Jumat, 10 April 2026

Bab. II "Biografi Sadatina Nasab Ma'ruf Thariqat al Junaidiyah" Kitab Bahjatul 'Abiid

  

 (الشيخ معروف الكرخى)

 SYEKH MA'RUF AL KARKHI

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

BIOGRAFI SADATINA SILSILAH NASAB MA'RUF  THARIQAT AL QAUM ALJUNAIDIYAH

. Sanad Silsilah TJ yang ke Tiga

03.HASAN BASRY IBN YASSAR  W. 110 H / 729 M

(الإمام حسن البصرى ابن يسًار)

Hasan al Basri adalah seorang Syekh wal Imam syari”at wal hakekat. Dia  seorang Syekh yang mempunyai umur panjang lebih dari 90 tahun. Dia lahir kota Madinah pada tahun 21 Hejeriyah atau 642M dimasa Pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab  antara tahun 634 -644 Masehi. Dan Dia lahir sepuluh tahun setelah Muhammad Saw wafat dan  Hasan al Basri wafat  di Bashrah negeri Irak pada Malam Jum’at bulan Rajab tahun 110 Hijeriyah atau bertepatan dengan 15 Oktober 729 Masehi. Janazahnya dishalatkan dan dimakamkan sesudah  shalat Jum’at. Dia dikenal sebagai  seorang Sufi Tokoh  Gerakan Moral  bagi rakyat yang tertindas dimasanya.

Suatu hari, Ummatul Mukminin, Ummu Salamah, isteri Rasulullah Saw telah menerima kabar bahwa mantan "maula" (asisten rumah tangga)nya telah melahirkan seorang putra yang sehat. Ummu Salamah sangat gembira mendengar kabar tersebut. Ia mengirim seseorang untuk mengundang mantan pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifasnya di rumahnya.

Ibu muda yang baru saja melahirkan itu bernama Khairoh (أم خيرة), seseorang yang sangat dicintai Ummu Salamah. Kecintaan umat Mukminin kepada mantan majikannya membuat Umm Salamah sangat ingin segera bertemu dengan putranya. Ketika Khairoh dan putranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang masih merah itu dengan gembira dan penuh kasih sayang. Bayi mungil itu sungguh menawan. "Apakah kau sudah memberi nama bayi ini, Khairoh?" tanya Umm Salamah. "Belum, Ibu. Kami serahkan kepadamu untuk memberinya nama," jawab Khairoh. Mendengar jawaban ini, umat Mukminin berseri-seri, seraya berkata, "Dengan rahmat Allah, kami akan memberinya nama Al-Hasan." Maka doa-doa pun mengalir untuk si kecil, .segera setelah upacara pemberian nama selesai. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo'a memohon kebaikan

Kegembiraan dengan lahirnya Al-Hasan bukan hanya sebatas di rumah Ummul mu'minin Ummu Salamah RA saja, akan tetapi juga sampai ke rumah yang lain di Madinah. Yaitu rumah seorang sahabat besar Zaid bin Tsabit, juru tulis wahyu Rasulullah SAW.

Hasan al Basri  adalah anak dari seorang ibu   yang  bernama  Ummu  Khairah    (أم خيرة)   pembantu Rumah Tangga Ummi Salamah isteri Rasulullah Saw. Ayahnya bernama Yassar al Basry adalah Pembantu Zaid bin Tsabit. Ada yang mengatakan ayah Hasan al Basri bernama FAIRUJ (فيروز).

Fairuj adalah seorang pemuda tawanan perang yang berhasil diboyong oleh Kaum Muslimin ke Kota Madinah, kemudian ia dibeli dan dimerdekakan dengan nama Yassar setelah memeluk Islam, dan Dia  bekerja sebagai Pembantu Zaid bin Tsabit. Dia mempersunting Ummu  Khairah      seorang   gadis  Bani Salamah dari kalangan Kaum Anshar. Dari pernikahannya dengan Ummu Khairah ini, lahirlah seorang putra yang bernama “ Al Hasan al Basri”.

Kaitannya, karena "Yasar" ayah anak bayi ini adalah pembantunya juga dan termasuk orang yang paling dia hormati dan dia cintai.

Al-Hasan bin Yasar yang kemudian dipanggil dengan Al-Hasan Al-Bashri berkembang besar di salah satu rumah Rasulullah SAW. Dia terdidik di pangkuan salah seorang istri Nabi SAW, yaitu Hindun binti Suhail yang dikenal dengan Ummu Salamah.

Di antara Ulama Sufi ada yang mengatakan bahwa karena hubungan dekat dengan Rasulullah saw, Khairah dengan Ummi Salamah disinilah tercurah dan terlimpahnya berkah Nabi Besar Muhammad Saw kepada Imam Hasan al Basry mulai sejak kanak-kanak. 

Waktu terus berlalu. Seiring hubungan antara Al-Hasan dan keluarga Nabi SAW semakin erat, kesempatan baginya untuk "uswah" (menjadi teladan) dalam keluarga Nabi SAW menjadi lebih luas. Pemuda ini menyerap ilmu dari rumah-rumah umat mukmin dan memiliki kesempatan untuk memperoleh ilmu bersama teman-temannya di masjid Nabi.

Ditempa oleh orang-orang yang saleh, dalam waktu singkat Al-Hasan mampu meriwayatkan hadits dari Uthman bin Affan, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Ash'ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan para sahabat Nabi lainnya.

Al-Hasan sangat mengagumi Ali bin Abi Talib karena keluasan ilmunya dan kesalehannya. Tingkat pengetahuan sastra Ali bin Abi Talib yang tinggi, kata-katanya yang penuh nasihat dan kebijaksanaan, membuat Al-Hasan begitu terpesona.

Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Irak, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal sebagai Hasan Al-Basri. Basrah pada waktu itu terkenal sebagai kota ilmu di Negara Islam. Masjid-masjid yang luas dan indah dipenuhi dengan halaqah ilmu. Banyak teman dan tabi'in sering singgah di kota ini.

Nama kehormatannya adalah Abu “Ali (أبو على) menurut pendapat lain adalah Abu Muhammad (أبو محممد) atau Abu Said (أبو سعيد). Hasan al Basri sangat disegani dan dihormati oleh Para Sufi, Dia memberikan arahan yang pelik yang berkaitan dengan pengatahuan tentang Ilmu Muamalah.

Diceriterakan bahwa setelah Umar Ibn Abdul Aziz meninggal dunia atau wafat, kemudian diangkatlah Yazid ibn Abdul Malik sebagai Khalifah. Dalam suatu sidang pertemuan dengan Para Ulama yang dihadiri Gebernur Bashrah yang bernama Umar ibn Hubayrah, yang diangkat Khalifah Yazid ibn Abdul Malik. Gubernur  mengajak Para Ulama untuk menyatakan  kebulatan tekad guna mendukung kepemimpinan Khalifah Yazid ibn Abdul Malik. Dua orang Ulama Ibnu Sirin dan As Sya’bi  menanggafi  ajakan itu dengan gaya diplomasi. Lalu Gubernur bertanya kepada Hasan al Basri, bagaimana pendapat Anda ? Hasan al Basri menjawab.

Ketika Imam Hasan al Basri diundang oleh Gubernur penguasa Negeri Irak, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Khalifah Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah orang yang jujur ​​dan saleh, tetapi hatinya selalu terganggu dan mudah dipegaruhi oleh perintah Khalifah Yazid yang bertentangan dengan hati nuraninya. Beliau memberikan nasihatnya yang terkenal, ia berkata, "Allah telah memberikan kekuasaan kepada Khalifah Yazid atas para hambanya dan mewajibkan kami untuk menaatinya. Sekarang Ia menugaskan saya untuk memerintah Irak dan Persia, tetapi terkadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa'id, bagaimana pendapatmu? Beri aku nasihat..."

Imam Hasan Al-Basri berkata, "Wahai Ibnu Hubairoh, takutlah kepada Allah ketika kamu menaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid ketika kamu menaati Allah. Ketahuilah bahwa Allah melindungimu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu melindungimu dari azab Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika kamu menaati Allah, Allah akan melindungimu dari azab Yazid di dunia ini, tetapi jika kamu menaati Yazid, ia tidak akan melindungimu dari azab Allah di dunia ini dan di akhirat. Ketahuilah bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk yang merupakan kedurhakaan kepada Allah, siapa pun makhluk itu." Air mata Ibnu Hubairoh mengalir setelah mendengar nasihat mendalam Imam Hasan Al-Basri.

Dalam suatu hikayat dikatakan bahwa :”Seorang Badui (penduduk Arab Gurun) datang kepada Imam Hasan, dan menanyakan tentang kesabaran (الصبر). Hasan menjawab :”Kesabaran itu memiliki dua bentuk, Pertama kesabaran dalam kemalangan dan kesusahan, dan Kedua Kesabaran untuk menahan diri dari hal-hal yang Allah perintahkan untuk dijauhi dan Allah larang untuk mengerjakannya. Orang Badui itu bertanya : Apakah engkau zuhud ? “ Saya tidak pernah melihat orang yang lebih zuhut dari pada Engkau.” Wahai orang Badui, sambung Hasan al Basri, kezuhutan saya bukanlah apa-apa selain keinginan, dan kesabaran saya  bukanlah apa-apa selain tidak  adanya imbalan atau JAAZA (جاز).

Orang Badui itu memintanya untuk menjelaskan ungkapan ini, karena katanya ungkapan tersebut telah mengguncangkan keimanan saya. Hasan al Basri  ibn Yassar (حسن البصرى بن يسار) menjawab  dan juga menjelaskannya:”Kesabaran  saya  dalam kemalangan dan ketaatan saya  menyatakan ketakutan akan api Neraka,  dan ini berarti tidak adanya imbalan. Dan Kezuhutan saya di dunia ini adalah keinginan.

Dari ceritra tersebut dapat diambil natijah dan faidah : Betapa unggulnya dia yang tidak memikirkan kepentingannya sendiri,sehingga kesabarannya tidak lain semata-mata karena Allah, bukan untuk menyelamatkan diri dari neraka. Dan Kezuhutannya dilakukan semata-mata karena Allah, bukan tujuan untuk membawanya ke Sorga. Ini merupakan tanda keikhlasan yang sesungguhnya.

Hasan al Basri  adalah seorang tokoh Sufi terkemuka, Dia pernah mengemukakan tentang QANA’AH (القناعة)  yang ditemukannya dalam Kitab Taurat, katanya          :

1.Kecukupan  disimpan dalam Qana’ah (.القناعة).

2.Keselamatan berada dalam UZLAH (العزلة) yaitu mengasingkan diri (dari orang banyak).

3.Kebebasan   (الحرية) dalam mengekang Syahwat.

4.Rasa cinta (المحبة) di dalam menyisihkan  keinginan.

5.Kegembiraan, kekal didalam SHABAR (الصبر) (sementara hidup di dunia).

Penyusun ambil dari Kitab Ensiklopedi TASAWUF UIN Syarif Hidayatullah bahwa Imam Hasan al Basri berkata menurutnya : “Masa depan umat manusia akan mengalami kehancuran karena beberapa hal  berikut : 

  1. Angan-angan yang mengendalikan dirinya
  2. Ucapan tanpa perbuatan,
  3. Memiliki ilmu tanpa kesabaran,
  4. Beriman tanpa diberingi keyakinan,
  5. Menilai orang tanpa melihat akalnya,
  6. Bersama orang tanpa menemukan shahabat,
  7. Masuk kepada suatu Kaum sedang Allah keluar dari Kaum itu,
  8. Mengetahui kebenaran kemudian mengingkarinya.
  9. Mengharamkan sesuatu tetepi melakukannya.

Profil Orang-orang Yang Beriman  :    :

Adapu Profil orang-orang yang beriman itu adalah Mereka yang kuat dalam agamanya, -Beriman dengan penuh keyakinan, -Memiliki ilmu dengan kearifan, -Memiliki kearifan dengan ilmu pengetahuan, -Memiliki kecerdasan dengan penuh kelembutan, -Berani memikul tanggung jawab, -Mempunyai tujuan sosial dalam meraih kekayaan,

-Memberikan hak-hak orang yang ada pada dirinya, -Memiliki rasa kesadaran untuk beristiqamah,

-Bersikap adil pada orang yang membenci, -Tidak melakukan dosa dalam membantu orang yang dicintai,-Tidak menabur fitnah, tidak mencari yang bukan haknya-Dan tidak menguasai hak orang lain.

Adalah Sumber energi yang menumbuhkan kekuatan moral pada diri pribadi Hasan al Basri adalah : -Kesucian hati, -kemurnian nurani, Kedekatan dengan Allah, serta pola hidup zuhud dengan Empat tiang penyangganya yaitu : 1. Khauf  (الخوف),2. Tafqir  (التفقير), 3. Buka  (البكاء), 4. Sifat Faqir kepada Allah. (الفقير إلى الله).

Mencatat Karya Ilmiyah Imam Hasan al Basri

Kitab Ensiklopedi TASAWUF UIN Syarif Hidayatullah menyebutkan  bahwa Fu’ad Sizkin dalam Bukunya : Tarikh al Turats al Arabi mencatat Karya Ilmiyah Hasan al Basri ada berjumlah sekitar dua belas Judul, antara lain :1. Tafsir al Qur’an, 2. Al Qira’ah, 3.Risalah fii al Qadar, 4. Risalah fii fadli Makkah al Mukarramah, 5. Arba wal Khamsun Faridlah. 6. Risalah fii al Takallib, 7.Syuruth al Ima,ah, 8. Wasiat al Nabiyyi lii Abi Hurayrah, 9. Altighfarat al Munqadzah min al Naar, 10. Al Asma’ al Iderisiah, 11. Surat-surat untuk Umar ibn Aziz,  dan 12. Kumpulan Pidato.

Abu Dzar Al Gifari nama Aslinya Jundub bin Janabah

Aku baca dalam sebuah Artikel dikisahkan bahwa salah satu Tokoh lainnya adalah Abu Dzar al-Ghifari, seorang pelopor gerakan hidup sederhana yang menentang segala bentuk kemewahan. Mengenai sosok Abdu Dzar, Rasulullah pernah berkomentar, “Tak akan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar.” Sepeninggal Rasulullah, Abu Dzar menentang gaya hidup mewah Gubernur Damaskus di era kekhalifahan Ustman bin Affan, yakni Muawiyah. Karena sikapnya yang dianggap terlalu keras, Abu Dzar akhirnya mesti rela hidup di pengasingan di Rabzah.          :

Sahabat Nabi lainnya yang dianggap sebagai sufi adalah Imran bin Husain al-Khuzai. Dia datang dan menyatakan baiatnya kepada Nabi Muhammad SAW pada saat Perang Khaibar. Di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Imran ditugaskan untuk membimbing penduduk Basra, Iraq, untuk mendalami agama Islam. Sampai akhir hayatnya pada 52 H/672 M dia tetap menetap di Basra. Di masa hidupnya di Basra, dia dianggap sebagai orang yang paling saleh dan mengabadikan diri sepenuhnya untuk beribadah dan mendidik beberapa murid. Di antara beberapa muridnya yang memperoleh nama besar dan kemashyuran adalah Hasan al-Basri.

Hasan al-Basri kemudian mendirikan Thariqat sufi di Basra, dan ini dianggap sebagai sumber dari semua Thariqat sufi pada masa-masa selanjutnya. Kisah kehidupannya yang paling terkenal dirangkum dalam sebuah kitab hagiografi karya Farid al-Din Attar yang berjudul Tadhkirat al-Auliya’, sebagaimana telah diulas pada artikel-artikel sebelumnya. Hasan juga dikenal sebagai perawi hadist-hadist Nabi dan juga sebagai penggagas ilmu kalam dalam fase perkembangan formal. Selain itu, Hasan juga dianggap sebagai bapak dari ilmu tasawuf. Berbagai macam Thariqat tasawuf di masa setelahnya, dalam silsilah ikatan spiritual guru dan murid, semuanya akan bermuara kepada Hasan. Hasan juga di masa hidupnya dikenal sebagai seorang ahli tafsir Alquran dan pembicara yang sangat fasih

Meskipun Hasan sangat ternama dan memiliki kedudukan sosial yang amat tinggi, namun dia tetap menjalani kehidupan yang suci dan zuhud sebagaimana para pendahulunya. Dasar-dasar tasawuf yang diajarkan oleh Hasan adalah mengenai ketakutan terhadap Allah SWT (wara), dan melepaskan diri dari segala ikatan keduniawian (zuhud). Hasan pernah mengirim surat kepada khalifah Dinasti Umayyah yang saleh, Umar bin Abdul Aziz, dalam suratnya Hasan berkata, “Berhati-hatilah terhadap dunia ini dengan segala kewaspadaan; karena ia seperti seekor ular, halus saat disentuh, tetapi racunnya mematikan. Berpalinglah dari apa pun yang menyenangkanmu di dalamnya, karena hanya sedikit keuntungan yang akan engkau dapat darinya. (Artikel Gana Islamika).

Bila anda ingin tahu, ketahuilah bahwa Ummu Salamah adalah perempuan arab yang paling sempurna akal dan keutamaannya serta paling keras kemauannya. Selain itu, beliau juga termasuk istri Rasul yang paling luas ilmunya dan banyak meriwayatkan hadits darinya.

Beliau (Ummu Salamah) meriwayatkan Hadits dari Nabi SAW sekitar tiga ratus delapan puluh tujuh hadits. Hal lainnya, beliau termasuk wanita yang jarang ditemukan yang dapat menulis dan membaca pada zaman jahiliyah.

Sekilas Rakam jejak Sayyidah Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umayyah) bersama Nabi Muhammad Saw

Sayyidah Ummu Salamah seorang janda. (menikah dengan Nabi Saw tahun 625 M–632 M), Beliau Kelahiran tahun 596 M dan meninggal/wafat tahun 680 M, di makamkan Al Baqi Madinah,

Hindun binti Abi Umayyah adalah istri dari Nabi Muhammad yang juga dikenal Ummu Salamah, dan ia termasuk dari Ibu Para Mukminin. Nasab lengkapnya Hindun binti Abu Umayyah bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah al-Makhzumiyah. . Ia anak paman/sepupu Khalid bin Walid dan anak paman Abu Jahal. Dan pihak ibunya : Hindun binti 'Atikah bint 'Amer bin Rabi'ah dari Bani Firas bin Ghanam.

Ummu Salamah adalah anak dari Abu Umayyah bin Mughirah dari Bani Makhzum yang dipanggil Zad ar-Rakib karena kebaikannya kepada (setiap rombongan) kabilah yang lewat (di Kampungnya). Nama aslinya adalah Hindun dan ia termasuk dari orang yang diincar dan dianiaya oleh kaum Quraisy ketika masuk Islam.

Ummu Salamah menjadi sebab turunnya 2 ayat al-Quran yaitu surat an-Nisa ayat 32 dan surat Ali Imron ayat 195. Ia juga menjadi terkenal kecerdasannya dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, di mana saat Nabi meminta sampai 3 kali agar sahabat berkurban memotong (hewan dan memotong) rambut tahallul walaupun gagal Umroh saat itu, yang membuat para sahabat kecewa dan enggan ikut bertahalul, Nabi lalu masuk kemahnya dan mendapat saran dari Ummu Salamah untuk lakukan saja sebagai contoh teladan tanpa berbicara, dan setelah Nabi melakukan tahalulnya, para sahabat serentak mengikutinya.

Menjelang Fathu Mekah, Abu Sofyan awalnya ditolak Nabi, namun setelah dibantu Ummu Salamah yang berbicara pada Nabi agar memaafkan, maka Abu Sofyan pun bisa menjumpai Nabi untuk berislam.

Masa Nabi Muhammad

Ummu Salamah dan suaminya, Abd-Allah ibn Abd-al-Asad (saudara sesusuan Nabi) atau Abu Salamah, termasuk dari Pemeluk Islam pertama atau As-Sabiqun al-Awwalun. Ummu Salamah sempat ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bahkan menyaksikan saat Amru bin Ash menghadap Raja Najasy Habasyah untuk mengizinkannya membawa pulang kaum muslimin ke Mekah tetapi ditolak oleh Raja Najasy.

Saat hendak hijrah ke Madinah mereka berdua ditahan kaumnya, namun suaminya dilepaskan pergi kecuali Ummu Salamah tetap ditahan selama setahun oleh kaumnya. Ia kemudian sering bersedih menunggu di pinggir kota Mekah hingga akhirnya kaumnya merelakan kepergiannya ke Madinah bertemu kembali suaminya bersama anaknya.

Hindun termasuk golongan Muhajirin pertama. Setelah kematian suaminya Abdullah ibn Abdul Asad (Abu Salamah bin Abdul Asad al Makhzumi) di Perang Uhud. Ia termasuk wanita yang cantik dan mulia nasabnya, serta termasuk ahli fikih wanita di masanya.

Suaminya syahid (terbunuh) pada 8 Jumadil Akhir beberapa bulan setelah luka terkena serangan yang ia terima ketika Perang Uhud kambuh. Suaminya mempersilahkan Ummu Salamah menikah lagi dengan mendoakannya agar mendapatkan pengganti yang lebih baik. Ia memiliki empat orang anak dari Abdullah sebelum menikah dengan Muhammad.

  1. Salamah bin Abdullah
  2. Umar bin Abdullah
  3. Zainab binti Abdullah
  4. Durrah binti Abdullah

Ummu Salamah termasuk salah satu dari 14 wanita yang ikut perang Uhud sebagai asisten sahabat dan pejuang Nabi. Wanita yang ikut membantu Nabi di perang Uhud ialah :

  1. Hindun binti Abi Umayyah (Ummu Salamah)
  2. Aisyah binti Abu Bakar, 
  3. Shafiyyah binti Abdul Muthalib, 
  4. Asma binti Abu Bakar, 
  5. Fathimah az-Zahra binti Muhammad SAW, 
  6. Nusaibah binti Ka'ab al-Anshariyyah, 
  7. Khaulah binti Azwar as-Sulaimiyah, 
  8. Suhailah binti Milhan al-Anshariyyah, 
  9. Atikah binti Abdul Muthalib, 
  10. Arwa binti Abdul Muthalib, 
  11. Umamah binti Abdul Muthalib, 
  12. Zainab binti Muhammad saw, 
  13. Ummu Hakim binti Abdul Muthalib dan 
  14. Rumaisah binti Milhan an-Najjariyah.

Setelah kematian Abdullah bin Abdul Asad suaminya pada perang Uhud, Ummu Salamah yang juga dikenal sebagai Ayyin al-Arab, ia tidak memiliki saudara dan keluarga di Madinah kecuali anak-anaknya, tetapi ia ditolong oleh Muhajirin dan Anshar. Setelah ia menyelesaikan masa 'Iddah-nya (Masa menunggu bagi wanita yang baik dicerai atau meninggal, untuk kembali menikah) empat bulan dan 10 hari, Lalu Abu Bakar melamarnya, tetapi ditolak oleh Ummu Salamah. Lalu 'Umar mencoba untuk melamarnya juga ditolak oleh Ummu Salamah. Kemudian Muhammad Saw melamarnya juga, dan diterimanya. Ummu Salamah menikah dengan Muhammad ketika berusia 29 tahun pada bulan Syawal tahun 4H.

Diceritakan pada Kitab Siyar A'lam an-Nubala proses melamarnya Nabi :

“Wahai Rasulullah, Aku seorang wanita yang pencemburu. Dan aku adalah wanita yang sudah berumur dan memiliki anak-anak.” Nabi menanggapi, “Yang engkau sebut berupa kecemburuan, Allah akan menghilangkannya. Tentang umurmu, aku pun lebih berumur dari engkau. Dan tentang anak-anakmu, maka ia juga anak-anakku.”

Ummu Salamah menjawab, “Aku terima lamaran Anda, ya Rasulullah.”

Ummu Salamah berkata, "Aku haid saat tidur bersama Nabi dalam satu selimut. Aku lalu menyelinap keluar, mengambil pakaian haid lalu aku kenakan. Beliau bertanya kepadaku, 'Kau haid?' "Ya,' jawabku. Beliau lalu memanggilku dan memasukkanku bersama beliau dalam satu selimut.' Zainab binti Abu Salamah berkata, 'Ia (Ummu Salamah) bercerita kepadaku bahwa Nabi menciumnya saat beliau sedang berpuasa.

Masa Khulafaur Rasyidin

Di masa khalifah Rasyidin, Ummu Salamah mendampingi anak dan cucunya. Putranya yang memiliki kelebihan ilmu Fiqih ialah Umar bin Abi Salamah. Sedangkan putrinya yang ahli fiqih ialah Zainab binti Abi Salamah. Dua Cucunya yang dikenal ahlul fiqh yaitu Muhammad bin Umar bin Abu Salamah dan Abu Ubaidah bin Zainab binti Abu Salamah.

Ummu Salamah sebagai wanita juga turut bersedih atas terbunuhnya Umar bin Khattab di tangan Abu Lu'lu'ah. Utsman yang juga seorang yang dulu sempat dididik Ummu Salamah, wafat di tangan Khulaimin bin Tsabbab, seorang pemberontak. Ia juga sedih kembali saat masa Ali berkonflik dengan Mu'awiyah dan Aisyah. Ia sedih juga saat Ali wafat ditangan Abdurrohman bin Muljam.

Masa Hasan, Mu'awiyah dan Husain

Ketika mendengar kejadian “Karbala” Ummu Salamah sempat bersedih dan menjerit hingga pingsan. Ummu Salamah bertanya kepada penduduk Kufah yang bersedih: "Untuk apa kalian sedih? Ini adalah akibat perbuatan kalian yang tidak bertanggung jawab kepada Ahlulbait Rasul ! Semoga Allah melaknat pemimpin kalian!". Hal ini disebabkan Husein ke Kufah karena undangan penduduk Kufah, tetapi saat sudah dekat, penduduk Kufah tidak menolong Husein.

Saat di Kufah, Zainab binti Ali tegar membela keluarga Nabi saat di hadapan gubernur yang lalim dan tidak bertanggung jawab, Ubaidillah bin Ziyad. Rombongan ini kemudian dipenjara selama 2 hari dan dibebaskan. Yazid menawarkan mereka tinggal di Mekah dan Madinah atau di Kufah. Mereka memilih tinggal di Madinah.

الشيخ الإمام حسن البصرى بن  يسار

هو أبو على حسن البصرى أو أبو محمد حسن البصرى بن يسار أو أبو سعيد حسن البصرى. و يسار هو مولى زيد بن ثابت وقيل مولى حمل بن قطبة وأبوه يسار من سبى ميسان اعتقته بنت النصر. ولد الحسن زمن الخليفة عمر ابن الخطاب (634-644) ملادية فى المدينة وسمع عثمان وشهد الدار ابن احدى عشره. وأمه اسمها خيرة او أم خيرة مولاة لأم سلامة وهو توفى بالبصرة سنة - .11 هجرية. مستهل رجب وكان جنازته  مشهورة وقال  حميد الطويل : توفى الحسن عشية الخميس وأصبحنا يوم الجمعة. ففرغنا من امره وحملناه بعد صلاة الجمعة ودفناه, فتبع الناس كلهم جنازته واشغلوا به فلم نقم صلاة العصر بالجامعولااعلم أنها تركت منذ كان الإسلام وأعمى عليه عند موته ثم أفاق فقاللقد نبهمونى من جنات وعيون ومقام كريم. ورأى بعد الأولياء ليلة موته أبواب السماء مفتحة ,وكأن مناد ياينادى : الا أن الحسن البصرى قدم علم الله عنه راض.

ومن كراماته اى الحسن البصرى : أنه كان ممن يصلى الصلاة الخمس بمكة وهو فى البصرة, تطوى له الأرض فهو من أهل الخطوة.

قال الشيخ علوان الحموى فى تسمات الأسجار : لما بلغ  الحسن قتل الحجاج لسعبد بن حبير قالاللهم  يا قصم الجبارة أقصم الحجاج, فما بقي الا ثلاثا حتى وقع  فى جوفه الاكلة  والد رقمات , وهذه من كرمات الحسن البصرى وليس بكثر على مثل هذا الإمام, فإنه سيد الزهاد والعباد والعلماء والفصحاء كما قال شيخنا ...  يعنى البازلى اى غاية المرام.

سئل حسن البصرى عن مسألة الفيه اى العالم بعلم الشريعةفأجاب ٌال : هل رأيتم فقيها قد ؟ الفقيه هو القائم ليله والصام نهاره والزاهد فى الدنيا الذ لايدارى  ولا يمارى ينشر حكمة الله, فإن قلبت منه حمد الل تعالى, وفقه عن الله أمره ونهيه, وعلم ما يحبه ومايكرهه, فذلك هو العالم الذى قيل فيه : من يرد الله به خيرا يفقهه فى الدين, فأذا لم يكن بهذه الصفة فهو من المغرورين. (كذا سراج الطالبين جزء اول-5)

قد روي عمران بن مسلم قال : قال رجل لحسن البصرى يا أبا سعيد إنك تحدث بالحديث أنت أحسن له سياقا وأجود تحبيرا وأفصح به لسانا منه إذا حدثنا, فقال إذا أصبحت فلا بأس بذالك (كذا سراج الطالبين جزء اول-21).

وكان الحسن البصرى رحمه الله تعالى يقول : كان عيسى عليه الصلاة والسلام يقول : من عمل بما علم  كان وليا لله تعالى حقا. وكان الحسن البصرى رحمه الله تعالى يقولقبيح بالعلم أن يشبع فى هذا الزمن من الحلال فكيف بمن يشبع من الحرام والله لو أنى اكلت, اكلت وصارت فى بطنى كالاجرة تكفينى حتى أموت. فقد قيل إنها تمكث فى الماء أكثر من ثلاث مائة سنة, ةكان يقل ورع العلماء إنما هو فى ترك تناول الشهوات. أما المعاصى الظاهرة فتراهم يتركونها خوفا  أن تذهب عظمتهم من قلوب الناس. وكان رحمه الله تعالى يقول : بلغنى أنه يأتى  أخر الزمن رجال يتعلمون العلم لغير الله تعالى كيلا يضيع ثم يكون عليهم تبعة يوم القيامة (كذ تنبيه المغترين -8و12).

وكان الحسن البصرى رحمه الله تعالى يقول : كان أحدهم يقرأ القرأن فى الليل, فإذا أصبح عرف الناس ذلك فى وجهه من شدة التغير والأصفار والنحول والذبول فصار الناس اليوم يقرأ أحدهم القرأن كله فى الليل فإط فإذا أصبح لا يضهر

على وجهه منه شيئ وكأنه حمل ردائه. وقال الحسن البصرى بن يسار رحمه الله تعالى : أطلبوا هذا العلم طلبا لا يضر بالعبادة, أطلبوا هذه العبادة طلبا لا يضر بالعلم. وقال الحسن البصرى : يا ابن أدم لم تحسد  أخاك فإن كان الذى اعطاء الله لكرمته عليه فلم تحسد من اكرمه الله تعالى وإن لغير ذلك فلا ينبغى أن تحسد من مصيره إلى النار. قال بعض العارفين ثلاثة لاتستجاب دعوتهم : أكل الحرام ومكثر الغيبة ومن كان فى قلبه غل او حسد المسلمين (كذا تنوير القلوب 430)

وكان عبد الواحد بن زيد رحمه الله تعالى يقول : ما بلغ الحسن البصرى رحمه الله تعالى إلى ما بلغ الا لكونه كان إذا امر الناس بشيئ يكون اسبقهم إليه وإذا نهاهم عن شيئ كان ابعدهم منه وكانوا يقولون ماراينا احدا سريرته اشبه بعلانيته من الحسن البصرى (كذا فى تنبيه المغترين)

وكان الحسن البصرى رحمه الله تعالى يقول :من ادعى  أنه يحب عبد الله تعالى  ولم يبغضه إذاعى الله تعالى فقد كذب  فى دعواه أنه يحب الله و من احلاق أهل الصوفية قلة الضحك وعدم الفرح بشيئ من الدنياوكان الحسن البصرى رحمه الله تعالى لايراه احدا لاظن أنه قريب  عهد بمصيبة  لما يراه  به من شدة الحزن والخوف. وقد كان الحسن البصرى رحمه الله تعالى يقول : إذا راى  احدا من الولاته اعوانهم يتصدق على أحد من الفقراء يقول له  أيها المتصدق على المساكن لترحمهم ارحم أنت الذى  ظلمته ورد اليه صلامته فإنه أخلص لذمتك.

وكان الحسن البصرى رحمه الله تعالى يقول : إياكم أن تكونوا اوصياء قان الوصى قد لايقدر على العدل فى وصيته ولو بالغ بالتجرج.

 

Referensi :

1.Artikel “Ajaran Syekh Hasan Al-Basri”   https://rindurasul2.blogspot.com/2016/10/manaqib-syeikh-hasan-al-bashri.html

2.Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s

3.Artikel “Ummu Salamah”  Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Ummu_Salamah.



Silsilah TJ yang ke Empat

04.SYEKH  AL HABIB AL AJEMY W.125H/144M

(هو الشيخ أبو محمد حبيب الفارس المعروف بالعجمى)

Syekh Abu Muhammad al Farisi al Ma;ruf al Ajemie, lahir dan wafatnya dikota Bashrah, Dia wafat tahun 125 Hijiriyah atau bertepatan tahun 744 Masehi.

Dia seorang perawi hadits terkemuka yang meriwayatkan hadits dari Imam Hasan Bashri, Ibnu Sirin dan lainnya. Keberpalingannya dari kesenangan hidup dan dari memperturutkan hawa nafsunya, dipicu oleh kefasihan Al-Hasan. Habib sering menghadiri ceramah-ceramahnya, dan akhirnya menjadi salah satu teman terdekatnya.

Pertaubatannya  (التوبة)berawal dari pertemuan dengan Syekh  wal Imam Hasan al Basri. Sebelumnya dia adalah seorang lintah darat.Taksatupun kejahatan yang tak pernah dilakukannya. Tetapi Allah berkehendak lain. Dia membukakan taubatnya   pintu lebar-lebar dan seca bersungguh-sungguh, ia telah menginsyafi semua kesalahannya pada masa lalunya. Dari Sekh Hasan al Basri ia kemudian belajar teori dan amalan agama. Bahasa ibunya (Aslinya) adalah Persia (atau Ajemy atau Asing untuk orang Arab). Dan dia tidak bisa berbahasa Arab dengab baik.Suatu pagi, Hasan al Basri lewat di depan biliknya, Habib mengumandangkan adzan dan berdiri melakukan shalat. Hasan masuk ..........., tetapi tidak mau shalat berjama’ah dengannya, karena Habib tidak berbahasa Arab dengan fasih atau membaca al Qur’an dengan baik.

Di malam yang sama, Hasan bermimpi bertemu dengan Tuhannya dan bertanya kepada-Nya, Ya Allah dimana gerangan kenikmatan itu ? Allah mengawab : Wahai Hasan, engkau menemukan nikmat-Ku, tetapi tidak tahu artinya.  Jika kemaren  malam kamu shalat di belakang Habib, dan jika ketulusan niatnya tidak menghalangimu untuk menolak kefasehannya, pasti aku akan berkenan memberi nikmat kepadamu.” Peristiwa semacam ini merupakan pengetahuan yang biasa terjadi di kalangan Para Sufi.

Suatu ketika Al-Hujjaj ats-Tsaqofi memegang kekuasaan sebagai Gubernur Penguasa negeri Irak, ia dikenal Penguasa karena kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat terkadang sangat ekstrem. Hampir tidak ada penduduk Basrah yang berani mengkritiknya atau menentangnya. Imam Hasan Al-Basri adalah salah satu dari sedikit penduduk Basrah yang berani mengkritik Al-Hujjaj. Bahkan di hadapan Al-Hujjaj sendiri, Imam Hasan Al-Basri pernah menyampaikan kritiknya yang sangat keras.

Saat itu, peresmian istana Al-Hujjaj sedang berlangsung di pinggiran kota Basrah. Istana itu dibangun dari keringat rakyat, dan sekarang rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Pada saat itu, Imam Hasan Al-Basri maju dan menyampaikan kritiknya terhadap Al-Hujjaj :

"Kita telah melihat apa yang telah dibangun Al-Hujjaj. Kita juga tahu bahwa Firaun membangun istana yang lebih indah dan lebih megah daripada ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu... karena ketidaktaatan dan kesombongannya..."

Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai khawatir dan berbisik kepada Hasan Al-Basri, "Wahai Abu Sa'id, cukuplah kritikmu, cukuplah!" Tetapi dia menjawab, "Sesungguhnya Allah telah mengambil janji dari orang-orang yang berilmu, untuk menjelaskan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya." 

Begitu mendengar kritik tajam itu, Al-Hujjaj memarahi para pembantunya, "Celakalah kalian! Mengapa kalian membiarkan anak dari Basrah itu mengutuk dan berbicara sesuka hatinya? Dan tidak seorang pun dari kalian menghentikannya? Tangkap dia, bawa dia ke hadapanku!"

Semua mata tertuju kepada Imam dengan hati yang gemetar. Hasan Al-Basri berdiri tegak dan tenang menghadapi Al-Hujjaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Ketenangannya sungguh luar biasa. Dengan keagungan seorang mukmin, martabat seorang Muslim, dan ketenangan seorang pendakwah, ia menghadapi sang tiran.

Melihat ketenangan Imam Hasan Al-Basri, kesombongan Al-Hajjaj seketika lenyap. Kesombongan dan keganasannya hilang. Ia segera menyambut Hasan Al-Basri dan berkata dengan lembut, "Kemarilah, Abu Sa'id..." Al-Hasan mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Semua mata menatapnya dengan takjub.

Gubernur Negeri Irak saat itu Al-Hujjaj mulai bertanya kepada Imam Hasan tentang berbagai masalah keagamaan, dan dijawab oleh Hasan Al-Basri dengan bahasa yang lembut dan menawan. Semua pertanyaannya dijawab dengan tuntas. Imam Hasan Al-Basri diizinkan pulang. Setelah pertemuan, salah seorang pengawal Al-Hujjaj bertanya, "Wahai Abu Sa'id, aku benar-benar melihatmu mengatakan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan Al-Hajjaj. Apa kalimat sebenarnya yang kau baca?" Imam Hasan Al-Basri menjawab, "Saat itu aku membaca: Wahai Wali dan Pelindungku dalam kesusahan. Jadikan azab Hujjaj ringan dan selamatkan aku, sebagaimana Engkau telah mendinginkan api dan menyelamatkan Ibrahim."

Ketika Hasan al Basri kabur dari Hajjaj, (dan dicari oleh Penguasa Hujjaj) dan masuk kebilik Habib. Para  Parajurit datang dan bertanya kepada Habib, : “Apakah Tuan melihat Hasan ? Habib manjawab :”Ya” Dimana Dia ?  Dia ada dibilikku. Mereka menuju bilik Habib tersebut, tetapi mereka tidak melihat seorangpun di dalamnya. Karena mereka mengangap Habib al Ajemi berkelekar, mereka memaki-makinya dan juga menyebutnya pendusta. Namun Habib bersumpah bahwa ia tidak berbohong. Para  Parajurit itu mengulanginya pencarian hingga tiga kali, tetapi mereka tidak menemukan seorangpun dan akhirnya mereka pergi.

(Tujuh kali tangan mereka menyentuhku, kata Hasan meriwayatkan (mengisahkan) di kemudian hari, tapi mereka tidak dapat melihatku).

Hasan Basri keluar dan berkata kepada Habib : “Saya berhutang kepada do’amu sehingga Allah tidak mempertemukan saya dengan orang-orang jahat itu. Tetapi mengapa kamu mengatakan saya disini (di dalam bilikmu). Habib menjawab : “Tuan mereka tidak bisa melihat Engkau bukan karena do’a saya, akan tetapi berkah karena saya berkata  yang sebenarnya, Apakah saya berbohong ? Kita berdua seharusnya malu.”   

Ensiklopedi Tasawuf mengatakan pada riwayat lain tentang peristiwa Hujjaj ini bahwa Hasan al Basri bertanya,” Apa saja yang kamu baca, sehingga mereka tidak melihatku ?” Habib menjawab  “saya membaca ayat Kursi sepuluh kali, Amanar Rasul sepuluh kali  dan Kul huwallahu ahad sepuluh kali” kemudian saya berdo’a, “Ya Allah, Saya titipkan Hasan kepada-Mu, peliharalah dia.” 

Habib ditanya : “Dengan apa Allah menjadikan senag ? Dia menjawab : “Dengan hati yang tak ternodai oleh sifat-sifat munafik, karena sifat munafik adalah kebalikan dari persesuaian dan keridhaan. Dan ia merupakan esensi persesuaian yakni tidak ada hubungan antara sifat munafik dan cinta. Cinta menjelma dalam bentuk merasa senang ( dengan apapun yang diberikan - diperintahkan Allah). 1) 

Oleh karena itu kerelaan merupakan karakteristik kekasih Allah, sementara sifat munafik merupakan karakteristik musuhnya. Ini menjadi masalah penting yang akan dijelaskan pada masalah lain. 

Habub al Ajemi telah mempergunakan hartanya untuk membangun sebuah tempat ibadah Suluk buat orang-orang Sufi ditepi Sungai Euphrat. Ia adalah seorang Shahabat dan Pengikut setia Hasan al Basri yang terkenal dengan konsep zuhudnya. Hasan al Basri telah membawa Habibul Ajemi kepada kehidupan sufi, dari seorang hartawan menjadi seorang yang cinta kepada hidup miskin tetapi saleh dan zahid. 

Diceriterakan bahwa semua barang berharga milik Habib telah dihibahkannya kepada orang-orang yang membutuhkannya hingga ia benar-benar menjadi miskin. Lalu ia pergi kesebuah pertapaan (Gubuk/Biliknya) untuk buat  beribadah pada Tuhannya di tepi Sungai Euphrat. Tiap malam dan siang ia belajar dengan Hasan al Basri tetapi ia tidak dapat menghafal al Qur’an, karena alasan inilah ia diberi julukan al Ajemy atau si Orang Barbar. 

Waktu telah berlalu, Habib sudah benar-benar dalam keadaan papa, tetapi isterinya masih tetap meminta uang belanja kepadanya. Maka pergilah Habib meninggalkan rumajnya dan menuju tempat pengabdian pada Tuhannya, dan jika malam hari ia kembali pada isterinya,  “Dimanakah sebenarnya kamu bekerja dan pulang tidak membawa apa-apa,” kata isteriny. “Saya bekerja pada seseorang yang sangat dermawan,” jawabnya. “Sebagitu pemurahnya, sehingga saya malu untuk meminta apapun.”Ketika saat yang tepat datang, ia akan berikan, karena ia berkata, “ Tiap sepuluh hari hari saya membayar upah.”Jadilah Habib meneruskan kegiatan ibadahnya tersebut,  dan pada hari yang kesepuluh, pada saat shalat di tengah hari, sebuah pikiran mengusik batinnya. “Apa yang dapat saya bawa pulang malam ini, dan apa yang akan kukatakan pada isteriku ?.” Ketika ia termenung dalam renungannya, tanpa sepengetahuannya Allah Ta’ala mengirim pesuruh-pesuruh-Nya ke rumah Habib. Yang seorang membawa gandum sepikulan Keledai, Yang seorang membawa seekor domba yang sudah dikuliti dan Yang satunya membawa minyak, madu, rempah-rempah dan bumbu-bumbu. Semua itu mereka pikul disertai seorang pemuda tampan dengan sebuah kantong berisi tiga ratus dirham, si pemuda mengetuk pintu. “Apakah maksud Tuan-tuan datang kemari ?” tanya isteri Habib, sambil membuka pintu. “Majikan kami telah menyuruh kami untuk mengantarkan barang-barang ini,” pemuda tampan itu menjawab, “Katakan pada Habib, bila engkau melipatgandakan jerih payahmu maka kami akan melipatgandakan upahmu.” Setelah berangkat merekapun berlalu.

Setelah matahari terbenam, pada malam harinya datanglah Habib ke rumah dengan rasa malu dan sedih. Ketika ia hampir tiba di rumahnya, hidungnya mengendus wangi roti dan masakan. Isterinya berlari menjemput dan mengelap di wajahnya dan bersikap lembut terhadapnya, sesuatu yang tak pernah dilakukan sebelumnya.

“Wahai suamiku,’ ia  berkata, ‘Seseorang yang kamu bekerja padanya memang orang yang sangat baik dan dermawan, penuh rasa cinta dan baik hati. Lihatlah apa yang dikirimkannya melalui seorang pemuda tampan ! Dan pemuda itu berpesan ‘jika Habib pulang, katakan padanya bila engkau melipatgandakan jerih payahmu maka kami akan melipatgandakan upahmu.” Habib terkesima. “Sungguh menajubkan,” katanya. “Saya bekerja untuk sepuluh hari, dan ia memberikan saya semua kebaikan ini. Jika saya bekerja lebih giat, apapulakah yang akan dilimpahkan-Nya nanti.”  Sejak saat itu, Habib memalingkan wajahnya dari urusan duniawi dan membatikan dirinya untuk melayani Tuhan semata-mata.

 

 الشيخ حبيب العجمى  توفى 125هجرية 

هو الشيخ أبو محمد حبيب الفارسى المعروف العجمى, قيل إنه كان رضى الله عنه يرى بالبصرة يوم التروية ويوم عرفة بعرفات. قال اليافعى : كانت له زوجة سيئة الخلق.  فقالت له يوما : أذا لم يفتح الله عليك بشيئ فأجًر نفسك واعمل فى الفاعل, فخرج إلى الجبانة  وصلى إلى العشاء ثم أتى بينه خبلا من توبيخها مشغول القلب من شرها فقالت : اجرتك ؟ فقال لها : إن الذى استعجرنى كريم استحيت من استعجاله, فمكث كذالك أياما يصلى فى الجنانة  إلى الليل, وتقول له زوجته كل يوم أين أجرتك ؟ فيقول لها اسأجرنى كريم فخففت من استعجاله , فلما طال عليها الحال قالت له : اطلب اجرتك من هذا او اجرا نفسك من غيره فوعدها أنه يطلب الاجرة وخرج إلى عادته. فلما أمسى الليل عاد إلى منزله خائفامنها, فرأى فى بينه دخانا ومائدة منصوبة وزوجته مستبصرة فرحة. فقالت له قد بعث لنا الذى استأجرك ما يبعث الكرام. وقال رسوله لى: قولى لحبيب  يجد فى العمل وليعلم انالم يؤخر اجرته. بخلا ولاعدما. فليقر عينا وليطب نفسا ثم أرته اكياسا مملوئة دنانير. فبكى حبيب  وقال لزوجته :1)

1-جامع كرامات الأوليء الجوء الثانى -17

هذه الأجرة من كريم بينه خزائن السموات والأرض. فلما سمعت ذلك تابت إلى الله عز وجل وأقسمت أنها لاتعود إلى ما كانت عليه

مات الحبيب العجمى بالبصرة ودفن بها سنة 125 هجرية.


Silsilah TJ yang ke Lima

05.SYEKH  DAWUD AL THA’I IBN NASHIR W. 165H/ 781 MASIHI

(هو الشيخ أبو سليمان داؤد بن نصير الطائ)

 

Nama panjangnya adalah Abu Sulaiman Dawud ibn Nashir al Tha’i yang lahir kota Bagdad dan ia wafat tahun 165 Hijeriah atau 781 Masehi.

Dia sangat mendalami semua ilmu pengetahuan dan tidak tertandingi dalam hukum Fqih, tetapi dia menjalani ritus khalwat dan berpaling dari kekuasaan dan menempuh hidup zuhud dan kesulitan. Dalam ilmu Fiqih dia menjadi murid Abu Hanifah dan semasa dengan Fudayl dan Ibrahim ibn Adham. Dalam tasawuf ia menjadi murid Habib al Ajemi dan juga murid Habib ar Ra’i.

Terdapat riwayat bahwa dia pernah berkata kepada seorang muridnya :”Jika engkau menginginkan kesejahteraan, ucapkan selamat tinggal kepada dunia ini, dan jika engkau menginginkan kepada keramat, ucapkan takbir pada akhirat.” Maksudnya dunia dan keramat yakni keduanya tempat yang menghijab ( tempat yang mencegah engkau dari melihat Allah). Siapapun akan tenang dalam badan, biarkan dia berpaling dari dunia ini, dan siapapun  yang tenang hatinya,  biarkan dia mensucikan hatinya dari semua akan akhirat.

Menurut Penyusun Umdatul Hasanah .....ungkapan tersebut, seorang Sufi itu di dalam melakukan ibadah, ia telah bebas dan lepas dari keinginan nafsu dunia dan bebas dari keinginan akan akhirat yakni sorga, akan tetapi menghendaki perjumpaan melihat akan .Tuhannya, setiap saat.

Sebuah hikayat terkenal menceriterakan bahwa Dawud at Tha;i  secara terus menerus berkawan – bershahabat dengan Muhammad Ibn Hasan,  tetapi tidak pernah menerima Qadhi Abu Yusuf. Ketika ditanya mengapa ia menghormati salah seorang, tetapi menolak mengakui yang lainnya. Dia menjawab bahwa Muhammad Ibn Hasan menjadi salah seorang Ahli Kalam setelah ia kaya, dan kalam menjadi sebab kemajuan religius keagamaan dan kerendahan secara duniawi.1).

Adapun Abu Yusuf menjadi Ahli Kalam setelah ia fakir dan hina, dan menjadikan kalam sebagai sarana untuk mendapatkan kekayaan dan kekuasaan.

Terdapat riwayat bahwa Ma’ruf al Karkhi seorang muridnya berkata “Saya tidak pernah melihat seorangpun yang memegang harta duniawi yang lebih sedikit dari pada Dawud at Tha;i  (Guru saya).” Dunia dan Penghuninya tidak berarti apa-apa dimatanya. Dan dia terbiasa menganggap Darwisy (Para Pukara) sebagai manusia sempurna  meskipun kehidupan mereka keraf kuruf.” Darwisy yakni Para pencari Allah atau seseorang yang mencari pintu menuju khadirat Allah.

Dawud at Tha;i  adalah Beliau seorang wali Allah terkenal, termasuk salah seorang kawan Abu Hanifah. Beliau pernah menceriterakan tentang kekeramatan dirinya, “Pada suatu hari ada seorang wanita meninggal dunia. Wanita itu tidak dikenal sebagai seorang wali ataupun saleh.  Setelah dikuburkan ada sebagian orang yang berkata kepadaku,” Hai Dauwud, lihatlah bagaimanakah keadaan wanita itu di dalam kubur ?” “Waktuku lihat,kudapatkan ada seberkas cahaya yang memancar – menerangi dari dalam kuburnya dan kudapatkan pula ada beberapa tempat tidur yang tinggi dan bagus. Waktu kutanyakan padanya “Apakah yang menyebabkan Anda memperoleh kesenangan dalam kubur yang sedemikian ini ?’ “Tiba-tiba kudengar ada suara yang menjawab pertanyaanku itu : “Wanita ini sangat senang sekali jika sedang bersujud, karena itu Kamipun senang pula untuk memberikan kesenangan baginya disaat dia dalam kesendirian seperti  ini.” 2)

الشيخ داؤد الطائ

هو الشيخ أبو سليمان داؤد بن نصير الطائ توفى 165 هجرية أو 781 ملادية. وكان كبير الشأن , وقد ورث عشرين دينارا, فأنفقها فى عشرين سنة. سمعت الأستاذ أبا على يقول : كان سبب زهد داؤد الطائ إنه كان يمر ببغداد,فمر يوما فنحاه الناس عن الطريق بين يدى حميد الطوسى. فالتفت داؤد فرأى حميد. فقال داؤد الطائ : أف لدنيا سبقك بها حميد ولزم البيت وأخذ فى الجهد والعبادة. قيل سبب زهده أنه كان يجالس أبا حنيفة ؤضي الله عنه فقال له أبو حنيفة يوما يا أبا سليمان أما الاداة فقد احكمناها, فقال له داؤد : فأي شيئ بقي ؟ فقال العمل به, قال داؤد فنازعتنى نفسى إلى العزلة, فقلت فى نفسى حتى تجالسهم  ولا تتكلم فى مسألة, قال فجالستهم لا أتكلم فى مسألة. وكانت المسألة  يمر بي وانا إلى الكلام فيها اشد نزاعا من العطشان إلى الماء البارد ثم صار امره  إلى ماصار.-1) 1.الرسالة القشيرية    422  

Referensi   :

1-Kasyf al Mahju terjemahan  hal 125

2.Kumpulan Kisah Keramat Para Wali oleh Yunus Ali al Muhdar   hal  296

3.الرسالة القشيرية    422  

\

Silsilah TJ yang ke Enam
06.SYEKH  MA’RUF AL KARKHI 815MASIHI
(الشيخ معروف الكرخى)

Syekh  Ma;ruf al Karkhi, dia lahir di Kota Bagdad, dan wafat di kota Bagdad tahun 200 Hijeriyah atau 815 Masehi. Dia adalah Syekh Salaf dan seorang yang penting serta populer. Karena kemurahan hati dan ibadahnya. Ulasan-ulasan mengenai dirinya selayaknya ditempatkan berada pada permulaan buku ini, kata penyusun Kitab Kasyf al Mahjub. Tetapi diletakkan disini sesuai dengan dua orang yang patut dimuliakan yang menulis sebelumnya.Salah satunya adalah seorang Periwayat Hadis  dan yang seorangnya lagi adalah seorang yang memiliki semangat kemandirian. Maksud Penulis Kitab Kasyf al Mahjub yaitu Syekh Abu Abdirrahman as Sulami yang dalam karyanya mengadopsi susunan yang saya ikuti.

Syekh wal Imam al Kusyairi telah memberikan uraian mengenai Syekh  Ma;ruf al Karkhi dengan susunan yang sama dalam Mukaddimah bukunya, “Ulasan tentang Syekh  Ma;ruf al Karkhi adalah yang keempat dalam daftar biografi al Kusyari pada awal Sufismenya.

Saya (Penyusun Kitab Kasyf al Mahjub) memilih susunan ini  karena Syekh  Ma;ruf al Karkhi  adalah guru Syekh Sirri as Saqati, dan Syekh  Ma;ruf al Karkhi murid dari Dawud Al Atha’i.

Pada awalnya Ma’ruf al Karkhi bukan seorang Muslim, tetapi dengan hidayah Allah Swt, dia memeluk agama Islam di hadapan Syekh  Ali Ibn Musa ar Ridla, yang telah membawanya pada penghargaan yang tinggi.

Terdapat riwayat yang mengatakan bahwa dia pernah berkata :”Ada tiga tanda kemurahan hati yaitu : -Menjaga keimanan tanpa perlawanan, -Memuji tanpa dorongan keroyalan, dan Memberi tanpa dipinta.”

 Pada manusia kualitas-kualitas seperti ini hanya dipinjamkan, dalam kenyataannya adalah milik Allah semata. Allah menjaga hati yang tidak menentang kepada orang-orang yang dicintainya. Meskipun ada diantara mereka menunjukkan penolakan dalam menjaga keimanan kepada-Nya. Dia hanya meningkatkan kebaikannya kepada mereka. Tanda bahwa Tuhan telah menjaga keimanan seseorang adalah bahwa dalam keabadian-Nya berjalan seorang hamba, Dia memanggil hamba-hambaNya untuk menuju ke KhadiratNya, tanpa menuntut perbuatan baik apapun dari hambaNya. Dan bahwa Dia tidak menjebloskan hambaNya dalam wadah siksaNya, hanya karena perbuatan jahatnya.

Dia yang memuji yang bukan didorong oleh keroyalan, karena Dia tidak membutuhkan amalan hamba.Namun demikian memujiNya karena hal kecil yang telah dilakukannya. Dia  sendiri yang memberi tanpa diminta, karena Dia bersifat pemurah dan mengetahui keadaan setiap  manusia dan memenuhi keinginan  yang tidak terwujudnya.

Oleh karena itu, ketika Allah menganugrahkan karunia dan memuliakan seseorang, dan memberinya kehormatan dengan kemurahanNya.Dan berbuat  kepadaNya dengan tiga cara yang disebutkan diatas.Ketika  orang tersebut jauh berada dalam kemempuannya, berbuat dengan cara yang sama kepada sesama makhluk.Maka kemudian dia disebut murah hati dan mendapat reputasi karena kemurahan hatinya tersebut. Rasul Ibrahim Alaihissalam benar-benar memiliki tiga kualitas ini.1).

KISAH DAN TELADAN

Aku kutip dari "Artikel Herbal Beauty" tentang  sebahagian biografi Syekh Ma'ruf al Karkhi menyatakan bahwa   :

Menurut sejarawan, kedua orang tuanya memeluk agama Nasrani [Kristen] dan menurut yang lain menganut agama Sabiah.

Diriwayatkan, bahwa ketika Ma'ruf al-Karkhi beranjak usia remaja ia sangat menentang ajaran gurunya yang mengatakan bahwa Allah merupakan salah satu oknum Tuhan. Ma'ruf al-Karkhi menentang pendapat ini karena menurutnya, Tuhan hanya satu. Karena pendapatnya yang berbeda dengan pendapat gurunya, ia di pukul oleh gurunya dan ia melarikan diri dan bersembunyi.

Kedua orang tuanya telah kehilangan anak yang dicintainya dan mengharap kepulangan anaknya serta kedua orang tuanya berjanji, kalau anaknya mau pulang, agama apa saja yang dipeluk anaknya akan dianut juga oleh kedua orang tuanya.

Setelah sekian lama ia memeluk agama Islam di bawah bimbingan Ali bin Musa al-Ridha, dan setelah ia pulang dengan mengatakan bahwa ia telah memeluk agama Islam, maka kemudian disusul oleh kedua orang tuanya. Ma'ruf al-Karkhi mempelajari agama Islam melalui sejumlah ulama di Baghdad yang di antaranya Daud al-Thai, Bakar bin Humais dan Farqad as-Subkhi. Karena ketekunannya dan ketabahannya dalam menuntut ilmu pengetahuan dan khususnya ilmu tasawuf, ia berhasil menjadi yang terkemuka di Baghdad.

Ia membuka halaqah pengajian dan di antara murid-muridnya yang terkenal di kemudian hari adalah Sarri as-Saqathi. Sebagai seorang sufi ia juga di kenal di kalangan fuqaha sebagai seorang faqih.

Diriwayatkan dua orang faqih Baghdad yang terkemuka; Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ibnu Ma'in berdiskusi tentang sujud sahwi dan keduanya belum sepakat. Kemudian lebih lanjut mereka berdua ingin menanyakan tentang pendapat Ma'ruf al-Karkhi. Ma'ruf al-Karkhi menjawab dari sudut pandang tasawuf katanya:

"Sujud sahwi merupakan hukuman kepada hati karena lalai mengingat Allah".

Ma'ruf al-Karkhi menurut para peneliti tasawauf sebagai salah satu tokoh yang mengembangkan ajaran tasawuf. Ia menambah hasil perolehan jiwa dari cinta yang telah ditemukan oleh Rabiah al-Adawiyah. Menurutnya, cinta harus dilanjutkan sampai ke titik thuma'ninah [ketenangan ] jiwa. Karena cinta dan ketenangan itulah yang menjadi tujuan tasawuf. Kebahagiaan yang sebenarnya dan yang kekal, bukan harta benda tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati. Kekayaan hati hanya dapat dicapai melalui ma'rifah [pengenalan] akan yang dicintai. Apabila yang dicintai telah di kenal, terwujudlah kebahagiaan dan ketenteraman dalam hati dan kecillah segala urusan kebendaan dalam penglihatan hati.

Ma'ruf al-Karkhi di pandang oleh para peneliti tasawuf sebagai tokoh penting yang merupakan pengembang ajaran tasawuf yakni memunculkan teori baru dalam tasawuf ialah melalui mencari ma'rifat sebagai inti ajaran tasawufnya. Kalau dahulu ajaran tasawuf baru berkisar berupa ajaran zuhud dan tekun beribadah untuk memperoleh keridhaan Allah. Pandangan ini berdasarkan penelitian kepada makna tasawuf itu sendiri. Di antara makna tasawuf yang dibawakan Ma'ruf al-Karkhi ialah tasawuf adalah memperoleh hakikat [ma'rifat] dan tidak mengharap sama sekali apa yang berada di tangan makhluk. Mencari hakikat tidaklah berbeda dengan mencari ma'rifat itu sendiri karena ma'rifat adalah ujung ilmu pengetahuan yang dikembangkan sufi yaitu ilmu syari'at, ilmu tarekat, ilmu hakikat, dan ilmu ma'rifat.

Tausiyah Ma'ruf al-Karkhi menurut para ahli sufi, sebagai seorang sufi yang dikuasai oleh perasaan cinta yang membara kepada Allah subhanahu wata'ala seperti halnya Rabiah al-Adawiyah. Berkenaan cinta kepada Allah Ma'ruf al-Karkhi mengatakan:

"Cinta kepada-Nya bukanlah diperoleh melalui pengajaran, ia merupakan pemberian Karunia Tuhan".

Pernyataan ini yakni cinta kepada Allah subhanahu wata'ala menurutnya bukan termasuk maqam [posisi yang di dapat melalui usaha] tetapi termasuk hal [keadaan jiwa] yang dikaruniakan Allah subhanahu wata'ala.

Menurut Cendikiawan para peneliti Barat yang diantaranya Nicholson yang mencoba menghubungkan antara timbulnya ide memperoleh hakikat [ma'rifat] dengan latar belakang keagamaan Ma'ruf al-Karkhi di masa kecilnya.

Menurut seorang Cendikiawan peneliti Barat yang bernama “Nicholson” ide itu berasal dari ajaran agama yang dipeluknya yang dahulu ialah Kristen atau Sabiah.

Pendapat yang seperti ini hanya merupakan dugaan dengan alasannya pada masa kecil Ma'ruf al-Karkhi yang belum tentu mengenal ajaran tentang hakikat bahkan dugaan besar ia belum mengenalnya karena usianya yang masih muda. Muncul ide mencapai hakikat itu, mungkin saja hasil dari tafakur atau renungannya dalam tasawuf.

KEUTAMAAN DAN KARAMAH

Menurut ahli sufi, martabat yang tinggi di capai oleh Ma'ruf al-Karkhi tidak disangsikan lagi. Mereka beralasan dengan mimpi Ahmad bin Fath yang bertemu dengan Bisyir bin Haris yang telah wafat lebih dahulu. Ahmad bin Fath menyatakan tentang keadaan yang didalami Ma'ruf al-Karkhi dirinya diampuni Allah subhanahu wata'ala. "Kulihat Ahmad bin Hanbal berdiri sedang antara mereka terdapat pembatas. Karena Ma'ruf al-Karkhi menyembah Tuhan bukan mengharap surga, tidak pula karena takut kepada neraka", karena itu ia diangkat ke tempat yang tinggi yang tiada pembatasan antaranya dengan Tuhan. Begitulah pengakuan seorang sufi tentang martabat dan kedudukan Ma'ruf al-Karkhi.

Menurut sufi bahwa Ma'ruf al-Karkhi seperti halnya para zahid dan sufi lainya. Ma'ruf al-Karkhi terkenal di kalangan sufi memiliki banyak karamah yang diantaranya ketika terjadi kemarau panjang ia berdoa dalam shalat istisqa' meminta hujan, sebelum doanya selesai hujan sudah turun.

Karomah Makruf al-Karkhi

Aku kutip tentang Karomah Syekh Makruf al-Karkhi dari "Artikel Walijo" menjelaskan bahwa  : Dikisahkan

Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Daud A-Tsani, ia membimbing dengan disiplin kesufian yang keras, sehingga mampu menjalankan ajaran agama dengan semangat luar biasa. Ia dipandang sebagai salah seorang yang berjasa dalam meletakkan dasar-dasar ilmu tasawuf dan mengembangkan paham cinta Ilahiah.

Menurut Ma’ruf, rasa cinta kepada Allah SWT tidak dapat timbul melalui belajar, melainkan semata-mata karena karunia Allah SWT. Jika sebelumnya ajaran taawuf bertujuan membebaskan diri dari siksa akhirat, bagi Ma’ruf merupakan sarana untuk memperoleh makrifat (pengenalan) akan Allah SWT. Tak salah jika menurut Sufi Taftazani, adalah Makruf al-Karkhi yang pertama kali memperkenalkan makrifat dalam ajaran tasawuf, bahkan dialah yang mendifinisikan pengertian tasawuf. Menurutnya, Tasawuf ialah sikap zuhud, tapi tetap berdasarkan Syariat.

Masih menurut Ma’ruf, seorang Sufi adalah tamu Tuhan di dunia. Ia berhak mendapatkan sesuatu yang layak didapatkan oleh seorang tamu, tapi sekali-kali tidak berhak mengemukakan kehendak yang didambakannya. Cinta itu pemberian Tuhan, sementara ajaran sufi berusaha mengetahui yang benar dan menolak yang salah. Maksudnya, seorang sufi berhak menerima pemberian Tuhan, seperti Karomah, namun tidak berhak meminta. Sebab hal itu datang dari Tuhan – yang lazimnya sesuai dengan tingkat ketaqwaan seseorang kepada Allah SWT.

Gambaran tentang Ma’ruf diungkapkan oleh seorang sahabatnya sesama sufi, Muhammad Manshur Al-Thusi, katanya, “Kulihat ada goresan bekas luka di wajahnya. Aku bertanya: kemarin aku bersamamu tapi tidak terlihat olehku bekas luka. Bekas apakah ini?” Ma’ruf pun  menjawab, “Jangan hiraukan segala sesuatu yang bukan urusanmu. Tanyakan hal-hal yang berfaedah bagimu.”

Tapi Manshur terus mendesak. “Demi Allah, jelaskan kepadaku,” maka Ma’ruf pun menjawab. “Kemarin malam aku berdoa semoga aku dapat ke Mekah dan bertawaf mengelilingi Ka’bah. Doaku itu terkabul, ketika hendak minum air di sumur Zamzam, aku tergelincir, dan mukaku terbentur sehingga wajahku luka.”

Pada suatu hari Ma’ruf berjalan bersama-sama muridnya, dan bertemu dengan serombongan anak muda yang sedang menuju ke Sungai Tigris. Disepanjang perjalanan anak muda itu bernyanyi sambil mabuk. Para murid Ma’ruf mendesak agar gurunya berdoa kepada Allah sehingga anak-anak muda mendapat balasan setimpal. Maka Ma’ruf pun menyuruh murid-muridnya menengadahkan tangan lalu ia berdoa, “Ya Allah, sebagaimana engkau telah memberikan kepada mereka kebahagiaan di dunia, berikan pula kepada mereka kebahagiaan di akherat nanti.” Tentu saja murid-muridnya tidak mengerti. “Tunggulah sebentar, kalian akan mengetahui rahasianya,” ujar Makruf al-Karkhi .

Beberapa saat kemudian, ketika para pemuda itu melihat ke arah Syekh Ma’ruf, mereka segera memecahkan botol-botol anggur yang sedang mereka minum, dengan gemetar mereka menjatuhkan diri di depan Ma’ruf dan bertobat. Lalu kata Syekh Ma’ruf kepada muridnya, “Kalian saksikan, betapa doa kalian dikabulkan tanpa membenamkan dan mencelakakan seorang pun pun juga.”

Ma’ruf mempunyai seorang paman yang menjadi Gubernur. Suatu hari sang Gubernur melihat Ma’ruf sedang makan Roti, bergantian dengan seekor Anjing. Menyaksikan itu pamannya berseru, “Tidakkah engkau malu makan roti bersama seekor Anjing?” maka sahut sang kemenakan, “Justru karena punya rasa malulah aku memberikan sepotong roti  kepada yang miskin.” Kemudian ia menengadahkan kepala dan memanggil seekor burung, beberapa saat kemudian, seekor burung menukik dan hinggap di tangan Ma’ruf. Lalu katanya kepada sang paman, “Jika seseorang malu kepada Allah SWT, segala sesuatu akan malu pada dirinya.”  Mendengar itu, pamannya terdiam, tak dapat berkata apa-apa.  Suatu hari beberapa orang syiah mendombrak pintu rumah gurunya, Ali bin Musa bin Reza, dan menyerang Ma’ruf hingga tulang rusuknya patah. Ma’ruf tergelatak dengan luka cukup parah, melihat itu, muridnya, Sarry al-Saqati berujar, “Sampaikan wasiatmu yang terakhir,” maka Ma’ruf pun berwasiat. “Apabila aku mati, lepaskanlah pakaianku, dan sedekahkanlah, aku ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan telanjang seperti ketika dilahirkan dari rahim ibuku.”

Sarri as-Saqathi meriwayatkan kisah: Pada suatu hari perayaan aku melihat ma’ruf tengah memunguti biji-biji kurma.

“Apa yang sedang engkau lakukan?” tanyaku.

Ia menjawab, “Aku melihat seorang anak menangis. Aku bertanya, “Mengapa engkau menangis?” ia menjawab. “Aku adalah seorang anak yatim piatu. Aku tidak memiliki ayah dan ibu. Anak-anak yang lain memdapat baju-baju baru, sedangkan aku tidak. Mereka juga dapat kacang, sedangkan aku tidak,” lalu akupun memunguti biji-biji kurma ini. Aku akan menjualnya, hasilnya akan aku belikan kacang untuk anak itu, agar ia dapat kembali riang dan bermain bersama anak-anak lain.”

“Biarkan aku yang mengurusnya,” kataku.

Akupun membawa anak itu, membelikannya kacang dan pakaian. Ia terlihat sangat gembira. Tiba-tiba aku merasakan seberkas sinar menerangi hatiku. Dan sejak saat itu, akupun berubah.

Suatu hari Ma’ruf batal wudu. Ia pun segera bertayammum.

Orang-orang yang melihatnya bertanya, “Itu sungai Tigris, mengapa engkau bertayammum?”

Ma’ruf menjawab, “Aku takut keburu mati sebelum sempat mencapai sungai itu.”

Ketika Ma’ruf wafat, banyak  orang dari berbagai golongan datang bertakziyah, Islam, Nasrani, Yahudi. Dan ketika jenazahnya akan diangkat, para sahabatnya membaca wasiat almarhum: “Jika ada kaum yang dapat mengangkat peti matiku, aku adalah salah seorang diantara mereka.” Kemudian orang Nasrani dan Yahudi maju, namun mereka tak kuasa mengangkatnya. Ketika tiba giliran orang-orang muslim, mereka berhasil, lalu mereka menyalatkan dan menguburkan jenazahnya.

Menurut Makruf al-Karkhi, ilmu itu haruslah berkaitan dengan amal, “Jika seorang alim beramal dengan ilmunya, maka akan luruslah kalbu orang-orang yang beriman, dan akan dibenci oleh orang-orang yang kalbunya sakit.” Makruf al-Karkhi ( Penulis Walijo.dot.com)


Makam  Syekh Makruf al-Karkhi

WAFATNYA SYEKH MA'RUF AL-KARKHI

Beliau telah pergi meninggalkan dunia ini, dengan tenang dia berangkat memenuhi panggilan Khaliqnya pada tahun 200 H/ 815 M, pada usia 78 tahun.

(الشيخ معروف الكرخى)

هو الشيخ أبو محفوظ معروف بن فيروز الكرخى توفى 200 هجرية أو 815 ملادية.

من كبار اامشايج. مجاب الدعوة. يستشفى بقبره, يقول البغداديون قبره معروف ترياق مجرب,

.وهو من موالى علي بن موسى الرضى رضي الله عنه وكان أستاذ سرى السقطى ومعروف الكرخى تلميذ داؤد الطائ.

سمعت الأستاذ أبا غلى الدقاق رحمه الله تعالى يقول كان معروف الكرخى من أبوين نصرانيين فسلموا إلى مؤدب وهو صبي, فكان المؤدب يقول لهقل ثالث ثلاثة  فيقول بل هو واحد, فضربه المعلم يومها ضربا مبرحا فهرب معروف فكان أبواه يقولان  ليته يرجع إلينا على اى دين يشاء فنوافقه عليه, ثم إنه أسلم غلى يدى علي ابن موسى الرضى, ورجع إلى منزله ودق الباب فقيل له من بالباب فقال معروف فقالوا على اي دين جئت ؟ فقال على الدين الحنيفى فسلم أبواه -1-.الرسالة القشيرية  428


Silsilah TJ yang ke Tujuh

07.SYEKH  SIRRI  AS  SAQATHI W.253H/867M

( الشيخ السر  السقطى )

وهو الشيخ أبو الحسن السر المغلس السقطى  253 هجرية أو 867 ملادية.

ILUSTRASI PHOTO 

IMAM SIRRI AS-SAQATHI

Nama panjangnya Abul Hasan as Sirri bin Mugalis as Saqathy yang lahirnya di Nahawanda negeri Irak dan dia wafat diusia 98 tahun di Bagdad Selasa, 6 Raamadhan  tahun 253 Hijeriah atau 867 Masehi, setelah adzan Subuh. Pada riwayat lain dikatakan bahwa Sirri as Saqathy wafat Selasa, tanggal 24 Raamadhan  tahun 253 Hijeriah atau 867 Masehi. Beliau dimakamkan di makam Syuniziah berdampingan dengan makam Syekk Al Junaid muridnya.

Dia adalah pamannya al Junaid dari pihak ibu, dia juga gurunya Imam al Junaid. Dia seorang Sufi yang wara dan mendalami semua bidang Ilmu Pengetahuan dan dia terkemuka dalam Tasawuf. Dia juga adalah orang yang pertama dari mereka yang mencurahkan perhatiannya pada penyusunan “Maqam-maqam,” dan penjelasan Hal Keadaan spiritual. Sebagian besar Syekh Irak adalah menjadi muridnya. Dia adalah murid dari Syekh Ma’ruf al Karkhi. Dia biasa melakukan perdagangan keliling di pasar Bagdad. Ketika pasar Bagdad terbakar, dia diberi tahu bahwa kedainya ikut terbakar. Dia menjawab :”Kalau begitu saya untuk tidak untuk tidak memperdulikannya.”  Setelah itu ternyata Kedainya tidak ikut terbakar, meskipun kedai-kedai  disekelilingnya musnah terbakar.” Melihat kejadian ini, As Sirri as Saqathy memberikan seluruh yang dia miliki kepada orang pakir miskin dan hidup dalam dunia tasawuf.

Dia pernah ditanya, bagaimana mula-mula perubahan terjadi pada dirinya ? Dia menjawab : “Suatu hari Habib Ar Ra’I lewat dikedai ( di depan Kedai ) nya, dan saya memberinya sekantung roti, dengan mengatakan kepada Habib untuk memberikan kepada orang miskin. Habib ar Ra’i berkata kepadanya :”Semoga Allah pahala kepada Engkau,” Dari hari ketika saya mendengar do’a inilah, maka masalah-masalah duniawi saya tidak pernah memikirkannya lagi.”

Terdapat dalam riwayat dikatakan bahwa Imam As Sirri as Saqathy berdo’a : “Ya Allah, hukuman apapun  yang Engkau berikan kepada saya hambamu ini, jangan hinakan saya dan jangan hukum hamba dengan terhijab dari Mu.” Karena jika saya terhijab dari Engkau, bahkan karuniaMu akan mematikan hamba. Tidak ada siksa di dalam neraka yang lebih menyakitkan dan membebani sungguh, melainkan terhijab dari Engkau.  Andai saja wajah Allah ditampakkan di Neraka ditengah-tengah Penguninya maka orang beriman yang berdosa tidak akan berpikir tentang Sorga, karena pandangan Allah Swt begitu memenuhi mereka dengan kesenangan yang lebih sempurna selain dari pada penyingkapan, (Alkasyaf) (الكشف)Jika manusia berada ditempat itu, merasakan semua kesenangan dan ditambah dengan seratus lipat kesengan lainnya, tetapi terhijab dari Allah Swt, betapa hati mereka akan merintih tersiksa.

Oleh karena itu, sudah menjadi kebiasaan, Allah membiarkan hati orang-orang yang dicintaiNya selalu melihatNya, agar kesenangannya memungkinkan mereka sabar dalam menghadapi setiap kesangsaraan, dan mereka bergumam lirih dalam do’anya.  Kami  menganggap semua siksa lebih diinginkan ketimbang terhijab dari Engkau. Ketika karuniaMu disingkafkan kepada hati kami, maka  kami tak pernah lagi memikirkan penderitaan.1)

Al Junaid pernah berkata :”Pada suatu hari ketika aku masuk kerumah Syekh  As Sirri as Saqathy, Beliau berceritera tentang dirinya, “ Setiap hari ada seekor burung kecil biasa datang kepadaku untuk makan potongan-potongan roti yang kuletakkan di tanganku. Namun demikian ada beberapa waktu, jika ia turun disekitarku sedikitpun ia tidak mengampiriku. Aku bertanya dalam hatiku, “Apa sebabnya ia turun tidak mengampiriku ? Akhirnya aku ingat bahwa aku pernah makan garam subhad, aku segera berjanji tidak akan mengulangi sekali lagi melakukan seperti itu dan aku bertaubat kepada Allah. Sejak saat itu juga seekor burung kecil itu datang mengampiriu  kembali   dan makan potongan roti  yang ada ditanganku seperti biasanya setiap hari.”2)

Diriwayatkan bahwa Al Junaid pernah berkata “Pada suatu kali aku berkunjung kerumah Syekh  As Sirri as Saqathy dengan membawa uang sebanyak empat dirham, aku katakan kepada Beliau  : “Aku punya empat Dirham sengaja kubawa kemari untukmu,” Jawab Syekh  As Sirri as Saqathy : “Bergembiralah engkau bahwa engkau termasuk orang yang beruntung,” Kebetulan waktu aku membutuhkan uang sebanyak empat Dirham, aku  berdo;a kepada Allah : “Ya Allah, kirimkan uang itu lewat seorang hambaMU yang akan beruntung disisiMu.”

Makna Al Syukur Menurut Junaid Kecil

Kalimat ucapan al Juniad kecil tentang al-syukur dimaksud dibawah ini tertulis pada Kitab Risalah al-Qusairiyah halaman 175 seperti dikutip Penyusun bahwa    :

يَقُوْل الْجُنَيْدُ : كُنْتُ بَيْنَ يَدَيَّ السَّرِّي اَلْعَبُ وَاَنَا اِبْنٌ سَبْعُ سِنِيْنٍ وَبَيْنَ يَدَيْهِ جَمَاعَةٌ يَتَكَلَمُوْنَ فِي الشُّكْرِ فَقَالَ لِيْ : يَا غُلَامُ مَا الشُّكْرُ ؟ فَقُلْتُ اَنْ لَا تَعْصِيَ اللهَ بِنِعْمَتِهِ. فَقَالَ : يَوْشِكُ اَنْ يَكُوْنَ حِظَّكَ  مِنَ اللهِ تَعَالَى لِسَانَكَ. قَالَ الْجُنَيْدُ : فَلَا اَزَالُ اَبْكِي عَلَى هذِهِ الْكَلِمَةِ الَّتِيْ قَالَهَا السَّرِّيُ.

Dalam kitab Risalah al-Qusairiyah seperti dikutip Muhsin Ruslan, dan kemudian dikutip Ali Thaufan Ds  dipaparkan bahwa al-Junaid pernah berkata: “Sewaktu aku berusia tujuh tahun dan sedang bermain-main di hadapan al- Sirri Saqati, dan al Sirri Saqati ketika itu sedang melakukan pembicaraan tentang al-syukr, lalu bapak saudaraku itu bertanya kepadaku, “Anakku, syukr itu apa?” Aku menjawab kepadanya bahwa syukr itu ialah bahwa seseorang itu tidak melakukan maksiat terhadap Tuhan dengan menggunakan nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Bapak saudaraku berkata, “Nikmat Tuhan yang diberikan kepada engkau itu tentulah (termasuk) lidahmu.” Al-Junaid seterusnya berkata, “Mataku senantiasa berlinang apabila aku teringat apa yang telah diucapkan oleh al-Sirri Saqati, Pamanku tersebut.”

Sejak kecil al Junaid terkenal sebagai sebagai seorang anak yang sangat cerdas, sehingga sangat mudah dan cepat belajar ilmu-ilmu agama dari pamannya yang bernama Syekh Sirri al Saqathi. Karena kecerdasannya itu, ketika berumur tujuh tahun, al Junaid telah diuji oleh gurunya dengan sebuah pertanyaan tentang makna Syukur. Dengan tenang dan tangkas, ia menjawab pertanyaan tersebut, “Jangan sampai Anda berbuat maksiat dengan nikmat yang telah diberikan Allah Swt.” Itulah jawaban yang singkat dari al Junaid kecil.(Enseklopedi Tasawuf). 

Sedekah Wajib Ayah Imam Al Junaid.

Imam Al Junaid dikisahkan bahwa “Sedekah adalah pemberian seorang [Muslim] kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu”. Sedekah Wajib berarti :Menunaikan Zakat sedangkan Sedekah Sunnat  berarti ber- infak. Karena sedekah tidak hanya berarti mengeluarkan atau menyumbangkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal, atau perbuatan baik. Dalam sebuah Hadist digambarkan, Memberikan senyuman kepada saudaramu adalah sedekah.

Intuisi adalah istilah kemampuan seseorang untuk memahami sesuatu tanpa melalui penalaran rasional dan intelektualitas. Intuisi adalah kemampuan manusia untuk memperoleh pengetahuan langsung atau wawasan langsung tanpa melalui observasi atau penalaran terlebih dulu.

Diceriterakan bahwa sejak kecil Junaid bin Muhammad, sudah mulai merasakan kegelisahan spritualnya, ia adalah seorang pencari Allah yang tekun, penuh disiplin, bijaksana, cerdas  dan mempunyai intuisi yang tajam. 

Pada suatu hari ketika pulang kembali dari sekolah Al Junaid mendapati ayahnya an. Muhammad sedang menangis sedih. “Apa yang terjadi dengan kau, ayah.? Tanya al Junaid kepada ayahnya. “Aku ingin memberi sedekah kepada Pamanmu, Sarri as Saqathi, tetapi ia menolak, tidak mau menerimanya.” Sambil ayahnya menjelaskan. “Aku menangis sedih, karena seumur hidupku, baru sekarang inilah aku dapat mengumpulkan uang lima Dirham koin emas (zakatnya), tetapi ternyata pemberianku tidak pantas diterima oleh salah seorang sahabat Allah.”  “Berikanlah uang itu kepadaku, ayah ! Biar aku yang akan memberikannya kepada Paman Sarri as Saqathi, insya Allah mungkin dengan cara ini, tentu ia mau menerimanya.” Kata al Junaid. Uang lima Dirham itupun diserahkan ayahnya.

Dan berangkatlah al Junaid menuju rumah pamannya. Dan sesampainya di tempat tujuan iapun mengucapkan salam serta mengetuk pintu rumah pamannya. “Wa alaikum salam, siapakah itu ? terdengar sahutan dari dalam rumah. “ Saya, Junaid” jawabnya.  “Bukalah pintu dan terimalah sedekah yang menjadi hakmu ini, paman”,  “Aku tak mau menerimanya” sahut Sarri as Saqathi.  “Demi Allah, yang sedemikian baiknya kepadamu dan sedemikian adilnya kepada ayahku, aku mengharap – meminta kepadamu, terimalah sedekah ini.

”Junaid berseru.“Hai Junaid, bagaimanakah . Allah, yang sedemikian baiknya kepadaku dan sedemikian adilnya kepada ayahmu ? Sarri as Saqathi bertanya. “Allah berbuat baik kepadamu, jawab Junaid, karena Dia memberikan kemiskinan kepadamu.   dan Allah berbuat adil kepada ayahku karena telah membuatnya sibuk dengan urusan dunia. 

Sekarang Engkau bebas menerima atau menolak sedekah, tapi ayahku baik secara suka rela ataupun tidak, harus mengantarkan sebahagian harta kekayaannya kepada yang berhak menerimanya. Kemudian Sarri as Saqathi sangat senang mendengar Jawaban itu. “Nak, sebelum menerima sedekah itu, aku telah menerima dirimu.” Sambil berkata demikian Sarri as Saqathi  membukakan pintu rumahnya dan menerima sedekah itu. Junaid pun merasa senang-gembira. Untuk al Junaid disediakannya tempat khusus di dalam lubuk hatinya.

Hati Manusia Terdinding dengan Tuhannya

Ada tiga hijab yang mendinding hati manusia dengan Tuhannya antara lain           :

1.Hijab Hissi (حجاب الحسى)

Yaitu hijab berupa benda sesuatu yang mendinding atau melindungi pandangan mata baten manusia untuk melihat Allah Swt, Contoh hijab benda pohon, matahari, awan dan lainnya, Begitu halnya bagi hamba, benda / kainat bukan melindungi syuhud kepada Allah Swt tetapi  segala kainat jika direnungkan dan dipikirkan akan  tergambar dengan nyata akan tampaknya kebesaran dan kesempurnaan Allah Swt. Semua kainat menjadi pegangan untuk melihat dan memandang Allah Swt.

2.Hijab Hikmah (حجاب الحكمة) 

Hijab Hikmah adalah hijab atau dinding atau isolasi penutup mata baten manusia untuk memandang sesuatu manfaat atau hikmah.  Hingga syuhud nya terdinding terhijab oleh manfaat tersebut  tidak sampai pada hakekat yang sesungguhnya. Contohnya : “Api sebagai pemanas, disini api yang dianggaf dapat menghanguskan, mereka tidak sampai kepada hakekat yang sebenarnya. Mengapa Nabiyullah Ibrahim Alaihis Salam tidak merasa panas diwaktu dibakar oleh Raja Nambrut ? Disaat itu api tidak menghantarkan panas untuk Ibrahim. Atau air sebagai pendingin atau obat sebagai penyembuh dllnya.

3.Hijab Qahriyah  ( (حجاب القهرية)

Hijab Qahriyah adalah hijab karena tajalli sifat Qahriyah Allah Swt, sehingga mata baten manusia tidak sampai memandang kepada hakekat yang sesungguhnya. Misalnya “Matahari bersinar sangat terang, Rembulan bersinar dengan terangnya. Matahari  dan Rembulan bersinar bisa saja si Hamba hanya samapai disitu saja, maka si hamba terhijab, pada haekat yang sebenarnya.

Derajat Murid selalu Dibawah Mursyidnya

Dalam riwayat dinyatakan bahwa ketika seseorang bertanya kepada Imam Sarri as Saqathi, “Apakah seseorang murid dapat mencapai tingkat yang lebih tinggi dari Gurunya dalam Tasawuf ? “Tentu saja bisa.” Jawab Sarri as Saqathi karena ada banyak bukti yang menunjukkan hal tersebut.” Ketahuilah bahwa tingkat tasawuf Al Junaid itu sesungguhnya lebih tinggi dari tingkat yang pernah aku capai.” Dia katakan karena kerendahan hati Sarri. Mengenai hal ini Syekh Al Junaid berpendapat bahwa sebagaimanapun atau seperti apapun tingginya tingkatan yang telah dicapai seseorang Sufi harus tetap meyakini keesaan Allah Swt, kaesaan Allah Swt dan bertaqwa kepada-Nya dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangann-Nya berdasarkan Al Qur’an dan Hadis Nabi  Muhammad Saw. Dalan ajaran thariqatnya Syekh al Junaid mengatakan kepada setiap muridnya bahwa seseorang murid yang ingin berthariqat tidak menjalankan tasawuf dengan hanya memperbanyak bicara.saja, kelezatan dunia dan melepaskan segala hal-hal yang menyenangkan dunia karena pada hakekatnya dunia adalah hina dan merugi bagi siapa saja yang mengejarnya.

Dikisahkan bahwa : Suatu hari As  Sarri as Saqathi ditanya orang, “Apakah tingkat murid itu bisa lebih tinggi dari pada Mursyidnya ? Dia menjawab : “Ya, terdapat bukti yang nyata untuk itu, tingkat al Junaid berada di atas saya.” Karena kerendahan hati dan wawasan   as Sarri as Saqathy lah yang menyebabkan mengatakan demikian, Seperti banyak diketahui, Al Junaid menolak memberikan Ceramah kepada murid-murid selama Gurunya As Sarri as Saqathi masih hidup.

Hingga suatu malam Al Junaid bermimpi bahwa Rasul Saw datang menemuinya dan bersabda kepadanya : “Wahai  Al Junaid, temui dan berkhotbahlah kamu kepada masyarakat,  karena Allah menjadikan kata-katamu, sebagai alat  berkhotbah, sejak itu juga  dia sadar (merasa)  bahwa derajatnya lebih tinggi dari pada As Sarri as Saqathy gurunya.”

Menjelang pagi Syekh As Sarri as Saqathy  mengirim – mengutus seorang murid menghadap kepada Al Junaid dengan pesan sebagai berikut  : 

“Engkau tidak akan berceramah kepada murid-muridmu ketika mereka mendesak Engkau untuk melakukannya,

Engkau menolak campur tangan Syekh Bagdad dan permintaan pribadi saya. Sekarang bahwa Rasul Saw telah memerintahkan Engkau, maka patuhilah perintahnya.”  Al Junaid berkata :”Angan-angan telah keluar dari kepala saya, saya melihat bahwa As Sarri as Saqathy mengetahui pikiran luar dan dalam  saya dalam semua keadaan. Dan bahwa tingkatannya lebih tinggi dari pada  saya, karena dia mengetahui rahasia  pikiran saya, padahal saya tidak mengetahui keadaannya.”

Al Junaid mengunjungi gurunya Syekh As Sarri as Saqathy dan meminta ma’af dan ridla kepadanya. Dan dia bertanya : “Bagamanakah Guru tahu kalau diri saya bermimpi bertemu Rasul ? Syekh As Sarri as Saqathy menjawab :”Saya bermimpi bertemu Allah yang mengatakan kepada saya, bahwa Allah mengirim Rasul untuk meminta engkau berkhotbah.”

Kalimat ucapan al Sirri Saqathi tentang Perintah Berkhotbah kepada al Juniad dari Rasul untuk masyarakat, dimaksud dibawah ini tertulis pada Kitab Risalah Jami'u Karamatul Auliya, Juz ke-2 halaman 12 seperti dikutip Penyusun bahwa    :

ونقلتُ قوله الامام يوسف بن اسماعيل النبهانى فى كتابه جامع كرامات الاولياء عن قوله الامام اليافعي فى كتابه روض الرياحين : عن ابي القاسم الجنيد قال : كان السريّ يقول لي : تكلم على الناس وكان فى قلبي حشمة من الكلام على الناس, وكنت انهم نفسي فى استحقاق ذلك حياء, فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم فى المنام ليلة جمعةو فقال لي تكلم على الناس تكلم على الناس فانتبهت واتيت باب السريّ, قبل ان أصبح, فدققت عليه الباب, فقال لم تصدقنا حتى قيل لك ذلك فقعد للناس فى الجامع  بالغداة. وكذا فى كتاب جامع كرامات الاولياء جزء 2 رقم 12

Ceritera hikayat ini mengandung indikasi yang jelas bahwa seorang Mursyid  dalam keadaan  apapun mengetahui  pengalaman Baten murid-muridnya. Sebaliknya seorang Murid tidak dapat mengetahui pengalaman baten Gurunya.

الشيخ السر السقطى 

وهو الشيخ أبو الحسن السر ابن المغلس السقطى  253 هجرية أو 867 ملادية. هو خال الجنيد وأستاذه, وتلميذ معروف الكرخى وكان وحيد زمانه فى الورع  و أحوال السنة وعلوم التوحيد. قال العباس بن مسروق. بلغنى أن السرى كان يتجر فى السوق. وهو من أصحاب معروف الكرخى فجائه معروف يوما معه  صبي يقيم. فقال له : أكسر هذا اليتيم. ٌال السرى :فكسيته ففرح به معروف وقال : بغض الله إليك الدنيا وأراحك مما أنت فيه, فقمت من الحانوت وليس شيئ أبغض إلىً من الدنيا وكل ما أنا فيه من بركات معروف, يقول الجنيد : ما رأيت أبعد من السرى أتت عليه ثمان وتسعون سنة مارؤى مضطجعا الا فى علة الموت. ويروى عن السرى أنه قال : المتصوف اسم لثلاث معان هو الذى لايطفئ نور معرفته نور ورعه. ولا يتكلم بباطن فى علم ينقضه عليه طاهر الكتاب او السنة, ولا تحمله الكرامت على هتك استار محارم الله تعالى 1-.الرسالة القشيرية    417


Referensi :

1-Kasyf al Mahju terjemahan  hal  127

2-Yunus  Ali  al Muhdar, Kumpulan Kisah Keramat Para Wali hal 307

3-.الرسالة القشيرية    417

4-Kasyf al Mahju terjemahan  hal 130

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...