BAB. VIII
PEMBAHASAN MUSYAHADAH
Catatan 2. : Kitab "Risalah Umdatul Hasanah lil Jama'ah at Thariqah al Junaidiyah (sebagai Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah II )" memuat 8 macam Pak Mata Pelajaran untuk menyempunakan Syahadat Tauhid yang dituangkan risalah tersebut.
DAFTAR ISI BAB.VIII
A..PEMBAHASAN HAL MUSYAHADAH
1.Pengertian Musyahadah
2. Musyahadah Menurut Arti Istilah
B. PENJELASAN TENTANG MUHADHARAH, MUKASYAFAH &
MUSYAHADAH
C. PEMBAGIAN MUKASYAFAH DALAM KONTEKS THARIQAT SUFI
1 .Mukasyafah Rububiyah
2.Mukasyafah Ghaibiyah
D. Arti Mukasyafah Menurut Ulama sufi
E. Ada sepuluh macam Isolasi atau Hijab atau Dinding hati
manusia
F. Ada tiga derajat musyahadah, yaitu:
1. Tingkatan Musyahadah
2. Tahapan-tahapan dalam Musyahadah.
a.Mati tabi’i
b.Mati ma’nawi
c.Mati suri
d.Mati Hissi
3.Penegaskan Tentang Hal al Mukasyafah
BAB. VIII
PEMBAHASAN HAL MUSYAHADAH
A..PEMBAHASAN TENTANG HAL MUSYAHADAH
1.Pengertian Musyahadah
Arti Musyahadah (المشاهدة) pada konteks thariqat
adalah penyaksian langsung mata hati (bashirah) terhadap kehadiran atau
keagungan Allah Swt, merupakan tingkatan tertinggi setelah muhadharah
(kehadiran hati) dan mukasyafah (penyingkapan hijab). Ini adalah puncak
pengalaman spiritual sufi di mana ego manusia hilang, digantikan dengan
penyaksian hakikat ilahiah.
Sebelum kita membahas tentang
musyahadah mari kita lihat makna kata شَاهَدَهُ
atau kata الشَّاهِدُ Imam al Qusyairi
dalam kitabnya Ar Risalah Qusyairiyah menulis tentang
ويريدون
بلفظ الشاهد مايكون حاضر قلب الانسان , وهو ماكان الغالب عليه ذكره حتى كاَنَّهُ يراه
ويبصره وان كان غائبا عنه, فكل ما يستولي ذكره على قلب صاحبه فهو يشاهده, فان كان الغالب
عليه العلم فهو يشاهد العلم وان كان الغالب عليه الوجد فهو يشاهد الوجد* رسالة القشيرية.
Mereka menginginkan, dengan lafadz
(الشاهد) itu adalah apa yang
ada (yang hadir) dalam hati manusia, yang paling mungkin disebutkan, bahkan
jika dia melihatnya dan melihatnya, dan jika dia tidak ada darinya, jadi apa
pun yang dia ingat di hati pemiliknya, dia memperhatikannya, dan jika orang yang
diliputi oleh pengetahuan sedang menyaksikan pengetahuan, dan jika orang yang
mengatasinya menyaksikan jiwa.
وَمَعْنَى
: اَلشَّاهِدُ الْحَاضِرُ, فَكُلُّ مَا هُوَ حَاضِرٌ قَلْبُكَ فَهُوَ شَّاهِدُكَ.
Adapun makna kata Syaahidu (اَلشَّاهِدُ) yaitu Hadir (berada ditempat), setiap
seuatu yang disaksikan yaitu hadir berada dihatimu maka hadir itulahkesaksianmu.
سئل الشبلي عن المشاهدة, فقال : من اين لنا مشاهدة الحقّ ؟ الحقُّ لَنَا شَاهِدٌ, اَشَارَ بِشَاهِدِ الْحَقِّ اِلَى المستولي عَلَى قَلْبِهِ, وَالْغَالِبُ عَلَيْهِ مِنْ ذِكْرِ الْحَقِّ, وَالْحَاضِرُ فِى قَلْبِهِ دَائِمًا مِنْ ذِكْرِ الْحَقِّ, وَمَنْ حَصَلَ لَهُ مَعَ مَخْلُوْقٍ تَعَلَّقَ بِالْقَلْبِ. فَيُقَالُ : اِنَّهُ شَاهِدُهُ يَعْنِى اَنَّ قَلْبَهُ حَاضِرٌ, فَاِنَّ الْمَحَبَّ تُوْجَبُ دَوَامَ ذِكْرِالْمَحْبُوْبِ واستيلائه عَلَيْهِ, وبعضهم تكلَّف فَى مُرَاعَاةٍ هذَا الْاشتقاق, فَقَالَ : اِنَّ مَا سمي الشِّاهدُ مِنَ الشَّهَادَةِ. فَكَاَنَّهُ اِذَا طَالَعَ شَخْصًا بِوصْفِ الْجَمَالِز فَاِنْ كَانَتْ بَشَرِيَّتُهُ سَاقِطَةً عَنْهُ. وَلَمْ يشغله شهود ذلك الشخص عما هو به من الحال ولا اثرت فيه صحبته بوجه فهو شاهد له على فناء نفسه,
Al-Shibli ditanya tentang kesaksian, dan dia berkata: Dari manakah kita menyaksikan Kebenaran? Kebenaran adalah saksi bagi kita. Dia menunjuk pada kesaksian Kebenaran kepada orang yang telah menguasai hatinya, dan yang berkuasa atasnya karena mengingat Kebenaran, dan yang selalu hadir di hatinya karena mengingat Kebenaran. Dan siapa pun yang memiliki hal ini pada makhluk, maka hal itu melekat pada hati. Dikatakan bahwa dia adalah saksi, artinya hatinya hadir, karena Sang Kekasih membutuhkan ingatan yang terus-menerus akan Sang Kekasih dan kendali penuh atasnya. Beberapa orang telah berusaha keras untuk mengamati penafsiran ini.
Dia berkata: Saksi disebut saksi
karena kesaksiannya. Jadi, jika dia melihat seseorang dengan deskripsi
keindahan, dan kemanusiaannya telah hilang darinya, dan kesaksian orang itu
tidak mengalihkannya dari keadaannya, dan pergaulannya tidak memengaruhinya
dengan cara apa pun, maka dia adalah saksi bagi orang itu atas kehancuran
dirinya sendiri.
ومن اثر فيه ذلك فهو شاهد عليه فى بقاء نفسه وقيامه باحكام بشريته, اما شاهد له شاهد له او شاهد عليه, وَعَلَى هذَا حمل قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم : رَاَيتُ رَبِّيْ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ فِى اَحْسَنِ صُوْرةٍ. اي اَحْسَنِ صُوْرةٍ رَاَيْتُهَا تلكَ اللَّيْلَةَ, لَمِ تَشْغِلُنِيْ عَنْ رَاَيْتُهُ تَعالَى, بَلْ رَاَيْتُ الْمُصَوِّرَ فِى الصُّوْرَةِ والمنشئ فى الاشياء. ويزيد به رؤية العلم لا ادراك البصر* رسالة القشيرية.
Dan siapa pun yang terpengaruh oleh
hal ini adalah saksi atas keberlangsungan hidupnya dan pemenuhan tuntutan
kemanusiaannya. Ia adalah saksi untuknya atau saksi yang menentangnya. Inilah
makna sabda Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya: "Aku
melihat Tuhanku pada Perjalanan Malam dalam wujud yang paling indah."
Artinya, wujud terindah yang kulihat malam itu tidak mengalihkan pandanganku
dari-Nya, Yang Maha Tinggi. Sebaliknya, aku melihat Sang Pencipta dalam wujud
dan Pencipta segala sesuatu. Dan ini semakin diperkuat oleh penglihatan ilmu,
bukan oleh persepsi penglihatan.* (Surat Al-Qushayri).
2. Musyahadah Menurut Arti Istilah
Musyahadah dalam istilah sufiah adalah keadaan hati (bathin) hamba itu melihat merasakan berhadapan dengan Allah Taala. Ia merasakan Allah Ta’ala itu ibarat berada dihadapannya.
Musyahadah adalah kata kerja
Arabnya yaitu : (شَاهَدَهُ – يُشَاهِدُ – فَهُوَ مُشَاهَدَةً)
Artinya : “melihat, memandangnya”(1).
Jadi Musyahadah menurut istilah
adalah isim masdar yang maknanya yakni Penyaksian seorang hamba terhadap
wujudnya Allah Swt. Penyaksian kepada wujudnya Allah Swt oleh seorang hamba disini, yakni si hamba
melihat kepada adanya dua alam yaitu
alam Kubra dan alam Sugra. Adapun Alam Sugra yang dimasud yaitu wujud manusia
itu sendiri, Alam yang kedua yaitu Alam Kubra, alam Kubra disini adalah Alam
Jagat raya ini.Melalui kedua alam inilah
si Hamba Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) menyaksikan wujud Allah
Swt dan kekhadirannya pada diri si Hamba tsb.
اَلْمُشَاهَدَةُ
هِيَ حَضُوْرُ الْحَقِّ مِنْ غَيْرِ بَقَاءِ تَهِمَّةٍ(2
Maksudnya : “Musyahadah adalah hadirnya Al Haq (Allah
Swt) dengan tiada persangkaan atau hilangnya rasa sangka-sangka”.
Dari segi bahasa musyahadah itu
berasal dari rumpun kata (شَهِدَ - شَاهَدَ)Syahida-Shaahada yang
mempunyai arti bersaksi, menyaksikan.oleh karna itu seseorang belum dapat untuk
dikatakan sebagai seorang islam jika orang tsb belum menyatakan akan dua
kalimat shahadat. Didalam bermusyahadah ini juga sangatlah di butuhkan sebab
segala peristiwa atau kejadian itu yang pertama di tanyakan adalah adanya
penyaksian atau saksi. Untuk penyaksian ini lebih tinggi tingkatanya dari yang
kedua tadi, maksudnya saksi.
Musyahadah berarti penyaksian,
kenyataan pandang atau kesaksian. Maksud dari Musyahadah ialah penyaksian batin
yang jelas tanpa ragu mengenai apa yang disaksikan setelah mulai penelitian
yang sungguh teliti (muraqabah) da tersingkapnya rahasia (mukasyafah). Thariqat
Sufi mengambil latihan ini untuk dipakai sebagai sarana latihan supaya
memperoleh penyaksian murni bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad itu
Rasul utusan-Nya. Musyahadah dalam kegiatannya, menggunakan sarana hati
(bashirah) dan kepekaan rasa yang halus/ lathifah (Syukeri 1998M)
Imam al-Junaid mengutip surah
al-A’raf ayat 172, ayat yang terkenal dengan mitsaq (perjanjian primordial).
Perjanjian primordial secara sederhana diakatakan sebagai perjanjian yang
bersifat privat antara sang makhluk dan khaliqnya, antara manusia dengan
Tuhannya. Tidak ada pihak lain yang mengintervensi perjanjian itu bahwa Allah berfirman yang berbunyi
:
وَإِذْ
أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ
عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ. الاعراف 172
Artinya : “Dan (ingatlah), ketika
Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini
Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan Tuhan). QS. al-A’raf ayat 172,
Dengan menggunakan ayat mitsaq
tersebut, al-Junaid juga menjelaskan konsep awal ruh sebelum diciptakannya
tubuh / jasad. Atau dengan kata lain tentang keadaan ruh di alam lain. Ia
berkata bahwa Allah mempunyai hamba pilihan yang menjadi kekasihnya. Menjadikan
jasad mereka duniawi dan ruhnya nur. Pemahamannya bersifat arasyi, akalnya
menjadi hijab, tidak mempunyai tempat berlindung kecuali kepada Allah, tidak
punya tempat kecuali di sisi Allah. Mereka adalah yang diwujudkan dan
didudukkan di sisi Allah sejak zaman azali. Ketika Allah memanggil mereka
sebagai tanda penghormatan, mereka segera datang. Mereka paham panggilan itu
dan Allah mengenalkan diri kepada mereka di saat belum ada. Allah memindahkan
mereka dengan kehendakNya. Mereka dijadikan seperti atom (sangat kecil sekali).
Diwujudkan menjadi makhluk. Kemudian dimasukkan dalam tulang rusuk Adam. Lalu
Allah berfirman: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan
anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa
mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul
(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar
di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Allah mengabarkan bahwa
dia berbicara dengan mereka. Padahal mereka belum ada kecuali diwujudkan
olehNya. Mereka wujud karena Allah, bukan karena dirinya. Maka disanalah al-Haq
bertemu dengan al-Haq, betul-betul wujud yang tidak mampu dimengerti kecuali
oleh Allah sendiri.
Firman Allah Swt surat Ali Imran
ayat 18 yang berbunyi :
شَهِدَ اللهُ اَنَّهُ
لَااِلهُ اِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَاُوْلُوْا الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ
لَااِلهُ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ* ال عمران 18
Artinya : Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia para Malaikat dan para Ilmuwan yang tegak
berdiri dengan keadilannya (juga menyaksikan pernyataan itu) tidaka ada Tuhan
melainkan Dia, Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.”
Akan tetapi kata musyahadah disini
berarti penyaksian, yang berartikan bahwa suatu pandangan batin setelah adanya
mukasyafah atau terbukanya penutup maka terjadi sebagai suatu penyaksian yang
tidak diragukan lagi Untuk mencapai pada tingkatan musyahadah ini seseorang
harus terlebih dahulu bersungguh-sungguh dengan
sepenuh hati demi untuk mengamalkan akan ajaran-ajaran tasawuf itu
sendiri untuk naik meningkatkan maqam berikutnya. Didalam pengertian musyahadah
seseorang yang terjun di dunia sufi rasanya sulit untuk mencapai pada tingkatan
musyahadah ini tanpa adanya usaha atau upaya niat sungguh-sungguh.
B. PENJELASAN TENTANG MUHADHARAH, MUKASYAFAH & MUSYAHADAH
Imam al Qusyairi dalam kitabnya Ar Risalah Qusyairiyah halaman 75 menulis tentang Muhadharah, Mukasyafah dan Musyahadah. Imam al Qusyairi dalam kitabnya Ar Risalah Qusyairiyah halaman 75 menulis tentang :
المحاضرة
والمكأشفة والمشاهدة, المحاضرة حضور القلب, ثم بعدها المكأشفة وهي حضوره بعنت البيان,
ثم المشاهدة وهي حضورالحقِّ من غير بقاء تهمة, فاذا صحت سماء السرّ عن غيوم الستر فشمس
الشهود مشرقة عن برج الشرف.
Artinya : (الْمُحَاضَرَةُ) Ceramah, (الْمُكَاشَفَةُ) pengungkapan, dan (الْمُشَاهَدَةُ) kesaksian. Muhadharah adalah kehadiran hati, kemudian Mukasyafah adalah kehadirannya dengan kejelasan ekspresi, lalu Musyahadah adalah kehadiran kebenaran tanpa tuduhan yang tersisa. Jadi, jika langit rahasia telah terbebas dari awan penyembunyian, maka matahari kesaksian bersinar dari menara kehormatan.
وحق
المشاهدة ماقاله الجنيد رحمه الله : وجود الحق مع فُقْدَانِكَ, فصاحب المحاضرة مربوط
باَيته, وصاحب المكأشفة مبسوط بصفاته, وصاحب
المشاهدة ملقى بذاته, وصاحب المحاضرة يهديه عقله, وصاحب المكأشفة يدنيه اى يقرَّبه
علمه, وصاحب المشاهدة تمحوه معرفته.
Artinya : Dan (حَقُّ الْمُشَاهَدَةِ) Hak untuk bersaksi adalah apa yang dikatakan oleh Al-Junaid, semoga Allah merahmatinya: Keberadaan Kebenaran ada bersama kerugianmu. Maka (صَاحِبُ الْمُكَاشَفَةِ) orang yang diberi ceramah terikat oleh ayat-ayatnya, orang yang diberi wahyu diperluas oleh sifat-sifatnya, dan orang yang diberi kesaksian dijatuhkan oleh hakikatnya. Orang yang diberi ceramah dibimbing oleh akalnya, orang yang diberi wahyu didekatkan oleh ilmunya, dan orang yang diberi kesaksian dihapus oleh ilmunya.
ولم
يزد فى بيان تحقيق المشاهدة احد على ماقاله عمرو بن عثمان المكي رحمه الله, معنى ماقاله
أنه تتوالى انوار التجلي على قلبه من غير ان يتخللها ستر وانقطاع كما لو قدّراتصال
البروق فكما أن اليلة الظلماء بتوالي البروق فيه* رسالة القشيرية.
Artiya : Tidak ada seorang pun yang menambahkan apa pun pada pernyataan tentang terwujudnya visi tersebut selain apa yang dikatakan oleh Amr bin Uthman Al-Makki, semoga Allah merahmatinya. Makna dari apa yang beliau katakan adalah bahwa cahaya manifestasi terus datang ke hatinya tanpa terhalang atau terputus, seolah-olah kilat itu terus menerus, seperti malam yang gelap diterangi oleh kilatan kilat yang beruntun.
Dr. Fakhruddin Faiz menyatakan
bahwa Musyahadah menurut Imam Junaid al Bagdadi :
Musyahadah berarti menyaksikan
Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan
mata kepala.
Musyahadah menurut al Junaid
adalah jenis pengetahuan tentang yang ghaib dengan media mata bathin
(al-asrar).musyahadah merupakan penjangkauan alam ghaib dengan medium
kebeningan cahaya yang masuk kedalam hati sebagai buah kebersihan hati dari
segala sesuatu selain Allah dan konsentrasi
himmah kepada Allah.
C. PEMBAGIAN MUKASYAFAH DALAM KONTEKS THARIQAT SUFI
Sebelum Penyusun menjelaskan tentang hal musyahadah, maka terlebih dahulu kami bahas tentang Mukasyafah (الْمُكَاشَفَة), sebab lentaran Mukasyafah maka terjadilah musyahadah. Lentaran musyahadah maka terjadilah muqabalah (rasa bertemu atau rasa berjumpa dengan Allah Swt. Mukasyafah disini ada dua macam bentuk yaitu :
1.Mukasyafah Rububiyah (اَلْمُكَاشَفَةُ
الْرُّبُوْبِيَّةُ)
2.Mukasyafah Ghaibiyah (الْمُكَاشَفَةُ الْغَيْبِيَّةُ)
1 .Mukasyafah Rububiyah (اَلْمُكَاشَفَةُ
الْرُّبُوْبِيَّةُ)
Musyahadah dalam istilah sufiah
adalah keadaan hati (bathin) hamba itu merasakan berhadapan dengan Allah Taala.
Ia merasakan Allah Taala itu ibarat berada dihadapannya. Tetapi bukanlah
hakikatnya demikian karena mustahil dan tidak akan terjadi Allah Taala berada
di hadapannya karena Allah Taala bukan massa yang mengambil ruang. Artinya
hanya ia merasakan hampirnya ke Allah Taala, ingat dia dengan kebijakan Syuhud
dzauq, maka merasailah seolah-olah Allah Taala itu berhadap-hadapan dengannya.
Musyahadah itu adalah nampaknya Allah Swt pada hambanya dimana seorang hamba
itu tidak melihat apapun didalam beribadah itu adalah dalam pengertian
umum,melainkan dia hanyalah berkeyakinan bahwa dirinya telah berhadapan
langsung dengan Allah Swt. Oleh karena dia tidak lagi memperhatikan apa-apa di
dlam beribadah,karena saking asiknya dia berkeyakinan bahwa Allah Swt telah
berada di sampingnya,maka dirinya sendiri tidak di hiraukan lagl.
Berpijak dari uraian tersebut di
atas bahwa sesungguhnya musyahadah itu merupakan tindak lanjut dari ajaran
ihsan yang telah mengajarkan mengenai konsep ibadah yang sesungguhnya dengan
satu ukuran,'' seakan-akan seorang hamba itu benar-benar melihat Allah Swt atau
Allah Swt telah melihat dirinya. Karena adanya Mukasyafah Rububiyah.
Yang dimaksud Mukasyafah
Rububiyah yaitu terbukanya tirai
ma’rifat ketuhanan atau mukasyafah tersingkafnya tirai ketuhanan atau terbukan
dinding penutup ketuhanan. Mukasyafah Rububiyah
adalah semata-mata pemberian Allah Swt
yang dilimpahkan kepada Hamba-Nya, ini terjadi karena karunia dan rahmat
kasih saying-Nya Allah Swt. Tentu saja Hamba itu banyak ibadahnya, banyak
dzikirnya dan banyak shalawatnya dan menjaga hubungan baik dengan Allah Swt,
menjaga hubungan baik dengan sesame manusia dan dengan makluk lainnya.
Semoga Allah selalu melimpahkan
Kementapan Batin PTJ Iman, Islam dan
Ihsan dan juga Istiqamah, tekun menjalankan sifat-sifat kehambaan dengan
melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, selalu tenggalam dalam
lautan keesaan-Nya, selalu dan selalu dalam pelukan cinta kasih dan rahmat-Nya yang Agung.
Dengan terbukanya tirai, atau hijab
yang menutupi mata hati atau mata hati
atau menghalangi syuhud pandangan seseorang
PTJ, sehingga PTJ dapat melihat, dapat
menangkap segala rahasia Al Haq dapat diketahui. Dan yang lebih jauh lagi si
PTJ merasa melihat Tuhan pada kedua Ala mini yakni Alam Sugra dan Alam Kubra. Hal ini terjadi karena ketajaman
mata batin yang dianugrahkan Allah Swt kepadanya PTJ yakni Pengamal Thariqat
Junaidiyah.
Dalam tafsir Al Qur’an al Qurtuby
dikatakan baha :
فَيُكْشِفُ
الْحِجَابُ فَيَنْظُرُوْا اِلَيْهِ فَوَ اللهِ مَااَعْطَاهُمُ اللهُ شَيْئًا اَحَبَّ
اِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ وَلَا أَقُرُّ لِاَعْيُنِهِمْ (تفسير الفرطبى)
Artinya : Maka terbukalah hijab
atau dibukakan penutup, lalu mereka melihat kepada-Nya, maka demi Allah,
tidaklah pernah Allah memberikan atau menganugrahkan kepada mereka sesuatu yang
amat menyenangkan mereka kecuali Penglihatan itu /Mukasyafah.
Secara logis semua itu akan
menimbulkan suatu bukti-bukti tertentu yang dapat dilihat dengan nyata dan jelas. Ini terjadi apabila
Mukasyafah Rububiyah ini telah menancap dengan benar pada hati sanubari seorang
Hamba, khususnya bagi PTJ (Pengamal Thariqat Junaidiyah) yang begitu dekat
dengan Tuhannya yaknia Allah Swt. Seorang Hamba yang begitu dekat dengan
Tuhannya dan juga selalu bersifat
kehambaan yang selalu mengerjakan Sunnah Rasul Saw atau mengutamakan thariqat
wajib atau melaksanakan rukun Islam yang lima yaitu shalat lima waktu, puasa
Ramadhan, Zakat dan Hajji. Allah telah berjanji dan Dia tidak pernah menyalahi
janji-Nya.
Sebagaimana Firman Allah surat an
Nuur pada ayat 55 yang berbunyi :
وَعَدَ
اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوْا الصَّلِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ
فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ فَبْلِهِمْ وَلِيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ
دِيْنَهُمْ الَّذِيْنَ ارْتَضَ لَهُمْ وَلَا يُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعدِ خَوْفِهِمْ
اَمْنًا. النور 55
Artinya : Allah telah berjanji
kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh untuk mengangkat derajat
mereka sebagai khalifah-Nya dimuka bumi, sebagaimana Allah mengangkat
orang-orang sebelum mereka. Dan Allah akan menetapkan rasa beragama yang sangat
diidlai-Nya untuk mereka. Dan juga Allah akan menggantikan rasa takut dengan
rasa aman buat mereka. QS An Nur,55.
2.Mukasyafah Ghaibiyah (الْمُكَاشَفَةُ الْغَيْبِيَّةُ)
Mukasyafah Ghaibiyah (terbukanya
rahasia alam/kegaiban), mukasyafah ghaibiyah adalah tersingkapnya tirai hijab
antara hamba atau Salik dengan Allah Swt
yang berkaitan dengan terbukanya rahasia kegaiban alam atau pengetahuan tentang
hal-hal gaib
Namun definisi Mukasyafah
secara umum artinya tersingkap atau terbuka tirai penutup. Dalam tasawuf,
dikataka bahwa mukasyafah ghaibiyah adalah terbukanya tirai kegaiban, di mana
seseorang dapat mengetahui hal-hal gaib.
Aku kutip pada sebuah “Artikel”
menyebutkan bahwa Syekh Nahrujuri ra berkata, tanda-tanda salik yang mendapat
karunia-Nya untuk mencapai hal dalam menuju kehampiran dengan Allah antara
lain:
1 - Memandang kurang sempurna
dalam ikhlasnya, yakni walaupun senantiasa mengikhlaskan amal-ibadah kepada
Allah Ta'ala, tetapi ia masih merasa selalu gundah dan mencampuradukkan ikhlasnya
dengan syirik-syirik yang khafi.
2. Lupa dengan segala
zikirnya, yakni walaupun sering berzikir, tetapi masih menganggap banyak
lupanya pada Allah.
3. Kurang dalam siddiqnya,
yakni walaupun telah benar dan ikhlas amal ibadah yang dikerjakan, namun masih
merasa kurang sempurna dalam siddiqnya.
4. Segan dalam mujahadah,
yakni walaupun mereka telah bersungguh bermujahadah melawan nafsu syahwatnya,
tapi selalu menganggap dirinya masih segạn dan malas dalam bermujahadah,
dimungkinkan kerana menganggap dirinya belum bersih betul hatinya.
5. Sedikit memelihara dalam
fakirnya, walaupun sudah kuat rasa berhajatnya kepada Allah Ta'ala, tetapi
masih memandang terlalu sedikit kefakirannya itu dengan apa yang dikehendaki
Allah sebenarnya.
Semua tanda-tanda diatas disebabkan kerana kehati-hatian salik. Beruntunglah mereka yang dibimbing dan ditunjukkan liku-liku jalan yang penuh dengan pengalaman dan pengajaran yang penuh dengan hikmat dan keindahan ini.
Kedua golongan (wushul dan salik) di atas adalah ahli musyahadah dan merupakan hamba-hamba terpilih yang dianugerahi nikmat oleh Allah Ta'ala. Adapun maqom orang yang wasililallah (wushul) itu lebih tinggi daripada maqom salik, karena orang-orang wasil telah teguh dan tahqiq musyahadahnya dengan Allah dalam setiap nafasnya.
D.Arti Mukasyafah Menurut Ulama
sufi
Ulama sufi berkata,
"Mukasyafah artinya jalinan secara rahasia antara dua batin."
Maksudnya, mukasyafah adalah salah satu dari dua orang yang saling mencintai,
yang mengetahui batin urusan dan rahasia yang satunya lagi. Jalinan ini terjadi
secara lembut dan penuh kasih sayang. Jika seorang hamba sampai ke kedudukan
ma'rifat, maka seakan-akan dia dapat melihat sifat-sifat kesempurnaan Allah dan
keagungan-Nya, sehingga ruhnya
merasakan kedekatan yang khusus, berbeda dengan kedekatan yang bersifat
inderawi, sehingga seakan-akan dia bisa menyaksikan disingkapkannya hijab
antara ruh dan hatinya dengan Rabb-nya (Mitrasantri 2011)
Yang dimaksud kasyf menurut Al Ghazali adalah metode pengetahuan
melalui sarana kalbu yang bening, atau pemahaman intuitif langsung. kasyf
(iluminasi) adalah apa yang tadinya tertutup bagi manusia, atau tersingkap bagi seseorang seakan ia melihat dengan
matanya. Dengan demikian pengetahuan itu
diperoleh dari sumbernya secara langsung, bukan melalui fikiran atau belajar.
Mukasyafah adalah tersingkapnya
tabir yang menjadi kesenjangan antara sufi dengan Allah. Kesenjangan tersebut
adalah jarak antara mahluk dengan khaliknya. Sementara itu Kasyf menurut
Qaysari adalah penyingkapan hijab. Secara terminologis, kasyf adalah mengetahui
makna yang tersembunyi dan realitas dibalik hijab secara wujud, Penyingkapan-penyingkapan itu sebenarnya
merupakan Tajali Nama yang mengurusinya. Dan semuanya berada di bawah Nama
Al-Alim. Adapun yang berkaitan dengan duniawi, seperti dalam praktek memberitakan kejadian-kejadian duniawi yang akan terjadi,
termasuk dalam kasf Al Suri, kasyf ini
disebut kasy Ruhbaniyyah, karena mereka mengetahui hal-hal gaib melalui riyadah
dan mujahidah mereka. Tetapi para ahli suluk beranggapan bahwa hal itu sebagai
al istidraj, yaitu kemunduran derajat, bahkan mereka tidak menanggapinya,
karena tujuan mereka adalah fana' fi
l-Lah dan Baqa bil-Lah (Mitrasantri 2011)
Menurut Ulama Sufi bahwa sumber
mukasyafah adalah al qalb al insani dan intelek amalinya yang bercahaya yang
menggunakan indera ruhaniyah. Karena qalbu manusia memiliki penglihatan,
pendengaran dan sebagainya. Sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firmannya :
"Maka sesungguhnya tidak buta matanya, tetapi yang buta adalah hatinya
yang ada di dalam dada". Dan
"Allah telah menutup keatas hati mereka dan pendengarannya dan penglihatan mereka dengan
tirai."
Dan indra ruhaniyyah ini adalah
bathin indera jasmani. Ketika tersingkap hijab dimensi ruhani dan dimensi
kongkrit maka akan menyatu indera
ruhaniyah dan indera jasmaniyahnya. Dan dia akan mempersepsikan dengan
indera ruhanniyahnya. Ruh akan menyaksikan semuanya secara esensial,
karena hakikat yang ada akan menyatu
dengan ruh dalam martabatnya dengan
keberadaan yang lengkap dan seluruh hakikat terpadu di dalamnya. Hijab
tersebut adalah nafsunya, yang disingkap Allah dengan kekuatan-Nya. Dengan
begitu dia akan menyembah-Nya seakan-akan dapat melihat-Nya. Ada tiga derajat mukasyafah, yaitu:
-Mukasyafah yang menunjukkan
penerapan yang benar, yang harus berjalan secara terus-menerus. Hal ini terjadi
pada sekali waktu tanpa waktu yang lain, tanpa diselingi suatu pemisahan. Hijab
yang tipis bisa terbentang pada kedudukannya, hanya saja hijab itu tidak
membuatnya memalingkannya dan meniadakan bagiannya. Ini merupakan derajat orang
yang menuju suatu tujuan. Jika berlangsung terus, maka menjadi derajat kedua.
-Mukasyafah yang benar merupakan
ilmu yang disusupkan Allah ke dalam hati hamba dan menampakkan kepadanya
perkara-perkara yang tidak diketahui orang lain. Namun Allah juga bisa
memalingkan dan menahannya karena kelalaian dan membuat tutupan di dalam
hatinya. Tapi tutupan ini amat tipis, yang disebut al-ghain. Yang lebih tebal
lagi disebut al-ghaim, dan yang paling tebal adalah ar-ran. Yang pertama
berlaku bagi para nabi, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam, "Sesungguhnya ada tutupan dalam hatiku, dan sesungguhnya aku
memohon ampun kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali (dalam sehari)."
Yang kedua berlaku bagi orang-orang Mukmin, dan yang ketiga bagi orang-orang
yang menderita, seperti firman Allah, "Sekali-kali tidak (demikian),
sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka."
(Al-Muthaffifin: 14).
E. Ada sepuluh macam Isolasi Hijab atau Dinding hati manusia
Ada sepuluh macam Isolasi atau Hijab atau Dinding hati manusiasehingga musyahadah melihat keagungan Af’al, Asma dan Sifat-sifat Allah Swt terhalang :
1.Hijab peniadaan dan penafian
hakikat asma' serta sifat. Ini merupakan hijab yang paling tebal. Orang yang
memiliki hijab ini tidak mempunyai kesiapan untuk mengetahui Allah dan sama
sekali tidak sampai kepada Allah, sebagaimana batu yang tidak bisa naik ke
atas.
2.Hijab syirik, yaitu membuat hati
menyembah kepada selain Allah.
3.Hijab bid'ah yang bersifat
perkataan, seperti hijab orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan berbagai
macam perkataan yang batil lagi rusak.
4.Hijab bid'ah yang bersifap
ilmiah, seperti hijab para ahli thariqah yang melakukan bid'ah dalam
perjalanannya kepada Allah.
5.Hijab orang-orang yang melakukan
dosa besar secara batinnya, seperti hijab orang-orang yang takabur, ujub,
riya', dengki, membanggakan diri dan lain sebagainya.
6.Hijab orang-orang yang melakukan
dosa besar secara zhahir. Hijab mereka lebih tipis daripada hijab orang-orang
yang melakukan dosa besar secara batin, sekalipun mereka lebih banyak ibadahnya
dan lebih zuhud. Dosa besar secara zhahir lebih dekat kepada taubat daripada
dosa besar secara batin. Orang yang melakukan dosa besar secara zhahir lebih
bisa diselamatkan dan hatinya lebih baik daripada orang yang melakukan dosa besar
secara batin.
7.Hijab orang-orang yang melakukan
dosa-dosa kecil.
8.Hijab orang-orang yang
berlebih-lebihan dalam hal-hal yang mubah.
9.Hijab orang-orang yang lalai
melakukan tujuan penciptaannya dan yang dikehendaki dari dirinya, tidak
senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepada Allah.
10.Hijab orang-orang yang
berijtihad namun menyimpang dari tujuan.
Inilah sepuluh macam hijab atau
isolasi yang mendinding antara hati dengan Allah, menjadi penghalang di antara
keduanya. Hijab-hijab ini muncul dari empat unsur: Jiwa, syetan, dunia dan
nafsu. Hijab tidak bisa disingkirkan jika unsur-unsur penyebabnya masih ada.
Empat unsur inilah yang merusak perkataan, perbuatan, tujuan dan jalan,
tergantung dari banyak dan sedikitnya, memotong jalan perkataan, perbuatan dan
tujuan untuk sampai ke hati. Sementara apa yang dipotong agar tidak sampai ke
hati, juga dipotong agar tidak sampai kepada Allah. Antara perkataan dan
perbuatan dengan hati terbentang jarak perjalanan. Seorang hamba menempuh jarak
perjalanan itu agar sampai ke hatinya, agar dia bisa melihat berbagai macam
keajaiban di sana. Dalam perjalanan ini terdapat banyak perampok jalanan
seperti yang sudah disebutkan di atas. Jika dia bisa memerangi para perampok
jalanan itu dan amalnya bisa sampai ke hati, maka ia akan menetap di dalam
hati, lalu dari hati ini dia akan mendapatkan jendela agar dapat melihat Allah.
Sekalipun perjalanan itu sudah
sampai ke hati, namun hamba tidak mendapatkan jendela untuk melihat Allah,
bahkan di dalamnya bersemayam nafsu dan pasukannya, sekalipun dia orang yang
zuhud dan paling banyak beribadah, maka dia adalah orang yang paling jauh dari
Allah. Bahkan orang-orang yang melakukan dosa besar, hatinya bisa lebih dekat
dengan Allah daripada mereka. Lihatlah seorang ahli ibadah dan zuhud,yang di
keningnya terdapat bekas sujud, tapi justru mengingkari Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam karena amalnya yang kelewat batas, sehingga dia pun mencemooh orang
Muslim lainnya dan menumpahkan darah para shahabat. Di sisi lain lihat seorang
peminum berat,(Orang pertama adalah Dzul-Khuwaishirah At-Tamimy Al-Khariji, dan
orang kedua adalah Iyadh bin Himar). yang sering mendatangi Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam, dan dia pun siap dijatuhi hukuman karena kebiasaannya itu.
Karena iman, keyakinan dan kecintaannya kepada Allah serta Rasul-Nya, dia rela
menerimanya, sampaisampai beliau melarang orang lain yang memakinya. Dari sini
dapat diketahui bahwa orang yang melakukan kedurhakaan lebih baik kesudahannya
daripada orang yang melanggar ketaatan.
Perkataan Syech (al-Mursyid),
"Mukasyafah yang menunjukkan penerapan yang benar", setiap orang
mengaku memiliki kesesuaian yang benar. Tidak ada penerapan yang benar kecuali
yang sesuai dengan perintah. Penerapan dalam ilmu ialah pengungkapan yang
sesuai dengan apa yang dikabarkan para rasul. Penerapan yang benar dalam
kehendak ialah yang sesuai dengan kehendak Allah.
Mukasyafah yang sebenarnya ialah
mengetahui kebenaran yang disampaikan Allah kepada para rasul-Nya dan yang
diturunkan ke dalam kitab-kitab-Nya, yang dilihat dengan hatinya. Ini pula yang
disebut penerapan yang benar. Sedangkan kebalikannya adalah suatu keburukan.
Ini merupakan derajat pertama, yaitu derajatnya orang yang menuju ke suatu
tujuan. Jika berjalan terus dan teguh hati, maka akan mencapai derajat kedua.
Syaikh berkata, "Sedangkan
derajat ketiga adalah mukasyafah mata dan bukan mukasyafah ilmu, yaitu
mukasyafah yang tidak membiarkan adanya pertanda yang menimbulkan kelezatan,
atau yang menghentikan perjalanan atau yang singgah di satu penghalang. Tujuan
dari mukasyafah ini adalah kesaksian."
Derajat
ini disebut pengungkapan mata, karena banyaknya cahaya pengungkapan apa yang
ada di dalam hati, lalu menggantikan kedudukan ilmu yang tidak mungkin
diingkari dan didustakan. Sebagaimana melihat dengan pandangan mata yang tidak
bisa dilakukan kecuali adanya kekuatan penglihatan, tidak ada pembatas, tidak
gelap dan tidak jauh jaraknya, maka pengungkapan dengan mata hati mengharuskan
adanya hati yang sehat dan tidak adanya perintang untuk mengungkap segala
rahasianya.
Dalam
Kitab Manaqib Nurul Burhan, terdapat 70 wali Allah yang sudah mukasyafah tapi
berhasil disesatkan oleh Iblis (seperti pengakuan Iblis kepada Sultan al-awliya
Syaikh Abdul Wadir al-jailani). Kedua, mukasyafah adalah bagian dari sebuah
proses, bukan tujuan puncak dalam suluk ruhani. Selama mengalami proses
mukasyafah, sufi (terutama yang masih di tengah jalan) masih harus menghadapi
banyak cobaan dan godaan. Apa yang elati
dari mukasyafah boleh jadi adalah, meminjam bahasa Qur’an, makr (tipu daya
Allah). Ia ela jadi kasyaf syathani,
atau khatir syathani. Betul bahwa hati yang suci ela mendapatkan mukasyafah, tetapi hati yang
suci bukan terminal akhir, dan karenanya mukasyafah juga bukan puncak ilmu.
Dalam makna wirid- wirid besar tarekat mu’tabarah tersirat bahwa bahkan
mukasyafah pun masih ela disusupi iblis,
dan karenanya selalu dibaca istiadzah (sebagian menggunakan wirid shalat
istadzah setiap pagi). Kasyaf rabbani memang boleh jadi menjadi isyarat
kesucian,tetapi tidak selalu ia bersifat paripurna. Ketiga, seorang yang telah
mendapatkan mukasyafah boleh jadi belum mencapai kondisi fana, fana-al-fana,
dan baqa. Karenanya, mukasyafah boleh jadi merupakan “hal” atau keadaan
spiritual, yang tidak permanen (yang berbeda dengan “maqam” yang elative permanen). Demikian sedikit tambahan
Dalam
konteks hubungan dengan Musyahadah
"Menyaksikan Allah" dan "Seakan-akan menyaksikan
Allah", maka ada sejumlah ayat, misalnya ketika Nabi Musa as, berhasrat
ingin menyaksikan dan melihat Allah. "Musa as berkata: Ya Tuhan, tampakkan
diri Mu padaKu, aku ingin memandangMu." Allah menjawab, "Kamu tidak
bisa melihatKu." al-A'raf 143
وَلَمَّا جَاءَ مُوْسَى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ
رَبُّهُ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْ اُنْظُرْ اِلَيْكَقل قَالَ لَنْ تَرانِيْ* الاعراف
143
Artinya
: “Dan ketika Musa dating untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan
dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya ”Musa berkata : Ya Tuhanku
perlihatkanlah (diri-Mu) kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu. Allah berfirma
“Engkau tidak akan (sangguf) melihat Ku” (QS. Al-A’raf : 143).
Dan
dia berfirman yang berbunyi :
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِط اِنَّ
اللهَ وَاسِعُ عَلِيْمٌ* البقرة 115
Artinya
: “Dan kepunyaan Allah lah apa saja di Timur hingga Barat, oleh karenanya
kemana saja kamu memalingkan mukamu, maka disanalah Wujud Allah, sesunguhnya
Allah amat luas karunia-Nya dan ilmu-Nya”. QS. Al Baqarah 115.
اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ
السَّمَاوَاتِ وَالْاَرضَ حَنِيْفًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ* الانعام 79
Artinya
: "Sesungguh aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit
dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) Agama yang benar dan aku bukanlah
termasuk orang-orang yang musyrik." (QS.Al-An'aam ayat 79).
Dimaksud
dengan "Mata Ilahi" adalah Mata Hati kita, mata batin kita yang
diberi hidayah dan 'inayah oleh Allah SWT untuk terbuka da melihat, dan
senantiasa di sana hanya Wajah Allah wujud Allah yang tampak, sebagaimana dalam
Al-Qur'an. "Alam Kubra atau Alam semesta ini dan juga alam Sugra atau Diri
manusia itu sendiri adalah gelap, dan sebenarnya menjadi terang karena
dicahayai Allah di dalamnya. Karena itu siapa yang melihat semesta atau Diri
manusia itu sendiri, namun dia tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau di
sisinya, atau sebelum dan atau tidak memandang Allah sesudahnya, benar-benar ia
telah dikaburkan dari wujud Cahaya, dan tertutup dari matahari ma'rifat oleh
mendung-mendung duniawi semesta.dan Nafsu itu sendiri"
Dan hal demikian Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib
pernah berkata “ :
قَالَ عَلِيٌّ اِبْنُ اَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ : مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلَّا
رَاَيْتُ اللهَ فِيْه
Artinya : “Tiadala
aku melihat akan sesuatu itu,
melainkan aku lihat akan Allah Swt padanya.”
Karena
itu soal "Menyaksikan Allah" hubungannya erat dengan tersingkapnya
tirai hijab (mukasyafah), yang menghalangi atau osolasi diri hamba dengan
Allah, adalah diri hamba itu sendiri, walaupun Allah sesungguhnya tidak bisa
dihijab oleh apa pun.
Dan
Sayyidina Usman bin Affan berkata “
قَالَ عُثْمًانُ اِبْنُ عَفَّانٍ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ : مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلَّا رَاَيْتُ
اللهَ مَعَهُ
Artinya : “Tiadala aku melihat akan sesuatu itu, melainkan aku lihat akan Allah Swt besertanya.”
Oleh sebab itu, dalam
menggambarkan Musyahadah (penyaksian Ilahi) ini, Rasulullah menggunakan kata,
"Seakan-akan", karena mata kepala kita dan mata nafsu kita, keakuan
kita pasti tak mampu. Kata-kata "Seakan-akan" lebih dekat sebagai
bentuk kata untuk sebuah kesadaran jiwa dan kedekatan hati.Tetapi ketika
Rasulullah bersabda,
قَالَ
فَأَخْبِرْنِى عَنِ الْإِحْسَانِ ؟ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَأِنْ
لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ * رواه مسلم وغيره
Artinya : Dia kembali bertanya " Ya, Muhammad, khabarkan kepadaku, apakah Ihsan ? Jawab Nabi Saw, Ihsan itu adalah Engkau beribadat kepada Allah seolah-olah Engkau melihat-Nya, maka jiwa Engkau tidak dapat melihat –Nya maka Engkau merasakan/yakin bahwa Dia melihatmu. Kata orang itu, "Engkau benar ya Muhammad." HR. Muslim dll.
Hal ini menunjukkan bahwa
sebuah kedekatan atau taqarrub sampai-sampai seakan-akan melihatNya, adalah
akibat dari kesadaran kuat bahwa "Dialah yang melihat kita."
Kesadaran jiwa bahwa Allah SWT melihat kita terus menerus, menimbulkan pantulan
pada diri kita, yang membukakan matahati kita dan sirr kita untuk memandangNya.
Kesadaran menyaksikan dan
Memandang Allah, kemudian mengekspresikan sebuah pengalaman demi pengalaman
yang berbeda-beda antar para Sufi, sesuai dengan tingkat haliyah ruhaniyah
(kondisi ruhani) masing-masing. Ada yang menyadari dalam pandangan tingkat Asma
Allah, ada pula sampai ke Sifat Allah, bahkan ada yang sampai ke Dzat Allah.
Lalu kemudian turun kembali melihat Sifat-sifatNya, kemudian Asma'-asmaNya,
lalu melihat semesta makhlukNya. Lalu kita perlu mengoreksi diri sendiri lewat
perkataan Abu Yazid al-Bisthamy, "Apa pun yang engkau bayangkan tentang
Allah, Dia bertempat, berwarna, berpenjuru, bertempat, bergerak, diam, itu
semua pasti bukan Allah SWT. Karena sifat-sifat tersebut adalah sifat
makhluk." Kontemplasi demi kontemplasi tanpa bimbingan ruhani seorang
Mursyid yang Kamil Mukammil hanya akan menggapai kebuntuan jalan dalam praktek
Muroqobah, Musyahadah maupun Ma'rifah.
Bagi mereka yang dicahayai
oleh Allah maka digambarkan oleh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam yang maksudnya :
"Telah terpancar
cahayanya dan jelaslah kegembiraanya, lalu ia pejamkan matanya dari dunia dan
berpaling darinya, sama sekali dunia bukan tempat tinggal dan bukan tempat
ketentraman. Namun ia jiwanya bangkit di dalam dunia itu, semata menuju Allah
Ta'ala, berjalan di dalamnya sembari memohon pertolongan dari Allah untuk
datang kepada Allah. Hamparan tekadnya tak pernah terhenti, dan selamanya
berjalan, sampai lunglai di hadapan Hadratul Quds dan hamparan kemeseraan
denganNya, sebagai tempat Mufatahah, Muwajahah, Mujalasah, Muhadatsah,
Musyahadah, dan Muthala'ah." Ibnu Athaillah menyebutkan enam hal dalam
soal hubungan hamba dengan Allah di hadapan Allah, yang harus dimaknai dengan
rasa terdalam, untuk memahami dan membedakan satu dengan yang lain. Bukan
dengan fikiran:
Mufatahah (المٌفَاتَحَةْ): artinya, permulaan hamba menghadapNya di
hamparan remuk redam dirinya dan munajat, lalu Allah membukakan tirai hakikat
Asma, Sifat dan keagungan DzatNya, agar hamba luruh di sana dan lupa dari
segala yang ada bersamaNya.
Muwajahah (الْمٌوَاجَهَة), artinya saling berhadapan, adalah sikap
menghadapnya hamba pada Tuhannya tanpa sedikit dan sejenak pun berpaling
dariNya, tanpa alpa dari mengingatNya. Allah menemui dengan CahayaNya dan hamba
menghadapnya dengan Sirrnya, hingga sama sekali tidak ada peluang untuk
melihat selainNya, dan tidak
menyaksikan kecuali hanya Dia.
Mujalasah (الْمُجَالَسَة), artinya menetap dalam majlisNya dengan
tetap teguh terus berdzikir tanpa alpa, patuh tunduk tanpa lalai, beradab penuh
tanpa tergoda, dan hamba memuliakanNya seperti penghormatan cinta dan kemesraan
agung, lalu disanalah Allah
swt berfirman dalam hadits
Qudsi, "Akulah berada dalam majlis yang berdzikir padaKu."
Muhadatsah (الْمُحَادَثَةْ), maknanya dialog, yaitu menempatkan sirr
(rahasia batin) dengan mengingatNya dan menghadapNya dengan hal-hal yang
ditampakkan Allah pada sirr itu, hingga cahayaNya meluas dan rahasia-rahasiaNya
bertumpuan. Inilah yang
disabdakan Nabi saw,
"Pada ummat-ummat terdahulu ada kalangan disebut sebagai kalangan yang
berdialog dengan Allah, dan pada ummatku pun ada, maka Umar diantaranya."
Musyahadah (الْمُشَاهَدَة), adalah ketersingkapan nyata, yang tidak
lagi butuh bukti dan penjelasan, tak ada imajinasi maupun keraguan. Dikatakan,
"Syuhud itu dari penyaksian yang disaksikan dan tersingkapnya Wujud."
Muthala'ah (الْمُطَالَعَة), adalah keselarasan dengan Tauhid dalam
setiap kepatuhan, ketaatan dan batin, semuanya kembali pada hakikat tanpa
adanya kontemplasi atau analisa, dan setiap yang tampak senantiasa muncul
rahasiaNya karena keparipurnaanNya.
Syaikh berkata,
"Musyahadah artinya runtuhnya secara pasti." Musyahadah inilah yang
meruntuhkan hijab dan bukan merupakan wujud dari keruntuhan hijab itu.
Runtuhnya hijab diikuti dengan musyahadah.
F. Ada tiga derajat musyahadah,
yaitu:
1. Musyahadah ma'rifat, yang
berlalu di atas batasan ilmu, dalam cahaya wujud dan berada dalam kefanaan
kebersamaan.
Ini merupakan landasan
golongan ini, bahwa ma'rifat di atas ilmu. Ilmu menurut mereka adalah
pengetahuan tentang data, sedangkan ma'rifat merupakan penguasaan tentang
sesuatu dan batasannya. Dengan begitu ma'rifat lebih tinggi daripada ilmu. Ada
pula yang mengatakan bahwa amal orang-orang yang berbuat baik berdasarkan ilmu,
sedangkan amal orang-orang yang taqarrub berdasarkan ma'rifat. Di satu sisi pendapat
ini bisa dibenarkan, tapi di sisi lain dianggap salah. Orang-orang yang berbuat
baik dan orang-orang yang taqarrub beramal berdasarkan ilmu memperhatikan
hukum-hukumnya. Sekalipun ma'rifatnya orang-orang yang taqarrub lebih sempurna
daripada orang-orang yang berbuat baik, toh keduanya sama-sama ahli ma'rifat
dan ilmu. Orangorang yang berbuat kebaikan tidak akan menyingkirkan ma'rifat
dan orang-orang yang taqarrub tetap mem-butuhkan ilmu. Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam pernah menasihati Mu'adz bin Jabal, "Engkau akan menemui suatu
kaum dari Ahli Kitab. Maka hendaklah seruanmu yang pertama kepada mereka adalah
sya-hadat la ilaha Wallah. Jika mereka sudah mengetahui Allah, kabarkan-lah
kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan shalat lima waktu sehari
semalam." Mu'adz bin Jabal harus membuat mereka tahu tentang Allah sebelum
menyuruh mereka mendirikan shalat dan mem-bayar zakat. Tidak dapat diragukan
bahwa ma'rifat seperti ini tidak seperti ma'rifatnya orang-orang Muhajirin dan
Anshar. Manusia ber-beda-beda dalam tingkat ma'rifatnya.
2. Musyahadah dengan mata
kepala, yang memotong tali kesaksian,mengenakan sifat kesucian dan mengelukan
lidah isyarat.
Derajat ini lebih tinggi
daripada derajat pertama. Sebab derajat perta ma merupakan kesaksian kilat yang
berasal dari ilmu mengenai tauhid,sehingga orangnya dapat melihat semua sebab.
Sedangkan orang yang ada dalam derajat ini tidak memiliki tali kesaksian, bebas
dari sifat-sifat jiwa, dan sebagai gantinya dia mengenakan sifat kesucian serta
lidahnya tidak membicarakan isyarat kepada apa yang disaksikannya. Ini
merupakan kesaksian wu jud itu sendiri, tanpa disertai kilat dan cahaya, yang
berarti derajatnya lebih tinggi.
3. Musyahadah kebersamaan,
yang menarik kepada kebersamaan, yang mencakup kebenaran perjalanannya dan
menumpang perahu wujud. Menurut Syaikh, orang yang ada dalam derajat ini lebih
mantap dalam kedudukan musyahadah, kebersamaan dan wujud serta lebih mampu
membawa beban perjalanannya, yang berupa berbagai macam pengungkapan dan
ma'rifat.
Sesungguhnya musyahadah yang
sempurna dihasilkan apabila telah sempurna suluknya, sempurna mencapai maqam
fana Af'al, fana Sifat, fana Asma 'dan fana Zat. Yakni dasarnya adalah, apabila
telah sempurna kesucian nafsu yang yang menghalang dari ingatan kepada Allah
Taala. Musyahadah adalah terbuka hijab alam bathin dengan Nur Makrifah dan
ketika itu tajallilah Zat Allah Taala di alam gaib dan Allah melihat dia di
lingkungan dzahir. Dan ketika itu ia melihat rahasia ketuhanan dan ALlah Taala
melihat penghambaannya meliputi dzahir dan bathin
Secara umum ajaran Islam
mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pemahaman terhadap
unsur kehidupan yang bersifat batiniah tersebut melahirkan tasawuf. Tasawuf
pada awal pembentukkannya adalah akhlak atau keagamaan yang diatur dalam
al-Qur’an dan as-Sunnah. Banyak tokoh-tokoh yang ada dalam ilmu tasawuf,
sehingga banyak pula perbedaan aliran. Tujuan tasawuf adalah memperoleh hubungan langsung dengan
Allah SWT. Tercapainya tujuan bisa kita raih dengan usaha yang panjang dan
penuh rintangan. Hal itu bisa di mulai secara bertahap. Di dalam perjalanan
menuju Allah tersebut, kaum sufi harus menempuh berbagai tahapan, yang dikenal
dengan maqamat dah ahwal. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Maqamat
dan ahwal adalah dua hal yang biasa dialami oleh orang yang menjalani tasawuf
sebelum sampai pada tujuan.
Menurut Artikel
Rifqisubuh : Pokoknya orang yang ingin
mencapai musyahadah kepada Allah hanya akan bisa dicapai dengan mujahadah dan
senantiasa taqarrub dengan Allah dan melanggengkan dzikrullah, disertai
kebersihan hatinya. Pada hakikatnya musyahadah itu adalah merasakan berhadapan
dengan Allah dan bersama Allah atau yang dinamakan “hudlurul qalbi”. Mengingat
Allah dengan sepenuh hati, artinya dengan hati yang khusyu’ saat melakukan
dzikrullah dan bertaqarrub kepada Allah.
Setelah mencapai musyahadah
ini, kemudian menanjak lagi ke tingkat al-Mukasyafah atau terbukanya segala
rahasia artinya tiada tertutup lagi sifat-sifat ghoib. Maksudnya
terbukalah rahasia alam ghoib yaitu
tiada tertutup dari sifat-sifat ghoib. Setelah itu barulah seseorang dapat
mencapai tingkat al-musyahadah. Menurut al Junaidi al Baghdadi “Al Musyahadah
adalah nampaknya Al-Haqqu Ta’ala dimana alam perasaan sudah tiada.
1. Tingkatan Musyahadah
Menurut Al Sarraj, musyahadah
adalah hal yang tinggi, ia merupakan gambaran-gambaran yang menambah hakikat
keyakiinan. Tingginya hal Musyahadah ini ditunjukkan oleh firman Allah,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi
orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang
dia menyaksikannya”. (QS. Qaf :37). Menyaksikan dalam ayat ini berarti
menghadirkan hati atau kesaksian hati bukan dengan mata.
Macam-macam Ahwal Musyahadah.
Dalam perspektif tasawuf, musyahadah berarti melihat Tuhan dengan mata hati,
tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan mata kepala. Hal ini
berarti bahwa dalam tasawuf, seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat
melihat Tuhan dengan mata hatinya. Sehingga boleh jadi, hanya bagi mereka,
Tuhan itu dapat dilihat. Hal ini misalnya tertera dalam permohonan Nabi Musa as
untuk melihat Tuhan,
وَلَمَّا
جَاءَ مُوْسَى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْ اُنْظُرْ اِلَيْكَقل
الاعراف 143
Artinya : “Dan ketika Musa
dating untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah
berfirman (langsung) kepadanya ”Musa berkata : Ya Tuhanku perlihatkanlah
(diri-Mu) kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf : 143). Para Sufi
juga meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW dapat melihat Tuhan ketika melakukan
Mi’raj.
Menurut Al Sarraj, musyahadah
adalah hal yang tinggi, ia merupakan gambaran-gambaran yang menambah hakikat
keyakinan. Tingginya hal Musyahadah ini ditunjukkan oleh firman Allah,
اِنَّ
فِى ذلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ*
ق 37
Artinya : “Sesungguhnya pada
yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai
hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”. (QS. Qaf
:37). Menyaksikan dalam ayat ini berarti menghadirkan hati atau kesaksian mata
hati bukan dengan mata zahir.
Hal Musyahadah ini dapat
dikatakan merupakan tujuan akhir dari tasawuf, yakni menemukan puncak
pengalaman rohani kedekatan seorang hamba dengan Allah. Menurut Al Sarraj ahli Musyahadah terbagi
atas tiga tingkatan.
1.Tingkat pertama, adalah
kelompok Al Ashagir (pemula), yakni mereka yang berkehendak.
2.Tingkat kedua, kelompok
pertengahan (Al-Awsath). Dalam pandangan kelompok ini Musyahadah berarti bahwa
ciptaannya pada genggaman Yang Haq dan pada kerajaan-Nya.
3.Tingkat ketiga seperti yang diterangkan Al Makki, hati kaum arifin ketika menyaksikan Allah sesungguhnya menyaksikan dengan kesaksian yang kokoh (wordpress.com/2011):
Musyahadah adalah nampaknya
Allah pada hambanya dimana seorang hamba tidak melihat sesuatu apapun dalam
beribadah, kecuali hanyalah menyaksikan dan meyakini dalam hatinya, bahwa ia
hanyalah berhadapan dan dilihat oleh Allah SWT. Dalam beribadah ia
tidakmenghiraukan lagi terhadap sesuatu yang disekelilingnya, termasuk dirinya
sendiri karena asyiknya berhubungan dengan Allah seakan-akan Allah benar-benar
nampak dihadapannya (Wordpress.com/2011)
Menurut Artikel
Rifqisubuh : Seorang akan dapat mencapai
musyahadh billah, jikalau ia melakukan mujahadah fil amal dan sebelumnya telah
mencapai maqam fana’ atau memunafikkan tujuan lain selain daripada Allah.
Ibadahnya hanya semata-mata ditujukan dan dihadapkan kepada Allah dan sama
sekali bebas dari unsur riya’.
2. Tahapan-tahapan dalam Musyahadah.
Adapun terjadinya musyahadah
adalah dengan adanya nur musyahadah yang terpancar dalam hati seseorang. Dan
terjadinya musyahadah ini melalui tiga tahap yaitu :
1.Nur musyahadah pertama,
adalah yang membukakan jalan dekat kepada Allah. Tanda-tandanya ialah seorang
merasa muraqabah/ berintaian dengan Allah.
2.Nur musyahadah kedua,
adalah tampaknya keadaan “adamiah” yakni
hilangnya segala maujud, lebur kedalam wujud Allah dan baginyalah wujud yang
hakiki.
3.Nur musyahadah ketiga yakni
tampaknya Dzatullah yang maha suci. Dalm hal ini bila seorang telah fana’
sempurna, yaitu diantaranya telah lebur dan yang baqa’ hanyalah wujud Allah.
Musyahadah ini masuk pada
hati seorang hamba Allah yang telah melakukan mujahadah fil ibadah dengan cara
memfana’kan diri terlebih dahulu, mengikhlaskan dirinya dalam beribadah dan
menghilangkan sifat-sifat yang menjadi penghalangnya musyahadatur rabbaniyah.
Karena itu ada pula yang mengatakan bahwa musyahadah bisa dicapai melewati
pintu mati.jalan yang ditempuh untuk sampai pada musyahadah dengan Allah
melalui pintu mati (dalam pengertian matinya nafsu untuk hidupnya hati)dapat
ditempuh pada 4 tingkat yaitu :
1.Mati tabi’i
Menurut sebagian ahli
thariqat, bahwa mati thabi’i terjadi dengan karunia Allah pada saat dzikir
qalbi didalam dzikir lathaif. Dan mati tabi’i ini merupakan pintu musyahadah
pertama dengan Allah.
2.Mati ma’nawi
Menurut sebagian ahli
thariqat bahwa mati ma’nawi ini terjadi dengan karunia Allah pada seseorang
salik saat melakukan dzikir Lathifatur Ruh, dalam dzikir lathaif. Dalam dzikir
lathifatur Ruh itu sebagai ilham yang tiba-tiba nur Ilahi terbit dalam hati.
Ketika itu penglihatan secara lahir menjadi hilang lenyap dan mata batin
menguasai penglihatan (Rifqisubuh 2017M)
Dalam tingkat ini, seseorang
salaik telah memasuki fana kedua yang dinamakan fana fis sifat. Sifat
kebaharuan dan kekurangan serta Alam perasaan lenyaf/fana dan yang tinggal
adalah sifat Tuhan yang semporna dan Azali. قَوْلُهُ :
لَا حَيَّ الَّا اللهُ
Tiada hidup selain Allah (Zahri tahun 1998M)
3.Mati suri
Mati suri ini terjadi dengan
karunia Allah pada saat seseorang salik melakukan dzikir lathifatus sirri dalam
dzikir lathaif. Pada tingkat ketiga ini, seorang salik telah memasuki pintu
musyahadah dengan Allah. Ketika itu segala keinsanan lenyap/fana’ alam wujud
yang gelap telah ditelan oleh alam ghaib/alam malakut yang penuh dengan nur
cahaya. Dalm pada ini yang baqa’ adalah nurullah, nur shifatullah, nur
asmaullah, nur dzatullah dan nurun ala nurin. Untuk mencapai keadaan musyahadah
seperti tersebut diatas adalah dengan mujahadah, niscaya Allah akan memperbaiki
sirnya/hatinya dengan musyahadah. Apabila seseorang telah mendapatkan karunia
Allah dengan musyahadah, maka dengan sendirinya akan lenyaplah segala hijab
dari sifat-sifat basyariah, nampaknya Allah atau tajalli (Rifqisubuh 2017M)
Dr. Mustafa Zahri dalam
bukunya Kunci Memahami Ilmu Tasawuf bahwa pada tingkat ketiga ini (mati suri)
seseorang/salaik telah memasuki pintu Musyahadah dengan Allah. Ketika itu
segala keinsanan leyap/fana, alam wujud yang gelap (ظُلْمَةٌ)
telah ditelan oleh alam Ghaib (عَالَمُ الَمَلَكُوْتِ)
yang penuh dengan Nur-Cahaya. Dalam pada ini yang baqa adalah Nurullah
semata-mata. Nur Af’al Allah dan Nur Sifat Allah, Nur Asma Allah dan Nur Dzat
Allah- Nurun ala nurin Firman Allah :
نُوْرٌ
عَلَى نُوءرٍ يَهْدِى اللهُ لِنُوءرِهِ مَنْ يَشَاء*
Artinya “Cahaya atas cahaya
Allah mengkurniakan degan NurNya siapa-siapa yang Ia kehendaki”.
لَا مَحْمُوءدَ
اِلَّا اللهُ
Artinya “Tidak ada yang
dipuji melainkan Allah”
4.Mati Hissi
Seterusnya ialah mati hissi.
Mati Hissi ini terjadi dengan karunia Allah pada saat seseorang/salik melakukan
dzikir lathifatul Khafi dalm dzikir lathaif. Pada tingkat keempat ini
seseorang/salik telah sampai ketingkat yang lebih tinggi untuk mencapai
makrifah sebagai maqam tertinggi (Zahri tahun 1998M)
Syaikhul Kiram ‘Alimul Allamah
Muhammad Ihsan Dahlan al Jempisi al Kaderi dalam kitabnya Sirajut Thalibin :
فَقَالَ
: اِعْلَمْ اَنَّهُمْ قَالُوْا اِنَّ الْمُرَاقَبَةَ نَسَبَةٌ زَكِيَّةٌ وَعُبُوْدِيَّةٌ
خَفِيَةٌ* فَمَنْ تَحَقَّقَ بِهَا نَوَّرَ اللهُ قَلْبَهُ بِنُوْرِ الْمَعْرِفَةِ وَشَرَحَ
صَدْرَهُ بِكَشْفِ الْحَقِيْقَةِ*
Maksudnya : Dia berkata:
ketahui olehmu bahwanya mereka (Ahli thariqah) telah berkata bahwanya Muraqabah
adalah turunan yang suci dan penghambaan yang amat tersembunyi. Maka
barangsiapa tahqiq/benar dengan Muraqabahnya maka Allah telah menyinari hatinya
dengan cahaya ma’rifah (ilmu ketuhanan) dan melapangkan dadanya dengan
tersingkapnya haqiqat ketuhanan*
وَهِيَ
(اى اعظم العبادات) مِنَ الطُّرُقِ الْمَوْصِلَةِ اِلَى الْمُشَاهَدَاتِ* وَهِيَ عَلَى
ثَلَاثَةِ اَنْوَاعٍ : الْاَوَّلُ اِسْتِدَامَةُ الْعِلْمِ بِاطْلَاع الْحَقِّ عَلَيْهِ
فِى جَمِيْعِ الْاحْوَال مَعَ مُرَاعَاةِ الْاتباع بِجَمِيْعِ الْاَحْكَامِ* الثَّانِى
مُطَالَعَةُ اَثْمَارِ الْاَسْمَاء وَالصِّفَات والْمُسَارَعَة اِلَى اللهِ بِالْوُصُوْلِ
بِجَمِيْعِ الْعِبَادَاتِ* الثَّالِثُ
Dan dia (yaitu seagung-agung
ibadah) dari jalan menuju ke musyahadah * Dan dia ada pada tiga jenis jalan :
pertama keberlanjutan menuntut ilmu untuk menginformasikan kepadanya hak dalam
semua kasus, dengan mempertimbangkan pengikut semua putusan * Kedua membaca
nama Ithmar dan sifat-sifat Allah dan untuk mempercepat akses ke semua ibadah *
Ketiga.
3. Penegaskan Tentang Hal al Mukasyafah
Syaikhul Kiram ‘Alimul
Allamah Muhammad Ihsan Dahlan al Jempisi al Kaderi menegaskan bahwa hal itu (al
mukasyafah) bersumber dari hadis Rasulullah Saw.
وَهذَا هُوَ الْعِلْمُ الْخَفِيُ
الَّذِىْ اَرَادَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقَوْلِهِ : اِنَّ مِنَ الْعلْمِ
كَهَيْئَةِ الْمَكْنُوْنِ لَا يَعْرِفُهُ اِلَّا اَهْلَ الْمَعْرِفَةِ بِاللهِ فَاِذَا
نَطَقُوْا بِهِ لَمْ يُجْهِلْهُ اِلَّا اَهْلَ الْاِغْتِرَارِ* سراج الطالبين
Dalam hal ini dia adalah ilmu
yang amat halus/tersembunyi yang dimaksudkan oleh Rasulullah Saw dengan
sabdanya : “Sesungguhnya ilmu itu adalah laksana barang berharga yang
tersimpan. Tak ada yang dapat memahaminya kecuali golongan ‘Arif Billah. Bila
mereka bicara tentang ilmu itu, tidak ada orang yang menyepelikanknya kecuali
berhati lalai (Haderanie,HN)
عِلْمُ
الْمُكَاشَفَةِ وَهُوَ نُوْرٌ يَظْهَرُ فِى الْقَلْبِ عِنْدَ تَزْكِيَّةٍ فَتَظْهَرُ
بِهِ الْمَعَانِى الْمُجْعَلَةُ فَتَحْصُلُ لَهُ الْمَعْرِفَةُ بِاللهِ تَعَالَى وَاَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَكُتُبِهِ
وَرُسُلِهِ وَتَنْكَشِفُ لَهُ الْاَسْتَارُ عَنْ مُخْبِئَاتِ الْاَسْرَارِ* وَفِى الْاِحْيَاءِ
مَعَ شَرْحِهِ وَهذه هِيَ الْعُلُوْمُ الَّتِى اُمِرُ بِكِتْمَانِهَا وَاِنَّهَا لَا
تَسْطُرُ فِى الْكُتُبِ لِاَنَّهَا عُلُوْمٌ
ذَوْقِيَّةٌ كَشْفِيَّةٌ تُدْرَكُ عَنْ مُشَاهَدَةٍ لَا عَنْ دَلِيْلٍ وَبُرْهَانٍ*
سرج الطالبين الجزء الاول رقم 70
Ilmu Mukasyafah adalah Nur
yang nyata dalam hati ketika pembersihannya, maka tampaklah hati itu.
Pengertian-pengertian yang menyeluruh merupakan hasil ma’rifatullah ta’ala.
Ma’rifat kepada AsmaNya, Sifat-sifatNya, Kitab-kitabNya dan Ma’rifat kepada
Rasul-rasulNya dan terbukalah segala tutupan dari segala rahasia-rahasia yang
tersembunyi…. Didalam Kitab Ihya beserta penjelasannya mengemukakan
“rahasia-rahasia yang terbuka inilah yang diperintahkan menyembunyikannya
karena tidak ada tertulis di dalam kitab-kitab. Sesungguhnya hal itu adalah
rangkuman segala ilmu dzauky (perasaan) yang terbuka cerah didapat dari
Musyahadah tanpa dalil dan keterangan (Haderanie,HN)
فَمَنْ
تَوَجَّهَ اِلَى رُوْحِهِ مِنْ قَلْبِهِ فَقَدْ يَنْكَشِفُ لَهُ مَا فِى حَضْرَةِ الرُّبُوْبِيَّةِ
مِنَ الْاَسْرَارِ فَيَصِلُ بِذلِكَ اِلَى مَعْرِفَةِ رَبِّهِ بِالْمَعْرِفَةِ الشُّهُوْدِيَّةِ
لِاَنَّ حَقِيْقَةَ الرُّوْحِ الْاِنْسَاانِيِ كَالْمِرْاَةِ لِتِلْكَ الْحَاضِرَةِ
لِمَا فِيْهِ مِنَ الْقُوَّةِ الْعَقْلِيَّةِ الَّتِى هِيَ جَوْهَرٌ اِلهِيٌّ فَمَنْ
كَشَفَ ذلِكَ الْجَوْهَر رَاَى فِيْهِ جَمِيْعَ صِفَاتِ اللهِ وَاَسْمَائِهِ وَذَاتِ
تَعَالَى بِالْاِنْطِبَاخِ الظِّلِّيِّ وَرَاَى فِيْهِ اَيْضًا جَمِيْعَ الْوُجُوْدَاتِ
الْعَقْلِيَّةِ وَالْحِسِّيَةِ* سرج الطالبين رقم 396
Barang siapa tawajjuh
(menghadapkan) dari hatinya kepada ruhnya sendiri, maka niscaya terbuka
untuknya apa yang ada pada khadarat Ketuhanan dari segala rahasia. Maka ia akan
sampai kepada ma’rifat Tuhannya dengan ma’rifat syuhudi (penyaksian). Sebab
hakikat ruh kemanusian itu adalah seperti cermin untuk khadarat Ketuhanan itu
yang padanya terdapat kekuatan pikiran aqal yang murni yang merupakan seperti
mutiara. Siapa yang terbuka baginya Mutiara itu, dia dapat melihat semua
rahasia sifat-sifat Allah, rahasia nama-namaNya dan rahasia DzatNya. Dengan
tersisihnya bayangan dan dia melihat pula semua keadaan pikiran dan
pengindraan.
وَاَمَّا كَيْفِيَّةُ الْمُرَاقَبَةُ
فَاَنْ يَكُوْنَ السَّالِكُ طَاهِرَ الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ والْمَكَانِ حَاضَرَ الْقَلْبَ
مَعَ اللهِ مَرْفُوْعًا عَنِ الْوُسَاوِسِ والْخَيَالَات. مَحْفُوْظًا عَنْ سَائِرِ
الْمَشُوْشَاتِ يَجْلِسُ (اي جلوس الخدمة اَوْ جلوس الدرجة اَوْ جلوس التقديم اَوْ عَلَى رُكْبَتَيْهِ) مُسْتَقْبِلَ
الْقِبْلَةِ غَامِضِ الْعَيْنَيْنِ مُتَبَرِّئًا عَنْ حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ نَاسِيًا
جَمِيْعَ عِلْمِهِ وَمَعْرِفَتِهِ ......
كَيْفِيَّةُ الْاِشْتِغَالِ بِالْوُقُوْفِ
الْقَلْبِيِّ اَنْ يُجَرِّدَ السَّالِكُ لَوْلَا عَقْلَهُ مِنْ جَمِيْع الْاِدْرَاكَاتِ
ثُمَّ يَعْطَلُ جَمِيْعَ قُوَّاهُ وَحَوَّاسِهِ عَنِ الْاَحْكَامِ ثُمَّ يَسْلُخُ نَفْسُهُ
عَنِ الْهَيْكَلِ الْجِسْمَنِى وَبَعْدَ ذَالِكَ يَوَجُّهُ بِالْبَصِيْرَةِ اِلَى حَقِيْقَةِ
الْقَلْبِ عَلَى طَرِيْقِ الْاِسْتِغْرَاقِ وَالْاِسْتِهْلَاكِ وَيُدَاوَمُ عَلَى ذَالِكَ
فَكُلَّمَا يَزْدَادُ تَوَجُّهُهُ اِلَى حَقِيْقَةِ الْقَلْبِ تَزْدَادُ مَعْرِفَتُهُ
لِرَبِّهِ* سرج الطالبين
Cara melaksanakan wuquf qalby
seorang Salik harus mengkosongkan dahulu semua pemikiran-pemikirannya, kemudian
melemaskan seluruh kekuatannya/tenaganya dan penginderaannya dari semua sifat
penginderaan. Lalu melepaskan nafsunya untuk mengerakkan organ tubuhnya.
Setelah itu pandangan mata hatinya berhadap kepada hakekat hati menurut ajaran
“istigrak dan istihlak” secara terus menerus. Maka bila tawajjuhnya meningkat kepada hakekat
hati itu, maka bertambah pulalah ma’rifatnya kepada Tuhannya Yang Maha Suci.
وَصُوْرَةُ اُخْرَى مِنَ الْوُقُوْفِ
الْقَلْبِيِّ وَاَنْ تَوَجَّهَ السَّالِكُ اِلَى قَلْبِهِ ثُمَّ يَتَصَوَّرُ رُوْحَهُ
فِى قَلْبِهِ نُوْرًا مَحْضًا لَا نِهَايَةَ يَتَصَوَّرُ فِى حَقِّ رُوْحِهِ النُّوْرَ
اِلَى صُوْرَةِ بَدَنِهِ وَصُوَرَ الْعَالَمِ كالطَّيْرِ فِى الْهَوَاءِ وَيَتَصَوَّرُ
رُوْحَهُ مُحِيْطًا بِتِلْكَ الصُّوَرِ مُحَاطَةً
وَصُوْرَةُ اُخْرَى مِنَ الْوُقُوْفِ
الْقَلْبِيِّ وَاَنْ تَوَجَّهَ السَّالِكُ اِلَى دَائِرَةِ الْقَلْبِ بَعْدَتَجْرِيْدٍ
عَنِ الْشَوَاغِلِ ثُمَّ يًلَاحَظُ بَدَنَهُ فِى وَسَطِ تِلْكَ الْدَائِرَةِ كَالْكُرَّةِ
وَيُخِيْلُ رُوْحَهُ
Cara yang lain tentang
wuquful qalby ialah bahwa seorang salik bertawajjuh mengarahkan pandangan mata
hatinya kedaerah hati. Setelah ia (salik) mengosongkan segala macam kesibukan
atau keruwitan lalu memandang mengamati
tubuhnya pada titik tengah daerah hati itu seperti bola dan selanjutnya dia
khayalkan rohnya menembus lapisan-lapisan langit dan bumi.
DAFTAR
PUSTAKA :
(1). Syaikhul Kiram ‘Alimul Allamah Imam al
Qusyairi dalam kitabnya Ar Risalah Qusyairiyah fi ilmi Tasawuf halaman 76 menulis tentang Musyahadah
(2).Ibid halaman 78
(3).Makalah Risalah ‘Uqdatul Jama’ah Thariqat
Junaidiyah Bingkisan Ikatan Hati Dalam Perjalanan Thariqat Junaidiyah, tanpa
Penerbit, tahun 1998M halaman 43.
(4).Kamus Arab Indonesia oleh Prof.DR.Mahmud Yunus,
Penerbit PT. Hidakarya Agung Jakarta Halaman 206.
(5).Risalah
Qusyairiyah fi limit Tasawuf oelh Abdul Karin bin Hawazin al Qusyairi an
Naisyaburi halaman 75
(6).Artikel “Belajar Ilmu Tasauf Maqam Musyahadah” Mitrasantri diterbitkan 18
Oktober 2011
(7).Kitab “Sirâjut Thâlibîn” Juz 1 Syekh Ihsân
ibn Dahlân al-Jamfasî al-Kadîrî al-Jâwî seorang ulama besar Nusantara asal
Jampes, Kediri (Jawa Timur), (dikenal dengan nama Syekh Ihsan Jampes, w. 1952
M), yang merupakan komentar dan penjelasan (syarh) atas kitab tasawuf “Minhâjul
‘Âbidîn” karangan Hujjah al-Islâm al-Imâm al-Ghazzâlî (w. 1111 M) –ttg
tingkatan Muraqabah halaman 394 dan 396
(8).Al
Qur’an dan Terjemahannya Juz 1- Juz 30 Departemen Agama, Penerbit Mekar
Surabaya tahun 2002M
(9).Kitab
Shahih Muslim Juz Pertama oleh Imam Abi Husain Muslim bin al Hajjaj penerbit
Maktabatu Dahla halaman 37
(10).Artikel
Macam – Macam Ahwal (5) Musyahadah. Dalam perspektif tasawuf
https://peradaban14islam.wordpress.com
› 2011/04/16
16
Apr 2011 — Macam – Macam Ahwal (5) Musyahadah. Dalam perspektif tasawuf,
musyahadah berarti melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun,
... pada taggal 10/12/21
(11).Artikel Rifqisubuh wordpress ttg
“Musyahadah”, diakses dari
https://rifqisubuh.wordpress.com/2017/06/07/musyahadah/
tanggal7 Juni 2017 16 pukul 18.32 WIB
(12).Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf yang
ditulis oleh Dr. Mustafa Zahri penerbit PT. Bina Ilmu Surabya Tahun 1998
Halaman 235
(13).Buku Ilmu Ketuhanan Ma’rifah, Musyahadah,
Mukasyafah, Mahabbah 4(M) oleh KH. Haderani HN, penerbit CV. Amin Surabaya tahu
1998M
(14).Artikel “Belajar Ilmu Tasauf Maqam Mukasyafah” Mitrasantri diterbitkan 18
Oktober 2011
BAB TENTANG MUQABALAH
Kitab Ar Risalah Umdatul Hasanah lil jama’ah att thariqah al
Junaidiyah …… Benteng Pertahanan thariqah al Junaidiyah di susun oleh Al
Habib H.Hasan Baseri, S.Ag Bin H.
Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf
BAB. IX
PEMBAHASAN HAL MUQABALAH
A.Pengertian Muqabalah
Secara etimologi, muqabalah
berasal dari kata قبال - يقبل - قبل
atas wazan -يفعل – فعل
فعال
merupakan bentuk dari tsulasi
mujarrad yang berarti menerima atau mengambil.
Adapun kata مقابلة merupakan bentuk
masdar dari kata قَابَلَ يُقَابِلُ- فَهُوَ مُقَابَلةً dengan tambahan alif
atas wazan يفاعل- فاعل yang
arti dasarnya adalah
القى
yang berarti menjumpai / pertemuan, atau bermakna berhadapan. Sedangkan مقابلة secara isim masdar bermakna المالقاة
yang berarti sesuatu yang
berhadapan dan المعارضة yang berarti perbandingan.
Adapun secara terminologi
menurut Imil Badi’ Ya’qub dan Misyal ‘Asyi dalam kitab al-Mu’jam al-Mufassal fi
al-Lughah wa al-Adab memberikan definisi bahwa muqabalah merupakan bagian dalam
Ilmu Badi’ yaitu mendatangkan dua makna yang
bersesuaian kemudian didatangkan kata yang berlawanan dengannya sesuai
dengan urutan.” Seperti dalam syair:
مَا أَحْسَنَ
الدِّيْنَ وَالدُّنْيَا إِذَا اجْتَمَعَا وَ أَقْبَحَ الْكُفْرَ وَإلْفَالِسَ فِي الرَّجُلِ
“Indahnya agama dan dunia
bila keduanya terpadu. Alangkah buruknya kekufuran dan kemiskinan bila ada pada
diri seseorang.”
Pada syā’ir di atas, dapat dilihat bahwa kata أقبح berlawanan dengan kata أحسن ,kata الكفر berlawanan dengan kata الدين ,sedangkan kata اإلفالس berlawanan dengan kata الدنيا.
Muqabalah merupakan salah satu bentuk keindahan al-Qur’an dari segi makna. Muqabalah tidak sama dengan antonim. Akan tetapi, muqabalah menyejajarkan dua kata terlebih dahulu kemudian mendatangkan makna yang berlawanan.
Sebagai contoh:
اُولئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلَي رَبِّهِمْ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُوْن عَذَابَهُقلي اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا* الاسراء 57
Artinya : “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. al-Isra’/17: 57)
Kata yarjuna (mengharap) dan kata rahmatuhu (rahmat) adalah dua kata yang memiliki makna berdekatan, kemudian disejajarkan dengan dua kata yang berlawanan, yaitu kata yakhafuna (takut) dan kata ʻadzabahu (siksa) yang juga memiliki kata berdekatan. Penggunaan ayat al-Qur’an yang menggunakan uslub muqabalah banyak dijumpai pada surah-surah pendek. Hal ini dikarenakan surah-surah tersebut umumnya menceritakan tentang bagaimana Allah mengistimewakan orang-orang yang beriman dan menghinakan orang-orang yang durhaka kepada-Nya.
B.Kaum Sufi Selalu merasa
bersama Allah Swt
Muqabalah berarti perjumpaan atau
pertemuan seorang Hamba dengan Tuhannya pada setiap waktu, tempat dan keadaan,
baik berjumpa dengan af’al-Nya, Sifat-Nya. Asma-Nya ataupun dengan Dzat-Nya.
Menurut ajaran thariqat Junaidiyah al Bagdadiyah salah satu hak dari Allah Swt
terhadap hambanya adalah Hal Muqabalah (حَالُ الْمُقَابَلَةِ). Disini seorang
Salik merasakan selalu bertemu dengan Af’al Allah Swt, selalu berjumpa dengan
Asma Allah Swt, selalu berjumpa dengan Sifat-sifat Allah Swt dan merasa selalu
berhadap-hadapan dan mesra dengan Dzat Wajibal Wujud Swt. Oleh karenanya salah
satu yang harus dilalui bahkan dilazimi setiap saat oleh Salik dalam menjalani
Thariqat Junaidiyah, ia selalu mesra dan berjumpa dengan Tuhannya.
Pertemuan dan perjumpaan dengan
Tuhannya di dua Alam ini, alam Sugra dan alam Kubra telah/ sedang & akan
terjadi, Apabila Salik PTJ dalam keadaan
Tawajjuh Muthlaq setiap saat. Sedangkan Allah Swt telah bertajalli pada
Hayatnya. Bila Tawajjuhnya sudah mantap,
Tawajjuhnya sudah tahqiq maka Salik PTJ
selalu meresa berjumpa dengan Tuhannya, baik yang ia jumpai itu Af’al-Nya, atau yang ia jumpai itu Asma-Nya, atau juga yang ia jumpai itu Sifat-sifatnya Allah Swt bahkan merasa
bertemu dengan DZAT-Nya.
Firman Allah Swt pada surat al
Baqarah ayat 115 yang berbunyi :
وَلِلَّهِ
الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا
فَثَمَّ وَجْهُ اللهِط اِنَّ اللهَ وَاسِعُ عَلِيْمٌ* البقرة 115
Artinya : “Dan kepunyaan Allah lah
apa saja di Timur hingga Barat, oleh karenanya kemana saja kamu memalingkan
mukamu, maka disanalah Wujud Allah, sesunguhnya Allah amat luas karunia-Nya dan
ilmu-Nya”. QS. Al Baqarah 115.
Dalam bahasa lain bahwa hal
Muqabalah ini dapat dirasakan tatkala Salik PTJ mempanakan dirinya, melenyapkan
Batang Tubuhnya, mempanakan Hatinya, dan
Rohnya yakni sifat : Qadirun, Muriidun,
A’limun, Samii’un, Bashiirun, Hayyun dan Mutakallimun. Dalam ilmu Tauhid bahwa 7 sifat ini disebut sifat
Ma’anawiyah (اَلصِّفَاتُ الْمَعَانَوِيَّةُ).
Dikala itu Salik PTJ benar-benar rasa
bersama Allah, baik Af’al, Asma atau Sifat-sifat-Nya.
قَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُنْ مَعَ اللهِ .... الحديث
Artinya : Nabi kita Muhammad Saw
telah bersabda : “Hendaklah kamu (selalu) bersama Allah ……Al Hadis
Hadis diatas memerintahkan kepada
kita agar supaya Salik selalu bersama dengan Allah Swt, baik bersama dengan
Af’al-Nya, atau rasa bersama dengan Asma-Nya, atau bersama deng an
Sifat-sifat-Nya.
Kitab Ar Risalah Umdatul Hasanah lil jama’ah att thariqah al
Junaidiyah …… Benteng Pertahanan thariqah al Junaidiyah di susun oleh Al
Habib H.Hasan Baseri, S.Ag Bin H.
Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf
C.Ayat-ayat yang
Mengacu kepada Muqabalah
a.Firman Allah Swt
QS Al Baqarah ayat 186
berbunyi :
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ
قَرِيْبٌ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِلا فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا
بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ* البقرة 186
Artinya : ….”Dan apabila Hamba-hamba Ku, bertanya
kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka
sesungguhnya Aku dekat. Aka kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia
berdo’a kepada Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (Perintah) Ku dan beriman
kepda Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” QS Al Baqarah 186
b.Firman Allah Swt
QS Qaf ayat 16 berbunyi :
وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
... ق 16
Artinya : ….” Dan Kami lebih dekat kepadanya (Manusia)
dari pada pembuluh darah yang ada di lehernya”
QS Qaf 16
c.Firman Allah Swt
QS Al Hadid ayat 4 berbunyi :
وَهُوَ
مَعَكُمْ اَيْنَمَا كُنْتُمْ .... الحديد 4
Artinya : ….”Dan Dia (Allah) bersamamu dimana saja
kamu berada”. QS Al Hadid 4
d.Firman Allah Swt
QS Al Ankabut ayat 5-6 berbunyi :
مَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ اللهِ فَاِنَّ
اَجَلَ اللهِ لَأتٍ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ*وَمَنْ جَاهَدَ فَاِنَّمَا يُجَاهِدُ
لِنَفْسِهِقلي اِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ* الانكبوت 5-6
Artinya : ….”Barang siapa mengharap pertemuan dengan
Allah, maka sesungguhnya waktu (yang
dijanjikan) Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui.” Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk
dirinya sendiri. Sungguh Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh
alam. QS Al Ankabut ayat 5-6
D.Para Kaum Sufi selalu Rasa
berjumpa dengan Allah Swt
Dzikir adalah makanan utamanya Roh Sanubari
Manusia. Oleh karenanya stiap gerak dan diamnya Salik semestinya tidak lepas
dari Dzikrullah. Ia mengata dalam hatinya, ia menyebut dalam hatinya kalimat
“laa ilaa ha illallah”, atau mengata kaliamt “illallah-illallah” atau menyebut
kaliamt “Allah-Allah”. Salik PTJ pasti berharap dan akan berjumpa Tuhannya,
baik berjumpa di alam Sugra ataupun berjumpa di alam Kubra. Pertemuan itu pasti
terjadi dan mereka rasakan, mungkin juga rasa berjumpa dengan Af’al Tuhannya,
atau rasa bertemu dengan Asma Tuhannya, atau juga rasa berhadap-hadapan dengan
sifat-sifat-Nya di kdua alam tersebut.
Firman Allah Swt pada surat
Al Kahfi ayat 110 yang berbunyi :
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ
عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادِةِ رَبِّهِ اَحَدًا* الكهف
110
Artinya : “Barang siapa yang
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan Amal yang
Saleh dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dalam beribadat kepada Tuhannya akan seseorang.” QS al Kahfi 110 :
Untuk mencapai “pertemuan
dengan Allah Swt” secara harfiah menurut
ayat diatas, ada beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan antara lain :
a.Istiqamah dan sabar dalam
menjalankan ibadah shalat lima waktu, dan ….
b.Mengerjakan amal saleh
sebagai wujud sifat kehambaan
c.Menafikan 7 sifat yang ada
dalam Dirinya (Sifat Ma’nawi) yaitu : Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’a,
Bashar dan Kalam, termasuk batang tubuhnya sehingga yang ada dirasakan Af’al,
Asma. Sifat dari Allah Swt semata. Inilah yang dikehendaki Rasa berjumpa dengan
Tuhannya atau Muqabalah.
Firman Allah pada Surat Ar
Ra’du ayat 2 yang berbunyi :
يُدَبِّرُ الْاَمْرَ يُفَصِّلُ الْأَيَاتِ لَعَلَّكُمْ
بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ* الرعد 2
Artinya :… Allah Swt mengatur
akan perkara-perkara, hal keadaannya juga menjelaskan tanda-tanda kekuasaanNya.
Modah-modahan kamu pasti menjumpaiNya dengan yakin.” QS. Ar Ra’du 2
Salik yang selalu berjumpa
dan bertemu dengan Allah Swt, baik perjumpaan dengan Af’al Allah, atau
pertemuan dengan Asma Allah Swt, atau pertemuan dengan Sifat-sifat-Nya. atau
rasa berhadap-hadapan dengan Wajibal Wujud setiap saat. Allah Swt sangat suka
menjumpai Hamba-hambaNya, tetapi siapa yang benci menemui Allah maka Allah pun
sangat benci menemuinya.
Dalam Kitab Hadis As Sunan At
Tirmidzi pada Jilid IV halaman 139 ada dikatakan bahwa Rasulullah Saw telah
bersabda yang berbunyi :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : مَنْ اَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ اَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهِ وَ مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ
اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ* رواه الترمذي
Artinya : Rasulullah Saw
telah bersabda bahwa “Barangsiapa menginginkan (sangat menyukai) berjumpa
dengan Allah, maka Allah lebih suka menjumpainya. “Barangsiapa benci bertemu
dengan Allah, maka Allahpun benci menemuinya.” HR. At Tirmidzi.
Salik akan dapat mencapai
Ma’rifat dengan Allah Swt, ia akan bertemu dengan Allah, atau ia akan merasa berhadap-hadapan dengan
Tuhannya (muqabalah) bila tawajjuhnya mantap dan benar dan juga tahqiq.
Ma’rifat dengan Allah Swt
akan dialami oleh Salik bila ia pana terlebih dahulu dengan Gurunya atau pada
(Syekhnya), Pana dengan Gurunya adalah
awal pana dengan Tuhannya. Salik lebih dahulu lebur- sirna perasaannya pada
Gurunya, disini ia benar-benar merasakan Dirinya Ghaibah yang digantikan oleh
Gurunya yang hadir waktu itu, maka ia rasa Syekhnyalah yang beramal…….
Jadi yang dirasakan Salik
yang ada adalah Diri Gurunya… Begutulah Pana fi syekh, fana ini terjadi dari pada Guru/ Syekh ke
Guru/ Syekh hingga Fana pada Rasulullah Saw …
Kaidah menyebutkan bahwa :
قَوْلُهُ لَا فَاعِلَ اِلَّا الشَّيْخُ اَوْ
لَا فَاعِلَ اى عَلَى الْاِطْلَاقِ اِلَّا نُوْرُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ
Artinya : Perkataannya “Tiada
ada jenis perbuatan yang berbuat kecuali perbuatan Syekh. Atau “Tiada ada jenis
yang berbuat melainkan Nur Muhammad Saw.”
Disini Salik benar-benar
pana-lenyap pada Af’al Gurunya hingga nanti Salik benar-benar pana-lenyap pada
Af’alnya Nur Muhammad Saw hingga ia nantinya ia juga pana dengan Allah Swt.
Kaidah menyatakan bahwa
tentang Pana pada Af’alnya Allah Swt :
لَا فَاعِلَ اِلَّا اللهُ تَعَالَى
Maksudnya : “Tiada yang
berbuat secara muthlaq kecuali perbuatan Allah semata.”
Barangkali inilah yang
dikehendaki oleh Penyusun Umdatul Jama’ah biqalami Firdaus pada haalaman ke 13
dari maksud perkataan Imam al Junaid al Bagdadi Rahimahullah yang berbunyi :
اَوْ لَيْسَ لِيْ فِعْلٌ مَعَ اللهِ لِاَنَّ
ظَاهِرَ كُلَّهُ نَفَى غَيْرَ اللهِ وَهَدَمَ التَّكْلِيْفَ كُلَّهُ(1)
Maksudnya : “Tidak ada satu
perbuatan pun Saya miliki beserta Allah, karena sesungguhnya semua perbuatan
yang zahir telah lenyap-hilang selain perbuatan Allah semata. Maka disini
gugurlah-binasalah pembebanan semuanya.”
(1). كتاب الرسالة عمدة الجمعة
بقلم فردوس 130
Hal keadaan demikian Salik
dikatakan telah ber muqabalah dengan Tuhannya, telah berjumpa dengan Af’al
Allah, telah bertemu dengan Asma Allah, bahkan ia telah berhadapan dengan
Sifat-sifat Allah. Salik benar-benar tidak dapat menghadirkan wujud Dirinya, ia
benar-benar ghaibah, ia merasa gerak diamnya minnah Allah semata.
E. Salik yang Mencari dan
Mendapatkan Rasa Muqabalah dengan Tuhannya
Kalau boleh kita contohkan
orang yang mendapatkan rasa muqabalah dengan Tuhannya, kalau boleh kita
amsalkan terhadap orang yang memperoleh rasa pertemuan dengan Khaliknya setiap
saat, Salik dapat mempanakan dirinya, Salik bisa meleburkan dirinya, Salik bisa
melenyapkan wujud dirinya. Dengan jalan bertawajjuh Muthlaq yang benar dan
mantap. Manakala wujud diri Salik pana, tatkala Batang Tubuh dan Hatinya
diserahkan, batang tubuh dan hatinya digantikan Allah Swt. Maka panalah Salik,
lenyap dan leburlah ia pada wujud Allah Swt. Ia merasa bingung, siapakah
sebenarnya yang ada, apa sebenarnya yang dicari ? Semoga jawabannya didapatkan
melalui contoh berikut ini :
Saat itu Salik pana, ia
bagaikan seekor Ikan Gabus yang sedang mencari air. Sang Ikan ini berenang
kesana kemari dengan susah payah mencari Air. Namun air yang dicari rasanya belum
ia dapatkan. Namun ia merasakan kepayahan yang luar biasa. Pada akhirnya ia
bertemu dengan si Tunggul Air (Kayu kecil yang tertanam di dasar Sungai yakni
tempat ikan-ikan bersembunyi). Kata si Tunggul Air : “Hai sang Ikan, apa yang
kau cari ? Kau kelihatannya lelah sekali.” Jawab Sang Ikan Gabus : “Aku selama
ini telah berenang kesana kemari dengan susah payah, untuk mencari Air, namun
air yang aku cari rasanya belum kutemukan.” Mendengar pengakuan Sang Ikan itu,
si Tunggul Air tertawa terbahak-bahak. Katanya “kau ini lucu sekali”. Kata si
Tunggul Air : “Coba kau tenangkan dirimu (coba kau panakan dirimu, coba kau
lenyapkan wujud dirimu) Ka
u pasti akan menemukan Air
yang Kau Impikan selama ini “ !!!!!
Barulah Sang Ikan Gabus
sadar, bahwa air yang ia cari sedemikian dekatnya, barada padanya dan meliputi
seluruh Dirinya. Kemana saja ia berhadap ber (muqabalah) namun selalu ada.
Bahkan tiada tempat namun Air selalu menempatinya.”
Allah Swt telah berfirman QS.
Ali Imran ayat 120 yang berbunyi :
اِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ* ال
عمران 120
Artinya : “Sesungguhnya Allah
dengan sesuatu yang mereka kerjakan itu (amat mengetahui) meliputi.”
Allah Swt telah berfirman QS.
An Nisa ayat 126 yang berbunyi :
وَكَانَ
اللهُ بِكُلِّ شَيْئٍ مُحِيْطًا* النساء
126
Artinya : ….“Adalah Allah Swt
dengan sesuatu itu amat meliputi” QS. An Nisa 126
Kitab Ar Risalah Umdatul
Hasanah lil jama’ah att thariqah al Junaidiyah (Benteng Pertahanan
thariqah al Junaidiyah) di susun oleh Al Habib
H.Hasan Baseri,S.Ag Bin H. Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf
F.Salaik Menjumpai Tuhannya Melalui Diri Sesamanya
Firman Allah Swt Qur’an
Surat. Al Baqarah 115 ini telah mengacu pertemuan Salik dengan Tuhannya, yakni
Allah ajja wajalla.
فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ*
البقرة 115
Artinya : “Kemana saja Engkau
meghadapkan (memalingkan) wajahmu, maka disanalah Wujud Allah”. QS. Al Baqarah
115.
Salaik PTJ mesti merasakan
menjumpai Tuhannya melalui Diri sesama lainnya. Ayat tersebut menjelaskan
kepada kita bahwa “Kemana saja Salik menghadapkan wajahnya, maka ia merasa
selalu berhadap-hadapan dengan Tuhannya”. Menurut pengertian hakekat ia pasti
menjumpai Af’al Tuhannya, Asma Tuhannya atau menjumpai dengan Sifat-sifat
Tuhannya. Perjumpaan ini di alaminya di alam Sugra ataupun di alam Kubra.
Nabi Musa
berhasrat/berkeinginan melihat wajah Tuhannya, Allah berkata kepada Nabi
Musa “ لَنْ تَرَانِيْ“
Engkau (Hai Musa) tidak bisa melihat Aku, selama Engkau mengklaim atau
menganggap wujud dirimu ada (hadir). Firman Allah :
“وَهُوَ
مَعَكُمْ اَيْنَمَا كُنْتُمْ”
Artinya : ”Dan Dia (Allah)
bersamamu dimana saja kamu berada”. Firman Allah juga pada surat Al Isra ayat
60 yang berbunyi : “اِنَّ رَبَّكَ اَحَاطَ بِالنَّاسِ“Artinya : “Sesungguhnya Tuhanmu, Allah
meliputi semua Manusia.”
Dalam Hadis tentang Muqabalah
yakni “perjumpaan dengan Tuhannya” Salik PTJ di alam Kubra (di luar dirinya)
menjumpai Af’al, Asma dan Sifat-sifat Allah Swt secara hakekat. Rasulullah Saw
bersabda : Allah Swt telah berfirman dalam hadis Qudsi :
يَا عَبْدِيْ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِيْ فَيَقَوْلُ
: يَا رَبِّ كَيْفَ اَعُوْذُكَ وَاَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ ؟ فَيَقَوْلُ اللهُ
: اَمَا اِنَّهُ مَرِضَ عَبْدِيْ فُلَانٌ فَلَمْ تَعُدْهُ فَلَوْ عُدْتُهُ لَوَجَدْتَنِيْ
عِنْدَهُ ثُمَّ يَقُوْلُ يَا عَبْدِيْ اِسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمَنِيْ ثُمَّ
يَقُوْلُ : اِسْتَسْقِيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِيْ* الحديث القدسي
Artinya : “Hai Hambaku, Aku
telah jatuh sakit, Engkau tidak mengunjungi Ku, Hamba berkata “Bagaimana Hamba
mengunjungi Mu sedang Engkau Tuhan pemelihara sekalian alam. Tuhan berfirman :
“ Hamba Ku (yang bernama) Fulan sedang sakit, kamu tidak mengunjunginya, jika
kamu kunjungi dia, kamu temui dia Aku (Alllah) disisihnya. Begitu juga Aku
minta makan, kamu tidak memberi makan,
Aku juga minta minum, kamu tidak memberi minum.” Al Hadis Qudsi.
Hadis diatas menjelaskan
bahwa Manusia di muka Bumi ini adalah khayali atau adanya Hamba adalah wahmi
(sangka-sangka) sahaja. Dia bagaikan Fata Morgana dari kejauhan terlihat dengan
jelas wujudnya, tetapi manakala didekati tidak ada wujudnya.
Keberadaan Salik atau
keberadaan Hamba di dunia ini laksana bayang-bayang, bahkan hukumnya sama
dengan bayang-bayang, maka yang ada secara hakekat hanya Allah Swt semata.
Berkata Ulama Sufi Syekh Syasytari dalam syair berbunyi :
*اَلْخَلْقُ خَلْقُكُمْ وَالْاَمْرُ
اَمْرُكُمْ* فَاَيُّ شَيْئٍ اَنَا لَكُنْتُ مِنْ ظِلَلٍ*
*مَا لِلْحِجَابِ مَكَانٌ
فِي وُجُوْدِكُمْ* اِلَّا بِسِرِّيِّ حُرُوْفِي اُنْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ*
Artinya : “Segala mahluk
adalah hikmatMu, dan segala Roh adalah rahasiaMU, Bagaimana saja keadaanku
(Hamba) tetap hukumnya bayang-bayang.” “Tidak ada hijab yang dapat melindungi
Engkau, kecuali hijab qahriyah yang terdapat pengertiannya di dalam rahasia perkataanMu,
lihatlah Gunung itu.”
*اَنْتُمْ دَلَلْتُمْ عَلَيْكُمْ
مِنْكُمْ وَلَكُمْ* دَيْمُوْمَةٌ عَبَّرَتْ عَنْ غَامِضِ الْاَزَلِ*
*عَرَفْتُ بِكُمْ هَاذَا
الْخَبِيْرَ بِكُمْ* اَنْتُمْ هُمْ يَا حَيَاةَ الْقَلْبِ يَا اَمَلِي*
Artinya : “Engkau menunjukkan
atas dirimu, petunjuk datang dari pada Mu, bagiMu perbendaharaan, isyarat yang
mengungkapkan berita azali. Kumiliki pengetahuan untuk mengenal Engkau dengan
petunjukMu, Engkaulah hakekat mereka, ya Tuhanku idaman hati.”
Segala Kainat, atau segala
Akwan selalu dekat dengan Allah Swt, yang dimaksud dekat disini bukanlah dekat
musafah (perantaraan), tetapi dekat didalam syuhud. Si Salik merasa
berhadap-hadapan dengan Tuhannya, baik dengan Af’al Allah atau dengan Asma
Allah atau juga dengan ta’aluq Sifat Ma’ani yang senantiasa berlaku kepada
semua kainat (اَلْكَائِنَاتُ) tanpa ada yang
melindungi..
Semoga semua keterangan
diatas dapat membantu Salik PTJ untuk
lebih memahami tentang Hakekat Muqabalah terhadap Allah swt, hingga timbul rasa
selalu bertemu Allah Swt, selalu rasa berjumpa dengan Tuhannya setiap saat
benar-benar dirasakan. Aamiin Allahumma Aamiin !
Kitab Ar Risalah Umdatul Hasanah lil jama’ah att thariqah al
Junaidiyah (Benteng Pertahanan thariqah al Junaidiyah) di susun oleh Sayyid H.Hasan Baseri,S.Ag Bin H. Muhammad Barsih
bin Ahmad Baderi Assegaf
Referensi :
1.Kamus Arab Indonesia oleh Prof.DR.Mahmud Yunus,
Penerbit PT. Hidakarya Agung Jakarta Halaman 206.
2.Risalah Qusyairiyah fi limit Tasawuf oelh Abdul Karin
bin Hawazin al Qusyairi an Naisyaburi halaman 75
3. Artikel “Siapa
Golongan Ahli Musyahadah?” oleh Muhammad Ali As-Sammaniyyah, //
https://web.facebook.com/MohdAliAtan/posts/siapa-golongan-ahli-musyahadah-menurut-para-arifbillah-ahli-musyahadah-ialah-mer/10233363752383135/?_rdc=1&_rdr#
4.Artikel “Belajar Ilmu Tasauf Maqam Musyahadah” Mitrasantri diterbitkan 18
Oktober 2011
5.Artikel “Belajar Ilmu Tasauf Maqam Musyahadah” Mitrasantri diterbitkan 18
Oktober 2011
6.Artikel Mayasari, Lutfiana Dwi, Ajaran Pokok Tasawuf :
Maqaamat dan Ahwal, diakses dari
http://lutfianamayasari.blogspot.co.id/2015/05/ajaran-pokok-tasawuf-maqaamat-dan-ahwal.html
tanggal 22 November 16 pukul 18.32 WIB.
7.Artkel Senali, Moh Saifulloh, Risalah Memahami Ilmu Tasawuf, Surabaya : Terbit Terang, 1998.
8.Artikel H.A. Rivay Siregar, Tasawuf : dari Sufisme
Klasik ke Neo-Sufisme, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999.
[9] H.A. Rivay Siregar, Tasawuf : dari Sufisme Klasik ke
Neo-Sufisme, 1999, Jakarta : Raja Grafindo Persada, hlm. 138.
[10] Moh Saifulloh
Senali, Risalah Memahami Ilmu Tasawuf, 1998, Surabaya : Terbit Terang, hlm. 57.
[11] Lutfiana Dwi Mayasari, Ajaran Pokok Tasawuf :
Maqaamat dan Ahwal, diakses dari http://lutfianamayasari.blogspot.co.id/2015/05/ajaran-pokok-tasawuf-maqaamat-dan-ahwal.html
tanggal 22 November 16 pukul 18.32 WIB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar