Jumat, 10 April 2026

Bab I "Perkembangan Thariqat Sufi al Junaidiyyah" Kitab al Risalah Bahjatul 'Abiid ..

  BAB  I

PENDAHULUAN

PERKEMBANGAN THARIQAT SUFI AL JUNAIDIYYAH

AL-RISALAH BAHJATUL ‘ABIID LILJAMA'AH AL THARIQAT AL JUNAIDIYYAH

الرسالة  بهجة العبيد للجماعة الطريقة الجنيدية

 

DAFTAR ISI  : BAB. 1

A..PERKEMBANGAN THARIQAT AL JUNAIDIYAH  DI INDONESIA

B. DASAR-DASAR TENTANG ILMU TASAWUF AL JUNAID AL BAGDADY

C. PEENGELOMPOKAN ASAL MULA CABANG NAMA-NAMA THARIQAT SUFI SEDUNIA

D. BERGABUNGNYA THARIQAT AL JUNAIDIYAH DENGAN JAM'IYAH AHLI AL THARIQAT MU'TABARAH AN NAHDLIYAH INDONESIA

E. PESERTA MU'TAMAR JAM'IYAH AHLI AL THARIQAT MU'TABARAH AN NAHDLIYAH INDONESIA KE-IX TAHUN 2000

F. NAMA-NAMA THARIQAT SUFI DAN JUMLAH THARIQAT AL MU’TABARAH AN-NAHDHIYAH INDOESIA HASIL MU’TAMAR KE-IX DARI TGL.26-28 FEBRUARI 2000M DI PEKALONGAN JAWA TENGAH

G. 81 MACAM JENIS THARIQAT SUFI MU’TABARAH DI SELURUH DUNIA

H. MACAM-MACAM JENIS THARIQAT SUFI DI DUNIA ISLAM MODEREN

I. DUA TOKOH PENGEMBANG THARIQAT AL JUNAIDIYAH DI INDONESIA

J. KH.MUHAMMAD QURTUBY BIN KHALID KALIMANTAN (1918-2002M/ 1423H)

K. SANAD  TALQIN DZIKIR THARIQAT AL JUNAIDIYAH

L. HATI-HATI TITIK LEMAH SANAD  SILSILAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH

M. BIOGRAFI SANAD  SILSILAH AL THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYAH

Silsilah TJ yang ke Satu

01. ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA

Silsilah TJ yang ke Dua

02. MALAIKAT JIBRIL ALAIHIS SALA

Silsilah TJ yang Ketiga

03.MUHAMMAD SAW IBN ABDULLAH

MUHAMMAD SAW, BELIAU MANUSIA YANG TERMULIA DAN PEMIMPIN TERTINGGI DAN SEORANG RAJA NEGERI ARAB

Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (25 th) dengan Sayyidah Siti Khadijah (40 th) binti Khuwailid ibn As’ad mulai tahun (595–620M).

Isteri-isteri Rasulullah Saw ibn Abdullah ibn Abdul Muthalib setelah Khadijah isteri pertamanya Wafat  :

01. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Saudah binti Zam’ah al-Amiriyah ibn Qais,

02. Rakam jejak Pernikahan Nabi Muhammad Saw dimulai  tahun  (620–632M) dengan Sayyidah Siti Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq.

03. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Hafshah binti Umar ibn Khatthab.

04. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Siti Zainab binti Khuzaimah al Hilaliyah, mulai tahun (626–627 Masihi).

05. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umayyah)

06. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw  dengan Sayyidah Zainab binti Jahsy (wanita cantik-bernasab mulia).

07. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Mariatul Qibtiyah binti Syama’un dan Ibunya seorang berkebangsaan Romawi.

08. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (58 th) dengan Sayyidah Ummu Habibah (Ramlah) binti Abi Sufyan ibn Harb.

09. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Juwairiyah binti al-Harits ibn Abi al-Dhirar al-Huza’i.

10. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Shafiyah (17thn) binti Huyay ibn Akhtab, mulai tahun (628–632M).

11. Rakam jejak  Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Maimunah binti Harits, mulai tahun (629–632M)

12. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Raihanah binti Zaid, mulai tahun 627–631M).

Silsilah TJ yang ke Empat

04.KHALFAH  ALI  IBN  ABI  THALIB

01. Perkawinan Sayyidah Fathimah Azzahra dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib

KHALFAH  ALI  IBN  ABI  THALIB

Wafatnya Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah

IBNU MULJAM DAN WANITA CANTIK BERPAHAM KHAWARIJ

  BAB  I

PENDAHULUAN

PERKEMBANGAN THARIQAT SUFI AL JUNAIDIYYAH

AL-RISALAH BAHJATUL ‘ABIID LILJAMA'AH AL THARIQAT AL JUNAIDIYYAH

الرسالة  بهجة العبيد للجماعة الطريقة الجنيدية

A. PERKEMBANGAN THARIQAT AL JUNAIDIYAH  DI INDONESIA

Al Junadiyah adalah nama sebuah Thariqat Sufi yang dinisbahkan yang dinisbahkan kepada Syekh dan     Imam Al Junaid al Bagdady. Orang-orang yang mengikuti dan mengamalkan thariqat al Junaid tetapi sesudah Imam al Junaid wafat, maka orang-orang itu dinamakan "Pengikut thariqat al Junaidiyah." Thariqat al Junaidiyah disebut juga thariqat al Qaum, tharikat ini dibawa masuk ke Indonesia KH. Kasypul Anwar Firdaus bin Muhammad Shalih sebelum tentara Jepang masuk ke Indonesia.

Dan dikatakan orang bahwa KH. Kasypul Anwar Firdaus mengambil thariqat Junaidiyah (thariqat al Qaum) tahun 1935 Masihi /tahun 1335 Hijriyah dari seorang Syekh dan Sayyid Umar Ba Junaidi asal Negeri al Magribi sehabis menunaikan ibadah Haji. Tempat pengambilan Bay'at dan Talqin Dzikir di depan Ka'bah Baitullah.

Istilah al Junaidiyah adalah nama sebuah aliran thariqat Sufi untuk pengikut-pengikut Abu Qasin al Junaid setelah beliau wafat. Beliau seorang pemimpin semua aliran thariqat Sufi. Pada masanya dijuluki sebagai "TAWUS AL ULAMA" atau Merak para Ulaama. Merak adalah  nama seekor  burung yang  sangat  cantik, indah, unik sangat mahal harganya dan sangat sulit dicari sehingga ia ditasyabbuhkan  keseekor burung  Merak.  Abu Qasim al Junaid al Bagdadi adalah pemimpin mazhab ini dan imam dari semua para Sufi.  Ada yang menyebutnya pemimpin sufi Mazhab Irak. Ia menjadi tokoh penting dikalangan para Sufi di Bagdad dan menjadi poros dalam sejarah tasawuf awal. Istilah al Junaidiyah adalah menunjukkan nisbah yang kuat bahwa al Junaid  di pandang tokoh kunci dalam  aliran-aliran tasawuf dan terekat sufi yang berkembang sesudahnya.

Berdasarkan basis penyebarannya  al Junaidiyah merupakan sufisme aliran tarekat Mesopotamia yang berpusat di Bagdad, daerah penyebarannya  meliputi Syiria, Mesir masuk ke Iran hingga  masuk ke Indonesia (pulau Kalimantan). Alur-alur penyampaiannya  bermula dari Syekh Ma’ruf al Karkhi,  menuju  Sirri as Saqati, al Junaid al Bagdadi  terus ke Imam as Syibli dan Qadli Ruwaim. Qadli Ruwaim terus hingga ke Imam as Sya'rani dan Imam as Syibli terus ke Imam Qusyairi  hingga Syekh Muhammad az Zahidy al Wakhshi w.936H. Hal ini dapat  dilihat  dari  Silsilah  tarekat al Junaidiyah itu sendiri. Mesopotamia  adalah  tradisi  yang  paling dekat  dengan  sufisme Arab. Dijumpai  ada dua aliran utama  yang  konsisten dengan  tradisial  Junaidiyah yakni  aliran  Suhrawardiyah dan  aliran Rifa’iyah.

Imam Al Junaid

Tradisi  Junadiyah  banyak  dianut  Kaum  Sufi yang hidup  sesudah Imam al Junaid, dan Imam al Sya’rani  pengarang  Kitab Anwar al Qudsiyah  memuji  jalan al Junaid, sebab menurutnya, tradisi  Junaidiyah  memenuhi  persyaratan  hukum  dan  diterima di dunia Islam. Ini  memungkinkan bahwa  salah  satunya  karena  tasawuf  aliran  al Junaidiyah  ini mengikuti  ajaran tasawuf Syekh al Junaid sendiri.

Ajaran Tasawuf Syekh al Junaid bertolak dari dasar  Islam ( al Qur’an dan al Hadis) dan bertumpu pada penegakkan  sya’riat  secara  konsisten.  Hal ini  tampak  jelas  dalam  kehidupan  dan pelajaran –pelajaran  yang diberikan Syekh al Junaid  kepada  murid-muridnya.

Imam Abdul Wahhab al Sya’rani dalam  kitabnya Tanbihu al Mugtarin  mengatakan  bahwa  Abu Qasim al Junaid al Bagdadi  berkata

قال الشيخ الإمام أبو القاسم الجنيد البغدادى : مذهبنا هذا مقيد بأصول الكتاب والسنة, ويقول أيضا : من لم يحفظ القرأن ولم يكتب الحديث لا يقتدى به هذا فى هذا الأمر لأن هذا مقيد بالكتاب والسنة.

Artinya : Telah berkata Syekh Imam Abu Qasim Al Junaid al Bagdadi, :"Aliran Mazhab kami ini, telah dikat kuat dengan kitab al Qur'an dan  al Sunnah Nabi Saw. Dan dikatakannya pula " Barang siapa yang tidak memelihara al Qur'an dan  dan tidak menulis al hadis Nabi Saw, maka jalan ajaran tidak boleh diikuti dalam perkara (tarekat) sebab mazhab ini diikat oleh al Qur'an dan  al Sunnah.

Berkata Imam Abdul Wahhab al Sya’rani dalam  kitabnya "MADARIJUS SALIKIN" Imam Junaid al Bagdady berkata :

كان الجنيد يقول : من علامة صدق المريد عدم ميله الى غير طريقتى وإذا أراد الله بمريد خيرا أوقعه إلى الصوفية ومنعه صحبة الفقهاء وأهل الجدال.

Artinya : Telah berkata Syekh Imam Abu Qasim Al Junaid al Bagdadi, :"Sebahagian dari tanda benarnya seorang murid itu, ketiadaan cendrung hatinya selain pada jalanku. Apabila Allah menghendaki akan seorang murid akan kebaikan niscaya menjatuhkan hatinya bersahabat orang sufi dan menegah bersahabat dengan fuqaha dan orang suka berdebat".

KH.Kasyful Anwar Firdaus

B. DASAR-DASAR TENTANG ILMU TASAWUF AL JUNAID AL BAGDADY

Adapun dasar-dasar pemikiran al Junaid al Bagdadi tentang tasawuf adalah sebagai berikut :

Pertama : Seorang Sufi harus meninggalkan kelakuan dan sifat-sifat yang buruk dan menjalankan budi pekerti yang baik, sesuai dengan ajaran-ajaran tasawuf yang selalu menganjurkan sifat-sifat baik dan meninggalkan budi pekerti yang jelek.

Kedua : Ajaran tasawuf adalah ajaran-ajaran yang dapat memurnikan hati manusia dan menganjurkan hubungan baik dengan mahluk lainnya. Ajaran tasawuf selalu mengajarkan untuk meningkatkan sifat-sifat alamiyah yang bisa merusak kesucian jiwa, menahan manusia dari godaan jasmani, mengambil sifat-sifat ruhani, mengingatkan diri pada ilmu hakekat, dan mengingat Allah Swt dan Rasul Saw.

Ketiga :  Memalingkan perhatian dari urusan duniawi kepada urusan ukhrawi. Bagi orang beriman meninggalkan pergaulan dari sesama manusia masih lebih mudah dan berpaling kepada Allah sulit.Ternyata berpaling dari nafsu lebih sulit lagi. Untuk itu melawan nafsu adalah sangat penting untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini, Syekh Hujwiri mengutip bahwa al Junaid pernah ditanya, "Apakah persatuan dengan Tuhan ?" Dia menjawab, "Meniadakan hawa nafsu,"karena di antara semua tindakan ibadah yang diridhai Tuhan, tiada yang lebih besar nilainya daripada menundukkan hawa nafsu. Menghancurkan gunung lebih mudah bagi seorang manusia dari pada menundukkan hawa nafsunya."

Keempat : Manusia harus berpegang teguh kepada tauhid, termasuk dalam bertasawuf. Arti tauhid menurut Syekh al Junaid adalah mengesakan Allah Swt dengan sesempurna –Nya. Bahwa sesungguhnya Allah Swt itu esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak berbilang, berjumlah dan tidak pula tersusun, dan tak satupun yang menyerupai Nya. Dia Maha Mendengar, Dia Maha Melihat dan Maha Tunggal ………… dan seterusnya.

 Kelima : Seorang Sufi harus bisa melakukan tiga syarat amalan, yaitu :

a.Melajimkan dzikir disertai muraqabah bil batin bersama  kesadaran yang penuh.

b.Mempertahankan tingkat kesadaran/ ketenangan (Najwan) yang tinggi.

c.Selalu melaksanakan Syari’at secara tepat dan ketat.

Tasawuf  bagi al Junaid, tidak lain adalah  budi pekerti yang baik dan meninggalkan budi pekerti  yang buruk.  Baik dan  buruknya  sesuatu  diukur  dengan  syari’at, karenanya  tasawuf harus berdasarkan  Syari’at.  Dokrin  ini  berlaku  dikalangan  mazhab  aliran  tarekat  al Junaidiyah.

Junaidiyah  juga  menganut  pandangan  tentang  kemurnian  hati, menekan hawa nafsu jasmani  dan  berpegang  pada   ilmu   hakekat.   Hal  ini  dirujuk  dari  pandangan Syekh   al Junaid  yang menyatakan bahwa  tasawuf  adalah  memurnikan hati  dalam  berhubungan  dengan  makhluk lain, meninggalkan  sifat alamiah,  menekan  sifat-sifat  buruk  manusia, menghindari  godaan  jasmani, mengambil   sifat-sifat   ruhani,   mengikat  diri  pada   ilmu  hakekat, selalu  dzikrullah  mengikuti  sunnah  Rasulullah.

Junaidiyah mengajarkan bahwa segala jalan yang dilalui para Sufi seluruhnya tertutup kecuali jalan yang telah ditetapkan Allah melalui jalan Rasulnya. Dengan kata lain, bahwa mazhab tasawuf aliran tarekat Junaidiyah memegang teguh ajaran-ajaran yang berdasarkan pada Al Qur,an dan Sunnah Rasulullah Saw dalam mewujudkan segala keseimbangan antara lahir dan batin, antara hakekat dan syari’at, antara ilmu dan amal saleh.

Bagi Junaidiyah, tasawuf yang meninggalkan syari’at adalah tercela dan tidak bisa diikuti. Pada masa Syekh al Junaid sudah ada kalangan tertentu dalam lingkungan Sufi yang bertingkah laku tidak mengikuti syari’at, karena mengganggap dirinya sebagai sufi yang sudah sampai pada maqam yang tertinggi dan tidak memerlukan syari’at lagi. Ketika masalah ini ditanyakan kepada Syekh al Junaid, ia menyatakan bahwa orang yang berbuat zina dan mencuri lebih baik dari pada orang-orang yang berbuat demikian. Karena itu, Syekh al Junaid menganggap amat mendasar bahwa sufi sejak menempuh tingkat  permulaan sampai tingkat tertinggi, tetep berpegangteguh kepada al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Bagi Junaidiyah, tasawuf yang meninggalkan syari’at adalah tercela dan tidak bisa diikuti. Pada masa Syekh al Junaid sudah ada kalangan tertentu dalam lingkungan Sufi yang bertingkah laku tidak mengikuti syari’at, karena mengganggap dirinya sebagai sufi yang sudah sampai pada maqam yang tertinggi dan tidak memerlukan syari’at lagi. Ketika masalah ini ditanyakan kepada Syekh al Junaid, ia menyatakan bahwa orang yang berbuat zina dan mencuri lebih baik dari pada orang-orang yang berbuat demikian. Karena itu, Syekh al Junaid menganggap amat mendasar bahwa sufi sejak menempuh tingkat  permulaan sampai tingkat tertinggi, tetep berpegangteguh kepada al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw yang berbuat demikian. Karena itu, Syekh al Junaid menganggap amat mendasar bahwa sufi sejak menempuh tingkat  permulaan sampai tingkat tertinggi, tetep berpegangteguh kepada al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw

Kalangan Junaidiyah juga berpegang teguh pada pandangan al Junaid yang mengatakan bahwa “ Amaliah seorang Sufi harus melaksanakan tiga rukun amal  :

  1. Melajimkan dzikir yang tidak pernah berhenti bersama himmah dan kesadaran yang penuh.
  2. Mempertahankan tingkat kegairahan (Wajd) yang tinggi.
  3. Selalu melaksanakan Syari’at secara tepat dan ketat.
Syekh M.Qurthubi


C. PEENGELOMPOKAN ASAL MULA CABANG NAMA-NAMA THARIQAT SUFI SEDUNIA

Adapun semua jenis thariqat sufi dapat di kelompokkan dari asal mula Cabang Nama-Nama Thariqat Sufi di seluruh dunia ISLAM

Dikutip dari Artikel Berkeislaman dan Kebudayaan menyatakan bahhwa "Thariqat sufi sangat banyak jumlahnya. Mari kita mengenal mereka secara mendalam. Namun terlebih dahulu, lihat dan baca dulu seratusan nama Thariqat sufi di bawah ini. Penjelasan lebih lanjut hadir di ngaji berikutnya (1)  :

1. Thariqat al-Ibâhiyyah

2. Thariqat al-ittihâdiyyah

3. Thariqat al-Ahmadiyyah atau Badawiyah: Thariqat syaikh Badawi, (w. 1276 M), mempunyai beberapa cabang, yaitu :

• Thariqat as-Syannawiyyah

• Thariqat al-Marâziqah

• Thariqat al-Kannâsiyyah

• Thariqat al-Inbâbiyyah

•  Thariqat al-Humûdiyyah

•   Thariqat al-Munâfiyyah

•  Thariqat as-Salamiyyah

• Thariqat al-Halbiyyah

• Thariqat az-Zâhidiyyah

• Thariqat as-Syu’aibiyyah

• Thariqat at-Tasqiyâniya

•  Thariqat al-‘Arabiyyah

•  Thariqat as-Sathuwihiyyah

•  Thariqat al-Bandâriyyah

•  Thariqat al-Musallimiyyah atau Thariqat Sarnabalillah

•   Dan Thariqat Bayumiyyah.

4.Thariqat al-Idrisiyyah: cabang dari Thariqat al-Khâdhirîyah Daerah ‘Ashir

5.Thariqat al-Adhamiyyah: dinisbatkan pada Syaikh IbRAhim bin Adham

6. Thariqat al-Isma’îliyyah: Thariqat  Daerah Qordofah

7.Thariqat al-Isyrâqîyyah: mengikuti Thariqat  Sukhrawardiyah al-Halbî, nama lengkapnya Syihabuddin Yahya bin Habsyi bin Amirqi as-SuhRAwardi al-îsyrâqîyyah dijuluki as-Suhrâwardi al-Maqtul.

8.Thariqat al-AsRAfiyyah: cabang dari Thariqat Syadziliyah di Turki (Abdullah ar-Rumi)

9. Thariqat al-I’ti basyiyyah: cabang dari Thariqat Khalwatiyah

10.Thariqat ightisyâsyiyyah: cabang dari Thariqat Kubrâwiyah di Khurosan

11.Thariqat Akbariyyah: Thariqat  Hâtimiyyah

12.Thariqat ‘Amirul Ghunyah: cabang Hâtimiyah dari Thariqat  Idrisiyyah

13.Thariqat al-Ummi Sananiyyah: Thariqat  Sananiyyah

14.Thariqat al-Awyasiyyah: dinisbatkan kepada Uwais al-Qorni

15.Thariqat al-Bâbâiyyah

16.Thariqat al-Buhuriyyah

17.Thariqat al-Burâqiyyah

18.Thariqat al-Burhaniyyah atau Thariqat  al-Burhamiyyah atau Dasuqiyah, cabangnya Thariqat al-Sahawiyah dan Thariqat al-Syarâbanah

19.Thariqat al-Basthâmiyyah atau al-Thaifuriyyah: dinisbatkn pada syaikh Abi Yazid Thaifur al-Busthami

20.Thariqat al-Bakriyyah: dari mesir cabangnya Thariqat  al-Qâdiriyah dan Thariqat  al-Khalwatiyyah

21.Thariqat al-Bukâiyyah: keturunan sudan berbasis Qâdiriyah, dan memiliki dua cabang yaitu Fadhliyah dan Saidiyah al-Banawah cabang dari Thariqat al-Qâdiriyah

22.Thariqat al-Bunuhiyah: Thariqat Maghribiyah (maroko)

23.Thariqat al-Bairiyah: Thariqat dari jalan Qiliqiyah

24. Thariqat al-Bairuhajat: Thariqat Afghoniyah dari pengikut al-Anshori al-Harowi

25.  Thariqat al-Byromiyah: pendirinya adalah haji Byrom keturunan Turki dari Thariqat al-Shafawiyah, terpecah menjadi:

•  al-Hamzawiyah

•   al-Syaikhiyah

•  al-Hammatiyah

26.Thariqat al-Bayumiyah: cabang dari al-Ahmadiyah

27.Thariqat al-Bataiyyah: Thariqat Tunisiyah maroko

28.Thariqat al-Tijaniyah: Thariqat jazariyah maghribiyah tersebar hingga ke sudan

29.Thariqat al-Tasyasyatiyah: Thariqat india, afganistan

30. Thariqat al-Jabawiyah: Thariqat al-Sa’diyah

31.Thariqat al-Jarahiyah: cabang Turki dari Thariqat al-Khalwatiyah

32.Thariqat al-Jazuliyah: cabang Thariqat al-Syadziliyah, diantaranya adalah cabang:

• al-Darqowah

•  al-Hammadasyah

•  al-AiSAWiyah

•  al-Syarqowah

•  al-Thaibiyah

33.Thariqat al-Jalalah: cabang Thariqat al-Qâdiriyah dalam maghrib maroko

34.Thariqat al-Jalaliyah al-Najariyah: cabang Thariqat al-Suhrâwardiyah, Daerah india dinisbatkan kepada syaikh Makhdum Jihaniyan, w. 1383 M.)

35. Thariqat al-Jamaliyah: cabang farisy dari Thariqat al-Sahrurodiyah, pendirinya adalah Ardestani (alm) keturunan ke-15 masehi. Dan juga Thariqat al-Jamaliyah yaitu Thariqat Turki yang bertempat di Istanbul

36. Thariqat al-Jalwatiyah: cabang Turki Shofwiyah, cabangnya adalah:

•  Thariqat al-Hasyimiyah

•  al-Rusyaniyah (Kalsyaniyah)

•  al-Fana’iyah

•  al-Hudza’iyah dinisabtkan kepada syaikh Junaid

37. Thariqat al-Junaidiyah: keturunan Junaid dan cabangnya adalah:

•   Thariqat al-Khawajikan

•   al-Kubrâwiyah

•   al-Qâdiriyah

38.Thariqat al-Hatimiyah: keturunan ibnu arâby (Akbariyah)

39.Thariqat al-Habibiyah: cabang dari Thariqat al-Syadiliyah

40. Thariqat al-Haririyah: cabang dari Thariqat ar-Rifaiyyah

41.Thariqat al-Hafnawiyah: cabang dari Thariqat al-Khalwatiyah (wafat 1767 M.)

42.Thariqat al-Hakimiyah: dinisbatkan kepada imam hakim at-Tîrmîdzi

43.Thariqat al-Hallajiyah: dinisbatkan kepada al-Hallaj

44.Thariqat al-Hamadasyiyah: cabang maghroby dari Thariqat al-Jazulawiyah yang mempunyai cabang:

•             Thariqat al-Daghwaghiyah

•             Thariqat al-Shadaqiyah

•             Thariqat al-RAbahiyah

•             Thariqat al-Qasimiyah

45.          Thariqat al-Hamzawiyah: gabungan Thariqat dari Thariqat al-Biramiyah dan Thariqat al-Malamiyah

46.          Thariqat al-Hanshaliyah: Thariqat bangsa maghRAbiyah (Maroko)

47.          Thariqat al-Haidariyah: cabang dari Thariqat al-Qondariyah (Paris atau Prancis)

48.          Thariqat al-Khâdiriyah atau Khidriyah: Thariqat yang dinisbatkan pada ibnu Dabbagh, cabangnya:

•             al-Murghaniyyah

•             al-Idrisiyyah

•             al-Sanusiyyah.

49.          Thariqat al-KhaiRAziyah: dinisbatkan pada Abi Sa’id al-Khiroz

50.          Thariqat al-Khafifiyah: Ibnu Khofif as-Syirozi

51.          Thariqat al-Khafiyah: nama laqab dari Thariqat an-Naqsyabandiyah di negara china dan Turkistan.

52.          Thariqat al-Khalwatiyyah: cabang Thariqat Sukhrawardiyyah di Khurasan (Iran) cabang yang di Turki adalah:

•             Sarâhiyah Ightibasyiyah as-Sayaqiyah

•             al-Niy aziyah

•             al-Sunbûliyah

•             al-Syamsiyyah

•             al-Kalfaniyyah

•             as-Syuja’iyah

Cabang di Mesir adalah:

•             al-Dha’ifiyyah

•             al-Hafnuwiyyah

•             as-Saba’iyah

•             as-Shawiyah

•             ad-Dardiyah

•             al-mughsiyah

•             an-Naubah

•             al-Hîjaz

•             al-Khalîlyyah, di Tunisia

•             al-Khumûsiyyah al-Khawâjâkân di Iran merupakan cabang Thariqat al-Junaidiyah, di Daerah Turkinistan disebut al-Yusûwiyah dinisbatkan pada syaikh Yusuf al-Hamdzânî

•             ad-Darqâwah cabang Thariqat al-Jazûliyyah, Thariqat ad-Darqawah memiliki cabang:

•             al-Bauzîdiyah al-Kitâniyyah

•             al-hîrâqiyyah

•            

53.          Thariqat al-Khilyaliyah

54.          Thariqat al-Khumusiyah

55.          Thariqat al-Khâwajakân

56.          Thariqat al-Khowâthoriyyah

57.          Thariqat al-Dardiriyah

58.          Thariqat al-Darqowah

59.          Thariqat ad-Dasuqiyah: Burhaniyah

60.          Thariqat ad-Dahriyah: berkembang di negara Yaman, China dan Turki

61.          Thariqat ad-Dahabiyah: sebutan Thariqat al-Kubrowiyah di Paris atau Prancis

62.          Thariqat ar-Rohhâliyyah

63.          Thariqat ar-Rohmâniyyah: cabang kholwatî.

64.          Thariqat ar-Rosûli Syâhiyyah di India

65.          Thariqat ar-Rasyidiyah: cabang Thariqat al-Yusufiyyah.

66.          Thariqat ar-Rifa’iyyah: cabang dari Thariqat ini adalah:

•             Thariqat as-Suriyah

•             al-Haririyah

•             as-Sa’diyah

•             as-Siyadiyah

sedangkan di Mesir cabangnya bernama:

•             Thariqat al-Baziyah

•             al-Malikiyah

•             Thariqat al-Habibiyah.

67.          Thariqat ar-Rukniyah: cabang dari Thariqat al-KubRawiyah berkembang di IRAq dinisbatkan kepada (‘ala’ ad-Daulah as-Samnani (w. 1336 M))

68.          Thariqat ar-RAusyiniyah: cabang Thariqat Khalwatiyyah berkembang di Mesir dan Turqi, dinisbatkan pada Syaikh al-Kalsyâni 1553 M (cabang Thariqat as-Sukhrawardiyah).

69.          Thariqat ar-Rumiyah atau Thariqat Asrofiyyah

70.          Thariqat az-Zarruqiyah: cabang Iran dari Thariqat as-Syadzili dinisbatkan pada Syaikh Zaruq

71.          Thariqat az-Ziyaniyah: cabang maghrobi dari Thariqat as-Syadzili

72.          Thariqat az-Zainiyah: cabang Thariqat as-Suhrowardiyyah di Turki

73.          Thariqat as-Sâlimiyah`uhiiiiiiij,,,,,,,,,,,, atau Sahliyah

74.          Thariqat as-Sab’îniyah: Thariqat yang dinisbatkan kepada Ibnu Sab’in

75.          Thariqat as-Siqthiyah: Thariqat yang dinisbatkan kepada Sari as-Siqthi (w. 867 M)) di Turki

76.          Thariqat as-Salâmiyah atau Thariqat ‘Arûsiyah

77.          Thariqat as-Sulthâniyah: Turkinistaniyah

78.          Thariqat as-Samâniyah: cabang Thariqat  as-Syadzili dinisbatkan kepada Muhammad Abdul Karim as-Samani al-Madani

79.          Thariqat as-Sunbuliyah: cabang Thariqat Khalwatiyah di Turki

80.          Thariqat as-Sannan Ummiyah: di Turki

81.          Thariqat as-Sananiyah: di Tunisia

82.          Thariqat as-Sanusiyah: di Libya

83.          Thariqat as-Suhrowardiyyah: dinisbatkan kepada Abdul Qodir as-Suhrowardi disebut juga Siddîqiyah berdasarkan nama Abu Bakar as-Siddiq dan memiliki cabang yaitu:

•             Jalâliyah

•             Jamaliyah

•             Khalwatiyah

•             RAusyaniyah

•             Shofwiyah

•             Zainiyah

.........................................................................

1)Artikel Perkembanganthariqatdi Indonesia” oleh digilip uinsby (Universitas Islam Negeri Surabaya)

2)Artikel "Berkeislaman dan Kebudayaan oleh Alif.ID Redaksi 1 Desember 2017

 

D. BERGABUNGNNYA THARIQAT AL JUNAIDIYAH DENGAN JAM'IYAH AHLI AL THARIQAT MU'TABARAH AN NAHDLIYAH INDONESIA

Adapun Thariqat al Qaum  al Junaidiyah ikut bergabung dengan Jam'iyah  Ahli at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah  Indonesia mulai tahun 2000, ikut kongres Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia.

Kongres at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pertama tahun 1957M/1377H di Pondok Tegalrejo Magelang Jawa Tengah, menghasilkan jumlah thariqat Sufi yang disahkan dan diakui ada 44 macam jenis thariqat Sufi.

Dimasa Imam al Gazali  antara tahun 1058-1112M/450-505H ada kurang lebih 80 macam jenis thariqat Sufi, dengan rincian sebagai berikut yaitu 40 macam thariqat Sufi yang sudah disyahkan dan 40 jenis thariqat yang belum sempat disyahkan.

Dalam Makalah Mengenal Thareqat Panduan Pemula mengenal jalan menuju Allah Ta'ala dikatakan bahwa dalam Kitab Dairatul Ma'arif al Islamiyah disebutkan ada 163 aliran thareqat Shufi yang salah satu diantaranya punya 17 cabang. Sementara Syekh Muhammad Taufq al Bakry dalam kitabnya Baitus Shiddiq, menyebutkan aliran-aliran thareqat di dunia Islam kurang lebih 124 aliran thareqat Shufi.

Kongres at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pertama di Tegalrejo Magelang Jawa Tengah tersebut pada Kamis, tanggal 10 Oktober 1957M dibentuk secara resmi al Jam'iyah al ahli  at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia yang memayungi dari 44 macam thariqat Sufi. Adapun thariqat Sufi dimaksud adalah :

  1. Thariqat Sufi Abbasyah
  2. Thariqat Sufi Ahmadiyah
  3. Thariqat Sufi Akbariyah
  4. Thariqat Sufi Alaweiyah
  5. Thariqat Sufi Baerumiyah
  6. Thariqat Sufi Bakdasyiah
  7. Thariqat Sufi Bakriyah
  8. Thariqat Sufi Bayumiyah
  9. Thariqat Sufi Buhuriyah
  10. Thariqat Sufi Dasuqiyah
  11. Thariqat Sufi Ghoiyyah 
  12. Thariqat Sufi Ghazaliyah
  13. Thariqat Sufi Haddadiyah
  14. Thariqat Sufi Hamzawiyah
  15. Thariqat Sufi Idrisiyah
  16. Thariqat Sufi  Idrusiya
  17. Thariqat Sufi Isawiyah
  18. Thariqat Sufi Jalwatiyah
  19. Thariqat Sufi Justtiya
  20. Thariqat Sufi Kalsyaniya
  21. Thariqat Sufi Qadiriyah
  22. Thariqat Sufi Khalwatiyah
  23. Thariqat Sufi Khalidiyah wa Naqsyabadiyah
  24. Thariqat Sufi Kubrawiyah
  25. Thariqat Sufi Madbuliyah
  26. Thariqat Sufi Malamiyah
  27. Thariqat Sufi Maulawiyah
  28. Thariqat Sufi Qadiriyah wa Naqsyabadiyah
  29. Thariqat Sufi Rifa'iyah  
  30. Thariqat Sufi Rumiyah
  31. Thariqat Sufi Sa'diyah
  32. Thariqat Sufi Sammaniyah
  33. Thariqat Sufi Sumbuliyah
  34. Thariqat Sufi Sya'baniyah
  35. Thariqat Sufi Syadzaliyah
  36. Thariqat Sufi Syathariyah
  37. Thariqat Sufi Syukhrawiyah
  38. Thariqat Sufi Tijaniyah   
  39. Thariqat Sufi Umariyah
  40. Thariqat Sufi Usyaqiyah
  41. Thariqat Sufi Utsmaniyah
  42. Thariqat Sufi Uwaisiyah
  43. Thariqat Sufi Zainiyah
  44. Thariqat Sufi Akabiril Aulia

Keterangan  Thariqat al Junaidiyah (thariqatul Qaum) menjadi urutan ke-45, setelah mendaftar dan mengikuti Mu'tamar tersebut.

Adapun  Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah mulai mengikuti Mu'tamar atau Kongres Thariqat al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia yang ke  VII    Di Mranggen Demak Jawa Tengah, 16 Jumadil Awal 1410 H / 15 Desember 1989 M, dan Muktamar VIII   Di Cabean Pasuruan Jawa Timur 1-5 Rabi'ul Akhir 1416 H / 27-31 Agustus 1995 M dan Muktamar IX     Di Pekalongan Jawa Tengah  yakni tiga kali ikut Mu'tamar.

E. PESERTA MU'TAMAR JAM'IYAH AHLI AL THARIQAT MU'TABARAH AN NAHDLIYAH INDONESIA KE-IX TAHUN 2000

Mu'tamar al Jam'iyah al ahli  at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia ke IX di kota Pekalongan Jawa Tengah ini mulai tanggal 26-28 Pebruari 2000M/28-30 Rajb 1421H yang dihadiri oleh Peserta yang tercatat sa'at itu berjumlah 1947 orang, sebagai Perwakilan dari Asal Daerah :

  1. DKI Jakarta  ada 102 orang
  2. Kotamadya Tabanan Bali 11 orang,
  3. Kab. Bengkulu Utara 6 orang
  4. Kab. Aceh Barat Aceh ada 19 orang
  5. Kotamadya Yogjakarta  77 orang
  6. Jambi  ada 10 orang
  7. Jawa Barat ada 255 orang
  8. Jawa Tengah ada 540 orang
  9. Jawa Timur ada 384 orang
  10. Kalimantan Barat ada 3 orang
  11. Kalimantan Timur 42 orang
  12. Lampung 156  orang
  13. NTB ada 17 orang
  14. Pelembang 2 orang
  15. Riau ada 78 orang
  16. Sulawisi Selatan 19 orang
  17. Sumatera Barat 43 orang
  18. Sumatera Selatan 40 orang
  19. Sumatera Utara 14 orang
  20. Kalimantan Selatan 90 orang terdiri dari utusan/perwakilan : 
  • a.Alabio Amuntai ada 5 orang
  • b.Martapura ada 5 orang
  • c.Banjarbaru 10 orang
  • d.Banjarmasin 24 orang
  • e.Kandangan 2 orang
  • f.Barabai ada  17 orang
  • g.Kotabaru ada 5 orang
  • hTapin ada 5 orang
  • i.Pelaihari ada 18 orang
     12.Kalimantan Tengah ada  42 orang yang terdiri dari perwakilan :
      a.Barito Kuala, Barito Selatan dan Kapuas ada 25 orang
      b.Palangka Raya ada 17 orang.

Peserta dari Kota Palangka Raya yang berjumlah 17 orang inilah memperjuangkan, mengikutsertakan al Thariqat al Junaidiyah bergabung dan diterima dalam himpunan Jam'iyah  Ahli at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah  Indonesia pada Mu'tamar atau Kongres al Jam'iyah al ahli  at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia ke IX di kota Pekalongan Jawa Tengah tahun 2000M.


F. NAMA-NAMA THARIQAT SUFI DAN JUMLAH THARIQAT AL MU’TABARAH AN-NAHDHIYAH INDOESIA HASIL MU’TAMAR KE-IX DARI TGL.26-28 FEBRUARI 2000M DI PEKALONGAN JAWA TENGAH

Adapun Nama-nama thariqat sufi dan Jumlah at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah  Indonesia hasil Mu'tamar ke IX dari tgl 26-28 Pebruari 2000M Pekalongan Jawa Tengah.

Mu'tamar ke IX  menghasilkan Nama-nama dan Jumlah at Thariqah  Shufi al Mu'tabarah an Nahdliyah  Indonesia yang disahkan tahun  2000M di Pekalongan Jawa Tengah sebanyak 45 jenis Thariqah  Shufi. Adapun nama thariqat Sufi dimaksud adalah :

  1. Thariqat Rumiyah     
  2. Thariqat Rifa'iyah     
  3. Thariqat Sa'diyah      
  4. Thariqat Bakriyah     
  5. Thariqat Justiyah      
  6. Thariqat Umariyah   
  7. Thariqat Alawiyah    
  8. Thariqat Abasiyah
  9. Thariqat Zainiyah      
  10. Thariqat Dasuqiyah 
  11. Thariqat Akbariyah  
  12. Thariqat Bayumiyah
  13. Thariqat Malamiyah
  14. Thariqat Ghoiyyah   
  15. Thariqat Tijaniyah    
  16. Thariqat Uwesiyah  
  17. Thariqat Idrisiyah     
  18. Thariqat Samaniyah
  19. Thariqat Buhuriyah  
  20. Thariqat Usyaqiyah 
  21. Thariqat Kubrawiyah
  22. Thariqat Maulawiyah
  23. Thariqat Jalwatiyah
  24. Thariqat Baerumiyah
  25. Thariqat Ghazaliyah
  26. Thariqat Hamzawiyah
  27. Thariqat Haddadiyah
  28. Thariqat Madbuliyah
  29. Thariqat  Sumbuliyah
  30. Thariqat Idrusiyah
  31. Thariqat Utsmaniyah
  32. Thariqat Syadzaliyah
  33. Thariqat Sya'baniyah
  34. Thariqat Kalsyaniyah
  35. Thariqat Khodiriyah
  36. Thariqat Syathariyah
  37. Thariqat Khalwatiyah
  38. Thariqat Bakdasyiyah
  39. Thariqat Sukhriwiyah
  40. Thariqat Ahmadiyah
  41. Thariqat Isawiyah
  42. Thariqat Akabiri Auliya
  43. Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabadiyah
  44. Thariqat Khalidiyah wa Naqsyabadiyah
  45. Thariqah  Junaidiyah

Hasil Mu'tamar al Jam'iyah al ahli  at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia yang ke IX  ini merupakan sesuatu yang menggambirakan dan  membahagiakan bagi Pengamal Thariqat Junaidiyah   ( PTJ) dimanapun mereka berada. Keberadaan Thariqat Junaidiyah diterima dan diakui pada nomor urut yang ke 45 sebagai thariqat shufi yang  Mu'tabarah.

G. 81 MACAM JENIS THARIQAT SUFI MU’TABARAH DI SELURUH DUNIA

Menurut Posted by Yayasan Hidayatus Saalikin Oleh : Asy-Syaikh As-Sayyid KH.Shohibul Faroji Azmatkhan Ba'alawi Al-Husaini (Mursyid Thariqah Wali Songo & Pimpinan Majelis Dakwah Wali Songo) Thariqah Mu’tabarah adalah Thariqah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw :

No.         Nama Thariqat Sufi          Keterangan

  1. Thariqat Alawiyah Wali Songo               
  2. Thariqat Qadiriyah Wali Songo              
  3. Thariqat  Naqsyabandiyah Wali Songo               
  4. Thariqat Syadzaliyah Wali Songo          
  5. Thariqat Sanusiyah Wali Songo             
  6. Thariqat Mawlawiyah Wali Songo        
  7. Thariqat Nur Muhammadiyah Wali Songo       
  8. Thariqat Khidiriyah Wali Songo             
  9. Thariqat Ahadiyah Wali Songo, Thariqah yang lain adalah   :     
  10. Thariqah ‘Abbasiyyah             
  11. Thariqah Ahmadiyyah Idrisiyyah        
  12. Thariqah Akbariyyah               
  13. Thariqah Akmaliyyah              
  14. Thariqah 'Aliyyah Qadiriyyah Casnazaniyyah
  15. Thariqah Al-Mu’min
  16. Thariqah ‘Alawiyyah Al-Faqih Al-Muqaddam
  17. Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah   
  18. Thariqah ‘Alawiyyah Naqsabandiyyah Muhsiniyyah  
  19. Thariqah Asyirah Muhammadiyyah  
  20. Thariqah Athaiyyah 
  21. Thariqah Aurad Muhammadiyyah    
  22. Thariqah Badawiyyah             
  23. Thariqah Bairumiyyah            
  24. Thariqah Bakdasiyyah            
  25. Thariqah Bakriyyah         
  26. Thariqah Bayumiyyah    
  27. Thariqah Buhuriyyah     
  28. Thariqah Chistiyyah        
  29. Thariqah Dusuqiyyah     
  30. Thariqah Dusuqiyyah Muhammadiyyah
  31. Thariqah Ghaibiyyah      
  32. Thariqah Ghazaliyyah    
  33. Thariqah Haddadiyyah  
  34. Thariqah Hamzawiyyah
  35. Thariqah Haqmaliyyah  
  36. Thariqah Hashafiyyah    
  37. Thariqah Hashafiyyah Syadziliyyah          
  38. Thariqah Idrisiyyah         
  39. Thariqah Idrusiyyah       
  40. Thariqah Jalwatiyyah     
  41. Thariqah Justiyyah          
  42. Thariqah Junaidiyyah    
  43. Thariqah Khalwatiyyah 
  44. Thariqah Khlawatiyyah Samaniyyah        
  45. Thariqah Kubrawiyyah  
  46. Thariqah Madbuliyyah  
  47. Thariqah Malamatiyyah
  48. Thariqah Mahmudiyyah               
  49. Thariqah Mawlawiyyah
  50. Thariqah Naqsabandiyyah           
  51. Thariqah Naqsabandiyyah Haqqaniyyah
  52. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah             
  53. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Haqqaniyyah  
  54. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Mujaddadiyyah            
  55. Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyah Syadziliah al ‘Aliah             
  56. Thariqah Naqsabandiyyah Mudzhariyah               
  57. Thariqah Ni’matullah     
  58. Thariqah Qadiriyyah       
  59. Thariqah Qadiriyyah Naqsabandiyyah [TQN]       
  60. Thariqah Qadiriyyah Rifaiyyah [TQR]       
  61. Thariqah Rifaiyyah          
  62. Thariqah Robbaniyyah  
  63. Thariqah Rumiyyah        
  64. Thariqah Sa’diyyah         
  65. Thariqah Samaniyyah    
  66. Thariqah Sanusiyyah      
  67. Thariqah Shiddiqiyyah   
  68. Thariqah Shallallahu “alaihi Wasallamiyyah           
  69. Thariqah Sumbuliyyah  
  70. Thariqah Suhrawardiyyah
  71. Thariqah Sya’baniyyah  
  72. Thariqah Syadziliyyah 
  73. Thariqah Syattariyyah   
  74. Thariqah Tijaniyyah        
  75. Thariqah ‘Umariyyah     
  76. Thariqah ‘Utsmaniyyah
  77. Thariqah Utsaqiyyah      
  78. Thariqah Uwaitsiyyah    
  79. Thariqah Wahidiyyah     
  80. Thariqah Yahyawiyyah  
  81. Thariqah Zainiyyah          


H. MACAM-MACAM JENIS THARIQAT SUFI DI DUNIA ISLAM MODEREN

Dimasa Imam al Gazali  antara tahun 1058-1112M/450-505H ada kurang lebih 80 macam jenis thariqat Sufi, dengan rincian sebagai berikut yaitu 40 macam thariqat Sufi yang sudah disyahkan dan 40 jenis thariqat yang belum sempat disyahkan.

Kalau kita lihat dan teliti hampir semua  thariqat sufi bersifat luwes seperti  thariqat Junaidiyah dan thariqat  Qodiriyah ini dikenal supel dan luwes. Apabila seseorang salik ataupun murid karena mujahadahnya sangat kuat hingga ia mencapai derajat syeikh, maka seseorang salik ataupun murid tersebut tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikutit  hariqat  gurunya. Maka dia berhak melakukan modifikasi  thariqat  yang lain ke dalam thariqatnya. Hal itu dapat dilhat dari penjelasan dari ungkapan Syekh Abdul Qadir Jaelani sendiri, "Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya."

Mungkin dari ungkapan inilah dari ke-12 aliran thareqt sufi yang kami sebutkan terdahulu, telah pecah menjadi aliran-aliran thariqat sufi yang sangat banyak  sekali. Maksud  kami, telah terbit dan timbul bermacam-macam jenis thareqt sufi di dunia Islam.

Keterangan ini diambil dari Mengutip “Artikel Perkembangan  thariqatdi Indonesia” oleh digilip uinsby bahwa "Adapun macam dan jenis-jenis thariqat sufi di dunia Islam" yang diketahui (1)

Nama-Nama Thariqat Sufi Pendirinya Keterangan

  1. Thariqat Alawiyah Wali Songo
  2. Thariqat Qadiriyah Wali Songo
  3. Thariqat  Naqsyabandiyah Wali Songo
  4. Thariqat Syadzaliyah Wali Songo
  5. Thariqat Sanusiyah Wali Songo
  6. Thariqat Mawlawiyah Wali Songo
  7. Thariqat Nur Muhammadiyah Wali Songo
  8. Thariqat Khidiriyah Wali Songo
  9. Thariqat Ahadiyah Wali Songo
  10. Thariqah ‘Abbasiyyah
  11. Thariqah Ahmadiyyah Idrisiyyah
  12. Thuruqil Akabiril Auliya
  13. Thariqah Akbariyyah
  14. Thariqah Akmaliyyah Syekh Ahmad al-Badawi (w. 1276)  di Mesir
  15. Thariqah 'Aliyyah Qadiriyyah Casnazaniyyah
  16. Thariqah Al-Mu’min
  17. Thariqah ‘Alawiyyah Al-Faqih Al-Muqaddam Sayyid Abdullah bin Alwi bin Muhammad al Hadad 1044-1132H Kota Tarim
  18. Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah
  19. Thariqah ‘Alawiyyah Naqsabandiyyah Muhsiniyyah
  20. Thariqah Asyirah Muhammadiyyah
  21. Thariqah Aidarusiyyah Syekh Abu Bakr al-Aydarusi (w. 1509M) di Yaman, India, dan Indonesia
  22. Thariqah Athaiyyah
  23. Thariqah  Ahdaliyah, di Yaman
  24. Thariqah  Ammariyah,
  25. Thariqah Aurad Muhammadiyyah di Afrika
  26. Thariqah  Asadiyah, di Yaman
  27. Thariqah Badawiyyah
  28. Thariqah Bairumiyyah Syekh Hajji Bairam (w. 834/1430).
  29. Thariqah Bakdasiyyah
  30. Thariqah Baktasiyyah Syekh Muhammad ‘Atha’ ibn Ibrâhîm Hajji Bektas (w. 736/1335) Khurasan  berkembang di Turki
  31. Thariqah Bakriyyah Syekh Abu Bakr al-Wafa‟i (w. 1496) di Mesir dan Syria
  32. Thariqah Bakka’iyah, di Afrika
  33. Thariqah Bayumiyyah
  34. Thariqah Buhuriyyah
  35. Thariqah Burhaniyyah Syehk Ibrahim al-Dasuqi  (1288H) di Mesir dan Arab
  36. Thariqah  Bu’ Aliyya, di Afrika
  37. Thariqah Chistiyyah Khwajah ('Guru') Abu Ishaq Chisyti orang Suriah
  38. Thariqah Dusuqiyyah
  39. Thariqah Dusuqiyyah Muhammadiyyah
  40. Thariqah Dhaifiyah berkembang di Mesir
  41. Thariqah Faridiyah, Syekh ‘Umar ibn al-Farid (w. 632/1234), di Mesir
  42. Thariqah  al-Ghatiyah Syekh Muhammad al Ghawt (w.923/1517) di India
  43. Thariqah Ghaibiyyah
  44. Thariqah Ghazaliyyah
  45. Thariqah Ghawtsiyah Syekh Muhammad Gaws Gwaliyari (1517M),di India. (w. 1563)
  46. Thariqah Haddadiyyah
  47. Thariqah Hamzawiyyah
  48. Thariqah Hamadaniyyah Syekh Ali Hamadani (w. 1384) di Kashmir
  49. Thariqah Haqmaliyyah
  50. Thariqah Hashafiyyah
  51. Thariqah Hashafiyyah Syadziliyyah
  52. Thariqah Hatimiyyah Syekh Muhyi al-Din Ibn al-„Arabi (w. 1238) bersifat Teoritik
  53. Thariqah Hallajiyah Syekh Abu Manshur al-Hallaj (w. 922) bersifat teoritik;
  54. Thariqah  Hayat al-Mir, berkembang di India
  55. Thariqah  Hindiyah,  di Turki
  56. Thariqah Idrisiyyah Syekh Ahmad ibn Idrîs (w. 1253/1837).
  57. Thariqah Idrusiyyah
  58. Thariqah ‘Isawiyah
  59. Thariqah ‟Isyqiyyah Syekh Abu Yazid al-„Isyqi (w. abad 14) di Turki dan Iran
  60. Thariqah Jarrahiyah Syekh Nuruddin Muhammad al-Jarrah dari Istambul (w. 1720M).
  61. Thariqah Jalwatiyyah
  62. Thariqah Jazuliyyah Syekh Muhammad al-Jazuli (1465H) di Afrika Utara
  63. Thariqah Justiyyah
  64. Thariqah Junaidiyyah Imam Al Junaid al Bagdadi (1515 M), berkembang di Bagdad, Indonesia dan India
  65. Thariqah Jahriyyah oleh Ahmad al-Yasawi (w. 1167) tersifat teoritik
  66. Thariqah  Jilala, di Afrika
  67. Thariqah Khalwatiyyah Syekh Umar al-Khalwati (w. 1397) di Mesir dan Turki 
  68. Thariqah Khalwatiyyah Samaniyyah Syekh Zahiruddin di Khurasan
  69. Thariqah Khawajakaniyah ‘Abd al-Khaliq Ghujdawanî (w. 617/1220), di Khurasan
  70. Thariqah  Khafifiyah Syekh Ibn Khafif bersifat Teoritik
  71. Thariqah Khawatiriyyah Syekh Ali Ibn Maymun al-Idrisi (w. 1511) di Afrika Utara
  72. Thariqah Kharraziyyah Syekh Abu Sa‟id al-Kharraz (w. 890M) bersifat teoritis
  73. Thariqah Khalsyaniyah,
  74. Thariqah Kaziruniyah Syekh Abu Ishaq Ibrahim ibn Syahriyar w.426H/1035M di India
  75. Thariqah Khulusiyah  di Turki
  76. Thariqah Kamaliyah (1584 M), berkembang di India
  77. Thariqah Kubrawiyyah Syekh Najm al-Din al-Kubra (w. 1221H) bertempat di Asia tengah dan Iran
  78. Thariqah Madariyyah Syekh Badi al-Din Madar (w. 1437M) di India
  79. Thariqah Madyaniyah Syekh Abu Madyan (w. 1197H) di Afrika Utara
  80. Thariqah Madbuliyyah
  81. Thariqah Malamatiyyah Syekh Abu Yazid al-Busthami (w. 874H) bersifat Teoritik
  82. Thariqah Mahmudiyyah
  83. Thariqah Mawlawiyyah Syekh Maulawi Jalaluddin Ar-Rumi 1207-1273M di Turki, Syria
  84. Thariqah  Manzaliyah di Afrika
  85. Thariqah  Mushariyyah, Syekh Sufyan al-Tsawri (w. 778) di Yaman bersifat teoritik
  86. Thariqah Miyan Khei (1550 M), berkembang di India.
  87. Thariqah Naqsabandiyyah Syekh Muhammad bin  Baha’udin Huwaisi al Bukhari (w.717-791H)
  88. Thariqah Naqsabandiyyah Haqqaniyyah
  89. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah
  90. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Haqqaniyyah
  91. Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Mujaddadiyyah
  92. Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyah Syadziliah al ‘Aliah
  93. Thariqah Naqsabandiyyah Mudzhariyah
  94. Thariqah  Nabulsiyah, di Turki
  95. Thariqah Ni’matullah Syekh Nuruddin Muhammad Ni'matullah (m. 1431M) di Iran dan India
  96. Thariqah  Nuriyyah Nur al-Din Isfaraini (w. 1317) di Iran
  97. Thariqah Rukniyyah Syekh Ala al-Daulah Simmani (w. 1336) di Asia Tengah
  98. Thariqah Qadiriyyah Syekh Abdul Qadir al Jailani di Gilan
  99. Thariqah Qadiriyyah Naqsabandiyyah [TQN] Syaikh Ahmad Khatib Sambas di Makkah pada 1875 M
  100. Thariqah Qadiriyyah Rifaiyyah [TQR]
  101. Thariqah  Qusyairiyyah Syekh Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 1074M) bersifat teoritis
  102. Thariqah Qalandariyah Syekh Jamal al-Din Sawi (w. 1233) bersifat teoritis
  103. Thariqah Qumaishiyah (1584M), berkembang di India.
  104. Thariqah Rifaiyyah Syekh Abul Abbas Ahmad bin Ali ar Rifa’i w.500H/ 1106M Basrah
  105. Thariqah Robbaniyyah
  106. Thariqah Rumiyyah
  107. Thariqah Sa’diyyah
  108. Thariqah Suhailiyyah Syekh Muhammad al-Suhaili (abad 16) di Arab
  109. Thariqah Salihiyah Berkembang di Somalia
  110. Thariqah Sathaniyah
  111. Thariqah Samaniyyah Syekh Muhammad Abdul Karim al Madani 1130-1189H /1718-1775M di Madinah
  112. Thariqah Sanusiyyah Muhammad ibn ‘Alî al-Sanusi, di Aljazair (w. 1276/1859).
  113. Thariqat Salimiyah Syekh Abul Ahmad bin Muhammad ibnu Ahmad bin Salim Ash-Shaghir (w.360H/940M) di Basrah
  114. Thariqat Syafawiyah, Syekh Syafî al-Dîn al-Ardabilî (w. 735H/1334M)
  115. Thariqah Shiddiqiyyah Shahabat Abu Bakar al-Siddiq (w. 634) bersifat teoritik
  116. Thariqah Shallallahu “alaihi Wasallamiyyah
  117. Thariqah Sumbuliyyah
  118. Thariqah Suhrawardiyyah Syekh Syihabuddin Abu Hafs Umar 539-632H \1140-1234M di Bagdad, Iran dan India;
  119. Thariqah Syuhriyah,
  120. Thariqah Sya’baniyyah
  121. Thariqah Syadziliyyah Syekh Abul Hasan Ali as Syadzili (w. 1258H) di Afrika Utara
  122. Thariqah Syattariyyah Syekh Abd Allah Syatthari (w. 1438) di India dan Indonesia
  123. Thariqah Tijaniyyah Syekh Abul Abbas bin Muhammad bin Mukhtar Attijani 1737-1738H Algeria
  124. Thariqah ‘Urabiyyah, Syekh Umar ibn Muhammad al-Urabi di Yaman abad ke-16
  125. Thariqah ‘Umariyyah
  126. Thariqah ‘Utsmaniyyah
  127. Thariqah Utsaqiyyah
  128. Thariqah Uwaitsiyyah dibawa oleh Shahabat Uways al-Qarni (abad ke-7) bersifat teoritik;
  129. Thariqah Wahidiyyah
  130. Thariqah Wafa‟iyyah dibawa oleh Muhammad Wafa‟ (w. 1358) di Mesir dan Syria
  131. Thariqah  Waslatiyyah. di Turki
  132. Thariqah Yahyawiyyah
  133. Thariqah Yasaviah  dibawa oleh Ahmad al-Yasafî (w. 562/1169) berkembang di Khurasan
  134. Thariqah  Yafi’iyah (718-768 H/1316 M) di Yaman
  135. Thariqah Zarruqiyyah  dibawa oleh Syekh Ahmad al-Zarruq (w. 1494H) di Mesir atau Syria
  136. Thariqah Zainiyyah
  137. Thariqah  Zayla’iyah. di Yaman
Keterangan ini sebagian diambil dari “Artikel Perkembangan  thariqatdi Indonesia” oleh digilip uinsby


I. DUA TOKOH PENGEMBANG THARIQAT AL JUNAIDIYAH DI INDONESIA

Al Junaidiyah adalah nama sebuah Thariqat Sufi yang dinisbahkan kepada  Abu  Qasim al Junaid al Bagdadi. Thariqat  Sufi al Junaidiyah ini dibawa  masuk ke Indonesia oleh KH, Kasypul Anwar Firdaus  bin Muhammad  Shaleh sebelum tentara Jepang  datang ke Indonesia. Dan dikatakan orang bahwa ia mengambil Tarekat  ini tahun 1935M/1353H dari seorang Syekh yang bernama Sayyid Umar Bajunaidi asal Negeri Magribi sehabis  menunaikan  Ibadah Haji.

1.Syekh KH, Kasypul Anwar Firdaus  bin Muhammad  Shaleh 1902-1974M/1316-1394H

KH, Kasypul Anwar Firdaus  adalah putra laki-laki dari keluarga Muhammad Shalih yang tinggal di Desa Banua Hanyar, Kec. Alabio, Kab. Hulu Sungai Utara  Amuntai, Kalimantan Selatan, Indonesia. Jarak  tempat makam  KH, Kasypul Anwar  ini kurang  lebuh 7 kilo meter dari Pasar Alabio menuju arah jalan ke Kec. Baberik. Kasypul Anwar  adalah seorang anak yang cerdas, punya ekeyo/otak berlian atau otak jennus dengan hoby suka membaca, lebih-lebih lagi menyukai ilmu agama, banyak guru yang mengajarinya, bahasa Arab, nahwu sharaf, ilmu fiqih dan ilmu agama lainnya. Kedua orangtuanya seorang tokoh terpandang di desanya dan kuat agamanya. Diusia yang sangat mudanya  ia menjabat ketua Muhammadiyah di Desanya.

Di usianya 28-30 tahun atau 1932M/1350H, ia berangkat dan didukung Keluarga Muhammad Shalih mengirimnya untuk memperdalam menuntut ilmu agama ke Mekkah al Mukarramah. Ada yang mengatakan bahwa  Muhammad Shalih mengirim Kasypul Anwar Firdaus  ke kota Mesir kairo, selama 7 tahun lebih. Setelah tiga tahun Kasypul Anwar Firdaus  ia tinggal dan belajar di Kota Mesir ini, kemudian ia diijin oleh gurunya untuk  menunaikan ibadah haji ke Mekkah al Mukarramah.

Di Mekkah al Mukarramah, sebelum berhajji sekitar tahun 1353H Kasypul Anwar Firdaus berguru kepada Syekh Sayyid Umar Bajunaidi al Hadrami w.1354H/1936M.  tentang  ilmu tasauf. Sayyid Umar termasuk Ahlul Bait Rasulullah Saw dari Keluarga keturunan Abul Qasim al Junaidi asal Negeri Magrib (Maroko). Atas kesepakatan bersama antara Guru dan Muridnya, izajah dan bai'at thariqat sufi al Junaidiyah diberikan setelah Kasypul Anwar Firdaus menunaikan Ibadah Haji. Seperti yang disepakati bersama, sehabis berhaji Kasypul Anwar mengambil Bai'at dan Tawajjuh Mutlaq dari Syekh Sayyid Umar Bajunaidi gurunya di depan Ka'bah. Dikatakan orang bahwa Bai'at itu diterima  pada bulan Maret tahun 1935M/ Dzul Hijjah.  1353H, di tahun itu  jiwa dan raga Kasypul Anwar Firdaus  digodok – diolah dan ditempa oleh Syekh Sayyid Umar menjadi sosuk Ulama Shufi yan besar dan agung.

Menurut kaul yang lain/riwayat lain disebutkan bahwa setelah dua tahun berada di Mesir menempuh pendidikan KH. Kasypul Anwar Firdaus diperbolehkan menunaikan ibadah haji. Dibulan Haji ini Beliau mengambil thariqat ini Jum'at, 30 Maret tahun 1934M tersebut Beliau beberapa tahun kemudian setelah menyelesaikan pendidikannya di Mesir Kairo ia pulang ke Indonesia.

Setelah menyelesaikan study nya di Kota Mesir (Kairo) kurang lebih 7 tahun lamanya Syekh KH. Kasyful Anwar Firdaus pulang ke Kampung halamannya untuk mengamalkan ilmunya bersama keluaraga dan masyarakat ilmu yang diperoleh dari Timur Tengah  Kota Mesir (Kairo).

Menurut Humaidy ceritra dari mamanya (isteri KH. Kasypul Anwar Firdaus) berkata bahwa  "Pada waktu Jepang datang ke Indonesia KH. Kasypul Anwar Firdaus sudah berada dan lama di Banua Hanyar Alabio."

KH. Kasypul Anwar Firdaus  adalah seorang Ulama Syari'at dan Hakekat dimasanya, ia dihormati dan disegani dan juga disayangi oleh masyarakat disekitarnya, terlebih lagi dicintai oleh murid-muridnya, dan juga sangat dicintai oleh generasi silsilah sesudahnya. Ia juga orang yang pertama asal Kalimantan Selatan yang mengambil Thareqat al Junaidiyah pada Guru Sayyid Umar Bajunaidi al Magriby di Mekkah dan membawanya ke Kalimantan Selatan dan mengembangkannya. KH. Kasypul Anwar Firdausbin Muhammad Shalih wafat tahun 1974M/1394H dimakamkan di depan halaman Masjid Jami'us Sa'adah arah kiblat Masjid, warna makam biru kehijauan, alamat Banua Hanyar Alabio Kab. Hulu Sungai Utara  Amuntai, Kalimantan Selatan, Indonesia.

 

a. Murid-murid KH. Kaspul Anwar al Firdaus

Ada Sembilan orang murid  utama dari KH. Kasypul Anwar Firdaus yang mendapat izin dan ijazah untuk mengembangkan Thareqat al Junaidiyah dimana saja tempat mereka mau boleh membai'at, mereka itu antara lain :

  1. KH. Muhammad Qurtuby bin Khalid murid tertua w.2002M/1423H Ds. Amuitai.
  2. Gr. Pa. Itay  Ds. Tebing Sering  Kab. Tabalong
  3. Gr. Abd. Shamad Ds.Tebing Sering  Kab. Tabalong
  4. Gr. Said  Ds. Bahaur  Prov. Kalimantan Tengah
  5. Gr. Antin Udar Ds.Bahaur Prov. Kalimantan Tengah
  6. Gr. Ibus Ds. Bilastan Prov. Kalimantan Tengah
  7. Gr. Murjuni Ds. Kelua, Kec. Kelua,Kab.Tabalong
  8. Gr. Mahjuri  Ds. Tanjung,  Kab. Tabalong
  9. Gr. Masykur bin Abbas  Ds. Kelua, Kec. Kelua,  Kab. Tabalong.
Gr.Masykur bin Abbas & Sayyid M.Ariatim

b. Daerah Pengembangan Thariqat Al Junaidiyah

Adapun  Rote perjalanan masa KH. Kasypul Anwar Firdaus dengan Sepeda Ralehnya    dalam Pengembangan  dan  penyebaran Thariqat al Junaidiyah menuju Daerah adalah :

  1. Ds. Banua Hanyar, Alaio, Amuntai
  2. Ds.  Kelua dan sekitarnya
  3. Ds. Tebing Sering  Kab. Tabalong
  4. Ds. Tanjung Kab. Tabalong
  5. Ds. Bahaur  Prov. Kalimantan Tengah
  6. Ds. Bilastan Prov. Kalimantan Tengah.

c. Pengembangan  Thariqat al Junaidiyah di masa Pemerintahan Belanda dan Jepang

Kaum penjajah Belanda dan Jepang melarang ummat Islam mempejajari ajaran Tauhid dan Thareqat Islam. Hal ini dikuatirkan oleh Pemerintahan Belanda dan Jepang kalau semua masyarakat mengamalkan ajaran Tauhid dan Thareqat Islam, maka mereka  tiada takut mati dengan peloro senapan dan senjata tajam, mereka bangkit untuk jihad, memusuhi Pemerintahan Belanda dan Jepang. Oleh karena itulah Pemerintahan Belanda dan Jepang melarang para Ulama Islam mengajarkan Tauhid dan Thareqat Islam. Bila ada para Ulama yang mengajarkan Tauhid dan Thareqat Islam dan ketahuan dari Pemerintahan Belanda,  mereka akan ditangkap dan dianggap pemberuntak. Oleh karenanya Ulama sangat berhati-hati sekali, secara sembunyi-sembunyi dalam mengajarkan kedua ilmu agama tersebut.Mengapa Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah baru bergabung menjadi Thariqat  yang Mu'tabarah Nomor urut yang ke-45 ditahun 2000M/1421H ? Jawabnya adalah :

1.Mu'tamar/Kongres at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pertama tahun 1957M/1377H di Pondok Tegalrejo Magelang Jawa Tengah, menghasilkan jumlah thariqat Sufi yang disahkan dan diakui ada 44 macam jenis thariqat Sufi.

2.Abuya  KH. Kasypul Anwar Firdaus pulang kemabali dari Mekkah al Mukarramah atau Mesir Kairo setelah 7 tahun mengaji disana, dan membawa Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah ke Desa Banua Hanyar Alabio, Amuntai, Kalsel. Penyebaran Thariqat Islam saat itu dilarang Pemerintahan Belanda yang berkuasa ketika itu, oleh sebab itu hamper tiga puluh tahun Thariqat al Junaidiyah tiada mengembangkan sayapnya secara terang-terangan atau secara terorganisir, apalagi samapai ke luar Pulau Kalimantan.

3.Pulau Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan merdeka tahun 1949M, Pada saat itu Organisasi  Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah belum dibentuk, belum ada yang kelihatan di tahun 1957M /1377H tersebut atau hibungan  dengan Pulau Jawa belum terjalin hingga pada Kongres at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pertama Jama'ah Pengamal Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah tidak ikut atau tidak diundang.


J.KH.MUHAMMAD QURTUBY BIN KHALID KALIMANTAN (1918-2002M/ 1423H)


Adapun KH. Muhammad Qurtuby bin Khalid Kalimantan (1918-2002M/1337-1423H) ia seorag Khalifah (Pemimpin spritual) Thariqat al Junaidiyah yang berkedudukan di Prov. Kalimantan Tengah.

Dia menulis nama panjangnya pada muka Risalah Aurad Thareqat al Junaidiyah yang dia tulis tangannya sendiri  yaitu H. Muhammad Qurtuby bin Khalid Kalimantan. Dia menjabat Khalifah TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah  mulai tahun 1975M. Dia  Kelahiran tahun 1918M di Desa Penyiuran kota Amuntai  Kab. Hulu Sungai Utara. Beliau telah banyak menimba ilmu Syari'at dan ilmu Hakekat terutama dari Gurunya yakni  KH. Kasypul Anwar Firdaus di Desa Banua Hanyar, Kec. Alabio, Kab. Hulu Sungai Utara  Amuntai, Prov. Kalimanta Selatan.

Beliaulah yang pertama memperkenalkan TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah secara utuh pada masyarakat Indonesia (seluruh Jama'ah Thareqat al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia tahun 2000M), yang sebelumnya hanya faham aliran Tasauf al Junaid  saja  yang disampaikan para Ulama pada mereka dan masyarakat Indonesia ikuti.

Beliau telah banyak berjasa dalam pengembangan TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah dan memperjuangkan agar TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah menjadi TharIqat Mu'tabarah yaitu TharIqat yang diakui. Yang akhirnya Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah diterima dan bergabung dengan al Jam'iyah al ahli  at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pada Kongres ke IX di kota Pekalongan Jawa Tengah tahun 2000M/ 1377H dan terdaftar dengan nomor urut ke-45.

Sebelum KH. Muhammad Qurtuby bin Khalid wafat, Kedudukan Khalifah TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah di Kota Palangkaraya. Di kota inilah Pusat Organisasi TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah berdiri dan berkembang, alamat dulu Jalan Mandawai IV/a Palangkaraya. Pada saat itu keberadaan TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah dikota itu di dukung oleh Pemerintah setempat, sehingga perkembangan TharIqat ini begitu cepat menyebar diwilayah ini. Khalifah TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah KH. Muhammad Qurtuby bin Khalid wafat hari  Rabu, tanggal 17 Juli 2002M/6 Rabi'ul Awwal 1423H. Beliau dimakamkan di Jalan RTN Malino 5 Km masuk dari Bendara Palangkaraya yaitu tepatnya di samping Pesanterin Tahfizul Qur'an dan Masjid Raudatul Jannah  asuhan H. Materan.

Dari Beliau telah lahir Generasi- generasi Utama Jama'ah Pengamal TharIqat  al Junaidiyah al Bagdadiyah yang berkualitas yang dapat membimbing Ummat. Ummat yang lebih mengutamakan akhirat, Ummat yang menjalankan Syari'at Muhammad Rasulullah Saw. Ummat yang kontinyu mengamalkan Thareqatnya.

Generasi- generasi Utama Jama'ah Pengamal TharIqat Qaum al Junaidiyah al Bagdadiyah yang dimaksud adalah murid – murid  Beliau antara lain  :

a. Murid-murid KH. Muhammad Qurthuby  an :

  1. Gr. KH. Jumberi Ma'shum Bihara Balangan Kalsel W.2007M
  2. Gr. KH. Mahran Yasin Km. 3 Banjarmasin Kalsel
  3. Gr. Kiayi Mahjuri Dalam Pagar Martapura Kalsel
  4. Gr. Kiayi Muhammad Syukri HS Jorong Pelaihari Kalsel W.2003M
  5. Gr. KH. Arbandigana Kalimantan Tengah
  6. Gr. KH. Timidzi Bihara Balangan Kalsel (sudah Wafat)
  7. Gr. KH. Satria Ds. Ampukung Kelua Tanjung Kalsel
  8. Gr. Hj. Fauziah (Isteri KH. Satria) Ds. Ampukung, Kelua Kalsel
  9. Gr. H.Abdullah Kalimantan Tengah
  10. Gr. KH. Muhammad Subli  Saberi Kalimantan Tengah
  11. Gr. H. Supiyan  Ds. Panyiuran, Amuntai Kalsel
  12. Gr. Drs. Husen Kalimantan Tengah
  13. Gr. H. Mahdian Kalimantan Tengah
  14. Gr. H. Muhammad Ali Kalimantan Tengah
  15. Gr. H. Muhammad Noor Kalimantan Tengah
  16. Gr. H. Suriani Kalimantan Tengah
  17. Gr. Habib Yahya Ahyadi Kalimantan Tengah
  18. Gr. Kaspul Anwar Kalimantan Tengah
  19. Gr. Mansyur Arifin Kalimantan Tengah
  20. Gr. Shalih Kalimantan Tengah

 

K. SANAD  TALQIN DZIKIR THARIQAT AL JUNAIDIYAH 

Menggetahui sanad talqin dzikir Thariqat al Junaidiyah adalah wajib bagi setiap Pengamalnya. Mengenal sanad silsilah Thariqat al Qaum al Junaidiyah, dimaksud Penyusun disini adalah orang-orang yang meriwayatkan pelimpahan talqin dzikir atau ijazah dzikir Thariqat al Junaidiyah (thariqat al qaum) yang bersambung hingga Rasulullah Saw.

Adapun Silsilah Sanad Talqin Dzikir Thariqat al Qaum al Junaidiyah adalah : 

  1. Habib H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assaqqaf dan ia (H.Hasan Baseri) mengambil dari 
  2. KH. Jumberi bin H.Ma'shum bin H. Abu Bakar Bihara w.1427H, dan ia dari 
  3. Khalifah thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurtubi bin Khalid bin Thahir Kalimantan w.1423H, dan ia dari 
  4. KH. Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh w.1394H, dan ia dari 
  5. Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi al Hadrami al Magribi W.1354H/1936M, ia dari 
  6. Syekh Abdullah Ba'alawi al Magribi, dan ia mengambil dari  
  7. Syekh Imam Alawi Ba Alawi, dan ia mengambil dari  
  8. Syekh Imam Abdurrahman Assaqqaf Ba Alawi  w.1124H/1712M, dan ia mengambil dari  
  9. Syekh Imam Abdurrahim, dan ia mengambil dari  
  10. Syekh Imam Ba Junaidi yakni (Imam Al Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham W.1032H/1623M), dan ia dari  
  11. Syekh Imam Alwi al Ridla (W.1002H/1594M)  bin Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin, dan ia dari 
  12. Syekh Imam Abdul Wahhab As Sya’rani 898-973H dan ia dari 
  13. Syekh “Ali Murshafaa  dan ia dari  
  14. Syekh Muhammad As-Surawi w.932H, dan ia dari  
  15. Syekh Sayyid Muhammad Ibn Madyan al Asmuni (W.862H) dan ia dari  
  16. Syekh Sayyid Madyan al Asmuni (W.862H/1458M dan ia dari  
  17. Syekh Imam Ahmad az Zahidi w.820H, dan ia mengambil dari 
  18. Syekh Hasan al Sustari w.797H, dan ia mengambil dari 
  19. Syekh Yusuf al Ajemi w.767H, dan ia mengambil dari  
  20. Syekh Muhammad al  Ashfihani, dan ia mengambil dari 
  21. Syekh Najmu Mahmud al Ashfihani, dan ia dari 
  22. Syekh Hasan Syamsuri, dan ia mengambil dari 
  23. Syekh Abdus Shamad an Nahrani, dan ia dari  
  24. Syekh Ibnu Bunghusy Syirazi, dan ia mengambil dari 
  25. Syekh Najibuddin Bunghusy  Syirazi, dan ia dari 
  26. Syihabuddin as Syuhrawardi(L.539-632H), dan ia dari 
  27. Syek Qadli Wajihuddin dan ia mengambil dari 
  28. Syekh Faraj Az  Zanjani, dan ia mengambil dari 
  29. Syekh Abul Abbas Nahawanda dan ia mengambil dari 
  30. Syekh Ibnu Khiif as Syirazi dan ia dari 
  31. Syekh Muhammad Khiif as Syirazi, dan ia dari 
  32. Al-Qadli Ruwaim, dan ia mengambil dari 
  33. Syekh Imam al Junaid al Bagdadi w.297Hdan ia mengambil dari  
  34. Syekh  as Sirri al Saqathi w.253H, dan ia dari  
  35. Syekh Imam al Ma'ruf al Karkhi w.200H, dan ia dari  
  36. Syekh Daud at Tha'i  w.165H, dan ia dari  
  37. Syekh Habib al Ajemi  w.125H, dan ia dari  
  38. Syekh al-Imam Hasan al Basri w.110H, dan ia dari  
  39. Imam 'Ali bin Abi Thalib w.41H, dan ia dari  
  40. Muhammad Rasulullah Saw w.632M, dan ia dari   
  41. Sayyidina Jibril 'alaihis salam, dan ia dari  
  42. Allah azza wa jalla.

L. HATI-HATI TITIK LEMAH SANAD  SILSILAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH

Adapun Titik Lemah sanad silsilah Thariqat al Qaum al Junaidiyyah berada pada jalur yang ke-2 adalah 

  1. Habib H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assaqqaf dan ia (H.Hasan Baseri) mengambil dari 
  2. KH. Jumberi bin H.Ma'shum bin H. Abu Bakar Bihara w.1427H, dan ia dari 
  3. Khalifah thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurtubi bin Khalid bin Thahir Kalimantan w.1423H, dan ia dari 
  4. KH. Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh w.1394H, dan ia dari 
  5. Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi al Hadrami al Magribi W.1354H/1936M, ia dari 
  6. Syekh Abdullah Ba'alawi al Magribi, dan ia mengambil dari  
  7. Syekh Imam Alawi Ba Alawi, dan ia mengambil dari  
  8. Syekh Imam Abdurrahman Assaqqaf Ba Alawi  w.1124H/1712M, dan ia mengambil dari  
  9. Syekh Imam Abdurrahim, dan ia mengambil dari  
  10. Syekh Imam Ba Junaidi yakni (Imam Al Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham W.1032H/1623M), dan ia dari  
  11. Syekh Imam Alwi al Ridla (W.1002H/1594M)  bin Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin, dan ia dari 
  12. Syekh Muhammad az  Zahidi al Wakhshi (W.936H/1529M).
  13. Syekh Muhammad az  Zahidi mengambil bai’at Rohaniyah atau bai’at Sirriyah dari 
  14. Imam al Qusyairi w.465H (di alam ROHsa’at terjaga, melalui mimpi) dan ia dari
  15. Syekh Imam Abu 'Ali ad Daqaq w.405H, dan ia dari 
  16. Syekh Imam an Nashra Abadzi w.369H dan ia dari  
  17. Syekh Imam al Syibli w.334, dan ia dari 
  18. Imam al Junaid al Bagdadi.dan ia dari  
  19. Syekh  as Sirri al Saqathi w.253H, dan ia dari  
  20. Syekh Imam al Ma'ruf al Karkhi w.200H, dan ia dari  
  21. Syekh Daud at Tha'i  w.165H, dan ia dari  
  22. Syekh Habib al Ajemi  w.125H, dan ia dari  
  23. Syekh al-Imam Hasan al Basri w.110H, dan ia dari  
  24. Imam 'Ali bin Abi Thalib w.41H, dan ia dari  
  25. Muhammad Rasulullah Saw w.632M, dan ia dari   
  26. Sayyidina Jibril 'alaihis salam, dan ia dari  
  27. Allah azza wa jalla.

Pada silsilah sanad thariqat kita jalur yang kedua ini, masih ada yang menjadi salah satu titik kelemahan thariqat kita yakni antara Syekh Muhammad az Zahidi w.936H/1530M dan  Imam al Qusyairi hidup 986M-1073M dengan bai’at Sirriyah, atau Bai'at Rohaniyah dan hal ini mudah menjadi Serangan balik Kelompok anti thariqat adalah adanya mata rantai (sanad) silsilah yang dianggap terputus (mahjub atau mastur) sehingga mereka tidak dapat menerima kebenaran sanad silsilah tersebut. 


M. BIOGRAFI SANAD  SILSILAH AL THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYAH

Silsilah TJ yang ke Satu

01. ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA 

Mengenal Asma Allah, Af’al dan Sifat-sifat Allah Swt

Disebutkan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad Saw bahwa Asma Allah itu ada sembilan puluh sembilan Nama Allah Swt, Seratus nama Allah selain satu (kurang satu) yang tidak dibilang. Sebagaimana hadis Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam riwayat Abu Nuam berbunyi :

عَنْ عَمَّارٍ بْنِ يَسَّارٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ تَعَالَى : إِنَّ اللهّ عَزَّ وَجَلَّ : تِسْعَةٌ وَتِسْعِيْنَ إِسْمًا مِائَةَ غَيْرِ وَاحِدٍ إِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ وَمَا مِنْ عَبْدٍ يَدْعُو بِهَا إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ.  رواه أبو نعيم فى الحلية

Ammar bin Yasar meriwayatkan sebuah hadis Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam yang berbunyi :

Artinya bahwa :”Sesungguhnya Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan Nama, Seratus nama Allah selain satu (kurang satu), sesungguhnya Ia tunggal, dan ia mencintai yang tunggal, tiada ada bagi seorang hamba yang berdo’a dengan Nama-nama –Nya melainkan sorga baginya.” HR. Abu Nuam dalam Kitab Hilyah.

Mengenal al Asmaul HUsna atau Nama-nama yang baik  (اَلْاَسْمَاءُ الْحُسْنَى)

Penyusun Umdatul Hasanah  lebih menyukai bila membaca al Asma' ul Husna  memulainya dengan kalimat  : di bawah ini

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ نَسْاَلُكَ (اَسْاَلُكَالرَّحْمَةَ وَالْعَافِيَةَ وَالرِّضَى يَا مَنْ ... هُوَ اللهُ الَّذِىْ لَا اِلَهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمَانُ الرَّحِيْمُاَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُاَلْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُاَلْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيْعُ الْبَصِيْراَلْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُاَلْحَلِيْمُ الْعَظِيْمُ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُاَلْحَفِيْظُ الْمُقِيْتُ الْحَسِيْب الْجَلِيْلُ الْكَرِيْمُ الْرَّقِيْبُ الْمُجِيْبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيْمُاَلْوَدُوْدُ الْمَجِيْدُ الْبَاعِثُ  الشَّهِيْدُ الْحَقُّ الْوَكِيْلُ الْقَوِيُّ الْمَتِيْنُ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ الْمُحْصِى الْمُبْدِئُ  الْمُعِيْدُاَلْمُحْيِ الْمُمِيْتُ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ  الْوَاجِدُ  الْمَاجِدُ   الْوَاحِدُ  الْأَحَدُ الصَّمَدُاَلْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ  الْمُؤَخِّرُ الْأَوَّلُ الْأَخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَلِيُّ الْمُتَعَالُاَلْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفْوُ الرَّؤُوْفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِاَلْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِيُّ الْمُغْنِى الْمَانِعُ   الضَّارُّ النَّافِعُ النُّوْرُ الْهَادِى الْبَدِيْعُ الْبَاقِى الْوَارِثُ  الرَّشِيْدُ الصَّبُوْرُ.

Syekh Dr. H. Jalaluddin dalam bukunya Sinar Keemasan mengatakan bahwa “Perhatikan nama nomor satu dari asma’ul husna yaitu  HUWA dibaca HUU  setiap kalimat Huwa yang tersebut dalam al Qur’an  artinya Dzat yang Maha Suci semata-mata. Sebelum Alam halus atau Alam Shagir dan kasar atau Alam Kabir dijadikan, maka Huu   هو    dzat itu telah ada. Yaitu adanya dzat itu tiada ada permulaannya. Dzat yang maha suci itu  bernama Allah, lihat nomor dua dari asma’ul husna. Yakni Allah adalah nama Dzat dari HUU.  Kalau kita dzikir  dengan ismu dzat       إسم الذات       maksudnya kita baca nama “ Allah- Allah  " الله – الله      Sekali lagi ditegaskan bahwa HUU adalah dzat semata-mata, lhat nomor satu dari  asma’ul husna, Allah  nama dari dzat Huu, yakni Allah nama dzat yang bersipat kesempurnaan nomor dua dari asma’ul husna.

Kita diwajibkan membaca nama Tuhan, seperti yang telah diperintahkan dalam surat al Alaq ayat pertama yang berbunyi :

إقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِىْ خَلَقَ       العلق -1

Maksudnya : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan Engkau  ya Muhammad yang telah menciptakan,” Al Alaq 1


Silsilah TJ yang ke Dua

02. MALAIKAT JIBRIL ALAIHIS SALAM

(الملك جبريل عليه السلام)

Sebagaimana kita ketahui dan umat Islam Imani bahwa Allah Swt telah menciptakan beberapa Malaikat dan ada 10 Malaikat yang wajib kita ketahui dan kita imani diantaranya Malaikat Jibril Alaihissalam. Malikat ini deberikan tugas untuk menyampaikan wahyu dari Allah Swt. Kepada  para Nabi dan Rasul.

Imam Abdurrahim bin Ahmad al Qadli dalam kitabnya DAQAA IQUL AKBAR mengatakan bahwa kejadian empat Malaikat yakni Jibril, Mika’il Israfil dan  Ijra;il, adalah empat Malaikat yang mulia. Katanya :

اعلم إن الله تعالى خلق الملائكة الكرام الاربعوهم إسرافيل عليه السلام وميكائيل عليه السلام وجبريل عليه السلام وعزرائيل عليه السلام وجعل فى أيديهم أمور الخلائق وتدبير العالم كله.

Maksudnya : Ketahuilah, sesungguhnya Allah Swt telah menciptakan empat orang Malaikat yang mulia yaitu Malaikat Jibril, Malaikat Mika’il, Malaikat Israfil dan Malaikat Ijra;il, alaihissalam. Allah menyerahkan segala urusan makhluk dan pengaturan alam semesta ini  di tangan – tangan mereka.

  1. Malaikat Jibril alaihissalam bertugas menyampaikan wahyu dan risalah kepada Nabi-nabi dan Rasul rasul Allah. Wahyu dan Risalah Allah tersebut disampaikan oleh Malaikat Jibril dalam dua bentuk. Bentuk pertama yang dapat dilihat misalnya  Wahyu dan Risalah Allah yang disampaikan bentuk syari;at, misalnya ibadah shalat, zakat, puasa dan lainnya. Bentuk  kedua  Wahyu dan Risalah Allah yang disampaikan berupa hakekat, misalnya dalam mengerjkan ibadah shalat dituntut Muraqabah dan Musyahadah, jiwa harus bebas ( Hurriyah) maksudnya tidak ada ikatan lain selain Allah semata.
  2. Malaikat Mika;il alihissalam bertugas mengatur hujan dan memberi rizki kepada semua makhluk Allah. Disini tidak ada satu makhlukpun yang luput dari rezki Allah Swt walaupun ia hidup dalam sebuah batu.
  3. Malaikat Israfil alihissalam yang diberitugas menjaga trumpit dan meniupnya bila sudah waktunya pada hari kiamat nanti,
  4. Malaikat Ijra;il, alaihissalam yang bertugas mengambil nyawa / mencabut roh makhluk yang bernyawa, tidak ada satupun makhluk yang bernyawa yang luput dari malaikat ini bila kadar Allah telah tiba bahwa ia harus berpisah dari raganya.
  5. Malaikat Rakib yang diberi tugas mencatat amal baik dan  dari Jin dan Manusia.
  6. Malaikat Atid yang diberi tugas mencatat amal buruk dari Jin dan Manusia.
  7. Malaikat Munkar yang diberi tugas menanya ttg amal kebaikan orang di dalam kuburnya 
  8. Nangkir yang diberi tugas menanya ttg amal keburukan orang di dalam kuburnya. Dua orang Malaikat ini no.7 dan 8, mereka menanya orang yang sudah mati dari pada Jin dan Manusia.
  9. Malaikat Malik yang diberikan tugas menjaga Neraka, tak satupun penghuni Neraka yang terlepas dari pengawasannya.
  10. Dan yang ke 10. Malaikat Ridwan yang diberikan tugas menjaga Sorga.

Selain Malaikat Jibril, Malaikat Mika’il, Malaikat Israfil dan Malaikat Ijra;alihissalam  1,2,3, dan 4 yang sudah kita sebutkan. Empat malaikat yang wajib kita imani, masih ada enam malaikat lagi yang wajib kita imani yang punya tugas berbeda atau berlainan.

Keberadaan Malaikat di dunia ini adalah mereka tidak makan dan minum seperti manusia dan juga mereka tidak kawin, juga tidak melahirkan, mereka tidak tidur, tidak ditulis dan di hitung  atau hisab amal mereka dan juga tidak ditimbang amal  mereka. Tetapi Mereka dihalau beserta manusia dan jin. Mereka memberikan syafaat pada kesalahn bani Adam. Mereka melihat anak keturunan Adam yang beriman di sorga, dan orang yang akan masuk ke sorga dan juga orang-orang yang akan memasuki sorga dan apa saja yang Allah kehendaki.

Imam Abdurrahim bin Ahmad al Qadli mengatakan juga  bahwa            :

وأما جبريل عليه السلام فخلقه الله تعالى بعد ميكائيل عليه السلام بخمسمائة عاموله ألف وستمائة جكاحومن رأسه إلى قدميه شعور من زعفران الشمس بين عينيه وعلى كل شعرة مثل القمر والكواكب وكل يوم يدخل فى بحر النور ثلاثمائة وسبعين مرةفإذاخرج سقط من كل جناح ألف ألف قطرة  فيخلق الله تعالى من كل قطرة ملكا واحدا على صورة جبريل عليه السلام  يسبحون الله تعالى إلى يوم القيامة  وهم الروحانيون.-2

دقائق الأخبلر

Maksudnya : Adapun  Malaikat Jibril Alaihissalam ia telah ciptakan Allah Ta ‘ala ( dari Nur Muhammad ) lima ratus tahun sesudah Malaikat Mika’il Alaihissalam, Malaikat Jibril ini punya sayap seratus enam puluh buah,  dari kepalanya hingga kedua kakinya tumbuh bulu semacam kulipis bawang putih, Matahari berada diantara dua matanya. Bermula setiap nyala bulan dan bintang (berasal dari bola matanya). Setiap harinya ia masuk berenang pada lautan Nur tiga ratus tujuh puluh kali. Maka apabila ia keluar dari lautan Nur itu, dan ia jatuhkan air Nur dari setiap bulu pada sayapnya satu juta titis atau titik. Allah Swt jadikan setiap satu titik satu orang malaikat dengan rupa wajah yang sama dengan Jibril Alaihissalam. Hal keadaan mereka bertasbih memuji Allah ta’ala sampai hari kiamat.

Malaikat Jibril Alaihissalam, dari Beliau inilah Nabi Besar Muhammad Saw menerima wahyu dan Risalah atau ajaran thareqat ini, Malaikat Jibril adalah Syekh murabbinya Nabi Muhammad Saw. 

الملائكة المراد بالإيمان بهم التصديق بأنهم عباد الله تعالى لاكما زعم المشركون من أنهم ألهة مكرومون و لاكما زعم اليهودى من تنقصيهم لايعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يأمرون بأنهم سفراء الله تعالى اى الواسطة بينه وبين خلقه متصرفون فيهم على حسب ما يؤذن لهم صادقون فيما أخبروا به عن الله تعالى وأنهم بالغون من الكثرة إلى حد لا يعلمه إلا الله تعالى وبأنهم أجسام نورانية اى مخلوقة من نور غالبا وألا فبغضهم يخلق من القطرات التى نقطر من جبريل بعد اغتساله من نهر تحت العرش. ولايأكلون ولايشربون ولا يتناكحون ولا يتوالدون ولاينامون ولاتكتب أعمالهم ولايحاسبون ولاتوزن أعمالهم ويحشرون مع الإنسان والجن ويشفعون فى أصاة بنى أدم ويراهم المؤمنون فى الجنة ويدخلونها وتمتعون فيها ما شاء الله. قيل يكونون فيها كحالتهم فى الدنيا فلا يأكلون ولايشربون ولا ينكحون بل يلهمون التسبيح والقديس. فيجدون فيه مايجده أهل الجنة من اللذة لانه لايحتج للذة المحسوسة إلا من ركبت فيه الشهوة وهؤلاء لا شهوة لهم ومقتضى هذا أن الحور والوالدان كذالك ويجوز الموت عليهم لكن لايموت احد منهم قبل النفخة اللاولى بل بها حملة العرش. والملائكة الأربعة فإنهم يموت بعدها ويحيون قبل النفخة الثانية, أخر من يموت ملك الموت  وماذكر من انهم لايعصون الله لاينافى ماوقع من إبليس لان الصحيح أنه من الجن لامن الملائكة ولا من ينقل عن هاروت وماروت فإن ذالك كذب. نقله المؤخرون على الإسرائيليات اى كتب اليهودى. ولم يصح فى ذلك خبر كما قاله المفسرون.   -1

-الشرقوى على الهدهدى  الشيخ عبد الله الشرقوى   هلمان 126

 

Silsilah TJ yang Ketiga

03.MUHAMMAD SAW IBN ABDULLAH

(MUHAMMAD RASULULLAH SAW TAHUN 569 -632 M)

سَيِّدُ الْمُرْسَلِيْنَ إِمَامُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَتْقِيَاءِ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Muhammad Saw lahir di kota Mekkah al Mukarramah, hari Senin, tanggal 12 Rabi;ul Awwal Tahun Gajah atau bertepatan dengan tanggal 20 April tahun 569 Masehi. Muhammad Saw pembawa risalah Allah yang terakhir dari kerasulan dan kenabian, dan juga penyempurna agama Islam. Maka dari itulah dia adalah Nabi dan Rasul terakhir.

 لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ    La nabiya ba,dahu   ” tidak ada Nabi dan Rasul  sesudahnya”

Tercatat dan terkenal dalam sejarah bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah yang telah menempuh dan menjalani hidup, kehidupan dan penghidupan  secara manusiawi dan secara Sufi.Dia pernah sebagai pengembala kambing pada usia 6 tahun. Dimasa remajanya pernah ikut berperang dengan paman-pamannya, walaupun dia sebagai pengumpul anak panah untuk diberika kepada mereka (paman-pamannya). Nabi Muhammad juga pernah sebagai pedagang, jual menjual barang dagangan Siti Khadijah. Beliau seorang yang cerdas dan bijaksana dalam berkata dan berbuat. Rasul Saw mendapat julukan : “MUHAMMAD AL AMIIN” Maksudnya orang yang terpercaya dan dapat dijadikan kepercayaan, karena sifat pribadinya yang indah menawan, dan keagungan akhlaknya, tidak ada bandingannya di dunia ini. Dia selalu dipuja dan dipuji oleh penduduk Muslimin di muka bumi dan juga dipuja oleh penduduk langit. Wajiblah kita katakan :

يَا مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ حَقًّا

Maksudnya : “Ya Muhammad, Engkaulah utusan yang benar.”

Tidaklah begitu mengherankan bila kehidupan tasawuf tumbuh dan berkembang bersamaan dengan tumbuhnya dan berkembangnya Agama Islam. Dimulai dari sebelum Beliau diangkat secara resmi menjadi Rasul, Beliau sudah menempuh jalan tasawuf.

Rasul Saw berhijrah ke Madinah tahun 622 Masehi, setelah 10 tahun di Madinah mengembangkan Agama Islam dan Beliau wafat sekitar tanggal 8 juni tahun 632 Masehi.

Kehidupan Muhammad adalah mencerminkan ciri-ciri prilaku kehidupan Sufi, dimana saja bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari Beliau yang sangat sedarhana dan menderita, disamping menghabiskan waktunya dalam beribadah dan bertaqarruf pada Tuhannya.Seperti sudah sama-sama kita maklumi bahwa sebelum Beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul dan juga  belum menerima wahhyu pertama kali. Beliau sudah sering kali melakukan kegiatan Sufi, Dengan melakukan Uzlah ke Gunung Jabal Nur didalam Gua Hera selama berbulan-bulan lamanya hingga Beliau menerima Wahyu pertama saat diangkat oleh Allah Swt sebagai Rasul terakhir tanggal 17 Ramadhan tahun pertama Kenabian, usia Rasul Saw  40 tahun sekitar tahun 609 Masehi.

Setelah nabi Muhammad resmi diangkat sebagai Nabi dan Rasul, diusia 40 tahun. Keadaan dan cara hidup Beliau masih ditandai oleh jiwa dan suasana kerakyatan, meskipun Nabi berada dalamlingkaran keadaan hidup serba dapat terpenuhi semua keinginan terkendali.Lentaran Kekuasaannya sebagai nabi dan rasul Allah yang menjadi kekasih Tuhannya. Pada waktu malam sedikit sekali tidurnya, waktunya dihabiskan untuk takarruf – tawajjuh kepada Allah dengan memperbayak ibadah dan dzikir kepadaNya.

Tempat tidur Nabi terdiri dari Balai Kayu biasa dengan alas tikar dari anyaman daun kurma, tidak pernah memakai pakaian dari Wool apalagi dari Sutra, meskipun Beliau mampu untuk membelinya,  Beliau lebih suka  hidup sedarhana.Begitulah salah satu contoh tauladan oleh  seorang MANUSIA SEMPURNA, MANUSIA YANG TERMULIA DAN PEMIMPIN TERTINGGI, untuk membuka mata Shahabat-shahabatnya dan juga para Pengikutnya hingga akhir zaman, yang diperlihatkan kepada mereka., untuk apa manusia itu hidup.

Firman Allah tentang contoh tauladan yang harus diteladani oleh Kaum Muslimin dan Muslimat belahan dunia ini adalah Muhammad Rasulullah Saw.

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة   -التبوة  128  

Artinya “Sungguh pada diri Rasulullah itu itu terdapat suri tauladan yang baik untukmu (Kaum Muslimin dan Muslimat)”

MUHAMMAD SAW, BELIAU MANUSIA YANG TERMULIA DAN PEMIMPIN TERTINGG DAN JUGA SEORANG RAJA NEGERI ARAB

Nabi Muhammad Saw adalah seorang Raja Arab yang disegani Kawan dan Lawan, Ia seorang Kepala Negara yang Bijak, Beliau seorang Nabi Pemimpin Agama dan Umat, 

Secara tradisional, dua zaman menggambarkan kehidupan dan karier Muhammad: pra-Hijrah antara  tahun 570 dan 622 di Makkah; dan pasca-Hijrah antara tahun 622 dan wafatnya pada tahun 632 di Madinah. "Hijrah" mengacu pada migrasi Muhammad, bersamaan dengan Muslim awal, dari Makkah ke Madinah karena penganiayaan yang dilakukan oleh penduduk Makkah terhadap umat Islam awal. Kecuali pernikahannya dengan Khadijah dan Saudah, hampir seluruh pernikahan Muhammad dilangsungkan setelah migrasi. Nabi Muhammad Saw seorang Penguasa dan juga ia mempunyai 13 orang isteri yaitu  : :

Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (25 th) dengan Sayyidah Siti Khadijah (40 th) binti Khuwailid ibn As’ad mulai tahun (595–620M).

Kehidupan Khadijah sebelum bersama Rasulullah Khadijah binti Khuwailid lahir pada sekitar tahun 556M di Mekkah, Arab Saudi. Khuwailid saudagar kaya di MekkahIa adalah putri dari Khuwailid bin Asad dan Ibunya Fatimah binti Zaidah.

Seperti sang ayah, Khadijah berprofesi sebagai pedagang. Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan agung, serta memiliki pendirian yang teguh dan perangainya luhur. Sebelum bertemu Rasulullah, Khadijah pernah dua kali menikah.

Suami pertamanya Siti Khadijah adalah Abu Halah Al-Nabbasi ibn Zurarah al-Tamimi dan ia punya 2 orang anak putra-putri an.Halah dan Hindun. Setelah Abu Halal meninggal, Khadijah dinikahi Atiq bin Abdul Makhzumi. Khadijah kembali menjanda setelah Atiq bin Abdul Makhzumi meninggal.

Sebagai janda kaya yang berperangai luhur, tidak sedikit pemuka kaum Quraisy yang kaya raya ingin memperistrinya. Namun, pada akhirnya, pilihan Khadijah justru jatuh pada Muhammad, pria sederhana yang jauh lebih muda darinya.

Sebelum menjadi istri Nabi Muhammad, Siti Khadijah sudah mendapat Gelar dan julukan yang diberikan orang-orang kepadanya “Ratu Mekkah, Ratu Quraisy, ath-thaahirah, wanita suci”

Kehidupan Khadijah sebelum bersama Rasulullah Khadijah binti Khuwailid lahir pada sekitar tahun 555M di Mekkah, Arab Saudi. Ia adalah putri dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Zaidah. Seperti sang ayah, Khadijah berprofesi sebagai pedagang. Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan agung, serta memiliki pendirian yang teguh dan perangainya luhur. Sebelum bertemu Rasulullah, Khadijah pernah dua kali menikah.

Suami pertamanya Siti Khadijah adalah Abu Halah Al-Nabbasi ibn Zurarah al-Tamimi dan ia punya 2 orang anak putra-putri an.Halah dan Hindun. Setelah Abu Halal meninggal, Khadijah dinikahi Atiq bin Abdul Makhzumi. Khadijah kembali menjanda setelah Atiq bin Abdul Makhzumi meninggal.

Sebagai janda kaya yang berperangai luhur, tidak sedikit pemuka kaum Quraisy yang kaya raya ingin memperistrinya. Namun, pada akhirnya, pilihan Khadijah justru jatuh pada Muhammad, pria sederhana yang jauh lebih muda darinya.

Sebelum menjadi istri Nabi Muhammad, Siti Khadijah sudah mendapat Gelar dan julukan yang diberikan orang-orang kepadanya “Ratu Mekkah, Ratu Quraisy, ath-thaahirah.”

Siti Khadijah yang merupakan istri pertama Nabi Muhammad yang memiliki banyak keistimewaan. Siti Khadijah mendapat julukan "Ath-Thaariah", yang berarti bersih dan suci. Sebagai istri Nabi Muhammad, ia mendapat gelar Ummul Mukminin (ibu dari orang mukmin) dan Sayyidatu Nisa'il 'alamin (penghulu para wanita di dunia pada zamannya). Siti Khadijah adalah istri yang sangat dicintai Rasulullah. Bahkan, selama 25 tahun pernikahan mereka, Nabi Muhammad tidak pernah menikah dengan perempuan lain

Perkawinan Nabi Saw dengannya Khadijah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniai putra 6 anak, 2 laki-laki dan 4 perempuan, yaitu : 

  1. Qasim, (pemberi Imbalan) wafat saat kecil 
  2. Zainab, (indah dan Wangi) wafat usia 29 tahun 
  3. Ruqaiyah, wafat  saat perang Badar (ia isteri Usman bin Affan) 
  4. Ummu Kultsum, dan 
  5. Fathimah Azzahra. 
  6. Abdullah wafat saat kecil

Realita ini menuai tanda tanya, di usia berapakah Khadijah menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Keterangan yang banyak tersebar di buku-buku sirah, usia Khadijah ketika menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 40 tahun. Dan beliau meninggal di usia 65 tahun.

Keterangan ini berdasarkan riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Sa’d dalam At-Thabaqat Al-Kubra, dari Al-Waqidi. Dalam riwayat itu dinyatakan:

تَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَدِيجَةَ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ وَهُوَ ابْنُ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ سَنَةً، وَكَانَتْ هِيَ يَوْمَئِذٍ ابْنَةَ أَرْبَعِينَ سَنَةً

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya (Khadijah) ketika beliau berusia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun.” (Thabaqat Ibn Sa’d, 1/132)

Sementara itu, dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir mengatakan

وهكذا نقل البيهقي عن الحاكم أنه كان عمر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حين تزوج خديجة خمسًا وعشرين سنة، وكان عمرها إذ ذاك خمسًا وثلاثين، وقيل خمسًا وعشرين سنة

“…demikianlah dinukil oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim bahwa usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikah dengan Khadijah adalah 25 tahun, sedangkan usia Khadijah ketika itu adalah 35 tahun, ada juga yang mengatakan, 25 tahun…” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2/295)

Kemudian, ketika Ibnu Katsir membahas tentang pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau membawakan dua riwayat,

وعن حكيم بن حزام قال: كان عمرها أربعين سنة. وعن ابن عباس: كان عمرها ثمانيًا وعشرين سنة. رواهما ابن عساكر

Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikahi Khadijah adalah 25 tahun. Sedangkan usia Khadijah 40 tahun.” Sementara dari Ibnu Abbas, bahwa usia Khadijah 28 tahun. Keduanya diriwayatkan Ibnu Asakir. (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 5/293).

Menjadi istri pertama Nabi Muhammad Dalam mengurus bisnisnya, Siti Khadijah dikenal sebagai perempuan yang andal, pintar, dan cekatan. Suatu hari, hatinya tertambat pada Muhammad, seorang pria sederhana yang tepercaya, jujur, dan memiliki akhlak mulai. Saat itu, Muhammad belum diangkat oleh Allah menjadi Nabi umat Islam. Siti Khadijah dinikahi oleh Rasulullah ketika telah dua kali menjanda dan usianya menyentuh 40 tahun. Sementara Rasulullah baru berusia 25 tahun. Dalam riwayat disebut bahwa Khadijah adalah pedagang kaya yang memiliki rombongan dagang yang besar. Untuk itu, ia sering mengupah seseorang untuk menyertai dagangan dalam rombongan kafilahnya ke berbagai daerah.

Suatu ketika, Abu Thalib, paman Nabi Muhammad, mendengar bahwa Khadijah sedang mempersiapkan rombongan dagang ke negeri Syam. Nabi Muhammad Sebelum Diangkat Menjadi Rasul, Pamannya Abu Thalib kemudian mendatangi Siti Khadijah dan menawarkan agar Muhammad dipercaya untuk menyertai dagangan tersebut. Setelah disetujui, Muhammad membawa dagangan ke Syam dengan didampingi oleh Maisarah, budak Siti Khadijah. Berkat keterampilan dan kejujuran Muhammad, dagangan yang mereka bawa menghasilkan keuntungan besar. Sekembalinya ke Mekkah, Maisarah menceritakan tentang kejujuranamanah, dan kemuliaan akhlak Muhammad kepada Khadijah. Cerita itu membuat Khadijah jatuh cinta, lalu meminta sahabatnya, Nufaisa binti Muniya, untuk menjajaki kemungkinan Muhammad menjadi suaminya. Dari situlah, berlangsung pernikahan antara Siti Khadijah dan Muhammad, yang belum diangkat sebagai rasul. Muhammad sendiri memperistri Khadijah bukan karena kekayaan atau status sosialnya, melainkan karena pribadi dan akhlaknya yang mulia.

Mendampingi awal kenabian Rasulullah Perbedaan usia yang mencolok tidak menjadi penghalang dalam rumah tangga Khadijah dan Muhammad. Kematangan Siti Khadijah pada usia 40 tahun membuat Muhammad merasa nyaman. Ketika pernikahan mereka berjalan 15 tahun, Muhammad diangkat menjadi nabi. Siti Khadijah menjadi sosok yang menenangkan hati Muhammad saat pertama kali menerima wahyu sebagai utusan Allah. Pasalnya, ketika itu, Rasulullah benar-benar dilanda kecemasan luar biasa. Siti Khadijah pun menjadi orang pertama yang menerima dan memeluk Islam, sebelum Rasulullah berdakwah di kalangan para sahabat. Pada masa awal kenabian, Siti Khadijah mencurahkan harta, pikiran, dan tenaganya untuk mendukung Nabi Muhammad dalam menegakkan agama Islam.

Siti Khadijah sangat berjasa bagi perkembangan dan penyiaran Islam pada awal kenabian hingga wafatnya pada sekitar tahun 619. Diperkirakan, Siti Khadijah meninggal pada usia 65 tahun, bertepatan dengan tahun kesepuluh kenabian Rasulullah. Selama 25 tahun membina rumah tangga dengan Nabi Muhammad, Siti Khadijah tidak pernah dimadu. Nabi Muhammad baru menikah lagi setelah ia meninggal. Hal itu menjadi salah satu keistimewaan Siti Khadijah. Beberapa keistimewaan Siti Khadijah lainnya adalah, ia menjadi orang pertama yang masuk Islam dan menjadi salah satu perempuan yang dinantikan surga.

Referensi  :

Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s

Artikel “Usia Khadijah ketika Menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. https://muslimah.or.id/3170-usia-khadijah-ketika-menikah-dengan-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html

Artikel “Siti Khadijah,istri yang dinantikan di Surga oleh Nabi Muhammad SAW,” https://lksaalfalahleces.net/utama/siti-khadijahistri-yang-dinantikan-di-surga-oleh-nabi-muhammad-saw

 

3= سيد المرسلين إمام الأنبياء والأتقباء سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم

 وهو محمد ابن عبدالله وامه ستي امنة معيشته عليه الصلاة والسلام من والده شيئا بل ولد يتيما عائلا فاسترضع في ني سعد. ولما بلغ  مبلغا يمكنه أن يعمل عملا كان يرعى الغنم مع أخوته  من الرضاع في البادية, وكذلما رجع إلى مكة كان يرها لاهلهاعلى قراريط كما ذكره البخري في صحيحه, ووجود الأنبياء فى حال التجردعن الدنيا ومشاغلها أمر لابد منه  لاتهم لو وجدوا أغنياء لالهتهم الدنيا وشغلوا بها عن السعادة الأبدية. وذلك ترى جميع الشرائع الا لهية متفقة على استحسان الزهد فيها والتباعد عنها. وحال الأنبياء السالفين أعظم شاهد على ذالك. فكان عيسى عليه السلام أزهد الناس في الدنيا, وكذالك كان موسى وإبراهيم , وكانت حالتهم في صغرهم ليست سعة بل كلهم سواء تلك الحكمة البالغة أظهرها الله على أنبيائه ليكونوت عوذجا لمتبعيهم في الإمتناع عن التكالب على الدنيا والتهافت عليها  وذالك.سبب البلايا والمحن. وكذالك رعاية الغنم, فما من نبي الا دعاها كما أخبر عن ذالك الصادق في حديث للبخارى, وهذه أيضا من بالغ الحكم فإن الإنسان إذا استرعى الغنم وهي أضعف البهائم. سكن قبله الرأف واللطفة تعطفا, فإذا انتقل من ذالك إلى رعاية الخلق كان لما  هذب أولا من الحدة الطبعية والظلم الغريري, فيكون فى اعدل الاحوال, ولما شب عليه السلام كان يتجر. وكان شريكه  السائب بن أبي السائب, وذهب بالتجارة لخديجة رضي الله عنها ال الشام على جعل يأخذه, ولما شرفت خديجة بزواجه, وكانت ذات يسار عمل فى مالها وكان يأكل من نتيجة عمله, وحقق الله ما أمتن عليه به فى سورة الضحى بقوله  جل ذكره :  ألم يجدك يتيما فأوى ووجدك ضالا فهدى. ووجدك عائلا فأغنى. بالايواء والأغناء قبل النبوة والهداية بالنبوة, هداه للكتاب والإيمان ودين إبراهيم عليه السلام ولم يكن يدرى ذلك قبل,  ٌقال تعال فى سورة الشورى : وكذلك أوحينا إليك روحا من أمرن ماكنت تدرى ما الكتاب ولا الإيمان ولكن جعلناه نورا نهدى به من نشاء من عبادنا.-فى الكتاب  نور اليقين فى سيرة المرسلين   -15

واعلم أن النبي صلى الله عليه وسلم لما بلغ من العمر أربعين سنة نبأ الله تعالى  فى يوم الإثنين فى شهر ربيع الاول, وأرسله لكافة الناس بشيرا ونذيرا, ولما بلغ من العمر أحدى خمسين سنة ونصفا أسرى بجسده وروحه يقظة من مكة إلى بيت المقدس ثم عرج منه إلى السموات السبع إلى  سدرة المنتهى إلى مستوى سمع فيه صريف الاقلام, إلى العرش الى مكان الخطاب مع ربه, وفرض فذلك الوقت عليه صلى الله عليه وسلم وعلى أمته خمس صلوات.

ولما كمل له صلى الله عليه وسلم من العمر ثلاث وخمسون  أمره الله تعالى بالهجرة من مكة إلى المدينة المنورة , فخرج من مكة يوم الإثنين هلال ربيع الأول واختفى بغار ثور ثم خرج منه ليلة الإثنين, وقدم صلى الله عليه وسلم المدينة هى قباء يوم الإثنين الثاني عشر من ربيع الأول, ولما كمل له من العمر ثلاث وستون سنة توفاه الله تعالى وكان ذلك يوم الإثنين الثاني عشر من ربيع الأول فدفن, فى حجر عائشة رصى الله عنها, وكان حمله صلى الله عليه وسلم يوم الإثنين فى غرهرجب. وولادته يوم الإثنين أو ليلة الإثنين الثانى عشر من ربيع الأول فى مكة فى سوق الليل من محل مولده المشهورفى الكتاب الفقية نهاية الزين 

 Isteri-isteri Rasulullah Saw ibn Abdullah ibn Abdul Muthalib setelah Khadijah isteri pertamanya Wafat  :

Karena faktor Dakwah Islam lah tujuan perkawinan Nabi Saw dengan Para Janda dan para Budak (tawanan Perang yang dimerdekakan) untuk menghilangkan rasa permusuhan dengan Kabilah yang diperangi Nabi Saw, untuk menghilangkan rasa kebecian para keluarga yang diperangi Nabi Sawuntuk menghilangkan rasa dendam kesumat dengan Keluarga yang mati terbunuh dalam peperangan.

01. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Saudah binti Zam’ah al-Amiriyah ibn Qais, 

Perkawinan Nabi Muhammad Saw mulai tahun (620–632M) dengan Sayyidah Saudah (+57 th) binti Zam’ah al-Amiriyah ibn Qais, Uang mahar yang diberikan oleh Nabi Muhammad Saw 500 dirham koin emas. Saudah seorang janda dari Sakran ibn Amar punya 1 anak an.Abdurrahman.

Saudah binti Zam'ah bin Qais (bahasa Arab: سودة بنت زمعة بن قيس) adalah salah satu istri Nabi Muhammad. Nasab lengkapnya Saudah binti Zum'ah bin Qais bin Abdi Wadd bin Nashr bin Malik bin Hasal bin Amir bin Lu'ai AI-Qurasyiah. Ibunya bernama Syumus binti Qais bin Amr bin Zaid.

Awalnya Saudah menikah dengan sepupunya Sakran bin Amr saudara Suhail bin Amr, kemudian mereka bersama hijrah ke Habasyah (Ethiopia) lalu kembali lagi ke Mekah, namun suaminya wafat. Sebelumnya Saudah bermimpi, dan suaminya berkata, bahwa ia akan wafat, dan Saudah akan dinikahi Muhammad.

Setelah 25 tahun ber-monogami dengan Khadijah, istri beliau yang merupakan saudagar kaya raya, Nabi Muhammad pun mulai ber-poligami dengan pertama-tama menikahi Saudah pada bulan yang sama setelah Khadijah wafat, yaitu pada bulan Ramadhan, tahun ke-10 pasca kenabian, 3 tahun sebelum Hijrah. Sebelumnya, Nabi Muhammad melakukan akad nikah dengan Aisyah, tetapi baru menggaulinya 4 tahun kemudian di Madinah. Saudah ditawarkan (lamarkan) menikah oleh Khaulah binti Hakim, istri Utsman bin Madz'un.

Tidak ada riwayat yang pasti mengenai pada saat umur berapa Saudah dinikahi Rasulullah, setelah umur 57 tahun, tapi ayahnya dicatatkan masih hidup ketika Rasulullah menikahinya,ia perempuan yang lebih tua dari Rasulullah. Keduanya lalu menikah pada Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian. Saudah merupakan putri dari Zam'ah bin Qais dari Suku Quraisy. Saudah berasal dari keturunan Luiy, salah satu nenek moyang dari Rasulullah. dan Saudah setelah 57 tahun dirinya menikah dengan Rasul, yaitu pada bulan Ramadhan tahun ke-54 Hijriyah. Setelah Pertempuran Badar, seorang ibu bernama Afra kehilangan kedua anaknya, Auf dan Muawidz dalam pertempuran itu, Saudah hidup bersama Afra untuk meringankan beban hidupnya.

Saudah dikenal sebagai perempuan bijak dan penyayang. Tubuhnya gemuk. Ketika ia mulai tua, ia rela memberikan hari-hari gilirannya untuk bersama Rasulullah kepada Aisyah yang merupakan istri favorit Sang Nabi, demi menyenangkan beliau dan supaya dirinya tidak jadi diceraikan oleh beliau sehingga turunya Quran surat an-Nisa ayat 128.

Saudah adalah istri Rasulullah yang terlibat langsung dalam peristiwa sebab turunnya ayat hijab. Sebelum datangnya perintah dari Allah untuk berhijabistri-istri Nabi tidaklah berhijab, dan tidak pula beliau memerintahkan mereka berhijab. Namun Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang mempunyai karakter keras, mendatangi Nabi, menyarankan beliau agar menghijabi istri-istri beliau. Akan tetapi Sang Nabi tidak mengindahkan usulannya. Di zaman Nabi Muhammad, jika istri-istri beliau ingin buang air besar, mereka keluar pada waktu malam menuju tempat buang hajat yang berupa tanah lapang dan terbuka bernama “Al-Manasi”. Lalu pada suatu malam waktu Isya` Saudah keluar untuk buang hajat, karena Saudah adalah seorang wanita yang berpostur tinggi, lalu diketahui oleh Umar kemudian berseru kepadanya,"Sungguh kami telah mengenalmu wahai Saudah!". Takut akan hal itu terulang, Saudah pun melaporkan hal tersebut kepada Nabi. Dan tidak lama berselang ayat hijab pun diturunkan. Dan istri-istri Nabi kembali diizinkan untuk buang air besar.

Saudah yang merasa sudah berumur, memberikan jatah harinya kepada Aisyah. Nabi Muhammad tetap mempertahankan Saudah hingga wafatnya. Semasa Umar bin Khathab ia memberikan sekantong Dirham pada Saudah, lalu Saudah membagi-bagikan pada yang membutuhkan.

Aisyah bercerita tentang sifat kemanusiaannya Muhammad,"Suatu hari, Saudah mengunjungi kami. Maka Rasulullah duduk di antara aku dan Saudah, salah satu kakinya di pangkuanku dan kaki yang lainnya di pangkuan Saudah. Lalu aku membuatkan harirah (sejenis makanan berkuah) untuk nya. Kemudian aku berkata kepadanya (Saudah), 'Makanlah.' Ternyata dia menolak untuk makan. Aku berkata, 'Kamu makan, atau (kalau tidak) aku akan lumuri wajahmu.' Ternyata dia tetap menolak, maka aku ambil sedikit makanan di piring dan aku lumuri wajahnya. Rasulullah tertawa. Lalu beliau mengangkat kakinya yang berada di pangkuan Saudah agar dia dapat membalasnya, seraya berkata, 'Lumuri wajahnya.' Maka Saudah mengambil sedikit makanan yang ada di piring, kemudian dia melumuri wajahku dengannya, sementara Rasulullah tertawa."

Makam Saudah di Baqi Madinah.

Saudah wafat di akhir masa Khalifah Umar bin Khathab dan dimakamkan di Baqi Madinah.

Referensi :

Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s

Artikel “Saudah binti Zam'ah”, Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Saudah_binti_Zam%27ah


02. Rakam jejak Pernikahan Nabi Muhammad Saw dimulai  tahun  (620–632M) dengan Sayyidah Siti Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq. 

Ibunya bernama Ummu Ruman, Uang mahar yang diberikan 500 dirham koin emas dan ia dikawini atau digauli oleh Nabi Muhammad Saw usia 9 tahun. Aisyah binti Abi Bakar (sekitar 613/614 – Juli 678 Masehi) adalah seorang komandan, politikus, ahli hadis dan istri ketiga juga termuda dari Nabi Muhammad.

Aisyah memiliki peran penting dalam sejarah Islam awal, baik selama hidup Muhammad maupun setelah kematiannya. Dalam tradisi Sunni, Aisyah digambarkan sebagai seorang yang terpelajar, cerdas, dan ingin tahu. Ia berkontribusi dalam penyebaran pesan Muhammad dan mengabdi kepada masyarakat Muslim selama 44 tahun setelah kematian Muhammad.

Aisyah meriwayatkan 2.210 hadis sepanjang hidupnya, tidak hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi Muhammad, tetapi juga pada topik-topik seperti hukum warishajifiqih shalat, dan eskatologi. Kecerdasan dan pengetahuannya dalam berbagai subjek, termasuk puisi dan kedokteran, sangat dipuji oleh para ulama dan tokoh terkemuka awal seperti al-Zuhri dan muridnya Urwah bin az-Zubair.

Kehidupan Awal dan Silsilah

Aisyah lahir di Mekkah sekitar tahun 613-614M. Aisyah adalah putri dari Abu Bakar dan Ummi Ruman, dua orang dari sahabat Nabi yang paling terpecaya. Tidak ada sumber yang memberi informasi lebih banyak terkait masa kecilnya. Beberapa sumber klasik menyatakan bahwa Aisyah berusia enam atau tujuh tahun pada saat pernikahannya, dan dikawinkan saat berusia sembilan tahun. Namun, umur tepat Aisyah saat pernikahannya masih menjadi sumber perdebatan oleh beberapa tokoh.

Pernikahan dan Perkawinan

Sebelum pertunangannya dengan Muhammad, Aisyah (yang saat itu berusia lima tahun) bertunangan dengan putra Mut'im ibnu 'Adi, yaitu Jubair ibnu Mut'im; mengikuti kebiasaan pernikahan dini di Arab pada abad keenamPertunangan itu gagal karena kekhawatiran dari keluarga Aisyah.

Bedanya antara Pernikahan dan Perkawinan, menurut kaedah fiqih Islam, kata “Nikah berarti aqad yaitu ijab dari walinya dan qabul manten perianya, saat berhadapan keduanya didepan dua saksi” sedangkan kata “Kawin berarti jima’ (bercampur, berhubungan badan) manten peria-wanitanya.

Menurut buku Shahih Bukhari, setahun kemudian Aisyah kemudian bertunangan dengan Muhammad pada usia enam tahun. Beberapa sumber Islam dari era klasik mencantumkan usia Aisyah sebagai enam tahun pada saat pernikahan dan sembilan atau sepuluh tahun pada saat perkawinannya; Namun, beberapa ulama lain tidak setuju dengan ini karena ketidakkonsistenan dalam narasi tentang masa mudanya.

Sebelum pertunangannya dengan Muhammad, Aisyah (yang saat itu berusia lima tahun) bertunangan dengan putra Mut'im ibnu 'Adi, yaitu Jubair ibnu Mut'im; mengikuti kebiasaan pernikahan dini di Arab pada abad keenam. Pertunangan itu gagal karena kekhawatiran dari keluarga Aisyah. Menurut buku Shahih Bukhari, setahun kemudian Aisyah kemudian bertunangan dengan Muhammad pada usia enam tahun. Beberapa sumber Islam dari era klasik mencantumkan usia Aisyah sebagai enam tahun pada saat pernikahan dan sembilan atau sepuluh tahun pada saat perkawinannya; Namun, beberapa ulama lain tidak setuju dengan ini karena ketidakkonsistenan dalam narasi tentang masa mudanya. Meskipun demikian, secara keilmuan hadis, narasi awal merupakan posisi yang lebih kuat.

Nabi Muhammad dua kali bermimpi bahwa ia melihat Aisyah di mimpinya, dibawakan oleh Malaikat untuk menjadi istrinya. Menganggap itu adalah ketentuan dari Allah yang harus dijalankan, ia pun meminta kepada ayahnya Aisyah, yaitu Abu Bakar, untuk memberikan putrinya untuk dijadikan istri. Awalnya, Abu Bakar ragu untuk menikahkan putrinya kepada Muhammad, karena ia menganggap Muhammad dan dirinya adalah bersaudara. Namun setelah diyakinkan bahwa dirinya dan Muhammad hanya saudara dalam agama, dan Aisyah adalah halal untuk Muhammad nikahi, rasa ragu di dalam hati Abu Bakar pun terangkat. Pertunangan Aisyah dengan Jubair ibnu Mut'im pun kemudian dibatalkan.

William Montgomery Watt, seorang orientalis Barat, berpendapat bahwa Muhammad berharap untuk memperkuat hubungannya dengan Abu Bakar; penguatan ikatan umumnya berfungsi sebagai dasar pernikahan dalam budaya Arab.

Biografi Ibnu Sa'ad menyatakan usia Aisyah pada saat menikah antara enam dan tujuh tahun, dan dikawinkan saat berusia sembilan tahun. Sementara itu, biografi Ibnu Hisyam tentang Muhammad menunjukkan bahwa Aisyah mungkin berusia sepuluh tahun saat dikawinkan. Al-Tabari mencatat Aisyah tinggal bersama orang tuanya setelah pernikahan dan dikawinkan pada usia sembilan tahun karena dia masih muda dan belum matang secara fisik pada saat menikah; Namun, di tempat lain, Tabari tampaknya menganggap bahwa Aisyah lahir di tahun Jahiliyyah (sebelum 610M), yang berarti usia sekitar dua belas tahun atau lebih saat menikah.

Semua hadis yang ada sepakat bahwa Aisyah menikah dengan Muhammad di Mekkah, tetapi pernikahan tersebut baru disempurnakan pada bulan Syawal setelah hijrah Muhammad ke Madinah (April 623M).Beberapa sumber klasik menunjukkan bahwa Aisyah mengatakan bahwasanya pernikahan tersebut dilaksanakan di Madinah sendiri tanpa ada penundaan.

Dalam tradisi literatur Islam, usia muda pernikahannya tidak memantik wacana yang signifikan; Meskipun demikian, dua orang Peneliti Muslim yaitu Spellberg dan Ali (peneliti Islam asal Amerika Serikat) meneliti tentang alasan penulis biografi Muslim awal menyebut usianya secara eksplisit, karena itu bukan pendekatan yang biasa. Kemudian, mereka berhipotesis bahwa umur aisyah mungkin disebut sebagai konotasi terhadap kemurniannya.[catatan 2] Usianya juga tidak menarik minat para ulama khalaf, dan tidak dikomentari bahkan oleh para polemik agama abad pertengahan dan modern-awal.

Kritik terhadap usia Aisyah, yang merupakan usia umum untuk pernikahan di Arab pada abad keenam,[26] telah mendorong banyak cendekiawan Muslim modern untuk meng-kontekstual-isasikan usia Aisyah yang diterima secara tradisional dengan menekankan relativisme budaya, anakronisme, dimensi politik dari pernikahan, perbedaan laju pertumbuhan fisik antar zaman, dan lain-lainnya.

Kehidupan Pribadi, Hubungan dengan Nabi Muhammad Saw

Dalam sebagian besar tradisi Timur Tengah Arab Muslim, Khadijah binti Khuwailid digambarkan sebagai istri Nabi Besar Muhammad Saw yang paling dicintai dan difavoritkan; tradisi Sunni menempatkan Aisyah sebagai istri kedua setelah Khadijah. Ada beberapa hadis, atau cerita atau ucapan Muhammad, yang mendukung posisi ini. Salah satunya menceritakan bahwa ketika seorang sahabat bertanya kepada Muhammad, "siapa orang yang paling kamu cintai di dunia ini?" dia menjawab, "Aisyah."Cerita lain mengatakan bahwa Muhammad membangun rumah Aisyah sedemikian rupa sehingga pintunya terbuka langsung ke masjid, dan disebutkan bahwa ayat-ayat Qur'an tidak datang kepada Muhammad di tempat tidur manapun selain miliknya Aisyah.

Berbagai tradisi mengungkapkan kasih sayang timbal balik antara Muhammad dan Aisyah. Muhammad sering kali hanya duduk dan menonton Aisyah dan teman-temannya bermain dengan boneka, dan kadang-kadang, dia bahkan bergabung dengan mereka. Selain itu, Muhammad dan Aisyah memiliki hubungan intelektual yang kuat. Muhammad menghargai daya ingat dan kecerdasannya yang tajam sehingga dia memerintahkan para sahabatnya untuk meniru beberapa praktik keagamaan dari Aisyah.

Perlakuan spesial di antara istri-istri Nabi Muhammad Saw

Para istri Rasul terbagi menjadi dua kubu. Yang satu terdiri dari Aisyah, Hafshah, Shafiyah dan Saudah; sedangkan kubu satunya lagi terdiri dari Ummu Salamah dan istri-istri beliau yang lain. Umat muslim pada saat itu sadar kalau Aisyah adalah istri favorit Nabi, maka bila mereka ingin memberikan hadiah kepada Nabi, mereka menunggu hingga Nabi mengunjungi rumah Aisyah untuk gilirannya. Kubunya Ummu Salamah mendiskusikan masalah ini bersama, dan berkeputusan bahwa Ummu Salamah mesti meminta kepada Muhammad supaya menyuruh umatnya untuk mengirim hadiah mereka ketika Muhammad juga berada di rumah istri-istrinya yang lain. Ketika saat gilirannya bersama Muhammad, Ummu Salamah pun membicarakan hal tersebut dengannya, tetapi Muhammad tidak memberikan jawaban.

Setelah gilirannya bersama Nabi usai, Ummu Salamah pun ditanyakan oleh istri-istri Nabi yang ada di kubunya, ia memberi tahu mereka bahwa Rasul tidak memberikan jawaban. Maka mereka memintanya untuk mencoba lagi. Pada hari gilirannya yang berikutnya, Ummu Salamah mencoba kembali membicarakan hal tersebut kepada Rasul, akan tetapi ia tetap tidak memberikan jawaban. Setelah gilirannya usai, istri-istri Rasul yang ada pada grupnya kembali bertanya ke Ummu Salamah, dia pun menceritakan kalau Rasul lagi-lagi tidak memberikan jawaban. Maka mereka berkata kepadanya, "Bicarakan dengan beliau sampai ia memberikanmu jawaban." Maka ketika waktu gilirannya, Ummu Salamah mencoba membicarakan hal tersebut lagi dengan Nabi, dan akhirnya beliau pun memberikan jawaban, ia berkata, "Jangan sakiti aku mengenai Aisyah, sebab firman-firman Allah tidak datang kepadaku di tempat tidur manapun selain tempat tidurnya Aisyah." Ummu Salamah pun berkata, "Aku memohon ampun kepada Allah karena telah menyakitimu."

Kubu Ummu Salamah lalu memanggil Fatimah, anaknya sang Muhammad. Mereka meminta agar Fatimah memohon kepada beliau supaya memperlakukan mereka setara dengan Aisyah binti Abu Bakar. Fatimah lalu pergi membicarakan hal tersebut ke Muhammad, dan ia menjawab, "Wahai putriku! Tidakkah kau mencintai apa yang aku cintai?" Fatimah pun menjawab iya. Dia lalu pergi melaporkan hal tersebut ke istri-istri Nabi dari kubu Ummu Salamah. Tidak puas, mereka meminta supaya Fatimah untuk kembali memohon hal tersebut kepadanya, tetapi Fatimah menolak. Mereka pun kemudian menyuruh Zainab binti Jahsy yang merupakan salah satu istri Nabi dan sepupunya, untuk pergi memohon kepada beliau. Ketika bertemu dengan Nabi, dengan menggunakan kata-kata yang kasar Zainab berkata, "Istri-istrimu meminta dirimu untuk memperlakukan mereka dan putrinya Ibnu Abu Quhafah (Aisyah) secara setara." Zainab menaikkan suaranya lalu mengumpati Aisyah di mukanya, yang saking kerasnya, Muhammad pun melihat ke hadapan Aisyah menunggu apakah dia akan membalasnya atau tidak. Maka Aisyah pun membalas Zainab sampai membuat Zainab terdiam. Yang mana ini membuat Nabi tersenyum dan berkata, "Dia memang benar-benar putri Abu Bakar."

Pada peristiwa terpisah, Nabi Muhammad pernah ingin menceraikan salah satu istrinya yaitu Saudah karena Saudah telah mulai tua. Saudah lalu memohon agar sang Nabi mempertahankannya dengan memberikan jatah gilirannyanya kepada Aisyah. Maka Nabi pun menerima usulan tersebut dan tetap mempertahankannya.

Tuduhan berzina (Peristiwa Ifk)

Aisyah pernah dituduh telah berzina dengan salah seorang pasukan Nabi yang mengantarnya pulang ketika dirinya tertinggal dari rombongan sang Rasul. Berzina bagi perempuan yang mempunyai suami adalah sebuah pelanggaran serius dalam Islam yang hukumannya adalah dirajam sampai mati.

Setiap kali Muhammad akan melakukan serangan ghazwah ke pemukiman atau kafilah dagang milik orang-orang kafir, ia biasa mengundi istri-istrinya untuk memilih salah satu dari mereka yang akan menemaninya. Aisyah menjadi orang yang beruntung pada saat itu. Ia pun dibawa di dalam sebuah rengga tertutup di atas seekor unta. Dalam perjalanan pulang seusai serangan, rombongan Nabi berhenti sejenak untuk istirahat, dan Aisyah pun turun untuk buang air. Sekembalinya dirinya ke rengga, ia menyadari bahwa kalungnya hilang, maka Aisyah kembali ke tempat ia buang air untuk mencarinya. Setelah berhasil menemukannya, rupanya rombongan Nabi telah pergi, mengira Aisyah berada dalam rengga-nya. Maka Aisyah pun menunggu di tempat itu berharap rombongan Nabi akan sadar bahwa dirinya tertinggal.

Menunggu lama, Aisyah mengantuk dan tertidur. Pada pagi harinya, Safwan bin Mu'attal, salah seorang pasukan Nabi yang tertinggal karena alasan tertentu, menemuinya dan mengantarnya pulang. Setibanya di Madinah, timbullah rumor (isu-isu) bahwa Aisyah telah berzina dengan Safwan. Hal ini diperburuk dengan fakta bahwa Aisyah terbaring sakit selama sebulan semenjak dirinya pulang, yang mengakibatkan rumor tersebut semakin besar dan tidak terkendali.

Selama sakitnya, Aisyah telah menduga ada yang aneh, sebab Nabi tidak lagi berlaku hangat kepadanya, dan cenderung menghindari berkomunikasi langsung dengannya. Ia pun mengetahui kalau ada tuduhan dirinya telah berzina setelah diceritakan oleh Umm Mistah. Aisyah pun merasa sedih dan meminta kepada sang Rasul supaya dirinya diizinkan untuk kembali ke rumah ibunya untuk menenangkan diri.

Setibanya di rumahnya, Aisyah menanyakan kepada ibunya tentang apa yang terjadi, dan ibunya berkata: "Wahai putriku! Jangan terlalu mencemaskan masalah ini. Demi Allah, tidak pernah ada wanita menawan yang dicintai suaminya yang memiliki istri-istri lain, selain di mana istri-istri yang lain dari suaminya itu akan membuat-buat berita bohong tentang dirinya." Aisyah pun pergi ke kamarnya dan menangis.

Di pagi harinya, Nabi Muhammad yang belum juga mendapatkan petunjuk dari Allah mengenai masalah ini, memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid, untuk menanyakan pendapat mereka. Usamah mengatakan, 'Wahai Rasulullah ()! Tetap pertahankan istrimu, karena, demi Allah, kami tidak tahu apa-apa tentang dirinya kecuali kebaikan." Sedangkan Ali berkata, "Wahai Rasulullah ()! Allah tidak membatasi dirimu, ada banyak perempuan selain dirinya, tetapi engkau dapat bertanya kepada si pelayan wanita yang akan mengatakan hal yang sebenarnya."

Muhammad pun memanggil Barirah, pelayannya Aisyah, menanyakannya apakah ada gerak-gerik Aisyah yang membangkitkan rasa kecurigaan dirinya. Yang mana Barirah berkata: "Tidak, demi Allah yang telah mengirimkanmu kebenaran, saya tidak pernah melihat sesuatu yang salah darinya kecuali diakibatkan dirinya yang masih kecil, ia terkadang tertidur dan meninggalkan adonan keluarganya dimakan kambing."

Maka setelah saat itu Nabi pun naik ke atas mimbar mengajak para pengikutnya untuk menghukum Abdullah bin Ubai bin Salul yang telah memfitnah keluarganya. Sa'ad bin Muadz pun berdiri dan berkata "Wahai Rasulullah ()! Demi Allah, Aku akan membebaskanmu dari dirinya. Jika orang itu dari Bani Aus, aku akan penggal kepalanya, dan jika dia berasal dari saudara-saudara kami, Bani Khazraj, maka perintahkanlah kami, dan kami akan memenuhi perintah anda." Pimpinan Bani Khazraj, Sa'ad bin Ubadah pun berdiri dan berkata "Demi Allah! Kau telah berbohong, kau tidak boleh membunuhnya dan kau tidak akan bisa membunuhnya." Usaid bin Hudhair lalu ikut berdiri dan berkata (ke Sa'ad bin Ubadah), "Kau yang berbohong! Demi Allah kami akan membunuhnya, dan kau adalah seorang munafik, yang membela teman munafiknya." Cekcok pun semakin memanas antara Bani Aus dan Khazraj. Sebelum timbul konflik antara kedua belah pengikutnya tersebut, Nabi pun mendiamkan mereka.

Aisyah telah menangis tanpa henti dua malam satu hari. Saat itu ia ditemani orang tuanya dan seorang perempuan Anshar memasuki kamarnya dan ikut menagis dengannya. Tidak lama setelahnya, Muhammad pun datang mengunjunginya. Selama satu bulan lebih firman dari Allah tidak turun-turun kepada beliau mengenai kasus ini. Setelah duduk, Nabi mengucap Tasyahud dan berkata:

"Wahai Aisyah! Aku telah diinformasikan hal ini dan itu mengenai dirimu; dan jika kamu tidak bersalah, Allah akan menunjukkan ketidak bersalahanmu, sedangkan jika kamu telah melakukan dosa, maka mintalah ampunan kepada Allah, dan bertobat kepadanya, karena ketika seorang hamba mengakui dosanya dan bertobat kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya."

Ketika Muhammad selesai dengan perkataannya, Aisyah telah berhenti menangis. Ia pun meminta kepada orang tuanya untuk menyampaikan apa yang ingin ia katakan kepada Muhammad, tetapi mereka menolak dengan mengatakan, bahwa mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada sang Rasul.

Aisyah pun berbicara langsung kepada sang Rasul:

"Demi Allah, aku tahu kalau engkau telah mendengar cerita ini (mengenai Ifk) sampai-sampai hal itu tertanam di pikiranmu dan membuatmu memercayai hal itu. Jadi sekarang, kalaupun aku mengatakan bila aku tidak bersalah, dan Allah tahu aku tidak bersalah, engkau pasti tidak akan memercayaiku; dan bila aku mengatakan aku melakukan hal itu, dan Allah tahu kalau aku tidak melakukannya, engkau pasti akan memercayaiku. Demi Allah aku tidak mendapatkan perbandingan lain dari situasi diriku saat ini denganmu selain dengan situasi yang pernah dialami ayahnya Yusuf yang berkata: 'Maka (bagiku) kesabaran adalah yang paling cocok untuk menghadapi hal yang engkau nyatakan dan hanya Allah lah satu-satunya yang bisa dipinta pertolongan.'"

Aisyah lalu berbalik, dan berbaring di tempat tidurnya. Maka seketika itu wahyu datang kepada Nabi Muhammad, dan beliau berkata, "Aisyah, Allah telah menyatakan ketidak-bersalahanmu." Ibu Aisyah pun berkata kepada Aisyah, "Berdirilah dan hampiri beliau." Namun Aisyah berkata, "Demi Allah, aku tidak akan menghampiri dirinya dan aku tidak akan berterima kasih kepada siapapun selain kepada Allah." Muhammad lalu menyampaikan ayat-ayat yang telah diturunkan Allah kepadanya (QS. An-Nur 11-20). Adapun beberapa orang yang menyebarkan fitnah seperti Hassan bin Tsabit, Hamnah binti Jahsy (saudari Zainab binti Jahsy), dan Mistah bin Utsatsah dihukum cambuk 80 kali.

Menjelang wafatnya Baginda Nabi Muhammad Saw

Di saat hari-hari terakhir Muhammad di mana sakitnya semakin serius, beliau meminta supaya dirinya dirawat di rumahnya Aisyah. Beliau pun dipandu ke sana oleh Al Abbas dan Ali bin Abi Thalib, dengan kaki beliau terseret-seret di tanah.

Di dalam Shahih Bukhari, yang merupakan kitab koleksi hadits yang dianggap paling shahih dan salah satu dari shahihain, diriwayatkan bahwa Aisyah melaporkan:

هَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ ".

Sang Nabi () pada saat sakitnya yang berujung kematian sering berkata, "Wahai Aisyah! Aku masih merasakan sakit yang diakibatkan oleh makanan yang aku makan di Khaibar, dan pada saat ini, aku merasa pembuluh jantungku seperti sedang dipotong oleh racun itu."

Referensi :  

  1. Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s 
  2. Artikel “Aisyah.” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Aisyah


03. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Hafshah binti Umar ibn Khatthab.

Ibunya bernama Zainab binti Madaun, Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Hafshah (21 th) binti Umar ibn Khatthab mulai tahun (625–632 Masihi). Uang mahar 400 koin emas yang diberikan oleh Nabi Saw, Sayyidah Hafshah seorang janda Khunais ibn Hudhafah al Sahmiy. 

Hafsah binti Umar (wafat 45 H) adalah salah satu istri Nabi Muhammad SAW (Ummul Mukminin) dan putri dari Khalifah Umar bin Khattab. Dikenal sebagai sosok yang cerdas, shalihah, dan ahli ibadah, beliau adalah wanita jarang yang pandai membaca serta menulis. Ia dipercaya menyimpan mushaf asli Al-Qur'an pertama.

Profil dan Kisah Hafsah binti Umar:

Putri Umar: Hafsah adalah putri dari Umar bin Khattab dan Zainab binti Mazh'un.

Pernikahan: Beliau dinikahi Nabi Muhammad SAW setelah suaminya sebelumnya, bernama Khunais bin Hudzafah, ikut perang Badar dan gugur dalam perang tersebut.

Penjaga Al-Qur'an: Hafsah dikenal sebagai sahabat perempuan yang mampu membaca dan menulis. Mushaf Al-Qur'an yang dikumpulkan pada masa Abu Bakar disimpan olehnya, sehingga ia dijuluki sebagai penjaga Al-Qur'an.

Ibadah: Ia dikenal tekun berpuasa dan salat malam.

Karakter: Dikenal tegas dan memiliki watak yang mirip dengan ayahnya, Umar bin Khattab.

Hafsah binti Umar meninggal dunia pada tahun 45H dan dimakamkan di pemakaman Baqi'.

Hafshah binti Umar (bahasa Arab: حفصة بنت عمر ) adalah salah seorang istri Nabi Muhammad. Ia berusia sekitar 19 tahun ketika dinikahi sang Nabi Saw.

Nama lengkap Hafshah adalah Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya adalah Zaynab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un.

Hafsah binti Umar Sang Penjaga Kitab Allah

Hafsah adalah salah satu putri dari sahabat Rasulullah, yakni khalifah Umar bin Khattab. Dia juga merupakan salah satu ibu dari orang-orang yang beriman (Ummul Mukminin) karena dia menikah dengan Nabi SAW. Dalam bahasa Arab, hafs adalah salah satu nama yang diberikan untuk singaRasulullah SAW sering menyebut Umar sebagai Abu Hafs (ayah dari Hafs, yaitu Hafsah).

Sebelum menikah dengan Nabi, Hafsah menikah dengan seorang pria bernama Khunais bin Hudhafah. Dia ikut perang Badar dan kemudian jatuh sakit di Madinah dan wafat. Dia meninggalkan Hafsah sebagai janda. Pada masa itu, bukanlah sesuatu yang  aib, atau dianggap rendah untuk menawarkan putri atau adik/kakak perempuan untuk dinikahi kepada seorang pria yang diizinkan oleh walinya. Orang-orang Arab suka menikahkan putri mereka pada usia dini, dan jika mereka menjadi janda,  mereka akan segera menikahkannya kembali.  Itulah sebabnya ketika Hafsah menjadi janda,  Umar khawatir dan bingung. Suatu hari, dia pergi ke rumah Abu Bakar dan menawarkan putrinya untuk dinikahi Abu Bakar. Abu Bakar tetap diam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Umar meninggalkan rumah Abu Bakar dengan perasaan bingung.

Kemudian dia pergi ke Utsman dan mengira bahwa karena putri Nabi, Ruqayyah, yang merupakan istri Utsman, telah meninggal, Utsman mungkin akan merespons dengan baik. Namun, Utsman menjawab, “Aku tidak ingin menikah hari ini.” Hal ini karena Utsman masih belum pulih dari kematian istri tercintanya. Umar, jelas kesal, pergi dan itulah saat Rasul Allah melihatnya dan bertanya mengapa dia terlihat begitu khawatir. Umar memberitahunya tentang apa yang terjadi dan Nabi SAW berkata, “Hafsah akan menikahi seseorang yang lebih baik dari Utsman, dan Utsman akan menikahi seseorang yang lebih baik dari Hafsah.” 

Umar meninggalkan pertemuan dengan Nabi dalam hati yang lega, tetapi bingung tentang apa yang dimaksud oleh Nabi. Ketika Umar bertemu dengan Abu Bakar, dia menceritakan kepadanya tentang apa yang dikatakan oleh Nabi. Abu Bakar tersenyum dan berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah SAW menyebutkan Hafsah. Tapi aku tidak ingin membuka rahasianya. Jika beliau tidak menunjukkan minatnya untuk menikahinya, aku akan menikahinya. Jadi jangan simpan dendam terhadapku."

Utsman datang kepada Rasulullah SAW dengan sikap sedih dan bingung atas kematian istrinya. Dia berkata kepada Nabi SAW, “Hubungan pernikahanku denganmu telah berakhir dengan meninggalnya Ruqayyah, Wahai Rasul Allah!" Rasul yang mulia merasa simpati kepadanya dan kemudian berkata, “Aku telah memberikanmu saudaranya, Ummu Kultsum dalam pernikahan. Jika aku memiliki sepuluh putri, aku akan memberikan mereka kepadamu untuk dinikahi (satu per satu).”

Akhirnya Rasulullah SAW menikahi Hafsah dan Utsman menikahi Ummu Kultsum. Hafsah sekarang beruntung mendapatkan gelar bergengsi sebagai 'Ibu dari Orang yang Beriman' (Ummul Mukminin). Hafsah adalah seorang yang tekun beribadah. Dia sangat taat, berpuasa di siang hari, dan beribadah di malam hari. Dia paling dekat dengan Aisyah di antara istri-istri Nabi. Bahkan, seolah-olah keduanya adalah saudara kandung. Ini karena mereka selalu setuju dalam banyak hal dan tidak pernah berselisih.

Namun, kepribadian Hafsah memiliki sedikit nuansa sesuai dengan arti namanya, karena dia memiliki kepribadian yang kuat dan tegas. Mungkin dia mengambil sifat ayahnya, Umar al-Faruq. Karena itu, Rasulullah SAW pernah menceraikannya sekali dan kemudian (merujuknya) menerimanya kembali. Ibn Sa'd mencatat bahwa Rasulullah SAW menceraikan Hafsah sekali dan kemudian menerimanya kembali karena Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Ambillah kembali Hafsah, karena dia sering berpuasa dan shalat di malam hari, dan dia adalah istri-mu di surga.”

Humaid bin Anas meriwayatkan bahwa, “Rasulullah SAW menceraikan Hafsah, dan kemudian dia diperintahkan untuk menerimanya(merujuknya)  kembali, dan dia melakukannya.” Uqbah bin Amir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menceraikan Hafsah, putri Umar. Ketika Umar mendengar hal ini, dia menyebarkan pasir di atas kepalanya dan berkata, “Allah tidak akan lagi memperhatikan Umar dan putrinya setelah dia diceraikan Rasulullah SAW.” 

Maka Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW keesokan harinya dan memberitahunya, “Allah memerintahkanmu untuk menerima (merujuknya)  kembali Hafsah sebagai cara untuk menunjukkan belas kasihan kepada Umar (ayahnya)." Abu Salil, dalam versinya dari riwayat tersebut, mengatakan, “Umar masuk ke tempat Hafsah sambil menangis dan bertanya apakah Rasulullah SAW telah menceraikannya. Dia berkata padanya, “Dia menceraikanmu sekali dan menerimamu (merujuknya) kembali hanya karena diriku. Jika dia menceraikanmu lagi, aku tidak akan pernah berbicara padamu lagi." Setelah itu, Hafsah berusaha keras untuk tidak mengganggu Rasulullah SAW lagi sampai beliau meninggal.

Kita perlu mencatat aspek-aspek kepribadian Hafsah yang menjadikannya menjadi teladan yang hebat bagi umat Islam. Malaikat Jibril menggambarkan Hafsah kepada Rasulullah SAW sebagai seseorang yang sering melaksanakan puasa sunnah dan shalat malam, dan bahwa dia akan menjadi salah satu istri beliau di surga. Berbeda dengan kebanyakan orang pada saat itu, baik pria maupun wanita, Hafsah bisa membaca dan menulis, sebuah kualitas yang sangat langka di kalangan wanita pada masa itu, bahkan di kalangan pria.

Selain itu, di rumahnyalah lembaran-lembaran kurma, lempengan-lempengan batu, dan bahan-bahan lain di mana Al-Qur`an disimpan. Dia diberi amanah untuk menjaga hal paling mulia dan terbesar yang dapat dimiliki dunia ini, yaitu firman Allah. Tugas ini diberikan padanya karena dia dianggap pantas dan dihormati oleh para Sahabat. Dia diamanahi dengan tugas ini sejak zaman Nabi SAW hingga zaman Utsman. Ketika Utsman memutuskan untuk menyusun Al-Qur`an menjadi satu kitab, ayat-ayat yang diamanahi kepada Hafsah dianggap sebagai sumber utama yang dapat diandalkan dalam menjalankan tugas besar dan besar ini.

Hafsah dikenal sebagai penjaga Kitab Allah. Dia menyimpan Al-Qur`an di hatinya dan juga di rumahnya. Setiap kali kita membuka salinan Al-Qur'an dan sebelum kita mulai membacanya, seharusnya kita mengingat malaikat yang dipercayakan menurunkan wahyu (Jibril), suara bergema yang dihasilkannya, dampak ayat-ayat tersebut pada hati Rasulullah, dan penulis-penulis wahyu, seperti Ali, Zaid, dan yang lainnya. Kita harus mengingat Abu Bakar dan Umar dalam penyusunan Al-Qur`an, dan keteguhan hati, kepercayaan, dan rasa tanggung jawab Utsman. Di antara semua nama ini, nama Hafsah, Ummul Mukminin, dan pemeliharaan Kitab Allah ini tidak dapat dilupakan dan harus disebutkan.

Pada awal tahun 44 H, Ummul Mukminin Hafsah meninggal dunia ini dan bergabung dengan orang-orang yang paling dia cintai, suaminya dan Rasulullah SAW serta para Sahabatnya

Referensi  :

Artikel “Hafsah binti Umar Sang Penjaga Kitab Allah”, https://suaramuhammadiyah.id/read/hafsah-binti-umar-sang-penjaga-kitab-allah

Artikel “Hafshah binti Umar” Wikipedia bahasa Indonesia, Redaksi 30 Juli 2023. https://www.google.com/search?q=siti+hafsah&oq=siti+Haf&aqs=chrome.1.69i57j0i512l8j0i390i512i650.23189j0j15&sourceid=chrome&ie=UTF-8

Artikel “Hafshah binti Umar,"  Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

https://id.wikipedia.org/wiki/Hafshah_binti_Umar

04. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Siti Zainab binti Khuzaimah al Hilaliyah, mulai tahun (626–627 Masihi).

Sayyidah Zainab seorang janda dari Ubaidah bin Harits, suaminya yang kedua, tetapi dia terbunuh pada Perang Badar. Ia seorang puteri keluarga Bangsawan Bani Hilal, ia dijuluki “Ummul Masakin”. 

Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Siti Zainab binti Khuzaimah al Hilaliyah, mulai tahun (626–627 Masihi). Dengan uang mahar 400 koin emas, namun setelah menikah dengan Nabi Saw 3 bulan kemudian Sayyidah Zainab wafat.

Zainab binti Khuzaimah (sekitar 28 S.H/596 M-2 H/ 626 Masehi) adalah istri Rasulullah Saw. yang dikenal dengan kebaikan, kedermawanan, dan sifat santunnya terhadap orang miskin. Dia adalah istri Rasulullah saw kedua yang Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah dari Bani Hilal. Ibunya bernama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah. Berdasarkan asal-usul keturunannya, dia termasuk keluarga yang dihormati dan disegani. Tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi ada riwayat yang rnenyebutkan bahwa dia lahir sebelum tahun ketiga belas kenabian. Sebelum memeluk Islam dia sudah dikenal dengan gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin) sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Thabaqat ibnu Saad bahwa Zainab binti Khuzaymah adalah Ummul Masakin. Gelar tersebut disandangnya sejak masa jahiliah.

Ath-Thabary, dalam kitab As-Samthus-Samin fi Manaqibi Ummahatil Mu’minin pun menerangkan bahwa Rasulullah saw. menikahinya pada bulan Ramadhan, 2 tahun setelah menikahi Hafshah dan sebelum dia menikah dengan Maimunah binti al-Harits (r.a), dan ketika itu dia sudah dikenal dengan sebutan Ummul-Masakin sejak zaman jahiliah. Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa Zainab binti Khuzaimah terkenal dengan sifat murah hatinya, kedermawanannya, dan sifat santunnya terhadap orang-orang miskin yang dia utamakan daripada kepada dirinya sendiri. Sifat tersebut sudah tertanam dalam dirinya sejak memeluk Islam walaupun pada saat itu dia belum mengetahui bahwa orang-orang yang baik, penyantun, dan penderma akan memperoleh pahala di sisi Allah.

Zainab binti Khuzaimah r.a. termasuk kelompok orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam adalah akal dan pikirannya yang baik, menolak syirik dan penyembahan berhala, dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahiliah. Para perawi berbeda pendapat tentang nama-nama suami pertama dan kedua sebelum dia menikah dengan Rasulullah. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami pertama Zainab adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib, yang kemudian menceraikannya. Dia menikah lagi dengan Ubaidah bin Harits, tetapi dia terbunuh pada Perang Badar atau Perang Uhud. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami keduanya adalah Abdullah bin Jahsy. Sebenarnya masih banyak perawi yang mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Akan tetapi, dari berbagai pendapat itu, pendapat yang paling kuat adalah riwayat yang mengatakan bahwa suami pertamanya adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib. Karena Zainab tidak dapat melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya ketika mereka hijrah ke Madinah.

Untuk memuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara laki-laki Thufail) menikahi Zainab. Sebagaimana kita ketahui, Ubaidah bin Harits adalah salah seorang prajurit penunggang kuda yang paling perkasa setelah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga ikut melawan orang-orang Quraisy dalam Perang Badar, dan akhirnya Ubaidah mati syahid dalam perang tersebut. Setelah Ubaidah wafat, tidak ada riwayat yang menjelaskan tentang kehidupannya hingga Rasulullah saw. Menikahi Zainab mantan istrinya. Rasulullah menikahi Zainab karena dia ingin melindungi dan meringankan beban kehidupan yang dialaminya. Hati dia menjadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, sementara sejak kecil dia sudah dikenal lemah lembut terhadap orang- orang miskin. Sebagai Rasul yang membawa rahmat bagi alam semesta, dia rela mendahulukan kepentingan kaum muslimin, termasuk kepentingan Zainab. Dia senantiasa memohon kepada Allah agar hidup miskin dan mati dalam keadaan miskin dan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama orang-orang miskin.

Meskipun Nabi saw. mengingkari beberapa nama atau julukan yang dikenal pada zaman jahiliah, tetapi beliau tidak mengingkari julukan “ummul masakin” yang disandang oleh Zainab binti Khuzaimah. Selain dikenal sebagai wanita yang belas kasih, Zainab juga dikenal sebagai istri Rasulullah saw. yang senang meringankan beban saudara-saudaranya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Atha bin Yasir yang mengisahkan, bahwa Zainab mempunyai seorang budak hitam dari Habasyah. Ia sangat menyayangi budak itu, hingga budak dari Habasyah itu tidak diperlakukan layaknya seorang budak, Zainab malah memperlakukan layaknya seorang kerabat dekat.

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw. pernah menyatakan pujian kepada Ummul Mukminin Zainab binti Khuzaimah r.a. dengan sabdanya, Ia benar-benar menjadi ibunda bagi orang-orang miskin, karena selalu memberikan makan dan bersedekah kepada mereka.Tidak diketahui dengan pasti masuknya Zainab binti Khuzaimah kedalam rumah tangga Nabi saw, apakah sebelum Perang Uhud atau sesudahnya. Yang jelas, Rasulullah saw. menikahinya karena kasih sayang terhadap umatnya walaupun wajah Zainab tidak begitu cantik dan tidak seorang pun dari kalangan sahabat yang bersedia menikahinya. Tentang lamanya Zainab berada dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah pun banyak terdapat perbedaan. Salah satu pendapat mengatakan bahwa Zainab memasuki rumah tangga Rasulullah selama tiga bulan, dan pendapat lain delapan bulan. Akan tetapi, yang pasti, prosesnya sangat singkat karena Zainab meninggal semasa Rasulullah hidup. Di dalam kitab sirah pun tidak dijelaskan penyebab kematiannya. Zainab meninggal pada usia relatif muda, kurang dari 30 tahun, dan Rasulullah yang menshalatinya pada Rabiul Awal 4H. Untuk memuliakan dan mengagungkannya, Rasulullah mengurus mayat Zainab dengan tangan dia sendiri.

Referensi :

  1. Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
  2. Artikel “Zainab binti Khuzaimah." Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Zainab_binti_Khuzaimah

05. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umayyah)

Sayyidah Ummu Salamah seorang janda. (menikah dengan Nabi Saw tahun 625 M–632 M), Kelahiran: 596 M dan meninggal/wafat tahun 680 M, di Al Baqi Madinah,

Hindun binti Abi Umayyah adalah istri dari Nabi Muhammad yang juga dikenal Ummu Salamah, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin. Nasab lengkapnya Hindun binti Abu Umayyah bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah al-Makhzumiyah. Dan pihak ibunya : Hindun binti 'Atikah bint 'Amer bin Rabi'ah dari Bani Firas bin Ghanam.

Hindun binti Abi Umayyah (bahasa Arab: هند بنت أبي أمية) (c. 596 - 680) adalah istri dari Nabi Muhammad yang juga dikenal Ummu Salamah, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin. Nasab lengkapnya Hindun binti Abu Umayyah bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah al-Makhzumiyah. Ia anak paman/sepupu Khalid bin Walid dan anak paman Abu Jahal.

Ummu Salamah adalah anak dari Abu Umayyah bin Mughirah dari Bani Makhzum yang dipanggil Zad ar-Rakib karena kebaikannya kepada (setiap rombongan) kabilah yang lewat (di Kampungnya). Nama aslinya adalah Hindun dan ia termasuk dari orang yang diincar dan dianiaya oleh kaum Quraisy ketika masuk Islam.

Ummu Salamah menjadi sebab turunnya 2 ayat al-Quran yaitu surat an-Nisa ayat 32 dan surat Ali Imron ayat 195. Ia juga menjadi terkenal kecerdasannya dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, di mana saat Nabi meminta sampai 3 kali agar sahabat berkurban memotong (hewan dan memotong) rambut tahallul walaupun gagal Umroh saat itu, yang membuat para sahabat kecewa dan enggan ikut bertahalul, Nabi lalu masuk kemahnya dan mendapat saran dari Ummu Salamah untuk lakukan saja sebagai contoh teladan tanpa berbicara, dan setelah Nabi melakukan tahalulnya, para sahabat serentak mengikutinya.

Menjelang Fathu Mekah, Abu Sofyan awalnya ditolak Nabi, namun setelah dibantu Ummu Salamah yang berbicara pada Nabi agar memaafkan, maka Abu Sofyan pun bisa menjumpai Nabi untuk berislam.

Masa Nabi Muhammad

Ummu Salamah dan suaminya, Abd-Allah ibn Abd-al-Asad (saudara sesusuan Nabi) atau Abu Salamah, termasuk dari Pemeluk Islam pertama atau As-Sabiqun al-Awwalun. Ummu Salamah sempat ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bahkan menyaksikan saat Amru bin Ash menghadap Raja Najasy Habasyah untuk mengizinkannya membawa pulang kaum muslimin ke Mekah tetapi ditolak oleh Raja Najasy.

Saat hendak hijrah ke Madinah mereka berdua ditahan kaumnya, namun suaminya dilepaskan pergi kecuali Ummu Salamah tetap ditahan selama setahun oleh kaumnya. Ia kemudian sering bersedih menunggu di pinggir kota Mekah hingga akhirnya kaumnya merelakan kepergiannya ke Madinah bertemu kembali suaminya bersama anaknya.

Hindun termasuk golongan Muhajirin pertama. Setelah kematian suaminya Abdullah ibn Abdul Asad (Abu Salamah bin Abdul Asad al Makhzumi) di Perang Uhud. Ia termasuk wanita yang cantik dan mulia nasabnya, serta termasuk ahli fikih wanita di masanya.

Suaminya syahid (terbunuh) pada 8 Jumadil Akhir beberapa bulan setelah luka terkena serangan yang ia terima ketika Perang Uhud kambuh. Suaminya mempersilahkan Ummu Salamah menikah lagi dengan mendoakannya agar mendapatkan pengganti yang lebih baik. Ia memiliki empat orang anak dari Abdullah sebelum menikah dengan Muhammad.

  1. Salamah bin Abdullah
  2. Umar bin Abdullah
  3. Zainab binti Abdullah
  4. Durrah binti Abdullah

Ummu Salamah termasuk salah satu dari 14 wanita yang ikut perang Uhud sebagai asisten sahabat dan pejuang Nabi. Wanita yang ikut membantu Nabi di perang Uhud ialah Aisyah binti Abu Bakar, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, Asma binti Abu Bakar, Fathimah az-Zahra binti Muhammad SAW, Nusaibah binti Ka'ab al-Anshariyyah, Khaulah binti Azwar as-Sulaimiyah, Suhailah binti Milhan al-Anshariyyah, Atikah binti Abdul Muthalib, Arwa binti Abdul Muthalib, Umamah binti Abdul Muthalib, Zainab binti Muhammad saw, Ummu Hakim binti Abdul Muthalib dan Rumaisah binti Milhan an-Najjariyah.

Setelah kematian Abdullah bin Abdul Asad suaminya pada perang Uhud, Ummu Salamah yang juga dikenal sebagai Ayyin al-Arab, ia tidak memiliki saudara dan keluarga di Madinah kecuali anak-anaknya, tetapi ia ditolong oleh Muhajirin dan Anshar. Setelah ia menyelesaikan masa 'Iddah-nya (Masa menunggu bagi wanita yang baik dicerai atau meninggal, untuk kembali menikah) empat bulan dan 10 hari, Lalu Abu Bakar melamarnya, tetapi ditolak oleh Ummu Salamah. Lalu 'Umar mencoba untuk melamarnya juga ditolak oleh Ummu Salamah. Kemudian Muhammad Saw melamarnya juga, dan diterimanya. Ummu Salamah menikah dengan Muhammad ketika berusia 29 tahun pada bulan Syawal tahun 4H.

Diceritakan pada Kitab Siyar A'lam an-Nubala proses melamarnya Nabi :

“Wahai Rasulullah, Aku seorang wanita yang pencemburu. Dan aku adalah wanita yang sudah berumur dan memiliki anak-anak.” Nabi menanggapi, “Yang engkau sebut berupa kecemburuan, Allah akan menghilangkannya. Tentang umurmu, aku pun lebih berumur dari engkau. Dan tentang anak-anakmu, maka ia juga anak-anakku.”

Ummu Salamah menjawab, “Aku terima lamaran Anda, ya Rasulullah.”

Ummu Salamah berkata, "Aku haid saat tidur bersama Nabi dalam satu selimut. Aku lalu menyelinap keluar, mengambil pakaian haid lalu aku kenakan. Beliau bertanya kepadaku, 'Kau haid?' "Ya,' jawabku. Beliau lalu memanggilku dan memasukkanku bersama beliau dalam satu selimut.' Zainab binti Abu Salamah berkata, 'Ia (Ummu Salamah) bercerita kepadaku bahwa Nabi menciumnya saat beliau sedang berpuasa.

Masa Khulafaur Rasyidin

Di masa khalifah Rasyidin, Ummu Salamah mendampingi anak dan cucunya. Putranya yang memiliki kelebihan ilmu Fiqih ialah Umar bin Abi Salamah. Sedangkan putrinya yang ahli fiqih ialah Zainab binti Abi Salamah. Dua Cucunya yang dikenal ahlul fiqh yaitu Muhammad bin Umar bin Abu Salamah dan Abu Ubaidah bin Zainab binti Abu Salamah.

Ummu Salamah sebagai wanita juga turut bersedih atas terbunuhnya Umar bin Khattab di tangan Abu Lu'lu'ah. Utsman yang juga seorang yang dulu sempat dididik Ummu Salamah, wafat di tangan Khulaimin bin Tsabbab, seorang pemberontak. Ia juga sedih kembali saat masa Ali berkonflik dengan Mu'awiyah dan Aisyah. Ia sedih juga saat Ali wafat ditangan Abdurrohman bin Muljam.

Masa Hasan, Mu'awiyah dan Husain

Ketika mendengar kejadian Karbala Ummu Salamah sempat bersedih dan menjerit hingga pingsan. Ummu Salamah bertanya kepada penduduk Kufah yang bersedih: "Untuk apa kalian sedih? Ini adalah akibat perbuatan kalian yang tidak bertanggung jawab kepada Ahlulbait Rasul ! Semoga Allah melaknat pemimpin kalian!". Hal ini disebabkan Husein ke Kufah karena undangan penduduk Kufah, tetapi saat sudah dekat, penduduk Kufah tidak menolong Husein.

Saat di Kufah, Zainab binti Ali tegar membela keluarga Nabi saat di hadapan gubernur yang lalim dan tidak bertanggung jawab, Ubaidillah bin Ziyad. Rombongan ini kemudian dipenjara selama 2 hari dan dibebaskan. Yazid menawarkan mereka tinggal di Mekah dan Madinah atau di Kufah. Mereka memilih tinggal di Madinah.

Referensi :

Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s

2.    Artikel “Ummu Salamah”  Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Ummu_Salamah.

.

06. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw  dengan Sayyidah Zainab binti Jahsy (wanita cantik-bernasab mulia).

Perkawinan Nabi Muhammad Saw (… th) dengan Sayyidah Zainab binti Jahsy (wanita cantik-bernasab mulia). Sayyidah Zainab binti Jahsy wanita cantik seorang janda. Ia wafat diusia 53  tahun dan di makamkan di kota Madinah.

Nama dan Nasab  Zainab

Dia adalah Ummul Mu’minin Zainab bintu Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabirah bin Murrah Al-Asadiyyah. Ibunya adalah Umaimah bintu Abdul Muthallib bin Hasyim bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ayahnya

Sifat-sifatnya

Dia adalah seorang wanita yang cantik parasnya, merupakan penghulu para wanita dalam hal agamanya, wara’nya, kezuhudannya, kedermawanannya, dan kebaikannya

Diantara istri-istri Rasulullah, semuanya dinikahkan oleh ayahnya, saudaranya, atau keluarganya kecuali Zainab binti Jahsy. Zainab binti Jahsy dinikahkan langsung oleh Allah dari atas langit ketujuh.

Sebenarnya, Allah telah memberitahukan kepada Rasulullah bahwa Zainab binti Jahsy akan menjadi salah satu dari istrinya. Namun, Rasulullah terlalu malu untuk mengungkapkannya kepada Zaid. Rasulullah pun khawatir akan cibiran orang-orang apabila menikahi mantan isteri anak angkatnya sendiri.

Menurut adat budaya bangsa Arab Jahiliyah yang mendarah daging saat itu, anak angkat dianggap mulia dan ayah angkat tidak boleh mengawininya walaupun dicerai suaminya dan ia sama kedudukannya dengan anak sendiri, ia dapat bagian waris yang sama dengan anak kandung.

Ketika Nabi Saw menikahi Zainab binti Jahsy maka orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!,

Kala itu, rumah tangga Zaid dan Zainab seringkali menemui perselisihan. Rasulullah pun memerintahkan Zaid agar mempertahankan Zainab dan bertakwa kepada Allah.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa berkenaan ayat dalam surat Al-Ahzab ayat 37, “Sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang dinyatakan oleh Allah.” Andai Rasulullah menyembunyika sesuatu, tentu (ayat) inilah yang disembunyikan.

Ketika masa iddah Zainab berakhir setelah bercerai dari Zaid. Rasulullah memerintahkan Zaid (mantan suaminya) untuk meminangkan Zainab untuknya. Zaid pun datang meminang Zainab untuk Nabi Saw. Zainab berkata bahwa ia tidak akan melakukan apa pun sebelum meminta izin kepada Allah. Zainab pun pergi ke tempat shalatnya, lalu ayat Al Quran turun. Rasulullah pun datang kemudian masuk menemui Zainab tanpa izin karena Allah telah menikahkan keduanya dari atas langit.

Dalam Al-Hilyah Abu Nu’aim meriwayatkan dari Zainab bahwa ketika masa iddahnya selesai, tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam rumah Zainab kecuali Rasulullah. Ketika itu rambutnya terbuka (belum turun perintah berhijab bagi para wanita) dan ia mengetahui bahwa hal tersebut merupakan perintah Allah. Ia pun bertanya, “Wahai Rasulullah, tanpa ada pinangan dan saksi kah?” Rasulullah menjawab, “Allah yang menikahkanku (denganmu) dan Jibril yang menjadi saksi.”

Selain itu, keistimewaan lain juga hadir di tengan pernikahan Rasulullah dan Zainab binti Jahsy. Diantaranya adalah turunnya ayat berkenaan dengan hijab serta walimah yang mewah hingga orang-orang kenyang dengan roti dan daging. Mengetahui Zainab menikah dengan Rasulullah, Ummu Sulaim, Ibu Zainab, memasakkan hais dan memerintahkan Anas bin Malik untuk mengantarkannya kepada Rasulullah. Rasulullah pun memerintahkan Anas untuk mengundang beberapa orang yang disebutkan Rasulullah dan orang-orang yang ia temui. Jumlah mereka yang hadir kurang lebih tiga ratus orang.

Tamu-tamu yang diundang Rasulullah masuk secara bergantian, setelah selesai makan mereka berpamitan pulang namun ada beberapa yang tetap tinggal dan mengobrol di sana. Rasulullah dan Zainab pun masuk ke dalam rumah kemudian keluar lagi, namun orang-orang tersebut masih betah di tempatnya. Hingga kali ketiga, orang-orang tersebut merasa tidak enak dan berpamitan pulang. Kemudian turunlah ayat mengenai hijab dalam surat Al-Ahzab ayat 53.

Zainab binti Jahsy menempati posisi agung di hati Rasulullah karena sifat-sifat mulia yang Allah karuniakan kepadanya. Zainab pun mempelajari banyak akhlak Rasulullah, terutama sikap zuhud dan wara’. Seringkali Zainab membanggakan diri di hadapan istri-istri Nabi. Ia berkata, “Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian, namun Allah menikahkanku dari langit.”

Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab telah menikah dengan Zaid bin Haritsah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kemudian dijadikan anak angkat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah yang diceritakan Allah dalam firman-Nya,

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَااللهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37)

Maka Allah nikahkan Zainab dengan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nash Kitab-Nya tanpa wali dan tanpa saksi. Dan Zainab bisa membanggakan hal itu di hadapan Ummahatul Mukminin (istr-istri Nabi) yang lain, dengan mengatakan, “Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian, sementara aku dinikahkan oleh Allah dari atas ‘Arsy-Nya.” (Diriwayatkan oleh Zubair bin Bakar dalam Al-Muntakhob min Kitab Azwajin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1:48 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra, 8:104-105 dengan sanad yang shahih).

Di saat pernikahan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi keajaiban yang merupakan mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Zainab, ibuku berkata kepadaku, ‘Wahai Anas sesungguhnya hari ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi pengantin dalam keadaan tidak punya hidangan siang, maka ambilkan wadah itu kepadaku!’ Maka aku berikan kepadanya wadah dengan satu mud kurma, kemudian dia membuat hais dalam wadah itu, (hais adalah resep tradisional muslim di Arab  Bagdad, Hais disajikan sebagai makanan penutup atau makanan pembuka) kemudian ibuku berkata, ‘Wahai Anas berikan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istrinya!’ Kemudian datanglah aku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa hais tersebut dalam sebuah bejana kecil yang terbuat dari batu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Anas letakkan dia di sisi rumah dan undanglah Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan beberapa orang lain!’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, ‘Undang juga penghuni masjid dan siapa saja yang engkau temui di jalan!’ Aku berkata, ‘Aku merasa heran dengan banyaknya orang yang diundang padahal makanan yang ada sedikit sekali, tetapi aku tidak suka membantah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku undanglah orang-orang itu sampai penuhlah rumah dan kamar dengan para undangan.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku seraya berkata, ‘Wahai Anas apakah engkau melihat orang yang melihat kita?’ Aku berkata, ‘Tidak wahai Nabiyullah’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bawa kemari bejana itu!’ Aku ambil bejana yang berisi hais itu dan aku letakkan di depannya. Kemudian Rasulullah membenamkan ketiga jarinya ke dalam bejana dan jadilah kurma dalam bejana itu menjadi banyak sampai makanlah semua undangan dan keluar dari rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kenyang.” (Diriwayatkan oleh Firyabi dalam Dalail Nubuwwah, 1:40-41 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra 8:104-105).

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!, maka turunlah ayat Allah,

مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Dan Allah berfirman,

ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ

 “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5)

Maka sejak saat itu Zaid dipanggil dengan Zaid bin Haritsah yang dia sebelumnya biasa dipanggil dengna Zaid bin Muhammad (Al-Isti’ab, 4:1849-1850)

Referensi :

1.     Artikel “Zainab binti Jahsy, Allah yang Menikahkan Jibril Menjadi Saksi.” https://suaramuslim.net/zainab-binti-jahsy-allah-yang-menikahkan-jibril-menjadi-saksi/

2.     Artikel ”Zainab, Wanita yang Dinikahkan Langsung oleh Allah.” https://kisahmuslim.com/2360-zainab-wanita-yang-dinikahkan-langsung-oleh-allah.html


07. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Mariatul Qibtiyah binti Syama’un dan Ibunya seorang berkebangsaan Romawi.

Nama dalam bahasa asli: (مارية القبطية)

Hingga pada suatu ketika, Rasulullah SAW mengirim surat kepada Raja Muqauqis melalui Hatib bin Balta'ah yang isi suratnya menyeru kepada Raja Muqauqis agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima utusan Rasulullah SAW dengan hangat, namun dengan halus ia menolak ajakan Rasulullah SAW untuk memeluk Islam.

Sebagai tanda persahabatan ia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Mabura, serta hadiah-hadiah lain hasil kerajinan Kerajaan Mesir kepada Rasulullah SAW. Ternyata hal tersebut membuat Mariyah sedih karena harus meninggalkan kampung halamannya menuju Madinah.

Mariyah binti Syam'un atau Mariyah orang Koptik, dan saudara kandung Sirin binti Syam'un, kelahiran Mesir, keduanya adalah budak Kristen Koptik yang dikirimkan oleh Muqawqis, penguasa Mesir bawahan Kerajaan Bizantium, sebagai hadiah kepada raja Arab, yakni Nabi Muhammad Saw pada tahun 628M.

Mengenai kecantikan, dalam beberapa buku disebutkan bahwa Mariyah memiliki kulit putih dan berparas cantik. Mariyah ibtiyah seorang hamba sahaya Mesir yang sengsara, rambutnya kriting kecoklatan yang indah, dimasa itu menjadi perempuan cantik adalah dianggaf kutukan dan beban orang tuanya, Mariatul Qibtiyah, ia yang dimerdekakan Nabi Saw. 

Perkawinan Nabi Muhammad Saw (…th) dengan Sayyidah Mariatul Qibtiyah (18 th) binti Syama’un dan Ibunya seorang berkebangsaan Romawi. Pernikahan Nabi Saw dengan Mariatul Qibtiyah dikaruniai 1 orang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim, ia wafat saat kecil (usia 18 bulan).

Di samping itu, Mariyah memiliki kepribadian yang menawan dan memiliki kesetiaan luar biasa kepada Rasulullah SAW.

Mariyah juga dikenal sebagai seorang yang suka mengalah. Meskipun sering dicibir, hal itu tidak membuat Mariyah lantas marah

Ayahnya berasal dari suku Qibti, oleh karena itu ia dikenal dengan Mariyah al-Qibtiyah. Ketika remaja ia dipekerjakan kepada penguasa Mesir bernama Raja Muqauqis. Ia bekerja di sana bersama saudara perempuannya Sirin.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah hidup menyendiri dan mengabdikan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah SAW. Sayyidah Mariyah wafat 5 tahun setelah sepeninggalan Rasulullah SAW pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Ia meninggal: 16 Februari 637 M, di Madinah, Arab Saudi

Sayyidah Mariyah dikebumikan di Baqi' bersama Ummul Mukminin lainnya. Tempat pemakaman: Jannatul Baqi, Ia merupakan salah seorang perempuan teladan sepanjang masa.

Referensi  :

1. Artikel “Mariatul Qibtiyah/ Mariyah binti Syam'un” https://www.google.com/search?gs_ssp=eJzj4tTP1TcwMc5JyTZg9BLMTSzKTCwpzVEozEwqyaxMzAAAjXAKFw&q=mariatul+qibtiyah&oq=mariatul&aqs=chrome.2.69i57j0i51

2. Artikel detikhikmah, "Mariyah al-Qibtiyah, Istri Nabi Muhammad SAW dari Kalangan Budak" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/muslimah/d-7140774/mariyah-al-qibtiyah-istri-nabi-muhammad-saw-dari-kalangan-budak.


08. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (58 th) dengan Sayyidah Ummu Habibah (Ramlah) binti Abi Sufyan ibn Harb. 

Pasangan : Muhammad Saw dengan Ummu Habibah hidup antara tahun (m. 628 M–632 M). Ibunya bernama Shafiyah binti Abil Ash. mahar 400 koin emas, Ia seorang janda dari Ubaidillah bin Jahsy dan keduanya punya anak perempuan bernama “Habibah”. Pada mulanya mereka berhijerah ke negeri Habsyah, di negeri itu suaminya Ubaidillah bin Jahsy murtad, pindah keyakinan mengikuti agama Nasrani.

Perkawinan Nabi Muhammad Saw (58 th) dengan Sayyidah Ummu Habibah (Ramlah 39 th) binti Sufyan ibn Harb. Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan al-Umawiyyah al-Qurasyiyah al-Kinaniyyah atau lebih dikenal dengan Ummu Habibah, Ramlah binti Abu Sufyan atau Ramlah binti Abi Sufyan adalah istri dari Nabi Muhammad, sehingga termasuk dari Ibu Para Mukminin. Ia sekaligus sepupu Muhammad.

Kelahiran : 589 M, Mekkah, Saudara kandung: Yazid bin Abi Sufyan, Muawiyah bin Abu Sufyan, Utbah bin Abu Sufyan, Ummul Hakam binti Abu Sufyan. Orang tuanya bernama Abu Sufyan, dan ibunya bernama Shafiyyah binti Abi al-Ash

Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan al-Umawiyyah al-Qurasyiyah al-Kinaniyyah (bahasa Arab: أم حبيبة رملة بنت أبي سفيان الأموية القرشية الكنانية) atau lebih dikenal dengan Ummu Habibah, Ramlah binti Abu Sufyan atau Ramlah binti Abi Sufyan (lahir pada tahun 35 Sebelum H/589M, wafat di Madinah pada tahun 44 H/664M) versi lain menyebutkan meninggal tahun 666M. Ia adalah istri dari Nabi Muhammad, sehingga termasuk dari Ibu Para Mukminin. Ia sekaligus sepupu Muhammad.

Ayahnya: Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar (Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.

Ibunya: Safiyyah binti Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar (Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. Safiyyah adalah bibi dari Khalifah Utsman bin Affan.

Bibinya: Ummu Jamil, yang disebutkan di al-Qur'an sebagai perempuan pembawa kayu bakar

Saudaranya: Mu'awiyah bin Abu Sufyan, Yazid bin Abi Sufyan.

Kehidupan & Pernikahan

Ramlah adalah anak dari Abu Sufyan, yang merupakan salah seorang pemimpin dan pedagang dari suku Quraisy. Abu Sufyan kerap kali memimpin kafilah-kafilah dagang besar dari Mekah menuju Syam dan daerah lainnya. Berbeda dengan ayahnya, Ramlah telah menemukan hidayah dari islam sejak awal kerasulan. Pada tahun 615 M, ia bersama suaminya, Ubaidillah bin Jahsy berhijrah dengan beberapa umat muslim lainnya ke sebuah kerajaan kristen di Habasyah (Ethiopia) di gelombang kedua. Ia lalu memimpikan hal yang buruk (bermimpi) tentang suaminya. Suaminya kemudian masuk kristen lalu mereka bercerai dan meninggal ketika di sana.

Setelah masa iddah-nya usai, Ramlah yang saat itu masih di Habasyah menerima surat lamaran dari Rasulullah yang dikirim melalui utusan Amru bin Umayyah. Begitu gembiranya, dia memberikan hadiah perhiasannya berupa gelang dan cincin perak miliknya kepada Abrahah, budak yang memberinya kabar gembira lamaran Muhammad kepadanya.

Raja Najasyi yang beragama kristen pun turut memberikannya selamat dan hadiah berupa uang 400 dinar (koin emas, sekitar 1,2 miliar rupiah) serta parfum-parfum terbaik pada 7 Hijriah di hadapan publik bersama wakilnya (sepupunya) Khalid bin Said bin al-Ash. Pernikahannya diikuti turunnya Quran surat al-Mumtahanah ayat 7.

Sepulangnya ke Hijaz dan pasca hijrah ke Madinah dengan diantar Syurahbil bin Hasanah, setiba di Madinah langsung diantar Bilal bin Rabah ke rumah Muhammad. Ketika tiba disana, Ummu Habibah berkata kepada budaknya,"Kalau suka, kamu cukup menyiapkan air minum, sedangkan aku menyapu." Kemudian Ummu Habibah mulai menyapu rumah tersebut, lalu menggelar alas rumah. Tak lupa Ummu Habibah mengenakan wewangian pemberian isteri-isteri Raja Najasyi yang sangat harum. Tampak bahwa ia terampil mengatur urusan rumah tangga dan pandai berpenampilan menarik di hadapan suaminya. Maka ketika Muhammad datang dan mencium aroma yang sangat wangi, dia berkata, "Sungguh dia memang wanita asli Quraisy, wanita kota, bukan penduduk badui."

Ramlah yang berusia 30 tahun, menceritakan apa-apa saja yang dialaminya di Habasyah ke Rasulullah, termasuk bagaimana ia mengagumi keindahan gereja-gereja yang dihiasi dengan gambar-gambar di sana. Rasulullah pun mengangkat kepala beliau dan bersabda, "Mereka adalah orang-orang, yang ketika seorang yang alim di antara mereka meninggal, mereka mendirikan tempat peribadatan di makamnya dan mereka membuat gambar-gambar di dalamnya. Mereka adalah makhluk-makhluk terburuk di mata Allah.

Ketika Muhammad merencanakan Pembukaan kota Makah, Abu Sufyan segera ke Madinah untuk melobi Muhammad dengan terlebih dulu singgah ke rumah putrinya Ummu Habibah.

Ummu Habibah meriwayatkan hadis solat malam 12 rakaat dan sejak itu ia tidak pernah meninggalkan ibadah tersebut.

Kematian

Ia wafat di Madinah pada tahun 44H/664M) versi lain menyebutkan meninggal tahun 666M, pada masa kekhalifahan saudaranya, Muawiyah, (setahun sebelum wafatnya Muawiyah) dan dimakamkan di Jannatul Baqi.

Referensi  :.  

 Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s

Artikel “Ummu Habibah.”  Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Ummu_Habibah

A

09. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Juwairiyah binti al-Harits ibn Abi al-Dhirar al-Huza’i.

Bangsa Arab dimasa itu perempuan cantik / janda adalah beban dan kutukan, ia seorang wanita janda, puteri Kepala Suku Bani Musthaliq yang kalah perang dengan Nabi, Sayyidah Juwairiyah yang dinikahi Nabi Saw untuk memuliakan suku Bani Musthaliq dan menghapus rasa permusuhan terhadap suku tersebut.

Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Juwairiyah (20 th) binti al-Harits ibn Abi al-Dhirar al-Huza’i, mulai tahun (628–632M). Juwairiyah binti al-Harits al-Mushthaliqiyyah al-Khuza'iyyah (bahasa Arab: جويرية بنت الحارث المصطلقية الخزاعية) atau lebih dikenal dengan Juwairiyah binti al-Harits (lahir pada tahun 15 Sebelum H/608, wafat di Madinah pada tahun 56 H/676) adalah istri dari Nabi Muhammad, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin.

Ayahnya: adalah Pembesar Bani al-Mushthaliq, namanya al-Harits bin Dharar bin Habib bin 'A`idz bin Malik bin al-Mushthaliq bin Sa'id bin 'Amru bin Rabi'ah bin Haritsah bin Khuza'ah. Harits bin Dharar, Ia seorang penyembah berhala yang belum menrima islam.

Pada tahun ke-6 Hijriah, setelah pertempuran Khandaq, kaum Bani Mustahliq dengan pimpinan Harits bin Dhirar hendak menyerang kaum Muslimin di Madinah, maka Nabi Muhammad mempersiapkan pasukan dan lebih dulu menyerang Bani Musthaliq.

Juwairiyah ditangkap pada hari Al-Muraisi' (Pertempuran Bani Al-Mustaliq) oleh Tsabit bin Qais, lalu ia menghadap pada Muhammad meminta dibebaskan, lalu Muhammad memerdekakannya sekaligus melamarnya di usianya ke 20 tahun. Atas pernikahannya, maka 100 tawanan ikut dibebaskan. Sebelumnya ia menikah dengan sepupunya Musafa' bin Safwan bin Abi Al-Shafar, yang terbunuh dalam pertempuran ini sementara Harits melarikan diri.

Juwairiyah adalah seorang wanita cantik dan datang kepada Rasulullah meminta bantuannya untuk membebaskannya. Sayyidah Aisyah menggambarkan penampakan Juwairiyah di hadapan Rasulullah hari itu, dengan mengatakan:

Demi Allah, saat aku melihatnya di pintu kamar, aku merasa tidak suka padanya. Aku tahu, Nabi akan memandang kecantikannya seperti yang aku lihat. Aku tidak mengetahui wanita yang paling banyak berkahnya pada kaumnya kecuali dirinya

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan 'Amru An Naqid dan Ibnu Abu 'Umar -dan lafaz ini milik Ibnu Abu 'Umar- mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin ‘Abdurrahman -budak- keluarga Thalhah dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas dari Juwairiyah bahwasanya Nabi  keluar dari rumah Juwairiyah pada pagi hari usai salat subuh dan dia tetap di tempat salatnya. Tak lama kemudian Rasulullah  kembali setelah terbit fajar (pada waktu dhuha), sedangkan Juwairiyah masih duduk di tempat salatnya. Setelah itu, Rasulullah menyapanya: Ya Juwairiyah, kamu masih belum beranjak dari tempat salatmu Juwairiyah menjawab; Ya, Saya masih di sini, di tempat semula ya Rasulullah. Kemudian Rasulullah  berkata: Setelah keluar tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata -sebanyak tiga kali- yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang kamu baca seharian tentu akan sebanding, yaitu Subhaanallahi Wabihamdihi 'Adada Khalqihi wa Ridha Nafsihi wa Zinata 'Arsyihi wa Midada Kalimatihi yang artinya Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridlaan-Nya, menurut arasy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya)

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib dan Ishaq dari Muhammad bin Bisyr dari Mis'ar dari Muhammad bin 'Abdurrahman dari Abu Risydin dari Ibnu 'Abbas dari Juwairiyah dia berkata; bahwa suatu ketika Rasulullah  melewatiku ketika dia usai salat shubuh. -lalu dia menyebutkan redaksi yang serupa. Namun dia dengan menggunakan kalimat; Subhaanallah Wabihamdihi Subhaanallah 'Adada Khalqihi Subhaanallah Ridha Nafsihi Subhaanallah Zinata 'Arsyihi Subhaanallah Midaada Kalimaatihi. Yang artinya: Maha suci Allah sebanyak hitungan makhluk-Nya. Maha Suci Allah menurut keridhaan-Nya. Maha Suci Allah menurut kebesaran arasy-Nya. Maha Suci Allah sebanyak paparan kelimat-Nya.

Keilmuan

Juwairiyah menghafal beberapa hadis, termasuk dua hadis yang terdapat di dalam Sahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, selain itu juga terdapat di Sunan Abi Daud, Jami at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa'i dan Sunan Ibnu Majah. Ia meriwayatkan hadis kepada Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ubaid bin as-Sabbaq, Mujahid.

Makam Juwairiyah di Baqi Madinah.

Ia hidup pada masa kekhalifahan Muawiyah, dan wafat di Madinah pada bulan Rabi'ul Awwal 53H/676M di usianya ke 65 tahun, dan disalatkan oleh Marwan bin Hakam, Gubernur Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi.

Referensi :

Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s 

Artikel Juwairiyah binti al-Harits, Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Juwairiyah_binti_al-Harits.


10. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Shafiyah (17thn) binti Huyay ibn Akhtab, mulai tahun (628–632M).

Ibunya bernama Barah binti Samuel berasal dari kaum Yahudi Bani Quraisy. Ia seorang wanita muda dan cantik berasal dari keturunan mulia dari Suku Lewi keturunan Harun bin Imran dari kaum Yahudi. Ketika orang-orang Yahudi Bani Nadir di Madinah yang berkhianat dengan Nabi, kaum Muslimin mengepung benteng kaum Yahudi hingga takluk, Ia seorang wanita janda cerai dari Salam bin Miskam al-Quraisy. Kemudian ia menikah lagi dengan Kinanah bin Abi al-Huqaik salah seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir yang diusir Nabi saw. Kinanah (suaminya) terbunuh pada saat perang Khaibar bln Muharram tahun 7 Hijeriah. Sebelun dinikahi Nabi Saw, Shafiyah bernama “Habibah binti Huyay ibn Akhtab” kemudian nama Habibahnya diganti oleh Nabi Saw dengan nama Shafiyah berarti “kawan yang tulus’. Sayyidah Shafiyah yang dinikahi Nabi Saw, dengan mahar kemerdekan dirinya sendiri dan untuk memuliakan suku tersebut dan menghapus rasa dendam terhadap suku Yahudi Bani Nadhir. Dimasa itu perempuan cantik dan janda yang belum ada pasangannya adalah dianggaf beban dan kutukan bagi kedua orang tuanya. .

Datar bacaan  : 

1. Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s  

2. Artikel Youtube Kisah Malam Pertama Shafiyyah Binty Huyay Istri Nabi Keturunan Yahudi. https://www.youtube.com/watch?v=16mFCaAUpYI


11. Rakam jejak  Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Maimunah binti Harits, mulai tahun (629–632M)

Sayyidah Maimunah  (ia lahir 6th sebeelum masa kenabian). Ia seorang wanita janda cerai dari Mas’ud bin Amru, ia menikah lagi dengan Abu Roham bin Abdul al-Uzza dan suaminya meninggal dunia.

Biografi

Nama dalam bahasa asli      (ar) مَيْمُونَة بِنْت ٱلَحَارِث ٱلْهِلَالِيَّة

Kelahiran   tahun 592M di Makkah (Usia 79/80 tahun) dan Wafat Januari 672 Masehi, Tempat pemakaman Makkah.  Ibunya brnama Hindun binti 'Auf

Saudara     Salma binti Umais, Asma' binti Umais, Lubabah binti al-Harits, Zainab binti Khuzaimah dan Lubabah as-Sughra

Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah al-'Amiriyyah (bahasa Arab: ميمونة بنت الحارث الهلالية العامرية) (lahir pada tahun 594, wafat pada tahun 51 H/673M) adalah istri terakhir dari Nabi Muhammad, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin.

Kehidupan & Pernikahannya

Maimunah memiliki nama asli Barrah, namun Nabi Muhammad mengubahnya menjadi Maimunah yang berarti "berita baik". Maimunah berasal dari klan borjuis Banu Hilal. Ayahnya bernama Harits bin Hazm, ibunya bernama Hindun binti Auf. Saudara perempuannya, Lubabah atau Ummu al-Fadhal yang kedua masuk Islam setelah Khadijah, menikah dengan Abbas bin Abdul-Mutthalib yang merupakan salah satu orang terkaya dari Bani Hasyim, yang mana kemudian Abbas menjadi wali-nya Maimunah. Maimunah dinikahi oleh Rasulullah ketika beliau sedang melaksanakan umrah, tetapi baru digauli setelah beliau selesai menjalankannya.

Saudara perempuan seibunya Zainab binti Khuzaimah (istri Muhammad Saw), Asma' binti Umais (istri Jafar bin Abu Thalib) dan Salma binti Umais (istri Hamzah bin Abdul Mutholib). Adapun saudara laki-laki seibunya adalah Khalid bin Walid.

Awalnya Barrah, ia menikah dengan Mas'ud bin Amr Suatu hari ia mendengar cerita kemenangan muslim dari pertempuran Khaibar, ia pun ikut begembira, sementara Mas'ud suaminya bersedih, lalu mereka bertengkar dan suaminya menceraikannya. Kemudian ia menikah lagi dengan Abu Roham bin Abdul al-Uzza dan suaminyapun meninggal dunia. Barrah pun tinggal di rumah Ummu al-Fadhal, kakaknya. lalu ia belajar dan mengenal Islam di rumah Ummu al-Fadhal.

Setelah perjanjian Hudaibiyah pada 6H, setahun kemudian Muhammad beserta sahabat umrah ke Mekah, lalu Abbas walinya melamarkan Maimunah kepada Muhammad dengan mahar 400 dirham emas (sekitar 16 juta rupiah), lalu diadakan pernikahan di Lembah Saraf / Sarif, 30 km di utara kota Mekah. Awalnya Muhammad menawarkan acara pernikahan di Mekah dengan memberi jamuan kepada penduduk Mekah, tetapi mereka (Quraisy Mekah) menolak.

Maimunah dikenal sebagai perempuan yang baik hati. Ia pernah memiliki seorang budak perempuan yang kemudian ia bebaskan tanpa izin sang Nabi. Di saat waktu gilirannya bersama Nabi, ia pun menceritakan apa yang telah dilakukannya. Nabi pun berkata kepada Maimunah, bahwa ketimbang membebaskannya, Maimunah akan mendapatkan pahala yang lebih besar bilamana ia memberikan budak itu kepada salah satu paman dari pihak ibunya.

Muhammad memasuki rumah Maimunah binti Al Haris, ternyata di dalamnya ada beberapa biawak dengan telurnya. Ia saat itu bersama Abdullah bin Abbas dan Khalid bin Walid. Ia bertanya: "Dari mana ini?" Maimunah menjawab, "Saudariku, Hudzailah binti Al Harits menghadiahkannya kepadaku." Ia berkata kepada Abdullah bin Abbas dan Khalid bin Walid: "Kalian berdua, makanlah." Mereka bertanya; "Kenapa anda tidak memakannya, Wahai Rasulullah?' Ia menjawab: "Sesungguhnya telah hadir hidangan dari Allah." Maimunah bertanya; "Apakah anda mau kami hidangkan susu?" Ia menjawab: "Ya." Dan ketika ia akan meminum susu tersebut ia bertanya: "Dari mana ini?" Maimunah menjawab; "Saudariku, Hudzailah menghadiahkan kepadaku." Muhammad berkata: 'Apa pendapatmu tentang budak wanitamu yang engkau pernah minta agar aku membebaskannya? Berikan (kembalikan) kepada saudarimu dan sambunglah silaturrahim agar dia yang merawatnya karena itu lebih baik untukmu."

Maimunah pernah memiliki anak anjing yang ia simpan di bawah tempat tidurnya. Pada suatu hari ia melihat suasana hati Sang Nabi sedang buruk. Rupanya itu dikarenakan Malaikat Jibril tidak menepati janjinya menemui beliau di malam sebelumnya. Sang Nabi pun teringat dengan anak anjing di bawah tempat tidur Maimunah. Beliau pun memerintahkannya untuk dikeluarkan. Dan menyiramkan air di tempat tersebut. Ketika malam tiba, Malaikat Jibril pun datang dan menginformasikan beliau bahwa dirinya tidak memasuki rumah yang ada anjing ataupun gambar di dalamnya. Lalu pada pagi hari, Sang Nabi pun memerintahkan agar tiap-tiap anjing supaya dibunuh, termasuk yang masih kecil. Namun membiarkan anjing yang ditugaskan untuk menjaga perkebunan besar.

Sayyidah Aisyah berkata, "Sesungguhnya Maimunah adalah orang yang paling bertakwa dan paling menyambung silaturahim di antara kami.”

Nasabnya

Ayahnya: al-Harits bin Huzn bin Bujair bin Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin 'Amir bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin 'Ikrimah bin Khafshah bin Qais bin 'Ailan bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.

Ibunya: Hindun binti 'Auf bin Zuhair bin Huthamah bin Jarasy bin Aslam bin Zaid bin Sahl bin 'Amru bin Qais bin Muawiyah bin Jasyam bin Abdu Syams bin Wa`il bin al-Ghauts bin Quthn bin 'Uraib bin Zuhair bin al-Ghauts bin Aiman bin al-Hamyasa' bin Humair bin Saba bin Yasyjub bin Ya'rib bin Qahthan.

Anak-anak Hindun binti 'Auf :

1.   Maimunah binti al-Harits

2.   Ummu al-Fadhl Lubbabah al-Kubra binti al-Harits al-Hilaliyyah, istri Abbas bin Abdul-Muththalib

3.   Lubbabah ash-Shugra binti al-Harits al-Hilaliyyah, ibu dari Khalid bin Walid

4.   Asma binti 'Amis al-Khatsa'miyyah, yang menikah dengan Ja'far bin Abi Thalib, kemudian menikah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian menikah dengan Ali bin Abi Thalib

5.   Urwa binti 'Amis al-Khatsa'miyyah, istri dari Hamzah bin Abdul-Muththalib

Kematian

Saat pergi menunaikan haji bersama Abdullah bin Abbas di masa Khalifah Muawiyah, Maimunah jatuh sakit lalu mewasiatkan agar dimakamkan di tempat pernikahannya, lalu rumahnya di Madinah dijadikan tempat majlis ilmu. Maimunah wafat di Sarif, dekat Tan'im (di pinggir jalan tol Mekah-Madinah), tempat ia menikah dengan Muhammad, pada 61H di usia 80 tahun, jenazahnya disolatkan oleh Abdullah bin Abbas.

Daftar bacaan :

1. Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s

2. Artikel “Maimunah binti al-Harits.” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Maimunah_binti_al-Harits


12. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Raihanah binti Zaid, mulai tahun 627–631M).

Raihanah binti Zaid (bahasa Arab: ريحانة بنت زيد) adalah seorang wanita Yahudi dari suku Banu Nadhir, yang dianggap oleh beberapa umat muslim sebagai istri dari Nabi Muhammad.

Dalam “buku 150 Perempuan Shalihah” karya Abu Malik Muhammad bin Hamid dikisahkan, dalam Perang Bani Quraizah, Raihanah menjadi tawanan Rasulullah. Ia seorang perempuan Yahudi pernah menolak lamaran dan ajakan Rasulullah SAW untuk memeluk Islam. Namanya Raihanah binti Yazid bin Amru bin Khanaqah. Sebagian pendapat mengatakan ia berasal dari Bani Quraizah.

Ia adalah perempuan yang sangat cantik. Suaminya yang bernama Hakam sangat mencintai dan menghormatinya. Sayang, ia tak berumur panjang. Sepeninggal suaminya, Raihanah berjanji tidak akan menikah lagi.

Biografi

Raihanah berasal dari suku Yahudi, Bani Nadhir yang kemudian menjadi bagian dari Bani Quraizhah melalui pernikahan. Nabi Muhammad pernah menyatakan niatan beliau untuk mengusir seluruh Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab, dan tidak meninggalkan siapapun di dalamnya kecuali orang-orang Muslim. Seusai perang Khandaq, Malaikat Jibril dengan kepalanya tertutup debu datang kepada sang Nabi, dan berkata: "Kau sudah meletakkan senjatamu! Demi Allah, aku belum meletakkan senjataku." Maka Nabi pun bertanya, "Kemana setelah ini?" Malaikat Jibril pun berkata "ke arah sini," dengan menunjuk ke arah pemukiman Bani Quraizhah. Setelah berhasil mengalahkan suku tersebut, beliau memerintahkan agar tiap-tiap pria dari Bani Qurayzhah dieksekusi. Sedangkan harta, serta perempuan-perempuan dan anak-anak mereka beliau bagi-bagikan kepada umat muslim, dan sebagian dari tawanan perempuan beliau kirimkan ke Najd untuk ditukar dengan kuda-kuda dan senjata. Nabi Muhammad mengambil seperlima dari harta rampasan sebagaimana yang ditetapkan di dalam Al-Quran dan mengambil Raihanah untuk diri beliau.

Nabi Muhammad pernah menawarkan kepada Raihanah supaya dirinya dinikahi oleh beliau dan mengenakan hijab. Namun Raihanah menolak dengan mengatakan, "Biarlah aku tetap di bawah kekuasaanmu, karena itu adalah lebih mudah untuk diriku dan untukmu." Maka Nabi pun meninggalkannya. Semenjak menjadi tawanan umat Islam, Raihanah telah menunjukkan kebenciannya terhadap Islam, dan tetap berpegang pada Yahudi / Judaisme. Ketika Nabi sedang bersama sahabat-sahabat beliau, beliau mendengar suara sendal tiba dari belakang, dan beliau berkata: "Ini pasti Thalaba bin Sa'ya yang datang membawakan berita baik kalau Raihanah telah memeluk islam." Dan benar apa kata beliau, yang mana itu membuat beliau begitu senang. Agamanya Yudaisme dan Islam.

Rasulullah memanggil Ibnu Sa'yah dan menceritakan perihal penolakan Raihanah. Ibnu Sa'yah bertekad membantu Rasulullah mengajak Raihanah kepada ajaran Islam. Ia pergi menemui Raihanah dan mengatakan, "Jangan ikuti kaummu. Sesungguhnya mereka jatuh dalam perangkap Huyay bin Akhtab. Masuklah kamu ke dalam agama Islam. Rasulullah memilihmu untuk dirinya.

Ibnu Sa'yah pun menjelaskan tentang Islam kepada Raihanah hingga ia setuju masuk Islam. Ibnu Sa'yah kembali ke tempat Rasulullah SAW berada. Pada saat sedang bersama para sahabatnya, Rasulullah mendengar suara sandal. Beliau berkata, "Itu suara Ibnu Sa'yah yang datang untuk mengabarkan keislaman Raihanah." "Ya Rasulullah, Raihanah telah masuk Islam." kata Ibnu Sa'yah.

Rasulullah sangat senang mendengar berita tersebut. Beliau menyuruhnya membawa Raihanah ke rumah Ummul Mundzir binti Qais. Raihanah tinggal di sana sampai dia suci dari haidnya. Rasulullah mendatanginya di rumah Ummul Mundzir. Ia menawarkan dua pilihan kepada perempuan itu, yaitu untuk dimerdekakan dan dinikahi atau dijadikan pembantu.

Dalam riwayat lain disebutkan, Raihanah berkata, "Rasulullah masuk untuk menemuiku. Aku menjauh darinya karena merasa malu. Rasululllah menundukkanku di hadapannya dan berkata, "Jika kamu memilih Allah dan Rasul-Nya, Rasulullah akan memilihmu untuknya."

Aku berkata, 'Aku memilih Allah dan Rasul-Nya'. Ketika aku masuk Islam, Rasulullah memerdekakanku dan menikahiku dengan mahar dua belas dinar dan dua puluh dirham. Aku diberi mahar seperti istri-istri Rasulullah yang lainnya. Rasulullah menghabiskan malam pengantin bersamaku di rumah Ummul Mundzir. Aku diberi bagian hari seperti istri-istri yang lain. Dan ia menyuruhku untuk memakai hijab."

Dari az-Zuhri, dia berkata, "Raihanah adalah seorang pembantu perempuan Rasulullah yang dimerdekakan dan dinikahi oleh RasulullahDia selalu memakai hijab di keluarganya. Raihanah berkata, "Tidak ada seorang pun yang melihat wajahku, kecuali Rasulullah SAW."

Dalam riwayat yang lain lagi dikisahkan bahwa Rasulullah sangat mencintai Raihanah. Beliau selalu memenuhi segala permintaannya. Sampai-sampai, Raihanah pernah berkata, "Jika aku meminta Rasulullah untuk memerdekakan Bani Quraizah, pasti Rasul akan melakukannya."

Raihanah dikenal sangat pencemburu. Rasulullah pernah menalaknya dengan talak satu karena sifatnya itu. Dia terus menerus menangis. Ketika Rasulullah masuk menemuinya, ia masih menangis. Kemudian, Rasulullah merujuknya.

Raihanah tetap menjadi istri Rasulullah sampai meninggal sepulang haji pada 10 Hijriah. Rasulullah menikah dengannya pada bulan Muharram 6 Hijriah. Jenazahnya dimakamkan di Baqi.

Kematian    tahun 631Masehi, usia (31/41 tahun) Tempat   pemakamannya Jannatul Baqi Madinah

Referensi  :

Artikel “Raihanah binti Yazid Mulia Hidup Bersama Rasulullah." https://republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/16/06/03/o86zwa6-raihanah-binti-yazid-mulia-hidup-bersama-rasulullah.

Artikel “Raihanah binti Zaid”, Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Raihanah_binti_Zaid.


a. Keturunan Nabi Muhammad Saw

Siapakah yang dinamai sebagai keturunan Muhammad Saw? Muhammad Saw dikaruniai 7 anak 3 laki-laki dan 4 perempuan, yaitu : 

  1. Qasim, (pemberi Imbalan) wafat saat kecil 
  2. Zainab, (indah dan Wangi) wafat usia 29 tahun 
  3. Ruqaiyah, wafat  saat perang Badar (ia isteri Usman bin Affan) 
  4. Ummu Kultsum, dan 
  5. Fathimah Azzahra. 
  6. Abdullah wafat saat kecil 
  7. Ibrahim wafat saat kecil

Sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad Saw telah dikaruniai 7 orang anak, 4 perempuan dan 3 laki-laki.seluruh anak Nabi berasal dari hasil pernikahannya dengan Sayyidah Khadijah, kecuali Ibrahim yang dilahirkan oleh Sayyidah Mariyah al-Qitbhiyah

Setiap keturunan atau anak berasal dari ayahnya, namun khusus untuk keturunan Sayyidatuna Fathimah bersambung kepada Rasulullah merekalah keturunan Muhammad Saw.

Sebagaimana dalam hadits telah disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Setiap anak yang dilahirkan ibunya bernasab kepada ayahnya, kecuali anak-anak dari Fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka”, (HR Imam Ahmad).

 

Silsilah TJ yang ke Empat

04.KHALFAH  ALI  IBN  ABI  THALIB

 الخليفة الرابع أمير المؤمنين سيدنا علي بن أبي طالب كرم الله وجهه

Dia seorang Shahabat Nabi Saw, Dia termasuk As Sabiqul Awwalun (السابق الأولون) dan Dia pemuda pelopor dalam pengembangan dan penyebaran Islam dan menjabat Khalifah yang ke empat (IV)  dari Khulafa’urrasyidin (الخلفاء الراشدين), Dia seorang tokoh Sufi pertama dari kalangan Shahabat yang memperkatakan ajaran Fanaa.Saidina ‘Ali Karramallah wajhah berkata :

 وفى فنائ  وفى فنائ وفى فنائ  وجدت أنت

Maksudnya : Dan di dalam fanaku (leburku), leburlah kefanaanku, di dalam kefanaanku itulah, bahwa aku  mendafpatkan Engkau ( Ya Allah).

menjelaskan prinsif-prinsif (أصول) Ushul kebenaran Ilahiyah dengan sangat halus, sampai-sampai Syekh  Abul Qasim al Junaidy berkata : “Ali adalah syekh da imam kami mengenai prinsif-prinsif dan mengenai kebenaran dalam menghadapi malapetaka.” Maksudnaya ajaran dan praktik tasauf, karena oarang Sufi menyebut ajaran dengan prinsif-prinsif  ushul tarekat”. Ini dan praktiknya terdapat dalam kesabaran ketika menghadapi malapetaka atau ujian-ujian dalam kehidupan. Terdapat riwayat yang mengatakan bahwa seseorang meminta kepada “Imam Ali untuk memberinya satu wasiat. “Imam Ali menjawab : “Jangan biarkan isteri dan anakmu menjadi perhatian utama,  sebab jika mereka menjadi kekasih Allah, maka Dia (Allah) akan memelihara kekasih-Nya. Dan   jika mereka menjadi  musuh Allah, mengapa harus diperdulikan musuh - musuh Allah ? Pernyataan ini berkaitan dengan pemutusan hati dari semua hal selain Allah, yang menjaga kekasih-Nya dalam keadaan yang dikehendaki-Nya.

Pada suatu ketika Nabiyullah Musa Alaihissalam, karena  tidak mau menjadikan isteri sebagai perhatian utama, sehingga Nabi Musa meninggalkan puteri Nabi Syu’aib Alaihissalam isterinya dalam keadaan yang paling sulit dan menyerahkannya kepada Allah. Dan begitu pula Nabi Iberahim Alaihissalam membawa Siti Hajar dan Nabi Isma’il anaknya ke  Gurun yang tandus dan juga  menerahkannya kepada Allah Ta’ala, dan meninggalkan keduanya.

Kedua Nabi dan Rasul  ini, ketimbang menjadikan isteri dan anak sebagai perhatian utama,  maka mereka memilih menetapkan hati mereka kepada Allah.  Ungkapan ini sama – serupa dengan jawaban yang diberikan Khalifah “Ali Karramallahu wajhah, ketika dia di tanya hal apakah yang paling murni yang bisa dicapai ?  Beliau  menjawab : QANA’ATUL QALBI BILLAH (قناعة القلب  بالله) ”Sesuatu  itu Hati yang  merasa cukup bersama Allah.”  Maksudnya Hati yang begitu kaya bersama Allah, tidak akan menjadi fakir dengan tidak memiliki  harta benda duniawi, dan juga tidak merasa senang dengan memilik harta dunia. Masalah ini benar-benar membalik ajaran mengenai  kefakiran dan kesucian.

 Khalifah “Ali bin Abi Thalib adalah seorang teladan bagi para Sufi dalam hal kebenaran penampakan lahir dan kelembutan  dalam pemaknaan  baten, yang mengosongkan diri  dari semua harta benda di dunia dan akhirat kelak dan memilh pemeliharaan Allah Swt.

Aku kutif dari salah satu Artikel yang menyebutkan bahwa  Imam Ali bin Abi Thalib lahir hari Ahad, 17 Maret tahun 599M atau 12 Dzul Hijjah 25SH (sebelum Hijrah) di kota Mekkah negeri Arab Saudi.

Menurut sejarah Islam ketika Muhammad saw diangkat menjadi Nabi dan rasul pada usia 40 tahun sekitar tahun 609 Masehi,  Usia “Ali bin Abi Thalib  sudah 8 tahun. Jadi “Ali bin Abi Thalib lahir tahun 601 Masehi. Dan dia menjabat Khalifah yang ke empat dari tahun 656 Masehi s.d tahun 661 Masehi. Ketika itu usia “Ali sekitar 55 tahun, Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib wafat 31 Januari tahun 661Masehi atau pagi Jum’at, 21 Ramadhan tahun ke-40 Hijeriah dengan usia 60 tahun.

Dalam Kitab Tanwirul Qulub dikatakan bahwa Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib  menjabat sebagai khalifatur Rasyidin ke Empat   :

 ويليه علي ابن  أبي طالب كرم الله وجهه ومكث فى الخلافة أربلع سنين وتسعة أشهر وسبعة أيام

Maksudnya : “Kekuasaan atau wilayah Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib Karramallah al Wajhah sebagai pemangku jabatan Khalifah yang ke Empat yakni Empat tahun, Sembilan bulan dan Tujuh hari dari tahun 656 Masehi sampai dengan tahun 661 Masehi.

Pada usia  6 tahun “Ali Bin Abi Thalib atau  Haidarah (حيدارة)  diangkat anak oleh Rasulullah Saw, Sebenarnya isteri Abu Thalib yang bernama Fatimah memberi nama  anaknya setelah lahir adalah dengan  nama “HAIDARAH, (حيدارة) akan tetapi Abu Thalib  ayahnya memberi nama  “ALI”.

Setelah Sayyidina  Ali Bin Abi Thalib atau  Haidarah   dewasa, ia dikawinkan dengan  puteri Rasulullah Saw yang bernama Siti Fatimah. Dari perkawinan  inilah Rasul Saw punya zurriyat  keturunan. Maksud perkawinan inilah antara Sayyidina Ali  dengan Siti Fatimah, maka  mereka punya anak  yaitu : Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain.

01. Perkawinan Sayyidah Fathimah Azzahra dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib

01. Isteri pertama Imam Ali bin Abi Thalib bernama Sayyidah Fatimah binti Muhammad puteri Sayyidah Khadijah binti Khuwalait. 

Perkawinan Syyidatuna Fathimah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dikarunia 3 orang putra yaitu HasanHusain dan Muhsin, dari kedua cucu Nabi Hasan & Husain inilah telah lahir para anak cucu-dzuriat Nabi Saw yang hingga kini kita kenali dengan sebutan syarifsyarifahsayyid, dan habib.

Menurut Artikel “Kekhususan Fatimah Azzahra yang menurunkan Nasab Rasulullah” Ahlul Bait menyatakan bahwa " Siti Fathimah ra mempunyai tiga orang putra dan dua orang putri :

  1. Hasan
  2. Husain
  3. Muhsin
  4. Ummu Kalsum dan
  5. Zainab.

Kemudian Ummu Kalsum ra kawin dengan Sayyidina Umar IbnuKhattab ra dan Zainab ra kawin dengan Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib ra. Sedang Muhsin wafat pada usia masih kecil (kanak-kanak). Adapun Hasan ra dan Husain ra, maka dalam buku-buku sejarah dikenal sebagai tokoh-tokoh Ahlul Bait yang meneruskan keturunan Rasulullah Saw.

Diantara keistimewaan atau fadhelat Ikhtishas yang didapat oleh Siti Fathimah ra adalah, bahwa keturunannya atau Durriyyatnya itu disebut sebagai Dzurriyyah Rasulillah Saw atau Dzurriyyaturrasul.

Fathimah lahir satu tahun sebelum kenabian dan meninggal dunia enam bulan sesudah ayahnya Rasulullah SAW meninggal, yaitu pada malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah

Nama Fathimah berasal dari kata Fathman yang artinya sama dengan qath'an atau man'an, yang berarti 'memotongmemutuskan atau mencegah'. Ia dinamakan Fathimah karena Allah SWT mencegah dirinya dari api neraka, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda: 'Sesungguhnya Fathimah adalah orang yang suci farajnya, maka Allah haramkan atas dia dan keturunannya akan api neraka.'

Al-Nasa’i meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya putriku Fathimah ini adalah seorang manusia-bidadari. Dia tidak haid dan tidak pula mengeluarkan kotoran. Karena itulah ia dinamakan al-Zahra atau 'yang suci', sebab ia tidak pernah mengeluarkan darah, baik dalam haid maupun sesudah melahirkan (nifas). Pada saat melahirkan, ia mandi dan kemudian shalat sehingga ia tidak pernah luput dari melaksanakan shalat.

Adapun sebutan al-Batul baginya itu adalah karena ia merupakan wanita yang paling menonjol di masanya dalam hal keutamaan, agama dan keturunan.

Dikemukakan pula oleh al-Thabrani, bahwa Rasulullah SAW bersabda: " Tiap anak itu bernisbat kepada keturunan bapaknya, kecuali putra Fathimah, akulah wali mereka dan akulah ashabah mereka". Dalam riwayat lain yang sahih disebutkan: "Setiap anak itu mengikuti garis keturunan bapaknya kecuali anak-anak Fathimah , sebab akulah ayah mereka dan ashabah mereka".

Hadis Riwayat lain menyatakan  :

وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ  عَلَيْه وَسَلَّمَ :" لِكُلِّ بَنِىٍّ اَبٌ عُصْبَةٌ إلا ابني فاطمة فأنا و ليهما و عصبتهما *

Artinya: "Setiap anak laki-laki seorang ayah memiliki ashabah (penerima bagian ashabah), kecuali dua putera Fatimah, karena akulah wali keduanya dan ashabah mereka ber­dua." (HR Al-Hakim)

Hal mana sesuai dengan pengakuan Rasulullah saw,sendiri bahwa anak-anak Fathimah ra yakni Al Hasan dan Al Husain itu bernasab kepada beliau saw. Sehingga berbeda dengan orang-orang lain yang bernasab kepada ayahnya

Rasulullah Saw bersabda  :

وَعَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : كُلُّ بَنِى اُنْثَى فَاِنَّ عُصْبَتَهُمْ لِاَبِيْهِمْ مَاخَلَاوَكَ فَاطِمَةُ فَاِنّيْ اَنَا عُصْبَتُهُمْ وَ اَنَااَبُوْهُمْ (رَوَاهُ الطَّبْرَنى)

Artinya “Semua bani Untsa (manusia) mempunyai ikatan keturunan ke ayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka kepadakulah bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.” (HR. At Thabrani)

Dalam hadis dari Umar bin Khattab juga diterangkan:

عن النبي صلى الله عليه و سلم كل نسب و صهر ينقطع يوم القيامة إلا نسبى وصهرى (رواه اِبْنُ عَسَاكِيْرٍ)

Artinya: "Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap nasab dan hubungan keluarga melalui perkawinan di hari Kiamat nanti akan putus, kecuali nasabku dan hubungan kekeluargaan melalui perkawinan denganku." (Riwayat Ibnu Asakir)

Pada suatu ketika, Sayyidina Umar ra datang kepada Imam Ali karamallahu wajhah dengan tujuan akan melamar putrinya yang bernama Ummu Kultsum ra.

Setelah Sayyidina Umar ra menyampaikan maksudnya, Imam Ali kw menjawab bahwa anaknya itu masih kecil. Selanjutnya Imam Ali kw menyarankan agar Sayyidina Umar ra melamar putri saudaranya (Ja’far) yang sudah besar.

Mendengar jawaban dan saran tersebut Sayyidina Umar ra menjawab, bahwa dia melamar putrinya, karena dia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:

 Semua sebab dan nasab terputus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.” (HR. At Thabrani)

Dari konteks hadist tsb, hubungan pertalian dengan Rasulullah sangatlah penting, meskipun hubungan pertaliannya merupakan hubungan kekerabatan (sebab) dan bukan hubungan  nasab. Akhirnya lamaran Sayyidina Umar ra tersebut diterima oleh Imam Ali kw dan dari perkawinan mereka tersebut, lahirlah Zeid dan Ruqayyah

Perkawinan tersebut membuktikan bahwa antara Imam Ali kw / Siti Fathimah ra dengan Sayyidina Umar ra telah terjalin hubungan yang sangat baik. Sebab apabila ada permusuhan antara Imam Ali kw / Siti Fathimah ra dengan Sayyidina Umar ra, pasti lamaran tersebut akan ditolak.

Bahkan dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa, Imam Ali kw dikenal sebagai penasehat Khalifah Umar Ibnul Khattab ra.

Bahkan Sayyidina Umar ra ketika mengawini UmmKultsum ra itu berkata kepada orang banyak: “Tidakkah kalian mengucapkan selamat kepadaku, sebab aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda:Setiap sebab dan nasab terputus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.” (HR. At Thabrani)

Dengan demikian tidak benar jika ada orang yang mengatakan bahwa keturunan Rasulullah Saw atau Dzurriyyaturrasul itu sudah putus atau tidak ada lagi. Karena pendapat tersebut sangat bertentangan dengan keterangan-keterangan Rasulullah saw, yang diakui kebenarannya oleh para ulama dan para Ahli sejarah.

Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab shahih-nya bahwa Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu : “Sungguh aku lebih senang menyambung tali kekerabatan kepada keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada keluargaku sendiri” [HR Bukhari : 3712]

Masih dalam Shahih Bukhari bahwasanya Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu ketika pulang dari shalat Ashar ia melihat Hasan Radhiyallahu anhu sedang bermain-main bersama anak-anak yang lain di jalan. Lalu Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menggendong Hasan Radhiyallahu ‘anhu di atas pundaknya sambil berkata “Demi bapakku yang menjadi tebusan, Hasan lebih mirip Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan dengan Ali Radhiyallahu ‘anhu. Mendengar hal itu Ali Radhiyallahu ‘anhu hanya bisa tertawa” [HR Bukhari : 3542]

Dikutip dari  salah satu Artikel telah diterbitkan SINDOnews.com bahwa Habib Zein bin Ibrahim bin Smith Al-Alawi Al-Husaini pernah menerangkan, ada banyak dalil menegaskan bahwa Fatimah merupakan jalur penerus keturunan Nabi Muhammad Saw. Berdasarkan  berfirman Allah dalam Al-Qur'an ttg mubahalah  :

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيْهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَائَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَاَبۡنَآءَكُمۡ وَنِسَآءَنَا وَنِسَآءَكُمۡ وَاَنۡفُسَنَا وَاَنۡفُسَكُمۡ ثُمَّ نَبۡتَهِلۡ فَنَجۡعَل لَّعۡنَتَ اللّٰهِ عَلَى الۡكٰاذِبِيۡنَ (آل عمران ٦١)

Artinya: "Siapa yang membantahmu (tentang kisah Isa) sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (QS Ali Imran: Ayat 61).

Para ahli tafsir menjelaskan, ketika ayat ini turun, Rasulullah SAW mengajak Ali, Fatimah, al-Hasan dan al-Husain. Beliau menggendong Al-Husain, menuntun Al-Hasan, Fatimah berjalan di belakang beliau sedangkan Ali (suamu Fatimah) berjalan di belakang mereka, dan beliau bersabda: "Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku." Ayat ini adalah dalil yang tegas, bahwa anak-anak Fatimah dan keturunannya disebut anak-anak Nabi Muhammad dan mereka bernasab kepada nasab Rasulullah SAW secara benar dan bermanfaat di dunia dan akhirat.

 Pada ayat lain, Allah berfirman:

 اِنَّمَا يُرِيۡدُ اللّٰهُ لِيُذۡهِبَ عَنۡكُمُ الرِّجۡسَ اَهۡلَ الۡبَيۡتِ وَيُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِيۡرًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS Al-Ahzab: 33)

Ungkapan Ahlul Bait dalam ayat di atas mencakup keluarga rumah tempat tinggal dan keluarga nasab Rasulullah SAW. Istri-istri beliau adalah keluarga rumah tempat tinggal, sedangkan kerabat-kerabatnya adalah keluarga karena pertalian nasab.

 عن ابى سعيد الحدري رضي الله عنه قال: إن هذه الاية نزلت فى النبي صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم

Dari Abu Sa'id al-Khudri ia berkata: "Sesungguhnya ayat ini turun berkaitan dengan Nabi sholalllahu 'alaihi wasallam, AliFathimahAl-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu 'anhum." (HR Ahmad)

 إنه صلى الله عليه وسلم جعل على هؤلاء كساء وقال اللهم هؤلاء اهل بيتى وخاصتى اذهب عنهم الرجز وطهرهم تطهيرا

Artinya: "Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengemulkan sebuah kain pada mereka (Ali, Fathimah, al-Hasan dan al-Husain) dan bersabda: "Ya Allah, mereka adalah ahli baitku dan orang-orang khususku, hilangkan dari mereka noda dan bersihkan mereka sebersih-bersihnya."

Dalam riwayat lain, sesungguhnya Rasulullah SAW selalu mendatangi rumah putrinya Fathimah, selama enam bulan pada setiap shalat Subuh. Beliau berseru: "Shalatlah hai Ahlul Bait, sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (HR at-Tirmidzi dan Abu Dawud ath-Thayalisi dari Anas bin Malik)

Dikisahkan, Sulthan Harun Al-Rasyid dimasa pemerintahannya pernah bertanya kepada Musa al-Kadzim seraya berkata: "Bagaimana kamu berkata kami keturunan Rasulullah SAW padahal kamu adalah anak-anak Ali bin Abi Thalib. Seorang laki-laki hanya bernasab kepada datuk dari sisi ayah, bukan datuk dari ibu?" Lalu Imam Musa al-Kadzim menjawab:

اعوذ بالله من الشيطان الرجيم.بسم الله الرحمن الرحيم. ومن ذريته داود وسليمان وايوب ويوسف وموسى وهارون وكذلك نجزى المحسنين وزكريا ويحيى وعيسى وإلياس

Artinya: "Nabi Isa 'alaihissalam jelas tidak berayah, tetapi beliau dipertemukan dengan nasab para Nabi dari sisi ibundanya. Demikian juga kami dipertemukan dengan nasab Nabi Muhammad dari sisi ibu kami, Fatimah radhiyallahu 'anha. Dan masih ada tambahan lagi hai amirul mukminin, yaitu turunnya ayat mubahalah, saat itu Nabi tidak mengajak siapapun kecuali Ali, Fatimah, al-Hasan dan al-Husain ra."

Sebagai salah satu tinggalan Nabi Muhammad SAW untuk umatnya, keturunannya sudah selayaknya mendapat penghormatan dan rasa cinta seperti yang beliau terima. Sebagaimana anjuran dari sahabat termulia Rasulullah, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mengatakan, “Cintailah Muhammad melalui cinta kepada para keturunannya (Ahlul Bait).

Tak hanya itu, Al-Qur’an melalui surah Asy-Syura ayat 23 pun mengatur perintah untuk mencintai Ahlul Bait. Dalam ayat tersebut disebutkan, “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta upah kepada kalian kecuali rasa cinta kepada kerabatku,”

قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ

Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta upah kepada kalian kecuali rasa cinta kepada kerabatku,” (QS Asy-Syura: 23)

Dalam tafsir disebutkan bahwa yang dimaksud kerabat disini adalah Ahlul Bait. Dengan demikian, jelas perintah memuliakan dan mencintai Ahlul Bait merupakan perintah langsung dari Allah yang wajib dipatuhi.

عَنْ جَابرٍ بِنْ عَبْدُاللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَاَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى حُجَّتِهِ يَوْمَ عَرَفَةَ وَهُوَ عَلَى نَاقِتِهِ الْقَصْوَاءِ يَخْطُبُ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ : يَااَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا اِنْ اَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا : كِتَابَ الله وَعتْرَتيْ اَهْلُ بَيْتيْ (رواه الترمذى و احمد)

Dari Jabir bin Abdullah ra. berkata ia “Aku lihat Rasulullah pada Hajjinya hari Arafah Sedangkan Beliau berada diatas untanya berkhutbah dan aku mendengar Beliau bersabda : “Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan pada diri kalian, jika kalian mengikutinya maka tidak akan tersesat selamanya yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan keturunanku Ahlul Baitku”.HR.At-Tirmidzi dan Ahmad).

عَنْ اَبِيْ سَعِيْدٍ الحدري رضي الله عنه قال قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنِّيْ تَاركٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ اَحَدُهُمَا اَكْبَرُ مِنَ الآخِرِ : كِتَابُ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُوْدٌ مِنَ السَّمَاءِ اِلَى الْاَرْضِ وَعتْرَتيْ اَهْلُ بَيْتيْ وَاَنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى تَرِدَا عَلَى الْحَوْضِ (رواه الترمذى و احمد وغيره)

Artinya Hadis  dri Abi  Said al-Khudri ia berkata  Rasul  Saw bersabda :”Aku tinggalkan pada diri  kalian  dua hal,  salah satunya lebih besar   dari  yang  lain yaitu Kitabullah (Alqur’an) sebuah tali penghubung yang  dibentangkan dari langit  ke bumi dan keturunanku Ahlul Baitku.  Sesungguhnya keduanya  tidak akan terputus  hingga datang  sewaktu  telaga Hudl (HR. At-Tirmidzi, Imam Ahmad dan lainnya).


KHALFAH  ALI  IBN  ABI  THALIB

Imam Ali adalah orang yang pertama kali masuk Islam. Abu Ya'la meriwayatkan dari Ali, bahwa Ali telah berkata: "Rasulullah diutus pada hari Senin dan aku masuk Islam pada hari Selasa."

Abdulbirr dalam kitabnya yang berjudul al-Isti'ab mengetengahkan sebuah hadits yang berasal dari Imam Ali , bahwa Rasulullah saw berkata kepada Siti Fatimah ra: 'Suamimu adalah orang yang terkemuka di dunia dan akhirat, ia sahabatku yang pertama memeluk Islam, yang paling banyak ilmunya dan paling besar kesabarannya'

Dalam hal nasab, seperti diriwayatkan oleh Thabrani, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda: "Allah menciptakan keturunan setiap Nabi dari tulang sulbinya sendiri, namun Allah menciptakan keturunanku dari tulang sulbi Ali bin Abi Thalib."

Hal ini diperkuat dengan hadits yang bersumber dari Umran bin Hushain, bahwa Rasulullah telah berkata: "Apakah yang kamu inginkan dari Ali, apakah yang kamu inginkan dari Ali, apakah yang kamu inginkan dari Ali? Sesungguhnya Ali dariku dan aku darinya. Ia adalah pemimpin semua orang mukmin sesudahku."

Ibnu Abbas ra meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw menyatakan: 'Manusia diciptakan dari berbagai jenis pohon, sedang aku dan Ali bin Abi Thalib diciptakan dari satu jenis pohon (unsur). Apakah yang hendak kalian katakan tentang sebatang pohon yang aku sendiri merupakan pangkalnya, Fatimah dahannya, Ali getahnya, al-Hasan dan al-Husain buahnya, dan para pencinta kami adalah dedaunannya! Barangsiapa yang bergelantung pada salah satu dahannya ia akan diantar ke dalam surga, dan barangsiapa yang meninggalkannya ia akan terjerumus ke dalam neraka."

Imam Ali bin Abi Thalib wafat sebagai syahid pada pagi hari Jum'at tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah ketika sedang melaksanakan sholat Subuh. Beliau dikarunia 15 (lima belas) orang anak laki-laki dan 18 (delapan belas) orang anak perempuan:

  1. Hasan 
  2. Husain   Ibunya Siti Fathimah binti Rasul saw.
  3. Muhsin (meninggal waktu kecil)  
  4. Muhammad al-Hanafiah (Menurut satu pendapat keluarga Ba Qasyir di Hadramaut adalah keturunannya)
  5. Abbas  
  6. Usman   Syahid bersama saudaranya Husain
  7. Abdullah   Ibunya ummu Banin binti Hazam al-Kilabiyah
  8. Ja'far   
  9. Abdullah 
  10. Abu Bakar  
  11. Yahya  
  12. Aun  
  13. Umar al-Akbar (Ibunya Ummu Habibah al-Taghlibiyah)
  14. Muhammad al-Ausath (Ibunya Amamah binti Abi Ash)
  15. Muhammad al-Asghar

Kelima belas anak laki-laki tersebut sesuai dengan pendapat al-Amiri, sedangkan Ibnu Anbah menambahkan nama: Abdurahman, Umar al-Asghor dan Abbas al-Asghar.

Adapun yang membuahkan keturunan anak dari Imam Ali bin Abi Thalib yakni ada lima, orang yaitu:

  1. Hasan,
  2. Husain,
  3. Abbas al-Kilabiyah dan Ibunya bernma Ummul Banin” binti Haram isteri ke-3 dari Imam Ali bin Abi Thalib
  4. Umar al-Tsa'labiyah. Ibunya bernma Sahbanu binti Rabi’ah isteri ke-5 dari Imam Ali bin Abi Thalib
  5. Muhammad al-Hanafiyah, dan Ibunya bernma “Maulah binti Ja’far” isteri ke-7 dari Imam Ali bin Abi Thalib

Sedangkan anak perempuannya dari Imam Ali bin Abi Thalib dalam riwayat yang disepakati berjumlah 18 orang, yaitu:

  1. Zainab,
  2. Ummu Kulsum,
  3. Ruqoyah,
  4. Ummu Hasan
  5. Ramlah al-Kubra,
  6. Ummu Hanni,
  7. Ramlah al-Sughro,
  8. Ummu Kulsum al-Sughro,
  9. Fathimah,
  10. Amamah,
  11. Khadijah,
  12. Ummu Khoir,
  13. Ummu Salmah,
  14. Ummu Ja'far,
  15. Jamanah 

2.Isteri kedua Ali bin Abi Thalib bernama Laila binti Mas’ud dari Bani Tamim, darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Ubaidillah dan Abu Bakar.

3.Isteri ketiga Ali bin Abi Thalib bernama “Ummul Banin” binti Haram, darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Ja’farAbbasAbdullah, dan Utsman

4.Isteri keempat Ali bin Abi Thalib bernama Asma binti Umays” darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : YahyaMuhammad Asghar

5.Isteri kelima Ali bin Abi Thalib bernama “Ummu Habibah (Sahbanu) binti Rabi’ah” darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Umar al-Akbar dan Rukiyah

6.Isteri keenam Ali bin Abi Thalib bernama Umamah binti Abil Ash” darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Muhammad Awsad

7.Isteri ketujuh Ali bin Abi Thalib bernama “Maulah binti Ja’far” darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Muhammad al Hanafiyah

8.Isteri kedelapan Ali bin Abi Thalib bernama “Ummu binti Urwah” darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Umul Hasan dan Ramlah Kubra

9.Isteri kesembilan Ali bin Abi Thalib bernama “Mahabba binti Amru’ul Qays darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Puteri wafat saat keci.


اللإمام على بن أبي طالب رضى الله عنه

ونسبه مشهوروكان رضى الله عنه يقول : الدنيا جيفة فمن أراد منها شيئ فليصر على مخالةالكلاب.  قلت والمراد بالدنيا مازاد على الحاجة الشرعية بخلاف ما دمت الضرورة أليهوذلك أن فصول الدنيا شهوات وأهل الشهوات كثيرولذالك ماروي زاهد قط فى محل مزاحمة  على الدنيا كماهو مشاهدوإنما سمي طالب الفضول كلب للدنيا  لتعلقا قلبه بها لان  الكلب مأخذ من التكلب وكل من عسر عليه فراق شهوته فهو كلبها فأفهم فماتوسع من توسع فى مأكل او ملبس لقلة ورعه,  والشارع لم يأمرنا بالتوسع  فى الشبهاتوكان رضي الله عنه  يعظم أهل الدين والمساكينوكان يصلى ليله ولا يهجع إلا يسيرا يقبض على لحيته ويتمامل تمامل السليم ويبكى بكاء الحزين حتى يصبحوكان رضي الله عنه  يخاطب الدنيا ويقول يا دنيا  غرى غيرى قد طلقتك ثلاثا عمرك قصير ومجلسك حقير وخطرك كبير أه أه من قلة الزاد وبعد السفر  ووحشةالطريقوكان رضي الله عنه  يقول أشد الاعمال ثلاثة : أعطاء الحق من نفسك  وذكرك الله على كل حال و مواساة الأخ فى المال.-1

وكان رضي الله عنه يقول لم يرض الحق تعالى من أهل القرأن إلا دهان فى دينه والسكوت على معاصيهوكان رضي الله عنه يقول إن مع كل إنسانا ملكين يحفظانه ممالم يقدر فإذاجاء القدر حليا بينه وإن الأجل جئت حصينة. ,كان ينشد زيقول :

حقيق بالتواضع من يموت   -ويكفى المرْء من دنياه  قوت.

فما لالمرء يصبح ذا هموم   - وحصر ليس تدركه النعوت.

فياهذا سترحل عن قريب     - إلى قوم كلامهم السكوت. -2

وكان رضي الله عنه يقول : أعلم الناس  بالله أشدهم  حبا وتعظيما لاهل لاإله إلا اللهقيل له مرة ألا نحرسك يا أمير المؤمنين فقال حارس كل امرئ اجله.

ولد علي بن أبى طالب رضي الله عنه سنة  601 ملادية.  وقال المصنف تنوير القلوب : ويليه علي ابن  أبي طالب كرم الله وجهه ومكث فى الخلافة أربلع سنين وتسعة أشهر وسبعة أياموعمره  رضي الله عنه 60 عاما وتوفى علي بن أبى طالب  رضي الله عنه سنة 661 ملادية.


Keterangan

Wafatnya Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah

Bagaimana fitnah wanita telah menimpakan sebuah keimanan seseorang, sehingga terbutakan hati olehnya.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran: 14).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ.

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita.” (Muttafaq ‘alaihi).

IBNU MULJAM DAN WANITA CANTIK BERPAHAM KHAWARIJ

Dan masyahur di kalangan umat ini tentang sebuah golongan yang banyak menimbulkan kekacaun negeri, mereka adalah golongan khawarij. Golongan ini muncul pertama kali pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam ketika dalam peristiwa pembagian harta ghanimah pada perang Hunain. Dan datanglah seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan langsung serta merta mengatakan, “Berbuat adillah hai Muhammad!!” Maka Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab, ” Dan celakalah, Siapa yang bisa berbuat adil, Selain keadilanku.”

Pesatnya paham ini ketika masa pemerintahan khalifah Ali radhiallahu ‘anhu ketika terjadi perang siffin. Mereka menyempal dari barisan pasukan Ali dengan alasan Ali telah berbuat maksiat kepada Allah Swt..

Setelah kejadian itu mereka meninggalkan bashrah menuju ke suatu daerah yang bernama Harura’. Sehingga kaum khawarij ini dinamakan juga dengan haruriyun/haruriyah. Kemudian Imam Ali memerangi mereka dalam perang An-Nahrawan, dan mereka berhasil dikalahkan.

Telah disebutkan oleh ibnu Faraj Al-Jauzi rahimahullah ta’ala dalam kitab Dzamulhawa :

Siapa yang tidak kenal dengan Pembunuh masyhur ini, dialah Abdurrahman ibnu Muljam sang pembunuh khalifah Ali radhiallahu ‘anhu.

Abdurrahman ibnu Muljam dulunya seorang ahlussunnah, ia hafidz Alquran dan  fasih dalam membaca  Alquran, dan taat menjalankan agama. Dia pernah di utus oleh khalifah Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu ke Mesir untuk mengajar  Alquran  pada penduduknya.

Diceritakan, suatu ketika Abdurrahman bin Muljam melihat wanita cantik dari Taim Ar-Rabbab yang biasa dipanggil Qatham. Ia merupakan wanita yang paling cantik dimasa itu, tetapi kedua orang tuanya berpaham khawarij. Ayah wanita tersebut telah terbunuh karena mengikuti paham khawarij pada perang An-Nahrawan.

Ketika Ibnu Muljam melihatnya, dia jatuh hati, dan sangat jatuh cinta padanya lalu melamarnya. Wanita ini mengatakan, “Aku tidak menikah denganmu kecuali dengan syarat mahar 3000 dinar dan membunuh Ali bin Abi Thalib”. Akhirnya, dengan cintanya yang membabi  buta, dia bersedia menikahinya dengan syarat mahar tersebut. Ketika telah berbulan madu dan bersua dengannya, dimalam itu, wanita ini berkata, “Hai! Kamu telah menyelesaikan (hajatmu). Pergilah!” 

Ia pun keluar dengan menyandang senjatanya, dan Qatham juga keluar. Lalu, Qatham memasangkan peci kepadanya, kemudian dia pergi ke masjid. Saat itu Ali bin Abi Thalib sedang mengimami shalat jamaah subuh di masjid tersebut dan setelah sujud terakhir langsung ditikam dengan pedang oleh  seorang pembunuh yang bernama Abdurraham bin Muljam. ... Oleh Golongan Abdurrahman Bin Muljam, Ali Bin Abi Thalib sudah dihukumi sebagai kafir.

Ada yang mengatakan Khalifah  Ali Bin Abi Thalib  ditusuk dengan sebilah pisau yang direndam Racun seharga 1000 dinar selama satu Minggu ketika itu, Oleh karenanya Ali Bin Abi Thalib masih bisa berwasiat kepada anaknya Hasan dan Husain. Mendengar wasiat tersebut Ibn Muljam berkata bahwa “Kau tak akan bertahan lama hidup sebab  pisau itu  aku rendam dengan Racun seharga 1000 dinar selama satu Minggu”.

Memang  hari dan tanggal malam itu sudah disepakati bersama dan hari yang ditunggu-tunggu oleh Pembesar berpaham khawarij untuk membunuh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Radliyallahu 'anhu dan Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan dan Sayyidina Amr bin Ash.

Dan Ibnu Muljam serta ada dua orang lainnya yang bersedia serta bertugas membunuh Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan dan Sayyidina Amru bin Ash Radliyallahu 'anhuma,  pada tempat yang berbeda, yang pada akhirnya Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan terluka dan selamat dari pembunuhan, Sayyidina Amr bin Ash selamat dari pembunuhan karena mincerit (sakit perut) hingga ia tdak keluar mengimami shalat subuh ketika itu, imam penggantinya yang terbunuh dan Khalifah Ali Bin Abi Thalib Radliyallahu 'anhu terbunuh.

Tentang hal ini (Mahar termahal & terkutuk), seorang penyair Arab pernah berkata,

لم أر مهرا ساقه ذو سماحة … كمهر قطام بيننا غير معجم

ثلاثة آلاف وعبد وقينة … وقتل علي بالحسام المصمم

فلا مهر أغلى من علي وإن غلا … ولافتك إلا دون فتك ابن ملجم

Aku tidak melihat mahar yang dibawa oleh orang yang punya kehormatan Seperti mahar Qatham yang sedemikian jelas tidak samar

Mahar 3000 dinar, hamba sahaya, biduanita

Dan membunuh ‘Ali dengan pedang yang tajam

Tidak ada mahar yang lebih mahal dari Ali meskipun berlebihan

Tidak ada kebengisan yang Melebihi kebengisan Ibnu Muljam

Artikel (Dzammul hawa (ذم الهوى) yang ditahqiq Musthafa Abdul Wahid.

Penikamnya (pembunuhnya) orang kafir bukan ? Atau (Beda mazhab saja). Dia adalah Abdurrahman ibn Muljam. Sosok yang menghabiskan waktu di siang hari dengan berpuasa, malam hari dengan qiyamul lail, dan konon hafal al-Qur'an. Dua Kawan Ibn Muljam lainnya ditugaskan membunuh Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan dan Sayyidina Amru bin Ash Radliyallahu 'anhuma, tetapi recana tersebut gagal.

Jika kedua shahabat ini lolos, maka tidak dengan Sang Pintu Ilmu. Beliau justru gugur di tangan pembunuh yang meneriakkan “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” sembari menikam tubuh menantu Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.

Ketika ditangkap, Abdurrahan Ibn Muljam berteriak meronta sembari mengutip firman Allah: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya.” (Al-Baqarah: 207).

Surat Al-Baqarah Ayat 207 berbunyia  :

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ 

Arab-Latin: Wa minan-nāsi may yasyrī nafsahubtigā`a marḍātillāh, wallāhu ra`ụfum bil-'ibād

Artinya: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya

Satu Islam – Ali bin Abi Thalib. Cukuplah kalau disebutkan bahwa dia adalah sepupu Nabi Suci Muhammad Saw. Sejak kelahirannya di Ka’bah, dia dibesarkan dan dididik langsung oleh Nabi Saw. Ali adalah lelaki pertama yang memeluk Islam. Ali adalah kembang, kebanggaan dan perisai Islam hingga akhir hayatnya.

Berikut adalah maqam (tempat, posisi, kedudukan, atau stasiun spiritual), narasi detik-detik kematian Ali yang cemerlang, yang kerap dibacakan di majelis menyambut malam ganjil Lailatul Qadar tanggal 19 dan 21 Ramadhan tahun 40H :

Narator : Berbicara tentang manusia, orang sudah seharusnya bicara tentang apa yang terjadi di akhir perjalanan manusia. Yaitu kematian. Dan soal kematian, fragmen Kesyahidan Amiril mu’minin Imam Ali merupakan manifestasi keimanan, kecintaan, akhlak yang agung, kemuliaan, kerinduan membara pada Sang Khalik.

Kalangan sejarawan Islam mengatakan bahwa fragmen Kesyahidan Imam Ali menjadi indah dalam sejarah kemanusian karena dia telah mengetahui detail ceritanya dari jauh hari. Rasul sendiri yang mengabarkan bahwa Imam Ali bakal syahid karena sebuah pukulan pedang beracun di bulan Ramadhan. Tapi Imam Ali tak pernah sedikitpun menunjukkan tanda meminta penangguhan atau menunjukkan gelagat enggan menerima suratan tragis itu. Padahal, sekiranya mau, dia bisa mengubah cerita akhir hidupnya.

Toh orang tahu Ali pernah menahan terbenamnya matahari dengan sebaris doa. Orang pun tahu kalau Rasul Suci akan mengorbankan apa saja, termasuk nyawanya, sekiranya Imam Ali yang meminta. Antara Rasul dan Ali ada ikatan kuat yang tak terpisahkan, bahkan oleh kematian. Imam Ali pernah berkata:

Imam Ali “Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku pun selalu menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti anak unta yang mengikuti induknya. Tiap hari aku dapatkan suatu hal baru dari akhlak beliau yag mulia, aku menerimanya serta langsung mengikutinya sebagai kewajiban yang diperintahkan.”

Narator : Rasul sendiri pernah bersabda: “Ali tak pernah ragu dalam melaksanakan perintahku dan selalu menantiku dalam segala sesuatu.”

Kata Rasul lagi: “Jika kalian ingin melihat keluasan ilmu Adam, kesalehan Nuh, kesetiaan Ibrahim, keterpesonaan Musa (saat menyaksikan Allah), pelayanan dan wara’ Isa, maka lihatlah pada wajah Ali.”

Ya, Ali yang disayang Rasul itu berhadapan dengan bayang-bayang kematian saat usianya masuk 63 tahun. Tapi Ali bukan sembarang lelaki. Dia menyambut kematiannya seperti pengantin yang menanti hari pernikahan. Inilah kisah kerinduan, kesyahduan, penantian kekasih demi menjumpai Sang Tambatan Hati, Allah swt.

Pada bulan Ramadhan tahun 40 Hijriah itu, setiap hari Imam Ali mendatangi anaknya untuk berbuka dan sahur bersama. Terkadang beliau mampir di rumah Imam Hasan, kemudian besoknya mendatangi Imam Husein, di hari ketiga mendatangi putrinya Zainab, dan di hari keempat berbuka dan bersahur di rumah putrinya Ummu Kalsum.

Hari itu adalah Jum’at yang cerah, tanggal 21 Ramadhan tahun 40 H. Di rumah Ummu Kaltsum di Kufah, di wilayah yang sekarang disebut sebagai Irak, Ali seperti merangkum sejarah dan perjuangan pahit getir para Nabi sejak Adam hingga Ibrahim di tanah Babilonia.

Pada malam 21 itu, Ummu Kalsum mendapat giliran berbuka bersama ayah tercintanya. Dia menyuguhkan menu berbuka dalam dua nampan, satu berisi roti kering dan lainnya berisi susu masam. Imam Ali menegurnya: “Bukankah kau sudah tahu bahwa aku selalu mengikuti putra pamanku Rasulullah yang tidak pernah makan sajian dalam dua nampan sepanjang hidupnya? Maka mohon angkatlah salah satunya. Barangsiapa yang makan dan minumnya enak di dunia ini maka perhitungannya akan lama kelak di hadapan Allah… .”

Ummu Kulsum menuturkan bahwa malam itu Imam Ali makan sangat sedikit dari roti kering yang kusuguhkan dan memperbanyak ucapan hamdalah dalam tiap suapnya. Selesai makan sedikit, Imam segera bangkit untuk melaksanakan shalat yang lama. Imam terus dalam keadaan rukuk, sujud, bermunajat, berdoa yang khusyu, dan sering-sering keluar rumah untuk melihat langit. Sekali di antaranya dia berujar: “Ya, ya…inilah malam yang dijanjikan kekasihku Rasulullah.”

Di malam itu, Ali sempat tertidur sejenak dan terbangun cepat.

Ummu Kaltsum, putri bungsu Fathimah az-Zahra ‘alayhis-salam itu, lantas menuturkan apa yang terjadi di detik-detik yang paling mempesona dari kehidupan ksatria langit, kekasih Allah dan Rasulullah ini sebagai berikut.

Ummu Kaltsum “Aku melihat ayahku shalat hingga tengah malam. Di serangkaian shalatnya, beliau sebentar-sebentar keluar rumah, menengok sejenak ke langit dan kembali lagi untuk shalat. Tangisannya lebih panjang dari biasanya. Rukuknya lebih lama, sujudnya lebih lama. Lantunan munajatnya pun lebih syahdu dari hari-hari biasanya.”

Narator : Imam Ali tenggelam dalam ibadah hingga menjelang subuh. Di sela-selanya, dia beberapa kali seperti berbicara pada dirinya sendiri:

“Sepertinya inilah malam yang dijanjikan kekasihku, Rasulullah.”

Ya Allah, Engkau tak pernah berbohong dan aku pun tidak akan mengkhianati-Mu. Inilah malam kematian yang Kau janjikan padaku.”

“Lailaha Illallah. Hukum sebab akibat senantiasa terjadi. Sebentar lagi ketetapan Allah akan diputuskan.”

Narator: Ummu Kaltsum hanya bisa berurai air mata. Kakeknya Rasulullah saw. Pernah mengatakan bahwa Ali akan Syahid dibunuh “saudara pembunuh onta suci Nabi Shaleh” pada malam Jum’at ke-10 akhir bulan Ramadhan. Imam Ali dan semua keluarga dekat Nabi tahu persis siapa orangnya : Abdurrahman Ibnu Muljam.

Nama Ibnu Muljam sebenarnya sudah lama dikenal oleh keluarga Nabi.

Suatu kali Kumayl bin Ziyad, sahabat dekat dan penyimpan rahasia Imam Ali, pernah menemani beliau menelusuri lorong-lorong Kufah di malam hari. Di tengah2 perjalanan, terdengar suara ayat Alquran dari masjid.

Kumayl berkata, “Ya Amirul Mu’minin, alangkah merdunya suara itu.”

Imam Ali menimpali, “Ya Kumayl, itulah suara orang (Abdurrahman bin Muljam) yang akan menebas pedangnya ke kepalaku di saat aku sedang shalat subuh.”

Narator: Ali sadar tak ada hukum yang bisa dilakukan untuk kejahatan yang belum dikerjakan. Dia juga tahu kematian adalah sesuatu yang menyeramkan tapi perhatian pada Tuhan akan melenyapkan semua ketakutan apapun di alam ini.

Malam itu, dalam perjalanan menuju Masjid Kufah, Imam Ali beberapa kali menengok ke langit.

Di mesjid Kufah, dia mendapati Ibnu Muljam tidur telungkup. Dia pun menasehatinya: “Innas sholata tanha ‘anil fahsyai wal munkar. Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan fasik dan munkar.

Yang disapa dan dinasehati membantu, tak kunjung beranjak.

Lalu Imam Ali berkata lirih: “Kau sepertinya bertekad mengerjakan sesuatu yg sangat berbahaya, sangat mengerikan. Kalau aku mau, akan kuceritakan padamu apa yang ada di balik bajumu itu.”

Narator : Imam Ali tahu di balik baju Ibnu Muljam, semoga Allah swt mengutuknya, tersimpan pedang beracun. Tapi dia tak mempedulikannya untuk sebuah alasan yang belum pernah didengar dunia.

Setelah adzan subuh berkumandang pada Jum’at, tanggal 21 Ramadhan 40H (31 Januari 661M), Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kembali keluar masjid, dan menengok ke fajar yang menyingsing. Kemudian dengan suara parau, beliau mengucapkan selamat berpisah kepada fajar:

Imam Ali ”Wahai Fajar.. sepanjang Hayat Ali……. Pernahkah engkau muncul dan mendapatkannya tertidur ??

Narator : Di mihrab, Ali memulai shalatnya seorang diri. Dia seperti sengaja memperpanjang rukuk dan sujudnya. Ibnu Muljam, seperti orang-orang di zaman itu, tahu persis betapa Ali

 tak pernah mempedulikan apapun saat shalat. Dia kemudian datang mendekat. Dan dari depan, dia mulai mengayunkan pukulan ke kepala Ali, tepat saat Ali ingin bangun dari sujud partamanya.

Darah lalu mengucur deras. Dahi Ali koyak. Janggutnya meneteskan darah. Tapi tak ada erangan dari mulut Ali. Justru pujian pada Tuhan.

Imam Ali ;“Bismillah, wa billah wa ‘ala millati Rasulillah…

Dengan suara melengking, Imam Ali kemudian berteriak: “Fuztu wa Rabbil Ka’bah…Demi Tuhan Ka’bah, sungguh aku telah berjaya.”

Seiring dengan suara Imam Ali, seluruh penduduk Kufah mendengar gelegar suara keras Jibril yang mengabarkan berita duka itu, hingga semua warga berhamburan keluar rumah untuk menuju masjid al Jaami Kufah.

Ummu Kalsum yang mendengar suara itu dari rumah sontak menjerit lirih: “Waaah Abataaah, Waaah Aliyaah” (Oooh Ayahku, Ooooh Aliku).

Yang pertama datang menyaksikan Imam Ali bercucuran darah adalah putra sulungnya, Hasan.

Imam Hasan menuturkan bahwa Imam Ali terus berusaha melengkapi rangkaian shalatnya sambil duduk. Badannya menggigil. Setelah salam, dia mengusapkan tanah sujud ke dahinya yang merekah sembari mengucapkan firman Allah dalam surat Thaha ayat 55:

۞ مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرٰى ۝٥٥

min-hâ khalaqnâkum wa fîhâ nu‘îdukum wa min-hâ nukhrijukum târatan ukhrâ

Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain.

Imam Ali “Dari tanah, kalian Kami ciptakan, dari tanah pula kalian Kami kembalikan dan bangkitkan.”

Narator : Semua kejadian disaksikan oleh seluruh putranya, terutama Hasan yang tak kuasa menahan airmata. Imam Ali meminta Hasan untuk mengimami jamaah shalat. Beliau mengikuti dari belakang dengan gerakan isyarat sambil terus membersihkan cucuran darah dari kening sucinya.

Seusia shalat, Hasan langsung kembali menengok ayahnya, didampingi Husain dan seluruh putra Ali yang lain.

Hasan : Duhai Ayahku, tak kuasa aku melihatmu begini…sungguh ini sangat menghancurkan hatiku. Berat sekali bagiku melihatmu seperti ini.

 Imam Ali membuka matanya lalu berkata: Wahai Anakku Hasan…jangan bersedih. Sebentar lagi aku tidak akan merasakan kegetiran apapun. Lihatlah itu, Kakekmu Muhammad al-Musthafa, Nenekmu Khadijah al-Kubra, Ibumu Fathimah az-Zahra, dan para bidadari berjejer-jejer, mereka menyambut kedatangan ayahmu, tegarkanlah dan riangkan hatimu.

Hasan kemudian meletakkan kepala ayahnya di pangkuannya untuk membersihkan darah yang tak berhenti mengucur. Tak lama berselang, Imam Ali pingsan dalam pelukan Hasan. Jerit tangis membahana ke seluruh arah. Hasan pun langsung menciumi wajah ayahnya demikian pula putra-putra Imam yang lain.

Derasnya airmata Hasan menyadarkan Imam Ali. Imam pun langsung bertanya: “Anakku Hasan, untuk apa tangisan ini? Jangan bersedih atas keadaan ayahmu. Apakah kau bersedih atas keadaanku padahal esok kau akan dibunuh dengan cara diracun dan adikmu Husain akan dibunuh dengan tebasan pedang. Lantas kalian semua akan menyusulku bersama kakek dan ibu kalian.”

Setelah kekacauan terjadi, salah seorang di antara khalayak belakangan masuk membawa Ibnu Muljam. Orang curiga dia lari menjauh dari mesjid dengan pedang berlumur darah sementara seluruh penduduk justru menuju masjid.

Kematian telah mendekati Ali. Rekahan di dahinya begitu dalam. Tapi musibah itu tak merusak karakter keadilan yang larut dalam darah dan dagingnya. Dia melarang orang membalas pada Ibnu Muljam.

Imam Ali “Aku tahu engkau akan membunuhku…Pasti…Tapi sesungguhnya aku masih berharap pada Allah adanya perubahan pada diri dan nasibmu.”

Narator ; Ibnu Muljam tak kuasa mendengar kalimat setinggi itu. Dia menangis.

Ibnu Muljam “Ya Amirul Mukminin, afa anta tunqidzhu man finnaar (apakah engkau bisa menolong orang yang sudah masuk neraka)?”

Narator : Ali menjawab dengan memerintahkan anak-anaknya mencari susu. Dia kehausan dan meminta mereka mempersilahkan Ibnu Muljam meminumnya lebih dahulu……………….sedangkan Imam meminum sisanya………. Inilah minuman susu terakhirnya

Imam Ali :”Wahai, putra-putra ‘Abdul Muthalib, sesungguhnya aku tidak ingin melihat kalian menumpahkan darah kaum Muslimin sambil berteriak “Amirul Mukmini telah dibunuh!” Ingatlah, jangan membunuh dengan alasan kematianku, kecuali atas pembunuhku. Tunggulah hingga aku mati oleh pukulannya ini. Kemudian pukullah dia dengan satu pukulan dan jangan rusakkan anggota-anggota badannya, karena aku telah mendengar Rasulullah Saw berkata, “Jauhkan memotong-motong anggota badan sekalipun terhadap anjing gila.

Narator : Imam Ali lahir di Ka’bah yang suci dan pada bulan yang suci, di mihrab yang suci dan dalam keadaan bersuci pula dia menyambut kematiannya. Negeri Kufah berduka. Rumah-rumah keluarga Nabi gelap selama beberapa malam. Inn Negerialillahi wa inna ilaihi rajiun.

Malam 21

Pada malam 21 Ramadhan itu keluarga Nabi Saw mengenakan busana hitam, karam dalam duka yang mendalam. Para malaikat dan segenap kekasih Allah meleleh dalam pilu yang menyayat. Malam itu begitu panjang dan melelahkan. Waktu seolah membeku dalam kebisuan, menolak untuk menerima takdir perpisahan. Pedang kesesatan dan kebodohan menyempurnakan kegelapan malam itu dengan sebilah kenistaan yang bercampur kebencian.

Sementara di sudut lain dari bumi, gerombolan orang pandir, pengkhianat kemanusiaan, penyulut api neraka yang paling mengerikan, pembenci keluarga Nabi Saw sedang berpesta pora.

Saat racun kian merasuki sekujur tubuh suci Imam Ali, kerinduannya pada Allah dan Rasul kian berkobar-kobar. Dia terlihat begitu pasrah, teduh, berparas pucat pasi, menerima nasib dalam kegairahan yang seutuhnya. Imam Ali menyambut perpisahan dengan dunia dalam rindu bercampur sedih, pilu bercampur riang, perasaan yang mengayun di antara perpisahan yang menyesakkan dan perjumpaan yang melegakan setelah perjalanan berliku yang menahun.

Manusia dan jin, binatang-binatang yang ada dilaut, burung-brung di angkasa, ikut merasakan kesedihan berpisah dengan Imam Ali yang senantiasa menjadi sumber kasih bagi mereka. Jibril berteriak keras memecah keheningan malam itu: “Ooooh, sungguh salah satu tiang petunjuk Allah telah roboh… satu lagi seorang pemberi peringatan yang suci pergi dari dunia yang fana ini!

 Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah Saw sedang berbicara tentang bulan Sya’ban yang dilanjutkan dengan penjelasan tentang keunggulan bulan Ramadhan dan ketinggian nilai ibadah di dalamnya, kemudian Imam Ali berdiri di hadapannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah amalan paling baik di bulan Ramadhan?” Rasul menjawab, “Wahai Abul Hasan, sebaik-baik amal di bulan ini ialah berpantang (menghindari) dari hal-hal yang diharamkan Allah.”

Tiba-tiba Rasul menangis

Amirul Mukminin bertanya lagi, “Apakah yang membuatmu menangis, Ya Rasulullah?”

Baginda Nabi menjawab, “Aku menangis karena apa yang akan menimpamu di bulan itu. Sekarang aku seakan-akan menyaksikanmu menunaikan shalat untuk Tuhanmu manakala orang paling sial dari masa lalu dan masa kini, adik dari pembunuh onta Nabi Saleh, memedang dahimu hingga janggutmu memerah berlumuran darah.”

Lalu Amirul Mukminin bertanya, “Ya Rasulullah, apakah saat itu aku dalam keadaan selamat dalam urusan agamaku?”

Rasulullah menjawab, “Tentu saat itu engkau berhasil dalam urusan agamamu.” Lantas Rasulullah melanjutkan, “Hai Ali, barangsiapa yang membunuhmu berarti dia telah membunuhku; dan barangsiapa yang membencimu berarti dia telah membenciku; dan barangsiapa yang mencacimu berarti dia telah mencaciku, karena engkau adalah bagian dari diriku, ruhmu dari ruhku dan tanah penciptaanmu dari tanah penciptaanku … Hai Ali, engkau adalah washiku, ayah dari keturunanku, suami dari putriku dan khalifahku … Demi Dzat yang mengutusku sebagai Nabi dan menjadikanku sebaik-baiknya makhluk, engkau adalah hujjah Allah bagi segenap makhlukNya.

Di hari-hari menjelang wafatnya, Imam Ali sering memberi kabar kematiannya kepada khalayak dengan bahasa isyarat yang mudah dimengerti. Dia juga sempat berdoa meminta kepada Allah dengan membuka tudung kepalanya sambil berujar, “Ya Allah, aku telah jenuh dengan mereka dan mereka pun sudah jenuh padaku, aku telah bosan dengan mereka dan merekapun sudah bosan denganku … tidakkah sebaiknya ada perpisahan?

Referensi  : 

(1).Artikel “Kekhususan  Fatimah Azzahra yang menurunkan Nasab Rasulullah” Ahlul Bait diposting  tgl 12/12/2013

(2).Artikel “Nasab AHLU-BAIT Nabi dari Keluarga Alawiyin ’// https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com/2012/09/nasab-ahlu-bait-nabi-dari-keluarga.html

(3).You tobe “KISAH UBAIDILLAH BIN ALI BIN ABI THALIB RA | putra imam ali yang terlupakan dalam sejarah” https://www.youtube.com/watch?v=akNqd0yUqeo

(4).Kamus Arab Indonesia oleh Mahmud Yunus hal 181.

(5).Artikel ahlulbaitrasulullah.blogspot.com › Fiqih  tgl.10 Maret 2013)

(6).Artikel www.KisahMuslim.com /Read more http://kisahmuslim.com/3306-sang-pembunuh-imam-ali.html

(7) 1.Kitab -  الطبقات الكبرى  الجزء الأول   -19

(8) 2.Kitab -  الطبقات الكبرى  الجزء الأول   -21

(9)-Kitab  نور اليقين فى سيرة المرسلين   -15

(10)-Kitab   الكتاب الفقية نهاية الزين         -12

(11).KitabTanwirul Qulub fi Mua’milati allamul Guyub yang ditulis oleh Syekh Muhammad Amin Kurdi halaman 525-527

(12). Kitab Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 31

(13). Artekal Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ  M R NaufaL Senin, 04 Agustus 2014)

(14).Artikel “Kekhususan  Fatimah Azzahra yang menurunkan Nasab Rasulullah” Ahlul Bait diposting  tgl 12/12/2013

(16).Ar Risalah Bahjatul 'Abid lil Jama'ah Thareqat  al Junaidiyah

(17). Hasil Mu'tamar ke IX tahun 2000

(18). Kitab Kasaf al Mahjub ..... Syekh  Ali bin Usman al Jullabi al Hujwir

(19). Kitab Inseklopedi Tasawuf................................

(20). Kitab Tanbihul Mugtarin.....Kr. Abd. Wahhab asy Sya'rani

(21). Makalah Mengenal Thareqat Panduan Pemula mengenal jalan menuju Allah Ta'ala

(22). Hasil Informan (wawancara dengan keluarga, murid dan guru TQ al Junaidiyah) 2006

(23). Artikel Perkembanganthariqatdi Indonesia” oleh digilip uinsby (Universitas Islam Negeri Surabaya)

(24). Artikel "Berkeislaman dan Kebudayaan oleh Alif.ID Redaksi 1 Desember 2017




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...