Rabu, 13 Juni 2018

Bab. VIII "Hal Musyahadah" Kitab "al Risalah Umdatul Hasanah Lil Jama’ah


BAB. VIII 

PEMBAHASAN MUSYAHADAH

Catatan  2. : Kitab "Risalah Umdatul Hasanah lil Jama'ah at Thariqah al Junaidiyah (sebagai Benteng Pertahanan  Thariqat al Junaidiyah  II )" memuat 8 macam Pak Mata Pelajaran untuk menyempunakan Syahadat Tauhid yang dituangkan risalah tersebut.

DAFTAR ISI BAB.VIII

A..PEMBAHASAN HAL MUSYAHADAH

1.Pengertian Musyahadah

2. Musyahadah Menurut Arti Istilah

B. PENJELASAN TENTANG MUHADHARAH, MUKASYAFAH & MUSYAHADAH

C. PEMBAGIAN MUKASYAFAH DALAM KONTEKS THARIQAT SUFI

1 .Mukasyafah Rububiyah

2.Mukasyafah Ghaibiyah

D. Arti Mukasyafah Menurut Ulama sufi

E. Ada sepuluh macam Isolasi atau Hijab atau Dinding hati manusia

F. Ada tiga derajat musyahadah, yaitu:

1. Tingkatan Musyahadah

2. Tahapan-tahapan dalam Musyahadah.

a.Mati tabi’i

b.Mati ma’nawi

c.Mati suri

d.Mati Hissi

3.Penegaskan Tentang Hal al Mukasyafah


BAB. VIII 

PEMBAHASAN HAL MUSYAHADAH


A..PEMBAHASAN TENTANG HAL MUSYAHADAH

1.Pengertian Musyahadah

Arti Musyahadah (المشاهدة)  pada konteks thariqat adalah penyaksian langsung mata hati (bashirah) terhadap kehadiran atau keagungan Allah Swt, merupakan tingkatan tertinggi setelah muhadharah (kehadiran hati) dan mukasyafah (penyingkapan hijab). Ini adalah puncak pengalaman spiritual sufi di mana ego manusia hilang, digantikan dengan penyaksian hakikat ilahiah.

Sebelum kita membahas tentang musyahadah mari kita lihat makna kata شَاهَدَهُ atau kata الشَّاهِدُ Imam al Qusyairi dalam kitabnya Ar Risalah Qusyairiyah menulis tentang 

ويريدون بلفظ الشاهد مايكون حاضر قلب الانسان , وهو ماكان الغالب عليه ذكره حتى كاَنَّهُ يراه ويبصره وان كان غائبا عنه, فكل ما يستولي ذكره على قلب صاحبه فهو يشاهده, فان كان الغالب عليه العلم فهو يشاهد العلم وان كان الغالب عليه الوجد فهو يشاهد الوجد* رسالة القشيرية.

Mereka menginginkan, dengan lafadz (الشاهد) itu adalah apa yang ada (yang hadir) dalam hati manusia, yang paling mungkin disebutkan, bahkan jika dia melihatnya dan melihatnya, dan jika dia tidak ada darinya, jadi apa pun yang dia ingat di hati pemiliknya, dia memperhatikannya, dan jika orang yang diliputi oleh pengetahuan sedang menyaksikan pengetahuan, dan jika orang yang mengatasinya menyaksikan jiwa.

وَمَعْنَى : اَلشَّاهِدُ الْحَاضِرُ, فَكُلُّ مَا هُوَ حَاضِرٌ قَلْبُكَ فَهُوَ شَّاهِدُكَ.

Adapun  makna kata Syaahidu (اَلشَّاهِدُ) yaitu Hadir (berada ditempat), setiap seuatu yang disaksikan yaitu  hadir  berada dihatimu maka hadir itulahkesaksianmu.

سئل الشبلي عن المشاهدة, فقال : من اين لنا  مشاهدة الحقّ ؟ الحقُّ لَنَا شَاهِدٌ, اَشَارَ بِشَاهِدِ الْحَقِّ اِلَى المستولي عَلَى قَلْبِهِ, وَالْغَالِبُ عَلَيْهِ مِنْ ذِكْرِ الْحَقِّ, وَالْحَاضِرُ فِى قَلْبِهِ دَائِمًا مِنْ ذِكْرِ الْحَقِّ, وَمَنْ حَصَلَ لَهُ مَعَ مَخْلُوْقٍ تَعَلَّقَ بِالْقَلْبِ. فَيُقَالُ : اِنَّهُ شَاهِدُهُ يَعْنِى اَنَّ قَلْبَهُ حَاضِرٌ, فَاِنَّ الْمَحَبَّ تُوْجَبُ دَوَامَ ذِكْرِالْمَحْبُوْبِ واستيلائه عَلَيْهِ, وبعضهم تكلَّف فَى مُرَاعَاةٍ هذَا الْاشتقاق, فَقَالَ : اِنَّ مَا سمي الشِّاهدُ مِنَ الشَّهَادَةِ. فَكَاَنَّهُ اِذَا طَالَعَ شَخْصًا بِوصْفِ الْجَمَالِز فَاِنْ كَانَتْ بَشَرِيَّتُهُ سَاقِطَةً عَنْهُ. وَلَمْ يشغله شهود ذلك الشخص عما هو به من الحال ولا اثرت فيه صحبته بوجه فهو شاهد له على فناء نفسه,

Al-Shibli ditanya tentang kesaksian, dan dia berkata: Dari manakah kita menyaksikan Kebenaran? Kebenaran adalah saksi bagi kita. Dia menunjuk pada kesaksian Kebenaran kepada orang yang telah menguasai hatinya, dan yang berkuasa atasnya karena mengingat Kebenaran, dan yang selalu hadir di hatinya karena mengingat Kebenaran. Dan siapa pun yang memiliki hal ini pada makhluk, maka hal itu melekat pada hati. Dikatakan bahwa dia adalah saksi, artinya hatinya hadir, karena Sang Kekasih membutuhkan ingatan yang terus-menerus akan Sang Kekasih dan kendali penuh atasnya. Beberapa orang telah berusaha keras untuk mengamati penafsiran ini.

Dia berkata: Saksi disebut saksi karena kesaksiannya. Jadi, jika dia melihat seseorang dengan deskripsi keindahan, dan kemanusiaannya telah hilang darinya, dan kesaksian orang itu tidak mengalihkannya dari keadaannya, dan pergaulannya tidak memengaruhinya dengan cara apa pun, maka dia adalah saksi bagi orang itu atas kehancuran dirinya sendiri.

ومن اثر فيه ذلك فهو شاهد عليه فى بقاء نفسه وقيامه باحكام بشريته, اما شاهد له شاهد له او شاهد عليه,  وَعَلَى هذَا حمل قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم : رَاَيتُ رَبِّيْ لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ فِى اَحْسَنِ صُوْرةٍ. اي اَحْسَنِ صُوْرةٍ رَاَيْتُهَا تلكَ اللَّيْلَةَ, لَمِ تَشْغِلُنِيْ عَنْ رَاَيْتُهُ تَعالَى, بَلْ رَاَيْتُ الْمُصَوِّرَ فِى الصُّوْرَةِ والمنشئ فى الاشياء. ويزيد به رؤية العلم لا ادراك البصر* رسالة القشيرية.

Dan siapa pun yang terpengaruh oleh hal ini adalah saksi atas keberlangsungan hidupnya dan pemenuhan tuntutan kemanusiaannya. Ia adalah saksi untuknya atau saksi yang menentangnya. Inilah makna sabda Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya: "Aku melihat Tuhanku pada Perjalanan Malam dalam wujud yang paling indah." Artinya, wujud terindah yang kulihat malam itu tidak mengalihkan pandanganku dari-Nya, Yang Maha Tinggi. Sebaliknya, aku melihat Sang Pencipta dalam wujud dan Pencipta segala sesuatu. Dan ini semakin diperkuat oleh penglihatan ilmu, bukan oleh persepsi penglihatan.* (Surat Al-Qushayri).


2. Musyahadah Menurut Arti Istilah

Musyahadah dalam istilah sufiah adalah keadaan hati (bathin) hamba itu melihat merasakan berhadapan dengan Allah Taala. Ia merasakan Allah Ta’ala itu ibarat berada dihadapannya. 

Musyahadah adalah kata kerja Arabnya yaitu     : (شَاهَدَهُ – يُشَاهِدُ – فَهُوَ مُشَاهَدَةً)

Artinya : “melihat, memandangnya”(1).

Jadi Musyahadah menurut istilah adalah isim masdar yang maknanya yakni Penyaksian seorang hamba terhadap wujudnya Allah Swt. Penyaksian kepada wujudnya Allah Swt  oleh seorang hamba disini, yakni si hamba melihat kepada adanya  dua alam yaitu alam Kubra dan alam Sugra. Adapun Alam Sugra yang dimasud yaitu wujud manusia itu sendiri, Alam yang kedua yaitu Alam Kubra, alam Kubra disini adalah Alam Jagat raya ini.Melalui kedua alam inilah  si Hamba Pengamal Thariqat al Junaidiyah (PTJ) menyaksikan wujud Allah Swt dan kekhadirannya pada diri si Hamba tsb.

اَلْمُشَاهَدَةُ هِيَ حَضُوْرُ الْحَقِّ مِنْ غَيْرِ بَقَاءِ تَهِمَّةٍ(2

Maksudnya  : “Musyahadah adalah hadirnya Al Haq (Allah Swt) dengan tiada persangkaan atau hilangnya rasa sangka-sangka”.

Dari segi bahasa musyahadah itu berasal dari rumpun kata (شَهِدَ - شَاهَدَ)Syahida-Shaahada yang mempunyai arti bersaksi, menyaksikan.oleh karna itu seseorang belum dapat untuk dikatakan sebagai seorang islam jika orang tsb belum menyatakan akan dua kalimat shahadat. Didalam bermusyahadah ini juga sangatlah di butuhkan sebab segala peristiwa atau kejadian itu yang pertama di tanyakan adalah adanya penyaksian atau saksi. Untuk penyaksian ini lebih tinggi tingkatanya dari yang kedua tadi, maksudnya saksi.

Musyahadah berarti penyaksian, kenyataan pandang atau kesaksian. Maksud dari Musyahadah ialah penyaksian batin yang jelas tanpa ragu mengenai apa yang disaksikan setelah mulai penelitian yang sungguh teliti (muraqabah) da tersingkapnya rahasia (mukasyafah). Thariqat Sufi mengambil latihan ini untuk dipakai sebagai sarana latihan supaya memperoleh penyaksian murni bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad itu Rasul utusan-Nya. Musyahadah dalam kegiatannya, menggunakan sarana hati (bashirah) dan kepekaan rasa yang halus/ lathifah (Syukeri 1998M)

Imam al-Junaid mengutip surah al-A’raf ayat 172, ayat yang terkenal dengan mitsaq (perjanjian primordial). Perjanjian primordial secara sederhana diakatakan sebagai perjanjian yang bersifat privat antara sang makhluk dan khaliqnya, antara manusia dengan Tuhannya. Tidak ada pihak lain yang mengintervensi perjanjian itu bahwa  Allah berfirman  yang berbunyi  :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ. الاعراف 172

Artinya : “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). QS. al-A’raf ayat 172,

Dengan menggunakan ayat mitsaq tersebut, al-Junaid juga menjelaskan konsep awal ruh sebelum diciptakannya tubuh / jasad. Atau dengan kata lain tentang keadaan ruh di alam lain. Ia berkata bahwa Allah mempunyai hamba pilihan yang menjadi kekasihnya. Menjadikan jasad mereka duniawi dan ruhnya nur. Pemahamannya bersifat arasyi, akalnya menjadi hijab, tidak mempunyai tempat berlindung kecuali kepada Allah, tidak punya tempat kecuali di sisi Allah. Mereka adalah yang diwujudkan dan didudukkan di sisi Allah sejak zaman azali. Ketika Allah memanggil mereka sebagai tanda penghormatan, mereka segera datang. Mereka paham panggilan itu dan Allah mengenalkan diri kepada mereka di saat belum ada. Allah memindahkan mereka dengan kehendakNya. Mereka dijadikan seperti atom (sangat kecil sekali). Diwujudkan menjadi makhluk. Kemudian dimasukkan dalam tulang rusuk Adam. Lalu Allah berfirman: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Allah mengabarkan bahwa dia berbicara dengan mereka. Padahal mereka belum ada kecuali diwujudkan olehNya. Mereka wujud karena Allah, bukan karena dirinya. Maka disanalah al-Haq bertemu dengan al-Haq, betul-betul wujud yang tidak mampu dimengerti kecuali oleh Allah sendiri. 

Firman Allah Swt surat Ali Imran ayat 18 yang berbunyi   :

 شَهِدَ اللهُ اَنَّهُ لَااِلهُ اِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَاُوْلُوْا الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَااِلهُ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ* ال عمران 18

Artinya : Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia para Malaikat dan para Ilmuwan yang tegak berdiri dengan keadilannya (juga menyaksikan pernyataan itu) tidaka ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana.”

Akan tetapi kata musyahadah disini berarti penyaksian, yang berartikan bahwa suatu pandangan batin setelah adanya mukasyafah atau terbukanya penutup maka terjadi sebagai suatu penyaksian yang tidak diragukan lagi Untuk mencapai pada tingkatan musyahadah ini seseorang harus terlebih dahulu bersungguh-sungguh dengan  sepenuh hati demi untuk mengamalkan akan ajaran-ajaran tasawuf itu sendiri untuk naik meningkatkan maqam berikutnya. Didalam pengertian musyahadah seseorang yang terjun di dunia sufi rasanya sulit untuk mencapai pada tingkatan musyahadah ini tanpa adanya usaha atau upaya niat sungguh-sungguh.


B. PENJELASAN TENTANG MUHADHARAH, MUKASYAFAH & MUSYAHADAH

Imam al Qusyairi dalam kitabnya Ar Risalah Qusyairiyah halaman 75 menulis tentang Muhadharah, Mukasyafah dan Musyahadah. Imam al Qusyairi dalam kitabnya Ar Risalah Qusyairiyah halaman 75 menulis tentang :

المحاضرة والمكأشفة والمشاهدة, المحاضرة حضور القلب, ثم بعدها المكأشفة وهي حضوره بعنت البيان, ثم المشاهدة وهي حضورالحقِّ من غير بقاء تهمة, فاذا صحت سماء السرّ عن غيوم الستر فشمس الشهود مشرقة عن برج الشرف.

Artinya : (الْمُحَاضَرَةُ) Ceramah, (الْمُكَاشَفَةُ) pengungkapan, dan (الْمُشَاهَدَةُ) kesaksian. Muhadharah adalah kehadiran hati, kemudian Mukasyafah adalah kehadirannya dengan kejelasan ekspresi, lalu Musyahadah adalah kehadiran kebenaran tanpa tuduhan yang tersisa. Jadi, jika langit rahasia telah terbebas dari awan penyembunyian, maka matahari kesaksian bersinar dari menara kehormatan.

وحق المشاهدة ماقاله الجنيد رحمه الله : وجود الحق مع فُقْدَانِكَ, فصاحب المحاضرة مربوط باَيته, وصاحب المكأشفة مبسوط  بصفاته, وصاحب المشاهدة ملقى بذاته, وصاحب المحاضرة يهديه عقله, وصاحب المكأشفة يدنيه اى يقرَّبه علمه, وصاحب المشاهدة تمحوه معرفته.

Artinya : Dan (حَقُّ الْمُشَاهَدَةِ) Hak untuk bersaksi adalah apa yang dikatakan oleh Al-Junaid, semoga Allah merahmatinya: Keberadaan Kebenaran ada bersama kerugianmu. Maka (صَاحِبُ الْمُكَاشَفَةِ) orang yang diberi ceramah terikat oleh ayat-ayatnya, orang yang diberi wahyu diperluas oleh sifat-sifatnya, dan orang yang diberi kesaksian dijatuhkan oleh hakikatnya. Orang yang diberi ceramah dibimbing oleh akalnya, orang yang diberi wahyu didekatkan oleh ilmunya, dan orang yang diberi kesaksian dihapus oleh ilmunya.

ولم يزد فى بيان تحقيق المشاهدة احد على ماقاله عمرو بن عثمان المكي رحمه الله, معنى ماقاله أنه تتوالى انوار التجلي على قلبه من غير ان يتخللها ستر وانقطاع كما لو قدّراتصال البروق فكما أن اليلة الظلماء بتوالي البروق فيه* رسالة القشيرية.

Artiya : Tidak ada seorang pun yang menambahkan apa pun pada pernyataan tentang terwujudnya visi tersebut selain apa yang dikatakan oleh Amr bin Uthman Al-Makki, semoga Allah merahmatinya. Makna dari apa yang beliau katakan adalah bahwa cahaya manifestasi terus datang ke hatinya tanpa terhalang atau terputus, seolah-olah kilat itu terus menerus, seperti malam yang gelap diterangi oleh kilatan kilat yang beruntun.

Dr. Fakhruddin Faiz menyatakan bahwa Musyahadah menurut Imam Junaid al Bagdadi    :

Musyahadah berarti menyaksikan Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan mata kepala.

Musyahadah menurut al Junaid adalah jenis  pengetahuan tentang  yang ghaib dengan media mata bathin (al-asrar).musyahadah merupakan penjangkauan alam ghaib dengan medium kebeningan cahaya yang masuk kedalam hati sebagai buah kebersihan hati dari segala sesuatu selain Allah dan konsentrasi  himmah kepada Allah.


C. PEMBAGIAN MUKASYAFAH DALAM KONTEKS THARIQAT SUFI

Sebelum Penyusun menjelaskan tentang hal musyahadah, maka terlebih dahulu kami bahas tentang Mukasyafah (الْمُكَاشَفَة), sebab lentaran Mukasyafah maka terjadilah musyahadah. Lentaran musyahadah maka terjadilah muqabalah (rasa bertemu atau rasa berjumpa dengan Allah Swt.  Mukasyafah disini ada dua macam bentuk yaitu : 

1.Mukasyafah Rububiyah  (اَلْمُكَاشَفَةُ الْرُّبُوْبِيَّةُ)

2.Mukasyafah Ghaibiyah  (الْمُكَاشَفَةُ الْغَيْبِيَّةُ)  

1 .Mukasyafah Rububiyah  (اَلْمُكَاشَفَةُ الْرُّبُوْبِيَّةُ)

Musyahadah dalam istilah sufiah adalah keadaan hati (bathin) hamba itu merasakan berhadapan dengan Allah Taala. Ia merasakan Allah Taala itu ibarat berada dihadapannya. Tetapi bukanlah hakikatnya demikian karena mustahil dan tidak akan terjadi Allah Taala berada di hadapannya karena Allah Taala bukan massa yang mengambil ruang. Artinya hanya ia merasakan hampirnya ke Allah Taala, ingat dia dengan kebijakan Syuhud dzauq, maka merasailah seolah-olah Allah Taala itu berhadap-hadapan dengannya. Musyahadah itu adalah nampaknya Allah Swt pada hambanya dimana seorang hamba itu tidak melihat apapun didalam beribadah itu adalah dalam pengertian umum,melainkan dia hanyalah berkeyakinan bahwa dirinya telah berhadapan langsung dengan Allah Swt. Oleh karena dia tidak lagi memperhatikan apa-apa di dlam beribadah,karena saking asiknya dia berkeyakinan bahwa Allah Swt telah berada di sampingnya,maka dirinya sendiri tidak di hiraukan lagl.

Berpijak dari uraian tersebut di atas bahwa sesungguhnya musyahadah itu merupakan tindak lanjut dari ajaran ihsan yang telah mengajarkan mengenai konsep ibadah yang sesungguhnya dengan satu ukuran,'' seakan-akan seorang hamba itu benar-benar melihat Allah Swt atau Allah Swt telah melihat dirinya. Karena adanya Mukasyafah Rububiyah.

Yang dimaksud Mukasyafah Rububiyah  yaitu terbukanya tirai ma’rifat ketuhanan atau mukasyafah tersingkafnya tirai ketuhanan atau terbukan dinding penutup ketuhanan. Mukasyafah Rububiyah  adalah semata-mata pemberian Allah Swt  yang dilimpahkan kepada Hamba-Nya, ini terjadi karena karunia dan rahmat kasih saying-Nya Allah Swt. Tentu saja Hamba itu banyak ibadahnya, banyak dzikirnya dan banyak shalawatnya dan menjaga hubungan baik dengan Allah Swt, menjaga hubungan baik dengan sesame manusia dan dengan makluk  lainnya.

Semoga Allah selalu melimpahkan Kementapan Batin PTJ  Iman, Islam dan Ihsan dan juga Istiqamah, tekun menjalankan sifat-sifat kehambaan dengan melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, selalu tenggalam dalam lautan  keesaan-Nya,  selalu dan selalu dalam pelukan cinta  kasih dan rahmat-Nya yang Agung.

Dengan terbukanya tirai, atau hijab yang menutupi mata hati atau  mata hati atau  menghalangi syuhud pandangan seseorang PTJ, sehingga PTJ dapat  melihat, dapat menangkap segala rahasia Al Haq dapat diketahui. Dan yang lebih jauh lagi si PTJ merasa melihat Tuhan pada kedua Ala mini yakni Alam Sugra dan  Alam Kubra. Hal ini terjadi karena ketajaman mata batin yang dianugrahkan Allah Swt kepadanya PTJ yakni Pengamal Thariqat Junaidiyah.

Dalam tafsir Al Qur’an al Qurtuby dikatakan baha :

فَيُكْشِفُ الْحِجَابُ فَيَنْظُرُوْا اِلَيْهِ فَوَ اللهِ مَااَعْطَاهُمُ اللهُ شَيْئًا اَحَبَّ اِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ وَلَا أَقُرُّ لِاَعْيُنِهِمْ  (تفسير الفرطبى)

Artinya : Maka terbukalah hijab atau dibukakan penutup, lalu mereka melihat kepada-Nya, maka demi Allah, tidaklah pernah Allah memberikan atau menganugrahkan kepada mereka sesuatu yang amat menyenangkan mereka kecuali Penglihatan itu /Mukasyafah.

Secara logis semua itu akan menimbulkan suatu bukti-bukti tertentu yang dapat dilihat  dengan nyata dan jelas. Ini terjadi apabila Mukasyafah Rububiyah ini telah menancap dengan benar pada hati sanubari seorang Hamba, khususnya bagi PTJ (Pengamal Thariqat Junaidiyah) yang begitu dekat dengan Tuhannya yaknia Allah Swt. Seorang Hamba yang begitu dekat dengan Tuhannya  dan juga selalu bersifat kehambaan yang selalu mengerjakan Sunnah Rasul Saw atau mengutamakan thariqat wajib atau melaksanakan rukun Islam yang lima yaitu shalat lima waktu, puasa Ramadhan, Zakat dan Hajji. Allah telah berjanji dan Dia tidak pernah menyalahi janji-Nya.

Sebagaimana Firman Allah surat an Nuur pada ayat 55 yang berbunyi  :

وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوْا الصَّلِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ فَبْلِهِمْ وَلِيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمْ الَّذِيْنَ ارْتَضَ لَهُمْ وَلَا يُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًا. النور 55

Artinya : Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh untuk mengangkat derajat mereka sebagai khalifah-Nya dimuka bumi, sebagaimana Allah mengangkat orang-orang sebelum mereka. Dan Allah akan menetapkan rasa beragama yang sangat diidlai-Nya untuk mereka. Dan juga Allah akan menggantikan rasa takut dengan rasa aman buat mereka. QS An Nur,55.


2.Mukasyafah Ghaibiyah  (الْمُكَاشَفَةُ الْغَيْبِيَّةُ)  

Mukasyafah Ghaibiyah (terbukanya rahasia alam/kegaiban), mukasyafah ghaibiyah adalah tersingkapnya tirai hijab antara hamba  atau Salik dengan Allah Swt yang berkaitan dengan terbukanya rahasia kegaiban alam atau pengetahuan tentang hal-hal gaib

Namun definisi Mukasyafah secara umum artinya tersingkap atau terbuka tirai penutup. Dalam tasawuf, dikataka bahwa mukasyafah ghaibiyah adalah terbukanya tirai kegaiban, di mana seseorang dapat mengetahui hal-hal gaib.

Aku kutip pada sebuah “Artikel” menyebutkan bahwa Syekh Nahrujuri ra berkata, tanda-tanda salik yang mendapat karunia-Nya untuk mencapai hal dalam menuju kehampiran dengan Allah antara lain:

1 - Memandang kurang sempurna dalam ikhlasnya, yakni walaupun senantiasa mengikhlaskan amal-ibadah kepada Allah Ta'ala, tetapi ia masih merasa selalu gundah dan mencampuradukkan ikhlasnya dengan syirik-syirik yang khafi.

2. Lupa dengan segala zikirnya, yakni walaupun sering berzikir, tetapi masih menganggap banyak lupanya pada Allah.

3. Kurang dalam siddiqnya, yakni walaupun telah benar dan ikhlas amal ibadah yang dikerjakan, namun masih merasa kurang sempurna dalam siddiqnya.

4. Segan dalam mujahadah, yakni walaupun mereka telah bersungguh bermujahadah melawan nafsu syahwatnya, tapi selalu menganggap dirinya masih segạn dan malas dalam bermujahadah, dimungkinkan kerana menganggap dirinya belum bersih betul hatinya.

5. Sedikit memelihara dalam fakirnya, walaupun sudah kuat rasa berhajatnya kepada Allah Ta'ala, tetapi masih memandang terlalu sedikit kefakirannya itu dengan apa yang dikehendaki Allah sebenarnya.

Semua tanda-tanda diatas disebabkan kerana kehati-hatian salik. Beruntunglah mereka yang dibimbing dan ditunjukkan liku-liku jalan yang penuh dengan pengalaman dan pengajaran yang penuh dengan hikmat dan keindahan ini.

Kedua golongan (wushul dan salik) di atas adalah ahli musyahadah dan merupakan hamba-hamba terpilih yang dianugerahi nikmat oleh Allah Ta'ala. Adapun maqom orang yang wasililallah (wushul) itu lebih tinggi daripada maqom salik, karena orang-orang wasil telah teguh dan tahqiq musyahadahnya dengan Allah dalam setiap nafasnya.


D.Arti Mukasyafah Menurut Ulama sufi

Ulama sufi berkata, "Mukasyafah artinya jalinan secara rahasia antara dua batin." Maksudnya, mukasyafah adalah salah satu dari dua orang yang saling mencintai, yang mengetahui batin urusan dan rahasia yang satunya lagi. Jalinan ini terjadi secara lembut dan penuh kasih sayang. Jika seorang hamba sampai ke kedudukan ma'rifat, maka seakan-akan dia dapat melihat sifat-sifat kesempurnaan Allah dan keagungan-Nya,   sehingga ruhnya merasakan kedekatan yang khusus, berbeda dengan kedekatan yang bersifat inderawi, sehingga seakan-akan dia bisa menyaksikan disingkapkannya hijab antara ruh dan hatinya dengan Rabb-nya (Mitrasantri 2011)

Yang dimaksud kasyf  menurut Al Ghazali adalah metode pengetahuan melalui sarana kalbu yang bening, atau pemahaman intuitif langsung. kasyf (iluminasi) adalah apa yang tadinya tertutup bagi manusia, atau tersingkap  bagi seseorang seakan ia melihat dengan matanya. Dengan demikian  pengetahuan itu diperoleh dari sumbernya secara langsung, bukan melalui  fikiran atau belajar.

Mukasyafah adalah tersingkapnya tabir yang menjadi kesenjangan antara sufi dengan Allah. Kesenjangan tersebut adalah jarak antara mahluk dengan khaliknya. Sementara itu Kasyf menurut Qaysari adalah penyingkapan hijab. Secara terminologis, kasyf adalah mengetahui makna yang tersembunyi dan realitas dibalik hijab secara wujud,  Penyingkapan-penyingkapan itu sebenarnya merupakan Tajali Nama yang mengurusinya. Dan semuanya berada di bawah Nama Al-Alim. Adapun yang berkaitan dengan duniawi, seperti dalam praktek memberitakan  kejadian-kejadian duniawi yang akan terjadi, termasuk dalam kasf Al Suri,  kasyf ini disebut kasy Ruhbaniyyah, karena mereka mengetahui hal-hal gaib melalui riyadah dan mujahidah mereka. Tetapi para ahli suluk beranggapan bahwa hal itu sebagai al istidraj, yaitu kemunduran derajat, bahkan mereka tidak menanggapinya, karena tujuan mereka  adalah fana' fi l-Lah dan Baqa bil-Lah (Mitrasantri 2011)

Menurut Ulama Sufi bahwa sumber mukasyafah adalah al qalb al insani dan intelek amalinya yang bercahaya yang menggunakan indera ruhaniyah. Karena qalbu manusia memiliki penglihatan, pendengaran dan sebagainya. Sebagaimana diisyaratkan Allah dalam firmannya : "Maka sesungguhnya tidak buta matanya, tetapi yang buta adalah hatinya yang  ada di dalam dada". Dan "Allah telah menutup keatas hati mereka dan  pendengarannya dan penglihatan mereka dengan tirai."

Dan indra ruhaniyyah ini adalah bathin indera jasmani. Ketika tersingkap hijab dimensi ruhani dan dimensi kongkrit maka akan menyatu indera  ruhaniyah dan indera jasmaniyahnya. Dan dia akan mempersepsikan dengan indera ruhanniyahnya. Ruh akan menyaksikan semuanya secara esensial, karena  hakikat yang ada akan menyatu dengan ruh dalam martabatnya dengan  keberadaan yang lengkap dan seluruh hakikat terpadu di dalamnya. Hijab tersebut adalah nafsunya, yang disingkap Allah dengan kekuatan-Nya. Dengan begitu dia akan menyembah-Nya seakan-akan dapat melihat-Nya.  Ada tiga derajat mukasyafah, yaitu:

-Mukasyafah yang menunjukkan penerapan yang benar, yang harus berjalan secara terus-menerus. Hal ini terjadi pada sekali waktu tanpa waktu yang lain, tanpa diselingi suatu pemisahan. Hijab yang tipis bisa terbentang pada kedudukannya, hanya saja hijab itu tidak membuatnya memalingkannya dan meniadakan bagiannya. Ini merupakan derajat orang yang menuju suatu tujuan. Jika berlangsung terus, maka menjadi derajat kedua.

-Mukasyafah yang benar merupakan ilmu yang disusupkan Allah ke dalam hati hamba dan menampakkan kepadanya perkara-perkara yang tidak diketahui orang lain. Namun Allah juga bisa memalingkan dan menahannya karena kelalaian dan membuat tutupan di dalam hatinya. Tapi tutupan ini amat tipis, yang disebut al-ghain. Yang lebih tebal lagi disebut al-ghaim, dan yang paling tebal adalah ar-ran. Yang pertama berlaku bagi para nabi, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Sesungguhnya ada tutupan dalam hatiku, dan sesungguhnya aku memohon ampun kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali (dalam sehari)." Yang kedua berlaku bagi orang-orang Mukmin, dan yang ketiga bagi orang-orang yang menderita, seperti firman Allah, "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (Al-Muthaffifin: 14).

E. Ada sepuluh macam Isolasi Hijab atau Dinding hati manusia 

Ada sepuluh macam Isolasi atau Hijab atau Dinding hati manusiasehingga musyahadah melihat keagungan Af’al, Asma dan Sifat-sifat Allah Swt terhalang :

1.Hijab peniadaan dan penafian hakikat asma' serta sifat. Ini merupakan hijab yang paling tebal. Orang yang memiliki hijab ini tidak mempunyai kesiapan untuk mengetahui Allah dan sama sekali tidak sampai kepada Allah, sebagaimana batu yang tidak bisa naik ke atas.

2.Hijab syirik, yaitu membuat hati menyembah kepada selain Allah.

3.Hijab bid'ah yang bersifat perkataan, seperti hijab orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan berbagai macam perkataan yang batil lagi rusak.

4.Hijab bid'ah yang bersifap ilmiah, seperti hijab para ahli thariqah yang melakukan bid'ah dalam perjalanannya kepada Allah.

5.Hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara batinnya, seperti hijab orang-orang yang takabur, ujub, riya', dengki, membanggakan diri dan lain sebagainya.

6.Hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara zhahir. Hijab mereka lebih tipis daripada hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara batin, sekalipun mereka lebih banyak ibadahnya dan lebih zuhud. Dosa besar secara zhahir lebih dekat kepada taubat daripada dosa besar secara batin. Orang yang melakukan dosa besar secara zhahir lebih bisa diselamatkan dan hatinya lebih baik daripada orang yang melakukan dosa besar secara batin.

7.Hijab orang-orang yang melakukan dosa-dosa kecil.

8.Hijab orang-orang yang berlebih-lebihan dalam hal-hal yang mubah.

9.Hijab orang-orang yang lalai melakukan tujuan penciptaannya dan yang dikehendaki dari dirinya, tidak senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepada Allah.

10.Hijab orang-orang yang berijtihad namun menyimpang dari tujuan.

Inilah sepuluh macam hijab atau isolasi yang mendinding antara hati dengan Allah, menjadi penghalang di antara keduanya. Hijab-hijab ini muncul dari empat unsur: Jiwa, syetan, dunia dan nafsu. Hijab tidak bisa disingkirkan jika unsur-unsur penyebabnya masih ada. Empat unsur inilah yang merusak perkataan, perbuatan, tujuan dan jalan, tergantung dari banyak dan sedikitnya, memotong jalan perkataan, perbuatan dan tujuan untuk sampai ke hati. Sementara apa yang dipotong agar tidak sampai ke hati, juga dipotong agar tidak sampai kepada Allah. Antara perkataan dan perbuatan dengan hati terbentang jarak perjalanan. Seorang hamba menempuh jarak perjalanan itu agar sampai ke hatinya, agar dia bisa melihat berbagai macam keajaiban di sana. Dalam perjalanan ini terdapat banyak perampok jalanan seperti yang sudah disebutkan di atas. Jika dia bisa memerangi para perampok jalanan itu dan amalnya bisa sampai ke hati, maka ia akan menetap di dalam hati, lalu dari hati ini dia akan mendapatkan jendela agar dapat melihat Allah.

Sekalipun perjalanan itu sudah sampai ke hati, namun hamba tidak mendapatkan jendela untuk melihat Allah, bahkan di dalamnya bersemayam nafsu dan pasukannya, sekalipun dia orang yang zuhud dan paling banyak beribadah, maka dia adalah orang yang paling jauh dari Allah. Bahkan orang-orang yang melakukan dosa besar, hatinya bisa lebih dekat dengan Allah daripada mereka. Lihatlah seorang ahli ibadah dan zuhud,yang di keningnya terdapat bekas sujud, tapi justru mengingkari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam karena amalnya yang kelewat batas, sehingga dia pun mencemooh orang Muslim lainnya dan menumpahkan darah para shahabat. Di sisi lain lihat seorang peminum berat,(Orang pertama adalah Dzul-Khuwaishirah At-Tamimy Al-Khariji, dan orang kedua adalah Iyadh bin Himar). yang sering mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan dia pun siap dijatuhi hukuman karena kebiasaannya itu. Karena iman, keyakinan dan kecintaannya kepada Allah serta Rasul-Nya, dia rela menerimanya, sampaisampai beliau melarang orang lain yang memakinya. Dari sini dapat diketahui bahwa orang yang melakukan kedurhakaan lebih baik kesudahannya daripada orang yang melanggar ketaatan.

Perkataan Syech (al-Mursyid), "Mukasyafah yang menunjukkan penerapan yang benar", setiap orang mengaku memiliki kesesuaian yang benar. Tidak ada penerapan yang benar kecuali yang sesuai dengan perintah. Penerapan dalam ilmu ialah pengungkapan yang sesuai dengan apa yang dikabarkan para rasul. Penerapan yang benar dalam kehendak ialah yang sesuai dengan kehendak Allah.

Mukasyafah yang sebenarnya ialah mengetahui kebenaran yang disampaikan Allah kepada para rasul-Nya dan yang diturunkan ke dalam kitab-kitab-Nya, yang dilihat dengan hatinya. Ini pula yang disebut penerapan yang benar. Sedangkan kebalikannya adalah suatu keburukan. Ini merupakan derajat pertama, yaitu derajatnya orang yang menuju ke suatu tujuan. Jika berjalan terus dan teguh hati, maka akan mencapai derajat kedua.

Syaikh berkata, "Sedangkan derajat ketiga adalah mukasyafah mata dan bukan mukasyafah ilmu, yaitu mukasyafah yang tidak membiarkan adanya pertanda yang menimbulkan kelezatan, atau yang menghentikan perjalanan atau yang singgah di satu penghalang. Tujuan dari mukasyafah ini adalah kesaksian."

Derajat ini disebut pengungkapan mata, karena banyaknya cahaya pengungkapan apa yang ada di dalam hati, lalu menggantikan kedudukan ilmu yang tidak mungkin diingkari dan didustakan. Sebagaimana melihat dengan pandangan mata yang tidak bisa dilakukan kecuali adanya kekuatan penglihatan, tidak ada pembatas, tidak gelap dan tidak jauh jaraknya, maka pengungkapan dengan mata hati mengharuskan adanya hati yang sehat dan tidak adanya perintang untuk mengungkap segala rahasianya.

Dalam Kitab Manaqib Nurul Burhan, terdapat 70 wali Allah yang sudah mukasyafah tapi berhasil disesatkan oleh Iblis (seperti pengakuan Iblis kepada Sultan al-awliya Syaikh Abdul Wadir al-jailani). Kedua, mukasyafah adalah bagian dari sebuah proses, bukan tujuan puncak dalam suluk ruhani. Selama mengalami proses mukasyafah, sufi (terutama yang masih di tengah jalan) masih harus menghadapi banyak cobaan dan godaan. Apa yang  elati dari mukasyafah boleh jadi adalah, meminjam bahasa Qur’an, makr (tipu daya Allah). Ia  ela jadi kasyaf syathani, atau khatir syathani. Betul bahwa hati yang suci  ela mendapatkan mukasyafah, tetapi hati yang suci bukan terminal akhir, dan karenanya mukasyafah juga bukan puncak ilmu. Dalam makna wirid- wirid besar tarekat mu’tabarah tersirat bahwa bahkan mukasyafah pun masih  ela disusupi iblis, dan karenanya selalu dibaca istiadzah (sebagian menggunakan wirid shalat istadzah setiap pagi). Kasyaf rabbani memang boleh jadi menjadi isyarat kesucian,tetapi tidak selalu ia bersifat paripurna. Ketiga, seorang yang telah mendapatkan mukasyafah boleh jadi belum mencapai kondisi fana, fana-al-fana, dan baqa. Karenanya, mukasyafah boleh jadi merupakan “hal” atau keadaan spiritual, yang tidak permanen (yang berbeda dengan “maqam” yang  elative permanen). Demikian sedikit tambahan

Dalam konteks hubungan dengan Musyahadah  "Menyaksikan Allah" dan "Seakan-akan menyaksikan Allah", maka ada sejumlah ayat, misalnya ketika Nabi Musa as, berhasrat ingin menyaksikan dan melihat Allah. "Musa as berkata: Ya Tuhan, tampakkan diri Mu padaKu, aku ingin memandangMu." Allah menjawab, "Kamu tidak bisa melihatKu." al-A'raf 143

وَلَمَّا جَاءَ مُوْسَى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْ اُنْظُرْ اِلَيْكَقل قَالَ لَنْ تَرانِيْ* الاعراف 143

Artinya : “Dan ketika Musa dating untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya ”Musa berkata : Ya Tuhanku perlihatkanlah (diri-Mu) kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu. Allah berfirma “Engkau tidak akan (sangguf) melihat Ku” (QS. Al-A’raf : 143).

Dan dia berfirman yang berbunyi :

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ  فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِط اِنَّ اللهَ وَاسِعُ عَلِيْمٌ* البقرة 115

Artinya : “Dan kepunyaan Allah lah apa saja di Timur hingga Barat, oleh karenanya kemana saja kamu memalingkan mukamu, maka disanalah Wujud Allah, sesunguhnya Allah amat luas karunia-Nya dan ilmu-Nya”. QS. Al Baqarah 115.

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْاَرضَ حَنِيْفًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ* الانعام 79

Artinya : "Sesungguh aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) Agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik." (QS.Al-An'aam ayat 79).

Dimaksud dengan "Mata Ilahi" adalah Mata Hati kita, mata batin kita yang diberi hidayah dan 'inayah oleh Allah SWT untuk terbuka da melihat, dan senantiasa di sana hanya Wajah Allah wujud Allah yang tampak, sebagaimana dalam Al-Qur'an. "Alam Kubra atau Alam semesta ini dan juga alam Sugra atau Diri manusia itu sendiri adalah gelap, dan sebenarnya menjadi terang karena dicahayai Allah di dalamnya. Karena itu siapa yang melihat semesta atau Diri manusia itu sendiri, namun dia tidak menyaksikan Allah di dalamnya, atau di sisinya, atau sebelum dan atau tidak memandang Allah sesudahnya, benar-benar ia telah dikaburkan dari wujud Cahaya, dan tertutup dari matahari ma'rifat oleh mendung-mendung duniawi semesta.dan Nafsu itu sendiri"

Dan  hal demikian Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib pernah berkata “            :

قَالَ عَلِيٌّ اِبْنُ اَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  : مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلَّا رَاَيْتُ اللهَ فِيْه

Artinya  : “Tiadala  aku  melihat akan sesuatu itu, melainkan  aku lihat  akan Allah Swt padanya.”

Karena itu soal "Menyaksikan Allah" hubungannya erat dengan tersingkapnya tirai hijab (mukasyafah), yang menghalangi atau osolasi diri hamba dengan Allah, adalah diri hamba itu sendiri, walaupun Allah sesungguhnya tidak bisa dihijab oleh apa pun.

Dan Sayyidina Usman bin Affan berkata “

قَالَ عُثْمًانُ اِبْنُ عَفَّانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  : مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلَّا رَاَيْتُ اللهَ مَعَهُ

Artinya  : “Tiadala  aku  melihat akan sesuatu itu, melainkan  aku lihat  akan Allah Swt besertanya.”

Oleh sebab itu, dalam menggambarkan Musyahadah (penyaksian Ilahi) ini, Rasulullah menggunakan kata, "Seakan-akan", karena mata kepala kita dan mata nafsu kita, keakuan kita pasti tak mampu. Kata-kata "Seakan-akan" lebih dekat sebagai bentuk kata untuk sebuah kesadaran jiwa dan kedekatan hati.Tetapi ketika Rasulullah bersabda,

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الْإِحْسَانِ ؟ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَأِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ * رواه مسلم وغيره

Artinya : Dia kembali bertanya " Ya, Muhammad, khabarkan kepadaku, apakah Ihsan ? Jawab Nabi Saw, Ihsan itu adalah Engkau beribadat kepada Allah seolah-olah Engkau melihat-Nya, maka jiwa Engkau tidak dapat melihat –Nya maka Engkau merasakan/yakin bahwa Dia melihatmu. Kata orang itu, "Engkau benar ya Muhammad." HR. Muslim dll.

Hal ini menunjukkan bahwa sebuah kedekatan atau taqarrub sampai-sampai seakan-akan melihatNya, adalah akibat dari kesadaran kuat bahwa "Dialah yang melihat kita." Kesadaran jiwa bahwa Allah SWT melihat kita terus menerus, menimbulkan pantulan pada diri kita, yang membukakan matahati kita dan sirr kita untuk memandangNya.

Kesadaran menyaksikan dan Memandang Allah, kemudian mengekspresikan sebuah pengalaman demi pengalaman yang berbeda-beda antar para Sufi, sesuai dengan tingkat haliyah ruhaniyah (kondisi ruhani) masing-masing. Ada yang menyadari dalam pandangan tingkat Asma Allah, ada pula sampai ke Sifat Allah, bahkan ada yang sampai ke Dzat Allah. Lalu kemudian turun kembali melihat Sifat-sifatNya, kemudian Asma'-asmaNya, lalu melihat semesta makhlukNya. Lalu kita perlu mengoreksi diri sendiri lewat perkataan Abu Yazid al-Bisthamy, "Apa pun yang engkau bayangkan tentang Allah, Dia bertempat, berwarna, berpenjuru, bertempat, bergerak, diam, itu semua pasti bukan Allah SWT. Karena sifat-sifat tersebut adalah sifat makhluk." Kontemplasi demi kontemplasi tanpa bimbingan ruhani seorang Mursyid yang Kamil Mukammil hanya akan menggapai kebuntuan jalan dalam praktek Muroqobah, Musyahadah maupun Ma'rifah.

Bagi mereka yang dicahayai oleh Allah maka digambarkan oleh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam yang maksudnya :

"Telah terpancar cahayanya dan jelaslah kegembiraanya, lalu ia pejamkan matanya dari dunia dan berpaling darinya, sama sekali dunia bukan tempat tinggal dan bukan tempat ketentraman. Namun ia jiwanya bangkit di dalam dunia itu, semata menuju Allah Ta'ala, berjalan di dalamnya sembari memohon pertolongan dari Allah untuk datang kepada Allah. Hamparan tekadnya tak pernah terhenti, dan selamanya berjalan, sampai lunglai di hadapan Hadratul Quds dan hamparan kemeseraan denganNya, sebagai tempat Mufatahah, Muwajahah, Mujalasah, Muhadatsah, Musyahadah, dan Muthala'ah." Ibnu Athaillah menyebutkan enam hal dalam soal hubungan hamba dengan Allah di hadapan Allah, yang harus dimaknai dengan rasa terdalam, untuk memahami dan membedakan satu dengan yang lain. Bukan dengan fikiran:

Mufatahah (المٌفَاتَحَةْ): artinya, permulaan hamba menghadapNya di hamparan remuk redam dirinya dan munajat, lalu Allah membukakan tirai hakikat Asma, Sifat dan keagungan DzatNya, agar hamba luruh di sana dan lupa dari segala yang ada bersamaNya.

Muwajahah (الْمٌوَاجَهَة), artinya saling berhadapan, adalah sikap menghadapnya hamba pada Tuhannya tanpa sedikit dan sejenak pun berpaling dariNya, tanpa alpa dari mengingatNya. Allah menemui dengan CahayaNya dan hamba menghadapnya dengan Sirrnya, hingga sama sekali tidak ada peluang untuk

melihat selainNya, dan tidak menyaksikan kecuali hanya Dia.

Mujalasah (الْمُجَالَسَة), artinya menetap dalam majlisNya dengan tetap teguh terus berdzikir tanpa alpa, patuh tunduk tanpa lalai, beradab penuh tanpa tergoda, dan hamba memuliakanNya seperti penghormatan cinta dan kemesraan agung, lalu disanalah Allah

swt berfirman dalam hadits Qudsi, "Akulah berada dalam majlis yang berdzikir padaKu."

Muhadatsah (الْمُحَادَثَةْ), maknanya dialog, yaitu menempatkan sirr (rahasia batin) dengan mengingatNya dan menghadapNya dengan hal-hal yang ditampakkan Allah pada sirr itu, hingga cahayaNya meluas dan rahasia-rahasiaNya bertumpuan. Inilah yang

disabdakan Nabi saw, "Pada ummat-ummat terdahulu ada kalangan disebut sebagai kalangan yang berdialog dengan Allah, dan pada ummatku pun ada, maka Umar diantaranya."

Musyahadah (الْمُشَاهَدَة), adalah ketersingkapan nyata, yang tidak lagi butuh bukti dan penjelasan, tak ada imajinasi maupun keraguan. Dikatakan, "Syuhud itu dari penyaksian yang disaksikan dan tersingkapnya Wujud."

Muthala'ah (الْمُطَالَعَة), adalah keselarasan dengan Tauhid dalam setiap kepatuhan, ketaatan dan batin, semuanya kembali pada hakikat tanpa adanya kontemplasi atau analisa, dan setiap yang tampak senantiasa muncul rahasiaNya karena keparipurnaanNya.

Syaikh berkata, "Musyahadah artinya runtuhnya secara pasti." Musyahadah inilah yang meruntuhkan hijab dan bukan merupakan wujud dari keruntuhan hijab itu. Runtuhnya hijab diikuti dengan musyahadah.

F. Ada tiga derajat musyahadah, yaitu:

1. Musyahadah ma'rifat, yang berlalu di atas batasan ilmu, dalam cahaya wujud dan berada dalam kefanaan kebersamaan.

Ini merupakan landasan golongan ini, bahwa ma'rifat di atas ilmu. Ilmu menurut mereka adalah pengetahuan tentang data, sedangkan ma'rifat merupakan penguasaan tentang sesuatu dan batasannya. Dengan begitu ma'rifat lebih tinggi daripada ilmu. Ada pula yang mengatakan bahwa amal orang-orang yang berbuat baik berdasarkan ilmu, sedangkan amal orang-orang yang taqarrub berdasarkan ma'rifat. Di satu sisi pendapat ini bisa dibenarkan, tapi di sisi lain dianggap salah. Orang-orang yang berbuat baik dan orang-orang yang taqarrub beramal berdasarkan ilmu memperhatikan hukum-hukumnya. Sekalipun ma'rifatnya orang-orang yang taqarrub lebih sempurna daripada orang-orang yang berbuat baik, toh keduanya sama-sama ahli ma'rifat dan ilmu. Orangorang yang berbuat kebaikan tidak akan menyingkirkan ma'rifat dan orang-orang yang taqarrub tetap mem-butuhkan ilmu. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menasihati Mu'adz bin Jabal, "Engkau akan menemui suatu kaum dari Ahli Kitab. Maka hendaklah seruanmu yang pertama kepada mereka adalah sya-hadat la ilaha Wallah. Jika mereka sudah mengetahui Allah, kabarkan-lah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam." Mu'adz bin Jabal harus membuat mereka tahu tentang Allah sebelum menyuruh mereka mendirikan shalat dan mem-bayar zakat. Tidak dapat diragukan bahwa ma'rifat seperti ini tidak seperti ma'rifatnya orang-orang Muhajirin dan Anshar. Manusia ber-beda-beda dalam tingkat ma'rifatnya.

2. Musyahadah dengan mata kepala, yang memotong tali kesaksian,mengenakan sifat kesucian dan mengelukan lidah isyarat.

Derajat ini lebih tinggi daripada derajat pertama. Sebab derajat perta ma merupakan kesaksian kilat yang berasal dari ilmu mengenai tauhid,sehingga orangnya dapat melihat semua sebab. Sedangkan orang yang ada dalam derajat ini tidak memiliki tali kesaksian, bebas dari sifat-sifat jiwa, dan sebagai gantinya dia mengenakan sifat kesucian serta lidahnya tidak membicarakan isyarat kepada apa yang disaksikannya. Ini merupakan kesaksian wu jud itu sendiri, tanpa disertai kilat dan cahaya, yang berarti derajatnya lebih tinggi.

3. Musyahadah kebersamaan, yang menarik kepada kebersamaan, yang mencakup kebenaran perjalanannya dan menumpang perahu wujud. Menurut Syaikh, orang yang ada dalam derajat ini lebih mantap dalam kedudukan musyahadah, kebersamaan dan wujud serta lebih mampu membawa beban perjalanannya, yang berupa berbagai macam pengungkapan dan ma'rifat.

Sesungguhnya musyahadah yang sempurna dihasilkan apabila telah sempurna suluknya, sempurna mencapai maqam fana Af'al, fana Sifat, fana Asma 'dan fana Zat. Yakni dasarnya adalah, apabila telah sempurna kesucian nafsu yang yang menghalang dari ingatan kepada Allah Taala. Musyahadah adalah terbuka hijab alam bathin dengan Nur Makrifah dan ketika itu tajallilah Zat Allah Taala di alam gaib dan Allah melihat dia di lingkungan dzahir. Dan ketika itu ia melihat rahasia ketuhanan dan ALlah Taala melihat penghambaannya meliputi dzahir dan bathin

Secara umum ajaran Islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah dan batiniah. Pemahaman terhadap unsur kehidupan yang bersifat batiniah tersebut melahirkan tasawuf. Tasawuf pada awal pembentukkannya adalah akhlak atau keagamaan yang diatur dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Banyak tokoh-tokoh yang ada dalam ilmu tasawuf, sehingga banyak pula perbedaan aliran. Tujuan tasawuf  adalah memperoleh hubungan langsung dengan Allah SWT. Tercapainya tujuan bisa kita raih dengan usaha yang panjang dan penuh rintangan. Hal itu bisa di mulai secara bertahap. Di dalam perjalanan menuju Allah tersebut, kaum sufi harus menempuh berbagai tahapan, yang dikenal dengan maqamat dah ahwal. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Maqamat dan ahwal adalah dua hal yang biasa dialami oleh orang yang menjalani tasawuf sebelum sampai pada tujuan.

Menurut Artikel Rifqisubuh  : Pokoknya orang yang ingin mencapai musyahadah kepada Allah hanya akan bisa dicapai dengan mujahadah dan senantiasa taqarrub dengan Allah dan melanggengkan dzikrullah, disertai kebersihan hatinya. Pada hakikatnya musyahadah itu adalah merasakan berhadapan dengan Allah dan bersama Allah atau yang dinamakan “hudlurul qalbi”. Mengingat Allah dengan sepenuh hati, artinya dengan hati yang khusyu’ saat melakukan dzikrullah dan bertaqarrub kepada Allah.

Setelah mencapai musyahadah ini, kemudian menanjak lagi ke tingkat al-Mukasyafah atau terbukanya segala rahasia artinya tiada tertutup lagi sifat-sifat ghoib. Maksudnya terbukalah  rahasia alam ghoib yaitu tiada tertutup dari sifat-sifat ghoib. Setelah itu barulah seseorang dapat mencapai tingkat al-musyahadah. Menurut al Junaidi al Baghdadi “Al Musyahadah adalah nampaknya Al-Haqqu Ta’ala dimana alam perasaan sudah tiada.

1. Tingkatan Musyahadah

Menurut Al Sarraj, musyahadah adalah hal yang tinggi, ia merupakan gambaran-gambaran yang menambah hakikat keyakiinan. Tingginya hal Musyahadah ini ditunjukkan oleh firman Allah, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”. (QS. Qaf :37). Menyaksikan dalam ayat ini berarti menghadirkan hati atau kesaksian hati bukan dengan mata.

Macam-macam Ahwal Musyahadah. Dalam perspektif tasawuf, musyahadah berarti melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan mata kepala. Hal ini berarti bahwa dalam tasawuf, seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya. Sehingga boleh jadi, hanya bagi mereka, Tuhan itu dapat dilihat. Hal ini misalnya tertera dalam permohonan Nabi Musa as untuk melihat Tuhan,

وَلَمَّا جَاءَ مُوْسَى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْ اُنْظُرْ اِلَيْكَقل الاعراف 143

Artinya : “Dan ketika Musa dating untuk (munajat) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya ”Musa berkata : Ya Tuhanku perlihatkanlah (diri-Mu) kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-A’raf : 143). Para Sufi juga meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW dapat melihat Tuhan ketika melakukan Mi’raj.

Menurut Al Sarraj, musyahadah adalah hal yang tinggi, ia merupakan gambaran-gambaran yang menambah hakikat keyakinan. Tingginya hal Musyahadah ini ditunjukkan oleh firman Allah,

اِنَّ فِى ذلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ اَوْ اَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيْدٌ* ق  37

Artinya : “Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”. (QS. Qaf :37). Menyaksikan dalam ayat ini berarti menghadirkan hati atau kesaksian mata hati bukan dengan mata zahir.

Hal Musyahadah ini dapat dikatakan merupakan tujuan akhir dari tasawuf, yakni menemukan puncak pengalaman rohani kedekatan seorang hamba dengan Allah.  Menurut Al Sarraj ahli Musyahadah terbagi atas tiga tingkatan.

1.Tingkat pertama, adalah kelompok Al Ashagir (pemula), yakni mereka yang berkehendak.

2.Tingkat kedua, kelompok pertengahan (Al-Awsath). Dalam pandangan kelompok ini Musyahadah berarti bahwa ciptaannya pada genggaman Yang Haq dan pada kerajaan-Nya.

3.Tingkat ketiga seperti yang diterangkan Al Makki, hati kaum arifin ketika menyaksikan Allah sesungguhnya menyaksikan dengan kesaksian yang kokoh (wordpress.com/2011):

Musyahadah adalah nampaknya Allah pada hambanya dimana seorang hamba tidak melihat sesuatu apapun dalam beribadah, kecuali hanyalah menyaksikan dan meyakini dalam hatinya, bahwa ia hanyalah berhadapan dan dilihat oleh Allah SWT. Dalam beribadah ia tidakmenghiraukan lagi terhadap sesuatu yang disekelilingnya, termasuk dirinya sendiri karena asyiknya berhubungan dengan Allah seakan-akan Allah benar-benar nampak dihadapannya (Wordpress.com/2011)

Menurut Artikel Rifqisubuh  : Seorang akan dapat mencapai musyahadh billah, jikalau ia melakukan mujahadah fil amal dan sebelumnya telah mencapai maqam fana’ atau memunafikkan tujuan lain selain daripada Allah. Ibadahnya hanya semata-mata ditujukan dan dihadapkan kepada Allah dan sama sekali bebas dari unsur riya’.


2. Tahapan-tahapan dalam Musyahadah.

Adapun terjadinya musyahadah adalah dengan adanya nur musyahadah yang terpancar dalam hati seseorang. Dan terjadinya musyahadah ini melalui tiga tahap yaitu :

1.Nur musyahadah pertama, adalah yang membukakan jalan dekat kepada Allah. Tanda-tandanya ialah seorang merasa muraqabah/ berintaian dengan Allah.

2.Nur musyahadah kedua, adalah tampaknya keadaan “adamiah”  yakni hilangnya segala maujud, lebur kedalam wujud Allah dan baginyalah wujud yang hakiki.

3.Nur musyahadah ketiga yakni tampaknya Dzatullah yang maha suci. Dalm hal ini bila seorang telah fana’ sempurna, yaitu diantaranya telah lebur dan yang baqa’ hanyalah wujud Allah.

Musyahadah ini masuk pada hati seorang hamba Allah yang telah melakukan mujahadah fil ibadah dengan cara memfana’kan diri terlebih dahulu, mengikhlaskan dirinya dalam beribadah dan menghilangkan sifat-sifat yang menjadi penghalangnya musyahadatur rabbaniyah. Karena itu ada pula yang mengatakan bahwa musyahadah bisa dicapai melewati pintu mati.jalan yang ditempuh untuk sampai pada musyahadah dengan Allah melalui pintu mati (dalam pengertian matinya nafsu untuk hidupnya hati)dapat ditempuh pada 4 tingkat yaitu :

1.Mati tabi’i

Menurut sebagian ahli thariqat, bahwa mati thabi’i terjadi dengan karunia Allah pada saat dzikir qalbi didalam dzikir lathaif. Dan mati tabi’i ini merupakan pintu musyahadah pertama dengan Allah.

2.Mati ma’nawi

Menurut sebagian ahli thariqat bahwa mati ma’nawi ini terjadi dengan karunia Allah pada seseorang salik saat melakukan dzikir Lathifatur Ruh, dalam dzikir lathaif. Dalam dzikir lathifatur Ruh itu sebagai ilham yang tiba-tiba nur Ilahi terbit dalam hati. Ketika itu penglihatan secara lahir menjadi hilang lenyap dan mata batin menguasai penglihatan (Rifqisubuh 2017M)

Dalam tingkat ini, seseorang salaik telah memasuki fana kedua yang dinamakan fana fis sifat. Sifat kebaharuan dan kekurangan serta Alam perasaan lenyaf/fana dan yang tinggal adalah sifat Tuhan yang semporna dan Azali. قَوْلُهُ : لَا حَيَّ الَّا اللهُ  Tiada hidup selain Allah (Zahri tahun 1998M)

3.Mati suri

Mati suri ini terjadi dengan karunia Allah pada saat seseorang salik melakukan dzikir lathifatus sirri dalam dzikir lathaif. Pada tingkat ketiga ini, seorang salik telah memasuki pintu musyahadah dengan Allah. Ketika itu segala keinsanan lenyap/fana’ alam wujud yang gelap telah ditelan oleh alam ghaib/alam malakut yang penuh dengan nur cahaya. Dalm pada ini yang baqa’ adalah nurullah, nur shifatullah, nur asmaullah, nur dzatullah dan nurun ala nurin. Untuk mencapai keadaan musyahadah seperti tersebut diatas adalah dengan mujahadah, niscaya Allah akan memperbaiki sirnya/hatinya dengan musyahadah. Apabila seseorang telah mendapatkan karunia Allah dengan musyahadah, maka dengan sendirinya akan lenyaplah segala hijab dari sifat-sifat basyariah, nampaknya Allah atau tajalli (Rifqisubuh 2017M)

Dr. Mustafa Zahri dalam bukunya Kunci Memahami Ilmu Tasawuf bahwa pada tingkat ketiga ini (mati suri) seseorang/salaik telah memasuki pintu Musyahadah dengan Allah. Ketika itu segala keinsanan leyap/fana, alam wujud yang gelap (ظُلْمَةٌ) telah ditelan oleh alam Ghaib (عَالَمُ الَمَلَكُوْتِ) yang penuh dengan Nur-Cahaya. Dalam pada ini yang baqa adalah Nurullah semata-mata. Nur Af’al Allah dan Nur Sifat Allah, Nur Asma Allah dan Nur Dzat Allah- Nurun ala nurin Firman Allah :

نُوْرٌ عَلَى نُوءرٍ يَهْدِى اللهُ لِنُوءرِهِ مَنْ يَشَاء*

Artinya “Cahaya atas cahaya Allah mengkurniakan degan NurNya siapa-siapa yang Ia kehendaki”.

لَا مَحْمُوءدَ اِلَّا اللهُ

Artinya “Tidak ada yang dipuji melainkan Allah”

4.Mati Hissi

Seterusnya ialah mati hissi. Mati Hissi ini terjadi dengan karunia Allah pada saat seseorang/salik melakukan dzikir lathifatul Khafi dalm dzikir lathaif. Pada tingkat keempat ini seseorang/salik telah sampai ketingkat yang lebih tinggi untuk mencapai makrifah sebagai maqam tertinggi (Zahri tahun 1998M)

Syaikhul Kiram ‘Alimul Allamah Muhammad Ihsan Dahlan al Jempisi al Kaderi dalam kitabnya Sirajut Thalibin        :

فَقَالَ : اِعْلَمْ اَنَّهُمْ قَالُوْا اِنَّ الْمُرَاقَبَةَ نَسَبَةٌ زَكِيَّةٌ وَعُبُوْدِيَّةٌ خَفِيَةٌ* فَمَنْ تَحَقَّقَ بِهَا نَوَّرَ اللهُ قَلْبَهُ بِنُوْرِ الْمَعْرِفَةِ وَشَرَحَ صَدْرَهُ بِكَشْفِ الْحَقِيْقَةِ*

Maksudnya : Dia berkata: ketahui olehmu bahwanya mereka (Ahli thariqah) telah berkata bahwanya Muraqabah adalah turunan yang suci dan penghambaan yang amat tersembunyi. Maka barangsiapa tahqiq/benar dengan Muraqabahnya maka Allah telah menyinari hatinya dengan cahaya ma’rifah (ilmu ketuhanan) dan melapangkan dadanya dengan tersingkapnya haqiqat ketuhanan*

وَهِيَ (اى اعظم العبادات) مِنَ الطُّرُقِ الْمَوْصِلَةِ اِلَى الْمُشَاهَدَاتِ* وَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ اَنْوَاعٍ : الْاَوَّلُ اِسْتِدَامَةُ الْعِلْمِ بِاطْلَاع الْحَقِّ عَلَيْهِ فِى جَمِيْعِ الْاحْوَال مَعَ مُرَاعَاةِ الْاتباع بِجَمِيْعِ الْاَحْكَامِ* الثَّانِى مُطَالَعَةُ اَثْمَارِ الْاَسْمَاء وَالصِّفَات والْمُسَارَعَة اِلَى اللهِ بِالْوُصُوْلِ بِجَمِيْعِ الْعِبَادَاتِ* الثَّالِثُ

Dan dia (yaitu seagung-agung ibadah) dari jalan menuju ke musyahadah * Dan dia ada pada tiga jenis jalan : pertama keberlanjutan menuntut ilmu untuk menginformasikan kepadanya hak dalam semua kasus, dengan mempertimbangkan pengikut semua putusan * Kedua membaca nama Ithmar dan sifat-sifat Allah dan untuk mempercepat akses ke semua ibadah * Ketiga.

3. Penegaskan Tentang Hal al Mukasyafah

Syaikhul Kiram ‘Alimul Allamah Muhammad Ihsan Dahlan al Jempisi al Kaderi menegaskan bahwa hal itu (al mukasyafah) bersumber dari hadis Rasulullah Saw.

وَهذَا هُوَ الْعِلْمُ الْخَفِيُ الَّذِىْ اَرَادَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقَوْلِهِ : اِنَّ مِنَ الْعلْمِ كَهَيْئَةِ الْمَكْنُوْنِ لَا يَعْرِفُهُ اِلَّا اَهْلَ الْمَعْرِفَةِ بِاللهِ فَاِذَا نَطَقُوْا بِهِ لَمْ يُجْهِلْهُ اِلَّا اَهْلَ الْاِغْتِرَارِ* سراج الطالبين

Dalam hal ini dia adalah ilmu yang amat halus/tersembunyi yang dimaksudkan oleh Rasulullah Saw dengan sabdanya : “Sesungguhnya ilmu itu adalah laksana barang berharga yang tersimpan. Tak ada yang dapat memahaminya kecuali golongan ‘Arif Billah. Bila mereka bicara tentang ilmu itu, tidak ada orang yang menyepelikanknya kecuali berhati lalai (Haderanie,HN)

عِلْمُ الْمُكَاشَفَةِ وَهُوَ نُوْرٌ يَظْهَرُ فِى الْقَلْبِ عِنْدَ تَزْكِيَّةٍ فَتَظْهَرُ بِهِ الْمَعَانِى الْمُجْعَلَةُ فَتَحْصُلُ لَهُ الْمَعْرِفَةُ  بِاللهِ تَعَالَى وَاَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَتَنْكَشِفُ لَهُ الْاَسْتَارُ عَنْ مُخْبِئَاتِ الْاَسْرَارِ* وَفِى الْاِحْيَاءِ مَعَ شَرْحِهِ وَهذه هِيَ الْعُلُوْمُ الَّتِى اُمِرُ بِكِتْمَانِهَا وَاِنَّهَا لَا تَسْطُرُ  فِى الْكُتُبِ لِاَنَّهَا عُلُوْمٌ ذَوْقِيَّةٌ كَشْفِيَّةٌ تُدْرَكُ عَنْ مُشَاهَدَةٍ لَا عَنْ دَلِيْلٍ وَبُرْهَانٍ* سرج الطالبين الجزء الاول  رقم 70

Ilmu Mukasyafah adalah Nur yang nyata dalam hati ketika pembersihannya, maka tampaklah hati itu. Pengertian-pengertian yang menyeluruh merupakan hasil ma’rifatullah ta’ala. Ma’rifat kepada AsmaNya, Sifat-sifatNya, Kitab-kitabNya dan Ma’rifat kepada Rasul-rasulNya dan terbukalah segala tutupan dari segala rahasia-rahasia yang tersembunyi…. Didalam Kitab Ihya beserta penjelasannya mengemukakan “rahasia-rahasia yang terbuka inilah yang diperintahkan menyembunyikannya karena tidak ada tertulis di dalam kitab-kitab. Sesungguhnya hal itu adalah rangkuman segala ilmu dzauky (perasaan) yang terbuka cerah didapat dari Musyahadah tanpa dalil dan keterangan (Haderanie,HN)

فَمَنْ تَوَجَّهَ اِلَى رُوْحِهِ مِنْ قَلْبِهِ فَقَدْ يَنْكَشِفُ لَهُ مَا فِى حَضْرَةِ الرُّبُوْبِيَّةِ مِنَ الْاَسْرَارِ فَيَصِلُ بِذلِكَ اِلَى مَعْرِفَةِ رَبِّهِ بِالْمَعْرِفَةِ الشُّهُوْدِيَّةِ لِاَنَّ حَقِيْقَةَ الرُّوْحِ الْاِنْسَاانِيِ كَالْمِرْاَةِ لِتِلْكَ الْحَاضِرَةِ لِمَا فِيْهِ مِنَ الْقُوَّةِ الْعَقْلِيَّةِ الَّتِى هِيَ جَوْهَرٌ اِلهِيٌّ فَمَنْ كَشَفَ ذلِكَ الْجَوْهَر رَاَى فِيْهِ جَمِيْعَ صِفَاتِ اللهِ وَاَسْمَائِهِ وَذَاتِ تَعَالَى بِالْاِنْطِبَاخِ الظِّلِّيِّ وَرَاَى فِيْهِ اَيْضًا جَمِيْعَ الْوُجُوْدَاتِ الْعَقْلِيَّةِ وَالْحِسِّيَةِ* سرج الطالبين رقم 396

Barang siapa tawajjuh (menghadapkan) dari hatinya kepada ruhnya sendiri, maka niscaya terbuka untuknya apa yang ada pada khadarat Ketuhanan dari segala rahasia. Maka ia akan sampai kepada ma’rifat Tuhannya dengan ma’rifat syuhudi (penyaksian). Sebab hakikat ruh kemanusian itu adalah seperti cermin untuk khadarat Ketuhanan itu yang padanya terdapat kekuatan pikiran aqal yang murni yang merupakan seperti mutiara. Siapa yang terbuka baginya Mutiara itu, dia dapat melihat semua rahasia sifat-sifat Allah, rahasia nama-namaNya dan rahasia DzatNya. Dengan tersisihnya bayangan dan dia melihat pula semua keadaan pikiran dan pengindraan.

وَاَمَّا كَيْفِيَّةُ الْمُرَاقَبَةُ فَاَنْ يَكُوْنَ السَّالِكُ طَاهِرَ الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ والْمَكَانِ حَاضَرَ الْقَلْبَ مَعَ اللهِ مَرْفُوْعًا عَنِ الْوُسَاوِسِ والْخَيَالَات. مَحْفُوْظًا عَنْ سَائِرِ الْمَشُوْشَاتِ يَجْلِسُ (اي جلوس الخدمة اَوْ جلوس الدرجة  اَوْ جلوس التقديم اَوْ عَلَى رُكْبَتَيْهِ) مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ غَامِضِ الْعَيْنَيْنِ مُتَبَرِّئًا عَنْ حَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ نَاسِيًا جَمِيْعَ عِلْمِهِ وَمَعْرِفَتِهِ ......

كَيْفِيَّةُ الْاِشْتِغَالِ بِالْوُقُوْفِ الْقَلْبِيِّ اَنْ يُجَرِّدَ السَّالِكُ لَوْلَا عَقْلَهُ مِنْ جَمِيْع الْاِدْرَاكَاتِ ثُمَّ يَعْطَلُ جَمِيْعَ قُوَّاهُ وَحَوَّاسِهِ عَنِ الْاَحْكَامِ ثُمَّ يَسْلُخُ نَفْسُهُ عَنِ الْهَيْكَلِ الْجِسْمَنِى وَبَعْدَ ذَالِكَ يَوَجُّهُ بِالْبَصِيْرَةِ اِلَى حَقِيْقَةِ الْقَلْبِ عَلَى طَرِيْقِ الْاِسْتِغْرَاقِ وَالْاِسْتِهْلَاكِ وَيُدَاوَمُ عَلَى ذَالِكَ فَكُلَّمَا يَزْدَادُ تَوَجُّهُهُ اِلَى حَقِيْقَةِ الْقَلْبِ تَزْدَادُ مَعْرِفَتُهُ لِرَبِّهِ* سرج الطالبين

Cara melaksanakan wuquf qalby seorang Salik harus mengkosongkan dahulu semua pemikiran-pemikirannya, kemudian melemaskan seluruh kekuatannya/tenaganya dan penginderaannya dari semua sifat penginderaan. Lalu melepaskan nafsunya untuk mengerakkan organ tubuhnya. Setelah itu pandangan mata hatinya berhadap kepada hakekat hati menurut ajaran “istigrak dan istihlak” secara terus menerus. Maka  bila tawajjuhnya meningkat kepada hakekat hati itu, maka bertambah pulalah ma’rifatnya kepada Tuhannya Yang Maha Suci.

وَصُوْرَةُ اُخْرَى مِنَ الْوُقُوْفِ الْقَلْبِيِّ وَاَنْ تَوَجَّهَ السَّالِكُ اِلَى قَلْبِهِ ثُمَّ يَتَصَوَّرُ رُوْحَهُ فِى قَلْبِهِ نُوْرًا مَحْضًا لَا نِهَايَةَ يَتَصَوَّرُ فِى حَقِّ رُوْحِهِ النُّوْرَ اِلَى صُوْرَةِ بَدَنِهِ وَصُوَرَ الْعَالَمِ كالطَّيْرِ فِى الْهَوَاءِ وَيَتَصَوَّرُ رُوْحَهُ مُحِيْطًا بِتِلْكَ الصُّوَرِ مُحَاطَةً

وَصُوْرَةُ اُخْرَى مِنَ الْوُقُوْفِ الْقَلْبِيِّ وَاَنْ تَوَجَّهَ السَّالِكُ اِلَى دَائِرَةِ الْقَلْبِ بَعْدَتَجْرِيْدٍ عَنِ الْشَوَاغِلِ ثُمَّ يًلَاحَظُ بَدَنَهُ فِى وَسَطِ تِلْكَ الْدَائِرَةِ كَالْكُرَّةِ وَيُخِيْلُ رُوْحَهُ

Cara yang lain tentang wuquful qalby ialah bahwa seorang salik bertawajjuh mengarahkan pandangan mata hatinya kedaerah hati. Setelah ia (salik) mengosongkan segala macam kesibukan atau keruwitan  lalu memandang mengamati tubuhnya pada titik tengah daerah hati itu seperti bola dan selanjutnya dia khayalkan rohnya menembus lapisan-lapisan langit dan bumi.


DAFTAR PUSTAKA :

 (1). Syaikhul Kiram ‘Alimul Allamah Imam al Qusyairi dalam kitabnya Ar Risalah Qusyairiyah fi ilmi Tasawuf  halaman 76 menulis tentang Musyahadah

 (2).Ibid halaman 78

 (3).Makalah Risalah ‘Uqdatul Jama’ah Thariqat Junaidiyah Bingkisan Ikatan Hati Dalam Perjalanan Thariqat Junaidiyah, tanpa Penerbit, tahun 1998M halaman 43.

 (4).Kamus Arab Indonesia oleh Prof.DR.Mahmud Yunus, Penerbit PT. Hidakarya Agung Jakarta Halaman 206.

(5).Risalah Qusyairiyah fi limit Tasawuf oelh Abdul Karin bin Hawazin al Qusyairi an Naisyaburi halaman 75

 (6).Artikel “Belajar Ilmu Tasauf  Maqam Musyahadah” Mitrasantri diterbitkan 18 Oktober 2011

 (7).Kitab “Sirâjut Thâlibîn” Juz 1 Syekh Ihsân ibn Dahlân al-Jamfasî al-Kadîrî al-Jâwî seorang ulama besar Nusantara asal Jampes, Kediri (Jawa Timur), (dikenal dengan nama Syekh Ihsan Jampes, w. 1952 M), yang merupakan komentar dan penjelasan (syarh) atas kitab tasawuf “Minhâjul ‘Âbidîn” karangan Hujjah al-Islâm al-Imâm al-Ghazzâlî (w. 1111 M) –ttg tingkatan Muraqabah halaman 394 dan 396

(8).Al Qur’an dan Terjemahannya Juz 1- Juz 30 Departemen Agama, Penerbit Mekar Surabaya tahun   2002M

(9).Kitab Shahih Muslim Juz Pertama oleh Imam Abi Husain Muslim bin al Hajjaj penerbit Maktabatu Dahla halaman 37

(10).Artikel Macam – Macam Ahwal (5) Musyahadah. Dalam perspektif tasawuf

https://peradaban14islam.wordpress.com › 2011/04/16

16 Apr 2011 — Macam – Macam Ahwal (5) Musyahadah. Dalam perspektif tasawuf, musyahadah berarti melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, ... pada taggal 10/12/21

 (11).Artikel Rifqisubuh wordpress ttg “Musyahadah”,  diakses dari

https://rifqisubuh.wordpress.com/2017/06/07/musyahadah/ tanggal7 Juni 2017 16 pukul 18.32 WIB

 (12).Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf yang ditulis oleh Dr. Mustafa Zahri penerbit PT. Bina Ilmu Surabya Tahun 1998 Halaman 235

 (13).Buku Ilmu Ketuhanan Ma’rifah, Musyahadah, Mukasyafah, Mahabbah 4(M) oleh KH. Haderani HN, penerbit CV. Amin Surabaya tahu 1998M

 (14).Artikel “Belajar Ilmu Tasauf  Maqam Mukasyafah” Mitrasantri diterbitkan 18 Oktober 2011




BAB TENTANG MUQABALAH

Kitab Ar Risalah Umdatul  Hasanah lil jama’ah att thariqah al Junaidiyah …… Benteng Pertahanan thariqah al Junaidiyah di susun oleh Al Habib  H.Hasan Baseri, S.Ag Bin H. Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf

 

BAB.  IX

PEMBAHASAN HAL MUQABALAH


A.Pengertian Muqabalah

Secara etimologi, muqabalah berasal dari kata قبال - يقبل - قبل atas wazan -يفعل – فعل  فعال

merupakan bentuk dari tsulasi mujarrad yang berarti menerima atau mengambil.  Adapun kata مقابلة merupakan bentuk masdar dari kata  قَابَلَ يُقَابِلُ- فَهُوَ مُقَابَلةً dengan tambahan alif atas wazan يفاعل- فاعل  yang   arti   dasarnya   adalah  القى    yang berarti menjumpai / pertemuan, atau   bermakna berhadapan. Sedangkan  مقابلة  secara isim masdar bermakna  المالقاة yang berarti sesuatu yang  berhadapan  dan  المعارضة  yang berarti perbandingan.

Adapun secara terminologi menurut Imil Badi’ Ya’qub dan Misyal ‘Asyi dalam kitab al-Mu’jam al-Mufassal fi al-Lughah wa al-Adab memberikan definisi bahwa muqabalah merupakan bagian dalam Ilmu Badi’ yaitu mendatangkan dua makna yang  bersesuaian kemudian didatangkan kata yang berlawanan dengannya sesuai dengan urutan.” Seperti dalam syair:

مَا أَحْسَنَ الدِّيْنَ وَالدُّنْيَا إِذَا اجْتَمَعَا وَ أَقْبَحَ الْكُفْرَ وَإلْفَالِسَ فِي الرَّجُلِ

“Indahnya agama dan dunia bila keduanya terpadu. Alangkah buruknya kekufuran dan kemiskinan bila ada pada diri seseorang.”

Pada syā’ir di atas, dapat dilihat bahwa kata أقبح berlawanan dengan kata أحسن ,kata الكفر berlawanan dengan kata الدين ,sedangkan kata اإلفالس berlawanan dengan kata الدنيا.

Muqabalah merupakan salah satu bentuk keindahan al-Qur’an dari segi makna. Muqabalah tidak sama dengan antonim. Akan tetapi, muqabalah menyejajarkan dua kata terlebih dahulu kemudian mendatangkan makna yang berlawanan. 

Sebagai contoh:

اُولئِكَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ يَبْتَغُوْنَ اِلَي رَبِّهِمْ الْوَسِيْلَةَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُوْن عَذَابَهُقلي اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا* الاسراء 57

 Artinya : “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. al-Isra’/17: 57)

Kata yarjuna (mengharap) dan kata rahmatuhu (rahmat) adalah dua kata yang  memiliki makna berdekatan, kemudian disejajarkan dengan dua kata yang berlawanan,  yaitu kata yakhafuna (takut) dan kata ʻadzabahu (siksa) yang juga memiliki kata  berdekatan. Penggunaan ayat al-Qur’an yang menggunakan uslub muqabalah banyak  dijumpai pada surah-surah pendek. Hal ini dikarenakan surah-surah tersebut umumnya  menceritakan tentang bagaimana Allah mengistimewakan orang-orang yang beriman dan  menghinakan orang-orang yang durhaka kepada-Nya.


B.Kaum Sufi Selalu merasa  bersama Allah Swt    

Muqabalah berarti perjumpaan atau pertemuan seorang Hamba dengan Tuhannya pada setiap waktu, tempat dan keadaan, baik berjumpa dengan af’al-Nya, Sifat-Nya. Asma-Nya ataupun dengan Dzat-Nya. Menurut ajaran thariqat Junaidiyah al Bagdadiyah salah satu hak dari Allah Swt terhadap hambanya adalah Hal Muqabalah  (حَالُ الْمُقَابَلَةِ). Disini seorang Salik merasakan selalu bertemu dengan Af’al Allah Swt, selalu berjumpa dengan Asma Allah Swt, selalu berjumpa dengan Sifat-sifat Allah Swt dan merasa selalu berhadap-hadapan dan mesra dengan Dzat Wajibal Wujud Swt. Oleh karenanya salah satu yang harus dilalui bahkan dilazimi setiap saat oleh Salik dalam menjalani Thariqat Junaidiyah, ia selalu mesra dan berjumpa dengan Tuhannya.

Pertemuan dan perjumpaan dengan Tuhannya di dua Alam ini, alam Sugra dan alam Kubra telah/ sedang & akan terjadi, Apabila Salik PTJ  dalam keadaan Tawajjuh Muthlaq setiap saat. Sedangkan Allah Swt telah bertajalli pada Hayatnya.  Bila Tawajjuhnya sudah mantap, Tawajjuhnya sudah tahqiq maka Salik PTJ  selalu meresa berjumpa dengan Tuhannya, baik yang ia jumpai  itu Af’al-Nya, atau yang ia jumpai  itu Asma-Nya, atau juga yang ia jumpai  itu Sifat-sifatnya Allah Swt bahkan merasa bertemu dengan DZAT-Nya.

Firman Allah Swt pada surat al Baqarah ayat 115 yang berbunyi  :

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ  فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِط اِنَّ اللهَ وَاسِعُ عَلِيْمٌ* البقرة 115

Artinya : “Dan kepunyaan Allah lah apa saja di Timur hingga Barat, oleh karenanya kemana saja kamu memalingkan mukamu, maka disanalah Wujud Allah, sesunguhnya Allah amat luas karunia-Nya dan ilmu-Nya”. QS. Al Baqarah 115.

Dalam bahasa lain bahwa hal Muqabalah ini dapat dirasakan tatkala Salik PTJ mempanakan dirinya, melenyapkan Batang Tubuhnya, mempanakan Hatinya,  dan Rohnya yakni sifat  : Qadirun, Muriidun, A’limun, Samii’un, Bashiirun, Hayyun dan Mutakallimun. Dalam  ilmu Tauhid bahwa 7 sifat ini disebut sifat Ma’anawiyah (اَلصِّفَاتُ الْمَعَانَوِيَّةُ). Dikala itu Salik  PTJ benar-benar rasa bersama Allah, baik Af’al, Asma atau Sifat-sifat-Nya.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُنْ مَعَ اللهِ .... الحديث

Artinya : Nabi kita Muhammad Saw telah bersabda : “Hendaklah kamu (selalu) bersama Allah ……Al Hadis

Hadis diatas memerintahkan kepada kita agar supaya Salik selalu bersama dengan Allah Swt, baik bersama dengan Af’al-Nya, atau rasa bersama dengan Asma-Nya, atau bersama deng an Sifat-sifat-Nya.

Kitab Ar Risalah Umdatul  Hasanah lil jama’ah att thariqah al Junaidiyah …… Benteng Pertahanan thariqah al Junaidiyah di susun oleh Al Habib  H.Hasan Baseri, S.Ag Bin H. Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf


C.Ayat-ayat  yang  Mengacu  kepada  Muqabalah

a.Firman  Allah Swt  QS Al Baqarah ayat  186 berbunyi  :

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِلا فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ* البقرة 186

Artinya  : ….”Dan apabila Hamba-hamba Ku, bertanya kepadamu (Muhammad)     tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aka kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia berdo’a kepada Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (Perintah) Ku dan beriman kepda Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” QS Al Baqarah 186

b.Firman  Allah Swt  QS Qaf ayat  16  berbunyi      :

وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ ... ق 16

Artinya  : ….” Dan Kami lebih dekat kepadanya (Manusia) dari pada pembuluh darah yang ada di lehernya”  QS Qaf 16

c.Firman  Allah Swt  QS Al Hadid ayat  4 berbunyi  :

وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَمَا كُنْتُمْ .... الحديد 4

Artinya  : ….”Dan Dia (Allah) bersamamu dimana saja kamu berada”. QS Al Hadid 4

d.Firman  Allah Swt  QS Al Ankabut ayat  5-6  berbunyi   :

مَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاءَ اللهِ فَاِنَّ اَجَلَ اللهِ لَأتٍ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ*وَمَنْ جَاهَدَ فَاِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِقلي اِنَّ اللهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ*  الانكبوت  5-6

Artinya  : ….”Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah,  maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam. QS Al Ankabut ayat  5-6

D.Para Kaum Sufi selalu Rasa berjumpa dengan Allah Swt

 Dzikir adalah makanan utamanya Roh Sanubari Manusia. Oleh karenanya stiap gerak dan diamnya Salik semestinya tidak lepas dari Dzikrullah. Ia mengata dalam hatinya, ia menyebut dalam hatinya kalimat “laa ilaa ha illallah”, atau mengata kaliamt “illallah-illallah” atau menyebut kaliamt  “Allah-Allah”. Salik PTJ  pasti berharap dan akan berjumpa Tuhannya, baik berjumpa di alam Sugra ataupun berjumpa di alam Kubra. Pertemuan itu pasti terjadi dan mereka rasakan, mungkin juga rasa berjumpa dengan Af’al Tuhannya, atau rasa bertemu dengan Asma Tuhannya, atau juga rasa berhadap-hadapan dengan sifat-sifat-Nya di kdua alam tersebut.

Firman Allah Swt pada surat Al Kahfi ayat 110 yang berbunyi :

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادِةِ رَبِّهِ اَحَدًا* الكهف 110

Artinya : “Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan Amal yang Saleh dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dalam beribadat kepada  Tuhannya akan seseorang.” QS al Kahfi 110 :

Untuk mencapai “pertemuan dengan Allah Swt”  secara harfiah menurut ayat diatas, ada beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan antara  lain :

a.Istiqamah dan sabar dalam menjalankan ibadah shalat lima waktu, dan ….

b.Mengerjakan amal saleh sebagai wujud sifat kehambaan

c.Menafikan 7 sifat yang ada dalam Dirinya (Sifat Ma’nawi) yaitu : Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’a, Bashar dan Kalam, termasuk batang tubuhnya sehingga yang ada dirasakan Af’al, Asma. Sifat dari Allah Swt semata. Inilah yang dikehendaki Rasa berjumpa dengan Tuhannya atau Muqabalah.

Firman Allah pada Surat Ar Ra’du ayat 2 yang berbunyi  :

يُدَبِّرُ الْاَمْرَ يُفَصِّلُ الْأَيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ*  الرعد  2

Artinya :… Allah Swt mengatur akan perkara-perkara, hal keadaannya juga menjelaskan tanda-tanda kekuasaanNya. Modah-modahan kamu pasti menjumpaiNya dengan yakin.” QS. Ar Ra’du 2

Salik yang selalu berjumpa dan bertemu dengan Allah Swt, baik perjumpaan dengan Af’al Allah, atau pertemuan dengan Asma Allah Swt, atau pertemuan dengan Sifat-sifat-Nya. atau rasa berhadap-hadapan dengan Wajibal Wujud setiap saat. Allah Swt sangat suka menjumpai Hamba-hambaNya, tetapi siapa yang benci menemui Allah maka Allah pun sangat benci menemuinya.

Dalam Kitab Hadis As Sunan At Tirmidzi pada Jilid IV halaman 139 ada dikatakan bahwa Rasulullah Saw telah bersabda yang berbunyi     :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ اَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ اَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهِ وَ مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللهِ كَرِهَ اللهُ لِقَاءَهُ* رواه الترمذي

Artinya : Rasulullah Saw telah bersabda bahwa “Barangsiapa menginginkan (sangat menyukai) berjumpa dengan Allah, maka Allah lebih suka menjumpainya. “Barangsiapa benci bertemu dengan Allah, maka Allahpun benci menemuinya.” HR. At Tirmidzi.

Salik akan dapat mencapai Ma’rifat dengan Allah Swt, ia akan bertemu dengan Allah,  atau ia akan merasa berhadap-hadapan dengan Tuhannya (muqabalah) bila tawajjuhnya mantap dan benar dan juga tahqiq.

Ma’rifat dengan Allah Swt akan dialami oleh Salik bila ia pana terlebih dahulu dengan Gurunya atau pada (Syekhnya), Pana dengan Gurunya  adalah awal pana dengan Tuhannya. Salik lebih dahulu lebur- sirna perasaannya pada Gurunya, disini ia benar-benar merasakan Dirinya Ghaibah yang digantikan oleh Gurunya yang hadir waktu itu, maka ia rasa Syekhnyalah yang beramal…….

Jadi yang dirasakan Salik yang ada adalah Diri Gurunya… Begutulah Pana fi syekh,  fana ini terjadi dari pada Guru/ Syekh ke Guru/ Syekh hingga Fana pada Rasulullah Saw …

Kaidah menyebutkan bahwa        :

قَوْلُهُ لَا فَاعِلَ اِلَّا الشَّيْخُ اَوْ لَا فَاعِلَ اى عَلَى الْاِطْلَاقِ اِلَّا نُوْرُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya : Perkataannya “Tiada ada jenis perbuatan yang berbuat kecuali perbuatan Syekh. Atau “Tiada ada jenis yang berbuat melainkan Nur Muhammad Saw.”

Disini Salik benar-benar pana-lenyap pada Af’al Gurunya hingga nanti Salik benar-benar pana-lenyap pada Af’alnya Nur Muhammad Saw hingga ia nantinya ia juga pana dengan Allah Swt.

Kaidah menyatakan bahwa tentang Pana pada Af’alnya Allah Swt    :

لَا فَاعِلَ اِلَّا اللهُ تَعَالَى

Maksudnya : “Tiada yang berbuat secara muthlaq kecuali perbuatan Allah semata.”

Barangkali inilah yang dikehendaki oleh Penyusun Umdatul Jama’ah biqalami Firdaus pada haalaman ke 13 dari maksud perkataan Imam al Junaid al Bagdadi Rahimahullah yang berbunyi        :

اَوْ لَيْسَ لِيْ فِعْلٌ مَعَ اللهِ لِاَنَّ ظَاهِرَ كُلَّهُ نَفَى غَيْرَ اللهِ وَهَدَمَ التَّكْلِيْفَ كُلَّهُ(1)

Maksudnya : “Tidak ada satu perbuatan pun Saya miliki beserta Allah, karena sesungguhnya semua perbuatan yang zahir telah lenyap-hilang selain perbuatan Allah semata. Maka disini gugurlah-binasalah pembebanan semuanya.”

(1). كتاب الرسالة عمدة الجمعة بقلم فردوس 130

Hal keadaan demikian Salik dikatakan telah ber muqabalah dengan Tuhannya, telah berjumpa dengan Af’al Allah, telah bertemu dengan Asma Allah, bahkan ia telah berhadapan dengan Sifat-sifat Allah. Salik benar-benar tidak dapat menghadirkan wujud Dirinya, ia benar-benar ghaibah, ia merasa gerak diamnya minnah Allah semata.

E. Salik yang Mencari dan Mendapatkan Rasa Muqabalah dengan Tuhannya

Kalau boleh kita contohkan orang yang mendapatkan rasa muqabalah dengan Tuhannya, kalau boleh kita amsalkan terhadap orang yang memperoleh rasa pertemuan dengan Khaliknya setiap saat, Salik dapat mempanakan dirinya, Salik bisa meleburkan dirinya, Salik bisa melenyapkan wujud dirinya. Dengan jalan bertawajjuh Muthlaq yang benar dan mantap. Manakala wujud diri Salik pana, tatkala Batang Tubuh dan Hatinya diserahkan, batang tubuh dan hatinya digantikan Allah Swt. Maka panalah Salik, lenyap dan leburlah ia pada wujud Allah Swt. Ia merasa bingung, siapakah sebenarnya yang ada, apa sebenarnya yang dicari ? Semoga jawabannya didapatkan melalui contoh berikut ini  :

Saat itu Salik pana, ia bagaikan seekor Ikan Gabus yang sedang mencari air. Sang Ikan ini berenang kesana kemari dengan susah payah mencari Air. Namun air yang dicari rasanya belum ia dapatkan. Namun ia merasakan kepayahan yang luar biasa. Pada akhirnya ia bertemu dengan si Tunggul Air (Kayu kecil yang tertanam di dasar Sungai yakni tempat ikan-ikan bersembunyi). Kata si Tunggul Air : “Hai sang Ikan, apa yang kau cari ? Kau kelihatannya lelah sekali.” Jawab Sang Ikan Gabus : “Aku selama ini telah berenang kesana kemari dengan susah payah, untuk mencari Air, namun air yang aku cari rasanya belum kutemukan.” Mendengar pengakuan Sang Ikan itu, si Tunggul Air tertawa terbahak-bahak. Katanya “kau ini lucu sekali”. Kata si Tunggul Air : “Coba kau tenangkan dirimu (coba kau panakan dirimu, coba kau lenyapkan wujud dirimu) Ka

u pasti akan menemukan Air yang Kau Impikan selama ini “ !!!!!

Barulah Sang Ikan Gabus sadar, bahwa air yang ia cari sedemikian dekatnya, barada padanya dan meliputi seluruh Dirinya. Kemana saja ia berhadap ber (muqabalah) namun selalu ada. Bahkan tiada tempat namun Air selalu menempatinya.”

Allah Swt telah berfirman QS. Ali Imran ayat 120 yang berbunyi       :

اِنَّ اللهَ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ* ال عمران 120

Artinya : “Sesungguhnya Allah dengan sesuatu yang mereka kerjakan itu (amat mengetahui) meliputi.”

Allah Swt telah berfirman QS. An Nisa  ayat 126 yang berbunyi        :

وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْئٍ مُحِيْطًا*  النساء 126

Artinya : ….“Adalah Allah Swt dengan sesuatu itu amat meliputi” QS. An Nisa 126

Kitab Ar Risalah Umdatul  Hasanah lil jama’ah att thariqah al Junaidiyah (Benteng Pertahanan thariqah al Junaidiyah) di susun oleh Al Habib  H.Hasan Baseri,S.Ag Bin H. Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf

F.Salaik  Menjumpai Tuhannya Melalui Diri Sesamanya

Firman Allah Swt Qur’an Surat. Al Baqarah 115 ini telah mengacu pertemuan Salik dengan Tuhannya, yakni Allah ajja wajalla.

فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ* البقرة 115

Artinya : “Kemana saja Engkau meghadapkan (memalingkan) wajahmu, maka disanalah Wujud Allah”. QS. Al Baqarah 115.

Salaik PTJ mesti merasakan menjumpai Tuhannya melalui Diri sesama lainnya. Ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa “Kemana saja Salik menghadapkan wajahnya, maka ia merasa selalu berhadap-hadapan dengan Tuhannya”. Menurut pengertian hakekat ia pasti menjumpai Af’al Tuhannya, Asma Tuhannya atau menjumpai dengan Sifat-sifat Tuhannya. Perjumpaan ini di alaminya di alam Sugra ataupun di alam Kubra.

Nabi Musa berhasrat/berkeinginan melihat wajah Tuhannya, Allah berkata kepada Nabi Musa  “ لَنْ تَرَانِيْ Engkau (Hai Musa) tidak bisa melihat Aku, selama Engkau mengklaim atau menganggap wujud dirimu ada (hadir). Firman Allah :

 “وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَمَا كُنْتُمْ

Artinya : ”Dan Dia (Allah) bersamamu dimana saja kamu berada”. Firman Allah juga pada surat Al Isra ayat 60 yang berbunyi :  “اِنَّ رَبَّكَ اَحَاطَ بِالنَّاسِArtinya : “Sesungguhnya Tuhanmu, Allah meliputi semua Manusia.” 

Dalam Hadis tentang Muqabalah yakni “perjumpaan dengan Tuhannya” Salik PTJ di alam Kubra (di luar dirinya) menjumpai Af’al, Asma dan Sifat-sifat Allah Swt secara hakekat. Rasulullah Saw bersabda : Allah Swt telah berfirman dalam hadis Qudsi        :

يَا عَبْدِيْ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِيْ فَيَقَوْلُ : يَا رَبِّ كَيْفَ اَعُوْذُكَ وَاَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ ؟ فَيَقَوْلُ اللهُ : اَمَا اِنَّهُ مَرِضَ عَبْدِيْ فُلَانٌ فَلَمْ تَعُدْهُ فَلَوْ عُدْتُهُ لَوَجَدْتَنِيْ عِنْدَهُ ثُمَّ يَقُوْلُ يَا عَبْدِيْ اِسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمَنِيْ ثُمَّ يَقُوْلُ : اِسْتَسْقِيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِيْ* الحديث القدسي

Artinya : “Hai Hambaku, Aku telah jatuh sakit, Engkau tidak mengunjungi Ku, Hamba berkata “Bagaimana Hamba mengunjungi Mu sedang Engkau Tuhan pemelihara sekalian alam. Tuhan berfirman : “ Hamba Ku (yang bernama) Fulan sedang sakit, kamu tidak mengunjunginya, jika kamu kunjungi dia, kamu temui dia Aku (Alllah) disisihnya. Begitu juga Aku minta  makan, kamu tidak memberi makan, Aku juga minta minum, kamu tidak memberi minum.” Al Hadis Qudsi.

Hadis diatas menjelaskan bahwa Manusia di muka Bumi ini adalah khayali atau adanya Hamba adalah wahmi (sangka-sangka) sahaja. Dia bagaikan Fata Morgana dari kejauhan terlihat dengan jelas wujudnya, tetapi manakala didekati tidak ada wujudnya.

Keberadaan Salik atau keberadaan Hamba di dunia ini laksana bayang-bayang, bahkan hukumnya sama dengan bayang-bayang, maka yang ada secara hakekat hanya Allah Swt semata. Berkata Ulama Sufi Syekh Syasytari dalam syair berbunyi :

*اَلْخَلْقُ خَلْقُكُمْ وَالْاَمْرُ اَمْرُكُمْ* فَاَيُّ شَيْئٍ اَنَا لَكُنْتُ مِنْ ظِلَلٍ*

*مَا لِلْحِجَابِ مَكَانٌ فِي وُجُوْدِكُمْ* اِلَّا بِسِرِّيِّ حُرُوْفِي اُنْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ*

Artinya : “Segala mahluk adalah hikmatMu, dan segala Roh adalah rahasiaMU, Bagaimana saja keadaanku (Hamba) tetap hukumnya bayang-bayang.” “Tidak ada hijab yang dapat melindungi Engkau, kecuali hijab qahriyah yang terdapat pengertiannya di dalam rahasia perkataanMu, lihatlah Gunung itu.”

*اَنْتُمْ دَلَلْتُمْ عَلَيْكُمْ مِنْكُمْ وَلَكُمْ* دَيْمُوْمَةٌ عَبَّرَتْ عَنْ غَامِضِ الْاَزَلِ*

*عَرَفْتُ بِكُمْ هَاذَا الْخَبِيْرَ بِكُمْ* اَنْتُمْ هُمْ يَا حَيَاةَ الْقَلْبِ يَا اَمَلِي*

Artinya : “Engkau menunjukkan atas dirimu, petunjuk datang dari pada Mu, bagiMu perbendaharaan, isyarat yang mengungkapkan berita azali. Kumiliki pengetahuan untuk mengenal Engkau dengan petunjukMu, Engkaulah hakekat mereka, ya Tuhanku idaman hati.”

Segala Kainat, atau segala Akwan selalu dekat dengan Allah Swt, yang dimaksud dekat disini bukanlah dekat musafah (perantaraan), tetapi dekat didalam syuhud. Si Salik merasa berhadap-hadapan dengan Tuhannya, baik dengan Af’al Allah atau dengan Asma Allah atau juga dengan ta’aluq Sifat Ma’ani yang senantiasa berlaku kepada semua kainat (اَلْكَائِنَاتُ) tanpa ada yang melindungi..

Semoga semua keterangan diatas dapat membantu Salik PTJ  untuk lebih memahami tentang Hakekat Muqabalah terhadap Allah swt, hingga timbul rasa selalu bertemu Allah Swt, selalu rasa berjumpa dengan Tuhannya setiap saat benar-benar dirasakan. Aamiin Allahumma Aamiin !

Kitab Ar Risalah Umdatul  Hasanah lil jama’ah att thariqah al Junaidiyah (Benteng Pertahanan thariqah al Junaidiyah) di susun oleh Sayyid  H.Hasan Baseri,S.Ag Bin H. Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assegaf


Referensi  :

1.Kamus Arab Indonesia oleh Prof.DR.Mahmud Yunus, Penerbit PT. Hidakarya Agung Jakarta Halaman 206.

2.Risalah Qusyairiyah fi limit Tasawuf oelh Abdul Karin bin Hawazin al Qusyairi an Naisyaburi halaman 75

3. Artikel “Siapa Golongan Ahli Musyahadah?” oleh Muhammad Ali As-Sammaniyyah, // https://web.facebook.com/MohdAliAtan/posts/siapa-golongan-ahli-musyahadah-menurut-para-arifbillah-ahli-musyahadah-ialah-mer/10233363752383135/?_rdc=1&_rdr#

4.Artikel “Belajar Ilmu Tasauf  Maqam Musyahadah” Mitrasantri diterbitkan 18 Oktober 2011

5.Artikel “Belajar Ilmu Tasauf  Maqam Musyahadah” Mitrasantri diterbitkan 18 Oktober 2011

6.Artikel Mayasari, Lutfiana Dwi, Ajaran Pokok Tasawuf : Maqaamat dan Ahwal, diakses dari http://lutfianamayasari.blogspot.co.id/2015/05/ajaran-pokok-tasawuf-maqaamat-dan-ahwal.html tanggal 22 November 16 pukul 18.32 WIB.

7.Artkel Senali, Moh Saifulloh, Risalah Memahami Ilmu Tasawuf, Surabaya : Terbit Terang, 1998.

8.Artikel H.A. Rivay Siregar, Tasawuf : dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999.

[9] H.A. Rivay Siregar, Tasawuf : dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, 1999, Jakarta : Raja Grafindo Persada, hlm. 138.

[10]  Moh Saifulloh Senali, Risalah Memahami Ilmu Tasawuf, 1998, Surabaya : Terbit Terang, hlm. 57.

[11] Lutfiana Dwi Mayasari, Ajaran Pokok Tasawuf : Maqaamat dan Ahwal, diakses dari http://lutfianamayasari.blogspot.co.id/2015/05/ajaran-pokok-tasawuf-maqaamat-dan-ahwal.html tanggal 22 November 16 pukul 18.32 WIB.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...