Jumat, 28 Februari 2020

29. SYEKH MUHAMMAD AZ ZAHIDI AS SAMARQANDI




29. SYEKH MUHAMMAD AZ ZAHIDI AS SAMARQANDI
W.936H/1529M

هو العارف بالله تعالى الشيخ محمد الزاهدى الوخصى توفى ٩٣٦ هجرية \ ١٥٢٩ ملادية

Al Arif billahi Ta'ala Syekh Muhammad az Zahidi  al Wakhshi atau dengan sebutan lain Ba Daksyi. Ada yang mengatakan dia adalah anak saudara perempuan kandung Syekh Ubaidillah al Ahrar as Samarqand (atau kemenakan Syekh), dia adalah pamannya w.1490M. Syekh Muhammad az Zahidi adalah seorang Syekh Sufi yang agung dimasanya, dia seorang Syekh syari'at dan hahikat yang sangat faqih akan kedua ilmu ini. Sehingga tidak aneh kalau Muhammad az Zahidi ornament tarekat (mistik) sufi diantaranya Thariqat al Junaidiyah (Thariqat al Qaum), Thariqat Naqsyabandiyah, pada tarekat ini, ia punya murid penerus Spiritual  Kerajaan yang bernama Darwis Muhammad w.1562M, dan Thariqat Sufi lainnya. Dia lahir di desa Wakhshi, kota Samarqand negeri Uzbikistan India. 
 Dia adalah Kesempurnaan yang orang Saleh, Genius dari Guides, Intisari dari kesucian. Setelah kesempurnaan itu didapatnya, dia juga telah dianugerahkan Khalifah Ilahi (al-Khilafah al-Rabbaniyya), dan Spiritual Kerajaan adalah tempat tinggal nya. Dia dikombinasikan dalam dirinya Pengetahuan Surgawi dan Pengetahuan Sharaca, dan ia menggenggam yang terbaik dari thariqat dan haqiqat, sampai ia menjadi lokus semua Wahyu Surgawi dan Inspirasi. Dalam Dirinya muncul Pengetahuan Yang Tahu Spiritual.

Dia dikenal sebagai (orang yang sangat unik)  One Unik di Pengetahuan dan dalam Penggunaan Pena. Dia dibawa dalam hatinya rahasia menarik hati orang. Segala puji bagi Allah yang semua didirikan pada dia Wahyu Surgawi, dan yang memberinya kekuatan ajaib dalam setiap hal yang penting. Ia menghiasi dirinya dengan Cahaya Sempurna Kenabian Muhammad Saw pada awal pendakian ke Negeri Pengetahuan Spiritual. Dia Rahasia Syaikh-nya, kiblat bagi orang-orang Syekh sesudahnya, yang Pewaris pengetahuan para Syaikhnya, salah  satunya pengetahuan Spiritual dimaksud adalah ajaran al Junaidiyah yang dia terima dari Imam Qusyairi Gurunya melalui bai'at sirriyah. Beliau punya gelar dengan nama lakabnya "Abu Bakar ash Shibli"
Dalam sebuah "Artikel al Nur" dijelaskan bahwa Syaikh Muhammad az-Zahidi wafat pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal, tahun 926H/1520M. Dalam Artikel lain yang ditulis berbahasa Inggris bahwa Syaikh Muhammad az-Zahid wafat pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal, tahun 936H/1529M, di makam di desa Wakhshi pemakaman Malk Hasaar, kota Samarqand negeri Uzbikistan India. Di kota ini berdiri sebuah Museum yang bernama "Museum Syaikh Muhammad az-Zahidi" untuk memperingati dan mengenang jasa-jasanya.
Tercatat dalam sejarah  perkembangan sanad silsilah Tarekat Sufi bahwa Syaikh Muhammad az-Zahidi (w.936H) dengan bai'at Sirriyah, Beliau adalah murid dari Imam al Qusyairi (w.465H) pada thariqat kaum al Junaidiyah. Antara Murid dan Guru terhubung dan terjadi dengan bai'at Rohaniyah atau bai'at Sirriyah. Walaupun hidup antara keduanya berbeda zaman dan masa, tetapi Syekh Muhammad az Zahidi mampu menangkap pelimpahan talqin dzikir al Junaidiyah. Dia bisa berhubungan dengan gurunya Imam al Qusyairi setiap saat menangkap ilmu rahasia yang diberikan oleh sang guru, inilah muragabah awal yang terjadi pada Sadatina al Junaidiyah, yang dikenal pada salah satu  pembahasan pokok tarekat al Junaidiyah dengan nama AL MURAQABAH yaitu "MURAQABAH KASYFUL ARWAH"   (المراقبة بالكشف الارواح)

Khwajah, Khaja) adalah gelar kehormatan yang berasal dari bahasa Persia (khwāja) yang secara umum berarti tuan, guru, terhormat, atau master

Khwajah Muhammad az-Zahid al-Qadi as-Samarqandi (wafat 1529 M) adalah syekh ke-21 dalam silsilah emas (Golden Chain) Tarekat Naqsyabandiyah dan syekh ke-13 dalam Tarekat al-Qaum Junaidiyah. Ia dikenal sebagai ulama sufi terkemuka dari Asia Tengah yang memiliki kedalaman ilmu lahir dan batin, serta menjadi pelanjut ajaran spiritual tarekat tersebut

Berikut adalah poin-poin penting mengenai beliau:

Silsilah Naqsyabandiyah: Beliau merupakan penerus dari Syekh Ubaydullah al-Ahrar. Dan pada Silsilah Junaidiyah (tarekat al-Qaum) : Beliau merupakan penerus dari Imam Qusyairi

Keilmuan: Dikenal dengan gelar Al-Qadi (Hakim/Qadhi), menunjukkan penguasaannya dalam ilmu syariat selain ilmu tarekat Sufi Spirit.

Pusat Pengajaran: Berbasis di Samarkand (Asia Tengah).

Karakter Sufi: Terkenal dengan kerendahan hati dan keteguhan dalam meniti jalan spiritual.

Catatan: Terdapat juga kisah lain mengenai seorang figur bernama "Imam az-Zahidi" yang dikaitkan dengan kisah sufistik tentang rezeki, namun tokoh utama dalam rantai sufi (silsilah) adalah Khwaja Muhammad az-Zahid as-Samarqandi.

Khwajah Muhammad az-Zahid

Kisah Imam Az-Zahidi, Sengaja Berdiam Diri di Gua untuk ...

Rezeki lahiriah berkaitan dengan badan (berupa materi) seperti kesehatan. Sementara itu, rezeki batiniah erat kaitannya dengan hati seperti kebahagiaan dan pengetahuan.

Berkaitan dengan rezeki, ada sebuah kisah mengenai sosok lelaki yang ingin menguji rezeki dari Allah. Dirinya berdiam diri di dalam gua namun nyatanya Allah mengirimkan rezeki lewat berbagai cara yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Dikisahkan oleh Utsman bin Hasan bin Ahmad asy-Syakir melalui Durratu an-ashihin Fi al-Wa'd wa al Irsyad bahwa pria yang bernama Imam az-Zahidi ingin menguatkan keyakinannya terkait rezeki yang Allah SWT jamin. Lelaki itu lalu pergi ke sebuah gua yang terletak di gunung dan duduk di dalamnya.

"Aku hendak menyaksikan, bagaimana caranya Tuhan hendak memberiku rezeki di tempat ini?" kata Imam az-Zahidi. Tak disangka-sangka, tibalah rombongan pendaki yang telah melakukan perjalanan jauh menyusuri daerah tempat Imam az-Zahidi bernaung. Di saat yang bersamaan, hujan turun dan menyebabkan para pendaki mberteduh di dalam gua tersebut.

Pendaki-pendaki itu menemukan Imam az-Zahidi yang tengah berdiam diri di dalam gua, salah satu di antara mereka lalu memanggilnya, "Wahai hamba Allah!" Seruan dari pendaki itu tidak dihiraukan oleh Imam az-Zahidi. Karenanya, mereka mengira Imam az-Zahidi tengah kedinginan dan tak mampu berbicara.

Setelahnya, kelompok pendaki itu menyakalan api unggun untuk menghangatkan suasana sambil kembali mencoba berbicara kepada Imam az-Zahidi. Sayangnya, ia masih tetap diam tidak menjawab para pendaki. "Jangan-jangan orang ini kelaparan sampai tidak bisa diajak bicara!" ujar mereka.

Akhirnya, para pendaki itu menyediakan makanan yang mereka bawa kepada Imam az-Zahidi dan mengisyaratkannya untuk segera memakannya. Lagi-lagi, Imam az-Zahidi tidak berkutik.

Melihat hal itu, sekumpulan pendaki mengira Imam az-Zahidi sudah terlalu lama tinggal di dalam gua sampai tidak mendapat makanan sedikit pun. Akhirnya, dibuatkannya susu panas untuk diminum.

Alih-alih menerima susu yang diberikan, Imam az-Zahidi lagi-lagi tidak merespons. Ia tidak membuka mulutnya atau menoleh sedikit pun kepada para pendaki yang telah berbaik hati itu.

Sekelompok pendaki itu lalu berujar, "Jangan-jangan giginya sudah linu susah untuk digerakkan, karena sudah lama tidak makan dan saking kelaparan,"

Akhirnya, salah dua di antar pendaki itu membantu untuk membuka mulut Imam az-Zahidi untuk menyuapkannya makanannya. Tak disangka, dia justru malah tertawa lepas.

"Apakah kamu gila?" kata pendaki tersebut.

Imam az-Zahidi menjawab, "Tidak, akan tetapi aku hendak ingin menguji Tuhanku, bagaimana caranya Tuhan memberikan rezeki yang telah dijamin untukku. Sekarang aku mengerti bahwa Dia akan mengaruniakan rezeki kepada hamba-Nya dalam segala hal, bagaimanapun keadaan hamba-Nya, dimanapun keberadaan hamba-Nya,"

 

Daftar Bacaan  : 

Artikel “Khwaja Muhammad az-Zahid al-Qadi as-Samarqandi” https://sufispirit.com.au/feature/21-khwaja-muhammad-az-zahid/#:~:text=Khwaja%20Muhammad%20az-Zahid%20al-Qadi%20as-Samarqandi%20(may%20God,


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...