Sabtu, 28 Januari 2023

Bab. IV "Talqin Dzikir dan Wirid-Wirid Thariqah al Junaidiyah" Kitab Umdatul Hasanah ,,


BAB. IV

 TALQIN DZIKIR DAN WIRID SEHARI-HARI THARIQAT AL JUNAIDIYAH

 

DAFTAR ISI  :

A. TALQIN DZIKIR THARIQAT AL JUNAIDIYAH / THARIQAT AL QAUM

1. Pengertian Wirid

2. Keutamaan wirid (dzikir-dzikir)

3. Pengertian al Warid dan Pembagianya

4. Al Warid dan Al Khawathir serta Perbedaannya

B. ADAB DUDUK  AMALIAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH ALBAGDADIAH

1. Menjaga Adab-adab Duduk Dzikir Thariqat al Junaidiyah 

2. Duduk Taqdim Thariqat al Junaidiyah Mengandung Nilai Filosofis

3. Adab-adab Duduk bagi Pengamal Thariqat al Qaum al Junaidiyah

4. Dzikir yang diamalkan Kontiyou Pengamal Thariqat al Junaidiyah

5. Adab Kaifiyat Dzikir Lisan dan Gerakannya pada Thariqat al Qaum al Junaidiyah

C. DALIL –DALIL YANG  DIJADIKAN GERAKAN  DZIKIR  THARIQAT.

1. Perkataan Ulama ttg Gerakan Dzikir Bergoyang-goyang

2. Gerakan Dzikir Bergoyang-goyang Diperbolehkan

D. CARA MENGAMALKAN DZIKIR QALBI KHAFI DAN DZIKIR AKHFA

E. AMALIAH DZIKIR THARIQAT AL JUNAIDIYAH

F. WIRID AMALIAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH SEHABIS SHALAT LIMA WAKTU

G. WIRID MALAM SENIN DAN KHAMIS BA’DA SHALAT MAGRIB

H. KETERANGAN MEMBACA WIRID SESUDAH SHALAT MAGRIB PADA MALAM SENIN DAN KHAMIS

I. PENJELASAN ISTIGFAR PADA WARID MALAM SENIN DAN KHAMIS

J. KETERANGAN AMALIYAH MEMBACA AYAT KURSI

K. KETERANGAN  MEMBACA  AAMANAR RASUL

L. KETERANGAN MEMBACA HAMDALLAH

M.KETERANGAN WIRID YANG DIBACA 10 KALI SEBELUM

N.TAAWAJJAH  MALAM SENIN DAN KHAMIS ATAU WIRIDAN LAINNYA

O. KETERANGAN  SHALAT  HAJAT YANG DIAMALKAN SADATINA JUNAIDIYAH

P. KETERANGAN SHALAT HAJAT DUA RAKA’AT DAN SHALAT WITIR TIGA RAKA’AT SEBELUM DILAKSANAKAN KHATAMAN KUBRA DAN SUGHRA

1. Mengerjakan  Shalat Witir  Tiga Raka'at  Dengan Satu Salam

2. Mengerjakan  Shalat Witir  Tiga Raka'at  Dengan Dua Salam

R. KETERANGAN TENTANG  AL ASMA’UL HUSNA NAMA-NAMA YANG BAGUS


BAB. IV
PEMBAHASAN TENTANG
TALQIN DZIKIR DAN WIRID THARIQAT AL JUNAIDIYAH
(تَلْقِيْن الذِكْرِ وَالْوِرْدُ فِى الطَّرِيْقَةِ ا لْجُنَيْدِيَّةِ)

A. TALQIN 
DZIKIR THARIQAT AL JUNAIDIYAH (THARIQAT AL QAUM)

1. Pengertian Wirid

Wirid adalah dzikir-dzjikir sebagai amalan (bacaan) secara rutin yang dilakukan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri lebih dekat lagi kepada Tuhannya (yakni Allah Swt). Wirid (dzikir-dzjikir) juga merupakan pembuktian kedisiplinan diri seorang hamba sehingga waktu dan kualitas pengabdian berbanding lurus.

Orang yang konsisten mengamalkan wirid dan sudah sampai ke tingkat penghayatan lebih mendalam terhadap wiridnya, wirid itu berangsur-angsur melahirkan warid. Warid ialah efek positif yang lahir dari pengamalan wirid secara istiqamah. Ibnu `Athaillah menyebut warid itu sebagai pemberian dan hidayah Allah Swt berupa petunjuk, cahaya ilahi, dan kesenangan batin di dalam bertaqarrubkepada-Nya.

Warid yang muncul pada ahli wirid berupa hamba sudah merasakan puncak keikhlasan dan sudah mampu melepaskan diri dari tujuan apa pun selain hanya kepada Allah Swt. Sedangkan Warid yang muncul pada ahli wirid berupa kekuatan untuk melepaskan diri dari sifat-sifat wujud yang terbatas (sempit) untuk kemudian menyaksikan kebesaran Allah Swt yang tidak terbatas. 

2. Keutamaan wirid (dzikir-dzikir)

Keutamaan wirid (dzikir-dzjikir) terletak pada kekuatan istiqamah seorang hamba di dalam melakukan ketaatan kepada Tuhannya. Target kuantitatif harus dicapai setiap hari untuk meyakinkan dirinya tetap di dalam kondisi spiritual yang baik. Hanya, wirid terkesan terlalu formalitas. Amalan dan pengabdian kepada Allah SWT masih lebih mengacu kepada target kuantitatif. Ahli wirid sering terlena kepada jumlah dan standar kuantitatif. Jika keseluruhan wirid dilaksanakan, mereka merasa plong.

Para pengamal wirid bertingkat-tingkat. Ahli wirid pemula memang masih banyak yang berorientasi amalan oriented, sebagaimana disebutkan tadi. Namun, ahli wirid bisa meningkat ke jenjang lebih tinggi ketika mulai merasakan suasana batin melalui penghayatan terhadap makna dan tujuan wirid.

Jika ahli wirid sudah sampai di maqam terbaik, Ibnu `Athaillah memesankan, "Jangan kita menganggap rendah hamba yang mengamalkan wirid dan ibadah tertentu karena keduanya memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah."

Ia menambahkan, "Jika engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan Allah selalu menjaga wiridnya, namun lama ia tidak mendapatkan pertolongan dan kekhususan dari-Nya, jangan sampai engkau meremehkannya hanya karena engkau belum melihat tanda-tanda orang arif atau cahaya indah seorang pencinta Allah pada diri hamba itu. Kalaulah bukan karunia berupa warid, tentu tidak akan ada wirid."

3. Pengertian al Warid dan Pembagianya

Al Warid (الوارد) berarti sesuatu yang datang. Dalam konteks tasawuf (seperti dalam Kitab Al-Hikam), ini adalah perasaan, ilmu, atau pemahaman spiritual yang datang tiba-tiba ke dalam hati. Konsep tasawuf yang merujuk pada pancaran cahaya Ilahi, ilham, atau sentuhan makrifat yang turun langsung dari Allah ke dalam hati seorang hamba, memberikan perasaan tenang atau kebenaran spiritual. Warid sering dianggap sebagai buah dari wirid (zikir/ibadah) yang istiqomah dan merupakan pemberian yang menyucikan hati.

Al-Warid (الوارد) adalah konsep tasawuf yang merujuk pada pancaran cahaya Ilahi, ilham, atau sentuhan makrifat yang turun langsung dari Allah ke dalam hati seorang hamba, memberikan perasaan tenang atau kebenaran spiritual. Warid sering dianggap sebagai buah dari wirid (zikir/ibadah) yang istiqomah dan merupakan pemberian yang menyucikan hati. 

Menurut pengertian yang lain bahwa al Warid (الوارد) adalah sesuatu karunia / hidayah Allah Swt atas seseorang hamba-Nya yang rajin melakukan wirid (dzikir-dzikir), warid identic dengan pahala, yang mana dapat dirasakan didunia ini dan terlebih lagi pada kehidupan akhirat kelak. Warid akan diperoleh dan meresap ke dalam hati dan kalbu manusia adalah ketika hati seseorang bergantung hanya kepada Allah Swt dengan jalan melazimkan dan istiqamah pada wirid ibadah kepada Allah Swt, wirid (dzikir-dzikir),  ini yang membersihkan hati dihadapan Allah Swt, warid merupakan pertolongan dan karunia Allah Swt kepada hamba-Nya yang beriman, sehingga hamba tersebut ruhnya menjadi kuat dikarenakan hatinya terisi oleh nur illahi (ma’rifatullah) dalam arti penuh keyakinan dan memahami rahasia-rahasia keyakinan itu sendiri, sendi keyakinan inilah yang ma’rifat.

Aku kutip dalam sebuah Artikel bahwa Syekh Ibnu `Athaillah mengatakan, "Allah memberimu warid untuk menyelamatkanmu dari cengkeraman dunia dan membebaskanmu daripada diperbudak oleh makhluk apa pun." Ia membagi warid ke dalam tiga tingkatan, yaitu :

  1. al-Warid yang muncul pada ahli wirid berupa hamba merasa ringan dalam menjalankan ketaatan dan beribadah karena sudah merasa lebih dekat ke hadirat-Nya.
  2. al-Warid yang muncul pada ahli wirid berupa hamba sudah merasakan puncak keikhlasan dan sudah mampu melepaskan diri dari tujuan apa pun selain 
  3. al-Warid yang muncul pada ahli wirid berupa kekuatan untuk melepaskan diri dari sifat-sifat wujud yang terbatas (sempit) untuk kemudian menyaksikan kebesaran Allah Swt yang tidak terbatas.

Semua hamba yang beriman sudah semestinya mendambakan al-warid, sehingga dengan al-warid tersebut sebagai senjata utamanya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt sehingga mencapai muhibbah (cinta) pada khaliknya, fitrah manusia adalah tergantung kepada kenikmatan dan kesenangan, hal ini sebaiknya diperoleh berdasarkan atas karunia Allah Swt terhadapnya dan bukan sebagai ketentuan bagi dirinya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah Swt terhadap langkah, rezeki, pertemuan dan mautnya seseorang hamba tersebut.

Menurut Syekh Ibnu `Athaillah, wirid paling tinggi ialah "Allah memberimu al-warid untuk melepaskanmu dari penjara wujudmu ke alam syuhud (penyaksian)." al-Warid ini sudah sampai ke tingkat penyingkapan (maqam syuhud atau mukasyafah). Jika seseorang sudah sampai di maqam ini, ia meraih ketenangan batin dan sudah terbebas dari teriakan atau bisikan dunia. Kalaupun sempat, ia segera kembali.

4. Al Warid dan Al Khawathir serta Perbedaannya

Yang dimaksud  AL WARID adalah apa-apa yang dikehendaki atas hati Manusia dari khantaran-lintasan yang terpuji dari pada apa saja  yang tidak ada kesengajaan seorang hamba. Dan yang demikian itu  sesuatu yang tiada ada dari sebelumnya. Lintasan –khantaran hati itu dinamakan juga Al Warid. Terkadang warid itu dari Al Haq dan Warid yang terbit dari Ilmu Pengetahuan.  Al Warid lebih umum dari pada Khawathir (الخواطر) sebab Khawathir itu khusus satu macam khitab atau sesuatu yang mengandung makna. Al Warid itu terkadang datang menggambirakan, terkadang dating membuat kita sedih hati. Terkanag ia dating membuat kita duka cita dan terkadang ia membuat kita suka cita. Jadi yang dikehendaki Al Warid (الوارد)  adalah segala apa yang tiba atas Hati Sanubari dari aneka ragam arti tanpa ada kesenghajaan  dari seorang Hamba.

الوارد هو ما يدد على القلوب من الخواطر المحمودة ممالا يكن بتعمّد العبد. وكذالك مالا يكون من قبيل الخواطر  فهو وارد ايضا, ثمّ قد يكون واردا من الحقِّ وواردا من العلم. فالواردات اعمّ  من الخواطر. لانّ الخواطر تختص بنوع الخطاب او ما يتضمّن معناه. والواردات تكون وارد سرور ووارد حزن ووارد قبض ووارد بسط الى غير ذالك من المعاني ..... الرسالة القشيرية رقم 85

Al Warid (الوارد) adalah apa yang turun ke dalam hati (Ilham) dari pikiran-pikiran terpuji yang tidak muncul secara sengaja oleh seorang hamba. Demikian pula, apa yang bukan termasuk kategori pikiran juga merupakan ilham. Lebih jauh lagi, ilham dapat berupa ilham dari Kebenaran atau ilham dari ilmu. Ilham lebih umum daripada pikiran, karena pikiran bersifat spesifik terhadap jenis wacana atau apa yang terkandung di dalamnya dari segi makna. Ilham dapat berupa ilham kegembiraan, ilham kesedihan, ilham penyempitan, ilham perluasan, dan sebagainya... (Al Risalah Al-Qushayri No. 85)

 

B.ADAB DUDUK  AMALIAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH ALBAGDADIAH

 1. Menjaga Adab-ada Duduk Dzikir Thariqat al Junaidiyah      

Thariqat al Junaidiyah disebut juga thariqat al Qaum adalah thariqat induk, salah satu thariqat sufi yang tua, tharigat utama, dari thariqat yang ada,  oleh karena itu thariqat ini punya cara adab duduk  thariqat yang berbeda-beda, walaupun begitu Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah tidak diperbolehkan disaat berjamaah /bersama-sama mengamalkan Thariqat al Junaidiyah dengan DUDUK THARIQAT yang berbeda-beda atau berlainan, untuk menjaga kesatuan Jama’ahnya, kalau waktu sendirian tidak mengapa.

Salah satu adab yang harus dijalani atau dilakukan oleh Pengamal Thariqat al Junaidiyah ketika mengamalkan Al Warid atau Aurad Thariqat sesudah shalat fardlu atau shalat sunnat, atau Warid Malam Senin dan Khamis, atau saat Khataman Kubra atau Khataman Sugra adalah memelihara Adab DUDUK Thariqat. Adab Duduk Thariqat dimaksud adalah Duduk bersila, Kaki Kanan berada diatas Kaki Kiri, Kedua tangan berada diatas lutut dalam keadaan terbuka, hingga mudah mengetik Tasbih dan Tangan Kiri sebagai rujiannya. Duduk seperti ini disebut duduk  Taqdim..

Sebenarnya Duduk Taqdim itu dilakukan ketika keadaan memungkinkan, seperti saat melaksanakan Khataman Kubra atau Khataman Sugra yang dikelilingi oleh Jama’ah kita, tempat kita atau ruangan kita. Akan tetapi bila tidak memungkinkan misalnya duduk diapit oleh dua orang yang bukan jama’ah kita, atau ada penghalang lainnya umpama sedang sakit dan lain-lain, maka boleh Duduk dengan cara apa saja, misalnya Duduk Khitmat atau Duduk Darajat.

Sekarang timbul satu pertanyaan : Mengapa bias begitu ? Jawabannya adalah Thariqat kita Junaidiyah, bukan thariqat untuk mempersulit bagi Para Pengamalnya, akan tetapi untuk mempermudah Pengamalnya wushul kepada Allah Swt. Thariqat kita itu mudah, jauh dari sulit dan sempit. Itulah keistimewaan Hukum Islam dan Thariqat Islam dengan senyata-nyatanya keindahannya, ialah kemudahan hukumnya, mudah diamalkan dan jauh dari kepicikan, segala hukumnya selalu berjalan seiring dengan fitrah manusia.. Hukum Islam mempunyai Qaidah diantaranay:1)

مَاضَاقَ شَيْئٌ اِلَّا اتَّسَعَ :  Maksudnya : “Tiadalah sempit (Hukum Islam) melainkan dia    menjadi luas.

Prof. Dr. TM. Hasby As Shiddiqy dalam Bukunya : “Pengantar Hukum Islam menyatakan tentang Qaidah Hukum Islam yaitu …… meneliti sejumlah dalil yang memberi faidah Qath’I, Umpamanya pada qaidah : لَاخَرَجَ فِى الدِّيْنَ :  Artinya : “Tidak ada kepicikan dalam Agama”2)

Berpegang pada Qaidah tersebut, kita Pengamal Thariqat Junaidiyah tiada dibenarkan mempermasalahkan tentang Adab Duduk, Pengamal Thariqat Junaidiyah yang tiada biasa datang mengikuti Khataman Kubra, atau Pengamalan Dzikir yang kurang atau minim/sedikit. Begitu pula masalah pelaksanaan RIYADHAH tidak mesti harus ke Pusat, akan tetapi bila Pengamalnya tidak mampu datang ke Pusat, maka seorang Khalifah bisa mengutus salah seorang Mursyidnya untuk memimpin dan membimbing dan juga menjaga Murid-muridnya tersebut dalam Hal Khataman Kubra dan Riyadhah. Ini adalah murni pendapat Penyusun, mohon ma’ap kalau pendapat kita berbeda.

Diatas sudah dijelaskan bahwa salah satu adab yang harus dilakukan oleh Murid dalam Pengamalan Dzikir adalah MENJAGA ADAB DUDUK THARIQAT. Yaitu duduk bersila, kaki kanan berada diatas kaki kiri, dan meletakkan kedua tangan diatas lutut dalam keadaan terbuka. Tetapi bila tidak memungkinkan diperbolehkan Duduk Darajat, atau Duduk Khitmad. Dan juga bila memungkinkan, alangkah baiknya mengikuti Adab yang disukai oleh Sadatina Junaidiyah dan juga untuk  menjaga persatauan dan kesatuan bagi keutuhan Jama’ah.

Sebenarnya qaidah-qaidah Hukum Islam diatas berpegang dari Firman Allah Swt Surat Al Maidah ayat 7 yang berbunyi :

مَايُرِيْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ .....  المائدة 7

Artinya :”Tiadalah Allah menghendaki (akan) menjadikan kepicikan (kesulitan) atas kamu itu.”

                Pada ayat yang lain Allah Swt telh berfirman        :

لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا  اى الا طاقتها .... البقرة 286

Artinya : Tidaklah Allah memberi beban atas seseorang kecuali atas kemampuannya……… Surah Al Baqarah 286.

Salah seorang Silsilah kita yang mahjub pernah berkata  :

لَيْسَ الرَّجُلُ مَنْ يَشَقَّ عَلَى مُرِيْدِهِ يَأْمُرُهُمْ  بِالرِّيَاضَةِ الْمُجَاهَدَةِ الشَّاقَّةِ وِلَكنَّ الرَّجُلُ مِنْ ذَالِكَ مَنْ يَدُلُّكَ عَلَى رَاحَتِكَ

Maksudnya : “Bukanlah laki-laki/ Mursyid yang (baik) Semporna, seseorang yang menyusahkan murid-muridnya, Dia suka/senang menyuruh murid-muridnya melakukan Riyadhah yang bersungguh-sungguh (untuk memerangi nafsunya) yang sulit. Akan tetapi (yang dikatakan) laki-laki/ Mursyid yang kamil itu adalah orang yang menunjukkan jalan kepadamu atas jalan/ thariqat yang mudah. Yakni jalan yang hampir kepada Allah Swt.

Imam Ahmad meriwayatkan Hadis dari Abu Umamah RA. Bahwasanya Nabi kita Muhammad Saw telah bersabda  :

اَحَبُّ الدّيْنَ اِلَى اللهِ الْحَنِيْفِيَّةُ السَّمْحَةُ ... رواه احمد

Artinya : “Agama yang disukai Allah itu,  adalah Agama yang mudah dan lapang HR.Imam Ahmad.

Di hadis yang lain Nabi Muhammad Saw telah bersabda  :

اِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُبَشِّرِيْنَ وَلَنْ تُبْعَثُوْا مُعَسِّرِيْنَ

Artinya : Hanya sanya Engkau (Ya Muhammad) dibangkitkan selalu untuk memudahkan bagi orang-orang, dan tiada sekali-kali kamu tiada dibangkitkan untuk orang menyukarkan/menyulitkan.

2. Duduk Taqdim Thariqat al Junaidiyah Mengandung Nilai Filosofis

Pertanyaan : Mengapa Sadatina Junaidiyah lebih menyukai dan memilih DUDUK THARIQAT TAQDIM ?  Yaitu Duduk kaki kanan diletakkan di atas kaki kiri, kedua tangan ditaruh diatas lutut dalam keadaan terbuka. Jawabnya : adalah menurut Analisa Penyusun Umdatul Hasanah mengandung Nilai-Nilai Filosofis antara lain  :.

  1. Guru-guru Kami berkata bahwa “Kaki Kanan berada diatas Kaki Kiri” Kaki Kanan diumpamakan Negeri Akhirat, ia harus berada diatas, diutamakan lebih dahulu baru yang lainnya. Sedangkan Kaki Kiri itu, umpama Negeri kehidupan Dunia, ia harus dinomor urut duakan atau harus berada dibawah.. Maksudnya : Murid bilamana mengambil thariqat ini, ia harus lebih mengutamakan Negeri Akhirat, dengan memperbanyak amaliah Zahir dan Batin, namun bukan berarti meninggalkan kehidupan dunia. Sebab kita hidup/ berada di alam dunia, perlu makan, perlu pakaian, perumhan untuk anak isteri-suami dan keluarga lainnya ada tanggung jawab dari kita.
  2. Dikatakan juga bahwa “Kaki Kanan berada diatas Kaki Kiri” Kaki Kanan diumpamakan Akal Manusia yang harus berada diatas, sebagai Komandan atau Pemimpin. Kaki Kiri diumpamakan Nafsu Jaahat Manusia, jadi akal harus dapat menekan nafsunya, dapat melemahkan nafsunya, hingga selamat Murid dari Nafsunya di dunia dan juga di negeri Akhirat.
  3. Dikatakan juga bahwa “Kaki Kanan berada diatas Kaki Kiri” Kaki Kanan itu diumpamakan Otak Belahan Kanan lebih banyak berfungsi dan bekerja di dalam kepala Manusia.sedangkan Kaki Kiri tersebut laksana Otak Manusia Belahan Kiri yang tidak banyak berfungsi atau bekerja. Jadi disini terjadi keseimbangan pemikiran, maka akan terjadi pada Pribadi Murid lebih banyak menggunakan sifat kemanusiaannya dari pada sifat keburukannya.
  4. Dikatakan juga bahwa Duduk Taqdim itu yaitu “Duduk Bersila Kaki Kanan berada diatas Kaki Kiri” laksana Batang Tubuh  Guru kita,  si Murid ketika mengerjakan Wirid-wirid thariqat al Junaidiyah, ia harus mengganti batang tubuhnya dengan Batang Tubuh Gurunya. Tentu saja yang dimaksud mengganti  batang tubuhnya adalah secara Hakekat yaitu menurut ajaran “ISTIHLAK atau ISTIGRAQ / اِسْتِهْلَاك او اِسْتِغْرَاق Dengan begitu Fana dan Sirnalah perasaan si Murid  pada Batang Tubuh Gurunya. Ia ber istigfar seperti Gurunya, ia membaca al Fatihah seperti Gurunya. Ia ber dzikir seperti Gurunya. Dan ia bercakap seperti Gurunya.. wal hasil segala apapun ia lakukan seperti Gurunya.
  5. Dikatakan juga bahwa Duduk Taqdim yaitu “Duduk Bersila Kaki Kanan berada diatas Kaki Kiri. Kaki Kanan umpama Sifat Rabbani dan kaki kiri umpama sifat Insani. Maksudnya si Murid dalam prilakunya di dunia ini lebih mengutamakan sifat-sifat Rabbani dari pada sifat Insani.

Hadis Riwayat Abu Daud mengatakan bahwa Nabi Saw Bersabda  :

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ. رواه ابو داود

Artinya :”Siapa saja yang menyerupai suatu Qaum (Jama’ah) maka orang itu digolongkan sama dengan kaum itu.”

3. Adab-adab Duduk bagi Pengamal  Thariqat al Qaum al Junaidiyah

Perlu Pengamal Thariqat al Junaidiyah ketahui bahwa thariqat kita ini termasuk Induknya Thariqat dan juga termasuk katagori thariqat yang tua diantara thariqat-thariqat yang ada. Setiap thariqat yang besar-besar dan banyak Pengikutnya, seperti thariqat Naqsyabandiyah, thariqat Sammaniyah pada sanadnya selalu ada tercantum nama Imam Al Junaid al Bagdadi, ini menunjukkan bahwa Imam al Junaid menguasai semua jenis thariqat yang ada dizamannya. Sehingga Semua Ulama Sufi memberinya gelar pada masa itu dengan nama “SAYYIDUT THA’IFAH : سَيِّدُ الطَّائِفَةِ Maksudnya : Bapak Penghulu Thariqat Sufi.

Wajar saja thariqat kita punya cara tentang DUDUK THARIQAT  lebih dari satu cara, karena termasuk thariqat induk. Oleh sebab itu, sebenarnya duduk thariqat kita ada tiga macam cara, ketiga-tiga cara duduk thariqat itu dibolehkan, tetapi menurut Situasi dan Sikon yang ada. Adapun cara  duduk Thariqat al Junaidiyah  yang dimaksud adalah ada tiga cara :

a.Duduk Thariqat Taqdim   جلوس التقديم

Duduk Taqdim yaitu Duduk Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah berhadap-hadapan dengan cara Kedua Kaki bersila, yaitu kaki kanan berada diatas kaki yang kiri, dan kedua talpak tangan terbuka berada diatas diantara paha dan tu’ut kakinya. Duduk Thariqat Taqdim    ini adalah duduk Thariqat yang sangat disukai oleh Sadatina  al Junaidiyah,.karena sukanya seolah-olah  Duduk Thariqat al Junaidiyah ini hanya satu cara. Duduk Taqdim ini telah diamalkan dilaksanakan oleh Guruku Mursyid KH.Jumberi Bin Maksum Bihara,dan Jama’ahnya saat pelaksanaan Khataman Kubra malam 27 Rajab dan Khataman Sugra 17 Ramadhan dan 15 Sya’ban..

b.Duduk Thariqat Darrajat  جلوس الدرجة 

Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah duduk seperti duduk tahaiyat akhir dalam shalat tetapi duduk  terbalik. Disini kaki kanan yang diduduki dan kaki kiri yang ditugiskan kebalakang. Duduk tahaiyat akhir terbalik ini tujuannya membuka hati si Salik.

c.Duduk Thariqat Khidmatجلوس الخدمة 

Salik Pengamal Thariqat al Junaidiyah duduk thariqat seperti duduk tahaiyat akhir dalam shalat. Jadi . Duduk Thariqat Khidmat ini duduk kebalikannya Duduk Thariqat Darrajat

Penyusun tegaskan sekali lagi bahwa DUDUK TAQDIM adalah duduk bersila yakni duduk kaki kanan berada ditas kaki kiri. Kedua tangan diletakkan diatas lutut dan talpak tangan dalam keadaan terbuka. Duduk  yang seperti inilah yang dipilih dan disukai oleh Sadatina Junaidiyah. Alasanya karena lebih enak, lebih santai, tidak cepat cape dan juga tujuannya untuk melembutkan dan melemahkan hati para Pengamalnya. Dikatakan pula duduk seperti itu adalah gentian dari Tangan Kanan diatas Tangan Kiri ketika melakukan ibadah shalat.

4. Dzikir yang diamalkan Kontiyou Pengamal Thariqat al Junaidiyah

DZIKIR berasal dari akar kata dzakara-yadzkuru-dzikran yang berarti menyebut, mengucapkan, mengagungkan, menyucikan, dan mengingat.

Dzikrullah biasa diartikan berarti menyebut-nyebut (nama) Allah Subhanahu Wa Ta`ala seraya mengingat-Nya, sedangkan wirid berasal dari akar kata warada-yaridu-wuruda. Wirdun berarti datang, sampai, mendatangi, menyebutkan. Wirid seakar kata dengan wardah yang berarti bunga mawar. Kata dzikr dan wirid dari segi bahasa memiliki makna yang sama, yaitu menyebut atau menyucikan. Dalam pengertian populer, zikir lebih banyak berarti penyebutan dan penyucian nama Allah Subhanahu Wa Ta`ala

Adapun yang dikehendaki Warid-warid atau Aurad pada Bab ini adalah :”Amalan-amalan atau amaliah yang harus dibaca/ diamalkan secara kontiyou / terus-menerus oleh Pengamal Thariqat al Junaidiyah pada waktu-waktu yang ditentukan. Yang dikehendaki Warid-warid atau Aurad diamalkan pada waktu yang ditentukan disini adalah :

  1. Al Wirid sesudah Shalat Maktubah (shalat lima waktu)
  2. Al Wirid sesudah Shalat Magrib pada Malam Senin dan Khamis
  3. Al Wirid pada Khataman

Khataman Kubra  الختم الكبرى

  1. Khataman Kubra  pada Malam tgl. 10 Muharram
  2. Khataman Kubra  pada tgl. 27 Rajab
  3. Khataman Kubra  pada tgl. 9 Dzul Hijjah

dan Khataman Sugra  الختم الصغرى

  1. Khataman Sugra  pada Malam tgl. 12 Rabi’ul Awwal
  2. Khataman Sugra  pada Malam tgl. 15 Sya’ban
  3. Khataman Sugra  pada Malam tgl.  17 Ramadhan

Pelaksanaan Khataman Kubra  dan Khataman Sugra mesti dilaksanakan oleh Pengamal Thariqat al Junaidiyah secara berjama’ah dengan mengikutsertakan Kaum wanita untuk kesempornaan khataman.

Penyusun Umdatul Hasanah berpendapat bahwa “Tidak Memberatkan bagi Pengamal Thariqat Al Junaidiyah yang tidak mampu melaksanakan Khataman secara berjama’ah, atau pada tempat-tempat yang ditentukan oleh Guru Mursyidnya, misalnya khataman Kubra wajib di Pusat. Maka ia boleh melaksanakannya berjama’ah dengan keluarganya dirumahnya dengan alasan tertentu.

Penyusun Umdatul Hasanah beralasan bahwa keberadaan thariqat al Junaidiyah bukan untuk mempersulit bagi Pengamalnya, akan tetapi untuk memudahkan para Pengamalnya. Jauh dari kepicikan, segala hukumnya selalu berjalan seiring dengan fitrah manusia. Ajarannya tidak pernah memberatkan seseorang Murid kecuali atas kemampuannya, bagitulah maksud sepotong  Firman Allah pada surat al Maidah yang berbunyi   :

Qur'a Surat Al-Ma'idah Ayat 6.  Bunyi ayat tersebut adalah:

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. المائدة 6

Artinya "..Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur." (QS. Al-Ma'idah: 6).

5. Adab Kaifiyat Dzikir Lisan dan Gerakannya pada Thariqat al Qaum al Junaidiyah

Inilah fasal pada menyatakan kaifiyat tatacara mengamalkan dzikir-dzikir Sadatina Thariqat Al Junaidiyah, ketehui olehmu bahwa dzikir-dzikir lisan pada Thariqat Al Junaidiyah itu terbagi kepada tiga jenis atau tiga macam yaitu :

  1. Dzikir Nafi Isbat yakni pada kalimat  : لَااِلهَ إِلَّا اللهُ   (Laa ilaaha illallah)
  2. Dzikir Isbat yakni pada kalimat  : إِلَّا اللهُ  إِلَّا اللهُ (Illallah-Illalah)
  3. Dzikir Ismu Dzat yakni pada kalimat  : (Allah-Allah)  اللهُ  اللهُ   

Dan Allah Yang Maha Kuasa berfirman :

وقال تعالى : كُلُّ شَيْئٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهُ اى اِلَّا اللهُ

 Artinya “Segala sesuatu akan binasa kecuali W ajah-Nya,” artinya kecuali Allah. 

والثالث الذِّكْر باسم الذات هو الله الله, وقال .تعالى : اِنَّنِى اَنَا اللهُ. وقال : قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى حَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ.

Yang ketiga adalah berdzikir dengan (اسم الذات) nama Zat, yaitu (الله الله) Allah, Allah. Dan Dia Yang Maha Tinggi berfirman: “Sesungguhnya Akulah Allah.” Dan Dia berfirman: “Ucapkanlah, ‘Allah,’ lalu biarkan mereka bermain di kolam mereka.” 

قَال رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَقُوْمُ السَّاعَةَ حَتَّى لَا يَبْقَى عَلَى وَجْه الْاَرْضِ مَنْ يَقُوْلُ اَللهُ اَللهُ رواه مسلم

Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: “Kiamat tidak akan datang sampai tidak ada seorang pun di muka bumi yang mengucapkan, ‘Allah, Allah.’” Diriwayatkan oleh Muslim.

Adapun cara melafalkannya ketiga macam jenis Dzikir dimaksud adalah dengan mengayunkan atau menganggukkan kepala dan badan dari atas kebawah, atau dari bawah keatas, sambil menghampaskan kalimat Dzikir yang seirama dengan ayunan kepala dan badan dari atas terus ke hati, sehingga kalimah dzikir itu menyebar ke seluruh tubuh, ketika itu tubuh Salik bergetar karena pengaruh hati yang merasa takut kepada Allah.

Firman Allah pada surat al Amfal ayat 2 yang berbunyi  :

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ أيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ  يَتَوَكَّلُوْنَ .... الانفال 2

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, yaitu apabila disebut orang nama Allah maka gemetar hatinya, karena ketakutan. Dan Apabila dibacakan ayat-ayat (Allah) kepada mereka maka bertambahlah iman mereka. Mereka bertawakkal kepada Allah’. QS.Anfal 2

Sebenarnya Dzikir Thariqat al Qaum al Junaidiyah itu persisnya mengayunkan kepala seperti keluar dan masuknya nafas, ketika Nafas turun berbunyi Allah dan ketika Nafas masuk berbunyi HU.”

C. DALIL –DALIL YANG  DIJADIKAN GERAKAN  DZIKIR  THARIQAT.

Tentang Dzikir Thariqat Sufi hal keadaannya bergoyang atau berputar atau bergoyang-goyang.

1.Aku dengar isi ceramah Syekh KH. Ahmad Syairazi Kandangan berceritera bahwa ada Riwayat dari Sayyidina Abbas RA. Yang maksudnya : “Para Shahabat itu, apabila sesudah selesai shalat subuh, mereka berdzikir menyebut nama Allah hal keadaan badan & kepala mereka bergoyang-goyang, seperti bergoyangnya pelapah daun korma di tiup angina yang sangat kuat”.

2. Al-Hafidz Abu Nu`aim meriwayatkan bahawa as-Sayyid al-Jalil al-Fudhail bin 'Iyyadh berkata:-

كاَنَ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا ذكَرَوُا اللهَ تَمَايَلُوْا يَمِيْناً وَ شِمَالاً كَمَا تَتَمَايَلُ الشَجَرَةُ بِالرِّيْحِ الْعَاصِفِ إِلىَ أَمَامٍ ثُمَّ إلَى وَرَاءٍ وَشِمَالًا تَتَمَايَلُ

"Sahabat-sahabat Rasulullah Saw. apabila berdzikir mereka menggerakkan badan condong kedepan kemudian condong kebelakang atau (ke kiri ke kanan) seperti pohon kayu yang condong ditiup angin kuat."

3.Salah satu di antaranya ialah riwayat Sayyidina Ali Radhiyallahu Anhu yang mensifatkan perlakuan para sahabat antaranya, "para shahabat apabila mereka pagi-pagi Berdzikrullah dalam keadaan bergerak (bergoyang) seperti goyangan berayunan pohon-pohon berangin."

Perkara ini juga disebut oleh Mufti Syaikh Ahmad bin Muhammad Sa’id dalam kitabnya "Faraa-idul Maatsir al-Marwiyyah lith Thariqah al-Ahmadiyyah" sebagai berikut:-

Al-Hafidz Abu Nu`aim meriwayatkan bahawa as-Sayyid al-Jalil al-Fudhail bin 'Iyyadh berkata:- "Sahabat-sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Apabila berzikir mereka menggerakkan badan condong ke kiri, badan condong ke kanan seperti pohon kayu yang condong ditiup angin kuat."

1. Perkataan Ulama ttg Gerakan Dzikir Bergoyang-goyang

Imam Al Khalili dalam Fatawa al Khalili (36) ketika ditanya tentang hukum bergerak-gerak saat dzikir dan membaca …. beliau menjawabnya sebagai berikut

ان الحركة فى الذكر والقرائة ليست محرمه ولا مكروهه بل هي مطلوبه فى جمله أحوال الذاكرين من قيام وقعود وجنوب حركة وسكون سفر وحضر وغنى وفقر

Artinya: Sesungguhnya bergerak saat dzikir dan membaca (al Qur’an) bukanlah hal yang diharamkan atau dimakruhkan bahkan ia dianjurkan dalam beberapa keadaan orang yang berdzikir baik saat berdiri, duduk, tidur terlentang, bergerak, diam, dalam perjalanan, saat dirumah, saat kaya maupun fakir.

Demikian pula menurut Imam Jalal al-Din Suyuti ra ketika di tanya orang tentang "sekelompok sufi yang berkumpul, mereka menari untuk sesi dzikir," maka ia menjawab: Bagaimana Mungkin aku MEMV0NIS mereka TERKUTUK DAN SESAT, SETRES KEPADA ORANG YANG berdzikir sambil berdiri, atau berdiri saat berdzikir,

Imam Jalalud din Suyuti (Rahimuhullah) di Al Hawi lil Fatawi,JUZ 2 / 234) CET Maktaba al Asriyyah, Beirut, Lebanon).

Imam Nawawi berkata: "Menari tidak melanggar hukum SYARA, kecuali gerakan WANITA DENGAN LUNGGAK LENGGOK DAN TAK SEN0N0H. Dan diperbolehkan menyanyikan SYAIR DAN DZIKIR. "[Minhaj di talibin wa`umdat al- Muttaqin. CET Cairo THN 1338/1920. Mustafa al-Babi al- Halabi]

Artikel Hukum Menggelengkan Kepala dan Menggerakkan Tubuh ketika Berzikir, yang ditulis oleh Mahdum Kholid Al Asror, tanggal : -19 Agustus 2020 bahwa : “Dalam ajaran Thariqat, menggelengkan kepala ketika berzikir tidak dilakukan secara asal, melainkan dengan cara tertentu. Dalam Salalim al-Fudhala, Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi menjelaskan adab dan tata cara berzikir, diantaranya sebagai berikut:

يَجُرُّ رَأْسَهُ بِمَدِّهَا مِنَ السُّرَّةِ إِلَى دِمَاغ الرّأسِ وَيُمِيْلُ رَأْسَهُ اِلَى الْجِهَةِ الْيُمْنَى "بلا" وَيَرْجِعُ "بإله" اِلَى جِهَةِ صَدْرِهِ وَ "بِاِلَا الله" الى جِهَةِ الْقَلْبِ وَهِيَ الْيَسَارُ وَيَضْرِبُ الْقَلْبَ بِقَوْلِهِ "اِلَّا اللهُ" ضَرُبًا قَوِيًّا, لِتَنْزِلَ الْجَلَالَةَ عَلَى الْقَلْبِ فَتَحْرِقْ سَائِرَ الْخَوَاطِرِ الرّدِيْنَةَ.  وَاِنَّمَا تُطْلَبُ هذِهِ الْكَيْفِيَّةَ لِتَمُرَّ  الْكَلِمَةَ الْمُشرَّفَةَ عَلَى اللَّطَائِفِ الْخَمْسِ وَهِيَ لَطِيْفَةُ الْقَلْبِ وَ لَطِيْفَةُ الرُّوْحِ وَ لَطِيْفَةُ السِّرِّ وَ لَطِيْفَةُ الْخَفِيِّ وَ لَطِيْفَةُ الْاَخْفَى.

 “Orang yang berzikir hendaknya menarik kepalanya, memanjang mulai dari pusar sampai ke otak, dan menggelengkan kepala ke arah kanan ketika membaca “laaa”, dan mengembalikan kepala ke arah dada ketika membaca lafad “ilaha”, kemudian mengarahkan kepala ke arah hati yang berada di sebelah kiri ketika lafad “illallah”. Dengan demikian, orang yang berzikir memukul hati dengan lafad “illallah dengan pukulan yang keras, agar lafad jalalah tersebut menetap di dalam hati dan membakar segala macam hasrat yang tidak terpuji. Cara zikir yang demikian dianjurkan agar kalimat yang mulia tersebut melewati lima lathaif, yaitu: lathifah qalbi, lathifah ruh, lathifah sirri, lathifah khafi, dan lathifah akhfa.”

Kemudian menurut terekat Maulawiyyah, Tarian Sufi yang terkenal dengan sebutan whirling dervishes dianggap sebagai bagian dari meditasi yang terkait erat dengan Tasawuf. Hal inilah yang membuat para penari Sufi mampu berputar dalam waktu yang lama tanpa merasa pusing.

Makna dari gerakan berputar dalam tarian tersebut adalah untuk menemukan tujuan hidup yan hakiki. Yaitu mencari Tuhan dan merasakanNya dalam gerakan berputar melawan arah jarum jam. Penari sufi harus melepaskan semua emosi, agar hanya merasakan kecintaan dan kerinduan mendalam pada Tuhan.

Menurut Artikel yang ditulis Syekh Mahdum Khalid Al Asrar bahwa “Gerakan dzikir merupakan perbuatan yang diperbolehkan berdasarkan al-Qur’an, Hadis dan penjelasan para ulama, sebagaimana berikut:

Al-Qur’an

Al-Qur’an memerintahkan kita untuk banyak berdzikir baik dalam keadaan berdiri, duduk, dan ketika berbaring. Sehingga dapat dipahami bahwa berzikir sambil melakukan seluruh gerakan tersebut secara berturut-turut mulai dari berdiri, duduk kemudian berbaring juga diperbolehkan. Allah berfirman:

... اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ ... ال عمران 191

 “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring...” (QS. Ali Imran [03] : 191)

Hadis

Dalam beberapa hadis juga dijelaskan tetantang diperbolehkannya gerakan-gerakan yang mubah sebagaimana hadis berikut:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَتِ الْحَبَشَةُ يَزْفِتُوْنَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْقُصُوْنَ وَيَقُوْلُوْنَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَقُوْلُوْنَ ؟ قَالُوْا  يَقُوْلُوْنَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ. رواه احمد

 “Dari Anas berkata, orang-orang Habasyah melompat dan menari di depan Rasulullah SAW. seraya mengucapkan: “Muhammad hamba yang saleh”, maka Rasulullah SAW. bersabda: “Apa yang mereka katakan?” Mereka menjawab: “Orang-orang Habasyah tersebut berkata: “Muhammad seorang hamba yang saleh”.” (HR. Ahmad).

Dalam hadis di atas Rasulullah tidak mengingkari perbuatan orang Habasyah yang sedang bergembira melompat dan menari dengan tarian-tarian perang menggunakan pedang dan bayonet.

2. Gerakan Dzikir Bergoyang-goyang Diperbolehkan

Al-Ghazali dalam Ihya’ menceritakan, suatu pagi, setelah salam shalat subuh, Ali bin Abu Thalib tampak berduka, sambil membalikkan tangan, beliau berkata: “Sungguh aku telah melihat para sahabat Nabi Muhammad saw., dan pada hari ini aku tidak melihat satu pun yang menyerupai mereka. Pada pagi hari, rambut mereka tidak terurus, (wajah mereka) pucat, (anggota badan) berdebu, dan (jidat) di antara mata mereka seperti lutut kambing. Setiap malam, mereka beribadah kepada Allah dengan bersujud dan berdiri, mereka membaca kitab Allah, dan mengayunkan tubuh di antara kaki dan dahi. Ketika pagi hari, mereka berzikir kepada Allah sambil menggoyangkan tubuh seperti pohon di musim angin, dan mata mereka berlinang air mata sampai membasahi pakaian.”

Kisah di atas membuktikan, para sahabat juga menggerakkan tubuh ke-kanan dan ke-kiri ketika berzikir bagaikan pohon yang sedang tertiup angin. Sehingga dapat disimpulkan, menggerakkan tubuh ketika berdzikir bukanlah perbuatan bid’ah.

Perkataan Ulama

Dikutip dalam Risalah al-Qusyairiyyah, Abu Ali ad-Daqqaq mengatakan:

اَلْحَرَكَةُ الْبَرْكَةُ حَرَكَاتُ الظَّوَاهِرِ تُوْجَبُ بَرَكَاتِ السَّرَائِرُ

Bergerak itu barokah, gerakan lahir akan mengakibatkan keberkahan batin”.

 Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa al-Haditsiyyah menjelaskan, tarian yang dilakukan oleh kaum sufi ketika wujdu (gembira) memiliki dasar dalam hadits, yaitu tarian Ja’far bin Abi Thalib di hadapan Rasulullah, ketika beliau berkata kepada Ja’far, “Engkau menyerupai fisik dan akhlakku”.

Tarian tersebut dilakukan Ja’far karena dia sangat senang mendengar perkataan Nabi tersebut, dan tarian tersebut tidak diingkari oleh Rasulullah

Selanjutnya Ibnu Hajar mengatakan “Dibenarkan berdiri dan menari dalam majelis zikir sebagaimana dikutip dari para pembesar ulama, di antaranya adalah Izzuddien Syaikhul Islam Ibnu Abdissalam


D. CARA MENGAMALKAN DZIKIR QALBI KHAFI DAN DZIKIR AKHFA 

فَصْلٌ فِى كَيْفِيَّةِ الذِّكْرِ عِنْدَ السَّادَةِ الْجُنَيْدِيَّةِ. والذكر القلب ينقسم على قسمين : الذكر الخفى واخفى.

Pasal tatacara Dzikir pada Sadah al Junaidiyah, Dzikir Qalbi itu ada dua macam : dzikir Khafi dan dzikir Akhfa, dzikir Khafi yakni (dzikir tersembunyi dan dzikir Akhfa yakni dzikir yang lebih tersembunyi) lagi. 

Allah Ta’ala berfirman :

 قال تعالى :وَاِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَاِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَاَخْفَى.

Artinya “Dan jika kamu berbicara dengan suara keras, Dia mengetahui apa yang tersembunyi dan apa yang lebih tersembunyi lagi.

Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda :

قال رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَفْضَلُ الذِّكْرِ  الذِّكْرُ الْخَفِىُّ.

Artinya “Ingatan yang terbaik adalah ingatan yang tersembunyi.”

الذكر اَخْفَى Maknanya  : “Yang memiliki Pandang hanya Allah Swt secara mutlak”

يجرد السالك عقله من جميع الادركات ثم يعطل جميع قواه و حَوَّاسِهِ عَنْ احْكَامِهِ ثم يسلخ نفسه عن الهيكل الجسماني وبعد ذلك يذكر بذكر الخفي وَاَخْفَى نَفَسًا وَاحِدًا.

Maksudnya :(Pada Dzikir Khafi dan Akhfa ini) Seorang Salik (pertama-tama) mengosongkan aqalnya dari semua pemikiran- pemikiran kemudian melemaskan tenaganya dan semua pengindraannya dari (pengaruh Akwan dan Agyar). Kemudian melepaskan Nafsunya (martabat yang tujuh ditambah batang tubuhnya) yang menggerakkan organ tubuhnya. Setelah itu ia berdzikir dengan dzikir Khafi dan Akhfa hal keadaanya satu Nafas.

واما العارفون فنوا به لم يشهدوا شيئا سوى المتكبر المتعال ورأوا سواه على الحقيقة هالكا فى الحال والماضى والاستقبال.

Maksudnya : Adapun orang-orang yang Arif Billah : Mereka telah mencapai ilmu sejati, mereka telah tenggelam dalam Dia, tidak menyaksikan apa pun selain Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, dan mereka melihat segala sesuatu yang lain sebagai sesuatu yang benar-benar fana di masa kini, masa lalu, dan masa depan.

 

AMALIAH DZIKIR THARIQAT AL JUNAIDIYAH

Adapun Amaliah Dzikir Thariqat al Junaidiyah itu Ada Tiga Belas Adab yaitu :

Adapun Cara mengamalkan Dzikir Thariqat al Junaidiyah itu ada tiga belas Adab adalah : 

Pertama : Salik suci badan dari Najis

الاوَّلُ الطهارة بان يكون مُتَوَضِّئًا, لقوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْوُضُوْؤُ يُكَفِّرُ الذُّنُوْبَ ... رواه احمد.

Artinya : kesucian dengan berwudu, sebagaimana sabda Nabi (shalawat dan salam kepadanya): “Wudu menghapus dosa…” (diriwayatkan oleh Ahmad).

Kedua,  Diamalkan sesudah Shalat

 الثانى بعد صلاة مكتوبة او صلاة غير مكتوبة. الثالث استقبال القبلة فى مكان خالي , لِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : خَيْرُ الْمَجَالِسِ مَا اسْتَقْبَلَ بِهِ الْقِبْلَةَ ...رواه الطبرانى.

 Dzikir Thariqat tersebut Dikerjakan setelah shalat wajib ataupun shalat sunnah. 

Ketiga, Salik menghadap Kiblad

Duduk Salik menghadap kiblat di tempat yang sepi, sebagaimana sabda Nabi (shalawat dan salam kepadanya): “Perkumpulan terbaik adalah perkumpulan yang menghadap kiblat…” (diriwayatkan oleh al-Tabarani).

Dan Nabi (shalawat dan salam kepadanya) bersabda :

 وَقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمٌ لَا ظِلَّ اِلَّا ظَلَّهُ ....  وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ ... رواه الشيخان.

Artinya “Ada tujuh orang yang akan diberi naungan Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya… dan seorang laki-laki yang berzikir kepada Allah dalam kesendirian dan matanya berlinang air mata…” (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)..

الرابع : جلوس التقديم فى الطريقة الجنيدية واليدان فوق رُكْبَتَيْهِ الذى يَحُلُّ الْكَفَّان السماءَ,

Keempat : Posisi duduk Taqdim 

Adapun Salik Posisi Duduk Taqdim dalam thariqat Junaidiyah, dengan tangan di atas kedua lutut kakinya, yang kedua telapak tangannya (terbuka)menghadap ke langit.

الخأمس : اقرأ بقرائة الفاتحة خمس مرات اى قرائة الفاتحة الاولى اهداؤها الى روحاني سيدنا محمد صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و قرائة الفاتحة الثانى الى ارواح اصحاب النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جميعا, والثالث الى ارواح اولياء الله ولواديّ, والرابع الى ارواح سلسلة الطريقة الجنيدية البغدادية وسلسلاتهم ومشايخ الطريقة. والخامس : الى من اخذته البيعة ... ابن ... خاصّة.

Kelim: Bacalah Surah Al-Fatihah lima kali. 

  1. Bacaan pertama didedikasikan untuk arwah Nabi Muhammad (shalawat dan salam kepadanya). 
  2. Bacaan kedua didedikasikan untuk arwah seluruh sahabat Nabi (shalawat dan salam kepadanya). 
  3. Bacaan ketiga didedikasikan untuk arwah para wali Allah dan para pengikutku. 
  4. Bacaan keempat didedikasikan untuk arwah para anggota tarekat Junaydiyyah Baghdad dan silsilah serta para syekh mereka. 
  5. Bacaan kelima secara khusus didedikasikan untuk orang yang telah mengucapkan sumpah setia... putra...

السادس : رابطة المرشد وهي مقابلة قلب المريد بقلب شيخه وحفظ صورته فى الخيال ولو فى غيبته وملاحظة إن قلب الشيخ كالميزاب ينزل الفيض من بحره المحيط الى قلب المريد المرابط واستمداد البركة منه لأنه الواسطة الى التوصل, ولا يخفى ما في ذلك من الايات والاحاديث

Keenam : Salik Murabithah kepada Guru Mursyid

Murabithah kepada Guru Mursyid, yaitu penyelarasan hati murid dengan hati syekhnya, menjaga citranya dalam pikiran bahkan saat ia tidak ada, dan mengamati bahwa hati syekh bagaikan saluran tempat mengalirkan curahan dari samudra luasnya ke hati murid yang taat, memperoleh berkah darinya karena ia adalah perantara untuk mencapai kedekatan. Ayat-ayat dan hadits yang mendukung hal ini sudah terkenal. 

قال تعالى :يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوْا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَة.

Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah perantara) untuk mendekati-Nya." 

وقال: اتَّقُوا اللهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ.

Dan Dia berfirman: "Takutlah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang benar." 

قال رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْمَرْءُ مَعَ مَنْ اُحِبَّ ... رواه الشيخان.

Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Seseorang akan bersama siapa yang dicintainya..." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim). 

وقال العارفون : كُنْ مَعَ اللهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ

Kaum gnostik berkata: Berdamailah dengan Allah, dan jika itu tidak mungkin, maka berdamailah dengan orang-orang yang bersama Allah. 

وقالوا : اَلْفَنَاءُ فِى الشَيْخِ مُقَدِّمَةُ الْفَنَاءِ فِى اللهِ.

Mereka juga berkata: Penyempurnaan diri dalam diri seorang guru Sufi adalah pendahuluan menuju penyempurnaan diri dalam diri Tuhan.

Ketujuh : Membaca Wirid Dzikir:

السابع : اقرأ بوارد الذكر قرائة وهو لَااِلهَ اِلَّا اللهْ, اِلَّا اللهْ اِلَّا اللهْ, اللهُ الله.

Bacalah Wirid Dzikir yang telah ditentukan  :

  1. Dzikir : لَااِلهَ اِلَّا اللهْ (Laa ilaaha illallah)
  2. Dzikir : اِلَّا اللهْ-اِلَّا اللهْ (Illallah-Illalah)
  3. Dzikir : (Allah-Allah)  اللهُ  اللهُ  

Dan Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

وقال تعالى : كُلُّ شَيْئٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهُ اى اِلَّا اللهُ, والثالث باسم الذات هو الله الله, 

Artinya “Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya,” artinya kecuali Allah. Yang ketiga adalah nama Zat, yaitu Allah, Allah. 

Dan Allah Ta’ala berfirman:

وقال تعالى : اِنَّنِى اَنَا اللهُ

 Artinya “Sesungguhnya Akulah Allah.”

Dan Allah Ta'ala berfirman:

وقال : قُلِ اللهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى حَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ.

Artinya “Ucapkanlah, ‘Allah,’ lalu biarkan mereka bermain di kolam mereka.”

Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda:

 قَال رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تَقُوْمُ السَّاعَةَ حَتَّى لَا يَبْقَى عَلَى وَجْه الْاَرْضِ مَنْ يَقُوْلُ اَللهُ اَللهُ رواه مسلم.

Artinya “Kiamat tidak akan datang sampai tidak ada seorang pun di muka bumi yang mengucapkan, ‘Allah, Allah.’” Diriwayatkan oleh Muslim.

Kedalapan : Memajamkan kedua Matanya

الثامن  : تغميض العينين والصاق الشفة بالشفة واللسان سقف الحلق. 

Pejamkan mata dan rapatkan bibir, lidah menempel di langit-langit mulut.

Kesembilan : Berdzikir Khafi (Berdo’a dalam diam)

التاسع : الذكر الخفي

Salik  berdzikir dengan dzikir Khafi (Petunjuk Guru Mursyidnya)

Kesepuluh : Berdzikir Akhfa (Berdo’a dalam hati diam)

العاشر : الذكر اَخْفَى

Salik  berdzikir dengan dzikir  Akhfa (Petunjuk Guru Mursyidnya)

Maknanya  : “Yang memiliki Pandang hanya Allah Swt secara mutlak”

يجرد السالك عقله من جميع الادركات ثم يعطل جميع قواه و حَوَّاسِهِ عَنْ احْكَامِهِ ثم يسلخ نفسه عن الهيكل الجسماني وبعد ذلك يذكر بذكر الخفي وَاَخْفَى نَفَسًا وَاحِدًا.

Maksudnya :( Pada Dzikir Khafi dan Akhfa ini) Seorang Salik (pertama-tama) mengosongkan aqalnya dari semua pemikiran- pemikiran kemudian melemaskan tenaganya dan semua pengindraannya dari (pengaruh Akwan dan Agyar). Kemudian melepaskan Nafsunya (martabat yang tujuh ditambah batang tubuhnya) yang menggerakkan organ tubuhnya. Setelah itu ia berdzikir dengan dzikir Khafi dan Akhfa hal keadaanya satu Nafas.

Keterangan : Disaat Nafas tidak dafat tertahan lagi, rasanya sekujur tubuh Salaik penuh dengan Kalimah Allah, Allah. Maka ia lepaskan, ia lontarkan dzikir Ismu Dzat (Kalimah Allah) dengan kekuatan yang ada, seperti orang yang terkejut, sambil menarik Nafasnya kembali pelan-pelan dan membuka kedua matanya yang terpejam.

 Kesebelas : Setelah mengatur Nafas Salik Mengucapkan Do’a

الحادى عشر: تقول 

سُبْحَانَكَ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا, فَاغْفِرْ لِيْ فَاِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ وَارْحَمْنِيْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ وَاغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

Artinya “Maha Suci Engkau! Sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku sendiri. Maka ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa aku selain Engkau. Kasihanilah aku dengan rahmat dari-Mu, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak membutuhkan siapa pun selain Engkau.”

Kemudian dilanjutkan mengucap do'a :

اِلهِيْ اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ اِعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ يَا اللهُ

Artinya : Ya Tuhan, Engkau lah yang (aku maksud)/ Engkau lah tujuanku dan keridhaan-Mu adalah keinginanku. Berikanlah kepadaku kasih dan pengetahuan-Mu, ya Tuhan.

Kedua  Belas : Salik Membaca Al Asmaa'ul Husna

الثاني عشر  : وتقرأ الاسماء الحسني

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ نَسْاَلُكَ (اَسْاَلُكَ) الرَّحْمَةَ وَالْعَافِيَةَ وَالرِّضَى يَا مَنْ ... هُوَ اللهُ الَّذِىْ لَا اِلَهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمَانُ الرَّحِيْمُ. اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ. اَلْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ. اَلْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر. اَلْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ, اَلْحَلِيْمُ الْعَظِيْمُ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ, اَلْحَفِيْظُ الْمُقِيْتُ الْحَسِيْب الْجَلِيْلُ الْكَرِيْمُ الْرَّقِيْبُ الْمُجِيْبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيْمُ. اَلْوَدُوْدُ الْمَجِيْدُ الْبَاعِثُ  الشَّهِيْدُ الْحَقُّ الْوَكِيْلُ الْقَوِيُّ الْمَتِيْنُ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ الْمُحْصِى الْمُبْدِئُ  الْمُعِيْدُ, اَلْمُحْيِ الْمُمِيْتُ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ  الْوَاجِدُ  الْمَاجِدُ   الْوَاحِدُ  الْأَحَدُ الصَّمَدُ. اَلْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ  الْمُؤَخِّرُ الْأَوَّلُ الْأَخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَلِيُّ الْمُتَعَالُ. اَلْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفْوُ الرَّؤُوْفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. اَلْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِيُّ الْمُغْنِى الْمَانِعُ   الضَّارُّ النَّافِعُ النُّوْرُ الْهَادِى الْبَدِيْعُ الْبَاقِى الْوَارِثُ  الرَّشِيْدُ الصَّبُوْرُ

Ketiga Belas  Engkau Baca Shalawat atas Nabi Muhammad Saw

الثالث عشر  : ان تقرأ الصلواة على النبي مُحَمَّدٍ صلعم 

- اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى اَلِهِ  وَصَحْبِهِ

- صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد

- صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

Keempat Belas  Engkau Baca Do'a

الرابع عشر  : ان تقرأ الدعاء.

 Adapun adab dzikir  yang Ke-14 adalah Engkau Baca Do'a

 اَللهُمَّ اَنِّيْ اَسْاَلُكَ التَّوْبَةَ وَالْاِنَابَةَ وَالْاِسْتِقَامَةَ عَلَى الشَّرِيْعَةِ الْغَرَّاءِ وَالطَّرِيْقَةِ الْبَيْضَاءِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. ....... الدعاء .......

Artinya : “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu taubat, kembali kepada-Mu, dan keteguhan hati di atas syariat yang murni dan jalan yang jelas, dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang”. 

Kelima Belas  Engkau  Kerjakan Tawajjuh Muthlaq

الخامس عشر : ثم تفعل التوجه المطلق

 Adapun adab dzikir  yang Kelima Belas adalah Engkau Tawajjuh Muthlaq

Tawajjuh Muthlaq dilaksanakan harus petunjuk Guru Mursyid, atau Ba’dal Guru Mursyid, sebab disini banyak kegiatan Rohaniyan. Caranya Salik mengucapkan Istigfar tiga kali.

اَسْتَغْفِرُ الله-Istigfar Pertama  hakekat hati Penyerahan atau Pengembalian Batang Tubuh, اَسْتَغْفِرُ الله -Istigfar Kedua hakekat hati Penyerahan atau Pengembalian HATI Salik. اَسْتَغْفِرُ الله -Istigfar Ketiga hakekat hati Penyerahan atau Pengembalian ROH Salik untuk Fana atau Lebur menuju Baqa billah. Yang dikandung Tawajjuh Muthlaq adalah Taubat menuju Inabah, Inabah menuju Tawakkal, dan Tawakkal menuju Taslim dan Taslim menuju Tabarri.




E. WIRID AMALIAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH SEHABIS SHALAT LIMA WAKTU

a. Bertawassul Surat Al Fathah Lima Kali

1-اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمثصْطَفَى مُحَمَّدٍ (ص) الفاتحة ...

2-وَاِلَى اَصْحَابِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  اَجْمَعِيْنَ خُصُوْصًا لِاَصْحَابِ الْاَرْبَعَةِ الفاتحة ...

3-وَاِلَى اَوْلِيَاء الله تَعَالَى وَلِوَالِدَيّ وَاَلِيْ وَذُرِّيّتِيْ وزَوْجَتِيْ (زَوْجِيْ) الفاتحة ...

4-وَاِلَى سِلْسِلَةِ الطَّرِيْقَةِ الْجُنَيْدِيَّةِ الْبَغْدَادِيَّةِ وَسِلْسِلَاتِهِمْ وَالْمَشَايِخِ الطَّرِيْقَةِ الفاتحة ...

5-ثُمَّ خُصُوْصًا اِلَى مَنْ اَخَذَنِيَ الْبَيْعَةَ  .... بن .......

b. Murabithah kepada Guru Mursyid

c. Berdzikir Lisan thariqat al Junaidiyah (dengan Jumlah sama (لَااِلهَ اِلَّا اللهْ) 33 kali, (اِلَّا اللهْ اِلَّا اللهْ) 33 kali dan (اللهُ الله) juga 33 kali.

لَااِلهَ اِلَّا اللهْ, اِلَّا اللهْ اِلَّا اللهْ, اللهُ الله.

d. Dilanjutkan الذكر الخفى واخفى ...  Berdzikir Khafi dan Akhfa dengan bimbingan Guru Mursyid atau Ba’dal Guru Mursyid.

e.Membaca al Asmaaul Husa

f.Membaca Shalawat atas Nabi Muhammad Saw. Pilih shalawat yang anda sukai : Membaca shalawat Ummi. Membaca shalawat minimal 3 kali

- اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِالنَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ

Atau Membaca Shalawat Jibril atau shalawat Rahmat

- صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد

Atau Membaca Shalawat Nur, Membaca shalawat minimal 3 kali

- صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد نُوْرٌ عَلَى نُوْرٍ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ

Atau  Membaca Shalawat untuk Diri Sendiri, Membaca shalawat minimal 3 kali

-يَا اَحْمَدُ يَا مُحَمَّدُ سَلِّمْنَا بِاِحْسَانِيْ كَالْقَدِيْمِ

g.Berdo’a ( Bebas do’a apa saja)

 اَللهُمَّ اَنِّيْ اَسْاَلُكَ التَّوْبَةَ وَالْاِنَابَةَ وَالْاِسْتِقَامَةَ عَلَى الشَّرِيْعَةِ الْغَرَّاءِ وَالطَّرِيْقَةِ الْبَيْضَاءِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. .......

h.Tawajjuh Muthlaq. Pelaksanaannya harus ada bimbingan Guru Mursyid atau Ba’dal Guru Mursyid.

وان تقول : سُبْحَانَكَ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا, فَاغْفِرْ لِيْ فَاِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اَنْتَ وَارْحَمْنِيْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ وَاغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ,

اِلهِيْ اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ اِعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ يَا اللهُ


 AMALIAH/WIRID THARIQAT AL JUNAIDIYAH 

SESUDAH SHALAT LIMA WAKTU

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اِيْنِ تَلْقِيْنْ ذِكِرْ* دِكَرْجَاكَنْ سَسُوْدَهْ صَلَاةْ فَرْضُ

 

١- التَّوَسُّلُ تِلَاوَةُ سُوْرَةِ الْفَاتِحَةِ ٥ مَرَّةً

١- اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهٖ وَاَزْوَاجِهٖ وَذُرِّيَّاتِهٖ وَاَهْلِ بَيْتِهٖ اَجْمَعِيْنَ شَيْءٌ لِلَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةَ ...

٢- وَاِلَى اَصْحَابِ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَقِيَةِ الصَّحَابَةِ اَجْمَعِيْنَ خُصُوْصًا لِسَادَاتِنَا أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ شَيْءٌ لِلَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةَ ...

٣- وَاِلَى اَوْلِيَاء الله تَعَالَى وَوَالِدِيْنَ وَاَزْوَاجِنَا وَاَوْلَادِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَاَخَوَاتِنَا وَاِخْوَانِنَا وَمَشَائِخِنَا وَمُرْشِدِنَا وَطُلّابِنَا وَاَهْلِ بَيْتِنَا وَقَرَابَتِنَا وَجِرَانِنَا وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ شَيْءٌ لِلَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةَ ...

٤- وَاِلَى سِلْسِلَةِ الطَّرِيْقَةِ الْجُنَيْدِيَّةِ الْبَغْدَادِيَّةِ وَمَشَايِخِهِمْ وَجَمِيْعِ اَهْلِ الطُّرُقِ وَسِلْسِلَاتِهِمْ شَيْءٌ لِلَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةَ ...

٥- ثُمَّ خُصُوْصًا اِلَى مَنْ اَخَذْتُهُ الْبَيْعَةَ  .... بن ....... شَيْءٌ لِلَّهِ لَهُ الْفَاتِحَةَ.....

٢- مُرَابِطَةُالْمُرْشِدِ  :

٣- مَمْبَاح تَلْقِيْنْ ذِكِرْ طَرِيْقَةْ  : (لَآاِلٰهَ اِلَّا اللهُ, اِلَّا اللهُ-اِلَّا الله, اَللهُ-اَللهُ, اَلذِّكْرُ الْخَفِىُّ وَ الذِّكْرُ الْأَخْفَى)

٤- مَمْبَاح اَلْاَسْمَاءُ الْحُسْنَى :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

نَسْاَلُكَ (اَسْاَلُكَ) الرَّحْمَةَ وَالْعَافِيَةَ وَالرِّضَى يَا مَنْ ... هُوَ اللهُ الَّذِىْ لَااِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ. اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ. اَلْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ. اَلْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر. اَلْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ, اَلْحَلِيْمُ الْعَظِيْمُ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ, اَلْحَفِيْظُ الْمُقِيْتُ الْحَسِيْب الْجَلِيْلُ الْكَرِيْمُ الْرَّقِيْبُ الْمُجِيْبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيْمُ. اَلْوَدُوْدُ الْمَجِيْدُ الْبَاعِثُ  الشَّهِيْدُ الْحَقُّ الْوَكِيْلُ الْقَوِيُّ الْمَتِيْنُ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ الْمُحْصِى الْمُبْدِئُ  الْمُعِيْدُ, اَلْمُحْيِ الْمُمِيْتُ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ  الْوَاجِدُ  الْمَاجِدُ   الْوَاحِدُ  الْأَحَدُ الصَّمَدُ. اَلْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ  الْمُؤَخِّرُ الْأَوَّلُ الْأَخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَلِيُّ الْمُتَعَالُ. اَلْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفْوُ الرَّؤُوْفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. اَلْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِيُّ الْمُغْنِى الْمَانِعُ   الضَّارُّ النَّافِعُ النُّوْرُ الْهَادِى الْبَدِيْعُ الْبَاقِى الْوَارِثُ  الرَّشِيْدُ الصَّبُوْرُ

٥- مَمْبَاح اَلدُّعَاءُ .......  :

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ* حَمْدًا شَاكِرِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِى مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ* وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ* حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَ نِعْمَ النَّصِيْرُ * غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ*

اَللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِخَاتِمَةِ السَّعَادَةِ وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ لَهُمُ الْحُسْنَى وَزِيَادَةً بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذِى الشَّفَاعَةِ وَآلِهٖ وَأَصْحَابِهٖ ذَوِى السِّيَادَةِ*

لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ. سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ*    اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ اِثْمٍ، اَللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهٗ، وَلَاهَمًّا إِلَّا فَرَجْتَهٗ وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ*

اَللَّهُمَّ اَنِّا نَسْاَلُكَ التَّوْبَةَ وَالْاِنَابَةَ وَالْاِسْتِقَامَةَ عَلَى الشَّرِيْعَةِ الْغَرَّاءِ وَالطَّرِيْقَةِ الْبَيْضَاءِ* اَللَّهُمَّ اَنِّا نَسْاَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ والْمُعَافَةَ الدَّائِمَةَ فِى الدِّيْنِ وَالدٌّنْيَا وَالْاَخِرَةِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ*

٦- كَمُوْدِيَان اَلتَّوَجُّهُ الْمُطْلَقُ .......  :

جتَاتَنْ : تَوَجُّهْ مُطْلَقْ وَاجِبْ دِكَرْجَاكَنْ تِيَافْ هَابِسْ صَلَاة فَرْضُ


F. WIRID MALAM SENIN DAN KHAMIS BA’DA SHALAT MAGRIB

*اين ورد سسوداة صلاة مغريب مالم اثنين دان مالم خميس* 

١- التَّوَسُّلُ تِلَاوَةُ سُوْرَةِ الْفَاتِحَةِ ١ مَرَّةً

اَلْفَاتِحَةُ ! اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهٖ وَاَزْوَاجِهٖ وَذُرِّيَّاتِهٖ وَاَهْلِ بَيْتِهٖ اَجْمَعِيْنَ وَحَضْرَةِ سَادَاتِنَا أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَأِلَى بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالْقَرَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيَ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِيْهِمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَالْاَرْبَعَةِ الْاَئِمَّةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ وَمُقَلِّدِهِمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ اَهْلِيَّةِ الصُّوْفِيَّةِ الْمُحَقِّقِيْنَ وَ أَرْوَاحِ أَهْلِ سِلْسِلَة الطَّرِيْقَةِ الْجُنَيْدِيَّة وَمَشَائِخِهِمْ وَاُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَجَمِيْعِ أَهْلِ الطُّرُقِ وَ اَهْلِ سِلْسِلَتِهِمْ خُصُوْصًا إِلَى رُوْحِ وَلِيِّ اللهِ سَيِّدِنَا الشَّيْخِ وَالْإِمَامِ الْجُنَيْدِ الْبَغْدَادِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَاُصُوْلِهٖ وَفُرُوْعِهٖ وَنَفَعَنَا بِهٖ وَ بِعُلُوْمِهٖ وَ اَسْرَارِهٖ فِى الدِّيْنِ وَ الدُّنْيَا وَ الْآخِرَةِ ثُمَّ اِلَى اَرْوَاحِ اَوْلِيَاءِ اللهِ تَعَالَى وَوَالِدِيْنَ وَاَزْوَاجِنَا وَاَوْلَادِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَمَشَائِخِنَا وَمُرْشِدِنَا وَطُلّابِنَا وَجِرَانِنَا وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ خُصُوْصًا لِمَنْ اَخَذْنَا مِنْهُ الْبَيْعَةَ شَيْءٌ لِلَّهِ لَهُمُ الْفَاتِحَةُ .....

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ, اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ, الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ, مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ, اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ, اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْنَ, صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ  عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ, آمِيْنَ

٢- مَمْبَاح  :  وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌج لَا اِلٰهَ اِلّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ*

٣- مَمْبَاح اية الكُرْسِى :سورة البقرة 255

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ*

٤- مَمْبَاح آمَنَ الرَّسُوۡلُ  : سورة البقرة ٢٨٥-٢٨٦

 آمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَيۡهِ مِنۡ رَّبِّهٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ‌ؕ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰٓٮِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ ۚ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِهٖ‌ ۚ وَقَالُوۡا سَمِعۡنَا وَاَطَعۡنَا‌ ۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيۡكَ الۡمَصِيۡرُ. لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَهَا ‌ؕ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا اكۡتَسَبَتۡ‌ؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِيۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ‌ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَاۤ اِصۡرًا كَمَا حَمَلۡتَهٗ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ‌‌ۚرَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ‌ ۚ ..... (x ٣٣ مَرَّةً)  وَاعۡفُ عَنَّا وَاغۡفِرۡ لَنَا وَارۡحَمۡنَا ۚ اَنۡتَ مَوۡلٰٮنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَى الۡقَوۡمِ الۡكٰفِرِيۡنَ*

٥- كَمُوْدِيَانْ مَمْبَاح اَسْتَغْفِرُ اللهَ  ٩٩ كالى:

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ            ٣٣ مرة

اَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا        ٣٣ مرة

اَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَايَا       ٣٣ مرة

٦- كَمُوْدِيَانْ مَمْبَاح :  لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ. سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   ١٠ مرة

٧-  كَمُوْدِيَانْ بَرْتَوَجُّهْ مُطْلَقْ :

اِلهِىْ اَنْتَ مَقْصُوْدِىْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِىْ اَعْطِنِىْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ يَا اللهُ

٨-  كَمُوْدِيَانْ مَمْبَاح تَلْقِيْنْ ذِكِرْ طَرِيْقَةْ  : (لَآاِلٰهَ اِلَّا اللهُ, اِلَّا اللهُ-اِلَّا الله, اللهُ-اللهُ, الذكر الخفى و الذكر الأخفى)

٩- صلاة حاجة دوا ركعة : اَيَاتْ الفاتحة بعدها ايت الكرسي و اِنَّا اَنْزَلْنَاهُ ... وقُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ وَقُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ... وَقُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ. سماكدوا ركعتن.

١٠- كَمُوْدِيَانْ مَمْبَاح الصلواة على النبي مُحَمَّدٍ .......٩٩ كالى

- اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهٖ وَصَحْبِهٖ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ*

١١- دِتُوْتُفْ مَمْبَاج : صَلَاوَة اِبْرَاهِيْمِيّة ١ مرة اى : اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمِ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ و عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ. كَمَابَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ*

١٢- ممباج : الاسماء الحسنى :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ نَسْاَلُكَ (اَسْاَلُكَ) الرَّحْمَةَ وَالْعَافِيَةَ وَالرِّضَى يَا مَنْ ... هُوَ اللهُ الَّذِىْ لَااِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ. اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ. اَلْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ. اَلْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر. اَلْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ, اَلْحَلِيْمُ الْعَظِيْمُ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ, اَلْحَفِيْظُ الْمُقِيْتُ الْحَسِيْب الْجَلِيْلُ الْكَرِيْمُ الْرَّقِيْبُ الْمُجِيْبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيْمُ. اَلْوَدُوْدُ الْمَجِيْدُ الْبَاعِثُ  الشَّهِيْدُ الْحَقُّ الْوَكِيْلُ الْقَوِيُّ الْمَتِيْنُ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ الْمُحْصِى الْمُبْدِئُ  الْمُعِيْدُ, اَلْمُحْيِ الْمُمِيْتُ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ  الْوَاجِدُ  الْمَاجِدُ   الْوَاحِدُ  الْأَحَدُ الصَّمَدُ. اَلْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ  الْمُؤَخِّرُ الْأَوَّلُ الْأَخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَلِيُّ الْمُتَعَالُ. اَلْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفْوُ الرَّؤُوْفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. اَلْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِيُّ الْمُغْنِى الْمَانِعُ   الضَّارُّ النَّافِعُ النُّوْرُ الْهَادِى الْبَدِيْعُ الْبَاقِى الْوَارِثُ  الرَّشِيْدُ الصَّبُوْرُ

١٣-  كَمُوْدِيَانْ مَمْبَاج : الدُّعَاءَ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا شَاكِرِيْنَ حَمْدًا يُوَافِى نِعَمَهُ وَيُكَافِى مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِى لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهٖ وَصَحْبِهٖ اَجْمَعِيْنَ. حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَ نِعْمَ النَّصِيْرُ * غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ*

اَللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِخَاتِمَةِ السَّعَادَةِ وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ لَهُمُ الْحُسْنَى وَزِيَادَةً بِجَاهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذِى الشَّفَاعَةِ وَآلِهٖ وَأَصْحَابِهٖ ذَوِى السِّيَادَةِ*

لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ. سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ*    اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ اِثْمٍ، اَللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهٗ، وَلَاهَمًّا إِلَّا فَرَجْتَهٗ وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ*

اَللَّهُمَّ اَنِّا نَسْاَلُكَ التَّوْبَةَ وَالْاِنَابَةَ وَالْاِسْتِقَامَةَ عَلَى الشَّرِيْعَةِ الْغَرَّاءِ وَالطَّرِيْقَةِ الْبَيْضَاءِ. اَللَّهُمَّ اَنِّا نَسْاَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ والْمُعَافَةَ الدَّائِمَةَ فِى الدِّيْنِ وَالدٌّنْيَا وَالْاَخِرَةِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ*

 

Keterangan  :

Ditutup dengan shalawat Ibrahimiyah Genaf 100 kali  :

ممباج : صَلَاوَة اِبْرَاهِيْمِيّة 1 مرة اى :  اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمِ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ و عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ. كَمَابَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Atau membaca Shalawat yang lain misalnya :

يَانُوْرَ النُّوْرِ يَامُدَبِّرَ الْاُمُوْرِ بَلِّغْ عَنَّا رُوْحَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَرْوَاحَ ألِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ تَحِيَّةً وَسَلَامًا  ... 99 كالى

قِيْلَ منْ اَرَادَ اَنْ يَرْئَ النَّبِيَّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ : فَلْيُصِلَ رَكْعَتَيْنِ نَافِلَةً ثُمَّ لِيَقْرَاَ مِائَةً مَرَّةً  : يَانُوْرَ النُّوْرِ يَامُدَبِّرَ الْاُمُوْرِ بَلِّغْ عَنَّا رُوْحَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَرْوَاحَ ألِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ تَحِيَّةً وَسَلَ  ... 99 كالى

Atau membaca Shalawat dengan menyebut Nama-nama Nabi Saw yang jumlahnya 105 Nama sampai dengan 201 nama. Penyusun Umdatul Hasanah hanya menganjurkan bagi Pengamal Thariqat al Junaidiyah atau Thariqatul Qaum supaya bershalawat dengan Nama-nama Nabi Saw, terutama diwaktu Khataman. Caranya setiap Nama Nabi Saw selalu didahului Kalimat berikut  …… Muhammad …….

اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مَنِ اسْمُهُ  ... مُحَمَّدٌ ... صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.


G. KETERANGAN MEMBACA WIRID SESUDAH SHALAT MAGRIB PADA MALAM SENIN DAN KHAMIS

            Penyusun Umdatul Hasanah …… mengemukakan alasan tentang Wirid sesudah Shalat Magrib setiap Malam Senin dan Malam Khamis, khususnya  bagi Pengamal Thariqat Junaidiyah atau Thariqat Al Qaum. Pertanyaannya adalah        :

مَاذَاتُعْمَلُ اَنْ تَتْلُوَ اَوْرَادَ الطَّرِيْقَةِ الْجُنَيْدِيَّةِ اَهْلُهَا كُلَّ لَيْلَةِ الْاِثْنِيْنَ وَالْخَمِيْسِ ؟ الجواب : عِنْدِيْ لِاَنَّ يَوْمَهُمَا يَرْفَعُ اَنْ يُعْرَضَ اَعْمَالَ الُاُمَّةِ اى اُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَى رُوْحِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ 

Maksudnya : Mengapa Aurad Thariqat Junaidiyah diamalkan dan dibaca oleh Pengamalnya pada Malam Senin dan Malam Khamis? Jawabnya : Menurut Pendapatku karena kedua harinya yakni Seni dan Khamis itu semua Amal Ummat diangkat adan diperlihatkan kepada Rohaniyah Nabi Saw !

Di Dalam Kitab Majalisus Saniyah dijelaskan tentang didatangkannya dan diperlihatkan oleh ALLah Swt akan semua amal Umat selama satu Minggu kepada Ruhaniyah Rasulullah Saw, seperti Penyusun kutip berikut  :

يُعْرَضُ اَعْمَالُ الُاُمَّةِ عَلَى رُوْحِ رَسُوْل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمٌ كَمَا رُوِيَ اَبُوْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : حَيَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمْ وَمَمَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمْ, قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَدْ عَلِمْنَا اَنَّ حَيَاتَكَ خَيْرٌ لَنَا فَكَيْفَ وَمَمَاتِكَ يَكُوْنَ خَيْرٌ لَنَا؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمْ مَادَمْتُ فِيْكُمْ دعَوْتُكُمْ اِلَى اللهِ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ, وَمَمَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمْ وَذَالِكَ اَنَّ اَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَيَّ فِى كُلَّ يَوْمِ  اِثْنِيْنَ وَخَمِيْسِ فَمَا رَاَيْتُ مِنْ خَيْرٍ اسْتَبْشَرْتُ بِهِ وَمَا رَاَيْتُ غَيْرَ ذَالِكَ اسْتِغْفَرْتُ لِلّهِ لَكٌمْ(١)

Artinya : Akan ditunjukkan atau diperlihatkan semua amat Umat kepada Rohaniyah Rasulullah  Saw pada Hari (Senin & Khamis) sebagaimana  hadis Riwayat dari Abu Hurairah Radiyahu Anhu  berkata :  telah bersabda Rasul Saw : “HIDUPKU ADALAH KEBAIKAN BAGI KAMU (SEKALIAN) DAN WAFATKU JUGA KEBAIKAN BAGI KAMU.” BERTANYA (SAHABAT KETIKA ITU) YA RASULULLAH, SUNGGUH KAMI MEMANG TAHU BAHWA HIDUP ENGKAU SANGAT BAIK BAGI KAMI, TETAPI BAGAIMANA WAFATMU, YA RASUL ADALAH KEBAIKAN JUGA UNTUK KAMI ? Maka jawab Rasulullah Saw : “HIDUPKU ADALAH KEBAIKAN BAGI KAMU (SEKALIAN) KARENA SENANTIASA KALIAN, SAYA AJAK KEPADA ALLAH DENGAN HIKMAH DAN NASEHAT YANG BAIK, DAN WAFATKU JUGA JUGA MEMBAWA KEBAIKAN BAGI KAMU, KARENA KEADAAN SEMUA AMAL KAMU DITUNJUKKAN ATAU DIPERLIHATKAN KEPADA AKU PADA SETIAP HARI SENIN DAN KHAMIS, MAKA (BILA AMAL-AMAL ITU) AMAL KEBAIKAN YANG AKU LIHAT, AKU SANGAT BERGAMBIRA DENGAN SEMUA ITU. DAN JIKA TIDAK AKU LIHAT AKAN (AMAL) KEBAIKAN AKUPUN MEMOHONKAN AMPUN KEPADA ALLAH, UNTUKMU.”

Alangkah baiknya, sangat baik sekali  bagi Pengamal Thariqat al Junaidiyah atau Thariqat al Qaum (yang mampu)  melalukan ibadah Puasa  Sunnat pada hari Senin dan Kamais. Aku  kutip dalam Kiatab al Ighnaa’a dikatakan bahwa    :

سَكَتَ الْمُصَنِّفُ اى الْاِقْنَاعُ عَنْ صَوْمِ التَّطَوُّعِ وَهُوَ مُسْتَحَبٌّ لِمَا فِى الصَّحِيْحَيْنِ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَامَ يَوْمٌ فِى سَبِيْلِ اللهِ بَاعَدَ اللهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ حَرِيْفًا, وَيَأْكِدُ صَوْمَ الْاِثْنِيْنَ وَالْخَمِيْسِ, لِاَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَحَرَّى صَوْمَهُمَا, وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنَّهُمَا يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيْهِمَا الْاَعْمَالَ فَاُحِبُّ يُعْرَضُ عَمَلِيْ وَاَنَا صَائِمٌ(٢)

Artinya : “Pengarang mencukupkan atau  menjelaskan tentang Puasa Sunnat Senin dan Kamis. Puasa sunnat itu dibolehkan dan disunannatkan, sebagaimana hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim : “Barangsiapa berpuasa sehari dijalan Allah, maka orang itu dijauhkan Allah 700 panas dan dingin dari api Neraka  yang dikehendaki Puasa dimaksud adalah . Puasa Sunnat Senin dan Kamis, karena Rasul Saw sangat memelihara puasa kedua hari tersebut. Pada  hari Senin dan Kami situ ama-amal Hamba diangkat (kekhadirat Allah Swt). Maka kata Rasul Saw. “Aku lebih suka amalku diangkat,  sedang aku dalam keadaan berpuasa”.

Bab. Ke-IV Kitab Ar Risalah Umdatul Hasanah …….. Benteng Pertahanan Thariqat Junaidiyah  (Thariqatul Qaum) yang disusun oleh Sayyid H.Hasan Baseri,S.Ag bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi bin Tanqir Ghawa bin Abuthair Muhammad bin Abutha’am Ibrahim bin Abu Bakar ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin M.Jamiluddin bin Sayyid Abu Bakar as-Saqqaf

 H. PENJELASAN ISTIGFAR PADA WARID MALAM SENIN DAN KHAMIS

Diantara  bentuk sighat dan jenis Istigfar dalam thariqat Sufi ada beragam macam, jenis adalah sebagai berikut  :

اَسْتَغْفِرُ الله

اَسْتَغْفِرُ الله اِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

اَسْتَغْفِرُ الله الْعَظِيْمَ اِنَّهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ  اَلَّذِيْ لَااِلهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ  اَلَّذِيْ لَااِلهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ بَدِيْعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا مِنْ جَمِيْعِ جُرْمِيْ وَظُلْمِيْ وَمَا جَنَيْتُ عَلَى نَفْسِيْ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ

اَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا

اَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَايَا

Muhammad Rasulullah Saw telah bersabda, Hadis riwayat  Imam Ahmad dan Hakim   :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَبْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ لَازَمَ اِسْتِغْفَارًا جَعَلَ اللهُ لَهُ مَنْ كَانَ ضَيْفٌ مُخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ  خَرَجَ وَرَزَقَهُ  مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُّ وَلَا يَحْتَبِسُ.... رواه احمد والحاكم.

Artinya  Rasulullah Saw telah bersabda : “ Barangsiapa (selalu) melazimi (mengucapkan) Istigfar, maka Allah menjadikan baginya jalan, jika ia dalam kesempitan maka Allah keluarkan, mendatangkan rejekinya dari arah yang disukainya dan juga tiada disangka-sangkanya. HR. Imam Ahmad dan Hakim .

Ada tiga jenis Istigfar yang selalu kita baca pada Warid malam Senin dan Khamis, dan juga warid Khataman Kubra dan Khataman Sugra. Adapun Istigfar  dimaksud adalah :

اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ ... 33 كالى  اَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا ... 33 كالى     اَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَايَا ... 33 كالى 

Ketiga jenis dzikir tersebut, Hakikat yang terkandung didalamnya adalah Inabah اِنَابَة  menuju Tawakkal  تَوَكَّل  Tafwied تَفْوِيْض  Taslim  تَسْلِمٌ  hingga Tabarri’ تَبَرِّئ Maksudnya :

1. Malazimi Jenis Istigfar  Pertama : Salik menyerahkan Batang Tubuhnya kepada Allah Swt. Disisi lain disini yang pertama  ia mengganti Batang Tubuhnya dengan batang tubuh Gurunya, maka Fanalah si Salik pada Gurunya. Tentu saja jiwa Salik berjalan dari Taubah menuju Inabah, menuju Tawakkal, Tafwied, Taslim hingga Tabarri.

وقالوا : اَلْفَنَاءُ فِى الشَيْخِ مُقَدِّمَةُ الْفَنَاءِ فِى اللهِ.

Artinya : Dan berkata Ulama Sufi tentang Fana bahwa “ Fana pada Syekh itu adalah awal/permulaan fana pada Allah Swt.

2. Dilanjutkan melazimi pada Istigfar yang Kedua, Salik menyerahkan Hatinya kepada Allah,  Salik mengembalikan hatinya kepada Allha Swt. Jadi  Salik benar-benar merasa tidak punya Hati, tentu saja jiwanya berjalan pula dari Taubah menuju Inabah, menuju Tawakkal, Tafwied, Taslim hingga Tabarri.. hati Salik telah Fana, hati Salik telah lebur dan sirna  diganti oleh Hati Gurunya, terus berjalan dari Guru ke Guru, terus berjalan dari Sanad ke sanad, terus berjalan dari Silsilah ke silsilah hingga  sampai pada Rasulullah Saw.

Hati adalah terminal yang dapat melihat dua alam, alam zahir yang dapat dilihat oleh mata dan alam ghaib atau alam Rohani. Alam zahir disebut  juga alam jasad yang menjadi Penghulunya adalah Adam sedangkan alam rohani yang menjadi Penghulunya adalah Nabi Kita Muhammad Saw.. Adam adalah Batang Tubuh kita, orang  Sufi menyebutnya MUHAMMAD, sedangkan Roh atau Jiwanya adalah NUR. Namun keduanya adalah satu Wujud yang ada pada diri Manuasia. Pada HAYAT  insan inilah Allah Swt bertajalli, dengan tujuh sifat, ada kehendak, ada keinginan, tahu, ada.pendengaran, penglihatan dan berbicara

3. Melazimi Istigfar yang ketiga اَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَايَا ini dimaksudkan adalah Penyerahan ROH Salik. Disini Salik merasakan tidak punya Rohaniah sama sekali. Ia benar-benar Fana ul Fana pada Rohnya Muhammad Saw. Atau ia benar-benar Fana pada NUR MUHAMMAD.karena yang dimaksud Roh kita itu adalah MA’ANAWIYAH ada 7 sifat pada sifat 20. Sedangkan ROH yang ASLInya adalah kepunyaan Muhammad Saw, yang pada Sifat 20  disebut Sifat MA’ANI.

Rasulullah Saw telah bersabda yang berbunyi :

قَالَ النَّبِيُّ (ص) اَنَا اَبُوْ الْاَرْوَاحِ وَ اَدَمُ اَبُوْ الْبَشَرِ

Artinya : Rasulullah Saw telah bersabda  :“Aku adalah Penghulu semua Roh dan Nabi Adam adalah Penghulu sekalian Jasad.” Jadi Salik benar-benar karam atau Fana pada Rohnya Muhammad saw. Berarti  Salik Fana  atau karam pada NUR MUHAMMAD. Mungkin  karena alasan ini, salah seorang Ulama Sufi ada yang berkata : bahwa “ Tidak ada yang dapat berhubungan dengan Allah Swt, kecuali  melalui NUR MUHAMMAD.” Dengan Dalil :

اَرَفْتُ رَبِّيْ بِرَبِّيْ

Artinya :Aku kenal Tuhanku, dengan Tuhanku jua.”

Dhamir    تُ pada kalimat اَرَفْتُ  adalah Muhammad.

Ulama Sufi mengatakan bahwa  yang dimaksud ROHANIYAH itu himpunan 7 sifat yaitu  (حَيٌّ, قَادِرٌ, مُرِيْدٌ, عَالِمٌ, سَمِيْعٌ, بَصِيْرٌ وَ مُتَكَلِّمٌ ) Hayyun, Qadrun, Muridun, aalimun, Sami’un, Bashirun dan Mutakallimun. Jadi Sifat (اَلْمَعَانَوِيَّةُ)Ma’anawiyah inilah yang disebut رُوْحٌ اِنْسَانٌROH INSANI. Sedangkan Sifat(اَلْمَعَانَيُّ) Ma’ani dinamakan  رُوْحٌ اِضَافِيٌّROH  IDHAFI, Ia menjadi Nyawa Muhammad atau disebut NUR MUHAMMAD. Inilah HAKEKATUL MUHAMMADIYAH ATAU  HAKEKAT NUR MUHMMAD.


J. KETERANGAN AMALIYAH MEMBACA AYAT KURSI

Mengapa ayat Kursi (Al Qur'an Surat Al Baqarah ayat 255) dijadikan Wiridan terutama dibaca pada Khataman Malam Senin dan Malam Khamis sesudah malam Magrib ? Jawabannya adalah Fadhilatnya yang besar dan banyak selain itu juga berpegang dari Hadis-hadis dibawah ini    :

  1. مَاوَرَدَ فِى اَيَةِ الْكُرْسِيِّ اُخْرِجَ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيْثِ اَبِيْ بِنْ كَعْبٍ : اَعْظَمُ اَيَةٍ فِى كِتَابِ اللهِ اَيَةُ الْكُرْسِيِّ,
  2. وَاُخْرِجَ التِّرْمِذِيُّ وَالْحَاكِمُ مِنْ حَدِيْثِ اَبِيْ هُرَيْرَةَ : اِنَّ لِكُلِّ شَيْئٍ سَنَامًا وَ اِنَّ سَنَامَ الْقُرْأَن سُوْرَةُ الْبَقَرَة وَفِيْهَا اَيَةٌ هِيَ سَيِّدَةٌ اي القرانُ اَيَةُ الْكُرْسِيِّ,
  3. وَاُخْرِجَ الحارثُ بِنْ اَبِيْ اُسَامَةَ عَنِ الْحَسَنِ مُرْسَلًا : اَفْضَلُ الْقُرْاَنِ سُوْرَةُ الْبَقَرَة وَ اَعْظَمُ اَيَةٍ فِيْهَا اَيَةُ الْكُرْسِيِّ,

Penjelasan yang dating dari Nabi Saw ttg Ayat Kursi, Imam Muslim meriwayatkan hadis dari Abi bin Ka’ab bahwa “ Seagung-agung Ayat dalam Al Qur’an adalah Ayat Kursi,,

Dan Imam At Tirmidzi dan Imam Hakim  meriwayatkan hadis, hadis riwayat  dari Abi Hurairah bahwa: “Sesungguhnya dari tiap=tiap sesuatu itu ada giginya, Sesungguhnya gigi al Qur’an adalah Surah Al Baqarah. Didalamnya ada satu Ayat, dia adalah Penghulu al Quran yakni Ayat Kursi.

Dan Imam At Tirmidzi juga meriwayatkan hadis, hadis riwat Haris bin Abi Usamah dari al Hasan  (hadis Mursal) : bahwa “Seafdal-afdal dalam Al Qur’an adalah Surat al Baqarah dan Seagung-agung Ayat dalam Al Qur’an adalah Ayat Kursi,

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah Hadis, Hadis riwayat dari Anas :bahwa” Ayat Kursi seper empat dari Al Qur’an”

 

K. KETERANGAN  MEMBACA  AAMANAR RASUL ……

وَرُوِيَ مَقَاتِلُ اِبْنُ حِبَّانٍ رضي الله عنه : اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَمَّا اسرى بِيْ اِلَى السَّمَاءِ اِنْطَلَقَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ حَتَّى اِنْتَهَى بِىْ اِلَى الْحِجَابِ الْاَكْبَرِ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى, قَالَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ : تقدم يَا مُحَمَّدُ قُلْتُ يَا جِبْرِيْلُ لَا بَلْ تقدم اَنْتَ. قَالَ يَا مُحَمَّدُ لَا يَنْبَغِى لِاَحَدٍ مِنْكَ  غَيْرُكَ ان يجاوز هذا المكان وَاَنْتَ اَكْرَمُ عَلَى اللهِ مِنِّيْ 

Diriwayatkan oleh Muqatil Ibn Hibban, semoga Allah meridainya, bahwa Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: Ketika aku diangkat ke langit, Jibril, semoga kedamaian Allah menyertainya, mengantarku hingga sampai ke Tirai Terbesar di Pohon Bidah Batas Terjauh. Jibril, semoga kedamaian Allah menyertainya, berkata: Majulah, wahai Muhammad. Aku berkata: Wahai Jibril, tidak, engkau yang duluan. Dia berkata, "Wahai Muhammad, tidak pantas bagi siapa pun selain engkau untuk melewati tempat ini, dan engkau lebih mulia di sisi Allah daripada aku."

قَالَ فتقدمت حتى انتهيت الى سرير مِنْ ذَهَبٍ وعليه فِرَاشٌ مِنْ حَرِيْر الْجَنَّةِ فنادى جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنْ خَلْفِيْ يَا مُحَمَّدُ انَّ اللهَ تَعَالَى يثنى عَلَيْكَ فاسمع واطع ولا يهولنك كلامك, فبدأت بالثناء عَلَى الله تعالى فَقُلْتُ : التحيات  لله والصلاة والطيبات. قَالَ اللهُ تَعَالَى اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ ايها النبي ورحمة الله وبركاته, فَقُلْتُ : اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَ عَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. 

Dia berkata, "Maka aku melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah ranjang emas, di atasnya terdapat ranjang sutra dari Surga. Kemudian Jibril, semoga kedamaian menyertainya, memanggilku dari belakang, 'Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Kuasa memujimu, maka dengarkan dan taatilah, dan janganlah gentar oleh firman-Nya.' Maka aku mulai memuji Allah Yang Maha Kuasa, seraya berkata, 'Segala salam, doa, dan kebaikan adalah milik Allah.' Allah Yang Maha Kuasa berfirman, 'Salam sejahtera atasmu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta berkah-Nya.' Maka aku berkata, 'Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh.'"

وَقَالَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ : اَشْهَدُ اَنْ لَااِلهَ اِلَّا اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَا اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ, فَقُلْتُ بَلَى يَارَبُّ اَمَنْتُ بِكَ وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَانُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ  (كَمَا فرقت اليهود بَيْنَ مُوْسَى وَعِيْسَى عَلَيْهِما السلَام وَ فرقت النصارى بَيْنَهُمَا)

Jibril, semoga kedamaian menyertainya, berkata: Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Allah Ta'ala berfirman: Rasul telah beriman kepada apa yang diwahyukan kepadanya dari Tuhannya. Maka aku berkata: Ya Tuhanku, aku telah beriman kepada-Mu, dan demikian pula orang-orang yang beriman. Setiap orang telah beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya. Kami tidak membeda-bedakan antara rasul-rasul-Nya (sebagaimana orang Yahudi membedakan Musa dan Isa, semoga kedamaian menyertainya, dan orang Nasrani membedakan mereka).

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا يعنى الا طاقتها لَهَا مَا كَسَبَتْ يعنى ثواب ما كسبت من الخير. وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ : من الشر. ثم قال سل تعط فَقُلْتُ : غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُط بعنى اغفر ذنوبنا فأنا مرجعنا البك يوم القيامة. قَالَ اللهُ تَعَالَى : قَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلِامَّتِكَ من وحدنى وصدق بك. 

Allah Ta'ala berfirman, “Allah tidak membebani suatu jiwa (seseorang) melebihi kemampuannya. Jiwa itu akan mendapatkan apa yang telah diperolehnya,” artinya pahala atas kebaikan yang telah dilakukannya. “Dan jiwa (seseorang) itu akan menanggung apa yang telah diperolehnya,” artinya kejahatan yang telah dilakukannya. Kemudian Dia berfirman, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.” Maka aku berkata, “Ya Tuhan kami, kami memohon ampunan-Mu, dan kepada-Mu lah tempat kembali terakhir,” artinya, “Ampuni dosa-dosa kami, karena kami akan kembali kepada-Mu pada Hari Kiamat.” Allah Yang Maha Kuasa berfirman, “Aku telah mengampuni kamu dan umatmu yang beriman kepada-Ku dan beriman kepada-Mu.”

ثم قال سل تعط فَقُلْتُ : غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُط بعنى اغفر ذنوبنا فأنا مرجعنا البك يوم القيامة. قَالَ اللهُ تَعَالَى : قَدْ غَفَرْتُ لَكَ وَلِامَّتِكَ من وحدنى وصدق بك. ثم قال يا محمد سل تعط, فَقُلْتُ : رَبَّنَا لَاتُؤَا خِذْنَا اِنْ نَسِيْنَا اَوْ اَخْطَئْنَا. . قَالَ اللهُ تَعَالَى : لَكَ ذالِكَ لَاتؤاخذكم بما نسبتم او أخطأتم او بمااستكرهتم عليه ثم قال سل تعط فَقُلْتُ : رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاط  وَ ذالِكَ لان بني اسرائيل كَانُوْا اَخْطَئُوْا خَطِيْئَةً حرم اللهُ عَلَيْهِمْ بِذالِكَ أَطِيْب الطَّعَامِ 

Kemudian Dia berkata, "Wahai Muhammad, mintalah dan akan diberikan kepadamu." Maka aku berkata, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau berbuat salah." Allah Ta'ala berfirman, "Kamu berhak atas itu. Aku tidak akan menghukummu atas apa yang telah kamu nisbahkan kepada orang lain, atau atas kesalahan yang telah kamu lakukan, atau atas apa yang telah kamu dipaksa untuk lakukan." Kemudian Dia berkata, "Mintalah dan akan diberikan kepadamu." Maka aku berkata, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban seperti yang Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami." Ini karena Bani Israel telah berbuat dosa, dan Allah telah melarang mereka menikmati makanan terbaik karena dosa itu, 

كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى : فبظلم من الذين هادوا حرمنا عليهم طيبات احلّت لهم. قَالَ اللهُ تَعَالَى : لَكَ ذالِكَ سل تعط فَقُلْتُ : )  وَعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى : لَكَ ذالِكَ ان يكن منكم عشرون صابرون يغلبوا(1)

Sebagaimaa Allah Ta’ala berfirman: “Karena kesalahan orang-orang Yahudi, Kami mengharamkan mereka beberapa hal baik yang sebelumnya halal bagi mereka.” Allah Ta’ala berfirman: “Kamu memilikinya. Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.” Maka aku berkata: “Dan ampunilah kami, dan maafkanlah kami, dan kasihanilah kami. Engkau adalah Tuhan kami, maka berilah kami kemenangan atas orang-orang kafir.” Allah Ta’ala berfirman: “Kamu memilikinya. Jika ada dua puluh orang yang teguh pendirian di antara kalian, mereka akan menang.” (1)

L. KETERANGAN MEMBACA HAMDALLAH

Thariqat al Qaum al Junaidiyah dalam Khataman Waridannya selalu ada kalimat dibaca:

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Hal ini berdasarkan Hadis Nabi Saw       :

  1. -للبخاري مِنْ حَدِيْثِ اَبِيْ سعيد ابْنِ الْمَعْلَى : اَعْظَمُ سُوْرَةٍ فِى الْقُرْأَن : اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
  2. وَللبَيْهَقِي في الشعب والحاكم مِنْ حَدِيْث اَنس : اَفْضَلُ الْقُرْاَنِ اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
  3. وَاُخْرِجَ احمد وغيره من حديث عبد الله بن جابر : اَخِيْرُ سُوْرَةٍ فِى الْقُرْأَن اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Imam Al Bukhari meriwayatkan sebuah Hadis,  Hadis riwayat dari Abi Sa’id bin al Ma’la, Nabi Saw bersabda : “Seagung-agung Surat dalam Al Qur’an adalah Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”

Imam Baihaqy meriwayatkan sebuah Hadis,  Hadis riwayat dari Anas : Nabi Saw bersabda : “Seafdal-afdal Surat dalam Al Qur’an adalah Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah Hadis dan Imam lainnya,  Hadis riwayat dari Abdullah bin Jabir : Nabi Saw bersabda : “Akhir  Surat dalam Al Qur’an adalah Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”

N. KETERANGAN WIRID YANG DIBACA 10 KALI SEBELUM TAAWAJJAH  MALAM SENIN DAN KHAMIS ATAU WIRIDAN LAINNYA

Dalam Kitab al Jauharul Mauhub (الكتاب الجَوْهَرُ الْمَوْهُوْبُ) ditepi Kitab Siarus Salikin  ada  sebuah hadis menyatakan bahwa Nabi kita Muhammad Saw bersabda   :

لَآاِلَهَ اِلَّا اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ. سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ(1)

Sebenarnyalah atas Allah  Swt bahwa  diharamkan dia ( Hamba yang mengucapkan kalimat dimaksud) dari pada Api Neraka.”

Pengarang Kitab Hazinatul Asrar  (الكتاب حزينة الاسرار)  ada menyebutkan sebuah hadis Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi yang berbunyi   :

.... وَلَيَقُلْ : لَآاِلَهَ اِلَّا اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ. سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ(2)....

Begitu juga dalam Kitab Hadis Jamius Shagir  (الكتاب حديث الجميع الصغير)  ada menyebutkan sebuah hadis Nabi Saw yang berbunyi

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ. قَالَ رَسُوْل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِى جَسَدِيْ وَ عَافِنِيْ فِى بَصَرِيْ وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنِّيْ لَآاِلَهَ اِلَّا اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ. سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ(3) رواه الترمذى والحاكم

Hadis dari Sayidina Ali bin Abi Thalib RA berkata ia, telah bersabda  Rasulullah Saw (berdo’a)  : Ya Allah afiatkan pada Jasadku, dan afiatkan pada Mataku, dan gadikanlah ia Al Waris dariku pada kalimat ………HR.At Tirmidzi dan Hakim

Dalam Kitab Al Adzkar (الكتاب الاذكار  )  Imam Nawawi telah meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah Saw telah bersabda yang berbunyi   :

ثُمَّ لَيَقُلْ : لَآاِلَهَ اِلَّا اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ. سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ(4)......

Dalam Warid Thariqat Junaidiyah atau Thariqatul  Qaum, lafaz kalimat diatas diucapkan dan dibaca 10 kali sebelum berdzikir, khususnya pada Aurad Malam Senin dan Malam Khamis, sebelum mengerjakan Shalat Hajat selalu didahului dengan membaca : LAA ILAHA ILLALAH  SD. RABBIL AALAMIIN

لَآاِلَهَ اِلَّا اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ. سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ   10 مرة

O. KETERANGAN  SHALAT  HAJAT YANG DIAMALKAN SADATINA JUNAIDIYAH

Keterangan tentang Shalat Hajat. Imam At Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadis Rasulullah Saw hadis dari Ali bin I’sa ………

حَدَّثَنَا عَلِيّ ٌ بِنْ عِيْسَى بِنْ يَزِيْدٍ الْبَغْدَادِيِّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بِنْ بَكْرٍ السَّهَمِيُّ, حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بِنْ مُنَيْرٍ عَنْ عَبْدُ اللهِ بِنْ بَكْرٍ عَنْ فَائِدٍ بِنْ عَبْدُ الرَّحْمنِ بِنْ عَبْدِ اللهِ بنْ اَبِيْ اَوْفَى قَالَ, قَالَ رَسُوْل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَة اِلَى اللهِ تَعَالَى اَوْ اِلَى اَحَدٍ مِنْ بَنِيْ اَدَمَ, فَلْيَتَوَضَّئُ وَلْيُحْسِنْ وُضُوْئَهُ ثُمَّ لْيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ لْيُثْنِ عَلَى اللهِ تَعَالَى وَلْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمّ لْيَقُلْ : لَآاِلَهَ اِلَّا اللهُ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ. سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ(1)  اُخْرِجَهُ الترمذى والنسائى والحاكم

Artinya  :Kata Imam at Turmudzi telah menghabarkan kepada kami oleh Ali bin Isa bin Yazid al Bagdadi, kata Ali bin Isa telah menghabarkan kepada kami oleh Abdullah bin Bakar as Suhami. Kata Abdullah telah menghabarkan kepada kami (hadis ini) oleh  Abdullah bin Munair dan Ia dari Abdullah bin Bakar dan Ia dari Faid bin Abdurrahman bin Abdullah bin bin Abi Aufa berkata ia, Telah bersabda Rasul Saw : “Barang siapa mempunyai hajat kepada Allah Ta’ala atau kepada seseorang dari anak cucu Adam, hendaklah ia mengambil air wudu dan membaguskan wudunya, kemudian hendaklah ia mengerjakan shalat sunnat dua raka’at, kemudian hendaklah ia memuji Tuhannya, dankemudian  hendaklah ia membaca Shalawat atas Nabi Saw dan kemudian hendaklah ia mengata : LAA ILAHA ILLALAH  SD. RABBIL AALAMIIN. Bebarapa kali.

اَمَّا صَلَاةُ الْحَاجَةِ عِنْدَ سَادَتِنَا الْجُنَيْدِيَّةِ وَهِيَ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ اَلْفَاتِحَةُ مَرَّةً وَاَيَةُ الْكُرْسِيِّ مَرَّةً وَاِنَّا اَنْزَلْنَاهُ ... مَرَّةً وَالْاِخْلَاصُ مَرَّةً وَ الْفَلَقُ مَرَّةً وَالنَّاسُ مَرَّةً.

Adapun shalat hajat yang diamalkan Sadatina Junaidiyah, yakni Shalat Dua Rakaat, membaca al Fathah, Ayat Kursi, Inna anjalnahu, al Ikhlas, al Falaq dan An Nas masing-masing satu kali.

P. KETERANGAN SHALAT HAJAT DUA RAKA’AT DAN SHALAT WITIR TIGA RAKA’AT SEBELUM DILAKSANAKAN KHATAMAN KUBRA DAN SUGHRA

Penyusun al Risalah Umdatul Hasanah sangat menyukai melaksanakan dan mengerjakan Shalat hajat berjama’ah dua raka’at lebih dahulu kemudian diikuti Shalat Witir tiga raka’at pada Khataman Kubra ataupun Khataman Sughra.

1. Mengerjakan  Shalat Witir  Tiga Raka'at  Dengan Satu Salam

Adapun Shalat Hajat dan Shalat Witir yang dimaksud seperti yang dikerjakan Shalat Hajat dan Shalat Witir pada Malam Senin dan Malam Khamis

………. Dan Syekh Sayyid Umar Ba Junaidi kemudian KH. Kaspul Anwar Firdaus kemudian KH. Muhammad Qurtubi dan kemudian KH. Jumberi Bihara, bahwa pada umumnya mereka ini sebelum melaksanakan Khataman Kubra atau Khataman Sughra mereka shalat hajat 2 raka’at dan shalat Witir 3 raka’at satu salam.

Sebenarnya cara pelaksa’an shalat Witir 3 raka’at satu salam adalah mengikut Mazhab Abu Hanifah, Mazhab yang tertua dari mazhab yang Empat. Mazhab yang Empat dimaksud : “Mazhab Abu Hanifah, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hambali.” Mungkin saja para Sadatina Junaidiyah kita dulu mereka yang mengikut Imam Mazhab Abu Hanifah ini hingga mereka mengerjakan shalat Witir 3 raka’at dengan satu salam.

Dalam Kitab Bidayatul Mujtahid  (بِدَايَةُ الْمُجْتَهِدِ) disebutkan bahwa Imam Mazhab Abu Hanifah berkata :

قَالَ اَبُوْ حَنِيْفَةَ اَلْوِتْرُ ثَلَاثُ رَكَعَاتٍ مِنْ غَيْرِ اَنْ يَفْصِلَ بَيْنَهُمَا بِسَلَامٍ(1)

Artinya : Imam Mazhab Abu Hanifah berkata bahwa “Shalat Witir itu (dikerjakan) tiga raka’at dengan tidak dipisahkan oleh salam pada raka’at keduanya,(pada raka’at kedua tanpa dilakukan tahayat Awwal).”

Adapun Dalil dari Hadis Nabi Saw yang digunakan adalah               :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وّسَلَّمَ [يَوْتِرُ] اي يقرأ فى الصلاة الوتر فى الركعة الاولى بعد قرائة الفاتحة [بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْاَعْلَى] فى الركعة الثانية بعدها [وَقُلْ يَا اَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ] فى الركعة الثالثة بعدها [وَقُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ] رواه احمد وابو داود و النسائ(2)

Artinya : Adalah Rasulullah Saw itu (mengerjakan) shalat Witir (3 raka’at dengan satu kali salam) pada raka’at yang pertama sesudah membaca al Fatihah yakni membaca Surat al A’la, Dan pada raka’at yang kedua sesudah membaca al Fatihah yakni membaca surat al Kafirun, Kemudian pada raka’at yang ketiga sesudah membaca al Fatihah yakni membaca surat al Ikhlas. HR. Ahmad, Abu Daud dan an Nisa.i  

Menurut hadis ini Shalat Witir Tiga Raka’at boleh dikejakan dengan satu kali  salam, pada raka’at kedua tanpa dilakukan tahayat Awwal dan Surat yang dibaca boleh tiga surat saja. Tanpa ditambah membaca surat al Ikhlas, al Falaq, atau an Nas pada raka’at yang ketiga.

 2. Mengerjakan  Shalat Witir  Tiga Raka'at  Dengan Dua Salam

Mengerjakan Shalat Witir 3 raka’at dengan 2 kali Salam telah dikerjakan oleh Ulama-ulama kita di Indonesia, khususnya Ulama Fiqih. Shalat Witir 3 raka’at dengan 2 kali Salam ini dilakukan oleh Imam Asy Syafi’i dan Para Pengikutnya. Orang Indonesia 90 prosen mengikut Mazhab Imam Asy Syafi’I. Berikut ucapan Imam Asy Syafi’I Rahimahullah     :

قَالَ الشَّافِيُّ رَحِمَهُ اللهُ : اَلْوِتْرُ رَكْعَةٌ وَاحِدَةٌ وَكُلُّ قَوْمٍ مِنْ هَذِهِ الْاَقَاوِيْلِ سَلَفٌ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ* وَذَلِكَ اَنَّهُ ثَبَتَ عَنْهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ والسَّلَامُ مِنْ حَدِيْثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ  : أَنَّهُ كَانَ يُصَلَى مِنَ اللَّيْلِ اِحْدَى عَشَرَةَ رَكْعَةً يُوْتِرُ مِنْهُمَا بِوَاحِدَةٍ* وَ ثَبَتَ عَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ اَنَّ رَسُوْل اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْه وّسَلَّمَ قَالَ : صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى, فَاِذَا رَاَيْتَ اَنَّ الصَّبْحَ يُدْرِكُكَ فَاَوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ*(3)رواه مسلم

Artinya : Berkata Imam Asy Syafi’i Rahimahullah bahwa “Shalat Witir itu raka’atnya Satu” dan inilah yang dikerjakan atau dikatakan bagi setiap Ulama (Kaum) Salaf dari Shahabat Nabi Saw dan diikuti Para Tabi’in. Demikianlah bahwa shalat witir itu ketetapan dari Nabi Saw dengan mengambil Hadis Aisyah Radiyallahu anhu dia telah berkata : “Sesungguhnya Nabi Saw (Beliau) apabila shalat lail yakni shalat malam melakukan 11 raka’at, dari 11 raka’at itu Nabi Saw berwitir satu raka’at.” Ibnu Umar berkata  bahwasanya Rasul Saw bersabda bahwa “Shalat malam itu (dikerjakan) dua raka’at (1 kali Salam), dua raka’at (1 kali Salam), Maka apabila kamu melihat (peluang waktu) bahwa shalat Subuh itu (sempit atau sedikit waktunya) kamu dapatkan, maka berwitirlah kamu dengan 1 raka’at.” HR. Muslim

Keterangan : Adapun Shalat Witir yang 1 raka’at itu, sesudah membaca al Fatihah lalu membaca Surat Ikhlas, Surat Al Falaq dan Surat An Nas masing-masing 1 kali. Seperti itulah yang dikerjakan oleh para Ulama kita.

R. KETERANGAN TENTANG  AL ASMA’UL HUSNA NAMA-NAMA YANG BAGUS

Dr. Syekh Jalaluddin dalam judul Bukunya “Sinar Keemasan”. Ia  menjelaskan bahwa Ahli Sufiyah berkata “Nama Allah itu tidak ada hingganya, dan tidak ada seorang Makhlukpun yang mengetahui  semua Nama-nama Allah  itu.selain dari nama Allah yang telah dituliskan dalam Kitab yang Empat buah yang diturunkan ke dunia (kitab Zabur, Taurad, Injil dan Al Qur’an). Masih banyak Nama-nama Tuhan, bahkan beribu-ribu yang diambil menjadi dzikir oleh Para Malaikat, Jin  dan Binatang, Burung di udara, Ikan di Laut. Walaupun  mereka hidup di dalam tanah, bahkan ada lagi nama Allah yang menjadi Dzikir  Langit dan Bumi.  Perhatikanlah beberapa ayat Al Qur’an, diterangkan bahwa Langit dan Bumi  dan apa saja diantara keduanya telah bertasbih  memuji Nama Tuhannya. Misalnya ayat yang ke 1 dari surat al Hadid  berbunyi (1)                   :

سَبَّحَ لِلّهِ مَا فِى السَّمواتِ وَالْاَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ... الحديد  1

Artinya : “Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang di Langit dan di Bumi, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Pengarang Kitab Siyarus Salikin (سِيَرُالسَّالِكِيْنَ)  telah menjelaskan bahwa “ Bagi Allah Swt itu ada 3.000 (tiga ribu) Nama, 1000 (seribu) nama Allah Swt diketahui oleh Para Malaikat tiada diketahui yang lainnya. 1000 (seribu) nama Allah Swt diketahui oleh Para Anbiya dan tiada diketahui yang lainnya. Dan  300 (tga ratus) nama Allah Swt disebutkan dalam Kitab Zabur Nabi Daud Alaihis Salam, Dan  300 (tga ratus) nama Allah Swt yang disebutkan dalam Kitab Taurat Nabi Musa Alaihis Salam.  Dan  300 (tga ratus) nama Allah Swt yang disebutkan dalam Kitab Injil Nabi Isa  Alaihis Salam, dan  99 (Sembilan puluh sembilan)  nama Allah Swt yang disebutkan dalam Kitab Al Qur’an.(2)

Hanya  satu Nama yang memberi bekas, dengan Nama itu Allah Swt, Dia sendiri yang mengetahui-Nya dan juga Dia beritahu kepada Hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Dari 3000 (tiga ribu) Nama Allah Swt itu terkandung di dalam tiga Nama yaitu : “BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM”  (بِسْمِ الله الرحْمنِ الرَّحِيْم)

Yaitu :  ALLAH,  ARRAHMAAN  DAN AR RAHIIM (الله – الرحمن - الرحيم) Maka barang siapa mengetahui akan  Dia ( Nama yang ke 100 itu) dan berkata akan Dia seolah-olah seperti ia menyebut akan Allah Ta’ala  itu dengan semua Nama-Nya..

Imam at Turmudzi meriwayatkan  hadis, Nabi kita Muhammad Saw telah bersabda         :

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ (مِائَةً اِلَّا وَاحِدًا) مَنْ اَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. رواه الترمذى

Dari Abu Hurairah RA berkata ia, dari Nabi Saw bersabda : “Sungguh Allah itu mempunyai 99 Nama. Seratus selain satu nama, barangsiapa membilangnya masuk ia akan sorga.” HR. At Turmudzi

Hadis Riwayat Ibnu Majah Rasulullah Saw telah bersabda      :

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا, مِائَةً اِلَّا وَاحِدًا اِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ, مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ(1).وَهِيَ اللهُ الْواحِدُ ... رواه اِبْنُ مَاجَه

Artinya : Dari Abu Hurairah RA. Berkata ia, Sesungguhnya telah bersabda Rasulullah Saw : “Sesungguhnya bagi  Allah itu punya 99 nama. Seratus  Nama kecuali satu Nama, Sesungguhnya Dia adalah Tunggal dan Dia mencintai yang Tunggal barang siapa memeliharanya. Ia ahli Sorga.” Yaitu ……. HR. Ibnu Majah.

Hadis Riwayat Abu Nuaim dalam Kitab Al Hilyah,  Muhammad  Rasulullah Saw telah bersabda   :

عَنْ عَمَّارٍ بِنْ يَاسَرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا مِائَةً غَيْرَ وَاحِدٍ اِنَّهُ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ, وَمَا مِنْ عَبْدٍ يَدْعُوْ بِهَا اِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ. رواه اَبُوْ نُعَيْمٍ فِى الْحِلْيَةِ

Hadis dari Ammar bin Yassar RA telah berkata ia, , telah bersabda Rasulullah Saw : “Sesungguhnya bagi  Allah itu punya 99 nama. Seratus  Nama kecuali satu Nama, Sesungguhnya Dia adalah Tunggal dan Dia mencintai yang Tunggal. Tiada ada dari seorang Hamba yang berdo’a dengannya melainkan wajib untuknya  Sorga.

Imam at Turmudzi meriwayatkan  hadis, yaitu hadis riwayat Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi kita Muhammad Saw telah bersabda  

عَنْ عَلِيٍّ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِيْنَ اِسْمًا مَنْ اَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ(2). هُوَ اللهُ الَّذِىْ لَا اِلَهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمَانُ الرَّحِيْمُ. اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ. اَلْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ. اَلْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر. اَلْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ, اَلْحَلِيْمُ الْعَظِيْمُ الْغَفُوْرُ الشَّكُوْرُ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ, اَلْحَفِيْظُ الْمُقِيْتُ الْحَسِيْب الْجَلِيْلُ الْكَرِيْمُ الْرَّقِيْبُ الْمُجِيْبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيْمُ. اَلْوَدُوْدُ الْمَجِيْدُ الْبَاعِثُ  الشَّهِيْدُ الْحَقُّ الْوَكِيْلُ الْقَوِيُّ الْمَتِيْنُ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ الْمُحْصِى الْمُبْدِئُ  الْمُعِيْدُ, اَلْمُحْيِ الْمُمِيْتُ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ  الْوَاجِدُ  الْمَاجِدُ   الْوَاحِدُ  الْأَحَدُ الصَّمَدُ. اَلْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ  الْمُؤَخِّرُ الْأَوَّلُ الْأَخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَلِيُّ الْمُتَعَالُ. اَلْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفْوُ الرَّؤُوْفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ. اَلْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِيُّ الْمُغْنِى الْمَانِعُ   الضَّارُّ النَّافِعُ النُّوْرُ الْهَادِى الْبَدِيْعُ الْبَاقِى الْوَارِثُ  الرَّشِيْدُ الصَّبُوْرُ... رواه الترمذى وغيره.

Dalam Buku Sinar Keemasan karya Dr. KH. Jalaluddin, dijelaskan pula bahwa “ Sebagian Ahli Sufiyah berkata : bahwa Nama Allah yang 99 tersebut dalam Al Qur’an, adalah nama itu sebenarnya 100 Nama. Dan yang satu lagi nama itu dibukakan Allah kepada Ahlullah sendiri. Ahlullah adalah Manusia yang tiada diperbudak oleh Dunia, dan tiada diperbudak oleh Akhirat. Maksudnya  jika ia beribadah, ia tidak mengharapkan sorga dan tidak takut akan Neraka, bahka Ahli Allah itu tidak harap pula kepada dunia. Siapa yang dapat  mengetahui  Nama Allah yang satu dimaksud, maka orang itu telah dipilih menjadi Wali Allah  (Ahlullah).  Untuk mengetahui rahasia Nama yang satu tersebut, hendaklah  dihafalkan (dilancarkan) dibaca secara berulang-ulang  Nama Allah yang 99 itu. Insya Allah Nama yang dirahasiakan  itu, akan dibukakan Allah kepada  orang yang senantiasa membaca Nama-Nya yang 99 itu(3)

Penyusun  Kitab Umdatul Hasanah …… berharap kepada para Mursyid atau Mursyidah Pengamal Thariqat Junaidiyah atau Pengamal Thariqat al Qaum supaya memberitahukan Nama Allah yang dirahasiakan  itu kepada Murid-muridnya yang Riyadhah, pada Malam Akhir atau Murid yang dianggap mampu memikul Amanah tersebut. Tentu saja Murid itu harus dibai’at  secara khusus untuk menerima amanah tersebut.


Daftar Bacaan  :

(1).Artikel Umdatul Hasanah ……..ditulis oleh Sayyid H.Hasan Baseri,S.Ag bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi Assaqqaf

(2).Kitab Tasawuf (كتاب مَجَالِسُ الثّنِيَّةِ) ..... رقم  ٥٧

(3).Kitab Fiqih (كتاب الْاِقْنَاعُ )...... رقم ٢٤٥

(4).Artikel "Pengertian Warid" oleh KH  Prof Nasaruddin Umar  https://pondokhabib.wordpress.com/2019/12/02/pengertian-warid/

(5).Artikel “Meraih Martabat Utama (14) Dari Wirid ke Warid”

https://republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/16/06/22/o96f0f-meraih-martabat-utama-14-dari-wirid-ke-warid

(6)Falsafah Hukum Islam oleh Prof. Dr. TM. Hasby As Shiddiqy, BB Jakarta 1975 hal.119.

(7). Pengantar Hukum Islam  oleh Prof. Dr. TM. Hasby As Shiddiqy, hal.103.

(8).Kitab Tanbihul Ghafilin   (تنبيه الغافلين اوله الشيخ نصر بن محمد بن ابراهيم) 

(9).Kitab Hajinatul Asrar (خزينة الاسرار خليلة الادكاد)

(10).Artikel “Meraih Martabat Utama (14) Dari Wirid ke Warid”https://republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/16/06/22/o96f0f-meraih-martabat-utama-14-dari-wirid-ke-warid

(11) وَاُخْرِجَ اَحْمَدُ مِنْ حَدِيْثِ اَنَسٍ : اَيَةُ الْكُرْسِيِّ مِنْ رُبْعِ الْقُرْاَنِ(1)

(12)كتاب الاتقان فى علوم الْقُرْاَنِ .... جزء الثاني رقم 153

(13).Kitab al Jauharul Mauhub (الكتاب الجَوْهَرُ الْمَوْهُوْبُ) ditepi Kitab Siarus Salikin 

(14)الكتاب حديث الجميع الصغير .....  رقم 59

(15)الكتاب الاذكار  .....  رقم  166

(16)كتاب حديث سنن الترمذى الجزء الثاني ... رقم  21

(17)كتاب سير السالكين...... رقم 148  (ditepinya)

(18).Buku SINAR KEEMASAN, Jilid I  oleh . Dr. KH. Jalaluddin …. Hal …7

 (19)Kitab Hadis Sunan Ibnu Majah…… Jilid II   Hal…..448

(20)Kitab Hadis Jami’us Shaghir ….. Hal 94

 (21)Kitab Bidayatul Mujtahid (بِدَايَةُ الْمُجْتَهِدِ)  Juz Pertama ……hal…. 145.

(22)Kitab Subulus Salam Juz Pertama hal … 15

(23)Kitab Hadis Sunan Abu Daud

(24)Kitab Hadis Shahih Muslim


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...