BAB. VII
PEMBAHASAN RIYADHAH / KHALWAT/ SULUK
DAFTAR ISI :
1. PENGERTIAN RIYADHAH ………………………………………………………………..
2. RIYADHAH SANGAT IDENTIK DENGAN
SULUK DAN KHALWAT
3.. HUKUM RIYADHAH,
SULUK ATAU KHALWAT ………………………………....
4. PENGERTIAN RIYADHAH
SECARA BAHASA SYARI’AH…………………………
5.. PENGERTIAN
RIYADHAH SECARA BAHASA HAKEKAT ………………………
6. TUJUAN RIYADHAH SALIK
PENGAMAL THARIQAT AL JUNAIDIYAH
7. MENFA’AT RIYADHAH,
SULUK ATAU KHALWAT ……………………………….
8. ADAB-ADAB SEBELUM MELAKUKAN RIYADHAH
YANG PERLU DIPERHATIKAN DAN PERSIAPKAN
9. TEMPAT MELAKSANAKAN RIYADHAH
THARIQAT AL JUNAIDIYAH
10. RIYADHAH, KHALWAT DAN
SULUK ………………………………………………….
11. BATAS DAN WAKTU RIYADHAH
THARIQAT AL JUNAIDIYAH …………….
12. TIDAK ADA LARANGAN BAGI PARA
PENGAMAL PEMULA THARIQAT AL JUNAIDIYAH UNTUK MEMASUKI KAMAR RIYADHAH.
13. PERSIAPAN MEMASUKI
KAMAR RIYADHAH-SULUK ………………………….
14. BEBERAPA SYARAT RIYADHAH
YANG HARUS DIPENUHI SALIK ………..
15. MEMASUKI KAMAR PERIYADHAHAN
PADA KAMAR KHUSUS ……………….
1. MEMASUKI KHALWAT / RIYADHAH PADA
SIANG DAN MALAM PERDANA
2..RIYADHAH MEMASUKI HARI KEDUA
SIANG DAN MALAMNYA ……………….
3. RIYADHAH MASUKI
SIANG KETIGA DAN MALAMNYA
4. RIYADHAH MASUKI
SIANG KEEMPAT DAN MALAMNYA
5. RIYADHAH/ SULUK
MASUKI SIANG HARI KELIMA, HARI ENAM, HARI TUJUH DAN MALAMNYA
16. MEMPERBANYAK MEMBACA SHALAWAT
(PILIHAN) ATAS NABI SAW
17. RIYADHAH MUSYAHADAH BAGI PTJ
THARIQAT ALJUNAIDIYAH
18. PENGAWASAN GURU MURSYID
KEPADA MURID SA’AT RIYADHAH
19. PASAL PAIDAH –
PAIDAH MELAKUKAN KHALWAT, SULUK-RIYADHAH
BAB. VII
PEMBAHASAN RIYADHAH / KHALWAT/ SULUK
1.. Pengertian Riyadhah
a. Arti Riyadhah
Ar-Riyadhah (الرياضة) berarti “Latihan-latihan atau Olah Raga” dalam istilah thariqat
sufi merujuk pada latihan spiritual dan disiplin diri yang diterapkan oleh
pengikutnya (ikhwan) untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, yang dikenal
cenderung lebih ringan dan praktis
Dan juga Ar-riyadhah pada thariqat sufi adalah proses latihan spiritual, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), dalam pembinaan akhlak seorang murid لsecara intensif untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui seorang Guru Mursyid.
رَاض
– يروض – رياضة او روضة
Riyadhah adalah isim masdar,
berasal dari kata kerjanya yaitu “RAADHA-YARUUDHU-RIYAADHAH atau RAUDHAH.
Riyadhah yang maknanya : “Melatih ia”
atau “ Olahraga ia” Riyadhah berarti melatih ia akan jiwanya atau berolahraga
jiwa dan raganya untuk mengabdi
beribadah kepada Allah Swt.
Riyadhah adalah menukar dan
mengganti perangai yang buruk atau perangai yang jelik/ perangai tercela dengan
perangai yang baik dan membaikkan perangai Diri yang zahir dan yang batin.
Sedangkan Raudhah bermakna kebun atau ladang tempat bercucuk tanam amal
kebikan. Bilamana Salik sering bercucuk tanam amal kebikan yang selalu dijaga
oleh seorang Mursyid, namun pasti insya Allah akan memanin buah kebaikan yang
banyak atau kebikan berlipat ganda dari hasil yang ditanamnya.
b. Arti Suluk dan Khalwat
Suluk adalah perjalanan spiritual dalam Islam (tasawuf) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menyucikan hati dan memperbaiki akhlak, sering kali melibatkan pengasingan diri (khalwat) dan zikir. Istilah ini berasal dari kata fasluki (menempuh jalan) dalam Al-Qur'an Surat An-Nahl ayat 69, bahwa Orang yang melakukan suluk disebut salik.
ثُمَّ
كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًاۗ يَخْرُجُ مِنْ
بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗۖ فِيْهِ شِفَاۤءٌ لِّلنَّاسِۗ اِنَّ فِيْ
ذٰلِكَ لَاٰيَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٦٩
Artiya
:Kemudian,
makanlah (wahai lebah) dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah
jalan-jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perutnya itu keluar
minuman (madu) yang beraneka warnanya. Di dalamnya terdapat obat bagi manusia.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran
Allah) bagi kaum yang berpikir.(QS,An-Nahl ayat 69).
Khalwat/Uzlah: Mengasingkan
diri dari keramaian di tempat sunyi (seperti masjid atau pondok khusus) untuk
fokus beribadah.
Suluk secara harfiah berarti
menempuh (jalan). Dalam kaitannya dengan agama Islam dan sufisme, kata suluk
berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. Menempuh jalan suluk
(bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan
aturan-aturan eksoteris agama Islam (syariat) sekaligus aturan-aturan esoteris
agama Islam (hakikat). Ber-suluk juga mencakup hasrat untuk Mengenal Diri,
Memahami Esensi Kehidupan, Pencarian Tuhan, dan Pencarian Kebenaran Sejati
(ilahiyyah), melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat
lahiriah sekaligus syariat batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal
diri dan Tuhan.
2. RIYADHAH SANGAT IDENTIK
DENGAN SULUK DAN KHALWAT
Para Ulama Sufi, mereka
sangat membatasi pengertian Riyadhah, Suluk dan Khalwat, keduanya sangat
identik atau sama digunakan pada suatu sestem tharekat sufi dan pengertian
keduanya yaitu melatih diri dan menukar
dan melepaskan sifat-sifat jiwa yang tercela menukarnya dengan sifat- sifat
yang terpuji
Dalam sebuah artikel
Mimbar Islam dan Kepenghuluan tanggal
23 Januari 2014 dikatakan bahwa Khalwat secara bahasa berasal dari kata
dasar khalata yaitu bercampur. Khalwat merupakan suatu bentuk
pergaulan/hubungan secara bebas yang melibatkan lelaki dan perempuan yang
ajnabi di tempat sunyi. Ia merupakan suatu ciri pergaulan masyarakat jahiliyyah
dan juga berasaskan kepada nilai-nilai dan system hidup jahiliyyah. Bentuk
pergaulan seperti ini telah ditolak oleh Islam sejak kedatangan Rasulullah S yang membawa system dan nilai hidup yang dipandu oleh Al-Quran dan Sunnah.
3.. HUKUM RIYADHAH, SULUK ATAU
KHALWAT
Khalwat dalam istilah fiqh
adalah laki-laki menutup pintu untuk berduaan dengan istrinya. Dengan demikian,
khalwat terjadi di dalam rumah. Sedang khalwat di jalan tidak disebut khalwat.
Dan sama dengan rumah adalah setiap tempat yang orang lain tidak boleh masuk.
Yang dimaksud perempuan lain adalah wanita yang selain istri atau mertua, dan
tidak ada hubungan keluarga (mahram). Termasuk haramnya khalwat dengan tunangan
sendiri sebelum terjadinya akad nikah. Hukumnya khalwat antara laki-laki dan
perempuan lain adalah haram secara mutlak.
Aku (Penyusun Umdatul Hasanah) pernah membaca dalam sebuah artikel
menyatakan bahwa “Khalwat adalah bukanlah
ibadah baru dalam Islam, namun ia termasuk ibadah yang diperintah Allah
Swt yang dihukumkan Mubah. Khalwat
(menyepikan dirinya) ini di dilakukan dalam Gua Hera di pegunungan Jabal
Nuur di pinggiran kota Mekkah
dicontohkan oleh Nabi Saw. Namun Khalwat
(menyepikan dirinya) bisa juga dilakukan ditempat keramaian adalah
sesuatu yang sangat unik, misalnya di pasar dan lainya.
Abu Saud dalam komentarnya
tentang penjelasan al Qur’an oleh Fakhr ad-Din al-Razi mengatakan
Makna ayat ini adalah untuk
tetap berkhalwat (menyepikan diri) terhadap segala sesuatu kecuali Allah
Swt mengingat Nya siang dan malam, dengan tasbih, hamdalah dan tahlil, dan
memutuskan dirimu dengan seluruh kemampuan yang kamu miliki, and mendekat
kepada Nya melalui tingkat-tingkat (maqam) meditasi sedemikian rupa sehingga
kamu tidak melihat siapapun kecuali Dia, dan meninggalkan hubungan dengan
selain Dia melalui meditasi itu.
Bentuk meditasi Islam
didasarkan pada khalwat (menyepi). Bukti tentang ini dalam al Qur’an bisa didapatkan
dalam kisah Mariam ibu Nabi Isa Alaihis Salam.
Maka Tuhannya menerima (doa)
nya dengan sebuah penerimaan yang pemurah, dan mengakibatkan dia tumbuh secara
sempurna, dan menjdikan Nabi Zakaria sebagai walinya. Setiap kali Nabi Zakharia Alaihis Salam mengunjunginya di tempatnya menyepi, dia mendapatinya bersama dengan
kebutuhannya sehari hari (rezeki - makanan minuman) nya. Dia bertanya :” Ya
Mariam dari mana engkau mendapatkan
ini?” Dia menjawab :”Ini dari Allah. Sesungguhnya, Allah memberi kepada
siapapun yang Dia kehendaki tanpa takaran.” (3:37)
Surat Maryam ayat 3-11 berbunyi :
اِذْنَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وهَنَ الْعَظْمُ مِنَّيْ
وَاشْتَعَلَ الرَّاْسُ شَيْبًا وَلَمْ اَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِيْ
وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ وَلَدُنْكَ وِلِيًّا
يَرِثُنِيْ وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوْبَ وَاجْعَلْهُ
رَبِّ رَضِيًّا
يَا زَكَرِيًّا اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ
اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِن قَبْلُ سَمِيًّا
قَالَ رَبِّ اَنَّى يَكُوْنُ لِيْ غُلَامٌ وَكَانَتِ
امْرَاَتِيْ عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا
قَالَ كَذَالِكَقلى قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ
هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تُكَ شَيْئًا
قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِيْ آيَةًقلى قَالَ آيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلَاثَ
لَيَالٍ سَوِيًّا
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحَى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَعَشِيًّا
3.Yaitu tatkala ia berdoa
kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.
4.Ia Berkata "Ya
Tuhanku, Sesungguhnya tulangku Telah lemah dan kepalaku Telah ditumbuhi uban,
dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku.
5.Dan Sesungguhnya Aku
khawatir terhadap mawaliku[898] sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang
yang mandul, Maka anugerahilah Aku dari sisi Engkau seorang putera,
6.Yang akan mewarisi Aku dan
mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang
yang diridhai".
7.Hai Zakaria, Sesungguhnya
kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya
Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan
Dia.
8.Zakaria berkata: "Ya
Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang
mandul dan Aku (sendiri) Sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat
tua".
9.Tuhan berfirman:
"Demikianlah". Tuhan berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku;
dan Sesunguhnya Telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu
itu) belum ada sama sekali".
10.Zakaria berkata: "Ya
Tuhanku, berilah Aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu
ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam,
padahal kamu sehat".
11.Maka ia keluar dari mihrab
menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih
di waktu pagi dan petang.
[898] yang dimaksud oleh
Zakaria dengan mawali ialah orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan
tongkat istapit urusannya sepeninggalnya. Yang dikhawatirkan Zakaria ialah
kalau mereka tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik, Karena tidak
seorangpun diantara mereka yang dapat dipercayainva, oleh sebab itu dia meminta
dianugerahi seorang anak.
Mengungkapkan kisah tentang
Shahabat Gua (Kahfi), Allah bersabda dalam al Qur’an bahwa mereka diperintahkan
:
Pergilah kalian ke Gua itu :
Tuhanmu akan mengguyur mu dengan Rahmat Nya mengatur urusanmu menuju kemudahan.
(18:16)
Demikian juga, khalwat
(menyepi) ada dalilnya dalam Sunnah. Bukhari melaporkan bahwa Aisyah R.a.
mengatakan :
Nabi Saw senang sekali
berkhalwat (menyepikan dirinya). Beliau Saw berkhalwat (menyepikan diri). dalam
Gua Hira.
Imam Nawawi menjelaskan Hadits Aisha R.a. :
Berkhalwat (menyepi) bersama dengan Satu yang kamu cintai adalah sebenar benar
khalwat. Itu adalah jalan para shalih, dan itu adalah jalan para ‘alim.
Dia berkata, dalam
penjelasannya dalam Salih Muslim :
Nabi Saw berkata : “Saya
dicipta untuk mencintai khalwat,” karena dengannya qalbu akan kosong dari semua
kehidupan duniawi ini. Qalbu itu akan dalam keadaan damai Hal ini membantu
memperdalam meditasi pada Hadhirat Ilahi. Dengannya, keterikatan seseorang
dengan dunia akan berkurang.
Dengannya, pengabdiannya akan
bertambah.
Imam Zuhri berkata :
Saya heran dengan orang
orang, bahwa mereka tidak melaksanakan khalwat. Nabi Saw melakukan banyak hal
kemudian meninggalkannya, namun dia Saw tidak pernah berhenti melakukan
khalwat sampai meninggalnya.
Abu Jamrah berkata bahwa
ia menjelaskan sunnah ini dari Aisyah R.a.
Ketika Nabi Saw menyepikan
diri (khalwat), meninggalkan ummatnya dan melepaskan dirinya dari dunia, dia Saw
menerima wahyu dari Jibril a.s. dalam Gua Hira. Siapapun yang akan meniru Nabi Saw
dalam melakukan khalwat, dibawah perintah shaykhnya, akan diangkat ke maqam
orang suci (awliya Allah).
Bukti pengaruh,
Pentingnya khalwat adalah bahwa Nabi Saw
melalui khalwatnya dalam Gua Hira, diangkat kepada maqam di mana beliau Saw menerima wahyu.
Dalam khalwatnya buah pertamanya adalah mimpi yang benar, dan dari maqam ini
beliau Saw diangkat pada Malam Mi’raj, sampai beliau mencapai Hadhirat Ilahiah
ke maqam “dua busur jaraknya atau lebih dekat.” (53:9)
Semua maqam maqam ini adalah
hasil dari khalwatnya dalam Gua Hira. Kita belajar dari sini, jika kita
mengikuti jejak langkah Nabi Saw , kita akan diangkat dari maqam satu ke maqam
lainnya sampai kita mencapai maqam
awliya Allah yang tinggi, dan kita akan mendapati diri kita dalam Hadhirat
Ilahiah.
Shaykh Abd al-Qadir
berkata :
Dari Gua Hira, dimana Nabi Saw ber-khalwat, cahaya
mamancar, fajar menyingsing, dan matahari terbit. Gemerlap pertama cahaya
Sufisme Islam telah menyambar. Tak pernah Nabi Saw meninggalkan khalwatnya, bahkan setelah meninggalkan Gua
Hira. Sepanjang hidupnya beliau Saw meneruskan latihan khalwat (‘itikaf) nya
selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Ini memperagakan bahwa
sepanjang hidupnya, Nabi Saw meneruskan
khalwatnya secara tetap. Tentu saja tugas maha berat menyampaikan Risalah Allah
kepada ummat manusia dan membangun masyarakat
beriman membuat beliau Saw harus mengurangi jumlah waktu kesendiriannya. Namun
untuk para pengikutnya, tetap saja empat puluh hari adalah jumlah minimumnya.
4. PENGERTIAN RIYADHAH
SECARA BAHASA SYARI’AH
Maksud Riyadhah menurut
bahasa Syari’ah bagi Pengamal Thariqat al Junaidiyah adalah melatih diri dan
menukar dan melepaskan sifat-sifat jiwa yang tercela zahir dan batin dengan
menghiasi akhlak yang mulia dalam hubungan dengan Allah Swt, dan hubungan dengan
sesama manusia dan begitu juga hubungan
sesama makhluk lainnya binatang dan tumbuh-tumbuhan dan lainnya. Bahkan
hubungan diri sendiri dibawah bimbingan seorang Guru Mursyid atau Badal Guru
Mursyidnya.. Akhlak yang mulia itu seperti sifat siddiq, Amanah, Jujur, Tablik,
juhud, qana’ah dan lainnya.
5.. PENGERTIAN RIYADHAH
SECARA BAHASA HAKEKAT
Maksud Riyadhah secara bahasa
Hakekat adalah pelatihan dan pencurahan
hati dan jiwa atau pengosongan hati kecuali dicurahkan kepada Allah Swt semata,
tiada ada latihan jiwa yang semacam itu yang bagus kecuali dengan jalan
berkhalwat atau Riyadhah yakni duduk di tempat yang gelap, jika tidak bisa
ditempat yang agak gelap, maka membungkus kepalanya atau menyelimuti kepalanya
dengan kain, atau menyelimuti – menutup kepalanya dengan kain ringan atau kain
kasa (sorban tipis ) atau kain buruk/kain kasar. Karena sesungguhnya yang
demikian itu contoh disaat keadaan riyadhah. Hal keadaan begitu akan di dengar
panggilan Allah Swt akan jiwanya hingga akhirnya (Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah) akan
menyaksikan akan ke Agung an Tuhannya.
Salah satu yang harus dijalani oleh Salik yang melakukan riyadhah selalu bermuraqabah Aqrabiyyah (المراقبة الاقرابية) Yakni mengawasi/mengintai-intai hatiya sesungguhnya Allah Swt itu lebih dekat kepada dirinya, dibandingkan pendengaran kupingnya, penglihatan matanya, penciuman hidungnya, perasa lidahnya, dan pikiran hatinya. Dalam arti Allah itu lebih dekat dibandingkan dengan seluruh anggota tubuhnya yang bersifat maknawi. Kalau Kita memikirkan semua makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt, seperti manusia dan hewan yang berada diatas bumi, yang terbang di awang-awang, semua makhluk yang berada didalam laut. Mengingat alam yang berada di atas, seperti langit lapis tujuh beserta isi-isinya (bulan, matahari,bintang, mega, dll), alam yang berada di bawah, seperti bumi yang lapis tujuh beserta isi-isinya (lautan, gunung, pepohonan, daun-daunan, tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam dan lain lainnya). Hal ini berdasarka Dalil Firman Allah Ta’ala :
وَقَوْلُهُ تَعَالَى : وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
Artinya“Aku (Allah) itu lebih dekat terhadap hamba-hamba-Ku dibandingkan dengan urat leher manusia”. (QS: Qaaf [50]:16)
Nah disinilah salah satu Kegunaan dari muraqabah Aqrabiyyah adalah mengharapkan anugerah Allah kepada halus-halusnya otak yang berhubungan dengan lathaif yang lima yang berada di dalam dada yang dinamakan ‘Alam al-Amri. ‘Alam al-Amri adalah lokasi ijazahnya guru kepada murid untuk mengenakan pakaian menyelimuti – menutup kepalanya dengan kain ringan atau kain kasa (sorban tipis ) atau kain buruk/kain kasar sorban. Adapun lafadz ijazahnya adalah:
اَلْبَسْتُكَ خِـرْقَةَ الْفَقِـيْرِيَّةِ الصُّوْفِـيَّةِ وَاَجَزْتُكَ اِجاَزَةً مُطْلَـقَةًلِلْاِرْشَادِوالْاِجَازَةِ وَجَعَلْتُكَ خَلِيْفَةً.
maksudnya“Aku pakaikan pakaian yang hina yang murni, dan aku ijazahkan kepadamu secara mutlak untuk dijadikan petunjuk dan ijazah dan kau kujadikan khalifah (pengganti)”
Kemudian si murid menjawab:
قَبِلْتُ وَرَضِيْتُ عَلَى ذلِكَ.
“Saya menerima, ridho atas ijazahnya guru kepadaku”
Maka murid sudah menjadi khalifah kecil. Inilah akhir dari wilayah shughra (wilayah kecil) dan permulaan wilayah kubra (wilayah besar).
Setiap orang yang memasuki
khalwat di istilahkan Salik itu adalah Ahlullah, ia telah mengenal sesuatu yang
diucapkannya (ia mengerti betul yang diamalkannya. Ia mengerti benar maksud dan
makna yang dibacanya). Dan orang yang tidak memasuki khalwat, maka orang itu
mengudzurkan (dirinya) di dalam keingkaran, sebab ia tidak punya perasaan
hatinya (suka citanya).”
6.
TUJUAN RIYADHAH SALIK PENGAMAL THARIQAT
AL JUNAIDIYAH
Penyusun kitab ar-Risalah Umdatul Hasanah ......
berpendapat Tujuan Riyadhah bagi Salik
Pengamal Thareqat al Junaidiyah adalah Melatih jiwa dan raga Salik untuk
mengekalkan hakekat tawajjuh muthlaq dengan Muraqabah bil Bathin secara
berkepenjangan terus menerus. Disini Salik
PTJ dawam selalu berkepenjangan melenyapkan tiga unsur yaitu Batang
Tubuh, Hati dan Rohnya, agar ketiga unsur tersebut dirasakan benar-benar,
lenyap - tidak ada, sirna pada pengintaiannya.
Diharapkan
Keadaan Batinnya saat Hal Riyadhah atau dalam kamar dan juga sesudah Riyadhah
atau diluar kamar, Salik Pengamal -
Thariqat al Junaidiyah benar-benar merasakan keadaan Batin ghaibah lenyap ketiga unsur dimaksud dalam pandangan mata batinnya, ia tidak dapat
menghadirkan dirinya. Ia benar-benar tidak dapat mengenali dirinya
berkepenjangan terus menerus, yang memandang dan yang dipandang hanya Dia
dirasa, inilah yang terjadi pada Sadatina Al Junaid Radiyallahu anhu. Hal ini
berarti Salik PTJ telah mengalami Baqa’u billah kekal bersama Tuhannya. Hal
keadaan inilah hal ma’rifat yang tertinggi yang diidam-idamkan para Salik.
Riyadhah
bagi Salik Pengamal Thariqat al
Junaidiyah Pemula dikhususkan tujuh hari dan malamnya yaitu sepekan. Yang
dihitung setelah shalat Jum’atan kurang lebih sekitar jam 14.30 wita memulai
masuk kamar pariyadhahan hingga Jum’at mendatang sekitar jam 09.00 wita. Pagi
itu sudah keluar dari kamar pariyadhahan.
Riyadhah
Musyahadah dilakukan 1 hari 1 malam,
Riyadhah dimaksud boleh dilakukan di rumah masing-masing dan harus ada
izin guru Mursyidnya jika masih hidup, jika ia meninggal cukup dengan
menziarahihi dan minta izin secara sirr tak mengapa.
Pengarang
kitab Hazinatul Asrar mengomentari tentang Salik yang terpaut hatinya dengan
Penguasa dan kekuasaan ........
وإن كان همك تحت سلطانك فخذ الخلوة ولاتبالى وعليك بالرياضة
قبل الخلوة. والرياضة عبارة عن تهذيب الأخلاق وتحمل الأذى. فإن الإنسان إذا تقدم فتحه
قبل رياضته فلن يجئ منه رجل أبدا إلا فى حكم النادر فاحذر إختلاطهم ...كذا خزينة الاسرار رقم191
Maksudnya
: Dan jika himmahmu-nafsumu-keinginanmu terpaut dengan penguasa, maka ambillah
olehmu akan khalwat atau suluk, itu tidak mengapa-sangat bagus. Dan mesti
atasmu, mengerjakan suluk memasuki kamar Riyadhah untuk bersunyi-sunyi menekan
himmahmu. Riyadhah adalah sarana latihan jiwa untuk menghilangkan akhlak buruk
dan mengangkut kotoran-kotoran jiwa. Maka sesungguhnya manusia apabila telah
terdahulu terbuka himmah buruknya sebelum ia
suluk memasuki kamar Riyadhah tidak akan datang sifat-sifat Rijal
keteguhan hati darinya selamanya.
Terkeluali pada hukum an nadir yaitu
akan datang sifat-sifat Rijal tersebut tapi
jarang terjadi, Oleh karena itu hati-hatilah kamu akan percampuran
(pergaulan) dengan mereka itu.
7.
MENFA’AT RIYADHAH, SULUK ATAU KHALWAT
Imam
Qastaliani dalam menjelaskan sunnah ini mengatakan :
Khalwat
akan membawa qalbu kepada kedamaian dan terbukalah di dalamnya mata air
(sumber) hikmah, karena itu akan memutuskan sang murid dari kehidupan material
dan membuat dia mampu mengingat Allah Swt Dalam Suluk atau khalwatnya dia juga
harus mengisolasi (menutupi) dirinya dan
menyepikan dirinya.
Dari
dirinya. Hanya memandang/ melihat Allah Swt semata Pada saat tersebut itulah
dia akan menerima ilmu ghaib, dan qalbunya akan menjadi landasan bagi keperluan
tersebut.
Dalam
hubungannya dengan khalwat atau suluk atau riyadhah, Syekh Abul Hasan
ash-Shadhili berkata :
Terdapat
sepuluh manfa’at dari orang yang khalwat atau suluk atau riyadhah :
- Selamat dari semua adab buruk lidah, karena tidak ada siapapun yang dapat diajak bicara dalam khalwat
- Selamat dari semua adab buruk mata, karena tidak seorang manusiapun untuk dilihat dalam khalwat.
- Qalbu selamat dari segala macam pamer dan penyakit sejenisnya yang lain.
- Itu akan mengangkat kamu kepada maqam zuhd (berfokus ke langit, membelakangi dunia).
- Itu akan menyelamatkan kamu dari berteman dengan orang jahat.
- Itu akan membuat kamu memiliki waktu bebas untuk melakukan dzikr.
- Itu akan memberi kamu rasa manisnya beribadah/mengabdi, shalat dan berdoa dalam Hadhirat Ilahiah.
- Itu akan memberikan kepuasan dan kedamaian kepada qalbu.
- Itu akan menghindarkan egomu dari jatuh ke dalam adab yang buruk.
- Itu akan memberi kamu waktu untuk bermeditasi, membuat perhitungan neraca diri dan mengejar sasaran menuju Hadhirat Ilahiah.
Itu
adalah yang disebutkan Nabi Saw dalam sunnahnya, diriwayatkan Bukhari dalam
kitabnya Riqaq : Dikisahkan bahwa Shahabat Nabi Saw yang bernama : Abu Hurairah
Ra melaporkan bahwa Nabi Saw berkata, ”Terdapat
tujuh yang akan berada di bawah Naungan Allah pada Hari di mana tidak terdapat
naungan kecuali Naungan Allah. Salah satunya adalah seorang yang melantunkan
dzikr dalam khalwat dan air mata meleleh dari matanya.”
8. ADAB-ADAB SEBELUM MELAKUKAN RIYADHAH YANG PERLU DIPERHATIKAN DAN PERSIAPKAN
Ketahuilah
hai Pengamal Thareqat al Junaidiyah,
Syekh Dr. Jalaluddin mengatakan bahwa “Adab sebeluDm memasuki suluk atau
kamar riyadhah itu ada enam macam adab yang harus dipenuhi Salik antara lain :
1.Adab Pertama : Carilah Guru Mursyid yang akan
memimpin riyadhah atau suluk itu yang mempunyai tenaga ahli.
2.Adab Kedua : Hendaklah diselesaikan apa-apa dari
pada pekerjaan yang membimbangkan Riyadhah atau suluk, baik
itu masalah dunia ataupun pekerjaan akhirat.
3.Adab Ketiga : Hendaklah ada bekel/ongkos dalam
suluk yang halal/suci.
4.Adab
Kempat : Hendaklah dii’tikatkan dirinya selama pergi Riyadhah atau suluk
kembali kepada Allah, pergi mati atau masuk kubur serta dilakukannya kelakuan orang yang hendak mati, seperti
taubat, minta izin kepada Ibu dan Bapaknya, atau kaum Keluarganya serta anak
dan isterinya.
5.Adab Kelima : Hendaklah diakuinya dirinya
menanggung beberapa dosa dan taqshir (kekurangan) yang tida hingganya dan selalu mengharap akan
ampunan Allah yang sangat Pengasih dan Penyayang kepada hambanya yang taubat.
6.Adab
Keenam : Hendaklah menyediakan nafakah untuk anak isterinya
menurut kadar patutnya selama dia dalam Riyadhah atau suluk itu.
9.
TEMPAT MELAKSANAKAN RIYADHAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH
a.Tempat Tertutup dan sunyi jauh
dari keramaian.
Riyadhah Thareqat
al Junaidiyah bisa juga dilakukan oleh seorang Murid di tempat tertutup dan sunyi jauh
dari keramaian misalnya di Bilik, Ruang Kamar, Gua. Riyadhah semacam ini
bisa dilaksanakan atas kesepakatan Guru dan Muridnya. dan Riyadhah di tempat Tertutup dan sunyi jauh
dari keramaian di contohkan oleh Nabi Muhammad Saw di Gua Hera,
sebagaimana keterangan terdahulu.
b.Tempat
Keramaian.
Riyadhah Thareqat
al Junaidiyah bisa juga dilakukan oleh seorang Murid di tempat
keramaian seperti di pasar dan lainnya
untuk menguji keimanannya, apakah hatinya tetap bersama Allah Swt dan
apakah batinnya tetap berdzikir mengingat Allah Swt. Firman Allah pada surat
Jumuat, ayat 10 ‘’.
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ
فَانْتَشِرُوْا فِى الْأَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوااللهَ كَثِيْرًا
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. الجمعة 10
.Maksudnya
: “ Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan
carilah karunia Allah dan (berdzikirlah kepada Allah Swt) ingatlah Allah
sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”QS Jumuat, ayat 10.
10.
RIYADHAH, KHALWAT DAN SULUK
Ketiga
suku kata pada bab ini diartikan sinonim
atau sama saja maksud dan tujuannya para
Ahli Sufi untuk melatih jiwa dan raga agar taqarrub dekat dengan Allah, bersama Allah
Swt melalui metode dan sistem tertentu.
هذا فصل فى الخلوة
إعلم أنه لايمكن الوصول إلى معرفة الأصول وتنوير القلوب لمشاهدة المحبوب إلا بالخلوة
أى الرياضة خصوصا لمن أراد ارشاده عباد الله إلى المقصود* وقد كان النبي صلى الله عليه
وسلم يتخلى بغار حراء حتى جائه الأمر بالدعوة كما فى صحيح البخارى* وأقل الخلوة هى
يوم بليلها ثم ثلاثة أيام بليالها وهو الذى اتفق النبي صلى الله عليه وسلم* وأكثرالخلوة
هى سبعة أيام وليالها ثم عشرة يوم وليالها ثم شهر وليالها وأكملها لمن أراد السير والسلوك
أربعين يوما* وهى الحاصلة من جميع الأيام المتقدمة
لقوله صلى الله عليه وسلم : من أخلص لله أربعين صباحا تفجرت ينابيع الحكمة من قلبه
على لسانه* رواه أحمد فى الزهد وابن عدى*
Maksudnya
“Ini fasal khalwat yaitu riyadhah atau suluk, ketahui olehmu, bahwasanya
tidaklah mungkin seseorang wusul atau sampai marifatil usul kekhadirat Allah
Swt yang menyinari hati Salik untuk bermusyahadah kepada Allah yang
dicintainya, kecuali seseorang Salik itu dengan menjalankan khalwat, suluk atau
riyadhah. Khususnya bagi orang yang selalu menghendaki petunjuk untuk beribadah kepada
Allah Swt yang diingininya.
Sesungguihnya
Nabi kita Muhammad Saw sering melakukan khalwat di pegunungan Jabal Nuur dalam Gua Hera, hingga datang kepadanya
perintah berdakwah agama Islam, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari.
Paling
sedikit waktu-masa berkhalawat itu, sehari semalam, kemudian tiga hari tiga
malam, Begitulah yang telah disepekati bagi Nabi Muhammad Saw. Dan paling
banyak khalwat itu tujuh hari dengan malamnya, kemudian sepuluh hari dengan
malamnya kemudian satu bulan dengan malamnya. Paling sempurna riyadhah atau
suluk bagi orang menghandaki dan menjalaninya
adalah 40 hari dengan malamnya. Insa Allah ia akan menjalani hari-hari selama suluk akan
hasil, sebagaimana hadist yang diriwayatkan Abu Nuaim dari Abu Ayyub al Anshari
yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang mengikhlaskan amalnya selama 40 hari, maka akan
terpancarlah kelahiran hikmah dari hati atas lidahnya.(HR.Ahmad).
11.
BATAS DAN WAKTU RIYADHAH THARIQAT AL
JUNAIDIYAH
Batas
Waktu yang disepakati sebelum Riyadhah, sebagaimana dijelaskan diatas bahwa
Riyadhah bagi Salik Pengamal Thareqat al
Junaidiyah Pemula dikhususkan tujuh hari dan malamnya yaitu seminggu. Dan Riyadhah satu hari dan malamnya yang
dinamakan Riyadhah Musyahadah. Inilah yang sering dilaksanakan oleh Sadatina
Junaidiyah Syekh KH. Kasful Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh dan Para Muridnya.....
Saya
Penyusun Umdatul Hasanah
..........sebagai Pengikut Syekh KH. Kasful Anwar Firdaus berpendapat
bahwa Batas Waktu Riyadhah bagi
Salik Pengamal Thareqat al Junaidiyah
Pemula boleh dilakukan sebatas kemempuan
Sang Murid dan disepekati oleh
Mursyidnya.
1.Riyadhah
Setengah Hari, ....Masuk Kamar Ba’da Zuhur
hingga Ba’da Magrib selesai
riyadhahnya. Riyadhah semacam ini hukumnya
boleh seperti orang sedang wukuf melaksanakan amal ibadah haji di Arafah yang dimulai Ba’da
Zuhur hingga Ba’da Magrib..
2.Riyadhah
Musyahadah yaitu Riyadhah satu hari satu
malam
3.Riyadhah
Tiga hari tiga malam juga hukumnya boleh
dengan menggambil dalil :
Qishah
Nabi Zakaria, disebutkan dalam kitab suci Al Qur’an pada surah Ali Imran, tatkala Nabi Zakaria minta penjelasan kepada Allah Swt tentang
tanda-alamat atau ciri-ciri atas kehamilan isterinya yang bernama Khannah.
Setelah Nabi Zakaria mendengar (ia akan mendapatkan keturunan) jawaban itu yang
disampaikan oleh Malaikat Jibril :
قَالَ رَبِّ اجْعَلْ
لِى آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَنْ لَا تُكَلِّمَ النَّا سَ ثَلَاثَةَ اَيَّامٍ اِلَّا رَمْزًا
وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيْرًا وَّسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالْاِبْكَار
maka
Nabi Zakaria berkata, “Tuhanku berilah
aku suatu tanda (bahwa istriku akan hamil)”.Allah berfirman : “Tanda bagimu,
adalah bahwa engkau tidak berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali
dengan isyarat, dan Sebutlah nama Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah
(memuji-Nya) di waktu petang dan pagi hari.(QS.Ali Imran ayat 41)
Menurut
Hasan al Basri, Nabi Zakaria bertanya demikian adalah untuk segera memperoleh
kegembiraan hatinya atau untuk menyambut nikmat dengan syukur, tanpa menunggu
sampai anak itu lahir.
Kemudian
Allah menjelaskan bahwa tanda isterinya
sudah mengandung adalah dia sendiri tidak berbicara dengan orang lain selama tiga hari, kecuali dengan
mempergunakan isyarat tangan, kepala dan lainnya, dan beliau berdzikir dan
bertasbih kepada Allah. Allah menyuruh Zakaria tidak berbicara selama tiga
hari, agar seluruh waktunya digunakan untuk dzikir dan bertasbih kepada-Nya,
sebagai pernyataan syukur yang hakiki.
Menurut
Al Qurtubi, sebahagian mufasir mengatakan bahwa tiga hari Zakaria menjadi bisu,
itu adalah sebagai hukuman Allah terhadapnya, karena dia minta pertanda kepada
Malaikat sehabis pecakapan mereka.
Salah
seorang Mufassir yang bernama Syekh Ahmad Ash Shawi al Maliki dalam kitabnya
Tafsir Shawi menjelaskan :
)قوله اى بليا ليها) أخذ ذلك مما يأتى فى سورة مريم جمعا بين
المو ضعين والقصتين ومن ذلك اختار بعض أكابر الصّوفية أن الخلوة مع الرياضة لبلوغ المراد
ثلاثة ايام بلياليها يجعل ذكرالله فيها شعاره ودثاره ولا يتكلّم فيها (قوله إلّا رمزا)
استثناء منقطع على التّحقيق لأ ن الرمز لا يقال له كلام اصطلا حا وإن كان كلاما لغة
لكن ليس مرادا هنا
Maksudnya
: Perkataannya (بِلَيَالِهَا)“BILAYAALIYIHA”
Yakni tiga malam
serta siang harinya . Telah mengambil dalil pelajaran dari sesuatu yang
ada terjadi dalam Surat Maryam secara keseluruhan antara dua pokok bahasan
ceritera Nabi Zakaria dan Maryam. Bahwa
dari dua pokok bahasan ceritera tersebut telah memilih oleh beberapa Pembesar
Sufi bahwasanya Khalwat beserta riyadhah untuk mencapai yang diinginkan yaitu selama
tiga hari dengan malamnya menjadikan
dzikir kepada Allah. . Allah menyuruh Zakaria tidak berbicara selama tiga hari
dan malamnya, agar seluruh waktunya dimaksud digunakan untuk dzikir dan
bertasbih kepada-Nya. Perkataannya
ILLA RAMZAA adalah istisna pengecualian yang diputuskan
sebagai ucapan yang benar,AL RAMZA (Isyarat-romoz) bukan ucapan secara Istlah,
dan jika Isyarat-romoz itu ucapan secara
bahasa maka tidak dalam pembahasan disini.
4.Riyadhah
Tujuh hari dan malamnya yaitu 1 minggu
Suluk
selama Tujuh hari dan malamnya
yaitu 1 pekan yaitu masalah yang
sedang kita bahas pada Bab ini, Insya Allah
5.Riyadhah
Sepuluh Hari dan malamnya di 10 akhir
Ramadhan
6.Riyadhah
Tiga Puluh hari dan malamnya yaitu 1
Bulan seperti orang berpuasa Ramadhan.
7.Riyadhah
40 hari dan malamnya yaitu yang pertama
kali dilakukan oleh Nabi Musa Alaihis Salam ketika ia ingin melihat Allah Swt.
12.
TIDAK ADA LARANGAN BAGI PARA PENGAMAL PEMULA
THARIQAT AL JUNAIDIYAH UNTUK MEMASUKI
KAMAR RIYADHAH.
a.Pertanyaan
:
1.Bolehkan
Mursyid memberikan bimbingan Riyadhah
kurang dari 7 hari dan malamnya kepada Murid Pemulanya ?
2.Misalnya
Riyadhah kuarang dari 1 hari, atau 1hari dan Malamnya, atau 3 hari dan
malamnya.
b.Jawabya
:
Aku Penyusun Umdatul Hasanah dalam Hal Riyadhah
ini menjawab dan ber pendapat bahwa
Hukumnya BOLEH. Dengan mengambil Dalil sepotong dari ayat Al Qur’an yang berbunyi :
وَقَوْلُهُ
تَعَالَى : لَايُكَلِّفُ
اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
Paling
sedikit Riyadhah sehari semalam boleh dilaksanakan oleh Salik Pemula Pengamal Thariqat al Junaidiyah dibawah
bimbingan Guru Mursyidnya atau bimbingan Badal
Guru Mursyidnya.
(و أقل الرياضة يوم
وليلته )
Kami
beralasan bahwa “Thariqat al Junaidiyah disebut
Thariqat al Qaum atau Jalan Thariqat
Orang Banyak atau Thariqat Orang
Umum.” Thariqat al Junaidiyah adalah subuah tarekat yang tidak
akan mempersulit Para Pengamalnya
untuk Wusul kepada ALLAH Swt.
Thariqat
al Junaidiyah ini adalah terekat kita, tarekat yang mudah, tarekat yang jauh
dari kepicikan, mudah untuk diamalkan,
selalu berjalan seiring dengan fitrah manusia. Thariqat ini mengambil
dan menggunakan kaidah Ushul Fiqih yang
berbunyi :
وَقَوْلُهُ
تَعَالَى : "لَاحَرَجَ فِى الدِّيْنِ "
Maksudnya
: “Tidak ada kepicikan dalam beragama yakni mengamalkan thariqat"
وَقَوْلُهُ
تَعَالَى : مَايُرِيْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ ..... المائدة 7
Artinya
:”Tiadalah Allah menghendaki (akan) menjadikan kepicikan (kesulitan) atas kamu
itu.”
Penjelasan
bahwa tujuan dari melakukan Suluk-Riyadhah bagi Salik Pemula dikhususkan Tujuh
Hari dan Malamnya, ini adalah ter-afdhal
bagi yang kuat himmahnya, akan tetapi bagi Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah yang tida kuat himmahnya (kuat pisik dan
kemauannya) atau Para Pegawai, PNS, Guru
yang masih terikat dengan Instansi lainnya atau
aktif, mereka ini mungkin boleh meninggalkan pekerjaannya dalam 1 Pekan,
ini menurut UU Pemerintah sekarang,
walaupun mereka cuti. maka hukumnya
BOLEH Riyadhah kurang dari 1 Pekan.
Dalam
masalah ini salah seorang ulama Sufi
yang mahjub pernah berkata :
ليس الرجل من يشق على مريده يأمرهم بالرياضة المجاهدة الشاقة
ولكن الرجل من ذالك من يدلك على راحتك. –الخزينة الأسرار.
“Bukanlah dikatakan Guru Yang Kamil baik, Guru yang
selalu menyusahkan para Muridnya, Dia menyuruh para Muridnya untuk riyadhah
(dalam waktu yang lama) yang tujuannya memerangi nafsu, akwan-agyar yang sulit.
Akan tetapi yang dikatakan Guru yang baik kamil
itu adalah Guru yang dapat menunjukkan jalan kepada Muridnya yang hampir-dekat kepada
Allah Swt.”
Sebagaimana
kita ketahui bahwa Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur tujuannya mudah
menghafalnya, mudah melaksanakan hukum yang dikandungnya dan tidak merasa berat
orang menerimanya. Demikian juga halnya
dengan Riyadhah bagi kita Salik Pemula, kalau langsung banyak
hari yang diambil akan merasa sulit.........
Hadis
Nabi Saw (Qudsi) Allah berfirman :
وَقَوْلُهُ
تَعَالَى : إِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُبَشِّرِيْنَ وَلَنْ تُبْعَثُوْا مُعَسِّرِيْنَ -الحديث القدسى
“Hanyasanya Engkau (Ya Muhammad) dibangkitkan untuk
memudahkan ummatmu (Jin-Manusia) menuju Allah Ta’ala, sekali-kali Engkau diutus
untuk menyusahkan mereka.”
13.
PERSIAPAN MEMASUKI KAMAR RIYADHAH-SULUK
Adapun
persiapan Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah sebelum masuk kamar pariyadhan
antara lain :
Mandi
Taubat, Cara Mandi yang dianjurkan oleh
hukum Fiqih kita yaitu pertama Mencuci Kubul - Dubur dan Kemeluan,
kemudian berwudhu, kemudian mengubui
kepala (lubang hidung, lubang telinga), Belahan Badan Kanan hingga Kaki Kanan dan kemudian
Belahan Badan Kiri hingga Kaki Kiri.
1.Mandi
Taubat
Mandi
Taubat adalah mandi untuk Inabah kembali kepada Allah Swt. Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah sunat
mandi Inabah, jika waktu Bai’at belum Mandi Inabah, tetapi jika memperbaharui
atau mau mengulangnya tidak mengapa, itu sangat baik.
Sebelum
Salik Mandi terlebih dahulu, Salik menghadap ke arah Kiblad dengan dadanya
memandang ke tanah. Lalu dikenang-kenang dosa-dosanya selama hidupnya,
setelah dirasakannya bahwa ia karam
dilautan dosa dan kekurangan-kekurangan, kemudian berniat Mandi Inabah.
نَوَيْتُ الْغُسْلَ
لِلتَّوْبَةِ عَنْ جَمِيْعِ الذُّنُوْبِ لِلّهِ
تَعَالَى
Artinya
: “Sahajaku mandi taubat dari segala
dosa zahir-batin untuk kembali kepada Allah, karena Allah Ta’ala.”
Kata
Ahli Shufiyah, Cara Mandi Taubat
meluncurkan air empat, keseluruh anggota
badan yaitu :
a.Mandi
dengan Air Dunia.
Adapun
mandi dengan Air Dunia mensucikan anggota badan dari Hadast Besar dan Hadast
Kecil. Sewaktu mandi itu mengata kalimat “Astagfirullah” أستغفر الله lima kali
atau lebih pada bilangan Ganjil atau dua puluh lima kali. Baik saat
menggosok-gosok badan dengan limau, bidara atau juga sabun, maka setelah keluar
dari air/ selesai mengubui dengan Air Dunia kemudian ia membaca Surah Al
Insyirah satu kali. Yaitu berbunyi :
بسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ
الرَّحِيْمِ, اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ, وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ, اَلَّذِيْ
انْقَضَ ظَهْرَكَ. وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ, فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, اِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, فَاِذَافَرَغْتَ فَانْصَبْ, وَاِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ,
Diteruskan
lagi ...........
b.Mandi
dengan Air Zamzam Mekkah
Kedua
Mandi dengan air yang tadi juga tetapi cuman diniatkan dan dihakekatkan
seolah-olah mendi dengan Air Zamzam Mekkah. Modah-modahan dengan mandi air yang
kedua ini dihapus Allah Swt kesalahan dan dosa yang delapan yaitu “Mata,
Telinga, Lidah, Tangan, Kaki, Perut, Hidung dan Kemaluan. Diwaktu mandi yang
Kedua itu, dibacanya kalimat أستغفر
الله
“Astagfirullah” lima kali atau lebih pada bilangan Ganjil atau dua puluh lima
kali. Setelah keluar dari air/ selesai mengubui dengan Air Dunia kemudian ia
membaca Surah Al Insyirah satu kali.
Yaitu berbunyi :
بسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ
الرَّحِيْمِ, اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ, وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ, اَلَّذِيْ
انْقَضَ ظَهْرَكَ. وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ, فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, اِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, فَاِذَافَرَغْتَ فَانْصَبْ, وَاِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ...
الانشراح
Diteruskan
lagi ...........
c.Mandi
dengan Air Telaga Kausar
Mandi
yang ketiga dengan air yang tadi juga tetapi cuman diniatkan dan dihakekatkan
seolah-olah mendi dengan Air Telaga Kausar Nabi Muhammad Saw. Yang boleh
meminum Air Telaga Kausar itu hanya orang yang beriman, dan terdahulu masuk
sorga. Penyusun Umdatul Hasanah .... menyukai dibaca terlebih dahulu surat Al
Kausar itu, sekali atau lebih,
بسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ
الرَّحِيْمِ, اِنَّا اَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ, فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ, اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ.....
الْكَوْثَرَ
seterusnya
dibaca pada Mandi Ketiga ini أستغفر
الله
:”Astagfirullah” lima kali atau lebih pada bilangan Ganjil atau dua puluh lima
kali. Sambil memohon dan mengharaf akan ampunan Allah segala dosa di Hati,
Keluar dari dalam air (Sungai) dibacanya pula Surat Al Insyirah
( Alam Nasyrah .....). Sewaktu membaca Alam Nasyrah ..... dia sangat
mengharapkan disucikan serta dibersihkan Allah akan dosa-dosanya dan hatinya
seperti Hati Rasulullah Saw.
بسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ
الرَّحِيْمِ, اَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ, وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ, اَلَّذِيْ
انْقَضَ ظَهْرَكَ. وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ, فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, اِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا, فَاِذَافَرَغْتَ فَانْصَبْ, وَاِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ...
الانشراح
d.Mandi
dengan Air Mahfudl atau Air Nurullah
Mandi
Keempat dengan air yang tadi juga cuman diniatkan dan dihakekatkan pula seolah-olah mendi dengan Air Mahfudl atau Air
Nur Allah yang sangat terpelihara disisih Allah Swt. Seterusnya dibacanya pula أستغفر الله “Astagfirullah” lima kali atau lebih pada
bilangan Ganjil atau dua puluh lima kali. Kita mengharapkan kepada Allah agar dibukakan segala Dinding atau Akwan atau
Aghyar antara Roh kita dengan Allah Swt.
Aku
(Penyusun Umdatul Hasanah) .... sangat menyukai bila dibacanya sesudah keluar
dalam air atau selesai mandi seayat nomor 35 dari QS. An Nur yang berbunyi :
اَللهُ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ
والْاَرْضِقلى مَثَلُ نُوْرِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌقلى اَلْمِصْبَاحُ فِى زُجَجَةٍ الزُّجَجَةُ كَاَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوْقَدُ
مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَاشَرْقِيَّةٍ وَلَاغَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُنًهَا
يُضِيْئُ وَلَوْلَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌقلى نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ يَهْدِى اللهُ لِنُوْرِهِ
مَنْ يَشَاءُقلى وَيَضْرِبُ اللهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِقلى واللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيْمٌ... النور 35
2.Berpakaian
rapi dan menutup aurat serta sunat berpakaian warna putih atau warna hijau
3.Memperbanyak
Shalat Sunnat, yaitu . Shalat Sunnat Wudlu, Shalat Sunnat Taubat, Shalat Sunnat
Hajat, Shalat Sunnat Tasbih dan Shalat Sunnat lainnya.
4.Masuk
Kamar Khusus, dihat syarat Khalwat-Suluk Nomor 04. Dari 20 syaratnya.
5.Masuk
ke Kelambu atau menduduki Sajadah dan menutup kepalanya dengan kain Sorban
Tipis bagi yang tidak pakai Kelambu. Kemudian Duduk Thariqat yakni Duduk
Taqdim, Duduk Derajat dan Duduk Khidmad. Dan membaca kalimat “ YA FATTAAH” 500 kali . يا فتاح 500 كالى
kemudian ia sibuk membaca wirid yang disuruh oleh Guru Mursyidnya untuk
dibaca ......... sebanyak mungkin.
14.
BEBERAPA SYARAT RIYADHAH YANG HARUS
DIPENUHI SALIK
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh
Salaik ketika melakukan Riyadhah-Suluk atau Khalwat, sebagaimana yang disebut
kitab Tanwirul Qulub antara lain :
وقد أخطأ من الحكم
عليه بالوضع ولها عشرون شرطا. الأول هو إخلاص النية بقطع مادة الرياء والسمعة ظاهرا
وباطنا. الثانى هو إستئذان شيخه وطلب الدعاء منه. ولا يدخل بلا إذن مادام فى حجر التربية.
الثالث : تقديمه عليها العزلة وتعود السهر والجوع والذكر بحيث تألف نفسه هذه الأشياء
قبل ذخولة. الرابع : أن يدخل برجله اليمنى مستعيذا بالله من الشيطان مبسلا. وأن يقرأ
سورة الناس ثلاث مرات ثم ليسرى قائلا :" أللهم ولي فى الدنيا والأخرة كن لى كما
كنت لسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وارزقنى محبتك. أللهم ارزقنى حبك. واشغلنى بجمالك
واجعلنى من المخلصين. أللهم امح نفسى محذبات ذاتك يا أنيس من لاأنيس له. رب لاتذرنى
فردا وأنت خير الوارثين* فيقوم على المصلى ويقول : إنى وجهت وجهي للذي فطر السموات
والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين 21 كالى. ثم يصلى ركعتين يقرأ فى الأولى الفاتحة
أية الكرسي. الثانى الفاتحة وأمن الرسول. وبعد
السلام يقول يا فتاح خمسمائة مرة. )اى للطريق
الجنيدي هو جلوس الطريقة وتوسل ثم مرابطة ثم
وتوجه مطلق ثم تلقين ذكر(. ويشتغل بالذكر الذى لقنه له شيخه )اى تسبيحا وتحميدا وتهليلا
وتكبيرا (
الخامس: ملازمة الوضوء*
السادس: أن لايعلق همته بالكرامات* السابع: أن لايسند ظهره إلى جدار* الثامن: أن لازم
صورة شيخه بين عينيه* التاسع: أن يكون صائما* العاشر: السكوت إلا عن ذكر الله أو مادعت
إليه ضرورة شرعية وماعدا ذلك مضيع للخلوة مذهب لنور القلب* الحادى عشر: أن يكون مستيقظا
لأعدائه الأربعة هى الشيطان والدنيا والهوى والنفس بأن يذكر كل ما يراه لشيخه * الثانى
عشر: أن يكون بعيدة حس الأصوات* الثالث عشر: المحافظة على الجمعة والجماعة0 فإن المراد
الأعظم متابعة النبي صلى الله عليه وسلم*
الرابع عشر: إذا خرج
لضرورة غطى رأسه إلى رقبته ناظرا إلى الأرض* الخامس عشر:أن لاينام إلا عن غلبة نوم
مع الطهارة ولاينام لراحة البدن بل إن قدر إن لايضع جنبه على الأرض وينام
جالسا فعل* السادس عشر: المحافظة على الأمر
الأوسط بين الجوع والشبع* السالع عشر: أن لا يفتح الباب لمن يريد التبرك به إلا شيخه*
الثامن عشر: أن يرى كل نعمة حصلت له إنما هى من شيخه وهو عن النبي صلى الله عليه وسلم*
التاسع عشر: نفى الخواطر كلها خيرا كانت أو شرا. لان تفرق القلوب عن الجمعية الحاصلة
بالذكر* العشرون: دوام الذكر والتوجه المطلق بالكيقية التى أمره بها شيخه إلى أن يأمره
بالخروج*
Maksudnya : Sungguh telah menyalahi dari pada
Hukum dengan kejelasan tentang Khalwat/Suluk dan Riyadhah. Melakukan Khalwat/Suluk
dan Riyadhah itu ada dua puluh syarat yang harus dipenuhi oleh Salik yaitu :
1.Mengikhlaskan
niatnya dengan memutuskan sifat Riya dan Sum’ah zahir batin.
2.Minta
izin kepada Guru Mursyidnya dan memohon do’a dari padanya. Ia tidak akan memasuki
khalwat sebelum ada izin Gurunya masuk dalam kamar atau ruang pendidikan,
3.Didahuluinya
atas berkhalwat yaitu uzlah dan kembali berjaga malam dan tidak tidur, menahan
lapar, selalu dzikir dengan sekira-kira menjadi jinak akan nafsunya. Inilah
perkara-perkara sebelum memasuki kamar Khalwat/Suluk dan Riyadhah.
4.Memasuki
kamar Khalwat/Suluk dan Riyadhah harus mendahulukan kaki kanan, memohon
perlindungan dengan Allah dari ganguan syaithan, dan membaca surat an Nas tiga
kali, berbunyi :
بسم الله الرحمن الرحيم*
قل أعوذ برب الناس* ملك الناس* إله الناس* من شر الوسواس الخناس* الذى يوسوس فى صدور
الناس* من الجنات والناس* 3 كالى
Kemudian
diikuti kaki kirinya sambil membaca kalimat :
أللهم ولي فى الدنيا
والأخرة كن لى كما كنت لسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وارزقنى محبتك. أللهم ارزقنى
حبك. واشغلنى بجمالك واجعلنى من المخلصين. أللهم امح نفسى محذبات ذاتك يا أنيس من لاأنيس
له. رب لاتذرنى فردا وأنت خير الوارثين.
Kemudian
Salik berdiri atas shalat (seperti mau
shalat menghadap Kiblat) kemudian ia membaca kalimat ini 21 kali berbunyi :
إنى وجهت وجهي للذي
فطر السموات والأرض حنيفا مسلما وما أنا من المشركين 21 كالى
Kemudian
ia mengarjakan shalat dua raka’at, pada raka’at pertama sesudah Alfatihah
membaca Ayat Kursi, dan pada raka’at kedua sesudah Alfatihah membaca Amanar
Rasul...... Sesudah salam, dilanjutkan membaca : YA FATTAAH” 500 KALI.Bagi Salik Pengamal Thariqat
Al Junaidiyah Duduk Thariqat yakni Duduk
Taqdim, Duduk Darrajat dan Duduk
Khidmat. Kemudian ia Tawassul, Kemudian ia Mubithah kepada Gurunya, Kemudian ia Tawajjuh Mutlak, Kemudian ia
Talqin Dzikir, Kemudian ia sibuk berdzikir yang dianjurkan oleh Guru Mursyidnya
berupa Tasbih, Tahmid, Tahlil, takbit khusus Thariqat Al Junaidiyah.
سورة الفاتحة
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, اَلْحَمْدُ لِلّهِ
رَبِّ العَالَمِيْنَ, الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ, اِيَّاكَ نَعْبُدُ
وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ, اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْنَ, صِرَاطَ الَّذِيْنَ
اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ
عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ, آمِيْنَ !
آية الكرسي سورة البقرة
255 :
اللهُ لَا اِلهَ اِلَّا
هُوَ الْحَيٌّ الْقَيُّوْمُج لَا تَأْخُذُه سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌج لَه مَا فِى السَّمَاوَاتِ
وَ مَا فِى الْأَرْضِج مَنْ ذَا الَّذِى يَشْفَعُ عِنْدَه اِلَّا بِاِذْنِهج يَعْلَمُ
مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَ مَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْئٍ مِنْ عِلْمِه
اِلَّا بِمَا شَآءَح وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضَصلى وَلَا يَؤُوْدُه
حِفْظُهُمَاج وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ(1) البقرة 255
آمن الرسول سورة البقرة 285-286
-آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ
وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَانُفَرِّقُ
بَيْنَ اَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا
وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُط لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ
وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَاتُؤَا خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَئْنَا
رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ
قَبْلِنَاط رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ..... ( 33 مَرَّةً) وَعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ
مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ
5.Melajimi
Berwudlu (Tidak putus Air Wudlu)
6.Jangan
berharap atau berkeinginan mendapatkan Keramat
7.Jangan
menyandarka diri, atau menyandarka
belakangnya kedinding
8.Melajimi
atau membayangkan wajah Guru Mursyidnya diantara kedua matanya
9.Hendaklah
dalam keadaan berpuasa
10.Keadaan
diam kecuali berdzikir kepada Allah, atau sesuatu yang mengajak darurat
Syar’iyah dan itupun tidak mempengaruhi Khalwat.
11.Jaga
(bangun) untuk mengalahkan musuh-musuhnya yang empat yaitu : Syaithan, Dunia,
Hawa dan Nafsu dengan cara mengingati
setiap sesuatu melihat kepada Gurunya.
12.Hendaklah
(kamar khalwat itu) jauh dari keributan dan kebisingan
13.Hendaklah
memelihara shalat berjama’ah, karena seafdal – afdal atau seagung-agng dari
pada Khalwat adalah mengikuti / Mataba’ah kepada Nabi besar Muhammad Saw.
14.Apabila
keluar kamar Khalwat karena darurat
syar’iyah hendaklah menutup kepala hingga lehernya, kalau berjalan melihat ke
tanah.
15.Jangan
tidur kecuali ngantuk sekali, itupun dalam keadaan suci, (tidur diniatkan
dzikir kepada Allah).Usahakan tidur tidak merebahkan badan, tetapi jika tidak
mampu, usahakan jangan melatakkan pipinya ke tanah, Tidurlah dalam keadaan
berduduk.
16.Memelihara
urusan perkara Perut kecuali pertengan antara lapar dan kenyang.
17.Tidak
membuka pintu (Kamar Khalwat) atau Tidak melayani bagi orang yang menghendaki
Tabarruk/Berkah dengannya kecuali Gurunya.
18.Ia
selalu melihat nikmat yang telh hasil baginya, bahwasanya sesuatu ( hasil) itu
dari Gurunya yakni Nabi Saw.
19.Menghilangkan
rasa khawatir, meniadakan lintasan-lintasan hati. Yaitu segala kebaikan dan kejahatan
bahwasanya untuk menghilangkan rasa
kekhawatiran, dan melenyapkan lintasan-lintasan hati dari semua hal dimaksud
dengan dzikir.
20.Berkekelan
Tawajjuh Muthlaq dan dzikir dengan cara yang disarankan oleh Gurunya hingga
Salik diperintahkannya keluar kamar
Riyadhah
Sesuai
dengan Ta’rif Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah yaitu :
دوام العبودية ظاهرا
وباطنا مع مراقبة الله تعالى بالباطن.
Maksudnya : “Berkepanjangan (kontinyu)
memperhambakan diri zahir-batin serta
berkekalan muraqabah kepada Allah dengan batin yakni : Tawajjuh Muthlaq”.
15.
MEMASUKI KAMAR PERIYADHAHAN PADA KAMAR KHUSUS
Orang
yang memasuki kamar Khalwat-riyadhah dikatakan
Ahlullah, ia telah mengenal apa saja yang telah diucapkannya.
Sebagaimana kata Ahli Sufiah berikut ini :
وكل من دخل الرياضة
على مصطلع أهل الله عرق ما أقول ومن لم يدخل فهو معذور فى إنكاره لعدم وجدانه.
Artinya
: Setiap Murid/Salik yang memasuki Kamar Riyadhah diistilahkan AHLULLAH, ia
mengetahui sesuatu yang sedang / akan
diucapkannya, dan Murid/Salik
yang tidak suka memasuki Kamar Riyadhah maka ia mengudzurka dirinya di dalam
keingkaran, sebab ketiadaan perasaan hatinya rasa suka cita.
Sadatina Guru
Maskur bin Abbas menjelaskan
kepadaku (Penyusun Umdatul Hasanah)
bahwa “Yang penting
dimantapkan seorang murid sebelum
memasuki kamar Riyadhah adalah Tawajjuhnya dahulu, bila sudah mantap Tawajjuh
baru masuk kamar Riyadhah.”
1.
Riyadhah
memasuki Siang dan Malam Perdana bagi Salik Pengamal Thariqat al Junidiyah,
setelah wudlu, lalu mengerjakan adab-adab Khalwat, Suluk dan Riyadhah seperti
yang tercantum pada Nomor 4 dari 20 adab Khalwat yang kami sebutkan diatas.
Kemudian shalat sunnat Wudlu 2 raka’at, dan
kemudian shalat sunnat Taubat 2 raka’at, dan juga shalat sunnat Hajat 2
raka’at. Kemudian Salik Duduk Thariqat al Junaid, baik Duduk Taqdim, Khidmad
atau Darajat, lalu mengerjakan :
a.Tawassul 5 kali membaca al Ftihah,
b.Murabithah
kepada Guru Mursyidnya,
c.Tawajjuh
Muthlaq,
d.Membaca
Talqin Dzikir yaitu kalimat yang berbunyi
لاإله
إلا الله * إلا الله-إلاالله* الله-الله* والذكر خفي وأخفى* ثم يقرأ الأسماء الحسنى*
ثم الدعاء*
يقرأ الأسماء الحسنى :
نسألك (أسألك) الرحمة
والعافية والرضى يا من هو الله الذى لاإله
إلا هو الرحمن الرحيم* الملك القدوس السلام
المؤمن المهيمن العزيز الجبار* المتكبر الخالق البارئ المصور الغفار القهار* الوهاب
الرزاق الفتاح العليم القابض الباسط الخافض
الرافع المعز المذل السميع البصير* الحكم العدل اللطيف الخبير الحليم العظيم الغفور
الشكور العلى الكبير* الحفيظ المقيت الحسيب الجليل الكريم الرقيب المجيب الواسع الحكيم*
الودود المجيد الباعث الشهيد الحق الوكيل القوى
المتين الولى الحميد المحصى المبدئ المعيد*
المحي المميت الحي القيوم الواجد الماجد
الواحد الأحد الصمد. القادر المقتدر
المقدم المؤخر الأول الأخر الظاهر الباطن الولى
المتعال* البر التواب المنتقم العفو الرؤوف مالك الملك ذو الجلال والإكرام* المقسط
الجامع الغنى المغنى المانع الضار النافع
النور الهادى البديع الباقى الوارث الرشيد
الصبور*
الدعاء
أللهم ولي فى الدنيا
والأخرة كن لى كما كنت لسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وارزقنى محبتك0 أللهم ارزقنى
حبك. واشغلنى بجمالك واجعلنى من المخلصين0 أللهم امح نفسى محذبات ذاتك يا أنيس من لاأنيس
له0 رب لاتذرنى فردا وأنت خير الوارثين*
إله أنت مقصودى ورضاك
مطلوبي أعطنى محبتك ومعرفتك يا الله* اللهم إنا نسألك التوبة والإنابة على شريعة الغراء
وطريقة البيضاء برحمتك يا أرحم الراحمين والحمد لله رب العالمين*
Artinya
:“Ya Allah Engkau
Wali-penguasa dunia dan akhirat, jadikan untukku sebagaimana Engkau jadikan bagi Sayyidina Muhammadin Saw. Anugrahi
akandaku rasa cinta dengan-Mu, Ya Allah, Anugrahi akandaku kecintaan-Mu dan
sibukkan daku dengan keindahan-Mu. Dan jadikanlah daku dari golongan orang
ikhlas. Ya Allah bukulah hijab penutup-dinding Zat Engkau bagiku wahai Yang
Lembut Orang yang Melembutkan baginya.
Ya Allah bukanlah aku meminta sendiri, dan Engkau sebaik-baik orang yang
memberi”.
“Ya
Allah Engkau Jua yang aku maksud, dan keridhaan Engkaulah yang aku cari, oleh karenanya curahkanlah kepadaku akan
cinta-Mu, Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu
jalan menuju pintu taubat dan juga langkah untuk kembali kepadaMu serta
berpendirian yang teguh dalam menelusuri syari’at yang indah dan menjalani
thariqat yang bersih, dengan rahmatMu jua wahai Orang yang Maha Pengasih dan
Penyayang.”
Keterangan
: “Setiap Do’a harus didahului
membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin dan
Shalawat atas Nabi Muhammad Saw .......... dan diakhiri Shalawat atas Nabi Muhammad Saw dan Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin”
Guru
Mursyidnya menyuruh Muridnya agar banyak-banyak membaca TASBIH. Adapun yang
dimaksud Tasbih yang akan dibaca yakni :”SUBHANALLAH” Artinya :”Maha Suci
Allah”
اى المقصود التسبيح يقول:"سبحان الله"
Penyusun
UMDATUL HASANAH ........ sangat menyukai Salik yang dalam Hal Riyadhah
didahului membaca kalimat ini ............. :
اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك إلهي يا رب ....
"سبحان الله"
Sadatina Guru
Maskur bin Abbas menjelaskan
kepadaku (Penyusun Umdatul Hasanah)
bahwa “Kemudian disambung dengan
mengucap kalimat Tasbih sebanyak-banyaknya yang berbunyi “SUBHANALLAH” : "سبحان
الله"
Menurut
riwayat Sadatina Junaidiyah bahwa kalimat Tasbih dimaksud adalah kalimat Tasbih yang selalu di ucapkan dan
diamalkan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq RA sahabat Nabi Muhammad Saw.
INI PENJELASAN : Thariqat al Junaidiyah adalah
thariqat induk, terikat utama, tarekat tua, dari tarekat yang ada, oleh karena itu tarekat ini punya cara
duduk thariqat yang berbeda-beda,
walaupun begitu Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah tidak diperbolehkan
disaat berjamaah /bersama-sama mengamalkan Thariqat al Junaidiyah dengan DUDUK
THARIQAT yang berbeda-beda atau berlainan, kalau waktu sendirian tidak mengapa.
Adapun
cara duduk Thariqat al Junaidiyah yang dimaksud adalah ada tiga cara :
1.Duduk
Thariqat Taqdim جلوس التقديم
Duduk
Taqdim yaitu Duduk Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah berhadap-hadapan
dengan cara Kedua Kaki bersila, yaitu kaki kanan berada diatas kaki yang kiri,
dan kedua talpak tangan terbuka berada diatas diantara paha dan tu’ut kakinya.
Duduk Thariqat Taqdim ini adalah duduk
Thariqat yang sangat disukai oleh Sadatina
al Junaidiyah,.karena sukanya seolah-olah Duduk Thariqat al Junaidiyah ini hanya satu
cara.
2.Duduk
Thariqat Darrajat جلوس الدرجة
Salik
Pengamal Thariqat al Junaidiyah duduk seperti duduk tahaiyat akhir dalam shalat
tetapi duduk terbalik. Disini kaki kanan
yang diduduki dan kaki kiri yang ditugiskan kebalakang. Duduk tahaiyat akhir
terbalik ini tujuannya membuka hati si Salik.
3.Duduk
Thariqat Khidmat جلوس الخدمة
Salik
Pengamal Thariqat al Junaidiyah duduk thariqat seperti duduk tahaiyat akhir
dalam shalat. Jadi . Duduk Thariqat Khidmat ini duduk kebalikannya Duduk
Thariqat Darrajat.
Ketika
Aku menghadiri di Majelis An Nabawiah, Aku dengar Guru Syekh Syairazi bin H.
Pandi Makeri Kandangan berkata bahwa
“Suluk atau Riyadhah dimulai sesudah shalat Ashar dan nanti berakhir .
sesudah shalat Ashar pula.” Dan tidur
bagi orang Suluk atau Riyadhah
itu tiga jam dimalam hari dan satu jam di siang
hati. Di malam hari dari jam 23.00 wita
hingga jam 02 malam dan di siang hari dari jam 11 hingga jam
12.00 wita, sedangkan amaliyah yang dibaca Insya Allah
:
a.Al
Qur’an al Karim
b.Shalawat
atas Nabi Saw
c.Shalat Sunnat
d.Amaliyah
yang diberikan Mursyidnya
Guru
Syekh Syairazi bin H.Pandi Makeri adalah murid Guru Syekh Zani Ghani
(Gr.Sakumpul) Beliau lama belajar di Mekkah al Mukarramah hingga mendapatkan
Gelar SYEKH disana.
2..RIYADHAH
MEMASUKI HARI KEDUA SIANG DAN MALAMNYA
Modah-modahan
Allah Swt menganugrahkan kepada kita sifat-sifat yang dimiliki oleh Shahabat
Nabi Abu Bakar RA berkat banyak mengucap kalimat Tasbih yang selalu diamalkan
Shahabat Nabi ini.
Sedangkan
memasuki hari kedua untuk sing dan
malamnya, setelah mengerjkan shalat sunnat
Rawatip dan Sunnat Nafilah lainnya dan membaca Al Qur’an dan Shalawat
dan Wiridan-wiridan yang selalu diamalkan sehari-hari, diruangan tempat
berjama’ah Shalat Fardlu.
Salik
masuk kamar lagi, boleh shalat sunnat pula atau langsung duduk thariqat al
Junaidiyah kemudian memperbaharui Tawajjuh Muthlaqnya :
a.Tawassul 5 kali membaca al Fatihah,
b.Murabithah
kepada Guru Mursyidnya,
c.Tawajjuh
Muthlaq,
d.Membaca
Talqin Dzikir
e.Membaca
Asma’ul Husna
f.Berdo’a
g.Membaca
TAHMID sebanyak-banyaknya.
Sadatina Guru
Maskur bin Abbas menjelaskan
kepadaku (Penyusun Umdatul Hasanah)
bahwa memasuki hari kedua
untuk sing dan malamnya membaca Tahmid
yakni : “ALHAMDULILLAH ” sebanyak-banyaknya.
اى المقصود التحميد
يقول:" الحمد لله"
Adapun
maksud pembicaraan Tahmid “ALHAMDULILLAH” Maknanya “Maha Puji Allah”
Penyusun
kitab al Risalah UMDATUL HASANAH ........ sangat menyukai Salik yang dalam Hal
Riyadhah sebelum didahului membaca
kalimat Tahmid ini ............mengata :
. سبحان الله العلي العظيم وبحمده دائما الحمد لله
Seterusnya
diucapkan oleh Salik :” ALHAMDULILLAH
” الحمد لله sebanyak-banyaknya.
Dalam
riwayat ada disebutkan bahwa bahwa Rasul
Saw pernah bersabda :
قال عليه الصاة والسلام
: "أفضل الذكر الحمد لله "
Maksudnya
:” Seafdal-seutama dzikir mengucapkan kalimat Al Hamdulillah”.
Mengucapkan kalimat Tahmid “ALHAMDULILLAH adalah jalan
tarekat yang diberikan Nabi Muhammad Saw
kepada Shahabat Umar Bin Khattab al Faruq, oleh karenanya Sayyidina Umar
Bin Khattab al Faruq sangat banyak membaca dan mengamalkan kalimat Tahmid ini.
Semoga
Allah Swt dan Insya Allah, Allah akan menganugrahkan sifat-sifat yang dimiliki
Shahabat Nabi Saw ini, dan Allah akan mewariskan sifat-sifat Sayyidina Umar Bin Khattab al Faruq RA Insya Allah
kepada Salik PTJ yang selalu mengucapkan
kalimat Tahmid “ALHAMDULILLAH”.
3.RIYADHAH MASUKI
SIANG KETIGA DAN MALAMNYA
Adapun memasuki siang ketiga
dan malamnya, setelah Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) mengerjakan
shalat sunnat, sunnat Rawatib dan sunnat Nafilah, dan mengerjakan
wiridan-wiridan yang selalu dibacanya selesai shalat wajib dan ini dikerjakan
juga ditempat shalat berjama’ah.
Istirahat, makan – minum, mandi dan lainnya dilakukan seperti apa yang
disunnahkan oleh Rasulullah Saw,
maksudnya jaga adabnya dan apa saja do’a
yang sunnat dibaca. Kemudian Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ)
masuk kamar lagi, shalat sunnat dan Duduk Thariqat al Junaidiyah kemudian
memperbaharui TAWAJJUH MUTHLAQ yang didahului Tawassul, Murabithah kepada Guru,
Tawajjuh, Talqin Dzikir Thariqat al
Junaidiyah, Asma ul Husna dan Do’a.
Kemudian membaca kalimat yang diperintahkan Gurunya, yakni kalimat “Tahlil atau kalimat Thaibah atau kalimat Tauhid” sebanyak-banyaknya secara zihar ayitu
pelan-pelan dan nyaring.
Sadatina Guru
Maskur bin Abbas menjelaskan kepadaku (Penyusun Umdatul Hasanah) bahwa
memasuki hari ketiga untuk sing
dan malamnya membaca kalimat Tahlil sebanyak-banyaknya. “ LAA-ILAAHA-ILLALLAH “
اى المقصود التهليل أو كلمة التوحيد يقول "لاإله إلا الله"
Adapun kalimat Tahlil atau
kalimat Tauhid atau kalimat Thaibah
yang akan dibaca Salik adalah “ LAA-ILAAHA-ILLALLAH “
لاإله إلا الله
Kalimat TAHLIIL atau kalimat
TAUHID, inilah jalan Thariqat yang diberikan oleh Rasulullah Saw kepada
Shahabatnya Sayyidina Usman bina Affan. Shahabat ini sangat banyak mengucapkan kalimat
Tahliil atau kalimat Tauhid atau kalimat Thaibah , oleh
sebsb ini bagi Salik Pengamal
Thariqat al Junaidiyah yang sedang dalam Riyadhah harus banyak-banyak mengucapkannya.
Penyusun kitab al-Risalah Umdatul
Hasanah ........ sangat menyukai Salik, sebelum ia mengucap Kalimat TAHLIIL
atau kalimat TAUHID atau kalimat Thaibah
ini, didahuluinya mengucap
kalimat sepotong ayat Al Qur’an Surat Ar Radu ayat 28 sebanyak satu kali
berbunyi :
اَلَّذِّيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ
بِذِكْرِ اللهِ اَلَا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
Artinya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.QS. Ar Ra'du 28
Seterusnya Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah
(PTJ) mengata kalimat : “
LAA-ILAAHA-ILLALLAH “ لاإله إلا الله
sebanyak mungkin mengucapkannya..
Di dalam kitab Hasyiyah Ad
Dasuki disebutkan tentang kalimat Tahlil
atau kalimat Tauhid atau kalimat Thaibah bahwa
:
الطيبة وهى دعوة الحق وهى العروة الوثقى وهى
ثمن الجنة وفيه وقال تعالى هل جزاء الإحسان
إلا الإحسان فقيل الإحسان فى الدنيا قول : لاإله إلا الله وفى الأخرة الجنة لمن قالها
Kebaikan adalah seruan kepada
kebenaran, ikatan terkuat, dan harga surga. Dan Allah Yang Maha Kuasa
berfirman, "Apakah ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan?"
Dikatakan bahwa kebaikan di dunia ini adalah mengucapkan, لاإله إلا الله
artiya "Tidak ada tuhan selain Allah," dan di akhirat, surga
adalah bagi siapa pun yang mengucapkannya.
قال عليه والصلاة والسلام: أفضل الدعاء لاإله
إلا الله
روى الترمذى أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
التسبيح نصف الإيمان والحمد لله تملأ الميزان ولاإله إلا الله ليس لها دون الله حجاب
حتى تخلص إليه. كما قاله حاشية الدسوقى 227
Nabi Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam bersabda: “Doa yang paling baik adalah لاإله إلا الله artinya ‘Tidak ada Tuhan selain Allah.’”
At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
bersabda: “Memuliakan Allah adalah setengah dari iman, dan memuji Allah
memenuhi timbangan amal, dan ‘لاإله إلا الله artiya : Tidak ada Tuhan selain Allah’ tidak
terhalang oleh Allah sampai kepada-Nya.” (Sebagaimana disebutkan dalam tafsir
Ad-Dasuqi, hlm. 227)
قال الشيخ محمد الدسوقى فى شرح أم البراهين
قال صلى الله عليه وسلم : ما قال أحد لاإله إلا الله مخلصا من قلبه إلا فتحت السماء حتى يفضى إلى العرش
ما اجتنبي الكبائر.
Maksudnya : Syaikh Muhammad al-Desuqi berkata dalam
Syarah Umm al-Baraheen : Nabi Muhammad
Saw bersabda bahwa sesuatu yang
telah dikatakan seseorang bahwa: "Tidak ada Tuhan kecuali Allah, hal
keadaan dari hatinya ikhlas, melainkan
dibukakan langit hingga
diselamatkan sampai hatinya
menuju takhta Aarsy.............karena/ sebab maujauhi dosa-dosa besar.
Kitab Syarah Umm al-Baraheen
al-Desuqi juga menyebutkan bahwa Imam Hadist An Nasa’i meriwayatkan sebuah
hadist Nabi Saw yang berbunyi : Telah bersabda oleh Rasulullah Saw :
قال موسى عليه الصلاة والسلام: يا رب علمنى
مااذكرك وادعوك به. فقال تعالى ياموسى قل:لاإله إلا الله قال موسى عليه الصلاة والسلام:يارب
كل عبادك يقولون هذا قال قل:لاإله إلا الله. قال موسى لاإله إلا أنت إنماأريد شيئ تحصنى
به قال ياموسى لو أن السموات السبع وعامرهن
غيرى والأرضين السبع في كفة و لاإله إلا الله
لمالت بهن لاإله إلا الله... الدسوقى رقم226
Nabiyullah Musa, alaihis
salam, berkata: Ya Tuhan, ajarkanlah kepadaku apa yang harus kuingat kepada-Mu
dan apa yang harus kuserahkan kepada-Mu. Allah berfirman, Katakan olehmu : لاإله إلا الله (Tidak ada Tuhan selain Allah). Musa,
alaihis salam, berkata: Ya Tuhan, semua hamba-Mu mengucapkan ini. Dia berkata:
Ucapkanlah: Tidak ada Tuhan selain Allah. Apa yang harus Kulakukan jika kalian
tidak dapat mengucapkannya dengan benar? [Berikut ini tampaknya merupakan
pertanyaan terpisah yang tidak terkait:] Tidak ada Tuhan selain Allah... Kitab
Al-Desouki No. 226.
4.RIYADHAH MASUKI SIANG KEEMPAT DAN MALAMNYA
Salik Pengamal Thariqat al
Junaidiyah (PTJ) memasuki siang keempat dan malamnya, setelah mengerjakan
shalat sunnat, sunnat Rawatib dan sunnat Nafilah, dan mengerjakan
wiridan-wiridan yang selalu dibacanya selesai shalat wajib dan ini dikerjakan
juga ditempat shalat berjama’ah.
Istirahat, makan – minum, mandi dan lainnya dilakukan seperti apa yang
disunnahkan oleh Rasulullah Saw,
maksudnya jaga adabnya dan apa saja do’a
yang sunnat dibaca. Kemudian Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ)
masuk kamar lagi, shalat sunnat dan Duduk Thariqat al Junaidiyah kemudian
memperbaharui TAWAJJUH MUTHLAQ yang didahului Tawassul, Murabithah kepada Guru,
Tawajjuh, Talqin Dzikir Thariqat al
Junaidiyah, Asma ul Husna dan Do’a.
Kemudian membaca kalimat yang diperintahkan Gurunya, yakni kalimat “TAKBIIR”
yaitu “ALLAHU AKBAR” ” الله أكبر” " الله
أكبر" الله أكبرsebanyak-banyaknya
secara zihar ayitu pelan-pelan dan nyaring didengar oleh telinganya..
Sadatina Guru
Maskur bin Abbas menjelaskan
kepadaku bahwa memasuki hari keempat untuk sing dan malamnya membaca الله أكبر الله أكبر sebanyak-banyaknya.
Menurut Sadatina Junaidiyah
bahwa kalimat Takbir adalah salah satu Jalan Thareqat yang diajarkan oleh
Rasulullah untuk Shahabatnya yang bernama Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib
Karramallahu Wajhahu. Oleh karena itu Riyadhah Thariqat al Junaidiyah siang dan
malamnya yang keempat, Salik PTJ diharuskan banyak-banyak mengata Kalimat
“Allahu Akbar” ” الله أكبر” agar nanti Salik dianugrakhan dan
diwariskan sifat-sifat Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.
Adapun maksud Takbir yang
akan dibacanya adalah “ALLAHU AKBAR” yang artinya “Allah itu Maha Besar”.
Penyusun kitab al-Risalah Umdatl
Hasanah ......... lebih menyukai Salik jikalau didahului membaca kalimat di
bawah ini satu kali.......
الحد لله رب العالمين على كل حال وفى كل حال
ونعمة لاإله إلا الله و الله أكبر ......" الله أكبر" الله أكبر" الله
أكبر"
5. RIYADHAH/ SULUK MASUKI
SIANG HARI KELIMA, HARI ENAM, HARI TUJUH DAN
MALAMNYA
Adapun memasuki siang kelima,
keenam dan kejuh dan juga malamnya,
Sadatina Guru Maskur bin Abbas Kelua Tabalong menjelaskan
kepadaku bahwa memasuki hari kelima, keenam dan kejuh dan
juga malamnya Gabungan dari hari pertama
sampai hari keempat yakni membaca sebanyak-banyaknya. Kalimat :
" سبحان
الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر"
setelah Salik Pengamal
Thariqat al Junaidiyah (PTJ) mengerjakan shalat sunnat, sunnat Rawatib dan
sunnat Nafilah, dan mengerjakan wiridan-wiridan yang selalu dibacanya selesai
shalat wajib dan ini dikerjakan juga ditempat shalat berjama’ah. Istirahat, makan – minum, mandi dan lainnya
dilakukan seperti apa yang disunnahkan oleh Rasulullah Saw, maksudnya jaga adabnya dan apa saja do’a yang sunnat dibaca. Kemudian Salik Pengamal
Thariqat al Junaidiyah (PTJ) masuk kamar lagi, shalat sunnat dan Duduk Thariqat
al Junaidiyah kemudian memperbaharui TAWAJJUH MUTHLAQ yang didahului Tawassul,
Murabithah kepada Guru, Tawajjuh, Talqin Dzikir
Thariqat al Junaidiyah, Asma ul
Husna dan Do’a. Kemudian membaca kalimat yang diperintahkan Gurunya, yakni
kalimat “Tasbih, Tahmid, Tahlil dan
Takbir” sebanyak-banyaknya secara zihar
ayitu pelan-pelan dan nyaring dalam artian di dengar oleh telinganya.
اى المقصود التسبيح والتحميد والتهليل والتكبير
يقول " سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر"
Adapun kalimat dimaksud
yang akan dibaca Salik adalah “ SUBHAANALLAAH WAL HAMDU LILLAAH WA
LAA-ILAAHA-ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR “
Nabi kita Muhammad Rasulullah
Saw telah bersabda :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لأن أقول"
سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر" أحب إلي مما طلعت عليه الشمس.
رواه الترمذى
Artinya : Bersada Nabi kita
Muhammad Rasulullah Saw bahwa “Aku ucapkan Subhaanallaah, wal hamdulillah, wa
laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar, empat kalimat tersebut lebih aku sukai
dari sesuatu yang terbit diatasnya oleh matahari.(HR.At Termuji).
Sebenarnya penggabungan dari
ke empat kalimat diatas yakni Subhaanallaah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha
illallaah, wallaahu Akbar, yang harus dibaca sebanyak-banyaknya oleh Salik
Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) ketika dalam hal Riyadhah. Saya baca ada
sebagian riwayat yang mengetakan bahwa
Keempat Kalimat tsb “Subhaanallaah, wal
hamdulillah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar” adalah ucapan dari Para Malaikat untuk
menyambut dan menyungsung datang dan lahirnya Pemimpin Dunia dan Akhirat yaitu
Nabi Besar Muhammad Saw ke alam dunia
ini, sebagai Nabi dan Rasul terakhir zaman, pembawa rahmat untuk semesta alam.
Saat itu semua Malaikat diperintahkan oleh Allah Swt membaca Empat Kalimat ini :
" سبحان
الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر"
Salik Pengamal Thariqat al
Junaidiyah (PTJ) yang dalam keadaan Riyadhah atau isterinya dalam Hamil sangat dianjurkan agar banyak-banyak penggabungan kalimat tsb
khususnya selalu mengerjakan shalat
TASBIH minimal 1 kali siang hari dan 1 kali dimalam hati.
Semoga Allah Swt
menganugrahkan kepada Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) akan
sifat-sifat ke Nabian yaitu sifat-sifat yang dimilik Rasulullah Saw. Nabi
Muhammad Saw Bersabda :
قال النبي صلى الله عليه وسلم : العلماء ورثة
الأنبياء
Artinya : Nabi Muhammad Saw
Bersabda bahwa “Ulama itu mewarisi sifat-sifat Para Nabi”.
Dalam Kamar Riyadhah atau
Kamar Khalwat Salik Pengamal Thariqat al
Junaidiyah (PTJ) hendaklah seakan-alan ia berada di dalam perut Sang Ibu, ia
tidak bekerja cari nafkah, tak ada makanan kecuali yang dibrikan Gurunya, tidak tampak kesenangan duniawi,
tidak ada yang menghubungi kecuali Gurunya ( Fana u fi syikh ) القناء فى الشيخ
terus fana .......hingga ia Fana pada Diri Rasulullah.
Di dalam Kitab Dardir tentang
Isra walmi’raj Nabi Muhammad Saw, dikatakan bahwa Nabi Saw ketika sedang Mi’raj
dilangit ke tujuh Nabi Ibrahim AS berpesan kepada Nabi kita Muhammad Saw agar supaya Ummatmu menanam tanaman dari Sorga
يا
محمد مر أمتك فلتكثر من غراس الجنة
“Ya Muhammad, Suruh Ummatmu,
agar banyak-banyak menanam tanaman dari Sorga” Nabi Muhammad Saw bertanya,
apakah yang dimaksud dengan tanaman dari Sorga itu ?
ما غراس الجنة ؟
Jawab Nabi Ibrahim AS
sesungguhnya yang dimaksud dengan tanaman dari Sorga itu yaitu kalimat
“Subhaanallaah, wal hamdulillah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar”
وإن غراسها سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا
الله والله أكبر
Modah-modahan Salik Pengamal
Thariqat al Junaidiyah (PTJ) yang
Riyadhah (Berada dalam Rahim Ibunya) ini ketika ia lahir ( Keluar Kamar
Riyadhah} akan membawa kesucian dan mewarisi sifat-sifat Kenabian atau mewarisi
sifat-sifat Shahabat Nabi yang Empat : Sayyidina Abu Bakar RA, Sayyidina Umar Bin Hattab al Faruq, Sayyidina Usman Bin
Affan dan Sayyidina “Ali Bin Abi Thalib.
Aku dengar salah satu
Widiswara (Guru Pengajar)
berceritra ketika Aku mengikuti
Diklat Pembinaan Kepenghuluan katanya bahwa “Nabi Daud AS ketika ia berada di
kebun di siang hari, Ia melihat seekor Ulat berada di ranting kayu pada
sebatang pohon. Ulat itu merayap-rayap, tiba-tiba Ulat itu berhenti seakan-akan
memandang Nabi Daud AS, entah mengapa terpetik atau terlintas di hatinya : “Untuk
apa Ulat ini diciptakan Allah Swt” Dengan ijin Allah Swt seekor Ulat itu
menjawab bahwa “Saya mengucap Tasbih : Subhaanallaah, wal hamdulillah, wa laa
ilaaha illallaah, wallaahu Akbar”
سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله
أكبر
Satu hari semalam sebanyak
Serbu kali, Dalam Ceritra ini Nabi Daud AS telah dikaruniakan ilmu laduni
sehingga ia mengerti Bahasa Ulat terseburt, Oleh karena itulah apabila ia
membaca Kitab Zabur maka anginpun berhenti, burung di udara berhenti dan
binatang lainpun mendekat kepadanya untuk mendengarkan keindahan suaranya.
Masya Allah ilmu ini diwarisi oleh anaknya Nabi Sulaiman.
Dan diriwayatkan juga bahwa
Rasulullah Saw menyuruh Siti Aisyah RA untuk mengucapkan kalimat Tasbih ini 4
kali sebelum tidur maka nilai Pahalanya sama dengan ibadah Haji dan Umrah.
سبحان الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله
أكبر
Aku Penyusun kitab al Risalah
Umdatul Hasanah ......... berangan-angan untuk Guru Mursyid dan Muridnya Salik
Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) yang
Riyadhah “Alangkah Baiknya diberitahukan Asma’a Allah yang Akhir lagi
dirahasiakan” Di Malam Kelima atau Malam Ketujuh dari Sembilan Puluh Sembilan
Nama Allah yang sudah diamalkannya ketika sesudah shalat dan ditambah Satu Nama
yang sangat dirahasiakan. Bila nama tsb dibuka di depan Umum maka Najis, Ia akan marah, dibenci orang dan
dikatakan orang kafir, yang dibicarakan bukan Dzat-Nya tetapi Nama-Nya.
Pemberitahuan ini dilakukan
sesudah Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah di Bai’at Khusus oleh Guru
Mursyidnya agar Salik dapat merahasiakan
Nama yang satu itu. Dan agar tidak terjadi fitnah di kemudia hari yang
menyusahkan kita bersama.
Penyusun kitab al-Risalah Umdatul Hasanah
.........beralasan bahwa Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah, merekalah yang
cucuk, merekalah yang pantas mengetahui
dan memegang Amanah Rahasia tentang Ketuhanan ini, sebab sehari semalam mereka
sudah mengucapkan 99 Nama Allah tersebut setelah shalat 5 waktu.
Aku dengar Sadatina al
Junaidiyah Guru Masykur (Murid termuda dari Guru Syekh KH.Kasyful Anwar Firdaus
bin Muhammad Shalih) yang Penyusun temui
bahwa “Sebelum kita berkhalwat atau Riyadhah yang penting kita mantapkan dan
diresapi terlebih dahulu adalah Tawajjuh Muthlaq”.
Aku berharap semoga selalu mencurahkan Taufik, Hidayah dan Rahmat-Nya serta Minnah kepada kita semua PTJ, Semoga apa saja yang Penyusun paparkan dalam kitab al-Risalah UMDATUL HASANAH LIL JAMA’AH AL THARIQAT AL JUNAIDIYAH sebagai Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah dapat membantu Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah itu sendiri dalam mendalami dan memahami serta mengamalkan isi dan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan Sorga Ma’rifat, Amiin, amiin ya rabbal ‘alamin.
16. MEMPERBANYAK MEMBACA SHALAWAT
(PILIHAN) ATAS NABI SAW
ممباج : صَلَاوَة عَلَى النًّبِيّ مُحَمَّدٍ
صلعم
1. Shalawat Jibril Alaihis Salam
/Shalawat Awwal atau Shalawat Rahmat
Membaca shalawat atas Nabi
Muhammad Saw adalah perintah Allah Swt
kepada kita ummat Islam yang cinta dan sayang kepada Nabinya, Diceriterakan
orang tentang sejarah adanya Shalawat Jibril atau Shalawat Awwal atau ada juga
yang menyebutnya Shalawat Rahmat bahwa Dalam Sorga semuanya berpasang-pasangan,
Nabi Adam merasa kesendirian di Sorga belum ada pasangannya, Allah Swt lebih
tahu keadaan batin hamba-Nya. Ketika
Adam tertidur, ia bermimpi didatangi seorang wanita yang sangat cantic rupawan,
kemudian ia terbangun ternyata memang ada seorang wanita disampingnya, yaitu
Siti Hawa yang diciptakan Allah Swt
sebagai calon pendamping atau
pasangan Nabi Adam Alaihis Salam untuk
menghuni-mendiami bumi ini beserta anak-anak cucunya nanti, maka Nabi Adam
dilarang ketika itu menjamah untuk memperisteri Siti Hawa, sebelum ada mahar
sebagai tali pengikat perkawinan saat itu, Padahal Emas, Permata sudah
tersedia, tapi semuanya tiada berharga disaat Nabi Adam dalam Sorga, tiada bisa
untuk dijadikan mahar. Tiada ada yang dimiliki Nabi Adam untuk diberikan kepada calon isterinya, maharnya.mempelai lelaki adalah wajib diterima oleh wali atau calon
isterinya maka Jibril turun menemui Nabi Adam dan mengajarkan shalawat ini
sebagai mahar untuk memperisteri Siti Hawa Karena Jibril yang pertama kali
mengucapkan shalawat ini maka shalawat ini dinamai Shalawat Jibril
"صَلَّى
اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ"
Ada yang mengatakan bahwa
Syekh Sunan Apel mengamalkan Shalawat Awwal ini 100 kali sehabis tiap shalat
fardlu.
2ز
Shalawat Ummi
اَللّهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِالنَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ
وَبَارِكْ وَسَلِّمْ
3. Shalawat Dzurriyat Nabi
Saw
-اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّاَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ
4. Shalawat Asyghil
Yang pertama membaca shalawat
Asyghil ini adalah Imam Ja'far as Shadiiq (w.138H) Beliau membaca shalawat
Asyghil ini saat melakukan do'a qunut
shalat subuh
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠﻰَ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ، ﻭَﺃَﺷْﻐِﻞِِ
ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﺑِﺎﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻭَﺃَﺧْﺮِﺟْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻨِﻬِﻢْ ﺳَﺎﻟِﻤِﻴﻦَ ﻭَﻋﻠَﻰ ﺍﻟِﻪِ
ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪ.اَجْمَعِيْن
5. Shalawat Nur al Anwar
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى نُوْرِ اْلأَنْوَارِ
وَسِرِّ الأَسْرَارِ وَتِرْيَاقِ اْلاَغْيَارِ وَمِفتَاحِ بَابِ الْيَسَارِ سَيِّدِنَا
وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدِ نِ الْمُخْتَارِ وَآلِهِ اْلأَطْهَارِ وَاَصْحَابِهِ اْلاَخْيَارِ
عَدَدَ نِعَمِ اللهِ وَاِفضَالِهِ
Barangsiapa membaca shalawat
ini akan mendapatkan apa yang menjadi hajat, menghilangkan problem yang
menghimpit, menolak godaan hawa nafsu, setan, dan musuh-musuh manusia lainnya,
serta jalan untuk bertemu nabi dalam mimpi.
Sayyid Ahmad al Badwi juga
mengatakan jika dibaca setiap selesai shalat fardhu, maka akan terhindar dari
segala mara bahaya dan memperoleh rizki dengan mudah. Jika dibaca 7 kali
sebelum tidur, insya Allah akan terhindar dari sihir yang dilakukan orang
jahat. Jika dibaca 100 kali sehari semalam, akan memperoleh cahaya Illahi,
menolak bencana, mendapat rizki lahir batin.
6. Shalawat PENDINGIN MATA
مَرْحَبًا بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى قُرَّةَ
عَيْنِ بِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ -اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا
قُرَّةُ عَيْنِ قَتَدَةَ
Dibaca dua kali saat MUAZIN
Mengata :
Asyhadu anna muhammadar
rasulullah (1 x baca shalawat diatas)
Sejarahnya Shahabat Nabi Saw
yang bernama Qatadah ini buta sesaat/setelah
ikut berperang dengan Nabi, entah apa sebabnya hingga ia selalu
bershalawat atas Nabi Saw dengan shalawat tersebut saat/sesudah Muazzin mengata
“Asyhadu anna muhammadar rasulullah “(lalu 1 x baca shalawat diatas) lalu
mengecup kedua kuku ibu jarinya dan diusakan ke dua matanya. Dan begitu pula
Muazzin mengata “Asyhadu anna muhammadar rasulullah “(yang kedua).
7. Shalawat Fulus
-اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مُحْيِ النُّفُوْسِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الْخَلُوْسِ اَعْطِنِي
الرِّزْقَ وَالْفُلُوْسَ
1). Sayyid H.Hasan Baseri
mengamil shalawat fulus dari KH.Muhammad Ilyas (Kabid Bimas Islam Kanwil Bjm),
Beliau mengambil dari Guru Sakumpul (Alm Gr. Ijai)
8. Ayat Penyembuh penyakit
lahir dan batin
1. al Qur'an Surat Yunus 57
dan Al Isra 82 berbunyi :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَائَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ
مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِى الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ.
سورة يونس 57
Artinya :"Hai manusia,
sungguh telah datang kepadamu pelajaran
(al Qur,an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada
dan petujuk serta rahmat bagi orang-orang beriman.
وَنُنَزِّلُ
مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ
ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا الاسراء
Artinya: Dan Kami turunkan
dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain
kerugian (al Isra 82)
9. Shalawat Thibb al Qulub
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ الأَبْدَانِ
وَشِفَائِهَا وَنُوْرِ الأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلٰى آَلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ
وَسَلِّمْ
10. Shalawat Mukhathab Bentuk
Sighat berbunyi ;
اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ خُذْ بِيَدِيْ قَلَّتْ حِيْلَتِيْ
أَدْرِكْنِيْ
Faedah membaca shalawat ini
adalah untuk meminta pertolongan kepada Allah dengan wasilah Rasulullah SAW
untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berat, susah, dan sangat
memperihatinkan yang tidak bisa dijangkau oleh pikiran dan tenaga manusia
11,.Shalawat al Nur al Dzati
Adalah Shalawat dari SAYYIDI
ABIL HASAN AS SYADZILI RA :
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِ النُّوْرِ الذَّاتِيْ وَالسِّرِّ السَّارِيْ فِيْ سَائِرِ
الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
Imam al Shawi Mengatakan
bahwa shalawat yang disusun oleh Syaikh Abu Hasan al Sadzily ini nilainya
seperti membaca 100.000 shalawat untuk menghilangkan susah, sedih, dan problem
yang berat.
Diriwayatkan ada seorang
pemuda yg suka membaca shalawat nur dzat setiap hari tanpa hitungan semata-mata
hendak mencintai Nabi Saw maka pemuda tsb berkali kali bertemu Rasulullah di
dalam mimpinya,, .dia dalam mimpi juga dapat memeluk Rasulullah,. dan
Rasulullah tersenyum mencium bibirnya... Dikisahkan juga bahwa ada seseorang yg
mengamalkan shalawat ini secara istiqomah maka bila malam hari ia selalu
bermimpi dg para wali yg masyhur dan yg mastur...dan ada lagi seorang kiai yg
mengamalkan shalawat ini di daerah Jawa Barat.. beliau diberi Allah ilmu
mengerti banyak bahasa meskipun sebelumnya tidak pernah belajar,,. di daerah
Lamongan , Jawa Timur, seorang kiai didatangi banyak orang yg meminta air putih
atau doa kesembuhan, banyak yg sembuh total dari penyakitnya berkat kiai tsb
gemar mengamalkan Shalawatnur dzat...(4)
12. Shalawat Ibrahimiyah
ممباج : صَلَاوَة اِبْرَاهِيْمِيّة 1 مرة اى
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ
وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمِ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ و عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ. كَمَابَارَكْتَ
عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ.
الصلاة الكبري للامام جنيد البغدادي
13زSHALAWAT
KUBRA IMAM JUNAID AL BAGDADI
Ada yang mengatakan bahwa "Shalawat Kubra adalah Shalawat
Syaikh Imam Junaidi Al-Bagdadi RA ahli tasawuf dari Baghdad. Adapun faedah dan
khasiatnya sangat banyak dan sangat besar sekali bahkan Kanjeng Syekh Abdul
Qadir Jailani pun selalu membaca shalawat Kubra ini dan ditambah dengan membaca
Asma'ul Husna dan 201 Asma'un Nabi Saw sebanyak 1000 kali setiap harinya".
Saya kutip dari sebuah
Artikel "Shalawat Kubra Imam Junaid
Al-Bagdadi" bahwa Shalawat Kubra ini dinukil dari Alfiyatu Shalawat yang
dihimpun oleh Syaikh Muslih bin Abdurrahman Al-Muraqy, dan Shalawat itu
dinamakan Shalawat Kubra, menurut beliau fadhilah Shalawat ini sangat banyak, antara
lain yaitu baik sekali bagi orang yang
sedang menunaikan Ibadah Haji ke Mekah dan Madinah untuk memperbanyak membaca
Shalawat Kubra itu di mana saja yang pantas
Fadhilah dan faedah Shalawat
Kubra : fadhilah dan khasiyat Shalawat Kubra itu besar dan banyak sekali, yang
diantaranya barang siapa yang membaca secara
istiqamah sehari satu kali, insya Allah orang tersebut akan diberi
pahala dan kenikmatan yang besar sekali dari Allah, yang belum pernah terlihat
oleh mata, belum pernah terdengar telinga orang dan belum pernah terlintas di
benak seseorang. Dan juga akan mendapat ketentraman hati cukup sandang pangan
serta dikabulkan hajatnya.
Insya Allah :
Shahibul Artikel berkata
bahwa "Alfaqir ijazahkan Shalawat Kubra tersebut dibawah bagi siapa saja
yang mau mengamalkannya,shalawat tersebut dibacanya 1x atau 3x atau sekuatnya
dalam setiap harinya dengan istiqamah atau dibaca minimal setiap malam Jum’at
atau Hari Jum’at"..Jawab qabiltu ………
Sejarah Shalawat Kubra di
Nusantara
Saya kutip dalam sebuah
Artikel bahwa shahibul Artikel berkata :
“Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah Swt yang telah mengutus
kekasihNya termulia Rasulullah Muhammad Saw sebagai pembawa cahaya kebenaran
hidayah Iman dan Islam bagi seluruh umat manusia. Sebagai bukti cinta pada Rasulullah Saw, maka seharusnya kita
mengikuti sunnah beliau dan memperbanyak Shalawat dan salam. Sebagai penambah kecintaan kita
pada Rasulullah Saw
Berikut kami sampaikan
amaliah Shalawat Kubra yang sangat agung
dan besar manfaatnya sekaligus kami ijazah kan kepada siapapun umat Rasulullah
Saw Shalawat ini telah diamalkan para auliya dan ulama salafus shalih dan
shiddiqin dari generasi ke generasi, antara lain : Imam Junaed Al Bagdadi,
Syaikh Abdul Qadir Al Jailani, syaikh Ibnu Muhyidin Al Irbili dan Walisongo.
Dikisahkan pada masa
pemerintahan Kerajaan Majapahit datang Syaikh Maulana Maghribi dari Andalus
(Spanyol) ke Tanah Jawa menyebarkan ajaran Islam Syaikh Maulana Maghribi
mempunyai tujuh orang murid yang menjadi ulama penyebar agama Islam di tanah
Jawa yang senantiasa mengamalkan Shalawat Kubra. Satu diantara ketujuh ulama
tersebut adalah Kyai Songgo Langit yang memiliki ilmu sangat tinggi yang mampu
mengalahkan orang – orang sakti melalui keistimewaan Shalawat Kubra. Pada masa
Kesultanan Islam pertama di Jawa yaitu Kesultanan Demak Bintoro, Shalawat Kubra
telah banyak diamalkan oleh para pejabat Kesultanan, para Ulama maupun
masyarakat pada umumnya. Dengan amalan Shalawat Kubra, Kesultanan Demak dapat
meruntuhkan Kerajaan Majapahit dan mengalahkan musuh – musuh Negara sehingga
pada saat itu Kesultanan Demak Mencapai kejayaan dan kemakmuran. Dari kenyataan
sejarah membuktikan bahwa Shalawat Kubra telah diamalkan oleh kaum muslimin
sejak zaman dahulu sehingga menghantarkan kemuliaan, kesejahteraan dan kejayaan
kaum muslimin pada zamannnya.
Fadlillah Shalawat Kubra
Selanjutnya shahibul Artikel
juga menyebutkan beberapa Fadlillah Shalawat Kubra :
1. Dari Sayyidina Abbas RA
bahwa pada saat Rasulullah SAW sedang duduk di Masjid Nabawi datang Malaikat
Jibril menghadiahkan Shalawat (Alfu Alfi Shalatin wa Alfu Alfi Salaamin’ alaika
yaa sayyidal Mursaliin ... dst).Kemudian Malaikat Jibril berkata “Barangsiapa
membaca Shalawat ini maka Allah SWT akan menciptakan 70.000 malaikat dimana
setiap malaikat mempunyai 80.000 kepala dan setiap kepala mendoakan orang yang
membaca Shalawat tersebut. Sedangkan doa malaikat dikabulkan Allah SWT. (HR An
Nasai).
2. Dalam kitab Tafrikhul Khotir Shofhah 27 susunan Syaikh Imam Ibnu Muhyiddin Al Irbili dikatakan bahwa Shalawat ini diamalkan oleh Syaikh Imam Junaid Al Baghdadi Waliyullah dan oleh Sulthonal Auliya Al Ghouts Quthbir-rabbani Syaikh Muhyiddin Abdul Qodir Al Jailani Waliyullah beliau mengamalkan Shalawat ini 1000x sehari semalam ditambah Asmaul Husna dan Asma Nabi. Sehingga beliau memperoleh karunia berupa karomah/kemuliaan yang sangat tinggi dari Allah SWT.
3. Barang siapa membaca
Shalawat Kubra secara rutin minimal 1x sehari semalam maka akan diberikan
ketenangan dan ketentraman dalam keluarga, diberikan kecukupan rezeki (sandang
pangan) dan dikabulkan semua hajat yang diinginkan.
4. Barang siapa membaca
Shalawat Kubra akan diselamatkan dari 600.000 (enam ratus ribu) macam bala’
dunia dan akhirat.
5. Barang siapa membaca
Shalawat Kubra secara rutin maka akan diberikan ketenteraman hati, tercapai
tujuan dunia dan akhirat, selalu dipelihara Allah SWT iman dan islamnya.
6. Barangsiapa mengharap
dimudahkan dapat berziarah ke tanah suci Makkah dan Madinah (Haramain
Syarifain) maka hendaknya memperbanyak membaca Shalawat
Kubra dengan rasa ikhlas dan
mahabbah (cinta) pada Rasulullah SAW
Berikut Lafadz
Shalawat Kubra Imam Junaid al Bagdadi
:اَلْفَاتِحَةُ إِلَى حَضْرَةِ
النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَتَابعِيْنَ وَتَابعِيِ
التَّابعِيْنَ مِنْ اَوْلِيَاءِ اللهِ تَعَالَى وَوَالِدِيْنَ وَمَشَائِخِنَا وَاَوْلَادِنَا
وَذُرِّيَّتِنَا وَاَزْوَاجِنَا وَطُلّابِنَا وَمُرِيْدِنَا وَجِرَانِنَا وَجَمِيْعِ
الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ خُصُوْصًا إِلَى رُوْحِ
وَلِيِّ اللهِ سَيِّدِنَا الْإِمَامِ جُنَيْدِ الْبَغْدَادِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
وَ نَفَعَنَا بِهِ وَ بِعُلُوْمِهِ وَ اَسْرَارِهِ فِى الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا وَ
الْآخِرَةِ (لهم الفاتحة)
بسم الله الرحمن الرحيم
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ النَّبِيِّيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الصِّدِّيْقِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الرَّاكِعِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْقَاعِدِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ السَّاجِدِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الذَّاكِرِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْمُكَبِّرِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الطَّاهِرِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الظَّاهِرِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الشَّاهِدِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْاَوَّلِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ الْآخِرِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَارَسُوْلَ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا نَبِـيَّ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَاحَبِيْبَ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مَنْ اَكْرَمَهُ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مَنْ عَظَّمَهُ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مَنْ شَرَّفَهُ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مَنْ اَظْهَرَهُ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مَنِ اخْتَارَهُ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مَنْ صَوَّرَهُ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مَنْ عَبَدَ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا خَيْرَ خَلْقِ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا خَاتِمَ رُسُلِ الله
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سُلْطَانَ الْأَنْبِيَاءْ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا بُرْهَانَ الْأَصْفِيَاءْ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مُـصْـطَـفٰى
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مُـــعْــلٰى
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مُـجْـتَـبٰى
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مُــزَكَّـى
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مَــكِّــيُّ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مَــدَنِـيُّ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا عَـرَبِـيُّ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا قُرَشِيُّ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا هَاشِمِيُّ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا اَبْطَحِيُّ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا زَمْزَمِيُّ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا تِهَامِيُّ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا اُمِّـيُّ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ وَلَدِ آدَمَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا أَحْمَدُ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مُـحَمَّدُ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا طٰـه
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا يٰس
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا مُدَثِّرُ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا صَاحِبَ الْكَوْثَرِ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا شَفِيْعُ يَوْمَ الْمَحْشَرِ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا صَاحِبَ التَّاجِ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا صَاحِبَ الْمِعْرَاجِ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَالْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَالْمُحْسِنِيْنُ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدَالْكَوْنَيْنِ وَالثَّقَلَيْنِ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا صَاحِبَ النَّعْلَيْنِ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ الله، يَاخَاتِمَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
أَلْفُ أَلْفِ صَلَاةٍ وَ أَلْفُ أَلْفِ سَلَامٍ
عَلَيْكَ يَا سَيِّدِيْ يَا نَبِيَّ الله، إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَالْـحَمْدُ لِلهِ
رَبِّ الْعَالَمِيْن
14. Shalawat al-Fatih
Shalawat Al Fatih ini Susunan
Syeikh Muhammad Syamsuddin Bin Abil Hasan Al Bakri ra. Berkata KH. Husain Kadri Dalam Pagar pada
Risalahnya “Senjata Mu’min” bahwa shalawat ini sangat baik dibaca
tiap malam sebarapa suka banyaknya yaitu :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ
الْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، اَلنَّاصِرِ الْحَقّ بِالْحَقِّ،
وَالْهَادِيْ إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ
العَظِيْمِ(1)
Allahumma Shalli Ala
Sayyidina Muhammaddinil Fatihi Lima Ughliqa Wal
Khotimi Lima Sabaqa, an-Nashiril Haqqa Bil
Haqqi Wal Hadi Ila Shirotikal Mustaqim shallalahu alaihi Wa Ala Alihi wa
Shahbihi Haqqa Qadrihi Wa Miq Darihil Adzim...
Artinya“Ya Allah curahkanlah
rahmat dan keselamatan serta berkah atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang
dapat membuka sesuatu yang terkunci, penutup dari semua yang terdahulu,
penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalanmu yang
lurus. Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada beliau, kepada keluarganya dan
kepada semua sahabatnya dengan sebenar - benar kekuasaannya yang Maha Agung.
”(2).
Syekh Ahmad at Tijany
berkata: ”Keistimewaan sholawat al-Fatih sangat sulit di terima oleh akal,
karena ia merupakan rahasia Allah Swt yang tersembunyi. Seandainya ada 100.000
bangsa, yang setiap bangsa itu terdiri dari 100.000 kaum, dan setiap kaum
terdiri dari 100.000 orang, dan setiap orang diberi umur panjang oleh Allah SWT
sampai 100.000 tahun, dan setiap orang bersholawat kepada nabi setiap hari
100.000x, semua pahala itu belum dapat menandingi pahala membaca sholawat
al-Fatih 1x.”
Adapun Syaikh Muhammad al Budairi al Qudsi mengatakan bahwa siapa yang membacanya setiap hari setelah membaca al-Musabbi’at al-Asyr (sepuluh bacaan yang dibaca tujuh kali), yaitu Ayat Kursy, al Fatihah, al Ikhlas, al Falaq, al Naas, al Kafirun, tasbih-tahmid-tahlil-takbir-hauqalah, shalawat Ibrahimiyah, dan doa.
(1)Risalah Senjata
Mu’min disusun oleh KH. Husain Kadri Martapura tahun 1962M cetakan ke Empat halaman 150
(2)Ust. Muhammad Amiruddin
berkata pada “Artikel Shalawat Pilihan“(Gr Sakumpul) Selasa, 20 Februari 2018
Maka akan mendapatkan
beberapa faidah di antaranya adalah mendapatkan perlindungan dari bahaya di
dunia dan di hari dikumpulkan di padang mahsyar, menjadi benteng dari segala
keburukan dan celaka.
اللّهُمّ اغْفِرْ لِيْ وَالِوَالِدَىَّ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَاب
Serta doa:
اللّهُمَّ
افْعَلْ بِيْ وَبِهِمْ عَاجِلاً وَاجِلاً فِيْ الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَاْلآخِرَةِ
مَآ أَنْتَ لَهُ أَهْلٌ وَلَا تَفْعَلُ بِنَا ياَ مَوْلَانَا مَا نَحْنُ لَهُ أَهْلٌ
إِنَّكَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ جَوَّادٌ كَرِيْمٌ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Berkata Syeikh.Ahmad Showi
ra:
"Barang siapa membaca
Shalawat ini walaupun sekali saja seumur
hidup nya, Niscaya ia tidak akan masuk neraka". dan berkata Sebagian Ulama-ulama Besar di
Maroko :
اِنَّهُ اُنْزِلَتْ عَلَيْهِ فِى صَحِيْفَةٍ
مِنَ الله :
"Sesungguhnya ini
Shalawat langsung di turunkan di sebuah
kertas dari Allah ta'ala kepada nya (Pemilik ini Shalawat Syeikh Syamsuddin)".
"Satu kali membaca ini
Shalawat yaitu sebanding (sama) dgn
1000X bersholawat,ada yang mengatakan 600.000X"
"Apabila dibaca 1x
sehari maka tidak akan mati su'ul khotimah"
"Barangsiapa membacanya
1 kali setiap selesai sholat fardhu maka akan dilapangkan kehidupannya dan
kelak dibangkitkan bersama para Nabi, Syuhada'. Auliya dan orang-orang
soleh"
Berkata lagi Sebagian Ulama:
-Barang siapa mengekalkan membaca nya selama 40 hari,Niscaya Allah terima
taubat nya dan Allah ampuni sgl dosa-dosanya".
Berkata Syekh Amad Zaini
Dahlan, "Shalawat al fatih
bersumber dari Syekh Abdul Qodir al Jilani sangat bermanfaat bagi orang yg
berada di permulaan suluk, pertengahan maupun penghabisan, di dalamnya terdapat
asror dan keajaiban yg mencengangkan akal dan barang siapa mengekalkan membaca
nya setiap hari sebanyak 100X, niscaya dibukakan bagi nya HIJAB dan di
anugrahkan ANWAR dan di tunaikan segala hajat nya.
17. RIYADHAH MUSYAHADAH BAGI PTJ THARIQAT ALJUNAIDIYAH
Riyadhah Musyahadah adalah
Suluk latihan kerohaniaan yang dilakukan Pengamal Thariqat al Junaidiyah dalam
Kamar Rumahnya sendiri. Guru Mursyidnya hanya memantau dengan kecamata
kesufiannya, ia dapat melihat-mengawasi
Muridnya secara sirriyah/rohaniyah, waktunya sehari semalam atau boleh tiga
hari dengan malamnya.
Sadatina Guru
Maskur bin Abbas menjelaskan
kepadaku (Penyusun Umdatul Hasanah)
bahwa Riyadhah Musyahadah lamanya
1 hari satu malam yang dilaksanakan
dirumah si Murid, sedangkan Guru Mursyid mengawasinya dari rumahnya saja dengan
kacamata kesufiannya.
Sebelum masuk kamar riyadhah
Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah minta izin dahulu kepada Guru Mursyidnya,
jika ia masih hidup. Jika Guru Mursyidnya sudah wafat, Aku berpendapat murid
mengunjungi kuburnya jika mampu, jika tidak
Murid cukup menziarahi Gurunya lewat mata batennya dan minta untuk
khalwat masuk kamar periadhahan seolah-olah Guru Mursyidnya memberi izin.
Dengan Cara berikut :
1.Membaca surat al Fathah 1 kali
2.Membaca surat al Ikhas 11 kali
3.Membaca surat al Falaq 1 kali
4.Membaca surat al Naas
1 kali
5.Membaca Shalawat atas Nabi Saw, kemudian dihadiahkan
untuk Gurunya
6.Mengucap Salam
3 kali yakni :
Sadatina Guru KH. Muhammad Subli bin Saberi
menjelaskan kepadaku (Penyusun
Umdatul Hasanah) bahwa Ketika kami ingin memziarahi makam Tuan Guru KH. Muhammad Qurtuby bin
Khalid bin Thahir di Kota Pelangkaraya ketika dimakam nanti ucapkan Salam 3 kali yakni :
- السلام
عليكم يا روح فى العالمين
- السلام
عليكم يا ملائكات الله
- السلام
عليكم يا شيخي …….
7.Memajamkan kedua matanya,
hatinya berjalan menziarahi Gurunya lewat mata batennya seolah-olah berjumpa
Guru Mursyidnya dan memberi izin
dengannya.
Tatacara masuk Kamar
Periadhahan sama-saja seperti masuk kamar
Riyadhah tujuh hari dan malamnya. Tengah malamnya kurang lebih jam 02.00 wita malam ke bawah mengerjakan
shalat Tahajjud dan shalat Witir
tiga raka’at sebagai penutupnya.
6.Mandi Taubat
Mandi Taubat adalah mandi
untuk Inabah kembali kepada Allah Swt.
Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah sunat mandi Inabah, jika waktu
Bai’at belum Mandi Inabah, tetapi jika memperbaharui atau mau mengulangnya
tidak mengapa, itu sangat baik. Lihat keterangan terdahulu.
7.Memasuki Khalwat Siang dan
Malamnya
Memasuki kamar Khalwat/Suluk
dan Riyadhah harus mendahulukan kaki kanan, memohon perlindungan dengan Allah
dari ganguan syaithan, dan membaca surat an Nas tiga kali, berbunyi :
بسم الله
الرحمن الرحيم* قل أعوذ برب الناس* ملك الناس* إله الناس* من شر الوسواس الخناس* الذى
يوسوس فى صدور الناس* من الجنات والناس* 3 كالى
Kemudian diikuti kaki kirinya
sambil membaca kalimat :
أللهم ولي فى الدنيا والأخرة كن لى كما كنت
لسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وارزقنى محبتك. أللهم ارزقنى حبك. واشغلنى بجمالك واجعلنى
من المخلصين. أللهم امح نفسى محذبات ذاتك يا أنيس من لاأنيس له. رب لاتذرنى فردا وأنت
خير الوارثين*
Kemudian Salik berdiri atas
shalat (seperti mau shalat menghadap
Kiblat) kemudian ia membaca kalimat ini 21 kali berbunyi :
إنى وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفا
مسلما وما أنا من المشركين 21 كالى
Kalimat tersebut diatas, kalau
Salik Pemula boleh dibimbing membacanya oleh Mursyidnya.
Kemudian ia mengarjakan shalat dua raka’at, pada raka’at pertama sesudah
Alfatihah membaca Ayat Kursi, atau surat
Alfalaq, dan pada raka’at kedua sesudah Alfatihah membaca Amanar
Rasul...... atau Surat Annaas. Sesudah salam, dilanjutkan membaca : YA FATTAAH” 500 KALI.Bagi Salik Pengamal
Thariqat Al Junaidiyah Duduk Thariqat
yakni Duduk Taqdim, Duduk Darrajat dan Duduk
Khidmat. .
, lalu mengerjakan :
e.Tawassul 5 kali membaca al Ftihah,
f.Murabithah kepada Guru
Mursyidnya,
g.Tawajjuh Muthlaq,
h.Membaca Talqin Dzikir yaitu
kalimat yang berbunyi
لاإله
إلا الله * إلا الله-إلاالله* الله-الله* والذكر خفي وأخفى* ثم يقرأ الأسماء الحسنى*
ثم الدعاء*
يقرأ الأسماء الحسنى:
نسألك (أسألك) الرحمة والعافية والرضى يا من هو الله الذى لاإله إلا هو الرحمن الرحيم* الملك القدوس السلام المؤمن المهيمن العزيز الجبار*
المتكبر الخالق البارئ المصور الغفار القهار* الوهاب الرزاق الفتاح العليم القابض الباسط الخافض الرافع المعز المذل السميع
البصير* الحكم العدل اللطيف الخبير الحليم العظيم الغفور الشكور العلى الكبير* الحفيظ
المقيت الحسيب الجليل الكريم الرقيب المجيب الواسع الحكيم* الودود المجيد الباعث الشهيد الحق الوكيل القوى المتين الولى الحميد المحصى
المبدئ المعيد* المحي المميت الحي القيوم الواجد
الماجد الواحد الأحد الصمد. القادر المقتدر المقدم المؤخر الأول الأخر الظاهر الباطن الولى المتعال*
البر التواب المنتقم العفو الرؤوف مالك الملك ذو الجلال والإكرام* المقسط الجامع الغنى
المغنى المانع الضار النافع النور الهادى
البديع الباقى الوارث الرشيد الصبور*
الدعاء
أللهم ولي فى الدنيا والأخرة كن لى كما كنت
لسيدنا محمد صلى الله عليه وسلم وارزقنى محبتك. أللهم ارزقنى حبك. واشغلنى بجمالك واجعلنى
من المخلصين. أللهم امح نفسى محذبات ذاتك يا أنيس من لاأنيس له0 رب لاتذرنى فردا وأنت
خير الوارثين*
إله أنت مقصودى ورضاك مطلوبي أعطنى محبتك ومعرفتك
يا الله* اللهم إنا نسألك التوبة والإنابة على شريعة الغراء وطريقة البيضاء برحمتك
يا أرحم الراحمين والحمد لله رب العالمين*
Adapun wirid yang dianjurkan
untuk dibaca pada Riyadhah Musyahadah
yaitu harus banyak-banyak
membaca kalimat :
" سبحان
الله والحمد لله ولاإله إلا الله والله أكبر"
“ SUBHAANALLAAH WAL HAMDU
LILLAAH WA LAA-ILAAHA-ILLALLAAH WALLAAHU AKBAR “
Ketika Aku menghadiri di
Majelis An Nabawiah Abah Guru Syekh Syairazi bin H. Pandi Makeri Kandangan, Aku
dengar Beliau berkata bahwa “Suluk atau
Riyadhah dimulai sesudah shalat Ashar dan nanti berakhir . sesudah shalat Ashar
pula.”
Dan tidur bagi orang Suluk atau Riyadhah itu tiga jam dimalam hari dan satu
jam di siang hati. Di malam hari dari
jam 23.00 wita hingga jam 02
malam dan di siang hari dari jam 11
hingga jam 12.00 wita, sedangkan
amaliyah yang dibaca Insya Allah :
e.Al Qur’an al Karim
f.Shalawat atas Nabi Saw
Shalat Sunnat (Sunnat Wudlu, Sunnat Hajat,
Sunnat Tasbih, Sunnat Witir, Sunnat
Isyraq, Sunnat Dhuha, Sunnat Adzan, Sunnat
Tahajjud, Sunnat Taubat. Sunnat Ba’diyah, Sunnat Qabliyah dan
Sunnat lainnya.)
h.Amaliyah yang diberikan
Mursyidnya.
Riyadhah Musyahadah
dianjurkan yaitu Hari Senin dan Kamis seperti anjuran puasa Senin dan Kamis,
Kalau Riyadhah Musyahadah dilaksanakan tiga hari usahakan hari yang tidak ada
hari Jum’atnya, andai itu terjadi Salik
harus ke Masjid untuk shalat Jum’at, ia berjalan muka menunduk ke tanah dan kepala tertutup kain.
Kami pernah menanyakan kepada
Guru Bihara tentang masalah riadlah. Beliau menjawab " Aku riadlah 6 kali
dibawah bimbingan Tuan Guru KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid, masuk kamar mulai
hari Jum'at sehabis shalat Jum'at
sekitar jam 14.00 wita sampai dengan Jum'at yang akan datang, keluar
kamar Riyadlah sekitar jam 10.00 wita pagi."
Kata Beliau lagi :
"Orang yang riyadlah itu dijaga oleh Guru, dan tidak boleh Gurunya yang
menjaga itu, lebih dari 100 depa meninggalkan muridnya."Penyusun
"Kitab Umdatul Hasanah lil Jama'ah at Thariqat al Junaidiyah, mengomentari
masalah keadaan lapu di dalam kamar berpariasi, kadang-kadang remang-remang,
berarti Bol lampu 5 watt, kadang-kadang Bol lampu 20 watt berarti disaat cuaca
normal, terkadang Bol lampu 100 wat, berarti disaat cuaca dingin. Hal
jarak 100 depa adalah batasan minimal
yang bisa dijaga oleh Guru Mursyid kepada Muridnya yang suluk lebih dari itu
dikuatirkan diganggu oleh segolong JIN.
Guru Bihara pernah cerita
kepada kami bahwa "Makanan orang yang suluk atau riyadlah harus dimasak
oleh perempuan yang sudah berhenti masa haid atau tidak kena haid lagi." Kalau makanan itu dimasak oleh perempuan
masih puber atau masih datang haid, maka dikuatirkan timbul nafsunya lebih
kuat."Nafsu birahi itu timbul dari zat-zat makanan yang dikonsumsi oleh
rongga mulut hingga perut. Supaya orang
yang riyadlah itu tidak dimasuki nafsu birahi terhadap perempuan
atau teringat dengan isterinya.
Maka dijaga dan makanannya dimasak oleh perempuan yang berhenti masa
haidnya. Tetapi manakala kami melakukan suluk pada salah satu Mursyid Thariqat
justru yang memasak untuk makan kami adalah seorang laki-laki berumur. Ini
menunjukkan bahwa laki-laki dengan
laki-laki tidak minat atau tiada terbit
nafsu birahi atau permpuan dengan permpuan tidak ada hasrat nafsu birahi.
Guru Bihara pernah cerita
kepada kami bahwa orang yang selesai suluk atau riyadlah selama 7 hari dengan malamnya, Salik tidak bolehkan dan
tidak diperkenankan membaca
amaliahnya yang dibaca ketika dalam kamar suluk, yakni amaliah tidak dibaca
selama tiga hari. Saat itu Guru belum memberikan alasan, mungkin sajaalasannya
untuk menghindari finahan orang awam, kebiasaannya orang yang baru keluarsuluk
atau riyadlah imosi pengucapan kalimat thaibah sanagt kuat dan bisa terjadi
disembarang tempat dan juga tidak terkendali, hingga sebahagian orang awam
menggapnya stres. Hingga orang-orang maujauhi Thariqat al Junaidiyah kita, hal ini
hal yang tidak benar. Tetapi hal ini bisa dimaklumi bahwa amaliah riyadlah pada
Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah 80 prosen diucapkan dengan bersuara lembut
dan nyaring, didengar oleh kedua
telinganya untuk itu diperlukan
istirahat selama tiga hari.
18. PENGAWASAN GURU
MURSYID KEPADA MURID SA’AT RIYADHAH
1.Pengawasan dan Pemeriksaan Kesehatan terhadap Salik
Salik sehat jiwa raga, mampu berjalan sendiri, mandi
sendiri, wudlu sendiri, Salik tidak dalam keadaan sakit, haidh bagi wanita atau
nifas dllnya.
2.Guru Mursyid mengawasi dan memeriksa para Muridnya
melalui kecamata kesufiannya, ia melihat dan memantau keadaan Muridnya dari awal masuk kamar riyadhah hingga keluar kamar riyadhah. Ia tidak boleh
meninggalkan Muridnya dalam keadaan riyadhah terlalu jauh, misalnya lebih dari 100 depa.
Pernah aku baca dalam sebuah lagenda, bahwa “ada seorang Murid Imam al Junaid al Bagdadi yang
memisahkan diri dari Imam al Junaid tanpa sepengatahuan sang Imam. Sang Murid
ini menyendiri, dan ia mendirikan sebuah
gubuk ditempat yang sunyi berada ditepi
hutan, tujuannya ingin melebihi Gurunya
dalam hal ilmu batinnya. Kemudian Sang Murid ini melakukan suluk, khalwat atau
riyadhah ditempat ini dalam
kesendiriannya, seiring waktu berjalan
siang dan malampun beberapa hari telah berlalu. Ia tetap dalam
keadaan kesendiriannya, Di suatu senja
hari datanglah dua orang pemuda penunggang kuda dan kuda yang lain membawa
pakaian yang mampir didepan Gubuknya. Kata salah satu orang penunggang kuda itu
bahwa mereka ingin menjemputnya untuk dibawa ke Sorga. Maka Setelah mengganti
pakaiannya dengan pakaian yang dibawa orang itu, berangkatlah mengendarai kuda
Pemuda Gubuk tadi, yang diapit kedua penjemputnya menuju tempat yang
jauh.Diperjalanan ia melihat negeri yang indah dan makmur, banyak gedung yang
tinggi, para penduduknya ramah dan gentang-gentang lelakinya dan para wanitanya
cantik-cantik. Takterasa sampailah ia di depan pintu gerbang gedung yang dituju kedua penjemputnya, ia
disambut dengan sambutan hangat dan meriah, laksana seorang Raja yang dilayani
para wanita cantik menawan dan memikat hati dan harum baunya. Para pelayan
wanita cantik yang menggairahkan nafsu sex,
mereka menyudurkan makanan yang
enak-enak dan minuman anggur yang
menyegarkan tenggurukan dengan suasana udara anginnya yang sepoi-sepoi basah. “Ooh
alangkah enak dan lezatnya berada ditempat itu ditemani para pelayan wanita
cantik dimaksud, hingga aku terbuai dan
tidur pulas”. Manakala aku terbangun
dipagi hari, aku berada didepan bilik gubukku. Kejadian yang menyengkan itu
terus berulang-ulang aku merasa bangga
dan hebat hingga aku tak bisa menyembunyikan kegembiraan dari temen-temanku, hingga sampai berita
ini kepada telinga Imam al
Junaid.
Imam al Junaid.pun penasaran dan ......berkunjung ke gubuk tersebut untuk
menemui Sang pemuda yang menyendiri itu, Sang murid itupun menceriterakan semua
peristiwa yang dialaminya yang berulang-ulang itu kepada Imam al Junaid, ia
mendengar dan menyimak semua kejadian yang dialami muridnya, hingga al Junaid
menyuruh muridnya, nanti malam bila sudah selesai memenuhi hajatnya makan-minum
dan lainnya agar membaca kalimat ini
tiga kali :
"لاحول
ولا قوة إلا بالله العلي العظيم "
Maka senja haripun
tiba, datanglah dua orang pemuda
penunggang kuda dan kuda yang lain membawa pakaian sudah mampir didepan Gubukku.dan menjemputku untuk dibawa ke Sorga.seperti
malam-malam sebelumnya, aku dibawa yang diapit kedua penjemputku menuju tempat
yang jauh. Tak terasa sampailah aku di
depan pintu gerbang gedung yang dituju
kedua penjemputku, aku disambut dengan sambutan hangat dan meriah, laksana
seorang Raja yang pulang dari medan
peperangan yang memperoleh kemenangan. Para pelayan wanita cantik yang
menggairahkan nafsu sexku, mereka
menyudurkan makanan yang enak-enak dan
minuman anggur yang menyegarkan
tenggurukan dengan suasana udara
anginnya yang sepoi-sepoi basah. “Ooh alangkah lezatnya aku rasakan
berada ditempat ini ditemani para pelayan wanita cantik, hingga aku
terbuai dan ingin tidur bersama mereka”.tetapi ingat pesan
Guruku Imam al Junaid, aku merasa berat dan ragu untuk mengucapkannya, akhirnya aku
coba-coba mengucapkan pelan-pelan kalimat ini
tiga kali :
"لاحول
ولا قوة إلا بالله العلي العظيم "
Tiba-tiba terdengar
suara teriak hesteris dari
para pelayan wanita itu, dan semuanya lenyap dan hilang dari pandangan mata dan akupun
tersadar berada dalam tumpukan
sampah tulang - belulang berbau amis
berada disudut pasar. Hingga akupun taubat
dan tidak ingin lagi menyendiri
dan bergabung kembali Guru Imam al Junaid.
3.Guru Mursyid menanyai keadaan Muridnya, pada hal-hal
yang dialami para Muridnya sa’at
dalam kamar riyadhah, baik mimpi
atau perasaan murid sat tidur, saat dzikir dan lainnya dalam malam awal hingga akhir riyadhah. Misalnya
siang-malam pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima dan keenam atau malam
ketujuh ditanyai pagi-paginya.
4.Sikap Guru Mursyid menanggapi hal ihwal yang dialami
para Muridnya
Apabila seorang murid menceritrakan hal ihwalnya sesuatu
mimpi yang dilihatnya, atau tersingkapnya hal ihwal gaib yang terbuka baginya, atau menyaksikan hal ihwal
yang gaib yang dialami muridnya. Maka dalam keadaan semua hal ihwalnya itu ada terdapat hal-hal yang istimewa.
Hendaklah Sikap Guru Mursyid berhati-hati menanggapinya.
Hendaklah Guru Mursyid berdiam diri, yaitu menyuruh
murid-muridnya untuk menyembunyikan dan
merahasiakan hal-ihwal peristiwa yang dialaminya. Jangan mengatakan
kepada muridnya atas sesuatu tersebut, atau Sikap Guru Mursyid.tidak
banyak menanggapinya tentang hal di
maksud. Sebaiknya Guru Mursyid
memberikan amalan-amalan dan do’a-do’a
yang dapat menolak sesuatu yang tidak
benar. Sebab jika Guru Mursyid menanggapinya dikhawatirkan justru akan terjadi
sesuatu, yang sesuatu itu akan dapat
merusak jiwa dan hati para Muridnya.
Memang wajar karena
bagi seorang Murid/Salik yang masuk kamar Riyadhah atau Pengamal Thariqat Al
Junaidiyah yang masuk kamar Riyadhah bisa sewaktu-waktu mengalami keadaan
peningkatan Rohani, tetapi sering juga terjadi hal-hal yang tidak benar yang berakibat menurunkan martabat
murid itu kembali. Pengamal Thariqat Al Junaidiyah yang masuk kamar Riyadhah 7
hari dan malamnya atau Riyadhah Musyahadah harus banyak shalat sunnat tahajjud,
shalat sunnat tasbih dan shalat sunnat witir jangan sampai dilupakan, kalau
tertidur segera dibangunkan kalau sudah tengah malam
CONTOH IZAJAH THARIQAT
AL JUNAIDIYAH ATAU
THARIQAT AL
QAUM SETELAH RIYADHAH
بسم الله الرحمن الرحمن
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على
رسول الله
صلى الله عليه وسلم أما بعد
Berkata Hamba
yang sangat Faqir kepada Allah Swt dan mengarapkan ridla-Nya, nama Sayyid H.Hasan Baseri,S.Ag bin
H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa bin Abuthair Muhammad Assaqqaf yang mana Hamba teleh menerima Bai’at dan Izajah dari Guru hamba
KH.Jumberi bin H.Ma’shum bin H.Abu Bakar Kecamatan Awaian Kabupaten Balangan.
Pada hari ini telah Hamba beri pula Bai’at dan Izajah kepada Saudara pada jalan
Allah Swt, nama : Sayyid Muhammad Ibnu Mubarak bin
H.Hasan Baseri,S.Ag bin H.Muhammad Barsih Assaqqaf, Umur : 15 tahun, Alamat
Jalan Alfalah, Rt.05-Rw.02 Kelurahan Kandangan Kota, HSS, Kalsel. Saudara
tersebut telah diberikan hak sepenuhnya untuk mengamalkan dan mengajarkan segala hukum yang ta’alluq di dalam
Thariqat al Junaidiyah AL Bagdadiyah, dan diberikan haq mendirikan dan juga memimpin Khalwat, Suluk
dan Riyadhah dibarang tempat yang
dikehendakinya dan dilindungi oleh Undang-undang RI Tahun 1945 pasal 29.
Modah-modahan Allah Swt selalu memberikan Taufiq dan
Hidayah-Nya dan juga menjadikan
Tangannya dan Qalbunya seperti Tangan dan Qalbunya Muhammad Rasulullah Saw.
Insya Allah Saudaraku ini diberikan Taufiq dan Hidayah mengerjakan yang
diridlai-Nya dan diakhirai dengan ucapan
:
آمين
آمين والحمد لله رب العالمين
Kandangan, Rabu, 19 Desember 2007H
10 Dzul Hijjah 1428H
Hamba yang memberikan Izajah
Gambar
Salik Stempel
Yang
Menerima Izajah (Sayyid H.Hasan Baseri,S.Ag)
Muhammad Ibnu
Mubarak
19. PASAL PAIDAH – PAIDAH MELAKUKAN KHALWAT, SULUK-RIYADHAH
الفصل فوائد الخلوة اى الرياضة
قال فى عيق ذواالهمم : إن فى الخلوة عشر فوائد
الفائد الاولى هى السلامة من آفات اللسان فإن من كان وحده لايجد معه من يتكلم, وقد
قال عليه الصلاة والسلام رحمه الله عبدا سكت فسلم أو تكلم فغنم ولايسلم فى الغالب من
آفاته إلا من آثر الخلوة على الإجماع. وقال
شيخ شيوخنا سيدنا علي رضي الله عنه : إذا رأيت
الفقير ويؤثر الخلوة على الإجماع والصمت على الكلام والصيام على الشبع. فاعلم أن حبجه قدعل وإذا رأيته ويؤثر الخلوة و الكلام و الشبع على ضدها . فاعلم
أن حبجه خاوى. وقال فى القوت وفى كثرة كلام
وقلة والرع وعدم التقوى وطول الحساب ونشر الكتاب وكثرة الطالبين وتعلق المظلومين بالظالمين
وكثرة الاشهاد من الكرام الكاتبين ودوام الأعراض عن الملك الكرام لأن الكلام مفتاح كبائر اللسان وفيه الكذب وفيه الغيبة والنميمة والزور والبهتان. ثم قال فى الخبر: أكثر خطايا ابن آدم فى لسانه وأكثر الناس
ذنوبا يوم القيامة أكثرهم خوضا فى ما يعنى.
Dalam kitab ‘Aiqadzul Himam
“Orang yang Memiliki Cita-Cita Tinggi”, beliau berkata: “Ada sepuluh manfaat
dalam Khalwat (Riyadhah) kesendirian. Manfaat pertama adalah terhindar dari
azab lidah, karena orang yang sendirian tidak akan menemukan siapa pun untuk
diajak bicara. Dan Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda,
‘Seorang hamba yang diam akan aman, atau berbicara dan akan mendapat manfaat.’
Dan dalam banyak kasus, tidak ada seorang pun yang aman dari azabnya kecuali
orang yang lebih memilih khalwat (kesendirian) daripada keramaian.”Guru kami,
Syekh para Syekh, guru kami Ali, semoga Allah meridainya, berkata: Jika kalian
melihat orang miskin yang lebih menyukai kesendirian daripada keramaian, diam
daripada berbicara, dan berpuasa daripada kenyang, ketahuilah bahwa hatinya
penuh. Tetapi jika kalian melihat orang yang lebih menyukai kesendirian,
berbicara, dan kenyang daripada kebalikannya, ketahuilah bahwa hatinya kosong.
Beliau juga berkata mengenai rezeki, ucapan yang berlebihan, kurangnya ketakwaan,
panjangnya perhitungan, pembagian kitab, banyaknya pencari kebenaran,
orang-orang tertindas yang melekat pada penindas, dan banyaknya saksi dari
kalangan ahli Taurat yang mulia. Dan penolakan terus-menerus terhadap raja yang
mulia itu karena ucapan adalah kunci dosa-dosa besar yang dilakukan dengan
lidah, dan di dalamnya terdapat kebohongan, fitnah, pencemaran nama baik,
kebohongan, dan penghinaan. Kemudian beliau bersabda dalam hadits: Sebagian
besar dosa anak Adam ada di lidah mereka, dan orang-orang yang paling banyak
dosanya pada Hari Kiamat adalah mereka yang paling banyak melakukan apa yang
dimaksudkan dengan ucapan tersebut.
الفائدة الثانية هي حفظ البصر والسلامة من آفات
النظرفإن كن معتزلا عن الناس اى إنترنيت وحافى أندرويت و تليفسى سلم من النظر إليهم
وإلى ماهم منكبون عليه من زهرة الدنيا وزخرفها قال تعالى: ولا تمدن عينيك إلى ما متضابه
أزواجا منهم زهرة الحياة الدنيا لنفتنهم فيه. فتمنع بذلك النفس من التطلع إليها والاستشراف
لها ومنا فسه أهلها. وقال محد بن سيرين رضي الله عنه : إياك وفضول النظر فإنها تؤدى
إلى فضول الشهوة. وقال بعض الادباء : من كثرت لحظاته دامت حسرته. وقالوا : إن العين سبب الحين اى الهلك ومن أرسل طرفه اقتنص حتفه وإن النظر بالبصر إلى
الأشياء يوجب تفرقه القلب
Manfaat kedua adalah menjaga
penglihatan dan melindungi diri dari bahaya melihat. Jika seseorang terisolasi
dari orang lain—yaitu, dari internet, Android, dan televisi—ia aman dari
melihat mereka dan apa yang mereka nikmati, yaitu kesenangan dan perhiasan dunia
yang fana. Allah Yang Maha Kuasa berfirman: “Dan janganlah kamu mengarahkan
pandanganmu kepada apa yang bercampur di antara mereka, yaitu kemewahan dunia
yang Kami gunakan untuk menguji mereka.” Dengan demikian, seseorang mencegah
dirinya dari melihatnya, menginginkannya, dan bersaing dengan orang-orang yang
memilikinya.
Muhammad ibn Sirin, semoga
Allah meridainya, berkata: "Waspadalah terhadap pandangan yang berlebihan,
karena hal itu menyebabkan nafsu yang berlebihan." Sebagian ulama berkata:
"Barangsiapa yang banyak memandang, ia akan menderita penyesalan yang
berkepanjangan." Mereka juga berkata: "Mata adalah penyebab
kehancuran, dan barangsiapa yang membiarkan pandangannya mengembara akan
mendatangkan kehancurannya sendiri. Memandang sesuatu dengan mata menyebabkan
hati mengembara."
الفائدة الثانية حفظ القلب وصونه عن الرياء والمداهنة وغيرهما من الأمراض قال بعض الحكماء من خالط الناس داراهم و داراهم راءاهم ومن راءاهم وقع فيما وقعوا فهلك كما هلكوا و قال بعض الصوفية قلت لبعض الابدال المنقطعين إلى
الله كيف الطريق إلى التحقيق. قال لاتنظر إلى الخلق فإن النظلا إليهم ظلمة. قلت لابد
لى قال فلا يستمع كلامهم فإن كلامهم قسوة. قلت لابد لى قال فلا تعاملهم فإن معاملتهم
خسران وخسرة ووحشية قلت انا بين أظهرهم لابد لى من معاملتهم ٌ قال فلا تسكن إليهم فإن
السكون إليهم هلكة قلت هذا لعله يكون قال يا هذا تنظر إلى اللاعبين وتسمع كلام الجاهلين
وتعامل البطالين وتسكن إلى الهالكين وتريد أن تجد حلاوة الطاعة وقلبك مع غير الله هيهات
هذا لايكون أبدا ثم غاب عني. وقال القشيرى رضى الله عنه : فأرباب المجاهدة إذاأرادوا
صون قلوبهم عن الخواطر الرديئة لم ينظروا إلى المحتسنات اى من الدنيا. قال وهذا أصل
كبيرهم فى المجاهجات فى أحوال الرياضة.
Manfaat kedua adalah menjaga
hati dan melindunginya dari kemunafikan, sanjungan, dan penyakit lainnya.
Beberapa orang bijak berkata: Barangsiapa bergaul dengan orang lain, menyanjung
mereka, dan dengan menyanjung mereka, ia pamer kepada mereka. Dan barangsiapa
pamer kepada mereka, akan jatuh ke dalam apa yang mereka alami dan binasa
seperti mereka binasa. Dan beberapa Sufi berkata: Aku berkata kepada sebagian
dari kaum Abdal yang taat kepada Tuhan: Bagaimana jalan menuju pencerahan?
Dia berkata, “Janganlah memandang
manusia, karena memandang mereka adalah kegelapan.” Aku berkata, “Aku harus.”
Dia berkata, “Kalau begitu, janganlah mendengarkan kata-kata mereka, karena
kata-kata mereka kasar.” Aku berkata, “Aku harus.” Dia berkata, “Kalau begitu,
janganlah berurusan dengan mereka, karena berurusan dengan mereka adalah
kerugian, kehancuran, dan kekejaman.” Aku berkata, “Aku termasuk di antara
mereka; aku harus berurusan dengan mereka.” Dia berkata, “Kalau begitu,
janganlah mencari penghiburan pada mereka, karena mencari penghiburan pada
mereka adalah kehancuran.” Aku berkata, “Mungkin memang begitu.” Dia berkata,
“Wahai engkau! Engkau memandang hal-hal yang dangkal, engkau mendengarkan
kata-kata orang-orang bodoh, engkau berurusan dengan orang-orang yang malas, engkau
mencari penghiburan pada orang-orang yang ditakdirkan, dan engkau ingin
menemukan manisnya ketaatan sementara hatimu bersama selain Allah? Jauhkanlah
itu darimu! Ini tidak akan pernah terjadi.” Kemudian dia menghilang dari
pandanganku. Al-Qushayri, semoga Allah meridainya, berkata: “Orang-orang yang
berjuang dalam perjuangan spiritual, ketika mereka ingin melindungi hati mereka
dari pikiran jahat, janganlah memandang hal-hal indah di dunia ini.” Dia
berkata, “Ini adalah prinsip mendasar dari para guru mereka dalam pergumulan
spiritual selama masa disiplin spiritual.”
الفائدة الرابعة حصول الزهد فى الدنيا والقناعة
منها وذلك شرف العبد وكماله وسبب محبته غند مولاه لقوله صلى الله عليه وسلم ازهد فى
الدنيا يحبك الله ازهد فيما فى ايد الناس يحبك
الناس, لاشك أن من انفرد عن الناس ولم ينظر إلى ماهم فيه من الرغبة فى الدنيا والانكاب
عليها يسلم من متابعتهم فى ذلك و يسلم من متابعته الطباع الرديئة والاخلاص الدنيئة وقل من يخالطهم أن يسلم من ماهم فيه وقد روي عيسى
عليه السلام : لاتجالسوا الموتى فتموت قلوبكم. قالوا من الموتى يا روح الله ؟ قال المحبون
فى الدنيا الراغيون فيها.
Manfaat keempat adalah
mencapai pelepasan dari keinginan duniawi dan kepuasan dengan hal tersebut.
Inilah kehormatan dan kesempurnaan seorang hamba dan alasan kecintaannya kepada
Tuhannya, sebagaimana sabda Nabi (shalawat dan salam kepadanya): "Lepaskan
dirimu dari dunia, dan Allah akan mencintaimu; lepaskan dirimu dari apa yang
ada di tangan manusia, dan manusia akan mencintaimu." Tidak diragukan
lagi, siapa pun yang mengasingkan diri dari manusia dan tidak memperhatikan
keinginan mereka terhadap hal-hal duniawi dan obsesi mereka terhadapnya akan
mencapai hal ini.
Barangsiapa mengikuti mereka
dalam hal ini, ia akan aman dari jalan-jalan jahat dan niat-niat keji mereka.
Sedikit sekali orang yang bergaul dengan mereka yang terlepas dari pengaruh
mereka. Telah diriwayatkan bahwa Nabi Isa, semoga kedamaian menyertainya,
berkata: "Jangan duduk bersama orang mati, supaya hatimu tidak mati."
Mereka bertanya, "Siapakah orang mati itu, ya Roh Allah?" Dia menjawab,
"Mereka yang mencintai dunia ini dan terikat padanya."
الفائدة الخامسة الامة من صحبة الأشرار ومخالطة
الأرزال وفى مخالطهم فساد عظيم وخطر جسيم ففى بعض الأخبار مثل الجالس السوء كمثل السكين
إذالم يحرقك بشرره علق بك من ريحه. قال سيدى
عبد الرحمن المجذوب رضي الله عنه : الجسلة مع غير الأخبار ترزل ولو تكون صافيا. أوح
الله تعالى إلى داود عليه السلام : يا داود مالى أراك متبذا وحدانيا فقال : إلهي قلبت الخلق من أحبك. فقال : يا داود
كن يقظان وارتد لنفسك إخوانا وكل أخ لايوافقك على مسرتى فلاتصحبه فإنه لك عدو نفسى
قلبك ويباعدك منفي فإن أرادت الصحبة فعليك صحبة الصوفية فإن صحباهم كنزلا تفاده له قال
الإمام الجنيد رضي الله عنه
: إذا
أراد الله بعبد خيرا أوقعه إلى الصوفية ومنعه صحبة الفقراء. وقال آخر :والله ما افلح
من افلح إلا بصحبة من افلح.
Manfaat kelima adalah bahwa
suatu bangsa hendaknya menghindari pergaulan dengan orang-orang jahat dan
orang-orang hina. Bergaul dengan mereka terdapat kerusakan besar dan bahaya
yang serius. Sebagaimana beberapa hadis mengatakan, teman orang jahat itu seperti
pisau; jika tidak membakar Anda dengan percikannya, baunya akan melekat pada
Anda. Guru saya, Abd al-Rahman al-Majdhub, semoga Allah meridainya, berkata:
Duduk bersama orang-orang yang tidak berilmu akan menyebabkan kemerosotan,
meskipun seseorang berhati murni. Allah Yang Maha Kuasa mewahyukan kepada Daud,
semoga kedamaian menyertainya...
Wahai Daud, mengapa Aku
melihatmu begitu tertutup dan sendirian? Ia menjawab: Ya Tuhan, Engkau telah
menjauhkan orang-orang yang mencintai-Mu dari antara ciptaan-Mu. Allah
berfirman: Wahai Daud, waspadalah dan carilah saudara-saudara bagi dirimu.
Jangan berteman dengan saudara yang tidak sependapat denganmu dalam hal yang
menyenangkan-Ku, karena ia adalah musuh jiwa dan hatimu, dan ia akan
menjauhkanmu dari-Ku. Jika engkau menginginkan persahabatan, maka bertemanlah
dengan para Sufi, karena persahabatan mereka seperti harta yang engkau cari.
Imam al-Junayd, semoga Allah meridainya, berkata:
Jika Allah menghendaki
kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan membimbingnya kepada para Sufi dan
mencegahnya dari bergaul dengan orang miskin. Yang lain berkata: Demi Allah,
tidak ada seorang pun yang berhasil kecuali melalui persahabatan dengan
orang-orang yang telah berhasil.
الفائدة السادسة : التفرغ للعباد والذكر والعزم
على التقوى والبر ولا شك ان العبد إذا كان وحده تفرغ لعبادة ربه وانجمغ غليها بجواره
وقلبه لقله من يشغله عن ذالك. قال فى كتاب الفوت
واما الخلوة فإنها تفرغ القلب من الخلق وتجمع إليهم بالخالق وتقوى العزم على
الثبات الخ كلامه.
Manfaat keenam: Mengabdikan
diri pada ibadah, zikir, dan tekad untuk menjadi orang yang saleh dan benar.
Tidak diragukan lagi, ketika seorang hamba sendirian, ia mengabdikan dirinya
pada ibadah kepada Tuhannya, memusatkan hati dan jiwanya pada hal itu, karena
minimnya gangguan. Beliau berkata dalam kitab "Al-Fawt" (Kitab
Kesendirian): "Adapun kesendirian, ia mengosongkan hati dari urusan
duniawi dan menyatukannya dengan Sang Pencipta, memperkuat tekad untuk tetap
teguh," dan seterusnya.
الفائدة السابعة : وحدان حلاوة الطاعات وتمكن لذيذة المناجات لفراغ سره وهذا مجرب صحيح. قال أبو طالب :ولايكون المريد صادقا حتى يجد فى الخلوة من الحلاوة والنشاط والقوة مالا مجده فى العلانية وحتى يكون اسه فى الوحدة وروحه فى الخلوة وأحسن أعماله فى السر.
اManfaat
ketujuh: Manisnya ketaatan dan kenikmatan persekutuan yang intim ditemukan
dalam kesendirian hati seseorang, dan ini adalah fakta yang terbukti dan benar.
Abu Talib berkata: Pencari kebenaran tidak benar-benar tulus sampai ia
menemukan dalam kesendirian kemanisan, vitalitas, dan kekuatan yang tidak ia
temukan di depan umum, dan sampai fondasinya berada dalam kesendirian, jiwanya
dalam pengasingan, dan amal terbaiknya dalam kerahasiaan.
الفائدة الثامنة : راحة القلب والبدن فإن فى
الخالطة الناس ما يوجب تعب القلب بالإهتمام بأمرهم و تعب البدن بالسهي فى أغراضهم وتكميل
مرادهم وإن كان فى ذالك الثواب فقد يفوته ماهو
أعظم وأهم وهو جمع القلب فى حضرة الرب.
Manfaat kedelapan: kenyamanan
hati dan tubuh. Karena dalam bergaul dengan orang banyak, ada hal yang
menyebabkan hati lelah karena mengkhawatirkan urusan mereka dan tubuh lelah
karena sibuk dengan tujuan dan memenuhi keinginan mereka. Dan jika ada imbalan
dalam hal itu, maka ia mungkin kehilangan apa yang lebih besar dan lebih
penting, yaitu mengumpulkan hati di hadapan Tuhan.
الفائدة التاسعة : صيانة نفسه ودينه من التعرض
للشرور الخصومات التى توجبها الخلصة فإن للنفس تولعا وتسارعا للحوض فى مغل هذا إذا
اجتمعت بأرباب الدنيا وزاجمتهم فيها. وللشافعى رضي الله عنه : ومن يذق الدنيا فإن طعمتها
وسيق التى عذبها و عذبها, فلم أرها الا غرور وباطلا كما لاح فى ظهر الفلاح سرابها.
Manfaat kesembilan:
Melindungi diri sendiri dan iman dari kejahatan dan perselisihan yang timbul
dari keinginan duniawi. Karena jiwa memiliki kecenderungan dan keinginan untuk
bergegas menuju kolam kenikmatan duniawi, terutama ketika ia berkumpul dengan
orang-orang dunia ini dan bersaing dengan mereka dalam pengejarannya.
Sebagaimana yang dikatakan Imam al-Shafi'i, semoga Allah meridainya:
"Siapa pun yang mencicipi dunia dan tergoda oleh kenikmatan dan
siksaannya, aku melihatnya sebagai tidak lain hanyalah khayalan dan kebohongan,
seperti fatamorgana yang muncul di punggung seorang petani."
الفائدة العاشرة : التمكن من عبادة التفكر والإعتبار
وهو المقصود الأعظم من الخلوة وفى الخبر : تفكر ساعة خير من عبادة سبعين سنة. وكان
عيسى عليه السلام يقول : طوبى لمن كان كلامه ذاكرا صمته تفكرا ونظره عبارة وان اكيس
الناس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت. وقال كعب : من أراد شرف الأخرة فليكثر من التفكر
وكان أفضل من عبادة أبي الدرداء. التفكر وذلك لأنه يصل به إلى حقائق الأشياء وتيين
الحق من الباطل ويطلع بها وجوه الحيل فى التحرز عنها والطهارة منها. وقال الحسن رضي
الله عنه : التفكرة مرآة تريك حسنك من سيئك ويطلع بها أيضا على عظمة الله وجلاله إذا
تفكر فى آياته ومصنوعاته ويطلع بها أيضا على آلائه ونعمائه الجلية والخفية. فيستفيد
بذلك أحوالا سنية يزول بها مرض قلبه ويستقيم بها على طاعة ربه.
Manfaat kesepuluh: Kemampuan
untuk terlibat dalam ibadah dan refleksi kontemplatif, yang merupakan tujuan
utama dari pengasingan. Sebagaimana hadits menyatakan: "Satu jam
kontemplasi lebih baik daripada tujuh puluh tahun ibadah." Isa, semoga
kedamaian menyertainya, biasa berkata: "Berbahagialah orang yang ucapannya
adalah zikir, yang diamnya adalah kontemplasi, dan yang pandangannya adalah
ekspresi. Dan orang yang paling bijak adalah orang yang menghitung dirinya dan
berinisiatif untuk akhirat."
Ka'b berkata:
"Barangsiapa menginginkan kemuliaan akhirat hendaknya banyak bermeditasi,
dan ini lebih unggul daripada ibadah Abu al-Darda'." Meditasi menuntun
seseorang kepada hakikat sejati segala sesuatu, membedakan kebenaran dari kepalsuan,
dan mengungkapkan cara untuk menghindari dan membersihkan diri dari keduanya.
Al-Hasan, semoga Allah meridainya, berkata: "Merenungkan adalah cermin
yang menunjukkan sifat baik dan burukmu. Melaluinya, seseorang juga menyadari
kebesaran dan kemuliaan Allah ketika merenungkan tanda-tanda dan ciptaan-Nya.
Lebih jauh lagi, seseorang menjadi sadar akan nikmat dan karunia-Nya yang nyata
dan tersembunyi. Dengan demikian, seseorang memperoleh keadaan spiritual yang
menyembuhkan penyakit hati dan memungkinkan seseorang untuk tetap teguh dalam
ketaatan kepada Tuhannya."
Referensi :
1.Kamus Idris al Marbawi Arab-Malayu Juz 2 karya Muhammad
Idris Abdurrauf al Marbawi, Penerbit Syarikat al Maarif Bandung Indonesia tanpa
tahun halaman 190.
2.Diktat Risalah Uqdatul Jama’ah Thariqat Junaidy
bingkisan ikatan hati dalam perjalanan Tharikat Junaidy oleh Guru.Muhammad
Syukri, tanpa penerbit, tahun 1989M halaman 50.
3.Al Qur’an dan Terjemahannya Juz 1- Juz 30 Departemen
Agama, Penerbit Mekar Surabaya tahun
2002M
4.Kitab Jami'ul Ushul Fil Auliya, karya : Syekh Ahmad Annaqsabandi, Penerbit Al
Haromain halaman
5.Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf oleh Dr. Mustafa Zahri,
penerbit Bina Ilmu Surabaya tahun 1998 halaman
246
6.Kitab Syarhul Hikam oleh Syekh Abdullah as Syarkawi
cetakan Bairut
7.Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf oleh Dr. Mustafa Zahri penerbit PT. Bina Ilmu
Surabya Tahun 1998 Halaman 247
(8).Buku Risalah Umdatul Jama’ah bi Qalami Firdaus oleh
KH. Kasful Anwar Firdaus. Tanpa penerbit dan tanpa Tahun Hal ……. 13
(9).Buku Ilmu Ketuhanan Permata Yang Indah
(Ad-darunnafis) beserta Tanya Jawab, Syekh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjari
Tahun 1200H, Penerbit Nur Ilmu Surabaya halaman 35.
(10)Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf yang ditulis oleh
Dr. Mustafa Zahri penerbit PT. Bina Ilmu Surabya Tahun 1998 Halaman
(11).Risalah Jalan Ma’rifah Melalui Nur Muhammad oleh Gr.
Supiyan,(alm) Pejukungan HST Barabai tanpa Penerbit.
(12).Kitab “Sirâjut Thâlibîn” Juz 1 Syekh Ihsân ibn
Dahlân al-Jamfasî al-Kadîrî al-Jâwî seorang ulama besar Nusantara asal Jampes,
Kediri (Jawa Timur), (dikenal dengan nama Syekh Ihsan Jampes, w. 1952 M), yang
merupakan komentar dan penjelasan (syarh) atas kitab tasawuf “Minhâjul ‘Âbidîn”
karangan Hujjah al-Islâm al-Imâm al-Ghazzâlî (w. 1111 M)
(13).Artikel Alfit Lyceum ttg Ayat Perjanjian Primordial
(ayat al-mitsaq), Senin, 28 Agustus 2017, link
http://alfinproletar.blogspot.com/2017/08/ayat-perjanjian-primordial-ayat-al.html
(14).Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf oleh Dr. Mustafa
Zahri penerbit PT. Bina Ilmu Surabya Tahun 1998 Halaman
(15).Risalah Senjata
Mu’min disusun oleh KH. Husain Kadri Martapura tahun 1962M cetakan ke Empat halaman 150
(16).Ust. Muhammad Amiruddin berkata pada “Artikel Shalawat Pilihan“(Gr Sakumpul) Selasa, 20 Februari 2018
(17). Artikel “Suluk” https://id.wikipedia.org/wiki/Suluk
(18). kitab ‘Aiqadzul Himam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar