat kayu. Kapan saja hatinya lalai, ia akan memukul dirinya sendiri dengan tongkat-tongkat itu. Akhirnya ia kehabisan tongkat, semuanya telah patah. Maka ia pun membentur-benturkan kedua tangan dan kakinya ke dinding gua.
As-Syibli selalu mengatakan kalimat: “Allah…, Allah…,” salah seorang muridnya yang setia bertanya kepadanya, “Mengapa Guru tidak berkata, “Tiada Tuhan selain Allah.”
As-Syibli menghela nafas dan menjelaskan, “Aku takut ketika aku mengucapkan “Tiada Tuhan” nafasku terhenti sebelum sempat mengatakan “Selain Allah.” Jika begitu, aku akan benar-benar hancur. Kata-kata ini benar-benar menggetarkan dan menghancurkan hati sang murid, hingga ia tersungkur dan akhirnya meninggal dunia.
Teman-teman si murid itu datang dan menyeret As-Syibli ke hadapan Khalifah. As-Syibli, tetap dalam gejolak ekstasinya, berjalan seperti orang mabuk. Mereka menuduh As-Syibli telah melakukan pembunuhan. “As-Syibli, apa pembelaanmu?” tanya Khalifah.
As-Syibli menjawab, “Jiwanya, yang terbakar sempurna oleh kobaran api cinta, tak sabar menghadap keagungan Allah. Jiwanya, yang keras disiplinnya, telah terbebas dari keburukan badaniah. Jiwanya, yang telah sampai pada batas kesabarannya sehingga tak mampu menahan lebih lama lagi, dikunjungi secara berturut-turut oleh para utusan Tuhannya yang mendesak. Kilatan cahaya keindahan dari kunjungan ini menembus inti jiwanya. Jiwanya, seperti burung, terbang keluar sangkarnya, keluar tubuhnya. Apa salah As-Syibli dalam hal ini?
“Segera kembalikan As-Syibli ke rumahnya,” perintah Khalifah. “Kata-katanya telah membuat batinku terguncang sedemikian rupa hingga aku bisa terjatuh dari singgasanaku ini!”
Menjelang Wafatnya Sufi Imam asy-Syibli
Ketika ajalnya hampir tiba, pandangan matanya tampak murung. Ia minta segenggam abu, kemudian ditaburkannya di kepalanya. Ia gelisah. “Mengapa engkau gelisah?” tanya salah seorang sahabatnya. Maka jawab Syibli:
"Aku iri kepada Iblis,
disini aku duduk dalam dahaga, tapi Dia (Allah) memberi nikmat kepada yang
lain. Allah telah berfirman : “Sesungguhnya laknat-Ku kepadamu hingga hari
Kiamat (QS,38:78). Aku iri karena Iblislah yang medapatkan kutukan Allah itu.
Meskipun berupa kutukan, bukanlah kutuka itu dari Dia dan dari kekuasaan-Nya?”
Apakah yang diketahui oleh si
laknat mengenai nilai kutukan itu? Mengapa Allah tidak mengutuk
pemimpin-pemimpin kaum muslimin dengan membuat mereka menginjak mahkota di
singgasana-Nya? Hanya ahli permatalah yang mengetahui nilai permata. Jika
seorang Raja mengenakan gelang manik-manik dari kristal, itu akan tampak
seperti permata. Tapi jika pedagang sayur mengenakan cincin setempel dari
permata, cincin itu akan tampak sebagai manik dari kaca.”
Setelah beberapa saat tenang,
Syibli kembali gelisah. “Mengapa engkau gelisah lagi?” tanya sahabatnya.
Maka jawabnya, “Angin sedang berembus dari dua arah. Yang satu angin kasih sayang, yang lain angin kemurkaan. Siapa saja yang ingin terhembus oleh angin kasih sayang, tercapailah harapannya. Dan siapa yang terembus angin kemurkaan, tertutuplah penglihatannya. Kepada siapakah angin bertiup? Bila angin kasih sayang berembus ke arahku karena akan tercapai harapan itu, aku dapat menanggung segala penderitaan dan jerih payah. Jika angin kemurkaan berembus ke arahku, penderitaan ini tidak ada artinya dibanding bencana yang akan menimpaku. Tidak ada yang lebih berat dalam batinku daripada uang satu dirham yang kuambil dari seseorang secara aniaya. Walaupun untuk itu aku telah menyedekahkan 1000 dirham, batinku tidak memperoleh ketenangan.
Berikan air kepadaku untuk bersuci!” Maka para sahabatnya pun mengambil air untuknya. Usai bersuci, (Imam Syibli) shalat sunnat dua raka’at dan sehabis shalat senantiasa membaca dua ayat QS at-Taubah: 128-129
- لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ مِنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ* فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللهُ لآاِلَهَ اِلَّا هُوَقلي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ* التوبة 128- 129
ممباج صلاوة اَتَسْ نَبِيّ مُحَمَّد :
صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ
Artinya :"Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu...Sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu..Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin................................ (at-Taubah: 128).Lalu ia melanjutkannya dengan membaca shalawat kepadaku sebanyak 3 kali. Asy-Syibli pun wafat dengan tenang. Ia meninggal dunia pada 334 H / 846 M dalam usia 87 tahun.
(الشيخ والإمام الشبلى)
هو الشيخ والإمام أبو بكر دلف بن جحدر الشبلى 247 – 334 هجرية أو 861 – 946 ملادية. بغدادي المولد والمنشأ. وأصله من اسروشنه ( مدينهتقع ما وراء النهر) هو صحب الجنيد وتلميذه ومن فى عصره من العلماء وكان شيخ وقته حالا وظرفا وعلما.مالكى المذهب وقبره ببغداد. وكان يقول فى آهر أيامه : وكم موضع لو مت فيه لكنت به نكالا فى العشير.
ولما تاب الشبلى فى مجلس خير النساج أتنى دماوند, وقال كنت وإلي بلدكم فاجعلونى فى حل, وكانت محاهداته فى بدايته فوق الحد. سمعت الستاذ أبا على الدقاق رحمه الله تعالى يقول : بلغنى أنه اكتحل بكذا وكذا من الملح ليعتاد الشهر ولاية خده النوم. وكان اذا حل شهر رمضان المبارك جد فى الطاعات فوق جد من عاصره. وقال هذا شهر عظمه ربي فانا اول من يعظمه من الناس. -1)
1-الرسالة القشبرية .........419
Silsilah TJ
yang ke Sepuluh
10.IMAM IBRAHIM ANNASHRA ABADZI
Tahun W. 369H /979M
(الشيخ والإمام إبراهيم النصر آباذى)
هو الشيخ والإمام أبو القاسم إبراهيم بن محمد بن محمود النصر آباذى
Nama panjangnya adalah Abul Qasim Ibrahim Ibn Muhammad Ibn Mahmud an Nashra
Abadzi, Dia lahir di kota Khurasan dan juga wafat di kota Khurasan tahun 369
hijeriah atau 979 Masehi. Dia layaknya seorang Sulthan di Naisyafur, hanya saja
terletak pada perbedaannya yaitu pada kenyataannya bahwa kemuliaan Para Sulthan
hanya terbatas di dunia ini saja. Sementara kemuliaan an Nashra Abadzi hingga
akhir kelak. Ungkapan murni dan tanda-tanda kemuliaan diberikan kepadanya. Dia
adalah murid dari Syekh wal Imam Asy Syibeli dan juga An Nashra Abadzi adalah
guru Syekh Khurasan Awal.
Dia adalah seorang yang amat berilmu dan lagi amat shaleh pada masanya. Terdapat riwayat bahwa dia pernah berkata : “Engkau berada dalam dua hubungan, satu hubungan dengan Adam, dan satunya lagi hubungan dengan Allah Swt, Jika Engkau mengklim hubungan Adama, Engkau akan memasuki wilayah nafsu dan tempat tumbuh berkembangnya dosa dan kesalahan. Karena dengan kliam ini engkau berusaha menyadari (sifat) kemanusiaan engkau,”
Allah berfirman QS. Al Ahzab ayat 72 :
.......... الْاِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا الأحزاب 72
Artinya : “Sesungguhnya manusia itu, amat zalim lagi amat bodoh.”
Namun demikian, jika engkau mengkliam hubungan dengan Allah, engkau akan memasuki maqam penyingkapan dan kewalian. Karena dengan kliam ini engkau berusaha menyadari kehambaan atau ubudiyah.
وَعِبَادُ الرَّحْمَانِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُوْنَ قَالُوْا سَلَامًا -الفرقان 63
Artinya :”Dan hamba-hamba yang baik, mereka dari Allah Yang Maha Penyayang
itu adalah orang-orang yan berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati.”
Hubungan dengam Adam berakhir pada hari kebangkitan.Sementara hubungan dengan Allah adalah menjadi hamba Allah akan abadi dan tidak dapat berubah-ubah. Ketika seseorang menunjuk dirinya sendiri atau menunjuk Adam, yang paling bisa dicapai adalah :
قَالَ رَبِّ إِنِّىْ ظَلَمْتُ نَفْسِىْ فَاغْفِرْ لِىْ فَغَفَرَ لَهُقلي اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ .... القصص
16
Artinya :”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diri sendiri, maka
ampunilah oleh-Mu bagiku. Maka Dia (Allah) telah mengampuni baginya.
Sesungguhnya Dia Allah, Maha Pengapun lagi Maha Penyayang.” QS al Qashash ayat
16.
Tetapi ketika dia menunjuk dirinya sendiri kepada Allah .......... Anak cucu Adam, sama dengan mereka, dimana Allah telah berfirman kepadanya,
pada QS
Zukhruf ayat 68 berbunyi :
يَا عِبَادِ لَاخَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُوْنَ الزخرف 68
Artinya :”Hai hamba-hamba Ku, tiada ada kekhawtiran terhadapmu pada hari
ini dan tidak perlu kamu bersedih.”
Naisyabur adalah ibu kota nya Khurasan, sebuah Negeri tempat kelahiran Abul
Qasim an Nashra Abadzi
Diantara Syekh Khurasan Awal (Guru-guru Khurasan) yang dimaksud dan yang
disebutkan pada kalimat terdahulu adalah. :
a.Syekh Imam An Nashra Abadzi
b.Syekh Abu ‘Ali ad Daqaq adalah guru bagi Imam Qusyairi
c.Syekh Abu Shaleh Hamdun Ibn Ahmad Ibn Umarah al Qasari, dll
Di dalam Kitab Sirajut Thalibin dikatakan tentang Rahmat Allah dan
Mahabbah.
Silsilah TJ yang ke Sebelas
11.SYEKH ABU ‘ALI ADDAQAQ W. 405 H / 1015 M
(الشيخ الإمام أبو على الدقاق)
هو الشيخ والإمام أبو علي الحسن بن علي بن الجنيد بن محمد الدقاق
Nama panjangnya Syekh wal Imam Abu ‘Ali Hasan bin ‘Ali bin al Junaid bin Muhammad ad Daqaq. Ada yang mengatakan bahwa Dia adalah cucu Syekh wal Imam al Junaid al Bagdady.
Dia memiliki otoritas terkemuka dalam bidang Pengetahuan dan dia tiada bandingannya dari semua rekan-rekan sezamannya. Dia sangat jelas gubahan dan fasih dalam berbicara, ketika melihat penyingkapan jalan menuju Allah Swt. Dia banyak berjumpa dan bergaul dengan para Syekh. Dia tercatat sebagai salah seorang murid Syekh An Nashra Abadzi dan biasa menjadi juru Dakwah (تَذْكِيْرُ كَرْدِي)
Terdapat riwayat bahwa dia pernah berkata :”Barangsiapa dekat dengan seseorang selain Allah, maka berarti dia lemah keadaan (Spritual)-nya, dan barangsiapa berkata mengenai seseorang selain Allah, maka ucapanya adalah DUSTA,” Karena kedekatan dengan seseorang selain Allah muncul karena tidak mengetahui Allah secara memadai. Dan apabila seseorang tidak bershahabat, maka dia tidak bakal berbicara mengenai yang lain.
Saya (Penyusun Kasyf al Mahjub) mendengar seseorang laki-laki Tua meriwayatkan bahwa suatu ketika dia pergi ke tempat dimana Ad Daqaq mengadakan pertemuam, dengan tujuan ingin bertanya kepadanya mengenai keadaan mereka yang hatinya yang Tawakkal kepada Allah. Waktu itu Ad Daqaq mengenakan sorban yang bagus buatan Tabaristan yang diinginkan oleh orang Tua tersebut. Dia berkata kepada Ad Daqaq :”Apa itu Tawakkal kepada Allah ? Syekh Ad Daqaq menjawab :”Menjauhlah dari menginginkan sorban orang lain,” Dengan kata-kata tersebut dia menyerahkan (memberikan) sorbannya kehadapan orang yang bertanya tersebut.
Syekh wal Imam Abu ‘Ali Hasan bin ‘Ali bin al Junaid bin Muhammad ad Daqaq. Dia tinggal di kota Naisyabur dari Provensi Khurasan. Dia seorang Syekh dan Imam syari’at dan hakekat di masanya. Dia guru bagi Syekh Imam Al Qusyairi dan Ulama-ulama Sufi tahun 335 -412 Hijeriyah di kota Naisyabur Provensi Khurasan. 1)
Syekh wal Imam Abu ‘Ali Hasan bin ‘Ali bin al Junaid bin Muhammad al Nisyafuri dengan panggilan ad Daqaq wafat 405H /1015M adalah guru dan juga mertua Syekk Abul Qasim Al Qusyairi. ad Daqaq, ia cucu kadung dari Imam al Junaid al Bagdadi.
Berkata Imam Al Qusyairi di dalam kitabnya Ar Risalah :
.... إن العبادة منهاج الجنة, ٌال القشيرى فى الرسالة : سمعت أبا على الدقاق رحمه الله تعالى يقول : العبودية أتم من العبادة, فأولا عبادة, ثم عبودية ثم عبودة, فالعبادة للعوام من المؤمنين والعبودية للخواص و العبودة لخاص الخاص -2
“Tentang beribadah adalah jalan menuju ke sorga.” Di dalam kitabnya Ar Risalah Al Qusyairiyah.Imam Al Qusyairi telah berkata : “Telah aku dengar dari Guruku, Abu ‘Ali ad Daqaq Allah berkata :”Ubudiyah lebih sempurna dari pada ibadah, maqam yang pertama adalah ibadah, kemudian maqam yang kedua adalah ‘Ubudiyah, dan maqam yang ketiga adalah “Ubudah.” Maqam Ibadah untuk orang awwam, Maqam Ubudiyah, untuk orang khawas dari Kaum Mu’minin dan maqam Ubudah,untuk orang khawasu-khawas.
Dalam "Artikel Muhammad Afiq Zahara" tentang Jenderal Besar Meminta Nasihat Syekh Abu ‘Ali al-Daqaq bahwa dikatakan pada kitab al-Tibr al-Masbuk fi Nasihah al-Muluk, Imam al-Ghazali menceritakan sosuk seorang Isfahsalar Naisabur (Jenderal Besar Naisabur) bernama Abu Ali bin Ilyas datang ke majelis Imam Abu Ali al-Daqaq (w. 405 H).
Diceritakan bahwa :
كان أبو علي بن إلياس إسفهسلار نيسابور فحضر يوما عند الشيخ أبي علي الدقاق رحمه الله, وكان زاهد زمانه وعالم أوانه, فقعد علي ركبتيه بين يديه وقال: عظني! فقال له أبو علي: أيها الأمير, أسألك مسألة وأريد الجواب عنها بغير نفاق. فقال: أجل أجيبك. فقال: أيها الأمير أيما أحب إليك المال أو العدو؟ فقال: المال أحب إليّ من العدو. فقال: كيف تترك ما تحبه بعدك وتصطحب العدو الذي لا تحبه معك؟ فبكي الأمير ودمعت عيناه وقال: نعم الموعظة هذه!
Nasihat Imam Abu Ali al-Daqaq
Abu
Ali bin Ilyas, Isfahsalar (Jenderal) wilayah Naisabur suatu hari berkunjung
pada Syekh Abu ‘Ali al-Daqaq rahimahu Allah. Beliau adalah seorang zahid di
zamannya dan alim di eranya. Jenderal
Abu Ali bin Ilyas duduk berhadapan dengan beliau dan berkata: “Berikan
aku nasihat!”
Imam
Abu Ali al-Daqaq berkata
kepadanya: “Wahai amir (penguasa), aku hendak menanyakan satu persoalan padamu.
Aku harap kau menjawabnya tanpa kenifakan.”
Abu
Ali bin Ilyas berujar: “Baik, akan kujawab pertanyaan tuan syekh.”
Imam
al-Daqaq bertanya:
“Manakah yang lebih kau cintai, harta atau musuh?”
Abu
Ali bin Ilyas menjawab: “Harta lebih aku cintai daripada musuh.”
Kemudian
Imam al-Daqaq berucap: “Bagaimana bisa tuan meninggalkan sesuatu (harta) yang
tuan cintai setelah (kematian) tuan dan membawa musuh yang tuan tidak cintai
bersama tuan (di kehidupan setelah mati)?”
Amir (Penguasa /seorang Jenderal) wilayah Naisabur saat itu menangis. Matanya tertutup, sembari berujar : “Benar yang tuan nasihatkan ini.” (Abu Hamid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988,hlm 45).
Nasihat Imam Abu
Ali al-Daqaq ini menarik untuk
direnungkan. Sebab mengedepankan kemanusiaan di atas segalanya. Ia menarik
kemanusiaan masuk ke wilayah akhirat, dengan menegaskan bahwa harta yang lebih
dicintai oleh jenderal itu tidak akan dibawa mati, tapi musuh yang ia benci
akan turut bersamanya di kehidupan mendatang. Seburuk-buruknya musuh, ia tetap
manusia yang memiliki peluang sama dengan kita di akhirat kelak, tergantung
bagaimana cara ia hidup.
Dengan
kata lain, musuh harus lebih dicintai, bukan harta. Cara mencintainya dengan
menghilangkan perilaku buruk mereka dan membawa mereka ke jalan yang benar.
Jangan membencinya karena permusuhan. Cintailah mereka karena kemanusiaan.
Sebanyak apa pun harta yang kita kumpulkan, mereka tidak akan dibawa mati.
Seburuk apapun musuh yang kita miliki, ia akan bersama kita di akhirat kelak.
Dengan mengatakan nasihat ini kepada seorang Jenderal Besar, Imam Abu Ali al-Daqaq berharap agar jenderal tersebut lebih mengutamakan dakwah dan pendekatan persuasif dalam membebaskan suatu daerah, bukan penyerangan membabi buta untuk mendapatkan harta rampasan perang. Setiap orang memiliki hak mendengarkan seruan kebenaran, melintasi jalan yang lurus, dan tentu saja memasuki surga Allah. Jika ada seseorang yang mengambil hak tersebut dari orang lain, entah sangsi apa yang akan diberikan Allah kepadanya, kita tidak mengetahuinya.
(الشيخ الإمام أبو على الدقاق)
هو الشيخ والإمام أبو علي الحسن بن علي بن الجنيد بن محمد الدقاق . وكان الاستاذ الشيخ أبو علي الدقاق, له بنت واسمها فاطمة تزوج الاستاذ الشيخ عبد الكريم القشيرى.
سمعت الستاذ أبا على الدقاق رحمه الله تعالى يقول : الوقت ما أنت فيه وان كنت بالدنيا فوقتك الدنيا وان كنت بالعقبى فوقتك العقبى, وان كنت بالسرزر فوقتك السرور وان كنت بالحزن فوقتك الحزن يريد بهذا أن الوقت ماكان هو الغالب على الإنسان. -1)
سمعت الستاذ أبا على الدقاق رحمه الله تعالى يقول : الوقت مبدرة يستحقك ولا يمحقك يعنى لو محاك وأفناك لتحلصت حين فنيت, ولكنه يأخذ منك ولا يمحوك بالكلية. وكان ىنشد : كل يوم يأخذ بعضى – يورث القلب حسرة ثم يمضى. وكان ىنشد : كأهل النار ان نضجت جلود. أعيدت المشقاء لهم جلود, وقيل فى هذه المعني ليس من مات فاستحراح بميت. إنما الميت ميت الاحياء. والكيس من كان يحكم وقته. إن كان وقته الصحو فقيامه بالشريعة. و إن كان وقته المحو فالغالب عليه أحكام الحقيقة. 2)
سمعت الستاذ أبا على الدقاق رحمه الله تعالى يقول : قل بعض المشايخ الانسان صوفى: ماذا تمحو ماذا تثبت ؟ فسكت الرجل فقال اما علمت أن الوقت محو واثبات, اذ من لا محو له ولا اثبات فهو معطل مهمل. -3)
سمعت الستاذ أبا على الدقاق رحمه الله تعالى يقول : دخل بعضهم على أبى بكر القحطى, وكان له ابن يتعاطى ما يتعاطاه الشباب (من مفاسد) وكان يمر هذا الداخل على هذا الابن. فاذا هو مستغرق فى لهوه مع إقارنه فرق قلبه وتألم للقحطي وقال مسكين هذا الشبخ كيف ابتلي بهذا الابن السين. فلما دخل على اللقحطي وجده كأنه لاخنر له بما يجرى عليه من الملاهى, فتعجب منه وقال : فديت من لا تؤثر فيه الجبال الرواسى. فقال القحطي : انا قد حررنا عن رق الشياء فى اللأزل. -4)
سمعت الستاذ أبا على الدقاق رحمه الله تعالى يقول : إذا رعى الانسان فى حال السماع ادب الافاضل حفظ الله عليه وقته لبركات ادبه.
سمعت الستاذ أبا على الدقاق رحمه الله تعالى يقول : الواردات من حيث الاوراد. فمن لا ورد له بظاهره لاوارد له فى سرائره, وكل وجد فيه من صاحبه شيئ فليس بوجد, وكما انه ما يتكلفه العبد من معاملات ظاهرة يوجد له حلاوة الطاعات. فما ينازله العبد من أحكام باطنة يوجب له المواجيد. فالحلاوات ثمرات المعاملات والمواجيد نتاج المنازل. -5
يتعاطى = يفعله, اقرانه = صاحبه = فرق =رحم, تألم = مريض
4-الرسالة القشيرية -55 ,56, و 73 -58
5-الرسالة القشيرية -62
الكيس = الطريف او الفطن = العاقل
لان من غاب عن ادراك نفسه وغيره فهو مشغول بالحق عن الخلق
F. SANAD KE-12 BIOGRAFI IMAM ABU QASIM AL QUSYAIRI
Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang ke-12
12. SYEKH WAL IMAM ABU QASIM AL QUSYAIRI
(TAHUN 376-465H/986-1073M)
(الشيخ الإمام أبو القاسم القشيرى)
هو الشيخ والإمام أبو القاسم القشيرى أو عبد الكريم بن هوازن بن عبد الملك بن طلحة بن محمد القشيرى
Nama panjangnya adalah Abu Qasim atau Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad al Qusyairi. Ketika ditanya tentang kelahirannya, al Qusyairy mengatakan, bahwa ia lahir di Astawa pada bulan Rablul Awal tahun 376 H. atau tahun 986 M di Negeri Istawa di kota Khurasan ibu kota Naisyaburi, Khurasan adalah salah satu ibu kota terbesar Negara Islam pada abad pertengahan disamping Balkh, Harrat dan Marw. Syekh Syuja' al Hadzaly menandaskan, al Qusyairy wafat di Naisabur, pada pagi hari Ahad, bahwa tanggal 16 Rablul Akhir 465 H./l 073 M. Ketika itu usia Beliau 87 tahun.dan dimakamkan di makam dekat Gurunya Syekh Abu ‘Ali Ad Daqaq. Dan setelah al Qusyairy wafat tak seorang pun berani memasuki kamar pustaka pribadinya dalam waktu beberapa tahun, sebagai penghormatan atas dirinya. Tidaklah begitu banyak diketahui tentang masa kanak-kanak Imam Al Qusyairi ini.Tetapi dia dikenal sebagai anak yatim, ayahnya meninggal ketika dia masih kecil.
Abul Qasim al Qusyary berjanji ia akan belajar kepada Abu Qasim al Yamani, dia adalah seorang yang terpandai dalam keluarga al Qusyairiyah. Maka belajarlah dia kepada Abul Qasim al Yamani ini tentang bahasa Arab (Sastera) dan Adab. Dia semula berkeinginan, dan bercita-cita sebagai pegawai pemerintahan. Kemudian dia pergi ke Naisyabur untuk mempelajari suatu ilmu dan ilmu hitung serta keterampilan lainnya disana.
1. Dia pandai Berkuda Al Qusyairy dikenal sebagai penunggang kuda yang hebat, dan ia memiliki keterampilan permainan pedang serta senjata sangat mengagumkan.dan sulit dikalahkan lawan. Diriwayatkan dia mempunyai seekor Kuda kesayangan yang selama 20 tahun telah mengabdi kepadanya, ketika Imam Al Qusyairy wafat, kuda itu tidak mau makan selama dua Minggu dan akhirnya kuda itu mati, menyusul majikannya. Imam Al Qusyairy hidup pada abad kelima Hijeriyah pada masa Pemerintahan Bani Saljuk.
Kota Naisabur wilayah luas adalah maskasnya Para Ulama pada masa itu, Dikota ini Abul Qasim al Qusyairi diperkenalkan pada Syekh wal Imam Abu ‘Ali Hasan bin ‘Ali bin al Junaid bin Muhammad ad Daqaq. Abu ‘Ali ad Daqaq ini adalah Imam dimasanya. Tatkala dia mendengar kalamnya al Qusyairi yang menajubkan, sungguh Syekh Abu ‘Ali ad Daqaq mendapat firasat pada muridnya yang cerdas dan akhlaknya yang mulia.Begitu pula al Qusyairi ta’jub dengan gurunya akan keindahan kalam dan akhlaknya yang mulia. Akhirnya, al Qusyairy merevisi keinginan semula, dan cita cita sebagai pegawai pemerintahan hilang dari benaknya,Kemudian dia disibukkan dengan menimba ilmu dari Gurunya dan memilih jalan Thariqat dalam hidupnya.
2. Perkahwinan.
Syeikh al-Qusyairy mengawini Fatimah putri gurunya, Abu Ali al-Hasan bin Ali an Naisabury (ad Daqqaq). Fatimah adalah seorang wanita yang memiliki prestasi di bidang pengetahuan sastra, dan tergolong wanita ahli ibadat di masanya, serta meriwayatkan beberapa hadis. Perkawinannya berlangsung antara tahun 405 412 H./1014-1021 M.
3. Putera dan Puterinya.
Al Qusyairy berputra enam orang dan seorang putri. Putra-putranya menggunakan nama Abdu. Secara berurutan: 1) Abu Sa'id Abdullah, 2) Abu Sa'id Abdul Wahid, 3) Abu Manshur Abdurrahman, 4) Abu an Nashr Abdurrahim, yang pernah berpolemik dengan pengikut teologi Hanbaly karena berpegang pada mazhab Asy'ari. Abu an Nashr wafat tahun 514 H/1120 M. di Naisabur, 5) Abul Fath Ubaidillah, dan 6) Abul Mudzaffar Abdul Mun'im. Sedangkan seorang putrinya, bernama 7) Ammatul Karim. Di antara salah satu cucunya adalah Abul As'ad Hibbatur-Rahman bin Abu Sa'id bin Abul Qasim al Qusyairy.
4. Menunaikan Haji
Maha Guru imam ini menunaikan kewajiban haji bersamaan dengan para Ulama terkenal, antara lain: 1) Syeikh Abu Muhammad Abdullah binYusuf al-Juwainy (wafat 438 H./1047 M.), salah seorang Ulama tafsir, bahasa dan fiqih, 2) Syeikh Abu Bakr Ahmad ibnul Husain al-Balhaqy (384 458 H./994 1066 M.), seorang Ulama pengarang besar, dan 3) Sejumlah besar Ulama ulama masyhur yang sangat dihormati ketika itu.
5. Dia
Seorang Yang Aneh
Syekh wal Imam al Qusyairi adalah seorang yang aneh pada masanya. Tingkatannya yang tinggi dan posisinya agung dan kehidupan spritualnya dan kebaikannya yang tiada terbilangbanyaknya sangat dikenal oleh mereka yang hidup saat ini.
6. Seorang
Penulis yang Handal
Dia
adalah seorang Penulis yang handal, banyak unkapan yang indah dan karya yang
menyentuh bahasanya, semuanya sangat Teosofis dalam setiap cabang Ilmu
Pengetahuan. Allah mengenugrahi perasaan dan mulutnya bebas dari (Hasyw) yaitu
Antropomorfisme, menyepadankan sifat-sifat makhluk dengan Allah. Saya mendengar
dia pernah berkata : “Sufi itu seperti
penyakit yang disebut BIRSAM, yang bermula dari igauan dan akhirnya diam. Karena jika engkau mencapai ISTIQAMAH
berarti engkau bisu.” Sufisme memiliki dua sisi, Ekstase wajh ( وجه)
dan penglihatan ( Namud (نمود) Penglihatan adalah milik pemula dan ekspresi
penglihatan semacam itu adalah IGAUAN.
Ekstase
adalah milik para Ahli dan mustahil mengekspresikan ekstase ketika ekstase telah berlangsung. Selama mereka
hanya menjadi pencari, mereka mengeluarkan aspirasi yang
mulia. Yang tampak igauan bahkan lagi
mereka yang menginginkan (Ahli Hikmah).
Tetapi
setelah mereka sampai maka mereka berhenti dan tidak ada lagi menyatakan sesuatu baik kata ataupun isyarat. Demikian
juga, karena Nabiyullah Musa adalah
seorang Pemula atau Mubtadi (مُبْتَدِئٌ) Maka semua hasratnya penglihatan akan
Allah. Ini terlihat ketika Beliau menyatkan hasratnya dan berkata :
قال
رب أرني أنظر إليك ..... العراف 143
Artinya
:”Ya Tuhanku, tampakkanlah Diri Engkau agar aku dapat melihat Engkau.”
QS
al A’raf ayat 143.
Ekspresi hasrat yang tidak bisa dicapai ini, seperti igauan.Namun tidak demikian kasusnya dengan Rasul kita Muhammad Saw karena Beliau adalah seorang ahli (Muntabi ) .......(مُنْتَبِعٌ)......dan sangat istiqamah (Mutamakkin ) (مُتَمَكِّنٌ) Ketika seseorang sampai pada maqam hasrat, maka hasratnya terpanakan. Dan Beliau berkata :”Saya tidak bisa memuji Engkau sebagaimana mestinya.” 1)
Bai’at
Sirriyah (بَيْعَةُ السِّرِّيَّةِ) dikenal – ditemukan pada Thariqat al
Junaidiyah al Bagdadiyah. Wali Allah Syekh
Imam Abu Qasim al Qusyairi yang berpangkat rabbani sudah wafat pun bisa
memberikan Ijazah – melimpahkan Talqin Dzikir kepada seorang muridnya Syekh Muhammad az Zahidy yang berpangkat rabbani
membai’atnya, yang jiwa dan raganya
berada di Dunia ini dikenal dengan
“BAI’AT SIRRIYAH atau
BAI’AT ROHANIYAH.” (اَلْبَيْعَةُ الرُّوْحَانِيَّةُ)
Bai’at
ini terjadi karena Imam al Qusyairi sudah berada di alam Kubur, yakni jiwa dan
raganya tidak berada di alam dunia maka Allah berikan syafa’at untuk mengangkat
seorang murid lewat pelimpahan talqin dzikir pada baiat rohaniyah. Sang murid
bisa dan mampu menangkap segala rahasia atau menerima madad dari gurunya.
Disini terjadi kontak baten ( hubungan ikatan ) secara sirriyah antara Sang
Guru dan Sang Murid. Dia dapat berhubungan secara rohaniyah dengan gurunya
setiap saat, dalam keadaan sadar.
\
(الشيخ الإمام أبو
القاسم القشيرى)
هو الشيخ والإمام
أبو القاسم القشيرى أوعبد الكريم بن هوازن بن عبد الملك بن طلحة بن محمد القشيرى
اللقاب تكريم مثل الإمام, والاستاذ أوالشيخ, زين الإسلامو الجامع بين الشريعة والحقيقة ....... وقد كانت هذه الالقاب عليه تكريما وتقديرا المكانته العلمية فى دنيا الإسلام وعالم التصوف. حياة الإمام القشيرى : لانعلم عن طفولة الاستاذ الشيخ الا القليل ولكننا نعرف أنه كان يتيما.فقد توفي أبوه وهو صغير فعهد بأمر تربيته الى أبي القاسم اليمانى الذى صديقا لأسرة القشيري فدرس عليه اللغة العربية والأدب.
كان رؤساء بلدته
واعيانها يتضايقون من ثقل ضريبة الخراج. فاراد ان يخفف عنهم ما يشكون منه, فرأى أن
يذهب الى نيسابور ليتعلم فيها شيئا من الحساب. لتولى فيما بعد عمل الاستيفاء (وظيفة
الجباية) فيحمى بلدته من الخراج الباهظ. وكانت نيسابور فى ذلك الوقت عاصمة خراسان, كما كانت من قبل مركز للعلماء ومهدا للفنون.
وصل الاستاذ الشيخ الى نيسابور, وهناك تعرف بالشيخ أبى على الحسن بن على (بن الجنيد)
النيسابور المعروف بالدقاق. وكان إمام وقته
فلما سمع كلامه اعجبه,
وقد تفرس الشيخ الدقاق فى هذا التلميذ الدكاء والنجابة أشا عليه بالإشتغال بالعلم. فرجع
الاستاذ الشيخ عن الرأى السابق. وغابت عن ذهن فكرة تولي الوظيفة الحكومية واختار سبيل الطريقة.أنه ولد فى
شهر ربيع اللأول 376 هجرية أو 986 ملادية ببلدة أستواء. توفى الاستاذ الشيخ فى نيسابور 465 هجرية أو
1703 ملادية. وقد بلغ من عمره آنئذ سبعة و
ثمانين عاما.
وقد دفن إلى جانب
أستاذه الشيخ أبى على الدقاق رحمه الله. ولم يدخل احد من أهله غرفة كتبهالا بعد سنين
احتراما له. تزوج الاستاذ الشيخ ابنة الشيخ أبو علي الحسن بن علي بن الجنيد النيسابور المعروف بالدقاق واسمها فاطمة.
يروي من كرامات
الاستاذ الشيخ أنه كانت لهفرس, قد أهديك اليه, فاستخدمها عشرين سنة. فلما مات الاستاذ
الشيخ حزنت عليه الفرس حزنا شديدا وبقيت اسبوعا لم تأكل فيه شيئا ثم مات -1)
G. SANAD KE-13 BIOGRAFI SYEKH MUHAMMAD AZ
ZAHIDI AL QADLI AL SAMARQANDI
12. Silsilah Thariqat al Junaidiyah yang ke Dua Puluh Sembilan
29. SYEKH IMAM MUHAMMAD AZ ZAHIDI AL QADLI AL SAMARQANDI
W.936H/1529M
هو العارف بالله تعالى الشيخ محمد الزاهد القَاضِى السَّمَرْقَنْد (الوخصى) توفى 936 هجرية \ 1529 ملادية
Al Arif billahi Ta'ala Syekh Muhammad az Zahidi al Qadli as Samarqand (al Wakhshi) atau dengan sebutan lain Ba Daksyi. Ada yang mengatakan dia adalah anak saudara perempuan kandung Syekh Ubaidillah al Ahrar as Samarqand (atau kemenakan Syekh), Syekh Ubaidillah adalah pamannya w.1490M. Syekh Muhammad az Zahidi adalah seorang Syekh Sufi yang agung dimasanya“
Pernah seorang Syekh berkirim surat untuknya berbunyi “ Esensi sejati dari ibadah adalah penghormatan, kerendahan hati, permohonan dan penyesalan. Sifat-sifat ini muncul dalam hati melalui perenungan keagungan Allah yang mulia. Pencapaian kebahagiaan seperti itu tergantung pada cinta..
Cinta menjadi nyata melalui kepatuhan kepada Nabi dan Guru dari segala usia, dan kepatuhan tergantung pada belajar bagaimana untuk taat. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan para ulama yang merupakan pewaris pengetahuan agama yang sejati. Adapun mereka yang menyalahgunakan pembelajaran mereka, menjadikannya sarana untuk mendapatkan duniawi atau instrumen ketenaran dan kekayaan, mereka harus dihindari. Seseorang seharusnya tidak bergaul dengan para darwis yang menikmati musik dan menari, dan yang tidak ragu untuk membeli dan menjual segala macam hal. Telinga seseorang harus tuli terhadap doktrin sesat. Seseorang harus mencoba belajar untuk mendapatkan kebijaksanaan sejati, sesuai dengan praktik Rasulullah. Semoga Anda damai!”(1)
Dia seorang Syekh syari'at dan hahikat yang sangat faqih akan kedua ilmu ini. Karenanya Syekh ini menguasai atau faqih dalam ilmu syari’at, makanya Dia pernah dipercaya menjabat sebagai Qadli di kota Samarqand. Sehingga tidak aneh kalau Muhammad az Zahidi ornament thariqat (mistik) sufi diantaranya Thariqat (al Qaum) al Junaidiyah, Thariqat Naqsyabandiyah, pada thariqat ini, ia punya murid penerus Spiritual Kerajaan yang bernama Darwis Muhammad w.970H/1562M, dan Thariqat Sufi lainnya. Dia lahir di desa Wakhshi, kota Samarqand negeri Uzbikistan India.
Dia adalah Kesempurnaan yang orang Saleh, Genius dari Guides, Intisari dari kesucian. Setelah kesempurnaan itu didapatnya, dia juga telah dianugerahkan Khalifah Ilahi (al-Khilafah al-Rabbaniyya), dan Spiritual Kerajaan adalah tempat tinggalnya. Dia mengikombinasikan dalam dirinya Pengetahuan Surgawi dan Pengetahuan Sharaca, dan ia menggenggam yang terbaik dari thariqat dan haqiqat, sampai ia menjadi lokus semua Wahyu Surgawi dan Inspirasi. Dalam Dirinya muncul Pengetahuan Yang Tahu Spiritual..
Imam Az-Zahidi Menerima Ajaran al Junaidiyah atau Thariqatul Qaum
Dia dikenal sebagai (orang yang sangat unik) One Unik di Pengetahuan dan dalam Penggunaan Pena. Dia bawa dalam hatinya rahasia yang menarik hati dan memikat seseorang. Segala puji bagi Allah yang semuanya didirikan dan dititipkan padanya Wahyu Surgawi, dan dengan Wahyu Surgawi yang memberinya kekuatan ajaib dalam setiap hal yang penting. Ia menghiasi dirinya dengan Cahaya Sempurna Kenabian Muhammad Saw pada awal pendakiannya menuju ke Negeri Pengetahuan Spiritual. Dia Rahasia Syaikh-nya, menjadi kiblat bagi orang-orang Syekh sesudahnya, yang menjadi Pewaris pengetahuan para Syaikhnya, salah satunya pengetahuan Spiritual dimaksud adalah ajaran al Junaidiyah atau thariqatul Qaum yang dia terima dari Imam Qusyairi Gurunya melalui bai'at sirriyah atau bai’at rohaniyah.. Beliau punya gelar dengan nama lakabnya "Abu Bakar ash Shibli"
Tercatat dalam sejarah perkembangan sanad silsilah Thariqat Sufi bahwa Syaikh Muhammad az-Zahidi (w.936H) dengan bai'at Sirriyah, Beliau adalah murid dari Imam al Qusyairi (w.465H) pada thariqat kaum al Junaidiyah. Antara Murid dan Guru terhubung dan terjadi dengan bai'at Rohaniyah atau bai'at Sirriyah. Walaupun hidup antara keduanya berbeda zaman dan masa, tetapi Syekh Muhammad az Zahidi mampu menangkap pelimpahan talqin dzikir al Junaidiyah. Dia bisa berhubungan dengan gurunya Imam al Qusyairi setiap saat menangkap ilmu rahasia yang diberikan oleh sang guru, inilah muraqabah awal yang terjadi pada Sadatina al Junaidiyah, yang dikenal pada salah satu pembahasan pokok thariqat al Junaidiyah dengan nama AL MURAQABAH yaitu "MURAQABAH KASYFUL ARWAH" (المراقبة بالكشف الارواح)
Dalam sebuah "Artikel al Nur" dijelaskan bahwa Syaikh Muhammad az-Zahidi wafat pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal, tahun 926H/1520M. Dalam Artikel lain yang ditulis berbahasa Inggris bahwa Syaikh Muhammad az-Zahid wafat pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal, tahun 936H/1529M, Dia di makamkan di desa Wakhshi pemakaman Malk Hasaar, kota Samarqand negeri Uzbikistan India. Di kota ini berdiri sebuah Museum yang bernama "Museum Syaikh Muhammad az-Zahidi" untuk memperingati dan mengenang jasa-jasanya..
Khwajah, Khaja) adalah gelar kehormatan yang berasal dari bahasa Persia (khwāja) yang secara umum berarti tuan, guru, terhormat, atau master.
Khwajah Muhammad az-Zahid al-Qadi as-Samarqandi (wafat 1529 M) adalah syekh ke-21 dalam silsilah emas (Golden Chain) Tarekat Naqsyabandiyah dan syekh ke-13 dalam Tarekat al-Qaum Junaidiyah. Ia dikenal sebagai ulama sufi terkemuka dari Asia Tengah yang memiliki kedalaman ilmu lahir dan batin, serta menjadi pelanjut ajaran spiritual tarekat tersebut
Berikut adalah poin-poin penting mengenai beliau:
Silsilah Naqsyabandiyah: Beliau merupakan penerus dari Syekh Ubaydullah al-Ahrar. Dan pada Silsilah Junaidiyah (tarekat al-Qaum) : Beliau merupakan penerus dari Imam Qusyairi.
Dalam penulisan urutan sanad silsilah antara Imam al Qusyairi dan Syekh Muhammad az Zahidi diberi tanda penghubung dan keterangan Bai'at Sirriyyah atau bai'at rohaniyah karena keduanya tidak sezaman. Penulisannya sebagai berikut :
- ……………………………………..
- Imam al Qusyairi
- Syekh Muhammad az Zahidi
- …………………………………...
Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah dinamakan juga "Thariqat al Qaum". Thariqat Sufi yang amaliah mudah diamalkan yang bersumber dari al Qur'an dan al Hadis. Amaliyah mudah diamalkan : Istighfar, Dzikir, Tasbih, Tahmid, Tahlil, dllnnya.
Kesemua bacaan itu dapat diamalkan dengan cara – cara :
- Zihar ( Pengucapan nyaring) saja atau
- Sirriyah ( cara Rahasia) saja atau
- Isyarat saja atau digabungkan, yang penting pengamalannya hatinya mesti Muraqabah dengan batinnya dan kontinyo.
Kisah Khwajah Muhammad az-Zahidi
Kisah Imam Az-Zahidi, Sengaja Berdiam Diri (Riyadhah) di Gua
Rezeki lahiriah berkaitan dengan badan (berupa materi) seperti kesehatan. Sementara itu, rezeki batiniah erat kaitannya dengan hati seperti kebahagiaan dan pengetahuan.
Berkaitan dengan rezeki, ada sebuah kisah mengenai sosok lelaki yang ingin menguji rezeki dari Allah. Dirinya berdiam diri di dalam gua namun nyatanya Allah mengirimkan rezeki lewat berbagai cara yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Diriwayatkan sebuah kisahkan oleh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir melalui Durratu an-ashihin Fi al-Wa'd wa al Irsyad bahwa seorang pria yang bernama Imam az-Zahidi (menguji dirinya) ingin menguatkan keyakinannya terkait rezeki yang Allah Swt jamin untuknya. Lelaki itu lalu pergi riyadhah ke sebuah gua yang terletak di gunung dan duduk di dalamnya, tanpa membawa perbekalan makanan sedikitpun.
"Aku hendak menyaksikan, bagaimana caranya Tuhan hendak memberiku rezeki di tempat ini?" kata Imam az-Zahidi. Tak disangka-sangkanya, tibalah rombongan pendaki yang telah melakukan perjalanan jauh menyusuri daerah tempat Imam az-Zahidi bernaung. Di saat yang bersamaan, hujan turun dan menyebabkan para pendaki mau berteduh di dalam gua tersebut.
Pendaki-pendaki gunung itu menemukan Imam az-Zahidi yang tengah berdiam diri di dalam gua, salah satu di antara mereka lalu memanggilnya, "Wahai hamba Allah!" Seruan dari pendaki itu tidak dihiraukan oleh Imam az-Zahidi. Karenanya, mereka mengira Imam az-Zahidi tengah kedinginan dan tak mampu berbicara.
Setelahnya, kelompok pendaki itu menyalakan api unggun untuk menghangatkan suasana sambil kembali mencoba berbicara kepada Imam az-Zahidi. Sayangnya, ia masih tetap diam tidak menjawab para pendaki. "Jangan-jangan orang ini kelaparan sampai tidak bisa diajak bicara!" ujar mereka.
Akhirnya, para pendaki itu menyediakan makanan yang mereka bawa kepada Imam az-Zahidi dan mengisyaratkannya untuk segera memakannya. Lagi-lagi, Imam az-Zahidi tidak berkutik.
Melihat hal itu, sekumpulan pendaki mengira Imam az-Zahidi sudah terlalu lama tinggal di dalam gua sampai tidak mendapat makanan sedikit pun. Akhirnya, dibuatkannya susu panas untuk diminum.
Alih-alih menerima susu yang diberikan, Imam az-Zahidi lagi-lagi tidak merespons. Ia tidak membuka mulutnya atau menoleh sedikit pun kepada para pendaki yang telah berbaik hati itu.
Sekelompok pendaki itu lalu berujar, "Jangan-jangan giginya sudah linu susah untuk digerakkan, karena sudah lama tidak makan dan saking kelaparan,"
Akhirnya, salah satu dari dua di antara pendaki itu membantu untuk membuka mulut Imam az-Zahidi untuk menyuapkannya makanannya. Tak disangka, dia justru malah tertawa lepas.
"Apakah kamu gila?" kata pendaki tersebut.
Imam az-Zahidi menjawab, "Tidak, akan tetapi aku hendak ingin menguji Tuhanku, bagaimana caranya Tuhan memberikan rezeki yang telah dijamin untukku. Sekarang aku mengerti bahwa Dia akan mengaruniakan rezeki kepada hamba-Nya dalam segala hal, bagaimanapun keadaan hamba-Nya, dimanapun keberadaan hamba-Nya,"
Daftar Bacaan / Referensi :
1).Terjemahan Kasyf al Mahju terjemahan hal 176 -177.
2)sumber: www.sufiz.com http://kisahteladan.web.id/kisah-sufi/asy-syibli/
3).Risalah Qusyariyyah hal 41
1). Artekel Keislaman Al-Idrisiyyah.com ” Baiat dalam
Pandangan Al-Quran dan As-Sunnah” terbit Kamis, 11 Oktober 2012
2) ibet Artekel Keislaman Al-Idrisiyyah.com ”
2). [Prof. Dr. Nasarudin Umar, harian Republika, 12
Januari 2012]
Artikel
:”ahlulbaitrasulullah.blogspot.com › Fiqih 10 Mar 2013” Make Money Online :
http://ow.ly/KNICZ Diposkan oleh M R NaufaL Senin, 04 Agustus 2014
Artekel Keislaman Al-Idrisiyyah.com ” Baiat dalam
Pandangan Al-Quran dan As-Sunnah” terbit Kamis, 11 Oktober 2012
(1) Rashahat Ain al-Hayat - Butiran Embun dari Sumber Kehidupan. Sejarah Khwajagan The Masters of Wisdom 'oleh Mawlana Ali ibn Husain Safi
(2) "Artikel al Nur" Ttg. "Muhammad az-Zahid al-Qadi as-Samarqandi”
(3) Artikel “Khwaja Muhammad az-Zahid al-Qadi asReferensi :
1-Terjemahan Kasyf al Mahjub hal 195
2. Arrisalah al Qusyairiyah
-الرسالة القشيرية
-Samarqandi” https://sufispirit.com.au/feature/21-khwaja-muhammad-az-zahid/#:~:text=Khwaja%20Muhammad%20az-Zahid%20al-Qadi%20as-Samarqandi%20(may%20God,
Makna Bai’at المكنى البيعة
Tidak ada komentar:
Posting Komentar