BAB. IX
POKOK PEMBAHASAN HAL MUQABALAH
DAFTAR ISI : HAL
MUQABALAH
A. Pengertian Muqabalah
B. Muqabalah Yang Ada Dalam Kitab Suci al Qur'an
C. Kaum Sufi Selalu merasa bersama Allah Swt
D. Ayat-ayat
yang Mengacu kepada
Muqabalah
E.Para Kaum Sufi selalu Rasa berjumpa dengan Allah Swt
F. Para ‘Arif billah Mereka Ahli
Musyahadah dan Muqabalah
G. Salik yang Mencari dan Mendapatkan Rasa Muqabalah
dengan Tuhannya
BAB. IX
POKOK PEMBAHASAN HAL MUQABALAH
(حَال الْمُقَابَلَة فِى الطَّرِيْقَةِ الْجُنَيْدِيَّةِ)
A. Pengertian Muqabalah
Secara etimologi, muqabalah berasal dari kata قبال - يقبل - قبل atas wazan -يفعل – فعل فعال
merupakan bentuk dari thulasi mujarrad yang berarti menerima atau mengambil. Adapun kata مقابلة merupakan bentuk masdar dari kata قَابَلَ يُقَابِلُ- فَهُوَ مُقَابَلةً dengan tambahan alif atas wazan يفاعل- فاعل yang arti dasarnya adalah القى yang berarti menjumpai / pertemuan, atau bermakna berhadapan. Sedangkan مقابلة secara isim masdar bermakna المالقاة yang berarti sesuatu yang berhadapan dan المعارضة yang berarti perbandingan.
Namun yang kami kehedaki dan kami maksud Muqabalah dalam konteks thariqat sufi al Junaidiyah adalah berarti perjumpaan atau pertemuan seorang Hamba dengan Tuhannya pada setiap waktu, tempat dan keadaan, baik berjumpa dengan af’al-Nya, Sifat-Nya. Asma-Nya ataupun dengan Dzat-Nya.
Aku kutip pada sebuah Artikel “Pengertian Muqabalah Dalam Balaghah serta Contoh Uslub Muqabalah” bahwa muqabalah (المقابلة) adalah mengungkapkan dua lafaz atau lebih lalu diiringi dua lafaz lain yang merupakan antonim (lawan kata) dari dua lafaz pertama dan disebutkan secara beriringan.
Adapun secara terminologi menurut Imil Badi’ Ya’qub dan Misyal ‘Asyi dalam kitab al-Mu’jam al-Mufassal fi al-Lughah wa al-Adab memberikan definisi bahwa muqabalah merupakan bagian dalam Ilmu Badi’ yaitu mendatangkan dua makna yang bersesuaian kemudian didatangkan kata yang berlawanan dengannya sesuai dengan urutan.” Seperti dalam syair:
مَا أَحْسَنَ الدِّيْنَ وَالدُّنْيَا إِذَا
اجْتَمَعَا وَ أَقْبَحَ الْكُفْرَ وَإلْفَالِسَ فِي الرَّجُلِ
“Indahnya agama dan dunia
bila keduanya terpadu. Alangkah buruknya kekufuran dan kemiskinan bila ada pada
diri seseorang.”
Pada syā’ir di atas, dapat
dilihat bahwa kata أقبح berlawanan dengan
kata أحسن ,kata الكفر
berlawanan dengan kata الدين ,sedangkan kata اإلفالس berlawanan dengan kata الدنيا.
Muqabalah merupakan salah
satu bentuk keindahan al-Qur’an dari segi makna. Muqabalah tidak sama dengan
antonim. Akan tetapi, muqabalah menyejajarkan dua kata terlebih dahulu kemudian
mendatangkan makna yang berlawanan.
Sebagai contoh:
اُولئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ
اِلَي رَبِّهِمْ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُوْن
عَذَابَهُقلي اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا* الاسراء 57
Artinya : “Orang-orang yang mereka seru itu,
mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang
lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya;
Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS.
al-Isra’/17: 57)
Kata yarjuna (mengharap) dan
kata rahmatuhu (rahmat) adalah dua kata yang
memiliki makna berdekatan, kemudian disejajarkan dengan dua kata yang
berlawanan, yaitu kata yakhafuna (takut)
dan kata ʻadzabahu (siksa) yang juga memiliki kata berdekatan. Penggunaan ayat al-Qur’an yang
menggunakan uslub muqabalah banyak
dijumpai pada surah-surah pendek. Hal ini dikarenakan surah-surah
tersebut umumnya menceritakan tentang
bagaimana Allah mengistimewakan orang-orang yang beriman dan menghinakan orang-orang yang durhaka kepada-Nya.
B. Muqabalah Yang Ada Dalam Kitab Suci al Qur'an
Adapun Contoh Muqabalah Dalam Al-Qur’an misalnya pada Surat al A'raf ayat 157 yang berbunyi :
يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
Artinya:
“(Allah) memerintahkan mereka agar berbuat baik dan melarang mereka untuk menjauhi kemungkaran, dan Allah menghalalkan kepada mereka (makan-makanan) yang baik dan mengharamkan kepada mereka (makan-makanan) yang buruk”. (QS. Al-A’raf: 157).
Dari ayat di atas, ada beberapa kata yang berlainan maknanya:
يَأْمُرُ – يَنْهَى
الْمَعْرُوفِ – الْمُنْكَرِ
يُحِلُّ – يُحَرِّمُ
الطَّيِّبَاتِ - الْخَبَائِثَ
إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (QS. Al-Infithar: 13-14)
Kata (الْأَبْرَارَ) dan (نَعِيمٍ) makna nya bertentangan dengan (الْفُجَّارَ) dan (جَحِيمٍ).
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu….” (QS. Al-Baqarah: 185)
Dari ayat di atas, ada beberapa kata yang berantonim, yaitu:
يُرِيدُ – لَا يُرِيدُ (arti kata : Menghendaki – tidak menghendaki) dan
الْيُسْرَ – الْعُسْرَ (arti kata : Mudah – sulit)
Sekian dan demikian penjelasan saya tentang uslub muqabalah dalam ilmu balaghah. Semoga bermanfaat!.
C. Kaum Sufi Selalu merasa
bersama Allah Swt
Muqabalah berarti perjumpaan
atau pertemuan seorang Hamba dengan Tuhannya pada setiap waktu, tempat dan
keadaan, baik berjumpa dengan af’al-Nya, Sifat-Nya. Asma-Nya ataupun dengan
Dzat-Nya. Menurut ajaran thariqat Junaidiyah al Bagdadiyah salah satu hak dari
Allah Swtterhadap hambanya adalah Hal Muqabalah
(حَالُ الْمُقَابَلَةِ). Disini seorang
Salik merasakan selalu bertemu dengan Af’al Allah Swt, selalu berjumpa dengan
Asma Allah Swt, selalu berjumpa dengan Sifat-sifat Allah Swt dan merasa selalu
berhadap-hadapan dan mesra dengan Dzat Wajibal Wujud Swt. Oleh karenanya salah
satu yang harus dilalui bahkan dilazimi setiap saat oleh Salik dalam menjalani
Thariqat Junaidiyah, ia selalu mesra dan berjumpa dengan Tuhannya.
Pertemuan dan perjumpaan
dengan Tuhannya di dua Alam ini, alam Sugra dan alam Kubra telah/ sedang &
akan terjadi, Apabila Salik PTJ dalam
keadaan Tawajjuh Muthlaq setiap saat. Sedangkan Allah Swt telah bertajalli pada
Hayatnya. Bila Tawajjuhnya sudah mantap,
Tawajjuhnya sudah tahqiq maka Salik PTJ
selalu meresa berjumpa dengan Tuhannya, baik yang ia jumpai itu Af’al-Nya, atau yang ia jumpai itu Asma-Nya, atau juga yang ia jumpai itu Sifat-sifatnya Allah Swt bahkan merasa
bertemu dengan DZAT-Nya.
Firman Allah Swt pada surat
al Baqarah ayat 115 yang berbunyi :
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِط اِنَّ
اللهَ وَاسِعُ عَلِيْمٌ* البقرة 115
Artinya : “Dan kepunyaan
Allah lah apa saja di Timur hingga Barat, oleh karenanya kemana saja kamu
memalingkan mukamu, maka disanalah Wujud Allah, sesunguhnya Allah amat luas
karunia-Nya dan ilmu-Nya”. QS. Al Baqarah 115.
Dalam bahasa lain bahwa hal
Muqabalah ini dapat dirasakan tatkala Salik PTJ mempanakan dirinya, melenyapkan
Batang Tubuhnya, mempanakan Hatinya, dan
Rohnya yakni sifat : Qadirun, Muriidun,
A’limun, Samii’un, Bashiirun, Hayyun dan Mutakallimun. Dalam ilmu Tauhid bahwa 7 sifat ini disebut sifat
Ma’anawiyah (اَلصِّفَاتُ الْمَعَانَوِيَّةُ).
Dikala itu Salik PTJ benar-benar rasa
bersama Allah, baik Af’al, Asma atau Sifat-sifat-Nya.
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
: كُنْ مَعَ اللهِ .... الحديث
Artinya : Nabi kita Muhammad
Saw telah bersabda : “Hendaklah kamu (selalu) bersama Allah ……Al Hadis
Hadis diatas memerintahkan
kepada kita agar supaya Salik selalu bersama dengan Allah Swt, baik bersama
dengan Af’al-Nya, atau rasa bersama dengan Asma-Nya, atau bersama deng an
Sifat-sifat-Nya.
D. Ayat-ayat yang Mengacu
kepada Muqabalah
a. Firman Allah Swt
QS Al Baqarah ayat 186
berbunyi :
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ
قَرِيْبٌ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِلا فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا
بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ* البقرة 186
Artinya : ….”Dan apabila Hamba-hamba Ku, bertanya
kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka
sesungguhnya Aku dekat. Aka kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia
berdo’a kepada Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (Perintah) Ku dan beriman
kepda Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” QS Al Baqarah 186
b.Firman Allah Swt
QS Qaf ayat 16 berbunyi :
وَقَوْلُهُ تَعَالَى : وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ
مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ... ق 16
Artinya :” Dan Kami lebih dekat kepadanya (Manusia)
dari pada pembuluh darah yang ada di lehernya”
QS Qaf 16
c. Firman Allah Swt
QS Al Hadid ayat 4 berbunyi :
وَقَوْلُهُ تَعَالَى : وَهُوَ
مَعَكُمْ اَيْنَمَا كُنْتُمْ .... الحديد 4
Artinya : ”Dan Dia (Allah)
bersamamu dimana saja kamu berada”. QS Al Hadid 4
d.Firman Allah Swt
QS Al Ankabut ayat 5-6 berbunyi :
مَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ اللهِ فَاِنَّ اَجَلَ اللهِ لَأتٍ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ*وَمَنْ جَاهَدَ فَاِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِقلي اِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ* الانكبوت 5-6
Artinya : ….”Barang siapa mengharap pertemuan dengan
Allah, maka sesungguhnya waktu (yang
dijanjikan) Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”
Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya
sendiri. Sungguh Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.
QS Al Ankabut ayat 5-6
E.Para Kaum Sufi selalu Rasa
berjumpa dengan Allah Swt
Dzikir adalah makanan utamanya Roh Sanubari
Manusia. Oleh karenanya stiap gerak dan diamnya Salik semestinya tidak lepas
dari Dzikrullah. Ia mengata dalam hatinya, ia menyebut dalam hatinya kalimat
“laa ilaa ha illallah”, atau mengata kaliamt “illallah-illallah” atau menyebut
kaliamt “Allah-Allah”. Salik PTJ pasti berharap dan akan berjumpa Tuhannya,
baik berjumpa di alam Sugra ataupun berjumpa di alam Kubra. Pertemuan itu pasti
terjadi dan mereka rasakan, mungkin juga rasa berjumpa dengan Af’al Tuhannya,
atau rasa bertemu dengan Asma Tuhannya, atau juga rasa berhadap-hadapan dengan
sifat-sifat-Nya di kdua alam tersebut.
Firman Allah Swt pada surat
Al Kahfi ayat 110 yang berbunyi :
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ
عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادِةِ رَبِّهِ اَحَدًا*
الكهف 110
Artinya : “Barang siapa yang
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan Amal yang
Saleh dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dalam beribadat kepada Tuhannya akan seseorang.” QS al Kahfi 110 :
Untuk mencapai “pertemuan
dengan Allah Swt” secara harfiah menurut
ayat diatas, ada beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan antara lain :
a.Istiqamah dan sabar dalam
menjalankan ibadah shalat lima waktu, dan ….
b.Mengerjakan amal saleh
sebagai wujud sifat kehambaan
c.Menafikan 7 sifat yang ada
dalam Dirinya (Sifat Ma’nawi) yaitu : Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’a,
Bashar dan Kalam, termasuk batang tubuhnya sehingga yang ada dirasakan Af’al,
Asma. Sifat dari Allah Swt semata. Inilah yang dikehendaki Rasa berjumpa dengan
Tuhannya atau Muqabalah.
Firman Allah pada Surat Ar
Ra’du ayat 2 yang berbunyi :
يُدَبِّرُ الْاَمْرَ يُفَصِّلُ الْأَيَاتِ لَعَلَّكُمْ
بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ* الرعد 2
Artinya :… Allah Swt mengatur
akan perkara-perkara, hal keadaannya juga menjelaskan tanda-tanda kekuasaanNya.
Modah-modahan kamu pasti menjumpaiNya dengan yakin.” QS. Ar Ra’du 2
Salik yang selalu berjumpa
dan bertemu dengan Allah Swt, baik perjumpaan dengan Af’al Allah, atau
pertemuan dengan Asma Allah Swt, atau pertemuan dengan Sifat-sifat-Nya. atau
rasa berhadap-hadapan dengan Wajibal Wujud setiap saat. Allah Swt sangat suka
menjumpai Hamba-hambaNya, tetapi siapa yang benci menemui Allah maka Allah pun
sangat benci menemuinya.
Dalam Kitab Hadis As Sunan At
Tirmidzi pada Jilid IV halaman 139 ada dikatakan bahwa Rasulullah Saw telah
bersabda yang berbunyi :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : مَنْ اَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ اَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهِ وَ مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ
اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ* رواه الترمذي
Artinya : Rasulullah Saw
telah bersabda bahwa “Barangsiapa menginginkan (sangat menyukai) berjumpa
dengan Allah, maka Allah lebih suka menjumpainya. “Barangsiapa benci bertemu
dengan Allah, maka Allahpun benci menemuinya.” HR. At Tirmidzi.
Salik akan dapat mencapai
Ma’rifat dengan Allah Swt, ia akan bertemu dengan Allah, atau ia akan merasa berhadap-hadapan dengan
Tuhannya (muqabalah) bila tawajjuhnya mantap dan benar dan juga tahqiq.
Ma’rifat dengan Allah Swt
akan dialami oleh Salik bila ia pana terlebih dahulu dengan Gurunya atau pada
(Syekhnya), Pana dengan Gurunya adalah
awal pana dengan Tuhannya. Salik lebih dahulu lebur- sirna perasaannya pada
Gurunya, disini ia benar-benar merasakan Dirinya Ghaibah yang digantikan oleh
Gurunya yang hadir waktu itu, maka ia rasa Syekhnyalah yang beramal…….
Jadi yang dirasakan Salik
yang ada adalah Diri Gurunya… Begutulah Pana fi syekh, fana ini terjadi dari pada Guru/ Syekh ke
Guru/ Syekh hingga Fana pada Rasulullah Saw …
Kaidah menyebutkan bahwa :
قَوْلُهُ لَا فَاعِلَ اِلَّا الشَّيْخُ اَوْ
لَا فَاعِلَ اى عَلَى الْاِطْلَاقِ اِلَّا نُوْرُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
Artinya : Perkataannya “Tiada
ada jenis perbuatan yang berbuat kecuali perbuatan Syekh. Atau “Tiada ada jenis
yang berbuat melainkan Nur Muhammad Saw.”
Disini Salik benar-benar
pana-lenyap pada Af’al Gurunya hingga nanti Salik benar-benar pana-lenyap pada
Af’alnya Nur Muhammad Saw hingga ia nantinya ia juga pana dengan Allah Swt.
Kaidah menyatakan bahwa
tentang Pana pada Af’alnya Allah Swt :
لَا فَاعِلَ اِلَّا اللهُ تَعَالَى
Maksudnya : “Tiada yang
berbuat secara muthlaq kecuali perbuatan Allah semata.”
Barangkali inilah yang
dikehendaki oleh Penyusun Umdatul Jama’ah biqalami Firdaus pada haalaman ke 13
dari maksud perkataan Imam al Junaid al Bagdadi Rahimahullah yang berbunyi :
اَوْ لَيْسَ لِيْ فِعْلٌ مَعَ اللهِ لِاَنَّ
ظَاهِرَ كُلَّهُ نَفَى غَيْرَ اللهِ وَهَدَمَ التَّكْلِيْفَ كُلَّهُ(1)
Maksudnya : “Tidak ada satu perbuatan pun Saya miliki beserta Allah, karena sesungguhnya semua perbuatan yang zahir telah lenyap-hilang selain perbuatan Allah semata. Maka disini gugurlah-binasalah pembebanan semuanya.”
Hal keadaan demikian Salik
dikatakan telah ber muqabalah dengan Tuhannya, telah berjumpa dengan Af’al
Allah, telah bertemu dengan Asma Allah, bahkan ia telah berhadapan dengan
Sifat-sifat Allah. Salik benar-benar tidak dapat menghadirkan wujud Dirinya, ia
benar-benar ghaibah, ia merasa gerak diamnya minnah Allah semata.
(1)كتاب الرسالة عمدة الجمعة بقلم فردوس 130
F. Para ‘Arif billah Mereka Ahli
Musyahadah dan Muqabalah
Aku baca dalam sebuah “Artikel”
bahwa para arifbillah, mereka itu ahli musyahadah ialah mereka yang berdiri
memandang anugerah dan karunia Allah dalam setiap nikmat. Ahli Muqabalah ialah
mereka yang merasa selalu berjumpa, bertemu Allah setiap saat.
Dengan kata lain mereka ini
adalah ahli musyahadah yang senantiasa memandang wujud Allah dalam tiap-tiap
sesuatu. Dan orang ahli Muqabalah yang senantiasa rasa berhadapan
(bertemu-berjumpa) dengan Allah Swt setiap saat, mereka (selalu menghadapkan
wajahnya kepada Allah) Namun demikían, untuk memudahkan pemahaman golongan ahli
musyahadah dan ahli Muqabalah dibagi menjadi dua golongan utama iaitu:
Pertama, mereka yang sudah
sampai kepada-Nya yakni yang disebut juga sebagai orang-orang yang wasililallah
(wushul).
Kedua, mereka yang berjalan
menuju kepada-Nya yaitu disebut Salik atau Murid.
Pertama, Golongan Wusul.
Golongan wasil-ilallah
(wushul) adalah terdiri dari mereka yang tiada memandang wujud dan amalnya,
yakni yang tenggelam dalam lautan musyahadah dan muqabalah dengan Allah Ta'ala
sehingga tidak dipandang amalnya dan wujud dirinya sendiri.
Orang yang sudah sampai
(wushul) kepada Allah disebut sebagai orang yang kaya raya, keluasannya tiada
hingga, karena ia telah bebas dari tekanan kehidupan di semesta raya ini, dan
ia mendapatkan limpahan kekayaan jiwa yang luar biasa.
Inilah orang yang telah
diputuskan/dighaibkan oleh Allah Ta'ala daripada melihat amal ibadah dan
hal-ihwalnya. Bahwasanya mereka itu
dengan Dia(Allah), dengan maksud hamba yang memiliki musyahadah senantiasa
menilik dan memandang kepada Allah Ta'ala, sehingga ghaib atau hilang wujud
diri mereka. Yang dilihat dalam
pandangannya ialah perbuatan Allah semata atau nyatanya sifat-sifat
kesempurnaan Allah dan Mahasuci Zat Allah Yang Mahaagung.
Ma'rifat, syuhud, musyahadah,
dan wushul dalam istilah tasawuf adalah pengetahuan penyaksian hakikat-hakikat
dengan mata batin dan hati setelah melewati tingkatan-tingkatan penyucian jiwa
dan telah sampai pada kualitibkejiwaan yang stabil.
Pengetahuan hakikat adalah
jenis pengetahuan yang bersumber daripada hati (qalb), penyucian jiwa atau
suatu bentuk pengetahuan yang tak berdasarkan pada indrawi, akal, pikiran, dan
argumentasi rasional, melainkan bersumber dari mata air suluk, menapaki
jalan-jalan spiritual, penyucian jiwa, dan penjernihan hati.
Pengetahuan seperti ini tidak
dapat disamakan dengan pengetahuan yang bersumber daripada suatu konsep-konsep
rasional, melainkan suatu pengetahuan syuhud, musyahadah, hudhuri atau
kehadiran langsung.
Jalan-jalan ahli tasawuf
adalah mencapai, mengetahui, dan menyaksikan segala sesuatu dengan musyahadah
dan mukasyafah, walaupun hal-hal yang diketahuinya itu tidak dapat dinalar
secara rasional dan tak dapat dibuktikan dengan penalaran akal.
Menurutnya, segala bentuk
ma'rifat dan pengetahuan itu hanya dihasilkan dari jalur syuhud/musyahadah dan
mukasyafah dengan realiti yang tertinggi dan suci serta pengalaman internal
(rohani).
Kedua, Golongan Salik.
Kedua, salik ialah orang yang
hatinya berjalan menuju kehampiran kepada Allah Ta'ala. Apabila salik berjalan
tentu akan menjumpai sesuatu yang menjadi penghalang atau rintangan, yang
menjadi cubaan untuk menguji keteguhan cita-cita dan maksud hatinya.
Ibarat seorang pengembara di
padang pasir yang harus menempun berbagai rintangan dan pada satu ketika
tertarik pandangannya pada satu kebun yang ditemuinya, begitu juga si salik
dalam perjalanannya menuju Allah. Salik
mungkin akan berhadapan dengan berbagai cubaan yang akan
mengalihkan/membelokkan pandangan cita-cita dan maksud hati si salik.
Awal perjalanan salik dimulai dari nasut (alam badan) dan terus ke malakut (alam lakuan), maka mulailah rezeki spiritualnya melimpah dan terus ke jabarut (alam sifat) lalu terbuka perbendaharaan pengetahuan kemudian melalui asma-asma ketuhanan dan mendapatkan limpahan mutiara ilmu yang terpendam, lalu menuju Zat (laahut) dari sanalah ia meraih permata-permata rahasia Ilahiyyah maka bersinarlah Zat Tajalli Allah kepadanya, kemutlakan yang luas yang di dalamnya, dan terbuka hijab dihadapannya, inilah fana. Kemudian kembali ia dalam keadaan baqo' billah.
G. Salik
yang Mencari dan Mendapatkan Rasa Muqabalah dengan Tuhannya.
Kalau boleh kita contohkan
orang yang mendapatkan rasa muqabalah dengan Tuhannya, kalau boleh kita
amsalkan terhadap orang yang memperoleh rasa pertemuan dengan Khaliknya setiap
saat, Salik dapat mempanakan dirinya, Salik bisa meleburkan dirinya, Salik bisa
melenyapkan wujud dirinya. Dengan jalan bertawajjuh Muthlaq yang benar dan
mantap. Manakala wujud diri Salik pana, tatkala Batang Tubuh dan Hatinya
diserahkan, batang tubuh dan hatinya digantikan Allah Swt. Maka panalah Salik,
lenyap dan leburlah ia pada wujud Allah Swt. Ia merasa bingung, siapakah
sebenarnya yang ada, apa sebenarnya yang dicari ? Semoga jawabannya didapatkan
melalui contoh berikut ini :
Saat itu Salik pana, ia
bagaikan seekor Ikan Gabus yang sedang mencari air. Sang Ikan ini berenang
kesana kemari dengan susah payah mencari Air. Namun air yang dicari rasanya
belum ia dapatkan. Namun ia merasakan kepayahan yang luar biasa. Pada akhirnya
ia bertemu dengan si Tunggul Air (Kayu kecil yang tertanam di dasar Sungai
yakni tempat ikan-ikan bersembunyi). Kata si Tunggul Air : “Hai sang Ikan, apa
yang kau cari ? Kau kelihatannya lelah sekali.” Jawab Sang Ikan Gabus : “Aku
selama ini telah berenang kesana kemari dengan susah payah, untuk mencari Air,
namun air yang aku cari rasanya belum kutemukan.” Mendengar pengakuan Sang Ikan
itu, si Tunggul Air tertawa terbahak-bahak. Katanya “kau ini lucu sekali”. Kata
si Tunggul Air : “Coba kau tenangkan dirimu (coba kau panakan dirimu, coba kau
lenyapkan wujud dirimu) Kau pasti akan menemukan Air yang Kau Impikan selama
ini “ !!!!!
Barulah Sang Ikan Gabus
sadar, bahwa air yang ia cari sedemikian dekatnya, barada padanya dan meliputi
seluruh Dirinya. Kemana saja ia berhadap ber (muqabalah) namun selalu ada.
Bahkan tiada tempat namun Air selalu menempatinya.”
Allah Swt telah berfirman QS.
Ali Imran ayat 120 yang berbunyi :
وَقَوْلُهُ تَعَالَى : اِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ
مُحِيْطٌ* ال عمران 120
Artinya : “Sesungguhnya Allah
dengan sesuatu yang mereka kerjakan itu (amat mengetahui) meliputi.”
Allah Swt telah berfirman QS.
An Nisa ayat 126 yang berbunyi :
وَقَوْلُهُ تَعَالَى : وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ
شَيْئٍ مُحِيْطًا* النساء
126
Artinya : ….“Adalah Allah Swt
dengan sesuatu itu amat meliputi” QS. An Nisa 126
G. Salaik Menjumpai Tuhannya Melalui Diri Sesamanya
Firman Allah Swt Qur’an
Surat. Al Baqarah 115 ini telah mengacu pertemuan Salik
dengan Tuhannya, yakni Allah ajja wajalla.
وَقَوْلُهُ تَعَالَى : فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا
فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ* البقرة 115
Artinya : “Kemana saja Engkau
meghadapkan (memalingkan) wajahmu, maka disanalah Wujud Allah”. QS. Al Baqarah
115.
Salaik PTJ mesti merasakan
menjumpai Tuhannya melalui Diri sesama lainnya. Ayat tersebut menjelaskan
kepada kita bahwa “Kemana saja Salik menghadapkan wajahnya, maka ia merasa
selalu berhadap-hadapan dengan Tuhannya”. Menurut pengertian hakekat ia pasti
menjumpai Af’al Tuhannya, Asma Tuhannya atau menjumpai dengan Sifat-sifat
Tuhannya. Perjumpaan ini di alaminya di alam Sugra ataupun di alam Kubra.
Nabi Musa
berhasrat/berkeinginan melihat wajah Tuhannya, Allah berkata kepada Nabi
Musa “ لَنْ تَرَانِيْ“
Engkau (Hai Musa) tidak bisa melihat Aku, selama Engkau mengklaim atau
menganggap wujud dirimu ada (hadir). Firman Allah : “وَهُوَ
مَعَكُمْ اَيْنَمَا كُنْتُمْ” Artinya : ”Dan Dia (Allah) bersamamu dimana
saja kamu berada”. Firman Allah juga pada surat Al Isra ayat 60 yang berbunyi
: “اِنَّ رَبَّكَ
اَحَاطَ بِالنَّاسِ“Artinya : “Sesungguhnya Tuhanmu, Allah
meliputi semua Manusia.”
Dalam Hadis tentang Muqabalah
yakni “perjumpaan dengan Tuhannya” Salik PTJ di alam Kubra (di luar dirinya)
menjumpai Af’al, Asma dan Sifat-sifat Allah Swt secara hakekat. Rasulullah Saw
bersabda : Allah Swt telah berfirman dalam hadis Qudsi :
يَا عَبْدِيْ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِيْ فَيَقَوْلُ
: يَا رَبِّ كَيْفَ اَعُوْذُكَ وَاَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ ؟ فَيَقَوْلُ اللهُ
: اَمَا اِنَّهُ مَرِضَ عَبْدِيْ فُلَانٌ فَلَمْ تَعُدْهُ فَلَوْ عُدْتُهُ لَوَجَدْتَنِيْ
عِنْدَهُ ثُمَّ يَقُوْلُ يَا عَبْدِيْ اِسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمَنِيْ ثُمَّ
يَقُوْلُ : اِسْتَسْقِيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِيْ* الحديث القدسي
Artinya : “Hai Hambaku, Aku
telah jatuh sakit, Engkau tidak mengunjungi Ku, Hamba berkata “Bagaimana Hamba
mengunjungi Mu sedang Engkau Tuhan pemelihara sekalian alam. Tuhan berfirman :
“ Hamba Ku (yang bernama) Fulan sedang sakit, kamu tidak mengunjunginya, jika
kamu kunjungi dia, kamu temui dia Aku (Alllah) disisihnya. Begitu juga Aku
minta makan, kamu tidak memberi makan,
Aku juga minta minum, kamu tidak memberi minum.” Al Hadis Qudsi.
Hadis diatas menjelaskan
bahwa Manusia di muka Bumi ini adalah khayali atau adanya Hamba adalah wahmi
(sangka-sangka) sahaja. Dia bagaikan Fata Morgana dari kejauhan terlihat dengan
jelas wujudnya, tetapi manakala didekati tidak ada wujudnya.
Keberadaan Salik atau
keberadaan Hamba di dunia ini laksana bayang-bayang, bahkan hukumnya sama
dengan bayang-bayang, maka yang ada secara hakekat hanya Allah Swt semata.
Berkata Ulama Sufi Syekh Syasytari dalam syair berbunyi :
*اَلْخَلْقُ خَلْقُكُمْ وَالْاَمْرُ
اَمْرُكُمْ* فَاَيُّ شَيْئٍ اَنَا لَكُنْتُ مِنْ ظِلَلٍ*
*مَا لِلْحِجَابِ مَكَانٌ
فِي وُجُوْدِكُمْ* اِلَّا بِسِرِّيِّ حُرُوْفِي اُنْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ*
Artinya : “Segala mahluk
adalah hikmatMu, dan segala Roh adalah rahasiaMU, Bagaimana saja keadaanku (Hamba)
tetap hukumnya bayang-bayang.” “Tidak ada hijab yang dapat melindungi Engkau,
kecuali hijab qahriyah yang terdapat pengertiannya di dalam rahasia
perkataanMu, lihatlah Gunung itu.”
*اَنْتُمْ دَلَلْتُمْ عَلَيْكُمْ
مِنْكُمْ وَلَكُمْ* دَيْمُوْمَةٌ عَبَّرَتْ عَنْ غَامِضِ الْاَزَلِ*
*عَرَفْتُ بِكُمْ هَاذَا
الْخَبِيْرَ بِكُمْ* اَنْتُمْ هُمْ يَا حَيَاةَ الْقَلْبِ يَا اَمَلِي*
Artinya : “Engkau menunjukkan
atas dirimu, petunjuk datang dari pada Mu, bagiMu perbendaharaan, isyarat yang
mengungkapkan berita azali. Kumiliki pengetahuan untuk mengenal Engkau dengan
petunjukMu, Engkaulah hakekat mereka, ya Tuhanku idaman hati.”
Segala Kainat, atau segala
Akwan selalu dekat dengan Allah Swt, yang dimaksud dekat disini bukanlah dekat
musafah (perantaraan), tetapi dekat didalam syuhud. Si Salik merasa
berhadap-hadapan dengan Tuhannya, baik dengan Af’al Allah atau dengan Asma
Allah atau juga dengan ta’aluq Sifat Ma’ani yang senantiasa berlaku kepada
semua kainat (اَلْكَائِنَاتُ) tanpa ada yang
melindungi..
Semoga semua keterangan
diatas dapat membantu Salik PTJ untuk
lebih memahami tentang Hakekat Muqabalah terhadap Allah swt, hingga timbul rasa
selalu bertemu Allah Swt, selalu rasa berjumpa dengan Tuhannya setiap saat
benar-benar dirasakan. Aamiin Allahumma Aamiin !
Referensi :
(1). Artikel Mayasari, Lutfiana Dwi, Ajaran Pokok Tasawuf :
Maqaamat dan Ahwal, diakses dari http://lutfianamayasari.blogspot.co.id/2015/05/ajaran-pokok-tasawuf-maqaamat-dan-ahwal.html
tanggal 22 November 16 pukul 18.32 WIB.
(2). Artkel Senali, Moh Saifulloh, Risalah Memahami Ilmu
Tasawuf, Surabaya : Terbit Terang, 1998.
(3). Siregar, H.A. Rivay, Tasawuf : dari Sufisme Klasik ke
Neo-Sufisme, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999.
[4] H.A. Rivay Siregar, Tasawuf : dari Sufisme Klasik ke
Neo-Sufisme, 1999, Jakarta : Raja Grafindo Persada, hlm. 138.
[5] Moh Saifulloh
Senali, Risalah Memahami Ilmu Tasawuf, 1998, Surabaya : Terbit Terang, hlm. 57.
[6] Lutfiana Dwi Mayasari, Ajaran Pokok Tasawuf : Maqaamat
dan Ahwal, diakses dari
http://lutfianamayasari.blogspot.co.id/2015/05/ajaran-pokok-tasawuf-maqaamat-dan-ahwal.html
tanggal 22 November 16 pukul 18.32 WIB.
(7). Artikel “Siapa Golongan Ahli Musyahadah?” oleh Muhammad
Ali As-Sammaniyyah, // https://web.facebook.com/MohdAliAtan/posts/siapa-golongan-ahli-musyahadah-menurut-para-arifbillah-ahli-musyahadah-ialah-mer/10233363752383135/?_rdc=1&_rdr#
(8). Artikel “Pengertian
Muqabalah dan Contohnya” // https://hahuwa.blogspot.com/2018/08/pengertian-muqabalah-dan-contohnya.html
(9). Kitab al-Risalah Umdatul Jama’ah Biqalami Firdaus Halaman
130
(10). Artikel “Siapa Golongan Ahli Musyahadah?” oleh Muhammad Ali
As-Sammaniyyah, // https://web.facebook.com/MohdAliAtan/posts/siapa-golongan-ahli-musyahadah-menurut-para-arifbillah-ahli-musyahadah-ialah-mer/10233363752383135/?_rdc=1&_rdr#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar