BAB I
PENDAHULUAN
PERKEMBANGAN THARIQAT SUFI AL JUNAIDIYYAH
AL-RISALAH BAHJATUL ‘ABIID LILJAMA'AH AL THARIQAT AL JUNAIDIYYAH
الرسالة بهجة العبيد للجماعة الطريقة الجنيدية
DAFTAR
ISI : BAB. 1
A..PERKEMBANGAN
THARIQAT AL JUNAIDIYAH DI INDONESIA
B.
DASAR-DASAR TENTANG ILMU TASAWUF AL JUNAID AL BAGDADY
C.
PEENGELOMPOKAN ASAL MULA CABANG NAMA-NAMA THARIQAT SUFI SEDUNIA
D.
BERGABUNGNYA THARIQAT AL JUNAIDIYAH DENGAN JAM'IYAH AHLI AL THARIQAT MU'TABARAH
AN NAHDLIYAH INDONESIA
E.
PESERTA MU'TAMAR JAM'IYAH AHLI AL THARIQAT MU'TABARAH AN NAHDLIYAH INDONESIA
KE-IX TAHUN 2000
F.
NAMA-NAMA THARIQAT SUFI DAN JUMLAH THARIQAT AL MU’TABARAH AN-NAHDHIYAH INDOESIA
HASIL MU’TAMAR KE-IX DARI TGL.26-28 FEBRUARI 2000M DI PEKALONGAN JAWA TENGAH
G. 81
MACAM JENIS THARIQAT SUFI MU’TABARAH DI SELURUH DUNIA
H.
MACAM-MACAM JENIS THARIQAT SUFI DI DUNIA ISLAM MODEREN
I.
DUA TOKOH PENGEMBANG THARIQAT AL JUNAIDIYAH DI INDONESIA
J.
KH.MUHAMMAD QURTUBY BIN KHALID KALIMANTAN (1918-2002M/ 1423H)
K.
SANAD TALQIN DZIKIR THARIQAT AL
JUNAIDIYAH
L.
HATI-HATI TITIK LEMAH SANAD SILSILAH
THARIQAT AL JUNAIDIYAH
M.
BIOGRAFI SANAD SILSILAH AL THARIQAT AL
QAUM AL JUNAIDIYAH
Silsilah
TJ yang ke Satu
01.
ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA
Silsilah
TJ yang ke Dua
02.
MALAIKAT JIBRIL ALAIHIS SALA
Silsilah
TJ yang Ketiga
03.MUHAMMAD
SAW IBN ABDULLAH
MUHAMMAD
SAW, BELIAU MANUSIA YANG TERMULIA DAN PEMIMPIN TERTINGGI DAN SEORANG RAJA
NEGERI ARAB
Rakam
jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (25 th) dengan Sayyidah Siti Khadijah (40
th) binti Khuwailid ibn As’ad mulai tahun (595–620M).
Isteri-isteri
Rasulullah Saw ibn Abdullah ibn Abdul Muthalib setelah Khadijah isteri
pertamanya Wafat :
01.
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Saudah binti Zam’ah
al-Amiriyah ibn Qais,
02.
Rakam jejak Pernikahan Nabi Muhammad Saw dimulai tahun
(620–632M) dengan Sayyidah Siti Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq.
03.
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Hafshah binti Umar ibn
Khatthab.
04.
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Siti Zainab binti
Khuzaimah al Hilaliyah, mulai tahun (626–627 Masihi).
05.
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Ummu Salamah (Hindun
binti Abi Umayyah)
06.
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw
dengan Sayyidah Zainab binti Jahsy (wanita cantik-bernasab mulia).
07.
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Mariatul Qibtiyah
binti Syama’un dan Ibunya seorang berkebangsaan Romawi.
08.
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (58 th) dengan Sayyidah Ummu Habibah
(Ramlah) binti Abi Sufyan ibn Harb.
09.
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Juwairiyah binti
al-Harits ibn Abi al-Dhirar al-Huza’i.
10.
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Shafiyah (17thn) binti
Huyay ibn Akhtab, mulai tahun (628–632M).
11.
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw
dengan Sayyidah Maimunah binti Harits, mulai tahun (629–632M)
12.
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Raihanah binti Zaid,
mulai tahun 627–631M).
Silsilah
TJ yang ke Empat
04.KHALFAH ALI
IBN ABI THALIB
01.
Perkawinan Sayyidah Fathimah Azzahra dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib
KHALFAH ALI
IBN ABI THALIB
Wafatnya
Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah
IBNU
MULJAM DAN WANITA CANTIK BERPAHAM KHAWARIJ
BAB I
PENDAHULUAN
PERKEMBANGAN THARIQAT SUFI AL JUNAIDIYYAH
AL-RISALAH BAHJATUL ‘ABIID LILJAMA'AH AL THARIQAT AL JUNAIDIYYAH
الرسالة بهجة العبيد للجماعة الطريقة الجنيدية
A. PERKEMBANGAN THARIQAT AL
JUNAIDIYAH DI INDONESIA
Al Junadiyah adalah nama sebuah
Thariqat Sufi yang dinisbahkan yang dinisbahkan kepada Syekh dan Imam Al Junaid al Bagdady. Orang-orang
yang mengikuti dan mengamalkan thariqat al Junaid tetapi sesudah Imam al Junaid
wafat, maka orang-orang itu dinamakan "Pengikut thariqat al
Junaidiyah." Thariqat al Junaidiyah disebut juga thariqat al Qaum,
tharikat ini dibawa masuk ke Indonesia KH. Kasypul Anwar Firdaus bin Muhammad
Shalih sebelum tentara Jepang masuk ke Indonesia.
Dan dikatakan orang bahwa KH.
Kasypul Anwar Firdaus mengambil thariqat Junaidiyah (thariqat al Qaum) tahun
1935 Masihi /tahun 1335 Hijriyah dari seorang Syekh dan Sayyid Umar Ba Junaidi
asal Negeri al Magribi sehabis menunaikan ibadah Haji. Tempat pengambilan
Bay'at dan Talqin Dzikir di depan Ka'bah Baitullah.
Istilah al Junaidiyah adalah nama
sebuah aliran thariqat Sufi untuk pengikut-pengikut Abu Qasin al Junaid setelah
beliau wafat. Beliau seorang pemimpin semua aliran thariqat Sufi. Pada masanya
dijuluki sebagai "TAWUS AL ULAMA" atau Merak para Ulaama. Merak
adalah nama seekor burung yang
sangat cantik, indah, unik sangat
mahal harganya dan sangat sulit dicari sehingga ia ditasyabbuhkan keseekor burung Merak.
Abu Qasim al Junaid al Bagdadi adalah pemimpin mazhab ini dan imam dari
semua para Sufi. Ada yang menyebutnya
pemimpin sufi Mazhab Irak. Ia menjadi tokoh penting dikalangan para Sufi di
Bagdad dan menjadi poros dalam sejarah tasawuf awal. Istilah al Junaidiyah
adalah menunjukkan nisbah yang kuat bahwa al Junaid di pandang tokoh kunci dalam aliran-aliran tasawuf dan terekat sufi yang
berkembang sesudahnya.
Berdasarkan basis
penyebarannya al Junaidiyah merupakan
sufisme aliran tarekat Mesopotamia yang berpusat di Bagdad, daerah
penyebarannya meliputi Syiria, Mesir
masuk ke Iran hingga masuk ke Indonesia
(pulau Kalimantan). Alur-alur penyampaiannya
bermula dari Syekh Ma’ruf al Karkhi,
menuju Sirri as Saqati, al Junaid
al Bagdadi terus ke Imam as Syibli dan
Qadli Ruwaim. Qadli Ruwaim terus hingga ke Imam as Sya'rani dan Imam as Syibli
terus ke Imam Qusyairi hingga Syekh
Muhammad az Zahidy al Wakhshi w.936H. Hal ini dapat dilihat
dari Silsilah tarekat al Junaidiyah itu sendiri.
Mesopotamia adalah tradisi
yang paling dekat dengan
sufisme Arab. Dijumpai ada dua aliran
utama yang konsisten dengan tradisial
Junaidiyah yakni aliran Suhrawardiyah dan aliran Rifa’iyah.
Imam Al Junaid
Tradisi Junadiyah
banyak dianut Kaum
Sufi yang hidup sesudah Imam al
Junaid, dan Imam al Sya’rani
pengarang Kitab Anwar al
Qudsiyah memuji jalan al Junaid, sebab menurutnya,
tradisi Junaidiyah memenuhi
persyaratan hukum dan
diterima di dunia Islam. Ini
memungkinkan bahwa salah satunya
karena tasawuf aliran
al Junaidiyah ini mengikuti ajaran tasawuf Syekh al Junaid sendiri.
Ajaran Tasawuf Syekh al Junaid
bertolak dari dasar Islam ( al Qur’an
dan al Hadis) dan bertumpu pada penegakkan
sya’riat secara konsisten.
Hal ini tampak jelas
dalam kehidupan dan pelajaran –pelajaran yang diberikan Syekh al Junaid kepada
murid-muridnya.
Imam Abdul Wahhab al Sya’rani
dalam kitabnya Tanbihu al Mugtarin mengatakan
bahwa Abu Qasim al Junaid al
Bagdadi berkata
قال
الشيخ الإمام أبو القاسم
الجنيد البغدادى : مذهبنا هذا مقيد
بأصول الكتاب والسنة, ويقول
أيضا : من لم
يحفظ القرأن ولم يكتب
الحديث لا يقتدى
به هذا فى
هذا الأمر لأن
هذا مقيد بالكتاب
والسنة.
Artinya : Telah berkata Syekh Imam
Abu Qasim Al Junaid al Bagdadi, :"Aliran Mazhab kami ini, telah dikat kuat
dengan kitab al Qur'an dan al Sunnah
Nabi Saw. Dan dikatakannya pula " Barang siapa yang tidak memelihara al
Qur'an dan dan tidak menulis al hadis
Nabi Saw, maka jalan ajaran tidak boleh diikuti dalam perkara (tarekat) sebab
mazhab ini diikat oleh al Qur'an dan al
Sunnah.
Berkata Imam Abdul Wahhab al
Sya’rani dalam kitabnya "MADARIJUS
SALIKIN" Imam Junaid al Bagdady berkata :
كان
الجنيد يقول : من علامة
صدق المريد عدم
ميله الى غير طريقتى
وإذا أراد الله بمريد
خيرا أوقعه إلى الصوفية
ومنعه صحبة الفقهاء وأهل
الجدال.
Artinya : Telah berkata Syekh Imam
Abu Qasim Al Junaid al Bagdadi, :"Sebahagian dari tanda benarnya seorang
murid itu, ketiadaan cendrung hatinya selain pada jalanku. Apabila Allah
menghendaki akan seorang murid akan kebaikan niscaya menjatuhkan hatinya bersahabat
orang sufi dan menegah bersahabat dengan fuqaha dan orang suka berdebat".
KH.Kasyful Anwar Firdaus
B. DASAR-DASAR TENTANG ILMU TASAWUF
AL JUNAID AL BAGDADY
Adapun dasar-dasar pemikiran al
Junaid al Bagdadi tentang tasawuf adalah sebagai berikut :
Pertama : Seorang Sufi harus meninggalkan
kelakuan dan sifat-sifat yang buruk dan menjalankan budi pekerti yang baik,
sesuai dengan ajaran-ajaran tasawuf yang selalu menganjurkan sifat-sifat baik
dan meninggalkan budi pekerti yang jelek.
Kedua : Ajaran tasawuf adalah
ajaran-ajaran yang dapat memurnikan hati manusia dan menganjurkan hubungan baik
dengan mahluk lainnya. Ajaran tasawuf selalu mengajarkan untuk meningkatkan
sifat-sifat alamiyah yang bisa merusak kesucian jiwa, menahan manusia dari
godaan jasmani, mengambil sifat-sifat ruhani, mengingatkan diri pada ilmu
hakekat, dan mengingat Allah Swt dan Rasul Saw.
Ketiga : Memalingkan perhatian dari urusan duniawi
kepada urusan ukhrawi. Bagi orang beriman meninggalkan pergaulan dari sesama
manusia masih lebih mudah dan berpaling kepada Allah sulit.Ternyata berpaling
dari nafsu lebih sulit lagi. Untuk itu melawan nafsu adalah sangat penting
untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam hal ini, Syekh Hujwiri mengutip
bahwa al Junaid pernah ditanya, "Apakah persatuan dengan Tuhan ?" Dia
menjawab, "Meniadakan hawa nafsu,"karena di antara semua tindakan
ibadah yang diridhai Tuhan, tiada yang lebih besar nilainya daripada
menundukkan hawa nafsu. Menghancurkan gunung lebih mudah bagi seorang manusia
dari pada menundukkan hawa nafsunya."
Keempat : Manusia harus berpegang teguh kepada tauhid, termasuk dalam bertasawuf. Arti tauhid menurut Syekh al Junaid adalah mengesakan Allah Swt dengan sesempurna –Nya. Bahwa sesungguhnya Allah Swt itu esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak berbilang, berjumlah dan tidak pula tersusun, dan tak satupun yang menyerupai Nya. Dia Maha Mendengar, Dia Maha Melihat dan Maha Tunggal ………… dan seterusnya.
a.Melajimkan dzikir disertai muraqabah
bil batin bersama kesadaran yang penuh.
b.Mempertahankan tingkat kesadaran/
ketenangan (Najwan) yang tinggi.
c.Selalu melaksanakan Syari’at secara tepat dan ketat.
Tasawuf bagi al Junaid, tidak lain adalah budi pekerti yang baik dan meninggalkan budi
pekerti yang buruk. Baik dan
buruknya sesuatu diukur
dengan syari’at, karenanya tasawuf harus berdasarkan Syari’at.
Dokrin ini berlaku
dikalangan mazhab aliran
tarekat al Junaidiyah.
Junaidiyah juga
menganut pandangan tentang
kemurnian hati, menekan hawa
nafsu jasmani dan berpegang
pada ilmu hakekat.
Hal ini dirujuk
dari pandangan Syekh al Junaid
yang menyatakan bahwa
tasawuf adalah memurnikan hati dalam
berhubungan dengan makhluk lain, meninggalkan sifat alamiah, menekan
sifat-sifat buruk manusia, menghindari godaan
jasmani, mengambil
sifat-sifat ruhani, mengikat
diri pada ilmu
hakekat, selalu dzikrullah mengikuti
sunnah Rasulullah.
Junaidiyah mengajarkan bahwa segala
jalan yang dilalui para Sufi seluruhnya tertutup kecuali jalan yang telah
ditetapkan Allah melalui jalan Rasulnya. Dengan kata lain, bahwa mazhab tasawuf
aliran tarekat Junaidiyah memegang teguh ajaran-ajaran yang berdasarkan pada Al
Qur,an dan Sunnah Rasulullah Saw dalam mewujudkan segala keseimbangan antara
lahir dan batin, antara hakekat dan syari’at, antara ilmu dan amal saleh.
Bagi Junaidiyah, tasawuf yang
meninggalkan syari’at adalah tercela dan tidak bisa diikuti. Pada masa Syekh al
Junaid sudah ada kalangan tertentu dalam lingkungan Sufi yang bertingkah laku
tidak mengikuti syari’at, karena mengganggap dirinya sebagai sufi yang sudah
sampai pada maqam yang tertinggi dan tidak memerlukan syari’at lagi. Ketika
masalah ini ditanyakan kepada Syekh al Junaid, ia menyatakan bahwa orang yang
berbuat zina dan mencuri lebih baik dari pada orang-orang yang berbuat
demikian. Karena itu, Syekh al Junaid menganggap amat mendasar bahwa sufi sejak
menempuh tingkat permulaan sampai
tingkat tertinggi, tetep berpegangteguh kepada al Qur’an dan Sunnah Rasulullah
Saw.
Bagi Junaidiyah, tasawuf yang
meninggalkan syari’at adalah tercela dan tidak bisa diikuti. Pada masa Syekh al
Junaid sudah ada kalangan tertentu dalam lingkungan Sufi yang bertingkah laku
tidak mengikuti syari’at, karena mengganggap dirinya sebagai sufi yang sudah
sampai pada maqam yang tertinggi dan tidak memerlukan syari’at lagi. Ketika
masalah ini ditanyakan kepada Syekh al Junaid, ia menyatakan bahwa orang yang
berbuat zina dan mencuri lebih baik dari pada orang-orang yang berbuat
demikian. Karena itu, Syekh al Junaid menganggap amat mendasar bahwa sufi sejak
menempuh tingkat permulaan sampai
tingkat tertinggi, tetep berpegangteguh kepada al Qur’an dan Sunnah Rasulullah
Saw yang berbuat demikian. Karena itu, Syekh al Junaid menganggap amat mendasar
bahwa sufi sejak menempuh tingkat
permulaan sampai tingkat tertinggi, tetep berpegangteguh kepada al Qur’an
dan Sunnah Rasulullah Saw
Kalangan Junaidiyah juga berpegang
teguh pada pandangan al Junaid yang mengatakan bahwa “ Amaliah seorang Sufi
harus melaksanakan tiga rukun amal :
- Melajimkan dzikir yang tidak pernah berhenti bersama himmah dan kesadaran yang penuh.
- Mempertahankan tingkat kegairahan (Wajd) yang tinggi.
- Selalu melaksanakan Syari’at secara tepat dan ketat.
C. PEENGELOMPOKAN ASAL MULA CABANG NAMA-NAMA THARIQAT SUFI SEDUNIA
Adapun semua jenis thariqat sufi dapat di kelompokkan dari asal mula Cabang Nama-Nama Thariqat Sufi di seluruh dunia ISLAM
Dikutip dari Artikel Berkeislaman
dan Kebudayaan menyatakan bahhwa "Thariqat sufi sangat banyak jumlahnya.
Mari kita mengenal mereka secara mendalam. Namun terlebih dahulu, lihat dan
baca dulu seratusan nama Thariqat sufi di bawah ini. Penjelasan lebih lanjut
hadir di ngaji berikutnya (1) :
1. Thariqat
al-Ibâhiyyah
2. Thariqat
al-ittihâdiyyah
3. Thariqat
al-Ahmadiyyah atau Badawiyah: Thariqat syaikh Badawi, (w. 1276 M), mempunyai
beberapa cabang, yaitu :
• Thariqat
as-Syannawiyyah
• Thariqat
al-Marâziqah
• Thariqat
al-Kannâsiyyah
• Thariqat
al-Inbâbiyyah
• Thariqat
al-Humûdiyyah
• Thariqat
al-Munâfiyyah
• Thariqat
as-Salamiyyah
• Thariqat
al-Halbiyyah
• Thariqat
az-Zâhidiyyah
• Thariqat
as-Syu’aibiyyah
• Thariqat at-Tasqiyâniya
• Thariqat
al-‘Arabiyyah
• Thariqat
as-Sathuwihiyyah
• Thariqat
al-Bandâriyyah
• Thariqat
al-Musallimiyyah atau Thariqat Sarnabalillah
• Dan
Thariqat Bayumiyyah.
4.Thariqat
al-Idrisiyyah: cabang dari Thariqat al-Khâdhirîyah Daerah ‘Ashir
5.Thariqat
al-Adhamiyyah: dinisbatkan pada Syaikh IbRAhim bin Adham
6. Thariqat
al-Isma’îliyyah: Thariqat Daerah
Qordofah
7.Thariqat
al-Isyrâqîyyah: mengikuti Thariqat
Sukhrawardiyah al-Halbî, nama lengkapnya Syihabuddin Yahya bin Habsyi
bin Amirqi as-SuhRAwardi al-îsyrâqîyyah dijuluki as-Suhrâwardi al-Maqtul.
8.Thariqat
al-AsRAfiyyah: cabang dari Thariqat Syadziliyah di Turki (Abdullah ar-Rumi)
9. Thariqat
al-I’ti basyiyyah: cabang dari Thariqat Khalwatiyah
10.Thariqat
ightisyâsyiyyah: cabang dari Thariqat Kubrâwiyah di Khurosan
11.Thariqat
Akbariyyah: Thariqat Hâtimiyyah
12.Thariqat
‘Amirul Ghunyah: cabang Hâtimiyah dari Thariqat
Idrisiyyah
13.Thariqat
al-Ummi Sananiyyah: Thariqat Sananiyyah
14.Thariqat
al-Awyasiyyah: dinisbatkan kepada Uwais al-Qorni
15.Thariqat
al-Bâbâiyyah
16.Thariqat
al-Buhuriyyah
17.Thariqat
al-Burâqiyyah
18.Thariqat
al-Burhaniyyah atau Thariqat
al-Burhamiyyah atau Dasuqiyah, cabangnya Thariqat al-Sahawiyah dan
Thariqat al-Syarâbanah
19.Thariqat
al-Basthâmiyyah atau al-Thaifuriyyah: dinisbatkn pada syaikh Abi Yazid Thaifur
al-Busthami
20.Thariqat
al-Bakriyyah: dari mesir cabangnya Thariqat
al-Qâdiriyah dan Thariqat
al-Khalwatiyyah
21.Thariqat
al-Bukâiyyah: keturunan sudan berbasis Qâdiriyah, dan memiliki dua cabang yaitu
Fadhliyah dan Saidiyah al-Banawah cabang dari Thariqat al-Qâdiriyah
22.Thariqat
al-Bunuhiyah: Thariqat Maghribiyah (maroko)
23.Thariqat
al-Bairiyah: Thariqat dari jalan Qiliqiyah
24. Thariqat
al-Bairuhajat: Thariqat Afghoniyah dari pengikut al-Anshori al-Harowi
25. Thariqat
al-Byromiyah: pendirinya adalah haji Byrom keturunan Turki dari Thariqat
al-Shafawiyah, terpecah menjadi:
• al-Hamzawiyah
• al-Syaikhiyah
• al-Hammatiyah
26.Thariqat
al-Bayumiyah: cabang dari al-Ahmadiyah
27.Thariqat
al-Bataiyyah: Thariqat Tunisiyah maroko
28.Thariqat
al-Tijaniyah: Thariqat jazariyah maghribiyah tersebar hingga ke sudan
29.Thariqat
al-Tasyasyatiyah: Thariqat india, afganistan
30. Thariqat
al-Jabawiyah: Thariqat al-Sa’diyah
31.Thariqat
al-Jarahiyah: cabang Turki dari Thariqat al-Khalwatiyah
32.Thariqat
al-Jazuliyah: cabang Thariqat al-Syadziliyah, diantaranya adalah cabang:
• al-Darqowah
• al-Hammadasyah
• al-AiSAWiyah
• al-Syarqowah
• al-Thaibiyah
33.Thariqat
al-Jalalah: cabang Thariqat al-Qâdiriyah dalam maghrib maroko
34.Thariqat
al-Jalaliyah al-Najariyah: cabang Thariqat al-Suhrâwardiyah, Daerah india
dinisbatkan kepada syaikh Makhdum Jihaniyan, w. 1383 M.)
35. Thariqat
al-Jamaliyah: cabang farisy dari Thariqat al-Sahrurodiyah, pendirinya adalah
Ardestani (alm) keturunan ke-15 masehi. Dan juga Thariqat al-Jamaliyah yaitu
Thariqat Turki yang bertempat di Istanbul
36. Thariqat
al-Jalwatiyah: cabang Turki Shofwiyah, cabangnya adalah:
• Thariqat
al-Hasyimiyah
• al-Rusyaniyah
(Kalsyaniyah)
• al-Fana’iyah
• al-Hudza’iyah
dinisabtkan kepada syaikh Junaid
37. Thariqat al-Junaidiyah: keturunan
Junaid dan cabangnya adalah:
• Thariqat
al-Khawajikan
• al-Kubrâwiyah
• al-Qâdiriyah
38.Thariqat
al-Hatimiyah: keturunan ibnu arâby (Akbariyah)
39.Thariqat
al-Habibiyah:
cabang dari Thariqat al-Syadiliyah
40. Thariqat
al-Haririyah: cabang dari Thariqat ar-Rifaiyyah
41.Thariqat
al-Hafnawiyah: cabang dari Thariqat al-Khalwatiyah (wafat 1767 M.)
42.Thariqat
al-Hakimiyah: dinisbatkan kepada imam hakim at-Tîrmîdzi
43.Thariqat
al-Hallajiyah: dinisbatkan kepada al-Hallaj
44.Thariqat
al-Hamadasyiyah: cabang maghroby dari Thariqat al-Jazulawiyah yang mempunyai
cabang:
• Thariqat
al-Daghwaghiyah
• Thariqat
al-Shadaqiyah
• Thariqat
al-RAbahiyah
• Thariqat
al-Qasimiyah
45. Thariqat
al-Hamzawiyah: gabungan Thariqat dari Thariqat al-Biramiyah dan Thariqat
al-Malamiyah
46. Thariqat
al-Hanshaliyah: Thariqat bangsa maghRAbiyah (Maroko)
47. Thariqat
al-Haidariyah: cabang dari Thariqat al-Qondariyah (Paris atau Prancis)
48. Thariqat
al-Khâdiriyah atau Khidriyah: Thariqat yang dinisbatkan pada ibnu Dabbagh,
cabangnya:
• al-Murghaniyyah
• al-Idrisiyyah
• al-Sanusiyyah.
49. Thariqat
al-KhaiRAziyah: dinisbatkan pada Abi Sa’id al-Khiroz
50. Thariqat
al-Khafifiyah: Ibnu Khofif as-Syirozi
51. Thariqat
al-Khafiyah: nama laqab dari Thariqat an-Naqsyabandiyah di negara china dan
Turkistan.
52. Thariqat
al-Khalwatiyyah: cabang Thariqat Sukhrawardiyyah di Khurasan (Iran) cabang yang
di Turki adalah:
• Sarâhiyah
Ightibasyiyah as-Sayaqiyah
• al-Niy
aziyah
• al-Sunbûliyah
• al-Syamsiyyah
• al-Kalfaniyyah
• as-Syuja’iyah
Cabang di Mesir adalah:
• al-Dha’ifiyyah
• al-Hafnuwiyyah
• as-Saba’iyah
• as-Shawiyah
• ad-Dardiyah
• al-mughsiyah
• an-Naubah
• al-Hîjaz
• al-Khalîlyyah,
di Tunisia
• al-Khumûsiyyah al-Khawâjâkân di Iran
merupakan cabang Thariqat al-Junaidiyah, di Daerah Turkinistan disebut al-Yusûwiyah
dinisbatkan pada syaikh Yusuf al-Hamdzânî
• ad-Darqâwah
cabang Thariqat al-Jazûliyyah, Thariqat ad-Darqawah memiliki cabang:
• al-Bauzîdiyah
al-Kitâniyyah
• al-hîrâqiyyah
•
53. Thariqat
al-Khilyaliyah
54. Thariqat
al-Khumusiyah
55. Thariqat
al-Khâwajakân
56. Thariqat
al-Khowâthoriyyah
57. Thariqat
al-Dardiriyah
58. Thariqat
al-Darqowah
59. Thariqat
ad-Dasuqiyah: Burhaniyah
60. Thariqat
ad-Dahriyah: berkembang di negara Yaman, China dan Turki
61. Thariqat
ad-Dahabiyah: sebutan Thariqat al-Kubrowiyah di Paris atau Prancis
62. Thariqat
ar-Rohhâliyyah
63. Thariqat
ar-Rohmâniyyah: cabang kholwatî.
64. Thariqat
ar-Rosûli Syâhiyyah di India
65. Thariqat
ar-Rasyidiyah: cabang Thariqat al-Yusufiyyah.
66. Thariqat
ar-Rifa’iyyah: cabang dari Thariqat ini adalah:
• Thariqat
as-Suriyah
• al-Haririyah
• as-Sa’diyah
• as-Siyadiyah
sedangkan di Mesir cabangnya
bernama:
• Thariqat
al-Baziyah
• al-Malikiyah
• Thariqat
al-Habibiyah.
67. Thariqat
ar-Rukniyah: cabang dari Thariqat al-KubRawiyah berkembang di IRAq dinisbatkan
kepada (‘ala’ ad-Daulah as-Samnani (w. 1336 M))
68. Thariqat
ar-RAusyiniyah: cabang Thariqat Khalwatiyyah berkembang di Mesir dan Turqi,
dinisbatkan pada Syaikh al-Kalsyâni 1553 M (cabang Thariqat as-Sukhrawardiyah).
69. Thariqat
ar-Rumiyah atau Thariqat Asrofiyyah
70. Thariqat
az-Zarruqiyah: cabang Iran dari Thariqat as-Syadzili dinisbatkan pada Syaikh
Zaruq
71. Thariqat
az-Ziyaniyah: cabang maghrobi dari Thariqat as-Syadzili
72. Thariqat
az-Zainiyah: cabang Thariqat as-Suhrowardiyyah di Turki
73. Thariqat
as-Sâlimiyah`uhiiiiiiij,,,,,,,,,,,, atau Sahliyah
74. Thariqat
as-Sab’îniyah: Thariqat yang dinisbatkan kepada Ibnu Sab’in
75. Thariqat
as-Siqthiyah: Thariqat yang dinisbatkan kepada Sari as-Siqthi (w. 867 M)) di
Turki
76. Thariqat
as-Salâmiyah atau Thariqat ‘Arûsiyah
77. Thariqat
as-Sulthâniyah: Turkinistaniyah
78. Thariqat
as-Samâniyah: cabang Thariqat
as-Syadzili dinisbatkan kepada Muhammad Abdul Karim as-Samani al-Madani
79. Thariqat
as-Sunbuliyah: cabang Thariqat Khalwatiyah di Turki
80. Thariqat
as-Sannan Ummiyah: di Turki
81. Thariqat
as-Sananiyah: di Tunisia
82. Thariqat
as-Sanusiyah: di Libya
83. Thariqat
as-Suhrowardiyyah: dinisbatkan kepada Abdul Qodir as-Suhrowardi disebut juga
Siddîqiyah berdasarkan nama Abu Bakar as-Siddiq dan memiliki cabang yaitu:
• Jalâliyah
• Jamaliyah
• Khalwatiyah
• RAusyaniyah
• Shofwiyah
• Zainiyah
.........................................................................
1)Artikel Perkembanganthariqatdi Indonesia” oleh digilip uinsby (Universitas Islam Negeri Surabaya)
2)Artikel "Berkeislaman dan Kebudayaan oleh Alif.ID Redaksi 1 Desember 2017
D. BERGABUNGNNYA THARIQAT AL JUNAIDIYAH DENGAN JAM'IYAH AHLI AL THARIQAT MU'TABARAH AN NAHDLIYAH INDONESIA
Adapun Thariqat al Qaum al Junaidiyah ikut bergabung dengan Jam'iyah Ahli at Thariqah al Mu'tabarah an
Nahdliyah Indonesia mulai tahun 2000, ikut kongres
Kongres at Thariqah al Mu'tabarah
an Nahdliyah Indonesia pertama tahun 1957M/1377H di Pondok Tegalrejo Magelang
Jawa Tengah, menghasilkan jumlah thariqat Sufi yang disahkan dan diakui ada 44 macam jenis thariqat Sufi.
Dimasa Imam al Gazali antara tahun 1058-1112M/450-505H ada kurang
lebih 80 macam
jenis thariqat
Sufi, dengan rincian sebagai berikut yaitu 40 macam thariqat Sufi yang sudah disyahkan dan 40 jenis thariqat yang belum sempat disyahkan.
Dalam Makalah Mengenal Thareqat
Panduan Pemula mengenal jalan menuju Allah Ta'ala dikatakan bahwa dalam Kitab
Dairatul Ma'arif al Islamiyah disebutkan ada 163 aliran thareqat Shufi yang
salah satu diantaranya punya 17 cabang. Sementara Syekh Muhammad Taufq al Bakry
dalam kitabnya Baitus Shiddiq, menyebutkan aliran-aliran thareqat di dunia
Islam kurang lebih 124 aliran thareqat Shufi.
Kongres at Thariqah al Mu'tabarah
an Nahdliyah Indonesia pertama di Tegalrejo Magelang Jawa Tengah tersebut pada
Kamis, tanggal 10 Oktober 1957M dibentuk secara resmi al Jam'iyah al ahli at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah
Indonesia yang memayungi dari 44 macam thariqat Sufi. Adapun thariqat Sufi
dimaksud adalah :
- Thariqat Sufi Abbasyah
- Thariqat Sufi Ahmadiyah
- Thariqat Sufi Akbariyah
- Thariqat Sufi Alaweiyah
- Thariqat Sufi Baerumiyah
- Thariqat Sufi Bakdasyiah
- Thariqat Sufi Bakriyah
- Thariqat Sufi Bayumiyah
- Thariqat Sufi Buhuriyah
- Thariqat Sufi Dasuqiyah
- Thariqat Sufi Ghoiyyah
- Thariqat Sufi Ghazaliyah
- Thariqat Sufi Haddadiyah
- Thariqat Sufi Hamzawiyah
- Thariqat Sufi Idrisiyah
- Thariqat Sufi Idrusiya
- Thariqat Sufi Isawiyah
- Thariqat Sufi Jalwatiyah
- Thariqat Sufi Justtiya
- Thariqat Sufi Kalsyaniya
- Thariqat Sufi Qadiriyah
- Thariqat Sufi Khalwatiyah
- Thariqat Sufi Khalidiyah wa Naqsyabadiyah
- Thariqat Sufi Kubrawiyah
- Thariqat Sufi Madbuliyah
- Thariqat Sufi Malamiyah
- Thariqat Sufi Maulawiyah
- Thariqat Sufi Qadiriyah wa Naqsyabadiyah
- Thariqat Sufi Rifa'iyah
- Thariqat Sufi Rumiyah
- Thariqat Sufi Sa'diyah
- Thariqat Sufi Sammaniyah
- Thariqat Sufi Sumbuliyah
- Thariqat Sufi Sya'baniyah
- Thariqat Sufi Syadzaliyah
- Thariqat Sufi Syathariyah
- Thariqat Sufi Syukhrawiyah
- Thariqat Sufi Tijaniyah
- Thariqat Sufi Umariyah
- Thariqat Sufi Usyaqiyah
- Thariqat Sufi Utsmaniyah
- Thariqat Sufi Uwaisiyah
- Thariqat Sufi Zainiyah
- Thariqat Sufi Akabiril Aulia
Keterangan Thariqat al Junaidiyah (thariqatul Qaum) menjadi urutan ke-45, setelah mendaftar dan mengikuti Mu'tamar tersebut.
Adapun Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah mulai mengikuti Mu'tamar atau Kongres Thariqat al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia yang ke VII Di Mranggen Demak Jawa Tengah, 16 Jumadil Awal 1410 H / 15 Desember 1989 M, dan Muktamar VIII Di Cabean Pasuruan Jawa Timur 1-5 Rabi'ul Akhir 1416 H / 27-31 Agustus 1995 M dan Muktamar IX Di Pekalongan Jawa Tengah yakni tiga kali ikut Mu'tamar.
E. PESERTA MU'TAMAR JAM'IYAH AHLI AL THARIQAT MU'TABARAH AN NAHDLIYAH INDONESIA KE-IX TAHUN 2000
Mu'tamar al Jam'iyah al ahli at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia ke IX di kota Pekalongan Jawa Tengah ini mulai tanggal 26-28 Pebruari 2000M/28-30 Rajb 1421H yang dihadiri oleh Peserta yang tercatat sa'at itu berjumlah 1947 orang, sebagai Perwakilan dari Asal Daerah :
- DKI Jakarta ada 102 orang
- Kotamadya Tabanan Bali 11 orang,
- Kab. Bengkulu Utara 6 orang
- Kab. Aceh Barat Aceh ada 19 orang
- Kotamadya Yogjakarta 77 orang
- Jambi ada 10 orang
- Jawa Barat ada 255 orang
- Jawa Tengah ada 540 orang
- Jawa Timur ada 384 orang
- Kalimantan Barat ada 3 orang
- Kalimantan Timur 42 orang
- Lampung 156 orang
- NTB ada 17 orang
- Pelembang 2 orang
- Riau ada 78 orang
- Sulawisi Selatan 19 orang
- Sumatera Barat 43 orang
- Sumatera Selatan 40 orang
- Sumatera Utara 14 orang
- Kalimantan Selatan 90 orang terdiri dari utusan/perwakilan :
- a.Alabio Amuntai ada 5 orang
- b.Martapura ada 5 orang
- c.Banjarbaru 10 orang
- d.Banjarmasin 24 orang
- e.Kandangan 2 orang
- f.Barabai ada 17 orang
- g.Kotabaru ada 5 orang
- hTapin ada 5 orang
- i.Pelaihari ada 18 orang
Peserta dari Kota Palangka Raya yang berjumlah 17 orang inilah memperjuangkan,
mengikutsertakan al Thariqat al Junaidiyah bergabung dan diterima dalam
himpunan Jam'iyah Ahli at Thariqah al
Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pada
Mu'tamar atau Kongres al Jam'iyah al ahli
at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia ke IX di kota
Pekalongan Jawa Tengah tahun 2000M.
F. NAMA-NAMA THARIQAT SUFI DAN JUMLAH THARIQAT AL MU’TABARAH AN-NAHDHIYAH INDOESIA HASIL MU’TAMAR KE-IX DARI TGL.26-28 FEBRUARI 2000M DI PEKALONGAN JAWA TENGAH
Adapun Nama-nama thariqat sufi dan Jumlah at Thariqah
al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia
hasil Mu'tamar ke IX dari tgl 26-28 Pebruari 2000M Pekalongan Jawa Tengah.
Mu'tamar ke IX menghasilkan Nama-nama dan Jumlah at
Thariqah Shufi al Mu'tabarah an
Nahdliyah Indonesia yang disahkan tahun 2000M di Pekalongan Jawa Tengah sebanyak 45
jenis Thariqah Shufi. Adapun nama
thariqat Sufi dimaksud adalah :
- Thariqat Rumiyah
- Thariqat Rifa'iyah
- Thariqat Sa'diyah
- Thariqat Bakriyah
- Thariqat Justiyah
- Thariqat Umariyah
- Thariqat Alawiyah
- Thariqat Abasiyah
- Thariqat Zainiyah
- Thariqat Dasuqiyah
- Thariqat Akbariyah
- Thariqat Bayumiyah
- Thariqat Malamiyah
- Thariqat Ghoiyyah
- Thariqat Tijaniyah
- Thariqat Uwesiyah
- Thariqat Idrisiyah
- Thariqat Samaniyah
- Thariqat Buhuriyah
- Thariqat Usyaqiyah
- Thariqat Kubrawiyah
- Thariqat Maulawiyah
- Thariqat Jalwatiyah
- Thariqat Baerumiyah
- Thariqat Ghazaliyah
- Thariqat Hamzawiyah
- Thariqat Haddadiyah
- Thariqat Madbuliyah
- Thariqat Sumbuliyah
- Thariqat Idrusiyah
- Thariqat Utsmaniyah
- Thariqat Syadzaliyah
- Thariqat Sya'baniyah
- Thariqat Kalsyaniyah
- Thariqat Khodiriyah
- Thariqat Syathariyah
- Thariqat Khalwatiyah
- Thariqat Bakdasyiyah
- Thariqat Sukhriwiyah
- Thariqat Ahmadiyah
- Thariqat Isawiyah
- Thariqat Akabiri Auliya
- Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabadiyah
- Thariqat Khalidiyah wa Naqsyabadiyah
- Thariqah Junaidiyah
Hasil Mu'tamar al Jam'iyah al
ahli at Thariqah al Mu'tabarah an
Nahdliyah Indonesia yang ke IX ini
merupakan sesuatu yang menggambirakan dan
membahagiakan bagi Pengamal Thariqat Junaidiyah ( PTJ) dimanapun mereka berada. Keberadaan
Thariqat Junaidiyah diterima dan diakui pada nomor urut yang ke 45 sebagai
thariqat shufi yang Mu'tabarah.
Menurut Posted by Yayasan Hidayatus
Saalikin Oleh : Asy-Syaikh As-Sayyid KH.Shohibul Faroji Azmatkhan Ba'alawi
Al-Husaini (Mursyid Thariqah Wali Songo & Pimpinan Majelis Dakwah Wali
Songo) Thariqah Mu’tabarah adalah Thariqah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan
Sunnah Nabi Muhammad Saw :
No. Nama
Thariqat Sufi Keterangan
- Thariqat Alawiyah Wali Songo
- Thariqat Qadiriyah Wali Songo
- Thariqat Naqsyabandiyah Wali Songo
- Thariqat Syadzaliyah Wali Songo
- Thariqat Sanusiyah Wali Songo
- Thariqat Mawlawiyah Wali Songo
- Thariqat Nur Muhammadiyah Wali Songo
- Thariqat Khidiriyah Wali Songo
- Thariqat Ahadiyah Wali Songo, Thariqah yang lain adalah :
- Thariqah ‘Abbasiyyah
- Thariqah Ahmadiyyah Idrisiyyah
- Thariqah Akbariyyah
- Thariqah Akmaliyyah
- Thariqah 'Aliyyah Qadiriyyah Casnazaniyyah
- Thariqah Al-Mu’min
- Thariqah ‘Alawiyyah Al-Faqih Al-Muqaddam
- Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah
- Thariqah ‘Alawiyyah Naqsabandiyyah Muhsiniyyah
- Thariqah Asyirah Muhammadiyyah
- Thariqah Athaiyyah
- Thariqah Aurad Muhammadiyyah
- Thariqah Badawiyyah
- Thariqah Bairumiyyah
- Thariqah Bakdasiyyah
- Thariqah Bakriyyah
- Thariqah Bayumiyyah
- Thariqah Buhuriyyah
- Thariqah Chistiyyah
- Thariqah Dusuqiyyah
- Thariqah Dusuqiyyah Muhammadiyyah
- Thariqah Ghaibiyyah
- Thariqah Ghazaliyyah
- Thariqah Haddadiyyah
- Thariqah Hamzawiyyah
- Thariqah Haqmaliyyah
- Thariqah Hashafiyyah
- Thariqah Hashafiyyah Syadziliyyah
- Thariqah Idrisiyyah
- Thariqah Idrusiyyah
- Thariqah Jalwatiyyah
- Thariqah Justiyyah
- Thariqah Junaidiyyah
- Thariqah Khalwatiyyah
- Thariqah Khlawatiyyah Samaniyyah
- Thariqah Kubrawiyyah
- Thariqah Madbuliyyah
- Thariqah Malamatiyyah
- Thariqah Mahmudiyyah
- Thariqah Mawlawiyyah
- Thariqah Naqsabandiyyah
- Thariqah Naqsabandiyyah Haqqaniyyah
- Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah
- Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Haqqaniyyah
- Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Mujaddadiyyah
- Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyah Syadziliah al ‘Aliah
- Thariqah Naqsabandiyyah Mudzhariyah
- Thariqah Ni’matullah
- Thariqah Qadiriyyah
- Thariqah Qadiriyyah Naqsabandiyyah [TQN]
- Thariqah Qadiriyyah Rifaiyyah [TQR]
- Thariqah Rifaiyyah
- Thariqah Robbaniyyah
- Thariqah Rumiyyah
- Thariqah Sa’diyyah
- Thariqah Samaniyyah
- Thariqah Sanusiyyah
- Thariqah Shiddiqiyyah
- Thariqah Shallallahu “alaihi Wasallamiyyah
- Thariqah Sumbuliyyah
- Thariqah Suhrawardiyyah
- Thariqah Sya’baniyyah
- Thariqah Syadziliyyah
- Thariqah Syattariyyah
- Thariqah Tijaniyyah
- Thariqah ‘Umariyyah
- Thariqah ‘Utsmaniyyah
- Thariqah Utsaqiyyah
- Thariqah Uwaitsiyyah
- Thariqah Wahidiyyah
- Thariqah Yahyawiyyah
- Thariqah Zainiyyah
H. MACAM-MACAM JENIS THARIQAT SUFI DI DUNIA ISLAM MODEREN
Dimasa Imam al Gazali antara tahun 1058-1112M/450-505H ada kurang
lebih 80 macam jenis thariqat Sufi, dengan rincian sebagai berikut yaitu 40
macam thariqat Sufi yang sudah disyahkan dan 40 jenis thariqat yang belum
sempat disyahkan.
Kalau kita lihat dan teliti hampir
semua thariqat sufi bersifat luwes
seperti thariqat Junaidiyah dan
thariqat Qodiriyah ini dikenal supel dan
luwes. Apabila seseorang salik ataupun murid karena mujahadahnya sangat kuat
hingga ia mencapai derajat syeikh, maka seseorang salik ataupun murid tersebut
tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikutit hariqat
gurunya. Maka dia berhak melakukan modifikasi thariqat
yang lain ke dalam thariqatnya. Hal itu dapat dilhat dari penjelasan
dari ungkapan Syekh Abdul Qadir Jaelani sendiri, "Bahwa murid yang sudah
mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah
yang menjadi walinya untuk seterusnya."
Mungkin dari ungkapan inilah dari
ke-12 aliran thareqt sufi yang kami sebutkan terdahulu, telah pecah menjadi
aliran-aliran thariqat sufi yang sangat banyak
sekali. Maksud kami, telah terbit
dan timbul bermacam-macam jenis thareqt sufi di dunia Islam.
Keterangan ini diambil dari Mengutip “Artikel Perkembangan thariqatdi Indonesia” oleh digilip uinsby bahwa "Adapun macam dan jenis-jenis thariqat sufi di dunia Islam" yang diketahui (1)
Nama-Nama Thariqat Sufi Pendirinya Keterangan
- Thariqat Alawiyah Wali Songo
- Thariqat Qadiriyah Wali Songo
- Thariqat Naqsyabandiyah Wali Songo
- Thariqat Syadzaliyah Wali Songo
- Thariqat Sanusiyah Wali Songo
- Thariqat Mawlawiyah Wali Songo
- Thariqat Nur Muhammadiyah Wali Songo
- Thariqat Khidiriyah Wali Songo
- Thariqat Ahadiyah Wali Songo
- Thariqah ‘Abbasiyyah
- Thariqah Ahmadiyyah Idrisiyyah
- Thuruqil Akabiril Auliya
- Thariqah Akbariyyah
- Thariqah Akmaliyyah Syekh Ahmad al-Badawi (w. 1276) di Mesir
- Thariqah 'Aliyyah Qadiriyyah Casnazaniyyah
- Thariqah Al-Mu’min
- Thariqah ‘Alawiyyah Al-Faqih Al-Muqaddam Sayyid Abdullah bin Alwi bin Muhammad al Hadad 1044-1132H Kota Tarim
- Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah
- Thariqah ‘Alawiyyah Naqsabandiyyah Muhsiniyyah
- Thariqah Asyirah Muhammadiyyah
- Thariqah Aidarusiyyah Syekh Abu Bakr al-Aydarusi (w. 1509M) di Yaman, India, dan Indonesia
- Thariqah Athaiyyah
- Thariqah Ahdaliyah, di Yaman
- Thariqah Ammariyah,
- Thariqah Aurad Muhammadiyyah di Afrika
- Thariqah Asadiyah, di Yaman
- Thariqah Badawiyyah
- Thariqah Bairumiyyah Syekh Hajji Bairam (w. 834/1430).
- Thariqah Bakdasiyyah
- Thariqah Baktasiyyah Syekh Muhammad ‘Atha’ ibn Ibrâhîm Hajji Bektas (w. 736/1335) Khurasan berkembang di Turki
- Thariqah Bakriyyah Syekh Abu Bakr al-Wafa‟i (w. 1496) di Mesir dan Syria
- Thariqah Bakka’iyah, di Afrika
- Thariqah Bayumiyyah
- Thariqah Buhuriyyah
- Thariqah Burhaniyyah Syehk Ibrahim al-Dasuqi (1288H) di Mesir dan Arab
- Thariqah Bu’ Aliyya, di Afrika
- Thariqah Chistiyyah Khwajah ('Guru') Abu Ishaq Chisyti orang Suriah
- Thariqah Dusuqiyyah
- Thariqah Dusuqiyyah Muhammadiyyah
- Thariqah Dhaifiyah berkembang di Mesir
- Thariqah Faridiyah, Syekh ‘Umar ibn al-Farid (w. 632/1234), di Mesir
- Thariqah al-Ghatiyah Syekh Muhammad al Ghawt (w.923/1517) di India
- Thariqah Ghaibiyyah
- Thariqah Ghazaliyyah
- Thariqah Ghawtsiyah Syekh Muhammad Gaws Gwaliyari (1517M),di India. (w. 1563)
- Thariqah Haddadiyyah
- Thariqah Hamzawiyyah
- Thariqah Hamadaniyyah Syekh Ali Hamadani (w. 1384) di Kashmir
- Thariqah Haqmaliyyah
- Thariqah Hashafiyyah
- Thariqah Hashafiyyah Syadziliyyah
- Thariqah Hatimiyyah Syekh Muhyi al-Din Ibn al-„Arabi (w. 1238) bersifat Teoritik
- Thariqah Hallajiyah Syekh Abu Manshur al-Hallaj (w. 922) bersifat teoritik;
- Thariqah Hayat al-Mir, berkembang di India
- Thariqah Hindiyah, di Turki
- Thariqah Idrisiyyah Syekh Ahmad ibn Idrîs (w. 1253/1837).
- Thariqah Idrusiyyah
- Thariqah ‘Isawiyah
- Thariqah ‟Isyqiyyah Syekh Abu Yazid al-„Isyqi (w. abad 14) di Turki dan Iran
- Thariqah Jarrahiyah Syekh Nuruddin Muhammad al-Jarrah dari Istambul (w. 1720M).
- Thariqah Jalwatiyyah
- Thariqah Jazuliyyah Syekh Muhammad al-Jazuli (1465H) di Afrika Utara
- Thariqah Justiyyah
- Thariqah Junaidiyyah Imam Al Junaid al Bagdadi (1515 M), berkembang di Bagdad, Indonesia dan India
- Thariqah Jahriyyah oleh Ahmad al-Yasawi (w. 1167) tersifat teoritik
- Thariqah Jilala, di Afrika
- Thariqah Khalwatiyyah Syekh Umar al-Khalwati (w. 1397) di Mesir dan Turki
- Thariqah Khalwatiyyah Samaniyyah Syekh Zahiruddin di Khurasan
- Thariqah Khawajakaniyah ‘Abd al-Khaliq Ghujdawanî (w. 617/1220), di Khurasan
- Thariqah Khafifiyah Syekh Ibn Khafif bersifat Teoritik
- Thariqah Khawatiriyyah Syekh Ali Ibn Maymun al-Idrisi (w. 1511) di Afrika Utara
- Thariqah Kharraziyyah Syekh Abu Sa‟id al-Kharraz (w. 890M) bersifat teoritis
- Thariqah Khalsyaniyah,
- Thariqah Kaziruniyah Syekh Abu Ishaq Ibrahim ibn Syahriyar w.426H/1035M di India
- Thariqah Khulusiyah di Turki
- Thariqah Kamaliyah (1584 M), berkembang di India
- Thariqah Kubrawiyyah Syekh Najm al-Din al-Kubra (w. 1221H) bertempat di Asia tengah dan Iran
- Thariqah Madariyyah Syekh Badi al-Din Madar (w. 1437M) di India
- Thariqah Madyaniyah Syekh Abu Madyan (w. 1197H) di Afrika Utara
- Thariqah Madbuliyyah
- Thariqah Malamatiyyah Syekh Abu Yazid al-Busthami (w. 874H) bersifat Teoritik
- Thariqah Mahmudiyyah
- Thariqah Mawlawiyyah Syekh Maulawi Jalaluddin Ar-Rumi 1207-1273M di Turki, Syria
- Thariqah Manzaliyah di Afrika
- Thariqah Mushariyyah, Syekh Sufyan al-Tsawri (w. 778) di Yaman bersifat teoritik
- Thariqah Miyan Khei (1550 M), berkembang di India.
- Thariqah Naqsabandiyyah Syekh Muhammad bin Baha’udin Huwaisi al Bukhari (w.717-791H)
- Thariqah Naqsabandiyyah Haqqaniyyah
- Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah
- Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Haqqaniyyah
- Thariqah Naqsabandiyyah Al-Khalidiyyah Mujaddadiyyah
- Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyah Syadziliah al ‘Aliah
- Thariqah Naqsabandiyyah Mudzhariyah
- Thariqah Nabulsiyah, di Turki
- Thariqah Ni’matullah Syekh Nuruddin Muhammad Ni'matullah (m. 1431M) di Iran dan India
- Thariqah Nuriyyah Nur al-Din Isfaraini (w. 1317) di Iran
- Thariqah Rukniyyah Syekh Ala al-Daulah Simmani (w. 1336) di Asia Tengah
- Thariqah Qadiriyyah Syekh Abdul Qadir al Jailani di Gilan
- Thariqah Qadiriyyah Naqsabandiyyah [TQN] Syaikh Ahmad Khatib Sambas di Makkah pada 1875 M
- Thariqah Qadiriyyah Rifaiyyah [TQR]
- Thariqah Qusyairiyyah Syekh Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 1074M) bersifat teoritis
- Thariqah Qalandariyah Syekh Jamal al-Din Sawi (w. 1233) bersifat teoritis
- Thariqah Qumaishiyah (1584M), berkembang di India.
- Thariqah Rifaiyyah Syekh Abul Abbas Ahmad bin Ali ar Rifa’i w.500H/ 1106M Basrah
- Thariqah Robbaniyyah
- Thariqah Rumiyyah
- Thariqah Sa’diyyah
- Thariqah Suhailiyyah Syekh Muhammad al-Suhaili (abad 16) di Arab
- Thariqah Salihiyah Berkembang di Somalia
- Thariqah Sathaniyah
- Thariqah Samaniyyah Syekh Muhammad Abdul Karim al Madani 1130-1189H /1718-1775M di Madinah
- Thariqah Sanusiyyah Muhammad ibn ‘Alî al-Sanusi, di Aljazair (w. 1276/1859).
- Thariqat Salimiyah Syekh Abul Ahmad bin Muhammad ibnu Ahmad bin Salim Ash-Shaghir (w.360H/940M) di Basrah
- Thariqat Syafawiyah, Syekh Syafî al-Dîn al-Ardabilî (w. 735H/1334M)
- Thariqah Shiddiqiyyah Shahabat Abu Bakar al-Siddiq (w. 634) bersifat teoritik
- Thariqah Shallallahu “alaihi Wasallamiyyah
- Thariqah Sumbuliyyah
- Thariqah Suhrawardiyyah Syekh Syihabuddin Abu Hafs Umar 539-632H \1140-1234M di Bagdad, Iran dan India;
- Thariqah Syuhriyah,
- Thariqah Sya’baniyyah
- Thariqah Syadziliyyah Syekh Abul Hasan Ali as Syadzili (w. 1258H) di Afrika Utara
- Thariqah Syattariyyah Syekh Abd Allah Syatthari (w. 1438) di India dan Indonesia
- Thariqah Tijaniyyah Syekh Abul Abbas bin Muhammad bin Mukhtar Attijani 1737-1738H Algeria
- Thariqah ‘Urabiyyah, Syekh Umar ibn Muhammad al-Urabi di Yaman abad ke-16
- Thariqah ‘Umariyyah
- Thariqah ‘Utsmaniyyah
- Thariqah Utsaqiyyah
- Thariqah Uwaitsiyyah dibawa oleh Shahabat Uways al-Qarni (abad ke-7) bersifat teoritik;
- Thariqah Wahidiyyah
- Thariqah Wafa‟iyyah dibawa oleh Muhammad Wafa‟ (w. 1358) di Mesir dan Syria
- Thariqah Waslatiyyah. di Turki
- Thariqah Yahyawiyyah
- Thariqah Yasaviah dibawa oleh Ahmad al-Yasafî (w. 562/1169) berkembang di Khurasan
- Thariqah Yafi’iyah (718-768 H/1316 M) di Yaman
- Thariqah Zarruqiyyah dibawa oleh Syekh Ahmad al-Zarruq (w. 1494H) di Mesir atau Syria
- Thariqah Zainiyyah
- Thariqah Zayla’iyah. di Yaman
I. DUA TOKOH PENGEMBANG THARIQAT AL JUNAIDIYAH DI INDONESIA
Al Junaidiyah adalah nama sebuah
Thariqat Sufi yang dinisbahkan kepada
Abu Qasim al Junaid al Bagdadi.
Thariqat Sufi al Junaidiyah ini
dibawa masuk ke Indonesia oleh KH,
Kasypul Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh sebelum tentara Jepang datang ke Indonesia. Dan dikatakan orang
bahwa ia mengambil Tarekat ini tahun
1935M/1353H dari seorang Syekh yang bernama Sayyid Umar Bajunaidi asal Negeri
Magribi sehabis menunaikan Ibadah Haji.
1.Syekh KH, Kasypul Anwar
Firdaus bin Muhammad Shaleh 1902-1974M/1316-1394H
KH, Kasypul Anwar Firdaus adalah putra laki-laki dari keluarga Muhammad
Shalih yang tinggal di Desa Banua Hanyar, Kec. Alabio, Kab. Hulu Sungai
Utara Amuntai, Kalimantan Selatan,
Indonesia. Jarak tempat makam KH, Kasypul Anwar ini kurang
lebuh 7 kilo meter dari Pasar Alabio menuju arah jalan ke Kec. Baberik.
Kasypul Anwar adalah seorang anak yang
cerdas, punya ekeyo/otak berlian atau otak jennus dengan hoby suka membaca,
lebih-lebih lagi menyukai ilmu agama, banyak guru yang mengajarinya, bahasa
Arab, nahwu sharaf, ilmu fiqih dan ilmu agama lainnya. Kedua orangtuanya
seorang tokoh terpandang di desanya dan kuat agamanya. Diusia yang sangat
mudanya ia menjabat ketua Muhammadiyah
di Desanya.
Di usianya 28-30 tahun atau
1932M/1350H, ia berangkat dan didukung Keluarga Muhammad Shalih mengirimnya
untuk memperdalam menuntut ilmu agama ke Mekkah al Mukarramah. Ada yang
mengatakan bahwa Muhammad Shalih
mengirim Kasypul Anwar Firdaus ke kota
Mesir kairo, selama 7 tahun lebih. Setelah tiga tahun Kasypul Anwar Firdaus ia tinggal dan belajar di Kota Mesir ini,
kemudian ia diijin oleh gurunya untuk
menunaikan ibadah haji ke Mekkah al Mukarramah.
Menurut kaul yang lain/riwayat lain
disebutkan bahwa setelah dua tahun berada di Mesir menempuh pendidikan KH.
Kasypul Anwar Firdaus diperbolehkan menunaikan ibadah haji. Dibulan Haji ini
Beliau mengambil thariqat ini Jum'at, 30 Maret tahun 1934M tersebut Beliau
beberapa tahun kemudian setelah menyelesaikan pendidikannya di Mesir Kairo ia
pulang ke Indonesia.
Setelah menyelesaikan study nya di
Kota Mesir (Kairo) kurang lebih 7 tahun lamanya Syekh KH. Kasyful Anwar Firdaus
pulang ke Kampung halamannya untuk mengamalkan ilmunya bersama keluaraga dan
masyarakat ilmu yang diperoleh dari Timur Tengah Kota Mesir (Kairo).
Menurut Humaidy ceritra dari
mamanya (isteri KH. Kasypul Anwar Firdaus) berkata bahwa "Pada waktu Jepang datang ke Indonesia
KH. Kasypul Anwar Firdaus sudah berada dan lama di Banua Hanyar Alabio."
KH. Kasypul Anwar Firdaus adalah seorang Ulama Syari'at dan Hakekat
dimasanya, ia dihormati dan disegani dan juga disayangi oleh masyarakat
disekitarnya, terlebih lagi dicintai oleh murid-muridnya, dan juga sangat
dicintai oleh generasi silsilah sesudahnya. Ia juga orang yang pertama asal
Kalimantan Selatan yang mengambil Thareqat al Junaidiyah pada Guru Sayyid Umar
Bajunaidi al Magriby di Mekkah dan membawanya ke Kalimantan Selatan dan
mengembangkannya. KH. Kasypul Anwar Firdausbin Muhammad Shalih wafat tahun
1974M/1394H dimakamkan di depan halaman Masjid Jami'us Sa'adah arah kiblat
Masjid, warna makam biru kehijauan, alamat Banua Hanyar Alabio Kab. Hulu Sungai
Utara Amuntai, Kalimantan Selatan,
Indonesia.
a. Murid-murid KH. Kaspul Anwar al
Firdaus
Ada Sembilan orang murid utama dari KH. Kasypul Anwar Firdaus yang
mendapat izin dan ijazah untuk mengembangkan Thareqat al Junaidiyah dimana saja
tempat mereka mau boleh membai'at, mereka itu antara lain :
- KH. Muhammad Qurtuby bin Khalid murid tertua w.2002M/1423H Ds. Amuitai.
- Gr. Pa. Itay Ds. Tebing Sering Kab. Tabalong
- Gr. Abd. Shamad Ds.Tebing Sering Kab. Tabalong
- Gr. Said Ds. Bahaur Prov. Kalimantan Tengah
- Gr. Antin Udar Ds.Bahaur Prov. Kalimantan Tengah
- Gr. Ibus Ds. Bilastan Prov. Kalimantan Tengah
- Gr. Murjuni Ds. Kelua, Kec. Kelua,Kab.Tabalong
- Gr. Mahjuri Ds. Tanjung, Kab. Tabalong
- Gr. Masykur bin Abbas Ds. Kelua, Kec. Kelua, Kab. Tabalong.
b. Daerah Pengembangan Thariqat Al
Junaidiyah
Adapun Rote perjalanan masa KH. Kasypul Anwar
Firdaus dengan Sepeda Ralehnya dalam
Pengembangan dan penyebaran Thariqat al Junaidiyah menuju
Daerah adalah :
- Ds. Banua Hanyar, Alaio, Amuntai
- Ds. Kelua dan sekitarnya
- Ds. Tebing Sering Kab. Tabalong
- Ds. Tanjung Kab. Tabalong
- Ds. Bahaur Prov. Kalimantan Tengah
- Ds. Bilastan Prov. Kalimantan Tengah.
c. Pengembangan Thariqat al Junaidiyah di masa Pemerintahan
Belanda dan Jepang
Kaum penjajah Belanda dan Jepang
melarang ummat Islam mempejajari ajaran Tauhid dan Thareqat Islam. Hal ini
dikuatirkan oleh Pemerintahan Belanda dan Jepang kalau semua masyarakat
mengamalkan ajaran Tauhid dan Thareqat Islam, maka mereka tiada takut mati dengan peloro senapan dan
senjata tajam, mereka bangkit untuk jihad, memusuhi Pemerintahan Belanda dan
Jepang. Oleh karena itulah Pemerintahan Belanda dan Jepang melarang para Ulama
Islam mengajarkan Tauhid dan Thareqat Islam. Bila ada para Ulama yang
mengajarkan Tauhid dan Thareqat Islam dan ketahuan dari Pemerintahan
Belanda, mereka akan ditangkap dan
dianggap pemberuntak. Oleh karenanya Ulama sangat berhati-hati sekali, secara
sembunyi-sembunyi dalam mengajarkan kedua ilmu agama tersebut.Mengapa Thariqat
al Junaidiyah al Bagdadiyah baru bergabung menjadi Thariqat yang Mu'tabarah Nomor urut yang ke-45 ditahun
2000M/1421H ? Jawabnya adalah :
1.Mu'tamar/Kongres at Thariqah al
Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pertama tahun 1957M/1377H di Pondok Tegalrejo
Magelang Jawa Tengah, menghasilkan jumlah thariqat Sufi yang disahkan dan diakui ada 44 macam jenis thariqat Sufi.
2.Abuya KH. Kasypul Anwar Firdaus pulang kemabali
dari Mekkah al Mukarramah atau Mesir Kairo setelah 7 tahun mengaji disana, dan
membawa Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah ke Desa Banua Hanyar Alabio,
Amuntai, Kalsel. Penyebaran Thariqat Islam saat itu dilarang Pemerintahan
Belanda yang berkuasa ketika itu, oleh sebab itu hamper tiga puluh tahun
Thariqat al Junaidiyah tiada mengembangkan sayapnya secara terang-terangan atau
secara terorganisir, apalagi samapai ke luar Pulau Kalimantan.
3.Pulau Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan merdeka tahun 1949M, Pada saat itu Organisasi Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah belum dibentuk, belum ada yang kelihatan di tahun 1957M /1377H tersebut atau hibungan dengan Pulau Jawa belum terjalin hingga pada Kongres at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pertama Jama'ah Pengamal Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah tidak ikut atau tidak diundang.
J.KH.MUHAMMAD QURTUBY BIN
KHALID KALIMANTAN (1918-2002M/ 1423H)
Dia menulis nama panjangnya pada
muka Risalah Aurad Thareqat al Junaidiyah yang dia tulis tangannya sendiri yaitu H. Muhammad Qurtuby bin Khalid
Kalimantan. Dia menjabat Khalifah TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah mulai tahun 1975M. Dia Kelahiran tahun 1918M di Desa Penyiuran kota
Amuntai Kab. Hulu Sungai Utara. Beliau telah
banyak menimba ilmu Syari'at dan ilmu Hakekat terutama dari Gurunya yakni KH. Kasypul Anwar Firdaus di Desa Banua
Hanyar, Kec. Alabio, Kab. Hulu Sungai Utara
Amuntai, Prov. Kalimanta Selatan.
Beliaulah yang pertama
memperkenalkan TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah secara utuh pada masyarakat
Indonesia (seluruh Jama'ah Thareqat al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia tahun
2000M), yang sebelumnya hanya faham aliran Tasauf al Junaid saja
yang disampaikan para Ulama pada mereka dan masyarakat Indonesia ikuti.
Beliau telah banyak berjasa dalam
pengembangan TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah dan memperjuangkan agar
TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah menjadi TharIqat Mu'tabarah yaitu TharIqat
yang diakui. Yang akhirnya Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah diterima dan
bergabung dengan al Jam'iyah al ahli at
Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pada Kongres ke IX di kota
Pekalongan Jawa Tengah tahun 2000M/ 1377H dan terdaftar dengan nomor urut ke-45.
Sebelum KH. Muhammad Qurtuby bin
Khalid wafat, Kedudukan Khalifah TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah di Kota
Palangkaraya. Di kota inilah Pusat Organisasi TharIqat al Junaidiyah al
Bagdadiyah berdiri dan berkembang, alamat dulu Jalan Mandawai IV/a Palangkaraya.
Pada saat itu keberadaan TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah dikota itu di
dukung oleh Pemerintah setempat, sehingga perkembangan TharIqat ini begitu
cepat menyebar diwilayah ini. Khalifah TharIqat al Junaidiyah al Bagdadiyah KH.
Muhammad Qurtuby bin Khalid wafat hari
Rabu, tanggal 17 Juli 2002M/6 Rabi'ul Awwal 1423H. Beliau dimakamkan di
Jalan RTN Malino 5 Km masuk dari Bendara Palangkaraya yaitu tepatnya di samping
Pesanterin Tahfizul Qur'an dan Masjid Raudatul Jannah asuhan H. Materan.
Dari Beliau telah lahir Generasi-
generasi Utama Jama'ah Pengamal TharIqat
al Junaidiyah al Bagdadiyah yang berkualitas yang dapat membimbing
Ummat. Ummat yang lebih mengutamakan akhirat, Ummat yang menjalankan Syari'at Muhammad
Rasulullah Saw. Ummat yang kontinyu mengamalkan Thareqatnya.
Generasi- generasi Utama Jama'ah
Pengamal TharIqat Qaum al Junaidiyah al Bagdadiyah yang dimaksud adalah murid –
murid Beliau antara lain :
a. Murid-murid KH. Muhammad
Qurthuby an :
- Gr. KH. Jumberi Ma'shum Bihara Balangan Kalsel W.2007M
- Gr. KH. Mahran Yasin Km. 3 Banjarmasin Kalsel
- Gr. Kiayi Mahjuri Dalam Pagar Martapura Kalsel
- Gr. Kiayi Muhammad Syukri HS Jorong Pelaihari Kalsel W.2003M
- Gr. KH. Arbandigana Kalimantan Tengah
- Gr. KH. Timidzi Bihara Balangan Kalsel (sudah Wafat)
- Gr. KH. Satria Ds. Ampukung Kelua Tanjung Kalsel
- Gr. Hj. Fauziah (Isteri KH. Satria) Ds. Ampukung, Kelua Kalsel
- Gr. H.Abdullah Kalimantan Tengah
- Gr. KH. Muhammad Subli Saberi Kalimantan Tengah
- Gr. H. Supiyan Ds. Panyiuran, Amuntai Kalsel
- Gr. Drs. Husen Kalimantan Tengah
- Gr. H. Mahdian Kalimantan Tengah
- Gr. H. Muhammad Ali Kalimantan Tengah
- Gr. H. Muhammad Noor Kalimantan Tengah
- Gr. H. Suriani Kalimantan Tengah
- Gr. Habib Yahya Ahyadi Kalimantan Tengah
- Gr. Kaspul Anwar Kalimantan Tengah
- Gr. Mansyur Arifin Kalimantan Tengah
- Gr. Shalih Kalimantan Tengah
K. SANAD TALQIN DZIKIR THARIQAT AL JUNAIDIYAH
Menggetahui sanad talqin dzikir Thariqat al Junaidiyah adalah wajib bagi setiap Pengamalnya. Mengenal sanad silsilah Thariqat al Qaum al Junaidiyah, dimaksud Penyusun disini adalah orang-orang yang meriwayatkan pelimpahan talqin dzikir atau ijazah dzikir Thariqat al Junaidiyah (thariqat al qaum) yang bersambung hingga Rasulullah Saw.
Adapun Silsilah Sanad Talqin Dzikir Thariqat al Qaum al Junaidiyah adalah :
- Habib H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assaqqaf dan ia (H.Hasan Baseri) mengambil dari
- KH. Jumberi bin H.Ma'shum bin H. Abu Bakar Bihara w.1427H, dan ia dari
- Khalifah thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurtubi bin Khalid bin Thahir Kalimantan w.1423H, dan ia dari
- KH. Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh w.1394H, dan ia dari
- Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi al Hadrami al Magribi W.1354H/1936M, ia dari
- Syekh Abdullah Ba'alawi al Magribi, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Alawi Ba Alawi, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Abdurrahman Assaqqaf Ba Alawi w.1124H/1712M, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Abdurrahim, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Ba Junaidi yakni (Imam Al Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham W.1032H/1623M), dan ia dari
- Syekh Imam Alwi al Ridla (W.1002H/1594M) bin Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin, dan ia dari
- Syekh Imam Abdul Wahhab As Sya’rani 898-973H dan ia dari
- Syekh “Ali Murshafaa dan ia dari
- Syekh Muhammad As-Surawi w.932H, dan ia dari
- Syekh Sayyid Muhammad Ibn Madyan al Asmuni (W.862H) dan ia dari
- Syekh Sayyid Madyan al Asmuni (W.862H/1458M dan ia dari
- Syekh Imam Ahmad az Zahidi w.820H, dan ia mengambil dari
- Syekh Hasan al Sustari w.797H, dan ia mengambil dari
- Syekh Yusuf al Ajemi w.767H, dan ia mengambil dari
- Syekh Muhammad al Ashfihani, dan ia mengambil dari
- Syekh Najmu Mahmud al Ashfihani, dan ia dari
- Syekh Hasan Syamsuri, dan ia mengambil dari
- Syekh Abdus Shamad an Nahrani, dan ia dari
- Syekh Ibnu Bunghusy Syirazi, dan ia mengambil dari
- Syekh Najibuddin Bunghusy Syirazi, dan ia dari
- Syihabuddin as Syuhrawardi(L.539-632H), dan ia dari
- Syek Qadli Wajihuddin dan ia mengambil dari
- Syekh Faraj Az Zanjani, dan ia mengambil dari
- Syekh Abul Abbas Nahawanda dan ia mengambil dari
- Syekh Ibnu Khiif as Syirazi dan ia dari
- Syekh Muhammad Khiif as Syirazi, dan ia dari
- Al-Qadli Ruwaim, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam al Junaid al Bagdadi w.297H, dan ia mengambil dari
- Syekh as Sirri al Saqathi w.253H, dan ia dari
- Syekh Imam al Ma'ruf al Karkhi w.200H, dan ia dari
- Syekh Daud at Tha'i w.165H, dan ia dari
- Syekh Habib al Ajemi w.125H, dan ia dari
- Syekh al-Imam Hasan al Basri w.110H, dan ia dari
- Imam 'Ali bin Abi Thalib w.41H, dan ia dari
- Muhammad Rasulullah Saw w.632M, dan ia dari
- Sayyidina Jibril 'alaihis salam, dan ia dari
- Allah azza wa jalla.
L. HATI-HATI TITIK LEMAH SANAD SILSILAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH
Adapun Titik Lemah sanad silsilah Thariqat al Qaum al Junaidiyyah berada pada jalur yang ke-2 adalah
- Habib H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assaqqaf dan ia (H.Hasan Baseri) mengambil dari
- KH. Jumberi bin H.Ma'shum bin H. Abu Bakar Bihara w.1427H, dan ia dari
- Khalifah thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurtubi bin Khalid bin Thahir Kalimantan w.1423H, dan ia dari
- KH. Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh w.1394H, dan ia dari
- Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi al Hadrami al Magribi W.1354H/1936M, ia dari
- Syekh Abdullah Ba'alawi al Magribi, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Alawi Ba Alawi, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Abdurrahman Assaqqaf Ba Alawi w.1124H/1712M, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Abdurrahim, dan ia mengambil dari
- Syekh Imam Ba Junaidi yakni (Imam Al Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham W.1032H/1623M), dan ia dari
- Syekh Imam Alwi al Ridla (W.1002H/1594M) bin Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin, dan ia dari
- Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi (W.936H/1529M).
- Syekh Muhammad az Zahidi mengambil bai’at Rohaniyah atau bai’at Sirriyah dari
- Imam al Qusyairi w.465H (di alam ROH, sa’at terjaga, melalui mimpi) dan ia dari
- Syekh Imam Abu 'Ali ad Daqaq w.405H, dan ia dari
- Syekh Imam an Nashra Abadzi w.369H dan ia dari
- Syekh Imam al Syibli w.334, dan ia dari
- Imam al Junaid al Bagdadi.dan ia dari
- Syekh as Sirri al Saqathi w.253H, dan ia dari
- Syekh Imam al Ma'ruf al Karkhi w.200H, dan ia dari
- Syekh Daud at Tha'i w.165H, dan ia dari
- Syekh Habib al Ajemi w.125H, dan ia dari
- Syekh al-Imam Hasan al Basri w.110H, dan ia dari
- Imam 'Ali bin Abi Thalib w.41H, dan ia dari
- Muhammad Rasulullah Saw w.632M, dan ia dari
- Sayyidina Jibril 'alaihis salam, dan ia dari
- Allah azza wa jalla.
Pada silsilah sanad thariqat kita jalur yang kedua ini, masih ada yang menjadi salah satu titik kelemahan thariqat kita yakni antara Syekh Muhammad az Zahidi w.936H/1530M dan Imam al Qusyairi hidup 986M-1073M dengan bai’at Sirriyah, atau Bai'at Rohaniyah dan hal ini mudah menjadi Serangan balik Kelompok anti thariqat adalah adanya mata rantai (sanad) silsilah yang dianggap terputus (mahjub atau mastur) sehingga mereka tidak dapat menerima kebenaran sanad silsilah tersebut.
M. BIOGRAFI SANAD SILSILAH AL THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYAH
Silsilah TJ yang ke Satu
01. ALLAH SUBHANAHU WATA'ALA
Mengenal Asma Allah, Af’al dan Sifat-sifat Allah Swt
Disebutkan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad Saw bahwa Asma Allah itu ada sembilan puluh sembilan Nama Allah Swt, Seratus nama Allah selain satu (kurang satu) yang tidak dibilang. Sebagaimana hadis Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam riwayat Abu Nuam berbunyi :
عَنْ عَمَّارٍ بْنِ يَسَّارٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ تَعَالَى : إِنَّ اللهّ عَزَّ وَجَلَّ : تِسْعَةٌ وَتِسْعِيْنَ إِسْمًا مِائَةَ غَيْرِ وَاحِدٍ إِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ وَمَا مِنْ عَبْدٍ يَدْعُو بِهَا إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ. رواه أبو نعيم فى الحلية
Ammar bin Yasar meriwayatkan sebuah hadis Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam yang berbunyi :
Artinya bahwa :”Sesungguhnya Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan Nama, Seratus nama Allah selain satu (kurang satu), sesungguhnya Ia tunggal, dan ia mencintai yang tunggal, tiada ada bagi seorang hamba yang berdo’a dengan Nama-nama –Nya melainkan sorga baginya.” HR. Abu Nuam dalam Kitab Hilyah.
Mengenal al Asmaul HUsna atau Nama-nama yang baik (اَلْاَسْمَاءُ الْحُسْنَى)
Penyusun Umdatul Hasanah lebih menyukai bila membaca al Asma' ul Husna memulainya dengan kalimat : di bawah ini
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ نَسْاَلُكَ (اَسْاَلُكَ) الرَّحْمَةَ وَالْعَافِيَةَ وَالرِّضَى يَا مَنْ ... هُوَ اللهُ الَّذِىْ لَا اِلَهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمَانُ الرَّحِيْمُ. اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ. اَلْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ. اَلْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر. اَلْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ, اَلْحَلِيْمُ الْعَظِيْمُ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ, اَلْحَفِيْظُ الْمُقِيْتُ الْحَسِيْب الْجَلِيْلُ الْكَرِيْمُ الْرَّقِيْبُ الْمُجِيْبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيْمُ. اَلْوَدُوْدُ الْمَجِيْدُ الْبَاعِثُ الشَّهِيْدُ الْحَقُّ الْوَكِيْلُ الْقَوِيُّ الْمَتِيْنُ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ الْمُحْصِى الْمُبْدِئُ الْمُعِيْدُ, اَلْمُحْيِ الْمُمِيْتُ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ الْوَاجِدُ الْمَاجِدُ الْوَاحِدُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ. اَلْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ الْمُؤَخِّرُ الْأَوَّلُ الْأَخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَلِيُّ الْمُتَعَالُ. اَلْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفْوُ الرَّؤُوْفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. اَلْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِيُّ الْمُغْنِى الْمَانِعُ الضَّارُّ النَّافِعُ النُّوْرُ الْهَادِى الْبَدِيْعُ الْبَاقِى الْوَارِثُ الرَّشِيْدُ الصَّبُوْرُ.
Syekh Dr. H. Jalaluddin dalam bukunya Sinar Keemasan mengatakan bahwa “Perhatikan nama nomor satu dari asma’ul husna yaitu HUWA dibaca HUU setiap kalimat Huwa yang tersebut dalam al Qur’an artinya Dzat yang Maha Suci semata-mata. Sebelum Alam halus atau Alam Shagir dan kasar atau Alam Kabir dijadikan, maka Huu هو dzat itu telah ada. Yaitu adanya dzat itu tiada ada permulaannya. Dzat yang maha suci itu bernama Allah, lihat nomor dua dari asma’ul husna. Yakni Allah adalah nama Dzat dari HUU. Kalau kita dzikir dengan ismu dzat إسم الذات maksudnya kita baca nama “ Allah- Allah " الله – الله Sekali lagi ditegaskan bahwa HUU adalah dzat semata-mata, lhat nomor satu dari asma’ul husna, Allah nama dari dzat Huu, yakni Allah nama dzat yang bersipat kesempurnaan nomor dua dari asma’ul husna.
Kita diwajibkan membaca nama Tuhan, seperti yang telah diperintahkan dalam surat al Alaq ayat pertama yang berbunyi :
إقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِىْ خَلَقَ العلق -1
Maksudnya : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhan Engkau ya Muhammad yang telah menciptakan,” Al Alaq 1
Silsilah TJ yang ke Dua
02. MALAIKAT JIBRIL ALAIHIS SALAM
(الملك جبريل عليه السلام)
Sebagaimana kita ketahui dan umat Islam Imani bahwa Allah Swt telah menciptakan beberapa Malaikat dan ada 10 Malaikat yang wajib kita ketahui dan kita imani diantaranya Malaikat Jibril Alaihissalam. Malikat ini deberikan tugas untuk menyampaikan wahyu dari Allah Swt. Kepada para Nabi dan Rasul.
Imam Abdurrahim bin Ahmad al Qadli dalam kitabnya DAQAA IQUL AKBAR mengatakan bahwa kejadian empat Malaikat yakni Jibril, Mika’il Israfil dan Ijra;il, adalah empat Malaikat yang mulia. Katanya :
اعلم إن الله تعالى خلق الملائكة الكرام الاربع, وهم إسرافيل عليه السلام وميكائيل عليه السلام وجبريل عليه السلام وعزرائيل عليه السلام وجعل فى أيديهم أمور الخلائق وتدبير العالم كله.
Maksudnya : Ketahuilah, sesungguhnya Allah Swt telah menciptakan empat orang Malaikat yang mulia yaitu Malaikat Jibril, Malaikat Mika’il, Malaikat Israfil dan Malaikat Ijra;il, alaihissalam. Allah menyerahkan segala urusan makhluk dan pengaturan alam semesta ini di tangan – tangan mereka.
- Malaikat Jibril alaihissalam bertugas menyampaikan wahyu dan risalah kepada Nabi-nabi dan Rasul rasul Allah. Wahyu dan Risalah Allah tersebut disampaikan oleh Malaikat Jibril dalam dua bentuk. Bentuk pertama yang dapat dilihat misalnya Wahyu dan Risalah Allah yang disampaikan bentuk syari;at, misalnya ibadah shalat, zakat, puasa dan lainnya. Bentuk kedua Wahyu dan Risalah Allah yang disampaikan berupa hakekat, misalnya dalam mengerjkan ibadah shalat dituntut Muraqabah dan Musyahadah, jiwa harus bebas ( Hurriyah) maksudnya tidak ada ikatan lain selain Allah semata.
- Malaikat Mika;il alihissalam bertugas mengatur hujan dan memberi rizki kepada semua makhluk Allah. Disini tidak ada satu makhlukpun yang luput dari rezki Allah Swt walaupun ia hidup dalam sebuah batu.
- Malaikat Israfil alihissalam yang diberitugas menjaga trumpit dan meniupnya bila sudah waktunya pada hari kiamat nanti,
- Malaikat Ijra;il, alaihissalam yang bertugas mengambil nyawa / mencabut roh makhluk yang bernyawa, tidak ada satupun makhluk yang bernyawa yang luput dari malaikat ini bila kadar Allah telah tiba bahwa ia harus berpisah dari raganya.
- Malaikat Rakib yang diberi tugas mencatat amal baik dan dari Jin dan Manusia.
- Malaikat Atid yang diberi tugas mencatat amal buruk dari Jin dan Manusia.
- Malaikat Munkar yang diberi tugas menanya ttg amal kebaikan orang di dalam kuburnya
- Nangkir yang diberi tugas menanya ttg amal keburukan orang di dalam kuburnya. Dua orang Malaikat ini no.7 dan 8, mereka menanya orang yang sudah mati dari pada Jin dan Manusia.
- Malaikat Malik yang diberikan tugas menjaga Neraka, tak satupun penghuni Neraka yang terlepas dari pengawasannya.
- Dan yang ke 10. Malaikat Ridwan yang diberikan tugas menjaga Sorga.
Selain Malaikat Jibril, Malaikat Mika’il, Malaikat Israfil dan Malaikat Ijra;alihissalam 1,2,3, dan 4 yang sudah kita sebutkan. Empat malaikat yang wajib kita imani, masih ada enam malaikat lagi yang wajib kita imani yang punya tugas berbeda atau berlainan.
Keberadaan Malaikat di dunia ini adalah mereka tidak makan dan minum seperti manusia dan juga mereka tidak kawin, juga tidak melahirkan, mereka tidak tidur, tidak ditulis dan di hitung atau hisab amal mereka dan juga tidak ditimbang amal mereka. Tetapi Mereka dihalau beserta manusia dan jin. Mereka memberikan syafaat pada kesalahn bani Adam. Mereka melihat anak keturunan Adam yang beriman di sorga, dan orang yang akan masuk ke sorga dan juga orang-orang yang akan memasuki sorga dan apa saja yang Allah kehendaki.
Imam Abdurrahim bin Ahmad al Qadli mengatakan juga bahwa :
وأما جبريل عليه السلام فخلقه الله تعالى بعد ميكائيل عليه السلام بخمسمائة عام, وله ألف وستمائة جكاح, ومن رأسه إلى قدميه شعور من زعفران الشمس بين عينيه وعلى كل شعرة مثل القمر والكواكب وكل يوم يدخل فى بحر النور ثلاثمائة وسبعين مرة, فإذاخرج سقط من كل جناح ألف ألف قطرة فيخلق الله تعالى من كل قطرة ملكا واحدا على صورة جبريل عليه السلام يسبحون الله تعالى إلى يوم القيامة وهم الروحانيون.-2
دقائق الأخبلر
Maksudnya : Adapun Malaikat Jibril Alaihissalam ia telah ciptakan Allah Ta ‘ala ( dari Nur Muhammad ) lima ratus tahun sesudah Malaikat Mika’il Alaihissalam, Malaikat Jibril ini punya sayap seratus enam puluh buah, dari kepalanya hingga kedua kakinya tumbuh bulu semacam kulipis bawang putih, Matahari berada diantara dua matanya. Bermula setiap nyala bulan dan bintang (berasal dari bola matanya). Setiap harinya ia masuk berenang pada lautan Nur tiga ratus tujuh puluh kali. Maka apabila ia keluar dari lautan Nur itu, dan ia jatuhkan air Nur dari setiap bulu pada sayapnya satu juta titis atau titik. Allah Swt jadikan setiap satu titik satu orang malaikat dengan rupa wajah yang sama dengan Jibril Alaihissalam. Hal keadaan mereka bertasbih memuji Allah ta’ala sampai hari kiamat.
Malaikat Jibril Alaihissalam, dari Beliau inilah Nabi Besar Muhammad Saw menerima wahyu dan Risalah atau ajaran thareqat ini, Malaikat Jibril adalah Syekh murabbinya Nabi Muhammad Saw.
الملائكة
المراد بالإيمان بهم التصديق
بأنهم عباد الله تعالى
لاكما زعم المشركون من
أنهم ألهة مكرومون و
لاكما زعم اليهودى من
تنقصيهم لايعصون الله ما
أمرهم ويفعلون ما يأمرون
بأنهم سفراء الله تعالى
اى الواسطة بينه
وبين خلقه متصرفون فيهم
على حسب ما
يؤذن لهم صادقون فيما
أخبروا به عن
الله تعالى وأنهم بالغون
من الكثرة إلى
حد لا يعلمه
إلا الله تعالى
وبأنهم أجسام نورانية اى
مخلوقة من نور
غالبا وألا فبغضهم يخلق
من القطرات التى
نقطر من جبريل
بعد اغتساله من
نهر تحت العرش.
ولايأكلون ولايشربون ولا يتناكحون
ولا يتوالدون ولاينامون
ولاتكتب أعمالهم ولايحاسبون ولاتوزن
أعمالهم ويحشرون مع الإنسان
والجن ويشفعون فى أصاة
بنى أدم ويراهم
المؤمنون فى الجنة
ويدخلونها وتمتعون فيها ما
شاء الله. قيل
يكونون فيها كحالتهم فى
الدنيا فلا يأكلون ولايشربون
ولا ينكحون بل
يلهمون التسبيح والقديس. فيجدون
فيه مايجده أهل
الجنة من اللذة
لانه لايحتج للذة المحسوسة
إلا من ركبت
فيه الشهوة وهؤلاء
لا شهوة لهم
ومقتضى هذا أن الحور
والوالدان كذالك ويجوز الموت
عليهم لكن لايموت احد
منهم قبل النفخة اللاولى
بل بها حملة
العرش. والملائكة الأربعة فإنهم
يموت بعدها ويحيون قبل
النفخة الثانية, أخر من
يموت ملك الموت وماذكر من انهم
لايعصون الله لاينافى ماوقع
من إبليس لان
الصحيح أنه من الجن
لامن الملائكة ولا من
ينقل عن هاروت
وماروت فإن ذالك كذب.
نقله المؤخرون على الإسرائيليات
اى كتب اليهودى.
ولم يصح فى
ذلك خبر كما
قاله المفسرون. -1
-الشرقوى
على الهدهدى الشيخ عبد الله
الشرقوى هلمان
126
Silsilah TJ yang Ketiga
03.MUHAMMAD SAW IBN ABDULLAH
(MUHAMMAD RASULULLAH SAW TAHUN 569 -632 M)
سَيِّدُ
الْمُرْسَلِيْنَ إِمَامُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَتْقِيَاءِ
سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Muhammad Saw lahir di kota Mekkah
al Mukarramah, hari Senin, tanggal 12 Rabi;ul Awwal Tahun Gajah atau bertepatan
dengan tanggal 20 April tahun 569 Masehi. Muhammad Saw pembawa risalah Allah
yang terakhir dari kerasulan dan kenabian, dan juga penyempurna agama Islam.
Maka dari itulah dia adalah Nabi dan Rasul terakhir.
لَا
نَبِيَّ بَعْدَهُ La
nabiya ba,dahu ” tidak ada Nabi dan
Rasul sesudahnya”
Tercatat dan terkenal dalam sejarah
bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah yang telah menempuh dan menjalani
hidup, kehidupan dan penghidupan secara
manusiawi dan secara Sufi.Dia pernah sebagai pengembala kambing pada usia 6
tahun. Dimasa remajanya pernah ikut berperang dengan paman-pamannya, walaupun
dia sebagai pengumpul anak panah untuk diberika kepada mereka (paman-pamannya).
Nabi Muhammad juga pernah sebagai pedagang, jual menjual barang dagangan Siti
Khadijah. Beliau seorang yang cerdas dan bijaksana dalam berkata dan berbuat. Rasul
Saw mendapat julukan : “MUHAMMAD AL AMIIN” Maksudnya orang yang terpercaya dan
dapat dijadikan kepercayaan, karena sifat pribadinya yang indah menawan, dan
keagungan akhlaknya, tidak ada bandingannya di dunia ini. Dia selalu dipuja dan
dipuji oleh penduduk Muslimin di muka bumi dan juga dipuja oleh penduduk
langit. Wajiblah kita katakan :
يَا
مُحَمَّدُ أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ
حَقًّا
Maksudnya : “Ya Muhammad, Engkaulah
utusan yang benar.”
Tidaklah begitu mengherankan bila
kehidupan tasawuf tumbuh dan berkembang bersamaan dengan tumbuhnya dan
berkembangnya Agama Islam. Dimulai dari sebelum Beliau diangkat secara resmi
menjadi Rasul, Beliau sudah menempuh jalan tasawuf.
Rasul Saw berhijrah ke Madinah
tahun 622 Masehi, setelah 10 tahun di Madinah mengembangkan Agama Islam dan
Beliau wafat sekitar tanggal 8 juni tahun 632 Masehi.
Kehidupan Muhammad adalah
mencerminkan ciri-ciri prilaku kehidupan Sufi, dimana saja bisa dilihat dari
kehidupan sehari-hari Beliau yang sangat sedarhana dan menderita, disamping
menghabiskan waktunya dalam beribadah dan bertaqarruf pada Tuhannya.Seperti
sudah sama-sama kita maklumi bahwa sebelum Beliau diangkat menjadi Nabi dan
Rasul dan juga belum menerima wahhyu
pertama kali. Beliau sudah sering kali melakukan kegiatan Sufi, Dengan
melakukan Uzlah ke Gunung Jabal Nur didalam Gua Hera selama berbulan-bulan
lamanya hingga Beliau menerima Wahyu pertama saat diangkat oleh Allah Swt
sebagai Rasul terakhir tanggal 17 Ramadhan tahun pertama Kenabian, usia Rasul
Saw 40 tahun sekitar tahun 609 Masehi.
Setelah nabi Muhammad resmi
diangkat sebagai Nabi dan Rasul, diusia 40 tahun. Keadaan dan cara hidup Beliau
masih ditandai oleh jiwa dan suasana kerakyatan, meskipun Nabi berada
dalamlingkaran keadaan hidup serba dapat terpenuhi semua keinginan
terkendali.Lentaran Kekuasaannya sebagai nabi dan rasul Allah yang menjadi
kekasih Tuhannya. Pada waktu malam sedikit sekali tidurnya, waktunya dihabiskan
untuk takarruf – tawajjuh kepada Allah dengan memperbayak ibadah dan dzikir
kepadaNya.
Tempat tidur Nabi terdiri dari Balai Kayu biasa dengan alas tikar dari anyaman daun kurma, tidak pernah memakai pakaian dari Wool apalagi dari Sutra, meskipun Beliau mampu untuk membelinya, Beliau lebih suka hidup sedarhana.Begitulah salah satu contoh tauladan oleh seorang MANUSIA SEMPURNA, MANUSIA YANG TERMULIA DAN PEMIMPIN TERTINGGI, untuk membuka mata Shahabat-shahabatnya dan juga para Pengikutnya hingga akhir zaman, yang diperlihatkan kepada mereka., untuk apa manusia itu hidup.
Firman Allah tentang contoh
tauladan yang harus diteladani oleh Kaum Muslimin dan Muslimat belahan dunia
ini adalah Muhammad Rasulullah Saw.
لقد
كان لكم في
رسول الله أسوة حسنة -التبوة 128
Artinya “Sungguh pada diri Rasulullah itu itu terdapat suri tauladan yang baik untukmu (Kaum Muslimin dan Muslimat)”
MUHAMMAD SAW, BELIAU MANUSIA YANG TERMULIA DAN PEMIMPIN TERTINGG DAN JUGA SEORANG RAJA NEGERI ARAB
Nabi Muhammad Saw adalah seorang Raja Arab yang disegani Kawan dan Lawan, Ia seorang Kepala Negara yang Bijak, Beliau seorang Nabi Pemimpin Agama dan Umat,
Secara tradisional, dua zaman menggambarkan kehidupan dan karier Muhammad: pra-Hijrah antara tahun 570 dan 622 di Makkah; dan pasca-Hijrah antara tahun 622 dan wafatnya pada tahun 632 di Madinah. "Hijrah" mengacu pada migrasi Muhammad, bersamaan dengan Muslim awal, dari Makkah ke Madinah karena penganiayaan yang dilakukan oleh penduduk Makkah terhadap umat Islam awal. Kecuali pernikahannya dengan Khadijah dan Saudah, hampir seluruh pernikahan Muhammad dilangsungkan setelah migrasi. Nabi Muhammad Saw seorang Penguasa dan juga ia mempunyai 13 orang isteri yaitu : :
Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (25 th) dengan Sayyidah Siti Khadijah (40 th) binti Khuwailid ibn As’ad mulai tahun (595–620M).
Kehidupan Khadijah sebelum bersama Rasulullah Khadijah binti Khuwailid lahir pada sekitar tahun 556M di Mekkah, Arab Saudi. Khuwailid saudagar kaya di Mekkah. Ia adalah putri dari Khuwailid bin Asad dan Ibunya Fatimah binti Zaidah.
Seperti sang ayah, Khadijah berprofesi sebagai pedagang. Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan agung, serta memiliki pendirian yang teguh dan perangainya luhur. Sebelum bertemu Rasulullah, Khadijah pernah dua kali menikah.
Suami pertamanya Siti Khadijah adalah Abu Halah Al-Nabbasi ibn Zurarah al-Tamimi dan ia punya 2 orang anak putra-putri an.Halah dan Hindun. Setelah Abu Halal meninggal, Khadijah dinikahi Atiq bin Abdul Makhzumi. Khadijah kembali menjanda setelah Atiq bin Abdul Makhzumi meninggal.
Sebagai janda kaya yang berperangai luhur, tidak sedikit pemuka kaum Quraisy yang kaya raya ingin memperistrinya. Namun, pada akhirnya, pilihan Khadijah justru jatuh pada Muhammad, pria sederhana yang jauh lebih muda darinya.
Sebelum menjadi istri Nabi Muhammad, Siti Khadijah sudah mendapat Gelar dan julukan yang diberikan orang-orang kepadanya “Ratu Mekkah, Ratu Quraisy, ath-thaahirah, wanita suci”
Kehidupan Khadijah sebelum bersama Rasulullah Khadijah binti Khuwailid lahir pada sekitar tahun 555M di Mekkah, Arab Saudi. Ia adalah putri dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Zaidah. Seperti sang ayah, Khadijah berprofesi sebagai pedagang. Ia dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan agung, serta memiliki pendirian yang teguh dan perangainya luhur. Sebelum bertemu Rasulullah, Khadijah pernah dua kali menikah.
Suami pertamanya Siti Khadijah adalah Abu Halah Al-Nabbasi ibn Zurarah al-Tamimi dan ia punya 2 orang anak putra-putri an.Halah dan Hindun. Setelah Abu Halal meninggal, Khadijah dinikahi Atiq bin Abdul Makhzumi. Khadijah kembali menjanda setelah Atiq bin Abdul Makhzumi meninggal.
Sebagai janda kaya yang berperangai luhur, tidak sedikit pemuka kaum Quraisy yang kaya raya ingin memperistrinya. Namun, pada akhirnya, pilihan Khadijah justru jatuh pada Muhammad, pria sederhana yang jauh lebih muda darinya.
Sebelum menjadi istri Nabi Muhammad, Siti Khadijah sudah mendapat Gelar dan julukan yang diberikan orang-orang kepadanya “Ratu Mekkah, Ratu Quraisy, ath-thaahirah.”
Siti Khadijah yang merupakan istri pertama Nabi Muhammad yang memiliki banyak keistimewaan. Siti Khadijah mendapat julukan "Ath-Thaariah", yang berarti bersih dan suci. Sebagai istri Nabi Muhammad, ia mendapat gelar Ummul Mukminin (ibu dari orang mukmin) dan Sayyidatu Nisa'il 'alamin (penghulu para wanita di dunia pada zamannya). Siti Khadijah adalah istri yang sangat dicintai Rasulullah. Bahkan, selama 25 tahun pernikahan mereka, Nabi Muhammad tidak pernah menikah dengan perempuan lain
Perkawinan Nabi Saw dengannya Khadijah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniai putra 6 anak, 2 laki-laki dan 4 perempuan, yaitu :
- Qasim, (pemberi Imbalan) wafat saat kecil
- Zainab, (indah dan Wangi) wafat usia 29 tahun
- Ruqaiyah, wafat saat perang Badar (ia isteri Usman bin Affan)
- Ummu Kultsum, dan
- Fathimah Azzahra.
- Abdullah wafat saat kecil
Realita ini menuai tanda tanya, di usia berapakah Khadijah menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Keterangan yang banyak tersebar di buku-buku sirah, usia Khadijah ketika menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 40 tahun. Dan beliau meninggal di usia 65 tahun.
Keterangan ini berdasarkan riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Sa’d dalam At-Thabaqat Al-Kubra, dari Al-Waqidi. Dalam riwayat itu dinyatakan:
تَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَدِيجَةَ بِنْتَ خُوَيْلِدٍ وَهُوَ ابْنُ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ سَنَةً، وَكَانَتْ هِيَ يَوْمَئِذٍ ابْنَةَ أَرْبَعِينَ سَنَةً
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya (Khadijah) ketika beliau berusia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun.” (Thabaqat Ibn Sa’d, 1/132)
Sementara itu, dalam Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir mengatakan
وهكذا نقل البيهقي عن الحاكم أنه كان عمر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حين تزوج خديجة خمسًا وعشرين سنة، وكان عمرها إذ ذاك خمسًا وثلاثين، وقيل خمسًا وعشرين سنة
“…demikianlah dinukil oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim bahwa usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikah dengan Khadijah adalah 25 tahun, sedangkan usia Khadijah ketika itu adalah 35 tahun, ada juga yang mengatakan, 25 tahun…” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 2/295)
Kemudian, ketika Ibnu Katsir membahas tentang pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau membawakan dua riwayat,
وعن حكيم بن حزام قال: كان عمرها أربعين سنة. وعن ابن عباس: كان عمرها ثمانيًا وعشرين سنة. رواهما ابن عساكر
Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikahi Khadijah adalah 25 tahun. Sedangkan usia Khadijah 40 tahun.” Sementara dari Ibnu Abbas, bahwa usia Khadijah 28 tahun. Keduanya diriwayatkan Ibnu Asakir. (Al-Bidayah wa An-Nihayah, 5/293).
Menjadi istri pertama Nabi Muhammad Dalam mengurus bisnisnya, Siti Khadijah dikenal sebagai perempuan yang andal, pintar, dan cekatan. Suatu hari, hatinya tertambat pada Muhammad, seorang pria sederhana yang tepercaya, jujur, dan memiliki akhlak mulai. Saat itu, Muhammad belum diangkat oleh Allah menjadi Nabi umat Islam. Siti Khadijah dinikahi oleh Rasulullah ketika telah dua kali menjanda dan usianya menyentuh 40 tahun. Sementara Rasulullah baru berusia 25 tahun. Dalam riwayat disebut bahwa Khadijah adalah pedagang kaya yang memiliki rombongan dagang yang besar. Untuk itu, ia sering mengupah seseorang untuk menyertai dagangan dalam rombongan kafilahnya ke berbagai daerah.
Suatu ketika, Abu Thalib, paman Nabi Muhammad, mendengar bahwa Khadijah sedang mempersiapkan rombongan dagang ke negeri Syam. Nabi Muhammad Sebelum Diangkat Menjadi Rasul, Pamannya Abu Thalib kemudian mendatangi Siti Khadijah dan menawarkan agar Muhammad dipercaya untuk menyertai dagangan tersebut. Setelah disetujui, Muhammad membawa dagangan ke Syam dengan didampingi oleh Maisarah, budak Siti Khadijah. Berkat keterampilan dan kejujuran Muhammad, dagangan yang mereka bawa menghasilkan keuntungan besar. Sekembalinya ke Mekkah, Maisarah menceritakan tentang kejujuran, amanah, dan kemuliaan akhlak Muhammad kepada Khadijah. Cerita itu membuat Khadijah jatuh cinta, lalu meminta sahabatnya, Nufaisa binti Muniya, untuk menjajaki kemungkinan Muhammad menjadi suaminya. Dari situlah, berlangsung pernikahan antara Siti Khadijah dan Muhammad, yang belum diangkat sebagai rasul. Muhammad sendiri memperistri Khadijah bukan karena kekayaan atau status sosialnya, melainkan karena pribadi dan akhlaknya yang mulia.
Mendampingi awal kenabian Rasulullah Perbedaan usia yang mencolok tidak menjadi penghalang dalam rumah tangga Khadijah dan Muhammad. Kematangan Siti Khadijah pada usia 40 tahun membuat Muhammad merasa nyaman. Ketika pernikahan mereka berjalan 15 tahun, Muhammad diangkat menjadi nabi. Siti Khadijah menjadi sosok yang menenangkan hati Muhammad saat pertama kali menerima wahyu sebagai utusan Allah. Pasalnya, ketika itu, Rasulullah benar-benar dilanda kecemasan luar biasa. Siti Khadijah pun menjadi orang pertama yang menerima dan memeluk Islam, sebelum Rasulullah berdakwah di kalangan para sahabat. Pada masa awal kenabian, Siti Khadijah mencurahkan harta, pikiran, dan tenaganya untuk mendukung Nabi Muhammad dalam menegakkan agama Islam.
Siti Khadijah sangat berjasa bagi perkembangan dan penyiaran Islam pada awal kenabian hingga wafatnya pada sekitar tahun 619. Diperkirakan, Siti Khadijah meninggal pada usia 65 tahun, bertepatan dengan tahun kesepuluh kenabian Rasulullah. Selama 25 tahun membina rumah tangga dengan Nabi Muhammad, Siti Khadijah tidak pernah dimadu. Nabi Muhammad baru menikah lagi setelah ia meninggal. Hal itu menjadi salah satu keistimewaan Siti Khadijah. Beberapa keistimewaan Siti Khadijah lainnya adalah, ia menjadi orang pertama yang masuk Islam dan menjadi salah satu perempuan yang dinantikan surga.
Referensi :
Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
Artikel “Usia Khadijah ketika Menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. https://muslimah.or.id/3170-usia-khadijah-ketika-menikah-dengan-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html
Artikel “Siti Khadijah,istri yang dinantikan di Surga oleh Nabi Muhammad SAW,” https://lksaalfalahleces.net/utama/siti-khadijahistri-yang-dinantikan-di-surga-oleh-nabi-muhammad-saw
3= سيد
المرسلين إمام الأنبياء والأتقباء
سيدنا محمد صلى الله
عليه وسلم
وهو
محمد ابن عبدالله وامه
ستي امنة معيشته
عليه الصلاة والسلام من
والده شيئا بل ولد
يتيما عائلا فاسترضع في
ني سعد. ولما
بلغ مبلغا
يمكنه أن يعمل
عملا كان يرعى الغنم
مع أخوته من الرضاع
في البادية, وكذلما
رجع إلى مكة
كان يرها لاهلهاعلى
قراريط كما ذكره البخري
في صحيحه, ووجود
الأنبياء فى حال
التجردعن الدنيا ومشاغلها أمر
لابد منه لاتهم
لو وجدوا أغنياء
لالهتهم الدنيا وشغلوا بها
عن السعادة الأبدية.
وذلك ترى جميع الشرائع
الا لهية متفقة
على استحسان الزهد
فيها والتباعد عنها. وحال
الأنبياء السالفين أعظم شاهد
على ذالك. فكان
عيسى عليه السلام أزهد
الناس في الدنيا,
وكذالك كان موسى وإبراهيم
, وكانت حالتهم في صغرهم
ليست سعة بل كلهم
سواء تلك الحكمة البالغة
أظهرها الله على أنبيائه
ليكونوت عوذجا لمتبعيهم في
الإمتناع عن التكالب
على الدنيا والتهافت
عليها وذالك.سبب البلايا والمحن.
وكذالك رعاية الغنم, فما
من نبي الا
دعاها كما أخبر عن
ذالك الصادق في حديث
للبخارى, وهذه أيضا من
بالغ الحكم فإن الإنسان
إذا استرعى الغنم
وهي أضعف البهائم.
سكن قبله الرأف
واللطفة تعطفا, فإذا انتقل
من ذالك إلى
رعاية الخلق كان لما هذب
أولا من الحدة
الطبعية والظلم الغريري, فيكون
فى اعدل الاحوال,
ولما شب عليه
السلام كان يتجر. وكان
شريكه السائب
بن أبي السائب,
وذهب بالتجارة لخديجة رضي
الله عنها ال الشام
على جعل يأخذه,
ولما شرفت خديجة بزواجه,
وكانت ذات يسار عمل
فى مالها وكان
يأكل من نتيجة
عمله, وحقق الله ما
أمتن عليه به فى
سورة الضحى بقوله جل ذكره
: ألم
يجدك يتيما فأوى ووجدك
ضالا فهدى. ووجدك عائلا
فأغنى. بالايواء والأغناء قبل
النبوة والهداية بالنبوة, هداه
للكتاب والإيمان ودين إبراهيم
عليه السلام ولم يكن
يدرى ذلك قبل, ٌقال تعال فى
سورة الشورى : وكذلك أوحينا
إليك روحا من أمرن
ماكنت تدرى ما الكتاب
ولا الإيمان ولكن
جعلناه نورا نهدى به
من نشاء من
عبادنا.-
واعلم
أن النبي صلى
الله عليه وسلم لما
بلغ من العمر
أربعين سنة نبأ الله
تعالى فى
يوم الإثنين فى
شهر ربيع الاول,
وأرسله لكافة الناس بشيرا
ونذيرا, ولما بلغ من
العمر أحدى خمسين سنة
ونصفا أسرى بجسده وروحه
يقظة من مكة
إلى بيت المقدس
ثم عرج منه
إلى السموات السبع
إلى سدرة
المنتهى إلى مستوى سمع
فيه صريف الاقلام,
إلى العرش الى
مكان الخطاب مع ربه,
وفرض فذلك الوقت عليه
صلى الله عليه
وسلم وعلى أمته خمس
صلوات.
ولما كمل له صلى الله عليه وسلم من العمر ثلاث وخمسون أمره الله تعالى بالهجرة من مكة إلى المدينة المنورة , فخرج من مكة يوم الإثنين هلال ربيع الأول واختفى بغار ثور ثم خرج منه ليلة الإثنين, وقدم صلى الله عليه وسلم المدينة هى قباء يوم الإثنين الثاني عشر من ربيع الأول, ولما كمل له من العمر ثلاث وستون سنة توفاه الله تعالى وكان ذلك يوم الإثنين الثاني عشر من ربيع الأول فدفن, فى حجر عائشة رصى الله عنها, وكان حمله صلى الله عليه وسلم يوم الإثنين فى غرهرجب. وولادته يوم الإثنين أو ليلة الإثنين الثانى عشر من ربيع الأول فى مكة فى سوق الليل من محل مولده المشهورفى الكتاب الفقية نهاية الزين
01. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Saudah binti Zam’ah al-Amiriyah ibn Qais,
Perkawinan Nabi Muhammad Saw mulai tahun (620–632M) dengan Sayyidah Saudah (+57 th) binti Zam’ah al-Amiriyah ibn Qais, Uang mahar yang diberikan oleh Nabi Muhammad Saw 500 dirham koin emas. Saudah seorang janda dari Sakran ibn Amar punya 1 anak an.Abdurrahman.
Saudah binti Zam'ah bin Qais (bahasa Arab: سودة بنت زمعة بن قيس) adalah salah satu istri Nabi Muhammad. Nasab lengkapnya Saudah binti Zum'ah bin Qais bin Abdi Wadd bin Nashr bin Malik bin Hasal bin Amir bin Lu'ai AI-Qurasyiah. Ibunya bernama Syumus binti Qais bin Amr bin Zaid.
Awalnya Saudah menikah dengan sepupunya Sakran bin Amr saudara Suhail bin Amr, kemudian mereka bersama hijrah ke Habasyah (Ethiopia) lalu kembali lagi ke Mekah, namun suaminya wafat. Sebelumnya Saudah bermimpi, dan suaminya berkata, bahwa ia akan wafat, dan Saudah akan dinikahi Muhammad.
Setelah 25 tahun ber-monogami dengan Khadijah, istri beliau yang merupakan saudagar kaya raya, Nabi Muhammad pun mulai ber-poligami dengan pertama-tama menikahi Saudah pada bulan yang sama setelah Khadijah wafat, yaitu pada bulan Ramadhan, tahun ke-10 pasca kenabian, 3 tahun sebelum Hijrah. Sebelumnya, Nabi Muhammad melakukan akad nikah dengan Aisyah, tetapi baru menggaulinya 4 tahun kemudian di Madinah. Saudah ditawarkan (lamarkan) menikah oleh Khaulah binti Hakim, istri Utsman bin Madz'un.
Tidak ada riwayat yang pasti mengenai pada saat umur berapa Saudah dinikahi Rasulullah, setelah umur 57 tahun, tapi ayahnya dicatatkan masih hidup ketika Rasulullah menikahinya,ia perempuan yang lebih tua dari Rasulullah. Keduanya lalu menikah pada Ramadhan tahun kesepuluh setelah kenabian. Saudah merupakan putri dari Zam'ah bin Qais dari Suku Quraisy. Saudah berasal dari keturunan Luiy, salah satu nenek moyang dari Rasulullah. dan Saudah setelah 57 tahun dirinya menikah dengan Rasul, yaitu pada bulan Ramadhan tahun ke-54 Hijriyah. Setelah Pertempuran Badar, seorang ibu bernama Afra kehilangan kedua anaknya, Auf dan Muawidz dalam pertempuran itu, Saudah hidup bersama Afra untuk meringankan beban hidupnya.
Saudah dikenal sebagai perempuan bijak dan penyayang. Tubuhnya gemuk. Ketika ia mulai tua, ia rela memberikan hari-hari gilirannya untuk bersama Rasulullah kepada Aisyah yang merupakan istri favorit Sang Nabi, demi menyenangkan beliau dan supaya dirinya tidak jadi diceraikan oleh beliau sehingga turunya Quran surat an-Nisa ayat 128.
Saudah adalah istri Rasulullah yang terlibat langsung dalam peristiwa sebab turunnya ayat hijab. Sebelum datangnya perintah dari Allah untuk berhijab, istri-istri Nabi tidaklah berhijab, dan tidak pula beliau memerintahkan mereka berhijab. Namun Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang mempunyai karakter keras, mendatangi Nabi, menyarankan beliau agar menghijabi istri-istri beliau. Akan tetapi Sang Nabi tidak mengindahkan usulannya. Di zaman Nabi Muhammad, jika istri-istri beliau ingin buang air besar, mereka keluar pada waktu malam menuju tempat buang hajat yang berupa tanah lapang dan terbuka bernama “Al-Manasi”. Lalu pada suatu malam waktu Isya` Saudah keluar untuk buang hajat, karena Saudah adalah seorang wanita yang berpostur tinggi, lalu diketahui oleh Umar kemudian berseru kepadanya,"Sungguh kami telah mengenalmu wahai Saudah!". Takut akan hal itu terulang, Saudah pun melaporkan hal tersebut kepada Nabi. Dan tidak lama berselang ayat hijab pun diturunkan. Dan istri-istri Nabi kembali diizinkan untuk buang air besar.
Saudah yang merasa sudah berumur, memberikan jatah harinya kepada Aisyah. Nabi Muhammad tetap mempertahankan Saudah hingga wafatnya. Semasa Umar bin Khathab ia memberikan sekantong Dirham pada Saudah, lalu Saudah membagi-bagikan pada yang membutuhkan.
Aisyah bercerita tentang sifat kemanusiaannya Muhammad,"Suatu hari, Saudah mengunjungi kami. Maka Rasulullah duduk di antara aku dan Saudah, salah satu kakinya di pangkuanku dan kaki yang lainnya di pangkuan Saudah. Lalu aku membuatkan harirah (sejenis makanan berkuah) untuk nya. Kemudian aku berkata kepadanya (Saudah), 'Makanlah.' Ternyata dia menolak untuk makan. Aku berkata, 'Kamu makan, atau (kalau tidak) aku akan lumuri wajahmu.' Ternyata dia tetap menolak, maka aku ambil sedikit makanan di piring dan aku lumuri wajahnya. Rasulullah tertawa. Lalu beliau mengangkat kakinya yang berada di pangkuan Saudah agar dia dapat membalasnya, seraya berkata, 'Lumuri wajahnya.' Maka Saudah mengambil sedikit makanan yang ada di piring, kemudian dia melumuri wajahku dengannya, sementara Rasulullah tertawa."
Makam Saudah di Baqi Madinah.
Saudah wafat di akhir masa Khalifah Umar bin Khathab dan dimakamkan di Baqi Madinah.
Referensi :
Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
Artikel “Saudah binti Zam'ah”, Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Saudah_binti_Zam%27ah
02. Rakam jejak Pernikahan Nabi Muhammad Saw dimulai tahun (620–632M) dengan Sayyidah Siti Aisyah binti Abu Bakar as-Shiddiq.
Ibunya bernama Ummu Ruman, Uang mahar yang diberikan 500 dirham koin emas dan ia dikawini atau digauli oleh Nabi Muhammad Saw usia 9 tahun. Aisyah binti Abi Bakar (sekitar 613/614 – Juli 678 Masehi) adalah seorang komandan, politikus, ahli hadis dan istri ketiga juga termuda dari Nabi Muhammad.
Aisyah memiliki peran penting dalam sejarah Islam awal, baik selama hidup Muhammad maupun setelah kematiannya. Dalam tradisi Sunni, Aisyah digambarkan sebagai seorang yang terpelajar, cerdas, dan ingin tahu. Ia berkontribusi dalam penyebaran pesan Muhammad dan mengabdi kepada masyarakat Muslim selama 44 tahun setelah kematian Muhammad.
Aisyah meriwayatkan 2.210 hadis sepanjang hidupnya, tidak hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pribadi Muhammad, tetapi juga pada topik-topik seperti hukum waris, haji, fiqih shalat, dan eskatologi. Kecerdasan dan pengetahuannya dalam berbagai subjek, termasuk puisi dan kedokteran, sangat dipuji oleh para ulama dan tokoh terkemuka awal seperti al-Zuhri dan muridnya Urwah bin az-Zubair.
Kehidupan Awal dan Silsilah
Aisyah lahir di Mekkah sekitar tahun 613-614M. Aisyah adalah putri dari Abu Bakar dan Ummi Ruman, dua orang dari sahabat Nabi yang paling terpecaya. Tidak ada sumber yang memberi informasi lebih banyak terkait masa kecilnya. Beberapa sumber klasik menyatakan bahwa Aisyah berusia enam atau tujuh tahun pada saat pernikahannya, dan dikawinkan saat berusia sembilan tahun. Namun, umur tepat Aisyah saat pernikahannya masih menjadi sumber perdebatan oleh beberapa tokoh.
Pernikahan dan Perkawinan
Sebelum pertunangannya dengan Muhammad, Aisyah (yang saat itu berusia lima tahun) bertunangan dengan putra Mut'im ibnu 'Adi, yaitu Jubair ibnu Mut'im; mengikuti kebiasaan pernikahan dini di Arab pada abad keenam. Pertunangan itu gagal karena kekhawatiran dari keluarga Aisyah.
Bedanya antara Pernikahan dan Perkawinan, menurut kaedah fiqih Islam, kata “Nikah berarti aqad yaitu ijab dari walinya dan qabul manten perianya, saat berhadapan keduanya didepan dua saksi” sedangkan kata “Kawin berarti jima’ (bercampur, berhubungan badan) manten peria-wanitanya.
Menurut buku Shahih Bukhari, setahun kemudian Aisyah kemudian bertunangan dengan Muhammad pada usia enam tahun. Beberapa sumber Islam dari era klasik mencantumkan usia Aisyah sebagai enam tahun pada saat pernikahan dan sembilan atau sepuluh tahun pada saat perkawinannya; Namun, beberapa ulama lain tidak setuju dengan ini karena ketidakkonsistenan dalam narasi tentang masa mudanya.
Sebelum pertunangannya dengan Muhammad, Aisyah (yang saat itu berusia lima tahun) bertunangan dengan putra Mut'im ibnu 'Adi, yaitu Jubair ibnu Mut'im; mengikuti kebiasaan pernikahan dini di Arab pada abad keenam. Pertunangan itu gagal karena kekhawatiran dari keluarga Aisyah. Menurut buku Shahih Bukhari, setahun kemudian Aisyah kemudian bertunangan dengan Muhammad pada usia enam tahun. Beberapa sumber Islam dari era klasik mencantumkan usia Aisyah sebagai enam tahun pada saat pernikahan dan sembilan atau sepuluh tahun pada saat perkawinannya; Namun, beberapa ulama lain tidak setuju dengan ini karena ketidakkonsistenan dalam narasi tentang masa mudanya. Meskipun demikian, secara keilmuan hadis, narasi awal merupakan posisi yang lebih kuat.
Nabi Muhammad dua kali bermimpi bahwa ia melihat Aisyah di mimpinya, dibawakan oleh Malaikat untuk menjadi istrinya. Menganggap itu adalah ketentuan dari Allah yang harus dijalankan, ia pun meminta kepada ayahnya Aisyah, yaitu Abu Bakar, untuk memberikan putrinya untuk dijadikan istri. Awalnya, Abu Bakar ragu untuk menikahkan putrinya kepada Muhammad, karena ia menganggap Muhammad dan dirinya adalah bersaudara. Namun setelah diyakinkan bahwa dirinya dan Muhammad hanya saudara dalam agama, dan Aisyah adalah halal untuk Muhammad nikahi, rasa ragu di dalam hati Abu Bakar pun terangkat. Pertunangan Aisyah dengan Jubair ibnu Mut'im pun kemudian dibatalkan.
William Montgomery Watt, seorang orientalis Barat, berpendapat bahwa Muhammad berharap untuk memperkuat hubungannya dengan Abu Bakar; penguatan ikatan umumnya berfungsi sebagai dasar pernikahan dalam budaya Arab.
Biografi Ibnu Sa'ad menyatakan usia Aisyah pada saat menikah antara enam dan tujuh tahun, dan dikawinkan saat berusia sembilan tahun. Sementara itu, biografi Ibnu Hisyam tentang Muhammad menunjukkan bahwa Aisyah mungkin berusia sepuluh tahun saat dikawinkan. Al-Tabari mencatat Aisyah tinggal bersama orang tuanya setelah pernikahan dan dikawinkan pada usia sembilan tahun karena dia masih muda dan belum matang secara fisik pada saat menikah; Namun, di tempat lain, Tabari tampaknya menganggap bahwa Aisyah lahir di tahun Jahiliyyah (sebelum 610M), yang berarti usia sekitar dua belas tahun atau lebih saat menikah.
Semua hadis yang ada sepakat bahwa Aisyah menikah dengan Muhammad di Mekkah, tetapi pernikahan tersebut baru disempurnakan pada bulan Syawal setelah hijrah Muhammad ke Madinah (April 623M).Beberapa sumber klasik menunjukkan bahwa Aisyah mengatakan bahwasanya pernikahan tersebut dilaksanakan di Madinah sendiri tanpa ada penundaan.
Dalam tradisi literatur Islam, usia muda pernikahannya tidak memantik wacana yang signifikan; Meskipun demikian, dua orang Peneliti Muslim yaitu Spellberg dan Ali (peneliti Islam asal Amerika Serikat) meneliti tentang alasan penulis biografi Muslim awal menyebut usianya secara eksplisit, karena itu bukan pendekatan yang biasa. Kemudian, mereka berhipotesis bahwa umur aisyah mungkin disebut sebagai konotasi terhadap kemurniannya.[catatan 2] Usianya juga tidak menarik minat para ulama khalaf, dan tidak dikomentari bahkan oleh para polemik agama abad pertengahan dan modern-awal.
Kritik terhadap usia Aisyah, yang merupakan usia umum untuk pernikahan di Arab pada abad keenam,[26] telah mendorong banyak cendekiawan Muslim modern untuk meng-kontekstual-isasikan usia Aisyah yang diterima secara tradisional dengan menekankan relativisme budaya, anakronisme, dimensi politik dari pernikahan, perbedaan laju pertumbuhan fisik antar zaman, dan lain-lainnya.
Kehidupan Pribadi, Hubungan dengan Nabi Muhammad Saw
Dalam sebagian besar tradisi Timur Tengah Arab Muslim, Khadijah binti Khuwailid digambarkan sebagai istri Nabi Besar Muhammad Saw yang paling dicintai dan difavoritkan; tradisi Sunni menempatkan Aisyah sebagai istri kedua setelah Khadijah. Ada beberapa hadis, atau cerita atau ucapan Muhammad, yang mendukung posisi ini. Salah satunya menceritakan bahwa ketika seorang sahabat bertanya kepada Muhammad, "siapa orang yang paling kamu cintai di dunia ini?" dia menjawab, "Aisyah."Cerita lain mengatakan bahwa Muhammad membangun rumah Aisyah sedemikian rupa sehingga pintunya terbuka langsung ke masjid, dan disebutkan bahwa ayat-ayat Qur'an tidak datang kepada Muhammad di tempat tidur manapun selain miliknya Aisyah.
Berbagai tradisi mengungkapkan kasih sayang timbal balik antara Muhammad dan Aisyah. Muhammad sering kali hanya duduk dan menonton Aisyah dan teman-temannya bermain dengan boneka, dan kadang-kadang, dia bahkan bergabung dengan mereka. Selain itu, Muhammad dan Aisyah memiliki hubungan intelektual yang kuat. Muhammad menghargai daya ingat dan kecerdasannya yang tajam sehingga dia memerintahkan para sahabatnya untuk meniru beberapa praktik keagamaan dari Aisyah.
Perlakuan spesial di antara istri-istri Nabi Muhammad Saw
Para istri Rasul terbagi menjadi dua kubu. Yang satu terdiri dari Aisyah, Hafshah, Shafiyah dan Saudah; sedangkan kubu satunya lagi terdiri dari Ummu Salamah dan istri-istri beliau yang lain. Umat muslim pada saat itu sadar kalau Aisyah adalah istri favorit Nabi, maka bila mereka ingin memberikan hadiah kepada Nabi, mereka menunggu hingga Nabi mengunjungi rumah Aisyah untuk gilirannya. Kubunya Ummu Salamah mendiskusikan masalah ini bersama, dan berkeputusan bahwa Ummu Salamah mesti meminta kepada Muhammad supaya menyuruh umatnya untuk mengirim hadiah mereka ketika Muhammad juga berada di rumah istri-istrinya yang lain. Ketika saat gilirannya bersama Muhammad, Ummu Salamah pun membicarakan hal tersebut dengannya, tetapi Muhammad tidak memberikan jawaban.
Setelah gilirannya bersama Nabi usai, Ummu Salamah pun ditanyakan oleh istri-istri Nabi yang ada di kubunya, ia memberi tahu mereka bahwa Rasul tidak memberikan jawaban. Maka mereka memintanya untuk mencoba lagi. Pada hari gilirannya yang berikutnya, Ummu Salamah mencoba kembali membicarakan hal tersebut kepada Rasul, akan tetapi ia tetap tidak memberikan jawaban. Setelah gilirannya usai, istri-istri Rasul yang ada pada grupnya kembali bertanya ke Ummu Salamah, dia pun menceritakan kalau Rasul lagi-lagi tidak memberikan jawaban. Maka mereka berkata kepadanya, "Bicarakan dengan beliau sampai ia memberikanmu jawaban." Maka ketika waktu gilirannya, Ummu Salamah mencoba membicarakan hal tersebut lagi dengan Nabi, dan akhirnya beliau pun memberikan jawaban, ia berkata, "Jangan sakiti aku mengenai Aisyah, sebab firman-firman Allah tidak datang kepadaku di tempat tidur manapun selain tempat tidurnya Aisyah." Ummu Salamah pun berkata, "Aku memohon ampun kepada Allah karena telah menyakitimu."
Kubu Ummu Salamah lalu memanggil Fatimah, anaknya sang Muhammad. Mereka meminta agar Fatimah memohon kepada beliau supaya memperlakukan mereka setara dengan Aisyah binti Abu Bakar. Fatimah lalu pergi membicarakan hal tersebut ke Muhammad, dan ia menjawab, "Wahai putriku! Tidakkah kau mencintai apa yang aku cintai?" Fatimah pun menjawab iya. Dia lalu pergi melaporkan hal tersebut ke istri-istri Nabi dari kubu Ummu Salamah. Tidak puas, mereka meminta supaya Fatimah untuk kembali memohon hal tersebut kepadanya, tetapi Fatimah menolak. Mereka pun kemudian menyuruh Zainab binti Jahsy yang merupakan salah satu istri Nabi dan sepupunya, untuk pergi memohon kepada beliau. Ketika bertemu dengan Nabi, dengan menggunakan kata-kata yang kasar Zainab berkata, "Istri-istrimu meminta dirimu untuk memperlakukan mereka dan putrinya Ibnu Abu Quhafah (Aisyah) secara setara." Zainab menaikkan suaranya lalu mengumpati Aisyah di mukanya, yang saking kerasnya, Muhammad pun melihat ke hadapan Aisyah menunggu apakah dia akan membalasnya atau tidak. Maka Aisyah pun membalas Zainab sampai membuat Zainab terdiam. Yang mana ini membuat Nabi tersenyum dan berkata, "Dia memang benar-benar putri Abu Bakar."
Pada peristiwa terpisah, Nabi Muhammad pernah ingin menceraikan salah satu istrinya yaitu Saudah karena Saudah telah mulai tua. Saudah lalu memohon agar sang Nabi mempertahankannya dengan memberikan jatah gilirannyanya kepada Aisyah. Maka Nabi pun menerima usulan tersebut dan tetap mempertahankannya.
Tuduhan berzina (Peristiwa Ifk)
Aisyah pernah dituduh telah berzina dengan salah seorang pasukan Nabi yang mengantarnya pulang ketika dirinya tertinggal dari rombongan sang Rasul. Berzina bagi perempuan yang mempunyai suami adalah sebuah pelanggaran serius dalam Islam yang hukumannya adalah dirajam sampai mati.
Setiap kali Muhammad akan melakukan serangan ghazwah ke pemukiman atau kafilah dagang milik orang-orang kafir, ia biasa mengundi istri-istrinya untuk memilih salah satu dari mereka yang akan menemaninya. Aisyah menjadi orang yang beruntung pada saat itu. Ia pun dibawa di dalam sebuah rengga tertutup di atas seekor unta. Dalam perjalanan pulang seusai serangan, rombongan Nabi berhenti sejenak untuk istirahat, dan Aisyah pun turun untuk buang air. Sekembalinya dirinya ke rengga, ia menyadari bahwa kalungnya hilang, maka Aisyah kembali ke tempat ia buang air untuk mencarinya. Setelah berhasil menemukannya, rupanya rombongan Nabi telah pergi, mengira Aisyah berada dalam rengga-nya. Maka Aisyah pun menunggu di tempat itu berharap rombongan Nabi akan sadar bahwa dirinya tertinggal.
Menunggu lama, Aisyah mengantuk dan tertidur. Pada pagi harinya, Safwan bin Mu'attal, salah seorang pasukan Nabi yang tertinggal karena alasan tertentu, menemuinya dan mengantarnya pulang. Setibanya di Madinah, timbullah rumor (isu-isu) bahwa Aisyah telah berzina dengan Safwan. Hal ini diperburuk dengan fakta bahwa Aisyah terbaring sakit selama sebulan semenjak dirinya pulang, yang mengakibatkan rumor tersebut semakin besar dan tidak terkendali.
Selama sakitnya, Aisyah telah menduga ada yang aneh, sebab Nabi tidak lagi berlaku hangat kepadanya, dan cenderung menghindari berkomunikasi langsung dengannya. Ia pun mengetahui kalau ada tuduhan dirinya telah berzina setelah diceritakan oleh Umm Mistah. Aisyah pun merasa sedih dan meminta kepada sang Rasul supaya dirinya diizinkan untuk kembali ke rumah ibunya untuk menenangkan diri.
Setibanya di rumahnya, Aisyah menanyakan kepada ibunya tentang apa yang terjadi, dan ibunya berkata: "Wahai putriku! Jangan terlalu mencemaskan masalah ini. Demi Allah, tidak pernah ada wanita menawan yang dicintai suaminya yang memiliki istri-istri lain, selain di mana istri-istri yang lain dari suaminya itu akan membuat-buat berita bohong tentang dirinya." Aisyah pun pergi ke kamarnya dan menangis.
Di pagi harinya, Nabi Muhammad yang belum juga mendapatkan petunjuk dari Allah mengenai masalah ini, memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid, untuk menanyakan pendapat mereka. Usamah mengatakan, 'Wahai Rasulullah (ﷺ)! Tetap pertahankan istrimu, karena, demi Allah, kami tidak tahu apa-apa tentang dirinya kecuali kebaikan." Sedangkan Ali berkata, "Wahai Rasulullah (ﷺ)! Allah tidak membatasi dirimu, ada banyak perempuan selain dirinya, tetapi engkau dapat bertanya kepada si pelayan wanita yang akan mengatakan hal yang sebenarnya."
Muhammad pun memanggil Barirah, pelayannya Aisyah, menanyakannya apakah ada gerak-gerik Aisyah yang membangkitkan rasa kecurigaan dirinya. Yang mana Barirah berkata: "Tidak, demi Allah yang telah mengirimkanmu kebenaran, saya tidak pernah melihat sesuatu yang salah darinya kecuali diakibatkan dirinya yang masih kecil, ia terkadang tertidur dan meninggalkan adonan keluarganya dimakan kambing."
Maka setelah saat itu Nabi pun naik ke atas mimbar mengajak para pengikutnya untuk menghukum Abdullah bin Ubai bin Salul yang telah memfitnah keluarganya. Sa'ad bin Muadz pun berdiri dan berkata "Wahai Rasulullah (ﷺ)! Demi Allah, Aku akan membebaskanmu dari dirinya. Jika orang itu dari Bani Aus, aku akan penggal kepalanya, dan jika dia berasal dari saudara-saudara kami, Bani Khazraj, maka perintahkanlah kami, dan kami akan memenuhi perintah anda." Pimpinan Bani Khazraj, Sa'ad bin Ubadah pun berdiri dan berkata "Demi Allah! Kau telah berbohong, kau tidak boleh membunuhnya dan kau tidak akan bisa membunuhnya." Usaid bin Hudhair lalu ikut berdiri dan berkata (ke Sa'ad bin Ubadah), "Kau yang berbohong! Demi Allah kami akan membunuhnya, dan kau adalah seorang munafik, yang membela teman munafiknya." Cekcok pun semakin memanas antara Bani Aus dan Khazraj. Sebelum timbul konflik antara kedua belah pengikutnya tersebut, Nabi pun mendiamkan mereka.
Aisyah telah menangis tanpa henti dua malam satu hari. Saat itu ia ditemani orang tuanya dan seorang perempuan Anshar memasuki kamarnya dan ikut menagis dengannya. Tidak lama setelahnya, Muhammad pun datang mengunjunginya. Selama satu bulan lebih firman dari Allah tidak turun-turun kepada beliau mengenai kasus ini. Setelah duduk, Nabi mengucap Tasyahud dan berkata:
"Wahai Aisyah! Aku telah diinformasikan hal ini dan itu mengenai dirimu; dan jika kamu tidak bersalah, Allah akan menunjukkan ketidak bersalahanmu, sedangkan jika kamu telah melakukan dosa, maka mintalah ampunan kepada Allah, dan bertobat kepadanya, karena ketika seorang hamba mengakui dosanya dan bertobat kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya."
Ketika Muhammad selesai dengan perkataannya, Aisyah telah berhenti menangis. Ia pun meminta kepada orang tuanya untuk menyampaikan apa yang ingin ia katakan kepada Muhammad, tetapi mereka menolak dengan mengatakan, bahwa mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada sang Rasul.
Aisyah pun berbicara langsung kepada sang Rasul:
"Demi Allah, aku tahu kalau engkau telah mendengar cerita ini (mengenai Ifk) sampai-sampai hal itu tertanam di pikiranmu dan membuatmu memercayai hal itu. Jadi sekarang, kalaupun aku mengatakan bila aku tidak bersalah, dan Allah tahu aku tidak bersalah, engkau pasti tidak akan memercayaiku; dan bila aku mengatakan aku melakukan hal itu, dan Allah tahu kalau aku tidak melakukannya, engkau pasti akan memercayaiku. Demi Allah aku tidak mendapatkan perbandingan lain dari situasi diriku saat ini denganmu selain dengan situasi yang pernah dialami ayahnya Yusuf yang berkata: 'Maka (bagiku) kesabaran adalah yang paling cocok untuk menghadapi hal yang engkau nyatakan dan hanya Allah lah satu-satunya yang bisa dipinta pertolongan.'"
Aisyah lalu berbalik, dan berbaring di tempat tidurnya. Maka seketika itu wahyu datang kepada Nabi Muhammad, dan beliau berkata, "Aisyah, Allah telah menyatakan ketidak-bersalahanmu." Ibu Aisyah pun berkata kepada Aisyah, "Berdirilah dan hampiri beliau." Namun Aisyah berkata, "Demi Allah, aku tidak akan menghampiri dirinya dan aku tidak akan berterima kasih kepada siapapun selain kepada Allah." Muhammad lalu menyampaikan ayat-ayat yang telah diturunkan Allah kepadanya (QS. An-Nur 11-20). Adapun beberapa orang yang menyebarkan fitnah seperti Hassan bin Tsabit, Hamnah binti Jahsy (saudari Zainab binti Jahsy), dan Mistah bin Utsatsah dihukum cambuk 80 kali.
Menjelang wafatnya Baginda Nabi Muhammad Saw
Di saat hari-hari terakhir Muhammad di mana sakitnya semakin serius, beliau meminta supaya dirinya dirawat di rumahnya Aisyah. Beliau pun dipandu ke sana oleh Al Abbas dan Ali bin Abi Thalib, dengan kaki beliau terseret-seret di tanah.
Di dalam Shahih Bukhari, yang merupakan kitab koleksi hadits yang dianggap paling shahih dan salah satu dari shahihain, diriwayatkan bahwa Aisyah melaporkan:
هَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السَّمِّ ".
Sang Nabi (ﷺ) pada saat sakitnya yang berujung kematian sering berkata, "Wahai Aisyah! Aku masih merasakan sakit yang diakibatkan oleh makanan yang aku makan di Khaibar, dan pada saat ini, aku merasa pembuluh jantungku seperti sedang dipotong oleh racun itu."
Referensi :
- Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
- Artikel “Aisyah.” dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Aisyah
03. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Hafshah binti Umar ibn Khatthab.
Ibunya bernama Zainab binti Madaun, Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Hafshah (21 th) binti Umar ibn Khatthab mulai tahun (625–632 Masihi). Uang mahar 400 koin emas yang diberikan oleh Nabi Saw, Sayyidah Hafshah seorang janda Khunais ibn Hudhafah al Sahmiy.
Hafsah binti Umar (wafat 45 H) adalah salah satu istri Nabi Muhammad SAW (Ummul Mukminin) dan putri dari Khalifah Umar bin Khattab. Dikenal sebagai sosok yang cerdas, shalihah, dan ahli ibadah, beliau adalah wanita jarang yang pandai membaca serta menulis. Ia dipercaya menyimpan mushaf asli Al-Qur'an pertama.
Profil dan Kisah Hafsah binti Umar:
Putri Umar: Hafsah adalah putri dari Umar bin Khattab dan Zainab binti Mazh'un.
Pernikahan: Beliau dinikahi Nabi Muhammad SAW setelah suaminya sebelumnya, bernama Khunais bin Hudzafah, ikut perang Badar dan gugur dalam perang tersebut.
Penjaga Al-Qur'an: Hafsah dikenal sebagai sahabat perempuan yang mampu membaca dan menulis. Mushaf Al-Qur'an yang dikumpulkan pada masa Abu Bakar disimpan olehnya, sehingga ia dijuluki sebagai penjaga Al-Qur'an.
Ibadah: Ia dikenal tekun berpuasa dan salat malam.
Karakter: Dikenal tegas dan memiliki watak yang mirip dengan ayahnya, Umar bin Khattab.
Hafsah binti Umar meninggal dunia pada tahun 45H dan dimakamkan di pemakaman Baqi'.
Hafshah binti Umar (bahasa Arab: حفصة بنت عمر ) adalah salah seorang istri Nabi Muhammad. Ia berusia sekitar 19 tahun ketika dinikahi sang Nabi Saw.
Nama lengkap Hafshah adalah Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya adalah Zaynab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un.
Hafsah binti Umar Sang Penjaga Kitab Allah
Hafsah adalah salah satu putri dari sahabat Rasulullah, yakni khalifah Umar bin Khattab. Dia juga merupakan salah satu ibu dari orang-orang yang beriman (Ummul Mukminin) karena dia menikah dengan Nabi SAW. Dalam bahasa Arab, hafs adalah salah satu nama yang diberikan untuk singa. Rasulullah SAW sering menyebut Umar sebagai Abu Hafs (ayah dari Hafs, yaitu Hafsah).
Sebelum menikah dengan Nabi, Hafsah menikah dengan seorang pria bernama Khunais bin Hudhafah. Dia ikut perang Badar dan kemudian jatuh sakit di Madinah dan wafat. Dia meninggalkan Hafsah sebagai janda. Pada masa itu, bukanlah sesuatu yang aib, atau dianggap rendah untuk menawarkan putri atau adik/kakak perempuan untuk dinikahi kepada seorang pria yang diizinkan oleh walinya. Orang-orang Arab suka menikahkan putri mereka pada usia dini, dan jika mereka menjadi janda, mereka akan segera menikahkannya kembali. Itulah sebabnya ketika Hafsah menjadi janda, Umar khawatir dan bingung. Suatu hari, dia pergi ke rumah Abu Bakar dan menawarkan putrinya untuk dinikahi Abu Bakar. Abu Bakar tetap diam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Umar meninggalkan rumah Abu Bakar dengan perasaan bingung.
Kemudian dia pergi ke Utsman dan mengira bahwa karena putri Nabi, Ruqayyah, yang merupakan istri Utsman, telah meninggal, Utsman mungkin akan merespons dengan baik. Namun, Utsman menjawab, “Aku tidak ingin menikah hari ini.” Hal ini karena Utsman masih belum pulih dari kematian istri tercintanya. Umar, jelas kesal, pergi dan itulah saat Rasul Allah melihatnya dan bertanya mengapa dia terlihat begitu khawatir. Umar memberitahunya tentang apa yang terjadi dan Nabi SAW berkata, “Hafsah akan menikahi seseorang yang lebih baik dari Utsman, dan Utsman akan menikahi seseorang yang lebih baik dari Hafsah.”
Umar meninggalkan pertemuan dengan Nabi dalam hati yang lega, tetapi bingung tentang apa yang dimaksud oleh Nabi. Ketika Umar bertemu dengan Abu Bakar, dia menceritakan kepadanya tentang apa yang dikatakan oleh Nabi. Abu Bakar tersenyum dan berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah SAW menyebutkan Hafsah. Tapi aku tidak ingin membuka rahasianya. Jika beliau tidak menunjukkan minatnya untuk menikahinya, aku akan menikahinya. Jadi jangan simpan dendam terhadapku."
Utsman datang kepada Rasulullah SAW dengan sikap sedih dan bingung atas kematian istrinya. Dia berkata kepada Nabi SAW, “Hubungan pernikahanku denganmu telah berakhir dengan meninggalnya Ruqayyah, Wahai Rasul Allah!" Rasul yang mulia merasa simpati kepadanya dan kemudian berkata, “Aku telah memberikanmu saudaranya, Ummu Kultsum dalam pernikahan. Jika aku memiliki sepuluh putri, aku akan memberikan mereka kepadamu untuk dinikahi (satu per satu).”
Akhirnya Rasulullah SAW menikahi Hafsah dan Utsman menikahi Ummu Kultsum. Hafsah sekarang beruntung mendapatkan gelar bergengsi sebagai 'Ibu dari Orang yang Beriman' (Ummul Mukminin). Hafsah adalah seorang yang tekun beribadah. Dia sangat taat, berpuasa di siang hari, dan beribadah di malam hari. Dia paling dekat dengan Aisyah di antara istri-istri Nabi. Bahkan, seolah-olah keduanya adalah saudara kandung. Ini karena mereka selalu setuju dalam banyak hal dan tidak pernah berselisih.
Namun, kepribadian Hafsah memiliki sedikit nuansa sesuai dengan arti namanya, karena dia memiliki kepribadian yang kuat dan tegas. Mungkin dia mengambil sifat ayahnya, Umar al-Faruq. Karena itu, Rasulullah SAW pernah menceraikannya sekali dan kemudian (merujuknya) menerimanya kembali. Ibn Sa'd mencatat bahwa Rasulullah SAW menceraikan Hafsah sekali dan kemudian menerimanya kembali karena Malaikat Jibril berkata kepadanya, “Ambillah kembali Hafsah, karena dia sering berpuasa dan shalat di malam hari, dan dia adalah istri-mu di surga.”
Humaid bin Anas meriwayatkan bahwa, “Rasulullah SAW menceraikan Hafsah, dan kemudian dia diperintahkan untuk menerimanya(merujuknya) kembali, dan dia melakukannya.” Uqbah bin Amir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menceraikan Hafsah, putri Umar. Ketika Umar mendengar hal ini, dia menyebarkan pasir di atas kepalanya dan berkata, “Allah tidak akan lagi memperhatikan Umar dan putrinya setelah dia diceraikan Rasulullah SAW.”
Maka Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah SAW keesokan harinya dan memberitahunya, “Allah memerintahkanmu untuk menerima (merujuknya) kembali Hafsah sebagai cara untuk menunjukkan belas kasihan kepada Umar (ayahnya)." Abu Salil, dalam versinya dari riwayat tersebut, mengatakan, “Umar masuk ke tempat Hafsah sambil menangis dan bertanya apakah Rasulullah SAW telah menceraikannya. Dia berkata padanya, “Dia menceraikanmu sekali dan menerimamu (merujuknya) kembali hanya karena diriku. Jika dia menceraikanmu lagi, aku tidak akan pernah berbicara padamu lagi." Setelah itu, Hafsah berusaha keras untuk tidak mengganggu Rasulullah SAW lagi sampai beliau meninggal.
Kita perlu mencatat aspek-aspek kepribadian Hafsah yang menjadikannya menjadi teladan yang hebat bagi umat Islam. Malaikat Jibril menggambarkan Hafsah kepada Rasulullah SAW sebagai seseorang yang sering melaksanakan puasa sunnah dan shalat malam, dan bahwa dia akan menjadi salah satu istri beliau di surga. Berbeda dengan kebanyakan orang pada saat itu, baik pria maupun wanita, Hafsah bisa membaca dan menulis, sebuah kualitas yang sangat langka di kalangan wanita pada masa itu, bahkan di kalangan pria.
Selain itu, di rumahnyalah lembaran-lembaran kurma, lempengan-lempengan batu, dan bahan-bahan lain di mana Al-Qur`an disimpan. Dia diberi amanah untuk menjaga hal paling mulia dan terbesar yang dapat dimiliki dunia ini, yaitu firman Allah. Tugas ini diberikan padanya karena dia dianggap pantas dan dihormati oleh para Sahabat. Dia diamanahi dengan tugas ini sejak zaman Nabi SAW hingga zaman Utsman. Ketika Utsman memutuskan untuk menyusun Al-Qur`an menjadi satu kitab, ayat-ayat yang diamanahi kepada Hafsah dianggap sebagai sumber utama yang dapat diandalkan dalam menjalankan tugas besar dan besar ini.
Hafsah dikenal sebagai penjaga Kitab Allah. Dia menyimpan Al-Qur`an di hatinya dan juga di rumahnya. Setiap kali kita membuka salinan Al-Qur'an dan sebelum kita mulai membacanya, seharusnya kita mengingat malaikat yang dipercayakan menurunkan wahyu (Jibril), suara bergema yang dihasilkannya, dampak ayat-ayat tersebut pada hati Rasulullah, dan penulis-penulis wahyu, seperti Ali, Zaid, dan yang lainnya. Kita harus mengingat Abu Bakar dan Umar dalam penyusunan Al-Qur`an, dan keteguhan hati, kepercayaan, dan rasa tanggung jawab Utsman. Di antara semua nama ini, nama Hafsah, Ummul Mukminin, dan pemeliharaan Kitab Allah ini tidak dapat dilupakan dan harus disebutkan.
Pada awal tahun 44 H, Ummul Mukminin Hafsah meninggal dunia ini dan bergabung dengan orang-orang yang paling dia cintai, suaminya dan Rasulullah SAW serta para Sahabatnya
Referensi :
Artikel “Hafsah binti Umar Sang Penjaga Kitab Allah”, https://suaramuhammadiyah.id/read/hafsah-binti-umar-sang-penjaga-kitab-allah
Artikel “Hafshah binti Umar” Wikipedia bahasa Indonesia, Redaksi 30 Juli 2023. https://www.google.com/search?q=siti+hafsah&oq=siti+Haf&aqs=chrome.1.69i57j0i512l8j0i390i512i650.23189j0j15&sourceid=chrome&ie=UTF-8
Artikel “Hafshah binti Umar," Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
https://id.wikipedia.org/wiki/Hafshah_binti_Umar
04. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Siti Zainab binti Khuzaimah al Hilaliyah, mulai tahun (626–627 Masihi).
Sayyidah Zainab seorang janda dari Ubaidah bin Harits, suaminya yang kedua, tetapi dia terbunuh pada Perang Badar. Ia seorang puteri keluarga Bangsawan Bani Hilal, ia dijuluki “Ummul Masakin”.
Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Siti Zainab binti Khuzaimah al Hilaliyah, mulai tahun (626–627 Masihi). Dengan uang mahar 400 koin emas, namun setelah menikah dengan Nabi Saw 3 bulan kemudian Sayyidah Zainab wafat.
Zainab binti Khuzaimah (sekitar 28 S.H/596 M-2 H/ 626 Masehi) adalah istri Rasulullah Saw. yang dikenal dengan kebaikan, kedermawanan, dan sifat santunnya terhadap orang miskin. Dia adalah istri Rasulullah saw kedua yang Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah al-Hilaliyah dari Bani Hilal. Ibunya bernama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamathah. Berdasarkan asal-usul keturunannya, dia termasuk keluarga yang dihormati dan disegani. Tanggal lahirnya tidak diketahui dengan pasti, tetapi ada riwayat yang rnenyebutkan bahwa dia lahir sebelum tahun ketiga belas kenabian. Sebelum memeluk Islam dia sudah dikenal dengan gelar Ummul Masakin (ibu orang-orang miskin) sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Thabaqat ibnu Saad bahwa Zainab binti Khuzaymah adalah Ummul Masakin. Gelar tersebut disandangnya sejak masa jahiliah.
Ath-Thabary, dalam kitab As-Samthus-Samin fi Manaqibi Ummahatil Mu’minin pun menerangkan bahwa Rasulullah saw. menikahinya pada bulan Ramadhan, 2 tahun setelah menikahi Hafshah dan sebelum dia menikah dengan Maimunah binti al-Harits (r.a), dan ketika itu dia sudah dikenal dengan sebutan Ummul-Masakin sejak zaman jahiliah. Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa Zainab binti Khuzaimah terkenal dengan sifat murah hatinya, kedermawanannya, dan sifat santunnya terhadap orang-orang miskin yang dia utamakan daripada kepada dirinya sendiri. Sifat tersebut sudah tertanam dalam dirinya sejak memeluk Islam walaupun pada saat itu dia belum mengetahui bahwa orang-orang yang baik, penyantun, dan penderma akan memperoleh pahala di sisi Allah.
Zainab binti Khuzaimah r.a. termasuk kelompok orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam adalah akal dan pikirannya yang baik, menolak syirik dan penyembahan berhala, dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahiliah. Para perawi berbeda pendapat tentang nama-nama suami pertama dan kedua sebelum dia menikah dengan Rasulullah. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami pertama Zainab adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib, yang kemudian menceraikannya. Dia menikah lagi dengan Ubaidah bin Harits, tetapi dia terbunuh pada Perang Badar atau Perang Uhud. Sebagian perawi mengatakan bahwa suami keduanya adalah Abdullah bin Jahsy. Sebenarnya masih banyak perawi yang mengemukakan pendapat yang berbeda-beda. Akan tetapi, dari berbagai pendapat itu, pendapat yang paling kuat adalah riwayat yang mengatakan bahwa suami pertamanya adalah Thufail bin Harits bin Abdil-Muththalib. Karena Zainab tidak dapat melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya ketika mereka hijrah ke Madinah.
Untuk memuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara laki-laki Thufail) menikahi Zainab. Sebagaimana kita ketahui, Ubaidah bin Harits adalah salah seorang prajurit penunggang kuda yang paling perkasa setelah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga ikut melawan orang-orang Quraisy dalam Perang Badar, dan akhirnya Ubaidah mati syahid dalam perang tersebut. Setelah Ubaidah wafat, tidak ada riwayat yang menjelaskan tentang kehidupannya hingga Rasulullah saw. Menikahi Zainab mantan istrinya. Rasulullah menikahi Zainab karena dia ingin melindungi dan meringankan beban kehidupan yang dialaminya. Hati dia menjadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, sementara sejak kecil dia sudah dikenal lemah lembut terhadap orang- orang miskin. Sebagai Rasul yang membawa rahmat bagi alam semesta, dia rela mendahulukan kepentingan kaum muslimin, termasuk kepentingan Zainab. Dia senantiasa memohon kepada Allah agar hidup miskin dan mati dalam keadaan miskin dan dikumpulkan di Padang Mahsyar bersama orang-orang miskin.
Meskipun Nabi saw. mengingkari beberapa nama atau julukan yang dikenal pada zaman jahiliah, tetapi beliau tidak mengingkari julukan “ummul masakin” yang disandang oleh Zainab binti Khuzaimah. Selain dikenal sebagai wanita yang belas kasih, Zainab juga dikenal sebagai istri Rasulullah saw. yang senang meringankan beban saudara-saudaranya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Atha bin Yasir yang mengisahkan, bahwa Zainab mempunyai seorang budak hitam dari Habasyah. Ia sangat menyayangi budak itu, hingga budak dari Habasyah itu tidak diperlakukan layaknya seorang budak, Zainab malah memperlakukan layaknya seorang kerabat dekat.
Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw. pernah menyatakan pujian kepada Ummul Mukminin Zainab binti Khuzaimah r.a. dengan sabdanya, Ia benar-benar menjadi ibunda bagi orang-orang miskin, karena selalu memberikan makan dan bersedekah kepada mereka.Tidak diketahui dengan pasti masuknya Zainab binti Khuzaimah kedalam rumah tangga Nabi saw, apakah sebelum Perang Uhud atau sesudahnya. Yang jelas, Rasulullah saw. menikahinya karena kasih sayang terhadap umatnya walaupun wajah Zainab tidak begitu cantik dan tidak seorang pun dari kalangan sahabat yang bersedia menikahinya. Tentang lamanya Zainab berada dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah pun banyak terdapat perbedaan. Salah satu pendapat mengatakan bahwa Zainab memasuki rumah tangga Rasulullah selama tiga bulan, dan pendapat lain delapan bulan. Akan tetapi, yang pasti, prosesnya sangat singkat karena Zainab meninggal semasa Rasulullah hidup. Di dalam kitab sirah pun tidak dijelaskan penyebab kematiannya. Zainab meninggal pada usia relatif muda, kurang dari 30 tahun, dan Rasulullah yang menshalatinya pada Rabiul Awal 4H. Untuk memuliakan dan mengagungkannya, Rasulullah mengurus mayat Zainab dengan tangan dia sendiri.
Referensi :
- Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
- Artikel “Zainab binti Khuzaimah." Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Zainab_binti_Khuzaimah
05. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umayyah)
Sayyidah Ummu Salamah seorang janda. (menikah dengan Nabi Saw tahun 625 M–632 M), Kelahiran: 596 M dan meninggal/wafat tahun 680 M, di Al Baqi Madinah,
Hindun binti Abi Umayyah adalah istri dari Nabi Muhammad yang juga dikenal Ummu Salamah, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin. Nasab lengkapnya Hindun binti Abu Umayyah bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah al-Makhzumiyah. Dan pihak ibunya : Hindun binti 'Atikah bint 'Amer bin Rabi'ah dari Bani Firas bin Ghanam.
Hindun binti Abi Umayyah (bahasa Arab: هند بنت أبي أمية) (c. 596 - 680) adalah istri dari Nabi Muhammad yang juga dikenal Ummu Salamah, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin. Nasab lengkapnya Hindun binti Abu Umayyah bin al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqazhah bin Murrah al-Makhzumiyah. Ia anak paman/sepupu Khalid bin Walid dan anak paman Abu Jahal.
Ummu Salamah adalah anak dari Abu Umayyah bin Mughirah dari Bani Makhzum yang dipanggil Zad ar-Rakib karena kebaikannya kepada (setiap rombongan) kabilah yang lewat (di Kampungnya). Nama aslinya adalah Hindun dan ia termasuk dari orang yang diincar dan dianiaya oleh kaum Quraisy ketika masuk Islam.
Ummu Salamah menjadi sebab turunnya 2 ayat al-Quran yaitu surat an-Nisa ayat 32 dan surat Ali Imron ayat 195. Ia juga menjadi terkenal kecerdasannya dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah, di mana saat Nabi meminta sampai 3 kali agar sahabat berkurban memotong (hewan dan memotong) rambut tahallul walaupun gagal Umroh saat itu, yang membuat para sahabat kecewa dan enggan ikut bertahalul, Nabi lalu masuk kemahnya dan mendapat saran dari Ummu Salamah untuk lakukan saja sebagai contoh teladan tanpa berbicara, dan setelah Nabi melakukan tahalulnya, para sahabat serentak mengikutinya.
Menjelang Fathu Mekah, Abu Sofyan awalnya ditolak Nabi, namun setelah dibantu Ummu Salamah yang berbicara pada Nabi agar memaafkan, maka Abu Sofyan pun bisa menjumpai Nabi untuk berislam.
Masa Nabi Muhammad
Ummu Salamah dan suaminya, Abd-Allah ibn Abd-al-Asad (saudara sesusuan Nabi) atau Abu Salamah, termasuk dari Pemeluk Islam pertama atau As-Sabiqun al-Awwalun. Ummu Salamah sempat ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) bahkan menyaksikan saat Amru bin Ash menghadap Raja Najasy Habasyah untuk mengizinkannya membawa pulang kaum muslimin ke Mekah tetapi ditolak oleh Raja Najasy.
Saat hendak hijrah ke Madinah mereka berdua ditahan kaumnya, namun suaminya dilepaskan pergi kecuali Ummu Salamah tetap ditahan selama setahun oleh kaumnya. Ia kemudian sering bersedih menunggu di pinggir kota Mekah hingga akhirnya kaumnya merelakan kepergiannya ke Madinah bertemu kembali suaminya bersama anaknya.
Hindun termasuk golongan Muhajirin pertama. Setelah kematian suaminya Abdullah ibn Abdul Asad (Abu Salamah bin Abdul Asad al Makhzumi) di Perang Uhud. Ia termasuk wanita yang cantik dan mulia nasabnya, serta termasuk ahli fikih wanita di masanya.
Suaminya syahid (terbunuh) pada 8 Jumadil Akhir beberapa bulan setelah luka terkena serangan yang ia terima ketika Perang Uhud kambuh. Suaminya mempersilahkan Ummu Salamah menikah lagi dengan mendoakannya agar mendapatkan pengganti yang lebih baik. Ia memiliki empat orang anak dari Abdullah sebelum menikah dengan Muhammad.
- Salamah bin Abdullah
- Umar bin Abdullah
- Zainab binti Abdullah
- Durrah binti Abdullah
Ummu Salamah termasuk salah satu dari 14 wanita yang ikut perang Uhud sebagai asisten sahabat dan pejuang Nabi. Wanita yang ikut membantu Nabi di perang Uhud ialah Aisyah binti Abu Bakar, Shafiyyah binti Abdul Muthalib, Asma binti Abu Bakar, Fathimah az-Zahra binti Muhammad SAW, Nusaibah binti Ka'ab al-Anshariyyah, Khaulah binti Azwar as-Sulaimiyah, Suhailah binti Milhan al-Anshariyyah, Atikah binti Abdul Muthalib, Arwa binti Abdul Muthalib, Umamah binti Abdul Muthalib, Zainab binti Muhammad saw, Ummu Hakim binti Abdul Muthalib dan Rumaisah binti Milhan an-Najjariyah.
Setelah kematian Abdullah bin Abdul Asad suaminya pada perang Uhud, Ummu Salamah yang juga dikenal sebagai Ayyin al-Arab, ia tidak memiliki saudara dan keluarga di Madinah kecuali anak-anaknya, tetapi ia ditolong oleh Muhajirin dan Anshar. Setelah ia menyelesaikan masa 'Iddah-nya (Masa menunggu bagi wanita yang baik dicerai atau meninggal, untuk kembali menikah) empat bulan dan 10 hari, Lalu Abu Bakar melamarnya, tetapi ditolak oleh Ummu Salamah. Lalu 'Umar mencoba untuk melamarnya juga ditolak oleh Ummu Salamah. Kemudian Muhammad Saw melamarnya juga, dan diterimanya. Ummu Salamah menikah dengan Muhammad ketika berusia 29 tahun pada bulan Syawal tahun 4H.
Diceritakan pada Kitab Siyar A'lam an-Nubala proses melamarnya Nabi :
“Wahai Rasulullah, Aku seorang wanita yang pencemburu. Dan aku adalah wanita yang sudah berumur dan memiliki anak-anak.” Nabi menanggapi, “Yang engkau sebut berupa kecemburuan, Allah akan menghilangkannya. Tentang umurmu, aku pun lebih berumur dari engkau. Dan tentang anak-anakmu, maka ia juga anak-anakku.”
Ummu Salamah menjawab, “Aku terima lamaran Anda, ya Rasulullah.”
Ummu Salamah berkata, "Aku haid saat tidur bersama Nabi dalam satu selimut. Aku lalu menyelinap keluar, mengambil pakaian haid lalu aku kenakan. Beliau bertanya kepadaku, 'Kau haid?' "Ya,' jawabku. Beliau lalu memanggilku dan memasukkanku bersama beliau dalam satu selimut.' Zainab binti Abu Salamah berkata, 'Ia (Ummu Salamah) bercerita kepadaku bahwa Nabi menciumnya saat beliau sedang berpuasa.
Masa Khulafaur Rasyidin
Di masa khalifah Rasyidin, Ummu Salamah mendampingi anak dan cucunya. Putranya yang memiliki kelebihan ilmu Fiqih ialah Umar bin Abi Salamah. Sedangkan putrinya yang ahli fiqih ialah Zainab binti Abi Salamah. Dua Cucunya yang dikenal ahlul fiqh yaitu Muhammad bin Umar bin Abu Salamah dan Abu Ubaidah bin Zainab binti Abu Salamah.
Ummu Salamah sebagai wanita juga turut bersedih atas terbunuhnya Umar bin Khattab di tangan Abu Lu'lu'ah. Utsman yang juga seorang yang dulu sempat dididik Ummu Salamah, wafat di tangan Khulaimin bin Tsabbab, seorang pemberontak. Ia juga sedih kembali saat masa Ali berkonflik dengan Mu'awiyah dan Aisyah. Ia sedih juga saat Ali wafat ditangan Abdurrohman bin Muljam.
Masa Hasan, Mu'awiyah dan Husain
Ketika mendengar kejadian Karbala Ummu Salamah sempat bersedih dan menjerit hingga pingsan. Ummu Salamah bertanya kepada penduduk Kufah yang bersedih: "Untuk apa kalian sedih? Ini adalah akibat perbuatan kalian yang tidak bertanggung jawab kepada Ahlulbait Rasul ! Semoga Allah melaknat pemimpin kalian!". Hal ini disebabkan Husein ke Kufah karena undangan penduduk Kufah, tetapi saat sudah dekat, penduduk Kufah tidak menolong Husein.
Saat di Kufah, Zainab binti Ali tegar membela keluarga Nabi saat di hadapan gubernur yang lalim dan tidak bertanggung jawab, Ubaidillah bin Ziyad. Rombongan ini kemudian dipenjara selama 2 hari dan dibebaskan. Yazid menawarkan mereka tinggal di Mekah dan Madinah atau di Kufah. Mereka memilih tinggal di Madinah.
Referensi :
Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
2. Artikel “Ummu Salamah” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Ummu_Salamah.
.
06. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Zainab binti Jahsy (wanita cantik-bernasab mulia).
Perkawinan Nabi Muhammad Saw (… th) dengan Sayyidah Zainab binti Jahsy (wanita cantik-bernasab mulia). Sayyidah Zainab binti Jahsy wanita cantik seorang janda. Ia wafat diusia 53 tahun dan di makamkan di kota Madinah.
Nama dan Nasab Zainab
Dia adalah Ummul Mu’minin Zainab bintu Jahsy bin Riab bin Ya’mar bin Shabirah bin Murrah Al-Asadiyyah. Ibunya adalah Umaimah bintu Abdul Muthallib bin Hasyim bibi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pihak ayahnya
Sifat-sifatnya
Dia adalah seorang wanita yang cantik parasnya, merupakan penghulu para wanita dalam hal agamanya, wara’nya, kezuhudannya, kedermawanannya, dan kebaikannya
Diantara istri-istri Rasulullah, semuanya dinikahkan oleh ayahnya, saudaranya, atau keluarganya kecuali Zainab binti Jahsy. Zainab binti Jahsy dinikahkan langsung oleh Allah dari atas langit ketujuh.
Sebenarnya, Allah telah memberitahukan kepada Rasulullah bahwa Zainab binti Jahsy akan menjadi salah satu dari istrinya. Namun, Rasulullah terlalu malu untuk mengungkapkannya kepada Zaid. Rasulullah pun khawatir akan cibiran orang-orang apabila menikahi mantan isteri anak angkatnya sendiri.
Menurut adat budaya bangsa Arab Jahiliyah yang mendarah daging saat itu, anak angkat dianggap mulia dan ayah angkat tidak boleh mengawininya walaupun dicerai suaminya dan ia sama kedudukannya dengan anak sendiri, ia dapat bagian waris yang sama dengan anak kandung.
Ketika Nabi Saw menikahi Zainab binti Jahsy maka orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!,
Kala itu, rumah tangga Zaid dan Zainab seringkali menemui perselisihan. Rasulullah pun memerintahkan Zaid agar mempertahankan Zainab dan bertakwa kepada Allah.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa berkenaan ayat dalam surat Al-Ahzab ayat 37, “Sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang dinyatakan oleh Allah.” Andai Rasulullah menyembunyika sesuatu, tentu (ayat) inilah yang disembunyikan.
Ketika masa iddah Zainab berakhir setelah bercerai dari Zaid. Rasulullah memerintahkan Zaid (mantan suaminya) untuk meminangkan Zainab untuknya. Zaid pun datang meminang Zainab untuk Nabi Saw. Zainab berkata bahwa ia tidak akan melakukan apa pun sebelum meminta izin kepada Allah. Zainab pun pergi ke tempat shalatnya, lalu ayat Al Quran turun. Rasulullah pun datang kemudian masuk menemui Zainab tanpa izin karena Allah telah menikahkan keduanya dari atas langit.
Dalam Al-Hilyah Abu Nu’aim meriwayatkan dari Zainab bahwa ketika masa iddahnya selesai, tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam rumah Zainab kecuali Rasulullah. Ketika itu rambutnya terbuka (belum turun perintah berhijab bagi para wanita) dan ia mengetahui bahwa hal tersebut merupakan perintah Allah. Ia pun bertanya, “Wahai Rasulullah, tanpa ada pinangan dan saksi kah?” Rasulullah menjawab, “Allah yang menikahkanku (denganmu) dan Jibril yang menjadi saksi.”
Selain itu, keistimewaan lain juga hadir di tengan pernikahan Rasulullah dan Zainab binti Jahsy. Diantaranya adalah turunnya ayat berkenaan dengan hijab serta walimah yang mewah hingga orang-orang kenyang dengan roti dan daging. Mengetahui Zainab menikah dengan Rasulullah, Ummu Sulaim, Ibu Zainab, memasakkan hais dan memerintahkan Anas bin Malik untuk mengantarkannya kepada Rasulullah. Rasulullah pun memerintahkan Anas untuk mengundang beberapa orang yang disebutkan Rasulullah dan orang-orang yang ia temui. Jumlah mereka yang hadir kurang lebih tiga ratus orang.
Tamu-tamu yang diundang Rasulullah masuk secara bergantian, setelah selesai makan mereka berpamitan pulang namun ada beberapa yang tetap tinggal dan mengobrol di sana. Rasulullah dan Zainab pun masuk ke dalam rumah kemudian keluar lagi, namun orang-orang tersebut masih betah di tempatnya. Hingga kali ketiga, orang-orang tersebut merasa tidak enak dan berpamitan pulang. Kemudian turunlah ayat mengenai hijab dalam surat Al-Ahzab ayat 53.
Zainab binti Jahsy menempati posisi agung di hati Rasulullah karena sifat-sifat mulia yang Allah karuniakan kepadanya. Zainab pun mempelajari banyak akhlak Rasulullah, terutama sikap zuhud dan wara’. Seringkali Zainab membanggakan diri di hadapan istri-istri Nabi. Ia berkata, “Kalian dinikahkan oleh keluarga-keluarga kalian, namun Allah menikahkanku dari langit.”
Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Zainab telah menikah dengan Zaid bin Haritsah, maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kemudian dijadikan anak angkat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah yang diceritakan Allah dalam firman-Nya,
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَنعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَااللهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لاَيَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَآئِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللهِ مَفْعُولاً
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: ‘Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya). Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37)
Maka Allah nikahkan Zainab dengan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nash Kitab-Nya tanpa wali dan tanpa saksi. Dan Zainab bisa membanggakan hal itu di hadapan Ummahatul Mukminin (istr-istri Nabi) yang lain, dengan mengatakan, “Kalian dinikahkan oleh wali-wali kalian, sementara aku dinikahkan oleh Allah dari atas ‘Arsy-Nya.” (Diriwayatkan oleh Zubair bin Bakar dalam Al-Muntakhob min Kitab Azwajin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1:48 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra, 8:104-105 dengan sanad yang shahih).
Di saat pernikahan Zainab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi keajaiban yang merupakan mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Zainab, ibuku berkata kepadaku, ‘Wahai Anas sesungguhnya hari ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjadi pengantin dalam keadaan tidak punya hidangan siang, maka ambilkan wadah itu kepadaku!’ Maka aku berikan kepadanya wadah dengan satu mud kurma, kemudian dia membuat hais dalam wadah itu, (hais adalah resep tradisional muslim di Arab Bagdad, Hais disajikan sebagai makanan penutup atau makanan pembuka) kemudian ibuku berkata, ‘Wahai Anas berikan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istrinya!’ Kemudian datanglah aku kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa hais tersebut dalam sebuah bejana kecil yang terbuat dari batu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Anas letakkan dia di sisi rumah dan undanglah Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan beberapa orang lain!’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lagi, ‘Undang juga penghuni masjid dan siapa saja yang engkau temui di jalan!’ Aku berkata, ‘Aku merasa heran dengan banyaknya orang yang diundang padahal makanan yang ada sedikit sekali, tetapi aku tidak suka membantah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku undanglah orang-orang itu sampai penuhlah rumah dan kamar dengan para undangan.’ Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku seraya berkata, ‘Wahai Anas apakah engkau melihat orang yang melihat kita?’ Aku berkata, ‘Tidak wahai Nabiyullah’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bawa kemari bejana itu!’ Aku ambil bejana yang berisi hais itu dan aku letakkan di depannya. Kemudian Rasulullah membenamkan ketiga jarinya ke dalam bejana dan jadilah kurma dalam bejana itu menjadi banyak sampai makanlah semua undangan dan keluar dari rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kenyang.” (Diriwayatkan oleh Firyabi dalam Dalail Nubuwwah, 1:40-41 dan Ibnu Sa’d dalam Thabaqah Kubra 8:104-105).
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Zainab orang-orang munafiq menggunjingnya dengan mengatakan: ‘Muhammad telah mengharamkan menikahi istri-istri anak dan sekarang dia menikahi istri anaknya!, maka turunlah ayat Allah,
مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Dan Allah berfirman,
ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al-Ahzab: 5)
Maka sejak saat itu Zaid dipanggil dengan Zaid bin Haritsah yang dia sebelumnya biasa dipanggil dengna Zaid bin Muhammad (Al-Isti’ab, 4:1849-1850)
Referensi :
1. Artikel “Zainab binti Jahsy, Allah yang Menikahkan Jibril Menjadi Saksi.” https://suaramuslim.net/zainab-binti-jahsy-allah-yang-menikahkan-jibril-menjadi-saksi/
2. Artikel ”Zainab, Wanita yang Dinikahkan Langsung oleh Allah.” https://kisahmuslim.com/2360-zainab-wanita-yang-dinikahkan-langsung-oleh-allah.html
07. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Mariatul Qibtiyah binti Syama’un dan Ibunya seorang berkebangsaan Romawi.
Nama dalam bahasa asli: (مارية القبطية)
Hingga pada suatu ketika, Rasulullah SAW mengirim surat kepada Raja Muqauqis melalui Hatib bin Balta'ah yang isi suratnya menyeru kepada Raja Muqauqis agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima utusan Rasulullah SAW dengan hangat, namun dengan halus ia menolak ajakan Rasulullah SAW untuk memeluk Islam.
Sebagai tanda persahabatan ia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Mabura, serta hadiah-hadiah lain hasil kerajinan Kerajaan Mesir kepada Rasulullah SAW. Ternyata hal tersebut membuat Mariyah sedih karena harus meninggalkan kampung halamannya menuju Madinah.
Mariyah binti Syam'un atau Mariyah orang Koptik, dan saudara kandung Sirin binti Syam'un, kelahiran Mesir, keduanya adalah budak Kristen Koptik yang dikirimkan oleh Muqawqis, penguasa Mesir bawahan Kerajaan Bizantium, sebagai hadiah kepada raja Arab, yakni Nabi Muhammad Saw pada tahun 628M.
Mengenai kecantikan, dalam beberapa buku disebutkan bahwa Mariyah memiliki kulit putih dan berparas cantik. Mariyah ibtiyah seorang hamba sahaya Mesir yang sengsara, rambutnya kriting kecoklatan yang indah, dimasa itu menjadi perempuan cantik adalah dianggaf kutukan dan beban orang tuanya, Mariatul Qibtiyah, ia yang dimerdekakan Nabi Saw.
Perkawinan Nabi Muhammad Saw (…th) dengan Sayyidah Mariatul Qibtiyah (18 th) binti Syama’un dan Ibunya seorang berkebangsaan Romawi. Pernikahan Nabi Saw dengan Mariatul Qibtiyah dikaruniai 1 orang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim, ia wafat saat kecil (usia 18 bulan).
Di samping itu, Mariyah memiliki kepribadian yang menawan dan memiliki kesetiaan luar biasa kepada Rasulullah SAW.
Mariyah juga dikenal sebagai seorang yang suka mengalah. Meskipun sering dicibir, hal itu tidak membuat Mariyah lantas marah
Ayahnya berasal dari suku Qibti, oleh karena itu ia dikenal dengan Mariyah al-Qibtiyah. Ketika remaja ia dipekerjakan kepada penguasa Mesir bernama Raja Muqauqis. Ia bekerja di sana bersama saudara perempuannya Sirin.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah hidup menyendiri dan mengabdikan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah SAW. Sayyidah Mariyah wafat 5 tahun setelah sepeninggalan Rasulullah SAW pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Ia meninggal: 16 Februari 637 M, di Madinah, Arab Saudi
Sayyidah Mariyah dikebumikan di Baqi' bersama Ummul Mukminin lainnya. Tempat pemakaman: Jannatul Baqi, Ia merupakan salah seorang perempuan teladan sepanjang masa.
Referensi :
1. Artikel “Mariatul Qibtiyah/ Mariyah binti Syam'un” https://www.google.com/search?gs_ssp=eJzj4tTP1TcwMc5JyTZg9BLMTSzKTCwpzVEozEwqyaxMzAAAjXAKFw&q=mariatul+qibtiyah&oq=mariatul&aqs=chrome.2.69i57j0i51
2. Artikel detikhikmah, "Mariyah al-Qibtiyah, Istri Nabi Muhammad SAW dari Kalangan Budak" selengkapnya https://www.detik.com/hikmah/muslimah/d-7140774/mariyah-al-qibtiyah-istri-nabi-muhammad-saw-dari-kalangan-budak.
08. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw (58 th) dengan Sayyidah Ummu Habibah (Ramlah) binti Abi Sufyan ibn Harb.
Pasangan : Muhammad Saw dengan Ummu Habibah hidup antara tahun (m. 628 M–632 M). Ibunya bernama Shafiyah binti Abil Ash. mahar 400 koin emas, Ia seorang janda dari Ubaidillah bin Jahsy dan keduanya punya anak perempuan bernama “Habibah”. Pada mulanya mereka berhijerah ke negeri Habsyah, di negeri itu suaminya Ubaidillah bin Jahsy murtad, pindah keyakinan mengikuti agama Nasrani.
Perkawinan Nabi Muhammad Saw (58 th) dengan Sayyidah Ummu Habibah (Ramlah 39 th) binti Sufyan ibn Harb. Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan al-Umawiyyah al-Qurasyiyah al-Kinaniyyah atau lebih dikenal dengan Ummu Habibah, Ramlah binti Abu Sufyan atau Ramlah binti Abi Sufyan adalah istri dari Nabi Muhammad, sehingga termasuk dari Ibu Para Mukminin. Ia sekaligus sepupu Muhammad.
Kelahiran : 589 M, Mekkah, Saudara kandung: Yazid bin Abi Sufyan, Muawiyah bin Abu Sufyan, Utbah bin Abu Sufyan, Ummul Hakam binti Abu Sufyan. Orang tuanya bernama Abu Sufyan, dan ibunya bernama Shafiyyah binti Abi al-Ash
Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan al-Umawiyyah al-Qurasyiyah al-Kinaniyyah (bahasa Arab: أم حبيبة رملة بنت أبي سفيان الأموية القرشية الكنانية) atau lebih dikenal dengan Ummu Habibah, Ramlah binti Abu Sufyan atau Ramlah binti Abi Sufyan (lahir pada tahun 35 Sebelum H/589M, wafat di Madinah pada tahun 44 H/664M) versi lain menyebutkan meninggal tahun 666M. Ia adalah istri dari Nabi Muhammad, sehingga termasuk dari Ibu Para Mukminin. Ia sekaligus sepupu Muhammad.
Ayahnya: Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar (Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
Ibunya: Safiyyah binti Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar (Quraisy) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. Safiyyah adalah bibi dari Khalifah Utsman bin Affan.
Bibinya: Ummu Jamil, yang disebutkan di al-Qur'an sebagai perempuan pembawa kayu bakar
Saudaranya: Mu'awiyah bin Abu Sufyan, Yazid bin Abi Sufyan.
Kehidupan & Pernikahan
Ramlah adalah anak dari Abu Sufyan, yang merupakan salah seorang pemimpin dan pedagang dari suku Quraisy. Abu Sufyan kerap kali memimpin kafilah-kafilah dagang besar dari Mekah menuju Syam dan daerah lainnya. Berbeda dengan ayahnya, Ramlah telah menemukan hidayah dari islam sejak awal kerasulan. Pada tahun 615 M, ia bersama suaminya, Ubaidillah bin Jahsy berhijrah dengan beberapa umat muslim lainnya ke sebuah kerajaan kristen di Habasyah (Ethiopia) di gelombang kedua. Ia lalu memimpikan hal yang buruk (bermimpi) tentang suaminya. Suaminya kemudian masuk kristen lalu mereka bercerai dan meninggal ketika di sana.
Setelah masa iddah-nya usai, Ramlah yang saat itu masih di Habasyah menerima surat lamaran dari Rasulullah yang dikirim melalui utusan Amru bin Umayyah. Begitu gembiranya, dia memberikan hadiah perhiasannya berupa gelang dan cincin perak miliknya kepada Abrahah, budak yang memberinya kabar gembira lamaran Muhammad kepadanya.
Raja Najasyi yang beragama kristen pun turut memberikannya selamat dan hadiah berupa uang 400 dinar (koin emas, sekitar 1,2 miliar rupiah) serta parfum-parfum terbaik pada 7 Hijriah di hadapan publik bersama wakilnya (sepupunya) Khalid bin Said bin al-Ash. Pernikahannya diikuti turunnya Quran surat al-Mumtahanah ayat 7.
Sepulangnya ke Hijaz dan pasca hijrah ke Madinah dengan diantar Syurahbil bin Hasanah, setiba di Madinah langsung diantar Bilal bin Rabah ke rumah Muhammad. Ketika tiba disana, Ummu Habibah berkata kepada budaknya,"Kalau suka, kamu cukup menyiapkan air minum, sedangkan aku menyapu." Kemudian Ummu Habibah mulai menyapu rumah tersebut, lalu menggelar alas rumah. Tak lupa Ummu Habibah mengenakan wewangian pemberian isteri-isteri Raja Najasyi yang sangat harum. Tampak bahwa ia terampil mengatur urusan rumah tangga dan pandai berpenampilan menarik di hadapan suaminya. Maka ketika Muhammad datang dan mencium aroma yang sangat wangi, dia berkata, "Sungguh dia memang wanita asli Quraisy, wanita kota, bukan penduduk badui."
Ramlah yang berusia 30 tahun, menceritakan apa-apa saja yang dialaminya di Habasyah ke Rasulullah, termasuk bagaimana ia mengagumi keindahan gereja-gereja yang dihiasi dengan gambar-gambar di sana. Rasulullah pun mengangkat kepala beliau dan bersabda, "Mereka adalah orang-orang, yang ketika seorang yang alim di antara mereka meninggal, mereka mendirikan tempat peribadatan di makamnya dan mereka membuat gambar-gambar di dalamnya. Mereka adalah makhluk-makhluk terburuk di mata Allah.
Ketika Muhammad merencanakan Pembukaan kota Makah, Abu Sufyan segera ke Madinah untuk melobi Muhammad dengan terlebih dulu singgah ke rumah putrinya Ummu Habibah.
Ummu Habibah meriwayatkan hadis solat malam 12 rakaat dan sejak itu ia tidak pernah meninggalkan ibadah tersebut.
Kematian
Ia wafat di Madinah pada tahun 44H/664M) versi lain menyebutkan meninggal tahun 666M, pada masa kekhalifahan saudaranya, Muawiyah, (setahun sebelum wafatnya Muawiyah) dan dimakamkan di Jannatul Baqi.
Referensi :.
Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
Artikel “Ummu Habibah.” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Ummu_Habibah
A
09. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Juwairiyah binti al-Harits ibn Abi al-Dhirar al-Huza’i.
Bangsa Arab dimasa itu perempuan cantik / janda adalah beban dan kutukan, ia seorang wanita janda, puteri Kepala Suku Bani Musthaliq yang kalah perang dengan Nabi, Sayyidah Juwairiyah yang dinikahi Nabi Saw untuk memuliakan suku Bani Musthaliq dan menghapus rasa permusuhan terhadap suku tersebut.
Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Juwairiyah (20 th) binti al-Harits ibn Abi al-Dhirar al-Huza’i, mulai tahun (628–632M). Juwairiyah binti al-Harits al-Mushthaliqiyyah al-Khuza'iyyah (bahasa Arab: جويرية بنت الحارث المصطلقية الخزاعية) atau lebih dikenal dengan Juwairiyah binti al-Harits (lahir pada tahun 15 Sebelum H/608, wafat di Madinah pada tahun 56 H/676) adalah istri dari Nabi Muhammad, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin.
Ayahnya: adalah Pembesar Bani al-Mushthaliq, namanya al-Harits bin Dharar bin Habib bin 'A`idz bin Malik bin al-Mushthaliq bin Sa'id bin 'Amru bin Rabi'ah bin Haritsah bin Khuza'ah. Harits bin Dharar, Ia seorang penyembah berhala yang belum menrima islam.
Pada tahun ke-6 Hijriah, setelah pertempuran Khandaq, kaum Bani Mustahliq dengan pimpinan Harits bin Dhirar hendak menyerang kaum Muslimin di Madinah, maka Nabi Muhammad mempersiapkan pasukan dan lebih dulu menyerang Bani Musthaliq.
Juwairiyah ditangkap pada hari Al-Muraisi' (Pertempuran Bani Al-Mustaliq) oleh Tsabit bin Qais, lalu ia menghadap pada Muhammad meminta dibebaskan, lalu Muhammad memerdekakannya sekaligus melamarnya di usianya ke 20 tahun. Atas pernikahannya, maka 100 tawanan ikut dibebaskan. Sebelumnya ia menikah dengan sepupunya Musafa' bin Safwan bin Abi Al-Shafar, yang terbunuh dalam pertempuran ini sementara Harits melarikan diri.
Juwairiyah adalah seorang wanita cantik dan datang kepada Rasulullah meminta bantuannya untuk membebaskannya. Sayyidah Aisyah menggambarkan penampakan Juwairiyah di hadapan Rasulullah hari itu, dengan mengatakan:
Demi Allah, saat aku melihatnya di pintu kamar, aku merasa tidak suka padanya. Aku tahu, Nabi akan memandang kecantikannya seperti yang aku lihat. Aku tidak mengetahui wanita yang paling banyak berkahnya pada kaumnya kecuali dirinya
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan 'Amru An Naqid dan Ibnu Abu 'Umar -dan lafaz ini milik Ibnu Abu 'Umar- mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin ‘Abdurrahman -budak- keluarga Thalhah dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas dari Juwairiyah bahwasanya Nabi ﷺ keluar dari rumah Juwairiyah pada pagi hari usai salat subuh dan dia tetap di tempat salatnya. Tak lama kemudian Rasulullah ﷺ kembali setelah terbit fajar (pada waktu dhuha), sedangkan Juwairiyah masih duduk di tempat salatnya. Setelah itu, Rasulullah menyapanya: Ya Juwairiyah, kamu masih belum beranjak dari tempat salatmu Juwairiyah menjawab; Ya, Saya masih di sini, di tempat semula ya Rasulullah. Kemudian Rasulullah ﷺ berkata: Setelah keluar tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata -sebanyak tiga kali- yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang kamu baca seharian tentu akan sebanding, yaitu Subhaanallahi Wabihamdihi 'Adada Khalqihi wa Ridha Nafsihi wa Zinata 'Arsyihi wa Midada Kalimatihi yang artinya Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridlaan-Nya, menurut arasy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib dan Ishaq dari Muhammad bin Bisyr dari Mis'ar dari Muhammad bin 'Abdurrahman dari Abu Risydin dari Ibnu 'Abbas dari Juwairiyah dia berkata; bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ melewatiku ketika dia usai salat shubuh. -lalu dia menyebutkan redaksi yang serupa. Namun dia dengan menggunakan kalimat; Subhaanallah Wabihamdihi Subhaanallah 'Adada Khalqihi Subhaanallah Ridha Nafsihi Subhaanallah Zinata 'Arsyihi Subhaanallah Midaada Kalimaatihi. Yang artinya: Maha suci Allah sebanyak hitungan makhluk-Nya. Maha Suci Allah menurut keridhaan-Nya. Maha Suci Allah menurut kebesaran arasy-Nya. Maha Suci Allah sebanyak paparan kelimat-Nya.
Keilmuan
Juwairiyah menghafal beberapa hadis, termasuk dua hadis yang terdapat di dalam Sahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, selain itu juga terdapat di Sunan Abi Daud, Jami at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa'i dan Sunan Ibnu Majah. Ia meriwayatkan hadis kepada Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ubaid bin as-Sabbaq, Mujahid.
Makam Juwairiyah di Baqi Madinah.
Ia hidup pada masa kekhalifahan Muawiyah, dan wafat di Madinah pada bulan Rabi'ul Awwal 53H/676M di usianya ke 65 tahun, dan disalatkan oleh Marwan bin Hakam, Gubernur Madinah dan dimakamkan di Jannatul Baqi.
Referensi :
Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
Artikel Juwairiyah binti al-Harits, Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Juwairiyah_binti_al-Harits.
10. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Shafiyah (17thn) binti Huyay ibn Akhtab, mulai tahun (628–632M).
Ibunya bernama Barah binti Samuel berasal dari kaum Yahudi Bani Quraisy. Ia seorang wanita muda dan cantik berasal dari keturunan mulia dari Suku Lewi keturunan Harun bin Imran dari kaum Yahudi. Ketika orang-orang Yahudi Bani Nadir di Madinah yang berkhianat dengan Nabi, kaum Muslimin mengepung benteng kaum Yahudi hingga takluk, Ia seorang wanita janda cerai dari Salam bin Miskam al-Quraisy. Kemudian ia menikah lagi dengan Kinanah bin Abi al-Huqaik salah seorang pemimpin Yahudi Bani Nadhir yang diusir Nabi saw. Kinanah (suaminya) terbunuh pada saat perang Khaibar bln Muharram tahun 7 Hijeriah. Sebelun dinikahi Nabi Saw, Shafiyah bernama “Habibah binti Huyay ibn Akhtab” kemudian nama Habibahnya diganti oleh Nabi Saw dengan nama Shafiyah berarti “kawan yang tulus’. Sayyidah Shafiyah yang dinikahi Nabi Saw, dengan mahar kemerdekan dirinya sendiri dan untuk memuliakan suku tersebut dan menghapus rasa dendam terhadap suku Yahudi Bani Nadhir. Dimasa itu perempuan cantik dan janda yang belum ada pasangannya adalah dianggaf beban dan kutukan bagi kedua orang tuanya. .
Datar bacaan :
1. Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
2. Artikel Youtube Kisah Malam Pertama Shafiyyah Binty Huyay Istri Nabi Keturunan Yahudi. https://www.youtube.com/watch?v=16mFCaAUpYI
11. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Maimunah binti Harits, mulai tahun (629–632M)
Sayyidah Maimunah (ia lahir 6th sebeelum masa kenabian). Ia seorang wanita janda cerai dari Mas’ud bin Amru, ia menikah lagi dengan Abu Roham bin Abdul al-Uzza dan suaminya meninggal dunia.
Biografi
Nama dalam bahasa asli (ar) مَيْمُونَة بِنْت ٱلَحَارِث ٱلْهِلَالِيَّة
Kelahiran tahun 592M di Makkah (Usia 79/80 tahun) dan Wafat Januari 672 Masehi, Tempat pemakaman Makkah. Ibunya brnama Hindun binti 'Auf
Saudara Salma binti Umais, Asma' binti Umais, Lubabah binti al-Harits, Zainab binti Khuzaimah dan Lubabah as-Sughra
Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyyah al-'Amiriyyah (bahasa Arab: ميمونة بنت الحارث الهلالية العامرية) (lahir pada tahun 594, wafat pada tahun 51 H/673M) adalah istri terakhir dari Nabi Muhammad, dan termasuk dari Ibu Para Mukminin.
Kehidupan & Pernikahannya
Maimunah memiliki nama asli Barrah, namun Nabi Muhammad mengubahnya menjadi Maimunah yang berarti "berita baik". Maimunah berasal dari klan borjuis Banu Hilal. Ayahnya bernama Harits bin Hazm, ibunya bernama Hindun binti Auf. Saudara perempuannya, Lubabah atau Ummu al-Fadhal yang kedua masuk Islam setelah Khadijah, menikah dengan Abbas bin Abdul-Mutthalib yang merupakan salah satu orang terkaya dari Bani Hasyim, yang mana kemudian Abbas menjadi wali-nya Maimunah. Maimunah dinikahi oleh Rasulullah ketika beliau sedang melaksanakan umrah, tetapi baru digauli setelah beliau selesai menjalankannya.
Saudara perempuan seibunya Zainab binti Khuzaimah (istri Muhammad Saw), Asma' binti Umais (istri Jafar bin Abu Thalib) dan Salma binti Umais (istri Hamzah bin Abdul Mutholib). Adapun saudara laki-laki seibunya adalah Khalid bin Walid.
Awalnya Barrah, ia menikah dengan Mas'ud bin Amr Suatu hari ia mendengar cerita kemenangan muslim dari pertempuran Khaibar, ia pun ikut begembira, sementara Mas'ud suaminya bersedih, lalu mereka bertengkar dan suaminya menceraikannya. Kemudian ia menikah lagi dengan Abu Roham bin Abdul al-Uzza dan suaminyapun meninggal dunia. Barrah pun tinggal di rumah Ummu al-Fadhal, kakaknya. lalu ia belajar dan mengenal Islam di rumah Ummu al-Fadhal.
Setelah perjanjian Hudaibiyah pada 6H, setahun kemudian Muhammad beserta sahabat umrah ke Mekah, lalu Abbas walinya melamarkan Maimunah kepada Muhammad dengan mahar 400 dirham emas (sekitar 16 juta rupiah), lalu diadakan pernikahan di Lembah Saraf / Sarif, 30 km di utara kota Mekah. Awalnya Muhammad menawarkan acara pernikahan di Mekah dengan memberi jamuan kepada penduduk Mekah, tetapi mereka (Quraisy Mekah) menolak.
Maimunah dikenal sebagai perempuan yang baik hati. Ia pernah memiliki seorang budak perempuan yang kemudian ia bebaskan tanpa izin sang Nabi. Di saat waktu gilirannya bersama Nabi, ia pun menceritakan apa yang telah dilakukannya. Nabi pun berkata kepada Maimunah, bahwa ketimbang membebaskannya, Maimunah akan mendapatkan pahala yang lebih besar bilamana ia memberikan budak itu kepada salah satu paman dari pihak ibunya.
Muhammad memasuki rumah Maimunah binti Al Haris, ternyata di dalamnya ada beberapa biawak dengan telurnya. Ia saat itu bersama Abdullah bin Abbas dan Khalid bin Walid. Ia bertanya: "Dari mana ini?" Maimunah menjawab, "Saudariku, Hudzailah binti Al Harits menghadiahkannya kepadaku." Ia berkata kepada Abdullah bin Abbas dan Khalid bin Walid: "Kalian berdua, makanlah." Mereka bertanya; "Kenapa anda tidak memakannya, Wahai Rasulullah?' Ia menjawab: "Sesungguhnya telah hadir hidangan dari Allah." Maimunah bertanya; "Apakah anda mau kami hidangkan susu?" Ia menjawab: "Ya." Dan ketika ia akan meminum susu tersebut ia bertanya: "Dari mana ini?" Maimunah menjawab; "Saudariku, Hudzailah menghadiahkan kepadaku." Muhammad berkata: 'Apa pendapatmu tentang budak wanitamu yang engkau pernah minta agar aku membebaskannya? Berikan (kembalikan) kepada saudarimu dan sambunglah silaturrahim agar dia yang merawatnya karena itu lebih baik untukmu."
Maimunah pernah memiliki anak anjing yang ia simpan di bawah tempat tidurnya. Pada suatu hari ia melihat suasana hati Sang Nabi sedang buruk. Rupanya itu dikarenakan Malaikat Jibril tidak menepati janjinya menemui beliau di malam sebelumnya. Sang Nabi pun teringat dengan anak anjing di bawah tempat tidur Maimunah. Beliau pun memerintahkannya untuk dikeluarkan. Dan menyiramkan air di tempat tersebut. Ketika malam tiba, Malaikat Jibril pun datang dan menginformasikan beliau bahwa dirinya tidak memasuki rumah yang ada anjing ataupun gambar di dalamnya. Lalu pada pagi hari, Sang Nabi pun memerintahkan agar tiap-tiap anjing supaya dibunuh, termasuk yang masih kecil. Namun membiarkan anjing yang ditugaskan untuk menjaga perkebunan besar.
Sayyidah Aisyah berkata, "Sesungguhnya Maimunah adalah orang yang paling bertakwa dan paling menyambung silaturahim di antara kami.”
Nasabnya
Ayahnya: al-Harits bin Huzn bin Bujair bin Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin 'Amir bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin 'Ikrimah bin Khafshah bin Qais bin 'Ailan bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
Ibunya: Hindun binti 'Auf bin Zuhair bin Huthamah bin Jarasy bin Aslam bin Zaid bin Sahl bin 'Amru bin Qais bin Muawiyah bin Jasyam bin Abdu Syams bin Wa`il bin al-Ghauts bin Quthn bin 'Uraib bin Zuhair bin al-Ghauts bin Aiman bin al-Hamyasa' bin Humair bin Saba bin Yasyjub bin Ya'rib bin Qahthan.
Anak-anak Hindun binti 'Auf :
1. Maimunah binti al-Harits
2. Ummu al-Fadhl Lubbabah al-Kubra binti al-Harits al-Hilaliyyah, istri Abbas bin Abdul-Muththalib
3. Lubbabah ash-Shugra binti al-Harits al-Hilaliyyah, ibu dari Khalid bin Walid
4. Asma binti 'Amis al-Khatsa'miyyah, yang menikah dengan Ja'far bin Abi Thalib, kemudian menikah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian menikah dengan Ali bin Abi Thalib
5. Urwa binti 'Amis al-Khatsa'miyyah, istri dari Hamzah bin Abdul-Muththalib
Kematian
Saat pergi menunaikan haji bersama Abdullah bin Abbas di masa Khalifah Muawiyah, Maimunah jatuh sakit lalu mewasiatkan agar dimakamkan di tempat pernikahannya, lalu rumahnya di Madinah dijadikan tempat majlis ilmu. Maimunah wafat di Sarif, dekat Tan'im (di pinggir jalan tol Mekah-Madinah), tempat ia menikah dengan Muhammad, pada 61H di usia 80 tahun, jenazahnya disolatkan oleh Abdullah bin Abbas.
Daftar bacaan :
1. Artikel Youtube [FULL VERSION] Kisah 12 Istri-istri Nabi Muhammad SAW. https://www.youtube.com/watch?v=Juyhijb5YzE&t=222s
2. Artikel “Maimunah binti al-Harits.” Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Maimunah_binti_al-Harits
12. Rakam jejak Perkawinan Nabi Muhammad Saw dengan Sayyidah Raihanah binti Zaid,
Raihanah binti Zaid (bahasa Arab: ريحانة بنت زيد) adalah seorang wanita Yahudi dari suku Banu Nadhir, yang dianggap oleh beberapa umat muslim sebagai istri dari Nabi Muhammad.
Dalam “buku 150 Perempuan Shalihah” karya Abu Malik Muhammad bin Hamid dikisahkan, dalam Perang Bani Quraizah, Raihanah menjadi tawanan Rasulullah. Ia seorang perempuan Yahudi pernah menolak lamaran dan ajakan Rasulullah SAW untuk memeluk Islam. Namanya Raihanah binti Yazid bin Amru bin Khanaqah. Sebagian pendapat mengatakan ia berasal dari Bani Quraizah.
Ia adalah perempuan yang sangat cantik. Suaminya yang bernama Hakam sangat mencintai dan menghormatinya. Sayang, ia tak berumur panjang. Sepeninggal suaminya, Raihanah berjanji tidak akan menikah lagi.
Biografi
Raihanah berasal dari suku Yahudi, Bani Nadhir yang kemudian menjadi bagian dari Bani Quraizhah melalui pernikahan. Nabi Muhammad pernah menyatakan niatan beliau untuk mengusir seluruh Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab, dan tidak meninggalkan siapapun di dalamnya kecuali orang-orang Muslim. Seusai perang Khandaq, Malaikat Jibril dengan kepalanya tertutup debu datang kepada sang Nabi, dan berkata: "Kau sudah meletakkan senjatamu! Demi Allah, aku belum meletakkan senjataku." Maka Nabi pun bertanya, "Kemana setelah ini?" Malaikat Jibril pun berkata "ke arah sini," dengan menunjuk ke arah pemukiman Bani Quraizhah. Setelah berhasil mengalahkan suku tersebut, beliau memerintahkan agar tiap-tiap pria dari Bani Qurayzhah dieksekusi. Sedangkan harta, serta perempuan-perempuan dan anak-anak mereka beliau bagi-bagikan kepada umat muslim, dan sebagian dari tawanan perempuan beliau kirimkan ke Najd untuk ditukar dengan kuda-kuda dan senjata. Nabi Muhammad mengambil seperlima dari harta rampasan sebagaimana yang ditetapkan di dalam Al-Quran dan mengambil Raihanah untuk diri beliau.
Nabi Muhammad pernah menawarkan kepada Raihanah supaya dirinya dinikahi oleh beliau dan mengenakan hijab. Namun Raihanah menolak dengan mengatakan, "Biarlah aku tetap di bawah kekuasaanmu, karena itu adalah lebih mudah untuk diriku dan untukmu." Maka Nabi pun meninggalkannya. Semenjak menjadi tawanan umat Islam, Raihanah telah menunjukkan kebenciannya terhadap Islam, dan tetap berpegang pada Yahudi / Judaisme. Ketika Nabi sedang bersama sahabat-sahabat beliau, beliau mendengar suara sendal tiba dari belakang, dan beliau berkata: "Ini pasti Thalaba bin Sa'ya yang datang membawakan berita baik kalau Raihanah telah memeluk islam." Dan benar apa kata beliau, yang mana itu membuat beliau begitu senang. Agamanya Yudaisme dan Islam.
Rasulullah memanggil Ibnu Sa'yah dan menceritakan perihal penolakan Raihanah. Ibnu Sa'yah bertekad membantu Rasulullah mengajak Raihanah kepada ajaran Islam. Ia pergi menemui Raihanah dan mengatakan, "Jangan ikuti kaummu. Sesungguhnya mereka jatuh dalam perangkap Huyay bin Akhtab. Masuklah kamu ke dalam agama Islam. Rasulullah memilihmu untuk dirinya.
Ibnu Sa'yah pun menjelaskan tentang Islam kepada Raihanah hingga ia setuju masuk Islam. Ibnu Sa'yah kembali ke tempat Rasulullah SAW berada. Pada saat sedang bersama para sahabatnya, Rasulullah mendengar suara sandal. Beliau berkata, "Itu suara Ibnu Sa'yah yang datang untuk mengabarkan keislaman Raihanah." "Ya Rasulullah, Raihanah telah masuk Islam." kata Ibnu Sa'yah.
Rasulullah sangat senang mendengar berita tersebut. Beliau menyuruhnya membawa Raihanah ke rumah Ummul Mundzir binti Qais. Raihanah tinggal di sana sampai dia suci dari haidnya. Rasulullah mendatanginya di rumah Ummul Mundzir. Ia menawarkan dua pilihan kepada perempuan itu, yaitu untuk dimerdekakan dan dinikahi atau dijadikan pembantu.
Dalam riwayat lain disebutkan, Raihanah berkata, "Rasulullah masuk untuk menemuiku. Aku menjauh darinya karena merasa malu. Rasululllah menundukkanku di hadapannya dan berkata, "Jika kamu memilih Allah dan Rasul-Nya, Rasulullah akan memilihmu untuknya."
Aku berkata, 'Aku memilih Allah dan Rasul-Nya'. Ketika aku masuk Islam, Rasulullah memerdekakanku dan menikahiku dengan mahar dua belas dinar dan dua puluh dirham. Aku diberi mahar seperti istri-istri Rasulullah yang lainnya. Rasulullah menghabiskan malam pengantin bersamaku di rumah Ummul Mundzir. Aku diberi bagian hari seperti istri-istri yang lain. Dan ia menyuruhku untuk memakai hijab."
Dari az-Zuhri, dia berkata, "Raihanah adalah seorang pembantu perempuan Rasulullah yang dimerdekakan dan dinikahi oleh Rasulullah. Dia selalu memakai hijab di keluarganya. Raihanah berkata, "Tidak ada seorang pun yang melihat wajahku, kecuali Rasulullah SAW."
Dalam riwayat yang lain lagi dikisahkan bahwa Rasulullah sangat mencintai Raihanah. Beliau selalu memenuhi segala permintaannya. Sampai-sampai, Raihanah pernah berkata, "Jika aku meminta Rasulullah untuk memerdekakan Bani Quraizah, pasti Rasul akan melakukannya."
Raihanah dikenal sangat pencemburu. Rasulullah pernah menalaknya dengan talak satu karena sifatnya itu. Dia terus menerus menangis. Ketika Rasulullah masuk menemuinya, ia masih menangis. Kemudian, Rasulullah merujuknya.
Raihanah tetap menjadi istri Rasulullah sampai meninggal sepulang haji pada 10 Hijriah. Rasulullah menikah dengannya pada bulan Muharram 6 Hijriah. Jenazahnya dimakamkan di Baqi.
Kematian tahun 631Masehi, usia (31/41 tahun) Tempat pemakamannya Jannatul Baqi Madinah
Referensi :
Artikel “Raihanah binti Yazid Mulia Hidup Bersama Rasulullah." https://republika.co.id/berita/koran/dialog-jumat/16/06/03/o86zwa6-raihanah-binti-yazid-mulia-hidup-bersama-rasulullah.
Artikel “Raihanah binti Zaid”, Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, https://id.wikipedia.org/wiki/Raihanah_binti_Zaid.
a. Keturunan Nabi Muhammad Saw
Siapakah yang dinamai sebagai keturunan Muhammad Saw? Muhammad Saw dikaruniai 7 anak 3 laki-laki dan 4 perempuan, yaitu :
- Qasim, (pemberi Imbalan) wafat saat kecil
- Zainab, (indah dan Wangi) wafat usia 29 tahun
- Ruqaiyah, wafat saat perang Badar (ia isteri Usman bin Affan)
- Ummu Kultsum, dan
- Fathimah Azzahra.
- Abdullah wafat saat kecil
- Ibrahim wafat saat kecil
Sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad Saw telah dikaruniai 7 orang anak, 4 perempuan dan 3 laki-laki.seluruh anak Nabi berasal dari hasil pernikahannya dengan Sayyidah Khadijah, kecuali Ibrahim yang dilahirkan oleh Sayyidah Mariyah al-Qitbhiyah
Setiap keturunan atau anak berasal dari ayahnya, namun khusus untuk keturunan Sayyidatuna Fathimah bersambung kepada Rasulullah merekalah keturunan Muhammad Saw.
Sebagaimana dalam hadits telah disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Setiap anak yang dilahirkan ibunya bernasab kepada ayahnya, kecuali anak-anak dari Fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka”, (HR Imam Ahmad).
Silsilah TJ yang ke Empat
04.KHALFAH ALI IBN ABI THALIB
الخليفة الرابع أمير المؤمنين سيدنا علي بن أبي طالب كرم الله وجهه
Dia seorang Shahabat Nabi Saw, Dia termasuk As Sabiqul Awwalun (السابق الأولون) dan Dia pemuda pelopor dalam pengembangan dan penyebaran Islam dan menjabat Khalifah yang ke empat (IV) dari Khulafa’urrasyidin (الخلفاء الراشدين), Dia seorang tokoh Sufi pertama dari kalangan Shahabat yang memperkatakan ajaran Fanaa.Saidina ‘Ali Karramallah wajhah berkata :
وفى فنائ وفى فنائ وفى فنائ وجدت أنت
Maksudnya : Dan di dalam fanaku (leburku), leburlah kefanaanku, di dalam kefanaanku itulah, bahwa aku mendafpatkan Engkau ( Ya Allah).
menjelaskan prinsif-prinsif (أصول) Ushul kebenaran Ilahiyah dengan sangat halus, sampai-sampai Syekh Abul Qasim al Junaidy berkata : “Ali adalah syekh da imam kami mengenai prinsif-prinsif dan mengenai kebenaran dalam menghadapi malapetaka.” Maksudnaya ajaran dan praktik tasauf, karena oarang Sufi menyebut ajaran dengan prinsif-prinsif ushul tarekat”. Ini dan praktiknya terdapat dalam kesabaran ketika menghadapi malapetaka atau ujian-ujian dalam kehidupan. Terdapat riwayat yang mengatakan bahwa seseorang meminta kepada “Imam Ali untuk memberinya satu wasiat. “Imam Ali menjawab : “Jangan biarkan isteri dan anakmu menjadi perhatian utama, sebab jika mereka menjadi kekasih Allah, maka Dia (Allah) akan memelihara kekasih-Nya. Dan jika mereka menjadi musuh Allah, mengapa harus diperdulikan musuh - musuh Allah ? Pernyataan ini berkaitan dengan pemutusan hati dari semua hal selain Allah, yang menjaga kekasih-Nya dalam keadaan yang dikehendaki-Nya.
Pada suatu ketika Nabiyullah Musa Alaihissalam, karena tidak mau menjadikan isteri sebagai perhatian utama, sehingga Nabi Musa meninggalkan puteri Nabi Syu’aib Alaihissalam isterinya dalam keadaan yang paling sulit dan menyerahkannya kepada Allah. Dan begitu pula Nabi Iberahim Alaihissalam membawa Siti Hajar dan Nabi Isma’il anaknya ke Gurun yang tandus dan juga menerahkannya kepada Allah Ta’ala, dan meninggalkan keduanya.
Kedua Nabi dan Rasul ini, ketimbang menjadikan isteri dan anak sebagai perhatian utama, maka mereka memilih menetapkan hati mereka kepada Allah. Ungkapan ini sama – serupa dengan jawaban yang diberikan Khalifah “Ali Karramallahu wajhah, ketika dia di tanya hal apakah yang paling murni yang bisa dicapai ? Beliau menjawab : QANA’ATUL QALBI BILLAH (قناعة القلب بالله) ”Sesuatu itu Hati yang merasa cukup bersama Allah.” Maksudnya Hati yang begitu kaya bersama Allah, tidak akan menjadi fakir dengan tidak memiliki harta benda duniawi, dan juga tidak merasa senang dengan memilik harta dunia. Masalah ini benar-benar membalik ajaran mengenai kefakiran dan kesucian.
Khalifah “Ali bin Abi Thalib adalah seorang teladan bagi para Sufi dalam hal kebenaran penampakan lahir dan kelembutan dalam pemaknaan baten, yang mengosongkan diri dari semua harta benda di dunia dan akhirat kelak dan memilh pemeliharaan Allah Swt.
Aku kutif dari salah satu Artikel yang menyebutkan
bahwa Imam Ali bin Abi Thalib lahir hari Ahad, 17 Maret tahun 599M atau
12 Dzul Hijjah 25SH (sebelum Hijrah) di kota Mekkah negeri Arab Saudi.
Menurut sejarah Islam ketika Muhammad saw diangkat menjadi Nabi dan rasul pada usia 40 tahun sekitar tahun 609 Masehi, Usia “Ali bin Abi Thalib sudah 8 tahun. Jadi “Ali bin Abi Thalib lahir tahun 601 Masehi. Dan dia menjabat Khalifah yang ke empat dari tahun 656 Masehi s.d tahun 661 Masehi. Ketika itu usia “Ali sekitar 55 tahun, Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib wafat 31 Januari tahun 661Masehi atau pagi Jum’at, 21 Ramadhan tahun ke-40 Hijeriah dengan usia 60 tahun.
Dalam Kitab Tanwirul Qulub dikatakan bahwa Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifatur Rasyidin ke Empat :
ويليه علي ابن أبي طالب كرم الله وجهه ومكث فى الخلافة أربلع سنين وتسعة أشهر وسبعة أيام
Maksudnya : “Kekuasaan atau wilayah Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib Karramallah al Wajhah sebagai pemangku jabatan Khalifah yang ke Empat yakni Empat tahun, Sembilan bulan dan Tujuh hari dari tahun 656 Masehi sampai dengan tahun 661 Masehi.
Pada usia 6 tahun “Ali Bin Abi Thalib atau Haidarah (حيدارة) diangkat anak oleh Rasulullah Saw, Sebenarnya isteri Abu Thalib yang bernama Fatimah memberi nama anaknya setelah lahir adalah dengan nama “HAIDARAH, (حيدارة) akan tetapi Abu Thalib ayahnya memberi nama “ALI”.
Setelah Sayyidina Ali Bin Abi Thalib atau Haidarah dewasa, ia dikawinkan dengan puteri Rasulullah Saw yang bernama Siti Fatimah. Dari perkawinan inilah Rasul Saw punya zurriyat keturunan. Maksud perkawinan inilah antara Sayyidina Ali dengan Siti Fatimah, maka mereka punya anak yaitu : Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain.
01. Perkawinan Sayyidah Fathimah Azzahra dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib
01. Isteri pertama Imam Ali bin Abi Thalib bernama Sayyidah Fatimah binti Muhammad puteri Sayyidah Khadijah binti Khuwalait.
Perkawinan Syyidatuna Fathimah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dikarunia 3 orang putra yaitu Hasan, Husain dan Muhsin, dari kedua cucu Nabi Hasan & Husain inilah telah lahir para anak cucu-dzuriat Nabi Saw yang hingga kini kita kenali dengan sebutan syarif, syarifah, sayyid, dan habib.
Menurut Artikel “Kekhususan Fatimah Azzahra yang menurunkan Nasab Rasulullah” Ahlul Bait menyatakan bahwa " Siti Fathimah ra mempunyai tiga orang putra dan dua orang putri :
- Hasan
- Husain
- Muhsin
- Ummu Kalsum dan
- Zainab.
Kemudian Ummu Kalsum ra kawin dengan Sayyidina Umar Ibnul Khattab ra dan Zainab ra kawin dengan Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib ra. Sedang Muhsin wafat pada usia masih kecil (kanak-kanak). Adapun Hasan ra dan Husain ra, maka dalam buku-buku sejarah dikenal sebagai tokoh-tokoh Ahlul Bait yang meneruskan keturunan Rasulullah Saw.
Diantara keistimewaan atau fadhelat Ikhtishas yang didapat oleh Siti Fathimah ra adalah, bahwa keturunannya atau Durriyyatnya itu disebut sebagai Dzurriyyah Rasulillah Saw atau Dzurriyyaturrasul.
Fathimah lahir satu tahun sebelum kenabian dan meninggal dunia enam bulan sesudah ayahnya Rasulullah SAW meninggal, yaitu pada malam Selasa tanggal 3 Ramadhan tahun 11 Hijriyah
Nama Fathimah berasal dari kata Fathman yang artinya sama dengan qath'an atau man'an, yang berarti 'memotong, memutuskan atau mencegah'. Ia dinamakan Fathimah karena Allah SWT mencegah dirinya dari api neraka, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda: 'Sesungguhnya Fathimah adalah orang yang suci farajnya, maka Allah haramkan atas dia dan keturunannya akan api neraka.'
Al-Nasa’i meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya putriku Fathimah ini adalah seorang manusia-bidadari. Dia tidak haid dan tidak pula mengeluarkan kotoran. Karena itulah ia dinamakan al-Zahra atau 'yang suci', sebab ia tidak pernah mengeluarkan darah, baik dalam haid maupun sesudah melahirkan (nifas). Pada saat melahirkan, ia mandi dan kemudian shalat sehingga ia tidak pernah luput dari melaksanakan shalat.
Adapun sebutan al-Batul baginya itu adalah karena ia merupakan wanita yang paling menonjol di masanya dalam hal keutamaan, agama dan keturunan.
Dikemukakan pula oleh al-Thabrani, bahwa Rasulullah SAW bersabda: " Tiap anak itu bernisbat kepada keturunan bapaknya, kecuali putra Fathimah, akulah wali mereka dan akulah ashabah mereka". Dalam riwayat lain yang sahih disebutkan: "Setiap anak itu mengikuti garis keturunan bapaknya kecuali anak-anak Fathimah , sebab akulah ayah mereka dan ashabah mereka".
Hadis Riwayat lain menyatakan :
وَقَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَسَلَّمَ :" لِكُلِّ بَنِىٍّ اَبٌ عُصْبَةٌ إلا ابني فاطمة فأنا و ليهما و عصبتهما *
Artinya: "Setiap anak laki-laki seorang ayah memiliki ashabah (penerima bagian ashabah), kecuali dua putera Fatimah, karena akulah wali keduanya dan ashabah mereka berdua." (HR Al-Hakim)
Hal mana sesuai dengan pengakuan Rasulullah saw,sendiri bahwa anak-anak Fathimah ra yakni Al Hasan dan Al Husain itu bernasab kepada beliau saw. Sehingga berbeda dengan orang-orang lain yang bernasab kepada ayahnya
Rasulullah Saw bersabda :
وَعَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : كُلُّ بَنِى اُنْثَى فَاِنَّ عُصْبَتَهُمْ لِاَبِيْهِمْ مَاخَلَاوَكَ فَاطِمَةُ فَاِنّيْ اَنَا عُصْبَتُهُمْ وَ اَنَااَبُوْهُمْ (رَوَاهُ الطَّبْرَنى)
Artinya “Semua bani Untsa (manusia) mempunyai ikatan keturunan ke ayahnya, kecuali anak-anak Fathimah, maka kepadakulah bersambung ikatan keturunan mereka dan akulah ayah-ayah mereka.” (HR. At Thabrani)
Dalam hadis dari Umar bin Khattab juga diterangkan:
عن النبي صلى الله عليه و سلم كل نسب و صهر ينقطع يوم القيامة إلا نسبى وصهرى (رواه اِبْنُ عَسَاكِيْرٍ)
Artinya: "Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap nasab dan hubungan keluarga melalui perkawinan di hari Kiamat nanti akan putus, kecuali nasabku dan hubungan kekeluargaan melalui perkawinan denganku." (Riwayat Ibnu Asakir)
Pada suatu ketika, Sayyidina Umar ra datang kepada Imam Ali karamallahu wajhah dengan tujuan akan melamar putrinya yang bernama Ummu Kultsum ra.
Setelah Sayyidina Umar ra menyampaikan maksudnya, Imam Ali kw menjawab bahwa anaknya itu masih kecil. Selanjutnya Imam Ali kw menyarankan agar Sayyidina Umar ra melamar putri saudaranya (Ja’far) yang sudah besar.
Mendengar jawaban dan saran tersebut Sayyidina Umar ra menjawab, bahwa dia melamar putrinya, karena dia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:
“ Semua sebab dan nasab terputus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.” (HR. At Thabrani)
Dari konteks hadist tsb, hubungan pertalian dengan Rasulullah sangatlah penting, meskipun hubungan pertaliannya merupakan hubungan kekerabatan (sebab) dan bukan hubungan nasab. Akhirnya lamaran Sayyidina Umar ra tersebut diterima oleh Imam Ali kw dan dari perkawinan mereka tersebut, lahirlah Zeid dan Ruqayyah
Perkawinan tersebut membuktikan bahwa antara Imam Ali kw / Siti Fathimah ra dengan Sayyidina Umar ra telah terjalin hubungan yang sangat baik. Sebab apabila ada permusuhan antara Imam Ali kw / Siti Fathimah ra dengan Sayyidina Umar ra, pasti lamaran tersebut akan ditolak.
Bahkan dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa, Imam Ali kw dikenal sebagai penasehat Khalifah Umar Ibnul Khattab ra.
Bahkan Sayyidina Umar ra ketika mengawini Ummu Kultsum ra itu berkata kepada orang banyak: “Tidakkah kalian mengucapkan selamat kepadaku, sebab aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda:“Setiap sebab dan nasab terputus pada hari kiamat, kecuali sebab dan nasabku.” (HR. At Thabrani)
Dengan demikian tidak benar jika ada orang yang mengatakan bahwa keturunan Rasulullah Saw atau Dzurriyyaturrasul itu sudah putus atau tidak ada lagi. Karena pendapat tersebut sangat bertentangan dengan keterangan-keterangan Rasulullah saw, yang diakui kebenarannya oleh para ulama dan para Ahli sejarah.
Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab shahih-nya bahwa Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu : “Sungguh aku lebih senang menyambung tali kekerabatan kepada keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada keluargaku sendiri” [HR Bukhari : 3712]
Masih dalam Shahih Bukhari bahwasanya Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu ketika pulang dari shalat Ashar ia melihat Hasan Radhiyallahu anhu sedang bermain-main bersama anak-anak yang lain di jalan. Lalu Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu menggendong Hasan Radhiyallahu ‘anhu di atas pundaknya sambil berkata “Demi bapakku yang menjadi tebusan, Hasan lebih mirip Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan dengan Ali Radhiyallahu ‘anhu. Mendengar hal itu Ali Radhiyallahu ‘anhu hanya bisa tertawa” [HR Bukhari : 3542]
Dikutip dari salah satu Artikel telah diterbitkan SINDOnews.com bahwa Habib Zein bin Ibrahim bin Smith Al-Alawi Al-Husaini pernah menerangkan, ada banyak dalil menegaskan bahwa Fatimah merupakan jalur penerus keturunan Nabi Muhammad Saw. Berdasarkan berfirman Allah dalam Al-Qur'an ttg mubahalah :
فَمَنْ حَاجَّكَ فِيْهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَائَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَاَبۡنَآءَكُمۡ وَنِسَآءَنَا وَنِسَآءَكُمۡ وَاَنۡفُسَنَا وَاَنۡفُسَكُمۡ ثُمَّ نَبۡتَهِلۡ فَنَجۡعَل لَّعۡنَتَ اللّٰهِ عَلَى الۡكٰاذِبِيۡنَ (آل عمران ٦١)
Artinya: "Siapa yang membantahmu (tentang kisah Isa) sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta." (QS Ali Imran: Ayat 61).
Para ahli tafsir menjelaskan, ketika ayat ini turun, Rasulullah SAW mengajak Ali, Fatimah, al-Hasan dan al-Husain. Beliau menggendong Al-Husain, menuntun Al-Hasan, Fatimah berjalan di belakang beliau sedangkan Ali (suamu Fatimah) berjalan di belakang mereka, dan beliau bersabda: "Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku." Ayat ini adalah dalil yang tegas, bahwa anak-anak Fatimah dan keturunannya disebut anak-anak Nabi Muhammad dan mereka bernasab kepada nasab Rasulullah SAW secara benar dan bermanfaat di dunia dan akhirat.
Pada ayat lain, Allah berfirman:
اِنَّمَا يُرِيۡدُ اللّٰهُ لِيُذۡهِبَ عَنۡكُمُ الرِّجۡسَ اَهۡلَ الۡبَيۡتِ وَيُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِيۡرًا
Artinya: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS Al-Ahzab: 33)
Ungkapan Ahlul Bait dalam ayat di atas mencakup keluarga rumah tempat tinggal dan keluarga nasab Rasulullah SAW. Istri-istri beliau adalah keluarga rumah tempat tinggal, sedangkan kerabat-kerabatnya adalah keluarga karena pertalian nasab.
عن ابى سعيد الحدري رضي الله عنه قال: إن هذه الاية نزلت فى النبي صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم
Dari Abu Sa'id al-Khudri ia berkata: "Sesungguhnya ayat ini turun berkaitan dengan Nabi sholalllahu 'alaihi wasallam, Ali, Fathimah, Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu 'anhum." (HR Ahmad)
إنه صلى الله عليه وسلم جعل على هؤلاء كساء وقال اللهم هؤلاء اهل بيتى وخاصتى اذهب عنهم الرجز وطهرهم تطهيرا
Artinya: "Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengemulkan sebuah kain pada mereka (Ali, Fathimah, al-Hasan dan al-Husain) dan bersabda: "Ya Allah, mereka adalah ahli baitku dan orang-orang khususku, hilangkan dari mereka noda dan bersihkan mereka sebersih-bersihnya."
Dalam riwayat lain, sesungguhnya Rasulullah SAW selalu mendatangi rumah putrinya Fathimah, selama enam bulan pada setiap shalat Subuh. Beliau berseru: "Shalatlah hai Ahlul Bait, sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (HR at-Tirmidzi dan Abu Dawud ath-Thayalisi dari Anas bin Malik)
Dikisahkan, Sulthan Harun Al-Rasyid dimasa pemerintahannya pernah bertanya kepada Musa al-Kadzim seraya berkata: "Bagaimana kamu berkata kami keturunan Rasulullah SAW padahal kamu adalah anak-anak Ali bin Abi Thalib. Seorang laki-laki hanya bernasab kepada datuk dari sisi ayah, bukan datuk dari ibu?" Lalu Imam Musa al-Kadzim menjawab:
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم.بسم الله الرحمن الرحيم. ومن ذريته داود وسليمان وايوب ويوسف وموسى وهارون وكذلك نجزى المحسنين وزكريا ويحيى وعيسى وإلياس
Artinya: "Nabi Isa 'alaihissalam jelas tidak berayah, tetapi beliau dipertemukan dengan nasab para Nabi dari sisi ibundanya. Demikian juga kami dipertemukan dengan nasab Nabi Muhammad dari sisi ibu kami, Fatimah radhiyallahu 'anha. Dan masih ada tambahan lagi hai amirul mukminin, yaitu turunnya ayat mubahalah, saat itu Nabi tidak mengajak siapapun kecuali Ali, Fatimah, al-Hasan dan al-Husain ra."
Sebagai salah satu tinggalan Nabi Muhammad SAW untuk umatnya, keturunannya sudah selayaknya mendapat penghormatan dan rasa cinta seperti yang beliau terima. Sebagaimana anjuran dari sahabat termulia Rasulullah, Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq yang mengatakan, “Cintailah Muhammad melalui cinta kepada para keturunannya (Ahlul Bait).
Tak hanya itu, Al-Qur’an melalui surah Asy-Syura ayat 23 pun mengatur perintah untuk mencintai Ahlul Bait. Dalam ayat tersebut disebutkan, “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta upah kepada kalian kecuali rasa cinta kepada kerabatku,”
قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ
Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta upah kepada kalian kecuali rasa cinta kepada kerabatku,” (QS Asy-Syura: 23)
Dalam tafsir disebutkan bahwa yang dimaksud kerabat disini adalah Ahlul Bait. Dengan demikian, jelas perintah memuliakan dan mencintai Ahlul Bait merupakan perintah langsung dari Allah yang wajib dipatuhi.
عَنْ جَابرٍ بِنْ عَبْدُاللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَاَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى حُجَّتِهِ يَوْمَ عَرَفَةَ وَهُوَ عَلَى نَاقِتِهِ الْقَصْوَاءِ يَخْطُبُ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ : يَااَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا اِنْ اَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا : كِتَابَ الله وَعتْرَتيْ اَهْلُ بَيْتيْ (رواه الترمذى و احمد)
Dari Jabir bin Abdullah ra. berkata ia “Aku lihat Rasulullah pada Hajjinya hari Arafah Sedangkan Beliau berada diatas untanya berkhutbah dan aku mendengar Beliau bersabda : “Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan pada diri kalian, jika kalian mengikutinya maka tidak akan tersesat selamanya yaitu Kitabullah (Al Qur’an) dan keturunanku Ahlul Baitku”.HR.At-Tirmidzi dan Ahmad).
عَنْ اَبِيْ سَعِيْدٍ الحدري رضي الله عنه قال قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنِّيْ تَاركٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ اَحَدُهُمَا اَكْبَرُ مِنَ الآخِرِ : كِتَابُ اللهِ حَبْلٌ مَمْدُوْدٌ مِنَ السَّمَاءِ اِلَى الْاَرْضِ وَعتْرَتيْ اَهْلُ بَيْتيْ وَاَنَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتَّى تَرِدَا عَلَى الْحَوْضِ (رواه الترمذى و احمد وغيره)
Artinya Hadis dri Abi Said al-Khudri ia berkata Rasul Saw bersabda :”Aku tinggalkan pada diri kalian dua hal, salah satunya lebih besar dari yang lain yaitu Kitabullah (Alqur’an) sebuah tali penghubung yang dibentangkan dari langit ke bumi dan keturunanku Ahlul Baitku. Sesungguhnya keduanya tidak akan terputus hingga datang sewaktu telaga Hudl (HR. At-Tirmidzi, Imam Ahmad dan lainnya).
KHALFAH ALI IBN ABI THALIB
Imam Ali adalah orang yang pertama kali masuk Islam. Abu Ya'la meriwayatkan dari Ali, bahwa Ali telah berkata: "Rasulullah diutus pada hari Senin dan aku masuk Islam pada hari Selasa."
Abdulbirr dalam kitabnya yang berjudul al-Isti'ab mengetengahkan sebuah hadits yang berasal dari Imam Ali , bahwa Rasulullah saw berkata kepada Siti Fatimah ra: 'Suamimu adalah orang yang terkemuka di dunia dan akhirat, ia sahabatku yang pertama memeluk Islam, yang paling banyak ilmunya dan paling besar kesabarannya'
Dalam hal nasab, seperti diriwayatkan oleh Thabrani, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda: "Allah menciptakan keturunan setiap Nabi dari tulang sulbinya sendiri, namun Allah menciptakan keturunanku dari tulang sulbi Ali bin Abi Thalib."
Hal ini diperkuat dengan hadits yang bersumber dari Umran bin Hushain, bahwa Rasulullah telah berkata: "Apakah yang kamu inginkan dari Ali, apakah yang kamu inginkan dari Ali, apakah yang kamu inginkan dari Ali? Sesungguhnya Ali dariku dan aku darinya. Ia adalah pemimpin semua orang mukmin sesudahku."
Ibnu Abbas ra meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulullah saw menyatakan: 'Manusia diciptakan dari berbagai jenis pohon, sedang aku dan Ali bin Abi Thalib diciptakan dari satu jenis pohon (unsur). Apakah yang hendak kalian katakan tentang sebatang pohon yang aku sendiri merupakan pangkalnya, Fatimah dahannya, Ali getahnya, al-Hasan dan al-Husain buahnya, dan para pencinta kami adalah dedaunannya! Barangsiapa yang bergelantung pada salah satu dahannya ia akan diantar ke dalam surga, dan barangsiapa yang meninggalkannya ia akan terjerumus ke dalam neraka."
Imam Ali bin Abi Thalib wafat sebagai syahid pada pagi hari Jum'at tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah ketika sedang melaksanakan sholat Subuh. Beliau dikarunia 15 (lima belas) orang anak laki-laki dan 18 (delapan belas) orang anak perempuan:
- Hasan
- Husain Ibunya Siti Fathimah binti Rasul saw.
- Muhsin (meninggal waktu kecil)
- Muhammad al-Hanafiah (Menurut satu pendapat keluarga Ba Qasyir di Hadramaut adalah keturunannya)
- Abbas
- Usman Syahid bersama saudaranya Husain
- Abdullah Ibunya ummu Banin binti Hazam al-Kilabiyah
- Ja'far
- Abdullah
- Abu Bakar
- Yahya
- Aun
- Umar al-Akbar (Ibunya Ummu Habibah al-Taghlibiyah)
- Muhammad al-Ausath (Ibunya Amamah binti Abi Ash)
- Muhammad al-Asghar
Kelima belas anak laki-laki tersebut sesuai dengan pendapat al-Amiri, sedangkan Ibnu Anbah menambahkan nama: Abdurahman, Umar al-Asghor dan Abbas al-Asghar.
Adapun yang membuahkan keturunan anak dari Imam Ali bin Abi Thalib yakni ada lima, orang yaitu:
- Hasan,
- Husain,
- Abbas al-Kilabiyah dan Ibunya bernma Ummul Banin” binti Haram isteri ke-3 dari Imam Ali bin Abi Thalib
- Umar al-Tsa'labiyah. Ibunya bernma Sahbanu binti Rabi’ah isteri ke-5 dari Imam Ali bin Abi Thalib
- Muhammad al-Hanafiyah, dan Ibunya bernma “Maulah binti Ja’far” isteri ke-7 dari Imam Ali bin Abi Thalib
Sedangkan anak perempuannya dari Imam Ali bin Abi Thalib dalam riwayat yang disepakati berjumlah 18 orang, yaitu:
- Zainab,
- Ummu Kulsum,
- Ruqoyah,
- Ummu Hasan
- Ramlah al-Kubra,
- Ummu Hanni,
- Ramlah al-Sughro,
- Ummu Kulsum al-Sughro,
- Fathimah,
- Amamah,
- Khadijah,
- Ummu Khoir,
- Ummu Salmah,
- Ummu Ja'far,
- Jamanah
2.Isteri kedua Ali bin Abi Thalib bernama Laila binti Mas’ud dari Bani Tamim, darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Ubaidillah dan Abu Bakar.
3.Isteri ketiga Ali bin Abi Thalib bernama “Ummul Banin” binti Haram, darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Ja’far, Abbas, Abdullah, dan Utsman
4.Isteri keempat Ali bin Abi Thalib bernama Asma binti Umays” darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Yahya, Muhammad Asghar
5.Isteri kelima Ali bin Abi Thalib bernama “Ummu Habibah (Sahbanu) binti Rabi’ah” darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Umar al-Akbar dan Rukiyah
6.Isteri keenam Ali bin Abi Thalib bernama Umamah binti Abil Ash” darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Muhammad Awsad
7.Isteri ketujuh Ali bin Abi Thalib bernama “Maulah binti Ja’far” darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Muhammad al Hanafiyah
8.Isteri kedelapan Ali bin Abi Thalib bernama “Ummu binti Urwah” darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Umul Hasan dan Ramlah Kubra
9.Isteri kesembilan Ali bin Abi Thalib bernama “Mahabba binti Amru’ul Qays darinya lahirlah keturunan/anak yang bernama : Puteri wafat saat keci.
اللإمام على بن أبي طالب رضى الله عنه
ونسبه مشهور. وكان رضى الله عنه يقول : الدنيا جيفة فمن أراد منها شيئ فليصر على مخالةالكلاب. قلت والمراد بالدنيا مازاد على الحاجة الشرعية بخلاف ما دمت الضرورة أليه. وذلك أن فصول الدنيا شهوات وأهل الشهوات كثير. ولذالك ماروي زاهد قط فى محل مزاحمة على الدنيا كماهو مشاهد, وإنما سمي طالب الفضول كلب للدنيا لتعلقا قلبه بها لان الكلب مأخذ من التكلب وكل من عسر عليه فراق شهوته فهو كلبها فأفهم فماتوسع من توسع فى مأكل او ملبس لقلة ورعه, والشارع لم يأمرنا بالتوسع فى الشبهات. وكان رضي الله عنه يعظم أهل الدين والمساكين. وكان يصلى ليله ولا يهجع إلا يسيرا يقبض على لحيته ويتمامل تمامل السليم ويبكى بكاء الحزين حتى يصبح. وكان رضي الله عنه يخاطب الدنيا ويقول يا دنيا غرى غيرى قد طلقتك ثلاثا عمرك قصير ومجلسك حقير وخطرك كبير أه أه من قلة الزاد وبعد السفر ووحشةالطريق. وكان رضي الله عنه يقول أشد الاعمال ثلاثة : أعطاء الحق من نفسك وذكرك الله على كل حال و مواساة الأخ فى المال.-1
وكان رضي الله عنه يقول لم يرض الحق تعالى من أهل القرأن إلا دهان فى دينه والسكوت على معاصيه. وكان رضي الله عنه يقول إن مع كل إنسانا ملكين يحفظانه ممالم يقدر فإذاجاء القدر حليا بينه وإن الأجل جئت حصينة. ,كان ينشد زيقول :
حقيق بالتواضع من يموت -ويكفى المرْء من دنياه قوت.
فما لالمرء يصبح ذا هموم - وحصر ليس تدركه النعوت.
فياهذا سترحل عن قريب - إلى قوم كلامهم السكوت. -2
وكان رضي الله عنه يقول : أعلم الناس بالله أشدهم حبا وتعظيما لاهل لاإله إلا الله. قيل له مرة ألا نحرسك يا أمير المؤمنين فقال حارس كل امرئ اجله.
ولد علي بن أبى طالب رضي الله عنه سنة 601 ملادية. وقال المصنف تنوير القلوب : ويليه علي ابن أبي طالب كرم الله وجهه ومكث فى الخلافة أربلع سنين وتسعة أشهر وسبعة أيام, وعمره رضي الله عنه 60 عاما وتوفى علي بن أبى طالب رضي الله عنه سنة 661 ملادية.
Keterangan
Wafatnya Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah
Bagaimana fitnah wanita telah menimpakan sebuah keimanan seseorang, sehingga terbutakan hati olehnya.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran: 14).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ.
“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnah) wanita.” (Muttafaq ‘alaihi).
IBNU MULJAM DAN WANITA CANTIK BERPAHAM KHAWARIJ
Dan masyahur di kalangan umat ini tentang sebuah golongan yang banyak menimbulkan kekacaun negeri, mereka adalah golongan khawarij. Golongan ini muncul pertama kali pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam ketika dalam peristiwa pembagian harta ghanimah pada perang Hunain. Dan datanglah seorang lelaki datang kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan langsung serta merta mengatakan, “Berbuat adillah hai Muhammad!!” Maka Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab, ” Dan celakalah, Siapa yang bisa berbuat adil, Selain keadilanku.”
Pesatnya paham ini ketika masa pemerintahan khalifah Ali radhiallahu ‘anhu ketika terjadi perang siffin. Mereka menyempal dari barisan pasukan Ali dengan alasan Ali telah berbuat maksiat kepada Allah Swt..
Setelah kejadian itu mereka meninggalkan bashrah menuju ke suatu daerah yang bernama Harura’. Sehingga kaum khawarij ini dinamakan juga dengan haruriyun/haruriyah. Kemudian Imam Ali memerangi mereka dalam perang An-Nahrawan, dan mereka berhasil dikalahkan.
Telah disebutkan oleh ibnu Faraj Al-Jauzi rahimahullah ta’ala dalam kitab Dzamulhawa :
Siapa yang tidak kenal dengan Pembunuh masyhur ini, dialah Abdurrahman ibnu Muljam sang pembunuh khalifah Ali radhiallahu ‘anhu.
Abdurrahman ibnu Muljam dulunya seorang ahlussunnah, ia hafidz Alquran dan fasih dalam membaca Alquran, dan taat menjalankan agama. Dia pernah di utus oleh khalifah Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu ke Mesir untuk mengajar Alquran pada penduduknya.
Diceritakan, suatu ketika Abdurrahman bin Muljam melihat wanita cantik dari Taim Ar-Rabbab yang biasa dipanggil Qatham. Ia merupakan wanita yang paling cantik dimasa itu, tetapi kedua orang tuanya berpaham khawarij. Ayah wanita tersebut telah terbunuh karena mengikuti paham khawarij pada perang An-Nahrawan.
Ketika Ibnu Muljam melihatnya, dia jatuh hati, dan sangat jatuh cinta padanya lalu melamarnya. Wanita ini mengatakan, “Aku tidak menikah denganmu kecuali dengan syarat
Ia pun keluar dengan menyandang senjatanya, dan Qatham juga keluar. Lalu, Qatham memasangkan peci kepadanya, kemudian dia pergi ke masjid. Saat itu Ali bin Abi Thalib sedang mengimami shalat jamaah subuh di masjid tersebut dan setelah sujud terakhir langsung ditikam dengan pedang oleh seorang pembunuh yang bernama Abdurraham bin Muljam. ... Oleh Golongan Abdurrahman Bin Muljam, Ali Bin Abi Thalib sudah dihukumi sebagai kafir.
Ada yang mengatakan Khalifah Ali Bin Abi Thalib ditusuk dengan sebilah pisau yang direndam Racun seharga 1000 dinar selama satu Minggu ketika itu, Oleh karenanya Ali Bin Abi Thalib masih bisa berwasiat kepada anaknya Hasan dan Husain. Mendengar wasiat tersebut Ibn Muljam berkata bahwa “Kau tak akan bertahan lama hidup sebab pisau itu aku rendam dengan Racun seharga 1000 dinar selama satu Minggu”.
Memang hari dan tanggal malam itu sudah disepakati bersama dan hari yang ditunggu-tunggu oleh Pembesar berpaham khawarij untuk membunuh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Radliyallahu 'anhu dan Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan dan Sayyidina Amr bin Ash.
Dan Ibnu Muljam serta ada dua orang lainnya yang bersedia serta bertugas membunuh Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan dan Sayyidina Amru bin Ash Radliyallahu 'anhuma, pada tempat yang berbeda, yang pada akhirnya Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan terluka dan selamat dari pembunuhan, Sayyidina Amr bin Ash selamat dari pembunuhan karena mincerit (sakit perut) hingga ia tdak keluar mengimami shalat subuh ketika itu, imam penggantinya yang terbunuh dan Khalifah Ali Bin Abi Thalib Radliyallahu 'anhu terbunuh.
Tentang hal ini (Mahar termahal & terkutuk), seorang penyair Arab pernah berkata,
لم أر مهرا ساقه ذو سماحة … كمهر قطام بيننا غير معجم
ثلاثة آلاف وعبد وقينة … وقتل علي بالحسام المصمم
فلا مهر أغلى من علي وإن غلا … ولافتك إلا دون فتك ابن ملجم
Aku tidak melihat mahar yang dibawa oleh orang yang punya kehormatan Seperti mahar Qatham yang sedemikian jelas tidak samar
Mahar 3000 dinar, hamba sahaya, biduanita
Dan membunuh ‘Ali dengan pedang yang tajam
Tidak ada mahar yang lebih mahal dari Ali meskipun berlebihan
Tidak ada kebengisan yang Melebihi kebengisan Ibnu Muljam
Artikel (Dzammul hawa (ذم الهوى) yang ditahqiq Musthafa Abdul Wahid.
Penikamnya (pembunuhnya) orang kafir bukan ? Atau (Beda mazhab saja). Dia adalah Abdurrahman ibn Muljam. Sosok yang menghabiskan waktu di siang hari dengan berpuasa, malam hari dengan qiyamul lail, dan konon hafal al-Qur'an. Dua Kawan Ibn Muljam lainnya ditugaskan membunuh Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan dan Sayyidina Amru bin Ash Radliyallahu 'anhuma, tetapi recana tersebut gagal.
Jika kedua shahabat ini lolos, maka tidak dengan Sang Pintu Ilmu. Beliau justru gugur di tangan pembunuh yang meneriakkan “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” sembari menikam tubuh menantu Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam.
Ketika ditangkap, Abdurrahan Ibn Muljam berteriak meronta sembari mengutip firman Allah: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya.” (Al-Baqarah: 207).
Surat Al-Baqarah Ayat 207 berbunyia :
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ رَءُوفٌۢ بِٱلْعِبَادِ
Arab-Latin: Wa minan-nāsi may yasyrī nafsahubtigā`a marḍātillāh, wallāhu ra`ụfum bil-'ibād
Artinya: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya
Satu Islam – Ali bin Abi Thalib. Cukuplah kalau disebutkan bahwa dia adalah sepupu Nabi Suci Muhammad Saw. Sejak kelahirannya di Ka’bah, dia dibesarkan dan dididik langsung oleh Nabi Saw. Ali adalah lelaki pertama yang memeluk Islam. Ali adalah kembang, kebanggaan dan perisai Islam hingga akhir hayatnya.
Berikut adalah maqam (tempat, posisi, kedudukan, atau stasiun spiritual), narasi detik-detik kematian Ali yang cemerlang, yang kerap dibacakan di majelis menyambut malam ganjil Lailatul Qadar tanggal 19 dan 21 Ramadhan tahun 40H :
Narator : Berbicara tentang manusia, orang sudah seharusnya bicara tentang apa yang terjadi di akhir perjalanan manusia. Yaitu kematian. Dan soal kematian, fragmen Kesyahidan Amiril mu’minin Imam Ali merupakan manifestasi keimanan, kecintaan, akhlak yang agung, kemuliaan, kerinduan membara pada Sang Khalik.
Kalangan sejarawan Islam mengatakan bahwa fragmen Kesyahidan Imam Ali menjadi indah dalam sejarah kemanusian karena dia telah mengetahui detail ceritanya dari jauh hari. Rasul sendiri yang mengabarkan bahwa Imam Ali bakal syahid karena sebuah pukulan pedang beracun di bulan Ramadhan. Tapi Imam Ali tak pernah sedikitpun menunjukkan tanda meminta penangguhan atau menunjukkan gelagat enggan menerima suratan tragis itu. Padahal, sekiranya mau, dia bisa mengubah cerita akhir hidupnya.
Toh orang tahu Ali pernah menahan terbenamnya matahari dengan sebaris doa. Orang pun tahu kalau Rasul Suci akan mengorbankan apa saja, termasuk nyawanya, sekiranya Imam Ali yang meminta. Antara Rasul dan Ali ada ikatan kuat yang tak terpisahkan, bahkan oleh kematian. Imam Ali pernah berkata:
Imam Ali “Nabi membesarkan aku dengan suapannya sendiri. Aku pun selalu menyertai beliau kemanapun beliau pergi, seperti anak unta yang mengikuti induknya. Tiap hari aku dapatkan suatu hal baru dari akhlak beliau yag mulia, aku menerimanya serta langsung mengikutinya sebagai kewajiban yang diperintahkan.”
Narator : Rasul sendiri pernah bersabda: “Ali tak pernah ragu dalam melaksanakan perintahku dan selalu menantiku dalam segala sesuatu.”
Kata Rasul lagi: “Jika kalian ingin melihat keluasan ilmu Adam, kesalehan Nuh, kesetiaan Ibrahim, keterpesonaan Musa (saat menyaksikan Allah), pelayanan dan wara’ Isa, maka lihatlah pada wajah Ali.”
Ya, Ali yang disayang Rasul itu berhadapan dengan bayang-bayang kematian saat usianya masuk 63 tahun. Tapi Ali bukan sembarang lelaki. Dia menyambut kematiannya seperti pengantin yang menanti hari pernikahan. Inilah kisah kerinduan, kesyahduan, penantian kekasih demi menjumpai Sang Tambatan Hati, Allah swt.
Pada bulan Ramadhan tahun 40 Hijriah itu, setiap hari Imam Ali mendatangi anaknya untuk berbuka dan sahur bersama. Terkadang beliau mampir di rumah Imam Hasan, kemudian besoknya mendatangi Imam Husein, di hari ketiga mendatangi putrinya Zainab, dan di hari keempat berbuka dan bersahur di rumah putrinya Ummu Kalsum.
Hari itu adalah Jum’at yang cerah, tanggal 21 Ramadhan tahun 40 H. Di rumah Ummu Kaltsum di Kufah, di wilayah yang sekarang disebut sebagai Irak, Ali seperti merangkum sejarah dan perjuangan pahit getir para Nabi sejak Adam hingga Ibrahim di tanah Babilonia.
Pada malam 21 itu, Ummu Kalsum mendapat giliran berbuka bersama ayah tercintanya. Dia menyuguhkan menu berbuka dalam dua nampan, satu berisi roti kering dan lainnya berisi susu masam. Imam Ali menegurnya: “Bukankah kau sudah tahu bahwa aku selalu mengikuti putra pamanku Rasulullah yang tidak pernah makan sajian dalam dua nampan sepanjang hidupnya? Maka mohon angkatlah salah satunya. Barangsiapa yang makan dan minumnya enak di dunia ini maka perhitungannya akan lama kelak di hadapan Allah… .”
Ummu Kulsum menuturkan bahwa malam itu Imam Ali makan sangat sedikit dari roti kering yang kusuguhkan dan memperbanyak ucapan hamdalah dalam tiap suapnya. Selesai makan sedikit, Imam segera bangkit untuk melaksanakan shalat yang lama. Imam terus dalam keadaan rukuk, sujud, bermunajat, berdoa yang khusyu, dan sering-sering keluar rumah untuk melihat langit. Sekali di antaranya dia berujar: “Ya, ya…inilah malam yang dijanjikan kekasihku Rasulullah.”
Di malam itu, Ali sempat tertidur sejenak dan terbangun cepat.
Ummu Kaltsum, putri bungsu Fathimah az-Zahra ‘alayhis-salam itu, lantas menuturkan apa yang terjadi di detik-detik yang paling mempesona dari kehidupan ksatria langit, kekasih Allah dan Rasulullah ini sebagai berikut.
Ummu Kaltsum “Aku melihat ayahku shalat hingga tengah malam. Di serangkaian shalatnya, beliau sebentar-sebentar keluar rumah, menengok sejenak ke langit dan kembali lagi untuk shalat. Tangisannya lebih panjang dari biasanya. Rukuknya lebih lama, sujudnya lebih lama. Lantunan munajatnya pun lebih syahdu dari hari-hari biasanya.”
Narator : Imam Ali tenggelam dalam ibadah hingga menjelang subuh. Di sela-selanya, dia beberapa kali seperti berbicara pada dirinya sendiri:
“Sepertinya inilah malam yang dijanjikan kekasihku, Rasulullah.”
“Ya Allah, Engkau tak pernah berbohong dan aku pun tidak akan mengkhianati-Mu. Inilah malam kematian yang Kau janjikan padaku.”
“Lailaha Illallah. Hukum sebab akibat senantiasa terjadi. Sebentar lagi ketetapan Allah akan diputuskan.”
Narator: Ummu Kaltsum hanya bisa berurai air mata. Kakeknya Rasulullah saw. Pernah mengatakan bahwa Ali akan Syahid dibunuh “saudara pembunuh onta suci Nabi Shaleh” pada malam Jum’at ke-10 akhir bulan Ramadhan. Imam Ali dan semua keluarga dekat Nabi tahu persis siapa orangnya : Abdurrahman Ibnu Muljam.
Nama Ibnu Muljam sebenarnya sudah lama dikenal oleh keluarga Nabi.
Suatu kali Kumayl bin Ziyad, sahabat dekat dan penyimpan rahasia Imam Ali, pernah menemani beliau menelusuri lorong-lorong Kufah di malam hari. Di tengah2 perjalanan, terdengar suara ayat Alquran dari masjid.
Kumayl berkata, “Ya Amirul Mu’minin, alangkah merdunya suara itu.”
Imam Ali menimpali, “Ya Kumayl, itulah suara orang (Abdurrahman bin Muljam) yang akan menebas pedangnya ke kepalaku di saat aku sedang shalat subuh.”
Narator: Ali sadar tak ada hukum yang bisa dilakukan untuk kejahatan yang belum dikerjakan. Dia juga tahu kematian adalah sesuatu yang menyeramkan tapi perhatian pada Tuhan akan melenyapkan semua ketakutan apapun di alam ini.
Malam itu, dalam perjalanan menuju Masjid Kufah, Imam Ali beberapa kali menengok ke langit.
Di mesjid Kufah, dia mendapati Ibnu Muljam tidur telungkup. Dia pun menasehatinya: “Innas sholata tanha ‘anil fahsyai wal munkar. Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan fasik dan munkar.
Yang disapa dan dinasehati membantu, tak kunjung beranjak.
Lalu Imam Ali berkata lirih: “Kau sepertinya bertekad mengerjakan sesuatu yg sangat berbahaya, sangat mengerikan. Kalau aku mau, akan kuceritakan padamu apa yang ada di balik bajumu itu.”
Narator : Imam Ali tahu di balik baju Ibnu Muljam, semoga Allah swt mengutuknya, tersimpan pedang beracun. Tapi dia tak mempedulikannya untuk sebuah alasan yang belum pernah didengar dunia.
Setelah adzan subuh berkumandang pada Jum’at, tanggal 21 Ramadhan 40H (31 Januari 661M), Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kembali keluar masjid, dan menengok ke fajar yang menyingsing. Kemudian dengan suara parau, beliau mengucapkan selamat berpisah kepada fajar:
Imam Ali ”Wahai Fajar.. sepanjang Hayat Ali……. Pernahkah engkau muncul dan mendapatkannya tertidur ??
Narator : Di mihrab, Ali memulai shalatnya seorang diri. Dia seperti sengaja memperpanjang rukuk dan sujudnya. Ibnu Muljam, seperti orang-orang di zaman itu, tahu persis betapa Ali
Darah lalu mengucur deras. Dahi Ali koyak. Janggutnya meneteskan darah. Tapi tak ada erangan dari mulut Ali. Justru pujian pada Tuhan.
Imam Ali ;“Bismillah, wa billah wa ‘ala millati Rasulillah…
Dengan suara melengking, Imam Ali kemudian berteriak: “Fuztu wa Rabbil Ka’bah…Demi Tuhan Ka’bah, sungguh aku telah berjaya.”
Seiring dengan suara Imam Ali, seluruh penduduk Kufah mendengar gelegar suara keras Jibril yang mengabarkan berita duka itu, hingga semua warga berhamburan keluar rumah untuk menuju masjid al Jaami Kufah.
Ummu Kalsum yang mendengar suara itu dari rumah sontak menjerit lirih: “Waaah Abataaah, Waaah Aliyaah” (Oooh Ayahku, Ooooh Aliku).
Yang pertama datang menyaksikan Imam Ali bercucuran darah adalah putra sulungnya, Hasan.
Imam Hasan menuturkan bahwa Imam Ali terus berusaha melengkapi rangkaian shalatnya sambil duduk. Badannya menggigil. Setelah salam, dia mengusapkan tanah sujud ke dahinya yang merekah sembari mengucapkan firman Allah dalam surat Thaha ayat 55:
۞ مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرٰى ٥٥
min-hâ khalaqnâkum wa fîhâ nu‘îdukum wa min-hâ nukhrijukum târatan ukhrâ
Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain.
Imam Ali “Dari tanah, kalian Kami ciptakan, dari tanah pula kalian Kami kembalikan dan bangkitkan.”
Narator : Semua kejadian disaksikan oleh seluruh putranya, terutama Hasan yang tak kuasa menahan airmata. Imam Ali meminta Hasan untuk mengimami jamaah shalat. Beliau mengikuti dari belakang dengan gerakan isyarat sambil terus membersihkan cucuran darah dari kening sucinya.
Seusia shalat, Hasan langsung kembali menengok ayahnya, didampingi Husain dan seluruh putra Ali yang lain.
Hasan : Duhai Ayahku, tak kuasa aku melihatmu begini…sungguh ini sangat menghancurkan hatiku. Berat sekali bagiku melihatmu seperti ini.
Hasan kemudian meletakkan kepala ayahnya di pangkuannya untuk membersihkan darah yang tak berhenti mengucur. Tak lama berselang, Imam Ali pingsan dalam pelukan Hasan. Jerit tangis membahana ke seluruh arah. Hasan pun langsung menciumi wajah ayahnya demikian pula putra-putra Imam yang lain.
Derasnya airmata Hasan menyadarkan Imam Ali. Imam pun langsung bertanya: “Anakku Hasan, untuk apa tangisan ini? Jangan bersedih atas keadaan ayahmu. Apakah kau bersedih atas keadaanku padahal esok kau akan dibunuh dengan cara diracun dan adikmu Husain akan dibunuh dengan tebasan pedang. Lantas kalian semua akan menyusulku bersama kakek dan ibu kalian.”
Setelah kekacauan terjadi, salah seorang di antara khalayak belakangan masuk membawa Ibnu Muljam. Orang curiga dia lari menjauh dari mesjid dengan pedang berlumur darah sementara seluruh penduduk justru menuju masjid.
Kematian telah mendekati Ali. Rekahan di dahinya begitu dalam. Tapi musibah itu tak merusak karakter keadilan yang larut dalam darah dan dagingnya. Dia melarang orang membalas pada Ibnu Muljam.
Imam Ali “Aku tahu engkau akan membunuhku…Pasti…Tapi sesungguhnya aku masih berharap pada Allah adanya perubahan pada diri dan nasibmu.”
Narator ; Ibnu Muljam tak kuasa mendengar kalimat setinggi itu. Dia menangis.
Ibnu Muljam “Ya Amirul Mukminin, afa anta tunqidzhu man finnaar (apakah engkau bisa menolong orang yang sudah masuk neraka)?”
Narator : Ali menjawab dengan memerintahkan anak-anaknya mencari susu. Dia kehausan dan meminta mereka mempersilahkan Ibnu Muljam meminumnya lebih dahulu……………….sedangkan Imam meminum sisanya………. Inilah minuman susu terakhirnya.
Imam Ali :”Wahai, putra-putra ‘Abdul Muthalib, sesungguhnya aku tidak ingin melihat kalian menumpahkan darah kaum Muslimin sambil berteriak “Amirul Mukmini telah dibunuh!” Ingatlah, jangan membunuh dengan alasan kematianku, kecuali atas pembunuhku. Tunggulah hingga aku mati oleh pukulannya ini. Kemudian pukullah dia dengan satu pukulan dan jangan rusakkan anggota-anggota badannya, karena aku telah mendengar Rasulullah Saw berkata, “Jauhkan memotong-motong anggota badan sekalipun terhadap anjing gila.
Narator : Imam Ali lahir di Ka’bah yang suci dan pada bulan yang suci, di mihrab yang suci dan dalam keadaan bersuci pula dia menyambut kematiannya. Negeri Kufah berduka. Rumah-rumah keluarga Nabi gelap selama beberapa malam. Inn Negerialillahi wa inna ilaihi rajiun.
Malam 21
Pada malam 21 Ramadhan itu keluarga Nabi Saw mengenakan busana hitam, karam dalam duka yang mendalam. Para malaikat dan segenap kekasih Allah meleleh dalam pilu yang menyayat. Malam itu begitu panjang dan melelahkan. Waktu seolah membeku dalam kebisuan, menolak untuk menerima takdir perpisahan. Pedang kesesatan dan kebodohan menyempurnakan kegelapan malam itu dengan sebilah kenistaan yang bercampur kebencian.
Sementara di sudut lain dari bumi, gerombolan orang pandir, pengkhianat kemanusiaan, penyulut api neraka yang paling mengerikan, pembenci keluarga Nabi Saw sedang berpesta pora.
Saat racun kian merasuki sekujur tubuh suci Imam Ali, kerinduannya pada Allah dan Rasul kian berkobar-kobar. Dia terlihat begitu pasrah, teduh, berparas pucat pasi, menerima nasib dalam kegairahan yang seutuhnya. Imam Ali menyambut perpisahan dengan dunia dalam rindu bercampur sedih, pilu bercampur riang, perasaan yang mengayun di antara perpisahan yang menyesakkan dan perjumpaan yang melegakan setelah perjalanan berliku yang menahun.
Manusia dan jin, binatang-binatang yang ada dilaut, burung-brung di angkasa, ikut merasakan kesedihan berpisah dengan Imam Ali yang senantiasa menjadi sumber kasih bagi mereka. Jibril berteriak keras memecah keheningan malam itu: “Ooooh, sungguh salah satu tiang petunjuk Allah telah roboh… satu lagi seorang pemberi peringatan yang suci pergi dari dunia yang fana ini!
Tiba-tiba Rasul menangis…
Amirul Mukminin bertanya lagi, “Apakah yang membuatmu menangis, Ya Rasulullah?”
Baginda Nabi menjawab, “Aku menangis karena apa yang akan menimpamu di bulan itu. Sekarang aku seakan-akan menyaksikanmu menunaikan shalat untuk Tuhanmu manakala orang paling sial dari masa lalu dan masa kini, adik dari pembunuh onta Nabi Saleh, memedang dahimu hingga janggutmu memerah berlumuran darah.”
Lalu Amirul Mukminin bertanya, “Ya Rasulullah, apakah saat itu aku dalam keadaan selamat dalam urusan agamaku?”
Rasulullah menjawab, “Tentu saat itu engkau berhasil dalam urusan agamamu.” Lantas Rasulullah melanjutkan, “Hai Ali, barangsiapa yang membunuhmu berarti dia telah membunuhku; dan barangsiapa yang membencimu berarti dia telah membenciku; dan barangsiapa yang mencacimu berarti dia telah mencaciku, karena engkau adalah bagian dari diriku, ruhmu dari ruhku dan tanah penciptaanmu dari tanah penciptaanku … Hai Ali, engkau adalah washiku, ayah dari keturunanku, suami dari putriku dan khalifahku … Demi Dzat yang mengutusku sebagai Nabi dan menjadikanku sebaik-baiknya makhluk, engkau adalah hujjah Allah bagi segenap makhlukNya.
Di hari-hari menjelang wafatnya, Imam Ali sering memberi kabar kematiannya kepada khalayak dengan bahasa isyarat yang mudah dimengerti. Dia juga sempat berdoa meminta kepada Allah dengan membuka tudung kepalanya sambil berujar, “Ya Allah, aku telah jenuh dengan mereka dan mereka pun sudah jenuh padaku, aku telah bosan dengan mereka dan merekapun sudah bosan denganku … tidakkah sebaiknya ada perpisahan?
Referensi :
(1).Artikel “Kekhususan
Fatimah Azzahra yang menurunkan Nasab Rasulullah” Ahlul Bait
diposting tgl 12/12/2013
(2).Artikel “Nasab AHLU-BAIT Nabi dari Keluarga Alawiyin
’// https://ahlulbaitrasulullah.blogspot.com/2012/09/nasab-ahlu-bait-nabi-dari-keluarga.html
(3).You tobe “KISAH UBAIDILLAH BIN ALI BIN ABI THALIB RA
| putra imam ali yang terlupakan dalam sejarah”
https://www.youtube.com/watch?v=akNqd0yUqeo
(4).Kamus Arab Indonesia oleh Mahmud Yunus hal 181.
(5).Artikel ahlulbaitrasulullah.blogspot.com › Fiqih tgl.10 Maret 2013)
(6).Artikel www.KisahMuslim.com /Read more
http://kisahmuslim.com/3306-sang-pembunuh-imam-ali.html
(7) 1.Kitab - الطبقات الكبرى الجزء الأول -19
(8) 2.Kitab - الطبقات الكبرى الجزء الأول -21
(9)-Kitab نور اليقين فى
سيرة المرسلين -15
(10)-Kitab الكتاب الفقية نهاية
الزين -12
(11).KitabTanwirul Qulub fi Mua’milati allamul Guyub yang
ditulis oleh Syekh Muhammad Amin Kurdi halaman 525-527
(12). Kitab Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’, halaman: 31
(13). Artekal Make Money Online : http://ow.ly/KNICZ M R NaufaL Senin, 04 Agustus 2014)
(14).Artikel “Kekhususan
Fatimah Azzahra yang menurunkan Nasab Rasulullah” Ahlul Bait
diposting tgl 12/12/2013
(16).Ar Risalah Bahjatul 'Abid lil Jama'ah
Thareqat al Junaidiyah
(17). Hasil Mu'tamar ke IX tahun 2000
(18). Kitab Kasaf al Mahjub .....
Syekh Ali bin Usman al Jullabi al Hujwir
(19). Kitab Inseklopedi Tasawuf................................
(20). Kitab Tanbihul Mugtarin.....Kr.
Abd. Wahhab asy Sya'rani
(21). Makalah Mengenal Thareqat Panduan
Pemula mengenal jalan menuju Allah Ta'ala
(22). Hasil Informan (wawancara dengan
keluarga, murid dan guru TQ al Junaidiyah) 2006
(23). Artikel Perkembanganthariqatdi Indonesia” oleh digilip uinsby (Universitas Islam Negeri Surabaya)
(24). Artikel
"Berkeislaman dan Kebudayaan
oleh Alif.ID
Redaksi 1 Desember 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar