Rabu, 25 Maret 2026

Bab. V” Biografi Sadatina Ma’ruf Thariqat al Junaidiyah Kitab “Bahjatul ‘Abiid

 BIOGRAFI SADATINA SILSILAH THARIQAT AL JUNAIDIYAH

(THARIQATUL QAUM) YANG MA’RUF)

 

 

12. Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  yang ke Dua Puluh Sembilan

29. IMAM ABDUL WAHHAB ASY-SYA’RANI

Photo Ilustrasi

Nama lengkap beliau adalah Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy-Sya’rani Al-Anshari Asy-Syafi’i Asy-Syadzili Al-Mishri. Abdul Wahab Asy-Sya’rani terkenal dengan panggilan Imam Asy-Sya’rani, yaitu salah seorang sufi terkenal yang diakui sebagai wali quthub pada zamannya yang memperoleh gelar sufistik Imamul Muhaqqiqin wa Zudwatul Arifin (pemuka ahli kebenaran dan teladan orang-olnya di mana dia dibesarkan, yaitu Sya’rah, sebuah desa di wilayah Mesir. 

Syaikh Asy-Sya’rani sejak kecil sangat cinta akan ilmu dan gemar sekali menuntut ilmu khususnya ilmu-ilmu dunia dan sufistik. Karena kemuliannya, jika dia sedang berjalan banyak orang menghampirinya dan berebut tangan untuk menyalami dan mencium tangannya hanya sekadar untuk memperoleh berkah dari sang wali. Banyak dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bertaubat dan akhirnya berbaiat masuk islam dan menjalani amalan sufi yang dibimbing langsung oleh Syaikh Asy-Sya’rani. Demikian pula banyak para penjahat dan pelaku maksiat yang akhirnya sadar dan bertaubat dari perbuatan buruknya setelah mendengar pengajian pengajian yang disampaikan oleh Syaikh Asy-Sya’rani (orang makrifat). Dia dilahirkan di desa Qalqasandah – Mesir pada tanggal 27 Ramadhan 989 H. / 12 Juli 1493 M. Nama Asy-Sya’rani adalah panggilan yang diberikan kepadanya yang diambil dari nama sebuah desa tempat tinggalnya “Sya’rani”. (Syadzily 2013M)

Al-Imam Abi al-Mawahib Abdul Wahhab bin Ahmad asy-Sya’rani, yang lebih kita kenal dengan Imam Sya’rani lahir pada tanggal 27 Ramadhan tahun 989 H di salah satu desa di Mesir. Beliau hidup dalam keadaan yatim, sebab ayahnya wafat saat berumur 10 tahun.

Al-Imam Sya’rani dikenal oleh kalangan santri sebagai sufi yang berguru kepada Sayyid Ali al-Khawwas. Kitab-kitab beliau yang sering dibaca dan juga tersebar adalah buku-buku tasawuf. Namun sebelum mengenal dunia sufi, beliau terlebih dahulu mendalami ilmu zhahir dengan sangat dalam.

Sebuah Artekel menjelaskan kepadaku bahwa Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani meninggal di Mesir pada bulan Jumadil Awal 973H./ November 1565M Beliau adalah Pengarang kitab al-Mizan al-Kubra ini berasal dari salah satu keluarga besar Bani Alawiyyah (keturunan Nabi Saw). Tetapi, di saat terjadi ketegangan antara keturunan Bani ‘Alawiyah dengan Bani Umawiyah, keluarga besar Bani ‘Alawiyah yang merupakan keluarga besar Imam al-Sya’rani, berpindah ke Maghrib (Maroko); yang pada akhirnya Bani ‘Alawiyah mampu mendirikan sebuah kerajaan di sana. Dengan demikian, Imam al-Sya’rani mempunyai silsilah keturunan dari Muhammad bin al-Hanafiah bin ‘Ali bin Abi Thalib (Short URL). 

Menurut riwayat yang shahih, tokoh kita ini dilahirkan pada tanggal 27 Ramadhan tahun 898 H, di sebuah pedesaan yang bernama Qalqasyandah (daerah selatan kota Mesir). Desa tersebut merupakan pedesaan datuknya dari jalur ibu. Tapi, setelah empat puluh hari dari hari kelahiranya, al-Sya’rani dibawa oleh sang ibu untuk pindah dari desa kelahiranya, menuju desa asal ayahandanya yaitu desa Abu Sya’rah di propinsi Manufiyyah, yang lambat laun dari desa tersebut Imam Sya’rani mendapatkan sebuah  gelar; yaitu al-Sya’rani.”

Imam Sya’rani dan dunia ibadah

Menjelaskan kepadaku pada sebuah Artikel “Short URL” bahwa (2) “Pada usia yang masih sangat belia, al-Sya’rani telah ditinggal mati oleh ayahnya. Setelah itu Sya’rani kecil dirawat oleh seorang paman yang shalih dan ahli ibadah.

Sang paman yang shalih selalu membimbing kemenakannya untuk selalu hidup dalam keshalihan dan ketaatan kepada Tuhan. Dari hasil didikan seorang paman yang taat ini, bukan sesuatu yang mengherankan jika Imam Sya’rani semenjak kecilnya, merupakan seorang anak yang terkenal akan ibadah dan pengabdianya kepada Allah . Semenjak usia delapan tahun, dia telah terbiasa melakukan shalat malam, dengan menenggelamkan diri dalam dzikir-dzikir yang mengagumkan. Keyatiman yang ia alami, tidak menjadikan dirinya berkembang sebagai anak yang hidup dalam keputus- asaan dengan tanpa harapan. Semenjak kecil, ia telah menyakini dalam hatinya yang paling dalam, bahwa Allah telah menjaganya dari sifat keberagamaan yang lemah, sebagaimana Allah selalu menjaga dirinya dari perbuatan yang tercela dan hina. Bahkan dalam hatinya, dia juga percaya bahwa Allah telah memberikan kepada dirinya kecerdasan yang bisa dijadikan pisau dalam memahami semua keilmuan dengan benar, yang sekaligus mampu memahami semua kerumitan- kerumitan yang ada.. 

Imam Abdul Wahhab Asy Sya’rani dan dunia Kelimuan

Menjelaskan kepadaku pada sebuah Artikel “Short URL” bahwa  “Dalam sejarah hidupnya, kecintaan Imam Sya’rani terhadap ilmu-ilmu agama, telah menjadikan dirinya melakukan perjalananan dari desa asalnya menuju Kairo. Ketika berada di Kairo, dia yang semenjak kecil dididik dengan keshalihan dan ketaatan, selalu menghabiskan waktu-waktu yang ia miliki dengan beribadah dan menelaah semua keilmuan. Dia telah menjadi semakin alim dan bertakwa. Waktu-waktunya hanya ia habiskan untuk beribadah dan belajar, di dalam sebuah masjid. Semenjak berada di Kairo, dia telah berhasil bertemu dengan para ulama-ulama besar; seperti Jalaluddin al-Syuyuthi, Zakaria al-Anshori, Nashirudin al-Laqoni dan al-Romli , yang guru-gurunya ini selalu ia kenang dalam beberapa tulisan kitabnya. Di Kairo, Imam agung ini mempelajari semua keilmuan yang ada pada zamanya. Dia selalu mempelajari semua keilmuan dengan semangat belajar yang luar biasa (Short URL)

Dia merupakan simbol dari seorang murid yang teladan dan rajin pada zamanya. Dia selalu mencari sebuah kebenaran di manapun ia berada. Dalam pandangannya, semua imam adalah contoh yang telah mendapatkan sebuah petunjuk dari Allah . Dia tidak melakukan sikap fanatisme yang berlebihan terhadap salah satu mazhab, dan tidak tergesa-gesa dalam menilai sebuah ijtihad dari salah satu mazhab tertentu, kecuali setelah melakukan pengkajian yang matang dan mendetail. Dan, setelah ia menguasai beberapa disiplin ilmu yang ada pada zamanya, dia tidak berubah menjadi seorang yang sombong dan angkuh, tapi tetap menjadi seorang yang tawadhu’ dan rendah hati. As-Sya’rani sebagaimana ahli sufi lainnya, selalu menghindari perdebatan yang tidak ada gunanya di saat menuntut ilmu. Dia memahami betul bahwa berdebat hanya akan menjauhkan dirinya dari cahaya Tuhan.” 

Imam Abdul Wahhab Asy- Sya’rani dan Gurunya Syekh ‘Ali Al-Khawwas   

Menjelaskan kepadaku pada sebuah Artikel “ Short URL” bahwa  “Pertemuan antara al-Sya’rani dan al Khowwas, merupakan salah satu bukti betapa pentingnya seorang Syeikh  dalam dunia para sufi. Al-Khawwas adalah seorang laki-laki yang telah diberikan Allah sebuah mauhibah dan keistimewaan, dalam menjalani badai kehidupan. Dia merupakan salah satu anugerah, yang pernah diberikan Allah kepada umat manusia dalam menuju sebuah hakikat. Al-Khawwas merupakan simbol kebenaran atas keberadaan ilmu Laduni dalam dunia sufi. Semenjak kecil Dia adalah seorang yang ummi (buta huruf), yang dalam setiap perkataannya selalu diwarnai dengan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits. Dia mampu mengambil sebuah istimbat dari dalil-dalil tersebut, dengan sangat menakjubkan dan mengherankan. Pertemuannya dengan al-Sya’rani , merupakan sebuah bukti dari keistimewaan seorang wali dengan ilmu laduninya, dengan seorang ‘alim yang belum mencapai derajat tersebut. Al-Khawwas adalah seorang ummi, sedang al-Sya’rani adalah seorang yang ‘alim. Tapi, itu semua hanya dalam penampakan lahir belaka (Short URL).

Salah Satu Guru Pembimbing Imam Asy-Sya'rani  :

 Pada hakikatnya Al-Khawwas adalah seorang ‘alim sedang al-Sya’rani adalah seorang ummi. Ilmu Al-Khawwas adalah ilmu mauhibah yang langsung diterima dari Allah , sedang ilmu al-Sya’rani adalah ilmu yang bersumber dari kitab-kitab bacaan yang hakikat ilmu tersebut menurut orang sufi bukan merupakan ilmu yang dimiliki secara hakiki, melainkan ilmu yang didapat melalui bacaan terhadap kitab. Al-Khawwas adalah seorang yang telah mengantarkan al-Sya’rani menuju dunia sufi yang sesunggungya. Dia telah mengantarkan al-Sya’rani mencapai derajat kewalian, dan mengajarkan tata cara mencapai sebuah ilmu laduni. Dalam beberapa kesempatan Al-Sya’rani mengisahkan bagaimana Al-Khawwas telah memberikan pengajaran kepada dirinya dalam mencapai derajat tersebut. Yang pertama ia lakukan adalah menjual semua kitab yang ia miliki, dan menghabiskan semua hasil penjualan kepada fakir miskin. Pada awalnya, al-Sya’rani merasa berat menjalankan perintah sang guru, bahkan setelah melakukan semua perintah tersebut, al-Sya’rani merasa tidak enak hati dan terus memikirkan kitab-kitab yang telah ia jual. Ia merasa telah kehilangan semua ilmu yang selama ini ia tekuni. Tetapi, ketika Al-Khawwas mengetahui hal tersebut, beliau memerintahkan kepada al-Sya’rani untuk memperbanyak dzikir kepada Allah . Setelah mampu menanggulangi   cobaan pertama ini, Al-Khawwas menyuruhnya menghindari keramaian manusia (uzlah), hingga pada akhirnya al-Sya’rani merasa dirinya paling baik dibandingkan dengan yang lainya. Al-Khawwas kemudian menganjurkan kepada al-Sya’rani untuk terus melakukan mujahadah hingga ia akan merasakan bahwa dirinya lebih hina dari pada orang yang paling hina sekalipun. Setelah masa-masa tersebut, al-Khawwas menyuruh al-Sya’rani untuk berbaur kembali dengan masyarakat ramai, dengan bersabar atas apa yang mereka lakukan terhadap dirinya. Al-Sya’rani ketika menjalankan hal tersebut merasakan bahwa dirinya merupakan orang yang paling tinggai derajatnya jika dibandingkan dengan orang lainya. Tetapi, seperti biasanya, Al-Khawwas kemudian memerintahkan kepada dirinya untuk menghilangkan perasaan-perasaan tersebut. Al-Khawwas menyuruh al- Sya’rani untuk memperbanyak dzikir kepada Allah dalam semua waktu- waktunya. Ia tidak boleh memikirkan hal lain selain sang pencipta. Sehingga ia harus menjalani masa-masa itu selama berbulan-bulan. Dan bukan hanya itu saja, al- Khowwas kemudian menyuruh dirinya untuk menghindar dari nafsu makan. Makan hanya dilakukan untuk menjaga kelangsungan hidup belaka, sehingga al-Sya’rani ketika itu merasakan dirinya telah terbang ke atas. Mujahadah yang telah diajarkan Al-Khawwas kepada al-Sya’rani telah menjadikan dirinya memiliki keilmuan yang tidak ia duga sebelumnya. Ia merasakan, bahwa ilmu yang telah ia miliki, mendapatkan pesaing dari ilmu mauhibah yang baru ia dapat. Ilmu yang baru ia dapat telah memberi penyempurnaan terhadap ilmu yang selama ini ia miliki. Hati al- Sya’rani telah dibuka oleh Allah , dan diberikan pengetahuan-pengetahuan yang hanya dimiliki oleh seorang sufi saja. Tetapi, walaupun al-Sya’rani telah mendapatkan ilmu laduni dari Allah , Al-Khawwas yang dalam hal ini berperanan sebagai guru al-Sya’rani , membimbing kepada dirinya untuk terus melakukan berbagai macam mujahadah dalam rangka membersihkan hatinya dari belenggu duniawi. Sehingga pada akhirnya al-Sya’rani mampu mendapatkan berbagai macam ilham dan karomah yang telah diberikan langsung oleh Allah kepada dirinya.” 


Karomah Syeikh Imam Abdu al-Wahhab asy-Sya’rani 

Menjelaskan kepadaku pada sebuah Artikel “Short URL” bahwa  Suatu ketika antara Syeikh Abd al-Wahhab ( dengan Syekh Nasiruddin al-Laqqani (, terjadi kesalah kefahaman karena ada aduan dari sebagian orang yang hasud pada Syeikh Abdu al-Wahhab (. Dia mengadu pada Syeikh Nasir ( bahwa Syeikh Sya’rani ( dalam majlis pengajiannya mencampur santri laki-laki dengan santri perempuan. Ketika Syeikh Sya’rani ( mengetahui bahwa Syeikh Nasir ( terkena tipuan orang ini, maka beliau sowan ke Syeikh Nasir ( untuk meminjam kitab “Al-Mudawwanah”. Syeikh Nasir ( dalam kesempatan itu mengatakan : “Aku harap engkau tidak melakukan pelanggaran lagi, dan engkau kembali pada Syariat yang benar ! “. Syeikh Sya’rani menjawab : “Insya-Allah itu akan terjadi”. Setelah itu, Syeikh Nasir menyuruh pembantunya untuk mengeluarkan kitab “Al-Mudawwanah” dari almari, dan menyuruhnya mengantarkannya ke rumah Syekh Sya’rani (Short URL).

Keringkasan Kitab Al-Mudawwamah oleh Imam Asy-Sya'rani

Beberapa saat setelah sampai di rumah Syeikh Sya’rani , pembantu itu mohon diri untuk pulang. Namun Syeikh Sya’rani menahan dan meminta agar ia mahu menginap barang satu malam. Keduanya mengisi malam itu dengan bercengkerama sampai larut malam. Ketika malam telah melampaui sepertiganya, Syeikh Sya’rani masuk ke kamar kholwatnya. Kira-kira seperempat jam, beliau keluar untuk membangunkan pembantu itu agar sholat tahajjud. Lalu dia bangun, berwudlu dan sholat bersama Syeikh Sya’rani sampai menjelang subuh. Selesai solat Subuh mereka berdua membaca Al-Qur’an bersama, lalu mengamalkan wirid masing masing sampai matahari terbit. Menginjak matahari setinggi tombak Syeikh Sya’rani mengajaknya untuk ke kamar dan makan pagi bersama. “Tolong kembalikan kitab al-Mudawwanah ini pada Syeikh Nasir dan sampaikan rasa terima kasih saya” ucap Syekh Sya’rani setelah acara makan pagi selesai. Khodim Syeikh Nasir ini hairan dan bertanya-tanya dalam hatinya : “Apa maksud Syeikh Sya’rani ini, meminjam kitab hanya satu malam saja? Apa yang telah dilakukannya dengan kitab ini? “. Ketika dia sampai pada gurunya dan mengembalikan kitab tersebut Syeikh Nasir tambah marah pada Syekh Sya’rani . Di tengah rasa marah ini Syeikh Nasir ditanya tentang suatu masalah yang mengharuskannya untuk membaca kitab Al-Mudawwanah. Ketika membukanya ia kaget karena  di situ ada catatan-catatan tangan Syeikh Sya’rani . Demikian lembar demi lembar selalu ada catatan tangan Syeikh Sya’rani . Karena hairan dengan kenyataan ini Syeikh Nasir bertanya pada muridnya tadi : “Apa yang dilakukan Syeikh Sya’rani dengan kitab ini?”. Diapun menjawab: ” Demi Allah… dia tidak berpisah dariku kecuali hanya dua puluh minit, beliau tidak meninggalkan wiridan dan tahajjudnya “. Demi mendengar keterang muridnya ini, Syeikh Nasir lalu pergi menghadap Syeikh Sya’rani dengan tanpa memakai alas kaki dan tutup kepala. Ketika sampai di hadapan Syeikh Sya’rani Syeikh Nasir berkata : “Sekarang aku bertaubat. Aku tidak akan berani lancang pada golongan ahli Tasawwuf”. Syeikh Sya’rani lalu berkata : “Mahukah tuan aku tunjukkan kitab ringkasan kitab Al-Mudawwanah, yang aku lakukan malam itu ? kalau memang ada yang menerimanya itu semata-mata anugerah Allah , dan barokah Izin Nabi Muhammad Saw. Kalau tidak ada yang menerimanya maka aku akan menghapusnya dengan air”. Lalu Syeikh Nasir memberikan kata pengantar, dan memuji kitab Syeikh Sya’rani ini.


Keramah Imam ASy-Sya'rani Mengetahui Wali Tidak Sedang Berada Dalam Kuburnya

Di antara karomah Imam Sya’rani adalah suatu ketika ia tidur di rumah kawannya di sebuah ruang terpencil yang banyak jinnya. Pada petang harinya kawannya ini menyalakan lampu di ruangan itu, menutup pintu lalu meninggalkan Syeikh Sya’rani sendirian. Lalu datanglah sekelompok jin. Mereka mematikan lampu dan mengitari Syeikh kita ini hendak mengganggunya. Tahu akan apa yang terjadi Syeikh Sya’rani berkata : ” Demi keagungan Allah…. Kalau saja aku mahu menangkap salah satu di antara mereka, nescaya tidak akan ada satupun yang mampu melepaskannya”. Lalu Imam Sya’rani tertidur dengan tenang seperti tidak ada apa- apa.

Di antara karomahnya adalah, suatu ketika Imam Sya’rani berkata : “Aku diberi anugerah oleh Allah berupa pengetahuan apakah seorang wali sedang berada dalam kuburnya atau tidak. Karena memang para wali dalam kuburnya mempunyai aktifitas tersendiri. Mereka selalu datang dan pergi. Keistimewaan ini juga di miliki oleh Syeikh ‘Ali Al-Khawwas guru Syeikh Sya’rani . Sang guru ini kalau melihat seseorang mahu ziaroh ke makam seorang wali kadang-kadang mengatakan : “Cepatlah pergi kesana, karena sebentar lagi sang wali mahu pergi untuk  keperluan! “. Suatu ketika Syeikh Sya’rani ziarah ke makam Syeikh Umar Ibn al-Faridl , tapi tidak menjumpainya dalam kuburannya. Setelah itu, Syeikh Umar datang kepadanya, sambil berkata :” “Maafkan saya, karena tadi aku ada keperluan”

Pengalaman ruhani, akhlak dan pemikiran-pemikiran yang dilontarkan Imam al-Sya’rani

Menurut Ensiklopedi Tasawuf bahwa pengalaman ruhani, akhlak dan pemikiran- pemikiran yang dilontarkan Imam al-Sya’rani itu, tentu tidak semuanya ditanggapi oleh Para Pengamat tentang dirinya. Arberry, ketika mengamati karya otobiografis Imam al-Sya’rani, Lata’if al-Minan melihat, bahwa dicelah-celah pengungkapan karunia Ilahi yang diterima Imam al-Sya’rani berupa keistimewaan-keistimewaan terbersit rasa keangkuhan, seakan akan dalam karya tersebut terekpresi pameran keistimewaan diri. Arberry mensinyalir adanya ratusan keistimewaan diri yang diungkapkan Imam al-Sya’rani sebagai rasa syukurnya kepada Allah.

Empatpuluh diantaranya diungkapkan Arberry secara terbuka. Diantara  keistimewaan itu  adala  : 1). Ketika menjamu tamu-tamunya sering makanan yang dihidangkannya tiba-tiba menjadi berlipat ganda. 2). Sejak  menempuh kehidupan sufi semua Jin telah patuh kepadanya.  3). Ia dipercaya banyak Jin, orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. 4). Secara menakjubkan ia mampu mendengar binatang-binatang dan benda-benda mati bertasbih memuji Allah. 5). Dalam tidurnya ia sering bergaul dengan orang-orang yang telah meninggal dunia dan menanyakan kepada mereka tentang suasana dialam kubur. 6). Ia melihat arwah para wli dan mereka menyambutnya dengan ramah. 7). Banyak Gubernur yang bermimpi tentang dirinya, sehingga menambah besar kepercayaan mereka terhadap dirinya.  8). Ia belum pernah mengungkapkan godaan-godaan batin yang telah membuatnya menderita kepada seseorangpun, sehingga sering keluar  asap dari mulut, telinga dan hidungnya. 9) Ia  memiliki kemampuan melihat dari jarak  jauh,  dari kejauhan itulah ia memberikan keteladanan - keteladanan. 10). Ia selalu  menolak memakan sesuatu  yang telah disedekahkannya.

Menurut KH. Thobary Syadzily yang ia posted September 2013M bahwa Nama Asy-Sya’rani adalah panggilan yang diberikan kepadanya yg diambil dari nama sebuah desa tempat tinggalnya di mana dia dibesarkan, yaitu Sya’rah, sebuah desa di wilayah Mesir. Syaikh Asy-Sya’rani sejak kecil sangat cinta akan ilmu dan gemar sekali menuntut ilmu khususnya ilmu-ilmu dunia dan sufistik. Karena kemuliannya, jika dia sedang berjalan banyak orang menghampirinya dan berebut tangan untuk menyalami dan mencium tangannya hanya sekadar untuk memperoleh berkah dari sang wali. Banyak dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bertaubat dan akhirnya berbaiat masuk islam dan menjalani amalan sufi yang dibimbing langsung oleh Syaikh Asy-Sya’rani. Demikian pula banyak para penjahat dan pelaku maksiat yang akhirnya sadar dan bertaubat dari perbuatan buruknya setelah mendengar pengajian-pengajian yang disampaikan oleh Syaikh Asy-Sya’rani.

Selain itu, dia seorang Syaikhul Islam, faqih, Ushuli, Muhaddits (pakar hadits), dan Shufi. Dia dikenal sebagai ulama yang arif dalam khazanah keilmuan Islam. la menulis lebih dari 60 buah kitab, kebanyakan bercorak tasawuf. Di antara karyanya yang paling menarik adalah yang berupa otobiografi, al-Lathaiful Minan. Dalam kitab al-Lathaiful Minan itu diterangkan tentang perjalanan hidup seorang sufi yang penuh dengan keteladanan. Dan yang patut menjadi contoh suri tauladan dalam awal kehidupannya adalah, ia hafal Al-Qur’an pada usia delapan tahun.

Karamahnya sudah terlihat sejak masa kanak-kanak. Dia tidak pernah takut dengan makhlauk apapun, seperti ular, kalajengking, buaya, pencuri, jin dan sebagainya (lihat di kitab “Jami’u Karamatil Aulia jilid 2 halaman 277, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon). Pada suatu hari ketika dia tenggelam di Sungai Nil, dengan sangat menakjubkan, dia diselamatkan oleh seekor buaya, yang disangkanya sebongkah batu.

 

Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshari (w. 916 H/1511 M) memberi izin kepadanya untuk mengajarkan fiqih. Sejak kecil ia sudah bergaul dengan para ‘arifin. Semua gurunya mengajarkan syariat dan tasawuf, dan meninggal dalam keadaan ridha terhadap dirinya. Dia dikenal sebagai ulama yang tidak fanatik buta dalam menganut kepercayaan tertentu.

Akhlaqnya sangat mulia, baik sebagai sufi,  maupun sebagai orang shalih. Ia menolak memakan sesuatu yang telah disedekahkannya. Dia sangat berlapang dada dalam segala urusannya dengan sesama muslim, bahkan dengan musuh yang paling membecinya sekalipun. Da tidak pernah berlama-lama dalam mengunjungi sahabat. Dan sepanjang hidupnya, ia terpelihara dari keinginan meminta-minta. Bahkan, ia belum pernah mengungkapkan godaan-godaan batin yang telah membuatnya menderita kepada seorang manusia pun, sehingga kerap keluar asap dari mulut, telinga, dan hidungnya. Asap yang keluar itu dikenali muridnya sebagai bentuk nafsu buruk yang dapat dikendalikan, sehingga keluar sebagai semacam kotoran dari tubuhnya. la tidak pernah mengejar kedudukan tinggi dan derajat duniawi.

Dia sadar akan zaman yang melahirkannya, dan tak pernah mencoba hidup menurut masa lalu atau masa mendatang. Bila menghadapi kesulitan, ia selalu berserah diri kepada Allah, tidak kepada manusia. Sepanjang hidupnya, ia meng­habiskan seluruh waktunya di lingkungan kefakiran dan kezuhudan.

Syaikh Asy-Sya’rani dikenal memiliki kemampuan yang luar biasa. Dia dapat melihat jauh ke depan, dalam arti waktu. Dan dari sinilah ia memberikan keteladanan-keteladanan. Namun di hadapan umum, ia tidak pernah memperlihatkan kemampuan yang dimilikinya kepada orang lain. Meskipun begitu, orang sering mengenali karamahnya. Seperti ketika dia menjamu tamu-tamunya, sering makanannya tiba­ tiba berlipat ganda. Secara menakjubkan ia juga mampu mendengar binatang-binatang atau benda-benda mati bertasbih memuji Allah swt.

Imam Asy-Sya'rani seorang Alim dan Sangat Wawa'

Syaikh Imam  Asy-Sya’rani dikenal seorang yang alim dan wara’. Dia tidak pernah melupakan kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allah. Ia selalu menghindari buang angin di dalam masjid, baik di masjidnya maupun di masjid lain. Dia selalu menghadap Allah, juga ketika berbaring dengan istrinya sebagaimana kala bersembahyang. Terhadap para muridnya, dia senantiasa berbuat adil. Dia juga merasa enggan dicium tangannya. Dalam tidurnya, ia sering bergaul dengan orang-orang yang telah mati dan bertanya kepada mereka tentang keadaan di alam kubur. Dia dapat melihat arwah para wali dan disambut ramah oleh mereka..

Berikut beberapa mimpi Syaikh Asy-Sya’­rani, sebagaimana dituliskan dalam otobiografinya itu: “Dulu aku mempunyai seorang tetangga yang suka menghina sesamanya. Allah melaknatnya dengan penyakit asma dan lumpuh. Selama kira-kira sepuluh tahun, ia tidak dapat berbaring, dagunya bertumpu di atas lutut, otot-ototnya kian melemah. Kemudian ia mati, dan dikuburkan. Aku bertemu dengannya setelah kematiannya, dan bertanya, “Apakah kau masih lumpuh?” “Ya, dan kelak aku akan dibangkitkan seperti ini pula. Semua ini lantaran kau dan Syaikh Syu’aib si ‘tukang khutbah’ itu,” jawabnya. Tatkala hal ini kusampaikan kepada Syaikh Syu’aib, ia berkata, “Ya, hal itu memang benar. Bila aku lewat di depannya, ia selalu membuang ingus dan melemparkan dahaknya ke wajahku karena benci.” Demikian pula dengan diriku, setiap kali lewat di hadapannya, ia mengumpatku dengan kata-kata yang tak patut ditunjukkan kepada kawanan sapi pun. Semoga Allah mengampuni dan mengasihinya.

Wafat

Imam Sya’rani wafat pada Jumadil Awwal tahun 973 H 1565 M.


11.Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  yang ke  Tiga Puluh

30. SYEKH SAYYID  ALWI AR RIDHA

هو العارف بالله تعالى الشيخ السيد علوى الرضى بن بن عُبَيْدِ اللهِ بنُ مَحْمُوْدٌ ابْنُ صِحَابُ الدِّيْنِ توفى1002 هجرية \ 1594 ملادية

Al Arif billahi Ta'ala Syekh Sayyid Alwi  bin  Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin.Beliau hidup diperkirakan antara abad belas kelima & keenam belas Masihi. Abad ke-16 dapat dihitung dari tahun 1501 sd.1600 Masihi dan ia dikenal nama ”Sayyid Alwi ar RidlaBeliau wafat tahun 1002H /1594M kota Samarqand negeri Uzbikistan India. Ia menjadi tokoh penting dikalangan para Sufi di Uzbikistan India dan menjadi poros dalam sejarah tasawuf. Istilah sanad al qaum atau al Junaidiyah yang Beliau terima dua sanad silsilah dari Guru-gurunya adalah menunjukkan nisbah yang kuat bahwa Sayyid Alwi (seorang rijal sanad) dan di pandang tokoh kunci dalam  aliran tasawuf dan thariqat sufi al qaum (thariqat al Junaidiyah) yang berkembang sesudahnya

Ar Ridha adalah gelar yang ingin dicapai oleh seseorang sufi dalam perjalanan rohaniyahnya menuju Allah azza wajalla yaitu ar Ridla Allah.

Seorang Sufi tidak lepas dari do'a  :::

اِلهِ اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ اَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ

Artinya : Hai Tuhanku, Engkaulah yang aku maksud, Keridhaan Engkaulah yang aku tuntut. Berikan kepadaku kecintaan Engkau dan pengenalan terhadap Mu.

Keridaan manusia adalah ketenangan terhadap takdir, baik takdir baik maupun takdir jelek dan kemantapan hati dalam segala peristiwa yang dialami sebagai perwujudan dari keindahan Ilahi (sifat Jamal) ataupun kegagahan Ilahi (sifat Jalal). Ridla Tuhan kepada manusia mendahului rida manusia kepada Tuhan, karena berkat bantuan dan pertolongan Nya manusia akan mampu menyerah dan menerima keputusan Tuhan, serta melaksanakan perintah-perintah Nya. Dengan demikian ridha manusia sangat terkait dengan ridha Tuhan.

Syekh Sayyid Alwi ar Ridha bin  Ubaidillah, Dia seorang syekh syari'at dan hakekat, dia juga seorang mursyid yang agung dimasanya. Dia juga seorang mistikus  dimasanya, yang memiliki pengaruh spritual yang besar dan tidak dikendalikan oleh nafsunya. Dia juga memegangi dan mengikuti dokterin Imam Abu Qashim al Junaid al Bagdady. Syekh Ubaidillah bin Mahmud bin Shihabuddin ayahnya adalah guru dari Syekh Muhammad az Zahidi pada Thariqat sufi Naqsyabandiyah.

Diantara muridnya yang tercatat dalam sanad silsilah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah (Thariqat Qaum ) adalah Syekh Imam Ba Junaidi.

Dilihat dari urutan sanad silsilah Thariqat Kaum (thariqat al Junaidiyah), dia menjadi urutan sanad silsilah thariqat kita…………., dia sebagai murid dari Syekh Muhammad az Zahidi dan Syekh lainnya pada thariqat yang sama.

Makna “Ridla” menurut Artikel “Sejarah Thariqat dan Dinamika Sosial” menjelaskan bahwa Ajaran lain dari thariqat adalah sikap rida (ridha). Zû al-Nûn al-Misrî (w. 214/829) menyebutkan ada tiga pengertian rida. 

Pertama, tidak punya pilihan sebelum diputuskannya ketetapan Allah. 

Kedua, tidak merasakan kepahitan setelah diputuskannya ketetapan Allah. 

Ketiga, tetap merasakan gairah cinta di tengah-tengah cobaan Allah. 

Sementara Ibn ‘Ata’ berkata “Rida ialah ketentraman hati akan segala ketentuan yang merupakan pilihan Allah yang Qadim atas hamba-Nya, karena ia mengetahui bahwa Allah tidak menentukan sesuatu atas hamba-Nya itu, kecuali yang terbaik baginya, maka ia pun ridla kepada-Nya”. 

Dari pendapat di atas bisa dipahami bahwa ridla adalah sikap tidak menyesal dan berputus asa kalau mengalami kegagalan, dan tidak sombong dan angkuh kalau usahanya berhasil. Ridha mengandung nilai untuk tidak mudah putus asa dan kecewa karena apapun hasil yang diperoleh adalah yang utama dan terbaik menurut Allah. 

Apabila nilai-nilai ajaran thariqat seperti diuraikan di atas dapat diamalkan setiap individu mempunyai sifat hemat, tulus, jujur, tidak rakus dan tamak, mempunyai pendirian yang tegas, tenang, rela menerima pemberian Allah dan selalu merasa diawasi Allah maka akan melahirkan masyarakat yang adil dan sejahtera. Pada masyarakat yang adil dan sejahtera dapat dipastikan tidak akan ditemukan kompetisi yang tidak sehat dalam mengejar atribut-atribut kebesaran duniawi, tidak akan muncul korupsi, kolusi dan nepotisme, manipulasi arogansi, fitnah dan kesombongan dan lain-lain. Ajaran thariqat dapat menumbuhkembangkan sekaligus mendorong masyarakat untuk mencapai kehidupan yang adil dan sejahtera.(1).


Daftar Bacaan   :

(1) Artikel "Rashahat Ain al-Hayat - Butiran Embun dari Sumber Kehidupan. Sejarah Khwajagan The Masters of Wisdom 'oleh Mawlana Ali ibn Husain Safi

(2)“Artikel “Sejarah Thariqat dan Dinamika Sosial  oleh Lindung Hidayat Siregar 



10.Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  yang ke Tiga Puluh Satu

31. SYEKH  IMAM BA JUNAIDY

 

هو العارف بالله تعالى الشيخ والإمام الجنيد الأحضار بن أحمد بن محمد بن أحمد غاصم  توفى 1032 هجرية \ 1623 ملادية.

Nama panjangnya adalah Al Arif billahi Ta'ala Syekh Imam Al Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham bin Alwi al Syaibah bin Abdullah bin Ali bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al Faqih Muqaddam. Dikenal dengan nama “Imam Ba Junaidy”. Dia lahir Ghasham dan wafat tahun 1032H /1623M di Ghasham,  Irak. Dia memilik 5 orang anak diantaranya namanya : Syekh, Muhammad dan Muthahhar.

Ba Junaidy adalah nama sebuah marga dari keturunan Muhammad Rasulullah Saw dari sekian banyak nama marga dari keturunan Rasul Saw. Salah satu nama marga itu adalah Ba Junaidi, yang lain misalnya marga Ba Ghashim, Ba Alawi dan lain-lainnya.

Dia seorang syekh syari'at dan hakekat, dia juga seorang mursyid yang agung dimasanya. Dia juga seorang mistikus  dimasanya, yang memiliki pengaruh spritual yang besar dan tidak dikendalikan oleh nafsunya. Dia juga memegangi dan mengikuti dokterin Imam al Junaid al Bagdady.

Diantara muridnya yang tercatat dalam sanad silsilah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah (Thariqat Kaum ) Syekh Abdurrahim.

 Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa  Ba Junaid adalah Gelar dari sebuah nama marga dari dzurriyat Rasulullah Saw untuk mengambil barakah atau tabarruk dari imam besar yang diberi nama "Merak Ulama" yaitu al Imam al Junaid bin Muhammad al Junaid al Bagdady.

Dilihat dari urutan sanad silsilah Thariqat Kaum al Junaidiyah, dia menjadi urutan sanad silsilah yang ke  Tiga Puluh Satu, sebagai murid dari Syekh Alwi ar Ridha. 


9.Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  yang ke Tiga Puluh Dua

32. SYEKH IMAM  ABDURRAHIM


هو العارف بالله تعالى الشيخ والإمام عبد الرحيم بن أحمد القاضي

Namanya adalah Al Arif billahi Ta'ala Syekh Imam Abdurrahim. Dia tercatat pada sanad Thariqat al Junaidiyah Silsilah  yang ke Tiga Puluh Dua, dia syekh sufi dan imam syari'at dan hakekat di masanya. Tidaklah dijelaskan oleh Guru kami siapa sebenarnya sosok Imam Abdurrahim tersebut, tapi kami hanya mengetahui namanya saja dalam Silsilah Thariqat  al Junaidiyah, namun Beliau mengarang kitab Daqa’iqul Akbar”.

Syekh Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi adalah salah satu ulama terkemuka di tanah Hijaz yang dikenal karena keilmuannya yang mendalam dalam berbagai cabang ilmu Islam, terutama dalam bidang fikih, tafsir, dan hadits. Beliau hidup pada abad ke-12 hingga 13 H dan termasuk ulama Makkah yang sangat dihormati. Abad ke-12 Hijrah dihitung dari tahun 1689M sd. tahun 1786M & abad ke-13 Hijrah dihitung dari tahun 1786M sd. tahun 1883M

Syekh Abdurrahim lahir di Makkah dari keluarga terpelajar. Ayahnya, Ahmad al-Qadhi, adalah seorang qadhi (hakim) yang alim dan menjadi inspirasi awal dalam perjalanan keilmuannya.

Pendidikan dan Guru

Syekh Abdurrahim belajar dari para ulama besar di Makkah dan Madinah. Di antara guru-gurunya adalah:

Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi

Syekh Ahmad Zaini Dahlan

Beberapa ulama dari al-Azhar yang datang ke Makkah

Beliau dikenal sebagai sosok yang rajin menuntut ilmu dan menghafal banyak matan-matan penting dalam ilmu-ilmu syariat dan hakekat.

Hidupnya sezaman Syekh Abu Imran Musa al Tilmisaniyu di kota Mesir. Dia menjadi murid Syekh Imam Al Junaid al Ahdhar bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Ghasham bin Alwi al Syaibah yang dikenal nama "Imam Ba Junaidy"  yang memegangi doktrin ajaran Abul Qashim al Junaid al Bagdady, ada yang mengatakan wafatnya sekitar tahun wafatnya Syekh al Syamani. Dia bershahabat baik dengan Syekh al Syamani di negeri Syam, asal negeri Rum dan wafat pada tahun 1088H.

Karya dan Murid

Walaupun tidak banyak karya tulisnya yang diketahui secara luas, beliau meninggalkan pengaruh besar melalui pengajaran di Masjidil Haram. Di sana, beliau mengajar berbagai disiplin ilmu dan melahirkan banyak murid yang kemudian menjadi ulama besar.

Beberapa muridnya menyebarkan ilmunya ke berbagai penjuru dunia Islam, khususnya ke wilayah Nusantara, India, dan Afrika.

Akhlak dan Pengaruh

Beliau dikenal sangat tawadhu’, wara’, dan tekun beribadah. Pengaruh keilmuannya meluas karena beliau juga sering menjadi rujukan dalam fatwa keagamaan di Makkah pada masanya

Wafat

Syekh Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi wafat di Makkah, dan dimakamkan di pemakaman Ma'la, tempat dimakamkannya banyak ulama dan keluarga Nabi Muhammad Saw.. 


Reterensi    :

(1). Artikel “Biografi Singkat Syekh Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi”/ https://www.instagram.com/reel/DJVhEb6Pw9n/ 



  8.Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  yang ke Tiga  Puluh Tiga

33. SYEKH IMAM ABDURRAHMAN ASSEGAF BA 'ALAWI

هو العارف بالله تعالى الشيخ الإمام عبد الرحمن السقاف باعلوى. تنزيل المدينة المنورة,اخذ فيها الطريقة الشيخ محمد حياة السندى باشارة بعض الصالحين.(1 وكان عبد الله بن أبي بكر العلوى أحد السادة أصحابه الكرامة والاشرقات وهو مشهور برؤية الحضر عليه السلام ادركه السيد العيدروس, وتوفى بالمدينة المنورة 1124هجرية \1712 ملادية.قاله الجبرتى(2


Nama panjangnya adalah Al Arif billahi Ta'ala Syekh Imam Abdurrahman as Saqqaf (Assegaf) dari keluarga Ba 'Alawi. Dia tinggal di kota Madinah. Dia punya karamat dan kemuliaan dan ia masyhur berjumpa Nabi Haidir Alaihis Salam, dan ia wafat di kota Madinah al Munawwarah tahun 1124H\1712M.

Dia syekh wal imam syari'at dan hakekat yang mengamalkan ilmunya dan menjadi imam dimasanya, dan dia menjadi sanad silsilah thariqat sufi al Junaidiyah yang ketiga puluh tiga. Dia menjadi  murid dari Syekh Imam Abdurrahim al Alawi. Dia syekh sufi mistik dan aulia Allah yang memegangi ajaran Abu Qashim al Junaid berasal dari keluarga ahlul bait Rasulullah yang berdomisili di kota Madinah al Munawwarah.

Banyak orang yang mengenalnya, dan Syekh Abdullah bin Abu Bakar al Alwi hidup semasa dengannya dan menjadi salah satu sahabat karibnya. 

Daftar Bacaan / Referensi  :

1)    "كتاب جامع كرامات الاولياء حزء 2   يوسف بن اسمائيل النبهانى رقم  163

2)      كتاب جامع كرامات الاولياء حزء 2 رقم  163 



      7.Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  yang ke  Tiga  Puluh Empat

34. SYEKH  WAL  IMAM Al 'ALWI BA 'ALAWI

Al 'Arif billah Syekh Imam Al 'Alwi. Syekh Imam Al Alawi Ba Alawi.Dia adalah syekh Syari’at dan Hakekat  dari keturunan atau keluarga Besar Alawy, dia memegangi dokterin al Junaid al Bagdady yakni al muraqabah bil bathin. Dia  adalah saudara Syekh Imam Abdurrahman as Saqqaf (Assegaf) dan muridnya,  dia juga  menjadi salah satu sanad silsilah  thariqat Qaum al Junaidiyah yang ke  Tiga Puluh Empat dari jalur sanad Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.

كان سيدى عبد الرحمن السقاف وأخوه الإمام علوى وهما تنزيل المدينة المنورة وأخذ سيدى عبد الرحمن الطريقة القوم عن الشيخ الإمام با جنيدى.

Tidaklah banyak yang diketahui penjelasan tentang tempat lahirnya dan kapan wapatnya Syekh Imam Al 'Alwi Ba Alawi  ini. Dia adalah saudaranya  Sayyid Abdurrahman as Saqaf yang keduanya  tinggal di Kota Madinah al Munawwarah yang mengambil thariqat al Qaum ini dari Imam Ba Junaidi.  


                  6.Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  yang ke Tiga Puluh Lima

35. SYEKH  IMAM ABDULLAH BA 'ALAWI

(هُوَ الْعَارِفُ بِاللهِ تَعَالَى الشَّيْخُ الإِمَامُ عَبْدُ اللهِ بِنْ سَعِيْدٍ بِنْ أَبُوْ بَكْرٍ بِنْ عَبْدُ الْبَاسِطِ بَاجُنَيْدِ بَاعَلَوِىُّ)

Al 'Arif billah Syekh Imam Abdullah bin Sa'id bin Abu Bakar bin Abdul Basith Ba Junaidi Ba Alawi. Dia adalah syekh Syari’at dan Hakekat  dari keturunan atau keluarga alawy, dia memegangi dokterin al Junaid al Bagdady yakni al muraqabah bil bathin. Dia  adalah menjadi murid Syekh Imam Al Alwi dan juga dia tercatat menjadi salah satu sanad silsilah  thariqat al Junaidiyah (thariqat al Qaum )yang ke Tiga Puluh Lima dari jalur sanad Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib.

Belumlah terungkap, belum ada catatan yang lengkap ditemukan tentang biografi kapan dia lahir dan dimana dia wafatnya Syekh Imam Abdullah Ba Alawi ini, ia meninggal/ wafat di Kota Al-Jahhi pada tahun 1359 H di wilayah Hadhramaut dan Yaman,  tetapi Dia adalah menjadi sanad silsilah Thariqat  al Junaidiyah  dan juga menjadi Gurunya Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar  Ba Junaidi al Hadrami yang memegangi dokterin al Junaid al Bagdadi, yaitu ajaran al muraqabah bil batin daa-iman (المراقبة بالباطن دائما) mengintip hatinya selalu agar tidak keluar dari Allah Swt..  

اليمن تاريخ وثقافة

التّاريخ الّذي أخذه باصرّة ولم يردّه ، توفّي بعد الثّلاث مئة وألف.

ومنها : صاحبنا الفاضل ، الشّيخ الامام عبد الله بن سعيد باجنيد ، طلب العلم بمكّة ، وولي قضاء دوعن والمكلّا عدّة مرّات ، ودرّس مدّة طويلة بمسيلة آل شيخ ، وكان في سنة (١٣٢٥ ه‍) بحوطة آل أحمد بن زين الحبشيّ يدرّس بها ، وله باع في الفقه ، وبضاعته مزجاة في النّحو ، ومع ذلك فقد درّس فيه بالحوطة ، وكان ليّن العريكة ، سهل الجانب ، عذب الرّوح ، دمث الأخلاق ، واسع الصّدر ، توفّي بالجحي سنة (١٣٥٩ ه‍) ، وله ولد اسمه محمّد ، تولّى القضاء بالمكلّا ، وكان طلب العلم بمصر ، ثمّ فصل عن قضاء المكلّا وجعل من أعضاء الاستئناف بها.

وآل باجنيد منتشرون في رحاب وهدون والجحي والمكلّا وعدن والحجاز ، ومثراهم بالخريبة ، حتّى لقد روي عن الحبيب حامد بن أحمد المحضار أنّه قال : دخلت الخريبة .. فإذا عالمها : باجنيد ، وقاضيها : باجنيد ، وتاجرها : باجنيد ، ودلّالها : باجنيد ، وقصّابها

باجنيد ، ونجّارها : باجنيد ، وسائر أعمالها بأيدي آل باجنيد.

وكانت الخريبة أولى بأخبارهم ، ولكنّها تدحرجت علينا إلى هنا ، ومنهم اليوم بعدن الشّابّ الغيور عبد الله بن سعيد بن ابو بكر بن عبد الباسط ، له دين متين ، واهتمام بأمر المسلمين ، وأخوه المكرّم محمّد ، وابن عمّهم الشّيخ عبد القادر ، والشّيخ جنيد بن محمّد ، وكلّهم طيّبون مشكورون.

ومنهم : العلّامة الجليل الشّيخ السّيّدعمر بن أبي بكر باجنيد ، الغني باسمه عن كلّ تعريف وهو أحد أكابر علماء مكّة المشرّفة ، بل إليه انتهت رئاسة الشّافعيّة بها بعد شيخه العلّامة الشّيخ محمّد سعيد بابصيل ـ وقد أخذنا عن الاثنين ـ توفّي الشّيخ السّيّدعمر بمكّة المكرّمة سنة (١٣٥٤ ه‍) ، وقد سبق في الخريبة عن الحبيب أحمد بن محمّد المحضار ما يصرّح برجوع نسبهم إلى مضر.

ومن النّوادر : أنّ الشّيخ سعيد بن بو بكر باجنيد عمل للفاضل السّيّد حسين بن حامد المحضار ضيافة بداره في الخريبة سنة (١٣٣٧ ه‍) ، وما كاد يستقرّ به المجلس

 

Sejarah dan Budaya Yaman

اليمن تاريخ وثقافة

Al Junaid atau Ba Junaid adalah nama sebuah marga dari keturunan Muhammad Rasulullah Saw dari sekian banyak nama marga dari keturunan Rasul Saw. Salah satu nama marga itu adalah Al Junaid atau Ba Junaidi, yang lain misalnya marga Ba Ghashim, Ba Alawi dan lain-lainnya.

Al-Junaid atau Ba Junaid ialah gelar yang dinisbahkan kepada keturunan waliyullah Abu Bakar bin Umar bin Abdullah bin Harun bin Hasan bin Ali bin Muhammad Jamallullail bin Hasan al-mu’alim Muhammad Asadillah bin Hasan Atturabi. Dinamakan Djunaid dengan maksud tabarukkan agar kelak menjadi waliyullah seperti waliyullah yang bernama Djunaid bin Muhammad seorang Sayyid Atthaifah al-sufiyah yang terkenal.

Sejarah yang diambil Basrah dan tidak dikembalikan; ia meninggal setelah tahun 1300 H.

التّاريخ الّذي أخذه باصرّة ولم يردّه ، توفّي بعد الثّلاث مئة وألف.

Di antara mereka: Sahabat kita yang terhormat ((الْفَاضِل, Al-Fadhil Syaikh Imam Abdullah bin Sa’id Bajunaid, mencari/menuntut ilmu di Mekah, dan menjabat sebagai hakim di kota Doan dan Mukalla (Yaman) beberapa kali. Ia mengajar dalam waktu lama di Masila Al Sheikh, Dan pada tahun 1325 H, di Hawtah (بِحَوْطَة) ia mengajar Keluarga Al Ahmad bin Zain Al-Habasyi. Ia ahli/mahir dalam ilmu hukum, tetapi pengetahuannya tentang tata bahasa terbatas, namun ia tetap mengajarkannya di Hawtat.( Secara linguistik, kata "Al-Hawtah" merujuk pada tempat yang dikelilingi tembok atau pagar, dan memiliki makna religius dan historis di wilayah Hadhramaut dan Yaman) Ia berwatak lembut, mudah bergaul, berhati manis, baik hati, dan berpikiran luas. Ia meninggal di Kota Al-Jahhi pada tahun 1359 H. Ia memiliki seorang putra bernama Muhammad, yang menjabat sebagai hakim di Mukalla. Ia telah mencari ilmu di Mesir, kemudian dicopot dari jabatan hakim Mukalla dan kemudian ia diangkat ke Pengadilan Banding di sana (Mesir).

Keluarga Bajunaid tersebar luas di wilayah kota Wahdun, kota Al-Jahhi, kota Al-Mukalla, kota Aden, dan kota Hijaz, dengan pusat utama mereka di kota Al-Khuraybah, Arab Saudi wilayah Madinah.. Bahkan diriwayatkan bahwa Habib Hamid bin Ahmad Al-Mahdhar berkata: "Aku memasuki Al-Khuraybah... dan aku mendapati para ulama di sana semuanya marga Bajunaid, para hakimnya Bajunaid, para pedagangnya Bajunaid, para makelarnya Bajunaid, para tukang dagingnya Bajunaid, para tukang kayunya Bajunaid, dan semua bisnis di sana dijalankan oleh keluarga Bajunaid."

Al-Khuraybah kemungkinan besar merupakan sumber cerita mereka, tetapi pengaruh mereka telah menyebar hingga ke sini. Di antara mereka saat ini di Aden adalah pemuda yang bersemangat, Abdullah bin Saeed bin Abu Bakr bin Abdul Basit, seorang pria yang beriman teguh dan peduli terhadap urusan umat Islam, bersama dengan saudaranya, Muhammad yang terhormat, dan sepupu mereka, Syekh Abdul Qadir. Dan Syekh Junaid bin Muhammad, dan semuanya baik dan terpuji.

Di antara mereka: ulama terkemuka Syekh Sayyid Umar bin Abi Bakr Bajunaid, yang namanya tidak perlu diperkenalkan lagi. Beliau adalah salah satu ulama terkemuka di Mekah, dan memang, kepemimpinan mazhab Syafi'i di sana beralih kepadanya setelah gurunya, Syekh Muhammad Saeed Babasil yang terkemuka—dan kami belajar di bawah bimbingan keduanya. Syekh Sayyid Umar bin Abi Bakar Bajunaid, wafat di Mekah pada tahun 1354 H. Sebelumnya telah disebutkan dalam al-Khuraybah, berdasarkan riwayat Habib Ahmad bin Muhammad al-Mahdhar, bahwa garis keturunan mereka dapat ditelusuri kembali ke Mudar.

Di antara kejadian langka adalah Syekh Saeed bin Abu Bakr Bajunaid mengadakan pertemuan untuk Sayyid Hussain bin Hamid al-Mahdhar yang saleh di rumahnya di al-Khuraybah pada tahun 1337 H. Pertemuan tersebut baru saja berlangsung ketika itu.

 

5.Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  yang ke  Tiga Puluh Enam

36. SYEKH SAYYID UMAR BA JUNAIDI ALHADRAMI

(الشيخ السيد عمر با جنيدى الحضرمى)

(W.1354H/1936M)

هو العارف بالله تعالى الشيخ السيد عمرابن أبي بكر با جنيدى الحضرمى توفى 1354حجرية\1936ملادية

Al Arif billah Syekh Sayyid Umar Ibn Abi Bakar Ba Junaidi al Hadrami wafat 1354H atau wafat 1936M di kota Mekkah al-Mukarramah, dia adalah guru dari KH. Kasypul Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh.

Dia adalah syekh Sufi mistik yang memegangi dokterin al Junaid al Bagdadi, yaitu ajaran al muraqabah bil batin daa-iman (المراقبة بالباطن دائما) mengintip hatinya selalu agar tidak keluar dari Allah. Dan Dia Ulama syari'at hakekat yang mempuni yang tinggal di kota Mekkah al Mukarramah. Dia termasuk Ahlul Bait Rasulullah Saw dari marga al Junaid al Bagdad asal negeri Maroko, Hadramut ( Negeri Magrib).

Pernah aku baca dalam sebuah Artikel tulisan seorang Ulama tanah Jawa KH. Marzuki yang pernah belajar di kota Mekkah al Mukarramah bahwa Syekh Sayyid Umar Ba Junaidi al Hadrami wafat tahun 1354 Hijeriyah.

Syekh Samsul Afandi menulis sebuah Buku "Sekilas mengenal profil pesantren Rubat Tarim" bahwa Al-Habib Abdullah bin Umar as-Syatiri ra (lahir di Tarim bulan Ramadhan tahun 1290 H), pernah berguru kepada Ulama Mekkah al Mukarramah syekh Sayyid Umar Ba Junaid.

Pada waktu berumur 20 tahun (tahun 1310 H), beliau pergi ke Mekkah bersama orang tua beliau Habib Umar As-Syatiri, untuk menunaikan ibadah haji dan ziarah kepada Rasulullah saw. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, beliau meminta izin kepada ayah beliau untuk tinggal di Mekkah guna menuntut ilmu.. Dan tercatat sejak tanggal 15 Muharram 1211 H hingga 15 Dzulhijjah 1313 H beliau belajar pada ulama-ulama di kota suci itu, diantaranya kepada :

  1. Syekh al-Allamah Sayyid  Umar bin Abu Bakar Ba Junaid,
  2. Syekh al-Allamah Muhammad bin Said Babsheil,
  3. Habib Husain bin Muhammad bin Husien al-Habsyi (saudara Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Seiwun),

Pemuka kota Tarim diberi mandat untuk menjadi pengasuh ketiga yang semula menjadi wakil Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur sejak tahun 1341 H jika beliau berhalangan mengajar dan telah menjadi mudarris di Rubath Tarim sejak datang dari Mekkah pada tahun 1314 H.

KH. Kasyful Anwar Firdaus bin Muhammad Shalih seorang putra Kalimantan (Kalsel) belajar mendalami ilmu Tasauf (mengambil Thariqat Sufi al Junaidiyah (Thariqatul Qa'um) kepada Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaid di Mekkah, pada tahun 1353H/1935M. Syekh Sayyid Umar bin Abu Bakar memberikan bai'at  dan ijazah Thariqat Sufi al Junaidiyah kepada muridnya setelah menunaikan ibadah hajji, atas kesepakatan dan pertimbangan bersama, bai'at Thariqat Sufi al Junaidiyah dilaksanakan di depan Baitullah (Depan Ka’bah) Berikut penjelasan tentang sanad silsilah Thariqat  al Junaidiyah (Thariqatul Qa'um) yang tercatat ada dua jalur antara lain            :

Penyusun juga membaca dalam sebuah artikel tentang biografi Ulama Betawi (Tanah Jawa) KH. Ahmad Marzuki (w.1353H) pernah menuntut ilmu agama berguru pada Ulama di Tanah suci Mekkah al Mukarramah, diantara guru-gurunya adalah Syekh Sayyid Umar Ba Junaid al Hadrami tercatat bahwa Syekh Sayyid Umar Ba Junaid al Hadrami wafat pada tahun 1354H/1936M. di Mekkah al-Mukarramah. Beliau berasal dari negeri al Hadrami yaitu kota Hadramaut ibu kota Tarim atau Nageri Maroko (negeri Magrib). Belum ditemukan keterangan tentang hari, bulan dan tahun kelahirannya.  


  4.Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  ke Tiga Puluh Tujuh

37. SYEKH KH. KASYPUL ANWAR FIRDAUS BIN MUHAMMAD SHALEH

( الشيخ كشف الأنوار الفرداؤس بن محمد صالح )

(Tahun 1902-1974M/1319-1394H)


Al Junaidiyah adalah nama sebuah Thariqat Sufi yang dinisbahkan kepada  Abu  Qasim al Junaid al Bagdadi. Thariqat  Sufi al Junaidiyah disebut juga Thariqat al Qaum, Thariqat ini dibawa  masuk ke Indonesia oleh KH, Kasypul Anwar Firdaus  bin Muhammad  Shaleh sebelum tentara Jepang  datang ke Indonesia Dan dikatakan orang bahwa ia mengambil Thariqat  ini tahun 1935M /1353H dari seorang Syekh yang bernama Sayyid Umar bin Abu Bakar Ba Junaidi asal Negeri Magribi sehabis  menunaikan Ibadah Haji..

Dalam kaul yang lain/riwayat lain disebutkan bahwa KH. Kasypul Anwar Firdaus  mengambil thariqat ini, diperkirkan sekitar tanggal 14 Dzulhijjah 1352H Jum’at 30 Maret tahun 1934M tersebut. Sesudah itu Beliau beberapa tahun menyelesaikan pendidikannya Mesir Kairo kemudian pulang ke Desa Banua Hanyar, Kec. Alabio, Kab. Hulu Sungai Utara  Amuntai,  Kalimantan Selatan Indonesia.          

Dan juga kaul lain/riwayat lain disebutkan bahwa KH. Kasypul Anwar Firdaus  setelah pulang menunaikan ibadah haji  tahun ke 1365 Hijeriyah atau 1955 Masehi. Tetapi kaul kedua ini terbantahkan. Menurut Humaydi bin Kasypul Anwar Firdaus (anak Beliau) yang saya temui dan wawancarai dikediamannya bahwa menurut ceritera mama Humaydi : bahwa “KH. Kasypul Anwar Firdaus  sudah berada di Alabio Amuntai sebelum tentara Jepang datang ke Indonesia.” Beliau baru mulai mengembangkan Thariqat al Junaidiyah ini kepada murid-muridnya yang bukan kalangan keluarganya.

Menurut yang kaul lain/riwayat lain ada menyebutkan bahwa seorang guru yang sangat di kagumi KH. Kasypul Anwar Firdaus  yaitu Sayyid Umar bin Ba Junaidi, dari guru inilah beliau mempelajari Thariqat sufi Junaidiyah. Beliau pulang dari Tanah Suci ke Indonesia pada tahun 1956 diusinya 54 tahun, di tempat kelahirannya di Banua Hanyar Alabio beliau mengembangkan thariqat al Junaidiyah yang beliau pelajari dengan tekun di Tanah Suci. Ajaran thariqat ini terus beliau kembangkan sampai akhir hayatnya yaitu pada tahun 1974 M.

 KH. Kasypul Anwar Firdaus  adalah putra laki-laki dari keluarga Muhammad Shalih yang tinggal di Desa Banua Hanyar, Kec. Alabio, Kab. Hulu Sungai Utara  Amuntai,  Kalimantan Selatan, Indonesia. Jarak  tempat makam  KH, Kasypul Anwar  ini kurang  lebuh 7 kilo meter dari Pasar Alabio Kec. Sungai Pandan.

Kasypul Anwar  adalah seorang anak yang cerdas, punya ekeyo/otak berlian atau otak jennus dengan hoby suka membaca, lebih-lebih lagi menyukai ilmu agama, banyak guru yang mengajarinya, bahasa Arab, nahwu sharaf, ilmu fiqih dan ilmu agama lainnya. Kedua orang tuanya seorang tokoh terpandang di desanya dan kuat agamanya. Diusia yang sangat mudanya  ia menjabat ketua Muhammadiyah di Desanya.

Pada tahun  1932M/1350H, ia berangkat dan didukung Keluarga Muhammad Shalih mengirimnya untuk memperdalam menuntut ilmu agama ke Mekkah al Mukarramah selama 7 tahun lebih dan (versi lain meyebutkan selama 25 tahun). Ada yang mengatakan bahwa  Muhammad Shalih mengirim Kasypul Anwar Firdaus  ke kota Mesir di Kairo. Ketika berangkat ia dibekali satu karung besar beras dan perlengkapan lainnya untuk dibawa. Di kota Kairo, beras tersebut dijadikan tepung. Tepung beras tersebut dijadikan atau diolah makanan, yakni makan kue gambung yang berisi inti gula aren manis. Kue sejenis itulah yang cocok dimakan disana selama beberapa bulan. Menurut ceritra Kaspul Anwar tinggal di Gedung Tua milik penduduk yang sudah lama tidak ditempati orang. Karena sudah dua orang menempati gedung tersebut selalu meninggal dunia, sehingga orang-orang takut tinggal digedung tersebut. Menurut ceritra mulut-kemulut Gedung tersebut dihuni oleh  JEN. Pemilik Gedung itu membebaskan sewa kepada Kasypul Anwar Firdaus selama ia suka menempatinya, ini anugrah dan pertolongan Allah Swt kepada hambanya yang bener-benar menuntut keredlaan-Nya. Setelah tiga tahun Kasypul Anwar Firdaus  ia tinggal dan belajar di Kota Mesir ini, di awal tahun ke-4 keberadaannya menuntut ilmu agama di kota ini, kemudian ia diijin oleh guru-gurunya untuk  menunaikan ibadah haji ke Mekkah al Mukarramah.

Di Mekkah al Mukarramah, sebelum berhajji bulan Dzul Qaidah tahun 1353H Kasypul Anwar Firdaus berguru kepada Syekh Sayyid Umar Ba Junaidi al Hadrami w.1354H/1936M.  tentang  ilmu tasauf. Sayyid Umar termasuk Ahlul Bait Rasulullah Saw dari Keluarga keturunan Abul Qasim al Junaidi asal Negeri Magrib (Maroko). Atas kesepakatan bersama antara Guru dan Muridnya, izajah dan bai'at thariqat sufi al Junaidiyah diberikan setelah Kasypul Anwar Firdaus menunaikan Ibadah Haji. Seperti yang disepakati bersama, sehabis berhaji Kasypul Anwar mengambil Bai'at dan Ijazah Tawajjuh Mutlaq dan dan juga menerima pelimpahan Talqin Dzikir kepada Syekh Sayyid Umar Ba Junaidi gurunya di depan Ka'bah. Dikatakan orang bahwa Bai'at itu diterima  pada bulan Maret tahun 1935M/ Dzul Hijjah 1353H, di tahun itu  jiwa dan raga Kasypul Anwar Firdaus  digodok – diolah dan ditempa oleh Syekh Sayyid Umar menjadi sosuk Ulama Shufi yang besar dan agung.

Menurut Humaidy ceritra dari mamanya (isteri KH. Kasypul Anwar Firdaus) berkata bahwa  "Pada waktu Jepang datang ke Indonesia (ayahnya) KH. Kasypul Anwar Firdaus sudah berada dan lama di Banua Hanyar Alabio. menuju arah jalan ke Kec. Baberik. 


KH. Kasypul Anwar Firdaus  adalah seorang Ulama Syari'at dan Hakekat dimasanya, ia dihormati dan disegani dan juga disayangi oleh masyarakat disekitarnya, terlebih lagi dicintai oleh murid-muridnya, dan juga sangat dicintai oleh generasi sanad silsilah sesudahnya. Ia juga orang yang pertama asal Kalimantan Selatan yang mengambil Thariqat Kaum al Junaidiyah pada Guru Sayyid Umar Ba Junaidi al Hadrami al Magriby di Mekkah al Mukarramah dan membawanya ke Kalimantan Selatan dan mengembangkannya. KH. Kasypul Anwar Firdaus bin Muhammad Shalih wafat tahun 1974M/1394H dimakamkan di depan halaman Masjid Jami'us Sa'adah arah kiblat Masjid, warna makam Beliau warna biru kehijauan, alamat Banua Hanyar Alabio Kab. Hulu Sungai Utara  Amuntai, Kalimantan Selatan, Indonesia..   .

Sebagai Ulama Sufi KH. Kasypul Anwar Firdaus yang mengajar tatacaca pengamalan Thariqat al Junaidiyah, ia menyusun satu Risalah tentang thariqat yang disebarkannya yang diberinama "ARRISALAH  UMDATUL JAMA'AH BI QALAMI  FIRDAUS"  Yang insya Allah dijadikan bahan rujukan bagi Jama'ah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah khususnya yang berada di pulau Kalimantan.

Pada hari Jum'at tanggal 22 September 2006M, kami menemui Guru Masykur bin Abbas di Desa  Kelua, Kec. Kelua, Kab. Tabalong. Beliau adalah satu-satunya murid dari KH. Kasypul Anwar Firdaus yang dapat diajak bicara dan masih sehat. Melalui  ceritra Guru Masykur dan Humaidi bin Kasypul Anwar Firdaus inilah Penyusun Risalah Umdatul Hasanah ............ mendapatkan keterangan tentang Riwayat hidup atau Biografi an. KH. Kasypul Anwar Firdaus bin Muhammad Shaleh. 

 a. Murid – murid  KH. Kasypul Anwar Firdaus  

Sadatina al Junaidiyah Guru Masykur bin Abbas berkata kepadaku bahwa ada Sembilan orang murid  utama dari KH. Kasypul Anwar Firdaus yang mendapat izin dan ijazah untuk mengembangkan Thariqat al Junaidiyah dimana saja tempat mereka mau boleh membai'at, mereka itu antara lain :

  1. KH. Muhammad Qurtuby bin Khalid murid tertua w.2002M/1423H Ds. Amuitai
  2. Gr. Pa. Itay  Ds. Tebing Sering  Kab. Tabalong
  3. Gr. Abd. Shamad Ds.Tebing Sering  Kab. Tabalong
  4. Gr. Said  Ds. Bahaur  Prov. Kalimantan Tengah
  5. Gr. Antin Udar Ds.Bahaur Prov. Kalimantan Tengah
  6. Gr. Ibus Ds. Bilastan Prov. Kalimantan Tengah
  7. Gr. Murjuni Kec.Kelua, Kab.Tabalong
  8. Gr. Mahjuri  Ds. Tanjung,  Kab. Tabalong
  9. Gr. Masykur bin Abbas  Ds. Kelua, Kec. Kelua,  Kab. Tabalong.

 Gr. Masykur bin Abbas dan Muhammad Ariatim,S.Pd

Sadatina al Junaidiyah Guru Masykur bin Abbas berkata kepadaku bahwa adapun  Rote perjalanan masa KH. Kasypul Anwar Firdaus dengan Sepeda Ralehnya    dalam Pengembangan  dan  penyebaran Thariqat al Junaidiyah menuju Daerah adalah :

1.      Ds. Banua Hanyar, Alaio, Amuntai  dan Ds.  Kelua dan sekitarnya

2.      Ds. Tebing Sering  Kab. Tabalong  dan  Ds. Tanjung Kab. Tabalong

3.      Ds. Bahaur  Prov. Kalimantan Tengah dan  Ds. Bilastan Prov. Kalimantan Tengah

c.Pengembangan  Thariqat al Junaidiyah di masa Pemerintahan Belanda dan Jepang. 

Kaum penjajah Belanda dan Jepang melarang ummat Islam mempejajari ajaran Tauhid dan Thariqat Islam. Hal ini dikuatirkan oleh Pemerintahan Belanda dan Jepang kalau semua masyarakat mengamalkan ajaran Tauhid dan Thariqat Islam, maka mereka  tiada takut mati dengan peloro senapan dan senjata tajam, mereka bangkit untuk jihad, memusuhi Pemerintahan Belanda dan Jepang. Oleh karena itulah Pemerintahan Belanda dan Jepang melarang para Ulama Islam mengajarkan Tauhid dan Thariqat Islam. Bila ada para Ulama yang mengajarkan Tauhid dan Thariqat Islam dan ketahuan dari Pemerintahan Belanda,  mereka akan ditangkap dan dianggap pemberuntak. Oleh karenanya Ulama sangat berhati-hati sekali, secara sembunyi-sembunyi dalam mengajarkan kedua ilmu agama tersebut..Mengapa Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah baru bergabung menjadi Thariqat  yang Mu'tabarah nomor urut yang ke 45 ditahun 2000M/1421H ? Jawabnya adalah :

Mu'tamar/Kongres at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pertama tahun 1957M/1377H di Pondok Tegalrejo Magelang Jawa Tengah, menghasilkan jumlah thariqat Sufi yang disahkan dan diakui ada 44 macam jenis thariqat.

Abuya  KH. Kasypul Anwar Firdaus pulang dari Mekkah al Mukarramah atau Mesir Kairo setelah 7 tahun mengaji disana, dan membawa Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah ke Desa Banua Hanyar Alabio, Amuntai, Kalsel. Penyebaran Thariqat Islam saat itu dilarang Pemerintahan Belanda yang berkuasa ketika itu, oleh sebab itu hamper tiga puluh lima tahun lebih Thariqat al Junaidiyah tiada mengembangkan sayapnya secara terang-terangan atau secara terorganisir, apalagi samapai ke luar Pulau Kalimantan.

Pulau Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan merdeka tahun 1949M, Pada saat itu Organisasi  Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah belum dibentuk, belum ada yang kelihatan di tahun 1957M /1377H tersebut atau hibungan  dengan Pulau Jawa belum terjalin hingga pada Kongres at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pertama Jama'ah Pengamal Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah tidak ikut atau tidak diundang.. 

Humaidi bin Kasypul Anwar Firdaus berkata kepada kami bahwa ceritra dari mamanya bahwa " Sewaktu ayahnya masih hidup, sudah pulang dari menuntut ilmu dari negeri Mesir, ayahnya pernah dibaikut oleh ulama-ulama Syari'at di sekitarnya. Karena pendiriannya yang kokoh, ia tidak ikut Kaum Tuha dan tidak ikut Muhammadiyah dan ajarannya dianggap menyesatkan ummat oleh Ulama MD dan Ulama Dzahir saat itu. Barangkali Ulama dimaksud yang membaikut itu belum mengerti dan memahami tentang ilmu tasauf atau ilmu baten bahkan belum pernah mempelajarinya, itu adalah wajar-wajar saja mereka itu membaikut Kasypul Anwar Firdaus, apalagi mereka merasa lahan mereka dirampas maksudnya para masyarakatnya lebih suka dengan ajaran Thariqat al Junaidiyah yang diajarkan Kasypul Anwar Firdaus. 

Namun amaliyahnya dimulai dengan taubat, inabah, tawakkal, taslim dan tabarri kepada Allah dan juga dengan penuh kesadaran dan kesabaran Beliau hadapi ancaman, fitnahan dan baikutan tersebut, sambil memberikan penjelasan dan pengertian yang mudah dipahami oleh akal masyarakat tentang ajaran tharekat al Junaidiyah yang diajarkannya. Yang pada akhirnya baikutan, ancaman dan fitnahan terhadap KH. Kasypul Anwar Firdaus waktu demi waktu, telah reda – menghilang. Para Ulama disekitarnya semasa itu hidup rukun kembali, mereka bersatu kembali baik Kaum Tuha ataupun Kaum Muda (Kaum Muhammadiyah). Abah kata Humaidi hidup berada ditengah tengah-tengah kedua Kaum ini, oleh karena itu Beliau berpendirian tidak ikut kedua Kaum itu. Hal itu tidaklah terlepas dari usaha-usaha Beliau yang tiada kenal lelah memberikan pengertian, pemahaman kepada masyarakat kedua Kaum tersebut,  tentang ilmu tasauf al Junaidiyah. 

KH. Kasypul Anwar Firdaus seorang yang berwajah gentang, berbadan tinggi besar, dia susuk Ulama syari'at dan ulama hakekat yang sangat dihormati dan masyhur pada masanya di HSU dan Tabalong. Dia sangat pandai beradaptasi menyesuaikan diri dilingkungannya. Dia bukan Ulama Kaum Tuha dan bukan pula Ulama Muhammdiyah tetapi dia adalah Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Berkata Kiayi Guru Syukri, HS didalam Risalahnya " SABILURRASYAD " Saya selaku murid ayahda KH. Muhammd Qurthuby telah bergaul banyak sambil menyauk ilmu dari Beliau selama 40 tahun lebih. Dan oleh ayahda KH. Muhammd Qurthuby kami sempat dipertemukan dengan KH. Kasypul Anwar dan kami menerima wajangan beberapa kali dari beliau dari tahun 1963M s/d 1967M dirumah kediamannya Ds. Banua Hanyar Kec. Alabio Kab. HSU Amuntai. Berkata Guru Masykur bin Abbas kepada kami (Penyusun Umdatul Hasanah ) : Saya belajar ilmu thariqat sufi dengan ayahda KH. Kasypul, tamat SR dikawinkan oleh orang tua dan punya anak satu orang, usia saya saat itu antara 18-20 tahun. Ketika itu saya mengambil dan belajar thariqat sufi al Junaidiyah dan saya murid yang termuda ayahda KH. Kasypul Anwar Firdaus.

Pada tahun 1970 KH. Kasypul pernah sakit keras, yang dalam sakitnya membuat kami (Gr. Masykur selaku  muridnya) merasa khawatir, rasa bimbang dan berduka cita, karena pak mata pelajaran thariqat sufi al Junaidiyah belum sempurna dipelajari. Kegelisan yang ada tergores di hati para muridnya telah didengar dan diketahui oleh ayahda KH. Kasypul, Ia berkata kepada para muridnya yang bimbang-berduka itu saat ia sedang sakit itu bahwa sakitnya itu tidak akan membawa maut. Maka hilanglah rasa kebimbangan dan keraguan dihati para muridnya, disinilah keistimewaan seorang Guru Mursyid diberikan kemampuan menembus masuk melihat hati gelisah para muridnya dan merasakan yang dialami para muridnya. Dengan demikian kebimbangan para muridnya  akan hilang.  

Manakala ayahda KH. Kasypul sembuh dari sakitnya, pada tahun tersebut para muridnya, ia berikan rangsangan agar sering datang ke rumahnya untuk  belajar. Akhirnya murid-muridpun sering datang untuk menimba ilmu syari'at dan hakekat kepadanya. Ketika pak mata pelajaran thariqat sufi al Junaidiyah selesai diajarkan, maka dilaksanakan khalwat atau riyadhah beberapa kali di dalam kamar, dan juga riyadhah musyahadah beberapa kali dibimbing oleh Guru KH. Kasypul sendiri dirumah masing-masing murid. Ada 9 orang murid inti (murid utama) yang lulus dan berhasil dan mereka diperbolehkan memberikan bai'at dan ijazah dan diperkenankan untuk membimbing murid dalam hal riyadhah thariqat sufi al Junaidiyah.

Pada tahun 1974 usia ayahda KH. Kasypul kurang lebih 85 tahun, ditahun tersebut ia panggil anak-anak dan isterinya. Ketika dilihat  keluarganya sudah terkumpul, ia berwasiat kepada mereka bahwa bila ia wafat, maka makamnya jangan dibuatkan Kubah, dan ia berkata kepada yang hadir saat itu bahwa "Dia mau pulang"  (memenuhi undangan kekasih). Keluarganya merasa heran dan bingung saat itu, kata anak-anak Beliau bahwa "Abah ketika itu tidak kelihatan sakit apa-apa" mengapa Abah kami wafat di hari itu. Menurut ceritra isteri KH. Kasypul Anwar  bahwa ketika KH. Kasypul wafat telah banyak orang datang melayat kerumahnya dan mengantarkan janazahnya kepamakaman ribuan – lima ribuan, kebetulan juga ada perta perkawinan warga di seberang sungai.. 

KH. Kasypul Anwar Firdaus bin Muhammad Shalih dimakamkan di depan halaman Masjid Jami'us Sa'adah arah kiblad Masjid. Desa Banua Hanyar Kec. Alabio, warna makam "Biru kehijauan" kelihatannya makam Beliau seperti makam kebanyakan orang, tidak dibina dan tidak di buatkan Kubah. Kami ziarah pertama kali ke makam KH. Kasypul di Desa Banua Hanyar Kec. Alabio, hari Selasa, tanggal 16 Desember 2003M. KH. Kasypul adalah seorang yang sangat alim tentang ilmu syari'at dan ilmu hakekat dan amat dekat dengan tuhannya.

Menurut penuturan Humaidy anak bungsu KH. Kasypul yang Penyusun Risalah Umdatul Hasanah lil Jama'ah al Junaidiyah ..... temui hari Rabu, tanggal 20 September 2006M di rumah kediamannya Ds. Banua Hanyar Kec. Alabio. 



                         3.Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  yang Ketiga Puluh Delapan

                                 KHALIFAH THARIQAH AL JUNAIDIYAH AL BAGDADIYAH  

                  38. KH. MUHAMMAD QURTUBI BIN KHALID THAHIR KALIMANTAN

                                   (الخليفة الطريقة  الجنيدية الشيخ محمد قرطبى ابن خالد كلمنتان)   

                                                            (1927-2002M/1346-1423H)

                                                        KHALIFAH THARIQAH AL JUNAIDIYAH 1975-2002M

KH. Muhammad Qurtuby, Dia menulis nama  panjangnya pada muka Risalah Aurad Thariqat al Junaidiyah yang dia tulis tangannya sendiri  yaitu KH. Muhammad Qurtuby bin Khalid bin Thahir Kalimantan. Dia menjabat Khalifah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah  mulai tahun 1975M. Dia  Kelahiran tahun 1927M. Versi lain Beliau lahir 1930M di Desa Penyiuran kota Amuntai  Kab. Hulu Sungai Utara. Beliau telah banyak menimba ilmu Syari'at dan ilmu Hakekat terutama dari Gurunya yakni  KH. Kasypul Anwar Firdaus di Desa Banua Hanyar, Kec. Alabio, Kab. Hulu Sungai Utara  Amuntai, Kalimantan Selatan, Indonesia..

Beliau dikenal dengan nama “Haji Ukur” atau “Abah Murni”.  Beliaulah yang pertama memperkenalkan Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah (Thariqat al Qaum) secara utuh pada masyarakat Indonesia (seluruh Jama'ah Thariqat al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia tahun 2000M), yang sebelumnya hanya faham aliran Tasauf al Junaid  saja atau teoriteknya saja yang disampaikan para Ulama pada mereka dan masyarakat Indonesia ikuti. Setelah menjabat khalifah thariqah, Beliau memperkenalkan Thariqat al Junaidiyah pertama kali yang dikunjungi adalah Ds.Manta'as Kec. Kesarangan dan Ds. Mahang Kec. Labuan Emas. 

Beliau telah banyak berjasa dalam pengembangan Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah dan memperjuangkan agar Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah menjadi Thariqat Mu'tabarah yaitu Thariqat yang diakui. Yang akhirnya Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah diterima dan bergabung dengan al Jam'iyah al ahli  at Thariqah al Mu'tabarah an Nahdliyah Indonesia pada Kongres ke IX di kota Pekalongan Jawa Tengah tahun 2000M/ 1377H dan terdaftar dengan nomor urut ke 45. 

Sebelum KH. Muhammad Qurtuby bin Khalid bin Thahir wafat, Kedudukan Khalifah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah di Kota Palangkaraya. Di kota inilah Pusat Organisasi Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah berdiri dan berkembang, alamat dulu Jalan Mandawai IV/a Palangkaraya. Pada saat itu keberadaan Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah dikota itu di dukung oleh Pemerintah setempat, sehingga perkembangan Thariqat ini begitu cepat menyebar diwilayah ini. Khalifah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah KH. Muhammad Qurtuby bin Khalid bin  Thahir  wafat hari  Selasa, tanggal 17 Juli 2002M/5 Rabi'ul Awwal 1423H. Beliau dimakamkan di Jalan RTN Malino 5 Km masuk dari Bendara Palangkaraya yaitu tepatnya di samping Pesanterin Tahfizul Qur'an dan Masjid Raudatul Jannah  asuhan H. Materan.  

Ada riwayat meyebutkan bahwa KH. Muhammad Qurtuby pertama kali belajar/mengambil bai'at hari Selasa, tanggal 03 Desember 1968 atau 20 Rabi'ul Awwal 1380H pada Syekh KH. Kaspul Anwar Firdaus di Desa Banua Hanyar Kec. Alabio.

Dari Beliau telah lahir Generasi- generasi Utama Jama'ah Pengamal Thariqat  al Junaidiyah al Bagdadiyah yang berkualitas yang dapat membimbing Ummat. Ummat yang lebih mengutamakan akhirat, tapi tidak mengenyampingkan kehidupan dunia, Ummat yang mengutamakan Syari'at, dan Ummat  yang menjalankan Syari'at Muhammad Rasulullah Saw. Ummat yang kontinyu mengamalkan Thariqatnya.

Generasi- generasi Utama Jama'ah Pengamal Thariqat Qaum al Junaidiyah al Bagdadiyah yang dimaksud adalah murid – murid  Beliau an. :

Gr. KH. Jumberi Ma'shum Bihara Balangan Kalsel W.2007M

Gr. KH. Mahran Yasin Km. 3 Banjarmasin Kalsel

Gr. Kiayi Mahjuri Dalam Pagar Martapura Kalsel

Gr. Kiayi Muhammad Syukri HS Jorong Pelaihari Kalsel W.2003M

Gr. KH. Arbandigana Kalimantan Tengah

Gr. KH. Timidzi Bihara Balangan Kalsel (sudah Wafat)

Gr. KH. Satria Ds. Ampulungan Kelua Tanjung Kalsel

Gr. Hj. Fauziah (Isteri KH. Satria) Ds. Ampulungan Kalsel

Gr. H.Abdullah Kalimantan Tengah

Gr. KH. Muhammad Subli  Saberi Kalimantan Tengah W.27 Nop 2011M/14 Dzul Qaidah 1432H

Gr. H. Supiyan  Ds. Panyiuran, Amuntai Kalsel

Gr. Drs. Husen Kalimantan Tengah     

Gr. H. Mahdian Kalimantan Tengah

Gr. H. Muhammad Ali Kalimantan Tengah

Gr. H. Muhammad Noor Kalimantan Tengah

Gr. H. Suriani Kalimantan Tengah

Gr. Habib Yahya Ahyadi Kalimantan Tengah

Gr. Kaspul Anwar Kalimantan Tengah

Gr. Mansyur Arifin Kalimantan Tengah 

Gr. Shalih Kalimantan Tengah


KIAYI  MUHAMMAD SYUKERI HS

Beliau adalah saudara kandung dan kakak tertua dari KH. Subli Sabri dan KH. Satria Ampulungan Kelua Kab. Tabalong Tanjung. Beliau  adalah Khalifah Thariqat al Junaid sesudah Tuan Guru KH. Muhammad Quthubi bin Khalid. Beliau tinggal beralamat di Jorong Kab. Tanah Laut Pelaihari.

Beliau banyak menyusun makalah-makalah tentang Thariqat al Junaidiyah untuk kepentingan Jama'ah  Thariqat al Junaidiyah. Dinatara  Risalah-makalahnya di maksud      :

1.     Risalah  Uqdatul Jama'ah  dalam perjalanan Thariqat al Junaid   tahun 1989M

2.     Risalah Sabilul Rasyad    tanpa tahun

3.     Risalah Tharqul Hayah tahun 2003M

4.     Risalah  Libaasut  Taqwaa  tanpa tahun 

Menurut pendapat Penyusun Kitab Bahjatul 'Abid lil Jama'ah at Thariqat al Junaidiyah, sebagai Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah, kalau secara wasiat dari Tuan Guru KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid  Khalifah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah yang  pertama " Guru Kiayi Muhammad Syukri HS adalah menjabat Khalifah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah yang kedua, kemudian  Guru Bihara KH. Jumberi Ma,shum menjadi khalifahnya sesudah Khalifah ke II  ini wafat di tahun 2003M.

Setelah wafatnya Khalifah ke II Guru Kiayi Muhammad Syukri HS w.2003M ini di tubuh Organisasi  Thariqat al Junaidy yang berpusat di Kalimantan Tengah mulai terjadi perpecahan, terjadi pembaikotan jama'ah,  masing-masing kelompok/Kobo ingin punya Khalifah (Pemimpin) sendiri-sendiri berada di kobo mereka, mereka tidak memikirkan kepentingan tubuh Organisasi  Jama'ah Thariqat al Junaidiyah itu sendiri hingga tubuh Organisasi Thariqat menjadi korban. Hal ini terjadi karena antara lain :

1.  Mereka tidak menjalankan wasiat tentang urutan penunjukan Khalifah Thariqat al Junaidiyah yang diwasiatkan oleh Tuan Guru KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid  bin  Thahir.

2.  Kedudukan Organisasi  Thariqat al Junaidy dan Khalifahnya, mereka maunya tetap berpusat  di Kalimantan Tengah.

3.    Khalifah dipilih oleh jama'ah adalah orang yang dianggap mampu memimpin organisasi melalui suara terbanyak. Berarti pembatalan wasiat, yang dianggap tidak sah karena wasiat itu didapat tidak mutawatir.

Ketika kami kesana (Kalimantan Tengah tahun 2006M), kami tidak mendapat sambutan yang hangat dari Jama'ah disana, karena kami murid dari KH. Jumberi Ma'shum Bihara. Ketika kami berada disana, kami melihat disana ada 3 Kubo kelompok Besar Jama'ah Thariqat al Junaidiyah, dua Kobo /kelompok diantaranya masing-masing punya Khalifah Thariqat al Junaidiyah yang berbeda. Kobo pertama dipimpin oleh KH. Subli dan dibantu oleh seorang wanita yang sangat berpengaruh asat itu an. Mama atau Ummi (Mantan isteri Guru Qurtubi an.Norjanah)..... .Nama gelar Mama atau Ummi ini diberikan sebagai penghormatan kepada mantan isteri Guru Qurtuby. Sebab Ummi an.Norjanah ini menikah lagi setelah Guru Qurtubi wafat. Dan satu diantara yang 3 itu tidak tidak punya Khalifah dan tidak memihak diantara keduanya. Kobo yang satu ini adalah Kobo /kelompok  jama'ah thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah pimpinan KH. Kursani di Bangares di Kalimantan Tengah, terlepas dari persoalan tersebut..   

Penyusun Kitab Bahjatul 'Abid lil Jama'ah at Thariqat al Junaidiyah, sebagai Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah berharap dan berdo'a kepada Allah modah-modahan mereka menyadari kekeliruan mereka, hingga mereka, anak-anak mereka dan zurriyat-zurriyat mereka dapat disatukan kembali seperti masa Tuan Guru KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid berada di tengah-tengah mereka. 


                     2.Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  yang ke  Tiga Puluh Sembilan  

             39. MURSYID  KH. JUMBERI  MA'SHUM  BIHARA  

                       ( المرشد شيخ الحاج جمرى معصوم بهارا

 (TAHUN 1942-2007M/1360-1428H)


KH. JUMBERI  MA'SHUM Nama lengkapnya  sebelum tasmiyah oleh Habib Noor adalah H. Jumberi bin H. Ma,shum bin H. Abu Bakar al Bihara. Tetapi setelah ditasmiyah oleh Habib namanya yang baru adalah "Muhammad Sayyid Abdullah Ma'shum bin H. Abu Bakar." Yang disingkat "Muhammad Said AM bin H. Abu Bakar" Jama'ah Thariqat al Junaidiyah Kandangan menyebutnya dengan Guru Bihara. Tempat  Beliau lahir Bihara, hari Rabu, 15 Januari 1942M,bertepatan 27 Dzul Hijjah 1360H. Beliau  bersama KH. Tirmidzi (sepupu Beliau)  mengambil Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah pada Khalifah Thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid tahun 1980M/1400H di Desa Panyiuran Amuntai.

Guru Bihara wafat sebelum shalat subuh Minggu, 12 Sya'ban 1428H /26 Agustus 2007M dengan usia 65 tahun, 6 bulan dan 26 hari di Rumah Sakit Damanhuri Kota Barabai, Kalsel. Dimakamkan kurang lebih 50 meter di belakang Rumah Beliau sendiri dekat dengan Pemakaman Umum. Beliau meninggalkan satu orang isteri dan beberapa orang anak laki-laki dan perempuan.

Salah satu yang sangat mengesankan Penyusun "Kitab Umdatul Hasanah lil Jama'ah at Thariqat al Junaidiyah, sebagai Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah" setiap kali Aku memandang wajah Guru Bihara, rasanya Aku melihat  wajah Guruku  selalu berbeda-beda, atau berobah-obah bahkan antara gambar Beliau dengan yang aslinya, seolah-olah Guru memiliki 10 wajah bahkan lebih

06

Menurut pendapat Penyusun Kitab Bahjatul 'Abid lil Jama'ah at Thariqat al Junaidiyah, sebagai Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah, kalau secara wasiat dari Tuan Guru KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid, Beliau Khalifah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah yang I"Guru Bihara KH. Jumberi Ma,shum telah menjabat Khalifah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah yang III sesudah Khalifah ke II Guru Kiayi Muhammad Syukri HS wafat di tahun 2003M.   Tahun 2004 Desa Bihara Kec. Awaian menjadi Kabupaten Balangan, yakni Kabupaten pemekaran Kab. Hulu Sungai Tengah danKab. Hulu Sungai Utara Amuntai. Yang sebelumnyaDesa Bihara Kec. Awaian menjadi wilayah Kab. Hulu Sungai Tengah Barabai. Provinsi Kalimantan Selatan saat itu ada dua Kabupaten Baru yang dimekerkan yaituBalangandengan ibu kotanya Paringin, dan Kab. Tanah Bumbu dengan ibu kotanya Pagatan dan 1 Kota Madya Banjarbaru belahan dariKota Madya Banjarmasin.Provinsi Kalimantan Selatan sekarang ada 12 Kabupaten, dan 2 Kota Madya.
Guru BiharaKH. Jumberi Ma,shum bersahabat akrab dengan Guru Kiayi Mahjuri dari Dalam Pagar Martapura, ia keturunan atau masih senasab dengan Datu Kelampaian. Setiap ada KhatamanGuru Kiayi Mahjuri selalu hadir di Majelis Da'watul Haq Bihara.   

Guru Biharaadalah seorang Mursyid Thariqat al Junaidiyah yang mendapat izin dan ijazah dari Khalifah Thariqat al Junaidiyah KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid untuk mengembangkan Thariqat al Junaidiyah, hal bai'at, talqin dzikir dan hal Riyadlah khususnya di Kalimantan Selatan. Hal ini ini dibuktikan dengan keseriusannya dengan dibangunnya GEDUNG KHUSUS THARIQAT AL JUNAIDIYAH untuk membai'at, mengajar dan tempat Riyadlah bagi Jama'ah Pengamal  Thariqat al Junaidiyah. Gedung itu ada dua lantai, pada lantai dasarada 1 kamar dipojok kanan tempat istirahat Guru dan bagian muka yang luas untuk Majelis Ta'lim dan pada lantai bagian atas, ada bebera kamar untuk Riayadlah para muridnya.Majelis Ta'lim  tersebut  diberi nama " Majelis DA'WATUL HAQ." Kata Guru Bihara bahwa pemberian nama itu "Sesuai dengan petunujk dan keinginan Tuan Guru KH. Muhammad Qurthubi. Gedung itu dibangun pada tahun 2003M/1424H..Kami Jama'ah dari Kandangan, terakhir bertemu dengan Guru Bihara Jum'at Malam tanggal 10 Agustus 2007M /27 Rajab 1428H. Malam itu dilaksanakan Khataman Kubra di Majalis Da'watul Haq di tempat Guru.Malam itu Guru memang sakit, tetapi sakitnya Beliau sembunyikan supaya Jama'ah  Khataman Kubra merasa tenang dan senang. Beliau minta kepada Allah lewat Rasulullah Saw akan waktu atau meminjam sehat sebentar saja untuk mengabulkan hajat Jama'ah dalam memimpin Khataman Kubra 27 Rajab 1428H dan memberikan Taujiah kepada jama'ah. Dengan izin Allahdan berkah Rasulullah, Beliau sehat dan memimpin Khataman Kubra 27 Rajab 1428H hingga selesai. Manakala selesai bersalaman dengan para  Jama'ah  Khataman Kubra, Guru Bihara jatuh sakit lagi dan dipapah masuk kamar istirahatnya. Peristiwa meminjam sehat sebentar untuk mengabulkan hajat Jama'ah juga pernah dialami oleh KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid  Gurunya.

Beliau adalah salah seorang Mursyid yang memiliki sifat-sifat shahabat Nabi Saw Sayyidina Abu Bakar as Shiddiiq, Beliau selalu memberikan dorungan-dorunganpositif / motipasi positif kepada murid-muridnya dan ia tidak pernah menyalahkan pendapat murid-muridnya.Beliau seorang yang pema'af,Beliau tidak pernah memarahi murid-muridnya walaupun murid itu dianggap bersalah.Beliau dapat menjaga keseimbangan diri sehingga emosinya dapat terkendali..  

Beliau adalah salah seorang Mursyid yang tawadlu, rendah hati dan sangat memelihara adab,Beliau selalu tampak ceria menghadapi para muridnya, Nasehatnya selalu berkesan dan membekas di hati murid,  cara bicaranya dengan nada rendah dan lembut, perbuatan dan ahwalnya selalu bersama Allah sehingga kesemuanya mencerminkan perbuatan Sayyidina Abu Bakar as Shiddiiq.    

Dimasa hidupnya, Para Haba'ib memanggil Guru Bihara dengan sebutan "Pangiran." Yang berarti calon penguasa atau calon pemimpin Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah, atau bisa juga Beliau memang keturunan raja Banjar.

Beliau adalah salah seorang Mursyid Guru Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah yang dipromosikan sebagai calon Khalifah oleh KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid yakni setelah Kiayi Gr. Muhammad Syukeri, HS w.2003M, KH. Jumberi dan kemudian KH. Subeli..   

Dimasa hidupnya, Beliau adalah seorang Pegawai Negeri Sipil,berpropisi sebagai Guru Agama Islam di Madrasah Tsanawiah Negeri.Karena persoalan Politik antara atasan bawahan, dan ada rasa iri. Beliau menjadi korban, dan dimutasikan ke Kab. Kotabaru, kurang dari dua tahun Beliau mengajar disana, yang akhirnyaBeliau ditarik kembali mengajar Madrasah Tsanawiah di Kec. Awaian Kab. Hulu Sungai TengahBarabai saat itu.Orang yang mengorbankan Beliau akhirnya bersujud minta ampun kepada Beliau. Pada saat di Kotabaru Beliau juga mengembangkan Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah disana.

Guru Bihara pernah cerita kepada kami bahwa KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid pernah berkata kepadanya  : "Guru Jumberi, Kau akan menggantikan aku nanti." Jawab Guru Bihara : "Guru ! Ulun merasa belum cukup ilmunya, untuk menggantikan sampian." Kata Guru KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid bahwa "Kau sudah memiliki dua ilmu itu dan masih ada dua ilmu rahasia yang belum kau punya, nanti  sisa ilmurahasia yang duanya akan dilimpahkan oleh Allah kepadamu.".   

Guru Bihara pernah cerita kepada kami bahwa ketika ia pergi ke Pulau Jawa mengahadiri Mu'tamar ke VIII   Di  Cabean Pasuruan Jawa Timur 1-5 Rabi'ul Akhir 1416H /27-31 Agustus 1995 M. Setelah turun dari Pesawat dan mengambil Tas Pakaiannya pada tempat Penitipan dari Petugas Pesawat, kemudian ia ke Toelet dan keluar dari tempatitu menuju halaman muka gedung Bendara dan memanggil Ojek. Beliau naik ojek menuju tempat Mu'tamar, ditengah perjalanan meraba-meraba tali Tas Pakaiannya yang ada di bahunya, ternyata tidak ada.Kemudian ia kembali ke Bandara lagi mencari Tas Pakaiannyadan tidak ketemu, Guru ragu apakah ketinggalan Tas Pakaiannya itu waktu di Toelet atau waktu memanggil Ojek sempat dilepas.Keadaan Guru saat itu tenang dan sadar betul bahwa itu adalah Ujian dan akan mendapat rezki yang lebih besar. Dan ia tidak menceriterakan keadaannya kecuali setelah sampai di rumahnya. Mendengar cerita tersebut berkata KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid :" Guru Jumberi, Kau orang yang sangat penyabar." Pirasat Guruakan mendapat rezki yang lebih besar itu ternyata benar. Taklama setelah kejadian itu Guru Bihara berangkat naik haji ke Mekkah al Mukarramah.     Guru Bihara pernah cerita kepada kami bahwa "Hanya orang pilihanlah yang mendapatkan ilmu ini, (maksudnya ilmu Thariqat al Junaidiyah) oleh karenanya jangan disia-siakan, jangan sampian buang ilmu ini."

Guru Bihara pernah cerita kepada kami bahwa "Jiwa kita yang bersih ini, jangan dikotori dengan kotoran-kotoran, noda-noda dosa, dengan berbuat kesalahan-kesalahan. Kalau Jiwa kita yang bersih ini, dikotori dengan kotoran-kotoran, noda-noda dosa, dengan berbuat kesalahan-kesalahan dengan harapan nanti akan bertobat setelah tua. Apakah sama ibarat kain baju putih yang dikotori dengan kotoran-kotoran, kemudian dicuci bersih, dibandingkan dengankain baju putih yang baru ? Tentu saja berbeda, tentu saja tidak sama, kain baju yang di cuci aromanya hilang, tentu ada bekas cucian, ada bekas gintasan pada serat kain tersebut kelihatan.

Guru Bihara pernah cerita kepada kami bahwa "Ketika Beliau menghadiri majelis Abah Gr. Sakumpul di Martapura, semua tempat penuh dengan jama'ah kecuali ada beberapa shaf bagian muka yang masih kosong, kemudian Aku shalat dan duduk disana, enah mengapa aku dijemput dan disuruh duduk dekat  dengan Abah Gr. Sakumpul."Aku dipanggil Bib !Aku bukan Habib kata Guru Bihara.Aku tidak tahu, Aku bersama orang itu mendekat kepada Abah Gr. Sakumpul, kata Guru Bihara,Aku bersalaman dan berpeluk seperti dua orang shahabt yang lama tidak bertemu. Ternyata yang aku tempati shalat dan duduk itu adalah tempat duduk para Haba'ib  dari shaf pertama s/d shaf ke tujuh. Guru ceritra sambil senyum dan ketawa memandang kearah kami dan kamipun ikut senyum dan ketawa...

Pada malam tanggal 22 Agustus 2006M/27 Rajab 1427H dilaksanakan Khataman Kubra di Majelis DA'WATUL HAQ Desa Bihara, Guru melaksanakan Aqiqah untuk anaknya yang akan dibawa menunaikan ibadah haji yang ke dua kalinya ke Mekkah al Mukarramah. Kebetulan di tahun itu jatuh haji akbar atau berbaringan dengan haji akbar, 4 bulan lebih Guru berada di tanah suci Mekkah al Mukarramah pada tahun itu.

Kami pernah menanyakan kepada Guru Bihara tentang masalah riadlah. Beliau menjawab " Aku riadlah 6 kali dibawah bimbingan Tuan Guru KH. Muhammad Qurthubi bin Khalid, masuk kamar mulai hari Jum'at sehabis shalatJum'at sekitar jam 14.00 wita sampai dengan Jum'at yang akan datang, keluar kamar Riyadlah sekitar jam 10.00 wita pagi.".   Kata Beliau lagi : "Orang yang riyadlah itu dijaga oleh Guru, dan tidak boleh Gurunya yang menjaga itu, lebih dari 100 depa meninggalkan muridnya."Penyusun "Kitab Umdatul Hasanah lil Jama'ah at Thariqat al Junaidiyah, mengomentari masalah keadaan lapu di dalam kamar berpariasi, kadang-kadang remang-remang, berarti Bol lampu 5 wat,kadang-kadang Bol lampu 20 watberarti disaat cuaca normal, terkadang Bol lampu 100 wat, berarti disaat cuaca dingin.

Guru Bihara pernah cerita kepada kami bahwa "Makanan orang yang suluk atau riyadlah harus dimasak oleh perempuan yang sudahberhentimasa haid atau tidak kena haid lagi."  Kalau makanan itu dimasak oleh perempuan masih puber atau masih datang haid, maka dikuatirkan timbul nafsunya lebih kuat."Nafsu birahi itu timbul dari zat-zat makanan yang dikonsumsi oleh rongga mulut hingga  perut. Supaya orang yang riyadlah itu tidak dimasuki nafsu birahi terhadapperempuan  atau teringat dengan isterinya.Maka dijaga dan makanannya dimasak oleh perempuan yang berhenti masa haidnya. Tetapi manakala kami melakukan suluk pada salah satu Mursyid Thariqat justru yang memasak untuk makan kami adalah seorang laki-laki. Ini menunjukkan bahwa laki-laki denganlaki-laki tidak minat atau tiada terbitnafsu birahi atau permpuan dengan permpuantidak ada hasratnafsu birahi.     

Guru Bihara pernah cerita kepada kami bahwa orang yang selesai suluk atau riyadlahselama 7 hari dengan malamnya, tidak boleh membaca amaliahnya yang dibaca ketika suluk selama tiga hari. Saat itu Guru belum memberikan alasan, mungkin sajaalasannya untuk menghindari finahan orang awam, kebiasaannya orang yang baru keluarsuluk atau riyadlah imosi pengucapan kalimat thaibah sanagt kuat dan bisa terjadi disembarang tempat dan juga tidak terkendali, hingga sebahagian orang awam menggapnya stres. Hal ini bisa dimaklumi bahwa amaliah riyadlah pada Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah 80 prosen diucapkan dengan bersuara  lembut/nyaring,  untuk itu diperlukan istirahat selama tiga hari...    

Guru Bihara menceritakan secara panjang – lebar tentang Habib NOOR dari Desa Waqi Kecamatan Pagat Barabai HST yang datang berkunjung menemuinya. Ketika Guru miminta kepada Habib NOOR untuk bertaujiah dihadapan murid-muridnya di Majelis Da'watul Haq. Habib NOOR menyarankan kepada Guru Bihara untuk melakukan suluk 100 hari dibawah bimbingan Habib, tetapi Guru belum bersedia memenuhi saran Habib dengan alasan murid-muridnya sering mendadak menghajadkannya dan juga Majelis Ta'lim Da'watul Haq belum selesai.       

Berkata Muhammad Khaidir yaitu anak Guru Bihara : "Ayah (Abah) pernah ditasmiyahi oleh Habib NOOR ( Habib Noor asal Ds. Waqiy Kec. Pagat, HST Barabai) dengan nama  baru "Muhammad Said Abdullah Ma'shum bin H. Abu Bakar." Yang disingkat "Muhammad Said AM bin H. Abu Bakar...   

SEKILAS TENTANG KHATAMAN KUBRA DI MAJELIS DA'WATUL HAQ BIHARA 

Jum'at Malam ( Malam Sabtu, 10 ke 11 Agustus 2007M atau 27 Rajab1428H)     

Kami berangkat dari Kandangan menju Desa Bihara sehabis shalat Isya dengan kendaraan roda dua Thundar, kami sampai di Desa Bihara kurang lebih jam 21.30 wita malam. Sebelum kami berada di Desa Bihara, KH. Jumberi menelpon kerumah aku di Kandangan. Yang mengangkat Tepon saat itu isteriku atas nama Masliana, kata Guru dalam Telpon : "Apa bapak Hasan Baseri ada di temapat ? Kata isteriku dari mana alamat telpon ini? Kata Guru : "Dari Bihara." Kata isteriku : "Bapah Hasan Baseri sudah pergi ke Bihara." Kata Guru Bihara : "Terima kasih informasinya". Setelah itu, Percakapan dengan guru dalam telpon terputus kata isteriku.    

Kata isteriku waktupercakapan dengan guru dalam Telpon : "Aku rasanya berhadapan dan melihat dengan GuruBihara, walaupun aku belum pernah bertemu dengan Beliau".

Kami sampai di desa Bihara dan langsung berwudu di tempat wudu langgar seberangan rumah guru. Kata salah satu jama'ah yang datang lebih awal, Guru kita sedang sakit. Kami masuk ke Majelis Da'watul Haq, tak lama kemudian Guru pun keluar kamar istirahatnyadiganding anak Muhammad Haidir menemui jama'ah yang sedang menunggunya. Ternyata kelihatannya Guru benar-benar sakit, akan tetapi karena himmahnya yang kuat Guru dapat mengimami shalat witir tiga raka'at, setelam salam Guru merebahkan belakangnya di belakang anaknya an. Muhammad Khaidir beberapa menit, aku lihat Guru saat itu menengadah ke atas dan memohon do'a kepada Allah Swt. Akhirnya Guru dapat duduk dengan kuat kelihatannya dan dapat memimpin Khataman Kubra 27 Rajab 1428H setelah wirit selesai dibaca dilanjutkan dengan ceramah singkat Beliau.. 

Diantara taujiyah Guru yang dapat Penyusun tangkap adalah :

Beliau mengupas tentang sifat-sifat atau watak manusia yang 4 macam sifat. Manusia pada asal kodratnya atau fitrahnya ditumpangi atau dikendarai oleh empat sifat kecedraan. Adapun sifat yang dimiliki manusia itu antara lain : :

1.      Sifat Binatang Buas

Kata Guru terkadang kita manusia itu bersifat seperti binatang buas, seperti singa atau srigala yang tiada ada sifat rasa kasihan dengan musuhnya.

2.      Sifat Binatang Jinak, seperti Anjing dan Babi

3.      Sifat Syaithaniyah, atau sifat Syaithan yang selalu menggoda dan memperdaya musuh-musuh agar tidak berbuat kebaikan.

4.      Sifat Ketuhanan atau Malaikat.

Barangsiapa menguasai atau memiliki sifat oleh manusia itu, ada rasa marah-marah (pemarah)maka ia suka bertindak atau berperan sebagai binatang buas. Ia bagaikan seekor Singa Jantan atau seperti Srigala yang siap menerkam domba-domba para Gembala, atau mengalahkan musuh-musuhnya, bahkan mereka sangat galak, lebih ganas dan lebih buas lagi.    

Apabila manusia itu dikuasai oleh syahwatnya yang kuat maka ia akan bersifat seperti binatang  jinak  yaitu bagaikan Anjing. Anjing yang kelihatannya jinak tetapi membahayakan jika Tuannya jauh darinya, atau sifat manusia itu seperti Babi yang akan merugikan manusia itu sendiri.

Bila manusia itu dikuasai oleh sifat-sifat buruk atau cela, tidak mau tunduk terhadap ajaran agamanya maka ia dikuasai oleh Syaithan.

Apabila manusia itu dikuasai  jiwanyaoleh sifat-sifat ketuhanan maka ia akan bertindak dan berperan baik, bersifat lembut dan bersifat dengan sifat Malaikat. Guru mencontohkan sifat Malaikat ini seperti yang dimiliki oleh Nabi Yusuf Alaihis Salam.

Inilah inti Nasehat Guru Bihara KH. Jumberi Ma'shum pada Khataman KubraMalam Sabtu, tanggal 10 ke 11 Agustus 2007M atau malam ke 27 Rajab1428H  Khataman yang akhir dihadri oleh Penyusun Bahjatul 'Abid di akhir hayat  Beliau.

Tatkala selesai acara Khataman Kubra, kami pun bersalam salaman yang diiringi membaca shalawat berkeliling seperti biasanya hingga habis Jama'ah menyalami Beliau. Anehnya Guru BiharaKH. Jumberi Ma'shum waktu kelihatan sehat dan kuat berdirinya.Tetapi manakala selesai bersalam-salaman dengan Jama'ah, Guru Bihara penyakitnya kembuh lagi dan Beliau dipapah masuk kamar istirahatnya. Kamipun minta izin untuk pulang di malam itu...................!.  


Keterangan :

Biografi KH.Kasful Anwar Fitdaus ini Penyusun dapatkan dari keterangan anak nya, muridnya yang ditemui yang masih hidup di Amuntai, Kelua dan Plangkaraya.

Biografi KH.Muhammad Qurtubi ini Penyusun dapatkan dari keterangan  isterinya, muridnya yang ditemui yang masih hidup di Amuntai, Kelua dan Plangkaraya.

Habib Hasan Baseri Assegaf, M.Sarfani ziarah ke Ds.Banua Hanyar tgl. 20 Septeber 2006 dan menemui Guru Supian di Amuntai.

Habib Hasan Baseri dan Habib M.Ariatim Assegaf,  ziarah ke Ds.Banua Hanyar, kemakam Nafis Jum’at, tgl. 27 Oktober 2006 dan menemui Guru Maskur di Kelua.

Habib Hasan Baseri dan Habib M.Ariatim Assegaf ziarah ke kota Plangkaraya, Rabu, tgl. 27 Desember 2006 menemui Mama an. Norjannah (mantan isteri KH. Qurtuby)

Habib Hasan Baseri dan Habib M.Ariatim Assegaf ziarah ke kota Plangkaraya, Kamis, tgl. 28 Desember 2006 menemui KH. Subeli dan menerima wajangan Beliau. Dan ziarah ke makam KH.Muhammad Qurtubi bin Khalid bin Thahir di jalan RTN Malino di samping Masjid Raudatul Jannah dan Pasanterin Asuhan H. Materan.

Salah satu adab ziarah ke makam KH.Muhammad Qurtubi pesan  dari KH. Subeli yaitu membaca salam 3 kali : kepada Nabi Saw, para Malaikat da pada Syekh yang kita kunjungi.

Dan terus  Silaturrahmi dengan H.Kursani di Bangaris di Bendara.  


1.Silsilah Thariqat  al Junaidiyah  yang ke Empat Puluh

40. HABIB H.HASAN BASERI  Bin H.MUHAMMAD BARSIH ASSEGAF

(الحبيب الحاج حسن البصرى بن الحاج محمد برسيه  السقاب)

(L.1968M/1388H)

HABIB H. HASAN BASERI, S.Ag

Nama lengkapnya Beliau adalah " An.Habib H.HASAN BASERI, S.Ag bin H. Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi (Adjun Baderit Sasaran Kambang) bin Tanqirr Gawa bin Abuthair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Sayyid Abu Bakar Assegaf.. Silsilah yang panjangnya : Habib H.Hasan Basri, S.Ag bin H. Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi..  (Adjun Baderit Sasaran Kambang) bin Tanqirr Gawa bin Abuthair Muhammad bin Abu Tha’am Ibrahim bin Abu Bakar as-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Sayyid Abu Bakar bin Hasan bin Hasyim bin Muhammad bin Umar as-shufy bin Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdurrahman Assegaf bergelar Al Faqih al Muqaddam Tsani. Kalau pihak ibu, Habib H.HASAN BASERI, S.Ag bin Hj. Masitah binti SabariahxSalamat binti   ( Butatil dengan Siti Khadijah ). Habib H. Muhammad Barsih bin Masmurh (Murah) binti Mardiah (Diah) & H. Bustani.Kakekanya H.Bustani pernah menjabat sebagai Penghulu di Kandangan sekitar tahun 1930 -an hingga ia wafat. Sedangkan  Hj. Masitah binti Salamat bin Ahmad. Habib HASAN BASERI lahir di Lumpangi, Ahad, tanggal 27 Oktober 1968 M/6 Syaban  1388M sesuai dengan Akta Kelahiran dan Izajahnya. Nama lengkapnya isteri adalah  "Hj. Masliana binti H.M Yusuf bin H. Syukur atau dari pihak ibu : Hj. Masliana binti Hj.Maimunah binti Karkawi  bin Jantera atau Hj. Masliana binti Hj.Maimunah binti Masmulia. Pada hari Kamis, tanggal 7 Maret 1991M/ 20 Sya'ban 1411H pagi, saya menikah dengan MASLIANA (nama kecilnya Maslina) binti (H. Muhammad Yusuf) atau H. Yusuf bin (H.Abdul Syukur) atau H. Syukur di KUA Kec. Kandangan. Sekarang tahun 2007 saya punya 6  orang anak, 3 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan,     an        :

1.    Habib Muhammad Ibnu Mubarak,S.Pd dan lahir Selasa, 29 Juni 1993M/ 9 al Muharram 1414H.

2.    Habib Ibnu Salam,S.Pd,M.Pd dan lahir Rabu, 21  Oktober 1998M/ 30 Jumadil akhir 1419H

3.      Habib Muhammad Ibni 'Athaillah,S.T dan lahir Kamis, 05 Juli 2001M/ 13 Rabiul Akhir 1422H

Dan 3 anak perempuan syarifah an.         :

  1. Siti Fatimah, anak pertama (meninggal saat lahir)
  2.  Sulaihah, anak ketiga (meninggal saat lahir)
  3.   Mawaddah, (meninggal saat lahir)


NASAB HABIB MUHAMMAD IBNU MUBARAK

الْحَبِيْبُ مًحَمَّدْ اِبْنُ مُبارَكْ بِنْ الحاج حَسَنْ بصْرِىْ بِنْ  الحاج مًحَمَّدْ بَرْسِيْه [وفات 1978م] بِنْ اَحْمَدْ بَدْريْ [وفات 1993م] بِنْ  تَنْقِرُ الْغَوَى [وفات 1985م] بِنْ اَبًوْ طَيْرٍمُحَمَّدْ [وفات1361هج] بِنْ اَبًوْ طَعَامٍ اِبْرَاهِيْمَ [وفت1252هج] بِنْ اَبُوْ بَكْرٍ الثَّاني [وفات 1902م] بِنْ اَحْمَدْ صُحُفٍ [وفات 1796م] بِنْ مًحَمَّدْ جَميْلً الدِّيْن [وفات 1195هج] بِنْ اَبًوْ بَكْرٍ [وفات 1172هج] بِنْ حَسَنٍ [وَفات 1133هج] بِنْ هَاشِمٍ [وفات 1077 هج] بِنْ مًحَمَّد [وفات 1023 هج] بِنْ عًمَرَ الصُّوْفِيِّ [اى عُمَرُ الصَّافِيّ] بِنْ عَبْدُ الرَّحْمن بِنْ مُحَمَّد بِنْ عَلِيٍّ [وَفات ٨٤٠ هج] بِنْ سَيِّدِنَا اَلْاِمَامً الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم الثانيّ عَبْدُ الرَّحْمن السَّقَّافُ ٧٣٩-٨١٩ هج/١٣٣٨-١٤١٦ م] بِنْ سَيِّدِنَا مًحَمَّد مَوْلَى اَلدَّوِيْلَةِ [وفات ٧٦٥ هج] بِنْ سَيِّدِنَا اَلْاِمَامً عَلِيٌّ صَاحِبُ الدَّرْكِ [وفات ٧٠٩ هج/١٢٩٨مٍ] بِنْ سَيِّدِنَا اَلْاِمَامً عَلْوِىْ الْغُيُوْرْ [وفات ٦٦٩ هج] بِنْ سَيِّدِنَا اَلْاِمَامً الْفَقِّيْه الْمًقّدَّم مًحَمَّد [٥٧٤-٦٥٣ هج/١٢٣٢م] بِنْ سَيِّدِنَا اَلْاِمَامً عَلِيٌّ الوَالِدُ االْفَقِيْهُ [وفات ٥٩٣ هج] بن سَيِّدِنَا الامام مًحَمّدْ الصّاحِبُ الْمِرْبَاطُ [وفات ٥٥٦ هج /١١٦١م] بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيٌّ خَالِعُ قسْمٍ [وفات ٥٧٢ هج/1١٣٣م] بن سيدنا اَلْاِمَامً عَلْوِيْ با عَلَوِيٌّ[وفات ٥١٢ هج/١١١٨م] بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الصَّاحِبُ الصُّمْعَةُ [وفات ٤٤٦ هج/١٠٥٤م] بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلْوِيُ الْمُبْتَكِرُ الصَّاحِبُ السٌّمَل عَلَوِيّيْن[وفات ٤٠٠ هج] بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَبْدُاللهِ [اَىْ عُبَيْدُالله الصَّاحِبُ الْعَرْضِيُّ ٢٩٥-٣٨٥ هج/٩٩٣م] بنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ أَحْمَدُ الْاَبَحُ الْمُهَاجِرُ [٨٢٠-٩٢٤م/٣٤٥هج] بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ عِيْسَى الرُّوْمِيُّ [وفات ٢٧٠ هج/٨٨٣ م] بِنْ سَيِّدُنَا الْاِمَامُ مًحَمّدٌ النَّاقِبُ [وفات ٢٥٠ هج] بنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ عَلِيُّ الْعُرَيْضِيُّ [٧٦٥-٨١٨ م] بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ جعفر الصادق [٧٠٢-٧٦٥م/١٤٨ هج] بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ مًحَمّدْ الباقر [٦٧٦-٧٣٢ م] بِنْ سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ زَيْنُ الـعـابدين عَلِِيٌّ [٦٥٨-٧١٣ م] بن سَيِّدُنَا اَلْاِمَامُ الْحُسَيْنُ [٦٢٥-٦٨٠ م] بنْ السَّيِّدِةُ فَاطِمَةُ الزَّهْرَاءُ [وفات١١ هج] بِنْتُ مًحَمّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [وفات١١ هج] بِنْ عَبْدُ الله،


MASA  ANAK-ANAK HINGGA REMAJA

Dari hasil perkawinan Habib Ahmad Baderi  dengan wanita an. Murah binti H. Bustani Februari tahun 1936M. Maka lahirlah  Habib H. Muhammad Barsih Assegaf di Kandangan 1 Januari 1937M, sekitar 9 pagi,  dan wafat jam 09.00 Rabu. 02 Mey 1978M di Hulu Banyu Balai Puskesmas Desa Datar Balimbing, diwaba labuh dihari itu dengan rakit bambu ke Desa Lumpangi dan  dimakamkan hari Kamis, 03 Mey 1978M di ds. Lumpangi... Habib H. Hasan Basri, S.Ag  adalah anak yang kedua dari pasangan suami-isteri Habib H. Muhammad Barsih dengan Hj. Masitah.. Kedua pasangan ini dikaruniai 9 orang anak, 6 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Dari 9 anak yang dimaksud dengan nama  :

1.      Habib Basuni wafat masih kecil

2.      Habib Baseraninoor  perjaan swasta

3.      Habib H.Hasan Baseri,S.Ag    perjaan PNS

4.    Habib H.Muhammad Nurdin Efendi  perjaan PNS Guru (w.30- Juli -2012M) Sabtu,10 Sya'ban 1433H Jam 10,10 Wita RS.Brigjend.H.Hassan Basry Kandangan.

5.     Syarifah Taniyah (Nia Kurnia)  perjaan swasta (Lhr. 31-12-1973M sd. W.08-07-2022M/w. Malam Jum'at,.8-Dzulhijjah 1443H Jam 00,30 wita.

6.      Syarifah Maimunah wafat masih kecil

7.      Habib Dzulkifli Lubis perjaan swasta

8.     Syarifah Hj. Nursinah,S.Pd   perjaan PNS Guru /(w.4Jumadil Awal th.1435H / Selasa,4 Maret 2014M), 

9.      Habib  Muhammad Ariatim (Arya Nurhadi,S.Pd)  perjaan PNS Guru


Orang tua kami Habib H. Muhammad Barsih bekerja sebagai PNS (manteri suntik) pada PUSKESMAS Kec. Loksado. Beliau wafat pada Rabu, 02 Mei 1978M atau 24 Jumadil Awwal 1398H. Habib H. Muhammad Barsih bin Habib Baderi Assegaf telah meninggal dunia di Balai Pengobatan(PUSKESMAS) Desa Datar Belimbing. Dahulu bangunan PUSKESMAS Hulu Banyu  hanya ada dua tempat yaitu Balai PUSKESMAS Desa Datar Belimbing dan Balai Pengobatan (PUSKESMAS) Desa Loksado. Orang tua kami Habib H. Muhammad Barsih dimakamkan di samping Mesjiid Baiturrahim Lumpangi waktu itu jalan masih setapak. Sekarang nama Masjid itu diganti dengan nama Jannatul Anwar.

Pada waktu itu kami baru naik kelas IV SDN Melati Ria Jambu Hilir Kandangan, dengan kepala Sekolahnya Bapak H.Ramsan dan Guru lainnya Ibu Darmi, Ibu Hj.Astaniah bapak Ruslan. Kami tinggal bersama Datuk Perempuan yang bernama Diah isteri  H.Bustani Alm saat sekolah SD di SDN Melati Ria Jambu Hilir Kandangan tsb. Waktu itu kecil itu kami berusaha sendiri jadi buruh lepas, misalnya mengangkut Buluh atau Paring, mengikat riing Paring, mejajakan Is Mambu dan menjajakan Roti Pisang dan lainnya untuk ongkos sekolah. 

Pada waktu itu kami baru naik kelas IV SDN Melati Ria Jambu Hilir Kandangan, dengan kepala Sekolahnya Bapak H.Ramsan dan Guru lainnya Ibu Darmi, Ibu Hj.Astaniah bapak Ruslan. Kami tinggal bersama Datuk Perempuan yang bernama Diah isteri  H.Bustani Alm saat sekolah SD di SDN Melati Ria Jambu Hilir Kandangan tsb. Waktu itu kecil itu kami berusaha sendiri jadi buruh lepas, misalnya mengangkut Buluh atau Paring, mengikat riing Paring, mejajakan Is Mambu dan menjajakan Roti Pisang dan lainnya untuk ongkos sekolah.

Tahun 1980M Habib Hasan Baseri diasuh dan diangkat anak oleh Tuan Guru KH. Zarkasi Anshor dan isterinya an. Hj. Maryuri binti Muhammad Said. Waktu itu KH. Zarkasi Anshor wakil Kepala Sekolah SMPN Karang Jawa dan Hj. Maryuri isterinya adalah Kepala SDN Karang Jawa Muka, alamat tempat tinggal Beliau Desa Karang Jawa Muka, Hasan bersekolah SD di Karang Jawa Muka ini dan tamat SDN tahun 1981. Tuan Guru KH. Zarkasi Anshor bin Busyra w,1995M dan isterinya an. Hj. Maryuri binti Muhammad Said, keduanya adalah orang tua angkat saya. Saya adalah anak yang ke 10 dari 9 putra/putri kandung beliau. Guru KH. Zarkasi Anshor adalah sosok Ulama Tauhid dan Fiqih, kalau di sekolah umum SMP beliau mengajar Pak Pancasila/ilmu akhlak.  Hampir tidak ada waktu yang kosong bagi Guru ini. Beliau mengajari murid-muridnya baik dirumah, di Langgar ataupun di Masjid secara ruten. Beliau mengajar dahulu pakai sepeda laki yang saya pakai, sekarang Beliau mengajar pakai Vesva warna putih kehijauan.  .

Saya tinggal bersama Beliau mulai tahun 1980M sampai dengan tahun 1991M, saya diajari Ilmu Nahwu dengan syahid dan ilmu sharafnya, saya dilatih membuat kalimat Indonesia diterjemahkan ke bahasa Arab. Selain itu saya juga belajar Ngaji al Qur'an secara khusus dengan Tuan Guru H. Shagir, beliau adalah Ulama ahlul Qur'an dibidang huruf, yang beralamat di Desa Karang Jawa Muka.

Guru-guru yang pernah saya datangi dengan sepeda laki (sepeda Unta laki kepunyaan Tuan Guru KH. Zarkasi Anshor) untuk belajar ilmu agama Islam antara lain :
  1. Tuan Guru KH. Zarkasi Ansor Bin Busyra (Desa Karang Jawa Muka) Kecamatan Padang Batung. Beliau adalah orang tua akat saya, saya tinggal di rumah Beliau kurang lebih sepuluh tahun.  Beliau ngajar ilmu dasar dalam bahasa Arab, Ilmu Alat atau Nahwu (Basyahid), al Kawakib, al Bajuri dan Ianah dan Fathul  Muin dllnya.
  2. H. ABDULLAH (Penghulu Desa Kerasikan) Kec. Sei Raya Kandangan. Beliau ngajar dari niat mandi, niat wudu, bacaan shalat wajib dan wirid-wiridnya dengan cara si murid membacanya hafalan hingga si murid fasih membaca tentang huruf dan makhrajnya. Dari  Beliaulah, saya dapat izajah lisan dan ijin, boleh menjadi Imam shalat di Langgar atau di Masjid tahun  1985M. Teman belajar Muhammad Zaini, Muksin.
  3. H. DURJANI, Belajar kitab Jurmiyah, Kitab Kailani, dan Kitab Kawakib tahun 1985M... beralamat Desa Teluk Pinang Hamalau Kandangan, teman Muhammad Fadli.
  4. KH. ABDUL GANI Lc, Belajar bahasa arab, ngaji al Qur'an 1985 teman Rusri/Iyus.
  5. H. AHMAD ZAINI, Alamat Jambu Jembatan Merah, saya belajar lagu al Barjani dan Takhtim, misalnya lagu Usak, lagu Ras dan lagu Zarkah..  H. MAIMUN, Beliau alumnus Bangil, alamat Teluk Masjid Kandangan, saya belajar kitab Aqa'idul Iman, Kitab Amal Ma'rifat, Kitab Aqidatun Najin dan Matan Al Bukhari tahun 1987M.
  6. KH. MAKKIE HEKMI,BA membaca Kitab Durratun Nasehen, Kitab al Azkar Nawawi dan Kitab Tanbihul Ghafilin dan Bahasa Arab, tempat belajar ruang kelas PGA Kandangan setiap Minggu pagi mulai jam 08.00-11.00 wita
  7. KH. ABDUL AZIZ SARBINI, Beliau alumnus Mekkah al Mukarramah, alamat Pulau Sepakat Kandangan, Kitab yang dibaca Risalah Qusyairiyah, Tafsir Murahul Labid, Tafsir Shawi dan Ihya Ulumuddin.
  8. KH. NURHANI, Beliau disebut orang dengan KAMUS BERJALAN, Karena Beliau setiap ada pertanyaan/ masalah dijawab langsung tanpa membuka kamus dan kitabnya, maksudnya beliau menguasai kamus dan hukum yang berkenaan dengan pertanyaan orang tsb. Saya belajar dengan beliau Kitab Mursyidul Amin dan Kitab Riyadus Shalihin (Hadis).
  9. TUAN GURU KH. QASIM, beralamat Sungai Kalang Kandangan, kitab-kitab yang dibaca antara lain        : - Kitab I'anah Thalibin, - Kitab Sirajut Thalibin, - Kitab Ibnu Aqil/al Hudari, - Kitab al Ighna (kitab fiqih), -Kitab Sunan Abu Daud.


BELAJAR LAGU SENI BACA AL QUR'AN, 

Saya belajar 8 lagu antara lain : misalnya lagu Husain-husaini, lagu bayati, lagu Saba, lagu Nahwan, lagu Ras, lagu Sikah, lagu Dzarkah dan lagu Usak pada al Barjanji. Saya belajar pada guru a.Iman Ds.Hamalau, b.Abdul Majid, Ds. Paku, c.Syamsul Bh, d.H.A.Zaini Ds. Jambu, e.Dengan Kawan-kawan. Ketika saya kelas II 'Aliyah saya dengan dua orang teman saya dipercaya untuk mengikuti Cerdas Tangkas disalah satu Sekolah (SLTA) semua pertanyaan Dewan Yuri dapat dijawab, tetapi manakala soal pertanyaan "Coba saudara baca  ayat ini dan lagukan dengan lagu Saba" saya tidak bisa saat itu, dan "Coba saudara tebak bacaan  ayat ini dan lagu apa namanya" saya tidak bisa saat itu hingga kami kalah Cerdas Tangkas itu. Itulah latar belakang belajar lagu seni baca al Qur'an saya.

Bidang lagu ini kandas sebab saya kena penyakit paru-paru, sering muntah darah. Penyakit ini dapat sembuh tetapi efek sampingnya timbul penyakit ASMA ........ hingga saat ini.

Pendidikan Pormal

Saya tamat SDN  Kr. Jawa tahun 1981M, tamat SMPN Kr. Jawa tahun 1984M, dan tamat MAN Sungai Paring tahun 1987M, Serjana S.1 tahun 1998M Fakultas Syari'ah Jurusan Ahwlus Syakhsiyah pada Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI Darul 'Ulum Kandangan).

Setelah tamat Madrasah Aliyah tahun 1987 saya masuk kuliah di IAIN Antasari Banjarmasin di terima di Fakultas Tarbiyah, Fakultas yang sulit dimasuki atau Fakultas rebutan ketika itu, karena 90% orang yang lulus di Fakultas itu diterima sebagai PNS Guru. Ketika test masuk IAIN saya lulus di 10 besar dari 200 orang peserta test. Kurang lebih 5 bulan di Fakultas Tarbiyah ini saya dapat bertahan, disinilah awal sakit paru-pru saya pertengahan tahun 1988M. Akhirnya saya berhenti kuliah di IAIN Antasari Banjarmasin, saya terbaring sakit lebih 3 bulan lebih, setelah sehat saya masuk Kuliah di STIS Darul 'Ulum Kandangan yang masih ikut Kopertais wilayah IV Surabaya yang lulusannya bergelar Drs....... Lima tahun beralu Sekolah Tinggi Islam Swasta) STIS berubah namanya menjadi  STAI  Darul 'Ulum Kandangan (Sekolah Tinggi Agama Islam) dan menjadi Kopertais wilayah 11 Banjarmasin, yang lulusannya bergelar S.Ag. Jumlah teman saya waktu masuk kuliah ada 42 orang Mahasiswa- Mahasiswi. Selama 11 tahun saya kuliah di fakulas ini, 40 orang Mahasiswa berhenti dan 2 orang meninggal dunia..

Mengaji Ilmu Ma'rifah jalan Thariqat Sufi al Junaidiyah.

Pada tahun 2003M inilah saya mulai mencari Guru Mursyid tasauf untuk amal baten. Mengapa saya mencari Guru Tasauf ?............??????????? Jawabnya adalah pada bulan antara Pebruari-Maret awal tahun 2003 saya dengan Gr. Ahmad Sarpani datang berkujung ke Majelis KH. Qasim Ds. Sungai Kalang Kandangan, Beliau adalah guru kami. Beliau adalah seorang Ulama yang memponi, sangat dalam dan luas ilmunya, sangat banyak kitabnya dan juga muridnya. Kami shalat Ashar berjama'ah dengan beliau, kemudian kami mohon ijin minta waktu ada hajatan dengan beliau, akhirnya Beliau mempersilahkan kami duduk menghadap Beliau. Beliau bertanya " Ada apa ?" Kami jawab, kami membawa kitab Sirajut Thalibin Jilid I, kami mohon kepada guru untuk membacakan dan menjelaskan maksudnya, maka kami buka halaman  396-397 tertulis ast Tsalisu al Mukasyafah. Kata Beliau bahwa kamu belum mengerti nanti insya Allah akan mengerti.

Beliau tidak menanggafi yang kami tentang isi kitab pada halaman tersebut, tetapi menyuruh kami banyak membaca Hidzib an Nawawi dan membaca shalawat kepada Nabi Saw. Beliau ceritra sering bermusyafahah dengan Rasulullah Saw mulai usia 40 tahun.......

Kata Beliau bahwa ketika berguru dengan KH. Abdussalam Gambah Kandangan, meninggal dunia di Mekkah al Mukarramah, konon jasadnya tidak hancur setelah dimakamkan berpuluh-puluh tahun. Kata Beliau, hanya dia yang diberi amalan shalawat oleh Tuan Guru KH. Abdussalam sebayak 5000 kali sehari semalam. KH. Qasim Sungai Kalang Kandangan wafat Senin, 22 Ramadhan 1429H/22 September 2008M..
 
Disini saya sangat bersyukur kepada Allah, andaikata Beliau jelaskan waktu itu maksud mukasyafah yang tertera pada Kitab Sirajut thalibin jilid I tersebut, mungkin kami merasa puas dan tidak mencari guru lain lagi. Lalu tidak pernah bertemu dengan thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah dan tharikat lainnya.
.  
Akhirnya saya berguru ke Desa Bihara Kecamatan Awaian, Kab. HST Barabai dengan seorang Mursyid KH. Jumberi bin H. Ma'shum bin H. Abu Bakar. Kami pertama kali datang ke Desa Bihara dan berkenalan dengan Mursyid KH. Jumberi Bihara, hari Ahad, 26 Oktober tahun 2003M atau 29  Sya'ban 1424H. Jam 14.30 wita. Jam 15.00 wita saya telah menerima bai'at thariqat sufi al Junaidiyah dan diajari tatacara tawajjuh muthlaq dan diberikan ijin untuk mengamalkan thariqat sufi al Junaidiyah oleh Mursyid KH. Jumberi..  

ADA BEBERAPA ULAMA TASAUF ATAU GURU MURSYID YANG PENYUSUN TEMUI UNTUK MENYEMPURNAKAN TULISAN

Berikut ini akan saya sampaikan guru-guru Ulama Tasauf yang pernah Penyusun temui di Majelis dan rumahnya :

  1. Guru  KH. Jumberi bin H. Ma'shum bin H. Abu Bakar, Beliau dikenal Jamaah kami Kandangan dengan sebutan “Guru Bihara”.  Beliau adalah Guru Mursyid Thariqat Junaidiyah dan kami  mengambil thariqat ini. hari Ahad, 26 Oktober tahun 2003M atau 29  Sya'ban 1424H. Jam 14.30 wita. Jam 15.00 wita saya telah menerima bai'at thariqat sufi al Junaidiyah
  2. Guru H. Sateria, (adik Kandung KH. Subeli ) Ds. Ampulungan, Kec. Kelua Kab. Tabalong, mulai 2003M hingga . Beliau adalah Guru Mursyid Thariqat Junaidi.
  3. Guru Abdul Hamid,w.2007 Ds. Limbar Barabai mulai tahun 2005.Beliau adalah Guru ilmu tasauf yang banyak mengupas tentang Ma'rifah harus melalui jalan Nur Muhammad.
  4. Guru Shaleh, Ds. Pantai Hambawang tahun 2005, membaca Kitab Sirajut thalibin.
  5. Gr. Ahmad Sarkati bin H.Rasyidi, Ds. Simbar Parigi Rantau tahun 2005. Beliau adalah Guru Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah dan kami mengambil thariqat ini. merima Bai:at dan talqin  dzikir sir (ismu dzat) 5000x thariqat ini hal duduk Khidmad dari Senin Malam, Jam 12.30 Wit tanggal 21 ke 22 Nopember 2015M/  20 Syawal 1426H di rumah Gr. Asmaran Ds.Parigi, Kecamatan Bakarangan, Kabupaten Tapin, Kami berdua saudara kandung (Habib H. Hasan Baseri, S.Ag dan Habib Muhammad Ariatim,S.Pd Assegaf) ikut suluk pertama kali pada Thariqat Naqshabandiyah di bawah bimbingan Guru Ahmad Sarqati bin Ahmad Kusasi  di Serawi (Ds. Parigi-simbar) Rantau dari Sabtu pagi tgl  29 & 30 September 2007M. Senin tgl 1 Oktober 2007M/ 17, 18 dan 19 Ramadhan 1428H jam 10.00 wita setelah diperiksa oleh Guru Mursyid Sarqati bin Ahmad Kusasi kami diperbolehkan keluar kelambu. Amaliah dzikir sirr ismu dzat dari 5000 naik menjadi 7000 sebagai wirid yang dibaca setiap hari. 
  6. Gr. Habib Muhammad Afandi bin Habib Hasan Baderi dari Jogjakarta Ds. Simbar Parigi Rantau tahun 2005. Beliau adalah Guru Mursyid Thariqat Alawiyah dan saya mengambil thariqat ini. Bai’at terjadi malam Sabtu/Jum’at Malam tgl. 3 Agustus 2007M/20 Rajab1428H jam 10.30 wita sd.11.00 wita untuk gelombang kedua, tempat rumah  wakil Bupati Tapin an, Ahmad Fauzi.
  7. Guru Muhammad Amin, Ds. Aluan Besar Kec. Pagat Barabai/HST hari Ahad, 11 Maret 2007, menurut Beliau jalan yang paling mudah untuk ma'rifat dengan Allah Swt adalah melalui Nur Muhammad. Beliau memberikan Skema ttg pengenalan melalui Nur Muhammad.
  8. Syaikh KH. Syairaji  bin H. Fandi Maqri, Beliau adalah Mursyid Thariqat Sya’baniyah dan saya mengambil thariqat ini. Rabu, 22 Mei 2013M/13 Rajab 1434H jam 20,30 wita
  9. Guru KH. Ahmad Zaini bin H. Birhasani Desa Pagat Kabun Kab. Hulu Sungai Tengah, Beliau dikenal masyarakat dengan sebutan “Guru Jajai”. Beliau adalah  Mursyid Thariqat Sya’dzaliyah dan saya mengambil thariqat ini. Bai’at thariqat ini diambil tgl. 30 Sya’ban 1434H /09 Juli 2013M, shalat Ashar berjamaah dgn Gr di Majelis Ta’lim, ba’da Ashar, Ds Pagat Kebun
  10. Abah Guru Muhammad Jamberi bin Ahmad Darani Desa Jambu Hilir Kab. Hulu Sungai Selatan. Selasa 17 November 2015M/shafar 1432H, jam 17.15 wita  Beliau banyak membahas ttg Keesaan Tuhan melalui Pengenalan Diri. Beliau Menghadiahkan Buku/Kitab Barencong dan Risalah Syair dan Pantun Pengenalan Diri...   

Sebanarnya sejak itu saya mulai menulis-mencatat dari oktober 2003 tentang thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah ...... tentang perjalanan batin saya selama mengamalkan thariqat sufi tersebut. Banyak guru-guru Mursyid thariqat yang saya datangi ....... untuk menambah wawasan dan tulisan saya hingga pada pertengahan tahun 2007, tulisan saya itu selesai dengan memuat mata pelajaran thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah antara lain :

1.      8 Macam sifat dijalani untuk hak Allah SWT,

2.      8 Macam sifat dijalani untuk hak Kehambaan dan

3.      45 Orang Biografi bagi Silsilah thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah.

Kedua macam No.1 & 2 itu saya jadikan satu buah buku/kitab yang diberi nama : "Ar Risalah UMDATUL  HASANAH LIL JAMA'AH THARIQATIL AL JUNAIDIYAH"  Sedangkan 45 Orang Biografi bagi Silsilah thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah dituangkan sebuah buku/kitab yang diberi nama : "Ar Risalah BAHJATUL 'ABIID LIL JAMA'AH THARIQATIL AL JUNAIDIYAH"

Kami berdua saudara kandung (Habib H. Hasan Baseri, S.Ag dan Habib Muhammad Ariatim,S.Pd  Assegaf) suluk pertama kali pada Thariqat Naqshabandiyah di bawah bimbingan Guru Sarqati bin Ahmad Kusasi  di Serawi (Ds. Parigi-simbar) Rantau dari Sabtu pagi tgl  29,30 September 2007M. Senin tgl 1 Oktober 2007M/ 17, 18 dan 19 Ramadhan 1428H jam 10.00 wita setelah diperiksa oleh Guru Mursyid Sarqati bin Ahmad Kusasi kami diperbolehkan keluar kelambu. Amaliah dzikir sirr ismu dzat dari 5000 naik menjadi 7000 sebagai wirid yang dibaca setiap hari.

Hari Jum'at  sore, 16 Ramadhan 1428H /28 September 2007M. Satu bulan 5 hari setelah wafatnya Guru Bihara. Setelah menghadiri Khataman Sughra di Majelis Da'watul Haq di Bihara tanggal 17 Ramadhan 1428H. Jum'at sore kami H. Hasan Baseri, S.Ag dan Muhammad Ariatim) 16 Ramadhan 1428H/27 September 2007M dan menziarahi makam Guru KH. Jumberi Ma'shum. Kami shalat Magrib, Isya dan shalat Tarawih di langgar Guru. Setelah selesai shalat Tarawih menunggu jama'ah dari Desa lain, setelah jama'ah terkumpul di Majelis Da'watul Haq dilaksanakanlah Khataman Sughra yang dipimpin oleh Orang yang lebih tua ilmunya dari   Jama'ah Khataman Sughra. Sekitar jam 11.00 wita Khataman itu selesai kemudian kami minta izin pamit untuk pulang ke rumah dimalam itu. 


BERMIMPI BERTEMU GURU KH. JUMBERI MA'SHUM BIHARA

KETIKA GURU BIHARA MASIH HIDUP

Aku (Penyusun Umdatul Hasanah) mulai tidur Jam  23.40 wita (11.40 waktu) pada Senin Malam yaitu Malam Salasa tanggal 18 Juni 2007 atau 4 Jumadil Akhir 1428H. Di malam itu aku bermimpi bertemu dengan Gr. KH. Jumberi Ma'shum. Terjadinya sekitar jam 24.15 s/d 2430 wita. Aku melihat dan merasa bahwa Beliau sengaja datang dengan membawa Tas Pakaian Besar menemui aku di rumahku di Kandangan di Jalan Alfalah RT 05 RW 02 Kel. Kandangan Kota, Kab. Hulu Sungai Selatan, Kandangan. Aku lihat keadaan Guru Bihara saat itu, keadaan Beliau tidak sehat atau sakit. Kemudian adikku Muhammad Ariatim ( Ariya Norhadi,S.Pd) memberi Guru obat, berupa obat suntikan yang disuntikkan di kaki kiri dan kanan ibu jari Beliau. Mula-mula setelah disuntikkan obat, obat itu beriaksi ditubuh Guru, pada  akhirnya keadaan Beliau pun kelihatan sehat. Kamipun duduk berhadapan dengan Beliau seperti biasanya.

Ketika itu aku ceritakan kepada Guru bahwa aku menyusun Kitab tentang Thariqat al Junaidiyah tiga buah, Kitab pertama dengan tebal satu setengah jari tentang silsilah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah dan Kitab ini sudah selesai diketik.

Kata Guru Bihara kepada kami berdua saat itu : "Kitab yang menjelaskan  tentang Thariqat al Junaid ini bernama Kitab Bahjatul 'Abid"

Ketika itu aku ceritakan pula kepada Guru bahwa "Aku belum sempat mengajarkan Thariqat al Junaidiyah ini kepada orang lain." Jawab Guru Bihara saat itu : "Sampaikan saja, masalah penerimaan orang lain, bukan urusan kita." Maka setelah ada izin atau perinah Guru Bihara itu, maka setiap aku memulai ceramah di Majelis Ta'lim aku jelaskan tentang tawajjuh muthlaq. Kemudian akupun terjaga dari tidurku.

Langsung aku bangun melihat jam didinding, jam pukul 24.30 wita dan aku mengambil pena dan secarik kertas untuk mencatat peristiwa yang terjadi di alam mimpiku itu


MIMPI KE DUA  PADA  SELASA MALAM (MALAM RABU)

Pada Selasa Malam (Malam Rabu) tanggal 5 Jumadil Akhir 1428H /19 Juni 2007M telah terjadi lagi pada jam yang sama "jam 24.15 s/d 24.30 wita, aku bermimpi lagi bertemu Guru Bihara.

Aku merasa dan juga adikku sedang duduk berhadapan dengan Guru Bihara KH. Jumberi Ma'shum di Majelis Da'watul Haq di Desa Bihara. Pada saat itu aku bertanya kepada Beliau " Apakah Guru waktu ngaji dengan ayahda Tuan Guru KH. Muhammad Qurthubi, ia pernah menjelaskan tentang Sadatina silsilah Thariqat kita,  antara Syekh Muhammad az Zahidi dengan Imam Qusyairi yang antara keduanya . Aku merasa dan juga adikku sedang duduk berhadapan dengan Guru Bihara KH. Jumberi Ma'shum di Majelis Da'watul Haq di Desa Bihara. Pada saat itu aku bertanya kepada Beliau " Apakah Guru waktu ngaji dengan ayahda Tuan Guru KH. Muhammad Qurthubi, ia pernah menjelaskan tentang Sadatina silsilah Thariqat kita,  antara Syekh Muhammad az Zahidi dengan Imam Qusyairi yang antara keduanya diberi tanda garis hubung. Di atas tanda garis hubung itu ditulis Bai'at Sirriyah atau Bai'at Rohaniyah, atau Sampian menanyakan tentang Bai'at  itu kepada Tuan Guru KH. Muhammad Qurthubi ?

Pada saat itu Guru Bihara KH. Jumberi Ma'shum, Beliau diam saja, belum menjawab pertanyaan aku tersebut. Akupun terjaga dari tidurku dan aku bangkit dari tempat tidur untuk mengambil buku dan pin mencatat peristiwa yang terjadi di alam mimpiku dan juga melihat jam dinding. Setelah menerima mimpi kedua ini Aku sangat rindu sekali untuk bertemu dengan Guru Bihara KH. Jumberi  Ma'shum.

Tapi sayang !  Penyusun Kitab "Bahjatul 'Abid lil Jama'ah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah belum mampu menangkap rahasia di balik peristiwa hal ihwal kedua mimpinya  itu bahwa Guru akan meninggalkan kita.


RINDU INGIN BERTEMU DGN GURU KH. JUMBERI  MA'SHUM SETELAH MIMPI

Sangat sulit bagi Penyusun Kitab "Bahjatul 'Abid lil Jama'ah Thariqat al Junaidiyah al Bagdadiyah sebagai Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah" yang sehari-harinya berprovisi Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kementerian Agama Kab.Tapin menjabat Ka. KUA/PPN/Penghulu Kecamatan. Tidak punya waktu yang cukup untuk selalu berhadir berkumpul di Majelis Da'watul Haq bersama Guru Bihara, kecuali hari libur, itupun kalau tidak ada hajad masyarakat yang mau menikah di Kecamatan tersebut, apalagi Jarak Rumah Penyusun denngan Majelis Da'watul Haq yang cukup jauh yakni dari lebih 70Km.

Kami berkunjung ke  Majelis Da'watul Haq Guru Bihara pada hari Minggu 15 Juli 2007M/ 30 Jumadil Akhir 1428H.Pada hari itu kami cukup lama bersama Guru Bihara di Majelis Da'watul Haq. 

Guru Bihara menceritakan secara panjang – lebar tentang Habib NOOR dari Desa Waqi Kecamatan Pagat Barabai HST yang datang berkunjung menemuinya. Ketika Guru miminta kepada Habib NOOR untuk bertaujiah dihadapan murid-muridnya di Majelis Da'watul Haq. Habib NOOR menyarankan kepada Guru Bihara untuk melakukan suluk 100 hari dibawah bimbingan Habib, tetapi Guru belum bersedia memenuhi saran Habib dengan alasan murid-muridnya sering mendadak menghajadkannya dan juga Majelis Ta'lim Da'watul Haq belum selesai.


Keterangan

Habib H. Hasan Baseri,S.Ag bin H.Muhammad Barsih bin Ahmad Baderi bin Tanqirr Gawa bin Abuthair Muhammad bin Abutha’am Ibrahim bin Abu Bakar Ats-Tsani bin Ahmad Suhuf bin Muhammad Djamiluddin bin Habib Abu Bakar Assegaf (Datu Lumpangi) datang pertama kali ke Desa Bihara dan Mengambil Bai’at dan Talqin Dzikir thariqat Sufi al Junaidiyah (thariqatul Qaum) pada Guru Mursyid KH. Jumberi bin H.Ma’shum bin H.Abu bakar hari Ahad, 26 Oktober 2003 Masehi atau  29 Sya’ban 1424 Hijeriyah jam15.00 wita Kec. Awaian Kab. Hulu Sungai Tengah (Barabai). Sekarang Desa Bihara Kec. Awaian menjadi wilayah Kabupaten Balangan ibu kota Paringin, Prov. Kal Sel.

Pada hari itu saya dan Habib Ariatim Assegaf  di bai’at, di ajari tawajjuh muthlaq dan tawassul membaca surat al Fatihah 5 kali sebelum tawajjuh muthlaq dan juga pelimpahan talqin dzikir thariqatal Junaidiyah al Bagdadiyah (thariqatul Qaum)  serta mencatat sanad silsilahnya.

Kitab, Ar Risalah Bahjatul ‘Abiid lil Jama’ah Thariqat al Junaidiyah yakni Thariqat al Qaum dan Ar Risalah Umdatul Hasanah lil Jama’ah Thariqat al Junaidiyah yakni Thariqat al Qaum, keduanya disusun sebagai “Benteng Pertahanan Thariqat al Junaidiyah.”


Daftar Kepustakaan/Referensi  : :

Ensiklopedi Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah

Kitab Tabaqatul Kubra Imam As Sya’rani

Kitab Jami’atul karamatul aulia Imam As Sya’rani

Kitab Aiqadzul Himam

Kitab Tanbihul Mugtarin

Kitab Jami”ul Ushul fil Aulia

Risalah  Uqdatul Jama'ah  dalam perjalanan Thariqat al Junaid   tahun 1989M

Risalah Sabilul Rasyad    tanpa tahun

Risalah Tharqul Hayah tahun 2003M

Risalah  Libaasut  Taqwaa  tanpa tahun 

Artekel-artekel pada twiter/facebooks 

Hasil-hasil Muktamar IX Jam’iyah Ahliah Thariqah al Mutabarah an Nahdiyah th.2000M Pakalongan. 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bab. VIII “Menteladani Sifat Syaja'ah Nabi Saw” al-Risalah Mutaba'atul Hasanah

  BAB. VIII PASAL KE 8 PENJELASAN SIFAT SYAJJA'AH اَلْفَصْلُ الْثَامِنُ فِى بَيَانِ الشَّجَاعَةِ FASAL YANG KE 8   PENJELASAN   SYAJA...