Minggu, 26 April 2026

Bab. III "Talqin Dzikir Thariqat al Junaidiyah" Kitab "al Risalah Umdatul Hasanah ..

 

 BAB. III

POKOK BAHASAN TENTANG AL-DZIKRU

TALQIN DZIKIR THARIQAT AL JUNAIDIYAH  DAN FADLILATNYA

DAFTAR  ISI :

A. PASAL  DZIKR DAN FADLILATNYA

1. Dzikir tidak terbatas pada Tasbih, Tahmid dan Takbir

2. Diperbolehkan Dzikir bagi mereka Berhadats, Junub, wanita Haidl, dan pendarahan setelah melahirkan

3.Tempat Berdzikir Hal Keadaannya Kosong dan Bersih

4. Berdzkir kepada Allah itu Dicintai dalam Segala Keadaan

5.Boleh Menghentikan Dzikirnya dan kembali Dilanjutkan Berdzikir setelah Situasi Aman

B. AL-DZIKRU  THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYAH

1. Arti Dzikir dan Tujuan Talqin dzikir

2. Dasar Hukum Talqin  Dzikir Pada Thariqat  Al Junaidiyah

3. Pembagian Dzikir Pada Thariqat (Al Qaum) AL Junaidiyah

4. Makna Yang Terkandung pada Dzikir Isbat dan Dzikir Ismu Dzat

5. Sanad Silsilah Talqin Dzikir pada Thariqat al Qaum al Junaidiyah

6. Mengenal Sanad Silsilah Talqin Dzikir Thariqat al Qaum al Junaidiyah Jalur Pertama

C. TALQIN DZIKIR LISAN ZAHAR DAN DZIKIR QALBI

1. Talqin Dzikir Lisan Zahar (Suara Nyarig)

2. Talqin Dzikir atau dzikir khafi (tersembunyi)

3. Dasar Hukum Talqin Dzikir pada Thariqat al Qaum al Junaidiyah

4. Dzikir Qalbi pada Thariqat al Qaum al Junaidiyah

5. Pembagian Dzikir Qalbi pada Thariqat al Qaum al Junaidiyah

D. DALIL-DALIL YANG MENGANJURKAN UNTUK DZIKIR KHAFI – AKHFA

E.SUNNAT BERDZIKIR TAHLIL MENGERAKKAN BADAN /KEPALA CONDONG KEDEPAN KEBELAKANG ATAU MENGGELENG GELENGKAN KEPALA.

F. MATA HATI BASHIRAH ALAT DAN TEMPAT MEMANDANG ALLAH

G. ADAB-ADAB MURID TATACARA MENGAMALKAN DZIKIR THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYAH

H. LAFADL DAN JENIS DZIKIR YANG DIAMALKAN OLEH MURID

I. MEMBACA AL ASMA'  UL HUSNA

J. SILSILAH SANAD TALQAIN DZIKIR THARIQAT QAUM SUFI


 BAB. III

POKOK BAHASAN MASALAH TENTANG

 ALDZIKRU, TALQIN DZIKIR THARIQAT AL JUNAIDIYAH  DAN FADLILATNYA

A. PASAL  DZIKR DAN FADLILATNYA

1. Dzikir tidak terbatas pada Tasbih, Tahmid dan Takbir

فصل الذكر فى وفضيلته

 اعلم ان فضيلة الذكرغير منحصرة فى التسبيح والتحميد والتهليل والتكبير ونهوها بل كل عامل الله تعالى بطاعة فهو ذاكر الله تعالى. قال الله تعالى : إن المسلمين والمسلمات .... الى قوله تعالى وَالذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ, أَعَدَّ اللهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَ أَجْرًا عَظِيْمًا(1)

Ketahuilah olehmu bahwa fadlilat dzikir (keutamaan mengingat Allah) tidak terbatas pada Tasbih (memuliakan), Tahmid (memuji), Tahlil (menyatakan keesaan Allah), dan Takbir (mengagungkan-Nya), dan yang lainya, bahkan setiap orang yang berbuat taat kepadaNya maka orang itu dzikrullah (mengingat Allah). Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya laki-laki Muslim dan perempuan Muslim…” hingga firman-Nya: “Dan bagi laki-laki yang sering mengingat Allah dan perempuan yang sering mengingat Allah, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.” (1)

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : سَبَقَ الْمُفَرَّدُوْنَ قَالُوْا وَمَا الْمُفَرَّدُوْنَ  يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : الذَّاكِرُوْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, semoga Allah meridainya, yang berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Orang-orang yang beriman teguh telah mendahului kita.” Mereka bertanya: “Dan siapakah orang-orang yang beriman teguh itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan.”

قَالَ إِبْنُ عَبَّاسٍ : اَلْمُرَادُ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِى دُبَارِ الصَّلَوَاتِ, وَغُدُوًا وَعَشِيًا وَفِى الْمَضَاجِعِ وَكُلَّمَا اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ وَكُلَّمَاغَدًا اَوْ رَاحَ مِنْ مَنْزِلَةٍ ذَكَرَ اللهَ تَعَالى.

Ibnu Abbas berkata: Maksudnya adalah mereka mengingat Allah setelah shalat, baik pagi maupun sore, di tempat tidur mereka, setiap kali mereka bangun dari tidur, dan setiap kali mereka pergi atau kembali dari suatu tempat, mereka mengingat Allah Yang Maha Kuasa.

قال مجاهد : لا يكون من الذَّاكِرين اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ حتى يذكر الله قائما وقائدا او مضطجعا.

Mujahid berkata: Seseorang tidak termasuk golongan orang yang sering mengingat Allah, baik laki-laki maupun perempuan, sampai ia mengingat Allah dalam keadaan berdiri, memimpin, atau berbaring

قَالَ إِبْنُ عَبَّاسٍ : اَلْمُرَادُ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِى دُبَارِ الصَّلَوَاتِ, وَغُدُوًا وَعَشِيًا وَفِى الْمَضَاجِعِ وَكُلَّمَا اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ وَكُلَّمَاغَدًا اَوْ رَاحَ مِنْ مَنْزِلَةٍ ذَكَرَ اللهَ تَعَالى.

Ibnu Abbas berkata: Maksudnya adalah mereka mengingat Allah setelah shalat, baik pagi maupun sore, di tempat tidur mereka, setiap kali mereka bangun dari tidur, dan setiap kali mereka pergi atau kembali dari suatu tempat, mereka mengingat Allah Yang Maha Kuasa.

قال مجاهد : لا يكون من الذَّاكِرين اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتُ حتى يذكر الله قائما وقائدا او مضطجعا.

Mujahid berkata: Seseorang tidak termasuk golongan orang yang sering mengingat Allah, baik laki-laki maupun perempuan, sampai ia mengingat Allah dalam keadaan berdiri, memimpin, atau berbaring.

(1) سورة الاحزاب 35 : والمسلمين والمسلمات والقانتين والقانتات والصادقين والصادقات والصابرين والصابرات والخاشعين والخاشعات والمتصدقين والمتصدقات والصائمين والصائمات والحافظين  فروجهم والحافظات و الذَّاكِرين 

2. Diperbolehkan Dzikir bagi mereka Berhadats, Junub, wanita Haidl, dan pendarahan setelah melahirkan

..فصل : اجمع العلماء على جواز الذكر بالقلب واللسان للمحدث والجنب والحائض والنفساء وذلك فى التسبيح والتهليل والتحميد والتكبير والصلاة على محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم والدعاء وغير ذلك. ولكن قرائة القران حرام الجنب والحائض والنفساء سواء قرئه قليلا او كثيرا حتى بعض أية, ويجوز لهم اجزاء القران على القلب من غير لفظ وكذلك النظر فى المصحب, وامراره على القلب.

Bab: Para ulama sepakat bahwa diperbolehkan berzikir dengan hati dan lisan bagi mereka yang dalam keadaan najis (hadath), junub (najis besar), wanita yang sedang haid, dan wanita yang mengalami pendarahan setelah melahirkan. Ini termasuk mengagungkan Allah (tasbih), menyatakan keesaan-Nya (tahlil), memuji-Nya (tahmid), mengagungkan-Nya (takbir), mengirimkan shalawat kepada Muhammad, Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya), berdoa (du'a), dan amalan serupa lainnya. Namun, membaca Al-Quran diharamkan bagi mereka yang dalam keadaan najis, wanita yang sedang haid, dan wanita yang mengalami pendarahan setelah melahirkan, baik membaca sedikit atau banyak, bahkan hanya sebagian ayat. Mereka diperbolehkan menghafal sebagian Al-Quran dalam hati, serta melihat teks Al-Quran dan merenungkannya.

 قال اصحانا : ويجوز للجنب والحائض ان يقولا عند المصيبة : إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَجِعُوْنَ, وعند ركوب الدابة : سُبْحَانَ الَذِىْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ , وعند الدعاء : رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, إذا لم يقصدا به القرآن, سواء قصد الذكراولم يكن لهما قصدا

Para sahabat kami berkata: Diperbolehkan bagi seseorang yang dalam keadaan junub atau wanita yang sedang haid untuk mengucapkan, ketika mengalami musibah: “Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.” Dan ketika menunggangi hewan: “Maha Suci Dia yang telah menundukkan ini kepada kami, dan kami tidak akan pernah dapat memilikinya dengan usaha kami sendiri.” Dan ketika berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab api neraka,” dengan syarat mereka tidak bermaksud membaca Al-Quran, baik mereka bermaksud mengingat Allah atau tidak.

3. Tempat Berdzikir Hal Keadaannya Kosong dan Bersih

فصل وينبغى ان يكون الموضع الذى يذكر فيه  خاليا نظيفا. فإنه اعظم فى احترام  الذكر و المذكر, ولهذا مدح الذكر فى المساجد والمواضع الشريف. وجاء عن الامام الجليل أبي ميسرة رضي الله عنه قال :لايذكر الله تعالى إلا فى مكان طيب. وينبغى أيضا أن يكون فمه نظيفا. فإن كان فيه تغير ازاله بالسواك. وان فيه نجاسة ازالها بالغسل بالماء ولو ذكر ولم يغسلها فهو مكروه ولايحرم. ولو قرأ القرآن وفمه نجس كره. وفى تحريمه وجهان لاصحبنا اى الإمام الناووى : أصحهما لاتحرم .(1- الأذكار الناووى.

Bab: Tempat berzikir hendaknya hal keadaannya kosong dan bersih. Ini lebih menghormati baik zikir maupun Zat yang dizikir. Karena alasan ini, zikir dipuji di masjid dan tempat-tempat suci. Diriwayatkan dari Imam Abu Maysarah yang terhormat (semoga Allah meridainya) bahwa beliau berkata: “Allah Yang Maha Kuasa hanya boleh dizikir di tempat yang bersih.” Mulut pun hendaknya bersih. Jika ada noda, hendaknya dibersihkan dengan miswak (batang pembersih gigi). Jika ada kotoran, hendaknya dibersihkan dengan mencuci dengan air. Jika seseorang berzikir tanpa mencuci, itu tidak disukai tetapi tidak dilarang. Jika seseorang membaca Al-Quran dengan mulut yang tidak bersih, itu tidak disukai. Mengenai larangannya, ada dua pendapat, menurut sahabat kita, Imam al-Nawawi: pendapat yang lebih sahih adalah bahwa itu tidak dilarang. (1- Al-Adhkar oleh al-Nawawi)

خاليا : اى عن كل مايشتغل البال ويحصل من وجوده الاشتغال والوسواس. نظيفا اى طاهر من سائر الادناس فضلا عن الانجاس فيه تنبيه : على أن القلب الذى هو محل نظر الرب, ينبغى أن يكون خاليا عن سكون الأغيار المسماة بالسوى. نظيفا طاهر من حب نجاسة الدنيا, ليكون قلبه سليما فلايزال فى الفيض مقيما.

(خاليا) : artinya bebas dari segala sesuatu yang memenuhi pikirandan menyebabkan kekhawatiran serta kecemasan. (نظيفا) Bersih: artinya murni dari segala pencemaran, apalagi kenajisan. Catatan: Hati, yang merupakan tempat bersemayamnya pandangan Tuhan, hendaknya bebas dari tempat tinggal hal-hal lain, yang disebut "keberlainan". Bersih dan murni dari cinta akan kenajisan duniawi, sehingga hati dapat sehat dan tetap selalu terbenam dalam rahmat ilahi.

4. Berdzkir kepada Allah itu Dicintai dalam Segala Keadaan

فصل اعلم ان الذكر محبوب فى جميع الأحوال الا فى أحوال ورد السبع با ستثنائها يذكر منها هنا طرفا. فمن ذلك أنه يكره الذكر حالة الجلوس على قضاء الحاجة, وفى حالة الجماع وفى حالة الخطبة لمن يسمع صوت الخطيب, وفى القيام وفى الصلاة بل يشتغل بالقرائة, وفى حالة النفاس, ولايكره فى الطريق ولافى الحمام (2- الأذكار الناووى.

Bab: Ketahuilah bahwa mengingat Allah itu dicintai dalam segala keadaan kecuali dalam tujuh keadaan khusus yang disebutkan di sini. Di antaranya adalah tidak disukai membaca zikir sambil duduk untuk buang air, saat berhubungan intim, saat khutbah bagi orang yang dapat mendengar suara pembicara, saat berdiri, saat shalat (dalam hal ini seseorang harus menyibukkan diri dengan membaca zikir), dan saat menstruasi. Namun, tidak tidak disukai membaca zikir sambil berjalan atau di kamar mandi (2 - Al-Adhkar oleh Al-Nawawi).

فصل المراد من الذكر حضور القلب, فينبغى ان يكون هو مقصود الذاكر فيحرص على تحصيلة, ويتدبر ماذكر ويتعقل معناه, فالتدبر فى الذكر مطلوب كما هو مطلوب فى القرائة لاشتراكهما فى المعنى المقصود. ولهذا كان المذهب الصحيح المختار استحباب من الذاكر, قول : لآإله إلا الله لما فيه من التدبر, واقوال السلف وأئمة الخلق فى ه1ا مشهور.  قول : لَآاِلَهَ اِلَّا اللهُ  إنها فى النفى والإثبات نفي ماسواه  من سائر الأكوان والأحوال, وفى الإستثناء شهود الإله, فالكلماة الشريب جامعة بين التخلية والتحلية بالمعجمة ثم المهملة, والتقدير : لَآاِلَهَ اِلَّا اللهُ اى لَآاِلَهَ موجود أو معبود أو مطلوب أو مشهود إِلَّا اللهُ يحسب مقامات أهل الذكر.

Makna yang dimaksudkan dari dzikir adalah kehadiran hati. Oleh karena itu, inilah yang seharusnya menjadi fokus orang yang berzikir, yang harus berusaha untuk mencapainya, merenungkan apa yang dikatakan dan memahami maknanya. Perenungan diperlukan dalam zikir sebagaimana diperlukan dalam pembacaan Al-Quran, karena keduanya memiliki makna yang sama. Karena alasan ini, pandangan yang benar dan lebih disukai adalah bahwa dianjurkan bagi orang yang berzikir untuk mengucapkan, "Tidak ada Tuhan selain Allah," karena perenungan yang terkandung di dalamnya. Pernyataan generasi awal dan para ulama terkemuka tentang masalah ini sudah terkenal. Pernyataan "Tidak ada Tuhan selain Allah," baik dalam negasi maupun penegasan, merupakan negasi dari semua makhluk dan keadaan lain, dan dalam pengecualian, merupakan kesaksian tentang Allah. Kedua kata tersebut menggabungkan penyucian dan perhiasan, dengan huruf "la" (ل) diikuti oleh huruf "la" (ل). Maksud yang ingin disampaikan adalah: "Tidak ada tuhan selain Allah," yang berarti tidak ada tuhan yang ada, disembah, dicari, atau disaksikan selain Allah, sesuai dengan tingkatan orang-orang ahli dzikir yang mengingat-Nya.

5. Boleh Menghentikan Dzikirnya dan kembali Dilanjutkan Berdzikir setelah Situasi Aman

فصل فى أحوال تعرض للذاكر يستحب له قطع الذكر بسببها ثم يعود إليه بعد زوالها : منها إذا سلم عليه ردّ السلام ثم عاد إلى الذكر, وكذا إذا عطش عنده عاطش سمعته ثم عاد إلى الذكر, وكذا إذا سمع الخطيب وكذا إذا سمع المؤذن اجابه فى كامة الأذان والإقامة ثم عاد إلى الذكر, وكذا إذا رأى منكرًا إزاله او معروفا ارشد إليه, وما شبه هذاكله.

Bab ini membahas situasi-situasi yang menimpa orang yang sedang berzikir kepada Allah, di mana dianjurkan baginya untuk menghentikan sementara zikirnya dan kemudian kembali berzikir setelah situasi tersebut berlalu: di antaranya adalah jika ia menerima salam, hendaknya ia membalas salam tersebut dan kemudian kembali berzikir, demikian pula jika ada orang yang haus di dekatnya, hendaknya ia mendengarkannya dan kemudian kembali berzikir, demikian pula jika ia mendengar seorang muazin, dan demikian pula jika ia mendengar muazin, hendaknya ia menanggapinya dengan penuh semangat dalam seruan azan dan iqamah dan kemudian kembali berzikir, demikian pula jika ia melihat sesuatu yang salah, hendaknya ia menyingkirkannya atau sesuatu yang baik, hendaknya ia menunjukkannya, dan semua hal serupa lainnya.

 

B. AL-DZIKRU  THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYAH 

Al-Dzikru (الذكر) secara bahasa berasal dari kata dzakara yang berarti mengingat, menyebut, atau mengenang akan Allah Swt, Jadi dzikir menurut bahasa artinya adalah ingat atau mengingat, kalau dalam bahasa jawa itu “Eling”, ingat atau eling dengan siapa? Pastinya dengan Allah Swt.

Nama Lain Alquran adalah Adz Dzikr “Alquran”, kitab yang diwahyukan kepada nabi Muhammad ini memiliki nama lain, di antaranya adalah : Al-Kitab

Al-Kitab merupakan nama lain dari Alquran yang pertama. Al-Kitab artinya adalah buku. bagi umat Islam yakni wahyu dari Allah SWT yang tertulis dan di dalamnya berisi pedoman secara rinci. Seperti yang telah diterangkan oleh Allah SWT dalam firmannya:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Al-Kitab (Al-Qur’an sebagai kitab) itu tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 2)

1. Arti Dzikir dan Tujuan Talqin dzikir

Talqin dzikir adalah proses pembimbingan atau pengajaran kalimat tauhid ("La ilaha illallah") secara langsung dari seorang mursyid (guru spiritual) kepada murid dalam tradisi tarekat untuk menanamkan dzikrullah ke dalam kalbu. Tujuannya adalah mensucikan jiwa, menghidupkan hati, dan memperkuat ingatan kepada Allah, seringkali dianggap sebagai metode bai’at (janji setia) untuk mengamalkan zikir.

Nabi Saw amat menekankan kepada sahabatnya untuk perhatian pada aspek batiniah ataupun qalbu. Perhatian yang besar terhadap aspek internal manusia yang pasti akan berdampak pada sisi eksternalnya juga diikuti oleh para ulama dari masa ke masa.

Demikian juga dengan penjelasan Syekh Abdul Qadir Al Jilani yang dikutip oleh KH. Ahmad Shahibulwafa Tajul Arifin dalam Miftahus Shudur, bahwa yang wajib bagi setiap manusia adalah mencari kehidupan qalbu ukhrawi dari ahli talqin di dunia sebelum lewatnya waktu (terlambat). Dunia itu ladang akhirat. Siapa yang yang tidak menanam di dunia ini pohon kebaikan, diakhirat kelak tidak akan mendapatkan apa-apa. Artinya cara perhatian kita terhadap qalbu ialah dengan mendapatkan talqin dzikir. Karena menurut Abah Anom, Nabi Saw mentalqin kalimat thayyibah ini kepada para sahabatnya untuk membersihkan qalbu, menyucikan jiwa, serta mengantarkan mereka menuju hadirat Allah dan meraih kebahagiaan yang suci.

وكان النبي صلى الله عليه وسلم يلقن هذه الكلمة الطيبة للصحابة رضي الله عنهم لتصفية قلوبهم وتزكية نفوسهم وإيصالهم إلى الحضرة الإلهية والسعادة القدسية

wakana alnabiyu shalaa allah ealayhi wasalam yulaqqinu haadzih alkalimat althayibat lilshahabat radhi allah eanhum litasfiat qulubihim watazkiat nufusihim wa'iisalihim 'iilaa alhadrat al'iilahiat walsaeadat alqudusiah.

Artinya: Dan adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa Mentalqin dzikir (mengajarkan) kalimat yang baik ini kepada para sahabatnya, semoga Allah meridai mereka, untuk menyucikan hati mereka, memurnikan jiwa mereka, dan membawa mereka kepada hadirat Allah dan kebahagiaan yang suci.

Adapun yang dimaksud talqin dzikir adalah pendiktian kalimat dzikir atau pelimpahan kalimat dzikir oleh seorang Guru kepada Muridnya. Kalimat dzikir yang diajarkan tersebut, sanadnya tidak terputus, atau Silsilahnya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw. Misalnya dari Rasulullah Saw kemudian talqin dzikir  tsb diambil oleh para Shahabat, kemudian dari  Shahabat  diambil lagi oleh para Tabi'in, terus dari Tabi'in diambil oleh Tabi'it  Tabi'in, terus dari Tabi'it  Tabi'in diambil – sampai kepada para Ulama hingga sekarang ini, terus ke bawah ke genarasi selanjutnya ........ sampai hari kiamat.

2. Dasar Hukum Talqin  Dzikir Pada Thariqat  Al Junaidiyah 

Adapun yang menjadi Dasar Talqin Dzikir pada thariqat al Junaidiyah antara lain :

a. al Qur'an Surat Yunus berbunyi :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَائَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِى الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ. سورة يونس 57

Artinya :"Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran  (al Qur,an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petujuk serta rahmat bagi orang-orang beriman.

b. al Qur'an Surat al Shafat berbunyi :

 إِنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَآإِلَهَ اِلَّا اللهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ. الصفات 35

Artinya : Sesungguhnya orang-orang Munafik itu, apabila dikatakan kepada mereka kalimat taqwa "LAA ILAAHA  ILLALLAAH" mereka menyombongkan diri. QS.As Shafat 35.

c. al Qur'an Surat Muhammad berbunyi :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَآإِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ اللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ.  محمد 19

Artinya : Maka ketahui olehmu bahwasanya kalimat "LAA ILAAHA  ILLALLAAH" dan mimntalah keampunan untuk kesalahanmu dan kesalahan-kesalahan orang-orang Mu'min dan Mu'minat, dan Allah mengetahui saat kamu beraktifitas dan beristirahat.QS. Muhammad 19.

d. Al Hadis berbunyi : 

يَارَسُوْلُ اللهِ دَلَّنِيْ عَلَيَّ أَقْرُبُ الطُّرُقِ إِلَى اللهِ, وَاسْهَلَنِيْ عَلَى عِبَادِهِ وَأَفْضَلُهَا عِنْدَ اللهِ تَعَالَى, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : يَا عَلِيُّ أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لَاإِلَهَ اِلَّا اللهُ فَقَالَ غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ مِنِّيْ ثُمَّ قُلْهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Artinya : Ya Rsulullah, tunjukkan kepadaku jalan yang terdekat menuju Allah, yang paling mudah atas hambanya, dan yang paling utama disisih Allah Ta'ala. Bersabda Nabi Saw : Ya.'Ali seutama-utamanya apa yang aku ucapkan dan Nabi-nabi sebelum aku adalah kalimat :" LAA ILAAHA  ILLALLAAH" Dan Sabdanya pula "pajamkan kedua matamu dan dengarkan dariku tiga kali.

اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لَاإِلَهَ اِلَّا اللهُ(1)تنبيه الغافلين سورة   149

Artinya : Sesungguhnya Nabi Saw telah bersabda : Seafdal-afdal /seutama-utama sesuatu dzikir yang aku ucapkan, Aku dan Para Nabi sebelum aku "(لَاإِلَهَ اِلَّا اللهُ) Laa ilaaha illallah" Kitab Tabiihul Ghafiliin

3. Pembagian Dzikir Pada Thariqat (Al Qaum) AL Junaidiyah

Ketahuilah bahwa Dzikir itu ada dua macam yaitu (الذِّكْرُ الْحَسَنَاتُ) dzikir Hasanat dan Dzikir Darajat (الذِّكْرُ الْدَّرَجَاتُ). 

Dzikir Hasanat (dzikir kebaikan) adalah amalan zikir yang biasa diucapkan dalam aktivitas sehari-hari untuk menghadirkan kebaikan dan keberkahan. Umumnya, ini mencakup kalimat-kalimat thayyibah seperti Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir, atau bacaan zikir pagi-petang. Dzikir ini bertujuan menyucikan hati, meningkatkan takwaan, serta mengharap ganjaran kebaikan dari Allah Swt.

Bila seseorang berdzikir mengucap “LAA ILAAHA  ILLALLAAH, atau ALLAH ALLAH” bila kalimat dzikir itu didapat tanpa melalui adanya sanad silsilah maka dinamakan dzikir Hasanat,  misalnya ia ambil dari ayat Al Qur’an, Hadist Nabi Saw atau buku-buku lainnya.

Dzikir Darajat adalah amalan zikir untuk meningkatkan derajat spiritual dan kedekatan kepada Allah Swt, sering dikaitkan dengan tradisi tasawuf/tarekat (seperti Naqsyabandiyah) untuk menenangkan hati dan jiwa. Ini melibatkan pengingatan Allah secara konsisten, baik lisan maupun hati, guna mencapai ketenangan jiwa dan kedudukan tinggi di sisi-Nya

Ketahuilah pula bahwa Dzikir  bagi thariqat al Junaidiyah (thariqat al Qaum) itu, ada dua yaitu Dzikir lisan (الذِّكْرُ الْجِهَارُ) (dzikir nyaring) dan Dzikir qalbi (dzikir tersembunyi atau sirr). Dzikir lisan (الذِّكْرُ اللِّسَانُ) adalah ucapan dzikir nyaring yang berhuruf bersuara. Dzikir ini terbagi kepada tiga macam yakni  : Dzikir Nafi – Istbat, Dzikir Istbat dan Dzikir Ismu Dzat, sedangkan dzikir Qalbi (الذِّكْرُ الْقَلْبِى) adalah dzikir tanpa suara huruf, dan dzikir inipun terbagi kepada dua macam yakni “Dzikir Khafi dan Dzikir Akhfa (الذِّكْرُ الْخَفِى وَأَخْفَى) 

Adapun dzikir lisan atau dzikir zihar (nyaring) yang tiga macam dimaksud adalah

a. Dzikir Nafi – Isbat  (الذكر النفى والإثبات) yang berbunyi : “LAA ILAAHA  ILLALLAAH”( لَاإِلَهَ اِلَّا اللهُ) Artinya : “Tiada ada Tuhan kecuali Allah.”

لَاإِلَهَ اِلَّا اللهُ اى لامقصود ولا معبود ولاموجود اِلَّا اللهُ

Di antara dalil Dzikir Nafi-Isbat, telah disebutkan dalam kitab Irsyadul ‘Ibat  :

وَأَخْرَجَهُ اَحْمَدُ وَالْحَاكِمُ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ,قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ ‘عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : جَدِّدُوْا إِيْمَانَكُمْ, قِيْلَ وَكَيْفَ نُجَّدِدُ إِيْمَانَنَا يَا رَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ فَاَكْثِرُوْا مِنْ قَوْلِ لَاإِلَهَ اِلَّا اللهُ.  كتاب ارشاد العباد

Artinya : Mengeluarka hadis ini oleh Imam Ahmad dan Hakim riwayat dari Abu Hurairah ra. Berkata ia, telah bersabda Rasulullah Saw : “Perbahruilah iman-iman kamu, maka ditanyakan shahabat “ Bagaimana kami memperbaharui iman kami ya Rasul Saw? Jawab Rasul Saw : “Maka perbanyaklah kalian mengucap kalimah LAA ILAAHA  ILLALLAAH.” HR. Ahmad dan Hakim.

Nilai genjaran (pahala) amaliah sir, Rasulullah Saw telah bersabda :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ,قَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُوْلَ اللهِ الرَّجُلُ يَعْمَلُ الْعَمَلَ فَيُسَرُّهُ فَإِذَا اطَّلَعَ اَعْجَبَهُ ذَلِكَ قَالَ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ ‘عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَهُ اَجْرَانِ, وَاَجْرُ السِّرِّ وَاَجْرُ الْعَلانِيَّةِ. رواه الترمذى

Artinya : Dari Abu Hurairah ra. Berkata ia, seorang laki-laki bertanya : Ya Rasulullah, ada seorang laki-laki beramal (kebaikan) dengan satu amal (zahir) kemudian ia menyembunyikan amal tersebut. Bila saya memandang kepadanya (sesuatu yang sangat) mengherankan (amal) demikian. Kata Rasul Saw “Baginya dua genjaran, satu genjaran (pahala) sir dan satu genjaran (pahala) terang-terangan. HR.Tirmidzi

Shahabat ‘Ali bin Abi Thalib  pernah meminta kepada Rasulullah Saw, Ya Rasulullah Saw, tunjukkan kepada aku jalan yang paling dekat kepada Allah dan yang paling mudah bagi hamba-hambanya, ...............   Dan kalimat Laa ilaaha illallaah ini, bukan saja dari kekhususan Nabi Muhammad Saw, akan tetapi bahwasanya Para Nabi dan Rasul pun mengucapkan kalimat “Laa ilaaha illallaah” sebagaimana ditunjukkan oleh hadis Rasul Saw .....

هَذِهِ الْكَلِمَةُ لَيْسَتْ مِنْ خَصَائِصِهِ صَلَّى اللهُ ‘عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِاَنَّ الْأَنْبِيَاءَ كَانُوْا يَقُوْلُوْنَهَا كَمَا يَدُلُّ لَهُ حَدِيْثٌ قَالَ أَفْضَلُ مَا قُلْتُ اَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لَاإِلَهَ اِلَّا اللهُ (-1 الشرقوى على هدهدى

Artinya : Kata Rasul yang lebih afdhal dari sesuatu yang aku amalkan dan (amalan) Para Nabi sebelum aku adalah kalimah “Laa ilaaha illallaah”.

b. Dzikir Isbat  (الذكرالإثبات) yang berbunyi     : “ILLALLAAH, ILLALLAAH”( اِلَّا اللهُ- اِلَّا اللهُ  ) Artinya : “kecuali Tuhan Allah.”

اَلذِّكْرُ كَلِمَةِ الْإِثْبَاتِ يَثْبُتُ فِى قَلْبِهِ وَنَظَرَهُ وُجُوْدَ ذَاتِ الْحَقِّ تَعَالَى وَيَنْظُرُ وُجُوْدَ ذَاتِ الْحَقِّ بِنَظَرِ الْبَقَاءِ وَ الْإِثْبَاتِ : اِلَّا اللهُ, المقصود يَنْفِى جَمِيْعُ وُجُوْدِ الْمُحْدَثَاتِ وَالْأَكْوَانِ وَ الْأَغْيَارِ عَنِ النَّظَرِ وَالْإِعْتِبَارِ.

Maksudnya : (Kegunaan) dzikir isbat disini, untuk menetapkan dalam hatinya semua yang ada atau terasa pada pengindraannya adalah wujud al haq yang dilihatnya. Dan memandang dengan pandangan mata hati wujud al haq dengan pandangan bashirah (mata baten) baqa dan tetap (wuquf al qalbi) kecuali Allah semata. Maka nafilah/hilang (sirna-lenyap) semua wujud yang muhaddas, wujud agyar (gangguan hati)wujud akwan dari pandangan si Salik dan juga lintasan atau gerak hati kecuali tertuju kepada Allah Swt semata.

c.Dzikir Ismu Dzat  (الذكر اسم الذات) yang berbunyi : “ALLAAH, ALLAAH”- اللهُ) الله ) yaitu kalimat dzikir : Artinya : “Allah-Allah.” Ia adalah salah satu dzikir cabang Bayi, ketika dalam kandungan sang Ibundanya selama 3 hari dan 3 malam ia berdzikir  ismu dzat dengan kalimat dzikir : “Allah Allah (اللهُ اللهُ) ........

Berkata Penyusun Umdatul Hasanah ...dalam mengomentari tentang dzikir isbat dan ismu dzat (الذكر الإثبات واسم الذات) yaitu kalimat dzikir : “illallah, illallah, Allah Allah,”Kedua dzikir ini adalah salah satu dzikir cabang Bayi, ketika dalam kandungan sang Ibunda 7 bulan tambah 7 hari , 9 bulan tambah 9 hari. Selama 7 hari dan 7 malam si  cabang Bayi berdzikir dengan kalimat dzikir : “illallah, illallah (اِلَّا اللهُ اِلَّا اللهُ) ........ dan selama 3 hari dan 3 malam ia berdzikir  ismu dzat dengan kalimat dzikir : “Allah Allah (اللهُ اللهُ) ........  Oleh karena dzikir si cabang Bayi ini, sang Ibunda bila meninggal dunia saat ia melahirkan, maka dia dikatakan mati Syahid. Dan mungkin ini salah satu dalil dzikir isbat pada talqin dzikir  bagi thariqat al Qaum al Junaidiyah. Insya Allah dzikir cabang Bayi yang lain akan ditulis pada pokok bahasan tentang Insan (إِنْسَانْ) pada Bab mendatang.

4. Makna Yang Terkandung pada Dzikir Isbat dan Dzikir Ismu Dzat

Kalimat dzikir isbat berbunyi “illallaah, illallaah” mengandung beberapa makna dan maksud antara lain :

a.(لَامَعْبُوْدَ اِلَّا اللهُ) artinya “Taida ada Tuhan yang disembah malainkan Allah.

Dzikir ini melepaskan dan melenyapkan kesyirikan si Hamba dalam beribadah, manakala ia berdzikir dengan kalimat dzikir isbat ini.

b.(لَامَقْصُوْدَ اِلَّا اللهُ) artinya “Taida ada ada yang dimaksud malainkan Allah.

Dengan dzikir ini pula berarti si Hamba telah lepas dan lenyaplah dari rasa keterikatan terkai dengan akwan (الأكوان) dan agyar (الأغيار) bahkan dari Dunia dan Ukhrawi (الدنياوالأخرة)  Disini si Hamba benar-benar merdeka, bebas jiwa dan raga, maksudnya si Hamba  merasa hurriyah (الحرية).

c.(لَامَطْلُوْبَ اِلَّا اللهُ) artinya “Taida ada ada yang dituntut malainkan Allah.

Dalam sebuah do’a dengan do’a ini para Sufi berdo’a berbunyi  :

إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ

Artinya : “Wahai Tuhanku, Engkaulah yang aku tuntut dan Engkau jua yang maksud.

d. (لَامَحْبُوْبَ اِلَّا اللهُ) artinya “Taida ada ada yang dicintai malainkan Allah.

Para Sufi selalu berdo’a dengan do’a ini yang berbunyi   :

إِلَهِيْ أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ أَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ يَا اللهُ

Artinya : “Wahai Tuhanku berikanlah kepadaku kecintaan Mu dan rasa ma’rifat dengan Engkau, wahai Allah.

5. لَاحَيَّ اِلَّا اللهُ وَلَاعَلِيْمَ اِلَّا اللهُ وَلَاقَادِرَ اِلَّا اللهُ وَلَامُرِيْدَاِلَّا اللهُ وَلَاسَمِيْعَ اِلَّا اللهُ وَلَابَصِيْرَ اِلَّا اللهُ وَلَامُتَكَلِّمَ اِلَّا اللهُ فِى الْحَقِيْقَةِ عَلَى الْإِطْلَاقِ اِلَّا اللهُ.

e. (لَامَوْجُوْدُ اِلَّا اللهُ) artinya “Taida ada yang maujud di alam ini fil hakekat malainkan semata Allah.

Di sini berarti si Hamba telah lenyap batang tubuhnya, sirna hatinya telah hilang Rohnya kedalam keakbaran wajah Allah. Berikut dalil dzikir isbat yaitu Firman Allah pada surat al Qashash ayat 88 berbunyi :

كُلُّ شَيْئٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهُ ... القصص 88 : اِلَّا وَجْهَهُ اَيْ اِلَّا اللهُ

Artinya : “setiap sesuatu pasti hancur (lenyap) kecuali wajah Tuhanmu,” Maksud wajhahu “ kecuali Allah.”

f. Menggerakkan Jari Telunjuk Kanan baca Tasyahhud waktu Shalat.

التحياة المباركة الصلوات الطيباة لله. السلام عليك ايهالنبي ورحمة الله وبركاة السلام علينا وعلى عبادك الصالحين اشهد ان لااله اِلَّا اللهُ

Bahkan diwaktu dalam shalatpun digerakkan Jari Telunjuk Kanan saat baca  tasyahhud sehari semalam ada 9 kali, mengucap اِلَّا اللهُ dalam tahayat. Shalat Zuhur dua kali mengucap اِلَّا اللهُ, Shalat Ashar dua kali, Shalat Magrib 2 kali, Shalat ‘Isya 2 kali dan Shalat Subuh mengucap اِلَّا اللهُ satu kali. Maka hancurlah seluruh yamg ada dan sirnalah semua gangguan dan goresan dihati, Allah berfirman pada surat Ar Rahman ayat 26 berbunyi :

كُلٌّ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى ذُوالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ... الرحمن 26

Artinya : “Setiap sesuatu (muhaddas, akwan dan agyar) adalah lenyap, hilang, sirna dan kekal (Dzat) Tuhanmu yang mempuyai kebesaran dan kemuliaan.”

IV. Dzikir Lisan dengan Dzikir Ismu Dzat  (اَلذِّكْرُ اللِّسَاُن بِاسْمِ الذَّاتِ)

اَلذِّكْرُ اللِّسَاُن بِاسْمِ الذَّاتِ اَىْ هُوَ اللهُ اَللهُ, قَالَ تَعَالَى : إِنَّنِيْ اَنَا اللهُ وَ قَالَ تَعَالَى : قُلْ اَللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ... الأنعام 91....

Artinya : Dzikir lisan dengan Ismu Dzat berbunyi “Allah, Allah” Firman Allah Swt : “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah (Tuhanmu). “Ucapkanlah olehmu “Allah”  kemudian biarkanlah mereka bermain dalam kesesatan. QS. Al An’am 91

Rasul Saw telah bersabda yang berbunyi               :

وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ ‘عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَاتَقُوْمُ السَّاعَةَ حَتَّى لَايُقَالَ فِى الْأَرْضِ : اَللهُ اَللهُ.  رواه مُسْلِمُ وَاِلتِّرْمِذِى (1

Artinya : Rasul Saw telah bersabda : “Tiada akan terjadi hari Kiamat, sehingga ada orang yang mengekalkan dzikir ismu dzat di muka bumi ini yaoitu “Allah, Allah” (HR.Muslim dan Tirmidzi).

اَمَّا الْعَارِفُوْنَ فَلَايَرَوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ شَيْئًا حَتَّى يَعْتَمِدُوْا عَلَيْهِ بَلْ يُشَاهِدُوْنَ أَنَّ الْفَاعِلَ الْحَقِيْقِى هُوَ اللهُ تَعَالَى وَاَنَّهُمْ مَحَلٌ لِظُهُوْرِ ذَلِكَ فَقَدْ.(2

Salah seorang Ulama Sufi berkata             :

Adapun para Arifbillah hal ihwal mereka : “Mereka tidak melihat kepada diri mereka akan sesuatu sehingga mereka berpegang atasnya, tetapi mereka menyaksikan bahwa yang berbuat hakeki adalah Allah Ta’ala dan bahwasanya mereka adalah tempat untuk menzahirkan saja.

Dikatakan pula bahwa para Arifbillah hal ihwal mereka   :

وَالْعَارِفُوْنَ : فَنُوْابِهِ لَمْ يَشْهَدُوْا شَيْئًا سِوَى الْمُتَكَبِّرُ الْمُتَعَالُ وَرَاَوْا سِوَاهُ عَلَى الْحَقِيْقَةِ هَالِكًا فِى الْحَالِ وَالْمَاضِى وَالْإِسْتِقْبَالِ.

Para Arifbillah hal ihwal mereka, mereka telah fana dengan Allah, mereka tiada menyaksikan sesuatu selain Allah yang bersifat al mutakabbir dan bersifat muta’aal. Mereka melihat selain-Nya atas hakekatnya binasa (sirna, tiada ada) pada setiap keadaan sekarang, dan masa lalu dan juga masa akan datang”

Imam At- Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadis Rasulullah Saw    :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "اَللهُ, اَللهُ فِى أَصْحَابِيْ لَاتَتَّخِذُوْهُمْ عَرَضًا بَعْدِيْ فَمَنْ أحَبَّهُمْ فَبِحُبِّيْ اَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبَعْضِ أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ اَذَاهُمْ فَقَدْ اَذَانِيْ وَمَنْ اَذَانِيْ فَقَدْ اَذَى اللهَ وَمَنْ اَذَى اللهَ يُوْشِكُ ان يَاْخُذُهُ. رواه الترمذى

Adapun maksudnya adalah Rasul Saw bersabda : (Orang yang selalu mengucap kalimat ismu dzat ) : “Allah, Allah” menjadi Sahabat-sahabat Rasul Saw, mereka tiada mengambil sahabat lain sesudah menjadi sahabat Rasulullah Saw. Maka barangsiapa mencintai mereka niscaya aku lebih cinta kepada mereka. Dan siapa yang membenci mereka maka Akupun lebih benci kepada mereka. Dan siapa saja yang menyakiti mereka (yang selalu mengucap kalimat dzikir ismu dzat “Allah, Allah) sungguh mereka telah menyakiti Aku. Barangsiapa menyakiti Aku, sungguh ia telah menyakiti Allah, dan siapa yang menyakiti Allah dapat dipastikan Allah akan segera menghukumnya.:

5. Sanad Silsilah Talqin Dzikir pada Thariqat al Qaum al Junaidiyah

Adapun sanad silsilah talqin dzikir pada thariqat al qaum al Junaidiyah Jalur Kedua dengan kalimat dzikir : (لَآاِلَهَ اِلَّا اللهُ) "LAA ILAAHA  ILLALLAAH," (اِلَّا اللهُ - اِلَّا اللهُ) ILLALLAAH - ILLALLAAH dan (الله - الله) ALLAH-ALLAH… dan Dzikir Khafi dan Akhfa" talqin dzikir ini mengambil oleh 

  1. Sayyid H.Hasan Baseri,S.Ag bin H.Muhamad Barsih bin Sayyid Ahma  d Baderi Assaqqaf dan ia dari 
  2. KH. Jumberi Bin Ma'shum bin Abu Bakar Bihara w.1427H, dan ia mengambil dari 
  3. Khalifah thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurtubi bin Khalid bin Thahir Kalimantan w.1423H, dan ia mengambil dari 
  4. KH. Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh w.1394H, dan ia mengambil dari 
  5. Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi al Magribi, dan ia mengambil dari 
  6. Syekh Abdullah Ba'alawi al Magribi, dan ia mengambil dari 
  7. Syekh Imam Alawi Ba'alawi, dan ia mengambil dari 
  8. Syekh Imam Abdurrahman as Saqaf Ba'alawi  w.1124H, dan ia mengambil dari 
  9. Imam Abdurrahim  w.1088H, dan ia mengambil dari 
  10. Syekh Al Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham yang dikenal dengan nama “Imam Ba Junaidi” (W.1032H/1623M), dan ia mengambil dari 
  11. Imam Alwi bin Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin  yang dikenal dengan nama “Alwi al Ridla” (W.1002H/1594M, dan ia mengambil dari 
  12. Syekh Muhmmad az Zahidi al Wakhshi w.936H dan ia mengambil serryyah atau Rohanyyah dari 
  13. Imam al Qusyairi w.465H, dan ia mengambil dari 
  14. Syekh Abu 'Ali ad Daqaq w.405H, dan ia mengambil dari 
  15. Syekh Imam an Nashra Abadzi w.369H, dan ia mengambil dari 
  16. Syekh Imam al Syibli w.334, dan ia mengambil dari 
  17. Syekh Imam al Junaid al Bagdadi w.247H, dan ia mengambil dari 
  18. Syekh  as Sirri al Saqathi w.253H, dan ia mengambil dari 
  19. Syekh Imam al Ma'ruf al Karkhi w.200H, dan ia mengambil dari 
  20. Syekh Daud at Tha'i  w.165H, dan ia mengambil dari 
  21. Syekh Habib al Ajemi  w.125H, dan ia mengambil dari 
  22. Imam Hasan al Basri w.110H, dan ia mengambil dari 
  23. Imam 'Ali bin Abi Thalib w.41H, dan ia mengambil dari 
  24. Muhammad Rasulullah Saw w.632M, dan ia mengambil dari 
  25. Sayyidina Jibril 'alaihis salam, dan ia mengambil dari 
  26. Allah azza wa jalla.

Penjelasan tentang Silsilah thariqat al Junaidiyah, khususnya susunan atau urutan silsilah sesudah Imam al Qusyairi adalah Muhammad az Zahidi al Wakhshi. Pertanyaannya adalah, mengapa Guru-guru thariqat al Junaidiyah menyusun atau mengurut  silsilah sesudah Imam al Qusyairi adalah Imam  Ahmad az  Zahidy ? Jawabnya adalah Imam al Qusyairi menjadi guru dari  Muhammad az Zahidy dengan bai'at Sirriyah.

Penyusun Umdatul Hasanah ...... berpendapat bahwa Syekh Muhammad az Zahidy aulia Allah yang berpangkat Rabbany atau wali kutub telah berguru (berbai'at  sirriyah) kepada Imam al Qusyairi yang juga berpangkat Rabbany atau wali kutub. Jarak tahun antara kedua wali ini kurang lebih 500 tahun. Disini ada  generasi-generasi silsilah thariqat al Junaidiyah yang dilewati atau yang Mastur atau yang Mahjub. Kalau dipandang secara zahiriyah kedua Imam ini tidak sezaman, tetapi dilihat Bai'ah Rohaniyah atau Sirriyah keduanya menjadi Guru dan Murid yang bagi kalangan ahli Shufi dan ahli thariqah sesuatu hal yang lumrah adanya.

Bai'at Rohaniyah atau Sirriyah adalah perjanjian antara Guru dan Murid yang dilakukan secara rohani oleh seorang Guru Mursyid yang berpangkat  aulia Allah, walaupun raga-badan Mursyidnya berada di alam alam lain. Dengan izin Allah dapat mengangkat muridnya di alam zahir atau maksud di alam dunia ini. Wali Allah tersebut sudah lama wafat, tetapi secara Rohani ia dapat berhubungan bathiniyah, berkonsultasi dan berdialogh dengan muridnya. Sang  Guru Mursyid mampu meberikan amalan-amalan dan dzikir-dzikir kepada  sang murid. Sang Muridpun juga mampu menangkap madad gurunya atau rahasia yang diajarkan oleh Sang Guru.  Baik sang murid dalam keadaan terjaga, tafakkur atau keadaan tidur. Rabithah Sirriyah dalam silsilah thariqat al Junaidiyah adalah keterikatan, keterpautan dan keterkaitan hati antara satu dengan hati yang lain dari rijal silsilahnya hingga Rasulullah Saw.

Penyusun Umdatul Hasanah ...... menulis dan menerangkan sanad-silsilah kedua yang pendik, andai dimasukkan dari  Silsilah thariqat al Junaidiyah yang Mahjub atau Mastur tersebut antara Imam al Qusyairi dengan Syekh Muhammad az Zahidy al Wakhshi dan tetap memberi garis penghubung antara kedua Imam tersebut, dan ditengah garis penghubung ditulis "Bai'at Sirriyah/Rohaniyah". 

6. Mengenal Sanad Silsilah Talqin Dzikir Thariqat al Qaum al Junaidiyah Jalur Pertama

Adapun sanad silsilah talqin dzikir thariqat al qaum al Junaidiyah pada Jalur yang Pertama adalah dengan kalimat dzikir :

  1. “Laa ilaaha illallah (لا إلهَ إِلاَّ اللهُ)” dzikir Nafi dan Isbat (dzikir zahar)
  2. “illallah-illallah ( إِلاَّ اللهُ  - إِلاَّ اللهُ)” disebut dzikir Isbat (dzikir zahar)
  3. “Allah-Allah ( اللهُ  - اللهُ)” disebut dzikir Ismu Dzat (dzikir zahar)
  4. Dzikir Khafi (dzikir dalam hati)
  5. Dzikir Akhfa (dzikir hati yang dalam)

talqin dzikir ini mengambil oleh 

  1. Sayyid H.Hasan Baseri,S.Ag bin H.M. Barsih bin Sayyid Ahmad Baderi Assaqqaf dan ia dari 
  2. KH. Jumberi Bin Ma'shum bin Abu Bakar Bihara w.1427H, dan ia mengambil dari 
  3. Khalifah thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurtubi bin Khalid bin Thahir Kalimantan w.1423H, dan ia mengambil dari 
  4. KH. Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh w.1394H, dan ia mengambil dari 
  5. Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi al Magribi, dan ia mengambil dari 
  6. Syekh Abdullah Ba'alawi al Magribi, dan ia mengambil dari 
  7. Imam Alawi Ba'alawi, dan ia mengambil dari 
  8. Imam Abdurrahman as Saqaf Ba'alawi  w.1124H, dan ia mengambil dari 
  9. Syekh Imam Abdurrahim w.1088H, dan ia mengambil dari 
  10. Syekh Al Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham yang dikenal dengan nama “Imam Ba Junaidi” (W.1032H/1623M), dan ia mengambil dari 
  11. Syekh Imam Alwi bin Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin yang dikenal dengan nama “Alwi al Ridla” (W.1002H/1594M, dan ia dari 
  12. Syekh Imam Abdul Wahhab As Sya’rani 898-973H dan ia dari 
  13. Syekh “Ali Murshafaa  dan ia dari  
  14. Syekh Muhammad As-Surawi w.932H, dan ia dari  
  15. Syekh Sayyid Muhammad Ibn Madyan al Asmuni (W.862H/1458M) dan ia dari  
  16. Syekh Sayyid Madyan al Asmuni (W.862H/1458M  ia dari  
  17. Syekh Imam Ahmad az Zahidi w.820H, dan ia mengambil dari 
  18. Syekh Hasan al Sustari w.797H, dan ia mengambil dari 
  19. Syekh Yusuf al Ajemi al Kuraini w.767H, dan ia mengambil dari  
  20. Syekh Muhammad al  Ashfihani, dan ia mengambil dari 
  21. Syekh Najmu Mahmud al Ashfihani, dan ia dari 
  22. Syekh Hasan Syamsuri, dan ia mengambil dari 
  23. Syekh Abdus Shamad an Nahrani, dan ia dari  
  24. Syekh Ibnu Bunghusy Syirazi, dan ia mengambil dari 
  25. Syekh Najibuddin Bunghusy  Syirazi, dan ia dari 
  26. Syihabuddin as Syuhrawardi(L.539-632H), dan ia dari 
  27. Syek Qadli Wajihuddin dan ia mengambil dari 
  28. Syekh Faraj Az  Zanjani, dan ia mengambil dari 
  29. Syekh Abul Abbas Nahawanda dan ia mengambil dari 
  30. Syekh Ibnu Khiif as Syirazi dan ia dari 
  31. Syekh Muhammad Khiif as Syirazi, dan ia dari 
  32. Qadli Ruwaim, (w.303H) dan ia mengambil dari 
  33. Syekh Imam al Junaid al Bagdadi w.247H, dan Imam al Junaid ini mengambil dari  
  34. Syekh  as Sirri al Saqathi w.253H, dan ia dari 
  35. Syekh Imam al Ma'ruf al Karkhi w.200H, dan ia dari  
  36. Syekh Daud at Tha'i  w.165H, dan ia dari  
  37. Syekh Habib al Ajemi  w.125H, dan ia dari  
  38. Syekh Imam Hasan al Basri w.110H, dan ia dari  
  39. Imam 'Ali bin Abi Thalib w.41H, dan ia dari  
  40. Muhammad Rasulullah Saw w.632M, dan ia dari   
  41. Sayyidina Jibril 'alaihis salam, dan ia dari  
  42. Allah azza wa jalla

C. TALQIN DZIKIR LISAN ZAHAR DAN DZIKIR QALBI

1. Talqin Dzikir Lisan Zahar (Suara Nyarig)

Talqin dzikir adalah mengambil pelajaran/ dzikir dari seorang Guru guna  mengokohkan kalimat at Taqwa yaitu kalimat : dzikir lisan " LAA ILAAHA  ILLALLAAH" (لا إلهَ إِلاَّ اللهُ) artiya : Tiada Tuhan selain Allah, yang mantap di dalam kalbu.

Adapun yang dijadikan landasan atau payung Hukum talqin dzikir lisan thariqat al Junaidiyah (thariqat al Qaum) diantara ayat-ayat al Qur'an yang menyuruh kita untuk selalu banyak berdzikir kepada Allah Swt antara lain : 

Firman Allah pada Surat al Fatah ayat 26 :

فَأَنْزَلَ اللهُ سَكِيْنَتَهُ عَلَى رَسُوْلِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوْا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا... الفتح 26

Artinya : "Maka Allah menurunkan ketenangan kepada Rasulnya dan kepada orang-orang Mu'min." "Dan Allah mengokohkan kalimat taqwa kedalam kalbu orang-orang yang beriman ....... dan mereka lebih berhaq dengan itu dan patut memilikinya".

Bibit kalimat Tauhid, takwa yakni kalimat dzikir lisan zahar (suara nyaring) "LAA ILAAHA  ILLALLAAH" dalam al Qur'an terbagi kepada dua bagian :

Seperti Talqin dzikir Lisan seperti tersirat pada Surat al Shafat ayat 35 :

إِنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَاإلهَ اِلَّا اللهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ. الصفات 35

Artinya : Sesungguhnya orang-orang Munafik itu, apabila dikatakan kepada mereka kalimat taqwa "LAA ILAAHA  ILLALLAAH" mereka menyombongkan diri. QS.As Shafat 35.

Kalimat Tauhid, kalimat taqwa pada ayat ini mengisyaratkan dzikir lisan sebab ayat ini dimulai dengan kaliamat pernyataan :"Apabila ........"

Diantara ayat al Qur'an yang menyuruh kita untuk selalu banyak berdzikir kepada Allah Swt antara lain : 

فَاذْكُرُوْنِىْ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْنِىْ وَلَاتَكْفُرُوْنَ. البقرة 153 

Artinya : "Maka hendaklah kamu ingat kepada Ku, niscaya Akupun ingat kepadamu, dan bersyukurlah kamu kepada Ku dan janganlah kamu berbuat kekufuran."QS.Baqarah 153

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْأَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوااللهَ كَثِيْرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. الجمعة 10

 Artinya : "Apabila shalatmu sudah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi, carilah karunia yang Allah anugrahkan dan perbayaklah mengingat Allah, semoga kamu memperoleh keberuntungan. QS. al Juma'ah, ayat 10.

-Hadits Nabi Saw :

Shahabat juga telah mengambil Bai’at atau Talqin Dzikir dari Rasulullah Saw sebagaimana telah diriwayatkan Syekh Yusuf al Ajemi al Kuraini (W.1366M/767H) salah satu Sadatina thariqat al Qaum al Junaidiyah dengan sanad shahih, ahwalnya Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib ra. Meminta kepada Rasulullah Saw :

يَارَسُوْلُ اللهِ دَلَّنِيْ عَلَيَّ أَقْرُبُ الطُّرُقِ إِلَى اللهِ, وَاسْهَلَنِيْ عَلَى عِبَادِهِ وَأَفْضَلُهَا عِنْدَ اللهِ تَعَالَى, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : يَا عَلِيُّ أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لَاإِلَهَ اِلَّا اللهُ فَقَالَ غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ مِنِّيْ ثُمَّ قُلْهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Artinya : Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib ra. Bertanya “ Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku manakah thariqat (jalan) yang sedekat-dekat kepada Allah dan juga semodah-modahnya atas hambanya dan seutama-utama dzikir disisi Allah ? Maka Rasulullah menjawab “Wahai ‘Ali seutama-utama sesuatu dzikir yang aku ucapkan, aku dan para Nabi sebelumku dzikir : “Laa ilaaha illallaah,” Kata Rasul “Pejamkan kedua matamu dan dengarkan daripadaku “Laa ilaaha illallaah,” kemudian katakan kalimah dzikir itu tiga kali (berturut-turut).

Dalam hadis lain dikatakan bahwa Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib Karramallahuwajhah meriwayatkan sebuah hadis : Dari Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib Karramallahuwajhah, 

Beliau berkata bahwa :"Aku tanyakan kepada Nabi Saw, Ya Rasulullah, manakah thariqat (jalan) yang sedekat-dekat kepada Allah dan juga semodah-modahnya atas hambanya dan semulia-mulia disisi Allah ? Maka sabda Rasulullah Saw : "Ya 'Ali penting atas kamu, berkekalan berdzikir kepada Allah. Maka berkatalah 'Ali, "Setiap orang hendaklah mereka berdzikir kepada Allah." Rasulpun bersabda : "Ya 'Ali ! Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga tiada tinggal lagi diatas permukaan bumi ini, orang-orang yang mengucapkan : "Allah, Allah, " Sahut 'Ali, bagaimana cara aku berdzikir Ya Rasulullah ? Maka Rasulullah saw bersabda : "Pajamkan kedua matamu dan dengarkanlah dariku, lalu ucapkan tiga kali ....... ya 'Ali seperti itu, dan Aku akan mendengarkannya. Kata Sayyidina 'Ali : 'Maka sejak Rasulullah mengucapkan kalimat :" LAA ILAAHA  ILLALLAAH" tiga kali sedang kedua matanya tertutup. Kemudian akupun mengucapkan kalimat :" LAA ILAAHA  ILLALLAAH" seperti Rasulullah Saw.

Talqin dzikir adalah sunnah Nabi Saw, adapun talqinnya Sayyidina Abu Bakar as- Shiddiq adalah dengan dzikir khafi, sebagaimana sabda Rasul Saw : 

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا صَبَّ اللهُ عَلَى صَدْرِيْ إِلَّا صَبَبْتُهُ عَلَى أَبِيْ بَكْرٍ فَثَقُلَ إِيْمَانَ أَبِيْ بَكْرٍ بِتِلْكَ الأَسْرَارِ  ..... الحديث

Artinya : Telah bersabda Rasul Saw bahwa “tidaklah menumpahkan oleh Allah kedalam dadaku akan sesuatu, kecuali aku tumpahkan pula atas dada Abu Bakar, maka beratlah iman Abu Bakar dengan rahasia itu.”

Dzikirullah adalah salah satu bagian yang terpenting thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah, kegiatan  dzikirullah setiap saat dilakukan, setiap hembusan nafas harus disertai dan di isi dengan dzikirullah. Berdzikir pada hakekatnya adalah mengingat Allah dan melupakan apa saja selainnya. Dzikirullah asal mulanya al shafa'الصفى   artinya bersih atau hening. Wadahnya adalah al wafa  الوفىartinya menyempurnakan. Syaratnya al Hudur الحضور artinya hatinya sepenuhnya kepada Allah.

عَنْ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ اَيُّ الطَّرِيْقُ أَقْرَبُ اِلَى اللهِ وَأسْهَلُهَا عَلَى عِبَادِ اللهِ وَأَفْضَلُهَا عِنْدَ اللهِ تَعَالَى؟

 فَقَالَ يَا عَلِيُّ عَلَيْكَ بِدَوَامِ ذِكْرِ اللهِ, فَقَالَ عَلِيُّ كُلُّ النَّاسِ يَذْكُرُوْنَ اللهَ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ يَا عَلِيُّ لَاتَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى لَايَبْقَى عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَنْ قَالَ اَللهُ اَللهُ. فَقَالَ عَلِيٌّ كَيْفَ اذْكُرُ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمَعْ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ لَآإِلَهَ اِلَّا اللهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مَغْمَضًا عَيْنَيْهِ ثُمَّ قَالَهَا عَلِيٌّ كَذَالِكَ, ثُمَّ لَقَّنَهَا عَلِيٌّ لِلْحَسَنِ الْبَصْرِيْ. ثُمَّ لَقَّنَهَا الْحَسَنُ لِلْحَبِيْبِ الْعَجَمِيْ ثُمَّ لَقَّنَهَا الْحَبِيْبِ لِدَوُدَ الْعَطَاءِ ..... وَ كَذَالِكَ, ثُمَّ لَقَّنَهَا السَّيِّدُ عُمَرُ بنُ أَبُوْ بَكَرْ لِكَشْفُ الْأَنْوَارْ فِرْدَاوُسْ ثُمَّ لَقَّنَهَا كَشْفُ الْأَنْوَارْ لِمُحَمَّدْ قُرْطُبِيْ بْنِ خَالِدْ ثُمَّ لَقَّنَهَا مُحَمَّدُ قُرْطُبِيْ لِلْحَاجِّ جُمْبِرِيْ بنِ الْحَاجِّ مَعْصُوْمٍ ثُمَّ لَقَّنَهَا الْحَاجِّ جُمْبِرِيْ لِلْحَاجِّ حَسَنْ بَصَرِيْ بْنِ الْحَاجِّ مُحَمَّدْ بَرْسِيْه .....

Kata Sayyidina 'Ali : 'Maka sejak Rasulullah mengucapkan kalimat (لَاإلهَ اِلَّا اللهُ) :" LAA ILAAHA  ILLALLAAH" tiga kali sedang kedua matanya tertutup. Kemudian akupun mengucapkan kalimat : (لَاإلهَ اِلَّا اللهُ) " LAA ILAAHA  ILLALLAAH" seperti Rasulullah Saw, ucapkan.
Ajaran tersebut kemudian Sayyidina 'Ali ajarkan pula kepada Sayyidina Hasan al Basri, dari Hasan al Basri diajarkan kepada Habib al Ajemi, dari Habib al Ajemi, ia ajarkan pula kepada Daud al Atha'i ..... sd ... kepada Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi, dari Syekh Sayyid Umar diajarkan kepada KH. Kasyful Anwar Firdaus, dari KH. Kasyful Anwar Firdaus diajarkan kepada KH. Muhammad Qurtubi bin Khalid dari KH. Muhammad Qurtubi diajarkan kepada KH. Jumberi dari  KH. Jumberi diajarkan kepada Sayyid H.Hasan Baseri bin H.Muhammad Barsih bin Sayyid Ahmad Baderi Assaqqaf.

2. Talqin Dzikir atau dzikir khafi (tersembunyi)

Adapun Talqin dzikir qalbi atau dzikir khafi (tersembunyi) pada thariqat sufi al Junaidiyah, Seperti yang tersirat pada Surat Muhammad ayat 19  :

 فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَاإلهَ اِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ اللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ... محمد 19

Artinya : Maka ketahui olehmu bahwasanya kalimat "LAA ILAAHA  ILLALLAAH" dan mimntalah keampunan untuk kesalahanmu dan kesalahan-kesalahan orang-orang Mu'min dan Mu'minat, dan Allah mengetahui saat kamu beraktifitas dan beristirahat.QS. Muhammad 19.

o  فَاذْكُرُوْنِىْ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِىْ وَلَاتَكْفُرُوْنَ. البقرة 152

Artinya : "Maka hendaklah kamu ingat kepada Ku, niscaya Akupun ingat kepadamu, dan bersyukurlah kamu kepada Ku dan janganlah kamu berbuat kekufuran."QS. Al Baqarah 152    

o  فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْأَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوْااللهَ كَثِيْرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. الجمعة 10

 Artinya : "Apabila shalatmu sudah dutunaikan, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi, carilah karunia yang Allah anugrahkan dan perbayaklah mengingat Allah, semoga kamu memperoleh keberuntungan. QS. al Juma'ah 10.

Dzikirullah adalah salah satu bagian yang terpenting thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah (thariqat al Qaum), kegiatan  dzikirullah setiap saat dilakukan, setiap hembusan nafas harus disertai dan di isi dengan dzikirullah. Berdzikir pada hakekatnya adalah mengingat Allah dan melupakan apa saja selainnya. Dzikirullah asal mulanya al shafa'  artinya bersih atau hening. Wadahnya adalah al wafa artinya menyempurnakan. Syaratnya al Hudur artinya hatinya sepenuhnya kepada Allah.

Dalam hadis lain dikatakan bahwa Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib Karramallahuwajhah meriwayatkan sebuah hadis : Dari Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib Karramallahuwajhah, Beliau berkata bahwa :"Aku tanyakan kepada Nabi Saw, Ya Rasulullah, manakah thariqat (jalan) yang sedekat-dekat kepada Allah dan juga semodah-modahnya atas hambanya dan semulia-mulia disisi Allah ? Maka sabda Rasulullah Saw : "Ya 'Ali penting atas kamu, berkekalan berdzikir kepada Allah. Maka berkatalah 'Ali, "Setiap orang hendaklah mereka berdzikir kepada Allah." Rasulpun bersabda : "Ya 'Ali ! Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga tiada tinggal lagi diatas permukaan bumi ini, orang-orang yang mengucapkan : "Allah, Allah, " Sahut 'Ali, bagaimana cara aku berdzikir Ya Rasulullah ? Maka Rasulullah saw bersabda : "Pajamkan kedua matamu dan dengarkanlah dariku, lalu ucapkan tiga kali ....... ya 'Ali seperti itu, dan Aku akan mendengarkannya. Kata Sayyidina 'Ali : 'Maka sejak Rasulullah mengucapkan kalimat (لَاإلهَ اِلَّا اللهُ) :" LAA ILAAHA  ILLALLAAH" tiga kali sedang kedua matanya tertutup. Kemudian akupun mengucapkan kalimat (لَاإلهَ اِلَّا اللهُ) :" LAA ILAAHA  ILLALLAAH" seperti Rasulullah Saw.

Ajaran tersebut kemudian Sayyidina 'Ali ajarkan pula kepada Sayyidina Hasan al Basri, dari Hasan al Basri diajarkan kepada Habib al Ajemi, dari Habib al Ajemi, ia ajarkan pula kepada Daud al Atha'i ........

عن علي كرم الله وجهه قلت يا رسول الله اي الطريق أقرب الى الله وأسهلها على عباد الله وأفضلها عند الله تعالى؟ فقال يا علي عليك بدوام ذكر الله, فقال علي كل الناس يذكرون الله. فقال النبي صلى الله عليه وسلم ياعلي لاتقوم الساعة حتى لايبقى على وجه الأرض من قال الله الله. فقال علي كيف اذكر يا رسول الله ؟ فقال صلى الله عليه وسلم غمض عليك واسمع. فقال النبي صلى الله عليه وسلم لآإله الا الله ثلاث مرات مغمضا عينيه ثم قالها علي كذالك, ثم لقنها علي للحسن البصري. ثم لقنها الحسن للحبيب العجمي .....

3. Dasar Hukum Talqin Dzikir pada Thariqat al Qaum al Junaidiyah

Diantara ayat al Qur'an dan al Hadis yang menjadi Dasar Talqin Dzikir pada thariqat al Junaidiyah antara lain :

1. al Qur'an Surat Yunus berbunyi :

o يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَائَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِى الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ. سورة يونس 57

Artinya :"Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran  (al Qur,an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petujuk serta rahmat bagi orang-orang beriman.

2. al Qur'an Surat al Shafat berbunyi :

o  إِنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَاإلهَ اِلَّا اللهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ. الصفات 35

Artinya : Sesungguhnya orang-orang Munafik itu, apabila dikatakan kepada mereka kalimat taqwa "LAA ILAAHA  ILLALLAAH" mereka menyombongkan diri. QS.As Shafat 35.

3. al Qur'an Surat Muhammad berbunyi :

o  فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَاإلهَ اِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَ اللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ... محمد 19

Artinya : Maka ketahui olehmu bahwasanya kalimat (لَاإلهَ اِلَّا اللهُ) "LAA ILAAHA  ILLALLAAH" dan mimntalah keampunan untuk kesalahanmu dan kesalahan-kesalahan orang-orang Mu'min dan Mu'minat, dan Allah mengetahui saat kamu beraktifitas dan beristirahat.QS. Muhammad 19.

4. Al Hadis berbunyi : 

o  يَا رَسُوْلَ اللهِ دَلَّنِىْ عَلَيَّ أَقْرَبُ الطُّرُقِ إِلَى اللهِ وَأَسْهَلَنِىْ عَلَى عِبَادِهِ وَأَفْضَلُهَا عِنْدَ اللهِ تَعَالَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: يَا عَلِيُّ أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِىْ لَاإلهَ اِلَّا اللهُ, فَقَالَ غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمِعْ مِنِّىْ ثُمَّ قُلْهَا ثَلَاثُ مَرَّاتٍ

Artinya : Ya Rsulullah, tunjukkan kepadaku jalan yang terdekat menuju Allah, yang paling mudah atas hambanya, dan yang paling utama disisih Allah Ta'ala. Bersabda Nabi Saw : Ya.'Ali seutama-utamanya apa yang aku ucapkan dan Nabi-nabi sebelum aku adalah kalimat (لَاإلهَ اِلَّا اللهُ) :" LAA ILAAHA  ILLALLAAH" Dan Sabdanya pula "pajamkan kedua matamu dan dengarkan dariku tiga kali.

Talqin dzikir adalah sunnah Nabi Saw, adapun talqinnya Abu Bakar Siddiq adalah dengan dzikir khafi, sebagaimana sabda Nabi Saw :

o   قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَاصَبَّ اللهُ شَيْئًا عَلَى صَدْرِىْ إِلَّا صَبَبْتُهُ عَلَى أَبِيْ بَكْرٍ فَثَقُلَ إِيْمَانُ أَبِيْ بَكْرٍ بِتِلْكَ الْأَسْرَارِ.

Artinya : Rasulullah Swa telah bersabda : bahwa tidaklah menumpahkan oleh Allah kedalam dadaku akan sesuatu, kecuali aku tumpahkan pula atas dada Abu Bakar, maka beratlah imannya Abu Bakar dengan rahasia itu.

 

4. Dzikir Qalbi pada Thariqat al Qaum al Junaidiyah

Adapun dzikir qalbi itu terbagi dua macam, yaitu dzikir khafi dan dzikir akhfa. Kedua dzikir ini harus melalui petunjuk guru Mursyidnya. Dzikir khafi dan dzikir akhfa terlebih afdal dari dzikir lisan, kedua dzikir ini dapat dilakukan pada semua waktu dan tempat.

اعلم أن الذكر نوعان لساني وقلبي. وكل منهما شواهد من الكتاب والسنة. فالذكر لساني باللفظ المركب من الأصوات والحروف فمثاله :لآإله إلا الله وهي الذكرالنفي والإثبات. و إلا الله إلا الله وهي الذكرالإثبات. ثم الله الله الله وهي الذكرباسم الذات. لايتيسر للذكرين فى جميع الأوقات والأمكنة. فإن البيع والشراء ونحوها يلهى الذكر عنه البته. بخلاف الذكر القلبي اى الذكرالخفى والأخفى فإنهما بملاحظة مسمى ذلك اللفظ المجرد عن الحروف والأصوات. وإذا فلا شيئ يلهى الذكر عنه.

Ketahuilah bahwa dzikir itu ada dua macam. Dzikir lisan atau jihar (nyaring) dan dzikir qalbi (hati). Kedu jenis dzikir ini diambil dari al Qur'an dan Sunnah Rasul Saw. Adapun dzikir lisan adalah dzikir dengan lafaz yang tersusun dari pada suara dan huruf-huruf, misalnya dzikir Nafi – Isbat  : LAA ILAAHA  ILLALLAAH, dan dzikir Isbat  "ILLALLAAH, ILLALLAAH,  "  dan juga dzikir dengan Ismu Dzat berbunyi : "ALLAAH, ALLAAH." Tidaklah mudah untuk melakukan dzikir lisan pada semua waktu dan tempat. Sungguh jual beli dan kesusahan lainnya akan membimbangkan bagi para Dzakirin padanya akan terputus dari dzikir lisan.

Berlainan dengan dzikir qalbi (dzikir khafi dan dzikir akhfa). Maka sesungguhnya dzikir qalbi akan terpelihara (tidak terputus). Dinamakan dzikir qalbi itu dengan lafaz yang sunyi dari pada suara dan huruf-huruf . Dan dikala itu tidak ada yang membimbangkan para Dzakirin dari padanya.

أماالذكرالقلبى فى الطريقة الجنيدية هو الذكرالخفى والأخفى بقلب فاذكرواالله خفيا.وأخفى عن الخلق بلا حرف وهذا الذكر أفضل كل ذكر. بهذا قد جرى قول الرجال.

Adapun  dzikir qalbi pada thariqat al Junaidiyah yaitu dzikir khafi dan dzikir akhfa. Berdzikir dengan hati kepada Allah secara sembunyi dan dzikir yang lebih tersembunyi. Tidak terdengar oleh makhluk lain dengan tiada berhuruf dan bersuara. Dzikir khafi dan dzikir akhfa ini adalah dzikir yang afdal dari dzikir lisan. Dengan dzikir ini pula sungguh telah berlaku – menjadikan seseorang berpridikat pangkat  rizal.

Talqin dzikir khafi dan dzikir akhfa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw kepada shahabatnya Abu Bakar al Shiddiq radiyallahu anhu dengan Sabdanya : "Pajamkan kedua matamu, rapatkan kedua lututmu, dan lipatkanlah ujung lidahmu, lalu resapkanlah di dalam qalbumu kalimat " ALLAAH, ALLAAH."

قَالَ رَسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :غَمِّضْ عَيْنَيْكَ. وأعْلِ رُكْبَتَيْكَ اى لِسَانِكَ. وَأَلْصِقْ شُعْبَكَ. وَقُلْ اى تَخَلُّلْ فِى قَلْبِكَ : "اَلله  اَلله "

Dzikir khafi dan dzikir akhfa ini khusus bagi Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) dilakukan secara terus menerus atau berkepanjangan.

5. Pembagian Dzikir Qalbi pada Thariqat al Qaum al Junaidiyah

Adapun dzikir qalbi itu terbagi dua macam, yaitu dzikir khafi dan dzikir akhfa. Kedua dzikir ini harus melalui petunjuk guru Mursyidnya. Dzikir khafi dan dzikir akhfa terlebih afdal dari dzikir lisan, kedua dzikir ini dapat dilakukan pada semua waktu dan tempat.

اِعْلَمْ أَنَّ الذِّكْرَ نَوْعَانِ لِسَانِيٌّ وَقَلْبِيٌّ. وَكُلٌّ مِنْهُمَا شَوَاهِدُ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ. فالذكر لساني باللفظ المركب من الأصوات والحروف فمثاله :لآإله إلا الله وهي الذكرالنفي والإثبات. و إلا الله إلا الله وهي الذكرالإثبات. ثم الله الله وهي الذكرباسم الذات. لايتيسر للذكرين فى جميع الأوقات والأمكنة. فإن البيع والشراء ونحوها يلهى الذكر عنه البته. بخلاف الذكر القلبي اى الذكرالخفى والأخفى فإنهما بملاحظة مسمى ذلك اللفظ المجرد عن الحروف والأصوات. وإذا فلا شيئ يلهى الذكر عنه.

Ketahuilah bahwa dzikir itu ada dua macam. Dzikir lisan atau jihar (nyaring) dan dzikir qalbi (hati). Kedu jenis dzikir ini diambil dari al Qur'an dan Sunnah Rasul Saw. Adapun dzikir lisan adalah dzikir dengan lafaz yang tersusun dari pada suara dan huruf-huruf, misalnya dzikir Nafi – Isbat  : LAA ILAAHA  ILLALLAAH, dan dzikir Isbat  "ILLALLAAH, ILLALLAAH,  "  dan juga dzikir dengan Ismu Dzat berbunyi : "ALLAAH - ALLAAH." Tidaklah mudah untuk melakukan dzikir lisan pada semua waktu dan tempat. Sungguh jual beli dan kesusahan lainnya akan membimbangkan bagi para Dzakirin padanya akan terputus dari dzikir lisan.

Berlainan dengan dzikir qalbi (dzikir khafi dan dzikir akhfa). Maka sesungguhnya dzikir qalbi akan terpelihara (tidak terputus). Dinamakan dzikir qalbi itu dengan lafaz yang sunyi dari pada suara dan huruf-huruf . Dan dikala itu tidak ada yang membimbangkan para Dzakirin dari padanya.

أماالذكرالقلبى فى الطريقة الجنيدية هو الذكرالخفى والأخفى بقلب فاذكرواالله خفيا.وأخفى عن الخلق بلا حرف وهذا الذكر أفضل كل ذكر. بهذا قد جرى قول الرجال.

Adapun  dzikir qalbi pada thariqat al Junaidiyah yaitu dzikir khafi dan dzikir akhfa. Berdzikir dengan hati kepada Allah secara sembunyi dan dzikir yang lebih tersembunyi. Tidak terdengar oleh makhluk lain dengan tiada berhuruf dan bersuara. Dzikir khafi dan dzikir akhfa ini adalah dzikir yang afdal dari dzikir lisan. Dengan dzikir ini pula sungguh telah berlaku – menjadikan seseorang berpridikat pangkat  rizal.

Dzikir Khafi dan Akhfa ini bagi Pengamal Thariqat al Qaum al Junaidiyah dapat dilakukan secara terus-menerus atau berkepanjangan.

J. DALIL-DALIL YANG MENGANJURKAN UNTUK DZIKIR KHAFI – AKHFA

Diantara dalil bagi Pengamal Thariqat al Qaum al Junaidiyah tentang dzikir Khafi dan dzikir Akhfa :

1.Al Qur’an al Qur’an     :  Firman Allah Swt pada surat Thaha ayat 7              :

وَاِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَاِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرِّى وَاَخْفَى  ...... طه :7

Maksudnya : “Jika engkau mengeraskan suaramu (Ya Muhammad ketika berdzikir atau berdo’a), Sesungguhnya Dia (Allah) amat mengetahui rahasiamu dan yang lebih tersembunyi (dalam hatimu).

Dzikir khafi dimaksud adalah menyebut kalimat “Laa ilaaha illallaah, illallaah- illallaah, dan Allah Allah secara Sirr didalam hati saja.

Adapun pelimpahan Talqin dzikir khafi dan dzikir akhfa yang diberikan oleh Rasulullah Saw kepada shahabatnya Abu Bakar al Shiddiq radiyallahu anhu, menurut riwayat ketika perjalanan hijrah menuju kota Madinah yang dibuntuti oleh Kafir Quraisy yang ingin membunuh Nabi Saw dan akhirnya Kedua Sahabat ini bersembunyi dan berada dalam Gua Tsur. Firman Allah pada Surat At-Taubah ayat   yang berbunyi  :

2.Al Hadits Nabi Saw

 Talqin dzikir khafi dan dzikir akhfa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw kepada shahabatnya Abu Bakar al Shiddiq radiyallahu anhu dengan Sabdanya : "Pajamkan kedua matamu, rapatkan kedua lututmu, dan lipatkanlah ujung lidahmu, lalu resapkanlah di dalam qalbumu kalimat " ALLAAH - ALLAAH."

قَالَ رَسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :غَمِّضْ عَيْنَيْكَ. وَأَعْلِ رُكْبَتَيْكَ. وَأَلْصِقْ شَعْبَكَ. وَقُلْ : "اَللهُ اَللهُ ".... وأعل ركبتيك اى لسانك. وقل اى تخلل فى قلبك : "الله الله"

Dzikir khafi dan dzikir akhfa ini khusus bagi Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) dilakukan secara terus menerus atau berkepanjangan.

Talqin dzikir khafi dan dzikir akhfa juga ada riwayat Imam Thabrani dan Imam Baihaqi kepada Sayyina 'Ali bin Abi Thalib sebagaimana hadits berikut  :

قَالَ رَسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :يَا عَلِيُّ غَمِّضْ عَيْنَيْكَ. وَأَلْصِقْ شَعْبَكَ وَأَعْلِ لِسَانَكَ وَقُلْ : "اَللهُ اَللهُ "رواه الطبرنى والبيهقى

Artinya : Rasulullah Saw telah bersabda : "Ya 'Ali, pajamkanlah kedua matamu, lengkungkan (tegakkan) lidahmu kelangit-langit dan rapatkan kedua bibirmu dan katakan dalam hatimu kalimah "Allah, Allah." HR. At Thabrani dan Baihaqi.

Dzikir Khafi lebih afdal dari pada dzikir lisan atau dzikir nyaring. Sabda Rasulullah Saw yang berbunyi   :

قَالَ رَسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَفْضَلُ الذِّكْرِ الذِّكْرُ الْخَفِيُّ

Artinya : Rasulullah Saw telah bersabda : "Sebaik-baik dzikir atau seutama-utama dzikir adalah Dzikir khafi".

Menurut Penyusun Umdatul Hasanah "Dzikir khafi ini dilakukan kapan saja dan dimana saja, dzkir ini tiada dikat dengan syarat apa-apa, akan tetapi bila melakukannya sesudah shalat, baik shalat fardlu atau shalat sunnat, alangkah baiknya dengan ketentuan berikut          :

  1. Mata terpejam
  2. Kedua bibir dirapatkan
  3. Lidah ditongkatkan kelangit-langitan
  4. Hati mengata kalimah dzikir : - laa ilaaha illallaah,- illallaah- illallaah, - Allah-allah
  5. Satu nafas (Maksudnya sekuat menahan nafas + dzikir akhfa)
  6. Harus dengan petunujk Guru Mursyidnya
  7. Tertib menurut adab dzikir thariqat al Qaum al Junaidiyah
  8. Dzikir khafi ini harus diikuti oleh dzikir akhfa.

Salah satu dalil dzikir khafi dan dzikir akhfa dengan lidah ditongkatkan kelangit-langitan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Dr. Imam Turmudzi Hasyim  pada Risalah Tanyajawab thariqat. Rasulullah Saw bersabda berbunyi :

حَضَرَ مَلَكُ الْمَوْتِ رَجُلًا يَمُوْتُ فَشَقَّ اَعْضَائَهُ فَلَمْ يَجِدْ عَمَلًا فَفُكَ لِحَيِّيْهِ خَيْرًا, فَوَجَدَ طُرْفَ لِسَانِهِ لَاصِقًا بِحَنَقِهِ يَقُوْلُ : لَاإِلَهَ اِلَّا اللهُ فَغَفَرَ لَهُ بِكَلِمَةُ الْاِخْلَاصِ.

Artinya : Rasulullah Saw telah bersabda : "Pada suatu waktu Malaikat malakul maut (Ijraa'il) datang pada seorang laki-laki (hal keadaannya) sedang sekarat atau akan meniggal dunia, (lalu diambil/dicabut rohnya). Kemudian Malaikat itu memperhatikan keseluruh tubuh orang meniggal dunia itu, ternyata tidak ada tanda-tanda (punya) amal kebaikan samasekali. Kemudian ia membuka mulutnya dan didapati ujung lidah si mait itu telah menempil di langit-langit mulutnya. Ia sempat mengata kalimah : "Laa ilaaha illallaah". Maka Allah Swt mengampuni baginya dengan kalimat ikhlash."

Firman Allah pula yang berbunyi  :

وَقَالَ تَعَالَى : وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِى نَفْسِكَ اى فِى قَلْبِكَ: الاعراف 204

Artinya : "Sebutlah nama Tuhanmu dalam dirimu (yaitu dalam hatimu) QS.al 'A'raf 204.

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يُفَضِّلُ الذِّكْرَ (اى الْخَفِىُّ) عَلَى الذِّكْرِ (اى الْجَهْرِىُّ) بِسَبْعِيْنَ ضِعْفًا,  اِذَا كَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجَّعَ اللهُ الْخَلَائِقَ اِلَى حِسَابِهِ, وَجَائَتِ الْحَفَظَةُ بِمَا حَفَظُوْا وَكَتَبُوْا. وَقَالَ تَعَالَى : اُنْظُرُوْا اَهْلَ بَقِيٍّ لِعَبْدِيْ مِنْ شَيْئٍ, فَيَقُوْلُوْنَ : مَاتَرَكْنَا شَيْئًا مِمَّا عَلِمْنَاهُ وحَفَظْنَاهُ اِلَّا وَقَدْ اَحْصَيْنَاهُ وَكَتَبْنَاهُ, فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : اِنَّ لَكَ عِنْدِىْ حَسَنًا وَ اَنَا اَجْزَيْكَ بِهِ وَهُوَ الذِّكْرُالْخَفِىُّ. رواه البيهقى

Artinya : Diriwayatkan bahwa dari Aisyah ra. Ia berkata, telah bersabda Rasulullah Saw : "Dia (Allah) melebihkan dzikir (khafi) atas dzikir (jahri/nyaring) dengan 70 ganda. Apabila hari qiyamat nanti Allah kembalikan pahala dzkir akan semua makhluk ketika diadakan hisab. Datanglah Malaikat Hafazah dengan sesuatu (Buku catatan Amal) yang mereka pelihara dan mereka catat. Allah berfirman :" Lihatlah pada orang-orang yang ditinggalkan kepada hamba-Ku sesuatu, Mereka Malaikat itu menjawab : Tiada kami tinggalkan sesuatu dari sesuatu yang kami ketahui dan kami jaga akan dia, kecuali sengguh kami hitungnya dan menulisnya. Allah berfirman : bahwa kamu melakukannya dengan baik dan Aku akan balas kebaikan sebab ia melakukan dzikir khafi. Hadis Diriwayatkan oleh al-Bayhaqy

 

E. SUNNAT BERDZIKIR TAHLIL MENGERAKKAN BADAN /KEPALA CONDONG KEDEPAN KEBELAKANG ATAU MENGGELENG GELENGKAN KEPALA.

Aku (Penyusun) kutip Artikel “Sunnah Dzikir Tahlil Sambil Menggeleng-Gelengkan Kepala” yang ditulis oleh Ulama mendunia Al-Ustadz H. Miftahul Chair, S.Hi. MA menjelaskan Tentang Sunnat berdzikir Tahlil “LAA ILAAHA  ILLALLAAH” (لَاإِلَهَ اِلَّا اللهُ) menggerakkan anggota badan, kepala condong kedepan, kebelakang atau menggeleng-gelengkan kepala bahwa :

Amalan menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri saat bertahlil (mengucapkan laa ilaaha illallah) sudah ada diterapkan oleh para sahabat Rasulullah Sayyidina Muhammad Saw. Dalam sebuah hadits (atsar) disebutkan,

عَنْ اِسْمَاعِيْلَ السّدِّيَّ قَالَ سَمِعْتُ اَبَا اَرَاكَةَ  قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ صَلَاةَ الْفَجْرِ فَلَمَّا سَلَّمَ, انْفَتَلَ عَنْ يَمِيْنَهِ ثُمَّ مَكَثَ كَاَنَّ عَلَيْهِ كَآبَةً حَتَّى اِذَا كَانَتِ الشَّمْسُ عَلَى حَائِطِ الْمَسْجِدِ قِيِدَ رُمحٍ, قَلَّبَ يَدَهُ, فَقَالَ : وَاللهِ لَقَدْ رَاَيْتُ اَصْحَابَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا اَرَى الْيَوْمَ اَحَدًا يُشْبِهُهُمْ, لَقَدْ كَانُوْا يُصْبِحُوْن َشُعْثًا غُبْرًا بَيْنَ اَعْيُنِهِمْ اَمْثَالٌ رُكِبَ الْمِعْزَى,

، قَدْ بَاتُوا للَّهِ سُجَّدًا وَقِيَامًا يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ ، يُرَاوِحُونَ بَيْنَ جِبَاهِهِمْ وَأَقْدَامِهِمْ ، فَإِذَا أَصْبَحُوا فَذَكَرُوا اللَّهَ مَادُوا كَمَا يَمِيدُ الشَّجَرُ فِي يَوْمِ الرِّيحِ وَهَمَلَتْ أَعْيُنُهُمْ حَتَّى تَبُلَّ ثِيَابَهُمْ ، وَاللَّهِ لَكَأَنَّ الْقَوْمَ بَاتُوا غَافِلِينَ . ثُمَّ نَهَضَ فَمَا رُئِيَ بَعْدَ ذَلِكَ مفترا = يَضْحَكُ ، حَتَّى ضَرَبَهُ ابْنُ مُلْجِمٍ.

Maknanya : “Dari Isma’il As-Suddy dia berkata, aku mendengar Abu Arakah menyampaikan : Aku solat subuh bersama “Ali RA tatkala selesai salam, dia pun menyadarkan tubuhnya ke sisi kanan, beliau diam seolah-olah dirundung duka sehingga matahari (mulai mencuatkan sinarnya) di dinding masjid sekedar sedikit, beliau solat dua rakaat. Beliau kemudian membalikkan tangannya lalu berkata: Demi Allah, sesungguhnya aku telah melihat sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad SAW yang tidak pernah ku lihat pada hari ini sesuatu pun yang menyerupai mereka. Mereka berpagi-pagi dalam keadaan tidak mempunyai sesuatu, rambut mereka terlihat tidak rapi dan dalam keadaan berdebu. Di hadapan mereka seolah-olah kambing tunggangan (tubuh badan mereka lemah). Mereka benar-benar melalui malam hari (dengan beribadah) kerana Allah dalam keadaan sujud dan berdiri, mereka membaca ayat-ayat Allah, (tubuh-tubuh mereka) mereka hayun-hayunkan di antara dahi dan kaki mereka (dengan gerakan yang seirama). Apabila berpagi-pagi mereka berdzikir mengingati Allah dengan menggoyangkan tubuh sebagaimana condongnya pohon dihembus angin. Air mata mereka berlinangan sehingga membasahi pakaian mereka. Demi Allah mereka seperti orang-orang yang linglung di malam hari karena banyaknya (berzikir itu). Kemudian Ali bangkit (setelah menyelesaikan dzikirnya), adapun setelah itu tidak ada lagi yang meremehkan atau menertawakan dzikir sambil menggoyang-goyangkan anggota tubuh sampai beliau terbunuh di tangan Abdurrahman Ibnu Muljim.” (HR. Abu Nu’aim pada bab Watsiqu ‘Ibaratihi, Ibnu ‘Asakir dalam Taarikh Dimasyq bab ‘Ali bin Abi Thalib).

Aku kutip pada Artikel yang lain bahwa Al-Hafidz Abu Nu`aim meriwayatkan bahawa as-Sayyid al-Jalil al-Fudhail bin 'Iyyadh berkata:-

كَانَ اَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا ذَكَرُوْا اللهَ تَمَايَلُوْا يَمِيْنًا وَشِمَالًا كَمَا تَتَمايَلُ الشَّجَرَةُ بِالرِّيْحِ الْعَاصِفِ اِلَى اِمَامٍ ثُمَ اِلَى وَرَاءِ

"Sahabat-sahabat Rasulullah Saw apabila mereka berdzikir mereka menggerakkan badan condong ke kiri ke kanan seperti pohon kayu yang condong ditiup angin kuat, badan condong kedepan lalu condong kebelakang  ."

Kita sering menyaksikan setiap habis shubuh atau pada saat wirid Yasinan para jemaah yang dipandu oleh seorang, biasanya didahului membaca surat Ar-Ra'd · Ayat 28

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ۝٢٨

Artinya : (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. lalu dilajudkan membaca “afdhaludz dzikri laa ilaha illallah” lalu dijawab dengan “Hayyun Baaq”, Hayyun Maujud” dan “Hayyun Maqshud” lalu membaca tahlil “laa ilaha illallah” secara bersama dengan menggoyang-goyangkan kepala. 

Kita sering menyaksikan setiap habis shubuh atau pada saat wirid Yasinan para jemaah yang dipandu oleh seorang yang diawali dengan “afdhaludz dzikri laa ilaha illallah” lalu dijawab dengan “Hayyun Baaq”, Hayyun Maujud” dan “Hayyun Maqshud” lalu membaca tahlil “laa ilaha illallah” secara bersama dengan menggoyang-goyangkan kepala. Itu semua ada dasarnya dari Rasulullah Saw yang dimplementasikan oleh para sahabat. Dengan ini Imam Ibnu ‘Abidin Al-Hanafi dalam kitabnya Raddul Muhtar ‘Alaa Durril Mukhtar bab mathlabul fi mustahillir raqshi menjelaskan,

مَافِى التَّوَاجُدِ اِنْ حَقَّقْتَ مِنْ حَرَجٍ وَلَا التَّمَايُلِ اِنْ اَخْلَصْتَ مِنْ بَاسٍ ....

Maknanya : “Tiada kesalahan dalam tawajud (berasyik-asyik dalam sesuatu) apabila memang suatu yang benar, dan tidak pula mengapa tamayul (gerakan ke kanan ke kiri depan belakang) apabila bersih dari riya saat berdzikir atau bernyanyi.”

Terkait dengan hadits di atas Syaikh Abdul Qadir ‘Isa menjelaskan Ghani Al-Nabulisiy dalam kitabnya Haqa’iq ‘Anit Tashawwuf hal. 189,

وَقَدِ اسْتَدَلَّ الشَّيْخُ عَبْدُ الْغَنِيْ النَّابُلِسِيُّ رَحِمَهُ اللهُ بِهَذَا الْحَدِيْثِ فِى اِحْدَى رَسَائِلُهُ عَلَى نَدَبِ الْاِهتِزَازِ بِالذِّكْرِ وَقَالَ : هَذا صَرِيْحٌ بِاَنَّ الصَّحَابَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ كَانُوْا يَتَحَرّكُوْنَ حَرَكَةً شَدِيْدَةً فِي الذِّكْرِ.......

Maknanya : “Syeikh Ghani Al-Nabulisiy menjadikan hadis ini sebagai dalil pada salah satu risalahnya atas kesunnahan bergoyang dalam zikir dan beliau berkata: “Ini jelas bahwa sahabat biasa bergoyang dengan goyangan yang dahsyat pada saat zikir.”

Pola gerakan kepala dari kanan ke kiri merupakan gerakan yang paripurna murni dari sahabat Rasulullah Saw yang tentunya mereka mendapatkan contohnya dari Rasulullah Saw. Imam Al-Kattani Al-Fasi dalam kitabnya Nidzamul Hukumah An-Nabawiyyah jilid 2, hal. 93 Menyatakan,

فَقَدْ خَرَجَ اَبُوْ نَعِيْمٍ فِى الْحِلْيَةِ عَنِ الْفُضَيْلُ بِنْ عِيَاضٍ : كَانَ اَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ اِذَا ذَكَرُوْا اللهَ تَمَايَلُوْا يَمِيْنًا وَشِمَالًا كَمَا تَتَمَايَلُ الشَّجَرَةَ بِالرِّيْحِ الْعَاصِفِ اِلَى اِمَامٍ ثُمَّ تَرَاجَعَ اِلَى وَرَاءٍ...

Maknanya : “Imam Fudhail bin ‘Iyadh menyatakan bahwa sahabat-sahabat Rasululah itu apabila mereka berzikir maka mereka akan bergoyang ke kanan ke kiri seperti pohon yang tertiup angin kencang bergoyang lagi ke depan kemudian secara bergantian ke belakang.”

Rasulullah Saw pernah mengatakan bahwa zikir tahlil laa ilaha illallah adalah zikir yang paling utama, karenanya banyak kita umat Islam yang membacanya berulang-ulang bahkan sangkin asyiknya kepala pun bergoyang. Sehubungan dengan hal ini Rasulullah Saw bersabda :

عَنْ اَبِيْ سَعِيْدٍ اَلْخُدْرِيِّ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللهِ حَتَّى يَقُوْلُوْا : مَجْنُوْنٌ. .. رواه اِبْنُ حِبَّانٍ وصححه

Maknanya : “Dari Abi Sai’d Al-Khudri, Rasulullah Saw mengatakan : Perbanyaklah mengingat Allah sampai morang mengatakan kamu sekalian itu gila (sangkin asyiknya).” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 817, Imam Hakim menyatakan hadits ini shahihul isnad No.1839).

Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya nya bab dzikrul bayan jilid 3, hal. 99 tersebut menyatakan,

اِسْتِحْبَابُ الْاِسْتِهْتَارِ لِلْمَرْءِ بِذِكْرِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَلَ.....

Maknanya : “Sunnah bagi seseorang tenggelam atau pun larut (istihtar) saat mengingat Tuhannya Jalla Wa ‘Ala.” Saat seorang tengah berzikir, menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri (ke depan ke balakang) merupakan teknik untuk mencapai rasa tenggelam dalam labuhan makrifat kepada Allah. Analogisnya, mendengar sebuah nyanyian atau musik secara spontanitas badan bergerak, terutama kepala bergoyang terbawa alunan, keasyikan seperti tidak mau diganggu, tidak peduli orang sekitar dan tidak ada yang diucapkan kecuali apa yang tengah diiramakan. Begitulah, zikir atau saat bertahlil ayunan irama zikir tersebut membentuk gerakan-gerakan teratur seperti orang yang sedang dimabuk cinta. Dalam ranah sufi kondisi ini disebut “’usyaq”. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Mukasyafatul Qulub; Al-Muqarribu Ilaa Hadhrati ‘Allamil Ghuyub hal. 30,

الحب عبارة عن ميل الطبع الى الشيء الملذ فإن تأكد ذلك الميل وقوي سمي عشقا 

Maknanya : “Yang dimaksud dengan cinta itu adalah kecenderungan pada sesuatu yang melezatkan, jika kecenderungan itu kokoh dan kuat dinamakan keasyikan ‘usyaq.”

Gerakan goyang tubuh atau gelengan kepala ke kanan dan ke kiri merupakan sikap rendah diri manusia kepada Allah Swt. Dia memperlakukan gerak alam seperti itu juga, seperti dalam Firman-Nya : 

أو لَمْ يَرَوْا إلى ما خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلالُهُ عَنِ الْيَمينِ والشَّمائِلِ سُجَّداً لِلَّهِ وَهُمْ داخِرونَ

Maknanya : “Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri?.” (QS. Al-Nahl: 48). 

Sebagai finishing, zikir dengan menggerakan anggota tubuh seperti kepala merupakan cara yang baik mengikuti tuntunan Allah, Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Syeikh Al-Khalili Asy-Syafi’i dalam kitabnya Fatawil Khalili ‘Alal Madzhabisy Syafi’i bab fiima yafa’luhunnas hal. 36 menyatakan,

أن الحركة فى الذكر والقراءة ليست محرمة ولا مكروهة بل هي مطلوبة فى جملة أحوال الذاكرين من قيام وقعود وجنوب وحركة وسكون وسفر وحضر وغني وفقر

Maknanya : “Menggerakkan (anggota tubuh) ketika berdzikir maupun membaca (al-qur’an) bukanlah sesuatu yang haram ataupun makruh. Akan tetapi sangat dianjurkan dalam semua kondisi orang-orang yang sedang berzikir baik ketika berdiri, duduk, berbaring, bergerak, diam, dalam perjalanan, di rumah, ketika kaya, ataupun ketika faqir.”

Semoga bermanfaat dan mendapat rahmat. Marilah kita mngamalkannya lebih baik, lebih tekun dan lebih ikhlas lagi untuk mencapai ridha Allah hari ini dan selamanya.

F. MATA HATI BASHIRAH ALAT DAN TEMPAT MEMANDANG ALLAH

Hati adalah bashirah alat dan tempat memandang Allah Swt. Sebagaimana disebutkan Syekh Amin Qurdi dalam Kitab Tanwirul Qulub :

اِنَّ الْقَلْبَ مَحَلُّ اللهِ الْغَفَّارِ وَهُوَ مَوْضِعُ الْاِيْمَانِ وَمَعْدَنُ الْاَسْرَارِ وَمَنْبَعُ الْاَنْوَارِ, بِصِلَاحِهِ يَصْلُحُ الْجَسَدُ كُلَّهُ بِفَسَادِهِ يَفْسُدُ الْجَسَدُ كُلَّهُ كَمَا بَيَّنَهُ لَنَا النَّبِيُّ الْمُخْتَارُ وَلَايَكُوْنُ الْعَبْدُ مُؤْمِنًا اِلَّا بِعَقْدِ الْقَلْبِ عَلَى مَا يُحِبُّ الْاِيْمَانَ بِهِ وَلَا تُصَحُّ عِبَادَةٌ مَقْصُوْدَةٌ اِلَّا بِنِيَّةٍ فِيْهِ. (تنوير القلوب

Artinya : Sesungguhnya qalbu adalah satu tempat untuk memandang atau melihat Allah yang bersifat pengampun. Qalbu juga tempat diletakkannya iman dan juga medannya segala rahasia. Hati juga tempat terbitnya segala Nur Ilahi. Dengan bagusnya hati akan baiklah anggota jasad semuanya. Dengan rusaknya Qalbu akan rusaklah anggota jasad semuanya. Begitulah yang dijelaskan oleh Nabi Saw kepada kami. Tiada ada bagi seorang hamba mu'min kecuali ia terikat hatinya atas sesuatu yang disukai imannya. Tiada sah ibadat yang dimaksud kecuali dengan niat dalam hatinya. (Kitab Tanwirul Qulub).

وَقَدْ جَمَعَ الْاَئِمَّةُ عَلَى اَنَّ اَفْعَالَ الْجَوَارِحِ لَاتُقْبَلُ اِلَّا بِعَمَلِ الْقَلْبِ وَعَمَلُ الْقَلْبِ يُقْبَلُ بِدُوْنِهَا وَلَوْ لَمْ تُقْبَلْ اَعْمَالُ الْقَلْبِ لِمَا قُبِلَ الْاِيْمَانُ, لِاَنَّ الْاِيْمَانَ هُوَ التَّصْدِيْقُ بِالْقَلْبِ. قَالَ تَعَالَى : كَتَبَ فِى قُلُوْبِهِمُ الْاِيْمَانَ (المجادلة 22) وَقَالَ : آولَئِكَ الَّذِيْنَ امْتَحَنَ اللهُ قُلُوْبِكُمْ لِلتَّقْوَى (الحجرات 3)

Artinya : Sesungguhnya telah sepakat Para Imam bahwa : "Sesungguhnya segala perbuatan anggota tiada diterima (Allah) kecuali diikuti amal qalbi, dan amal qalbi diterima tanpa amal anggotanya, dan andaikata tiada diterima amal-amal hati untuk apa diterimanya iman, Karena sesungguhnya iman itu membenarkannya dengan hati.Allah ta'ala berfirman : "Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan" Al Mujadalah ayat 22. Firman Allah ta'ala  : "Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertaqwa." Al Hujurat ayat

وَرَوَيْنَا فِى الصِّحَاحِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ وَاَنَا مَعَهُ اِذَا ذَكَرَنِيْ فَاِنْ ذَكَرَنِيْ فِى نَفْسِكَ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِيْ وَاِنْ ذَكَرَنِيْ فِى مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلَإِخَيْرٍ مِنْهُمْ. رواه البخاري وغيره

Artinya :Diriwayatkan dalam sebuah hadis qudsi shahih, riwayat Imam Bukhari, Dari Nabi Saw bahwa ia telah bersabda, sesungguhnya Allah telah berfirman : "Aku adalah pada persangkaan hamba-Ku,dan Aku bersamanya, bila hamba-Ku dzikir akandaku maka akulah yang dzikir pada dirinya........(HR. Bukhari dan lainnya).

Kesimpulan :

الذكر يكون بالقلب ويكون باللسان والافضل منه ماكان بالقلب و باللسان جميعا. فان اقتصر على احدهما فالقلب افضل ثم لاينبغى ان يترك الذكر باللسان مع القلب خوفا من ان يظن به الرياء, بَلْ يَذْكُرُ بهما جَمِيْعًا ويقصد به وجه اللهِ تَعَالَى وقد قدمنا عن الفضيل رحمه الله تعالى ان ترك العمل لاجل الناس رياء. لو فتح الانسان عليه باب ملاحظه الناس, والاحتراز من تطرّق ظنونهم الباطلة لانسدّ عَلَيْهِ اكثر ابواب الخير, وضيّع على نفسه شيئا عظيما من مهمات الدين, وليس طريقة العارفين.

Artinya : Dzikir dilakukan terkadang hati, terkadang dengan lisan ( nyaring ). Dan yang Afdal dari padanya menggabung dzikir qalbi dan lisan. Jika dikurangi salah satu dari keduanya maka dzikir qalbi yang afdal. Kemudian tidak semestinya bahwa ia meninggalkan dzikir lisan serta dzikir qalbi karena takut disangka berdzikir riya. bahkan dzikir dengan menghimpunkan keduanya. Dan maksudnya dengan dzikir itu (mengingat) wajah Allah ta'ala.


G. ADAB-ADAB MURID TATACARA MENGAMALKAN DZIKIR THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYAH

Ahli dzikir Sadatina Junaidiyah bila mereka berdzikir selalu memelihara adab-adab dzikir. Mereka juga menjaga tatakrama yang sopan. Sadatina Junaidiyah memberikan patukan adab berdzikir bagi pengikutnya, namun tidak mengikat pada yang ada udzur atau halangan.

Adab dzikir yang dimaksud          :

  1. Bersuci lebih dahulu
  2. Pakaian yang bersih, pakaian warna putih lebih baik
  3. Menutup aurat (pakaian harus menutup aurat)
  4. Selesai shalat (baik shalat fardlu atau shalat sunnat)
  5. Menghadap kearah Kiblad
  6. Duduk Taqdim (جُلُوْسُ التَّقْدِيْمِ) yaitu "Duduk kaki kanan diatas kaki kiri, kedua tangan diletakkan di atas lutut menadah ke langit, telapak kanan terbuka.
  7. Murabithah kepada Guru Mursyidnya (مُرَابِطَة فِى مُرْشِدِهِ)
  8. Membaca Tawassul (اَلتَّوَصُّلُ) hadiyah bacaan fatihah kepada Rasulullah, para Sahabat Rasul saw, kepada Orang tua, kepada sanad silsilah dan guru-guru Mursyid thariqah dan bacaan fatihah Guru yang membai'at kita.
  9. Berniat dzikir dengan ucapan dalam hati :(اِلَهِ اَنْتَ مقصُوْدِيْ وَرِضَاكَ  مَطْلُوْبِيْ اَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ يَا اَللهُ)
  10. Melafalkan kalimat dzikir dengan benar dan tepat.

 

H. LAFADL DAN JENIS DZIKIR YANG DIAMALKAN OLEH MURID

Lafas dan jenis dzikir  pada thariqat al Qaum al Junaidiyah bermacam ragam. Hal ini diharapkan si Dzakir dapat menyauk isi dan makna dari keanekaragaman dzikir dimaksud. Tiga jenis dzikir yang dibaca nyaring          :

1.Dzikir Nafi dan Isbat    yang berbunyi  : LAA ILAAHA ILLALLAAH (لآاِلَهَ اِلّا اللهُ)

2.Dzikir Isbat   yang berbunyi  : ILLALLAAH, ILLALLAAH (اِلّا اللهُ اِلّا اللهُ)

3.Dzikir Ismu Dzat  yang berbunyi  : ALLAAH, ALLAAH (اَللهُ اَللهُ)

Jenis dzikir yang tersembunyi, hanya diucapkan di hati saja yaitu :

1.Dzikir Khafi (اَلذِّكْرُ الْخَفِى) di sini qalbu hati kita mengata kaliamt dzikir : LAA ILAAHA ILLALLAAH (لآاِلَهَ اِلّا اللهُ) berulang-ulang, atau hati kita mengata kalimat dzikir ILLALLAAH, ILLALLAAH (اِلّا اللهُ اِلّا اللهُ) berulang-ulang, atau hati kita mengata kalimat dzikir ALLAAH, ALLAAH (اَللهُ اَللهُ) secara berulang-ulang.

Penyusun Umdatul Hasanah lebih menyukai dzikir kahfi ini berdzikir dengan ketiga-tiganya sekaligus dalam satu Nafas. Misalnya tiga kali dzikir Nafi Isbat, ditambah tiga kali dzikir isbat dan ditambah tiga kali dzikir ismu Dzat, kemudian disambung dengan dzikir Akhfa. Yang penting harus diingat bahwa bila seseorang berdzikir sir ini dibaca dalam hati, maka bilangannya harus sama, begitu pula pada pelaksanaan dzikir zahri (dzikir nyaring) bilangannya harus sama.

2.Dzikir Akhfa (اَلذِّكْرُ الْاَخْفَى) Dzikir ini adalah lanjutan dzikir dari dzikir Khafi. Kedua dzikir ini harus ada petunjuk dari Gurunya, atau Ba'dal Guru Mursyidnya.

 

I. MEMBACA AL ASMA'  UL HUSNA  (اَلْاَسْمَاءُ الْحُسْنَى)

Penyusun Umdatul Hasanah  lebih menyukai bila membaca al Asma' ul Husna  memulainya dengan kalimat          : di bawah ini

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ نَسْاَلُكَ (اَسْاَلُكَ) الرَّحْمَةَ وَالْعَافِيَةَ وَالرِّضَى يَا مَنْ ... هُوَ اللهُ الَّذِىْ لَا اِلَهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمَانُ الرَّحِيْمُ. اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ. اَلْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ. اَلْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر. اَلْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ, اَلْحَلِيْمُ الْعَظِيْمُ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ, اَلْحَفِيْظُ الْمُقِيْتُ الْحَسِيْب الْجَلِيْلُ الْكَرِيْمُ الْرَّقِيْبُ الْمُجِيْبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيْمُ. اَلْوَدُوْدُ الْمَجِيْدُ الْبَاعِثُ  الشَّهِيْدُ الْحَقُّ الْوَكِيْلُ الْقَوِيُّ الْمَتِيْنُ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ الْمُحْصِى الْمُبْدِئُ  الْمُعِيْدُ, اَلْمُحْيِ الْمُمِيْتُ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ  الْوَاجِدُ  الْمَاجِدُ   الْوَاحِدُ  الْأَحَدُ الصَّمَدُ. اَلْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ  الْمُؤَخِّرُ الْأَوَّلُ الْأَخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَلِيُّ الْمُتَعَالُ. اَلْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفْوُ الرَّؤُوْفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. اَلْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِيُّ الْمُغْنِى الْمَانِعُ   الضَّارُّ النَّافِعُ النُّوْرُ الْهَادِى الْبَدِيْعُ الْبَاقِى الْوَارِثُ  الرَّشِيْدُ الصَّبُوْرُ.

Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadis tentang Asma' ul Husna ini, seperti sabda Rasulullah Saw   :

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا مِائَةً اِلَّا وَاحِدًا, اِنَّهُ وِتْرٌ  يُحِبُّ الْوِتْرَ مَنْ حَفَظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ, وَهِيَ اَللهُ الْوَاحِدُ (1 ... رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَةُ.

Artinya : Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah Saw  telah bersabda : " Sesungguhnya bagi Allah itu mempunyai nama 99 nama, 100 nama kecuali satu (yang dirahasiakan), Sesungguhnya Allah itu tunggal dan Dia menyukai yang tunggal, maka barang siapa yang mengafalnya masuk sorga, Nama Allah itu adalah satu.... HR. Ibnu Majah.

عَنْ عَلِيٍ ابْنِ اَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا مَنْ اَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ, هُوَ اللهُ الَّذِىْ لَا اِلَهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمَانُ الرَّحِيْمُ. اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ. اَلْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ. اَلْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر. اَلْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ, اَلْحَلِيْمُ الْعَظِيْمُ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ, اَلْحَفِيْظُ الْمُقِيْتُ الْحَسِيْب الْجَلِيْلُ الْكَرِيْمُ الْرَّقِيْبُ الْمُجِيْبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيْمُ. اَلْوَدُوْدُ الْمَجِيْدُ الْبَاعِثُ  الشَّهِيْدُ الْحَقُّ الْوَكِيْلُ الْقَوِيُّ الْمَتِيْنُ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ الْمُحْصِى الْمُبْدِئُ  الْمُعِيْدُ, اَلْمُحْيِ الْمُمِيْتُ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ  الْوَاجِدُ  الْمَاجِدُ   الْوَاحِدُ  الْأَحَدُ الصَّمَدُ. اَلْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ  الْمُؤَخِّرُ الْأَوَّلُ الْأَخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَلِيُّ الْمُتَعَالُ. اَلْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفْوُ الرَّؤُوْفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. اَلْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِيُّ الْمُغْنِى الْمَانِعُ   الضَّارُّ النَّافِعُ النُّوْرُ الْهَادِى الْبَدِيْعُ الْبَاقِى الْوَارِثُ  الرَّشِيْدُ الصَّبُوْرُ.(2  رَوَاهُ التِّرْمِذِى وَغَيْرُهُ


J. SILSILAH SANAD TALQAIN DZIKIR THARIQAT QAUM SUFI

Silsilah (sanad) Talqin Dzikir Kaum Sufi (Thariqat)

Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani

Dikutip dari Artikel “Sanad-silsilah-talqin-kaum-sufi” bahwa adapun penjelasan tentang sanad (silsilah) kaum sufi dalam mendikte dan membimbing secara lisan (talqin) kalimat Tauhid: La Ilaha Illallahu (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah) kepada para murid (para pemula yang ingin mencari thariqat) adalah sebagaimana yang diriwayatkan berikut ini: Bahwa Rasulullah Saw. pernah mendikte dan membimbing para Sahabatnya secara lisan akan kalimat Tauhid, La Ilaha IllaLlahu (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah) secara berjamaah dan individu. Dimana silsilah sanad mereka bersambung dan masing-masing kepada jamaah kaum yang dibimbing.

 DALIL TALQIN DZIKIR  BOLEH SECARA BERJAMA’AH

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabrani dan lain-lain dengan sanad yang baik (hasan),dari Sadad bin Aus dan dibenarkan oleh Ubadah bin Shamit, yang menceritakan: Suatu hari kami pernah berkumpul bersama Rasulullah Saw, lalu beliau bertanya, ‘Apakah diantara kalian terdapat orang luar (gharib) [yakni, ahlul-kitab]?”. Lalu kami (para Sahabat) menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk menutup pintu dan berkata, ‘Angkatlah tangan kalian dan ucapkan: “La Ilaaha Illallah” (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah). (لَاإلهَ اِلَّا اللهُ)” Sadad bin Aus berkata: Kemudian kami mengangkat tangan kami sesaat dan mengucapkan kalimat, “La Ilaha IllaLlahu” (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah).

“Lalu   Rasulullah   meletakkan   tangannya    sembari berdoa  : “Segala puji  hanya milik  Allah, ya Allah, sesungguhnya   Engkau  telah  mengutusku  dengan  membawa Kalimat ini, Engkau memerintahku dengan Kalimat ini,  Engkau  telah menjanjikanku sorga  atas Kalimat   ini,  dan  sesungguhnya  Engkau   tidak   akan  mengingkari    janji.“  Kemudian  Rasulullah  Saw.   berkata    kepada    para    Sahabat,    “Apakah   kalian   tidak senang, sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian ?”

Ini adalah   dalil bagi  para guru  thariqat   dalam   men-talqin   dzikir  kepada  para jama’ah  secara   bersamaan.    Adapun   dalil mereka   dalam   men-talqin   dzikir secara sendiri-sendiri,   maka  saya  tidak  mendapatkannya    dalam  kitab-kitab para ahli hadis yang sempat saya telaah,   akan tetapi Tuan Guru Yusuf  al-Ajami,  seorang guru silsilah telah meriwayatkan dalam  risalahnya  dengan sanad yang  mutashil (sambung)  sampai kepada Sayidina  Ali bin Abu Thalib r.a. yang mengatakan:

 يَا رَسُوْلَ اللهِ دَلَّنِىْ عَلَيَّ أَقْرَبُ الطُّرُقِ إِلَى اللهِ وَأَسْهَلَنِىْ عَلَى عِبَادِهِ وَأَفْضَلُهَا عِنْدَ اللهِ تَعَالَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: يَا عَلِيُّ أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِىْ لَاإلهَ اِلَّا اللهُ, فَقَالَ غَمِّضْ عَيْنَيْكَ وَاسْمِعْ مِنِّىْ ثُمَّ قُلْهَا ثَلَاثُ مَرَّاتٍ

 Aku pernah meminta  kepada  Rasulullah   Saw,   “Tunjukkan   aku jalan (cara) yang lebih dekat kepada Allah Azza  wa -Jalla  dan  paling mudah untuk   dilakukan   oleh para   hamba serta paling utama di sisi Allah Swt  .” Maka Rasulullah Saw. berkata, “Wahai Ali,  engkau harus   melanggengkan  dzikir  kepada    Allah   Azza   wa-Jalla,  baik secara  sirri   (rahasia) atau  keras  (terang-terangan).   ” Lalu  aku  menyahut,  “Semua orang bisa berdzikir, wahai Rasulullah! Akan tetapi yang  kuinginkan adalah engkau mau   mengkhususkan    sesuatu untukku.” Maka Rasulullah Saw bersabda:

“Jangan, wahai Ali, sebaik-baik apa yang aku  dan para nabi terdahulu ucapkan adalah kalimat,    ‘La Ilaha IllaLlah.’ (لَاإلهَ اِلَّا اللهُ)  Dan  andaikan  tujuh  langit  dan  tujuh bumi berada pada piringan  neraca  [yang satu]  sedangkan  kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’  berada  di  piringan neraca [yang lain], tentu kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ (لَاإلهَ اِلَّا اللهُ) akan tetap mengungguli (lebih berat).”

Untuk menguatkan Hadis ini adalah Hadis yang diriwayatkan Ibnu Hibban, al-Hakim dan lain-lain   dengan   Hadis   Marfu’   (sampai   kepada  Rasulullah Saw): Bahwa Musa a.s. pernah berkata kepada Tuhannya, “Ya Tuhan, ajari  aku  sesuatu, yang dengan sesuatu itu aku bisa mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu.” Kemudian Allah  menjawab, “Wahai Musa,    ucapkan,   ‘La Ilaha IllaLlah’    (Tiada  Tuhan  selain Allah).”  (لَاإلهَ اِلَّا اللهُ) Lalu Musa berkata, “Wahai Tuhan, seluruh hamba-Mu telah mengucapkan  kalimat ini,”  Allah menjawabnya, “Ucapkan,    ‘La Ilaha IllaLlah’    (Tiada  Tuhan   selain   Allah).”   Musa balik berkata, “Ya Tuhanku, aku ingin sesuatu yang Engkau khususkan untukku. “ Allah menjawab, “Wahai Musa,   andaikan tujuh   langit   dan tujuh  bumi berada pada piringan neraca [yang satu] sedangkan kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ berada  di piringan neraca [yang lain], tentu  kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ akan miring (lebih berat).”

Hadis ini adalah sebanding dengan apa yang ditanyakan Ali r.a. kepada Rasulullah Saw. Dan dalam Hadis lain diriwayatkan bahwa  Rasulullah Saw. Pernah  berkata  kepada Ali r.a., “Wahai Ali, Kiamat tidak akan segera terjadi  sementara di muka bumi ini masih ada orang yang mengucapkan, Allah’.”

Tuan Guru Yusuf al-Ajami   mengatakan:  Kemudian Ali r.a. meminta kepada Rasulullah Saw. untuk  membimbing dzikir  secara lisan   (talqin) sembari berkata: “Bagaimana aku berdzikir?” Maka  Rasulullah  Saw. berkata,  “Pejamkan kedua matamu dan  dengarkan dariku   tiga  kali,  kemudian  kamu ucapkan,  La Ilaha IllaLlah  (Tidak ada Tuhan selain Allah)   tiga kali,  sementara     aku   mendengarkanmu.”   Kemudian   Rasulullah Saw. Mengucapkan:   La Ilaha IllaLlah    (Tidak ada Tuhan selain Allah)   sebanyak  tiga  kali dengan   memejamkan kedua   matanya   dan   mengeraskan suaranya, sementara  Ali mendengarkannya.   Lalu Ali r.a.   menirukannya dengan mengucapkan La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) sebanyak tiga kali dengan memejamkan kedua  matanya dan mengeraskan suaranya, sementara Nabi Saw. mendengarkannya. 

Saya tidak menemukan dalil dan landasan  tentang cara yang diajarkan Rasulullah Saw. kepadaAli r.a. ini. Sementara hanya Allah yang Mahatahu.

Tuan Guru Yusuf al-Jami —rahimahullah  mengatakan: Rasulullah Saw.   Memerintah kan para Sahabat untuk menutup  pintu ketika beliau hendak  membimbing dzikir secara lisan kepada para  Sahabatnya dengan  lebih  dahulu bertanya,  ‘Apakah diantara kalian terdapat orang luar (gharib) [yakni, ahlul-kitab]?”—sebagaimana Hadis di muka— adalah untuk mengingatkan   bahwa   thariqat   kaum sufi dibangun atas dasar ketertutupan. ini berbeda    dengan    Syariat suci.  Sehingga   seorang pengikut thariqat kaum sufi tidak diperkenankan membicarakan hakikat di depan orang   yang  tidak meyakininya, karena dikhawatirkan bisa berakibat mengingkarinya, dan kemudian membenci!

Dari sini sebagian dari para ahli hadis mengingkari bahwa Hasan al-Bashri pernah mendapatkan    bimbingan   secara  lisan tentang dzikir kalimat (Tidak ada Tuhan selain Allah dari Ali r.a.,   karena sangat langkanya dan sedikitnya argumentasi untuk menguat kan akan hal itu   secara   masyhur.   Bahkan   sebagian  dari mereka juga mengingkari bahwa    Hasan al-Bashri     sempat   berkumpul dengan Ali bin Abu Thalib r.a., apalagi tentang kesempatan   mendapatkan   bimbingan thariqat dari Ali r.a. Tapi yang benar, ia sempat berkumpul dengan Ali r.a. dan ia sempat   mendapatkan bimbingan secara lisan tentang dzikir La Ilaha IllaLlah    (Tidak ada  Tuhan selain Allah)  dari Ali r.a. dan Ali pun sempat memakaikan serpihan kain (khirqah) kepada al-Hasan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dan muridnya,   al-Hafizh Jalaluddin   as-Suyuthi   rahimahumallah meriwayatkan, dimana ia mengatakan bahwa  sanadnya sahih dan para perawinya juga bisa dipercaya: Sesungguhnya Hasan al-Bashri pernah berkata: ‘Aku pernah mendengar Ali r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda:   ‘Umatku  ibarat hujan, tidak diketahui mana yang terbaik, yang pertama atau yang terakhir?’.”

Dalam   riwayat   lain   dari   Hasan al-Bashri   yang   mengatakan:  Aku  pernah mendengar  Ali r.a.    di Madinah,   ’dimana  ia mendengar suara, lalu ia bertanya: “Apa gerangan ini?” Orang-orang menjawab, “Utsman bin Affan  terbunuh!!”   Lalu ia berkata: “Ya Allah,   sesungguhnya   aku  bersaksi  kepada-Mu,  bahwa  aku tidak rela dan tidak peduli [siapa pun pembunuhnya].”

Dalam   Musnad Ibnu Musdi,  dari   Hasan al-Bashri   yang  berkata: “Aku pernah berjabat tangan dengan Ali bin  Abu  Thalib r.a.”  Jalaluddin  as-Suyuthi —rahimahullah mengatakan: “Menurut  hemat  saya  dan  juga  sekelompok  para  Huffazh (penghafal Hadis) riwayat Hasan al-Bashri dan Alii bin Abu Thalib r.a. memang benar dan ada.”

Jalaluddin  as-Suyuthi — rahimahullah — juga  mengatakan:  Demikian halnya apa yang dikemukakan guru kami, al-Hafizh Ibnu Hajar juga  sama dengan pernyataan kami, dimana   ia  memberikan  dukungan,  dengan  mengatakan:  Hal ini  bisa diperkuat oleh berbagai aspek: Pertama,   bahwa   apa   yang  ditetapkan  (mutsbat) akan didahulukan daripada yang meniadakan (menafikan);  Kedua, al-Hafizh  menyebutkan, bahwa Hasan al-Bashri pernah shalat di belakang Utsman bin Affan r.a..  Dan ketika Utsman terbunuh, maka ia shalat di belakang Ali r.a. ketika ia datang di Madinah. Ia juga pernah berkumpul dengan Ali r.a. setiap hari sebanyak lima kali. Syekh Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan hal ini secara panjang lebar pada bagian yang ia tulis mengenai kebenaran mengenakan serpihan  kain, pada thariqat  al-Qadiriah, ar-Rifa’iah dan  as-Suhrawardiah. Maka sebaiknya anda merujuk kembali pada penjelasannya

Maka   bisa diketahui,  bahwa  sanad talqin  (bimbingan  dzikir secara lisan)  dan mengenakan serpihan kain  (khirqah)  yang berlaku di kalangan ulama salaf antara satu dengan yang  lain tidak  terdapat  sanad  yang tetap sesuai dengan cara yang ditempuh para ahli hadis,  karena  mereka  telah berprasangka baik terhadap generasi pendahulu nya.  Sampai   pada  akhirnya  muncul al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi   serta   orang-orang   yang   sependapat  dengan   mereka. Kemudian mereka menyatakan benar dan sahih, bahwa Hasan al-Bashri pernah mendengar Ali r.a. Mereka juga menjadikan sanadnya bersambung (mutashil) sampai kepada al-Bashri. Maka anda jangan   heran  dan merasa   aneh, wahai   saudaraku,  bila   sebagian  para ahli hadis menyatakan   Mauquf (berhenti)  tentang   persambungan sanad mengenakan serpihan kain dan   bimbingan dzikir secara   lisan, karena   memang  hal itu tidak bisa dilakukan, dimana sebagian   besar  kaum sufi  merasa kesulitan untuk mengeluarkan (takhrij) dan kitab-kitab para ahli hadis. Semoga Allah Swt. senantiasa  memberi rahmat kepada Ibnu Hajar dan Jalaluddin as-Suyuthi yang telah menjelaskan tentang persambungan sanad masalah tersebut.

Insya Allah hal mi bakal kamijelaskan lebih lanjut ketika kami membicarakan teiitang sanad mengenakan serpihan kain, dimana Syekh Muhyiddin Ibnu al-Arabi tidak pernah melihat persambungan sanad mengenakan serpihan kain melalui cara menukil (mengalihkan kepada orang lain) secara lahiriah. Kemudian ia mengambilnya melalui Nabi Khidhir a.s. ketika ia sedang berkumpul dengannya, sampai akhirnya dijadikan sebagai rujukan dalam sanad. Dan segala puji hanya milik Allah.

Bila sekarang anda telah tahu akan kebenaran dan kesahihan sanad kaum sufi dan sambungnya sanad taiqin dan Nabi Saw. kepada Ali bin Abu Thalib r.a., maka Ali r.a. juga mentaiqin Hasan al-Bashri, kemudian Hasan al-Bashri men-talqin Habib al-Ajami, dan Habib al-Ajami men-talqin Dawud ath-Tha’i, kemudian Dawud ath-Tha’i men-talqin Ma’ruf al-Karkhi, kemudian Ma’ruf al-Karkhi men-talqin Sari as-Saqathi, kemudian Sari as-Saqathi men-talqin Abu al-Qasim al-Junaid, kemudian al-Junaid men-talqin al-Qadhi Ruwaim, kemudian Ruwaim men-talqin Muhammad bin Khafif asy-Syirazi, kemudian Ibnu Khafif men-talqin Abu al-Abbas an-Nahawandi, kemudian an-Nahawandi men-taiqin Syekh Faraj az-Zanjani, kemudian az-Zanjani men-talqin Syekh Syihabuddin as-Suhrawardi, kemudian Syekh Syihabuddin men-talqin Syekh Najibuddin Burghusy asy-Syirazi, kemudian Ibnu Burghusy men-talqin Syekh Abdush-Shamad an-Nathtani, kemudian Syekh Abdush-Shamad men-talqin Syekh Hasan asy-Syamsiri, kemudian asy-Syamsiri men-talqin Syekh Najmuddin, kemudian Syekh Najmuddin men-talqin Syekh Mahmud al-Ashfahani, kemudian Syekh Mahmud men-talqin Syekh Yusuf al-Ajami al-Kurani, kemudian Syekh Yusuf men-talqin Syekh Hasan at-Tustari yang dimakamkan di dekat jembatan al-Muski Mesir al-Mahrusah, kemudian Syekh Hasan men-talqin Syekh Ahmad bin Sulaiman az-Zahid, kemudian az-Zahid men-talqin Syekh Madyan, kemudian Syekh Madyan men-talqin Syekh Muhammad, putra dan saudara perempuan Madyan, Tuan Guru Muhammad men-taiqin Syekh Muhammad as-Surawi dan Syekh Ali al-Murshifi. Kedua Tuan Guru tersebut yang membimbing kami bertobat dan men-talqin hamba yang selalu membutuhkan pertolongan Allah ini Abdul-Wahab bin Ahmad asy-Sya’rani, penulis risalah ini.

Kemudian saya juga pernah mendapatkan bimbingan dzikir secara lisan (talqin) dari Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi, seorang murid dan kedua guru saya yang terakhir tersebut, dimana beliau membimbing saya dalam bertobat dan memberi izin saya untuk men-talqin dzikir dan mendidik para murid sufi, untuk meniru dan mencari berkah terhadap thariqat kaum sufi..

Sayajuga memiliki jalur thariqat lain yang sanadnya lebih dekat dan kedua sanad di atas, dimana saya pernah mendapatkan bimbingan secara lisan dari Syekh Islam Zakaria al-Anshani, dimana ia mendapatkan bimbingan dari Tuan Guru Muhammad al-Ghamari, murid dari Tuan Guru Ahmad az-Zahid, teman dari Syekh Madyan. Sehingga silsilah antara saya dengan Syekh az-Zahid hanya ada dua orang. Darij alur ini saya sejajar dengan Tuan Guru Muhammad as-Surawi, guru dari Syekh Muhammad asy-Syanawi. Akan tetapi dan jalur ini tidak ada yang mengizinkan saya untuk men-talqin dan mendidik para murid sufi, selain Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi.

Saya juga merniliki jalur thariqat lain, selain jalur-jalur di atas, dimana antara saya dengan Rasulullah Saw. hanya terdapat dua orang silsilah. Jalur ini saya dapatkan bimbingan dari Tuan Guru Ali al-Khawwash, dimana dia pernah mendapatkan bimbingan dari Tuan Guru Ibrahim al-Matbuli yang langsung mendapatkan bimbingan dari Rasulullah Saw. secara sadar dengan lisan dan dengan cara yang sudah dikenal di kalangan kaum sufi di alam ruhaniah. Kemudian Tuan Guru Ali al-Khawwash sebelum wafat juga mendapatkan bimbingan langung dari Rasulullah Saw. tanpa perantaraan silsilah orang lain, sebagaimana yang pernah didapatkan oleh gurunya, Syekh Ibrahim al-Matbuli. Dengan demikian antara saya dengan Rasulullah Saw. hanya ada satu orang silsilah. Jalur thariqat ini hanya saya sendiri yang bisa mendapatkan di Mesir sampai saat ini. Sebagaimana yang saya jelaskan dalam Kitab al-Minan wal-Akhlaq dan dalam Kitab al-’Uhud al-Muhammadiyyah. Dan hanya Allah yang Mahatahu.

Ketika Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi —rahimahullah— membimbingku dzikir secara lisan, ia menyenandungkan bait syair berikut:  Aku bingung di malarnku, selagi aku hidup. Jika aku mati, maka siapa yang akan bingung setiap malamnya setelahku, Kemudian dia berkata kepadaku: Sudah menjadi tradisi para guru thariqat sufi, setelah mereka men-talqin muridnya akan menyebutkan sanad (silsilah) talqin yang mereka dapatkan dari guru sebelumnya, dan menyebutkan sanad mengenakan serpihan kain (hirqah) kepada sang murid sebelum sang guru mengenakan serpihan kain tersebut kepada sang murid. Dia juga memberi tahu saya, bahwa di Negara Yaman sana terdapat jama'ah yang memiliki sanad talqin bacaan shalawat kepada Rasulullah Saw. Mereka membimbing bacaan shalawat kepada sang murid, sehingga mereka sibuk untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Sang murid akan terus memperbanyak shalawat kepada Nabi, sampai akhirnya ia bisa bertemu dengan Rasulullah Saw. secara sadar dan berbicara secara lisan. Ia bisa bertanya kepada Nabi tentang beberapa kejadian sebagaimana seorang murid yang bertanya kepada gurunya. Tingkatan spiritual sang murid ini ternyata naik begitu cepat dalam waktu hanya beberapa hari, sehingga ia tidak butuh lagi bimbingan dari para guru sufi, karena langsung dibimbing oleh Rasulullah Saw. sendiri.

Syekh Muhammad  asy-Syanawi  melanjutkan pembicaraannya  : Guru kebenaran dalam  menempuh  jalur  thariqat  tersebut  adalah  ia  bisa  bertemu  dengan   Nabi Saw sebagaimana   yang   kami  sebutkan.  Kalau  ia tidak  berhasil  bertemu  dan berkumpul dengan  Nabi  Muhammad Saw.  Maka  jalur  thariqatnya  jelas tidak benar. Dan diantara orang yang bisa berhasil bertemu dengan Nabi Saw.adalah Syekh Ahmad az-Zawawi ad-Damanhuri, dimana  wirid shalawatnya  kepada Nabi Saw. Setiap  harinya  sebanyak lima puluh ribu kali shalawat dengan lafal berikut:

- اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ  

“Ya Allah,   semoga  shalawat (rahmat)   tetap  Engkau  berikan  kepada Junjungan kita Muhammad, seorang  Nabi  yang  Ummi  dan  kepada  keluarga serta para Sahabatnya, dan juga salam sejahtera kepadanya.”

Dan diantara  orang yang juga berhasil menempuh jalur ini adalah Syekh Nuruddin asy-Syanwani, pendiri majelis shalawat yang ada di Jami al-Azhar. Termasuk juga orang yang   berhasil   menempuh  jalur ini  adalah  Syekh Muhammad Dawud  al-Mauzalawi, Syekh Muhammad al-Sail ath-Thanaji,   Syekh Jalaluddin  as-Suyuthi  dan  sekelompok orang   yang kami  sebutkan dalam  Mukadimah Kitab al-Vhud  4- Muhammadiyyah dan generasi terdahulu dan sekarang.

Saya mengambil thariqat shalawat mi melaluij alur Syekh  Nuruddin  asy-Syanwani yang   mengatakan:  “Bahwa diantara   syarat-syaratnya   adalah makan makanan yang halal, tidak   menyibukkan diri dengan apa   pun selain apa yang diizinkan oleh Syariat.” Maka segala puji hanya milik Allah, Tuhan Pemelihara alam.


 

Referensi  : 

Artikel “Siapa Saja Yang Berhak Mendapatkan Talqin Dzikir?” https://tqnnews.com/siapa-saja-yang-berhak-mendapatkan-talqin-dzikir/

1).Artikel “Sanad-silsilah-talqin-kaum-sufi” Oleh http://cahayadzikir. wordpress.com  /2012/11/04/

Artikel "Silsilah ( sanad ) Talqin Dzikir Kaum Sufi (Thariqat)" : http://cahayadzikir.wordpress.com/2012/11/04/sanad-silsilah-talqin-kaum-sufi/

Artikel “Sanad-silsilah-talqin-kaum-sufi” Oleh http://cahayadzikir. wordpress.com  /2012/11/04/. 

1).Artikel “Sanad-silsilah-talqin-kaum-sufi” Oleh http://cahayadzikir. wordpress.com  /2012/11/04/

(1)تنبيه الغافلين سورة   149

.  كتاب ارشاد العباد

رواه الترمذى

(-1 الشرقوى على هدهدى

Artikel"Dzikir Hasanah dan Dzikir Darojat" // https://ahmadalif10.wordpress.com/2016/09/19/pembagian-dzikir/

Artikel “Sunnah Dzikir Tahlil Sambil Menggeleng-Gelengkan Kepala” yang ditulis oleh Ulama mendunia Al-Ustadz H. Miftahul Chair, S.Hi. Al Qur’a Surat Ar-Ra'd · Ayat 28” https://quran.nu.or.id/ar-ra'd/28

Al Qur’a Surat Ar-Ra'd · Ayat 28” https://quran.nu.or.id/ar-ra'd/28

1الكتاب الحديث سنن ابن ماجه  رقم 3461

2الكتاب الحديث الجامع الصغير رقم 940

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...