SYEKH WAL IMAM ABU QASIM AL QUSYAIRI (TAHUN 376-465H/986-1073M)
(الشيخ الإمام أبو القاسم القشيرى)
هو الشيخ والإمام أبو القاسم القشيرى أو عبد الكريم بن هوازن بن عبد الملك بن طلحة بن محمد القشيرى
Nama panjangnya adalah Abu Qasim atau Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad al Qusyairi. Ketika ditanya tentang kelahirannya, al Qusyairy mengatakan, bahwa ia lahir di Astawa pada bulan Rablul Awal tahun 376 H. atau tahun 986 M di Negeri Istawa di kota Khurasan ibu kota Naisyaburi, Khurasan adalah salah satu ibu kota terbesar Negara Islam pada abad pertengahan disamping Balkh, Harrat dan Marw. Syekh Syuja' al Hadzaly menandaskan, al Qusyairy wafat di Naisabur, pada pagi hari Ahad, bahwa tanggal 16 Rablul Akhir 465 H./l 073 M. Ketika itu usia Beliau 87 tahun.dan dimakamkan di makam dekat Gurunya Syekh Abu ‘Ali Ad Daqaq. Dan setelah al Qusyairy wafat tak seorang pun berani memasuki kamar pustaka pribadinya dalam waktu beberapa tahun, sebagai penghormatan atas dirinya. Tidaklah begitu banyak diketahui tentang masa kanak-kanak Imam Al Qusyairi ini.Tetapi dia dikenal sebagai anak yatim, ayahnya meninggal ketika dia masih kecil.
Abul Qasim al Qusyary berjanjia akan belajar kepada Abu Qasim al Yamani, dia adalah seorang yang terpandai dalam keluarga al Qusyairiyah. Maka belajarlah dia kepada Abul Qasim al Yamani ini tentang bahasa Arab (Sastera) dan Adab. Dia semula berkeinginan, dan bercita-cita sebagai pegawai pemerintahan. Kemudian dia pergi ke Naisyabur untuk mempelajari suatu ilmu dan ilmu hitumh serta keterampilan lainnya disana.
1. Dia pandai Berkuda Al Qusyairy dikenal sebagai penunggang kuda yang hebat, dan ia memiliki keterampilan permainan pedang serta senjata sangat mengagumkan.dan sulit dikalahkan lawan. Diriwayatkan dia mempunyai seekor Kuda kesayangan yang selama 20 tahun telah mengabdi kepadanya, ketika Imam Al Qusyairy wafat, kuda itu tidak mau makan selama dua Minggu dan akhirnya kuda itu mati, menyusul majikannya. Imam Al Qusyairy hidup pada abad kelima Hijeriyah pada masa Pemerintahan Bani Saljuk.
Kota Naisabur wilayah luas adalah maskasnya Para Ulama pada masa itu, Dikota ini Abul Qasim al Qusyairi diperkenalkan pada Syekh wal Imam Abu ‘Ali Hasan bin ‘Ali bin al Junaid bin Muhammad ad Daqaq. Abu ‘Ali ad Daqaq ini adalah Imam dimasanya. Tatkala dia mendengar kalamnya al Qusyairi yang menajubkan, sungguh Syekh Abu ‘Ali ad Daqaq mendapat firasat pada muridnya yang cerdas dan akhlaknya yang mulia.Begitu pula al Qusyairi ta’jub dengan gurunya akan keindahan kalam dan akhlaknya yang mulia. Akhirnya, al Qusyairy merevisi keinginan semula, dan cita cita sebagai pegawai pemerintahan hilang dari benaknya,Kemudian dia disibukkan dengan menimba ilmu dari Gurunya dan memilih jalan Tharikat dalam hidupnya.
2. Perkahwinan.
Syeikh al-Qusyairy mengawini Fatimah putri gurunya, Abu Ali al-Hasan bin Ali an Naisabury (ad Daqqaq). Fatimah adalah seorang wanita yang memiliki prestasi di bidang pengetahuan sastra, dan tergolong wanita ahli ibadat di masanya, serta meriwayatkan beberapa hadis. Perkawinannya berlangsung antara tahun 405 412 H./1014-1021 M.
3. Putera Puterinya.
Al Qusyairy berputra enam orang dan seorang putri. Putra-putranya menggunakan nama Abdu. Secara berurutan: 1) Abu Sa'id Abdullah, 2) Abu Sa'id Abdul Wahid, 3) Abu Manshur Abdurrahman, 4) Abu an Nashr Abdurrahim, yang pernah berpolemik dengan pengikut teologi Hanbaly karena berpegang pada mazhab Asy'ari. Abu an Nashr wafat tahun 514 H/1120 M. di Naisabur, 5) Abul Fath Ubaidillah, dan 6) Abul Mudzaffar Abdul Mun'im. Sedangkan seorang putrinya, bernama 7) Ammatul Karim. Di antara salah satu cucunya adalah Abul As'ad Hibbatur-Rahman bin Abu Sa'id bin Abul Qasim al Qusyairy.
4. Menunaikan Haji
Maha Guru imam ini menunaikan kewajiban haji bersamaan dengan para Ulama terkenal, antara lain: 1) Syeikh Abu Muhammad Abdullah binYusuf al-Juwainy (wafat 438 H./1047 M.), salah seorang Ulama tafsir, bahasa dan fiqih, 2) Syeikh Abu Bakr Ahmad ibnul Husain al-Balhaqy (384 458 H./994 1066 M.), seorang Ulama pengarang besar, dan 3) Sejumlah besar Ulama ulama masyhur yang sangat dihormati ketika itu.
5. Seorang Yang Aneh
Syekh wal Imam al Qusyairi
adalah seorang yang aneh pada masanya. Tingkatannya yang tinggi dan posisinya
agung dan kehidupan spritualnya dan kebaikannya yang tiada terbilang
banyaknya sangat dikenal oleh
mereka yang hidup saat ini.
6. Seorang Penulis yang Handal
Dia adalah seorang Penulis
yang handal, banyak unkapan yang indah dan karya yang menyentuh bahasanya,
semuanya sangat Teosofis dalam setiap cabang Ilmu Pengetahuan. Allah
mengenugrahi perasaan dan mulutnya bebas dari (Hasyw) yaitu Antropomorfisme,
menyepadankan sifat-sifat makhluk dengan Allah. Saya mendengar dia pernah
berkata : “Sufi itu seperti penyakit
yang disebut BIRSAM, yang bermula dari igauan dan akhirnya diam. Karena jika engkau mencapai ISTIQAMAH
berarti engkau bisu.” Sufisme memiliki dua sisi, Ekstase wajh ( وجه) dan penglihatan ( Namud (نمود) Penglihatan adalah milik pemula dan ekspresi
penglihatan semacam itu adalah IGAUAN.
Ekstase adalah milik para
Ahli dan mustahil mengekspresikan ekstase ketika ekstase telah berlangsung. Selama mereka
hanya menjadi pencari, mereka mengeluarkan aspirasi yang
mulia. Yang tampak igauan bahkan lagi
mereka yang menginginkan (Ahli Hikmah).
Tetapi setelah mereka sampai
maka mereka berhenti dan tidak ada lagi menyatakan sesuatu baik kata ataupun isyarat. Demikian
juga, karena Nabiyullah Musa adalah
seorang Pemula atau Mubtadi (مُبْتَدِئٌ)
Maka semua hasratnya penglihatan akan Allah. Ini terlihat ketika Beliau
menyatkan hasratnya dan berkata :
قَالَ
رَبِّ آرِنِيْ أُنْظُرْ إِلَيْكَ
..... الاعراف 143
Artinya :”Ya Tuhanku,
tampakkanlah Diri Engkau agar aku dapat melihat Engkau.”
QS al A’raf ayat 143.
Ekspresi hasrat yang tidak bisa dicapai ini, seperti igauan.Namun tidak demikian kasusnya dengan Rasul kita Muhammad Saw karena Beliau adalah seorang ahli (Muntabi ) ...(مُنْتَبِعٌ)......dan sangat istiqamah (Mutamakkin ) (مُتَمَكِّنٌ) Ketika seseorang sampai pada maqam hasrat, maka hasratnya terpanakan. Dan Beliau berkata :”Saya tidak bisa memuji Engkau sebagaimna mestinya.” 1)
7.Bai’at Rohaniyah was Sirriyah
Pada Silsilah thariqat al
Junaidiyah al Bagdadiyah (thariqat al Qaum), ada disebutkan istilah Bai’at
Rohaniyah was Sirriyah khususnya susunan atau urutan sanad silsilah jalur
pertama ini pada nomor urut ke 12 sesudah
Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi adalah Imam al Qusyairi silsilah
nomor urut ke 29. Pertanyaannya adalah, mengapa Guru-guru thariqat al
Junaidiyah menyusun atau memberi nomor
urut silsilah sesudah Imam al
Qusyairi adalah Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi?
Dan diberi garis penghubung,
dan tertulis bai’at Sirriyyah. Padahal antara keduanya tidak sezaman hingga ada
beberapa silsilah al Junaidiyah yang dianggap Mahjub atau Mastur. Jawabnya
adalah Imam al Qusyairi menjadi guru dari
Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi
dengan bai'at Sirriyah.
Penyusun kitab al-Risalah
Umdatul Hasanah ...... berpendapat bahwa Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi,
aulia Allah yang berpangkat Rabbany atau wali kutub telah berguru البيعة السرية (berbai'at
sirriyah) kepada Imam al
Qusyairi yang juga berpangkat Rabbany ata Mastur dan Mahjub wali kutub. Jarak tahun antara kedua wali ini
kurang – lebih lima abad atau 500 tahun. Disini mungkin ada 16 generasi
silsilah thariqat al Junaidiyah yang dilewati atau yang Mastur (المستور) atau yang Mahjub.( المحجوب).
Kalau dipandang secara
zahiriyah kedua Imam ini tidak sezaman, tetapi dilihat Bai'ah Rohaniyah atau
Sirriyah keduanya menjadi Guru dan Murid yang bagi kalangan ahli Shufi dan ahli
thariqah sesuatu hal yang lumrah adanya.
Maksud Bai'at Rohaniyah disini, adalah pelimpahan talqin
dzikir kepada seorang Murid yang dilakukan secara sirriyah oleh seorang Guru
Mursyid. Bai'at Sirriyah disini, adalah
janji setia dan ta’at seorang murid
selalu mengamalkan talqin dzikir yang disampaikan secara rohaniyah oleh Gurunya.
Guru Mursyid yang berpangkat aulia
Allah, walaupun raga-badan Mursyidnya berada di alam lain. Dengan izin Allah
dapat mengangkat muridnya di alam zahir yakni alam dunia ini. Wali Allah
tersebut sudah lama wafat, tetapi secara rohaniyah ia dapat berhubungan
bathiniyah, berkonsultasi dan berdialogh dengan muridnya. Sang Guru Mursyid mampu meberikan amalan-amalan
dan dzikir-dzikir kepada sang murid.
Sang Muridpun juga mampu menangkap madad gurunya atau rahasia yang
diajarkannya. Baik sang murid dalam keadaan
terjaga, tafakkur atau keadaan tidur (mimpi), inilah muraqabah awal yang
terjadi pada roh Sadatina al Junaidiyah, yang dikenal pada salah satu pembahasan pokok thariqat al Junaidiyah yakni
"MURAQABAH" yang dinamai dengan MURAQABAH KASYFUL ARWAH " (المراقبة بالكشف
الارواح)
Rabithah Sirriyah dalam silsilah thariqat al Junaidiyah adalah keterikatan, keterpautan dan keterkaitan hati antara satu dengan hati yang lain dari rijal silsilahnya hingga Rasulullah Saw.
Syekh Muhammad az Zahidi
radhiyallahuanhu tersebut dapat berhubungan berdialogh sirriyah kepada Imam al
Kusyairi radhiyallahuanhu setiap sa;at dan waktu, Keadaan ini tidaklah aneh
bagi oarang Ahli Tarekah, tetapi sangatlah aneh bagi orang Ahli Syari’at. Imam
al Ghazali sebelum menulis hadis-hadis Nabi dalam Ihya Ulumuddin Kitabnya “
Selalu berkonsultasi dahulu dengan Nabi Saw” baru ia menulis hadis. Syekh Ahmad
at Tijani kontak langsung batennya dengan Rasulullah Saw, atau bisa juga
“Ia bermimpi berjumpa Rasulullah Saw dan
Rasul membai’at dan mengajarkannya talqin dzikir, yang pada akhirnya mendirikan
Thariqat Tijaniyah.
Syekh Dr. KH. Jalaluddin
dalam “Sinar Keemasan” bukunya cetakan Tahun 1960 bahwa : Muhammad Ali Hanafiah
Nasution (MAHN) kepada gurunya Syekh Dr. KH. Jalaluddin, “ ..........mungkin orang lain pergi ke
Madinah hanya menziarahi Kuburan Nabi Muhammad Saw, tetapi aku dengan rahmat
Allah dapat menziarahi rohaniyah Nabi Muhammad Saw, aku yakin dan percaya bahwa
Nabi Muhammad Saw tidak mati, hanya Nabi Saw itu diwafatkan. Kalau hati kita
sudah bersih dari sifat mazmumah –sifat jahat, insya Allah mudah saja untuk
bertemu dengan rohaniyah Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw pokoknya kalau
kita ikhlas mengerjakan 17 macam mata pelajaran dalam Thariqat Naqsyabandiyah.
Kalau aku dengar ada orang yang bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad Saw maka
aku sungguh percaya kepada orang itu. Jika ada orang yang mengatakan telah
bersalaman berjabat tangan dengan Nabi Muhammad Saw maka aku turut
mempercayainya, sebab aku sendiri telah pula merasai yang demikian itu.
..........
Ini berpendapat Penyusun kitab al-Risalah Umdatul Hasanah
...... bahwa Syekh Muhammad az Zahidi al Wakhshi pada nomor ke 12 pada sanad
dibawah ini selisteng (sezaman) dengan Imam asy Sya’rani lahir tahun 898-973H.
Syekh Muhammad az Zahidi aulia Allah yang berpangkat Rabbany atau wali kutub
telah berguru (berbai'at sirriyah) kepada Imam al Qusyairi pada nomor ke 29
pada sanad dibawah ini yang ia juga berpangkat Rabbany atau Mastur dan
Mahjub wali kutub. Begitu juga ia selisteng
dengan Syekh Abu Abbas Nahawandi, juga
ia selisteng dengan Syekh Ibnu Usman al Hujwiri pengarang Kitab “ Kasyp al
Mahjub”. Jarak tahun antara kedua wali ini kurang – lebih lima abad atau 500
tahun. Disini ada beberapa generasi silsilah thariqat yang dilewati atau yang
Mastur atau yang Mahjub. Kalau dipandang secara zahiriyah kedua Imam ini tidak
sezaman, tetapi dilihat Bai'ah Rohaniyah atau Sirriyah keduanya menjadi Guru
dan Murid yang bagi kalangan ahli Shufi dan ahli thariqah sesuatu hal yang
lumrah adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar