PEMBAHASAN
TAWASSUL, MURABITHAH DAN TAWAJJUH
)التَّوَسُّلُ
وَالْمُرَابِطَةُ وَ التَّوَجُّهُ(
A. Pembahasan Tawassul
(اَلتَّوَسُّلُ)
1. Maksud Tawassul
Tawassul isim masdar dari
kata kerja tawassala – yatawassalu – tawassulan adalah berasal dari bahasa
Arab. Yang kata kerjanya dengan tulisan Arabnya yaitu :
تَوَسَّلَ -
يَتَوَسَّلُ - فَهُوَ تَّوَسُّلًا. وهُوَ تَّوَسُّلًا اِسْمُ
مَسْدَرٍ مِنْ تَوَسَّلَ
Makna Tawassul "perantara" atau "mempalitasi"
sedangkan yang dimaksud Tawassul disini adalah Pengamal Thariqat Junaidiyah (Thariqat al
Qaum) bahwa sebelum mengamalkan dzikir-dzikir dan wirid-wirid thariqat, mereka
mengawalinya dengan membaca surat Al Fatihah 5 kali, secara khusus sesudah
shalat maktubah. Tawassul membaca surat Al Fatihah ini dihadiahkan kepada Rohani
sanad silsilah thariqat al Junaidiyah (thariqat al Qaum) untuk menghubungkan, untuk merekatkan pertalian
Rohaniyah para Mursyidnya dengan Murid-muridnya. Tentu saja tawassul disini,
amat penting dilakukan oleh Pengamal thariqat Junaidiyah untuk menimbulkan dan
menumbuhkan rasa murabithah (ikatan hati) yang kuat, sehingga merasa terhubung
dan merasa selalu bersama Guru Mursyidnya setiap saat. Atau naik setingkat ia
merasa batang tubuhnya diganti oleh Guru Mursyidnya setiap saat. Hingga naik
terus keatas .... ia merasa batang tubuhnya diganti oleh Rasulullah setiap
saat.
Misalnya : Tawassul pertama membaca surat Al Fatihah untuk Nabi Muhammad Saw, dengan
i'tikat hati : "Ya Allah, sampaikan bacaan al Fatihah saya ini kepada
Rohaniyah Rasulullah Saw dan juga bukakanlah untuk saya rahasia Al Fatihah ini".
اِلَى
حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْفَاتِحَةُ !
اَعُوْذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ,
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ, الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, مَلِكِ يَوْمِ
الدِّيْنِ, اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ, اِهْدِنَا الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيْنَ, صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ
الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا
الضَّالِّيْنَ, آمِيْنَ !
Ayat
Al Qur'an yang Digunakan Dasar/Dalil
Bertawassul
a,
Ayat Al Qur'an al Karim
Misalnya firman Allah Swt Surat al Ma'idah ayat 35 :
يَاَيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوْا اِتَّقُوْا اللهَ وَابْتَغُوْا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ
وَجَاهَدُوْا فِى سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. المائدة 35
Artinya
: "Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kamu kepada Allah dan carilah
jalan yang mendekatkan diri kepadanya, dan berjihatlah pada jalanNya supaya
kamu mendapat keberuntungan".QS.Al Maidah 35.
Tafsir
al Hawazin dan Tafsir al Bagawi, mengatakan pengertian al Wasilah atau Tawassul
disini adalah :
طَلَبُ
الْقُرْبَةِ اِلَى اللهِ تَعَالَى بِطَاعَتِهِ وَالْعَمَلِ بِمَايُرْضَى
Maksudnya
: "Mencari atau menuntut jalan untuk pendekatan kepada Allah, dengan
berbuat ta'at dan mengerjakan amal dengan apa-apa yang diridhai'i-Nya".
Menurut
Tafsir Ruhul Bayan yang dimaksud Wasiilah (وَسِيْلَةُ) adalah :
اَلْوَسِيْلَةُ
هِيَ الَّتِى يُتَوَسَّلُ بِهَا اِلَى الْمَقْصُوْدِ
Maksudnya
: :"Al Wasiilah adalah suatu amaliyah yang dipergunakan untuk
menghubungkan atau untuk mengaitkan menuju kepada yang dimaksud".
b. Al
Hadis Rasulullah Saw
Sabda
Rasulullah yang dijadikan dasar untuk bertawassul atau jalan untuk menyampaikan
kepada Allah Swt adalah :
كُنْ
مَعَ اللهِ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ مَعَ اللهِ فَاِنَّهُ
يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ
Maksudnya : "Hendaklah kamu selalu bersama Allah, jika engkau tidak
dapat, tiada bisa bersama-Nya, maka hendaklah engkau bersama orang-orang
bersama Allah, sebab ia bisa menyampaikan Engkau kepada Allah".Contoh
kaifiat Tawassul yang lain pada thariqt kita. Pada suatu ketika Khalifah kita
al Marhum Muhammad Qurtubi jatuh sakit, yang dalam sakitnya itu tidak sadarkan
diri (sakit koma). Hampir semua murid yang berada disampingnya menangis, karena
menganggaf Guru Muhammad Qurtubi sudah wafat. Tapi ada salah seorang muridnya
yang mengetahui bahwa Guru Qurtubi belum wafat. Maka ia mengajak teman-temannya
yang lain untuk bertawassul dengan membaca do'a bersama-sama pada sya'ir berikut :
يَارَبِّ
بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْلَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ
الْكَرَمِ
Maksudnya
: :"Hai Tuhanku dengan kebenaran Nabi Muhammad Saw Nabi pilihan. Kami
mohon kepada Mu yaa Allah untuk tercapainya segala maksud kami.Dan berilah
ampunan kepada kami akan dosa-dosa yang telah lalu, wahai Tuhan yang Maha luas
akan karunianya."
Akhirnya
jari Gr Qurtubi mulai pelan-pelan bergerak-gerak yang diiringi dengan membuka
kedua matanya. Kemudian Beliau dapat bercakap-cakap seperti biasanya. Hilanglah
rasa kesedihan dari Murid-muridnya tadi melihat Sang Guru mulai sehat kembali.
Menurut
sang Murid bahwa do'a tawassul itu adalah amanah dari Guru Qurtubi juga. Kata
Guru bahwa : "bila aku sakit dan tak sadarkan diri, berarti rohku keluar
maka Panggil ia dengan do'a tersebut diatas.
B. CONTOH TAWASSUL DIZAMAN
RASULULLAH SAW
Ada
hadis shahih riwayat imam at Turmidzi, Nabi Saw pernah mengerjakan kaifiat
tawassul kepada seorang laki-laki :
اَللَّهُمَّ
اِنِّيْ اَسْاَلُكَ وَاَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ
الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ يَا رَسُولُ اللهِ اِنِّيْ اَتَوَسَّلُ بِكِ اِلَى
رَبِّيْ فِى حَاجَتِيْ لِيُقْضِيَهَا لِيْ اَللَّهُمَّ شَفِّعْهُ رواه الترمذى
Artinya : Ya
Allah sesungguhnya aku memohon kepada Mu, melalui Nabi Muhammad, Nabi pembawa
rahmat. Ya Muhammad, Ya Rasulullah, sesungguhnya aku bertawassul dengan Tuhan
Mu pada Tuhanku dalam hajatku, semoga Allah memenuhi bagiku. Ya Allah berilah
ijin kepadanya untuk memberikan syafa'at padaku". HR at-Turmudzi
Bagi
Pengamal thariqat kita, tawassul itu mendapat tempat yang layak dan dalam
posisi yang wajar. Para Pengamalnya dan berkat kesungguhan mereka dan bimbingan
guru Mursyidnya dapat menyingkap hijab, mereka mampu merobek tirai yang cukup
tebal, yang membatasi antara mereka dengan Allah Swt. Firman Allah surat an
Nisa ayat 84 menyatakan :
مَنْ
يَشْفَعُ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيْبٌ مِنْهَا .... النساء 84
Artinya :
"Barang siapa memberikan syafa'at (menunjukkan jalan menuju Allah) akan
suatu syafa'at yang baik, tentu ia akan memperoleh satu bagian (kebaikan) dari
padanya.
Sebenarnya
syafaat itu, tidak ada pada kita, bukan milik kita kecuali dengan ijin Allah
Swt saja. Firmn Allah pada surat Al Baqarah ayat 225 yang berbunyi :
.... مَنْ ذَا
الَّذِيْ يَسْفَعُ عِنْدَهُ اِلَّا بِاِذْنِهِ ... البقرة 225
Artinya :
"Barang siapa yang mampu memberikan syafa'at disisih-Nya kecuali dengan
ijin-Nya" QS, Al Baqarah 225.
Kita
harus berhati hati dalam bertawassul, tiada asal tawassul saja, bertawassul kepada Nabi Saw,
bertawassul kepada Para Shahabat,
bertawassul kepada Para Aulia Allah dan juga bertawassul kepada Sanad silsilah
thariqat al Qaum al Junaidiyah kita, atau kepada Guru yang telah membai'ah kita
adalah termasuk hal yang mubah.
C. MAKNA DAN ARTI DALAM TAWASSUL
Makna
dan arti tawassul ini dapat dilihat dari maksud Firman Allah pada Surat al Jin
ayat 21 berikut ini :
قُلْ
اِنِّيْ لَا اَمْلِكُ للَكُمْ ضَرّاً وَلَا رَشَدًا. الجنّ
21
Artinya :
"Katakanlah, hai Muhammad aku tidak memiliki sesuatu yang dapat
mencelakakan kamu dan juga tidak mampu memberi petunjuk." QS.Al Jin 21.
Firman
Allah pada ayat lain berbunyi :
اِنَّكَ
لَا تَهْدِى مَنْ اَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ
اللهُ يَهْدِى مَنْ يَشَاءُ ج وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ. القصص 56
Artinya :
"Sesungguhnya Engkau (Hai Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada
orang yang Engkau cintai, tetapi Allah jualah menunjuki kepada siapa orang yang
dikehendaki-Nya." QS. Al Qashash 56.
Tawassul
adalah permainan lahiriah dialam musyahadah, tujuannya untuk menghubungkan dan
mempertalikan Batin Salik atau Rohani Murid dengan Guru Mursyidnya di alam
Rohani (Alam Ghaib). Dikehidupan dunia yang penuh dengan warna warni ini,
tawassul tidak akan menipu mata hati Para 'Arif Billah (العارف بالله) yang sudah merasakan adanya Tawassul Haqiqi.
D. Pembahasan Murabithah (اَلْمُرَابِطَةُ)
Ahli
thariqat khususnya thariqat Al Junaidiyah memakai istilah Murabithah dalam
pengertiannya ikatan yang polos antara murid dan gurunya, dengan istilah lain
Rabithatul Qulub (رِبْطَةُ الْقُلُوْبِ) yaitu ikatan hati antara Guru dan murid untuk mencapai tujuan.
Murabithah adalah perkara bathiniah antara Guru dan murid
dalam urusan berthariqat. Disini terjadi kesungguhan jiwa/bathinnya menziarahi
Guru Mursyid di alam immaterial.Ini sangat diperlukan, supaya si murid
mendapatkan madad, kekuatan, dorongan moral dari Guru Mursyidnya. Begitu
rabithatul Mursyid (رَبِطَةُ
الْمُرْشِدِ) maksudnya ada
rasa pertalian yang kuat dengan Muhammad Rasulullah Saw. Misalnya dengan cara
mengucapkan Salam kepada Rasulullah Saw :
اَلسَّلَامُ
عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ
Artinya :
Hati kita pada saat itu merasakan Rohaniah Rasulullah Saw hadir atau berada di
muka kitadan bersalaman.
يُصَلُّوْنَ
عَلَى نُوْرِهِ الْاَصْلِيِّ الَّذِيْ هُوَ نُوْرُ الْاَنْوَارِ وَهُمْ اَهْلُ
الرُّسُوْخِ وَالتَّمْكِيْنِ مِنْ اَهْلِ الشُّهُوْدِ وَالْعِيَانِ وَهَؤُلَاءِ
لَا يَغِيْبُ عَنْهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُرْفَةُ
عَيْنٍ.
Artinya :
"Mreka (Mereka ahli rusukh dan tamkin) bershalawat kepada Nabi yaitu
kepada Nur Muhammad yang Asli yaitu Nurul Anwar. Mereka memandang (meresakan)
bahwa Nabi Saw terlihat diujung kedua pelupuk mata.
E. MURABITHAH KEPADA GURU
MURSYID SEBELUM ATAU SA'AT MELAKUKAN DZIKIR THARIQAT
Diantara adab yang harus diperhatikan disa'at melakukan
dzikir adalah membayangkan pribadi Guru Mursyidnya diantara kedua pelupuk
matanya. Tujuannya untuk mehilangkan akwan dan agyar dalam pikiran dan hati
Salik membayangkan pribadi Guru Mursyidnya, hal semacam ini menurut Ulama
Thariqat Sufi merupakan adab yang sangat penting.
Membayangkan pribadi Syekhnya seakan-akan berada dihadapannya saat
melakukan dzikir , yang lazim disebut Rabithah atau Tashawwur (اَلرَّبِطَةُ وَ التَّصَوُّرُ) bagi murid thariqat adalah hal tersebut lebih berfaidah dan
lebih mengena dari pada Dzikir itu sendiri, alasannya karena Syekh adalah
Wasilah (اَلْوَسِيْلَةُ) atau perentara untuk wushul (اَلْوُصُوْلُ) kekhadirat
Yang Maha Haq azza wajalla bagi si Murid. Setiap kali bayangan pribadi Gurunya
terlintas bertambah wajah kesesuaian bayangannya bersama Gurunya maka bertambah
pula anugrah-anugrah dalam bathiniahnya, dan dalam waktu dekat akan sampai ia
pada apa yang dicarinya (ALLah). Dan lazimnya bagi seorang Murid untuk fana
atau lebur, maka ia lebur dahulu dalam pribadi Syekhnya, kemudian setelah itu
ia akan sampai pada fana (fana fi Rasulillah Saw) atau lebur pada Allah Ta'ala.(1
Yang dimaksud dengan Rabithah (اَلرَّبِطَةُ) adalah
mengikatkan hati atau mengaitkan hati kepada seseorang atau kasih hati kepada
seseorang, sedangkan yang dimaksud tashawur (التَّصَوُّرُ) yaitu
tergambar wajah Syekhnya pada pikirannya atau terbayang wajah pribadi Syekh
Mursyidnya pada pikiran si Murid thariqat.
Rasulullah Saw pernah bersabda yang berbunyi :
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.
رواه أبو داود والتبرنى(2
Artinya : "Barang siapa
menyerupai ia dengan suatu kaum, maka ia (digolongkan) seperti Kaum itu."
HR.Abu Dawud dan At Thabarani.
Sadatina Imam Al Junaid al Bagdadi
pernah berkata: "Jalan yang paling singkat ditempuh Ahli Thariqat
untuk segera mencapai tujuan ialah dengan cara Rabithah Qalbi yang senantiasa
kepada Gurunya sambil menanti curahan ilmu dari Gurunya sampai akhirnya ia fana
diganti oleh Gurunya."
Orang yang senantiasa murabithah terhadap gurunya adalah orang yang cinta
dan sayang kepada Gurunya, sebagaimana kasih dan sayang seorang Guru terhadap
Muridnya. Hanya dengan benang mewaddah dan rahmah (laksana suami-isteri cinta
sampai mati), hubungan interaksi Guru dengan Muridnya, misalnya dalam aktipitas
pengajian, Riayadlah dan Istighasah dan lainnya dapat berlangsung mulus tanpa
ada keraguan dan kecurigaan.
Rasulullah
Saw pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari-Muslim :
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْمَرْءُ مِعَ مَنْ اَحَبُّ رواه الشيخان
Artinya : "Seseorang itu (selalu bersama) beserta orang yang
dicintainya"
Berkata Para Arif Billah mengenai kecintaan dan kebersamaan antara Guru
dengan Muridnya :
وَقَالَ الْعَارِفُوْنَ : كُنْ مَعَ اللهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَكُنْ مَعَ كَانَ مَعَ اللهِ وَقَالُوْا اى الْعَارِفُوْنَ اَلْفَنَاءُ فى
الشَّيْخِ مُقَدِّمَةٌ اَلْفَنَاءُ فى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
1).Mengenal Thariqat Panduan Pemula Mengenal Jalan Menuju Allah Ta'ala...25
Tahun
1426H/2005M.
2).Kitab Sunan Abu Daud ....................
Artinya : Para Arif Billah berkata : "Hendaklah kamu
selalu bersama Allah, jika tidak
Bisa, maka hendaklah kamu selalu bersama orang yang
beserta Allah".Billah berkata pula bahwa : "Fananya (seorang Murid)
pada Gurunya adalah awal awal pertama Fananya (seorang Murid) pada Allah
Swt,"
Ketabahan,
kesabaran dan keoletan selama mengarungi jalan thariqat al Junaidiyah yang suci
ini, dibawah asuhan dan bimbingan Guru-guru Mursyid thariqat al Junaidiyah
sangatlah dihajatkan dan dibutuhkan. Jalan seorang Hamba menuju dan wushul
dengan Allah sangatlah kita harapkan. Sebab keredaan tidaklah gampang kita
raih, cintanya tidak bisa di harapkan tanpa ada pengorbanan, dan Ma'rifat
mengenalnya tiada mungkin kita dapatkan tanpa adanya perjuangan. Oleh karenanya
si Murid harus mendapat arahan dan bimbingan yang terus menerus dari Guru-guru
Mursyid al Junaidiyah.
PEMBAGIAN HUKUM
RABITHAH THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYAH
Rabithah pengertiannya
adalah ikatan hati yang polos antara murid dan gurunya, Rabithah bisa diartikan
"Tautan hati karena cinta sang kekasih". Perlu Pengamal Thariqat al
Qaum al Junaidiyah ketahui bahwa hukum Rabithah itu terbagi kepada lima macam :
1. Rabithah Wajib (رَابِطَةٌ وَاجِبَةٌ)
Rabithah Wajib ialah kasih hati seseorang muslim dan
muslimah kepada Baitullah atau Ka'bah. Maka diwaktu mengerjakan shalat kita
berhadap ke Baitullah adalah wajib. Menurut Rabithah disini menghadapkan muka
kearah Baitullah adalah melakukan Rabithah. Bila tiada dilaksanakan disaat
shalat maka batallah shalatnya. Si Murid harus yakin benar hatinya bahwa hati
dan mukanya berhadap kearah Baitullah.
2. Rabithah Sunnat (رَابِطَةٌ سُنَّةٌ)
Rabithah Sunnat
ialah kasih hati seseorang untuk mengikuti imam, ketika si Murid
melakukan shalat berjama'ah. Disini setiap makmum sunat bermurabithah kepada imam shalatnya,
tidak boleh ia mendahului imam shalatnya.
3. Rabithah Harus (رَابِطَةٌجَائِزَةٌ)
Rabithah Harus adalah kasih hati seseorang untuk
mencontoh dan melihat kepada seseorang ketika mengerjakan yang harus. Misalnya
seseorang itu sedang mengetik seuntai Tasbih, atau sedang membaca Al Qur'an
atau pekerjaan yang harus lainnya, maka ia kasih juga untuk memperbuatnya.
4. Rabithah Makruh (رَابِطَةٌ مَكْرُوْهَةٌ)
Rabithah
Makruh adalah kasih hati seseorang melihat makanan yang makruh untuk dimakan,
misalnya masakan terlalu panas atau terlalu pedas yang akhirnya dimakannya,
tetapi mulutnya tiada menerima karena masakan terlalu panas atau makanan itu
terlalu pedas.
5. Rabithah Haram (رَابِطَةٌ مُحْرِمَةٌ)
Rabithah Haram adalah kasih hati seseorang atau tautan
hati dengan meja judi pada akhirnya orang itu bermain judi, atau seseorang tertaut hati dengan sebotol Anggur merah yang
memabukkan yang pada akhirnya orang itu minum anggur itu. Jadi hakekat Rabithah
disini adalah kasih seseorang kepada suatu atau apa saja yang diharamkan agama,
dengan begitu ia berarti telah terikat, ada rasa kecendrungan terhadap sesuatu
itu untuk memilikinya.
Berikut ini Penyusun mengemukakan tingkatan-tingkatan atau adab-adab
murabithah seorang Murid Thariqat kita ini terhadap Guru Mursyid dan juga Sanad
Silsilah Thariqat kita.
A.
Pembahasan Tawajjuh
Tawajjuh berasal dari bahasa Arab adalah
tawajjaha –yata