Jumat, 28 Februari 2020

Bab. VII "Riyadhah, Khalwat, Suluk" Kitab "al Risalah Umdatul Hasanah Lil Jama’ah

 BAB. VII

PEMBAHASAN RIYADHAH / KHALWAT/ SULUK

DAFTAR ISI  :

1. PENGERTIAN RIYADHAH ………………………………………………………………..

2. RIYADHAH SANGAT IDENTIK DENGAN SULUK DAN KHALWAT

3.. HUKUM  RIYADHAH, SULUK  ATAU  KHALWAT ………………………………....

4. PENGERTIAN  RIYADHAH  SECARA BAHASA  SYARI’AH…………………………

5.. PENGERTIAN  RIYADHAH  SECARA BAHASA  HAKEKAT ………………………

6. TUJUAN  RIYADHAH SALIK PENGAMAL THARIQAT AL JUNAIDIYAH

7. MENFA’AT RIYADHAH, SULUK  ATAU  KHALWAT   ……………………………….

 8. ADAB-ADAB SEBELUM  MELAKUKAN  RIYADHAH YANG PERLU DIPERHATIKAN DAN PERSIAPKAN

9. TEMPAT MELAKSANAKAN RIYADHAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH

10. RIYADHAH, KHALWAT DAN  SULUK  ………………………………………………….

11. BATAS  DAN WAKTU RIYADHAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH   …………….

12. TIDAK ADA LARANGAN BAGI PARA PENGAMAL PEMULA THARIQAT AL JUNAIDIYAH UNTUK MEMASUKI  KAMAR RIYADHAH.

13. PERSIAPAN  MEMASUKI  KAMAR RIYADHAH-SULUK  ………………………….

14. BEBERAPA SYARAT  RIYADHAH YANG HARUS DIPENUHI SALIK  ………..

15. MEMASUKI KAMAR PERIYADHAHAN PADA KAMAR KHUSUS  ……………….

1. MEMASUKI KHALWAT / RIYADHAH PADA SIANG DAN MALAM PERDANA

2..RIYADHAH MEMASUKI HARI KEDUA SIANG DAN MALAMNYA ……………….

3. RIYADHAH  MASUKI  SIANG KETIGA DAN  MALAMNYA

4. RIYADHAH  MASUKI  SIANG KEEMPAT DAN  MALAMNYA

5. RIYADHAH/ SULUK  MASUKI  SIANG HARI KELIMA, HARI ENAM, HARI TUJUH DAN  MALAMNYA

16. MEMPERBANYAK MEMBACA SHALAWAT (PILIHAN) ATAS NABI SAW

17. RIYADHAH MUSYAHADAH BAGI PTJ THARIQAT ALJUNAIDIYAH

18. PENGAWASAN  GURU MURSYID KEPADA MURID SA’AT RIYADHAH

19. PASAL  PAIDAH – PAIDAH  MELAKUKAN KHALWAT, SULUK-RIYADHAH


 BAB. VII

PEMBAHASAN RIYADHAH / KHALWAT/ SULUK


1.. Pengertian Riyadhah

a. Arti Riyadhah

Ar-Riyadhah (الرياضة) berarti “Latihan-latihan atau Olah Raga” dalam istilah thariqat sufi merujuk pada latihan spiritual dan disiplin diri yang diterapkan oleh pengikutnya (ikhwan) untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, yang dikenal cenderung lebih ringan dan praktis

Dan juga Ar-riyadhah pada thariqat sufi adalah proses latihan spiritual, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), dalam pembinaan akhlak seorang murid لsecara intensif untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui seorang Guru Mursyid.

رَاض – يروض – رياضة او روضة

Riyadhah adalah isim masdar, berasal dari kata kerjanya yaitu “RAADHA-YARUUDHU-RIYAADHAH atau RAUDHAH. Riyadhah  yang maknanya : “Melatih ia” atau “ Olahraga ia” Riyadhah berarti melatih ia akan jiwanya atau berolahraga jiwa dan raganya untuk mengabdi  beribadah kepada Allah Swt.

Riyadhah adalah menukar dan mengganti perangai yang buruk atau perangai yang jelik/ perangai tercela dengan perangai yang baik dan membaikkan perangai Diri yang zahir dan yang batin. Sedangkan Raudhah bermakna kebun atau ladang tempat bercucuk tanam amal kebikan. Bilamana Salik sering bercucuk tanam amal kebikan yang selalu dijaga oleh seorang Mursyid, namun pasti insya Allah akan memanin buah kebaikan yang banyak atau kebikan berlipat ganda dari hasil yang ditanamnya.

b. Arti Suluk dan Khalwat

 Suluk adalah perjalanan spiritual dalam Islam (tasawuf) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menyucikan hati dan memperbaiki akhlak, sering kali melibatkan pengasingan diri (khalwat) dan zikir. Istilah ini berasal dari kata fasluki (menempuh jalan) dalam Al-Qur'an Surat An-Nahl ayat 69, bahwa Orang yang melakukan suluk disebut salik.

ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗ يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗۖ فِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝٦٩

Artiya :Kemudian, makanlah (wahai lebah) dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan-jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perutnya itu keluar minuman (madu) yang beraneka warnanya. Di dalamnya terdapat obat bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.(QS,An-Nahl ayat 69).

Khalwat/Uzlah: Mengasingkan diri dari keramaian di tempat sunyi (seperti masjid atau pondok khusus) untuk fokus beribadah.

Suluk secara harfiah berarti menempuh (jalan). Dalam kaitannya dengan agama Islam dan sufisme, kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. Menempuh jalan suluk (bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (syariat) sekaligus aturan-aturan esoteris agama Islam (hakikat). Ber-suluk juga mencakup hasrat untuk Mengenal Diri, Memahami Esensi Kehidupan, Pencarian Tuhan, dan Pencarian Kebenaran Sejati (ilahiyyah), melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus syariat batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan.

Kata suluk berasal dari terminologi Al-Qur'an, Fasluki, dalam Surat An-Nahl ayat 69, (فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗ)  Fasluki subula rabbiki zululan, yang artinya Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Seseorang yang menempuh jalan suluk disebut salik. Secara keseluruhan, suluk merupakan perjalanan spiritual yang bertujuan untuk mengenal diri dan mencapai kebenaran sejati melalui berbagai praktik ibadah dan displin spiritual.

2. RIYADHAH SANGAT IDENTIK DENGAN SULUK DAN KHALWAT

Para Ulama Sufi, mereka sangat membatasi pengertian Riyadhah, Suluk dan Khalwat, keduanya sangat identik atau sama digunakan pada suatu sestem tharekat sufi dan pengertian keduanya  yaitu melatih diri dan menukar dan melepaskan sifat-sifat jiwa yang tercela menukarnya dengan sifat- sifat yang terpuji

Dalam sebuah  artikel  Mimbar Islam dan Kepenghuluan tanggal  23 Januari 2014 dikatakan bahwa Khalwat secara bahasa berasal dari kata dasar khalata yaitu bercampur. Khalwat merupakan suatu bentuk pergaulan/hubungan secara bebas yang melibatkan lelaki dan perempuan yang ajnabi di tempat sunyi. Ia merupakan suatu ciri pergaulan masyarakat jahiliyyah dan juga berasaskan kepada nilai-nilai dan system hidup jahiliyyah. Bentuk pergaulan seperti ini telah ditolak oleh Islam sejak kedatangan Rasulullah S yang membawa system dan nilai hidup yang dipandu oleh Al-Quran dan Sunnah.

 

3.. HUKUM  RIYADHAH, SULUK  ATAU  KHALWAT

Khalwat dalam istilah fiqh adalah laki-laki menutup pintu untuk berduaan dengan istrinya. Dengan demikian, khalwat terjadi di dalam rumah. Sedang khalwat di jalan tidak disebut khalwat. Dan sama dengan rumah adalah setiap tempat yang orang lain tidak boleh masuk. Yang dimaksud perempuan lain adalah wanita yang selain istri atau mertua, dan tidak ada hubungan keluarga (mahram). Termasuk haramnya khalwat dengan tunangan sendiri sebelum terjadinya akad nikah. Hukumnya khalwat antara laki-laki dan perempuan lain adalah haram secara mutlak.

Aku (Penyusun  Umdatul Hasanah)  pernah membaca dalam sebuah artikel menyatakan bahwa “Khalwat adalah bukanlah  ibadah baru dalam Islam, namun ia termasuk ibadah yang diperintah Allah Swt yang dihukumkan Mubah. Khalwat  (menyepikan dirinya) ini di dilakukan dalam Gua Hera di pegunungan Jabal Nuur di pinggiran kota Mekkah  dicontohkan oleh Nabi Saw. Namun Khalwat  (menyepikan dirinya) bisa juga dilakukan ditempat keramaian adalah sesuatu yang sangat unik, misalnya di pasar dan lainya.

Abu Saud dalam komentarnya tentang penjelasan al Qur’an oleh Fakhr ad-Din al-Razi mengatakan

Makna ayat ini adalah untuk tetap berkhalwat (menyepikan diri) terhadap segala sesuatu kecuali Allah Swt mengingat Nya siang dan malam, dengan tasbih, hamdalah dan tahlil, dan memutuskan dirimu dengan seluruh kemampuan yang kamu miliki, and mendekat kepada Nya melalui tingkat-tingkat (maqam) meditasi sedemikian rupa sehingga kamu tidak melihat siapapun kecuali Dia, dan meninggalkan hubungan dengan selain Dia melalui meditasi itu.

Bentuk meditasi Islam didasarkan pada khalwat (menyepi). Bukti tentang ini dalam al Qur’an bisa didapatkan dalam kisah Mariam ibu Nabi Isa Alaihis Salam.

Maka Tuhannya menerima (doa) nya dengan sebuah penerimaan yang pemurah, dan mengakibatkan dia tumbuh secara sempurna, dan menjdikan Nabi Zakaria sebagai walinya. Setiap kali Nabi Zakharia Alaihis Salam mengunjunginya di tempatnya menyepi, dia mendapatinya bersama dengan kebutuhannya sehari hari (rezeki - makanan minuman) nya. Dia bertanya :” Ya Mariam  dari mana engkau mendapatkan ini?” Dia menjawab :”Ini dari Allah. Sesungguhnya, Allah memberi kepada siapapun yang Dia kehendaki tanpa takaran.” (3:37)

Surat Maryam ayat 3-11 berbunyi  :

اِذْنَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وهَنَ الْعَظْمُ مِنَّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّاْسُ شَيْبًا وَلَمْ اَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ وَلَدُنْكَ وِلِيًّا

يَرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

يَا زَكَرِيًّا اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا

قَالَ رَبِّ اَنَّى يَكُوْنُ لِيْ غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا

قَالَ كَذَالِكَقلى قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تُكَ شَيْئًا

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِيْ آيَةًقلى  قَالَ آيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ لَيَالٍ سَوِيًّا

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحَى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

3.Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.

4.Ia Berkata "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku Telah lemah dan kepalaku Telah ditumbuhi uban, dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku.

5.Dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadap mawaliku[898] sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah Aku dari sisi Engkau seorang putera,

6.Yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai".

7.Hai Zakaria, Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan Dia.

8.Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang mandul dan Aku (sendiri) Sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua".

9.Tuhan berfirman: "Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan Sesunguhnya Telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali".

10.Zakaria berkata: "Ya Tuhanku, berilah Aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu sehat".

11.Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.

[898] yang dimaksud oleh Zakaria dengan mawali ialah orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan tongkat istapit urusannya sepeninggalnya. Yang dikhawatirkan Zakaria ialah kalau mereka tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik, Karena tidak seorangpun diantara mereka yang dapat dipercayainva, oleh sebab itu dia meminta dianugerahi seorang anak.

Mengungkapkan kisah tentang Shahabat Gua (Kahfi), Allah bersabda dalam al Qur’an bahwa mereka diperintahkan :

Pergilah kalian ke Gua itu : Tuhanmu akan mengguyur mu dengan Rahmat Nya mengatur urusanmu menuju kemudahan. (18:16)

Demikian juga, khalwat (menyepi) ada dalilnya dalam Sunnah. Bukhari melaporkan bahwa Aisyah R.a. mengatakan :

Nabi Saw senang sekali berkhalwat (menyepikan dirinya). Beliau Saw berkhalwat (menyepikan diri). dalam Gua Hira.

Imam  Nawawi menjelaskan Hadits Aisha R.a. : Berkhalwat (menyepi) bersama dengan Satu yang kamu cintai adalah sebenar benar khalwat. Itu adalah jalan para shalih, dan itu adalah jalan para ‘alim.

Dia berkata, dalam penjelasannya dalam Salih Muslim :

Nabi Saw berkata : “Saya dicipta untuk mencintai khalwat,” karena dengannya qalbu akan kosong dari semua kehidupan duniawi ini. Qalbu itu akan dalam keadaan damai Hal ini membantu memperdalam meditasi pada Hadhirat Ilahi. Dengannya, keterikatan seseorang dengan dunia akan berkurang.

Dengannya, pengabdiannya akan bertambah. 

Imam Zuhri berkata  :

Saya heran dengan orang orang, bahwa mereka tidak melaksanakan khalwat. Nabi Saw melakukan banyak hal kemudian meninggalkannya, namun dia Saw tidak pernah berhenti melakukan khalwat  sampai meninggalnya.

Abu Jamrah berkata bahwa ia  menjelaskan sunnah ini dari Aisyah R.a.

Ketika Nabi Saw menyepikan diri (khalwat), meninggalkan ummatnya dan melepaskan dirinya dari dunia, dia Saw menerima wahyu dari Jibril a.s. dalam Gua Hira. Siapapun yang akan meniru Nabi Saw dalam melakukan khalwat, dibawah perintah shaykhnya, akan diangkat ke maqam orang suci (awliya Allah).

Bukti pengaruh, Pentingnya  khalwat adalah bahwa Nabi Saw melalui khalwatnya dalam Gua Hira, diangkat kepada  maqam di mana beliau Saw menerima wahyu. Dalam khalwatnya buah pertamanya adalah mimpi yang benar, dan dari maqam ini beliau Saw diangkat pada Malam Mi’raj, sampai beliau mencapai Hadhirat Ilahiah ke maqam “dua busur jaraknya atau lebih dekat.” (53:9)

Semua maqam maqam ini adalah hasil dari khalwatnya dalam Gua Hira. Kita belajar dari sini, jika kita mengikuti jejak langkah Nabi Saw , kita akan diangkat dari maqam satu ke maqam lainnya sampai kita  mencapai maqam awliya Allah yang tinggi, dan kita akan mendapati diri kita dalam Hadhirat Ilahiah.

Shaykh Abd al-Qadir berkata  :

Dari  Gua Hira, dimana Nabi Saw ber-khalwat, cahaya mamancar, fajar menyingsing, dan matahari terbit. Gemerlap pertama cahaya Sufisme Islam telah menyambar. Tak pernah Nabi Saw meninggalkan  khalwatnya, bahkan setelah meninggalkan Gua Hira. Sepanjang hidupnya beliau Saw meneruskan latihan khalwat (‘itikaf) nya selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Ini memperagakan bahwa sepanjang hidupnya, Nabi Saw  meneruskan khalwatnya secara tetap. Tentu saja tugas maha berat menyampaikan Risalah Allah kepada ummat manusia dan membangun  masyarakat beriman membuat beliau Saw harus mengurangi jumlah waktu kesendiriannya. Namun untuk para pengikutnya, tetap saja empat puluh hari adalah jumlah minimumnya.

4. PENGERTIAN  RIYADHAH  SECARA BAHASA  SYARI’AH

Maksud Riyadhah menurut bahasa Syari’ah bagi Pengamal Thariqat al Junaidiyah adalah melatih diri dan menukar dan melepaskan sifat-sifat jiwa yang tercela zahir dan batin dengan menghiasi akhlak yang mulia dalam hubungan dengan Allah Swt, dan hubungan dengan sesama manusia dan   begitu juga hubungan sesama makhluk lainnya binatang dan tumbuh-tumbuhan dan lainnya. Bahkan hubungan diri sendiri dibawah bimbingan seorang Guru Mursyid atau Badal Guru Mursyidnya.. Akhlak yang mulia itu seperti sifat siddiq, Amanah, Jujur, Tablik, juhud, qana’ah dan lainnya.

 

5.. PENGERTIAN  RIYADHAH  SECARA BAHASA  HAKEKAT

Maksud Riyadhah secara bahasa Hakekat  adalah pelatihan dan pencurahan hati dan jiwa atau pengosongan hati kecuali dicurahkan kepada Allah Swt semata, tiada ada latihan jiwa yang semacam itu yang bagus kecuali dengan jalan berkhalwat atau Riyadhah yakni duduk di tempat yang gelap, jika tidak bisa ditempat yang agak gelap, maka membungkus kepalanya atau menyelimuti kepalanya dengan kain, atau menyelimuti – menutup kepalanya dengan kain ringan atau kain kasa (sorban tipis ) atau kain buruk/kain kasar. Karena sesungguhnya yang demikian itu contoh disaat keadaan riyadhah. Hal keadaan begitu akan di dengar panggilan Allah Swt akan jiwanya hingga akhirnya (Salik  Pengamal Thariqat al Junaidiyah) akan menyaksikan akan ke Agung an  Tuhannya.

Salah satu yang harus dijalani oleh Salik yang melakukan riyadhah  selalu bermuraqabah Aqrabiyyah (المراقبة الاقرابية)  Yakni mengawasi/mengintai-intai hatiya sesungguhnya Allah Swt itu lebih dekat kepada dirinya, dibandingkan pendengaran kupingnya, penglihatan matanya, penciuman hidungnya, perasa lidahnya, dan pikiran hatinya. Dalam arti Allah itu lebih dekat dibandingkan dengan seluruh anggota tubuhnya yang bersifat maknawi. Kalau Kita memikirkan semua makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt, seperti manusia dan hewan yang berada diatas bumi, yang terbang di awang-awang, semua makhluk yang berada didalam laut. Mengingat alam yang berada di atas, seperti langit lapis tujuh beserta isi-isinya (bulan, matahari,bintang, mega, dll), alam yang berada di bawah, seperti bumi yang lapis tujuh beserta isi-isinya (lautan, gunung, pepohonan, daun-daunan, tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam dan lain lainnya). Hal ini berdasarka Dalil Firman Allah Ta’ala  :

وَقَوْلُهُ تَعَالَى : وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

Artinya“Aku (Allah) itu lebih dekat terhadap hamba-hamba-Ku dibandingkan dengan urat leher manusia”. (QS: Qaaf [50]:16)

Nah disinilah salah satu Kegunaan dari muraqabah Aqrabiyyah adalah mengharapkan anugerah Allah kepada halus-halusnya otak yang berhubungan dengan lathaif yang lima yang berada di dalam dada yang dinamakan ‘Alam al-Amri. ‘Alam al-Amri adalah lokasi ijazahnya guru kepada murid untuk mengenakan pakaian menyelimuti – menutup kepalanya dengan kain ringan atau kain kasa (sorban tipis ) atau kain buruk/kain kasar sorban. Adapun lafadz ijazahnya adalah:

اَلْبَسْتُكَ خِـرْقَةَ الْفَقِـيْرِيَّةِ الصُّوْفِـيَّةِ وَاَجَزْتُكَ اِجاَزَةً مُطْلَـقَةًلِلْاِرْشَادِوالْاِجَازَةِ وَجَعَلْتُكَ خَلِيْفَةً.

maksudnya“Aku pakaikan pakaian yang hina yang murni, dan aku ijazahkan kepadamu secara mutlak untuk dijadikan petunjuk dan ijazah dan kau kujadikan khalifah (pengganti)”

Kemudian si murid menjawab:

قَبِلْتُ وَرَضِيْتُ عَلَى ذلِكَ.

“Saya menerima, ridho atas ijazahnya guru kepadaku”

Maka murid sudah menjadi khalifah kecil. Inilah akhir dari wilayah shughra (wilayah kecil) dan permulaan wilayah kubra (wilayah besar).

Setiap orang yang memasuki khalwat di istilahkan Salik itu adalah Ahlullah, ia telah mengenal sesuatu yang diucapkannya (ia mengerti betul yang diamalkannya. Ia mengerti benar maksud dan makna yang dibacanya). Dan orang yang tidak memasuki khalwat, maka orang itu mengudzurkan (dirinya) di dalam keingkaran, sebab ia tidak punya perasaan hatinya (suka citanya).”

6. TUJUAN  RIYADHAH SALIK PENGAMAL THARIQAT AL JUNAIDIYAH

Penyusun  kitab ar-Risalah Umdatul Hasanah ...... berpendapat Tujuan  Riyadhah bagi Salik Pengamal Thareqat al Junaidiyah adalah Melatih jiwa dan raga Salik untuk mengekalkan hakekat tawajjuh muthlaq dengan Muraqabah bil Bathin secara berkepenjangan terus menerus. Disini Salik  PTJ dawam selalu berkepenjangan melenyapkan tiga unsur yaitu Batang Tubuh, Hati dan Rohnya, agar ketiga unsur tersebut dirasakan benar-benar, lenyap - tidak ada, sirna pada pengintaiannya.

Diharapkan Keadaan Batinnya saat Hal Riyadhah atau dalam kamar dan juga sesudah Riyadhah atau  diluar kamar, Salik Pengamal - Thariqat al Junaidiyah benar-benar merasakan keadaan Batin  ghaibah lenyap  ketiga unsur dimaksud  dalam pandangan mata batinnya, ia tidak dapat menghadirkan dirinya. Ia benar-benar tidak dapat mengenali dirinya berkepenjangan terus menerus, yang memandang dan yang dipandang hanya Dia dirasa, inilah yang terjadi pada Sadatina Al Junaid Radiyallahu anhu. Hal ini berarti Salik PTJ telah mengalami Baqa’u billah kekal bersama Tuhannya. Hal keadaan inilah hal ma’rifat yang tertinggi yang diidam-idamkan para Salik.

Riyadhah bagi Salik  Pengamal Thariqat al Junaidiyah Pemula dikhususkan tujuh hari dan malamnya yaitu sepekan. Yang dihitung setelah shalat Jum’atan kurang lebih sekitar jam 14.30 wita memulai masuk kamar pariyadhahan hingga Jum’at mendatang sekitar jam 09.00 wita. Pagi itu sudah keluar dari kamar pariyadhahan.

Riyadhah Musyahadah dilakukan 1 hari 1 malam,  Riyadhah dimaksud boleh dilakukan di rumah masing-masing dan harus ada izin guru Mursyidnya jika masih hidup, jika ia meninggal cukup dengan menziarahihi dan minta izin secara sirr tak mengapa.

Pengarang kitab Hazinatul Asrar mengomentari tentang Salik yang terpaut hatinya dengan Penguasa dan kekuasaan ........

وإن كان همك تحت سلطانك فخذ الخلوة ولاتبالى وعليك بالرياضة قبل الخلوة. والرياضة عبارة عن تهذيب الأخلاق وتحمل الأذى. فإن الإنسان إذا تقدم فتحه قبل رياضته فلن يجئ منه رجل أبدا إلا فى حكم النادر فاحذر إختلاطهم  ...كذا خزينة الاسرار رقم191

Maksudnya : Dan jika himmahmu-nafsumu-keinginanmu terpaut dengan penguasa, maka ambillah olehmu akan khalwat atau suluk, itu tidak mengapa-sangat bagus. Dan mesti atasmu, mengerjakan suluk memasuki kamar Riyadhah untuk bersunyi-sunyi menekan himmahmu. Riyadhah adalah sarana latihan jiwa untuk menghilangkan akhlak buruk dan mengangkut kotoran-kotoran jiwa. Maka sesungguhnya manusia apabila telah terdahulu terbuka himmah buruknya sebelum ia  suluk memasuki kamar Riyadhah tidak akan datang sifat-sifat Rijal keteguhan hati  darinya selamanya. Terkeluali pada hukum  an nadir yaitu akan datang sifat-sifat Rijal tersebut tapi  jarang terjadi, Oleh karena itu hati-hatilah kamu akan percampuran (pergaulan) dengan mereka itu.


7. MENFA’AT RIYADHAH, SULUK  ATAU  KHALWAT

Imam Qastaliani dalam menjelaskan sunnah ini mengatakan :

Khalwat akan membawa qalbu kepada kedamaian dan terbukalah di dalamnya mata air (sumber) hikmah, karena itu akan memutuskan sang murid dari kehidupan material dan membuat dia mampu mengingat Allah Swt Dalam Suluk atau khalwatnya dia juga harus mengisolasi (menutupi) dirinya  dan menyepikan dirinya.

Dari dirinya. Hanya memandang/ melihat Allah Swt semata Pada saat tersebut itulah dia akan menerima ilmu ghaib, dan qalbunya akan menjadi landasan bagi keperluan tersebut.

Dalam hubungannya dengan khalwat atau suluk atau riyadhah, Syekh Abul Hasan ash-Shadhili berkata  :

Terdapat sepuluh manfa’at dari orang yang khalwat atau suluk atau riyadhah :

  1. Selamat dari semua adab buruk lidah, karena tidak ada siapapun yang dapat diajak bicara dalam khalwat
  2. Selamat dari semua adab buruk mata, karena tidak seorang manusiapun untuk dilihat  dalam khalwat.
  3. Qalbu selamat dari segala macam pamer dan penyakit sejenisnya yang lain.
  4. Itu akan mengangkat kamu kepada maqam zuhd (berfokus ke langit, membelakangi dunia).
  5. Itu akan menyelamatkan kamu dari berteman dengan orang jahat.
  6. Itu akan membuat kamu memiliki waktu bebas untuk  melakukan dzikr.
  7. Itu akan memberi kamu rasa manisnya beribadah/mengabdi, shalat dan berdoa dalam  Hadhirat Ilahiah.
  8. Itu akan memberikan kepuasan dan kedamaian kepada qalbu.
  9. Itu akan menghindarkan egomu dari jatuh ke dalam adab yang buruk.
  10. Itu akan memberi kamu waktu untuk bermeditasi, membuat perhitungan neraca diri dan mengejar  sasaran  menuju Hadhirat Ilahiah.

Itu adalah yang disebutkan Nabi Saw dalam sunnahnya, diriwayatkan Bukhari dalam kitabnya Riqaq : Dikisahkan bahwa Shahabat Nabi Saw yang bernama : Abu Hurairah Ra melaporkan bahwa Nabi Saw  berkata, ”Terdapat tujuh yang akan berada di bawah Naungan Allah pada Hari di mana tidak terdapat naungan kecuali Naungan Allah. Salah satunya adalah seorang yang melantunkan dzikr dalam khalwat dan air mata meleleh dari matanya.”

 8. ADAB-ADAB SEBELUM  MELAKUKAN  RIYADHAH YANG PERLU DIPERHATIKAN DAN PERSIAPKAN

Ketahuilah hai Pengamal Thareqat al Junaidiyah,  Syekh Dr. Jalaluddin mengatakan bahwa “Adab sebeluDm memasuki suluk atau kamar riyadhah itu ada enam macam adab yang harus dipenuhi Salik antara lain :

1.Adab  Pertama : Carilah Guru Mursyid yang akan memimpin riyadhah atau suluk itu yang mempunyai tenaga ahli.

2.Adab  Kedua : Hendaklah diselesaikan apa-apa dari pada  pekerjaan  yang membimbangkan Riyadhah atau suluk, baik itu masalah dunia ataupun pekerjaan akhirat.

3.Adab  Ketiga : Hendaklah ada bekel/ongkos dalam suluk yang halal/suci.

4.Adab Kempat : Hendaklah dii’tikatkan dirinya selama pergi Riyadhah atau suluk kembali kepada Allah, pergi mati atau masuk kubur serta dilakukannya  kelakuan orang yang hendak mati, seperti taubat, minta izin kepada Ibu dan Bapaknya, atau kaum Keluarganya serta anak dan isterinya.

5.Adab  Kelima : Hendaklah diakuinya dirinya menanggung beberapa dosa dan taqshir (kekurangan)  yang tida hingganya dan selalu mengharap akan ampunan Allah yang sangat Pengasih dan Penyayang kepada hambanya yang taubat.

6.Adab Keenam  : Hendaklah  menyediakan nafakah untuk anak isterinya menurut kadar patutnya selama dia dalam Riyadhah atau suluk itu.

 

9. TEMPAT MELAKSANAKAN RIYADHAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH

a.Tempat  Tertutup dan sunyi  jauh  dari keramaian.

Riyadhah  Thareqat  al Junaidiyah bisa juga dilakukan oleh seorang Murid di tempat  tertutup dan sunyi  jauh  dari keramaian misalnya di Bilik, Ruang Kamar, Gua. Riyadhah semacam ini bisa dilaksanakan atas kesepakatan Guru dan Muridnya. dan Riyadhah di tempat  Tertutup dan sunyi  jauh  dari keramaian di contohkan oleh Nabi Muhammad Saw di Gua Hera, sebagaimana keterangan terdahulu.

b.Tempat Keramaian.

Riyadhah  Thareqat  al Junaidiyah bisa juga dilakukan oleh seorang Murid di tempat keramaian  seperti di pasar  dan lainnya  untuk menguji keimanannya, apakah hatinya tetap bersama Allah Swt dan apakah batinnya tetap berdzikir mengingat Allah Swt. Firman Allah pada surat Jumuat, ayat 10 ‘’.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْأَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوااللهَ كَثِيْرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. الجمعة 10

.Maksudnya : “ Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan (berdzikirlah kepada Allah Swt) ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”QS Jumuat, ayat 10.

 

10. RIYADHAH, KHALWAT DAN  SULUK

Ketiga suku kata pada bab ini diartikan  sinonim atau sama saja maksud dan tujuannya para  Ahli Sufi untuk melatih jiwa dan raga agar  taqarrub dekat dengan Allah, bersama Allah Swt melalui metode dan sistem tertentu.

هذا فصل فى الخلوة إعلم أنه لايمكن الوصول إلى معرفة الأصول وتنوير القلوب لمشاهدة المحبوب إلا بالخلوة أى الرياضة خصوصا لمن أراد ارشاده عباد الله إلى المقصود* وقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يتخلى بغار حراء حتى جائه الأمر بالدعوة كما فى صحيح البخارى* وأقل الخلوة هى يوم بليلها ثم ثلاثة أيام بليالها وهو الذى اتفق النبي صلى الله عليه وسلم* وأكثرالخلوة هى سبعة أيام وليالها ثم عشرة يوم وليالها ثم شهر وليالها وأكملها لمن أراد السير والسلوك أربعين يوما* وهى الحاصلة من جميع  الأيام المتقدمة لقوله صلى الله عليه وسلم : من أخلص لله أربعين صباحا تفجرت ينابيع الحكمة من قلبه على لسانه* رواه أحمد فى الزهد وابن عدى*

Maksudnya “Ini fasal khalwat yaitu riyadhah atau suluk, ketahui olehmu, bahwasanya tidaklah mungkin seseorang wusul atau sampai marifatil usul kekhadirat Allah Swt yang menyinari hati Salik untuk bermusyahadah kepada Allah yang dicintainya, kecuali seseorang Salik itu dengan menjalankan khalwat, suluk atau riyadhah. Khususnya bagi orang yang selalu  menghendaki petunjuk untuk beribadah kepada Allah Swt yang diingininya.

Sesungguihnya Nabi kita Muhammad Saw sering melakukan khalwat di pegunungan Jabal Nuur  dalam Gua Hera, hingga datang kepadanya perintah berdakwah agama Islam, sebagaimana hadis yang  diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari.

Paling sedikit waktu-masa berkhalawat itu, sehari semalam, kemudian tiga hari tiga malam, Begitulah yang telah disepekati bagi Nabi Muhammad Saw. Dan paling banyak khalwat itu tujuh hari dengan malamnya, kemudian sepuluh hari dengan malamnya kemudian satu bulan dengan malamnya. Paling sempurna riyadhah atau suluk bagi orang menghandaki dan menjalaninya  adalah 40 hari dengan malamnya. Insa Allah  ia akan menjalani hari-hari selama suluk akan hasil, sebagaimana hadist yang diriwayatkan Abu Nuaim dari Abu Ayyub al Anshari yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang mengikhlaskan  amalnya selama 40 hari, maka akan terpancarlah kelahiran hikmah dari hati atas lidahnya.(HR.Ahmad).

11. BATAS  DAN WAKTU RIYADHAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH

Batas Waktu yang disepakati  sebelum  Riyadhah, sebagaimana dijelaskan diatas bahwa Riyadhah bagi Salik  Pengamal Thareqat al Junaidiyah Pemula dikhususkan tujuh hari dan malamnya yaitu seminggu. Dan  Riyadhah satu hari dan malamnya yang dinamakan Riyadhah Musyahadah. Inilah yang sering dilaksanakan oleh Sadatina Junaidiyah Syekh KH. Kasful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh  dan Para Muridnya.....

Saya Penyusun  Umdatul Hasanah ..........sebagai Pengikut Syekh KH. Kasful Anwar Firdaus berpendapat bahwa  Batas Waktu Riyadhah bagi Salik  Pengamal Thareqat al Junaidiyah Pemula boleh dilakukan sebatas kemempuan  Sang  Murid dan disepekati oleh Mursyidnya.

1.Riyadhah Setengah Hari, ....Masuk Kamar Ba’da Zuhur  hingga  Ba’da Magrib selesai riyadhahnya. Riyadhah semacam ini hukumnya  boleh seperti orang  sedang  wukuf melaksanakan  amal ibadah haji di Arafah yang dimulai Ba’da Zuhur  hingga  Ba’da Magrib..

2.Riyadhah Musyahadah  yaitu Riyadhah satu hari satu malam

3.Riyadhah Tiga hari  tiga malam juga hukumnya boleh dengan menggambil dalil :

Qishah Nabi Zakaria, disebutkan dalam kitab suci Al Qur’an pada surah Ali Imran,  tatkala Nabi Zakaria  minta penjelasan kepada Allah Swt tentang tanda-alamat atau ciri-ciri atas kehamilan isterinya yang bernama Khannah. Setelah Nabi Zakaria mendengar (ia akan mendapatkan keturunan) jawaban itu yang disampaikan oleh  Malaikat Jibril :

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِى آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَنْ لَا تُكَلِّمَ النَّا سَ ثَلَاثَةَ اَيَّامٍ اِلَّا رَمْزًا وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيْرًا وَّسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَار

maka Nabi Zakaria  berkata, “Tuhanku berilah aku suatu tanda (bahwa istriku akan hamil)”.Allah berfirman : “Tanda bagimu, adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat, dan Sebutlah nama Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah (memuji-Nya) di waktu petang dan pagi hari.(QS.Ali Imran ayat 41)

Menurut Hasan al Basri, Nabi Zakaria bertanya demikian adalah untuk segera memperoleh kegembiraan hatinya atau untuk menyambut nikmat dengan syukur, tanpa menunggu sampai anak itu lahir.

Kemudian Allah menjelaskan bahwa  tanda isterinya sudah mengandung adalah dia sendiri tidak berbicara dengan orang  lain selama tiga hari, kecuali dengan mempergunakan isyarat tangan, kepala dan lainnya, dan beliau berdzikir dan bertasbih kepada Allah. Allah menyuruh Zakaria tidak berbicara selama tiga hari, agar seluruh waktunya digunakan untuk dzikir dan bertasbih kepada-Nya, sebagai pernyataan syukur yang hakiki.

Menurut Al Qurtubi, sebahagian mufasir mengatakan bahwa tiga hari Zakaria menjadi bisu, itu adalah sebagai hukuman Allah terhadapnya, karena dia minta pertanda kepada Malaikat sehabis pecakapan mereka.

Salah seorang Mufassir yang bernama Syekh Ahmad Ash Shawi al Maliki dalam kitabnya Tafsir Shawi menjelaskan :

)قوله اى بليا ليها) أخذ ذلك مما يأتى فى سورة مريم جمعا بين المو ضعين والقصتين ومن ذلك اختار بعض أكابر الصّوفية أن الخلوة مع الرياضة لبلوغ المراد ثلاثة ايام بلياليها يجعل ذكرالله فيها شعاره ودثاره ولا يتكلّم فيها (قوله إلّا رمزا) استثناء منقطع على التّحقيق لأ ن الرمز لا يقال له كلام اصطلا حا وإن كان كلاما لغة لكن ليس مرادا هنا

Maksudnya  : Perkataannya (بِلَيَالِهَا)“BILAYAALIYIHA” Yakni  tiga  malam  serta siang harinya . Telah mengambil dalil pelajaran dari sesuatu yang ada terjadi dalam Surat Maryam secara keseluruhan antara dua pokok bahasan ceritera Nabi Zakaria dan Maryam.  Bahwa dari dua pokok bahasan ceritera tersebut telah memilih oleh beberapa Pembesar Sufi  bahwasanya Khalwat beserta riyadhah  untuk mencapai yang diinginkan yaitu selama tiga hari dengan  malamnya menjadikan dzikir kepada Allah. . Allah menyuruh Zakaria tidak berbicara selama tiga hari dan malamnya, agar seluruh waktunya dimaksud digunakan untuk dzikir dan bertasbih kepada-Nya. Perkataannya  ILLA  RAMZAA  adalah istisna pengecualian yang diputuskan sebagai ucapan yang benar,AL RAMZA (Isyarat-romoz) bukan ucapan secara Istlah, dan jika Isyarat-romoz itu  ucapan secara bahasa maka tidak dalam pembahasan disini.

4.Riyadhah Tujuh hari dan malamnya yaitu 1 minggu

Suluk selama Tujuh hari  dan  malamnya   yaitu 1 pekan  yaitu masalah yang sedang kita bahas pada  Bab  ini, Insya Allah

5.Riyadhah Sepuluh Hari dan malamnya  di 10 akhir Ramadhan

6.Riyadhah Tiga Puluh  hari dan malamnya yaitu 1 Bulan seperti orang berpuasa Ramadhan.

7.Riyadhah 40 hari dan malamnya yaitu  yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Musa Alaihis Salam ketika ia ingin melihat Allah Swt.


12. TIDAK ADA LARANGAN BAGI PARA PENGAMAL PEMULA THARIQAT AL JUNAIDIYAH UNTUK MEMASUKI  KAMAR RIYADHAH.

a.Pertanyaan :

1.Bolehkan Mursyid memberikan bimbingan Riyadhah  kurang dari 7 hari dan malamnya kepada Murid Pemulanya ?

2.Misalnya Riyadhah kuarang dari 1 hari, atau 1hari dan Malamnya, atau 3 hari dan malamnya.

b.Jawabya :

Aku  Penyusun Umdatul Hasanah dalam Hal Riyadhah ini menjawab dan ber pendapat  bahwa Hukumnya BOLEH. Dengan mengambil Dalil sepotong dari ayat  Al Qur’an yang berbunyi :

  وَقَوْلُهُ تَعَالَى :  لَايُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Paling sedikit Riyadhah sehari semalam boleh dilaksanakan oleh Salik Pemula  Pengamal Thariqat al Junaidiyah dibawah bimbingan Guru Mursyidnya atau bimbingan Badal  Guru Mursyidnya.

(و أقل الرياضة  يوم وليلته )

Kami beralasan bahwa “Thariqat al Junaidiyah disebut  Thariqat al Qaum atau Jalan Thariqat  Orang Banyak atau Thariqat  Orang Umum.” Thariqat al Junaidiyah adalah subuah tarekat  yang tidak  akan mempersulit Para  Pengamalnya untuk Wusul  kepada ALLAH Swt.

Thariqat al Junaidiyah ini adalah terekat kita, tarekat yang mudah, tarekat yang jauh dari kepicikan,  mudah untuk  diamalkan,  selalu berjalan seiring dengan fitrah manusia. Thariqat ini mengambil dan menggunakan kaidah Ushul Fiqih  yang berbunyi  :

وَقَوْلُهُ تَعَالَى : "لَاحَرَجَ فِى الدِّيْنِ "

Maksudnya : “Tidak ada kepicikan dalam beragama yakni mengamalkan thariqat"

  وَقَوْلُهُ تَعَالَى : مَايُرِيْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ .....  المائدة 7

Artinya :”Tiadalah Allah menghendaki (akan) menjadikan kepicikan (kesulitan) atas kamu itu.”

Penjelasan bahwa tujuan dari melakukan Suluk-Riyadhah bagi Salik Pemula dikhususkan Tujuh Hari dan Malamnya, ini adalah ter-afdhal  bagi  yang kuat  himmahnya, akan tetapi bagi  Salik Pengamal  Thariqat al Junaidiyah  yang tida kuat himmahnya (kuat pisik dan kemauannya) atau Para Pegawai,  PNS, Guru yang masih terikat dengan Instansi lainnya atau  aktif, mereka ini mungkin boleh meninggalkan pekerjaannya dalam 1 Pekan, ini  menurut UU Pemerintah sekarang, walaupun mereka cuti. maka hukumnya  BOLEH  Riyadhah kurang dari  1 Pekan.

Dalam masalah  ini salah seorang ulama Sufi yang mahjub pernah berkata  :

ليس الرجل من يشق على مريده يأمرهم بالرياضة المجاهدة الشاقة ولكن الرجل من ذالك من يدلك على راحتك. –الخزينة الأسرار.

Bukanlah dikatakan Guru Yang Kamil baik, Guru yang selalu menyusahkan para Muridnya, Dia menyuruh para Muridnya untuk riyadhah (dalam waktu yang lama) yang tujuannya memerangi nafsu, akwan-agyar yang sulit. Akan tetapi yang dikatakan Guru yang baik kamil  itu adalah Guru yang dapat menunjukkan jalan  kepada Muridnya yang hampir-dekat kepada Allah Swt.”

Sebagaimana kita ketahui bahwa Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur tujuannya mudah menghafalnya, mudah melaksanakan hukum yang dikandungnya dan tidak merasa berat orang menerimanya. Demikian juga halnya  dengan Riyadhah bagi kita Salik Pemula, kalau langsung  banyak  hari yang diambil akan merasa sulit.........

Hadis Nabi Saw (Qudsi)  Allah berfirman :

  وَقَوْلُهُ تَعَالَى : إِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُبَشِّرِيْنَ وَلَنْ تُبْعَثُوْا مُعَسِّرِيْنَ   -الحديث القدسى

Hanyasanya Engkau (Ya Muhammad) dibangkitkan untuk memudahkan ummatmu (Jin-Manusia) menuju Allah Ta’ala, sekali-kali Engkau diutus untuk menyusahkan mereka.”

13. PERSIAPAN  MEMASUKI  KAMAR RIYADHAH-SULUK

Adapun persiapan Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah sebelum masuk kamar pariyadhan antara lain :

Mandi Taubat,  Cara Mandi yang dianjurkan oleh hukum Fiqih kita yaitu pertama Mencuci Kubul - Dubur dan Kemeluan, kemudian  berwudhu, kemudian mengubui kepala (lubang hidung, lubang telinga), Belahan Badan  Kanan hingga Kaki Kanan dan kemudian Belahan  Badan Kiri hingga Kaki  Kiri.

1.Mandi Taubat

Mandi Taubat adalah mandi untuk Inabah kembali kepada Allah Swt.  Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah sunat mandi Inabah, jika waktu Bai’at belum Mandi Inabah, tetapi jika memperbaharui atau mau mengulangnya tidak mengapa, itu sangat baik.

Sebelum Salik Mandi terlebih dahulu, Salik menghadap ke arah Kiblad dengan dadanya memandang ke tanah. Lalu dikenang-kenang dosa-dosanya selama hidupnya, setelah  dirasakannya bahwa ia karam dilautan dosa dan kekurangan-kekurangan, kemudian berniat Mandi Inabah.

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِلتَّوْبَةِ عَنْ جَمِيْعِ الذُّنُوْبِ  لِلّهِ تَعَالَى

Artinya : “Sahajaku mandi taubat dari segala  dosa zahir-batin untuk kembali kepada Allah, karena Allah  Ta’ala.”

Kata Ahli Shufiyah, Cara Mandi  Taubat meluncurkan air empat,  keseluruh anggota badan  yaitu :

a.Mandi dengan Air Dunia.

Adapun mandi dengan Air Dunia mensucikan anggota badan dari Hadast Besar dan Hadast Kecil. Sewaktu mandi itu mengata kalimat “Astagfirullah” أستغفر الله lima kali atau lebih pada bilangan Ganjil atau dua puluh lima kali. Baik saat menggosok-gosok badan dengan limau, bidara atau juga sabun, maka setelah keluar dari air/ selesai mengubui dengan Air Dunia kemudian ia membaca Surah Al Insyirah  satu kali. Yaitu berbunyi :

بسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ, وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ, اَلَّذِيْ انْقَضَ ظَهْرَكَ. وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ, فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, فَاِذَافَرَغْتَ فَانْصَبْ, وَاِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ,

Diteruskan lagi ...........

b.Mandi dengan Air Zamzam Mekkah

Kedua Mandi dengan air yang tadi juga tetapi cuman diniatkan dan dihakekatkan seolah-olah mendi dengan Air Zamzam Mekkah. Modah-modahan dengan mandi air yang kedua ini dihapus Allah Swt kesalahan dan dosa yang delapan yaitu “Mata, Telinga, Lidah, Tangan, Kaki, Perut, Hidung dan Kemaluan. Diwaktu mandi yang Kedua itu, dibacanya kalimat أستغفر الله “Astagfirullah” lima kali atau lebih pada bilangan Ganjil atau dua puluh lima kali. Setelah keluar dari air/ selesai mengubui dengan Air Dunia kemudian ia membaca Surah Al Insyirah  satu kali. Yaitu berbunyi :

بسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ, وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ, اَلَّذِيْ انْقَضَ ظَهْرَكَ. وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ, فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, فَاِذَافَرَغْتَ فَانْصَبْ, وَاِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ... الانشراح

Diteruskan lagi ...........

c.Mandi dengan Air Telaga Kausar

Mandi yang ketiga dengan air yang tadi juga tetapi cuman diniatkan dan dihakekatkan seolah-olah mendi dengan Air Telaga Kausar Nabi Muhammad Saw. Yang boleh meminum Air Telaga Kausar itu hanya orang yang beriman, dan terdahulu masuk sorga. Penyusun Umdatul Hasanah .... menyukai dibaca terlebih dahulu surat Al Kausar itu, sekali atau lebih,

بسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, اِنَّا اَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ, فَصَلِّ  لِرَبِّكَ وَانْحَرْ, اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ..... الْكَوْثَرَ

seterusnya dibaca pada Mandi Ketiga ini أستغفر الله :”Astagfirullah” lima kali atau lebih pada bilangan Ganjil atau dua puluh lima kali. Sambil memohon dan mengharaf akan ampunan Allah segala dosa di Hati, Keluar dari dalam air (Sungai) dibacanya pula Surat  Al Insyirah  ( Alam Nasyrah .....). Sewaktu membaca Alam Nasyrah ..... dia sangat mengharapkan disucikan serta dibersihkan Allah akan dosa-dosanya dan hatinya seperti Hati Rasulullah Saw.

بسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ, وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ, اَلَّذِيْ انْقَضَ ظَهْرَكَ. وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ, فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, فَاِذَافَرَغْتَ فَانْصَبْ, وَاِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ... الانشراح

d.Mandi dengan Air Mahfudl atau Air Nurullah

Mandi Keempat dengan air yang tadi juga cuman diniatkan dan dihakekatkan pula  seolah-olah mendi dengan Air Mahfudl atau Air Nur Allah yang sangat terpelihara disisih Allah Swt. Seterusnya dibacanya pula أستغفر الله  “Astagfirullah” lima kali atau lebih pada bilangan Ganjil atau dua puluh lima kali. Kita mengharapkan kepada Allah  agar dibukakan segala Dinding atau Akwan atau Aghyar antara Roh kita dengan Allah Swt.

Aku (Penyusun Umdatul Hasanah) .... sangat menyukai bila dibacanya sesudah keluar dalam air atau selesai mandi seayat nomor 35 dari QS. An Nur yang berbunyi :

اَللهُ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ والْاَرْضِقلى مَثَلُ نُوْرِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌقلى    اَلْمِصْبَاحُ فِى زُجَجَةٍ  الزُّجَجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَاشَرْقِيَّةٍ وَلَاغَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُنًهَا يُضِيْئُ وَلَوْلَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌقلى نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ يَهْدِى اللهُ لِنُوْرِهِ مَنْ يَشَاءُقلى وَيَضْرِبُ اللهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِقلى واللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ... النور 35

2.Berpakaian rapi dan menutup aurat serta sunat berpakaian warna putih atau warna hijau

3.Memperbanyak Shalat Sunnat, yaitu . Shalat Sunnat Wudlu, Shalat Sunnat Taubat, Shalat Sunnat Hajat, Shalat Sunnat Tasbih dan Shalat Sunnat lainnya.

4.Masuk Kamar Khusus, dihat syarat Khalwat-Suluk Nomor 04. Dari 20 syaratnya.

5.Masuk ke Kelambu atau menduduki Sajadah dan menutup kepalanya dengan kain Sorban Tipis bagi yang tidak pakai Kelambu. Kemudian Duduk Thariqat yakni Duduk Taqdim, Duduk Derajat dan Duduk Khidmad. Dan membaca kalimat “ YA FATTAAH”  500 kali . يا فتاح  500 كالى   kemudian  ia sibuk membaca  wirid yang disuruh oleh Guru Mursyidnya untuk dibaca  ......... sebanyak  mungkin.

14. BEBERAPA SYARAT  RIYADHAH YANG HARUS DIPENUHI SALIK

Ada  beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Salaik ketika melakukan Riyadhah-Suluk atau Khalwat, sebagaimana yang disebut kitab Tanwirul Qulub antara  lain  :

وقد أخطأ من الحكم عليه بالوضع ولها عشرون شرطا. الأول هو إخلاص النية بقطع مادة الرياء والسمعة ظاهرا وباطنا. الثانى هو إستئذان شيخه وطلب الدعاء منه. ولا يدخل بلا إذن مادام فى حجر التربية. الثالث : تقديمه عليها العزلة وتعود السهر والجوع والذكر بحيث تألف نفسه هذه الأشياء قبل ذخولة. الرابع : أن يدخل برجله اليمنى مستعيذا بالله من الشيطان مبسلا. وأن يقرأ سورة الناس ثلاث مرات ثم ليسرى قائلا :" أللهم ولي فى الدنيا والأخرة كن لى كما كنت لسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وارزقنى محبتك. أللهم ارزقنى حبك. واشغلنى بجمالك واجعلنى من المخلصين. أللهم امح نفسى محذبات ذاتك يا أنيس من لاأنيس له. رب لاتذرنى فردا وأنت خير الوارثين* فيقوم على المصلى ويقول : إنى وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين 21 كالى. ثم يصلى ركعتين يقرأ فى الأولى الفاتحة أية الكرسي. الثانى الفاتحة وأمن الرسول.  وبعد السلام يقول يا فتاح  خمسمائة مرة. )اى للطريق الجنيدي هو جلوس الطريقة وتوسل  ثم مرابطة ثم وتوجه مطلق ثم تلقين ذكر(. ويشتغل بالذكر الذى لقنه له شيخه )اى تسبيحا وتحميدا وتهليلا وتكبيرا (

الخامس: ملازمة الوضوء* السادس: أن لايعلق همته بالكرامات* السابع: أن لايسند ظهره إلى جدار* الثامن: أن لازم صورة شيخه بين عينيه* التاسع: أن يكون صائما* العاشر: السكوت إلا عن ذكر الله أو مادعت إليه ضرورة شرعية وماعدا ذلك مضيع للخلوة مذهب لنور القلب* الحادى عشر: أن يكون مستيقظا لأعدائه الأربعة هى الشيطان والدنيا والهوى والنفس بأن يذكر كل ما يراه لشيخه * الثانى عشر: أن يكون بعيدة حس الأصوات* الثالث عشر: المحافظة على الجمعة والجماعة0 فإن المراد الأعظم متابعة النبي صلى الله عليه وسلم*

الرابع عشر: إذا خرج لضرورة غطى رأسه إلى رقبته ناظرا إلى الأرض* الخامس عشر:أن لاينام إلا عن غلبة نوم مع الطهارة ولاينام  لراحة  البدن بل إن قدر إن لايضع جنبه على الأرض وينام جالسا فعل* السادس عشر:  المحافظة على الأمر الأوسط بين الجوع والشبع* السالع عشر: أن لا يفتح الباب لمن يريد التبرك به إلا شيخه* الثامن عشر: أن يرى كل نعمة حصلت له إنما هى من شيخه وهو عن النبي صلى الله عليه وسلم* التاسع عشر: نفى الخواطر كلها خيرا كانت أو شرا. لان تفرق القلوب عن الجمعية الحاصلة بالذكر* العشرون: دوام الذكر والتوجه المطلق بالكيقية التى أمره بها شيخه إلى أن يأمره بالخروج*

Maksudnya        : Sungguh telah menyalahi dari pada Hukum dengan kejelasan tentang Khalwat/Suluk dan Riyadhah. Melakukan Khalwat/Suluk dan Riyadhah itu ada dua puluh syarat yang harus dipenuhi oleh Salik yaitu :

1.Mengikhlaskan niatnya dengan memutuskan sifat Riya dan Sum’ah zahir batin.

2.Minta izin kepada Guru Mursyidnya dan memohon do’a dari padanya. Ia tidak akan memasuki khalwat sebelum ada izin Gurunya masuk dalam kamar atau ruang pendidikan,

3.Didahuluinya atas berkhalwat yaitu uzlah dan kembali berjaga malam dan tidak tidur, menahan lapar, selalu dzikir dengan sekira-kira menjadi jinak akan nafsunya. Inilah perkara-perkara sebelum memasuki kamar Khalwat/Suluk dan Riyadhah.

4.Memasuki kamar Khalwat/Suluk dan Riyadhah harus mendahulukan kaki kanan, memohon perlindungan dengan Allah dari ganguan syaithan, dan membaca surat an Nas tiga kali, berbunyi :

بسم الله الرحمن الرحيم* قل أعوذ برب الناس* ملك الناس* إله الناس* من شر الوسواس الخناس* الذى يوسوس فى صدور الناس* من الجنات والناس* 3 كالى

Kemudian diikuti kaki kirinya sambil membaca kalimat    :

أللهم ولي فى الدنيا والأخرة كن لى كما كنت لسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وارزقنى محبتك. أللهم ارزقنى حبك. واشغلنى بجمالك واجعلنى من المخلصين. أللهم امح نفسى محذبات ذاتك يا أنيس من لاأنيس له. رب لاتذرنى فردا وأنت خير الوارثين.

Kemudian Salik berdiri atas shalat (seperti  mau shalat menghadap Kiblat) kemudian ia membaca kalimat ini 21 kali berbunyi :

إنى وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين 21 كالى

Kemudian ia mengarjakan shalat dua raka’at, pada raka’at pertama sesudah Alfatihah membaca Ayat Kursi, dan pada raka’at kedua sesudah Alfatihah membaca Amanar Rasul...... Sesudah salam, dilanjutkan membaca : YA  FATTAAH” 500 KALI.Bagi Salik Pengamal Thariqat Al Junaidiyah Duduk  Thariqat yakni Duduk Taqdim, Duduk Darrajat dan Duduk  Khidmat. Kemudian ia Tawassul, Kemudian ia Mubithah kepada Gurunya,  Kemudian ia Tawajjuh Mutlak, Kemudian ia Talqin Dzikir, Kemudian ia sibuk berdzikir yang dianjurkan oleh Guru Mursyidnya berupa Tasbih, Tahmid, Tahlil, takbit khusus Thariqat Al Junaidiyah.

سورة الفاتحة

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ, الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ, اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ, اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْنَ, صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ  عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ, آمِيْنَ !

آية الكرسي  سورة البقرة  255 :

اللهُ لَا اِلهَ اِلَّا هُوَ الْحَيٌّ الْقَيُّوْمُج لَا تَأْخُذُه سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌج لَه مَا فِى السَّمَاوَاتِ وَ مَا فِى الْأَرْضِج مَنْ ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِنْدَه اِلَّا بِاِذْنِهج يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَ مَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْئٍ مِنْ عِلْمِه اِلَّا بِمَا شَآءَح وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضَصلى وَلَا يَؤُوْدُه حِفْظُهُمَاج وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ(1) البقرة 255

آمن الرسول  سورة البقرة 285-286

-آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَانُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُط لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَاتُؤَا خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَئْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاط رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ  ..... ( 33 مَرَّةً)  وَعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

5.Melajimi Berwudlu (Tidak putus Air Wudlu)

6.Jangan berharap atau berkeinginan mendapatkan Keramat

7.Jangan menyandarka diri, atau  menyandarka belakangnya kedinding

8.Melajimi atau membayangkan wajah Guru Mursyidnya diantara kedua matanya

9.Hendaklah dalam keadaan berpuasa

10.Keadaan diam kecuali berdzikir kepada Allah, atau sesuatu yang mengajak darurat Syar’iyah dan itupun tidak mempengaruhi Khalwat.

11.Jaga (bangun) untuk mengalahkan musuh-musuhnya yang empat yaitu : Syaithan, Dunia, Hawa dan Nafsu  dengan cara mengingati setiap sesuatu melihat kepada Gurunya.

12.Hendaklah (kamar khalwat itu) jauh dari keributan dan kebisingan

13.Hendaklah memelihara shalat berjama’ah, karena seafdal – afdal atau seagung-agng dari pada Khalwat adalah mengikuti / Mataba’ah kepada Nabi besar  Muhammad Saw.

14.Apabila keluar kamar Khalwat  karena darurat syar’iyah hendaklah menutup kepala hingga lehernya, kalau berjalan melihat ke tanah.

15.Jangan tidur kecuali ngantuk sekali, itupun dalam keadaan suci, (tidur diniatkan dzikir kepada Allah).Usahakan tidur tidak merebahkan badan, tetapi jika tidak mampu, usahakan jangan melatakkan pipinya ke tanah, Tidurlah dalam keadaan berduduk.

16.Memelihara urusan perkara Perut kecuali pertengan antara lapar dan kenyang.

17.Tidak membuka pintu (Kamar Khalwat) atau Tidak melayani bagi orang yang menghendaki Tabarruk/Berkah dengannya kecuali Gurunya.

18.Ia selalu melihat nikmat yang telh hasil baginya, bahwasanya sesuatu ( hasil) itu dari Gurunya yakni Nabi Saw.

19.Menghilangkan rasa khawatir, meniadakan lintasan-lintasan hati.  Yaitu segala kebaikan dan kejahatan bahwasanya untuk menghilangkan   rasa kekhawatiran, dan melenyapkan lintasan-lintasan hati dari semua hal dimaksud dengan dzikir.

20.Berkekelan Tawajjuh Muthlaq dan dzikir dengan cara yang disarankan oleh Gurunya hingga Salik  diperintahkannya keluar kamar Riyadhah

Sesuai dengan Ta’rif Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah yaitu :

دوام العبودية ظاهرا وباطنا مع مراقبة الله تعالى بالباطن.

Maksudnya : “Berkepanjangan (kontinyu) memperhambakan diri zahir-batin  serta berkekalan muraqabah kepada Allah dengan batin yakni : Tawajjuh Muthlaq”.


15. MEMASUKI KAMAR PERIYADHAHAN PADA KAMAR KHUSUS

Orang yang memasuki kamar Khalwat-riyadhah dikatakan  Ahlullah, ia telah mengenal apa saja yang telah diucapkannya. Sebagaimana kata Ahli Sufiah berikut ini :

وكل من دخل الرياضة على مصطلع أهل الله عرق ما أقول ومن لم يدخل فهو معذور فى إنكاره لعدم وجدانه.

Artinya : Setiap Murid/Salik yang memasuki Kamar Riyadhah diistilahkan AHLULLAH, ia mengetahui sesuatu yang sedang / akan  diucapkannya, dan  Murid/Salik yang  tidak suka memasuki  Kamar Riyadhah  maka ia mengudzurka dirinya di dalam keingkaran, sebab ketiadaan perasaan hatinya rasa suka cita.

Sadatina  Guru  Maskur  bin Abbas  menjelaskan  kepadaku (Penyusun Umdatul Hasanah)  bahwa  “Yang penting dimantapkan  seorang murid sebelum memasuki kamar Riyadhah adalah Tawajjuhnya dahulu, bila sudah mantap Tawajjuh baru masuk kamar Riyadhah.”

1.MEMASUKI KHALWAT / RIYADHAH PADA SIANG DAN MALAM PERDANA

Riyadhah memasuki Siang dan Malam Perdana bagi Salik Pengamal Thariqat al Junidiyah, setelah wudlu, lalu mengerjakan adab-adab Khalwat, Suluk dan Riyadhah seperti yang tercantum pada Nomor 4 dari 20 adab Khalwat yang kami sebutkan diatas. Kemudian shalat sunnat Wudlu 2 raka’at, dan  kemudian shalat sunnat Taubat 2 raka’at, dan juga shalat sunnat Hajat 2 raka’at. Kemudian Salik Duduk Thariqat al Junaid, baik Duduk Taqdim, Khidmad atau Darajat,  lalu mengerjakan :

a.Tawassul  5 kali membaca al Ftihah,

b.Murabithah kepada Guru Mursyidnya,

c.Tawajjuh Muthlaq,

d.Membaca Talqin Dzikir yaitu kalimat yang berbunyi

 لاإله إلا الله *  إلا الله-إلاالله*  الله-الله* والذكر خفي وأخفى* ثم يقرأ الأسماء الحسنى* ثم الدعاء*

يقرأ الأسماء الحسنى :

نسألك (أسألك) الرحمة والعافية والرضى  يا من هو الله الذى لاإله إلا هو الرحمن الرحيم*  الملك القدوس السلام المؤمن المهيمن العزيز الجبار* المتكبر الخالق البارئ المصور الغفار القهار* الوهاب الرزاق الفتاح العليم  القابض الباسط الخافض الرافع المعز المذل السميع البصير* الحكم العدل اللطيف الخبير الحليم العظيم الغفور الشكور العلى الكبير* الحفيظ المقيت الحسيب الجليل الكريم الرقيب المجيب الواسع الحكيم* الودود المجيد الباعث  الشهيد الحق الوكيل القوى المتين الولى الحميد المحصى المبدئ  المعيد* المحي المميت الحي القيوم  الواجد  الماجد   الواحد  الأحد الصمد. القادر المقتدر المقدم  المؤخر الأول الأخر الظاهر الباطن الولى المتعال* البر التواب المنتقم العفو الرؤوف مالك الملك ذو الجلال والإكرام* المقسط الجامع الغنى المغنى المانع   الضار النافع النور الهادى البديع الباقى الوارث  الرشيد الصبور*

الدعاء

أللهم ولي فى الدنيا والأخرة كن لى كما كنت لسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وارزقنى محبتك0 أللهم ارزقنى حبك. واشغلنى بجمالك واجعلنى من المخلصين0 أللهم امح نفسى محذبات ذاتك يا أنيس من لاأنيس له0 رب لاتذرنى فردا وأنت خير الوارثين*

إله أنت مقصودى ورضاك مطلوبي أعطنى محبتك ومعرفتك يا الله* اللهم إنا نسألك التوبة والإنابة على شريعة الغراء وطريقة البيضاء برحمتك يا أرحم الراحمين والحمد لله رب العالمين*

Artinya :Ya Allah Engkau Wali-penguasa dunia dan akhirat, jadikan untukku sebagaimana  Engkau jadikan  bagi Sayyidina Muhammadin Saw. Anugrahi akandaku rasa cinta dengan-Mu, Ya Allah, Anugrahi akandaku kecintaan-Mu dan sibukkan daku dengan keindahan-Mu. Dan jadikanlah daku dari golongan orang ikhlas. Ya Allah bukulah hijab penutup-dinding Zat Engkau bagiku wahai Yang Lembut  Orang yang Melembutkan baginya. Ya Allah bukanlah aku meminta sendiri, dan Engkau sebaik-baik orang yang memberi”.

“Ya Allah Engkau Jua yang aku maksud, dan keridhaan Engkaulah yang aku cari,  oleh karenanya curahkanlah kepadaku akan cinta-Mu, Ya Allah,  Aku mohon kepada-Mu jalan menuju pintu taubat dan juga langkah untuk kembali kepadaMu serta berpendirian yang teguh dalam menelusuri syari’at yang indah dan menjalani thariqat yang bersih, dengan rahmatMu jua wahai Orang yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Keterangan : “Setiap Do’a  harus didahului membaca  Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin dan Shalawat atas Nabi Muhammad Saw .......... dan diakhiri  Shalawat atas Nabi Muhammad Saw dan  Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin”

Guru Mursyidnya menyuruh Muridnya agar banyak-banyak membaca TASBIH. Adapun yang dimaksud Tasbih yang akan dibaca yakni :”SUBHANALLAH” Artinya :”Maha Suci Allah”

اى المقصود التسبيح يقول:"سبحان الله"

Penyusun UMDATUL HASANAH ........ sangat menyukai Salik yang dalam Hal Riyadhah didahului membaca kalimat ini ............. :

اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك إلهي يا رب .... "سبحان الله"

Sadatina  Guru  Maskur  bin Abbas  menjelaskan  kepadaku (Penyusun Umdatul Hasanah)  bahwa  “Kemudian disambung dengan mengucap kalimat Tasbih sebanyak-banyaknya yang berbunyi   “SUBHANALLAH”  : "سبحان الله"

Menurut riwayat Sadatina Junaidiyah bahwa kalimat Tasbih dimaksud adalah  kalimat Tasbih yang selalu di ucapkan dan diamalkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq RA sahabat Nabi Muhammad Saw.

INI  PENJELASAN : Thariqat al Junaidiyah adalah thariqat induk, terikat utama, tarekat tua, dari tarekat yang ada,  oleh karena itu tarekat ini punya cara duduk  thariqat yang berbeda-beda, walaupun begitu Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah tidak diperbolehkan disaat berjamaah /bersama-sama mengamalkan Thariqat al Junaidiyah dengan DUDUK THARIQAT yang berbeda-beda atau berlainan, kalau waktu sendirian tidak mengapa.

Adapun cara  duduk Thariqat al Junaidiyah  yang dimaksud adalah ada tiga cara :

1.Duduk Thariqat Taqdim   جلوس التقديم

Duduk Taqdim yaitu Duduk Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah berhadap-hadapan dengan cara Kedua Kaki bersila, yaitu kaki kanan berada diatas kaki yang kiri, dan kedua talpak tangan terbuka berada diatas diantara paha dan tu’ut kakinya. Duduk Thariqat Taqdim    ini adalah duduk Thariqat yang sangat disukai oleh Sadatina  al Junaidiyah,.karena sukanya seolah-olah  Duduk Thariqat al Junaidiyah ini hanya satu cara.

2.Duduk Thariqat Darrajat  جلوس الدرجة 

Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah duduk seperti duduk tahaiyat akhir dalam shalat tetapi duduk  terbalik. Disini kaki kanan yang diduduki dan kaki kiri yang ditugiskan kebalakang. Duduk tahaiyat akhir terbalik ini tujuannya membuka hati si Salik.

3.Duduk Thariqat Khidmat   جلوس الخدمة 

Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah duduk thariqat seperti duduk tahaiyat akhir dalam shalat. Jadi . Duduk Thariqat Khidmat ini duduk kebalikannya Duduk Thariqat Darrajat.

Ketika Aku menghadiri di Majelis An Nabawiah, Aku dengar Guru Syekh Syairazi bin H. Pandi Makeri Kandangan berkata bahwa  “Suluk atau Riyadhah dimulai sesudah shalat Ashar dan nanti berakhir . sesudah shalat Ashar pula.” Dan tidur  bagi orang Suluk atau  Riyadhah itu tiga jam dimalam hari dan satu jam di siang  hati. Di malam hari dari jam 23.00 wita  hingga  jam 02  malam dan di siang hari dari jam 11  hingga jam  12.00 wita, sedangkan amaliyah yang dibaca  Insya Allah  :

a.Al Qur’an al Karim

b.Shalawat atas Nabi Saw

c.Shalat  Sunnat

d.Amaliyah yang diberikan Mursyidnya

Guru Syekh Syairazi bin H.Pandi Makeri adalah murid Guru Syekh Zani Ghani (Gr.Sakumpul) Beliau lama belajar di Mekkah al Mukarramah hingga mendapatkan Gelar SYEKH disana.

2..RIYADHAH MEMASUKI HARI KEDUA SIANG DAN MALAMNYA

Modah-modahan Allah Swt menganugrahkan kepada kita sifat-sifat yang dimiliki oleh Shahabat Nabi Abu Bakar RA berkat banyak mengucap kalimat Tasbih yang selalu diamalkan Shahabat Nabi ini.

Sedangkan memasuki hari kedua untuk  sing dan malamnya, setelah mengerjkan shalat sunnat  Rawatip dan Sunnat Nafilah lainnya dan membaca Al Qur’an dan Shalawat dan Wiridan-wiridan yang selalu diamalkan sehari-hari, diruangan tempat berjama’ah Shalat Fardlu.

Salik masuk kamar lagi, boleh shalat sunnat pula atau langsung duduk thariqat al Junaidiyah kemudian memperbaharui Tawajjuh Muthlaqnya  :

a.Tawassul  5 kali membaca al Fatihah,

b.Murabithah kepada Guru Mursyidnya,

c.Tawajjuh Muthlaq,

d.Membaca Talqin Dzikir

e.Membaca Asma’ul Husna

f.Berdo’a

g.Membaca TAHMID sebanyak-banyaknya.

Sadatina  Guru  Maskur  bin Abbas  menjelaskan  kepadaku (Penyusun Umdatul Hasanah)  bahwa  memasuki hari kedua untuk  sing dan malamnya membaca Tahmid yakni : “ALHAMDULILLAH  ”    sebanyak-banyaknya.

اى المقصود التحميد يقول:" الحمد لله"

Adapun maksud pembicaraan Tahmid “ALHAMDULILLAH” Maknanya “Maha Puji Allah”

Penyusun kitab al Risalah UMDATUL HASANAH ........ sangat menyukai Salik yang dalam Hal Riyadhah sebelum  didahului membaca kalimat Tahmid  ini ............mengata :

. سبحان الله العلي العظيم وبحمده دائما الحمد لله

Seterusnya diucapkan oleh Salik :” ALHAMDULILLAH  ”      الحمد لله     sebanyak-banyaknya.

Dalam riwayat ada disebutkan bahwa bahwa Rasul  Saw  pernah bersabda :

قال عليه الصاة والسلام : "أفضل الذكر الحمد لله "

Maksudnya :” Seafdal-seutama dzikir mengucapkan kalimat Al Hamdulillah”.

Mengucapkan  kalimat Tahmid “ALHAMDULILLAH adalah jalan tarekat yang diberikan Nabi Muhammad Saw  kepada Shahabat Umar Bin Khattab al Faruq, oleh karenanya Sayyidina Umar Bin Khattab al Faruq sangat banyak membaca dan mengamalkan kalimat Tahmid ini.

Semoga Allah Swt dan Insya Allah, Allah akan menganugrahkan sifat-sifat yang dimiliki Shahabat Nabi Saw ini, dan Allah akan mewariskan sifat-sifat Sayyidina  Umar Bin Khattab al Faruq RA Insya Allah kepada  Salik PTJ yang selalu mengucapkan kalimat Tahmid ALHAMDULILLAH”.

3.RIYADHAH  MASUKI  SIANG KETIGA DAN  MALAMNYA

Adapun memasuki siang ketiga dan malamnya, setelah Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) mengerjakan shalat sunnat, sunnat Rawatib dan sunnat Nafilah, dan mengerjakan wiridan-wiridan yang selalu dibacanya selesai shalat wajib dan ini dikerjakan juga ditempat shalat berjama’ah.   Istirahat, makan – minum, mandi dan lainnya dilakukan seperti apa yang disunnahkan oleh Rasulullah Saw,  maksudnya jaga adabnya dan apa saja do’a  yang sunnat dibaca. Kemudian Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) masuk kamar lagi, shalat sunnat dan Duduk Thariqat al Junaidiyah kemudian memperbaharui TAWAJJUH MUTHLAQ yang didahului Tawassul, Murabithah kepada Guru, Tawajjuh, Talqin Dzikir  Thariqat al Junaidiyah,  Asma ul Husna dan Do’a. Kemudian membaca kalimat yang diperintahkan Gurunya, yakni kalimat  “Tahlil atau kalimat Thaibah atau  kalimat Tauhid”  sebanyak-banyaknya secara zihar ayitu pelan-pelan dan nyaring.

Sadatina  Guru  Maskur  bin Abbas  menjelaskan  kepadaku (Penyusun Umdatul Hasanah)  bahwa  memasuki hari ketiga untuk  sing dan malamnya membaca  kalimat Tahlil  sebanyak-banyaknya. “ LAA-ILAAHA-ILLALLAH “

اى المقصود التهليل  أو كلمة التوحيد  يقول "لاإله إلا الله"

Adapun kalimat Tahlil  atau  kalimat Tauhid atau kalimat Thaibah  yang akan dibaca Salik adalah “ LAA-ILAAHA-ILLALLAH “

لاإله إلا الله

Kalimat TAHLIIL atau kalimat TAUHID, inilah jalan  Thariqat  yang diberikan oleh Rasulullah Saw kepada Shahabatnya Sayyidina Usman bina Affan. Shahabat  ini sangat banyak mengucapkan kalimat Tahliil  atau  kalimat Tauhid atau kalimat Thaibah , oleh sebsb  ini bagi Salik  Pengamal  Thariqat al Junaidiyah yang sedang dalam Riyadhah  harus banyak-banyak mengucapkannya.

Penyusun kitab al-Risalah Umdatul Hasanah ........ sangat menyukai Salik, sebelum ia mengucap Kalimat TAHLIIL atau kalimat TAUHID atau kalimat Thaibah  ini, didahuluinya  mengucap kalimat sepotong ayat Al Qur’an Surat Ar Radu ayat 28 sebanyak satu kali berbunyi :

اَلَّذِّيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ اَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

Artinya :  (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.QS. Ar Ra'du 28

Seterusnya  Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ)  mengata kalimat : “ LAA-ILAAHA-ILLALLAH “     لاإله إلا الله  sebanyak mungkin  mengucapkannya..

Di dalam kitab Hasyiyah Ad Dasuki disebutkan tentang  kalimat Tahlil atau  kalimat Tauhid  atau kalimat Thaibah  bahwa  :

الطيبة وهى دعوة الحق وهى العروة الوثقى وهى ثمن الجنة وفيه وقال تعالى هل جزاء الإحسان  إلا الإحسان فقيل الإحسان فى الدنيا قول : لاإله إلا الله  وفى الأخرة الجنة لمن قالها

Kebaikan adalah seruan kepada kebenaran, ikatan terkuat, dan harga surga. Dan Allah Yang Maha Kuasa berfirman, "Apakah ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan?" Dikatakan bahwa kebaikan di dunia ini adalah mengucapkan, لاإله إلا الله   artiya "Tidak ada tuhan selain Allah," dan di akhirat, surga adalah bagi siapa pun yang mengucapkannya.

قال عليه والصلاة والسلام: أفضل الدعاء لاإله إلا الله 

روى الترمذى أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: التسبيح نصف الإيمان والحمد لله تملأ الميزان ولاإله إلا الله ليس لها دون الله حجاب حتى تخلص إليه. كما قاله حاشية الدسوقى 227

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Doa yang paling baik adalah لاإله إلا الله artinya ‘Tidak ada Tuhan selain Allah.’” At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Memuliakan Allah adalah setengah dari iman, dan memuji Allah memenuhi timbangan amal, dan ‘لاإله إلا الله  artiya : Tidak ada Tuhan selain Allah’ tidak terhalang oleh Allah sampai kepada-Nya.” (Sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ad-Dasuqi, hlm. 227)

قال الشيخ محمد الدسوقى فى شرح أم البراهين قال صلى الله عليه وسلم : ما قال أحد لاإله إلا الله  مخلصا من قلبه إلا فتحت السماء حتى يفضى إلى العرش ما اجتنبي الكبائر.

Maksudnya  : Syaikh Muhammad al-Desuqi berkata dalam Syarah Umm al-Baraheen : Nabi Muhammad  Saw  bersabda bahwa sesuatu yang telah dikatakan seseorang bahwa: "Tidak ada Tuhan kecuali Allah, hal keadaan  dari hatinya ikhlas, melainkan dibukakan langit hingga  diselamatkan  sampai hatinya menuju takhta Aarsy.............karena/ sebab maujauhi  dosa-dosa besar.

Kitab Syarah Umm al-Baraheen al-Desuqi juga menyebutkan bahwa Imam Hadist An Nasa’i meriwayatkan sebuah hadist Nabi Saw yang berbunyi : Telah bersabda oleh Rasulullah Saw :

قال موسى عليه الصلاة والسلام: يا رب علمنى مااذكرك وادعوك به. فقال تعالى ياموسى قل:لاإله إلا الله قال موسى عليه الصلاة والسلام:يارب كل عبادك يقولون هذا قال قل:لاإله إلا الله. قال موسى لاإله إلا أنت إنماأريد شيئ تحصنى به قال ياموسى لو أن السموات السبع  وعامرهن غيرى والأرضين السبع في كفة  و لاإله إلا الله لمالت بهن لاإله إلا الله... الدسوقى رقم226

Nabiyullah Musa, alaihis salam, berkata: Ya Tuhan, ajarkanlah kepadaku apa yang harus kuingat kepada-Mu dan apa yang harus kuserahkan kepada-Mu. Allah berfirman, Katakan olehmu : لاإله إلا الله (Tidak ada Tuhan selain Allah). Musa, alaihis salam, berkata: Ya Tuhan, semua hamba-Mu mengucapkan ini. Dia berkata: Ucapkanlah: Tidak ada Tuhan selain Allah. Apa yang harus Kulakukan jika kalian tidak dapat mengucapkannya dengan benar? [Berikut ini tampaknya merupakan pertanyaan terpisah yang tidak terkait:] Tidak ada Tuhan selain Allah... Kitab Al-Desouki No. 226.


4.RIYADHAH  MASUKI  SIANG KEEMPAT DAN  MALAMNYA

Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) memasuki siang keempat dan malamnya, setelah mengerjakan shalat sunnat, sunnat Rawatib dan sunnat Nafilah, dan mengerjakan wiridan-wiridan yang selalu dibacanya selesai shalat wajib dan ini dikerjakan juga ditempat shalat berjama’ah.   Istirahat, makan – minum, mandi dan lainnya dilakukan seperti apa yang disunnahkan oleh Rasulullah Saw,  maksudnya jaga adabnya dan apa saja do’a  yang sunnat dibaca. Kemudian Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) masuk kamar lagi, shalat sunnat dan Duduk Thariqat al Junaidiyah kemudian memperbaharui TAWAJJUH MUTHLAQ yang didahului Tawassul, Murabithah kepada Guru, Tawajjuh, Talqin Dzikir  Thariqat al Junaidiyah,  Asma ul Husna dan Do’a. Kemudian membaca kalimat yang diperintahkan Gurunya, yakni kalimat  “TAKBIIR”  yaitu “ALLAHU AKBAR” ”   الله أكبر”  " الله أكبر"  الله أكبرsebanyak-banyaknya secara zihar ayitu pelan-pelan dan nyaring didengar oleh telinganya..

Sadatina  Guru  Maskur  bin Abbas  menjelaskan  kepadaku  bahwa  memasuki hari keempat untuk  sing dan malamnya membaca   الله أكبر   الله أكبر  sebanyak-banyaknya.

Menurut Sadatina Junaidiyah bahwa kalimat Takbir adalah salah satu Jalan Thareqat yang diajarkan oleh Rasulullah untuk Shahabatnya yang bernama Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu. Oleh karena itu Riyadhah Thariqat al Junaidiyah siang dan malamnya yang keempat, Salik PTJ diharuskan banyak-banyak mengata Kalimat “Allahu Akbar” ”   الله أكبر” agar nanti Salik dianugrakhan dan diwariskan sifat-sifat Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.

Adapun maksud Takbir yang akan dibacanya adalah “ALLAHU AKBAR” yang artinya “Allah itu Maha Besar”.

Penyusun kitab al-Risalah Umdatl Hasanah ......... lebih menyukai Salik jikalau didahului membaca kalimat di bawah ini satu kali.......

الحد لله رب العالمين على كل حال وفى كل حال ونعمة لاإله إلا الله و الله أكبر ......" الله أكبر" الله أكبر" الله أكبر"


5. RIYADHAH/ SULUK  MASUKI  SIANG HARI KELIMA, HARI ENAM, HARI TUJUH DAN  MALAMNYA

Adapun memasuki siang kelima, keenam dan kejuh dan juga malamnya,

Sadatina  Guru  Maskur  bin Abbas Kelua Tabalong menjelaskan  kepadaku  bahwa  memasuki hari kelima, keenam dan kejuh dan juga malamnya Gabungan dari  hari pertama sampai hari keempat yakni  membaca  sebanyak-banyaknya. Kalimat :

" سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر"

setelah Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) mengerjakan shalat sunnat, sunnat Rawatib dan sunnat Nafilah, dan mengerjakan wiridan-wiridan yang selalu dibacanya selesai shalat wajib dan ini dikerjakan juga ditempat shalat berjama’ah.   Istirahat, makan – minum, mandi dan lainnya dilakukan seperti apa yang disunnahkan oleh Rasulullah Saw,  maksudnya jaga adabnya dan apa saja do’a  yang sunnat dibaca. Kemudian Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) masuk kamar lagi, shalat sunnat dan Duduk Thariqat al Junaidiyah kemudian memperbaharui TAWAJJUH MUTHLAQ yang didahului Tawassul, Murabithah kepada Guru, Tawajjuh, Talqin Dzikir  Thariqat al Junaidiyah,  Asma ul Husna dan Do’a. Kemudian membaca kalimat yang diperintahkan Gurunya, yakni kalimat  “Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir”  sebanyak-banyaknya secara zihar ayitu pelan-pelan dan nyaring dalam artian di dengar oleh telinganya.

اى المقصود التسبيح والتحميد والتهليل والتكبير يقول " سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر"

Adapun kalimat  dimaksud  yang akan dibaca Salik adalah “ SUBHAANALLAAH WAL HAMDU LILLAAH WA LAA-ILAAHA-ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR “

Nabi kita Muhammad Rasulullah Saw telah bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لأن أقول" سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر" أحب إلي مما طلعت عليه الشمس. رواه الترمذى

Artinya : Bersada Nabi kita Muhammad Rasulullah Saw bahwa “Aku ucapkan Subhaanallaah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar, empat kalimat tersebut lebih aku sukai dari sesuatu yang terbit diatasnya oleh matahari.(HR.At Termuji).

Sebenarnya penggabungan dari ke empat kalimat diatas yakni Subhaanallaah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar, yang harus dibaca sebanyak-banyaknya oleh Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) ketika dalam hal Riyadhah. Saya baca ada sebagian riwayat  yang mengetakan bahwa Keempat Kalimat  tsb “Subhaanallaah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar”  adalah ucapan dari Para Malaikat untuk menyambut dan menyungsung datang dan lahirnya Pemimpin Dunia dan Akhirat yaitu Nabi Besar Muhammad Saw  ke alam dunia ini, sebagai Nabi dan Rasul terakhir zaman, pembawa rahmat untuk semesta alam. Saat itu semua Malaikat diperintahkan oleh Allah Swt membaca Empat Kalimat  ini :

" سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر"

Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) yang dalam keadaan Riyadhah atau  isterinya dalam Hamil sangat dianjurkan  agar banyak-banyak penggabungan kalimat tsb khususnya selalu mengerjakan shalat  TASBIH minimal 1 kali siang hari dan 1 kali dimalam hati.

Semoga Allah Swt menganugrahkan kepada Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) akan sifat-sifat ke Nabian yaitu sifat-sifat yang dimilik Rasulullah Saw. Nabi Muhammad Saw Bersabda :

قال النبي صلى الله عليه وسلم : العلماء ورثة الأنبياء

Artinya : Nabi Muhammad Saw Bersabda bahwa “Ulama itu mewarisi sifat-sifat Para Nabi”.

Dalam Kamar Riyadhah atau Kamar Khalwat  Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) hendaklah seakan-alan ia berada di dalam perut Sang Ibu, ia tidak bekerja cari nafkah, tak ada makanan kecuali yang dibrikan  Gurunya, tidak tampak kesenangan duniawi, tidak ada yang menghubungi kecuali Gurunya ( Fana u fi syikh ) القناء فى الشيخ  terus fana .......hingga ia Fana pada Diri Rasulullah.

Di dalam Kitab Dardir tentang Isra walmi’raj Nabi Muhammad Saw, dikatakan bahwa Nabi Saw ketika sedang Mi’raj dilangit ke tujuh Nabi Ibrahim AS berpesan kepada Nabi kita  Muhammad Saw agar  supaya Ummatmu menanam tanaman dari Sorga

 يا محمد مر أمتك فلتكثر من غراس الجنة

“Ya Muhammad, Suruh Ummatmu, agar banyak-banyak menanam tanaman dari Sorga” Nabi Muhammad Saw bertanya, apakah yang dimaksud dengan tanaman dari Sorga itu ?

ما غراس الجنة ؟

Jawab Nabi Ibrahim AS sesungguhnya yang dimaksud dengan tanaman dari Sorga itu yaitu kalimat “Subhaanallaah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar”  

وإن غراسها سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر

Modah-modahan Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) yang  Riyadhah (Berada dalam Rahim Ibunya) ini ketika ia lahir ( Keluar Kamar Riyadhah} akan membawa kesucian dan mewarisi sifat-sifat Kenabian atau mewarisi sifat-sifat Shahabat Nabi yang Empat : Sayyidina Abu Bakar RA, Sayyidina  Umar Bin Hattab al Faruq, Sayyidina Usman Bin Affan dan Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib.

Aku dengar salah satu Widiswara (Guru Pengajar)  berceritra  ketika Aku mengikuti Diklat Pembinaan Kepenghuluan katanya bahwa “Nabi Daud AS ketika ia berada di kebun di siang hari, Ia melihat seekor Ulat berada di ranting kayu pada sebatang pohon. Ulat itu merayap-rayap, tiba-tiba Ulat itu berhenti seakan-akan memandang Nabi Daud AS, entah mengapa terpetik atau terlintas di hatinya : “Untuk apa Ulat ini diciptakan Allah Swt” Dengan ijin Allah Swt seekor Ulat itu menjawab bahwa “Saya mengucap Tasbih : Subhaanallaah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar”   

سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر

Satu hari semalam sebanyak Serbu kali, Dalam Ceritra ini Nabi Daud AS telah dikaruniakan ilmu laduni sehingga ia mengerti Bahasa Ulat terseburt, Oleh karena itulah apabila ia membaca Kitab Zabur maka anginpun berhenti, burung di udara berhenti dan binatang lainpun mendekat kepadanya untuk mendengarkan keindahan suaranya. Masya Allah ilmu ini diwarisi oleh anaknya Nabi Sulaiman.

Dan diriwayatkan juga bahwa Rasulullah Saw menyuruh Siti Aisyah RA untuk mengucapkan kalimat Tasbih ini 4 kali sebelum tidur maka nilai Pahalanya sama dengan ibadah Haji dan Umrah.

سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر

Aku Penyusun kitab al Risalah Umdatul Hasanah ......... berangan-angan untuk Guru Mursyid dan Muridnya Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) yang  Riyadhah “Alangkah Baiknya diberitahukan Asma’a Allah yang Akhir lagi dirahasiakan” Di Malam Kelima atau Malam Ketujuh dari Sembilan Puluh Sembilan Nama Allah yang sudah diamalkannya ketika sesudah shalat dan ditambah Satu Nama yang sangat dirahasiakan. Bila nama tsb dibuka di depan Umum  maka Najis, Ia akan marah, dibenci orang dan dikatakan orang kafir, yang dibicarakan bukan Dzat-Nya tetapi Nama-Nya.

Pemberitahuan ini dilakukan sesudah Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah di Bai’at Khusus oleh Guru Mursyidnya agar Salik dapat  merahasiakan Nama yang satu itu. Dan agar tidak terjadi fitnah di kemudia hari yang menyusahkan kita bersama.

 Penyusun kitab al-Risalah Umdatul Hasanah .........beralasan bahwa Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah, merekalah yang cucuk,  merekalah yang pantas mengetahui dan memegang Amanah Rahasia tentang Ketuhanan ini, sebab sehari semalam mereka sudah mengucapkan 99 Nama Allah tersebut setelah shalat 5 waktu.

Aku dengar Sadatina al Junaidiyah Guru Masykur (Murid termuda dari Guru Syekh KH.Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shalih)  yang Penyusun temui bahwa “Sebelum kita berkhalwat atau Riyadhah yang penting kita mantapkan dan diresapi terlebih dahulu adalah Tawajjuh Muthlaq”.

Aku berharap semoga selalu mencurahkan Taufik, Hidayah dan Rahmat-Nya serta Minnah kepada kita semua PTJ, Semoga apa saja yang Penyusun paparkan dalam kitab al-Risalah UMDATUL HASANAH LIL JAMA’AH  AL THARIQAT AL JUNAIDIYAH sebagai Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah dapat membantu Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah itu sendiri  dalam mendalami dan memahami serta mengamalkan isi dan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan Sorga Ma’rifat, Amiin, amiin ya rabbal ‘alamin.


16. MEMPERBANYAK MEMBACA SHALAWAT (PILIHAN) ATAS NABI SAW

ممباج : صَلَاوَة عَلَى النًّبِيّ مُحَمَّدٍ صلعم

1. Shalawat Jibril Alaihis Salam /Shalawat Awwal atau Shalawat Rahmat

Membaca shalawat atas Nabi Muhammad Saw adalah perintah  Allah Swt kepada kita ummat Islam yang cinta dan sayang kepada Nabinya, Diceriterakan orang tentang sejarah adanya Shalawat Jibril atau Shalawat Awwal atau ada juga yang menyebutnya Shalawat Rahmat bahwa Dalam Sorga semuanya berpasang-pasangan, Nabi Adam merasa kesendirian di Sorga belum ada pasangannya, Allah Swt lebih tahu keadaan batin hamba-Nya.  Ketika Adam tertidur, ia bermimpi didatangi seorang wanita yang sangat cantic rupawan, kemudian ia terbangun ternyata memang ada seorang wanita disampingnya, yaitu Siti Hawa  yang diciptakan Allah Swt sebagai calon  pendamping atau pasangan  Nabi Adam Alaihis Salam untuk menghuni-mendiami bumi ini beserta anak-anak cucunya nanti, maka Nabi Adam dilarang ketika itu menjamah untuk memperisteri Siti Hawa, sebelum ada mahar sebagai tali pengikat perkawinan saat itu, Padahal Emas, Permata sudah tersedia, tapi semuanya tiada berharga disaat Nabi Adam dalam Sorga, tiada bisa untuk dijadikan mahar. Tiada ada yang dimiliki Nabi Adam  untuk diberikan kepada calon isterinya,  maharnya.mempelai lelaki  adalah wajib diterima oleh wali atau calon isterinya maka Jibril turun menemui Nabi Adam dan mengajarkan shalawat ini sebagai mahar untuk memperisteri Siti Hawa Karena Jibril yang pertama kali mengucapkan shalawat ini maka shalawat ini dinamai Shalawat Jibril

 "صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ"

Ada yang mengatakan bahwa Syekh Sunan Apel mengamalkan Shalawat Awwal ini 100 kali sehabis tiap shalat fardlu.

2ز Shalawat Ummi

 اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِالنَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ 

3. Shalawat Dzurriyat Nabi Saw

-اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ

4. Shalawat Asyghil

Yang pertama membaca shalawat Asyghil ini adalah Imam Ja'far as Shadiiq (w.138H) Beliau membaca shalawat Asyghil ini saat melakukan  do'a qunut shalat subuh

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ  ﺻَﻞِّ ﻋَﻠﻰَ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ، ﻭَﺃَﺷْﻐِﻞِِ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺑِﺎﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻭَﺃَﺧْﺮِﺟْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻨِﻬِﻢْ ﺳَﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻭَﻋﻠَﻰ ﺍﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪ.اَجْمَعِيْن

5. Shalawat Nur al Anwar

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى نُوْرِ اْلأَنْوَارِ وَسِرِّ الأَسْرَارِ وَتِرْيَاقِ اْلاَغْيَارِ وَمِفتَاحِ بَابِ الْيَسَارِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدِ نِ الْمُخْتَارِ وَآلِهِ اْلأَطْهَارِ وَاَصْحَابِهِ اْلاَخْيَارِ عَدَدَ نِعَمِ اللهِ وَاِفضَالِهِ

Barangsiapa membaca shalawat ini akan mendapatkan apa yang menjadi hajat, menghilangkan problem yang menghimpit, menolak godaan hawa nafsu, setan, dan musuh-musuh manusia lainnya, serta jalan untuk bertemu nabi dalam mimpi.

Sayyid Ahmad al Badwi juga mengatakan jika dibaca setiap selesai shalat fardhu, maka akan terhindar dari segala mara bahaya dan memperoleh rizki dengan mudah. Jika dibaca 7 kali sebelum tidur, insya Allah akan terhindar dari sihir yang dilakukan orang jahat. Jika dibaca 100 kali sehari semalam, akan memperoleh cahaya Illahi, menolak bencana, mendapat rizki lahir batin.

6. Shalawat PENDINGIN MATA

مَرْحَبًا بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى قُرَّةَ عَيْنِ بِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ -اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا قُرَّةُ عَيْنِ قَتَدَةَ

Dibaca dua kali saat MUAZIN Mengata :

Asyhadu anna muhammadar rasulullah (1 x baca shalawat diatas)

Sejarahnya Shahabat Nabi Saw yang bernama Qatadah ini buta sesaat/setelah  ikut berperang dengan Nabi, entah apa sebabnya hingga ia selalu bershalawat atas Nabi Saw dengan shalawat tersebut saat/sesudah Muazzin mengata “Asyhadu anna muhammadar rasulullah “(lalu 1 x baca shalawat diatas) lalu mengecup kedua kuku ibu jarinya dan diusakan ke dua matanya. Dan begitu pula Muazzin mengata “Asyhadu anna muhammadar rasulullah “(yang kedua).

7. Shalawat Fulus

-اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مُحْيِ النُّفُوْسِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الْخَلُوْسِ اَعْطِنِي الرِّزْقَ وَالْفُلُوْسَ

1). Sayyid H.Hasan Baseri mengamil shalawat fulus dari KH.Muhammad Ilyas (Kabid Bimas Islam Kanwil Bjm), Beliau mengambil dari Guru Sakumpul (Alm Gr. Ijai)

8. Ayat Penyembuh penyakit lahir dan batin

1.     al Qur'an Surat Yunus  57 dan Al Isra 82 berbunyi :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَائَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِى الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ. سورة يونس 57

Artinya :"Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran  (al Qur,an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petujuk serta rahmat bagi orang-orang beriman.

  وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ  إِلَّا خَسَارًا     الاسراء

Artinya: Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian (al Isra 82)

9. Shalawat Thibb al Qulub

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ الأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا وَنُوْرِ الأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلٰى آَلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ

10. Shalawat Mukhathab Bentuk Sighat berbunyi ;

اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ  عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ خُذْ بِيَدِيْ قَلَّتْ حِيْلَتِيْ أَدْرِكْنِيْ    

Faedah membaca shalawat ini adalah untuk meminta pertolongan kepada Allah dengan wasilah Rasulullah SAW untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berat, susah, dan sangat memperihatinkan yang tidak bisa dijangkau oleh pikiran dan tenaga manusia

11,.Shalawat al Nur al Dzati

Adalah Shalawat  dari SAYYIDI  ABIL HASAN AS SYADZILI RA  :

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِ النُّوْرِ الذَّاتِيْ وَالسِّرِّ السَّارِيْ فِيْ سَائِرِ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ 

Imam al Shawi Mengatakan bahwa shalawat yang disusun oleh Syaikh Abu Hasan al Sadzily ini nilainya seperti membaca 100.000 shalawat untuk menghilangkan susah, sedih, dan problem yang berat.

Diriwayatkan ada seorang pemuda yg suka membaca shalawat nur dzat setiap hari tanpa hitungan semata-mata hendak mencintai Nabi Saw maka pemuda tsb berkali kali bertemu Rasulullah di dalam mimpinya,, .dia dalam mimpi juga dapat memeluk Rasulullah,. dan Rasulullah tersenyum mencium bibirnya... Dikisahkan juga bahwa ada seseorang yg mengamalkan shalawat ini secara istiqomah maka bila malam hari ia selalu bermimpi dg para wali yg masyhur dan yg mastur...dan ada lagi seorang kiai yg mengamalkan shalawat ini di daerah Jawa Barat.. beliau diberi Allah ilmu mengerti banyak bahasa meskipun sebelumnya tidak pernah belajar,,. di daerah Lamongan , Jawa Timur, seorang kiai didatangi banyak orang yg meminta air putih atau doa kesembuhan, banyak yg sembuh total dari penyakitnya berkat kiai tsb gemar mengamalkan Shalawatnur dzat...(4)

12. Shalawat  Ibrahimiyah

ممباج : صَلَاوَة اِبْرَاهِيْمِيّة 1 مرة اى اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمِ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ و عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ. كَمَابَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

 

الصلاة الكبري للامام جنيد البغدادي

13زSHALAWAT KUBRA IMAM  JUNAID  AL BAGDADI

Ada yang mengatakan  bahwa "Shalawat Kubra adalah Shalawat Syaikh Imam Junaidi Al-Bagdadi RA ahli tasawuf dari Baghdad. Adapun faedah dan khasiatnya sangat banyak dan sangat besar sekali bahkan Kanjeng Syekh Abdul Qadir Jailani pun selalu membaca shalawat Kubra ini dan ditambah dengan membaca Asma'ul Husna dan 201 Asma'un Nabi Saw sebanyak 1000 kali setiap harinya".

Saya kutip dari sebuah Artikel  "Shalawat Kubra Imam Junaid Al-Bagdadi" bahwa Shalawat Kubra ini dinukil dari Alfiyatu Shalawat yang dihimpun oleh Syaikh Muslih bin Abdurrahman Al-Muraqy, dan Shalawat itu dinamakan Shalawat Kubra, menurut beliau fadhilah Shalawat ini sangat banyak, antara lain yaitu  baik sekali bagi orang yang sedang menunaikan Ibadah Haji ke Mekah dan Madinah untuk memperbanyak membaca Shalawat Kubra itu di mana saja yang pantas

Fadhilah dan faedah Shalawat Kubra : fadhilah dan khasiyat Shalawat Kubra itu besar dan banyak sekali, yang diantaranya barang siapa yang membaca secara  istiqamah sehari satu kali, insya Allah orang tersebut akan diberi pahala dan kenikmatan yang besar sekali dari Allah, yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar telinga orang dan belum pernah terlintas di benak seseorang. Dan juga akan mendapat ketentraman hati cukup sandang pangan serta dikabulkan hajatnya.

Insya Allah :

Shahibul Artikel berkata bahwa "Alfaqir ijazahkan Shalawat Kubra tersebut dibawah bagi siapa saja yang mau mengamalkannya,shalawat tersebut dibacanya 1x atau 3x atau sekuatnya dalam setiap harinya dengan istiqamah atau dibaca minimal setiap malam Jum’at atau Hari Jum’at"..Jawab qabiltu ………

Sejarah Shalawat Kubra di Nusantara

Saya kutip dalam sebuah Artikel bahwa  shahibul Artikel berkata : “Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah Swt yang telah mengutus kekasihNya termulia Rasulullah Muhammad Saw sebagai pembawa cahaya kebenaran hidayah Iman dan Islam bagi seluruh umat manusia. Sebagai bukti cinta pada  Rasulullah Saw, maka seharusnya kita mengikuti sunnah beliau dan memperbanyak Shalawat  dan salam. Sebagai penambah kecintaan kita pada Rasulullah Saw

Berikut kami sampaikan amaliah Shalawat  Kubra yang sangat agung dan besar manfaatnya sekaligus kami ijazah kan kepada siapapun umat Rasulullah Saw Shalawat ini telah diamalkan para auliya dan ulama salafus shalih dan shiddiqin dari generasi ke generasi, antara lain : Imam Junaed Al Bagdadi, Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, syaikh Ibnu Muhyidin Al Irbili dan Walisongo.

Dikisahkan pada masa pemerintahan Kerajaan Majapahit datang Syaikh Maulana Maghribi dari Andalus (Spanyol) ke Tanah Jawa menyebarkan ajaran Islam Syaikh Maulana Maghribi mempunyai tujuh orang murid yang menjadi ulama penyebar agama Islam di tanah Jawa yang senantiasa mengamalkan Shalawat Kubra. Satu diantara ketujuh ulama tersebut adalah Kyai Songgo Langit yang memiliki ilmu sangat tinggi yang mampu mengalahkan orang – orang sakti melalui keistimewaan Shalawat Kubra. Pada masa Kesultanan Islam pertama di Jawa yaitu Kesultanan Demak Bintoro, Shalawat Kubra telah banyak diamalkan oleh para pejabat Kesultanan, para Ulama maupun masyarakat pada umumnya. Dengan amalan Shalawat Kubra, Kesultanan Demak dapat meruntuhkan Kerajaan Majapahit dan mengalahkan musuh – musuh Negara sehingga pada saat itu Kesultanan Demak Mencapai kejayaan dan kemakmuran. Dari kenyataan sejarah membuktikan bahwa Shalawat Kubra telah diamalkan oleh kaum muslimin sejak zaman dahulu sehingga menghantarkan kemuliaan, kesejahteraan dan kejayaan kaum muslimin pada zamannnya.

 Fadlillah Shalawat Kubra

Selanjutnya shahibul Artikel juga menyebutkan beberapa Fadlillah Shalawat Kubra   :

1. Dari Sayyidina Abbas RA bahwa pada saat Rasulullah SAW sedang duduk di Masjid Nabawi datang Malaikat Jibril menghadiahkan Shalawat (Alfu Alfi Shalatin wa Alfu Alfi Salaamin’ alaika yaa sayyidal Mursaliin ... dst).Kemudian Malaikat Jibril berkata “Barangsiapa membaca Shalawat ini maka Allah SWT akan menciptakan 70.000 malaikat dimana setiap malaikat mempunyai 80.000 kepala dan setiap kepala mendoakan orang yang membaca Shalawat tersebut. Sedangkan doa malaikat dikabulkan Allah SWT. (HR An Nasai).

2. Dalam kitab Tafrikhul Khotir Shofhah 27 susunan Syaikh Imam Ibnu Muhyiddin Al Irbili dikatakan bahwa Shalawat ini diamalkan oleh Syaikh Imam Junaid Al Baghdadi Waliyullah dan oleh Sulthonal Auliya Al Ghouts Quthbir-rabbani Syaikh Muhyiddin Abdul Qodir Al Jailani Waliyullah beliau mengamalkan Shalawat ini 1000x sehari semalam ditambah Asmaul Husna dan Asma Nabi. Sehingga beliau memperoleh karunia berupa karomah/kemuliaan yang sangat tinggi dari Allah SWT.

3. Barang siapa membaca Shalawat Kubra secara rutin minimal 1x sehari semalam maka akan diberikan ketenangan dan ketentraman dalam keluarga, diberikan kecukupan rezeki (sandang pangan) dan dikabulkan semua hajat yang diinginkan.

4. Barang siapa membaca Shalawat Kubra akan diselamatkan dari 600.000 (enam ratus ribu) macam bala’ dunia dan akhirat.

5. Barang siapa membaca Shalawat Kubra secara rutin maka akan diberikan ketenteraman hati, tercapai tujuan dunia dan akhirat, selalu dipelihara Allah SWT iman dan islamnya.

6. Barangsiapa mengharap dimudahkan dapat berziarah ke tanah suci Makkah dan Madinah (Haramain Syarifain) maka hendaknya memperbanyak membaca Shalawat

Kubra dengan rasa ikhlas dan mahabbah (cinta) pada Rasulullah SAW

Berikut Lafadz Shalawat Kubra Imam Junaid al Bagdadi

:اَلْفَاتِحَةُ إِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَتَابعِيْنَ وَتَابعِيِ التَّابعِيْنَ مِنْ اَوْلِيَاءِ اللهِ تَعَالَى وَوَالِدِيْنَ وَمَشَائِخِنَا وَاَوْلَادِنَا وَذُرِّيَّتِنَا وَاَزْوَاجِنَا وَطُلّابِنَا وَمُرِيْدِنَا وَجِرَانِنَا وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ خُصُوْصًا إِلَى رُوْحِ وَلِيِّ اللهِ سَيِّدِنَا الْإِمَامِ جُنَيْدِ الْبَغْدَادِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَ نَفَعَنَا بِهِ وَ بِعُلُوْمِهِ وَ اَسْرَارِهِ فِى الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ  (لهم الفاتحة)

بسم الله الرحمن الرحيم

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ النَّبِيِّيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الصِّدِّيْقِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الرَّاكِعِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْقَاعِدِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ السَّاجِدِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الذَّاكِرِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْمُكَبِّرِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الطَّاهِرِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الظَّاهِرِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الشَّاهِدِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْاَوَّلِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْآخِرِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَارَسُوْلَ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا نَبِـيَّ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَاحَبِيْبَ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مَنْ اَكْرَمَهُ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مَنْ عَظَّمَهُ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مَنْ شَرَّفَهُ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مَنْ اَظْهَرَهُ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مَنِ اخْتَارَهُ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مَنْ صَوَّرَهُ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مَنْ عَبَدَ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا خَيْرَ خَلْقِ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا خَاتِمَ رُسُلِ الله

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سُلْطَانَ الْأَنْبِيَاءْ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا بُرْهَانَ الْأَصْفِيَاءْ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مُـصْـطَـفٰى

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مُـــعْــلٰى

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مُـجْـتَـبٰى

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مُــزَكَّـى

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مَــكِّــيُّ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مَــدَنِـيُّ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا عَـرَبِـيُّ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا قُرَشِيُّ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا هَاشِمِيُّ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا اَبْطَحِيُّ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا زَمْزَمِيُّ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا تِهَامِيُّ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا اُمِّـيُّ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ وَلَدِ آدَمَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا أَحْمَدُ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مُـحَمَّدُ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا طٰـه

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا يٰس

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا مُدَثِّرُ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا صَاحِبَ الْكَوْثَرِ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا شَفِيْعُ يَوْمَ الْمَحْشَرِ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا صَاحِبَ التَّاجِ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا صَاحِبَ الْمِعْرَاجِ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَالْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَالْمُحْسِنِيْنُ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَالْكَوْنَيْنِ وَالثَّقَلَيْنِ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا صَاحِبَ النَّعْلَيْنِ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ الله، يَاخَاتِمَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ

أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَا نَبِيَّ الله، إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَالْـحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن

14. Shalawat al-Fatih

Shalawat Al Fatih ini Susunan Syeikh Muhammad Syamsuddin Bin Abil Hasan Al Bakri ra. Berkata  KH. Husain Kadri Dalam Pagar pada Risalahnya  “Senjata  Mu’min” bahwa shalawat ini sangat baik dibaca tiap malam sebarapa suka banyaknya yaitu :

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، اَلنَّاصِرِ الْحَقّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِيْ إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ(1)

Allahumma Shalli Ala Sayyidina Muhammaddinil Fatihi Lima Ughliqa Wal

Khotimi Lima Sabaqa, an-Nashiril Haqqa Bil Haqqi Wal Hadi Ila Shirotikal Mustaqim shallalahu alaihi Wa Ala Alihi wa Shahbihi Haqqa Qadrihi Wa Miq Darihil Adzim...

Artinya“Ya Allah curahkanlah rahmat dan keselamatan serta berkah atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang dapat membuka sesuatu yang terkunci, penutup dari semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalanmu yang lurus. Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada beliau, kepada keluarganya dan kepada semua sahabatnya dengan sebenar - benar kekuasaannya yang Maha Agung. ”(2).

Syekh Ahmad at Tijany berkata: ”Keistimewaan sholawat al-Fatih sangat sulit di terima oleh akal, karena ia merupakan rahasia Allah Swt yang tersembunyi. Seandainya ada 100.000 bangsa, yang setiap bangsa itu terdiri dari 100.000 kaum, dan setiap kaum terdiri dari 100.000 orang, dan setiap orang diberi umur panjang oleh Allah SWT sampai 100.000 tahun, dan setiap orang bersholawat kepada nabi setiap hari 100.000x, semua pahala itu belum dapat menandingi pahala membaca sholawat al-Fatih 1x.”

Adapun Syaikh Muhammad al Budairi al Qudsi mengatakan bahwa siapa yang membacanya setiap hari setelah membaca al-Musabbi’at al-Asyr (sepuluh bacaan yang dibaca tujuh kali), yaitu Ayat Kursy, al Fatihah, al Ikhlas, al Falaq, al Naas, al Kafirun, tasbih-tahmid-tahlil-takbir-hauqalah, shalawat Ibrahimiyah, dan doa.

(1)Risalah  Senjata  Mu’min disusun oleh KH. Husain Kadri Martapura  tahun 1962M cetakan ke Empat halaman 150

(2)Ust. Muhammad Amiruddin berkata pada “Artikel Shalawat Pilihan“(Gr Sakumpul) Selasa, 20 Februari 2018

Maka akan mendapatkan beberapa faidah di antaranya adalah mendapatkan perlindungan dari bahaya di dunia dan di hari dikumpulkan di padang mahsyar, menjadi benteng dari segala keburukan dan celaka.

اللّهُمّ اغْفِرْ لِيْ وَالِوَالِدَىَّ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَاب

Serta doa:

 اللّهُمَّ افْعَلْ بِيْ وَبِهِمْ عَاجِلاً وَاجِلاً فِيْ الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَاْلآخِرَةِ مَآ أَنْتَ لَهُ أَهْلٌ وَلَا تَفْعَلُ بِنَا ياَ مَوْلَانَا مَا نَحْنُ لَهُ أَهْلٌ إِنَّكَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Berkata Syeikh.Ahmad Showi ra:

"Barang siapa membaca Shalawat  ini walaupun sekali saja seumur hidup nya, Niscaya ia tidak akan masuk neraka".  dan berkata Sebagian Ulama-ulama Besar di Maroko :

اِنَّهُ اُنْزِلَتْ عَلَيْهِ فِى صَحِيْفَةٍ مِنَ الله :

"Sesungguhnya ini Shalawat  langsung di turunkan di sebuah kertas dari Allah ta'ala kepada nya (Pemilik ini Shalawat  Syeikh Syamsuddin)".

"Satu kali membaca ini Shalawat  yaitu sebanding (sama) dgn 1000X bersholawat,ada yang mengatakan 600.000X"

"Apabila dibaca 1x sehari maka tidak akan mati su'ul khotimah"

"Barangsiapa membacanya 1 kali setiap selesai sholat fardhu maka akan dilapangkan kehidupannya dan kelak dibangkitkan bersama para Nabi, Syuhada'. Auliya dan orang-orang soleh"

Berkata lagi Sebagian Ulama: -Barang siapa mengekalkan membaca nya selama 40 hari,Niscaya Allah terima taubat nya dan Allah ampuni sgl dosa-dosanya".

Berkata Syekh Amad Zaini Dahlan, "Shalawat  al fatih bersumber dari Syekh Abdul Qodir al Jilani sangat bermanfaat bagi orang yg berada di permulaan suluk, pertengahan maupun penghabisan, di dalamnya terdapat asror dan keajaiban yg mencengangkan akal dan barang siapa mengekalkan membaca nya setiap hari sebanyak 100X, niscaya dibukakan bagi nya HIJAB dan di anugrahkan ANWAR dan di tunaikan segala hajat nya.


17. RIYADHAH MUSYAHADAH BAGI PTJ THARIQAT ALJUNAIDIYAH

Riyadhah Musyahadah adalah Suluk latihan kerohaniaan yang dilakukan Pengamal Thariqat al Junaidiyah dalam Kamar Rumahnya sendiri. Guru Mursyidnya hanya memantau dengan kecamata kesufiannya, ia dapat  melihat-mengawasi Muridnya secara sirriyah/rohaniyah, waktunya sehari semalam atau boleh tiga hari dengan malamnya.

Sadatina  Guru  Maskur  bin Abbas  menjelaskan  kepadaku (Penyusun Umdatul Hasanah)  bahwa  Riyadhah Musyahadah lamanya 1 hari satu  malam yang dilaksanakan dirumah si Murid, sedangkan Guru Mursyid mengawasinya dari rumahnya saja dengan kacamata kesufiannya.

Sebelum masuk kamar riyadhah Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah minta izin dahulu kepada Guru Mursyidnya, jika ia masih hidup. Jika Guru Mursyidnya sudah wafat, Aku berpendapat murid mengunjungi kuburnya jika mampu, jika tidak  Murid cukup menziarahi Gurunya lewat mata batennya dan minta untuk khalwat masuk kamar periadhahan seolah-olah Guru Mursyidnya memberi izin. Dengan Cara berikut :

1.Membaca  surat al Fathah 1 kali

2.Membaca  surat al Ikhas  11 kali

3.Membaca  surat al Falaq 1 kali

4.Membaca  surat al Naas  1 kali

5.Membaca  Shalawat atas Nabi Saw, kemudian dihadiahkan untuk Gurunya

6.Mengucap  Salam  3 kali yakni :

Sadatina  Guru KH. Muhammad Subli bin  Saberi  menjelaskan  kepadaku (Penyusun Umdatul Hasanah)  bahwa  Ketika kami ingin memziarahi  makam Tuan Guru KH. Muhammad Qurtuby bin Khalid bin Thahir di Kota Pelangkaraya ketika dimakam nanti ucapkan Salam  3 kali yakni :

-       السلام عليكم يا روح فى العالمين

-       السلام عليكم يا ملائكات الله

-       السلام عليكم يا شيخي …….

7.Memajamkan kedua matanya, hatinya berjalan menziarahi Gurunya lewat mata batennya seolah-olah berjumpa Guru Mursyidnya dan  memberi izin dengannya.

Tatacara masuk Kamar Periadhahan sama-saja seperti masuk kamar  Riyadhah tujuh hari dan malamnya. Tengah malamnya kurang lebih jam   02.00 wita malam ke bawah mengerjakan shalat  Tahajjud dan shalat  Witir  tiga raka’at sebagai penutupnya.

6.Mandi Taubat

Mandi Taubat adalah mandi untuk Inabah kembali kepada Allah Swt.  Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah sunat mandi Inabah, jika waktu Bai’at belum Mandi Inabah, tetapi jika memperbaharui atau mau mengulangnya tidak mengapa, itu sangat baik. Lihat keterangan terdahulu.

7.Memasuki Khalwat Siang dan Malamnya

Memasuki kamar Khalwat/Suluk dan Riyadhah harus mendahulukan kaki kanan, memohon perlindungan dengan Allah dari ganguan syaithan, dan membaca surat an Nas tiga kali, berbunyi :

بسم الله الرحمن الرحيم* قل أعوذ برب الناس* ملك الناس* إله الناس* من شر الوسواس الخناس* الذى يوسوس فى صدور الناس* من الجنات والناس* 3 كالى

Kemudian diikuti kaki kirinya sambil membaca kalimat    :

أللهم ولي فى الدنيا والأخرة كن لى كما كنت لسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وارزقنى محبتك. أللهم ارزقنى حبك. واشغلنى بجمالك واجعلنى من المخلصين. أللهم امح نفسى محذبات ذاتك يا أنيس من لاأنيس له. رب لاتذرنى فردا وأنت خير الوارثين*

Kemudian Salik berdiri atas shalat (seperti  mau shalat menghadap Kiblat) kemudian ia membaca kalimat ini 21 kali berbunyi :

إنى وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين 21 كالى

Kalimat tersebut  diatas, kalau  Salik Pemula  boleh  dibimbing membacanya oleh Mursyidnya. Kemudian ia mengarjakan shalat dua raka’at, pada raka’at pertama sesudah Alfatihah membaca Ayat Kursi, atau surat  Alfalaq, dan pada raka’at kedua sesudah Alfatihah membaca Amanar Rasul...... atau  Surat Annaas.  Sesudah salam, dilanjutkan membaca : YA  FATTAAH” 500 KALI.Bagi Salik Pengamal Thariqat Al Junaidiyah Duduk  Thariqat yakni Duduk Taqdim, Duduk Darrajat dan Duduk  Khidmat. .

,  lalu mengerjakan :

e.Tawassul  5 kali membaca al Ftihah,

f.Murabithah kepada Guru Mursyidnya,

g.Tawajjuh Muthlaq,

h.Membaca Talqin Dzikir yaitu kalimat yang berbunyi

 لاإله إلا الله *  إلا الله-إلاالله*  الله-الله* والذكر خفي وأخفى* ثم يقرأ الأسماء الحسنى* ثم الدعاء*

يقرأ الأسماء الحسنى:

نسألك (أسألك) الرحمة والعافية والرضى  يا من هو الله الذى لاإله إلا هو الرحمن الرحيم*  الملك القدوس السلام المؤمن المهيمن العزيز الجبار* المتكبر الخالق البارئ المصور الغفار القهار* الوهاب الرزاق الفتاح العليم  القابض الباسط الخافض الرافع المعز المذل السميع البصير* الحكم العدل اللطيف الخبير الحليم العظيم الغفور الشكور العلى الكبير* الحفيظ المقيت الحسيب الجليل الكريم الرقيب المجيب الواسع الحكيم* الودود المجيد الباعث  الشهيد الحق الوكيل القوى المتين الولى الحميد المحصى المبدئ  المعيد* المحي المميت الحي القيوم  الواجد  الماجد   الواحد  الأحد الصمد. القادر المقتدر المقدم  المؤخر الأول الأخر الظاهر الباطن الولى المتعال* البر التواب المنتقم العفو الرؤوف مالك الملك ذو الجلال والإكرام* المقسط الجامع الغنى المغنى المانع   الضار النافع النور الهادى البديع الباقى الوارث  الرشيد الصبور*

الدعاء

أللهم ولي فى الدنيا والأخرة كن لى كما كنت لسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وارزقنى محبتك. أللهم ارزقنى حبك. واشغلنى بجمالك واجعلنى من المخلصين. أللهم امح نفسى محذبات ذاتك يا أنيس من لاأنيس له0 رب لاتذرنى فردا وأنت خير الوارثين*

إله أنت مقصودى ورضاك مطلوبي أعطنى محبتك ومعرفتك يا الله* اللهم إنا نسألك التوبة والإنابة على شريعة الغراء وطريقة البيضاء برحمتك يا أرحم الراحمين والحمد لله رب العالمين*

 

Adapun wirid yang dianjurkan untuk dibaca pada Riyadhah Musyahadah  yaitu harus banyak-banyak  membaca  kalimat  :

" سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر"

“ SUBHAANALLAAH WAL HAMDU LILLAAH WA LAA-ILAAHA-ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR “

Ketika Aku menghadiri di Majelis An Nabawiah Abah Guru Syekh Syairazi bin H. Pandi Makeri Kandangan, Aku dengar Beliau berkata bahwa  “Suluk atau Riyadhah dimulai sesudah shalat Ashar dan nanti berakhir . sesudah shalat Ashar pula.”

Dan tidur  bagi orang Suluk atau  Riyadhah itu tiga jam dimalam hari dan satu jam di siang  hati. Di malam hari dari jam 23.00 wita  hingga  jam 02  malam dan di siang hari dari jam 11  hingga jam  12.00 wita, sedangkan amaliyah yang dibaca  Insya Allah  :

e.Al Qur’an al Karim

f.Shalawat atas Nabi Saw

Shalat  Sunnat (Sunnat Wudlu, Sunnat Hajat, Sunnat  Tasbih, Sunnat  Witir, Sunnat  Isyraq, Sunnat  Dhuha, Sunnat  Adzan, Sunnat  Tahajjud,  Sunnat  Taubat. Sunnat Ba’diyah, Sunnat Qabliyah dan Sunnat lainnya.)

h.Amaliyah yang diberikan Mursyidnya.

Riyadhah Musyahadah dianjurkan yaitu Hari Senin dan Kamis seperti anjuran puasa Senin dan Kamis, Kalau Riyadhah Musyahadah dilaksanakan tiga hari usahakan hari yang tidak ada hari Jum’atnya, andai itu terjadi  Salik harus ke Masjid untuk shalat Jum’at, ia berjalan muka menunduk ke  tanah dan kepala tertutup kain.

Kami pernah menanyakan kepada Guru Bihara tentang masalah riadlah. Beliau menjawab " Aku riadlah 6 kali dibawah bimbingan Tuan Guru KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid, masuk kamar mulai hari Jum'at sehabis shalat Jum'at  sekitar jam 14.00 wita sampai dengan Jum'at yang akan datang, keluar kamar Riyadlah sekitar jam 10.00 wita pagi."

Kata Beliau lagi : "Orang yang riyadlah itu dijaga oleh Guru, dan tidak boleh Gurunya yang menjaga itu, lebih dari 100 depa meninggalkan muridnya."Penyusun "Kitab Umdatul Hasanah lil Jama'ah at Thariqat al Junaidiyah, mengomentari masalah keadaan lapu di dalam kamar berpariasi, kadang-kadang remang-remang, berarti Bol lampu 5 watt, kadang-kadang Bol lampu 20 watt berarti disaat cuaca normal, terkadang Bol lampu 100 wat, berarti disaat cuaca dingin. Hal jarak  100 depa adalah batasan minimal yang bisa dijaga oleh Guru Mursyid kepada Muridnya yang suluk lebih dari itu dikuatirkan diganggu oleh segolong JIN.

Guru Bihara pernah cerita kepada kami bahwa "Makanan orang yang suluk atau riyadlah harus dimasak oleh perempuan yang sudah  berhenti  masa haid atau tidak kena haid lagi."  Kalau makanan itu dimasak oleh perempuan masih puber atau masih datang haid, maka dikuatirkan timbul nafsunya lebih kuat."Nafsu birahi itu timbul dari zat-zat makanan yang dikonsumsi oleh rongga mulut hingga  perut. Supaya orang yang riyadlah itu tidak dimasuki nafsu birahi terhadap  perempuan  atau teringat dengan isterinya.  Maka dijaga dan makanannya dimasak oleh perempuan yang berhenti masa haidnya. Tetapi manakala kami melakukan suluk pada salah satu Mursyid Thariqat justru yang memasak untuk makan kami adalah seorang laki-laki berumur. Ini menunjukkan bahwa laki-laki dengan  laki-laki tidak minat atau tiada terbit  nafsu birahi atau permpuan dengan permpuan  tidak ada hasrat  nafsu birahi.

Guru Bihara pernah cerita kepada kami bahwa orang yang selesai suluk atau riyadlah  selama 7 hari dengan malamnya, Salik  tidak bolehkan  dan  tidak diperkenankan  membaca amaliahnya yang dibaca ketika dalam kamar suluk, yakni amaliah tidak dibaca selama tiga hari. Saat itu Guru belum memberikan alasan, mungkin sajaalasannya untuk menghindari finahan orang awam, kebiasaannya orang yang baru keluarsuluk atau riyadlah imosi pengucapan kalimat thaibah sanagt kuat dan bisa terjadi disembarang tempat dan juga tidak terkendali, hingga sebahagian orang awam menggapnya stres. Hingga orang-orang maujauhi Thariqat al Junaidiyah kita, hal ini hal yang tidak benar. Tetapi hal ini bisa dimaklumi bahwa amaliah riyadlah pada Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah 80 prosen diucapkan dengan bersuara lembut dan nyaring, didengar oleh kedua  telinganya  untuk itu diperlukan istirahat selama tiga hari.


18. PENGAWASAN  GURU MURSYID KEPADA MURID SA’AT RIYADHAH

1.Pengawasan dan Pemeriksaan Kesehatan terhadap  Salik

Salik sehat jiwa raga, mampu berjalan sendiri, mandi sendiri, wudlu sendiri, Salik tidak dalam keadaan sakit, haidh bagi wanita atau nifas dllnya.

2.Guru Mursyid mengawasi dan memeriksa para Muridnya melalui kecamata kesufiannya, ia melihat dan memantau keadaan  Muridnya dari awal masuk kamar riyadhah  hingga keluar kamar riyadhah. Ia tidak boleh meninggalkan Muridnya dalam keadaan riyadhah terlalu jauh, misalnya  lebih dari 100 depa.

Pernah aku baca dalam sebuah lagenda, bahwa “ada  seorang Murid Imam al Junaid al Bagdadi yang memisahkan diri dari Imam al Junaid tanpa sepengatahuan sang Imam. Sang Murid ini menyendiri, dan ia  mendirikan sebuah gubuk ditempat yang sunyi berada  ditepi hutan,  tujuannya ingin melebihi Gurunya dalam hal ilmu batinnya. Kemudian Sang Murid ini melakukan suluk, khalwat atau riyadhah ditempat ini dalam  kesendiriannya, seiring waktu berjalan  siang dan malampun beberapa hari telah berlalu. Ia tetap dalam keadaan  kesendiriannya, Di suatu senja hari datanglah  dua orang pemuda  penunggang kuda dan kuda yang lain membawa pakaian yang mampir didepan Gubuknya. Kata salah satu orang penunggang kuda itu bahwa mereka ingin menjemputnya untuk dibawa ke Sorga. Maka Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dibawa orang itu, berangkatlah mengendarai kuda Pemuda Gubuk tadi, yang diapit kedua penjemputnya menuju tempat yang jauh.Diperjalanan ia melihat negeri yang indah dan makmur, banyak gedung yang tinggi, para penduduknya ramah dan gentang-gentang lelakinya dan para wanitanya cantik-cantik. Takterasa sampailah ia di depan pintu gerbang  gedung yang dituju kedua penjemputnya, ia disambut dengan sambutan hangat dan meriah, laksana seorang Raja yang dilayani para wanita cantik menawan dan memikat hati dan harum baunya. Para pelayan wanita cantik yang menggairahkan nafsu sex,  mereka menyudurkan makanan   yang enak-enak dan minuman anggur yang  menyegarkan tenggurukan dengan suasana udara  anginnya yang sepoi-sepoi basah. “Ooh alangkah enak dan lezatnya berada ditempat itu ditemani para pelayan wanita cantik dimaksud, hingga aku terbuai  dan tidur pulas”. Manakala  aku terbangun dipagi hari, aku berada didepan bilik gubukku. Kejadian yang menyengkan itu terus berulang-ulang aku merasa bangga  dan  hebat  hingga aku tak bisa  menyembunyikan kegembiraan  dari temen-temanku, hingga sampai  berita  ini  kepada telinga Imam al Junaid.

Imam al Junaid.pun penasaran dan  ......berkunjung ke gubuk tersebut untuk menemui  Sang pemuda yang menyendiri  itu, Sang murid itupun menceriterakan semua peristiwa yang dialaminya yang berulang-ulang itu kepada Imam al Junaid, ia mendengar dan menyimak semua kejadian yang dialami muridnya, hingga al Junaid menyuruh muridnya, nanti malam bila sudah selesai memenuhi hajatnya makan-minum dan lainnya  agar membaca kalimat  ini  tiga kali  :

"لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم "

Maka  senja haripun tiba, datanglah dua orang pemuda  penunggang kuda dan kuda yang lain membawa pakaian sudah  mampir didepan Gubukku.dan  menjemputku untuk dibawa ke Sorga.seperti malam-malam sebelumnya, aku dibawa yang diapit kedua penjemputku menuju tempat yang jauh. Tak  terasa sampailah aku di depan pintu gerbang  gedung yang dituju kedua penjemputku, aku disambut dengan sambutan hangat dan meriah, laksana seorang Raja yang pulang  dari medan peperangan yang  memperoleh  kemenangan. Para pelayan wanita cantik yang menggairahkan nafsu sexku,  mereka menyudurkan makanan   yang enak-enak dan minuman anggur yang  menyegarkan tenggurukan dengan suasana udara  anginnya yang sepoi-sepoi basah. “Ooh alangkah lezatnya aku rasakan berada ditempat ini ditemani para pelayan wanita cantik, hingga aku terbuai  dan ingin  tidur bersama mereka”.tetapi ingat pesan Guruku Imam al Junaid, aku merasa berat dan ragu untuk mengucapkannya,  akhirnya aku  coba-coba mengucapkan pelan-pelan kalimat  ini  tiga kali  :

"لاحول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم "

Tiba-tiba terdengar  suara teriak  hesteris  dari  para  pelayan  wanita itu, dan semuanya lenyap  dan hilang dari pandangan mata dan  akupun   tersadar berada  dalam tumpukan sampah  tulang - belulang berbau amis berada disudut pasar. Hingga akupun taubat  dan tidak ingin lagi menyendiri  dan bergabung kembali Guru Imam al Junaid.

3.Guru Mursyid menanyai keadaan Muridnya, pada hal-hal yang dialami para Muridnya sa’at  dalam  kamar riyadhah, baik mimpi atau perasaan murid sat tidur, saat dzikir dan lainnya dalam malam  awal hingga akhir riyadhah. Misalnya siang-malam pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam atau malam ketujuh ditanyai pagi-paginya.

4.Sikap Guru Mursyid menanggapi hal ihwal yang dialami para  Muridnya

Apabila seorang murid menceritrakan hal ihwalnya sesuatu mimpi yang dilihatnya, atau tersingkapnya hal ihwal gaib yang terbuka  baginya, atau menyaksikan  hal ihwal  yang  gaib yang dialami  muridnya. Maka dalam  keadaan semua hal ihwalnya  itu ada terdapat hal-hal yang istimewa. Hendaklah Sikap Guru Mursyid berhati-hati menanggapinya.

Hendaklah Guru Mursyid berdiam diri, yaitu menyuruh murid-muridnya untuk menyembunyikan dan  merahasiakan hal-ihwal peristiwa yang dialaminya. Jangan mengatakan kepada muridnya atas  sesuatu  tersebut, atau Sikap Guru Mursyid.tidak banyak  menanggapinya tentang hal di maksud. Sebaiknya  Guru Mursyid memberikan  amalan-amalan dan do’a-do’a yang dapat menolak  sesuatu yang tidak benar. Sebab jika Guru Mursyid menanggapinya dikhawatirkan justru akan terjadi sesuatu, yang sesuatu itu akan dapat  merusak jiwa dan hati para Muridnya.

Memang wajar  karena bagi seorang Murid/Salik yang masuk kamar Riyadhah atau Pengamal Thariqat Al Junaidiyah yang masuk kamar Riyadhah bisa sewaktu-waktu mengalami keadaan peningkatan Rohani, tetapi sering juga terjadi hal-hal yang tidak  benar yang berakibat menurunkan martabat murid itu kembali. Pengamal Thariqat Al Junaidiyah yang masuk kamar Riyadhah 7 hari dan malamnya atau Riyadhah Musyahadah harus banyak shalat sunnat tahajjud, shalat sunnat tasbih dan shalat sunnat witir jangan sampai dilupakan, kalau tertidur segera dibangunkan kalau sudah tengah malam

 

CONTOH  IZAJAH  THARIQAT  AL JUNAIDIYAH  ATAU

THARIQAT  AL QAUM  SETELAH  RIYADHAH

بسم الله الرحمن الرحمن

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله

صلى الله عليه وسلم  أما بعد

Berkata  Hamba yang  sangat Faqir kepada Allah Swt  dan mengarapkan  ridla-Nya, nama Sayyid H.Hasan Baseri,S.Ag bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi  bin Tanqir Ghawa bin Abuthair Muhammad Assaqqaf yang mana Hamba teleh menerima Bai’at dan Izajah dari Guru hamba KH.Jumberi bin H.Ma’shum bin H.Abu Bakar Kecamatan Awaian Kabupaten Balangan. Pada hari ini telah Hamba beri pula Bai’at dan Izajah kepada Saudara pada jalan Allah Swt, nama : Sayyid Muhammad  Ibnu  Mubarak bin  H.Hasan Baseri,S.Ag bin H.Muhammad Barsih Assaqqaf, Umur : 15 tahun, Alamat Jalan Alfalah, Rt.05-Rw.02 Kelurahan Kandangan Kota, HSS, Kalsel. Saudara tersebut telah diberikan hak sepenuhnya untuk mengamalkan dan mengajarkan  segala hukum yang ta’alluq di dalam Thariqat  al Junaidiyah  AL Bagdadiyah, dan diberikan haq  mendirikan dan juga memimpin Khalwat, Suluk dan Riyadhah  dibarang tempat yang dikehendakinya dan dilindungi oleh Undang-undang RI Tahun 1945 pasal 29.

Modah-modahan Allah Swt selalu memberikan Taufiq dan Hidayah-Nya   dan juga menjadikan Tangannya dan Qalbunya seperti Tangan dan Qalbunya Muhammad Rasulullah Saw. Insya Allah Saudaraku ini diberikan Taufiq dan Hidayah mengerjakan yang diridlai-Nya  dan diakhirai dengan ucapan :

آمين  آمين  والحمد لله رب العالمين

                                                                                                        Kandangan, Rabu, 19 Desember 2007H

                                                                                                                                10 Dzul Hijjah 1428H

 

                                                                  Hamba yang memberikan Izajah

                                                          Gambar

                                         Salik             Stempel

 

                               Yang Menerima  Izajah      (Sayyid H.Hasan Baseri,S.Ag)

 

                                Muhammad  Ibnu  Mubarak


19. PASAL  PAIDAH – PAIDAH  MELAKUKAN KHALWAT, SULUK-RIYADHAH

الفصل فوائد الخلوة اى الرياضة

قال فى عيق ذواالهمم : إن فى الخلوة عشر فوائد الفائد الاولى هى السلامة من آفات اللسان فإن من كان وحده لايجد معه من يتكلم, وقد قال عليه الصلاة والسلام رحمه الله عبدا سكت فسلم أو تكلم فغنم ولايسلم فى الغالب من آفاته إلا من آثر الخلوة  على الإجماع. وقال شيخ شيوخنا  سيدنا علي رضي الله عنه : إذا رأيت الفقير ويؤثر الخلوة على الإجماع والصمت على الكلام والصيام  على الشبع. فاعلم أن حبجه قدعل وإذا رأيته  ويؤثر الخلوة و الكلام و الشبع على ضدها . فاعلم أن حبجه خاوى. وقال فى القوت وفى كثرة كلام  وقلة والرع وعدم التقوى  وطول الحساب  ونشر الكتاب وكثرة الطالبين وتعلق المظلومين بالظالمين وكثرة الاشهاد من الكرام الكاتبين ودوام الأعراض عن الملك الكرام لأن  الكلام مفتاح كبائر اللسان وفيه الكذب وفيه الغيبة  والنميمة والزور والبهتان. ثم قال  فى الخبر: أكثر خطايا ابن آدم فى لسانه وأكثر الناس ذنوبا يوم القيامة أكثرهم خوضا فى ما يعنى.

Dalam kitab ‘Aiqadzul Himam “Orang yang Memiliki Cita-Cita Tinggi”, beliau berkata: “Ada sepuluh manfaat dalam Khalwat (Riyadhah) kesendirian. Manfaat pertama adalah terhindar dari azab lidah, karena orang yang sendirian tidak akan menemukan siapa pun untuk diajak bicara. Dan Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Seorang hamba yang diam akan aman, atau berbicara dan akan mendapat manfaat.’ Dan dalam banyak kasus, tidak ada seorang pun yang aman dari azabnya kecuali orang yang lebih memilih khalwat (kesendirian) daripada keramaian.”Guru kami, Syekh para Syekh, guru kami Ali, semoga Allah meridainya, berkata: Jika kalian melihat orang miskin yang lebih menyukai kesendirian daripada keramaian, diam daripada berbicara, dan berpuasa daripada kenyang, ketahuilah bahwa hatinya penuh. Tetapi jika kalian melihat orang yang lebih menyukai kesendirian, berbicara, dan kenyang daripada kebalikannya, ketahuilah bahwa hatinya kosong. Beliau juga berkata mengenai rezeki, ucapan yang berlebihan, kurangnya ketakwaan, panjangnya perhitungan, pembagian kitab, banyaknya pencari kebenaran, orang-orang tertindas yang melekat pada penindas, dan banyaknya saksi dari kalangan ahli Taurat yang mulia. Dan penolakan terus-menerus terhadap raja yang mulia itu karena ucapan adalah kunci dosa-dosa besar yang dilakukan dengan lidah, dan di dalamnya terdapat kebohongan, fitnah, pencemaran nama baik, kebohongan, dan penghinaan. Kemudian beliau bersabda dalam hadits: Sebagian besar dosa anak Adam ada di lidah mereka, dan orang-orang yang paling banyak dosanya pada Hari Kiamat adalah mereka yang paling banyak melakukan apa yang dimaksudkan dengan ucapan tersebut.

الفائدة الثانية هي حفظ البصر والسلامة من آفات النظرفإن كن معتزلا عن الناس اى إنترنيت وحافى أندرويت و تليفسى سلم من النظر إليهم وإلى ماهم منكبون عليه من زهرة الدنيا وزخرفها قال تعالى: ولا تمدن عينيك إلى ما متضابه أزواجا منهم زهرة الحياة الدنيا لنفتنهم فيه. فتمنع بذلك النفس من التطلع إليها والاستشراف لها ومنا فسه أهلها. وقال محد بن سيرين رضي الله عنه : إياك وفضول النظر فإنها تؤدى إلى فضول الشهوة. وقال بعض الادباء : من كثرت لحظاته دامت حسرته. وقالوا : إن العين  سبب الحين اى الهلك  ومن أرسل طرفه اقتنص حتفه وإن النظر بالبصر إلى الأشياء يوجب تفرقه القلب

Manfaat kedua adalah menjaga penglihatan dan melindungi diri dari bahaya melihat. Jika seseorang terisolasi dari orang lain—yaitu, dari internet, Android, dan televisi—ia aman dari melihat mereka dan apa yang mereka nikmati, yaitu kesenangan dan perhiasan dunia yang fana. Allah Yang Maha Kuasa berfirman: “Dan janganlah kamu mengarahkan pandanganmu kepada apa yang bercampur di antara mereka, yaitu kemewahan dunia yang Kami gunakan untuk menguji mereka.” Dengan demikian, seseorang mencegah dirinya dari melihatnya, menginginkannya, dan bersaing dengan orang-orang yang memilikinya.

Muhammad ibn Sirin, semoga Allah meridainya, berkata: "Waspadalah terhadap pandangan yang berlebihan, karena hal itu menyebabkan nafsu yang berlebihan." Sebagian ulama berkata: "Barangsiapa yang banyak memandang, ia akan menderita penyesalan yang berkepanjangan." Mereka juga berkata: "Mata adalah penyebab kehancuran, dan barangsiapa yang membiarkan pandangannya mengembara akan mendatangkan kehancurannya sendiri. Memandang sesuatu dengan mata menyebabkan hati mengembara."

الفائدة الثانية حفظ القلب وصونه عن الرياء  والمداهنة وغيرهما من الأمراض  قال بعض الحكماء من خالط الناس داراهم و داراهم  راءاهم ومن راءاهم وقع فيما وقعوا فهلك كما هلكوا  و قال بعض الصوفية قلت لبعض الابدال المنقطعين إلى الله كيف الطريق إلى التحقيق. قال لاتنظر إلى الخلق فإن النظلا إليهم ظلمة. قلت لابد لى قال فلا يستمع كلامهم فإن كلامهم قسوة. قلت لابد لى قال فلا تعاملهم فإن معاملتهم خسران وخسرة ووحشية قلت انا بين أظهرهم لابد لى من معاملتهم ٌ قال فلا تسكن إليهم فإن السكون إليهم هلكة قلت هذا لعله يكون قال يا هذا تنظر إلى اللاعبين وتسمع كلام الجاهلين وتعامل البطالين وتسكن إلى الهالكين وتريد أن تجد حلاوة الطاعة وقلبك مع غير الله هيهات هذا لايكون أبدا ثم غاب عني. وقال القشيرى رضى الله عنه : فأرباب المجاهدة إذاأرادوا صون قلوبهم عن الخواطر الرديئة لم ينظروا إلى المحتسنات اى من الدنيا. قال وهذا أصل كبيرهم فى المجاهجات فى أحوال الرياضة.

Manfaat kedua adalah menjaga hati dan melindunginya dari kemunafikan, sanjungan, dan penyakit lainnya. Beberapa orang bijak berkata: Barangsiapa bergaul dengan orang lain, menyanjung mereka, dan dengan menyanjung mereka, ia pamer kepada mereka. Dan barangsiapa pamer kepada mereka, akan jatuh ke dalam apa yang mereka alami dan binasa seperti mereka binasa. Dan beberapa Sufi berkata: Aku berkata kepada sebagian dari kaum Abdal yang taat kepada Tuhan: Bagaimana jalan menuju pencerahan?

Dia berkata, “Janganlah memandang manusia, karena memandang mereka adalah kegelapan.” Aku berkata, “Aku harus.” Dia berkata, “Kalau begitu, janganlah mendengarkan kata-kata mereka, karena kata-kata mereka kasar.” Aku berkata, “Aku harus.” Dia berkata, “Kalau begitu, janganlah berurusan dengan mereka, karena berurusan dengan mereka adalah kerugian, kehancuran, dan kekejaman.” Aku berkata, “Aku termasuk di antara mereka; aku harus berurusan dengan mereka.” Dia berkata, “Kalau begitu, janganlah mencari penghiburan pada mereka, karena mencari penghiburan pada mereka adalah kehancuran.” Aku berkata, “Mungkin memang begitu.” Dia berkata, “Wahai engkau! Engkau memandang hal-hal yang dangkal, engkau mendengarkan kata-kata orang-orang bodoh, engkau berurusan dengan orang-orang yang malas, engkau mencari penghiburan pada orang-orang yang ditakdirkan, dan engkau ingin menemukan manisnya ketaatan sementara hatimu bersama selain Allah? Jauhkanlah itu darimu! Ini tidak akan pernah terjadi.” Kemudian dia menghilang dari pandanganku. Al-Qushayri, semoga Allah meridainya, berkata: “Orang-orang yang berjuang dalam perjuangan spiritual, ketika mereka ingin melindungi hati mereka dari pikiran jahat, janganlah memandang hal-hal indah di dunia ini.” Dia berkata, “Ini adalah prinsip mendasar dari para guru mereka dalam pergumulan spiritual selama masa disiplin spiritual.”

الفائدة الرابعة حصول الزهد فى الدنيا والقناعة منها وذلك شرف العبد وكماله وسبب محبته غند مولاه لقوله صلى الله عليه وسلم ازهد فى الدنيا يحبك الله ازهد فيما فى ايد الناس  يحبك الناس, لاشك أن من انفرد عن الناس ولم ينظر إلى ماهم فيه من الرغبة فى الدنيا والانكاب عليها يسلم من متابعتهم فى ذلك و يسلم من متابعته الطباع الرديئة والاخلاص الدنيئة  وقل من يخالطهم أن يسلم من ماهم فيه وقد روي عيسى عليه السلام : لاتجالسوا الموتى فتموت قلوبكم. قالوا من الموتى يا روح الله ؟ قال المحبون فى الدنيا الراغيون فيها.

Manfaat keempat adalah mencapai pelepasan dari keinginan duniawi dan kepuasan dengan hal tersebut. Inilah kehormatan dan kesempurnaan seorang hamba dan alasan kecintaannya kepada Tuhannya, sebagaimana sabda Nabi (shalawat dan salam kepadanya): "Lepaskan dirimu dari dunia, dan Allah akan mencintaimu; lepaskan dirimu dari apa yang ada di tangan manusia, dan manusia akan mencintaimu." Tidak diragukan lagi, siapa pun yang mengasingkan diri dari manusia dan tidak memperhatikan keinginan mereka terhadap hal-hal duniawi dan obsesi mereka terhadapnya akan mencapai hal ini.

Barangsiapa mengikuti mereka dalam hal ini, ia akan aman dari jalan-jalan jahat dan niat-niat keji mereka. Sedikit sekali orang yang bergaul dengan mereka yang terlepas dari pengaruh mereka. Telah diriwayatkan bahwa Nabi Isa, semoga kedamaian menyertainya, berkata: "Jangan duduk bersama orang mati, supaya hatimu tidak mati." Mereka bertanya, "Siapakah orang mati itu, ya Roh Allah?" Dia menjawab, "Mereka yang mencintai dunia ini dan terikat padanya."

الفائدة الخامسة الامة من صحبة الأشرار ومخالطة الأرزال وفى مخالطهم فساد عظيم وخطر جسيم ففى بعض الأخبار مثل الجالس السوء كمثل السكين إذالم يحرقك بشرره  علق بك من ريحه. قال سيدى عبد الرحمن المجذوب رضي الله عنه : الجسلة مع غير الأخبار ترزل ولو تكون صافيا. أوح الله تعالى إلى داود عليه السلام : يا داود مالى أراك متبذا وحدانيا  فقال : إلهي قلبت الخلق من أحبك. فقال : يا داود كن يقظان وارتد لنفسك إخوانا وكل أخ لايوافقك على مسرتى فلاتصحبه فإنه لك عدو نفسى قلبك ويباعدك منفي  فإن أرادت الصحبة  فعليك صحبة الصوفية فإن صحباهم كنزلا تفاده له قال الإمام الجنيد رضي الله عنه

: إذا أراد الله بعبد خيرا أوقعه إلى الصوفية ومنعه صحبة الفقراء. وقال آخر :والله ما افلح من افلح إلا بصحبة من افلح.

Manfaat kelima adalah bahwa suatu bangsa hendaknya menghindari pergaulan dengan orang-orang jahat dan orang-orang hina. Bergaul dengan mereka terdapat kerusakan besar dan bahaya yang serius. Sebagaimana beberapa hadis mengatakan, teman orang jahat itu seperti pisau; jika tidak membakar Anda dengan percikannya, baunya akan melekat pada Anda. Guru saya, Abd al-Rahman al-Majdhub, semoga Allah meridainya, berkata: Duduk bersama orang-orang yang tidak berilmu akan menyebabkan kemerosotan, meskipun seseorang berhati murni. Allah Yang Maha Kuasa mewahyukan kepada Daud, semoga kedamaian menyertainya...

Wahai Daud, mengapa Aku melihatmu begitu tertutup dan sendirian? Ia menjawab: Ya Tuhan, Engkau telah menjauhkan orang-orang yang mencintai-Mu dari antara ciptaan-Mu. Allah berfirman: Wahai Daud, waspadalah dan carilah saudara-saudara bagi dirimu. Jangan berteman dengan saudara yang tidak sependapat denganmu dalam hal yang menyenangkan-Ku, karena ia adalah musuh jiwa dan hatimu, dan ia akan menjauhkanmu dari-Ku. Jika engkau menginginkan persahabatan, maka bertemanlah dengan para Sufi, karena persahabatan mereka seperti harta yang engkau cari. Imam al-Junayd, semoga Allah meridainya, berkata:

Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan membimbingnya kepada para Sufi dan mencegahnya dari bergaul dengan orang miskin. Yang lain berkata: Demi Allah, tidak ada seorang pun yang berhasil kecuali melalui persahabatan dengan orang-orang yang telah berhasil.

الفائدة السادسة : التفرغ للعباد والذكر والعزم على التقوى والبر ولا شك ان العبد إذا كان وحده تفرغ لعبادة ربه وانجمغ غليها بجواره وقلبه لقله من يشغله عن ذالك. قال فى كتاب الفوت  واما الخلوة فإنها تفرغ القلب من الخلق وتجمع إليهم بالخالق وتقوى العزم على الثبات  الخ كلامه.

Manfaat keenam: Mengabdikan diri pada ibadah, zikir, dan tekad untuk menjadi orang yang saleh dan benar. Tidak diragukan lagi, ketika seorang hamba sendirian, ia mengabdikan dirinya pada ibadah kepada Tuhannya, memusatkan hati dan jiwanya pada hal itu, karena minimnya gangguan. Beliau berkata dalam kitab "Al-Fawt" (Kitab Kesendirian): "Adapun kesendirian, ia mengosongkan hati dari urusan duniawi dan menyatukannya dengan Sang Pencipta, memperkuat tekad untuk tetap teguh," dan seterusnya.

الفائدة السابعة : وحدان حلاوة الطاعات وتمكن لذيذة المناجات لفراغ سره وهذا مجرب صحيح. قال أبو طالب :ولايكون المريد صادقا حتى يجد فى الخلوة من الحلاوة والنشاط والقوة مالا مجده فى العلانية وحتى يكون اسه فى الوحدة وروحه فى الخلوة وأحسن أعماله فى السر.

اManfaat ketujuh: Manisnya ketaatan dan kenikmatan persekutuan yang intim ditemukan dalam kesendirian hati seseorang, dan ini adalah fakta yang terbukti dan benar. Abu Talib berkata: Pencari kebenaran tidak benar-benar tulus sampai ia menemukan dalam kesendirian kemanisan, vitalitas, dan kekuatan yang tidak ia temukan di depan umum, dan sampai fondasinya berada dalam kesendirian, jiwanya dalam pengasingan, dan amal terbaiknya dalam kerahasiaan.

الفائدة الثامنة : راحة القلب والبدن فإن فى الخالطة الناس ما يوجب تعب القلب بالإهتمام بأمرهم و تعب البدن بالسهي فى أغراضهم وتكميل مرادهم وإن كان فى ذالك  الثواب فقد يفوته ماهو أعظم وأهم وهو جمع القلب فى حضرة الرب.

Manfaat kedelapan: kenyamanan hati dan tubuh. Karena dalam bergaul dengan orang banyak, ada hal yang menyebabkan hati lelah karena mengkhawatirkan urusan mereka dan tubuh lelah karena sibuk dengan tujuan dan memenuhi keinginan mereka. Dan jika ada imbalan dalam hal itu, maka ia mungkin kehilangan apa yang lebih besar dan lebih penting, yaitu mengumpulkan hati di hadapan Tuhan.

الفائدة التاسعة : صيانة نفسه ودينه من التعرض للشرور الخصومات التى توجبها الخلصة فإن للنفس تولعا وتسارعا للحوض فى مغل هذا إذا اجتمعت بأرباب الدنيا وزاجمتهم فيها. وللشافعى رضي الله عنه : ومن يذق الدنيا فإن طعمتها وسيق التى عذبها و عذبها, فلم أرها الا غرور وباطلا كما لاح فى ظهر الفلاح سرابها.

Manfaat kesembilan: Melindungi diri sendiri dan iman dari kejahatan dan perselisihan yang timbul dari keinginan duniawi. Karena jiwa memiliki kecenderungan dan keinginan untuk bergegas menuju kolam kenikmatan duniawi, terutama ketika ia berkumpul dengan orang-orang dunia ini dan bersaing dengan mereka dalam pengejarannya. Sebagaimana yang dikatakan Imam al-Shafi'i, semoga Allah meridainya: "Siapa pun yang mencicipi dunia dan tergoda oleh kenikmatan dan siksaannya, aku melihatnya sebagai tidak lain hanyalah khayalan dan kebohongan, seperti fatamorgana yang muncul di punggung seorang petani."

الفائدة العاشرة : التمكن من عبادة التفكر والإعتبار وهو المقصود الأعظم من الخلوة وفى الخبر : تفكر ساعة خير من عبادة سبعين سنة. وكان عيسى عليه السلام يقول : طوبى لمن كان كلامه ذاكرا صمته تفكرا ونظره عبارة وان اكيس الناس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت. وقال كعب : من أراد شرف الأخرة فليكثر من التفكر وكان أفضل من عبادة أبي الدرداء. التفكر وذلك لأنه يصل به إلى حقائق الأشياء وتيين الحق من الباطل ويطلع بها وجوه الحيل فى التحرز عنها والطهارة منها. وقال الحسن رضي الله عنه : التفكرة مرآة تريك حسنك من سيئك ويطلع بها أيضا على عظمة الله وجلاله إذا تفكر فى آياته ومصنوعاته ويطلع بها أيضا على آلائه ونعمائه الجلية والخفية. فيستفيد بذلك أحوالا سنية يزول بها مرض قلبه ويستقيم بها على طاعة ربه.

Manfaat kesepuluh: Kemampuan untuk terlibat dalam ibadah dan refleksi kontemplatif, yang merupakan tujuan utama dari pengasingan. Sebagaimana hadits menyatakan: "Satu jam kontemplasi lebih baik daripada tujuh puluh tahun ibadah." Isa, semoga kedamaian menyertainya, biasa berkata: "Berbahagialah orang yang ucapannya adalah zikir, yang diamnya adalah kontemplasi, dan yang pandangannya adalah ekspresi. Dan orang yang paling bijak adalah orang yang menghitung dirinya dan berinisiatif untuk akhirat."

Ka'b berkata: "Barangsiapa menginginkan kemuliaan akhirat hendaknya banyak bermeditasi, dan ini lebih unggul daripada ibadah Abu al-Darda'." Meditasi menuntun seseorang kepada hakikat sejati segala sesuatu, membedakan kebenaran dari kepalsuan, dan mengungkapkan cara untuk menghindari dan membersihkan diri dari keduanya. Al-Hasan, semoga Allah meridainya, berkata: "Merenungkan adalah cermin yang menunjukkan sifat baik dan burukmu. Melaluinya, seseorang juga menyadari kebesaran dan kemuliaan Allah ketika merenungkan tanda-tanda dan ciptaan-Nya. Lebih jauh lagi, seseorang menjadi sadar akan nikmat dan karunia-Nya yang nyata dan tersembunyi. Dengan demikian, seseorang memperoleh keadaan spiritual yang menyembuhkan penyakit hati dan memungkinkan seseorang untuk tetap teguh dalam ketaatan kepada Tuhannya."


Referensi  :

1.Kamus Idris al Marbawi Arab-Malayu Juz 2 karya Muhammad Idris Abdurrauf al Marbawi, Penerbit Syarikat al Maarif Bandung Indonesia tanpa tahun halaman 190.

2.Diktat Risalah Uqdatul Jama’ah Thariqat Junaidy bingkisan ikatan hati dalam perjalanan Tharikat Junaidy oleh Guru.Muhammad Syukri, tanpa penerbit, tahun 1989M halaman 50.

3.Al Qur’an dan Terjemahannya Juz 1- Juz 30 Departemen Agama, Penerbit Mekar Surabaya tahun          2002M

4.Kitab Jami'ul Ushul Fil Auliya,  karya : Syekh Ahmad Annaqsabandi, Penerbit Al Haromain halaman

5.Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf oleh Dr. Mustafa Zahri, penerbit Bina Ilmu Surabaya tahun 1998 halaman  246

6.Kitab Syarhul Hikam oleh Syekh Abdullah as Syarkawi cetakan Bairut

7.Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf  oleh Dr. Mustafa Zahri penerbit PT. Bina Ilmu Surabya Tahun 1998 Halaman 247

(8).Buku Risalah Umdatul Jama’ah bi Qalami Firdaus oleh KH. Kasful Anwar Firdaus. Tanpa penerbit dan tanpa Tahun  Hal ……. 13

(9).Buku Ilmu Ketuhanan Permata Yang Indah (Ad-darunnafis) beserta Tanya Jawab, Syekh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjari Tahun 1200H, Penerbit Nur Ilmu Surabaya halaman 35.

(10)Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf yang ditulis oleh Dr. Mustafa Zahri penerbit PT. Bina Ilmu Surabya Tahun 1998 Halaman

(11).Risalah Jalan Ma’rifah Melalui Nur Muhammad oleh Gr. Supiyan,(alm) Pejukungan HST Barabai tanpa Penerbit.

(12).Kitab “Sirâjut Thâlibîn” Juz 1 Syekh Ihsân ibn Dahlân al-Jamfasî al-Kadîrî al-Jâwî seorang ulama besar Nusantara asal Jampes, Kediri (Jawa Timur), (dikenal dengan nama Syekh Ihsan Jampes, w. 1952 M), yang merupakan komentar dan penjelasan (syarh) atas kitab tasawuf “Minhâjul ‘Âbidîn” karangan Hujjah al-Islâm al-Imâm al-Ghazzâlî (w. 1111 M)

(13).Artikel Alfit Lyceum ttg Ayat Perjanjian Primordial (ayat al-mitsaq), Senin, 28 Agustus 2017, link http://alfinproletar.blogspot.com/2017/08/ayat-perjanjian-primordial-ayat-al.html

(14).Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf oleh Dr. Mustafa Zahri penerbit PT. Bina Ilmu Surabya Tahun 1998 Halaman

 (15).Risalah  Senjata  Mu’min disusun oleh KH. Husain Kadri Martapura  tahun 1962M cetakan ke Empat halaman 150

(16).Ust. Muhammad Amiruddin berkata pada “Artikel Shalawat Pilihan“(Gr Sakumpul) Selasa, 20 Februari 2018

(17). Artikel “Suluk” https://id.wikipedia.org/wiki/Suluk

(18). kitab ‘Aiqadzul Himam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...