Senin, 27 April 2026

Bab. I "Perkembangan Thariqat al-Junaidiyah" Kitab “al Risalah Umdatul Hasanah ...

KATA PENGANTAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّ عَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ

اَمَّا بَعْدُ

Kami panjatkan puja dan Puji syukur kehadirat Allah Swt, Yang Maha Esa atas anugerah dan pertolongan-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan buku yang berjudul  :

"اَلرِّسَالَةُ عُمْدَةُ الْحَسَنَةِ لِلْجَمَاعَةِ فِى الطَّرِيْقَةِ الْجُنَيْدِيَّةِ"

“al-Risalah Umdatul Hasanah lil Jama'ah fii Thariqaqh al Junaidiyah (Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah).”

Tak lupa penyusun menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya untuk Bapak Khalifah al Thariqah al Junaidiyah selaku pemimpin Thariqat Sufi al Junaidiyah yang telah memberikan arahan dan bantuan selama menulis menyelesaikan buku ini. Penyusun juga menghaturkan terima kasih untuk Guru-guru Mursyid Thariqah al Junaidiyah dan teman-teman yang meluangkan waktu untuk berdiskusi serta memotivasi penyusun agar buku ini dapat selesai lebih cepat.

Penyusun Kitab al-Risalah Umdatul Hasanah lil Jama'ah fii Thariqaqh al Junaidiyah (Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah)  pada bagian pembahasan pokok Kitab yang kedua ini akan dijelaskan Delapan materi Haq Allah Swt yang menyertai Syahadat Tauhid yang harus diadopsi oleh Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ), adopsi disini maksudnya diikuti, dijalani atau dipraktikkan, diterapkan pada diri pribadi Salik PTJ, isteri dan anak-anaknya. Hal ini dilakukan dalam menyikapi Firman Allah Swt surat al Tahrim ayat 6  yang berbunyi :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا (التحريم 6)

Artinya : "Hai orang-orang  yang  beriman,  peliharalah  dirimu  dan  keluargamu dari siksaan api Neraka".

Catatan  2. : Kitab "Risalah Umdatul Hasanah lil Jama'ah at Thariqah al Junaidiyah (sebagai Benteng Pertahanan  Thariqat al Junaidiyah  II )" memuat 8 macam Pak Mata Pelajaran untuk menyempunakan Syahadat Tauhid yang dituangkan risalah tersebut.

Adapun Delapan macam Hal materi Haq Allah Swt  yang mesti harus dijalani oleh Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) al Bagdadiyah atau Pengamal  Thariqatu Qaum di maksud adalah :

1. Hal Tawajjuh (حَالُ التَّوَجُّهِ) 

2. Hal Dzikir  (حَالُ ذِكْرِ اللهِ)

3. Hal Aurad (Wirid-wirid)  (حَالُ الْأَوْرَادِ)

4. Hal Riyadhah (حَالُ الرِّيَاضَةِ)

5. Hal Muraqabah   (حَالُ الْمُرَاقَبَةِ)

6. Hal Musyahadah   (حَالُ الْمُشَاهَدَةِ)

7. Hal Muqabalah  (حَالُ الْمُقَابَلَةِ)

8. Hal Mukafahah  (حَالٌ مُكَافَحَةٌ)   

Penyusun Kitab  al-Risalah Umdatul Hasanah (عُمْدَةُ الْحَسَنَةِ) bersama dengan Sayyid Muhammad Ariatim adik kandung Penyusun telah memulai mempelajari dan mentala'ahi 8 Hal sifat Haq Allah Swt secara khusus dari abah KH. Jumberi  adalah Guru di Desa Bihara, pada hari Sabtu, 14 Maret 2004/22 Muharram 1425H. Secara umum Penyusun dan Sayyid Muhammad Ariatim sudah mempelajari 8 macam yang menyertai Syahadat Tauhid bagi Pengamal Thariqat al Junaidiyah, dari awal mengambil thariqat ini yaitu Ahad, 26 Oktober 2003M atau Sya'ban 1424H dari KH. Jumberi Ma'shum Bihara. Sejak itu Penyusun mulai mempelajari 8 materi pokok pelajaran untuk menyempurnakan Syahadat Tauhid yakni :

1. Hal Tawajjuh (حَالُ التَّوَجُّهِ)  2. Hal Dzikir  (حَالُ ذِكْرِ اللهِ)3. Hal Aurad (Wirid-wirid)  (حَالُ الْأَوْرَادِ)4. Hal Riyadhah (حَالُ الرِّيَاضَةِ),5. Hal Muraqabah   (حَالُ الْمُرَاقَبَةِ)

6. Hal Musyahadah   (حَالُ الْمُشَاهَدَةِ)7. Hal Muqabalah  (حَالُ الْمُقَابَلَةِ)8. Hal Mukafahah  (حَالٌ مُكَافَحَةٌ)      

Dan dari sinilah mulai dikumpulkan catatan-catatan dan data-data tentang 8 materi pokok Syahadat Tauhid tersebut dan juga menjadikannya sebuah Kitab yang Penyusun namai “al-Risalah Umdatul Hasanah Lil Jama’ah fii Thariqat al Junaidiyah” sedangkan maksud “Umdatul Hasanah” adalah perpegangan (Sandaran) yang baik.”

Penyusun berharap semoga buku ini dapat bermanfaat bagi Jama’ah Thariqat al Junaidiyah dan orang-orang yang suka mengikuti Amal Kebaikan. Namun, penulis sangat menyadari bahwa buku ini tak semporna, tak lepas dari kekurangan. Oleh karena itu, penulis menyampaikan permohonan maaf serta terbuka untuk kritik membangun dan saran demi perbaikan tulisan ini di masa mendatang.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Kandangan ,  Mei 2026

Penyusun

 

H.Hasan Baseri,S.Ag Assaqqaf

 


BAB  I

PENDAHULUAN

PERKEMBANGAN THARIQAT  AL JUNAIDIYAH  DI INDONESIA

(نَهْدةُ الطَّرِيْقَةِ الْجُنَيْدِيَّةِ فِى الْاِنْدُنِسِيِّ)

RISALAH UMDATUL HASANAH LILJAMA'AH AL THARIQAT AL JUNAIDIYYAH

الرسالة  عمدة الحسنة للْجماعة الطريقة الجنيدية 

Daftar Isi Bab. I

A. PERKEMBANGAN THARIQAT JUNAIDIYAH  DI INDONESIA

1. Thariqat Junaidiyah dan perkembangannya

2. Kelangkaan Daftar Bacaan (Referensi) Kitab Imam al Junaid itu Memag Disenghaja

3. Ada Delapan Sifat Para Nabi Yang Harus Dimiliki Salik

B. Dasar-dasar Tasawuf Junaid al Bagdadi

1. Tawakkal (Berserah Diri) Kepada Allah Semata dan Hakekatnya

2. Pembahasan Tentang al Ma’rifah kepada Allah Swt

3. Ajaran Dokterin Thariqat Sufi al Junaid al Bagdadi

4. Asal Usul Thariqat Sufi Dirunut pada Abad ke-3 dan 4H

C. JALAN MENUJU ALLAH SWT BAGI PENGAMAL THARIQAT AL JUNAIDIYAH

1. Mengenal Asma Allah, Af’al dan Sifat-sifat Allah Swt

2. Mengenal dan Memahami Tiga Martabat Tentang Ketuhanan

a. Pertama Martabat AHADYAH,

b. Kedua Martabat WAHDAH

c. Ketiga Martabat WAHIDIYAH

C. MENGENAL 20 SIFAT YANG WAJIB BAGI ALLAH AZZA WAJALA

D. MENGENAL 4 SIFAT YANG WAJIB BAGI RASULULLAH SAW

E. MENGENAL SANAD SILSILAH THARIQAT AL JUAIDIYYAH

1.Pengertian Sanad

2. Sanad Thariqat Thariqat al Junaidiyah

3. Silsilah Thariqat Thariqat al Junaidiyah

4. Sanad Silsilah talqin dzikir Thariqat al Junaidiyah

5. Titik Lemah Sanad Thariqat al Junaidiyah

6. Karomah Imam/Syekh Tahu Wali sedang berada di Kuburnya

F. HUKUM BAI’AT DZIKIR THARIQAT MELALUI MIMPI

G. FUNGSI SANAD SILSILAH DALAM SEBUAH THARIQAT

H. THARIQAT AL JUNAIDIYYAH DIBANGUN DAN DIBINA6 DASAR

I. RUKUN THARIQAT AL JUNAIDIYYAH  ITU  ADA 6 PERKARA

J. HUKUM THARIQAT AL JUNAIDIYYAH DIBANGUN DAN DIBINA 6 DASAR

K. WAJIB BAGI THARIQAT AL JUNAIDIYYAH ITU ENAM PERKARA

L. SEORANG MURID WAJIB BERGURU DALAM HAL BERTHARIQAT SUFI

1. Seorang Murid memisahkan diri dari Gurunya

M. KRITERIA SEORANG SYEKH ATAU GURU MURSYID.

N. PASAL KRITERIA KHUSUS SEORANG SYEKH ATAU GURU MURSYID.

O. HAL KETERANGAN MENERIMA TALQIN DZIKIR THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYYAH TAHUN 2000M

P. NAMA DAN TINGKATAN MURID THARIQAT AL JUNAIDIYYAH

1.Al Muridin 

2.Al Thalibiin

3.Al Saa’irin

U. BAI'AT DI MASA NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW

1. Bai’at Aqabah pertama

2. Bai’at Aqabah Kedua

3. Pelaksanaan Bai’at Aqabah ke-II

3. Bai’at al Ridwan

R. PEMBAI'ATAN DIMASA KHULAFAURRASYIDIN

S. HAK IMAM / SYEKH/ GURU MURSYID KEPADA PARA MURID

1. Hak Murid atau Salik terhadap Syekh Mursyidnya.

2.Tanggung Syekh Mursyid kepada para Muridnya.

3. Amalan Wajib yang Utama


BAB  I

PENDAHULUAN

PERKEMBANGAN THARIQAT JUNAIDIYAH  DI INDONESIA

(نَهْدةُ الطَّرِيْقَةِ الْجُنَيْدِيَّةِ فِى الْاِنْدُنِسِيِّ)

A. PERKEMBANGAN THARIQAT JUNAIDIYAH  DI INDONESIA

1. Thariqat Junaidiyah dan perkembangannya

Junaidiyah adalah nama sebuah  thariqat  Sufi yang dinisbahkan kepada  Abu  Qasim al Junaid al Bagdadi w.297H/910M. Thariqat  Sufi Junaidiyah atau disebut juga thariqat al Qaum. Istilah thariqah al-qaum (طريقة القوم) merujuk pada jalan, metode, atau aturan hidup yang ditempuh oleh para Sufi atau orang-orang pilihan (asy-syarif al-qaum) untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan merujuk pada prinsip-prinsip hidup yang dijalani para kekasih Allah.

Thariqat ini diambil dan dibawa  masuk ke Indonesia oleh khadaratu syekh KH, Kasypul Anwar Firdaus  bin Muhammad  Shaleh sebelum tentara Jepang  datang ke Indonesia. Dan dikatakan orang bahwa ia mengambil thariqat Qaum  ini sekitar tahun 1935M/1353H dari seorang Syekh yang bernama Sayyid Umar bin Abu Bakar  Ba Junaidi asal Negeri Magribi sehabis  menunaikan  Ibadah Haji, tempat pengambilan Bai’at dan  Talqin  Dzikir di depan  Ka’bah. 

Ia pernah menjabat Qadhi Kepala dimasa Pemerintahan Khalifah Al Muqtadir Billah, berkali-kali Khalifah ini melayangkan surat permintaan penghukuman mati an. Mansur Al Hallaj. Berkali-kali pula Qadhi Kepala ini menulaknya. Baru kali yang ketujuh, Khalifah melayangkan surat permintaan disertai alasan, kemudian Imam Junaid mau menanda tanganinya an. Qadhi Kepala, barulah penghukuman mati an. Mansur Al Hallaj dapat dilaksanakan.

Istilah Junaidiyah adalah nama sebuah aliran  thariqat sufi untuk pengikut-pengikut  Abu Qasim al Junaid al Bagdadi setelah Beliau wafat, Menurut versi pertama Imam Junaid ini, Beliau lahir di kota Bagdad 210H atau 825M dan keluarganya berasal dari Nahawandi di Persia, yang tinggal di Bagdad. Beliau wafat Jum’at  tahun w.297H/910M di sisi muridnya Imam Syibli, dan ia dimakamkan hari Sabtu. Ia seorang  yang pada masanya dijuluki sebagai  “TAWUS AL ULAMA”  atau   Merak   para  Ulama. Menurut versi kedua Beliau lahir di kota Nahawandi tahun 220H dan Beliau wafat di kota Bagdad, Rabu,28 Rajab 297H/11 April 910M dengan usia 87 Versi ke-1 atau 78 tahun versi ke-2 atau usia 82 tahun menurut versi ke-3. Penyusun lebih cendrung menyukai menurut versi yang ketiga Beliau lahir tahun 215H/830M dan wafat 297H/910M   dengan usia 82 tahun alasan keterangan dibawah ini.

Saat menjelang wafatnya al Junaid menjawab pertanyaan salah seorang muridnya. “Siapa lagi yang lebih berhak daripadaku membaca al-Qur‘an, karena aku tahu bahwa sebentar lagi catatan kehidupanku akan digulung dan akan kulihat pengabdian dan kepatuhanku selama tujuh puluh tahun tergantung di angkasa pada sehelai benang. Kemudian angin bertiup dan mengayunkan ke sana ke mari, hingga aku tak tahu, apakah angin itu akan memisahkan atau mempertemukanku dengan-Nya  Jadi masa kepatuhannya tujuh puluh tahun   ditambah 12 tahun (masa bayi  hingga  baligh bagi laki-laki 12 tahun) berjumlah = 82 tahun.

Salah seorang murid Junayd yang sedangkan mendapatkan kedudukan terhormat adalah Abū Muḥammad Aḥmad bin al-Ḥusayn al-Jurayrī. Diriwayatkan: Ketika al-Jurayrī mengunjungi Junayd, gurunya itu berkata: “Ajarilah murid-muridku, disiplinkan dan latihlah mereka.”

 Sejak saat itu al- Jurayrī sering menggantikan Junayd untuk mengajarkan murid-murid  yang lain. Bahkan ketika Junayd sedang sakit parah menjelang ajalnya, sempat ditanya oleh Abū Muhammad al-Dabilī, salah seorang yang mengunjunginya,“Kepada siapakah kami harus duduk (belajar) dalam  masalah ini setelah engkau wafat?”Junayd menjawab,“Belajarlah pada Abū Muḥammad al-Jurayrī.” Tidak begitu lama setelah peristiwa  itu Junayd pun wafat.

Merak  adalah  nama seekor  burung yang  sangat  cantik, indah, unik sangat mahal harganya dan sangat sulit dicari sehingga ia ditasyabbuhkan  keseekor burung  Merak.  Abu Qasim al Junaid al Bagdadi adalah pemimpin mazhab ini dan imam dari semua para Sufi.  Ada yang menyebutnya pemimpin sufi Mazhab Irak. Ia menjadi tokoh penting dikalangan para Sufi di Bagdad dan menjadi poros dalam sejarah tasawuf awal. Istilah Junaidiyah adalah menunjukkan nisbah yang kuat bahwa Junaid  di pandang tokoh kunci dalam  aliran-aliran tasawuf dan thariqat sufi yang berkembang sesudahnya.

KELANGKAAN (DAFTAR BACAAN) REFERENSI KITAB IMAM JUNAID ITU DISENGHAJA

Seorang editor Azyumardi Azra, buku Ensiklopedi Tasawuf yang aku kutip pada sebuah “Artikel tanpa Nama” menyatakan bahwa : Pengamatan terhadap kitab-kitab tasawuf yang bermunculan sejak zamannya  menunjukkan bahwa dari waktu ke waktu selalu saja banyak para penulis tasawuf  yang menukilkan riwayat tentang pernyataan-pernyataan al Junaid dalam kitab-kitab  mereka. Mengenai kelangkaan karya khusus yang memuat ajaran tasawufnya ini,  memang disengaja oleh Imam al Junayd sendiri. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan sejarawan bahwa: Dikisahkan Imam al Junaid al-Baghdādī, yang telah meriwayatkan bahwa: Ketika Junaid jatuh sakit yang serius dan tanda-tanda akan meninggal, ia berpesan (berwasiat) kepada sahabat, murid dan  pengikutnya yang waktu itu sedang menungguinya untuk menguburkan  semua kitab, kertas dan tulisan yang berisi ajarannya. Ketika ditanya mengapa hal itu harus dilakukan, Junayd menjelaskan bahwa  dia tidak suka jika gara-gara menekuni ajaran-ajaran tasawufnya orang malah melupakan ajaran Nabi Muhammad Saw, atau bahkan mensejajarkannya dengan  ajaran Baginda Muhammad Saw. Bagi al Junaid, tiada pelajaran Tasawuf yang lebih berhak (lebih indah dan bagus) untuk dipelajari secara serius oleh setiap orang Muslim selain dari ajaran Nabi Muhammad Saw.

Ada Delapan Sifat Para Nabi Yang Harus Dimiliki Salik

Syekh Al Junaid juga mengatakan kepada setiap muridnya  bahwa sebagai seorang yang ingin menuju Allah Swt,  seseorang harus memiliki delapan sifat Nabi dan Rasul yang harus diterafkan  dalam jiwa dan hati seseorang, Delapan sifat tersebut adalah  :

1. Sifat Murah Hati seperti sifat Nami Ibrahim Alaihis Salam

2.Sifat Ridha (Penerimaan yang tak tersisa sedikitpun) Seperti Nabi Ismail AS

3.Sifat Sabar  (Kesabaran), sebagaimana  dimiliki Nabi Ya’kub AS

4.Kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Isyarat, seperti Nabi Zakaria AS

5.Sifat Uzlah (Pemisahan dari para Makhluk), sebagaimana Nabi Yahya AS

6.Sifat Sedarhana (Mengenakan Pakaian Jubah wol, seperti mantel gembala) Nabi Musa AS  padahal beliau anak angkat Raja Fir’aun

7.Pengembaraan (studi koperatif), seperti perjalanan Nabi Isa AS

8.Tawadhu (kerendahan hati) seperti kerendahan hati Nabi Muhammad Saw. 

ونقلتُ قوله الامام الشعراني فى كتابه الطَّبَقَاتُ الْكُبْرَي : وكان يقول مَبْنِيُّ التَّصَوُّفِ عَلَى اَخْلَاقٍ ثَمَانِيَةَ منَ الْاَنْبِيَاءِ علَيْهِمُ الصَّلَاةُ والسلام : السَّخاءُ وَهُوَ لِاِبْرَاهِيْمَ والرضى وَهُوَ لِاٍسْمَائِيْلَ والصبر وَهُوَ لِاَيُّوْبَ والْاِشَارَةُ وَهِيَ لِزَكَرِيَا والغربة وَهِيَ لِبَحْيَ وَلَبِسَ الصُّوْفَ وَهُوَ لِمُوْسَى والسَّيَاحَةُ وَهِيَ لِعِيْسَى  وَالْفَقِيْرُ وَهُوَ لِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهِمْ اَجْمَعِيْنَ. وكذا فى كتاب الطَّبَقَاتُ الْكُبْرَي ص 85

Artinya (Saya mengutip Imam Al-Sha’rani dalam bukunya Al-Tabaqat Al-Kubra: Beliau biasa mengatakan bahwa Sufisme didasarkan pada delapan keutamaan para nabi, semoga kedamaian dan berkah Allah tercurah kepada mereka: kemurahan hati, yang dimiliki Ibrahim; kepuasan, yang dimiliki Ismail; kesabaran, yang dimiliki Ayub; pemahaman, yang dimiliki Zakharia; keterasingan, yang dimiliki Yohanes; mengenakan wol, yang dimiliki Musa; perjalanan, yang dimiliki Isa; dan kemiskinan, yang dimiliki Muhammad, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadanya dan kepada mereka semua. Dan demikian pula dalam buku Al-Tabaqat Al-Kubra, hlm. 85)


B. Dasar-dasar Tasawuf Junaid al Bagdadi

Adapun dasar-dasar pemikiran al Junaid al Bagdadi tentang tasawuf adalah sebagai berikut :

Pertama : Seorang Sufi harus meninggalkan kelakuan dan sifat-sifat yang buruk dan menjalankan budi pekerti yang baik, sesuai dengan ajaran-ajaran tasawuf yang selalu menganjurkan sifat-sifat baik dan meninggalkan budi pekerti yang jelek.

Kedua : Ajaran tasawuf adalah ajaran-ajaran yang dapat memurnikan hati manusia dan menganjurkan hubungan baik dengan makhluk lain. Ajaran tasawuf selalu mengajarkan untuk meninggalkan sifat-sifat alamiah yang bisa merusak kesucian jiwa, menahan manusia dari godaan jasmani, mengambil sifat-sifat ruhani, mengingatkan diri pada ilmu hakekat, dan mengingat Allah Swt dan Rasul Saw.

Ketiga :  Memalingkan perhatian dari urusan duniawi kepada urusan ukhrawi. Bagi orang beriman meninggalkan pergaulan dari sesama manusia masih lebih mudah dan berpaling kepada Allah sulit.Ternyata berpaling dari nafsu lebih sulit lagi. Untuk itu melawan nafsu adalah sangat penting untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini, Syekh Hujwiri mengutip bahwa Junaid pernah ditanya, "Apakah persatuan dengan Tuhan ?" Dia menjawab, "Meniadakan hawa nafsu,"karena di antara semua tindakan ibadah yang diridhai Tuhan, tiada yang lebih besar nilainya daripada menundukkan hawa nafsu. Menghancurkan gunung lebih mudah bagi seorang manusia dari pada menundukkan hawa nafsunya."

Keempat : Manusia harus berpegang teguh kepada tauhid, termasuk dalam bertasawuf. Arti tauhid menurut Syekh  Junaid adalah mengesakan Allah Swt dengan sesempurna –Nya. Bahwa sesungguhnya Allah Swt itu esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak berbilang, berjumlah dan tidak pula tersusun, dan tak satupun yang menyerupai Nya. Dia Maha Mendengar, Dia Maha Melihat dan Maha Tunggal …………..……… dan seterusnya.

Penyusun kutip perkataan Al Junaid dalam Kitab Ar Risalah Qusyairiyah yang ditulis oleh Imam Qusyari  halaman 299 tentang Tauhid menyatakan bahwa  :

قَوْلُهُ تَعَالَى : وَاِلهُكُمْ اِلهٌ وَحِدٌ  البقرة 163

سُئِلَ الجُنَيْدُ عَنِ التَّوْحِيْدِ ؟ فَقَالَ : اِفْرَادُ الْموحِّد بِتَحْقِيْقِ  وَحْدَانِيَّتِهِ بِكَمَالِ اَحَدِيَّتِهِ, اَنَّهُ الْوَاحِدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ يَنْفِى الْاِضْدَادُ وَالْاِنْدَادُ وَالْاَشْيَاءُ بِلَا تَشْبِيْهٍ وَلَا تَكْلِيْفٍ وَلَاتَصْوِيْرٍ وَلَا تَمْثِيْلٍ, لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. وَقَالَ الجُنَيْدُ : اِذَا تَنَاهَت عُقُوْل الْعقْلَاءِ فِى التَّوْحِيْدِ تَنَاهَت اِلَى الْجِيْرَةِ, وَ سُئِلَ الجُنَيْدُ عَنِ التَّوْحِيْدِ ؟ فَقَالَ : معنى تضمحل فِيْهِ الرُّسُوْمُ وَتَنْدَرجَ فِيْهِ الْعُلُوْمَ  وَيَكُوْنَ اللهُ تَعَالَى كَمَا لَمْ يَزَلْ.. رسالة القشيرية رقم 299

Artinya : Al-Junayd ditanya tentang at-Tauhid (Keesaan Tuhan/ monoteisme), dan beliau berkata: at-Tauhid adalah penegasan seorang yang mengesakan Tuhannya dengan Tahqiq tentang Keesaan-Nya dengan kesempurnaan Keunikan-Nya, bahwa Dia adalah Yang Maha Esa yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, meniadakan hal-hal yang berlawanan, saingan, dan hal-hal yang tidak dapat dibandingkan, diwajibkan, digambarkan, atau diwakili. Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. Al-Junayd berkata: “Ketika pikiran orang-orang bijak mencapai puncaknya dalam konsep Tauhid (Keesaan Tuhan), mereka mencapai puncaknya dalam konsep bertetangga.” Al-Junayd ditanya tentang Tauhid, dan beliau berkata: “Itu adalah makna di mana semua bentuk lenyap, semua pengetahuan tercakup, dan Tuhan Yang Maha Kuasa tetap seperti Dia adanya sejak dahulu kala.” (Surat Al-Qushayriyyah No. 299)

وَ سُئِلَ الجُنَيْدُ عَنِ التَّوْحِيْدِ الْخَاصِّ ؟ فَقَالَ : اَنْ يَكُوْن الْعَبْدُ شَبْحًا بَيْنَ يَدِ اللهِ سُبْحَانَهُ, تَجْرِي عَلَيْهِ تَصَارِيْف تَدْبِيْرِهِ, فِى مَجَارِي اَحْكَام قُدْرَتِهِ, فِى لجج بحار تَوْحِدِهِ بِالْفَنَاءِ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ دَعْوَةِ الْخَلْقِ لَهُ, وَعَنِ استجَابَتِهِ بِحَقَائِقِ وُجُوْدِهِ ووحدانِيَّتِهِ فِى حَقِيْقَةِ قُرْبِهِ بذهَابِهِ حسه وَحرَكَتِهِ لِقِيَامِ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ فِيْمَا اَرَادَ مِنْهُ وهو اَنْ يرجع اَخر الْعَبْدِ الى اوله, فَيَكُوْنُ كَمَا كَان قبل اَنْ يَكُوْنَ ... اى المراد بذالك : اَنَّ حَقَّ الْعَبْدِ اَنْ يَكُوْنَ رَاضِيًا بِمَا يَجْرِيْهِ الله تَعَالَى عَلَيْهِ مما يرضاه له, وتشهد بصحبته الشريعة, لكمال حفظه فلا يجري عليه مالا ينفعه.

Artinya : Al-Junaid ditanya tentang at-Tauhid (bentuk monoteisme) yang spesifik, dan beliau berkata: (at-Tauhid) Monoteisme adalah bentuk di mana seorang hamba hendaknya seperti hantu di hadapan Allah Yang Maha Tinggi, yang kepadanya ketetapan-ketetapan kekuasaan-Nya dilaksanakan, dalam rangkaian ketetapan-ketetapan kekuasaan-Nya, di kedalaman lautan keesaan-Nya, melalui penghancuran diri sendiri dan seruan ciptaan kepada-Nya. Dan mengenai tanggapannya dengan realita eksistensinya dan kesatuannya dalam realita kedekatannya, dengan indra dan gerakannya menuju penegakan Kebenaran, Maha Suci Dia, dalam apa yang Dia inginkan darinya, yaitu agar hamba yang terakhir kembali kepada permulaannya, sehingga ia dapat menjadi seperti sebelum ia ada... Itulah yang dimaksudkan dengan itu: bahwa hak seorang hamba adalah untuk merasa puas dengan apa yang Allah Yang Maha Kuasa berikan kepadanya, apa yang Dia ridhai kepadanya, dan syariat membuktikan persahabatannya, untuk kesempurnaan pemeliharaannya, sehingga tidak ada sesuatu pun yang tidak bermanfaat baginya yang diberikan kepadanya.

وَقَالَ الْجُنَيْدُ : اَشْرَفُ كَلِمَةٍ فِى التَّوْحِيْدِ مَا قَالَهُ اَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سُبْحَانَهُ مَنْ لَمْ يَجْعَلْ لِخَلْقِهِ سَبِيْلًا اِلَى مَعْرِفَتِهِ اِلَّا بِالْعَجْزِ عَنْ مَعْرِفَتِهِ. وَقَالَ الْاُسْتَاذُ اَبُوْ الْقَاسِمِ الْجُنَيْدُ : لَيْسَ يُرِيْدُ الصِّدِّيْقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  اَنَّهُ لَا يَعْرِفُ لِاَنَّ عِنْدَ الْمُحَقِّقِيْنَ الْعَجْزَ عَجَزَ عَنِ الْمَوْجُوْدِ دُوْنَ الْمَعْدُوْمِ, كَالْمقعد عَاجِزٌ عَنْ قُعُوْدِهِ اذْ لَيْسَ يَكْسِبُ له ولا فعل والقُعُوْد مَوْجُوْد فيه وكذالك العارف عاجز عن مَعْرِفَتِهِ, وَالمَعْرِفَةُ موجودة فيه, لِاَنَّهَا ضَرُوْرِيَّةً, وعند هذه الطائفة : المَعْرِفَةُ بِهِ سُبْحَانَهُ فِى الْاِنْتِهَاءِ ضَرُوْرِيَّةً وَاِنْ كَانَتْ مَعْرِفَةٌ عَلَى الْتَحْقِيْقِ, فَلَمْ يعدّها الصِّدِّيْقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ شَيْئًا بِالْاِضَافَةِ اِلَى الْمَعْرِفَةِ  الضَرُوْرِيَّةً كالسراج عند طلوع الشمس وانبساط شعاعها عليه.

Artinya : Al-Junaid berkata: Pernyataan paling mulia tentang monoteisme (keesaan Tuhan) adalah apa yang dikatakan Abu Bakr Al-Siddiq, semoga Allah meridainya: Maha Suci Dia (Allah), yang tidak memberikan jalan bagi ciptaan-Nya untuk mengenal-Nya kecuali melalui ketidakmampuan mereka untuk mengenal-Nya. Dan Syekh/ Guru Abu al-Qasim al-Junaid berkata: Al-Siddiq, semoga Allah meridainya, tidak bermaksud bahwa dia tidak tahu, karena menurut para ulama, ketidakmampuan adalah ketidakmampuan terhadap apa yang ada, bukan terhadap apa yang tidak ada, seperti orang lumpuh yang tidak mampu duduk.

Karena dia tidak memperoleh apa pun untuk dirinya sendiri, dan dia juga tidak melakukan apa pun, dan keadaan duduk ada padanya, dan demikian pula orang yang mengetahui tidak mampu mengetahuinya, dan pengetahuan itu ada padanya, karena itu perlu. Dan dengan kelompok ini: pengetahuan tentangnya, Maha Suci Dia (Allah), pada akhirnya diperlukan, meskipun itu adalah pengetahuan dalam kenyataan. Maka orang yang jujur, semoga Allah meridainya, tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang tambahan selain pengetahuan yang diperlukan, seperti lampu ketika matahari terbit dan sinarnya menyebar di atasnya.

قَالَ الْجُنَيْدُ : التوحيد الذي انفرد به الصوفية هو افراد القدم عن الحدث, والخروج عن الاوطان, وقطع المحاب, وترك ما علم وجهل وَاَنْ يَكُوْنَ الْحَقُّ سُبْحَانَهُ مَكَانَ الْجَمِيْعِ. رسالة القشيرية رقم 300

Artinya : Al-Junaid berkata: Monoteisme (keesaan Tuhan) yang unik bagi kaum Sufi adalah pemisahan antara yang kekal dan yang diciptakan, meninggalkan tanah air, memutuskan ikatan kasih sayang, meninggalkan ilmu dan kebodohan, dan bahwa Kebenaran, Maha Suci Dia, seharusnya menjadi tempat tinggal semua makhluk. (Surat Al-Qushayriyyah No. 300)

وَ قَالَ الْجُنَيْدُ : عِلْمُ التَّوْحِيْدِ مُبَايِنُ لِوُجُوْدِهِ وَوُجُوْدُهُ مُفَارِقُ لِعِلْمِهِ. وَقَالَ اَيْضًا  : عِلْمُ التَّوْحِيْدِ طوي بساطه مُنْذُ عِشْرِيْنَ سَنَةً, وَالنَّاسُ يَتَكَلَّمُوْنَ فِى حَوَاشِيْهِ. رسالة القشيرية رقم 301

Artinya : Al-Junaid berkata: “Pengetahuan tentang monoteisme (keesaan Tuhan) berbeda dengan keberadaan-Nya, dan keberadaan-Nya berbeda dengan pengetahuan-Nya.” Beliau juga berkata: “Pengetahuan tentang monoteisme (keesaan Tuhan)  telah diabaikan selama dua puluh tahun, dan orang-orang masih membahas hal-hal di sekitarnya.” (Surat Al-Qushayriyyah No. 301)

Menurut Dr, Fakhruddin Faiz, M.Ag bahwa tauhid menurut Syekh  Junaid adalah :

a. Tauhid Awam  : terletak dalam penegasan atas ke esaan Allah, menolak semua sekutu dan menolak mempersamakan Allah, namun mereka tetap mereka memiliki harapan dan ketakutan kepada daya daya selain Allah.

b. Tauhid Alim : terletak dalam penegasan atas keesaan Allah, menolak semua sekutu dan menolak mempersamakan Allah, menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah , Namun mereka tetap memiliki harapan dan ketakutan yang muncul dari hatrat/ pemahaman keinginan mereka sendiri.

c. Tauhid  Khawash  sebagaimana tauhid awam dan alim, namun tanpa harapan dan ketakutan selain kepada Allah. Bahkan tidak lagi memiliki keinginan/ hatrat pribadi karenamenepati mistiq dan mengalami fana

Kelima : Seorang Sufi harus bisa melakukan tiga syarat amalan, yaitu :

Kalangan Junaidiyah juga berpegang teguh pada pandangan Imam al Junaid yang mengatakan bahwa “ Amaliah seorang Sufi harus melaksanakan tiga rukun amal 

  1. Melajimkan dzikir disertai muraqabah bil batin bersama  kesadaran yang penuh.
  2. Mempertahankan tingkat kesadaran/ ketenangan (Najwan) yang tinggi.
  3. Selalu melaksanakan Syari’at secara tepat dan ketat.

Makna SAHW (سَهْوٌ) berarti : Lupa, kelupaan atau tiada sadar sedangkan Shahw  :صَحَا – يَصْحُو- صَحْوٌ berarti : terang cuaca, sadar, siuman dari mabuknya.

Penyusun kutip perkataan Imam Qusyari  dalam Kitab Ar Risalah Qusyairiyah pada halaman 71 tentang (الصحو و السكر)Shahwan dan Sakran menyatakan bahwa  :

الْصَحْوُ رُجُوْعٌ اِلَى الْاِحْسَاسِ بَعْدَ الْغَيْبَةِ, وَالسَّكِرُ  غَيْبَةٌ بِوَارِدٍ قَوِّيٍ, وَالسَّكِرُ زِيَادَةً عَلَى الْغَيْبَةِ مِنْ وَجْهٍ. وذلك اَنَّ صَاحِبَ السَّكِرِ قَدْ يَكُوْنُ مَبْسُوْطًا اِذَا لَمْ يَكُنْ مستوفيا فى سَكِرِهِ, وقد يسقط اخطار الاشياء عن قلبه فى حال سكره وتلك حال المتساكر اى المتظاهر بالسكر, الذي لم يستوفه الوارد, فيكون للاِحْسَاسفيه مساغ. وقدْ بقوي سَكِرَهُ حَتَّى يَزِيْدَ عَلَى الْغَيْبَةِ. فَرُبَّمَا  يَكُوْنُ صَاحِبُ السَّكِرِ اَشَدُّ غَيْبَةٍ مِنْ صَاحِبَ الْغَيْبَةِ اِذَا قوي سَكِرَهُ وَرُبَّمَا  يَكُوْنُ صَاحِبُ الْغَيْبَةِ اَتَمُّ فِى الْغَيْبَةِ من صَاحِبَ السَّكِرِ اِذَا كَانَ متساكرًا غَيْرَ مستوف.

Kesadaran adalah kembalinya kesadaran setelah keadaan absen, sedangkan mabuk adalah absen yang disebabkan oleh pengaruh kuat, dan mabuk, dalam arti tertentu, merupakan tambahan dari absen. Ini karena orang yang mabuk mungkin merasa rileks meskipun mereka tidak sepenuhnya mabuk, dan bahaya-bahaya tertentu mungkin lenyap dari pikiran mereka dalam keadaan mabuk; inilah keadaan orang yang berpura-pura mabuk.

Orang yang berpura-pura mabuk, yang belum cukup merasakan efek mabuknya, memiliki alasan yang sah untuk merasa demikian. Kemabukannya mungkin akan meningkat hingga melampaui tingkat meng (الْغَيْبَةِ). Mungkin si pemabuk lebih cenderung meng (الْغَيْبَةِ) daripada si peng (الْغَيْبَةِ). jika kemabukannya meningkat, dan mungkin si peng(الْغَيْبَةِ). lebih lengkap dalam meng (الْغَيْبَةِ)  nya daripada si pemabuk jika ia berpura-pura mabuk tetapi belum sepenuhnya puas.

Konsep (الْغَيْبَةِ) al-ghaibah (menghilang/hilang kesadaran dari selain Allah) sering kali merujuk pada keadaan fana, ghaibnya diri (kesadaran lahiriah) saat melakukan zikir rohani atau dzikir sir.

وَ الْغَيْبَةُ فَدْ تَكُوْنُ لِلْعَبْدِ بِمَا يَغْلِبُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ  من موجب الرغبة والرهبة, ومقتضيات الخوف والرجاء, والسكر لا لاصحاب المواجيد, فاذا كوشف العبد بصفة الجمال حصل السكر وطربت وهام القلب1  (اي هام القلب : اي سقط التمييز بين ما يؤلم يلذ له, فالتجليات الجماليات وشهود الصفات الكماليات. استولت على العبد بحيث لا يشهد سوي الحقّ. تصير الاشياء بالنسبة اليه شيئا واجدا, فَحِيْنَئِذٍ لايميز بين الاشياء لغلبة رؤية ما للحق عليه) وفى السكر الناشئ عن كشف الجمال. 

Menurut Dr, Fakhruddin Faiz, M.Ag bahwa pembahasan tasawuf al Junaid istilah Shahw (صَحْوٌ) adalah kembalinya seorang arif (sufi) pada kesadarannya, setelah sebelumnya mengalami fana dan kehilangan kesadaran.

Imam al Junaid “Allah mengembalikan sufi kepada keadaannya semula, adalah agar dia dapat menjelaskan bukti-bukti dari rahmat Tuhan kepadanya. Sehingga  cahaya anugrahnya akan tampak gemerlap melalui pengembalian pada sifat-sifatnya sebagai manusia. Dengan demikian, hal ini menjadikan masyarakat menghargai dan tertarik kepadanya.”

Shahw ini merupakan tahapan setelah seorang sufi mengalami fana dan baqa. Pada kondisi inilah ujian sebenarnya adalah seorang sufi harus mampu kembali kepada kesadarannya dengan hati yang telah disucikan oleh Allah. Para sufi ini harus mampu mensucikan hatinya secara terus menerus dalam kesadaran manusia hingga dia benar-benar menjadi yang mencintai dan di cintai Allah.

Tasawuf  bagi Junaid, tidak lain adalah  budi pekerti yang baik dan meninggalkan budi pekerti  yang buruk.  Baik dan  buruknya  sesuatu  diukur  dengan  syari’at, karenanya  tasawuf harus berdasarkan  Syari’at.  Dokrin  ini  berlaku  dikalangan  mazhab  aliran thariqat Junaidiyah.

Junaidiyah  juga  menganut  pandangan  tentang  kemurnian  hati, menekan hawa nafsu jasmani  dan  berpegang  pada   ilmu   hakekat.   Hal  ini  dirujuk  dari  pandangan Syekh al Junaid  yang menyatakan bahwa  tasawuf  adalah  memurnikan hati  dalam  berhubungan  dengan  makhluk lain, meninggalkan  sifat alamiah,  menekan  sifat-sifat  buruk  manusia, menghindari  godaan  jasmani, mengambil   sifat-sifat   ruhani,   mengikat  diri  pada   ilmu  hakekat, selalu  dzikrullah  mengikuti  sunnah  Rasulullah.

Junaidiyah mengajarkan bahwa segala jalan yang dilalui para Sufi seluruhnya tertutup kecuali jalan yang telah ditetapkan Allah melalui jalan Rasulnya. Dengan kata lain, bahwa mazhab tasawuf aliran  thariqat  Junaidiyah memegang teguh ajaran-ajaran yang berdasarkan pada Al Qur,an dan Sunnah Rasulullah Saw dalam mewujudkan segala keseimbangan antara lahir dan batin, antara hakekat dan syari’at, antara ilmu dan amal saleh.

Bagi Junaidiyah, tasawuf yang meninggalkan syari’at adalah tercela dan tidak bisa diikuti. Pada masa Syekh al Junaid sudah ada kalangan tertentu dalam lingkungan Sufi yang bertingkah laku tidak mengikuti syari’at, karena mengganggap dirinya sebagai sufi yang sudah sampai pada maqam yang tertinggi dan tidak memerlukan syari’at lagi. Ketika masalah ini ditanyakan kepada Syekh  Junaid, ia menyatakan bahwa orang yang berbuat zina dan mencuri lebih baik dari pada orang-orang yang berbuat demikian. Karena itu, Syekh Junaid menganggap amat mendasar bahwa sufi sejak menempuh tingkat  permulaan sampai tingkat tertinggi, tetep berpegangteguh kepada al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.


TAWAKKAL (BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH SEMATA) DAN HAKEKATNYA

Menurut Dr, Fak hruddin Faiz, M.Ag bahwa salah satu pembahasan dalam tasawuf Syekh Imam al Junaid adalah Hakekat tawakal adalah  menjadi milik tuhan semata seperti belum terjadi.

Seseorang yang bertawal memiliki kesadaran seperti belum diciptakan, yaitu sebagai milik Tuhan. Berarti apapun yang akan diperbuat Tuhan terhadapnya, dia akan menerimanya.

Tawakal “Bahwasanya kamu harus puas dengan Tuhan dalam segala keadaan, dan kamu tidak mengharapkan sesuatu yang lain kecuali Allah semata.”

Selanjutnya pembahasan dalam tasawuf Syekh Imam Junaid adalah tentang Fana  dan Baqa’ : Fana adalah satu situasi ketika seorang Sufi yang terpesona melihat keindahan Tuhan,dia tidak lagi menyadari apa saja selain Tuhan. Dalam keadaan demikian, sufi tersebut dikatakan Fana dari segenap alam, termasuk dirinya sendiri. Dirinya dan  alam semesta ini tentu saja tetep ada, tetapi sudah fana(lenyap) dari kesadaran sufi tadi, yang ada hanyalah kesadaran keberadaan Tuhan (Baqa’)

Tingkatan fana’

Berusaha sekeras mungkin mengakang keinginan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya diinginkan karena Allah.

Sirnanya hasrat untuk memburu/ merasakan kenikmatan duniawi demi  Allah. Terus kemudian Sirnanya diri dan hidup dalam kesadaran Allah.

 Selanjutnya pembahasan tasawuf Imam Junaid ttg Zuhud. Dr, Fakhruddin Faiz, M.Ag menjelaskan bahwa  Zuhud menurut Imam Junaid al Bagdadi  :

• Zuhud adalah kosongnya tangan dari kepemilikandan hati dari hal yang mengikutinya (ketamakan).

• Zuhud bukan meninggalkan dunia, zuhud adalah kita tetap memikliki harta namun tidak mencintainya, Zuhud tidak meninggalkan harta kekayaan tapi juga tidak tamak mengejarnya. Dan tidak pula menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Zuhudnya adalah  saat seeorang memperoleh rezki, ia tidak merasa berat memberi kepada merekayang lebih memerlukannya. Seseorang yang zuhud senantiasa  mewaspadai bahaya yang timbul akibat salah menggunakannya harta, karena memegang harta kekayaan ibarat memegang bara api yang bias membakar dirinya sendiri.

• Seseorang sufi tidak seharusnya berdiam diri di Masjid dan berdzikir saja tanpa bekerja untuk nafkahnya. Sehingga untuk menunjang kehidupannya orang tersebut menggantungkan dirinya hanya pada pemberian orang lain.”

PEMAHASAN TENTANG MA’RIFAH

Penyusun ar-Risalah Umdatul Hasanah lil Jama’ah al Thariqah al Junaidiyah mengutip perkataan Imam al Qusyari  dalam Kitab Ar Risalah Qusyairiyah pada halaman 314 tentang : Orang-orang Ahli Ma’rifah

وَقَالَ رَجُلٌ لِلْجُنَيْدِ  : مَنْ اَهْلُ الْمَعْرِفَةِ اَقْوَامٌ ؟ يَقُوْلُوْنَ : اِنْ تَرَكَ الْحَرَكَاتِ مِنْ بَابِ الْبِرِّ والتَّقْوَى. وَقَالَ الْجُنَيْدُ  : اِنْ هذا قول قوم  يَتَكَلَّمُوْا باسقَاطِ الاعمال وهو عندي عظيم, والذي يسرق ويزني احسان حالا من الذي يقول هذاء فان العارفين بالله تعالى اخذوا الاعمال عن الله, والى الله تعالى رجعوا فيها ولو بقيت الف عام لم انقص من اعمال البرّ ذرةً. رسالة القشيرية رقم 314

Artinya : Seorang pria berkata kepada al-Junaid: "Siapakah orang-orang yang benar-benar Ahli Ma’rifah (berilmu)? Mereka mengatakan bahwa meninggalkan perbuatan fisik adalah perbuatan ketakwaan dan kebaikan." Al-Junaid menjawab: "Ini adalah ucapan orang-orang yang berbicara tentang pembatalan amal baik, dan menurutku, ini adalah masalah yang serius. Orang yang mencuri dan berzina berada dalam keadaan yang lebih baik daripada orang yang mengatakan ini. Karena orang-orang yang benar-benar mengenal Allah menerima amal perbuatan mereka dari-Nya, dan kepada-Nya mereka kembali. Sekalipun aku hidup seribu tahun, aku tidak akan mengurangi amal baikku sedikit pun." (Surat Al-Qushayriyyah No. 314)

Selanjutnya pembahasan tasawuf Imam Junaid ttg Ma’rifah. Dr, Fakhruddin Faiz, M.Ag menjelaskan bahwa  Ma’rifah menurut Imam Junaid al Bagdadi adalah  :

 Ma’rifah adalah kesadaran akan adanya ketidaktahuan (kebodohan) ketika pengetahuan tentang Tuhan datang.

 Pada hakekatnya manusia itu berada pada ketidaktahuan tentang hakekat Tuhan.  Dimana keadaan yang demikian ini, baru disadarinya ketika datang ma’rifat kepada-Nya. Pada saat itu dia akan mendapatkan pengetahuan tentang  hal-hal yang berkenaan dengan Tuhan yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya.

 Ma’rifat atau pengetahuan tentang Tuhan, akan dapat dicapai oleh seorang sufi, dalam keadaan fana.

AJARAN DOKTERIN THARIQAT SUFI AL JUNAIDIYAH

1.  1. Ajaran tentang Mahabbah (Jatuh Cinta)

Selanjutnya pembahasan tasawuf Imam Junaid ttg Mahabbah atau jatuh cinta kepada Tuhan Menurut Syekh Junaid adalah sebagaimana yang dijelaskan Dr, Fakhruddin Faiz, M.Ag bahwa :

o Mahabbah adalah masuknya sifat-sifat yang Dicintai kedalam diri yang mencintai, sebagai ganti dari sifat-sifat yang mencintai.”

o Jika seseorang telah  benar-benar jatuh cinta kepada Tuhan, maka perhatiannya hanya akan tertuju pada-Nya, Tiada lagi perasaan yang tertuju kepada hal=hallain yang masih tertinggal pada dirinya. Pada saatyang sama, dia akan menjadikan tempat disegala sudut dalam hatinya, hanya untuk Tuhan.

2. Ajaran tentang Muraqabah bil Bathin 

Syekh Al Hujwiri pada Kasyf al Mahjub menyebutkan dokterin (ajaran)  Thariqat Sufi Junaidiyah bahwa dokterinnya adalah muraqabah bil bathin  مراقبة بالباطن  . Dan juga Al Junaid dan Pengikutnya lebih menyukai ketenangan  (نجوا ) dari pada kemabukan (سكرا ). Mabuk bukanlah sifat orang yang tenang dan seseorang tidak diperbolehkan terserit sedemikian itu kepada dirinya  sendiri. Orang yang mabuk menjadi terpesona dan tidak memiliki perhatian sama sekali kepada makluk, sehingga dia harus merealisasikan sesuatu kualitas yang memerlukan upaya sadar. Kemabukan dan kegairahan adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan CINTA YANG BEGITU BERGAIRAH terhadap Allah SWT. Semantara istilah Ketenangan menyatakan sesuatu  pencapaian apa yang diinginkan. Ketenangan menyebabkan istiqamah dan keseimbangan sifat manusia.

Menurut Penyusun Umdatul Hasanah .... bahwa dokterin (ajaran)  Thariqat Sufi al Junaidiyah “muraqabah bil bathin “ itu adalah  مراقبة بالباطن اى بتوجه مطلق دائما (muraqabah bil bathin yakni tawajjuh muthlaq secara terus-menerus ( Maksudnya Pengamal Thariqat Sufi al Junaidiyah (Salik) mengawasi batang tubuh (gerak-diam)nya, mengintai Hatinya dan Rohnya secara muthlaq pengakuannya milik Allah semata hal keadaan sirr i’tikatnya secara terus-menerus.

Ulama Sufi telah menegaskan bahwa      :

صِلَاحُ الْقَلْبِ يَكُوْنُ بِمُلَازِمَةِ الْمُرَاقَبَةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِى جَمِيْعِ الْحَرَكَاتِ وَالسَّكَنَاتِ وَالْحَظَرَاتِ وَالْخَطَرَاتِ.

Maksudnya Tawajjuh Muthlaq disini yaitu menghiasi hati dengan melajimi muraqabah kepada Allah Swt dalam semua gerak dan diam, lintasan-lintasan dan khataran- khataran hati si Salik.

3..Ajaran Meninggalkan Kelezatan Dunia

Mengutip dari sebuah “Artikel Redaksi Alif.ID - Berkeislaman dalam Kebudayaan yang dikutip dari kitab Sabilus Salikin (48): thariqat Junaidiyah “ bahwa Muhammad Ibn Abdullâh al-Razi berkata: Saya mendengar Abû Muhammad al-Jariri berkata: Saya mendengar Imam  Junaid berkata: “Kita tidak menjalankan tasawuf dengan banyak bicara saja (al-qil wa al-qâl  yakni bersifat wacana saja). Tapi kita melakukannya dengan lapar (puasa), meninggalkan kelezatan dunia dan melepaskan segala hal-hal yang menyenangkan dan yang indah. Karena tasawuf adalah kemurnian hubungan dengan Allâh Swt yang dasarnya menghindari kesenangan dunia.

Sebagai mana pernyataan Haritsah di hadapan Rasûlullâh Saw.: “Aku hindarkan diriku dari dunia, aku hidupkan malamku dan aku laparkan siang hariku…”.

Imam Al-Junaid juga berkata: “Seluruh jalan menuju Allâh Swt. tertutup bagi semua makhluk, kecuali bagi mereka yang benar-benar mengikuti Rasûlullâh Saw. dalam setiap keadaannya”.

Dalam kesempatan lain beliau berkata: “Jika seseorang dengan segala kejujurannya beribadah kepada Allâh Swt. selama satu juta tahun, namun kemudian ia berpaling dari-Nya walau hanya sesaat, maka apa yang tertinggal darinya jauh lebih banyak dibanding dengan apa yang telah ia dapatkan”.

Beliau juga berkata: “Siapa yang tidak (memelihara) hafalan Alquran dan tidak menulis hadis-hadis Rasûlullâh Swt. maka orang tersebut jangan diikuti, karena ilmu kita ini (tasawuf) diikat dengan Alqur'an dan Sunnah”. Sikap wara’, zuhud, taqwâ, tawâdhu’, dan kuat dalam ibadah sudah tentu merupakan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa Imam al-Junaid.

Suatu ketika beliau ditanya tentang kemegahan dunia, beliau menjawab: “Keberhasilan atas segala kebutuhan dunia adalah dengan meninggalkannya”.

Diriwayatkan dari Syekh Ja’far ibn Muhammad bahwa Imam Junaid berkata kepadanya: “Jika Engkau sanggup untuk tidak memiliki peralatan apapun di rumahmu kecuali sehelai tikar maka lakukanlah tashawwuf…!”. Ja’far ibn Muhammad berkata: “Dan memang yang ada di rumah al-Junaid hanyalah sehelai tikar”.

Diriwayatkan dari Syekh al-Khuldy bahwa Imam Junaid al-Baghdadi selama dua puluh tahun tidak pernah makan kecuali satu kali dalam seminggu. Dalam setiap malam beliau melaksanakan shalat sebanyak 300 raka’at. Sementara di siang hari, Imam Junaid menghabiskan waktunya untuk shalat sebanyak 300 raka’at dan 30.000 kali bacaan tasbîh.

2. Asal Usul Thariqat Sufi Dirunut pada Abad ke-3 dan 4H

Ada empat Hal yang menjadikan Tasawuf Imam Al Junaid sebagai Acuan dan Standar dalam bertasawuf. Hal dimaksud antaranya, konsisten terhadap Alquran dan sunah, konsisten terhadap ajaran syariat, kebersihan akidah, dan bertasawuf moderat.

Menurut Ustazd Abdul Hadi WM (2009), asal-usul  thariqat(at-tariqah) Sufi dapat dirunut pada abad ke-3 dan 4 H (abad ke-9 dan 10 M). Abad ke-3H dapat dihitung dari tahun 816 – 913M dana bad ke-4 dihitung dari tahun 913 – 1010M Pada waktu itu tasawuf telah berkembang pesat di negeri-negeri seperti Arab, Persia, Afghanistan dan Asia Tengah (diantaranya negeri Irak). Beberapa Sufi terkemuka memiliki banyak sekali murid dan pengikut. Di antara murid dan pengikut para Sufi terkemuka itu aktif mengikuti pendidikan formal di lembaga-lembaga pendidikan Sufi (ribbat, semacam pesantren). Di antara Sufi yang memiliki banyak murid di antaranya ialah Imam Junaid al-Baghdadi dan Syekh Abu Said al-Khayr.

Berdasarkan basis penyebarannya  Junaidiyah merupakan sufisme aliran  thariqat  Mesopotamia yang berpusat di Bagdad (Negeri Irak), daerah penyebarannya  meliputi Syiria, Mesir masuk ke Iran hingga  masuk ke Indonesia (pulau Kalimantan). Alur-alur penyampaiannya  bermula dari Syekh Ma’ruf al Karkhi,  menuju  Sirri as Saqati, Junaid al Bagdadi  terus ke Imam as Syibli dan dari Imam as Syibli terus ke Imam Qusyairi  hingga Syekh Muhammad az Zahidy al Wakhshi w.936H dengan bai’at Sirriyahnya. Dan basis penyebarannya yang kedua dari  Ma’ruf al Karkhi,  menuju  Sirri as Saqati, Junaid al Bagdadi,  Qadli Ruwaim. dari Qadli Ruwaim terus hingga ke Imam as Sya'rani tahun 898-973H terus Syekh Imam Alwi al Ridha bin  Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin (W.1002H/1594M) terus hingga Imam BA Junaidi yakni (Imam Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham W.1032H/1623M) Hal ini dapat  dilihat  dari  Silsilah thariqat Junaidiyah itu sendiri. Mesopotamia  adalah  tradisi  yang  paling dekat  dengan  sufisme Arab. Dijumpai  ada dua aliran utama  yang sangat  konsisten dengan  tradisial  Junaidiyah yakni  aliran  Suhrawardiyah dan  aliran Rifa’iyah.

Tradisi  Junadiyah  banyak  dianut  Kaum  Sufi yang hidup  sesudah Imam al Junaid wafat hingga Syekh Abdul Qadir al Jailani, dan Imam al Sya’rani  pengarang  Kitab Anwar al Qudsiyah  memuji  jalan al Junaid, sebab menurutnya, tradisi  Junaidiyah  memenuhi  persyaratan  hukum  dan  diterima di dunia Islam. Ini  memungkinkan bahwa  salah  satunya  karena  tasawuf  aliran  Junaidiyah  ini mengikuti  ajaran tasawuf Syekh Junaid sendiri.

Ajaran Tasawuf Syekh Junaid bertolak dari dasar  Islam ( al Qur’an dan al Hadis) dan bertumpu pada penegakkan  sya’riat  secara  konsisten.  Hal ini  tampak  jelas  dalam  kehidupan  dan pelajaran – pelajaran  yang diberikan Syekh Junaid  kepada  murid-muridnya.

Imam Abdul Wahhab al Sya’rani dalam  kitabnya Tanbihu al Mugtarin  mengatakan  bahwa  Abu Qasim al Junaid al Bagdadi  berkata

قَالَ الشَّيْخُ الْاِمَامُ أَبُوْ الْقَاسِمِ اَلْجُنَيْدُ الْبَغْدَادِىُّ : مَذْهَبُنَا هَذَا مُقَيِّدٌ بِاُصُوْلِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ, وَيَقُوْلُ أَيْضًا : مَنْ لَمْ يَحْفَظِ الْقُرْآنَ وَلَمْ يَكْتُبِ الْحَدِيْثَ لَا يَقْتَدِى بِهِ هَذَا فِى هَذَا الْاَمْرِ لِاَنَّ هَذَا مُقَيِّدٌ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.

Artinya : Telah berkata Syekh Imam Abu Qasim Al Junaid al Bagdadi, :"Aliran Mazhab kami ini, telah dikat kuat dengan kitab al Qur'an dan  al Sunnah Nabi Saw. Dan dikatakannya pula " Barang siapa yang tidak memelihara al Qur'an dan  dan tidak menulis al hadis Nabi Saw, maka jalan ajaran tidak boleh diikuti dalam perkara (tarekat) sebab mazhab ini diikat oleh al Qur'an dan  al Sunnah.

Berkata Imam Abdul Wahhab al Sya’rani dalam  kitabnya "MADARIJUS SALIKIN" Imam Junaid al Bagdady berkata :

كَانَ الْجُنَيْدُ يَقُوْلُ : مِنْ عَلَامَةِ صِدْقِ الْمُرِيْدِ عَدَمُ مَيْلِهِ اِلَى غَيْرِ طَرِيْقَتِىْ وَاِذَا اَرَادَ اللهُ بِمُرِيْدٍ خَيْرًا اَوْقَعَهُ اِلَى الصُّوْفِيَّةِ وَمَنَعَهُ صَحْبَةَ الْفُقَهَاءِ وَاَهْلَ الْجِدَالِ.

Artinya : Telah berkata Syekh Imam Abu Qasim Junaid al Bagdadi, :"Sebahagian dari tanda benarnya seorang murid itu, ketiadaan cendrung hatinya selain pada jalanku. Apabila Allah menghendaki akan seorang murid akan kebaikan niscaya menjatuhkan hatinya bersahabat orang sufi dan menegah bersahabat dengan fuqaha dan orang suka berdebat".

A. Mengenal Asma Allah, Af’al dan Sifat-sifat Allah Swt

Disebutkan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad Saw bahwa Asma Allah itu ada sembilan puluh sembilan Nama Allah Swt, Seratus nama Allah selain satu (kurang satu) yang tidak dibilang. Sebagaimana hadis Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam riwayat Abu Nuam berbunyi :

عَنْ عَمَّارٍ بْنِ يَسَّارٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ تَعَالَى : إِنَّ اللهّ عَزَّ وَجَلَّ : تِسْعَةٌ وَتِسْعِيْنَ إِسْمًا مِائَةَ غَيْرِ وَاحِدٍ إِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ وَمَا مِنْ عَبْدٍ يَدْعُو بِهَا إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ.  رواه أبو نعيم فى الحلية

Ammar bin Yasar meriwayatkan sebuah hadis Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam yang berbunyi :

Artinya bahwa :”Sesungguhnya Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan Nama, Seratus nama Allah selain satu (kurang satu), sesungguhnya Ia tunggal, dan ia mencintai yang tunggal, tiada ada bagi seorang hamba yang berdo’a dengan Nama-nama –Nya melainkan sorga baginya.” HR. Abu Nuam dalam Kitab Hilyah.

Mengenal al Asmaul HUsna (اَلْاَسْمَاءُ الْحُسْنَى) dan Sifat-sifat Allah Azza Wajala

Penyusun Umdatul Hasanah  lebih menyukai bila membaca al Asma' ul Husna  memulainya dengan kalimat  : di bawah ini

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ نَسْاَلُكَ (اَسْاَلُكَ) الرَّحْمَةَ وَالْعَافِيَةَ وَالرِّضَى يَا مَنْ ... هُوَ اللهُ الَّذِىْ لَا اِلَهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمَانُ الرَّحِيْمُ. اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ. اَلْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ. اَلْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر. اَلْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ, اَلْحَلِيْمُ الْعَظِيْمُ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ, اَلْحَفِيْظُ الْمُقِيْتُ الْحَسِيْب الْجَلِيْلُ الْكَرِيْمُ الْرَّقِيْبُ الْمُجِيْبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيْمُ. اَلْوَدُوْدُ الْمَجِيْدُ الْبَاعِثُ  الشَّهِيْدُ الْحَقُّ الْوَكِيْلُ الْقَوِيُّ الْمَتِيْنُ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ الْمُحْصِى الْمُبْدِئُ  الْمُعِيْدُ, اَلْمُحْيِ الْمُمِيْتُ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ  الْوَاجِدُ  الْمَاجِدُ   الْوَاحِدُ  الْأَحَدُ الصَّمَدُ. اَلْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ  الْمُؤَخِّرُ الْأَوَّلُ الْأَخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَلِيُّ الْمُتَعَالُ. اَلْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفْوُ الرَّؤُوْفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. اَلْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِيُّ الْمُغْنِى الْمَانِعُ   الضَّارُّ النَّافِعُ النُّوْرُ الْهَادِى الْبَدِيْعُ الْبَاقِى الْوَارِثُ  الرَّشِيْدُ الصَّبُوْرُ.

Syekh Dr. H. Jalaluddin dalam bukunya Sinar Keemasan mengatakan bahwa “Perhatikan nama nomor satu dari asma’ul husna yaitu  HUWA dibaca HUU  setiap kalimat Huwa yang tersebut dalam al Qur’an  artinya Dzat yang Maha Suci semata-mata. Sebelum Alam halus atau Alam Shagir dan kasar atau Alam Kabir dijadikan, maka Huu   هو    dzat itu telah ada. Yaitu adanya dzat itu tiada ada permulaannya. Dzat yang maha suci itu  bernama Allah, lihat nomor dua dari asma’ul husna. Yakni Allah adalah nama Dzat dari HUU.  Kalau kita dzikir  dengan ismu dzat       إسم الذات       maksudnya kita baca nama “ Allah- Allah  " الله – الله      Sekali lagi ditegaskan bahwa HUU adalah dzat semata-mata, lhat nomor satu dari  asma’ul husna, Allah  nama dari dzat Huu, yakni Allah nama dzat yang bersipat kesempurnaan nomor dua dari asma’ul husna.

Kita diwajibkan membaca nama Tuhan, seperti yang telah diperintahkan dalam surat al Alaq ayat pertama yang berbunyi :

إقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِىْ خَلَقَ       العلق -1

Maksudnya : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan Engkau  ya Muhammad yang telah menciptakan,” Al Alaq 1

Untuk menunaikan perintah yang tersebut, tentulah kita wajib membaca kalimah ( Allah Allah ) sebab “Allah Allah” nama Tuhan kita. Dalam al Qur’an kalimah Allah Allah itu ada Dua Ribu Enam Ratus  Sembilan Puluh Enam (2.696) tempat atau 2.696 kali. Adapun nama dari nomor tiga yaitu ar RAHMAN s.d  nomor as SHABUR  adalah nama dari sifat-sifat Dzat HUU atau HUWA yang bernama  Allah.

Dalam sebuah thariqat sufi disebutkan bahwa “Huu” adalah bunyi nafas kita ketika ia naik atau menghiruf udara atau bernafas, ketika nafas kita turun berbunyi “Allah”. Oleh karena ini nafas yang masuk dan keluar adalah dzikir, dzikir ini disebut Dzikr Sirr atau Dzikir Rahasia. Ia disebut juga Dzikir Isyarat atau Dzikir Nafas. Oleh sebab itu Dzikir (Huu – Allah) makanan utama Sirr, oleh karenanya ia bersifat rahasia. Maka tidaklah sanggup lidah atau tidaklah sanggup lisan untuk menguraikan dzikir nafas ini, dan tidak ada kata – kata yang dapat melukiskannya. Setiap orang akan mengetahuinya sendiri, apabila ia telah mengalaminya. Nafas kita yang keluar masuk disaat kita tidur ataupun kita terjaga, ia tetap saja dzikir menyebut “Huu ....... (saat nafas kita masuk) dan berbunyi Allah saat nafas kita keluar. Sadar ataupun tidak  diri kita, ia tetap saja menyebut demikian. Itulah yang dinamakan oleh orang Shufi dengan nama “ NUR MUHAMMAD” (Nur yang selalu memuji atau selalu menyebut nama Tuhannya).

Aku kutif dalam sebuah Artikel “Padang,Sumbertoday” -Istilah martabat tujuh, tidak pernah dikenal pada masa Rasulullah, beliau tidak mengajarkan secara khusus. martabat tujuh didalam tasawuf, tetapi ia merupakan perkembangan dari ilmu tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Kedudukan ilmu ini sama halnya dengan mempelajari ilmu fiqh, ushul fiqh, filsafat, ilmu dirayah hadist, riwayah hadist, ilmu Alquran dan ilmu tafsir (ilmu-ilmu ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah secara khusus), akan tetapi ilmu- ilmu ini merupakan pembahasan yang mengacu kepada dasar yang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Ada beberapa hal yang menyebabkan ilmu-ilmu itu muncul.

Hadist Rasulullah, yang merupakan Qauli (ucapan), Fi’il (perbuatan) dan Taqriri (ketetapan), ditulis oleh para periwayat hadist secara sederhana, sehingga tidak semua orang mampu mengerti kedalamannya.

Dengan bahasa yang digunakan oleh Rasulullah banyak diantara sahabat yang bukan orang asli Arab setempat tidak mengerti maksudnya. Hal ini disebabkan gaya bahasa yang disampaikan terlalu tinggi balaghahnya (biasanya sering menggunakan bahasa perumpamaan), yang terasa sulit bagi kita untuk mengerti, akan tetapi pada saat itu para sahabat bisa langsung bertanya kepada Rasulullah apabila ada kalimat yang tidak bisa difahami.

Kadang persoalan juga muncul karena ada kata yang bersifat musytarak ( satu kata banyak arti ), sehingga sulit bagi generasi setelahnya untuk menentukan makna yang sebenarnya seperti kata lamastum (اَوْلَامَسْتُم النِّسَاءِ) (Qs: An Nisa:43) yang memiliki dua arti yaitu menyentuh dan bersetubuh.

Kemudian di bidang Hadist, ..banyak para periwayat tidak menggunakan bahasa yang redaksinya berasal dari Rasulullah. Setelah mereka melihat perilaku Rasulullah, lalu mereka menulis redaksi hadist tersebut dengan bahasanya sendiri, sedangkan kita tahu bahwa setiap periwayat tidak semuanya berasal dari orang-orang Arab setempat, akan tetapi ada yang berasal dari Yaman, Madinah, Persia dan kaum Baduy yang berasal dari pegunungan, yang kesemuanya itu memiliki dialek yang berbeda.

Oleh karena itu wajarlah hikmah itu muncul dengan adanya ilmu-ilmu seperti ilmu balaghah, ilmu Bayan, ilmu ushul Fiqh, ilmu Dirayah, Riwayah, mustalahul hadist, ilmu tauhid dll.

Dengan demikian kita boleh menerima apa yang datang dari gagasan ulama masyhur, selama tidak bertentangan dengan Alquran dan Al hadist. Salah satunya tentang ajaran Martabat Tujuh. Tetapi apabila kita tidak setuju dengan pendapat ulama tersebut, sebaiknya kita menjadikan ilmu tersebut sebagai wacana keilmuan Islam yang berkembang .

B. Mengenal dan Memahami Tiga Martabat Tentang Ketuhanan

Di dalam kitab Permata (Addaar al Nafiis) yang Indah disebutkan bahwa ada  tiga martabat tentang ketuhanan yaitu :

a.Martabat AHADIYAH diartikan dengan Keesaan dzat., b. Martabat WAHDAH yang diartikan dengan Keesaan Asma dan c. Martabat WAHIDIYAH diartikan dengan Keesaan Sifat dan Ap;al

Ajaran martabat tujuh di susun oleh Muhammad Ibn Fadhilah dalam kitabnya Al Tuhfah al Mursalah ila Ruhin-Nabi. Dalam kitab ini diterangkan bahwa Dzat Tuhan merupakan Wujud Mutlak, tidak dapat dipersepsikan oleh akal, perasaan, khayal dan indera.. Dzatullah sebagai aspek bathin segala yang maujud (ada), karena Tuhan meliputi segala sesuatu (Lihat surat Fushilat :54) dan untuk bisa memahami wujud Tuhan yang sebenarnya secara transenden harus setelah bertajalli sebanyak tujuh martabat yakni :

a. Pertama Martabat AHADYAH,

Yaitu martabat La Tayun dan Ithlaq. Ialah tahap yang belum mengenal individuasi, inilah martabat yang tersembunyi(kosong), karena belum ada ide-ide, dinamakan Dzat Mutlak.

TUHAN, tak seorangpun dapat meraih-Nya, bahkan nabi-nabi dan wali-walipun tidak. Para malaikat yang berdiri dekat Allah tidak dapat meraih hakikat Yang Maha Luhur.

Tak seorangpun mengetahui atau merasakan hakikat-Nya. Sifat-sifat dan nama-nama belum ada, sebuah manifestasi yang jelaspun belum ada. Hanya Dialah yang ada, nama-NYA ialah wujud maka “Dzat Yang Langgeng”, hakikat segala hakikat, ada NYA ialah kesepian atau kekosongan (kosong tapi ada)

Diantara semua martabat, tak satupun yang melebihi martabat ini yang bernama AHADYAH. Semua martabat lainnya berada dibawahnya.

1.MARTABAT  AHADIYAH

Martabat Ahadiyah diartikan Keesaan Dzat. Hukumnya “LAA TA’YIN” لَاتَعْيِنَ Artinya “Tiada ada sesuatu Wujud yang terdahulu adanya.” Oleh karenanya hanya di dinamakan AL HAQ  (اَلْحَقُّ)  artinya :”Keesaan Kesempornaan Semata-mata.” Pada Martabat ini belum punya Sifat-sifat, belum mempunya Nama. Martabat Ahadiyah adalah suatu tingkatan tentang ma’rifat kepada Tuhan yang Maha Kuasa, dimana pengertiannya hanya ” KUNHI DZAT” semata-mata yang ada. KUNHI DZAT   كُنْهِ ذَاتٍ  Yang ليس كمثله شيئ  LAISA  KAMISLIHI SYAI’UN, Maksudnya : “Tiada ada yang seumpamanya oleh sesuatu. (قيامه تعالى بنفسه)  artinya “Ia berdiri dengan dirinya sendiri.” Hadis Nabi Muhammad Saw :

وَقَوْلُهُ النبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَكَانَ اللهُ وَلَا شَيْئٌ مَعَهُ..الحديث

Artinya : “Allah itu adalah Esa tiada sesuatu beserta-Nya”. Pada keadaan yang demikian dinamakan pula “Penuh yang Tak Terbatas atau Kekosongan yang Berisi.” Pada martabat atau tingkatan ini belum ada apa-apa, ruang dan kosongpun belum ada, yang ada hanyalah si DIA  yaitu HUU atau HUWA, padahal kata-kata Dia itupun belum ada. Di tingkat inilah yang dinamakan :” QIYAMUHU TA;ALA BINAFSIH” (قِيَامُهُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ)

Maksudnya : “Si Dia berdiri dengan sendirinya.”  Hal in tidaklah terjangkau oleh pikiran manusia.

2.MARTABAT  WAHDAH

Kedua Martabat Wahdah yaitu bernama Martabat Ta’yun Awal ( awal kenyataan).

Pada tahap wahdah ini mulailah individuasi. Inilah kenyataan Muhammad yang tersembunyi di dalam rahasia Tuhan. Didalam cara-cara berada dzatNya. Semua kenyataan belum terpisah antara yang satu dengan yang lainnya, karena masih terikat satu sama lain.Antara ide yang satu belum ada perbedaan dengan ide yang lain, karena masih tersembunyi di dalam WAHDAH. Mereka masih terkumpul di dalam (kenyataan) Muhammad yang merupakan awal pemancaran cara-cara berada hakikat sejati.Yang dinamakan wahdah ialah hakikat Muhammad, semua hakikat masih berkumpul dalam martabat wahdah dan belum terpisah.Martabat wahdah ini dapat di ibaratkan dengan sebutir biji; batang, cabang-cabang dan daun-daunnya masih tersembunyi di dalam biji itu dan belum terpisah-pisah. Batang, cabang-cabang dan daun-daun melambangkan engkau, aku, mereka, sedangkan bijinya tunggal (wahdah) Masih ada perumpamaan lain, yaitu tinta dalam wadahnya. Semua huruf terkumpul di dalam tinta, huruf yang satu belum dibedakan dari huruf lain.Demikian juga dalam wahdah semua huruf, tuhan dan kita, sebelum terpisahkan  Dari tinta inilah segala sesuatu itu terjadi, gambar rumah, gambar gunung, gambar manusia , batu, angin dan bentuk-bentuk lainnya.Dan Tinta itu bukanlah yang menulis, akan tetapi Dialah yang menggerakkan, Yang Hidup, yang Kuasa, Yang Gagah, dengan demikian muncullah sifat-sifat siapa yang menggoreskan tinta itu.Bisa ditarik kesimpulan bahwa sifat bukan hakikat ketuhanan akan tetapi sifat adalah yang bersandar kepada Dzat Tuhan.Sesuatu yang bersandar kepada Dzat bukanlah Tuhan, kedudukannya sama halnya dengan tanaman, pohonan, gunung, surga dan neraka, karena semua muncul karena adanya Dzat yang Hidup, Dzat-lah Yang menggerakkan semua ini.Mengetahui Martabat ini disebut wahdah dan hakikat Nur Muhammad artinya cahaya yang penuh pujian Tuhan. Inilah permulaan segala sesuatu, sehingga Allah bisa disifati karena Ia yang menciptakan (Al Khaliq), Yang Memelihara (Al hafidz), Yang Perkasa (Al Jabbar), Yang Maha Kuat (Al qawwiyu), Yang Hidup (Al Hayyu) dst.

Sedangkan sifat itu sendiri bergantung kepada Dzat (tidak berdiri sendiri), oleh karena itu Islam melarang berhenti kepada sifat. Sifat itu bukan Dzat itu sendiri. dan untuk mengetahui Dzatullah harus meninggalkan sifat-Nya (mengembalikan kepada martabat pertama,  yaitu keadaaan hakikat Tuhan yang belum ada apa-apa) karena sifat merupakan sesuatu yang bergantung (membutuhkan sandaran) dan sifat Allah itu masih bisa dirasakan oleh makhluk-Nya seperti Ar Rahman (Pengasih) Ar Rahim (Penyayang), Al Qawiyyu ( Kuat) sedangkan sifat itu muncul karena persepsi sang hamba (inna dzanni abdi, Aku tergantung (persangkaan) persepsi hamba-hamba-KU) Kaum Hindu menyadari bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak bisa digambarkan dengan pikiran, tidak bisa diserupakan dengan yang lainnya. Islam menyempurnakannya dengan langsung kepada Dzatullah, tidak berhenti kepada sifat-Nya, yaitu dengan menafikan (mengabaikan) segala sesuatu kecuali Allah. Laa ilaaha illallah atau laa syaiun illallah ( tiada sesuatu kecuali Allah) juga terdapat dalam Surat Thaha:14 innanii Ana Allah, laa ilaaha illa ANA, fabudnii , sesungguhnya AKU ini Allah, tidak ada Tuhan selain AKU maka sembahlah AKU dan dirikanlah Shalat untuk Menyembah AKU !!Jelas dengan tegas bahwa Allah mengarahkan kita untuk menyembah Dzat- Nya bukan Nama-Nya bukan Sifat-Nya. Islam tidak mengenal perantara, seperti tercantum dalam Surat Al Anam 79 :Sesungguhnya aku hadapkan diriku kepada wajah Dzat Yang Menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (aku tidak melalui perantara siapapun).

Kemudian si Huwa atau Huu yaitu nama bagi Dzat Allah Swt yang sudah lengkap mmemiliki sifat-sifat siap sedia bersama dengan Dzat Allah sendiri. Kalau si Dia itu Qadim maka sifat-sifat-Nya juga Qadim. Tingkatan pengertian tentang Asma  (الأسماء)  dinamakan kata WAHDAH  (الوحدة)                     

Mustahil adanya kalau si Huwa ( Dia ) tidak punya nama. Seorang anak yang baru lahir pun sudah sedia dengan namanya sendiri, sebelum ia diberi nama oleh orang tuanya ayah – ibunya. Semua oarang tentu tahu dan berkata dengan spontan si “Bayi” telah lahir. Nama si Bayi yang inilah suatu nama sudah sedia atau ada pada dirinya.

Begitu juga pada tingkat Wahdah inilah si HUWA atau dibaca HUU yaitu Dzat telah berkata : إننى أنا الله INNANII ANALLAH  yang maksudnya  “Sesungguhnya Aku bernama Allah.”

Disini telah terurai nama-Nya (Munfashil)   المنفصل   yang sebenarnya.

Dalam Hadis Qudsi  Rasulullah Saw bersabda Allah Swt telah berfirman :

كُنْتُ كَنْزَا مُخْفِيًا فَاَحْبَبْتُ اَنْ اُعْرِفَ فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ لِيَعْرِفَنِىْ

Artinya : “Aku (Allah) adalah suatu perbandaharaan yang tersembunyi lalu Aku ingin agar dikenal maka Aku jadikan makhluk ( Nur Muhammad) agar dia mengenal ( berdzikir – menyebut ) kepada Aku.”

Pertanyaan : Pernahkah Nur Muhammad itu, dia lupa dengan Tuhannya ? Jawabnya : “Tidak pernah lupa dengan Tuhannya.” Kalau begitu sesuai dengan maksud hadis qudsi di atas, Nur itu selalu berdzikir menyebut Tuhannya.

Penyusun jelaskan disin dengan alasan bahwa janggal sekali bagi Pengamal Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah khususnya mereka tidak mengetahui asal diri mereka sendiri yang sebenarnya. Yakni Huu bunyi nafas kita hirup atau masuk (si Huu itu berada di Alam Sugra/ Batang Tubuh kita) dan pada waktu Huu/nafas kita keluar dari tubuh berbunyi “Allah.” Maka (si Huu itu berada di Alam Kubra) Ringkasnya Keluar dan Masuk Nafas itulah yang dinamakan NUR MUHAMMAD. Kalau boleh dikata : Tatkala nafas kita masuk atau kita hiruf ketika bernafas berbunyi “Huu.” Seolah olah dzat itu berkata : Akulah Dzat WAJIBAL WUJUD yang tersembunyi,  tatkala Nafas kita turun atau kita.

C. MENGENAL 20 SIFAT YANG WAJIB BAGI ALLAH AZZA WAJALA

3.MARTABAT  WAHIDIYAH

Martabat Tayun Kedua, atau WAHIDIYAH.  yaitu kesatuan yang mengandung kejamakan, tiap-tiap bagian telah jelas batas-batasnya, sebagai hakikat manusia. Ibarat ilmu Tuhan terhadap segala sesuatu secara terperinci, sebagian terpisah dengan yang lain. Ketiga martabat tersebut bersifat BATHIN dan ILAHI, terjadi semenjak dari qadim, urutan kejadian dari ketiganya bersifat akal, bukan perbedaan jaman, dari ketiga martabat bathin muncullah tiga martabat lahir.

Sebagaimana kita ketahui bahwa  Allah adalah nama Dzat HUWA atau Huu                  أسم الذات هو  Allah adalah nama dari Tuhan kita.  Allah Swt mempunyai sifat-sifat yang Wajib dan yang Mustahil dan juga sifat yang Harus. Kita diwajibkan untuk mengetahuinya dan mengimaninya.

Adapun sifat-sifat yang wajib bagi Allah itu ada 20 (dua puluh) dan 20 (dua puluh sifat) yang mustahil dan juga satu (1) sifat yang harus. Sifat-sifat Allah Swt dimaksud adalah   (صفة وجود)

1.Sifat Wujud  Allah Ta’ala.  Wajib Allah Ta’ala bersifat ADA, dan mustahil Ia bersifat ADAM   ادم  yakni Tiada (tidak Ada). Adapun dalil sifat wujud, Firman Allah Ta’ala :

اللهُ الَّذِىْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا    السجدة -4

hembuskan berbunyi : “ALLAH.” Disini seakan akan Dzat Huu  هو  itu berkata : “Aku adalah Dzat yang bernama  ALLAH.”

Sedangkan pada tingkat WAHDAH  ini telah nyata Huu   dzat yang bernama Allah dengan sifat-sifat-Nya dari  Ar Rahman   الرَّحْمَان    هُوَ      s.d   As- Shabur الصبور       al Asma’ul Husna, dari sinilah lahir kalam Qadim.

Artinya : Allah lah yang menjadikan tujuh petala langit dan tujuh petala bumi dan apa-apa diantara keduanya. QS, Assajadah 4

Satu sifat  Allah  Swt ini dinamakan sifat Nafsiah   صقة نفسبة

2.Sifat Qidam  صفة  قدم  yaitu Sedia (ADA) tidak ada pangkalnya. Mustahil adanya Allah itu didahului oleh Hudus  صفة حدوث   yaitu Baru atau Hanyar.     Seperti Firman Allah pada surat al Hadid yang berbunyi :                            

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْأخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ    الحديد  -3

Artinya : Dia ( Allah )  Dzat yang  Awal yang tiada permulaannya dan Dia ( Allah )  Dzat yang  yang Akhir tiada ujung hingganya, dan Dia ( Allah )  Dzat yang  Zahir dan Dia ( Allah )  Dzat yang  Tersmbunyi.

3.Sifat Baqaa  صفة بقاء     yaitu Kekal Dzat Allah Ta’ala, Mustahil Dia bersiaf Fana atau lenyap atau rusak.  صفة الفناء  Dalilnya Firman Allah yang berbunyi :            

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ    حما سجدة -27

Artinya : Dan Kekal Dzat Tuhanmu ( Ya Muhammad )  yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. QS. HM Sajadah ayat 27.

4.Sifat MUKHALAFATUHU LILHAWAADIST صفة مخالته للحوادث

Yaitu Dzat Allah itu berbeda atau  berlainan dengan semua yang baharu yaitu makhluk dan Mustahil  Dzat itu MUMAATSALATUHU  LILHAWADITS    صفة مماثلته للحوادث

Yaitu menyerupai Dzat itu dengan makhluknya. Seperti Firman Allah pada surat al Hadid yang berbunyi :  

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ   الشورى  -11

Artinya : Tiada satupun yang dapat menyerupai Dzat Allah  Swt oleh sesuatu dan Dia Maha Mendengar dan lagi Maha Melihat. QS. As Syura ayat  11

5.Siafat QIYAAMUHU TA’ALA BINAFSIH صفة قيامه  تعالى بنفسه  Yaitu Dzat Allah Ta’ala telah berdiri dengan sendirinya.Mustahil Dzat  itu  yakni QIYAAMUHU BIGHAIRI  المستحل  الذات قيامه بغيره    Yaitu mustahil oleh Dzat itu berdiri dengan yang lainnya. Dalilnya Firman Allah Ta’ala :

إِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ

Artinya : “Bahwasanya Allah Ta’ala itu Maha kaya ( tidak bergantung ) kepada sekalian alam.”

6.Sifat Wahdaniyat yaitu Esa Dzat Allah Ta’ala   صفة  الوحدنية       Esa Asma Nya, Esa Siafat dan Af;alNya. Dalilnya firman Allah Swt pada surat al Ikhlash -1 berbunyi :

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ    الإخلاص  -1

Maksudnya : “Katakanlah olehmu, wahai Muhammad bahwa Dzat Allah itu tunggal atau Esa.”

Dari nomor dua (2) sampai dengan nomor 6 ini dinamakan Sifat Salbiyah yakni 5 sifat.

7.Sifat QUDRAT   صفة قدرة      Artinya Kuasa allah Ta’ala itu, mustahi Dia bersifat AJZUN  عجز  Artinya Dia lemah atau tak berdaya. Dalilnya Firman Allah Ta’ala :

إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ

Artinya : “Sesungguhnya Allah itu berkuasa atas tiap-tiap sesuatu.”

8.Sifat IRADAT   صفة الإرادة    Maksudnya Berkehendak oleh Allah Ta’ala, mustahil Dia KARAHAH  الكراهة   atau Banci atau Tidak Berkehendak. Dalilnya firman Allah Ta’ala

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنَ   يس -83

Artinya : Bahwasanya pekerjaan Allah Ta’ala itu, apabila Ia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata “JADI”  maka JADILAH IA.

9.Sifat ILMU  صفة علم   Artinya Tahu Allah Ta’ala, mustahil Allah itu bersifat JAHIL    الجهل   yaitu Bebal atau Tidak tahu.  Adapun dalil tentang sifat  Ilmu ini  firman Allah Ta’ala        :

 وَقَالَ تَعَالَى :  وَاللهُ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ

Artinya :” Allah mengetahui dengan segala sesuatu.”

10.Sifat HAYAT صفة الحيات Artinya : Hidup Allah Ta’ala atau Allah Ta’ala bersifat Hidup. Mustahil Dia MAUTUN    الموت    maksudnya : “Mati Allah Ta’ala.”

 وَقَالَ تَعَالَى :  وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِىْ لَايَمُوْتُ

Artinya : “ Hendaklah kamu tawakkal atau berserah diri kepada Tuhan yang Hidup.

11.Sifat SAMA Artinya :”Mendengar Allah Ta’ala.” Mustahil Dia SHAMAMUN  الصمم  maksudnya : “Dia Tuli atau Tidak Mendengar.” Dalilnya firman Allah Ta’ala berbunyi :

 وَقَالَ تَعَالَى :   وَاللهُ سَمِيْعٌ  عَلِيْمٌ

Artinya : “Dia Allah Ta’ala yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

12.Sifat BASHAR  صفة البصر  Artinya : “Melihat oleh Allah Ta’ala atau Allah Ta’ala bersifat melihat.” Mustahil Dia bersifat UMYUN  العمي  yaitu Buta  atau tidak Melihat. Dalilnya firman Allah Ta’ala :

وَقَالَ تَعَالَى :   إِنَّ اللهَ بَصِيْرٌ بِالْعِبَادِ

Artinya : “sesungguhnya Allah Ta’ala melihat dengan semua hamba-Nya.”

13.Sifat KALAM (صفة الكلام)   Artinya : “Berkata-kata Allah Ta’ala maka mustahil Dia bersifat BUKMUN  (البكم) artinya : “Kelu” atau Tidak bisa berkata-kata. Dalilnya firman Allah Ta’ala :

وَقَالَ تَعَالَى :  وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسَى  تَكْلِيْمًا   النساء -164

Artinya : “Allah Ta’ala telah berkata-kata kepada Nabi Musa Alaihissalam.” QS. An Nisa 164.

Dapat disimpulkan bahwa sifat Allah Ta’ala yang bernama Kudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama Bashar dan Kalam tersebut dinamakan :   SIFAT   MA’AANI      (صفة المعانى)     صفة المعانى)   Sifat ma’aani yang tujuh macam ini dinamakan juga ROH IDHAFI      ,  روح الإضافى Dia adalah Nyawa MUHAMMAD, atau disebut juga dengan  HAKEKAT MUHAMMAD    ATAU MARTABAT  WAHDAH.  Jadi Roh Idhafi itu adalah Nyawa Muhammad dan Nyawanya bagi Rohani.

14.Sifat  QAADIRUN صفة قادر  Artinya : “Yang Kuasa Allah Ta’ala.”

Mustahil Aajizun    مستحل أصم Artinya : “Lemah.”

15.Sifat  MURIIDUN صفة مريد  Artinya : “Yang Berkehendak Allah Ta’ala.”

Mustahil Kaarihun   مستحل كاره Artinya : “Banci atau tidak Berkehendak.”

16.Sifat  ‘AALIMUN  صفة عالم Artinya : “Yang Mengetahui Allah Ta’ala.” Mustahil Jahilun    جاهل مستحل  Artinya : “Bodoh atau tidak Tahu.”

17.Sifat  HAYYUN  صفة حي   Artinya : “Yang Hidup  Allah Ta’ala.”   Mustahil  Mayyitun  مستحل ميت     Artinya : “Mati atau Bangkai.”

18.Sifat SAMI’IUN    (صفة سميع) Artinya : “Yang Mendengar Allah Ta’ala.”

Mustahil Ashammun ( مستحل أصم)  Artinya : “Tuli atau Tidak Mendengar.”

19.Sifat BASHIIRUN (صفة بصي ) Artinya : “Yang Melihat  Allah Ta’ala.”

A’maa ( مستحل أعمى ) Artinya : “Buta.”

20.Sifat MUTKALLIMUN  ( صفة متكلم ) Artinya : “Yang Berkata-kata  Allah Ta’ala.”

Mustahil  Abkamu  (مستحل أبكم) Artinya : “Kelu.”

Sifat Allah  dari sifat QAADIRUN, MURIIDUN, ‘AALIMUN, HAYYUN, SAMI’IUN, BASHIIRUN dan MUTKALLIMUN  dinamakan sifat Ma’anawiyah ( صفة معانوية ) dan sifat ini disebut ROHANI  INSANI (روحانى إنساى) Nyawa Rohani Insani itu (atau disebut Hati Kecil Manusia) selalu berhubungan dan terikat atau tidak terlepas dengan Tuhannya, dan ia selalu mengikuti dan mentaati titah atau perintah Tuhannya.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلرُّوْحَانِيُّ تَعَلَّقُ اِلَى الرُّوْحِ الْإِضَافِىِّ

Maksudnya : “Roh Insani itu adalah saling atau selalu berhubungan terikat kepada Roh Idhafi.’

الرُّوْحُ الْإِضَافِىُّ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَ وَهُوَ نَفْسُ مُحًمَّدٍ.

 Maksudnya : “Roh Idhafi itu selalu  bersama  Allah Ajja Wajalla dan Dia itu (Roh Idhafi) adalah Nyawa atau Nafasnya MUHAMMAD.”

Allah adalah nama dari ismu Dzat (إسم الذات هو) dan MUHAMMAD (Yang memuji) sebagai sifat. Yang dimaksud Dzat Allah (ذات الله) adalah Dzat yang Qadim dan itu dalah Wujud Idhafi (الوجود الإضافى)  atau Roh Rabbani.  Oleh karenanya Wujud Idhafi itu, Dia kuasa mematikan dan kuasa  menghidupkan, Dia kuasa mengadakan dan meniadakan sesuatu bagi makhlukn-Nya. Oleh karenanya Dzatullah atau KUNHI DZAT itu dinamai  WUJUD  IDHAFI, sebab  Dia tersandar kepada Alam Halus dan Alam Besar atau Alam Shaghir dan Alam Kabiir atau juga Alam Material dan Alam Non Material. Maksudnya Dia berada atau meliputi seluruh Alam, Dia tidaklah diluar dan tidak pula di dalam Alam.

Adapun yang dimaksudkan Wujud Idhafi itu ada tujuh  macam    :

1.Martabat Ahadiyah  (مرتبة احدية)

2.Martabat Wahdah  (مرتبة وحدة)

3.Martabat  Wahidiyah (مرابة واحدية)

4.Alam Arwah  (عالم اَرْوَاح)

Keempat MARTABAT ALAM ARWAH Merupakan aspek lahir yang masih dalam bentuk mujarrad dan murni. ALAM ROH Pada peringkat ke empat di dalam Empunya Diri, Dia menyatakan, mengolahkan diriNya untuk membentuk satu batang tubuh halus yang dinamakan roh. Jadi pada peringkat ini dinamakan Martabat Roh. pada Alam Roh Tubuh ini merupakan tubuh batin hakiki manusia dimana batin ini sudah nyata Zatnya, Sifatnya dan Afaalnya. Ianya menjadi sempurna, cukup lengkap seluruh anggota anggota batinnya, tida cacat, tiada cela dan keadaan ini dinamakan (Alam Khorijah) iaitu Nyata lagi zahir pada hakiki daripada Ilmu Allah. Tubuh ini dinamakan ia Jisim Latiff yaitu satu batang tubuh yang liut lagi halus. Ianya tidak akan mengalami cacat cela dan tidak mengalami suka, duka, sakit, menangis, asyik dan hancur binasa dan inilah yang dinamakan KholidTullah. Pada martabat ini terkandung ia di dalam Walam Yalidd. Dan berdirilah ia dengan diri tajalli Allah dan hiduplah ia buat selama-lamanya. Inilah yang dinamakan keadaan Tubuh Hakikat Insan yang mempunyai awal tiada kesudahannya, dialah yang sebenarnyanya dinamakan Diri Nyata Hakiki Rahsia Allah dalam Diri Manusia.

5.Alam  Mitsal  (عالم مثال)

Kelima Martabat Alam Mitsal, ibarat sesuatu yang telah tersusun dari bagian-bagian, tetapi masih bersifat halus, tidak dapat dipisah- pisahkan. ALAM MITSAL

Alam Misal adalah peringkat ke lima dalam proses pentajallian Empunya Diri dalam menyatakan rahsia diriNya untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan dirinya Allah S.W.T., terus menyatakan diriNya melalui diri rahsiaNya dengan lebih nyata dengan membawa diri rahsiaNya untuk di kandung pula oleh bapa iaitu dinamakan Alam Misal.Untuk menjelaskan lagi Alam Misal ini adalah dimana unsur rohani iaitu diri rahsia Allah belum bercamtum dengan badan kebendaan.Alam misal jenis ini berada di Alam Malakut. Ia merupakan peralihan daripada alam Arwah (alam Roh) menuju ke alam Nasut maka itu dinamakan ia Alam Misal di mana proses peryataan ini ,pengujudan Allah pada martabat ini belum zahir, tetapi Nyata dalam tidak Nyata.Diri rahsia Allah pada martabat Wujud Allah ini mulai di tajallikan kepada ubun ubun bapa, iaitu permidahan dari alam roh ke alam Bapa (misal).Alam Misal ini terkandung ia di dalam Walam yakullahu dalam surah Al-Ikhlas iaitu dalam keadaan tidak boleh di bagaikan. Dan seterusnya menjadi DI, Mada, Madzi, Mani yang kemudiannya di salurkan ke satu tempat yang bersekutu di antara diri rahsia batin (roh) dengan diri kasar Hakiki di dalam tempat yang dinamakan rahim ibu.Maka terbentuklah apa yang di katakan Maknikam ketika berlakunya bersetubuhan diantara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapa)Perlu diingat tubuh rahsia pada masa ini tetap hidup sebagaimana awalnya tetapi di dalam keadaan rupa yang elok dan tidak binasa dan belum lagi zahir. Dan ia tetap hidup tidak mengenal ia akan mati.

6.Alam  Ajsam  (عالم اَجْسَام)

Keenam Martabat Alam ASJAM (Tubuh) Yakni ibarat sesuatu dalam keadaan tersusun secara marteriil telah menerima pemisahan dan dapat dibagi- bagi. Yaitu telah terukur tebal tipisnya. ALAM AJSAM Pada peringkat ke enam, selepas sahaja rahsia diri Allah pada Alam Misal yang di kandung oleh bapa , maka  berpindah pula diri rahsia ini melalui Mani Bapa ke dalam Rahim Ibu dan inilah dinamakan Alam Ijsan. Pada martabat ini dinamakan ia pada martabat Inssanul Kamil, yaitu batang diri rahsia Allah telahpun diKamilkan dengan kata diri manusia, dan akhirnya ia menjadi Kamilul Kamil. yaitu menjadi satu pada zahirnya kedua-dua badan rohani dan jasmani. dan kemudian lahirlah seoarang insan melalui faraj ibu dan sesungguhnya martabat kanak kanak yang baru dilahirkan itu adalah yang paling suci yang dinamakan Innsanul Kamil. Pada martabat ini terkandung ia di dalam Kuffuan iaitu bersekutu dalam keadaan Kamilul Kamil dan nyawa pun di masukkan dalam tubuh manusia.Selepas cukup tempuhnya dan ketikanya maka diri rahsia Allah yang menjadi Kamilul Kamil itu di lahirkan dari perut ibunya, maka di saat ini sampailah ia Martabat Alam Insan.

7.Alam  Insaan   (عالم إنسان)

Ketujuh Martabat Alam INSAN, mencakup segala martabat diatasnya, sehingga dalam manusia terkumpul tiga martabat yang sifat bathin dan tiga martabat lahir. ALAM INSAN Pada alam ke tujuh iaitu alam Insan ini terkandung ia di dalam Ahad iaitu sa (satu). Di dalam keadaan ini, maka berkumpullah seluruh proses pengujudan dan peryataan diri rahsia Allah S.W.T. di dalam tubuh badan Insan yang mulai bernafas dan di lahirkan ke Alam Maya (Dunia) yang Fana ini. Maka pada alam Insan ini dapatlah di katakan satu alam yang mengumpul seluruh proses pentajallian diri rahsia Allah dan pengumpulan seluruh alam-alam yang di tempuhi dari satu peringkat ke satu peringkat dan dari satu martbat ke satu martabat. Oleh kerana ia merupakan satu perkumpulan seluruh alam alam lain, maka mulai alam maya yang fana ini, bermulalah tugas manusia untuk menggembalikan balik diri rahsia Allah itu kepada Tuan Empunya Diri dan proses penyerahan kembali rahsia Allah ini hendaklah bermulah dari alam Maya ini lantaran itu persiapan untuk balik kembali asalnya mula kembali mu semula hendaklah disegerakan tanpa berlengah lengah lagi.

Maksudkan Wujud Idhafi yaitu bayang-bayang yang ada atau bayangan yang tampak terlihat dalam Cermin, sebab tamtsil bagi Allah Ta’ala itu adalah ALAM, sedangkan Hakekat Alam itu sendiri adalah MANUSIA.

D. MENGENAL 4 SIFAT YANG WAJIB BAGI RASULULLAH SAW

ADAPUN  sifat yang HARUS pada Haq Allah Ta’ala yaitu       :

Sifat JAAIJUN  صفة جائز  Artinya : “Yang Harus bagi  Allah Ta’ala.” Atau bagi Allah Ta’ala segala sesuatu itu dihukumkan HARUS  saja.   Yakni pada hak Allah Ta’al itu adalah :

 فِعْلُ كُلِّ مُمْكِنٍ  أَوْ تَرْكِهِ

Maksudnya :|” Memperbuat Dia tiap-tiap yang mungkin atau  meninggalkannya,”  Dalilnya firman Allah Ta’ala Surat al Qashash ayat 68 yang berbunyi :

 وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ  القصص -68

Dan Tuhanmu (ya Muhammad) menjadikan Dia akan sesuatu yang dikehendaki-Nya.”        :

Kesimpulannya Allah Ta’ala itu  punya 20 siafat yang Wajib, dan 20 sifat yang Mustahil dan 1 sifat yang Harus, (20 wjb + 20 musthl + 1 hrs = 41 Aqaid. Ada 4 sifat  Nabi dan Rasul yang wajib dan 4 sifat  Nabi dan Rasul yang mustahil dan 1 yang Harus bagi  Nabi dan Rasul = 9 Aqaid.Kalau kita jumlahkan dengan  ditambah 9 sifat Rasul  maka  =20+20+1+4+4+1= 50 Aqaid yang wajib kita Imani atau kita yakini.

Adapun sifat Rasul yang sebilan dimaksud adalah sebagai berikut :

  1. Sifat wajib bagi  Rasulullah pertama adalah SHIDDIQ (صديق) Artinya Selalu Benar, Mustahil bersifat KIDZIB (كذب) Artinya “Berdusta”.
  2. Sifat wajib bagi  Rasulullah kedua adalah AMANAH (أمانه) Artinya “Terpercaya”, Mustahil bersifat KHIYANAT (خيانة) Artinya “Ingkar janji”.
  3. Sifat wajib bagi  Rasulullah ketiga adalah TABLIGH (تبليغ) Artinya “Menyempaikan”, Mustahil bersifat KITMAN (كتمان) Artinya “Menyembunyikan”.
  4. Sifat wajib bagi  Rasulullah keempat adalah FATHANAH (فطانة) Artinya Cerdas Jenius, Mustahil bersifat BALADAH (بلادة) Artinya “Bodoh”.
  5. Ada Satu sifat yang harus bagi  Rasulullah Saw adalah berperangai/ bersifat seperti Manusia biasa, tidur, makan, beristeri dllnya.

     Pengamal Thariqat al Qaum al Junaidiyah diwajibkan mengikuti sifat-sifat Rasul Saw  ini seperti Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathanah dan juga sifat lawannya.Agar kita benar-benar menjadi Ummat Rasulullah Saw yang sempurna dan diakui oleh Rasulullah sebagai Ummatnya.

Allah Ta’ala mengangkat beberapa orang laki-laki yang berpangkat Nabi Alaihissalam berjumlah Seratus Dua Puluh Empat  Ribu  (124.000) orang Nabi, dan yang berpangkat Rasul Alaihissalam berjumlah Tiga Ratus Tiga Belas (313) Orang. Sedangkan yang berpangkat Nabi dan Rasul  ada Dua Puluh Lima (25) orang yaitu : 1. Nabi Adam, 2.Nabi Ideris, 3.Nabi Nuh, 4. Nabi Hud, 5. Nabi Shalih, 6. Nabi Ibrahim, 7. Nabi Luth, 8.Nabi Isma’il, 9. Nabi Ishaq, 10.Ya’kub, 11. Yusuf, 12. Nabi Ayyub, 13.Nabi Syu’aib, 14.Nabi Harun,  15.Nabi Musa, 16. Nabi Dzulkifli, 17. Nabi Daud, 18. Nabi Sulaiman, 19.Nabi Ilyas, 20.Nabi Ilyasa, 21. Nabi Yunus, 22. Nabi Zakaria, 23.Nabi Yahya, 24. Nabi Isa dan 25. Nabi Besar Muhammad Saw.

وَالرَّسُوْلُ مِنَ الْبَشَرِ ذَكَرٌ حُرٌّ اُوْحِيَ اِلَيْهِ بِشَرْعٍ وَاُمِرَ بِتَبْلِيْغِهِ وَانْ لَمْ يَكُنْ لَهُ كِتَابٌ وَلَا نُسَخٌ كَيُوْشَعَ عَلَيْهِ السَّلَامُ, فَاِنْ لَمْ يُؤْمَرْ بِالتَّبْلِيْغِ فَنَبِيٌّ, وَالرَّسُوْلُ اَفْضَلُ مِنَ النَّبِيِّ اِجْمَاعًا(1) فتح معين ترجامة هل 6.

Artinya : Rasul ialah laki-laki merdeka yang diberi wahyu berupa hukum syari’at dan Ia diperintahkan agar menyampaikan syari’at hokum itu kepada umatnya. Walaupun tidak mendapat Kitab dan Naskah/lampiran  sebagaimana Yusya’a alaihis salam. Jika laki-laki tersebut tidak diperintahkan menyampaikannya maka dia disebut Nabi, bukan Rasul. Rasul lebih utama dari pada Nabi, menurut Ijma Ulama.

وَصَحَّ خَبَرٌ : اَنَّ عَدَدَ الْاَنْبِيَاْءِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ مِائَةَ اَلْفٍ وَاَرْبَعَةٌ وَعِشْرُوْنَ اَلْفًا وَ اِنَّ عَدَدَ الرُّسُلِ ثَلَاثُمِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ(2) فتح معين ترجامة هل 6

Artinya : Adalah Sah khabar : Sesungguhnya jumlah Para Nabi alaihis salam adalah 124.000  orang, dan jumlah Rasul alaihis salam adalah 313 Orang.

Adapun bagi Nabi Muhammad Saw  itu ada mempunyai nama-nama  Dua Ratus Satu ( 201) atau 105 nama, nama-nama  Nabi Muhammad Saw  tersebut Penyusun Umdatul Hasanah tulis dan ditempatkan pada BAB  al Aurat Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah.


E. MENGENAL SANAD SILSILAH THARIQAT AL JUAIDIYYAH

1.Pengertian Sanad

Pengertian sanad secara itimologi /bahasa. Kata sanad berasal dari bahasa Arab, sanad bermakna lereng bukit atau sesuatu yang dibuat sandaran.

(سَنَدَ – يَسْنُدُ – سُنُوْدٌ او سَنَدٌ)

سَنَدٌ bermakna : tempat bersandar atau pertalian(1).

Adapun pengertian istilah  kata sanad semakna dengan kata silsilah adalah rentetan mata rantai matan atau redaksi suatu informasi yang terdiri dari beberapa orang yang meriwayatkan yang bersambung-sambung.

Sanad adalah silsilah atau mata rantai yang menyambungkan dan menghubungkan sesuatu yang terkait dan bertumpu kepada sesuatu yang lain. Dalam kacamata tasawuf, sanad keilmuan, amalan dzikir dan ke-thariqatan adalah bersambungnya ikatan bathin kepada guru-guru dan mursyid.Jadi, dalam sanad ini, terkandung aspek muwashalah (مُوَاصَلَة yakni hubungan dan ketersambungan) satu pihak dengan pihak yang lain, akibat mengambil dan memberi. Sistem sanad merupakan salah satu mekanisme pencarian ilmu dan pengetahuan yang sempurna. Karena setiap pengetahuan yang dipindahkan itu dapat dipertanggungjawabkan otensitas dan keabsahannya melalui rantaian periwayatan setiap perawi. (2) Adapun pengertian istilah  kata sanad semakna dengan kata silsilah adalah rentetan mata rantai matan atau redaksi suatu informasi yang terdiri dari beberapa orang yang meriwayatkan yang bersambung-sambung.

Menurut Artikel Sabilus Salikin bahwa “Sanad” adalah mata rantai orang-orang yang membawa satu disiplin ilmu (سِلْسِلَةُ الرِّجَال=silsilah al-rijâl). Mata rantai ini terus bersambung satu sama lain hingga kepada pembawa awal ilmu-ilmu itu sendiri yaitu Rasulullah Saw. Integritas sanad dengan ilmu-ilmu Islam tidak dapat terpisahkan, satu paket. Seluruh ilmu Islam memiliki sanad, yang menjamin keberlangsungan dan kemurnian ajaran sesuai maksud pembuat syariat, Allah Swt dan Rasul. Di antara sebab “kebalnya” ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah Saw dari berbagai upaya untuk merusaknya adalah karena keberadaan sanad.

Hal ini berbeda dengan ajaran-ajaran dari  nabi-nabi sebelum Muhammad Saw. Adanya berbagai perubahan pada ajaran mereka, bahkan mungkin hingga terjadi pertentangan ajaran antara satu masa dengan masa lainnya setelah ditinggal oleh para nabi itu, karena tidak memiliki sanad. Karena itu para ulama menyatakan bahwa sanad adalah salah satu “keistimewaaan” yang dikaruniakan oleh Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw, yang tidak dikaruniakan kepada umat-umat nabi sebelumnya. Dengan jaminan sanad ini pula kelak kemurnian ajaran-ajaran Rasulullah SAW akan terus berlangsung hingga datang hari kiamat.

Tentang pentingnya sanad, Imâm Ibn Sirin, ulama terkemuka dari kalangan tabi’in, berkata:

(إنّ هَذَا اْلعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي مُقَدِّمَةِ الصّحِيْحِ)

“Sesungguhnya ilmu agama ini adalah agama, maka lihatkan oleh kalian dari manakah kalian mengambil agama kalian”. (Diriwayatkan oleh Imâm Muslim dalam muqaddimah kitab Shahîh-nya). Imâm ‘Abdullâh ibn al-Mubarak berkata;

اَلْإِسْنَادُ مِنَ الدِّيْنِ لَوْلاَ الإسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad adalah bagian dari agama, jika bukan karena sanad maka setiap orang benar-benar akan berkata tentang urusan agama terhadap apapun yang ia inginkan”.(3).

2. Sanad Thariqat

Sanad thariqat adalah mata rantai silsilah guru (mursyid) yang bersambung tanpa putus, menghubungkan seorang pengikut (salik) dengan Nabi Muhammad Saw. Ini adalah bukti otentisitas ajaran taSawuf dan legitimasi seorang mursyid untuk membimbing murid. Thariqat yang diakui umumnya memiliki sanad yang jelas (mu'tabarah) hingga Rasulullah.

Komponen Utama dan Fungsi Sanad Thariqat:

Rantai Ruhiyyah: Silsilah thariqat berfungsi seperti sanad hadis, menjaga keaslian amaliah dzikir dan wirid agar tidak menyimpang dari ajaran aslinya.

Keabsahan Mursyid: Sanad membuktikan bahwa seorang mursyid sah secara keilmuan dan spiritual untuk mengajarkan thariqat

Tujuan Sanad:

Sanad bertujuan menjamin bahwa ajaran yang diamalkan adalah warisan otentik dari Rasulullah SAW, sahabat, tabiin, dan ulama saleh.

Jenis: Ada thariqat yang mu'tabarah (bersanad shahih) dan ghairu mu'tabarah (sanadnya terputus atau tidak jelas).

Urgensi (Urgensi adalah keharusan yang mendesak atau hal yang sangat penting dan memerlukan penanganan segera). Silsilah ini krusial untuk menjaga legitimasi spiritual dan menghindari penyimpangan dalam praktik taSawuf.

Keterangan Krusial adalah kata sifat yang berarti sangat penting, menentukan, gawat, atau genting. Istilah ini merujuk pada situasi yang menentukan hasil akhir (seringkali dalam situasi kritis/krisis) atau faktor yang esensial untuk memecahkan suatu masalah.

Keterangan Legitimasi adalah pengakuan, penerimaan, dan pembenaran oleh masyarakat terhadap hak seorang pemimpin atau pemerintah untuk memegang kekuasaan dan membuat keputusan. Ini adalah fondasi penting yang mengubah kekuasaan fisik menjadi otoritas yang sah, menciptakan stabilitas, dan didasarkan pada tradisi, karisma, atau prosedur hokum.

Transmisi adalah komponen sistem pemindah tenaga pada mesin yang berfungsi mengatur kecepatan, momen (torsi), dan tenaga putar dari mesin ke roda. Transmisi menyesuaikan putaran mesin dengan kondisi jalan (menanjak/cepat). Jenis utamanya adalah transmisi manual (menggunakan kopling) dan otomatis. 

3. Silsilah Thariqat

Silsilah thariqat adalah rantai transmisi spiritual (sanad) yang menghubungkan ajaran seorang guru (Mursyid) secara berkesinambungan kepada Nabi Muhammad Saw. Ini berfungsi sebagai bukti keotentikan (mu'tabarah) amaliah sufi, yang umumnya berpusat pada tokoh pendiri seperti Syekh  Abul Qasim al Junaidi

Surat Al-Jin Ayat 16

وَأَلَّوِ ٱسْتَقَٰمُوا۟ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَٰهُم مَّآءً غَدَقًا

Artinya: Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (QS. Al Jinn 16)

Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia

16-17. Bila orang-orang kafir dari kalangan jin dan manusia berjalan di atas jalan Islam dan tidak menyimpang darinya, niscaya Kami menurunkan kepada mereka hujan yang deras, dan Kami lapangkan rizki bagi mereka di dunia untuk menguji mereka, bagaimana mereka mensyukuri nikmat Allah kepada mereka? Barangsiapa berpaling dari Tuhannya dengan tidak menaatiNya, tidak mendengar dan merenungkan al-Quran, serta tidak mengamalkannya, niscaya Allah memasukannya ke dalam siksa yang besar dan berat.

Berdasarkan QS. Al Jinn 16, ajaran Thariqah adalah ajaran agama Islam, bukan ajaran Ulama' Salaf (Ulama' pertengahan setelah para sahabat), sebagaimana anggapan sebagian kecil ummat Islam. Masalah Dzikrulloh telah di contohkan atau di ajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, sebagaimana tersebut dalam Al Qur-an :

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا ؕ‏ ٢١

Artinya "Sungguh ada bagi kamu di dalam diri Rasulullah itu contoh yang bagus, bagi siapa saja yang ingin bertemu Allah dan hari akhir, maka dzikirlah kepada Allah yang sebanya banyaknya" (QS. Al Ahzaab ayat 21)

Ajaran Thariqah atau Dzikrulloh ini adalah ajaran yang bersifat khusus, artinya tidak akan di berikan atau di ajarkan kepada siapa saja, selama orang itu tidak memintanya. Oleh sebab itu untuk menerima ajaran Thoriqoh atau Dzikrulloh ini harus memiliki Bai'at, sebagaimana tersebut dalam Al Qur_an surat Al Fath ayat 10

Innal ladziina yubaayi'uunaka innamaa yubaayi'uunallooha,...

"Sesungguhnya orang orang yang Bai'at kepadmu (Muhammad) sesungguhnya mereka Bai'at kepada Allah" (QS. Al Fath: 10)

Bai'at sebagai bentuk proses Ijab Kobul, ajaran Thariqah harus melalui pengajaran dan pengesahan Ijab Kobul antara seorang guru (Mursyid atau wakil yang di tunjuk) dengan murid, di sebut Bai'at. Bai'at bukan sumpah setia kepada guru atau lembaga Thariqah atau Organisasinya. Pelajaran Thariqah tanpa melalui proses Bai'at, maka Barokah Ilmu khusus dari Rosululloh Saw melalui guru-guru secara berantai, tidak dapat mengalir.

Salah satu syarat ber-thariqah, adalah bai'at dari seorang Mursyid yang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW, yang mana mursyid tersebut telah memiliki empat syarat Thariqah sbb:

1. Sanad-nya silsilahnya muktabaroh, artinya tidak putus shahih sampai kepada Baginda Nabi Saw .Ath-Thoriqotil-Baidlo’ yakni Thoriqoh yang bersih yang muttasil sanadnya sampai Rasulillah SAW

2.Bai'at, melalui guru mursyid yang memilki otoritas dari guru mursyidnya sambung menyambung sampai kepada Baginda Nabi Saw.

3. Tidak didapat melalui mimpi.

4. Adanya khirqah atau ilbas yang dimiliki oleh Mursyid tersebut. (ini yang sangat kuat menunjukkan otoritasnya) karena ia memiliki khirqah yang maknanya sesuatu peninggalan dari Baginda Nabi SAW atau dari Imam Thariqahnya, yang diberikan secara turun menurun dari setiap guru mursyid terdahulu sampai kepada sang mursyid guru kita sekarang tersebut yang mana bukti otentik khirqah/ilbas tersebut diketahui oleh banyak saksinya.

4. Sanad Silsilah talqin dzikir Thariqat al Junaidiyah 

Mengenal sanad silsilah Thariqat al Qaum al Junaidiyah, dimaksud Penyusun disini adalah orang-orang yang meriwayatkan pelimpahan talqin dzikir atau ijazah dzikir Thariqat al Junaidiyah (thariqat al qaum) yang bersambung hingga Rasulullah Saw. Adapun sanad silsilah Thariqat al Qaum al Junaidiyah adalah :

  1. Sayyid H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assaqqaf dan ia (H.Hasan Baseri) mengambil dari 
  2. KH. Jumberi bin H.Ma'shum bin H. Abu Bakar Bihara w.1427H, dan ia dari 
  3. Khalifah thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurtubi bin Khalid bin Thahir Kalimantan w.1423H, dan ia dari 
  4. KH. Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh w.1394H, dan ia dari 
  5. Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi al Hadrami al Magribi W.1354H/1936M, ia dari 
  6. Syekh Abdullah Ba'alawi al Magribi, dan ia mengambil dari  
  7. Imam Alawi Ba Alawi, dan ia mengambil dari  
  8. Imam Abdurrahman al-Muallim Assaqqaf Ba Alawi  w.1124H/1712M, dan ia mengambil dari   
  9. Imam Abdurrahim, dan ia mengambil dari  
  10. Imam Ba Junaidi yakni (Imam Al Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham W.1032H/1623M), dan ia dari  
  11. Imam Alwi al Ridla (W.1002H/1594M)  bin Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin, dan ia dari 
  12. Syekh Imam Abdul Wahhab As Sya’rani 898-973H dan ia dari 
  13. Syekh “Ali Murshafaa  dan ia dari  
  14. Syekh Muhammad As-Surawi w.932H, dan ia dari  
  15. Syekh Sayyid Muhammad Ibn Madyan al Asmuni (W.862H/1458M) dan ia dari  
  16. Syekh Sayyid Madyan al Asmuni (W.862H/1458M dan ia dari  
  17. Imam Ahmad az Zahidi w.820H, dan ia mengambil dari 
  18. Syekh Hasan al Sustari w.797H, dan ia mengambil dari 
  19. Syekh Yusuf al Ajemi w.767H, dan ia mengambil dari  
  20. Syekh Muhammad al  Ashfihani, dan ia mengambil dari 
  21. Syekh Najmu Mahmud al Ashfihani, dan ia dari 
  22. Syekh Hasan Syamsuri, dan ia mengambil dari 
  23. Syekh Abdus Shamad an Nahrani, dan ia dari  
  24. Syekh Ibnu Bunghusy Syirazi, dan ia mengambil dari 
  25. Syekh Najibuddin Bunghusy  Syirazi, dan ia dari 
  26. Syihabuddin as Syuhrawardi(L.539-632H), dan ia dari 
  27. Syek Qadli Wajihuddin dan ia mengambil dari 
  28. Syekh Faraj Az  Zanjani, dan ia mengambil dari 
  29. Syekh Abul Abbas Nahawanda dan ia mengambil dari 
  30. Syekh Ibnu Khiif as Syirazi dan ia dari 
  31. Syekh Muhammad Khiif as Syirazi, dan ia dari 
  32. Al-Qadli Ruwaim w.303H, dan ia mengambil dari 
  33. Syekh Imam al Junaid al Bagdadi w.297H, dan Imam al Junaid ini mengambil dari  
  34. Syekh  as Sirri al Saqathi w.253H, dan ia dari  
  35. Imam al Ma'ruf al Karkhi w.200H, dan ia dari  
  36. Syekh Daud at Tha'i  w.165H, dan ia dari 
  37. Syekh Habib al Ajemi  w.125H, dan ia dari  
  38. Syekh Imam Hasan al Basri w.110H, dan ia dari  
  39. Imam 'Ali bin Abi Thalib w.41H, dan ia dari  
  40. Muhammad Rasulullah Saw w.632M, dan ia dari   
  41. Sayyidina Jibril 'alaihis salam, dan ia dari  
  42. Allah azza wa jalla.: 

5. Titik Lemah Sanad Thariqat al Junaid

Adapun sanad silsilah Thariqat al Qaum al Junaidiyyah jalur yang ke-2 adalah 

  1. Habib H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assaqqaf dan ia (H.Hasan Baseri) mengambil dari 
  2. KH. Jumberi bin H.Ma'shum bin H. Abu Bakar Bihara w.1427H, dan ia dari 
  3. Khalifah thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurtubi bin Khalid bin Thahir Kalimantan w.1423H, dan ia dari 
  4. KH. Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh w.1394H, dan ia dari 
  5. Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi al Hadrami al Magribi W.1354H/1936M, ia dari 
  6. Syekh Abdullah Ba'alawi al Magribi, dan ia mengambil dari  
  7. Syekh Imam Alawi Ba Alawi, dan ia mengambil dari  
  8. Syekh Imam Abdurrahman al-Muallim Assaqqaf Ba Alawi  w.1124H/1712M, dan ia mengambil dari  
  9. Syekh Imam Abdurrahim, dan ia mengambil dari  
  10. Syekh Imam Ba Junaidi yakni (Imam Al Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham W.1032H/1623M), dan ia dari  
  11. Syekh Imam Alwi al Ridla (W.1002H/1594M)  bin Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin, dan ia dari 
  12. Syekh Muhammad az  Zahidi al Wakhshi (W.936H/1529M). Syekh Muhammad az  Zahidi mengambil bai’at Rohaniyah atau bai’at Sirriyah dari 
  13. Imam al Qusyairi w.465H (di alam ROH, sa’at terjaga, melalui mimpi) dan ia dari  
  14. Syekh Imam Abu 'Ali ad Daqaq w.405H, dan ia dari 
  15. Syekh Imam an Nashra Abadzi w.369H dan ia dari  
  16. Syekh Imam al Syibli w.334, dan ia dari 
  17. Imam al Junaid al Bagdadi.dan ia dari  
  18. Syekh  as Sirri al Saqathi w.253H, dan ia dari  
  19. Syekh Imam al Ma'ruf al Karkhi w.200H, dan ia dari  
  20. Syekh Daud at Tha'i  w.165H, dan ia dari  
  21. Syekh Habib al Ajemi  w.125H, dan ia dari  
  22. Syekh al-Imam Hasan al Basri w.110H, dan ia dari  
  23. Imam 'Ali bin Abi Thalib w.41H, dan ia dari  
  24. Muhammad Rasulullah Saw w.632M, dan ia dari   
  25. Sayyidina Jibril 'alaihis salam, dan ia dari  
  26. Allah azza wa jalla.

Pada silsilah sanad thariqat kita jalur yang kedua ini, masih ada yang menjadi salah satu titik kelemahan thariqat kita yakni antara Syekh Muhammad az Zahidi w.936H/1530M dan  Imam al Qusyairi hidup 986M-1073M dengan bai’at Sirriyah, atau Bai'at Rohaniyah dan hal ini mudah menjadi serangan balik kelompok anti thariqat adalah adanya mata rantai (sanad) silsilah yang dianggap terputus (mahjub atau mastur) sehingga mereka tidak dapat menerima kebenaran sanad silsilah tersebut. 

6. Karomah Imam/Syekh Tahu Wali sedang berada di Kuburnya

Di antara karomahnya Syekh Muhammad al-Zahidi adalah mampu berinteraksi bercakap-cakap/ berdialog dalam keadaan terjaga atau lewat mimpi dengan wali yang wafat salah satunya Imam Qusyairi guru Beliau sediri. Diceritakan suatu ketika Imam Sya’rani berkata : “Aku diberi anugerah oleh Allah berupa pengetahuan apakah seorang wali sedang berada dalam kuburnya atau tidak. Karena memang para wali dalam kuburnya mempunyai aktifitas tersendiri. Mereka selalu datang dan pergi”. Keistimewaan ini juga di miliki oleh Syeikh ‘Ali al-Khawwas guru Syeikh Sya’rani dan juga dimiliki Syekh Muhammad al-Zahidi . Sang guru Syeikh ‘Ali ini kalau melihat seseorang mau ziaroh ke makam seorang wali kadang-kadang mengatakan : “Cepatlah pergi kesana, karena sebentar lagi sang wali mau pergi untuk keperluan! “. Suatu ketika Syeikh Sya’rani ziarah ke makam Syeikh Umar Ibn al-Faridl , tapi tidak menjumpainya dalam kuburannya. Setelah itu, Syeikh Umar datang kepadanya, sambil berkata :” “Maafkan saya, karena tadi aku ada keperluan”.

Pengalaman ruhani, akhlak dan pemikiran-pemikiran yang dilontarkan Imam al-Sya’rani

Menurut Ensiklopedi Tasawuf bahwa pengalaman ruhani, akhlak dan pemikiran- pemikiran yang dilontarkan Imam al-Sya’rani itu, tentu tidak semuanya ditanggapi oleh Para Pengamat tentang dirinya.

Walaupun begitu, kita Pengamal thariqat al Junaidiyah (thariqat al Qaum)  mengakui adanya, terjadi Bai'at Sirriyah Imam Qusyairi dengan Syekh Muhammad az Zahidi., tetapi kita tidak perlu kuatir,  kita masih punya jalur sanad silsilah kedua yang sulit dibantah terhadap kebenaran  sanad silsilah ini, dapat dipercaya oleh pengikut thariqat lain sehingga thariqat kita dikategorikan bukan thariqat ghair mu‘tabarah, tetapi sebaliknya.

Kalau dilihat Sanad Silsilah  Thariqat al Junaidiyah (Thariqatul Qaum) yang jalur ke Dua ini, dari Imam al Junaid hingga Imam as Sya’rani terus ke Imam ‘Alwi ar Ridha bin Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin (W.1002H/1594M tidak terjadi permasalahan.

F. HUKUM BAI’AT DZIKIR THARIQAT MELALUI MIMPI

Rabithah Sirriyah dalam silsilah thariqat al Junaidiyah adalah keterikatan, keterpautan dan keterkaitan hati antara satu dengan hati yang lain dari rijal silsilahnya hingga Rasulullah Saw. Buat saya bahwa Bai’at Dzikir Thariqat Melalui Mimpi itu jangan terlalu dipermasalahkan selama seseorang metaati Allah dan Rasulnya, mereka menjalankan hukum-hukum yang wajib sesuai aturan, seperti Shalat, puasa Ramadhan, Zakat dan lainnya.

Aku kutip pada sebuah Artikel Kitab Sabilus Salikin tentang “Hukum Bai’at Dzikir Melalui Mimpi” menyatakan bahwa “Diantara syarat wajib untuk talqin dzikir atau berbai’at Thariqat bagi seorang salik adalah talqin yang dilakukan oleh seorang mursyid yang memiliki Thariqat Mu’tabarah (shahibut thariqah Mu’tabarah) yang sanad atau silsilahnya bersambung kepada Rasulullah saw, serta mursyid tersebut diberi izin untuk mengajarkan Thariqat tersebut kepada para murid. 

Dengan demikian, jika ada seorang yang menyatakan telah dibai’at atau ditalqin sebuah Dzikir Thariqat dalam mimpi, maka hal ini tidak sesuai dengan syarat talqin tersebut. Sebagaimana hal ini dikuatkan oleh para ulama yang telah menetapkan bahwa syarat wajib talqin yaitu murid harus ditalqin sendiri oleh seorang mursyid Thariqat Mu’tabarah yang bersambung sanadnya kepada Rasulullah dan memiliki wewenang untuk mentalqin murid Thariqat.

Menurut kitab Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ (Adapun pengajaran dan sanadnya), karena persahabatan adalah salah satu syarat dan ketentuannya, dan karena afiliasi dengan seorang syekh hanya diperoleh melalui pengajaran dan bimbingan dari seorang syekh yang berwenang yang kewenangannya sah dan berdasarkan pada seorang syekh yang merupakan pemimpin jalan, yaitu jalan menuju Nabi, shallallahu alaihi wa sallam, dan karena zikir tidak memberikan manfaat yang sempurna kecuali melalui pengajaran dan izin, melainkan melalui cara yang paling banyak syaratnya.

(وَأَّمَّا التَّلْقِيْنُ وَسَنَدُهُ) فَلَمَّا كَانَتْ الصُّحْبَةُ مِنْ لَوَازِمِهِ وَشُرُوْطِهِ وَكَانَ اْلاِنْتِسَابُ إِلَى شَيْخٍ إِنَّمَا يَحْصُلُ بِالتَّلْقِيْنِ وَالتَّعْلِيْمِ مِنْ شَيْخٍ مَأْذُوْنٍ إِجَازَتُهُ صَحِيْحَةٌ مُسْتَنِدَّةٌ إِلَى شَيْخٍ صَاحِبِ طَرِيْقٍ وَهُوَ إِلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَكَانَ الذِّكْرُ لاَيُفِيْدُ فَائِدَةً تَامَّةً إِلاَّ بِالتَّلْقِيْنِ وَاْلإِذْنِ  بَلْ الأَكْثَرُ شَرْطًا. (جامع الأصول فى الأولياء، ص 31)

Ketika kebersamaan itu merupakan suatu keharusan dan syarat dan intisab kepada seorang guru, yang hanya bisa dicapai dengan cara talqin dan pembelajaran dari guru yang diberi izin memberikan ijazah yang diperbolehkan mensanadkan kepada guru yang memiliki thariqat yaitu Nabi, maka Dzikir itu tidak memberikan manfaat yang sempurna kecuali dengan cara mentalqin dan izin, bahkan ini dijadikan syarat pada umumnya, (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 31).

Tanya: Lantas, jika perempuan tidak diperbolehkan untuk menjadi mursyid atau khalifah. Bagaimanakah hukum mewakilkan bai’at Thariqat kepada seorang perempuan?

Tentang hal ini, sama dengan apa yang menjadi syarat seorang mursyid atau khalifah, yaitu tidak boleh seorang mewakili seorang murid untuk berbai’at thariqat.

وَشُرِطَ فِى الْوَكِيْلِ صِحَّةُ مُبَاشَرَتِهِ مَا وُكِّلَ فِيْهِ كَالْمُوَكِّلِ لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يَقْدِرْ عَلَى التَّصَرُّفِ فِيْهِ لِنَفْسِهِ فَلِغَيْرِهِ أَوْلَى. (إعانة الطالبين، ج 3، ص 100)

Syarat wakil adalah kebolehannya melakukan sesuatu sebagaimana diperbolehkannya terhadap sesuatu yang diwakili seperti orang yang mewakilkan karena apabila wakil itu tidak mampu melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri maka untuk orang lain lebih tidak boleh.

Tanya: Bagaimanakah pandangan para ulama tentang seseorang yang berhakikat tapi tidak bersyariat?

Dalam kitab Kifâyah al-Atqiyâ’, halaman. 12 disebutkan bahwa seorang mukmin yang tinggi maqamnya, hingga mencapai derajat kewalian sekalipun, dia masih memiliki kewajiban untuk menjalankan syariat yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Bahkan, jika seseorang mengaku telah mencapai derajat kewalian dan telah memahami hakikat, dia beranggapan bahwa taklif syariat telah gugur dari dirinya, maka orang tersebut adalah telah menyimpang dari ajaran agama.

Nabi sekalipun yang memiliki derajat yang lebih mulia dibandingkan para auliya’, mereka masih terkena taklif ibadah. Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah saw. melaksanakan shalat hingga telapak kakinya bengkak. Padahal Allah Swt. telah mengampuni seluruh dosanya. Semua itu dilakukan oleh beliau semata-mata merupakan bentuk syukur seorang hamba kepada Allah Swt. (Kifâyah al-Atqiyâ’, halaman: 12).

الْمُؤْمِنُ وَإِنْ عَالَتْ دَرَجَتُهُ وَارْتَفَعَتْ مَنْزِلَتُهُ وَصَارَ مِنْ جُمْلَةِ اْلأَوْلِيَاءِ لاَ تَسْقُطُ عَنْهُ الْعِبَادَةُ الْمَفْرُوْضَةُ فِى الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ مَنْ صَارَ وَلِيًّا وَوَصَلَ إِلَى الْحَقِيْقَةِ سَقَطَتْ عَنْهُ الشَّرِيْعَةُ فَهُوَ ضَالٌّ مُضِلٌّ مُلْحِدٌ وَلَمْ تَسْقُطْ الْعِبَادَاتُ عَنِ اْلأَنْبِيَاءِ فَضْلاً عَنِ اْلأَوْلِيَاءِ، فَلَقَدْ صَحَّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي حَتَّى تَتَوَرَّمَ قَدَمَاهُ، فَقِيْلَ لَهُ مَرَّةً أَلَمْ يَغْفِرِ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ أَفَلَا أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا (كفاية الاتقياء، ص 12).

Maksudnya : Bagi seorang mukmin, meskipun kedudukannya tinggi dan statusnya luhur, dan ia menjadi salah satu orang suci, ibadah wajib yang ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah tidak ditiadakan baginya. Siapa pun yang mengklaim bahwa siapa pun yang menjadi orang suci dan mencapai kebenaran dibebaskan dari syariat adalah sesat, penyesat, dan ateis. Ibadah tidak ditiadakan untuk para nabi, apalagi para orang suci. Sudah sahih bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam biasa shalat hingga kakinya bengkak. Suatu ketika beliau ditanya, “Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu di masa lalu dan masa depan?” Beliau menjawab, “Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang bersyukur?”

Keterangan : Dengan berakhirnya bab tanya jawab ini, berakhir pula pemuatan bersambung kitab Sabilus Salikin, karya Pondok Pesantren Ngalah, Pasuruan, Jawa Timur. Terima kasih kepada pengasuh Ponpes Ngalah, KH Sholeh Bahruddin dan semua penyusun kitab yang telah menebarkan pengetahuan mengenai Thariqat dan tasawuf dengan detail kepada publik. Semoga Allah Swt. membalas semua kebaikan kiai dan para santri.

G. FUNGSI SANAD SILSILAH DALAM SEBUAH THARIQAT

Aku kutif dari "Artikel " menyatakan bahwa Fungsi Silsilah dalam thariqat kendati thariqat baru terkenal pada abad ke-7 sd.13M, tetapi geneologi otorita spiritual atau yang lebih dikenal dalam istilah thariqat dengan silsilahnya, berasal jauh lebih awal dari itu. Silsilah ini mungkin sekali dapat ditiru dari Lembaga Isnad yang dikembangkan oleh ahli hadis untuk mendukung validitas hadis. Silsilah inilah yang menunjukkan ke cabang thariqat mana seseorang termasuk dan bagaimana hubungannya dengan guru-guru thariqat lain. Pada hakikatnya, menurut keyakinan pengikut thariqat  semua silsilah dari Nabi Muhammad SAW. Kaum Syi‘ah menarik garis asal-usul melalui ‘Alî ibn Abî Thâlib, thariqat  Suhrawardi mengasalkan sumber otoritasnya kepada Sayyidina ‘Umar ibn al-Khattab, sedangkan thariqat    Naqsyabandiyah menelusuri garis asal-usulnya kepada Abû Bakr al-Shiddiq. Salah satu titik kelemahan thariqat dan menjadi serangan balik bagi kelompok anti thariqat adalah adanya mata rantai silsilah yang terputus sehingga mereka tidak dapat menerima kebenaran silsilah tersebut. Kalau thariqat al Junaidiyah menelusuri garis asal-usul mulanya sumber otoritasnya kepada Sayyidina ‘Alî ibn Abî Thâlib.

Kaum thariqat  menjawab bahwa walaupun tidak pernah berjumpa ataupun terputusnya hubungan dengan syaikh sebelumnya, akan tetapi mereka meyakini syaikh tersebut mempunyai hubungan lewat komunikasi spiritual dengan rohaniyah Gurunya atau Syekhnya. Hubungan komunikasi spiritual seperti ini disebut “Barzakhi atau Uwaysi atau (baiat sirriyah)”.

Hal ini dapat dilihat pada Pendiri thariqat Tijaniyah misalnya, Syaikh Ahmad al-Tijanî dipercaya pengikutnya telah berjumpa langsung dengan ruhaiyah Nabi Muhammad SAW. dan menerima pelajaran( bai’at) langsung dari beliau. Padahal silsilah thariqat Tijaniyah tidak terdapat syaikh yang menyelangi antara Nabi Muhammad SAW. dengan Syaikh Ahmad al-Tijanî, walaupun melintasi rentang waktu selama dua belas abad. Namun para pengikut Tijaniyah meyakini adanya silsilah yang sambung menyambung dari Nabi Muhammad SAW. sampai kepada Syaikh Ahmad al-Tijanî melalui uwaysi, yakni “(baiat sirriyah)”.

Padahal silsilah thariqat al Junaidiyah jalur ke-2 tersebut tidak terdapat syaikh yang menyelangi antara Imam Qusyairi  dengan Syaikh Muhammad az Zahidi, walaupun melintasi rentang waktu selama lima abad. Namun para pengikut al Junaidiyah jalur sanad ke-2  meyakini betul adanya silsilah sanad yang sambung menyambung dari Imam Qusyairi sampai kepada Syaikh Syaikh Muhammad az Zahidi, melalui Barzakhii, yakni “(baiat sirriyah)”.     

Sementara itu, hal yang sama terjadi pada thariqat Sanusiyah dengan pendirinya Muhammad ibn ‘Alî al-Sanusi, asal Aljazair (w. 1276/1859). Antara Muhammad ‘Alî al Sanusi dengan Muhammad SAW. hanya diselingi Syaikh Ahmad ibn Idrîs al-Fasi (gurunya), ‘Abd al-Wahhab al-Tazi, Ahmad ibn al-Mubârak al-Lamti dan ‘Abd al-Azîz al Dabbâgh. ‘Abd al-Azîz al-Dabbâgh inilah yang diyakini telah meneima pelajaran dari Nabi Khidr, yang telah dibaiat oleh Nabi Muhammad SAW. Karenanya, silsilah yang singkat seperti thariqat Tijaniyah dan Sanusiyah ini tidak dipercaya oleh sebagian pengikut thariqat lain sehingga dikategorikan thariqat ghair mu‘tabarah.

Oleh sebab itu setiap syaikh thariqat selalu berhati-hati dan menjaga silsilah yang menunjukkan siapa gurunya dan siapa guru-guru sebelum dia, sampai terus bersambung kepada Nabi Muhammad Saw. Silsilah itu bagaikan kartu nama dan legitimasi seorang guru, menunjukkan ke cabang thariqat  mana ia termasuk dan bagaimana hubungannya dengan guru-guru thariqat lainnya.

Pada abad 4 sd.10 sufi al-Khuldî (w. 348/959M) menelusuri silsilahnya sampai kepada Hasan al-Basrî dan selanjutnya melalui Anas ibn Malik sampai kepada Nabi Muhammad Saw.  Silsilah dari Nabi melalui Abû Bakr al-Shiddîq melahirkan thariqat yang menggunakan zikr khafi (dalam hati),  sedang silsilah melalui ‘Alî ibn Abî Thalib melahirkan thariqat yang menggunakan zikir zhahri (dengan suara). Berangkat dari paparan di atas dapat diketahui bahwa silsilah memegang peranan yang signifikan dalam transformasi ajaran thariqat kepada para pengikutnya. Seorang syaikh selalu berusaha menjaga mata rantai silsilahnya demi legitmasi ajaran thariqat yang disampaikannya  paparan di atas dapat diketahui bahwa silsilah memegang paparan yang signifikan dalam transformasi ajaran thariqat kepada para pengikutnya.(1)


H. THARIQAT AL JUNAIDIYYAH DIBANGUN DAN DIBINA6 DASAR
(الطريقة الجنيدية مبني على ستة أشياء)

Adapun thariqat Sufi al Junaidiyah atau thariqat al Qaum dibangun dan dibina atas 6 Dasar         :

  1. At Taubat atau Inabah  (التوبة  والإنابة): Kemali kepada Allah Ta’ala
  2. Al Juhud (الزهد اى تباعد الناس) : Menjauhi manusia, yaitu mengurangi hubungan dengan manusia yang mengakibatkan dirinya lupa dan lalai dengan Allah Ta’ala.
  3. Tidak Thama (لايطمع فى الدنيا) Tidak rakus dengan dunia, maksunya lebih banyak mengingat kehidupan akhirat atau  tidak terkait hatinya dengan akwan dan agyar
  4. Qana’ah (القناعة) Suka rela menerima apa adanya pemberian Allah Swt.
  5. awakkal          (التوكل على الله) “Mengembalikan atau menyerahkan segala urusan pekerjaan kepada Allah semata.
  6. Ridha dengan qadha qadar Allah Ta’ala (الرضى بالقضاء وقدر الله) 

I.RUKUN THARIQAT AL JUNAIDIYYAH  ITU  ADA 6 PERKARA

(أركان الطريقة الجنيدية على ستة أشيا)

Adapun rukun thariqat  Sufi al Junaidiyah al Bagdadiyah atau thariqat al Qaum  ada 6 Perkara         :

  1. Ilmu Agama yang terdiri dari : Ushul, Furu’a, Tarikh, dan hukum-hukum lainnya.
  2. Al Hilim (الحلم) yaitu Sangat penyantun, lapang dada, tidak pemerah.
  3. Shabar (الصبر) yaitu Sabar atas ta’at dan atas segala cobaan
  4. Ikhlas beramal kebaikan (الاخلص بالعمل الخيرية)
  5. Ridha dengan qadha qadar Allah Ta’ala (الرضى بالقضاء وقدر الله)
  6. Berakhlak mulai    (حسن الخلق )

J. HUKUM THARIQAT AL JUNAIDIYYAH DIBANGUN DAN DIBINA 6 DASAR 

( أحكام الطريقة الجنيدية على ستة أشياء )

Adapun Hukum al Thariqat al Junaidiyah  al Bagdadiyah atau thariqat al Qaum  dibina 6 Dasar :     

  1. Ma’rifatullah (معرفة الله اى أفعاله وصفته وأسمائه) Ma’rifatullah yaitu mengenal Allah Swt dengan segala af’al, sifat dan asmaNya.
  2. Yakin  (اليقين ان لاتتحرك ذرة إلا بإذن الله) Dia yakin bahwa tidak bergerak sesuatu dzarrah pun kecuali ijin Allah Swt.
  3. Pemurah (سَخَاءُ الْقَلْبِ) Dia sangat pemurah hati tidak besifat bakhil terdadap sesamanya.
  4. Jujur ( اَلْاِصْدَقُ بِاَقْوَالٍ وَافْعَالٍ) Dia selalu bersikap jujur dan benar dalam segala perkataan dan tindakannya. 
  5. Syukur (الشكر على كل حال) Dia selalu bersyukur pada setiap keadaan, atas nikmat yang diberikan Allah Swt.
  6. Tawajjuh (التوجة على كل حال دائما) Dia selalu pasrah  diri (berserah diri) pada Allah setiap keadaan pada dirinya

K. WAJIB BAGI THARIQAT AL JUNAIDIYYAH ITU ENAM PERKARA

(وجوب الطريقة الجنيدية على ستة أشياء)

Adapun Wajib bagi al Thariqat al Junaidiyah  al Bagdadiyah atau thariqat al Qaum  dibangun atas 6 Perkara : 

1.Dzikrullah Ta’ala (ذكر الله تعالى)

Hendaklah hati  kita selalu dzikir dengan Allah Ta’ala, disetiap keadaan baik ketika sedang duduk, berbaring ataupun ketika kita berjalan.

2.Muraqabah bil qalbi da’iman  (مراقبة بالقلب دائما)

Hendaklah kita selalu mengintai hati  kita, mengintip hati  kita setiap saat agar tidak keluar intipan dari Allah Ta’ala.

3.Tarkul hawa wal dunya  (ترك الهواء والدنيا)

Hendaklah  kita selalu meninggalkan keinginan hawa nafsu dan keinginan- keinginan dunia segala isinya. Maksudnya hati kita tidak terkait dengan segala akwan dan agyar dunia.

4.Ittiba’u Sunnati Rasulullah Saw  (الإتباع سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم)

Hendaklah  kita selalu mengikuti  sunnah Rasul Saw  dalam segala  yang fardlu, yang sunnat dan hukum-hukum syari’at. Mengikuti  sunnah Rasul Saw  adalah kewajiban bagi thariqat al Qaum atau Pengamal Thariqat al Junaidiyah

5.Husnul Khalqi  (حسن الخلق)

Berakhlak yang baik kepada semua makhlu Allah Swt terhadap sesama manusia, hewan ataupun tumbuh-yumbuhan adalah kewajiban bagi thariqat al Qaum atau Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ).

6.Fi’lul Khairat wal Ijtinabu al Khairat  (فعل الخيرات واجتناب السيئات)

Al Thariqat al Qaum atau Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) wajib berbuat kebaikan dan menjauhi segala larangan Allah Ta’ala.


L. SEORANG MURID WAJIB BERGURU DALAM HAL BERTHARIQAT SUFI

Seorang Murid wajib berguru kepada guru Mursyid atau Syekh Mursyid terutama dalam Hal berthariqat Sufi, khususnya thariqat al Qaum atau Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah.

Seorang Murid terlebih dahulu wajib mencari Guru Mursyid yang akan menemaninya berjalan menuju Allah Swt, terutama ketika menjalani Khalwat, Suluk atau Riyadhah. Guru Mursyid itu  adalah guru yang mahir dalam ilmu Syari’at dan ilmu Hakekat. Guru Mursyid itu mempunyai perasaan yang nyata, tinggi himmahnya dan keredaannya akan segala hal ihwalnya. Selain itu sempurna akalnya dan pandangannya suka gemar memelihara kehormatan Islam dan Kaum Muslimin. Beliau juga mengetahui cara memberikan pengajaran kepada Murid-muridnya. Beliau juga suka memberikan nasehat-nasehat kepada ummat Islam, Beliau bersifat lemah lembut semua perkataannya.

Yang mana Guru Mursyid itu  mendapat ijazah atau mendat atau ijin dari Gurunya, Itu sangat baik dan sempurna kalau ada di tangannya.  Paling tidak, dia pernah berguru dengan Mursyidnya  dan boleh dia sampaikan dan ajarkan kepada orang-orang deket, seperti orang tua, anak, isteri dan keluarganya dan juga pada tetangga sekeliling rumahnya, untuk  terpelihara dari azab api neraka.

 Alasan pertama : Seorang Guru Mursyid apabila dia ditanya ttg keilmuannya, kemudian dia menyembunyikan ttg keilmuannya. Atau dia diminta oleh seseorang, kemudian dia tidak mengabulkannya permintaan seseorang tanpa alasan, maka cepat ataupun lambat Allah Swt akan mencabut kewaliannya, dan inilah yang sangat ditakuti oleh semua Guru Mursyid.

Alasan kedua  : Yang menjadi  dasar dibolohkan menyempaikannya adalah berdasarkan firman  Allah Swt dan Sabda Nabi Saw  sebagai penyelamat keluarga dan tetangga dekatnya.

Allah Swt telah berfirman pada surat at Tahrim  ayat  6 yang berbunyi     :

 ....... قوا أنفسكم ولأهلكم نارا ..... التحريم  6

Artinya : “Peliharalah diri-diri kamu dan  keluargamu dari siksaan api neraka.”

 عن النبي صلى الله عليه ولسلم قال : بلغوا عنى ولو آية

Artinya : Sabda Nabi Saw  bersabda “Sampaikan oleh kamu dari aku (kata Rasul Saw) walau satu ayat.”

1. Seorang Murid memisahkan diri dari Gurunya

Dikisahkan salah seorang murid Syekh Imam Junaid memisahkan diri (Mufaraqah /keluar pengajaran) dari Gurunya, ia beranggapan bahwa spritualnya akan lebih tinggi, cepat wushul dengan Allah bila dilakukan khalwat ditempat yang sunyi dari orang-orang ramai. Pada akhirya ia membangun Gubuk (bilik tempat khalwat) ditepi hutan yang jauh dari keramaian.

Dengan membawa perbekalan seadanya, Tanpa bimbingan seorang Guru Mursyid, dan sesuai petunjuk yang ia pelajari tentang khalwat, baik cara dan bacaan dalam Suluk. Ia pun melakukan Riyadhah/ Suluk atau Khalwat seorang diri di Gubuk yang berada di tepi hutan tersebut.

Beberapa hari kemudian disenja hari, datanglah dua orang Penunggang Kuda dan kuda membawa makanan, mahkota dan pakaian kebesaran dari Sorga. Keduanya mengaku diutus seseorang untuk menjemputnya “Sebagai Upah jerih payahnya selama ini”. Ia pun menerima undangan tersebut. “Undangan untuk Pangeran”, Setelah makan, berpakaian dan mengenakan Mahkota dikepalanya, mereka pun berangkat menuju Sorga.

Dalam perjalanannya bersama kedua utusan itu, ia melihat disamping kira dan kanannya tempat yang dilewatinya pemandangan yang indah-indah. Ia lihat Para penduduknya yang laki-laki ganteng-ganteng dan wanitanya elok-elok (cantik-cantik) dan bersikap ramah-tamah.

Akhirnya sampailah ketempat yang dituju, sebuah gedung bangunan besar dan indah lengkap dengan Penjaganya, pengawalnya dan para Pelayannya. Orang-orang disekitar itu ada yang berseru “Pangeran Datang”. Ia pun turun dari kudanya, disambut oleh para Pengawal dan para Pelayan wanita elok serta dibawa kesebuah ruangan khusus yang ada kamar tidurnya.

Di dalam ruangan itu, angin selalu bertiup sepoi-sepoi, udaranya sejuk dan nyaman membuat semua orang yang berada di dalamnya tidak gerah & betah atau nyaman. Berbagai macam aneka makanan dan minuman anggur telah disodorkan kepadanya, Pengeran itu ditemani seorang Puteri cantik dan dilayani para Pelayan wanita cantik (Puteri berkata : “kau jangan ragu-ragu Pangeran bahwa kami, Puteri dan para Pelayan ini adalah upah jerih payahmu salama ini)”. Pada akhirnya pada malam pertama itu, mereka bersanda gurau, bercumbu dan merayu laksana Pengaten baru, (tidak ada rasa cemburu antara Pelayan satu dengan lainnya) dan mereka bersenang-senang sambil makan dan minum hingga larut malam, ketika nafsu birahi naik Pangeran membawa Sang Puteri masuk kamar Penganten, dan mandi kemudian tidur hingga pagi hari (itupun dijaga dan diawasi oleh para Pelayan wanita cantik).

Ketika pagi hari, Tanpa sadar, ia pun terbangun dari tidurnya dan didapatinya tubuhnya tidur dimuka Gubuknya /di depan teras Biliknya sendiri, dan kejadian terus berulang tertidur di depan teras Biliknya, tapi ia sangat senang dan bangga sekali atas kejadian yang dialaminya. Peristiwa dan kejadian tentang Upah  jerih payah Khalwatnya ini terus berulang-ulang kepada dirinya hingga ia merasa hebat dan mulia, ia tak sangguf menyembunyikan kegambiraanya dan menghabarkannya kepada teman-temannya.

Peristiwa dan kejadian yang dialami Murid al Junaid yang memisahkan diri tersebut pada akhirnya sampai ketelinga Syekh al Junaid al Bagdadi. Membuat Syekh al Junaid al Bagdadi rasa penasaran dan akhirnya Sowan kepada Murid yang memisahkan diri darinya dan tinggal di Gubuk yang berada di tepi hutan tersebut.

Dalam pertemuan itu Syekh al Junaid al Bagdadi mengonfermasi kebenaran ceritra ttg. Peristiwa dan kejadian terhadap Upah  jerih payah Khalwat yang di alami oleh Muridnya tersebut, apakah benar peristiwa tersebut terjadi atau tidak terjadi ?.

Kemudian Sang Pangeran (Murid Syekh al Junaid)  menjelaskan kepada Gurunya semua Peristiwa atau kejadian yang dialaminya terseut adalah benar. Hingga membuat Syekh al Junaid al Bagdadi terheran-heran terhadap Peristiwa dan kejadian yang dialaminya tersebut.  Syekh al Junaid dimalam nanti …….. setelah kau bersenang-senang dengan para Pelayan wanita cantik, kemudian kau mandi dan ingin tidur bacalah kalimat Hauqalah ini (: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ) sebanyak tiga kali.

Aku baca sebuah “Artikel” bahwa Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim (Hauqalah) adalah kalimat dzikir yang mengakui kelemahan manusia dan memohon pertolongan Allah. Kalimat ini Arabnya: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ yang artinya "Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung", sering dibaca untuk memohon perlindungan, kekuatan, dan sebagai pembuka pintu rezki.

Sejurus waktu berjalan Syekh al Junaid al Bagdadi telah pulang kembali ke tempatnya, tinggalah Murid berkhalwat, berdzikir di Gubuk tempat pengasingan seorang diri, kemudian saat senja pun tiba. Seperti biasa datanglah dua orang Penunggang Kuda dan kuda pembawa makanan dan pakaian serta mahkota kebesaran dari Sorga. Keduanya mengaku diutus seseorang untuk menjemputnya “Pangeran Mahkota”, Setelah mandi, makan, berpakaian dan mengenakan Mahkota dikepalanya, mereka pun berangkat dari Gubuk itu menuju Sorga.

Setelah beberapa waktu menempuh perjalanan jauh, akhirnya sampailah mereka ketempat yang dituju, sebuah gedung besar bercahaya terang gemerlapan dan indah dipandang mata, gedung itu lengkap dengan para Penjaganya, para pengawalnya dan para Pelayannya dan juga Panggung hiburan yang sedang dipenuhi oleh masyarakat sekitarnya. Salah seorang Penjaganya disekitar itu berseru “Pangeran Datang”. Semua orang memberikan jalan kepadanya, Ia pun turun dari kudanya, disambut oleh para Pengawal dan para Pelayan wanita elok serta dibawa kesebuah ruangan khusus yang lengkap kamar tidurnya.

Aneka macam makanan dan minuman anggur disodorkan kepada Pengeran, sambal nonton Panggug Hiburan, Pengeran itu ditemani Puteri cantik dan dilayani para Pelayan wanita cantik (Puteri berkata : “kau jangan ragu Pangeran ! kami ini, Puteri dan para Pelayan disekitarmu, hasil jerih payahmu sendiri)”. Akhirnya pada malam itu, tanpa rasa malu, mereka bersanda gurau dan bercumbu rayu laksana Penganten baru, (tidak ada rasa cemburu antara Pelayan satu dengan lainnya) dan mereka bersenang-senang sambil makan dan minum hingga larut malam, ketika nafsu birahi naik Pangeran menggindung Sang Puteri masuk kamar Peradun, dan mandi kemudian ingin tidur.

Kemudian Pengeran teringat akan pesan Guruya Syekh Al Junaid sebelum tidur agar membaca kalimat Hauqalah tiga kali. Tetapi saat itu ia ragu-ragu untuk membacanya, dibaca atau tidak kalimat Hauqalah tersebut hingga ia mencoba-coba membacanya tiga kali berturut : “Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim” Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim” Lahaula wala quwata illa billahil aliyil adzim”. Tiba-tiba terdengar suara teriakan hesteris dari para Pelayan wanita dan Puteri, dan hingga para Pelayan wanita cantic itupun lenyap dari pandangan matanya, dan iapun tertidur ditempat itu hingga pagi hari (Didapatinya ia berada ditumpukan tulang-belulang sampah hewan) yang berada di pinggiran kota.

Sebaliknya apabila si Murid tidak punya teman atau sahabat  atau tidak punya imam untuk berjalan (berkhalwat /Suluk) menuju Allah Swt maka yang menjadi guru/syekhnya adalah Syaithan, seperti kata Ahli Sufiah berikut ini : 

فَمَنْ لَاشَيْخَ لَهُ مُرْشِدٌ فَمُرْشِدُ الشَّيْطَانِ. كذاقول اهل الصوفية

Maksudnya : “Siapa yang tidak ada Syekhnya atau siapa yang tidak ada Gurunya yang akan menunjukinya maka yang akan menunjukinya adalah Syaithan.”

Setelah mengalami berbagai macam peristiwa dan kejadian yang dialaminya, ia sadar dan mengerti akan jalan spritualnya, akhirnya Ia pun bertaubat dan kembali ke Gurunya dan mengikuti majelis syekh al Junaid al Bagdadi. 

 

M. KRITERIA SEORANG SYEKH ATAU GURU MURSYID.

Adapun Kriteria yang dapat dijadikan Seorang Syekh atau Guru Mursyid dalam hal kita menjalani thariqat Sufi, khususnya thariqat al Qaum atau Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah.

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh Murid dalam menentukan seorang Syekh atau Guru Mursyid yang akan menemaninya berjalan menuju Allah Swt atau yang akan menunjukkan jalan untuk wusul kepada Allah Ta;ala.

Menurut para Ahli Sufi ada 8 macam sifat yang harus dipunyai oleh Guru Mursyid atau Syekh Mursyid antara lain :

  1. Mursyid itu Dia cerdik dan mencerdikkan bagi si Muridnya.
  2. Mursyid itu kamil – mikamil (المرشد كامل و مكامل فى المريدين) yaitu “sempurna dan menyempurnakan bagi si Muridnya.
  3. Syekh Mursyid  itu “Semua yang diajarknnya memberikan bekas (berkesan) nyata dan lama di hati murid-muridnya.
  4. Guru Mursyid itu mendapat ilmu dari Guru Tertentu atau Guru yang sanad silsilahnya sampai pada Rasulullah Saw.
  5. Guru Mursyid itu telah masyhur dikenal orang
  6. Guru Mursyid itu tiada dapat dicela akan pengajarannya
  7. Guru Mursyid itu tiada sangat kasih kehidupan di dunia.
  8. Guru Mursyid itu tiada kuat dia mengerjakan yang harus.

Menurut Penyusun Ar Risalah Bahjatul ‘Abid .....dari ke 8 macam syarat harus dimiliki oleh Syekh Mursyid, itu sangat sulit didapatkan. Apalagi dizaman edan sekarang ini, banyak tentangan dan godaan yang dihadapi. Cukuplah 5 atau 6 macam syarat kriteria Syekh Mursyid terpenuhi sudah cukup memedai, ketimbang kita tidak memilikinya sama sekali hingga ajal menjemput kita. Akan tetapi kalau terpenuhi ke 8 macam syarat Syekh Mursyid dimaksud, itu lebih sempurna.

N. PASAL KRITERIA KHUSUS SEORANG SYEKH ATAU GURU MURSYID.

Adapun Kriteria Khusus Orang yang Benar yang dapat dijadikan Guru Mursyid bagi pendamping dan pembimbing Murid :

فصل فيمن يصح أن يتخذ شيخا مرشدا

1.أن يكون عالما بما يحتاج إليه المريدون من الفقه والعقائد

Aku kutip KitabTanwirul Qulub fi Mua’milati allamil Guyub yang ditulis oleh Syekh Muhammad Amin Kurdi bahwa 24 Kriteria Khusus Orang yang Benar dijadikan Guru Mursyid :

1.-Alim dan adil dalam memberikan bimbingan tuntunan kepada para muridnya, dalam masalah ilmu fiqih, ilmu Syari’at dan ilmu Tauhid atau Aqidah.Ilmu dimaksud diberikan dengan metode – cara yang dapat menyingkirkan segala prasangka dan keraguan di hati para muridnya.

2.أن يكون رئوفا رحيما بالمسلمين خصوصا بالمريدين

2.-Guru mursyid bersifat walas asih terhadap kaum muslimin, terutama sekali kepada orang yang menjadi muridnya. Apabila ada diantara mereka yang tidak dapat menyalahi kehendak nafsunya, dia segera meninggalkan kekurangan jiwanya sehingga belum bisa menghindarkan diri dari kebiasaan yang kurang baik, maka dia bersikap sabar, memperbanyak ma’af dan tidak bosan-bosannya mengulangi nasehat – nasehatnya. Dia  dengan penuh lemah lembut selalu bersedia memberikan bimbingan kepada para muridnya.

3. المريدون عارفا بكمالات القلوب وآدابها وآفات النفوس وأمراضها وكيفية حفظ صحتها واعتدالها

3.-Dia a’rif bijak dengan segala sifat kesempurnaan hati, etika (adab) dan segala kerusakan jiwa dan penyakitnya dan juga mengetahui cara menyembuhkannya kembali serta memperbaikinya seperti semula.

4. أن يستر ما اطلع عليه من غيوب المريدين

4.-Pandai menutup menyimpan rahasia, tidak membuka keaiban muridnya (terlebih lagi di depan orang banyak). Sebaliknya dia tetap mengawasi muridnya dengan pandangan kecamata kesufiannya yang tajam, dan memperbaiki keaiban muridnya dengan cara yang bijaksana.

5. أن يتنزه عن مال المردين ولا يطمع فى شيئ مما فى أيديهم

5.-Tidak menyalahgunakan harta benda para Muridnya (bila diberi amanah) dan tidak loba atau tamak pada sesuatu yang ada pada muridnya.

6.  أن يكون مؤتمرا بما يأمر به منتهيا عما ينهى عنه حتى يؤثر كلامه فى النفوس

6.-Sekalikali tdak memerintah muridnya dengan sesuatu atau melarangnya, sehingga sesuatu itu pantas dan lanyak dikatakannya yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Dalam segala macam keadaan dan perasaan, Guru Mursyidlan yang menjadi contoh teladan yang baik (اسوة حسنة) bagi para muridnya.

7.ان يجالس مريديه الا قدر الحاجتة وان يذكر لهم طرفا من الطريقة (اى الجنيدية) والحقيقة

7.Dia duduk bergaul dengan para muridnya kecuali sekedar hajad mereka. Dia hanya bergaul dengan para muridnya dalam kesempatan dzikir, atau menyampaikan bimbingan Thariqat ( al Junaidiyah ) dan hakekat dan juga syari’at. 

8.أن يكون كلامه صافيا من شوائب الهوى والهذل ومال يعنى

8.-Memelihara akan semua ucapannya, bersih dari pengaruh nafsu dan olok-olok, terutama yang akan menimbulkan dampak nigatif pada jiwa (batiniyah) si Murid

9.ان يسامح فى حق نفسه فلا يكونمتوقعا تعظيمه وتوقيره ولا يكلفهم فى حقه مالا يطيقون ولا يرتب عليهم من الأعمال. 

9.-Bijaksana, lapang dada dan ikhlas hati. Tidak akan memerintah kepada para Murid terhadap sesuatu (yg menurutnya) tidak dapat mengerjakannya. Senantiasa bermurah hati di dalam memberikan pengajaran kepada mereka. ...

10. إذا رأى من أحد المريدين أن كثرة المجالس والمصاحبة معه تنزيل من قلبه عظمته وهيبته, أمره ان يجالس بخلوة لا يكون بعيدا جدا ولا قريبا بل يكون بين وبين.

10.-Apabila Ruru melihat salah seorang Muridnya, selalu bersama-sama dalam Majelis, dan berhubungan dengannya, lalu si murid itu menampakkan ketinggian hatinya (Karena merasa dekat dengan Gurunya). Maka hendaklah sang Guru segera memerintahkan murid itu pergi berkhalalawat ke suatu tempat yang tidak jauh dan juga tidak terlalu dekat dengannya.

11  إذا علم أن حرمته سقطت من قلب مريد فينبغى له أن يصرفه برفق فإنه من أكبر الأعداء

11.-Apabila dia telah mengetahui melihat kehormatan dirinya telah jatuh (dirasa kurang) pada parasaan hati para muridnya, semestinyalah segera dia mengambil inisiatif yang bijaksana untuk mencegah hal dimaksud, karena berkurangnya rasa percaya diri dan juga sikaf hormat seorang Murid kepada Guru Mursyidnya adalah keburukan yang membahayakan bagi pribadi murid.

12  ان لا يغفل عن ارشاد المريدين الى ما فيه صلاح حالهم

12.-Dia (Guru Mursyid) tidak akan melupakan atau lalai, Senantiasa memberikan petunjuk-petunjuk tertentu kepada para Muridnya untuk memperbaiki ahwal (prilaku dan keadaan hati) murid.

13.إذا وصف المريد رؤيا رأها أو مكاشفة كاشفها أو مشاهدة شاهد فيها امرا ما فلا يتكلم له غلى ذلك. ويرقيه الى ماهو أعلى وأشرف. ومتى تكلم الشيخ على ما يأتى به المريد وبين له غظمة ذلك الأمر فقد اساء فى حقه. لان المريدين يرى نفسه بذلك عاليا فربًما تسقط مرتبته.

13.-Apabila seorang murid menceritakan suatu mimpi yang dilihatnya atau tersingkafnya hal ihwal ghaib yang terbuka baginya, juga menyaksikan hal-hal ghaib yang dialaminya, di dalam keadaan semua itu terdapat hal-hal yang istimewa, maka hendaklah dia berdiam diri. Jangan mengatakan kepadanya atas sesuatu tersebut atau tidak banyak menaggapinya hal tersebut itu. Sebaiknya dia memberikan amalan (do'a)  tambahan yang dapat menolak sesuatu yang tidak benar. Sebab jika dia menaggapinya dikhawatirkan justru akan terjadi sesuatu yang dapat merusak jiwa dan hati para muridnya. Karena memang wajar begitu seorang murid Thariqat bisa sewaktu-waktu mengalami peningkatan rohani, tetapi sering terjadi hal-hal yang tidak benar yang berakibat menurunkan martabatnya kembali. Oleh sebab itu Guru dituntut untuk memberikan perhatian dan juga petunjuk yang khusus pada kebanggaan rohani. Mungkin terjadi sewaktu-waktu timbul pada diri para muridnya sesuatu yang masih dalam bimbingan dan pengajarannya.

14 يجيب عليه ان يمنع المريدين عن التكلم مع غير أخوانهم الا لصرورة, عن التكلم أيضا مع أخوانهم بما يطرأ عليهم من الكرامات والواردات,  ومتى سامحهم الشيخ فى ذلك فقد أساء في حقهم لما يترتب عليه من الكبر والتعاظم إلى غير ذلك مما يؤخرهم.

14.-Wajib atas guru Mursyid itu melarang para muridnya banyak bicara serta yang bukan teman-temannya kecuali dalam keadaan yang bermanfaat. Terutama melarang mereka membicarakan tentang keramat-keramat dan wirid-wirid yang istimewa. K arena jika dibiarkan hal tersebut, lambat laun si murid bisa menjadi rusak karenanya, sebab dia akan bertambah takabbur dan besar diri terhadap yang lainnya.

15 أن يجعله اى خلوة ينفرد بها وحده  ولا يمكن أحدا من مريديه, أن يدخلها إلا من كان خصيصا عنده اى خلوة لاجتماعه بأصحابه.

15.-Menyediakan untuk para muridnya tempat khalwat yang khusus scara perorangan, yang tidak setiap orang boleh masuk kecuali untuk keperluan khusus. Tidak terkecuali untuk dirinya. Dan juga menyiapkan tempat khalwat khusus untuk dirinya dan shahabat-shahabatnya.

16  أن لايمكن مريدا يطلع على حركة من حركته أصلا. ولا بعرف له سرا ولايقف على نومه. ولا طعام ولا شراب ولا غير ذلك, فإن المريد إذا وقف على شيئ من ذلك ربما نقصت عنده حرمة الشيخ, لضعفه على عن مرفة احول الكمل, وله هجر المريد إذا رلآه يتجسسللاطلاع على ذلك مصلحة للمريد.

16.-(Terkadang) seorang murid tak sadar akan timbulnya atas gerak dan diam pada asalnya. Oleh karenanya dia menjaga agar para muridnya tidak mengetahui (gerak-geriknya), tidak mengetahui cara tidurnya, cara makan dan minumnya dan lainnya. Sungguh seorang murid apabila terhenti atas sesuatu yang dilihatnyajustru terkadang akan mengurangi penghormatan si murid kepadanya. Hal ini terjadi karena kelemahan si murid ma’rifat terhadap keadaan Gurunya yang semporna. Apabila dia melihat seorang murid yang demikian itu maka dia harus segera memindahkannya untuk kemaslahatan si murid tsb.

17   أن لا يسامح المريد أبدا فى كثرة الأكل فان تلك  المسامحة  تتلف كل شيئ يفعله الشيخ للمريد, لأكثر الناس  عبيد لبطونهم.

17.-Seorang murid tidak membiasakan makan terlalu banyak, karena terlalu banyak makan itu akan memperlambat tercapainya (latihan-latihan rohani) yang Guru berikan kepada si murid. Karena hal itu juga kebanyakan manusia diperbudak oleh perut-perutnya.

18 ان يمنع أصحابه ان يجالس أصحابه شيخ آخر, فان المضرة بذلك سريعة بالمريدين, فان رآهم ثابتين فى محبته ولم يخف عليهم التزلزل فلا بأس.

18.-Melarang para muridnya secara aktif (berhubungan) dengan sahabat-sahabatnya atau Guru lain. Karena yang demikian itu acap kali memberikan dampak yang kurang baik bagi si murid. Akan tetapi apabila tidak terlihat bahwa hal  itu tidak akan mengurangi kecintaan para muridnya kepada dirinya dan juga tidak akan menggoncangkan pendirian mereka, maka hal yang demikian itu tidak apa-apa.

19 أن يحترز عن التردد الى الأمراء والحكام لئلا يقتدى به فى ذلك بعض مريديه فليكون عليه اثمه واثمهم من باب.

19.-Melarang para muridnya terlalu sering berhubungan dengan Penguasa dan Pejabat tanpa adanya keperluan tertentu. Karena hal itu akan dapat membangkitkan dan membesarkan nafsu duniawi. Mereka sering membuat lupa bahwa mereka dididik untuk berjalan menggapai kebahagiaan akhirat yang hakiki.

20  أن يكون خظا به لهم بغاية التلطف وليحذر من سببهم وشتمهم والطعن فيهم لئلا ينفر نفوسهم منه.

20.-Hendaklah menggunakan kata-kata yang lemah lembut serta menawan hati  (memikat hati) dan pikiran dalam khotbah-khotbahnya. Jangan sekali-kali berkhotbah berisi kecaman dan ancaman, karena hal itu akan dapat membuat jiwa para muridnya jauh darinya.

21 إذا دعاه أحد المريدين واجابه فيكون بالتعزز والعفة.

21.-Apabila dia (Guru Mursyid) diundang oleh salah seorang muridnya dan dia memenuhinya, maka hendaklah dia memuliakan (muridnya) dan memelihara kehormatan murid pengundangnya.

22  إذا دخل عليه أحد المريدين فلا يعبس فى وجهه, و إذا أراد الانصراف دعاله من غيره سؤاله, وإذا دخل هو على احد مريديه  فيكون على أكمل حاله وأحسن هيئة.

22.-Apabila ada murid atau beberapa orang muridnya yang menemuinya, maka janganlah dia memalingkan mukanya. Dan ketika ingin pulang (muridnya akan menoleh kearah lain) dipanggilnya murid itu meskipun tidak ada sesuatu yang yang akan dipertanyakannya. Dan bila dia berkunjung menemui salah seorang dari muridnya maka dia lebih semporna keadaannya dan lebih baik itekanya.

23  إذا جلس عند المريدين فليجلس بالسكينة والصبر والوقاد ولا يكثر الالتفات إليهم ولاينام بحضرتهم ولا يمد رجليه فى مجلسهم وأن يغض طرفه ويحفض صوته ولا يسئ عليهم خلقه, فإنهم فى الحقيقة يعتقدون فيه جميع الصفات الحميد ويقتبسونها منه.

23.-Apabila dia duduk di tengah-tengah para Muridnya, hendaklah dia duduk tenang, shabar dan sopan dan tidak banyak menoleh kiri – kanan kepada para Muridnya Tidak mengantuk, apalagi tertidur di hadapan mereka. Dia tidak menjulurkan kaki di tengah-tengah mereka. Dia tidak memajamkan mata, dan tidak merendahkan suaranya ketika berbicara. Dan dia tidak melakukan hal-hal yang kurang etis di depan mereka. Karena sesungguhnya mereka pada hakekatnya akan berpegang (meniru) mengikuti semua sifat yang dilakukannya (akan di ikuti oleh para Muridnya).

24  إذا غاب أحد المريد يتفقده بالسؤل عنه والبحث عن سبب انقطاعه ثم ان كان مريضا عاده, وبالجملة فالكلمة الجامعة لأداب الشيخ ان يكون على سيرة رسول الله عليه وسلم فى اصحابه ما استطاع.

24.-Guru Mursyid suka menanyakan muridnya). Apabila tidak hadir pada pengajarannya, dan mencari tahu sebabnya. Bila murid itu sakit dia segera menengoknya, dan kalau ternyata ada udzur maka dia kirimkan salam kepadanya.

Semua jumlah dari nomor 1 s.d 24  adab Guru kepada Muridnya adalah telah dipraktekkan oleh Rasul Saw kepada para Shahabatnya. Maka jumlah adab tersebut menjadi adab Syekh atau Guru kepada muridnya, khususnya Guru Thariqat al Junaidiyah

Penyusun Risalah Bahjatul ‘Abid lil Jama’ah at Thariqah al Qaum al Junaidiyah berharaf kepada Allah Swt, semoga adab–adab dimaksud dapat kita teladani dan dapat kita contoh dan juga dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga kita benar-benar menjadi ummat Muhammad Rasulullah Saw yang semporna. Amiin-amiin ya Rabbal ‘alamin.


O. HAL KETERANGAN MENERIMA TALQIN DZIKIR THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYYAH TAHUN 2000M

Adapun Keteragan Penyusun Kitab ar Risalah Bahjatul Abiid … Menerima Talqin Dzikir Thariqat al Qaum al Junaidiyah dari Guru Mursyid KH. Jumberi bin H.Ma’shum bin H.Abu bakar Bihara adalah :

1.Sayyid H.Hasan Baseri,S.Ag bin H.M. Barsih bin Tangqir Gawa bin Abuthair Muhammad  bin Abutha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani bin Achmad Suhuf bin M.Djamiluddin bin Sayyid Abu Bakar as-Saqqaf, saya datang pertama kali ke Desa Bihara dan Mengambil Bai’at dan Talqin Dzikir Thariqat al Junaidiyah pada Guru Mursyid KH. Jumberi bin H.Ma’shum bin H.Abu bakar hari Ahad, 26 Oktober 2003 Masehi atau  29 Sya’ban 1424 Hijeriyah jam15.00 wita Kec. Awaian Kab. Hulu Sungai Tengah (Barabai). Sekarang Desa Bihara Kec. Awaian menjadi wilayah Kabupaten Balangan ibu kota Paringin, Prov. Kalimantan Selatan.

2.Pada hari itu saya dan Sayyid M.Ariyatim adik saya dan didampingi Gr. A. Sarfani Desa Tabihi Kandangan, saya dan adik saya di bai’at, di ajari tawajjuh muthlaq dan tawassul membaca surat al Fatihah 5 kali sebelum tawajjuh muthlaq dan juga  pelimpahan talqin dzikir Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah serta mencatat sanad silsilahnya.

3.Sejak sa'at itu, saya mulai meneliti, sering mencari tahu dan mencatat ttg Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah selama bertahun-tahun hingga akhirnya jadilah sebuah Buku Biografi silsilah Nasab Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah yang Penulis susun dan namai Kitab Ar Risalah Bahjatul ‘Abiid Lil Jama’ah Thariqat al Junaidiyah disusun sebagai “Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah.”

P. NAMA DAN TINGKATAN MURID THARIQAT AL JUNAIDIYYAH

Adapunn nama dan Keadaan Hati Murid/Salik (spritual Murid) Pengamal Thariqat al Junaidiyah antara lain :

Menurut Penyusun ar Risalah Bahjatul Abiid ........ hal keadaan hati Murid yang menjadi Pengamal Thariqat al Junaidiyah ada beberapa macam tingkatan, yang terbagi kepada               :

1.Al Muridin       (المريدين) adalah tingkatan yang pertama. Murid pada tingkat ini, seorang murid baru menerima bai’at, murid baru menerima talqin dzikir, murid baru menerima tawassul dan tawajjuh dari Guru Mursyidnya. Murid  belum tahu suka dukanya dalam menjalankan amaliyah kehidupan kerohaniyan dalam berThariqat.

2.Al Thalibiin   الطالبين) (  adalah tingkatan yang kedua. Ditingkat ini mereka sudah mengerti dengan kehidupan Para Sufi dalam menjalani kehidupan alam rohani. Pada tingkat Thalib ini Pengamal Thariqat al Junaidiyah, mereka sering menoleh pada kehidupan orang zahir yang bergelimang dengan perhiasan dunia. Mereka sering tergoda dan tergoda oleh hijau kemilau dan merahnya dunia, hati mereka sering nempil pada agyar dunia, mereka sering ditipu oleh akwan dunia, mereka sangat suka dibohongi dunia, hingga mereka lalai dan lupa bahwa mereka hidup di dunia ini hanya sementara saja. Walaupun itu wajar saja tetapi hal itu menjadi dinding, menjadi isolasi mata hati si Thalib Pengamal Thariqat al Junaidiyah dengan Mukawwin  (المكوين) yaitu Orang yang mengadakan yakni Allah Swt. Disaat itu si Thalib sering bimbang, sering ragu, sering merasa was-was terhadap dirinya, anak-anaknya dan isterinya. Mereka belum merasakan kenikmatan rohaniyahnya dalam berThariqat pada amaliyah zahir dan amaliyah batin dan juga belum merasakan nikmat imannya.

Rasulullah Saw telah bersabda                   :

قال النبي صلى الله عليه وسلم : ثلاث من كن وجد بهن حلاوة الإيمان من كان الله ورسوله أحب إليه مما سواهما (رواه مسلم)

Artinya Rasulullah Saw telah bersabda   : “Tiga macam orang akan mendapatkan atau akan merasakan manisnya rohaniyahnya atau imannya, satu diantaranya “Barangsiapa Allah dan Rasulnya lebih dia cintai dari pada yang lainnya”

Telah berkata Para Ulama Sufi Rahimahumullah, makna “Halawatul Iman” manisnya iman disini yaitu menuntut kelezatan didalam berta’at dan membawa kesulitan (dalam berta’at) kepada keridhaan Allah Azza wajala dan juga kereridhaan Rasulullah Saw dan juga berpaling dari tujuan dunia.Kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya dibuktikan dengan perbuatan ta’atnya dan meninnggalkan yang bersalahan dengan perbuatan ta’atnya dan begitu juga dengan perbuatan ta’at terhadap Rasulnya.

قال العلماء رحمهم الله تعالى : معنى حلاوة الإيمان استلذاذ الطاعات وتحمل المشاعات فى رضى الله عز وجل ورسوله صلى الله عليه وسلم وإيثار ذلك على عرض الدنيا, ومحبة العبد ربه تعالى بفعل طاعته وترك مخالفته وكذلك محبة رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Ditingkat yang kedua ini, dia baru melihat yang luarnya saja dan baru mendengar dari balik tabir tentang berita itu. Tetapi dia juga belum merasa puas terhadap dunia yang diberikan Allah Swt kepadanya. Maksudnya  pada tingkat thalibiin ini, si Thalib penuh dengan ujian-ujian, si Thalib penuh dengan cobaa-cobaan, penuh tentangan-tentangan, godaan-godaan yang mengiurkan dirinya, telah datang dari anak dan isterinya, dan juga datang dari keluarganya dan dari lingkungannya.

Untuk menghadapi musuh-musuh diatas, agar Rohani kita tidak tergesir dari alam rohaniyah,atau alamSirriyah dan rohani kita tidak memasuki alam agyar ataupun  alam akwan yang penuh pesona ketika melakukan amaliyah Thariqat, kita harus melakukan Rabithah  (الربيطة) yang kuat dengan Guru Mursyid kita. Disnilah baru terasa begitu pentingnya  rabithah ikatan hati atau ikatan jiwa dengan sang Guru Mursyid, hingga semua gangguan hati si Thalib lenyap begitu saja,apa lagi kalau dia merasa Gurunya yang ada. Dia merasa Gurunyalah yang Berdzikir, dia merasa Gurunyalah yang beramal. Berarti si Thalib fana pada Gurunya (Fana fii Syekh).

Masalah Rabithah atau Murabithah seorang Murid atau Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah dengan Guru Mursyidnya, yang akan Penyusun Risalah Bahjatul ‘Abiid jelaskan di Bab mendatang pada Buku Risalah Umdatul Hasanah lil Jama;ah Thariqat al Junaidiyah sebagai Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah buku yang kedua.

3.Al Saa’irin  (اَلسَائِرِيْن)

Ditingkat  As Saa’irin ini, Pengamal Thariqat al Junaidiyah, mereka sudah mengerti tentang kehidupan Para Sufi, dan mereka sudah menyaksikan bahwa hidup Para Sufi telah bebas dari nempelnya dunia dan akhirat, maksudnya mereka bebes dari keterikatan dunia dan keterikatan akhirat.

Mereka mengerjakan amaliyah di dunia tidak mengharapkan pahala, dan diakhirat tidak mengharapkan sorga, tetapi mereka mengerjakan amaliyah untuk taqarrub,( التقرب). untuk mendapatkan ridla  (الرضاء) untuk mendapatkan mahabbah (المحبة). kecintaan Allah semata. Hal  ini sesuai dengan do’a mereka yang berbunyi :

إلهى أنت مقصودى ورضاك مطلوبي أعطني محبتك ومعرفتك

Artinya : “Wahai Allah Tuhanku, Engkaulah yang aku maksud. Dan keredlaan Engkaulah yang aku cari dan juga kecintaan Engkaulah yang aku rindukan.”

Pada tingkat ini hati PTJ sudah bercahaya-cahaya, hati sudah bersih dari hasil-hasil Riyadlah  (الرياضة) yang sudah dilaluinya. Mereka sudah bisa musyahadah (المشاهدة) dan muraqabah (المرقبة) dapat menangkap getaran-getaran dari Asma asma Allah yang terbungkus dalam wujud Kainat atau Akwan  (كائنات أكوان).

Mereka sudah mulai betah tinggal bersama Ahli Sufi dalam barisan Thariqat Sufi. Disini mereka dapat melihat rohaniyah Rasul setiap saat bila qadar syuhud mereka kuat.

Dalam kitab Haiqadzul Himam dijelaskan tentang seorang Murid yang samapai pada darajat Sa’iriin ini, mereka selalu bershalawat terhadap Rasulullah Saw     :

وقسم يصلون على روحه  النورانية وهم أهل الشهود من السائرين فهم يصلون على نوره الفائض من الجبروت. فيشاهدونه فى غالب أوقلتهم على قدر حضورهم وشهودهم

Maksudnya : Golongan yang kedua, mereka bershalawat atas Rasulullah Saw kepada rohnya yang Nuraniyah. Mereka itu adalah ahli syuhud dari derajat Sa’iriin. mereka bershalawat atas Nurnya Nabi yang berada di alam Jabarut (alam ketuhanan). Mereka menyaksikan rohaniyah Rasul setiap saat atas ukuran atau kadar hadir hati mereka dalam syuhud mereka.

Penyusun Umdatul Hasanah hanya berharap dan berdo’a  semoga apa yang dikatakan oleh Pengarang kitab Haiqadzul Himam ini dapat kita rasakan bersama khususnya Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) yang sampai pada martabat ini.


U. BAI'AT DI MASA NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW

Pada masa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, terjadi beberapa kali bai’at:

Orang-orang penduduk Madinah dahulu merupakan orang-orang yang istimewa, mereka mudah menerima tawaran Islam dari Nabi Saw dengan baik, seperti kisah Suwaid bin Shamit yang telah diulas sebelumnya. Semisal itu juga ada kisah Iyas bin Mu’adz yang menjamin delegasi dari Bani Abdul Asyhal, mengikat sumpah dengan Quraisy menyelamatkan kaumnya Khazraj, ketika Rasulullah Saw mengetahui berita mereka lantas mendatanginya seraya berkata,

هَلْ لَكُمْ إِلَى خَيْرٍ مِمَّا جِئْتُمْ لَهُ

“Adakah kamu datang untuk satu keperluan yang lebih baik?”

Mereka bertanya, “Siapa Anda?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَنَا رَسُولُ اللَّهِ بَعَثَنِى إِلَى الْعِبَادِ أَدْعُوهُمْ إِلَى أَن ْيَعْبُدُوا اللَّهَ لاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً وَأُنْزِلَ عَلَىَّ كِتَابٌ

Artinya “Saya Rasulullah, saya diutus kepada manusia. Saya mengajak manusia untuk menyembah Allah semata, dan tidak berbuat syirik sedikit pun, dan saya diwahyukan Al-Qur’an.”

Lalu beliau menceritakan Islam dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Lalu Iyas yang kala itu masih belia (ghulam) berkata kepada kaumnya,

أَىْ قَوْمِ هَذَا وَاللَّهِ خَيْرٌ مِمَّا جِئْتُمْ لَهُ

“Wahai kaumku, demi Allah ini lebih baik dari tujuan kamu datang untuknya.”

Abu Al-Haisar (kala itu sebagai ketua delegasi) mengambil segenggam kerikil dan melempari Iyas sambil berkata, “Diam kamu.” Iyas pun terdiam. Ketika mereka kembali ke Madinah, tidak lama kemudian Iyas meninggal dunia. Di antara orang yang menyaksikannya menyebutkan dia senantiasa membaca tahlil, takbir, tahmid, serta tasbih hingga ia meninggal dunia. Tetapi mereka tidak menyebutkan kalau ia mati dalam keadaan Islam. Yang jelas ia merasakan keislaman di majelis tadi ketika ia mendengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang ia dengar. (HR. Ahmad, 5:427. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

1. Bai’at Aqabah pertama

Bai’at  (loghat Arab: بيعة atau بَيْعَة) ialah perjanjian untuk memberi ketaatan. Orang yang berbai’at ialah seolah-olah ia membuat janji setia untuk menyerahkan dirinya dan urusan kaum Muslimin kepada khalifah. Ia tidak akan melanggar kepada janji-setianya terhadap khalifah dalam urusan tersebut malah ia mestilah mentaati apa yang dipertanggungjawabkan ke atasnya sama ada ia suka ataupun ia benci.

Bai’ah adalah akad antara umat dan calon khalifah untuk menjadi Khalifah atas dasar redha dan pilihan, tanpa ugutan dan paksaan. Allah Swt melalui Rasulullah Saw telah menggariskan bahawa akad tersebut adalah baiah.

Sebagaimana layaknya sebuah akad, dalam Baiah perlu ada ijab (penyerahan) dan qabul (penerimaan). Rasulullah Saw dan para sahabatnya mencontohkan bahawa ijab berasal dari umat sebagai pemilik kekuasaan. Calon khalifah mengabulkannya. Ijabnya berupa penyerahan kekuasaan dari rakyat kepada Khalifah untuk menerapkan Islam dan penyerahan ketaatan mereka kepadanya. Qabulnya berupa penerimaan hal tersebut oleh calon khalifah.

Baiat Aqabah 1 (620 M) adalah sumpah setia 12 orang penduduk Madinah (10 Khazraj, 2 Aus) kepada Nabi Muhammad Saw di Aqabah, Mina, pada tahun ke-11 kenabian. Perjanjian ini berfokus pada prinsip moral Islam—tidak menyekutukan Allah, mencuri, berzina, atau membunuh anak dan disebut sebagai "bai’at wanita"

Bai’at Aqabah pertama (tahun ke-11 Kenabian/ 620M), merupakan kontrak (perjanjian) sosial dan janji setia untuk berperilaku Islami. Di dalamnya juga terdapat rambu-rambu bagi masyarakat Islam.

Disebutkan bahwa Allah memperlihatkan Islam kepada mereka, ketika bersama Yahudi terdapat ahli kitab dan ahli ilmu, sedangkan mereka musyrik dan menyembah berhala. Diberitahukan kepada mereka akan datangnya seorang nabi dan mereka berhasrat memerangi kaumnya itu bersama nabi seperti pada perang kaum ‘Ad dan Iram. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan mereka dan menyeru kepada Islam. Di antara mereka, ada yang berkata, “Wahai kaumku! Tidakkah kamu mengetahui dialah Nabi yang telah dijanjikan Yahudi, segeralah memenuhi ajakan dan seruannya, benarkan dan terimalah ajaran Islam.” Mereka memberitahukan Nabi, “Kami meninggalkan kaum kami, kaum yang saling bermusuhan sesama mereka, semoga dengan kedatangan Anda, kaum kami menyatu. Kami akan memberitahukan dan menyeru mereka kepada apa yang kamu bawa. Kami akan menawarkan agama ini kepada mereka, sekiranya Allah mengumpulkan mereka di sekitar Anda, maka tidak ada orang yang paling mulia selain Anda.” Kemudian mereka pulang ke negeri mereka dengan membawa iman dan keyakinan yang jujur.

Jumlah mereka enam orang berasal dari Khazraj yaitu As’ad bin Zurarah, Auf bin Al-Harits bin Rifa’ah, Rafi’ bin Malik bin Al-‘Ajlan, Quthbah bin ‘Amir bin Hadidah, ‘Uqbah bin ‘Amir bin Naaby, dan Jabir bin ‘Abdullah bin Riab radhiyallahu ‘anhum.

Pada tahun berikutnya datang 12 orang, enam orang yang disebutkan, kecuali Jabir bin ‘Abdullah bin Riab, tambahannya adalah Mu’adz bin Al-Harits bin Rifa’ah, Dzakwan bin Abdul Qais, ‘Ubadah bin Ash-Shamit, Yazid bin Tsa’labah, Abul Haytsam bin At-Taihan, dan ‘Uwaimir bin Malik.

Bersumber dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di sekelilingnya ada sahabat-sahabatnya tadi,

بَايِعُونِى عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا ، وَلاَ تَسْرِقُوا ، وَلاَ تَزْنُوا ، وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ ، وَلاَ تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ ، وَلاَ تَعْصُوا فِى مَعْرُوفٍ ، فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِى الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ ، وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَهُوَ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ ، وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ

“Kemarilah dan berbaiatlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian sendiri, tidak berbuat dusta yang kalian ada-adakan sendiri, tidak mendurhakaiku dalam urusan yang baik. Barangsiapa di antara kalian menepatinya, maka pahalanya ada pada Allah. Barangsiapa ditimpa sesuatu dari yang demikian itu, lalu ia disiksa di dunia, maka itu merupakan ampunan dosa baginya. Barangsiapa ditimpa sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah. Jika menghendaki, Allah menyiksanya. Dan jika menghendaki, Allah akan mengampuninya.” Lalu kami pun berbaiat kepada beliau. (HR. Bukhari dan Muslim).

Pada mulanya Auz dan Khazraj adalah saudara kandung, kemudian terjadilah permusuhan di antara mereka karena ada pembunuhan. Peperangan di antara mereka  kedua Suku ini berlangsung selama 120 tahun. Api peperangan baru padam ketika Islam datang, mereka kembali bersaudara berkat kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah mereka.

Sekembalinya ke Madinah, mereka tersebut menjadi da'i menyeru kepada Islam, tersebarlah Islam ke seluruh penjuru dan pelosok Madinah sehingga semua mereka menyebut-nyebut tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 2. Bai’at Aqabah Kedua

Bai’at Aqabah Kedua (tahun ke-13 kenabian/ Juni 622) merupakan kontrak politik antara umat Islam dan pemimpin. Dua bai’at ini merupakan proto sosial politik untuk hijrah ke Madinah dan dasar dalam pembinaan negara Islam yang pertama di negeri itu, dan tidak lama sebelum peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw ke Madinah. Perjanjian ini dilakukan di Aqabah, Mina, saat musim haji.

Berikut adalah poin penting terkait Baiat Aqabah Kedua:

Peserta: Diikuti oleh 73 pria dan 2 wanita dari Yatsrib (Madinah).

Isi Bai’at: Penduduk Yatsrib berjanji setia kepada Rasulullah Saw, siap memberikan perlindungan (seperti melindungi keluarga sendiri), serta siap berjuang bersama Nabi.

Tokoh: Didampingi oleh paman Nabi, Abbas bin Abdul Muthalib.

Dampak: Peristiwa ini menjadi tonggak penting yang memungkinkan Nabi Muhammad Saw dan umat Muslim berhijrah ke Yatsrib dan mendirikan negara Islam.

3. Pelaksanaan Bai’at Aqabah ke-II

Pelaksanaan bai’at itu dengan cara berjabatan tangan. Menurut Ibnu Ishaq, (dalam Bai’at Aqabah II), Bani An-Najjar menganggap Abu Umamah As’ad bin Zurarah adalah orang yang pertama kali mengulurkan tangannya untuk berbai’at.

Setelah itu barulah dilakukan bai’at secara umum. Jabir menuturkan, “Lalu kami yang laki-laki bangkit menghampiri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bergiliran, lalu beliau membai’at kami dan berjanji akan memberikan surga kepada kami.”

Sedangkan bai’at terhadap dua wanita yang ikut hadir pada saat itu hanya dengan perkataan semata, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah berjabat tangan dengan wanita lain mahram.

Isi bai’at Aqabah II itu (point 2 di atas) diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Jabir, ia berkata: “Kami berkata, “Wahai Rasulullah, untuk hal apa kami berbai’at kepada engkau?”

Isi bai’at yang disampaikan Rasulullah:

1. Untuk mendengar dan taat tatkala bersemangat dan malas

2. Untuk menafkahkan harta tatkala sulit dan mudah

3. Untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar

4. Untuk tegak berdiri karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela karena Allah

5. Hendaklah kalian menolongku jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri, istri dan anak-anak kalian, dan bagi kalian adalah surga.

Dari bai’at-bai’at yang dilakukan Muslimin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut di atas intinya adalah janji setia, patuh dan ta’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (perintah agama), melaksanakan Islam dan membela/ melindungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan siap mati untuk berjuang/ berjihad melawan orang kafir dalam mempertahankan Islam.

3.Bai’at al Ridwan

Bai’at al Ridwan adalah sebuah janji setia para sahabat untuk taat kepada Rasulullah Saw dalam keadaan apapun. Aku kutip Artekel Keislaman Al-Idrisiyyah”ttg Baiat dalam Pandangan Al-Quran dan As-Sunnah”  menyatakan tentang Peristiwa Bai’atur Ridwan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw kepada para sahabatnya. Ketika itu para sahabat menyatakan janji setia dalam kondisi apapun untuk mengabdi kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bai’atur Ridhwan, yaitu kaum Muslimin sebanyak 1500 orang yang menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan ke Makkah untuk Umrah tahun 6 Hijriyah, mereka berbai’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah pohon Samurah. Para sahabat waktu itu berjanji kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka tidak akan lari dari medan pertempuran serta akan bertempur sampai titik darah yang penghabisan memerangi orang-orang musyrik Makkah, seandainya khabar yang disampaikan kepada mereka bahwa Utsman bin Affan yang diutus Rasulullah ke Makkah adalah benar telah mati dibunuh orang musyrik Makkah.

Peristiwa ini dilukiskan dalam Al-Quran:

لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ﴿الفتح:١٨

Artinya : “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”

Pada bulan Dzulhijjah tahun 6 H, Nabi saw beserta pengikutnya hendak mengunjungi Makkah untuk melakukan Umrah, dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Usman bin Affan lebih dahulu ke Makkah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kaum muslimin. Nabi dan para sahabat menanti-nanti kembalinya Usman, tetapi tidak juga kunjung datang karena Usman ditahan oleh kaum musyrikin, kemudian tersiar lagi berita bahwa Usman telah dibunuh. Karena itu Nabi saw menganjurkan kaum muslimin melakukan bai’at (janji setia) kepada beliau. Merekapun mengadakan janji setia kepada beliau dan mereka akan memerangi kaum Quraisy bersama Nabi saw  sampai kemenangan tercapai1)

Dari akar kata tersebut diketahui bahwa kata  bai’at pada mulanya dimaksudkan sebagai pertanda kesepakatan atas suatu transaksi jual beli antara dua pihak. Kesepakatan itu biasanya dilakukan dengan berjabatan tangan. Istilah ini kemudian berkembang sebagai ungkapan bagi kesepakatan terhadap suatu perjanjian  antara dua pihak secara umum.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Qatadah, ia berkata kepada Said bin Musayyab, “Berapa jumlahnya orang yang ikut Bai’atur Ridhwan?” Said menjawab, “Seribu lima ratus orang”. Ada pula yang berpendapat jumlahnya 1400 orang.

Formula dzikir yang diberikan saat menerima Ijazah, bai’at atau talqin bisa berubah (mengalami inovasi) sesuai kondisi zamannya. Perubahan tersebut adalah bagian dari kebijakan Allah yang dinamis. Allah senantiasa melakukan Perbuatan-Nya (Fa’-’aalul limaa yuriid). Sebagai murid mesti memanfaatkan waktu dalam mewujudkan penghambaan diri kepada-Nya. Waktu menurut filsafat ibarat air mengalir yang tidak pernah berhenti. Waktu terus bergulir seiring pergerakan matahari dan bulan. Waktu tidak akan berhenti apalagi mundur. Di zaman Rasulullah Saw, bai’at diberlakukan terhadap mereka yang hendak masuk  agama Islam serta bagi yang berkeinginan menunaikan pekerjaan-pekerjaan (perintah) agama. Di antara bai’at yang ada waktu itu adalah bai’at untuk taat dan patuh kepada Rasulullah Saw. Berbai’at untuk berlaku taat merupakan perintah syar’i dan Sunnah Rasulullah Saw meskipun telah beriman terlebih dahulu. Karena bai’at merupakan pembaharu janji setia serta penguat jalinan kepercayaan beragama. Ada yang memiliki persepsi keliru bahwa bai’at hanya dilakukan di saat peperangan sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah Saw dan para sahabatnya ketika menghadapi kaum kafir Mekah.2).

Padahal asbabun nuzul (sebab turunnya) kedua ayat tersebut menunjukkan disyari’atkannya bai’at dan tidak ada penjelasan bahwa bai’at hanya dilakukan pada saat peperangan saja. Kebijakan syari’at bai’at dilakukan pada setiap zaman untuk membangun kepemimpinan.

Sehingga ada jalinan hubungan yang kuat antara yang memimpin dan yang dipimpin. Dengan prosesi bai’at terjalinlah ikatan hukum berupa hak dan kewajiban serta tanggung jawab kedua belah pihak secara adil dan proporsional. Adanya hak dan kewajiban ini merupakan hasil dari bai’at.

Bai’at lebih merupakan pernyataan komitmen spiritual secara formal di depan mursyid untuk menjalani hidup yang benar dan lurus. Bai’at dapat menjadi terapi kaget (shock theraphy) menuju untuk hijrah kepada susasana batin yang baru dan memberikan motivasi berkomitmen dalam kehidupan yang benar.

Bai’at di dunia thariqat bisa diperbarui seandainya seseorang memerlukan pengisian kembali (recharging ) energi spiritual dari mursyid. Namun perlu ditegaskan sekali lagi, bahwa mursyid bukan santo atau lembaga pastoral yang dapat atas nama Tuhan memberikan pengampunan dosa terhadap jamaah. Fungsi mursyid sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya hanya berfungsi sebagai motivator dan tutor yang dipercayai salik.

Bai’atur Ridhwan, yaitu kaum Muslimin sebanyak 1500 orang yang menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan ke Makkah untuk Umrah tahun 6 Hijriyah, mereka berbai’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di bawah pohon Samurah. Para sahabat waktu itu berjanji kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka tidak akan lari dari medan pertempuran serta akan bertempur sampai titik darah yang penghabisan memerangi orang-orang musyrik Makkah, seandainya khabar yang disampaikan kepada mereka bahwa Utsman bin Affan yang diutus Rasulullah ke Makkah adalah benar telah mati dibunuh orang musyrik Makkah.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Qatadah, ia berkata kepada Said bin Musayyab, “Berapa jumlahnya orang yang ikut Bai’atur Ridhwan?” Said menjawab, “Seribu lima ratus orang”. Ada pula yang berpendapat jumlahnya 1400 orang.

Sekitar tahun keenam Hijriyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat telah memutuskan akan mengunjungi Makkah pada tahun itu juga, dengan maksud mengerjakan umrah serta melihat sanak keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Maka beliau beserta kaum muslimin berangkatlah. Sesampainya di Hudaibiyah, beliau bertemu dengan Basyar bin Sufyan Al-Ka’by. Basyar menerangkan kepada beliau bahwa orang-orang musyrik Makkah telah mengetahui kedatangan beliau beserta para sahabat, dan telah bersiap di Dzi Thuwa dengan persenjataan lengkap untuk menyerang kaum Muslimin.

Karena itu, beliau mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Makkah menemui pembesar-pembesar Quraisy untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau beserta kaum Muslimin. Maka berangkatlah Utsman. Kaum Muslimin menunggu-nunggu kembalinya Utsman, tetapi tidak juga kembali karena Utsman ditahan oleh pembesar-pembesar Quraisy. Kemudian tersiar berita di kalangan kaum Muslimin bahwa Utsman telah mati dibunuh oleh pembesar-pembesar Quraisy. Mendengar berita itu di antara kaum Muslimin ada yang telah habis batas kesabarannya sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar kaum Muslimin melakukan bai’at kepada beliau. Kaum Muslimin pun mengikuti anjuran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dan melakukan bai’at kecuali seorang (munafik) bernama Jadd bin Qais Al-Anshary. Isi bai’at itu ialah bahwa mereka akan memerangi kaum musyrikin bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai tercapai kemenangan.

Bai’at para sahabat itu diridhai Allah Swt sebagai tersebut dalam ayat 18 Surat Al-Fath/48. Karena itu bai’at itu disebut Bai’atur Ridhwan, yang berarti bai’at yang diridhai.

Bai’atur Ridhwan ini menggetarkan hati orang-orang musyrik Makkah karena mereka takut kaum Muslimin akan menuntut balas bagi kematian Ustman, sebagaimana yang diduga mereka. Karena itu mereka mengirimkan utusan yang menyatakan bahwa berita tentang pembunuhan Utsman itu bohong dan mereka datang untuk berunding dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perundingan itu menghasilkan perdamaian, yang disebut Perjanjian Hudaibiyah (Shulhul Hidaibiyah).

4. Penduduk Makkah juga melaksanakan bai’at kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kota itu ditaklukkan ( Fathu Makkah, 630M, 8 H).

Ketika Allah menaklukkan Makkah bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang Muslim, maka penduduk Makkah sudah bisa membuka matanya, melihat suatu kebenaran. Mereka menyadari bahwa tidak ada jalan keselamatan kecuali Islam. Mereka pun menyatakan masuk Islam dan berkumpul untuk sumpah setia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di Shafa untuk membai’at mereka. Sementara Umar bin Al-Khatthab berada di bawah beliau, memegang tangan orang-orang yang berbai’at. Mereka menyatakan sumpah setia kepada beliau untuk taat dan tunduk menurut kesanggupan.

Di dalam Al-Madarik diriwayatkan bahwa setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai membai’at kaum laki-laki, beliau juga membai’at kaum wanita. Saat itu beliau ada di Shafa dan Umar ada di bawah beliau. Beliau membai’at para wanita itu untuk tunduk kepada perintah beliau dan menyampaikan apapun yang berasal dari beliau. Lalu muncul Hindun bin Utbah, isteri Abu Sufyan. Dia datang dengan cara sembunyi-sembunyi, takut kalau-kalau beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) memergokinya. Karena apa yang dulu pernah diperbuatnya terhadap jasad Hamzah (dalam perang Uhud, 3H, Hindun membelah dada Hamzah dan mengunyah-kunyah jantungnya, pen).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku membai’at kalian, untuk tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah.” Lalu Umar bin Al-Khatthab membai’at mereka untuk tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah.

Beliau bersabda lagi: “Mereka tidak mencuri.”

Hindun berkata: “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah orang yang kikir. Bagaimana jika aku mengambil sedikit dari hartanya?”

Abu Sufyan menyahut: “Apa yang engkau ambil, maka itu halal bagimu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum mendengar hal itu hingga beliau dapat mengenal Hindun. Beliau bertanya: “Benarkah engkau Hindun?”

“Ya”, jawab Hindun. Dia berkata lagi: “Ampunilah kesalahanku yang telah lampau wahai Nabi Allah, niscaya Allah akan mengampuni engkau pula.”

Beliau bersabda lagi: “Mereka tidak berzina.”

Hindun bertanya: “Adakah wanita merdeka yang berzina?”

Beliau bersabda: “Mereka tidak membunuh anak-anak mereka.”

Hindun berkata: “Kami mengasuh mereka sewaktu kecil lalu kalian membunuh mereka setelah besar.”

Sebagai yang sudah diketahui bersama, anak Hindun, Handhalah telah terbunuh pada waktu Perang Badr. Mendengar ucapan Hindun itu Umar tertawa hingga badannya telentang karena merasa geli. Sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum. Beliau bersabda lagi;

“Mereka tidak membuat kedustaaan.”

Hindun berkata: “Demi Allah, kedustaan adalah perkara yang amat buruk, sementara engkau tidak menyuruh kami kecuali kepada petunjuk dan akhlaq yang mulia.”

Beliau bersabda lagi: “Mereka tidak mendurhakaiku dalam perkara yang ma’ruf.”

Hindun berkata: “Demi Allah, kami tidak duduk di tempat ini, sementara di dalam relung hati kami ada niat untuk mendurhakai engkau.”

Setelah Hindun kemabli ke rumahnya, dia merobohkan berhala di rumahnya, sambil berkata: “Dulu kami terpedaya olehmu.”

Bai’at kepada wanita waktu Fathu Makkah itu isinya sama dengan bai’at penduduk Yatsrib/ Madinah ketika datang ke Makkah mereka berbai’at yang dikenal dengan Bai’at Aqabah Pertama, tahun 11 Kenabian/ 620M(point 1 tersebut di atas, isi bai’atnya sebagai berikut):

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit (salah seorang yang ikut berbai’at), bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kemarilah dan berbai’atlah kalian kepadaku untuk :

– tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah

– tidak mencuri

– tidak berzina

– tidak membunuh anak-anak sendiri

– tidak akan berbuat dusta yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian

– tidak mendurhakaiku dalam urusan yang baik.

Barangsiapa di antara kalian menetapinya, maka pahalanya ada pada Allah. Dan barangsiapa mengambil sesuatu dari yang demikian ini, lalu dia disiksa di dunia, maka itu merupakan ampunan dosa baginya, dan barangsiapa mengambil sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah. Jika mengehendaki Dia menyiksanya dan jika menghendaki Dia akan mengampuninya.” Lalu aku (Ubadah bin As-Shamit) pun berbai’at kepada beliau. (HR Al-Bukhari).

R. PEMBAI'ATAN DIMASA KHULAFAURRASYIDIN

Pembai’atan Abu Bakar

Uraian di atas adalah bai’at di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berikut ini bai’at untuk Abu Bakar sebagai Khalifah Rasulillah.

Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Tarikhul Khulafa’ menuturkan riwayat-riwayat tentang dibai’atnya Abu Bakar sebagai khalifah (pengganti) Rasulillah. Riwayat-riwayat itu yang dikemukakan paling depan adalah riwayat As-Syaikhani (Imam Al-Bukhari dan Muslim) sebagai berikut:

As-Syaikhani meriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khatthab berpidato di depan manusia tatkala dia (Umar) pulang dari menunaikan ibadah haji. (Pidato ini pada bulan Dzulhijjah, sedang wafat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Rabi’ul Awwal 11H/ 8 Juni 632M, jadi sudah 8 bulan dalam pemerintahan Abu Bakar ra, pen). Dia berkata dalam khutbahnya itu: Telah sampai berita kepada saya bahwa seseorang di antara kalian ada yang berkata, seandainya Umar meninggal maka saya akan membai’at Fulan. Jangan sampai ada di antara kamu yang tertipu dengan mengatakan: “Pembai’atan Abu Bakar itu adalah satu kekeliruan.” Ingatlah, jikapun yang terjadi demikian, namun Allah telah menjaga (dampak) buruknya. Dan di kalangan kamu sekalian sekarang ini tidak ada orang yang leher-leher mau dipotong untuknya seperti Abu Bakar. Karena dia adalah orang terbaik dari kita di kala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat. Dan sesungguhnya Ali dan Zubair serta orang-orang yang bersama mereka terlambat (datang untuk membai’at) karena mereka berada di rumah Fathimah. Dan orang-orang Anshor juga membai’at belakangan setelah kami ketika berkumpul di Saqifah Bani Saidah. Orang-orang Muhajirin berkumpul mengerumuni Abu Bakar, lalu aku katakan padanya: Wahai Abu Bakar, mari bersama kami pergi ke saudara-saudara kita dari kalangan Anshor. Lalu kami berangkat mewakili mereka (Muhajirin) hingga kami temui dua lelaki shalih, maka keduanya menyebutkan kepada kami apa yang diperbuat kaum (Anshor). Lalu keduanya berkata: Kemana kalian ingin pergi wahai orang-orang Muhajirin? Aku katakan: Aku ingin ke saudara-saudara kami kaum Anshor. Lalu keduanya berkata: Kalian jangan sampai mendekati mereka, dan selesaikanlah urusan kalian sendiri, wahai orang-orang Muhajirin. Lalu aku katakan: Wallahi kami pasti mendatangi mereka. Maka kami berangkat sampai menjumpai mereka di Saqifah Bani Sa’idah. Mereka saat itu sedang berkumpul dan di antara para hadirin ada yang berselimut.

Saya bertanya, “Siapakah orang ini?”

Mereka menjawab: “Sa’ad bin Ubadah.”

Saya tanya: “Kenapa dia?”

Mereka berkata: “Sakit”.

Ketika kami duduk, khathib mereka berdiri, lalu memuji Allah semestinya, dan ia berkata: Amma ba’du, kami adalah penolong-penolong Allah dan pasukan Islam. Kamu sekalian wahai orang Muhajirin adalah bagian dari kami. Kalian datang kepada kami dan kalian ingin memotong kami dari akar kami, dan mengerami kami untuk urusan itu.

Tatkala dia selesai mengucapkan khutbahnya, saya ingin menyampaikan ucapan balasan sesuai dengan apa yang saya siapkan dan saya anggap sangat baik. Saya ingin mengatakannya di hadapan Abu Bakar. Saya merasa bahwa saya lebih tahu darinya dalam batas tertentu, dan dia lebih sabar dariku dan lebih tenang penampilannya.

Abu Bakar berkata, “Jangan terburu-buru wahai Umar!” Dan saya (Umar) tidak ingin menjadikan dia (Abu Bakar) marah. Dia lebih tahu daripada saya. Demi Allah, ia (Abu Bakar) sama sekali tidak meninggalkan satu kalimat pun yang saya anggap sangat indah dalam persiapan balasan yang saya siapkan. Dia mengatakannya dengan terang sesuai dengan apa yang saya rencanakan, bahkan lebih baik lagi. Hingga akhirnya dia mengakhiri pidatonya. Kemudian dia (Abu Bakar) berkata, “Amma ba’du. Adapun apa yang engkau sebutkan tentang kebaikan-kebaikan yang ada pada kalian, maka itu memang hak kalian. Namun orang-orang Arab tidak mengakui kepemimpinan selain orang Quraisy, mereka adalah berasal dari keturunan yang terbaik dan dari tempat yang terbaik. Saya rela jika kalian memilih salah seorang dari dua orang ini. Maka bai’atlah ia sebagaimana kalian suka.”

Lalu ia (Abu Bakar) mengambil tanganku (Umar) dan tangan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, yang saat itu duduk di antara kami. Saya (Umar) sangat tidak senang dengan apa yang dia katakan terakhir. “Demi Allah, lebih baik leher saya dipenggal daripada saya maju menjadi pemimpin di saat masih ada Abu Bakar.”

Salah seorang dari Anshor berdiri dan berkata, “Dari kami ada pemimpin dan dari kalian ada satu pemimpin, wahai orang-orang Quraisy.”

Kemudian terjadi kegaduhan dan ada teriakan-teriakan, hingga saya (Umar) sangat khawatir terjadi persengketaan.

Saya berkata: “Angkat tanganmu, wahai Abu Bakar!” Dia angkat tangannya. Lalu saya bai’at Abu Bakar, dan kaum Muhajirin juga mengikuti, lalu kaum Anshor juga ikut membai’atnya. Maka ketahuilah bahwa kami tidak pernah menghadiri sama sekali satu majlis yang sangat genting yang lebih mendapatkan taufiq daripada pembai’atan Abu Bakar. Kami khawatir jika kami memecah belah umat, sedangkan saat itu belum dilakukan pembai’atan. Dengan demikian kita akan dihadapkan pada pembai’atan orang yang tidak kami sukai, atau kami berbeda pendapat dengan mereka, hingga akan timbul fitnah besar,

Ibnu Ishaq dalam kitab Sierahnya berkata, Az-Zuhry berkata pada saya, Anas bin Malik berkata pada saya, dia berkata: “Tatkala Abu Bakar dibai’at di Saqifah Bani Sa’idah, besoknya (malam berikutnya, pen) Abu Bakar duduk di atas mimbar. Lalu Umar berpidato sebelum Abu Bakar. Dia memuji Allah dan menyatakan syukurnya. Lalu (Umar) berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan orang terbaik di antara kalian, memangku jabatan khalifah. Ia adalah sahabat Rasulullah, orang yang menemaninya saat berada di dalam gua. Maka bangunlah kalian semua dan nyatakan bai’at kepadanya.”

Lalu para hadirin berdiri dan menyatakan bai’at secara umum setelah bai’at di Saqifah. Kemudian Abu Bakar berdiri dan memuji Allah dan menyatakan syukurnya. Kemudian dia berkata:

أما بعد أيها الناس فإني قد وليت عليكم و لست بخيركم فإن أحسنت فأعينوني و إن أسأت فقوموني الصدق أمانة و الكذب خيانة و الضعف فيكم قوي عندي حتى أريح عليه حقه إن شاء الله و القوي فيكم ضعيف حتى آخذ الحق منه إن شاء الله لا يدع قوم الجهاد في سبيل الله إلا ضربهم الله بالذل و لا تشيع الفاحشة في قوم قط إلا عمهم الله بالبلاء أطيعوني ما أطعت الله و رسوله فإذا عصيت الله و رسوله فلا طاعة لي عليكم قوموا إلى صلاتكم يرحمكم الله و هذا إسناد صحيح

“ Amma ba’du. Wahai manusia! Sesungguhnya saya telah dipilih untuk memimpin kalian, dan bukanlah saya orang yang terbaik di antara kalian. Maka jika saya melakukan hal yang baik, bantulah saya. Dan jika saya melakukan tindakan yang menyeleweng maka luruskanlah saya. Sebab kebenaran itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kalian adalah kuat dalam pandangan saya, hingga saya ambilkan hak-haknya untuknya, sedangkan orang yang kuat di antara kalian adalah lemah di hadapanku, hingga saya ambil hak orang lain darinya, insya Allah. Dan tidak ada satu kaum pun yang meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali akan Allah timpakan padanya kehinaan. Dan tidak pula menyebar kemaksiatan pada suatu kaum kecuali Allah akan timpakan mala petaka. Taatlah kalian kepadaku selama saya taat kepada Allah, dan jika saya melakukan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban ta’at kalian kepadaku. Bangunlah untuk melakukan shalat (‘Isya’, pen) rahimakumullah.”

Dalam riwayat Ibnu Sa’ad, Al-Hakim dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata: “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kaum Muslimin berkumpul di rumah Sa’ad bin Ubadah. Hadir di tengah mereka Abu Bakar dan Umar. Khathib-khathib Anshor berdiri, dan seorang dari mereka mulai berkata: “Wahai orang-orang Muhajirin, sesungguhnya Rasulullah jika menempatkan seseorang dari kalian maka dia akan senantiasa mengambil dari kami sebagai teman. Maka kami melihat bahwa pemerintahan ini hendaknya diperintah oleh dua orang, seorang dari kami dan seorang dari kalian.”Orang-orang yang berpidato dari kalangan Anshor menekankan hal itu secara bergantian.

Zaid bin Tsabit berdiri dan berkata: “Tidakkah kalian tahu bahwa Rasulullah adalah dari kalangan Muhajirin, dan khalifahnya adalah dari kalangan Muhajirin, sedangkan kita adalah pembantu Rasulullah (Anshor), dengan begitu kita juga adalah pembantu khalifahnya. Kemudian ia mengambil tangan Abu Bakar dan berkata, “Inilah sahabat Anda sekalian.” Lalu Umar membai’atnya, diikuti oleh kaum Muhajirin, lalu kaum Anshor.

Kemudian Abu Bakar (lain waktu, pen) naik ke mimbar dan dia melihat ke wajah hadirin, namun tidak mendapatkan Zubair. Dia memerintahkan agar Zubair dipanggil, lalu dia datang memenuhi panggilan Abu Bakar. Abu Bakar berkata: “Kau adalah anak bibi Rasulullah dan seorang hawari (sahabat) Rasulullah. Apakah kamu ingin mengoyak-koyak persatuan kaum muslimin?” Zubair menjawab, “Tidak, wahai khalifah Rasulullah!” Lalu dia membai’at Abu Bakar.

Lalu Abu Bakar kembali melihat orang yang hadir, dia juga tidak mendapatkan Ali di tengah mereka. Dia kemudian mengutus orang untuk memanggil Ali, dan Ali pun datang memenuhi panggilan tersebut. Abu Bakar berkata, “Kau adalah anak paman Rasulullah, dan dia kawinkan engkau dengan anaknya. Apakah kau akan mengoyak-koyak persatuan kaum muslimin?” Ali menjawab, “Tidak, wahai khalifah Rasulullah.” Dan diapun lalu membai’atnya.

Demikianlah bai’at di Saqifah dan bai’at umum kepada Abu Bakar, khalifah pertama dalam Islam. Intinya adalah janji setia untuk menta’ati Khalifah, kepemimpinan secara Islam selama sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya, dan menghindari perpecahan di kalangan umat Islam.

S. HAK IMAM / SYEKH/ GURU MURSYID KEPADA PARA MURID

Adapun Hak-hak Imam atau Guru Mursyid terhadap para Muridnya Pengamal Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah antara lain :

Hak Imam (seorang Mursyid) adalah didengar dan ditaati oleh murid-muridnya. .Kewajibannya membimbing pengikutnya kepada jalan yang lurus. Jalan yang lurus merupakan anugerah besar yang hanya dibawa oleh orang-orang pilihan-Nya. Dan anugerah tersebut bukan berasal dari manusia atau makhluk-Nya. Anugerah atas manusia pilihan Allah tersebut adalah Kenabian dan Kerasulan, di dalamnya terdapat kepemimpinan. Termasuk di dalamnya adalah Al-’Ulama, pewaris Nabi yang melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya.  Orang-orang pilihan Allah tersebut membawa panji-panji Ilahiyyah yang berisi kebijakan yang lurus dalam menggapai Keridhaan Allah Swt.

1. Hak Murid atau Salik terhadap Syekh Mursyidnya.

Hak Murid atau Salik adalah dipimpin, dibimbing, diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Posisi Mursyid adalah sebagai konsultan yang menampung persoalan atau problematika muridnya Murid memiliki hak untuk bertanya terhadap persoalan yang belum (tidak mampu) dipecahkannya. Kewajiban murid adalah Sami’na wa Atho’na. Tidak ada pilihan melainkan bersikap taat dan turut perintah. Hal ini disebabkan karena telah terbangun keimanannya kepada Mursyid yang telah dipilih Allah dan diyakini mendapatkan mandat Ilahiyyah yang membawa kebijakan Allah SWT. Modal itulah yang melandasi sikapSami’na wa Atho’na. Sikap ini bukan taqlid yang dilakukan tanpa dilandasi ilmu pengetahuan, tapi didasarkan atas kesadaran dan keimanan.

Adanya hak dan kewajiban ini membuktikan konsep keadilan kepemimpinan dalam Islam. Keadilan inilah yang mendekatkan diri kepada nilai ketaqwaan.

Bagian pengabdian seorang Utusan baik kalangan Nabi atau penerusnya adalah sebagai pendidik (mu’allim) umatnya. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ  وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ ﴿الجمعة: ٢﴾

a.Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

b.Bai’at juga disebut juga dengan Ijazah. Ijazah mengandung arti memberikan suatu amalan atau wirid (kepada murid). Dalam kebijakan  Al-Idrisiyyah  Al-Islamiyyah, ketiga istilah ini (Bai’at – Talqin dan Ijazah) dipadukan dalam satu kesatuan.  Bai’at mengandung kesepakatan terhadap kepemimpinan yang di dalamnya mengandung pendidikan atau pengajaran sekaligus adanya pemberian amalan (wirid).

c.Wiridan dalam Ijazah mesti dilakukan oleh setiap murid untuk mengikat batin, agar tercipta kelangsungan bimbingan dari seorang Guru kepada murid-muridnya. Karena bimbingan Islam tidak dibatasi waktu dan tempat. Kapanpun dan di manapun bimbingan (tarbiyyah) ruhiyyah bisa dirasakan. Seorang murid mesti memiliki daya juang (mujahadah) untuk mendapatkan hubungan tarbiyyah berjalan dengan baik, salah satunya dengan melaksanakan awrad (formula dzikir) yang diterimanya.

d.Apabila seorang Mursyid dengan tanggungjawabnya senantiasa memperhatikan keselamatan dan kebahagiaan murid-muridnya di dunia dan akhirat, dan Allah memberikan kekuatan berupa Nur Ilahi-Nya, kemudian muridnya melakukan mujahadah dalam awrad ijazahnya maka akan tersambunglah hubungan tersebut.

Firman Allah Swt QS al Fath ayat 10 berbunyi :

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ

 وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَفَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا ﴿الفتح: ١٠﴾

Artinya Bahwasanya orang-orang yang bersumpah setia kepada kamu sesungguhnya mereka bersumpah setia kepada Allah. Kekuasaan Allah di atas kekuasaan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Inilah ajaran syari’at yang sangat penting untuk membangun kecerdasan umat, tapi sayang sekali sebagian besar umat Islam tidak memahami makna syari’at ini. Sehingga kebanyakan mereka tidak dalam kapasitas terbimbing. Orang yang berbai’at akan mendapatkan kekuasaan dari Allah SWT berdasarkan ungkapanYadullaaha fawqo aydiihim. Karena orang yang berbai’at kepada Petugas Allah berarti berbai’at kepada Allah. Allah secara langsung membimbing, memberikan kekuatan, meneguhkan atasnya. Kekuasan dan Kekuatan Allah di atas kekuasaan dan kekuatan manusia.

Seorang Mursyid bertugas (ibadah) melakukan bimbingan, mencurahkan pikiran dan strategi, membuat berbagai metodologi dan inovasi, supaya kebijakan yang dibawanya bisa direspon dan diamalkan oleh murid pada khususnya dan umat pada umumnya. Tanggung jawab seorang Mursyid itu begitu besar, karena berupa Risalah Al-Islamiyyah yang pernah ditawarkan kepada seluruh makhluk lain sebelum manusia, mereka tidak sanggup memikulnya.

Firman Allah Swt QS al Ahzab ayat 72 berbunyi :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا

 الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا﴿الأحزاب: ٧٢﴾

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,

2.Tanggung Syekh Mursyid kepada para Muridnya.

Tanggung jawab seorang Mursyid bersifat internal dan eksternal. Skalanya sangat luas. Sedangkan seorang murid minimal mempertanggungjawabkan dirinya masing-masing. Kewajiban yang diistiqamahkan akan menghasilkan kualitas diri yang baik. Bahkan diharapkan menjadi hamba pilihan.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ ... إلخ ﴿آل‌عمران: ١١٠﴾

Artinya : “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,”

Supaya menjadi suri tauladan bagi manusia, sebagai kewajiban internal dan eksternal. Murid yang telah berbai’at, mendapatkan bimbingan lahir batin, wawasan keislaman yang luas, pendalaman dan penghayatan tentang agama, akan menghasilkan pribadi-pribadi yang berkualitas, serta menjadi contoh di hadapan umat manusia.

Pada umumnya manusia memiliki cita-cita yang pendek sedangkan pribadi yang berkualitas (khoyro ummah) memiliki visi jauh ke depan, cita-cita yang tinggi, harapan jangka panjang hingga kepada kebahagiaan di kehidupan yang kekal.

Orang yang baru saja melakukan ikrar bai’at secara simbolis dianggap seperti terlahir kembali (reborn) dari kehidupan kelam sebelumnya yang tanpa petunjuk dan bimbingan. Suasana batin bagaikan kondisi bayi yang baru dilahirkan ke dunia ini, bahagia, cerah, bersih dari dosa dan lepas dari beban masa lalu.

Banyak cara orang untuk memperoleh ketenangan dan sekaligus motivasi untuk menggapai rasa kedekatan diri dengan Allah. Salah satu di antaranya ialah menyatakan komitmen spiritual kepada Allah di depan atau melalui mursyid yang dipilih.

Jika pada suatu saat mengalami krisis spiritual, ia merasa sangat terbantu oleh kehadiran sahabat spiritual yang berfungsi sebagai konsultan spiritualnya.

Thariqat adalah Bahasa Arab berasal dari kata ‘thariqah’ yang artinya ‘jalan’. Jalan yang dimaksud di sini adalah jalan untuk menjadi orang bertaqwa, menjadi orang yang diredhoi Allah Swt. Secara praktisnya thariqat adalah kumpulan amalan-amalan lahir dan batin yang bertujuan untuk membawa seseorang untuk menjadi orang bertaqwa.Ada 2 macam thariqat yaitu thariqat wajib dan thariqat sunat. thariqat wajib, yaitu amalan-amalan wajib, baik fardhu ain dan fardhu kifayah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. thariqat wajib yang utama adalah mengamalkan rukun Islam. Amalan-amalan wajib ini insya Allah akan membuat pengamalnya menjadi orang bertaqwa yang dipelihara oleh Allah. Paket thariqat wajib ini sudah ditentukan oleh Allah s.w.t melalui Al-Quran dan Al-Hadis.

3. Amalan Wajib yang Utama

Contoh amalan wajib yang utama adalah shalat, puasa, zakat, haji. Amalan wajib lain antara lain adalah menutup aurat , makan makanan halal dan lain sebagainya. thariqat sunat, yaitu kumpulan amalan-amalan sunat dan mubah yang diarahkan sesuai dengan 5 syarat ibadah untuk membuat pengamalnya menjadi orang bertaqwa. Tentu saja orang yang hendak mengamalkan thariqat sunnah hendaklah sudah mengamalkan thariqat wajib. Jadi thariqat sunnah ini adalah tambahan amalan-amalan di atas thariqat wajib. Paket thariqat sunat ini disusun oleh seorang guru mursyid untuk diamalkan oleh murid-murid dan pengikutnya. Isi dari paket thariqat sunat ini tidak tetap, tergantung keadaan zaman thariqat tersebut dan juga keadaan sang murid atau pengikut. Hal-hal yang dapat menjadi isi thariqat sunat ada ribuan jumlahnya, seperti shalat sunat, membaca Al Qur’an, puasa sunat, wirid, zikir dan lain sebagainya.

Thariqat Thariqat adalah pengalaman syari’at, melaksanakan beban ibadah dengan tekun dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah ibadah, yang sebenarnya memang tidak bolehdipermudah (diremehkan). Kata thariqat dapat dilihat dari dua mata sisi amaliah ibadah dan dari sisi organisasi (perkumpulan). Sisi amaliah ibadah merupakan latihan kejiwaan, baik yang dilakukan oleh seorang atau secara bersama-sama, dengan melalui dan mentaati aturan tertentu untuk mencapai tingkatan kerohaian yang disebut maqamat atau al-ahwal, yang mana latihan ini diadakan secaraberkala yang juga dikenal dengan istilah suluk. Sedangkan dari sisi organisasi maka thariqat berarti sekumpulan salik (orang yang melakukan suluk) yang sedang menjalani latihan kerohaian tertentu yangbertujuan untuk mencapai tingkat atau maqam tertentu yang dibimbing dan dituntun oleh seorang guru yang disebut mursyid…

Referensi  : 

(1).Artekel Keislaman Al-Idrisiyyah.com ” Baiat dalam Pandangan Al-Quran dan As-Sunnah” terbit Kamis, 11 Oktober 2012

(2).Prof. Dr. Nasarudin Umar, harian Republika, 12 Januari 2012]

(3).Artikel  :”ahlulbaitrasulullah.blogspot.com › Fiqih  10 Mar 2013” Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ Diposkan oleh M R NaufaL Senin, 04 Agustus 2014

(4).Artekel Keislaman Al-Idrisiyyah.com ” Baiat dalam Pandangan Al-Quran dan As-Sunnah” terbit Kamis, 11 Oktober 2012

(5).Artikel “Kekhususan  Fatimah Azzahra yang menurunkan Nasab Rasulullah” Ahlul Bait diposting  tgl 12/12/2013

(6).Artikel “Nasab AHLU-BAIT Nabi dari Keluarga Alawiyin ’// https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com/2012/09/nasab-ahlu-bait-nabi-dari-keluarga.html

(7).You tobe “Kisah Ubaidillah bin Ali bin Abi Thalib RA| putra imam ali yang terlupakan dalam sejarah” https://ww w.youtube.com/watch?v=akNqd0yUqeo

(8).Kamus Arab Indonesia oleh Mahmud Yunus hal 181.

(9).Artikel ahlulbaitrasulullah.blogspot.com › Fiqih  tgl.10 Maret 2013)

(10).Artikel www.KisahMuslim.com /Read more http://kisahmuslim.com/3306-sang-pembunuh-imam-ali.html

(11) 1 -Kitab  الطبقات الكبرى  الجزء الأول   -19

(12) 2 -Kitab  الطبقات الكبرى  الجزء الأول   -21

(13).KitabTanwirul Qulub fi Mua’milati allamul Guyub yang ditulis oleh Syekh Muhammad Amin Kurdi halaman 525-527

(14). Kitab Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 31

(15). Artekal Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ  M R NaufaL Senin, 04 Agustus 2014)

(16).Artikel “Faedah Sirah Nabi: Bai’at ‘Aqabah Pertama”

https://rumaysho.com/20900-faedah-sirah-nabi-baiat-aqabah-pertama.html

(17).Artikel “Talqin Dzikir/Ba’iat”  https://sites.google.com/site/pustakapejaten/thariqah/3-dzikir/talqin-dzikirbai’at

(18).Surat Al Jin ayat 19  https://tafsirweb.com/11456-surat-al-jin-ayat-16.html

(19).Artikel” Fungsi Sanad Silsilah dalam Thariqat” oleh Lindung Hidayat Siregar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...