Senin, 16 Februari 2026

Jejak Perjalanan Habib Hasyim bin Muhammad Assegaf dari Seiyun Hadramaut ke Nusantara

Sejarah menyebutkan bahwa “Salah satu keturunan Nabi Muhammad Saw yakni Habib Hasyim bersama keluarganya dilaporkan melalui perjalanan panjang mereka bertolak dari Seiyun Hadramaut menuju ke pelabuhan Turki terus menuju Asia Tenggara lewat Singapora menuju ke pelabuhan Palembang terus menuju ke pelabuhan Gresik hingga tiba di Kesultanan Demak Jawa Tengah

Islam mengalami puncak keemasan atau kejayaan di Nusantara di masa Kesultanan Demak di Jawa Tengah. Habib Hasyim bersama keluarganya datang ke Nusantara dan menetap lama di Kel. Randusari, Kec. Semarang Selatan, Kota Semarang Prov. Jawa Tengah 

Adapun Habib Hasyim bin Muhammad Assegaf diperkirakan hidup abad ke-17 Masihi. Abad ke-17 dihitung dari tahun 1601-1700 Masihi. Ia dengan kedua anaknya dan cucunya Habib Abu Bakar mereka datang dari Seiyun  Hadramaut, Negeri Yaman atau Yordania. Kalau kita analisa antara Habib Idrus dan Abu Bakar keponakanya maka lebih tua Habib Abu Bakar, salah satu alasannya ketika mereka hijerah ke Nusantara, Abu Bakar sudah punya isteri dan anak an.Shalih sedangkan Idrus menikah dan punya anak an.Aly ketika ia berada di Sungai Mesa Bardarmasih dan Keluarga Habib Hasyim ini, mereka berkhidmad dan menetap tinggal di kota Semarang ini dimasa Kesultanan Demak. 

Dan hingga akhirnya Habib Hasyim bin Muhammad bin Umar as-Shufy dengan kedua anaknya Habib Hasan dan Idrus Assegaf berada di Kelurahan Randusari, di kota ini mereka mempelajari sungguh-sungguh  Bahasa setempat hingga mereka paham dan pandai berbahasa loghat Malayu dan loghat Bahasa Jawa. Tujuan utamanya disamping berdagang dan untuk mempermudah menyampai Misi Dakwah Islam dari moyang mereka. Habib Hasyim dan Idrus anaknya ini keduanya wafat di kota ini Habib Hasyim wafat  diperkirakan tahun 1666M/ 1077H, dan sekarang keduanya bermakam berlokasi Kelurahan Randusari, Kec. Semarang Selatan, Kota Semarang Jawa Tengah. Habib Hasyim ia adalah orang tuanya Habib Hasan, dan Habib Hasan yang wafat diperkirakan tahun 1720M dan makamnya berkubah di Taniran, Kec. Angkinang Kab. Hulu Sungai Selatan, Prov. Kalimantan Selatan.


PEMBAHASAN TAWASSUL, MURABITHAH DAN TAWAJJUH 

)التَّوَسُّلُ وَالْمُرَابِطَةُ وَ التَّوَجُّهُ(

A.   Pembahasan Tawassul   (اَلتَّوَسُّلُ)

1. Maksud Tawassul

Tawassul isim masdar dari kata kerja tawassala – yatawassalu – tawassulan adalah berasal dari bahasa Arab. Yang kata kerjanya dengan tulisan Arabnya yaitu :

تَوَسَّلَ  -  يَتَوَسَّلُ  - فَهُوَ  تَّوَسُّلًا. وهُوَ تَّوَسُّلًا اِسْمُ مَسْدَرٍ مِنْ تَوَسَّلَ

Makna Tawassul "perantara" atau "mempalitasi" sedangkan yang dimaksud Tawassul disini adalah Pengamal Thariqat Junaidiyah (Thariqat al Qaum) bahwa sebelum mengamalkan dzikir-dzikir dan wirid-wirid thariqat, mereka mengawalinya dengan membaca surat Al Fatihah 5 kali, secara khusus sesudah shalat maktubah. Tawassul membaca surat Al Fatihah ini dihadiahkan kepada Rohani sanad silsilah thariqat al Junaidiyah (thariqat al Qaum) untuk menghubungkan, untuk merekatkan pertalian Rohaniyah para Mursyidnya dengan Murid-muridnya. Tentu saja tawassul disini, amat penting dilakukan oleh Pengamal thariqat Junaidiyah untuk menimbulkan dan menumbuhkan rasa murabithah (ikatan hati) yang kuat, sehingga merasa terhubung dan merasa selalu bersama Guru Mursyidnya setiap saat. Atau naik setingkat ia merasa batang tubuhnya diganti oleh Guru Mursyidnya setiap saat. Hingga naik terus keatas .... ia merasa batang tubuhnya diganti oleh Rasulullah setiap saat.

Misalnya : Tawassul pertama membaca surat Al  Fatihah untuk Nabi Muhammad Saw, dengan i'tikat hati : "Ya Allah, sampaikan bacaan al Fatihah saya ini kepada Rohaniyah Rasulullah Saw dan juga bukakanlah untuk saya rahasia Al  Fatihah ini".

اِلَى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  اَلْفَاتِحَةُ !

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ, الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ, اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ, اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْنَ, صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ  عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ, آمِيْنَ !

 

Ayat Al Qur'an yang Digunakan Dasar/Dalil  Bertawassul

a, Ayat Al Qur'an al Karim

Misalnya firman Allah Swt Surat al Ma'idah ayat 35 :

يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اِتَّقُوْا اللهَ وَابْتَغُوْا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهَدُوْا فِى سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.  المائدة 35

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kamu kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadanya, dan berjihatlah pada jalanNya supaya kamu mendapat keberuntungan".QS.Al Maidah 35.

Tafsir al Hawazin dan Tafsir al Bagawi, mengatakan pengertian al Wasilah atau Tawassul disini adalah  :

طَلَبُ الْقُرْبَةِ اِلَى اللهِ تَعَالَى بِطَاعَتِهِ وَالْعَمَلِ بِمَايُرْضَى

Maksudnya : "Mencari atau menuntut jalan untuk pendekatan kepada Allah, dengan berbuat ta'at dan mengerjakan amal dengan apa-apa yang diridhai'i-Nya".

Menurut Tafsir Ruhul Bayan yang dimaksud Wasiilah (وَسِيْلَةُ) adalah :

اَلْوَسِيْلَةُ هِيَ الَّتِى يُتَوَسَّلُ بِهَا اِلَى الْمَقْصُوْدِ

Maksudnya : :"Al Wasiilah adalah suatu amaliyah yang dipergunakan untuk menghubungkan atau untuk mengaitkan menuju kepada yang dimaksud".

b. Al Hadis Rasulullah Saw

Sabda Rasulullah yang dijadikan dasar untuk bertawassul atau jalan untuk menyampaikan kepada Allah Swt adalah  :

كُنْ مَعَ اللهِ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ مَعَ اللهِ فَاِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ

Maksudnya : "Hendaklah kamu selalu bersama Allah, jika engkau tidak dapat, tiada bisa bersama-Nya, maka hendaklah engkau bersama orang-orang bersama Allah, sebab ia bisa menyampaikan Engkau kepada Allah".Contoh kaifiat Tawassul yang lain pada thariqt kita. Pada suatu ketika Khalifah kita al Marhum Muhammad Qurtubi jatuh sakit, yang dalam sakitnya itu tidak sadarkan diri (sakit koma). Hampir semua murid yang berada disampingnya menangis, karena menganggaf Guru Muhammad Qurtubi sudah wafat. Tapi ada salah seorang muridnya yang mengetahui bahwa Guru Qurtubi belum wafat. Maka ia mengajak teman-temannya yang lain untuk bertawassul dengan membaca do'a bersama-sama pada sya'ir  berikut :

يَارَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْلَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ

Maksudnya : :"Hai Tuhanku dengan kebenaran Nabi Muhammad Saw Nabi pilihan. Kami mohon kepada Mu yaa Allah untuk tercapainya segala maksud kami.Dan berilah ampunan kepada kami akan dosa-dosa yang telah lalu, wahai Tuhan yang Maha luas akan karunianya."

Akhirnya jari Gr Qurtubi mulai pelan-pelan bergerak-gerak yang diiringi dengan membuka kedua matanya. Kemudian Beliau dapat bercakap-cakap seperti biasanya. Hilanglah rasa kesedihan dari Murid-muridnya tadi melihat Sang Guru mulai sehat kembali.

Menurut sang Murid bahwa do'a tawassul itu adalah amanah dari Guru Qurtubi juga. Kata Guru bahwa : "bila aku sakit dan tak sadarkan diri, berarti rohku keluar maka Panggil ia dengan do'a tersebut diatas.

 

B.   CONTOH TAWASSUL DIZAMAN RASULULLAH SAW

Ada hadis shahih riwayat imam at Turmidzi, Nabi Saw pernah mengerjakan kaifiat tawassul kepada seorang laki-laki     :

اَللَّهُمَّ اِنِّيْ اَسْاَلُكَ وَاَتَوَسَّلُ اِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ يَا رَسُولُ اللهِ اِنِّيْ اَتَوَسَّلُ بِكِ اِلَى رَبِّيْ فِى حَاجَتِيْ لِيُقْضِيَهَا لِيْ اَللَّهُمَّ شَفِّعْهُ رواه الترمذى

Artinya     : Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada Mu, melalui Nabi Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad, Ya Rasulullah, sesungguhnya aku bertawassul dengan Tuhan Mu pada Tuhanku dalam hajatku, semoga Allah memenuhi bagiku. Ya Allah berilah ijin kepadanya untuk memberikan syafa'at padaku". HR at-Turmudzi

Bagi Pengamal thariqat kita, tawassul itu mendapat tempat yang layak dan dalam posisi yang wajar. Para Pengamalnya dan berkat kesungguhan mereka dan bimbingan guru Mursyidnya dapat menyingkap hijab, mereka mampu merobek tirai yang cukup tebal, yang membatasi antara mereka dengan Allah Swt. Firman Allah surat an Nisa ayat 84 menyatakan  :

مَنْ يَشْفَعُ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيْبٌ مِنْهَا .... النساء 84

Artinya     : "Barang siapa memberikan syafa'at (menunjukkan jalan menuju Allah) akan suatu syafa'at yang baik, tentu ia akan memperoleh satu bagian (kebaikan) dari padanya.

Sebenarnya syafaat itu, tidak ada pada kita, bukan milik kita kecuali dengan ijin Allah Swt saja. Firmn Allah pada surat Al Baqarah ayat 225 yang berbunyi     :

.... مَنْ ذَا الَّذِيْ يَسْفَعُ عِنْدَهُ اِلَّا بِاِذْنِهِ ... البقرة 225

Artinya     : "Barang siapa yang mampu memberikan syafa'at disisih-Nya kecuali dengan ijin-Nya" QS, Al Baqarah 225.

Kita harus berhati hati dalam bertawassul, tiada asal   tawassul saja, bertawassul kepada Nabi Saw, bertawassul  kepada Para Shahabat, bertawassul kepada Para Aulia Allah dan juga bertawassul kepada Sanad silsilah thariqat al Qaum al Junaidiyah kita, atau kepada Guru yang telah membai'ah kita adalah termasuk hal yang mubah.

 

C.    MAKNA DAN ARTI DALAM TAWASSUL

Makna dan arti tawassul ini dapat dilihat dari maksud Firman Allah pada Surat al Jin ayat 21 berikut ini     :

قُلْ اِنِّيْ لَا اَمْلِكُ للَكُمْ ضَرّاً وَلَا رَشَدًا.  الجنّ  21

Artinya     : "Katakanlah, hai Muhammad aku tidak memiliki sesuatu yang dapat mencelakakan kamu dan juga tidak mampu memberi petunjuk." QS.Al Jin 21.

Firman Allah pada ayat lain berbunyi     :

اِنَّكَ لَا تَهْدِى  مَنْ اَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهُ يَهْدِى مَنْ يَشَاءُ ج وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ.    القصص 56

Artinya     : "Sesungguhnya Engkau (Hai Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang Engkau cintai, tetapi Allah jualah menunjuki kepada siapa orang yang dikehendaki-Nya." QS. Al Qashash 56.

Tawassul adalah permainan lahiriah dialam musyahadah, tujuannya untuk menghubungkan dan mempertalikan Batin Salik atau Rohani Murid dengan Guru Mursyidnya di alam Rohani (Alam Ghaib). Dikehidupan dunia yang penuh dengan warna warni ini, tawassul tidak akan menipu mata hati Para 'Arif Billah (العارف بالله)  yang sudah merasakan adanya Tawassul Haqiqi.

 

D.  Pembahasan Murabithah  (اَلْمُرَابِطَةُ)

Ahli thariqat khususnya thariqat Al Junaidiyah memakai istilah Murabithah dalam pengertiannya ikatan yang polos antara murid dan gurunya, dengan istilah lain Rabithatul Qulub  (رِبْطَةُ الْقُلُوْبِ) yaitu ikatan hati antara Guru dan murid untuk mencapai tujuan.

Murabithah adalah perkara bathiniah antara Guru dan murid dalam urusan berthariqat. Disini terjadi kesungguhan jiwa/bathinnya menziarahi Guru Mursyid di alam immaterial.Ini sangat diperlukan, supaya si murid mendapatkan madad, kekuatan, dorongan moral dari Guru Mursyidnya. Begitu rabithatul Mursyid (رَبِطَةُ الْمُرْشِدِ) maksudnya ada rasa pertalian yang kuat dengan Muhammad Rasulullah Saw. Misalnya dengan cara mengucapkan Salam kepada Rasulullah Saw      :

اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

Artinya     : Hati kita pada saat itu merasakan Rohaniah Rasulullah Saw hadir atau berada di muka kitadan bersalaman.

يُصَلُّوْنَ عَلَى نُوْرِهِ الْاَصْلِيِّ الَّذِيْ هُوَ نُوْرُ الْاَنْوَارِ وَهُمْ اَهْلُ الرُّسُوْخِ وَالتَّمْكِيْنِ مِنْ اَهْلِ الشُّهُوْدِ وَالْعِيَانِ وَهَؤُلَاءِ لَا يَغِيْبُ عَنْهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُرْفَةُ عَيْنٍ.

Artinya     : "Mreka (Mereka ahli rusukh dan tamkin) bershalawat kepada Nabi yaitu kepada Nur Muhammad yang Asli yaitu Nurul Anwar. Mereka memandang (meresakan) bahwa Nabi Saw terlihat diujung kedua pelupuk mata.

 

E.   MURABITHAH KEPADA GURU MURSYID SEBELUM ATAU SA'AT MELAKUKAN DZIKIR THARIQAT

Diantara adab yang harus diperhatikan disa'at melakukan dzikir adalah membayangkan pribadi Guru Mursyidnya diantara kedua pelupuk matanya. Tujuannya untuk mehilangkan akwan dan agyar dalam pikiran dan hati Salik membayangkan pribadi Guru Mursyidnya, hal semacam ini menurut Ulama Thariqat Sufi merupakan adab yang sangat penting.

Membayangkan pribadi Syekhnya seakan-akan berada dihadapannya saat melakukan dzikir , yang lazim disebut Rabithah atau Tashawwur (اَلرَّبِطَةُ وَ التَّصَوُّرُ) bagi murid thariqat adalah hal tersebut lebih berfaidah dan lebih mengena dari pada Dzikir itu sendiri, alasannya karena Syekh adalah Wasilah (اَلْوَسِيْلَةُ) atau perentara untuk wushul (اَلْوُصُوْلُ) kekhadirat Yang Maha Haq azza wajalla bagi si Murid. Setiap kali bayangan pribadi Gurunya terlintas bertambah wajah kesesuaian bayangannya bersama Gurunya maka bertambah pula anugrah-anugrah dalam bathiniahnya, dan dalam waktu dekat akan sampai ia pada apa yang dicarinya (ALLah). Dan lazimnya bagi seorang Murid untuk fana atau lebur, maka ia lebur dahulu dalam pribadi Syekhnya, kemudian setelah itu ia akan sampai pada fana (fana fi Rasulillah Saw) atau lebur pada Allah Ta'ala.(1

Yang dimaksud dengan Rabithah (اَلرَّبِطَةُ) adalah mengikatkan hati atau mengaitkan hati kepada seseorang atau kasih hati kepada seseorang, sedangkan yang dimaksud tashawur (التَّصَوُّرُ) yaitu tergambar wajah Syekhnya pada pikirannya atau terbayang wajah pribadi Syekh Mursyidnya pada pikiran si Murid thariqat.

Rasulullah Saw pernah bersabda yang berbunyi   :

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ. رواه أبو داود والتبرنى(2     

Artinya   : "Barang siapa menyerupai ia dengan suatu kaum, maka ia (digolongkan) seperti Kaum itu." HR.Abu Dawud dan At Thabarani.

Sadatina Imam Al Junaid al Bagdadi  pernah berkata: "Jalan yang paling singkat ditempuh Ahli Thariqat untuk segera mencapai tujuan ialah dengan cara Rabithah Qalbi yang senantiasa kepada Gurunya sambil menanti curahan ilmu dari Gurunya sampai akhirnya ia fana diganti oleh Gurunya."

Orang yang senantiasa murabithah terhadap gurunya adalah orang yang cinta dan sayang kepada Gurunya, sebagaimana kasih dan sayang seorang Guru terhadap Muridnya. Hanya dengan benang mewaddah dan rahmah (laksana suami-isteri cinta sampai mati), hubungan interaksi Guru dengan Muridnya, misalnya dalam aktipitas pengajian, Riayadlah dan Istighasah dan lainnya dapat berlangsung mulus tanpa ada  keraguan dan kecurigaan. 

Rasulullah Saw pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari-Muslim :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : اَلْمَرْءُ مِعَ مَنْ اَحَبُّ رواه الشيخان

Artinya : "Seseorang itu (selalu bersama) beserta orang yang dicintainya"

Berkata Para Arif Billah mengenai kecintaan dan kebersamaan antara Guru dengan Muridnya :

وَقَالَ الْعَارِفُوْنَ : كُنْ مَعَ اللهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَكُنْ مَعَ كَانَ مَعَ اللهِ وَقَالُوْا اى الْعَارِفُوْنَ اَلْفَنَاءُ فى الشَّيْخِ مُقَدِّمَةٌ اَلْفَنَاءُ فى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ


1).Mengenal Thariqat Panduan Pemula Mengenal Jalan Menuju Allah Ta'ala...25 Tahun

1426H/2005M.

2).Kitab Sunan Abu Daud ....................

 

 

 

 

 

 

 

Artinya : Para Arif Billah berkata : "Hendaklah kamu selalu bersama Allah,  jika  tidak

Bisa, maka hendaklah kamu selalu bersama orang yang beserta Allah".Billah berkata pula bahwa : "Fananya (seorang Murid) pada Gurunya adalah awal awal pertama Fananya (seorang Murid) pada Allah Swt,"

      Ketabahan, kesabaran dan keoletan selama mengarungi jalan thariqat al Junaidiyah yang suci ini, dibawah asuhan dan bimbingan Guru-guru Mursyid thariqat al Junaidiyah sangatlah dihajatkan dan dibutuhkan. Jalan seorang Hamba menuju dan wushul dengan Allah sangatlah kita harapkan. Sebab keredaan tidaklah gampang kita raih, cintanya tidak bisa di harapkan tanpa ada pengorbanan, dan Ma'rifat mengenalnya tiada mungkin kita dapatkan tanpa adanya perjuangan. Oleh karenanya si Murid harus mendapat arahan dan bimbingan yang terus menerus dari Guru-guru Mursyid al Junaidiyah.



PEMBAGIAN HUKUM RABITHAH THARIQAT AL QAUM AL JUNAIDIYAH

Rabithah pengertiannya adalah ikatan hati yang polos antara murid dan gurunya, Rabithah bisa diartikan "Tautan hati karena cinta sang kekasih". Perlu Pengamal Thariqat al Qaum al Junaidiyah ketahui bahwa hukum Rabithah itu terbagi kepada lima macam    :

1.  Rabithah Wajib (رَابِطَةٌ وَاجِبَةٌ)

Rabithah Wajib ialah kasih hati seseorang muslim dan muslimah kepada Baitullah atau Ka'bah. Maka diwaktu mengerjakan shalat kita berhadap ke Baitullah adalah wajib. Menurut Rabithah disini menghadapkan muka kearah Baitullah adalah melakukan Rabithah. Bila tiada dilaksanakan disaat shalat maka batallah shalatnya. Si Murid harus yakin benar hatinya bahwa hati dan mukanya berhadap kearah Baitullah.

2.  Rabithah Sunnat  (رَابِطَةٌ سُنَّةٌ)

Rabithah Sunnat  ialah kasih hati seseorang untuk mengikuti imam, ketika si Murid melakukan shalat berjama'ah. Disini setiap makmum  sunat bermurabithah kepada imam shalatnya, tidak boleh ia mendahului imam shalatnya.

3.  Rabithah Harus (رَابِطَةٌجَائِزَةٌ)

Rabithah Harus adalah kasih hati seseorang untuk mencontoh dan melihat kepada seseorang ketika mengerjakan yang harus. Misalnya seseorang itu sedang mengetik seuntai Tasbih, atau sedang membaca Al Qur'an atau pekerjaan yang harus lainnya, maka ia kasih juga untuk memperbuatnya.

4.  Rabithah Makruh (رَابِطَةٌ مَكْرُوْهَةٌ)

Rabithah Makruh adalah kasih hati seseorang melihat makanan yang makruh untuk dimakan, misalnya masakan terlalu panas atau terlalu pedas yang akhirnya dimakannya, tetapi mulutnya tiada menerima karena masakan terlalu panas atau makanan itu terlalu pedas.

5.  Rabithah Haram (رَابِطَةٌ مُحْرِمَةٌ)

Rabithah Haram adalah kasih hati seseorang atau tautan hati dengan meja judi pada akhirnya orang itu bermain judi, atau seseorang  tertaut hati dengan sebotol Anggur merah yang memabukkan yang pada akhirnya orang itu minum anggur itu. Jadi hakekat Rabithah disini adalah kasih seseorang kepada suatu atau apa saja yang diharamkan agama, dengan begitu ia berarti telah terikat, ada rasa kecendrungan terhadap sesuatu itu untuk memilikinya.

Berikut ini Penyusun mengemukakan tingkatan-tingkatan atau adab-adab murabithah seorang Murid Thariqat kita ini terhadap Guru Mursyid dan juga Sanad Silsilah Thariqat kita.

 

A.     Pembahasan Tawajjuh

Tawajjuh berasal dari bahasa Arab adalah tawajjaha –yata







Jejak Perjalanan Habib Hasyim bin Muhammad Assegaf dari Seiyun Hadramaut ke Nusantara Sejarah menyebutkan bahwa “Salah satu keturunan Nabi M...