Bab. X
PEMBAHASAN HAL MUKAFAHAH
Bab. X "Hal Mukafahah" Kitab al Risalah Umdatul Hasanah Lil Jama’ah al Thariqat al Junaidiyah
DAFTAR
ISI BAB. X
A..PEMAHASAN
HAL MUKAFAHAH
1.
Pengertian Mukafahah
2.
Mukafahah (Hal Mukafahah) ini Terjadi karena Adanya
3.
Mukafahah menurut istilah
B.
Rohani Manusia Mesera dengan Tuhannya.
C.
TENTANG MITSAQ / PERJANJIAN PRIMORDIAL MANUSIA
D.
Mukafahah Rububiyah
1.KEMAMPUAN
SUFI MELIHAT WUJUD TUHAN DI ALAM KUBRA
2.
TENTANG MAHABBAH (JATUH CINTA)
3.
MANFA’AT TAWAJJUH MUTHLAQ BAGI SALIK
PENGAMAL THARIQAT
4.
MENGETAHUI ASAL MUASAL DIRI KITA
E.DOKTERN AJARAN THARIQAT AL JUNAIDIYAH (THARIQATUL
QAUM)
F.
AL-JUNAID DAN PENGIKUTNYA LEBIH MENYUKAI GHAIBAH DARI PADA HUDUR
G.
PEMBAHASAN AL FANA’U FILLAH (فَنَاءٌ فِى اللهِ)
1. Al
Fana'u Fillaah oleh Salik
2.Contoh
Pengertian Fana si Hamba dengan Allah
Swt.
H.
Maqam atau Livel Fana’ul Fana’ (Tajalli Allah)
a.Al
Fana’ul Fana maqam pertama adalah Tajalli Allah Swt pada Af’al-Nya pada Salik
b.Tajalli
Allah Swt pada Asma-Nya pada segala sesuatu.
c.Tajalli Allah
Swt pada Sifat-sifat-Nya dengan Salik atau Hamba-Nya.
d.Tajalli Allah Swt
dalam Dzatn-Nya pada Salik
e.
Pendapat Ahli Shufi Tentang Fana’ Fii Dzat Allah Swt
3.
Pembahasan Ghaibah (الْغَيْبَةُ) dan Hudhur (الْحُضُوْرُ)
H.
MAQAM Al-BAQAUN BILLAH (مَقَامُ
الْبَقَاءِ بِاللَّه)
Bab. X
PEMBAHASAN HAL MUKAFAHAH
A..PEMAHASAN
HAL MUKAFAHAH
1.. Pengertian Mukafahah
Mukafahah dalam konteks
thariqat sufi al Junaidiyah adalah tingkatan spiritual tinggi dalam tasawuf
yang merujuk pada pengalaman perjumpaan, penyaksian, atau dialog langsung
antara hati seorang sufi (arif) dengan Tuhannya yakni Allah Swt, sering kali
digambarkan sebagai puncak kedekatan setelah melalui perjalanan panjang
penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
Mukafahah adalah dari bahasa
arabnya
كَافَحَ
– يُكَافِحُ – فَهُوَ مُكَافَحَةً
Kaafaha – Yukaafihu
Mukaafahatan. Mukaafahatan adalah ism
masdar dari Kaafaha. Mukaafahatan menurut bahasa Kamus Marbawi Kaafaha anhu berarti “Memerangi ia akan dia” atau Mukafahatan berarti “Perlawanan”. Jadi
pengertian Mukafahah dalam pokok pembahasan disini adalah Memerangi dan melawan
oleh hati akan akwan dan aghyar hingga tersisihlah akwan dan aghyar dimaksud,
dan tercipta –terbit penjernihan atau keheningan dalam hati Salik yang ada
adalah Mukawwin”.
Adapun konteks sufistik: Istilah ini sering muncul dalam pembahasan maqamat (tingkatan) tasawuf, di mana seorang salik (pengikut thariqat) mencapai kesadaran tauhid yang hakiki. Sedangkan Peran Thariqat sufi al Juaidiyah al Bagdadiyah atau Thariqat al Qaum : Thariqat kita hanya menyediakan kepada para Salik berupa metode (dzikir, wirid, baiat) untuk menyucikan hati agar mampu mencapai pengalaman mukafahah ini.
2. Mukafahah (Hal Mukafahah)
ini Terjadi karena Adanya
Adapun poin penting terkait
pembahasan mukafahah dalam thariqat sufi :
- Dzikir yang berkekalan,
- Mukasyafah tersingkap hijab si Hamba,
- Musyahadah penyaksian batiniah si Hamba kepada Tuhannya.
- Mukafahah perjumpaan dengan Tuhannya
Ketahuilah olehmu bahwa Mukafahah
bukan perjumpaan fisik, melainkan penyaksian batiniah (musyahadah) yang
intens, Mukasyafah, di mana hijab antara
hamba dan Pencipta tersingkap.
Ia senantiasa dalam
kesehariannya selalu merasakan rindu kepada Allah, padahal dalam kalbunya Allah
tak pernah lepas dari bibir bathinnya dalam memanggil dan menyebut-nyebut
Allah, artinya ia sudah sangat terbiasa akan ingat kepada Allah, sehingga
timbul "mahabbah" (rasa cinta yang dalam) yang berkepanjangan kepada
Allah, akhirnya ia menjadi asyik dan ghaibah dalam melaksanakan penghimpunan
penetapan dzikir tersebut yang hudur hanya Allah semata.
Pelaksanaan dzikir renungan
akan berkekalannya ingat kepada Allah ini di mulai dengan amalan dzikir napi
istbat, dzikir istbat, dzikir ismudzat, dzikir khafi dan dzikir akhfa dan
apabila merasakan ada muncul rasa tenang yang seakan-akan disekitarnya hanya
terasa hampa dan kosong tiada sesuatupun yang perasaannya hanya dalam
kesendirian sedangkan pancaindera lahir tidak lagi bereaksi, misalnya tidak
lagi mendengar suara-suara diluar kecuali suara yang bergemuruh di dalam
bathin, maka segera laksanakan dzikir akhfa (wukuf qalbi), nah sewaktu
pelaksanaan dzikir wukuf qalbi inilah munculnya (rasa ibadah) tingkatan
"Mukafahah", sehingga ia dapat merasakan seakan-akan hanya Allah lah
yang Hudur, sedangkan ia rasakan dirinya ghaiah, Allah yang terkasih yang ada.
3. Mukafahah menurut istilah
Menurut istilah mukafahah
dipakai Kaum Sufi dalam kegiatan rohani yang tinggi , Ahli Thariqat Sufi
memakai dan menggunakan istilah kata Mukafahah ini, yang berarti “penjernihan
hati atau keheningan jiwa”. istilah Mukafahah digunakan untuk mencapai tingkat
tertinggi dalam bertafwiedh (penyerahan-pelenyapan diri), hingga peletakan
beban terhantar penuh. Dengan demikian bersih dan beninglah hati diri si Sufi,
sebab diikhlaskan Allah dari padanya yakni mukhlisien.
KH.Syukri dalam Uqdatul
Jama’ah Thariqat Junaidy mengatakan bahwa ada perbedaan antara ikhlas yakni
khaalish dan mukhlish. Khaalish adalah pridekat yang disandang dari hasil
mujahadah, sedangkan mukhlish ialah pridekat yang diberikan dari hasil ifadah.
Terdapat riwayat menyebutkan bahwa Musa
as seorang yang diikhlaskan, Allah Swt telah berfirman pada surat Maryam
ayat 51 berbunyi :
واذكر فى الكتاب موسى إنه كان مخلصا وكان رسول
ونبيا
Artinya :”Dan diceritakan
dalam al Qur’an ini (tentang Musa As), sesungguhnya dia seorang yang
diikhlaskan, dan jadilah ia seorang Rasul dan Nabi.”
Maksud Tafwied diatas yaitu
pelimpahan atau penaungan dan peletakan beban khataran – goresan hati kepada
Allah SWt. Dalam kitab Sirajutthalibun dikatakan bahwa :
التفويض اي سليم إلأمور إلى الله تعالى فى موضع الخطر
Tafwied adalah : “Menyerahkan semua perkara
(urusan) kepada Allah Swt pada saat terjadi lintasan-lintasan goresan pada hati
seseorang.
Tafwied ini terjadi sesudah tawakkal, misal si Amat
menyerahkan sepeda motor dan uang kepada Ali untuk anaknya yang sekolah di
Banjarmasin, Ali seorang Sopir yang tidak begitu dikenal.... Si Amat berdo’a
“Modah-modahan Allah Swt memelihara sepeda motor dan uang yang dititipkannya
tersebut.” Ini disebut tawakkal, sebab disini terjadi masih ada goresan-goresan
hati si Amat, kata hatinya “Bagaimana kalau tidak diserahkannya kepada anakku !
Bursiah begitu dan lainnya berkecamuk dalam hati si Amat. Inilah yang disebut
goresan-goresan dan hantaran untuk menuju tafwied, bilamana goresan-goresan dan
hantaran hati si Amat tsb telah hilang tidak muncul lagi disebut tafwied,
karena ia merasa tidak memiliki apa-apa, gerak dan diampun ia tak punya, bahkan
dia tidak mengenal dirinya, tidak tahu yang mana dinamakan dirinya maka
disebutlah taslim. Disini si Amat benar-benar punya jiwa yang bersih, jiwa yang
selamat. Allah telah menganugrahkan kepada si Amat punya hati yang bersih,
sebagaimana Firman Allah Swt yang
berbunyi QS. Asغ-Syuara ayat 89 :
وَقَوْلُهُ تَعَالَى : اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۗ ٨٩
Artinya :”Kecuali, orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Tafsir Surat Asy-Syu'ara' · Ayat 89
Ayat ini menjelaskan bahwa
kesenangan yang bakal diperoleh di akhirat, tidak dapat dibeli dengan harta
yang banyak. Juga tidak mungkin ditukar dengan anak dan keturunan yang banyak.
Sebab masing-masing manusia hanya diselamatkan oleh amal dan hatinya yang
bersih. Tetapi orang yang diselamatkan hanyalah mereka yang akidahnya bersih
dari unsur-unsur kemusyrikan dan akhlaknya mulia.
B. Rohani Manusia Mesera
dengan Tuhannya.
Yang dimaksud Mukafahah
disini adalah terbukanya tirai atau hijab penutup mata batin kepada Ketuhanan,
karena ada hening, jernih dan beningnya dari Fana Fillah menuju Baqa billah.
Ibarat air sungai yang jernih – hening maka tampaklah semua yang ada di air di
dasar sungai itu semata-tama bayang-bayang bukan yang aslinya.
Sebenarnya pada tingkat
Mukafahah disini Rohaniyah telah berkasih-kasihan dan sangat mesera dengan Tuhannya
yakni Allah Swt. Roh kita sudah merasakan mesranya dengan Allah Swt, Dzat yang
wajubul wujud meliputi seluruh alam.
Salik yang diberikan dan
medapatkan rasa
Mukafahah, dengan sendirinya
ia merasa tenang, maka ketika menghadapi sesuatu, melihat atau mendengar, imosi
dapat terkendali.
Firman Allah Swt pada surat
al Baqarah ayat 163 berbunyi :
وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا
هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُࣖ ١٦٣
Artinya : Tuhan kamu adalah
Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.
Firman Allah Swt lagi surat
al Hajji ayat 65 berbunyi :
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا
فِى الْاَرْضِ وَالْفُلْكَ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِاَمْرِهٖۗ وَيُمْسِكُ السَّمَاۤءَ
اَنْ تَقَعَ عَلَى الْاَرْضِ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ
رَّحِيْمٌ ٦٥
Artinya : Tidakkah engkau
memperhatikan bahwa Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan kapal
yang berlayar di laut dengan perintah-Nya. Dia menahan (benda-benda) langit
sehingga tidak jatuh ke bumi, kecuali dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang kepada manusia.
Potogan ayat 65 surat al
Hajji tersebut menyatakan bahwa :
وإن الله بالناس لرؤف رحيم. الحج
65
Artinya :”Sesungguhnya Allah
itu terhadap Manusia itu sangat kasi lagi amat sayang.”
Mukafahah disini semata-mata
memasrakan bagi Pengamal Thariqat al Junaidiyah dengan Allah Swt yang Maha
Pengasih lagi Penyayang. Dimana rasa kecintaan terhadap yang lain sudah hilang
sama sekali, rasa mahabbah telah terpadu, telah mesra ke dlam Dzat Wajibal
Wujud semata. Saya katakan tiada jenis yang dicintai, tiada jenis yang dikasihi
melainkan Allah semata.
لامحبوب إلا الله
Nabi Saw telah bersabda :
قال النبي صلى الله عليه وسلم : "من أحب
شيئا كثر ذكره."
Artinya :“Barangsiapa
mencintai sesuatu, maka ia telah banyak menyebutnya.”
Bagitu pula mereka selalu
mempertebal dan meningkatkan rasa cinta kasih serta rindunya kepada Allah Swt
dan Rasul, tekun dalam ibadat mereka lahir dan batin. Mereka amat menekankan
masalah perasaan zauq terutama perasaan dalam bercinta kasih kepada Allah Swt.
Menurut ceritra bersambung dari masa kemasa … di Kalimantan ada seorang Datu
mencapai tingkat Aulia yang bernama Datu Muning. Beliau ini apabila hendak
sholat, kadang-kadang berpantun/bersyair lebih dahulu :
Riu-riu padang sibundan,
Padang sitamu-tamu,
Aku rindu kadangan Tuhan
Sabarang tampat kawa batamu.
Pantun ini jelas
menggambarkan rasa cinta kasih yang mendalam. Oleh sebab itu janganlah kita
bersalah sangka (suuzzhon) terhadap mereka. Yang nyata mereka telah mendapat
sinar terang dalam hati dan perasaannya, karunia dari pada Allah Swt yang
bernilai tinggi yakni “Mahabbatun ilallah” cinta kepada Allah. Semoga kita juga
mendapat karunia demikian (Haderanie,HN)
Salah satu bahasan yang harus
dilalui dan dilazimi oleh PTJ adalah Hal
Mukafahah, di Bab ini
Penyusun Umdatul Hasanah membahas tentang : Mukafahah Rububiyah, Dokterin
Thariqat al Junaidyah, Fana Fillah dan Baqa Billah.
C. TENTANG MITSAQ / PERJANJIAN
PRIMORDIAL MANUSIA
Perjanjian primordial secara
sederhana diakatakan sebagai perjanjian yang bersifat privat antara sang
makhluk dan khaliqnya, antara manusia dengan Tuhannya. Tidak ada pihak lain
yang mengintervensi perjanjian itu.
Melalui perjanjian primordial
ini setiap diri manusia berada dalam kesaksian mengenai suatu wujud yang
mengatur segala tatanan sebab dan akibat, yang menjadi Tuhan bagi setiap
manusia, hingga jiwa manusia berada dalam ketundukan, ketaatan serta terus menerus
menyembah dan mencintai Sang Wujud kekal. Hasrat untuk tunduk dan taat ini
menjadi naluri asasi dalam jiwa manusia. Dari awal penciptaan tersebut manusia
dianugerahi cukup ketajaman naluri untuk mengetahui mana yang baik dan mana
yang buruk melalui logika dan pemikiran yang dengannya menjadi istimewa dari
segi penciptaan begitupun manusia memiliki hasrat religius yang tak dimiliki
makhluk manapun. Akan tetapi Tuhan memahami kelemahan-kelemahan manusia akan
ketidak mampuannya untuk menyalurkan hasrat mendasarnya menyembah Tuhan, dalam
perjalanan hidupnya manusia bisa melupakan perjanjian primordial yang telah
tertanam (Artikel Lapatuju 02.59).
ِِِApa makna dari perjanjian
ini? Perjanjian ini lebih dari sekadar formalitas, lebih dari sekadar sebuah
kesepakatan. Ia adalah hutang eksistensi kita sebagai manusia. Dalam pengakuan
kita bahwa Allah adalah Rabb, terkandung komitmen untuk menjalani hidup sesuai
dengan kehendak-Nya. Mitsaq ini menegaskan bahwa keberadaan kita bukan sekadar
wujud fisik di dunia ini, melainkan sebuah perjalanan yang lebih dalam, sebuah
perjalanan spiritual yang berlandaskan pada janji yang kita buat sejak zaman
azali.
Pengakuan kita terhadap Allah
sebagai Rabb mengandung tanggung jawab besar. Ia bukan sekadar pernyataan
verbal, tetapi juga komitmen untuk menjalani hidup sesuai dengan aturan dan
ketentuan-Nya. Setiap tindakan kita, setiap pilihan yang kita buat dalam hidup,
sejatinya adalah cerminan dari perjanjian tersebut. Dan karena perjanjian ini
begitu agung, ia mengikat kita dengan kuat pada kewajiban moral dan spiritual
untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, menjalani hidup dengan penuh
kesadaran akan kehadiran-Nya.
Imam al-Junaid mengutip surah
al-A’raf ayat 172, ayat yang terkenal dengan mitsaq (perjanjian primordial).
Ali Hasan Abd al-Qadir (editor), bukunya “Kitab Mitsaq” dalam Rasail al-Junaid,
dikutip Ali Thaufan DS bahwa Allah berfirman :
وَإِذْ
أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ
عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ. الاعراف 172
Artinya“Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)’
Dengan menggunakan ayat
mitsaq tersebut, al-Junaid juga menjelaskan konsep awal ruh sebelum
diciptakannya tubuh / jasad. Atau dengan kata lain tentang keadaan ruh di alam
lain. Ia berkata:
Allah mempunyai hamba pilihan
yang menjadi kekasihnya. Menjadikan jasad mereka duniawi dan ruhnya nur.
Pemahamannya bersifat arasyi, akalnya menjadi hijab, tidak mempunyai tempat
berlindung kecuali kepada Allah, tidak punya tempat kecuali di sisi Allah.
Mereka adalah yang diwujudkan dan didudukkan di sisi Allah sejak zaman azali.
Ketika Allah memanggil mereka sebagai tanda penghormatan, mereka segera datang.
Mereka paham panggilan itu dan Allah mengenalkan diri kepada mereka di saat
belum ada. Allah memindahkan mereka dengan kehendakNya. Mereka dijadikan seperti
atom (sangat kecil sekali). Diwujudkan menjadi makhluk. Kemudian dimasukkan
dalam tulang rusuk Adam. Lalu Allah berfirman: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”
Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya
kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.
Allah mengabarkan bahwa dia berbicara dengan mereka. Padahal mereka belum ada
kecuali diwujudkan olehNya. Mereka wujud karena Allah, bukan karena dirinya.
Maka disanalah al-Haq bertemu dengan al-Haq, betul-betul wujud yang tidak mampu
dimengerti kecuali oleh Allah sendiri.
Mitsaq, dengan segala
keagungannya, adalah cermin dari hubungan yang sangat intim antara jiwa manusia
dan Rabb-nya (al-Haqnya). Ia adalah ikatan yang tak dapat diputus, meskipun
dunia sering kali membuat kita lupa. Dan di setiap tarikan napas, di setiap
langkah yang kita ambil dalam kehidupan ini, kita seharusnya selalu diingatkan
akan janji agung itu. Bahwa sebelum kita lahir ke dunia ini, sebelum kita
mengenal suka duka kehidupan, kita telah bersaksi, kita telah berjanji untuk
hidup sebagai hamba-Nya, untuk menjalani hidup dengan kesadaran penuh akan
kehadiran al-Haqnya.
Anwar Syarifuddin, bukunya
“Memaknai Alam Semesta: Simbolisasi Kosmik dalam Ontologi Mistik Sahl ibn Abd
Allah al-Tustari”, dikutip Ali Thaufan DS bahwa “Selain konsep awal ruh sebelum penciptaan
tubuh, menurut penulis terdapat ungkapan yang cukup menarik
إذ كانوا واجدين للحق من غير وجودهم لأنفسهم,
فكان الحق بالحق في ذلك موجودا بالمعنى الذي لا يعلمه غيره ولا يجده سواه
“Maka disanalah al-Haq bertemu dengan
al-Haq, betul-betul wujud yang tidak mampu dimengerti kecuali oleh Allah
sendiri”. Ungkapan ini seakan menunjukkan kemanunggalan antara Allah hambaNya.
Tetapi, hal tersebut tidak akan pernah dimengerti kecuali oleh Allah.
Konsep tersebut di atas –awal
ruh sebelum penciptaan tubuh- yang diusung oleh al-Junaid memberi pengaruh bagi
sufi-sufi selanjutnya. Sufi-sufi tersebut antara lain, Muhammad ibn al-Husain
al-Jurairy (w. 311 H) dan Muhammad Muzayin (w. 328 H). Konsep ini pada
perkembangan selanjutnya melahirkan teori tentang “Nur Muhammad”. Meski
beberapa penulis tasawuf menyebut Sahl al-Tustari sebagai penggagasnya.
D. Mukafahah Rububiyah
Mukafahah berarti penjernihan
hati, keheningan hati dan beningan hati si Sufi tentang Ketuhanan. Istilah ini
dipakai dalam kegiatan Rohaniyah yang tinggi. Memang salah satu keberadaan Thariqat Junaidyah adalah untuk melihat dan mengawasi keadaan
Spritual atau Hati seseorang Pengamalnya seperti apada adanya.
Ajaran ma’rifat dapat ditempuh melalui Kacamta Fana’ sehingga
terjadi dan didapat Mukafahah Rububiyah. Menurut Al-Junaid,” ma’rifat adalah
kesadaran akan adanya ketidaktahuan (kebodohan) ketika pengetahuan tentang
Allah datang.” Sedang Makrifat menurut
Al-Junaid merupakan milik Allah, yang hanya didapatkan melalui Dia dan akan ada
bersama dengan-Nya sendiri.
Melalui definisi ini,
Beliau ingin menyatakan bahwa pada
hakikatnya manusia itu berada pada ketidaktahuan tentang hakikat Allah. Dimana
keadaan yang demikian ini, baru disadarinya
ketika datang makrifat
kepadanya. Pada saat itu, dia akan mendapatkan pengetahuan tentang
hal-hal yang berkenaan dengan Allah yang sebelumnya tidak pernah diketahuinya.
Makrifat atau pengetahuan
tentang Allah, akan dapat dicapai oleh seorang sufi, dalam keadaan fana
tertinggi. Dimana pada saat itu, segala sifat kemanusiaan yang ada dalam
dirinya hilang seketika. Semua keinginannya pada benda-benda duniawi terhapus.
Kesadaran akan dirinya lenyap, digantikan oleh kesadaran akan kedekatannya pada
Tuhan. Sedangkan yang masih tinggal pada dirinya hanyalah perasaan akan
bersatunya ruh dirinya dalam Allah. Dan pada titik itulah sesungguhnya makrifat
ini muncul menguasai dirinya. Di mana Allah dengan segala rahmat-Nya telah
berkenan menganugerahkan makrifat itu kepadanya.
1.KEMAMPUAN SUFI MELIHAT
WUJUD TUHAN DI ALAM KUBRA
Keberadaan Spritual atau Hati
seseorang tersebut harus dalam keadaan rasa tawajjuh, rasa berdzikir, aurad,
muqarrabah, Musyahadah, Riyadhah, Muqabalah dan Mukafahah. Rasulullah Saw
pernah berdo’a yang maksudnya :”Ya Allah tunjukkan kepada kami segala sesuatu
seperti apa adanya, karena orang yang melihat
sebagaimana adanya akan tenang”
Penglihatan seperti itu tidak
bisa diicapai sebagaimana lanyaknya
kecuali dalam keadaan tenang,dan hati yang mabuk tidak memiliki
pengetahuan. Misalnya dalam kasus ini, Nabiyullah Musa Alaihis Salam, saat
belum dianugrahkan rasa Mukafahah terhadap wujud Allah, sehingga kecintaannya dan ghairahnya,
ketika dalam keadaan mabuk, maka Beliau tdak bisa bersabar atas menisfestasi
(suatu pernyataan perasaan) terdalamnya, ketika berada di Gunung Batu untuk
melihat wujud Tuhannya, untuk melihat tajalli wujud Tuhannya, untuk melirik
madzhar wujud Tuhannya. Beliau berdoa’ untuk melihat wujud Tuhannya, Jawab
Allah, “Engkau tidak bisa melihat wujud-Ku, karena kemabukannya yang begitu
dalam, maka Nabi Musa mendesaknya terus-menerus, hingga Allah bertajalli (bertampak) pada
sebuah bukit. Beliau jatuh pingsan. Hal ini diabadikan dalam Al Qur’an yang
dapat dilihat dari Firman Allah Swt pada Surat Al A’raf ayat 143 :
وَلَمَّا جَاءَ مُوْسَى لِمِقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ
رَبُّهُ قَالَ أرِنِى اُنْظُرْ اِلَيْكَط قَالَ لَنْ تَرَانِى وَلَكِنْ اُنْظُرْ اِلَى
الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانُهُ فَسَوْفَ تَرَانِىج فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ
لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكَّا وَخَرَّ مُوْسَى صَعِقًاج فَلَمَّا اَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ
وَاَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ.
Artinya :”Setelah sampailah
Musa akan waktu Perjanjian, Tuhan berfirman (-berkata-kata dengan Musa, lalu
Musa meminta, Katanya: “Hai Tuhanku! Perlihatkan dzat Engkau kepadaku, boleh
aku memandang Engkau.” Jawab Tuhan
““Engkau tiada sanggup melihat Aku, tetapi (jika kau berkeras untuk
melihat-Ku) pandanglah bukit ini, jia ia (bukit) tetap ditempatnya, barulah kau
dapat melihat-Ku. “Manakala Tajalli, terang sebagian kecil di bukit itu oleh
Nur Tuhannya, bukit itu hancur, lenyap, dan Musa jatuh pingsan tersungkur ke
tanah. Tatkala ia bangun dari pingsannya, lalu ia berkata : “Maha suci Engkau,
Ya Allah, saya bertaubat kepada Mu dan saya orang yang mula-mula beriman.”
QS.Al A’raf 143.
Tetapi keadaan yang jauh berbeda dengan
Muhammad Rasulullah Saw yang berada
dalam keadaan tenang, jiwa dalam keadaan jernih, jiwa dalam keadaan hening,
hati dalam keadaan bening, sehingga Beliau bisa melihat keagungan yang sama
seperti (Nabi Musa Alaihis Salam),
secara terus menerus dengan kesadaran yang semakin lama semakin meningkat,
hingga Rasulullah Saw berdiri diruangan yang hanya berjarak dua ujung busur
panah dari kehadiran Ilahi Tuhannya. Inilah hal keadaan Mukafahah Rububiyah
yang dialami oleh Baginda Rasulullah Saw, seorang insan yang sempurna (Insan
Kamil) yang tiada semua Nabi mengalaminya. Hal semacam ini juga diabadikan Allah Swt dalam Al Qur’an
yang dapat dilihat dari Firman Allah Swt pada Surat Surat an Najam ayat 8, 9,
10 dan 11.
ثُمَّ
دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْاَدنَى. فَاَوْحَى اِلَى عَبْدِهِ
مَااَوْحَى. مَاكَذَبَ الْفُؤَادُ مَارَآى... النجم 8-11
Artinya : Kemudian Dia
mendekat (pada Muhammad) lalu bertambah dekat.Sehingga jaraknya (sekitar) dua
busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu disampaikannya wahyu kepada hambaNya
(Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah. Hatinya tidak mendustakan apa yang
telah dilihatnya.
Seorang yang berjiwa Sufi
bila membaca atau mendengar Al Qur’an surat Al A’raf ayat 143 ini, merenung
akan tersentuh hatinya, tetapi merasa bahagia, bermanik-manik air matanya,
suaranya terdengar lirih. ‘Betapa bahagianya wahai bukit batu, betapa kerasnya
engkau, betapa besarnya engkau, betapa tegarnya engkau, namun engkau rela
menerima kehancuran, engkau rela menerima kefana’an, engkau rela menerima
kesirnaan dihadapan Shahibul Wujud, yakni Allah Swt. ……. Dikefanaanmu kau
rasakan keindahan, dikesirnaan kau rasakan kenikmatan yang tiada tara, Kapan, kapankah DIRI ini
dapat merasakan sebagaimana yang Engkau
rasakan itu, wahai Bukit Batu.”
Mukafahah adalah ketenangan
jiwa, kejernihan qalbu, keheningan hati yang dimiliki Rasulullah dan Ummatnya
yang beriman dan beramal saleh. Mukafahah Rububiyah ini Allah limpahkan juga
kepada Ummat Rasulullah hingga
mersasakan dan melihat kekhadiran Shahibul Wujud, yakni Allah Swt seperti yang
dialami Rasulullah Saw. Kalau boleh dikata, “Adanya wujud diri kita ini
dinamakan Alam Sugra, dan adanya Alam Dunia ini disebut Alam Kubra.”Lalu
diumpamakan kedua wujud alam ini seperti bayang bayang yang ada di dalam Air
Tawar yang jernih, pada sebuah kolam, maka terlihat jelas, tampak semuanya,
keduanya tidak mempunyai ain hakekat wujudnya. Manakala kita merabanya yang ada
terasa Air saja, sebab wujud kedua alam
itu yang tampak dalam air hening itu adalah bayang-bayang semata. Begitulah adanya si Hamba adalah
bayang-bayang, si Hamba khayali atau sangka-sangka saja. Diri kita laksana pata
Morgana yang sifatnya dipandang dari kejauhan tampak jelas ada, tapi manakala
dipandang lebih dekat lenyap atau tidak ada keberadaannya. Bagi Pengamal
Thariqat Junaidiyah yakni thariqatul Qaum yang sudah menjalani tahapan demi
tahapan dari : Bai’at, Tawajjuh Muthlaq, Talqin Dzikir, Pengamalan Aurad,
Riyadhah, Muraqabah, Musyahadah, Muqabalah dan Mukafahah, benar-benar
keberadaan wujud al Haq telah terasa, wujud dirinya sudah lenyap dan sudah
tiada bias mengenali Dirinya lagi.
Mukafahah Rububiyah disini
adalah ketenangan jiwa, kejernihan qalbu, keheningan hati, dan beningan rohani
seseorang PTJ dengan anugrah Allah Swt yang terhunjam didada mampu menangkap
dan melihat keagungan Allah, dan mampu menyaksikan keindahan dan kekhadiran
Allah Swt. Ia dapat merasakan pada
dirinya kekhadiran af’al, Sifat asma dan wujudnya Allah Swt pada setiap sa’at
dan keadaan dengan tahqiq.
Tahapan demi tahapan telah
dilalui oleh Salik Pengamal Thariqat al
Junaidiyah hingga tahapan Mukafahah ini maka akan timbul Muayyanah (….) melihat
dengan nyata melalui kacamata syuhud bathiniyah akan segala sesuatu yang
dilihat-disaksikan. Mata tidak punya kemampuan melihat, hati rasa tidak
memiliki apapun jua, semuanya lenyap,
luluh seluruh dirinya dibawah iradah Allah Swt, maka yang terjadi yang
dirasakan mata hati dirinya adalah Syuhudul malikul haq semata, yakni pandangan
Malikul Haq yang ada. Maka fanalah semua yang ada karena dari-Nya semua sebab.
Syuhudul musabbibil asbaab. Saat ini – saat itu tak ada kata yang dapat bira,
tak da lisan yang dapat ceritera, tak ada akal yang dapat berpentasi, tak ada
rasa yang dapat menikmati dan tak ada khathar dalam hati insani, bahkan taka da
goresan dalam qalbu insani. Tetapi semua itu telah ada tersedia untuk
hamba-hamba-Nya yang shalih. Hal senada disebutkan oleh Rasul Saw dalam hadis
qudsi bahwa Allah Swt berfirman :
قَالَ النَّبِيُّ (ص) قَوْلُهُ تَعَالَى : اَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصًّالِحِيْنَ مَالَا عَيْنٌ رَاَتْ وَلَا اُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ (روأه الشيخان)
Artinya Berkata Nabi Saw
bahwa Allah Swt berfirman : “Telah Aku sediakan untuk Hamba-hamba-Ku ang saleh
sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, dan belum pernah terdengar oleh
telinga dan belum pernah tergores dalam benak hati manusia” HR Bukhari-Muslim.
Kalau boleh dikata dengan
seizing-Nya,
Fanalah wajah si Salik dalam
wajhullah,
Lenyaplah Tubuh dalam
Af’al Allah,
Lenyap hati dalam Asma-Nya,
Lenyaplah Roh dalam
Sifat_nya.
Firman Allah pada Surat al
Qashash ayat 88 berbunyi :
كُلُّ شَيْئٍ هَالِكٌ اِلَى وَجْهَهُ القصص : 88
Artinya : “Setiap sesuatu
hancur kecuali wajhullah”
Oleh karenanya Sadatina Syekh wal Imam Junaid al Bagdadi pernah berkata
bahwa : “Hakekat Tauhit
(sebenar-benarnya Tauhid itu) tiada lagi Tanya, kenapa dan bagaimana”. Tentang
Kefanaan Alam Kubra (Alam Dunia) dan Alam Sugra (Alam Insan) ini Allah Swt
telah beriman Surat ar Rahman ayat 26-27 :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَى وَجْهُ
رَبِّكَ ذُواالْجَلَالِ وَالْاِكْرَامِ ... الرحمن 26-27
Artinya : “Semua (yang ada di
alam ini) pasti lenyap, sirna hancur,
sedang yang kekal abadi hanya Wajah Tuhanmu yang memiliki Kebesaran dan
Kemuliaan.”
Pada Surat an-Nahal ayat 96 Allah
Swt juga berfirman :
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ
بَاقٍۗ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْٓا اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا
يَعْمَلُوْنَ ٩٦
Artinya : Apa yang ada di
sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Kami pasti akan
memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik
daripada apa yang selalu mereka kerjakan
Pada potongan Surat Nahal 96 Allah
Swt juga
berfirman an. :
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفُذُ وَمَا عِنْدَ اللهِ
بَاقٍقلى ......... النحل 96
Artinya : Apa yang ada di
sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.
Tafsir Surat Nahal 96 ayat
96.
Ketahuilah, wahai manusia,
bahwa apa yang ada di sisimu, berupa kenikmatan duniawi, suatu saat nanti pasti
akan lenyap, hancur, hilang, dan berakhir, dan apa yang ada di sisi Allah,
berupa kenikmatan ukhrawi dan balasan amal baik yang akan kamu peroleh adalah
kekal dan kamu akan senantiasa mendapatkannya secara abadi. Dan ketahuilah,
wahai orang yang beriman, bahwa Kami pasti akan memberi balasan yang setimpal
kepada orang yang sabar dalam melaksanakan tuntunan Allah dan meninggalkan
larangan-Nya, dengan pahala yang berlipat ganda dan lebih baik dari apa yang
telah mereka kerjakan.
2. TENTANG MAHABBAH (JATUH CINTA)
Dikisahkan bahwa Al-Junaid
berkata, “Suatu hari pamanku Syekh Sirri al-Saqati bertanya kepadaku tentang
al-mahabbah. Lalu aku menjawab, sebahagian orang mengatakan bahwa al-mahabbah
adalah keserasian (perasaan); dan yang lain pula mengatakan bahwa al-mahabbah
adalah mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Sedangkan yang lain
mengatakan begini dan begitu.” Lalu Sirri al-Saqati memegang dan menarik kulit
lengannya yang begitu kencang dan kering sehingga tidak boleh ditarik, sambil
berkata, “Demi Tuhan, jika aku berkata bahwa kulit ini menjadi kering melekat
pada tulang-tulang ini disebabkan oleh (usaha-usaha pelaksanaan amal demi)
kecintaan kepada-Nya, maka itu aku sedang menjelaskan tentang kebenaran.”
Ali Thaufan DS berkata bahwa
Dr.Ali Hasan Abd al-Qadir (editor), “Kitab Tauhid” dalam Rasail al-Junaid , h.
58. Imam Junaid berkata: “Ketahuilah sesungguhnya awal ibadah kepada Allah
adalah makrifat kepadaNya. Pokok dari makrifat kepada Allah adalah
mentauhidkanNya. Prinsip mentauhidkan Allah adalah menafikan sifat dariNya.
Allah adalah dalil atas wujudNya. Sarana untuk mecapai dalil atas wujud Allah
hanyalah taufik dariNya. Hanya dengan taufik dari Allah seseorang mampu
mentauhidkanNya. Setelah tauhid, orang tersebut akan mencapai tasdiq
(pengakuan). Dari tasdiq menuju tahqiq (penetapan) sesudah tahqiq maka terjadi
makrifat kepada Allah. Dari makrifat kepada Allah akan muncul ketaatan
kepadaNya. Dari ketaatan akan meningkat naik kepada Allah. Dari tangga naik
akan terjadi ketersambungan kepada Allah. Dari ketersambungan terjadilah
transparan. Dari transparan terjadi kebingungan. Setelah bingung, hilang
transparasi. Akibat kehilangan transparasi maka tidak mampu melukiskan Allah.
Setelah itu dia akan mencapai hakikat wujudNya. Lalu masuk kepada hakikat
syuhud dengan hilang wujudnya. Dengan kehilangan wujudnya maka wujudnya menjadi
murni. Dengan kemurnian wujud, hilang sifatNya. Dari hilangnya tersebut, ia
hadir secara total. Dia antara ada dan tiada, antara tiada dan ada. Ia ada tapi
disisi lain tiada, ia tiada tapi disisi lain ada. Kemudian dia menjadi ada
setelah tiada. Lalu dia pun akan menjadi dia setelah tiada. Setelah dia tiada,
maka dia menjadi ada dan ada, setelah ada dan tiada”.
Kalimat (ومن الترقي اليه وقع الإتصال به) atau yang berarti
“Dari tangga naik akan terjadi ketersambungan kepada Allah” menarik untuk
dicermati. Ungkapan penuh makna tersebut dapat dipahami memiliki kemiripan
dengan konsep menyatunya hamba dengan Allah. Sangat besar kemungkinan para sufi
sesudah al-Junaid –seperti al-Hallaj dan juga Ibn Arabi- mengadopsi kalimat di
atas sebagai landasan pemikiran kebersatuan hamba dengan Tuhan.
Ungkapan al-Junaid di atas
menggambarkan bagaimana tingkatan menuju ketauhidan yang “hakiki”. Cukup sulit
mencerna ungkapan al-Junaid yang mempunyai nilai bahasa sufi yang tinggi.
Tetapi penulis menggarisbawahi kalimat “Hanya dengan taufik dari Allah
seseorang mampu mentauhidkanNya”, yang dapat diartikan bahwa sebesar apapun
usaha hamba mencapai ketauhidan tidak akan berarti tanpa taufik Allah. Artinya,
hidayah Allah sangat dibutuhkan untuk mendekat kepada Allah.
Abi al-Qasim Abd al-Karim
al-Qusairi, bukunya Al-Risalah al-Qusairiyah, menyatakan bahwa “Pandangan
al-Junaid tentang tauhid juga diutarakan oleh al-Qusyairi. Ketika al-Junaid
ditanya tentang tauhid, ia menjelaskan bahwa tauhid adalah mengesakan Allah
dengan sebenar-benarnya dan sesempurna mungkin. Allah adalah maha esa, tidak
beranak dan diperanakkan. Allah tidak dapat diserupakan, diurakan dan
digambarkan.”
Selanjutnya Ali Hasan Abd al-Qadir
(editor),bukunya “Kitab Tauhid” dalam Rasail al-Junaid, dikutp Ali Taufan DS
bahwa Al-Junaid lalu menukil sebuah/potongan ayat
لَيْسَ كَمِثْلِهِج وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ*
الشُّوْراء 11
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan
Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” QS as-Syura 11
Dalam risalah tauhidnya,
al-Junaid juga membagi tauhid sang makhluk menjadi empat, pertama tauhid
orang-orang awam, kedua tauhid orang-orang alim dan berilmu, serta ketiga dan
keempat adalah tauhidnya orang-orang yang telah mencapai tingkat ma’rifah.
Tauhid bagi orang awam adalah pengakuan atas keesaan Allah serta tidak mengakui
adanya tuhan selain Dia. Tauhid bagi orang-orang alim dan berilmu adalah pengakuan
atas keesaan Allah, tidak mengakui adanya tuhan selain Dia serta menjalankan
segala perintahnya dan menjauhi larangannya.
Sedangkan tauhid orang yang
mencapai tingkat ma’rifah ada dua. Pertama, pengakuan atas keesaan Allah, tidak
mengakui adanya tuhan selain Dia serta menjalankan segala perintahnya dan
menjauhi larangannya. Tidak takut dan tidak senang melainkan karena Allah.
Selalu melihat Allah dan taat kepadaNya. Kedua, seperti bayangan yang berada
dihadapan Allah tanpa ada yang ketiga. Berlaku semua kehendak Allah , di dalam
ombak dan lautan tauhid. Dengan fana yang ada pada dirinya dan dakwah. Ia
kembali menjadi seperti tiada.
Dipandang secara zahir, kita
manusia ini adalah seorang Hambayang Ahli Sunnah, dia melaksanakan perintah
shalat, puasa, zakat, hajji, Dzikir,
bekerja, kawin. Bergaul dengan sesame dan lainnya. Dipandang pada batinnya
namun Allah yang tahu, karena hakekatnya manusia itu adalah bayang-bayang, pata morgana atau tidak ada, atau dia sudah
mati Hissi yakni yelah lenyap wujud dirinya. Maka Allah sebagai gantinya.
Mati Hissi bagi Pengamal
Thariqat al Junaidiyah (Thariqatul Qaum) adalah Ghaibnya (tidak hadirnya) pada
perasaannya yakni Batang tubuh, Hati dan Rohaniayahnya maka yang hadir atau
yang ada dirasanya hanya Allah semata. Jadi boleh dikatakan bahwa “Mati Hissi “
yaitu di dalam perasaannya telah lenyap kalimah seluruh alam yang zahir dan
yang batin, lenyap kalimah Allah-Allah, atau Huu – Allah, lenyap Nur yang
gemilang, hanya yang dirasanya yang ada Dzat Allah Swt semata-mata لَا مَوْجُوْدَ بِحَقٍّ
اِلَّا اللهُ Wujud dirinya
Zahir-Batin telah lenyap, fana pada ke
Baqaan Allah. Kamanakah wujud dirinya ? Wujud Dirinya telah dibunuh atau di
fanakan atau dilenyapkan, maka Allah lah sebagai gantinya. Hal ini dapat
dilihat berdasarkan Firman Allah dalam hadis qudsi yang berbunyi :
قَالَ النَّبِيُّ (ص) قَوْلُهُ تَعَالَى : اِنَّ
الْعَبْدَ اِذَا حَبَبْتُهُ فَاَقْتُلُهُ فَاِذَا قَتَلْتُهُ فَاَنَا دِيَّتُهُ فَبِيْ
يَسْمَعُ وَبِيْ يُبْصِرُ وَبِيْ يَمْشِي* الحديث القدسي
Artinya : “Sesungguhnya
HambaKU, apabila dia telah AKU kasihi, maka Aku bunuh (perasaan) dia, apabila telah Aku lenyapkan (perasaan)
akan dia, mak Aku lah sebagai ganti (perasaan)nya. Seolah-olah pendengaranya (pendengaran Aku) dan
Seolah-olah penglihatannya (penglihatan Aku) dan Seolah-olah langkahnya (langkah
Aku).”
Manakala Pengamal Thariqat al
Junaidiyah (Thariqatul Qaum) telah mendapatkan mati hissi maka Batang tubuh,
Hati dan Rohaniayahnya telah ghaib dirasakannya. Disini tampaklah dengan jelas
Wujud Al Haq semata. Maka tahulah dan kenallah maksud firman Allah pada surat
al Baqarah ayat 115 yang berbunyi :
وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِط اِنَّ
اللهَ وَاسِعُ عَلِيْمٌ* البقرة 115
Artinya : “Dan kepunyaan
Allah lah apa saja di Timur hingga Barat, oleh karenanya kemana saja kamu
memalingkan mukamu, maka disanalah Wujud Allah, sesunguhnya Allah amat luas
karunia-Nya dan ilmu-Nya”. QS. Al Baqarah 115.
وَلِلَّهِ مَا فِى السَّمَاوَاتِ ومَا فِى الْاَرْضِط وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَيْئٍ مُحِيْطًا* النساء 126
Artinya : “Dan kepunyaan
Allah lah apa saja di Langit dan di Bumi. Dan adalah Allah itu meliputi (mesra)
dengan tiap-tiap sesuatu.” QS. An Nisa 111
Pengamal Thariqat al
Junaidiyah (Thariqatul Qaum) yang sampai melalui Bab Al Mukafahah. Mereka akan merasa berada pada makam Fana
fillah menuju makam Baqa Billah. Disini mereka telah fana, karam atau lebur
pada Dzat Allah, seluruh alam Sugra dan alam Kubra dirasakan tiada ada lagi.
Segala yang di dengar, segala yang dilihat, segala yang dikatakannya, segala yang
kuasa atau kehendak dan juga hidupnya atau kalimah Allah-Allah, atau kalimah
Huu … Allah, atau Nur Muhammad yang gemilang pun telah lenyap. Sekiranya
Pengamal Thariqat al Junaidiyah (Thariqatul Qaum) ada merasa hadir dirinya atau
sesuatu yang lain, maka dikatakan Syirik Khafi.
وَلَوْ خَطَرَتْ لِيْ فِى سِوَاكٍ اِرَادَةٌ*
عَلَى خَاطِرِيْ سَهْوًا قَضَيْتُ بِرَدَّتِيْ
Artinya : “Andaikata terhantar satu kehendak di dalam hatiku, selain dari pada Mu, ya Tuhan karena lalai dan lupa, kuhukumkan
diriku ini ke lembah murtad.”
Bila terbetik dan terhantar
dalam jiwa kita atau dalam qalbu kita, terbetik ada rasa kehendak,
terbetik punya ilmu, terbetik punya
kehidupan, terbetik ada rasa melihat dan terbetik ada rasa mendengar dan lainnya dihukumkan riya dan syirik khafi. Allah Swt menjadikan manusia termasuk bangsa Jin untuk
beribadah kepada-Nya. Oleh karenanya pada surat al Kahfi ayat 111 Allah berfirman :
وَلَا يُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ اَحَدًا* الكهف 111
Artinya : “Janganlah ia memperserikatkan-Nya dengan
menyembah Tuhannya akan seseorang.”
3. MANFA’AT TAWAJJUH MUTHLAQ BAGI SALIK PENGAMAL THARIQAT
Untuk menghindarkan
supaya kita terhindar dari pada Syerik Khafi, maka kita mengambil
jalan atau terus berkekalan ber TAWAJJUH
MUTHLAQ
Cara Tawajjuh Muthlaq yang
sudah diajarkan oleh Guru Mursyid atau Badal Guru Mursyid itu banyak sekali
nilai-nilai yang dikandung di
dalamnya diantaranya :
1.Istighfar Pertama
membunyikannya tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek (sedang saja).
Menurut bahasa Syari’atnya “ Ya Allah, aku ridla bahwa Engkaulah Tuhanku.”
Arti bahasa hakekatnya : “Ya Allah. Aku
serahkan Batang Tubuhku.” Disa’at itulah kita tidak punya Batang Tubuh secara hakekat.
اَسْتغْفِرُ
اللهَ ......... اى الْاِنَابَةِ اِلَى اللهِ
2.Istighfar Kedua ini membunyikannya (اَسْتغْفِرُ
اللهَ).agak panjang dari yang pertama.. Menurut bahasa Syari’atnya “
Ya Allah, aku ridla bahwa Islam itu agamaku, Sedangkan bahasa hakekatnya : “Ya Allah. Aku serahkan
Hati kalbuku” Disa’at itulah
kita tidak punya Hati secara hakekat. Yang menghubungkan alam nyata dan
alam ghaib atau alam zahir dan alam batin.
اَسْتغْفِرُ
اللهَ ......... اى التَّفْوِيْضُ اِلَى اللهِ
3.Istighfar Ketiga
membunyikannya agak pendek (اَسْتغْفِرُ اللهَ).
Menurut bahasa Syari’atnya “ Ya Allah, aku ridla bahwa Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasulku” atau sebagai
bahasa hakekatnya :bahwa “Ya
Allah. Aku serahkan Rohaniyahku” kepada
Engkau. Disa’at itu Sailk merasa tiada
punya Ruh lagi secara hakekat. Atau
dengan kata lain, pandangan mata kepala,
mata hati bahwasanta :
اَسْتغْفِرُ اللهَ ......... اى التَّسْلِيْمُ
اِلَى اللهِ
لَافَاعِلَ اِلَّا الله* قَوْلُه تَعَالَى
: وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ*
لأ صِفَاةَ اِلَّا الله* لَا حَيٌّ وَ لَا عَالِمٌ وَ لَا قَادِرٌ وَ لَا مُرِيْدٌ وَ لَا سَمِي‘ٌ وَ لَا بَصِيْرٌ وَ لَا مُتَكَلِّمٌ اِلَّا اللهُ* وَ لَا اِسْمًا الَّا اَسْمَاءُ اللهِ*
Menurut pendapat Ibnu Arabi, rahimahullah dalam
pendangannya bahwa “Al Haq yakni Allah
dari segi Ketuhanannya (Uluhiyah) terhadap makhluk, dan bukan dari segi
Dzat-Nya yang terbebas dari sifat dan nisbah. Ia mengatakan bahwa “Sesungguhnya
Al Haq bertajalli (memanifestasi) pada bentu sesuatu di alam ini, apapun tak
akan tampak kecuali dengan –Nya. Oleh karenanya seoramg A’rif akan mengetahui,
bahwa ia tidak melihat apapun kecuali yang Al Haq.” Yang al Haq ini tegasnya
adalah Allah yang bertajalli pada bentuk segala sesuatu yang disaksikan oleh
segenap makhluk.
Tidaklah mustahil kalau Tuhan itu bertahwil kepada segala
sesuatu, itu sah-sah saja.
Berkata seorang Ahli Sufi
dalam Syairnya bahwa :
قَالَ اَهْلُ الصُّوْفِيَّةِ : تَجَلَّى حَبِيْبِيْ
فِى مَرَائيْ جَمَالَهُ* فَفِى كُلِّ مَرْءٍ لِلْحَبِيْبِ طَلَائِعَ* فَلَمَّا تَجَلَّى
حُسْنُهُ مُتَنَوِّعًا* تُسَمَّى بِاَسْمَاءٍ فَهُنَّ مُطَالِعَ*
Artinya : “Telah menampakkan oleh kekasihku akan
keindahan-Nya pada penglihatanku kepada setiap orang. Ia menampakkan dirinya.
Manakala ia bernampak dengan segala keindahannya yang beraneka ragam. (Maka)
bernamalah ia dengan nama menurut
wujudnya akan keindahan itu.”
Pada Bab Al Mukafahah ini
diuraikan juga contoh-contoh untuk mendekatkan pemahaman atau pengertian bagi
Pengamal thariqat al Junaidiyah (thariqatul qaum) tentang kemesraan, kasih dan
saying Allah Swt dengan hamba-Nya dan
makhluk-Nya. Allah Swt berfirman yang berbunyi :
قَوْلُهُ تَعَالَى : وَ اللهُ مُحِيْطٌ لِلْعَالَمِيْنَ*
Artinya : “Allah adalah Dzat yang Maha Esa meliputi
(mesra) bagi seluruh alam.”
4. MENGETAHUI ASAL MUASAL DIRI
KITA
Untuk mendekatkan pemahaman
kita sebagaimana yang dikatakan bahwa. Allah adalah Dzat yang Maha Esa meliputi
(mesra) bagi seluruh alam, yaitu mari kita lihat Lautan yang luas, ada air
laut, ombak dan buih “Laut, Ombak dan Buih itu adalah Mazharnya
AIR (kenyataan air juga).dan tiadalah yang ada hanya semata-mata AIR juga. Mana
kala bergerak-gerak Air itu, maka bernama lah ia “Ombak – Gelombang”. Tatkala
Ombak- Gelombang itu bergulung-gulung ditiup angin, maka tampaklah Ombak itu
seperti Buih (buih berwarna putih) seolah-olah Bunga Air. Maka tatkala luas
gerak Ombak, Buih dan Air itulah yang dinamai ia dengan Lautan. Tetapi hakekat
Laut, Ombak dan Buih itu ialah AIR semata-mata. Kalau tiada ada Air,
tidak akan ada Buih, kalau tidak ada Air maka tidak ada Ombak.
Kalau tiada ada Air idak akan ada
Lautan.
Air itulah yang meliputi
Laut, Ombak dan Buih, jika air tidak bergerak-gerak dan tiada berbuih-buih dan
jika air itu tidak bertempat yang luas, tidak akan ada yang nama Lautan. Maka apa yang ada maka tidak
lain ialah Air semata-mata.
Bagitulah untuk mendapatkan pemahaman, bahwa Allah itu Dzat yang Maha
Suci. Dia telah meliputi atau mesera kepada tiap-tiap sesuatu
yakni meliputi seluruh alam Sugra dan alam Kubra dan telah Mesera dengan sifat-sifat Ketuhanan yang Maha Esa.
Mari kita lihat contoh lain ;
Lihatlah sehelai kain. Kain itu terdiri dari Benang dan benang itu terdiri dari
Kapas. Kalau tidak ada Kapas maka benang pun tidak ada. Kalau tidak ada Benang
maka kapaspun tidak ada. Mengenal diri adalah batu loncatan atau tangga untuk mengenal
Allah Swt. Sudah dijelaskan bahwa wujud ada empat unsur yaitu unsur Thurabiyah,
unsur Rohaniyah, unsur Nuraniyah dan unsur Rabbaniyah, itulah diri pribadi
Manusia.
Diri itu terdiri terbagi
terbagi tiga macam, yaitu yang pertama yang dinamakan :
1.SEBENAR DIRI
2.DIRI TERPERI DAN
3.DIRI TERDIRI
SEBENAR DIRI itu laksana Kapas, umpama DIRI
TERPERI itulah laksana keadaan Benang,
sedangkan DIRI TERDIRI itu umpama Kain. Kain itu umpama Adam (Batang Tubuh)
kita, Benang itu umpama Muhammad (Roh kita) dan Allah itu umpama Kapas. Untuk
mendekatkan faham bahwa “Allah meliputi atau mesera dengan Muhammad dan
Adam. Adam adalah Diri Terdiri, Muhammad
adalah Diri Terperi, dan Allah meliputi sebenar-benar diri.
Awas, perhatian ini contoh
saja, tetapi Allah lah yang lebih tahu.
Penyusun kitab al-Risalah Umdatul
Hasanah lil Jama’ah Thariqah al Junaidiyah disusun sebagai Benteng Pertahanan
Thariqat al Junaidiyah menyimpulkan tentang Mukafahah bahwa Salik yang sampai
pada hal Mukafahah ini, Rohaniyahnya selalu berkasih-kasihan dan cinta kasih
kepada Af’al Allah Swt, Rohaniyahnya
selalu berkasih dan saying kepada Asma Allah dan Rohaniyahnya selalu berkasih
dan saying kepada Sifat-sifat Allah Swt bahkan sangat kasih kepada Dzat Allah
Swt. Oelh karenanya Salik yang mengelami dan sampai kepada Hal Mukafahah ini,
apapun yang terjadi pada dirinya. Ia selalu tersenyum dan banyak bersyukur
kepada Allah, dan juga selalu ridla dengan kadar Allah dan juga Imosinya selalu
terkendali.
Timbul satu pertanyan,
“Mengapa Salik bisa bersikap begitu
? Jawabannya adalah karena Rohaniyahnya
berkasih-kasihan dan cinta kasih dengan Af’al, Asma dan Sifat-sifat Allah bahkan
kasih dan cinta dengan Dzat Allah Swt. Wallaahu a’lam.
E.DOKTERN AJARAN THARIQAT AL JUNAIDIYAH (THARIQATUL
QAUM)
Imam Al Junaid nama
panjangnya adalah Abul Qasim al Junaid Ibnu Muhammad (اَبُوْ
الْقَاسِمِ الْجُنَيْدُ اِبْنُ مُحَمَّدٍ) yang masanya
dipanggil Merak Ulama (تَعُسُّ الْعُلَمَاءِ)
Dia adalah pimpinan Aliran Thariqat Sufi dan Imam dari Imamnya. Dokterin aliran
thariqat al Junaid didasarkan kepada “Ketenangan”. Dokterin ini adalah dokterin
yang paling terkenal. Hampir semua Syekh Tasawuf mengadopsinya (mengambilnya).
Meskipun banyak terdapat perbedaan dalam ungkapan-ungkapan mengenai Ethika
Tasawuf.
Dokterin aliran al Junaid ini
bertolak belakang dengan aliran Taypuri Syekh Abu Yazid al Bustami yang lebih
menyukai kegairahan (غَلَبَةً) dan Kemabukan (سُكْرُا) sedangkan Syekh Al Junaid lebih menyukai
“Ketenangan” (نَجْوًا).
Al Junaid dan para
Pengikutnya lebih menyukai “Ketenangan”
(نَجْوًا) dari pada “Kemabukan” (سُكْرُا). Mereka melihat dan
memandang bahwa kemabukan adalah kejahatan. Karena kemabukan akan menimbulkan
gangguan kepada keadaan Normal seseorang dan akan kehilangan kewalian dan juga
akan kehilangan control diri.
Sudah menjadi prinsif bahwa
semua hal harus dicari melalui cara pelanyapan
(الْفَنَاءُ) dan cara kekalan (الْبَقَاءُ) atau penghapusan dan penegasan. Semua
prinsif Verifikasi ini tdak bisa dicapai menurut Syekh Al Junaid kecuali bisa
di capai oleh orang yang berpikiran waras atau normal (Orang yang tenang/waras)
yakni (نَجْوًا).
Dalam Hikayat diceritakan
bahwa ketika Husain Bin Manshur (حُسَيْن اِبْنُ مَنْصُوْر)
yaitu Al Halajj dalam kegairahan dan kemabukannya memutuskan seluruh
hubungannya dengan (Gurunya) Syekh Amir bin Usman (عَامِر
اِبْنُ عُثَمَان) di Mekkah, dan pada akhirnya Al Halajj datang kepada Syekh Al
Junaid. Kemudian Syekh Al Junaid menanyakan tujuannya datang sehingga ia menemuinya.
Al Halajj menjawab bahwa “Saya ingin
bergaul – berteman dengan Syekh Al Junaid.”
Al Junaid menjawab : “Saya tidak
ingin bergaul dengan orang gila (sepertimu). Pergaulan membutuhkan kesehatan
jiwa, jika kesehatan jiwa itu tidak ada, maka
hasilnya adalah sikap Engkau terhadap Syekh Sahl Ibnu Abdullah al
Tustari dan Syekh Amir bin Usman.”
Al Halajj menjawab : “Wahai
Syekh Al Junaid, Ketenangan
dan Kemabukan adalah
dua sifat manusia yang berbeda, dan manusia akan terhijab dari Tuhannya
sehingga sifat-sifatnya difanakan.”
Wahai putera Manshur kata Al Junaid “ Engkau keliru memahami Ketenangan
dan Kemabukan.” Ketenangan menunjukkan Validitas (keadaan yang sah) spiritual
seseorang dalam hubungannya dengan Allah, sementara Kemabukan menunjukkan berlebihannya
kerinduan dan butanya cinta, dan keduanya (berlebihan kerinduan dan butanya
cinta) tidak bisa dicapai oleh manusia.” Hai Putera Manshur! Dalam perkataanmu
saya mendapati keboduhan dan omong kosong”.
Kebutaan tidak akan
membebaskan manusia dari perbudakan dan penyelewengan Fenomena. Kenyataannya bahwa manusia tetap dalam
Fenomena dan melupakan Allah dikarenakan
mereka tidak melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Sebab jika
mereka melihat sebagaimana adanya
maka mereka akan lari.
Bentuk melihat terbagi dua
macam yaitu :
1.Kecamata Penghapusan atau
Pelenyapan Diri (الْفَنَاءُ)
2.Kecamata Penegasan (Klaim)
atau Kekekalan (الْبَقَاءُ)
Bentuk melihat melalui
Kecamata Penghapusan atau Pelenyapan Diri atau Kecamata Penegasan (Klaim) atau
Kekekalan. Dia yang melihat apapun
melihatnya baik dengan Kecamata Penghapusan atau Pelenyapan Diri atau Kecamata
Penegasan (Klaim) atau Kekekalan. Jika
dia melihat dengan Kecamata Kekekalan, maka berarti dia melihat bahwa seluruh
alam semesta ini tidaklah semporna dibandingkan dengan kekekalan-NYA (Allah)
sendiri, karena dia tidak melihat fenomena sebagaimana kekekalan dengan
sendirinya.
Jika dia melihat dengan kecamata Kefanaan, dia
akan melihat bahwa seluruh makhluk tidaklah wujud (tidak ada) disisi kekekalan
Allah. Dalam semua kejadian Dia berpaling dari makhluk. Rasulullah Saw pernah
berdo’a : “Ya Allah, tunjukkan kepada Kami segala sesuatu seperti apa adanya,
karena orang yang melihat sebagaimana adanya akan tenang"
Arti Arabnya menurut google
translate
وقد دعا النبي محمد (صلى الله عليه وسلم) ذات
مرة قائلاً: "اللهم أرنا كل شيء على حقيقته، فإن الذين يرونه على حقيقته سيكونون
في سلام". اى هَادِئٍ
Arti Arabnya menurut google
translate :
قَوْلُهُ النَّبِيُّ (ص) : " اَللَّهُمَّ اَرِنَاا لْاَشْيَاءَ عَلَى
حَقِيْقَتِهَا لِاَنَّ مَنْ يَرَى عَلَى حَقِيْقَتِهِ سَيَكُوْنُ فِى سَلَامٍ"
اى هَادِئٍ
Penglihatan seperti itu tidak bias dicapai
sebagaimana layaknya kecuali dalam keadaan tenang. Rasulullah Saw dalam
keadaan tenang sehingga ia
bias melihat keagungan yang sama secara terus-menerus. Dengan kesadaran
yang semakin lama semakin meningkat, hingga Rasulullah Saw berdiri
diruangan yang hanya berjarak dua ujung busur panah dari kekhadiran Ilahi
(Tuhannya). Hal ini telah diabadikan
dalam Kitab Suci Al Qur’an, lihat pada Surat An Najam ayat ke- 9 – 11
yang berbunyi :
فَكَانَ
قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنَى* فَاَوْحَى اِلَى عَبْدِهِ مَا اَوْحَى* مَاكَذَبَ
الْفُؤَادُ مَا رَأَى* النجم 9-11
Artinya : “Maka adalah jaraknya dari pada
Nabi Saw sekedar dua ujung busur panah atau lebih dekat
lagi dari pada itu. Kemudian Ia (Allah) mewahyukan kepda Hamba-Nya (Muhammad)
apa-apa yang diwahyukan-Nya. Tidaklah meningkari hati Nabi Saw terhadap
apa-apa yang dilihatnya.” QS. An Najam
9-11.
Berbicara mengenai dua
macam Kecamata cara memandang baik memandang
dengan Kecamata KEKEKALAN atau
cara melihat dengan Kecamata KEFANAAN, Insya Allah akan kita bahas kedua Pandangan atau Penglihatan
dimaksud.
F. AL-JUNAID DAN PENGIKUTNYA
LEBIH MENYUKAI GHAIBAH DARI PADA HUDUR
Berbicara berbicara mengenai “HUDUR” yakni “
Kekhadiran Diri” (الْحُضُوْرُ)
dan “GHAIBAH” yakni
“Ketidakkhadiran Diri” (الْغَيْبَةُ)
yang dirasakan oleh Pengamal Thariqat.
Syekh Imam Al Junaid Rahimahullah pada masalah Hudur dan Ghaibah yakni Kekhadiran
Diri dan Ketidakkhadiran Diri, Beliau Syekh al Junaid lebih menyukai
“GHAIBAH” yakni “Ketidakkhadiran Diri” (الْغَيْبَةُ)
Al Imam Al Junaid lebih menyukai
“GHAIBAH” yakni “Ketidakkhadiran Diri” (الْغَيْبَةُ)
katimbang “HUDUR” yakni “ Kekhadiran
Diri” (الْحُضُوْرُ) Menurutnya Ghaibah adalah ketidakkhadiran
Hati dari segala sesuatu kecuali Allah yang hadir. Hingga titik
tertentu menjadi tidak khadir
dari ketidakhadirannya. Bahkan tidak hadir dari Dirinya sendiri. Sehingga ia
tidak lagi menganggap dirinya sendiri ada.
Tanda dari keadaan ini adalah
Penarikan Diri atau Pelenyapan Diri atau Penyerahan Diri dari Batang Tubuh,
Hati dan Rohaniyah dari
semua kekuasaan formal, maka
ketidakhadiran Diriny (الْغَيْبَةُ)
adalah kehadiran Allah semata.
Diriwayatkan bahwa “Seseorang pernah datang
kepada Syekh Al Junaid Rahimahullah, dan
orang (tamu) itu berkata : “Wahai Syekh Hadirlah Engkau dengan saya
walau sejenak, sehingga saya
dapat berbicara dengan Engkau.”
Syekh al Junaid menjawab : “Wahai anak
muda, Engkau menuntut dari saya
akan sesuatu yang sudah lama
saya cari ( yakni kekhadiran diri saya). Selama bertahun
tahun saya berharap bisa hadir dengan
diri saya sendiri barang sejenak,
tetapi saya tidak
bisa. Dan bagaimana mungin saya
bisa hadir dengan Engkau sekarang.
Ceritera ini menunjukkan bahwa Imam Al Junaid benar-benar
Ghaibah (الْغَيْبَةُ) tidak
bisa menghadirkan dirinya walau sebentar, ia benar-benar berada dalam
keadaan Fana ul fana dan Baqa Billah.
Diceriterakan pula bahwa “
Pada suatu hari seorang laki-laki datang
kepada Syekh dan Imam Al Junaid radliyalluhu anhu dan ia bertanya, ujar laki-laki
itu, “Ya Abal Qasim, apakan Tuan melihat
Tuhan waktu Tuan menyembah-Nya ? Al Junaid berkata, memberikan jawaban kepada
orang itu : “Wahai penanya yang terhormat ! Kami tidak pernah menyembah Tuhan
yang kami tidak melihat dan kami tidak mensucikan apa-apa yang tidak
jelas.” Orang itu bertanya lagi :
“Bagaimana caranya Tuan melihat Tuhan ? al Junaid Radliyallahu anhu berkata
termaktub dalam kitab Iaqazul Himam ……..
اَلْكَيْفِيَةُ مَعْلُوْمَةٌ فِى حَقِّ الْبَشَرِ
مَجْهُوْلَةٌ فِى حَقِّ الرَّبِّ* لَنْ تَرَاهُ الْاَبْصَارُ فِى هَاذِهِ الدَّارِ بِمُشَاهَدَةِ الْعِيَانِ*
وَلَكِنْ تَعْرِفُهُ الْقُلُوْبَ بِحَقَائقِ الْاِيْمَانِ ثُمَّ تَتَرَقَّى مِنَ الْمَعْرِفَةِ
اِلَى الرُّؤْيَةِ بِمُشَاهَدَةِ نُوْرِ الْاِمْتِنَانِ* كِتَاب ايْقَاظُ الْهِمَمِ
Maksudnya : Adapun caranya
diketahui dari Sifat-sifat ke Insanan
itu (حَقُّ الْبَشَرِيَّةِ) fositif. (Fositif
adalah mata kepala dapat melihat dan meraba). Sedangkan sifat-sifat pada
hakekat Ketuhanan (حَقُّ الرَّبِّ) itu negative.
Maksudnya mata kepala tidak bisa melihat di negeri dunia ini dengan penglihatan
mata kepala. Akan tetapi hati dapat melihat Tuhan dengan kekuatan Iman.
Selanjutnya kita jejaki, kita telusuri dari pada pertolongan “Marifat” kearah
penglihatan (رُاْيَةٌ) ru’yat dengan
pandangan Nur karunia dari Tuhan. ………
Keadaan Orang tersebut,
setelah mendengarkan dan memperhatikan
uraian dari Syekh – Imam al Junaid Radliyallahu anhu maka berdirilah orang itu
seraya mencium tangan Syekh al Junaid. Kemudian ia bertaubat, inabah terus-menerus
dan kemudian ia selalu bersama-sama Gurunya Syekh al Junaid hingga akhir
hayatnya.
Perlu Penyusun kitab al-Risah
Umdatul Hasanah Lil Jama’ah Thariqat al Junaidiyah adalah Benteng Pertahanan
Thariqat al Junaidyah (Thariqatul Qaum) menekankan sekali lagi bahwa ta’rif Thariqat al Junaidiyah
adalah :
دَوَامُ مُرَاقَبَةِ اللهِ تَعَالَى بِالْبَاطِنُ
Maksudnya : “Berkepanjangan –
berkekalan mengawasi jiwanya (agar tidak lupa-lalai) dengan Allah (lahir –
batin)”.
Jadi berkepanjangan mengawasi
hatinya agar tidak lalai dengan Tuhannya yaitu Allah Ta’ala. Disini Pengamal Thariqat al Junidiyah
(thariqatul Qaum) senantiasa terikat jiwa-raganya dengan Allah semata.. ia
tidak ada kesempatan memikirkan nikmat dunia dan nikmat akhirat. Maka ia
terlepas dan keluar dari pengaruh nafsu dan tipu daya Syaithan. Dengan demikian
jiwa raga Pengamal Thariqat al Junidiyah (thariqatul Qaum) bagaikan para Malaikat yang dapat melihat
keagungan Tuhannya setiap sa’at.
G. PEMBAHASAN AL FANA’U FILLAH (فَنَاءٌ فِى اللهِ)
1. Al Fana'u Fillaah oleh Salik
Salah satu Kecamata Pandang
yang dibahas pada Bab Al Mukafahah ini adalah “Memandang melalalui Kecamata
Kefanaan.” Bila ketenangan jiwa telah
sempurna, kejernihan dan keheningan hati telah didapat oleh Salik, maka dengan
Anugrah Allah Swt ia mampu melihat dan
menangkap keagungan Allah Swt. Dia akan merasakan lenyapnya af’alnya
digantikan oleh kehadiran af’al-Nya Allah. Begutu pula Dia akan merasakan
lenyapnya asmanya digantikan oleh kehadiran asma-Nya Allah dan Dia akan
merasakan lenyapnya sifat-sifatnya digantikan oleh kehadiran sifat-sifat-Nya
Allah pada setiap hembusan nafas dan tarikan nafasnya. Inilah yang dinamakan al
Mukafahah Zauqiyah.
Sebenarnya seorang Sadatina
dari golongan Shahabat yang memperkatakan tentang ajaran Al
Fana’u (الفناء) adalah Amirul Mu’minin Khalifat Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu pernah berkata :
وَفِى
فَنَائِيْ وَفِى فَنَائِيْ وَفِى فَنَائِيْ وَجَدْتُ اَنْتَ
Artinya : “Di dalam fana’ku (lebur aku) leburlah kefanaanku, tetapi di dalam
kefanaanku itulah, aku mendapatkan
Engkau (Wahai Allah).
Dikala itu Salik Pengamal Thariqat…. dikatakan Fana,u Fillah wal Baqa’u Billah (فَنَاءٌ فِى اللهِ وَ بَقَاءٌ بِاللهِ). Pada keadaan begitu yang bisa mengungkap
keadaanya perasaan dzauqiyahnya (rasa lezatnya). Didalam Kitab Sirajut Thalibin pada Zus
Pertama Syekh Dahlan telah menukil
perkataan Aulia yakni :
مَااَعْرِفُ اِلَّا اللهُ وَلَا اَدْرِي اِلَّا اللهُ وَهَذَا مَعْنَى قَوْلُ الْمُصَنِّفِ اي الْغَزَالِي
: فَمَنْ رَاَى الْحَقَّ رَآهُ فِى كُلِّ شَيْئٍ
الخ * وَلَوْ تَصَوَّرَ شَخْصٌ لَا يَرَى اِلَّا الشَّمْسَ وَنُوْرَهَا الْمُنْتَشَرَ فِى الْاَفَاقِ يَصِحُّ اَنْ يَقُوْلَ : مَا اَرَى
اِلَّا الشَّمْسَ, فَاِنَّ النُّوْرَ الْفَائِضَ
مِنْهَا هُوَ مِنْ جُمْلَتِهَا لَيْسَ خَارِجًأ عَنْهَا وَكُلُّ مَا فِى الْوُجُوْدِ
نُوْرٌ مِنْ اَنْوَارِ الْقُدْرَةِ الْاَزَلِيَّةِ وَآثَرٌ مِنْ آثَارِهَا وَكَمَا
اَنَّ الشَّمْسَ يَنْبُوْعُ النُّوْرَ الْفَائِضَ
عَلَى كُلِّ مَوْجُوْدٍ* فَلَيْسَ فِى الْوُجُوْدِ اِلَّا اللهُ, وَمَنْ عَرَفَهُ عَرَفَ اَنَّ كُلَّ
شَيْئٍ مَاخَلَا اللهُ بَاطِلٌ وَاِنَّ كُلَّ شَيْئٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهُ, لَا
اَنَّهُ سَيُبْطِلَ وَيَهْلِكَ فِى حَالٍ ثَانٍ اى فِى وَقْتٍ مِنَ الْاَوْقَاتِ بَلْ هُوَ اَلْآنَ بَاطِلٌ وَهَالِكٌ اَزَلًا وَاَبَدًا
لَا يَتَصَوَّرُ اِلَّا كَذَالِكَ* سراج الطالبين جرء الاول
Artinya : Aku tidak mengenal
apa pun selain Tuhan, dan aku tidak menyadari apa pun selain Tuhan. Inilah
makna dari apa yang dikatakan oleh penulis, al-Ghazali: “Siapa pun yang melihat
Kebenaran, melihatnya dalam segala hal, dan seterusnya.” Bahkan jika seseorang
membayangkan hanya melihat matahari dan cahayanya yang menyebar di cakrawala,
tetap benar baginya untuk mengatakan: “Aku tidak melihat apa pun selain
matahari,” karena cahaya yang terpancar darinya adalah bagian darinya, bukan
terpisah darinya. Dan segala sesuatu yang ada adalah cahaya. Dari cahaya
kekuatan abadi dan jejak pengaruhnya, sebagaimana matahari adalah sumber cahaya
yang melimpah atas segala sesuatu yang ada.
*Tidak ada sesuatu pun yang
ada selain Allah, dan siapa pun yang mengenal-Nya mengetahui bahwa segala
sesuatu selain Allah adalah dusta dan segala sesuatu akan binasa kecuali
Wajah-Nya. Bukan berarti ia akan menjadi dusta dan binasa di waktu lain, tetapi
ia sekarang adalah dusta dan binasa, kekal dan abadi. Tidak dapat dibayangkan
sebaliknya.* (Siraj al-Talibin, Bagian 1)
Maksudnya : “Aku tidak kenal
(yang lain) kecuali Allah (semata), aku
tidak tahu (yang lain) kecuali Allah (semata). Inilah pengertian atas ucapan
Pengarang (Imam Al Ghazali) : “Siapa
yang melihat Al Haq (Allah) maka melihatlah ia kepada Allah pada segala sesuatu
……… seterusnya.” Dan andaikata seseorang tersawur (tergambar) pada
kata-katanya bahwa ia tidak melihat disegala ufuq atau penjuru.” Benarlah apa yang dikatakan bahwa “Sesungguhnya cahaya matahari melimpah dari
matahari itu sendiri, padahal cahaya
itu sendiri termasuk matahari
itu sendiri, bukan berarti cahaya
itu keluar dari
pada maatahari.
Seluruh yang wujud adalah NUR
(نُوْرٌ) dari
ANWARUL QUDRATIL AZALIYAH (اَنْوَارِ الْقُدْرَةِ الْاَزَلِيَّةِ) Yakni cahaya qudrat
yang azali dan asar dari pada asar
Anwarul qudratil azaliyah (وَآثَرٌ مِنْ آثَارِهَا)
seperti matahari yang mengalirkan cahaya
atas semua yang ada ini. Maka tidak ada pada wujud ini
kecuali (yang ada) Allah semata. Si siapa yang mengenal-Nya, ia akan mengerti bahwa segala sesuatu ini
yang selain Allah adalah Batil.
Sesungguhnya segala sesuatu ini adalah batil kecuali Dzat
Allah Swt. Tidaklah yang dimaksudkan
batil atau binasanya atau
lenyapnya sesuatu hanya pada sesuatu
waktu saja atau yang akan datang. Bahkan
sesuatu itu, sekarangpun adalah
Bathil dan Binasa dalam arti “AZALI” dan selama-lamanya. Tidak ada gambaran atau
contoh atau penjelasan selain seperti hal itu.”
1.Hakekat Fana’u Fillah
(حَقِيْقَةُ الْفَنَاءِ فِى اللهِ).
Sebagaimana telah kita
ketahui bahwa Hakekat Fana’u Fillah tersebut telah tercantum dalam sebuah kitab klasik yang bernama “
Jami’ul Ushul Fil Aulia halaman 172 yang berbunyi :
وَاَمَّا حَقِيْقَةُ الْفَنَاءِ هِيَ سُقُوْطُ
الْاَوْصَافِ الْمَذْمُوْمَةِ وَالْبَقَاءُ
وُجُوْدُ الْاَوْصَافِ الْمَحْمُوْدَةِ* اَلْفَنَاءُ اِثْنَانِ اَحَدُهُمَا مَاذُكِرْنَاهُ وَهُوَ بِكَثْرَةِ الرِّيَاضَةِ*
وَالثَّانِي : عَدَمُ الْاِحْسَاسِ بِعَالَمِ الْمَلَكُوْتِ وَهُوَ بِالاِسْتِغْرَاقِ
فِى عُظْمَةِ الْبَارِي وَمُشَاهَدَةِ الْحَقِّ* وَاِلَيْهِ اَشَارَ بَعْضُ الْمَشَايِخِ
بِقَوْلِهِ : الْفَقْرُ سَوَّادُ الْوَجْهِ
فِى الدَّارَيْنِ يَعْنِى الْفَنَاءُ فِى الدَّارَيْنِ(1) جامع الاصول فى الاولياء رقم
172
Jadi, adapun yang dimaksudkan Hakekat al Fana’I
itu adalah gugurnya (hilangnya)
sifat-sifat tercela pada diri kita. Dan
adanya (terbitnya) sifat-sifat mahmudah (yang terpuji) pada diri kita. Dan Fana
itu ada dua macam : Pertama yakni kita sebutkan seperti sering atau banyaknya melakukan Riyadah
(latihan-latihan) kerohanian. Kedua :
Menghilangkan perasaan terhadap alam Malakut yaitu dengan
jalan Istigraq (pelenyapan keinsanan) pada Kebesaran Tuhan serta
memandang Al Haq (Allah Swt). Dan padanya itu suatu
isyarat oleh sebagian Syekh dengan ucapannya :
“Kefakiran itu adalah melenyapkan wajah (bertawajjuh)
pada dua negeri yakni negeri dunia dan
negeri akhirat. Maksudnya kita Salik sebagai Pengamal Thariqat Sufi selalu /senantiasa berkepanjangan bertawajjuh meniadakan dua negeri dunia dan
akhirat ini. Kalau dikecilkan lagi
kita selalu bertawajjuh memfanakan meniadakan dua alam yaitu alam Sugra dan alam
Kubra.
2.Contoh Pengertian Fana si Hamba dengan Allah Swt.
Memang sulit untuk memberikan contoh yang cucuk,
yang sangat relevan tentang Pengertian
Fana si Hamba dengan Allah Swt. Jika kita
bakar sekerat Besi dalam Api, maka lama kelamaan hilanglah Besi itu, besi
itu telah berubah menjadi api
semata-mata. Kalau kita pegang-pegang besi
itu tentu tangan kita akan
terbakar. Sebab besi itu telah fana (lenyap ia)
dalam api. Kemanakah Besi itu ?
Sebab Besi tetap selamanya besi
dan Api tetap selamanya Api. Tidak
ada Besi menjadi Api dan
sebaliknya tidak ada api menjadi besi.
Begitulah kira-kira
seorang Hamba yang
dikasihinya, maka Hamba
itu telah fana (lenyap) pada sisi
Tuhannya. Dia tidak bisa lagi menghadirkan dirinya, yang mana
diri-diri mereka dan mereka tidak
mengenalnya lagi. Diri Salik Pengamal
Thariqat Sufi telah hilang-lenyap di
dalam kebaqaan Allah Swt.
3. Pembahasan Ghaibah (الْغَيْبَةُ) dan Hudhur (الْحُضُوْرُ)
Dalam konteks tasawuf, Al-Ghaibah artinya keadaan fana atau hilangnya kesadaran diri Salik dari segala sesuatu selain Allah SWT.
Mengutip salah satu Artikel bahwa Hudhrul Haq adalah salah satu bentuk musyahadat, yang berarti atas sekehendak Allah Swt dan manusia tidak terlibat sama sekali, meskipun ia melakukan keberupayaan. Jika musyahadat teraih tatkala melakukan dzikrullah atau muroqobah, maka itulah yang disebut dengan beribadah sambil menikmati sajian ruhani. Inilah yang membedakan orang-orang yang gemar bermujahadah dengan yang tidak. Dan menyadari pentingnya mendahulukan orang lain daripada dirinya, pentingnya melayani bukan dilayani, pentingnya memberi bukan menerima, pentingnya merendah bukan sombong, pentingnya berkata jujur bukan bohong. Menyadari dan merasakan bahwa dirinya hina. Orang yang merasa hina akan takjub kepada Yang Maha Mulia dan dekat dengan Tuhan, sebaliknya orang yang merasa mulia akan selalu memandang rendah orang lain dan jauh dari Tuhan, meskipun ia mengaku dekat dengan Tuhan tetapi cepat atau lambat orang akan mengetahuinya, karena semua kedudukan ada tanda-tanda, seperti hujan maka bumi menjadi basah. Semuanya terletak kepada kesadaran dan kesadaran adalah tasawuf.
Pada pembhasan yang lalu
disebutkan bahwa Imam al Junaid lebih menyukai
Ghaibah (الْغَيْبَةُ) dari
pada Hudur (الْحُضُوْرُ).
Bila diri kita sudah bertawajjuh
muthlaq dengan benar, maka Diri kita mengalami Ghaibah berarti yang hadir
hanyalah Allah Swt semata-mata. Inilah
yang dialami oleh Imam al Junaid
al Baghdadi sendiri.
Fana’un Fillah pada Salik Pengamal
Thariqat al Junaidiyah (Thariqatul Qaum) setelah melakukan Tawajjuh Muthlaq.
Pada saat itu ia kembalikan (ia serahkan) batang
tubuhnya, ia kembalikan (ia serahkan) hatinya (hati adalah raja yang dapat
berhubungan dengan alam materi dan alam non materi) dan seterusnya ia kembalikan (ia serahkan) Rohnya (Sifat
Ma’anawiyah) kepada Allah Swt. Setelah
tiga macam tadi benar-benar lepas hilang
dengan melalui mujahadah yang sungguh-sungguh. Atau melalui pertarungan Bathin melawan nafsu dan
ananiyahnya. Dari maqam taubah (تَوْبَةٌ) terus ke maqam inabah (اِنَابَةٌ) terus menuju maqam Tawakkal (تَوَكَّلٌ) terus menuju maqam Tafwidl (تَفْوِيْضٌ) terus berjalan jiwa kita menuju maqam
Taslim (تَسْلِيْمٌ) hingga ke maqam
Hurriyah (حُرِّيَّةٌ)sebagai batas
akhirnya. Maksudnya ketiga unsur yakni Batang Tubuh, Hati dan Roh
benar-benar telah ghaibah maka dikala itu Salik karam di lautan Nur Muhammad
untuk berhubungan dialam Ketuhanan. Disaat
itu Salik benar-benar mengalami :
1. Muraqabatul Haq bil Haq (الْمُرَاقَبَةُ بِالْحَقِّ)
2. Musyahadtul Haq bil Haq (الْمُشَاهَدَةُ بِالْحَقِّ)
3. Muqabalatul Haq bil
Haq (الْمُقَابَلَةُ
بِالْحَقِّ)
Disini Salik benar-benar mendapatkan rasa al
Mukafahah karena kejernihan mata batinnya, karena beningan mata hatinya, hingga
ingatanya kealam wujud ini, benar-benar hilang lenyap, lepas sama sekali
Ghaibah. Yaitu leburnya kedalam kebaqaan
Allah semata-mata. Ada yang sadar da nada yang tidak sadar da nada
juga yang diantara keduanya. Tetapi di dalam Thariqat al Junaidiyah atau
Thariqatul Qaum semuanya terjadi dan
dialami dalam keadaan sadar, sebab thariqat
kita lebih menyukai ketenangan dari pada kemabukan.
Sekali lagi kami tegaskan
bahwa dengan cara tawajjuh muthlaq yang mantap atau tawajjuh muthlaq yang
tahqiq, maka terjadilah Fana’ul Fana. Dikala itu lenyaplah hijab (terangkatlah
dinding penutup) dari sifat-sifat
keinsanan. Tampaklah NUR yang selama itu Ghaibah ketika rasa Mukafahah pada wajhullah Swt benar-benar
tampak, yang demikian itu disebut “TAJALLI”
(تَزَلِّى).
H. Maqam atau Livel Fana’ul
Fana’ (Tajalli Allah)
Al Fana’ul Fana disebut juga
Tajallinya Allah Swt pada Salik
Pengamal Thariqat al Junaidiyah
atau Thariqatul Qaum. Adapun Maqam Fana’ul
Fana pada thariqat al Junaidiyah atau thariqat al Qaum itu terbagi kepada 4
Tingkatan fana’ :
a.Al Fana’ul Fana maqam
pertama adalah Tajalli Allah Swt pada Af’al-Nya pada Salik Pengamal
Thariqat al Junaidiyah atau Thariqatul Qaum, maka mereka telah/akan/sedang merasakan dengan tahqiq
bahwa ia merasa bayang-bayang atau ia adalah pata morgana atau ia adalah
laksana buih ditengah lautan yang sedang ditiup angina kencang dan dihampas oleh gelombang, maka buih itu lenyap berubah menjadi air laut, tak
punya daya apa-apa. Ia mersara tak punya daya
dan kekuasaan apa-apa.
(لَا
حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ)
Lenyaplah Af’al dari
Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah atau Thariqatul Qaum,
digantikan Allah dan yang ada dirasakannya hanyalah Af’al Allah Swt
semata-mata.
(لَا فَاعِلَ اِلَّا اللهَ)
Maksudnya bahwa “Tidak ada
jenis perbuatan Salik yang dimilikinya (termasuk gerak dan diamnya) kecuali
Af’al Allah Swt semata”.
وَقَوْلُهُ تَعَالَى : وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَا
تَعْمَلُوْنَ* الصافات 96
Artinya : “Allah jualah yang telah menciptakan kamu
dan apa-apa saja yang sedang atau akan kamu perbuat.” QS. As Shafat 96.
Berkata seorang Aulia
Allah Syekh Abdul Karim al Jailani di
dalam Kitabnya “Al Insanul Kamil fi Ma’rifatil Awami wal Awail tengtang Tajalli
atau Mazhar Af’al Allah pada Salik yang aku kutip dari buku “Kunci Memahami Ilmu
Tasawuf” disebutkan :
تَجَلَّى سُبْحَانهُ وَتَعَالَى فِى اَفْعَالِهِ
عِبَارَةٌ عَنْ مَشْهَدٍ يَرَى فِيْهِ الْعَبْدُ جَرْيَانَ الْقُدْرَةِ فِى الْاَشْيَاءِ
فَيَشْهَدُهُ سُبْحَانهُ وَتَعَالَى مُحَرِّكَهَا وَمُسْكِنَهَا يَنْفِى الْفِعْلَ
عَنِ الْعَبْدِ وَاِسْبَاتُهُ لِلْحَقِّ(1)
Maksudnya : “Tajalli Allah Swt pada Af’al-Nya adalah
ibarat dari pada pandangan, dimana si
Hamba (Salik) melihat padanya berlaku (kudrat) ketentuan Allah pada sesuatu.
Ketika itu ia melihat (merasakan) akan
Af’al Tuhannya. Maka tiada ada perbuatan
bagi si Hamba (Salik) baik berupa gerak dan diamnya sesuatu itu isbatnya
(ketetapan) bagi Allah semata-mata.”
Berkata Syekh Abdullah as Syarkawi dalam kitabnya “Syarhul Hikam” yang berbuyi sebagai berikut :
اَمَّا الْعَارِفُوْنَ فَلَا يَرَوْنَ لِاَنْفُسِهِمْ
شَيْئًا حَتَّى يَعْتَمِدُوْا عَلَيْهِ* بَلْ يُشَاهِدُوْنَ اَنَّ الْفَاعِلَ الْحَقِيْقِيَّ
هُوَ اللهُ تَعَالَى وَ اَنَّهُمْ مَحَلٌّ لِظُهُوْرِ ذَالِكَ فَقَدْ(2)
Artinya : “Adapun Para Arif Billah, mereka tidak melihat pada diri mereka akan sesuatu (mereka merasa tiada punya apa-apa). Bahkan bagi mereka tidak bias menghadirkan diri mereka sendiri.
Referensi :
(1)Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf oleh Dr. Mustafa Zahri, penerbit Bina Ilmu Surabaya tahun 1998 halaman 246 (2)Kitab Syarhul Hikam oleh Syekh Abdullah as Syarkawi cetakan Bairut
Sehingga mereka berpegang kepada Allah atas
sesuatu, bahkan mereka menyaksikan-meresakan bahwa orang yang memperbuat
sesuatu itu sesungguhnya Dial ah AllahSwt. Dan mereka adalah sebagai tempat
untuk tampaknya perbuatan itu”.
Aku kutip dalam kitab “Jalan
Ma’rifat Melalui Nur Muhammad” oleh Guru
Supiyan, Alm bahwa Shahabat Rasulullah
yang bernama Abu Bakar as Shiddiq, Umar
bin Khatthab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Telah berkata Abu
Bakar as Shiddiq :
قَالَ اَبُوْ بَكْرِ ن الصِّدِّيْقُ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ : مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلَّا
رَاَيْتُ اللهَ قَبْلَهُ
Artinya : “Tiada
aku melihat akan sesuatu itu,
melainkan aku lihat akan Allah Swt sebelumnya.”
Begitu pula Sayidina Umar bin
Khatthab berkata : “
قَالَ عُمَرُ ابْنُ حَطَّابٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلَّا رَاَيْتُ اللهَ بَعْدَهُ
Artinya : “Tiadala aku melihat akan sesuatu itu, melainkan aku lihat akan Allah Swt sesudahnya.”
Dan Sayyidina Usman bin Affan
berkata “
قَالَ عُثْمًانُ اِبْنُ عَفَّانٍ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ : مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلَّا رَاَيْتُ
اللهَ مَعَهُ
Artinya : “Tiadala
aku melihat akan sesuatu itu,
melainkan aku lihat akan Allah Swt besertanya.”
Dan demikian juga Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib
berkata “ :
قَالَ عَلِيٌّ اِبْنُ اَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ : مَا رَاَيْتُ شَيْئًا اِلَّا
رَاَيْتُ اللهَ فِيْهِ
Artinya : “Tiadala
aku melihat akan sesuatu itu,
melainkan aku lihat akan Allah Swt padanya.”
Penyusun kitab al-Risalah Umdatul
Hasanah …. Hanya berdo’a bahwa “ Semoga
Allah Swt senantiasa mencurahkan rahmat-Nya
kepada kita Salik Pengamal Thariqat Sufi khususnya bagi Pengamal
Thariqat al Junaidiyah ( Thariqatul Qaum) dan juga semoga dapat merasakan apa
yang dirasakan tentang Ma’rifah ini oleh Sadatina kita ( Para ‘Arif Billah)
setiap sa’at.” Aamiin yaa rabbal aalamiin.
b.Tajalli Allah Swt pada
Asma-Nya pada segala sesuatu.
Tajalli Allah Swt pada
Asma-Nya disini adalah lenyapnya perasaan si Salik dirinya dan ia bebas dari
sifat-sifat keinsanan digantikan-Nya dengan sifat-sifat Ketuhanan. Salik
melihat kepada sesuatu yang ada
disekelilingnya atau Salik memandang
yang ada di Alam Kubra dan Alam Sugra ini semua Asma Allah Swt semata. Bentuk kalimat Allah-Allah atau kalimat Asma
Allah Swt tersebut ditulis dengan tinta Nur Muhammad atau Nurullah
semata.
Bukan mustahil
Allah Swt itu bertahwail yakni (berubah keadaan dalam segala rupa).
Ada seseorang Aulia Allah pernah bersyair tentang wujud
Asma yang berubah keadaan dalam segala rupa.
تَجَلَّى حَبِيْبِيْ فِى مَرَائيْ جَمَالَهُ*
فَفِى كُلِّ مَرْءٍ لِلْحَبِيْبِ طَلَائِعَ* فَلَمَّا تَجَلَّى حُسْنُهُ مُتَنَوِّعًا*
تُسَمَّى بِاَسْمَاءٍ فَهُنَّ مُطَالِعَ*
Artinya : “Telah menampakkan oleh kekasihku akan
keindahan-Nya pada penglihatanku kepada setiap orang. Ia menampakkan dirinya.
Manakala ia bernampak dengan segala keindahannya yang beraneka ragam. (Maka)
bernamalah ia dengan nama menurut
wujudnya akan keindahan itu.”
Dzat Allah Swt dan
segala Sifat-Nya tidak pernah
berubah dan tidak akan berubah, namun urusan
Allah sendiri dengan kudrat dan iradah-Nya, ia dapat bertahwil berubah keadaan dalam segala rupa dengan
Asma-Nya.
مَاشَاءَ اللهُ كَانَ وَمَالَمْ يَشْاَ لَمْ
يَكُنَ
Artinya “Sesuatu
yang Allah kehendaki itu jadi,
dan Sesuatu yang tiada kehendaki-Nya itu tidak akan jadi.”
Dikutif dari Buku Kunci
Memahami Ilmu Tasawuf yang ditulis oleh Dr. Mustafa Zahri bahwa beliau menjelaskan bahwa
Syekh Abdul Karim
al Jailani dalam
Kitabnya “Al Insanul Kamil fi Marifatil Awahir wal awail yang aku kutip
dari buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf menyebutkan tentang Tajalli Asma Allah
pada Diri Hamba :
مَنْ تَجَلَّى لَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
مِنْ حَيْثُ اسْمِهِ الظَّاهِرِ فَكَشَفَ لَهُ
عَنْ سِرِّ ظُهُوْرِ النُّوْرِ الْاِلهِيّ
فِى كَشَائِفِ الْمُحْدَثَاتِ ليَكُوْنَ طَرِيْقًا اِلَى مَعْرِفَةٍ اَنَّ اللهَ هُوَ
الظَّاهِرُ * فَعِنْدَ ذَالِكَ تَجَلَّى لَهُ بِاَنَّهُ الظَّاهِرُ* فَبَطَنَ الْعَبْدُ بِبُطُوْنِ فَنَاءِ الْخَلْقِ فِى ظُهُوْرِ وُجُوْدِ
الْحَقِّ(1(
Artinya : “Siapa saja yang tajalli baginya oleh Allah
Swt dari segi Asma-Nya yang Nampak, maka terbukalah baginya
tentang rahasia ketampakan Nur Ilahi di dalam tersingkapnya semua (nama)
yang muhaddas (semua makhluk) yang bisa
dijadikan jalan (pada sesuatu). Pada ketika itu tajalli-lah Allah baginya, karena sesungguhnya adalah
Allah lah yang tampak (pada sesuatu). Maka si Hamba menempati yang batin karena
fananya sifat-sifat kebaharuannya ketika nampaknya wujud al Haq yang Qadim.
c.Tajalli Allah
Swt pada Sifat-sifat-Nya dengan Salik atau Hamba-Nya.
Tajalli sifat-sifat Allah Swt pada Salik atau Hamba-Nya dengan karunia
Allah Swt dapat dirasakan ketika Salik mengucapkan Dzikir Ismu Dzat (Allah, Allah) hakekat hati saat itu sifat-sifat Ilahiyah yang ada.
Penglihatan secara lahir telah
lenyap dan sirna pada saat fananya makhluk dan nampaknya atau zhahirnya Al Haq, maka
dirasakan bahwa :
لَا صِفَاتَ عَلَى الْاِطْلَاقِ اِلَّا اللهُ اى صِفَاتُ اللهِ : لَا حَيَّ اِلَّا اللهُ, لَا
قَادِرَ وَ لَا مُرِيْدَ وَ لَا عَالِمَ وَ لَا سَمِيْعَ وَ لَا بَصِبْرَ وَ لَا مُتَكَلِّمَ
اِلَّا اللهُ*
Disini sifat-sifat keinsanan Salik telah lebur- sirna digantikan oleh
sifat-sifat Ketuhanan, ia telah memasuki
pada sifat Fana Fillah (فَنَاءُ الصِّفَاتِ).
Berkata DR. Mustafa Zahri dalam Bukunya “Kunci Memahami Ilmu Tasawuf bahwa telah berkata Syekh Abdul Karim
al Jailani tentang Fana Fillah pada sifat-sifat
Allah :
تَجَلَّى الصِّفَاتُ عِبَارَةٌ عَنْ قَبُوْلِ
ذَاتِ الْعَبْدِ الْاِتِّصَافُ بِصِفَاتِ الرَّبِّ قَبُوْلًا اَصْلِيًّا حُكْمِيًّا قِطْعِيًا(2(
Maksudnya : Tajalli sifat-sifat Allah Swt, adalah
ibarat penerimaan tubuh Hamba, berlaku sifat-sifat Ketuhanan. Hal keadaannya
penerimaan yang asli dan ketentuanya yang pasti..
Artinya manakala Allah Swt menghendaki
terjadinya tajalli sifatNya pada si Hamba, dimana si Hamba merasakan telah
lebur dan lenyap sifat keinsanannya diganti oleh sifat-sifat Ketuhanan.
d.Tajalli Allah Swt
dalam Dzatn-Nya pada Salik
KH. Kasypul Anwar Firdaus,
baliau adalah pembawa masuk Thariqat al Junaidiyah ke Kalimantan Selatan,
baliau menulis buku dalam Risalahnya
Umdatul Jama’ah biqalamil Firdaus, halaman 13 telah menukil satu perkataan Imam Al Junaid sebagai
berikut :
وَكَانَ يَفُوْلُ (اى الْجُنَيْد) لَوْ كُنْتُ
حَاكِمًا لَضَرَبْتُ عُنقَهُ مَنْ سَمِعْتُ يَقُوْلُ : لَا مَوْجُوْدَ اِلَّا اللهُ
اَوْ لَيْسَ لِيْ فِعْلٌ مَعَ اللهِ لِاَنَ ظَاهِرَ كُلِّهِ نَفَى غَيْر اللهِ وَهَدَمَ
التَّكْلِيْفَ كُلَّهَا(3(
Artinya : Imam Al Junaid
berkata : “Andaikata aku seorang Hakim,
pasti telah aku potong leher orang yang berkata, ketika aku dengar baahwa ia mengatakan : “Tidak ada yang ada (maujud)
kecuali Allah tidak ada yang berbuat serta Allah. Bagiku sesungguhnya yang
zahir itu semuanya, ia telah pana (lenyap)
selain Allah. Sebab orang itu (kata al Junaid) telah menggugurkan sifat
taklifnya semuanya.”
e.. Pendapat Ahli Shufi
Tentang Fana’ Fii Dzat Allah Swt
Adapun Menurut pendapat para Ahli shufi tentang fana fit Dzat Allah Swt itu adalah :
فَنَاءٌ فِى الذَّاتِ لَا مَوْجُوْدَ عَلَى
الْاِطْلَاقِ اِلَّا اللهُ, وَانشُدُوْا فَيُفْنَى ثُمَّ يُفْنَى ثُمَّ يُفْنَى فَكَانَ
فَنَاءٌهُ عَيْنُ الْبَقَاءِ
Fana pada Dzat yaitu “Tidak
ada yang Maujud secara muthlaq kecuali
(dzat) Allah semata.” Dan mereka
bersanandung syair : “Maka ia fana (lebur, lenyap) kemudian ia fana,
kemudian ia fana, maka adalah fananya ainnya baqa.”
Inilah yang diisyaratkan oleh
Rasulullah Saw dalam sabdanya :
عَنِ
النَّبِيِّ (ص) قَوْلُهُ تَعَالَى : مُوْتُوْا قَبْلَ اَنْ تَمُوْتُوْا وَمَنْ اَرَادَ
اَنْ يَنْظُرَ اِلَى الْمَيِّتِ يَمْشِى عَلَى
وَجْهِ الاْرْضِ فَلْيَنْظُرْ اِلَى اَبِيْ
بَكْرٍ* الحديث القدسى
Artinya : Rasulullah Saw
bersabda, Firman Allah Ta’ala :”Matilah
kamu sebelum engkau mati. Siapa yang ingin melihat mait yang berjalan
dipermukaan bumi maka lihatlah kepada Sayyidina Abu Bakar.” Hadis Qudsi
Tajalli Dzat Allah
disini, Salik mengalami perasaan
mati Hissi, dimana ia telah hilang sifat keinsanannya, lenyap seluruh alam lahir dan alam bathin, hanya
dirasa Dzat Allah yang ada.
Lihat potongan
Firman Allah :
وَقَوْلُهُ تَعَالَى : كُوْنُوا رَبَّانِيِّبْنَ ......
Artinya : “Hendaklah Engkau menjadi orang-orang
Rabbani yaitu Ahlullah”.
Dikutif dari Buku Kunci
Memahami Ilmu Tasawuf yang ditulis oleh Dr. Mustafa Zahri bahwa beliau menjelaskan ttg Tajalli
Dzat Allah ini, seperti yang disebutkan oleh Syekh Abdul Karim al Jailani
dalam karyanya “Kitab Insanul Kamil fi
Ma’rifatil Awahir wal Awail sebagai
berikut :
فَاعْلَمْ اَنَّ الذَّاتَ عِبَارَةُ عَمَّنْ كَانَتِ اللَّطِيْفَةُ الْاِلهِيَّةِ قَدْ تَكُوْنُ ذَاتِيَّةً, وَ قَدْ تَكُوْنُ صِفَاتِيَّةً, فَاِذَا كَانَتْ ذَاتِيَّةً كَانَ ذَالِكَ الْهَيْكَلُ الْاِنْسَانِيُّ هُوَ الْفَرْدُ الْكَامِلُ(1)
Maksudnya : “Ketahui olehmu bahwasanya Dzat Allah itu,
adalah satu ibarat dimana seseorang merasa
berada dialam Ketuhanan. Bila Dia
telah bernampak atau bertajalli atas
Hamba-Nya (dimana keadaan Hamba)
memfanakan diri mereka, maka bertempatlah karunia
Tuhan pada Hamba. Karunia yang
(didapatkan) ada kalanya sebagai Dzat,
ada kalanya sebagai Sifat.
Manakala terjadi karunia Dzat, maka yang demikian itu adalah keagungan insani. Disitulah keagungan seseorang
yang sempurna.
Artinya dengan fana atau leburnya
diri si Hamba, maka yang tinggal
adalah baqa atau Dzat Allah semata.
Disini diri si Hamba berada dibathin dalam wujud Allah Swt
semata-mata. (مَاسِوَى اللهُ).
Dikutif dari Buku Kunci
Memahami Ilmu Tasawuf yang ditulis oleh Dr. Mustafa Zahri bahwa yang
beliau kutif dari Kitab Insanul Kamil fi Ma’rifatil Awahir
wal Awail seperti yang
disebutkan oleh Syekh Abdul Karim al Jailani mengemukakan
tentang cara bertemu atau
berhadap kepada adalah sebagai
berikut :
اِنَّ اَدْرَاكَ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ هُوَ اَنْ تَعْلَمَ بِطَرِيْقِ الْكَشْفِ الْاِلهِيِّ اَنَّكَ اِيَّاهُ وَهُوَ اِيَّاكَ وَاَنْ لَا اِتِّحَادٌ وَلَا حُلُوْلٌ* اِنَّ الْعَبْدَ عَبْدٌ وَاِنَّ الرَّبَّ رَبٌّ لَا يَصِيْرَ الْعَبْدُ وَلَا الرَّبَّ عَبْدًا* وَعَلَامَةُ هذَا الْكَشْفِ اَنْ يُفْنِيَ اَوَّلًا عَنْ نَفْسِهِ بِظُهُوْرِ رَبِّهِ ثُمَّ يُفْنَى ثَانِيًا عَنْ رَبِّهِ بِظُهُوْرِ سِرِّ الرُبُوْبِيَّةِ* ثُمَّ يُفْنَى ثَالِثًا عَنْ مُتَعَلِّقَاتِ صِفَاتِهِ بِمُتَحَقِّقَاتِ ذَاتِهِ* فَاِذَا حَصَلَ لَكَ هَاذَا حِيْنَئِذٍ فَقَدْ اَدْرَكْتَ الذَّاتَ(2)
Artinya : bahwa sesungguhnya
soal mencapai (menemukan ) Dzat
(melihat) Dzat yang maha Agung itu. Bahwa engkau tahu dengan jalan thariqatil kasyfi (terbukanya rahasia
Ketuhanan), sesungguhnya saat itu, Kamu
adalah Dia dan Dia adalah Kamu, tetapi tidak dalam bentuk Ittihat atau dalam
bentuk hulul. Karena sesungguhnya Hamba itu adalah Hamba dan juga Tuhan adalah
Tuhan. Hamba tidak bias dijadikan Tuhan
atau Hamba menjadi Tuhan. Adapun ciri-ciri atau alamat mendapatkan
kasyaf disini …… sesungguhnya ajaran
tasawuf mengakui bahwa pintu masuk jalan
bertemu dengan Allah itu adalah melalui
cara Penghapusan (Pelenyapan Diri dari pinti Fana dan melalui penegasan –
Kekekalan atau Baqa billah).
Referensi
:
(1)Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf yang ditulis oleh Dr. Mustafa Zahri (2)Buku Kunci Memahami Ilmu Tasawuf yang ditulis oleh Dr. Mustafa Zahri
H. MAQAM Al-BAQAUN
BILLAH (مَقَامُ
الْبَقَاءِ بِاللَّه)
Disini si Salik mencapai taraf dimana kekhadiran Allah Swt semata-mata yang dirasakannya.
Batang Tubuh telah fana atau lenyap dirasa, Batang Tubuh telah lebur dirasa.
Hatinya telah sirna ia rasakan begitu pula Rohnya, ia rasakan semata-mata milik Allah secara muthlaq.
Kata Ahli
Sufi :
قَالَ اَهْلُ الصُّفِي : فَنَائُهُ عَلَى بَقَائِهِ
وَغَيْبَتُهُ عَلَى حُضُوْرِهِ
Artinya :” Fananya dalam kebaqaan Allah dan lenyapnya dalam kekhadiran Allah Swt.”
Pada baqaun billah disini,
telah nyata apa yang dinamakan tajalli
Af’al, tajalli Sifat dan Tajalli
Asma. Bagi thariqat
kita al Junaidiyah atau thariqatul Qaum hal ini terjadi ketika kita
Tawajjuh Muthlaq dengan tahqiq. Ketika
itu dalam satu Nafas terjadi
dzikir khafi dan akhfa, saat itu juga dengan kekuatan yang ada, ia lontarkan
dengan nafas yang tertahan tadi
berupa kalimah Allah-Allah dengan
mengata “Allah” kearah tubuhnya. Secara hakekat Batang Tubuh, Hati dan Rohani kita telah diganti oleh Allah Swt. Dengan kata lain Keinsanan kita telah lenyap dan Kebaqaan Allah yang ada atau kita berada pada Makm Baqa un
Billah. (مَقَامٌ بَقَاءٌ بِاللهِ) Tidak ada makam atau
martabat yang lebih tinggi selain Tajalli Dzat Allah atau berada dalam Makam
Baqa Billah oleh seseorang Hamba. Hal ini terjadi setelah si Salik mengalami
Fana ul fana. Mula-mula Salik fana dengan Gurunya (fana fi syekh) kemudian
berlanjut dari Guru ke Guru hingga fana dengan Rasulullah …… fana dengan Nur
Muhammad terus … Baqa un Billah.
Sebenarnya Syekh-syekh
kalangan Ilmu Tasawuf telah mengalaminya Tajalli Dzat pada makam Baqa un Billah
hanya menunjukkan dalam bentuk ilmu isyarat dan gambaran saja. Mereka belum
bisa memberikan …….. belum ada yang
memberikan Ta’rif dan Batasan tentang Tajalli Dzat Allah pada Hamba-Nya.
Tentang apa dan bagaimana yang dikatakan
Tajalli Dzat itu pada si Hamba.
Sadatina Syekh Imam al Junaid
al Bagdadi radiyallahu anhu benar-benar telah mengalami dan merasakan Tajalli
Dzat atau Baqa un Billah ini. Buktinya Beliau tidak bisa menghadirkan Dirinya
Sendiri, beliau tak tau dan mencari-cari wujud dirinya. Akan tetapi tak pernah
ketemu. Disini dapat kita simpulkan bahwa yang Beliau
rasakan hanya Allah semata-mata yang hadir yakni al Hudur ( الْحُضُوْرُ) sedangkan diri Beliau sendiri fana/lenyap
yakni al Ghaibah (الغَيْبَةُ). Oleh karenanya Imam al Junaid lebih menyukai
Ghaibah dari pada Hudur. Sangat
berbeda dengan thariqat-thariqat yang lainnya bahkan bertolak
belakang, mereka lebih menyukai al
Hudur diri ini dari pada Ghaibah.
Mengenali Ma’rifat Tajalli
Dzat pada Makam Baqa un Billah ini, Rasulullah Saw telah bersabda :
قَالَ النَّبِيُّ (ص) : سُبْحَانَكَ مَا عَرَفْنَاكَ
حَقَّ مَعْرِفَتِكَ* الحديث
Artinya : Rasulullah Saw
telah bersabda bahwa “Maha Suci Engkau (Ya Allah) kami tiadalah mampu mengenal
Engkau dengan pengenalan yang sebenar-benarnya.”
Penyusun Kitab Umdatul Hasanah lil Jama’ah Thariqatil Junaidiyah yakni Benteng Petahanan Thariqat Junaidiyah “hanya berharap dan memohon do’a kepada Allah Swt. Semoga kitab ini dapat memberikan pencerahan dan memberikan kepuasan dalam memahami Thariqat Junaidiyah (Thariqatul Qaum) dan semoga dijadikan bahan Rujukan bagi Pengamal Thariqat Junaidiyah (Thariqatul Qaum) khususnya. Aamiin, aamiin, aamiin yaa rabbal aalamiin. Keterangan Kitab ini selesai ditulis, Sabtu, 5 April 2008M /28 Rabi’ul Awal 1425H di Kandangan.
Disempornakan
Kandangan, Kamis, 7 Oktober 2021.
30 Shafar 1443H
Sayyid
H.Hasan Baseri Assaqqaf
Referensi :
(1).Kitab Syarhul Hikam oleh
Syekh Abdullah as Syarkawi cetakan Bairut
(2).Buku Kunci Memahami Ilmu
Tasawuf yang ditulis oleh Dr. Mustafa Zahri
(3).Buku Risalah Umdatul
Jama’ah bi Qalami Firdaus Hal ……. 13
(4).Artikel “Dzikir Maqam
Mukafahah” https://wadahsufiyah.blogspot.com/2019/02/dzikir-maqam-mukafahah.html#comments
(5).Al Qur’a Surat
Asy-Syu'ara Ayat 89 // https://quran.nu.or.id/asy-syuara/89
(6).Artikel “Hudhur dan
Ghaibah”
https://tasawufkemurnianislam.blogspot.com/2016/07/hudur-dan-ghaybat.html
(7).Al Qur’an surat al
Baqarah ayat 163 / https://quran.nu.or.id/al-baqarah/163
(8).Artikel ’Mitsaq: Jejak
Perjanjian Agung di Relung Jiwa Manusia’ oleh: Alvin Qodri Lazuardy, M.Pd.//
https://pwmjateng.com/mitsaq-jejak-perjanjian-agung-di-relung-jiwa-manusia/
(9).Kitab Tasawuf Aiqajul
Himam
(10).Kitab Insanul Kamil fi
Ma’rifatil Awahir wal Awail oleh Syekh
Abdul Karim al Jailani
(11).Kitab Tasawuf Jami’ul
Ushul fil Aulia
(12).Kitab Tasawuf al-Kasab
al-Mahjub
(13).Kitab Tasawuf al-Kasab
al-Mahjub
(14).Kitab Tasawuf Sirajut
Thalibin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar