Khwajah, Khaja) adalah gelar kehormatan yang berasal dari bahasa Persia (khwāja) yang secara umum berarti tuan, guru, terhormat, atau master
Khwajah Muhammad az-Zahid al-Qadi as-Samarqandi (wafat 1529
M) adalah syekh ke-21 dalam silsilah emas (Golden Chain) Tarekat Naqsyabandiyah
dan syekh ke-13 dalam Tarekat al-Qaum Junaidiyah. Ia dikenal sebagai ulama sufi
terkemuka dari Asia Tengah yang memiliki kedalaman ilmu lahir dan batin, serta
menjadi pelanjut ajaran spiritual tarekat tersebut
Berikut adalah poin-poin penting mengenai beliau:
Silsilah Naqsyabandiyah: Beliau merupakan penerus dari Syekh
Ubaydullah al-Ahrar. Dan pada Silsilah Junaidiyah (tarekat al-Qaum) : Beliau
merupakan penerus dari Imam Qusyairi
Keilmuan: Dikenal dengan gelar Al-Qadi (Hakim/Qadhi),
menunjukkan penguasaannya dalam ilmu syariat selain ilmu tarekat Sufi Spirit.
Pusat Pengajaran: Berbasis di Samarkand (Asia Tengah).
Karakter Sufi: Terkenal dengan kerendahan hati dan keteguhan
dalam meniti jalan spiritual.
Catatan: Terdapat juga kisah lain mengenai seorang figur bernama
"Imam az-Zahidi" yang dikaitkan dengan kisah sufistik tentang rezeki,
namun tokoh utama dalam rantai sufi (silsilah) adalah Khwaja Muhammad az-Zahid
as-Samarqandi.
Khwajah
Muhammad az-Zahid
Kisah Imam Az-Zahidi, Sengaja Berdiam Diri di Gua untuk ...
Rezeki lahiriah berkaitan dengan badan (berupa materi)
seperti kesehatan. Sementara itu, rezeki batiniah erat kaitannya dengan hati
seperti kebahagiaan dan pengetahuan.
Berkaitan dengan rezeki, ada sebuah kisah mengenai sosok
lelaki yang ingin menguji rezeki dari Allah. Dirinya berdiam diri di dalam gua
namun nyatanya Allah mengirimkan rezeki lewat berbagai cara yang tidak pernah
ia pikirkan sebelumnya.
Dikisahkan
oleh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir melalui Durratu an-ashihin Fi al-Wa'd wa al Irsyad bahwa pria yang bernama Imam az-Zahidi
ingin menguatkan keyakinannya terkait rezeki yang Allah SWT jamin. Lelaki itu
lalu pergi ke sebuah gua yang terletak di gunung dan duduk di dalamnya.
"Aku hendak menyaksikan, bagaimana caranya Tuhan hendak
memberiku rezeki di tempat ini?" kata Imam az-Zahidi. Tak disangka-sangka,
tibalah rombongan pendaki yang telah melakukan perjalanan jauh menyusuri daerah
tempat Imam az-Zahidi bernaung. Di saat yang bersamaan, hujan turun dan
menyebabkan para pendaki mberteduh di dalam gua tersebut.
Pendaki-pendaki itu menemukan Imam az-Zahidi yang tengah
berdiam diri di dalam gua, salah satu di antara mereka lalu memanggilnya,
"Wahai hamba Allah!" Seruan dari pendaki itu tidak dihiraukan oleh
Imam az-Zahidi. Karenanya, mereka mengira Imam az-Zahidi tengah kedinginan dan
tak mampu berbicara.
Setelahnya, kelompok pendaki itu menyakalan api unggun untuk
menghangatkan suasana sambil kembali mencoba berbicara kepada Imam az-Zahidi.
Sayangnya, ia masih tetap diam tidak menjawab para pendaki. "Jangan-jangan
orang ini kelaparan sampai tidak bisa diajak bicara!" ujar mereka.
Akhirnya, para pendaki itu menyediakan makanan yang mereka
bawa kepada Imam az-Zahidi dan mengisyaratkannya untuk segera memakannya.
Lagi-lagi, Imam az-Zahidi tidak berkutik.
Melihat hal itu, sekumpulan pendaki mengira Imam az-Zahidi
sudah terlalu lama tinggal di dalam gua sampai tidak mendapat makanan sedikit
pun. Akhirnya, dibuatkannya susu panas untuk diminum.
Alih-alih menerima susu yang diberikan, Imam az-Zahidi
lagi-lagi tidak merespons. Ia tidak membuka mulutnya atau menoleh sedikit pun
kepada para pendaki yang telah berbaik hati itu.
Sekelompok pendaki itu lalu berujar, "Jangan-jangan
giginya sudah linu susah untuk digerakkan, karena sudah lama tidak makan dan
saking kelaparan,"
Akhirnya, salah dua di antar pendaki itu membantu untuk
membuka mulut Imam az-Zahidi untuk menyuapkannya makanannya. Tak disangka, dia
justru malah tertawa lepas.
"Apakah kamu gila?" kata pendaki tersebut.
Imam az-Zahidi menjawab, "Tidak, akan tetapi aku hendak
ingin menguji Tuhanku, bagaimana caranya Tuhan memberikan rezeki yang telah
dijamin untukku. Sekarang aku mengerti bahwa Dia akan mengaruniakan rezeki
kepada hamba-Nya dalam segala hal, bagaimanapun keadaan hamba-Nya, dimanapun
keberadaan hamba-Nya,"
Artikel “Khwaja Muhammad az-Zahid al-Qadi as-Samarqandi” https://sufispirit.com.au/feature/21-khwaja-muhammad-az-zahid/#:~:text=Khwaja%20Muhammad%20az-Zahid%20al-Qadi%20as-Samarqandi%20(may%20God,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar